BAB I PENDAHULUAN

Seiring

berkembangnya

penelitian

mengenai

obat-obatan,

saat

ini banyak

jenis antibiotik yang tersedia di pasaran. Hal ini terkadang membingungkan para dokter yang ingin menggunakannya. Selain itu, dengan adanya ´tekanan promosi´ yang sangat gencar dari pabrik farmasi akan memicu
1

pemakaian antibiotik yang menjurus ke arah

ketidakrasionalan. Hingga kini belum ada kesepakatan antara dokter dan dokter, maupun rumah sakit dengan rumah sakit mengenai penggunaan antibiotika secara rasional. Padahal, untuk mendapatkan hasil optimal yang aman, efektif, dan efsisien dari terapi antibiotika diperlukan suatu persepsi yang sama mengenai penggunaan antibiotika untuk meminimalisasi efek samping bagi pasien. Komite medis dari tiap rumah sakit harus memiliki pedoman penggunaan antibiotika dan rutin melakukan audit.2 Dalam penggunaan antibiotika yang rasional, terdapat beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan, seperti tepat indikasi, tepat penderita, tepat pemilihan jenis antibiotika, tepat dosis, tepat lama dan interval pemberian, efek samping minimal, ekonomis, dan menggunakan kombinasi yang tepat bila diperlukan.3 Pemakaian antibiotika yang irasional merupakan penggunaan antibiotika dengan indikasi yang tidak jelas, dosis atau lama pemakaian yang tidak sesuai, cara pemakaian yang kurang tepat, status obat yang tidak jelas, dan pemakaian antibiotika secara berlebihan. Pemakaian antibiotika secara irasional dapat menimbulkan resistensi bakteri terhadap antibiotika tersebut, meningkatkan toksisitas, meningkatnya kejadian efek samping obat, serta biaya pelayanan kesehatan menjadi tinggi.3 Penggunaan antibiotika secara tidak rasional salah satunya dengan memberikan resep antibiotika pada penyakit yang tidak memerlukan antibiotika. Dalam sebuah penelitian tahun 2004 tentang penyakit infeksi saluran pernafaan atas (ISPA) dan diare di empat provin si mencakup Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat ditemukan telah terjadi peresepan antibiotika secara tidak rasional. Pada ISPA penggunaan antibiotika tidak rasional sebesar 94%, sedangkan pada diare sebesar 87%. Penggunaan antibiotika secara tidak rasional ini juga akan memicu terjadinya pandemi antiresistensi mikroba. Selain pandemi, kebalnya pasien terhadap antibiotika akan menimbulkan biaya pengobatan yang lebih besar.4 Dalam keadaan ideal, pemilihan antibiotika dapat diseuaikan dengan kuman penyebab infeksi yang diketahui dengan pasti dari hasil pembiakan dan tes sensitifitas
1

antibiotik. Terapi yang didasarkan atas pemeriksaan mikrobiologik tersebut merupakan terapi definitif. Namun, dalam keadaan sehari-hari pemeriksaan mikrobiologik tersebut seringkali tidak dapat dilaksanakan karena terbatasnya fasilitas, atau tidak mungkin ditunggu hasilnya sehingga antibiotika harus segera diberikan. Dalam keadaan ini dapat digunakan prinsip ³educated guess´ dengan mempertimbangkan organ atau sistem yang terkena infeksi dan kuman penyebab tersering, sehingga dapat diputuskan antibiotika yang paling sesuai.5 Terdapat beberapa hal penting mengenai antibiotika yang perlu diketahui sebelum memilih dan menggunakan antibiotika agar antibiotika dapat digunakan secara rasional, antara lain sifat aktifitasnya, spektrum, mekanisme kerja, pola resistensi, dan efek samping obat.3 Berdasarkan uraian di atas maka penulis ingin membahas lebih lanjut mengenai sifatsifat antibiotik dan penggunaannya, agar para pembaca mendapatkan wawasan lebih dan dapat mengaplikasikan penggunakan antibiotika secara rasional.

2

basofil. usia. Pemberian antibiotika initial biasanya bersifat empiris. 2. dan status kehamilan. Ketiga faktor tersebut adalah: y Faktor pejamu (pasien) Mencakup status imunitas. y Faktor agen (mikrobiologis) Perlu dipertimbangkan kesensitifitasan bakteri terhadap jenis antibiotika tertentu. Dalam pemilihan jenis antibiotika perlu dipertimbangkan beberapa hal seperti. spesimen klinis sebagai diagnosis mikrobiologis. lokasi infeksi. dan spektrum antibiotika. dan eosinofil) dan agranulosit (seperti monosit dan limfosit) (Tabel 1). yaitu neutrofil. Diharapkan intervensi yang dini dapat meningkatkan prognosis kesembuhan pasien. baik sebagai pencegahan dan terapi agen infeksi maupun komplikasinya. y Faktor farmakologis Mempertimbangkan faktor farmakodinamik (interaksi obat dengan mikroorganisme) dan farmakokinetik untuk efisiensi dan pencegahan resistensi. efek obat sebelumnya.1 Mekanisme Imunologi Manusia Dalam merespon infeksi. Dengan demikian terdapat tiga faktor yang perlu dipertimbangkan dalam p emilihan antibiotik. gangguan eliminasi obat. neutrofil tubuh akan bergerak dari aliran 3 . tubuh memiliki beberapa pertahanan tubuh. yaitu granulosit (mencakup polimorfonuklear.BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN Perkembangan antibiotika merupakan salah satu hal yang penting dalam perkembangan terapeutika. penemuan klinis.1 Pada keadaan infeksi.1. Alasan pemberian empiris karena infeksi bersifat akut dan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas apabila pemberian antibiotika terlambat. kemungkinan terbesar patogen penyebab. serta etiologi. Pemberian terapi empiris didasarkan atas pengalaman klinis yang mempertimbangkan lokasi anatomis infeksi.1 Faktor Pejamu (Pasien) 2. Apabila etiologi telah ditemukan maka dapat dipertimbangkan apakah dapat diberikan agen dengan spektrum sempit sebagai terapi empiris atau pengkombinasian antibiotika. misalnya sel darah putih. penyakit penyerta. yaitu sebelum ditemukannya agen infeksi. Sel darah putih dibagi menjadi dua kelompok.dengan dosis yang optimal dan cara pemberian yang sesuai.

seperti Epstein Barr Virus dan sitomogelovirus. Terapi antibiotika ditujukan terhadap infeksi bakteri yang menyebabkan penyakit. Eosinifilia didapatkan pada infeksi parasit. tuberkulosis) dan kemoterapi.). dan kontak dengan hewan. Infeksi endogen dikarenakan peningkatan flora normal tubuh atau gangguan terhadap mekanisme pertahanan tubuh (Tabel 2).2 Limfosit turut berperan dalam melawan infeksi. jumlah sel darah putih menunjukkan nilai normal. Brucellia sp. sehingga dikenal sebagai bandemia atau hitung jenis yang bergeser ke kiri (left shift). neutrofil batang) juga ikut dikeluarkan dari sumsum tulang ke aliran darah untuk membantu melawan infeksi. Limfosit T yang berperan dalam imunitas seluler dan limfosit B yang berperan dalam imunitas humoral. Terkadang pada infeksi usia lanjut.1 Proses infeksi dapat disebabkan karena faktor endogen dan faktor eksogen. Infeksi eksogen dapat terjadi melalui transmisi antar manusia. walaupun keberadaanya terkait dengan respon terhadap jenis infeksi tertentu (mis.darah menuju jaringan untuk melawan patogen sehingga terjadi leukositosis. limfosit terbagi menjadi dua. Selama infeksi. Berdasarkan fungsinya. Hal ini penting karena antibiotika yang ditujukan untuk flora normal dapat menimbulkan resistensi bakteri. lingkungan. Limfositosis biasanya terjadi pada infeksi virus akut.2 4 . sedangkan kolonisasi mengacu pada bakteri yang merupakan flora normal tubuh. sedangkan kolonisasi flora normal dibiarkan intak. Infeksi mengacu pada adanya bakteri yang menyebabkan penyakit. hitung jenis sel darah putih penting pada infeksi. neutrofil imatur (mis. Monositosis berhubungan dengan infeksi bakteri akut. Oleh karena itu. namun hitung jenis bergeser ke kiri. serta pada beberapa bakteri tertentu (mis.

Obat-obatan (misal kortikosteroid) Limfosit 20-40 Sel T (cell mediated immunity) .Infeksi jamur Batang 3-5 .Infeksi protozoa .Cedera jaringan (misal: infark miokard) .antigen presenting cell Sel B (humoral antibody response) .imunitas seluler melawan virus & tumor .2 Tipe Nilai Normal (%) Neutrofil Segmen 40-60 Fagosit (melawan bakteri dan jamur) Fungsi Abnormalitas Leukositosis .Infeksi bakteri .regulasi sistem imun Monosit 2-8 Fagosit. Sel Darah Putih dan Fungsinya1.Reaksi hipersensitifitas.Tuberkulosis .Tuberkulosis .Stres fisik .Tabel 1.Long standing infection .Leukemia Eosinofil 1-4 Reaksi antigen antibodi Respon alergi (perlawanan terhadap parasit) Eosinofil .Obat-obatan (misal kortikosteroid) Leukopenia .Kanker .Infeksi parasit Reaksi hipersensitifitas Basofil <1 Respon alergi 5 . prekursor makrofag Limfositosis .Infeksi virus (misal mononukleosis) .Infeksi jamur Limfopenia .produksi antibodi . termasuk obatobatan .HIV Monositosis .

Diphtheroids . anaerob 105-107) .Enterobacteriaceae .Beberapa anaerob .Streptococcus sp. .Oral anaerob Infeksi Saluran Napas Atas (10 -10 ) . . .Diphtheroids .Haemophilus sp. & Clostridium sp.Diphtheroids Mulut (10 -10 ) 5 9 9 11 .Enterococcus sp.Streptococcus sp.1.2. pemeriksaan penunjang akan membantu menegakan diagnosis infeksi.Staphylococcus sp.Lactobacillus .Ileum (aerob 104-106.Viridans streptococci . .Neisseria sp.Streptococcus pneumoniae Infeksi Saluran Napas Bawah Lambung (<10 ) 3 Steril . .Staphylococcus epidermidis .Streptococcus sp. . Flora Normal Sesuai Lokasi Anatomis2 Kulit (105 -107) . .) 6 .Duodenum / jejunum (103-105) .Oral anaerob . .1 Tabel 2.Lactobacillus Usus kecil: .Staphylococcus aureus .Peptostreptococcus .2 Mendiagnosis Infeksi Terdapat beberapa pemeriksaan yang digunakan klinisi dalam mendiagnosis infeksi.Enterococcus sp.Enterobacteriaceae .Micrococci .Anaerob (Bacteroides sp. Walaupun tidak ada satu tes spesifik tertentu yang langsung dapat membuktikan pasien mengalami infeksi. bila dikombinasikan dengan temuan klinis.

trauma. inflamasi (reumatoid artritis dan leukemia). dapat terjadi hal sebaliknya. LED dan CRP meningkat sebagai respon inflamasi. seperti foto rontgen untuk membantu mengidentifikasi lokasi anatomis infeksi. salisilat. Pada keadaan infeksi akut. misalnya pada pneumonia. Misalnya. pemeriksaan laboratorium juga diperlukan.Anaerob (Bacteroides sp. Namun LED dan CRP dapat digunakan dalam memantau respon terapi pasien osteomielitis dan infektif endokarditis. . pyuria pada urinalisis. namun pada infeksi berat atau infeksi yang berlangsung lama. Di sisi lain. emboli pulmoner. seperti pasien yang mengalami infeksi lokal (mis. beberapa pasien dengan infeksi dapat mengalami hipotermia (mis. dan artritis temporal. seperti jumlah sel darah putih. sefalosporin. kelainan yang dialami hanya demam. reumatoid artritis. atau kondisi medik (mis. & Clostridium sp.2 Selain karena infeksi bakteri. Pencitraan lain juga dapat dilakukan seperti CT-scan dan MRI untuk menunjang diagnosis. penisilin.Usus besar (aerob 104-106. anaerob 105 -107) .) Gambaran klinis demam merupakan salah satu respon tubuh terhadap toksin bakteri. pada pasien lain.Enterococcus sp. dan fenitoin). demam dapat menjadi satu-satunya gejala infeksi. Sebaliknya.1 7 . seperti stress. dan kadar C-reactive protein (CRP). dan hipertiroid). penyakit autoimun. namun demam tidak selalu dikarenakan infeksi bakteri.Enterobacteriaceae . .Streptococcus sp. seperti polymialgia rheumatic. sehingga sebaiknya tidak digunakan sebagai dasar diagnosis infeksi karena dapat meningkat pada inflamasi non-infeksi. kortikosteroid). hitung jenis sel darah putih. Demam dapat pula disebabkan infeksi lain (virus atau jamur). pasien neutropenia tidak mempunyai kemampuan respon imunitas yang normal terhadap infeksi. laju endap darah (LED).Pseudomonas sp. keganasan. . dan respon terhadap beberapa obat (mis. pada pasien dengan infeksi berat). Jumlah sel darah putih umumnya meningkat sebagai respon pada infeksi. obat-obatan (mis. dan eritema atau indurasi disekeliling kateter. jumlah sel darah putih dapat meningkat pula karena beberapa hal lain. Pasien usia lanjut dapat mengalami afebris. Selain pencitraan. perlu diingat bahwa LED dan CRP merupakan penanda inflamasi nonspesifik. Namun.2 Diagnosis infeksi dapat dibantu melalui pemeriksaan penunjang. sehingga walaupun ditemukan infiltrat pada rontgen dada. infeksi saluran kemih).

3 Antibiotika yang nefrotoksik seperti amfoterisin B tidak boleh diberikan pada insufisiensi ginjal berat.3 Pasien usia lanjut sering memiliki patologi multipel dan lebih peka terhadap pemberian obat.3 Cara Pemilihan Pemberian Obat Dalam pemberian antibiotik. Demikian pula antibiotika yang dieksresikan melalui hepar ke dalam saluran cerna seperti siprofloksasin. gangguan granulositopenia. insufisiensi ginjal. sedangkan yang lainnya masih memiliki mekanisme eksresi alternatif atau mengalami metabolisme dalam tubuh. aztreonam. Antibiotika tersebut merupakan kontra indikasi pada penyakit hati yang berat. 3 gangguan pembekuan darah. Kloramfenikol. dan pirazinamid dapat juga menyebabkan gangguan fungsi hati. Sebaliknya. dan kelompok penisilin (kecuali tikarsilin). tikarsilin. rifampisin. asam nalidiksik.3 Bila terdapat dugaan gangguan pembekuan darah. daya tahan tubuh sangat menurun sehingga perjalanan penyakit selanjutnya didominasi oleh infeksi berat 8 . seftriakson. Pada keadaan granulositopenia. sulfonamida. eritromisin. Obat-obatan tuberkulostatika oral seperti rifampisin. Pada anuria. tidak memerlukan antibiotika kecuali dapat dibuktikan melalui pemeriksaan penunjang bahwa yang sedang dihadapi adalah suatu infeksi bakteri. terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan dari segi keadaan pasien. Dosis tetrasiklin sebanyak 2-4 gram/hari dapat menyebabkan distrofi hepar. beberapa antibiotika dapat diberikan tanpa mengurangi dosis.1. obat-obatan antibiotika yang cenderung menyebabkan masalah perdarahan seperti latamoksef.3 Hati berperan dalam metabolisme dan detoksifikasi obat. dan eritromisin harus digunakan secara hati-hati pada pasien dengan hepatitis dan sirosis. terutama bila terdapat gangguan fungsi hepatorenal. usia pasien. Aminoglikosida potensial nefrotoksik dan bila terjadi akumulasi dapat juga bersifat neurotoksik. Dalam suatu kegawatan yang mungkin didasari infeksi berat. kehamilan. diperlukan le bih dari satu jenis antibiotika. Antibiotika yang tidak dapat didetoksifikasi karena terdapat gangguan faal hati akan memberikan efek samping yang serius. sefoperason. Distribusi dan konsentrasi obat dapat berbeda dikarenakan adanya penurunan konsentrasi albumin darah dan fungsi ginjal. antara lain kloramfenikol. Beberapa antibiotik seperti bensilpenisilin dan gentamisin eksresinya hanya melalui ginjal.2. dan imipenem perlu dihindari. gangguan faal hati. suatu keadaan yang tidak gawat dan baru mulai serta tidak jelas etiologinya. dan laktasi. Faktor-faktor tersebut antara lain: kegawatan atau bukan. isoniazid. dan norfloksasin dikonjugasi dengan asam glukuronida dalam hati untuk selanjutnya dieksresikan melalui urine. sefoperason.

oleh karena itu pasien yang mengalami infeksi sistemik dengan tanda hipoperfusi dan hipotensi sebaiknya mendapatkan antibiotik intravena. flusitosin. seperti amfoterisin B. rifampisin. antibiotika seperti tetrasiklin dan aminoglikosida perlu dihindari. Dalam trimester kedua dan ketiga. dan nitrofurantoin merupakan kontra indikasi. kotrimoksasol. Pada masa laktasi. Pada umumnya. pengambilan spesimen untuk identifikasi bakteri penyebab merupakan hal yang sangat penting. Oleh karena itu. Pada kebanyakan pasien yang tidak memiliki gangguan fungsi traktus digestivus dan tidak mengalami hipotensi.3 Dalam pemilihan obat. hubungan antara agen penyebab dengan gambaran tidaklah selalu sama. dan organ-organ tubuh.2 Faktor Agen (Mikrobiologis) Pada sebagian besar kasus infeksi. selaput lendir. meningitis). Absorbsi antibiotika dipengaruhi aliran darah traktus digestivus. infeksi saluran urinarius).3 Dalam trimester pertama kehamilan. pemberian antibiotik sebaiknya melalui intravena. semua antibiotika memiliki efek toksik. terapi dengan antibiotika empiris dapat dimulai berdasarkan best guess (tebakan terbaik). Setelah pengambilan spesimen untuk pemeriksaan mikrobiologi. antibiotik dengan bioavabilitas tinggi seperti florokuinolon. obat seperti metronidazol dan tetrasiklin sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan efek samping pada bayi. atau bioavabilitas antibiotik rendah. Pada antibiotik dengan bioavabilitas sedang seperti golongan -laktam. sefalosporin. Daya tahan terhadap infeksi semakin menurun pada penggunaan kelompok sitostatik untuk keganasan. maka terapi antibiotika dapat diubah sesuai dengan kebutuhan. kuinolon.2 2.kulit. serta obat anti jamur. Dalam minggu terahkir kehamilan. pemberian per oral bergantung pada keparahan penyakit dan lokasi anatomis infeksi. Jika bakteri penyebab infeksi telah dapat diidentifikasi. penisilin. (2) usia 9 . Bila infeksi yang terjadi menyebar di serluruh tubuh. dan linezolid dapat diberikan secara oral. Ketika spesimen sedang diuji di laboratorium. kombinasi antibiotika tertentu perlu diberikan segera menurut protokol tertentu. flukonazol. sulfonamid. nitrofurantoin. dan griseofulfin. Tebakan terbaik terhadap bakteri penyebab didasarkan pada beberapa pertimbangan sebagai berikut: (1) lokasi infeksi (seperti pneumonia. kecuali pada keadaaan dimana jiwa pasien terancam. nitromidazol. diperlukan konsentrasi sistemik yang tinggi (mis. dan eritormisin aman diberikan bila tidak terdapat alergi. kotrimoksasol. seperti kloramfenikol. selain segi keadaan pasien perlu diperhatikan cara pemberiannya.

cephalosporin (generasi ketiga) Campylobacter jejuni Brucella species Erythromycin or azithromycin Doxycycline + rifampin atau aminoglycoside Chloramphenicol. Serratia Cephalosporin (Generasi pertama atau kedua). Citrobacter. quinolone Chloramphenicol + aminoglycoside atau TMP-SMZ 10 . transplan. cephalosporin (second. azithromycin Spectinomycin. ceftriaxone Salmonella TMP-SMZ. (3) tempat infeksi tersebut didapat (rumah sakit atau komunitas). clarithromycin. cephalosporin (thirdgeneration) Obat Pilihan Obat Alternatif Basil Gram-negatif (aerob) E coli. Pada beberapa kasus. aminoglycoside.or thirdgeneration) Erythromycin. Ketika agen kausatif dari infeksi klinis telah diketahui. cefepime Shigella Quinolone TMP-SMZ. obat pilihan bisa selalu dipilih berdasarkan pengalaman klinis (Tabel 3). atau dewasa). (4) faktor predisposisi mekanis (kateter vaskular. azithromycin. TMP-SMZ TMP-SMZ. Obat pilihan dan alternatif terhadap berbagai bakteri patogen Patogen Coccus Gram-negatif (aerob) Moraxella (Branhamella) catarrhalis Neisseria gonorrhoeae Neisseria meningitidis Ceftriaxone. carbapenem Quinolone. ampicillin Tetracycline. quinolone. ampicillin. terapi kemoterapi kanker. aminoglycoside Antipseudomonal penicillin. dan (5) faktor predisposisi inang (defisiensi imun. cefpodoxime Penicillin G TMP-SMZ. Proteus Enterobacter. anak. quinolone. tes laboratorium untuk kepekaan terhadap antibiotika diperlukan untuk menentukan obat pilihan.pasien (meningitis pada neonatus. quinolone. dan lain-lain). kateter urin. Tabel 3. Klebsiella. kortikosteroid. cefoxitin Chloramphenicol. paparan terhadap vektor). respirator.

vancomycin Staphylococcus aureus Penicillin (+ aminoglycoside) Vancomycin 11 . TMP-SMZ Antipseudomonal penicillin + quinolone. imipenem. quinolones. quinolone Azithromycin + rifampin or quinolone + rifampin Clarithromycin. chloramphenicol TMP-SMZ Minocycline. erythromycin. ketolides Streptococcus pyogenes (group A) Penicillin. ticarcillinclavulanate. cefuroxime.Helicobacter pylori Bismuth + metronidazole + tetracycline atau amoxicillin Proton pump inhibitor + amoxicillin or clarithromycin Vibrio species Pseudomonas aeruginosa Tetracycline Antipseudomonal penicillin + aminoglycoside Quinolone. doxycycline Coccus Gram-positif (aerob) Streptococcus pneumoniae Penicillin Doxycycline. meropenem or aztreonam ± aminoglycoside Burkholderia cepacia (dahulu Pseudomonas cepacia) Stenotrophomonas maltophilia (dahulu Xanthomonas maltophilia) Legionella species TMP-SMZ Ceftazidime. ceftazidime. cefepime. cephalosporin (generasi pertama) Streptococcus agalactiae (group B) Viridans streptococci Penicillin Cephalosporin (generasi pertama atau ketiga). ceftriaxone. erythromycin. clindamycin Erythromycin. linezolid.

clindamycin TMP-SMZ Nocardia species Sulfadiazine. linezolid Anaerobic bacteria Gram-positive (clostridia. clindamycin. penicillin Seperti untuk B fragilis   Penicillin.Beta-lactamasenegative Beta-lactamase-positive Penicillin Cephalosporin (generasi pertama). clindamycin Vancomycin. linezolid. cycloserine. minocycline. Porphyromonas Metronidazole. tigecycline Enterococcus species Penicillin ± aminoglycoside Vancomycin + aminoglycoside Basil Gram-positif (aerob) Bacillus species (nonanthracis) Listeria species Ampicillin (± aminoglycoside) Vancomycin Imipenem. chloramphenicol Mycobacteria Mycobacterium tuberculosis Isoniazid + rifampin + ethambutol + pyrazina mide Streptomycin. imipenem. Actinomyces. daptomycin. quinolone. clindamycin Fusobacterium. carbapenems. TMP-SMZ Minocycline. amikacin. Peptococcus. amikacin. bacitracin Chloramphenicol. quinolone. vancomycin Penicillinase-resistant penicillin As above Methicillin-resistant Vancomycin TMP-SMZ. 12 . carbapenems. Peptostreptococcus) Clostridium difficile Bacteroides fragilis Metronidazole Metronidazole Vancomycin. PAS. betalactam beta-lactamaseinhibitor combinations. Prevotella. ethionamide.

1 Tes Kepekaan Tes kepekaaan terhadap antibiotika diindikasikan terhadap beberapa keadaan: (1) ketika organisme penyebab tipe tertentu sering menimbulkan resistensi terhadap terapi antimikroba (seperti bakteri enteric Gram-negatif). amoxicillin Cefuroxime axetil. chloramphenicol. azithromycin Tetracycline. (2) ketika proses infeksi itu kemungkinan besar dapat menyebabkan kematian jika tidak diobati dengan terapi spesifik (seperti meningitis. (3) pada beberapa kasus infeksi di mana eradikasi bakteri penyebab infeksi harus dilakukan dengan obat yang bersifat bakterisidal cepat. azithromycin. septikemia). 13 . clarithromycin. penicillin Borrelia burgdorferi Early Doxycycline. tidak hanya sekedar bakteriostatik (seperti endokarditis infektif). ofloxacin Clarithromycin. erythromycin Azithromycin. ketolide Mycoplasma pneumoniae Chlamydia trachomatis pneumoniae Tetracycline.linezolid Mycobacterium leprae Multibaciller Paucibaciller Dapsone + rifampin + clofazimine Dapsone + rifampin Tetracycline. ceftriaxone 2. quinolone. erythromycin Clindamycin. ketolide psittaci Tetracycline Chloramphenicol Spirochetes Borrelia recurrentis Doxycycline Erythromycin. azithromycin.2. penicillin Late Leptospira species Treponema species Ceftriaxone Penicillin Penicillin Tetracycline Tetracycline.

dan dapat ditemukan pada lokasi yang berbeda pada tubuh. dan metode pengampilan spesimen. Pengambilan spesimen yang benar merupakan langkah yang paling penting dalam proses diagnosis infeksi karena hasil uji diagnostik pada penyakit-penyakit infeksius bergantung pada pemilihan. Jika obat antibiotika diberikan sebelum pengambilan spesimen. waktu. Jenis spesimen yang diambil tergantung pada gambaran klinis pasien. Bakteri tumbuh dan mati. pus dari lesi. Karena isolasi agen penyebab infeksi sangat penting dalam diagnosis. Jika mikroorganisme ingin diisolasi. Peraturan-peraturan umum terhadap semua spesimen: y Kuantitas spesimen harus cukup. maka identifikasi lengkap akan dilakukan. Jika tidak ada tanda-tanda fokus infeksi. Spesimen dari lokasi lain diambil kemudian dengan mempertimbangkan kemungkinan terbesar sistem organ yang terkena infeksi. 14 . y Spesimen bermakna untuk mendiagnosis infeksi bakterial harus aman sebelum terapi antibiotika diberikan. y Sampel harus representatif terhadap proses infeksi (seperti sputum. Jika tanda dan gejala menunjukkan kearah sistem organ tertentu. media transpor khusus mungkin diperlukan. spesiemen harus didap atkan dari lokasi yang memiliki kemungkinan terbesar mengandung agen penyebab infeksi sesuai perjalanan penyakitnya pada waktu itu dan spesiemen harus diperlakukan dengan tujuan memepertahankan kehidupan dan pertumbuhan dari agen tersebut. peka terhadap zat kimia. maka terapi pengobatan harus dihentikan dan spesimen harus diambil ulang beberapa hari kemudian. Mikroorganisme itu juga akan diuji kepekaannya terhadap obat-obat antibiotika. y Kontaminasi spesimen harus dihindari dengan hanya menggunakan peralatan steril dan kewaspadaan aseptik. kultur darah berulang dilakukan terlebih dahulu. maka spesimen diambil dari sumber tersebut (Tabel 4).2. dan cairan tubuh serta jaringan selama perjalanan penyakit infeksi.2. Ketika patogen diisolasi sebelum pengobatan. y Spesimen harus segera dibawa ke laboratorium dan diperiksa secepat mungkin. swab dari kedalaman luka. bukan saliva.2 Spesimen Pemeriksaan laboratorium biasanya meliputi studi mikroskopis terhadap sampel segar yang tak diwarnai dan sampel diwarnai serta kultur dengan kondisi yang seusia untuk pertumbuhan sebagian besar mikroorganisme. bukan dari permukaannya). follow up pemeriksaan laboratorium dilakukan selama dan sesudah pengobatan.

campuran flora aerob dan anaerob Kolesistitis Abses abdomen atau perirektal Empedu Pus Gram-negative aerob enterik. diphtheriae Batuk rejan (pertusis) Epiglotitis Pneumonia Swab Bordetella pertussis Swab Sputum H. influenzae S. juga B. aureus Enterobacteriaceae dan gram-negatif rods lain Aerob dan anaerob lain campuran Empyema dada Abses hati Pus Pus Seperti pneumonia. anaerobik gram-positig dan gram-negatif cocci dan rods. jarang: Corynebacterium diphtheriae Ulkus kulit Punch biopsy. atau flora campuran E coli. fragilis Flora gastrointestinal 15 . pneumoniae S. aspirasi kulit dalam atau biopsi Flora campuran Meningitis LCS Neisseria meningitidis Haemophilus influenzae Streptococcus pneumoniae Group B streptococci Escherichia coli dan Enterobacteriaceae lain Listeria monocytogenes Abses otak Pus Infeksi campuran. aerobik grampositif cocci Abses perioral Faringitis Pus Swab Flora campuran mulut dan faring Group A streptococci C. Bacteroides fragilis. Staphylococcus aureus Impetigo Swab Seperti selulitis. Jenis Spesimen berdasarkan Penyakit Penyakit Selulitis Spesimen Punch biopsy Penyebab Tersering Group A -hemolytic streptococci.Tabel 4.

enterokolitis. feses. gonorrhoeae C trachomatis Flora campuran Artitis Aspirasi sendi. typhi Shigella sp Campylobacter jejuni Vibrio cholerae Vibrio lain Yersinia enterocolitica Colitis hemoragik dan sindrom uremik hemolitik Infeksi traktus urinarius Feses E coli O157:H7 Urin (clean-catch midstream specimen atau dari kateterisasi kandung kemih atau aspirasi suprapubik) E coli. aureus N. tifoid Enteritis. "gastroenteritis" Darah. urin Salmonella typhi Feces Salmonella selain S. trachomatis (lymphogranuloma venereum) N. darah S.Demam enteric. Enterobacteriaceae. gonorrhoeae Lainnya Osteomielitis Pus atau spesimen tulang dari aspirasi atau operasi Multipel. diare bakterial. S aureus sering didapat 16 . gam negatif lain Uretritis/ servisitis Swab Neisseria gonorrhoeae Chlamydia trachomatis Ulkus kelamin Swab Haemophilus ducreyi (chancroid) Treponema pallidum (syphilis) Pus diaspirasi dari limfe tersupurasi Pelvic inflammatory disease Aspirasidari cul-de-sac atau dengan laparoskop Swab serviks C. gonorrhoeae C trachomatis N.

distribusi. aminoglikosida. c. b. Apabila pasien datang dengan gejala infeksi sistemik seperti hipoperfusi dan hipotensi sebaiknya diberikan pemberian parenteral. Konsentrasi inhibitor agen yang bersifat bakteriostatik lebih rendah dibandingkan bakterisidal. I. dan eliminasi obat di dalam tubuh. Aktivitas antibiotika yang tergantung antibiotika meningkat apabila konsentrasi obat tersebut tinggi sedangkan pada obat yang tidak tergantung konsentrasi dapat meningkat efektif itasnya apabila dosis di atas Minimal Inhibitory Concentration. a.2. metabolisme. Cara pemberian Dapat secara oral dan parenteral. gangguan absorpsi oral (muntah. meningitis atau endokarditis. d. dan jenis antibiotika yang diabsorpsi poor pada pemberian oral.3 Aspek Farmakologis Mencakup kerentanan agen infeksi. Dosis dan durasi antibiotika 17 . nausea). Secara umum agen yang bekerja dengan cara menghambat dinding sel bersifat bakterisidal dan yang menghambat protein bersifat bakteriostatik. kecuali pada selaput otak. Konsentrasi obat pada cairan tubuh Mayoritas semua golongan antibiotika terdistribusi secara merata pada cairan dan jaringan tubuh. dan metronidazol) dan tidak tergantung konsentrasi (beta laktam dan glikopeptida). Selain itu antibiotika juga dapat bersifat tergantung konsentrasi (fluorokuinolon. Farmakodinamik II.Namun pengklasifikasian antibiotika seperti ini mempunyai beberapa keterbatasan karena terdapat beberapa agen yang mempunyai sifat yang berbeda pada organisme yang berbeda. Faktor yang dapat menganggu farmakokinetik obat dan toksisitas obat Pada pasien dengan gangguan hepar dan renal yang akan menganggu eliminasi obat dan dapat berakibat toksik bagi pasien. serta sinergisme dan antagonisme obat. Selain itu juga dapat dipengaruhi oleh reaksi imunologis dan sifat toksik obat. aktivitas bakteriostatik atau bakteriosidal. Absorpsi obat dipengaruhi oleh pembuluh darah saluran cerna. Farmakokinetik Mencakup absorpsi. Keuntungan pemberian parenteral : pada pasien kritis. Keuntungan pemberian obat oral adalah lebih ekonomis dan tidak invasif.

dan metabolisme sel Jenis-jenis antibiotika terlampir pada tabel 5 lampiran Gambar 1. 18 .1 Penggolongan Anti ioti a berdasarkan Target Sel dan Mekanisme Kerja Golongan Anti ioti a di lasi i asi an berdasarkan target sel dan mekanisme kerja yait yang bekerja pada dinding sel sintesis protein. Mekanisme Kerja Antibiotika 2. Pemilihan kombinasi antibiotika harus mencakup penyebab agen yang terbanyak. Ketersediaan golongan antibiotika yang bersifat polimikrobial seperti beta laktam dapat menurunkan pemakaian kombinasi obat. Terapi empiris berspektrum luas pada kondisi pasien yang kritis. Terapi infeksi polimikrobial seperti abses intraabdominal. dan penurunan efek obat yang diakibatkan efek antagonis obat.2 Kombinasi Antibiotika Kebanyakan infeksi dapat diterapi dengan antibiot ka t nggal. namun pada praktek i sehari-sehari banyak digunakan terapi kombinasi. sintesis DNA.3.3. Alasan penggunaan terapi kombinasi.R i ti i i Harga i l it t i i t i i it t li t i i i l l it i i 2. kenaikan harga. Hal ini dapat meningkatkan risiko toksisitas.

peningkatan uptake antibiotika. Antagonisme terjadi apabila kombinasi obat mempunyai efek yang lebih rendah. Hal ini dapat digunakan pada terapi endokarditis enterokokus dengan kombinasi penisilin dengan gentamisin. - Induksi inaktivasi enzimatik. 19 . contoh penisilin dapat meningkatkan uptake aminoglikosida untuk enterokokus. Indikasi terapi kombinasi : - Tuberkulosis Mikobakterium avium kompleks diseminata Helikobakter pilori Endokarditis e. contoh tuberkulosis. Penurunan efek toksik dengan pengurangan masing-masing dosis obat.c streptokokus alfa hemolitikus Vankomisin resisten enterokokus Dalam pemberian kombinasi antibiotika.- Untuk menurunkan resistensi kuman. Mekanisme yang terjadi melalui. agen bakteriostatik seperti tetrasiklin dan kloramfenikol dapat mengantagonis agen bakterisidal yang menghambat dinidng sel dikarenakan dibutuhkan dinding sel yang aktif untuk dihambat. Sinergisme adalah penggunaan dua antibiotika yang bersamaan mempunyai efek inhibitor yang lebih kuat dibandingkan penggunaan tunggal. - Inhibisi aktivitas sidal dengan agen statik. Efek antagonisme jarang terjadi pada praktek klinis. blok sekuensial metabolik (contoh jalur asam folat pada trimetorfin sulfametoksasol). contoh kombinasi antibiotika beta laktam yang merupakan agen penginduksi produksi beta laktamase dan dikombinasikan dengan piperasilin. trimetorfin sulfametoksasol pada pneumositis jiroveci pneumonia. Sinergisme dibuktikan dengan penurunan empat kali atau lebih Minimal Inhibitory Concentration atau Minimal Bactericidal Concentration. kasus yang dilaporkan pada pasien dengan meningitis pneumokokus yang diterapi dengan penisilin dan klortetrasiklin. inhibisi inaktivasi enzimatik (contoh beta laktamase dengan inhibitor beta laktam). perlu pemahaman mengenai antagonism dan sinergisme obat. Mekanisme terjadi sinergisme adalah.

medikasi. faktor risiko Gejala klinik. 20 .Bagan 1. alergi. pemeriksaan fisik. pemeriksaan penunjang yang mendukung diagnosis infeksi Jenis patogen sebelum terapi apakah diketahui atau tidak Tidak Ya Drug specific : Apakah pasien tampak sakit berat y y y y y Terapi empiris spektrum luas Spektrum Dosis Farmakokinetik dan farmakodinamik Efek samping Kombinasi Patient specific : y y y Lokasi infeksi Penyakit penyerta Resistensi obat Monitor terapi : efisiensi. toksisitas. komorbiditas. Alur Pemilihan Terapi Antibiotika Anamnesis : riwayat penyakit sekarang.

Spektrum bakteri pada beta laktam bervariasi dari bakteri gram positif sampai bakteir gram negatif sesuai kategori kelas obat sedangkan peptidoglikan untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram positif yang resisten atau pada pasien yang mempunyai alergi terhadap beta laktam. Terdapat berbagai macam golongan antibiotika dengan berbagai indikasi dan spektrum antibakterinya. Aminoglikosida (gentamisin. pembuktian terjadinya infeksi dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. linkosamid. kultur. trimetropin dan kotrimoksasol efektif terhadap bakteri gram.neomisin. 21 . serta onitor respons terapeutik dengan evaluasi klinis dan laboratorium. dan anaerob serta rifampisin bekerja sebagai inhibitor sintesis asam nukleat. dan asam fusidik bekerja dengan menghambat proses translasi mRNA tetapi pada proses yang berbeda.negatif yang bekerja dengan cara menghambat enzim-enzim yang dapat menjadi bahan dasar pembuatan asam nukleat.teikoplanin). gram positing. tobramisin. Kuinolon mempunyai empat generasi berdasarkan spektrum antibakterialnya terhadap bakteri gram negatif. Aminoglikosida. Golongan antibiotika yang menghambat proses pembentukan peptidoglikan. Dengan pemilihan tepat jenis. tetrasiklin. oksazolidinon. sefalosporin. pewarnaan. yang merupakan salah satu komponen dinding sel bakteri adalah beta laktam (penisilin. amikasin. dan penghentian obat yang benar serta aman pada pemakaian dan terjangkaunya harga pada pasien dapat menjadi dasar penggunaan antibiotika yang rasional dapat meminimalisasikan angka kejadian resistensi antibiotika. identifikasi patogen dengan pengumpulan material. dan parameter farmakologis. Linkosamid (klindamisin) efektif terhadapa bakteri anaerob baik gram positif maupun gram negatif. Polimiksin yang bekerja pada membrane sitoplasma bakteri gram negatif. parameter mikrobiologis. makrolid.BAB III KESIMPULAN Pemilihan dan penggunaan antibiotika ditentukan oleh berbagai faktor seperti keadaan klinis pasien. cara pemberian. Dibutuhkan pendekatan yang sistematis dalam pemilihan antibiotika yaitu. pseudomonas. dan pemeriksaan serologis. dosis. streptogramin. kloramfenikol. Tetrasiklin dan kloramfenikol bersifat bakteriostatik dan spektrum luas. netilmisin. monobaktam) dan glikopeptida (vankomisin. pemilihan terapi empiris berdasarkan faktor pejamu dan obat. kanamisin. Makrolid (eritromisin) efektif terhadap bakteri gram positif dan pasien uang alergi terhadap penislin. sefamisin. streptomsin) bersifat bakterisidal dan efektif terhadap bakteri gram negatif. Sulfonamid. karbapenem.

22 .BAB IV DAFTAR PUSTAKA 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful