P. 1
19HadistRasullahSAWMengenaiWanita

19HadistRasullahSAWMengenaiWanita

|Views: 58|Likes:
Published by Baharuddin

More info:

Published by: Baharuddin on Aug 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/18/2011

pdf

text

original

19 Hadist Rasullah SAW Mengenai Wanita

1.
2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayangnya yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, "Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia". Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya.Allah mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah dan orang yang takutkan Allah, akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun). Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh. Aisyah berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab rasulullah, "Suaminya. "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah, "Ibunya". Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut,burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga. Daripada Aisyah r.a. Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

Sering kali dalam ceramah-ceramah agama kita mendengar bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam a.s. Memang pada kenyataannya timbul perbedaan pendapat mengenai penciptaan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dalam terjemahan lama al-Qur’an Departemen Agama surat An-Nisaa ayat 1 : “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya .. “. Pada catatan kaki terjemahan lama Depag tersebut, kata “dari padanya” tertulis ’dari padanya' menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim”. Menurut pakar hadist paling terkemuka di Indonesia, Prof. KH. Ali Mustafa Ya’kub MA, paling tidak ada 3 point penting dalam memahami dan menelaah hadist-hadist yang berkaitan dengan kata ‘dari padanya’ dalam Surat An Nisaa : 1. 2. Pada kitab shahih Imam Bukhori dan Muslim tidak disebutkan dalam hadist bahwa ‘tulang rusuk’ tersebut adalah tulang rusuk Adam a.s, hanya disebutkan dari ‘tulang rusuk’. Hadist tentang wanita dan tulang rusuk tidak hanya terdapat 1 versi saja, akan tetapi ada beberapa versi, pertama disebutkan bahwa wanita di ciptakan dari tulang rusuk, tulang rusuk itu yang ujungnya melengkung (bengkok) dan apabila diluruskan (dengan tidak hati2) maka akan patah, maka berwasiatlah yang baik kepada wanita. Kedua, dengan redaksi yang hampir sama, tetapi disebutkan bahwa wanita diciptakan sifatnya seperti tulang rusuk, melengkung (bengkok) dan apabila diluruskan mudah patah, artinya wanita mempunyai sifat yang cenderung bengkok seperti tulang rusuk, maka butuh bimbingan yang baik dan perlahan agar tidak patah, ‘patah’ menurut sebagian ulama ialah cerai. Bahwa dalam memahami hadist tidak dibenarkan jika berdasarkan satu riwayat atau satu versi saja, karena memang terdapat perbedaan penyampaian redaksi hadist dari para sahabat Nabi kepada murid-muridnya yang disebut tabi’in, karena tidak seperti al-Qur’an yang harus disampaikan dengan redaksi yang mutlak sama, hadist bisa disampaikan dengan redaksi yang berbeda. Yang baik dalam memahami hadist adalah melihat semua hadist yang ada lalu mengambil kesimpulan. Sama halnya dengan al-Qur’an yang ayat satu sama lain saling menjelaskan begitu pula dengan hadist.

3.

Maka pada hadist-hadist seputar ‘wanita dan tulang rusuk’, pemahaman yang benar adalah bahwa wanita diciptakan atau tercipta seperti halnya tulang rusuk, tulang rusuk itu bengkok ujungnya, jika diluruskan akan mudah patah, maka harus jadi perhatian seorang Ayah dan Suami bahwa dalam mendidik anak perempuan dan istrinya dibutuhkan ke-‘arifan dan kesabaran yang lebih, begitu juga bagi seorang anak dan istri harus meredam sifat egois karena kecantikan, harta dan pengetahuan yang mungkin lebih dari suaminya. Dapat juga dipahami bahwa Rasulullah hanya menyebutkan karakteristik tulang rusuk yang bengkok dan mudah patah, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa tulang rusuk memiliki karakteristik lainnya, contoh melindungi organ-organ penting yang berada dalam tulang rusuk tersebut. Begitu juga dengan wanita, wanita juga berperan melindungi organ-organ penting dalam rumah tangga yaitu melindungi hal-hal yang sangat strategis dalam melindungi generasinya dari kebobrokan moral. Wallahu a’lam. “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikatmalaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS 66 : 6)

Wanita tercipta bukan lah dari tulang ubun-ubun, sejatinya agar ia tidak menjadi tinggi (hati) Dia juga tidak tercipta dari tulang tumit kaki, agar tidak di injak-injak (harga dirinya) Namun ia tercipta dari tulang rusuk sebelah kiri, didekat hati agar ia dicintai... dan terletak di dekat tangan,sejatinya agar ia dilindungi...." (Karitasurya)

Bagaimanakah aturan islam tentang berpakaian, baik bagi laki-laki ataupun perempuan ? Salah satu perbedaan sistem Islam dengan sistem Kapitalis adalah bahwa sistem Kapitalis memandang persoalan sosial dan rumah tangga dianggap sebagai masalah ekonomi, sedangkan sistem Islam masalah-masalah di atas dibahas tersendiri dalam hukum-hukum seputar interaksi pria-wanita (nizhâm

al-ijtima’iyyah). Misalnya dalam sistem kapitalisme tidak ada istilah zina jika laki-laki dan perempuan melakukan hubungan suami isteri tanpa ikatan pernikahan asal dilakukan suka-sama suka atau saling menguntungkan sebaliknya disebut pelecehan seksual dan pelakunya dapat diajukan ke pengadilan jika seorang suami memaksa dilayani oleh seorang isteri sementara isterinya menolak. Karena itu dalam persoalan pakaian antara penganut sistem kapitalis dan sistem Islam jelas perbeda. Dalam sistem kapitalis pakaian dianggap sebagai salah satu ungkapan kepribadian, sebagai unsur penarik lawan jenis dan karena itu memiliki nilai ekonomis. Bentuk tubuh seseorang –apalagi wanita– sangat berpengaruh terhadap makna kebahagiaan dan masa depan. Adapun Islam menganggap bahwa pakaian digunakan memiliki karakteristik yang sangat jauh dari tujuan ekonomis apalagi yang mengarah pada pelecehan penciptaan makhluk Allah. Karena itu di dalam Islam: 1. Pakaian dikenakan oleh seorang muslim maupun muslimah sebagai ungkapan ketaatan dan ketundukan kepada Allah, karena itu berpakaian bagi seorang muslim memiliki nilai ibadah. Karena itu dalam berpakaian iapun mengikuti aturan yang ditetapkan Allah. 2. Kepribadian seseorang ditentukan semata-mata oleh aqliyahnya (bagaimana dia menjadikan ide-ide tertentu untuk pandangan hidupnya) dan nafsiyahnya (dengan tolok ukur apa dan seberapa banyak dia berbuat dalam memenuhi kebutuhan hidup dan melampiaskan nalurinya). 3. Setiap manusia memiliki kedudukan yang sama, yang membedakan adalah takwanya. Melalui cara berpakaian yang Islami, sesungguhnya Allah juga berkehendak memuliakan manusia sebagai makhluk yang memang telah Allah ciptakan sebagai makhluk yang mulia. Sebaliknya dengan tidak mengikuti cara berpakaian sesuai yang dikehendaki Allah, menyebabkan kedudukan manusia jatuh. Walhasil seorang muslim dan muslimah wajib mengetahui aturan berpakaian agar dalam berpakaian dan berpenampilan ia akan mendapatkan ridha Allah, bukan sebaliknya mendapatkan murka Allah. B. Pakaian Bagi Seorang Muslim Pakaian yang dikenakan oleh seorang muslim haruslah memenuhi syarat tertentu, yakni: 1. Menutup aurat; 2. Tidak terbuat dari emas atau sutera; 3. Tidak menyerupai pakaian wanita; 4. Tidak menyerupai orang-orang kafir. C. Aurat Laki-Laki Aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut, berdasarkan riwayat ‘Aisyah: Dari ‘Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari kakeknya, beliau menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jika ada di antara kalian yang menikahkan pembantu, baik seorang budak ataupun pegawainya, hendaklah ia tidak melihat bagian tubuh antara pusat dan di atas lututnya.” [HR. Abu Dawud, no. 418 dan 3587]. Rasulullah Saw bersabda: Aurat laki-laki ialah antara pusat sampai dua lutut. [HR. ad-Daruquthni dan al-Baihaqi, lihat Fiqh Islam, Sulaiman Rasyid]. Dari Muhammad bin Jahsyi, ia berkata: Rasulullah Saw melewati Ma’mar, sedang kedua pahanya dalam keadaan terbuka. Lalu Nabi bersabda: “Wahai Ma’mar, tutuplah kedua pahamu itu, karena sesungguhnya kedua paha itu aurat.” [HR. Ahmad dan Bukhari, lihat Ahkamush Sholat, Ali Raghib]. Jahad al-Aslami (salah seorang ashabus shuffah) berkata: pernah Rasulullah Saw duduk di dekat kami sedang pahaku terbuka, lalu beliau bersabda: “Tidakkah engkau tahu bahwa paha itu aurat?” [HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Malik, lihat Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni]. Juga Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ali ra: “Janganlah engkau menampakkan pahamu dan janganlah engkau melihat paha orang yang masih hidup atau yang sudah mati.” [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihat Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni]. Larangan Memakai Emas Dan Sutera Bagi Laki-Laki Larangan ini berdasarkan hadits: Diriwayatkan dari al-Bara’ bin Azib r.a katanya: “Rasulullah Saw memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara. Baginda memerintahkan kami menziarahi orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang bersin, menunaikan sumpah dengan benar, menolong orang yang dizalimi, memenuhi undangan dan memberi salam. Baginda melarang kami memakai cincin atau bercincin emas, minum dengan bekas minuman dari perak, hamparan sutera, pakaian buatan Qasiy yaitu dari sutera, serta mengenakan pakaian sutera, sutera tebal dan sutera halus.” [HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad, CD Al-Bayan 1212]. Larangan Menyerupai Wanita Seorang laki-laki dilarang bertingkah laku, termasuk berpakaian menyerupai wanita dan sebaliknya seorang wanita bertingkah laku termasuk berpakaian seperti laki-laki. Larangan Menyerupai Orang Kafir Menyerupai orang kafir (tasyabbuh bil kuffar) dilarang bagi muslim maupun muslimah. Tasyabbuh dapat dilakukan melalui pakaian, sikap, gaya hidup maupun pandangan hidup. Bagi seorang laki-laki pakaian yang harus dikenakan sama, apakah dia di dalam rumah, di luar rumah, di hadapan mahram atau bukan, kecuali di hadapan isteri. D. Pakaian Bagi Seorang Muslimah

1. Adapun di hadapan laki-laki selain suami dan muhrimnya maka aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Pakaian wanita di dalam rumahnya cukup menggunakan mihnah (kecuali ada tamu bukan mahrom. sehingga diperbolehkan baginya menggunakan baju panjang selapis/tidak rangkap (bukan jilbab) model apa saja selama tidak menampakkan keindahan tubuhnya seperti baju panjang atas bawah. Selain itu anggota tubuh lain boleh tampak termasuk apabila ada hajat seperti perut. Beliau menunjuk pada wajah dan telapak tangannya. Rincian masing-masing persyaratan di atas berbeda-beda berdasarkan: 1. tetapi bukanlah perhiasan yang biasa dipakai orang tetapi makna zinah di sini adalah anggota badan yang merupakan tempat perhiasan (mahaluzzinah). Di hadapan muhrimnya dan orang-orang yang disebut dalam Qs. Mahaluzzinah ini biasa tampak ketika wanita memakai baju dalam rumah (mihnah). kulot panjang dan lain-lain. Larangan tabarruj (menonjolkan keindahan bentuk tubuh. 3.” (Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an. kecantikan dan perhiasan di depan laki-laki non muhrim atau dalam kehidupan umum). Sedangkan kewajiban berjilbab akan dibahas menyusul. Sedangkan yang dimaksud dengan yang biasa nampak daripadanya adalah wajah dan telapak tangan. an-Nûr [24]: 31 dan Qs. 6. an-Nûr [24]: 31).Adapun pakaian yang dikenakan oleh seorang muslimah haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. hal. 7. Karena dua bagian ini yang biasa nampak dari wanita muslimah di hadapan Rasul Muhammad Saw (baik dalam sholat. seperti: kepala seluruhnya. Khusus untuk wanita menopause diperbolehkan Allah untuk melepaskan jilbabnya hanya saja tetap diperintahkan untuk tidak tabarruj. Kata zinah yang secara bahasa berarti perhiasan. 4. an-Nûr [24]: 31 turun sebelum ayat tentang jilbab sehingga ayat ini hanya menyampaikan batasan aurat dan perintah memakai kerudung. jadi menyangkut anggota badan. Tidak menyerupai pakaian laki-laki. an-Nûr [24]: 31). kecuali jika ada tamu laki-laki non muhrim. c. Pakaian itu tidak menampakkan aurat (dapat menutup semua aurat). yaitu kerudung (khimar) dan jilbab (pakaian luar yang luas (seperti jubah) yang menutup pakaian harian yang biasa dipakai wanita di dalam rumah (mihnah). di hadapan suami tidak ada keharusan menutup bagian tubuhnya (walaupun dianjurkan tidak telanjang). Misalnya di dalam rumah sendiri seorang wanita boleh membuka jilbabnya dan hanya memakai mihnahnya.dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dasar dari penentuan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.” (Qs. seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Qs. Kewajiban menutup aurat. tempat gelang tangan (pergelangan tangan) sampai pangkal lengan dan tempat gelang kaki (pergelangan kaki) sampai lutut. karena illa mâ zhahara minha yang dimaksud adalah yang biasa nampak pada saat itu (saat ayat ini turun) yaitu muka dan telapak tangan. Ibnu Abbas menyatakan yang dimaksud dengan illa mâ zhahara minha adalah muka dan tangan. 3580]. juga dari Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menyatakan “Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa sesuatu yang biasa nampak adalah muka dan telapak tangan. mihnah dan memenuhi kriteria irkha’). khumur.dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Abu Dawud. haji maupun dalam kehidupan sehari-hari di luar sholat dan haji) dan Rasul mendiamkannya sementara ayat-ayat al-Qu’ran masih turun. yang terulur langsung dari atas sampai ujung kaki. yaitu: 1. Keberadaan wanita di tempat umum atau di tempat khusus. kecuali aurat yang ada di antara pusar dan lutut. 5. Tidak tembus pandang. tetapi hanya memberikan beberapa syarat yaitu: 1. 94). Adapun di tempat umum penampilan wanita dibatasi dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: a. jld. Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya. Penampilan wanita dibedakan antara tempat khusus dan tempat umum. No. d. dan janganlah menampakkan perhiasan mereka.” [HR. Pemahaman mahaluzzinah ini diambil dari firman Allah SWT: “…. Qs. yaitu: “…. Larangan tasyabbuh terhadap laki-laki. Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir. Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab. Keberadaan wanita di hadapan mahram atau bukan atau di hadapan suami atau bukan. Tidak tabarruj. tempat kalung (leher). kecuali…” (Qs. Aurat Wanita Pembahasan aurat wanita dibagi menjadi tiga keadaan. 2. maka sesungguhnya syara’ tidak menentukan pakaian tertentu untuk menutup aurat. payudara. Kewajiban menggunakan pakaian khusus di kehidupan umum. Di hadapan mahrom maka cukup menggunakan mihnah (kecuali di tempat umum maka harus memenuhi pakaian wanita di tempat umum). 18. Hal tersebut diperkuat dengan sabda Rasul Saw kepada Asma’ binti Abu Bakar: “Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini. maka wajib menutup aurat yang harus ditutup di hadapan bukan mahrom). b. Adapun berkaitan dengan apa aurat itu ditutup. Menutup aurat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka. 2. an-Nûr [24]: 60). E. an-Nisâ’ [4]: 23 maka baginya boleh menampilkan bagian tertentu dari anggota tubuhnya yang biasa disebut mahaluzzinah yaitu anggota badan yang biasanya dijadikan tempat perhiasan. 2. Tafsir mengenai hal ini. . Di hadapan suami mereka maka wanita boleh menampakkan seluruh bagian tubuhnya (berdasarkan hadits riwayat Bahz bin Hakim).

beliau telah meriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakar datang kepada Rasulullah Saw dengan memakai baju yang tipis maka Rasulullah memalingkan wajahnya dari Asma’ dan bersabda: “Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini…” [HR. Dengan demikian untuk bagian atas badan wanita diwajibkan mengenakan kerudung yang diulurkan sampai ujung pakaian (kancing pembuka)/di atas dada.” (HR. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. maka wanita yang memakai pakaian tersebut dianggap auratnya tampak atau tidak menutupi auratnya. hitam dan lain-lain. Sedangkan bawahnya diperintahkan menggunakan jilbab/jubah. an-Nûr [24]: 60). Hanya saja apabila wanita selain yang menopause berada di luar rumah atau tempat-tempat umum (masjid. an-Nûr [24]: 31). atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dengan kata lain khimar adalah kain yang menutupi kepala tanpa menutupi wajah. Dan hendaklah mereka menutupkankhumur (kain kerudung) ke juyub (dada)-nya. Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir. 2. Tidak menyerupai pakaian laki-laki. Jika pakaian itu tipis misal brokat. Oleh karena itu celana panjang. Apabila tidak memenuhi syarat tersebut tidak dapat diianggap sebagai penutup aurat. dan juyub adalah jama’ dari kata jaibun yaitu ujung pakaian (kancing pembuka) yang ada di sekitar leher dan di atas dada. kaos kaki tipis. terulur sampai sampai menutupi ujung pakaian bawah (jilbab) yakni kancing baju di atas dada. kulot panjang dan lain-lain. dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. tidak boleh menggunakan pakaian yang tipis.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. 3580]. Berkata: Rasulullah memerintahkan kepada kami.2. yakni: 1. atau ayah suami mereka. kecuali kepada suami mereka. al-Ahzab [33]: 59 dan hadist dari Ummu ‘Athiyah. bukan pakaian lain seperti baju panjang atas bawah. daster dan lain-lain. terdapat ketentuan lain yang perlu diperhatikan yaitu adanya kewajiban menggunakan pakaian khusus yang telah diperintahkan Allah berupa khimar (kerudung) dan jilbab (jubah langsungan dari atas sampai ujung kaki). Sesungguhnya aku takut wanita itu tersifati tulangnya. Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab. yaitu apakah kulitnya putih. atau putera-putera mereka. atau putera-putera suami mereka. wanita yang sedang haid. Dalil-dalil mengenai masalah ini lihat lagi pembahasan di atas. hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung’. Adapaun dalil lainnya adalah sebagai berikut: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya. Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya. Pakaian Wanita di dalam Kehidupan Umum Dalam kehidupan umum.” Artinya wanita harus menutup sifat dari tulangnya. merah. yaitu pada saat wanita berada di luar rumahnya/di hadapan laki-laki non mahrom. oleh karena itu jenis pakaian tersebut hanya bisa dipakai oleh wanita yang sudah menopause dan sudah tidak punya keinginan seksual (Qs. dan janganlah menampakkan perhiasanyaa. no. Dalil bahwa syariat Islam telah mewajibkan menutup kulit sehingga tidak tampak warna kulitnya adalah hadits yang diriwayatkan dari A’isyah ra.” (Qs. kerudung tipis. Saya berkata: “Ya Rasulullah salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab”.” (Qs. Dan Rasulullah memberi illat pada masalah itu dengan sabdanya: “Sesungguhnya aku takut wanita itu tersifati tulangnya.” (Qs. Memahami Pengertian Jilbab . Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. maka seorang wanita harus menggunakan pakaian secara sempurna. Dan bertaubatlah kepada Allah. karena itu mereka tidak diganggu. atau wanita-wanita Islam. atau ayah mereka. 6. Tidak tembus pandang. sehingga kelihatan warna kulit (rambut) si pemakai pakaian itu. dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. khumur. dan memelihara kemaluannya. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan muslimah menggunakan sejenis pakaian yang disebut jilbab. Untuk wanita menopause ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan dalam berpenampilan yaitu tidak diperbolehkan tabarruj. Kewajiban menggunakan khumur muncul dari perintah dan hendaklah mereka menutupkan khumur/kain kerudung ke juyub (dada)-nya. mihnah dan memenuhi kriteria irkha’). 5. Maka bagi wanita yang sedang haid janganlah sholat dan hendaklah menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Dalil lain yang memperkuat dalam masalah ini adalah hadits yang diriwayatkan Usamah: “Perintahkan isterimu untuk mengenakan pakaian tipis lagi (gholalah) di bawah baju tipis tersebut. jalanan dan lain-lain) maka selain batasan aurat dan larangan tabarruj. atau putera-putera saudara perempuan mereka. 4. Menutup aurat. sehingga beliau memalingkan wajah dari Asma’ dan memerintahkan Asma’ untuk menutup aurat. Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya. Tidak tabarruj. Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya. Pada Qs. sehingga kelihatan warna kulitnya. an-Nûr [24]: 60). kaos stret pas badan tidak boleh digunakan sebagai penutup aurat wanita menopause karena termasuk tabarruj (menonjolkan kecantikan dan perhiasan/bentuk tubuh). Dengan demikian wanita harus memperhatikan 2 syarat tersebut ketika memilih jenis dan bahan pakaian penutup aurat termasuk penutup aurat di depan mahrom dan wanita lain seperti celana 3/4 sampai lutut. beliau menyuruhnya agar isterinya mengenakan pakaian tipis lagi di bawah pakaian tipisnya itu. 7. Abu Dawud. Pakaian itu dapat menutup kulit. al-Ahzab [33]: 59). (3) Ungkapan salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab.” Rasulullah Saw ketika mengetahui Usamah memakaikan pakaian tipis itu pada isterinya. (2) Kebolehan menanggalkan pakaian luar (jilbab) bagi wanita menopouse dengan ungkapan tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka sebagaimana dalam firman Allah SWT: “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi). anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. 3. Rasulullah dalam hadits di atas menganggap baju yang tipis belum menutup aurat dan menganggap auratnya terbuka. nenek-nenek. kaos kaki panjang. Khumur adalah jama’ dari khimar yaitu kerudung yang menutupi kepala.” Sebagimana dalam hadits dari Ummu ‘Athiyah ra. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. sehingga tidak diketahui warna kulit dari wanita yang memakainya. Dalil kewajibannya adalah sebagai berikut: (1) ungkapan Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka sebagaimana disebutkan dalamfirman Allah SWT: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu. Muslim. kuning. pasar. no 1475]. atau saudara-saudara laki-laki mereka. wanita pingitan untuk keluar pada hari raya Fitri dan Adha. tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan (tabarruj). rukuh tipis dan lain-lain. Untuk lebih detailnya tentang pakaian khusus di kehidupan umum maka dapat dilihat pada pembahasan selanjutnya. atau putera-putera saudara laki-laki mereka. Meskipun jenis baju tersebut menutup aurat tetapi bukan termasuk jilbab.

an-Nûr (24): 60). 1803) yang diartikan sebagai kain yang dipakai seorang wanita untuk menutupi seluruh tubuhnya. maka Rasulullah menjawab: “Hendaklah saudara perempuannya meminjamkan jilbabnya. . Tsiyab disini dipahami pakaian luar/jilbab bukan baju biasa karena tidak mungkin Allah memerintahkan wanita menopause telanjang. namun bermakna menonjolkan perhiasan.Kata jilbab digunakan di dalam al-Qur’an dan Hadits. Dalam kamus arab Al-Muhith. bentuknya seperti malhafah (kain penutup dari atas kepala sampai ke bawah).pasar. kecantikan termasuk keindahan tubuh pada laki-laki non muhrim. Sedangkan pengertian tabarruj adalah menonjolkan perhiasan. Jika wanita tua saja dilarang untuk bertabarruj. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu abbas dan juga dapat dipahami dari nash-nash yudnîna ‘alaihinna min jalabibihinna di sini bukan menunjuk sebagian tetapi untuk menjelaskan. jilbab bermakna: Pakaian yang lebar bagi wanita. Inilah indikasi (qarinah) bahwa perintah hadits tersebut adalah wajib. Tabarruj berbeda dengan perhiasan atau berhias. oleh karena itu apabila jilbabnya terulur sampai mata kaki dan sisanya (telapak kaki) ditutup dengan kaos kaki/sepatu. sepatu dan lain-lain. mihnah dan jilbab. Tidak ada makna syara’ tertentu terhadap kata tabarruj.” Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana yang harus diperbuat para wanita terhadap ujung baju (jilbab) mereka?” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mereka mengulurkan sejengkal. Dalil lain yang menerangkan bahwa tabarruj adalah menonjolkan perhiasan. kemudian melewati suatu kaum (sekelompok orang) supaya/sampai mereka mencium aromanya maka berarti dia pezina. maka hal ini tidak apa-apa walaupun tetap dianjurkan untuk ‘iffah (berhati-hati/menjaga diri). motor dan lain-lain maka diwajibkan untuk menggunakan penutup kaki apa saja seperti kaos kaki. bentuk tubuh. namun maksud kata itu harus dikembalikan pada maksud yang dipahami oleh masyarakat ketika kata itu diturunkan/diungkapkan. Dari Qs.” Kata telanjang. yaitu menonjolkan perhiasan. tetapi diulurkannya langsung dari atas ke bawah.” Ummu Salamah bertanya lagi: “Kalau demikian terlihat kaki mereka. yaitu menggerakkan kaki sampai terdengar bunyi gelang kakinya sehingga orang lain menjadi tahu perhiasan wanita yang menggerakkan kaki tersebut. Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menyeret pakaiannya dengan sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. yang menutupi tsiyab/mihnah (pakaian harian yang biasa dipakai ketika berada di dalam rumah). kecantikan.” (Qs. dia berkata jilbab (pada nash tersebut): baju luar yang berfungsi menutupi tubuh dari atas sampai bawah (tanah). jld. dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka.” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mengulurkan bajunya sehasta dan jangan lebih dari itu.” Dari sini jelas bahwa jilbab tidak boleh diulurkan bagian per bagian misalnya baju potongan. Apabila jilbabnya sudah terulur sampai ujung kaki tetapi jika berjalan kakinya masih terlihat sedikit seperti ketika menerima tamu. Berarti dapat dipahami pula bagi wanita yang belum menopause diwajibkan untuk menggunakan tiga lapis/jenis pakaian ketika di hadapan laki-laki non mahrom yaitu kerudung. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. tanpa bertabarruj. Pengertian ini dapat ditemukan juga dalam Tafsir Jalalain (lihat Tafsir Jalalain. daster. Memahami Pengertian Tabarruj Tabarruj telah diharamkan oleh Allah SWT dengan larangan yang menyeluruh dalam segala kondisi dengan dalil yang jelas. perhiasan (tidak tabarruj) yaitu diperbolehkan menggunakan baju apa saja sejenis mihnah yang tidak menampakkan kecantikan/bentuk tubuh seperti baju atas bawah panjang. keindahan tubuh pada laki-laki asing adalah seperti yang diriwayatkan dari Abi Musa Asy Sya’rawi: “Wanita yang memakai parfum. yang berarti wanita tersebut telah menonjolkan perhiasannya. 31). sehingga penafsiran kata tabarruj diambil dari makna lughawi (bahasa). Tabarruj secara bahasa berarti menonjolkan perhiasan. Definisi jilbab ini juga tersirat dalam Qs. kulot panjang dan lain-lain. III. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah adanya irkha’. berlenggak-lenggok dan seperti punuk unta menunjukkan arti agar tampak perhiasan dan kecantikannya. Hanya saja apabila aktivitas wanita tersebut membuat kakinya banyak terlihat semisal mengendarai sepeda. Dan jilbab yang dimaksudkan pada hadist ini bukan sekedar penutup aurat tetapi sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jilbab: baju luar yang berfungsi menutupi tubuh langsung dari atas sampai bawah. tidak boleh kurang dari itu. maka mereka tidak akan masuk surga dan tidak mendapatkan baunya. tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan. dll. Hal ini ditunjukkan dalam firman Allah SWT: “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi). Jilbab selain harus luas dipersyaratkan harus diulurkan langsung ke bawah sampai menutupi dua telapak kaki. hal.” Artinya jika seseorang tidak mempunyai jilbab dan saudaranya tidak meminjami maka wanita itu tidak boleh keluar. bentuk tubuh ketika di kehidupan umum seperti di jalan-jalan. Sarana lain yang biasa digunakan misalnya wangi-wangian. Allah membolehkan mereka (wanita yang berhenti haid dan tidak ingin menikah) menanggalkan pakaian luar mereka (jilbab). maka mafhum muwafaqahnya yaitu wanita yang belum berhenti haid lebih dilarang untuk bertabarruj. kecantikan termasuk bentuk tubuh dan sarana-sarana lain dalam berpenampilan agar menarik perhatian lawan jenis. Jadi kesimpulannya jilbab harus diulurkan langsung ke bawah (tidak potong-potong/atas bawah) sampai menutup dua telapak kaki (bukan mata kaki). Allah dalam ayat ini melarang salah satu bentuk tabarruj. saya belum melihat sebelumnya adalah: wanita yang berpakaian seperti telanjang dan wanita yang berjalan lenggaklenggok di atas kepala mereka seperti punuk unta. mall. Pemahaman dari ayat ini adalah larangan bertabarruj secara mutlak. Ayat lain yang melarang tabarruj adalah firman Allah SWT: “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. tidak seperti celana ketat panjang karena hal itu termasuk tabarruj. an-Nûr [24]: 60 dapat diambil pemahaman bahwa wanita menopause yang sudah tidak mempunyai keinginan seksual diperbolehkan melepaskan tsiyabnya (pakaian luarnya/jilbab). Demikian pula yang disebutkan oleh al-Jauhari dalam kitab Ash Shihah.” (Qs.” Diriwayatkan pula dengan sabda Rasulullah Saw: “Dua golongan penghuni neraka. maka hal ini tidak cukup menggantikan keharusan irkha’ (terulurnya baju sampai ke bawah). an-Nûr [24]: 60 walaupun pada ayat tersebut Allah menggunakan istilah tsiyab untuk menyebut makna jilbab. berarti tersisa mihnah. Adapun Hadist dari Ummu ‘Athiyah menerangkan dengan jelas ketika wanita keluar rumah/dihadapan laki-laki non mahrom diwajibkan menggunakan pakaian yang dipakai di atas pakaian dalam rumah (mihnah). yaitu jilbab harus diulurkan sampai menutupi kedua telapak kaki sehingga dapat diketahui dengan jelas bahwa baju itu adalah baju di kehidupan umum. sebagaimana Ummu ‘Athiyah berkata kepada Rasulullah Saw: “Salah seorang dari kami tidak mempunyai jilbab”. an-Nûr [24]. sedangkan makna yudnîna adalah yurkhîna ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). hanya saja selanjutnya diperintahkan untuk tidak menampakkan kecantikan. Orang tua (menopouse) boleh tetap mengenakan jilbab dan boleh juga mengenakan baju apa saja selain jilbab selama tidak menonjolkan perhiasan. Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar. Atas dasar ini dapat dimengerti bahwa tabarruj tidak sama dengan sekedar perhiasan atau berhias. berjalan di sekitar rumah. warna baju yang mencolok atau penampilan tertentu yang “nyentrik” atau perhiasan yang berbunyi jika dibawa jalan. Selain itu mengulurkannya harus sampai telapak kaki (bukan mata kaki). Dalil ini juga menjelaskan akan larangan tabarruj.

Alquran menjulukinya sebagai “pembawa kayu bakar” alias penyebar fitnah. seperti dilakukan perempuan Fir’aun (QS At Tahriim [66]: 11). Karena itu.” (HR. Pertama. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian. Kita diberi kebebasan untuk memilih tipe mana saja yang paling disukainya. Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan. Wanita tipe pejuang memiliki kepribadian kuat. tipe wanita penggoda. agar tidak terlalu panjang. menjadi luar biasa ketika diucapkan Hindun. hal ini sesuai dengan kaidah syara’.Arsip Fiqh Rasululloh SAW bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Semoga bermanfaat. Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). Ada pula tipe penghasut. tipe pejuang. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami. Sebagian perhiasan memang diharamkan Allah antara lain: seperti yang terungkap dari riwayat Ibnu Umar: “Sesungguhnya Nabi melaknat wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain. seraya berkata. Hindun bahu membahu menentang dakwah Rasulullah SAW. Karena keutamaan inilah. insya ALLOH tidak mengurangi makna yang terkandung. Istrinya Nabi Nuh dan Nabi Luth mewakili tipe ini. Alquran memberi tuntunan kepada orang-orang beriman (khususnya Muslimah) agar tidak salah dalam memilih kepribadian. agar tidak menyesal dikemudian hari. wanita yang rambutnya minta disambungkan. Allah SWT memuliakan Maryam bukan karena kecantikannya. Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. 2007 Ketika memasuki sebuah showroom. Namun ingat. Ketiga. Tipe ini diwakili Hindun. Dan Allah menjadikan perempuan Fir’aun teladan bagi orang-orang beriman. Sebab pakaian yang mereka kenakan tak dapat menutupi apa yang ALLOH SWT perintahkan untuk ditutupi. Asiyah lebih memilih istana di surga daripada istana di dunia yang dijanjikan Fir’aun. Petualangan Zulaikha diungkapkan dalam Alquran. butik atau toko yang menjual pakaian wanita. penggoda dan pengkhianat. Pakaian dapat kita analogikan dengan kepribadian. pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali dari sabut (QS Al Lahab [111]: 1-5). yang garis besarnya pernah aku tulis di sini. Tipe ini diwakili Maryam binti Imran. Kepalanya bergoyanggoyang bak punuk onta. istri Fir’aun. Sedangkan bila memilih tiga tipe terakhir. wanita yang mentato. maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah. sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Allah SWT mengabadikan doanya.” Walaupun semula berhias dalam kondisi berkabung dibolehkan akan tetapi bisa menjadi haram manakala berhiasnya menggunakan perhiasan yang haram dan apabila berhiasnya sampai menjadikannya termasuk tabarruj yaitu menonjolkan perhiasan dan kecantikan di hadapan laki-laki asing (non mahrom). 10/13/2001 . Aku berlindung kepada Allah. tipe penghasut. kehinaan di dunia dan kesengsaraan akhiratlah akan kita rasakan. Bahkan itu sudah menjadi sesuatu yang mentradisi dan dianggap lumrah. tipe wanita shalihah yang menjaga kesucian dirinya. Tipe-tipe Wanita dalam Alquran May 18th. Lima tipe wanita Setidaknya ada lima tipe wanita dalam Alquran. Perhiasan apapun bentuknya adalah mubah selama belum ada dalil yang mengharamkannya. Ia berani menanggung risiko apa pun saat keimanannya diusik dan kehormatannya dilecehkan. dan dikatakan (kepada keduanya). Isu yang awalnya biasa. tipe wanita pengkhianat dan ingkar terhadap suaminya. Wallaahu a’lam. Walau berada dalam cengkraman Fir’aun. istrinya Abu Lahab. namun karena keshalihan dan kesuciannya. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. dan ia berdoa.Adapun mengenai perhiasan. Sebab pakaian yang “tak layak” tersebut bukanlah merupakan budaya masyarakat Islam dan tidak pula dikenal dalam tradisi masyarakat kita. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. demikian pula istrinya. menyebar fitnah dan melakukan kezaliman. Hari-harinya ia isi dengan ketaatan kepada Allah. Allah SWT mengabadikan namanya sebagai nama salah satu surat dalam Alquran (QS Maryam [19]). Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki. Hukum asal suatu benda (asy yâ’) adalah mubah. Dalam istilah sekarang wanita penyiram bensin. Ia pun sangat konsisten menjaga kesucian dirinya. Demikian ungkap Maryam (QS Maryam [19]: 20). Tidak pula itu diuji dengan pertanyaan. Sebab kita sendiri yang akan memakainya. Aurat dan Jilbab (01) Aku dapat artikel ini dari temanku. Difirmankan. Bila memilih tipe pertama dan kedua. Mereka adalah wanita-wanita yang memakai pakaian tapi telanjang. bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim (QS At Tahriim [66]: 11). Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung (QS Yusuf [12]: 23). pada saat bersamaan Allah pun mengecam perempuan yang bekhianat kepada suaminya (yang saleh). dalam setiap pilihan ada tanggung jawab yang harus dipikul. (QS At Tahriim [66]: 10). Namun karakteristik dan sifatnya tetap abadi sampai sekarang. Asiyah mampu menjaga akidah dan harga dirinya sebagai seorang Muslimah. Mau pilih yang mana? Semuanya terserah kita. Marilah ke sini. Terserah kita mau pilih yang mana. Aku bagi menjadi 2 bagian. Perhiasan adalah asy yâ’ (benda). Kebetulan cukup detail membahas aurat perempuan. Wanita-wanita yang dikisahkan Alquran ini hidup ribuan tahun lalu. Saat suaminya memperjuangkan kebenaran. Bersama suaminya. Seperti halnya pakaian. Isa putra Maryam (QS Maryam [19]: 1634). tukang fitnah dan biang gosip. Kedua. dan wanita yang minta ditato. Muslim) Wanita-wanita yang digambarkan Rasul dalam hadis di atas sekarang banyak sekali kita lihat. dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa (QS An Nuur [24]: 34). Namun itu adalah hal baru yang lantas diterima tanpa dikritisi. corak dan ragamnya. maka kemuliaan dan kebahagiaan yang akan kita dapatkan. kita akan mendapatkan pakaian dalam berbagai bentuk. Ada tipe pejuang yang kokoh keimanannya. Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu. Kelima. Ya Tuhanku. bolehkah ini . Yusuf berkata. Ada wanita salehah yang tangguh dalam ibadah dan konsisten menjaga kesucian diri. lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya. Artikel ini aku kupipes dan sedikit diedit. Namun. Tipe ini diperankan Zulaikha saat menggoda Nabi Yusuf. Maryam pun diamanahi untuk mengasuh dan membesarkan Kekasih Allah. Budaya barat adalah penyebab fenomena ini. kepribadian wanita pun memiliki beragam jenis dan corak. Tipe ini diwakili oleh Siti Asiyah binti Mazahim. Keempat. Allah SWT memuji wanita yang tidak taat kepada suaminya yang zalim. maka hukum asalnya adalah mubah untuk dikenakan selama belum ada dalil yang mengharamkanya. mereka malah menjadi pengkhianat dakwah. sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina! . Kita pula yang akan menerima konsekuensi dari memakai pakaian tersebut.

Dan ALLOH SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Betapa sekarang kita banyak melihat indahnya kibaran jilbab di mana-mana. Berarti tidak cukup hanya dengan menutupkan jilbab pada kepala saja dan ujungnya diikatkan ke belakang. . di sekolah. Sebab jika perhiasannya saja dilarang untuk ditampakkan apalagi tempat perhiasan itu berada. yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak. mengatakan maksud kata tersebut adalah pakaian dan jilbab.” (Qs. Namun keumuman ayat ini mencakup seluruh wanita muslimah. Permasalahannya. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab. ada pelarangan penggunaan jilbab walau sudah tidak terlalu banyak perdebatan lagi. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada. b. Sebab perbuatan-perbuatan yang dilaknat oleh ALLOH SWT atau Rasul-Nya dan yang diancam dengan sangsi duniawi (qishas. AURAT WANITA DAN HUKUM MENUTUPNYA Aurat wanita yang tak boleh terlihat di hadapan laki-laki lain (selain suami dan mahramnya) adalah seluruh anggota badannya kecuali wajah dan telapak tangan.menurut agama. Malah di beberapa negara barat (Inggris dan Jerman misalnya) muslimah-muslimah pemakai jilbab tak lagi sulit ditemukan. Hadis riwayat Aisyah RA. bahwasanya beliau bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mrip ekor sapi untk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Said bin Jubair RA. c. Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka. atau baikkah ini bagi kita dan pertanyaan lain yang senada. Boleh jadi karena perasaan rendah diri yang akut dan silau terhadap kemajuan barat dalam beberapa hal akhirnya banyak di antara kita yang menerima budaya barat dengan mata tertutup (atau sengaja menutup mata).” (HR. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram. Kaidah ilmu ushul fiqh mengatakan: “Yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafadz sebuah dalil dan bukan kekhususan sebab munculnya dalil tersebut (al ibratu bi umumil lafdzi la bikhususis sabab). Hadis Rasululloh SAW.’ Imam Auzai dan Ibnu Abbas RA. potong tangan dll) atau azab neraka adalah dosa besar. Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita. lantas Rasululloh SAW berpaling darinya dan berkata:“Hai Asma. AlAhzab: 33). Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan. Dari penafsiran para sahabat dan para ulama ini jelaslah bahwa yang boleh tampak dari tubuh seorang wanita adalah wajah dan kedua telapak tangan. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Selain kedua dalil di atas masih ada dalil-dalil lain yang menegaskan akan kewajiban menutup aurat ini: 1. dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Fenomena mengumbar aurat ini adalah merupakan perilaku jahiliyyah. Keterangan: Tabarruj adalah perilaku mengumbar aurat atau tidak menutup bagian tubuh yang wajib untuk ditutup. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa. Selebihnya hanyalah pakaian luarnya saja. seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini. Ini menunjukkan bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurat yang harus ditutup. Begitu pula menurut ‘Atho. Yaitu siksaan api neraka. Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat solat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. Keterangan : Hadis ini menunjukkan dua hal: a. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (Ind: jilbab)nya ke dadanya…’” Keterangan : Ayat ini menegaskan empat hal: a. Yang pasti alasan dilarang oleh si ini dan si itu kini tak berlaku lagi. Jelasnya saat ini sudah tak ada lagi larangan untuk mengenakan busana dan pakaian yang menutup aurat. Al-Ahzab: 59). “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu…” (Qs. Hanya saja beliau (Ibnu Abbas) menambahkan cincin dalam golongan ini. Konteks ayat di atas adalah ditujukan untuk istri-istri Rasululloh SAW. di pasar dan bahkan di terminal-terminal. Kesadaran untuk kembali kepada budaya kita sendiri (baca: budaya berpakaian islami) mulai tumbuh. Namun di sana kita juga melihat fajar yang mulai terbit. Al-Qur’an surat Annur(24):31 “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. mengatakan maksudnya adalah pakaian dan wajah. Ibnu Mas’ud RA. bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). Ini menunjukkan bahwa pamer aurat dan “buka-bukaan” adalah dosa besar. Muslim) Keterangan: Hadis ini menjelaskan tentang ancaman bagi wanita-wanita yang membuka dan memamerkan auratnya. (tambahan dariku) Meski di Perancis malah terjadi sebaliknya. Yang menjadi dasar hal ini adalah: 1. b. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. Menurut Ibnu Umar RA. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh ALLOH SWT. 2. bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasululloh SAW dengan pakaian yang tipis.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. apakah jaminan kebebasan ini kemudian segera disambut oleh para muslimah kita dengan segera kembali mengenakan pakaian takwa itu atau tidak. 2. Di kampus. Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Sekarang marilah kita perhatikan penafsiran para sahabat dan ulama terhadap kata “…kecuali yang biasa nampak…” dalam ayat tersebut. anak-anak perempuanmu. Keterangan: Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung). d. Dari Al-Qur’an: a. Bahkan diriwayatkan bahwa ritual haji pada zaman jahiliyyah mengharuskan seseorang thawaf mengelilingi ka’bah dalam keadaan bugil tanpa memandang apakah itu lelaki atau perempuan. yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan. Abu Daud dan Baihaqi). Para ulama mengatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan akan haramnya menampakkan anggota badan tempat perhiasan tersebut. (HR. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. rajam. “Hai Nabi. b. katakanlah kepada istri-istrimu.

. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar. ada dua cara yang kerap dilakukan— oleh mereka yang tak mampu atau tak mau melihat watak gradual dan kontekstual pewahyuan al-Qur’an— dalam menghadapi “teks-teks kontradiktif” tentang kaum lain ini: Pemikir liberal kerap mengabaikan begitu saja ayat-ayat yang mencela penganut agama lain. Mereka berkata dusta terhadap Allah. jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain. s. Dalam Q. Di samping ayat-ayat yang menunjukkan respon negatif berupa kecaman al-Qur’an terhadap sikap kaum Yahudi dan Nashrani. jika kamu adalah orang-orang yang benar. adalah keliru untuk menerapkan teks-teks celaan secara universal. al-Qur’an dianggap mengapresiasi secara positif keberadaan kaum lain dalam kondisi apapun juga. seperti ditegaskan dalam Q. Karena. Respon kondisional al-Qur’ān terhadap keberadaan kaum lain ini harus dilihat secara objektif. s.. pada hakekatnya kehidupan akhirat adalah milik semua kaum yang beriman kepada Allah. Ali ‘Imran/3: 77 ditegaskan: Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit. Pertama. yang merasa bahwa hanya mereka sajalah yang memperoleh keselamatan.. tidak dikembalikannya kepadamu. secara ahistoris. kepada semua yang didefinisikan sebagai “ahl al-Kitāb” atau “kafir”. Mereka merasa bahwa hanya mereka sajalah yang menjadi kekasih Allah. Dalam kajian ini akan diungkapkan bagaimana sebenarnya al-Qur’an menyikapi agama lain dan para pemeluknya? Apakah kaum pemeluk agama lain selain Islam dianggap sebagai musuh. melalui ayat ini mencela klaim sebagian Ahli Kitab. alJumu‘ah/62: 6: Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi. Dalam ayat ini. orang tak bisa berbicara tentang “posisi final al-Qur’an” terhadap kaum lain. karena dianggap telah menyimpang dari rel akidah yang sesungguhnya. padahal mereka mengetahui. Al-Qur’an menegaskan bahwa apa yang mereka katakan hanyalah bualan atau angan-angan kosong belaka. dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar.Non-Muslim dalam Perspektif Al-Qur’an Wacana seputar term non-Muslim seringkali memicu perdebatan panjang di kalangan umat Islam.. s. Sikap ini kemudian dikecam keras oleh al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. maka yang akan muncul adalah prasangka sepihak dan parsial yang menyebut bahwa al-Qur’an secara umum menunjukkan sikap menentang eksistensi kaum lain. ada sejumlah petunjuk di dalam al-Qur’an tentang penerimaan al-Qur’an terhadap eksistensi keimanan kaum lain. al-Baqarah/2: 62). juga ditunjukkan dalam Q. khususnya sejarah turunnya wahyu. Di sisi lain. Atau sebaliknya. Kalangan ini beranggapan bahwa pada hakekatnya sumber agama-agama adalah satu. sementara kaum tradisionalis dan konservatif mengambil jalan yang hanya bisa disebut sebagai penerapan tafsir linguistik yang dipaksakan untuk mendesak teks-teks inklusivistik agar menghasilkan pemaknaan yang eksklusivistik.. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk dan patuh kepada-Nya. Kenyataan akan sikap tidak objektif dalam melihat respon al-Qur’an terhadap kaum lain ini terjadi di masyarakat muslim. mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat… Selain dua ayat di atas. norma-norma sosial. misalnya dalam Q. Lebih lanjut. al-Qur’an juga menunjukkan apresiasi positif akan eksistensi keberagamaan serta keimanan mereka. dikembalikannya kepadamu. Menurut Farid Esack dalam Qur’an. Al-Qur’an. Ya‘qub dan anak cucunya. Ali ‘Imran/3: 75: Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak. Ayat ini menegaskan bahwa al-Qur’an mencela sikap kaum Yahudi dan Nashrani yang menjustifikasi eksploitasi terhadap kaum mereka sendiri dengan dasar bahwa kitab suci mereka membolehkan praktik-praktik itu. al-Qur’an menjadikan kepercayaan pada keaslian semua agama wahyu sebagai syarat keimanan. respon al-Qur’an terhadap kaum lain sesuai dengan beragam respon mereka terhadap pesan-pesan Islam dan kehadiran Nabi. bahkan tidak jarang kalangan ini dengan sikap sinis memandang mereka (non-Muslim) sebagai musuh. (Q. yaitu kaum Yahudi dan Nashrani bahwa kehidupan akhirat hanyalah untuk mereka dan tidak diperuntukkan bagi orang lain. s.. maka harapkanlah kematianmu. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Kecaman serta celaan al-Qur’an terhadap eksklusivisme kaum Yahudi dan Nashrani. sebagian kalangan umat Islam lainnya memandang non-Muslim sebagai saudara seiman (brother in faith). Karena jika tidak. al-Baqarah/2: 111: Dan mereka (Yahudi dan Nashrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nashrani”. Isma‘il. Dan kedua. percaya kepada Hari Akhir. serta beramal saleh.. dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim. mereka memperlakukan orang-orang lain di luar kaum mereka dengan sikap arogan dan sewenang-wenang. s. maupun yang positif berupa pengakuan akan eksistensi keimanan mereka ditunjukkan al-Qur’an dalam beberapa ayatnya. s. mereka disebut sebagai saudara seiman (brother in faith)? Kalau kita cermati melalui penelusuran sejarah. celaan terhadap kaum Yahudi dan Nashrani juga diungkapkan al-Qur’ān dalam ayat lain. Al-Qur’an juga mengakui keabsahan semua agama wahyu dalam dua hal: pertama. Dari hasil kajian penulis akan hal ini. dan tujuan dari agama-agama itupun sama. al-Mu’minun/23: 52: . ditunjukkan al-Qur’an. Dalam hal ini. Hal ini sekaligus menegaskan sikap al-Qur’an yang kondisional terhadap eksistensi kaum lain. Liberation & Pluralism. ataukah justru sebaliknya. menghormati hukum-hukum. al-Qur’an secara tegas mengecam sikap eksklusivisme kaum Yahudi yang merasa lebih superior atas kaum lainnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Ishaq. yaitu menggapai keselamatan universal. Dari sikap ini. sementara kaum lainnya dianggap lebih rendah dan lebih hina. Hal ini ditegaskan dalam Q. s. al-Qur’an menerima keberadaan kehidupan religius komunitas lain yang semasa dengan kaum Muslim awal. memiliki berbagai implikasi signifikan. Al-Qur’an secara eksplisit menerima adanya pluralisme agama. dan apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Hal ini ditandaskan dalam Q. dan praktik-praktik keagamaan mereka. Esack mengungkapkan bahwa ide perkembangan sikap al-Qur’an terhadap kaum lain bersifat gradual dan kontekstual ini. kecuali jika kamu selalu menagihnya. Sebagian kalangan menganggap bahwa nonMuslim adalah kelompok lain (the other). Beragam respon baik yang negatif berupa celaan. al-Baqarah/2: 136: Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami. Kalangan ini memberikan label “sesat” bahkan “kafir” kepada non-Muslim. Respon negatif terhadap kaum Yahudi dan Nashrani berupa celaan atas sikap mereka. Ayat ini kemudian diikuti dengan pencelaan pada mereka yang “menukar janji (dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit”.

Dan kedua.’ Demikian juga yang berlaku ke atas ibu nabi Musa.id ) Gambaran dari dimuliakannya kaum wanita oleh al_qur’an ialah larangan Allah atas kaum wanita yang berkedudukan tinggi dan berketurunan bangsawan serta paras cantik untuk mengolok-olok mereka yang tidak memperoleh nasih serupa. Dan berkata.” Nabi saw berkata kepadanya. Di samping itu. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah. agama yang satu. Bukti Wanita Mulia Dalam Islam March 30th. Kenyataan ini menunjukkan bahwa permusuhan tidak dianggap sebagai norma dalam hubungan kaum Muslim dan kaum lain.’ Wanita dan lelaki adalah sama di sisi Allah sebagai hamba Allah. dan sesudah shalat isya. ketika meninggalkan pakaian luar mereka saat mau tidur siang. Allah memuliakan beliau dengan menenteramkan jiwa beliau melalui firmanNya yang bermaksud: ‘Dan Kami ilhamkan .bmh. “Hai orang-orang yang beriman. atau biasa disebut dengan non-Muslim. al-Ma’idah/5: 5 menyatakan: Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu. di dalam surah Al-Hujurat ayat 13 Allah berfirman: ‘Sesungguhnya yang paling mulia di kalangan kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Jika seseorang wanita beriman dan beramal salih dia diganjar Allah dan diletakkan di tempat yang tinggi. sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian yang lain). adalah agama kamu semua.’”Lalu turunlah ayat ini. supaya tidak masuk mendadak. “ (QS Al Hujurat : 11) “Janganlah mencela dirimu sendiri” berarti mencela antara sesama orang-orang beriman. secara tegas Q. Selain penegasan tentang eksistensi keimanan Ahli Kitab. “Wahai Yahudiyah binti dua orang Yahudi. Ikrimah berkata bahwa Shafiyah binti Huyai Bin Akhtab (istri Rasulullah yang Yahudi) mendatangi Rasulullah saw.” Lalu turunlah ayat ini. Anas r. maka bertakwalah kepadaku. “Hai orang-orang yang beriman. yang sebelum shalat subuh. dan Aku adalah Tuhanmu. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. ibu nabi Musa berasa bimbang tentang keselamatan anaknya. yaitu kaum Yahudi dan Nashrani. ketika kaum menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari. terlihat jelas betapa al-Qur’an menyikapinya sesuai dengan kondisi di mana mereka. Begitu pula terhadap anggota keluarga yang belum baligh agar minta izin tiga kali sehari semalam. terutama dalam hal makanan dan perkawinan. s. Dari keterangan ayat-ayat di atas. pria Muslim juga diperkenankan (baca: halal) menikahi wanita-wanita suci. yakni kaum lain melalui jalan yang berbeda. Dari penelusuran sejarah tentang sikap al-Qur’an terhadap kaum lain. yaitu wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari kalangan Ahli Kitab.. jelaslah bahwa pengakuan al-Qur’an atas pluralisme agama mencakup dua hal pokok yang sangat penting dalam kehidupan ini. (Q. norma-norma dan peraturan kaum lain ditegaskan dalam Q. sedang mereka dalam keadaan tidak suka dilihat orang lain. dan makanan kamu halal pula bagi mereka. Berhubung dengan ini. “Jawablah mereka dan katakan. dan suamiku Muhammad. begitu juga sebaliknya. Berkata bahwa sebab turunnya (asbabul nuzul) ayat ini aialah berkenaan dengan istri-istri Rasulullah saw. yaitu sebelum sholat subuh. hendaklah budakbudak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki dan orang-orang yang belum baligh diantara kamu. (*) Cara Al-Quran Memuliakan Wanita Minggu. al-Qur’ān juga mengapresiasi secara positif interaksi sosial kaum Muslim dengan mereka.Mereka melayani kamu. adalah naif jika kaum Muslim menggeneralisasi penolakan atau pencelaan terhadap agama lain. Dan Allah maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dalam hal makanan dan perkawinan. dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu… Ayat di atas secara tegas menyatakan bahwa makanan Ahli Kitab halal bagi kaum Muslim. Muqatil berkata bahwa sebab turunnya ayat ini ialah apa yang dialami Asthma’binti Murstid yang punya anak lelaki yang sudah dewasa dan seringkali memasuki kamar Asthma’(ibunya) pada kondisi yang ia tidak suka. sesungguhnya Allah telah memilihmu. Dan mengeluh bahwa istri-istri Nabi mengejek dengan perkataan. dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamupanggilmemanggil dengan gelar-gelar yang buruk. yaitu pertama. Dari Ibnu Abbas r.a. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman. Demikianlah Allahmenjelaskan ayat-ayat bagi kamu. 16 April 2006 ( dari www.a.. Ketika Firaun bertindak kejam membunuh anak-anak lelaki Bani Israil. tanpa memperhatikan konteks sosiohistoris dari teks-teks yang digunakan untuk mendukung sikap tersebut. dan tidak ada halangan pada selain waktu-waktu itu. Gambaran lainnya dari pemuliaan terhadap kaum ibu dalam al-Qur’an ialah Firman Allah SWT. Ini dilarang karena mereka seperti satu badan. Firman Allah. meminta izin kepadamu tiga kali (dalam satu hari). penerimaan al-Qur’an terhadap kaum lain sebagai komunitas sosio-religius yang sah. dengan langsung memberi jawaban atas permasalahan yang di hadapi. janganlah satu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). al-Baqarah/2: 62). Begitu pula larangan seripa bagi kaum pria terhadap kaum pria. lalu ia mendatangi Rasulullah saw. s. al-Ma’idah/5: 47: Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil. Yang memperolok-olok Ummu Salamah karena bentuk tubuhnya yang pendek. memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya.” (An-Nur : 58) Tafsir ayat ini jelas ketika Allah SWT menyuruh hamba-hamba-Nya yang beriman agar menyuruh para pelayan (budak-budak) mereka untuk meminta izin bila memasuki kamar-kamar tidur mereka. masyarakat sekeliling mengutuk beliau tetapi Allah membela dan memuliakan beliau melalui firmanNya di dalam surah Ali-Imran ayat 42 yang bermaksud: ‘Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibrail) berkata: ‘Hai Maryam. penerimaannya atas kehidupan spiritual dan keselamatan mereka. Kedua. s. Begitullah “cara” al-Qur’an memuliakan kaum wanita.’ Wanita yang bertakwa mendapat pembelaan daripada Allah. “Pelayan-pelayan dan anak-anak kami yang sudah dewasa memasuki kamar-kamar tidur kami pada keadaan yang tidak kami sukai. dan janganlah pula wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena boleh jadi wanita yang (diperlolok-olok) lebihbaik dari pada wanita (yang mengolok-olok). Dalam surah Ali-Imran ayat 195 Allah berfirman yang bermaksud: ‘Sesungguhnya Aku tidak mensia-siakan amalan orang-orang yang beramal di antara kamu baik lelaki ataupun wanita kerana sebahagian kamu adalah keturunan dari sebahagian yang lain. Mengenai penghormatan atas hukum agama. pamanku Musa..Sesungguhnya (agama tauhid) ini.or. al-Qur’an menerima pandangan bahwa pemeluk-pemeluk setia agama-agama wahyu ini juga akan mendapat keselamatan dengan ungkapannnya: “tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. kaum lain merespon pesan-pesan al-Qur’an.’Ayahku Harun. dan pada malam hari sesudah shalat isya (saat mereka membuka pakaian). Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. 2007 · No Comments Allah tidak pernah menghina atau memuliakan makhluk-makhlukNya berdasarkan jantina. menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang hidup semasa dengan kamu). maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. Sebaliknya kemuliaan seseorang adalah berdasarkan ketakwaan nya kepada Allah. Dengan demikian. dan barang siapa tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang zalim. Ketika Maryam ibu Nabi Isa mengandung.. (Itulah) tiga aurat bagimu.

atau dua orang puteri atau dua saudara perempuan.’ Menzalimi wanita adalah dilarang oleh Islam. Dan janganlah kamu bimbang dan janganlah pula bersedih hati kerana Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. Salah seorang perawi hadis yang terkenal. perhatikanlah apa yang hendak kamu perintahkan’. Dalam surah an-Nisak Allah menegaskan. Lantaran terlalu sedih kerana dihalang oleh golongan Quraisy dari melakukan Haji.kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia dan apabila kamu khawatir ke atas keselamatannya letakkanlah ia di atas sungai (Nil). ‘Wahai orang yang beriman. makin ramai wanita di Barat yang memeluk Islam. Hafsah. “Bab Peperangan Wanita Dan Perjuangan Mereka” dalam kitab Sahih Bukhari. Contoh yang lain ialah anak perempuan kepada Imam ‘Alauddin al-Samarqandi al-Hanafi yang bernama Zainab. Jika dibandingkan jawatannya dengan suasana hari ini. pada pandangan wanita itu. Selepas kematian khalifah Abu Bakar. Justeru. Justeru. tugas ini boleh disamakan dengan tugas seorang ketua pengarah di kementerian hal ehwal pengguna. kaum wanita merupakan sebahagian daripada syekh dan guru yang telah mendidiknya. Jika si isteri mempunyai kelemahan. dan dia telah mengadu kepada Allah.” Riwayat ini menunjukkan penglibatan kaum wanita dalam sistem kepimpinan dan politik negara adalah penting seiring dengan kaum lelaki. Seorang wanita bangun untuk menegur khalifah Omar kerana. Selepas mendengar hujah wanita itu. Lord Scott. Kesemua ini adalah bukti yang jelas yang menunjukkan betapa Al-Quran dan Islam memuliakan kaum wanita. Kaum wanita yang berilmu tinggi boleh mengeluarkan fatwa berhubung hukum hakam Islam.’ Para suami diperintahkan Allah supaya menjaga isteri-isteri mereka dengan baik dan tidak menjadikan isteri-isteri seperti bola yang boleh ‘ditendang’ ke sana ke mari.’ Wanita ada suara dalam Islam dan suara mereka dimuliakan Allah. beliau melantik seorang wanita bernama Ummul Syifa binti Abdullah menjadi penyelia pasar di Madinah. Antara wanita Islam yang diiktiraf sebagai perawi hadis ialah Karimah Al-Mirwaziah dan As-Sayyidah Nafisah binti Muhammad. pernah berkata. kerana dosa apakah maka dia dibunuh?’ Untuk menampakkan penentangan kepada sistem jahiliah yang menghina kaum wanita. Beliau kemudiannya dikahwinkan dengan seorang ulama mazhab Hanafi yang bernama Imam Al-Kasani. Di Britain. Allah menurunkan wahyu berhubung perkara ini dalam surah Al-Mujadalah ayat 1-2: ‘Sesungguhnya Allah mendengar suara perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya. Ia menunjukkan. Islam menentang adat resam ini melalui firman Allah di dalam surah At-Takwir ayat 8 dan 9 yang bermaksud: ‘Dan apabila bayi-bayi perempuan yang ditanam hidup-hidup ditanya.’ WANITA DIMULIAKAN DI ZAMAN SAHABAT DAN SELEPASNYA Pada zaman Nabi Muhammad. sebelum beliau menyerahkannya kepada khalifah Uthman untuk ditulis semula dan dibukukan. di antara wanita yang memeluk Islam ialah anak perempuan kepada hakim yang terkenal. pada hari ini.. khalifah yang empat serta era kegemilangan empayar Islam. ‘Statistik menunjukkan bagi setiap lima orang yang memeluk Islam di Amerika empat daripada mereka adalah wanita. Pada zaman Nabi. Itulah yang akan mereka lakukan. tidak ada seorang sahabat pun yang bangun untuk melaksanakannya.’ Al-Quran juga merakamkan kebijaksanaan kepimpinan permaisuri negeri Saba. Perkembangan ini dinyatakan oleh Lucy Berrington di dalam majalah Times terbitan 9 November 1993 di bawah tajuk The Spread of a World Creed.. peranan Aisyah amat menonjol sekali di sudut ini. iaitu isteri sahabat Ubadah bin Shamit. namun urusan ini terserah kepadamu. si suami juga mempunyai kelemahan. Al-Quran dihafaz dan ditulis oleh sekumpulan sahabat. Beliau sering kali menyampaikan fatwa tentang persoalan agama bersama-sama dengan bapanya. Beliau berkata. Allah memuliakan anak perempuan Nabi Syuaib dengan merakamkan pandangan beliau yang amat bernilai berhubung aspek pengurusan. di dalam surah An-Naml ayat 33 dan 34: ‘Mereka (para pembesar negeri Saba) berkata: ‘Kita mempunyai kekuatan dan keberanian yang cukup. pengarang kitab Al-Badaii’ As-Sonaii. Antara contoh-contohnya ialah: Berpandukan hadis Muslim Nabi Muhammad mendoakan agar Ummu Haram.’ Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dan Abu Daud. Permaisuri (Balqis) berkata: ‘Raja-raja. Al-Quran merupakan wahyu Allah. kerana Hafsah diberikan kepercayaan supaya menyimpan sumber rujukan utama Islam. Di dalam surah Al-Qasas ayat 26. Apabila di amati insiden ini kita boleh mengatakan Ummu Salamah ketika itu berkedudukan seperti seorang penasihat kepada seorang pemimpin negara. Di zaman khalifah Omar. Beliau bukan saja mampu mengeluarkan fatwa malah kadangkala beliau membetulkan pandangan serta fatwa yang dikeluarkan oleh sahabat-sahabat Nabi yang lain. dengan badan ibunya (zihar). khalifah Omar terus berkata. Hal ini disebutkan dalam surah an-Nisak ayat 19: ‘Pergaulilah isterimu dengan cara yang makruf. khalifah Omar menyampaikan khutbah di atas mimbar dan beliau menjelaskan tentang penetapan kadar mahar agar ia tidak begitu tinggi. baginya syurga.’ Kenyataan ini disebutkan di dalam surah Al-Qasas ayat 7..’ Islam tidak mengizinkan wanita dikotak-katikkan oleh golongan lelaki. wanita dihargai dan diletakkan di tempat yang tinggi. Nabi Muhammad membenarkan pandangan Ummu Salamah dan mematuhi nasihat isterinya. . lalu dididiknya mereka dan dijaganya mereka dengan baik kemudian dikahwinkan mereka. Khaulah.’ Laporan Columbia News Service (Agensi Berita Columbia) oleh Nevine Mabro pula menunjukkan. Nabi bersabda: ‘Sesiapa yang memiliki tiga orang puteri atau tiga saudara perempuan. sahabat yang bernama Aus telah menyamakan badan isterinya. khalifah Omar menyimpannya dan selepas kematiannya himpunan ini diserahkan kepada Ummul Mukminin. Hadis adalah sumber hukum Islam yang kedua selepas Al-Quran. Imam Bukhari memandang tinggi sumbangan kaum wanita dalam Islam sehinggakan beliau meletakkan satu bab khas yang bertajuk. Melihat keadaan itu Ummu Salamah menasihati Rasulullah agar melakukannya terlebih dahulu kerana beliau yakin selepas Baginda melakukannya sahabat-sahabat pasti menuruti baginda. Pada suatu ketika. Ketika berlaku Perjanjian Hudaibiyah Nabi Muhammad mengarahkan sahabat-sahabat mencukur rambut dan menyembelih binatang ternakan sebelum kembali ke Madinah. ‘Semakin ramai wanita Amerika keturunan Sepanyol memeluk Islam kerana tertarik dengan kemurnian ajarannya. Pandangan dan sikap yang baik walaupun datang dari wanita. Perbuatan ini amat tidak disenangi oleh isterinya lantas beliau mengadu hal ini kepada nabi. Kejadian ini melambangkan kemuliaan wanita Islam serta kepercayaan Islam kepada wanitanya. Allah menyuruh si suami melihat kebaikan yang banyak yang ada pada isteri dan tidak hanya memfokuskan kepada satu dua kelemahan yang ada. Di zaman nabi. Pada zaman khalifah Abu Bakar. “Wanita itu betul dan lelaki ini (iaitu Omar) salah. Allah berfirman: ‘Dan salah seorang dari kedua wanita itu berkata: ‘Wahai bapaku ambillah dia (Musa) sebagai pekerja kita kerana sesungguhnya orang yang paling baik untuk dijadikan pekerja ialah seorang yang gagah lagi dapat dipercayai. Di zaman Nabi serta sahabat. Al-Hafiz ibn Asakir. tulisantulisan Al-Quran dihimpunkan dan disimpan oleh beliau. Jika kamu tidak senang dengan mereka maka bersabarlah kerana mungkin kamu tidak menyukai sesuatu tentang mereka tetapi Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya. Balqis. apabila memasuki sesebuah negeri akan merosakkan negeri itu dan menjadikan penduduk yang mulia hina. tindakan untuk hadkan kadar mahar bercanggah dengan ketetapan Al-Quran. janganlah kamu memusakai wanita secara paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk mengambil sebahagian apa yang telah kamu berikan. dapat keluar berperang di lautan bersama-sama dengan tentera-tentera Islam yang lain. Nabi mengiktiraf sumbangan wanita Islam di luar rumah. Di zaman jahiliah adalah menjadi perkara biasa jika bayi-bayi perempuan ditanam hidup-hidup demi untuk memelihara keluarga dari aib dan malu. dimuliakan Allah.

keguguran atau kelahiran. Allah sahaja yang lebih mengetahui. Demikian juga bagi ibu-ibu yang menyusu. Amat jarang berlaku haid ketika hamil. Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai.” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja. Maha Mulia Allah sebagai sebaik-baik pencipta. Umur seorang wanita yang pada kebiasaan bermula haid ialah antara dua belas hingga lima puluh tahun.” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. sangat sedikit di kalangan mereka yang datang haid terutamanya di awal masa menyusu. Sebab-sebabnya seperti berikut: .Penerangan Syaikh al-Utsaimin rahimahullah di atas merujuk kepada kes setelah berlakunya persenyawaan dan wanita menjadi hamil.Semua ini merupakan dalil-dalil kukuh yang menunjukkan wanita dalam Islam mempunyai peranan yang penting dalam pembangunan sesebuah masyarakat. Islam tidak pernah menghalang kaum wanita yang ingin berperanan di penjuru-penjuru lain selagi mana batas-batas agama dan landasan keutamaan dijaga o Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain. Hikmah Haid Sesungguhnya janin yang berada di dalam perut ibunya tidak mungkin mendapat makanan seperti orang yang di luar. Ia tidak memerlu kepada pemakanan biasa (solid food) dan penghadaman. 1 Makna Haid Dan Hikmahnya Makna Haid Dari sudut bahasa. Pertama: Umur bagi bermulanya haid. haid ialah darah yang keluar dari wanita kerana fitrah kejadiannya tanpa sebarang sebab. dua tangan untuk memegang. Para ilmuan berselisih pendapat adakah terdapat batas umur tertentu bagi permulaan haid untuk wanita.” o Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan. kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu. seorang wanita terputus haidnya. Terdapat enam atau tujuh pendapat dalam persoalan ini. sambil berkata: aku turut bahagia untukmu. 1. Menentukan batas umur tertentu memerlukan dalil daripada al-Qur’an dan al-Sunnah. 2. Ini adalah pendapat yang benar kerana didokongi oleh al-Qur’an dan al-Sunnah serta pemikiran yang sihat. Imam al-Darimi rahimahullah membuat kesimpulan berikut: Semua pendapat ini adalah saya menurut saya. ini adalah sepertimana pendapat Imam al-Darimi yang lalu dan ia adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah. Maka pada setiap umur dan keadaan jika didapati (wujud darah yang mengalir keluar) maka wajib mengkategorikan ia sebagai (permulaan) haid. Ini kerana rujukan kepada semua persoalan ini adalah kepada wujud (darah yang mengalir keluar). Berkata Imam Ibn al-Munzir rahimahullah: Menurut satu pendapat: Tidak ada batas bilangan hari bagi tempoh minima atau maksima (haid). Itulah namanya Cinta. Dari sudut syara’. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat. dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. 2 Masa Haid Dan Tempohnya Perbincangan dalam bab ini tertumpu kepada dua persoalan: 1. Walau bagaimanapun tugas-tugas ini tidak sepatutnya dijadikan alasan oleh kaum wanita untuk mengabaikan tugas utamanya sebagai isteri dan ibu yang bakal melahirkan cahaya mata bernilai bagi umat. Kedua: Tempoh haid. darah haid berperanan membersihkan sel-sel telur dalam sistem pembiakan wanita yang tidak disenyawakan. luka. Tugas ini tidak dapat diambil alih oleh kaum lelaki dan ia merupakan suatu tugas yang amat mulia. Namun tugas kaum wanita bukanlah sekadar itu. Maka apabila seorang wanita melihat darah haid mengalir keluar maka bermakna dia telah didatangi haid sekalipun umurnya sembilan tahun ataupun lebih daripada lima puluh tahun. Inilah hikmah darah haid. Ini kerena hukum-hukum haid yang ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah atas wujudnya (haid). (Zat makanan yang berada di dalam darah ibu) sampai ke dalam badan janin melalui pusatnya dan lantas memasuki uraturat sarafnya. jld. Namun wujud kemungkinan haid bermula lebih awal daripada umur dua belas tahun atau lebih lewat daripada umur lima belas tahun. padahal tidak ada sebarang dalil berkenaannya (dalam dua sumber tersebut). Inilah cara janin mendapat makanan. [Dinukil oleh Imam al-Nawawi dalam Majmu’ Syarh al-Muhazzab. Ia keluar pada waktu-waktu yang diketahui. ms. Mereka juga berselisih pendapat sama ada darah yang datang sebelum atau selepas batas umur tersebut adalah darah haid atau darah penyakit? Selepas menyebut perselisihan pendapat ini. 386] Apa yang disimpulkan oleh Imam al-Darimi adalah pendapat yang benar. Para ilmuan juga berbeza pendapat dalam persoalan tempoh haid atau kadar masanya. Ini kerana tidak mungkin bagi seorang ibu untuk menyampaikan makanan kepada anaknya dengan cara yang biasa. Inilah juga pendapat yang dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah. Ia adalah darah fitrah yang keluar bukan kerana sakit. dan kamu masih mampu tersenyum. Allah serta Rasul-Nya tidak membataskan umur tertentu dalam persoalan ini. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Saya (pengarang) berkata. haid (‫ )الحيض‬ialah: turun sesuatu secara mengalir. Oleh itu apabila berlaku kehamilan. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi. Atas sebab ini Allah Ta’ala menjadikan makanan untuk janin dalam perut ibu daripada darah (ibunya). Tempoh haid. Jika tidak hamil. Jawab titis air mata kedua tu. Umur bagi bermulanya haid.

hari kelapan belas dan hari ketujuh belas. ms 35] Keempat: Pemikiran yang sihat berdasarkan qiyas (analogi) yang sahih akan mengetahui bahawa Allah Ta‘ala menjadikan haid sebagai satu bentuk kotoran. Ini membuktikan bahawa hukum haid ditentukan dengan bermula dan berakhirnya haid. puasa. Yang dihajatkan. Sesungguhnya segala hukum syara’ tidak boleh ditetapkan melainkan dengan dalil dari syara’ sendiri iaitu daripada al-Qur’an dan al-Sunnah. jima’. Sedangkan perkara-perkara ini adalah umum terhadap umat dan mereka berhajat untuk mengetahuinya. Dalam ertikata lain. Ini semua termasuk kesempurnaan agama Allah dan nikmat-Nya ke atas orang-orang yang beriman. Maka apabila sahaja didapati wujud haid maka wujudlah kotoran tanpa dibezakan antara hari kedua dan hari pertama.” [Shahih al-Bukhari – no: 1787 (Kitab al-Haj)] Dalam hadis di atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjadikan “suci” sebagai syarat penyudah tegahan. talak. [al-Nahl 16:89] Firman Allah: Bukanlah ia (al-Qur’an) cerita-cerita yang diada-adakan. . jelaslah bahawa ia sebenarnya tidak berhajat kepadanya. tidur. pesaka dan sebagainya. atau yang dijadikan syarat ialah kewujudan haid itu sendiri pada seorang wanita. Baginda tidak menetapkan apaapa batas masa atau tempoh tertentu. rukuknya dan sujudnya. hari keenam belas dan hari kelima belas. [Yusuf 11:111] Apabila perkiraan tempoh masa (minima dan maksima bagi) haid tidak terdapat dalam kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Allah tidak menentukan baginya tempoh masa minima dan tempoh masa maksima. Katakanlah: "Darah haid itu satu benda yang mendatangkan mudarat". tiga hari atau lima belas hari sebagai syarat penyudah tegahan. Padahal ini adalah persoalan penting yang sangat berhajat kepada penetapan daripada dua sumber tersebut. Seandainya penetapan tempoh ini termasuk daripada hukum fiqh bagi umat beribadat kepada Allah. tidak wujudnya hukum perkiraan tempoh masa (minima dan maksima bagi) haid di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah menjadi bukti bahawa perkiraan tersebut tidak memberi apa-apa manfaat atau ilmu. bukan tempoh masa haid.” [Shahih Muslim – no: 1211 (Kitab al-Haj)] Dalam Shahih al-Bukhari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada ‘A’isyah radhiallahu 'anha: “Tunggulah maka apabila kamu telah suci maka keluarlah ke Tan’im. masuk-keluar rumah. Kedua: Dalam Shahih Muslim tercatit sebuah hadis yang sahih di mana Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada ‘A’isyah radhiallahu ‘anha yang di saat itu sedang berihram untuk umrah dan didatangi haid: “Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang berhaji kecuali jangan kamu bertawaf di al-Bait (Ka’abah) sehingggalah kamu suci. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah menyebut sebuah kaedah yang amat penting: Dari apa yang dikenali sebagai haid. waktu-waktunya. kotoran tetap kotoran. Ini menunjukkan bahawa sebab timbulnya hukum ialah bermula dan berakhirnya haid. Maka sesiapa yang menentukan satu tempoh tertentu maka sesungguhnya dia menyalahi al-Qur’an dan al-Sunnah. kadarnya dan tempat ditunaikannya. tempoh dan waktunya. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (jangan bersetubuh dengan isteri kamu) dalam masa datang darah haid itu. nisab-nisabnya. Justeru haid tetap haid. membuang hajat sehinggalah kepada bilangan batu-batu untuk beristinjak dan pelbagai lagi perkara-perkara kecil yang lain. tetapi ia mengesahkan apa yang tersebut di dalam kitab-kitab agama yang terdahulu daripadanya. Allah tidak menjadikan tempoh sehari semalam. dan ia sebagai keterangan yang menjelaskan tiap-tiap sesuatu.Pertama: Firman Allah Ta’ala: Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad). Ini sebagaimana hukum-hukum fiqh yang lain seperti solat. Faktor penyebab hukum (‘illah) bagi haid ialah kotoran. Allah dan Rasul-Nya juga telah memperincikan adab-adab makan. [al-Baqarah 2:222] Dalam ayat di atas Allah menjadikan “suci” sebagai syarat penyudah kepada tegahan. Firman Allah: Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran menjelaskan tiap-tiap sesuatu. dan janganlah kamu hampiri mereka (untuk bersetubuh) sebelum mereka suci. hari keempat dan hari ketiga. Haji dan seterusnya. Puasa. Maka bagaimana mungkin dibezakan hukum antara dua hari tersebut sedangkan faktor penyebabnya adalah sama? Ini menyalahi qiyas yang sahih kerana faktor penyebab yang sama akan menyamakan hukum antara dua hari tersebut. duduk. Allah juga tidak menentukan tempoh masa suci antara dua haid. Ketiga: Sesungguhnya perkiraan tempoh masa (minima dan maksima bagi) haid yang dilakukan oleh (sebahagian) ahli fiqh tidak terdapat dalilnya di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. harta-hartanya. dan ‘illah (faktor penyebab hukum) tetap sama pada dua hari tersebut. Dari sudut bahasa. atau ijma’ (kesepakatan) yang maklum (diketahui) atau qiyas (analogi) yang sahih. sehingga apabila suci daripada haid maka hilanglah hukum-hukum yang berkaitan dengan haid. mengenai (hukum) haid.” ‘A’isyah berkata: “Maka pada hari menyembelih aku telah suci…. Allah dan Rasul-Nya telah memperincikan bilangan solat. ia (al-Qur’an dan al-Sunnah) tidak membezakan antara satu tempoh dengan satu tempoh yang lain. [al-Risalah fi al-Asma’ allati ‘Alaq al-Syar‘i al-Ahkam biha. minum. Hukum-hukum syari’at bergantung kepada wujud atau tidaknya haid. Zakat. Allah telah kaitkan dengannya beberapa hukum dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. nikah. nescaya Allah dan Rasul-Nya secara terang dan jelas akan menerangkannya.

lalu dia melihat haid hanya datang pada awal bulan. lalu dia suci dalam masa enam hari sahaja.Kelima: Wujud perselisihan pendapat di kalangan orang-orang yang membataskan tempoh tertentu dan tiada satu jua di antara pendapat-pendapat ini yang kuat hujahnya. Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah di dalam kitabnya Fath al-Bari berkata: al-Bukhari mengisyaratkan dengan demikian bertujuan menyelaraskan antara hadith ‘A’isyah (yang bermaksud): “sehingga kamu semua melihat sesuatu seperti benang putih” dengan hadis Umm ‘Athiah di atas. maka ia dikategorikan sebagai haid dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang bersamaan dengan darah haid biasa. Oleh itu apabila seorang wanita mendapati darah mengalir keluar secara fitrah tanpa disebabkan luka atau seumpama. Berkata Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah: Pada asalnya setiap darah yang mengalir keluar dari rahim adalah darah haid sehinggalah ada bukti yang menunjukkan ia adalah darah istihadah. Kadangkala berlaku perbezaan masa haid seorang wanita. tetapi juga mudah selari dengan ruh Islam. ms. . Ia adalah ijtihad yang terbuka kepada kebenaran dan kesalahan sehingga tidak ada satu di antaranya yang terlebih utama untuk diikuti. jika ia mengalir keluar ketika sedang haid atau bersambungan di akhir masa haid. Para isteri Rasulullah dan selainnya memerlukan penjelasan akan persoalan ini pada setiap masa dan baginda tidak pernah lalai daripada memberikan penjelasan tentangnya. 3 Perkara-Perkara Yang Berlaku Ketika Haid. tidak ada dalil yang dijadikan sumber rujukan. Tempat rujukan ketika berlaku perselisihan ialah al-Qur’an dan al-Sunnah. maka ia adalah darah haid tanpa ditetapkan umur atau tempoh masanya. Ini dikenali sebagai Kudrah. Namun pendapat yang terkuat dan benar ialah apabila seorang wanita melihat darah mengalir keluar bererti dia haid dan apabila darah berhenti mengalir bererti dia suci (tidak haid). Tempoh mengalirnya bertambah atau berkurang daripada kebiasaan. Perbezaan ini wujud dalam dua bentuk: 1. kecuali dalam persoalan darah istihadah. tetapi berlarutan selama tujuh hari. Penentuan ini tidak disyaratkan oleh perbezaan masa sama ada lebih lama atau singkat. Tidak pernah lahir daripada baginda sesuatu yang wujud secara lazim melainkan diikuti dengan penjelasannya. Ini merupakan mazhab Imam al-Syafi’e rahimahullah dan dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah serta dikuatkan lagi oleh Imam Ibn Qudamah di dalam kitabnya al-Mughni. jld. Dalil-dalil bagi hal ini telah dikemukakan dalam bab yang sebelumnya. Dalilnya adalah kenyataan Umm ‘Athiah radhiallahu 'anha: “Kami tidak mengira (cecair yang berwarna) kekeruhan dan kekuningan (jika ia keluar) selepas suci sebagai apa-apa (yakni bukan haid). Berwarna kekeruhan antara kuning dan hitam. Sesungguhnya para ilmuan berbeza pendapat dalam dua kes di atas. Ini dikenali sebagai Sufrah. sama ada lebih awal atau lewat. 1. Ini disebabkan di antara pendapat-pendapat ini. pasti akan dijelaskan (hukumhukumnya) oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam tanpa melengah-lengahkannya. Atau kebiasaannya datang haid pada awal bulan lalu dia hanya melihatnya di akhir bulan. al-Sunnah dan pemikiran yang benar. Contohnya seorang wanita yang kebiasaannya datang haid pada akhir bulan. yakni dalam masa suci. Bab ketiga ini membahas beberapa persoalan lanjut berkenaan haid: Pertama: Perbezaan masa haid. Permulaan masa mengalirnya (putaran haid) menjadi awal atau lambat daripada kebiasaan.[1] 2. ms. Jika ia mengalir keluar secara terpisah daripada masa haid. Contohnya ialah seorang wanita yang kebiasaannya mengalami haid selama enam hari. Berwarna kekuningan seperti air yang keluar akibat luka. maka ia tidak dikategorikan sebagai haid. Ini kerana sesuatu yang memerlukan penjelasan tidak boleh dilengah-lengahkan. Atau seorang wanita yang kebiasaannya mengalami haid selama tujuh hari. 353: Jika sesuatu perkara itu berlaku secara lazim dan memerlukan penjelasan (hukum-hukumnya). Katanya lagi: Apa-apa darah yang keluar ialah darah haid jika tidak diketahui bahawa ia adalah darah istihadah atau luka.” [Sunan Abu Daud – no: 246 (Kitab al-Thaharah) dengan sanad yang sahih][3] Imam al-Bukhari rahimahullah menyusun hadis ini dalam kitab sahihnya di bawah bab: Bab al-Sufrah dan al-Kudrah pada hari-hari selain haid. [al-Risalah fi al-Asma’ allati ‘Alaq al-Syar‘i al-Ahkam biha.[2] Kedua: Cecair yang kekuningan atau kekeruhan. 2. Hujah-hujah ini bukan sahaja benar dari sudut dalil al-Qur’an. Jelas daripada dua sumber ini bahawa tidak ada pembatasan tempoh minima dan maksima haid. sebelum suci. Sufrah atau Kudrah. Kadangkala bagi seorang wanita mengalir keluar daripadanya cecair (discharge) yang: 1. 36 & 38] Lima sebab di atas menjadi hujah bahawa tidak ada penetapan tempoh minima dan maksima bagi haid.

Jika dikatakan satu hari yang tidak didatangi haid sebagai hari suci nescaya hari sebelum dan selepasnya adalah hari haid. Atau boleh sahaja berbeza-beza sehingga menjadi lebih lama atau lebih singkat antara satu masa haid dengan masa haid yang lain (penyunting). 4. Jika dianggap satu hari yang tidak didatangi haid sebagai hari suci nescaya iddah al-Quru’ akan selesai dalam masa lima hari sahaja. di mana sehari dia didatangi haid manakala hari yang seterusnya tidak ada haid (selang sehari). Ini adalah pendapat yang masyhur dalam mazhab Hanbali. dan segala puji bagi Allah.[6] Jika dijadikan “satu hari” yang tidak didatangi haid sebagai hari suci pasti ia akan menimbulkan kesempitan dan kesusahan kerana wajib mandi pada setiap dua hari. Permasalahan ini terbahagi kepada dua kes yang berlainan: 1. 2. 2. Bagi kes kedua ini.Hadis ‘A’isyah merujuk kepada seseorang yang melihat al-Sufrah dan al-Kudrah pada hari-hari haid. maka hukumnya terbahagi kepada dua kes: 1. ia tetap dianggap sebagai hari haid. Ini berdasarkan riwayat yang telah kita sebut dalam perbahasan darah nifas. . maka ia adalah darah istihadah dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah. di mana ia tidak mengambil kira darah yang berhenti dalam tempoh yang belum genap sehari. insya-Allah. Kadangkala juga seorang wanita menghadapi haid yang terputus-putus alirannya. bahkan hanya sekali-sekala sehingga ada tempoh waktu suci yang jelas baginya. 355: (Bagi kes darah haid yang terputus-putus selang sehari). yakni dalam masa suci. jika tidak maka dianggap sebagai hari suci. Darah yang sekejap ia mengalir dan sekejap ia berhenti akan menyulitkan orang kerana perlu kerap kali mengulangi mandi wajib. [al-Hajj 22:78] Maka atas ini tidaklah dikira suci darah yang berhenti mengalir keluar dalam tempoh yang belum genap sehari. [1] 2. sebelum suci. jld. Jika darah haid tidak mengalir. Hal seperti ini tidak pernah diperkatakan orang. maka ‘A’isyah menjawab: “Jangan kamu semua segera (bersuci) sehingga kamu semua melihat sesuatu seperti benang putih (yang keluar selepas berhenti darah bercampur al-Sufrah tersebut). ms. seperti ia kering di akhir hari secara kebiasaannya atau ia melihat keluar (sesuatu seumpama) benang putih (barulah dikira suci). Pendapat Ketiga: Pendapat ketiga diberikan oleh Imam Ibn Qudamah rahimahullah dan ia merupakan jalan pertengahan antara dua pendapat yang pertama di atas. 3. Ini menyalahi firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Dan Ia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara agama. Hukum bagi kedua-dua kes ini adalah sebagaimana kes cecair kekuningan atau kekeruhan yang telah dibahas di atas. seorang wanita itu tidak dikira suci. Sebab-sebabnya adalah seperti berikut: 1. Jika ia berlaku selepas haid. Jika ia berlaku secara berterusan. Kecuali jika hal ini berlaku melebihi daripada bilangan hari-hari kebiasaan haid. jika darah mengalir keluar maka dianggap sebagai hari haid. Beliau menulis di dalam kitabnya al-Mughni. Kecuali jika kelihatannya tandanya yang jelas. maka ia tidak dikategorikan sebagai haid. seperti menjadi kering atau hanya lembab. para ilmuan berbeza pendapat: Adakah sehari yang tidak keluar darah itu dikira suci atau dikira haid? Terhadap persoalan ini terdapat tiga pendapat yang dianggap kuat:[4] Pendapat Pertama: Ia dianggap sebagai “hari haid” dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang bersamaan dengan hari haid biasa. apabila ia berhenti mengalir dan belum genap satu hari (daripada saat berhentinya). (hukum-hukumnya akan dibahas dalam Bab 5 insya-Allah) Jika ia tidak berlaku secara berterusan. Jika ia berlaku ketika sedang haid atau atau bersambungan di akhir masa haid. Pendapat Kedua: Dalam tempoh masa selang sehari tersebut. Sesungguhnya kesempitan dan kesusahan adalah sesuatu yang dinafikan dalam syari’at ini. 1. Riwayat ini adalah sahih.” Ketiga: Haid yang terputus-putus. maka ia dianggap sebagai darah istihadah. Selagi mana tidak kelihatan sesuatu seumpama benang putih pada satu hari yang tidak didatangi haid. maka ia dikategorikan sebagai haid (dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang bersamaan dengan darah haid biasa).[7] Keempat: Darah haid yang tidak mengalir. Ini merupakan satu pendapat yang benar antara dua pendapat Imam al-Syafi’e [5] rahimahullah dan menjadi pilihan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah dan Mazhab Abu Hanifah. Hadith ‘A’isyah radhiallahu 'anha yang dimaksudkan adalah apa yang disebut oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab sahihnya: Sesungguhnya para wanita telah mengutus kepada ‘A’isyah bekas yang ada padanya kapas yang padanya ada al-Sufrah. manakala hadis Umm ‘Athiah merujuk kepada hari-hari selain haid.

Akan tetapi antara saat masuk waktu Maghrib dan saat dia didatangi haid. Ini lazimnya merujuk kepada kes haid yang normal. (penyunting) [3] Juga disahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Daud – no: 119. Iaitu solat Asar dalam waktu Asar (tanpa menjamak solat Zohor). paling minima. Berikut dikemukakan sebahagian daripadanya yang terpenting: Pertama: Solat. (penyunting) [5] Ini kerana beliau memiliki dua pendapat: Qaul Qadim dan Qaul Jadid.” [Shahih al-Bukhari – no: 556 (Kitab waktu-waktu solat)] . Maka tunggulah sehingga genap sehari. Alhamdulillah. Haid sudah berhenti dan wujud tanda-tanda yang jelas bahawa tempoh haid sudah berakhir. persoalan haid adalah persoalan yang lazim bagi para isteri dan wanita di zaman baginda. jika tiada lagi darah mengalir pada esoknya maka barulah pasti tempoh haid sudah berakhir. sempat untuk dia melaksanakan rakaat pertama solat Subuh. Para pembaca boleh mengamalkan salah satu daripadanya. iaitu apabila dia sempat memperoleh satu rakaat solat fardhu dalam waktunya. bererti ia tidak memiliki apa-apa hukum khusus yang berbeza dengan yang umum. Diharamkan solat ke atas wanita yang sedang haid. Ini merujuk kepada kes haid yang terputus-putus atau selang sehari. Seorang wanita didatangi haid selepas masuk waktu Maghrib. sempat untuk dia melaksanakan rakaat pertama solat Maghrib. Jika dijadikan tempoh masa bagi haid dan suci ialah selang sehari.” [Shahih al-Bukhari – no: 580 (Kitab waktuwaktu solat) dan Shahih Muslim – no: 607 (Kitab al-Masjid)] Apabila seorang wanita tamat haidnya dan sudah bersuci lalu dia berjaya memperoleh satu tempoh masa dalam waktu Asar. [6] nescaya waktu iddah ini akan berakhir dalam masa lima hari sahaja. Haid sudah berhenti akan tetapi tidak wujud tanda yang jelas bahawa tempoh haid akan berakhir. Contoh: Memperoleh satu rakaat di akhir waktu. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam: “Apabila seseorang kamu memperoleh satu sujud daripada solat Asar sebelum terbenam matahari. sama ada di awal waktu atau akhir waktu. Malah wujud kemungkinan ia akan mengalir semula. Kes perbezaan masa haid adalah antara perkara yang lazim berlaku yang tidak diperjelaskan oleh Rasulullah. wujud satu tempoh masa yang.[2] Maksudnya. baginda telah menjelaskannya secara terperinci dan telah sampai kepada kita dalam kitab-kitab hadis. 2. Seorang wanita suci daripada haid sebelum terbit matahari. Setiap satu daripadanya adalah benar dan tidaklah ia saling membatal antara satu sama lain. adakah wajib baginya untuk melaksanakan kedua-dua solat Maghrib dan Isyak (jamak takhir)? Terdapat perselisihan pendapat dalam persoalan ini. Bahkan tidak sah jika dia tetap melaksanakannya. (penyunting) Di sini Syaikh al-Utsaimin rahimahullah mengemukakan 3 pendapat tanpa menerangkan yang manakah yang lebih kuat atau benar. maka wajib ke atasnya untuk melaksanakan solat fardhu tersebut. Justeru seandainya wujud sesuatu persoalan dalam bab haid ini yang tidak diperjelaskan oleh baginda. Ini bererti di [4] sisi beliau ketiga-tiga pendapat ini adalah sama-sama benar. solat Isyak dalam waktu Isyak (tanpa menjamak solat Maghrib). Ini kerana pada asalnya dia dikira sempat mendapat satu rakaat daripada solat Subuh tersebut apabila tamat haidnya. maka tidak wajib untuk baginya melaksanakan solat tersebut. Persoalan-persoalan ini memerlukan penjelasan yang terperinci daripada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. paling minima. Contoh: Memperoleh satu rakaat di awal waktu. Namun terdapat satu pengecualian. Dalil bagi seluruh hukum ini ialah sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam: “Sesiapa yang mendapat satu rakaat dari solat maka sesungguhnya ia telah mendapat solat. adakah wajib baginya untuk melaksanakan kedua-dua solat Zohor dan Asarnya (jamak takhir)? Atau sesudah bersuci dia berjaya memperoleh satu tempoh masa dalam waktu Isyak. Namun yang benar dia hanya wajib melaksanakan solat yang berada dalam waktu tersebut sahaja. (penyunting) 4 Hukum-Hukum Haid Terdapat beberapa hukum yang wajib ke atas wanita ketika sedang haid. Akan tetapi antara saat dia suci dan saat terbit matahari wujud satu tempoh masa yang. (penyunting) Yakni tempoh iddah bagi seorang wanita yang diceraikan ialah tiga kali suci. (penyunting) [7] Maksudnya seorang wanita jangan menganggap dirinya telah suci daripada haid melainkan dengan dua petunjuk: 1. Ini kerana pada asalnya dia dikira sempat mendapat satu rakaat daripada solat Maghrib tersebut sebelum datang haid. bererti ia sememangnya tidak memerlukan penjelasan. sama ada solat sunat mahupun solat fardhu. maka hendaklah dia menyempurnakan solatnya. Hukum umum yang dimaksudkan adalah: Apabila seorang wanita melihat darah mengalir keluar bererti dia haid dan apabila darah berhenti mengalir bererti dia suci (tidak haid) tanpa dipengaruhi oleh perbezaan masanya. Maka wajib baginya mengqadha solat Subuh tersebut apabila dia selesai bersuci (mandi wajib). Maka wajib baginya mengqadha solat Maghrib tersebut apabila suci. Jika tempoh masa yang wujud di awal waktu bagi wanita yang didatangi haid atau di akhir waktu bagi wanita yang tamat haid adalah terlalu singkat sehingga tidak mungkin melaksanakan minima satu rakaat solat.

yang lebih utama ialah wanita yang sedang haid tidak membaca al-Qur’an dengan lidahnya melainkan jika perlu. Imam al-Bukhari. Menurut pendapat yang benar.[1] Juga diharuskan bagi wanita yang sedang haid untuk membaca al-Qur’an dengan cara melihat dengan mata atau menghayatinya dalam hati tanpa menutur dengan lidah. Berkata Imam al-Nawawi rahimahullah dalam Majmu’ Syarh al-Muhazzab: Hal ini diharuskan tanpa perselisihan pendapat. membaca Bismillah ketika makan dan sebagainya. bertasbih (membaca Subhanalah). Pendapat ini merupakan mazhab Abu Hanifah dan Malik sebagaimana yang disebut oleh Imam al-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Majmu’ Syarh al-Muhazzab. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda menyuruh keluar wanita-wanita dan anak-anak gadis yang berada di dalam rumah kepada solat dua hari raya (Solat Hari Raya Aidil Fitri dan Hari Raya Aidil Adha) supaya mereka dapat menyaksikan kebaikan dan seruan orang mukmin. Imam al-Bukhari mengemukakan sebuah riwayat daripada Imam Ibrahim al-Nakha’e (seorang tokoh tabi‘in) bahawa: “Tidak mengapa jika dibaca hanya satu ayat. bukan berdasarkan masanya. Maka tidak boleh menghukum ia sebagai haram sedangkan baginda Nabi sendiri tidak pernah mengharamkannya. Boleh juga membaca buku-buku hadis. .” Dalam hadis di atas Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menghubungkan hukum mandi wajib dengan kewujudan air mani dan bukan masa.Dalam hadis di atas Rasulullah tidak berkata: “Maka sesungguhnya dia telah mendapat solat Zuhur dan Asar” atau: “Wajib solat Zuhur ke atasnya. bererti diketahui bahawa tidaklah haram bagi wanita haid membaca al-Qur’an. Apabila seorang wanita sedang berpuasa lalu dia merasa akan didatangi haid sebelum waktu berbuka (waktu Maghrib). Hal ini kemudiannya akan tersebar kepada manusia. sama ada puasa sunat mahupun puasa fardhu. fiqh (buku agama). dan jauhilah wanita haid daripada mushalla (tempat lapang solat Hari Raya). maka dia boleh berpuasa dan puasanya adalah sah sekalipun dia belum sempat mandi wajib. jld. murid yang menduduki peperiksaan dan sebagainya. Umm ‘Athiah radhiallahu 'anha berkata. Ini sebagaimana kes seorang wanita yang bermimpi seperti seorang lelaki lalu datang menemui Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bertanya. Justeru apabila Nabi tidak menegah daripada demikian padahal ramai wanita yang haid di zamannya. Apabila seorang wanita sedang berpuasa lalu dia didatangi haid. 4. maka teruskan menyempurnakan puasanya itu. Hadis: “Wanita haid tidak boleh membaca sesuatu daripada al-Qur’an” adalah hadis yang lemah (dha‘if) yang disepakati oleh para ahli hadis. Maka jika haram ke atas mereka untuk membaca al-Qur’an sepertimana haram ke atas mereka mendirikan solat. Maka demikianlah juga dengan haid. mengaminkan doa dan mendengar bacaan a-Qur’an. dilaksanakan hukum-hukumnya berdasarkan keluarnya haid. Ibn Jarir al-Thabari dan Ibn al-Munzir berpendapat ia diharuskan. Namun tidak seorang jua yang meriwayatkan pengharaman seumpama daripada Nabi. 2. Diharamkan bagi wanita yang sedang haid untuk berpuasa. berdoa. Akan tetapi dia wajib mengqadha puasa fardhunya berdasarkan kenyataan ‘A’isyah radhiallahu 'anha: “Apabila yang demikian itu (haid) menimpa kami. Di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Di antara perselisihan pendapat ini.” [Shahih Muslim – no: 335 (Kitab al-Haid)] Berikut beberapa permasalahan khusus antara puasa dan wanita yang haid: 1. jika dia melihat ada air (mani yang mengalir keluar). nescaya ia diterangkan oleh Nabi kepada umatnya dan dipelajari oleh para isteri baginda. Demikian juga oleh Imam Malik dan Imam al-Syafi’e dalam pendapatnya yang lama. adakah dia perlu mandi wajib? Baginda menjawab: “Ya. Boleh juga meletak mushaf al-Qur’an di hadapannya lalu melihat ayat-ayatnya dan membacanya dengan hati. seperti guru yang mengajar al-Qur’an. ms. bertahmid (membaca alhamdulillah). Adapun membaca dengan lidah bagi wanita yang sedang haid.[2] puasanya tidak batal kerana sesungguhnya darah masih berada di dalam badan dan tidak ada hukum baginya (selagi ia tidak mengalir keluar). maka kami disuruh (oleh Rasulullah) mengqadha puasa namun tidak disuruh untuk mengqadha solat. Apabila seorang wanita tamat haidnya sebelum terbit fajar (belum masuk waktu Subuh).[3] 3. Dia wajib mengqadha puasa tersebut jika ia adalah puasa fardhu. diketahui wanita-wanita di zaman Nabi shalallahu 'alaihi wasallam sedia mengalami haid. 26. maka puasanya tetap tidak sah. Kedua: Berzikir dan Membaca al-Qur’an. Apabila seorang wanita didatangi haid hanya sekadar tempoh masa yang pendek selepas terbitnya fajar (masuk waktu Subuh). maka puasanya menjadi batal sekalipun waktu berbuka (waktu Maghrib) sudah sangat hampir. maka terdapat perbezaan pendapat. Jelas di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab-kitab hadis yang lain bahawa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersandar di riba ‘A’isyah radhiallahu 'anha sambil membaca al-Qur’an padahal ‘A’isyah di saat itu sedang haid. Wanita yang sedang haid boleh berzikir. Lebih dari itu. Ini sebagaimana yang disebut oleh Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari. Ketiga: Puasa. Jika dia tetap berpuasa maka tidak sah puasanya. 191 : Sejak asal tidak ada larangan daripada al-Sunnah (bagi wanita yang sedang haid) membaca al-Qur’an.” Pendapat ini juga diperkuatkan oleh sebuah kaedah usul yang menyebut: Pada asalnya tidak ada hukum yang ditanggung (oleh manusia kecuali yang dipertanggungkan oleh syara’). Jumhur ilmuan berpendapat ianya dilarang.” Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah membahas persoalan ini dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa.

” [Shahih Muslim – no: 1211 (Kitab al-Haj)] Baginda tidak menyuruh Safiyah pergi ke pintu masjid padahal jika yang sedemikian adalah amalan yang disyari‘atkan pasti baginda akan menjelaskannya. melontar jamrah dan sebagainya. mengenai (hukum) haid. SesungguhNya Allah mengasihi orang-orang yang banyak bertaubat. Apabila seorang wanita telah menyempurnakan ibadah haji dan umrah lalu dia didatangi haid yang berterusan sehingga saat hendak balik ke negerinya. Ketika mengikuti rombongan haji bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. baginda bersabda kepada beliau: “Maka hendaklah dia beransur pergi. jld. Adapun tawaf wajib bagi ibadah haji dan umrah. maka termasuklah dia di kalangan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta mengikuti jalan yang selain daripada jalan orang-orang Islam. di mana apabila Safiyah radhiallahu 'anha didatangi haid sesudah tawaf ifahad. ia tidak gugur daripada wanita yang didatangi haid. Bahkan amalan di atas bertentangan dengan apa yang diajar oleh Rasulullah. demikian berkata para sahabat kami (para tokoh Mazhab al-Syafi’e). dan mengasihi orang-orang yang sentiasa mensucikan diri. Kelima: Duduk Dalam Masjid. Demikian hukumnya bagi tawaf wida’ dan wanita yang didatangi haid.” [Shahih al-Bukhari – no: 1652 (Kitab al-Haj)] Keenam: Bersetubuh. Selain itu. Jika dia tetap tawaf maka tidak sah tawafnya. dan janganlah kamu hampiri mereka (untuk bersetubuh) sebelum mereka suci. Lebih dari itu umat Islam telah bersepakat bahawa haram hukumnya bersetubuh dengan isteri yang sedang haid. ms. Perlu diingatkan bahawa setiap ibadat hendaklah berasal daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.” [Shahih Muslim – no: 302 Kitab al-Haid)]. Larangan ini telah ditunjukkan oleh al-Qur’an. lalu beliau bertanya hukumnya. asalkan bukan faraj. maka ia tidak berasal daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. al-Sunnah dan ijma’ (kesepakatan) umat Islam. 374 menukil kata-kata Imam al-Syafi’e rahimahullah: Sesiapa yang melakukannya maka sesungguhnya dia melakukan dosa besar. 2.” [Shahih al-Bukhari – no: 1932 (Kitab al-Siyam)] Keempat: Tawaf di Ka’bah.Ini sebagaimana hukum orang berjunub yang berpuasa padahal dia tidak mandi wajib kecuali selepas terbit fajar (masuk waktu Subuh). diharamkan bagi seorang isteri yang sedang haid untuk membiarkan suaminya menyetubuhinya. Diharamkan bagi wanita yang sedang haid untuk berada atau duduk dalam masjid. Justeru jika seseorang itu tetap melakukan kemungkaran bersetubuh ketika haid. Ini berdasarkan hadis Ibn ‘Abbas radhiallahu 'anh: “Orang ramai disuruh untuk mengakhiri pertemuan mereka di al-Bait (Ka’bah dengan tawaf). Puasanya tetap sah berdasarkan hadis ‘A’isyah radhiallahu 'anha: “Pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bangun pagi dalam keadaan junub bukan kerana bermimpi. Kemudian baginda berpuasa. bersentuhan dan lain-lain. Oleh itu tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat untuk melakukan kemungkaran bersetubuh ketika haid. manakala yang selainnya (para tokoh mazhab lain) berkata: Sesiapa yang menghalalkan setubuh dengan wanita haid dihukumkan kafir. Katakanlah: “Darah haid itu satu benda yang mendatangkan mudarat. dihalalkan bagi suami untuk memuaskan nafsunya dengan berciuman. Demikian juga.” [Shahih Muslim – no: 1211] Akan tetapi diharuskan melaksanakan lain-lain amalan daripada haji dan umrah seperti sa’e antara Safa dan Marwah. kecuali (suruhan ini) diringankan daripada wanita yang sedang haid. bermalam di Mudzalifah dan Mina. ‘A’isyah radhiallahu 'anha berkata: . dan jauhilah wanita haid daripada mushalla (tempat lapang solat Hari Raya). termasuk padang yang digunakan untuk solat Hari Raya. Rasulullah menjawab: “Lakukan apa yang telah dilakukan oleh orang haji kecuali jangan bertawaf di Ka’abah sehingga kamu bersuci.” [Shahih Muslim – no: 1328 (Kitab al-Haj)] Adapun amalan datang ke pintu Masjid al-Haram dan berdoa bagi wanita haid yang hendak balik ke negerinya. Diharamkan bagi seorang suami untuk menyetubuhi isterinya yang sedang haid. dia boleh balik tanpa melakukan tawaf wida’ (tawaf selamat tinggal). berpelukan. Diharamkan bagi wanita yang sedang haid untuk tawaf.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (jangan bersetubuh dengan isteri kamu) dalam masa datang darah haid itu. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad). wuquf. Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Umm ‘Athiah radhiallahu 'anha bahawa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: “Suruhlah keluar wanita-wanita dan anak-anak gadis yang berada di dalam rumah (kepada solat dua hari raya) supaya mereka dapat menyaksikan kebaikan dan seruan orang mukmin. ‘A’isyah radhiallahu 'anha didatangi haid. Dia tetap wajib melaksanakannya apabila sudah suci. sama ada tawaf sunat mahupun tawaf fardhu. Malah lebih utama jika tidak bersentuhan kulit pada kawasan yang terletak antara pusat dan lutut kecuali dengan berlapik. Kemudian apabila mereka sudah bersuci maka datangilah mereka menurut jalan yang diperintahkan oleh Allah kepada kamu. [al-Baqarah 2:222] Yang dimaksudkan dengan al-Mahidh (‫ )المحيييض‬ialah masa haid dan tempatnya ialah di faraj. Imam al-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya al-Majmu’ Syarh alMuhazzab. Larangan ini juga berdasarkan sebuah hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: “Lakukanlah apa sahaja (dengan isterimu yang sedang haid) kecuali nikah (bersetubuh).

Kemudian jika dia mahu. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: . Maka demikianlah iddah yang Allah telah perintahkan bahawa diceraikan wanita padanya. Demikianlah 3 pengecualian yang membolehkan penceraian ketika seorang isteri sedang haid. maka ceraikanlah mereka pada masa mereka dapat memulakan iddahnya. Apabila seorang suami menceraikan isterinya selepas menyetubuhinya.hendak menceraikan isteri-isteri (kamu). Tidak ada dalil yang menegah hal ini. Akan tetapi diharuskan tebus talak kerana kes tebus talak membabitkan seorang isteri yang menghadapi kehidupan bersama suami yang dia benci. dalam perbincangan Haid Wanita Hamil. maka ia diharuskan dalam semua keadaan tanpa mengira sama ada sedang haid atau tidak. kemudian suci semula. Akan tetapi memandangkan talak ini adalah tebusan seorang isteri untuk dirinya sendiri. Seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya yang sedang haid kerana masa haid tidak dikira sebagai permulaan iddah.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: “Adakah kamu mengembalikan kebunnya?” Isteri Thabit menjawab: “Ya. Maka menceraikan wanita yang sedang haid adalah haram berdasarkan ayat di atas. kemudian haid. [al-Talaq 65:01] Seorang isteri diketahui memulakan iddahnya dengan kehamilan atau datang haid sesudah berlalu waktu suci. ‘Abd Allah ibn ‘Umar radhiallahu 'anhuma pernah menceraikan isterinya yang sedang haid. ditunggu hingga datang haid sekali lagi. Ini adalah satu mudarat yang besar ke atas isteri berbanding mudarat tempoh iddah yang panjang. Akan tetapi lebih utama jika diperhatikan kedudukan bakal suami tersebut sama ada dia boleh mengawal dirinya daripada terus menyetubuhi isteri barunya itu yang sedang haid. perlu ditolak mudarat yang lebih besar. Jika dia dapat mengawal dirinya maka tidak mengapa untuk meneruskan akad nikah.” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (kepada Thabit): Terimalah kebunmu dan ceraikanlah dia dengan satu talak. boleh menceraikannya sebelum menyetubuhinya. ‘Umar radhiallahu 'anh memberitahu hal ini kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Wahai Nabi! Apabila kamu . Atas dasar ini. Imam Ibn Qudamah rahimahullah di dalam kitabnya al-Mughni menerangkan sebab diharuskan tebus talak (khulu’) bagi seorang isteri yang sedang haid: Larangan untuk menceraikan isteri yang sedang haid ialah bagi mengelakkan mudarat tempoh iddah yang panjang. Dalilnya adalah sebuah hadis daripada Ibn ‘Abbas radhiallahu ‘anh yang menceritakan tentang isteri Thabit bin Qays radhiallahu ‘anha yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah. Ini kerana tidak ada iddah bagi isteri dalam kes seperti ini sehingga penceraian yang dijatuhkan ke atasnya tidak menyalahi firman Allah di atas. iddah isteri diketahui dengan kehamilan. Wajah Rasulullah berubah kerana marah dan baginda menyuruh Ibn ‘Umar merujuk kembali isterinya. sesungguhnya aku tidak mencelanya (suaminya: Thabit bin Qays) kerana akhlak dan agamanya tetapi aku membenci kekufuran dalam Islam. boleh memegangnya (memperisterikannya seperti biasa) dan jika dia mahu.” [Shahih al-Bukhari – no: 5273 (Kitab al-Thalaq) ] Dalam hadis di atas. kemudian suci. Hukum haram menceraikan isteri yang sedang haid memiliki 3 pengecualian: Pertama: Tidak mengapa (tidak haram) menceraikan isteri yang sedang haid jika sejak bernikah pasangan suami isteri tersebut belum pernah bersamaan atau bersetubuh. Kelapan: Dikira Bilangan Talak Dengan Haid. Seorang suami menyetubuhi isterinya ketika suci lalu kemudian menceraikannya. Lebih dari itu tercatit di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab-kitab hadis yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bertanya kepada isteri yang hendak menebus talak dirinya (sama ada dia sedang haid atau tidak). Jika tidak hamil. Hal ini telah diterangkan sebelum ini dalam Bab kedua. hendaklah dia tidak menyetubuhi isterinya sehinggalah dia (isteri) menjadi suci dari haid. kemudian memegangnya sehingga dia suci. Kedua: Tidak mengapa (tidak haram) menceraikan isteri yang didatangi haid ketika sedang hamil. maka iddah isteri diketahui dengan datang haid. Maka setelah itu jika dia (suami) ingin kembali bersama isterinya maka dia boleh rujuk semula. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bertanya sama ada isteri Thabit bin Qays sedang haid atau tidak. Syarat ini adalah bagi isteri yang masih didatangi putaran haid dan tidak hamil.[4] Justeru jika seorang suami menceraikan isterinya yang sedang haid. Akan tetapi jika tidak. Antara dua mudarat. Iaitu seorang suami yang menceraikan isterinya yang sedang haid dengan mengambil bayaran. Dia wajib bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. maka lebih utama untuk ditangguhkan sehingga bakal isteri menjadi suci supaya tidak terjadi persetubuhan yang dilarang. Iaitu. Selain itu sebagai poin tambahan. maka wajib ke atas isteri tersebut menghitung iddahnya dengan kedatangan tiga kali haid yang sempurna. Jika dia (suami) tidak ingin maka boleh dilepaskan. diharuskan melangsungkan akad nikah dengan seorang wanita yang sedang haid. Kemudian barulah dijatuhkan talak (diceraikan).(engkau dan umatmu) . dengan syarat tidak disetubuhi isterinya dalam jangka masa tersebut.” [Shahih al-Bukhari – no: 301 (Kitab al-Haid)] Ketujuh: Talak (Cerai) Diharamkan ke atas suami untuk menceraikan isterinya yang sedang haid. dia berdosa. Kemudian hendaklah dia mengambil isterinya kembali di bawah jagaannya untuk diceraikan dengan penceraian yang menepati syari‘at Allah dan RasulNya. Ketiga: Tidak mengapa (tidak haram) jika berlaku penceraian secara tebus talak (khulu’).“(Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) menyuruhku supaya memakai kain kemudian baginda menyentuhiku sedangkan aku sedang haid.

Seluruh proses menunggu dan 3 putaran haid tersebut adalah tempoh iddah baginya. Maka sucilah kamu. maka baginya tidak ada hitungan iddah. dan (demikian) juga iddah perempuan-perempuan yang tidak berhaid. Bagi kes di atas. adakah perlu saya merungkaikannya untuk mandi junub”. [al-Thalaq 65:04] Ketiga: Jika isteri yang diceraikan memiliki putaran haid tetapi ia terhenti kerana faktor yang diketahui seperti sakit atau sedang menyusu. seperti kanak-kanak yang belum haid. maka dia wajib menunggu sehingga haidnya datang kembali dan menghitungnya dengan 3 putaran haid yang sempurna. Dalilnya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Wahai orang-orang yang beriman. Suami yang baru tidak boleh menyetubuhinya sehingga dia didatangi haid atau jelas hamil. Kemudian dia berwudhu’ dan memperelokkan wudhu’nya. berilah "mut'ah" (pemberian sagu hati) kepada mereka. jika kamu menaruh syak (terhadap tempoh idah mereka) maka iddahnya ialah tiga bulan. Kemudian dia menjirus air ke atas kepalanya lalu dia menggosok kepalanya dengan bersungguh-sungguh sehingga air sampai ke kulit kepala. seorang isteri yang kematian suami berkahwin dengan suami yang baru.” Asma’ bertanya: “Bagaimana saya bersuci dengannya (cebian kain tersebut)?” Rasulullah menjawab: “Subhanallah! Bersucilah dengan ia” Lalu berkata ‘A’isyah kepada Asma’: “Kamu menyapu kesan-kesan darah (dengan cebisan kain tersebut). Tempoh iddah 12 bulan merangkumi 9 bulan masa mengandung sebagai langkah berhati-hati kerana ia adalah tempoh hamil yang lazim dan 3 bulan sebagai bilangan iddah. Kemudian dia menjirus air ke atas badannya. maka tiadalah kamu berhak terhadap mereka mengenai sebarang iddah yang kamu boleh hitungkan masanya.” Jawab Rasulullah: “Tidak.” [Shahih Muslim – no: 332 (Kitab al-Haid)] Tidak wajib membuka ikatan rambut kecuali jika ia terikat dengan kuat kerana dibimbangi air tidak akan sampai ke kulit kepala. orang tua yang putus haid. Umm Salamah radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya saya seorang wanita yang mempunyai rambut yang banyak (lebat). apabila kamu berkahwin dengan perempuan-perempuan yang beriman. Jika isteri tersebut hamil maka dihukumkan bahawa kandungannya itu adalah daripada zuriat suaminya yang meninggal dunia.” [Shahih al-Bukhari – no: 320 (Kitab al-Haid)] Syarat paling minimum bagi mandi wajib adalah dikenakan air pada seluruh anggota badan termasuklah ke bawah rambut.” [Shahih Muslim – no: 330 (Kitab al-Haid)] . kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu menyentuhnya (bersetubuh). Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: Dan perempuan-perempuan dari kalangan kamu yang putus asa dari kedatangan haid. Kekosongan rahim bermaksud tidak hamil. dan lepaskanlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya. wajib mandi dengan mengenakan air ke seluruh anggota badan berdasarkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha: “Apabila datang haid maka hendaklah kamu meninggalkan solat. jika isteri yang terhenti haidnya kembali sembuh atau selesai menyusu namun haidnya tetap tidak datang kembali. ambillah air dan daun bidara. memadai kamu menyiram atas kepala kamu dengan tiga kali siraman. Keempat: Jika isteri yang diceraikan belum bersama-samaan dan bersetubuh dengan suami. sekalipun ia mengambil masa yang agak lama. dan apabila hilang haid maka hendaklah kamu mandi dan solat. Inilah pendapat yang benar lagi selari dengan kaedahkaedah syarak kerana kes ini dikategorikan sebagai wanita yang tidak didatangi haid dengan sebab yang tidak diketahui. Oleh itu. Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Dan perempuan-perempuan mengandung. [al-Ahzab 33:49] Kesembilan: Menghukum Kekosongan Rahim. Sebaliknya jika isteri didatangi haid maka dihukumkan bahawa dia tidak mengandung apa-apa daripada suaminya yang meninggal dunia. Apabila haid berhenti. Kesepuluh: Wajib Mandi.Dan isteri-isteri yang diceraikan itu hendaklah menunggu dengan menahan diri mereka (daripada berkahwin) selama tiga kali haid. [alBaqarah 2:228] Syarat menghitung iddah sepertimana di atas memiliki beberapa pengkhususan bagi kes yang berbeza-beza: Pertama: Jika isteri yang diceraikan sedang hamil. tempoh iddahnya ialah hingga mereka melahirkan anak yang dikandungnya. (Dalam riwayat yang lain): “……untuk mandi haid dan junub. maka hitungan iddahnya ialah tiga bulan. maka iddahnya adalah selama 12 bulan (setahun) bermula dari saat kesembuhannya atau akhir menyusu. hitungan iddahnya adalah dengan kelahiran anak tanpa mengira sama ada tempoh hamilnya adalah panjang atau pendek. [al-Thalaq 65:04] Kedua: Jika isteri yang diceraikan tidak memiliki putaran haid. kemudian kamu menyiram atas badan kamu dengan air. wanita yang dibuang rahimnya kerana sebab perubatan dan sebagainya. Cara yang afdhal ialah sebagaimana tunjuk ajar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Asma’ binti Syakl radhiallahu ‘anha: “(Orang yang akan mandi). Maka kedatangan haid menandakan kekosongan rahim. Sebagai contoh. Kemudian dia mengambil cebisan kain yang diletak wangian lalu dia bersuci dengannya.

Sunan Abu Daud dan Sunan al-Tirmizi dan beliau (al-Tirmizi) mensahihkannya. Contohnya ialah seorang wanita yang lazimnya didatangi haid selama enam hari bermula awal setiap bulan.” Dalil bagi kes kedua. Mandi sebegini sudah menjadi kelaziman sehingga dianggap “tidak sah” tanpanya. yakni darah keluar tanpa terputus-putus ialah sebagaimana aduan Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu 'anha kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana di dalam Shahih al-Bukhari: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya aku tidak suci” manakala dalam satu riwayat yang lain: “Aku didatangi istihadah maka aku tidak suci. Darah yang berwarna hitam (merah kehitaman) dan/atau pekat dan/atau berbau. yakni darah keluar dengan terputus sekejap ialah kisah Himnah binti Jahsy radhiallahu 'anha yang datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata: “Ya Rasulullah. Rujuk semula hadis Asma’ binti Syakl dan Umm Salamah di atas. . lalu dikemukakan yang dianggap paling tepat lagi benar. Kemudian (pada satu bulan) dia mengalami pendarahan yang berterusan. darah yang berwarna merah adalah istihadah. Kedua: Wanita yang tidak memiliki masa haid yang tetap atau diketahui (tempoh dan putarannya). Ia keluar tanpa terputus-putus atau mungkin terputus sekejap seperti sehari-dua dalam sebulan. seorang wanita yang mengalami pendarahan secara berterusan. [Shahih Muslim – no: 334 (Kitab al-Haid)] Kesimpulannya. tidak perlu diulangi solat-solat tersebut. sekalipun hanya secara ringkas supaya tetap dapat melaksanakan solat pada waktunya. tidak ada air. Tidak perlu diberi perhatian kepada pendarahan pada hari-hari seterusnya kerana itu adalah istihadah. ia adalah mudah lagi ringkas. skrub muka dan lain-lain lagi. (penyunting) [4] Lihat Shahih al-Bukhari – no: 4908 (Kitab al-Tafsir). hendaklah dia mandi dan solat mengikut ukuran masa haidnya yang biasa. ia adalah darah haid. Yang benar mandi wajib yang dituntut oleh syari‘at Islam adalah mudah lagi ringkas sehingga boleh disempurnakan dalam masa yang singkat sahaja. (penyunting) [3] Maka apabila seorang wanita merasakan sudah tiba masa haidnya. hendaklah dia mengira masa haidnya mengikut kebiasaan. sama ada kerana ukuran kebiasaan di kalendar atau sebagainya. kemudian hendaklah kamu mandi dan dirikan solat. kemudian hendaklah kamu mandi dan solat”. shampoo buah-buahan.[7] [2] Maksudnya wujud perselisihan pendapat dalam hal ini. (penyunting) [6] Dalam suasana kesukaran sepertimana yang disebut di atas. sesungguhnya itu ialah ‘irq (penyakit). shower gel. rendaman herba. tidak boleh sengaja menangguhkan mandi sehingga ke waktu solat yang seterusnya. Maka pendarahan enam hari yang pertama bermula dari awal bulan dikira sebagai haid manakala hari-hari selebihnya dikira sebagai istihadah. solat yang dilaksanakan oleh seorang wanita tetap sah sekalipun dengan hanya bertayamum untuk suci daripada haid. Apabila faktor kesukaran hilang dan dia dapat mandi wajib seperti biasa.” [Musnad Ahmad. bagi wanita yang memiliki masa haid yang tetap (tempoh dan putarannya). Selepas itu bolehlah mandi dengan sempurna. dia tetap dikira suci sehinggalah darah haid mengalir keluar. (penyunting) Seperti di musim dingin di mana menggunakan air yang sejuk untuk mandi boleh mendatangkan mudarat. Jika menghadapi kesukaran untuk mandi seperti musafir. maka boleh bertayamum sebagai ganti kepada mandi. Akan tetapi pada hari kesepuluh kelihatan perbezaan sifat darah: q Sehingga hari kesepuluh darah berwarna hitam (merah kehitaman) manakala selepas itu ia berwarna merah. maka aku tidak suci. Tinggalkan solat pada kadar haid yang kebiasaan bagi kamu.[6] Adakalanya apabila haid berhenti di akhir waktu solat. Selainnya adalah darah istihadah. Contohnnya darah yang keluar secara berterusan sejak awal. Rasulullah menjawab: “Tidak.Jika haid berhenti sesudah masuk waktu solat maka wajib segera mandi supaya dapat dilaksanakan solat dalam waktunya. Maka darah yang berwarna hitam adalah haid. Sebagai contoh. mudarat menggunakan air[5] atau sakit. Akan tetapi di masa kini kebanyakan bilik [5] mandi sudah dilengkapi dengan sistem air yang panas. Akan tetapi sebahagian muslimah masa kini telah menyulitkan mandi dengan pelbagai gunaan sabun. Adakah aku perlu meninggalkan solat?”.] Terdapat tiga cara bagi membezakan antara darah haid dan istihadah: Pertama: Wanita yang memiliki masa haid yang tetap (tempoh dan putarannya). sesungguhnya aku didatangi darah istihadah yang banyak. maka wajib mandi.” [Shahih al-Bukhari – no: 325 (Kitab al-Haid)] Hal yang sama pernah berlaku kepada Umm Habibah binti Jahsy radhiallahu ‘anha dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada beliau: “Duduklah (dalam keadaan haid) sekadar mana yang pernah kamu alami dari hari-hari haid kamu (yang biasa). (penyunting) [7] Jika diperhatikan tunjuk ajar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang tatacara mandi wajib. Maka baginya dibezakan antara darah haid dan darah istihadah dengan memerhatikan sifat-sifat darah tersebut. ‘A’isyah radhiallahu ‘anha menerangkan bahawa Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya aku didatangi istihadah. (penyunting) 5 Istihadah Dan Hukum-Hukumnya Istihadah (‫ )الستحاضة‬ialah darah yang keluar secara berterusan bagi seorang wanita. Apabila faktor kesukaran hilang. Maka baginya hukum haid dalam masa yang tetap tersebut dan hukum istihadah bagi waktu selainnya. Dalil bagi kes pertama. Dia tetap wajib mandi. Jika ada pendarahan pada hari-hari seterusnya.

apakah pandangan engkau berkenaannya? Sesungguhnya ia menegah aku daripada mendirikan solat dan puasa. dianggap sebagai haid. hendaklah kamu mandi apabila kamu lihat bahawa kamu telah suci (dari darah haid).[4] Kedua: Wanita yang tidak tahu secara jelas sama ada dia akan didatangi haid atau tidak. Oleh itu hendaklah setiap wanita yang menghadapi kes ketiga ini berijtihad akan satu tempoh haid yang sesuai baginya. Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha: q “Apabila darah itu adalah haid maka sesungguhnya ia hitam (lagi) dikenali.[2] Demikian tiga cara yang paling lazim bagi membezakan antara darah haid dan istihadah. kadang-kala berlaku pendarahan yang disalah anggap sebagai istihadah. Sebagai penjelasan tambahan.” [Sunan Abu Daud – no: 247 (Kitab al-Thaharah) dan Sunan al-Nasa’i dengan disahihkan oleh Ibn Hibban dan al-Hakim] Hadis di atas memiliki perbincangan dari sudut sanad dan matannya. maka hendaklah dia membezakan antara haid dan istihadah sepertimana tiga cara yang disebut di atas. hadis ini hasan sahih] Sabda Rasulullah: “Enam atau tujuh hari” bukanlah penetapan tetapi ijtihad. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy: “Sesungguhnya yang demikian itu ialah ‘irq (penyakit) bukanlah darah haid maka apabila datang haid maka hendaklah kamu meninggalkan solat. Kesalahan ini boleh berlaku dalam dua kes: Pertama: Wanita yang mengetahui dengan jelas bahawa dia tidak akan didatangi haid lagi. bermula daripada hari Khamis.” [Shahih al-Bukhari – no: 306 (Kitab al-Haid)] Sabda Rasulullah: “…Maka apabila datang haid…” menjadi petunjuk yang membezakan antara haid dan istihadah. Oleh itu enam atau tujuh hari yang pertama pendarahan. Maka hendaklah dia mendirikan solat dan puasa. wanita yang menghadapi kes ketiga ini melihat darah keluar secara berterusan bermula pada hari Khamis yang pertama dalam bulan tersebut. Sehingga hari kesepuluh darah memiliki bau manakala selepas itu tiada lagi bau.q Sehingga hari kesepuluh darah bersifat pekat manakala selepas itu menjadi cair. Bagi setiap solat fardhu. Apabila seorang wanita telah memastikan bahawa dia sedang mengalami pendarahan istihadah dan bukan haid. seperti setelah melakukan pembedahan yang melibatkan pemotongan atau ikatan rahim. rakan-rakan yang sebaya umurnya dan lain-lain lagi. Bahkan ia adalah lebih utama daripada membiarkan persoalan ini kepada adat kebiasaan wanita. Jika ia adalah (darah) selain itu maka hendaklah kamu berwudhu’ dan mendirikan solat kerana sesungguhnya ia adalah (darah) penyakit. Dia tidak diwajibkan mandi (mandi wajib) kerana darah yang keluar tersebut. seperti daripada keluarga atau adik beradik yang sama. serta boleh bersetubuh dengan suaminya. hendaklah dia berwudhu’ apabila sahaja hendak mendirikannya. Sebelum ini dalam Bab 4 kita telah bahas hukum-hukum yang diwajibkan ke atas wanita yang sedang haid. yang mengalir keluar bukanlah istihadah tetapi al-Sufrah (cecair kekuningan) dan al-Kudrah (cecair kekeruhan antara kuning dan hitam) atau basahan. Jika pada kebiasaannya mereka didatangi haid selama enam atau tujuh hari.” Himnah berkata: “Ia (darah saya) lebih banyak dari demikian itu”. Sebagai contoh. Maka baginya masa haid diukur berdasarkan kebiasaan wanita. Maka hendaklah dia melihat kebiasaan para wanita lain yang menghampirinya dan menjadikan tempoh haid mereka sebagai ukuran ke atas dirinya. sesungguhnya ia dapat menghilangkan darah. justeru hendaklah kamu menahan dari melakukan solat. Bagi wanita yang tidak mungkin didatangi haid maka yang wujud hanyalah ‘Irq (penyakit) dalam apa jua keadaan sekalipun. Hadis berikut menjadi rujukan dalam kes ketiga ini. dibezakan dengan tiga cara yang telah disebut di atas. Bagi setiap solat sunat. maka hendaklah kamu solat pada pada dua puluh tiga malam atau dua puluh empat malam dan siangnya dan hendaklah kamu berpuasa. pendarahan yang berlaku dianggap sebagai haid dan istihadah. waktu selebihnya dikira sebagai istihadah. Himnah binti Jahsy radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya seorang wanita yang didatangi istihadah yang amat banyak. Maka bagi seorang wanita yang mungkin baginya untuk datang haid. Akan tetapi hendaklah dia membasuh faraj serta mengikatnya dengan kain[3] supaya dapat mencegah darah daripada mengalir keluar. Hukum-Hukum Istihadah.[1] Ketiga: Wanita yang tidak memiliki masa (tempoh dan putaran) haid yang tetap dan tidak juga memiliki sifat-sifat darah yang dapat dibezakan antara haid dan istihadah. Maka baginya. Kini kita akan bahas pula hukumhukum yang diwajibkan ke atas wanita yang beristihadah. Maka darah yang berbau adalah haid. maka hukum-hukum yang diwajibkan ke atasnya adalah sama sepertimana wanita yang suci kecuali dalam tiga perkara berikut: Pertama: . Maka darah yang pekat adalah haid. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ia (pendarahan kamu) adalah hentakan dari hentakan-hentakan syaitan. Ijtihad dibuat dengan merujuk kepada tempoh haid yang lazim dihadapi oleh para wanita lain yang menghampiri dirinya. Hari-hari seterusnya dianggap sebagai istihadah. hendaklah dia berwudhu’ sesudah masuk waktu kemudian terus bersolat. Maka baginya.” Rasulullah menjawab: “Aku akan terangkan untuk kamu (cara menggunakan) al-Kursuf (kapas yang diletakkan di faraj). darah yang cair adalah istihadah.” [Sunan Abu Daud – no: 248 (Kitab al-Thaharah) dan Sunan al-Tirmizi – no: 118 (Kitab al-Thaharah) dan berkata al-Tirmizi. maka demikianlah juga ukuran ke atas dirinya. akan tetapi para ilmuan rahimahumullah telah beramal dengannya. maka (apabila) kamu didatangi haid selama enam atau tujuh hari pada ilmu Allah Ta’ala. darah yang tidak berbau adalah istihadah.

ia akan terdedah kepada pelbagai pendapat dan hukum yang tidak benar. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu 'anha di dalam Shahih al-Bukhari – no: 228: “Kemudian hendaklah kamu berwudhu’ pada setiap solat. [1] Maksudnya. seperti mengambil wudhu’ pada pukul 6 petang untuk solat Maghrib pada pukul 7. Ia (nifas) tidak disyaratkan oleh dua atau tiga hari sebelum bersalin tetapi disyaratkan oleh tolakan yang mengiringi bersalin. Hukum ini khusus sebagai satu kemudahan (rukhsah) untuk kes ini sahaja supaya apa-apa yang mengalir [4] keluar dari faraj tidak dikira membatalkan solat. Akan tetapi Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menegah para suami daripada menyetubuhi isteri mereka. Para ilmuan berselisih pendapat tentang tempoh bagi nifas. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata: Apa yang dilihat oleh wanita semasa bermula tolakan bersalin ialah darah nifas. jika persoalan ini dibiarkan kepada adat kebiasaan wanita. seperti menggunakan wudhu’ yang sama untuk menunaikan solat Maghrib dan “menyimpannya” untuk solat Isya’ kemudian. (penyunting) [5] Atau dengan memakai tuala wanita. hendaklah dia membasuh kesan darah dan mengikat farajnya dengan cebisan kain yang dilapik dengan kapas supaya dapat menahan darah. maksudnya tetap selari dengan lain-lain petunjuk syari‘at sehingga menjadi amalan para ilmuan sejak dari dahulu. Pendapat yang melarang bersetubuh mengqiyaskan wanita yang beristiadhah dengan wanita yang haid. Adapun bagi solat yang tidak berwaktu (solat sunat) maka dia berwudhu’ ketika hendak melaksanakannya. 2.30 malam. Merupakan satu kelaziman bagi para wanita pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengalami istihadah. (penyunting) [3] Atau tuala wanita (penyunting). Pendapat yang sahih adalah ianya harus (dibolehkan) tanpa sekatan berdasarkan sebab-sebab berikut: 1. maka para ilmuan berselisih pendapat mengenai kebolehannya. (penyunting) 6 Nifas dan Hukum-hukumnya [6] Nifas (‫ )النفاس‬ialah darah yang keluar dari rahim wanita atas sebab melahirkan anak. Jika mereka didatangi haid selama 10 hari setiap satu bulan. hendaklah kamu jauhi solat pada hari-hari haidmu (sahaja) kemudian hendaklah kamu mandi dan berwudhu’ untuk setiap solat kemudian dirikanlah solat walaupun darah menitis jatuh ke atas tikar. apakah aku patut meninggalkan solat? Tidak. (penyunting) Musnad Ahmad – no: 25681 dan disahihkan oleh Syaikh Syu‘aib al-Arnauth. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (jangan bersetubuh dengan isteri kamu) dalam masa datang darah haid itu. Juga tidak boleh berwudhu’ jauh sebelum waktu solat. Maksudnya. jika seorang wanita menghadapi kes ketiga ini.” Himnah berkata: “Ia (darah saya) lebih banyak dari demikian itu”. maka ia bukan nifas.Wanita yang beristihadah wajib berwudhu’ setiap kali hendak solat.” [Sunan al-Tirmizi – no: 118 (Kitab al-Thaharah) dan beliau berkata: Hadis ini hasan sahih] Apa yang keluar (apa-apa pendarahan) selepas itu tidaklah memudaratkan (tidak membatalkan wudhu’) berdasarkan hadis berikut riwayat Ahmad dan Ibn Majah: “Wahai Rasulullah. selepas melahirkan anak atau dua hingga tiga hari sebelum melahirkan anak. sesungguhnya ia dapat menghilangkan darah. Yang terakhir (sebelum melahirkan anak) hendaklah yang disertai dengan tolakan melahirkan anak(terasa nak bersalin). Sebagai contoh.[5] Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Himnah radhiallahu 'anha: “Aku akan terangkan untuk kamu (cara menggunakan) al-Kursuf (kapas yang diletakkan di faraj). 3. Justeru tidak boleh menggunakan wudhu’ yang sama untuk dua solat.” [6] [Musnad Ahmad – no: 25681 dan disahihkan oleh Syu‘aib alArnauth] Ketiga: Bersetubuh. Ia keluar sama ada di saat melahirkan anak. Sekalipun ia memiliki perselisihan pendapat dari sudut kekuatannya. Jika berlaku pendarahan selain itu (tolakan bersalin). Sesungguhnya aku seorang wanita yang mengalami istihadah sehingga aku tidak suci. Justeru lebih baik menggunakan hadis di atas sebagai rujukan. satu wudhu’ bagi satu solat. sama ada lama atau pendek. Rasulullah bersabda: “Maka hendaklah kamu mengekangnya (mengikatnya)…. Jika diharuskan solat bagi wanita yang beristihadah. (penyunting) [2] “Para wanita lain” ini hendaklah memiliki tempoh dan putaran haid yang normal. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata: .” Hadis ini memberi makna bahawa dia tidak berwudhu’ untuk solat yang berwaktu kecuali selepas masuk waktunya. [al-Baqarah 2:222] Ayat ini menjadi dalil bahawa larangan bersetubuh hanyalah ke atas isteri yang sedang haid. hendaklah dia merujuk kepada tempoh dan putaran haid yang lazim bagi adik beradiknya yang lain. maka sudah tentu diharuskan juga bersetubuh kerana bersetubuh adalah sesuatu yang lebih kecil berbanding solat. Ini adalah qiyas yang tidak benar kerana wanita istihadah dan wanita haid adalah dua kes yang saling berlainan. 10 hari setiap bulan dianggap sebagai haid manakala selebihnya dianggap istihadah. tidak selain itu. maka tempoh 10 hari tersebut menjadi ukuran bagi dirinya juga. Kedua: Apabila wanita yang beristihadah hendak berwudhu’. Maka bagi pendarahan berterusan yang dihadapinya.

Kedua: Ila’ Ila’ ialah tindakan seorang suami yang bersumpah tidak akan menyetubuhi isterinya buat selama-lamanya atau untuk satu tempoh yang melebihi empat bulan. Ini kerana seorang wanita tidak mungkin akan mengalami nifas jika dia tidak hamil. Seterusnya: 1. wanita yang mengalaminya wajib bersolat dan berpuasa. 37] Berdasarkan penjelasan di atas: 1. hendaklah dia mendirikan solat dan berpuasa (kerana ia bukan nifas tetapi istihadah). maka mudah untuk diyakini bahawa yang keluar semula itu adalah haid juga. kemudian terhenti sebentar. Maka batasnya (bagi kes ini) ialah 40 hari kerana sesungguhnya tempoh 40 hari adalah kebiasaan (bagi wanita yang sudah bersalin) sebagaimana yang disebut dalam atsar-atsar (pendapat tokoh terdahulu). Dalam kategori ini. dan dia tidak mungkin akan hamil jika tidak terlebih dahulu mengalami haid. maka tempoh empat bulan (atau lebih sebagaimana yang disumpah) dikira berdasarkan putaran haid isteri dan bukan berdasarkan nifasnya. 4. Umumnya terdapat dua pendapat: Pendapat Pertama: Apabila nifas terhenti sebelum 40 hari kemudian ia keluar semula pada hari ke-40. Sebelum itu ketika sedang nifas. Apabila menjadi kebiasaan bagi seorang wanita untuk mengalami nifas melebihi 40 hari dan dia dapat mengenali tanda berhentinya. Jika nifas bersambung dengan haid. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah menulis. Jika hal di atas bukanlah kebiasaan bagi dirinya. 2. ms. seperti keguguran. Jika nifasnya hanya berhenti dalam tempoh kurang sehari. Pendarahan seterusnya dikira sebagai istihadah dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah sebagaimana yang dibahas sebelum ini. bukan dengan berhentinya nifas. hukum haid yang Ketujuh dan Kelapan. 3. [al-Risalah fi al-Asma’ allati ‘Alaq alSyar‘i al-Ahkam biha. sebagaimana yang dinukil daripada kitab al-Iqna’: Apabila berlaku pendarahan kerana tolakan bersalin sebelum 80 hari (daripada hari mula hamil). maka hendaklah dia menunggu sehingga nifasnya berhenti. maka itu adalah darah nifas. Akan tetapi jika pendarahan berlaku secara berterusan (melebihi tempoh di atas) maka ia adalah darah fasid (istihadah). para ilmuan berbeza pendapat ke atas kes nifas yang terputus. kemudian ia keluar semula pada hari ketujuh dan lapan.[1] Jika berlaku pendarahan selepas 80 hari kerana keguguran. seorang wanita yang lazimnya memiliki tempoh haid lapan hari setiap bulan. kemudian keluar semula. Diwajibkan ke atasnya hukum-hukum haid sebagaimana yang dibahas sebelum ini. Secara umumnya hukumhukum nifas adalah sama dengan hukum-hukum haid kecuali dalam perkara-perkara berikut: Pertama: Iddah. maka iddahnya ialah menunggu hingga datang haid lalu dikira berdasarkan putaran haidnya. Ini adalah pendapat yang mayshur dalam Mazhab Hanbali. Pendapat Kedua: . maka (setelah mandi wajib) dia dianggap suci tanpa perlu menunggu genap 40 hari. dia belum dikira sudah berakhir tempoh nifasnya. maka hendaklah dia tunggu sehingga berhenti haidnya.[3] Dia wajib mengqada puasanya selepas suci (jika dia nifas dalam bulan Ramadhan). hendaklah dia tidak bersolat dan tidak berpuasa (kerana ia adalah nifas). Nifas tidak dijadikan ukuran iddah bagi seorang isteri yang dijatuhkan talak (diceraikan) oleh suaminya. Pendarahan hanya boleh dikategorikan sebagai nifas apabila ia keluar dengan sebab fitrah mengandung dan melahirkan anak. lalu dia haid pada empat hari yang pertama. Masa yang paling awal untuk nifas secara fitrah ialah 80 hari sedangkan yang lazim ialah 90 hari daripada hari mula hamil. Apabila seorang isteri yang baru sahaja melahirkan anak dicerai oleh suaminya. Sebagai contoh. maka ia bukanlah nifas tetapi darah penyakit (al-‘Irq) yang diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah.[2] 2. Yang terakhir ini (iddah berdasarkan putaran haid) adalah sebagaimana yang telah dibahas dalam Bab 4. maka yang keluar semula itu dikategorikan sebagai “darah yang disyaki”. Hendaklah dia mandi wajib setelah genap 40 hari. Berbeza pula bagi darah nifas. kemudian ia terhenti pada hari kelima dan keenam. jika ia keluar. hendaklah dia menjadikan tempoh 40 hari sebagai tanda berhenti. bukan berdasarkan nifasnya. terdapat beberapa hukum yang diwajibkan ke atas wanita yang mengalami nifas. 3. Hukum-Hukum Nifas Sebagaimana haid dan istihadah. Jika ia keluar dengan sebab selain itu.Bagi nifas tidak ada tempoh minimum atau maksimum. maka mudah untuk diyakini bahawa yang datang semula pada hari ketujuh dan lapan tersebut adalah haid juga. Jika tidak jelas baginya (sama ada pendarahan disebabkan kehamilan atau keguguran) maka hendaklah dihukum berdasarkan yang zahir (yang paling diyakini). maka tempoh iddahnya ialah sehingga melahirkan anak. Jika berlaku pendarahan selepas 80 hari kerana tolakan bersalin. Jika ini berlaku. Akan tetapi hendaklah dipastikan bahawa nifasnya benar-benar sudah berhenti. Ketiga: Baligh. Jika ditakdirkan seorang wanita melihat darah lebih daripada 40 atau 60 atau 70 hari lalu kemudian barulah ia berhenti. Keempat: Nifas yang terputus-putus Bagi darah haid. diharamkan ke atasnya apa yang diharamkan ke atas wanita yang sedang haid. Jika nifas berhenti dalam tempoh kurang 40 hari. Oleh itu apabila seorang isteri yang hamil dicerai oleh suaminya. maka janganlah dipedulikan (kerana ia bukan nifas). Tahap baligh bagi seorang wanita diukur berdasarkan datang haid dan bukan datang nifas.

Dengan itu berpanjanganlah tempoh pembayaran nafkah cerai oleh suaminya kepadanya. maka ia adalah darah nifas dan jika selepasnya ( lebih dari tiga hari) maka ia adalah darah haid. Jika nifas terhenti lebih daripada tiga hari lalu kemudian keluar semula. 1. Diharuskan menggunakan ubat-ubatan yang mendatangkan haid dengan syarat: Pertama: Bukan sebagai helah untuk meninggalkan ibadah seperti tidak solat dan berbuka pada bulan Ramadhan. 2. Diharuskan menggunakan ubat-ubatan yang menegah haid dengan dua syarat: Pertama: Tidak berlaku mudarat ke atas dirinya. Jika mengakibatkan mudarat maka ia diharamkan berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Dan janganlah kamu sengaja mencampakkan diri kamu ke dalam bahaya kebinasaan. wujud perselisihan pendapat sama ada harus atau tidak bagi suami menyetubuhinya. Menghalangnya untuk merujuk semula dalam kes penceraian. ms. Seorang isteri yang diceraikan oleh suaminya lalu dia mengambil ubat penegah haid supaya tempoh iddahnya berpanjangan. Sesungguhnya Allah sentiasa Mengasihani kamu. disertai tolakan dan paling awal 80 hingga 90 hari selepas hari pertama hamil. Menghalangnya daripada bersetubuh dengan isterinya. Maka mudah bagi seorang wanita untuk membezakan pendarahannya sama ada disebabkan kehamilan (nifas) atau keguguran (istihadah). Kedua: Mendapat izin suami kerana sengaja mendatangkan haid akan menggugurkan hak suami dari dua sudut: 1. yang keluar itu adalah nifas juga. Ini kerana putaran haid yang fitrah (semula jadi) adalah penting demi kesihatan yang normal. maka ia adalah haid.[4] Apabila darah keluar secara berterusan. [1] Dalam ertikata lain.” Kisah ini tidak boleh dijadikan dalil menghukum “tidak harus” kerana tindakan ‘Utsman mungkin di atas sikap berhati-hati kerana tidak yakin bahawa isterinya telah benar-benar suci atau akan keluar darah semula disebabkan persetubuhan atau sebagainya. Imam Ibn Qudamah rahimahullah di dalam kitabnya al-Mughni. Ketiga: Ubat-Ubatan Yang Menegah Kehamilan. dia tidak sempat untuk berbuat demikian. [al-Baqarah 2:195] Dan janganlah kamu berbunuh-bunuhan sesama sendiri. yang keluar semula itu bukanlah nifas tetapi haid. (penyunting) [5] Maksudnya jika nifas terhenti kurang daripada tiga hari lalu kemudian keluar semula. Alhamdulillah. 2. maka ia adalah nifas. Maka ‘Utsman berkata: “Janganlah kamu menghampiri aku. Kedua: Ubat-Ubatan Yang Mendatangkan Haid. ia adalah istihadah. Allah yang lebih mengetahui. Iaitu isteri sengaja mendatangkan haid supaya tempoh iddah berlalu dengan cepat sehingga seandainya suami ingin merujuk semula. di masa kini sudah ada peralatan yang boleh menentukan kehamilan atau keguguran. Maka tempoh berhenti selama tiga hari adalah pembeza antara darah nifas atau haid. maka ia adalah istihadah. (penyunting) 7 Hukum Penggunaan Ubat-Ubatan Yang Menegah Haid Atau Mendatangkannya Dan Yang Menegah Kehamilan Atau Menggugurkannya. Menegah haid untuk menegah kehamilan. yakni selepas habis nifas. Apabila darah keluar pada suasana yang lazimnya disebabkan oleh faktor haid. Berikut adalah contoh dua kes yang memerlukan izin atau pengetahuan suami: 1. (penyunting) [3] Seperti solat. Yang benar diharuskan bagi suami menyetubuhinya dan ini adalah pendapat majoriti ilmuan. Untuk berkata “tidak harus” memerlukan dalil syarak padahal tidak wujud dalil syarak dalam permasalahan ini. puasa dan tawaf.[5] Pendapat kedua ini juga merupakan pilihan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah. jld. Walaubagaimanapun yang lebih utama (bagi suami isteri) ialah tidak melakukan hal ini kecuali untuk tujuan yang baik. Terdapat sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah di mana isteri ‘Utsman ibn Abi al-‘Aas (yang baru suci daripada nifas) telah menghampirinya padahal di saat itu belum genap tempoh 40 hari. (penyunting) Yang dimaksudkan dengan faktor nifas ialah hamil. Faktor haid [4] adalah apa yang selain daripada faktor nifas kecuali jika ia berterusan. syarat nifas ialah (1) ia keluar disebabkan tolakan bersalin dan (2) Ia keluar selepas 80 atau 90 hari daripada hari mula hamil (penyunting) [2] Demikian adalah bagi zaman Ibn Taimiyyah yang meninggal dunia pada tahun 728H. 349 menukil katakata Imam Malik rahimahullah: Jika dia (wanita) melihat darah selepas dua atau tiga hari. [al-Nisa’ 4:29] Kedua: Penggunaannya adalah dengan izin suami. Pendapat yang kedua inilah dianggap yang benar. Pertama: Ubat-Ubatan Yang Menegah Haid. Kelima: Bersetubuh Apabila seorang wanita menjadi suci daripada haidnya lebih awal daripada tempoh yang biasa baginya. Terdapat dua jenis ubat-ubatan yang menegah kehamilan: .Apabila darah keluar pada suasana yang lazimnya disebabkan oleh faktor nifas. diharuskan bagi suami menyetubuhinya. Akan tetapi apabila seorang wanita yang sedang nifas suci daripada nifasnya lebih awal daripada tempoh 40 hari.

(penyunting). Jika anak belum keluar. Jika belum ditiup ruh maka wujud perselisihan pendapat sama ada harus atau tidak untuk menggugurkan kandungan. sebahagian menegahnya. maka ditegah daripada menggugurkannya. K. Saya berkata. Pendapat Pertama menegah daripada melakukan pembedahan untuk mengeluarkan anak kerana ia mencacatkan mayat (mayat ibu). anak hidup. Jika sudah ditiup ruh pada kandungan maka tanpa ragu lagi hukumnya ialah haram untuk menggugurkannya. [1] Lebih lanjut tentang al-‘Azal. .[4] Pendapat Kedua mengharuskan pembedahan untuk mengeluarkan anak. anak hidup. Sebahagian lain berkata: “Harus selagi mana belum terbentuk segumpal darah (sebelum 40 hari)” manakala sebahagian lagi berkata: “Harus selagi mana pada kandungan belum terbentuk apa yang berupa manusia. dia akan tinggal berseorangan sehingga ke hari tua (tanpa penjagaan). Maka jika demikian kesnya.Pertama: Ubat yang menegah kehamilan secara tetap dan berterusan. Lumpur 1999). Ini tidak diharuskan kerana ia mengurangkan keturunan. Maka hukumnya terbahagi dua: 1. dia mengeluarkan alat kelaminnya dari faraj isterinya di saat hendak keluar air mani. maka di sini terdapat perselisihan pendapat. A. Jika anak sudah keluar sebahagian maka diharuskan pembedahan untuk mengeluarkan sebahagian yang tertinggal. harus menggugurkan kandungan. menyelamatkan orang yang hidup (anak dalam kandungan) adalah lebih utama daripada menghormati orang yang meninggal dunia (ibu yang mati). Lumpur 1995). Berikut beberapa sumber rujukan dalam bahasa Melayu: 1. 2. Harus melakukan pembedahan supaya anak dapat dikeluarkan demi memelihara ibu daripada apa-apa kemudaratan. Boleh juga dirujuk edisi “e-book” di www. Ini diharuskan dengan syarat mendapat keizinan suami dan tidak memudaratkan kesihatan. Anak yang masih hidup di dalam kandungan ibu yang meninggal dunia adalah insan yang maksum sehingga wajib menyelamatkannya.com [2] Kecuali jika atas nasihat para pakar perubatan bahawa meneruskan kehamilan akan membawa kemudaratan yang besar kepada ibu. 3. Bahkan menyelamatkan yang maksum daripada kemusnahan adalah wajib hukumnya. tidak dapat menanggung kehamilan dan sebagainya. 4. Jika memerlukan pembedahan maka ia terbahagi kepada empat kes: 1. Dalam kes ini diperhatikan: Jika tidak wujud kemungkinan untuk anak hidup maka tidak harus melakukan pembedahan. ia terlebih dahulu wajib mendapat izin daripada pihak suami sebagai orang yang memiliki kandungan tersebut. Yang penting.[3] Lebih dari itu pembedahan hanya diharuskan dalam suasana darurat kerana betapa banyak pembedahan yang pada awalnya disangka tiada mudarat tetapi kemudian berakhir dengan mudarat. Isu-Isu Bio Perubatan Menurut Islam oleh Abul Fadl Mohsin Ibrahim (edisi terjemahan oleh Yusof Ismail. II. Allah yang lebih mengetahui.S. 2. K. Johor Bahru 2002). Perubatan Moden Menurut Perspektif Islam oleh Basri Ibrahim (Darul Nu’man. Ibu mati. yang benar adalah Pendapat Kedua kerana melakukan pembedahan di zaman kita sekarang ini bukanlah sesuatu yang mencacatkan mayat kerana kesan pembedahan dapat dijahit kembali. anak mati. Tindakan ini tidak ditegah oleh Rasulullah. Ini adalah pendapat Imam Ibn Hubairah rahimahullah dalam kitabnya al-Inshaf. Sebahagian mengharuskannya. anak mati. Pembedahan ditegah kecuali atas dasar darurat seperti kesukaran ibu untuk melahirkan anak secara fitrah.” Pendapat yang dipilih ialah harus menggugurkan kandungan jika bersebab seperti sakit. Jika wujud kemungkinan untuk anak hidup maka ia seterusnya terbahagi kepada dua : I. Pembedahan ditegah kerana “badan” adalah satu amanah kepada manusia yang tidak boleh diapa-apakan kecuali atas pertimbangan untuk mencapai kemaslahatan yang lebih besar.al-firdaus. Tidak harus melakukan pembedahan kerana tidak ada apa-apa faedah. Ibu hidup. Tindakan ini menyalahi tujuan Islam yang mengutamakan umat yang ramai. Akan tetapi jika pada kandungan sudah jelas terbentuk apa yang berupa manusia. lihat buku penyunting yang berjudul Kaedah-Kaedah Memahami Hadis-Hadis yang Saling Bercanggah (Jahabersa. Ibu hidup. Peringatan Dalam keadaan-keadaan yang harus untuk menggugurkan kandungan sebagaimana yang dibahas dalam bab ini. Ia termasuk dalam kategori membunuh tanpa hak yang diharamkan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah serta kesepakatan umat Islam.[1] Keempat: Ubat-Ubatan yang Menggugurkan Kandungan. [2] Allah yang lebih mengetahui. Ibu mati. Contoh penggunaannya ialah wanita yang kerap hamil dan dia ingin merancang kehamilannya pada kadar sekali dalam setiap dua tahun. Ini adalah pendapat para sahabat kami rahimahumullah. Kedua: Bertujuan mengeluarkan kandungan demi sesuatu manfaat. Lebih dari itu seandainya dia kehilangan anak yang sedia ada masa kini. Ini lazimnya berlaku setelah genap tempoh kehamilan atau menghampirinya. Menggugurkan kandungan memiliki dua tujuan: Pertama: Bertujuan menghapuskan kandungan. Dalil kebolehan ini tindakan para sahabat radhiallahu 'anhum di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang mempraktikkan al-‘Azal terhadap para isteri mereka supaya mereka (para isteri) tidak hamil. 2. al-‘Azal ialah tindakan seorang suami yang apabila bersetubuh dengan isterinya. Kedua: Ubat yang menegah kehamilan untuk sementara waktu. Ia diharuskan selagi mana tidak memudaratkan ibu dan anak serta tidak memerlukan pembedahan. Noordeen.

[3] Seperti keselamatan ibu dan anak. [4] . (penyunting) Maksudnya para tokoh dalam Mazhab Hanbali (penyunting).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->