19 Hadist Rasullah SAW Mengenai Wanita

1.
2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayangnya yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, "Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia". Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya.Allah mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah dan orang yang takutkan Allah, akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun). Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh. Aisyah berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab rasulullah, "Suaminya. "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah, "Ibunya". Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut,burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga. Daripada Aisyah r.a. Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

Sering kali dalam ceramah-ceramah agama kita mendengar bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam a.s. Memang pada kenyataannya timbul perbedaan pendapat mengenai penciptaan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dalam terjemahan lama al-Qur’an Departemen Agama surat An-Nisaa ayat 1 : “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya .. “. Pada catatan kaki terjemahan lama Depag tersebut, kata “dari padanya” tertulis ’dari padanya' menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim”. Menurut pakar hadist paling terkemuka di Indonesia, Prof. KH. Ali Mustafa Ya’kub MA, paling tidak ada 3 point penting dalam memahami dan menelaah hadist-hadist yang berkaitan dengan kata ‘dari padanya’ dalam Surat An Nisaa : 1. 2. Pada kitab shahih Imam Bukhori dan Muslim tidak disebutkan dalam hadist bahwa ‘tulang rusuk’ tersebut adalah tulang rusuk Adam a.s, hanya disebutkan dari ‘tulang rusuk’. Hadist tentang wanita dan tulang rusuk tidak hanya terdapat 1 versi saja, akan tetapi ada beberapa versi, pertama disebutkan bahwa wanita di ciptakan dari tulang rusuk, tulang rusuk itu yang ujungnya melengkung (bengkok) dan apabila diluruskan (dengan tidak hati2) maka akan patah, maka berwasiatlah yang baik kepada wanita. Kedua, dengan redaksi yang hampir sama, tetapi disebutkan bahwa wanita diciptakan sifatnya seperti tulang rusuk, melengkung (bengkok) dan apabila diluruskan mudah patah, artinya wanita mempunyai sifat yang cenderung bengkok seperti tulang rusuk, maka butuh bimbingan yang baik dan perlahan agar tidak patah, ‘patah’ menurut sebagian ulama ialah cerai. Bahwa dalam memahami hadist tidak dibenarkan jika berdasarkan satu riwayat atau satu versi saja, karena memang terdapat perbedaan penyampaian redaksi hadist dari para sahabat Nabi kepada murid-muridnya yang disebut tabi’in, karena tidak seperti al-Qur’an yang harus disampaikan dengan redaksi yang mutlak sama, hadist bisa disampaikan dengan redaksi yang berbeda. Yang baik dalam memahami hadist adalah melihat semua hadist yang ada lalu mengambil kesimpulan. Sama halnya dengan al-Qur’an yang ayat satu sama lain saling menjelaskan begitu pula dengan hadist.

3.

Maka pada hadist-hadist seputar ‘wanita dan tulang rusuk’, pemahaman yang benar adalah bahwa wanita diciptakan atau tercipta seperti halnya tulang rusuk, tulang rusuk itu bengkok ujungnya, jika diluruskan akan mudah patah, maka harus jadi perhatian seorang Ayah dan Suami bahwa dalam mendidik anak perempuan dan istrinya dibutuhkan ke-‘arifan dan kesabaran yang lebih, begitu juga bagi seorang anak dan istri harus meredam sifat egois karena kecantikan, harta dan pengetahuan yang mungkin lebih dari suaminya. Dapat juga dipahami bahwa Rasulullah hanya menyebutkan karakteristik tulang rusuk yang bengkok dan mudah patah, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa tulang rusuk memiliki karakteristik lainnya, contoh melindungi organ-organ penting yang berada dalam tulang rusuk tersebut. Begitu juga dengan wanita, wanita juga berperan melindungi organ-organ penting dalam rumah tangga yaitu melindungi hal-hal yang sangat strategis dalam melindungi generasinya dari kebobrokan moral. Wallahu a’lam. “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikatmalaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS 66 : 6)

Wanita tercipta bukan lah dari tulang ubun-ubun, sejatinya agar ia tidak menjadi tinggi (hati) Dia juga tidak tercipta dari tulang tumit kaki, agar tidak di injak-injak (harga dirinya) Namun ia tercipta dari tulang rusuk sebelah kiri, didekat hati agar ia dicintai... dan terletak di dekat tangan,sejatinya agar ia dilindungi...." (Karitasurya)

Bagaimanakah aturan islam tentang berpakaian, baik bagi laki-laki ataupun perempuan ? Salah satu perbedaan sistem Islam dengan sistem Kapitalis adalah bahwa sistem Kapitalis memandang persoalan sosial dan rumah tangga dianggap sebagai masalah ekonomi, sedangkan sistem Islam masalah-masalah di atas dibahas tersendiri dalam hukum-hukum seputar interaksi pria-wanita (nizhâm

al-ijtima’iyyah). Misalnya dalam sistem kapitalisme tidak ada istilah zina jika laki-laki dan perempuan melakukan hubungan suami isteri tanpa ikatan pernikahan asal dilakukan suka-sama suka atau saling menguntungkan sebaliknya disebut pelecehan seksual dan pelakunya dapat diajukan ke pengadilan jika seorang suami memaksa dilayani oleh seorang isteri sementara isterinya menolak. Karena itu dalam persoalan pakaian antara penganut sistem kapitalis dan sistem Islam jelas perbeda. Dalam sistem kapitalis pakaian dianggap sebagai salah satu ungkapan kepribadian, sebagai unsur penarik lawan jenis dan karena itu memiliki nilai ekonomis. Bentuk tubuh seseorang –apalagi wanita– sangat berpengaruh terhadap makna kebahagiaan dan masa depan. Adapun Islam menganggap bahwa pakaian digunakan memiliki karakteristik yang sangat jauh dari tujuan ekonomis apalagi yang mengarah pada pelecehan penciptaan makhluk Allah. Karena itu di dalam Islam: 1. Pakaian dikenakan oleh seorang muslim maupun muslimah sebagai ungkapan ketaatan dan ketundukan kepada Allah, karena itu berpakaian bagi seorang muslim memiliki nilai ibadah. Karena itu dalam berpakaian iapun mengikuti aturan yang ditetapkan Allah. 2. Kepribadian seseorang ditentukan semata-mata oleh aqliyahnya (bagaimana dia menjadikan ide-ide tertentu untuk pandangan hidupnya) dan nafsiyahnya (dengan tolok ukur apa dan seberapa banyak dia berbuat dalam memenuhi kebutuhan hidup dan melampiaskan nalurinya). 3. Setiap manusia memiliki kedudukan yang sama, yang membedakan adalah takwanya. Melalui cara berpakaian yang Islami, sesungguhnya Allah juga berkehendak memuliakan manusia sebagai makhluk yang memang telah Allah ciptakan sebagai makhluk yang mulia. Sebaliknya dengan tidak mengikuti cara berpakaian sesuai yang dikehendaki Allah, menyebabkan kedudukan manusia jatuh. Walhasil seorang muslim dan muslimah wajib mengetahui aturan berpakaian agar dalam berpakaian dan berpenampilan ia akan mendapatkan ridha Allah, bukan sebaliknya mendapatkan murka Allah. B. Pakaian Bagi Seorang Muslim Pakaian yang dikenakan oleh seorang muslim haruslah memenuhi syarat tertentu, yakni: 1. Menutup aurat; 2. Tidak terbuat dari emas atau sutera; 3. Tidak menyerupai pakaian wanita; 4. Tidak menyerupai orang-orang kafir. C. Aurat Laki-Laki Aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut, berdasarkan riwayat ‘Aisyah: Dari ‘Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari kakeknya, beliau menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jika ada di antara kalian yang menikahkan pembantu, baik seorang budak ataupun pegawainya, hendaklah ia tidak melihat bagian tubuh antara pusat dan di atas lututnya.” [HR. Abu Dawud, no. 418 dan 3587]. Rasulullah Saw bersabda: Aurat laki-laki ialah antara pusat sampai dua lutut. [HR. ad-Daruquthni dan al-Baihaqi, lihat Fiqh Islam, Sulaiman Rasyid]. Dari Muhammad bin Jahsyi, ia berkata: Rasulullah Saw melewati Ma’mar, sedang kedua pahanya dalam keadaan terbuka. Lalu Nabi bersabda: “Wahai Ma’mar, tutuplah kedua pahamu itu, karena sesungguhnya kedua paha itu aurat.” [HR. Ahmad dan Bukhari, lihat Ahkamush Sholat, Ali Raghib]. Jahad al-Aslami (salah seorang ashabus shuffah) berkata: pernah Rasulullah Saw duduk di dekat kami sedang pahaku terbuka, lalu beliau bersabda: “Tidakkah engkau tahu bahwa paha itu aurat?” [HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Malik, lihat Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni]. Juga Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ali ra: “Janganlah engkau menampakkan pahamu dan janganlah engkau melihat paha orang yang masih hidup atau yang sudah mati.” [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihat Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni]. Larangan Memakai Emas Dan Sutera Bagi Laki-Laki Larangan ini berdasarkan hadits: Diriwayatkan dari al-Bara’ bin Azib r.a katanya: “Rasulullah Saw memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara. Baginda memerintahkan kami menziarahi orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang bersin, menunaikan sumpah dengan benar, menolong orang yang dizalimi, memenuhi undangan dan memberi salam. Baginda melarang kami memakai cincin atau bercincin emas, minum dengan bekas minuman dari perak, hamparan sutera, pakaian buatan Qasiy yaitu dari sutera, serta mengenakan pakaian sutera, sutera tebal dan sutera halus.” [HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad, CD Al-Bayan 1212]. Larangan Menyerupai Wanita Seorang laki-laki dilarang bertingkah laku, termasuk berpakaian menyerupai wanita dan sebaliknya seorang wanita bertingkah laku termasuk berpakaian seperti laki-laki. Larangan Menyerupai Orang Kafir Menyerupai orang kafir (tasyabbuh bil kuffar) dilarang bagi muslim maupun muslimah. Tasyabbuh dapat dilakukan melalui pakaian, sikap, gaya hidup maupun pandangan hidup. Bagi seorang laki-laki pakaian yang harus dikenakan sama, apakah dia di dalam rumah, di luar rumah, di hadapan mahram atau bukan, kecuali di hadapan isteri. D. Pakaian Bagi Seorang Muslimah

an-Nûr [24]: 31 dan Qs. yaitu: 1. 3. 7. seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. E. c. Menutup aurat. Karena dua bagian ini yang biasa nampak dari wanita muslimah di hadapan Rasul Muhammad Saw (baik dalam sholat.Adapun pakaian yang dikenakan oleh seorang muslimah haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. an-Nisâ’ [4]: 23 maka baginya boleh menampilkan bagian tertentu dari anggota tubuhnya yang biasa disebut mahaluzzinah yaitu anggota badan yang biasanya dijadikan tempat perhiasan.dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Keberadaan wanita di tempat umum atau di tempat khusus. Pemahaman mahaluzzinah ini diambil dari firman Allah SWT: “…. kecuali aurat yang ada di antara pusar dan lutut. tempat kalung (leher). Misalnya di dalam rumah sendiri seorang wanita boleh membuka jilbabnya dan hanya memakai mihnahnya. Ibnu Abbas menyatakan yang dimaksud dengan illa mâ zhahara minha adalah muka dan tangan. Tidak tembus pandang. an-Nûr [24]: 31). Mahaluzzinah ini biasa tampak ketika wanita memakai baju dalam rumah (mihnah). Qs. maka sesungguhnya syara’ tidak menentukan pakaian tertentu untuk menutup aurat. Sedangkan yang dimaksud dengan yang biasa nampak daripadanya adalah wajah dan telapak tangan. 94). an-Nûr [24]: 31). Tidak menyerupai pakaian laki-laki. haji maupun dalam kehidupan sehari-hari di luar sholat dan haji) dan Rasul mendiamkannya sementara ayat-ayat al-Qu’ran masih turun. kecantikan dan perhiasan di depan laki-laki non muhrim atau dalam kehidupan umum). tempat gelang tangan (pergelangan tangan) sampai pangkal lengan dan tempat gelang kaki (pergelangan kaki) sampai lutut. hal. dan janganlah menampakkan perhiasan mereka. Adapun di hadapan laki-laki selain suami dan muhrimnya maka aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Adapun di tempat umum penampilan wanita dibatasi dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: a. kulot panjang dan lain-lain. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka. an-Nûr [24]: 31 turun sebelum ayat tentang jilbab sehingga ayat ini hanya menyampaikan batasan aurat dan perintah memakai kerudung. seperti: kepala seluruhnya.” (Qs. 5. Pakaian itu tidak menampakkan aurat (dapat menutup semua aurat). payudara. Kata zinah yang secara bahasa berarti perhiasan. kecuali…” (Qs. 18. mihnah dan memenuhi kriteria irkha’). 2.dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. juga dari Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menyatakan “Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa sesuatu yang biasa nampak adalah muka dan telapak tangan. . Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab. 2. 6. jadi menyangkut anggota badan. Sedangkan kewajiban berjilbab akan dibahas menyusul. Penampilan wanita dibedakan antara tempat khusus dan tempat umum.” [HR. Keberadaan wanita di hadapan mahram atau bukan atau di hadapan suami atau bukan. di hadapan suami tidak ada keharusan menutup bagian tubuhnya (walaupun dianjurkan tidak telanjang). Pakaian wanita di dalam rumahnya cukup menggunakan mihnah (kecuali ada tamu bukan mahrom. kecuali jika ada tamu laki-laki non muhrim. b. Abu Dawud. Beliau menunjuk pada wajah dan telapak tangannya. 1. Adapun berkaitan dengan apa aurat itu ditutup.” (Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an. 2. Qs. sehingga diperbolehkan baginya menggunakan baju panjang selapis/tidak rangkap (bukan jilbab) model apa saja selama tidak menampakkan keindahan tubuhnya seperti baju panjang atas bawah. khumur. jld. karena illa mâ zhahara minha yang dimaksud adalah yang biasa nampak pada saat itu (saat ayat ini turun) yaitu muka dan telapak tangan. 4. Hal tersebut diperkuat dengan sabda Rasul Saw kepada Asma’ binti Abu Bakar: “Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini. Di hadapan suami mereka maka wanita boleh menampakkan seluruh bagian tubuhnya (berdasarkan hadits riwayat Bahz bin Hakim). Kewajiban menutup aurat. Larangan tabarruj (menonjolkan keindahan bentuk tubuh. Tidak tabarruj. Larangan tasyabbuh terhadap laki-laki. d. Di hadapan muhrimnya dan orang-orang yang disebut dalam Qs. Selain itu anggota tubuh lain boleh tampak termasuk apabila ada hajat seperti perut. tetapi hanya memberikan beberapa syarat yaitu: 1. an-Nûr [24]: 60). No. maka wajib menutup aurat yang harus ditutup di hadapan bukan mahrom). Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir. Aurat Wanita Pembahasan aurat wanita dibagi menjadi tiga keadaan. Dasar dari penentuan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Khusus untuk wanita menopause diperbolehkan Allah untuk melepaskan jilbabnya hanya saja tetap diperintahkan untuk tidak tabarruj. Rincian masing-masing persyaratan di atas berbeda-beda berdasarkan: 1. Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya. 3580]. Di hadapan mahrom maka cukup menggunakan mihnah (kecuali di tempat umum maka harus memenuhi pakaian wanita di tempat umum). Tafsir mengenai hal ini. yaitu: “…. Kewajiban menggunakan pakaian khusus di kehidupan umum. tetapi bukanlah perhiasan yang biasa dipakai orang tetapi makna zinah di sini adalah anggota badan yang merupakan tempat perhiasan (mahaluzzinah). yang terulur langsung dari atas sampai ujung kaki. yaitu kerudung (khimar) dan jilbab (pakaian luar yang luas (seperti jubah) yang menutup pakaian harian yang biasa dipakai wanita di dalam rumah (mihnah).

Tidak menyerupai pakaian laki-laki. dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dengan kata lain khimar adalah kain yang menutupi kepala tanpa menutupi wajah. bukan pakaian lain seperti baju panjang atas bawah. atau putera-putera saudara perempuan mereka. Dan hendaklah mereka menutupkankhumur (kain kerudung) ke juyub (dada)-nya. Dalil-dalil mengenai masalah ini lihat lagi pembahasan di atas. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. dan juyub adalah jama’ dari kata jaibun yaitu ujung pakaian (kancing pembuka) yang ada di sekitar leher dan di atas dada. Dengan demikian untuk bagian atas badan wanita diwajibkan mengenakan kerudung yang diulurkan sampai ujung pakaian (kancing pembuka)/di atas dada. merah. Jika pakaian itu tipis misal brokat. terulur sampai sampai menutupi ujung pakaian bawah (jilbab) yakni kancing baju di atas dada. hitam dan lain-lain. Oleh karena itu celana panjang. kerudung tipis. atau putera-putera mereka. Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir. maka seorang wanita harus menggunakan pakaian secara sempurna. atau ayah mereka. atau ayah suami mereka. beliau telah meriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakar datang kepada Rasulullah Saw dengan memakai baju yang tipis maka Rasulullah memalingkan wajahnya dari Asma’ dan bersabda: “Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini…” [HR. hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung’. sehingga tidak diketahui warna kulit dari wanita yang memakainya. mihnah dan memenuhi kriteria irkha’). atau putera-putera saudara laki-laki mereka. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan muslimah menggunakan sejenis pakaian yang disebut jilbab. 6. Pakaian Wanita di dalam Kehidupan Umum Dalam kehidupan umum. Dalil bahwa syariat Islam telah mewajibkan menutup kulit sehingga tidak tampak warna kulitnya adalah hadits yang diriwayatkan dari A’isyah ra. wanita yang sedang haid. kuning. Dalil lain yang memperkuat dalam masalah ini adalah hadits yang diriwayatkan Usamah: “Perintahkan isterimu untuk mengenakan pakaian tipis lagi (gholalah) di bawah baju tipis tersebut. Dalil kewajibannya adalah sebagai berikut: (1) ungkapan Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka sebagaimana disebutkan dalamfirman Allah SWT: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu. (3) Ungkapan salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab. Khumur adalah jama’ dari khimar yaitu kerudung yang menutupi kepala. no 1475]. Pakaian itu dapat menutup kulit. kaos stret pas badan tidak boleh digunakan sebagai penutup aurat wanita menopause karena termasuk tabarruj (menonjolkan kecantikan dan perhiasan/bentuk tubuh). Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya. wanita pingitan untuk keluar pada hari raya Fitri dan Adha. yakni: 1. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. maka wanita yang memakai pakaian tersebut dianggap auratnya tampak atau tidak menutupi auratnya.” (HR. nenek-nenek. atau saudara-saudara laki-laki mereka. Sesungguhnya aku takut wanita itu tersifati tulangnya. karena itu mereka tidak diganggu. 5. dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. Adapaun dalil lainnya adalah sebagai berikut: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya. anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. kaos kaki tipis.” Artinya wanita harus menutup sifat dari tulangnya. Pada Qs. dan janganlah menampakkan perhiasanyaa. Menutup aurat. tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan (tabarruj). Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab.” Rasulullah Saw ketika mengetahui Usamah memakaikan pakaian tipis itu pada isterinya.” Sebagimana dalam hadits dari Ummu ‘Athiyah ra. beliau menyuruhnya agar isterinya mengenakan pakaian tipis lagi di bawah pakaian tipisnya itu. kaos kaki panjang. kecuali kepada suami mereka. yaitu pada saat wanita berada di luar rumahnya/di hadapan laki-laki non mahrom. Untuk wanita menopause ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan dalam berpenampilan yaitu tidak diperbolehkan tabarruj. atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. yaitu apakah kulitnya putih. Abu Dawud. al-Ahzab [33]: 59). Hanya saja apabila wanita selain yang menopause berada di luar rumah atau tempat-tempat umum (masjid. Dan bertaubatlah kepada Allah. al-Ahzab [33]: 59 dan hadist dari Ummu ‘Athiyah. an-Nûr [24]: 60). atau wanita-wanita Islam. Meskipun jenis baju tersebut menutup aurat tetapi bukan termasuk jilbab. oleh karena itu jenis pakaian tersebut hanya bisa dipakai oleh wanita yang sudah menopause dan sudah tidak punya keinginan seksual (Qs. sehingga kelihatan warna kulitnya. Dan Rasulullah memberi illat pada masalah itu dengan sabdanya: “Sesungguhnya aku takut wanita itu tersifati tulangnya. Tidak tabarruj. Saya berkata: “Ya Rasulullah salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab”. atau putera-putera suami mereka. 7. Dengan demikian wanita harus memperhatikan 2 syarat tersebut ketika memilih jenis dan bahan pakaian penutup aurat termasuk penutup aurat di depan mahrom dan wanita lain seperti celana 3/4 sampai lutut. sehingga kelihatan warna kulit (rambut) si pemakai pakaian itu. (2) Kebolehan menanggalkan pakaian luar (jilbab) bagi wanita menopouse dengan ungkapan tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka sebagaimana dalam firman Allah SWT: “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi). sehingga beliau memalingkan wajah dari Asma’ dan memerintahkan Asma’ untuk menutup aurat. dan memelihara kemaluannya. an-Nûr [24]: 31). Maka bagi wanita yang sedang haid janganlah sholat dan hendaklah menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. rukuh tipis dan lain-lain. Untuk lebih detailnya tentang pakaian khusus di kehidupan umum maka dapat dilihat pada pembahasan selanjutnya. Berkata: Rasulullah memerintahkan kepada kami.” (Qs. Kewajiban menggunakan khumur muncul dari perintah dan hendaklah mereka menutupkan khumur/kain kerudung ke juyub (dada)-nya. 2. Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya. Memahami Pengertian Jilbab . Sedangkan bawahnya diperintahkan menggunakan jilbab/jubah. Rasulullah dalam hadits di atas menganggap baju yang tipis belum menutup aurat dan menganggap auratnya terbuka. daster dan lain-lain. Apabila tidak memenuhi syarat tersebut tidak dapat diianggap sebagai penutup aurat. an-Nûr [24]: 60). jalanan dan lain-lain) maka selain batasan aurat dan larangan tabarruj.” (Qs. 3580]. 3. Tidak tembus pandang. khumur.2. Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya.” (Qs. 4. pasar. Muslim. no. kulot panjang dan lain-lain. terdapat ketentuan lain yang perlu diperhatikan yaitu adanya kewajiban menggunakan pakaian khusus yang telah diperintahkan Allah berupa khimar (kerudung) dan jilbab (jubah langsungan dari atas sampai ujung kaki). tidak boleh menggunakan pakaian yang tipis.

” Ummu Salamah bertanya lagi: “Kalau demikian terlihat kaki mereka. Apabila jilbabnya sudah terulur sampai ujung kaki tetapi jika berjalan kakinya masih terlihat sedikit seperti ketika menerima tamu. Hal ini ditunjukkan dalam firman Allah SWT: “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi). maka Rasulullah menjawab: “Hendaklah saudara perempuannya meminjamkan jilbabnya. Jika wanita tua saja dilarang untuk bertabarruj. Demikian pula yang disebutkan oleh al-Jauhari dalam kitab Ash Shihah. Tabarruj secara bahasa berarti menonjolkan perhiasan. keindahan tubuh pada laki-laki asing adalah seperti yang diriwayatkan dari Abi Musa Asy Sya’rawi: “Wanita yang memakai parfum. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah adanya irkha’. Berarti dapat dipahami pula bagi wanita yang belum menopause diwajibkan untuk menggunakan tiga lapis/jenis pakaian ketika di hadapan laki-laki non mahrom yaitu kerudung.” (Qs. kemudian melewati suatu kaum (sekelompok orang) supaya/sampai mereka mencium aromanya maka berarti dia pezina. Tidak ada makna syara’ tertentu terhadap kata tabarruj. tidak boleh kurang dari itu. jilbab bermakna: Pakaian yang lebar bagi wanita. Atas dasar ini dapat dimengerti bahwa tabarruj tidak sama dengan sekedar perhiasan atau berhias. daster. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu abbas dan juga dapat dipahami dari nash-nash yudnîna ‘alaihinna min jalabibihinna di sini bukan menunjuk sebagian tetapi untuk menjelaskan. an-Nûr (24): 60). motor dan lain-lain maka diwajibkan untuk menggunakan penutup kaki apa saja seperti kaos kaki. bentuk tubuh ketika di kehidupan umum seperti di jalan-jalan. Ayat lain yang melarang tabarruj adalah firman Allah SWT: “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. sebagaimana Ummu ‘Athiyah berkata kepada Rasulullah Saw: “Salah seorang dari kami tidak mempunyai jilbab”. Jilbab selain harus luas dipersyaratkan harus diulurkan langsung ke bawah sampai menutupi dua telapak kaki. yaitu menggerakkan kaki sampai terdengar bunyi gelang kakinya sehingga orang lain menjadi tahu perhiasan wanita yang menggerakkan kaki tersebut. dia berkata jilbab (pada nash tersebut): baju luar yang berfungsi menutupi tubuh dari atas sampai bawah (tanah).” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mengulurkan bajunya sehasta dan jangan lebih dari itu. III. oleh karena itu apabila jilbabnya terulur sampai mata kaki dan sisanya (telapak kaki) ditutup dengan kaos kaki/sepatu. Allah dalam ayat ini melarang salah satu bentuk tabarruj. an-Nûr [24]: 60 dapat diambil pemahaman bahwa wanita menopause yang sudah tidak mempunyai keinginan seksual diperbolehkan melepaskan tsiyabnya (pakaian luarnya/jilbab). tanpa bertabarruj. namun bermakna menonjolkan perhiasan. Dalil ini juga menjelaskan akan larangan tabarruj.” Dari sini jelas bahwa jilbab tidak boleh diulurkan bagian per bagian misalnya baju potongan. Hanya saja apabila aktivitas wanita tersebut membuat kakinya banyak terlihat semisal mengendarai sepeda. Pemahaman dari ayat ini adalah larangan bertabarruj secara mutlak. kecantikan. yaitu jilbab harus diulurkan sampai menutupi kedua telapak kaki sehingga dapat diketahui dengan jelas bahwa baju itu adalah baju di kehidupan umum. sepatu dan lain-lain. berarti tersisa mihnah.” (Qs.pasar. bentuk tubuh. kulot panjang dan lain-lain. sehingga penafsiran kata tabarruj diambil dari makna lughawi (bahasa). maka mafhum muwafaqahnya yaitu wanita yang belum berhenti haid lebih dilarang untuk bertabarruj. Sedangkan pengertian tabarruj adalah menonjolkan perhiasan. Selain itu mengulurkannya harus sampai telapak kaki (bukan mata kaki). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas. mall. tidak seperti celana ketat panjang karena hal itu termasuk tabarruj.” Diriwayatkan pula dengan sabda Rasulullah Saw: “Dua golongan penghuni neraka. perhiasan (tidak tabarruj) yaitu diperbolehkan menggunakan baju apa saja sejenis mihnah yang tidak menampakkan kecantikan/bentuk tubuh seperti baju atas bawah panjang. maka hal ini tidak apa-apa walaupun tetap dianjurkan untuk ‘iffah (berhati-hati/menjaga diri). Dari Qs. Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar. maka mereka tidak akan masuk surga dan tidak mendapatkan baunya. warna baju yang mencolok atau penampilan tertentu yang “nyentrik” atau perhiasan yang berbunyi jika dibawa jalan. yang menutupi tsiyab/mihnah (pakaian harian yang biasa dipakai ketika berada di dalam rumah). Allah membolehkan mereka (wanita yang berhenti haid dan tidak ingin menikah) menanggalkan pakaian luar mereka (jilbab).Kata jilbab digunakan di dalam al-Qur’an dan Hadits. yang berarti wanita tersebut telah menonjolkan perhiasannya. Definisi jilbab ini juga tersirat dalam Qs. Pengertian ini dapat ditemukan juga dalam Tafsir Jalalain (lihat Tafsir Jalalain. Inilah indikasi (qarinah) bahwa perintah hadits tersebut adalah wajib. Dalil lain yang menerangkan bahwa tabarruj adalah menonjolkan perhiasan. an-Nûr [24]. Dan jilbab yang dimaksudkan pada hadist ini bukan sekedar penutup aurat tetapi sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jilbab: baju luar yang berfungsi menutupi tubuh langsung dari atas sampai bawah. yaitu menonjolkan perhiasan. Adapun Hadist dari Ummu ‘Athiyah menerangkan dengan jelas ketika wanita keluar rumah/dihadapan laki-laki non mahrom diwajibkan menggunakan pakaian yang dipakai di atas pakaian dalam rumah (mihnah). an-Nûr [24]: 60 walaupun pada ayat tersebut Allah menggunakan istilah tsiyab untuk menyebut makna jilbab. Sarana lain yang biasa digunakan misalnya wangi-wangian.” Kata telanjang. kecantikan termasuk bentuk tubuh dan sarana-sarana lain dalam berpenampilan agar menarik perhatian lawan jenis. hanya saja selanjutnya diperintahkan untuk tidak menampakkan kecantikan. Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menyeret pakaiannya dengan sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan. maka hal ini tidak cukup menggantikan keharusan irkha’ (terulurnya baju sampai ke bawah). tetapi diulurkannya langsung dari atas ke bawah. Dalam kamus arab Al-Muhith. bentuknya seperti malhafah (kain penutup dari atas kepala sampai ke bawah). sedangkan makna yudnîna adalah yurkhîna ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). berjalan di sekitar rumah. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 1803) yang diartikan sebagai kain yang dipakai seorang wanita untuk menutupi seluruh tubuhnya. hal. Tsiyab disini dipahami pakaian luar/jilbab bukan baju biasa karena tidak mungkin Allah memerintahkan wanita menopause telanjang. jld.” Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana yang harus diperbuat para wanita terhadap ujung baju (jilbab) mereka?” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mereka mengulurkan sejengkal. saya belum melihat sebelumnya adalah: wanita yang berpakaian seperti telanjang dan wanita yang berjalan lenggaklenggok di atas kepala mereka seperti punuk unta. dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. . dll. kecantikan termasuk keindahan tubuh pada laki-laki non muhrim. Jadi kesimpulannya jilbab harus diulurkan langsung ke bawah (tidak potong-potong/atas bawah) sampai menutup dua telapak kaki (bukan mata kaki). namun maksud kata itu harus dikembalikan pada maksud yang dipahami oleh masyarakat ketika kata itu diturunkan/diungkapkan. Tabarruj berbeda dengan perhiasan atau berhias. mihnah dan jilbab. Orang tua (menopouse) boleh tetap mengenakan jilbab dan boleh juga mengenakan baju apa saja selain jilbab selama tidak menonjolkan perhiasan. 31). Memahami Pengertian Tabarruj Tabarruj telah diharamkan oleh Allah SWT dengan larangan yang menyeluruh dalam segala kondisi dengan dalil yang jelas.” Artinya jika seseorang tidak mempunyai jilbab dan saudaranya tidak meminjami maka wanita itu tidak boleh keluar. berlenggak-lenggok dan seperti punuk unta menunjukkan arti agar tampak perhiasan dan kecantikannya.

Tipe ini diwakili Maryam binti Imran. Difirmankan. Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki. Aku berlindung kepada Allah. sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina! . istrinya Abu Lahab. namun karena keshalihan dan kesuciannya. Isa putra Maryam (QS Maryam [19]: 1634). Sebab pakaian yang mereka kenakan tak dapat menutupi apa yang ALLOH SWT perintahkan untuk ditutupi. Maryam pun diamanahi untuk mengasuh dan membesarkan Kekasih Allah. Hindun bahu membahu menentang dakwah Rasulullah SAW. Lima tipe wanita Setidaknya ada lima tipe wanita dalam Alquran. Kita diberi kebebasan untuk memilih tipe mana saja yang paling disukainya. mereka malah menjadi pengkhianat dakwah. bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim (QS At Tahriim [66]: 11). Namun karakteristik dan sifatnya tetap abadi sampai sekarang. Namun ingat. sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Hukum asal suatu benda (asy yâ’) adalah mubah. Ada pula tipe penghasut. Tipe-tipe Wanita dalam Alquran May 18th. penggoda dan pengkhianat. menjadi luar biasa ketika diucapkan Hindun. Ada tipe pejuang yang kokoh keimanannya. Aku bagi menjadi 2 bagian. Sebagian perhiasan memang diharamkan Allah antara lain: seperti yang terungkap dari riwayat Ibnu Umar: “Sesungguhnya Nabi melaknat wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian. tipe penghasut. Tipe ini diwakili oleh Siti Asiyah binti Mazahim. Bahkan itu sudah menjadi sesuatu yang mentradisi dan dianggap lumrah. Istrinya Nabi Nuh dan Nabi Luth mewakili tipe ini. dan ia berdoa. Petualangan Zulaikha diungkapkan dalam Alquran. Ia berani menanggung risiko apa pun saat keimanannya diusik dan kehormatannya dilecehkan. Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). Pakaian dapat kita analogikan dengan kepribadian. kita akan mendapatkan pakaian dalam berbagai bentuk. Namun itu adalah hal baru yang lantas diterima tanpa dikritisi. Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung (QS Yusuf [12]: 23). dan wanita yang minta ditato. Isu yang awalnya biasa. Mau pilih yang mana? Semuanya terserah kita. tukang fitnah dan biang gosip. Seperti halnya pakaian. Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan. 10/13/2001 . Saat suaminya memperjuangkan kebenaran. maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah. tipe wanita penggoda. Demikian ungkap Maryam (QS Maryam [19]: 20). 2007 Ketika memasuki sebuah showroom. Bila memilih tipe pertama dan kedua. hal ini sesuai dengan kaidah syara’. Allah SWT mengabadikan doanya. Walau berada dalam cengkraman Fir’aun. insya ALLOH tidak mengurangi makna yang terkandung. Kelima. agar tidak terlalu panjang. Terserah kita mau pilih yang mana. Asiyah mampu menjaga akidah dan harga dirinya sebagai seorang Muslimah. tipe wanita shalihah yang menjaga kesucian dirinya. Kepalanya bergoyanggoyang bak punuk onta. Kita pula yang akan menerima konsekuensi dari memakai pakaian tersebut. Karena keutamaan inilah. Wanita tipe pejuang memiliki kepribadian kuat. yang garis besarnya pernah aku tulis di sini. Aurat dan Jilbab (01) Aku dapat artikel ini dari temanku. agar tidak menyesal dikemudian hari. Hari-harinya ia isi dengan ketaatan kepada Allah. Ketiga. maka kemuliaan dan kebahagiaan yang akan kita dapatkan. seperti dilakukan perempuan Fir’aun (QS At Tahriim [66]: 11). Kedua. Sedangkan bila memilih tiga tipe terakhir. Tipe ini diperankan Zulaikha saat menggoda Nabi Yusuf. demikian pula istrinya. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. butik atau toko yang menjual pakaian wanita. Sebab pakaian yang “tak layak” tersebut bukanlah merupakan budaya masyarakat Islam dan tidak pula dikenal dalam tradisi masyarakat kita. Dan Allah menjadikan perempuan Fir’aun teladan bagi orang-orang beriman. Pertama. Ia pun sangat konsisten menjaga kesucian dirinya. dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa (QS An Nuur [24]: 34). Ya Tuhanku. istri Fir’aun. tipe wanita pengkhianat dan ingkar terhadap suaminya. Alquran menjulukinya sebagai “pembawa kayu bakar” alias penyebar fitnah. Allah SWT memuliakan Maryam bukan karena kecantikannya. Alquran memberi tuntunan kepada orang-orang beriman (khususnya Muslimah) agar tidak salah dalam memilih kepribadian. Tipe ini diwakili Hindun. Namun. wanita yang rambutnya minta disambungkan. dalam setiap pilihan ada tanggung jawab yang harus dipikul. Dalam istilah sekarang wanita penyiram bensin. Asiyah lebih memilih istana di surga daripada istana di dunia yang dijanjikan Fir’aun. Kebetulan cukup detail membahas aurat perempuan.” (HR. seraya berkata. Ada wanita salehah yang tangguh dalam ibadah dan konsisten menjaga kesucian diri. Marilah ke sini. bolehkah ini . Allah SWT memuji wanita yang tidak taat kepada suaminya yang zalim. Allah SWT mengabadikan namanya sebagai nama salah satu surat dalam Alquran (QS Maryam [19]). Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. Perhiasan adalah asy yâ’ (benda). Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami. Wallaahu a’lam.Arsip Fiqh Rasululloh SAW bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya. kehinaan di dunia dan kesengsaraan akhiratlah akan kita rasakan. Bersama suaminya. Sebab kita sendiri yang akan memakainya. Tidak pula itu diuji dengan pertanyaan. wanita yang mentato. menyebar fitnah dan melakukan kezaliman. Perhiasan apapun bentuknya adalah mubah selama belum ada dalil yang mengharamkannya. Karena itu. pada saat bersamaan Allah pun mengecam perempuan yang bekhianat kepada suaminya (yang saleh). kepribadian wanita pun memiliki beragam jenis dan corak. dan dikatakan (kepada keduanya). Mereka adalah wanita-wanita yang memakai pakaian tapi telanjang. pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali dari sabut (QS Al Lahab [111]: 1-5). Yusuf berkata. (QS At Tahriim [66]: 10).Adapun mengenai perhiasan. Wanita-wanita yang dikisahkan Alquran ini hidup ribuan tahun lalu. Semoga bermanfaat. tipe pejuang. Budaya barat adalah penyebab fenomena ini.” Walaupun semula berhias dalam kondisi berkabung dibolehkan akan tetapi bisa menjadi haram manakala berhiasnya menggunakan perhiasan yang haram dan apabila berhiasnya sampai menjadikannya termasuk tabarruj yaitu menonjolkan perhiasan dan kecantikan di hadapan laki-laki asing (non mahrom). Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu. Artikel ini aku kupipes dan sedikit diedit. maka hukum asalnya adalah mubah untuk dikenakan selama belum ada dalil yang mengharamkanya. corak dan ragamnya. Keempat. Muslim) Wanita-wanita yang digambarkan Rasul dalam hadis di atas sekarang banyak sekali kita lihat.

2. Selebihnya hanyalah pakaian luarnya saja. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada. bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasululloh SAW dengan pakaian yang tipis. Yaitu siksaan api neraka. Di kampus.” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Berarti tidak cukup hanya dengan menutupkan jilbab pada kepala saja dan ujungnya diikatkan ke belakang. Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Sebab jika perhiasannya saja dilarang untuk ditampakkan apalagi tempat perhiasan itu berada. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram. Keterangan: Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung). Fenomena mengumbar aurat ini adalah merupakan perilaku jahiliyyah. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (Ind: jilbab)nya ke dadanya…’” Keterangan : Ayat ini menegaskan empat hal: a.” (HR. . Ini menunjukkan bahwa pamer aurat dan “buka-bukaan” adalah dosa besar. Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka. di sekolah. d.menurut agama. Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat solat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya. Jelasnya saat ini sudah tak ada lagi larangan untuk mengenakan busana dan pakaian yang menutup aurat. (tambahan dariku) Meski di Perancis malah terjadi sebaliknya. lantas Rasululloh SAW berpaling darinya dan berkata:“Hai Asma. Dari penafsiran para sahabat dan para ulama ini jelaslah bahwa yang boleh tampak dari tubuh seorang wanita adalah wajah dan kedua telapak tangan. “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu…” (Qs. b. bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). Al-Qur’an surat Annur(24):31 “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa. Keterangan : Hadis ini menunjukkan dua hal: a. Ini menunjukkan bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurat yang harus ditutup. bahwasanya beliau bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mrip ekor sapi untk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. apakah jaminan kebebasan ini kemudian segera disambut oleh para muslimah kita dengan segera kembali mengenakan pakaian takwa itu atau tidak. Menurut Ibnu Umar RA. yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan. Keterangan: Tabarruj adalah perilaku mengumbar aurat atau tidak menutup bagian tubuh yang wajib untuk ditutup. mengatakan maksud kata tersebut adalah pakaian dan jilbab. potong tangan dll) atau azab neraka adalah dosa besar. Dan ALLOH SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 2. Bahkan diriwayatkan bahwa ritual haji pada zaman jahiliyyah mengharuskan seseorang thawaf mengelilingi ka’bah dalam keadaan bugil tanpa memandang apakah itu lelaki atau perempuan. Sebab perbuatan-perbuatan yang dilaknat oleh ALLOH SWT atau Rasul-Nya dan yang diancam dengan sangsi duniawi (qishas. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak. katakanlah kepada istri-istrimu. Abu Daud dan Baihaqi). seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini. Malah di beberapa negara barat (Inggris dan Jerman misalnya) muslimah-muslimah pemakai jilbab tak lagi sulit ditemukan. Selain kedua dalil di atas masih ada dalil-dalil lain yang menegaskan akan kewajiban menutup aurat ini: 1. Muslim) Keterangan: Hadis ini menjelaskan tentang ancaman bagi wanita-wanita yang membuka dan memamerkan auratnya. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. ada pelarangan penggunaan jilbab walau sudah tidak terlalu banyak perdebatan lagi. Yang menjadi dasar hal ini adalah: 1. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan. “Hai Nabi. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab. Permasalahannya. Hadis Rasululloh SAW. Boleh jadi karena perasaan rendah diri yang akut dan silau terhadap kemajuan barat dalam beberapa hal akhirnya banyak di antara kita yang menerima budaya barat dengan mata tertutup (atau sengaja menutup mata). c. Hadis riwayat Aisyah RA. Betapa sekarang kita banyak melihat indahnya kibaran jilbab di mana-mana. atau baikkah ini bagi kita dan pertanyaan lain yang senada. Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita. di pasar dan bahkan di terminal-terminal. AlAhzab: 33). anak-anak perempuanmu. Begitu pula menurut ‘Atho. Ibnu Mas’ud RA.’ Imam Auzai dan Ibnu Abbas RA. AURAT WANITA DAN HUKUM MENUTUPNYA Aurat wanita yang tak boleh terlihat di hadapan laki-laki lain (selain suami dan mahramnya) adalah seluruh anggota badannya kecuali wajah dan telapak tangan. b. mengatakan maksudnya adalah pakaian dan wajah. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Konteks ayat di atas adalah ditujukan untuk istri-istri Rasululloh SAW. Hanya saja beliau (Ibnu Abbas) menambahkan cincin dalam golongan ini. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada.” (Qs. Para ulama mengatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan akan haramnya menampakkan anggota badan tempat perhiasan tersebut. Yang pasti alasan dilarang oleh si ini dan si itu kini tak berlaku lagi. Namun keumuman ayat ini mencakup seluruh wanita muslimah. Said bin Jubair RA. b. Al-Ahzab: 59). dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian. Kaidah ilmu ushul fiqh mengatakan: “Yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafadz sebuah dalil dan bukan kekhususan sebab munculnya dalil tersebut (al ibratu bi umumil lafdzi la bikhususis sabab). Dari Al-Qur’an: a. Kesadaran untuk kembali kepada budaya kita sendiri (baca: budaya berpakaian islami) mulai tumbuh. Sekarang marilah kita perhatikan penafsiran para sahabat dan ulama terhadap kata “…kecuali yang biasa nampak…” dalam ayat tersebut. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh ALLOH SWT. rajam. Namun di sana kita juga melihat fajar yang mulai terbit.

jika kamu adalah orang-orang yang benar. juga ditunjukkan dalam Q. Kenyataan akan sikap tidak objektif dalam melihat respon al-Qur’an terhadap kaum lain ini terjadi di masyarakat muslim.. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar. kepada semua yang didefinisikan sebagai “ahl al-Kitāb” atau “kafir”. s. ditunjukkan al-Qur’an. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. sementara kaum tradisionalis dan konservatif mengambil jalan yang hanya bisa disebut sebagai penerapan tafsir linguistik yang dipaksakan untuk mendesak teks-teks inklusivistik agar menghasilkan pemaknaan yang eksklusivistik. Dan kedua. Lebih lanjut. dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim.. seperti ditegaskan dalam Q. Dalam ayat ini. maupun yang positif berupa pengakuan akan eksistensi keimanan mereka ditunjukkan al-Qur’an dalam beberapa ayatnya. Dalam Q. Karena jika tidak. ada dua cara yang kerap dilakukan— oleh mereka yang tak mampu atau tak mau melihat watak gradual dan kontekstual pewahyuan al-Qur’an— dalam menghadapi “teks-teks kontradiktif” tentang kaum lain ini: Pemikir liberal kerap mengabaikan begitu saja ayat-ayat yang mencela penganut agama lain. Al-Qur’an secara eksplisit menerima adanya pluralisme agama. Ya‘qub dan anak cucunya. bahkan tidak jarang kalangan ini dengan sikap sinis memandang mereka (non-Muslim) sebagai musuh. Atau sebaliknya. Hal ini sekaligus menegaskan sikap al-Qur’an yang kondisional terhadap eksistensi kaum lain. Ayat ini menegaskan bahwa al-Qur’an mencela sikap kaum Yahudi dan Nashrani yang menjustifikasi eksploitasi terhadap kaum mereka sendiri dengan dasar bahwa kitab suci mereka membolehkan praktik-praktik itu. serta beramal saleh. Mereka berkata dusta terhadap Allah. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk dan patuh kepada-Nya. respon al-Qur’an terhadap kaum lain sesuai dengan beragam respon mereka terhadap pesan-pesan Islam dan kehadiran Nabi. al-Qur’an dianggap mengapresiasi secara positif keberadaan kaum lain dalam kondisi apapun juga. al-Qur’an juga menunjukkan apresiasi positif akan eksistensi keberagamaan serta keimanan mereka. Al-Qur’an. Isma‘il. kecuali jika kamu selalu menagihnya. norma-norma sosial. dikembalikannya kepadamu. Beragam respon baik yang negatif berupa celaan. Dalam hal ini. percaya kepada Hari Akhir. ataukah justru sebaliknya. s. ada sejumlah petunjuk di dalam al-Qur’an tentang penerimaan al-Qur’an terhadap eksistensi keimanan kaum lain.. mereka memperlakukan orang-orang lain di luar kaum mereka dengan sikap arogan dan sewenang-wenang. s. Sebagian kalangan menganggap bahwa nonMuslim adalah kelompok lain (the other). Sikap ini kemudian dikecam keras oleh al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. Respon kondisional al-Qur’ān terhadap keberadaan kaum lain ini harus dilihat secara objektif. dan apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. melalui ayat ini mencela klaim sebagian Ahli Kitab. (Q. tidak dikembalikannya kepadamu.Non-Muslim dalam Perspektif Al-Qur’an Wacana seputar term non-Muslim seringkali memicu perdebatan panjang di kalangan umat Islam.. maka yang akan muncul adalah prasangka sepihak dan parsial yang menyebut bahwa al-Qur’an secara umum menunjukkan sikap menentang eksistensi kaum lain. mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat… Selain dua ayat di atas. pada hakekatnya kehidupan akhirat adalah milik semua kaum yang beriman kepada Allah. Ali ‘Imran/3: 75: Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak. adalah keliru untuk menerapkan teks-teks celaan secara universal. s. Di samping ayat-ayat yang menunjukkan respon negatif berupa kecaman al-Qur’an terhadap sikap kaum Yahudi dan Nashrani. Esack mengungkapkan bahwa ide perkembangan sikap al-Qur’an terhadap kaum lain bersifat gradual dan kontekstual ini. sebagian kalangan umat Islam lainnya memandang non-Muslim sebagai saudara seiman (brother in faith). Di sisi lain. Ali ‘Imran/3: 77 ditegaskan: Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit. Al-Qur’an menegaskan bahwa apa yang mereka katakan hanyalah bualan atau angan-angan kosong belaka. Kecaman serta celaan al-Qur’an terhadap eksklusivisme kaum Yahudi dan Nashrani. al-Baqarah/2: 136: Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami.. Liberation & Pluralism.. dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar. Pertama. Dalam kajian ini akan diungkapkan bagaimana sebenarnya al-Qur’an menyikapi agama lain dan para pemeluknya? Apakah kaum pemeluk agama lain selain Islam dianggap sebagai musuh.. memiliki berbagai implikasi signifikan. Karena. celaan terhadap kaum Yahudi dan Nashrani juga diungkapkan al-Qur’ān dalam ayat lain. misalnya dalam Q. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. yaitu menggapai keselamatan universal. padahal mereka mengetahui. mereka disebut sebagai saudara seiman (brother in faith)? Kalau kita cermati melalui penelusuran sejarah. secara ahistoris. Respon negatif terhadap kaum Yahudi dan Nashrani berupa celaan atas sikap mereka. khususnya sejarah turunnya wahyu. Menurut Farid Esack dalam Qur’an. yang merasa bahwa hanya mereka sajalah yang memperoleh keselamatan. Kalangan ini beranggapan bahwa pada hakekatnya sumber agama-agama adalah satu. Ishaq. maka harapkanlah kematianmu. s. s. dan tujuan dari agama-agama itupun sama. Hal ini ditandaskan dalam Q. yaitu kaum Yahudi dan Nashrani bahwa kehidupan akhirat hanyalah untuk mereka dan tidak diperuntukkan bagi orang lain. menghormati hukum-hukum. Mereka merasa bahwa hanya mereka sajalah yang menjadi kekasih Allah. orang tak bisa berbicara tentang “posisi final al-Qur’an” terhadap kaum lain. Kalangan ini memberikan label “sesat” bahkan “kafir” kepada non-Muslim. al-Qur’an menerima keberadaan kehidupan religius komunitas lain yang semasa dengan kaum Muslim awal. al-Baqarah/2: 62). jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain. al-Baqarah/2: 111: Dan mereka (Yahudi dan Nashrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nashrani”. Ayat ini kemudian diikuti dengan pencelaan pada mereka yang “menukar janji (dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit”. dan praktik-praktik keagamaan mereka. sementara kaum lainnya dianggap lebih rendah dan lebih hina. Dari hasil kajian penulis akan hal ini. s. Dari sikap ini. al-Qur’an secara tegas mengecam sikap eksklusivisme kaum Yahudi yang merasa lebih superior atas kaum lainnya. alJumu‘ah/62: 6: Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi. Al-Qur’an juga mengakui keabsahan semua agama wahyu dalam dua hal: pertama. al-Mu’minun/23: 52: . Hal ini ditegaskan dalam Q. al-Qur’an menjadikan kepercayaan pada keaslian semua agama wahyu sebagai syarat keimanan. karena dianggap telah menyimpang dari rel akidah yang sesungguhnya.

a.” Lalu turunlah ayat ini. Begitu pula larangan seripa bagi kaum pria terhadap kaum pria. kaum lain merespon pesan-pesan al-Qur’an. hendaklah budakbudak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki dan orang-orang yang belum baligh diantara kamu. ketika meninggalkan pakaian luar mereka saat mau tidur siang. terutama dalam hal makanan dan perkawinan. di dalam surah Al-Hujurat ayat 13 Allah berfirman: ‘Sesungguhnya yang paling mulia di kalangan kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Muqatil berkata bahwa sebab turunnya ayat ini ialah apa yang dialami Asthma’binti Murstid yang punya anak lelaki yang sudah dewasa dan seringkali memasuki kamar Asthma’(ibunya) pada kondisi yang ia tidak suka.Mereka melayani kamu. Ketika Maryam ibu Nabi Isa mengandung. secara tegas Q. Bukti Wanita Mulia Dalam Islam March 30th. (Q..’”Lalu turunlah ayat ini. al-Baqarah/2: 62). Kenyataan ini menunjukkan bahwa permusuhan tidak dianggap sebagai norma dalam hubungan kaum Muslim dan kaum lain. al-Ma’idah/5: 47: Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil. menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang hidup semasa dengan kamu).Sesungguhnya (agama tauhid) ini. “Wahai Yahudiyah binti dua orang Yahudi. s. dengan langsung memberi jawaban atas permasalahan yang di hadapi. norma-norma dan peraturan kaum lain ditegaskan dalam Q. yaitu sebelum sholat subuh. Anas r. Dan mengeluh bahwa istri-istri Nabi mengejek dengan perkataan. masyarakat sekeliling mengutuk beliau tetapi Allah membela dan memuliakan beliau melalui firmanNya di dalam surah Ali-Imran ayat 42 yang bermaksud: ‘Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibrail) berkata: ‘Hai Maryam. Berhubung dengan ini. Jika seseorang wanita beriman dan beramal salih dia diganjar Allah dan diletakkan di tempat yang tinggi. Dari penelusuran sejarah tentang sikap al-Qur’an terhadap kaum lain. memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. dan barang siapa tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang zalim. dan makanan kamu halal pula bagi mereka. Firman Allah. dan suamiku Muhammad. adalah agama kamu semua. Dalam hal makanan dan perkawinan. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. “Jawablah mereka dan katakan. penerimaan al-Qur’an terhadap kaum lain sebagai komunitas sosio-religius yang sah. jelaslah bahwa pengakuan al-Qur’an atas pluralisme agama mencakup dua hal pokok yang sangat penting dalam kehidupan ini. Kedua. pamanku Musa. yaitu kaum Yahudi dan Nashrani. Dan kedua. tanpa memperhatikan konteks sosiohistoris dari teks-teks yang digunakan untuk mendukung sikap tersebut. (*) Cara Al-Quran Memuliakan Wanita Minggu.a. Dan Allah maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Ketika Firaun bertindak kejam membunuh anak-anak lelaki Bani Israil.’Ayahku Harun. dan sesudah shalat isya.or. Selain penegasan tentang eksistensi keimanan Ahli Kitab. “Hai orang-orang yang beriman.. penerimaannya atas kehidupan spiritual dan keselamatan mereka. dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu… Ayat di atas secara tegas menyatakan bahwa makanan Ahli Kitab halal bagi kaum Muslim. begitu juga sebaliknya. janganlah satu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). atau biasa disebut dengan non-Muslim. maka bertakwalah kepadaku. meminta izin kepadamu tiga kali (dalam satu hari). adalah naif jika kaum Muslim menggeneralisasi penolakan atau pencelaan terhadap agama lain. supaya tidak masuk mendadak. Dari Ibnu Abbas r. “Pelayan-pelayan dan anak-anak kami yang sudah dewasa memasuki kamar-kamar tidur kami pada keadaan yang tidak kami sukai.’ Demikian juga yang berlaku ke atas ibu nabi Musa. al-Qur’ān juga mengapresiasi secara positif interaksi sosial kaum Muslim dengan mereka. Demikianlah Allahmenjelaskan ayat-ayat bagi kamu. lalu ia mendatangi Rasulullah saw. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman. Allah memuliakan beliau dengan menenteramkan jiwa beliau melalui firmanNya yang bermaksud: ‘Dan Kami ilhamkan . 16 April 2006 ( dari www. dan Aku adalah Tuhanmu. Sebaliknya kemuliaan seseorang adalah berdasarkan ketakwaan nya kepada Allah.. 2007 · No Comments Allah tidak pernah menghina atau memuliakan makhluk-makhlukNya berdasarkan jantina.’ Wanita dan lelaki adalah sama di sisi Allah sebagai hamba Allah. dan pada malam hari sesudah shalat isya (saat mereka membuka pakaian). Ikrimah berkata bahwa Shafiyah binti Huyai Bin Akhtab (istri Rasulullah yang Yahudi) mendatangi Rasulullah saw.’ Wanita yang bertakwa mendapat pembelaan daripada Allah. Gambaran lainnya dari pemuliaan terhadap kaum ibu dalam al-Qur’an ialah Firman Allah SWT. yang sebelum shalat subuh. “Hai orang-orang yang beriman. terlihat jelas betapa al-Qur’an menyikapinya sesuai dengan kondisi di mana mereka. al-Ma’idah/5: 5 menyatakan: Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu.bmh. yakni kaum lain melalui jalan yang berbeda. sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian yang lain).” Nabi saw berkata kepadanya. yaitu pertama. sesungguhnya Allah telah memilihmu. Yang memperolok-olok Ummu Salamah karena bentuk tubuhnya yang pendek. s. Dengan demikian. al-Qur’an menerima pandangan bahwa pemeluk-pemeluk setia agama-agama wahyu ini juga akan mendapat keselamatan dengan ungkapannnya: “tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Itulah) tiga aurat bagimu. yaitu wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari kalangan Ahli Kitab. dan tidak ada halangan pada selain waktu-waktu itu. Dalam surah Ali-Imran ayat 195 Allah berfirman yang bermaksud: ‘Sesungguhnya Aku tidak mensia-siakan amalan orang-orang yang beramal di antara kamu baik lelaki ataupun wanita kerana sebahagian kamu adalah keturunan dari sebahagian yang lain. dan janganlah pula wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena boleh jadi wanita yang (diperlolok-olok) lebihbaik dari pada wanita (yang mengolok-olok). Ini dilarang karena mereka seperti satu badan. sedang mereka dalam keadaan tidak suka dilihat orang lain. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah.id ) Gambaran dari dimuliakannya kaum wanita oleh al_qur’an ialah larangan Allah atas kaum wanita yang berkedudukan tinggi dan berketurunan bangsawan serta paras cantik untuk mengolok-olok mereka yang tidak memperoleh nasih serupa. Di samping itu. ketika kaum menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari..” (An-Nur : 58) Tafsir ayat ini jelas ketika Allah SWT menyuruh hamba-hamba-Nya yang beriman agar menyuruh para pelayan (budak-budak) mereka untuk meminta izin bila memasuki kamar-kamar tidur mereka. Dan berkata. Begitu pula terhadap anggota keluarga yang belum baligh agar minta izin tiga kali sehari semalam. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. pria Muslim juga diperkenankan (baca: halal) menikahi wanita-wanita suci. Dari keterangan ayat-ayat di atas. Begitullah “cara” al-Qur’an memuliakan kaum wanita. maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. s. Berkata bahwa sebab turunnya (asbabul nuzul) ayat ini aialah berkenaan dengan istri-istri Rasulullah saw. Mengenai penghormatan atas hukum agama. ibu nabi Musa berasa bimbang tentang keselamatan anaknya. agama yang satu. dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamupanggilmemanggil dengan gelar-gelar yang buruk. “ (QS Al Hujurat : 11) “Janganlah mencela dirimu sendiri” berarti mencela antara sesama orang-orang beriman.

Di dalam surah Al-Qasas ayat 26. dan dia telah mengadu kepada Allah. Pandangan dan sikap yang baik walaupun datang dari wanita. Lord Scott. namun urusan ini terserah kepadamu. Beliau bukan saja mampu mengeluarkan fatwa malah kadangkala beliau membetulkan pandangan serta fatwa yang dikeluarkan oleh sahabat-sahabat Nabi yang lain. lalu dididiknya mereka dan dijaganya mereka dengan baik kemudian dikahwinkan mereka. Kaum wanita yang berilmu tinggi boleh mengeluarkan fatwa berhubung hukum hakam Islam. Di zaman Nabi serta sahabat. Selepas mendengar hujah wanita itu. Hafsah. Dalam surah an-Nisak Allah menegaskan. kerana Hafsah diberikan kepercayaan supaya menyimpan sumber rujukan utama Islam. Hal ini disebutkan dalam surah an-Nisak ayat 19: ‘Pergaulilah isterimu dengan cara yang makruf. pernah berkata. Hadis adalah sumber hukum Islam yang kedua selepas Al-Quran. Di Britain. . Khaulah. Islam menentang adat resam ini melalui firman Allah di dalam surah At-Takwir ayat 8 dan 9 yang bermaksud: ‘Dan apabila bayi-bayi perempuan yang ditanam hidup-hidup ditanya. Antara wanita Islam yang diiktiraf sebagai perawi hadis ialah Karimah Al-Mirwaziah dan As-Sayyidah Nafisah binti Muhammad. Allah menurunkan wahyu berhubung perkara ini dalam surah Al-Mujadalah ayat 1-2: ‘Sesungguhnya Allah mendengar suara perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya. Apabila di amati insiden ini kita boleh mengatakan Ummu Salamah ketika itu berkedudukan seperti seorang penasihat kepada seorang pemimpin negara. Lantaran terlalu sedih kerana dihalang oleh golongan Quraisy dari melakukan Haji. di dalam surah An-Naml ayat 33 dan 34: ‘Mereka (para pembesar negeri Saba) berkata: ‘Kita mempunyai kekuatan dan keberanian yang cukup. Contoh yang lain ialah anak perempuan kepada Imam ‘Alauddin al-Samarqandi al-Hanafi yang bernama Zainab. Di zaman khalifah Omar. Seorang wanita bangun untuk menegur khalifah Omar kerana. pada hari ini. Itulah yang akan mereka lakukan. Jika si isteri mempunyai kelemahan. Ia menunjukkan. peranan Aisyah amat menonjol sekali di sudut ini. Jika kamu tidak senang dengan mereka maka bersabarlah kerana mungkin kamu tidak menyukai sesuatu tentang mereka tetapi Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.. Allah memuliakan anak perempuan Nabi Syuaib dengan merakamkan pandangan beliau yang amat bernilai berhubung aspek pengurusan. wanita dihargai dan diletakkan di tempat yang tinggi. Al-Hafiz ibn Asakir. Nabi Muhammad membenarkan pandangan Ummu Salamah dan mematuhi nasihat isterinya. beliau melantik seorang wanita bernama Ummul Syifa binti Abdullah menjadi penyelia pasar di Madinah. Allah berfirman: ‘Dan salah seorang dari kedua wanita itu berkata: ‘Wahai bapaku ambillah dia (Musa) sebagai pekerja kita kerana sesungguhnya orang yang paling baik untuk dijadikan pekerja ialah seorang yang gagah lagi dapat dipercayai. khalifah yang empat serta era kegemilangan empayar Islam. Melihat keadaan itu Ummu Salamah menasihati Rasulullah agar melakukannya terlebih dahulu kerana beliau yakin selepas Baginda melakukannya sahabat-sahabat pasti menuruti baginda. Balqis. Pada suatu ketika. pada pandangan wanita itu. Nabi bersabda: ‘Sesiapa yang memiliki tiga orang puteri atau tiga saudara perempuan. Pada zaman khalifah Abu Bakar. Jika dibandingkan jawatannya dengan suasana hari ini. Dan janganlah kamu bimbang dan janganlah pula bersedih hati kerana Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. baginya syurga. dengan badan ibunya (zihar). Allah menyuruh si suami melihat kebaikan yang banyak yang ada pada isteri dan tidak hanya memfokuskan kepada satu dua kelemahan yang ada. atau dua orang puteri atau dua saudara perempuan. Justeru. ‘Semakin ramai wanita Amerika keturunan Sepanyol memeluk Islam kerana tertarik dengan kemurnian ajarannya.. tulisantulisan Al-Quran dihimpunkan dan disimpan oleh beliau. Ketika berlaku Perjanjian Hudaibiyah Nabi Muhammad mengarahkan sahabat-sahabat mencukur rambut dan menyembelih binatang ternakan sebelum kembali ke Madinah.’ Menzalimi wanita adalah dilarang oleh Islam. Kejadian ini melambangkan kemuliaan wanita Islam serta kepercayaan Islam kepada wanitanya.’ Wanita ada suara dalam Islam dan suara mereka dimuliakan Allah. ‘Wahai orang yang beriman.’ WANITA DIMULIAKAN DI ZAMAN SAHABAT DAN SELEPASNYA Pada zaman Nabi Muhammad. “Bab Peperangan Wanita Dan Perjuangan Mereka” dalam kitab Sahih Bukhari. Pada zaman Nabi. dimuliakan Allah.’ Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dan Abu Daud. Salah seorang perawi hadis yang terkenal. iaitu isteri sahabat Ubadah bin Shamit.. Beliau sering kali menyampaikan fatwa tentang persoalan agama bersama-sama dengan bapanya. Beliau berkata. khalifah Omar menyimpannya dan selepas kematiannya himpunan ini diserahkan kepada Ummul Mukminin.’ Al-Quran juga merakamkan kebijaksanaan kepimpinan permaisuri negeri Saba. ‘Statistik menunjukkan bagi setiap lima orang yang memeluk Islam di Amerika empat daripada mereka adalah wanita.” Riwayat ini menunjukkan penglibatan kaum wanita dalam sistem kepimpinan dan politik negara adalah penting seiring dengan kaum lelaki. Permaisuri (Balqis) berkata: ‘Raja-raja. tindakan untuk hadkan kadar mahar bercanggah dengan ketetapan Al-Quran.’ Para suami diperintahkan Allah supaya menjaga isteri-isteri mereka dengan baik dan tidak menjadikan isteri-isteri seperti bola yang boleh ‘ditendang’ ke sana ke mari. Al-Quran dihafaz dan ditulis oleh sekumpulan sahabat. makin ramai wanita di Barat yang memeluk Islam. khalifah Omar terus berkata. Di zaman jahiliah adalah menjadi perkara biasa jika bayi-bayi perempuan ditanam hidup-hidup demi untuk memelihara keluarga dari aib dan malu. kaum wanita merupakan sebahagian daripada syekh dan guru yang telah mendidiknya. Perbuatan ini amat tidak disenangi oleh isterinya lantas beliau mengadu hal ini kepada nabi. Selepas kematian khalifah Abu Bakar.’ Laporan Columbia News Service (Agensi Berita Columbia) oleh Nevine Mabro pula menunjukkan. perhatikanlah apa yang hendak kamu perintahkan’. sebelum beliau menyerahkannya kepada khalifah Uthman untuk ditulis semula dan dibukukan. Kesemua ini adalah bukti yang jelas yang menunjukkan betapa Al-Quran dan Islam memuliakan kaum wanita.’ Kenyataan ini disebutkan di dalam surah Al-Qasas ayat 7. Di zaman nabi. Justeru. apabila memasuki sesebuah negeri akan merosakkan negeri itu dan menjadikan penduduk yang mulia hina. “Wanita itu betul dan lelaki ini (iaitu Omar) salah. Nabi mengiktiraf sumbangan wanita Islam di luar rumah. si suami juga mempunyai kelemahan. dapat keluar berperang di lautan bersama-sama dengan tentera-tentera Islam yang lain. tugas ini boleh disamakan dengan tugas seorang ketua pengarah di kementerian hal ehwal pengguna.kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia dan apabila kamu khawatir ke atas keselamatannya letakkanlah ia di atas sungai (Nil). Perkembangan ini dinyatakan oleh Lucy Berrington di dalam majalah Times terbitan 9 November 1993 di bawah tajuk The Spread of a World Creed. Beliau kemudiannya dikahwinkan dengan seorang ulama mazhab Hanafi yang bernama Imam Al-Kasani. pengarang kitab Al-Badaii’ As-Sonaii. Imam Bukhari memandang tinggi sumbangan kaum wanita dalam Islam sehinggakan beliau meletakkan satu bab khas yang bertajuk. khalifah Omar menyampaikan khutbah di atas mimbar dan beliau menjelaskan tentang penetapan kadar mahar agar ia tidak begitu tinggi. Al-Quran merupakan wahyu Allah. sahabat yang bernama Aus telah menyamakan badan isterinya. tidak ada seorang sahabat pun yang bangun untuk melaksanakannya. kerana dosa apakah maka dia dibunuh?’ Untuk menampakkan penentangan kepada sistem jahiliah yang menghina kaum wanita.’ Islam tidak mengizinkan wanita dikotak-katikkan oleh golongan lelaki. Antara contoh-contohnya ialah: Berpandukan hadis Muslim Nabi Muhammad mendoakan agar Ummu Haram. di antara wanita yang memeluk Islam ialah anak perempuan kepada hakim yang terkenal. janganlah kamu memusakai wanita secara paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk mengambil sebahagian apa yang telah kamu berikan.

Inilah hikmah darah haid. (Zat makanan yang berada di dalam darah ibu) sampai ke dalam badan janin melalui pusatnya dan lantas memasuki uraturat sarafnya. 1. Umur bagi bermulanya haid. Inilah cara janin mendapat makanan. Para ilmuan berselisih pendapat adakah terdapat batas umur tertentu bagi permulaan haid untuk wanita. Umur seorang wanita yang pada kebiasaan bermula haid ialah antara dua belas hingga lima puluh tahun. Hikmah Haid Sesungguhnya janin yang berada di dalam perut ibunya tidak mungkin mendapat makanan seperti orang yang di luar. Ini kerana rujukan kepada semua persoalan ini adalah kepada wujud (darah yang mengalir keluar). Amat jarang berlaku haid ketika hamil. Demikian juga bagi ibu-ibu yang menyusu.” o Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan. ms. Terdapat enam atau tujuh pendapat dalam persoalan ini. sangat sedikit di kalangan mereka yang datang haid terutamanya di awal masa menyusu. 2 Masa Haid Dan Tempohnya Perbincangan dalam bab ini tertumpu kepada dua persoalan: 1. Menentukan batas umur tertentu memerlukan dalil daripada al-Qur’an dan al-Sunnah. dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. keguguran atau kelahiran. Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Imam al-Darimi rahimahullah membuat kesimpulan berikut: Semua pendapat ini adalah saya menurut saya. kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu. luka. Ia keluar pada waktu-waktu yang diketahui. Namun wujud kemungkinan haid bermula lebih awal daripada umur dua belas tahun atau lebih lewat daripada umur lima belas tahun.” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja. Mereka juga berselisih pendapat sama ada darah yang datang sebelum atau selepas batas umur tersebut adalah darah haid atau darah penyakit? Selepas menyebut perselisihan pendapat ini. Dari sudut syara’. haid ialah darah yang keluar dari wanita kerana fitrah kejadiannya tanpa sebarang sebab. Itulah namanya Cinta. Tempoh haid. Ia adalah darah fitrah yang keluar bukan kerana sakit. 1 Makna Haid Dan Hikmahnya Makna Haid Dari sudut bahasa. Tugas ini tidak dapat diambil alih oleh kaum lelaki dan ia merupakan suatu tugas yang amat mulia. Atas sebab ini Allah Ta’ala menjadikan makanan untuk janin dalam perut ibu daripada darah (ibunya). Maha Mulia Allah sebagai sebaik-baik pencipta. Jawab titis air mata kedua tu. jld. Islam tidak pernah menghalang kaum wanita yang ingin berperanan di penjuru-penjuru lain selagi mana batas-batas agama dan landasan keutamaan dijaga o Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain. Inilah juga pendapat yang dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah. dua tangan untuk memegang. Allah sahaja yang lebih mengetahui. Berkata Imam Ibn al-Munzir rahimahullah: Menurut satu pendapat: Tidak ada batas bilangan hari bagi tempoh minima atau maksima (haid). Walau bagaimanapun tugas-tugas ini tidak sepatutnya dijadikan alasan oleh kaum wanita untuk mengabaikan tugas utamanya sebagai isteri dan ibu yang bakal melahirkan cahaya mata bernilai bagi umat. Ini kerena hukum-hukum haid yang ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah atas wujudnya (haid). Para ilmuan juga berbeza pendapat dalam persoalan tempoh haid atau kadar masanya. Ini adalah pendapat yang benar kerana didokongi oleh al-Qur’an dan al-Sunnah serta pemikiran yang sihat. sambil berkata: aku turut bahagia untukmu. seorang wanita terputus haidnya. Ini kerana tidak mungkin bagi seorang ibu untuk menyampaikan makanan kepada anaknya dengan cara yang biasa. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat. darah haid berperanan membersihkan sel-sel telur dalam sistem pembiakan wanita yang tidak disenyawakan. [Dinukil oleh Imam al-Nawawi dalam Majmu’ Syarh al-Muhazzab. padahal tidak ada sebarang dalil berkenaannya (dalam dua sumber tersebut). Ia tidak memerlu kepada pemakanan biasa (solid food) dan penghadaman. Maka apabila seorang wanita melihat darah haid mengalir keluar maka bermakna dia telah didatangi haid sekalipun umurnya sembilan tahun ataupun lebih daripada lima puluh tahun. Kedua: Tempoh haid. ini adalah sepertimana pendapat Imam al-Darimi yang lalu dan ia adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah. haid (‫ )الحيض‬ialah: turun sesuatu secara mengalir.Semua ini merupakan dalil-dalil kukuh yang menunjukkan wanita dalam Islam mempunyai peranan yang penting dalam pembangunan sesebuah masyarakat. Saya (pengarang) berkata. 386] Apa yang disimpulkan oleh Imam al-Darimi adalah pendapat yang benar. Sebab-sebabnya seperti berikut: . Pertama: Umur bagi bermulanya haid. Allah serta Rasul-Nya tidak membataskan umur tertentu dalam persoalan ini. Jika tidak hamil.” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. dan kamu masih mampu tersenyum. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi. Namun tugas kaum wanita bukanlah sekadar itu.Penerangan Syaikh al-Utsaimin rahimahullah di atas merujuk kepada kes setelah berlakunya persenyawaan dan wanita menjadi hamil. 2. Maka pada setiap umur dan keadaan jika didapati (wujud darah yang mengalir keluar) maka wajib mengkategorikan ia sebagai (permulaan) haid. Oleh itu apabila berlaku kehamilan. Siapa kamu pula?”.

tidur. kotoran tetap kotoran. Padahal ini adalah persoalan penting yang sangat berhajat kepada penetapan daripada dua sumber tersebut. puasa. tempoh dan waktunya. membuang hajat sehinggalah kepada bilangan batu-batu untuk beristinjak dan pelbagai lagi perkara-perkara kecil yang lain. Maka apabila sahaja didapati wujud haid maka wujudlah kotoran tanpa dibezakan antara hari kedua dan hari pertama. Zakat. .Pertama: Firman Allah Ta’ala: Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad).” [Shahih Muslim – no: 1211 (Kitab al-Haj)] Dalam Shahih al-Bukhari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada ‘A’isyah radhiallahu 'anha: “Tunggulah maka apabila kamu telah suci maka keluarlah ke Tan’im. dan ‘illah (faktor penyebab hukum) tetap sama pada dua hari tersebut. Katakanlah: "Darah haid itu satu benda yang mendatangkan mudarat". Haji dan seterusnya. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (jangan bersetubuh dengan isteri kamu) dalam masa datang darah haid itu. Ini membuktikan bahawa hukum haid ditentukan dengan bermula dan berakhirnya haid.” [Shahih al-Bukhari – no: 1787 (Kitab al-Haj)] Dalam hadis di atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjadikan “suci” sebagai syarat penyudah tegahan. Allah juga tidak menentukan tempoh masa suci antara dua haid. sehingga apabila suci daripada haid maka hilanglah hukum-hukum yang berkaitan dengan haid. tetapi ia mengesahkan apa yang tersebut di dalam kitab-kitab agama yang terdahulu daripadanya. Ini sebagaimana hukum-hukum fiqh yang lain seperti solat. Sedangkan perkara-perkara ini adalah umum terhadap umat dan mereka berhajat untuk mengetahuinya.” ‘A’isyah berkata: “Maka pada hari menyembelih aku telah suci…. hari keempat dan hari ketiga. Dari sudut bahasa. tidak wujudnya hukum perkiraan tempoh masa (minima dan maksima bagi) haid di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah menjadi bukti bahawa perkiraan tersebut tidak memberi apa-apa manfaat atau ilmu. nescaya Allah dan Rasul-Nya secara terang dan jelas akan menerangkannya. nikah. dan janganlah kamu hampiri mereka (untuk bersetubuh) sebelum mereka suci. jelaslah bahawa ia sebenarnya tidak berhajat kepadanya. [al-Baqarah 2:222] Dalam ayat di atas Allah menjadikan “suci” sebagai syarat penyudah kepada tegahan. Allah tidak menjadikan tempoh sehari semalam. [al-Risalah fi al-Asma’ allati ‘Alaq al-Syar‘i al-Ahkam biha. jima’. Kedua: Dalam Shahih Muslim tercatit sebuah hadis yang sahih di mana Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada ‘A’isyah radhiallahu ‘anha yang di saat itu sedang berihram untuk umrah dan didatangi haid: “Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang berhaji kecuali jangan kamu bertawaf di al-Bait (Ka’abah) sehingggalah kamu suci. Allah dan Rasul-Nya juga telah memperincikan adab-adab makan. minum. mengenai (hukum) haid. duduk. Ini menunjukkan bahawa sebab timbulnya hukum ialah bermula dan berakhirnya haid. Ini semua termasuk kesempurnaan agama Allah dan nikmat-Nya ke atas orang-orang yang beriman. Sesungguhnya segala hukum syara’ tidak boleh ditetapkan melainkan dengan dalil dari syara’ sendiri iaitu daripada al-Qur’an dan al-Sunnah. ms 35] Keempat: Pemikiran yang sihat berdasarkan qiyas (analogi) yang sahih akan mengetahui bahawa Allah Ta‘ala menjadikan haid sebagai satu bentuk kotoran. dan ia sebagai keterangan yang menjelaskan tiap-tiap sesuatu. Allah tidak menentukan baginya tempoh masa minima dan tempoh masa maksima. [al-Nahl 16:89] Firman Allah: Bukanlah ia (al-Qur’an) cerita-cerita yang diada-adakan. Yang dihajatkan. Dalam ertikata lain. Puasa. nisab-nisabnya. Baginda tidak menetapkan apaapa batas masa atau tempoh tertentu. Justeru haid tetap haid. pesaka dan sebagainya. Maka sesiapa yang menentukan satu tempoh tertentu maka sesungguhnya dia menyalahi al-Qur’an dan al-Sunnah. Maka bagaimana mungkin dibezakan hukum antara dua hari tersebut sedangkan faktor penyebabnya adalah sama? Ini menyalahi qiyas yang sahih kerana faktor penyebab yang sama akan menyamakan hukum antara dua hari tersebut. Hukum-hukum syari’at bergantung kepada wujud atau tidaknya haid. ia (al-Qur’an dan al-Sunnah) tidak membezakan antara satu tempoh dengan satu tempoh yang lain. bukan tempoh masa haid. hari kelapan belas dan hari ketujuh belas. atau yang dijadikan syarat ialah kewujudan haid itu sendiri pada seorang wanita. hari keenam belas dan hari kelima belas. harta-hartanya. talak. masuk-keluar rumah. [Yusuf 11:111] Apabila perkiraan tempoh masa (minima dan maksima bagi) haid tidak terdapat dalam kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Firman Allah: Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran menjelaskan tiap-tiap sesuatu. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah menyebut sebuah kaedah yang amat penting: Dari apa yang dikenali sebagai haid. waktu-waktunya. tiga hari atau lima belas hari sebagai syarat penyudah tegahan. Allah dan Rasul-Nya telah memperincikan bilangan solat. rukuknya dan sujudnya. Ketiga: Sesungguhnya perkiraan tempoh masa (minima dan maksima bagi) haid yang dilakukan oleh (sebahagian) ahli fiqh tidak terdapat dalilnya di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. kadarnya dan tempat ditunaikannya. Allah telah kaitkan dengannya beberapa hukum dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Faktor penyebab hukum (‘illah) bagi haid ialah kotoran. atau ijma’ (kesepakatan) yang maklum (diketahui) atau qiyas (analogi) yang sahih. Seandainya penetapan tempoh ini termasuk daripada hukum fiqh bagi umat beribadat kepada Allah.

Dalil-dalil bagi hal ini telah dikemukakan dalam bab yang sebelumnya. maka ia adalah darah haid tanpa ditetapkan umur atau tempoh masanya. Sesungguhnya para ilmuan berbeza pendapat dalam dua kes di atas. Bab ketiga ini membahas beberapa persoalan lanjut berkenaan haid: Pertama: Perbezaan masa haid. tetapi berlarutan selama tujuh hari. 36 & 38] Lima sebab di atas menjadi hujah bahawa tidak ada penetapan tempoh minima dan maksima bagi haid. Ini disebabkan di antara pendapat-pendapat ini. tidak ada dalil yang dijadikan sumber rujukan. Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah di dalam kitabnya Fath al-Bari berkata: al-Bukhari mengisyaratkan dengan demikian bertujuan menyelaraskan antara hadith ‘A’isyah (yang bermaksud): “sehingga kamu semua melihat sesuatu seperti benang putih” dengan hadis Umm ‘Athiah di atas. Berwarna kekeruhan antara kuning dan hitam. lalu dia suci dalam masa enam hari sahaja. lalu dia melihat haid hanya datang pada awal bulan. ms. Berkata Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah: Pada asalnya setiap darah yang mengalir keluar dari rahim adalah darah haid sehinggalah ada bukti yang menunjukkan ia adalah darah istihadah. Contohnya ialah seorang wanita yang kebiasaannya mengalami haid selama enam hari. 1.” [Sunan Abu Daud – no: 246 (Kitab al-Thaharah) dengan sanad yang sahih][3] Imam al-Bukhari rahimahullah menyusun hadis ini dalam kitab sahihnya di bawah bab: Bab al-Sufrah dan al-Kudrah pada hari-hari selain haid. Sufrah atau Kudrah. Permulaan masa mengalirnya (putaran haid) menjadi awal atau lambat daripada kebiasaan. Ini dikenali sebagai Kudrah. Namun pendapat yang terkuat dan benar ialah apabila seorang wanita melihat darah mengalir keluar bererti dia haid dan apabila darah berhenti mengalir bererti dia suci (tidak haid). jld. Penentuan ini tidak disyaratkan oleh perbezaan masa sama ada lebih lama atau singkat. jika ia mengalir keluar ketika sedang haid atau bersambungan di akhir masa haid. Contohnya seorang wanita yang kebiasaannya datang haid pada akhir bulan. Hujah-hujah ini bukan sahaja benar dari sudut dalil al-Qur’an. Katanya lagi: Apa-apa darah yang keluar ialah darah haid jika tidak diketahui bahawa ia adalah darah istihadah atau luka. Tempoh mengalirnya bertambah atau berkurang daripada kebiasaan. Tidak pernah lahir daripada baginda sesuatu yang wujud secara lazim melainkan diikuti dengan penjelasannya. pasti akan dijelaskan (hukumhukumnya) oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam tanpa melengah-lengahkannya.[2] Kedua: Cecair yang kekuningan atau kekeruhan. Oleh itu apabila seorang wanita mendapati darah mengalir keluar secara fitrah tanpa disebabkan luka atau seumpama. ms. Kadangkala berlaku perbezaan masa haid seorang wanita. Kadangkala bagi seorang wanita mengalir keluar daripadanya cecair (discharge) yang: 1. Para isteri Rasulullah dan selainnya memerlukan penjelasan akan persoalan ini pada setiap masa dan baginda tidak pernah lalai daripada memberikan penjelasan tentangnya. 3 Perkara-Perkara Yang Berlaku Ketika Haid. Atau seorang wanita yang kebiasaannya mengalami haid selama tujuh hari. Ini dikenali sebagai Sufrah.Kelima: Wujud perselisihan pendapat di kalangan orang-orang yang membataskan tempoh tertentu dan tiada satu jua di antara pendapat-pendapat ini yang kuat hujahnya. Perbezaan ini wujud dalam dua bentuk: 1. Ia adalah ijtihad yang terbuka kepada kebenaran dan kesalahan sehingga tidak ada satu di antaranya yang terlebih utama untuk diikuti. Berwarna kekuningan seperti air yang keluar akibat luka. Atau kebiasaannya datang haid pada awal bulan lalu dia hanya melihatnya di akhir bulan. Tempat rujukan ketika berlaku perselisihan ialah al-Qur’an dan al-Sunnah. maka ia dikategorikan sebagai haid dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang bersamaan dengan darah haid biasa. tetapi juga mudah selari dengan ruh Islam.[1] 2. al-Sunnah dan pemikiran yang benar. maka ia tidak dikategorikan sebagai haid. 2. Ini merupakan mazhab Imam al-Syafi’e rahimahullah dan dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah serta dikuatkan lagi oleh Imam Ibn Qudamah di dalam kitabnya al-Mughni. sebelum suci. yakni dalam masa suci. [al-Risalah fi al-Asma’ allati ‘Alaq al-Syar‘i al-Ahkam biha. Ini kerana sesuatu yang memerlukan penjelasan tidak boleh dilengah-lengahkan. sama ada lebih awal atau lewat. kecuali dalam persoalan darah istihadah. Jika ia mengalir keluar secara terpisah daripada masa haid. Jelas daripada dua sumber ini bahawa tidak ada pembatasan tempoh minima dan maksima haid. Dalilnya adalah kenyataan Umm ‘Athiah radhiallahu 'anha: “Kami tidak mengira (cecair yang berwarna) kekeruhan dan kekuningan (jika ia keluar) selepas suci sebagai apa-apa (yakni bukan haid). . 353: Jika sesuatu perkara itu berlaku secara lazim dan memerlukan penjelasan (hukum-hukumnya).

maka hukumnya terbahagi kepada dua kes: 1. Hadith ‘A’isyah radhiallahu 'anha yang dimaksudkan adalah apa yang disebut oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab sahihnya: Sesungguhnya para wanita telah mengutus kepada ‘A’isyah bekas yang ada padanya kapas yang padanya ada al-Sufrah. jld. Selagi mana tidak kelihatan sesuatu seumpama benang putih pada satu hari yang tidak didatangi haid. Jika ia berlaku selepas haid.Hadis ‘A’isyah merujuk kepada seseorang yang melihat al-Sufrah dan al-Kudrah pada hari-hari haid. Sebab-sebabnya adalah seperti berikut: 1. maka ‘A’isyah menjawab: “Jangan kamu semua segera (bersuci) sehingga kamu semua melihat sesuatu seperti benang putih (yang keluar selepas berhenti darah bercampur al-Sufrah tersebut). seperti menjadi kering atau hanya lembab. Kadangkala juga seorang wanita menghadapi haid yang terputus-putus alirannya. 355: (Bagi kes darah haid yang terputus-putus selang sehari). Jika dianggap satu hari yang tidak didatangi haid sebagai hari suci nescaya iddah al-Quru’ akan selesai dalam masa lima hari sahaja. Ini berdasarkan riwayat yang telah kita sebut dalam perbahasan darah nifas. Riwayat ini adalah sahih. maka ia dikategorikan sebagai haid (dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang bersamaan dengan darah haid biasa). di mana ia tidak mengambil kira darah yang berhenti dalam tempoh yang belum genap sehari. Jika dikatakan satu hari yang tidak didatangi haid sebagai hari suci nescaya hari sebelum dan selepasnya adalah hari haid. Beliau menulis di dalam kitabnya al-Mughni. ia tetap dianggap sebagai hari haid. insya-Allah. Kecuali jika kelihatannya tandanya yang jelas. maka ia adalah darah istihadah dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah. Ini adalah pendapat yang masyhur dalam mazhab Hanbali. jika tidak maka dianggap sebagai hari suci. 3. Pendapat Ketiga: Pendapat ketiga diberikan oleh Imam Ibn Qudamah rahimahullah dan ia merupakan jalan pertengahan antara dua pendapat yang pertama di atas. 2. Jika darah haid tidak mengalir. [al-Hajj 22:78] Maka atas ini tidaklah dikira suci darah yang berhenti mengalir keluar dalam tempoh yang belum genap sehari. Ini menyalahi firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Dan Ia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara agama. apabila ia berhenti mengalir dan belum genap satu hari (daripada saat berhentinya). jika darah mengalir keluar maka dianggap sebagai hari haid. . 2. 1. Darah yang sekejap ia mengalir dan sekejap ia berhenti akan menyulitkan orang kerana perlu kerap kali mengulangi mandi wajib. sebelum suci. (hukum-hukumnya akan dibahas dalam Bab 5 insya-Allah) Jika ia tidak berlaku secara berterusan. seorang wanita itu tidak dikira suci. Hal seperti ini tidak pernah diperkatakan orang. Jika ia berlaku secara berterusan. yakni dalam masa suci. Kecuali jika hal ini berlaku melebihi daripada bilangan hari-hari kebiasaan haid. Permasalahan ini terbahagi kepada dua kes yang berlainan: 1. [1] 2.[6] Jika dijadikan “satu hari” yang tidak didatangi haid sebagai hari suci pasti ia akan menimbulkan kesempitan dan kesusahan kerana wajib mandi pada setiap dua hari. maka ia dianggap sebagai darah istihadah. Sesungguhnya kesempitan dan kesusahan adalah sesuatu yang dinafikan dalam syari’at ini.” Ketiga: Haid yang terputus-putus. manakala hadis Umm ‘Athiah merujuk kepada hari-hari selain haid. 4. seperti ia kering di akhir hari secara kebiasaannya atau ia melihat keluar (sesuatu seumpama) benang putih (barulah dikira suci). para ilmuan berbeza pendapat: Adakah sehari yang tidak keluar darah itu dikira suci atau dikira haid? Terhadap persoalan ini terdapat tiga pendapat yang dianggap kuat:[4] Pendapat Pertama: Ia dianggap sebagai “hari haid” dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang bersamaan dengan hari haid biasa. Atau boleh sahaja berbeza-beza sehingga menjadi lebih lama atau lebih singkat antara satu masa haid dengan masa haid yang lain (penyunting). Ini merupakan satu pendapat yang benar antara dua pendapat Imam al-Syafi’e [5] rahimahullah dan menjadi pilihan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah dan Mazhab Abu Hanifah. ms. bahkan hanya sekali-sekala sehingga ada tempoh waktu suci yang jelas baginya. di mana sehari dia didatangi haid manakala hari yang seterusnya tidak ada haid (selang sehari). Hukum bagi kedua-dua kes ini adalah sebagaimana kes cecair kekuningan atau kekeruhan yang telah dibahas di atas. Bagi kes kedua ini. Jika ia berlaku ketika sedang haid atau atau bersambungan di akhir masa haid. Pendapat Kedua: Dalam tempoh masa selang sehari tersebut.[7] Keempat: Darah haid yang tidak mengalir. maka ia tidak dikategorikan sebagai haid. dan segala puji bagi Allah.

solat Isyak dalam waktu Isyak (tanpa menjamak solat Maghrib). Akan tetapi antara saat masuk waktu Maghrib dan saat dia didatangi haid. paling minima. Justeru seandainya wujud sesuatu persoalan dalam bab haid ini yang tidak diperjelaskan oleh baginda. Diharamkan solat ke atas wanita yang sedang haid. iaitu apabila dia sempat memperoleh satu rakaat solat fardhu dalam waktunya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam: “Apabila seseorang kamu memperoleh satu sujud daripada solat Asar sebelum terbenam matahari. maka hendaklah dia menyempurnakan solatnya. (penyunting) 4 Hukum-Hukum Haid Terdapat beberapa hukum yang wajib ke atas wanita ketika sedang haid. Alhamdulillah. maka wajib ke atasnya untuk melaksanakan solat fardhu tersebut. Ini kerana pada asalnya dia dikira sempat mendapat satu rakaat daripada solat Maghrib tersebut sebelum datang haid. Iaitu solat Asar dalam waktu Asar (tanpa menjamak solat Zohor).[2] Maksudnya.” [Shahih al-Bukhari – no: 580 (Kitab waktuwaktu solat) dan Shahih Muslim – no: 607 (Kitab al-Masjid)] Apabila seorang wanita tamat haidnya dan sudah bersuci lalu dia berjaya memperoleh satu tempoh masa dalam waktu Asar. Ini merujuk kepada kes haid yang terputus-putus atau selang sehari. Berikut dikemukakan sebahagian daripadanya yang terpenting: Pertama: Solat. Haid sudah berhenti akan tetapi tidak wujud tanda yang jelas bahawa tempoh haid akan berakhir. 2. [6] nescaya waktu iddah ini akan berakhir dalam masa lima hari sahaja. paling minima. sama ada solat sunat mahupun solat fardhu. jika tiada lagi darah mengalir pada esoknya maka barulah pasti tempoh haid sudah berakhir. Maka tunggulah sehingga genap sehari. Jika tempoh masa yang wujud di awal waktu bagi wanita yang didatangi haid atau di akhir waktu bagi wanita yang tamat haid adalah terlalu singkat sehingga tidak mungkin melaksanakan minima satu rakaat solat. Akan tetapi antara saat dia suci dan saat terbit matahari wujud satu tempoh masa yang. Kes perbezaan masa haid adalah antara perkara yang lazim berlaku yang tidak diperjelaskan oleh Rasulullah. Namun terdapat satu pengecualian. adakah wajib baginya untuk melaksanakan kedua-dua solat Zohor dan Asarnya (jamak takhir)? Atau sesudah bersuci dia berjaya memperoleh satu tempoh masa dalam waktu Isyak. Persoalan-persoalan ini memerlukan penjelasan yang terperinci daripada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Dalil bagi seluruh hukum ini ialah sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam: “Sesiapa yang mendapat satu rakaat dari solat maka sesungguhnya ia telah mendapat solat. Malah wujud kemungkinan ia akan mengalir semula. sempat untuk dia melaksanakan rakaat pertama solat Maghrib. baginda telah menjelaskannya secara terperinci dan telah sampai kepada kita dalam kitab-kitab hadis. bererti ia sememangnya tidak memerlukan penjelasan. Namun yang benar dia hanya wajib melaksanakan solat yang berada dalam waktu tersebut sahaja. Contoh: Memperoleh satu rakaat di akhir waktu. (penyunting) [7] Maksudnya seorang wanita jangan menganggap dirinya telah suci daripada haid melainkan dengan dua petunjuk: 1. Para pembaca boleh mengamalkan salah satu daripadanya. (penyunting) Di sini Syaikh al-Utsaimin rahimahullah mengemukakan 3 pendapat tanpa menerangkan yang manakah yang lebih kuat atau benar. (penyunting) [3] Juga disahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Daud – no: 119. Ini kerana pada asalnya dia dikira sempat mendapat satu rakaat daripada solat Subuh tersebut apabila tamat haidnya. (penyunting) Yakni tempoh iddah bagi seorang wanita yang diceraikan ialah tiga kali suci. sama ada di awal waktu atau akhir waktu. Seorang wanita didatangi haid selepas masuk waktu Maghrib. (penyunting) [5] Ini kerana beliau memiliki dua pendapat: Qaul Qadim dan Qaul Jadid. Maka wajib baginya mengqadha solat Maghrib tersebut apabila suci. Haid sudah berhenti dan wujud tanda-tanda yang jelas bahawa tempoh haid sudah berakhir. Bahkan tidak sah jika dia tetap melaksanakannya. Maka wajib baginya mengqadha solat Subuh tersebut apabila dia selesai bersuci (mandi wajib). Seorang wanita suci daripada haid sebelum terbit matahari. maka tidak wajib untuk baginya melaksanakan solat tersebut.” [Shahih al-Bukhari – no: 556 (Kitab waktu-waktu solat)] . Jika dijadikan tempoh masa bagi haid dan suci ialah selang sehari. persoalan haid adalah persoalan yang lazim bagi para isteri dan wanita di zaman baginda. Ini lazimnya merujuk kepada kes haid yang normal. adakah wajib baginya untuk melaksanakan kedua-dua solat Maghrib dan Isyak (jamak takhir)? Terdapat perselisihan pendapat dalam persoalan ini. sempat untuk dia melaksanakan rakaat pertama solat Subuh. bererti ia tidak memiliki apa-apa hukum khusus yang berbeza dengan yang umum. Ini bererti di [4] sisi beliau ketiga-tiga pendapat ini adalah sama-sama benar. Setiap satu daripadanya adalah benar dan tidaklah ia saling membatal antara satu sama lain. Hukum umum yang dimaksudkan adalah: Apabila seorang wanita melihat darah mengalir keluar bererti dia haid dan apabila darah berhenti mengalir bererti dia suci (tidak haid) tanpa dipengaruhi oleh perbezaan masanya. Contoh: Memperoleh satu rakaat di awal waktu. wujud satu tempoh masa yang.

ms. Namun tidak seorang jua yang meriwayatkan pengharaman seumpama daripada Nabi. Maka tidak boleh menghukum ia sebagai haram sedangkan baginda Nabi sendiri tidak pernah mengharamkannya. Di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. jld. . 4. maka teruskan menyempurnakan puasanya itu. Umm ‘Athiah radhiallahu 'anha berkata.[3] 3. Apabila seorang wanita tamat haidnya sebelum terbit fajar (belum masuk waktu Subuh). Jelas di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab-kitab hadis yang lain bahawa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersandar di riba ‘A’isyah radhiallahu 'anha sambil membaca al-Qur’an padahal ‘A’isyah di saat itu sedang haid. Jika dia tetap berpuasa maka tidak sah puasanya. nescaya ia diterangkan oleh Nabi kepada umatnya dan dipelajari oleh para isteri baginda. maka puasanya menjadi batal sekalipun waktu berbuka (waktu Maghrib) sudah sangat hampir. bertasbih (membaca Subhanalah). Apabila seorang wanita sedang berpuasa lalu dia merasa akan didatangi haid sebelum waktu berbuka (waktu Maghrib). Hadis: “Wanita haid tidak boleh membaca sesuatu daripada al-Qur’an” adalah hadis yang lemah (dha‘if) yang disepakati oleh para ahli hadis.” Dalam hadis di atas Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menghubungkan hukum mandi wajib dengan kewujudan air mani dan bukan masa. Ibn Jarir al-Thabari dan Ibn al-Munzir berpendapat ia diharuskan.” Pendapat ini juga diperkuatkan oleh sebuah kaedah usul yang menyebut: Pada asalnya tidak ada hukum yang ditanggung (oleh manusia kecuali yang dipertanggungkan oleh syara’).” [Shahih Muslim – no: 335 (Kitab al-Haid)] Berikut beberapa permasalahan khusus antara puasa dan wanita yang haid: 1. Ini sebagaimana kes seorang wanita yang bermimpi seperti seorang lelaki lalu datang menemui Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bertanya. Kedua: Berzikir dan Membaca al-Qur’an. Adapun membaca dengan lidah bagi wanita yang sedang haid. maka puasanya tetap tidak sah. diketahui wanita-wanita di zaman Nabi shalallahu 'alaihi wasallam sedia mengalami haid. Apabila seorang wanita didatangi haid hanya sekadar tempoh masa yang pendek selepas terbitnya fajar (masuk waktu Subuh). maka dia boleh berpuasa dan puasanya adalah sah sekalipun dia belum sempat mandi wajib. fiqh (buku agama). Imam al-Bukhari. maka terdapat perbezaan pendapat. Pendapat ini merupakan mazhab Abu Hanifah dan Malik sebagaimana yang disebut oleh Imam al-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Majmu’ Syarh al-Muhazzab. 191 : Sejak asal tidak ada larangan daripada al-Sunnah (bagi wanita yang sedang haid) membaca al-Qur’an. mengaminkan doa dan mendengar bacaan a-Qur’an. dan jauhilah wanita haid daripada mushalla (tempat lapang solat Hari Raya). bertahmid (membaca alhamdulillah). Diharamkan bagi wanita yang sedang haid untuk berpuasa. Demikian juga oleh Imam Malik dan Imam al-Syafi’e dalam pendapatnya yang lama. Maka demikianlah juga dengan haid. Hal ini kemudiannya akan tersebar kepada manusia. Apabila seorang wanita sedang berpuasa lalu dia didatangi haid. sama ada puasa sunat mahupun puasa fardhu. 26. yang lebih utama ialah wanita yang sedang haid tidak membaca al-Qur’an dengan lidahnya melainkan jika perlu. dilaksanakan hukum-hukumnya berdasarkan keluarnya haid. 2. bererti diketahui bahawa tidaklah haram bagi wanita haid membaca al-Qur’an. Boleh juga membaca buku-buku hadis. Di antara perselisihan pendapat ini. Lebih dari itu. Ketiga: Puasa. bukan berdasarkan masanya. seperti guru yang mengajar al-Qur’an. Ini sebagaimana yang disebut oleh Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari. Wanita yang sedang haid boleh berzikir. membaca Bismillah ketika makan dan sebagainya.[1] Juga diharuskan bagi wanita yang sedang haid untuk membaca al-Qur’an dengan cara melihat dengan mata atau menghayatinya dalam hati tanpa menutur dengan lidah. adakah dia perlu mandi wajib? Baginda menjawab: “Ya. murid yang menduduki peperiksaan dan sebagainya. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda menyuruh keluar wanita-wanita dan anak-anak gadis yang berada di dalam rumah kepada solat dua hari raya (Solat Hari Raya Aidil Fitri dan Hari Raya Aidil Adha) supaya mereka dapat menyaksikan kebaikan dan seruan orang mukmin. jika dia melihat ada air (mani yang mengalir keluar). Akan tetapi dia wajib mengqadha puasa fardhunya berdasarkan kenyataan ‘A’isyah radhiallahu 'anha: “Apabila yang demikian itu (haid) menimpa kami. Dia wajib mengqadha puasa tersebut jika ia adalah puasa fardhu. Berkata Imam al-Nawawi rahimahullah dalam Majmu’ Syarh al-Muhazzab: Hal ini diharuskan tanpa perselisihan pendapat. Justeru apabila Nabi tidak menegah daripada demikian padahal ramai wanita yang haid di zamannya. maka kami disuruh (oleh Rasulullah) mengqadha puasa namun tidak disuruh untuk mengqadha solat.Dalam hadis di atas Rasulullah tidak berkata: “Maka sesungguhnya dia telah mendapat solat Zuhur dan Asar” atau: “Wajib solat Zuhur ke atasnya. Jumhur ilmuan berpendapat ianya dilarang. Boleh juga meletak mushaf al-Qur’an di hadapannya lalu melihat ayat-ayatnya dan membacanya dengan hati. Menurut pendapat yang benar. berdoa. Maka jika haram ke atas mereka untuk membaca al-Qur’an sepertimana haram ke atas mereka mendirikan solat.” Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah membahas persoalan ini dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa. Imam al-Bukhari mengemukakan sebuah riwayat daripada Imam Ibrahim al-Nakha’e (seorang tokoh tabi‘in) bahawa: “Tidak mengapa jika dibaca hanya satu ayat.[2] puasanya tidak batal kerana sesungguhnya darah masih berada di dalam badan dan tidak ada hukum baginya (selagi ia tidak mengalir keluar).

374 menukil kata-kata Imam al-Syafi’e rahimahullah: Sesiapa yang melakukannya maka sesungguhnya dia melakukan dosa besar.” [Shahih Muslim – no: 302 Kitab al-Haid)]. [al-Baqarah 2:222] Yang dimaksudkan dengan al-Mahidh (‫ )المحيييض‬ialah masa haid dan tempatnya ialah di faraj. Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Umm ‘Athiah radhiallahu 'anha bahawa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: “Suruhlah keluar wanita-wanita dan anak-anak gadis yang berada di dalam rumah (kepada solat dua hari raya) supaya mereka dapat menyaksikan kebaikan dan seruan orang mukmin. Larangan ini juga berdasarkan sebuah hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: “Lakukanlah apa sahaja (dengan isterimu yang sedang haid) kecuali nikah (bersetubuh). al-Sunnah dan ijma’ (kesepakatan) umat Islam. Kemudian baginda berpuasa. Kemudian apabila mereka sudah bersuci maka datangilah mereka menurut jalan yang diperintahkan oleh Allah kepada kamu. Dia tetap wajib melaksanakannya apabila sudah suci. bersentuhan dan lain-lain. Katakanlah: “Darah haid itu satu benda yang mendatangkan mudarat. Diharamkan bagi wanita yang sedang haid untuk berada atau duduk dalam masjid. ia tidak gugur daripada wanita yang didatangi haid. Lebih dari itu umat Islam telah bersepakat bahawa haram hukumnya bersetubuh dengan isteri yang sedang haid.” [Shahih al-Bukhari – no: 1932 (Kitab al-Siyam)] Keempat: Tawaf di Ka’bah. Ini berdasarkan hadis Ibn ‘Abbas radhiallahu 'anh: “Orang ramai disuruh untuk mengakhiri pertemuan mereka di al-Bait (Ka’bah dengan tawaf). Malah lebih utama jika tidak bersentuhan kulit pada kawasan yang terletak antara pusat dan lutut kecuali dengan berlapik. Kelima: Duduk Dalam Masjid. Imam al-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya al-Majmu’ Syarh alMuhazzab. dia boleh balik tanpa melakukan tawaf wida’ (tawaf selamat tinggal). Demikian hukumnya bagi tawaf wida’ dan wanita yang didatangi haid. melontar jamrah dan sebagainya. Diharamkan bagi seorang suami untuk menyetubuhi isterinya yang sedang haid. manakala yang selainnya (para tokoh mazhab lain) berkata: Sesiapa yang menghalalkan setubuh dengan wanita haid dihukumkan kafir.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (jangan bersetubuh dengan isteri kamu) dalam masa datang darah haid itu. jld. ‘A’isyah radhiallahu 'anha didatangi haid. mengenai (hukum) haid. Rasulullah menjawab: “Lakukan apa yang telah dilakukan oleh orang haji kecuali jangan bertawaf di Ka’abah sehingga kamu bersuci. sama ada tawaf sunat mahupun tawaf fardhu. diharamkan bagi seorang isteri yang sedang haid untuk membiarkan suaminya menyetubuhinya. Selain itu.” [Shahih Muslim – no: 1211 (Kitab al-Haj)] Baginda tidak menyuruh Safiyah pergi ke pintu masjid padahal jika yang sedemikian adalah amalan yang disyari‘atkan pasti baginda akan menjelaskannya. Diharamkan bagi wanita yang sedang haid untuk tawaf.Ini sebagaimana hukum orang berjunub yang berpuasa padahal dia tidak mandi wajib kecuali selepas terbit fajar (masuk waktu Subuh). dihalalkan bagi suami untuk memuaskan nafsunya dengan berciuman. Demikian juga. ms. lalu beliau bertanya hukumnya. ‘A’isyah radhiallahu 'anha berkata: . Justeru jika seseorang itu tetap melakukan kemungkaran bersetubuh ketika haid. Puasanya tetap sah berdasarkan hadis ‘A’isyah radhiallahu 'anha: “Pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bangun pagi dalam keadaan junub bukan kerana bermimpi. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad). termasuk padang yang digunakan untuk solat Hari Raya. dan janganlah kamu hampiri mereka (untuk bersetubuh) sebelum mereka suci. Apabila seorang wanita telah menyempurnakan ibadah haji dan umrah lalu dia didatangi haid yang berterusan sehingga saat hendak balik ke negerinya. maka ia tidak berasal daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. di mana apabila Safiyah radhiallahu 'anha didatangi haid sesudah tawaf ifahad. Oleh itu tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat untuk melakukan kemungkaran bersetubuh ketika haid. 2.” [Shahih Muslim – no: 1328 (Kitab al-Haj)] Adapun amalan datang ke pintu Masjid al-Haram dan berdoa bagi wanita haid yang hendak balik ke negerinya. wuquf. asalkan bukan faraj. dan mengasihi orang-orang yang sentiasa mensucikan diri. bermalam di Mudzalifah dan Mina. baginda bersabda kepada beliau: “Maka hendaklah dia beransur pergi. maka termasuklah dia di kalangan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta mengikuti jalan yang selain daripada jalan orang-orang Islam. Larangan ini telah ditunjukkan oleh al-Qur’an. demikian berkata para sahabat kami (para tokoh Mazhab al-Syafi’e). kecuali (suruhan ini) diringankan daripada wanita yang sedang haid. Bahkan amalan di atas bertentangan dengan apa yang diajar oleh Rasulullah. Jika dia tetap tawaf maka tidak sah tawafnya.” [Shahih Muslim – no: 1211] Akan tetapi diharuskan melaksanakan lain-lain amalan daripada haji dan umrah seperti sa’e antara Safa dan Marwah. Adapun tawaf wajib bagi ibadah haji dan umrah. Perlu diingatkan bahawa setiap ibadat hendaklah berasal daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. dan jauhilah wanita haid daripada mushalla (tempat lapang solat Hari Raya).” [Shahih al-Bukhari – no: 1652 (Kitab al-Haj)] Keenam: Bersetubuh. berpelukan. Ketika mengikuti rombongan haji bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. SesungguhNya Allah mengasihi orang-orang yang banyak bertaubat.

Tidak ada dalil yang menegah hal ini. dia berdosa. boleh menceraikannya sebelum menyetubuhinya.(engkau dan umatmu) . ‘Umar radhiallahu 'anh memberitahu hal ini kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bertanya sama ada isteri Thabit bin Qays sedang haid atau tidak. Jika dia dapat mengawal dirinya maka tidak mengapa untuk meneruskan akad nikah. Ini kerana tidak ada iddah bagi isteri dalam kes seperti ini sehingga penceraian yang dijatuhkan ke atasnya tidak menyalahi firman Allah di atas. Syarat ini adalah bagi isteri yang masih didatangi putaran haid dan tidak hamil. Kedua: Tidak mengapa (tidak haram) menceraikan isteri yang didatangi haid ketika sedang hamil.” [Shahih al-Bukhari – no: 301 (Kitab al-Haid)] Ketujuh: Talak (Cerai) Diharamkan ke atas suami untuk menceraikan isterinya yang sedang haid. maka lebih utama untuk ditangguhkan sehingga bakal isteri menjadi suci supaya tidak terjadi persetubuhan yang dilarang. Selain itu sebagai poin tambahan. Iaitu seorang suami yang menceraikan isterinya yang sedang haid dengan mengambil bayaran.” [Shahih al-Bukhari – no: 5273 (Kitab al-Thalaq) ] Dalam hadis di atas. Seorang suami menyetubuhi isterinya ketika suci lalu kemudian menceraikannya. maka ceraikanlah mereka pada masa mereka dapat memulakan iddahnya. dalam perbincangan Haid Wanita Hamil. dengan syarat tidak disetubuhi isterinya dalam jangka masa tersebut. kemudian suci. Atas dasar ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bertanya kepada isteri yang hendak menebus talak dirinya (sama ada dia sedang haid atau tidak). ‘Abd Allah ibn ‘Umar radhiallahu 'anhuma pernah menceraikan isterinya yang sedang haid. Kemudian barulah dijatuhkan talak (diceraikan). Kelapan: Dikira Bilangan Talak Dengan Haid. Demikianlah 3 pengecualian yang membolehkan penceraian ketika seorang isteri sedang haid. Iaitu. Dia wajib bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Akan tetapi diharuskan tebus talak kerana kes tebus talak membabitkan seorang isteri yang menghadapi kehidupan bersama suami yang dia benci. Kemudian hendaklah dia mengambil isterinya kembali di bawah jagaannya untuk diceraikan dengan penceraian yang menepati syari‘at Allah dan RasulNya. Maka demikianlah iddah yang Allah telah perintahkan bahawa diceraikan wanita padanya. Wajah Rasulullah berubah kerana marah dan baginda menyuruh Ibn ‘Umar merujuk kembali isterinya. hendaklah dia tidak menyetubuhi isterinya sehinggalah dia (isteri) menjadi suci dari haid. kemudian haid. perlu ditolak mudarat yang lebih besar. Imam Ibn Qudamah rahimahullah di dalam kitabnya al-Mughni menerangkan sebab diharuskan tebus talak (khulu’) bagi seorang isteri yang sedang haid: Larangan untuk menceraikan isteri yang sedang haid ialah bagi mengelakkan mudarat tempoh iddah yang panjang. diharuskan melangsungkan akad nikah dengan seorang wanita yang sedang haid. Hal ini telah diterangkan sebelum ini dalam Bab kedua.hendak menceraikan isteri-isteri (kamu).[4] Justeru jika seorang suami menceraikan isterinya yang sedang haid. Akan tetapi lebih utama jika diperhatikan kedudukan bakal suami tersebut sama ada dia boleh mengawal dirinya daripada terus menyetubuhi isteri barunya itu yang sedang haid. boleh memegangnya (memperisterikannya seperti biasa) dan jika dia mahu. maka iddah isteri diketahui dengan datang haid. Maka setelah itu jika dia (suami) ingin kembali bersama isterinya maka dia boleh rujuk semula. Antara dua mudarat. Maka menceraikan wanita yang sedang haid adalah haram berdasarkan ayat di atas. Akan tetapi jika tidak. iddah isteri diketahui dengan kehamilan. Seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya yang sedang haid kerana masa haid tidak dikira sebagai permulaan iddah. maka wajib ke atas isteri tersebut menghitung iddahnya dengan kedatangan tiga kali haid yang sempurna. Kemudian jika dia mahu. Jika tidak hamil.” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (kepada Thabit): Terimalah kebunmu dan ceraikanlah dia dengan satu talak. kemudian suci semula.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: “Adakah kamu mengembalikan kebunnya?” Isteri Thabit menjawab: “Ya. sesungguhnya aku tidak mencelanya (suaminya: Thabit bin Qays) kerana akhlak dan agamanya tetapi aku membenci kekufuran dalam Islam. maka ia diharuskan dalam semua keadaan tanpa mengira sama ada sedang haid atau tidak. Apabila seorang suami menceraikan isterinya selepas menyetubuhinya. ditunggu hingga datang haid sekali lagi. Dalilnya adalah sebuah hadis daripada Ibn ‘Abbas radhiallahu ‘anh yang menceritakan tentang isteri Thabit bin Qays radhiallahu ‘anha yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah.“(Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) menyuruhku supaya memakai kain kemudian baginda menyentuhiku sedangkan aku sedang haid. Ketiga: Tidak mengapa (tidak haram) jika berlaku penceraian secara tebus talak (khulu’). Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: . Jika dia (suami) tidak ingin maka boleh dilepaskan. kemudian memegangnya sehingga dia suci. Lebih dari itu tercatit di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab-kitab hadis yang lain. Akan tetapi memandangkan talak ini adalah tebusan seorang isteri untuk dirinya sendiri. [al-Talaq 65:01] Seorang isteri diketahui memulakan iddahnya dengan kehamilan atau datang haid sesudah berlalu waktu suci. Ini adalah satu mudarat yang besar ke atas isteri berbanding mudarat tempoh iddah yang panjang. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Wahai Nabi! Apabila kamu . Hukum haram menceraikan isteri yang sedang haid memiliki 3 pengecualian: Pertama: Tidak mengapa (tidak haram) menceraikan isteri yang sedang haid jika sejak bernikah pasangan suami isteri tersebut belum pernah bersamaan atau bersetubuh.

maka baginya tidak ada hitungan iddah. tempoh iddahnya ialah hingga mereka melahirkan anak yang dikandungnya. Jika isteri tersebut hamil maka dihukumkan bahawa kandungannya itu adalah daripada zuriat suaminya yang meninggal dunia. Umm Salamah radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya saya seorang wanita yang mempunyai rambut yang banyak (lebat). [al-Ahzab 33:49] Kesembilan: Menghukum Kekosongan Rahim. Maka kedatangan haid menandakan kekosongan rahim. orang tua yang putus haid. Keempat: Jika isteri yang diceraikan belum bersama-samaan dan bersetubuh dengan suami. Maka sucilah kamu.” [Shahih al-Bukhari – no: 320 (Kitab al-Haid)] Syarat paling minimum bagi mandi wajib adalah dikenakan air pada seluruh anggota badan termasuklah ke bawah rambut. maka iddahnya adalah selama 12 bulan (setahun) bermula dari saat kesembuhannya atau akhir menyusu. Suami yang baru tidak boleh menyetubuhinya sehingga dia didatangi haid atau jelas hamil. kemudian kamu menyiram atas badan kamu dengan air. Kesepuluh: Wajib Mandi. Seluruh proses menunggu dan 3 putaran haid tersebut adalah tempoh iddah baginya. memadai kamu menyiram atas kepala kamu dengan tiga kali siraman. wajib mandi dengan mengenakan air ke seluruh anggota badan berdasarkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha: “Apabila datang haid maka hendaklah kamu meninggalkan solat. Oleh itu. dan apabila hilang haid maka hendaklah kamu mandi dan solat. Kemudian dia berwudhu’ dan memperelokkan wudhu’nya. hitungan iddahnya adalah dengan kelahiran anak tanpa mengira sama ada tempoh hamilnya adalah panjang atau pendek. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: Dan perempuan-perempuan dari kalangan kamu yang putus asa dari kedatangan haid. [al-Thalaq 65:04] Kedua: Jika isteri yang diceraikan tidak memiliki putaran haid. jika isteri yang terhenti haidnya kembali sembuh atau selesai menyusu namun haidnya tetap tidak datang kembali. sekalipun ia mengambil masa yang agak lama. maka hitungan iddahnya ialah tiga bulan. Dalilnya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Wahai orang-orang yang beriman. apabila kamu berkahwin dengan perempuan-perempuan yang beriman. adakah perlu saya merungkaikannya untuk mandi junub”. Sebaliknya jika isteri didatangi haid maka dihukumkan bahawa dia tidak mengandung apa-apa daripada suaminya yang meninggal dunia.” [Shahih Muslim – no: 330 (Kitab al-Haid)] . dan (demikian) juga iddah perempuan-perempuan yang tidak berhaid.” [Shahih Muslim – no: 332 (Kitab al-Haid)] Tidak wajib membuka ikatan rambut kecuali jika ia terikat dengan kuat kerana dibimbangi air tidak akan sampai ke kulit kepala. seperti kanak-kanak yang belum haid.” Jawab Rasulullah: “Tidak. ambillah air dan daun bidara. Bagi kes di atas. [alBaqarah 2:228] Syarat menghitung iddah sepertimana di atas memiliki beberapa pengkhususan bagi kes yang berbeza-beza: Pertama: Jika isteri yang diceraikan sedang hamil. berilah "mut'ah" (pemberian sagu hati) kepada mereka. [al-Thalaq 65:04] Ketiga: Jika isteri yang diceraikan memiliki putaran haid tetapi ia terhenti kerana faktor yang diketahui seperti sakit atau sedang menyusu. (Dalam riwayat yang lain): “……untuk mandi haid dan junub. kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu menyentuhnya (bersetubuh). Kemudian dia menjirus air ke atas kepalanya lalu dia menggosok kepalanya dengan bersungguh-sungguh sehingga air sampai ke kulit kepala. Sebagai contoh. Cara yang afdhal ialah sebagaimana tunjuk ajar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Asma’ binti Syakl radhiallahu ‘anha: “(Orang yang akan mandi). Kekosongan rahim bermaksud tidak hamil. Kemudian dia mengambil cebisan kain yang diletak wangian lalu dia bersuci dengannya. Tempoh iddah 12 bulan merangkumi 9 bulan masa mengandung sebagai langkah berhati-hati kerana ia adalah tempoh hamil yang lazim dan 3 bulan sebagai bilangan iddah. seorang isteri yang kematian suami berkahwin dengan suami yang baru.” Asma’ bertanya: “Bagaimana saya bersuci dengannya (cebian kain tersebut)?” Rasulullah menjawab: “Subhanallah! Bersucilah dengan ia” Lalu berkata ‘A’isyah kepada Asma’: “Kamu menyapu kesan-kesan darah (dengan cebisan kain tersebut). jika kamu menaruh syak (terhadap tempoh idah mereka) maka iddahnya ialah tiga bulan.Dan isteri-isteri yang diceraikan itu hendaklah menunggu dengan menahan diri mereka (daripada berkahwin) selama tiga kali haid. Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Dan perempuan-perempuan mengandung. dan lepaskanlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya. maka tiadalah kamu berhak terhadap mereka mengenai sebarang iddah yang kamu boleh hitungkan masanya. Apabila haid berhenti. wanita yang dibuang rahimnya kerana sebab perubatan dan sebagainya. Inilah pendapat yang benar lagi selari dengan kaedahkaedah syarak kerana kes ini dikategorikan sebagai wanita yang tidak didatangi haid dengan sebab yang tidak diketahui. Kemudian dia menjirus air ke atas badannya. maka dia wajib menunggu sehingga haidnya datang kembali dan menghitungnya dengan 3 putaran haid yang sempurna.

Sunan Abu Daud dan Sunan al-Tirmizi dan beliau (al-Tirmizi) mensahihkannya. Akan tetapi di masa kini kebanyakan bilik [5] mandi sudah dilengkapi dengan sistem air yang panas. tidak ada air. Selepas itu bolehlah mandi dengan sempurna. . solat yang dilaksanakan oleh seorang wanita tetap sah sekalipun dengan hanya bertayamum untuk suci daripada haid. hendaklah dia mengira masa haidnya mengikut kebiasaan. Rujuk semula hadis Asma’ binti Syakl dan Umm Salamah di atas. sesungguhnya aku didatangi darah istihadah yang banyak.” [Shahih al-Bukhari – no: 325 (Kitab al-Haid)] Hal yang sama pernah berlaku kepada Umm Habibah binti Jahsy radhiallahu ‘anha dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada beliau: “Duduklah (dalam keadaan haid) sekadar mana yang pernah kamu alami dari hari-hari haid kamu (yang biasa). mudarat menggunakan air[5] atau sakit. shower gel. kemudian hendaklah kamu mandi dan dirikan solat. Maka pendarahan enam hari yang pertama bermula dari awal bulan dikira sebagai haid manakala hari-hari selebihnya dikira sebagai istihadah. Jika ada pendarahan pada hari-hari seterusnya. Ia keluar tanpa terputus-putus atau mungkin terputus sekejap seperti sehari-dua dalam sebulan. (penyunting) [6] Dalam suasana kesukaran sepertimana yang disebut di atas. Dia tetap wajib mandi. maka aku tidak suci. (penyunting) Seperti di musim dingin di mana menggunakan air yang sejuk untuk mandi boleh mendatangkan mudarat. Apabila faktor kesukaran hilang.] Terdapat tiga cara bagi membezakan antara darah haid dan istihadah: Pertama: Wanita yang memiliki masa haid yang tetap (tempoh dan putarannya). Tinggalkan solat pada kadar haid yang kebiasaan bagi kamu. maka wajib mandi. Apabila faktor kesukaran hilang dan dia dapat mandi wajib seperti biasa. Selainnya adalah darah istihadah. Maka baginya hukum haid dalam masa yang tetap tersebut dan hukum istihadah bagi waktu selainnya. Maka darah yang berwarna hitam adalah haid. skrub muka dan lain-lain lagi. dia tetap dikira suci sehinggalah darah haid mengalir keluar. bagi wanita yang memiliki masa haid yang tetap (tempoh dan putarannya). tidak perlu diulangi solat-solat tersebut. Tidak perlu diberi perhatian kepada pendarahan pada hari-hari seterusnya kerana itu adalah istihadah.Jika haid berhenti sesudah masuk waktu solat maka wajib segera mandi supaya dapat dilaksanakan solat dalam waktunya. Akan tetapi sebahagian muslimah masa kini telah menyulitkan mandi dengan pelbagai gunaan sabun. ia adalah mudah lagi ringkas. sama ada kerana ukuran kebiasaan di kalendar atau sebagainya. (penyunting) [4] Lihat Shahih al-Bukhari – no: 4908 (Kitab al-Tafsir). (penyunting) [3] Maka apabila seorang wanita merasakan sudah tiba masa haidnya. ‘A’isyah radhiallahu ‘anha menerangkan bahawa Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya aku didatangi istihadah. (penyunting) [7] Jika diperhatikan tunjuk ajar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang tatacara mandi wajib. Rasulullah menjawab: “Tidak. tidak boleh sengaja menangguhkan mandi sehingga ke waktu solat yang seterusnya. hendaklah dia mandi dan solat mengikut ukuran masa haidnya yang biasa. Sebagai contoh. rendaman herba.” [Musnad Ahmad. Akan tetapi pada hari kesepuluh kelihatan perbezaan sifat darah: q Sehingga hari kesepuluh darah berwarna hitam (merah kehitaman) manakala selepas itu ia berwarna merah. seorang wanita yang mengalami pendarahan secara berterusan. sesungguhnya itu ialah ‘irq (penyakit). Contohnya ialah seorang wanita yang lazimnya didatangi haid selama enam hari bermula awal setiap bulan. Dalil bagi kes pertama.[7] [2] Maksudnya wujud perselisihan pendapat dalam hal ini. Yang benar mandi wajib yang dituntut oleh syari‘at Islam adalah mudah lagi ringkas sehingga boleh disempurnakan dalam masa yang singkat sahaja. Adakah aku perlu meninggalkan solat?”. Maka baginya dibezakan antara darah haid dan darah istihadah dengan memerhatikan sifat-sifat darah tersebut. Mandi sebegini sudah menjadi kelaziman sehingga dianggap “tidak sah” tanpanya. sekalipun hanya secara ringkas supaya tetap dapat melaksanakan solat pada waktunya.” Dalil bagi kes kedua. yakni darah keluar dengan terputus sekejap ialah kisah Himnah binti Jahsy radhiallahu 'anha yang datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata: “Ya Rasulullah.[6] Adakalanya apabila haid berhenti di akhir waktu solat. ia adalah darah haid. kemudian hendaklah kamu mandi dan solat”. Darah yang berwarna hitam (merah kehitaman) dan/atau pekat dan/atau berbau. Kedua: Wanita yang tidak memiliki masa haid yang tetap atau diketahui (tempoh dan putarannya). [Shahih Muslim – no: 334 (Kitab al-Haid)] Kesimpulannya. (penyunting) 5 Istihadah Dan Hukum-Hukumnya Istihadah (‫ )الستحاضة‬ialah darah yang keluar secara berterusan bagi seorang wanita. maka boleh bertayamum sebagai ganti kepada mandi. yakni darah keluar tanpa terputus-putus ialah sebagaimana aduan Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu 'anha kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana di dalam Shahih al-Bukhari: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya aku tidak suci” manakala dalam satu riwayat yang lain: “Aku didatangi istihadah maka aku tidak suci. lalu dikemukakan yang dianggap paling tepat lagi benar. Kemudian (pada satu bulan) dia mengalami pendarahan yang berterusan. darah yang berwarna merah adalah istihadah. shampoo buah-buahan. Contohnnya darah yang keluar secara berterusan sejak awal. Jika menghadapi kesukaran untuk mandi seperti musafir.

Sebagai penjelasan tambahan. serta boleh bersetubuh dengan suaminya. Oleh itu hendaklah setiap wanita yang menghadapi kes ketiga ini berijtihad akan satu tempoh haid yang sesuai baginya. Hari-hari seterusnya dianggap sebagai istihadah. Bahkan ia adalah lebih utama daripada membiarkan persoalan ini kepada adat kebiasaan wanita. Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha: q “Apabila darah itu adalah haid maka sesungguhnya ia hitam (lagi) dikenali.[2] Demikian tiga cara yang paling lazim bagi membezakan antara darah haid dan istihadah.” Himnah berkata: “Ia (darah saya) lebih banyak dari demikian itu”. Maka darah yang berbau adalah haid. justeru hendaklah kamu menahan dari melakukan solat. darah yang tidak berbau adalah istihadah. Bagi setiap solat sunat. Sebelum ini dalam Bab 4 kita telah bahas hukum-hukum yang diwajibkan ke atas wanita yang sedang haid. Kini kita akan bahas pula hukumhukum yang diwajibkan ke atas wanita yang beristihadah. seperti setelah melakukan pembedahan yang melibatkan pemotongan atau ikatan rahim. Maka hendaklah dia mendirikan solat dan puasa. Sehingga hari kesepuluh darah memiliki bau manakala selepas itu tiada lagi bau. maka hendaklah kamu solat pada pada dua puluh tiga malam atau dua puluh empat malam dan siangnya dan hendaklah kamu berpuasa. rakan-rakan yang sebaya umurnya dan lain-lain lagi. darah yang cair adalah istihadah. hendaklah dia berwudhu’ apabila sahaja hendak mendirikannya.” [Sunan Abu Daud – no: 247 (Kitab al-Thaharah) dan Sunan al-Nasa’i dengan disahihkan oleh Ibn Hibban dan al-Hakim] Hadis di atas memiliki perbincangan dari sudut sanad dan matannya. Sebagai contoh. sesungguhnya ia dapat menghilangkan darah.” [Sunan Abu Daud – no: 248 (Kitab al-Thaharah) dan Sunan al-Tirmizi – no: 118 (Kitab al-Thaharah) dan berkata al-Tirmizi. maka hukum-hukum yang diwajibkan ke atasnya adalah sama sepertimana wanita yang suci kecuali dalam tiga perkara berikut: Pertama: . Akan tetapi hendaklah dia membasuh faraj serta mengikatnya dengan kain[3] supaya dapat mencegah darah daripada mengalir keluar. kadang-kala berlaku pendarahan yang disalah anggap sebagai istihadah. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ia (pendarahan kamu) adalah hentakan dari hentakan-hentakan syaitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy: “Sesungguhnya yang demikian itu ialah ‘irq (penyakit) bukanlah darah haid maka apabila datang haid maka hendaklah kamu meninggalkan solat. Maka baginya. Himnah binti Jahsy radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya seorang wanita yang didatangi istihadah yang amat banyak. dibezakan dengan tiga cara yang telah disebut di atas. wanita yang menghadapi kes ketiga ini melihat darah keluar secara berterusan bermula pada hari Khamis yang pertama dalam bulan tersebut. seperti daripada keluarga atau adik beradik yang sama. maka demikianlah juga ukuran ke atas dirinya. maka (apabila) kamu didatangi haid selama enam atau tujuh hari pada ilmu Allah Ta’ala.q Sehingga hari kesepuluh darah bersifat pekat manakala selepas itu menjadi cair. Maka hendaklah dia melihat kebiasaan para wanita lain yang menghampirinya dan menjadikan tempoh haid mereka sebagai ukuran ke atas dirinya.” Rasulullah menjawab: “Aku akan terangkan untuk kamu (cara menggunakan) al-Kursuf (kapas yang diletakkan di faraj). Bagi setiap solat fardhu. Maka baginya. Dia tidak diwajibkan mandi (mandi wajib) kerana darah yang keluar tersebut. dianggap sebagai haid. Maka bagi seorang wanita yang mungkin baginya untuk datang haid.[4] Kedua: Wanita yang tidak tahu secara jelas sama ada dia akan didatangi haid atau tidak. yang mengalir keluar bukanlah istihadah tetapi al-Sufrah (cecair kekuningan) dan al-Kudrah (cecair kekeruhan antara kuning dan hitam) atau basahan. Bagi wanita yang tidak mungkin didatangi haid maka yang wujud hanyalah ‘Irq (penyakit) dalam apa jua keadaan sekalipun. maka hendaklah dia membezakan antara haid dan istihadah sepertimana tiga cara yang disebut di atas. Kesalahan ini boleh berlaku dalam dua kes: Pertama: Wanita yang mengetahui dengan jelas bahawa dia tidak akan didatangi haid lagi. Apabila seorang wanita telah memastikan bahawa dia sedang mengalami pendarahan istihadah dan bukan haid.[1] Ketiga: Wanita yang tidak memiliki masa (tempoh dan putaran) haid yang tetap dan tidak juga memiliki sifat-sifat darah yang dapat dibezakan antara haid dan istihadah. hadis ini hasan sahih] Sabda Rasulullah: “Enam atau tujuh hari” bukanlah penetapan tetapi ijtihad. Maka baginya masa haid diukur berdasarkan kebiasaan wanita. apakah pandangan engkau berkenaannya? Sesungguhnya ia menegah aku daripada mendirikan solat dan puasa.” [Shahih al-Bukhari – no: 306 (Kitab al-Haid)] Sabda Rasulullah: “…Maka apabila datang haid…” menjadi petunjuk yang membezakan antara haid dan istihadah. Jika ia adalah (darah) selain itu maka hendaklah kamu berwudhu’ dan mendirikan solat kerana sesungguhnya ia adalah (darah) penyakit. bermula daripada hari Khamis. Maka darah yang pekat adalah haid. Hadis berikut menjadi rujukan dalam kes ketiga ini. Ijtihad dibuat dengan merujuk kepada tempoh haid yang lazim dihadapi oleh para wanita lain yang menghampiri dirinya. akan tetapi para ilmuan rahimahumullah telah beramal dengannya. Jika pada kebiasaannya mereka didatangi haid selama enam atau tujuh hari. Hukum-Hukum Istihadah. Oleh itu enam atau tujuh hari yang pertama pendarahan. hendaklah dia berwudhu’ sesudah masuk waktu kemudian terus bersolat. pendarahan yang berlaku dianggap sebagai haid dan istihadah. hendaklah kamu mandi apabila kamu lihat bahawa kamu telah suci (dari darah haid). waktu selebihnya dikira sebagai istihadah.

Para ilmuan berselisih pendapat tentang tempoh bagi nifas.” Hadis ini memberi makna bahawa dia tidak berwudhu’ untuk solat yang berwaktu kecuali selepas masuk waktunya. (penyunting) [2] “Para wanita lain” ini hendaklah memiliki tempoh dan putaran haid yang normal. 10 hari setiap bulan dianggap sebagai haid manakala selebihnya dianggap istihadah. satu wudhu’ bagi satu solat. maka tempoh 10 hari tersebut menjadi ukuran bagi dirinya juga. hendaklah dia merujuk kepada tempoh dan putaran haid yang lazim bagi adik beradiknya yang lain. hendaklah dia membasuh kesan darah dan mengikat farajnya dengan cebisan kain yang dilapik dengan kapas supaya dapat menahan darah. Ia keluar sama ada di saat melahirkan anak. Hukum ini khusus sebagai satu kemudahan (rukhsah) untuk kes ini sahaja supaya apa-apa yang mengalir [4] keluar dari faraj tidak dikira membatalkan solat. (penyunting) 6 Nifas dan Hukum-hukumnya [6] Nifas (‫ )النفاس‬ialah darah yang keluar dari rahim wanita atas sebab melahirkan anak. Sekalipun ia memiliki perselisihan pendapat dari sudut kekuatannya. Pendapat yang sahih adalah ianya harus (dibolehkan) tanpa sekatan berdasarkan sebab-sebab berikut: 1. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu 'anha di dalam Shahih al-Bukhari – no: 228: “Kemudian hendaklah kamu berwudhu’ pada setiap solat. Justeru lebih baik menggunakan hadis di atas sebagai rujukan. (penyunting) Musnad Ahmad – no: 25681 dan disahihkan oleh Syaikh Syu‘aib al-Arnauth. maksudnya tetap selari dengan lain-lain petunjuk syari‘at sehingga menjadi amalan para ilmuan sejak dari dahulu. Ia (nifas) tidak disyaratkan oleh dua atau tiga hari sebelum bersalin tetapi disyaratkan oleh tolakan yang mengiringi bersalin. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (jangan bersetubuh dengan isteri kamu) dalam masa datang darah haid itu. Sebagai contoh. ia akan terdedah kepada pelbagai pendapat dan hukum yang tidak benar. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata: .” [6] [Musnad Ahmad – no: 25681 dan disahihkan oleh Syu‘aib alArnauth] Ketiga: Bersetubuh. seperti mengambil wudhu’ pada pukul 6 petang untuk solat Maghrib pada pukul 7. Jika berlaku pendarahan selain itu (tolakan bersalin). Akan tetapi Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menegah para suami daripada menyetubuhi isteri mereka. seperti menggunakan wudhu’ yang sama untuk menunaikan solat Maghrib dan “menyimpannya” untuk solat Isya’ kemudian. jika persoalan ini dibiarkan kepada adat kebiasaan wanita. Juga tidak boleh berwudhu’ jauh sebelum waktu solat. (penyunting) [5] Atau dengan memakai tuala wanita. [1] Maksudnya.[5] Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Himnah radhiallahu 'anha: “Aku akan terangkan untuk kamu (cara menggunakan) al-Kursuf (kapas yang diletakkan di faraj).Wanita yang beristihadah wajib berwudhu’ setiap kali hendak solat. Maksudnya. hendaklah kamu jauhi solat pada hari-hari haidmu (sahaja) kemudian hendaklah kamu mandi dan berwudhu’ untuk setiap solat kemudian dirikanlah solat walaupun darah menitis jatuh ke atas tikar. Pendapat yang melarang bersetubuh mengqiyaskan wanita yang beristiadhah dengan wanita yang haid.” Himnah berkata: “Ia (darah saya) lebih banyak dari demikian itu”. Adapun bagi solat yang tidak berwaktu (solat sunat) maka dia berwudhu’ ketika hendak melaksanakannya. apakah aku patut meninggalkan solat? Tidak. Yang terakhir (sebelum melahirkan anak) hendaklah yang disertai dengan tolakan melahirkan anak(terasa nak bersalin). selepas melahirkan anak atau dua hingga tiga hari sebelum melahirkan anak. tidak selain itu.” [Sunan al-Tirmizi – no: 118 (Kitab al-Thaharah) dan beliau berkata: Hadis ini hasan sahih] Apa yang keluar (apa-apa pendarahan) selepas itu tidaklah memudaratkan (tidak membatalkan wudhu’) berdasarkan hadis berikut riwayat Ahmad dan Ibn Majah: “Wahai Rasulullah. Justeru tidak boleh menggunakan wudhu’ yang sama untuk dua solat. 2. Sesungguhnya aku seorang wanita yang mengalami istihadah sehingga aku tidak suci. [al-Baqarah 2:222] Ayat ini menjadi dalil bahawa larangan bersetubuh hanyalah ke atas isteri yang sedang haid. sama ada lama atau pendek. Merupakan satu kelaziman bagi para wanita pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengalami istihadah. Jika mereka didatangi haid selama 10 hari setiap satu bulan. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata: Apa yang dilihat oleh wanita semasa bermula tolakan bersalin ialah darah nifas. Kedua: Apabila wanita yang beristihadah hendak berwudhu’. Rasulullah bersabda: “Maka hendaklah kamu mengekangnya (mengikatnya)…. maka sudah tentu diharuskan juga bersetubuh kerana bersetubuh adalah sesuatu yang lebih kecil berbanding solat. jika seorang wanita menghadapi kes ketiga ini. (penyunting) [3] Atau tuala wanita (penyunting). Ini adalah qiyas yang tidak benar kerana wanita istihadah dan wanita haid adalah dua kes yang saling berlainan. Maka bagi pendarahan berterusan yang dihadapinya. sesungguhnya ia dapat menghilangkan darah. maka ia bukan nifas.30 malam. 3. Jika diharuskan solat bagi wanita yang beristihadah. maka para ilmuan berselisih pendapat mengenai kebolehannya.

Pendarahan hanya boleh dikategorikan sebagai nifas apabila ia keluar dengan sebab fitrah mengandung dan melahirkan anak. Oleh itu apabila seorang isteri yang hamil dicerai oleh suaminya. maka tempoh empat bulan (atau lebih sebagaimana yang disumpah) dikira berdasarkan putaran haid isteri dan bukan berdasarkan nifasnya. hendaklah dia menjadikan tempoh 40 hari sebagai tanda berhenti. kemudian ia keluar semula pada hari ketujuh dan lapan. Jika hal di atas bukanlah kebiasaan bagi dirinya. Umumnya terdapat dua pendapat: Pendapat Pertama: Apabila nifas terhenti sebelum 40 hari kemudian ia keluar semula pada hari ke-40. Jika berlaku pendarahan selepas 80 hari kerana tolakan bersalin. sebagaimana yang dinukil daripada kitab al-Iqna’: Apabila berlaku pendarahan kerana tolakan bersalin sebelum 80 hari (daripada hari mula hamil). wanita yang mengalaminya wajib bersolat dan berpuasa. Apabila menjadi kebiasaan bagi seorang wanita untuk mengalami nifas melebihi 40 hari dan dia dapat mengenali tanda berhentinya. Jika ditakdirkan seorang wanita melihat darah lebih daripada 40 atau 60 atau 70 hari lalu kemudian barulah ia berhenti. bukan berdasarkan nifasnya. Jika ia keluar dengan sebab selain itu. Diwajibkan ke atasnya hukum-hukum haid sebagaimana yang dibahas sebelum ini. maka iddahnya ialah menunggu hingga datang haid lalu dikira berdasarkan putaran haidnya. dia belum dikira sudah berakhir tempoh nifasnya. Jika nifas berhenti dalam tempoh kurang 40 hari. Jika nifasnya hanya berhenti dalam tempoh kurang sehari. Apabila seorang isteri yang baru sahaja melahirkan anak dicerai oleh suaminya. 3. seperti keguguran. Pendapat Kedua: . Hendaklah dia mandi wajib setelah genap 40 hari. [al-Risalah fi al-Asma’ allati ‘Alaq alSyar‘i al-Ahkam biha. kemudian keluar semula.[1] Jika berlaku pendarahan selepas 80 hari kerana keguguran. maka hendaklah dia menunggu sehingga nifasnya berhenti. Yang terakhir ini (iddah berdasarkan putaran haid) adalah sebagaimana yang telah dibahas dalam Bab 4. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah menulis. maka itu adalah darah nifas. maka (setelah mandi wajib) dia dianggap suci tanpa perlu menunggu genap 40 hari. maka mudah untuk diyakini bahawa yang keluar semula itu adalah haid juga. hendaklah dia tidak bersolat dan tidak berpuasa (kerana ia adalah nifas). seorang wanita yang lazimnya memiliki tempoh haid lapan hari setiap bulan. terdapat beberapa hukum yang diwajibkan ke atas wanita yang mengalami nifas. Tahap baligh bagi seorang wanita diukur berdasarkan datang haid dan bukan datang nifas. 2. Keempat: Nifas yang terputus-putus Bagi darah haid. Sebelum itu ketika sedang nifas. Berbeza pula bagi darah nifas. Sebagai contoh.[3] Dia wajib mengqada puasanya selepas suci (jika dia nifas dalam bulan Ramadhan). kemudian terhenti sebentar. ms. Akan tetapi hendaklah dipastikan bahawa nifasnya benar-benar sudah berhenti. 3. maka mudah untuk diyakini bahawa yang datang semula pada hari ketujuh dan lapan tersebut adalah haid juga.[2] 2. Seterusnya: 1. kemudian ia terhenti pada hari kelima dan keenam. Dalam kategori ini. Ini adalah pendapat yang mayshur dalam Mazhab Hanbali. maka yang keluar semula itu dikategorikan sebagai “darah yang disyaki”. 4. Ini kerana seorang wanita tidak mungkin akan mengalami nifas jika dia tidak hamil. jika ia keluar. Jika ini berlaku. Hukum-Hukum Nifas Sebagaimana haid dan istihadah. lalu dia haid pada empat hari yang pertama. Ketiga: Baligh. 37] Berdasarkan penjelasan di atas: 1. Jika nifas bersambung dengan haid. Akan tetapi jika pendarahan berlaku secara berterusan (melebihi tempoh di atas) maka ia adalah darah fasid (istihadah). dan dia tidak mungkin akan hamil jika tidak terlebih dahulu mengalami haid. Kedua: Ila’ Ila’ ialah tindakan seorang suami yang bersumpah tidak akan menyetubuhi isterinya buat selama-lamanya atau untuk satu tempoh yang melebihi empat bulan.Bagi nifas tidak ada tempoh minimum atau maksimum. hukum haid yang Ketujuh dan Kelapan. maka tempoh iddahnya ialah sehingga melahirkan anak. Jika tidak jelas baginya (sama ada pendarahan disebabkan kehamilan atau keguguran) maka hendaklah dihukum berdasarkan yang zahir (yang paling diyakini). diharamkan ke atasnya apa yang diharamkan ke atas wanita yang sedang haid. Nifas tidak dijadikan ukuran iddah bagi seorang isteri yang dijatuhkan talak (diceraikan) oleh suaminya. maka ia bukanlah nifas tetapi darah penyakit (al-‘Irq) yang diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah. maka hendaklah dia tunggu sehingga berhenti haidnya. Masa yang paling awal untuk nifas secara fitrah ialah 80 hari sedangkan yang lazim ialah 90 hari daripada hari mula hamil. Secara umumnya hukumhukum nifas adalah sama dengan hukum-hukum haid kecuali dalam perkara-perkara berikut: Pertama: Iddah. para ilmuan berbeza pendapat ke atas kes nifas yang terputus. hendaklah dia mendirikan solat dan berpuasa (kerana ia bukan nifas tetapi istihadah). maka janganlah dipedulikan (kerana ia bukan nifas). Pendarahan seterusnya dikira sebagai istihadah dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah sebagaimana yang dibahas sebelum ini. Maka batasnya (bagi kes ini) ialah 40 hari kerana sesungguhnya tempoh 40 hari adalah kebiasaan (bagi wanita yang sudah bersalin) sebagaimana yang disebut dalam atsar-atsar (pendapat tokoh terdahulu). bukan dengan berhentinya nifas.

Jika mengakibatkan mudarat maka ia diharamkan berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Dan janganlah kamu sengaja mencampakkan diri kamu ke dalam bahaya kebinasaan. 2. Maka tempoh berhenti selama tiga hari adalah pembeza antara darah nifas atau haid. Allah yang lebih mengetahui. 349 menukil katakata Imam Malik rahimahullah: Jika dia (wanita) melihat darah selepas dua atau tiga hari. Akan tetapi apabila seorang wanita yang sedang nifas suci daripada nifasnya lebih awal daripada tempoh 40 hari. Iaitu isteri sengaja mendatangkan haid supaya tempoh iddah berlalu dengan cepat sehingga seandainya suami ingin merujuk semula. Kedua: Mendapat izin suami kerana sengaja mendatangkan haid akan menggugurkan hak suami dari dua sudut: 1. maka ia adalah istihadah.Apabila darah keluar pada suasana yang lazimnya disebabkan oleh faktor nifas. [al-Baqarah 2:195] Dan janganlah kamu berbunuh-bunuhan sesama sendiri. Diharuskan menggunakan ubat-ubatan yang mendatangkan haid dengan syarat: Pertama: Bukan sebagai helah untuk meninggalkan ibadah seperti tidak solat dan berbuka pada bulan Ramadhan. syarat nifas ialah (1) ia keluar disebabkan tolakan bersalin dan (2) Ia keluar selepas 80 atau 90 hari daripada hari mula hamil (penyunting) [2] Demikian adalah bagi zaman Ibn Taimiyyah yang meninggal dunia pada tahun 728H. Maka mudah bagi seorang wanita untuk membezakan pendarahannya sama ada disebabkan kehamilan (nifas) atau keguguran (istihadah). maka ia adalah nifas. diharuskan bagi suami menyetubuhinya. yakni selepas habis nifas. Sesungguhnya Allah sentiasa Mengasihani kamu. Seorang isteri yang diceraikan oleh suaminya lalu dia mengambil ubat penegah haid supaya tempoh iddahnya berpanjangan. Imam Ibn Qudamah rahimahullah di dalam kitabnya al-Mughni.” Kisah ini tidak boleh dijadikan dalil menghukum “tidak harus” kerana tindakan ‘Utsman mungkin di atas sikap berhati-hati kerana tidak yakin bahawa isterinya telah benar-benar suci atau akan keluar darah semula disebabkan persetubuhan atau sebagainya. Ini kerana putaran haid yang fitrah (semula jadi) adalah penting demi kesihatan yang normal. Terdapat dua jenis ubat-ubatan yang menegah kehamilan: . disertai tolakan dan paling awal 80 hingga 90 hari selepas hari pertama hamil. Menghalangnya daripada bersetubuh dengan isterinya.[4] Apabila darah keluar secara berterusan. ia adalah istihadah. 1. puasa dan tawaf. Jika nifas terhenti lebih daripada tiga hari lalu kemudian keluar semula. wujud perselisihan pendapat sama ada harus atau tidak bagi suami menyetubuhinya. Walaubagaimanapun yang lebih utama (bagi suami isteri) ialah tidak melakukan hal ini kecuali untuk tujuan yang baik. Menegah haid untuk menegah kehamilan. Apabila darah keluar pada suasana yang lazimnya disebabkan oleh faktor haid. maka ia adalah darah nifas dan jika selepasnya ( lebih dari tiga hari) maka ia adalah darah haid.[5] Pendapat kedua ini juga merupakan pilihan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah. Ketiga: Ubat-Ubatan Yang Menegah Kehamilan. jld. Alhamdulillah. Pertama: Ubat-Ubatan Yang Menegah Haid. Yang benar diharuskan bagi suami menyetubuhinya dan ini adalah pendapat majoriti ilmuan. Untuk berkata “tidak harus” memerlukan dalil syarak padahal tidak wujud dalil syarak dalam permasalahan ini. Menghalangnya untuk merujuk semula dalam kes penceraian. dia tidak sempat untuk berbuat demikian. Kelima: Bersetubuh Apabila seorang wanita menjadi suci daripada haidnya lebih awal daripada tempoh yang biasa baginya. Diharuskan menggunakan ubat-ubatan yang menegah haid dengan dua syarat: Pertama: Tidak berlaku mudarat ke atas dirinya. yang keluar itu adalah nifas juga. Maka ‘Utsman berkata: “Janganlah kamu menghampiri aku. Kedua: Ubat-Ubatan Yang Mendatangkan Haid. (penyunting) Yang dimaksudkan dengan faktor nifas ialah hamil. (penyunting) [3] Seperti solat. ms. 2. yang keluar semula itu bukanlah nifas tetapi haid. Berikut adalah contoh dua kes yang memerlukan izin atau pengetahuan suami: 1. di masa kini sudah ada peralatan yang boleh menentukan kehamilan atau keguguran. (penyunting) 7 Hukum Penggunaan Ubat-Ubatan Yang Menegah Haid Atau Mendatangkannya Dan Yang Menegah Kehamilan Atau Menggugurkannya. Dengan itu berpanjanganlah tempoh pembayaran nafkah cerai oleh suaminya kepadanya. Terdapat sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah di mana isteri ‘Utsman ibn Abi al-‘Aas (yang baru suci daripada nifas) telah menghampirinya padahal di saat itu belum genap tempoh 40 hari. Faktor haid [4] adalah apa yang selain daripada faktor nifas kecuali jika ia berterusan. Pendapat yang kedua inilah dianggap yang benar. maka ia adalah haid. [al-Nisa’ 4:29] Kedua: Penggunaannya adalah dengan izin suami. (penyunting) [5] Maksudnya jika nifas terhenti kurang daripada tiga hari lalu kemudian keluar semula. [1] Dalam ertikata lain.

Ini lazimnya berlaku setelah genap tempoh kehamilan atau menghampirinya. Sebahagian mengharuskannya. Jika wujud kemungkinan untuk anak hidup maka ia seterusnya terbahagi kepada dua : I. Noordeen.com [2] Kecuali jika atas nasihat para pakar perubatan bahawa meneruskan kehamilan akan membawa kemudaratan yang besar kepada ibu.” Pendapat yang dipilih ialah harus menggugurkan kandungan jika bersebab seperti sakit. Lumpur 1999). [1] Lebih lanjut tentang al-‘Azal. Dalam kes ini diperhatikan: Jika tidak wujud kemungkinan untuk anak hidup maka tidak harus melakukan pembedahan. Ibu hidup. menyelamatkan orang yang hidup (anak dalam kandungan) adalah lebih utama daripada menghormati orang yang meninggal dunia (ibu yang mati). Maka jika demikian kesnya. Tidak harus melakukan pembedahan kerana tidak ada apa-apa faedah. Akan tetapi jika pada kandungan sudah jelas terbentuk apa yang berupa manusia. A. yang benar adalah Pendapat Kedua kerana melakukan pembedahan di zaman kita sekarang ini bukanlah sesuatu yang mencacatkan mayat kerana kesan pembedahan dapat dijahit kembali. maka ditegah daripada menggugurkannya. 3.[3] Lebih dari itu pembedahan hanya diharuskan dalam suasana darurat kerana betapa banyak pembedahan yang pada awalnya disangka tiada mudarat tetapi kemudian berakhir dengan mudarat. Contoh penggunaannya ialah wanita yang kerap hamil dan dia ingin merancang kehamilannya pada kadar sekali dalam setiap dua tahun.S. Pembedahan ditegah kerana “badan” adalah satu amanah kepada manusia yang tidak boleh diapa-apakan kecuali atas pertimbangan untuk mencapai kemaslahatan yang lebih besar. Kedua: Bertujuan mengeluarkan kandungan demi sesuatu manfaat. Anak yang masih hidup di dalam kandungan ibu yang meninggal dunia adalah insan yang maksum sehingga wajib menyelamatkannya. 2. anak mati. maka di sini terdapat perselisihan pendapat.al-firdaus. Sebahagian lain berkata: “Harus selagi mana belum terbentuk segumpal darah (sebelum 40 hari)” manakala sebahagian lagi berkata: “Harus selagi mana pada kandungan belum terbentuk apa yang berupa manusia. Ini tidak diharuskan kerana ia mengurangkan keturunan. ia terlebih dahulu wajib mendapat izin daripada pihak suami sebagai orang yang memiliki kandungan tersebut. Tindakan ini tidak ditegah oleh Rasulullah. Boleh juga dirujuk edisi “e-book” di www. Saya berkata. tidak dapat menanggung kehamilan dan sebagainya. Jika memerlukan pembedahan maka ia terbahagi kepada empat kes: 1. Perubatan Moden Menurut Perspektif Islam oleh Basri Ibrahim (Darul Nu’man. Bahkan menyelamatkan yang maksum daripada kemusnahan adalah wajib hukumnya. Ia termasuk dalam kategori membunuh tanpa hak yang diharamkan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah serta kesepakatan umat Islam. K. Ini diharuskan dengan syarat mendapat keizinan suami dan tidak memudaratkan kesihatan. sebahagian menegahnya. harus menggugurkan kandungan. anak hidup.Pertama: Ubat yang menegah kehamilan secara tetap dan berterusan. Pembedahan ditegah kecuali atas dasar darurat seperti kesukaran ibu untuk melahirkan anak secara fitrah. Jika sudah ditiup ruh pada kandungan maka tanpa ragu lagi hukumnya ialah haram untuk menggugurkannya.[4] Pendapat Kedua mengharuskan pembedahan untuk mengeluarkan anak. dia akan tinggal berseorangan sehingga ke hari tua (tanpa penjagaan). 2. Yang penting. Jika anak sudah keluar sebahagian maka diharuskan pembedahan untuk mengeluarkan sebahagian yang tertinggal. Jika anak belum keluar. Harus melakukan pembedahan supaya anak dapat dikeluarkan demi memelihara ibu daripada apa-apa kemudaratan. II. Ini adalah pendapat Imam Ibn Hubairah rahimahullah dalam kitabnya al-Inshaf. (penyunting). Ibu mati. . al-‘Azal ialah tindakan seorang suami yang apabila bersetubuh dengan isterinya. Lebih dari itu seandainya dia kehilangan anak yang sedia ada masa kini. Pendapat Pertama menegah daripada melakukan pembedahan untuk mengeluarkan anak kerana ia mencacatkan mayat (mayat ibu).[1] Keempat: Ubat-Ubatan yang Menggugurkan Kandungan. anak hidup. dia mengeluarkan alat kelaminnya dari faraj isterinya di saat hendak keluar air mani. lihat buku penyunting yang berjudul Kaedah-Kaedah Memahami Hadis-Hadis yang Saling Bercanggah (Jahabersa. Berikut beberapa sumber rujukan dalam bahasa Melayu: 1. Isu-Isu Bio Perubatan Menurut Islam oleh Abul Fadl Mohsin Ibrahim (edisi terjemahan oleh Yusof Ismail. 4. Ibu mati. Lumpur 1995). Ia diharuskan selagi mana tidak memudaratkan ibu dan anak serta tidak memerlukan pembedahan. Ini adalah pendapat para sahabat kami rahimahumullah. Ibu hidup. Kedua: Ubat yang menegah kehamilan untuk sementara waktu. Johor Bahru 2002). K. [2] Allah yang lebih mengetahui. Jika belum ditiup ruh maka wujud perselisihan pendapat sama ada harus atau tidak untuk menggugurkan kandungan. anak mati. Tindakan ini menyalahi tujuan Islam yang mengutamakan umat yang ramai. 2. Dalil kebolehan ini tindakan para sahabat radhiallahu 'anhum di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang mempraktikkan al-‘Azal terhadap para isteri mereka supaya mereka (para isteri) tidak hamil. Allah yang lebih mengetahui. Peringatan Dalam keadaan-keadaan yang harus untuk menggugurkan kandungan sebagaimana yang dibahas dalam bab ini. Menggugurkan kandungan memiliki dua tujuan: Pertama: Bertujuan menghapuskan kandungan. Maka hukumnya terbahagi dua: 1.

(penyunting) Maksudnya para tokoh dalam Mazhab Hanbali (penyunting).[3] Seperti keselamatan ibu dan anak. [4] .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful