P. 1
KAJIAN TEKNIS RANCANGAN PELEDAKAN BERDASARKAN PENGUKURAN GETARAN YANG DITIMBULKAN DI KUARI BUKIT KARANG PUTIH PT. SEMEN PADANG SUMATERA BARAT

KAJIAN TEKNIS RANCANGAN PELEDAKAN BERDASARKAN PENGUKURAN GETARAN YANG DITIMBULKAN DI KUARI BUKIT KARANG PUTIH PT. SEMEN PADANG SUMATERA BARAT

5.0

|Views: 3,231|Likes:
Published by rekavilika
pengaruh getaran peledakan pada tambang terbuka
pengaruh getaran peledakan pada tambang terbuka

More info:

Published by: rekavilika on Aug 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2013

pdf

text

original

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT.

Semen Padang

Halaman 1

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

KAJIAN TEKNIS RANCANGAN PELEDAKAN BERDASARKAN PENGUKURAN GETARAN YANG DITIMBULKAN DI KUARI BUKIT KARANG PUTIH PT. SEMEN PADANG SUMATERA BARAT

TUGAS AKHIR Disusun untuk mendapatkan Gelar Sarjana Teknik (Si) pada jurusan Teknik Pertambangan

Oleh : JHON RUDOLF SIHOMBING 03 306 022

Disetujui Oleh :

Diketahui Oleh : Jurusan Teknik Pertambangan Ketua Jurusan, (Ir. Eka Onwardana, MT)
Halaman 2

Disetujui Oleh : Pembimbing,

(Ir. Mardhany Ginting Manik)
(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

DAFTAR ISTILAH

Air Blast Amonium Nitrat (AN) ANFO Axial Priming Back Break Base Charge Bench

Blast Blast Hole Blast Pattern Blasting Agent Block Holing Blasting Cap Blasting Crew Booster Boaster Blast Hole Bore Hole

Borehole Preasure

Suatu gelombang kejut udara yang disebabkan oleh detonasi bahan peleadak, dapat di sebabkan karena pergerakan atau karena pelepasan pengembangan gas ke udara. Air blast dapat /tidak dapat didengar. Oksidiser (pembawa oksigen) yang paling umum digunakan dalam bahan peledak dan blasting agent, rumusan kimianya NH4NO3. Bahan peledak yang terdiri dari Amonium Nitrat dan Fuel Oil (solar) Sistem penggalak blasting agent dimana inti dari penggalak tersebut berada dibagian tengah dari seluruh/sepanjang blasting agent. Batuan pecah yang melewati batas dari lubang – lubang baris terakhir. Bahan peledak utama dalam detonator. Bidang horizontal pada bagian atas dari dinding dimana lubang – lubang dibor secara vertikal kedalam bahan/batuan yang akan diledakkan. Penjenjangan adalah suatu proses penggalian dimana dinding dikerjakan secara bertahap. Kegiatan pemecahan batu dengan mempergunakan bahan peledak lubanbg bor penempatan bahan peledak di kauri atau pada bahan lainya yang akan diledakkan. Rencana penyebaran lubang bor pada jenjang, ungkapan dari jarak – jarak burden dan spacing dan hubungan keduanya. Bahan – bahan peledak atau bahan campuran yang terdiri dari fuel dan oxider yang mana masing – masing tidak tergolong sebagai bahan peledak, termasuk bahan peledak jika kedua bahan dicampur. Salah satu cara dari pemecahan dari batu besar bundar (boulder) dengan lubang bor diisi bahan peledak. Detonator yang dicetuskan oleh sumber bakar, lihat detonator. Kelompok orang yang membantu juru ledak dalam pengisian, perangkaian dan penyalaan peledakan Unit bahan peledak yang digunakan untuk mengintensifikasikan reaksi bahan peledak, booster tidak mengandung peralatan pencetus tetapi peka pencetus. Bahan peledak yang digunakan untuk menambah intensitas dari pada bahan peledak lainya. Lubang bor penempatan bahan peledak di kauri atau pada bahan lainya yang akan diledakkan. Lubang ledak, umumnya di batuan dimana bahan peledak di isikan untuk peledakan. Kedalaman lubang bor tidak lebih kecil dari burden, hal ini untuk menghindari terjadinya over break atau createring. Tekanan gas panas dari proses detonasi yang digunakan pada dinding bor, tekanan bore hole ini adalah fungsi dari density bahan peledak dan panas ledakan.
Halaman 3

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Buffer Bulk Strenght Burden Cap Collar Collar Priming Column Charge Coloumn Depth Connecting Wire Delay Delay Blasting Delay Detonator Delay Element Density Double Priming Drilling Pattern Detonator Elastik Limit Emulsion Explosive

Tumpukan hasil peledakan yang tidak dipindahkan, yang menghalangi bidang yang akan diledakkan. Kekuatan per unit volume dari bahan peledak yang dihitung dari obsolute weight strength. Jarak tegak lurus antara free face dengan lubang tembak yang terdekat. Suatu penggalak (blasting cap/detonator) dimana terdapat bahan peledak yang bervariasi yang memungkinkan peledakan dengan jangka waktu tertentu. Leher lubang bor. Penempatan bahan peledak pada bagian terataas dari kolom peledak. Isian bahan peledak Blasating agent yang menerus dalam lubang tembak Panjang dari setiap bagian lubang tembak yang terisi oleh bahan peledak. dari pada leg wire atau lead wire. Kawat pengantar arus listrik sebagai penghubung sebagai perpanjangan Beda waktu detonasi atau inisiasi untuk memisahkan penyalaan bahan peledak Penggunaan detonator atau konektor yang mempuyai waktu tunda sehingga penyalaan bahan peledak terjadi pada waktu tunda yang berbeda Detonator elektrik atau non – elektrik yang berisi bahan yang membentuk waktu tunda mulai masuknya energi sampai meledaknya bahan pada detonator Bagian dari detonator yang menyebabkan terbentuknya waktu tunda pada saat diberi energi sampai terjadi detonasi pada bahan peledak dasar detonator Berat bahan peledak per satuan volume, biasanya dinyatakan dalam gram/cm3 atau Kg/m3. Air mempuyai density 1,0 gram/cm3 Lubang tembak yang berisi dua primer dalam waktu tunda yang sama. Ditempatkan pada ujung atas dan ujung bawah lubang tembak Posisi yang teratur antara lubang bor dengan bidang bebas Benda yang berisi bahan peledak yang digunakan untuk mencetuskan bahan peledak, meliputi blasting cap, blasting cap electric dan istan atau tunda detonator non elektrik Batas elastisitas kekuatan batuan, tekanan di bawah batas elastisitas akan menimbulkan gelombang elastis dan jika tekanan tekanan tersebut diatas batas sifat elastis maka batuan akan pecah Bahan peledak yang berisi sejumlah oksider yang dilarutkan dalam air dan sejumlah bahan baker Campuran kimiawi yang dapat bereaksi dengan kecepatan tinggi dimana dalam prosesnya akan membebaskan gas dan panas dan menyebabkan tekanan yang tinggi Permukaan batuan yang langsung berhubungan dengan udara, Disebut juga bidang bebas, suatu bidang yang tersedia sehingga fragmentasi batuan bergerak bebas Bagian lantai yang horizontal dimana proses pengangkutan terjadi

Face Floor

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 4

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Fly Rock

Fragmentation Free Face Fuel Oil Fumes Ground Vibration Galvanometer Initiation Muck or Muckpile Quarry Ohm Meter Oxygen Balance OverBreak Overburden

Straggered Patern Spacing Subdrilling Stemming Toe Velocity

Pecahan batuan yang terlempar ke udara dari suatu peledakn. Lemparan batuan yang berlebihan mungkin disebabkan oleh jeleknya rancangan pola peledakan atau bidang lemah batuan yang tidak diperhitungkan Pecahan – pecahan batuan hasil peledakan, juga kegiatan untuk pemecahan batuan Permukaan batuan yang kontak langsung dengan air atau udara yang menyediakan ruang bebas untuk bergeraknya fragmentasi batuan. Bahan bakar, biasanya bahan baker diesel dalam ANFO Gas beracun yang dilepaskan dari peledakan, mungkin disebabkan oleh rendahnya kualiatas gas bahan peledak atau proses detonasi yang tidak mencukupi Getaran tanah yang di sebabkan gelombang elastic dari peledakan, getaran yang berlebihan mungkin menyebabkan kerusakan bangunan. Alat ukur untuk mengukur tahanan arus listrik pada system peledakan sirkuit listrik. Reaksi detonasi bahan peledak jenis tinggi dengan menggunakan alat mekanis atau peralatan lainya Tumpukan pecahan batuan atau tanah yang harus disusun untuk di pindahkan Tambang terbuka yang bertujuan untuk mengambil batuan seperti batu kapur, marmer, granit dan batu untuk bangunan dan sebagainya Digunakan untuk menguji apakah kawat pada sirkuit menyambung dengan baik. Komposisi yang seimbang antara campuran bahan bakar dan oksider yang mana hasil reaksi dari detonasi berupa karbon dioksida Pecah berlebihan yang terjadi diluar batas penggalian yang diinginkan Material tidak ekonomis yang terletak diatas cadangan yang berharga. Overburden sering berupa tanah atau butiran tanah, bisa batuan,seperti lapisan shale diatas batugamping, atau shale dan batugamping di atas batubara Pola dari penebaran lubang bor dimana lubang pada baris berikutnya berada diantara dua lubang baris berikutnya Jarak antara dua lubang ledak yang berdekatan dalam satu baris Bagian dari lubang bor menembus di bawah permukaan lantai “bench”, di harapkan setelah ledakan, lantai bisa rata tidak timbul tonjolan Tanah, pasir atau material batuan yang sengaja di masukkan diatas bahan peledak sebagai penyumbat atau penutup dengan maksud agar diperolehnya daya ledak yang lebih efektif. Jarak antara dasar lubang terhadap bidang bebas. Kecepatan gelombang yang merambat melalui bahan peledak.

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 5

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang PT. Semen Padang merupakan produsen semen Nasional dengan daerah pemasaran terbentang dari Sumatera sampai Kalimantan. Selain memenuhi kebutuhan domestik, PT. Semen Padang juga merupakan aset Negara dalam menjalankan roda perekonomian khususnya dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kegiatan pembongkaran batugamping di kuari Karang Putih PT. Semen Padang menggunakan teknik peledakan, kegiatan ini selain menghasilkan produksi berupa gamping yang sudah diberaikan juga menghasilkan rambatan gelombang seismik berupa energi melalui bumi. Oleh sebab itu aspek yang harus diperhatikan dalam kegitan peledakan adalah timbulnya getaran. Besar kecilnya pengaruh getaran tersebut tergantung pada rancangan peledakan dan kondisi geologi dari batuanya. Apabila getaran terlalu besar dapat mengakibatkan keretakan bahkan keruntuhan pada lereng tambang yang mempuyai strukur batuan yang lemah. Oleh karena itu, PT. Semen Padang perlu mengadakan pengukuran nilai getaran akibat peledakan untuk menilai pengaruh getaran terhadap masyarakat sekitar agar getaran yang ditimbulkan masih dalam kondisi aman. Sebagai tolak ukur yang umum digunakan dalam memperkirakan pengaruh getaran peledakan pada kegiatan penambangan adalah Peak Particle Velocity (PPV), Frekuensi getaran dan Scale Distance (SD). 1.2. Maksud dan Tujuan Adapun maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh getaran terjadi akibat proses peledakan sehingga perlu pengkajian ulang terhadap geometri peledakan yang diterapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperkecil dampak Ground Vibration, dan Air Blast sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar pertambangan.
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 6

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

1.3. Permasalahan Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, getaran yang terjadi akibat peledakan kuari PT. Semen Padang belum memenuhi ambang batas yang telah ditetukan sehingga perlu dikaji geometri peledakan, jumlah bahan peledak dan hasil peledakanya. 1.4. Batasan Masalah Dalam perencanaan kegiatan peledakan dan pemboran selayaknya dibahas mengenai kemempuan alat peremuk untuk menyesuaikan dengan fragmentasi batuan hasil peledakan. Pembahasan hanya difokuskan terhadap pengaruh getaran yang diakibatkan oleh peledakan baik itu Groud Vibratiaon dan Air Blast sehingga perlu pengkajian terhadap geometri peledakan dengan menggunakan metode RL. Ash. 1.5. Metodologi Penelitian Besarnya getaran ini juga dikaitakan dengan rancangan peledakan yang diterapkan pada saat pengukuran dilakukan. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah: · · Metode Primer, yang meliputi pengamatan dan pengukuran langsung dilapangan. Metode Sekunder, dengan mempelajari data sekunder yang ada di PT. Semen Padang dan studi literatur serta melakukan pengolahan data yang didapat dilapangan serta data – data yang diperoleh dari sumber – sumber lain.

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 7

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

MULAI

RANCANGAN PEMBORAN DAN PELEDAKAN

· ·

PEMBORAN Arah Pemboran Pola Pemboran

·

PELEDAKAN Geometri Peledakan

PENGUKURAN GETERAN DAN KEBISINGAN

GETARAN YANG DITIMBULKAN OLEH PELEDAKAN TIDAK MODIFIKASI TEKNIK PELEDAKAN YA DESAIN PELEDAKAN YANG DITETAPKAN

Gambar 1.1. Diagram Alir Penelitian

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 8

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

2. TINJAUAN UMUM

2.1. Sejarah Singkat Perkembangan PT. Semen Padang PT. Semen Padang merupakan pabrik semen tertua di Indonesia yang berkembang melewati sejarah yang panjang, bermula sejak tanggal 18 Maretr 1910 pabrik ini didirikan oleh swasta Belanda dengan nama NV Nederlendsch Portland Cement Maatschappij (NV NIPCM) pada tahun 1913. pabnrik mulai berproduksi pada tahun 1913 dengan kapasitas 22.900 ton per tahun, dan pernah mencapai produksi sebesar 170.000 ton pada tahun 1939 yang merupakan produksi tertinggi pada waktu itu. Periode selanjutnya yaitu pada tahun 1942 pabrik dipegang oleh Jepang dengan menajemen Asano Cement. Ketika Proklamsi pada tahun 1945, pabrik diambil alih oleh bangsa Indonesia dengan nama Kilang Semen Indarung, kemudian pada agresi militer I pada tahun 1947, Belanda kembnali mengambil alih pabrik dengan mengganti nama menjadi NV Padang Portland Cement Maatschappij (NVPPCM). Setelah itu paabrik diserahkan oleh Badan Pengelola Perusahaan Industri Tambang (BAPPIT) Pusat pada tanggal 5 Juli 1958 kepada Semen Padang, kemudian pada tanggal 14 Oktober 1959 NV PPCM dinasionalisasikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1971 yang dikeluarkan pada tahun 1972 dan statusnya berubah menjadi PT. SEMEN PADANG atau Persero dengan modal seluruhnya dipegang oleh Pemerintah Republik Indonesia. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 5-326/MK.016/1995, Pemerintah melekukan konsololidasi atas 3 pabrik semen milik Pemerintah yaitu PT. SEMEN PADANG (PTSP), PT. SEMEN TONASA (PTST) dan PT. SEMEN GRESIK (PTSG), yang teralisir pada tanggal 15 September 1995, sehingga saat ini PT. Semen Padang berada dibawah PT. Semen Gresik Group. Sejak diambil alih oleh Negara Republik Indonesia, perusahaan ini berusaha untuk meningkatkan produksinya. Dalam upaya peningkatan kapasitas produksi semen PT. Semen Padang secara bertahap melakukan rehabilitasi sebagai berikut:16) 1. Pada tahun 1971 diadakan rehabilitasi I yang dapat diselesaikan pada tahun 1973 dengan kapasitas produksi terpasang menjadi 220.000 ton/tahun 2. Pada tahun 1973 dimulai rehabilatasi tahap II yang diselesaikan pada tahun 1976 sehingga produksinya menjadi 330.000 ton/ tahun.
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 9

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

3. Pada tahun 1977 dimulai pembangunan proyek Indarung II dengan teknologi pembuatan semen kering yang berkerja sama dengan F.L Scmidt 7 Co. A/S (Denmark), dan proyek ini selesai pada tahun 1981 dengan kapasitas produksi 660.000 ton/tahun. 4. Pada tahun 1981 dibangun dua pabrik lagi yaitu proyek Indarung III A dan III B yang baru selesai pada tahun 1988 dengan kapasitas produk sebesar 660.000 ton/tahun. 5. Pada tahun 1991 dimulai proyek Indarung III C yang pelaksanaanya dilakukan secara swakelola oleh PT. Semen Padang. Proyek ini selesai pada tahun 1994 dengan kapasitas terpasang Indarung III C 660.000 ton/tahun. Pada saat ini proyek Indarung III B dan III C diberi nama yaitu Indarung IV dengan kapasitas produksi sebesar 1.320.000 ton/tahun. 6. Pada tahun 1996 mulai dibangun lagi proyek Indarung V, dengan dibangun proyek ini PT. Semen Padang akan mempuyai pabrik semen dengan teknologi lengkap dan beragam, yaitu proses kering dengan Conventional Suspention Preheater sampai dengan sistem Precalciner. Proyek Indarung V diharapkan selesai dan mulai berproduksi terpasang sebesar 3.910.000 ton/tahun. Pada tahun 1998 pabrik Indarung I tidak dioperasikan atau berproduksi lagi karena menggunakan proses basah, sehingga pada pabrik Indarung I yang beroperasi hanya dari Cement Mill. 2.2. Visi dan Misi PT. Semen Padang Dalam menjalankan kegiatanya, PT. Semen Padang memiliki visi dan misi perusahaan sebagai berikut: ”Menjadi industri semen nasional yang handal dan sanggup bersaing dalam pasar global” Sedangkan misi yang dimiliki PT. Seman Padang adalah sebagai berikut 16): 1. Meningkatkan nilai perusahaan untuk kemakmuran pemegang saham, karyawan dan pihak berkepentingan lainya. 2. Meningkatkan pelayanan kepada pelenggan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dengan bersaing serta meningkatkan market share. 3. Mengoptimalkan proses bisnis Internasional untuk menghasilkan produk dan jasa yang berkualitas dengan cost yang reasonable, serta yang berwawasan lingkungan. 4. Mengembangkan sumber daya manusia yang profesional dan mempuyai kompetensi dibidang masing – masing.

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 10

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

2.3. Lokasi Kesampaian Daerah PT. Semen Padang berlokasi di Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kotamadya Padang, Propinsi Sumatera Barat. Terletak ± 15 Km di sebelah Timur Kota Padang, Sumatera Barat, yaitu secara geografis terletak pada koordinat 1000 27’20’’ BT – 100 0 32’ 12’’ BT dan 000 57’ 47’’ LS – 010 00’ 48’’LS. Indarung teletak di kaki Pegunungan Bukit Barisan, di daerah ini mengalir beberapa sungai antara lain Sungai Batang Kuranji, Sungai Batang Idas, Sungai Batang Kasumba dan Sungai Batang Arau. Kuari batugamping (bukit Karang Putih) terletak di Kelurahan Batu Gadang, Kecamatan Lubuk Kilangan ± 2 Km dari pabrik Semen Padang ke arah selatan Indarung yang dihubungkan dengan sebuah jalan yang terbuat dari beton. Bukit Karang Putih ini secara geografis terletak pada koordinat 1000 24’ 31’’ BT – 1000 25’ 04’’ BT dan 000 57’ 47’’ LS – 010 00’ 48’’ LS, dimana membujur dari arah Utara ke Selatan dengan puncak teringgi 554 m dan puncak terendah 400 m di atas permukaan air laut. Letak geografi Kotamadya Padang berada pada koordinat 00 44’ 00’’ – 10 08’ 35’’ LS dan 1000 05’ 05’’ BT yang mengarah ke Lautan Hindia, dengan batas – batas wilyah adalah16: 1. Sebelah Utara 2. Sebelah Timur 3. Sebelah Selatan 4. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Padang Pariaman : Berbatasan dengan Kotamadya Solok dan Kabupaten : Berbatasan dengan Kaupaten Pesisir Selatan : Berbatasan dengan Lautan Hindia Solok

Kotamadya Padang merupakan salah satu Daerah tingkat II di Wilayah Propinsi Sumatera Barat, dengan luas 694,96 Km2 meliputi wilyah kecamatan dan terdiri dari 193 wilyah kelurahan. Luas wilayah tersebut berlaku setelah adanya pengembangan wilayah berdasarkan PP No. 17 1980, dimana luas wilayah Kota Padang sebelumnya hanya 33 Km2 yang meliputi tiga wilyah kecamatan.

Gambar 2.1 Peta Kesampaian Daerah16)
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 11

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

2.4. Keadaan Geologi Regional Secara regional daerah penelitian terletak pada lereng sebelah barat dari jalur pegunungan Bukit Barisan. Dari hasil penyelidikan Kastowo dan Gerhard (1972) diketahui bahwa daerah batuan yang tertua dan tersingkap disekitar Indarung dan sekitarnya berumur tersier jura, terdiri dari kelompok batuan metemorf yang umumnya mendasari perbukitan dan pegunungan – pegunungan. Kelompok batuab ini terdiri dari batuab meta, batu lanau yang berasosiasi dengan filit dan batu lempung tufa yang bersifat marmeran kristalin. Diatas batuan Pra- Tersier tersebut secara tidak sealaras diendapkan kelompok batuan Vulkanik Tersier Kuarter dan endapan Kuarter ini terdiri dari aliran – aliran (lahar, konglomerat), perselingan antara andesit dan tufa kristal yang sangat keras. Untuk endapan kuarter terdiri dari endapan kipas alluvial yang merupakan hasil rombakan dari endapan gunung api dan sebagian kelompok batuan paling mudah adalah endapan aluvial, terdiri dari bongkah – bongkah batuan beku, kerikil, pasir dan lanau yang bersifat lepas. Keadaan geologi daerah ini merupakan bukit yang sangat terjal dengan sudut lereng alami mencapai lebih dari 450. Bukit Karang Putih umumnya ditempati oleh batugamping atau marmer dan terobosan – terobosan batuan beku (baslt, andesit dan granitis). Lapisan batugamping terletak di atas batulempung tufaan dengan ketebalan 100 – 350 m. Di sebelah selatan lokasi penambangan ditemukan batuan basalt. Hal ini dapat diperkirakan bahwa di daerah ini terdapat ekstruksi basalt, ekstruksi inilah yang menyebabkan terjadinya penghabluran batugamping menjadi kalsit dengan kristal yang besar – besar. Batuan tertua yang dijumpai pada Bukit Karang Putih ialah batuan kerisikan yang sebenarnya terdiri dari lempung tufaan yang berasosiasi dengan rijang chert. Dinding – dinding bukit batu ini memperlihatkan gejala pelarutan melalui kekar – kekar yang terlihat dari adanya dua gua – gua di daerah tersebut (PPTM, 1982). Arah umum jurus strike bidang perlapisan yang terdapat di Bukit Karang Putih adalah N 250 – 700 E (Departemen Pertambangan PT. Semen Padang) merupakan suatu blok antiklin dengan proses perlapisan berarah lebih kurang Timur laut sampai Barat daya, dimana poros perlapisan berarah lebih kurang Timur laut sampai Barat daya, dimana di bagian tengahnya dipotong oleh sesar sehingga membentuk struktur graben. Lapisan tanah penutup yang dijumpai pada lokasi penambangan terdiri dari lapisan batugamping lapuk dan rijang dengan ketebalan antara 0,1 – 5 m 2.4.1. Keadaan Morfologi Bukit Karang Putih yang merupakan lokasi penambangan batugamping untuk pabrik PT. Semen Padang mempuyai luas kurang dari 1,6 Km2. Morfologi daerah didominasi oleh perbukitan lereng
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 12

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

terjal sekitar 65 % - 70 % dan mempuyai punggung kearah selatan dengan puncak yang melandai dan bergelombang umumnya ditempati oleh batugamping umumnya ditempati oleh batugamping atau marmer dan terobosan – terobosan batuan beku. Lokasi penambangan yang berada di kelurahan Indarung dan Batu Gadang yang secara fisiogtrafis termasuk dalam sistem penghubung Bukit Barisan Van Bemmelen, Lang yang memanjang dari Barat laut ke Tenggara di sepanjang Pulau Sumatera dan ditempati oleh Pra Tersier sampai Kuarter. Satuan morfologi yang membentuk daerah penambangan bervariasi dari perbukitan landai bergelombang sampai terjal dengan pola umum aliran sungai denritik pada bagian Selatan dan Timur serta pola aliran sungai angular pada bagian utara dan barat. Secara umum tahapan stadium dewasa di bagian Utara dan stadium muda di bagian selatan. Pada umunya daerah Indarung dan sekitarnya terdiri dari dataran rendah, daerah perbukitan rendah dan daerah perbukitan tinggi. Dataran rendah keadaan morfologinya pada umumnya hampir rata dengan variasi sedikit , merupakan perbukitan landai dengan ketinggian antara 130 – 250 meter di atas permukaaan laut. Daerah ini terletak di bagian timur laut Bukit Karang Putih, berbatuan alluvial berupa pasir sungai, lempung agak keras dan lempung dari hasil endapan Sungai Idas dan Sungai Sako berupa pasir, lanau, kerikil dan bongkahan – bongkahan batuan vulkanik. Daerah Perbukitan Tinggi terdiri dari puncak – puncak yang menonjol berupa karang berwarna putih dengan ketinggian 450 meter diatas permukaan laut, berwarna puith dan batuanya terdiri dari batugamping dan andesit yang membentuk dinding – dinding terjal dan banyak ditumbuhi pepohonan ( pohon jati, pinus dan lain – lain), disertai kontrol patahan berarah laut – tenggara tampak cukup jelas. 2.4.2. Keadaan Litologi Berdasarkan hasil pemetaan geologi permukaan yang telah dilakukan oleh peneliti– peneliti terdahulu bahwa litologi dari tua ke muda yang menyusun daerah Karang Putih adalah sebagai berikut13: 1. Batu Lempung Tufaan (batu lempung kersikan) Berwarna coklat kemerah – merahan, ukuran butir halus, keras dan sebagian telah mengalami kristalin, secara umum disebut juga dengan batuan silika, secara struktur batuan ini telah mangalami pelipatan. 2. Batugamping marmer

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 13

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Berhubungan saling menjari dengan batulempung kersikan. Berwarna abu – abu kehitaman sampai abu – abu terang. Penyebaran batu in mendominasi Bukit Karang Putih dan telah mengalami pelipatan kuat dengan arah umum Barat Laut Tenggara. 3. Batuan Vulkanik/ Tufa Merupakan batuan termuda yang dijumpai di Bukit Karang Putih. Satuan litologi ini terdiri dari tufa, pasir tufa dan rombakan batu lempung tufaan yang telah mengalami pelapukan. Batuan ini diendapkan secara tidak selaras diatas kelompok batuan Pra- Tersier. 4. Batuan Terobosan Batauan terobosan yang dijumpai di Bukit Karang Putih berupa batuan beku berkomposisi basaltis – andesitis. Batuan ini berwarna abu – abu kehitaman, tekstur afanitik – fanerik, butir sangat halus- sedang, terdiri ari mineral feldspar dan piroksen dan terdapat pada kondisi yang fresh, sangat keras dan kompak. Penyebaran batuan ii terdapat ditengah – tengah Bukit Karang Putih dan ditepi lereng sebelah barat berupa dike dan still. 2.4.3. Struktur Geologi Struktur bidang perlapisan batuan banyak dijumpai pada batugamping dan batuan kersikan dimana pada umumnya bidang perlapisan mempuyai arah dan mempuyai kemiringan yang relatif sama, sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua batuan tersebut terjadi dalam periode waktu yang hampir bersamaan dan dalam lingkungan pengendapan yang sama. Struktur sesar dan kekar terdapat didaerah ini, umumnya struktur sesar tidak dapat diamati dengan baik, sedangkan kekar dapat terlihat dengan jelas dan pada umumnya memiliki kemiringan tegak atau lebih dari 800 serta bersifat terbuka dan lebar antara 1 – 5 cm. Struktur lipatan berupa antiklin ataupun sinklin dapat dijumpai di Bukit Karang Putih teutama dijumpai pada kelompok batuan berumur reletif tua antara lain pada batugamping dan batuan kersikan silika. 2.4.4. Cadangan dan Sifat Fisik Gamping di Kuari Karang Putih Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Direktorat Geologi tahun 1974, bahwa cadangan batugamping yang terdapat di Kuari Karang Putih adalah sebesar 404.437.044 ton dengan luas daerah lebih kurang 1,65 x 0,6 km, dengan ketebalan rata – rata 100 -250 meter yang terletak diantara batu terkersikan, sebagai tanah penutupnya adalah batu rijang. Cadangan batugamping ini adalah cadangan yang terbesar di Indonesia yang mempuyai dua jenis batugamping yaitu Hard

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 14

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Limstone. Berdasarkan hasil analisa contoh permukaan san inti bor di laboratorium, maka batugamping di daerah tersebut mempuyai sifat fisik, yaitu16) : 1. Warna 3. Belahan 4. Pecahan 6. Density · · · · · CaO SiO FeO H2O : Putih susu / bening,abu – abu, terang,sampai abu – abu gelap : Bentuk sempurna : Kaca – bentuk earthly : 2.5 ton / BSC : 1,6 ton/ LCM : 52 % : 7% : 0,7 % : 44 % : Lempung tufaan yang berasosiasi dengan rijang, kalsit dan marmer : 570,4 – 810 kg/cm2 : 0,084 – 0,115 mm / mnt : 2,2 – 4,7 km/s : 480 – 2000 ohm meter 2. Kekerasan : 3 – 5 Skala Mohs

5. Sifat dalam: Keras, liata hingga yang brittle 7. Kandungan unsur kimia :

MgO : 0,44 %

8. Ketahanan : Keras dan kompak 9. Sisipan · · · · 10. Test Kompresor : Hard Limestone Test abrasive Gelombang seismik Tahanan jenis

2.5. Genesa Batugamping Batugamping dapat terbentuk melalui beberapa cara diantaranya ; organik, secara mekanik dan secara kimia. Sebahagian besar batugamping di alam terbentuk secara organik akibat terjadinta pengendapan cangkang (rumah kerang) dan siput, foraminivera atau ganggang, atau berasal dari kerangka binatanf koral/kerang. Batugamping yang terjadi secara mekanik tidak jauh berbeda dengan batugamping yang terjadi secara organik, namun dibedakan karena terjadinya perombakan dari bahan batugamping tersebut kemudian terbawa oleh arus dan diendapkan dari tempat yang tidak jauh dari tempat semula. Sedangkan yang terjadi secara kimia adalah jenis batugamping yang terjadi dalam kondisi iklim adan suasana lingkungan tertentu dalam air laut ataupun air tawar. Selain hal tersebut diatas, mata air mineral dapat pula mengendapkan batugamping yang disebut
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 15

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

endapan sinter. Jenis batugamping ini terjadi karena peredaran air panas alam yang melarutkna lapisan batugamping dibawah permukaan, yang kemudian diendapkan kembali kepermukaan bumi. 2.6. Iklim dan Curah Hujan Kotamadya Padang dan Indarung khusunya beriklim tropis dengan suhu 22 – 320C. Daerah ini dipengaruhi oleh dua musim yaitu musim kemarau terjadi pada bulan Januari – September dan musim penghujan terjadi pada bulan Oktober – Desember. Curah hujan rata – rata tiap bulan adalah 28,85 mm. 2.7. Kegiatan Penambangan Kuari Bukit Karang Putih merupakan kuari batugamping dengan sistem penambangan terbuka dengan cara pembuatan jenjang bench, penambangan batugamping dilakukan dengan mengikuti endapan cadangan batugamping dengan memotog bukit yang dimulai dari puncak hingga kebawah. Kegiatan pembongkaran dilakukan dengan peledakan menggunakan amonium nitrat fuel oil (ANFO) dan dinamite. Dalam pembuatan lubang ledak digunakan alat bor Drill Master (DM 3.0) dan Tamrock (TM). Kegiatan pemuatan dan pengangkutan di Bukit Karang Putih dilakukan dengan sistem Shove-Dumptruck dan sistem Mobile Crusher. Aktivitas pemuatan dilakukan dengan menggunakan Hydraulic Excavator (EH), sedangkan aktivitas pengangkutan dilakukan dengan menggunakan Dump truck dan Mobile Crusher. Sistem Mobile Crusher digunakan sejak 1997 yang berfungsi mengurangi biaya pengangkutan dan untuk lebih membantu Crushing Plant dalam pereduksian material. Berdasarkan survei yang disponsori oleh US Burean Of Mines dalam lokasi penambangan sulit menemukan lokasi Crushing Plant pada Front penambangan yang secara ekonomi menguntungkan dan dapat menetap dalam posisi lebih dari dua tahun. Oleh karena itu dirancang Crushing Plant yang dapat dipinfah – pindah dengan mudah salah satunya dengan Mobile Crusher. Rangkaian kegiatan penambangan antara lain : Land Clearing, dan Striping, pemboran, peledakan, pengumpulan material hasil peledakan, pemuatan (skaligus pembuatan jenjang yang baru), pengangkutan, peluncuran batuan (rock sliding) peremuk batuan (crusher) untuk selanjutnya dikirim menuju pabrik (stroge) dengan menggunakan belt conveyor.

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 16

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

3. LANDASAN TEORI

Kegiatan pembongkaran batugamping di PT. Semen Padang dilakukan dengan cara pemboran dan peledakan, yang biasa disebut dengan peledakan jenjang (bench blasting). Pemboran dan peledakan di kuari batugamping bertujuan untuk membebaskan batugamping dari batuan induknya, sehingga diperoleh ukuran fragmentasi yang diinginkan. 3.1. Pemboran Untuk melakukan suatu peledakan, maka dilakukan terlebih dahuk kegiatan pemboran, dalam hal ini PT. Semen Padang menggunakan alat bor Reich Drill C-500- D-II, Ingersoll Rand DM 30, dan Tamrock CHA 1100. 3.1.1. Arah Pemboran Ada dua cara dalam membuat lubang bor dengan lubang bor miring atau lubang bor tegak.

Gambar 3.1. Pemboran Tegak (a) dan Pemboran Miring (b)1,9,13) Dengan lubang bor miring biasanya untuk mengurangi problem back break dal lebih dari itu lubang bor miring mempuyai banyak keuntungan daripada yang tegak yaitu : · Bisa mengurangi biaya pemboran dan komsumsi bahan peledak, karena dengan burden yang lebih besar.
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 17

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

· · ·

Akan diperoleh jenjang (bench) yang lebih besar. Menguarangi resiko timbulnya tonjolan dan back break. Hasil tumppukan yang lebih bagus

Dengan pemboran miring gelombang ledak (shocj wave) yang dipantulkan dari lantai dasar jenjang yang lebih besar (Gambar 3.2). Dengan pemboran tegak, pada bagian atas jenjang kurang bagus karena ada back break, fragmentasi kurang dan pada bagian lantai dasar daya ledak tidak seperti tersalurkan, tapi dengan lubang bor mirin, yang biasanya dengan kemiringan 3 : 1 (180) bisa menghindari masalh tersebut diatas. Sebaliknya terdapat beberapa kerugian atau kesulitan dalam membuat lubang bor miring, antara lain : · · Sulit melakukan pemboran secara akurat, khsusnya bila membor yang lebih dalam. Diperlukan supervision yang kuat.

Disamping itu drillhole straightness adalah faktor yang terpenting, jika arah pemboran tidak lurus akan memberikan pengaruh terhadap biaya pemboran dan peledakan yang condong besar. Disamping itu berakibat jarak spasing atau burden akan berubah dari desain telah ditetapkan, karena saling berhimpitan / mengecil / membesar. 3.1.2. Pola Pemboran Pola pemboran sangat diperlukan untuk menempatkan titik – titik dengan pola tertentu yang kemudian dilakukan pemboran pada titik – titik tersebut. Pola pemboran pada tambang terbuka dapat diklasifikasikan menjadi dua macam (Gambar 3.4.), yaitu : 1. Square · · Square Drill Pattern Merupakan suatu pola pemboran yang mempuyai jarak burden dan spacing yang sama. Retangular Drill Patern Merupakan suatu pola pemboran dimana jarak spacing dalam suatu baris lebih besar daripada jarak burden. 2. Staggered (selang – seling / zig – zag) Merupakan suatu pola pemboran lubang tembak selang – seling / zig – zag baik pada square drill patern maupun pada retanggular drill patern.
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 18

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Gambar 3.2. Pola Pemboran1,9,13) 3.2. Peledakan Tujuan peledakan adalah untuk menghancurkan batuan yang semula berdimensi besar menjadi berdimensi kecil sehingga mudah dalam pengangkutanya. Dikarenakan untuk bisa masuk ke hopper ukuran batuan hasil peledakan harus lebih kecil dari 1meter. Semakin halus dan rata fragmentasi batuan yang dihasilkan makin mudah diambil dengan loader. Agar pekerjaan loeder lebih efektif maka hasil ledakan diusahakan tidak tersebar. Teori peledakan batuan melibatkan banyak bidang keilmuan seperti kimia, fisika, termodinamika dan mekanika batuan. Teori – teori yang ada saat ini hampir sealu membahas faktor – faktor yang mempengaruhi fragmentasi dan kriteria rancangan peledakan secara umum. Namun hingga saat ini belum ada teori peledakan secara konsisten dapat diterapkan sacara luas, karena sebagian besar diantaranya merupakan pengalaman di lapangan berdasarkan pada suatu kondisi peledakan yang ideal. Teori – teori pada saat ini disusun dan dirumuskan berdasarkan spekulasi murni, pendekatan berdasarkan pengalaman kerja peledakan secara bertahun – tahun, pengujian laboratorium, investagasi lapangan atau menggunakan model matematika dan fisika yang diadopsi dari disiplin ilmu lain. Kajian – kajian untuk menilai kinerja peledakan pada umumnya berdasarkan kriteria rancangan yang telah ditetapkan, yang berkaitan dengan target produksi, fragmentasi, efesiensi dan efek – efek dari peledakan,sehingga operasi peledakan dapat berhasil dengan baik.
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 19

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

3.2.1. Desain Geometri Peledakan Richard L . Ash membuat suatu perhitungan geometri peledakan jenjangan berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan dengan berbagai kondisi yang berbeda jenis batuan yang berbeda. Menurut R. L. Ash, Burden (B) adalah dimensi yang terpenting dalam menentukan keberhasilan suatu pekerjaan peledakan, untuk menentukan besarnya burden perlu diketahui dari harga burde ratio (KB). Harga KB dipengaruhi oleh jenis batuan yang diledakkan dan bahan peledak yang dipakai R.L Ash telah mengadakan percobaab dalam menentukan harga KB yaitu memakai cara perbandingan relatif yang dihasilkan bahan peledak dan mempertimbangkan sifat batuan terutama berat batuan yang diledakkan. Percobaan – percobaan yang dilakukan pada batuan standart dan bahan peledakan standart, yaitu2): · · Batuan yang diledakkan (AF1) Berat jenis batuan standart (Dst) = 160 pounds / cuft Bahan peledak yang dipakai (AF2) Berat jenis bahan peledak yang digunakan (SG) = 0,85 gr /cucm = 53,0655 punds / cuft. Spesific gravity bahan peledak standart (SGst) = 1,2 gr / cucm = 74,916 pounds / cuft. Untuk harga burden ratio standart (KBst) adalah 30. Apabila peledakan dilakukan pada batuan yang tidak standart dengan menggunakan bahan peledak yang tidak standart maka perlu dilakukan pengaturan kembali harga burden ratio dengan rumus yang dipakai adalah1,12,14) : KB = KBs x AF 1 x AF 2...................................................................................(3.1) Dimana : é Berat jenis batuan standart ù AF 1 = ê ú ë Berat jenis batuan insitu û
1 3

é Energi potensial bahan peladak yang digunakan ù AF 2 = ê ú Energi potensial bahan peladak standart ë û

1

3

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 20

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

é SG .V 2 ù =ê 2 ú ë SGst . (Vst ) û V

1

3

= Kecepatan detonasi bahan peledak yang digunakan - Untuk lubang diameter (De) 3,5’’ = 102827,30 fps - Untuk lubang diamter (De) 4’’ = 11319,45 fps

Vst

= Kecepatan detonasi standart yang digunakan = 12000 fps

1. Burden (B) Burden adalah dimensi terpenting dalam menentukan keberhasilan suatu pekerjaan peledakan karena burden adalah jarak lubanb bor terhadap bidang bebas (free face) dan jarak tegak lurus dari kolom isian bahan peledak dengan bidang bebas dekat, kearah mana material hasil peledakan akan terlempar. Besarnya burden tergantung dari karektiristik batuan, karakteristik bahan peledak dan diameter lubang tembak. Penentuan burden yang kurang sesuai akan menyebabkan terjadinya : · · · Terjadinya Boulder atau bongkahan dan over break jika burden terlalu besar. Terjadinya dentuman karena pemecahan batuan akibat gelombang yang sangat cepat serta lontaran batuan yang sangat jauh dan tidak merata, jika burden terlalu pendek. Terjadinya fly rock (batu melayang), jika burden kecil atau terlalu besar.

Besarnya harga burden dapat dihitung dengan rumus1,12,14) :
Kb xDe ...............................................................................................(3.2) 12

B

=

2. Spacing (S) Spacing adalah jarak antara lubang – lubang bor dirangkai dalam suatu row dan diukur sejajar terhadap pit wall. Biasanya spacing tergantung dari burden, kedalaman lubang bor, delay, arah struktur bidang batuan dan ada atau tidaknya interaksi energi bahan peledak pada lubang tembak yang berdekatan. Dalam perhitungan besarnya spacing, digunakan harga spacing ratio (KS). Besarnya harga Ks yang digunakan menurut waktu delay adalah sebagai berikut: · · Long interval delay Ks = 1 Short period delay KS = 1 – 2
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 21

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

· · ·

Normal delay Ks =2,2 – 2,8 Apabila lubang – lubang bor dalam satu row diledakkan secara squance delay Maka Ks = 1, S = B Apabila lubang – lubang bor dalam satu row diledakkan secara serentak atau simultan maka Ks = 2 S = 2B.

Penentuan spacing menurut R.L.Ash adalah :

Pemakaian spacing yang terlalu kecil akan menyebabkan terjadinya over break dan vibration sepanjang dinding jenjang serta fragmentasi batuan hasil peledakan akan berukuran besar apabila perbandingan antara spacing dengan burden lebih kecil dari 1, pemakaian spacing yang terlalu besar akan menyebabkan terjadinya toe diantara lubang tembak. Besarnya harga spaacing dapat dihitung dengan rumus1,12,14) : S = Ks x B..................................................................................................(3.3)

Dimana : Ks = Spacing ratio (1,00 – 2,00) Ks rata – rata = 1,5 3. Steaming (T) Steaming disebut juga collar. Steaming adalah tempat material penutup di dalam lubang bor diatas dari bahan peledak. Steaming sangat menentukan stress balance dalam lubang ledak. Fungsi dalah untuk mengurung gas yang timbul. Untuk menentukan stress balance maka T = B pada batuan solid jika Kt kurang dari 1 akan terjadi cratering atau back break, terutama pada collar priming. Biasanya Kt yang dipakai 0,70 dan ini sudah cukup untuk mengontrol air blast dan stress balance. Penggunaan Steaming yang kurang tepat akan dapat menyebabkan : · · · · Timbulnya back break pada daerah di belakang lubang tembak Fragmentasi hasil peledakan yang tidak merata Air blast jika stemming terlalu pendek. Terjadinya Boulder pada bagian atas dari tumpukan material hasil peledakan dikarenakan stemming yang terlalu panjang. Besarnya harga spacing ditentukan dengan rumus1,2,10) :
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 22

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

T

= Kt x B..................................................................................................(3.4)

Dimana : Kt = Stemming ratio (0,50 – 1) 4. Subdrilling (J) Subdrilling adala tambahan kedalaman dari lubang bor dibawah rencana lantai jenjang. Subdrilling dibuat untuk membentuk lantai jenjang yang relatif rata setelah peledakan dilakukan. Pada kebanyakan batuan, besarnya Kj tidak boleh lebih kecil dari 0,20 dan biasanya dipakai 0,3 untuk batuan massive. Besarnya harga Kj tergantung dari struktur dan jenis batuan, dan arah lubang bor. Pada lubang bor miring, Kj yang dibutuhkan lebih kecil. Penggunaan subdrilling yang kurang tepat akan menyebabkan : · · Terbentuk tonjolan diantara lubang bor dibagian lantai jenjang apabila subdrilling kurang panjang. Terbentuk kubang besar pada bekas lubang bor dibagian lantai jenjang apabila subdrilling terlalu panjang. Besarnya harga subdrilling dapat ditentukan dengan rumus1,12,14) : T = Kj x B.................................................................................................(3.5)

Dimana : Kj = Subdrilling ratio

5. Kedalaman Lubang Tembak (H) Kedalaman lubang tembak adalah panjang lubang bor yang akan diisi dengan bahan peledak dan stemming. Kedalaman lubang tembak akan mempengaruhi pemakaian bahan peledak sehingga harus diperhitungkan dengan optimal. Umumnya harga hole dept ratio (Kh) antara 1,5 – 4,0. Faktor – faktor yang mempengaruhi dalam menentukan kedalaman lubang tembak antara lain : · · · · Tinggi jenjang yang direncanakan Diameter dan dimensi lubang tembak Besarnya harga burden Jenis alat bor yang dipergunakan
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 23

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Ketidaksesuaian kedalaman lubang tembak akan menyebabkan : · · Terjadinya toe, over break atau cratering apabila terlalu dangkal. Lantai jenjang tidak rata dan tidak bersih apabila kedalaman tidak sama antara lubang atau dengan lubang lainya. Besarnya harga kedalaman lubang tembak dapat ditentukan dengan rumus1,12,14) : H = Kh x B.................................................................................................(3.6) Dimana : Untuk kedalaman lubang tembak nyata berdasarkan tinggi jenjang yang diinginkan (L), subdrilling (J) yang sudah diketahui dan sudut lubang tembak (α) terhadap bidang bebas vertikal, maka dapat dipergunakan rumus1,2,10) : L = (H- J) cosα...........................................................................................(3.7)

6. Dimensi Jenjang Dimensi jenjang terdiri dari tinggi jenjang, panjang jenjang dan lebar jenjang. · Tinggi jenjang Tinggi jenjang adalah jarak yang diukur tegak lurus terhadap lantai jenjang sampai permukaan jenjang. Jika jenjang tegak lurus terhadap bidang datar maka tinggi jenjang sama dengan kedalaman lubang ledak dikurangi subdrilling. · Panjang jenjang Panjang jenjang disesuaikan dengan sasaran produksi yang akan dicapai dan jumlah lubang ledak yang akan dibuat dalam tiap hari. · Lebar jenjang Lebar jenjang minimun harus dapat menampung semua peralatan bekerja di atas jenjang yang dapat memberikan suatu kondisi kerja yang aman dan memadai. Menurut C. J. Konya, pemilihan ketinggian jenjang menggunakan perbandingan stiffness ratio. Stiffnes ratio adalah perbandingan antara ketinggian jenjang koreksi burden. Dapat dituliskan dengan rumus1,2,10) : SR SR L = L : B.....................................................................................................(3.8) = stiffnes ratio = minimum bench height
Halaman 24
(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Dimana :

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

B

= burden

Stiffnes ratio yang rendah memerlukan faktor energi yang lebih tinggi untuk menghasilkan fragmentasi yang lebih baik dan seragam. Stiffnes ratio dapat kita ketahui apabila bernilai 1 berarti tingkat fragmentasi buruk. Jika berada pada kisaran 2 – 3 tingkat fragmentasi sedang. Sedangkan untuk Stiffnes ratio dengan nilai 3 – 4 tingkat fragmentasi sangat baik.

Gambar 3.3. Geometri Peledakan2,14) 7. Pengisian bahan peledak Faktor – faktor yang menentukan dalam pengisian total bahan peledak adalah sebagai berikut 1,2,,14) : · · Panjang isian (Pc) Pc = H – T ...................................................................................................(3.9) Volume batuan yang terbongkar (V) V = (H-J) x B x S .....................................................................................(3.10)

3.2.2. Parameter Yang Mempengaruhi Peledakan a. Parameter Peledakan 1. Spesific Charge
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 25

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Spesific Chargea atau Powder factor adalah ukuran untuk menentukan kemampuan sejumlah bahan peledak dalam meledakkan batuan. Untuk Spesific Charge biasanya dinyatakan dalam satuan kg (bahan peledak) per m2 (batuan), sedangkan powder factor dinyatakan dalam kg (bahan peledak) per ton (batuan). Harga Spesific Charge yang bagus adalah 0,2 – 0,4 kg/m2, yang akan menggerakkan batuan hasil peledakan (muckpile) 20 – 30 meter kedepan. Lebih kecil dari 0,2 akan menyebabkan muckpile yang ketat dan sulit untuk diambil, dan jika lebih besar dari 0,4 akan mengakibatkan gerakan kedepan yang berlebihan sehingga menyebarkan muckpile, dengan persamaan1,2,,14) .
E total ..............................................................................................(3.11) V

SC

=

Dimana : E total = Total jumlah isian bahan peledak dalam lubang tembak, (kg) V D = Volume batuan yang diledakkan per hole, (m3) = Density batuan yang diledakkan, (Ton/m3)

2. Spesific Drilling Spesific Drilling adalah ukuran untuk menentukan kemampuan lubang tembak dalam meledakkan sejumlah batuan, dinyatakan dalam drm (drill rate metre atau meter kedalam lubang tembak) per m3 (batuan).1,2,12,14)
H ......................................................................................................(3.12) V

SD

=

Dimana : H V = Kedalaman lubang tembak, (m atau drm) = Volume batuan yang diledakkan per hole, (m3)

3.3. Relative Confinement (RC) Menurut Dyno Nobel, untuk menentukan bagus atau tidaknya stemming dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut 1,14) : RC =

( steam leght x 210.000) + (Ch arg e diemeter (m) x 600) ...................(3.13) (Ch arg e energi x Ch arg e diamter (m))

Ketentuannya adalah sebagai berikut :
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 26

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

· · ·

1,70 merupakan batasan yang bagus (well confined) Kurang dari 1,70 berarti bagus (poory confined) Lebih dari 2 menunjukkan sangat buruk (over confined)

3.4. Kecepatan Detonasi Kecepatan detonasi adalah gelombang detonasi yang merambat melalui bahan peledak. Besarnya kecepatan detonasi bahan peledak dapat dinyatakan sebagai berikut : · Kecepatan detonasi terkurung Kecepatan dimana gelombang detonasi merambat melalui kolom bahan peledak di dalam tempat yang terkurung. Harga kecepatan detonasi terkurung lebih sering dipakai karena bahan peledak digunakan pada tingkat pengurungan tertentu. Bahan peledak ANFO yang digunakan mempuyai kekuatan detonasi 4000 m/det. · Kecepatan detonasi tidak terkurung Dimana gelombang detonasi merambat melalui kolom bahan peledak didalam tempat yang tidak terkurung (terbuka). Umumnya harga kecepatan detonasi tidak terkurung adalah 70 – 80 % dari kecepatan detonasi terkurung. Secara umum dengan makin banyakna ukuran diameter bahan peledak maka kecepatan detonasi pun akan naik. Namun kecepatan detonasi tersebut akan mencapai nilai maksimum dan terbatas walaupun lubang ledak semakin besar. 3.5. Mekanisme Pecahnya Batuan Konsep yang dipakai adalah proses pemecahan reaski – reaksi mekanik dalam batuan homogen. Perlu ditekankan bahwa sifat mekanis dalam batuan yang homogen akan berbeda seperti yang sering dijumpai dalam pekerjaan peledakan. Proses pemecahan batuan dibagi menjadi tiga tahap, yaitu : 1. Proses Pemecahan Tahap I Pada saat bahan peledak meledak, tekanan tinggi yang ditimbulkan akan menghancurkan batuan di daerah sekitar lubang tembak. Gelombang kejut (shock wave) meluas kedalam batuan dengan kecepatan 3000 – 5000 m/sec akan mengakibatkan tegangan tangensial (tangensial stress) yang menimbulkan rekahan radial (radial craks) yang menjalar dari daerah lubang tembak. Retakan yang pertama ini berkembang dalam 1 – 2 ms.

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 27

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Gambar 3.4. Proses Pemecahan Tahap I1,12,14) 2. Proses Pemecahan Tahap II Tekanan akibat gelombang kejut yang meninggalkan lubang tembak pada proses pemecahan tahap I adalah positif. Apabila gelombang kejut mencapai bidang bebas (free face), gelombang tersebut akan dipantulkan. Bersamaan dengan itu tekanannya akan turun dengan cepat dan kemudian akan berubah menjadi negatif serta menimbulkan gelombang tarik (tension wave). Gelombang tarik (tension wave) merambat kembali dalam batuan. Oleh karena itu batuan lebih kecil tahananya terhadap tarikan (tension) daripada tekanan (compression), maka akan terjadi rekahan – rekahan (primery failure cracks) karena tegangan tarik (tensile stress) yang cukup kuat sehingga menyebabkan terjadinya seabbing dan spalling pada bidang bebas. Dalam prosese pemecahan tahap I dan II fungsi dari energi yang ditimbulkan oleh gelombang kejut adalah membuat sejumlah rekahan – rekahan kecil pada batuan. Secara teoritis jumlah energi gelombang hanya berkisar antara 5 – 15 % dari energi total bahan peledak. Jadi gelombang kejut tidak secara langsung memecahkan batuan, tetapi mempersiapkan kondisi batuan untuk proses pemecahan tahap akhir

Gambar 3.5. Proses Pemecahan Tahap II1,12,14)
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 28

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

3. Proses Pemechan Tahap III Dibawa pengaruh tekanan yang sangat tinggi dari gas – gas hasil peledakan maka rekahan radial utama (tahap II) akan diperlebar atau diperbesar secara cepat oleh efek kombinasi dari gas – gas hasil peledakan maka rekahan radial utama (tahap II) akan diperlebar atau diperbesar secara cepat oleh efek kombinasi dari tegangan tarik yang disebabkan radial comprection dan pneumatic wedging (pembajian). Apabila massa dilubang tembak gagal mempertahankan posisinya dan bergerak ke dapan, maka tegangan tekan (compression stress) yang berbeda dalam batuan akan dilepaskan (unlosded) seperti spiral kawat yang ditekan lalu dilepaskan. Akibat pelepasan tegangan ini akan menimbulkan tegangan tarik yang besar di dalam massa batuan yang sudah dimulai pada tahap II. Rekahan yang terjadi dalam pemecahan pada tahap II merupakan bidang – bidang lemah yang membantu fragmentasi pada proses peledakan.

Gambar 3.6. Proses Pemecahan Tahap III1,12,14) a. Waktu Tunda (delay timer) Untuk dapat memperbaiki fragmentasi batuan hasil peledakan dan juga mengurangi ground vibration. Diusahakan agar pola penyalaan isian bahan peledak dibuat sedemikian rupa, sehingga masing – masing lubang ledak memiliki bidang bebas sendiri – sendiri. Dengan demikian dalam menentukan pola penyalaan baik serentak atau beruntun harus diperhatikan pola lubang ledaknya ada. Ada dua jenis pola penyalaan yaitu : · Penyalaan serentak (Instantaneous)
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 29

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Penyalaan serentak merupakan suatu cara penyalaan pada baris atau kolom tanpa menggunakan detonator. · Penyalaan tunda (delay) Penyalaan tunda merupakan penyalaan beberapa baris dan kolom dan kolom dengan menggunakan detonator tunda. Jika penyalaan dilakukan serentak dalam baris, sebaiknya dibuat pola lubang ledak selang – seling. Sedang untuk pola penyalaan beruntuk dibuat pola lubang ledak sejajar. Untuk penyalaan waktu tunda antar baris dan antar lubang diusakahan harus sesuai agar dihasilkan ruang untuk hancuran batuan pada baris berikutnya. Penggunaan detonator tunda dimaksudkan untuk mengurangi jumlah muatan yang meladak secara bersamaan dan memberikan kesempatan material yang lebih dekat dengan bidang bebas untuk meledak lebih dahulu. Hal ini dapat mengurangi tingkat getaran dan berkaitan dengan penyediaan bidang bebas untuk peledakan baris selanjutnya. Waktu tunda peledakan bisa diperoleh dari detonator atau mesin peledak yang dipakai. Peledakan yang menggunakan waktu tunda bertujuan untuk : 1. Mengurangi jumlah volume batuan yang meledak secara bersamaan. 2. Memberikan waktu atau kesempatan material yang dekat dengan bidang bebas untuk meledak secara bersamaan. 3. Menyediakan ruang atau bidang bebas bagi baris lubang tembak selanjutnya. 4. Mengurangi besarnya volume suara ledakan. Dengan menggunakan persamaan Langefors dan Kihlstrom, dapat diketahui jumlah maksimum bahan peledak pada kecepatan partikel 50 mm/det yaitu9,10,12) : Q =
V2 R1,5 ............................................................................................(3.14) K2

Dimana : Q V R K = Ammount of charge per delay, kg = Vibration (Oscilation) Velocity, mm/s = Distance from site,m = Rock Constant, hard rock = 400, medium rock = 300, soft rock = 200 Ukuran rata – rata fragmentasi batugamping hasil peledakan Ukuran rata – rata fragmentasi hasil peledakan dapat diperkirakan dengan menggunakan persamaan Kuznetsov yang telah dimodifikasi untuk bahan peledak ANFO. Untuk perhitungan ini, diambil rata
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 30

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

– rata fragmentasi maksimum pada diameter 3,5 inch dan diameter 4 inch, baik untuk teori R. L Ash,1,2,12,14). X X V Q E A = A(V/Q)0,8 (Q)0,17 (E/115)-0,63.............................................................(3.15) = Ukuran rata – rata fragmentasi hasil peledakan (Cm) = Volume batuan yang diledakkan / terbongkar tiap lubang tembak (m3) = Jumlah bahan peledak (ANRO) yang digunakan per lubang tembak (Kg) = Relative Weight Stregth (ANFO = 100) = Faktor batuan 1 untuk batuan lunak, 7 untuk batuan menengah, 10 untuk keras banyak kekar, 13 untuk batuan lunak banyak kekar. 3.7. Masalah Gangguan Peledakan Akibat adanya aktivitas peledakan dalam suatu usaha pertambangan yaitu untuk memecahkan batuan yang relatif keras dari batuan induknya yang tidak bisa dilakukan dengan ripping akibat dari peledakan ini dapat menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitarnya misalnya: · Flaying Rock yang tidak sempurna. Penyebabnya antara lain adalah : Flaying rock (batu terbang) adalah material dipermukaan daerah peledakan yang terbang akibat peledakan - Gerakan burden terlalu kecil atau terlalu besar - Permukaan kurang bersih - Arah lubang bor tidak teratur - Stemming terlalu pendek - Rangkaian inisiasi (penyalaan) salah · Air Blast

Dimana :

Air Blast adalah gelombang kompresi yang merambat melalui atmosfer, yang terjadi bila sejumlah tertentu bahan peledak keluar atmosfer. Ledakan udara ini semakin besar bila pengisian material stemming tidak benar atau steamming tidak sempurna karena adanya air dalam lubang tembak.

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 31

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Tabel 3.1. Pengaruh Beberapa Tingkat Air Blast11) dB
180 170 160 150 140 130 120

Psi
3,0 0,95 0,30 0,095 0,030 0,0095

Damage
Structure Damage Most windows break Some windows break OSHA maximum for impulsive sound USBM TPR 78 Maximum USBM TPR 78 safe level

0,0030

Threshold of pain for continous saound complaints likely OSHA Maximum for 15 minutes

110 100 90 80

0,00095 0,00030 0,000095 0,000030 OSHA maximum for 8 hours

Sedangkan tingkat air blast untuk kenyamaan manusia dan untuk menghindari kerusakan struktur berdasarkan Australia Standar terdapat dalam Tabel 3.2. Tabel 3.2. Tingkat Air Blast11) Batas untuk ketidaknyamanan manusia Batas untuk menghindari kerusakan struktur 120 dB 133 dB

Besar ledakan udara dipengaruhi oleh ketinggian, suhu udara serta kecepatan angin, sehingga suara ledakan udara di suatu tempat dapat terdengar jauh dari sumbernya, biarpun getaran peledakanya relatif kecil Ada dua macam air blast yaitu : 1. Yang dapat didengar (audible sound) 2. Yang tidak dapat didengar (subaudible sound/concussion) Tingkat air blast dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut3)

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 32

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

TI

= 20 log (P/Po)...................................................................................(3.16) P
1 3

=

700 (Q / 150) R

..............................................................................(3.17) Dimana :

TI P Po Q R ·

= Taraf Intensitas = Ukuran dari tekanan = Hubungan dari 0,00002 Pa = Berat = Jarak Ground Vibration

Umumnya tipe bahaya dari peledakan adalah disebabkan getaran tanah saat detonator berada di lubang ledak, saat mulai meledak maka menyebabkan gelombang yang dalam keadaan kuat dengan gerakan yang menembus batuan. Perambatan tegangan pada saat menembus batuan akan menimbulkan gelombang elastis yang dikenal dengan gelombang seismik. Sedang gelombang seismik adalah gelombang yang menggambarkan perjalanan energi melalui bumi yang padat (medium).

3.8. Pengertian Getaran Peledakan Gelombang yang menggambarkan perjalanan energi melalui bumi yang padat atau sering disebut gelombang seismik. Perjalan energi yang lain adalah melalui gelombang seimsik. Perjalanan energi yang lain adalah melalui gelombang suara, gelombang cahaya dan lainya Gelombang seismik yang dihasilkan alam misalnya gempa bumi, banyak sumber – sumber gelombang seismik lainya sebagai akibat perbuatan manusia. Selain satu contohnya adalah gelombang seismik sebagai hasil peldakan. Akibat peledakan yang dirasakan adalah sebagai getaran. Kegiatan peledakan akan selalu menghasilkan suatu gelombang atau getaran. Tujuan peledakan umumnya adalah memecahkan batuan. Pekerjaan ini membutuhkan sejumlah energi yang cukup sehingga melebihi atau melampui kekuatan batuan atau melampui batas elastis batuan, apabila hal tersebut terjadi maka batuan akan pecah. Proses pemecahan akan berjalan terus sampai energi yang dihasilkan oleh bahan peledak makin lama makin berkurang dan menjadi lebih kecil dari kekuatan batuan, sehingga pemecahan batuan akan berhenti.
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 33

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

3.8.1. Teori Dasar Gelombang Gelombang adalah gejala terjadinya perjalanan suatu bentuk gangguan melalui medium dengan mekanisme perambatan getaran yang mempuyai kecepatan tertentu. Setelah gangguan ini melewati medium akan kembali ke keadaan semula, seperti sebelum gangguan itu datang. 3.8.2. Jenis Gelombang Gelombang dibagi menjadi dua, yaitu : gelombang badan (body wave) yang merambat melalui medium dan menembus bagian dalam medium serta gelombang permukaan (surface wave) yang merambat diatas permukaan medium dan tidak menembus medium. Dalam penelitian ini digunakan gelombang yang menembus medium, yaitu gelombang badan yang berdasarkan arah pergerakan partikel – partikel medium terhadap arah penjalaran gelombang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu gelombang longitudinal dan gelombang transversal. · Gelombang Longitudinal

Gelombang longitudinal atau biasa disebut dengan gelombang tekan (P. Wave) terjadi apabila arah pergerakan partikel – partikel medium sama dengan arah pergerakan partikel – partikel medium sama dengan arah penjalaran gelombang. Gelombang ini dapat dijalarkan melalui medium padat, cair atau gas.

Gerakan partikel

Batas gelombang

Penjalaran gelombang

Gambar 3.7. Gelombang Longitudinal4,10) · Gelombang Transversal

Gelombang transversal atau gelombang geser (S Wave) terjadi apabila arah gerakan partikel – partikel medium tegak lurus terhadap arah penjalaran gelombang. Dalam medium cairan atau gas
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 34

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

tidak dapat menahan suatu tegangan geser (shear stress) pada medium yang sama, umumnya kecepatan rambat gelombang transversal setangah kali kecepatan rambat gelombang longitudinal.
Gerakan partikel Batas gelombang

Penjalaran gelombang

Gambar 3.8. Gelombang Transversal4,10) 3.8.3. Parameter Gelombang parameter getaran adalah sifat – sifat dasar dari gerakan digunakan untuk menguraikan karakter dari gerakan tanah. "parameter tersebut adalah perpindahan, kecepatan dan percepatan. Apabila gelombang seismik melalui batuan, maka partikell batuan bergetar atau berpindah dari posisi semula. Hal ini adalah disebut perpindahan. Apabila partikel dipindahkan dan bergerak maka mempuyai kecepatan dan menggunakan gaya yang besarnya sebanding dengan percepatan partikel. Parameter dasar didefenisikan sebagai berikut : Perpindahan : Kecepatan : adalah adalah jarak dimana partikel dimana semula. pada getaran batuan partikel Mulai bergerak batuan dari nol dari posisi semula, ketika ke yang dengan sekian g

satuanya dalam per sekial inch, biasanya perseribu. kecepatan posisi bergerak, meningkat Gaya meninggalkan Percepatan : adalah digunakan

maximum dan kembal ke nol, satuan dalam inci per detik. percepatan oleh perubahan partikel kecepatan adalah partikel. sebanding

percepatan partikel. Percepatan diukur dalam per (accelaration of gravity, g = 32, 2 ft/detik).

Sifat – sifat dasar yang menguraikan gerakan gelombang disebut parameter gelombang. Gelombang gerak harmonik digambarkan dalam gambar 3.14. dan dinyatakan dalam persamaan1,12,14) : y = A sin (µt)...........................................................................................(3.18)
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 35

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Dimana : y t A T f : simpangan (perpindahan) pada seberang waktu : waktu : amplitudo : periode, cycle : frekwensi, jumlah getaran per detik

maka : f =

1 1 atau T = T f

Gambar 3.9. Parameter Gelombang Gerak Harmonik12,14) Panjang gelombang L adalah jarak dari crest ke crest atau dari through ke through, diukur dalam feet adalah perioda gelombang kali kecepatan perambatan (propagasi). 3.9. Faktor – faktor yang mempengaruhi getaran Dua faktor dasar yang mempengaruhi tingkat getaran hasil peledakan adalah jarak dan jumlah isian bahan peledak selain kondisi geologi dan karakteristik batuan. Beberapa penelitian telah dilakukan dalam usaha menentukan hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan tingkat getaran. Hasil penelitian United State Bureau of Mines (USBM) dalam Bulletin 656 (Nicholls, Johnson dan Duval, 1971), secara umum hubungan tersebut dirumuskan sebagai mana dalam tabel 2.1 berikut :

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 36

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Tabel 3.4. Perbedaan kecepatan10)

No. 1.

Kecepatan Rambat Gelombang Tidak dipengaruhi energi masuk dan merupakan fungsi dari karakteristik elastik medium

Kecepatan Partikel Dipengaruhi dan merupakan fungsi dari energi masuk Mempunyai kecepatan partikel maksimum Tidak tergantung pada jenis gelombang

2. 3.

Konstan pada medium yang sama Tergantung pada jenis gelombang

3.9.1. Ukuran Isian Faktor terpenting yang mempengaruhi terjadinya getaran adalah ukuran isian (berat) muatan bahan peledak. Apabila muatan ditambah maka tingkat getaran akan meningkat, tetapi muatan berjumlah dua kali lipat tidak akan menghasilkan getaran dua kali lipat lebih besar. Hubungan tersebut digambarkan dalam grafik seperti terlihat pada Gambar 3.15. Dari hasil penelitian didapat bahwa kecepatan partikel akan berbanding lurus dengan muatan bahan peledak berpangkat tertentu, yaitu12) :

V = W ¶ ………………………………. …………………………………….(3.20)
Keterangan : V = kecepatan partikel, inch per detik W = berat maksimum bahan peledak per delay, pound ¶ = eksponen Menurut hasil penelitian USBM, harga ¶ adalah sekitar 0.8, maka :

V = W 0.8 …………………………………………………………………… (3.21)

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 37

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

5 4 3 2 V W 2 3 4 5 10

Gambar 3.10. Grafik kecepatan partikel dengan berat muatan14) 3.9.2. Jarak Apabila jarak dari tempat peledakan bertambah besar maka getaran akibat peledakan akan semakin kecil. Untuk mengetahui pengaruh jarak terhadap getaran hasil peledakan dilakukan percobaan dengan muatan bahan peledak yang sama besarnya diledakkan di tempat yang berlainan. Setiap peledakan direkam oleh alat seismograf berturut-turut pada jarak yang bertambah jauh. Dari hasil percobaan. didapat bahwa kecepatan partikel akan berbanding terbalik dengan jarak berpangkat tertentu, yaitu12) : V=
1 ……………………………………………………………………. (3.22) Db

Keterangan : V = kecepatan partikel, inch per second D = jarak dari sumber ledakan ke alat rekam b = eksponen Harga b menurut USBM adalah sekitar 1,6 maka12) V=
1 …………………………………………………………………….(3.23) D 1, 6

Hubungan tersebut digambarkan pada grafik seperti terlihat pada gambar 3.16..
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 38

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

2V

V

0

20

30

40

50

100

Gambar 3.11. Hubungan kecepatan partikel dengan jarak14) 3.10. Hukum Perambatan Hubungan yang menyatakan ketergantungan kecepatan partikel pada berat muatan dan jarak dapat dikombinasikan dan dikembangkan ke dalam hukum perambatan menjadi12) : V =
Q ......................................................................................................(3.18) R

Dua faktor yang mempengaruhi tingkat getaran akibat ledakan suatu muatan bahan peledak adalah : jarak dan muatan. Beberapa penelitian telah dilakukan dalam usaha menentukan antara faktor – faktor tersebut dengan tingkatan getaran. Langfors menyatakan hubungan ini dalam bentuk sebagai berikut 12) :
é Q ù = K ê 1, 5 ú ëR û
0,5

V

........................................................................................(3.19)

Dari rumus tersebut dapat dihitung kecepatan partikel yang diharapkan dari sejumlah bahan peledak pada jarak yang ditentukan. Dimana : Q V R K = Ammount of charge per delay, kg = Vibration (oscilation) Velocity, mm/s = Distance from site, m = Rock costant, hard rock = 400, medium rock = 300, soft rock = 200, overburden = 100

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 39

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

3.11. Standar Getaran Besarnya getaran peledakan dapat diketahui dari percepatan partikel yang dapat dicatat dan direkam oleh vibration monitor. Diketahui ada beberapa ketentuan getaran peledakan yang dapat dijadikan acuan standar kerusakan seperti terlihat pada tabel 3.3. Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk memahami dan mengontrol getaran, khususnya getaran akibat peledakan. Dari sejumlah penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa kecepatan partikel dianggap merupakan ukuran terbaik untuk menilai kemungkinan terjadinya kerusakan. Tingkat aman dari getaran tanah berkisar pada kecepatan partikel antara 0,5 – 2,0 ips. Secara umum bahwa kecepatan partikel <2,0 ips tidak terjadi kerusakan dan kecepatan partikel > 2,0 ips akan terjadi kerusakan, sehingga kecepatan partikel 2,0 ips ditetapkan sebagai ambang batas aman (Nilai Ambang Batas). Sedangkan berdasarkan acuan harga standar nilai ambang batas getaran dan suara ledakan yang terdapat dari alat seimograf yang digunakan yaitu Blasmate III dan Minimate Plus, menggambarkan acuan standar dari berbagai negara. Baku tingkat getaran mekanik berdasarkan jenis bangunan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP 49/MENLH/1996, tanggal 25 Nopember 1996 terdapat dalam tabel 3.5, sedangkan Baku tingkat Getaran Kejut terdapat dalam tabel 3.6. Tabel 3.5. Acuan Kriteria Kerusakan9)
Acuan Standar Jenis bangunan Gedung/ Perumahan USBM PPV (ips) < 2.0 2,0 – 4,0 4,0 – 7,0 > 7,0 2,8 Langefors, Kihlstorm Dan (1957) < 2,0 Edwards dan Gedung/ Perumahan 2,0 – 4,0 > 4,0 Noerhwood (1959) Aman, tidak ada kerusakan Ada retakan Terjadi kerusakan Westerberg Gedung/ Perumahan 4,3 6,3 9,1 Kerusakan Tidak ada kerusakan Dinding retak – retak Kerusakan menengah Rusak pada struktur Tidak kerusakan berarti Kerusakan pada dinding Retakan pada Dinding serius Rusak parah

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 40

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Nicholl, Johnson dan Duval (1971)

Gedung/ Perumahan

< 2,0 >2,0

Aman, tidak ada kerusakan Terjadi kerusakan

Tabel 3.6. Baku Tingkat Getaran Kejut3)
Kelas Jenis Bangunan Kecepatan Getaran Maksimum (mm/det) 1 Peruntukan dan bangunan kuno yang mempuyai nilai sejarah yang tinggi 2 Bangunan dengan kerusakan yang sudah ada, tampak keretakan – keretakan pada tembok 3 Bangunan untuk dalam kondisi teknis yang baik, ada kerusakan – kerusakan kecil seperti : plesteran yang retak. 4 Bangunan kuat (misalnya : bangunan industri terbuat dari beton ata baja. 10 - 40 10 5 2

Tabel 3.7. Baku Tingkat Getaran Mekanik Berdasarkan Jenis Bangunan3)

Kecepatan Getaran (mm/det) Pada Pondasi Kelas Tipe Bangunan Frekwensi
<10 HZ 1 Bangunan untuk keperluan niaga, bangunan industri < 10 20 – 40 40 - 50 40 dan bangunan sejenis 2 Perumahan dan bangunan dengan rancangan dan 5 karena terhadap 5 - 15 15 - 20 15 kegunaan sejenis 3 Struktur sifatnya yang peka 10 – 50 HZ 50 – 100 HZ

Pada Bidang Datar di Lantai Atas Campuran Frekwensi

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 41

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

getaran,

tidak

seperti

tersebut pada no. 1 dan 2, dan mempuyai nilai budaya tinggi seperti banguan yang dilestarikan 3 3–8 8 - 10 8,5

3.12. Hukum Scaled Distance Tinjauan hukum Scaled Distance (SD) pada kegiatan peledakan menyangkut beberapa faktor yang menghubungkan dengan perkiraan tingkat getaran peledakan berdasarkan pada berat isian bahan peledak dan jarak suatu bangunan atau daerah dari tempat peledakan. Cara yang praktis dan efektif untuk mengontrol getaran adalah dengan menggunakan Scaled Distance yang memungkinkan pelaksanaan di lapangan menentukan jumlah isian bahan peledak atau jarak aman yang digunakan agar menghasilkan getaran peledakan yang diizinkan. Besarnya getaran ada hubunganya antara jarak dan titik letak dengan energi yang dihasilkan dalam peledakn, yaitu pengaruh jarak akan setara dengan akar pangkat tiga dari energi peledakan. Apabila energi dalam hal ini dieskuivalenkan dengan jumlah bahan peledak maka parameter yang dihasilkan yaitu SD (Scaled Distance) dapat digunakan sebagai salah satu variabel penentu dalam perkiraan peledakan akibat peledakan. Hukum SD untuk kontrol getaran akibat peledakan ada dua macam, yaitu : Menurut hasil analisis dimensional, SD dinyatakan sebagai3,12) : CRSD =

R W
1 3

.................................................................................................(3.20)

Dimana : CRSD = Cube Root Scaled Distance, m/kg2 R W = Jarak dari sumber ledakan, meter = Berat isian bahan peledak per delay, kg

Hukum CRSD ini digunakan untuk pendugaan kerusakan struktur bangunan akibat peledakan pada jarak < 20 meter dari sumber ledakan, dengan persamaan3,10): SRSD =

R W
1 2

..................................................................................................(3.21)

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 42

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Dimana : SRSD = Square Root Scaled Distance, m/kg2 R W = Jarak aman dari sumber ledakan, meter = Berat isian bahan peledak per delay, kg

Hukum SRSD ini digunakan untuk pendugaan kerusakan struktur bangunan akibat peledakan jarak > 20 meter dari ledakan. Perhitungan SD akan menghasilkan suatu angka tertentu yang digunakan untuk memperkirakan tingkat getaran peledakan, tidak ada pengukuran seismic. Menurut USBM, SD yang disarankan sebagai batas aman adalah minimal 50, jika alat seismograf tidak digunakan atau tidak tersedia. Tingkat getaran pada SD tersebut berkisar antara 0,08 – 0,15 ips. Secara umum harga SD yang besar (SD > 50) menunjukkan kondisi getaran yang aman atau kerusakan yang terjadi kecil. 3.13. Peralatan Pengukuran Getaran Peledakan Alat untuk menditeksi gerakan tanah (ground vibration) dan tekanan udara (air pressure/air blast) dari penjalaran gelombang seismic / gelombang tekan udara akibat peledakan adalah menggunakan seismograf. Kegiatana pengukuran getaran akibat peledakan di PT. Semen Padang yang dilakukan oleh Penulis menggunakan alat Blasmate III. Blasmate III meruapakan salah satu dari jenis seismograf digital. Blasmate III ini terdiri dari Geophone,Mikrophone, dan Instantel monitor, rangkaian ini disebut dengan minimate plus. Geophone adalah alat untuk mengukur getaran yang dihasilkan peledakan, sedangkan microphone adalah alat untuk mengukur kebisingan dari suara yang dihasilkan dari peledakan tersebut. Geophone dan Mincrophone tersebut disambungkan ke Instantel monitor.

Gambar 3.12. Pengukuran Dengan Menggunakan Blasmate III6)
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 43

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Cara kerja dari alat ini adalah sebagai berikut : getaran mekanis dari kegiatan peledakan diterima oleh geophone diubah menjadi getaran elektris, diproses dan disimpan. Hasil pengukuran bisa dibaca di layar atau di kertas printer. Data dari hasil pengukuran di alat tersebut ditransfer ke komputer dengan menggunakan program Blasware. Sedangkan peristiwa yang di monitoring adalah ukuran dari tekanan udara dan gerakan tanah. Jadi geophone tersebut dapat menangkap getaran tanah yang berupa gelombang vertikal, longitudinal, dan transversal. Sedangkan mincrophone tersebut dapat menangkap tekanan udara yang disebabkan karena peledakan. Penggunaan alat tersebut harus dalam kondisi yang kering, apabila dalam kondisi basah akan menyebabkan kerusakan monitor. Landasan harus padat dan keras. Posisikan Blasmate III tersebut dengan panah yang menunjukkan ke arah yang diinginkan.

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 44

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

4. DATA DAN ANALISA DATA

4.1. Kegiatan Pemboran Kegiatan pemboran adalah kegiatan penembusan area penetrasi secara mekanis terhadap batuan, kegiatan pemboran ini dilakukan untuk membuat lubang tembak yang akan diisi oleh bahan peledak yang kemudia diledakkan. 4.1.1. Pola Pemboran Pola pemboran yang diterapkan adalah straggered patern suatu pemboran lubang tembak selang – seling pada square drill pattern maupun pada retangullar drill pattern. Sebelum dilakukan kegiatan pemboran, terlebih dahulu ditentukan daerah yang akan dibor sesuai dengan pola pemboran yang direncanakan berdasarkan geometri peledakan yaitu, burden, spacing, dan kedalaman lubang ditentukan sesuai dengan kondisi lapangan dan perencanaan jenjang. Sebelum dilakukan peledakan, lubang bor yang telah dibuat ditutup dahulu dengan menggunakan plastic. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga lubang bor tersebut tidak berubah. 4.1.2. Diameter dan Arah Lubang Bor / Lubang Tembak Di kauri batugamping PT. Semen Padang, digunakan ukuran diameter 3,5 inchi (88,9 mm) untuk ketinggian jenjang 8 m dan 9 m. Pada waktu pengukuran getaran tahun 2008 dan 2009 diameter 3,5 inch juga digunakan pada ketinggian jenjang 7 m sampai 10 m. Dan ukuran diameter 4 inch (101,6 mm) untuk ketinggian jenjang 15 m. Sedangkan untuk arah pemboran lubang tembak, dibuat dengan kemiringan 200 terhadap bidang vertikal 4.2. Peledakan Pola peledakan yang diterapkan di kauri PT. Semen Padang adalah selang – selingn dengan menggunakan waktu tunda (delay) antar baris lubang tembak. Pada waktu pengukuran getaran peledakan tahun 2007 dan 2008 pola peledakan yang digunakan sama.

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 45

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Dalam pola peledakan yang diterapkan terlihat waktu tunda yang dipakai masih dapat dilakukan perbaikan. Dengan menggunakan waktu tunda antar baris, maka banyak bahan peledak yang dibutuhkan. Ini dapat berpengaruh terhadap intensitas getaran yang besar pula. faktor – faktor yang penting untuk diamati pada saat peledakan yaitu. geometri peledakan, pola peledakan, dimensi jenjang, material stemming, pemakaian serta pengisian bahan peledak. 4.2.1. Geometri Peledakan Geometri peledakan meliputi burden, spacing, stemming, tinggi jenjang dan kedalaman lubagn. Variabel tersebut akan sangat menentukan baik atau tidaknya suatu peledakan. Geometri peledakan yang dilakukan oleh PT. Semen Padang adalah sebagai berikut : Diperoleh data – data yang didapat dari pengamatan langsung di lapangan juga sebagai perbandingan data – data terdahulu pada waktu diadakan pengukuran geteran peledakan tahun 2007 dan 2008. Tabel 4.1. Geometri Peledakan Nyata 2008 Lokasi Peledakan Bp1 Bp 2 Bp3 Bp 4 Bp 5 Bp 6 Bp 7 Bp 8 Bp 9 Burden (m) 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Spacing (m) 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3 3,5 3,5 3,5
Halaman 46

Kedalaman (m) 8 8 10 10 8 8 8 10 11

Tinggi Jenjang (m) 7 7 9 9 7 7 7 9 10

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Stiffned ratio yang didapat dari geometri yang ada adalah berdasarkan perbandingan tinggi jenjang dengan jarak burden ( Tabel 4.1, 4.2, dan 4.3) adalah untuk tinggi jenjang 6 – 9 berada antara 2 dan 3. Berdasarkan table 3.1 angka tersebut masih mungkin untuk ditingkatkan agar hasil yang didapat menjadi lebih baik. Sedangkan pada tinggi jenjang 10 berada antara 3 dan 4, berarti tingkat fragmentasinya sangat baik. Sedangkan pada tinggi jenjang 15 dengan burden 3 tidak ada peningkatan pada hasil peledakanya, dimana dengan maksimum nilai SR yang menghasilkan fragmentasi sangat bagus adalah 4. Data – data lain akibat dari kegiatan peledakan yang didapat langsung dari lapangan adalah : · · · Masih terdapat toe atau tonjolan batuan di permukaan jenjang. Masih terjadi creater pada jenjang hasil peledakan. Tabel 4.1. Geometri Peledakan Nyata 2009 Lokasi Peledakan C110 C110 C110 C120 C110 C90 C110 C110 C110 C110 C120 Burden (m) 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Spacing (m) 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 3.5 Kedalaman (m) 10 9 9 10 9 10 9 9 9 9 9 Tinggi Jenjang (m) 9 8 8 9 8 9 8 8 8 8 8

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 47

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

C110 C110 C120 C110

3 3 3 3

3.5 3.5 3.5 3.5

9 9 9 9

8 8 8 8

4.3. Persiapan dan Pelaksanaan Peledakan Proses pelekasanan peledakan di kuari PT. Semen Padang dilakukan dengan beberapa pekerjaan. Dimana pekerjaanya dilakukan bersama – sama dengan pimpinan juru ledak. 4.3.1. Persiapan Peledakan 1. Pengambilan bahan peledak dari gudang bahan peledak dengan mengisi dahulu formulir permintaan bahan peledak dan membuat surat kuasa pengambilan bahan peledak. 2. Memerikasa lubang ledak, apakah berubah atau ada air di dalam lubang. 4.3.2. Pelaksanaan Peledakan 1. Memasukkan plastic pembungkus apabila lubang ledak tersebut mengandung air. 2. Membuat primer (menggabungkan powergel dengan detonator) dengan melubangi plastil powergel lalu memasukkan detonator kedalamnya dan disimpul agar tidak lepas. 3. Mendristribusikan primer ke lubang ledak. 4. Mengisi lubang ledak dengan ANFO 5. Menutup lubang dengan serbuk pemboran (cutting) karung bekas ANFO, dan terakhir menggunakan tanah sebagai stemming. 6. Detonator diuji dahulu dengan menggunakan blasting ohm meter, sebelum dibuat rangkaian. 7. Merangkai kabel dalam satu baris secara seri oleh juru ledak. 8. Merangkai kabel antar baris dengan baris lainya secara pararel. 9. Menyambungkan seluruh rangkaian ke kabel utama. 10. Memberikan tanda peringatan dengan menggukana sirine untuk mengamankan daerah sekitar. 11. Setelah lokasi aman juru ledak melakukan peledakan. 4.4. Dampak Negatif Peledakan
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 48

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Dalam suatu kegiatan peledakan pasti terdapat efek yang timbul pada saat peledakan tersebut. Adapun efek yang timbul dari peledakan tersebut adalah : · · · Getaran tanah (ground vibration) Tingkat ledakan udara (air blast) Batu terbang (fly rock)

Berdasarkan laporan dari penduduk setempat, kegiatan peledakan yang dilakukan oleh PT. Semen Padang masih mendapat keluhan. Diantaranya adalah getaran yang ditimbulkan akibat dan airblast. Mengingat jarak antara penduduk / bangunan yang terdekat dengan kegiatan peledakan di kuari A, B dan C relatif jauh berkisar 350 meter sampai 1000 meter, maka perlu adanya sedikit perbaikan pada geometri peledakan dan pola peledakan. 4.5. Lokasi Peledakan dan Pengukuran Getaran Lokasi peledakan untuk pengukuran ini terletak disekiar kuari batugamping di daerah Bukit Karang Putih, Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kotamadya Padang, Propinsi Sumatera Barat. Dan pengukuran getaran peledakan dilakukan di daerah dengan pemukiman penduduk, dimana apabila pada kuari – kuari tersebut terjadi aktivitas peledakan sering mendapat keluhan dari masyarakat sekitar yang merasa terganggu kenyamananya oleh akibat besarnya getaran hasil peledakan. Selain itu pengukuran juga dilakukan di areal penambangan di gudang bahan peledak. 4.5.1. Pengukuran Pada Tahun 2008 Dari hasil peledakan yang dilakukan pada PT. Semen Padang yang mengakibatkan adanya getaran peledakan yang berpengaruh pada lingkungan. Untuk itu PT. Semen Padang melakukan pengukuran getaran apakah masih dalam batas – batas yang aman untuk melakukan peledakan. Dari hasil penelitian data – data peledakan dan hasil pengukuran yang diperoleh adalah sebagai berikut : a. Peledakan 1 Blasting point terletak di kuari A pada level 130 meter diatas permukaan air laut (dpa). Data – data peledakan : · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO : 20 buah (2 row) : 425 kg
Halaman 49
(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

· · · · ·

Jumlah Powergel Jumlah nomor delay yang digunakan Jumlah isian perlubang bahan peledak Jumlah bahan peledak terbanyak pada Nomor delay yang sama

: 3,64 kg : No. delay 8 = 8 buah No. delay 10 = 12 buah : (425 + 3.64) kg : 20 = 21.432 kg : 12 x 21.432 kg = 257.2 kg

Pengukuran pada peledakan 1 Blasting Point terletak di kuari A level 130 m, sedangkan pengukuran Blasmate III terletak di Perum Sikayan Bansek pada jarak 350 m. Kegiatan ini disaksikan oleh aparat desa, serta staf dari PT. Semen Padang. Hasil pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity : - Transversal - Vertical - Longitudinal · · Peak Vector Sum Peak Sound Pressure Level = 1.59 mm/s, frequency = 6.3 Hz = 0.98 mm/s, frequency = 8.1 Hz = 1.56 mm/s, frequency = 7.4 Hz = 1.68 mm/s = 1.60 pa , frequency = 8.0 Hz

b. Peledakan 2 Blasting point terletak di kuari A pada level 130 meter diatas permukaan air laut (dpa). Data – data peledakan : · · · · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO Jumlah Powergel Jumlah nomor delay yang digunakan Jumlah bahan peledak terbanyak pada Nomor delay yang sama : 12 x 20.182 kg = 242.184 kg : 20 buah (2 row) : 400 kg : 3,64 kg : No. delay 4 = 8 buah No. delay 6 = 12 buah

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 50

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Pengukuran pada peledakan 2 Blasting Point terletak di kuari A level 130 m, sedangkan pengukuran Blasmate III terletak di Perum Sikayan Bansek pada jarak 350 m. Kegiatan ini disaksikan oleh aparat desa, serta staf dari PT. Semen Padang. Hasil pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity : - Transversal - Vertical - Longitudinal · · Peak Vector Sum Peak Sound Pressure Level = 3.19 mm/s, frequency = 7.2 Hz = 0.97 mm/s, frequency = 7.1 Hz = 3.02 mm/s, frequency = 6.6 Hz = 3.65 mm/s = 2.63 pa , frequency = 4.8 Hz

c. Peledakan 3 Blasting point terletak di kuari C pada level 100 meter diatas permukaan air laut (dpa). Data – data peledakan : · · · · · · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO Jumlah Powergel Jumlah nomor delay yang digunakan Jumlah isian perlubang bahan peledak Jumlah bahan peledak terbanyak pada Nomor delay yang sama : 12 x 32.682 kg = 392.2 kg : 20 buah (2 row) : 650 kg : 3,64 kg : No. delay 1 = 8 buah No. delay 3 = 12 buah : (650 + 3.64) kg : 20 = 32.682 kg

Pengukuran pada peledakan 3 Blasting Point terletak di kuari C level 100 m, sedangkan pengukuran Blasmate III terletak di Perum Sikayan Bansek pada jarak 650 m. Kegiatan ini disaksikan oleh aparat desa, serta staf dari PT. Semen Padang. Hasil pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity :
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 51

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

- Transversal - Vertical - Longitudinal · · Peak Vector Sum Peak Sound Pressure Level

= 0.603 mm/s, frequency = 8.4 Hz = 0.349 mm/s, frequency = 7.8 Hz = 0.952 mm/s, frequency = 9.5 Hz = 0.979 mm/s = 9.25 pa , frequency = 5.8 Hz

d. Peledakan 4 Blasting point terletak di kuari C pada level 100 meter diatas permukaan air laut (dpa). Data – data peledakan : · · · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO Jumlah Powergel Jumlah nomor delay yang digunakan : 22 buah (2 row) : 700 kg : 3,64 kg : No. delay 5 = 1 buah No. delay 7 = 10 buah No. delay 9 = 11 buah · · · Jumlah isian perlubang bahan peledak Jumlah bahan peledak terbanyak pada Nomor delay yang sama : 11 x 35.182 kg = 387.1 kg : (700 + 3.64) kg : 20 = 35.182 kg

Pengukuran pada peledakan 4 Blasting Point terletak di kuari C level 100 m, sedangkan pengukuran Blasmate III terletak di Perum Sikayan Bansek pada jarak 650 m. Kegiatan ini disaksikan oleh aparat desa, serta staf dari PT. Semen Padang. Hasil pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity : - Transversal - Vertical - Longitudinal · · Peak Vector Sum Peak Sound Pressure Level = 0.190 mm/s, frequency = 5.9 Hz = 0.095 mm/s, frequency = 7.1 Hz = 0.222 mm/s, frequency = 5.3 Hz = 0.231 mm/s = 8.25 pa , frequency = 3.3 Hz

e. Peledakan 5
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 52

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Blasting point terletak di kuari B pada level 130 meter diatas permukaan air laut (dpa). Data – data peledakan : · · · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO Jumlah Powergel Jumlah nomor delay yang digunakan : 15 buah (2 row) : 375 kg : 2,73 kg : No. delay 7 = 3 buah No. delay 9 = 6 buah No. delay 10 = 6 buah · · · Jumlah isian perlubang bahan peledak Jumlah bahan peledak terbanyak pada Nomor delay yang sama : 6 x 25,182 kg= 151,1 kg : (375 + 2,73) kg : 20 = 25,182 kg

Pengukuran pada peledakan 5 Blasting Point terletak di kuari B level 130 m, sedangkan pengukuran Blasmate III terletak di Perum Sikayan Bansek pada jarak 1000 m. Kegiatan ini disaksikan oleh aparat desa, serta staf dari PT. Semen Padang. Hasil pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity : - Transversal - Vertical - Longitudinal · · Peak Vector Sum Peak Sound Pressure Level = 0,38 mm/s, frequency = 51 Hz = 1,62 mm/s, frequency = 6,5 Hz = 0,28 mm/s, frequency = 51 Hz = 0,344 mm/s = 125 dB , frequency = 6,0 Hz

f. Peledakan 6 Blasting point terletak di kuari B pada level 130 meter diatas permukaan air laut (dpa). Data – data peledakan : · · · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO Jumlah Powergel Jumlah nomor delay yang digunakan : 30 buah (2 row) : 600 kg : 5,45 kg : No. delay 0 = 4 buah
Halaman 53
(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

No. delay 1 = 4 buah No. delay 2 = 4 buah No. delay 3 = 4 buah No. delay 6 = 4 buah No. delay 7 = 4 buah No. delay 8 = 6 buah · · · · Jumlah isian perlubang bahan peledak Jumlah bahan peledak terbanyak pada Nomor delay yang sama Pengukuran pada peledakan 6 : 6 x 20,182 kg = 121,1 kg : (600 + 5,45) kg : 30 = 20,182 kg

Blasting Point terletak di kuari B level 130 m, sedangkan pengukuran Blasmate III terletak di Perum Sikayan Bansek pada jarak 1000 m. Kegiatan ini disaksikan oleh aparat desa, serta staf dari PT. Semen Padang. Hasil pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity : - Transversal - Vertical - Longitudinal · · Peak Vector Sum Peak Sound Pressure Level = 0,38 mm/s, frequency = 9,5 Hz = 1,62 mm/s, frequency = 7,9Hz = 0,28 mm/s, frequency = 8,0 Hz = 0,344 mm/s = 125 dB , frequency = 6,0 Hz

g. Peledakan 7 Blasting point terletak di kuari B pada level 150 meter diatas permukaan air laut (dpa). Data – data peledakan : · · · · · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO Jumlah Powergel Jumlah nomor delay yang digunakan Jumlah isian perlubang bahan peledak Jumlah bahan peledak terbanyak pada
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

: 12 buah (2 row) : 300 kg : 2,18 kg : No. delay 8 = 6 buah No. delay 10 = 6 buah : (300 + 2,18) kg : 30 = 25,182 kg

Halaman 54

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

·

Nomor delay yang sama

: 6 x 25,182 kg = 151,1 kg

Pengukuran pada peledakan 7 Blasting Point terletak di kuari B level 150 m, sedangkan pengukuran Blasmate III terletak di Perum Sikayan Bansek pada jarak 1000 m. Kegiatan ini disaksikan oleh aparat desa, serta staf dari PT. Semen Padang. Hasil pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity : - Transversal - Vertical - Longitudinal · · Peak Vector Sum Peak Sound Pressure Level = 0,11 mm/s, frequency = > 100 Hz = 1,33 mm/s, frequency = > 100 Hz = 0,27 mm/s, frequency = > 100 Hz = 1,34 mm/s = 122 dB , frequency = 10 Hz

h. Peledakan 8 Blasting point terletak di kuari A pada level 140 meter diatas permukaan air laut (dpa). Data – data peledakan : · · · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO Jumlah Powergel Jumlah nomor delay yang digunakan : 21 buah (2 row) : 650 kg : 3,82 kg : No. delay 6 = 5 buah No. delay 7 = 5buah No. delay 8 = 5 buah No. delay 10 = 6 buah · · · Jumlah isian perlubang bahan peledak Jumlah bahan peledak terbanyak pada Nomor delay yang sama : 6 x 31,134 kg = 168,8 kg : (650 + 3,82) kg : 30 = 31,134 kg

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 55

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Pengukuran pada peledakan 8 Blasting Point terletak di kuari A level 140 m, sedangkan pengukuran Blasmate III terletak di Perum Sikayan Bansek pada jarak 350 m. Kegiatan ini disaksikan oleh aparat desa, serta staf dari PT. Semen Padang. Hasil pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity : - Transversal - Vertical - Longitudinal · · Peak Vector Sum Peak Sound Pressure Level = 0,11 mm/s, frequency = 16 Hz = 1,33 mm/s, frequency = 11 Hz = 0,27 mm/s, frequency = 57 Hz = 1,16 mm/s = 122 dB , frequency = 3,4 Hz

h. Peledakan 9 Blasting point terletak di kuari C pada level 110 meter diatas permukaan air laut (dpa). Data – data peledakan : · · · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO Jumlah Powergel Jumlah nomor delay yang digunakan : 25 buah (2 row) : 825 kg : 4,18 kg : No. delay 0 = 3 buah No. delay 1 = 3 buah No. delay 2 = 3 buah No. delay 3 = 2 buah No. delay 4 = 2 buah No. delay 6 = 4 buah No. delay 7 = 4 buah No. delay 8 = 4 buah · · · Jumlah isian perlubang bahan peledak Jumlah bahan peledak terbanyak pada Nomor delay yang sama : 4 x 33,17 kg = 132,68 kg : (825 + 4,18) kg : 25 = 33,17 kg

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 56

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Pengukuran pada peledakan 9 Blasting Point terletak di kuari C level 110 m, sedangkan pengukuran Blasmate III terletak di depan Gedung Handak pada jarak 600 m. Hasil pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity : - Transversal - Vertical - Longitudinal · · Peak Vector Sum Peak Sound Pressure Level = 0,11 mm/s, frequency = 6,1 Hz = 1,33 mm/s, frequency = 5,4 Hz = 0,27 mm/s, frequency = 5,4 Hz = 0,228 mm/s = 17,8 dB , frequency = 5,4 Hz

4.5.2. Pengukuran Pada Tahun 2009 1. Peledakan Hari Pertama Pada hari pertama dilakukan dua kali peledakan yaitu dengan : 1. Blasting point (BP - 1) yang terletak di kuari A level 120 meter dan Blasting monitor 1 (BM -2) di desa Perum Sikayan Bansek yang berjarak 860meter. Data – data peledakan : · · · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO Jumlah Powergel Jumlah nomor delay yang digunakan : 26 buah (2 row) : 650 kg : 4,73 kg : No. delay 0 = 5 buah No. delay 2 = 5 buah No. delay 4 = 3 buah No. delay 6 = 3 buah No. delay 7 = 4 buah No. delay 8 = 3 buah · · Jumlah isian perlubang bahan peledak : (650 + 4,73) kg : 26 = 25,18 kg Jumlah bahan peledak terbanyak pada Nomor delay yang sama : 5 x 25,18 kg = 125,9 kg

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 57

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Pengukuran pada Peledakan Blasting Point BP – 1 Kegiatan ini disaksikan oleh aparat desa dan staff dari PT. Semen Padang, Hasil Pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity : - Transversal - Vertical - Longitudinal · · · Peak Vector Sum Peak Sound Pressure Level Portable Sound Pressure Level = 0,0476 mm/s, frequency = > 100 Hz = 0,065 mm/s, frequency = >100 Hz = 0,0794 mm/s, frequency = 4,1 Hz = 0,102 mm/s = 108 dB , frequency = 11 Hz = 70 dB

2. Blasting point (BP - 2) yang terletak di kuari C level 130 meter dan Blasting monitor (BM-2) di desa Perum Sikayan Bansek yang berjarak 850meter. Data – data peledakan : · · · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO Jumlah Powergel Jumlah nomor delay yang digunakan : 20 buah (2 row) : 1.725 : 10.91 kg : No. delay 4 = 4 buah No. delay 5 = 4 buah No. delay 6 = 4 buah No. delay 8 = 4 buah No. delay 9 = 4 buah · · · Jumlah isian perlubang bahan peledak : (1.725 + 10.91) kg : 20 = 86,795 kg Jumlah bahan peledak terbanyak pada Nomor delay yang sama : 4 x 86,795 kg = 347,182 kg

Pengukuran pada Peledakan Blasting Point BP – 2 Kegiatan ini disaksikan oleh aparat desa dan staff dari PT. Semen Padang, Hasil Pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity : - Transversal - Vertical = 1,32 mm/s, frequency = 6,9Hz = 0,317 mm/s, frequency = 4,2 Hz

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 58

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

- Longitudinal · · · Peak Vector Sum Peak Sound Pressure Level Portable Sound Pressure Level

= 0,476 mm/s, frequency = 8,7 Hz = 1,32 mm/s = 110 dB , frequency = 4,1 Hz = 84 dB

2. Peledakan Hari Kedua Pada hari kedua dilakukan dua kali peledakan yaitu dengan : 1. Blasting point (BP - 3) yang terletak di kuari A level 120 meter dan Blasting monitor 1 (BM -3) di desa Perum Sikayan Bansek yang berjarak 860meter. Data – data peledakan : · · · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO Jumlah Powergel Jumlah nomor delay yang digunakan : 25 buah (2 row) : 600 kg : 4,55 kg : No. delay 6 = 5 buah No. delay 8 = 5 buah No. delay 9 = 5 buah No. delay 10 = 5 buah · · Jumlah isian perlubang bahan peledak : (600 + 4,55) kg : 25 = 24,182 kg Jumlah bahan peledak terbanyak pada Nomor delay yang sama : 5 x 25,18 kg = 120,91 kg

Pengukuran pada Peledakan Blasting Point BP – 3 Kegiatan ini disaksikan oleh aparat desa dan staff dari PT. Semen Padang, Hasil Pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity : - Transversal - Vertical - Longitudinal · · Peak Vector Sum Peak Sound Pressure Level = 0,0317 mm/s, frequency = > 100 Hz = 0,0794 mm/s, frequency = >100 Hz = 0,0635 mm/s, frequency = 10 Hz = 0,0926 mm/s = 111 dB , frequency = 5,4 Hz = 8,5 dB

Portable Sound Pressure Level

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 59

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

2. Blasting point (BP - 4) yang terletak di kuari C level 150 meter dan Blasting monitor (BM -4) di desa Perum Sikayan Bansek yang berjarak 860meter. Data – data peledakan : · · · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO Jumlah Powergel Jumlah nomor delay yang digunakan : 20 buah (2 row) : 1.725 kg : 10,91 kg : No. delay 1 = 5 buah No. delay 2 = 5 buah No. delay 3 = 5 buah No. delay 4 = 5 buah · · Jumlah isian perlubang bahan peledak : (1.725 + 10,91) kg : 26 = 86,795 kg Jumlah bahan peledak terbanyak pada Nomor delay yang sama : 5 86,795 kg = 433,9775 kg

Pengukuran pada Peledakan Blasting Point BP – 4 Kegiatan ini disaksikan oleh aparat desa dan staff dari PT. Semen Padang, Hasil Pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity : - Transversal - Vertical - Longitudinal · · · Peak Vector Sum Peak Sound Pressure Level Portable Sound Pressure Level = 1.13 mm/s, frequency = 3,7 Hz = 0,365 mm/s, frequency = 5,3 Hz = 0,587 mm/s, frequency = 6,2 Hz = 1.17 mm/s = 97,5dB , frequency = 2,0 Hz = 91 dB

3. Peledakan Hari Ketiga Peledakan dilakukan dengan Blasting Point (BP – 5) terletak di kuari B level 160 meter dan Blasting monitor (BM – 5) di desa Perum Sikayan Bansek, berjarak 1000 meter. Data – data peledakan : · · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO Jumlah Powergel : 20 buah (2 row) : 1.650 kg : 10.91 kg
Halaman 60
(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

·

Jumlah nomor delay yang digunakan

: No. delay 5 = 4 buah No. delay 6 = 4 buah No. delay 8 = 4 buah No. delay 9 = 4 buah No. delay 10 = 4 buah

· ·

Jumlah isian perlubang bahan peledak : (1.650 + 10.91) kg : 20 = 83,05 kg Jumlah bahan peledak terbanyak pada Nomor delay yang sama : 4 x 83,05 kg= 332,182 kg

Pengukuran pada Peledakan Blasting Point BP – 5 Kegiatan ini disaksikan oleh aparat desa dan staff dari PT. Semen Padang, Hasil Pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity : - Transversal - Vertical - Longitudinal · · Peak Vector Sum Peak Sound Pressure Level = 0,143 mm/s, frequency = 9,5 Hz = 0,302 mm/s, frequency = 6,6 Hz = 0,238 mm/s, frequency = 10 Hz = 0,341 mm/s = 123 dB , frequency = 4,3 Hz = 84 dB

Portable Sound Pressure Level 4. Peledakan Hari Keempat

Peledakan dilakukan dengan Blasting Point (BP – 6) terletak di kuari A level 120 meter dan Blasting monitor (BM – 5) di desa Perum Sikayan Bansek, berjarak 100 meter. Data – data peledakan : · · · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO Jumlah Powergel Jumlah nomor delay yang digunakan : 16 buah (2 row) : 450 kg : 2,91 kg : No. delay 3 = 5 buah No. delay 4 = 5 buah No. delay 5 = 6 buah · · Jumlah isian perlubang bahan peledak : (1.650 + 10.91) kg : 16 = 28,31 kg Jumlah bahan peledak terbanyak pada Nomor delay yang sama : 6 x 28,31 kg= 169,84 kg

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 61

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

Pengukuran pada Peledakan Blasting Point BP – 6 Pengkuran pada peledakan ini dicoba sangat dekat antara Blasting Point denan Blasting Monitor yaitu pada level yang sama. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh dampaknya pada level sama dan jarak yang dekat. Hasil Pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity : - Transversal - Vertical - Longitudinal · · Peak Vector Sum Peak Sound Pressure Level = 8,91 mm/s, frequency = 11 Hz = 4,49 mm/s, frequency = 13 Hz = 8,54 mm/s, frequency = 12 Hz = 9,73 mm/s = 127 dB , frequency = 6,6 Hz = 98 dB

Portable Sound Pressure Level

Ø Blasting Point (BP – 7) terletak pada kuari C level 90 meter dan Blasting monitor (BM – 7) di atas gudang bahan peledak berjarak 600 meter. Data – data peledakan : · · · · Jumlah lubang ledak Jumlah ANFO Jumlah Powergel Jumlah nomor delay yang digunakan : 15 buah (2 row) : 1.450 kg : 8,18 kg : No. delay 0 = 5 buah No. delay 1 = 5 buah No. delay 2 = 5 buah · · · Jumlah isian perlubang bahan peledak : (1.450 + 8,18) kg : 15 = 97,21 kg Jumlah bahan peledak terbanyak pada Nomor delay yang sama : 5 x 97,21 kg = 486,06 kg

Pengukuran pada Peledakan Blasting Point BP – 7 Kegiatan pengukuran ini disaksikan oleh staff PT. Semen Padang. Hasil Pengukuran getaran adalah sebagai berikut : · Peak Particle Velovity : - Transversal - Vertical - Longitudinal · Peak Vector Sum = 1,30 mm/s, frequency = 3,7 Hz = 0,730 mm/s, frequency = 3,5 Hz = 0,873 mm/s, frequency = 4,1 Hz = 1,53 mm/s

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 62

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

·

Peak Sound Pressure Level

= 128 dB , frequency = 4,0 Hz = 983 dB

Portable Sound Pressure Level

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 63

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

5. PEMBAHASAN

Berdasarkan pengamatan, masih terdapat ground vibration dan air blast yang masih dikeluhkan oleh masyarakat sekitar. Maka dalam pembahasan ini akan dibahas mengenai faktor – faktor penyebab terjadinya ground vibration dan air blast yang didapat secara teoritis dan dengan menggunakan rumus R.L Ash. Perhitungan yang didapat akan menunjukkan hasil peledakan yang efektif dan efisien. Sehingga dapat menguntungkan bagi pihak perusahaan dan juga tidak mengakibatkan dampak lingkungan. 5.1. Pemboran Pemboran yang digunakan adalah Reich Drill C-500- D-II, Ingersoll Rand DM 30, dan Tamrock CHA 1100. 5.1.1 Pola Pemboran Pola pemboran yang digunakan PT. Semen Padang sudah tepat yaitu memakai pola Retangular Staggered Drill Patern atau pola selang – seling. Keuntungan memakai pola pemboran ini akan menghemat tenaga pemborann juga akan memperkecil terjadinya boulder akibat peledakan. Hal ini sangat tepat untuk mengurangi terbentuknya boulder yang tidak diinginkan. 5.1.2 Arah Lubang Bor / Lubang Tembak Pemboran yang dipakai saat ini adalah pemboran miring, dengan arah pemboran 200 terhadap bidang vertikal. Hal ini kurang tepat, karena pemboran 180 merupakan yang terbesar, sedang 200 sudah melebihi standar yang ditentukan, akan menyebabkan diviasi pada bottom. Arah pemboran miring dapat menghasilkan boulder yang lebih sedikit dibanding arah pemboran tegak. Namun ketepatan pengambilan sudut yang diinginkan tersebut haruslah benar, sebab jika tidak sesuai dengan sudut yang diinginkan maka akan menyebebkan perubahan ukuran burden pada bagian bawah lubang bor atau lubang tembak. Jika burden pada bottom semakin kecil, maka akan memperbesar harga specific charge pada bottom tersebut semakin besar, maka tenaga eksplosive tidak bias merumpang burden dan gas – gas melepaskan diri melalui collar yang menyebabkan fly
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 64

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

rock serta menciptakan efek kawah. Akibat lain jika terjadi kesalahan pada pengambilan sudut lubang bor adalah kemiringan jenjang menjadi tidak sesuai dengan yang diinginkan. Bila lubang ledak vertikal dibedakan, maka gelombang tekan yang dipantulkan oleh bidang bebas lebih sedikit disbanding dengan lubang ledak miring, karena bidang bebas yang terbentuk lebih sempit. Akibatnya akan mengalami kehilangan gelombang tekan yang cukup besar pada lantai jenjang. Dengan besarnya gelombang tekan yang dipantulkan melalui lantai jenjang mengakibatkan timbulnya ground vibration. 5.2. Peledakan Pola peledakan saat ini adalah pola peledakan dengan menggunakan waktu tunda (delay time) antar baris. Penggunaan waktu tunda antar baris kurang baik, karena pada saat bersamaan diledakkan akan timbul getaran yang besar karena banyaknya jumlah bahan peledak yang meledak secara bersamaan pada saat itu. Dari hasil pengamatan terhadap pola peledakan, dapat diusulkan pola peledakan tersebut menjadi waktu tunda antar lubang, karena akan memberikan beberapa keuntungan, antara lain : · · · · · Mengurangi getaran bawah tanah (ground vibration) Mengurangi fly rock Mengurangi boulder diantara lubang yang satu dengan yang lainnya Mengurangi jumlah bahan peledak Memberikan kesempatan batuan yang lebih dahulu meledak untuk bergerak

5.2.1. Geometri Peledakan Berdasarkan analisis ambang batas, analisis berdasarkan SRSD, efek dari hasil peledakan di PT. Semen Padang masih dibawah ambang batas yang tidak menimbulkan gangguan terhadap manusia. Tetapi menurut informasi dari penduduk setempat masih terdapat ground vibration dan air blast pada waktu peledakan. Dengan mempertimbangkan hal tersebut diatas, maka perlu adanya peninjauan kembali mengenai hal – hal yang perlu diperhitungkan dalam kegiatan peledakan tersebut. Perhitungan secara teoritis dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk memperbaiki efek negative dari peledakan.

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 65

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

1. Geometri Peledakan R.L Ash Hasil perhitungan geometri peledakan berdasarkan teori R.L Ash rata – rata adala sebagai berikut : Tabel 5.1. Geometri Peledakan Menurut R.L Ash Geometri Peledakan Burden Spacing Subdrilling Stemming Kedalaman Lubang Tinggi Jenjang 5.2.2 Pola Peledakan Pola peledakan yang dilakukan PT. Semen Padang adalah pola Straggered patern menggunakan delay detonator. Arah peledakan kedepan dan menyebar pada muka jenjang Dengan mengubah pola peledakan dengan penempatan delay dan jumlah delay detonator pada pola peledakan tersebut maka dapat mengurang tingkat getaran dan memperbaiki fragmentasi hasil peledakan. Sehingga akan memeberikan free face yang cukup pada lubang tembak yang akan meledak kemudian. Untuk kuari A dengan diameter 3,5, delay no.3 diusulkan berjumlah 7 buah. Sedangkan untuk kuari A dengan diameter 4, delay no.3 diusulkan berjumlah 5 buah. 5.3. Fragmentasi Hasil Peledakan Fragmentasi peledakan adalah ukuran batuan hasil peledakan. Diharapkan ukuran hasil peledakan bisa lebih baik dari sebelumya. Artinya dengan adanya perubahan geometri peledakan maka akan terjadi perubahan ukuran pada ukuran rata – rata fragmentasi yang dihasilkan. Ukuran fragmentasi dihitung berdasarkan persamaan kuznesov dimana rata – rata fragmentasi yang didapatkan dari kondisi yang diterapkan saat ini. Untuk tahun 2008 ukuran rata – rata fragmentasi adalah 29,94 cm, tahun 2009 ukuran rata – rata fragmentasi adalah 99.94 cm. setelah adanya
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Diameter 3,5 inchi 2,2 4,4 0,66 2,2 8,8 8,14

Diameter 4 inchi 2,6 5,2 0,78 2,6 10,4 9,62

Halaman 66

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

perubahan geometri peledakan didapat secara teoritis ukuran fragmentasi rata – rata yang lebih kecil yaitu untuk diameter 3,5 inci adalah 27,07 cm, untuk diameter 4 inci adalah 30,23 cm. 5.4. Persiapan dan Pelaksanaan Peledakan Menurut hasil pengamatan mendistribusikan primer dahulu baru memasukkan ANFO, itu kurang tepat karena akan menyebabkan ground vibration dan toe. Yang benar adalah memasukkan ANFO sampai grade dan pit bottom setelah itu baru primer yang dimasukkan. Menutup stemming dengan karung atau tanah sangat tidak tepat karena akan menyebabkan air blast. Material penutup yang diusulkan adalah pemboran (cutting), batuan dari hasil crusher, pasir. Lokasi daerah peledakan banyak terdapat bongkahan batuan, hal ini perlu dibersihkan dahulu untuk menghindari adanya fly rock. 5.5. Perhitungan Secara Teoritis Pada Pengkuran Getaran Peledakan Bila tidak ada pengukuran getaran peledakan, perhitungan secara teoritis sangat berguna untuk memperkirakan tingkat getaran peledakan. Sedangkan dalam perhitungan secara teoritis yang dapat dihitung adalah : · · · Kecepatan partikel, yaitu kecepatan getaran setiap peledakan Tingkat getaran peledakan Tingkat air blast

Hasil perhitungan secara teoritis pada pengukuran getaran peledakan tahun 2008 dan 2009 dapat dijadikan perkiraan acuan untuk menghindari efek dari peledakan karena tidak terlalu berbeda jauh dengan hasil penggukuran yang saya lakukan. 5.6. Analisis Nilai Ambang Batas Untuk mengamati hasil pengukuran getaran peledakan kauri yang dilakukan PT. Semen Padang digunakan beberapa nilai ambang batas.

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 67

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

5.6.1. Berdasarkan KEP – 49 / MENLH /11/ 1996 Berdasarkan keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP – 49 / MENLH /11/ 1996, mengenai baku tingkat getaran mekanik berdasarkan jenis bangunan kelas 2 untuk perumahan dan bangunan dengan rancangan dan bangunan sejenis terlihat : · · · Pada frekwensi < 10 Hz, getararan yang diizinkan maksimum adalah 5 mm/ det Pada frekwensi (10 – 15) Hz, getaran yang diizinkan Maksimum adalah 5 – 15 mm/det. Pada frekwensi (50 – 100) Hz, getaran yang diizinkan Maksimum adalah 15 mm/det.

Sedangkan pada Tabel 3.8 mengenai baku tingkat getaran kejut untuk kelas 2 jenis bangunan dalam kondisi teknis yang baik, ada kerusakan – kerusakan kecil seperti plesteran retak, maka getaran maksimum yang diizinkan adalah 10 mm/det. Berdasarkan resume hasil pengukuran getaran peledak tahun 2008 terlihat getaran yang paling besar hanya terdapat pada lokasi Bm -2 sebesar 3,65 mm/s pada jarak 350 m dari BP – 2. Getaran pada tahun 2009 terlihat bahwa besar getaran yang diukur pada jarak 850 m sampai 1000 m dari peledakan paling besar hanya terdapat pada lokasi BM – 2 yaitu sebesar 1.32 mm/s. Sedangkan pengukuran yang dilakukan di BM – 6 pada level yang sama di kauri A dengan jarak 100 m dari BP – 6, getaran relative besar yakni 9,73 mm/s dan pada jarak 600 m di kauri C getarannya hanya 1,53 mm/s Bila mengacu pada nilai ambang batas tersebut maka kegiatan peledakan di kuari PT. Semen Padang masih dalam ambang batas aman. 5.6.2. Berdasarkan Acuan Kriteria Kerusakan Berdasarkan acuan kriteria kerusakan dari hasil penelitan pada Acuan Standar USBM, Edward dan Northwod Jonhson dan Duval menyatakan pada umumnya getaran yang tidak menimbulkan kerusakan adalah dibawah 50 mm/s, sedangkan yang menimbulkan kerusakan adalah getaran yang lebih besar dari 50 mm/s, sedangkan untuk criteria Langefors, getaran yang menimbulkan kerusakan adalah diatas 71,12 mm/s. sedangkan dibawah 71, 12 mm/s tidak menimbulkan kerusakan. Berdasarkan hasil pengukuran getaran peledakan, terlihat pada tahun 2008 getaran yang paling besar terdapat pada lokasi BP – 1 sebesar 59, 46 mm/s, BP – 2 sebesar 59, 69, BP – 3 sebesar 61,54 mm/s, dan BP – 4 sebesar 61,14 mm/s. Untuk kriteria Langerfors getaran tersebut masih jauh
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 68

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

dibawah ambang batas rata – rata. Pada tahun 2009 getaran paling besar terdapat pada lokasi BP – 6 sebesar 123,33 mm/s disebabkan jarak pengukuranya pendek pada BP dan BM terletak di kauri A dengan level yang sama yaitu 120. Selain itu getaran terbesar dapat pada lokasi BP – 7 sebesar 72,74 dikarenakan jumlah isian bahan peledak yang terlalu banyak. 5.6.3. Analisis Terhadap Pengaruh Tingkat Air Blast Berdasarkan acuan kriteria pengaruh beberapa tingkat air blast, dari hasil penelitian lembaga USBM dan OSHA menyatakn pada umumnya air blast yang tidak menimbulkan kaca pecah adalah air blast yang lebih besar dari 150 dB. Berdasarkan Standar Australia, batas untuk ketidak nyamanan manusia adalah 120 dB dan batas untuk menghindari kerusakan struktur adalah 133 dB. Bila mengacu nilai ambang batas tersebut maka air blast dari kegiatan peledakan di kauri PT. Semen Padang masih jauh dibawah ambang batas. Berdasarkan hasil perhitungan secara teoritis sound level yang palig besar pada tahun 2008 adalah 102,41 te yang pada BP – 6 dengan BM – 6. Pada tahun 2009 yang terbesar terletak pada BP – 1 pada pengukuran BM -1 adalah sebesar 95,14 dB. Mengacu pada kriteria diatas, perhitungan secara teoritis juga masih di bawah ambang batas. 5.7. Berdasarkan SRSD (Square Root Scaled Distance) Secara umum harga SRSD berdasarkan USBM yang memberikan kerusakan yang relatif kecil atau tidak membahayakannya adalah >50. Pada tahun 2008 sebagian SRSD angkanya jauh dibawah 50, yaitu antara 21,83 – 42,85, menurut USBM akan membahayakan karena biasanya getaran akan relatif besar. Ternyata getaran pada lokasi tersebut mencapai 1,68 mm/s – 3,65 mm/s. Untuk SRSD yang angkanya diatas 50 yaitu antara 81,36 – 90,9 dan getaran memang relatif kecil. Sedangkan harga SRSD yang jauh dibawah 50 yaitu antara (7,673 – 27,216), ternyata getaran pada lokasi tersebut hanya mencapai 1,53 mm/s dan 9,73 mm/s.C Berdasarkan perhitungan secara teoritis untuk tahun 2008 dan 2009 angka SRSD tidak berbeda jauh dengan hasil penelitian yang saya lakukan. Hal ini disebabkan ketentuan SRSD oleh USBM hanya predeksi yang tidak memasukkan factor struktur atau kondisi batuan sekitarnya. Sedangkan getaran yang ditangkap alat Blasmate III sudah melewati media yang berbeda struktur batuanya.

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 69

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

5.8. Berdasarkan Relative Confinement Berdasarkan perhitungan secara teoritis diameter 3,5 inci dengan stemming 3 m harga RC yang didapat adalah 2,44. Diameter 4 inci dengan stemming 3,5 m adalah 2,44. Hal ini berarti over confinement yang dapat menyebabkan ground vibration. Untuk diameter 3,5 inci dengan stemming 1 m, harga RC yang didapat adalah 0,94, merupakan under confinement, biasa menyebabkan ground vibration Diusulkan untuk merubah panjang stemming menjadi 2,2 m. Untuk diameter 3,5 inci dan 2,6 m untuk diameter 4 inci, untuk mendapatkan hasil peledakan yang optimal.

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 70

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

6. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan pengkajian mengenai peledakan dan analisis dari hasil pengukuran getaran peledakan PT. Semen Padang, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Berdasarkan pengamatan geometri peledakan dan hasil peledakan nyata diameter 3,5 inci dan 4 inci masih terdapat toe dan creater pada jenjang hasil peledakan, serta pengamatan langsung dilapangan ground vibration kadang masih dijumpai. 2. Yang menyebabkan kaca bergetar adalah resonansi dari air blast (suara ledakan) yang dipantulkan sampai terdengar dan terasa di perum sikayan bansek, akan tetapi air blast masih dibawah di ambang batas yang ditentukan dan tidak memecahkan kaca. 3. Dari hasil pengkuran getaran peledakan menunjukkan getaran berada dalam ambang batas yang tidak menimbulkan gangguan terhadap manusia dan masih jauh dibawah tingkat yang dapat menyebabkan kerusakan bangunan, Tetapi berdasarkan perhitungan scara teoritis ada beberapa getaran yang melebihi ambang batas dari kriteria kerusakan. Hal ini disebabkan dalam perhitungan secara teoritis hanya memperhatikan faktor jarak dan berat bahan peledak. 6.2. Saran Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan, maka dapat diambil beberapa saran sebagai berikut : 1. Perlu dilakukan pengawasan yang cermat dalam penerapan, pemboran, pola, geometri dan isian peledakan di lapangan, harus sesuai dengan perencanaan perhitungannya dan pembersihan lokasi peledakan. Hal ini untuk menghindari adanya ground vibration. 2. Diusulkan untuk mengisi bottom hole dengan ANFO setelah itu meletakkan primer didekat atau pada grade, hal ini dapat untuk menghindari terjadinya toe, boulder. 3. Untuk mencapai initial velocity ANFO yang tinggi maka, desain primer diusulkan untuk mendekati ANFO 4. Material stemming hendaknya harus diperhatikan, menggunakan karung bekas ANFO, dan tanah sangatlah tidak sesuai. Diusulkan untuk mengganti dengan crushing rock, pasir dan cutting. Hal ini bias untuk menghindari air blast, flying rock.
Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 71

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

5. Untuk melakukan peledakan dengan besarnya getaran dibawah 50 mm/det, harus diperhatikan jumlah delay, maka sehingga maksimum bahan peledak akan semakin kecil. 6. Peledakan hendaknya jangan dilakukan pada saat perubahan suhu karena menyebabkan air blast.

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 72

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

DAFTAR PUSTAKA

1. Awang Suwandhi, “ Teknik Peledakan” Pusdiklat Tekmira, Bandung, 2004. 2. Ash. Richard L., “Design of Blasting Round”, Surface Mining”, 2nd editon, B. Editor, Colorado, 1990. 3. Charles H, Dowding. ”Blast Vibration Monitoring And Control”,1985 4. C.G. Down, Phd and J. Stocks Bsc, A.R.S.M, C.Eng. “Enviromental Impact Mining”,Applied Scince Publishers Ltd. London, 1984 Of A. Kennedy

5. Djuki Sudarmono, Effendi Kadir, Pengukuran Vibrasi Hasil Peledakan di Tambang Terbuka BATU HIJAU PT. NEWMONT Nusa Tenggara, Jurnal Rekayasa Sriwijaya No. 1 Vol 18, Maret 2009. 6. Hustrulid, William, Blasting Principles For Open Pit Mining, Colorado Golden, Colorado, USA 1995. 7. Instantel Inc., BlasmateR III Operator Manual Handbook, Instantel Inc., K2K 3A3, Canada, 1995-2005. School Of Mines, Ottawa,Ontario New

8. Konya, C.J, & Edward J. Walter, “ Surface Blast Design” , Prentice Hall Inc., Jersey, 1990.

9. Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 49 Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat Getaran. 10. ………’’Kamus Istilah Pertambangan Umum”, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral, Bandung, 1997 11. Langerfors, U. and Kihlstroom B, The Modern Technique of Rock Blasting, & Sons,Inc 1973. p. 258 – 295. 12. Moelhim Kartodharmono, Teknik Peledakan, Laboratorium Geoteknik Pusat Universitas- Ilmu Rekayasa, ITB Bandung, (1989/1990). 13. Pijush Pal Roy, Rock Blasting Effect And Operations, Central Mining Dhanbad, India. 14. Samhudi, Ir., Teknik Peledakan, Departemen Pertambangan dan Energi, Pertambangan Umum, 2004. 15. ……….Data – data Tugas Akhir dan Arsip dari PT. Semen Padang, 2007 j/jhon Wiley Antar

Research Intitute Direktorat

Kajian Teknis Rancangan Peledakan Berdasarkan Pengukuran Getaran Yang Ditimbulkan Di Kuari Bukit Karang Putih PT. Semen Padang

Halaman 73

(kritik dan saran : rudolf.jhon@gmail.com)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->