STRUKTUR APBD DAN KODE REKENING SERTA TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT

DAERAH (RKA-SKPD)
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM Setelah mempelajari materi ini, peserta pelatihan akan memahami secara konseptual struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan kode rekening serta memahami konsep penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah berdasarkan anggaran berbasis kinerja/prestasi kerja.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Setelah mempelajari materi ini, peserta pelatihan : 1. Mampu secara konseptual memahami struktur APBD 2. Mengetahui dengan jelas prinsip struktur APBD berdasarkan Permendagri Nomor 13/2006. 3. Mengetahui dengan jelas kode rekening 4. Mampu menjelaskan dan mengaplikasikan penggunaan struktur APBD dan Kode Rekening dalam rangka penyusunan APBD. 5. Mampu menyusun anggaran pendapatan, belanja dan pembiayaan yang didasarkan pada pendekatan prakiraan maju (forward estimate), anggaran berbasis kinerja/prestasi kerja dan penganggaran terpadu (unified budgeting) 6. Mampu menyusun analisa standar belanja (ASB) 7. Mampu menyusun program dan kegiatan pada masing-masing SKPD 8. Mampu memformulasikan tolok ukur kinerja dan target kinerja setiap program dan kegiatan 9. Mampu menyusun RKA-SKPD 10. Mampu menyusun penilaian kinerja pemerintah daerah berbasis kinerja

WAKTU PEMBELAJARAN Jangka waktu yang diperlukan untuk memberikan materi ini adalah 480 menit.

METODE PEMBELAJARAN 1. 2. 3. 4. Ceramah Paparan Diskusi dan tanya jawab Praktek dan latihan

1

ALAT BANTU PEMBELAJARAN 1. 2. 3. 4. LCD/Overhead Projector White Board Flip Chart Spidol

REFERENSI 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400); Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4548); Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4503); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas 2

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 94, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4540); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4576); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4577); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585); 16. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614); 17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

3

Penyusunan kebijakan umum APBD termasuk kategori formulasi kebijakan Penganggaran Daerah terdiri atas: formulasi kebijakan anggaran (budget policy formulation) dan perencana-an operasional anggaran (budget operational planning). Agar setiap SKPD dapat menyusun anggarannya. jangka menengah dan jangka pendek.A. dan formulir RKA-SKPD yang digunakan oleh SKPD untuk menyusun Usulan Program. Kegiatan dan Anggarannya. Standar Biaya. STRUKTUR APBD DAN KODE REKENING PENDAHULUAN Penyusunan atas formulasi APBD merupakan anggaran (budget proses policy Lingkup perencanaan meliputi perencanaan jangka penjang. Tolok Ukur Kinerja. Prioritas dan Plafon Anggaran (PPA). STRUKTUR APBD DAN KODE REKENING Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri 4 . Formulasi kebijakan anggaran berkaitan dengan analisis fiskal. Materi pedoman tersebut meliputi antara lain: Kebijakan Umum APBD. Pemerintah Daerah melalui Pejabat Pengelola Keuangan (PPKD) dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah menerbitkan Pedoman Penyusunan Usulan Program. anggaran yang menjadi acuan dalam perencanaan operasional anggaran. penganggaran daerah dimana secara konseptual terdiri kebijakan formulation) dan perencanaan operasional anggaran (budget operational planning). Kode Rekening. sedang perencanaan operasional anggaran lebih ditekankan pada alokasi sumber daya keuangan. Standar Analisa Belanja. Kegiatan dan Anggaran SKPD berdasarkan prinsipprinsip kinerja dengan Surat Edaran Kepala Daerah.

a. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. b. dana perimbangan. dan pembiayaan daerah. dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. kelompok. b. yang menambah ekuitas dana. Pendapatan Daerah Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah. dan 5 . c. yang menambah ekuitas dana. Struktur APBD diklasifikasikan menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi yang bertanggung jawab melaksanakan urusan pemerintahan tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. yang disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah. b. pendapatan asli daerah. pendapatan daerah. c. organisasi. c.dari: Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari: a. belanja daerah. c. merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. b. Pendapatan daerah dirinci menurut urusan pemerintahan daerah. Kelompok pendapatan asli daerah dibagi menurut jenis pendapatan yang terdiri atas: a. retribusi daerah. dan pembiayaan daerah. pendapatan daerah. belanja daerah. pajak daerah. obyek dan rincian obyek pendapatan. Pendapatan daerah dikelompokan atas: a. merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. jenis.

Jenis pajak daerah dan retribusi daerah dirinci menurut obyek pendapatan sesuai dengan undang-undang tentang pajak daerah dan retribusi daerah. retribusi daerah. d. pendapatan denda atas keterlambatan atas tuntutan ganti kerugian pelaksanaan pekerjaan. hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan. 6 . disediakan untuk menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis pajak daerah. g. Jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup: a. potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah. b. penerimaan daerah. Jenis lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. e. bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah/BUMN. bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau kelompok usaha masyarakat. b. lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup: a. c. f. penerimaan komisi. jasa giro. pendapatan bunga. dan c. bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD. penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.d.

j. pendapatan denda retribusi. dan lembaga luar negeri yang tidak mengikat. pemerintah daerah lainnya. pendapatan hasil eksekusi atas jaminan. b. dana alokasi umum.h. pendapatan dari angsuran/cicilan penjualan. Jenis dana bagi hasil dirinci menurut objek pendapatan yang mencakup: a. i. l. Jenis dana alokasi umum hanya terdiri atas objek pendapatan dana alokasi umum. bagi hasil pajak. hibah berasal dari pemerintah. Kelompok pendapatan dana perimbangan dibagi menurut jenis pendapatan yang terdiri atas: a. fasilitas sosial dan fasilitas umum. dan dana alokasi khusus. kelompok masyarakat/perorangan. pendapatan dari pengembalian. dan n. m. b. dana darurat dari pemerintah dalam rangka penanggulangan korban/kerusakan akibat bencana 7 . c. badan/lembaga/ organisasi swasta dalam negeri. pendapatan denda pajak. dan bagi hasil bukan pajak. dana bagi hasil. Jenis dana alokasi khusus dirinci menurut objek pendapatan menurut kegiatan yang ditetapkan oleh pemerintah. pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. Kelompok lain-lain pendapatan daerah yang sah dibagi menurut jenis pendapatan yang mencakup: a. b. k.

d. dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten/kota. dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah yang sah dianggarkan pada SKPKD. badan/lembaga internasional. Retribusi daerah. bantuan keuangan dari provinsi atau dari pemerintah daerah lainnya. dana penyesuaian dan dana otonomi khusus yang ditetapkan oleh pemerintah. badan/lembaga dalam negeri atau perorangan. merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. potongan. termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar kembali. Belanja Daerah Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana. baik dalam bentuk devisa. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan.alam. keuntungan selisih nilai tukar rupiah. rupiah maupun barang dan/atau jasa. Pajak daerah. pemerintah. komisi. c. lain-lain pendapatan asli daerah yang sah yang ditransfer langsung ke kas daerah. dan e. Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana. pendapatan dari penyelanggaraan pendidikan dan pelatihan. merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayarannya 8 . hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan dan hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan yang dibawah penguasaan pengguna anggaran/pengguna barang dianggarkan pada SKPD. badan/lembaga asing. Hibah adalah penerimaan daerah yang berasal dari pemerintah negara asing.

keluarga berencana dan keluarga sejahtera. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri. perencanaan pembangunan. n. k. perencanaan pembangunan. b. kebudayaan. p. pendidikan. v. tenaga kerja. b. j. pemberdayaan perempuan. pemberdayaan Klasifikasi belanja menurut urusan wajib mencakup: a. Belanja mendanai daerah pelaksanaan dipergunakan urusan dalam rangka yang pemerintahan menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari urusan wajib. l. u. kependudukan dan catatan sipil. penanaman modal. pendidikan. kegiatan. kesehatan. r. penataan ruang. f. Belanja daerah dirinci menurut urusan pemerintahan daerah. kependudukan dan catatan sipil. i. koperasi dan usaha kecil dan menengah. e. h. g. perumahan rakyat. lingkungan hidup. 9 . urusan pilihan dan urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan. pendidikan. pertanahan. obyek dan rincian obyek belanja. i. d. t. perumahan rakyat. perhubungan. jenis. g. c. kesehatan. pekerjaan umum. kepegawaian. perhubungan. pemberdayaan perempuan. f. kesehatan. q. pemerintahan umum. pekerjaan umum. d. penataan ruang. j. program. sosial. Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar. pertanahan. organisasi. pemuda dan olah raga.kembali oleh daerah. h. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. e. kelompok. s. lingkungan hidup. k. m. o. Klasifikasi belanja menurut urusan wajib mencakup: a. c.

koperasi dan usaha kecil dan menengah. dan transmigrasi. sosial. f. kepegawaian. 10 . perindustrian. pelayanan umum. statistik. b. dan transmigrasi. o. v. arsip.masyarakat dan desa. kehutanan. h. kelautan dan perikanan. komunikasi dan informatika. w. s. dan y. y. Klasifikasi belanja menurut fungsi yang digunakan untuk tujuan keselarasan dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara terdiri dari: a. t. pertanian. arsip. Klasifikasi belanja menurut fungsi yang digunakan untuk tujuan keselarasan dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara terdiri dari: a. c. pemberdayaan masyarakat dan desa. penanaman modal. h. kehutanan. x. pariwisata. perdagangan. c. Klasifikasi belanja menurut urusan pilihan mencakup: a. b. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri. b. statistik. Klasifikasi belanja menurut urusan pilihan mencakup: a. kebudayaan. pemerintahan umum. g. e. f. energi dan sumber daya mineral. p. w. b. pertanian. ekonomi. energi dan sumber daya mineral. pariwisata. dan komunikasi dan informatika. perindustrian. ketertiban dan ketentraman. c. ketertiban dan ketentraman. e. kelautan dan perikanan. r. u. m. x. keluarga berencana dan keluarga sejahtera. n. d. d. l. perdagangan. pelayanan umum. pemuda dan olah raga. g. tenaga kerja. q.

dan belanja langsung. perumahan dan fasilitas umum. bunga. ekonomi. d. g. belanja menurut kelompok belanja terdiri dari: a. subsidi. lingkungan hidup. pendidikan. bantuan keuangan. belanja pegawai. e. Kelompok belanja langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. i. pariwisata dan budaya. Kelompok Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung Dalam rangka memudahkan penilaian kewajaran biaya suatu program atau kegiatan. g. belanja bagi hasil. bunga. d. e. hibah. kesehatan. b. Kelompok belanja tidak langsung dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari: a. hibah. c. bantuan sosial. h. belanja tidak langsung. subsidi. h. c. f. kesehatan. b. pariwisata dan budaya. f. f. dan belanja tidak terduga. Kelompok belanja tidak langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. c. e. perumahan dan fasilitas umum. dan perlindungan sosial. h. belanja pegawai. bantuan sosial. dan perlindungan sosial. 11 . lingkungan hidup. e. b. i. Kelompok Belanja Tidak Langsung Kelompok belanja tidak langsung dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari: a.d. pendidikan. g. d.

termasuk dalam pengertian tersebut uang representasi dan tunjangan pimpinan dan anggota DPRD serta gaji dan tunjangan kepala daerah dan wakil kepala daerah serta penghasilan dan penerimaan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dianggarkan dalam belanja pegawai. g. pemerintah daerah dapat memberikan tambahan penghasilan kepada pegawai negeri sipil berdasarkan pertimbangan yang obyektif dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan memperoleh persetujuan DPRD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.f. Kriteria pemberian tambahan penghasilan diatur dalam peraturan perundang-undangan. Belanja subsidi. merupakan belanja kompensasi. Belanja bunga. digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang (principal outstanding) berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek. dalam bentuk gaji dan tunjangan. bantuan keuangan. dan belanja tidak terduga. jangka menengah. digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi kepada perusahaan/lembaga tertentu yang menghasilkan produk atau jasa pelayanan umum masyarakat agar harga jual produksi/jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak. belanja bagi hasil. Selain hal tersebut di atas. Belanja pegawai. h. dan jangka panjang. serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundangundangan. Perusahaan/lembaga penerima belanja subsidi harus 12 .

Belanja bagi hasil. pemerintah desa. digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam bentuk uang. Bantuan keuangan. Bantuan sosial. digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil yang bersumber dari pendapatan provinsi kepada kabupaten/kota atau pendapatan kabupaten/kota kepada pemerintah desa atau pendapatan pemerintah daerah tertentu kepada pemerintah daerah lainnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. dan kelompok masyarakat/ perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya. merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan 13 . digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota. barang dan/atau jasa kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya. Peraturan pelaksanaan penganggaran belanja subsidi lebih lanjut dituangkan dalam peraturan kepala daerah. dan wajib memberikan pertanggungjawaban atas penggunaan dana subsidi lepada kepala daerah. selektif dan memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya. Bantuan sosial diberikan tidak secara terus menerus/tidak berulang setiap tahun anggaran. dan kepada pemerintah daerah lainnya atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan pemerintah daerah lainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan kemampuan keuangan. digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Belanja tidak terduga.terlebih dahulu dilakukan audit sesuai dengan ketentuan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Belanja hibah.

Pembelian/pengadaan barang dan/atau pemakaian jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup belanja barang pakai habis. pakaian kerja. b. bahan/material. dan belanja modal. Belanja pegawai. Kelompok Belanja Langsung Kelompok belanja langsung dari suatu kegiatan Kelompok belanja langsung dari suatu kegiatan dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari: a. premi asuransi. belanja barang dan jasa. digunakan untuk pengeluaran pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah. perjalanan dinas pindah tugas dan pemulangan pegawai. b. digunakan untuk pengeluaran honorarium/upah dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah. belanja pegawai. sewa rumah/gedung/gudang/parkir. dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari: a. pakaian khusus dan harihari tertentu.berulang seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya. cetak/ penggandaan. termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya yang telah ditutup. pakaian dinas dan atributnya. makanan dan minuman. sewa alat berat. jasa kantor. perjalanan dinas. c. belanja barang dan jasa. Belanja barang dan jasa. sewa sarana mobilitas. belanja pegawai. c. dan belanja modal. Belanja modal. digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai 14 . perawatan kendaraan bermotor. sewa perlengkapan dan peralatan kantor.

gedung dan bangunan. diutamakan untuk pembayaran pokok utang. Belanja honorarium panitia pengadaan dan administrasi pembelian/pembangunan untuk memperoleh setiap aset yang dianggarkan pada belanja modal dianggarkan pada belanja pegawai dan/atau belanja barang dan jasa. Nilai pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang dianggarkan dalam belanja modal hanya sebesar harga beli/bangun aset. seperti dalam bentuk tanah. Pendanaan diwujudkan belanja dalam peningkatan bentuk jaminan dan sosial kegiatan program pelayanan dasar masyarakat yang dianggarkan pada SKPD yang secara fungsional terkait dengan tugasnya 15 . daerah terjadi apabila lebih anggaran besar dari diperkirakan anggaran belanja daerah. peralatan dan mesin. Surplus/(Defisit) APBD Selisih antara anggaran pendapatan daerah dengan anggaran belanja daerah mengakibatkan terjadinya surplus atau defisit APBD. Belanja langsung yang terdiri dari belanja pegawai. jalan. Dalam hal APBD diperkirakan surplus. penyertaan modal (investasi) daerah. Surplus pendapatan Anggaran. irigasi dan jaringan. Selisih antara anggaran pendapatan daerah dengan anggaran belanja daerah mengakibatkan terjadinya surplus atau defisit APBD. pemberian pinjaman lain kepada dan/atau pemerintah pendanaan pusat/pemerintah daerah belanja peningkatan jaminan sosial. belanja barang dan jasa.manfaat lebih dari 12 (duabelas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan. serta belanja modal untuk melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah dianggarkan pada belanja SKPD berkenaan. dan aset tetap lainnya.

Penerimaan pembiayaan mencakup: a. Defisit anggaran. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. b. organisasi. penerimaan kembali pemberian pinjaman. f.melaksanakan program dan kegiatan tersebut. Batas maksimal defisit APBD untuk setiap tahun anggaran berpedoman pada penetapan batas maksimal defisit APBD oleh Menteri Keuangan. jenis. c. obyek dan rincian obyek pembiayaan. Dalam hal APBD untuk diperkirakan menutup defisit. dan penerimaan kembali pemberian pinjaman atau penerimaan piutang. terjadi apabila anggaran pendapatan daerah diperkirakan lebih kecil dari anggaran belanja daerah. dan penerimaan piutang daerah. sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA). dan 16 . yang dirinci menurut urusan pemerintahan daerah. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. penerimaan kembali pemberian pinjaman. e. pencairan dana cadangan. Pembiayaan daerah terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. d. Penerimaan pembiayaan mencakup: a. kelompok. Pembiayaan Daerah Pembiayaan daerah meliputi semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus. kelompok. jenis. d. penerimaan pinjaman daerah. pencairan dana cadangan. yang dirinci menurut urusan pemerintahan daerah. obyek dan rincian obyek pembiayaan. c. penerimaan pinjaman daerah. organisasi. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. ditetapkan yang pembiayaan defisit tersebut diantaranya dapat bersumber dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya. e. pencairan dana cadangan. penerimaan pinjaman. sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA). Pembiayaan keuangan untuk daerah meliputi semua atau transaksi untuk menutup defisit memanfaatkan surplus. b.

c. kewajiban kepada fihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan. kode belanja dan kode pembiayaan yang digunakan dalam penganggaran menggunakan kode akun pendapatan. dan sisa dana kegiatan lanjutan. Kode Rekening Penganggaran Setiap urusan pemerintahan daerah dan organisasi yang dicantumkan dalam APBD menggunakan kode urusan pemerintahan daerah dan kode organisasi. penerimaan dana perimbangan. d. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya (SiLPA) Sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA) mencakup pelampauan penerimaan PAD. b. pembiayaan. dan pemberian pinjaman daerah. 17 . dan pemberian pinjaman daerah. pembentukan dana cadangan. modal (investasi) pemerintah Pembiayaan neto merupakan selisih antara penerimaan pembiayaan dengan pengeluaran pembiayaan. pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA) mencakup pelampauan penerimaan PAD. pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah pelampauan penerimaan penghematan belanja. c. pelampauan penerimaan dana perimbangan. penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah. pembentukan dana cadangan. kode akun belanja. kewajiban kepada fihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan. Jumlah pembiayaan neto harus dapat menutup defisit anggaran. Pengeluaran pembiayaan mencakup: a. dan kode akun pembiayaan. Pengeluaran pembiayaan mencakup: a. Kode pendapatan. yang pelampauan sah. pembayaran pokok utang. penyertaan daerah.f. b. dan sisa dana kegiatan lanjutan. pelampauan penerimaan pembiayaan. pembayaran pokok utang. d. penerimaan piutang daerah. penghematan belanja.

Penganggaran pendapatan dana perimbangan hanya dapat dianggarakan pada pos satuan kerja pengelola keuangan daerah (SKPKD/Badan/Biro/ Bagian Keuangan) b. kode kegiatan. obyek serta rincian obyek yang dicantumkan dalam APBD menggunakan kode program. STRUKTUR ANGGARAN SKPD Dalam struktur APBD. kegiatan. kode kegiatan. kode program. Demikian pula penganggaran akun pembiayaan hanya dapat dianggarkan oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah pada Pos Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD/Badan/Biro/ Bagian Keuangan) dalam rangka menyusun Rancangan APBD. hanya boleh menganggarkan belanja langsung dan belanja tidak langsung pada jenis belanja pegawai c. kode jenis. Urutan susunan kode rekening APBD dimulai dari kode urusan pemerintahan daerah. kode organisasi. namun demikian. karena tidak semua akun-akun APBD Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penganggaran APBD : a. kode obyek. Pada umumnya. Urutan susunan kode rekening APBD dimulai dari kode urusan pemerintahan daerah. dan kode rincian obyek. kode program.Setiap program. kode kelompok. kelompok. kode jenis. kode akun. kode organisasi. kode kelompok. terdapat perbedaan pada masingmasing SKPD. kode jenis. Jenis. Penganggaran dana perimbangan hanya dapat dianggarkan oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah pada Pos Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD/Badan/Biro/Bagian Keuangan). Penganggaran pembiayaan hanya dapat dianggarkan pada pos satuan kerja pengelola keuangan daerah (SKPKD/Badan/ Biro/ Bagian Keuangan) dianggarkan oleh SKPD. setelah dilakukan penjumlahan anggaran Pendapatan. dan kode rincian obyek. sebagaimana telah diuraikan di atas. kode obyek. kode kelompok. Obyek dan Rincian Obyek pada anggaran Pendapatan dan anggaran Belanja 18 . akun pendapatan dan akun belanja dapat dianggarkan oleh SKPD. kode akun. terdapat perbedaan pada penganggaran akun jenis pendapatan dana perimbangan. Untuk tertib penganggaran kode dihimpun menjadi satu kesatuan kode anggaran yang disebut kode rekening. Klasifikasi Kelompok. kode obyek dan kode rincian obyek. Penganggaran Belanja pada SKPD selain satuan kerja pengelola keuangan daerah. Belanja dan Surplus/Defisit dari seluruh SKPD. jenis. kode kegiatan.

Belanja Subsidi. Standar Analisa Belanja. belanja & pembiayaan kode rincian obyek pendapatan. Pemerintah Daerah melalui Pejabat Pengelola Keuangan (PPKD) menyusun Rancangan 19 . belanja & pembiayaan kode rincian obyek pendapatan. Khusus untuk Jenis Belanja Bunga. Belanja Bagi Hasil dan Belanja Tidak Terduga hanya boleh dianggarkan pada anggaran belanja SKPKD sama halnya dengan anggaran Pembiayaan. belanja & pembiayaan kode obyek pendapatan. belanja & pembiayaan kode obyek pendapatan. belanja & pembiayaan kode bidang pemerintahan kode unit organisasi kode kelompok pendapatan. Tolok Ukur Kinerja. belanja & pembiayaan kode kelompok pendapatan. Belanja Hibah. belanja & pembiayaan B. belanja & pembiayaan kode jenis pendapatan. Belanja Bantuan Sosial. Prioritas dan Plafon Anggaran (PPA). Standar Biaya dan formulir RKA-SKPD yang Berdasarkan pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan dengan surat edaran kepala daerah yang di dalamnya memuat Kebijakan Umum APBD (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran (PPA) yang ditetapkan. Kegiatan dan Anggaran SKPD berdasarkan prinsip-prinsip kinerja meliputi antara lain: Kebijakan Umum APBD. Bagan Kode Rekening : KEPMENDAGRI 29/2002 X XX XX XX XX XX XX X PENYEMPURNAAN XX XX XX XX XX XX XX XX XX kode rekening anggaran pendapatan. TEKNIS PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (RKA-SKPD) Surat Edaran Kepala Daerah berupa Pedoman Penyusunan Usulan Program. belanja & pembiayaan kode jenis pendapatan. Belanja Bantuan Keuangan. belanja & pembiayaan kode bagian belanja kode urusan pemerintahan kode Organisasi kode Program kode Kegiatan kode Akun pendapatan.SKPD sama dengan pengklasifikasian anggaran Pendapatan Daerah dan anggaran Belanja Daerah pada Struktur APBD.

belanja setiap program dan kegiatan serta pembiayaan yang hendak direalisasikan dalam satu tahun anggaran. penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja. APBD. Rancangan APBD yang disusun. Anggaran yang disusun dan termuat dalam RKASKPD. Kerangka pengeluaran jangka menengah adalah suatu pendekatan penganggaran berdasarkan kebijakan. Tolok Ukur Kinerja. PENYUSUNAN APBD BERDASARKAN PENDEKATAN KERANGKA PENGELUARAN JANGKA MENENGAH. mencerminkan anggaran berbasis prestasi kerja.digunakan oleh SKPD untuk menyusun Usulan Program. antara lain : Standar Analisa Belanja. merupakan agregasi dari usulan-usulan yang telah disusun dan diajukan oleh organisasi pemerintah daerah maupun Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam lingkup pemerintah daerah yang dituangkan dalam masing-masing Rencana Kegiatan dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD). mempertimbangkan implikasi Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah adalah pendekatan penganggaran berdasarkan kebijakan. dengan pengambilan keputusan terhadap kebijakan tersebut dilakukan dalam perspektif lebih dari satu tahun anggaran. dengan pengambilan dengan keputusan terhadap kebijakan biaya tersebut akibat dilakukan dalam perspektif lebih dari satu tahun anggaran. Usulan-usulan dimaksud merupakan jumlah anggaran pendapatan. oleh karena itu perlu disiapkan dan dipahami beberapa dokumen dalam rangka penyusunan anggaran berbasis kinerja. Kegiatan dan Anggarannya. kegiatan beserta anggarannya. Standar Biaya dan formulir RKA-SKPD yang digunakan oleh SKPD untuk menyusun usulan program. dengan mempertimbangkan implikasi biaya akibat keputusan yang bersangkutan pada tahun 20 . PENGANGGARAN TERPADU DAN ANGGARAN KINERJA Peraturan bahwa dalam perundang-undangan menyusun APBD mengamantakan dengan dilakukan menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah.

Prinsip efisiensi alokasi dana tetap harus diperhatikan sehingga tidak terjadi pemborosan atas penggunaan sumber daya yang dimiliki.berikutnya yang dituangkan dalam prakiraan maju. Dengan pendekatan penganggaran terpadu tidak dikenal lagi adanya anggaran belanja rutin dan pembangunan maupun anggaran belanja publik dan belanja 21 . Dalam kaitan itu. Estimasi kebutuhan dana yang akan dianggarkan pada tahun berikutnya akan menjamin kesinambungan pelaksanaan program dan kegiatan akan dilaksanakan. maka dalam setiap tahun penganggaran anggaran belanja untuk dari mendanai yang program dan kegiatan agar menghitung kebutuhan dana Prakiraan Maju (forward estimate) adalah perhitungan kebutuhan dana untuk tahun anggaran berikutnya dari tahun yang direncanakan guna memastikan kesinambungan program dan kegiatan yang telah disetujui dan menjadi dasar penyusunan anggaran tahun berikutnya. terpadu dimaksudkan bahwa dalam penyusunan rencana keuangan tahunan dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. Penyusunan APBD dengan pendekatan penganggaran Penganggaran Terpadu (unified budgeting) adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. Setiap usulan anggaran belanja untuk mendanai setiap program dan kegiatan yang dituangkan dalam RKASKPD sebagai dasar penyusunan APBD harus memperhitungkan atau mengistemasikan kebutuhan dana untuk program dan kegiatan yang sama yang akan dilaksanakan pada tahun anggaran berikutnya. keputusan yang bersangkutan pada tahun berikutnya yang dituangkan dalam prakiraan maju. Jenis belanja yang dianggarkan untuk mendanai program dan kegiatan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan merupakan satu kesatuan dalam rangka mencapai target kinerja yang ditetapkan pada program dan kegiatan dimaksud. untuk berikutnya tahun direncanakan guna memastikan kesinambungan program dan kegiatan yang telah disetujui dan menjadi dasar penyusunan anggaran tahun berikutnya atau kita kenal dengan konsep prakiraan maju (forward estimate).

APBD disusun dengan pendekatan kinerja. yaitu APBD dengan pendekatan kinerja adalah suatu sistem anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja atau output dari perencanaan alokasi biaya atau input yang ditetapkan. waktu dan teknologi yang digunakan untuk melaksanakan suatu program atau kegiatan. evaluasi terhadap kinerja program atau kegiatan yang diusulkan oleh setiap SKPD dapat didasarkan pada tolok ukur kinerja pelayanan dan standar biaya. setiap penggunaan sumber-sumber yang direncanakan dalam APBD dikaitkan dengan barang atau jasa yang akan dihasilkannya. Output (keluaran) menunjukkan barang atau jasa yang dihasilkan dari program atau kegiatan sesuai dengan input yang digunakan. yaitu output dan input.aparatur. Penerapan anggaran berbasis kinerja mengandung makna bahwa setiap penyelenggara pemerintahan berkewajiban untuk bertanggungjawab atas hasil proses dan penggunaan sumber dayanya. Output (keluaran) menunjukkan barang atau jasa yang dihasilkan dari program atau kegiatan sesuai dengan input yang digunakan. Disamping SAB. material. Dalam sistem anggaran berbasis kinerja/prestasi kerja. setiap usulan program. Dalam pendekatan kinerja ada dua hal penting yang ditekankan. kegiatan dan anggaran SKPD dinilai kewajarannya dengan menggunakan Standar Analisa Belanja (SAB). Untuk mengevaluasi kinerja suatu program atau kegiatan perlu dilakukan analisis hubungan antara alokasi biaya (input) dengan tingkat pencapaian yang dihasilkan (output). Input (masukan) adalah besarnya sumber-sumber: dana. suatu sistem anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja atau output dari perencanaan alokasi biaya atau input yang ditetapkan. waktu dan teknologi yang digunakan untuk melaksanakan suatu program atau kegiatan 22 . Hubungan antara masukan dan keluaran tersebut menunjukkan kinerja suatu program atau kegiatan. sumber daya manusia. Input (masukan) adalah besarnya sumber-sumber: dana. material. sumber daya manusia. Dalam hal ini.

oleh suatu SKPD dapat dinilai kewajarannya antara lain berdasarkan pertimbangan hal-hal sebagai berikut: 1. kegiatan dan anggaran setiap SKPD dengan cara menganalisis beban kerja dan biaya dari usulan program atau kegiatan yang bersangkutan. Kesesuaian antara program atau kegiatan yang diusulkan dengan tugas pokok dan fungsi SKPD yang bersangkutan. Beban kerja program atau kegiatan yang diusulkan dalam penilaian kewajaran pembebanan Pertanyaan penting untuk menilai kewajaran beban kerja: 1. Beban Kerja Program/Kegiatan Penilaian terhadap kewajaran beban kerja usulan program atau kegiatan dalam hal ini dikaitkan dengan kebijakan anggaran.ANALISA STANDAR BELANJA ASB adalah standar atau pedoman untuk menilai kewajaran beban kerja dan biaya setiap program atau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu SKPD dalam satu tahun anggaran. 3. 3. Analisa Standar Belanja (ASB) adalah standar atau pedoman yang digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja atau biaya setiap program atau kegiatan yang akan dilaksanakan Tim Anggaran oleh suatu SKPD dalam satu tahun Pemerintah Daerah (TAPD) untuk anggaran. Kaitan logis antara program atau kegiatan yang diusulkan dengan Prioritas dan Plafon Anggaran (PPA) dan Kebijakan Umum APBD. Apakah program dan kegiatan yang diusulkan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi SKPD yang bersangkutan. 2. 2. jangka waktu pelaksanaannya. Beban kerja dan biaya merupakan dua komponen yang tidak terpisahkan belanja. komponen dan tingkat pelayanan yang akan dicapai. ASB merupakan pendekatan yang digunakan oleh mengevaluasi usulan program. Apakah target kinerja program dan kegiatan yang diusulkan dapat dicapai oleh SKPD yang bersangkutan dan dapat dilaksanakan dalam jangka waktu satu tahun anggaran. Kapasitas SKPD yang bersangkutan untuk melaksanakan program atau kegiatan pada tingkat pencapaian yang diinginkan dan dalam jangka waktu 23 . Apakah program dan kegiatan yang diusulkan merupakan jabaran logis dari Prioritas dan Plafon Anggaran. serta kapasitas SKPD untuk melaksanakannya.

Sejauhmana kontribusi dari kinerja program atau kegiatan yang diusulkan terhadap implementasi Prioritas dan Plafon Anggaran dalam rangka pencapaian Kebijakan Umum APBD merupakan dasar penilaian kewajaran beban kerja. kompetensi teknis dan manajerial masing-masing. Penilaian kewajaran beban kerja dalam hal ini berkaitan dengan sejauh mana kemampuan SKPD untuk mencapai target kinerja program atau kegiatan berdasarkan keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh setiap SKPD tersebut di atas. sebagaimana tercermin dalam tugas pokok dan fungsi masing-masing. Dalam 24 . akan memudahkan proses evaluasi kinerja setiap SKPD. dan standar biaya. Program atau kegiatan yang diusulkan oleh suatu SKPD merupakan usulan program atau kegiatan yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi SKPD yang bersangkutan agar tidak terjadi tumpang-tindih dan duplikasi program atau kegiatan dengan yang diusulkan oleh SKPD lain.satu tahun anggaran. Program atau kegiatan yang diusulkan berdasarkan pembagian kewenangan pemerintahan yang diselenggarakan oleh setiap SKPD. Biaya Program/Kegiatan Penilaian terhadap kewajaran anggaran biaya dari usulan program atau kegiatan dikaitkan dengan kebijakan anggaran. Program atau kegiatan yang diusulkan merupakan usulan program atau kegiatan yang mempunyai kaitan logis dengan Prioritas dan Plafon Anggaran serta Kebijakan Umum APBD. tolok ukur kinerja. teknologi dan waktu. Setiap SKPD mempunyai kapasitas sumber daya yang dibatasi (constrain) oleh jumlah orang.

Konsep ini mencerminkan orientasi kinerja lebih ditekankan pada aspek output daripada input. kemungkinan ditetapkan plafon atau batas atas anggaran belanja bagi setiap SKPD sesuai dengan target kinerja pelayanan yang diinginkan. terutama untuk menilai kewajaran anggaran biaya suatu program atau kegiatan. tolok ukur kinerja dan standar biaya. Tolok ukur kinerja digunakan sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan dalam sistem anggaran berbasis kinerja/prestasi kerja. Tolok ukur kinerja adalah ukuran keberhasilan yang dicapai pada setiap program atau kegiatan. tolok ukur kinerja. dan standar biaya biaya suatu program atau kegiatan dipengaruhi oleh tolok ukur kinerja dan standar biaya yang akan dibahas berikut ini. Tolok ukur kinerja mencakup dua hal: unsur keberhasilan yang diukur dan tingkat pencapaian setiap unsur keberhasilan. kewajaran Penilaian terhadap kewajaran anggaran biaya dari usulan program atau kegiatan dikaitkan dengan kebijakan anggaran. Disamping itu. TOLOK UKUR KINERJA Tolok ukur kinerja adalah ukuran keberhasilan yang dicapai pada setiap program atau kegiatan yang digunakan sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan dalam sistem anggaran berbasis kinerja/ prestasi kerja. Tolok ukur kinerja mencakup dua hal: unsur keberhasilan yang diukur dan tingkat pencapaian setiap unsur keberhasilan. dipengaruhi oleh plafon atau batas atas anggaran belanja SKPD yang bersangkutan. terutama untuk menilai kewajaran anggaran biaya suatu program atau kegiatan. 25 . Setiap program atau kegiatan minimal mempunyai satu unsur ukuran keberhasilan dan tingkat pencapaiannya (target kinerja) yang digunakan sebagai tolok ukur kinerja. Plafon anggaran tersebut merupakan salah satu aspek yang dipertimbangkan untuk menilai kewajaran biaya setiap program atau kegiatan yang dianggarkan oleh SKPD. Jumlah anggaran belanja (input) yang dinilai wajar untuk menghasilkan output tertentu menunjukkan hubungan rasional berupa standar biaya atau harga satuan unit biaya. kebijakan anggaran. Tolok ukur kinerja menunjukkan unsur-unsur keberhasilan yang diukur dan tingkat pelayanan yang akan dicapai (output) dari suatu program atau kegiatan dalam satu tahun anggaran tertentu. Output tersebut selanjutnya menjadi dasar untuk menilai kewajaran biaya yang dianggarkan (input).Kewajaran setiap biaya program atau kegiatan yang dianggarkan oleh SKPD.

maka pemerintah daerah dapat: (1) 26 . Standar biaya tersebut menjadi dasar untuk untuk menilai kewajaran biaya suatu program atau kegiatan. merupakan perbandi-ngan antara anggaran belanja dengan target kinerja yang dapat juga dinamakan dengan biaya rata-rata per satuan output Standar biaya. yaitu: (1) kaitan antara biaya yang dianggarkan dengan target pencapaian kinerja. disamping itu dapat dikaitkan dengan harga standar yang berlaku.Standar Biaya Standar biaya. dengan demikian. berkaitan dengan tiga aspek. dan (3) kaitan antara biaya yang dianggarkan dengan sumber dananya. konsep Pendekatan Grant ini penerapan Related Expenditure Assesment (GREA) dalam Analisis Standar Belanja. merupakan perbandingan antara anggaran belanja dengan target kinerja yang dapat juga dinamakan dengan biaya rata-rata per satuan output. Kewajaran biaya yang dianggarkan juga dapat dikaitkan dengan sumber pendapatan dan atau pembiayaan berupa penerimaan daerah. karena menunjukkan hubungan rasional antara input dengan outputnya. apakah harga satuan yang dianggarkan telah sesuai dengan standar yang ditetapkan atau berada diantara kisaran harga satuan yang berlaku? Kewajaran biaya yang dianggarkan. dengan lain perkataan. Dalam hal ini kewajaran dinilai berdasarkan hubungan (kesesuaian) antara sumber dana dengan penggunaannya. dengan lain perkataan. Jika suatu sumber dana tertentu jumlahnya diestimasikan tidak mencukupi untuk membiayai anggaran belanja suatu program atau kegiatan dengan target pelayanan tertentu. Penilaian kewajaran terhadap biaya yang dianggarkan. Sumber pendapatan tertentu (misal retribusi) dan sumber (pembiayaan) penerimaan tertentu (misal Dana Cadangan) diperoleh dalam rangka untuk melaksanakan pelayanan tertentu. Dalam hal ini perlu dicermati. Terbentuknya biaya merupakan hasil perkalian antara volume (satuan) dengan harga satuan. (2) kaitan antara anggaran biaya dengan harga standar yang berlaku. Untuk kewajaran suatu anggaran belanja dinilai berdasarkan kesesuaian antara target kinerja pelayanan yang diusulkan merupakan dengan sumber dari dananya.

setiap komponen pelayanan pada masing-masing Bidang Kewenangan Pemerintahan yang diselenggarakan oleh SKPD. dengan demikian. yaitu : Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung.mendanai dari anggaran sumber pendapatan atau pembiayaan yang lain berdasarkan target pelayanan yang diharapkan atau (2) menyesuaikan target pelayanan dengan tersedianya sumber dana. dalam rangka penilaian kinerja. Pengelompokan belanja tersebut selain untuk mempermudah penilaian kewajaran biaya suatu program dan kegiatan. Standar pelayanan untuk kabupaten/kota ditetapkan oleh bupati/walikota masing-masing yang berpedoman pada standar pelayanan yang ditetapkan oleh provinsi. berkaitan dengan tiga aspek. juga untuk menilai capaian kinerja setiap 27 . yaitu: (1) kaitan antara biaya yang dianggarkan dengan target pencapaian kinerja. harus ditetapkan oleh masingmasing Daerah dalam bentuk Standar Pelayanan dalam rangka urusan penerapan anggaran yang berbasis kinerja/prestasi kerja. dalam rangka penilaian kinerja. Kewajaran biaya yang dianggarkan. setiap komponen pelayanan pada masing-masing pemerintahan diselenggarakan oleh SKPD. BELANJA TIDAK LANGSUNG DAN BELANJA LANGSUNG : MEMPERMUDAH PENILAIAN KEWAJARAN DAN CAPAIAN KINERJA SKPD Untuk memudahkan penilaian kewajaran biaya suatu program atau kegiatan. dan (3) kaitan antara biaya yang dianggarkan dengan sumber dananya. provinsi mengacu Penetapan standar pelayanan untuk pada indikator-indikator standar pelayanan minimal yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. harus ditetapkan oleh masing-masing daerah dalam bentuk standar pelayanan. anggaran belanja setiap SKPD terlebih dahulu diklasifikasikan berdasarkan kelompok belanja. Standar Pelayanan Selanjutnya Dalam rangka penerapan Anggaran Prestasi Kerja. (2) kaitan antara anggaran biaya dengan harga standar yang berlaku.

2. 28 . Untuk Untuk memudahkan pemahaman. memudahkan pemahaman. Jumlah anggaran belanja tidak langsung sulit diukur atau sulit dibandingkan secara langsung dengan output program atau kegiatan tertentu. Variabilitas jumlah setiap jenis belanja tidak langsung tidak dipengaruhi langsung oleh target kinerja atau tingkat pencapaian yang diharapkan dari program atau kegiatan tertentu. Belanja tidak langsung merupakan belanja yang dianggarkan setiap bulan dalam satu tahun anggaran sebagai konsekuensi dari kewajiban pemerintah daerah secara periodik kepada pegawai yang bersifat tetap (pembayaran gaji dan tunjangan) dan/atau kewajiban untuk pengeluaran belanja lainnya yang umumnya diperlukan secara periodik. Karakteristik belanja tidak langsung antara lain sebagai berikut: 1. belanja tidak langsung merupakan tipe belanja yang sulit dinilai kewajarannya berdasarkan aktifitas atau terkait dengan tingkat pencapaian yang diharapkan dari suatu usulan program atau kegiatan. belanja tidak langsung dapat dinamakan dengan Belanja Periodik atau Belanja Nonaktivitas. Berdasarkan karakteristiknya.SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Belanja Tidak Langsung adalah belanja yang penganggarannya tidak dipengaruhi secara langsung oleh adanya usulan program atau kegiatan. 3. Belanja tidak langsung adalah belanja yang penganggarannya tidak dipengaruhi secara langsung oleh adanya usulan program atau kegiatan. Belanja Tidak Langsung dapat dinamakan dengan Belanja Periodik. Dianggarkan setiap bulan dalam satu tahun (bukan untuk setiap program atau kegiatan) oleh masingmasing SKPD.

3. Untuk memudahkan pemahaman. belanja langsung merupakan tipe belanja yang dapat dinilai kewajarannya secara rasional dengan tingkat pencapaian yang diharapkan dari suatu usulan program atau kegiatan. Belanja langsung adalah belanja yang penganggarannya dipengaruhi secara langsung oleh adanya usulan program atau kegiatan. Dianggarakan untuk setiap program atau kegiatan yang diusulkan oleh SKPD. 29 . Belanja langsung merupakan belanja yang dianggarkan sebagai konsekuensi adanya usulan program atau kegiatan. Variabilitas jumlah setiap jenis belanja langsung Untuk memudahkan pemahaman. 2. Karakteristik belanja langsung adalah sebagai berikut: 1. Jumlah anggaran belanja langsung suatu program atau kegiatan dapat diukur atau dibandingkan secara langsung dengan output program atau kegiatan yang bersangkutan.Belanja Langsung Belanja Langsung adalah belanja yang penganggarannya dipengaruhi secara langsung oleh adanya usulan program atau kegiatan. Berdasarkan karakteristiknya. Belanja Langsung dapat dinamakan dengan Belanja Aktivitas. dipengaruhi langsung oleh target kinerja atau tingkat pencapaian yang diharapkan dari program atau kegiatan yang bersangkutan. belanja barang dan jasa serta belanja modal sesuai dengan program atau kegiatan yang diusulkan oleh masing-masing SKPD. Jenis belanja yang dianggarkan dalam program atau kegiatan dapat berupa belanja pegawai. belanja langsung dapat dinamakan dengan Belanja Aktivitas atau Belanja Kegiatan.

bobot belanja langsung atau pendekatan lainnya yang dinilai paling wajar dalam penghitungan standar biaya total. yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana menilai kewajaran anggaran belanja tidak langsung. Jika digunakan standar biaya langsung untuk menilai kewajaran. dengan mempertimbangkan kondisi moneter dan asumsi dasar lainnya dalam suatu tahun anggaran. Dalam hal ini anggaran belanja tidak langsung dapat dinilai kewajarannya berdasarkan anggaran atau realisasi belanja tidak langsung tahun lalu. untuk menilai kewajaran biaya. Standar biaya total adalah jumlah anggaran belanja langsung suatu program atau kegiatan dan anggaran belanja tidak langsung (yang dialokasikan pada program atau kegiatan yang bersangkutan) dibagi dengan target kinerja program atau kegiatan yang bersangkutan. standar biaya (biaya rata-rata) program atau kegiatan dapat dihitung dengan dua cara: (1) standar biaya langsung. anggaran belanja tidak langsung dalam satu tahun anggaran harus dialokasikan ke masing-masing program atau kegiatan yang direncanakan dalam satu tahun anggaran.Pendekatan Standar Biaya Langsung atau Standar Biaya Total? Berdasarkan klasifikasi belanja tidak langsung dan belanja langsung. dan (2) standar biaya total. Standar biaya langsung dihitung berdasarkan jumlah anggaran belanja langsung suatu program atau kegiatan dibagi dengan target kinerja program atau kegiatan yang bersangkutan. Pembebanan Anggaran Belanja Tidak Langsung Dalam struktur anggaran SKPD dan Satuan Kerja 30 . Alokasi belanja tidak langsung tersebut dapat menggunakan pendekatan rata-rata sederhana. Jika digunakan standar biaya total untuk menilai kewajaran.

Belanja pegawai b. belanja bantuan keuangan. belanja bantuan sosial. Anggaran belanja langsung untuk kegiatan yang outputnya berupa bukan barang modal (bukan aset tetap) atau kegiatan non investasi dalam struktur anggaran SKPD Anggaran belanja langsung untuk kegiatan yang outputnya berupa bukan barang modal (bukan aset tetap) atau kegiatan non investasi dalam struktur anggaran SKPD dibebankan ke dalam jenis Belanja Pegawai dan Belanja Barang dan Jasa. belanja bantuan keuangan. belanja hibah. belanja subsidi. belanja bantuan sosial. Sedangkan pembebanan anggaran belanja tidak langsung pada SKPKD. belanja bagi hasil. anggaran belanja tidak langsung dibebankan pada Kelompok Belanja Tidak Langsung. belanja subsidi. 2. Dalam struktur anggaran SKPD. belanja hibah. sebagaimana diuraikan sebelumnya. belanja bagi hasil. dibebankan dalam jenis belanja: a. Pembebanan anggaran belanja tidak langsung pada SKPD hanya dianggarkan jenis belanja pegawai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. ditujukan dalam rangka untuk memudahkan penilaian terhadap kewajaran biaya suatu program atau kegiatan.Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD). dengan rincian sebagai berikut: 1. Pembebanan Anggaran Belanja Langsung Pengklasifikasi belanja tidak langsung dan belanja langsung. dan belanja tidak terduga. Anggaran belanja langsung untuk kegiatan yang outputnya berupa barang modal (aset tetap) atau kegiatan investasi dalam struktur anggaran SKPD 31 . Dalam struktur anggaran SKPKD. Dalam struktur anggaran SKPD pembebanan anggaran belanja tidak langsung hanya dianggarkan jenis belanja pegawai sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. selain jenis belanja pegawai yang dianggarkan dalam belajna tidak langsung juga dianggarkan jenis belanja bunga. dan belanja tidak terduga. anggaran belanja langsung dibebankan pada kelompok belanja langsung Pembebanan anggaran belanja langsung ke dalam anggaran SKPD lebih lanjut dibebankan ke dalam jenis belanja. selain belanja pegawai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan juga dianggarkan jenis belanja bunga. Belanja barang dan jasa.

Belanja modal 32 .Anggaran belanja langsung untuk kegiatan yang outputnya berupa barang modal (Aset Tetap) atau kegiatan investasi dalam struktur anggaran SKPD dibebankan sebagai Belanja Modal. Belanja barang dan jasa c. Belanja pegawai b. dibebankan dalam jenis belanja: a.

waktu. Manfaat dan Dampak. material. dan SKPD dapat digunakan ukuran Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah yang didasarkan pada 5 (lima) indikator sebagai berikut: Selanjutnya untuk penilaian kinerja suatu kegiatan. 5. dan SKPD dapat digunakan ukuran Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah yang didasarkan pada 5 (lima) indikator. 4. Manfaat (Benefit) adalah tolok ukur kinerja berdasarkan tingkat kemanfaatan yang dapat dirasakan sebagai nilai tambah bagi masyarakat dan Pemerintah Daerah dari hasil. yaitu: Masukan.PENILAIAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH Keseluruhan tingkat pelayanan yang akan dicapai dalam satu tahun anggaran dari setiap program atau kegiatan yang diusulkan oleh masing-masing SKPD. sumber daya manusia. Keluaran (Output) adalah tolok ukur kinerja berdasarkan produk (barang atau jasa) yang dihasilkan dari program atau kegiatan sesuai dengan masukan yang digunakan. yaitu tolok ukur kinerja berdasarkan tingkat atau besaran sumber-sumber: dana. program. 1. teknologi. 33 . Dampak (Impact) adalah tolok ukur kinerja berdasarkan dampaknya terhadap kondisi makro yang ingin dicapai dari manfaat. 3. 2. Hasil (Outcome) adalah tolok ukur kinerja berdasarkan tingkat keberhasilan yang dapat dicapai berdasarkan keluaran program atau kegiatan yang sudah dilaksanakan. dan sebagainya yang digunakan untuk melaksanakan program dan atau kegiatan. Masukan (Input). Selanjutnya untuk penilaian kinerja suatu kegiatan. Keluaran. pada dasarnya merupakan tolok ukur kinerja yang diharapkan dapat dicapai oleh suatu pemerintah daerah dalam melaksanakan kewenangannya. Hasil. program.

indikator yang digunakan sebagai tolok ukur pencapaian kinerja suatu kegiatan yaitu: (1) masukan (input). batas waktu penyampaian RKA-SKPD kepada PPKD. PPA yang dialokasikan untuk setiap program SKPD berikut rencana pendapatan dan pembiayaan. dalam hal ini. c. dapat dikembangkan dari penilaian terhadap input-output menjadi input-output-outcome-benefit-impact. dalam rangka penyusunan RKA-SKPD rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD mencakup : a. oleh karena itu. Dalam perencanaan anggaran daerah. hal-hal lainnya yang perlu mendapatkan perhatian dari SKPD terkait dengan prinsip-prinsip dan peningkatan akuntabilitas efisiensi. b. Secara rinci. (2) keluaran (output) dan (3) hasil (outcome).Tolok ukur kinerja program atau kegiatan yang diusulkan suatu SKPD selama satu tahun anggaran. d. RENCANA KERJA DAN ANGGARAN SKPD Berdasarkan nota kesepakatan KUA dan PPA. sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD dengan kinerja SKPD berkenaan sesuai dengan standar pelayanan minimal yang ditetapkan. TAPD menyiapkan rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagai acuan kepala SKPD dalam menyusun RKA-SKPD. tranparansi penyusunan anggaran dalam rangka pencapaian prestasi . Dalam kaitan itu. indikator benefit dan impact tidak dapat diestimasikan dalam periode satu tahun anggaran. Benefit pada dasarnya merupakan outcome jangka menengah dan impact merupakan outcome jangka panjang. kerja. dan 34 efektifitas.

Pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah dilaksanakan dengan menyusun prakiraan maju. dan pembiayaan di lingkungan SKPD untuk menghasilkan dokumen rencana kerja dan anggaran. belanja.e. Prakiraan maju berisi perkiraan kebutuhan anggaran untuk program dan kegiatan yang direncanakan dalam tahun anggaran berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan. Pendekatan penganggaran berdasarkan prestasi kerja dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran yang diharapkan dari kegiatan dan hasil serta manfaat yang diharapkan termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran tersebut. kode rekening APBD. Berdasarkan pedoman penyusunan RKA-SKPD kepala SKPD menyusun RKA-SKPD. format RKA-SKPD. dokumen sebagai lampiran meliputi KUA. Untuk terlaksananya penyusunan RKA-SKPD berdasarkan pendekatan-pendekatan tersebut di atas. penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja. RKA-SKPD disusun dengan menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah. PPA. kepala SKPD mengevaluasi hasil pelaksanaan program dan kegiatan 2 (dua) tahun anggaran sebelumnya sampai dengan semester pertama tahun anggaran berjalan. analisis standar belanja dan standar satuan harga. Evaluasi bertujuan menilai program dan kegiatan yang belum dapat dilaksanakan dan/atau belum diselesaikan tahun-tahun sebelumnya untuk dilaksanakan dan/atau 35 . Pendekatan penganggaran terpadu dilakukan dengan memadukan seluruh proses perencanaan dan penganggaran pendapatan. Surat edaran kepala daerah perihal pedoman penyusunan RKA-SKPD diterbitkan paling lambat awal bulan Agustus tahun anggaran berjalan.

belanja.diselesaikan pada tahun yang direncanakan atau 1 (satu) tahun berikutnya dari tahun yang direncanakan. kebutuhan dananya harus dianggarkan pada tahun yang direncanakan. RKA-SKPD juga memuat informasi tentang urusan pemerintahan daerah. Penyusunan RKA-SKPD berdasarkan prestasi kerja berdasarkan pada indikator kinerja. kegiatan dan anggaran setiap SKPD dituangkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD). yang terdiri atas peraturan daerah. analisis standar belanja. RKA-SKPD 36 . standar biaya. serta rencana pembiayaan untuk tahun yang direncanakan dirinci sampai dengan rincian objek pendapatan. organisasi. Usulan program. Rencana belanja memuat kelompok belanja tidak langsung dan belanja langsung yang masing-masing diuraikan menurut jenis. ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Rencana pembiayaan memuat kelompok penerimaan pembiayaan yang dapat digunakan untuk menutup defisit APBD dan pengeluaran pembiayaan yang digunakan untuk memanfaatkan surplus APBD yang masing-masing diuraikan menurut jenis. dan pembiayaan serta prakiraan maju untuk tahun berikutnya. obyek dan rincian obyek pembiayaan. dan standar pelayanan minimal. yang dipungut/dikelola/ diterima oleh SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Dalam hal suatu program dan kegiatan merupakan tahun terakhir untuk pencapaian prestasi kerja yang ditetapkan. capaian atau target kinerja. prestasi kerja yang akan dicapai dari program dan kegiatan. peraturan pemerintah atau undang-undang. Rencana pendapatan memuat kelompok. rencana belanja untuk masing-masing program dan kegiatan. obyek dan rincian obyek belanja. jenis. obyek dan rincian obyek pendapatan daerah. standar satuan harga. RKA-SKPD memuat rencana pendapatan.

2 Informasi Pokok Ringkasan Anggaran. belanja dan pembiayaan SKPD. RKASKPD dibagi menjadi 7 (tujuh) bagian.2 37 .2. yaitu: Kode RKA-SKPD RKA-SKPD 1 RKA-SKPD 2. Sesuai dengan tipe informasi yang dimuat.1 RKA-SKPD 3. Belanja dan Pembiayaan Rincian Anggaran Pendapatan Rincian Anggaran Belanja Tidak Langsung Rekapitulasi Rincian Anggaran Belanja Langsung menurut Program dan Kegiatan Rincian Anggaran Belanja Langsung menurut Progaram dan per Kegiatan Rincian Anggaran Penerimaan Pembiayaan Rincian Anggaran Pengeluaran Pembiayaan RKA-SKPD 2. serta anggaran pendapatan.1 RKA-SKPD 2.1 RKA-SKPD 3.merupakan dokumen yang digunakan untuk penyusunan rencana kerja dan anggaran SKPD yang antara lain memuat rencana program dan kegiatan.

38 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful