Latar Belakang Pusat Kesehatan Masyarakat atau puskesmas yang dikembangkan sejak tahun 1968 oleh Departemen Kesehatan

Republik Indonesia agar masyarakat di pelosok tanah air dapat mengakses pelayanan kesehatan dasar. Sebagai unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota, puskesmas bertanggungjawab menyelenggarakan upaya kesehatan dasar perorangan dan masyarakat Namun sayangnya, untuk pelayanan perorangan, setelah hampir empat dekade, puskesmas belum menjadi pilihan utama masyarakat untuk memperole h pelayanan kesehatan (1). Kondisi puskesmas di Kabupaten Simalungun tidak jauh berbeda dengan kondisi puskesmas lain di seluruh Indonesia. Apalagi sejak adanya Undang -undang No. 32 Tahun 2004, yang memberikan kewenangan otonomi pada daerah. Pemerintah Daerah Kabupaten Simalungun menyikapinya dengan mengeluarkan Peraturan Daerah No.13 tahun 2004 tentang pembebasan tarif puskesmas untuk semua jenis pelayanan dan berlaku untuk seluruh pengunjung puskesmas itu (2). Sejak diberlakukan tarif tidak ada peningkata n kunjungan ke puskesmas, dan pemanfaatan puskesmas oleh penduduk masih dibawah 30%, karena rendahnya mutu pelayanan puskesmas. Beberapa pandangan yang berkembang di masyarakat Simalungun yaitu buruknya citra pelayanan di puskesmas, fasilitas gedung maupun peralatan medis dan medis kurang memadai, dan budaya pegawai puskesmas yang tidak disiplin, Untuk peningkatan mutu pelayanan di puskesmas sebenarnya sudah mengikuti pelatihan mutu seperti Jaminan Mutu, Total Quality Management (TQM), dan Good Governance, tetapi belum diterapkan di puskesmas masing -masing (3) . Di propinsi Sumatera Utara pembebasan tarif puskesmas ini hanya Kabupaten Simalungun dan Kota Medan yang menerapkan pembebasan tarif. Bila dibandingkan kunjungan puskesmas di Kabupaten Simalungun dan kabupaten tetangga yaitu Kabupaten Asahan yang menerapkan tarif restribusi terlihat ada perbedaan seperti tabel dibawah ini:
Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.ugm.ac.id 5 Hartati, Tjahjono Kuntjoro; WPS no.4 Oktober 2007 1st draft

Tabel 1. Data Kunjungan Rawat Jalan Puskesmas Tahun 2006 No. Kabupaten Simalungun Kunjungan No. Kabupaten Asahan Kunjungan
1. Silimakuta 8.380 1. BP. Mandoge 11.792 2. Raya 8.525 2. Aek Songsongan 8.625 3. Tanah Jawa 12.770 3. Pulau Rakyat 11.790 4. Hutabayu raja 10.008 4. Aek Loba 9.477 5. Panei 7.123 5. Sei Sepayang 11.012 6. Sidamanik 9.334 6. Sei Apung 6.511 7. Dolok Pardamean 6.314 7. Simpang Empat 6.743 8. Dolok Paribuan 4.321 8. Air Batu 5.273 9. Bandar 7.632 9. Hessa Air Genting 6.941 10. Pematang Bandar 13.532 10. Tinggi Raja 11.591

11. Raya Kahean 5.863 11. Meranti 10.800 12 Siantar 13.596 12 Rawang Pasar IV 6.597 13. Jorlang Hataran 6.157 13. B. Serbangan 9.745 14. Girsang 5.964 14. Tanjung Tiram 8.331 15. Purba 10.952 15. Sei Balai 7.673 16. Silau Kahean 8.774 16. Lab. Ruku 6.548 17. Bosar Maligas 9.072 17. Lima Puluh 11.645 18. Ujung Padang 9.145 18. Kedai Sianam 7.573 19. Dolok Silau 6.216 19. Pem. Panjang 7.430 20. Dolok Batu Nanggar 3.440 20. Indra Pura 7.104 21. Tapian Dolok 3.855 21. Pagu Rawan 6.989 22. Haranggaol 2.664 22. Sidodadi 6.332 23. Pematang Sidamanik 1.758 23. Gambir Baru 9.237 24. Hatonduan 2.261 24. Mutiara 14.786 25. Panambean Pane 7.185 26. Gunung Malela 8.674 27. Gunung Maligas 8.339 28. Jawa Maraja Bah Jambi 6.321 29 Bandar Huluan 6.409 30. Bandar Masilam 8.020 Sumber: Subdin Yankes Dinas Kesehatan Simalungun dan Asahan

Dari tabel diatas terlihat bahwa kunjungan pasien di puskesmas yang membebaskan tarif lebih rendah dari puskesmas dengan pembebasan tarif. Puskesmas di Kabupaten Simalungun rata-rata 7180/tahun/puskesmas atau 23 pasien per hari per puskesmas. Sedangkan puskesmas di Kabupaten Asahan ratarata 8.772/tahun/puskesmas atau 30 pasien per hari per puskesmas. Sarana dan tenaga yang tersedia di Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Asahan cukup memadai untuk lebih jelas terlihat dari tabel berikut ini:
Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.ugm.ac.id 6 Hartati, Tjahjono Kuntjoro; WPS no.4 Oktober 2007 1st draft

Tabel 2. Sarana dan Tenaga Kesehatan Kabupaten No. Jenis sarana dan prasarana Kabupaten Simalungun Kabupaten Asahan
I. Sarana RSU Daerah 2 unit 1 unit RS Swasta 2 unit 5 unit Puskesmas 30 unit 24 unit Puskesmas pembantu 167 unit 172 unit Puskesmas keliling 22 unit 24 unit BP Swasta 6 unit 76 unit II. Tenaga Dokter spesialis 2 orang 24 orang Dokter umum 124 orang 98 orang Dokter gigi 29 orang 20 orang Apoteker 4 orang 2 orang Tenaga keperawatan 634 orang 588 orang Sumber: Profil Dinas Kesehatan Simalungun dan Asahan.

Sebelum diberlakukannya pembebasan tarif, puskesmas mempunyai pendapatan dari tarif sebesar Rp. 4.500 per pasien. Pendapatan ini setiap bulan 50% disetor ke kas daerah dan

sisanya bisa dipergunakan langsung untuk melengkapi kebutuhan puskesmas(4). Kondisi sekarang dengan pembebasan tarif tidak ada penggantian langsung dari pemerintah daerah, berbeda keadaannya dengan puskesmas di Kota Medan yang juga menerapkan pembebasan tarif tetapi mendapatkan langsung biaya pengganti dari APBD . Tinggi rendahnya sistem pembiaya an pelayanan kesehatan berdampak kepada mutu pelayanan itu sendiri, apalagi alokasi dana untuk program penunjang kesehatan tidak memadai, apabila hal ini terjadi puskesmas makin lama akan ditinggalkan oleh pengguna jasanya, dan hanya akan dipergunakan saja oleh masyarakat miskin yang tidak mempunyai pilihan lain (5). Untuk melihat apakah perbedaan kunjungan ini menunjukkan perbedaan mutu pelayanan maka dilakukan penelitian bagaimana pengaruh pembebasan tarif terhadap mutu pelayanan di Puskesmas Kabupaten Si malungun dengan membandingkan dengan di Kabupaten Asahan. Metode Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimental dengan rancangan postest only with control group design (post test dengan kelompok kontrol). Penelitian ini untuk mengetahui mutu pelayanan di puskesmas yang menerapkan kebijakan pembebasan tarif retribusi pelayanan di puskesmas. Hasil observasi yang dilakukan dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak menerapkan kebijakan tersebut (6). Unit analisis
Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.ugm.ac.id 7 Hartati, Tjahjono Kuntjoro; WPS no.4 Oktober 2007 1st draft

adalah puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan) dengan subjek penelitian pasien yang berkunjung dan petugas petugas puskesmas. Jumlah sampel pasien 408 orang ( 12 diantaranya di wawancara mendalam) dan kepala puskesmas 6 orang. Lokasi penelitian di 6 puskesmas di kedua kabupaten yang dilakukan secara stratified random samplin g, puskesmas yang terpilih di puskesmas yang membebaskan tarif yaitu Puskesmas Siantar (kunjungan tinggi), Gunung Malela (kunjungan sedang) dan Dolok Batu Nanggar (kunjungan rendah). Sedangkan puskesmas yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan) terpilih yai tu Puskesmas Mutiara (kunjungan tinggi), Aek Loba (kunjungan sedang) dan Sidodadi (kunjungan rendah). Besar sampel pasien dengan rumus Lameshow adalah 100 orang di Puskesmas Siantar, 110 orang di Puskesmas Mutiara, 60 orang di Puskesmas Gunung Malela, 68 orang di Puskesmas Aek Loba, 27 orang di Puskesmas Dolok Batu Nanggar dan 43 orang di Puskesmas Sidodadi. Penelitian dilakukan selama 2 bulan. Alat penelitian yang digunakan untuk mengukur harapan dan kenyataan pasien adalah kuesioner servqual yang terdiri dari pertanyaan tertutup, sedangkan untuk data kualitatif dengan panduan wawancara mendalam, observasi di lapangan, dokumen anggaran/keuangan dan sistem manajemen mutu ISO 9001;2000. Variabel penelitian meliputi variabel bebas yaitu

jaminan (assurance) dan empati (empathy). Untuk tingkat pendidikan. 5.050. untuk data kuantitatif dengan analisis deskriptif dan uji statistik beda mean (uji t -independen). Dari hasil pengolahan data independen sample t -test menunjukkan .000.baik di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). Jumlah tenaga kesehatan yang tersedia di kedua kabupaten suda h cukup memadai.. Dari hasil pengamatan selama penelitian di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan) jumlah petugas yang melayani di loket pendaftaran. (7) . Hal ini mirip dengan penelitian yang dilakukan di Cyprus (8).--Rp.ugm.ac. (9).pembebasan tarif. dimana sudah hampir memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Depkes R. sedangkan kualitatif didiskripsikan dalam bentuk narasi dan dilakukan dengan metode triangulasi data untuk memperkuat data kuantitati.id 8 Hartati. Pengolahan data dilakukan secara kuantitatif dan kualit atif. Pada penelitian ini harapan pasien pasien terhadap mutu pelayanan puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan ). dan pe kerjaan di puskesmas kedua kabupaten hampir sama yang memanfaatkan puskesmas sebagian besar berpendidikan SLTA dengan jenis pekerjaan ibu rumah tangga dan swasta pasien yang memanfaatkan puskesmas sebagian besar adalah dengan tingkat penghasilan menengah k ebawah. sedangkan variabel terikat adalah persepsi tentang mutu pelayanan dengan dimensi berwujud ( tangibles). Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.4 Oktober 2007 1st draft menyatakan bahwa masyarakat dengan penghasilan m enengah kebawah lebih banyak memanfaatkan fasilitas kesehatan yang disediakan pemerintah secara gratis daripada pelayanan swasta yang mempunyai tarif lebih tinggi. dalam usia produktif (18 -30 tahun). Untuk melihat tingkat kesanggupan membayar tarif puskesmas sebagian besar berkisar Rp. WPS no. Hasil Karakteristik pasien yang jadi responden dalam penelitian yang dilakukan di Puskesmas Kabupaten Simalungun dan Asahan ini terlihat hampir sama. Dari hasil pengamatan selama penelitian pada 6 puskesmas di kedua kabupaten terlihat bahwa jenis pelayanan yang diberikan di masing -masing puskesmas dan juga beban kerja petugas hampir sama antara puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). daya tanggap (responsiveness).I. yaitu yang terbanyak berjenis kelamin perempuan. 4. Tjahjono Kuntjoro. Sedangkan responden yang menginginkan gratis hanya sedikit baik itu di daerah yang membebaskan tarif maupun daerah yang menerapkan tarif. kamar obat pada saat penelitian menunjukkan jumlah dan jenis tenaga kesehatan hampir sama baik itu di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) maupun yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). BP umum. keandalan (realibility).

responsiveness. Hal ini sejalan hasil penelitian yang menyatakan.ac. Tjahjono Kuntjoro. menunjukkan bahwa harapan Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. kapabilitas. Hal ini sesuai dengan laporan.4 Oktober 2007 1st draft pasien lama terhadap mutu pelayanan fokus pada dimensi realibility. assurance dan empathy lebih tinggi pada puskesmas yang membebaskan tar if (Kabupaten Simalungun) daripada di puskesmas yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). pengalaman. Sedangkan harapan pasien terhadap mutu pelayanan pada dimensi mutu t angibles di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dengan menerapkan tarif tidak ada perbedaan signifikan. informasi.05 . emosi. assurance dan empathy daripada dimensi tangibles. Hal ini sesuai dengan pendapat teori yang menyatakan bahwa harapan dibentuk oleh pengalaman masa lalu. Harapan pasien terhadap mutu pelayanan pada empat (4) variabel dimensi mutu reliability. Hal ini disebabkan pada pasien Askes (gratis) karena tingginya ekspektasi tidak disertai simetrisnya informasi yang dimiliki pasien Askes (12) . assuranc e dan emphaty lebih tinggi pada puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) daripada puskesmas yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). setelah menerima jasa tersebut pelanggan membandingkan jasa yang dialami dengan jasa yang diharapkan (14). Hal ini sesuai dengan yang diteliti di RSUD Bengkulu menyatakan bahwa harapan pasien Askes (gratis) lebih tinggi daripada harapan pasien umum (membayar). valensi. Sedangkan pasien baru lebih fokus padan dimensi tangibles (penampilan fisik) dari penyedia layanan (11). Dalam konsep pemasaran jasa bahwa harga yang terlalu murah bahkan gratis membuat kesan jasa tersebut tidak bermutu atau mutunya rendah. nilai. perhatian.perbedaan signifikan dimana p < 0.ugm. ketertarikan. bahwa tinggi dan rendahnya harapan pelanggan dapat terjadi karena bermaca m-macam pengaruh antara lain faktor : (1) Perorangan misalnya kebutuhan. yang meneliti di Korea Selatan tentang pengaruh frekuensi kunjungan ke fasilitas kesehatan. Akan tetapi hal ini muncul karena pengalaman pasien di Kabupaten Simalungun yang berdekatan dengan Kota Medan yang membebaskan tarif puskesmas tetapi dengan fasilitas dan pelayanan yang lebih baik bila dibandingkan dengan pelayanan puskesmas di Kabupaten Simalungun. Hal ini didukung oleh teori ekpektasi. Harapan pasien terhadap mutu pelayanan dalam dimensi realibility. responsiveness. motivasi dan konsekuensi dari hasil . WPS no.walaupun perbedaannya tipis tapi cukup bermakna. responsiveness.id 9 Hartati. pembicaraan dari mulut ke mulut dan dari iklan perusahaan jasa. harapan pasien terhadap mutu pelayanan berbedabeda dari kelompok (group) pelanggan terhadap penyedia pelayanan yang berbeda berdasarkan perbedaan demografi pelanggan dan tempat pelayanan (10) . atribut. Jadi kondisi puskesmas yang membebaskan tarif seharusnya harapan pasien tidak terlalu tinggi (13) .

(2) Sosial misalnya sosiodem ografi. yaitu dari tiga (3) dimensi mutu tangible. termasuk obat lebih bagus pada pelayanan kesehatan swasta (swasta) dibandingkan dengan fasilitas pemerintah (gratis) (17) . bahwa memang ada perbedaan dimensi mutu pelayanan tangibles seperti gedung. Hal ini juga didukung dari penelitian di Kabupaten Tapanuli Tengah berpendapat bahwa kesenangan dan kenyamanan di sekitar pelayan an kesehatan terutama di unit pelayanan kesehatan swasta memiliki pengaruh yang baik terhadap kepuasan pasien (19). Harapan pelanggan merupakan keyakinan pelanggan sebelum mencoba atau membeli suatu produk yang dijadikan standar atau acuan dalam menilai kinerja produk. peralatan medis dan non medis. Dari dimensi mutu responsiveness puskesmas di Kabupaten Asahan lebih tinggi bila dibndingkan dengan di Kabupaten Simalungun. Hal ini memang sesuai penelitian di India.id 10 Hartati. norma sosial. responsiveness dan empathy lebih tinggi di puskesmas Kabupaten Asahan (yang menerapkan tarif) dibandingkan dengan di Kabupaten Simalungun.4 Oktober 2007 1st draft tinggi harapan seorang pelanggan maka semakin besar kemungkinan ia tidak puas terhadap j asa yang dikonsumsinya (16). Pelanggan akan mengeluh tidak puas apabila harap annya tidak terpenuhi. Dan dapat ditambahkan b ahwa 2 orang kepala puskesmas di .pelayanan yang dirasakan. Dimensi mutu tangible penting untuk organisasi jasa karena suatu pelayanan jasa tidak bisa dilihat secara nyata maka pelanggan akan menggunakan alat inderanya untuk menilai suatu kualitas pelayanan (18). tekanan kelompok. Kenyataan pelayanan yang dialami pasien di puskesmas Kabupaten Simalungun (yang membebaskan tarif) dengan puskesmas di Asahan (yang menerapkan tarif) menunjukkan ada perbedaan signifikan. Makin Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. ketidakadilan (15). Selain itu pelayanan yang benar akan menentukan harapannya pada suatu jasa.ugm. Begitu juga dengan penampilan petugas lebih rapi pakaian seragamnya dan ada tanda pengenal di puskesm as Kabupaten Asahan. dan seorang pelanggan akan mengharapkan bahwa ia seharusnya juga dilayani dengan baik sebagaimana pelayanan diberikan pada pelanggan yang lain. Dengan kata lain mereka juga sudah menerapkan sistem manajemen mutu. Ini terjadi karena di puskesmas Kabupaten Asahan ada pemasukan dana retribusi yang bisa dipergunakan langsung untuk kebutuhan yang mendesak. Tjahjono Kuntjoro. WPS no.ac. kegiatan yang dibutuhkan. Dari dimensi mutu tangibles (bukti fisik) memang menunjukkan bahwa puskesmas di Kabupaten Asahan dari penampilan fisik gedung dan sarana pendukung lainnya termasuk peralatan medis dan obat -obatan lebih baik kondisinya bila dibandingkan dengan di Kabupaten Simalungun. Hal ini disebab kan karena petugas sudah mendapatkan pelatihan Good Governance dan mereka sudah mempunyai motto bahwa kepuasan pasien dan kepentingan pasien adalah hal yang utama.

2. Mirip dengan penelitian di Cyprus bahwa dimensi mutu empathy lebih tinggi pada unit pelayanan swasta bila dibandingkan dengan unit pelayanan milik pemerintah yang gratis (8). Untuk melihat tingkat kepuasan terhadap mutu pelayanan dapat dilihat dari gap antara harapan dan ke nyataan di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan).000* . Tjahjono Kuntjoro.2. Begitu juga dari penelitia di Helsinki bahwa kecepatan pelayanan merupakan penentu tingkat Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.67 Penerapan Tarif . Hal ini sesuai bahwa dalam penerapan sistem manajem en mutu peran aktif manajemen puncak harus benar -benar dirasakan sampai tingkat bawah (20).2.74 . Sesuai dengan penelitian di Kanada. pengabdian dan komitmen yang tinggi untuk menerapkan sistem manajemen mutu yang berorientasi kepada kepentingan pasien.000* Reliability Pembebasan Tarif .1.ac. bahwa kecepatan pelayanan di unit pelayanan pemerintah yang gratis lebih lambat responnya bila dibandingkan pelayanan di unit swasta yang membayar (22). memberikan perhatian yang dalam kepada pasien.ugm. Sedangkan dari 2 (dua) dimensi mutu realibilty dan assurance terlihat tidak ada perbedaan signifikan kenyataan pelayanan yang dirasakan pasien antara dua kabupaten. Begitu juga dilaporkan dari penelitian i di Campbell.0. Berarti puskesmas di Kabupaten Simalungun (yang membebaskan tarif) dan Asahan (yang menerapkan tarif) mempunyai kemampuan yang sama dalam hal memberikan keandalan dan jaminan kepada pasien. Berarti di puskesmas Kabupaten Asahan petugas mempunyai kepedulian yang tinggi .1. Berdasarkan hasil penghitungan gap antara harapan dan persepsi dapat diurutkan tingkatan mutu puskesmas dari urutan terbaik ke urutan yang jelek yaitu Puskesmas Mutiara (menerapkan tarif).49 0.43 Penerapan Tarif . Total Perbedaan Gap Pasien di Puskesmas Variabel Puskesmas Mean Gap P Tangible Pembebasan Tarif .2.id 11 Hartati.Kabupaten Asahan masih muda dan mempunyai semangat. Siantar (membebaskan tarif) dan Gunung Malela (membebaskan tarif). Dari dimensi mutu empati ( empathy) terlihat bahwa hal ini lebih tinggi di puskesmas Kabupaten Asahan bila dibandingkan dengan di Kabupaten Simalungun. Perbedaan gap dapat di lihat pada tabel berikut : Tabel 3. Sidodadi (menerapkan tarif).000* Responsiveness Pembebasan Tarif . membuat kunjungan pasien berulang (23).54 . menyatakan bahwa petugas yang memberikan perhatian yang dalam kepada pasie n.0. Dolok Batu Nanggar (membebaskan tarif). WPS no.19 0.4 Oktober 2007 1st draft kepuasan pasien terutama pasien di bagian emergensi atau unit gawat darurat (21).90 0.64 Penerapan Tarif .48 . Aek Loba (menerapkan tarif).0.

000* Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.4 Oktober 2007 1st draft Tapi bila dibandingkan gap antara pasien di puskesmas yang bayar gapnya lebih rendah daripada gap pasien yang gratis berarti pasien yang bayar lebih puas dari pasien di puskesmas .ugm.id 12 Hartati. dimana mutu pelayanan di fasilitas pemerintah yang tidak bayar lebih rendah daripada pelayanan swasta yang membayar (8). Tjahjono Kuntjoro.ac.82 Penerapan Tarif .41 0. Dari hasil perhitungan statistik gap menunjukkan ada perbedaan harapan dan kenyataan yang dialami pasien pada puskesmas yang membebaskan tarif dengan yang menerapkan tarif.ac.ugm. Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. pada semua dimensi mutu. WPS no. realibility.4 Oktober 2007 1st draft Tabel 3 menunjukkan bahwa total perbedaan harapan dan kenyataan yang dialami pasien di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan) berdasarkan masing -masing variabel ada perbedaan signifikan.0.0. Untuk melihat gambaran gap dari masingm asing variabel dapat dilihat pada Gambar 3. Dengan demikian memang ada perbedaan antara mutu pelayanan di puskesmas yang membebaskan tarif dan yang menerapkan tarif.52 -1. Hal ini menunjukkan tingkat kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan. assurance dan empathy (12). Skor Gap untuk Lima Dimensi Kepuasan pada Pasien Gratis Dari pengolahan data menunjukkan perbedaan signifikan dimana p<0. Sebenarnya t ingkat kepuasan pasien pada puskesmas yang membebaskan tarif maupun yang menerapkan tarif masih rendah ditandai adanya gap yang negatif berarti hal ini disebabkan oleh terlalu tingginya harapan pasien terhadap mutu pelayanan di puskesmas pada kelima dimensi. Hal ini sama dengan hasil penelitian yang melaporkan ketidakpuasan pasien Askes dan Umum di Rumah Sakit Umum Bengkulu pada ke 5 (lima ) dimensi mutu yaitu tangibles. Sesuai dengan laporan penelitian di Cyprus bahwa ada perbedaan mutu pelayanan pada pelayanan kesehatan pemerintah yang gratis dan pelayanan swasta. WPS no.1.1.50 -1. Hal ini menunjukkan pembebasan tarif retribusi mempengaruhi mutu pelayanan.05.91 Penerapan Tarif . -12 -10 -8 -6 -4 -2 0 Gratis Bayar tangibles reability responsivenes Assurance Emphaty total Gambar 1.000* Emphaty Pembebasan Tarif . responsiveness.id 13 Hartati.Assurance Pembebasan Tarif .30 0. Tjahjono Kuntjoro.

Harapan pasien terhadap tarif puskesmas (gratis dan bayar) dari hasil wawancara mendalam mengenai harapan pasien terhadap pembayaran tarif. di Cyprus menyatakan pasien yang menggunakan fasilitas kesehatan pemerintah yang gratis tingkat kepuasannya rendah dibandingkan dengan pasien yang menggunakan fasilitas swasta yang menerapkan tarif (8).yang gratis. untuk kategori biaya pelayanan pasien berharap tidak perlu naik. kenyamanan dan sarana non medis pada puskesmas yang membebaskan tarif bila dibandingkan dengan puskesmas yang menerapkan tarif. Peningkatan mutu pelayanan yang berkesinambungan menjadi salah satu kunci penting dalam menghadapi era globalisasi yang mengisyaratkan bahwa pelayanan haru s dilakukan sesuai standar dan memenuhi kaidah -kaidah mutu yang berorientasi kepada kepentingan konsumen. Hal ini juga didukung oleh penelitian di India yang melaporkan bahwa fasilitas pemerintahan yang diintervensi dengan perbaikan mutu melalui proyek dari The World Bank. Hasil wawancara mendalam dengan pasien terlihat. harapan pasien terhadap pelayanan petugas dan harapan pasien terhadap pembebasan tarif. yaitu fasilitas fisik dan lingkungan puskesmas yang tidak memadai. dan dibandingkan dengan yang tidak diintervensi terlihat perbedaan tingkat kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan (17). Untuk pelayanan petugas. Dimensi mutu tangibles penting untuk organisasi jasa karena suatu pelayanan jasa tida k bisa dilihat secara nyata maka pelanggan akan menggunakan alat inderanya untuk menilai suatu kualitas pelayanan (18). tidak adanya keamanan non medik. Hal ini juga didukung penelitan di Kabupaten Tapanuli Tengah berpendapat bahwa kesenangan dan kenyamanan di sekitar pelayanan kesehatan t erutama di unit pelayanan kesehatan swasta memiliki pengaruh yang baik terhadap kepuasan pasien (19).ac. Berarti pelayanan di puskesmas yang membebaskan tarif pelayanan tidak bermutu hal Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. ini sejalan dengan penelitian. hal -hal yang menjadi harapan pasien terhadap mutu pelayanan puskesmas dapat dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu harapan pasien terhadap fasil itas fisik dan lingkungan puskesmas. Tjahjono Kuntjoro. berarti penyedia layanan harus terus beradaptasi dengan kebutuhan konsumen (13).4 Oktober 2007 1st draft ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa pelayanan yang bermutu apabila penerapan kode etik kedokteran dan standar pelayanan dapat memuaskan pasien (24). WPS no. kepercayaan dan komunikasi.ugm. Sebagian besar responden menyatakan tidak puas dengan kenyataan yang ada. harapan pasien masih belum terpenuhi karena ada yang belum sesuai dengan etika pelayanan kedokteran karena kadang -kadang dokter meninggalkan tugas pada jam kerja di puskesmas yang membebaskan tarif. Untuk puskesmas yang membebaskan . yaitu kecepatan pelayanan. bila dibandingkan de ngan pelayanan di puskesmas yang menerapkan tarif. penampilan petugas.id 14 Hartati.

Jadi dalam pembiayaan kesehatan harus transparan. Untuk memberikan pelayanan yang baik di puskesmas dibutuhkan dana yang cukup. syarat pokok yang harus dipenuhi dalam m emberikan pelayanan bidang kesehatan . asal mutu pelayanan ini dapat ditingkatkan. kecuali pada Puskesmas Mutiara dan Aek . peralatan medis dan non medis sampai kebutuhan obat langsung ditangani oleh dinas kesehatan. Tetapi sebagian lagi pasien menyarankan pemberlakuan tarif kembali asal tidak memberatkan masyarakat dan mutu pelayanan ditingkatkan lagi. baik terhadap alokasi maupun pemanfaatannya. dari 6 pasien yang diwawancara 60% menyatakan kebijaksanaan ini tidak perlu dihentikan kar ena dalam situasi ekonomi yang sulit dapat membantu pasien.4 Oktober 2007 1st draft mencukupi jika syarat yang lain tidak terkelola dengan baik maka pembiayaan pelayanan kesehatan tidak berjalan secara optimal. akan tetapi karena di Kabupaten Asahan sudah menerapkan Good Governance hasil penilaian sedikit lebih tinggi penerapan ISO 9001. Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000. perlu ditunjang dengan tersedianya pembiayaan yang cukup (9). (a) Jumlah. (c) Pemanfaatan. dari hasil observasi check list ISO 9001. Hal ini sesuai penelitian di India.tarif. merupakan syarat utama dalam arti dapat membiayai penyelenggaraan semua upaya kesehatan yang dibutuhkan. akan banyak menimbulkan masalah (24). Dari hasil observasi kelengkapan dokumen di puskesmas ternyata semua dok umen yang ada hampir sama. Hal ini didukung juga laporan dari Campbell bahwa pasien psikatri yang membayar di praktek dokter swasta lebih puas daripada di rumah sakit pemerintah yang membebaskan tarif (22). niscaya akan menyulitk an penyelenggaraan setiap upaya kesehatan. Ketiga syarat tersebut perlu diperhatikan. bahwa fasilitas pemerintah sebaiknya memberlakukan pembayaran ( fee) yang sangat berguna sebagai pendapatan ( revenue) yang sebagian dapat langsung digunakan sebagai penunjang biaya operasional (17). jumlah besaran dana.ugm. bila dana yang tersedia tidak dapat dialokasikan dengan baik. WPS no. Sedangkan menurut aturan yang ada untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan masyarakat yang menjadi tanggungjawab puskesmas.ac.id 15 Hartati. Tjahjono Kuntjoro. sekalipun dana Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. Hal ini menunjukkan pengalokasian dana. (b) Penyebaran. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa. Dari wawancara dengan kepala puskesmas dari kedua kabupaten menunjukkan. bahwa dana operasional puskesmas ada tetapi pengelolaannya langsung oleh dinas kesehatan sehingga semua biaya untuk kelengkapan administrasi.2001. perencanaan dana yang tidak transparan.2001 terlihat hasilnya tidak terlalu jauh perbedaan antara puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dengan yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). karena tidak ada peningkatan mutu pelayanan setelah diberlakukan pembebasan tarif. bila tidak mendapatkan pengaturan yang seksama.

proses yang tidak stabil. (2). mutu pelayanan di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dengan yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). Perbedaan mutu t erdapat pada semua dimensi mutu tangibles.ac.2000 (25). Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001.4 Oktober 2007 1st draft pelayanan di puskesmas yang membebaskan tarif lebih rendah dibandingkan dengan di puskesmas yang menerapkan tarif. Hasil wawancara mendalam terhadap kepala puskesmas dari dua kabupaten tersebut. sebagian besar mereka belum familiar dengan istilah ini. WPS no. Untuk meningkatkan mutu. Sesuai dengan p endapat yang menyatakan.2000 dapat digunakan oleh organisasi yang perlu proses perencanaan. suatu organisasi harus dapat menerapkan sistem manajemen mutu. Tjahjono Kuntjoro. mengoreksi kekurangan yang dialami dan untuk memperbaiki proses secara berkesinambungan (27). bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun perlu memperbaiki mutu pelayanan puskesmas dengan melengkapi sarana dan prasarana baik medis maupun non medis. .id 16 Hartati. (3). Suatu organisasi di era globalisasi ekonomi yang menyebabkan terjadinya kompetisi maka organisasi itu dituntut untuk terus mengembangkan konsep dan teknologi peningkatan mutu(26).2000 ini sudah lama.ugm. yaitu ada perbedaan signifikan. assurance dan empathy.2000 di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) masih rendah dibandingkan dengan puskesmas yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan).Loba dokumen lebih lengkap dengan adanya dokumen hasil survey kepuasan pelanggan. Pembiayaan kegiatan operasional puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan) ada perbedaan dalam hal besaran dana. Karena standar ISO 9001. Menurut penelitian di Helsinki menyatakan bahwa pengukuran dan peningkatan kepuasan pelanggan dalam sistem p elayanan kesehatan adalah bagian yang penting dari manajemen mutu (21). Penutup Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh pembebasan tarif retribusi puskesmas terhadap mutu pelayanan di Puskesmas Kabupaten Simalungun dapat disimpulkan sebagai berikut: (1). Saran Pertama. Banyak rekomendasi sebelumnya bahwa suatu penyedia jasa pelayanan kesehatan haruslah menerapkan sistem manajemen mutu termasuk metode untuk memonitor kepuasan pelanggan. responsiveness. proses pengamatan. Dimana mutu Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. Bahwa hasil penelitian ini mendukung hipotesa yang diajukan. jumlah dana yang tersedia di puskesmas yang membebaskan tarif lebih besar daripada di puskesmas yang menerapkan tarif. bahwa organisasi yang sudah berorientasi kepada kepuasan pelangan merupakan prasyarat sistem manajemen mutu ISO 9001. padahal keberadaan ISO 9001. realibility.

melakukan penelitian mengenai efisiensi dan efektifitas . dan komitmen kepala dinas untuk meningkatkan mutu pe layanan dengan menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001. bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan perlu melakukan evaluasi mutu pelayanan setiap puskesmas secara rutin agar supaya kualitas pelayanan puskesmas dapat dipantau. Ketiga. mengalokasian anggaran puskesmas sesuai dengan kebutuhan dan peningkatan fungsi pengawasan keuangan puskesmas. realibility (keandalan). dan walaupun sudah diterapkan Good Governance pada pelayanan di puskesmas tapi perlu dipertimbangkan untuk mengadopsi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001. puskesmas yang menerapkan tarif disarankan untuk secara terus menerus melakukan evaluasi mutu pelayanan dengan berfokus pada kepuasan pasien. sedang dimensi mutu realibility.2000. 2000 untuk meningkatkan mutu pelayanan yang berorientasi kepada pasien. Keempat. memanfaatkan dana yang ada seefektif dan seefisien mungkin dalam meningkatkan mutu pelayanan.id 17 Hartati. WPS no.ac. meningkatkan mutu pelayanan puskesmas dengan peningkatan kualitas secara berkesinambungan. serta menggabungkan penerapan Good Governance dan ISO 9001.2000 di puskesmas. Bagi Puskes mas Siantar perlu melakukan perbaikan dimensi mutu tangibles dan empathy. Bagi Puskesmas Dolok Batu Nanggar hanya perlu memperbaiki tangibles (fasilitas fisik. reliability. dan meningkatkan motivasi petugas untuk lebih mementingkan apa yang diinginkan oleh pasien. assurance (jaminan) dan empathy (perhatian). Tjahjono Kuntjoro. mempertahankan sistem manajemen mutu dalam dimensi secara keseluruhan mulai dari tangibles.ugm. dengan memperbaiki fasilitias fisik. responsiveness. misalnya rehabilitasi gedung).4 Oktober 2007 1st draft tanggap). Bagi Puskesmas Gunung Malela perlu melakukan perbaikan pada lima (5) dimensi mutu tangibles (penampilan fisik puskesmas). bagi Kepala Puskesmas yang membebaskan tarif disarankan untuk melakukan evaluasi mutu berdasarkan persepsi pasien untuk memperbaiki mutu pelayanan disarankan untuk melakukan evaluasi mutu berdasarkan persepsi pasien untuk memperbaiki mutu pelayanan.2000 di puskesmas. dan memberikan pelatihan customer service dan ketrampilan medis bagi puskesmas yang mutu pelayanan rendah. responsiveness.memperbaiki mutu pelayanan dengan pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan dan pemberian rewards. Puskesmas perlu memanfaatkan dana yang ada seefektif dan seefisien mungkin dalam memperbaiki mutu pelayanan. bagi peneliti selanjutnya disarankan melakukan penelitian mengenai komitmen dan motivasi petugas puskesmas terhadap pelayanan puskesmas yang membebaskan tarif. dan mensosialisasikan dan menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001. assurance dan empathy. Kedua. Kelima. assurance dan empathy tetap dipertahankan. responsiveness (daya Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.

Sunol. Modul mata kuliah Magister Perilaku dan Promosi Kesehatan. Journal Health Economics.R. The Impact of Visit Frequency on the Relationship between Service Quality and Outpatient Satisfaction.4 Oktober 2007 1st draft 6.U. Ed. Peters. Dilema Puskesmas..interscience. 7(2). 9. Andi. Tjiptono. 13. vol.127-1 16. & Purwanta (2003). Pelayanan yang memuaskan.dan Roberge. Utarini. Manajemen Jasa. 14. Bayumedia Publishing. Profil Kesehatan Kabupaten Simalungun. 2006. 3. Yogyakarta. WPS no.K. Marsuli. 17. Daftar Pustaka 1. Bandung 7. Tjahjono Kuntjoro.N. (2000. 19. (2006). (2006) Quality Improvement and Its. Dwiyanto. Mewujudkan Good Governance.H. Mutu pelayanan pasien peserta Askes dan Umum di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. (2006). 10. Tarif versus mutu. Potvin. Expectation As Determinant of Patient Satisfaction: Concept. Yogyakarta 15.IV. :<http:// Health Economics.wiley. (2005). 12. Trisnantoro. Edisi.No. Iqbal. 08 (01). Nasution. 18.L. 1.M. Rao. Jakarta.Juni 2006. no. Thompson.C. & Lee. Statistika untuk Penelitian . F.D. Alfabeta. Choi. Pertama. (2005).Yunus Bengkulu. Cho. N. A.S. (2005) Hubungan Persepsi Terhadap Kualitas . Jakarta. Haddad. (www. (2004).2000 di puskesmas yang membebaskan tarif. Yogyakarta. M. UG.K. Yogyakarta. International Journal for Quality in Health Care. U. Siantar. 8.K.W.. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 128/Menkes/SK/II/2004. Family Practice ±An International Journal.A.com). Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat. (2006).pembiayaan di puskesmas yang membebaskan tarif. Sugiyono.Yogyakarta.22.ac. Journal Health Economic. (2005).A. Theory and Evidence. (1995).UGM. Susanto. Wiyadi.ugm.D. 1.T. Pemasaran Jasa & Kualitas Pelayanan. dan melakukan penelitian mengenai penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001.K.N. Opini 07 Juli (2006). Jakarta. (2006)..H.2. Winnie. London. Patient perception of quality following a visit to a doctor in a primary care unit. Agus. Vol. Desentralisasi Kesehatan Di Indonesia dan Perubahan Fungsi Pemerintah 2001-2003. Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. 5. (2002). Kim.D. Elex Media Komputindo. Arief.). Impact on The Use and Equality of Outpatient Health Services in India.. Hanson. Journal Health Care Services Research 39 : 1. (2004) Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management) Edisi pertama. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Mukti. Gadjah Mada University Press.E. Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. Tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat .H. (2004). Hubungan antara Persepsi Tarif Retribusi dengan Kualitas Pelayanan di Balai Pengobatan Puskesmas. M. Ghalia Indonesia: Jakarta. Haryono. M. 19-22. Oxford University 11.13: 1167-1180. Edisi Pertama.CV. Departemen Kesehatan RI. (2004) Metode Penelitian Kualitatif. 2.htm. Prestaka. (2004) The Impact of quality on the demand for outpatient services in Cyprus. dan Utarini. PT.W. 4. Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun.id 18 Hartati. Gajah Mada University Press. Laksono.17. A South Korean Study.& Hsiao.G. Melalui Pelayanan Publik.C .

Hal ini menunjukkan adanya kontrol ketat pemerintah sebagai pemilik terhadap rumah sakit sebagai firma atau pelaku usaha. Good governance telah menjadi isu sentral saat ini. sebagai dasar penyusunan anggaran dan subsidi. 61 Tahun 2007 tentang Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) menuntut rumah sakit harus banyak berbenah terutama dari sisi keuangan dan akuntabilitasnya. baik pihak rumah sakit maupun stakeholder untuk menghitung secara riil berapa biaya pelayanan yang dibutuhkan sehingga bisa menjadi alat advocacy dalam pembiayaan pelayanan kesehatan.Pelayanan dengan Minat Pemanfaatan Pelayanan Rawat Inaphttp://www. akuntanbilitas manajemen menjadi suatu unsur yang sangat penting. apabila tingkat pemulihan biaya ternyata juga rendah untuk kelas VIP misalnya.ac. bermaksud menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) dengan topik ³Penghitungan Unit Cost Rumah Sakit´. Dikeluarkannya PP No. maka dapat terjadi subsidi untuk masyarakat atas. Prinsip keadilan. penghitungan unit cost menjadi sesuatu yang urgent untuk dibuat sehingga pengambilan keputusan yang diambil mempunyai dasar yang kuat. dan kualitas pelayanan kesehatan mempunyai implikasi rumah sakit harus mampu dalam pengelolaan biaya secara komprehensif. efisiensi.pdfhttp://tinarbukaaw. Bagi sebagian rumah sakit pemerintah. Dalam rangka memberikan kemampuan pemahaman sebagaimana dimaksud dan mempersiapkan RS Pemerintah menjadi BLU serta RS Swasta menuju pada RS yang efisien dan bermutu tinggi. tarif memang ditetapkan berda-sarkan Surat Keputusan Menkes atau Pemerintah Daerah. 23 tahun 2005 tentang Badan Layanan Umum (BLU) oleh Departemen Keuangan dan Permendagri No.ac. khususnya untuk bangsal VIP dan kelas I yang tidak banyak mempengaruhi orang miskin. Rumah sakit sebagai penyelenggara layanan kesehatan mempunyai beban tersendiri untuk bisa memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan adil bagi masyarakat. Untuk mengakomodir akuntabilitas terutama dalam tarif layanan rumah sakit.students-blog. Oleh karena itu. pemahaman mengenai konsep tarif perlu diketahui oleh para manajer rumah sakit.1 Konsep Penetapan Tarif dalam Manajemen Rumah Sakit Tarif adalah nilai suatu jasa pelayanan yang ditetapkan dengan ukuran sejumlah uang berdasarkan pertimbangan bahwa dengan nilai uang tersebut sebuah rumah sakit bersedia memberikan jasa kepada pasien.id/2011/07/badan-layanan-umum-blu-rumah-sakit/LATAR BELAKANG Biaya pelayanan kesehatan akan semakin meningkat terus . sehingga terjadi subsidi pemerintah bagi masyarakat miskin untuk menggunakan pelayanan rumah sakit.id/id/UP-PDF/_working/No. Hal ini mendorong seluruh elemen.undip. Apabila tarif mempunyai tingkat pemulihan biaya rendah diberlakukan pada kelas pelayanan bawah (misal kelas III) maka hal tersebut merupakan sesuatu yang layak. Tarif rumah sakit merupakan aspek yang sangat diperhatikan oleh rumah sakit swasta juga oleh rumah sakit milik pemerintah. Akan tetapi disadari bahwa tarif pemerintah umumnya mempunyai cost-recovery (pemulihan biaya) yang rendah. Analisis biaya melalui perhitungan biaya per unit ini (unit cost) dapat dipergunakan rumah sakit sebagai dasar pengukuran kinerja.lrckmpk. Akan tetapi. 146 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi BAB X KONSEP PENETAPAN TARIF DAN INVESTASI 10. . Adanya kebijakan swadana telah memberikan wewenang penetapan tarif pada direktur rumah sakit.ugm. alat negosiasi pembiayaan kepada stakeholder terkait dan dapat pula dijadikan acuan dalam mengusulkan tarif pelayanan rumah sakit yang baru dan terjangkau masyarakat. harga relatif murah dan bermanfaat.4__Hartati_10_07_WPS. maka Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) Wilayah B ali bekerja sama dengan SMARTPlus Management Training & Consulting. Jasa pelayanan yang diberikan harus bermutu lebih baik. penanganan pasien lebih cepat.

jelas bahwa subsidi pemerintah tidak dilakukan Bagian III 147 .Dalam ekonomi mikro. Pada sistem ekonomi yang berbasis pada keseimbangan pasar. sudah dikenal suatu titik keseimbangan yaitu harga berada pada equilibrium berdasarkan demand dan supply (Lihat Bab II).

menarik untuk diperhatikan bahwa tarif rumah sakit keagamaan ternyata lebih tinggi dibandingkan tarif rumah sakit pemerintah. Keadaan ini terutama terdapat pada rumah sakit pemerintah yang semakin lama semakin berkurang subsidinya. Akibatnya. sehingga subsidi perlu diberikan karena keadaan ini sangat penting pada proses penetapan tarif rumah sakit pemerintah. Oleh karena itu. tarif dapat ditetapkan dengan berbagai tujuan sebagai berikut. muncul pendapat yang menyatakan bahwa kebijakan swadana berkaitan dengan naiknya tarif rumah sakit. Dengan latar belakang kepemilikan tersebut. 148 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi . Pada masa lalu kebijakan swadana rumah sakit pemerintah pusat ditetapkan berdasarkan pemulihan biaya ( costrecovery. Akan tetapi.) Oleh karena itu. Penetapan Tarif untuk Pemulihan Biaya Tarif dapat ditetapkan untuk meningkatkan pemulihan biaya rumah sakit. Hal ini disebabkan oleh rumah sakit keagamaan sudah tidak mendapat subsidi dari pemerintah ataupun dari masyarakat baik melalui gereja ataupun dana-dana kemanusiaan lain.2 Tujuan Penetapan Tarif Sebagaimana disebutkan dalam Bab I. tarif dibiarkan sesuai dengan permintaan pasar. hal ini dapat menyebabkan terjadinya ketidakadilan yaitu masyarakat miskin sulit mendapatkan pelayanan rumah sakit. Dalam kaitan dengan misi sosial. terdapat penggolongan rumah sakit berdasarkan pemiliknya yaitu penanganan penetapan tarif dan tujuan penetapan tersebut dipengaruhi oleh pemiliknya.atau terbatas pada masyarakat miskin. 10. maka rumah sakit keagam saat ini bukan aan tempat berobat untuk orang miskin. penetapan tarif dapat menunjukkan misinya. Di pandang dari aspek masyarakat sebagai pengguna.

Oleh karena itu. pemerintah atau pemilik rumah sakit ini mempunyai kebijakan penetapan tarif serendah mung-kin. Apabila rumah sakit memaksakan melakukan subsidi silang dari tarif±tarif yang ada dikhawatirkan akan terjadi penurunan mutu pelayanan dalam jangka panjang dibandingkan dengan rumah sakit yang tidak mempunyai tujuan untuk subsidi silang. rumah sakit juga diharapkan melakukan kebijakan penetapan tarif yang berbeda pada bagian-bagiannya. Bagian III 149 . Sebagai contoh IRD mempunyai potensi sebagai bagian yang mendatangkan kerugian. patut diperhatikan bahwa akses tinggi belum berarti menjamin mutu pelayanan yang baik. perlu disubsidi oleh bagian lain yang mempunyai potensi mendatangkan keuntungan. Oleh karena itu. Tujuan Penetapan Tarif untuk Meningkatkan Akses Pelayanan Ada suatu keadaan rumah sakit mempunyai misi untuk mela-yani masyarakat miskin. Berbagai pene litian menunjukkan bahwa mutu pelayanan rumah sakit pemerintah rendah akibat subsidi pemerintah terbatas dan tarif rumah sakit rendah dengan sistem manajemen yang birokratis. Akan tetapi. Diharapkan dengan tarif yang rendah maka akses orang miskin menjadi lebih baik.Penetapan Tarif untuk Subsidi Silang Dalam manajemen rumah sakit diharapkan ada kebijakan agar masyarakat ekonomi ku dapat ikut at meringankan pembiayaan pelayanan rumah sakit bagi masyarakat ekonomi lemah. Kebijakan subsidi silang ini secara praktis sulit dilakukan karena terjadi tarif rumah sakit yang melakukan subsidi silang jauh berada di atas tarif pesaingnya. Selain subsidi silang berbasis pada ekonomi. misalnya instalasi farmasi. Dengan konsep subsidi silang ini maka tarif bangsal VIP atau kelas I harus berada di atas unit cost agar surplusnya dapat dipakai untuk mengatasi kerugian di bangsal kelas III. Kegagalan pemerintah memberikan subsidi cukup bagi biaya operasional dan pemeliharaan rumah sakit yang mempunyai tarif rendah menyebabkan mutu pelayanan rumah sakit semakin rendah secara berkesinambungan.

Tanpa kehadiran pesaing dalam suasana pasar dengan demand tinggi. Sebagai contoh. mengurangi pemakaian. Dengan cara ini maka fungsi rujukan dapat ditingkatkan sehingga masyarakat hanya menggunakan rumah sakit apabila perlu saja. tarif periksa umum pada rumah sakit pemerintah ditetapkan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pelayanan serupa di Puskesmas. memaksimalkan pendapatan. meminimalkan penggunaan. Penetapan tarif untuk memperbesar keuntungan dapat dilakukan pada pasar rumah sakit yang cenderung dikuasai satu rumah sakit (monopoli). Sebagai contoh. Penetapan Tarif untuk Tujuan Lain Beberapa tujuan lainnya. penetapan tarif dapat dilakukan dengan tujuan memaksimalisasikan pendapatan. bangsal VIP dibangun untuk mengurangi waktu spesialis di rumah sakit swasta. Penetapan tarif dengan tujuan menciptakan Corporate Image adalah penetapan tarif yang ditetapkan dengan tujuan meningkatkan citra sebagai rumah sakit golongan masyarakat kelas atas. misalnya mengurangi pesaing. tarif dapat ditetapkan secara tinggi. rumah sakit yang sudah terlebih dahulu beroperasi mempunyai strategi agar tarifnya tidak sama dengan rumah sakit baru. berbagai rumah sakit di Jakarta mene-150 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi . Terlalu lamanya waktu yang dipergunakan dokter spesialis pemerintah bekerja di rumah sakit swasta dapat mengurangi mutu pelayanan. maka tarif dapat dipasang pada tingkat yang setinggi-tingginya. Dengan cara ini. Penetapan tarif untuk mengurangi pesaing dapat dilakukan untuk mencegah adanya rumah sakit baru yang akan menjadi pesaing. sehingga dapat meningkatkan surplus secara maksimal. Oleh karena itu. kebijakan pene-tapan tarif pada bangsal VIP dilakukan berdasarkan pertimbangan untuk peningkatan mutu pelayanan dan peningkatan kepuasan kerja dokter spesialis. Sebagai contoh.Tujuan Penetapan Tarif untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan Di berbagai rumah sakit pemerintah daerah. Ada hal yang menarik tentang penetapan tarif yang bertujuan minimalisasi penggunaan pelayanan. mencip-takan corporate image.

maupun persaingan sempurna. target rate of return pricing.tapkan tarif bangsal super VIP dengan nilai yang sangat tinggi. Teknik-teknik tersebut antara lain: full-cost pricing. oligopoli. Full-Cost Pricing Cara ini merupakan cara yang paling sederhana secara teoritis. Pada bagian ini akan dibahas mengenai perbedaan penetapan tarif rumah sakit swasta dengan rumah sakit pemerintah. Timbul kesan seolah-olah berlomba untuk mendapatkan citra rumah sakit paling mewah. kontrak dan cost-plus. maka proses penetapan tarif dapat berbeda pula. Rumah sakit swasta dapat berupa rumah sakit for-profit ataupun non-profit. keadaannya lebih parah karena informasi mengenai unit cost misalnya. acceptance pricing. 10. Misi dan tujuan rumah sakit swasta dan pemerintah tentu dapat berbeda. Penetapan Tarif Rumah Sakit dengan Menggunakan Pendekatan Perusahaan Pada perusahaan penetapan tarif mungkin menjadi keputusan yang sulit dilakukan karena informasi mengenai biaya produksi mungkin tidak tersedia. Di sektor rumah sakit. Teknik-teknik penetapan tarif pada perusahaan sebagian besar berlandaskan informasi biaya produksi dan keadaan pasar. Dengan perbedaan tersebut. Dasar cara Bagian III 151 . baik monopoli. perorangan ataupun pemerintah. tetapi membutuhkan informasi mengenai biaya produksi.3 Proses Penetapan Tarif Pemilik rumah sakit dapat berupa lembaga swasta. masih sangat jarang.

maka asumsinya tidak ada pesaing ataupun demand-nya sangat tinggi. tarif ditentukan oleh direksi harus mempunyai 10% keun-tungan. Kontrak dan Cost-Plus Tarif rumah sakit dapat ditetapkan berdasarkan kontrak misal-nya kepada perusahaan asuransi. Dengan asumsi ini maka pembeli seakan-akan dipaksa menerima jalur produksi yang menimbulkan biaya walaupun mungkin tidak efisien. membutuhkan penghitungan biaya yang rumit dan tepat.00 agar memberi keuntungan 10%. Dengan demikian. Target Rate of Return Pricing Cara ini merupakan modifikasi dari metode full-cost di atas. jelas bahwa analisis biaya (lihat bagian terdahulu) merupakan hal mutlak yang harus dilakukan.00. Walaupun cara ini masih dikritik karena berbasis pada unit cost. apabila biaya produksi suatu pemeriksaan darah Rp5. masalah efisiensi menjadi hal yang penting untuk dipertimbangkan. sering mengabaikan faktor demand. Sebagai gambaran untuk mengembangkan sistem akuntasi yang baik. atau justru malah rugi atau memberikan subsidi. Misalnya. Tarif kontrak ini dapat memaksa rumah sakit menyesuaikan tarifnya sesuai dengan kontrak yang ditawarkan perusahaan asuransi kesehatan. Dengan demikian. Dengan demikian teknik ini mengabaikan faktor kompetisi.000. Dalam kontrak tersebut penghitungan tarif juga berbasis pada biaya dengan tambahan surplus sebagai keuntungan bagi rumah sakit.500. dibutuhkan modal yang besar. Kedua. saat ini perhitungan tarif kontrak dengan asuransi kesehatan masih sering menimbulkan perdebatan : apakah rumah sakit mendapat surplus dari kontrak. Akan tetapi. Dengan berbasis pada unit cost. maka tarifnya harus sebesar Rp5. Teknik penetapan tarif ini dikritik karena pertama. ataupun konsumen yang tergabung dalam satu organisasi. tetapi faktor demand dan pesaing telah 152 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi . Dengan cara ini.ini dilakukan dengan menetapkan tarif sesuai dengan unit cost ditambah dengan keuntungan.

biaya yang menyesuaikan dengan tarif. rumah sakit harus dapat memperkirakan besar pemasukan yang benar.diperhitungkan. Pada situasi ini. Dalam metode ini. dan ketiga. Acceptance Pricing Teknik ini digunakan apabila pada pasar terdapat satu rumah sakit yang dianggap sebagai panutan (pemimpin) harga. Mengapa butuh pemimpin dalam menetapkan harga? Keadaan ini dapat tim karena bul rumah-rumah sakit sakit enggan terjadi perang tarif dan mereka enggan saling merugikan. Dengan melihat berbagai macam teknik penetapan tarif di perusahaan swasta. Rumah sakit yang lain mengikutinya. rumah sakit harus dapat menetapkan tarif sendiri tanpa harus menunggu persetujuan pihak lain. Jadi hal ini bukan semacam kartel. Walaupun mungkin tidak ada komunikasi formal. Penetapan Tarif dengan Melihat Pesaing Struktur pasar rumah sakit saat ini menjadi semakin kompetitif. dan (2) penetapan tarif di bawah pesaing. rumah sakit harus mempunyai pandangan jangka panjang terhadap kegiatannya. Rumah sakit lain akan mengikuti pola pentarifan yang digunakan oleh rumah sakit tersebut. seharusnya telah diproyeksikan demand dan pesaingnya sehingga direksi berani menetapkan target tertentu. Para pengikutnya harus mengevaluasi apakah akan mengikutinya atau tidak. Hubungan antarrumah sakit dalam menetapkan tarif dapat menjadi "saling mengintip". beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain. pertama. Terdapat dua tipe metode ini yaitu: (1) penetapan tarif di atas pesaing. tetapi ada saling pengertian antarrumah sakit. Dalam teknik ini dibutuhkan beberapa kondisi antara lain. kedua. Bagian III 153 . Penetapan tarif benar-benar dilakukan berbasis pada analisis pesaing dan demand. dapat muncul rumah sakit yang menjadi pemimpin harga. Masalah akan timbul apabila pemimpin harga ini merubah tarifnya. Pada saat melakukan investasi.

Keadaan ini menyebabkan keputusan-keputusan manajemen rumah sakit pemerintah seringkali menjadi lamban karena harus menunggu persetujuan pihak-pihak berwenang.tujuan penetapan tarif harus diyakini secara jelas. pusat atau daerah. dan tarif harus ditetapkan dengan berbasis pada tujuan. struktur pasar dan demand harus dianalisis. informasi kualitatif perlu dicari untuk membantu penetapan tarif. Untuk itu. pemerintah masih mempunyai kewajiban mengatur tarif. rumah sakit pemerintah terutama rumah 154 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi . Dengan disubsidinya investasi dan biaya-biaya penelitian pengembangan. Besar dalam segi ukuran juga sering disertai dengan kepemimpinan dalam teknologi kedokteran. pemerintah merasa perlu menegaskan bahwa berbagai komponen biaya pe nyelenggaraan rumah sakit tetap disubsidi. misalnya di Jakarta dan Surabaya. dan penelitian pengembangan. Dengan latar belakang ini. Kedua: rumah sakit pemerintah cenderung lebih besar dibanding dengan swasta. rumah sakit pemerintah mendapat pengaruh langsung dari peraturan-peraturan atau norma-norma pemerintah. dan bertanggung jawab pula kepada Dewan Perwakilan Rakyat. investasi. Pertama: rumah sakit pemerintah merupakan milik masyarakat sehingga direksi rumah sakit harus bertanggung jawab kepada pemimpin politik daerah atau nasional. Penetapan Tarif pada Organisasi Pemerintah Pada berbagai sektor termasuk kesehatan. Kewajiban ini ditujukan untuk menjamin terjadinya pemerataan pelayanan rumah sakit. maka rumah sakit pemerintah berbeda dengan swasta dalam beberapa hal. Dengan demikian. antara lain gaji. Contoh klasik yaitu penetapan tarif rumah sakit daerah yang harus membutuhkan persetujuan bupati dan DPRD. rumah sakit terbesar adalah milik pemerintah pusat dan daerah. jika dipandang dari sudut ekonomi manajerial. pemasaran. dan unit-unit pelaksana fungsional. pendapatan total dan biaya total harus dievaluasi dalam berbagai tingkat harga dengan asumsi-asumsi yang perlu dan penetapan tarif harus melibatkan partisipasi dari bagian akuntansi.

Pengalaman kasus kenaikan tarif pada rumah sakit pemerintah menunjukkan hal tersebut. Isu Sosial dan Amanat Rakyat dalam Penetapan Tarif Satu hal penting yang harus diperhatikan dalam penetapan tarif rumah sakit pemerintah berkaitan dengan amanat rakyat yaitu pelayanan rumah sakit secara tradisional sebagai pelayananan sosial pemerintah yang harus disubsidi sehingga perlu berhati-hati dalam menaikkan tarif. biaya investasi tidak diperhitungkan dalam pentarifan sehingga dapat lebih murah dibanding swasta. maka proses penetapan tarif dalam rumah sakit pemerintah harus memperhatikan berbagai isu yaitu isu sosial dan amanat rakyat. isu ekonomi. Berbasis perbedaaan dengan rumah sakit swasta. rumah sakit pemerintah menghadapi problem dalam Bagian III 155 . Apabila kenaikan tarif dirasakan terlalu tinggi bagi masyarakat. dalam proses pentarifan sering kali biaya sumber daya manusia tidak diperhitungkan. Dengan demikian. dan isu politik. akan tidak disertai dengan produktivitas yang tinggi. bagaimana isu melayani kaum dhuafa bagi rumah sakit Islam atau menjalankan pelayanan berdasarkan Kasih bagi orang miskin pada rumah sakit Katolik. Sebenarnya rumah sakit keagamaan atau sosial yang tidak mencari keuntungan juga menghadapi berbagai isu yang serupa misalnya. dengan segera akan terjadi gelombang protes. Ketiga: rumah sakit pemerintah cenderung mempunyai over-head cost yang tinggi. Hal ini terutama karena biaya gaji yang tinggi akibat besarnya jumlah pegawai tetap.sakit pendidikan mempunyai peluang untuk memonopoli segmen pelayanan tertentu tanpa mempertimbangkan biaya investasi. Akibatnya. Keadaan inilah yang menyebabkan perubahan tarif rumah sakit pemerintah harus mendapat persetujuan wakil wakil rakyat. Isu-Isu Ekonomi Sebagaimana suatu industri yang mempunyai struktur fixed cost yang tinggi.

Akibatnya terjadi berbagai isu ekonomi yang berkaitan dengan tarif rumah sakit pemerintah.investasi dan pengembangan program. mutu pelayanan akan semakin turun. Dengan kebijakan ini. ada tarik-menarik antara sentralisasi dan desentralisasi perencanaan. Pada keadaan yang sangat sentralisasi. Fenomena menarik yaitu rumah sakit yang tidak mampu mengembangkan diri. Jika suatu rumah sakit secara ekonomis tidak menarik stafnya. Pada prinsipnya tarif yang ada. Penetapan tarif adalah bentuk kewenangan pemerintah. Berbagai hal di atas menunjukkan bahwa penetapan tarif rumah sakit pemerintah memang lebih kompleks daripada rumah sakit swasta. Problem ini terjadi apabila daya subsidi pemerintah berkurang. dalam perubahan rumah sakit menjadi lembaga sosial-ekonomi dengan prinsip-prinsip swadana. tarif ditetapkan rendah dan sebaliknya jika daerahnya kuat. pemerintah pusat akan mengatur tarif sesuai dengan kekuatan daerah. Akan tetapi. Kebu-tuhan untuk berkembang ini semakin tinggi karena persaingan antar rumah sakit semakin besar. semakin berusaha akan semakin terpuruk. pemerintah pusat ingin melakukan perencanaan ketat yang menunjukkan kewenangan. penghitungan tarif sudah mendekati 156 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi . penetapan tarif model perusahaan harus diperhatikan oleh rumah sakit pemerintah. Akan tetapi. Menarik bahwa untuk beberapa produk. kemampuan pemerintah kurang. secara tidak langsung pemerintah menerapkan subsidi silang antardaerah. Hal ini berakibat menurunnya jumlah pasien atau melayani pasien yang terbatas kemampuan membayar dan tuntutannya. Sumber anggaran pemerintah pusat berdasarkan asas keadilan akan lebih banyak diberikan ke daerah daerah yang lemah secara ekonomi. Misi rumah sakit pemerintah menuntut agar amanat rakyat dalam pelayanan rumah sakit dipenuhi. Dengan kewenangan ini. ibarat seseorang yang masuk lumpur pasir. cost-recovery-nya tidak memungkinkan rumah sakit pemerintah untuk berkembang. Bagi provinsi yang lemah secara ekonomi. Isu Politik Sebagaimana galibnya suatu pemerintahan.

245 3. dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi -tingginya. e. Tabel 10. 2. .000 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. perlu . Tabel di bawah menunjukkan contoh tarif dari suatu rumah sakit pemerintah dan penghitungan unit-cost-nya. bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang -Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang harus diwujudkan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.000 Kelas III Kelas II Kelas I VIP Unit Cost Tarif 1. Menimbang : a.unit-cost. bahwa Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan. bahwa . bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. perlu mengatur Rumah Sakit dengan Undang -Undang.800 1. huruf c. kemajuan teknologi. d. c.000 (3B) 10. -2e.1 Contoh perhitungan tarif dan Unit Cost bangsal Kegiatan/Bangsal IRJ 2.000 40.000 25. bahwa pengaturan mengenai rumah sakit belum cukup memadai untuk dijadikan landasan hukum dalam penyelenggaraan rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan bagi masya rakat.000 27. . b. huruf b.960 14.890 39.000 3. dan huruf d serta untuk memberikan kepastian hukum bagi masyarakat dan Rumah Sakit.000 (3A). bahwa dalam rangka peningkatan mutu dan jangkauan pelayanan Rumah Sakit serta pengaturan hak dan kewajiban masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan.

atau Walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Pelayanan . . Pemerintah Daerah adalah Gubernur. keadilan. 7. etika dan profesionalitas. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyed iakan pelayanan rawat inap. . Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan. Pelayanan Kesehatan Paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif. Bupati. rawat jalan. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. manfaat. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan. 4. dan rehabilitatif. Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan. Mengingat : Pasal 5 ayat (1). preventif. persamaan hak dan . MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG RUMAH SAKIT. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah. Pasal 28H ayat (1). dan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2. kuratif.membentuk Undang-Undang tentang Rumah Sakit. adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 5. Pasal 20. baik secara langsung maupun tidak langsung di Rumah Sakit. 3. Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut. 6. -33. dan gawat darurat.

c. -5b. perlindungan dan keselamatan pasien. meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit. -4Pasal 3 Pengaturan penyelenggaraan Rumah Sakit bertujuan: a. dan d. pemeliharaan . penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan sta ndar pelayanan rumah sakit. masyarakat. b. penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan. memberikan kepastian hukum kepada pasien. . BAB III TUGAS DAN FUNGSI Pasal 4 Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. . penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu peng etahuan bidang kesehatan. . memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien. Rumah Sakit mempunyai fungsi : a. . menyediakan Rumah Sakit berdasarkan kebutuhan masyarakat. lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit. pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis. dan d. Pasal 3 . c.anti diskriminasi. pemerataan. . serta mempunyai fungsi sosia l. b. dan Rumah Sakit. sumber daya manusia rumah sakit. masyarakat. Pasal 5 Untuk menjalankan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. BAB IV TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH DAN PEMERINTAH DAERAH Pasal 6 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab untuk : a. mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

menggerakkan peran serta masyarakat dalam pendirian Rumah Sakit sesuai dengan jenis pelayanan yang dibutuhkan masyarakat. -7(3) Rumah Sakit yang didirikan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus berbentuk Unit Pelaksana Teknis dari Instansi yang bertugas di bidang kesehatan. f. bangunan. menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. prasarana. sumber daya manusia. h. i. Pemerintah Daerah. menyediakan informasi kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat. menjamin pembiayaan pelayanan kegawatdaruratan di Rumah Sakit akibat bencana dan kejadian luar biasa . (2) Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan BAB V PERSYARATAN Bagian Kesatu Umum Pasal 7 (1) Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi. memberikan perlindungan kepada masyarakat pengguna jasa pelayanan Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. -6e. dan j. . g. d. (4) Rumah Sakit yang didirikan oleh swasta sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) harus . c. e. atau orang tidak mampu sesuai ketentuan peraturan perundangundangan. (2) Rumah Sakit dapat didirikan oleh Pemerintah. kefarmasian. Instansi tertentu. memberikan . memberikan perlindungan kepada Rumah Sakit agar dapat memberikan pelayanan kesehatan secara profesional dan bertanggung jawab. mengatur pendistribusian dan penyebaran alat kesehatan berteknologi tinggi dan bernilai tinggi. . dan peralatan. membina dan mengawasi penyelenggaraan Rumah Sakit. (3) Rumah Sakit .b. atau Lembaga Teknis Daerah dengan pengelolaan Badan Layanan Umum atau Badan Layanan Umum Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. . . menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit bagi fakir miskin. ata u swasta.

persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung pada umumnya. (3) Ketentuan . serta demografi. (2) Ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyangkut Upaya Pemantauan Lingkungan. Upaya Pengelolaan Lingkungan dan/atau dengan An alisis Mengenai Dampak Lingkungan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang -undangan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. dan orang usia lanjut. Bagian Kedua Lokasi Pasal 8 (1) Persyaratan lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus memenuhi ketentuan mengenai kesehatan. kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian pelayanan serta perlindungan dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat. . Bagian Ketiga Bangunan Pasal 9 Persyaratan bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus memenuhi : a. .berbentuk badan hukum yang kegiatan usahanya hanya bergerak di bidang perumahsakitan. sesuai dengan fungsi. Pasal 10 . (4) Hasil kajian kebutuhan penyelenggaraan Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didasarkan pada studi kelayakan dengan menggunakan prinsip pemerataan pelayanan. efisiensi dan efektivitas. persyaratan teknis bangunan Rumah Sakit. . . -8(3) Ketentuan mengenai tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota. anak-anak. dan tata ruang. -9Pasal 10 (1) Bangunan Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 harus dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang . serta sesuai dengan hasil kajian kebutuhan dan kelayakan penyelenggaraan Rumah Sakit. Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan dan/atau Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan. dan b. keselamatan lingkungan.

(2) Bangunan rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri atas ruang: a. ruang tunggu. j. instalasi tata udara. d. c. Bagian Keempat Prasarana Pasal 11 (1) Prasarana Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) dapat meliputi: a. ruang tenaga kesehatan. ruang rawat inap. . instalasi uap. ruang mekanik. h. b. (3) Ketentuan . ruang radiologi. instalasi pengelolaan limbah. (2) Prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) . e. ruang laboratorium. p. petunjuk. serta penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. pelataran parkir yang mencukupi. r. g. taman. m. ruang ibadah. kamar jenazah. pencegahan dan penanggulangan kebakaran. q. i. ruang gawat darurat. h. ambulan. e. ruang operasi. instalasi mekanikal dan elektrikal. dan u. laundry. c. d. standar dan sarana evakuasi saat terjadi keadaan darurat. rawat jalan. o. l. i. ruang menyusui. g. ruang penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit. dan j. ruang kantor dan administrasi. f. . n. k. t. pengolahan sampah. f. b. ruang sterilisasi. pendidikan dan pelatihan.10 (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis bangunan Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. sistem informasi dan komunikasi. ruang pendidikan dan latihan. s.paripurna. ruang farmasi. instalasi gas medik. ruang dapur. . instalasi air.

Pasal 13 . . . . . tenaga kefarmasian. (2) Tenaga kesehatan tertentu yang bekerja di Rumah Sakit wajib memiliki izin sesuai den gan ketentuan peraturan perundang -undangan.harus memenuhi standar pelayanan. . (5) Pengoperasian dan pemeliharaan prasarana Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didokumentasi dan dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan. dan tenaga nonkesehatan. (3) Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit harus bekerja sesuai dengan standar profesi. (4) Pengoperasian . keamanan. . tenaga manajemen Rumah Sakit.12 Pasal 13 (1) Tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran di Rumah Sakit wajib memiliki Surat Izin Praktik sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (3) Rumah Sakit harus memiliki dat a ketenagaan yang melakukan praktik atau pekerjaan dalam penyelenggaraan Rumah Sakit. . Bagian Kelima Sumber Daya Manusia Pasal 12 (1) Persyaratan sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) yaitu Rumah Sakit harus memiliki tenaga tetap yang meliputi tenaga medis dan penunjang medis. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai prasarana Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.11 (4) Pengoperasian dan pemeliharaan prasarana Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai kompetensi di bidangnya. (2) Jumlah dan jenis sumber daya manusia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus sesuai dengan jenis dan klasifikasi Rumah Sakit. (4) Rumah Sakit dapat mempekerjakan tenaga tidak tetap dan konsultan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan. serta keselamatan dan kesehatan kerja penyelenggaraan Rumah Sakit (3) Prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dalam keadaan terpe lihara dan berfungsi dengan baik. tena ga keperawatan.

dan bahan habis pakai di Rumah Sakit harus dilakukan oleh Instalasi farmasi sistem satu pintu. (3) Pendayagunaan tenaga kesehatan asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan bagi tenaga kesehatan asing yang telah memiliki Surat Tanda Registrasi dan Surat Ijin Praktik (4) Ketentuan . sediaan farmasi. (2) Pelayanan sediaan farmasi di Rumah Sakit harus mengikuti standar pelayanan kefarmasian. bermanfaat.13 (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendayagunaan tenaga kesehatan asing pada ayat (1) ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. . Pasal 14 (1) Rumah Sakit dapat mempekerjakan t enaga kesehatan asing sesuai dengan kebutuhan pelayanan. standar prosedur operasional yang berlaku. . (3) Pengelolaan alat kesehatan. aman dan terjangkau.standar pelayanan Rumah Sakit. (4) Ketentuan mengenai tenaga medis dan tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. . (2) Pendayagunaan tenaga kesehatan asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan alih teknologi dan ilmu pengetahuan serta ketersediaan tenaga kesehatan setempat. menghormati hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasien. Bagian Ketujuh Peralatan Pasal 16 (1) Persyaratan peralatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) meliputi peralatan medis dan nonmedis harus memenuhi standar pelayanan. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar pelay anan kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Bagian Keenam Kefarmasian Pasal 15 (1) Persyaratan kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus menjamin ketersediaan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang bermutu. (4) Besaran harga perbekalan farmasi pada instalasi farmasi Rumah Sakit harus wajar dan berpatokan kepada harga patokan yang ditetapkan Pemerintah. etika profesi. .

. golongan umur. dan manfaat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. BAB IV .14 (2) Peralatan medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan dan/atau institusi pengujian fasilitas kesehatan yang berwenang.15 BAB VI JENIS DAN KLASIFIKASI Bagian Kesatu Jenis Pasal 18 Rumah Sakit dapat dibagi berdasarkan jenis pelayanan dan pengelolaannya. . (2) Peralatan . organ. Pasal 14. mutu. jenis penyakit. (6) Pemeliharaan peralatan harus didokumentasi dan dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan (7) Ketentuan mengenai pengujian dan/atau kalibrasi peralatan medis. . Pasal 10. (3) Rumah Sakit Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu. Pasal 17 Rumah Sakit yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Pasal 9. Pasal 19 (1) Berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan. Pasal 15. dicabut atau tidak diperpanjang izin operasional Rumah Sakit. keamanan. . Pasal 11. . . standar yang berkaitan dengan keamanan. (4) Penggunaan peralatan medis dan nonmedis di Rumah Sakit harus dilakukan sesuai dengan indikasi medis pasien. Pasal 12. Rumah Sakit dikategorikan dalam Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus.persyaratan mutu. Pasal 8. (3) Peralatan yang menggunakan sinar pengion harus memenuhi ketentuan dan harus diawasi oleh lembaga yang berwenang. dan Pasal 16 tidak diberikan izin mendirikan. . keselamatan dan laik pakai.. Pasal 13. (5) Pengoperasian dan pemeliharaan peralatan Rumah Sakit harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai kompetensi di bidangnya. (2) Rumah Sakit Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit.

atau kekhususan lainnya. .16 (3) Rumah Sakit publik yang dikelola Pemerintah dan Pemerintah Daerah diselenggarakan berdasarkan pengelolaan Badan Layanan Umum atau Badan Layanan Umum Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. dan pendidikan tenaga kesehatan lainnya. Pemerintah Daerah.17 (2) Dalam penyelenggaraan Rumah Sakit Pend idikan dapat dibentuk Jejaring Rumah Sakit Pendidikan. pendidikan kedokteran berkelanjutan. Pasal 22 (1) Rumah Sakit dapat ditetapkan menjadi Rumah Sakit pendidikan setelah memenuhi persyaratan dan standar rumah sakit pendidikan. . (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai Rumah Sakit pendidikan diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 23 (1) Rumah Sakit pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 merupakan Rumah Sakit yang menyelenggarakan pendidikan dan penelitian secara terpadu dalam bidang pendidikan profesi kedokteran. Bagian Kedua Klasifikasi Pasal 24 (1) Dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara berjenjang dan fungsi rujukan. (4) Rumah Sakit publik yang dikelola Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat dialihkan menjadi Rumah Sakit privat. (2) Dalam . (2) Rumah Sakit pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri setelah berkoordinasi dengan Menteri yang membidangi urusan pendidikan. . . dan badan hukum yang bersifat nirlaba. (3) Rumah sakit . (2) Rumah Sakit publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikelola oleh Pemerintah. . . rumah sakit . Pasal 21 Rumah Sakit privat sebagaimana dima ksud dalam Pasal 20 ayat (1) dikelola oleh badan hukum dengan tujuan profit yang berbentuk Perseroan Terbatas atau Persero. Pasal 20 (1) Berdasarkan pengelolaannya Rumah Sakit dapat dibagi menjadi Rumah Sakit publik dan Rumah Sakit privat.

(2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari izin mendirikan dan izin operasional. c. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai klasifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. b. (3) Izin . . Rumah Sakit khusus kelas A. . . (3) Izin mendirikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan untuk jangka waktu 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang untuk 1 (satu) tahun.18 BAB VII PERIZINAN Pasal 25 (1) Setiap penyelenggara Rumah Sakit wajib memiliki izin. Rumah Sakit khusus kelas B.umum dan rumah sakit khusus diklasifikasikan berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan Rumah Sakit. . d. (4) Izin operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang kembali selama memenuhi persyaratan. (2) Klasifikasi Rumah Sakit umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas : a. Pasal 26 (1) Izin Rumah Sakit kelas A dan Rumah Sakit penanaman modal asing atau penanaman modal dalam negeri diberikan oleh Menteri setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Provinsi. . Rumah Sakit umum kelas A. Rumah Sakit umum kelas C. BAB VII . (5) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan setelah memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. b. Rumah Sakit khusus kelas C. . Rumah Sakit umum kelas D. (3) Klasifikasi Rumah Sakit khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas : a. (2) Izin Rumah Sakit penanaman modal asing atau penanaman modal dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah mendapat rekomendasi dari instansi yang melaksanakan urusan penanaman modal asing atau penanaman modal dalam negeri. Rumah Sakit umum kelas B c.

. menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau miskin. bermutu.20 a. c. f. dan/atau d. d. dan menjaga standar . melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin. atas perintah pengadilan dalam rangka penegakan hukum. memberikan . tidak lagi memenuhi persyaratan dan standar. Pasal 28 Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan diatur dengan Peraturan Menteri. g. sesuai dengan kemampuan pelayanannya. ambulan gratis. membuat. BAB VIII KEWAJIBAN DAN HAK Bagian Kesatu Kewajiban Pasal 29 (1) Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban : a. (4) Izin Rumah Sakit kelas C dan kelas D diberikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. dan ef ektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit. . memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya. habis masa berlakunya.19 (3) Izin Rumah Sakit kelas B diberikan oleh Pemerintah Daerah Provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. b. e. Pasal 27 Izin Rumah Sakit dapat dicabut jika: a. pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa. . c. memberi pelayanan kesehatan yang aman. atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan. terbukti melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan. melaksanakan. pelayanan gawat darurat tanpa uang muka.. b. berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana. memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit kepada masyarakat. antidiskriminasi.

memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagai kawasan tanpa rokok. memberikan informasi yang benar. p. . q. menerima . (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kew ajiban Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana. menghormati dan melindungi hak -hak pasien. atau c. (2) Pelanggaran atas kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi admisnistratif berupa: a. b. k. melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas Rumah Sakit dalam melaksanakan tugas. dan t. sarana untuk orang cacat. parkir. .mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit sebagai acuan dalam melayani pasien. wanita menyusui. . menentukan jumlah. b. jenis. membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya. teguran. menyusun dan melaksanakan peraturan internal Rumah Sakit (hospital by laws). l. melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara regional maupun nasional. menolak keinginan pasien yang bertentangan den gan standar profesi dan etika serta peraturan perundang -undangan. Bagian Kedua Hak Rumah Sakit Pasal 30 (1) Setiap Rumah Sakit mempunyai hak: a. memiliki . dan kualifikasi sumber daya manusia sesuai dengan klasifikasi Rumah Sakit. i. ruang tunggu. melaksanakan sistem rujukan. melaksanakan etika Rumah Sakit. h. o. r. .21 o. lanjut usia. anak-anak. s. m. j.22 - . teguran tertulis. . jelas dan jujur mengenai hak dan kewajiban pasien. menyelenggarakan rekam medis. menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain sarana ibadah. denda dan pencabutan izin Rumah Sakit. n. .

g. menerima imbalan jasa pelayanan serta menentukan remunerasi. .b. . jujur. f. f. memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional. mendapatkan insentif pajak bagi Rumah Sakit publik dan Rumah Sakit yang ditetapkan sebagai Rumah Sakit pendidikan. dan tanpa diskriminasi. c. . Bagian Ketiga Kewajiban Pasien Pasal 31 (1) Setiap pasien mempunyai kewajiban terhadap Rumah Sakit atas pelayanan yang diterimanya. dan penghargaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. d. mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan. e. melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam rangka mengembangkan pelaya nan. .23 (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban pasien diatur dengan Peraturan Menteri. e. adil. memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien. Bagian Keempat Hak Pasien Pasal 32 Setiap pasien mempunyai hak: a. insentif. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai promosi layanan kesehatan sebagaimana dmaksud pada ayat (1) huruf g diatur dengan Peraturan Menteri. (2) Ketentuan . (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai insentif pajak sebagaimana dmaksud pada ayat (1) huruf h diatur dengan Peraturan Pemerintah. c. menerima bantuan dari pihak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. b. memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit. mempromosikan layanan kesehatan yang ada di Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan pelayanan kesehatan. memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi. memperoleh layanan yang manusiawi. menggugat pihak yang mengakibatkan kerugian. dan h. d.

dan akuntabel. h. i.25 BAB IX PENYELENGGARAAN Bagian Kesatu Pengorganisasian Pasal 33 (1) Setiap Rumah Sakit harus memiliki organisasi yang efektif.g. mendapatkan . unsur . dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan. mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis. BAB IX . memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit. memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya. saran. memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit. mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. o. alternatif tindakan. dan r. perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya. . mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya. menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya. k. m. . meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit. . . didampingi keluarganya dalam keadaan kritis. mengajukan usul. menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana. unsur pelayanan medis. (2) Organisasi Rumah Sakit paling sedikit terdiri atas Kepala Rumah Sakit atau Direktur Rumah Sakit. tujuan tindakan medis. q. risiko dan kompli kasi yang mungkin terjadi. p. . n. menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya. efisien. unsur keperawatan. l.24 i. j. .

. (2) Tenaga struktural yang menduduki jabatan sebagai pimpinan harus berkewarganegaraan Indonesia. komite medis. Pasal 39 . Pasal 35 Pedoman organisasi Rumah Sakit ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Pasal 34 (1) Kepala Rumah Sakit harus seorang tenaga medis yang mempunyai kemampuan dan keahlian di bidang perumahsakitan.27 Pasal 39 (1) Dalam penyelenggaraan Rumah Sakit harus dilakukan audit. Bagian Kedua . . (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 38 (1) Setiap Rumah Sakit harus menyimpan rahasia kedokteran. . satuan pemeriksaan internal. (2) Rahasia kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dibuka untuk kepentingan kesehatan pasien. untuk pemenuhan permintaan aparat penegak hukum dalam rangka penegakan hukum. (3) Pemilik Rumah Sakit tidak boleh merangkap menjadi kepala Rumah Sakit.penunjang medis. Pasal 37 (1) Setiap tindakan kedokteran yang dilakukan di Rumah Sakit harus mendapat persetujuan pasien atau keluarganya. . (2) Audit sebagaimana dimaksud pada a yat (1) dapat berupa audit kinerja dan audit medis. (2) Ketentuan mengenai persetujuan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. atas persetujuan pasien sendiri. . . atau berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan. (3) Audit kinerja dan audit medis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan secara internal dan eksternal. . serta administrasi umum dan keuangan.26 Bagian Kedua Pengelolaan Klinik Pasal 36 Setiap Rumah Sakit harus menyelenggarakan tata kelola Rumah Sakit dan tata kelola klinis yang baik.

(4) Audit kinerja eksternal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan oleh tena ga pengawas. (5) Pelaksanaan audit medis berpedoman pada ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri. Bagian Ketiga Akreditasi Pasal 40 (1) Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit wajib dilakukan akreditasi secara berkala menimal 3 (tiga) tahun sekal i. (2) Akreditasi Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suatu lembaga independen baik dari dalam maupun dari luar negeri berdasarkan standar akreditasi yang berlaku. (3) Lembaga independen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. (4) Ketentuan . . . - 28 (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai akreditasi Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Bagian Keempat Jejaring dan Sistem Rujukan Pasal 41 (1) Pemerintah dan asosiasi Rumah Sakit membentuk jejaring dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan. (2) Jejaring sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi informasi, sarana prasarana, pelayanan, rujukan, penyediaan alat, dan pendidikan tenaga. Pasal 42 (1) Sistem rujukan merupakan penyelenggaraan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal, maupun struktural dan fungsional terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau permasalahan kesehata n. (2) Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban merujuk pasien yang memerlukan pelayanan di luar kemampuan pelayanan rumah sakit. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem rujukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Bagian Kelima . . . - 29 Bagian Kelima Keselamatan Pasien Pasal 43 (1) Rumah Sakit wajib menerapkan standar keselamatan pasien.

(2) Standar keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui pelaporan insiden, menganalisa, dan menetapkan pemecahan masalah dalam rangka menurunkan angka kejadian yang tidak diharapkan. (3) Rumah Sakit melaporkan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada komite yang membidangi keselamatan pasien yang ditetapkan oleh Menteri. (4) Pelaporan insiden keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuat secara anonim dan ditujukan untuk mengkoreksi sistem dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Bagian Keenam Perlindungan Hukum Rumah Sakit Pasal 44 (1) Rumah Sakit dapat menolak mengungkapkan segala informasi kepada publik yang berkaitan dengan rahasia kedokteran. (2) Pasien . . . - 30 (2) Pasien dan/atau keluarga yang menuntut Rumah Sakit dan menginformasikannya melalui media massa, dianggap telah melepaskan hak rahasia kedokterannya kepada umum. (3) Penginformasian kepada media massa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memberikan kewenangan kepada Rumah Sakit untuk mengungkapkan rahasia kedokteran pasien sebagai hak jawab Rumah Sakit. Pasal 45 (1) Rumah Sakit tidak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien dan/atau keluarganya menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien setelah adanya penjelasan medis yang komprehensif. (2) Rumah Sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka menyelamatkan nyawa manusia. Bagian Ketujuh Tanggung jawab Hukum Pasal 46 Rumah Sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit.

Bagian Kedelapan . . . - 31 Bagian Kedelapan Bentuk Pasal 47 (1) Rumah Sakit dapat berbentuk Rumah Sakit statis, Rumah Sakit bergerak, dan Rumah Sakit lapangan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan Rumah Sakit bergerak dan Rumah Sakit lapangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. BAB X PEMBIAYAAN Pasal 48 (1) Pembiayaan Rumah Sakit dapat bersumber dari penerimaan Rumah Sakit, anggaran Pemerintah, subsidi Pemerintah, anggaran Pemerintah Daerah, subsidi Pemerintah Daerah atau sumber lain yang tidak mengikat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Ketentuan lebih lanjut meng enai subsidi atau bantuan Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 49 (1) Menteri menetapkan pola tarif nasional. (2) Pola . . . - 32 (2) Pola tarif nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan berdasarkan komponen biaya satuan pembiayaan dan dengan memperhatikan kondisi regional. (3) Gubernur menetapkan pagu tarif maksimal berdasarkan pola tarif nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berlaku untuk rumah sakit di Provinsi yang bersangkutan. (4) Penetapan besaran tarif rumah sakit harus berdasarkan pola tarif nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan pagu tarif maksimal sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 50 (1) Besaran tarif kelas III Rumah Sakit yang dike lola Pemerintah ditetapkan oleh Menteri. (2) Besaran tarif kelas III Rumah Sakit yang dikelola Pemerintah Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. (3) Besaran tarif kelas III Rumah Sakit selain rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Pimpinan Rumah Sakit dengan

(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaim ana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk : a. dan pasien penderita ketergantungan narkotika dan/atau psikotropika dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. keselamatan pasien . c. asosiasi perumahsakitan. BAB XI . . dan organisasi kemasyaratan lainnya sesuai dengan tugas dan fungsi masingmasing. b. . . pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat.34 BAB XII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Bagian Kesatu Umum Pasal 54 (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap Rumah Sakit dengan melibatkan organisasi profesi. (2) Pemusnahan atau penghapusan terhadap berkas pencatatan dan pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. . Pasal 53 (1) Rumah Sakit wajib menyelenggarakan penyimpanan terhadap pencatatan dan pelaporan yang dilakukan untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. Pasal 51 Pendapatan Rumah Sakit publik yang dikelola Pemerintah dan Pemerintah Daerah digunakan seluruhnya secara langsung untuk biaya operasional Rumah Sakit dan tidak dapat dijadikan pendapatan negara atau Pemerintah Daerah. BAB XII . (2) Pencatatan dan pelaporan terhadap penyakit wabah atau penyakit tertentu lainnya yang dapat menimbulkan wabah. . peningkatan mutu pelayanan kesehatan. .33 BAB XI PENCATATAN DAN PELAPORAN Pasal 52 (1) Setiap Rumah Sakit wajib melakukan pencatatan dan pelaporan tentang semua kegiatan penyelenggaraan Rumah Sakit dalam bentuk Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit.memperhatikan besaran tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (2). .

ayat (3). . asosiasi perumahsakitan. teguran. denda dan pencabutan izin. Bagian Kedua Dewan Pengawas Rumah Sakit Pasal 56 (1) Pemilik Rumah Sakit dapat membentuk Dewan Pengawas Rumah Sakit. . Pasal 55 (1) Pembinaan dan pengawa san nonteknis perumahsakitan yang melibatkan unsur masyarakat dapat dilakukan secara internal dan eksternal.35 b. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mengangkat tenaga pengawas sesuai kompetensi dan keahliannya. (3) Pembinaan dan pengaw asan secara eksternal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia. pengembangan jangkauan pelayanan. . (4) Tenaga pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) melaksanakan pengawasan yang bersifat teknis medis dan teknis perumahsakitan. (3) Dalam melaksanakan tugas pengawasan. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). . dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri. peningkatan kemampuan kemandirian Rumah Sakit. (4) Keanggotaan Dewan Pengawas Rumah Sakit berjumlah maksimal 5 (lima) terdiri dari 1 (satu) orang ketua merangkap anggota dan 4 (empat) orang anggota.d. teguran . b. teguran tertulis. dan e. (2) Pembinaan dan pengawasan secara internal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Dewan Pengawas Rumah Sakit. . dan tokoh masyarakat. (3) Keanggotaan .36 (3) Keanggotaan Dewan Pengawas Rumah Sakit terdiri dari unsur pemilik Rumah Sakit. organisasi profesi. . ayat (4). . dan/atau c. (2) Dewan Pengawas Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan suatu unit nonstruktural yang bersifat independen dan bertanggung jawab kepada pemilik Rumah Sakit. (5) Dalam rangka pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat mengambil tindakan administratif berupa: a. ayat (2).

c. dan g. mengawasi kepatuhan penerapan etika Rumah Sakit.37 (2) Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia bertanggung jawab kepada Menteri. menilai dan menyetujui pelaksanaan rencana anggaran. organisasi profesi. (5) Keanggotaan Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia terdiri dari unsur pemerintah. dan peraturan perundangundangan. mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban pasien. (6) Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia dalam melaksanakan tugasnya dibantu sekretariat yang dipimpin oleh seorang sekretaris. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai Dewa n Pengawas Rumah Sakit diatur dengan Peraturan Menteri Bagian Ketiga Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia Pasal 57 (1) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) dan ayat (2) dilakukan oleh Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia yang ditetapkan oleh Menteri. asosiasi perumahsakitan.(5) Dewan Pengawas Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas : a. Pasal 58 Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia bertugas: a. mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban Rumah Sakit. e. menentukan arah kebijakan Rumah Sakit. dan tokoh masyarakat. d. (4) Keanggotaan Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia berjumlah maksimal 5 (lima) orang terdiri dari 1 (satu) orang ketua merangkap anggota dan 4 (empat) orang anggota. . . etika profesi. (2) Badan . . b. (3) Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia merupakan unit nonstruktural di Kementerian yang bertanggung jawab dibidang kesehatan d an dalam menjalankan tugasnya bersifat independen. menyetujui dan mengawasi pelaksanaan rencana strategis. mengawasi pelaksanaan kendali mutu dan kendali biaya. (7) Biaya untuk pelaksanaan tugas-tugas Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia dibebankan kepada anggaran pendapatan dan belanja negara. membuat pedoman tentang pengawasan Rumah Sakit untuk digunakan oleh Badan Pengawas Rumah . f.

Pasal 60 Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) bertugas : a. (2) Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi merupakan unit nonstruktural pada Dinas Kesehatan Provinsi dan dalam menjalankan tugasnya bersifat independen. . melakukan analisis hasil pengawasan dan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Daerah untuk digunakan sebagai bahan pembinaan. . . Melakukan . dan peraturan perundang -undangan. mengawasi penerapan etika Rumah Sakit. membentuk sistem pelaporan dan sistem informasi yang merupakan jejaring dari Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia dan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi. dan f.39 d. (3) Keanggotaan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi terdiri dari unsur pemerintah. b. b. dan c. melakukan pelaporan hasil pengawasan kepada Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia. mengawasi dan menjag a hak dan kewajiban Rumah Sakit di wilayahnya. . menerima pengaduan dan melakukan upaya penyelesaian sengketa dengan cara mediasi. c. melakukan . (4) Keanggotaan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi berjumlah maksimal 5 (lima) terdiri dari 1 (satu) orang ketua merangkap anggota dan 4 (empat) orang anggota. organisasi profesi. . dan tokoh masyarakat. . (5) Biaya untuk pelaksanaan tugas -tugas Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi dibebankan kepada anggaran pendapatan dan belanja daerah. Pasal 61 Ketentuan lebih lanjut mengenai B adan Pengawas . e. d. etika profesi.Sakit Provinsi. asosiasi perumahsakitan. mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban pasien di wilayahnya.38 c. Pasal 59 (1) Badan Pengawas Rumah Sakit dapat dibentuk di tingkat provinsi oleh Gubernur dan bertanggung jawab kepada Gubernur. Melakukan analisis hasil pengawasa n dan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk digunakan sebagai bahan pembinaan.

00 . Pasal 63 (1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 dilakukan oleh korporasi. . semua Rumah Sakit yang sudah ada harus menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku dalam Undang Undang ini.41 Agar setiap orang mengetahuinya.000.40 (2) Selain pidana denda sebagaimana d imaksud pada ayat (1). . paling lambat dalam jangka waktu 2 (dua) tahun setelah Undang -Undang ini diundangkan. Pasal 66 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. . . selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya. (2) Selain . BAB XV KETENTUAN PENUTUP Pasal 65 Pada saat diundangkannya Undang -Undang ini berlaku semua peraturan perundang -undangan yang mengatur Rumah Sakit tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti berdasarka n Undang-Undang ini. Izin penyelenggaraan Rumah Sakit yang telah ada tetap berlaku sampai habis masa berlakunya. . memerintahkan . (2) Pada saat undang -undang ini berlaku.000. pencabutan status badan hukum. pencabutan izin usaha.(lima milyar rupiah). Agar . BAB XIII KETENTUAN PIDANA Pasal 62 Setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan Rumah Sakit tidak memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp. BAB XIV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 64 (1) Pada saat Undang-Undang ini berlaku.Rumah Sakit Indonesia dan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi diatur dengan Peraturan Pemerintah. . korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa: a. 5. dan/atau b. pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62.000.

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober 2009 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. Ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang berkembang sangat pesat yang harus diikuti oleh tenaga kesehatan dalam rangka pemberian . mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejalan dengan amanat Pasal 28 H ayat (1) Undang -Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah ditegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan. kemudian dalam Pasal 34 ayat (3) dinyatakan negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. ttd. Berbagai jenis tenaga kesehat an dengan perangkat keilmuannya masing -masing berinteraksi satu sama lain. Wisnu Setiawan PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT I. Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum harus diwujudkan melalui berbagai upaya kesehatan dalam rangkaian pembangunan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu yang didukung oleh suatu sistem kesehatan nasional. dan keadilan sosial.pengundangan Undang -Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Disahkan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober 2009 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Rumah Sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. UMUM Cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan keseja hteraan umum. PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 153 Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT NEGARA RI Kepala Biro Peraturan Perundang -undangan Bidang Politik dan Kesejahteraan Rakyat. ttd. DR. Penyelenggaran pelayanan kesehatan di Rumah Sakit mempunyai karakteristik dan organisasi yang sangat kompleks. H. perdamaian abadi.

II. -2Pada hakekatnya Rumah Sakit berfungsi sebagai tempat penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dan fungsi dimaksud memiliki makna tanggung jawab yang seyogyanya merupakan tanggung jawab pemerintah dalam meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. Antisipasi dampak globalisasi perlu didukung dengan peraturan perundang -undangan yang memadai. Peraturan perundang -undangan yang dijadikan dasar penyelenggaraan Rumah Sakit saat ini masih pada tingkat Peraturan Menteri yang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan. sehingga perlu didukung dengan ketersediaan pendanaan yang cukup dan berkesinambungan. Yang dimaksud dengan ´nilai persamaan hak dan anti diskriminasi´ adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit tidak boleh membedakan masyarakat baik secara individu maupun kelompok dari semua lapisan. serta mematuhi etika rumah sakit. mengarahkan dan memberikan dasar bagi pengelolaan Rumah Sakit diperlukan suatu perangkat hukum yang mengatur Rumah Sakit secara menyeluruh dalam bentuk Undang -Undang. agama. dan ras. Yang dimaksud dengan ´nilai ma nfaat´ adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya . Dari aspek pembiayaan bahwa Rumah Sakit memerlukan biaya operasional dan investasi yang besar dalam pelaksanaan kegiatannya. . PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas.pelayanan yang bermutu. Pada . -3sebesar-besarnya bagi kemanusiaan dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. . bangsa. Dalam rangka memberikan kepastian dan perlindungan hukum untuk meningkatkan. Yang dimaksud dengan ´nilai keadilan´ ad alah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit mampu memberikan pelayanan yang adil dan merata kepada setiap orang dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat serta pelayanan yang bermutu. . status sosial. Yang dimaksud dengan ´nilai pemerataan´ adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Yang dimaksud dengan ´nilai perlindungan dan keselamatan . . Pasal 2 Yang dimaksud dengan ´nilai kemanusiaan´ adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit dilakukan dengan memberikan perlakuan yang baik dan manusiawi dengan tidak membedakan suku. membuat semakin komple ksnya permasalahan dalam Rumah Sakit. Yang dimaksud dengan ´nilai etika dan profesionalitas´ adalah bahwa penyelenggaraan rumah sakit dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki etika profesi dan sikap profesional.

kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti insiden. identifikasi. yang merupakan ikatan moral dan etik dari rumah sakit dalam membantu pasien khususnya yang kurang/tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan kesehatan Pasal 3 Huruf a Cukup jelas. Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan paripurna tingkat ketiga adalah upaya kesehatan perorangan tingkat lanjut dengan mendayagunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan sub spesialistik. Termasuk di dalamnya asesmen . Huruf b Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan paripurna tingkat kedua adalah upaya kesehatan perorangan tingkat lanjut dengan mendaya gunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan spesialistik. Yang dimaksud dengan ³nilai keselamatan pasien´ adalah bahwa penyelenggaraan rumah sakit selalu mengupayakan peningkatan keselamatan pasien melalui upaya majamenen risiko klinik. dan manajemen risiko terhadap pasien. Huruf d Cukup jelas. dan menerapkan solusi untuk mengurangi serta meminimalisir timbulnya risiko. Pasal 5 Huruf a Cukup jelas. -4asesmen risiko.pasien´ adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan semata. dan memulihkan kesehatan. Huruf b Yang dimaksud dengan keselamatan pasien (patient safety´ adalah proses dalam suatu rumah sakit yang memberikan pelayanan pasien yang lebih aman. Pasal 4 Yang dimaksud dengan Pelayanan kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan. tetapi harus mampu memberikan peningkatan derajat kesehatan dengan tetap memperhatikan perlindungan dan kesela matan pasien. Yang dimaksud dengan ³fungsi sosial rumah sakit´ adalah bagian dari tanggung jawab yang melekat pada setiap rumah sakit. Huruf c Cukup jelas. . pelaporan dan analisis insiden. mencegah dan menyembuhkan penyakit. . Yang dimaksud dengan sumber daya manusia di Rumah Sakit adalah semua tenaga yang bekerja di Ru mah Sakit baik tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan. .

Yang dimaksud dengan Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/ kematian . ketersediaan tempat tidur. Huruf i Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. . -6kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Huruf e Cukup jelas. Pasal 6 Ayat (1) Huruf a Penyediaan Rumah Sakit didasarkan pada perhitungan rasio tempat tidur dan jumlah penduduk . Huruf h Yang dimaksud dengan bencana adalah suatu peristiwa yang terjadi secara mendadak/tidak terencana atau secara perlahan tetapi berlanjut yang menimbulkan dampak terhadap pola kehidupan normal atau kerusakan ekosistem. Huruf g Informasi meliputi jumlah dan jenis pelayanan. Huruf j Yang dimaksud berteknologi tinggi dan bernilai tinggi adalah teknologi masa depan dan teknologi baru yang mempunyai aspek kemanfaatan yang tinggi dalam pelayanan kesehatan. hasil pelayanan. sehingga diperlukan tindakan darurat dan luar biasa un tuk menolong dan menyelamatkan korban yaitu manusia beserta lingkungannya. . -5Huruf d Penapisan teknologi dimaksudkan dalam rangka perlindungan terhadap keamanan dan keselamatan pasien. . serta tarif. . . Huruf d . ketenagaan. Huruf b Cukup jelas.Huruf c Cukup jelas.

Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 9 Huruf a Bangunan Rumah Sakit merupakan wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya. Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan lokasi dan tata ruang adalah jika dalam satu wilayah sudah ada Rumah Sakit. termasuk dalam hal pemekaran wilayah. -7Studi kelayakan Rumah Sakit merupakan suatu kegiatan perencanaan Rumah Sakit secara fisik dan nonfisik aga r Rumah Sakit berfungsi secara optimal pada kurun waktu tertentu. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 8 Ayat (1) Kajian kebutuhan penyelenggaraan Rumah Sakit meliputi kajian terhadap kebutuhan akan pelayanan Rumah Sakit. dana dan tenaga yang dibutuhkan untuk pelayanan yang diberikan. Studi . . maka pendirian Rumah Sakit baru tidak menjadi prioritas. Pasal 11 Ayat (1) . . prasarana. Ayat (4) Kegiatan usaha hanya bergerak di bidang perumahsakitan dimaksudkan untuk melindungi usaha rumah sakit agar terhindar dari risiko akibat kegiatan usaha lain yang dimiliki oleh badan hukum pemilik rumah sakit. kajian terhadap kebutuhan sara na. Huruf b Persyaratan teknis bangunan untuk penyandang cacat. dan kajian terhadap kemampuan pembiayaan. peralatan.Ayat (2) Cukup jelas. sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah yang berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan pelayanan. Pasal 10 Cukup jelas. anakanak dan orang usia lanjut memiliki karakteristik sendiri.

Ayat (2) Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas. . -9Pasal 12 Ayat (1) Yang dimaksud dengan tenaga tetap adalah tenaga yang bekerja secara purna waktu. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf e Pengelolaan limbah di rumah sakit dilaksanakan meliputi pengelolaan limbah padat. Yang dimaksud dengan tenaga nonkesehatan antara lain tenaga administratif. yang diolah secara terpisah. Ayat (6) Cukup jelas. cair. Huruf f Cukup jelas.Huruf a Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf b Termasuk catu daya pengganti atau generator. -8Huruf c Cukup jelas. Pasal 12 . bahan kimia beracun dan sebagian bersifat radioaktif. Huruf d Cukup jelas. bahan gas yang bersifat infeksius. tenaga kebersihan. Ayat (4) Yang dimaksud dengan kemampuan meliputi kemampuan . Huruf j Cukup jelas. dan tenaga keamanan. Huruf g Cukup jelas. Huruf c . Huruf i Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. . . .

mendiagnosa. radiografer. Pasal 14 Cukup jelas. . Ayat (3) Yang dimaksud dengan standar profesi adalah batasan kemampuan (capacity) meliputi pengetahuan (knowledge). mesin. bidan. obat tradisional.10 Yang dimaksud dengan standar pelayanan Rumah Sakit adalah pedoman yang harus diikuti dalam menyelenggarakan Rumah Sakit antara lain Standar Prosedur Operasional. . Ayat (4) Cukup jelas. standar pelayanan medis. Yang dimaksud dengan standar prosedur operasional adalah suatu perangkat instruksi/langkah -langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan proses kerja rutin tertentu. instrumen. Yang . fisioterapis. keterampilan (skill). dan kosmetika. Yang dimaksud dengan alat kesehatan adalah bahan. pera wat gigi. . merawat orang sakit serta memulihkan kesehatan pada manusia dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas. Yang dimaksud dengan etika profesi adalah kode etik yang disusun oleh asosiasi atau ikatan profesi. apoteker. refraksionis optisien. . Yang dimaksud dengan izin adalah izin kerja atau izin praktik bagi tenaga kesehatan tersebut. dan okupasi terapis. dan standar asuhan keperawatan. dan sikap profesional (professional attitude) yang minimal harus dikuasai oleh seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi. Ayat (2) Yang dimaksud dengan tenaga kesehatan tertentu adalah tenaga perawat. serta implan yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan sediaan farmasi adalah obat. terapis wicara. asisten apoteker. aparatus. bahan obat.dana dan pelayanan Rumah Sakit. menyembuhkan dan meringankan penyakit. Standar prosedur operasional memberikan langkah y ang benar dan terbaik berdasarkan konsensus bersama untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan yang dibuat oleh sarana pelayanan kesehatan berdasarkan standar profesi.

11 Ayat (3) Yang dimaksud dengan ³instalasi farmasi´ adalah bagian dari Rumah Sakit yang bertugas menyelenggarakan. Pasal 16 Ayat (1) Yang dimaksud dengan peralatan medis adalah peralatan yang digunakan untuk keperluan diagnosa. Yang dimaksud dengan standar peralatan medis disesuaikan dengan standar yang mengikuti standar industri peralatan medik.12 untuk membandingkan alat yang diukur dengan standar. Ayat (3) Cukup jelas. . . mengatur dan mengawasi seluruh kegiatan pelayanan farmasi serta melaksanakan pembinaan teknis kefarmasian di Rumah Sakit. rehabilitasi dan penelitian medik baik secara langsung maupun tidak langsung. atau untuk menentukan besaran atau kesalahan pengukuran. Ayat (4) Informasi harga obat (perbekalan farmasi) harus transparan atau dicantumkan di dalam buku daftar harga yang dapat diakses oleh pasien. . . dan pendistribusian alat kesehatan. Yang dimaksud dengan peralatan nonmedis adalah peralatan yang digunakan untuk mendukung keperluan tindakan medis. mengkoordinasikan. Ayat (3) . Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (5) . Yang dimaksud dengan kalibrasi adalah kegiatan peneraan untuk menentukan kebenaran nilai penunjukkan alat ukur dan/atau bahan ukur. . Ayat (5) Cukup jelas. terapi. dan bahan habis pakai yang bertujuan untuk mengutamakan kepentingan pasien. Yang dimaksud dengan sistem satu pintu adalah bahwa rumah sakit hanya memiliki satu kebijakan kefarmasian termasuk pembuatan formularium pengadaan. .Ayat (2) Cukup jelas. sediaan farmasi. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pengujian adalah keseluruhan tindakan yang meliputi pemeriksaan fisik dan penguk uran untuk .

.Cukup jelas. . 12 (dua belas) spesialis lain dan 13 (tiga belas) subspesialis. Pasal 18 Cukup jelas. yaitu antara lain Yayasan. Pasal 17 Cukup jelas. . Ayat (2) Dalam ayat ini yang dimaksud dengan badan hukum nirlaba adalah badan hukum ya ng sisa hasil usahanya tidak dibagikan kepada pemilik. Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan Pemerintah adalah Pemerintah Pusat termasuk TNI dan POLRI. Perkumpulan dan Perusahaan Umum. Ayat (6) Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. . . Rumah Sakit . Pasal 20 . . Ayat (2) Rumah Sakit Umum Kelas A adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar.13 Pasal 20 Ayat (1) Cukup jelas. 5 (lima) spesialis penunjang medik. Pasal 22 Cukup jelas. melainkan digunakan untuk peningkatan pelayanan. Ayat (3) Yang dimaksud dengan kekhususan lainnya adalah jenis pelayanan Rumah Sakit sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan bidang kedokteran. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas.

. Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 27 Cukup jelas. . Ayat (4) Cukup jelas. Rumah Sakit Umum Kelas C adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar dan 4 (empat) spesialis penunjang medik.15 Ayat (2) Yang dimaksud dengan izin mendirikan adalah ijin yang diberikan untuk mendirikan rumah sakit setelah memenuhi persyaratan untuk mendirikan. Rumah Sakit Umum Kelas D adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 2 (dua) spesialis dasar. . Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas. Rumah Sakit Khusus kelas C adalah Rumah Sakit Khusus yang mempunyai fasilitas dan kemampuan paling sedikit pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis sesuai kekhususan yang minimal.14 Rumah Sakit Umum Kelas B adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Rumah Sakit Khusus kelas A adalah Rumah Sakit Khusus yang mempunyai fasilitas dan kemampuan paling sedikit pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis sesuai kekhususan yang lengkap. Rumah Sakit Khusus kelas B adalah Rumah Sakit Khusus yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pali ng sedikit pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis sesuai kekhususan yang terbatas. Ayat (5) Cukup jelas. . Ayat (2) . 8 (delapan) spesialis lain dan 2 (dua) subspesialis dasar. 4 (empat) spesialis penunjang medik. . Yang dimaksud dengan izin operasional adalah izin yang diberikan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan setelah memenuhi persyaratan dan standar. Ayat (3) Cukup jelas.

standar asuhan keperawatan. Huruf j Cukup jelas. Huruf h Yang dimaksud dengan penyelenggaraan rekam medis dalam ayat ini adalah dilakukan sesuai dengan standar yang secara bertahap diuapayakan mencapai standar internasional Huruf i Cukup jelas. standar pelayanan medis.Pasal 28 Cukup jelas. . . Huruf n Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas. Huruf d . kesehatan dan keselamatan . Huruf b Yang dimaksud dengan standar pelayanan rumah sakit adalah semua standar pelayanan yang berlaku di rumah sakit. Huruf f Cukup jelas.17 terjaminnya keamanan. Huruf m Cukup jelas. Huruf l Cukup jelas. Huruf e Yang dimaksud dengan ´pasien tidak mampu atau miskin´ adalah pasien yang memenuhi persyaratan yang diatur dengan ketentuan peraturan perundangundangan. antara lain Standar Prosedur Operasional. . Huruf k Cukup jelas. .16 Huruf d Cukup jelas. Huruf o Rumah Sakit dibangun serta dilengkapi dengan sarana. prasarana dan peralatan yang dapat difungsikan serta dipelihara sedemikian rupa untuk mendapatkan keamanan. . Huruf c Cukup jelas. mencegah kebakaran/bencana dengan terjaminnya . Pasal 29 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. .

.18 Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 32 Huruf a Cukup jelas. Huruf s Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. . . Huruf d Cukup jelas. Huruf t Cukup jelas. pengunjung.pasien. Huruf f Cukup jelas. petugas. Dalam peraturan staf medis Rumah Sakit (medical staff bylaw) antara lain diatur kewenangan klinis (Clinical Privilege). memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima di Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan yang berlak u. Huruf p Cukup jelas Huruf r Yang dimaksud dengan peraturan internal Ru mah Sakit (Hospital bylaws) adalah peraturan organisasi Rumah Sakit (corporate bylaws) dan peraturan staf medis Rumah Sakit (medical staff bylaw) yang disusun dalam rangka menyelenggarakan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) dan tata kelola klinis yang baik (good clinical governance). . dan lingkungan Rumah Sakit. Huruf b Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 31 Ayat (1) Kewajiban pasien yang dimaksud dalam ayat ini antara lain mematuhi ketentuan yang berlaku di Rumah Sakit. Ayat (2) . dan mematuhi kesepakatan dengan Rumah Sakit. Huruf c Cukup jelas. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya kepada tenaga kesehatan di Rumah Sakit.

Huruf o Cukup jelas. Pasal 33 Ayat (1) Organisasi Rumah Sakit disusun dengan tujuan untuk mencapai visi dan misi Rumah Sakit dengan menjalankan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) dan tata kelola klinis yang baik (Good Clinical Governance). Huruf k Yang dimaksud dengan pemberian persetujuan atau penolakan atas tindakan kedokteran atau kedokteran gigi dapat berupa seluruh tindakan yang akan dilakukan atau dapat berupa tindakan tertentu yang disetujui.19 Huruf n Cukup jelas. atau pemerintah daerah. . Huruf h Cukup jelas. Ayat (2) Pimpinan yang harus berkewarganegaraan Indonesia adalah direktur utama. Huruf i Cukup jelas. direktur medis dan keperawatan. Huruf n . Huruf q Cukup jelas. . serta direktur sumber daya manusia.Huruf g Cukup jelas. Huruf r Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 34 Ayat (1) Cukup jelas. pendiri yayasan. Ayat (3) Yang dimaksud dengan pemilik Rumah Sakit antara lain komisaris perusahaan. Huruf p Cukup jelas. Huruf m Cukup jelas. Huruf l Cukup jelas. . Huruf j Cukup jelas. Yang dimaksud dengan kepala Rumah Sakit adalah pimpinan tertinggi dengan jabatan Direktur Utama (Chief Executive .

Pasal 35 . Pasal 36 Tata kelola rumah sakit yang baik adalah penerapan fungsi -fungsi manajemen rumah sakit yang berdasarkan prinsip -prinsip tranparansi. Ayat (3) Cukup jelas. audit klinis.21 Pasal 39 Ayat (1) Cukup jelas. .Officer) termasuk Direktur Medis. Pasal 38 Ayat (1) Yang dimaksud dengan ³rahasia kedokteran´ adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan hal yang ditemukan oleh dokter dan dokter gigi dalam rangka peng obatan dan dicatat dalam rekam medis yang dimiliki pasien dan bersifat rahasia. Ayat (2) Audit kinerja adalah pengukuran kinerja berkala yang meliputi kinerja pelayanan dan kinerja keuangan. kesetaraan dan kewaja ran. Ayat (2) Cukup jelas. Tata kelola klinis yang baik adalah penerapan fungsi manajemen klinis yang meliputi kepemimpinan klinik. Pasal 37 Ayat (1) Setiap tindakan kedokteran harus memperoleh persetujuan dari pasien kecuali pasien tidak cakap atau pada keadaan darurat. akuntabilitas. risiko klinis berbasis bukti. Audit medis adalah upaya evaluasi secara profesional terhadap mutu pelayanan medis yang diberikan kepada pasien dengan menggunakan rekam medisnya yang dilaksanakan oleh profesi medis Ayat (3) Audit medis internal dilakukan o leh Komite Medik rumah sakit Audit kinerja internal dilakukan oleh Satuan Pemeriksaan .20 Pasal 35 Cukup jelas. data klinis. . . dan akreditasi rumah sakit. Persetujuan tersebut diberikan secara lisan atau tertulis. Persetujuan tertulis hanya diberikan pada tindakan kedokteran berisiko tinggi. independensi dan responsibilitas. . pengelolaan keluhan. . pengembangan profesional. Pasal 39 . . peningkatan kinerja. Ayat (2) Cukup jelas. mekanisme monitor hasil pelayanan.

kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti insiden. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) . Pasien yang menolak pengobatan karena alasan finansial harus diberikan penjelasan bahwa pasien berhak memperoleh jaminan dari Pemerintah. Ayat (5) Cukup jelas . Pasal 43 Ayat (1) Yang dimaksud dengan keselamatan pasien (patient safety) adalah proses dalam suatu Rumah Sakit yang memberikan pelayanan pasien yang lebih aman. kejadian yang tidak diharapkan (adverse event). dan manajemen risiko terhadap pasien. . identifikasi. Pasal 42 Cukup jelas. Pasal 48 Cukup jelas. Pasal 44 Cukup jelas. Pasal 40 Cukup jelas. Pasal 45 Ayat (1) Pasien berhak menolak atau menghentikan pengobatan. Ayat (4) Cukup jelas. . Pasal 41 Cukup jelas. Pasal 46 Cukup jelas. Pasal 49 Ayat (1) . pelaporan dan analisis insiden. . Pasal 47 Cukup jelas.22 Ayat (2) Yang dimaksud dengan insiden keselamatan pasien adalah kesalahan medis (medical error). dan menerapkan solusi untuk mengurangi serta meminimalisir timbulnya risiko. Ayat (3) Cukup jelas. dan nyaris terjadi (near miss). Termasuk di dalamnya asesmen risiko. Ayat (5) Cukup jelas.Internal. Ayat (4) Cukup jelas.

Ayat (4) Yang dimaksud dengan pengawasan teknis medis adalah audit medis Yang dimaksud dengan pengawasan teknis perumahsakitan adalah audit kinerja rumah sakit. Ayat (5) Cukup jelas. . Ayat (6) . Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. . Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Ayat (2) . Pasal 56 Cukup jelas. Pasal 51 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. . . . Pasal 54 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 52 Cukup jelas. Pasal 50 Cukup jelas. Pasal 53 Cukup jelas. Pasal 55 Cukup jelas. Yang dimaksud kondisi regional termasuk didalamnya indeks kemahalan setempat Ayat (3) Cukup jelas.23 Ayat (2) Yang dimaksud dengan ´biaya satuan (unit cost)´ ada lah hasil perhitungan total biaya operasional pelayanan yang diberikan Rumah Sakit. . .24 Ayat (6) Cukup jelas.Pola Tarif Nasional adal ah pedoman dasar yang berlaku secara nasional dalam pengaturan dan perhitungan untuk menetapkan besaran tarif rumah sakit yang berdasarkan komponen biaya satuan (unit cost).

Namun. Pasal 60 Cukup jelas. Pengendalian biaya merupakan masalah yang kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai pihak yaitu mekanisme pasar. Rumah sakit sebagai salah satu jenis BLU merupakan ujung tombak dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Rumah sakit pemerintah yang terdapat di tingkat pusat dan daerah tidak lepas dari pengaruh perkembangan tuntutan tersebut. dan biaya pelayanan kesehatan terkendali sehingga akan berujung pada kepuasan pasien. Pasal 62 Cukup jelas.Pasal 59 Cukup jelas. Pasal 66 Cukup jelas. lembaga pendidikan. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. sehingga tidak bisa mengembangkan mutu layanannya. Pasal 63 Cukup jelas. Perkembangan pengelolaan rumah sakit. yaitu masalah keterbatasan dana yang dimiliki oleh rumah sakit umum daerah dan rumah sakit milik pemerintah. tak sedikit keluhan selama ini diarahkan pada kualitas pelayanan rumah sakit yang dinilai masih rendah. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU) adalah sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 69 ayat (7) UU No. secara umum rumah sakit pemerintah merupakan layanan jasa yang menyediakan untuk kalangan menengah ke . Pasal 65 Cukup jelas. yaitu antara lain bahwa rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. karena sebelumnya tidak ada pengaturan yang spesifik mengenai unit pemerintahan yang melakukan pelayanan kepada masyarakat yang pada saat itu bentuk dan modelnya beraneka macam. Latar Belakang Diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) No. Dipandang dari segmentasi kelompok masyarakat. PP tersebut bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik oleh Pemerintah. baik dari aspek manajemen maupun operasional sangat dipengaruhi oleh berbagai tuntutan dari lingkungan. pelayanan lisensi. Ini terutama rumah sakit daerah atau rumah sakit milik pemerintah. Pasal 61 Cukup jelas. dan lain-lain. Penyebabnya sangat klasik. tindakan ekonomis. sumber daya manusia yang dimiliki (profesionalitas) dan yang tidak kalah penting adalah perkembangan teknologi dari rumah sakit itu sendiri. Pasal 64 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5072 Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 1 RUMAH SAKIT PEMERINTAH DAERAH SEBAGAI BADAN LAYANAN UMUM (BLU) I. Tuntutan lainnya adalah pengendalian biaya. penyiaran. baik karena peralatan medis yang terbatas maupun kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang rendah. Jenis BLU disini antara lain rumah sakit.

3. Pejabat BLU bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan layanan umum kepada pimpinan instansi induk. 4. tujuan dan asas BLU. Rencana kerja. 2. 6. 1 Tahun 2004. Menyelenggarakan pelayanan umum yang pengelolaannya berdasarkan kewenangan yang didelegasikan. Berkedudukan sebagai lembaga pemerintah yang tidak dipisahkan dari kekayaan Negara. Pemecahan Pengertian. Sedangkan Asas BLU diatur menurut Pasal 3 PP No. Tidak bertujuan untuk mencarai laba. 7. . Pengertian ini kemudian diadopsi kembali dalam peraturan pelaksanaannya yaitu dalam Pasal 1 angka 1 PP No. yaitu : 1. 23 Tahun 2005. Dikelola secara otonom dengan prinsip efisiensi dan produktivitas ala korporasi. yaitu : ³Badan Layanan Umum adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas´. Rencana kerja.dan rumah sakit dituntut untuk secara mandiri mengatasi masalah tersebut. tidak terpisah secara hukum dari instansi induknya. 5. Pasal 2 yang menyebutkan bahwa ³BLU bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi dan produktivitas. Tujuan dan Azas BLU Pengertian atau definisi BLU diatur dalam Pasal 1 angka 23 UU No. Dimanakah pengaturan mengenai BLU? 3. Dari uraian definisi. 2. BLU tidak mencari laba. 3.Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 2 bawah. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. yaitu: 1. 5. Apa saja yang dapat dikategorikan sebagai BLU? 4. Peningkatan biaya kesehatan menyebabkan fenomena tersendiri bagi rumah sakit pemerintahan karena rumah sakit pemerintah memiliki segmen layanan kesehatan untuk kalangan menengah ke bawah. Permasalahan 1. sedangkan rumah sakit swasta melayani masyarakat kelas menengah ke atas. Tujuan dibentuknya BLU adalah sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 68 ayat (1) yang menyebutkan bahwa ³Badan Layanan Umum dibentuk untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa Kemudian ´. Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 3 4. Bagaimana kaitannya antara BLU dengan Rumah Sakit Pemerintah Daerah? III. anggaran dan laporan BLU dan instansi induk tidak terpisah. 23 Tahun 2005 sebagai peraturan pelaksanaan dari asal 69 ayat (7) UU No. Biaya kesehatan cenderung terus meningkat. Akibatnya rumah sakit pemerintah diharapkan menjadi rumah sakit yang murah dan bermutu. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Pegawai dapat terdiri dari pegawai negeri sipil dan bukan pegawai negeri sipil. II. Apa yang dimaksud dengan Badan Layanan Umum (BLU)? 2. Penerimaan baik pendapatan maupun sumbangan dapat digunakan secara langsung. Menghasilkan barang dan/atau jasa yang diperlukan masyarakat. anggaran dan pertanggungjawabannya dikonsolidasikan pada instansi induk. maka dapat terlihat bahwa BLU memiliki suatu karakteristik tertentu. dan penerapan praktek bisnis yang sehat´. Pengelolaan sejalan dengan praktik bisnis yang sehat. ditegaskan kembali dalam PP No.

05/2007 tentang Persyaratan Administratif Dalam Rangka Pengusulan Dan Penetapan Satuan Kerja Instansi Pemerintah Untuk Menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan . Penetapan. PMK No. 8. 4. PP No. 6.05/2007 tentang Dewan Pengawas Badan Layanan Umum. Pasal 68 dan Pasal 69 UU No.05/2007 tentang Pedoman Penetapan Remunerasi Bagi Pejabat Pengelola. PP No. Peraturan Menteri Keuangan No.02/2006 tentang Pembentukan Dewan Pengawas Pada Badan Layanan Umum. Pembinaan keuangan BLU instansi pemerintah daerah dilakukan oleh pejabat pengelola keuangan daerah dan pembinaan teknis dilakukan oleh kepala satuan kerja perangkat daerah yang bertanggung jawab atas bidang pemerintahan yang bersangkutan. Dan Perubahan Rencana Bisnis Dan Anggaran serta Dokumen Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum. 07/PMK. 3. 5. PP No. Pendapatan yang diperoleh BLU sehubungan dengan jasa layanan yang diberikan merupakan pendapatan negara/daerah. 23 Tahun 2005). sekalipun BLU dikelola secara otonom dengan prinsip efisiensi dan produktivitas ala korporasi.02/2006 jo. 109/PMK.02/2006 tentang Kewenangan Pengadaan Barang/Jasa Pada Badan Layanan Umum. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. 10/PMK. Dasar Pengaturan BLU BLU diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengaturnya. 7. Selain itu. BLU dibentuk untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. BLU dapat menerima hibah atau sumbangan dari masyarakat atau badan lain. Peraturan Menteri Keuangan No. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan keuangan BLU diatur dalam peraturan pemerintah (dhi. 8. 09/PMK. 2. Setiap BLU wajib menyusun rencana kerja dan anggaran tahunan.02/2006 tentang Tata Cara Penyusunan. 5. 119/PMK. 3. Peraturan Menteri Keuangan No. 7.8. 4. Pasal 1 angka 23. Pembinaan BLU instansi pemerintah pusat dilakukan oleh Menteri Keuangan dan pembinaan teknis dilakukan oleh menteri yang bertanggung jawab atas bidang pemerintahan yang bersangkutan. 10. 08/PMK. yaitu: 1. Dewan Pengawas dan Pegawai Badan Layanan Umum. 66/PMK. Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) serta laporan keuangan dan laporan kinerja BLU disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari RKA serta laporan keuangan dan laporan kinerja kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah.02/2006 tentang Persyaratan Administratif Dalam Rangka Pengusulan Dan Penetapan Satuan Kerja Instansi Pemerintah Untuk Menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Peraturan Menteri Keuangan No. Pengajuan. 2. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. Peraturan Menteri Keuangan No. BLU bukan subyek pajak. 9. 73/PMK. 6. Peraturan Menteri Keuangan No. 10. Kekayaan BLU merupakan bagian dari kekayaan negara/daerah yang tidak dipisahkan serta dikelola dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk menyelenggarakan kegiatan BLU yang bersangkutan. yaitu: 1. Pendapatan tersebut dapat digunakan langsung untuk membiayai belanja yang bersangkutan. namun terdapat beberapa karakteristik lainnya yang membedakan pengelolaan keuangan BLU dengan BUMN/BUMD. Peraturan Menteri Keuangan No. Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 4 9. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.

23 Tahun 2005. d. pelayanan lisensi. lembaga pendidikan. Persyaratan Administratif. penerusan pinjaman dan tabungan pegawai. Persyaratan substantif : penyelenggaraan layanan umum. dan/atau c. 2. rencana strategis bisnis. pola tata kelola (yang baik). dana UKM. dan f. Jenis dan Persyaratan BLU Apabila dikelompokkan menurut jenisnya BLU terbagi menjadi 3 kelompok. 11. Penyediaan barang dan/atau jasa layanan umum. Peraturan Menteri Keuangan No. Persyaratan administratif : dokumen-dokumen Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 6 Rumah Sakit Pemerintah Daerah Sebagai BLU Standar Pelayanan dan Tarif Layanan . Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 5 Standar layanan Tarif layanan Pengelolaan keuangan Tata kelola Ketentuan lain 15. 2. sebagai berikut: 1. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 3. 14. Per-62/PB/2007 tentang Pedoman Penilaian Usulan Penerapan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Pengelolaan dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/atau pelayanan kepada masyarakat. kinerja pelayanan di bidang tugas pokok dan fungsinya layak dikelola dan ditingkatkan pencapaiannya melalui BLU sebagaimana direkomendasikan oleh menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD sesuai dengan kewenangannya. Untuk menjadi sebuah BLU. 76/PMK. laporan audit terakhir atau pernyataan bersedia untuk diaudit secara independen. penyiaran. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. 12. kinerja keuangan satuan kerja instansi yang bersangkutan adalah sehat sebagaimana ditunjukkan dalam dokumen usulan penetapan BLU. e. Gambar : syarat-syarat BLU 1. BLU yang kegiatannya mengelola dana khusus meliputi pengelola dana bergulir. c. Pengelolaan wilayah/kawasan tertentu untuk tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat atau layanan umum. Persyaratan Substantif. dan lain-lain. yaitu : a. 3. b. 2.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. dan manfaat bagi masyarakat. BLU yang kegiatannya mengelola wilayah atau kawasan meliputi otorita pengembangan wilayah dan kawasan ekonomi terpadu (Kapet). apabila menyelanggarakan layanan umum yang berhubungan dengan : a. laporan keuangan pokok. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. 13. pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja pelayanan. Persyaratan teknis : kinerja. maka harus memenuhi persyaratan sebagaimana diatur menurut Pasal 4 PP No. b. yaitu : a. dan 3. keuangan. Per-67/PB/2007 tentang Tata Cara Pengintegrasian Laporan Keuangan Badan Layanan Umum Ke Dalam Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga. Per-50/PB/2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak ( PNBP) Oleh Satuan Kerja Instansi Pemerintah Yang Menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK-BLU).Layanan Umum. Persyaratan Teknis. dan b. yaitu: 1. BLU yang kegiatannya menyediakan barang atau jasa meliputi rumah sakit. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. standar pelayanan minimum.

merupakan kegiatan yang sejalan. 2. kemudian PP No. terakhir diubah dengan UU No. sebagaimana diatur berdasarkan PP No. berkaitan dan dapat dipercaya untuk menunjang tugas dan fungsi BLU/BLUD. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. 76/PMK. harus mempertimbangkan kualitas layanan. Rumah Sakit Pemerintah Daerah yang telah menjadi BLU/BLUD dapat memungut biaya kepada masyarakat sebagai imbalan atas barang/jasa layanan yang diberikan. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. transparansi dan efisiensi. dan khusus untuk RSUD. Fokus pada jenis pelayanan. asas keadilan dan kepatutan. pemerataan dan kesetaraan layanan. Penyusunan anggaran rumah sakit harus berbasis akuntansi biaya yang didasari dari indikator input. dalam arti mengutamakan kegiatan pelayanan yang menunjang terwujudnya tugas dan fungsi BLU/BLUD. kompetisi yang sehat. dan kemudian ditetapkan oleh menteri keuangan/kepala daerah dengan peraturan menteri keuangan/peraturan kepala daerah. Standar pelayanan minimal tersebut harus memenuhi persyaratan. Dapat dicapai. sehingga harus mengikuti standar akuntansi keuangan yang pengelolaannya mengacu pada prinsip-prinsip akuntabilitas. dan 4. yaitu : 1. PP No. 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Umum Penyusunan APBD. termasuk penentuan biaya. Relevan dan dapat diandalkan. PMK No. Perubahan ini berimbas pada pertanggungjawaban keuangan tidak lagi kepada Departemen Kesehatan tetapi kepada Departemen Keuangan. serta Kepmendagri No. merupakan kegiatan nyata yang dapat dihitung tingkat pencapaiannya. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. 29 Tahun 2002). Dengan terbitnya PP No. Tarif layanan yang diusulkan dan ditetapkan tersebut harus mempertimbangkan halhal sebagai berikut: 1. pengelolaan keuangannya harus mengacu dan berdasarkan Permendagri Permendagri No. Imbalan atas barang/jasa layanan yang diberikan tersebut ditetapkan dalam bentuk tarif yang disusun atas dasar perhitungan biaya per unit layanan atau hasil per investasi dana. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. rasional sesuai kemampuan dan tingkat pemanfaatannya. 3. Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 7 membuat rumah sakit pemerintah daerah harus melakukan banyak penyesuaian khususnya dalam pengelolaan keuangan maupun penganggarannya. daya beli masyarakat. merupakan kesesuaian jadwal dan kegiatan pelayanan yang telah ditetapkan. kontinuitas dan pengembangan layanan. 23 Tahun 2005. 4. 12 Tahun 2008). 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan . merupakan kegiatan yang pencapaiannya dapat dinilai sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.Rumah Sakit Pemerintah Daerah yang telah menjadi BLU/BLUD menggunakan standar pelayanan minimum yang ditetapkan oleh menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya. rumah sakit pemerintah daerah mengalami perubahan menjadi BLU. 32 Tahun 2004. Terukur. indikator proses dan indikator output. UU No. 5. Pengelolaan Keuangan Adanya desentralisasi dan otonomi daerah dengan berlakunya UU tentang Pemerintahan Daerah (UU No. Anggaran yang akan disusun pun harus berbasis kinerja (sesuai dengan Kepmendagri No. Dalam hal rumah sakit pemerintah di daerah (RSUD) maka standar pelayanan minimal ditetapkan oleh kepala daerah dengan peraturan kepala daerah. Tarif layanan diusulkan oleh rumah sakit kepada menteri keuangan/menteri kesehatan/kepala SKPD sesuai dengan kewenangannya.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum. 3. 2. dan Permendagri No. biaya serta kemudahan untuk mendapatkan layanan. Tepat waktu.

Pelaporan dan Pertanggungjawaban BLU sebagai instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan merupakan organisasi pemerintahan yang bersifat nirlaba. Laporan keuangan tersebut merupakan penyampaian informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap entitas tersebut. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. 4. mengetahui perubahan aktiva bersih (disajikan dalam bentuk laporan aktivitas). 45) dan menyanggupi untuk laporan keuangannya tersebut diaudit oleh auditor independen. Sebagai organisasi kepemerintahan yang bersifat nirlaba. Adapun Laporan Keuangan rumah sakit pemerintah daerah sebagai BLU yang disusun harus menyediakan informasi untuk: 1. Catatan atas laporan keuangan. sehingga isi pelaporan keuangan rumah sakit pemerintah daerah harus mengikuti ketentuan untuk pelaporan keuangan sebagaimana diatur menurut SAK. namun dalam PP No. Sesuai dengan Pasal 26 ayat (2) PP No. 3. 3. 76/PMK. Sedangkan pembatasan temporer adalah pembatasan penggunaan sumber daya oleh penyumbang yang menetapkan agar sumber daya tersebut dipertahankan sampai pada periode tertentu atau sampai dengan terpenuhinya keadaan tertentu. mengukur jasa atau manfaat bagi entitas yang bersangkutan. Sehingga. 76/PMK. Laporan keuangan rumah sakit pemerintah daerah merupakan laporan yang disusun oleh pihak manajemen sebagai bentuk penyampaian laporan keuangan suatu entitas. beban dan kerugian dan perubahan dalan aktiva bersih). Ketentuan ini menimbulkan inkonsistensi. 4. Sedangkan aktiva bersih diklasifikasikan aktiva bersih tidak terikat. utang dan aktiva bersih. maka rumah sakit pemerintah daerah semestinya juga menggunakan SAP bukan SAK. mengetahui kontinuitas pemberian jasa (disajikan dalam bentuk laporan posisi keuangan). maka rumah sakit pemerintah daerah sebagai BLU/BLUD mengembangkan sub sistem akuntansi keuangan yang menghasilkan Laporan Keuangan sesuai dengan SAP (Pasal 6 ayat (4) PMK No. Berdasarkan PMK No.Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. terikat kontemporer dan terikat permanen. maupun laporan keuangan pemerintah daerah. laporan keuangan rumah sakit pemerintah daerah mencakup sebagai berikut: 1. pertanggungjawaban manajemen rumah sakit (disajikan dalam bentuk laporan aktivitas dan laporan arus kas). 23 Tahun 2005 yang menyebutkan bahwa ³Akuntansi dan laporan keuangan BLU diselenggarakan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesia´. Laporan aktivitas (yaitu penghasilan. 2. Klasifikasi aktiva dan kewajiban sesuai dengan perusahaan pada umumnya.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi . Dalam hal konsolidasi laporan keuangan rumah sakit pemerintah daerah dengan laporan keuangan kementerian negara/lembaga. Laporan keuangan rumah sakit yang harus diaudit oleh auditor independen. tidak disebut neraca). 23 Tahun 2005 menggunakan PSAK (Standar Akuntansi Keuangan) yang berasal dari IAI. karena BLU merupakan badan/unit atau organisasi pemerintahan yang seharusnya menggunakan PSAP atau Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana diatur menurut PP No. antara lain sifat dan jumlah pembatasan permanen atau temporer. aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan. Laporan arus kas yang mencakup arus kas dari aktivitas operasi. dan perubahan klasifikasi aktiva bersih. Yang dimaksud pembatasan permanen adalah pembatasan penggunaan sumber daya yang ditetapkan oleh penyumbang. Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 8 2.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum). yaitu sebagai organisasi nirlaba (PSAK No. Laporan posisi keuangan (aktiva.

dan lain-lain. 23 tahun 2005. Laporan Keuangan rumah sakit pemerintah daerah tersebut sebelum disampaikan kepada entitas pelaporan direviu oleh satuan pemeriksaan intern. Selain itu Rumah Sakit Pemerintah Daerah dapat memungut biaya kepada masyarakat sebagai imbalan atas jasa layanan yang diberikan. dan 4. maka rumah sakit pemerintah daerah dalam rangka pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan dan kegiatan pelayanannya. Peraturan Menteri Keuangan No. d. Badan Layanan Umum adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas (Pasal 1 angka 23 UU No. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. Pasal 1 angka 23. Peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur BLU/BLUD. dana UKM. Pasal 68 dan Pasal 69 UU No. b. b. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. BLU yang kegiatannya menyediakan barang atau jasa meliputi rumah sakit. 3. Catatan atas Laporan Keuangan. namun dalam hal tidak terdapat satuan pemeriksaan intern. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. penyiaran.dan e. Dalam hal rumah sakit pemerintah di daerah (RSUD) maka standar pelayanan minimal ditetapkan oleh kepala daerah dengan peraturan kepala daerah. IV. dan c. pelayanan lisensi. c.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum). Rumah Sakit Pemerintah Daerah yang telah menjadi BLU/BLUD menggunakan standar pelayanan minimum yang ditetapkan oleh menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota. 76/PMK. Yang dapat dikategorikan sebagai BLU menurut jenisnya terbagi menjadi 3 kelompok. Tarif layanan diusulkan oleh rumah sakit kepada menteri keuangan/menteri kesehatan/kepala SKPD sesuai dengan kewenangannya. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. antara lain yaitu: a. . Neraca. yaitu: a. Penutup 1. penerusan pinjaman dan tabungan pegawai. PP No. Laporan Kinerja. dan kemudian ditetapkan oleh menteri keuangan/kepala daerah dengan peraturan menteri keuangan/peraturan kepala daerah. lembaga pendidikan. 3. Reviu ini Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 9 dilaksanakan secara bersamaan dengan pelaksanaan anggaran da penyusunan n Laporan Keuangan BLU. BLU yang kegiatannya mengelola wilayah atau kawasan meliputi otorita pengembangan wilayah dan kawasan ekonomi terpadu (Kapet). PP No.Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum dan sesuai pula dengan Pasal 27 PP No. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. Imbalan atas jasa layanan yang diberikan tersebut ditetapkan dalam bentuk tarif yang disusun atas dasar perhitungan biaya per unit layanan atau hasil per investasi dana. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Laporan Keuangan tersebut paling sedikit terdiri dari: 1. 2. Laporan Realisasi Anggaran dan/atau Laporan Operasional. Sedangkan Laporan Keuangan tahunan BLU diaudit oleh auditor eksternal. reviu dilakukan oleh aparat pengawasan intern kementerian negara/lembaga. menyusun dan menyajikan: 1. 4. dan 2. dan Pasal 1 angka 1 PP No. BLU yang kegiatannya mengelola dana khusus meliputi pengelola dana bergulir. 2. Laporan Arus Kas. Laporan Keuangan.

jdih. rumah sakit pemerintah daerah mengalami perubahan menjadi BLU. Anggaran yang akan disusun pun harus berbasis kinerja sesuai dengan Kepmendagri No. ³Badan Layanan Umum : Sebuah Pola Pemikiran Baru atas Unit Pelayanan Masyarakat´. 76/PMK. ditugaskan kepada Kementerian Kesehatan. Soetomo" tersebut Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur melakukan pengerahan dan pengumpulan (alamulasi) dana dan daya (funds and forces). A.M. reviu dilakukan oleh aparat pengawasan intern kementerian negara/lembaga. Mengingat: 1. perlu diselaraskan dengan keputusan Konperensi tersebut. Reviu ini dilaksanakan secara bersamaan dengan pelaksanaan anggaran dan penyusunan Laporan Keuangan BLU.bpk. 6.jdih. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Perubahan ini berimbas pada pertanggungjawaban keuangan tidak lagi kepada Departemen Kesehatan tetapi kepada Departemen Keuangan. c. PENYERAHAN/PENYELENGGARAAN. Soetomo" di Surabaya tersebut. PP No.Negara tahun 1952 No. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 3. transparansi dan efisiensi. yang menurut pasal 2 ayat (3) Peraturan Pemerintah No. Sedangkan Laporan Keuangan tahunan BLU diaudit oleh auditor eksternal yaitu BPK. PENYERAHAN/PENYELENGGARAAN RUMAH SAKIT UMUM "DR. 2. 80). 8.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum. ³ Aspek Value Added Rumah Sakit Sebagai Badan Layanan Umum´. disarikan dari Acara Workshop Penyusunan RPP tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU). 4. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah.bahwa memandang perlu Rumah Sakit "Dr. Soetomo" di Surabaya diserahkan kepada/diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur. 23 Tahun 2005. Referensi : 1.go. 5. . Joko Supriyanto dan Suparjo. SOETOMO" DI SURABAYA KEPADA PEMERINTAH DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR TINGKAT I JAWA TIMUR.id/informasihukum/RSUD_BLU. 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. UU No. 49 tahun 1952 (Lembaran. b. 7. namun dalam hal tidak terdapat satuan pemeriksaan intern. sejalan dengan keputusan Konperensi Presidium Kabinet Kerja dengan semua Catur Tunggal Tingkat I seluruh Indonesia di Jakarta pada tanggal 11 s/d 16 Maret 1964.bahwa ketentuan mengenai penyelenggaraan Rumah Sakit "Dr. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. 29 Tahun 2002. Peraturan Menteri Keuangan No. sehingga harus mengikuti standar akuntansi keuangan yang pengelolaannya mengacu pada prinsip-prinsip akuntabilitas. Menimbang : a.pdf PP 4/1965. SOETOMO" DI SURABAYA KEPADA PEMERINTAH DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR Oleh:PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor:4 TAHUN 1965 (4/1965) Tanggal:27 JANUARI 1965 (JAKARTA) Kembali ke Daftar Isi Tentang:PENYERAHAN/PENYELENGGARAAN RUMAH SAKIT UMUM "DR. PP No.Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 10 Dengan terbitnya PP No. http://www. Vianey Norpatiwi. Presiden Republik Indonesia.go.bahwa untuk pembiayaan Rumah Sakit Umum "Dr.Pasal 5 ayat 2 Undang-undang Dasar.bpk. Laporan Keuangan rumah sakit pemerintah daerah tersebut sebelum disampaikan kepada entitas pelaporan direviu oleh satuan pemeriksaan intern.id/informasihukum/RSUD_BLU. yang menurut keputusan Konp erensi tersebut di-jalankan untuk kepentingan kerja pembangunan Daerah. PP No.pdfhttp://www.

Soetomo" di Surabaya kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur. 80). Pasal 1.2. 49 tahun 1952 (Lembaran-Negara tahun 1952 No. Mendengar: Menteri Koordiantor Kompartimen Kesejahteraan dan Menteri Kesehatan. . Memutuskan: Menetapkan : Peraturan Pemerintah tentang penyerahan/penyelenggaraan Rumah Sakit Umum "Dr.Pasal 2 ayat (3) dan pasal 10 Peraturan Pemerintah no.

pelaksanaan funksi dan tugas pekerjaan Rumah Sakit Umum "Dr. pengangkutan. sejak satu tahun terakhir ini pelayanan di RS kebanggaan Ketapang ini sudah terlihat baik. pembenahan dan penataan ruangan ini tentunya diiringi terutama peningkatan profesionalisme dalam pekerjaan dan meningkatkan mutu pelayanan. tentu harus ada upaya bertahap yang harus dilakukan Pemkab untuk pembangunannya. Namun sebagai satu . pemeliharaan gedung-gedung alat-alat rumah tangga. Pasal 4. Pasal 3. Untuk itu. pendidikan. distribusi dan sebagainya) menjadi tanggungan Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur. alat-alat kedokteran dan lain-lain sebagainya. ia memberikan apresiasi kepada pengelola RS banyak melakukan pembenahan dan penataan ruangan dengan harapan pasien yang berobat kesini akan merasa nyaman dan terobati. Soetomo" di Surabaya sebagaimana yang dimaksudkan dalam pasal 2 ayat (3) Peraturan Pemerintah No. Para pegawai sekarang tetap memiliki status sebagai pegawai Pemerintah Pusat. *16620 Pa 2.satunya RS milik pemerintah yang tedapat di Kabupaten Ketapang ini RS harus berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara prima dan profesionalisme. Demikian dikatakan Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana (PKBI) Ketapang Ny Hj Hartati. SUKARNO. -------------------------------CATATAN Borneo Tribune. Soetomo". MOHD. Departemen Kesehatan memberikan bantuan dalam hal keperluan akan obat obat dan alat-alat kesehatan menurut ketentuan-ketentuan tertentu. Senin kemarin. Sekretaris Negara. b. Ketapang Masih kurangnya fasilitas yang dimiliki RSUD AgoesDjam Ketapang hendaknya jangan dijadikan alasan untuk tidak memberikan pelayanan yang maksimal kepada pasien. Pasal 5. pengobatan dan perawatan. Diakui memang fasilitasi gedung khususnya masih minim namun. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran-Negara Republik Indonesia. sal Penyelenggaraan yang dimaksudkan dalam pasal 1 Peraturan Pemerintah ini meliputi : a. dipekerjakan pada Rumah Sakit Umum "Dr.penyelenggaraan administrasi. 80) penyelenggaraannya diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur. hal itu kata dia terlihat dari sisi pelayanan dan penataan ruang yang sudah terlihat familiar. ICHSAN. Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1965. Presiden Republik Indonesia. Ia juga menambahkan ke depan harus ada penataan area menyediakan tempat untuk peristirahatan yang nyaman dan sejuk segar bagi pasien maupun keluarga pasien sehingga nantinya sebuah RS tidak hanya memberikan pengobatan secara medis saja akan tetapi juga . Pemeliharaan pegawai (perumahan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 27 Januari 1965. Diundangkan di Jakarta pada tanggal 27 Januari 1965. Pasal 6. 49 tahun 1952 (Lembaran-Negara tahun 1952 No.Rumah Sakit Umum "Dr. Ia sendiri mengakui. Soetomo" di bidang pemeriksaan.

hal ini yang membuat tidak masuk akal. Bahkan kata dia. itu betul. 2 Desember 2006 Unsur dlm Pelayanan Prima R Efektif R Efisien R Aman R Nyaman R Memuaskan . Sehingga perlu perhatian serius. Dengan adanya APBD 2009 diharapkan semua jalan di Kabupaten Ketapang supaya diaspal. namun jalan di pedalaman Ketapang belum diaspal.´ ujarnya. namun pada prinsipnya sama yaitu membuat atau menciptakan rasa atau suasana nyaman dan betah bagi konsumen. sementara keadaan di desa pedalaman memprihatinkan. A. Menurut Anastasius. ³Pembangunan di Pedalaman Ketapang lamban. di negara maju RS dapat dijadikan tempat wisata bagi pasien. Kalau kita membawa orang sakit yang sudah koma bisa game di jalan. seperti pada jalan poros Pelang-Tumbang Titi. Siduk-Sungai kelik. rumah guru dan kesejahteraannya di pedalaman juga diperhatikan. rumah sekolah. Di Ketapang kota gedung dan tugu indah dan besar-besar. TIPs dan trik peayanan prima RS (*Disampaikan pada:In-House Training ³Pelayanan Sepenuh Hati´ di RS PKU Muhammadiyah Sruweng. seperti pembanguna gedung sekolah yang sudah sepantasnya direhab jangan dibiarkan sampai roboh. Kepala Seksi Pariwisata Abdul Manan. pembangunan infrastruktur jalan tanah di pedalaman Ketapang sebenarnya sudah tidak layak. Sungai Gantang ± Teluk Batu. jalan Tumbang Titi-Ketapang. ³Seperti contoh. agar memudahkan transportasi dan memperlancar arus perekonomian masyarakat pedalaman.´ Demikian dikatakan anggota DPRD Provinsi Dapil Ketapang dari Partai Golkar. Anastasius meminta jangan sampai gambut serta krisis global dijadikan alasan tersendatnya pembangunan jalan.Md mengatakan bahwa kendati tidak secara langsung namun keberadaan rumah sakit memiliki kaitan dengan pariwisata karena sama ± sama pemberi jasa dalam bidang pelayanan hanya saja bedanya rumah sakit dalam bidang jasa pelayanan kesehatan sedangkan pariwisata dalam bidang jasa pelayanan umum. Anastasius Bantang. Anastasius berharap agar pembangunan di Ketapang berpihak juga pada masyarakat pedalaman. Dia berharap tahun 2009 ini APBD yang untuk pos pembagunan infrastruktur agar digunakan untuk pembenahan jalan seperti poros Ketapng-Tumbang Titi.dapat memberikan pengobatan hati disamping tidak melupakan budaya keramah-tamahan dalam pelayanan kami kepada pasien. ketika ditemui di rumahnya di Pontianak (5/1). Indonesia sudah merdeka 63 tahun. Sementara itu.

pelatihan. dari aspek: R financial measurement R marketing perspective R production & operational perspective R human resource perspective R Jalan Menuju RS Barokah Bagaimana Mewujudkannya? R bicara ³fokus pada pelanggan´ maka konteks seharusnya adalah pada ³pelanggan internal dan eksternal.´ R Harus fokus pada peningkatan KINERJA KARYAWAN Kinerja Karyawan tergantung pada (Gibson): R Motivasi R Kemampuan R Lingkungan kerja Apa sebenarnya yg dibutuhkan karyawan (Maslow): R Physiological Needs (Kebutuhan fisiologis/dasar/pokok) R Safety Needs (kebutuhan akan rasa aman).Manfaat Pelayanan Prima bagi RS R Mencerminkan produktivitas RS R Balancad Score-Card tinggi. R Self-actualization Needs (kebutuhan aktualisasi diri). pengalaman) R Kondisi Tubuh R Faktor Keluarga (demographical factors) R Faktor alamiah (geographical factors) Lingkungan kerja R Struktur tugas dan pola kerja R Kompleksitas pekerjaan R Pola kepemimpinan dan kerjasama R Ketersediaan alat sarana kerja R Imbalan (reward system) Tips Memotivasi Karyawan R Komunikasi Yang Terbuka: memberikan kepada pekerja keterangan yang mereka perlukan untuk melakukan sesuatu pekerjaan yang baik R memberikan kesempatan umpan balik secara teratur R meminta masukan dari karyawan dan melibatkan mereka di dalam keputusan yang mempengaruhi pekerjaan mereka R Membuat saluran komunikasi yang mudah dipergunakan.´ R Tidak mungkin terjadi ³fokus pada pelanggan´ tanpa didahului oleh ³fokus pada karyawan. Ada apa dengan Kemampuan karyawan? R Pengetahuan (Pendidikan. sehingga karyawan dapat . informasi. R Social/Affiliation Needs (kebutuhan untuk bersosialisasi) R Esteem Needs (kebutuhan harga diri).

R memberi selamat secara pribadi kepada karyawan yang melakukan pekerjaan dengan baik. . forum-forum kelompok kecil. R Kenalilah kebutuhan-kebutuhan pribadi karyawan R Gagasan menggunakan kinerja sebagai dasar untuk promosi R menetapkan suatu kebijakan promosi dari dalam secara komprehensif. tanya jawab dengan pimpinan dan ³politik pintu terbuka´ R belajar dari para karyawan itu sendiri apa yang memotivasi mereka.menggunakannya untuk mengutarakan pertanyaan/kehawatiran mereka dan memperoleh jawaban. R menghargai karyawan karena pekerjaan mereka yang baik secara umum R meliputi pertemuan-pertemuan pembentukan moril seperti ³merayakan kesuksesan yang dicapai kelompok´ R memberi karyawan satu pekerjaan yang baik untuk dikerjakan R apakah karyawan mempunyai sarana kerja yang terbaik. R Sambungan telepon langsung. R mempelajari apa saja kegiatan-kegiatan lain yang pekerja lakukan bila mereka mempunyai waktu luang. R menegaskan komitmen perusahaan terhadap perkaryaan jangka panjang R membantu berkembangnya rasa ³bermasyarakat´ R Gajilah karyawan secara bersaing berdasarkan apa yang mereka kerjakan R menawarkan ³pembagian keuntungan´ (profit sharing) kepada karyawan. dan kemudian menciptakan kesempatan bagi mereka untuk melakukan kegiatan itu secara lebih teratur. kotak saran. R terus menerus memelihara hubungan dengan orang yang mereka bawahi R menulis Memo secara pribadi kepada mereka tentang hasil kinerja mereka.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful