19 Hadist Rasullah SAW Mengenai Wanita

1.
2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayangnya yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, "Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia". Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya.Allah mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah dan orang yang takutkan Allah, akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun). Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh. Aisyah berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab rasulullah, "Suaminya. "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah, "Ibunya". Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut,burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga. Daripada Aisyah r.a. Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

Sering kali dalam ceramah-ceramah agama kita mendengar bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam a.s. Memang pada kenyataannya timbul perbedaan pendapat mengenai penciptaan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dalam terjemahan lama al-Qur’an Departemen Agama surat An-Nisaa ayat 1 : “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya .. “. Pada catatan kaki terjemahan lama Depag tersebut, kata “dari padanya” tertulis ’dari padanya' menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim”. Menurut pakar hadist paling terkemuka di Indonesia, Prof. KH. Ali Mustafa Ya’kub MA, paling tidak ada 3 point penting dalam memahami dan menelaah hadist-hadist yang berkaitan dengan kata ‘dari padanya’ dalam Surat An Nisaa : 1. 2. Pada kitab shahih Imam Bukhori dan Muslim tidak disebutkan dalam hadist bahwa ‘tulang rusuk’ tersebut adalah tulang rusuk Adam a.s, hanya disebutkan dari ‘tulang rusuk’. Hadist tentang wanita dan tulang rusuk tidak hanya terdapat 1 versi saja, akan tetapi ada beberapa versi, pertama disebutkan bahwa wanita di ciptakan dari tulang rusuk, tulang rusuk itu yang ujungnya melengkung (bengkok) dan apabila diluruskan (dengan tidak hati2) maka akan patah, maka berwasiatlah yang baik kepada wanita. Kedua, dengan redaksi yang hampir sama, tetapi disebutkan bahwa wanita diciptakan sifatnya seperti tulang rusuk, melengkung (bengkok) dan apabila diluruskan mudah patah, artinya wanita mempunyai sifat yang cenderung bengkok seperti tulang rusuk, maka butuh bimbingan yang baik dan perlahan agar tidak patah, ‘patah’ menurut sebagian ulama ialah cerai. Bahwa dalam memahami hadist tidak dibenarkan jika berdasarkan satu riwayat atau satu versi saja, karena memang terdapat perbedaan penyampaian redaksi hadist dari para sahabat Nabi kepada murid-muridnya yang disebut tabi’in, karena tidak seperti al-Qur’an yang harus disampaikan dengan redaksi yang mutlak sama, hadist bisa disampaikan dengan redaksi yang berbeda. Yang baik dalam memahami hadist adalah melihat semua hadist yang ada lalu mengambil kesimpulan. Sama halnya dengan al-Qur’an yang ayat satu sama lain saling menjelaskan begitu pula dengan hadist.

3.

Maka pada hadist-hadist seputar ‘wanita dan tulang rusuk’, pemahaman yang benar adalah bahwa wanita diciptakan atau tercipta seperti halnya tulang rusuk, tulang rusuk itu bengkok ujungnya, jika diluruskan akan mudah patah, maka harus jadi perhatian seorang Ayah dan Suami bahwa dalam mendidik anak perempuan dan istrinya dibutuhkan ke-‘arifan dan kesabaran yang lebih, begitu juga bagi seorang anak dan istri harus meredam sifat egois karena kecantikan, harta dan pengetahuan yang mungkin lebih dari suaminya. Dapat juga dipahami bahwa Rasulullah hanya menyebutkan karakteristik tulang rusuk yang bengkok dan mudah patah, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa tulang rusuk memiliki karakteristik lainnya, contoh melindungi organ-organ penting yang berada dalam tulang rusuk tersebut. Begitu juga dengan wanita, wanita juga berperan melindungi organ-organ penting dalam rumah tangga yaitu melindungi hal-hal yang sangat strategis dalam melindungi generasinya dari kebobrokan moral. Wallahu a’lam. “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikatmalaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS 66 : 6)

Wanita tercipta bukan lah dari tulang ubun-ubun, sejatinya agar ia tidak menjadi tinggi (hati) Dia juga tidak tercipta dari tulang tumit kaki, agar tidak di injak-injak (harga dirinya) Namun ia tercipta dari tulang rusuk sebelah kiri, didekat hati agar ia dicintai... dan terletak di dekat tangan,sejatinya agar ia dilindungi...." (Karitasurya)

Bagaimanakah aturan islam tentang berpakaian, baik bagi laki-laki ataupun perempuan ? Salah satu perbedaan sistem Islam dengan sistem Kapitalis adalah bahwa sistem Kapitalis memandang persoalan sosial dan rumah tangga dianggap sebagai masalah ekonomi, sedangkan sistem Islam masalah-masalah di atas dibahas tersendiri dalam hukum-hukum seputar interaksi pria-wanita (nizhâm

al-ijtima’iyyah). Misalnya dalam sistem kapitalisme tidak ada istilah zina jika laki-laki dan perempuan melakukan hubungan suami isteri tanpa ikatan pernikahan asal dilakukan suka-sama suka atau saling menguntungkan sebaliknya disebut pelecehan seksual dan pelakunya dapat diajukan ke pengadilan jika seorang suami memaksa dilayani oleh seorang isteri sementara isterinya menolak. Karena itu dalam persoalan pakaian antara penganut sistem kapitalis dan sistem Islam jelas perbeda. Dalam sistem kapitalis pakaian dianggap sebagai salah satu ungkapan kepribadian, sebagai unsur penarik lawan jenis dan karena itu memiliki nilai ekonomis. Bentuk tubuh seseorang –apalagi wanita– sangat berpengaruh terhadap makna kebahagiaan dan masa depan. Adapun Islam menganggap bahwa pakaian digunakan memiliki karakteristik yang sangat jauh dari tujuan ekonomis apalagi yang mengarah pada pelecehan penciptaan makhluk Allah. Karena itu di dalam Islam: 1. Pakaian dikenakan oleh seorang muslim maupun muslimah sebagai ungkapan ketaatan dan ketundukan kepada Allah, karena itu berpakaian bagi seorang muslim memiliki nilai ibadah. Karena itu dalam berpakaian iapun mengikuti aturan yang ditetapkan Allah. 2. Kepribadian seseorang ditentukan semata-mata oleh aqliyahnya (bagaimana dia menjadikan ide-ide tertentu untuk pandangan hidupnya) dan nafsiyahnya (dengan tolok ukur apa dan seberapa banyak dia berbuat dalam memenuhi kebutuhan hidup dan melampiaskan nalurinya). 3. Setiap manusia memiliki kedudukan yang sama, yang membedakan adalah takwanya. Melalui cara berpakaian yang Islami, sesungguhnya Allah juga berkehendak memuliakan manusia sebagai makhluk yang memang telah Allah ciptakan sebagai makhluk yang mulia. Sebaliknya dengan tidak mengikuti cara berpakaian sesuai yang dikehendaki Allah, menyebabkan kedudukan manusia jatuh. Walhasil seorang muslim dan muslimah wajib mengetahui aturan berpakaian agar dalam berpakaian dan berpenampilan ia akan mendapatkan ridha Allah, bukan sebaliknya mendapatkan murka Allah. B. Pakaian Bagi Seorang Muslim Pakaian yang dikenakan oleh seorang muslim haruslah memenuhi syarat tertentu, yakni: 1. Menutup aurat; 2. Tidak terbuat dari emas atau sutera; 3. Tidak menyerupai pakaian wanita; 4. Tidak menyerupai orang-orang kafir. C. Aurat Laki-Laki Aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut, berdasarkan riwayat ‘Aisyah: Dari ‘Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari kakeknya, beliau menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jika ada di antara kalian yang menikahkan pembantu, baik seorang budak ataupun pegawainya, hendaklah ia tidak melihat bagian tubuh antara pusat dan di atas lututnya.” [HR. Abu Dawud, no. 418 dan 3587]. Rasulullah Saw bersabda: Aurat laki-laki ialah antara pusat sampai dua lutut. [HR. ad-Daruquthni dan al-Baihaqi, lihat Fiqh Islam, Sulaiman Rasyid]. Dari Muhammad bin Jahsyi, ia berkata: Rasulullah Saw melewati Ma’mar, sedang kedua pahanya dalam keadaan terbuka. Lalu Nabi bersabda: “Wahai Ma’mar, tutuplah kedua pahamu itu, karena sesungguhnya kedua paha itu aurat.” [HR. Ahmad dan Bukhari, lihat Ahkamush Sholat, Ali Raghib]. Jahad al-Aslami (salah seorang ashabus shuffah) berkata: pernah Rasulullah Saw duduk di dekat kami sedang pahaku terbuka, lalu beliau bersabda: “Tidakkah engkau tahu bahwa paha itu aurat?” [HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Malik, lihat Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni]. Juga Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ali ra: “Janganlah engkau menampakkan pahamu dan janganlah engkau melihat paha orang yang masih hidup atau yang sudah mati.” [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihat Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni]. Larangan Memakai Emas Dan Sutera Bagi Laki-Laki Larangan ini berdasarkan hadits: Diriwayatkan dari al-Bara’ bin Azib r.a katanya: “Rasulullah Saw memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara. Baginda memerintahkan kami menziarahi orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang bersin, menunaikan sumpah dengan benar, menolong orang yang dizalimi, memenuhi undangan dan memberi salam. Baginda melarang kami memakai cincin atau bercincin emas, minum dengan bekas minuman dari perak, hamparan sutera, pakaian buatan Qasiy yaitu dari sutera, serta mengenakan pakaian sutera, sutera tebal dan sutera halus.” [HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad, CD Al-Bayan 1212]. Larangan Menyerupai Wanita Seorang laki-laki dilarang bertingkah laku, termasuk berpakaian menyerupai wanita dan sebaliknya seorang wanita bertingkah laku termasuk berpakaian seperti laki-laki. Larangan Menyerupai Orang Kafir Menyerupai orang kafir (tasyabbuh bil kuffar) dilarang bagi muslim maupun muslimah. Tasyabbuh dapat dilakukan melalui pakaian, sikap, gaya hidup maupun pandangan hidup. Bagi seorang laki-laki pakaian yang harus dikenakan sama, apakah dia di dalam rumah, di luar rumah, di hadapan mahram atau bukan, kecuali di hadapan isteri. D. Pakaian Bagi Seorang Muslimah

dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Menutup aurat. jadi menyangkut anggota badan. dan janganlah menampakkan perhiasan mereka. kecuali jika ada tamu laki-laki non muhrim. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka. 94). Beliau menunjuk pada wajah dan telapak tangannya. karena illa mâ zhahara minha yang dimaksud adalah yang biasa nampak pada saat itu (saat ayat ini turun) yaitu muka dan telapak tangan. Tafsir mengenai hal ini. Aurat Wanita Pembahasan aurat wanita dibagi menjadi tiga keadaan. Selain itu anggota tubuh lain boleh tampak termasuk apabila ada hajat seperti perut. Pakaian itu tidak menampakkan aurat (dapat menutup semua aurat). Hal tersebut diperkuat dengan sabda Rasul Saw kepada Asma’ binti Abu Bakar: “Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini. 2. tetapi hanya memberikan beberapa syarat yaitu: 1. Misalnya di dalam rumah sendiri seorang wanita boleh membuka jilbabnya dan hanya memakai mihnahnya. Karena dua bagian ini yang biasa nampak dari wanita muslimah di hadapan Rasul Muhammad Saw (baik dalam sholat. Pemahaman mahaluzzinah ini diambil dari firman Allah SWT: “…. Adapun di hadapan laki-laki selain suami dan muhrimnya maka aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Adapun di tempat umum penampilan wanita dibatasi dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: a. Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir. an-Nûr [24]: 31). Kewajiban menutup aurat. juga dari Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menyatakan “Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa sesuatu yang biasa nampak adalah muka dan telapak tangan. Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab. seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.” (Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an. Di hadapan muhrimnya dan orang-orang yang disebut dalam Qs. b. 5. . 6. hal. di hadapan suami tidak ada keharusan menutup bagian tubuhnya (walaupun dianjurkan tidak telanjang). yaitu kerudung (khimar) dan jilbab (pakaian luar yang luas (seperti jubah) yang menutup pakaian harian yang biasa dipakai wanita di dalam rumah (mihnah). Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya. maka sesungguhnya syara’ tidak menentukan pakaian tertentu untuk menutup aurat. Tidak tabarruj. kecantikan dan perhiasan di depan laki-laki non muhrim atau dalam kehidupan umum). 2. 2. Tidak menyerupai pakaian laki-laki. an-Nûr [24]: 60). Kata zinah yang secara bahasa berarti perhiasan. 1. 18. Qs. an-Nûr [24]: 31 turun sebelum ayat tentang jilbab sehingga ayat ini hanya menyampaikan batasan aurat dan perintah memakai kerudung. seperti: kepala seluruhnya. tetapi bukanlah perhiasan yang biasa dipakai orang tetapi makna zinah di sini adalah anggota badan yang merupakan tempat perhiasan (mahaluzzinah). Kewajiban menggunakan pakaian khusus di kehidupan umum. Keberadaan wanita di tempat umum atau di tempat khusus. tempat kalung (leher).Adapun pakaian yang dikenakan oleh seorang muslimah haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1.” [HR. d. Khusus untuk wanita menopause diperbolehkan Allah untuk melepaskan jilbabnya hanya saja tetap diperintahkan untuk tidak tabarruj. tempat gelang tangan (pergelangan tangan) sampai pangkal lengan dan tempat gelang kaki (pergelangan kaki) sampai lutut. Sedangkan yang dimaksud dengan yang biasa nampak daripadanya adalah wajah dan telapak tangan. Di hadapan mahrom maka cukup menggunakan mihnah (kecuali di tempat umum maka harus memenuhi pakaian wanita di tempat umum). c. Qs. Di hadapan suami mereka maka wanita boleh menampakkan seluruh bagian tubuhnya (berdasarkan hadits riwayat Bahz bin Hakim). Sedangkan kewajiban berjilbab akan dibahas menyusul. 3580]. Abu Dawud. Tidak tembus pandang. maka wajib menutup aurat yang harus ditutup di hadapan bukan mahrom). mihnah dan memenuhi kriteria irkha’). yang terulur langsung dari atas sampai ujung kaki. No. Penampilan wanita dibedakan antara tempat khusus dan tempat umum. Mahaluzzinah ini biasa tampak ketika wanita memakai baju dalam rumah (mihnah). an-Nisâ’ [4]: 23 maka baginya boleh menampilkan bagian tertentu dari anggota tubuhnya yang biasa disebut mahaluzzinah yaitu anggota badan yang biasanya dijadikan tempat perhiasan. Rincian masing-masing persyaratan di atas berbeda-beda berdasarkan: 1. khumur. Adapun berkaitan dengan apa aurat itu ditutup. Dasar dari penentuan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. haji maupun dalam kehidupan sehari-hari di luar sholat dan haji) dan Rasul mendiamkannya sementara ayat-ayat al-Qu’ran masih turun. 4. kulot panjang dan lain-lain. yaitu: 1. Ibnu Abbas menyatakan yang dimaksud dengan illa mâ zhahara minha adalah muka dan tangan. kecuali aurat yang ada di antara pusar dan lutut. an-Nûr [24]: 31). jld. yaitu: “…. Pakaian wanita di dalam rumahnya cukup menggunakan mihnah (kecuali ada tamu bukan mahrom. kecuali…” (Qs. E. sehingga diperbolehkan baginya menggunakan baju panjang selapis/tidak rangkap (bukan jilbab) model apa saja selama tidak menampakkan keindahan tubuhnya seperti baju panjang atas bawah. 3. Keberadaan wanita di hadapan mahram atau bukan atau di hadapan suami atau bukan. Larangan tabarruj (menonjolkan keindahan bentuk tubuh.” (Qs. payudara. Larangan tasyabbuh terhadap laki-laki. an-Nûr [24]: 31 dan Qs. 7.

Jika pakaian itu tipis misal brokat. Rasulullah dalam hadits di atas menganggap baju yang tipis belum menutup aurat dan menganggap auratnya terbuka.2. Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya. atau putera-putera saudara laki-laki mereka. merah. tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan (tabarruj). Dalil kewajibannya adalah sebagai berikut: (1) ungkapan Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka sebagaimana disebutkan dalamfirman Allah SWT: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu. Sesungguhnya aku takut wanita itu tersifati tulangnya. Khumur adalah jama’ dari khimar yaitu kerudung yang menutupi kepala. nenek-nenek. sehingga tidak diketahui warna kulit dari wanita yang memakainya. Tidak menyerupai pakaian laki-laki. maka seorang wanita harus menggunakan pakaian secara sempurna. Pada Qs.” Artinya wanita harus menutup sifat dari tulangnya. Apabila tidak memenuhi syarat tersebut tidak dapat diianggap sebagai penutup aurat. Dengan kata lain khimar adalah kain yang menutupi kepala tanpa menutupi wajah. wanita pingitan untuk keluar pada hari raya Fitri dan Adha. sehingga kelihatan warna kulitnya. atau putera-putera saudara perempuan mereka. Tidak tabarruj. Memahami Pengertian Jilbab . kulot panjang dan lain-lain. sehingga beliau memalingkan wajah dari Asma’ dan memerintahkan Asma’ untuk menutup aurat. no 1475]. kaos stret pas badan tidak boleh digunakan sebagai penutup aurat wanita menopause karena termasuk tabarruj (menonjolkan kecantikan dan perhiasan/bentuk tubuh). beliau menyuruhnya agar isterinya mengenakan pakaian tipis lagi di bawah pakaian tipisnya itu. 7. al-Ahzab [33]: 59). atau putera-putera suami mereka. (2) Kebolehan menanggalkan pakaian luar (jilbab) bagi wanita menopouse dengan ungkapan tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka sebagaimana dalam firman Allah SWT: “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi). Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan muslimah menggunakan sejenis pakaian yang disebut jilbab.” (Qs. oleh karena itu jenis pakaian tersebut hanya bisa dipakai oleh wanita yang sudah menopause dan sudah tidak punya keinginan seksual (Qs. Pakaian Wanita di dalam Kehidupan Umum Dalam kehidupan umum. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. terulur sampai sampai menutupi ujung pakaian bawah (jilbab) yakni kancing baju di atas dada. kuning. Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya. al-Ahzab [33]: 59 dan hadist dari Ummu ‘Athiyah. dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. an-Nûr [24]: 60). karena itu mereka tidak diganggu. dan memelihara kemaluannya. (3) Ungkapan salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab. hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung’. Untuk wanita menopause ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan dalam berpenampilan yaitu tidak diperbolehkan tabarruj. khumur. Tidak tembus pandang. Saya berkata: “Ya Rasulullah salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab”. Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya. Meskipun jenis baju tersebut menutup aurat tetapi bukan termasuk jilbab. atau saudara-saudara laki-laki mereka. Dengan demikian wanita harus memperhatikan 2 syarat tersebut ketika memilih jenis dan bahan pakaian penutup aurat termasuk penutup aurat di depan mahrom dan wanita lain seperti celana 3/4 sampai lutut. Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab. kerudung tipis. 3. dan janganlah menampakkan perhiasanyaa. 5. yakni: 1. Dan hendaklah mereka menutupkankhumur (kain kerudung) ke juyub (dada)-nya. wanita yang sedang haid. Dan Rasulullah memberi illat pada masalah itu dengan sabdanya: “Sesungguhnya aku takut wanita itu tersifati tulangnya. Pakaian itu dapat menutup kulit. mihnah dan memenuhi kriteria irkha’). Dalil bahwa syariat Islam telah mewajibkan menutup kulit sehingga tidak tampak warna kulitnya adalah hadits yang diriwayatkan dari A’isyah ra. jalanan dan lain-lain) maka selain batasan aurat dan larangan tabarruj. Oleh karena itu celana panjang.” (Qs. atau ayah mereka.” Rasulullah Saw ketika mengetahui Usamah memakaikan pakaian tipis itu pada isterinya. an-Nûr [24]: 60). dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. terdapat ketentuan lain yang perlu diperhatikan yaitu adanya kewajiban menggunakan pakaian khusus yang telah diperintahkan Allah berupa khimar (kerudung) dan jilbab (jubah langsungan dari atas sampai ujung kaki). atau putera-putera mereka. atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. daster dan lain-lain. 4. an-Nûr [24]: 31). dan juyub adalah jama’ dari kata jaibun yaitu ujung pakaian (kancing pembuka) yang ada di sekitar leher dan di atas dada. Muslim. sehingga kelihatan warna kulit (rambut) si pemakai pakaian itu.” (Qs. 6.” Sebagimana dalam hadits dari Ummu ‘Athiyah ra. tidak boleh menggunakan pakaian yang tipis. Dalil-dalil mengenai masalah ini lihat lagi pembahasan di atas. Sedangkan bawahnya diperintahkan menggunakan jilbab/jubah. anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Berkata: Rasulullah memerintahkan kepada kami. rukuh tipis dan lain-lain. beliau telah meriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakar datang kepada Rasulullah Saw dengan memakai baju yang tipis maka Rasulullah memalingkan wajahnya dari Asma’ dan bersabda: “Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini…” [HR. 2. Dalil lain yang memperkuat dalam masalah ini adalah hadits yang diriwayatkan Usamah: “Perintahkan isterimu untuk mengenakan pakaian tipis lagi (gholalah) di bawah baju tipis tersebut. atau wanita-wanita Islam. kaos kaki tipis. atau ayah suami mereka. Abu Dawud. Dan bertaubatlah kepada Allah. 3580]. Adapaun dalil lainnya adalah sebagai berikut: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya. Dengan demikian untuk bagian atas badan wanita diwajibkan mengenakan kerudung yang diulurkan sampai ujung pakaian (kancing pembuka)/di atas dada. Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir.” (HR. Hanya saja apabila wanita selain yang menopause berada di luar rumah atau tempat-tempat umum (masjid. yaitu apakah kulitnya putih. pasar. bukan pakaian lain seperti baju panjang atas bawah. Untuk lebih detailnya tentang pakaian khusus di kehidupan umum maka dapat dilihat pada pembahasan selanjutnya. yaitu pada saat wanita berada di luar rumahnya/di hadapan laki-laki non mahrom. Kewajiban menggunakan khumur muncul dari perintah dan hendaklah mereka menutupkan khumur/kain kerudung ke juyub (dada)-nya. kaos kaki panjang. no. hitam dan lain-lain. Menutup aurat. Maka bagi wanita yang sedang haid janganlah sholat dan hendaklah menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. maka wanita yang memakai pakaian tersebut dianggap auratnya tampak atau tidak menutupi auratnya. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. kecuali kepada suami mereka.

Ayat lain yang melarang tabarruj adalah firman Allah SWT: “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. an-Nûr [24]: 60 walaupun pada ayat tersebut Allah menggunakan istilah tsiyab untuk menyebut makna jilbab. maka hal ini tidak apa-apa walaupun tetap dianjurkan untuk ‘iffah (berhati-hati/menjaga diri). Memahami Pengertian Tabarruj Tabarruj telah diharamkan oleh Allah SWT dengan larangan yang menyeluruh dalam segala kondisi dengan dalil yang jelas. Tabarruj berbeda dengan perhiasan atau berhias. Hanya saja apabila aktivitas wanita tersebut membuat kakinya banyak terlihat semisal mengendarai sepeda. berlenggak-lenggok dan seperti punuk unta menunjukkan arti agar tampak perhiasan dan kecantikannya. an-Nûr [24]. kulot panjang dan lain-lain. bentuk tubuh ketika di kehidupan umum seperti di jalan-jalan. jld. Orang tua (menopouse) boleh tetap mengenakan jilbab dan boleh juga mengenakan baju apa saja selain jilbab selama tidak menonjolkan perhiasan. bentuknya seperti malhafah (kain penutup dari atas kepala sampai ke bawah). Tabarruj secara bahasa berarti menonjolkan perhiasan. III. Pengertian ini dapat ditemukan juga dalam Tafsir Jalalain (lihat Tafsir Jalalain. maka Rasulullah menjawab: “Hendaklah saudara perempuannya meminjamkan jilbabnya. Selain itu mengulurkannya harus sampai telapak kaki (bukan mata kaki). kecantikan termasuk bentuk tubuh dan sarana-sarana lain dalam berpenampilan agar menarik perhatian lawan jenis. motor dan lain-lain maka diwajibkan untuk menggunakan penutup kaki apa saja seperti kaos kaki. yang berarti wanita tersebut telah menonjolkan perhiasannya. daster. mall. Dalil ini juga menjelaskan akan larangan tabarruj. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas. kemudian melewati suatu kaum (sekelompok orang) supaya/sampai mereka mencium aromanya maka berarti dia pezina. tidak seperti celana ketat panjang karena hal itu termasuk tabarruj. tanpa bertabarruj. jilbab bermakna: Pakaian yang lebar bagi wanita. yaitu menggerakkan kaki sampai terdengar bunyi gelang kakinya sehingga orang lain menjadi tahu perhiasan wanita yang menggerakkan kaki tersebut. hal. maka mereka tidak akan masuk surga dan tidak mendapatkan baunya. Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar. Demikian pula yang disebutkan oleh al-Jauhari dalam kitab Ash Shihah.” (Qs. Allah dalam ayat ini melarang salah satu bentuk tabarruj. tidak boleh kurang dari itu.” Dari sini jelas bahwa jilbab tidak boleh diulurkan bagian per bagian misalnya baju potongan. tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan. kecantikan. Adapun Hadist dari Ummu ‘Athiyah menerangkan dengan jelas ketika wanita keluar rumah/dihadapan laki-laki non mahrom diwajibkan menggunakan pakaian yang dipakai di atas pakaian dalam rumah (mihnah). Hal ini ditunjukkan dalam firman Allah SWT: “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi). Jadi kesimpulannya jilbab harus diulurkan langsung ke bawah (tidak potong-potong/atas bawah) sampai menutup dua telapak kaki (bukan mata kaki). Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu abbas dan juga dapat dipahami dari nash-nash yudnîna ‘alaihinna min jalabibihinna di sini bukan menunjuk sebagian tetapi untuk menjelaskan. oleh karena itu apabila jilbabnya terulur sampai mata kaki dan sisanya (telapak kaki) ditutup dengan kaos kaki/sepatu. Jika wanita tua saja dilarang untuk bertabarruj. sebagaimana Ummu ‘Athiyah berkata kepada Rasulullah Saw: “Salah seorang dari kami tidak mempunyai jilbab”.” (Qs. Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menyeret pakaiannya dengan sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Artinya jika seseorang tidak mempunyai jilbab dan saudaranya tidak meminjami maka wanita itu tidak boleh keluar. berarti tersisa mihnah. saya belum melihat sebelumnya adalah: wanita yang berpakaian seperti telanjang dan wanita yang berjalan lenggaklenggok di atas kepala mereka seperti punuk unta.” Ummu Salamah bertanya lagi: “Kalau demikian terlihat kaki mereka. Dan jilbab yang dimaksudkan pada hadist ini bukan sekedar penutup aurat tetapi sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jilbab: baju luar yang berfungsi menutupi tubuh langsung dari atas sampai bawah. Sarana lain yang biasa digunakan misalnya wangi-wangian. mihnah dan jilbab.pasar. . an-Nûr [24]: 60 dapat diambil pemahaman bahwa wanita menopause yang sudah tidak mempunyai keinginan seksual diperbolehkan melepaskan tsiyabnya (pakaian luarnya/jilbab). sehingga penafsiran kata tabarruj diambil dari makna lughawi (bahasa). kecantikan termasuk keindahan tubuh pada laki-laki non muhrim. Dalil lain yang menerangkan bahwa tabarruj adalah menonjolkan perhiasan. bentuk tubuh. berjalan di sekitar rumah. Dalam kamus arab Al-Muhith. Atas dasar ini dapat dimengerti bahwa tabarruj tidak sama dengan sekedar perhiasan atau berhias. Allah membolehkan mereka (wanita yang berhenti haid dan tidak ingin menikah) menanggalkan pakaian luar mereka (jilbab). Inilah indikasi (qarinah) bahwa perintah hadits tersebut adalah wajib. dll. tetapi diulurkannya langsung dari atas ke bawah. warna baju yang mencolok atau penampilan tertentu yang “nyentrik” atau perhiasan yang berbunyi jika dibawa jalan. Tsiyab disini dipahami pakaian luar/jilbab bukan baju biasa karena tidak mungkin Allah memerintahkan wanita menopause telanjang. Berarti dapat dipahami pula bagi wanita yang belum menopause diwajibkan untuk menggunakan tiga lapis/jenis pakaian ketika di hadapan laki-laki non mahrom yaitu kerudung. namun maksud kata itu harus dikembalikan pada maksud yang dipahami oleh masyarakat ketika kata itu diturunkan/diungkapkan. perhiasan (tidak tabarruj) yaitu diperbolehkan menggunakan baju apa saja sejenis mihnah yang tidak menampakkan kecantikan/bentuk tubuh seperti baju atas bawah panjang. sepatu dan lain-lain. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah adanya irkha’. sedangkan makna yudnîna adalah yurkhîna ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). 31). maka mafhum muwafaqahnya yaitu wanita yang belum berhenti haid lebih dilarang untuk bertabarruj. Definisi jilbab ini juga tersirat dalam Qs.” Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana yang harus diperbuat para wanita terhadap ujung baju (jilbab) mereka?” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mereka mengulurkan sejengkal. keindahan tubuh pada laki-laki asing adalah seperti yang diriwayatkan dari Abi Musa Asy Sya’rawi: “Wanita yang memakai parfum.Kata jilbab digunakan di dalam al-Qur’an dan Hadits.” Kata telanjang. yaitu menonjolkan perhiasan. hanya saja selanjutnya diperintahkan untuk tidak menampakkan kecantikan. yaitu jilbab harus diulurkan sampai menutupi kedua telapak kaki sehingga dapat diketahui dengan jelas bahwa baju itu adalah baju di kehidupan umum. Jilbab selain harus luas dipersyaratkan harus diulurkan langsung ke bawah sampai menutupi dua telapak kaki.” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mengulurkan bajunya sehasta dan jangan lebih dari itu.” Diriwayatkan pula dengan sabda Rasulullah Saw: “Dua golongan penghuni neraka. dia berkata jilbab (pada nash tersebut): baju luar yang berfungsi menutupi tubuh dari atas sampai bawah (tanah). 1803) yang diartikan sebagai kain yang dipakai seorang wanita untuk menutupi seluruh tubuhnya. Dari Qs. yang menutupi tsiyab/mihnah (pakaian harian yang biasa dipakai ketika berada di dalam rumah). Tidak ada makna syara’ tertentu terhadap kata tabarruj. maka hal ini tidak cukup menggantikan keharusan irkha’ (terulurnya baju sampai ke bawah). namun bermakna menonjolkan perhiasan. Pemahaman dari ayat ini adalah larangan bertabarruj secara mutlak. Apabila jilbabnya sudah terulur sampai ujung kaki tetapi jika berjalan kakinya masih terlihat sedikit seperti ketika menerima tamu. dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Sedangkan pengertian tabarruj adalah menonjolkan perhiasan. an-Nûr (24): 60).

Ketiga. sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina! . Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Terserah kita mau pilih yang mana. Alquran menjulukinya sebagai “pembawa kayu bakar” alias penyebar fitnah. Kebetulan cukup detail membahas aurat perempuan. Allah SWT memuliakan Maryam bukan karena kecantikannya. Kita pula yang akan menerima konsekuensi dari memakai pakaian tersebut. Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki. Difirmankan. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. seraya berkata. Ya Tuhanku. demikian pula istrinya. Wallaahu a’lam. butik atau toko yang menjual pakaian wanita. Kepalanya bergoyanggoyang bak punuk onta. kepribadian wanita pun memiliki beragam jenis dan corak. Wanita tipe pejuang memiliki kepribadian kuat. dalam setiap pilihan ada tanggung jawab yang harus dipikul. Sebab pakaian yang “tak layak” tersebut bukanlah merupakan budaya masyarakat Islam dan tidak pula dikenal dalam tradisi masyarakat kita. Karena itu. Asiyah lebih memilih istana di surga daripada istana di dunia yang dijanjikan Fir’aun. dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa (QS An Nuur [24]: 34). Lima tipe wanita Setidaknya ada lima tipe wanita dalam Alquran. maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah. Tipe-tipe Wanita dalam Alquran May 18th. tipe wanita shalihah yang menjaga kesucian dirinya. Tipe ini diwakili Maryam binti Imran. Marilah ke sini. tipe wanita penggoda. Kita diberi kebebasan untuk memilih tipe mana saja yang paling disukainya. Yusuf berkata. kehinaan di dunia dan kesengsaraan akhiratlah akan kita rasakan. insya ALLOH tidak mengurangi makna yang terkandung. Hindun bahu membahu menentang dakwah Rasulullah SAW. Karena keutamaan inilah. maka hukum asalnya adalah mubah untuk dikenakan selama belum ada dalil yang mengharamkanya. Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu. Artikel ini aku kupipes dan sedikit diedit. Namun. Aurat dan Jilbab (01) Aku dapat artikel ini dari temanku. Aku bagi menjadi 2 bagian. Isa putra Maryam (QS Maryam [19]: 1634). Tipe ini diperankan Zulaikha saat menggoda Nabi Yusuf. pada saat bersamaan Allah pun mengecam perempuan yang bekhianat kepada suaminya (yang saleh). Pakaian dapat kita analogikan dengan kepribadian. wanita yang mentato. Namun ingat. Ada tipe pejuang yang kokoh keimanannya. Ia pun sangat konsisten menjaga kesucian dirinya. mereka malah menjadi pengkhianat dakwah. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami. menyebar fitnah dan melakukan kezaliman. istri Fir’aun. Hari-harinya ia isi dengan ketaatan kepada Allah. Allah SWT mengabadikan doanya. penggoda dan pengkhianat. Dan Allah menjadikan perempuan Fir’aun teladan bagi orang-orang beriman. bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim (QS At Tahriim [66]: 11). Mereka adalah wanita-wanita yang memakai pakaian tapi telanjang. Walau berada dalam cengkraman Fir’aun. Tidak pula itu diuji dengan pertanyaan. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian. Budaya barat adalah penyebab fenomena ini.Adapun mengenai perhiasan. Maryam pun diamanahi untuk mengasuh dan membesarkan Kekasih Allah. Allah SWT mengabadikan namanya sebagai nama salah satu surat dalam Alquran (QS Maryam [19]). Seperti halnya pakaian. istrinya Abu Lahab. wanita yang rambutnya minta disambungkan. Tipe ini diwakili Hindun. dan ia berdoa. Perhiasan apapun bentuknya adalah mubah selama belum ada dalil yang mengharamkannya. Alquran memberi tuntunan kepada orang-orang beriman (khususnya Muslimah) agar tidak salah dalam memilih kepribadian. Muslim) Wanita-wanita yang digambarkan Rasul dalam hadis di atas sekarang banyak sekali kita lihat. Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). dan dikatakan (kepada keduanya). Bahkan itu sudah menjadi sesuatu yang mentradisi dan dianggap lumrah. agar tidak terlalu panjang. tipe wanita pengkhianat dan ingkar terhadap suaminya. Ada wanita salehah yang tangguh dalam ibadah dan konsisten menjaga kesucian diri. Asiyah mampu menjaga akidah dan harga dirinya sebagai seorang Muslimah. menjadi luar biasa ketika diucapkan Hindun. Semoga bermanfaat. 10/13/2001 . Dalam istilah sekarang wanita penyiram bensin.” (HR. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung (QS Yusuf [12]: 23). Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan. Mau pilih yang mana? Semuanya terserah kita. Sebab pakaian yang mereka kenakan tak dapat menutupi apa yang ALLOH SWT perintahkan untuk ditutupi. corak dan ragamnya.” Walaupun semula berhias dalam kondisi berkabung dibolehkan akan tetapi bisa menjadi haram manakala berhiasnya menggunakan perhiasan yang haram dan apabila berhiasnya sampai menjadikannya termasuk tabarruj yaitu menonjolkan perhiasan dan kecantikan di hadapan laki-laki asing (non mahrom). Pertama. Ada pula tipe penghasut. (QS At Tahriim [66]: 10). Ia berani menanggung risiko apa pun saat keimanannya diusik dan kehormatannya dilecehkan. tukang fitnah dan biang gosip. Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Bersama suaminya. Petualangan Zulaikha diungkapkan dalam Alquran. Keempat. Istrinya Nabi Nuh dan Nabi Luth mewakili tipe ini. Wanita-wanita yang dikisahkan Alquran ini hidup ribuan tahun lalu. Allah SWT memuji wanita yang tidak taat kepada suaminya yang zalim. maka kemuliaan dan kebahagiaan yang akan kita dapatkan. pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali dari sabut (QS Al Lahab [111]: 1-5). tipe penghasut. Sedangkan bila memilih tiga tipe terakhir. namun karena keshalihan dan kesuciannya. Kelima. Sebagian perhiasan memang diharamkan Allah antara lain: seperti yang terungkap dari riwayat Ibnu Umar: “Sesungguhnya Nabi melaknat wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain. bolehkah ini . Namun karakteristik dan sifatnya tetap abadi sampai sekarang. Demikian ungkap Maryam (QS Maryam [19]: 20). tipe pejuang. Aku berlindung kepada Allah. Tipe ini diwakili oleh Siti Asiyah binti Mazahim. sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Isu yang awalnya biasa. Sebab kita sendiri yang akan memakainya. kita akan mendapatkan pakaian dalam berbagai bentuk. Hukum asal suatu benda (asy yâ’) adalah mubah. 2007 Ketika memasuki sebuah showroom. Saat suaminya memperjuangkan kebenaran. yang garis besarnya pernah aku tulis di sini. Kedua. Namun itu adalah hal baru yang lantas diterima tanpa dikritisi.Arsip Fiqh Rasululloh SAW bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. agar tidak menyesal dikemudian hari. Perhiasan adalah asy yâ’ (benda). lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya. hal ini sesuai dengan kaidah syara’. seperti dilakukan perempuan Fir’aun (QS At Tahriim [66]: 11). dan wanita yang minta ditato. Bila memilih tipe pertama dan kedua.

bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasululloh SAW dengan pakaian yang tipis. b. Yang pasti alasan dilarang oleh si ini dan si itu kini tak berlaku lagi. Kesadaran untuk kembali kepada budaya kita sendiri (baca: budaya berpakaian islami) mulai tumbuh. Namun di sana kita juga melihat fajar yang mulai terbit. Sekarang marilah kita perhatikan penafsiran para sahabat dan ulama terhadap kata “…kecuali yang biasa nampak…” dalam ayat tersebut.” (Qs. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram. Selain kedua dalil di atas masih ada dalil-dalil lain yang menegaskan akan kewajiban menutup aurat ini: 1. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab. yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan. Hanya saja beliau (Ibnu Abbas) menambahkan cincin dalam golongan ini. Konteks ayat di atas adalah ditujukan untuk istri-istri Rasululloh SAW. Abu Daud dan Baihaqi). Hadis Rasululloh SAW. rajam. Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka. anak-anak perempuanmu. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh ALLOH SWT. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak. Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat solat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya. Hadis riwayat Aisyah RA. bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). mengatakan maksud kata tersebut adalah pakaian dan jilbab. Namun keumuman ayat ini mencakup seluruh wanita muslimah. Menurut Ibnu Umar RA. d. lantas Rasululloh SAW berpaling darinya dan berkata:“Hai Asma. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. “Hai Nabi. Jelasnya saat ini sudah tak ada lagi larangan untuk mengenakan busana dan pakaian yang menutup aurat. Dari Al-Qur’an: a.’ Imam Auzai dan Ibnu Abbas RA. Para ulama mengatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan akan haramnya menampakkan anggota badan tempat perhiasan tersebut. 2. Ini menunjukkan bahwa pamer aurat dan “buka-bukaan” adalah dosa besar. Di kampus. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (Ind: jilbab)nya ke dadanya…’” Keterangan : Ayat ini menegaskan empat hal: a. Yaitu siksaan api neraka. Sebab perbuatan-perbuatan yang dilaknat oleh ALLOH SWT atau Rasul-Nya dan yang diancam dengan sangsi duniawi (qishas. Bahkan diriwayatkan bahwa ritual haji pada zaman jahiliyyah mengharuskan seseorang thawaf mengelilingi ka’bah dalam keadaan bugil tanpa memandang apakah itu lelaki atau perempuan. Betapa sekarang kita banyak melihat indahnya kibaran jilbab di mana-mana. atau baikkah ini bagi kita dan pertanyaan lain yang senada. 2. Sebab jika perhiasannya saja dilarang untuk ditampakkan apalagi tempat perhiasan itu berada. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada. Dari penafsiran para sahabat dan para ulama ini jelaslah bahwa yang boleh tampak dari tubuh seorang wanita adalah wajah dan kedua telapak tangan. Al-Qur’an surat Annur(24):31 “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. bahwasanya beliau bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mrip ekor sapi untk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Keterangan: Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung). b. Fenomena mengumbar aurat ini adalah merupakan perilaku jahiliyyah. Berarti tidak cukup hanya dengan menutupkan jilbab pada kepala saja dan ujungnya diikatkan ke belakang. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian. di sekolah.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan ALLOH SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu…” (Qs. c. yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. apakah jaminan kebebasan ini kemudian segera disambut oleh para muslimah kita dengan segera kembali mengenakan pakaian takwa itu atau tidak. potong tangan dll) atau azab neraka adalah dosa besar. Kaidah ilmu ushul fiqh mengatakan: “Yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafadz sebuah dalil dan bukan kekhususan sebab munculnya dalil tersebut (al ibratu bi umumil lafdzi la bikhususis sabab). Boleh jadi karena perasaan rendah diri yang akut dan silau terhadap kemajuan barat dalam beberapa hal akhirnya banyak di antara kita yang menerima budaya barat dengan mata tertutup (atau sengaja menutup mata). . Begitu pula menurut ‘Atho. Keterangan: Tabarruj adalah perilaku mengumbar aurat atau tidak menutup bagian tubuh yang wajib untuk ditutup. Selebihnya hanyalah pakaian luarnya saja.menurut agama. Permasalahannya. katakanlah kepada istri-istrimu. Muslim) Keterangan: Hadis ini menjelaskan tentang ancaman bagi wanita-wanita yang membuka dan memamerkan auratnya. mengatakan maksudnya adalah pakaian dan wajah. AURAT WANITA DAN HUKUM MENUTUPNYA Aurat wanita yang tak boleh terlihat di hadapan laki-laki lain (selain suami dan mahramnya) adalah seluruh anggota badannya kecuali wajah dan telapak tangan. dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Ibnu Mas’ud RA. (HR. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan. Al-Ahzab: 59). Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Yang menjadi dasar hal ini adalah: 1. Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta.” (HR. AlAhzab: 33). Perintah untuk menutupkan khumur ke dada. seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini. Keterangan : Hadis ini menunjukkan dua hal: a. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. Malah di beberapa negara barat (Inggris dan Jerman misalnya) muslimah-muslimah pemakai jilbab tak lagi sulit ditemukan. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa. b. Ini menunjukkan bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurat yang harus ditutup. Said bin Jubair RA. (tambahan dariku) Meski di Perancis malah terjadi sebaliknya. di pasar dan bahkan di terminal-terminal. ada pelarangan penggunaan jilbab walau sudah tidak terlalu banyak perdebatan lagi.

s.Non-Muslim dalam Perspektif Al-Qur’an Wacana seputar term non-Muslim seringkali memicu perdebatan panjang di kalangan umat Islam. Al-Qur’an secara eksplisit menerima adanya pluralisme agama.. pada hakekatnya kehidupan akhirat adalah milik semua kaum yang beriman kepada Allah. kecuali jika kamu selalu menagihnya. s. dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim. dan tujuan dari agama-agama itupun sama. mereka memperlakukan orang-orang lain di luar kaum mereka dengan sikap arogan dan sewenang-wenang. karena dianggap telah menyimpang dari rel akidah yang sesungguhnya. s. menghormati hukum-hukum. Beragam respon baik yang negatif berupa celaan. (Q. yang merasa bahwa hanya mereka sajalah yang memperoleh keselamatan. Ayat ini kemudian diikuti dengan pencelaan pada mereka yang “menukar janji (dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit”. Dalam ayat ini. memiliki berbagai implikasi signifikan. secara ahistoris. Ali ‘Imran/3: 75: Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak. Respon kondisional al-Qur’ān terhadap keberadaan kaum lain ini harus dilihat secara objektif. Kalangan ini memberikan label “sesat” bahkan “kafir” kepada non-Muslim. Di sisi lain. Respon negatif terhadap kaum Yahudi dan Nashrani berupa celaan atas sikap mereka. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. yaitu menggapai keselamatan universal. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk dan patuh kepada-Nya. Kecaman serta celaan al-Qur’an terhadap eksklusivisme kaum Yahudi dan Nashrani.. s. Dan kedua. maka harapkanlah kematianmu. maka yang akan muncul adalah prasangka sepihak dan parsial yang menyebut bahwa al-Qur’an secara umum menunjukkan sikap menentang eksistensi kaum lain. celaan terhadap kaum Yahudi dan Nashrani juga diungkapkan al-Qur’ān dalam ayat lain. Esack mengungkapkan bahwa ide perkembangan sikap al-Qur’an terhadap kaum lain bersifat gradual dan kontekstual ini. mereka disebut sebagai saudara seiman (brother in faith)? Kalau kita cermati melalui penelusuran sejarah. Ayat ini menegaskan bahwa al-Qur’an mencela sikap kaum Yahudi dan Nashrani yang menjustifikasi eksploitasi terhadap kaum mereka sendiri dengan dasar bahwa kitab suci mereka membolehkan praktik-praktik itu. dikembalikannya kepadamu. norma-norma sosial. ditunjukkan al-Qur’an. misalnya dalam Q. kepada semua yang didefinisikan sebagai “ahl al-Kitāb” atau “kafir”. ada dua cara yang kerap dilakukan— oleh mereka yang tak mampu atau tak mau melihat watak gradual dan kontekstual pewahyuan al-Qur’an— dalam menghadapi “teks-teks kontradiktif” tentang kaum lain ini: Pemikir liberal kerap mengabaikan begitu saja ayat-ayat yang mencela penganut agama lain.. adalah keliru untuk menerapkan teks-teks celaan secara universal. Hal ini sekaligus menegaskan sikap al-Qur’an yang kondisional terhadap eksistensi kaum lain. Dalam kajian ini akan diungkapkan bagaimana sebenarnya al-Qur’an menyikapi agama lain dan para pemeluknya? Apakah kaum pemeluk agama lain selain Islam dianggap sebagai musuh. maupun yang positif berupa pengakuan akan eksistensi keimanan mereka ditunjukkan al-Qur’an dalam beberapa ayatnya. Lebih lanjut. melalui ayat ini mencela klaim sebagian Ahli Kitab. khususnya sejarah turunnya wahyu. Al-Qur’an juga mengakui keabsahan semua agama wahyu dalam dua hal: pertama. Hal ini ditandaskan dalam Q. dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar. Dari sikap ini. al-Qur’an juga menunjukkan apresiasi positif akan eksistensi keberagamaan serta keimanan mereka. Pertama. Liberation & Pluralism. jika kamu adalah orang-orang yang benar. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.. Al-Qur’an. ada sejumlah petunjuk di dalam al-Qur’an tentang penerimaan al-Qur’an terhadap eksistensi keimanan kaum lain. Kalangan ini beranggapan bahwa pada hakekatnya sumber agama-agama adalah satu. al-Mu’minun/23: 52: . Dalam hal ini. Ali ‘Imran/3: 77 ditegaskan: Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit. juga ditunjukkan dalam Q. respon al-Qur’an terhadap kaum lain sesuai dengan beragam respon mereka terhadap pesan-pesan Islam dan kehadiran Nabi. bahkan tidak jarang kalangan ini dengan sikap sinis memandang mereka (non-Muslim) sebagai musuh. serta beramal saleh. sebagian kalangan umat Islam lainnya memandang non-Muslim sebagai saudara seiman (brother in faith). s. al-Baqarah/2: 111: Dan mereka (Yahudi dan Nashrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nashrani”. Dalam Q. Sikap ini kemudian dikecam keras oleh al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. seperti ditegaskan dalam Q. al-Qur’an menjadikan kepercayaan pada keaslian semua agama wahyu sebagai syarat keimanan. Dari hasil kajian penulis akan hal ini. sementara kaum tradisionalis dan konservatif mengambil jalan yang hanya bisa disebut sebagai penerapan tafsir linguistik yang dipaksakan untuk mendesak teks-teks inklusivistik agar menghasilkan pemaknaan yang eksklusivistik.. al-Qur’an dianggap mengapresiasi secara positif keberadaan kaum lain dalam kondisi apapun juga. Menurut Farid Esack dalam Qur’an. alJumu‘ah/62: 6: Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi. al-Qur’an secara tegas mengecam sikap eksklusivisme kaum Yahudi yang merasa lebih superior atas kaum lainnya. padahal mereka mengetahui. yaitu kaum Yahudi dan Nashrani bahwa kehidupan akhirat hanyalah untuk mereka dan tidak diperuntukkan bagi orang lain.. Karena. sementara kaum lainnya dianggap lebih rendah dan lebih hina. Mereka merasa bahwa hanya mereka sajalah yang menjadi kekasih Allah. dan apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kenyataan akan sikap tidak objektif dalam melihat respon al-Qur’an terhadap kaum lain ini terjadi di masyarakat muslim. Ishaq. Ya‘qub dan anak cucunya. s. s. Mereka berkata dusta terhadap Allah. al-Qur’an menerima keberadaan kehidupan religius komunitas lain yang semasa dengan kaum Muslim awal. Karena jika tidak. al-Baqarah/2: 136: Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami. Di samping ayat-ayat yang menunjukkan respon negatif berupa kecaman al-Qur’an terhadap sikap kaum Yahudi dan Nashrani. mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat… Selain dua ayat di atas. jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Hal ini ditegaskan dalam Q. al-Baqarah/2: 62). Isma‘il. Sebagian kalangan menganggap bahwa nonMuslim adalah kelompok lain (the other). percaya kepada Hari Akhir. orang tak bisa berbicara tentang “posisi final al-Qur’an” terhadap kaum lain. dan praktik-praktik keagamaan mereka. Al-Qur’an menegaskan bahwa apa yang mereka katakan hanyalah bualan atau angan-angan kosong belaka. ataukah justru sebaliknya. Atau sebaliknya. tidak dikembalikannya kepadamu..

“Hai orang-orang yang beriman. Berhubung dengan ini.’ Wanita dan lelaki adalah sama di sisi Allah sebagai hamba Allah.or.Mereka melayani kamu. dan makanan kamu halal pula bagi mereka. Jika seseorang wanita beriman dan beramal salih dia diganjar Allah dan diletakkan di tempat yang tinggi. Dan Allah maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. yaitu kaum Yahudi dan Nashrani. Dan mengeluh bahwa istri-istri Nabi mengejek dengan perkataan. dan suamiku Muhammad. Firman Allah.. pamanku Musa. “ (QS Al Hujurat : 11) “Janganlah mencela dirimu sendiri” berarti mencela antara sesama orang-orang beriman. al-Ma’idah/5: 5 menyatakan: Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu. Kenyataan ini menunjukkan bahwa permusuhan tidak dianggap sebagai norma dalam hubungan kaum Muslim dan kaum lain. Dalam hal makanan dan perkawinan.’”Lalu turunlah ayat ini. 16 April 2006 ( dari www. begitu juga sebaliknya. Muqatil berkata bahwa sebab turunnya ayat ini ialah apa yang dialami Asthma’binti Murstid yang punya anak lelaki yang sudah dewasa dan seringkali memasuki kamar Asthma’(ibunya) pada kondisi yang ia tidak suka. dan sesudah shalat isya. tanpa memperhatikan konteks sosiohistoris dari teks-teks yang digunakan untuk mendukung sikap tersebut. penerimaannya atas kehidupan spiritual dan keselamatan mereka. Sebaliknya kemuliaan seseorang adalah berdasarkan ketakwaan nya kepada Allah. Ketika Firaun bertindak kejam membunuh anak-anak lelaki Bani Israil. Berkata bahwa sebab turunnya (asbabul nuzul) ayat ini aialah berkenaan dengan istri-istri Rasulullah saw. Selain penegasan tentang eksistensi keimanan Ahli Kitab. Di samping itu. dan barang siapa tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang zalim. menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang hidup semasa dengan kamu). 2007 · No Comments Allah tidak pernah menghina atau memuliakan makhluk-makhlukNya berdasarkan jantina. (Itulah) tiga aurat bagimu. Demikianlah Allahmenjelaskan ayat-ayat bagi kamu. ibu nabi Musa berasa bimbang tentang keselamatan anaknya. lalu ia mendatangi Rasulullah saw. terutama dalam hal makanan dan perkawinan. Dan kedua.. dan pada malam hari sesudah shalat isya (saat mereka membuka pakaian). dan janganlah pula wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena boleh jadi wanita yang (diperlolok-olok) lebihbaik dari pada wanita (yang mengolok-olok). “Wahai Yahudiyah binti dua orang Yahudi. supaya tidak masuk mendadak. al-Qur’ān juga mengapresiasi secara positif interaksi sosial kaum Muslim dengan mereka. kaum lain merespon pesan-pesan al-Qur’an.Sesungguhnya (agama tauhid) ini. Ketika Maryam ibu Nabi Isa mengandung.a. Dalam surah Ali-Imran ayat 195 Allah berfirman yang bermaksud: ‘Sesungguhnya Aku tidak mensia-siakan amalan orang-orang yang beramal di antara kamu baik lelaki ataupun wanita kerana sebahagian kamu adalah keturunan dari sebahagian yang lain.” Nabi saw berkata kepadanya. (Q. al-Ma’idah/5: 47: Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil. al-Baqarah/2: 62).” (An-Nur : 58) Tafsir ayat ini jelas ketika Allah SWT menyuruh hamba-hamba-Nya yang beriman agar menyuruh para pelayan (budak-budak) mereka untuk meminta izin bila memasuki kamar-kamar tidur mereka. Ikrimah berkata bahwa Shafiyah binti Huyai Bin Akhtab (istri Rasulullah yang Yahudi) mendatangi Rasulullah saw... di dalam surah Al-Hujurat ayat 13 Allah berfirman: ‘Sesungguhnya yang paling mulia di kalangan kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. yaitu sebelum sholat subuh. sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian yang lain). Ini dilarang karena mereka seperti satu badan. dengan langsung memberi jawaban atas permasalahan yang di hadapi. dan Aku adalah Tuhanmu. masyarakat sekeliling mengutuk beliau tetapi Allah membela dan memuliakan beliau melalui firmanNya di dalam surah Ali-Imran ayat 42 yang bermaksud: ‘Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibrail) berkata: ‘Hai Maryam. maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. “Pelayan-pelayan dan anak-anak kami yang sudah dewasa memasuki kamar-kamar tidur kami pada keadaan yang tidak kami sukai. meminta izin kepadamu tiga kali (dalam satu hari). s. Kedua. janganlah satu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). adalah agama kamu semua. Dari Ibnu Abbas r. yang sebelum shalat subuh. Dengan demikian. s. penerimaan al-Qur’an terhadap kaum lain sebagai komunitas sosio-religius yang sah. Dari keterangan ayat-ayat di atas. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. sedang mereka dalam keadaan tidak suka dilihat orang lain. pria Muslim juga diperkenankan (baca: halal) menikahi wanita-wanita suci. memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya.’ Demikian juga yang berlaku ke atas ibu nabi Musa.id ) Gambaran dari dimuliakannya kaum wanita oleh al_qur’an ialah larangan Allah atas kaum wanita yang berkedudukan tinggi dan berketurunan bangsawan serta paras cantik untuk mengolok-olok mereka yang tidak memperoleh nasih serupa. Begitu pula terhadap anggota keluarga yang belum baligh agar minta izin tiga kali sehari semalam.bmh. ketika kaum menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari.’ Wanita yang bertakwa mendapat pembelaan daripada Allah. “Jawablah mereka dan katakan. s. adalah naif jika kaum Muslim menggeneralisasi penolakan atau pencelaan terhadap agama lain. Begitullah “cara” al-Qur’an memuliakan kaum wanita. (*) Cara Al-Quran Memuliakan Wanita Minggu. al-Qur’an menerima pandangan bahwa pemeluk-pemeluk setia agama-agama wahyu ini juga akan mendapat keselamatan dengan ungkapannnya: “tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Dan berkata. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah.’Ayahku Harun. ketika meninggalkan pakaian luar mereka saat mau tidur siang. dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu… Ayat di atas secara tegas menyatakan bahwa makanan Ahli Kitab halal bagi kaum Muslim. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman.a. Gambaran lainnya dari pemuliaan terhadap kaum ibu dalam al-Qur’an ialah Firman Allah SWT. norma-norma dan peraturan kaum lain ditegaskan dalam Q. Allah memuliakan beliau dengan menenteramkan jiwa beliau melalui firmanNya yang bermaksud: ‘Dan Kami ilhamkan .” Lalu turunlah ayat ini. yakni kaum lain melalui jalan yang berbeda. sesungguhnya Allah telah memilihmu. dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamupanggilmemanggil dengan gelar-gelar yang buruk. terlihat jelas betapa al-Qur’an menyikapinya sesuai dengan kondisi di mana mereka. yaitu wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari kalangan Ahli Kitab. jelaslah bahwa pengakuan al-Qur’an atas pluralisme agama mencakup dua hal pokok yang sangat penting dalam kehidupan ini. Yang memperolok-olok Ummu Salamah karena bentuk tubuhnya yang pendek. hendaklah budakbudak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki dan orang-orang yang belum baligh diantara kamu. yaitu pertama. dan tidak ada halangan pada selain waktu-waktu itu. agama yang satu. atau biasa disebut dengan non-Muslim. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman. Anas r. “Hai orang-orang yang beriman. secara tegas Q. Mengenai penghormatan atas hukum agama. Begitu pula larangan seripa bagi kaum pria terhadap kaum pria. Dari penelusuran sejarah tentang sikap al-Qur’an terhadap kaum lain. maka bertakwalah kepadaku. Bukti Wanita Mulia Dalam Islam March 30th.

sebelum beliau menyerahkannya kepada khalifah Uthman untuk ditulis semula dan dibukukan. kerana Hafsah diberikan kepercayaan supaya menyimpan sumber rujukan utama Islam. namun urusan ini terserah kepadamu. di dalam surah An-Naml ayat 33 dan 34: ‘Mereka (para pembesar negeri Saba) berkata: ‘Kita mempunyai kekuatan dan keberanian yang cukup. sahabat yang bernama Aus telah menyamakan badan isterinya. Justeru. Permaisuri (Balqis) berkata: ‘Raja-raja. Allah menyuruh si suami melihat kebaikan yang banyak yang ada pada isteri dan tidak hanya memfokuskan kepada satu dua kelemahan yang ada. kerana dosa apakah maka dia dibunuh?’ Untuk menampakkan penentangan kepada sistem jahiliah yang menghina kaum wanita. janganlah kamu memusakai wanita secara paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk mengambil sebahagian apa yang telah kamu berikan. Beliau berkata.. Pada zaman khalifah Abu Bakar. Di zaman jahiliah adalah menjadi perkara biasa jika bayi-bayi perempuan ditanam hidup-hidup demi untuk memelihara keluarga dari aib dan malu. Kejadian ini melambangkan kemuliaan wanita Islam serta kepercayaan Islam kepada wanitanya. kaum wanita merupakan sebahagian daripada syekh dan guru yang telah mendidiknya.. Justeru.’ Para suami diperintahkan Allah supaya menjaga isteri-isteri mereka dengan baik dan tidak menjadikan isteri-isteri seperti bola yang boleh ‘ditendang’ ke sana ke mari. Jika dibandingkan jawatannya dengan suasana hari ini. Di dalam surah Al-Qasas ayat 26.’ Wanita ada suara dalam Islam dan suara mereka dimuliakan Allah. tindakan untuk hadkan kadar mahar bercanggah dengan ketetapan Al-Quran. Di Britain. Allah memuliakan anak perempuan Nabi Syuaib dengan merakamkan pandangan beliau yang amat bernilai berhubung aspek pengurusan. iaitu isteri sahabat Ubadah bin Shamit. Ia menunjukkan.’ Al-Quran juga merakamkan kebijaksanaan kepimpinan permaisuri negeri Saba. tulisantulisan Al-Quran dihimpunkan dan disimpan oleh beliau. wanita dihargai dan diletakkan di tempat yang tinggi. atau dua orang puteri atau dua saudara perempuan. Antara wanita Islam yang diiktiraf sebagai perawi hadis ialah Karimah Al-Mirwaziah dan As-Sayyidah Nafisah binti Muhammad. ‘Statistik menunjukkan bagi setiap lima orang yang memeluk Islam di Amerika empat daripada mereka adalah wanita. khalifah yang empat serta era kegemilangan empayar Islam. Imam Bukhari memandang tinggi sumbangan kaum wanita dalam Islam sehinggakan beliau meletakkan satu bab khas yang bertajuk. “Bab Peperangan Wanita Dan Perjuangan Mereka” dalam kitab Sahih Bukhari.’ Menzalimi wanita adalah dilarang oleh Islam. pada hari ini. Lantaran terlalu sedih kerana dihalang oleh golongan Quraisy dari melakukan Haji.’ Islam tidak mengizinkan wanita dikotak-katikkan oleh golongan lelaki. khalifah Omar menyimpannya dan selepas kematiannya himpunan ini diserahkan kepada Ummul Mukminin. Melihat keadaan itu Ummu Salamah menasihati Rasulullah agar melakukannya terlebih dahulu kerana beliau yakin selepas Baginda melakukannya sahabat-sahabat pasti menuruti baginda. Kaum wanita yang berilmu tinggi boleh mengeluarkan fatwa berhubung hukum hakam Islam. dimuliakan Allah. Di zaman Nabi serta sahabat. Pada suatu ketika. Hal ini disebutkan dalam surah an-Nisak ayat 19: ‘Pergaulilah isterimu dengan cara yang makruf. Lord Scott. Allah menurunkan wahyu berhubung perkara ini dalam surah Al-Mujadalah ayat 1-2: ‘Sesungguhnya Allah mendengar suara perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya. Pandangan dan sikap yang baik walaupun datang dari wanita. Al-Quran merupakan wahyu Allah.’ Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dan Abu Daud. Selepas kematian khalifah Abu Bakar. Dan janganlah kamu bimbang dan janganlah pula bersedih hati kerana Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. Jika kamu tidak senang dengan mereka maka bersabarlah kerana mungkin kamu tidak menyukai sesuatu tentang mereka tetapi Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.’ WANITA DIMULIAKAN DI ZAMAN SAHABAT DAN SELEPASNYA Pada zaman Nabi Muhammad. tugas ini boleh disamakan dengan tugas seorang ketua pengarah di kementerian hal ehwal pengguna. Beliau kemudiannya dikahwinkan dengan seorang ulama mazhab Hanafi yang bernama Imam Al-Kasani. Islam menentang adat resam ini melalui firman Allah di dalam surah At-Takwir ayat 8 dan 9 yang bermaksud: ‘Dan apabila bayi-bayi perempuan yang ditanam hidup-hidup ditanya. Kesemua ini adalah bukti yang jelas yang menunjukkan betapa Al-Quran dan Islam memuliakan kaum wanita. Salah seorang perawi hadis yang terkenal.’ Kenyataan ini disebutkan di dalam surah Al-Qasas ayat 7. Khaulah. khalifah Omar menyampaikan khutbah di atas mimbar dan beliau menjelaskan tentang penetapan kadar mahar agar ia tidak begitu tinggi. Hadis adalah sumber hukum Islam yang kedua selepas Al-Quran. tidak ada seorang sahabat pun yang bangun untuk melaksanakannya. Al-Quran dihafaz dan ditulis oleh sekumpulan sahabat. di antara wanita yang memeluk Islam ialah anak perempuan kepada hakim yang terkenal. Nabi bersabda: ‘Sesiapa yang memiliki tiga orang puteri atau tiga saudara perempuan. Di zaman nabi. Ketika berlaku Perjanjian Hudaibiyah Nabi Muhammad mengarahkan sahabat-sahabat mencukur rambut dan menyembelih binatang ternakan sebelum kembali ke Madinah. Perkembangan ini dinyatakan oleh Lucy Berrington di dalam majalah Times terbitan 9 November 1993 di bawah tajuk The Spread of a World Creed. Itulah yang akan mereka lakukan. perhatikanlah apa yang hendak kamu perintahkan’. pada pandangan wanita itu. dengan badan ibunya (zihar). Nabi mengiktiraf sumbangan wanita Islam di luar rumah.’ Laporan Columbia News Service (Agensi Berita Columbia) oleh Nevine Mabro pula menunjukkan. makin ramai wanita di Barat yang memeluk Islam. dan dia telah mengadu kepada Allah. pernah berkata. Beliau sering kali menyampaikan fatwa tentang persoalan agama bersama-sama dengan bapanya. lalu dididiknya mereka dan dijaganya mereka dengan baik kemudian dikahwinkan mereka. ‘Semakin ramai wanita Amerika keturunan Sepanyol memeluk Islam kerana tertarik dengan kemurnian ajarannya. Jika si isteri mempunyai kelemahan. Apabila di amati insiden ini kita boleh mengatakan Ummu Salamah ketika itu berkedudukan seperti seorang penasihat kepada seorang pemimpin negara. Antara contoh-contohnya ialah: Berpandukan hadis Muslim Nabi Muhammad mendoakan agar Ummu Haram. Seorang wanita bangun untuk menegur khalifah Omar kerana. “Wanita itu betul dan lelaki ini (iaitu Omar) salah. Perbuatan ini amat tidak disenangi oleh isterinya lantas beliau mengadu hal ini kepada nabi. Beliau bukan saja mampu mengeluarkan fatwa malah kadangkala beliau membetulkan pandangan serta fatwa yang dikeluarkan oleh sahabat-sahabat Nabi yang lain. baginya syurga. dapat keluar berperang di lautan bersama-sama dengan tentera-tentera Islam yang lain. Di zaman khalifah Omar. .kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia dan apabila kamu khawatir ke atas keselamatannya letakkanlah ia di atas sungai (Nil). pengarang kitab Al-Badaii’ As-Sonaii. ‘Wahai orang yang beriman. Nabi Muhammad membenarkan pandangan Ummu Salamah dan mematuhi nasihat isterinya. Hafsah. Allah berfirman: ‘Dan salah seorang dari kedua wanita itu berkata: ‘Wahai bapaku ambillah dia (Musa) sebagai pekerja kita kerana sesungguhnya orang yang paling baik untuk dijadikan pekerja ialah seorang yang gagah lagi dapat dipercayai. beliau melantik seorang wanita bernama Ummul Syifa binti Abdullah menjadi penyelia pasar di Madinah. peranan Aisyah amat menonjol sekali di sudut ini. si suami juga mempunyai kelemahan. Dalam surah an-Nisak Allah menegaskan. khalifah Omar terus berkata. Contoh yang lain ialah anak perempuan kepada Imam ‘Alauddin al-Samarqandi al-Hanafi yang bernama Zainab. Selepas mendengar hujah wanita itu. Pada zaman Nabi. apabila memasuki sesebuah negeri akan merosakkan negeri itu dan menjadikan penduduk yang mulia hina. Balqis.” Riwayat ini menunjukkan penglibatan kaum wanita dalam sistem kepimpinan dan politik negara adalah penting seiring dengan kaum lelaki.. Al-Hafiz ibn Asakir.

Berkata Imam Ibn al-Munzir rahimahullah: Menurut satu pendapat: Tidak ada batas bilangan hari bagi tempoh minima atau maksima (haid). (Zat makanan yang berada di dalam darah ibu) sampai ke dalam badan janin melalui pusatnya dan lantas memasuki uraturat sarafnya. Jawab titis air mata kedua tu. padahal tidak ada sebarang dalil berkenaannya (dalam dua sumber tersebut). Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi. Ini kerena hukum-hukum haid yang ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah atas wujudnya (haid). Sebab-sebabnya seperti berikut: .” o Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan. dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Allah serta Rasul-Nya tidak membataskan umur tertentu dalam persoalan ini. Amat jarang berlaku haid ketika hamil. Siapa kamu pula?”. Saya (pengarang) berkata. Para ilmuan berselisih pendapat adakah terdapat batas umur tertentu bagi permulaan haid untuk wanita. Umur bagi bermulanya haid. ini adalah sepertimana pendapat Imam al-Darimi yang lalu dan ia adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah. Maka apabila seorang wanita melihat darah haid mengalir keluar maka bermakna dia telah didatangi haid sekalipun umurnya sembilan tahun ataupun lebih daripada lima puluh tahun. Ia keluar pada waktu-waktu yang diketahui. 1. keguguran atau kelahiran. Ia tidak memerlu kepada pemakanan biasa (solid food) dan penghadaman. Walau bagaimanapun tugas-tugas ini tidak sepatutnya dijadikan alasan oleh kaum wanita untuk mengabaikan tugas utamanya sebagai isteri dan ibu yang bakal melahirkan cahaya mata bernilai bagi umat.Semua ini merupakan dalil-dalil kukuh yang menunjukkan wanita dalam Islam mempunyai peranan yang penting dalam pembangunan sesebuah masyarakat. Itulah namanya Cinta. Kedua: Tempoh haid. 1 Makna Haid Dan Hikmahnya Makna Haid Dari sudut bahasa. Para ilmuan juga berbeza pendapat dalam persoalan tempoh haid atau kadar masanya. Imam al-Darimi rahimahullah membuat kesimpulan berikut: Semua pendapat ini adalah saya menurut saya. haid ialah darah yang keluar dari wanita kerana fitrah kejadiannya tanpa sebarang sebab. Menentukan batas umur tertentu memerlukan dalil daripada al-Qur’an dan al-Sunnah. Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. seorang wanita terputus haidnya. Hikmah Haid Sesungguhnya janin yang berada di dalam perut ibunya tidak mungkin mendapat makanan seperti orang yang di luar. ms. Dari sudut syara’. haid (‫ )الحيض‬ialah: turun sesuatu secara mengalir. Islam tidak pernah menghalang kaum wanita yang ingin berperanan di penjuru-penjuru lain selagi mana batas-batas agama dan landasan keutamaan dijaga o Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain. dan kamu masih mampu tersenyum. Umur seorang wanita yang pada kebiasaan bermula haid ialah antara dua belas hingga lima puluh tahun. Maka pada setiap umur dan keadaan jika didapati (wujud darah yang mengalir keluar) maka wajib mengkategorikan ia sebagai (permulaan) haid. Ia adalah darah fitrah yang keluar bukan kerana sakit. sangat sedikit di kalangan mereka yang datang haid terutamanya di awal masa menyusu. Atas sebab ini Allah Ta’ala menjadikan makanan untuk janin dalam perut ibu daripada darah (ibunya). Maha Mulia Allah sebagai sebaik-baik pencipta. Namun wujud kemungkinan haid bermula lebih awal daripada umur dua belas tahun atau lebih lewat daripada umur lima belas tahun. Ini adalah pendapat yang benar kerana didokongi oleh al-Qur’an dan al-Sunnah serta pemikiran yang sihat. Inilah cara janin mendapat makanan. Oleh itu apabila berlaku kehamilan. Pertama: Umur bagi bermulanya haid. 2 Masa Haid Dan Tempohnya Perbincangan dalam bab ini tertumpu kepada dua persoalan: 1. Inilah juga pendapat yang dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah. darah haid berperanan membersihkan sel-sel telur dalam sistem pembiakan wanita yang tidak disenyawakan. Namun tugas kaum wanita bukanlah sekadar itu. luka.” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Allah sahaja yang lebih mengetahui. Mereka juga berselisih pendapat sama ada darah yang datang sebelum atau selepas batas umur tersebut adalah darah haid atau darah penyakit? Selepas menyebut perselisihan pendapat ini. [Dinukil oleh Imam al-Nawawi dalam Majmu’ Syarh al-Muhazzab. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat. Terdapat enam atau tujuh pendapat dalam persoalan ini. 2. sambil berkata: aku turut bahagia untukmu. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Jika tidak hamil. Ini kerana rujukan kepada semua persoalan ini adalah kepada wujud (darah yang mengalir keluar). Inilah hikmah darah haid. Tugas ini tidak dapat diambil alih oleh kaum lelaki dan ia merupakan suatu tugas yang amat mulia. 386] Apa yang disimpulkan oleh Imam al-Darimi adalah pendapat yang benar. Demikian juga bagi ibu-ibu yang menyusu. dua tangan untuk memegang. jld.Penerangan Syaikh al-Utsaimin rahimahullah di atas merujuk kepada kes setelah berlakunya persenyawaan dan wanita menjadi hamil. Ini kerana tidak mungkin bagi seorang ibu untuk menyampaikan makanan kepada anaknya dengan cara yang biasa. kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja. Tempoh haid.

Ini sebagaimana hukum-hukum fiqh yang lain seperti solat. Hukum-hukum syari’at bergantung kepada wujud atau tidaknya haid. sehingga apabila suci daripada haid maka hilanglah hukum-hukum yang berkaitan dengan haid. hari kelapan belas dan hari ketujuh belas. Seandainya penetapan tempoh ini termasuk daripada hukum fiqh bagi umat beribadat kepada Allah. pesaka dan sebagainya. tidur. kadarnya dan tempat ditunaikannya. tidak wujudnya hukum perkiraan tempoh masa (minima dan maksima bagi) haid di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah menjadi bukti bahawa perkiraan tersebut tidak memberi apa-apa manfaat atau ilmu. Maka apabila sahaja didapati wujud haid maka wujudlah kotoran tanpa dibezakan antara hari kedua dan hari pertama. Puasa.” [Shahih al-Bukhari – no: 1787 (Kitab al-Haj)] Dalam hadis di atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjadikan “suci” sebagai syarat penyudah tegahan. Ketiga: Sesungguhnya perkiraan tempoh masa (minima dan maksima bagi) haid yang dilakukan oleh (sebahagian) ahli fiqh tidak terdapat dalilnya di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Haji dan seterusnya. . nisab-nisabnya. Ini menunjukkan bahawa sebab timbulnya hukum ialah bermula dan berakhirnya haid. Maka sesiapa yang menentukan satu tempoh tertentu maka sesungguhnya dia menyalahi al-Qur’an dan al-Sunnah. kotoran tetap kotoran.” [Shahih Muslim – no: 1211 (Kitab al-Haj)] Dalam Shahih al-Bukhari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada ‘A’isyah radhiallahu 'anha: “Tunggulah maka apabila kamu telah suci maka keluarlah ke Tan’im. nikah. dan janganlah kamu hampiri mereka (untuk bersetubuh) sebelum mereka suci. Maka bagaimana mungkin dibezakan hukum antara dua hari tersebut sedangkan faktor penyebabnya adalah sama? Ini menyalahi qiyas yang sahih kerana faktor penyebab yang sama akan menyamakan hukum antara dua hari tersebut. Zakat. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (jangan bersetubuh dengan isteri kamu) dalam masa datang darah haid itu. atau yang dijadikan syarat ialah kewujudan haid itu sendiri pada seorang wanita. tiga hari atau lima belas hari sebagai syarat penyudah tegahan. Allah tidak menentukan baginya tempoh masa minima dan tempoh masa maksima.” ‘A’isyah berkata: “Maka pada hari menyembelih aku telah suci…. tetapi ia mengesahkan apa yang tersebut di dalam kitab-kitab agama yang terdahulu daripadanya. Allah juga tidak menentukan tempoh masa suci antara dua haid. Allah dan Rasul-Nya juga telah memperincikan adab-adab makan. Dalam ertikata lain. hari keenam belas dan hari kelima belas. [al-Risalah fi al-Asma’ allati ‘Alaq al-Syar‘i al-Ahkam biha. Firman Allah: Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran menjelaskan tiap-tiap sesuatu. [Yusuf 11:111] Apabila perkiraan tempoh masa (minima dan maksima bagi) haid tidak terdapat dalam kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Baginda tidak menetapkan apaapa batas masa atau tempoh tertentu. jelaslah bahawa ia sebenarnya tidak berhajat kepadanya. hari keempat dan hari ketiga. Ini semua termasuk kesempurnaan agama Allah dan nikmat-Nya ke atas orang-orang yang beriman. Sedangkan perkara-perkara ini adalah umum terhadap umat dan mereka berhajat untuk mengetahuinya. dan ‘illah (faktor penyebab hukum) tetap sama pada dua hari tersebut.Pertama: Firman Allah Ta’ala: Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad). Ini membuktikan bahawa hukum haid ditentukan dengan bermula dan berakhirnya haid. masuk-keluar rumah. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah menyebut sebuah kaedah yang amat penting: Dari apa yang dikenali sebagai haid. Yang dihajatkan. dan ia sebagai keterangan yang menjelaskan tiap-tiap sesuatu. bukan tempoh masa haid. ia (al-Qur’an dan al-Sunnah) tidak membezakan antara satu tempoh dengan satu tempoh yang lain. rukuknya dan sujudnya. Justeru haid tetap haid. jima’. Faktor penyebab hukum (‘illah) bagi haid ialah kotoran. Sesungguhnya segala hukum syara’ tidak boleh ditetapkan melainkan dengan dalil dari syara’ sendiri iaitu daripada al-Qur’an dan al-Sunnah. Dari sudut bahasa. ms 35] Keempat: Pemikiran yang sihat berdasarkan qiyas (analogi) yang sahih akan mengetahui bahawa Allah Ta‘ala menjadikan haid sebagai satu bentuk kotoran. mengenai (hukum) haid. minum. puasa. atau ijma’ (kesepakatan) yang maklum (diketahui) atau qiyas (analogi) yang sahih. membuang hajat sehinggalah kepada bilangan batu-batu untuk beristinjak dan pelbagai lagi perkara-perkara kecil yang lain. harta-hartanya. Kedua: Dalam Shahih Muslim tercatit sebuah hadis yang sahih di mana Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada ‘A’isyah radhiallahu ‘anha yang di saat itu sedang berihram untuk umrah dan didatangi haid: “Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang berhaji kecuali jangan kamu bertawaf di al-Bait (Ka’abah) sehingggalah kamu suci. [al-Nahl 16:89] Firman Allah: Bukanlah ia (al-Qur’an) cerita-cerita yang diada-adakan. Allah dan Rasul-Nya telah memperincikan bilangan solat. Allah telah kaitkan dengannya beberapa hukum dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. duduk. Allah tidak menjadikan tempoh sehari semalam. [al-Baqarah 2:222] Dalam ayat di atas Allah menjadikan “suci” sebagai syarat penyudah kepada tegahan. waktu-waktunya. nescaya Allah dan Rasul-Nya secara terang dan jelas akan menerangkannya. talak. Katakanlah: "Darah haid itu satu benda yang mendatangkan mudarat". Padahal ini adalah persoalan penting yang sangat berhajat kepada penetapan daripada dua sumber tersebut. tempoh dan waktunya.

Bab ketiga ini membahas beberapa persoalan lanjut berkenaan haid: Pertama: Perbezaan masa haid. Ia adalah ijtihad yang terbuka kepada kebenaran dan kesalahan sehingga tidak ada satu di antaranya yang terlebih utama untuk diikuti. Atau kebiasaannya datang haid pada awal bulan lalu dia hanya melihatnya di akhir bulan. Oleh itu apabila seorang wanita mendapati darah mengalir keluar secara fitrah tanpa disebabkan luka atau seumpama. Hujah-hujah ini bukan sahaja benar dari sudut dalil al-Qur’an.[2] Kedua: Cecair yang kekuningan atau kekeruhan. Kadangkala bagi seorang wanita mengalir keluar daripadanya cecair (discharge) yang: 1. ms. Jika ia mengalir keluar secara terpisah daripada masa haid. yakni dalam masa suci. Tidak pernah lahir daripada baginda sesuatu yang wujud secara lazim melainkan diikuti dengan penjelasannya. maka ia tidak dikategorikan sebagai haid. 1. Ini merupakan mazhab Imam al-Syafi’e rahimahullah dan dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah serta dikuatkan lagi oleh Imam Ibn Qudamah di dalam kitabnya al-Mughni. Tempoh mengalirnya bertambah atau berkurang daripada kebiasaan. al-Sunnah dan pemikiran yang benar. pasti akan dijelaskan (hukumhukumnya) oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam tanpa melengah-lengahkannya. tetapi berlarutan selama tujuh hari. Kadangkala berlaku perbezaan masa haid seorang wanita. Berwarna kekuningan seperti air yang keluar akibat luka.[1] 2. Berwarna kekeruhan antara kuning dan hitam. 36 & 38] Lima sebab di atas menjadi hujah bahawa tidak ada penetapan tempoh minima dan maksima bagi haid. Dalil-dalil bagi hal ini telah dikemukakan dalam bab yang sebelumnya. Perbezaan ini wujud dalam dua bentuk: 1. [al-Risalah fi al-Asma’ allati ‘Alaq al-Syar‘i al-Ahkam biha. Sufrah atau Kudrah. Contohnya ialah seorang wanita yang kebiasaannya mengalami haid selama enam hari. Sesungguhnya para ilmuan berbeza pendapat dalam dua kes di atas. Dalilnya adalah kenyataan Umm ‘Athiah radhiallahu 'anha: “Kami tidak mengira (cecair yang berwarna) kekeruhan dan kekuningan (jika ia keluar) selepas suci sebagai apa-apa (yakni bukan haid). Contohnya seorang wanita yang kebiasaannya datang haid pada akhir bulan. Jelas daripada dua sumber ini bahawa tidak ada pembatasan tempoh minima dan maksima haid. tetapi juga mudah selari dengan ruh Islam.Kelima: Wujud perselisihan pendapat di kalangan orang-orang yang membataskan tempoh tertentu dan tiada satu jua di antara pendapat-pendapat ini yang kuat hujahnya. Ini dikenali sebagai Sufrah. lalu dia suci dalam masa enam hari sahaja. ms. maka ia adalah darah haid tanpa ditetapkan umur atau tempoh masanya. Ini disebabkan di antara pendapat-pendapat ini. Para isteri Rasulullah dan selainnya memerlukan penjelasan akan persoalan ini pada setiap masa dan baginda tidak pernah lalai daripada memberikan penjelasan tentangnya. 353: Jika sesuatu perkara itu berlaku secara lazim dan memerlukan penjelasan (hukum-hukumnya). . sama ada lebih awal atau lewat. Ini dikenali sebagai Kudrah. Permulaan masa mengalirnya (putaran haid) menjadi awal atau lambat daripada kebiasaan. kecuali dalam persoalan darah istihadah. Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah di dalam kitabnya Fath al-Bari berkata: al-Bukhari mengisyaratkan dengan demikian bertujuan menyelaraskan antara hadith ‘A’isyah (yang bermaksud): “sehingga kamu semua melihat sesuatu seperti benang putih” dengan hadis Umm ‘Athiah di atas. 3 Perkara-Perkara Yang Berlaku Ketika Haid. jld. sebelum suci. lalu dia melihat haid hanya datang pada awal bulan. Tempat rujukan ketika berlaku perselisihan ialah al-Qur’an dan al-Sunnah. Namun pendapat yang terkuat dan benar ialah apabila seorang wanita melihat darah mengalir keluar bererti dia haid dan apabila darah berhenti mengalir bererti dia suci (tidak haid). jika ia mengalir keluar ketika sedang haid atau bersambungan di akhir masa haid. Katanya lagi: Apa-apa darah yang keluar ialah darah haid jika tidak diketahui bahawa ia adalah darah istihadah atau luka.” [Sunan Abu Daud – no: 246 (Kitab al-Thaharah) dengan sanad yang sahih][3] Imam al-Bukhari rahimahullah menyusun hadis ini dalam kitab sahihnya di bawah bab: Bab al-Sufrah dan al-Kudrah pada hari-hari selain haid. Berkata Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah: Pada asalnya setiap darah yang mengalir keluar dari rahim adalah darah haid sehinggalah ada bukti yang menunjukkan ia adalah darah istihadah. 2. Penentuan ini tidak disyaratkan oleh perbezaan masa sama ada lebih lama atau singkat. maka ia dikategorikan sebagai haid dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang bersamaan dengan darah haid biasa. Atau seorang wanita yang kebiasaannya mengalami haid selama tujuh hari. Ini kerana sesuatu yang memerlukan penjelasan tidak boleh dilengah-lengahkan. tidak ada dalil yang dijadikan sumber rujukan.

[7] Keempat: Darah haid yang tidak mengalir. Hukum bagi kedua-dua kes ini adalah sebagaimana kes cecair kekuningan atau kekeruhan yang telah dibahas di atas. Darah yang sekejap ia mengalir dan sekejap ia berhenti akan menyulitkan orang kerana perlu kerap kali mengulangi mandi wajib. Jika darah haid tidak mengalir. Sesungguhnya kesempitan dan kesusahan adalah sesuatu yang dinafikan dalam syari’at ini. Ini adalah pendapat yang masyhur dalam mazhab Hanbali. seperti ia kering di akhir hari secara kebiasaannya atau ia melihat keluar (sesuatu seumpama) benang putih (barulah dikira suci). Ini menyalahi firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Dan Ia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara agama. Hadith ‘A’isyah radhiallahu 'anha yang dimaksudkan adalah apa yang disebut oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab sahihnya: Sesungguhnya para wanita telah mengutus kepada ‘A’isyah bekas yang ada padanya kapas yang padanya ada al-Sufrah. seorang wanita itu tidak dikira suci. Jika ia berlaku ketika sedang haid atau atau bersambungan di akhir masa haid. 2. jika darah mengalir keluar maka dianggap sebagai hari haid. Pendapat Kedua: Dalam tempoh masa selang sehari tersebut. . maka ia dikategorikan sebagai haid (dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang bersamaan dengan darah haid biasa).” Ketiga: Haid yang terputus-putus. jika tidak maka dianggap sebagai hari suci. Sebab-sebabnya adalah seperti berikut: 1. di mana ia tidak mengambil kira darah yang berhenti dalam tempoh yang belum genap sehari. Ini berdasarkan riwayat yang telah kita sebut dalam perbahasan darah nifas. sebelum suci. dan segala puji bagi Allah. apabila ia berhenti mengalir dan belum genap satu hari (daripada saat berhentinya). 1. (hukum-hukumnya akan dibahas dalam Bab 5 insya-Allah) Jika ia tidak berlaku secara berterusan. Jika dianggap satu hari yang tidak didatangi haid sebagai hari suci nescaya iddah al-Quru’ akan selesai dalam masa lima hari sahaja. Bagi kes kedua ini. maka ia dianggap sebagai darah istihadah. ms. maka ia adalah darah istihadah dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah. Permasalahan ini terbahagi kepada dua kes yang berlainan: 1. manakala hadis Umm ‘Athiah merujuk kepada hari-hari selain haid. Kadangkala juga seorang wanita menghadapi haid yang terputus-putus alirannya. Atau boleh sahaja berbeza-beza sehingga menjadi lebih lama atau lebih singkat antara satu masa haid dengan masa haid yang lain (penyunting). insya-Allah. Kecuali jika hal ini berlaku melebihi daripada bilangan hari-hari kebiasaan haid. yakni dalam masa suci. 3. maka ia tidak dikategorikan sebagai haid. Hal seperti ini tidak pernah diperkatakan orang. 2. [1] 2. Riwayat ini adalah sahih. Jika ia berlaku secara berterusan. para ilmuan berbeza pendapat: Adakah sehari yang tidak keluar darah itu dikira suci atau dikira haid? Terhadap persoalan ini terdapat tiga pendapat yang dianggap kuat:[4] Pendapat Pertama: Ia dianggap sebagai “hari haid” dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang bersamaan dengan hari haid biasa. Jika ia berlaku selepas haid. 4. ia tetap dianggap sebagai hari haid. Selagi mana tidak kelihatan sesuatu seumpama benang putih pada satu hari yang tidak didatangi haid.[6] Jika dijadikan “satu hari” yang tidak didatangi haid sebagai hari suci pasti ia akan menimbulkan kesempitan dan kesusahan kerana wajib mandi pada setiap dua hari. 355: (Bagi kes darah haid yang terputus-putus selang sehari). maka ‘A’isyah menjawab: “Jangan kamu semua segera (bersuci) sehingga kamu semua melihat sesuatu seperti benang putih (yang keluar selepas berhenti darah bercampur al-Sufrah tersebut). [al-Hajj 22:78] Maka atas ini tidaklah dikira suci darah yang berhenti mengalir keluar dalam tempoh yang belum genap sehari. Kecuali jika kelihatannya tandanya yang jelas.Hadis ‘A’isyah merujuk kepada seseorang yang melihat al-Sufrah dan al-Kudrah pada hari-hari haid. di mana sehari dia didatangi haid manakala hari yang seterusnya tidak ada haid (selang sehari). Beliau menulis di dalam kitabnya al-Mughni. seperti menjadi kering atau hanya lembab. jld. Ini merupakan satu pendapat yang benar antara dua pendapat Imam al-Syafi’e [5] rahimahullah dan menjadi pilihan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah dan Mazhab Abu Hanifah. bahkan hanya sekali-sekala sehingga ada tempoh waktu suci yang jelas baginya. Jika dikatakan satu hari yang tidak didatangi haid sebagai hari suci nescaya hari sebelum dan selepasnya adalah hari haid. maka hukumnya terbahagi kepada dua kes: 1. Pendapat Ketiga: Pendapat ketiga diberikan oleh Imam Ibn Qudamah rahimahullah dan ia merupakan jalan pertengahan antara dua pendapat yang pertama di atas.

Maka tunggulah sehingga genap sehari. jika tiada lagi darah mengalir pada esoknya maka barulah pasti tempoh haid sudah berakhir. Ini lazimnya merujuk kepada kes haid yang normal. Setiap satu daripadanya adalah benar dan tidaklah ia saling membatal antara satu sama lain. paling minima. Namun terdapat satu pengecualian. Seorang wanita didatangi haid selepas masuk waktu Maghrib. Diharamkan solat ke atas wanita yang sedang haid. bererti ia tidak memiliki apa-apa hukum khusus yang berbeza dengan yang umum. (penyunting) Di sini Syaikh al-Utsaimin rahimahullah mengemukakan 3 pendapat tanpa menerangkan yang manakah yang lebih kuat atau benar.” [Shahih al-Bukhari – no: 580 (Kitab waktuwaktu solat) dan Shahih Muslim – no: 607 (Kitab al-Masjid)] Apabila seorang wanita tamat haidnya dan sudah bersuci lalu dia berjaya memperoleh satu tempoh masa dalam waktu Asar. sempat untuk dia melaksanakan rakaat pertama solat Subuh. maka tidak wajib untuk baginya melaksanakan solat tersebut. Bahkan tidak sah jika dia tetap melaksanakannya. adakah wajib baginya untuk melaksanakan kedua-dua solat Maghrib dan Isyak (jamak takhir)? Terdapat perselisihan pendapat dalam persoalan ini. Para pembaca boleh mengamalkan salah satu daripadanya. Berikut dikemukakan sebahagian daripadanya yang terpenting: Pertama: Solat. Namun yang benar dia hanya wajib melaksanakan solat yang berada dalam waktu tersebut sahaja. Haid sudah berhenti akan tetapi tidak wujud tanda yang jelas bahawa tempoh haid akan berakhir. maka wajib ke atasnya untuk melaksanakan solat fardhu tersebut. Haid sudah berhenti dan wujud tanda-tanda yang jelas bahawa tempoh haid sudah berakhir. sama ada solat sunat mahupun solat fardhu. Malah wujud kemungkinan ia akan mengalir semula. (penyunting) 4 Hukum-Hukum Haid Terdapat beberapa hukum yang wajib ke atas wanita ketika sedang haid. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam: “Apabila seseorang kamu memperoleh satu sujud daripada solat Asar sebelum terbenam matahari. Ini bererti di [4] sisi beliau ketiga-tiga pendapat ini adalah sama-sama benar. Contoh: Memperoleh satu rakaat di awal waktu. Alhamdulillah.” [Shahih al-Bukhari – no: 556 (Kitab waktu-waktu solat)] . Akan tetapi antara saat dia suci dan saat terbit matahari wujud satu tempoh masa yang. Ini kerana pada asalnya dia dikira sempat mendapat satu rakaat daripada solat Maghrib tersebut sebelum datang haid. (penyunting) [3] Juga disahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Daud – no: 119. wujud satu tempoh masa yang. Maka wajib baginya mengqadha solat Maghrib tersebut apabila suci. Contoh: Memperoleh satu rakaat di akhir waktu. iaitu apabila dia sempat memperoleh satu rakaat solat fardhu dalam waktunya.[2] Maksudnya. Persoalan-persoalan ini memerlukan penjelasan yang terperinci daripada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. baginda telah menjelaskannya secara terperinci dan telah sampai kepada kita dalam kitab-kitab hadis. Dalil bagi seluruh hukum ini ialah sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam: “Sesiapa yang mendapat satu rakaat dari solat maka sesungguhnya ia telah mendapat solat. (penyunting) [5] Ini kerana beliau memiliki dua pendapat: Qaul Qadim dan Qaul Jadid. Jika dijadikan tempoh masa bagi haid dan suci ialah selang sehari. Hukum umum yang dimaksudkan adalah: Apabila seorang wanita melihat darah mengalir keluar bererti dia haid dan apabila darah berhenti mengalir bererti dia suci (tidak haid) tanpa dipengaruhi oleh perbezaan masanya. Justeru seandainya wujud sesuatu persoalan dalam bab haid ini yang tidak diperjelaskan oleh baginda. maka hendaklah dia menyempurnakan solatnya. Ini kerana pada asalnya dia dikira sempat mendapat satu rakaat daripada solat Subuh tersebut apabila tamat haidnya. adakah wajib baginya untuk melaksanakan kedua-dua solat Zohor dan Asarnya (jamak takhir)? Atau sesudah bersuci dia berjaya memperoleh satu tempoh masa dalam waktu Isyak. (penyunting) [7] Maksudnya seorang wanita jangan menganggap dirinya telah suci daripada haid melainkan dengan dua petunjuk: 1. Akan tetapi antara saat masuk waktu Maghrib dan saat dia didatangi haid. bererti ia sememangnya tidak memerlukan penjelasan. (penyunting) Yakni tempoh iddah bagi seorang wanita yang diceraikan ialah tiga kali suci. sempat untuk dia melaksanakan rakaat pertama solat Maghrib. Kes perbezaan masa haid adalah antara perkara yang lazim berlaku yang tidak diperjelaskan oleh Rasulullah. paling minima. Jika tempoh masa yang wujud di awal waktu bagi wanita yang didatangi haid atau di akhir waktu bagi wanita yang tamat haid adalah terlalu singkat sehingga tidak mungkin melaksanakan minima satu rakaat solat. Iaitu solat Asar dalam waktu Asar (tanpa menjamak solat Zohor). solat Isyak dalam waktu Isyak (tanpa menjamak solat Maghrib). 2. Maka wajib baginya mengqadha solat Subuh tersebut apabila dia selesai bersuci (mandi wajib). persoalan haid adalah persoalan yang lazim bagi para isteri dan wanita di zaman baginda. Seorang wanita suci daripada haid sebelum terbit matahari. Ini merujuk kepada kes haid yang terputus-putus atau selang sehari. sama ada di awal waktu atau akhir waktu. [6] nescaya waktu iddah ini akan berakhir dalam masa lima hari sahaja.

Imam al-Bukhari mengemukakan sebuah riwayat daripada Imam Ibrahim al-Nakha’e (seorang tokoh tabi‘in) bahawa: “Tidak mengapa jika dibaca hanya satu ayat. Menurut pendapat yang benar. bererti diketahui bahawa tidaklah haram bagi wanita haid membaca al-Qur’an. maka puasanya tetap tidak sah. Boleh juga membaca buku-buku hadis. maka dia boleh berpuasa dan puasanya adalah sah sekalipun dia belum sempat mandi wajib. berdoa. Jika dia tetap berpuasa maka tidak sah puasanya. dilaksanakan hukum-hukumnya berdasarkan keluarnya haid. Jumhur ilmuan berpendapat ianya dilarang. Lebih dari itu. Ketiga: Puasa. Akan tetapi dia wajib mengqadha puasa fardhunya berdasarkan kenyataan ‘A’isyah radhiallahu 'anha: “Apabila yang demikian itu (haid) menimpa kami. adakah dia perlu mandi wajib? Baginda menjawab: “Ya. Ini sebagaimana kes seorang wanita yang bermimpi seperti seorang lelaki lalu datang menemui Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bertanya. . fiqh (buku agama). 191 : Sejak asal tidak ada larangan daripada al-Sunnah (bagi wanita yang sedang haid) membaca al-Qur’an. Wanita yang sedang haid boleh berzikir. Kedua: Berzikir dan Membaca al-Qur’an.Dalam hadis di atas Rasulullah tidak berkata: “Maka sesungguhnya dia telah mendapat solat Zuhur dan Asar” atau: “Wajib solat Zuhur ke atasnya. Apabila seorang wanita sedang berpuasa lalu dia didatangi haid. seperti guru yang mengajar al-Qur’an. mengaminkan doa dan mendengar bacaan a-Qur’an. Ini sebagaimana yang disebut oleh Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari. bertahmid (membaca alhamdulillah). jld. bukan berdasarkan masanya. Hadis: “Wanita haid tidak boleh membaca sesuatu daripada al-Qur’an” adalah hadis yang lemah (dha‘if) yang disepakati oleh para ahli hadis. Di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Maka demikianlah juga dengan haid. 4. 26.[3] 3. Jelas di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab-kitab hadis yang lain bahawa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersandar di riba ‘A’isyah radhiallahu 'anha sambil membaca al-Qur’an padahal ‘A’isyah di saat itu sedang haid. Namun tidak seorang jua yang meriwayatkan pengharaman seumpama daripada Nabi.” Dalam hadis di atas Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menghubungkan hukum mandi wajib dengan kewujudan air mani dan bukan masa. Apabila seorang wanita tamat haidnya sebelum terbit fajar (belum masuk waktu Subuh). dan jauhilah wanita haid daripada mushalla (tempat lapang solat Hari Raya). maka terdapat perbezaan pendapat. maka teruskan menyempurnakan puasanya itu.” [Shahih Muslim – no: 335 (Kitab al-Haid)] Berikut beberapa permasalahan khusus antara puasa dan wanita yang haid: 1. Justeru apabila Nabi tidak menegah daripada demikian padahal ramai wanita yang haid di zamannya.[2] puasanya tidak batal kerana sesungguhnya darah masih berada di dalam badan dan tidak ada hukum baginya (selagi ia tidak mengalir keluar). Imam al-Bukhari. jika dia melihat ada air (mani yang mengalir keluar). Umm ‘Athiah radhiallahu 'anha berkata.” Pendapat ini juga diperkuatkan oleh sebuah kaedah usul yang menyebut: Pada asalnya tidak ada hukum yang ditanggung (oleh manusia kecuali yang dipertanggungkan oleh syara’). yang lebih utama ialah wanita yang sedang haid tidak membaca al-Qur’an dengan lidahnya melainkan jika perlu. Adapun membaca dengan lidah bagi wanita yang sedang haid. murid yang menduduki peperiksaan dan sebagainya.” Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah membahas persoalan ini dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa. Ibn Jarir al-Thabari dan Ibn al-Munzir berpendapat ia diharuskan.[1] Juga diharuskan bagi wanita yang sedang haid untuk membaca al-Qur’an dengan cara melihat dengan mata atau menghayatinya dalam hati tanpa menutur dengan lidah. sama ada puasa sunat mahupun puasa fardhu. ms. Di antara perselisihan pendapat ini. 2. Berkata Imam al-Nawawi rahimahullah dalam Majmu’ Syarh al-Muhazzab: Hal ini diharuskan tanpa perselisihan pendapat. Maka tidak boleh menghukum ia sebagai haram sedangkan baginda Nabi sendiri tidak pernah mengharamkannya. Maka jika haram ke atas mereka untuk membaca al-Qur’an sepertimana haram ke atas mereka mendirikan solat. Apabila seorang wanita didatangi haid hanya sekadar tempoh masa yang pendek selepas terbitnya fajar (masuk waktu Subuh). nescaya ia diterangkan oleh Nabi kepada umatnya dan dipelajari oleh para isteri baginda. maka puasanya menjadi batal sekalipun waktu berbuka (waktu Maghrib) sudah sangat hampir. diketahui wanita-wanita di zaman Nabi shalallahu 'alaihi wasallam sedia mengalami haid. Dia wajib mengqadha puasa tersebut jika ia adalah puasa fardhu. Pendapat ini merupakan mazhab Abu Hanifah dan Malik sebagaimana yang disebut oleh Imam al-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Majmu’ Syarh al-Muhazzab. membaca Bismillah ketika makan dan sebagainya. bertasbih (membaca Subhanalah). maka kami disuruh (oleh Rasulullah) mengqadha puasa namun tidak disuruh untuk mengqadha solat. Boleh juga meletak mushaf al-Qur’an di hadapannya lalu melihat ayat-ayatnya dan membacanya dengan hati. Diharamkan bagi wanita yang sedang haid untuk berpuasa. Hal ini kemudiannya akan tersebar kepada manusia. Apabila seorang wanita sedang berpuasa lalu dia merasa akan didatangi haid sebelum waktu berbuka (waktu Maghrib). Demikian juga oleh Imam Malik dan Imam al-Syafi’e dalam pendapatnya yang lama. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda menyuruh keluar wanita-wanita dan anak-anak gadis yang berada di dalam rumah kepada solat dua hari raya (Solat Hari Raya Aidil Fitri dan Hari Raya Aidil Adha) supaya mereka dapat menyaksikan kebaikan dan seruan orang mukmin.

maka ia tidak berasal daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. maka termasuklah dia di kalangan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta mengikuti jalan yang selain daripada jalan orang-orang Islam. Ini berdasarkan hadis Ibn ‘Abbas radhiallahu 'anh: “Orang ramai disuruh untuk mengakhiri pertemuan mereka di al-Bait (Ka’bah dengan tawaf). diharamkan bagi seorang isteri yang sedang haid untuk membiarkan suaminya menyetubuhinya. sama ada tawaf sunat mahupun tawaf fardhu.” [Shahih al-Bukhari – no: 1652 (Kitab al-Haj)] Keenam: Bersetubuh. Perlu diingatkan bahawa setiap ibadat hendaklah berasal daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Apabila seorang wanita telah menyempurnakan ibadah haji dan umrah lalu dia didatangi haid yang berterusan sehingga saat hendak balik ke negerinya. dia boleh balik tanpa melakukan tawaf wida’ (tawaf selamat tinggal). berpelukan. Larangan ini juga berdasarkan sebuah hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: “Lakukanlah apa sahaja (dengan isterimu yang sedang haid) kecuali nikah (bersetubuh). SesungguhNya Allah mengasihi orang-orang yang banyak bertaubat. Katakanlah: “Darah haid itu satu benda yang mendatangkan mudarat. al-Sunnah dan ijma’ (kesepakatan) umat Islam. Rasulullah menjawab: “Lakukan apa yang telah dilakukan oleh orang haji kecuali jangan bertawaf di Ka’abah sehingga kamu bersuci. ia tidak gugur daripada wanita yang didatangi haid. termasuk padang yang digunakan untuk solat Hari Raya. Larangan ini telah ditunjukkan oleh al-Qur’an. Bahkan amalan di atas bertentangan dengan apa yang diajar oleh Rasulullah. Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Umm ‘Athiah radhiallahu 'anha bahawa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: “Suruhlah keluar wanita-wanita dan anak-anak gadis yang berada di dalam rumah (kepada solat dua hari raya) supaya mereka dapat menyaksikan kebaikan dan seruan orang mukmin. mengenai (hukum) haid. ‘A’isyah radhiallahu 'anha berkata: . manakala yang selainnya (para tokoh mazhab lain) berkata: Sesiapa yang menghalalkan setubuh dengan wanita haid dihukumkan kafir. bermalam di Mudzalifah dan Mina. ms. melontar jamrah dan sebagainya.” [Shahih al-Bukhari – no: 1932 (Kitab al-Siyam)] Keempat: Tawaf di Ka’bah. Imam al-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya al-Majmu’ Syarh alMuhazzab.” [Shahih Muslim – no: 1211 (Kitab al-Haj)] Baginda tidak menyuruh Safiyah pergi ke pintu masjid padahal jika yang sedemikian adalah amalan yang disyari‘atkan pasti baginda akan menjelaskannya. dan mengasihi orang-orang yang sentiasa mensucikan diri. 2. wuquf. dan janganlah kamu hampiri mereka (untuk bersetubuh) sebelum mereka suci. Diharamkan bagi wanita yang sedang haid untuk berada atau duduk dalam masjid.” [Shahih Muslim – no: 1328 (Kitab al-Haj)] Adapun amalan datang ke pintu Masjid al-Haram dan berdoa bagi wanita haid yang hendak balik ke negerinya. Demikian hukumnya bagi tawaf wida’ dan wanita yang didatangi haid. Dia tetap wajib melaksanakannya apabila sudah suci. Oleh itu tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat untuk melakukan kemungkaran bersetubuh ketika haid. Diharamkan bagi seorang suami untuk menyetubuhi isterinya yang sedang haid. bersentuhan dan lain-lain. Jika dia tetap tawaf maka tidak sah tawafnya. Selain itu. di mana apabila Safiyah radhiallahu 'anha didatangi haid sesudah tawaf ifahad. [al-Baqarah 2:222] Yang dimaksudkan dengan al-Mahidh (‫ )المحيييض‬ialah masa haid dan tempatnya ialah di faraj. jld. Lebih dari itu umat Islam telah bersepakat bahawa haram hukumnya bersetubuh dengan isteri yang sedang haid.” [Shahih Muslim – no: 1211] Akan tetapi diharuskan melaksanakan lain-lain amalan daripada haji dan umrah seperti sa’e antara Safa dan Marwah. Adapun tawaf wajib bagi ibadah haji dan umrah. Malah lebih utama jika tidak bersentuhan kulit pada kawasan yang terletak antara pusat dan lutut kecuali dengan berlapik.” [Shahih Muslim – no: 302 Kitab al-Haid)].Ini sebagaimana hukum orang berjunub yang berpuasa padahal dia tidak mandi wajib kecuali selepas terbit fajar (masuk waktu Subuh). lalu beliau bertanya hukumnya. 374 menukil kata-kata Imam al-Syafi’e rahimahullah: Sesiapa yang melakukannya maka sesungguhnya dia melakukan dosa besar. Kemudian baginda berpuasa. Justeru jika seseorang itu tetap melakukan kemungkaran bersetubuh ketika haid. Kemudian apabila mereka sudah bersuci maka datangilah mereka menurut jalan yang diperintahkan oleh Allah kepada kamu. Diharamkan bagi wanita yang sedang haid untuk tawaf. kecuali (suruhan ini) diringankan daripada wanita yang sedang haid. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad). baginda bersabda kepada beliau: “Maka hendaklah dia beransur pergi. ‘A’isyah radhiallahu 'anha didatangi haid. dihalalkan bagi suami untuk memuaskan nafsunya dengan berciuman. Puasanya tetap sah berdasarkan hadis ‘A’isyah radhiallahu 'anha: “Pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bangun pagi dalam keadaan junub bukan kerana bermimpi. Ketika mengikuti rombongan haji bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. asalkan bukan faraj. demikian berkata para sahabat kami (para tokoh Mazhab al-Syafi’e). dan jauhilah wanita haid daripada mushalla (tempat lapang solat Hari Raya). Kelima: Duduk Dalam Masjid.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (jangan bersetubuh dengan isteri kamu) dalam masa datang darah haid itu. Demikian juga.

Selain itu sebagai poin tambahan. Ini adalah satu mudarat yang besar ke atas isteri berbanding mudarat tempoh iddah yang panjang. maka ceraikanlah mereka pada masa mereka dapat memulakan iddahnya. Iaitu seorang suami yang menceraikan isterinya yang sedang haid dengan mengambil bayaran. Akan tetapi diharuskan tebus talak kerana kes tebus talak membabitkan seorang isteri yang menghadapi kehidupan bersama suami yang dia benci.” [Shahih al-Bukhari – no: 5273 (Kitab al-Thalaq) ] Dalam hadis di atas. hendaklah dia tidak menyetubuhi isterinya sehinggalah dia (isteri) menjadi suci dari haid. Hal ini telah diterangkan sebelum ini dalam Bab kedua. Akan tetapi memandangkan talak ini adalah tebusan seorang isteri untuk dirinya sendiri. Demikianlah 3 pengecualian yang membolehkan penceraian ketika seorang isteri sedang haid. Kelapan: Dikira Bilangan Talak Dengan Haid. Maka demikianlah iddah yang Allah telah perintahkan bahawa diceraikan wanita padanya.“(Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) menyuruhku supaya memakai kain kemudian baginda menyentuhiku sedangkan aku sedang haid. Jika dia dapat mengawal dirinya maka tidak mengapa untuk meneruskan akad nikah. Kemudian jika dia mahu. kemudian haid. sesungguhnya aku tidak mencelanya (suaminya: Thabit bin Qays) kerana akhlak dan agamanya tetapi aku membenci kekufuran dalam Islam. Dalilnya adalah sebuah hadis daripada Ibn ‘Abbas radhiallahu ‘anh yang menceritakan tentang isteri Thabit bin Qays radhiallahu ‘anha yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bertanya sama ada isteri Thabit bin Qays sedang haid atau tidak. Kedua: Tidak mengapa (tidak haram) menceraikan isteri yang didatangi haid ketika sedang hamil. Tidak ada dalil yang menegah hal ini. Dia wajib bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. boleh menceraikannya sebelum menyetubuhinya. dalam perbincangan Haid Wanita Hamil. ‘Abd Allah ibn ‘Umar radhiallahu 'anhuma pernah menceraikan isterinya yang sedang haid. kemudian suci semula. maka iddah isteri diketahui dengan datang haid. maka ia diharuskan dalam semua keadaan tanpa mengira sama ada sedang haid atau tidak. perlu ditolak mudarat yang lebih besar. boleh memegangnya (memperisterikannya seperti biasa) dan jika dia mahu. Maka setelah itu jika dia (suami) ingin kembali bersama isterinya maka dia boleh rujuk semula.[4] Justeru jika seorang suami menceraikan isterinya yang sedang haid. ‘Umar radhiallahu 'anh memberitahu hal ini kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Jika dia (suami) tidak ingin maka boleh dilepaskan. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Wahai Nabi! Apabila kamu .” [Shahih al-Bukhari – no: 301 (Kitab al-Haid)] Ketujuh: Talak (Cerai) Diharamkan ke atas suami untuk menceraikan isterinya yang sedang haid. Seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya yang sedang haid kerana masa haid tidak dikira sebagai permulaan iddah. dengan syarat tidak disetubuhi isterinya dalam jangka masa tersebut. kemudian memegangnya sehingga dia suci. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bertanya kepada isteri yang hendak menebus talak dirinya (sama ada dia sedang haid atau tidak). Seorang suami menyetubuhi isterinya ketika suci lalu kemudian menceraikannya. diharuskan melangsungkan akad nikah dengan seorang wanita yang sedang haid.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: “Adakah kamu mengembalikan kebunnya?” Isteri Thabit menjawab: “Ya.(engkau dan umatmu) . Imam Ibn Qudamah rahimahullah di dalam kitabnya al-Mughni menerangkan sebab diharuskan tebus talak (khulu’) bagi seorang isteri yang sedang haid: Larangan untuk menceraikan isteri yang sedang haid ialah bagi mengelakkan mudarat tempoh iddah yang panjang. Apabila seorang suami menceraikan isterinya selepas menyetubuhinya. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: . Kemudian barulah dijatuhkan talak (diceraikan). Lebih dari itu tercatit di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab-kitab hadis yang lain. iddah isteri diketahui dengan kehamilan. Maka menceraikan wanita yang sedang haid adalah haram berdasarkan ayat di atas. maka wajib ke atas isteri tersebut menghitung iddahnya dengan kedatangan tiga kali haid yang sempurna.hendak menceraikan isteri-isteri (kamu). Jika tidak hamil. maka lebih utama untuk ditangguhkan sehingga bakal isteri menjadi suci supaya tidak terjadi persetubuhan yang dilarang. Hukum haram menceraikan isteri yang sedang haid memiliki 3 pengecualian: Pertama: Tidak mengapa (tidak haram) menceraikan isteri yang sedang haid jika sejak bernikah pasangan suami isteri tersebut belum pernah bersamaan atau bersetubuh. Kemudian hendaklah dia mengambil isterinya kembali di bawah jagaannya untuk diceraikan dengan penceraian yang menepati syari‘at Allah dan RasulNya.” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (kepada Thabit): Terimalah kebunmu dan ceraikanlah dia dengan satu talak. Iaitu. [al-Talaq 65:01] Seorang isteri diketahui memulakan iddahnya dengan kehamilan atau datang haid sesudah berlalu waktu suci. ditunggu hingga datang haid sekali lagi. Akan tetapi lebih utama jika diperhatikan kedudukan bakal suami tersebut sama ada dia boleh mengawal dirinya daripada terus menyetubuhi isteri barunya itu yang sedang haid. Akan tetapi jika tidak. kemudian suci. dia berdosa. Wajah Rasulullah berubah kerana marah dan baginda menyuruh Ibn ‘Umar merujuk kembali isterinya. Antara dua mudarat. Atas dasar ini. Syarat ini adalah bagi isteri yang masih didatangi putaran haid dan tidak hamil. Ini kerana tidak ada iddah bagi isteri dalam kes seperti ini sehingga penceraian yang dijatuhkan ke atasnya tidak menyalahi firman Allah di atas. Ketiga: Tidak mengapa (tidak haram) jika berlaku penceraian secara tebus talak (khulu’).

berilah "mut'ah" (pemberian sagu hati) kepada mereka. Sebagai contoh. orang tua yang putus haid. Keempat: Jika isteri yang diceraikan belum bersama-samaan dan bersetubuh dengan suami. [al-Thalaq 65:04] Kedua: Jika isteri yang diceraikan tidak memiliki putaran haid. dan (demikian) juga iddah perempuan-perempuan yang tidak berhaid. Kemudian dia mengambil cebisan kain yang diletak wangian lalu dia bersuci dengannya. dan lepaskanlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya. tempoh iddahnya ialah hingga mereka melahirkan anak yang dikandungnya. Bagi kes di atas. maka dia wajib menunggu sehingga haidnya datang kembali dan menghitungnya dengan 3 putaran haid yang sempurna. [alBaqarah 2:228] Syarat menghitung iddah sepertimana di atas memiliki beberapa pengkhususan bagi kes yang berbeza-beza: Pertama: Jika isteri yang diceraikan sedang hamil. apabila kamu berkahwin dengan perempuan-perempuan yang beriman. kemudian kamu menyiram atas badan kamu dengan air. seperti kanak-kanak yang belum haid. hitungan iddahnya adalah dengan kelahiran anak tanpa mengira sama ada tempoh hamilnya adalah panjang atau pendek.” Asma’ bertanya: “Bagaimana saya bersuci dengannya (cebian kain tersebut)?” Rasulullah menjawab: “Subhanallah! Bersucilah dengan ia” Lalu berkata ‘A’isyah kepada Asma’: “Kamu menyapu kesan-kesan darah (dengan cebisan kain tersebut). Maka kedatangan haid menandakan kekosongan rahim. Jika isteri tersebut hamil maka dihukumkan bahawa kandungannya itu adalah daripada zuriat suaminya yang meninggal dunia. wajib mandi dengan mengenakan air ke seluruh anggota badan berdasarkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha: “Apabila datang haid maka hendaklah kamu meninggalkan solat. jika isteri yang terhenti haidnya kembali sembuh atau selesai menyusu namun haidnya tetap tidak datang kembali. Sebaliknya jika isteri didatangi haid maka dihukumkan bahawa dia tidak mengandung apa-apa daripada suaminya yang meninggal dunia. Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Dan perempuan-perempuan mengandung.” [Shahih al-Bukhari – no: 320 (Kitab al-Haid)] Syarat paling minimum bagi mandi wajib adalah dikenakan air pada seluruh anggota badan termasuklah ke bawah rambut. Maka sucilah kamu. Suami yang baru tidak boleh menyetubuhinya sehingga dia didatangi haid atau jelas hamil. seorang isteri yang kematian suami berkahwin dengan suami yang baru. ambillah air dan daun bidara.” [Shahih Muslim – no: 332 (Kitab al-Haid)] Tidak wajib membuka ikatan rambut kecuali jika ia terikat dengan kuat kerana dibimbangi air tidak akan sampai ke kulit kepala. Kemudian dia berwudhu’ dan memperelokkan wudhu’nya.” [Shahih Muslim – no: 330 (Kitab al-Haid)] . maka baginya tidak ada hitungan iddah. [al-Thalaq 65:04] Ketiga: Jika isteri yang diceraikan memiliki putaran haid tetapi ia terhenti kerana faktor yang diketahui seperti sakit atau sedang menyusu. jika kamu menaruh syak (terhadap tempoh idah mereka) maka iddahnya ialah tiga bulan. adakah perlu saya merungkaikannya untuk mandi junub”. Kemudian dia menjirus air ke atas kepalanya lalu dia menggosok kepalanya dengan bersungguh-sungguh sehingga air sampai ke kulit kepala. maka hitungan iddahnya ialah tiga bulan. Cara yang afdhal ialah sebagaimana tunjuk ajar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Asma’ binti Syakl radhiallahu ‘anha: “(Orang yang akan mandi).” Jawab Rasulullah: “Tidak. memadai kamu menyiram atas kepala kamu dengan tiga kali siraman.Dan isteri-isteri yang diceraikan itu hendaklah menunggu dengan menahan diri mereka (daripada berkahwin) selama tiga kali haid. dan apabila hilang haid maka hendaklah kamu mandi dan solat. sekalipun ia mengambil masa yang agak lama. maka tiadalah kamu berhak terhadap mereka mengenai sebarang iddah yang kamu boleh hitungkan masanya. Kekosongan rahim bermaksud tidak hamil. Umm Salamah radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya saya seorang wanita yang mempunyai rambut yang banyak (lebat). Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: Dan perempuan-perempuan dari kalangan kamu yang putus asa dari kedatangan haid. (Dalam riwayat yang lain): “……untuk mandi haid dan junub. kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu menyentuhnya (bersetubuh). Apabila haid berhenti. maka iddahnya adalah selama 12 bulan (setahun) bermula dari saat kesembuhannya atau akhir menyusu. Inilah pendapat yang benar lagi selari dengan kaedahkaedah syarak kerana kes ini dikategorikan sebagai wanita yang tidak didatangi haid dengan sebab yang tidak diketahui. Tempoh iddah 12 bulan merangkumi 9 bulan masa mengandung sebagai langkah berhati-hati kerana ia adalah tempoh hamil yang lazim dan 3 bulan sebagai bilangan iddah. Dalilnya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Wahai orang-orang yang beriman. Seluruh proses menunggu dan 3 putaran haid tersebut adalah tempoh iddah baginya. Kemudian dia menjirus air ke atas badannya. Kesepuluh: Wajib Mandi. [al-Ahzab 33:49] Kesembilan: Menghukum Kekosongan Rahim. wanita yang dibuang rahimnya kerana sebab perubatan dan sebagainya. Oleh itu.

[7] [2] Maksudnya wujud perselisihan pendapat dalam hal ini. Contohnnya darah yang keluar secara berterusan sejak awal.[6] Adakalanya apabila haid berhenti di akhir waktu solat. Adakah aku perlu meninggalkan solat?”. ia adalah mudah lagi ringkas. Selainnya adalah darah istihadah. (penyunting) [3] Maka apabila seorang wanita merasakan sudah tiba masa haidnya. tidak ada air. sekalipun hanya secara ringkas supaya tetap dapat melaksanakan solat pada waktunya.] Terdapat tiga cara bagi membezakan antara darah haid dan istihadah: Pertama: Wanita yang memiliki masa haid yang tetap (tempoh dan putarannya). hendaklah dia mandi dan solat mengikut ukuran masa haidnya yang biasa. Maka pendarahan enam hari yang pertama bermula dari awal bulan dikira sebagai haid manakala hari-hari selebihnya dikira sebagai istihadah. (penyunting) [6] Dalam suasana kesukaran sepertimana yang disebut di atas. Akan tetapi sebahagian muslimah masa kini telah menyulitkan mandi dengan pelbagai gunaan sabun. Yang benar mandi wajib yang dituntut oleh syari‘at Islam adalah mudah lagi ringkas sehingga boleh disempurnakan dalam masa yang singkat sahaja. sesungguhnya aku didatangi darah istihadah yang banyak. . sama ada kerana ukuran kebiasaan di kalendar atau sebagainya. (penyunting) Seperti di musim dingin di mana menggunakan air yang sejuk untuk mandi boleh mendatangkan mudarat. Maka darah yang berwarna hitam adalah haid. Jika ada pendarahan pada hari-hari seterusnya. seorang wanita yang mengalami pendarahan secara berterusan. tidak boleh sengaja menangguhkan mandi sehingga ke waktu solat yang seterusnya. Selepas itu bolehlah mandi dengan sempurna. Maka baginya hukum haid dalam masa yang tetap tersebut dan hukum istihadah bagi waktu selainnya. Contohnya ialah seorang wanita yang lazimnya didatangi haid selama enam hari bermula awal setiap bulan. Apabila faktor kesukaran hilang dan dia dapat mandi wajib seperti biasa. [Shahih Muslim – no: 334 (Kitab al-Haid)] Kesimpulannya. Kedua: Wanita yang tidak memiliki masa haid yang tetap atau diketahui (tempoh dan putarannya). skrub muka dan lain-lain lagi. maka aku tidak suci. kemudian hendaklah kamu mandi dan solat”.” Dalil bagi kes kedua. Apabila faktor kesukaran hilang. bagi wanita yang memiliki masa haid yang tetap (tempoh dan putarannya). Dalil bagi kes pertama. darah yang berwarna merah adalah istihadah. ‘A’isyah radhiallahu ‘anha menerangkan bahawa Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya aku didatangi istihadah. (penyunting) 5 Istihadah Dan Hukum-Hukumnya Istihadah (‫ )الستحاضة‬ialah darah yang keluar secara berterusan bagi seorang wanita. Ia keluar tanpa terputus-putus atau mungkin terputus sekejap seperti sehari-dua dalam sebulan. ia adalah darah haid. maka wajib mandi. dia tetap dikira suci sehinggalah darah haid mengalir keluar.Jika haid berhenti sesudah masuk waktu solat maka wajib segera mandi supaya dapat dilaksanakan solat dalam waktunya. Sunan Abu Daud dan Sunan al-Tirmizi dan beliau (al-Tirmizi) mensahihkannya. tidak perlu diulangi solat-solat tersebut. (penyunting) [7] Jika diperhatikan tunjuk ajar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang tatacara mandi wajib. solat yang dilaksanakan oleh seorang wanita tetap sah sekalipun dengan hanya bertayamum untuk suci daripada haid. (penyunting) [4] Lihat Shahih al-Bukhari – no: 4908 (Kitab al-Tafsir). lalu dikemukakan yang dianggap paling tepat lagi benar. Mandi sebegini sudah menjadi kelaziman sehingga dianggap “tidak sah” tanpanya. Tinggalkan solat pada kadar haid yang kebiasaan bagi kamu. mudarat menggunakan air[5] atau sakit. sesungguhnya itu ialah ‘irq (penyakit). shower gel. yakni darah keluar tanpa terputus-putus ialah sebagaimana aduan Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu 'anha kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana di dalam Shahih al-Bukhari: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya aku tidak suci” manakala dalam satu riwayat yang lain: “Aku didatangi istihadah maka aku tidak suci. Rasulullah menjawab: “Tidak. Akan tetapi pada hari kesepuluh kelihatan perbezaan sifat darah: q Sehingga hari kesepuluh darah berwarna hitam (merah kehitaman) manakala selepas itu ia berwarna merah. Rujuk semula hadis Asma’ binti Syakl dan Umm Salamah di atas. Darah yang berwarna hitam (merah kehitaman) dan/atau pekat dan/atau berbau. Kemudian (pada satu bulan) dia mengalami pendarahan yang berterusan. kemudian hendaklah kamu mandi dan dirikan solat. Jika menghadapi kesukaran untuk mandi seperti musafir. rendaman herba. Tidak perlu diberi perhatian kepada pendarahan pada hari-hari seterusnya kerana itu adalah istihadah.” [Shahih al-Bukhari – no: 325 (Kitab al-Haid)] Hal yang sama pernah berlaku kepada Umm Habibah binti Jahsy radhiallahu ‘anha dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada beliau: “Duduklah (dalam keadaan haid) sekadar mana yang pernah kamu alami dari hari-hari haid kamu (yang biasa). Sebagai contoh.” [Musnad Ahmad. hendaklah dia mengira masa haidnya mengikut kebiasaan. Dia tetap wajib mandi. shampoo buah-buahan. yakni darah keluar dengan terputus sekejap ialah kisah Himnah binti Jahsy radhiallahu 'anha yang datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata: “Ya Rasulullah. Maka baginya dibezakan antara darah haid dan darah istihadah dengan memerhatikan sifat-sifat darah tersebut. Akan tetapi di masa kini kebanyakan bilik [5] mandi sudah dilengkapi dengan sistem air yang panas. maka boleh bertayamum sebagai ganti kepada mandi.

[4] Kedua: Wanita yang tidak tahu secara jelas sama ada dia akan didatangi haid atau tidak. Maka baginya masa haid diukur berdasarkan kebiasaan wanita. Ijtihad dibuat dengan merujuk kepada tempoh haid yang lazim dihadapi oleh para wanita lain yang menghampiri dirinya. Bagi wanita yang tidak mungkin didatangi haid maka yang wujud hanyalah ‘Irq (penyakit) dalam apa jua keadaan sekalipun. Maka hendaklah dia melihat kebiasaan para wanita lain yang menghampirinya dan menjadikan tempoh haid mereka sebagai ukuran ke atas dirinya. Himnah binti Jahsy radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya seorang wanita yang didatangi istihadah yang amat banyak.” [Sunan Abu Daud – no: 247 (Kitab al-Thaharah) dan Sunan al-Nasa’i dengan disahihkan oleh Ibn Hibban dan al-Hakim] Hadis di atas memiliki perbincangan dari sudut sanad dan matannya. hendaklah dia berwudhu’ sesudah masuk waktu kemudian terus bersolat. darah yang cair adalah istihadah.” [Shahih al-Bukhari – no: 306 (Kitab al-Haid)] Sabda Rasulullah: “…Maka apabila datang haid…” menjadi petunjuk yang membezakan antara haid dan istihadah.” [Sunan Abu Daud – no: 248 (Kitab al-Thaharah) dan Sunan al-Tirmizi – no: 118 (Kitab al-Thaharah) dan berkata al-Tirmizi. Maka baginya. dianggap sebagai haid.[2] Demikian tiga cara yang paling lazim bagi membezakan antara darah haid dan istihadah. Akan tetapi hendaklah dia membasuh faraj serta mengikatnya dengan kain[3] supaya dapat mencegah darah daripada mengalir keluar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy: “Sesungguhnya yang demikian itu ialah ‘irq (penyakit) bukanlah darah haid maka apabila datang haid maka hendaklah kamu meninggalkan solat. justeru hendaklah kamu menahan dari melakukan solat.q Sehingga hari kesepuluh darah bersifat pekat manakala selepas itu menjadi cair. Kesalahan ini boleh berlaku dalam dua kes: Pertama: Wanita yang mengetahui dengan jelas bahawa dia tidak akan didatangi haid lagi. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ia (pendarahan kamu) adalah hentakan dari hentakan-hentakan syaitan. darah yang tidak berbau adalah istihadah. Kini kita akan bahas pula hukumhukum yang diwajibkan ke atas wanita yang beristihadah. bermula daripada hari Khamis. apakah pandangan engkau berkenaannya? Sesungguhnya ia menegah aku daripada mendirikan solat dan puasa. Jika ia adalah (darah) selain itu maka hendaklah kamu berwudhu’ dan mendirikan solat kerana sesungguhnya ia adalah (darah) penyakit.[1] Ketiga: Wanita yang tidak memiliki masa (tempoh dan putaran) haid yang tetap dan tidak juga memiliki sifat-sifat darah yang dapat dibezakan antara haid dan istihadah. wanita yang menghadapi kes ketiga ini melihat darah keluar secara berterusan bermula pada hari Khamis yang pertama dalam bulan tersebut. Apabila seorang wanita telah memastikan bahawa dia sedang mengalami pendarahan istihadah dan bukan haid. rakan-rakan yang sebaya umurnya dan lain-lain lagi. Hadis berikut menjadi rujukan dalam kes ketiga ini. Maka darah yang berbau adalah haid. Hukum-Hukum Istihadah. kadang-kala berlaku pendarahan yang disalah anggap sebagai istihadah. Sebelum ini dalam Bab 4 kita telah bahas hukum-hukum yang diwajibkan ke atas wanita yang sedang haid. seperti daripada keluarga atau adik beradik yang sama. Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha: q “Apabila darah itu adalah haid maka sesungguhnya ia hitam (lagi) dikenali. hendaklah kamu mandi apabila kamu lihat bahawa kamu telah suci (dari darah haid). maka (apabila) kamu didatangi haid selama enam atau tujuh hari pada ilmu Allah Ta’ala. Bagi setiap solat fardhu.” Himnah berkata: “Ia (darah saya) lebih banyak dari demikian itu”. Sebagai contoh. waktu selebihnya dikira sebagai istihadah. maka hendaklah kamu solat pada pada dua puluh tiga malam atau dua puluh empat malam dan siangnya dan hendaklah kamu berpuasa. maka demikianlah juga ukuran ke atas dirinya. Bagi setiap solat sunat. Bahkan ia adalah lebih utama daripada membiarkan persoalan ini kepada adat kebiasaan wanita. Sehingga hari kesepuluh darah memiliki bau manakala selepas itu tiada lagi bau. Maka hendaklah dia mendirikan solat dan puasa. maka hendaklah dia membezakan antara haid dan istihadah sepertimana tiga cara yang disebut di atas. yang mengalir keluar bukanlah istihadah tetapi al-Sufrah (cecair kekuningan) dan al-Kudrah (cecair kekeruhan antara kuning dan hitam) atau basahan. hendaklah dia berwudhu’ apabila sahaja hendak mendirikannya.” Rasulullah menjawab: “Aku akan terangkan untuk kamu (cara menggunakan) al-Kursuf (kapas yang diletakkan di faraj). Hari-hari seterusnya dianggap sebagai istihadah. Maka baginya. Oleh itu hendaklah setiap wanita yang menghadapi kes ketiga ini berijtihad akan satu tempoh haid yang sesuai baginya. hadis ini hasan sahih] Sabda Rasulullah: “Enam atau tujuh hari” bukanlah penetapan tetapi ijtihad. seperti setelah melakukan pembedahan yang melibatkan pemotongan atau ikatan rahim. Oleh itu enam atau tujuh hari yang pertama pendarahan. sesungguhnya ia dapat menghilangkan darah. pendarahan yang berlaku dianggap sebagai haid dan istihadah. Maka bagi seorang wanita yang mungkin baginya untuk datang haid. Jika pada kebiasaannya mereka didatangi haid selama enam atau tujuh hari. Dia tidak diwajibkan mandi (mandi wajib) kerana darah yang keluar tersebut. maka hukum-hukum yang diwajibkan ke atasnya adalah sama sepertimana wanita yang suci kecuali dalam tiga perkara berikut: Pertama: . dibezakan dengan tiga cara yang telah disebut di atas. akan tetapi para ilmuan rahimahumullah telah beramal dengannya. serta boleh bersetubuh dengan suaminya. Maka darah yang pekat adalah haid. Sebagai penjelasan tambahan.

Pendapat yang sahih adalah ianya harus (dibolehkan) tanpa sekatan berdasarkan sebab-sebab berikut: 1. (penyunting) [3] Atau tuala wanita (penyunting). Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (jangan bersetubuh dengan isteri kamu) dalam masa datang darah haid itu. apakah aku patut meninggalkan solat? Tidak. 3.30 malam. (penyunting) 6 Nifas dan Hukum-hukumnya [6] Nifas (‫ )النفاس‬ialah darah yang keluar dari rahim wanita atas sebab melahirkan anak. maka tempoh 10 hari tersebut menjadi ukuran bagi dirinya juga. maka sudah tentu diharuskan juga bersetubuh kerana bersetubuh adalah sesuatu yang lebih kecil berbanding solat. Merupakan satu kelaziman bagi para wanita pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengalami istihadah. Jika berlaku pendarahan selain itu (tolakan bersalin). Kedua: Apabila wanita yang beristihadah hendak berwudhu’. satu wudhu’ bagi satu solat. Rasulullah bersabda: “Maka hendaklah kamu mengekangnya (mengikatnya)…. Sesungguhnya aku seorang wanita yang mengalami istihadah sehingga aku tidak suci.” Himnah berkata: “Ia (darah saya) lebih banyak dari demikian itu”. Ini adalah qiyas yang tidak benar kerana wanita istihadah dan wanita haid adalah dua kes yang saling berlainan. hendaklah dia merujuk kepada tempoh dan putaran haid yang lazim bagi adik beradiknya yang lain. hendaklah dia membasuh kesan darah dan mengikat farajnya dengan cebisan kain yang dilapik dengan kapas supaya dapat menahan darah. Sebagai contoh. Ia (nifas) tidak disyaratkan oleh dua atau tiga hari sebelum bersalin tetapi disyaratkan oleh tolakan yang mengiringi bersalin. Ia keluar sama ada di saat melahirkan anak. Justeru lebih baik menggunakan hadis di atas sebagai rujukan. sama ada lama atau pendek.Wanita yang beristihadah wajib berwudhu’ setiap kali hendak solat. Maksudnya. tidak selain itu. seperti menggunakan wudhu’ yang sama untuk menunaikan solat Maghrib dan “menyimpannya” untuk solat Isya’ kemudian. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu 'anha di dalam Shahih al-Bukhari – no: 228: “Kemudian hendaklah kamu berwudhu’ pada setiap solat. Sekalipun ia memiliki perselisihan pendapat dari sudut kekuatannya. (penyunting) Musnad Ahmad – no: 25681 dan disahihkan oleh Syaikh Syu‘aib al-Arnauth. (penyunting) [5] Atau dengan memakai tuala wanita.” [6] [Musnad Ahmad – no: 25681 dan disahihkan oleh Syu‘aib alArnauth] Ketiga: Bersetubuh. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata: Apa yang dilihat oleh wanita semasa bermula tolakan bersalin ialah darah nifas. 2. Justeru tidak boleh menggunakan wudhu’ yang sama untuk dua solat. sesungguhnya ia dapat menghilangkan darah. [1] Maksudnya. Yang terakhir (sebelum melahirkan anak) hendaklah yang disertai dengan tolakan melahirkan anak(terasa nak bersalin). Juga tidak boleh berwudhu’ jauh sebelum waktu solat. Jika mereka didatangi haid selama 10 hari setiap satu bulan. maksudnya tetap selari dengan lain-lain petunjuk syari‘at sehingga menjadi amalan para ilmuan sejak dari dahulu.” [Sunan al-Tirmizi – no: 118 (Kitab al-Thaharah) dan beliau berkata: Hadis ini hasan sahih] Apa yang keluar (apa-apa pendarahan) selepas itu tidaklah memudaratkan (tidak membatalkan wudhu’) berdasarkan hadis berikut riwayat Ahmad dan Ibn Majah: “Wahai Rasulullah. selepas melahirkan anak atau dua hingga tiga hari sebelum melahirkan anak. Hukum ini khusus sebagai satu kemudahan (rukhsah) untuk kes ini sahaja supaya apa-apa yang mengalir [4] keluar dari faraj tidak dikira membatalkan solat.” Hadis ini memberi makna bahawa dia tidak berwudhu’ untuk solat yang berwaktu kecuali selepas masuk waktunya. Maka bagi pendarahan berterusan yang dihadapinya. maka ia bukan nifas. Pendapat yang melarang bersetubuh mengqiyaskan wanita yang beristiadhah dengan wanita yang haid. [al-Baqarah 2:222] Ayat ini menjadi dalil bahawa larangan bersetubuh hanyalah ke atas isteri yang sedang haid. hendaklah kamu jauhi solat pada hari-hari haidmu (sahaja) kemudian hendaklah kamu mandi dan berwudhu’ untuk setiap solat kemudian dirikanlah solat walaupun darah menitis jatuh ke atas tikar. (penyunting) [2] “Para wanita lain” ini hendaklah memiliki tempoh dan putaran haid yang normal. 10 hari setiap bulan dianggap sebagai haid manakala selebihnya dianggap istihadah. jika seorang wanita menghadapi kes ketiga ini. Jika diharuskan solat bagi wanita yang beristihadah. maka para ilmuan berselisih pendapat mengenai kebolehannya.[5] Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Himnah radhiallahu 'anha: “Aku akan terangkan untuk kamu (cara menggunakan) al-Kursuf (kapas yang diletakkan di faraj). jika persoalan ini dibiarkan kepada adat kebiasaan wanita. Adapun bagi solat yang tidak berwaktu (solat sunat) maka dia berwudhu’ ketika hendak melaksanakannya. Para ilmuan berselisih pendapat tentang tempoh bagi nifas. Akan tetapi Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menegah para suami daripada menyetubuhi isteri mereka. ia akan terdedah kepada pelbagai pendapat dan hukum yang tidak benar. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata: . seperti mengambil wudhu’ pada pukul 6 petang untuk solat Maghrib pada pukul 7.

Jika tidak jelas baginya (sama ada pendarahan disebabkan kehamilan atau keguguran) maka hendaklah dihukum berdasarkan yang zahir (yang paling diyakini). Nifas tidak dijadikan ukuran iddah bagi seorang isteri yang dijatuhkan talak (diceraikan) oleh suaminya. hendaklah dia tidak bersolat dan tidak berpuasa (kerana ia adalah nifas). seorang wanita yang lazimnya memiliki tempoh haid lapan hari setiap bulan. Pendarahan seterusnya dikira sebagai istihadah dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah sebagaimana yang dibahas sebelum ini. Masa yang paling awal untuk nifas secara fitrah ialah 80 hari sedangkan yang lazim ialah 90 hari daripada hari mula hamil. Jika ditakdirkan seorang wanita melihat darah lebih daripada 40 atau 60 atau 70 hari lalu kemudian barulah ia berhenti. Apabila menjadi kebiasaan bagi seorang wanita untuk mengalami nifas melebihi 40 hari dan dia dapat mengenali tanda berhentinya. Secara umumnya hukumhukum nifas adalah sama dengan hukum-hukum haid kecuali dalam perkara-perkara berikut: Pertama: Iddah. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah menulis. 3. maka iddahnya ialah menunggu hingga datang haid lalu dikira berdasarkan putaran haidnya. Jika nifasnya hanya berhenti dalam tempoh kurang sehari. maka yang keluar semula itu dikategorikan sebagai “darah yang disyaki”.[2] 2. Keempat: Nifas yang terputus-putus Bagi darah haid. Sebagai contoh. kemudian keluar semula. Ini adalah pendapat yang mayshur dalam Mazhab Hanbali. maka tempoh iddahnya ialah sehingga melahirkan anak. Hendaklah dia mandi wajib setelah genap 40 hari. maka tempoh empat bulan (atau lebih sebagaimana yang disumpah) dikira berdasarkan putaran haid isteri dan bukan berdasarkan nifasnya. maka hendaklah dia menunggu sehingga nifasnya berhenti. dan dia tidak mungkin akan hamil jika tidak terlebih dahulu mengalami haid. 3. Tahap baligh bagi seorang wanita diukur berdasarkan datang haid dan bukan datang nifas. maka (setelah mandi wajib) dia dianggap suci tanpa perlu menunggu genap 40 hari. Diwajibkan ke atasnya hukum-hukum haid sebagaimana yang dibahas sebelum ini. kemudian terhenti sebentar. Kedua: Ila’ Ila’ ialah tindakan seorang suami yang bersumpah tidak akan menyetubuhi isterinya buat selama-lamanya atau untuk satu tempoh yang melebihi empat bulan. para ilmuan berbeza pendapat ke atas kes nifas yang terputus. bukan berdasarkan nifasnya. maka ia bukanlah nifas tetapi darah penyakit (al-‘Irq) yang diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah.Bagi nifas tidak ada tempoh minimum atau maksimum. kemudian ia terhenti pada hari kelima dan keenam. dia belum dikira sudah berakhir tempoh nifasnya. Berbeza pula bagi darah nifas. hendaklah dia mendirikan solat dan berpuasa (kerana ia bukan nifas tetapi istihadah). 2. lalu dia haid pada empat hari yang pertama. 37] Berdasarkan penjelasan di atas: 1. Jika ini berlaku. Dalam kategori ini. maka itu adalah darah nifas. hukum haid yang Ketujuh dan Kelapan. jika ia keluar. 4. terdapat beberapa hukum yang diwajibkan ke atas wanita yang mengalami nifas. Seterusnya: 1. maka hendaklah dia tunggu sehingga berhenti haidnya. hendaklah dia menjadikan tempoh 40 hari sebagai tanda berhenti. Sebelum itu ketika sedang nifas.[3] Dia wajib mengqada puasanya selepas suci (jika dia nifas dalam bulan Ramadhan). Yang terakhir ini (iddah berdasarkan putaran haid) adalah sebagaimana yang telah dibahas dalam Bab 4.[1] Jika berlaku pendarahan selepas 80 hari kerana keguguran. Akan tetapi hendaklah dipastikan bahawa nifasnya benar-benar sudah berhenti. Jika nifas bersambung dengan haid. sebagaimana yang dinukil daripada kitab al-Iqna’: Apabila berlaku pendarahan kerana tolakan bersalin sebelum 80 hari (daripada hari mula hamil). maka janganlah dipedulikan (kerana ia bukan nifas). Oleh itu apabila seorang isteri yang hamil dicerai oleh suaminya. ms. Maka batasnya (bagi kes ini) ialah 40 hari kerana sesungguhnya tempoh 40 hari adalah kebiasaan (bagi wanita yang sudah bersalin) sebagaimana yang disebut dalam atsar-atsar (pendapat tokoh terdahulu). maka mudah untuk diyakini bahawa yang keluar semula itu adalah haid juga. bukan dengan berhentinya nifas. kemudian ia keluar semula pada hari ketujuh dan lapan. diharamkan ke atasnya apa yang diharamkan ke atas wanita yang sedang haid. Jika hal di atas bukanlah kebiasaan bagi dirinya. Ini kerana seorang wanita tidak mungkin akan mengalami nifas jika dia tidak hamil. Hukum-Hukum Nifas Sebagaimana haid dan istihadah. Ketiga: Baligh. Umumnya terdapat dua pendapat: Pendapat Pertama: Apabila nifas terhenti sebelum 40 hari kemudian ia keluar semula pada hari ke-40. Jika berlaku pendarahan selepas 80 hari kerana tolakan bersalin. Jika nifas berhenti dalam tempoh kurang 40 hari. Apabila seorang isteri yang baru sahaja melahirkan anak dicerai oleh suaminya. wanita yang mengalaminya wajib bersolat dan berpuasa. Akan tetapi jika pendarahan berlaku secara berterusan (melebihi tempoh di atas) maka ia adalah darah fasid (istihadah). seperti keguguran. Pendapat Kedua: . maka mudah untuk diyakini bahawa yang datang semula pada hari ketujuh dan lapan tersebut adalah haid juga. Jika ia keluar dengan sebab selain itu. Pendarahan hanya boleh dikategorikan sebagai nifas apabila ia keluar dengan sebab fitrah mengandung dan melahirkan anak. [al-Risalah fi al-Asma’ allati ‘Alaq alSyar‘i al-Ahkam biha.

” Kisah ini tidak boleh dijadikan dalil menghukum “tidak harus” kerana tindakan ‘Utsman mungkin di atas sikap berhati-hati kerana tidak yakin bahawa isterinya telah benar-benar suci atau akan keluar darah semula disebabkan persetubuhan atau sebagainya. Yang benar diharuskan bagi suami menyetubuhinya dan ini adalah pendapat majoriti ilmuan. Menegah haid untuk menegah kehamilan. Maka ‘Utsman berkata: “Janganlah kamu menghampiri aku. wujud perselisihan pendapat sama ada harus atau tidak bagi suami menyetubuhinya. Terdapat sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah di mana isteri ‘Utsman ibn Abi al-‘Aas (yang baru suci daripada nifas) telah menghampirinya padahal di saat itu belum genap tempoh 40 hari. ms. maka ia adalah nifas. Iaitu isteri sengaja mendatangkan haid supaya tempoh iddah berlalu dengan cepat sehingga seandainya suami ingin merujuk semula. Akan tetapi apabila seorang wanita yang sedang nifas suci daripada nifasnya lebih awal daripada tempoh 40 hari. Untuk berkata “tidak harus” memerlukan dalil syarak padahal tidak wujud dalil syarak dalam permasalahan ini. Dengan itu berpanjanganlah tempoh pembayaran nafkah cerai oleh suaminya kepadanya. Ini kerana putaran haid yang fitrah (semula jadi) adalah penting demi kesihatan yang normal. Kedua: Mendapat izin suami kerana sengaja mendatangkan haid akan menggugurkan hak suami dari dua sudut: 1. Kedua: Ubat-Ubatan Yang Mendatangkan Haid. [al-Nisa’ 4:29] Kedua: Penggunaannya adalah dengan izin suami. maka ia adalah istihadah. syarat nifas ialah (1) ia keluar disebabkan tolakan bersalin dan (2) Ia keluar selepas 80 atau 90 hari daripada hari mula hamil (penyunting) [2] Demikian adalah bagi zaman Ibn Taimiyyah yang meninggal dunia pada tahun 728H. [1] Dalam ertikata lain.[4] Apabila darah keluar secara berterusan. di masa kini sudah ada peralatan yang boleh menentukan kehamilan atau keguguran. Menghalangnya untuk merujuk semula dalam kes penceraian. Jika nifas terhenti lebih daripada tiga hari lalu kemudian keluar semula. Ketiga: Ubat-Ubatan Yang Menegah Kehamilan. 2. Pendapat yang kedua inilah dianggap yang benar. disertai tolakan dan paling awal 80 hingga 90 hari selepas hari pertama hamil. maka ia adalah haid. [al-Baqarah 2:195] Dan janganlah kamu berbunuh-bunuhan sesama sendiri. Diharuskan menggunakan ubat-ubatan yang mendatangkan haid dengan syarat: Pertama: Bukan sebagai helah untuk meninggalkan ibadah seperti tidak solat dan berbuka pada bulan Ramadhan. Pertama: Ubat-Ubatan Yang Menegah Haid. Alhamdulillah. Kelima: Bersetubuh Apabila seorang wanita menjadi suci daripada haidnya lebih awal daripada tempoh yang biasa baginya. yakni selepas habis nifas.[5] Pendapat kedua ini juga merupakan pilihan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah. Imam Ibn Qudamah rahimahullah di dalam kitabnya al-Mughni. Apabila darah keluar pada suasana yang lazimnya disebabkan oleh faktor haid. Seorang isteri yang diceraikan oleh suaminya lalu dia mengambil ubat penegah haid supaya tempoh iddahnya berpanjangan. Maka tempoh berhenti selama tiga hari adalah pembeza antara darah nifas atau haid. Walaubagaimanapun yang lebih utama (bagi suami isteri) ialah tidak melakukan hal ini kecuali untuk tujuan yang baik. Sesungguhnya Allah sentiasa Mengasihani kamu. jld. (penyunting) 7 Hukum Penggunaan Ubat-Ubatan Yang Menegah Haid Atau Mendatangkannya Dan Yang Menegah Kehamilan Atau Menggugurkannya. Terdapat dua jenis ubat-ubatan yang menegah kehamilan: . (penyunting) Yang dimaksudkan dengan faktor nifas ialah hamil. 2. Diharuskan menggunakan ubat-ubatan yang menegah haid dengan dua syarat: Pertama: Tidak berlaku mudarat ke atas dirinya. Maka mudah bagi seorang wanita untuk membezakan pendarahannya sama ada disebabkan kehamilan (nifas) atau keguguran (istihadah). Faktor haid [4] adalah apa yang selain daripada faktor nifas kecuali jika ia berterusan. maka ia adalah darah nifas dan jika selepasnya ( lebih dari tiga hari) maka ia adalah darah haid. yang keluar semula itu bukanlah nifas tetapi haid. Berikut adalah contoh dua kes yang memerlukan izin atau pengetahuan suami: 1. (penyunting) [3] Seperti solat. Menghalangnya daripada bersetubuh dengan isterinya. ia adalah istihadah. Jika mengakibatkan mudarat maka ia diharamkan berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Dan janganlah kamu sengaja mencampakkan diri kamu ke dalam bahaya kebinasaan. Allah yang lebih mengetahui. puasa dan tawaf. 1.Apabila darah keluar pada suasana yang lazimnya disebabkan oleh faktor nifas. 349 menukil katakata Imam Malik rahimahullah: Jika dia (wanita) melihat darah selepas dua atau tiga hari. dia tidak sempat untuk berbuat demikian. diharuskan bagi suami menyetubuhinya. (penyunting) [5] Maksudnya jika nifas terhenti kurang daripada tiga hari lalu kemudian keluar semula. yang keluar itu adalah nifas juga.

Noordeen. Jika memerlukan pembedahan maka ia terbahagi kepada empat kes: 1. Lumpur 1995). 4. tidak dapat menanggung kehamilan dan sebagainya. Ibu mati. 2. Maka jika demikian kesnya. Ia termasuk dalam kategori membunuh tanpa hak yang diharamkan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah serta kesepakatan umat Islam. Jika anak sudah keluar sebahagian maka diharuskan pembedahan untuk mengeluarkan sebahagian yang tertinggal. Ini diharuskan dengan syarat mendapat keizinan suami dan tidak memudaratkan kesihatan. Lumpur 1999). K. Jika belum ditiup ruh maka wujud perselisihan pendapat sama ada harus atau tidak untuk menggugurkan kandungan. Jika anak belum keluar. Kedua: Ubat yang menegah kehamilan untuk sementara waktu. al-‘Azal ialah tindakan seorang suami yang apabila bersetubuh dengan isterinya. Sebahagian lain berkata: “Harus selagi mana belum terbentuk segumpal darah (sebelum 40 hari)” manakala sebahagian lagi berkata: “Harus selagi mana pada kandungan belum terbentuk apa yang berupa manusia. ia terlebih dahulu wajib mendapat izin daripada pihak suami sebagai orang yang memiliki kandungan tersebut.al-firdaus. anak hidup. Jika sudah ditiup ruh pada kandungan maka tanpa ragu lagi hukumnya ialah haram untuk menggugurkannya. Perubatan Moden Menurut Perspektif Islam oleh Basri Ibrahim (Darul Nu’man.S. Pembedahan ditegah kecuali atas dasar darurat seperti kesukaran ibu untuk melahirkan anak secara fitrah. A. 3. Pendapat Pertama menegah daripada melakukan pembedahan untuk mengeluarkan anak kerana ia mencacatkan mayat (mayat ibu). Tidak harus melakukan pembedahan kerana tidak ada apa-apa faedah. Akan tetapi jika pada kandungan sudah jelas terbentuk apa yang berupa manusia.[4] Pendapat Kedua mengharuskan pembedahan untuk mengeluarkan anak.[1] Keempat: Ubat-Ubatan yang Menggugurkan Kandungan. lihat buku penyunting yang berjudul Kaedah-Kaedah Memahami Hadis-Hadis yang Saling Bercanggah (Jahabersa. sebahagian menegahnya. menyelamatkan orang yang hidup (anak dalam kandungan) adalah lebih utama daripada menghormati orang yang meninggal dunia (ibu yang mati). Lebih dari itu seandainya dia kehilangan anak yang sedia ada masa kini. Ibu hidup. Ibu hidup. 2. II. yang benar adalah Pendapat Kedua kerana melakukan pembedahan di zaman kita sekarang ini bukanlah sesuatu yang mencacatkan mayat kerana kesan pembedahan dapat dijahit kembali. anak hidup. anak mati.” Pendapat yang dipilih ialah harus menggugurkan kandungan jika bersebab seperti sakit. Bahkan menyelamatkan yang maksum daripada kemusnahan adalah wajib hukumnya. Dalil kebolehan ini tindakan para sahabat radhiallahu 'anhum di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang mempraktikkan al-‘Azal terhadap para isteri mereka supaya mereka (para isteri) tidak hamil. Ini tidak diharuskan kerana ia mengurangkan keturunan.[3] Lebih dari itu pembedahan hanya diharuskan dalam suasana darurat kerana betapa banyak pembedahan yang pada awalnya disangka tiada mudarat tetapi kemudian berakhir dengan mudarat. Isu-Isu Bio Perubatan Menurut Islam oleh Abul Fadl Mohsin Ibrahim (edisi terjemahan oleh Yusof Ismail. Harus melakukan pembedahan supaya anak dapat dikeluarkan demi memelihara ibu daripada apa-apa kemudaratan. Saya berkata. harus menggugurkan kandungan. Pembedahan ditegah kerana “badan” adalah satu amanah kepada manusia yang tidak boleh diapa-apakan kecuali atas pertimbangan untuk mencapai kemaslahatan yang lebih besar. Dalam kes ini diperhatikan: Jika tidak wujud kemungkinan untuk anak hidup maka tidak harus melakukan pembedahan. Allah yang lebih mengetahui. Ibu mati.Pertama: Ubat yang menegah kehamilan secara tetap dan berterusan. Anak yang masih hidup di dalam kandungan ibu yang meninggal dunia adalah insan yang maksum sehingga wajib menyelamatkannya. Yang penting. Ini lazimnya berlaku setelah genap tempoh kehamilan atau menghampirinya. [1] Lebih lanjut tentang al-‘Azal. Tindakan ini tidak ditegah oleh Rasulullah. Johor Bahru 2002). Jika wujud kemungkinan untuk anak hidup maka ia seterusnya terbahagi kepada dua : I. . 2. [2] Allah yang lebih mengetahui. Menggugurkan kandungan memiliki dua tujuan: Pertama: Bertujuan menghapuskan kandungan. K. Contoh penggunaannya ialah wanita yang kerap hamil dan dia ingin merancang kehamilannya pada kadar sekali dalam setiap dua tahun. dia mengeluarkan alat kelaminnya dari faraj isterinya di saat hendak keluar air mani. dia akan tinggal berseorangan sehingga ke hari tua (tanpa penjagaan). Ini adalah pendapat Imam Ibn Hubairah rahimahullah dalam kitabnya al-Inshaf. Maka hukumnya terbahagi dua: 1. Sebahagian mengharuskannya. maka di sini terdapat perselisihan pendapat. Berikut beberapa sumber rujukan dalam bahasa Melayu: 1. Peringatan Dalam keadaan-keadaan yang harus untuk menggugurkan kandungan sebagaimana yang dibahas dalam bab ini. Ini adalah pendapat para sahabat kami rahimahumullah. Kedua: Bertujuan mengeluarkan kandungan demi sesuatu manfaat. anak mati. Tindakan ini menyalahi tujuan Islam yang mengutamakan umat yang ramai. (penyunting). Boleh juga dirujuk edisi “e-book” di www. Ia diharuskan selagi mana tidak memudaratkan ibu dan anak serta tidak memerlukan pembedahan.com [2] Kecuali jika atas nasihat para pakar perubatan bahawa meneruskan kehamilan akan membawa kemudaratan yang besar kepada ibu. maka ditegah daripada menggugurkannya.

(penyunting) Maksudnya para tokoh dalam Mazhab Hanbali (penyunting).[3] Seperti keselamatan ibu dan anak. [4] .