Makalah Trauma Dada BAB I PENDAHULUAN 1.

Latar Belakang Semakin berkembangnya jaman maka semakin maju pula pola pikir manusia misalnya, manusia dapat menciptakan tranportasi yang sangat dibutuhkan oleh manusia dalam melakukan aktifitas sehari-hari, tapi selain segi positif timbul pula segi negatif misalnya dengan alat tranportasi yang digunakan untuk beraktifitas dapat menyebabkan kecelakaan,salah satu contohnya adalah fraktur pada tulang dan dapat pula terjadi trauma pada dada. Trauma dada adalah abnormalitas rangka dada yang disebabkan oleh benturan pada dinding dada yang mengenai tulang rangka dada, pleura paru-paru, diafragma ataupun isi mediastinal baik oleh benda tajam maupun tumpul yang dapat menyebabkan gangguan system pernafasan Gejala yang dapat dirasakan oleh pasien trauma dada yaitu: Nyeri pada tempat trauma, bertambah pada saat inspirasi, pembengkakan lokal dan krepitasi yang sangat palpasi, pasien menahan dadanya dan bernafas pendek, dyspnea, takipnea, takikardi, tekanan darah menurun, gelisah dan agitas, kemungkinan cyanosis, batuk mengeluarkan sputum bercak darah, hypertympani pada perkusi di atas daerah yang sakit dan ada jejas pada thorak. Peran perawat pada kasus ini adalah mampu membantu proses kesembuhan diri pasien, baik fisik maupun psikis, memberi motivasi dan menjaga pasien. Selain itu perawat harus dapat menentukan asuhan keperawatan yang tepat dalam menangani pasien dengan penyakit trauma dada. Dari data diatas penulis tertarik mengangkat kasustrauma dada, karena peran dan fungsi perawat dalam merawat pasien trauma dada sangat penting, selain trauma dada itu berbahaya, bahkan dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf dan organ serta terganggunya pada sistem sirkulasi dalam darah. Maka dari itu peran perawat dalam kasus trauma dada ini adalah membantu proses kesembuhan diri pasien, baik fisik maupun psikis, mengayomi, memberi motivasi dan menjaga pasien.

2. Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Mahasiswa dapat melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan Trauma dada. Mengetahui konsep medis dari Penyakit Trauma dada 1.2.2 Tujuan Khusus Secara khusus '' Konsep Keperawatan Klien denganTrauma dada '', ini disusun supaya : a. Mahasiswa dapat mengetahui tentang pengertian, penyebab, klasifikasi, tanda dan gejala, patofisiologi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan,serta proses keperawatan yang akan dijalankan. b. Mahasiswa dapat mengidentifikasi asuhan keperawatan pada klien dengan Trauma dada. c. Mahasiswa dapat mengidentifikasi pendidikan kesehatan yang diperlukan pada pasien yang dirawat dengan Trauma dada.

d.Agar makalah ini dapat menjadi bahan ajar bagi mahasiswa lainnya tentang berbagai hal yang berhubungan dengan Trauma dada. 1.3 Sistematika Penulisan Bab I : Pendahuluan Bab ini meliputi latar belakang, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan Bab II : Konsep Dasar Bab ini menjelaskan tentang teori-teori yang berkaitan dengan Trauma dada Bab III : Kasus Bab ini menjelaskan tentang kasus pada klien Trauma dada Bab IV : Pembahasan Bab ini membandingkan antara teori dengan kasus Bab V : Penutup Bab ini meliputi kesimpulan dan saran

Konsep Dasar 1. masuk ke hilus pulmonalis kiri dan .5 cm masuk ke hilus pulmonalis paru-paru kanan dan mempercabangkan bronkus lobularis superior.5 cm dan dilapisi oleh otot polos. Cidera pada dada secara luas diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu. Panjangnya sekitar 2. Pada masuk ke hilus. hemotoraks. bronkus prinsipalis dekstra bercabang tiga menjadi bronkus lobularis medius. Pukulan benda-benda tumpul pada dada atau akibat terjatuh juga dapat menyebabkan cidera dada nonpenetrasi. Luka penetrasi umumnya diakibatkan oleh tusukan senjata tajam atau luka akibat tembakan. Penyebab utama cidera pada dada adalah kecelakaan kendaraan bermotor missal. cidera trakeobronklial. Bagian dalam trakea terdapat sel-sel bersilia untuk mengeluarkan benda asing yang masuk. diafragma ataupun isi mediastinal baik oleh benda tajam maupun tumpul yang dapat menyebabkan gangguan system pernafasan. yang dilapisi oleh sejenis sel yang sama dengan trakea yang berjalan ke bawah menuju tampuk paru-paru. panjangnya sekitar 5 cm berjalan ke bawah aorta dan di depan esophagus. Bronkus (cabang tenggorok) merupakan lanjutan trakea yang terdapat ketinggian vertebrata torakalis ke-4 dan ke-5. Trauma dada adalah masalah utama yang paling sering terjadi pada bagian emergency. Cidera tumpul (missal.BAB II KONSEP DASAR 1. rupture diagfragma. berdiameter 2. 2. cidera penetrasi dan tumpul.Trakea mempunyai dinding fibroelastis yang panjang nya sekitar 13 cm. Bagian dalam trakea terdapat septum yang disebut karina yang terletak agak ke kiri dari bidang median. pada daerah servikal agak sempit. pneumotoraks tertutup. pleura paru-paru. fraktur rusuk) merusak struktur di dalam rongga dada ntanpa mengganggu integritas dinding dada. sepeda motor atau mobil. Cidera pada dada dapat mengenai tulang-tulang sangkar dada. Lebih sempit dan lebih panjang serta lebih horizontal disbanding bronkus kanan. Bronkus memiliki struktur yang sama dengan trakea. Bronkus prinsipalis dekstra. cidera trakeobronklial. Pengertian Trauma dada adalah abnormalitas rangka dada yang disebabkan oleh benturan pada dinding dada yang mengenai tulang rangka dada. ruptur diagfragma) menggangu intergritas dinding dada dan mengakibatkan perubahan dalam tekanan intratoraks. pneumotoraks terbukaa. Bronkus prinsipalis sinistra. Trakea terletak di antara vertebrata servikalis ke-6 sampai ke tepi bawah kartilago. pneumotoraks tensi. b. Anatomi dan fisiologi Trakea (batang tenggorok) adalah tabung berbentuk pita seperti huruf C yang di bentuk oleh tulang-tulang rawan yang di sempurnakan oleh selaput. bronkus lobularis superior. kontusio pulmonal. fail chest. bagian pertengahan agak sedikit melebar dan mengecil lagi dekat percabangan bronkus. cidera mediastinal. pleura dan paru-paru. bronkus lobularis inferior. Cidera penetrasi (missal. Diameter trakea tidak sama pada seluruh bagian. Bronkus terbagi menjadi dua cabang : a. diagfragma atau organ-organ dalam mediastinum.

Sinus pleura :Tidak seluruh kantong yang dibentuk oleh lapisan pleura diisi secara sempurna oleh paru-paru. Sedangkan insiden penderita trauma toraks di Amerika Serikat diperkirakan 12 penderita per seribu populasi per hari dan kematian yang disebabkan oleh trauma toraks sebesar 20-25% dan hanya 10-15% penderita trauma tumpul toraks yang memerlukan tindakan operasi. bronkus lobularis superior. Kavum pleura dibentuk oleh lapisan pleura parietalis saja. parietalis dan viseralis.Kedua fisura ini membagi paru-paru kanan menjadi tiga lobus. lobus tengah dan lobus bawah. bagian paru-paru memasuki sinus dan pada waktu ekspirasi ditarik kembali dari rongga tersebut.bercabang menjadi dua. sifatnya ringan dan terapung di air. jadi sebagian besar hanya memerlukan tindakan sederhana untuk . lobius atas. lapisan ini berhubungan dengan fasia endotorakika dan merupakan permukaan dalam. a. bagian paru-paru yang terletak di belakang dan di bawah fisura. Kedua paru sangat lunak. 3. Pleura adalah suatu membaran serosa yang halus membentuk suatu kantong tempat paruparu berada yang jumlahnya ada dua buah dan masing-masing tidak berhubungan. bronkus yang terakhir membangkitkan pernapasan dan melepaskan udara ke permukaan pernapasan di paru-paru. Masing-masing paru memiliki apeks yang tumpul yang menjorok ke atas mencapai bagian atas iga pertama. yaitu bronkus lobularis inferior. Pernapasan bronkiolus membuka dengan cara memperluas ruangan pembuluh alveoli yang merupakan tempat terjadinya pertukaran udara antara oksigen dengan karbondioksida. yaitu : lobus superior. a) lapisan permukaan disebut permukaan parietalis. baik kearah bawah maupun ke arah depan.Dari tiap-tiap bronkiolus masuk ke dalam lobus dan bercabang lebih banyakdengan diameter kira-kira 0. Pleura mempunyai dua lapisan. rongga ini disebut sinus pleura. dari dinding toraks.000 kasus kematian akibat trauma per tahun yang disebabkan oleh trauma toraks di Amerika. lapisan ini langsung berhubungan dengan paru-paru serta memasuki fisura dan memisahkan lobus-lobus dari paru-paru.5 mm. b) lapisan dalam disebut pleura viseralis. Paru-paru kanan : Pada paru-paru kanan terdapat dua fisura. Epidemologi Trauma adalah penyebab kematian terbanyak pada dekade 3 kehidupan diseluruh kota besar didunia dan diperkirakan 16. yaitu : fisura oblique (interlobularis primer) dan fisura transversal (interlobularis sekunder). Pada waktu inspirasi. Fisura ini membagi paru-paru kiri atas menjadi dua lobus. Paru-paru adalah salah satu organ system pernapasan yang berada di dalam kantong yang di bentuk oleh pleura parietalis dan viseralis. bagian yang terletak di atas dan di depan fisura dan lobus inferior. Paru-paru kiri : Pada paru-paru kiri terdapat satu fisura yaitu fisura obliges. elastic dan berada dalam rongga torak. b.

7%) dari pada yang tidak disertai trauma toraks (12. Etiologi Tension pneumothorak-trauma dada pada selang dada penggunaan therapy ventilasi mekanik yang berlebihan penggunaan balutan tekan pada luka dada tanpa pelonggaran balutan.menolong korban dari ancaman kematian. sedangkan sisanya sebanyak 3. Pneumothorak terbuka akibat kekerasan (tikaman atau luka tembak) Fraktur tulang iga Tindakan medis (operasi) Pukulan daerah torak 1. Penyebab terbanyak dari trauma tumpul toraks masih didominasi oleh korban kecelakaan lalu lintas (70%).8%). Pneumothorak tertutup-tusukan pada paru oleh patahan tulang iga. 2. 3.7% adalah trauma tajam. 1. ruptur oleh vesikel flaksid yang seterjadi sebagai sequele dari PPOM. Lebih sering terjadi pada orang dewasa dibanding anak – anak. 6. Manifestasi Klinis • • • • • • • • • • • 1. 4. 6. Tusukan paru dengan prosedur invasif. Kontusio paru-cedera tumpul dada akibat kecelakaan kendaraan atau tertimpa benda berat. • 1. 4. Sedangkan mortalitas pada setiap trauma yang disertai dengan trauma toraks lebih tinggi (15. .3% dari seluruh trauma toraks. Canadian Study dalam laporan penelitiannya selama 5 tahun pada "Urban Trauma Unit" menyatakan bahwa insiden trauma tumpul toraks sebanyak 96. 5. Klasifikasi Trauma Tembus Pneumothoraks terbuka Hemothoraks Trauma tracheobronkial Contusio Paru Ruptur diafragma Trauma Mediastinal Trauma Tumpul Tension pneumothoraks Trauma tracheobronkhial Flail Chest Ruptur diafragma Trauma mediastinal Fraktur kosta 1. 2. 3. 5.

• Dyspnea. • Ada jejas pada thorak • Peningkatan tekanan vena sentral yang ditunjukkan oleh distensi vena leher • Bunyi muffle pada jantung • Perfusi jaringan tidak adekuat • Pulsus paradoksus ( tekanan darah sistolik turun dan berfluktuasi dengan pernapasan ) dapat terjadi dini pada tamponade jantung. • Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek. Adanya abnormalitas gelombang EKG yang persisten. Hemoperikardium. Pemeriksaan Diagnostik • Anamnesa dan pemeriksaan fisik Anamnesa yang terpenting adalah mengetahui mekanisme dan pola dari trauma. • Pemeriksaan foto toraks Pemeriksaan ini masih tetap mempunyai nilai diagnostik pada pasien dengan trauma toraks. Lebih dari 90% kelainan serius trauma toraks dapat terdeteksi hanya dari pemeriksaan foto toraks. sternum dan sterno clavikular dislokasi. seperti kontusio jantung pada trauma . cedera pada esophagus dan aspirasi. bertambah pada saat inspirasi. kerusakan dari kendaraan yang ditumpangi. seperti jatuh dari ketinggian. 1. • Pembengkakan lokal dan krepitasi yang sangat palpasi. takipnea • Takikardi • Tekanan darah menurun. • Hypertympani pada perkusi di atas daerah yang sakit. Pemeriksaan ini bila dilakukan oleh seseorang yang ahli. gangguan konduksi. Pemeriksaan klinis harus selalu dihubungkan dengan hasil pemeriksaan foto toraks. kecelakaan lalu lintas. kepekaannya meliputi 90% dan spesifitasnya hampir 96%. • Batuk mengeluarkan sputum bercak darah. kerusakan stir mobil /air bag dan lain lain.Nyeri pada tempat trauma. Adanya pelebaran mediastinum pada pemeriksaan toraks foto dapat dipertegas dengan pemeriksaan ini sebelum dilakukan Aortografi • Ekhokardiografi Transtorasik dan transesofagus sangat membantu dalam menegakkan diagnose adanya kelainan pada jantung dan esophagus. • Elektrokardiografi Sangat membantu dalam menentukan adanya komplikasi yang terjadi akibat trauma tumpul toraks. • Gelisah dan agitasi • Kemungkinan cyanosis. Adanya retro sternal hematoma serta cedera pada vertebra torakalis dapat diketahui dari pemeriksaan ini. • CT Scan Sangat membantu dalam membuat diagnose pada trauma tumpul toraks. seperti fraktur kosta. tachiaritmia semuanya dapat menunjukkan kemungkinan adanya • . adanya cedera pada dinding jantung ataupun sekat serta katub jantung dapat diketahui segera.

9. udara dari rongga pleura dan rongga thorak b. Hati hati. Efusi pleura e. Mengembangkan kembali paru yang kolaps d. rongga thorax. Pamasangan Water Seal Drainage (WSD). Operatif/invasif a. Apabila belum jelas kuman penyebabnya. Hemothoraks c. Emfiema • Tujuan a. Angiografi Gold Standard’ untuk pemeriksaan aorta torakalis dengan dugaan adanya cedera aorta pada trauma tumpul toraks. Mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura c. hipotensi gangguan EKG menyerupai keadaan seperti kontusi jantung. Thorakotomy d.pus) dari rongga pleura. Pneumothoraks b. maka penderita dapat diberi “broad spectrum antibiotic”. d. dan mediastinum dengan menggunakan pipa penghubung. Mengeluarkan cairan atau darah. WSD merupakan tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan udara. misalnya Ampisillin dengan dosis 250 mg 4 x sehari. gangguan elektrolit. Mencegah refluks drainage kembali ke dalam rongga dada • Tempat Pemasangan WSD • . sedangkan keadaan penyakit gawat. Pemasangan plak/plester c. Penatalaksanaan 1. Fisiotherapy 2.kontusi jantung. Indikasi 1. Konservatif a. Jika perlu antibiotika Antibiotika yang digunakan disesuaikan dengan tes kepekaan dan kultur.Pemberian analgetik • b. keadaan tertentu seperti hipoksia. cairan (darah.

1 botol mengumpulkan cairan drainage dan botol ke-2 botol water seal • Botol 1 dihubungkan dengan selang drainage yang awalnya kosong dan hampa udara. pus) dari rongga pleura • Jenis-jenis WSD a. Bagian basal • postero lateral interkosta ke 8-9 • fungsi : untuk mengeluarkan cairan (darah. WSD dengan sistem satu botol • Sistem yang paling sederhana dan sering digunakan pada pasien simple pneumothoraks • Terdiri dari botol dengan penutup segel yang mempunyai 2 lubang selang yaitu 1 untuk ventilasi dan 1 lagi masuk ke dalam botol • Air steril dimasukan ke dalam botol sampai ujung selang terendam 2cm untuk mencegah masuknya udara ke dalam tabung yang menyebabkan kolaps paru • Selang untuk ventilasi dalam botol dibiarkan terbuka untuk memfasilitasi udara dari rongga pleura keluar • Drainage tergantung dari mekanisme pernafasan dan gravitasi • Undulasi pada selang cairan mengikuti irama pernafasan :  Inspirasi akan meningkat • Ekpirasi menurun b. ditambah 1 botol untuk mengontrol jumlah hisapan yang digunakan • Paling aman untuk mengatur jumlah hisapan • Yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ke-3. selang pendek pada botol 1 dihubungkan dengan selang di botol 2 yang berisi water seal • Cairan drainase dari rongga pleura masuk ke botol 1 dan udara dari rongga pleura masuk ke water seal botol 2 • Prinsip kerjasama dengan sistem 1 botol yaitu udara dan cairan mengalir dari rongga pleura ke botol WSD dan udara dipompakan keluar melalui selang masuk ke WSD • Biasanya digunakan untuk mengatasi hemothoraks. efusi peural c. WSD dengan sistem 3 botol • Sama dengan sistem 2 botol. Jumlah hisapan tergantung pada kedalaman ujung selang yang tertanam dalam air botol WSD • Drainage tergantung gravitasi dan jumlah hisapan yang ditambahkan • Botol ke-3 mempunyai 3 selang : . hemopneumothoraks. WSD dengan sistem 2 botol • Digunakan 2 botol . Bagian apex paru (apical) • anterolateral interkosta ke 1-2 • fungsi : untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura b.a.

9%. distraksi • Latihan rentang sendi (ROM) pada sendi bahu sisi yang terkena c. berbagai kondisi dapat terjadi antara lain : • Motor suction tidak berjalan • Slang tersumbat • Slang terlipat • Paru-paru telah mengembang Oleh karena itu. duk bolong. amati tanda-tanda kesulitan bernafas • Cek ruang control suction untuk mengetahui jumlah cairan yang keluar. masker d. set balutan. Persiapan pasien • Siapkan pasien • Memberi penjelasan kepada pasien mencakup : • Tujuan tindakan • Posisi tubuh saat tindakan dan selama terpasang WSD. emfiema • Prosedur pemasangan WSD a. Tindakan setelah prosedur • Perhatikan undulasi pada sleng WSD • Bila undulasi tidak ada. sarung tangan . kassa. spuit 10cc dan 50cc. Perawat membantu agar prosedur dapat dilaksanakan dengan baik. tension pneumothoraks. edema paru. atrial aritmia • Komplikasi sekunder : infeksi.Posisi klien dapat duduk atau berbaring • Upaya-upaya untuk mengurangi rangsangan nyeri seperti nafas dalam. konektor.Tube pendek diatas batas air dihubungkan dengan tube pada botol ke dua • Tube pendek lain dihubungkan dengan suction • Tube di tengah yang panjang sampai di batas permukaan air dan terbuka ke atmosfer • Komplikasi Pemasangan WSD • Komplikasi primer : perdarahan. dan perawat member dukungan moril pada pasien. cairan antiseptic. NACl 0. trokart. obat anestesi (lidokain. • . TTV. Persiapan alat • Sistem drainage tertutup • Motor suction • Slang penghubung steril • Botol berwarna putih/bening dengan kapasitas 2 liter. xylokain). e. segera periksa kondisi sistem drainage. yakinkan apa yang menjadi penyebab. benang catgut dan jarumnya. status pernafasan b. Pengkajian • Memeriksa kembali instruksi dokter • Mencek inform consent • Mengkaji status pasien. pisau jaringan/silet. Pelaksanaan Prosedur ini dilakukan oleh dokter. gas.

• Observasi dengan ketat tanda-tanda kesulitan bernafas. bekuan darah. • Anjurkan pasien untuk memegang slang apabila akan merubah posisi. Jika selang dada mengeluarkan cairan. tetapkan waktu bahwa drainase dimulai pada plester perekat botol drainase pada saat persiaan botol atau permukaan tertulis sistem komersial yang sekali pakai • . • Sistem drainase dada. • Yakinkan bahwa selang tidak kaku dan menggantung di atas WSD. • Tipe & jumlah drainase cairan. Posisikan klien : • Semi fowler sampai fowler tinggi untuk mengeluarkan udara (pneumothorak) • Posisi fowler untuk mengeluarkan cairan (hemothorak) e. TTV & warna kulit. Catat warna & jumlah drainase. lekukan yang menggantung. sianosis. Rekatkan dengan plester g. • Ganti botol WSD setiap 3 hari dan bila sudah penuh. apakah ada perdarahan. • Observasi selang untuk melihat adanya lekukan. bunyi nafas di daerah paru yg terkena & TTV stabil b. Observasi : • Pembalut selang dada. • Botol WSD harus selalu lebih rendah dari tubuh. • Beri tanda pada batas cairan setiap hari. catat tanggal dan waktu. • Anjurkan pasien untuk menarik nafas dalam dan bimbing cara batuk efektif . Catat jumlah cairan yang dibuang. Sesuaikan selang supaya menggantung pada garis lurus dari puncak matras sampai ruang drainase. • Perhatikan balutan pada insisi.Cek batas cairan dari botol WSD. • Catat jumlah cairan yg keluar dari botol WSD tiap jam untuk mengetahui jumlah cairan yg keluar. Kaji adanya distress pernafasan & nyeri dada. • Observasi pernafasan. • Anjurkan pasien memilih posisi yg nyaman dengan memperhatikan jangan sampai slang terlipat. Pertahankan hubungan selang antara dada dan selang drainase utuh dan menyatu f. • Gelembung udara dalam ruang pengontrol penghisapan ketika penghisap digunakan d. Gulung selang yang berlebih pada matras di sebelah klien. • Gelembung udara di botol air bersegel atau ruang. • Lakukan pemijatan pada slang untuk melancarkan aliran. pertahankan dan tentukan batas yang telah ditetapkan serta pastikan ujung pipa berada 2cm di bawah air. Observasi adanya distress pernafasan c. emphysema subkutan. • Segel air untuk melihat fluktuasi inspirasi dan ekspirasi klien . nadi setiap 15 menit pada 1 jam pertama. • Latih dan anjurkan klien untuk secara rutin 2-3 kali sehari melakukan latihan gerak pada persendian bahu daerah pemasangan WSD • Perawatan pada klien yang menggunakan WSD a.

Ganti botol WSD dan lepas kembali klem d. Operasi (bedah thoraxis) f. i. Cedera Vaskuler . Amati undulasi dalam slang WSD • Pencabutan selang WSD Indikasi pengangkatan WSD adalah bila : a. didasarkan pada kriteria sebagai berikut: 1) Gejala contusio paru 2) Syok atau cedera kepala berat. Pemasangan drain. Siapkan set yang baru Botol berisi cairan aquadest ditambah desinfektan b. bila tension Pneumothorak mengancam. Gunakan ventilasi mekanis dengan tekanan ekspirai akhir positif. Urut selang jika ada obstruksi i. Paru-paru sudah reekspansi yang ditandai dengan : o Tidak ada undulasi o Cairan yang keluar tidak ada o Tidak ada gelembung udara yang keluar o Kesulitan bernafas tidak ada o Dari rontgen foto tidak ada cairan atau udara o Dari pemeriksaan tidak ada cairan atau udara b. Aspirasi (thoracosintesis). Pemasangan alat bantu nafas. fluktuasi. Tanda-tanda khas: penmbengkakan kaki. drainase. Tindakan untuk menstabilkan dada: 1) Miring pasien pada daerah yang terkena. e. 2) Gunakan bantal pasien pada dada yang terkena g. paru. kenyamanan klien • Cara mengganti botol WSD a. d. krepitasi. 5) Riwayat penyakit paru-paru kronis. Selang WSD di klem dulu c. Slang WSD tersumbat dan tidak dapat diatasi dengan spooling atau pengurutan pada slang b. 4) Umur diatas 65 tahun. h. Komplikasi a.h. 10. Pasang selang dada dihubungkan dengan WSD. Surgical Emfisema Subcutis Kerusakan pada paru dan pleura oleh ujung patahan iga yang tajam memungkinkan keluarnya udara ke dalam cavitas pleura dari jaringan dinding dada. TTV klien. c. Oksigen tambahan. Catat kepatenan selang. 3) Fraktur delapan atau lebih tulang iga. Cuci tangan j. b.

darah dalam kavum pleura. tanggal pengkajian. Bila kejadian mendadak maka pasien akan syok. Hemopneumothorak Hemopneumothotak yaitu penimbunan udara dan darah pada kavum pleura. umur. nomor register. Keluhan utama . atau tekanan intratoraks yang meningkat. g. Identitas 1) Identitas klien Meliputi nama. pekerjaan. hubungan dengan klien dan alamat. 2) Identitas penanggung jawab Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan dan jadi penanggung jawab klien selama perawatan.1 Pengkajian a. Hipoksemia Akibat gangguan jalan napas. kontusio jantung.Di antaranya adalah cedera pada perikardium dapat membuat kantong tertutup sehingga menyulitkan jantung untuk mengembang dan menampung darah vena yang kembali. Plail Chest Pada trauma yang hebat dapat terjadi multiple fraktur iga dan bagian tersebut. dan pneumotoraks. 4) Dapat terjadi pyrexia (peningkatan suhu badan di atas normal). pendidikan. kolaps paru. jenis kelamin. Hipovolemia akibat kehilangan cairan massif dari pembuluh besar. atau hemotoraks.Riwayat Kesehatan 1. diagnosa medik. h. cairan. Pneumothorak Adanya udara dalam kavum pleura. data yang terkumpul meliputi nama. Pembulu vena leher akan mengembung dan denyut nadi cepat serta lemah yang akhirnya membawa kematian akibat penekanan pada jantung. e. Pleura Effusion Adanya udara. cedera pada parenkim paru. sangkar iga. Akibat adanya cairan udara dan darah yang berlebihan dalam rongga pleura maka terjadi tanda – tanda : 1) Dypsnea sewaktu bergerak/ kalau efusinya luas pada waktu istirahatpun bisa terjadi dypsnea. i. c. 2. ruptur jantung. Pada saat insprirasi bagian tersebut masuk sedangkan saat ekspirasi keluar. pekerjaan. Begitu udara masuk ke dalam tapi keluar lagi sehingga volume pneumothorak meningkat dan mendorong mediastinim menekan paru sisi lain d. 2) Sedikit nyeri pada dada ketika bernafas. ini menunjukan adanya paroxicqalmution (gerakan pernafasan yang berlawanan) f. tanggal masuk. Gagal jantung akibat tamponade jantung. suku/bangsa. pendidikan. alamat. semua data mengenai identitaas klien tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya. umur. b.2. dan otot pernapasan. sama dengan efusi pleura yaitu sesak nafas pada waktu bergerak atau istirahat tetapi nyeri dada lebih mencolok.2 Asuhan Keperawatan Pada Pasien Trauma Dada 2. agama. 3) Gerakan pada sisi yang sakit sedikit berkurang.

pemasukan oksigen tidak adekuat Tujuan • Setelah dilakukan tindakan keperawatan kerusakan pertukaran gas akan berkurang Kriteria Hasil 1.Merupakan keluhan yang paling utama yang dirasakan oleh klien saat pengkajian.2 Diagnosa Keperawatan • Gangguan pertukaran gas b. paliatif atau provokatif (P) yaitu focus utama keluhan klien. quality atau kualitas (Q) yaitu bagaimana nyeri/gatal dirasakan oleh klien. • Nyeri b. Ekspansi paru lebih penuh dan simetrik .2. c.d adanya trauma pada dada • Intoleransi aktifitas b. Kajian nutrisi metabolik a) Bising usus berkurang b) Mukosa mulut kering c) Kurang nafsu makan d) Kembung e) Haus 2.d penurunan ekspansi paru. 2. Safety (S) yaitu posisi yang bagaimana yang dapat mengurangi nyeri/gatal atau klien merasa nyaman dan Time (T) yaitu sejak kapan klien merasakan nyeri/gatal tersebut. Kajian aktivitas dan latihan a) Nyeri dada sampai abdomen b) Lemah c) Terpasang infus d) Sesak nafas ditandai dengan 24 x/menit d.d penurunan ekspansi paru.d tertahannya sekresi didalam paru-paru • Ansietas b.3 Rencana Keperawatan Diagnosa 1 • Gangguan pertukaran gas b. 3) Riwayat kesehatan yang lalu Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit sama atau pernah di riwayat sebelumnya. Warna kulit normal 2. Biasanya keluhan utama yang klien rasakan adalah nyeri pada dada dan gangguan bernafas 2) Riwayat kesehatan sekarang Merupakan pengembangan diri dari keluhan utama melalui metode PQRST.d kurang pengetahuan tentang kondisi yang dialaminya. regional (R) yaitu nyeri/gatal menjalar kemana. pemasukan oksigen tidak adekuat.2.d adanya fraktur • Resiko tinggi infeksi b. Frekuensi pernapasan 12-24 kali permenit 3.

Pengetahuan apa yang diharapkan dapatmengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. KOLABORASI 1. Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebgai akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia 4. Laporkan bila terjadi pembengkakan pada tubuh klien 2. yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas. Pertahankan perilaku tenang. yakinkan slang tidak terlipat. Untuk mengindentifikasi indikasiindikasi kearah kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru. dispnea atau perubahan tanda-tanda vital. 6. Ahli terapi pernafasan adalah spesialis pada modalitas teraupetik pernafasan KOLABORASI 1. 7. 5. terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negative yang diinginkan. 6. Pengembangan secara penuh dapat dicapai pada posisi tegak sebab gravitasi mengurangi tekanan abdomen pada diagfragma. Beri terapi diuretik sesuai pesan dari dokter . Obsservasi fungsi pernapasan. setiap 8 jam bila stabil • masukan dan haluaran setiap 8 jam • hasil gas darah arteri • laporan sinar x dada 2. Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal. bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam. 3. Rujuk ke ahli terapi pernapasan bila kongesti pulmonal terjadi 2. Alirkan akumulasi dranase bela perlu. 5. kondisi yang disebabkan oleh ekstravasasi kedalam jaringan subkutan ini dapat terjadi pada tension pneumothorax.Intervensi MANDIRI 1. 7. Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia. Pantau : • status pernafasan setiap 2 jam selama fase akut. Pertahankan selalu posisi semi fowler / fowler Rasional MANDIRI 1. Bila hasil ini terjadi dapat menunjukan terjadinya emfisema subkutan. 3. Posisi tak tepat. 4. catat frekuensi pernapasan. atau menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat drainage.

Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan dan mengenakan sarung tangan ketika kontak dengan cairan atau darah dari pasien. Suhu 37 C 3. 2. Konsul photo toraks. Tindakan isolasi. Kriteria Hasil 1. Tanda-tanda infeksi tidak terjadi 2. Pasien dengan trauma dada telah mengalami imunosupresi karena cedera KOLABORASI . Tidak adanya pus Intervensi MANDIRI 1. Untuk menentukan intervensi selanjutnya. Pantau 1. 7. 6. 3. resiko terhadap infeksi tidak terjadi. Lindungi individu yang mengalami defisit imun dari infeksi. Penampilan luka 7. 5. Teknik antiseptik. 2. Kaji terhadap prediktor instrumentasi selang dada. Pemberi pelayanan kesehatan merupakan sumber infeksi nosokomial yang paling umum. 5. Konsentrasi oksigen yang tinggi mempercepat penyerapan udara yang terperangkap dalam jaringan subkutan 4. Kurangi organisme yang masuk ke dalam individu. 6. Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya 4. Untuk mengidentifikasi tanda – tanda kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan. Lindungi individu yang mengalami defisit imun dari infeksi. Mempercepat proses penyembuhan 3. Suhu tubuh setiap 4 jam 2. Rasional MANDIRI 1. Pemberian oksigen sesuai petunjuk dokter 2. 4. 4. Kurangi kerentanan individu terhadap infeksi. . Mencegah terjadinya infeksi.3. Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan. 3. Diagnosa 2 • Resiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan gangguan lapisan kulit sekunder akibat pemasangan selang dada. Pengurangan mikro organisme yang dapat ditularkan melalui udara.

menyenangkan pada pasien. Antibiotok diberikan untuk mengatasi masaklah infeksi. Bebaring pada sisi yang sakit membuat 4. Untuk mengidentifikasi adanya nyeri. Membantu menentukan pilihan intervensi seberapa kuatnya nyeri.KOLABORASI 1. Pertahankan pembatasan aktifitas energi dan mengurangi rasa tidak nyaman sesuai anjuran. Observasi tanda-tanda vital. Hindarkan memiringkan badan tegangan pada sisi yang cidera pada sisi yang mengalami trauma ( kecuali jika ada flail chest ) 5. Pertahankan pada posisi semi paru lebih mudah dimana tekanan fowler atau fowler. 3. Berkurangnya permintaan analgetik Intervensi Rasional MANDIRI MANDIRI 1.Berikan tindakan karena ketegangan otot untuk mencegah komplikasi dari imobilisasi . Ekspansi dada penuh 3. Kaji adanya penyebab nyeri. Beri posisi yang nyaman dan 2. Obat – obat ini sering diberikan secara profilaktik untuk penjagaan terhadap infeksi. Adanya luka yang terbuka sampai kedalam tubuh merupakan luka terkontaminasi. Pembatasan aktifitas fisik menghemat 6. Diagnosa 3 • Nyeri b. 2.d trauma pada dada Tujuan • Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri yang dirasakan klien berkurang Kriteria hasil 1. Berikan antibiotik sesuai catatan dari dokter 2. 3. Ekspresi wajah rileks 2. abdominal pada diafragma diturunkan oleh tarikan gravitasi 6. 1. Tidak ada suara merintih 4. 4. minta dan memberikan dasar untuk perbandingan pasien untuk menetapkan pada dan evaluasi terhadap therapy. Posisi yang tegak memungkinkan ekspansi 5. Berikan imun globulin tetanus manusia sesuai pesanan jika riwayat imunisasi tidak lengkap. 1. 2. Imunisasi tetanus dianjurkan setiap sepuluh tahun. skala nyeri. Untuk menurunkan ketegangan otot.

merapikan diri. Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari yang tidak mampu dilakukan sendiri.KOLABORASI 1. Untuk meningkatkan efektifitas pengobatan Diagnosa 4 • Intoleransi aktifitas b. • Klien mampu melakukan perawatan diri secara bertahap. Pemberian analgesik KOLABORASI 1. 3. Intervensi MANDIRI MANDIRI 1. Pasang pagar/pengaman tempat tidur 4. 2. Mengurangi keteganganotot/kelelahan. 5. • Klien dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri. • Klien tidak lemah lagi.d adanya fraktur Tujuan • Setelah dilakukan tindakan keperawatan intoleransi aktifitas b. dapat membantu mengurangi nyeri. Anjurkan Pasien untuk istirahat yang cukup Rasional 5. . 1. mengurangi penggunaan energi berlebihan dan metobolisme tubuh sehingga dapat menambah kelemahan.d adanya fraktur dapat teratasi Kriteria hasil • Klien menunjukan usaha untuk melakukan perawatan diri secara bertahap. 3. Kebutuhan nutrisi terpenuhi seperti pada saat sebelum trauma. pemberian vitamin neurobion 1 amp/hari 2. spasme otot. Mencegah resiko cedera 4. Anjurkan pasien untuk untuk menggunakan teknik relaksasi KOLABORASI 1. spastisitas/kejang. Misalnya Mandi. Kaji penyebab ketidakmampuan pasien dalam memenuhi perawatan diri. berpakaian. Dengan mengetahui penyebab akan mempermudah dalam penanganan masalah dan penerapan intervensi.

Berikan kontrol nyari yang efektif 3. Ekspresi wajah rileks 3. gambaran pemeriksaan secara singkat. Tujuan • Setelah dilakukan tindakan keperawatan ansietas yang dialami klien dapat teratasi Kriteria hasil 1. Melaporkan perasaan berkurangnya semas dan gugup 2. Berikan informasi tentang : • Sifat kondisi ( setelah kondisinya stabil) • Tujuan pengobatan yang diprogramkan • Pemeriksaan diagnostik (tujuan. Mengidentifikasi rasa takut yang spesifik membantu meminimalkan perasaan belebihan terhadap suatu ancaman. Nyeri merupakn pencetus terjadinya ansietas 3. Bantu pasien untuk mengidentifikasi ketakutannya / kecemasannya. Untuk meningkatkan efektivitas pengobatan. Mengungkapkan pemahaman terhadap kondisinya Intervensi 1. Rasional 1. Interaksi di antara orang-orang membantu pasien untuk menemukan perasaan dari dalam diri sendiri. 2. 4. Mengetahui apa yang diharapkan dari tindakan medis dapat mempermudah penyesuaian pasien dan membantu menurunkan ansietas yang berhubungan dengan tindakan medis tersebut. Gunakan pendekatan psikotherapy interpersonal.d kurang pengetahuan tentang kondisi yang dialaminya. 4. daripada therapy penafsiran. .KOLABORASI 1. Diagnosa 5 • Ansietas b. dan persiapan yang diperlukan sebelum pemeriksaan) 2.

.

dipasang infus NaCl 0. Klien mengatakan merasa bersyukur bisa selamat dari kecelakaan. Saat itu ia tidak menggunakan sabuk keselamatan. Pernapasan 24 x/ mnt. posisi tidur semi Fowler’s. mengeluh nyeri saat bernapas. Dadanya membentur stir mobil. TD 120/ 90 mmHg. Oksigen 2 It/ menit.8 dengan hematopneumothoraks kanan. mobilnya menabrak truk yang sedang berhenti. . nadi 88 x/ mnt. Dibawa ambulance ke IGD. menggunakan sistem 3 botol. belum boleh turun dari tempat tidur. Tampak fraktur iga ke 6. Pada auskultasi dada kanan lebih redup dari dada kiri. lebam lebih hitam diarea kanan. Saat ini klien terpasang WSD. mengeluh sesak. Aktifitas dibantu sebagian besar di tempat tidur. Kemudian klien diberi Oksigen 3 It/ mnt. infus.BAB III KASUS Bapak Darma. bubling dan undulasi positif pada botol WSD. tampak laserasi dan lebam pada dada.9 % 6 jam/ kolf. Diputuskan pemasangan Water Seal Drainage. dilanjutkan dengan foto rontgent AP lateral. pergerakan dada kanan tertinggal dari kiri sehingga gerakan dada tidak simetris. keluhan nyeri saat bernapas dan diaporesis. 33 tahun mengalami kecelakaan.

7. 8. Pada auskultasi dada kanan lebih redup dari dada kiri. Oksigen 2 It/ menit 9. Klien diberi Oksigen 3 It/ mnt 5. Posisi tidur semi Fowler’s. Analisa data Nama : Tn. 2.Data subjektif : 1. 3. Tampak laserasi dan lebam pada dada. Dilakukan foto rontgent AP lateral dengan kesan tampak fraktur iga ke 6-8 dengan Masalah keperawatan Gangguan pertukaran gas Penurunan ekspa tidak adekuat. 11. 2. 1. lebam lebih hitam diarea kanan. Data objektif : 1. 4. belum boleh turun dari tempat tidur. Klien terpasang Water Seal Drainage. Pergerakan dada kanan tertinggal dari kiri sehingga gerakan dada tidak simetris. 5. Klien mengatakan bahwa saat kecelakaan dadanya membentur stir mobil. Klien mengatakan bahwa ia mengeluh sesak 4. Klien dipasang infus NaCl 0. 3. Cm : No 1 Data subjektif dan data objektif DS : 1. menggunakan sistem 3 botol. TD 120/ 90 mmHg. Klien mengatakan merasa ia bersyukur bisa selamat dari kecelakaan. Dilakukan foto rontgent AP lateral dengan kesan tampak fraktur iga ke 6. infus. Saat ini klien terpasang WSD. nadi 88 x/ mnt. Klien diberi Oksigen 3 It/ mnt 4. 10.9 % 6 jam/ kolf 6.Darma Diagnosa Medis : Umur : 33 tahun No. Klien mengatakan bahwa saat kecelakaan ia tidak menggunakan sabuk keselamatan. Bubling dan undulasi positif pada botol WSD. 3. . Klien mengatakan bahwa ia mengeluh nyeri saat bernapas dan diaporesis. TTV: Pernapasan 24 x/ mnt. Aktifitas dibantu sebagian besar di tempat tidur. 2.8 dengan hematopneumothoraks kanan. 12. Klien mengatakan bahwa ia mengeluh sesak DO : 1. Pada auskultasi dada kanan lebih redup dari dada kiri. Pergerakan dada kanan tertinggal dari kiri sehingga gerakan dada tidak simetris.

Dispnea 5. Granulasi (+) 7. 2. Klien mengatakan bahwa saat kecelakaan ia tidak Nyeri Adanya fraktur i . TTV: Pernapasan 24 x/ mnt. Suhu : 380C 2. 5. AGD (Analisa Gas Darah) : Peningkatan PC02 : 55 mmHg SaO2 : 80 % 3. TD 120/ 90 mmHg. Tanda-tanda infeksi : • Rubor (+) • Dolor (+) • Kalor (+) • Tumor (+) • Fungtio Laesa (-) 3. Klien terlihat bernafas dengan mulut + retraksi dinding : suprastemal 6. Hasil lab • Leukosit : 11. Luka bersih 4. Data tambahan : 1.000 . Klien terpasang Water Seal Drainage. Aritmia atau distritmia 2 DS : DO : 1. Sianosis 7. Data tambahan : 1. Hasil laboratorium: Hb turun 2. nadi 88 x/ mnt. Tidak ada jaringan yang mati 6.Neutrofil : 85 % 3 DS : 1. Bubling dan undulasi positif pada botol WSD. Risiko Infeksi Gangguan lapisa pemasangan sela menggunakan sistem 3 botol. Push (-) 5.hematopneumothoraks kanan. Hasil fotothoraks : penimbunana udara dan darah pada cavum pleura 4.

Intervensi/ perencanan dan evaluasi Nama : Tn. Resiko infeksi berhubungan dengan gangguan lapisan kulit sekunder akibat pemasangan selang dada (WSD) 3. lebam lebih hitam diarea kanan. Klien mengatakan bahwa ia mengeluh nyeri saat bernapas dan diaporesis DO : 1. pemasukan oksigen tidak adekuat.Darma diagnosa medic : Umur : 33 tahun No. Tampak laserasi dan lebam pada dada. Dalam 1 hari klien hanya tidur selama 4 jam 2. Nyeri berhubungan dengan adanya fraktur iga C. Klien terlihat mengepalkan tangan 9. Klien terlihat selalu berhati-hati 5. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru. Diagnosa keperawatan. Pupil dilatasi 4. Data tambahan : 1. 2. Ansietas ( takut mengalami cedera ulang) 8. 2. Klien mengatakan bahwa saat kecelakaan dadanya membentur stir mobil. Skala nyeri 8 2. Klien terlihat merintih 7. 1. 3. 2. Cm : . Karakteristik nyeri 3.menggunakan sabuk keselamatan. Dilakukan foto rontgent AP lateral dengan kesan tampak fraktur iga ke 6-8 dengan hematopneumothoraks kanan. Raut wajah klien kesakitan 6.

Tanda-tanda infeksi tidak terjadi 2. pemasukan oksigen tidak adekuat. Tindakan isolasi. Laporkan bila terjadi pembengkakan pada tubuh klien Ko Kolaborasi 1. 4. Rujuk ke ahli terapi pernapasan bila kongesti pulmonal terjadi.No 1 Dx keperawatan Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru. Frekuensi pernapasan • laporan sinar x dada 18-20 kali permenit 2. Warna kulit normal • hasil gas darah arteri 2. Tujuan/KH Intervensi Setelah dilakukan tindakan Mandiri keperawatan dalam 3x24 jam 1. Pertahankan selalu posisi semi fowler / 3. Pemberian oksigen sesuai petunjuk dokter 2 Risiko Infeksi berhubungn dengan gangguan lapisan kulit sekunder akibat pemasangan selang dada (WSD) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x24 jamRisiko infeksi tidak terjadi KH : 1. 2. setiap 8 jam bila stabil KH : • masukan dan haluaran setiap 8 jam 1. . Kaji terhadap prediktor instrumentasi selang dada. Suhu 37 C 3. Teknik antiseptik. akan berkurang. Ekspansi paru lebih fowler penuh dan simetrik M 3. Lakukan perawatan luka sesuai kebutuhan M 3. Pantau : gangguan pertukaran gas • status pernafasan setiap 2 jam selama fase akut. 2.Tidak adanya pus Mandiri 1. Beri terapi diuretik sesuai pesan dari dokter 3.

Tidak ada suara merintih 4. KH : 1. Ekspresi wajah rileks 2. nyeri berkurang. Pengurangan mikro organisme yang dapat ditularkan melalui udara. Kolaborasi 1. 6. Pantau: o Suhu tubuh setiap 4 jam o Penampilan luka 7. 2. Berikan antibiotik sesuai catatan dari dokter. Beri posisi yang nyaman dan menyenangkan pada pasien. Ko 1. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan dan mengenakan sarung tangan ketika kontak dengan cairan atau darah dari pasien. 3.5. Hindarkan memiringkan badan pada sisi yang mengalami trauma (kecuali jika ada flail chest ) 4. Berikan imun globulin tetanus manusia sesuai pesanan jika riwayat imunisasi tidak lengkap 3 Nyeri berhubungan dengan adanya fraktur iga. Berkurangnya permintaan analgetik Mandiri 1. Observasi tanda-tanda vital. Pertahankan pada posisi semi fowler atau fowler.Berikan tindakan untuk mencegah komplikasi dari imobilisasi Kolaborasi 1. me dia 2. Pertahankan pembatasan aktifitas sesuai anjuran.A inf pr 2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 3x24 jam. . M 5. Ekspansi dada penuh 3. Pemberian analgesik Ko 1.

Pada teori dilakukan pemeriksaan penunjang anatara lain CT-scan. 2. Selain itu. elektrokardiografi. Kami mengangkat diagnosa ini karena pasien terpasang WSD yang memerlukan insisi sebagai tempat masuknya selang WSD dan sangat memungkinkan masuknya mikroorganisme ke kulit yang terbuka. sedangkan dikasus hanya melakukan pemeriksaan penunjang dengan menggunakan foto toraks karena pada kasus ini dengan menggunakan foto toraks lebih dari 90% kelainan trauma toraks dapat terdeteksi hanya dari pemeriksaan foto toraks. pernapasan yang dangkal menyebabkan frekuensi napas klien meningkat guna memenuhi kekurangan oksigen dalam tubuh. Fraktur iga mengakibatkan irama napas lebih cepat karena pada saat bernapas terjadi gesekan antara tulang yang fraktur dengan paru-paru sehingga menimbulkan nyeri saat inspirasi. WSD dipasang pada klien guna untuk mengembalikan tekanan paru. yang menguatkan diagnosa diatas adalah dispnea saat melakukan aktifitas (Lynda Juall Carpenito. nyeri dapat mengganggu kenyamanan klien yang ditandai dengan klien tampak meringis. Diagnosa ketiga kelompok kami mengangkat diagnosa nyeri berhubungan dengan fraktur iga. Intervensi . Terdapatnya cairan juga menyebabkan auskultasi dada kanan lebih redup dari dada kiri. 3. Selain itu. Diagnosa Pada diagnosa utama kami mengangkat diagnosa gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru. Pergerakan dada tidak simetris dikarenakan terdapat fraktur iga yang menyebabkan laserasi di dada kanan sehingga memungkinkan cairan (darah) masuk ke dalam rongga pleura yang menyebabkan paru-paru kanan lebih kolaps dari paru-paru kiri. 2006). napas 24 x/menit. Kami tidak mengangkat diagnosa “ketidakefektifan pola napas” sebagai diagnosa utama karena tidak ditemukan data mayor yang sesuai pada kasus. klien tampak melindungi area yang sakit. posisi klien semi fowler. WSD dapat mengakibatkan tekanan negatif pada paru-paru sehingga udara dari luar dapat masuk ke dalam paru-paru serta membantu terjadi keseimbangan didalam paru-paru. Selain itu. angiografi. Nyeri menyebabkan klien takut bernapas lebih dalam. Pengkajian Pada kasus ditemukan data yang tidak terdapat pada teori antara lain pergerakan dada tidak simetris.BAB IV PEMBAHASAN 1. Kami mengangkat gangguan pertukaran gas sebagai diagnosa utama karena gangguan pertukaran gas merupakan keadaan ketika seseorang individu mengalami penurunan jalannya gas (oksigen dan karbon dioksida) yang aktual antara alveoli dan sistem vaskuler. pemeriksaan dengan menggunakan ekhokardiografi dan elektrokardiografi tidak dilakukan karena klien tidak mengalami kelainan jantung. Diagnosa kedua kelompok kami mengangkat risiko infeksi berhubungan dengan gangguan lapisan kulit sekunder akibat pemasangan selang dada (WSD). pemasukan oksigen tidak adekuat. foto toraks. Nyeri pada saat inspirasi disebabkan karena adanya fraktur iga. auskultasi dada kanan lebih redup. Ketika inspirasi tulang iga menekan ke arah paru-paru dan menyebabkan nyeri pada saat inspirasi.

Ditandai dengan klien terpasang Water Seal Drainage. pemantauan intake dan output oksigen. klien mengatakan bahwa saat kecelakaan dadanya membentur stir mobil. Intervensi yang dapat dilakukan adalah observasi tanda-tanda vital berguna untuk mengidentifikasi adanya nyeri. Menghindarkan memiringkan badan klien pada posisi yang mengalami trauma dilakukan karena berbaring pada sisi yang sakit membuat tegangan pada sisi yang cidera. risiko infeksi berhubungan dengan gangguan lapisan kulit sekunder akibat pemasangan selang dada (WSD). lebam lebih hitam diarea kanan. Pada diagnosa kedua. pemantauan hasil gas darah arteri. . Ditandai dengan klien mengatakan bahwa saat kecelakaan ia tidak menggunakan sabuk keselamatan. Bertujuan untuk meminimalisirkan masuknya organisme kedalam tubuh kilen dan membantu klien dalam meningkatkan imunnya. dan dilakukan foto rontgent AP lateral dengan kesan tampak fraktur iga ke 6-8 dengan hematopneumothoraks kanan. karena jika semakin sering terpajan infeksi maka akan semakin lemah tubuh klien dan memperlama proses penyembuhan pada klien. Memberikan posisi yang nyaman dan menyenangkan bagi klien berguna untuk menurunkan ketegangan otot. Pada diagnosa ketiga. nyeri berhubungan dengan adanya fraktur. Mempertahankan pembatas aktifitas sesuai anjuran dilakukan karena pembatasan aktifitas fisik menghambat energi dan mengurangi rasa tidak nyaman akibat ketegangan otot. klien mengatakan bahwa ia mengeluh nyeri saat bernapasdan diaporesis. Bertujuan untuk untuk menjaga keefektifan masukan oksigen kedalam tubuh sehingga pemasukan oksigen menjadi adekuat. TTV: Pernapasan 24 x/ mnt. Ditandai dengan klien mengeluh sesak. tampak laserasi dan lebam pada dada. pemasukan oksigen tidak adekuat. Intervensi yang dapat dilakukan adalah kaji terhadap prediktor instrumentasi selang dada. Pertahankan pada posisi semi fowler atau fowler hal ini dilakukan karena posisi tegak memungkinkan ekspansi paru lebuh mudah dimana tekanan abdomen pada diafragma diturunka oleh tarikan grafitasi. klien diberi Oksigen 3 Itr/ menit. Posisi semi fowler dapat dilakukan untuk mengurangi tekanan abdomen sehingga pengembangan paru lebih efektif. Intervensi yang dapat dilakukan adalah pemantauan pernapasan. nadi 88 x/ mnt. dilakukan foto rontgent AP lateral dengan kesan tampak fraktur iga ke 6-8 dengan hematopneumothoraks kanan. TD 120/ 90 mmHg.Pada diagnosa utama. bubling dan undulasi positif pada botol WSD. lakukan perawatan luka sesuai kebutuhan dengan teknik antiseptic dan tindakan isolasi. gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru. pergerakan dada kanan tertinggal dari kiri sehingga gerakan dada tidak simetris. menggunakan sistem 3 botol. pada auskultasi dada kanan lebih redup dari dada kiri.

plail chest. Pemeriksaan diagnostik yang padat dilakukan pada klien trauma dada yaitu anamnesa. proses penyakit dan lain-lain. pemeriksaan foto toraks. penggunaan balutan tekan pada luka dada tanpa pelonggaran balutan. .2 Saran Mahasiswa harus mampu memahami mengenai pengertian. kekerasan (tikaman atau luka tembak). penyebab. antibiotika jika diperlukan. dilihat dari penjelasan di atas. tergantung pada kesiapan klien dari segi materi dan psikis. Tusukan paru dengan prosedur invasif. Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek. pemeriksaan diagnostik untuk trauma dada. dan gagal jantung. CT Scan. hipoksemia. gelisah. cedera vaskuler. dan Fraktur tulang iga. Takikardi. takipne. Tekanan darah menurun. pemasangan WSD (Water Seal Drainage). pneumotoraks. Tindakan medis (operasi). dan kemungkinan cyanosis.1 Simpulan Dengan demikian. tanda dan gejala. mahasiswa juga dapat memperbanyak ilmu dengan mengunjungi seminar dan membaca dari berbagai sumber. pleura effusion. 3. Trauma dada dapat terjadi disebabkan oleh kecelakaan kendaraan atau tertimpa benda berat. Tusukan paru dengan prosedur invasif. Ada beberapa penatalaksaan yang biasa dilakukan pada klien trauma dada antara lain melalui pemberian analgetik. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada kasus di atas antara lain melalui tekhnik bedah maupun non bedah. Pukulan daerah torak. Selain itu. hipovolemia. fisioterapi. Manifestasi klinis beselanjutnya pembengkakkan lokal dan krepitasi yang sangat palpasi. hemopnumotoraks. Klien dengan taruma dada memiliki manifastasi klinis utama yaitu gangguan pola bernafas dan nyeri yang timbul akibat terjadinya patahan pada tulang dithorak. penatalaksanaan trauma dada. agar dalam menjalankan proses keperawatan dapat membuat intervensi dan menjalankan implementasi dengan tepat sehingga mencapai evaluasi dan tingkat kesembuhan yang maksimal pada klien trauma dada. penggunaan therapy ventilasi mekanik yang berlebihan. Pemeriksaan diagnostik ini dilakuka untuk mengetahui keparahan cedera yang dialami klien trauma dada.BAB V SIMPULAN DAN SARAN 3. dan angiografi. Ekhokardiografi. anatomi dan fisiologi pada thorak. elektrokardiografi. Komplikasi yang dapat terjadi pada klien trauma dada yaitu surgical emfisema subcutis. Dyspnea. dapat kita simpulkan bahwa trauma dada bukanlah penyakit ringan karena dapat menimbulkan gangguan pernafasan sehingga mengganggu system metabolisme tubuh. epidemologi. pemasangan plak/plester.

2006. .Buku Saku Patologi. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Buku Saku Dasar Patologi Penyakit. Elizabeth.Price.Chandrasoma. 2001. 2001.2000. Patologi Umum dan Siatematik.C.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddart. Jakarta: EGC Doenges (2001). Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC Parakrama. Jakarta: EGC Djuhari. Jakarta: EGC Lauralee. Keperawatan medikal bedah. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Sherwood.Widjajakusumah. Stanley L.J corwin.Underwood. Jakarta: EGC J. Jakarta: EGC Sylvia A. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. 2003.E.1989. Jakarta: EGC. Patofisiologi untuk Keperawatan. 2000. 2001. Jakarta: EGC Jan Tambayong. Jakarta: EGC. Jakarta EGC. 2000. Ringkasan Patofisiologi Anatomi Edisi 2.Robbins.