P. 1
MAKALAH ELIMINASI FEKAL

MAKALAH ELIMINASI FEKAL

3.0

|Views: 2,243|Likes:
Published by AR Yulia Sunarti

More info:

Published by: AR Yulia Sunarti on Aug 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/21/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh.

Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.

1.2

Tujuan a. Untuk mengetahui proses pencernaan atau system gastointestinal b. Untuk mengetahui aspek fisiologis defekasi normal c. Untuk menegtahui faktor fisiologis dan psikologis yang mempengaruhi d. Untuk menegetahui pemeriksaan diagnostic pada eliminasi fekal e. Untuk menegetahui contoh metode mempertahankan eliminasi secara normal f. Untuk mengetahui tindakan untuk mempertahankan eliminasi secara normal g. Untuk mengetahui gangguan eliminasi fekal / bowel h. Untuk mengetahui proses keperawatan

1

1.3

Rumusan Masalah a. Menjelaskan tentang pencernaan atau system gastrointestinal. b. Menjelaskan tentang aspek fisiologis defekasi normal. c. Menjelaskan mempengaruhi. d. Menjelaskan tentang pemeriksaan diagnostic pada eliminasi fekal. e. Menjelaskan tentang contoh metode mempertahankan eliminasi secara normal. f. Menjelaskan tentang tindakan untuk mempertahankan eliminasi secara normal. g. Menjelaskan tentang gangguan eliminasi fekal / bowel. h. Menjelaskan tentang proses keperawatan. tentang faktor fisiologis dan psikologis yang

2

BAB II ISI

2.1 Sistem Gastrointestinal Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.

Gambar 1: Sistem Pencernaan A. Mulut Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada hewan. Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus.

3

Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis. dan laring 4 . Berasal dari bahasa yunani yaitu Pharynk.Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim). Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. asam. faring. Tenggorokan ( Faring) Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. geraham). Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar. hidung. terdiri dari manis. Gambar 3 :Skema melintang mulut. Pengecapan relatif sederhana. Gbr 2 : Anatomi Mulut B. terdiri dari berbagai macam bau. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan lebih rumit. menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. asin dan pahit.

oeso . i . letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung. Kerongkongan (Esofagus) Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut dan bagian inferior = bagian yang sama tinggi dengan laring. pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak dengan ruang gendang telinga.bagian ini berbatas kedepan sampai diakar lidah bagian inferior disebut laring gofaring yang menghubungkan orofaring dengan laring C.Bagian media disebut orofaring. Makanan berjalan melalui kerongkongan dengan menggunakan proses peristaltik.Didalam lengkung faring terdapat tonsil ( amandel ) yaitu kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi."membawa". disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan. dengan perantaraan lubang bernama koana. keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium Tekak terdiri dari. Menurut histologi. Sering juga disebut esofagus(dari bahasa Yunani: "memakan"). Bagian superior disebut nasofaring. phagus - 5 . dan . didepan ruas tulang belakang Keatas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung. Esofagus bertemu dengan faring pada ruas ke-6 tulang belakang. Bagian superior =bagian yang sangat tinggi dengan hidung. Esofagus dibagi menjadi tiga bagian: y y y Bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka) Bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus) Serta bagian inferior (terutama terdiri dari otot halus).

Esophagus manusia dari belakang. Antrum. Lambung berfungsi sebagai gudang makanan. sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. yang bisa membuka dan menutup. Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting : y Lendir Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak lambung. yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim. 6 . Setiap kelainan pada lapisan lendir ini. D. Lambung Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai. Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin (sfinter).Gambar. Fundus. Dalam keadaan normal. Terdiri dari 3 bagian yaitu y y y Kardia.

Usus halus (usus kecil) Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar.y Asam klorida (HCl) Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). lapisan mukosa ( sebelah dalam ). y Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein) Gambar 5 : Anatomi Lambung E. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri. Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein. lapisan otot melingkar ( M sirkuler ). lapisan otot memanjang ( M Longitidinal ) dan lapisan serosa ( Sebelah Luar ) 7 . gula dan lemak. Lapisan usus halus . Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein.

Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus. pH usus dua belas jari yang normal berkisar pada derajat sembilan.Gambar 6 : Antomi Usus Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum). di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum). Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal. yang tidak terbungkus seluruhnya oleh selaput peritoneum. dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz. Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus. usus kosong (jejunum). dan usus penyerapan (ileum). Usus dua belas jari (Duodenum) Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum). Pada manusia dewasa. panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter. 1-2 8 . Pada usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu. Usus Kosong (jejenum) Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah bagian kedua dari usus halus. duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan. Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum). 1. yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Gambar 8 : Usus dua belas jari (duodenum) 2. yang berarti dua belas jari. Nama duodenum berasal dari bahasa Latin duodenum digitorum. Jika penuh.

yakni berkurangnya kelenjar Brunner. 9 . ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak setelah duodenum dan jejunum. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garamgaram empedu. yang memperluas permukaan dari usus. Sedikit sulit untuk membedakan usus kosong dan usus penyerapan secara makroskopis. anatomi usus halus dan usus besar 3. yang berarti "kosong". Usus kosong dan usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium. Secara hitologis pula dapat dibedakan dengan usus penyerapan. Pada sistem pencernaan manusia. Secara histologis dapat dibedakan dengan usus dua belas jari. dan dilanjutkan oleh usus buntu. jejunus.meter adalah bagian usus kosong. Arti aslinya berasal dari bahasa Laton. yakni sedikitnya sel goblet dan plak Peyeri. Usus Penyerapan (illeum) Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Jejunum diturunkan dari kata sifat jejune yang berarti "lapar" dalam bahasa Inggris modern. Permukaan dalam usus kosong berupa membran mukus dan terdapat jonjot usus (vili).

dan terjadilah diare. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air. Gambar 10 : Anatomi Usus Besar G. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting. Usus besar terdiri dari : y y y y Kolon asendens (kanan) Kolon transversum Kolon desendens (kiri) Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum) Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. dan beberapa jenis reptil. sedangkan 10 . Organ ini ditemukan pada mamalia. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Usus Besar (Kolon) Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. "buta") dalam istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. burung. seperti vitamin K.F. Sebagian besar herbivora memiliki sekum yang besar. Usus Buntu (sekum) Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus.

I. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum. mengatur") adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. lokasi ujung umbai cacing bisa berbeda bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang jelas tetap terletak di peritoneum. Infeksi pada organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi. Apendisitis yang parah dapat menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nanah di dalam rongga abdomen atau peritonitis (infeksi rongga abdomen). "meluruskan. Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. vermiform appendix (atau hanya appendix) adalah hujung buntu tabung yang menyambung dengan caecum. sering 11 . Operasi membuang umbai cacing dikenal sebagai appendektomi.karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil. Jika defekasi tidak terjadi. Umbai cacing terbentuk dari caecum pada tahap embrio. Umbai Cacing (Appendix) Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Dalam orang dewasa. Rektum dan anus Rektum (Bahasa Latin: regere. Dalam anatomi manusia. Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi bisa bervariasi dari 2 sampai 20 cm. H. maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB). umbai cacing atau dalam bahasa Inggris. yaitu pada kolon desendens. sebagian yang lain percaya bahwa apendiks mempunyai fungsi dalam sistem limfatik. yang sebagian atau seluruhnya digantikan oleh umbai cacing. Walaupun lokasi apendiks selalu tetap. Banyak orang percaya umbai cacing tidak berguna dan organ vestigial (sisihan). Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses.

BAB). menghasilkan hormon Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan melepaskan hormon ke dalam darah. menghasilkan enzim-enzim pencernaan Pulau pankreas. karbohidrat dan lemak. Gambar 11 : Anatomi Rektum & Anus J. Pankraes terdiri dari 2 jaringan dasar yaitu : y y Asini. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna protein. Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini. yang merupakan fungsi utama anus.kali material akan dikembalikan ke usus besar. Pankreas Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi utama yaitu menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting seperti insulin. Enzim proteolitik memecah protein ke dalam bentuk 12 . tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB. dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus. Pankreas terletak pada bagian posterior perut dan berhubungan erat dengan duodenum (usus dua belas jari). Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar . di mana penyerapan air akan kembali dilakukan. konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi.

Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan pembuluh darah yang kecil-kecil (kapiler).yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk inaktif. sintesis protein plasma. Vena porta terbagi menjadi pembuluh-pembuluh kecil di dalam hati. hepar. Kandung empedu Kandung empedu (Bahasa Inggris: gallbladder) adalah organ berbentuk buah pir yang dapat menyimpan sekitar 50 ml empedu yang dibutuhkan tubuh untuk proses pencernaan. Istilah medis yang bersangkutan dengan hati biasanya dimulai dalam hepat. Organ ini memainkan peran penting dalam metabolisme dan memiliki beberapa fungsi dalam tubuh termasuk penyimpanan glikogen. dan penetralan obat. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran pencernaan. melainkan karena warna cairan empedu yang dikandungnya. Pada manusia. Hati Hati merupakan sebuah organ yang terbesar di dalam badan manusia dan memiliki berbagai fungsi. setelah darah diperkaya dengan zat-zat gizi. darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum. Kapiler ini mengalirkan darah ke dalam vena yang bergabung dengan vena yang lebih besar dan pada akhirnya masuk ke dalam hati sebagai vena porta.bukan karena warna jaringannya. yang berfungsi melindungi duodenum dengan cara menetralkan asam lambung.atau hepatik dari kata Yunani untuk hati. Pankreas juga melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat. Organ ini terhubungkan dengan hati dan usus dua belas jari melalui saluran empedu. beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan. yang penting dalam pencernaan. Empedu memiliki 2 fungsi penting yaitu: 13 . dimana darah yang masuk diolah. K. panjang kandung empedu adalah sekitar 7-10 cm dan berwarna hijau gelap . Hati melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi. Dia juga memproduksi bile. L.

Refleks Defekasi Intrinsik Ketika feses masuk kedalam rektum. spingter anal interna tidak menutup dan bila spingter eksternal tenang maka feses keluar. Frekwensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu. Sinyal ± sinyal parasimpatis ini 14 . Reflek dalam defekasi: a. Begitu gelombang peristaltik mendekati anus. b. Pengertian defekasi Defekasi adalah proses pembuangan atau pengeluaran sisa metabolisme berupa feses dan flatus yang berasal dari saluran pencernaan melalui anus. terutama haemoglobin (Hb) yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol 2. Gelombang ini menekan feses kearah anus. pengembangan dinding rektum memberi suatu signal yang menyebar melalui pleksus mesentrikus untuk memulai gelombang peristaltik pada kolon desenden. saraf sensoris dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi. dan didalam rektum.y y Membantu pencernaan dan penyerapan lemak Berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh. Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Ketika gelombang peristaltik mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan rektum. kolon sigmoid. signal diteruskan ke spinal cord (sakral 2 ± 4) dan kemudian kembali ke kolon desenden. kolon sigmoid dan rektum. Refleks Defekasi Parasimpatis Ketika serat saraf dalam rektum dirangsang.2 Aspek Fisiologi Pada Defekasi Normal 1. 2.

3 Faktor Faktor Fisiologis Dan Psikologis Yang Mempengaruhi Defekasi Normal 2. Sekresi HCL meningkat khususnya pada anak laki-laki. Anak remaja biasanya mengkonsumsi makana dalam jumlah lebih besar. melemaskan spingter anus internal dan meningkatkan refleks defekasi instrinsik. Spingter anus individu duduk ditoilet atau bedpan. Pertumbuhan usus besar terjadi sangat pesat selama masa remaja. Jika refleks defekasi diabaikan atau jika defekasi dihambat secara sengaja dengan mengkontraksikan muskulus spingter eksternal. Defekasi normal dipermudah dengan refleksi paha yang meningkatkan tekanan di dalam perut dan posisi duduk yang meningkatkan tekanan kebawah kearah rektum. Pengeluaran feses dibantu oleh kontraksi otot-otot perut dan diaphragma yang akan meningkatkan tekanan abdominal dan oleh kontraksi muskulus levator ani pada dasar panggul yang menggerakkan feses melalui saluran anus. Perkembangan ini biasanya tidak terjadi sampai 2 sampai 3 tahun. seperti zat pati yang kompleks.1 Faktor-Faktor Fisiologis Yang Mempengaruhi Proses Eleminasi 1. Usia Perubahan dalam tahapan perkembangan dalam mempengaruhi status eliminasi terjadi disepanjang kehidupan. 2. ditoleransi dengan buruk.meningkatkan gelombang peristaltik. maka rasa terdesak untuk defekasi secara berulang dapat menghasilkan rektum meluas untuk menampung kumpulan feses. spingter anus eksternal tenang dengan sendirinya. Seorang bayi memiliki lambung yang kecil dan lebih sedikit menyekresi enzim pencernaan. Bayi tidak mampu mengontrol defekasi karana kurangnya perkembangan neuromuskolar. Beberapa makanan. Beberapa lansia mungkin tidak lagi memiliki gigi sehingga mereka tidak mampu 15 . Sistem GI pada lansia sering mengalami perubahan sehingga merusak proses pencernaan dan eliminasi.3.

seperti bawang. 2. Makanan yang memasuki saluran GI hanya dikunyah sebagian dan tidak dapat dicerna karena jumlah enzim pencernaan didalam saliva dan volume asam lambung menurun seiring dengan proseas penuaan. Diet Asupan makanan setiap hari secara teratur membantu mempertahankan pola peristaltic yang teratur di dalam kolon. Sayur-sayuran (bayam. residu makanan yang tidak dapat dicerna. sulit atau tidak mungkin dicerna oleh beberapa individu. Dengan menstimulasi peristaltic.kubis) d. tetapi juga dapat menyebabkan pencernaan tidak berlangsung dan feses menjadi encer. Gandum utuh (sereal. Buah-buahan yang diolah (prum. Usus bayi yang belum matang biasanya tidak dapat mentoleransi makanan berserat sampai usianya mencapai beberapa bulan. Makanan yang dikonsumsi individu mempengaruhi eliminasi.jeruk) b. Beberapa jenis makanan. Serat. Dinding usus teregang. roti) Mengkonsumsi makanan tinggi serat meningkatkan kemungkinan normalnya pola eliminasi jika factor lain juga normal. Makanan pembentuk masa mengabsorbsi cairan sehingga meningkatkan masa feses. mempertahankan feses tetap lunak. Hal ini disebabkan oleh intoleransi laktosa. memungkinkan terbentuknya masa dalam materi feses. Buah-buahan mentah (apel. Makanan yang menghasilkan gas. masa makanan berjalan dengan cepat melalui usus. seperti susu dan produk-produk susu.kangkung. Sayur-sayuran mentah (seledri. Ketidakmampuan untuk mencerna makanan yang mengandung lemak mencerminkan terjadinya kehilangan enzim limpase.mentimun) e. Beberapa makanan pedas dapat meningkatkan peristaltic . 16 . menciptakan gerakan peristaltic dan menimbulkan reflex defekasi. Gas yang dihasilkan membuat dinding usus berdistensi . dan buncis juga menstimulasi peristaltic.mengunyah makanan dengan baik.apricot) c. Makanan-makanan berikut mengandung serat dalam jumlah tinggi (masa): a. meningkatkan motilitas kolon. kembang kol.

Orang dewasa harus minum 6 sampai 8 gelas (1400 sampai 2000ml) cairan setiap hari. suatu bentuk karbohidrat sederhana yang ditemukan di dalam susu. Tonus otot dapat melemah atau hilang akibat penyakit yang berlangsung dalam jangka waktu lama atau penyakit neurologis yang merusak transmisi saraf. Ambulasi dini setelah klien menderita suatu penyakit dianjurkan untuk meningkatkan dipertahankannya eliminasi normal. 4. yang digunakan selama proses defekasi. 3. Minuman ringan yang hangat dan jus buah memperlunak feses dan meningkatkan peristaltic. Cairan mengencerkan isi usus. Melemahnya otot-otot dasar panggul dan abdomen merusak kemampuan individu untuk meningkatkan tekanan intraabdomen dan untuk mengontrol sfingter eksterna.Laktosa. merupakan hal yang penting. Intoleransi terhadap makana tertentu dapat mengakibatkan diare. memudahkannya bergerak melalui kolon. Asupan Cairan Asupan cairan yang tidak adekuat atau gangguan yang menyebabkan kehilangan cairan (seperti muntah) mempengaruhi karakter feses. Aktivitas Fisik Aktivitas fisik meninkatkan peristaltic. sementara imobilisasi menekan motilitas kolon. Upaya mempertahankan tonus otot rangka. Kebiasaan pribadi Kebiasaan eliminasi pribadi mempengaruhi fungsi usus. dank ram. Asupan cairan yang menurun memperlambat pergerakan makanan yang melalui usus. Reflex gastrokolik 17 . Individu harus mencari waktu terbaik untuk melaksanakan eliminasinya. 5. Kebanyakan individu merasa lebih mudah melakukan defekasi dikamar mandi mereka sendiri pada waktu yang paling efektif dan paling nyaman bagi mereka. Jadwal kerja yang sibuk dapat mengganggu kebiasaan dan mengakibatkan perubahan seperti konstipasi. Konsumsi susu dalam jumlah besar dapat memperlambat peristaltic pada beberapa individu dan menyebabkan konstipasi. secara normal dipecah oleh enzim lactase. distensi gas.

pada sejumlah kondisi. sehingga memungkinkan individu untuk duduk tegak ke arah depan. bedah abdomen. klien seringkali mensupresi keinginanya untuk berdefekasi guna menghindari rasa nyeri yang mungkin akan timbul. seperti artritis. 7.adalah reflex yang paling mudah distimulasi untuk menimbulkan defekasi setelah sarapan. Untuk klien imobilisasi di tempat tidur. Konstipasi merupakan masalah umum pada klien yang merasa nyeri selama defekasi. Namun. Toilet modern dirancang untuk memfasilitasi posisi ini. Klien yang mengguanakan alat tersebut dan individu yang berposter pendek. kegiatan defekasi tidak menimbulkan nyeri. Membantu klien ke posisi duduk yang lebih normal pada pispot. Posisi telentang tidak memungkinkan klien mengontraksi otot-otot yang digunakan selama defekasi. dan melahirkan anak dapat menimbulkan rasa tidak nyaman ketika defekasi. bedah rectum. 18 . Posisi Selama Defekasi Posisi jongkok merupakan posisi yang normal saat melakukan defekasi. Akan meningkatkan kemampuan defekasi. Pada kondisi-kondisi seperti ini. mungkin tidak mampu bangkit dari tempat duduk tpilet memampukan klienuntuk bangun dari posisi duduk di toilet tanpa bantuan. Namun. fistula rectum. mungkin membutuhkan pijakan kaki yang memungkinkan ia menekluk pinggulnya dengan benar. 6. termasukhemoroid. Nyeri Dalam kondisi normal. mengeluarkan tekanan intraabdomen dan mengontraksi otot-otot pahanya. defekasi seringkali dirasakan sulit. klien lansia atau individu yang menderita penyakit sendi.

10. Obat-obatan Obat-obatan untuk meningkatkan defekasi telah tersedia . 9. penggunaan laksatif yang berlebihan juga dapat menyebabkan dehidrasi dan kehilangan elektrolit. Waupun sama. Kehamilan Seiring dengan meningkatnya usia kehamilan dan ukuran fetus. menurunkan absorpsi vitamin yang larut dalam lemak. kerja laksatif lebih ringan dari pada katartik. Apabila digunakan dengan benar . Pembedahan yang melibatkan manipulasi usus secara langsung. Kerja anestesi tersebut memperlambat atau menghentikan gelombang peristaltic. laksatif dan katartik melunakkan feses dan meningkatkan peristaltic. sementara akan menghentikan gerakan peristaltic. tekanan diberikan pada rectum. Pembedahan dan Anestesia Agen anestesi yang digunakan selama proses pembedahan. membuat gerakan peristaltic berhenti untuk sementara waktu. penggunaan katartik dalam jangka waktu lama menyebabkan usus besar kehilangan tonus ototnya dan menjadi kurang responsive terhadap stimulasi yang diberikan oleh laksatif . Agens anestesi yang dihirup menghambat impuls saraf parasimpatis ke otot usus. Kondisi ini disebut ileus paralitik yang biasanya berlangsung sekitar 24 sampai 48 jam. Wanita hamilselama defekasi dapat menyebabkan terbentukannya hemoroid yang permanen. Laksatif dapat mempengaruhi kemajuan kerja obat 19 . Minyak mineral. laktasif dan katartik mempertahankan pola eliminasi normal dengan aman. Klien yang menerima anestesi local atau regional beresiko lebih kecil untuk mengalami perubahan eliminasi karena aktivitas usus hanya dipengaruhi sedikitt atau bahkan tidak dipengaruhi sama sekali.8. Obsetruksi semenmtara akibat keberadaan fectus mengganggu pengeluaran feses. sebuah laksatif umum. Namun. Konstipasi adalah masalah umum yang muncul pada trimester terakhir. kembalinya fungsi normal usus dapat terhambat lebih lanjut. Apabila klien tetap tidak aktif atau tidak dapat makan setelah pembedahan.

yang disebabkan oleh obat-obatan hiperosmolar telah diuraikan oleh Fruto. Seorang klien harus menerima katartik untuk meningkatkan eliminasi barium setelah prosedur dilakukan. seperti atropin. Intervensi keperawatan dapat digunakan untuk diare osmotic. 11. yakni hiperaktivitas usus. klien biasanya meneri. Pada kasus penggunaan barium enema atau endoskopi. Klien yang mengalami kegagalan dalam mengevakuasi semua barium. yang melibatkan visualisasi struktur saluran GI. obat-obatan yang diberikan kepada klien mungkin perlu diubah. Barium mengeras jika dibiarkan di dalam saluran GI. agens antikolinegik dapat menyebabkan konstipasi. atau glikopirolat (robinul). Hal ini dapat menyebabkan konstipasi atau impaksi usus. Prosedur pemeriksaan menggunakan barium menimbulkan masalah tambahan. menghambat sekresi asam lambung dan menekan motilitas saluran GI. Walupun bermanfaat dalam mengobati gangguan usus. Obat analgesic narkotik menekan gerakan peristaltic.lain dengan mengubah waktu transit(missal waktu obat berada di saluran GI). Klien tidak diizinkan untuk makan atau minum setelah tengah malam jika esoknya akan dilakukan pemeriksaan. Apabila diare dan kram abdomen yang terkait dengan diare semakin parah. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostik. endoskopi saluran GI bagian bawah atau serangkaian pemereksaan saluran GI bagian atas. 20 . Pengosongan usus dapat mengganggu eliminasi sampai klien dapat makan dengan normal. banyak antibiotik menyebabkan diare dengan menggangu flora bakteri normal didalam saluran GI. Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat mengganggu eliminasi. Obat-obatan seperti disiklomin HCL (Bentyl) menekan gerakan peristaltic dan mengobati diare. sering memerlukan dikosongkannya isi dibagian usus. mungkin usus klien perlu dibersihkan dengan menggunakan enema. Opiat umumnya menyebabkan konstipasi. Obat-obatan antikolinergik.ma katartik dan enema. seperti pemeriksaan yang menggunakan barium enema.

ansietas dan depresi mungkin merupakan akibat dari masalah kronik tersebut. dan penyakit crohn. Hal-hal yang bisa dilakukan agar eliminasi fekal tetap normal. ureter. Dalam bladder urine ditampung sampai mencapai batas tertentu yang kemudian dikeluarkan melalui uretra.5 Metode Mempertahankan Eliminasi Normal Agar eliminasi fekal tetap normal dan teratur. muncul respons stress. bladder. Efek samping peristaltic yang meningkat antara lain diare dan distensi gas. ketakutan.Ginjal memindahkan air dari darah dalam bentuk urine. Namu. yang memungkinkan tubuh membuat pertahanan. Proses pengeluaran ini sangat bergantung pada fungsi-fungsi organ eliminasi urine seperti ginjal. tetapi jangan terlalu berlebihan 21 . Perhatikan makanan yang kita makan. Apabila individu mengalami kecemasan. sistem saraf otonom memperlambat impuls saraf dan peristaltic dapat menurun.2. Penyakit ini meliputi colitis ulseratif. dan uretra.3.2 Faktor-Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Proses Eliminasi Fungsi dari hampir semua sistem tubuh dapat mengalami gangguan akibat stress emosional yang lama. Cukupi pemenuhan cairan tubuh.4 Pemeriksaan Diagnostik Eleminasi Fekal Eleminasi urine normalnya adalah pengeluaran cairan. Sejumlah penyakit pada saluran GI dapat dikaitkan dengan stress. Untuk menyediakan nutrisi yang dibutuhkan dalam upaya pertahanan tersebut. Apabila individu mengalami depresi. jangan memakan makanan yang akan bisa menyebabkan gangguan dalam pencernaan 2. ulkus lambung. atau marah. 2. yaitu : 1. kita harus menjaga kesehatan. Upaya penelitian berulang yang dilakukan sejak lama telah gagal membuktikan mitos bahwa penyebab klien mengalami penyakit tersebut adalah karena memiliki kondisi psikopatologis. 2. proses pencernaan dipercepat dan peristaltic meningkat. Ureter mengalirkan urine ke bladder.

3.6 Tindakan Untuk Mempertahankan Eliminasi Normal 2. Tanda-tanda gangguan eliminasi fekal : a. Impaction y y y y Tidak BAB Anoreksia Kembung/kram nyeri rectum Menurunnya frekuensi BAB Pengeluaran feses yang sulit. dan jangan pula banyak berdiam diri dan berolah raga dengan teratur.7 Gangguan Eliminasi Fekal / Bowel Gangguan eliminasi fekal adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko tinggi mengalami statis pada usus besar. 4. Perhatikan psikologi diri. jangan beraktivitas terlalu keras. Untuk mengatasi gangguan eliminasi fekal biasanya dilakukan huknah. Jaga aktivitas. baik huknah tinggi maupun huknah rendah. Memasukkan cairan hangat melalui anus sampai ke kolon desenden dengan menggunakan kanul rekti. mengakibatkan jarang buang air besar. 2. keras dan mengejan Nyeri rectum 22 . keras. Hindari hal-hal yang akan mungkin menyebabkan stres dan kecemasan. Konstipasi y y y b. karena itu juga membuat eliminasi fekal tidak normal. feses kering.

penyakit neuromuskuler. d. nyeri dan kram.c. BAB encer dan jumlahnya banyak Gangguan fungsi spingter anal. Inkontinensia Fekal y y y Tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus. merasa penuh. Hemoroid y y pembengkakan vena pada dinding rectum perdarahan jika dinding pembuluh darah vena meregang 23 . Diare y y y BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan meningkatkan sekresi mukosa. y feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan menahan BAB. Dinding usus meregang dan distended. y Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus) f. trauma spinal cord dan tumor spingter anal eksternal e. Flatulens y y Menumpuknya gas pada lumen intestinal.

penting untuk memperbesar volume feses. Individu yang makan pada waktu yang sama setiap hari mempunyai suatu keteraturan waktu. Cukupnya selulosa. Ketika pemasukan cairan yang adekuat ataupun pengeluaran (cth: urine. 2. tubuh melanjutkan untuk mereabsorbsi air dari chyme ketika ia lewat di sepanjang colon. Ditambah lagi berkurangnya pemasukan cairan 24 . serat pada makanan. respon fisiologi pada pemasukan makanan dan keteraturan pola aktivitas peristaltik di colon. Pemeriksaan Penunjang y y y Pemeriksaan USG Pemeriksaan foto rontgen Pemeriksaan laboratorium urin dan feses Penyebab gangguan eliminasi fekal : 1. menghasilkan feses yang keras.y y merasa panas dan gatal jika terjadi inflamasi nyeri g. Cairan Pemasukan cairan juga mempengaruhi eliminasi feses. di beberapa bagian jalur dari pengairan feses. Pola diet tidak adekuat/tidak sempurna: Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi eliminasi feses. muntah) yang berlebihan untuk beberapa alasan. Makan yang teratur mempengaruhi defekasi. Ketidakmampuan ini berdampak pada gangguan pencernaan. Makanantertentu pada beberapa orang sulit atau tidak bisa dicerna. Makan yang tidak teratur dapat mengganggu keteraturan pola defekasi. Dampaknya chyme menjadi lebih kering dari normal.

kurang berolahraga. mempermudah defekasi. Pada pasien immobilisasi atau bedrest akan terjadi penurunan gerak peristaltic dan dapat menyebabkan melambatnya feses menuju rectum dalam waktu lama dan terjadi reabsorpsi cairan feses sehingga feses mengeras 5. Meningkatnya stress psikologi Dapat dilihat bahwa stres dapat mempengaruhi defekasi. Ditambah lagi orang yagn depresi bisa memperlambat motilitas intestinal. Beberapa obat secara langsung mempengaruhi eliminasi.memperlambat perjalanan chyme di sepanjang intestinal. seperti ulcus pada collitis. Obat-obatan ini melunakkan feses. Penyakit-penyakit tertentu termasuk diare kronik. sehingga meningkatkan reabsorbsi cairan dari chime 3. Kurang aktifitas. berbaring lama. Obatobatan tertentu seperti dicyclomine hydrochloride (Bentyl). Beberapa menyebabkan diare. menekan aktivitas peristaltik dan kadang-kadang digunakan untuk mengobati diare 6. yang lain seperti dosis yang besar dari tranquilizer tertentu dan diikuti dengan prosedur pemberian morphin dan codein. Diketahui juga bahwa beberapa orang yagn cemas atau marah dapat meningkatkan aktivitas peristaltik dan frekuensi diare. yang berdampak pada konstipasi 4. Laxative adalah obat yang merangsang aktivitas usus dan memudahkan eliminasi feses. bisa jadi mempunyai komponen psikologi. Usia 25 . menyebabkan konstipasi. Obat-obatan Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat berpengeruh terhadap eliminasi yang normal.

Impaction. dan menurunnya tonus dari otot-otot perut yagn juga menurunkan tekanan selama proses pengosongan lambung. sehingga tumpukan feses yang keras di rektum tidak bisa dikeluarkan. Impaction berat. Masalah eliminasi fekal yang sering ditemukan yaitu: 1. dan mengejan. sehingga banyak air diserap. Di antaranya adalah atony (berkurangnya tonus otot yang normal) dari otototot polos colon yang dapat berakibat pada melambatnya peristaltik dan mengerasnya (mengering) feses.Umur tidak hanya mempengaruhi karakteristik feses. bukan penyakit yaitu menurunnya frekuensi BAB disertai dengan pengeluaran feses yang sulit. merupakan akibat konstipasi yang tidak teratur. BAB yang keras dapat menyebabkan nyeri rektum. merupakan BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk. Orang dewasajuga mengalami perubahan pengalaman yang dapat mempengaruhi proses pengosongan lambung. merupakan gejala. Kondisi ini terjadi karena feses berada di intestinal lebih lama. Diare. Anak-anak tidak mampu mengontrol eliminasinya sampai sistem neuromuskular berkembang. Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan meningkatkan sekresi mukosa. tumpukan feses sampai pada kolon sigmoid. tapi juga pengontrolannya. 2. Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat. biasanya antara umur 2 ± 3 tahun. 3. Akibatnya feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan menahan BAB. 26 . keras. Konstipasi. Beberapa orang dewasa juga mengalami penurunan kontrol terhadap muskulus spinkter ani yang dapat berdampak pada proses defekasi.

gagal jantung dan penyakit hati menahun. 2. Hal ini terjadi pada defekasi yang keras. Inkontinensia fecal. BAB encer dan jumlahnya banyak. 5. yaitu menumpuknya gas pada lumen intestinal. Hal-hal yang menyebabkan peningkatan gas di usus adalah pemecahan makanan oleh bakteri yang menghasilkan gas metan. Perdarahan dapat terjadi dengan mudah jika dinding pembuluh darah teregang. dinding usus meregang dan distended. Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus). penyakit neuromuskuler. Akibatnya pasien mengalami konstipasi.8 Asuhan Keperawatan 1.4. maka pasien merasa panas dan gatal. Hemoroid. sedangkan orang dewasa adalah 2 ± 3 kali per hari dengan jumlah rata-rata pembuangan per hari adalah 150 gr Keadaan feses : ‡ warna hitam atau merah 27 . Jika terjadi infla-masi dan pengerasan. karena saat BAB menimbulkan nyeri. Kebutuhan dasar pasien tergantung pada perawat. Umumnya disertai dengan gangguan fungsi spingter anal. trauma spinal cord dan tumor spingter anal eksternal. 6. kehamilan. yaitu dilatasi pembengkakan vena pada dinding rektum (bisa internal atau eksternal). merasa penuh. Kadang-kadang BAB dilupakan oleh pasien. yaitu suatu keadaan tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus. Flatulens. pembusukan di usus yang menghasilkan CO2. Pada situasi tertentu secara mental pasien sadar akan kebutuhan BAB tapi tidak sadar secara fisik. Pengkajian Frekwensi buang air besar pada bayi sebanyak 4 ± 6 kali sehari . nyeri dan kram.

Diare berhubungan dengan: y melabsorpsi atau inflamasi akibat penyakit infeksi atau gastritis. dll y y peningkatan peristaltic akibat peningkatan metabolism stress psikololgis c. Diagnosa a. dan CVA y y nyeri akibat hemoroid menurunya peristaltic akibat stress b. Inkontinensia usus berhubungan dengan: y gangguan sfingter rectal akibat cedera rectum atau tindakan pembedahan y y distensi rectum akiibat konstipasi kronis ketidak mampuan mengenal atau merespon proses defekasi akibat depresi atau kerusakan kognitif d. kelemahan pelvis. Perencanaan Tujuan : 28 . Kurangnya volume cairan berhubungan dengan: y pengluaran cairan yang berlebihan (diare) 3. kulkus.‡ berbau tidak sedap ‡ konsistensi cair ‡ bentuk kecil seperti pensil ‡ terdapat darah 2. Konstipasi berhubungan dengan: y defek persarafan. imobilitas akibat cedera akibat medulla spinalis.

‡ Mempertahankan asupan makanan dan minuman cukup ‡ Mempertahankan kebiasaan defikasi secara teratur ‡ Mempertahankan defikasi secara normal ‡ Mencegah gangguan integritas kulit Rencana tindakan : a. defikasi tanpa mengedan 29 . berpartisipasi dalam program latihan secara teratur . Pelaksanaan a. Kaji perubahan faktor yang mempengaruhi masalah eliminasi b. Menolong buang air besar dengan menggunakan pispot c. Kolaborasi dengan ahli gizi 5. Jelaskan mengenai eliminasi yang normal kepada pasien d. Memahami cara eliminasi yang normal b. Pertahankan asupan makanan dan minuman 4. Evaluasi Evaluasi terhadap kebutuhan eliminasi dapat dinilai dengan adanya kemampuan dalam : a. Mempertahankan defektasi secara normal yang ditunjukan dengan kemampuan pasien dalam mengontrol defektasi tanpa bantuan obat atau enema . Memberikan gliserin untuk merangsang peristaltic usus sehingga pasien dapat buang air besar d. Kurangi faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah seperti konstipasi akibat nyeri dan inkontenensia usus c. Mengeluarkan feses dengan jari e. Bantu defikasi secara manual e. Bantu latihan buang air besar f. Menyiapkan feses untuk bahan pemeriksaan b.

Mempertahankan asupan makanan dan minuman yang cukup dapat ditunjukan dengan adanya kemampuan dalam merencanakan pola makan . tidak ada inflamasi atau ekskoriasi . tidak terjadi bleeding . seperti makan dengan tinggi atau rendah serat (tergantung dari tendensi diare / konstipasi serta mampu minum 2000 ± 3000 ml) WOC Gangguan pada Sistem Gastrointestinal Infeksi bakteri malabsordsi makanan ( basi / beracun ) Saluran cerna tekanan osmotik usus saluran cerna multiplikasi dalam usus pengeluaran H2O dan elektrolit ke rongga usus saluran cerna mengeluarkan anti bodi malabsorpsi toksi aregenik MK : gangguan pemenuhan hipersekresi isi ronnga usus nutrisi kontraksi rektum 30 . keringnya kulit sekitar stoma dan lain-lain e. Mempertahankan rasa nyaman yang ditunjukan dengan kenyamanan dalam kemampuan defikasi . Mempertahankan integritas kulit yang ditunjukan dengan keringnya area perianal . dll) f. tidak terjadi inflamasi dan lain-lain d. seperti rentang gerak atau aktifitas lain (jalan .c. berdiri . Melakukan latihan secara teratur .

kebiasaan pribadi. Pembedahan dan Anestesia. asupan Cairan. Posisi Selama Defekasi. 1. Obat-obatan.2 Saran 31 . diet. protein.meningkat DIARE Anoreksia Kehilangan air Dan elektrolit (dehidrasi ) kekurangan intake nutrisi ( KH. Nyeri. faktor Psikologis. Dengan kita mengetahui faktor-faktor tersebut akan mempermudah saat kita melakukan asuhan keperawatan. Kehamilan. Pemeriksaan Diagnostik. aktivitas Fisik. dll ) Gangguan keseimbangan asam basa hipoglikimia malaise MK : kekurangan volume cairan BAB III PENUTUP 1.1 Kesimpulan Eliminasi fekal adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh berupa bowel (feses). Faktor yang mempengaruhi eleminasi fecal yaitu. usia.

Jakarta : EGC http://www.Kita sebagai calon harus dapat memahami proses pencernaan secar menyelutuh dan baik.com/sistem-gastrointestinal.multiply.com/journal/item/6/anatomi_fisiologi_sistem_gastrointestina l) http://gambar. 3. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan.html www.mitrasites. DAFTAR PUSTAKA Syaifuddin.medicastore. 2006. Ed. sehingga kita dapat menjalankan tugas dengan baik apabila kita merawat klien yang mengalami gangguan pencernaan.com/doc/49327646/Fisiologi-Sistem-Gastrointestinal (http://kyoto82.scribd.com 32 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->