19 Hadist Rasullah SAW Mengenai Wanita

1.
2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayangnya yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, "Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia". Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya.Allah mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah dan orang yang takutkan Allah, akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun). Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh. Aisyah berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab rasulullah, "Suaminya. "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah, "Ibunya". Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut,burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga. Daripada Aisyah r.a. Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

Sering kali dalam ceramah-ceramah agama kita mendengar bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam a.s. Memang pada kenyataannya timbul perbedaan pendapat mengenai penciptaan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dalam terjemahan lama al-Qur’an Departemen Agama surat An-Nisaa ayat 1 : “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya .. “. Pada catatan kaki terjemahan lama Depag tersebut, kata “dari padanya” tertulis ’dari padanya' menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim”. Menurut pakar hadist paling terkemuka di Indonesia, Prof. KH. Ali Mustafa Ya’kub MA, paling tidak ada 3 point penting dalam memahami dan menelaah hadist-hadist yang berkaitan dengan kata ‘dari padanya’ dalam Surat An Nisaa : 1. 2. Pada kitab shahih Imam Bukhori dan Muslim tidak disebutkan dalam hadist bahwa ‘tulang rusuk’ tersebut adalah tulang rusuk Adam a.s, hanya disebutkan dari ‘tulang rusuk’. Hadist tentang wanita dan tulang rusuk tidak hanya terdapat 1 versi saja, akan tetapi ada beberapa versi, pertama disebutkan bahwa wanita di ciptakan dari tulang rusuk, tulang rusuk itu yang ujungnya melengkung (bengkok) dan apabila diluruskan (dengan tidak hati2) maka akan patah, maka berwasiatlah yang baik kepada wanita. Kedua, dengan redaksi yang hampir sama, tetapi disebutkan bahwa wanita diciptakan sifatnya seperti tulang rusuk, melengkung (bengkok) dan apabila diluruskan mudah patah, artinya wanita mempunyai sifat yang cenderung bengkok seperti tulang rusuk, maka butuh bimbingan yang baik dan perlahan agar tidak patah, ‘patah’ menurut sebagian ulama ialah cerai. Bahwa dalam memahami hadist tidak dibenarkan jika berdasarkan satu riwayat atau satu versi saja, karena memang terdapat perbedaan penyampaian redaksi hadist dari para sahabat Nabi kepada murid-muridnya yang disebut tabi’in, karena tidak seperti al-Qur’an yang harus disampaikan dengan redaksi yang mutlak sama, hadist bisa disampaikan dengan redaksi yang berbeda. Yang baik dalam memahami hadist adalah melihat semua hadist yang ada lalu mengambil kesimpulan. Sama halnya dengan al-Qur’an yang ayat satu sama lain saling menjelaskan begitu pula dengan hadist.

3.

Maka pada hadist-hadist seputar ‘wanita dan tulang rusuk’, pemahaman yang benar adalah bahwa wanita diciptakan atau tercipta seperti halnya tulang rusuk, tulang rusuk itu bengkok ujungnya, jika diluruskan akan mudah patah, maka harus jadi perhatian seorang Ayah dan Suami bahwa dalam mendidik anak perempuan dan istrinya dibutuhkan ke-‘arifan dan kesabaran yang lebih, begitu juga bagi seorang anak dan istri harus meredam sifat egois karena kecantikan, harta dan pengetahuan yang mungkin lebih dari suaminya. Dapat juga dipahami bahwa Rasulullah hanya menyebutkan karakteristik tulang rusuk yang bengkok dan mudah patah, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa tulang rusuk memiliki karakteristik lainnya, contoh melindungi organ-organ penting yang berada dalam tulang rusuk tersebut. Begitu juga dengan wanita, wanita juga berperan melindungi organ-organ penting dalam rumah tangga yaitu melindungi hal-hal yang sangat strategis dalam melindungi generasinya dari kebobrokan moral. Wallahu a’lam. “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikatmalaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS 66 : 6)

Wanita tercipta bukan lah dari tulang ubun-ubun, sejatinya agar ia tidak menjadi tinggi (hati) Dia juga tidak tercipta dari tulang tumit kaki, agar tidak di injak-injak (harga dirinya) Namun ia tercipta dari tulang rusuk sebelah kiri, didekat hati agar ia dicintai... dan terletak di dekat tangan,sejatinya agar ia dilindungi...." (Karitasurya)

Bagaimanakah aturan islam tentang berpakaian, baik bagi laki-laki ataupun perempuan ? Salah satu perbedaan sistem Islam dengan sistem Kapitalis adalah bahwa sistem Kapitalis memandang persoalan sosial dan rumah tangga dianggap sebagai masalah ekonomi, sedangkan sistem Islam masalah-masalah di atas dibahas tersendiri dalam hukum-hukum seputar interaksi pria-wanita (nizhâm

al-ijtima’iyyah). Misalnya dalam sistem kapitalisme tidak ada istilah zina jika laki-laki dan perempuan melakukan hubungan suami isteri tanpa ikatan pernikahan asal dilakukan suka-sama suka atau saling menguntungkan sebaliknya disebut pelecehan seksual dan pelakunya dapat diajukan ke pengadilan jika seorang suami memaksa dilayani oleh seorang isteri sementara isterinya menolak. Karena itu dalam persoalan pakaian antara penganut sistem kapitalis dan sistem Islam jelas perbeda. Dalam sistem kapitalis pakaian dianggap sebagai salah satu ungkapan kepribadian, sebagai unsur penarik lawan jenis dan karena itu memiliki nilai ekonomis. Bentuk tubuh seseorang –apalagi wanita– sangat berpengaruh terhadap makna kebahagiaan dan masa depan. Adapun Islam menganggap bahwa pakaian digunakan memiliki karakteristik yang sangat jauh dari tujuan ekonomis apalagi yang mengarah pada pelecehan penciptaan makhluk Allah. Karena itu di dalam Islam: 1. Pakaian dikenakan oleh seorang muslim maupun muslimah sebagai ungkapan ketaatan dan ketundukan kepada Allah, karena itu berpakaian bagi seorang muslim memiliki nilai ibadah. Karena itu dalam berpakaian iapun mengikuti aturan yang ditetapkan Allah. 2. Kepribadian seseorang ditentukan semata-mata oleh aqliyahnya (bagaimana dia menjadikan ide-ide tertentu untuk pandangan hidupnya) dan nafsiyahnya (dengan tolok ukur apa dan seberapa banyak dia berbuat dalam memenuhi kebutuhan hidup dan melampiaskan nalurinya). 3. Setiap manusia memiliki kedudukan yang sama, yang membedakan adalah takwanya. Melalui cara berpakaian yang Islami, sesungguhnya Allah juga berkehendak memuliakan manusia sebagai makhluk yang memang telah Allah ciptakan sebagai makhluk yang mulia. Sebaliknya dengan tidak mengikuti cara berpakaian sesuai yang dikehendaki Allah, menyebabkan kedudukan manusia jatuh. Walhasil seorang muslim dan muslimah wajib mengetahui aturan berpakaian agar dalam berpakaian dan berpenampilan ia akan mendapatkan ridha Allah, bukan sebaliknya mendapatkan murka Allah. B. Pakaian Bagi Seorang Muslim Pakaian yang dikenakan oleh seorang muslim haruslah memenuhi syarat tertentu, yakni: 1. Menutup aurat; 2. Tidak terbuat dari emas atau sutera; 3. Tidak menyerupai pakaian wanita; 4. Tidak menyerupai orang-orang kafir. C. Aurat Laki-Laki Aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut, berdasarkan riwayat ‘Aisyah: Dari ‘Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari kakeknya, beliau menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jika ada di antara kalian yang menikahkan pembantu, baik seorang budak ataupun pegawainya, hendaklah ia tidak melihat bagian tubuh antara pusat dan di atas lututnya.” [HR. Abu Dawud, no. 418 dan 3587]. Rasulullah Saw bersabda: Aurat laki-laki ialah antara pusat sampai dua lutut. [HR. ad-Daruquthni dan al-Baihaqi, lihat Fiqh Islam, Sulaiman Rasyid]. Dari Muhammad bin Jahsyi, ia berkata: Rasulullah Saw melewati Ma’mar, sedang kedua pahanya dalam keadaan terbuka. Lalu Nabi bersabda: “Wahai Ma’mar, tutuplah kedua pahamu itu, karena sesungguhnya kedua paha itu aurat.” [HR. Ahmad dan Bukhari, lihat Ahkamush Sholat, Ali Raghib]. Jahad al-Aslami (salah seorang ashabus shuffah) berkata: pernah Rasulullah Saw duduk di dekat kami sedang pahaku terbuka, lalu beliau bersabda: “Tidakkah engkau tahu bahwa paha itu aurat?” [HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Malik, lihat Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni]. Juga Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ali ra: “Janganlah engkau menampakkan pahamu dan janganlah engkau melihat paha orang yang masih hidup atau yang sudah mati.” [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihat Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni]. Larangan Memakai Emas Dan Sutera Bagi Laki-Laki Larangan ini berdasarkan hadits: Diriwayatkan dari al-Bara’ bin Azib r.a katanya: “Rasulullah Saw memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara. Baginda memerintahkan kami menziarahi orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang bersin, menunaikan sumpah dengan benar, menolong orang yang dizalimi, memenuhi undangan dan memberi salam. Baginda melarang kami memakai cincin atau bercincin emas, minum dengan bekas minuman dari perak, hamparan sutera, pakaian buatan Qasiy yaitu dari sutera, serta mengenakan pakaian sutera, sutera tebal dan sutera halus.” [HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad, CD Al-Bayan 1212]. Larangan Menyerupai Wanita Seorang laki-laki dilarang bertingkah laku, termasuk berpakaian menyerupai wanita dan sebaliknya seorang wanita bertingkah laku termasuk berpakaian seperti laki-laki. Larangan Menyerupai Orang Kafir Menyerupai orang kafir (tasyabbuh bil kuffar) dilarang bagi muslim maupun muslimah. Tasyabbuh dapat dilakukan melalui pakaian, sikap, gaya hidup maupun pandangan hidup. Bagi seorang laki-laki pakaian yang harus dikenakan sama, apakah dia di dalam rumah, di luar rumah, di hadapan mahram atau bukan, kecuali di hadapan isteri. D. Pakaian Bagi Seorang Muslimah

Aurat Wanita Pembahasan aurat wanita dibagi menjadi tiga keadaan. Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab. hal. an-Nûr [24]: 60). Sedangkan yang dimaksud dengan yang biasa nampak daripadanya adalah wajah dan telapak tangan. Hal tersebut diperkuat dengan sabda Rasul Saw kepada Asma’ binti Abu Bakar: “Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini. 5. an-Nûr [24]: 31 turun sebelum ayat tentang jilbab sehingga ayat ini hanya menyampaikan batasan aurat dan perintah memakai kerudung. Di hadapan mahrom maka cukup menggunakan mihnah (kecuali di tempat umum maka harus memenuhi pakaian wanita di tempat umum). d. Larangan tasyabbuh terhadap laki-laki. Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir. E. tempat kalung (leher). Khusus untuk wanita menopause diperbolehkan Allah untuk melepaskan jilbabnya hanya saja tetap diperintahkan untuk tidak tabarruj. 6. karena illa mâ zhahara minha yang dimaksud adalah yang biasa nampak pada saat itu (saat ayat ini turun) yaitu muka dan telapak tangan. Di hadapan muhrimnya dan orang-orang yang disebut dalam Qs. Tidak tabarruj. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka. Tafsir mengenai hal ini. Rincian masing-masing persyaratan di atas berbeda-beda berdasarkan: 1. kecuali…” (Qs. 1. tempat gelang tangan (pergelangan tangan) sampai pangkal lengan dan tempat gelang kaki (pergelangan kaki) sampai lutut. b. yang terulur langsung dari atas sampai ujung kaki. Tidak menyerupai pakaian laki-laki. juga dari Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menyatakan “Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa sesuatu yang biasa nampak adalah muka dan telapak tangan. Karena dua bagian ini yang biasa nampak dari wanita muslimah di hadapan Rasul Muhammad Saw (baik dalam sholat. Kewajiban menggunakan pakaian khusus di kehidupan umum. 4. jadi menyangkut anggota badan. 94). 3.” [HR. Tidak tembus pandang. kulot panjang dan lain-lain. Pemahaman mahaluzzinah ini diambil dari firman Allah SWT: “…. Qs. Adapun di hadapan laki-laki selain suami dan muhrimnya maka aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. 2. Larangan tabarruj (menonjolkan keindahan bentuk tubuh. Beliau menunjuk pada wajah dan telapak tangannya. Di hadapan suami mereka maka wanita boleh menampakkan seluruh bagian tubuhnya (berdasarkan hadits riwayat Bahz bin Hakim). 2.dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. an-Nûr [24]: 31 dan Qs. kecuali jika ada tamu laki-laki non muhrim. Pakaian itu tidak menampakkan aurat (dapat menutup semua aurat). No. kecuali aurat yang ada di antara pusar dan lutut. yaitu: 1. Kata zinah yang secara bahasa berarti perhiasan. 3580]. maka wajib menutup aurat yang harus ditutup di hadapan bukan mahrom). Menutup aurat. an-Nûr [24]: 31). Keberadaan wanita di tempat umum atau di tempat khusus. payudara. . Mahaluzzinah ini biasa tampak ketika wanita memakai baju dalam rumah (mihnah). Selain itu anggota tubuh lain boleh tampak termasuk apabila ada hajat seperti perut.dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Keberadaan wanita di hadapan mahram atau bukan atau di hadapan suami atau bukan. Kewajiban menutup aurat. Misalnya di dalam rumah sendiri seorang wanita boleh membuka jilbabnya dan hanya memakai mihnahnya. tetapi hanya memberikan beberapa syarat yaitu: 1. Abu Dawud.” (Qs. Penampilan wanita dibedakan antara tempat khusus dan tempat umum. Adapun berkaitan dengan apa aurat itu ditutup. yaitu kerudung (khimar) dan jilbab (pakaian luar yang luas (seperti jubah) yang menutup pakaian harian yang biasa dipakai wanita di dalam rumah (mihnah). mihnah dan memenuhi kriteria irkha’). 2. Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya. an-Nisâ’ [4]: 23 maka baginya boleh menampilkan bagian tertentu dari anggota tubuhnya yang biasa disebut mahaluzzinah yaitu anggota badan yang biasanya dijadikan tempat perhiasan. Ibnu Abbas menyatakan yang dimaksud dengan illa mâ zhahara minha adalah muka dan tangan. an-Nûr [24]: 31). maka sesungguhnya syara’ tidak menentukan pakaian tertentu untuk menutup aurat. Dasar dari penentuan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. seperti: kepala seluruhnya.” (Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an. 18. sehingga diperbolehkan baginya menggunakan baju panjang selapis/tidak rangkap (bukan jilbab) model apa saja selama tidak menampakkan keindahan tubuhnya seperti baju panjang atas bawah. tetapi bukanlah perhiasan yang biasa dipakai orang tetapi makna zinah di sini adalah anggota badan yang merupakan tempat perhiasan (mahaluzzinah). dan janganlah menampakkan perhiasan mereka. kecantikan dan perhiasan di depan laki-laki non muhrim atau dalam kehidupan umum). yaitu: “….Adapun pakaian yang dikenakan oleh seorang muslimah haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Adapun di tempat umum penampilan wanita dibatasi dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: a. Qs. haji maupun dalam kehidupan sehari-hari di luar sholat dan haji) dan Rasul mendiamkannya sementara ayat-ayat al-Qu’ran masih turun. khumur. di hadapan suami tidak ada keharusan menutup bagian tubuhnya (walaupun dianjurkan tidak telanjang). jld. 7. Pakaian wanita di dalam rumahnya cukup menggunakan mihnah (kecuali ada tamu bukan mahrom. Sedangkan kewajiban berjilbab akan dibahas menyusul. c. seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

atau putera-putera saudara laki-laki mereka. atau putera-putera saudara perempuan mereka. Pakaian itu dapat menutup kulit. terulur sampai sampai menutupi ujung pakaian bawah (jilbab) yakni kancing baju di atas dada.” (Qs. Dan hendaklah mereka menutupkankhumur (kain kerudung) ke juyub (dada)-nya. rukuh tipis dan lain-lain. Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya. kaos kaki tipis. Pada Qs. atau ayah mereka. Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab. oleh karena itu jenis pakaian tersebut hanya bisa dipakai oleh wanita yang sudah menopause dan sudah tidak punya keinginan seksual (Qs. Tidak menyerupai pakaian laki-laki. dan janganlah menampakkan perhiasanyaa. dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. hitam dan lain-lain. kecuali kepada suami mereka. 3. dan memelihara kemaluannya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. atau ayah suami mereka. Dalil kewajibannya adalah sebagai berikut: (1) ungkapan Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka sebagaimana disebutkan dalamfirman Allah SWT: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu. Rasulullah dalam hadits di atas menganggap baju yang tipis belum menutup aurat dan menganggap auratnya terbuka. Dengan kata lain khimar adalah kain yang menutupi kepala tanpa menutupi wajah. beliau menyuruhnya agar isterinya mengenakan pakaian tipis lagi di bawah pakaian tipisnya itu. daster dan lain-lain. an-Nûr [24]: 60).2. Tidak tabarruj. 4. mihnah dan memenuhi kriteria irkha’). (3) Ungkapan salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab. Saya berkata: “Ya Rasulullah salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab”. beliau telah meriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakar datang kepada Rasulullah Saw dengan memakai baju yang tipis maka Rasulullah memalingkan wajahnya dari Asma’ dan bersabda: “Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini…” [HR. Abu Dawud.” Artinya wanita harus menutup sifat dari tulangnya. al-Ahzab [33]: 59). yakni: 1. Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir. wanita yang sedang haid. Memahami Pengertian Jilbab . Allah dan Rasul-Nya memerintahkan muslimah menggunakan sejenis pakaian yang disebut jilbab. Dalil-dalil mengenai masalah ini lihat lagi pembahasan di atas. atau putera-putera suami mereka. sehingga tidak diketahui warna kulit dari wanita yang memakainya. Kewajiban menggunakan khumur muncul dari perintah dan hendaklah mereka menutupkan khumur/kain kerudung ke juyub (dada)-nya. nenek-nenek. (2) Kebolehan menanggalkan pakaian luar (jilbab) bagi wanita menopouse dengan ungkapan tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka sebagaimana dalam firman Allah SWT: “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi). Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. atau wanita-wanita Islam. Sesungguhnya aku takut wanita itu tersifati tulangnya. Berkata: Rasulullah memerintahkan kepada kami. sehingga beliau memalingkan wajah dari Asma’ dan memerintahkan Asma’ untuk menutup aurat. no 1475]. Tidak tembus pandang. Dan bertaubatlah kepada Allah. Hanya saja apabila wanita selain yang menopause berada di luar rumah atau tempat-tempat umum (masjid. sehingga kelihatan warna kulitnya. Muslim.” (Qs. dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. 3580]. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 7. yaitu pada saat wanita berada di luar rumahnya/di hadapan laki-laki non mahrom. Menutup aurat. Untuk wanita menopause ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan dalam berpenampilan yaitu tidak diperbolehkan tabarruj. atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan (tabarruj). 6. atau saudara-saudara laki-laki mereka. an-Nûr [24]: 60). terdapat ketentuan lain yang perlu diperhatikan yaitu adanya kewajiban menggunakan pakaian khusus yang telah diperintahkan Allah berupa khimar (kerudung) dan jilbab (jubah langsungan dari atas sampai ujung kaki). Jika pakaian itu tipis misal brokat. jalanan dan lain-lain) maka selain batasan aurat dan larangan tabarruj. 2. kulot panjang dan lain-lain.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. Maka bagi wanita yang sedang haid janganlah sholat dan hendaklah menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Dengan demikian untuk bagian atas badan wanita diwajibkan mengenakan kerudung yang diulurkan sampai ujung pakaian (kancing pembuka)/di atas dada. al-Ahzab [33]: 59 dan hadist dari Ummu ‘Athiyah. Meskipun jenis baju tersebut menutup aurat tetapi bukan termasuk jilbab. yaitu apakah kulitnya putih. Dalil bahwa syariat Islam telah mewajibkan menutup kulit sehingga tidak tampak warna kulitnya adalah hadits yang diriwayatkan dari A’isyah ra. Khumur adalah jama’ dari khimar yaitu kerudung yang menutupi kepala. maka wanita yang memakai pakaian tersebut dianggap auratnya tampak atau tidak menutupi auratnya. Oleh karena itu celana panjang. Untuk lebih detailnya tentang pakaian khusus di kehidupan umum maka dapat dilihat pada pembahasan selanjutnya. khumur. Dan Rasulullah memberi illat pada masalah itu dengan sabdanya: “Sesungguhnya aku takut wanita itu tersifati tulangnya.” (Qs. Pakaian Wanita di dalam Kehidupan Umum Dalam kehidupan umum. hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung’. anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya. kaos kaki panjang. Dalil lain yang memperkuat dalam masalah ini adalah hadits yang diriwayatkan Usamah: “Perintahkan isterimu untuk mengenakan pakaian tipis lagi (gholalah) di bawah baju tipis tersebut. wanita pingitan untuk keluar pada hari raya Fitri dan Adha. maka seorang wanita harus menggunakan pakaian secara sempurna. Apabila tidak memenuhi syarat tersebut tidak dapat diianggap sebagai penutup aurat. pasar. an-Nûr [24]: 31). atau putera-putera mereka.” Rasulullah Saw ketika mengetahui Usamah memakaikan pakaian tipis itu pada isterinya. tidak boleh menggunakan pakaian yang tipis. karena itu mereka tidak diganggu. merah. Adapaun dalil lainnya adalah sebagai berikut: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya. bukan pakaian lain seperti baju panjang atas bawah.” Sebagimana dalam hadits dari Ummu ‘Athiyah ra. 5. Dengan demikian wanita harus memperhatikan 2 syarat tersebut ketika memilih jenis dan bahan pakaian penutup aurat termasuk penutup aurat di depan mahrom dan wanita lain seperti celana 3/4 sampai lutut. sehingga kelihatan warna kulit (rambut) si pemakai pakaian itu. kerudung tipis. dan juyub adalah jama’ dari kata jaibun yaitu ujung pakaian (kancing pembuka) yang ada di sekitar leher dan di atas dada. Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya. Sedangkan bawahnya diperintahkan menggunakan jilbab/jubah. kaos stret pas badan tidak boleh digunakan sebagai penutup aurat wanita menopause karena termasuk tabarruj (menonjolkan kecantikan dan perhiasan/bentuk tubuh). kuning. no.” (HR.

an-Nûr [24]. Tidak ada makna syara’ tertentu terhadap kata tabarruj. motor dan lain-lain maka diwajibkan untuk menggunakan penutup kaki apa saja seperti kaos kaki. dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. an-Nûr [24]: 60 dapat diambil pemahaman bahwa wanita menopause yang sudah tidak mempunyai keinginan seksual diperbolehkan melepaskan tsiyabnya (pakaian luarnya/jilbab). Apabila jilbabnya sudah terulur sampai ujung kaki tetapi jika berjalan kakinya masih terlihat sedikit seperti ketika menerima tamu. Definisi jilbab ini juga tersirat dalam Qs. maka mereka tidak akan masuk surga dan tidak mendapatkan baunya. yaitu jilbab harus diulurkan sampai menutupi kedua telapak kaki sehingga dapat diketahui dengan jelas bahwa baju itu adalah baju di kehidupan umum. Dalil ini juga menjelaskan akan larangan tabarruj.Kata jilbab digunakan di dalam al-Qur’an dan Hadits. Allah membolehkan mereka (wanita yang berhenti haid dan tidak ingin menikah) menanggalkan pakaian luar mereka (jilbab). namun bermakna menonjolkan perhiasan.” Kata telanjang. dia berkata jilbab (pada nash tersebut): baju luar yang berfungsi menutupi tubuh dari atas sampai bawah (tanah). daster. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu abbas dan juga dapat dipahami dari nash-nash yudnîna ‘alaihinna min jalabibihinna di sini bukan menunjuk sebagian tetapi untuk menjelaskan. Dalam kamus arab Al-Muhith. Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menyeret pakaiannya dengan sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. tanpa bertabarruj.” Diriwayatkan pula dengan sabda Rasulullah Saw: “Dua golongan penghuni neraka. Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar.” Dari sini jelas bahwa jilbab tidak boleh diulurkan bagian per bagian misalnya baju potongan. yang berarti wanita tersebut telah menonjolkan perhiasannya. an-Nûr (24): 60). yaitu menggerakkan kaki sampai terdengar bunyi gelang kakinya sehingga orang lain menjadi tahu perhiasan wanita yang menggerakkan kaki tersebut. tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan. keindahan tubuh pada laki-laki asing adalah seperti yang diriwayatkan dari Abi Musa Asy Sya’rawi: “Wanita yang memakai parfum. an-Nûr [24]: 60 walaupun pada ayat tersebut Allah menggunakan istilah tsiyab untuk menyebut makna jilbab. kulot panjang dan lain-lain. Hanya saja apabila aktivitas wanita tersebut membuat kakinya banyak terlihat semisal mengendarai sepeda. perhiasan (tidak tabarruj) yaitu diperbolehkan menggunakan baju apa saja sejenis mihnah yang tidak menampakkan kecantikan/bentuk tubuh seperti baju atas bawah panjang. oleh karena itu apabila jilbabnya terulur sampai mata kaki dan sisanya (telapak kaki) ditutup dengan kaos kaki/sepatu. jilbab bermakna: Pakaian yang lebar bagi wanita. III.” (Qs. Hal ini ditunjukkan dalam firman Allah SWT: “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi). mall. mihnah dan jilbab. Dari Qs. 31). yang menutupi tsiyab/mihnah (pakaian harian yang biasa dipakai ketika berada di dalam rumah). bentuknya seperti malhafah (kain penutup dari atas kepala sampai ke bawah). Ayat lain yang melarang tabarruj adalah firman Allah SWT: “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. . kecantikan termasuk bentuk tubuh dan sarana-sarana lain dalam berpenampilan agar menarik perhatian lawan jenis. tidak seperti celana ketat panjang karena hal itu termasuk tabarruj. berlenggak-lenggok dan seperti punuk unta menunjukkan arti agar tampak perhiasan dan kecantikannya. berarti tersisa mihnah. 1803) yang diartikan sebagai kain yang dipakai seorang wanita untuk menutupi seluruh tubuhnya.” Artinya jika seseorang tidak mempunyai jilbab dan saudaranya tidak meminjami maka wanita itu tidak boleh keluar. bentuk tubuh ketika di kehidupan umum seperti di jalan-jalan. Pengertian ini dapat ditemukan juga dalam Tafsir Jalalain (lihat Tafsir Jalalain. Tabarruj secara bahasa berarti menonjolkan perhiasan. Dalil lain yang menerangkan bahwa tabarruj adalah menonjolkan perhiasan. Jika wanita tua saja dilarang untuk bertabarruj. sebagaimana Ummu ‘Athiyah berkata kepada Rasulullah Saw: “Salah seorang dari kami tidak mempunyai jilbab”. hanya saja selanjutnya diperintahkan untuk tidak menampakkan kecantikan. yaitu menonjolkan perhiasan. Jilbab selain harus luas dipersyaratkan harus diulurkan langsung ke bawah sampai menutupi dua telapak kaki. berjalan di sekitar rumah. Sarana lain yang biasa digunakan misalnya wangi-wangian. bentuk tubuh.” Ummu Salamah bertanya lagi: “Kalau demikian terlihat kaki mereka. warna baju yang mencolok atau penampilan tertentu yang “nyentrik” atau perhiasan yang berbunyi jika dibawa jalan. tetapi diulurkannya langsung dari atas ke bawah. Inilah indikasi (qarinah) bahwa perintah hadits tersebut adalah wajib. Adapun Hadist dari Ummu ‘Athiyah menerangkan dengan jelas ketika wanita keluar rumah/dihadapan laki-laki non mahrom diwajibkan menggunakan pakaian yang dipakai di atas pakaian dalam rumah (mihnah). maka hal ini tidak cukup menggantikan keharusan irkha’ (terulurnya baju sampai ke bawah). kecantikan. Memahami Pengertian Tabarruj Tabarruj telah diharamkan oleh Allah SWT dengan larangan yang menyeluruh dalam segala kondisi dengan dalil yang jelas. saya belum melihat sebelumnya adalah: wanita yang berpakaian seperti telanjang dan wanita yang berjalan lenggaklenggok di atas kepala mereka seperti punuk unta. namun maksud kata itu harus dikembalikan pada maksud yang dipahami oleh masyarakat ketika kata itu diturunkan/diungkapkan. Orang tua (menopouse) boleh tetap mengenakan jilbab dan boleh juga mengenakan baju apa saja selain jilbab selama tidak menonjolkan perhiasan. maka mafhum muwafaqahnya yaitu wanita yang belum berhenti haid lebih dilarang untuk bertabarruj. Tabarruj berbeda dengan perhiasan atau berhias. kemudian melewati suatu kaum (sekelompok orang) supaya/sampai mereka mencium aromanya maka berarti dia pezina. jld. sepatu dan lain-lain. Pemahaman dari ayat ini adalah larangan bertabarruj secara mutlak.pasar. Selain itu mengulurkannya harus sampai telapak kaki (bukan mata kaki). Berarti dapat dipahami pula bagi wanita yang belum menopause diwajibkan untuk menggunakan tiga lapis/jenis pakaian ketika di hadapan laki-laki non mahrom yaitu kerudung. Jadi kesimpulannya jilbab harus diulurkan langsung ke bawah (tidak potong-potong/atas bawah) sampai menutup dua telapak kaki (bukan mata kaki).” Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana yang harus diperbuat para wanita terhadap ujung baju (jilbab) mereka?” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mereka mengulurkan sejengkal. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. tidak boleh kurang dari itu. Demikian pula yang disebutkan oleh al-Jauhari dalam kitab Ash Shihah. Sedangkan pengertian tabarruj adalah menonjolkan perhiasan. hal.” (Qs. Dan jilbab yang dimaksudkan pada hadist ini bukan sekedar penutup aurat tetapi sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa jilbab: baju luar yang berfungsi menutupi tubuh langsung dari atas sampai bawah. sedangkan makna yudnîna adalah yurkhîna ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). Tsiyab disini dipahami pakaian luar/jilbab bukan baju biasa karena tidak mungkin Allah memerintahkan wanita menopause telanjang. sehingga penafsiran kata tabarruj diambil dari makna lughawi (bahasa). Atas dasar ini dapat dimengerti bahwa tabarruj tidak sama dengan sekedar perhiasan atau berhias. maka hal ini tidak apa-apa walaupun tetap dianjurkan untuk ‘iffah (berhati-hati/menjaga diri). kecantikan termasuk keindahan tubuh pada laki-laki non muhrim. maka Rasulullah menjawab: “Hendaklah saudara perempuannya meminjamkan jilbabnya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas. dll. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah adanya irkha’. Allah dalam ayat ini melarang salah satu bentuk tabarruj.” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mengulurkan bajunya sehasta dan jangan lebih dari itu.

Wanita tipe pejuang memiliki kepribadian kuat. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami. Budaya barat adalah penyebab fenomena ini. yang garis besarnya pernah aku tulis di sini. Kelima. Walau berada dalam cengkraman Fir’aun. Karena itu. maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah. Karena keutamaan inilah. Marilah ke sini. Namun ingat. Ketiga. sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Difirmankan. Namun karakteristik dan sifatnya tetap abadi sampai sekarang. Istrinya Nabi Nuh dan Nabi Luth mewakili tipe ini. maka hukum asalnya adalah mubah untuk dikenakan selama belum ada dalil yang mengharamkanya. seraya berkata. tipe wanita pengkhianat dan ingkar terhadap suaminya. Bersama suaminya. Allah SWT memuji wanita yang tidak taat kepada suaminya yang zalim. demikian pula istrinya. bolehkah ini . maka kemuliaan dan kebahagiaan yang akan kita dapatkan. Tipe ini diwakili Hindun. sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina! . Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu. kehinaan di dunia dan kesengsaraan akhiratlah akan kita rasakan. Ia berani menanggung risiko apa pun saat keimanannya diusik dan kehormatannya dilecehkan.” (HR. kepribadian wanita pun memiliki beragam jenis dan corak. Sedangkan bila memilih tiga tipe terakhir. Bila memilih tipe pertama dan kedua. Bahkan itu sudah menjadi sesuatu yang mentradisi dan dianggap lumrah. Mereka adalah wanita-wanita yang memakai pakaian tapi telanjang. Kepalanya bergoyanggoyang bak punuk onta. Demikian ungkap Maryam (QS Maryam [19]: 20). wanita yang rambutnya minta disambungkan. agar tidak terlalu panjang. Tidak pula itu diuji dengan pertanyaan. Perhiasan adalah asy yâ’ (benda). namun karena keshalihan dan kesuciannya. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung (QS Yusuf [12]: 23). insya ALLOH tidak mengurangi makna yang terkandung. tipe wanita penggoda. tukang fitnah dan biang gosip. Yusuf berkata. pada saat bersamaan Allah pun mengecam perempuan yang bekhianat kepada suaminya (yang saleh). bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim (QS At Tahriim [66]: 11). tipe wanita shalihah yang menjaga kesucian dirinya. Pertama. Allah SWT mengabadikan namanya sebagai nama salah satu surat dalam Alquran (QS Maryam [19]). Tipe ini diwakili Maryam binti Imran. Hari-harinya ia isi dengan ketaatan kepada Allah. (QS At Tahriim [66]: 10). Aurat dan Jilbab (01) Aku dapat artikel ini dari temanku. Dalam istilah sekarang wanita penyiram bensin. istri Fir’aun. Kita diberi kebebasan untuk memilih tipe mana saja yang paling disukainya. Tipe-tipe Wanita dalam Alquran May 18th. Saat suaminya memperjuangkan kebenaran. butik atau toko yang menjual pakaian wanita. dan ia berdoa.” Walaupun semula berhias dalam kondisi berkabung dibolehkan akan tetapi bisa menjadi haram manakala berhiasnya menggunakan perhiasan yang haram dan apabila berhiasnya sampai menjadikannya termasuk tabarruj yaitu menonjolkan perhiasan dan kecantikan di hadapan laki-laki asing (non mahrom). Ya Tuhanku. Allah SWT mengabadikan doanya. 2007 Ketika memasuki sebuah showroom. Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). Perhiasan apapun bentuknya adalah mubah selama belum ada dalil yang mengharamkannya. menyebar fitnah dan melakukan kezaliman. Allah SWT memuliakan Maryam bukan karena kecantikannya. kita akan mendapatkan pakaian dalam berbagai bentuk.Adapun mengenai perhiasan. istrinya Abu Lahab. Wanita-wanita yang dikisahkan Alquran ini hidup ribuan tahun lalu. dan wanita yang minta ditato. Ada pula tipe penghasut. Kedua. Seperti halnya pakaian. pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali dari sabut (QS Al Lahab [111]: 1-5). corak dan ragamnya. dan dikatakan (kepada keduanya). Alquran memberi tuntunan kepada orang-orang beriman (khususnya Muslimah) agar tidak salah dalam memilih kepribadian. Aku bagi menjadi 2 bagian. Keempat. Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan. Pakaian dapat kita analogikan dengan kepribadian. Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya. Ia pun sangat konsisten menjaga kesucian dirinya. Mau pilih yang mana? Semuanya terserah kita. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Lima tipe wanita Setidaknya ada lima tipe wanita dalam Alquran. Namun itu adalah hal baru yang lantas diterima tanpa dikritisi.Arsip Fiqh Rasululloh SAW bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. mereka malah menjadi pengkhianat dakwah. Kita pula yang akan menerima konsekuensi dari memakai pakaian tersebut. tipe pejuang. Dan Allah menjadikan perempuan Fir’aun teladan bagi orang-orang beriman. Alquran menjulukinya sebagai “pembawa kayu bakar” alias penyebar fitnah. Artikel ini aku kupipes dan sedikit diedit. penggoda dan pengkhianat. Ada wanita salehah yang tangguh dalam ibadah dan konsisten menjaga kesucian diri. Isa putra Maryam (QS Maryam [19]: 1634). agar tidak menyesal dikemudian hari. Wallaahu a’lam. 10/13/2001 . wanita yang mentato. Sebagian perhiasan memang diharamkan Allah antara lain: seperti yang terungkap dari riwayat Ibnu Umar: “Sesungguhnya Nabi melaknat wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain. tipe penghasut. Semoga bermanfaat. Tipe ini diperankan Zulaikha saat menggoda Nabi Yusuf. Isu yang awalnya biasa. seperti dilakukan perempuan Fir’aun (QS At Tahriim [66]: 11). dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa (QS An Nuur [24]: 34). Namun. Ada tipe pejuang yang kokoh keimanannya. Hukum asal suatu benda (asy yâ’) adalah mubah. Tipe ini diwakili oleh Siti Asiyah binti Mazahim. Aku berlindung kepada Allah. dalam setiap pilihan ada tanggung jawab yang harus dipikul. Sebab pakaian yang mereka kenakan tak dapat menutupi apa yang ALLOH SWT perintahkan untuk ditutupi. Kebetulan cukup detail membahas aurat perempuan. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian. Petualangan Zulaikha diungkapkan dalam Alquran. Maryam pun diamanahi untuk mengasuh dan membesarkan Kekasih Allah. Sebab kita sendiri yang akan memakainya. Asiyah mampu menjaga akidah dan harga dirinya sebagai seorang Muslimah. Muslim) Wanita-wanita yang digambarkan Rasul dalam hadis di atas sekarang banyak sekali kita lihat. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki. menjadi luar biasa ketika diucapkan Hindun. hal ini sesuai dengan kaidah syara’. Sebab pakaian yang “tak layak” tersebut bukanlah merupakan budaya masyarakat Islam dan tidak pula dikenal dalam tradisi masyarakat kita. Asiyah lebih memilih istana di surga daripada istana di dunia yang dijanjikan Fir’aun. Terserah kita mau pilih yang mana. Hindun bahu membahu menentang dakwah Rasulullah SAW.

Ini menunjukkan bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurat yang harus ditutup. Bahkan diriwayatkan bahwa ritual haji pada zaman jahiliyyah mengharuskan seseorang thawaf mengelilingi ka’bah dalam keadaan bugil tanpa memandang apakah itu lelaki atau perempuan. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa. b. Selain kedua dalil di atas masih ada dalil-dalil lain yang menegaskan akan kewajiban menutup aurat ini: 1. Keterangan : Hadis ini menunjukkan dua hal: a. b. AlAhzab: 33). ada pelarangan penggunaan jilbab walau sudah tidak terlalu banyak perdebatan lagi. Boleh jadi karena perasaan rendah diri yang akut dan silau terhadap kemajuan barat dalam beberapa hal akhirnya banyak di antara kita yang menerima budaya barat dengan mata tertutup (atau sengaja menutup mata). Atau dalam bahasa kita disebut jilbab.” (HR. Abu Daud dan Baihaqi). Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian. Selebihnya hanyalah pakaian luarnya saja. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram. lantas Rasululloh SAW berpaling darinya dan berkata:“Hai Asma. Berarti tidak cukup hanya dengan menutupkan jilbab pada kepala saja dan ujungnya diikatkan ke belakang.menurut agama. AURAT WANITA DAN HUKUM MENUTUPNYA Aurat wanita yang tak boleh terlihat di hadapan laki-laki lain (selain suami dan mahramnya) adalah seluruh anggota badannya kecuali wajah dan telapak tangan. (tambahan dariku) Meski di Perancis malah terjadi sebaliknya. 2. Jelasnya saat ini sudah tak ada lagi larangan untuk mengenakan busana dan pakaian yang menutup aurat. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini. anak-anak perempuanmu. Ini menunjukkan bahwa pamer aurat dan “buka-bukaan” adalah dosa besar. 2. bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). di pasar dan bahkan di terminal-terminal. bahwasanya beliau bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mrip ekor sapi untk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Yaitu siksaan api neraka. Permasalahannya. Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita. Sebab perbuatan-perbuatan yang dilaknat oleh ALLOH SWT atau Rasul-Nya dan yang diancam dengan sangsi duniawi (qishas. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (Ind: jilbab)nya ke dadanya…’” Keterangan : Ayat ini menegaskan empat hal: a. d. katakanlah kepada istri-istrimu. Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka. Para ulama mengatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan akan haramnya menampakkan anggota badan tempat perhiasan tersebut. Malah di beberapa negara barat (Inggris dan Jerman misalnya) muslimah-muslimah pemakai jilbab tak lagi sulit ditemukan. Sebab jika perhiasannya saja dilarang untuk ditampakkan apalagi tempat perhiasan itu berada. Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat solat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya. Hadis Rasululloh SAW. Konteks ayat di atas adalah ditujukan untuk istri-istri Rasululloh SAW.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Keterangan: Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung).” (Qs. Keterangan: Tabarruj adalah perilaku mengumbar aurat atau tidak menutup bagian tubuh yang wajib untuk ditutup. yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Said bin Jubair RA. Hanya saja beliau (Ibnu Abbas) menambahkan cincin dalam golongan ini.” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. Namun di sana kita juga melihat fajar yang mulai terbit. Menurut Ibnu Umar RA. Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. mengatakan maksudnya adalah pakaian dan wajah. Di kampus. mengatakan maksud kata tersebut adalah pakaian dan jilbab.’ Imam Auzai dan Ibnu Abbas RA. rajam. yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan. Al-Ahzab: 59). Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Hadis riwayat Aisyah RA. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Betapa sekarang kita banyak melihat indahnya kibaran jilbab di mana-mana. Dan ALLOH SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kesadaran untuk kembali kepada budaya kita sendiri (baca: budaya berpakaian islami) mulai tumbuh. Begitu pula menurut ‘Atho. “Hai Nabi. Yang pasti alasan dilarang oleh si ini dan si itu kini tak berlaku lagi. Muslim) Keterangan: Hadis ini menjelaskan tentang ancaman bagi wanita-wanita yang membuka dan memamerkan auratnya. Kaidah ilmu ushul fiqh mengatakan: “Yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafadz sebuah dalil dan bukan kekhususan sebab munculnya dalil tersebut (al ibratu bi umumil lafdzi la bikhususis sabab). apakah jaminan kebebasan ini kemudian segera disambut oleh para muslimah kita dengan segera kembali mengenakan pakaian takwa itu atau tidak. . Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat. (HR. Namun keumuman ayat ini mencakup seluruh wanita muslimah. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada. Fenomena mengumbar aurat ini adalah merupakan perilaku jahiliyyah. Al-Qur’an surat Annur(24):31 “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasululloh SAW dengan pakaian yang tipis. di sekolah. b. Dari penafsiran para sahabat dan para ulama ini jelaslah bahwa yang boleh tampak dari tubuh seorang wanita adalah wajah dan kedua telapak tangan. Ibnu Mas’ud RA. “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu…” (Qs. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan. c. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh ALLOH SWT. Dari Al-Qur’an: a. Yang menjadi dasar hal ini adalah: 1. potong tangan dll) atau azab neraka adalah dosa besar. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada. Sekarang marilah kita perhatikan penafsiran para sahabat dan ulama terhadap kata “…kecuali yang biasa nampak…” dalam ayat tersebut. atau baikkah ini bagi kita dan pertanyaan lain yang senada.

s. serta beramal saleh. memiliki berbagai implikasi signifikan. secara ahistoris. Menurut Farid Esack dalam Qur’an. s. al-Qur’an menerima keberadaan kehidupan religius komunitas lain yang semasa dengan kaum Muslim awal. yaitu menggapai keselamatan universal. Dalam hal ini. Al-Qur’an juga mengakui keabsahan semua agama wahyu dalam dua hal: pertama. s. dan praktik-praktik keagamaan mereka. Esack mengungkapkan bahwa ide perkembangan sikap al-Qur’an terhadap kaum lain bersifat gradual dan kontekstual ini. Ayat ini menegaskan bahwa al-Qur’an mencela sikap kaum Yahudi dan Nashrani yang menjustifikasi eksploitasi terhadap kaum mereka sendiri dengan dasar bahwa kitab suci mereka membolehkan praktik-praktik itu. maupun yang positif berupa pengakuan akan eksistensi keimanan mereka ditunjukkan al-Qur’an dalam beberapa ayatnya. Respon negatif terhadap kaum Yahudi dan Nashrani berupa celaan atas sikap mereka. Dalam ayat ini. sementara kaum tradisionalis dan konservatif mengambil jalan yang hanya bisa disebut sebagai penerapan tafsir linguistik yang dipaksakan untuk mendesak teks-teks inklusivistik agar menghasilkan pemaknaan yang eksklusivistik. dan tujuan dari agama-agama itupun sama. pada hakekatnya kehidupan akhirat adalah milik semua kaum yang beriman kepada Allah. dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim. sebagian kalangan umat Islam lainnya memandang non-Muslim sebagai saudara seiman (brother in faith). Ya‘qub dan anak cucunya. al-Baqarah/2: 136: Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami. juga ditunjukkan dalam Q. Hal ini sekaligus menegaskan sikap al-Qur’an yang kondisional terhadap eksistensi kaum lain.. Al-Qur’an. misalnya dalam Q. jika kamu adalah orang-orang yang benar. al-Baqarah/2: 111: Dan mereka (Yahudi dan Nashrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nashrani”. ataukah justru sebaliknya. norma-norma sosial.. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.Non-Muslim dalam Perspektif Al-Qur’an Wacana seputar term non-Muslim seringkali memicu perdebatan panjang di kalangan umat Islam. celaan terhadap kaum Yahudi dan Nashrani juga diungkapkan al-Qur’ān dalam ayat lain. s. bahkan tidak jarang kalangan ini dengan sikap sinis memandang mereka (non-Muslim) sebagai musuh. Mereka berkata dusta terhadap Allah. Ali ‘Imran/3: 75: Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak. melalui ayat ini mencela klaim sebagian Ahli Kitab.. Atau sebaliknya. Kalangan ini beranggapan bahwa pada hakekatnya sumber agama-agama adalah satu. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar. tidak dikembalikannya kepadamu. dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar. Dalam Q. Dan kedua. Dalam kajian ini akan diungkapkan bagaimana sebenarnya al-Qur’an menyikapi agama lain dan para pemeluknya? Apakah kaum pemeluk agama lain selain Islam dianggap sebagai musuh. khususnya sejarah turunnya wahyu. yaitu kaum Yahudi dan Nashrani bahwa kehidupan akhirat hanyalah untuk mereka dan tidak diperuntukkan bagi orang lain. Al-Qur’an menegaskan bahwa apa yang mereka katakan hanyalah bualan atau angan-angan kosong belaka. karena dianggap telah menyimpang dari rel akidah yang sesungguhnya. Karena jika tidak. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk dan patuh kepada-Nya. al-Baqarah/2: 62). Dari sikap ini. menghormati hukum-hukum. maka yang akan muncul adalah prasangka sepihak dan parsial yang menyebut bahwa al-Qur’an secara umum menunjukkan sikap menentang eksistensi kaum lain. Al-Qur’an secara eksplisit menerima adanya pluralisme agama. mereka disebut sebagai saudara seiman (brother in faith)? Kalau kita cermati melalui penelusuran sejarah. Kecaman serta celaan al-Qur’an terhadap eksklusivisme kaum Yahudi dan Nashrani. s. respon al-Qur’an terhadap kaum lain sesuai dengan beragam respon mereka terhadap pesan-pesan Islam dan kehadiran Nabi. ada sejumlah petunjuk di dalam al-Qur’an tentang penerimaan al-Qur’an terhadap eksistensi keimanan kaum lain. Ayat ini kemudian diikuti dengan pencelaan pada mereka yang “menukar janji (dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit”. al-Qur’an secara tegas mengecam sikap eksklusivisme kaum Yahudi yang merasa lebih superior atas kaum lainnya. Di sisi lain.. jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain. Hal ini ditegaskan dalam Q. padahal mereka mengetahui. Kalangan ini memberikan label “sesat” bahkan “kafir” kepada non-Muslim. Ali ‘Imran/3: 77 ditegaskan: Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit. Respon kondisional al-Qur’ān terhadap keberadaan kaum lain ini harus dilihat secara objektif. Pertama. mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat… Selain dua ayat di atas. Karena. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. alJumu‘ah/62: 6: Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi. ditunjukkan al-Qur’an. dan apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Beragam respon baik yang negatif berupa celaan. Sebagian kalangan menganggap bahwa nonMuslim adalah kelompok lain (the other). al-Mu’minun/23: 52: .. adalah keliru untuk menerapkan teks-teks celaan secara universal.. Liberation & Pluralism. Di samping ayat-ayat yang menunjukkan respon negatif berupa kecaman al-Qur’an terhadap sikap kaum Yahudi dan Nashrani. Lebih lanjut. mereka memperlakukan orang-orang lain di luar kaum mereka dengan sikap arogan dan sewenang-wenang. maka harapkanlah kematianmu. Ishaq. ada dua cara yang kerap dilakukan— oleh mereka yang tak mampu atau tak mau melihat watak gradual dan kontekstual pewahyuan al-Qur’an— dalam menghadapi “teks-teks kontradiktif” tentang kaum lain ini: Pemikir liberal kerap mengabaikan begitu saja ayat-ayat yang mencela penganut agama lain. sementara kaum lainnya dianggap lebih rendah dan lebih hina.. Hal ini ditandaskan dalam Q. Dari hasil kajian penulis akan hal ini. orang tak bisa berbicara tentang “posisi final al-Qur’an” terhadap kaum lain. dikembalikannya kepadamu. kecuali jika kamu selalu menagihnya. s. Mereka merasa bahwa hanya mereka sajalah yang menjadi kekasih Allah. al-Qur’an menjadikan kepercayaan pada keaslian semua agama wahyu sebagai syarat keimanan. percaya kepada Hari Akhir. yang merasa bahwa hanya mereka sajalah yang memperoleh keselamatan. al-Qur’an juga menunjukkan apresiasi positif akan eksistensi keberagamaan serta keimanan mereka. al-Qur’an dianggap mengapresiasi secara positif keberadaan kaum lain dalam kondisi apapun juga. (Q. seperti ditegaskan dalam Q. Isma‘il. kepada semua yang didefinisikan sebagai “ahl al-Kitāb” atau “kafir”. Sikap ini kemudian dikecam keras oleh al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. Kenyataan akan sikap tidak objektif dalam melihat respon al-Qur’an terhadap kaum lain ini terjadi di masyarakat muslim. s.

secara tegas Q. begitu juga sebaliknya.Mereka melayani kamu. s. Di samping itu. “ (QS Al Hujurat : 11) “Janganlah mencela dirimu sendiri” berarti mencela antara sesama orang-orang beriman. dan sesudah shalat isya. Yang memperolok-olok Ummu Salamah karena bentuk tubuhnya yang pendek. adalah agama kamu semua. yaitu pertama.. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman. Allah memuliakan beliau dengan menenteramkan jiwa beliau melalui firmanNya yang bermaksud: ‘Dan Kami ilhamkan .’ Demikian juga yang berlaku ke atas ibu nabi Musa. pamanku Musa. dengan langsung memberi jawaban atas permasalahan yang di hadapi. dan suamiku Muhammad.or. kaum lain merespon pesan-pesan al-Qur’an. Ketika Maryam ibu Nabi Isa mengandung. dan Aku adalah Tuhanmu. masyarakat sekeliling mengutuk beliau tetapi Allah membela dan memuliakan beliau melalui firmanNya di dalam surah Ali-Imran ayat 42 yang bermaksud: ‘Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibrail) berkata: ‘Hai Maryam.” Nabi saw berkata kepadanya. yaitu sebelum sholat subuh. adalah naif jika kaum Muslim menggeneralisasi penolakan atau pencelaan terhadap agama lain. hendaklah budakbudak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki dan orang-orang yang belum baligh diantara kamu. Dalam hal makanan dan perkawinan.’Ayahku Harun. atau biasa disebut dengan non-Muslim. tanpa memperhatikan konteks sosiohistoris dari teks-teks yang digunakan untuk mendukung sikap tersebut. “Hai orang-orang yang beriman. Dalam surah Ali-Imran ayat 195 Allah berfirman yang bermaksud: ‘Sesungguhnya Aku tidak mensia-siakan amalan orang-orang yang beramal di antara kamu baik lelaki ataupun wanita kerana sebahagian kamu adalah keturunan dari sebahagian yang lain. Demikianlah Allahmenjelaskan ayat-ayat bagi kamu. yakni kaum lain melalui jalan yang berbeda. ibu nabi Musa berasa bimbang tentang keselamatan anaknya.’ Wanita dan lelaki adalah sama di sisi Allah sebagai hamba Allah. terutama dalam hal makanan dan perkawinan. norma-norma dan peraturan kaum lain ditegaskan dalam Q.. Muqatil berkata bahwa sebab turunnya ayat ini ialah apa yang dialami Asthma’binti Murstid yang punya anak lelaki yang sudah dewasa dan seringkali memasuki kamar Asthma’(ibunya) pada kondisi yang ia tidak suka. Gambaran lainnya dari pemuliaan terhadap kaum ibu dalam al-Qur’an ialah Firman Allah SWT. janganlah satu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian yang lain). pria Muslim juga diperkenankan (baca: halal) menikahi wanita-wanita suci. agama yang satu. supaya tidak masuk mendadak. al-Ma’idah/5: 5 menyatakan: Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu. Ikrimah berkata bahwa Shafiyah binti Huyai Bin Akhtab (istri Rasulullah yang Yahudi) mendatangi Rasulullah saw. s. penerimaannya atas kehidupan spiritual dan keselamatan mereka. meminta izin kepadamu tiga kali (dalam satu hari). sesungguhnya Allah telah memilihmu. maka bertakwalah kepadaku. Dari penelusuran sejarah tentang sikap al-Qur’an terhadap kaum lain. Kenyataan ini menunjukkan bahwa permusuhan tidak dianggap sebagai norma dalam hubungan kaum Muslim dan kaum lain. penerimaan al-Qur’an terhadap kaum lain sebagai komunitas sosio-religius yang sah. Begitu pula larangan seripa bagi kaum pria terhadap kaum pria. 16 April 2006 ( dari www. Ketika Firaun bertindak kejam membunuh anak-anak lelaki Bani Israil. dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu… Ayat di atas secara tegas menyatakan bahwa makanan Ahli Kitab halal bagi kaum Muslim. Dan kedua. Mengenai penghormatan atas hukum agama. Dan Allah maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. al-Ma’idah/5: 47: Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil. Anas r. ketika kaum menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari.’ Wanita yang bertakwa mendapat pembelaan daripada Allah. Begitullah “cara” al-Qur’an memuliakan kaum wanita. dan janganlah pula wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena boleh jadi wanita yang (diperlolok-olok) lebihbaik dari pada wanita (yang mengolok-olok). “Wahai Yahudiyah binti dua orang Yahudi. Sebaliknya kemuliaan seseorang adalah berdasarkan ketakwaan nya kepada Allah. (Itulah) tiga aurat bagimu. dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamupanggilmemanggil dengan gelar-gelar yang buruk. memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Jika seseorang wanita beriman dan beramal salih dia diganjar Allah dan diletakkan di tempat yang tinggi. dan makanan kamu halal pula bagi mereka. Dan mengeluh bahwa istri-istri Nabi mengejek dengan perkataan. al-Baqarah/2: 62). Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah. Ini dilarang karena mereka seperti satu badan. ketika meninggalkan pakaian luar mereka saat mau tidur siang. Dari keterangan ayat-ayat di atas. Dari Ibnu Abbas r. yaitu kaum Yahudi dan Nashrani.” Lalu turunlah ayat ini. Dengan demikian.’”Lalu turunlah ayat ini.a. Dan berkata. dan pada malam hari sesudah shalat isya (saat mereka membuka pakaian).a. “Jawablah mereka dan katakan. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.” (An-Nur : 58) Tafsir ayat ini jelas ketika Allah SWT menyuruh hamba-hamba-Nya yang beriman agar menyuruh para pelayan (budak-budak) mereka untuk meminta izin bila memasuki kamar-kamar tidur mereka. Berhubung dengan ini. (Q.bmh. Firman Allah. lalu ia mendatangi Rasulullah saw. Begitu pula terhadap anggota keluarga yang belum baligh agar minta izin tiga kali sehari semalam. “Pelayan-pelayan dan anak-anak kami yang sudah dewasa memasuki kamar-kamar tidur kami pada keadaan yang tidak kami sukai. yang sebelum shalat subuh. menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang hidup semasa dengan kamu). maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (*) Cara Al-Quran Memuliakan Wanita Minggu.Sesungguhnya (agama tauhid) ini. di dalam surah Al-Hujurat ayat 13 Allah berfirman: ‘Sesungguhnya yang paling mulia di kalangan kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Berkata bahwa sebab turunnya (asbabul nuzul) ayat ini aialah berkenaan dengan istri-istri Rasulullah saw. yaitu wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari kalangan Ahli Kitab.. “Hai orang-orang yang beriman. Kedua. al-Qur’ān juga mengapresiasi secara positif interaksi sosial kaum Muslim dengan mereka.. Selain penegasan tentang eksistensi keimanan Ahli Kitab.id ) Gambaran dari dimuliakannya kaum wanita oleh al_qur’an ialah larangan Allah atas kaum wanita yang berkedudukan tinggi dan berketurunan bangsawan serta paras cantik untuk mengolok-olok mereka yang tidak memperoleh nasih serupa. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. dan tidak ada halangan pada selain waktu-waktu itu. s. Bukti Wanita Mulia Dalam Islam March 30th. dan barang siapa tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang zalim. al-Qur’an menerima pandangan bahwa pemeluk-pemeluk setia agama-agama wahyu ini juga akan mendapat keselamatan dengan ungkapannnya: “tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. jelaslah bahwa pengakuan al-Qur’an atas pluralisme agama mencakup dua hal pokok yang sangat penting dalam kehidupan ini. sedang mereka dalam keadaan tidak suka dilihat orang lain. terlihat jelas betapa al-Qur’an menyikapinya sesuai dengan kondisi di mana mereka. 2007 · No Comments Allah tidak pernah menghina atau memuliakan makhluk-makhlukNya berdasarkan jantina.

dimuliakan Allah. Kaum wanita yang berilmu tinggi boleh mengeluarkan fatwa berhubung hukum hakam Islam. Pada suatu ketika.kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia dan apabila kamu khawatir ke atas keselamatannya letakkanlah ia di atas sungai (Nil). kerana Hafsah diberikan kepercayaan supaya menyimpan sumber rujukan utama Islam.’ Para suami diperintahkan Allah supaya menjaga isteri-isteri mereka dengan baik dan tidak menjadikan isteri-isteri seperti bola yang boleh ‘ditendang’ ke sana ke mari. lalu dididiknya mereka dan dijaganya mereka dengan baik kemudian dikahwinkan mereka. pada pandangan wanita itu. khalifah Omar menyimpannya dan selepas kematiannya himpunan ini diserahkan kepada Ummul Mukminin. apabila memasuki sesebuah negeri akan merosakkan negeri itu dan menjadikan penduduk yang mulia hina. Al-Quran dihafaz dan ditulis oleh sekumpulan sahabat. makin ramai wanita di Barat yang memeluk Islam. Balqis.’ Islam tidak mengizinkan wanita dikotak-katikkan oleh golongan lelaki. Al-Hafiz ibn Asakir. Di dalam surah Al-Qasas ayat 26. “Bab Peperangan Wanita Dan Perjuangan Mereka” dalam kitab Sahih Bukhari. Hal ini disebutkan dalam surah an-Nisak ayat 19: ‘Pergaulilah isterimu dengan cara yang makruf. peranan Aisyah amat menonjol sekali di sudut ini. Nabi bersabda: ‘Sesiapa yang memiliki tiga orang puteri atau tiga saudara perempuan. dengan badan ibunya (zihar). atau dua orang puteri atau dua saudara perempuan. khalifah yang empat serta era kegemilangan empayar Islam. Di zaman Nabi serta sahabat. pernah berkata. khalifah Omar menyampaikan khutbah di atas mimbar dan beliau menjelaskan tentang penetapan kadar mahar agar ia tidak begitu tinggi. Islam menentang adat resam ini melalui firman Allah di dalam surah At-Takwir ayat 8 dan 9 yang bermaksud: ‘Dan apabila bayi-bayi perempuan yang ditanam hidup-hidup ditanya. pengarang kitab Al-Badaii’ As-Sonaii. Justeru. Antara contoh-contohnya ialah: Berpandukan hadis Muslim Nabi Muhammad mendoakan agar Ummu Haram. khalifah Omar terus berkata. Pada zaman Nabi. Di Britain. Di zaman jahiliah adalah menjadi perkara biasa jika bayi-bayi perempuan ditanam hidup-hidup demi untuk memelihara keluarga dari aib dan malu. kerana dosa apakah maka dia dibunuh?’ Untuk menampakkan penentangan kepada sistem jahiliah yang menghina kaum wanita.. Beliau berkata.. Hadis adalah sumber hukum Islam yang kedua selepas Al-Quran. Dalam surah an-Nisak Allah menegaskan. Melihat keadaan itu Ummu Salamah menasihati Rasulullah agar melakukannya terlebih dahulu kerana beliau yakin selepas Baginda melakukannya sahabat-sahabat pasti menuruti baginda.’ Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dan Abu Daud. baginya syurga. sahabat yang bernama Aus telah menyamakan badan isterinya. si suami juga mempunyai kelemahan.’ Kenyataan ini disebutkan di dalam surah Al-Qasas ayat 7. Pada zaman khalifah Abu Bakar. Selepas mendengar hujah wanita itu.” Riwayat ini menunjukkan penglibatan kaum wanita dalam sistem kepimpinan dan politik negara adalah penting seiring dengan kaum lelaki. Pandangan dan sikap yang baik walaupun datang dari wanita. Allah menyuruh si suami melihat kebaikan yang banyak yang ada pada isteri dan tidak hanya memfokuskan kepada satu dua kelemahan yang ada. namun urusan ini terserah kepadamu. janganlah kamu memusakai wanita secara paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk mengambil sebahagian apa yang telah kamu berikan. Nabi Muhammad membenarkan pandangan Ummu Salamah dan mematuhi nasihat isterinya. Hafsah. Dan janganlah kamu bimbang dan janganlah pula bersedih hati kerana Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. dan dia telah mengadu kepada Allah. Beliau kemudiannya dikahwinkan dengan seorang ulama mazhab Hanafi yang bernama Imam Al-Kasani. Jika si isteri mempunyai kelemahan. Jika dibandingkan jawatannya dengan suasana hari ini.’ Laporan Columbia News Service (Agensi Berita Columbia) oleh Nevine Mabro pula menunjukkan. Permaisuri (Balqis) berkata: ‘Raja-raja. Beliau bukan saja mampu mengeluarkan fatwa malah kadangkala beliau membetulkan pandangan serta fatwa yang dikeluarkan oleh sahabat-sahabat Nabi yang lain. Apabila di amati insiden ini kita boleh mengatakan Ummu Salamah ketika itu berkedudukan seperti seorang penasihat kepada seorang pemimpin negara. di dalam surah An-Naml ayat 33 dan 34: ‘Mereka (para pembesar negeri Saba) berkata: ‘Kita mempunyai kekuatan dan keberanian yang cukup. ‘Statistik menunjukkan bagi setiap lima orang yang memeluk Islam di Amerika empat daripada mereka adalah wanita. tidak ada seorang sahabat pun yang bangun untuk melaksanakannya.. wanita dihargai dan diletakkan di tempat yang tinggi. . Lord Scott. Seorang wanita bangun untuk menegur khalifah Omar kerana. Justeru. perhatikanlah apa yang hendak kamu perintahkan’. dapat keluar berperang di lautan bersama-sama dengan tentera-tentera Islam yang lain. tulisantulisan Al-Quran dihimpunkan dan disimpan oleh beliau. Ketika berlaku Perjanjian Hudaibiyah Nabi Muhammad mengarahkan sahabat-sahabat mencukur rambut dan menyembelih binatang ternakan sebelum kembali ke Madinah. ‘Semakin ramai wanita Amerika keturunan Sepanyol memeluk Islam kerana tertarik dengan kemurnian ajarannya. pada hari ini. Perbuatan ini amat tidak disenangi oleh isterinya lantas beliau mengadu hal ini kepada nabi.’ Al-Quran juga merakamkan kebijaksanaan kepimpinan permaisuri negeri Saba. beliau melantik seorang wanita bernama Ummul Syifa binti Abdullah menjadi penyelia pasar di Madinah. Di zaman khalifah Omar. Perkembangan ini dinyatakan oleh Lucy Berrington di dalam majalah Times terbitan 9 November 1993 di bawah tajuk The Spread of a World Creed. di antara wanita yang memeluk Islam ialah anak perempuan kepada hakim yang terkenal. Contoh yang lain ialah anak perempuan kepada Imam ‘Alauddin al-Samarqandi al-Hanafi yang bernama Zainab. Beliau sering kali menyampaikan fatwa tentang persoalan agama bersama-sama dengan bapanya. Jika kamu tidak senang dengan mereka maka bersabarlah kerana mungkin kamu tidak menyukai sesuatu tentang mereka tetapi Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya. Imam Bukhari memandang tinggi sumbangan kaum wanita dalam Islam sehinggakan beliau meletakkan satu bab khas yang bertajuk. sebelum beliau menyerahkannya kepada khalifah Uthman untuk ditulis semula dan dibukukan. ‘Wahai orang yang beriman. Salah seorang perawi hadis yang terkenal.’ Wanita ada suara dalam Islam dan suara mereka dimuliakan Allah. Selepas kematian khalifah Abu Bakar. kaum wanita merupakan sebahagian daripada syekh dan guru yang telah mendidiknya. Ia menunjukkan. iaitu isteri sahabat Ubadah bin Shamit. Di zaman nabi. Kejadian ini melambangkan kemuliaan wanita Islam serta kepercayaan Islam kepada wanitanya. tindakan untuk hadkan kadar mahar bercanggah dengan ketetapan Al-Quran.’ WANITA DIMULIAKAN DI ZAMAN SAHABAT DAN SELEPASNYA Pada zaman Nabi Muhammad. Al-Quran merupakan wahyu Allah. Nabi mengiktiraf sumbangan wanita Islam di luar rumah.’ Menzalimi wanita adalah dilarang oleh Islam. Allah menurunkan wahyu berhubung perkara ini dalam surah Al-Mujadalah ayat 1-2: ‘Sesungguhnya Allah mendengar suara perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya. Itulah yang akan mereka lakukan. Antara wanita Islam yang diiktiraf sebagai perawi hadis ialah Karimah Al-Mirwaziah dan As-Sayyidah Nafisah binti Muhammad. Khaulah. tugas ini boleh disamakan dengan tugas seorang ketua pengarah di kementerian hal ehwal pengguna. “Wanita itu betul dan lelaki ini (iaitu Omar) salah. Kesemua ini adalah bukti yang jelas yang menunjukkan betapa Al-Quran dan Islam memuliakan kaum wanita. Allah memuliakan anak perempuan Nabi Syuaib dengan merakamkan pandangan beliau yang amat bernilai berhubung aspek pengurusan. Lantaran terlalu sedih kerana dihalang oleh golongan Quraisy dari melakukan Haji. Allah berfirman: ‘Dan salah seorang dari kedua wanita itu berkata: ‘Wahai bapaku ambillah dia (Musa) sebagai pekerja kita kerana sesungguhnya orang yang paling baik untuk dijadikan pekerja ialah seorang yang gagah lagi dapat dipercayai.

Inilah cara janin mendapat makanan. Tempoh haid. Jawab titis air mata kedua tu.” o Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan. 1 Makna Haid Dan Hikmahnya Makna Haid Dari sudut bahasa. [Dinukil oleh Imam al-Nawawi dalam Majmu’ Syarh al-Muhazzab. padahal tidak ada sebarang dalil berkenaannya (dalam dua sumber tersebut). dua tangan untuk memegang. jld. Imam al-Darimi rahimahullah membuat kesimpulan berikut: Semua pendapat ini adalah saya menurut saya. Itulah namanya Cinta. Amat jarang berlaku haid ketika hamil. Allah sahaja yang lebih mengetahui. Saya (pengarang) berkata. 386] Apa yang disimpulkan oleh Imam al-Darimi adalah pendapat yang benar. Dari sudut syara’. ini adalah sepertimana pendapat Imam al-Darimi yang lalu dan ia adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah. dan kamu masih mampu tersenyum. Siapa kamu pula?”. Inilah juga pendapat yang dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah. Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Ini kerana tidak mungkin bagi seorang ibu untuk menyampaikan makanan kepada anaknya dengan cara yang biasa. Umur bagi bermulanya haid. 2 Masa Haid Dan Tempohnya Perbincangan dalam bab ini tertumpu kepada dua persoalan: 1. Ia keluar pada waktu-waktu yang diketahui. Walau bagaimanapun tugas-tugas ini tidak sepatutnya dijadikan alasan oleh kaum wanita untuk mengabaikan tugas utamanya sebagai isteri dan ibu yang bakal melahirkan cahaya mata bernilai bagi umat. Namun wujud kemungkinan haid bermula lebih awal daripada umur dua belas tahun atau lebih lewat daripada umur lima belas tahun. Umur seorang wanita yang pada kebiasaan bermula haid ialah antara dua belas hingga lima puluh tahun. 2. Para ilmuan berselisih pendapat adakah terdapat batas umur tertentu bagi permulaan haid untuk wanita. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat. Atas sebab ini Allah Ta’ala menjadikan makanan untuk janin dalam perut ibu daripada darah (ibunya). Ini adalah pendapat yang benar kerana didokongi oleh al-Qur’an dan al-Sunnah serta pemikiran yang sihat. Maka apabila seorang wanita melihat darah haid mengalir keluar maka bermakna dia telah didatangi haid sekalipun umurnya sembilan tahun ataupun lebih daripada lima puluh tahun. Maka pada setiap umur dan keadaan jika didapati (wujud darah yang mengalir keluar) maka wajib mengkategorikan ia sebagai (permulaan) haid. Allah serta Rasul-Nya tidak membataskan umur tertentu dalam persoalan ini. seorang wanita terputus haidnya. Namun tugas kaum wanita bukanlah sekadar itu. Kedua: Tempoh haid. haid ialah darah yang keluar dari wanita kerana fitrah kejadiannya tanpa sebarang sebab.” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. darah haid berperanan membersihkan sel-sel telur dalam sistem pembiakan wanita yang tidak disenyawakan. sambil berkata: aku turut bahagia untukmu. keguguran atau kelahiran. Jika tidak hamil. Ia tidak memerlu kepada pemakanan biasa (solid food) dan penghadaman. Pertama: Umur bagi bermulanya haid. Para ilmuan juga berbeza pendapat dalam persoalan tempoh haid atau kadar masanya. Menentukan batas umur tertentu memerlukan dalil daripada al-Qur’an dan al-Sunnah. Berkata Imam Ibn al-Munzir rahimahullah: Menurut satu pendapat: Tidak ada batas bilangan hari bagi tempoh minima atau maksima (haid).” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja. Tugas ini tidak dapat diambil alih oleh kaum lelaki dan ia merupakan suatu tugas yang amat mulia. 1. dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Sebab-sebabnya seperti berikut: .Semua ini merupakan dalil-dalil kukuh yang menunjukkan wanita dalam Islam mempunyai peranan yang penting dalam pembangunan sesebuah masyarakat. Demikian juga bagi ibu-ibu yang menyusu. Hikmah Haid Sesungguhnya janin yang berada di dalam perut ibunya tidak mungkin mendapat makanan seperti orang yang di luar. Ini kerena hukum-hukum haid yang ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah atas wujudnya (haid). Terdapat enam atau tujuh pendapat dalam persoalan ini. luka. ms. kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu. haid (‫ )الحيض‬ialah: turun sesuatu secara mengalir. sangat sedikit di kalangan mereka yang datang haid terutamanya di awal masa menyusu. (Zat makanan yang berada di dalam darah ibu) sampai ke dalam badan janin melalui pusatnya dan lantas memasuki uraturat sarafnya. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Inilah hikmah darah haid. Oleh itu apabila berlaku kehamilan. Ia adalah darah fitrah yang keluar bukan kerana sakit. Mereka juga berselisih pendapat sama ada darah yang datang sebelum atau selepas batas umur tersebut adalah darah haid atau darah penyakit? Selepas menyebut perselisihan pendapat ini. Ini kerana rujukan kepada semua persoalan ini adalah kepada wujud (darah yang mengalir keluar).Penerangan Syaikh al-Utsaimin rahimahullah di atas merujuk kepada kes setelah berlakunya persenyawaan dan wanita menjadi hamil. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi. Islam tidak pernah menghalang kaum wanita yang ingin berperanan di penjuru-penjuru lain selagi mana batas-batas agama dan landasan keutamaan dijaga o Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain. Maha Mulia Allah sebagai sebaik-baik pencipta.

pesaka dan sebagainya. atau ijma’ (kesepakatan) yang maklum (diketahui) atau qiyas (analogi) yang sahih. tidur. Dari sudut bahasa. Haji dan seterusnya. kadarnya dan tempat ditunaikannya. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (jangan bersetubuh dengan isteri kamu) dalam masa datang darah haid itu. Allah tidak menentukan baginya tempoh masa minima dan tempoh masa maksima. Maka apabila sahaja didapati wujud haid maka wujudlah kotoran tanpa dibezakan antara hari kedua dan hari pertama. hari kelapan belas dan hari ketujuh belas. Yang dihajatkan. dan ia sebagai keterangan yang menjelaskan tiap-tiap sesuatu. tetapi ia mengesahkan apa yang tersebut di dalam kitab-kitab agama yang terdahulu daripadanya. Ini sebagaimana hukum-hukum fiqh yang lain seperti solat. tidak wujudnya hukum perkiraan tempoh masa (minima dan maksima bagi) haid di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah menjadi bukti bahawa perkiraan tersebut tidak memberi apa-apa manfaat atau ilmu. Ini membuktikan bahawa hukum haid ditentukan dengan bermula dan berakhirnya haid. harta-hartanya. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah menyebut sebuah kaedah yang amat penting: Dari apa yang dikenali sebagai haid. Padahal ini adalah persoalan penting yang sangat berhajat kepada penetapan daripada dua sumber tersebut. . [al-Baqarah 2:222] Dalam ayat di atas Allah menjadikan “suci” sebagai syarat penyudah kepada tegahan. [al-Nahl 16:89] Firman Allah: Bukanlah ia (al-Qur’an) cerita-cerita yang diada-adakan. sehingga apabila suci daripada haid maka hilanglah hukum-hukum yang berkaitan dengan haid. mengenai (hukum) haid. Allah dan Rasul-Nya juga telah memperincikan adab-adab makan. [al-Risalah fi al-Asma’ allati ‘Alaq al-Syar‘i al-Ahkam biha. Ketiga: Sesungguhnya perkiraan tempoh masa (minima dan maksima bagi) haid yang dilakukan oleh (sebahagian) ahli fiqh tidak terdapat dalilnya di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. ia (al-Qur’an dan al-Sunnah) tidak membezakan antara satu tempoh dengan satu tempoh yang lain. atau yang dijadikan syarat ialah kewujudan haid itu sendiri pada seorang wanita. tempoh dan waktunya. Dalam ertikata lain. Allah tidak menjadikan tempoh sehari semalam.Pertama: Firman Allah Ta’ala: Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad). Maka sesiapa yang menentukan satu tempoh tertentu maka sesungguhnya dia menyalahi al-Qur’an dan al-Sunnah. [Yusuf 11:111] Apabila perkiraan tempoh masa (minima dan maksima bagi) haid tidak terdapat dalam kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. membuang hajat sehinggalah kepada bilangan batu-batu untuk beristinjak dan pelbagai lagi perkara-perkara kecil yang lain. hari keempat dan hari ketiga. puasa. Faktor penyebab hukum (‘illah) bagi haid ialah kotoran. dan ‘illah (faktor penyebab hukum) tetap sama pada dua hari tersebut. Sesungguhnya segala hukum syara’ tidak boleh ditetapkan melainkan dengan dalil dari syara’ sendiri iaitu daripada al-Qur’an dan al-Sunnah. Katakanlah: "Darah haid itu satu benda yang mendatangkan mudarat". Allah dan Rasul-Nya telah memperincikan bilangan solat. Ini menunjukkan bahawa sebab timbulnya hukum ialah bermula dan berakhirnya haid. nescaya Allah dan Rasul-Nya secara terang dan jelas akan menerangkannya. Sedangkan perkara-perkara ini adalah umum terhadap umat dan mereka berhajat untuk mengetahuinya. ms 35] Keempat: Pemikiran yang sihat berdasarkan qiyas (analogi) yang sahih akan mengetahui bahawa Allah Ta‘ala menjadikan haid sebagai satu bentuk kotoran. nisab-nisabnya. tiga hari atau lima belas hari sebagai syarat penyudah tegahan. Firman Allah: Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran menjelaskan tiap-tiap sesuatu. dan janganlah kamu hampiri mereka (untuk bersetubuh) sebelum mereka suci. waktu-waktunya. kotoran tetap kotoran. Baginda tidak menetapkan apaapa batas masa atau tempoh tertentu. Maka bagaimana mungkin dibezakan hukum antara dua hari tersebut sedangkan faktor penyebabnya adalah sama? Ini menyalahi qiyas yang sahih kerana faktor penyebab yang sama akan menyamakan hukum antara dua hari tersebut. Hukum-hukum syari’at bergantung kepada wujud atau tidaknya haid. masuk-keluar rumah. Ini semua termasuk kesempurnaan agama Allah dan nikmat-Nya ke atas orang-orang yang beriman. Justeru haid tetap haid. duduk.” ‘A’isyah berkata: “Maka pada hari menyembelih aku telah suci…. Allah telah kaitkan dengannya beberapa hukum dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. jima’. talak. Seandainya penetapan tempoh ini termasuk daripada hukum fiqh bagi umat beribadat kepada Allah. rukuknya dan sujudnya. minum. Allah juga tidak menentukan tempoh masa suci antara dua haid. bukan tempoh masa haid. Kedua: Dalam Shahih Muslim tercatit sebuah hadis yang sahih di mana Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada ‘A’isyah radhiallahu ‘anha yang di saat itu sedang berihram untuk umrah dan didatangi haid: “Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang berhaji kecuali jangan kamu bertawaf di al-Bait (Ka’abah) sehingggalah kamu suci. jelaslah bahawa ia sebenarnya tidak berhajat kepadanya. Puasa. hari keenam belas dan hari kelima belas. nikah.” [Shahih al-Bukhari – no: 1787 (Kitab al-Haj)] Dalam hadis di atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjadikan “suci” sebagai syarat penyudah tegahan. Zakat.” [Shahih Muslim – no: 1211 (Kitab al-Haj)] Dalam Shahih al-Bukhari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada ‘A’isyah radhiallahu 'anha: “Tunggulah maka apabila kamu telah suci maka keluarlah ke Tan’im.

sebelum suci. ms. kecuali dalam persoalan darah istihadah. 36 & 38] Lima sebab di atas menjadi hujah bahawa tidak ada penetapan tempoh minima dan maksima bagi haid. Berkata Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah: Pada asalnya setiap darah yang mengalir keluar dari rahim adalah darah haid sehinggalah ada bukti yang menunjukkan ia adalah darah istihadah. Sesungguhnya para ilmuan berbeza pendapat dalam dua kes di atas.Kelima: Wujud perselisihan pendapat di kalangan orang-orang yang membataskan tempoh tertentu dan tiada satu jua di antara pendapat-pendapat ini yang kuat hujahnya. Atau seorang wanita yang kebiasaannya mengalami haid selama tujuh hari. 2. tidak ada dalil yang dijadikan sumber rujukan. Ini merupakan mazhab Imam al-Syafi’e rahimahullah dan dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah serta dikuatkan lagi oleh Imam Ibn Qudamah di dalam kitabnya al-Mughni. tetapi juga mudah selari dengan ruh Islam. maka ia tidak dikategorikan sebagai haid. Namun pendapat yang terkuat dan benar ialah apabila seorang wanita melihat darah mengalir keluar bererti dia haid dan apabila darah berhenti mengalir bererti dia suci (tidak haid). Ini dikenali sebagai Kudrah. lalu dia suci dalam masa enam hari sahaja. jld. Katanya lagi: Apa-apa darah yang keluar ialah darah haid jika tidak diketahui bahawa ia adalah darah istihadah atau luka. Atau kebiasaannya datang haid pada awal bulan lalu dia hanya melihatnya di akhir bulan. lalu dia melihat haid hanya datang pada awal bulan.[1] 2. Permulaan masa mengalirnya (putaran haid) menjadi awal atau lambat daripada kebiasaan. al-Sunnah dan pemikiran yang benar. yakni dalam masa suci. Tempat rujukan ketika berlaku perselisihan ialah al-Qur’an dan al-Sunnah. jika ia mengalir keluar ketika sedang haid atau bersambungan di akhir masa haid. Dalil-dalil bagi hal ini telah dikemukakan dalam bab yang sebelumnya. ms.” [Sunan Abu Daud – no: 246 (Kitab al-Thaharah) dengan sanad yang sahih][3] Imam al-Bukhari rahimahullah menyusun hadis ini dalam kitab sahihnya di bawah bab: Bab al-Sufrah dan al-Kudrah pada hari-hari selain haid. 1. 353: Jika sesuatu perkara itu berlaku secara lazim dan memerlukan penjelasan (hukum-hukumnya). maka ia adalah darah haid tanpa ditetapkan umur atau tempoh masanya. tetapi berlarutan selama tujuh hari. Contohnya seorang wanita yang kebiasaannya datang haid pada akhir bulan. Tidak pernah lahir daripada baginda sesuatu yang wujud secara lazim melainkan diikuti dengan penjelasannya. Kadangkala berlaku perbezaan masa haid seorang wanita. Dalilnya adalah kenyataan Umm ‘Athiah radhiallahu 'anha: “Kami tidak mengira (cecair yang berwarna) kekeruhan dan kekuningan (jika ia keluar) selepas suci sebagai apa-apa (yakni bukan haid). maka ia dikategorikan sebagai haid dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang bersamaan dengan darah haid biasa. Contohnya ialah seorang wanita yang kebiasaannya mengalami haid selama enam hari. Para isteri Rasulullah dan selainnya memerlukan penjelasan akan persoalan ini pada setiap masa dan baginda tidak pernah lalai daripada memberikan penjelasan tentangnya.[2] Kedua: Cecair yang kekuningan atau kekeruhan. sama ada lebih awal atau lewat. Ini disebabkan di antara pendapat-pendapat ini. Perbezaan ini wujud dalam dua bentuk: 1. Ini dikenali sebagai Sufrah. 3 Perkara-Perkara Yang Berlaku Ketika Haid. Jika ia mengalir keluar secara terpisah daripada masa haid. Bab ketiga ini membahas beberapa persoalan lanjut berkenaan haid: Pertama: Perbezaan masa haid. Penentuan ini tidak disyaratkan oleh perbezaan masa sama ada lebih lama atau singkat. Kadangkala bagi seorang wanita mengalir keluar daripadanya cecair (discharge) yang: 1. Berwarna kekuningan seperti air yang keluar akibat luka. pasti akan dijelaskan (hukumhukumnya) oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam tanpa melengah-lengahkannya. . Oleh itu apabila seorang wanita mendapati darah mengalir keluar secara fitrah tanpa disebabkan luka atau seumpama. Sufrah atau Kudrah. Hujah-hujah ini bukan sahaja benar dari sudut dalil al-Qur’an. Ini kerana sesuatu yang memerlukan penjelasan tidak boleh dilengah-lengahkan. Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah di dalam kitabnya Fath al-Bari berkata: al-Bukhari mengisyaratkan dengan demikian bertujuan menyelaraskan antara hadith ‘A’isyah (yang bermaksud): “sehingga kamu semua melihat sesuatu seperti benang putih” dengan hadis Umm ‘Athiah di atas. Tempoh mengalirnya bertambah atau berkurang daripada kebiasaan. Ia adalah ijtihad yang terbuka kepada kebenaran dan kesalahan sehingga tidak ada satu di antaranya yang terlebih utama untuk diikuti. [al-Risalah fi al-Asma’ allati ‘Alaq al-Syar‘i al-Ahkam biha. Jelas daripada dua sumber ini bahawa tidak ada pembatasan tempoh minima dan maksima haid. Berwarna kekeruhan antara kuning dan hitam.

2. maka ia dikategorikan sebagai haid (dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang bersamaan dengan darah haid biasa). 3. Kecuali jika kelihatannya tandanya yang jelas. apabila ia berhenti mengalir dan belum genap satu hari (daripada saat berhentinya). maka hukumnya terbahagi kepada dua kes: 1.Hadis ‘A’isyah merujuk kepada seseorang yang melihat al-Sufrah dan al-Kudrah pada hari-hari haid. 4. maka ia tidak dikategorikan sebagai haid. di mana ia tidak mengambil kira darah yang berhenti dalam tempoh yang belum genap sehari. di mana sehari dia didatangi haid manakala hari yang seterusnya tidak ada haid (selang sehari). insya-Allah. Kadangkala juga seorang wanita menghadapi haid yang terputus-putus alirannya. dan segala puji bagi Allah. maka ‘A’isyah menjawab: “Jangan kamu semua segera (bersuci) sehingga kamu semua melihat sesuatu seperti benang putih (yang keluar selepas berhenti darah bercampur al-Sufrah tersebut). Permasalahan ini terbahagi kepada dua kes yang berlainan: 1.[7] Keempat: Darah haid yang tidak mengalir. Jika darah haid tidak mengalir. Selagi mana tidak kelihatan sesuatu seumpama benang putih pada satu hari yang tidak didatangi haid. Jika ia berlaku selepas haid. Pendapat Ketiga: Pendapat ketiga diberikan oleh Imam Ibn Qudamah rahimahullah dan ia merupakan jalan pertengahan antara dua pendapat yang pertama di atas. Pendapat Kedua: Dalam tempoh masa selang sehari tersebut. 1. jld. Bagi kes kedua ini. jika tidak maka dianggap sebagai hari suci. (hukum-hukumnya akan dibahas dalam Bab 5 insya-Allah) Jika ia tidak berlaku secara berterusan. manakala hadis Umm ‘Athiah merujuk kepada hari-hari selain haid. bahkan hanya sekali-sekala sehingga ada tempoh waktu suci yang jelas baginya. ms. Hadith ‘A’isyah radhiallahu 'anha yang dimaksudkan adalah apa yang disebut oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab sahihnya: Sesungguhnya para wanita telah mengutus kepada ‘A’isyah bekas yang ada padanya kapas yang padanya ada al-Sufrah. Ini menyalahi firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Dan Ia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara agama. . Darah yang sekejap ia mengalir dan sekejap ia berhenti akan menyulitkan orang kerana perlu kerap kali mengulangi mandi wajib.” Ketiga: Haid yang terputus-putus. Jika dikatakan satu hari yang tidak didatangi haid sebagai hari suci nescaya hari sebelum dan selepasnya adalah hari haid. sebelum suci. maka ia adalah darah istihadah dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah. seperti menjadi kering atau hanya lembab. para ilmuan berbeza pendapat: Adakah sehari yang tidak keluar darah itu dikira suci atau dikira haid? Terhadap persoalan ini terdapat tiga pendapat yang dianggap kuat:[4] Pendapat Pertama: Ia dianggap sebagai “hari haid” dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang bersamaan dengan hari haid biasa. Hukum bagi kedua-dua kes ini adalah sebagaimana kes cecair kekuningan atau kekeruhan yang telah dibahas di atas. Jika ia berlaku secara berterusan. seorang wanita itu tidak dikira suci. Atau boleh sahaja berbeza-beza sehingga menjadi lebih lama atau lebih singkat antara satu masa haid dengan masa haid yang lain (penyunting). [1] 2. Sesungguhnya kesempitan dan kesusahan adalah sesuatu yang dinafikan dalam syari’at ini. Kecuali jika hal ini berlaku melebihi daripada bilangan hari-hari kebiasaan haid. Sebab-sebabnya adalah seperti berikut: 1. yakni dalam masa suci. 355: (Bagi kes darah haid yang terputus-putus selang sehari). Jika dianggap satu hari yang tidak didatangi haid sebagai hari suci nescaya iddah al-Quru’ akan selesai dalam masa lima hari sahaja. 2. ia tetap dianggap sebagai hari haid. Ini merupakan satu pendapat yang benar antara dua pendapat Imam al-Syafi’e [5] rahimahullah dan menjadi pilihan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah dan Mazhab Abu Hanifah. maka ia dianggap sebagai darah istihadah. Ini adalah pendapat yang masyhur dalam mazhab Hanbali. jika darah mengalir keluar maka dianggap sebagai hari haid. seperti ia kering di akhir hari secara kebiasaannya atau ia melihat keluar (sesuatu seumpama) benang putih (barulah dikira suci). Ini berdasarkan riwayat yang telah kita sebut dalam perbahasan darah nifas. Jika ia berlaku ketika sedang haid atau atau bersambungan di akhir masa haid. Hal seperti ini tidak pernah diperkatakan orang.[6] Jika dijadikan “satu hari” yang tidak didatangi haid sebagai hari suci pasti ia akan menimbulkan kesempitan dan kesusahan kerana wajib mandi pada setiap dua hari. [al-Hajj 22:78] Maka atas ini tidaklah dikira suci darah yang berhenti mengalir keluar dalam tempoh yang belum genap sehari. Riwayat ini adalah sahih. Beliau menulis di dalam kitabnya al-Mughni.

Akan tetapi antara saat masuk waktu Maghrib dan saat dia didatangi haid. paling minima. (penyunting) [7] Maksudnya seorang wanita jangan menganggap dirinya telah suci daripada haid melainkan dengan dua petunjuk: 1. sempat untuk dia melaksanakan rakaat pertama solat Subuh. Ini bererti di [4] sisi beliau ketiga-tiga pendapat ini adalah sama-sama benar. bererti ia sememangnya tidak memerlukan penjelasan. Malah wujud kemungkinan ia akan mengalir semula. Hukum umum yang dimaksudkan adalah: Apabila seorang wanita melihat darah mengalir keluar bererti dia haid dan apabila darah berhenti mengalir bererti dia suci (tidak haid) tanpa dipengaruhi oleh perbezaan masanya. Bahkan tidak sah jika dia tetap melaksanakannya. Kes perbezaan masa haid adalah antara perkara yang lazim berlaku yang tidak diperjelaskan oleh Rasulullah. Haid sudah berhenti dan wujud tanda-tanda yang jelas bahawa tempoh haid sudah berakhir. Justeru seandainya wujud sesuatu persoalan dalam bab haid ini yang tidak diperjelaskan oleh baginda. Contoh: Memperoleh satu rakaat di akhir waktu. Berikut dikemukakan sebahagian daripadanya yang terpenting: Pertama: Solat. adakah wajib baginya untuk melaksanakan kedua-dua solat Maghrib dan Isyak (jamak takhir)? Terdapat perselisihan pendapat dalam persoalan ini. Ini kerana pada asalnya dia dikira sempat mendapat satu rakaat daripada solat Subuh tersebut apabila tamat haidnya. iaitu apabila dia sempat memperoleh satu rakaat solat fardhu dalam waktunya. (penyunting) Di sini Syaikh al-Utsaimin rahimahullah mengemukakan 3 pendapat tanpa menerangkan yang manakah yang lebih kuat atau benar. sempat untuk dia melaksanakan rakaat pertama solat Maghrib. solat Isyak dalam waktu Isyak (tanpa menjamak solat Maghrib). Iaitu solat Asar dalam waktu Asar (tanpa menjamak solat Zohor). Ini kerana pada asalnya dia dikira sempat mendapat satu rakaat daripada solat Maghrib tersebut sebelum datang haid. Para pembaca boleh mengamalkan salah satu daripadanya. Persoalan-persoalan ini memerlukan penjelasan yang terperinci daripada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Ini merujuk kepada kes haid yang terputus-putus atau selang sehari.” [Shahih al-Bukhari – no: 556 (Kitab waktu-waktu solat)] . (penyunting) [3] Juga disahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Daud – no: 119. persoalan haid adalah persoalan yang lazim bagi para isteri dan wanita di zaman baginda. Namun terdapat satu pengecualian. maka hendaklah dia menyempurnakan solatnya. [6] nescaya waktu iddah ini akan berakhir dalam masa lima hari sahaja. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam: “Apabila seseorang kamu memperoleh satu sujud daripada solat Asar sebelum terbenam matahari. Haid sudah berhenti akan tetapi tidak wujud tanda yang jelas bahawa tempoh haid akan berakhir. baginda telah menjelaskannya secara terperinci dan telah sampai kepada kita dalam kitab-kitab hadis. Setiap satu daripadanya adalah benar dan tidaklah ia saling membatal antara satu sama lain. jika tiada lagi darah mengalir pada esoknya maka barulah pasti tempoh haid sudah berakhir. Jika dijadikan tempoh masa bagi haid dan suci ialah selang sehari. maka wajib ke atasnya untuk melaksanakan solat fardhu tersebut.” [Shahih al-Bukhari – no: 580 (Kitab waktuwaktu solat) dan Shahih Muslim – no: 607 (Kitab al-Masjid)] Apabila seorang wanita tamat haidnya dan sudah bersuci lalu dia berjaya memperoleh satu tempoh masa dalam waktu Asar. Akan tetapi antara saat dia suci dan saat terbit matahari wujud satu tempoh masa yang. maka tidak wajib untuk baginya melaksanakan solat tersebut. adakah wajib baginya untuk melaksanakan kedua-dua solat Zohor dan Asarnya (jamak takhir)? Atau sesudah bersuci dia berjaya memperoleh satu tempoh masa dalam waktu Isyak.[2] Maksudnya. Ini lazimnya merujuk kepada kes haid yang normal. Seorang wanita suci daripada haid sebelum terbit matahari. 2. Alhamdulillah. Diharamkan solat ke atas wanita yang sedang haid. Maka wajib baginya mengqadha solat Maghrib tersebut apabila suci. wujud satu tempoh masa yang. Seorang wanita didatangi haid selepas masuk waktu Maghrib. bererti ia tidak memiliki apa-apa hukum khusus yang berbeza dengan yang umum. paling minima. Maka tunggulah sehingga genap sehari. Jika tempoh masa yang wujud di awal waktu bagi wanita yang didatangi haid atau di akhir waktu bagi wanita yang tamat haid adalah terlalu singkat sehingga tidak mungkin melaksanakan minima satu rakaat solat. Contoh: Memperoleh satu rakaat di awal waktu. Namun yang benar dia hanya wajib melaksanakan solat yang berada dalam waktu tersebut sahaja. Maka wajib baginya mengqadha solat Subuh tersebut apabila dia selesai bersuci (mandi wajib). (penyunting) Yakni tempoh iddah bagi seorang wanita yang diceraikan ialah tiga kali suci. (penyunting) [5] Ini kerana beliau memiliki dua pendapat: Qaul Qadim dan Qaul Jadid. sama ada solat sunat mahupun solat fardhu. (penyunting) 4 Hukum-Hukum Haid Terdapat beberapa hukum yang wajib ke atas wanita ketika sedang haid. Dalil bagi seluruh hukum ini ialah sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam: “Sesiapa yang mendapat satu rakaat dari solat maka sesungguhnya ia telah mendapat solat. sama ada di awal waktu atau akhir waktu.

sama ada puasa sunat mahupun puasa fardhu. mengaminkan doa dan mendengar bacaan a-Qur’an. adakah dia perlu mandi wajib? Baginda menjawab: “Ya. Maka tidak boleh menghukum ia sebagai haram sedangkan baginda Nabi sendiri tidak pernah mengharamkannya. Pendapat ini merupakan mazhab Abu Hanifah dan Malik sebagaimana yang disebut oleh Imam al-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Majmu’ Syarh al-Muhazzab. 4. maka puasanya menjadi batal sekalipun waktu berbuka (waktu Maghrib) sudah sangat hampir. fiqh (buku agama). Ini sebagaimana yang disebut oleh Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari. maka dia boleh berpuasa dan puasanya adalah sah sekalipun dia belum sempat mandi wajib. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda menyuruh keluar wanita-wanita dan anak-anak gadis yang berada di dalam rumah kepada solat dua hari raya (Solat Hari Raya Aidil Fitri dan Hari Raya Aidil Adha) supaya mereka dapat menyaksikan kebaikan dan seruan orang mukmin. Jumhur ilmuan berpendapat ianya dilarang. Jelas di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab-kitab hadis yang lain bahawa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersandar di riba ‘A’isyah radhiallahu 'anha sambil membaca al-Qur’an padahal ‘A’isyah di saat itu sedang haid. Demikian juga oleh Imam Malik dan Imam al-Syafi’e dalam pendapatnya yang lama. murid yang menduduki peperiksaan dan sebagainya. Hal ini kemudiannya akan tersebar kepada manusia. dan jauhilah wanita haid daripada mushalla (tempat lapang solat Hari Raya). Menurut pendapat yang benar. ms. membaca Bismillah ketika makan dan sebagainya. bererti diketahui bahawa tidaklah haram bagi wanita haid membaca al-Qur’an.Dalam hadis di atas Rasulullah tidak berkata: “Maka sesungguhnya dia telah mendapat solat Zuhur dan Asar” atau: “Wajib solat Zuhur ke atasnya. maka teruskan menyempurnakan puasanya itu. Kedua: Berzikir dan Membaca al-Qur’an. yang lebih utama ialah wanita yang sedang haid tidak membaca al-Qur’an dengan lidahnya melainkan jika perlu. 26. bukan berdasarkan masanya.[1] Juga diharuskan bagi wanita yang sedang haid untuk membaca al-Qur’an dengan cara melihat dengan mata atau menghayatinya dalam hati tanpa menutur dengan lidah.” Dalam hadis di atas Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menghubungkan hukum mandi wajib dengan kewujudan air mani dan bukan masa. Apabila seorang wanita didatangi haid hanya sekadar tempoh masa yang pendek selepas terbitnya fajar (masuk waktu Subuh).” Pendapat ini juga diperkuatkan oleh sebuah kaedah usul yang menyebut: Pada asalnya tidak ada hukum yang ditanggung (oleh manusia kecuali yang dipertanggungkan oleh syara’). Adapun membaca dengan lidah bagi wanita yang sedang haid. berdoa. Imam al-Bukhari mengemukakan sebuah riwayat daripada Imam Ibrahim al-Nakha’e (seorang tokoh tabi‘in) bahawa: “Tidak mengapa jika dibaca hanya satu ayat. Boleh juga membaca buku-buku hadis. Imam al-Bukhari. seperti guru yang mengajar al-Qur’an. bertasbih (membaca Subhanalah). jika dia melihat ada air (mani yang mengalir keluar). Lebih dari itu. Di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Hadis: “Wanita haid tidak boleh membaca sesuatu daripada al-Qur’an” adalah hadis yang lemah (dha‘if) yang disepakati oleh para ahli hadis. Apabila seorang wanita sedang berpuasa lalu dia didatangi haid. . Ini sebagaimana kes seorang wanita yang bermimpi seperti seorang lelaki lalu datang menemui Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bertanya. maka kami disuruh (oleh Rasulullah) mengqadha puasa namun tidak disuruh untuk mengqadha solat. Umm ‘Athiah radhiallahu 'anha berkata.” Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah membahas persoalan ini dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa. nescaya ia diterangkan oleh Nabi kepada umatnya dan dipelajari oleh para isteri baginda. bertahmid (membaca alhamdulillah). Dia wajib mengqadha puasa tersebut jika ia adalah puasa fardhu. Apabila seorang wanita sedang berpuasa lalu dia merasa akan didatangi haid sebelum waktu berbuka (waktu Maghrib). Berkata Imam al-Nawawi rahimahullah dalam Majmu’ Syarh al-Muhazzab: Hal ini diharuskan tanpa perselisihan pendapat. dilaksanakan hukum-hukumnya berdasarkan keluarnya haid. Ibn Jarir al-Thabari dan Ibn al-Munzir berpendapat ia diharuskan. maka puasanya tetap tidak sah. Maka demikianlah juga dengan haid. Boleh juga meletak mushaf al-Qur’an di hadapannya lalu melihat ayat-ayatnya dan membacanya dengan hati. Di antara perselisihan pendapat ini. Wanita yang sedang haid boleh berzikir. 191 : Sejak asal tidak ada larangan daripada al-Sunnah (bagi wanita yang sedang haid) membaca al-Qur’an. Diharamkan bagi wanita yang sedang haid untuk berpuasa. Justeru apabila Nabi tidak menegah daripada demikian padahal ramai wanita yang haid di zamannya. diketahui wanita-wanita di zaman Nabi shalallahu 'alaihi wasallam sedia mengalami haid. jld. Jika dia tetap berpuasa maka tidak sah puasanya. Maka jika haram ke atas mereka untuk membaca al-Qur’an sepertimana haram ke atas mereka mendirikan solat. Akan tetapi dia wajib mengqadha puasa fardhunya berdasarkan kenyataan ‘A’isyah radhiallahu 'anha: “Apabila yang demikian itu (haid) menimpa kami. Apabila seorang wanita tamat haidnya sebelum terbit fajar (belum masuk waktu Subuh).” [Shahih Muslim – no: 335 (Kitab al-Haid)] Berikut beberapa permasalahan khusus antara puasa dan wanita yang haid: 1. Ketiga: Puasa. maka terdapat perbezaan pendapat. 2. Namun tidak seorang jua yang meriwayatkan pengharaman seumpama daripada Nabi.[2] puasanya tidak batal kerana sesungguhnya darah masih berada di dalam badan dan tidak ada hukum baginya (selagi ia tidak mengalir keluar).[3] 3.

Lebih dari itu umat Islam telah bersepakat bahawa haram hukumnya bersetubuh dengan isteri yang sedang haid. mengenai (hukum) haid.Ini sebagaimana hukum orang berjunub yang berpuasa padahal dia tidak mandi wajib kecuali selepas terbit fajar (masuk waktu Subuh). dan jauhilah wanita haid daripada mushalla (tempat lapang solat Hari Raya).” [Shahih Muslim – no: 302 Kitab al-Haid)]. SesungguhNya Allah mengasihi orang-orang yang banyak bertaubat. al-Sunnah dan ijma’ (kesepakatan) umat Islam. asalkan bukan faraj. 374 menukil kata-kata Imam al-Syafi’e rahimahullah: Sesiapa yang melakukannya maka sesungguhnya dia melakukan dosa besar. Selain itu. Demikian juga. Imam al-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya al-Majmu’ Syarh alMuhazzab. Malah lebih utama jika tidak bersentuhan kulit pada kawasan yang terletak antara pusat dan lutut kecuali dengan berlapik. Perlu diingatkan bahawa setiap ibadat hendaklah berasal daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. [al-Baqarah 2:222] Yang dimaksudkan dengan al-Mahidh (‫ )المحيييض‬ialah masa haid dan tempatnya ialah di faraj. dan janganlah kamu hampiri mereka (untuk bersetubuh) sebelum mereka suci. bersentuhan dan lain-lain. Justeru jika seseorang itu tetap melakukan kemungkaran bersetubuh ketika haid. lalu beliau bertanya hukumnya. Diharamkan bagi seorang suami untuk menyetubuhi isterinya yang sedang haid. Kelima: Duduk Dalam Masjid.” [Shahih Muslim – no: 1211] Akan tetapi diharuskan melaksanakan lain-lain amalan daripada haji dan umrah seperti sa’e antara Safa dan Marwah. wuquf. Larangan ini telah ditunjukkan oleh al-Qur’an. Diharamkan bagi wanita yang sedang haid untuk tawaf. kecuali (suruhan ini) diringankan daripada wanita yang sedang haid. demikian berkata para sahabat kami (para tokoh Mazhab al-Syafi’e). dan mengasihi orang-orang yang sentiasa mensucikan diri. ‘A’isyah radhiallahu 'anha berkata: . manakala yang selainnya (para tokoh mazhab lain) berkata: Sesiapa yang menghalalkan setubuh dengan wanita haid dihukumkan kafir. melontar jamrah dan sebagainya. di mana apabila Safiyah radhiallahu 'anha didatangi haid sesudah tawaf ifahad. Ini berdasarkan hadis Ibn ‘Abbas radhiallahu 'anh: “Orang ramai disuruh untuk mengakhiri pertemuan mereka di al-Bait (Ka’bah dengan tawaf). Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad). maka ia tidak berasal daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. jld. Ketika mengikuti rombongan haji bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. diharamkan bagi seorang isteri yang sedang haid untuk membiarkan suaminya menyetubuhinya. baginda bersabda kepada beliau: “Maka hendaklah dia beransur pergi. Jika dia tetap tawaf maka tidak sah tawafnya.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (jangan bersetubuh dengan isteri kamu) dalam masa datang darah haid itu. termasuk padang yang digunakan untuk solat Hari Raya. Puasanya tetap sah berdasarkan hadis ‘A’isyah radhiallahu 'anha: “Pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bangun pagi dalam keadaan junub bukan kerana bermimpi. sama ada tawaf sunat mahupun tawaf fardhu.” [Shahih Muslim – no: 1211 (Kitab al-Haj)] Baginda tidak menyuruh Safiyah pergi ke pintu masjid padahal jika yang sedemikian adalah amalan yang disyari‘atkan pasti baginda akan menjelaskannya. Adapun tawaf wajib bagi ibadah haji dan umrah. Demikian hukumnya bagi tawaf wida’ dan wanita yang didatangi haid.” [Shahih Muslim – no: 1328 (Kitab al-Haj)] Adapun amalan datang ke pintu Masjid al-Haram dan berdoa bagi wanita haid yang hendak balik ke negerinya. Katakanlah: “Darah haid itu satu benda yang mendatangkan mudarat. 2. Kemudian apabila mereka sudah bersuci maka datangilah mereka menurut jalan yang diperintahkan oleh Allah kepada kamu. Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Umm ‘Athiah radhiallahu 'anha bahawa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: “Suruhlah keluar wanita-wanita dan anak-anak gadis yang berada di dalam rumah (kepada solat dua hari raya) supaya mereka dapat menyaksikan kebaikan dan seruan orang mukmin. Bahkan amalan di atas bertentangan dengan apa yang diajar oleh Rasulullah. Apabila seorang wanita telah menyempurnakan ibadah haji dan umrah lalu dia didatangi haid yang berterusan sehingga saat hendak balik ke negerinya. ‘A’isyah radhiallahu 'anha didatangi haid.” [Shahih al-Bukhari – no: 1932 (Kitab al-Siyam)] Keempat: Tawaf di Ka’bah. maka termasuklah dia di kalangan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta mengikuti jalan yang selain daripada jalan orang-orang Islam. Larangan ini juga berdasarkan sebuah hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: “Lakukanlah apa sahaja (dengan isterimu yang sedang haid) kecuali nikah (bersetubuh). Diharamkan bagi wanita yang sedang haid untuk berada atau duduk dalam masjid.” [Shahih al-Bukhari – no: 1652 (Kitab al-Haj)] Keenam: Bersetubuh. dia boleh balik tanpa melakukan tawaf wida’ (tawaf selamat tinggal). Rasulullah menjawab: “Lakukan apa yang telah dilakukan oleh orang haji kecuali jangan bertawaf di Ka’abah sehingga kamu bersuci. dihalalkan bagi suami untuk memuaskan nafsunya dengan berciuman. bermalam di Mudzalifah dan Mina. Dia tetap wajib melaksanakannya apabila sudah suci. ia tidak gugur daripada wanita yang didatangi haid. Oleh itu tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat untuk melakukan kemungkaran bersetubuh ketika haid. berpelukan. ms. Kemudian baginda berpuasa.

Kemudian jika dia mahu. diharuskan melangsungkan akad nikah dengan seorang wanita yang sedang haid. maka ceraikanlah mereka pada masa mereka dapat memulakan iddahnya. Atas dasar ini. Imam Ibn Qudamah rahimahullah di dalam kitabnya al-Mughni menerangkan sebab diharuskan tebus talak (khulu’) bagi seorang isteri yang sedang haid: Larangan untuk menceraikan isteri yang sedang haid ialah bagi mengelakkan mudarat tempoh iddah yang panjang. hendaklah dia tidak menyetubuhi isterinya sehinggalah dia (isteri) menjadi suci dari haid. Antara dua mudarat. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: . Hukum haram menceraikan isteri yang sedang haid memiliki 3 pengecualian: Pertama: Tidak mengapa (tidak haram) menceraikan isteri yang sedang haid jika sejak bernikah pasangan suami isteri tersebut belum pernah bersamaan atau bersetubuh. Seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya yang sedang haid kerana masa haid tidak dikira sebagai permulaan iddah. [al-Talaq 65:01] Seorang isteri diketahui memulakan iddahnya dengan kehamilan atau datang haid sesudah berlalu waktu suci. Maka menceraikan wanita yang sedang haid adalah haram berdasarkan ayat di atas.(engkau dan umatmu) . Iaitu seorang suami yang menceraikan isterinya yang sedang haid dengan mengambil bayaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bertanya sama ada isteri Thabit bin Qays sedang haid atau tidak. maka ia diharuskan dalam semua keadaan tanpa mengira sama ada sedang haid atau tidak. perlu ditolak mudarat yang lebih besar. Syarat ini adalah bagi isteri yang masih didatangi putaran haid dan tidak hamil.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: “Adakah kamu mengembalikan kebunnya?” Isteri Thabit menjawab: “Ya.” [Shahih al-Bukhari – no: 301 (Kitab al-Haid)] Ketujuh: Talak (Cerai) Diharamkan ke atas suami untuk menceraikan isterinya yang sedang haid. dia berdosa. Jika tidak hamil. Dia wajib bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. ditunggu hingga datang haid sekali lagi. iddah isteri diketahui dengan kehamilan. ‘Umar radhiallahu 'anh memberitahu hal ini kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ini kerana tidak ada iddah bagi isteri dalam kes seperti ini sehingga penceraian yang dijatuhkan ke atasnya tidak menyalahi firman Allah di atas. Jika dia (suami) tidak ingin maka boleh dilepaskan. boleh memegangnya (memperisterikannya seperti biasa) dan jika dia mahu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bertanya kepada isteri yang hendak menebus talak dirinya (sama ada dia sedang haid atau tidak). Apabila seorang suami menceraikan isterinya selepas menyetubuhinya. Demikianlah 3 pengecualian yang membolehkan penceraian ketika seorang isteri sedang haid. maka wajib ke atas isteri tersebut menghitung iddahnya dengan kedatangan tiga kali haid yang sempurna. Ketiga: Tidak mengapa (tidak haram) jika berlaku penceraian secara tebus talak (khulu’). Wajah Rasulullah berubah kerana marah dan baginda menyuruh Ibn ‘Umar merujuk kembali isterinya. Kemudian hendaklah dia mengambil isterinya kembali di bawah jagaannya untuk diceraikan dengan penceraian yang menepati syari‘at Allah dan RasulNya. kemudian memegangnya sehingga dia suci. Kelapan: Dikira Bilangan Talak Dengan Haid. ‘Abd Allah ibn ‘Umar radhiallahu 'anhuma pernah menceraikan isterinya yang sedang haid. maka lebih utama untuk ditangguhkan sehingga bakal isteri menjadi suci supaya tidak terjadi persetubuhan yang dilarang. Kemudian barulah dijatuhkan talak (diceraikan).“(Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) menyuruhku supaya memakai kain kemudian baginda menyentuhiku sedangkan aku sedang haid.hendak menceraikan isteri-isteri (kamu). maka iddah isteri diketahui dengan datang haid. sesungguhnya aku tidak mencelanya (suaminya: Thabit bin Qays) kerana akhlak dan agamanya tetapi aku membenci kekufuran dalam Islam. Seorang suami menyetubuhi isterinya ketika suci lalu kemudian menceraikannya.” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (kepada Thabit): Terimalah kebunmu dan ceraikanlah dia dengan satu talak. Maka setelah itu jika dia (suami) ingin kembali bersama isterinya maka dia boleh rujuk semula. Akan tetapi memandangkan talak ini adalah tebusan seorang isteri untuk dirinya sendiri. kemudian suci. Jika dia dapat mengawal dirinya maka tidak mengapa untuk meneruskan akad nikah.” [Shahih al-Bukhari – no: 5273 (Kitab al-Thalaq) ] Dalam hadis di atas. kemudian haid. Akan tetapi diharuskan tebus talak kerana kes tebus talak membabitkan seorang isteri yang menghadapi kehidupan bersama suami yang dia benci. Lebih dari itu tercatit di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab-kitab hadis yang lain. Kedua: Tidak mengapa (tidak haram) menceraikan isteri yang didatangi haid ketika sedang hamil. dalam perbincangan Haid Wanita Hamil. dengan syarat tidak disetubuhi isterinya dalam jangka masa tersebut. Tidak ada dalil yang menegah hal ini. Maka demikianlah iddah yang Allah telah perintahkan bahawa diceraikan wanita padanya. boleh menceraikannya sebelum menyetubuhinya. Selain itu sebagai poin tambahan. Akan tetapi jika tidak. Dalilnya adalah sebuah hadis daripada Ibn ‘Abbas radhiallahu ‘anh yang menceritakan tentang isteri Thabit bin Qays radhiallahu ‘anha yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah. kemudian suci semula.[4] Justeru jika seorang suami menceraikan isterinya yang sedang haid. Hal ini telah diterangkan sebelum ini dalam Bab kedua. Iaitu. Akan tetapi lebih utama jika diperhatikan kedudukan bakal suami tersebut sama ada dia boleh mengawal dirinya daripada terus menyetubuhi isteri barunya itu yang sedang haid. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Wahai Nabi! Apabila kamu . Ini adalah satu mudarat yang besar ke atas isteri berbanding mudarat tempoh iddah yang panjang.

Cara yang afdhal ialah sebagaimana tunjuk ajar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Asma’ binti Syakl radhiallahu ‘anha: “(Orang yang akan mandi). Kekosongan rahim bermaksud tidak hamil. [al-Thalaq 65:04] Kedua: Jika isteri yang diceraikan tidak memiliki putaran haid. Tempoh iddah 12 bulan merangkumi 9 bulan masa mengandung sebagai langkah berhati-hati kerana ia adalah tempoh hamil yang lazim dan 3 bulan sebagai bilangan iddah. Kemudian dia menjirus air ke atas badannya. jika isteri yang terhenti haidnya kembali sembuh atau selesai menyusu namun haidnya tetap tidak datang kembali. hitungan iddahnya adalah dengan kelahiran anak tanpa mengira sama ada tempoh hamilnya adalah panjang atau pendek. Oleh itu. Sebagai contoh. Keempat: Jika isteri yang diceraikan belum bersama-samaan dan bersetubuh dengan suami. kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu menyentuhnya (bersetubuh). sekalipun ia mengambil masa yang agak lama.” [Shahih Muslim – no: 332 (Kitab al-Haid)] Tidak wajib membuka ikatan rambut kecuali jika ia terikat dengan kuat kerana dibimbangi air tidak akan sampai ke kulit kepala. maka dia wajib menunggu sehingga haidnya datang kembali dan menghitungnya dengan 3 putaran haid yang sempurna. maka tiadalah kamu berhak terhadap mereka mengenai sebarang iddah yang kamu boleh hitungkan masanya. jika kamu menaruh syak (terhadap tempoh idah mereka) maka iddahnya ialah tiga bulan. Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Dan perempuan-perempuan mengandung.” [Shahih al-Bukhari – no: 320 (Kitab al-Haid)] Syarat paling minimum bagi mandi wajib adalah dikenakan air pada seluruh anggota badan termasuklah ke bawah rambut. dan (demikian) juga iddah perempuan-perempuan yang tidak berhaid. Kemudian dia mengambil cebisan kain yang diletak wangian lalu dia bersuci dengannya. Maka sucilah kamu. dan apabila hilang haid maka hendaklah kamu mandi dan solat. Maka kedatangan haid menandakan kekosongan rahim. adakah perlu saya merungkaikannya untuk mandi junub”. Kesepuluh: Wajib Mandi.” Jawab Rasulullah: “Tidak. Inilah pendapat yang benar lagi selari dengan kaedahkaedah syarak kerana kes ini dikategorikan sebagai wanita yang tidak didatangi haid dengan sebab yang tidak diketahui.” [Shahih Muslim – no: 330 (Kitab al-Haid)] . Umm Salamah radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya saya seorang wanita yang mempunyai rambut yang banyak (lebat). (Dalam riwayat yang lain): “……untuk mandi haid dan junub. tempoh iddahnya ialah hingga mereka melahirkan anak yang dikandungnya. [al-Thalaq 65:04] Ketiga: Jika isteri yang diceraikan memiliki putaran haid tetapi ia terhenti kerana faktor yang diketahui seperti sakit atau sedang menyusu. memadai kamu menyiram atas kepala kamu dengan tiga kali siraman. Dalilnya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Wahai orang-orang yang beriman. Seluruh proses menunggu dan 3 putaran haid tersebut adalah tempoh iddah baginya. Sebaliknya jika isteri didatangi haid maka dihukumkan bahawa dia tidak mengandung apa-apa daripada suaminya yang meninggal dunia. berilah "mut'ah" (pemberian sagu hati) kepada mereka. Apabila haid berhenti. Suami yang baru tidak boleh menyetubuhinya sehingga dia didatangi haid atau jelas hamil. seorang isteri yang kematian suami berkahwin dengan suami yang baru. Bagi kes di atas. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: Dan perempuan-perempuan dari kalangan kamu yang putus asa dari kedatangan haid. maka baginya tidak ada hitungan iddah. orang tua yang putus haid. dan lepaskanlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya. [alBaqarah 2:228] Syarat menghitung iddah sepertimana di atas memiliki beberapa pengkhususan bagi kes yang berbeza-beza: Pertama: Jika isteri yang diceraikan sedang hamil. wanita yang dibuang rahimnya kerana sebab perubatan dan sebagainya. [al-Ahzab 33:49] Kesembilan: Menghukum Kekosongan Rahim. Kemudian dia berwudhu’ dan memperelokkan wudhu’nya. Kemudian dia menjirus air ke atas kepalanya lalu dia menggosok kepalanya dengan bersungguh-sungguh sehingga air sampai ke kulit kepala. Jika isteri tersebut hamil maka dihukumkan bahawa kandungannya itu adalah daripada zuriat suaminya yang meninggal dunia.” Asma’ bertanya: “Bagaimana saya bersuci dengannya (cebian kain tersebut)?” Rasulullah menjawab: “Subhanallah! Bersucilah dengan ia” Lalu berkata ‘A’isyah kepada Asma’: “Kamu menyapu kesan-kesan darah (dengan cebisan kain tersebut). maka hitungan iddahnya ialah tiga bulan. wajib mandi dengan mengenakan air ke seluruh anggota badan berdasarkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha: “Apabila datang haid maka hendaklah kamu meninggalkan solat. ambillah air dan daun bidara. maka iddahnya adalah selama 12 bulan (setahun) bermula dari saat kesembuhannya atau akhir menyusu. kemudian kamu menyiram atas badan kamu dengan air. seperti kanak-kanak yang belum haid.Dan isteri-isteri yang diceraikan itu hendaklah menunggu dengan menahan diri mereka (daripada berkahwin) selama tiga kali haid. apabila kamu berkahwin dengan perempuan-perempuan yang beriman.

Jika ada pendarahan pada hari-hari seterusnya. hendaklah dia mengira masa haidnya mengikut kebiasaan. Apabila faktor kesukaran hilang dan dia dapat mandi wajib seperti biasa.[6] Adakalanya apabila haid berhenti di akhir waktu solat. skrub muka dan lain-lain lagi. Akan tetapi di masa kini kebanyakan bilik [5] mandi sudah dilengkapi dengan sistem air yang panas. Kedua: Wanita yang tidak memiliki masa haid yang tetap atau diketahui (tempoh dan putarannya). mudarat menggunakan air[5] atau sakit. shampoo buah-buahan. lalu dikemukakan yang dianggap paling tepat lagi benar. Selepas itu bolehlah mandi dengan sempurna. tidak boleh sengaja menangguhkan mandi sehingga ke waktu solat yang seterusnya.” [Musnad Ahmad. Maka pendarahan enam hari yang pertama bermula dari awal bulan dikira sebagai haid manakala hari-hari selebihnya dikira sebagai istihadah. sekalipun hanya secara ringkas supaya tetap dapat melaksanakan solat pada waktunya. Maka darah yang berwarna hitam adalah haid. maka boleh bertayamum sebagai ganti kepada mandi. Contohnya ialah seorang wanita yang lazimnya didatangi haid selama enam hari bermula awal setiap bulan. Contohnnya darah yang keluar secara berterusan sejak awal. (penyunting) [6] Dalam suasana kesukaran sepertimana yang disebut di atas. (penyunting) [3] Maka apabila seorang wanita merasakan sudah tiba masa haidnya. Tidak perlu diberi perhatian kepada pendarahan pada hari-hari seterusnya kerana itu adalah istihadah. (penyunting) [7] Jika diperhatikan tunjuk ajar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang tatacara mandi wajib.[7] [2] Maksudnya wujud perselisihan pendapat dalam hal ini. hendaklah dia mandi dan solat mengikut ukuran masa haidnya yang biasa. Rujuk semula hadis Asma’ binti Syakl dan Umm Salamah di atas.” [Shahih al-Bukhari – no: 325 (Kitab al-Haid)] Hal yang sama pernah berlaku kepada Umm Habibah binti Jahsy radhiallahu ‘anha dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada beliau: “Duduklah (dalam keadaan haid) sekadar mana yang pernah kamu alami dari hari-hari haid kamu (yang biasa). Yang benar mandi wajib yang dituntut oleh syari‘at Islam adalah mudah lagi ringkas sehingga boleh disempurnakan dalam masa yang singkat sahaja. Dia tetap wajib mandi. (penyunting) 5 Istihadah Dan Hukum-Hukumnya Istihadah (‫ )الستحاضة‬ialah darah yang keluar secara berterusan bagi seorang wanita. Ia keluar tanpa terputus-putus atau mungkin terputus sekejap seperti sehari-dua dalam sebulan. seorang wanita yang mengalami pendarahan secara berterusan. Tinggalkan solat pada kadar haid yang kebiasaan bagi kamu. Kemudian (pada satu bulan) dia mengalami pendarahan yang berterusan. Darah yang berwarna hitam (merah kehitaman) dan/atau pekat dan/atau berbau. Akan tetapi pada hari kesepuluh kelihatan perbezaan sifat darah: q Sehingga hari kesepuluh darah berwarna hitam (merah kehitaman) manakala selepas itu ia berwarna merah. darah yang berwarna merah adalah istihadah. sesungguhnya aku didatangi darah istihadah yang banyak. shower gel. Jika menghadapi kesukaran untuk mandi seperti musafir. Akan tetapi sebahagian muslimah masa kini telah menyulitkan mandi dengan pelbagai gunaan sabun. yakni darah keluar tanpa terputus-putus ialah sebagaimana aduan Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu 'anha kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana di dalam Shahih al-Bukhari: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya aku tidak suci” manakala dalam satu riwayat yang lain: “Aku didatangi istihadah maka aku tidak suci. Apabila faktor kesukaran hilang. [Shahih Muslim – no: 334 (Kitab al-Haid)] Kesimpulannya. sama ada kerana ukuran kebiasaan di kalendar atau sebagainya. tidak perlu diulangi solat-solat tersebut. sesungguhnya itu ialah ‘irq (penyakit). Sebagai contoh. solat yang dilaksanakan oleh seorang wanita tetap sah sekalipun dengan hanya bertayamum untuk suci daripada haid. ia adalah mudah lagi ringkas.” Dalil bagi kes kedua. rendaman herba.] Terdapat tiga cara bagi membezakan antara darah haid dan istihadah: Pertama: Wanita yang memiliki masa haid yang tetap (tempoh dan putarannya). (penyunting) [4] Lihat Shahih al-Bukhari – no: 4908 (Kitab al-Tafsir). tidak ada air. yakni darah keluar dengan terputus sekejap ialah kisah Himnah binti Jahsy radhiallahu 'anha yang datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata: “Ya Rasulullah. Selainnya adalah darah istihadah. maka wajib mandi. ‘A’isyah radhiallahu ‘anha menerangkan bahawa Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya aku didatangi istihadah. dia tetap dikira suci sehinggalah darah haid mengalir keluar. Sunan Abu Daud dan Sunan al-Tirmizi dan beliau (al-Tirmizi) mensahihkannya. ia adalah darah haid. Maka baginya dibezakan antara darah haid dan darah istihadah dengan memerhatikan sifat-sifat darah tersebut. Dalil bagi kes pertama.Jika haid berhenti sesudah masuk waktu solat maka wajib segera mandi supaya dapat dilaksanakan solat dalam waktunya. Adakah aku perlu meninggalkan solat?”. kemudian hendaklah kamu mandi dan dirikan solat. . (penyunting) Seperti di musim dingin di mana menggunakan air yang sejuk untuk mandi boleh mendatangkan mudarat. Rasulullah menjawab: “Tidak. kemudian hendaklah kamu mandi dan solat”. Maka baginya hukum haid dalam masa yang tetap tersebut dan hukum istihadah bagi waktu selainnya. maka aku tidak suci. bagi wanita yang memiliki masa haid yang tetap (tempoh dan putarannya). Mandi sebegini sudah menjadi kelaziman sehingga dianggap “tidak sah” tanpanya.

Jika ia adalah (darah) selain itu maka hendaklah kamu berwudhu’ dan mendirikan solat kerana sesungguhnya ia adalah (darah) penyakit. Oleh itu hendaklah setiap wanita yang menghadapi kes ketiga ini berijtihad akan satu tempoh haid yang sesuai baginya. Dia tidak diwajibkan mandi (mandi wajib) kerana darah yang keluar tersebut. dibezakan dengan tiga cara yang telah disebut di atas. Maka baginya.[4] Kedua: Wanita yang tidak tahu secara jelas sama ada dia akan didatangi haid atau tidak. Maka bagi seorang wanita yang mungkin baginya untuk datang haid. Hadis berikut menjadi rujukan dalam kes ketiga ini. maka hukum-hukum yang diwajibkan ke atasnya adalah sama sepertimana wanita yang suci kecuali dalam tiga perkara berikut: Pertama: . maka hendaklah dia membezakan antara haid dan istihadah sepertimana tiga cara yang disebut di atas. Jika pada kebiasaannya mereka didatangi haid selama enam atau tujuh hari. Bagi wanita yang tidak mungkin didatangi haid maka yang wujud hanyalah ‘Irq (penyakit) dalam apa jua keadaan sekalipun. maka (apabila) kamu didatangi haid selama enam atau tujuh hari pada ilmu Allah Ta’ala. Maka hendaklah dia mendirikan solat dan puasa. Sebagai penjelasan tambahan. kadang-kala berlaku pendarahan yang disalah anggap sebagai istihadah. Kini kita akan bahas pula hukumhukum yang diwajibkan ke atas wanita yang beristihadah. apakah pandangan engkau berkenaannya? Sesungguhnya ia menegah aku daripada mendirikan solat dan puasa.” Rasulullah menjawab: “Aku akan terangkan untuk kamu (cara menggunakan) al-Kursuf (kapas yang diletakkan di faraj). rakan-rakan yang sebaya umurnya dan lain-lain lagi. maka hendaklah kamu solat pada pada dua puluh tiga malam atau dua puluh empat malam dan siangnya dan hendaklah kamu berpuasa. Bahkan ia adalah lebih utama daripada membiarkan persoalan ini kepada adat kebiasaan wanita. waktu selebihnya dikira sebagai istihadah. wanita yang menghadapi kes ketiga ini melihat darah keluar secara berterusan bermula pada hari Khamis yang pertama dalam bulan tersebut. akan tetapi para ilmuan rahimahumullah telah beramal dengannya.” [Shahih al-Bukhari – no: 306 (Kitab al-Haid)] Sabda Rasulullah: “…Maka apabila datang haid…” menjadi petunjuk yang membezakan antara haid dan istihadah. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ia (pendarahan kamu) adalah hentakan dari hentakan-hentakan syaitan. Maka hendaklah dia melihat kebiasaan para wanita lain yang menghampirinya dan menjadikan tempoh haid mereka sebagai ukuran ke atas dirinya. hendaklah dia berwudhu’ sesudah masuk waktu kemudian terus bersolat. Maka darah yang pekat adalah haid. serta boleh bersetubuh dengan suaminya.q Sehingga hari kesepuluh darah bersifat pekat manakala selepas itu menjadi cair. Sebagai contoh. Hukum-Hukum Istihadah. Oleh itu enam atau tujuh hari yang pertama pendarahan. Hari-hari seterusnya dianggap sebagai istihadah. Sebelum ini dalam Bab 4 kita telah bahas hukum-hukum yang diwajibkan ke atas wanita yang sedang haid. hendaklah dia berwudhu’ apabila sahaja hendak mendirikannya. maka demikianlah juga ukuran ke atas dirinya. Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha: q “Apabila darah itu adalah haid maka sesungguhnya ia hitam (lagi) dikenali. hadis ini hasan sahih] Sabda Rasulullah: “Enam atau tujuh hari” bukanlah penetapan tetapi ijtihad. pendarahan yang berlaku dianggap sebagai haid dan istihadah. Akan tetapi hendaklah dia membasuh faraj serta mengikatnya dengan kain[3] supaya dapat mencegah darah daripada mengalir keluar. dianggap sebagai haid. seperti daripada keluarga atau adik beradik yang sama. Bagi setiap solat sunat.” Himnah berkata: “Ia (darah saya) lebih banyak dari demikian itu”. hendaklah kamu mandi apabila kamu lihat bahawa kamu telah suci (dari darah haid). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy: “Sesungguhnya yang demikian itu ialah ‘irq (penyakit) bukanlah darah haid maka apabila datang haid maka hendaklah kamu meninggalkan solat.[1] Ketiga: Wanita yang tidak memiliki masa (tempoh dan putaran) haid yang tetap dan tidak juga memiliki sifat-sifat darah yang dapat dibezakan antara haid dan istihadah. Maka darah yang berbau adalah haid. Bagi setiap solat fardhu. Maka baginya. yang mengalir keluar bukanlah istihadah tetapi al-Sufrah (cecair kekuningan) dan al-Kudrah (cecair kekeruhan antara kuning dan hitam) atau basahan. sesungguhnya ia dapat menghilangkan darah.[2] Demikian tiga cara yang paling lazim bagi membezakan antara darah haid dan istihadah. darah yang cair adalah istihadah.” [Sunan Abu Daud – no: 247 (Kitab al-Thaharah) dan Sunan al-Nasa’i dengan disahihkan oleh Ibn Hibban dan al-Hakim] Hadis di atas memiliki perbincangan dari sudut sanad dan matannya. Sehingga hari kesepuluh darah memiliki bau manakala selepas itu tiada lagi bau. darah yang tidak berbau adalah istihadah. Ijtihad dibuat dengan merujuk kepada tempoh haid yang lazim dihadapi oleh para wanita lain yang menghampiri dirinya. Himnah binti Jahsy radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya seorang wanita yang didatangi istihadah yang amat banyak. Apabila seorang wanita telah memastikan bahawa dia sedang mengalami pendarahan istihadah dan bukan haid. Kesalahan ini boleh berlaku dalam dua kes: Pertama: Wanita yang mengetahui dengan jelas bahawa dia tidak akan didatangi haid lagi. bermula daripada hari Khamis.” [Sunan Abu Daud – no: 248 (Kitab al-Thaharah) dan Sunan al-Tirmizi – no: 118 (Kitab al-Thaharah) dan berkata al-Tirmizi. justeru hendaklah kamu menahan dari melakukan solat. seperti setelah melakukan pembedahan yang melibatkan pemotongan atau ikatan rahim. Maka baginya masa haid diukur berdasarkan kebiasaan wanita.

hendaklah kamu jauhi solat pada hari-hari haidmu (sahaja) kemudian hendaklah kamu mandi dan berwudhu’ untuk setiap solat kemudian dirikanlah solat walaupun darah menitis jatuh ke atas tikar. (penyunting) [2] “Para wanita lain” ini hendaklah memiliki tempoh dan putaran haid yang normal. [al-Baqarah 2:222] Ayat ini menjadi dalil bahawa larangan bersetubuh hanyalah ke atas isteri yang sedang haid. Jika berlaku pendarahan selain itu (tolakan bersalin).” [Sunan al-Tirmizi – no: 118 (Kitab al-Thaharah) dan beliau berkata: Hadis ini hasan sahih] Apa yang keluar (apa-apa pendarahan) selepas itu tidaklah memudaratkan (tidak membatalkan wudhu’) berdasarkan hadis berikut riwayat Ahmad dan Ibn Majah: “Wahai Rasulullah. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu 'anha di dalam Shahih al-Bukhari – no: 228: “Kemudian hendaklah kamu berwudhu’ pada setiap solat. selepas melahirkan anak atau dua hingga tiga hari sebelum melahirkan anak. (penyunting) [5] Atau dengan memakai tuala wanita. Yang terakhir (sebelum melahirkan anak) hendaklah yang disertai dengan tolakan melahirkan anak(terasa nak bersalin). Ini adalah qiyas yang tidak benar kerana wanita istihadah dan wanita haid adalah dua kes yang saling berlainan.30 malam. 2. Sebagai contoh. Hukum ini khusus sebagai satu kemudahan (rukhsah) untuk kes ini sahaja supaya apa-apa yang mengalir [4] keluar dari faraj tidak dikira membatalkan solat.[5] Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Himnah radhiallahu 'anha: “Aku akan terangkan untuk kamu (cara menggunakan) al-Kursuf (kapas yang diletakkan di faraj). maka sudah tentu diharuskan juga bersetubuh kerana bersetubuh adalah sesuatu yang lebih kecil berbanding solat. satu wudhu’ bagi satu solat. maksudnya tetap selari dengan lain-lain petunjuk syari‘at sehingga menjadi amalan para ilmuan sejak dari dahulu. Sesungguhnya aku seorang wanita yang mengalami istihadah sehingga aku tidak suci.” Himnah berkata: “Ia (darah saya) lebih banyak dari demikian itu”. Pendapat yang sahih adalah ianya harus (dibolehkan) tanpa sekatan berdasarkan sebab-sebab berikut: 1. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata: . 10 hari setiap bulan dianggap sebagai haid manakala selebihnya dianggap istihadah. Ia keluar sama ada di saat melahirkan anak. Adapun bagi solat yang tidak berwaktu (solat sunat) maka dia berwudhu’ ketika hendak melaksanakannya. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (jangan bersetubuh dengan isteri kamu) dalam masa datang darah haid itu. (penyunting) 6 Nifas dan Hukum-hukumnya [6] Nifas (‫ )النفاس‬ialah darah yang keluar dari rahim wanita atas sebab melahirkan anak. tidak selain itu. (penyunting) [3] Atau tuala wanita (penyunting). Ia (nifas) tidak disyaratkan oleh dua atau tiga hari sebelum bersalin tetapi disyaratkan oleh tolakan yang mengiringi bersalin.” Hadis ini memberi makna bahawa dia tidak berwudhu’ untuk solat yang berwaktu kecuali selepas masuk waktunya. 3. maka tempoh 10 hari tersebut menjadi ukuran bagi dirinya juga. seperti menggunakan wudhu’ yang sama untuk menunaikan solat Maghrib dan “menyimpannya” untuk solat Isya’ kemudian. [1] Maksudnya. sesungguhnya ia dapat menghilangkan darah. maka para ilmuan berselisih pendapat mengenai kebolehannya. hendaklah dia membasuh kesan darah dan mengikat farajnya dengan cebisan kain yang dilapik dengan kapas supaya dapat menahan darah. Merupakan satu kelaziman bagi para wanita pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengalami istihadah. sama ada lama atau pendek. Pendapat yang melarang bersetubuh mengqiyaskan wanita yang beristiadhah dengan wanita yang haid. Sekalipun ia memiliki perselisihan pendapat dari sudut kekuatannya. hendaklah dia merujuk kepada tempoh dan putaran haid yang lazim bagi adik beradiknya yang lain. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata: Apa yang dilihat oleh wanita semasa bermula tolakan bersalin ialah darah nifas. jika seorang wanita menghadapi kes ketiga ini. Akan tetapi Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menegah para suami daripada menyetubuhi isteri mereka. apakah aku patut meninggalkan solat? Tidak. maka ia bukan nifas. Jika diharuskan solat bagi wanita yang beristihadah. Maksudnya. Rasulullah bersabda: “Maka hendaklah kamu mengekangnya (mengikatnya)…. Justeru tidak boleh menggunakan wudhu’ yang sama untuk dua solat. Para ilmuan berselisih pendapat tentang tempoh bagi nifas. Maka bagi pendarahan berterusan yang dihadapinya. Juga tidak boleh berwudhu’ jauh sebelum waktu solat. jika persoalan ini dibiarkan kepada adat kebiasaan wanita. Jika mereka didatangi haid selama 10 hari setiap satu bulan.” [6] [Musnad Ahmad – no: 25681 dan disahihkan oleh Syu‘aib alArnauth] Ketiga: Bersetubuh. Kedua: Apabila wanita yang beristihadah hendak berwudhu’. Justeru lebih baik menggunakan hadis di atas sebagai rujukan. (penyunting) Musnad Ahmad – no: 25681 dan disahihkan oleh Syaikh Syu‘aib al-Arnauth. ia akan terdedah kepada pelbagai pendapat dan hukum yang tidak benar. seperti mengambil wudhu’ pada pukul 6 petang untuk solat Maghrib pada pukul 7.Wanita yang beristihadah wajib berwudhu’ setiap kali hendak solat.

hukum haid yang Ketujuh dan Kelapan. dan dia tidak mungkin akan hamil jika tidak terlebih dahulu mengalami haid. seorang wanita yang lazimnya memiliki tempoh haid lapan hari setiap bulan. 3. Jika nifasnya hanya berhenti dalam tempoh kurang sehari. Masa yang paling awal untuk nifas secara fitrah ialah 80 hari sedangkan yang lazim ialah 90 hari daripada hari mula hamil. Jika tidak jelas baginya (sama ada pendarahan disebabkan kehamilan atau keguguran) maka hendaklah dihukum berdasarkan yang zahir (yang paling diyakini). Jika ini berlaku. Kedua: Ila’ Ila’ ialah tindakan seorang suami yang bersumpah tidak akan menyetubuhi isterinya buat selama-lamanya atau untuk satu tempoh yang melebihi empat bulan. maka mudah untuk diyakini bahawa yang datang semula pada hari ketujuh dan lapan tersebut adalah haid juga. Keempat: Nifas yang terputus-putus Bagi darah haid. jika ia keluar. hendaklah dia tidak bersolat dan tidak berpuasa (kerana ia adalah nifas). Akan tetapi jika pendarahan berlaku secara berterusan (melebihi tempoh di atas) maka ia adalah darah fasid (istihadah).[1] Jika berlaku pendarahan selepas 80 hari kerana keguguran. hendaklah dia menjadikan tempoh 40 hari sebagai tanda berhenti. kemudian keluar semula. 3. maka itu adalah darah nifas. 2. maka yang keluar semula itu dikategorikan sebagai “darah yang disyaki”. Nifas tidak dijadikan ukuran iddah bagi seorang isteri yang dijatuhkan talak (diceraikan) oleh suaminya. Jika ditakdirkan seorang wanita melihat darah lebih daripada 40 atau 60 atau 70 hari lalu kemudian barulah ia berhenti. Jika nifas berhenti dalam tempoh kurang 40 hari. maka (setelah mandi wajib) dia dianggap suci tanpa perlu menunggu genap 40 hari. Secara umumnya hukumhukum nifas adalah sama dengan hukum-hukum haid kecuali dalam perkara-perkara berikut: Pertama: Iddah. Tahap baligh bagi seorang wanita diukur berdasarkan datang haid dan bukan datang nifas. maka mudah untuk diyakini bahawa yang keluar semula itu adalah haid juga. dia belum dikira sudah berakhir tempoh nifasnya. maka janganlah dipedulikan (kerana ia bukan nifas). kemudian ia terhenti pada hari kelima dan keenam. Umumnya terdapat dua pendapat: Pendapat Pertama: Apabila nifas terhenti sebelum 40 hari kemudian ia keluar semula pada hari ke-40. Berbeza pula bagi darah nifas. bukan dengan berhentinya nifas. Yang terakhir ini (iddah berdasarkan putaran haid) adalah sebagaimana yang telah dibahas dalam Bab 4. ms. Dalam kategori ini. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah menulis. maka iddahnya ialah menunggu hingga datang haid lalu dikira berdasarkan putaran haidnya. maka tempoh iddahnya ialah sehingga melahirkan anak. Jika ia keluar dengan sebab selain itu. 4. kemudian ia keluar semula pada hari ketujuh dan lapan. Jika berlaku pendarahan selepas 80 hari kerana tolakan bersalin. Hendaklah dia mandi wajib setelah genap 40 hari. terdapat beberapa hukum yang diwajibkan ke atas wanita yang mengalami nifas. Diwajibkan ke atasnya hukum-hukum haid sebagaimana yang dibahas sebelum ini. bukan berdasarkan nifasnya. Sebelum itu ketika sedang nifas. Akan tetapi hendaklah dipastikan bahawa nifasnya benar-benar sudah berhenti. 37] Berdasarkan penjelasan di atas: 1. Apabila seorang isteri yang baru sahaja melahirkan anak dicerai oleh suaminya. Jika hal di atas bukanlah kebiasaan bagi dirinya. Ini kerana seorang wanita tidak mungkin akan mengalami nifas jika dia tidak hamil. Ini adalah pendapat yang mayshur dalam Mazhab Hanbali. Oleh itu apabila seorang isteri yang hamil dicerai oleh suaminya. [al-Risalah fi al-Asma’ allati ‘Alaq alSyar‘i al-Ahkam biha. hendaklah dia mendirikan solat dan berpuasa (kerana ia bukan nifas tetapi istihadah).Bagi nifas tidak ada tempoh minimum atau maksimum. Maka batasnya (bagi kes ini) ialah 40 hari kerana sesungguhnya tempoh 40 hari adalah kebiasaan (bagi wanita yang sudah bersalin) sebagaimana yang disebut dalam atsar-atsar (pendapat tokoh terdahulu). sebagaimana yang dinukil daripada kitab al-Iqna’: Apabila berlaku pendarahan kerana tolakan bersalin sebelum 80 hari (daripada hari mula hamil).[3] Dia wajib mengqada puasanya selepas suci (jika dia nifas dalam bulan Ramadhan). Pendarahan hanya boleh dikategorikan sebagai nifas apabila ia keluar dengan sebab fitrah mengandung dan melahirkan anak. maka hendaklah dia menunggu sehingga nifasnya berhenti. maka ia bukanlah nifas tetapi darah penyakit (al-‘Irq) yang diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah. lalu dia haid pada empat hari yang pertama. Ketiga: Baligh. Pendapat Kedua: . kemudian terhenti sebentar.[2] 2. Pendarahan seterusnya dikira sebagai istihadah dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah sebagaimana yang dibahas sebelum ini. Seterusnya: 1. Sebagai contoh. wanita yang mengalaminya wajib bersolat dan berpuasa. Jika nifas bersambung dengan haid. Apabila menjadi kebiasaan bagi seorang wanita untuk mengalami nifas melebihi 40 hari dan dia dapat mengenali tanda berhentinya. Hukum-Hukum Nifas Sebagaimana haid dan istihadah. maka tempoh empat bulan (atau lebih sebagaimana yang disumpah) dikira berdasarkan putaran haid isteri dan bukan berdasarkan nifasnya. seperti keguguran. diharamkan ke atasnya apa yang diharamkan ke atas wanita yang sedang haid. para ilmuan berbeza pendapat ke atas kes nifas yang terputus. maka hendaklah dia tunggu sehingga berhenti haidnya.

” Kisah ini tidak boleh dijadikan dalil menghukum “tidak harus” kerana tindakan ‘Utsman mungkin di atas sikap berhati-hati kerana tidak yakin bahawa isterinya telah benar-benar suci atau akan keluar darah semula disebabkan persetubuhan atau sebagainya. maka ia adalah darah nifas dan jika selepasnya ( lebih dari tiga hari) maka ia adalah darah haid. 2. syarat nifas ialah (1) ia keluar disebabkan tolakan bersalin dan (2) Ia keluar selepas 80 atau 90 hari daripada hari mula hamil (penyunting) [2] Demikian adalah bagi zaman Ibn Taimiyyah yang meninggal dunia pada tahun 728H. Terdapat sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah di mana isteri ‘Utsman ibn Abi al-‘Aas (yang baru suci daripada nifas) telah menghampirinya padahal di saat itu belum genap tempoh 40 hari. [al-Nisa’ 4:29] Kedua: Penggunaannya adalah dengan izin suami.[5] Pendapat kedua ini juga merupakan pilihan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah. ia adalah istihadah. diharuskan bagi suami menyetubuhinya. Kelima: Bersetubuh Apabila seorang wanita menjadi suci daripada haidnya lebih awal daripada tempoh yang biasa baginya. 1. Seorang isteri yang diceraikan oleh suaminya lalu dia mengambil ubat penegah haid supaya tempoh iddahnya berpanjangan. 349 menukil katakata Imam Malik rahimahullah: Jika dia (wanita) melihat darah selepas dua atau tiga hari. ms. Walaubagaimanapun yang lebih utama (bagi suami isteri) ialah tidak melakukan hal ini kecuali untuk tujuan yang baik. [1] Dalam ertikata lain. Menegah haid untuk menegah kehamilan. Alhamdulillah. Akan tetapi apabila seorang wanita yang sedang nifas suci daripada nifasnya lebih awal daripada tempoh 40 hari. (penyunting) [5] Maksudnya jika nifas terhenti kurang daripada tiga hari lalu kemudian keluar semula. Untuk berkata “tidak harus” memerlukan dalil syarak padahal tidak wujud dalil syarak dalam permasalahan ini. di masa kini sudah ada peralatan yang boleh menentukan kehamilan atau keguguran. (penyunting) [3] Seperti solat. Diharuskan menggunakan ubat-ubatan yang mendatangkan haid dengan syarat: Pertama: Bukan sebagai helah untuk meninggalkan ibadah seperti tidak solat dan berbuka pada bulan Ramadhan. Terdapat dua jenis ubat-ubatan yang menegah kehamilan: . maka ia adalah haid. Pertama: Ubat-Ubatan Yang Menegah Haid. disertai tolakan dan paling awal 80 hingga 90 hari selepas hari pertama hamil. Imam Ibn Qudamah rahimahullah di dalam kitabnya al-Mughni. Ketiga: Ubat-Ubatan Yang Menegah Kehamilan. yang keluar itu adalah nifas juga. yakni selepas habis nifas. Sesungguhnya Allah sentiasa Mengasihani kamu. maka ia adalah istihadah. Maka tempoh berhenti selama tiga hari adalah pembeza antara darah nifas atau haid. Allah yang lebih mengetahui.[4] Apabila darah keluar secara berterusan. Berikut adalah contoh dua kes yang memerlukan izin atau pengetahuan suami: 1. (penyunting) Yang dimaksudkan dengan faktor nifas ialah hamil. Kedua: Mendapat izin suami kerana sengaja mendatangkan haid akan menggugurkan hak suami dari dua sudut: 1. (penyunting) 7 Hukum Penggunaan Ubat-Ubatan Yang Menegah Haid Atau Mendatangkannya Dan Yang Menegah Kehamilan Atau Menggugurkannya. Yang benar diharuskan bagi suami menyetubuhinya dan ini adalah pendapat majoriti ilmuan. wujud perselisihan pendapat sama ada harus atau tidak bagi suami menyetubuhinya. yang keluar semula itu bukanlah nifas tetapi haid. Kedua: Ubat-Ubatan Yang Mendatangkan Haid. Diharuskan menggunakan ubat-ubatan yang menegah haid dengan dua syarat: Pertama: Tidak berlaku mudarat ke atas dirinya. Dengan itu berpanjanganlah tempoh pembayaran nafkah cerai oleh suaminya kepadanya. Maka mudah bagi seorang wanita untuk membezakan pendarahannya sama ada disebabkan kehamilan (nifas) atau keguguran (istihadah). dia tidak sempat untuk berbuat demikian. Maka ‘Utsman berkata: “Janganlah kamu menghampiri aku. [al-Baqarah 2:195] Dan janganlah kamu berbunuh-bunuhan sesama sendiri. Jika mengakibatkan mudarat maka ia diharamkan berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: Dan janganlah kamu sengaja mencampakkan diri kamu ke dalam bahaya kebinasaan. Iaitu isteri sengaja mendatangkan haid supaya tempoh iddah berlalu dengan cepat sehingga seandainya suami ingin merujuk semula. 2.Apabila darah keluar pada suasana yang lazimnya disebabkan oleh faktor nifas. Menghalangnya daripada bersetubuh dengan isterinya. maka ia adalah nifas. jld. Menghalangnya untuk merujuk semula dalam kes penceraian. Apabila darah keluar pada suasana yang lazimnya disebabkan oleh faktor haid. Pendapat yang kedua inilah dianggap yang benar. puasa dan tawaf. Faktor haid [4] adalah apa yang selain daripada faktor nifas kecuali jika ia berterusan. Jika nifas terhenti lebih daripada tiga hari lalu kemudian keluar semula. Ini kerana putaran haid yang fitrah (semula jadi) adalah penting demi kesihatan yang normal.

[2] Allah yang lebih mengetahui. Lumpur 1995). 2. Lebih dari itu seandainya dia kehilangan anak yang sedia ada masa kini. Ini tidak diharuskan kerana ia mengurangkan keturunan. 2. Allah yang lebih mengetahui. Pembedahan ditegah kerana “badan” adalah satu amanah kepada manusia yang tidak boleh diapa-apakan kecuali atas pertimbangan untuk mencapai kemaslahatan yang lebih besar. II. K. dia akan tinggal berseorangan sehingga ke hari tua (tanpa penjagaan). Pembedahan ditegah kecuali atas dasar darurat seperti kesukaran ibu untuk melahirkan anak secara fitrah. Anak yang masih hidup di dalam kandungan ibu yang meninggal dunia adalah insan yang maksum sehingga wajib menyelamatkannya. Ia diharuskan selagi mana tidak memudaratkan ibu dan anak serta tidak memerlukan pembedahan. Contoh penggunaannya ialah wanita yang kerap hamil dan dia ingin merancang kehamilannya pada kadar sekali dalam setiap dua tahun. Berikut beberapa sumber rujukan dalam bahasa Melayu: 1. Ini diharuskan dengan syarat mendapat keizinan suami dan tidak memudaratkan kesihatan. Peringatan Dalam keadaan-keadaan yang harus untuk menggugurkan kandungan sebagaimana yang dibahas dalam bab ini. Tindakan ini menyalahi tujuan Islam yang mengutamakan umat yang ramai. K. yang benar adalah Pendapat Kedua kerana melakukan pembedahan di zaman kita sekarang ini bukanlah sesuatu yang mencacatkan mayat kerana kesan pembedahan dapat dijahit kembali. Dalam kes ini diperhatikan: Jika tidak wujud kemungkinan untuk anak hidup maka tidak harus melakukan pembedahan.com [2] Kecuali jika atas nasihat para pakar perubatan bahawa meneruskan kehamilan akan membawa kemudaratan yang besar kepada ibu. Jika belum ditiup ruh maka wujud perselisihan pendapat sama ada harus atau tidak untuk menggugurkan kandungan. Ibu mati. harus menggugurkan kandungan. Yang penting. lihat buku penyunting yang berjudul Kaedah-Kaedah Memahami Hadis-Hadis yang Saling Bercanggah (Jahabersa. [1] Lebih lanjut tentang al-‘Azal. Jika wujud kemungkinan untuk anak hidup maka ia seterusnya terbahagi kepada dua : I. 3. Ini adalah pendapat para sahabat kami rahimahumullah. dia mengeluarkan alat kelaminnya dari faraj isterinya di saat hendak keluar air mani. Harus melakukan pembedahan supaya anak dapat dikeluarkan demi memelihara ibu daripada apa-apa kemudaratan. Johor Bahru 2002). Ini adalah pendapat Imam Ibn Hubairah rahimahullah dalam kitabnya al-Inshaf. Maka hukumnya terbahagi dua: 1. Pendapat Pertama menegah daripada melakukan pembedahan untuk mengeluarkan anak kerana ia mencacatkan mayat (mayat ibu). anak mati. ia terlebih dahulu wajib mendapat izin daripada pihak suami sebagai orang yang memiliki kandungan tersebut. Jika anak sudah keluar sebahagian maka diharuskan pembedahan untuk mengeluarkan sebahagian yang tertinggal.S. A. Ibu mati. Ia termasuk dalam kategori membunuh tanpa hak yang diharamkan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah serta kesepakatan umat Islam.Pertama: Ubat yang menegah kehamilan secara tetap dan berterusan. Saya berkata. Dalil kebolehan ini tindakan para sahabat radhiallahu 'anhum di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang mempraktikkan al-‘Azal terhadap para isteri mereka supaya mereka (para isteri) tidak hamil. tidak dapat menanggung kehamilan dan sebagainya. al-‘Azal ialah tindakan seorang suami yang apabila bersetubuh dengan isterinya.[3] Lebih dari itu pembedahan hanya diharuskan dalam suasana darurat kerana betapa banyak pembedahan yang pada awalnya disangka tiada mudarat tetapi kemudian berakhir dengan mudarat. Jika memerlukan pembedahan maka ia terbahagi kepada empat kes: 1. Sebahagian lain berkata: “Harus selagi mana belum terbentuk segumpal darah (sebelum 40 hari)” manakala sebahagian lagi berkata: “Harus selagi mana pada kandungan belum terbentuk apa yang berupa manusia. Menggugurkan kandungan memiliki dua tujuan: Pertama: Bertujuan menghapuskan kandungan. Ibu hidup. Perubatan Moden Menurut Perspektif Islam oleh Basri Ibrahim (Darul Nu’man.” Pendapat yang dipilih ialah harus menggugurkan kandungan jika bersebab seperti sakit. anak mati. (penyunting). Sebahagian mengharuskannya. Kedua: Ubat yang menegah kehamilan untuk sementara waktu. anak hidup.[1] Keempat: Ubat-Ubatan yang Menggugurkan Kandungan. anak hidup. sebahagian menegahnya.[4] Pendapat Kedua mengharuskan pembedahan untuk mengeluarkan anak. Bahkan menyelamatkan yang maksum daripada kemusnahan adalah wajib hukumnya. Jika sudah ditiup ruh pada kandungan maka tanpa ragu lagi hukumnya ialah haram untuk menggugurkannya. Tidak harus melakukan pembedahan kerana tidak ada apa-apa faedah. Tindakan ini tidak ditegah oleh Rasulullah. Jika anak belum keluar. Boleh juga dirujuk edisi “e-book” di www. menyelamatkan orang yang hidup (anak dalam kandungan) adalah lebih utama daripada menghormati orang yang meninggal dunia (ibu yang mati). Akan tetapi jika pada kandungan sudah jelas terbentuk apa yang berupa manusia. Maka jika demikian kesnya. 2. Noordeen. Ini lazimnya berlaku setelah genap tempoh kehamilan atau menghampirinya. Isu-Isu Bio Perubatan Menurut Islam oleh Abul Fadl Mohsin Ibrahim (edisi terjemahan oleh Yusof Ismail. 4.al-firdaus. maka ditegah daripada menggugurkannya. Lumpur 1999). . Kedua: Bertujuan mengeluarkan kandungan demi sesuatu manfaat. Ibu hidup. maka di sini terdapat perselisihan pendapat.

(penyunting) Maksudnya para tokoh dalam Mazhab Hanbali (penyunting).[3] Seperti keselamatan ibu dan anak. [4] .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful