P. 1
NASEHAT UNTUK ORANG

NASEHAT UNTUK ORANG

|Views: 96|Likes:
Published by Triyana Dc

More info:

Published by: Triyana Dc on Aug 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/18/2011

pdf

text

original

P ejuang Sejati

Pejuang sejati dengan kemenangannya menembus seluruh keinginan yang berpusat pada diri sendiri, dengan sikap yang seimbang, kreatif, bekerja demi kebahagiaan orang lain. Pejuang Sejati yang demikian disebut “Bodhisattva.” Para Gyalwa Karmapa adalah salah satu guru besar Buddhisme yang telah mencapai realisasi diri paling tinggi. Beliau merupakan Boddhisattva yang telah tercerahkan dengan sempurna, aktivitasnya dikenal begitu luas sehingga Kaisar China Yuen Le, menyebutnya sebagai Buddha Hidup. Mantra Maha Welas-Asih Kwan Im (Avalokitesvara) “Om Ma Ne Pad Me Hung” pertama kali diperkenalkan dan mulai diajarkan secara luas oleh Gyalwa Karmapa ke-2, Karma Pakshi. Sekarang, Mantra ini menjadi sangat terkenal dan banyak dipraktekkan oleh para umat Buddha di seluruh penjuru dunia. Samadhi Raja Sutra. Sesuai dengan ucapan Sang Buddha, “pahlawan yang telah mendapat pencerahan diri dengan suara seperti raungan singa yang bernama Karmapa akan hadir. Ia akan menggunakan kekuatannya mencapai kemampuan meditasi tertinggi untuk membebaskan seluruh makhluk hidup di alam semesta ini. Dengan mendengar, melihat, menyentuh atau berpikir tentangnya, siapapun akan merasakan kebahagiaan sejati”.

NASEHAT NASEHAT UNTUK ORANG ORANG ANGORANG- ORANG YANG HIDUP DI JAMAN JAMAN MODERN INI

H. E. SANGYE NYENPA RINPOCHE

Yayasan Karmapa Triyana Dharmacakra

NASEHAT UNTUK ORANG - ORANG YANG HIDUP NASEHAT ORANG ORANG YANG ANGJAMAN DI JAMAN MODERN INI Judul Asli Pengarang : Words of A dvice for Moder n People ords Advice Modern People : H. E. Sangye Nyenpa Rinpoche

Alih Bahasa : Mr. Tan Chao Ming Mr. Tan Editor Setting & Cover : Tim Edit Triyana Triyana : Yusuf Em

armapa Triyana Dharmacakra Kar Yayasan K ar mapa Triyana Dhar macakra Jl. Bukit Darmo Golf R. Kav. 19-20 Surabaya. Telp. ( 031 ) 7388080, 70589215, Fax. 7389775, e-mail: triyanadharmacenter@yahoo.com

Mr. Mr. Chen Chau Ming
ii

Bagaimana Merawat Buku-Buk Dharma u-Buku Buku-Buku Dhar ma
Buku-buku Dharma berisi ajaran-ajaran sang Buddha, mereka memiliki kekuatan untuk melindungi kita dari kelahiran di alam rendah dan menunjukkan jalan kepada pembebasan. Oleh karenanya, buku Dharma harus diperlakukan dengan penuh hormat jauhkan dari lantai, dan tempat orang duduk dan berjalan serta jangan dilangkahi atau dipakai sebagai kipas. Buku Dharma harus ditutupi dan dilindungi jika akan dipindahkan ke tempat lain dan disimpan di tempat yang tinggi, bersih, terpisah dari benda-benda yang lebih duniawi. Benda lain jangan ditempatkan di atas buku maupun materi dharma lainnya. Menjilat jari untuk membalik halaman juga dianggap sebagai karma jelek. Jika memang Anda terpaksa harus membuang benda-benda Dharma atau barang yang memiliki gambar Buddha, atau Bodhisattva, maka janganlah mencampakkan begitu saja ke tempat sampah. Cara yang paling baik adalah dibakar, dengan diawali membaca doa, inti mantra suci “Om Ah Hung”. Lalu anda bisa memvisualisasikan huruf-huruf dari naskah Dharma tersebut (yang akan dibakar) terserap ke dalam Ah, dan Ah terserap ke dalam diri anda. Setelah itu anda boleh membakar naskah tersebut. Langkah yang paling bijaksana adalah memberikan atau meminjamkan kepada teman-teman sedharma yang membutuhkan, dengan demikian anda berarti telah ikut memutar roda Dharma melalui pembabaran dan pembagian buku-buku Dharma. Pertimbangan seperti ini juga harus diingat untuk benda-benda seni yang ada kaitannya dengan Dharma, dan naskah maupun hasil seni dari agama lain. iii

Buku-buku Dharma yang berisi ajaran-ajaran mulia Buddha Sakyamuni sebaiknya dibaca berulang-kali dengan penuh perhatian, konsentrasi dan ketenangan. Renungkanlah makna yang dikandung di dalamnya dengan hati yang penuh dengan cinta kasih dan belas kasih. Ikutilah dan terapkan ajaran Dharma yang sangat berharga ini di dalam kehidupan Anda sehari-hari dengan bijaksana dan penuh keuletan. Sebarkan dan kembangkan kebahagiaan dan manfaat Buddha Dharma kepada teman-teman dan keluarga Anda dengan penuh kesabaran dan kedamaian. Welly Karlan
Bagi para umat yang hendak berdana untuk penyebaran Dharma dan pemeliharaan Vihara Triyana Dharma Center, dapat mengirimkan dananya ke rekening: BCA Surabaya Cab. HR. Muhammad No. Rek. 829 033 3301 Yay Kar ay. armapa Triyana a/n Yay. K ar mapa Triyana DC iv

D aftar Isi
Daftar Isi ........................................................... Kata Sambutan .................................................. Buddhism ........................................................... Tasbih Yang Untaian Tasbih Emas Yang Agung dari Garis Silsilah Kagyud ...................................... 5 6 7 8

Biografi Singkat Sangye Nyenpa Rinpoche ke-10 ............................. 10 Nasehat untuk orang-orang yang hidup di jaman modern ini ............................................. 15 I. Harapan semua manusia: Keluar dari penderitaan dan mencapai kebahagiaan .................................................... 15 II. Cara terbaik untuk memperoleh kebahagiaan .................................................... 17 1. Cara melatih diri yang pertama: Nekkhama / Naiskramya ................................ 24 2. Cara melatih diri yang ke dua: Mengembangkan Bodhicitta ............................. 29 3. Cara melatih diri yang ke tiga: Pandangan yang benar .................................... 32 Tanya Jawab ....................................................... 42

5

Kata Sambutan
“Nasehat untuk orang- orang yang hidup di jaman modern ini” menjawab semua masalah dan kekhawatiran umat Buddhist dalam perkembangan jaman yang semakin lama semakin tidak terkendali akibat pengaruh teknologi yang telah begitu mengglobalisasi. Diterjemahkan dari judul asli : Words of Advice for Modern People” *by H. E. Sangye Nyenpa Rinpoche, beliau adalah salah satu dari barisan guru-guru terbaik dalam garis silsilah karma kagyud. Buku ini disusun oleh para umat Triyana Dharma Center, Surabaya, sebagai bentuk nyata pengabdian dan bhakti untuk perkembangan Buddha Dharma di Indonesia. Saya sebagai Ketua Center sekaligus pendiri yayasan Karmapa Triyana Dharmacakra di Surabaya, bersuka cita atas diberikan kehormatan untuk mengisi kata sambutan. Semoga upaya dan dedikasi para umat ini dapat menjadi teladan, semoga jasa kebajikan mereka ini dapat berkembang ke sepuluh penjuru, dan semoga mereka semua dapat dengan ulet, sabar dan penuh semangat sebagai pejuang sejati untuk terus menerus berjuang dan berjuang. Ini juga merupakan latihan dana yang tertinggi, yaitu dana Dharma, berupaya meningkatkan kebijaksanaan seseorang atau lebih, dengan membabarkan ajaran-ajaran Buddha, baik dalam bentuk penjelasan lisan, maupun dalam bentuk tulisan seperti buku ini. Tidaklah mudah untuk melakukan dana Dharma, karena ajaran Buddha sangat luas dan dalam, sehingga apabila kebijaksanaannya tidak cukup, maka yang ada hanyalah salah penafsiran. Maksud baik untuk menolong, akan tetapi karena kebijaksanaan belum cukup, malah menjerumuskan. Jadi menurut pandangan saya pribadi adalah untuk melaksanakan dana dharma, sebaiknya kita sementara hanya menerjemahkan apa adanya dari buku-buku Dharma para maha guru yang telah jelas kualitas dan asal usulnya. Akhir kata semoga buku ini dapat bermanfaat bagi kebahagiaan semua makhluk, dan semoga semua makhluk terlepas dari segala penderitaan. Semoga semua makhluk selalu bersuka cita dan menemukan kebahagiaan sejati NIBBANA, semoga semua makhluk selalu berada dalam keseimbangan batin dan terbebaskan dari pandangan DUALISME. Welly Karlan
*Yang merupakan kutipan dari ceramah Yang Mulia Sangye Nyenpa Rinpoche kepada para usahawan/bisnisman di Taiwan.

6

BUDDHISM

Lebih dari 2500 tahun yang lalu, Pangeran Siddharta mencapai pencerahan di Bodhgaya dan mulai dikenal sebagai Buddha Sakyamuni. Sang Buddha pertama kali memutarkan Roda Dharma di Sarnath. Ia mengajarkan ajaran yang dikenal dengan nama Empat Buddha Sakyamuni Kebenaran Mulia dan setelah itu Beliau rutin mengajarkan tentang Bodhicitta, kekosongan/Sunyata dan perubahan/ ketidakkekalan. Ajaran ini kemudian disusun di dalam Vinaya, Abhidharma, Sutra dan Tantra dan berlanjut sampai dengan hari ini yang dikenal sebagai ajaran Buddha Dharma Theravada, Mahayana, dan Vajrayana. Pada abad ke-9, seorang guru besar India bernama Guru Padmasambhava diundang oleh seorang Raja Tibet yang bernama Trisong Detsen dengan tujuan untuk menanamkan bibit ajaran Buddha Dharma di Tibet. Ajaran ini di bawah penyebaran dari generasi para guru yang telah mencapai pencerahan tersebut, ajaran ini kemudian berkembang dan berjalan dengan baik sampai beberapa generasi dan tidak pernah terputus, sampai dengan sekarang. Pada abad-abad berikutnya di Tibet, banyak aliran Vajrayana yang berkembang dan saat ini terdapat empat garis silsilah utama, yaitu Nyingma, Sakya, Kagyud, dan Gelug. 7

Untaian

Tasbih Emas Yang Agung dari Garis Silsilah K agyud

ebelum Buddha Sakyamuni Parinirvana, pada suatu ketika, saat Beliau membabarkan Dharma di Vidarbha, Sang Buddha memprediksikan akan ada lima guru besar yang menyebarkan Dharma yang mendalam di India, kelima guru besar adalah Manjushri, Avalokitesvara, Saraha, Nagarjuna, dan Shawari. Ajaran-ajaran mendalam dari kelima guru besar tersebut saat ini dikenal sebagai tradisi Kagyud, yang telah diturunkan baik melalui transmisi panjang maupun singkat dari garis silsilah di India, kepada Marpa, Sang penerjermah dari Tibet. Bagaikan untaian tasbih yang saling berkait satu sama lain tanpa hubungan terputus, garis silsilah Kagyud juga telah diturunkan melalui deretan panjang para guru ke murid-muridnya yang tak terputus. Suatu barisan panjang dari para guru India mulai dari Mahasidha Tilopa, Naropa, diter uskan pada Marpa Sang 8

S

penterjermah dari Tibet, kemudian Milarepa, Yogi / pertapa Agung yang tak terkalahkan, Gampopa, dan akhirnya Karmapa pertama Dusum Kyempa, garis silsilah ini berhasil diturunkan pada guru-guru Tibet, dan mereka juga telah mencapai pencerahan melalui praktek-praktek tradisi Kagyud, dan hal ini telah berkesinambungan tak terputus sampai dengan hari ini. Ajaran-ajaran Kagyud yang memadukan jalan Buddhisme Hinayana, Mahayana, dan Vajrayana bisa membawa realisasi kesadaran bagi yang menjalankannya dengan sungguh-sungguh pada satu masa kehidupan. Dalam ajaran Kagyud dikenal meditasi yang akan berbuah pencerahan diri dengan nama Mahamudra atau the great seal. Praktek Enam yoga Naropa dan penyelesaian meditasi total di dalam retread tiga tahun, tiga bulan, dan tiga hari, yang biasanya juga disertai dengan sekolah tinggi Buddha Dharma pada fakultasfakultas vihara (Shedras), selama 12 tahun, semua ini merupakan latihan-latihan inti dari garis silsilah Kagyud. Yang mulia tertinggi dari garis silsilah Karma Kagyud, yang paling menyebar, terluas pengaruhnya dan sedang berkembang terus saat ini adalah Gyalwa Karmapa ke 17, Ogyen Trinley Dorje. Garis silsilah Karma Kagyud telah dipimpin para Gyalwa Karmapa selama berabadabad. Karmapa pertama Dusum Kyenpa merupakan salah satu murid terbaik Gampopa, dan sampai saat ini Karmapa menjadi salah satu pemimpin Buddha yang terkemuka di Tibet, paling bijaksana dan welas asih. Karmapa dipandang sebagai teladan hidup dari pencerahan para Buddha, beliau merupakan perwujudan Bodhisattva welas asih atau dikenal dengan nama Avalokitesvara atau Chenrezig ( Kwan Im ). 9

Sangye Nyenpa Rinpoche
ke-10
Dasar dari Inkarnasi beliau melalui banyak kelahiran lampau sebagai orang suci dari India, diantaranya Yeshe Nyingpo, Pandita Mirtijana dan bertugas untuk memberi manfaat bagi kepentingan Buddha Dharma dan seluruh makhluk hidup.

Biografi Singkat

S

angye Nyenpa Rinpoche yang pertama, “Tashi Paljor lahir di daerah Den Lhakhang Paljor aljor”, T Drölma, di Tibet Timur. Pada usia 6 tahun, beliau bertemu dengan Yang Mulia Karmapa ke-7, Chödrak Gyamtso dimana beliau telah mengembangkan kesetiaan yang luar biasa.

Y.M.Karmapa ke-7 memberikan nama Tashi Paljor kepada beliau. Pada usia 8 tahun, beliau telah menerima pentahbisan, empowerment, pengajaran-pengajaran yang mendalam dan beliau mempelajari semua sutra di luar maupun di dalam vihara dengan ketekunan yang tinggi. Beliau mempraktekkan 3 kebijaksanaan dari mendengarkan, merenungkan dan memeditasikan hingga usia ke-23 di bawah bimbingan Benkar Jamphal Sangpo dan Geshe Paljor Döndrub. Istimewanya, beliau mendapat pengajaran langsung dari Y.M.Karmapa ke-7 Chödrak Gyamtso dan tidak terpisahkan dari Yang Mulia selama tujuh tahun. 10

Dalam waktu tersebut, beliau menerima pengajaran lengkap dan mendalam dari Karma Kamtsang Lineage dan Y.M.Karmapa ke-7 kemudian menugaskan beliau untuk berlatih di Khampo Nenang selama tiga tahun, di Tsurphu selama dua tahun, di Phalpung selama dua tahun dan di Thangla selama satu tahun. Selama 8 tahun pelatihan ini, beliau tidak menelan makanan apapun tetapi kebutuhan jasmani dengan sendirinya dipenuhi oleh “Bar Lung” (suatu energi latihan tingkat tinggi). Selanjutnya, beliau berlatih selama lima tahun di Jang Namtsho. Dari usia 23 tahun sampai 43 tahun, beliau berlatih meditasi sendiri dengan tekun dan secara sempurna ia merealisasikan pencerahan persis seperti yang dijalankan oleh Milarepa. Para Guru Besar dan para Dakini telah meramalkan bahwa beliau akan menunjukkan kebesaran Dharma di daerah Denyul. Pada waktu itu, beliau sedang berada di lantai 4 sebuah rumah saat terjadi gempa bumi besar melanda daerah tersebut. Walaupun seluruh rumah hancur akibat gempa tetapi beliau keluar dengan cara yang menakjubkan tanpa luka sedikitpun. Sejak saat itu, para penduduk menamai beliau “Mahasiddha Nyenpa”. Beliau kemudian pindah dan mendirikan vihara Changchub Chökhor Ling di Denkhok. Y.M.Karmapa ke8 Mikyö Dorje, mendapat penglihatan dari Mahakala yang memberitahukanNya agar mengangkat Sangye Nyenpa sebagai Root-GuruNya. Sejak saat itu, Nyenpa Rinpoche memberikan Y.M.Karmapa ke-8, empowerment lengkap dan pengajaran-pengajaran yang mendalam. Banyak buku yang menerangkan bahwa beliau juga merupakan emanasi dari Buddha Maitreya. Setelah melakukan aktivitas-aktivitas dharma yang luar biasa demi kepentingan semua makhluk hidup dan Buddha Dharma, beliau parinirvana pada usia 65 tahun. 11

Inkarnasi Nyenpa Rinpoche yang berikutnya adalah: Ke-2 Lhungpo Rabten Ke-3 Geleg Nyingpo Ke-4 Geleg Gyatso (pendiri Benchen Monastery) Ke-5 Deleg Nyingpo Ke-6 Drubgyu Tendar Ke-7 Sherab Nyingpo Ke-8 Tenzin Drubchog (yang mengenali Tenzin Chögyal sebagai Inkarnasi dari Lama Samten, Tenga Rinpoche ke-1. Sejak saat itu, hubungan spesial terjadi, dimana Tenga Rinpoche terus menerus mulai berada di kehidupan beliau sejak umur 3 tahun. Ke-9 Tenpa Nyima, lahir di keluarga terhormat Dilgo di daerah Dergye, Kham. Beliau juga merupakan kakak dari Dilgo Kyentse Rinpoche yang merupakan guru Dzogchen yang terkenal di seluruh dunia. Nyenpa Rinpoche ditemukan Y.M.Karmapa ke-15 Khachab Dorje saat beliau datang dan menginap di rumah keluarga Dilgo. Sebelumnya, keluarga Dilgo juga sering mendapatkan mimpi tentang kelahiran istimewa tersebut, diantaranya seperti simbal (sejenis alat musik) dari vihara Benchen yang dibawa ke keluarga tersebut dan dimainkan disana. Saat kecil, beliau telah banyak mendapatkan penglihatanpenglihatan istimewa seperti setiap hari saat matahari terbit, beliau melihat Y.M.Karmapa duduk di gunung di depan rumahnya dan tersenyum kepadanya. Beliau saat kecil juga suka membawa gong serta lonceng serta melakukan puja. Saat berumur 8 tahun, beliau dibawa ke vihara Benchen dan ditasbihkan disana dan saat beliau duduk di singgasananya, sebuah pelangi yang sangat besar muncul dan menutupi seluruh wilayah desa serta 12

tercium bau yang sangat wangi, hal ini merupakan suatu tanda keberuntungan yang sangat besar. Sejak saat itu, beliau menerima pelatihan dan transmisi lengkap dari guru-guru besar sesuai dengan tradisi Kagyu, selain itu beliau juga menerima pelatihan dari aliran Sakya, Nyingma dan Gelug. Selama enam bulan beliau kemudian tinggal di vihara Tsurphu dengan Y.M.Kar mapa ke-15 dan menerima pelatihan dan empowerment lengkap. Beliau kemudian berlatih terus hingga mencapai pencapaian yang sangat luar biasa. Beliau juga menemukan inkarnasi yang mulia Karmapa ke-16. Beliau Parinirvana pada usia 66 tahun di Rumtek Monastery, Sikkim, tempat kediaman Y.M. Karmapa. 13

Sangye Nyenpa Rinpoche ke-10 ditemukan oleh Y.M.Karmapa ke-16 Rangjung Rigpe Dorje, dimana Yang Mulia dengan mata bathinNya mendapat penglihatan tentang tempat lahir, nama orang tua, tahun dan pertanda khusus yang mana memberikan petunjuk yang jelas. Nyenpa Rinpoche lahir di tahun 1963 di keluarga praktisi Dharma/Yogi, ayahnya Sangye Yeshe dan ibunya Damchö Drölma, bertempat tinggal di kuil Guru Rinpoche, daerah Paro di Bhutan. Beliau diundang ke Rumtek Monastery dimana beliau ditahbiskan oleh Y.M.Karmapa ke-16. Pada usia 5 tahun, beliau memulai pelatihannya, menulis dan membaca, semua sutra baik di dalam maupun di luar vihara kepada Y.M.Karmapa ke-16, Dilgo Khyentse Rinpoche dan guru-guru besar lainnya. Secara istimewa mengambil sumpah bodhisattva dari yang mulia Karmapa ke-16 dan menerima banyak empowerment dari aliran Tantra, pelatihan-pelatihan Chagchen Da Ser, Marig Münsel (Memusnahkan kegelapan dari ketidaktahuan), Chöku Tzubtsug (Petunjuk khusus Dharmakaya) dll. serta telah mencapai realisasirealisasi yang luar biasa. Beliau menyelesaikan pelajarannya selama 9 tahun di Nalanda Institute di Rumtek dan berhasil mendapatkan gelar A charya . Kemudian, beliau mengajar selama 3 tahun di institute tersebut dan mendapat gelar Pandit Mahasiddha . Nyenpa Rinpoche adalah salah satu dari Rinpoche yang paling terpelajar , baik dalam filosofi maupun ritual Tantra. Saat ini beliau tinggal di Benchen Phuntsok Dargyeling Monastery Kathmandu di Nepal dan memberikan pengajaran dan pelatihan kepada ribuan Lama dan pengikut lainnya. Sisa waktu yang ada, beliau menghabiskannya dalam berbagai retreat. 14

NASEHAT UNTUK NASEHAT ORANG ORANG ANGORANG- ORANG JAMAN YANG HIDUP DI JAMAN MODERN INI
OLEH : H. E. SANGYE NYENPA RINPOCHE

I.

HARAP APAN SEMUA KELU DARI HARAPAN SEMUA MANUSIA : KELUAR DARI GIAAN PENDERITA DAN MENCAPAI KEBAHAGIA PENDERITAAN DAN MENCAPAI KEBAHAGIAAN

Meskipun di dunia ini terdapat begitu banyak suku bangsa serta latar belakang kebudayaan yang berbeda cara berpikir, kehidupan dan pekerjaan yang berbedabeda, namun harapan semua orang adalah sama, yaitu: setiap individu mengharapkan adanya kebahagiaan dalam hidup dan terlepas dari penderitaan. Di dunia ini terdapat bermacam-macam agama dan aliran-alirannya, dengan peraturan-peraturannya masing-masing. Begitu pula pada agama Buddha, juga terdapat bermacam-macam aliran dan metode. Ada beberapa orang yang berhasil dalam melakukan penyelidikan teori-teori Buddha Dharma, perdebatan 15

serta pendapat-pendapat yang berbeda. Namun, hal-hal demikian tidaklah dianggap terlalu penting. Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat merasakan manfaat Buddha Dharma dalam hidup ini dan berguna bagi kita. Oleh karena Buddha Dharma merupakan bagian dari kehidupan kita. Buddha Dharma yang begitu luhur dan agung, apakah sebenarnya tujuan ajaran-ajaran utamanya ? Tidak lain adalah untuk membantu setiap orang melakukan kebajikan dan kesalehan, selalu berprilaku dan bertingkah-laku lebih baik dari sebelumnya. Terlebih lagi dengan keadaan dunia seperti sekarang ini, dimana peperangan silih berganti, resesi ekonomi, dan ketidak-stabilan politik yang terjadi dimana-mana, semua ini membawa penderitaan bagi rakyat, sedangkan negara pun berada dalam kekacauan. Kita telusuri apa penyebab dari keadaan-keadaan tersebut, ternyata semua berawal dari keadaan bathin kita. Yaitu: keadaan bathin manusia ! Kenapa tidak ??? Karena bathin kita selamanya tidak jujur atau kurang tulus, kurang bajik, dan terlalu mementingkan diri sendiri. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan timbulnya begitu banyak konflik dalam dunia ini. Agama-agama di dunia, seperti agama Hindu, agama Yahudi, dan lain lain, masing-masing memiliki teori-teori pengajaran yang kelihatannya berbeda. Tetapi bila kita selidiki secara seksama, maka kita akan menemukan persamaan. Karena pada dasarnya, semua agama mempunyai dasar-dasar yang sama yaitu : kebaikan, Menumbuhkan welas asih, kebaikan , atau yang umum disebut ‘KASIH Selalu menganjurkan untuk KASIH’. tidak melukai orang lain, tetapi membantu orang lain. Inilah PERSAMAAN-PERSAMAAN dari semua agama. 16

Semua agama selalu ada pemimpin spiritualnya yang membimbing dan membantu orang- orang yang memerlukan bantuan. Misalnya : Buddha Sakyamuni sebagai pembimbing / guru spiritual umat Buddhis; Meskipun teori-teori spiritual tersebut berdasarkan PENGALAMAN pribadi Sang Guru, dan telah membuktikan bahwa inilah jalan latihan terbaik untuk mencapai kebahagiaan, kemudian Beliau memberitahukan kepada para siswa dan pengikutNya, bagaimana cara melaksanakannya; Namun ada kalanya kita akan merasakan, meskipun sang guru pembimbing spiritual begitu giat membimbing kita, kita tetap tidak dapat melaksanakannya sesuai dengan jalan Dharma Ajarannya, bisa juga kita keliru menafsirkan ajaranajaran Guru spiritual kita. Akibatnya kita tidak dapat memahami makna sebenarnya dari ajaran-ajaran agama. Demikianlah sebenarnya semua orang, apakah mereka penganut agama ataupun mereka yang tidak beragama, semuanya mempunyai satu tujuan yang Meninggalkan sama yaitu: “Meninggalkan penderitaan dan kebahagiaan” memperoleh kebahagiaan CARA II. CARA TERBAIK UNTUK MEMPEROLEH KEBAHAGIA GIAAN KEBAHA GIAAN Bagi seorang umat Buddhis, kita semua mengerti bahwa setiap insan / Pudgala berharap keluar dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan. Sedangkan menurut pandangan Buddha Dharma, bagaimanakah caranya agar kita memperoleh kebahagiaan ? Apakah kebahagiaan” yang dimaksud dengan “kebahagiaan ? kebahagiaan Buddha memberitahu kita cara terbaik untuk memperoleh kebahagiaan. Yaitu tentang EMPAT EMPA KEBENARAN KEBENARAN MULIA : Kebenaran adanya Dukkha; 17

Timbulnya Dukkha; Akhir dari Dukkha dan Jalan untuk mengakhiri Dukkha; Ini adalah sebuah metode Dharma yang luar biasa. Pertama-tama kita harus mengerti apa itu Dukkha / penderitaan (penderitaan jasmani dan rohani) ? pada saat kita mengerti tentang Dukkha tersebut, kita harus mengerti tentang penyebab timbulnya Dukkha. Apakah harus ada sebab sebagai dasarnya ? Inilah yang disebut “Timbulnya Dukkha”; kemudian kita renungkan “Apakah Dukkha / penderitaan tersebut dapat disingkirkan?” Apakah kita sungguh-sungguh dapat mengatasi Dukkha / penderitaan dan memperoleh kekuatan ? Inilah yang dinamakan “Akhir dari Dukkha”; sedangkan cara untuk membantu kita melenyapkan Dukkha adalah MARGA / yaitu jalan atau cara untuk melatih diri kita. Baik umat Buddhis maupun non-Buddhis, dengan merenungkan EMPAT KEBENARAN MULIA adalah cara terbaik untuk menyingkirkan penderitaan dan memperoleh kebahagiaan. Dalam hal ini, kita sepertinya mendengar banyak istilah-istilah baru. Sebenarnya istilah-istilah demikian juga terdapat di setiap agama. Apakah perasaan dari ‘Dukkha’ ? Perasaan Dukkha terbagi dua macam, yaitu : Pertama, yang jelas dapat kita rasakan, seperti penderitaanp e n d e r i t a a n p a d a j a s m a n i k i t a . Pe n d e r i t a a n penderitaan tersebut bersifat nyata. Yang ke-dua, adalah Dukkha / penderitaan yang bersifat halus, misalnya penderitaan-penderitaan yang hanya bisa dirasakan secara bathiniah, yang muncul dalam hati. Contoh, penderitaan yang dapat dirasakan secara nyata adalah penyakit. Kita akan dapat segera merasakan penderitaan jasmani ketika sakit, juga penderitaan-penderitaan yang bersifat emosi, 18

kesedihan apabila tidak memperoleh yang diharapkan, yang tidak diharapkan malah selalu muncul dihadapan kita, Hal hal yang mudah mempengaruhi perasaanperasaan kita ini disebut Dukkha yang kasar sifatnya. Penderitaan-penderitaan yang halus terkadang sulit bagi kita untuk merasakannya. Karena pada umumnya bagi orang awam agak sulit untuk merasakannya secara menyeluruh. Sesungguhnya apakah yang dimaksud dengan penderitaan yang bersifat ‘halus’ ? Pertamatama kita harus mengerti bahwa manusia merupakan perpaduan dari PANCA SKHANDA. Yang pertama SKHANDA. adalah RUPA yang bersifat materi. Yang kedua adalah VEDANA yang bersifat sentuhan. Ketiga adalah SAMJÒÂ / SAÒÑA bersifat pikiran. Keempat adalah SAMSKÂRA bersifat pencerapan. Dan kelima adalah VIJÑAÒA bersifat kesadaran. Badan jasmani kita terdiri dari LIMA SKHANDA tersebut. Ketika kita lahir-mati dan lahir-mati kembali, kelangsungan hidup berlanjut dan terbentuk oleh Panca Skhanda. Semua Dukkha / penderitaan berada pada badan jasmani yang terbentuk oleh Panca Skhanda. Sesungguhnya inilah Dukkha yang bersifat halus. Dengan menggunakan cara yang tepat, Dukkha yang halus dapat kita rasakan secara menyeluruh dan jelas. Dengan metode BHAVANA (Mind Training) yaitu dengan melatih diri untuk mengembangkan bathin-bathin kita. Mengapa kita sekarang tidak dapat merasakan Dukkha yang bersifat halus itu ? Karena keadaan bathin kita yang belum dilatih dan dikembangkan. Kita sering mengatakan bahwa “kekuatan bathin tanpa batas”, kata-kata tersebut bukan semata-mata dikatakan begitu saja. Dengan sebuah metode yang benar, kita sungguh dapat mengembangkan / melatih bathin 19

kita. Ketika kita telah berhasil mengembangkan bathin, kita akan mengetahui bahwa sesungguhnya Dukkha yang paling menderita adalah Dukkha yang halus ini, yang pada dasarnya adalah Panca Skhanda. Demikianlah perkenalan mengenai Dukkha / penderitaan. Hal ini juga merupakan khotbah Dharma Buddha Sakyamuni yang utama. Karena pada dasarnya setiap individu pasti menjumpai masalah dalam kehidupannya. Jadi bagaimana menghadapi penderitaan ? Maka pertama-tama kita harus memulai dari melatih diri untuk mengerti tentang Dukkha. Berikutnya kita akan mencari jalan untuk keluar dari penderitaan. Dukkha/penderitaan tidak lenyap begitu kita ingin melenyapkannya. Sebenarnya Dukkha tidak dapat begitu saja dilenyapkan. Kita harus mengerti penyebab timbulnya Dukkha tersebut. Dari sebab timbulnya Dukkha, baru dapat menyingkirkan Dukkha. Apakah penyebab dari Dukkha / penderitaan ? Penyebab utamanya adalah “KEMELEKATAN”. Pandangan yang kuat tentang ADANYA “AKU” / “MILIKKU”. Ketika kemelekatan semakin kuat, tidak hanya diri sendiri yang tidak bahagia dan tidak nyaman, tetapi juga dapat menimbulkan banyak masalah dan ketidak nyamanan bagi orang lain! Kemelekatan juga dapat berhubungan dengan kata lain yaitu : KEBENCIAN. Misalnya ketika bathin seseorang selalu penuh dengan kebencian dan iri-hati; maka orang tersebut akan selalu gelisah dan kacau, orang tersebut bukan hanya dirinya tidak tenang dan tidak bahagia, tetapi juga menimbulkan penderitaan bagi orang disekitarnya! Maka dalam hal ini, kita dapat menyimpulkan penyebab dari Dukkha adalah kemelekatan. 20

Kita dapat melihat kenyataan dalam dunia ini, baik manusia atau binatang, semuanya merasakan penderitaan dari “KEMELEKATAN” ini. Dalam kehidupan sehari-hari, kita jarang memper-hatikan orang lain atau ketika kita melihat orang lain sedang murung dan gelisah, kita seharusnya dapat memberi perhatian atau berusaha mengurangi kegelisahannya dan berusaha agar orang tersebut kembali bahagia. Kita selalu lebih memperhatikan diri kita sendiri dan kurang memperhatikan orang lain. Kita selalu melekat pada “ke-AKU-an”. Dapat dikatakan semua penderitaan disebabkan karena adanya kemelekatan terhadap AKU. Di dalam agama Buddha, “KEMELEKATAN terhadap AKU” disebut sebagai ‘KILESA’. Apakah yang dimaksud KILESA KILES dengan Kilesa ? Kilesa adalah sesuatu yang membuat bathin menjadi resah dan gelisah, yang dirundung oleh kemelekatan dan kekuatiran. Hal-hal tersebut sering terjadi, ketika kita berhadapan dengan kesulitan, bathin kita mulai resah dan kuatir. Tetapi pada waktu kita gembira, ternyata perasaan gembira itu hanya sementara saja, kemudian kita merasakan gelisah dan kuatir kembali. Katakanlah sewaktu kita merasa gembira, apakah sesaat, sehari, atau setahun, tetap aja kita dapat mengetahui berapa lama berlangsungnya, dan tetap ada akhirnya. Hal ini semuanya merupakan bagian dari manifestasi “KILESA”. Sebenarnya adalah karena bathin kita t e r p o l u s i o l e h “K I L E SA” ( = Ke m e l e k a t a n p a d a pengertian adanya AKU yang Abadi). Tadi kita katakan semua kegembiraan bersifat sementara, begitu cepat lenyapnya. Kalau begitu dimana “Kebahagiaan yang sebenarnya” ? Bagaimanakah cara memperolehnya ? Pertama-tama kita harus membuka 21

bathin kita, agar bathin kita dapat memutuskan Kemelekatan. Kemudian dikembangkan dengan lebih banyak memperhatikan dan perduli pada orang lain, yaitu yang dimaksud sebagai Cinta Kasih, Kesalehan serta lebih banyak memikirkan orang di sekitar kita. Mereka juga sama seperti kita memerlukan perhatian dan kasih sayang. Begitu kita mengembangkan pikiran seperti itu, kita baru dapat memperoleh kebahagiaan yang sebenarnya. Tetapi di jaman sekarang, banyak orang berpendapat bahwa kalau ingin bahagia harus memiliki kekayaan, ketenaran dan kekuasaan. Kalau kebahagiaan dapat diperoleh dengan mudah seperti itu, maka di dunia ini akan terdapat banyak orang bahagia. Tetapi kenyataannya, tidaklah demikian! Sebaliknya, ketika seseorang menjadi semakin kaya, semakin terkenal, dan semakin berkuasa, penderitaannya juga semakin banyak! Apa sebabnya ??? Itu disebabkan karena “ke-AKU-an nya” semakin besar dan kuat, maka perhatiannya kepada orang lain, keperduliannya kepada orang lain dan demi kepentingan orang lain juga menjadi semakin sedikit. Oleh karena itu, Buddha Dharma menekankan kepada kita harus memiliki perasaan Welas Asih dan Belas Kasih. Harus memperhatikan orang lain, bukan saja terhadap orang di sekitar kita, tetapi perasaan kasih sayang kita harus mencakup seluruh dunia!!! Berikutnya adalah usaha / langkah kedua kita untuk memperoleh kebahagiaan sejati. Kita sudah mengerti dan mengetahui bahwa akar dari segala kegelisahan dan penderitaan adalah kemelekatan terhadap AKU. Hal ini merupakan penyebab utama penderitaan. Apakah penyebab penderitaan yang ke-dua ? Masalah utama adalah ketika 22

bathin kita kacau dan gelisah, maka badan jasmani kita juga terganggu, sehingga pikiran, ucapan dan kelakuan kita juga menjadi tidak benar. Kelakuan yang tidak benar dari badan jasmani dan pikiran, akan menyebabkan penderitaan, inilah yang disebut KARMA ( perbuatan ), yang merupakan sumber dan penyebab penderitaan yang ke-dua, inipun harus kita singkirkan. Maka ketika kita merenungkan “Dukkha / penderitaan”, sebab dari Dukkha, serta penyebab utama dari masalah kita, pada awalnya kita mungkin bisa hadapi dengan cara-cara duniawi / umum. Tetapi lama kelamaan kita akan mengetahui cara duniawi tidak akan benarbenar membantu kita dalam menyelesaikan masalah; Juga tidak untuk memperoleh kebahagiaan atau menyingkirkan penderitaan. Kenapa demikian ??? Karena hari berganti hari, penderitaan yang sama timbul kembali, maka kitapun menyadari bahwa dengan cara duniawi bukanlah cara yang terbaik. Cara yang terbaik harus bermula dari memperbaiki bathin kita, memutuskan semua kemelut dan kegelisahan bathin, terutama harus menyingkirkan niat jahat kepada orang lain. Kita sekarang telah mengerti bahwa metode duniawi tidaklah bermanfaat. Maka kita mencari sebuah metode yang baik agar benar-benar dapat membebaskan kita dari penderitaan. Pertama kita harus mengetahui bahwa semua permasalahan adalah bersumber dari Bathin kita sendiri, yang mengakibatkan Penderitaan. Langkah ke-dua adalah timbulnya Niat atau Tekad yang kuat; Yaitu setelah mengetahui sebabnya, maka kita tahu cara menyingkirkannya. Lalu harus memiliki keyakinan : Saya pasti dapat memperoleh kebahagiaan yang sebenarnya ! 23

Keputusan demikian baru bisa berhasil memperoleh kebahagiaan. Ini yang dikatakan “Melenyapkan Penderitaan”. Buddha Sakyamuni mengajarkan kepada kita kebenaran yang ke-tiga adalah : Ketika seseorang dengan pikiran dan pandangan yang benar melihat kegelisahan dan keruwetan bathinnya, yang merupakan cermin “KEMELEKATAN terhadap AKU” ; Kemudian melalui latihan bathin menyingkirkan masalah utama tersebut, maka seseorang akan dapat memperoleh kebahagiaan yang sejati, juga dapat menyingkirkan semua penderitaan. Setelah itu penderitaan yang sudah tersingkirkan tidak akan muncul kembali. Keadaan ini yang disebut “Mengakhiri Dukkha / Penderitaan”. Kemudian Buddha Sakyamuni memberikan petunjuk, ketika kita mengetahui dan yakin dapat memperoleh hasil atas usaha tersebut, kita tetap membutuhkan caranya. Bagaimanakah caranya itu ? Inilah kebenaran ke-empat tentang MARGA / JALAN. Yang maksudnya adalah Jalan mengakhiri Dukkha. Ada banyak cara melatih diri. Di dalam Buddha Dharma dikenal adanya metode Theravada dan Mahayana. Kita tentunya tidak dapat mengambil semua metode dalam latihan kita, namun kita dapat melatih diri dengan metode yang praktis, Ambil intisarinya dan pilih yang sesuai untuk dilatih didalam kehidupan kita se hari-hari. Pelatihan seperti ini bukan hanya untuk umat Buddhis saja, tetapi semua orang harus berlatih dengan cara demikian. Menurut pandangan Buddha Dharma, ada tiga cara untuk melatih diri. 1. Cara melatih diri yang pertama : NAISKRAMY AMYA NEKKHAMA / NAISKRAMYA 24

(Niat untuk melatih diri dan keluar dari penderitaan), yaitu niat atau usaha untuk keluar dari roda Samsara. Kita semua merasakan bahwa unsur Dukkha / penderitaan ada pada kehidupan manusia. Kita juga berusaha untuk mengatasi dan menyingkirkan penderitaan, tetapi cara yang bersifat duniawi tidak dapat membebaskan kita dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan sejati. Demikianlah maka kita selalu mengalami penderitaan atas kelahiran kembali. Tetapi, setelah mengetahui semua Akar Penderitaan ini, maka muncullah niat untuk keluar dari penderitaan, yang dinamakan NEKKHAMA. Kemudian mulai berusaha mencari jalan keluar dari penderitaan. Tetapi ada kalanya, begitu kita mendengar “Nekkhama” / niat untuk meninggalkan penderitaan, terdengar seperti kita akan meninggalkan kehidupan ini, meninggalkan segalanya. Tidaklah demikian. Niat untuk meninggalkan penderitaan bukan berarti meninggalkan kehidupan ini dan meninggalkan segalanya, sebenarnya kita tetap hidup di dunia ini dan setiap orang masih tetap mengerjakan pekerjaannya baik di bidang politik, karir, pendidikan, ibu rumah tangga, atau pekerjaan lainnya. Di dalam kehidupan dengan sikap meninggalkan penderitaan (NEKKHAMA) berarti : jangan terlalu melekat pada pekerjaan, jangan selalu merasa kuatir dan memikirkannya, tetapi cobalah menjaga keseimbangan. Inilah yang dimaksud dengan niat untuk meninggalkan penderitaan. Perasaan bagaimanakah ini ? Rasanya kita pernah mengalami. Sering sekali penderitaan yang kita rasakan justru diciptakan oleh diri kita sendiri 25

karena nafsu keinginan kita yang terlalu kuat. Kita tidak pernah merasa puas atau ambisi kita yang terlalu besar serta target yang terlalu tinggi dan terlalu muluk. Ketika tidak tercapai, maka penderitaan akan timbul. Maka di dalam niat meninggalkan penderitaan ini (NEKKHAMA), di dalam pekerjaan kita harus menemukan keseimbangan. Kita harus berusaha sesuai dengan kemampuan, maju setahap demi setahap, selalu merasa puas diri, dan selalu bersuka cita dalam bekerja. Inilah yang dimaksudkan dengan niat untuk keluar dari penderitaan (NEKKHAMA). Beberapa tahun terakhir ini, di Eropa dan Amerika semakin banyak berdiri Buddhis Center, makin banyak orang Barat yang gemar mempelajari Buddha Dharma, saya (Rinpoche) akhir-akhir ini ke Eropa dan Amerika, menemukan banyak siswa-siswa Buddhis yang mempunyai masalah yang sama yaitu tidak memiliki niat untuk keluar dari penderitaan! Kebanyakan orang meskipun di dalam bathinnya ingin belajar Buddha Dharma, mereka juga berharap menjadi manusia yang luar biasa, ambisi mereka sangat besar dan ambisi ini mereka bawa ke dalam latihan bhavana mereka. Maka orang-orang ini meskipun melatih diri dalam Buddha Dharma, juga membawa pengharapan yang muluk-muluk. Tetapi karena kemampuan dan usaha yang terbatas, sehingga tidak terlaksana. Karena tidak tercapai, akhirnya mereka menderita. Meskipun ajaran Buddha Dharma begitu indahnya, tetapi bila seseorang tidak dengan tulus dan tidak melatih setahap demi setahap dengan rajin, akibatnya malah tidak sesuai dengan harapan. Inilah 26

yang saya (Rinpoche) saksikan dan juga merupakan masalah yang dihadapi para siswa Buddhis. Begitu pula, bila hal ini diterapkan dalam kehidupan, dalam mengerjakan apapun juga, kita harus menyesuaikan dengan kemampuan dan usaha kita, jangan terlalu memaksakan diri. Kita sering berkata “Percayalah pada diri sendiri”, hal ini sangat penting. Ada banyak masa dimana orang lain atau keadaan tidak dapat membantu dan mendukung, kita harus percaya pada diri kita sendiri. Tetapi haruslah ingat bahwa kita juga harus melindungi diri sendiri dan menyayangi diri sendiri. Meskipun kita dapat berpikir demikian, tetapi pada kenyataannya, apa yang kita lakukan justru mencelakakan diri kita sendiri bahkan juga mencelakakan orang-orang di sekitar kita. Ada kalanya kita harus merenungkan dan bertanya pada diri sendiri “ Apa yang kita kerjakan dan yang kita pikirkan, apakah sudah sejalan / sama ? “ Hal demikian perlu kita lakukan. Kita sering mendengar orang mengatakan “Manusia berbeda dengan binatang. Dimana perbedaannya?” Kita katakan “Manusia berbeda dengan binatang pada ‘bathin’nya.” Manusia mempunyai ketrampilan dan kemampuan, terutama bila mau berbuat kebajikan, hal itu akan benar-benar bermanfaat untuk orang banyak. Tetapi kita juga melihat ketika seseorang mempunyai niat yang sangat jahat, mungkin orang itu bisa menghancurkan dunia. Demikianlah kekuatan ‘Bathin’ manusia memiliki kemampuan & kekuatan khusus, maka dalam hal ini kita harus benar-benar mengerti 27

bagaimana menggunakan kekuatan besar tersebut. Pergunakan dengan baik dan tepat untuk melakukan pekerjaan sehari-hari. Begitu niat jahat timbul, hendaknya kita segera merubah niat jahat tersebut menjadi kehendak baik untuk memperhatikan orang di sekitar kita dan membantu lebih banyak orang. Begitu kehendak pikiran baik yang memberikan manfaat kepada orang banyak telah terbina perlahanlahan, kita akan dapat merasakan, bahwa kita bukan hanya bermanfaat bagi orang di sekitar kita tetapi juga bermanfaat bagi seluruh dunia! Hal tersebut dapat membantu mengurangi bencana peperangan, membantu tumbuhnya kesalehan dan Welas Asih diantara sesama. Hal ini sangatlah penting. Meskipun di dunia ini terdapat berbagai macam ras manusia, cara berpikir dan pekerjaan yang berbeda. Apapun perbedaan ini, saya (Rinpoche) berpendapat kita hendaknya jangan terlalu melekat atau berharap terlalu tinggi. Tetapi hendaknya selalu menjaga suatu keadaan bathin yang seimbang (balance). Hal ini sangat penting. Ketika kita bekerja dengan bathin yang tenang, kita akan menemukan dan merasakan penderitaan kita akan berkurang, begitu pula kemelut bathin, kekacauan pikiran, bahkan perselisihan antar sesama juga berkurang. Hal ini bukan sesuatu yang tidak mungkin, kita harus menggunakan cara yang benar agar dapat terlaksana. Jikalau seseorang dapat memiliki syarat-syarat keseimbangan yang tadi dijelaskan serta memiliki perasaan puas diri, dengan motivasi baik, maka orang ini akan bekerja dengan lebih teratur dan lebih realistis, sangat membantu dalam pekerjaannya. Tetapi sebaliknya, ketika ambisi dan kemelut 28

bathinnya begitu kuat, maka dia akan merasakan semua usahanya tidak mudah berhasil. Hal-hal demikian berawal dari niat / kehendak bathin sendiri! Pekerjaan apapun yang kita kerjakan, niat dan kehendak pikiran kita harus selamanya seimbang dan tepat, dengan demikian akan sangat membantu kita untuk mencapai hasil yang baik. Demikianlah salah satu dari tiga latihan bathin yaitu : Niat / kehendak untuk keluar dari penderitaan (NEKKHAMA) Ringkas kata :::: Niat untuk keluar dari penderitaan, maknanya adalah ‘mengenal dan mengetahui’ hakekat penderitaan, sehingga tidak terlalu “MELEKAT”. Dengan tidak melekat, akan membantu kita bekerja dengan tenang. Terkadang kita menjumpai orang yang tidak mengerti makna penderitaan dan kelahiran kembali, dia begitu melekat, bersusah payah pada usahanya untuk mencari kesenangan duniawi, meski betapapun giatnya dia bekerja, tetap tidak akan tercapai tujuannya. Dia akan tetap berada pada ‘penderitaan’, selamanya tidak akan memperoleh Kebahagiaan yang Sejati. 2. Cara melatih diri yang ke-dua : MENGEMBANGKAN BODHICITT ODHICITTA MENGEMBANGK AN B ODHICITTA Setelah kita mengerti tentang Nekkhama (Usaha untuk keluar dari penderitaan) maka Bodhicitta adalah sebuah istilah dalam agama Buddha, secara bahasa sederhana berarti Kebaikan dan Kesalehan untuk semua mahluk. Pertama-tama kita harus memberi perhatian pada orang lain, memberi manfaat 29

pada orang lain, tetapi sebelumnya kita harus memiliki KETENANGAN HATI. Hanya setelah memiliki ketenangan hati, maka seseorang baru dapat benar-benar damai dalam hati dan secara tulus, dan benar memberi bantuan kepada orang lain; sebaliknya, kalau kita tidak memiliki hal-hal demikian, kita sulit membantu orang lain. Sang Buddha pernah bersabda, “Jika seseorang ingin memutuskan semua kegelisahan dan keruwetan bathin (KILESA), dan segala macam penderitaan serta ingin memperoleh kebahagiaan sejati; hanya terdapat satu cara untuk memperolehnya, yaitu : Memiliki Bodhicitta dan hati yang penuh welas asih dan kasih sayang.” Tetapi perasaan welas asih dan kasih sayang (MAITRI KARUNA) juga tidak mudah tumbuh. Ada kalanya kita begitu mudahnya berkata, “Oh, sungguh kasihan !!” Tetapi, ini bukanlah welas asih dan kasih sayang “MAITRI KARUNA”. Mungkin ketika anda melihat keadaan orang-orang yang miskin, yang sangat susah hidupnya dan tidak memiliki apa-apa, seketika terketuk hati kita ingin membantu mereka. Ini tentunya suatu kebaikan namun bukanlah suatu kesalehan yang total. Suatu kesalehan yang total, yang memiliki kepedulian pada orang lain adalah: setelah kita secara menyeluruh menyingkirkan kemelekatan dan keserakahan kita, sama sekali tidak memikirkan diri sendiri tetapi secara menyeluruh perduli dan memperhatikan orang lain. Pemikiran seperti ini harus kita kembangkan. Ketika kita melatih niat yang baik untuk memperhatikan orang lain, secara bersamaan 30

adalah juga melatih bathin kita, membagi kebaikan pada orang lain dan menanggung beban penderitaan orang lain. Di dalam sejarah, sungguh ada orang-orang yang melatih diri sedemikian rupa dan berhasil. Benar-benar menanggung penderitaan orang lain dan memberikan kebahagiaan pada orang lain. Ini merupakan metode latihan yang besar manfaatnya. Bodhicitta merupakan TENAGA dan Kekuatan Bathin. Bukan saja penderitaan kita, tetapi juga penderitaan semua makhluk, kita harapkan dan berdoa, semoga kita dapat menanggulanginya dan membagi kebahagiaan kita kepada semua makhluk, dengan tidak mengharap segala macam imbalan balasan. Bodhicitta mengandung Welas Asih (MAITRI) dan Belas Kasihan (KARUNA). Welas asih, agar semua makhluk memperoleh kebahagiaan, bukan sematamata berbahagia tetapi juga dapat memperoleh SEBAB dari KEBAHAGIAAN. Belas kasihan, berharap agar semua penderitaan dapat disingkirkan serta dapat menjauhkan diri dari PENYEBAB PENDERITAAN. Sikap welas asih dan belas kasihan bukanlah timbul sesaat begitu saja, tetapi hendaknya selalu ada dalam Hati untuk selamanya. Di dalam Buddha Dharma, kita diajarkan satu cara agar dapat menumbuhkan welas asih dan kasih sayang : Pertama-tama kita pikirkan bahwa semua makhluk sebagai orangtua kita sendiri, dengan demikian bisa menumbuhkan perasaan welas asih dan kasih sayang kita. 31

Tetapi ketika kita berlatih lebih dalam, saat itu kita tidak lagi berpikir dan menganggap semua makhluk sebagai orangtua kita lagi, tetapi memikirkan bahwa makhluk lain lebih penting dari diri kita sendiri, secara keseluruhan mengesampingkan diri sendiri. Ini adalah cara yang lain. Maka kita sering berkata harus memiliki Bodhicitta, harus memiliki kesalehan, sedangkan langkah pertama yang harus kita kerjakan adalah berikrar dan bercita-cita luhur, semoga semua makhluk dapat terbebas dari penderitaan dan kebahagiaan. memperoleh kebahagiaan Inilah yang dimaksud dengan “Niat untuk mengembangkan Bodhicitta”. Tetapi hanya berikrar dan bercita-cita tidaklah cukup. Maka setelah berikrar dan bercita-cita, kita harus mulai bertindak untuk membantu orang lain. Inilah yang dinamakan ‘Pelaksanaan Bodhicitta Bodhicitta’. P Demikianlah latihan-latihan dari jalan Bodhisattva Mahayana, serta latihan sifat welas asih dan belas kasihan. Hal ini sangat penting. Kenapa ? Karena di dalam Buddha Dharma masih terdapat metode pengajaran yang lebih dalam. Tetapi andai kita tidak memiliki dasar-dasar dari kesalehan dan Bodhicitta, kita tidak akan dapat mempelajari ajaran-ajaran Buddha Dharma yang lebih mendalam. Bila kita dapat berlatih sesuai dengan jalan Dharma, belajar secara bertahap, maka ada kemungkinan dalam waktu singkat kita akan dapat melihat hasilnya. 3. Cara melatih diri yang ke-tiga : ANDANGAN YANG PANDANGAN YANG BENAR Pandangan yang benar, membantu kita untuk menyingkirkan kegelisahan, kekuatiran dan 32

kemelut bathin, ini dikatakan sebagai pandangan yang benar. Ketika pandangan kita tidak benar, maka kegelisahan / kekuatiran dan kemelut bathin akan muncul. Misalnya, ketika kita bertemu dengan orang yang kita senangi, maka akan timbul rasa senang. Melihat dan bertemu dengan orang yang tidak kita senangi, maka akan timbul rasa benci. Melihat orang yang tidak kita kenal, maka tidak akan dilayani, juga tidak ada kesan khusus. Demikianlah kebiasaan mem-beda beda kan yang umum dilakukan oleh kita. Oleh karena itu, memiliki pandangan yang benar di dalam kehidupan adalah penting. Bukan saja diperlukan bagi umat Buddha, tetapi khalayak umum juga memerlukannya. Terlebih bagi mereka yang menderita. Memiliki pandangan yang benar akan sangat membantu. Semua kekesalan dan kekuatiran yang membuat hidup kita tidak nyaman. Penyebabnya hanya ada dua: yang pertama adalah keserakahan dan yang ke-dua adalah kebencian. Inilah yang di dalam Buddha Dharma disebut “LOBHA” dan “DOSA”. Misalnya, kita mudah menganggap orang yang kita senangi sebagai teman kita, sedangkan orang yang tidak kita sukai sebagai musuh kita. Kedua hal tersebut bedanya dimana ? Masih juga terdapat pada ‘KEMELEKATAN TERHADAP AKU’. Karena kita telah membatasi diri kita dengan konsep “KE-AKU-AN”, maka yang cocok dengan diri kita, kita anggap sebagai ‘teman / sahabat’; yang tidak cocok, kita anggap ‘musuh’. Maka semua masalah bermula dari perbedaan tersebut. Sungguh banyak kegelisahan dan kekuatiran kita! Misalnya kita telah menjadikan orang yang tidak cocok 33

dengan kita sebagai ‘musuh’, tetapi terhadap orang yang tidak cocok dengan ‘teman kita’, juga dianggap ‘musuh kita’. Dengan demikian musuh kita menjadi begitu banyak. Kalau ‘musuh’ itu punya teman, maka ‘teman dari musuh’ juga akan menjadi ‘musuh kita’, dan seterusnya. Kita akan melihat bahwa “musuh” menjadi begitu banyak dan tidak habis-habisnya. Kalau kita merenungkan secara mendalam, ternyata semua penderitaan berasal dari KEMELEKA TERHADAP AKU”. “KEMELEKATAN TERHADAP AKU” Orang-orang mengatakan, untuk melenyapkan musuh-musuh di seluruh dunia adalah sulit. Pernah ada seorang Pandita India yang mengatakan, “Bumi ini penuh dengan batu kerikil dan benda tajam; daripada menghamparkan permadani untuk menutupi, lebih baik mengenakan sepatu yang cocok agar dapat berjalan di atasnya.” Kata-kata ini berarti, kita tidak mungkin menyingkirkan orang-orang yang tidak kita sukai, juga tidak mungkin menyingkirkan sifat keserakahan seseorang, tetapi terdapat sebuah cara : Kita harus dapat menghadapi sifat kemelekatan yang menganggap pihak lawan / orang lain sebagai musuh kita. Kalau kita dapat menyingkirkan rasa kegelisahan dan kebencian yang ada pada diri sendiri, maka dengan begitu kita telah dapat menyingkirkan semua musuh-musuh kita di dunia! Inilah metode latihan ke-tiga yaitu Metode pandangan benar benar. Pandangan benar bertujuan agar kita dapat benar-benar berpikir dan menganalisa segala macam kegelisahan dan kekuatiran (kebencian, iri hati), dan lain-lainnya, serta menyadari dari mana hal-hal tersebut timbul. 34

Akhirnya, kita akan mengetahui, semua kegelisahan dan keresahan bathin itu berasal dari niat yang muncul dalam diri sendiri, berasal dari orang lain. Kita sering merasakan apabila ketemu orang yang tidak disukai, begitu melihat orang itu, membuat kita tidak senang. Ada kalanya bisa begitu ekstrim, hanya melihat sepatunya saja sudah membuat kita tidak senang. Kenapa ? Sebenarnya problemnya bukan pada orang lain, dan juga kita tidak sungguh-sungguh membenci dan mendendam orang tersebut. Tetapi masalahnya, kegelisahan dan keresahan bathin orang itu sebenarnya juga merupakan kegelisahan dan keresahan bathin kita sendiri. Maka musuh kita sebenarnya adalah Kegelisahan, Kekuatiran dan Keresahan, serta Kebencian kita. Pernah ada seorang Guru India yang mengatakan, “Sebenarnya, rasa benci kita tidak mempunyai alasan / tidak memiliki dasar.” Misalnya, ketika seseorang dengan sebuah tongkat memukuli kita, sudah pasti kita akan marah pada orang tersebut. Tapi sebenarnya yang membuat kita sakit adalah tongkat itu, seharusnya kita marah pada tongkat itu, tetapi kita tidak berpikir demikian, karena tongkat hanyalah alat yang dipakai oleh si pemukul. Seharusnya kita marah pada tongkat tetapi kita marah pada pemegang tongkat, inilah kebiasaan orang-orang secara umum. Namun, jika kita renungkan secara dalam, kita akan menemukan bahwa pemegang tongkat juga sama dengan tongkat itu, yang tidak berdaya pada diri sendiri, karena dipengaruhi dan didorong oleh emosi dan kebenciannya, sehingga digunakanlah tongkat untuk memukul kita. Maka kita juga tidak punya 35

alasan untuk marah terhadapnya. Kalau benar-benar mau marah, kita harus marah pada sifatnya yaitu: KEBENCIAN. Oleh karena itu, segala macam pertikaian dan peperangan di dunia ini, segala macam penderitaan, pada dasarnya adalah karena kita dikuasai oleh kegelisahan bathin kita. Sesungguhnya tidak ada siapapun yang bermasalah dan bersalah. Sang Buddha pernah membuat sebuah perumpamaan yang baik : Bagai seorang penderita sakit jiwa yang tinggal di rumah sakit jiwa. Pada suatu hari dia memukul dokter ahli penyakit jiwa, dokter tersebut tidak marah, malah muncul rasa welas asih dan belas kasihan. Ini disebabkan sang dokter mengerti bahwa penderita penyakit jiwa prilakunya tidak terkontrol, maka menghadapi penderita tersebut, dia bukannya marah, malah semakin dalam perasaan welas asih dan kasih sayangnya. Bila kita memiliki pandangan benar seperti ini, di dalam kehidupan, seandainya berjumpa dengan masalah, maka kita tidak akan begitu cepat emosi dan marah. Bahkan akan dapat lebih mengerti apa sebabnya orang itu emosi dan marah serta mengembangkan sifat welas asih dan belas kasihan kita. Demikianlah ulasan sekilas tentang ‘pandangan benar’. Hal ini akan banyak membantu anda, terutama bagi yang bekerja dengan masyarakat dan orang banyak, lebih banyak memerlukan pengertian pandangan benar untuk menyelesaikan banyak masalah. Begitu pula dalam urusan keluarga, hal demikian juga penting. Untuk pekerjaan apapun, hal ini sangat berguna. 36

Kalau kita dapat menggunakan pandangan benar untuk kehidupan sehari-hari, kita akan dapat merasakan, baik di dalam dunia politik, pebisnis / pengusaha atau pekerjaan apapun juga, hubungan antar manusia akan lebih harmonis, saling membantu dan saling membawa manfaat, saling memperhatikan satu dengan yang lain, tentu akan sangat membantu semua pihak. Kita sering melihat hal demikian, yang juga terjadi pada umat Buddha. Ketika mereka menemukan masalah-masalah dalam hidup mereka dan mereka menyadari kalau mereka umat Buddha, maka mereka akan pergi ke Vihara, bernamaskara, Pradaksina (memutar mengitari pagoda sambil menghormat). Ketika mereka mengetahui ada bhikkhu atau Rinpoche yang datang, maka mereka segera datang untuk mencurahkan permasalahannya, dengan menganggap hal demikian akan menyelesaikan masalah. Tetapi pada dasarnya, ini bukanlah cara penyelesaian masalah yang baik. Di dunia ini banyak orang mencari psikiatris untuk berobat, setelah mereka memberitahukan kepada dokter ahli jiwa tentang keluhan-keluhannya, kemudian oleh dokter diberikan nasehat, penjelasan dan pengertian kepada pasiennya. Hal ini mungkin banyak membantu, tetapi juga tidak dapat menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Cara penyelesaian yang terbaik, seperti yang diuraikan sebelumnya, adalah melatih diri tentang ‘Pandangan Benar’. Kalau kita dapat memiliki pandangan benar, serta sering melakukan perenungan tentang hal itu, maka tiada lagi penderitaan. Hal ini sungguh dapat membantu. 37

Demikianlah tentang tiga cara latihan : Pandangan Benar. Nekkhama, Bodhicitta, dan Pandangan Benar Ketiga cara ini perlu bagi umat Buddha, begitu pula bagi umat non-Buddhis, kalau di dalam kehidupan dapat melaksanakan ketiga cara latihan tersebut, maka akan mendapatkan banyak manfaat. Untuk hal tersebut, saya (Rinpoche) sudah memastikannya. Apalagi kita tahu kekuatan dari TEKAD manusia tidak terbatas, apapun bidang pekerjaannya, di bidang kemasyarakatan atau di bidang lain, yang terpenting adalah kesalehan dan rasa perduli kita pada sesama. Lebih dari itu, kita juga memerlukan ketulusan dan kejujuran. Kalau di dalam menyelesaikan masalah, kita selalu memiliki niat yang tidak baik atau pikiran-pikiran yang licik, maka akan timbul banyak masalah. Oleh karena itu, kata-kata yang mengatakan manusia mempunyai kekuatan ’, hal itu tidak ‘ semata-mata hanya dikatakan. Pengertian ‘kekuatan’ adalah jika niatnya saleh dan baik untuk membantu orang lain maka tenaganya akan luar biasa. Kalau kita tidak dapat mengembangkan ‘tenaga’ tersebut, berarti kita belum mengerti mengembangkan kemampuan kita. Maka kehidupan kita hanya kita lewati begitu saja, tidak berbeda dengan kehidupan binatang. Oleh karena itu, Kesalehan dan Keperdulian pada orang lain sangat penting. Secara jujur dikatakan, pada dasarnya setiap orang sedikit banyak masih memiliki kemelekatan, sedangkan kita juga tidak dapat dengan segera menyingkirkannya. Tetapi paling tidak yang bisa kita lakukan mulai saat ini adalah perlahan-lahan 38

menundukkannya / menjinakkannya sehingga mencapai suatu batas keseimbangan. Para hadirin, terutama bagi para pengusaha, kita harus mengerti sesuatu yang penting yaitu ‘perusahaan adalah dikendalikan oleh saya, bukan perusahaan yang mengendalikan saya.’ Kalau tidak berpikir sedemikian rupa, maka hidup kita akan sia-sia, sehingga pada suatu hari, kita baru menyadari mengapa seluruh hidup kita direpotkan dengan pekerjaan? Tetapi sebaliknya, seandainya di dalam mengerjakan sesuatu, timbul keperdulian pada orang lain, mau perhatikan serta mau membantu orang lain, kita akan menemukan bahwa pengaruh dari pekerjaan kita dapat lebih banyak membahagiakan orang lain. Maka pada waktu itu barulah dapat dikatakan kekuatan yang terpendam didalam bathin dapat berkembang. Di dalam Buddha Dharma dikatakan sungguh sulit terlahir sebagai manusia. Ini sungguh benar. Yang dimaksud dengan sulit disini adalah untuk memperoleh kesempatan terlahir sebagai manusia, kemudian hidupnya makmur, sungguh amat sulit. Maka para hadirin, ketika anda telah memperoleh kehidupan yang baik serta berkecukupan, maka binalah kebiasaan yang baik, yang selain membantu diri sendiri juga orang lain. Demikianlah tema pembicaraan singkat hari ini. Bagi anda yang telah mengenal Buddha Dharma, diharapkan isi ceramah hari ini akan dapat membantu anda untuk lebih meningkatkan latihan bathinnya (Bhavana). Bagi teman-teman yang baru mengenal Buddha Dharma, semoga isi ceramah hari ini dapat membawakan pengetahuan-pengetahuan baru dan dapat memberikan penyuluhan. 39

Tetapi saya (Rinpoche) yakin, bagi mereka yang belum menerima Buddha Dharma, ketiga cara latihan yang diuraikan tadi, benar-benar dapat membantu. Oleh karena itu, orang-orang yang benar-benar melatih dan melaksanakan Ajaran / Buddha Dharma tidak harus Buddhis, mereka yang benar-benar memiliki niat untuk menyingkirkan penderitaan (Nekkhama), timbul niat untuk perduli pada semua mahluk, benar-benar mengerti hakekat dari kehidupan ini, dan yang memiliki ‘pandangan benar ’, dialah yang kita sebut sebagai ODHISATTVA BODHISATTVA (= Orang yang benar-benar perduli dan selalu siap untuk membantu orang lain ), meskipun dia bukan seorang Buddhis (Umat Buddha), tetapi dialah Bodhisattva yang sesungguhnya. Maka istilah ‘RELIGION’ yang kita sebut sebagai AGAMA sebenarnya adalah Ajaran yang harus dilaksanakan dengan baik dan benar, kalau tidak maka akan timbul berbagai masalah. Dari sisi lain, yang dimaksudkan dengan ‘agama’ adalah yang memberitahukan cara yang lebih baik dan jalan yang lebih baik untuk kehidupan. Kalau kita tidak sungguh-sungguh dengan cara yang benar melaksanakannya, maka kemungkinan besar hanya akan membuang-buang waktu saja. Mungkin ada yang pernah mengunjungi Vihara / Arama beberapa kali dan berdoa kepada Buddha dan Bodhisattva berulang kali, hal-hal demikian dapat diabaikan. Jika seseorang ingin berkenalan dengan Dharma / Agama, maka pertama-tama harus bermula dari kesalehan hati. Bila kita telah memiliki 40

kesalehan, welas asih dan kasih sayang sebagai dasar dasar, kemudian mengikuti pelajaran Dharma / Agama, dengan demikian baru dapat berhasil baik. Sebaliknya kalau tidak memiliki dasar-dasar yang baik, kita tidak dapat belajar Dharma / Agama dengan baik. Ketika rasa welas asih dan kasih sayang dapat dipadukan dengan ajaran Agama, barulah dapat dikatakan sebagai nilai luhur dari Dharma / Agama yang sebenarnya.

41

PERTANYA PERTANYA PERTANYAAN – PERTANYAAN 1. Dapatkah mengulas “NEKKHAMA’ ? kembali pengertian

J AWAB : Bagaimana kita mengembangkan Nekkhama (Niat untuk menyingkirkan penderitaan) ? Ketika seseorang merasakan penderitaan jasmani dan bathin, dan penderitaan-penderitaan lainnya, kita akan berusaha mencari dimana penderitaan itu ? kita tidak suka pada ‘penderitaan’ dan berusaha untuk menyingkarkannya. Meskipun penderitaan itu kecil, asalkan kita mau memperhatikannya dan merenungkannya, kita akan dapat mengerti bahwa kelahiran dalam hidup ini sudah mengandung ‘penderitaan’, kita tidak berdaya menyingkirkannya dan tidak dapat melepaskannya. Meskipun di dunia ini terdapat kebahagiaan, namun itu hanya sementara, yang pada dasarnya adalah ‘menderita’, renungkanlah mulai dari hal demikian, maka timbullah ‘Nekkhama’ – Niat untuk keluar dari penderitaan. 2. Ada pendapat dengan bersamadhi bisa jadi sesat dan kemasukkan roh jahat. Bagaimana dapat terjadi ? Dan kalau terjadi, bagaimana mengatasinya ? JAWAB : Untuk belajar samadhi (meditasi) yang benar harus bertahap belajarnya, dengan demikian dapat membantu kita agar tidak mudah tersesat. Langkahlangkah itu apa saja ? Pertama-tama kita harus memiliki pandangan benar tentang Buddha Dharma dan Samadhi; Pandangan Benar tersebut harus didapat dari seorang Guru (Acharya) yang baik pula. Setelah mempunyai pengertian benar sebagai dasarnya, barulah boleh mulai berlatih dengan bimbingan dari sang Guru ( Acharya) 42

pula. Kemudian sang Guru (Acharya) akan memberikan metode latihan dan bimbingan samadhi sesuai kondisi masing masing siswanya. Inilah yang di dalam Buddha Dharma dikatakan ‘Pengertian dan Pelaksanaan’ secara bertahap. Sebaliknya, jika ada orang yang sedikit pengertiannya tentang pandangan benar, lagi pula kurang mengerti Buddha Dharma, serta tidak ada Guru (Acharya) yang membimbing samadhi, tetapi hanya belajar dari membaca buku, mendengarkan pengalaman meditasi dari orang lain, kemudian ber-samadhi, maka akan dengan mudah tersesat. Ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan, di dalam tradisi Buddhis Tantra Tibet, sangat menitik beratkan ‘Silsilah Guru’. Kalau silsilah guru sudah baik dan terjaga, maka latihan apapun tidak akan mengalami rintangan ! 3. Setelah lahir di dunia, apakah tujuan hidup manusia? JAWAB : Setiap orang tentu mengharapkan kebahagiaan, bahkan menginginkan kebahagiaan yang berlangsung lama dan tidak putus-putusnya. Bagi orang yang meyakini adanya kelahiran kembali, pasti selalu berusaha mengarahkan tujuan kesana, serta giat berjuang untuk memperolehnya. Tetapi sayangnya, kita tidak menggunakan cara yang benar. Kita selalu menggunakan cara duniawi untuk memperoleh kebahagiaan, dan akhirnya hanya memperoleh kebahagiaan yang semu dan sementara. Hanya dengan menyingkirkan Kilesa / Keresahan Bathin, barulah dapat memperoleh kebahagiaan yang sebenarnya. Itulah sebabnya kita bertumimbal lahir ber-ulang ulang karena pada waktu mencari kebahagiaan selalu menggunakan cara yang keliru. 43

Oleh karena itu, di dalam kehidupan sekarang, lebihlebih anda yang sudah memperoleh kehidupan sebagai manusia yang sulit diperoleh, juga berusaha mengarah kepada cita-cita untuk memperoleh kebahagiaan sejati, maka kita harus memakai cara yang bijaksana dan tepat untuk membantu diri kita. Pertama-tama harus menyingkirkan Kemelekatan dan Keserakahan, sehingga timbul kehendak untuk membantu orang lain. Begitu niat dan kehendak untuk membantu orang lain telah timbul, makna dari kehidupan akan termanifestasi. Dengan demikian harapan untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi baru benar-benar berarti, sedangkan makna kehidupan juga dapat dikatakan harmonis dan bermanfaat. Inilah tujuan terlahir sebagai manusia. 4. Bagaimana mengenali silsilah guru yang benar ? JAWAB : Di dalam tradisi Buddhis Tantrayana Tibet terdapat empat aliran : NYINGMAPA, SAKYAPA, GELUGPA, KAGYUPA. Keempat aliran tersebut masingmasing mempunyai silsilah (Lineage) Acharya. Yang dimaksud dengan silsilah Acharya adalah seorang siswa yang belajar metode Dharma, kemudian diterapkan dalam kehidupan. Setelah menyadari Kilesa / Kegelisahan / Keresahan bathin berkurang, secara pribadi menumbuhkan Bodhicitta. Maitri Karuna (welas asih dan belas kasihan) bertambah. Hal-hal tersebut menunjukkan Dharma telah bermanfaat dan termanifestasi dalam kehidupan seorang siswa. Kemudian menerima Abhiseka / Diksa dari Acharya. Hal tersebut menunjukkan memiliki silsilah Acharya yang benar. Tetapi seandainya, Kilesa / Kegelisahan / Keresahan bathinnya semakin bertambah, sedangkan Bodhicitta dan 44

Maitri Karuna juga tidak timbul, Dharma tidak dapat diterapkan. Hal tersebut menunjukkan silsilah Acharya tidak benar. Demikianlah cara pengenalannya. 5. Apakah cara latihan Non-Tantra dan Tantra berbeda? Apakah ada urutannya ? JAWAB : Non-Tantra dan Tantra berbeda, tetapi pandangan dasarnya sama. Hasil pencapaian juga sama. Namun cara dan metode latihannya berbeda. Urutannya adalah kita harus belajar Non-Tantra terlebih dahulu, kemudian baru Tantra. Seperti menaiki tangga berurutan. Penggabungan kedua metode tersebut bisa kemudian, setelah mengikuti pelajaran cukup lama dan dalam. Yang dimaksudkan dengan latihan penggabungan adalah setelah memiliki pengertian-pengertian yang cukup jelas tentang Non-Tantra dan Tantra, maka barulah boleh berlatih menggabungkannya. 6. Bagaimana pandangan Rinpoche tentang Vegetarian (makan makanan non hewani) ? JAWAB : Saya pribadi juga Vegetarian. Mengenai vegetarian, sebenarnya Sang Buddha di dalam Sutra NonTantra ada mengutarakan. Di dalam Sutra Tantra juga ada ulasan yang berbeda. Di dalam Sutra aliran Selatan, Sang Buddha tidak mengatakan bahwa para rohaniawan tidak boleh makan daging, bahkan sebagian mengatakan daging boleh dimakan. Misalkan daging yang telah dijual sebanyak tiga kali dan pada pembeli yang ke-tiga, daging dapat dibeli dan dimakan. Ini adalah sebuah pendapat. Bila kembali pada pandangan Mahayana, di dalam Sutra Lankavara dijelaskan kelemahan dan tidak baiknya makan daging. Di dalam Tantrayana, ada kalanya makan daging dapat diterima, tetapi ada kalanya makan daging juga 45

dianggap tidak baik. Dilihat dari manfaatnya, tidak makan daging adalah baik. Oleh karena itu, bila kita bicara tentang vegetarian, kita dapat melihat banyak orang ber-vegetarian, tetapi motivasinya berbeda-beda. Ada orang karena mengikuti tradisi keluarga, ada yang berpendapat daging tidak bersih maka tidak mau makan, ada juga yang berpijak pada mengembangkan Bodhicitta Mahayana (Maitri Karuna) sehingga ber-vegetarian. Tetapi kalau kita berpandangan dari Bodhicitta Mahayana, kalau seseorang telah memiliki Bodhicitta Mahayana, makan daging dan tidak makan daging tidaklah terlalu berbeda. Maka bila seseorang selamanya memiliki sifat welas asih dan belas kasihan (Maitri Karuna), meskipun pada waktu dia memakan daging, dia juga dapat menyalurkan jasa terhadap makhlukmakhluk yang telah dimakan dagingnya. Di jaman Sang Buddha, terdapat anggota bhikkhu Sangha yang setiap hari harus ber-pindapata, maka Sang Buddha menetapkan makanan apapun yang diberikan oleh pendana, para bhikkhu harus menerimanya. Karena makanan tersebut adalah jasa dari orang yang berdana. Yang juga merupakan kesempatan bagi yang berdana untuk mengumpulkan pahala. Oleh karena itu, apakah daging atau sayur harus diterima untuk dimakan. Oleh karena itu, bagi seorang Bodhisattva yang benarbenar sesuai dengan Dharma (orang yang memiliki Maitri Karuna), makan daging atau tidak, bagi dia tidak terlalu banyak perbedaan. Tetapi bagi pelaksana Dharma yang tekun berlatih, tidak makan daging ada banyak manfaatnya. Yang pertama tidak makan daging membantu otak seseorang menjadi lebih segar, kebijaksanaannya semakin jelas. Yang ke-dua dia akan lebih sehat. 46

7. Pada waktu melaksanakan metode Kriya Tantra, ada peraturan tidak boleh makan daging. Tetapi setelah selesai, kita tidak bervegetarian lagi, hati menjadi gelisah. Di dalam metode pengajaran Mahayana (NonTantra), seperti metode Kuan Yin dan pelafalan Maha Karuna Dharani atau metode Ksitigarbha. Setiap metode dalam latihan punya pandangan yang berbeda terhadap vegetarian dan non-vegetarian, apakah dapat dijelaskan perbedaannya ? JAWAB : Di dalam latihan Tantra, terutama dalam Kriya Tantra dan Carya Tantra sangat memperhatikan kebersihan dan kesucian. Maka selama latihan ini, para siswa tidak dibenarkan makan daging dan juga tidak dibenarkan makan bawang karena di dalam latihan Carya Tantra dan Kriya Tantra harus banyak membaca mantra, sedangkan makanan daging dan bawang dapat membuat kekuatan pembacaan mantra sulit untuk terlaksana, dan tidak mudah terhimpun. Para siswa yang baru belajar pada waktu memasuki latihan tingkat yang lebih tinggi, harus melalui proses sedemikian. Karena bagi siswa pemula tidak dapat sekaligus menguasai pelajaran Tantra yang dalam, harus perlahanlahan dan bertahap, serta bermula dari lingkungan yang bersih agar dapat menenangkan dan menjernihkan bathinnya. Barulah kemudian dapat melaksanakan latihan. Ini adalah suatu urutan / tingkatan. Pelaksanaan Kriya Tantra dan Carya Tantra dengan ber-vegetarian dapat mencapai tingkat ketenangan tertentu. Kemudian memasuki Anuttara Yoga Tantra, apakah akan ber-vegetarian atau tidak, tidak ada standarisasi. Di dalam Non-Tantra, misalkan metode Kuan Yin dengan latihan Atta-Sila. Aturan Sila cukup banyak, 47

ada yang harus dilaksanakan dalam satu hari, atau tiga hari. Dalam waktu yang berbeda melaksanakan sila-sila tertentu bertujuan agar mencapai hasil yang maksimal. Boleh juga ber-vegetarian hanya pada waktu latihan silasila tertentu, setelah itu kembali non-vegetarian seperti biasa. Hal tersebut tergantung dengan tekad kita, misalnya ada orang setelah selesai melaksanakan Atta-Sila atau latihan suatu metode, kemudian berikrar untuk bervegetarian seumur hidup. Ini adalah sebuah niat / citacita. Begitu juga ada orang yang berikrar untuk waktu yang singkat, misalnya hanya pada permulaan suatu latihan, maka setelah selesai, kembali seperti biasa untuk non-vegetarian. 8. Bila seseorang sama sekali tidak mengenal Buddha Dharma tetapi menerima Abhiseka, apakah dia dapat menerima kekuatan Abhiseka ? Kalau orang itu hanya menerima Abhiseka tetapi tidak membaca sutra apapun, apakah hal ini akan mendatangkan manfaat ? JAWAB : Sebenarnya sekarang ini timbul fenomena dimana Abhiseka sudah banyak disalah-gunakan. Begitu mendengar kata Abhiseka, orang-orang akan berpikir sebuah botol diletakkan di atas kepala dan menganggap itulah “Abhiseka”. Sebenarnya arti keseluruhan dari Abhiseka dan prosedurnya juga sangat rumit. Misalnya, Acharya yang mengajarkan Dharma yang akan memberikan Abhiseka harus memiliki syarat-syarat yang cukup rumit, begitu pula siswa yang akan menerima Abhiseka tersebut harus memenuhi syarat syarat tertentu yang sama rumitnya. Dalam bahasa Sansekerta disebut ‘Abhiseka’ dan dalam bahasa Tibet disebut ‘Wang’. Sekarang di dunia, Abhiseka / Wang sudah begitu populer, tetapi pada 48

kenyataannya banyak yang tidak sesuai dengan aturan semestinya. Lebih tepat kalau menggunakan istilah menerima ‘Diksa’, yang artinya adalah kita diperbolehkan melatih metode Yidam tertentu dan melafalkan mantranya. Di dalam tradisi Tibetan, upacara serupa sering dilakukan. Orang-orang mengerti maknanya, maka sering dikatakan menghadiri pertemuan Dharma Desana akan memperoleh Blessing, tetapi bukanlah menerima Abhiseka. Sedangkan yang dimaksud dengan memperoleh “Abhiseka” mempunyai makna yang dalam dan rumit. Tidak seperti yang kita bayangkan bahwa ada Guci PaoPing diletakkan di atas kepala, sama sekali berbeda. Tetapi Acharya melalui kekuatan dari kebijaksanaan bathinnya, mungkin hanya berupa sebuah kata, sebuah petunjuk atau sebuah perwujudan, melalui upacara demikian para siswa bisa mendapatkan Pencerahan. Inilah yang dapat dikatakan “Abhiseka”. Abhiseka dapat dibagi menjadi dua : yang pertama adalah Abhiseka jasmani dan yang ke-dua adalah Abhiseka bathin. Abhiseka jasmani merupakan satu upacara yang di kemudian hari dapat menerima Diksa dan melatih metode Yidam. Tetapi apakah setelah melalui upacara tersebut kebijaksanaan kita muncul dan tercerahkan ? Ini adalah bagian dari Abhiseka Bathin sesungguhnya ini yang paling penting dan harus kita dapatkan. Oleh karena itu, sesungguhnya Abhiseka secara bathin tidak memerlukan faktor dari luar. Maka, jika anda menemukan sebuah pot pusaka / PaoPing atau sebuah Torma di depan Altar mandala, itu berarti bagian dari Abhiseka jasmani. 49

9. Mengapa kita harus melafalkan mantra ? Mengapa kita harus menerima Abhiseka ? Apakah hal-hal demikian bermanfaat ? JAWAB : Sungguh-sungguh bermanfaat. Mengapa harus membaca Sutra Buddha ? Pada dasarnya Sutra Buddha sangat berguna agar kita lebih mengerti tentang : Nekkhama, Bodhicitta dan pandangan benar. Terdapat banyak sekali ulasan yang membantu, seperti seseorang yang ingin pergi belanja, pertama-tama dia harus mengerti apa yang mau dibeli, baru kemudian dapat menemukan apa yang hendak dibeli. Sama halnya mengapa kita harus melafalkan mantra, manfaatnya banyak sekali. Salah satunya dapat membantu kita menghapus / menyingkirkan penyakit, juga dapat membuka kebijaksanaan kita. Begitu pula ada yang dapat membuat kita panjang usia. Oleh karena itu, apa yang anda inginkan, kemudian lafalkan mantra yang sesuai dengan harapan anda dengan hati yang paling tulus. Sebenarnya mantra adalah ikrar para Buddha dan Bodhisattva, misalkan salah satu Bodhisattva yang berikrar untuk membantu menyingkirkan segala penyakit, maka kita melafalkan mantra dari Bodhisattva tersebut, dan menjadikan bathin kita menyatu dengan Bodhisattva tersebut. Inilah yang dimaksud dari pelafalan mantra. Tentang Abhiseka. Apabila Kita mengikuti seorang Acharya yang memiliki kebijaksanaan tinggi dan penuh dengan Maitri Karuna. Dengan bimbingan beliau, kita dapat mengurangi kebencian dan rasa iri hati serta menumbuhkan kesalehan kita. Itu berarti telah menerima makna sebenarnya dari Abhiseka. 50

Abhiseka yang paling tepat adalah melaksanakan ajaran ,mengikuti metode yang benar dengan pengertian yang benar, dan melatih diri dengan tuntas menyingkirkan Kilesa dan Penderitaan, serta memperoleh kebahagiaan yang sejati. Ini baru dapat dikatakan Abhiseka yang bermanfaat. 10. Terhadap orang yang pernah menyakiti atau sedang menyakiti kita, kita sulit menumbuhkan pikiran untuk perduli atau welas asih terhadapnya. Bagaimana cara mengatasinya ? Di dalam metode Ksitigarbha, kita diminta menyalurkan jasa-jasa agar terlahir di alam Sukhavati. Tetapi terhadap mereka yang karena perbuatan jahat dan terlahir di alam neraka. Kalau kita berikrar untuk menyelamatkan mereka, bagaimana ikrar besar ini dapat timbul ? JAWAB : Pertama-tama kita harus mengerti bahwa rasa welas asih dan belas kasihan (Maitri Karuna) bukan semata-mata karena melihat penderitaan pada fisik seseorang. Bukan rasa kasihan yang seperti itu. Rasa Maitri Karuna yang nyata adalah, ketika seseorang yang sedang menderita, tetapi karena tidak mengerti sifat Dukkha pada dasarnya adalah Sunyata / Kosong, penderitaan itu tidak benar-benar eksis / ada, oleh ketidaktahuan-nya, malah melekat dengan penderitaan tersebut sebagai sesuatu yang nyata, akibatnya orang itu terus menerus terlahir dalam lingkaran penderitaan dan tidak mampu keluar dari penderitaannya. Dari hal hal semacam inilah akan muncul rasa Maitri Karuna tersebut. Sebagai contoh, seperti seorang yang sedang menderita kelaparan, padahal disampingnya terdapat banyak makanan, namun orang itu tidak dapat menyantapnya. Pada waktu itu kita dapat 51

mengembangkan Maitri Karuna terhadap orang itu, karena sebenarnya dia tidak perlu sedemikian menderita kelaparan, tetapi dia tidak mengerti bagaimana menyantap makanan itu. Penderitaan bisa menghinggapi semua makhluk hidup, kita hanya dapat keluar dari penderitaan jika mengenal ‘sifat kekosongan’ dan merealisasikan ‘sifat kekosongan’, yang berarti kita harus mengerti penderitaan atau Kilesa sesungguhnya tidak ada / hadir secara nyata. Melalui realisasi terhadap sifat kekosongan, kita baru dapat keluar dari kelahiran kembali. Oleh karena itu, pertama-tama kita harus mengerti ‘sifat kekosongan’ (KESUNYATAAN). Pada awalnya sulit dikatakan bahwa kita telah merealisasikan sifat kekosongan, tetapi melalui renungan dan samadhi yang benar, lama-kelamaan kita akan melihat dengan jelas mengapa orang di sekitar kita begitu banyak yang menderita. Mengapa begitu banyak Kilesa (Kegelisahan dan Kekuatiran). Sebenarnya tidak perlu begitu banyak menderita. Pada waktu itu, sifat Maitri Karuna akan tumbuh secara alamiah. Sifat Maitri Karuna yang timbul karena renungan dan Samadhi terhadap sifat kekosongan, barulah dapat dikatakan Maitri Karuna Mahayana. 11. Kita lahir dengan membawa karma kita masingmasing. Untuk menyingkirkan karma buruk, selain bertobat untuk menyesal dan melaksanakan Sila, apakah ada cara lain yang dapat membantu agar kita tidak lagi melakukan karma buruk? JAWAB : Ada. Cara untuk menyingkirkan rintangan-rintangan karma buruk baik di dalam tradisi / metode Tantra dan Non-Tantra ada banyak sekali. Di 52

dalam Buddha Dharma dari pelajaran yang paling mendasar yaitu TRI-SARANA sampai pelajaran Dharma yang mendalam hingga tercapainya PENCERAHAN. Semua metode Dharma bertujuan membantu kita untuk menyingkirkan rintangan karma buruk. Tetapi bagi orang yang tidak beragama, juga ada cara yang cocok buat mereka yaitu : menumbuhkan Kesalehan dan Keperdulian. Ketika kesalehan tumbuh sehingga kemelekatan semakin berkurang, maka inilah cara terbaik untuk menyingkirkan karma buruk. Sebenarnya cara terbaik dan khusus adalah “Menundukkan Kegelisahan dan Penderitaan dalam diri sendiri”. 12. Pada waktu membaca buku doa atau melaksanakan latihan, sering melamun dan timbul angan-angan. Bagaimana caranya memastikan diri untuk meneruskannya agar tidak terjadi penyimpangan ? JAWAB : Latihan yang terpenting adalah ‘Menjaga Kesadaran’ setiap saat, yaitu pikiran dan pandangan benar. Setiap saat, begitu timbul penyimpangan dan timbul Kilesa / Kegelisahan, kita harus mampu menyadarkan diri sendiri. Kalau tidak, kebiasaan buruk akan sukar untuk disingkirkan. Misalnya, orang yang kecanduan alkohol / minuman keras, agar dia segera memutuskan kebiasaan buruknya tersebut, akan terasa amat sulit. Ditambah lagi kita sejak semula telah membawa dan mengumpulkan kebiasaan buruk, agar dalam waktu yang singkat menyingkirkannya tidaklah mudah. Setiap saat, selalu sadar dan mawas diri dalam latihan, dan selalu menjaga dengan penuh kesadaran apakah pikiran, ucapan dan perbuatan kita berada di jalan yang benar atau sesat. 53

13. Bila sama-sama menerima Abhiseka, apakah karena setiap individu pada dasarnya berbeda, sehingga penerimaan kekuatan / bimbingan Abhiseka juga berbeda ? Ada yang setelah menerima Abhiseka, pulang ke rumah dan melatih dengan tekun, tapi ada yang pulang tidak melaksanakan latihan dan pelafalan mantra. Apakah hal ini terhadap Acharya atau mereka yang tekun melaksanakan latihan akan memberikan pengaruh / dampak yang kurang baik ? JAWAB : Setelah menerima Abhiseka, apakah akan mencapai keberhasilan dalam pencerahan, semuanya tergantung pada usaha ketekunan pribadi, tidak akan mempengaruhi yang lain. 14. Tadi Rinpoche mengatakan tentang ‘Maitri Karuna’, ada bicara tentang ‘Sunyata’ dan ‘Kenyataan/Realita’. Apakah ‘Kenyataan/Realita’ sebagai jalan untuk mencapai ‘Sunyata/Kekosongan’ ? JAWAB : ‘Sunyata’ dan ‘Realita / Kenyataan’, sedikit berbeda. Kita mengatakan pada saat sekarang kita tidak dapat secara menyeluruh merealisasikan sifat kekosongan / sunyata. Tetapi kita dapat melalui perenungan yang serius dan analisa seksama, menyadari / mengetahui apakah ada inti yang sebenarnya yang eksis ? Setelah ada pengertian barulah timbul pandangan, sampai akhirnya menyadari tidak adanya realita yang eksis, kemudian melalui latihan Samadhi merealisasikan apa yang telah kita sadari, kesadaran itulah disebut “Sunyata / Kekosongan / tanpa inti”.

54

Mereka yang Memutar Roda Dharma
(Dharmadana adalah Dana yang Tertinggi) Jika terdapat satu orang saja yang dapat memperoleh manfaat dan mengerti Dhamma, maka tiada suatu mustika apapun yang dapat menandinginya. Sebab, tiada mustika apapun yang ada di dunia ini maupun di alam para dewa yang dapat menandingi mustika dari Buddha, Dhamma dan Sangha. No Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Jumlah buku 25 25 25 25 25 12 12 50 25 25 125 25 125 125 125 125 37 12 250 125 250 50 50 25 25 25 250 50 12 125 125 No Nama 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 Jumlah buku 125 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 50 50 12 6 6 12 100 100 100 208 208 208 208 208 208 100 100 50 50 25

Anita Anwar Gwen Alda P. Wijaya Leon P. Wijaya Robby P. Wijaya Yongkie R.P. Wijaya a/n Alm.Oei Kiem Tjeng Alm.Pang Soen Nam Bambang Swanto Betty Agus Inez Wylie Melina Agus Budianto Pandalagi a/n. Alm. Johan Sugianto a/n. Alm. Ou Yang Han Cung Kel. L. Chandra Wijaya Melianny Sugianto F. Siman & Kel. Go Ik Ming & Kel. Kel. A Hong Liman Suwito & Enny Y. & Kel. Echwanto & Felina Prayogo & Kel. n.n Hendro Hanafi & Linania Iwan Yuwana Francis ,Darren & Audry Muliawan Hermanto M. & Njoo Fung Kin a/n. Alm. Liap Tjen Khwan n.n a/n. Alm. Lie Tjo Too I.W. Irawan Sindhuharjo Anggono & Ellymayasari & Kel.

n.n a/n. Alm. Arif Setiono a/n. Alm. Oei Ik Kiat a/n. Alm. Tan Kok Tjin Grace Widijoko Linda Ariamtiksna Lindawati Wahjudiono Loesijani Widijoko Made Mardani Made Suryanti Sri Soegandini Wulandari Indrajanti Djuniadi & Kel. Kel. Tony Irawan Meiling & Kel Aswin Mevy a/n. Alm. Kwan Boen Djien Astrid Atina Indradewi CV. Anugrah Bumi Nusantara Nugroho Darmawan Indraputra Welly Karlan & Kel. Aliza Anggono & Kel. Cindy Pink Kwandy Crystal Kwandy Cheryl Winnie Kwandy Caylie Lotus Kwandy Vinna S. Ho Zerrin Zerona Indradewi Eddy Chandryanto Winny Eleanor Nigo a/n. Alm. Lie Tjo Too

55

64 65 66 67 68 69 70 71

a/n Alm. Sie Hwie Hwie a/n Alm. Sie Sin Ing a/n Alm. Wang Tjiok Bing Lee Li San & Kel. Yoke S. & Kel. Pieter Gunawan Utomo Hartawan A/n Alm. Boen Siau Ling

10 5 5 10 10 12 25 25

72 73 74 75 76 77 78 79

Tjioe Yin Ing Bali Vico Royce Moniaga Tandiono & Kel Anwar, Nilawaty & Kel Cindrawan & Alfi Yuniaty Budhi & Trisna Kumbara .......

25 25 25 25 25 25 125 125

Data per 09 April 2007, Nama yang belum tercantum akan masuk di buku selanjutnya.

Kesempatan Berdana Paramitha untuk Buku-buku Dharma, Kalender, Brosur
Info buku yang akan diterbitkan Yayasan Triyana Dharma Center

Jalan Tengah Yang Mudah
By Mingyur Rinpoche cetak 3000 expl

Enam Paramitha
cetak 3000 expl

By Tai Situ Rinpoche

Pesona Kehidupan Milarepa
Yogi Agung dari Tibet cetak 3000 expl

56

TRIYANA DHARMA CENTER
Jl. Bukit Darmo Golf R. Kav. 19-20 Surabaya. Telp. ( 031 ) 7388080, 70589215, Fax. 7389775, e-mail: triyanadharmacenter@yahoo.com Website: www.mingyur-indonesia.org Rekening: BCA Surabaya Cab. HR. Muhammad No. Rek. 829 033 3301 a/n Yay. Karmapa Triyana DC AKTIFITAS MINGGUAN TRIYANA DHARMA CENTER
PUJA BHAKTI 21 TARA PUJA BHAKTI AMITABHA PUJA BHAKTI KWAN IM PUJA BHAKTI 21 TARA LATIHAN MEDITASI BERSAMA Setiap Minggu Setiap Selasa Setiap Kamis Setiap Hari Senin s/d Sabtu Setiap Minggu Pk. 08.30 - 11.00 Pk. 19.30 - 21.00 Pk. 19.30 - 21.00 Pk. 07.30 - 08.30 Pk. 17.00 - 18.00

AKTIFITAS BULANAN TRIYANA DHARMA CENTER
FANGSHEN PUJA API SUCI & ASAP SUCI U/ keselamatan & kemakmuran PEMBERKATAN RUMAH PEMBERKATAN NIKAH PEMBERKATAN ORANG SAKIT PUJA U/ ORANG MENINGGAL Setiap Tanggal 1 & 15 Lunar Sesuai permintaan dan kebutuhan para umat. Semua puja dan pemberkatan akan dilaksanakan oleh bhiksu/ lama dari Tibet, Nepal, India.

}

AKTIFITAS TAHUNAN TRIYANA DHARMA CENTER
RETREAT NAPAK TILAS KE BOROBUDUR PUJA KHUSUS CISWAK PUJA KHUSUS CAUTUK WAISAK BERSAMA ACARA KHUSUS RINPOCHE NAPAK TILAS KE INDIA & TIBET Setahun 4 kali harap hubungi Center Setahun 2 kali harap hubungi Center Setahun 1 kali harap hubungi Center Setahun 1 kali harap hubungi Center Setahun 1 kali harap hubungi Center Setahun 4 kali harap hubungi Center Setahun 1 kali harap hubungi Center

sederhana Nasehat seder hana yang begitu sesuai untuk orangorang yang hidup di jaman modern jaman kan ini, dan dimana derasnya lupa disebabkan oleh kemajuan informasi meng-akibatorang- orang akan indahnya hidup yang

tenang dan damai. Mereka sepanjang hidup selalu dikejar-kejar ejar-k mengejardik ejar-k ejar oleh waktu dan selalu mengejarngejar sesuatu yang pada akhirnya tidak mengetahui apa sebenarnya tujuan hidup ini. Satu kehidupan hanya akan berlalu dengan sia-sia. Marilah kita bersama-sama berusaha menapak suatu langkah baru yang akan memberi manfaat kepada kita sendiri dan juga kepada semua makhluk.

Yayasan Karmapa Triyana Dharmacakra Jl. Bukit Darmo Golf R. Kav. 19-20 Surabaya Telp. ( 031 ) 7388080, Fax. 7389775 e-mail:triyanadharmacenter@yahoo.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->