Latar Belakang Pusat Kesehatan Masyarakat atau puskesmas yang dikembangkan sejak tahun 1968 oleh Departemen Kesehatan

Republik Indonesia agar masyarakat di pelosok tanah air dapat mengakses pelayanan kesehatan dasar. Sebagai unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota, puskesmas bertanggungjawab menyelenggarakan upaya kesehatan dasar perorangan dan masyarakat Namun sayangnya, untuk pelayanan perorangan, setelah hampir empat dekade, puskesmas belum menjadi pilihan utama masyarakat untuk memperole h pelayanan kesehatan (1). Kondisi puskesmas di Kabupaten Simalungun tidak jauh berbeda dengan kondisi puskesmas lain di seluruh Indonesia. Apalagi sejak adanya Undang -undang No. 32 Tahun 2004, yang memberikan kewenangan otonomi pada daerah. Pemerintah Daerah Kabupaten Simalungun menyikapinya dengan mengeluarkan Peraturan Daerah No.13 tahun 2004 tentang pembebasan tarif puskesmas untuk semua jenis pelayanan dan berlaku untuk seluruh pengunjung puskesmas itu (2). Sejak diberlakukan tarif tidak ada peningkata n kunjungan ke puskesmas, dan pemanfaatan puskesmas oleh penduduk masih dibawah 30%, karena rendahnya mutu pelayanan puskesmas. Beberapa pandangan yang berkembang di masyarakat Simalungun yaitu buruknya citra pelayanan di puskesmas, fasilitas gedung maupun peralatan medis dan medis kurang memadai, dan budaya pegawai puskesmas yang tidak disiplin, Untuk peningkatan mutu pelayanan di puskesmas sebenarnya sudah mengikuti pelatihan mutu seperti Jaminan Mutu, Total Quality Management (TQM), dan Good Governance, tetapi belum diterapkan di puskesmas masing -masing (3) . Di propinsi Sumatera Utara pembebasan tarif puskesmas ini hanya Kabupaten Simalungun dan Kota Medan yang menerapkan pembebasan tarif. Bila dibandingkan kunjungan puskesmas di Kabupaten Simalungun dan kabupaten tetangga yaitu Kabupaten Asahan yang menerapkan tarif restribusi terlihat ada perbedaan seperti tabel dibawah ini:
Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.ugm.ac.id 5 Hartati, Tjahjono Kuntjoro; WPS no.4 Oktober 2007 1st draft

Tabel 1. Data Kunjungan Rawat Jalan Puskesmas Tahun 2006 No. Kabupaten Simalungun Kunjungan No. Kabupaten Asahan Kunjungan
1. Silimakuta 8.380 1. BP. Mandoge 11.792 2. Raya 8.525 2. Aek Songsongan 8.625 3. Tanah Jawa 12.770 3. Pulau Rakyat 11.790 4. Hutabayu raja 10.008 4. Aek Loba 9.477 5. Panei 7.123 5. Sei Sepayang 11.012 6. Sidamanik 9.334 6. Sei Apung 6.511 7. Dolok Pardamean 6.314 7. Simpang Empat 6.743 8. Dolok Paribuan 4.321 8. Air Batu 5.273 9. Bandar 7.632 9. Hessa Air Genting 6.941 10. Pematang Bandar 13.532 10. Tinggi Raja 11.591

11. Raya Kahean 5.863 11. Meranti 10.800 12 Siantar 13.596 12 Rawang Pasar IV 6.597 13. Jorlang Hataran 6.157 13. B. Serbangan 9.745 14. Girsang 5.964 14. Tanjung Tiram 8.331 15. Purba 10.952 15. Sei Balai 7.673 16. Silau Kahean 8.774 16. Lab. Ruku 6.548 17. Bosar Maligas 9.072 17. Lima Puluh 11.645 18. Ujung Padang 9.145 18. Kedai Sianam 7.573 19. Dolok Silau 6.216 19. Pem. Panjang 7.430 20. Dolok Batu Nanggar 3.440 20. Indra Pura 7.104 21. Tapian Dolok 3.855 21. Pagu Rawan 6.989 22. Haranggaol 2.664 22. Sidodadi 6.332 23. Pematang Sidamanik 1.758 23. Gambir Baru 9.237 24. Hatonduan 2.261 24. Mutiara 14.786 25. Panambean Pane 7.185 26. Gunung Malela 8.674 27. Gunung Maligas 8.339 28. Jawa Maraja Bah Jambi 6.321 29 Bandar Huluan 6.409 30. Bandar Masilam 8.020 Sumber: Subdin Yankes Dinas Kesehatan Simalungun dan Asahan

Dari tabel diatas terlihat bahwa kunjungan pasien di puskesmas yang membebaskan tarif lebih rendah dari puskesmas dengan pembebasan tarif. Puskesmas di Kabupaten Simalungun rata-rata 7180/tahun/puskesmas atau 23 pasien per hari per puskesmas. Sedangkan puskesmas di Kabupaten Asahan ratarata 8.772/tahun/puskesmas atau 30 pasien per hari per puskesmas. Sarana dan tenaga yang tersedia di Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Asahan cukup memadai untuk lebih jelas terlihat dari tabel berikut ini:
Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.ugm.ac.id 6 Hartati, Tjahjono Kuntjoro; WPS no.4 Oktober 2007 1st draft

Tabel 2. Sarana dan Tenaga Kesehatan Kabupaten No. Jenis sarana dan prasarana Kabupaten Simalungun Kabupaten Asahan
I. Sarana RSU Daerah 2 unit 1 unit RS Swasta 2 unit 5 unit Puskesmas 30 unit 24 unit Puskesmas pembantu 167 unit 172 unit Puskesmas keliling 22 unit 24 unit BP Swasta 6 unit 76 unit II. Tenaga Dokter spesialis 2 orang 24 orang Dokter umum 124 orang 98 orang Dokter gigi 29 orang 20 orang Apoteker 4 orang 2 orang Tenaga keperawatan 634 orang 588 orang Sumber: Profil Dinas Kesehatan Simalungun dan Asahan.

Sebelum diberlakukannya pembebasan tarif, puskesmas mempunyai pendapatan dari tarif sebesar Rp. 4.500 per pasien. Pendapatan ini setiap bulan 50% disetor ke kas daerah dan

sisanya bisa dipergunakan langsung untuk melengkapi kebutuhan puskesmas(4). Kondisi sekarang dengan pembebasan tarif tidak ada penggantian langsung dari pemerintah daerah, berbeda keadaannya dengan puskesmas di Kota Medan yang juga menerapkan pembebasan tarif tetapi mendapatkan langsung biaya pengganti dari APBD . Tinggi rendahnya sistem pembiaya an pelayanan kesehatan berdampak kepada mutu pelayanan itu sendiri, apalagi alokasi dana untuk program penunjang kesehatan tidak memadai, apabila hal ini terjadi puskesmas makin lama akan ditinggalkan oleh pengguna jasanya, dan hanya akan dipergunakan saja oleh masyarakat miskin yang tidak mempunyai pilihan lain (5). Untuk melihat apakah perbedaan kunjungan ini menunjukkan perbedaan mutu pelayanan maka dilakukan penelitian bagaimana pengaruh pembebasan tarif terhadap mutu pelayanan di Puskesmas Kabupaten Si malungun dengan membandingkan dengan di Kabupaten Asahan. Metode Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimental dengan rancangan postest only with control group design (post test dengan kelompok kontrol). Penelitian ini untuk mengetahui mutu pelayanan di puskesmas yang menerapkan kebijakan pembebasan tarif retribusi pelayanan di puskesmas. Hasil observasi yang dilakukan dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak menerapkan kebijakan tersebut (6). Unit analisis
Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.ugm.ac.id 7 Hartati, Tjahjono Kuntjoro; WPS no.4 Oktober 2007 1st draft

adalah puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan) dengan subjek penelitian pasien yang berkunjung dan petugas petugas puskesmas. Jumlah sampel pasien 408 orang ( 12 diantaranya di wawancara mendalam) dan kepala puskesmas 6 orang. Lokasi penelitian di 6 puskesmas di kedua kabupaten yang dilakukan secara stratified random samplin g, puskesmas yang terpilih di puskesmas yang membebaskan tarif yaitu Puskesmas Siantar (kunjungan tinggi), Gunung Malela (kunjungan sedang) dan Dolok Batu Nanggar (kunjungan rendah). Sedangkan puskesmas yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan) terpilih yai tu Puskesmas Mutiara (kunjungan tinggi), Aek Loba (kunjungan sedang) dan Sidodadi (kunjungan rendah). Besar sampel pasien dengan rumus Lameshow adalah 100 orang di Puskesmas Siantar, 110 orang di Puskesmas Mutiara, 60 orang di Puskesmas Gunung Malela, 68 orang di Puskesmas Aek Loba, 27 orang di Puskesmas Dolok Batu Nanggar dan 43 orang di Puskesmas Sidodadi. Penelitian dilakukan selama 2 bulan. Alat penelitian yang digunakan untuk mengukur harapan dan kenyataan pasien adalah kuesioner servqual yang terdiri dari pertanyaan tertutup, sedangkan untuk data kualitatif dengan panduan wawancara mendalam, observasi di lapangan, dokumen anggaran/keuangan dan sistem manajemen mutu ISO 9001;2000. Variabel penelitian meliputi variabel bebas yaitu

Dari hasil pengamatan selama penelitian di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan) jumlah petugas yang melayani di loket pendaftaran. Hasil Karakteristik pasien yang jadi responden dalam penelitian yang dilakukan di Puskesmas Kabupaten Simalungun dan Asahan ini terlihat hampir sama. 5. yaitu yang terbanyak berjenis kelamin perempuan.id 8 Hartati. Jumlah tenaga kesehatan yang tersedia di kedua kabupaten suda h cukup memadai. Pada penelitian ini harapan pasien pasien terhadap mutu pelayanan puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan ). Sedangkan responden yang menginginkan gratis hanya sedikit baik itu di daerah yang membebaskan tarif maupun daerah yang menerapkan tarif. Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. kamar obat pada saat penelitian menunjukkan jumlah dan jenis tenaga kesehatan hampir sama baik itu di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) maupun yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). jaminan (assurance) dan empati (empathy).000. Untuk tingkat pendidikan.pembebasan tarif. (9).baik di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan).I. untuk data kuantitatif dengan analisis deskriptif dan uji statistik beda mean (uji t -independen). Untuk melihat tingkat kesanggupan membayar tarif puskesmas sebagian besar berkisar Rp. (7) . WPS no.4 Oktober 2007 1st draft menyatakan bahwa masyarakat dengan penghasilan m enengah kebawah lebih banyak memanfaatkan fasilitas kesehatan yang disediakan pemerintah secara gratis daripada pelayanan swasta yang mempunyai tarif lebih tinggi. Tjahjono Kuntjoro. dan pe kerjaan di puskesmas kedua kabupaten hampir sama yang memanfaatkan puskesmas sebagian besar berpendidikan SLTA dengan jenis pekerjaan ibu rumah tangga dan swasta pasien yang memanfaatkan puskesmas sebagian besar adalah dengan tingkat penghasilan menengah k ebawah. sedangkan kualitatif didiskripsikan dalam bentuk narasi dan dilakukan dengan metode triangulasi data untuk memperkuat data kuantitati. 4. keandalan (realibility). Hal ini mirip dengan penelitian yang dilakukan di Cyprus (8).ugm.--Rp. dimana sudah hampir memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Depkes R. dalam usia produktif (18 -30 tahun). Dari hasil pengamatan selama penelitian pada 6 puskesmas di kedua kabupaten terlihat bahwa jenis pelayanan yang diberikan di masing -masing puskesmas dan juga beban kerja petugas hampir sama antara puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). sedangkan variabel terikat adalah persepsi tentang mutu pelayanan dengan dimensi berwujud ( tangibles).ac.. daya tanggap (responsiveness). BP umum. Pengolahan data dilakukan secara kuantitatif dan kualit atif. Dari hasil pengolahan data independen sample t -test menunjukkan .050.

motivasi dan konsekuensi dari hasil . responsiveness. Tjahjono Kuntjoro. Hal ini sesuai dengan pendapat teori yang menyatakan bahwa harapan dibentuk oleh pengalaman masa lalu.ugm. emosi. responsiveness.walaupun perbedaannya tipis tapi cukup bermakna. perhatian. assurance dan empathy daripada dimensi tangibles. yang meneliti di Korea Selatan tentang pengaruh frekuensi kunjungan ke fasilitas kesehatan. menunjukkan bahwa harapan Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.05 . responsiveness. harapan pasien terhadap mutu pelayanan berbedabeda dari kelompok (group) pelanggan terhadap penyedia pelayanan yang berbeda berdasarkan perbedaan demografi pelanggan dan tempat pelayanan (10) . ketertarikan.id 9 Hartati.perbedaan signifikan dimana p < 0. WPS no. nilai. setelah menerima jasa tersebut pelanggan membandingkan jasa yang dialami dengan jasa yang diharapkan (14). Hal ini sejalan hasil penelitian yang menyatakan. Hal ini sesuai dengan yang diteliti di RSUD Bengkulu menyatakan bahwa harapan pasien Askes (gratis) lebih tinggi daripada harapan pasien umum (membayar). assuranc e dan emphaty lebih tinggi pada puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) daripada puskesmas yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). Sedangkan pasien baru lebih fokus padan dimensi tangibles (penampilan fisik) dari penyedia layanan (11).ac. atribut. Harapan pasien terhadap mutu pelayanan dalam dimensi realibility. valensi. informasi. Hal ini didukung oleh teori ekpektasi. Hal ini sesuai dengan laporan. pengalaman.4 Oktober 2007 1st draft pasien lama terhadap mutu pelayanan fokus pada dimensi realibility. Sedangkan harapan pasien terhadap mutu pelayanan pada dimensi mutu t angibles di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dengan menerapkan tarif tidak ada perbedaan signifikan. Jadi kondisi puskesmas yang membebaskan tarif seharusnya harapan pasien tidak terlalu tinggi (13) . Akan tetapi hal ini muncul karena pengalaman pasien di Kabupaten Simalungun yang berdekatan dengan Kota Medan yang membebaskan tarif puskesmas tetapi dengan fasilitas dan pelayanan yang lebih baik bila dibandingkan dengan pelayanan puskesmas di Kabupaten Simalungun. assurance dan empathy lebih tinggi pada puskesmas yang membebaskan tar if (Kabupaten Simalungun) daripada di puskesmas yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). Harapan pasien terhadap mutu pelayanan pada empat (4) variabel dimensi mutu reliability. pembicaraan dari mulut ke mulut dan dari iklan perusahaan jasa. Hal ini disebabkan pada pasien Askes (gratis) karena tingginya ekspektasi tidak disertai simetrisnya informasi yang dimiliki pasien Askes (12) . bahwa tinggi dan rendahnya harapan pelanggan dapat terjadi karena bermaca m-macam pengaruh antara lain faktor : (1) Perorangan misalnya kebutuhan. kapabilitas. Dalam konsep pemasaran jasa bahwa harga yang terlalu murah bahkan gratis membuat kesan jasa tersebut tidak bermutu atau mutunya rendah.

ac. Pelanggan akan mengeluh tidak puas apabila harap annya tidak terpenuhi. termasuk obat lebih bagus pada pelayanan kesehatan swasta (swasta) dibandingkan dengan fasilitas pemerintah (gratis) (17) .4 Oktober 2007 1st draft tinggi harapan seorang pelanggan maka semakin besar kemungkinan ia tidak puas terhadap j asa yang dikonsumsinya (16). (2) Sosial misalnya sosiodem ografi. yaitu dari tiga (3) dimensi mutu tangible. Kenyataan pelayanan yang dialami pasien di puskesmas Kabupaten Simalungun (yang membebaskan tarif) dengan puskesmas di Asahan (yang menerapkan tarif) menunjukkan ada perbedaan signifikan. Dari dimensi mutu tangibles (bukti fisik) memang menunjukkan bahwa puskesmas di Kabupaten Asahan dari penampilan fisik gedung dan sarana pendukung lainnya termasuk peralatan medis dan obat -obatan lebih baik kondisinya bila dibandingkan dengan di Kabupaten Simalungun. ketidakadilan (15). tekanan kelompok. Dengan kata lain mereka juga sudah menerapkan sistem manajemen mutu. Tjahjono Kuntjoro. norma sosial. Dari dimensi mutu responsiveness puskesmas di Kabupaten Asahan lebih tinggi bila dibndingkan dengan di Kabupaten Simalungun. Dimensi mutu tangible penting untuk organisasi jasa karena suatu pelayanan jasa tidak bisa dilihat secara nyata maka pelanggan akan menggunakan alat inderanya untuk menilai suatu kualitas pelayanan (18).ugm. Ini terjadi karena di puskesmas Kabupaten Asahan ada pemasukan dana retribusi yang bisa dipergunakan langsung untuk kebutuhan yang mendesak.id 10 Hartati. Hal ini juga didukung dari penelitian di Kabupaten Tapanuli Tengah berpendapat bahwa kesenangan dan kenyamanan di sekitar pelayan an kesehatan terutama di unit pelayanan kesehatan swasta memiliki pengaruh yang baik terhadap kepuasan pasien (19). dan seorang pelanggan akan mengharapkan bahwa ia seharusnya juga dilayani dengan baik sebagaimana pelayanan diberikan pada pelanggan yang lain. kegiatan yang dibutuhkan. Dan dapat ditambahkan b ahwa 2 orang kepala puskesmas di . peralatan medis dan non medis. Begitu juga dengan penampilan petugas lebih rapi pakaian seragamnya dan ada tanda pengenal di puskesm as Kabupaten Asahan. Makin Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. Hal ini disebab kan karena petugas sudah mendapatkan pelatihan Good Governance dan mereka sudah mempunyai motto bahwa kepuasan pasien dan kepentingan pasien adalah hal yang utama. WPS no. Selain itu pelayanan yang benar akan menentukan harapannya pada suatu jasa. responsiveness dan empathy lebih tinggi di puskesmas Kabupaten Asahan (yang menerapkan tarif) dibandingkan dengan di Kabupaten Simalungun.pelayanan yang dirasakan. Harapan pelanggan merupakan keyakinan pelanggan sebelum mencoba atau membeli suatu produk yang dijadikan standar atau acuan dalam menilai kinerja produk. Hal ini memang sesuai penelitian di India. bahwa memang ada perbedaan dimensi mutu pelayanan tangibles seperti gedung.

4 Oktober 2007 1st draft kepuasan pasien terutama pasien di bagian emergensi atau unit gawat darurat (21). Berarti di puskesmas Kabupaten Asahan petugas mempunyai kepedulian yang tinggi . Sidodadi (menerapkan tarif). Perbedaan gap dapat di lihat pada tabel berikut : Tabel 3. Tjahjono Kuntjoro.2.0.48 . Dari dimensi mutu empati ( empathy) terlihat bahwa hal ini lebih tinggi di puskesmas Kabupaten Asahan bila dibandingkan dengan di Kabupaten Simalungun. Sedangkan dari 2 (dua) dimensi mutu realibilty dan assurance terlihat tidak ada perbedaan signifikan kenyataan pelayanan yang dirasakan pasien antara dua kabupaten.43 Penerapan Tarif . Sesuai dengan penelitian di Kanada. memberikan perhatian yang dalam kepada pasien. bahwa kecepatan pelayanan di unit pelayanan pemerintah yang gratis lebih lambat responnya bila dibandingkan pelayanan di unit swasta yang membayar (22). Dolok Batu Nanggar (membebaskan tarif).67 Penerapan Tarif . Siantar (membebaskan tarif) dan Gunung Malela (membebaskan tarif).ac.64 Penerapan Tarif . Aek Loba (menerapkan tarif).54 .0. Berdasarkan hasil penghitungan gap antara harapan dan persepsi dapat diurutkan tingkatan mutu puskesmas dari urutan terbaik ke urutan yang jelek yaitu Puskesmas Mutiara (menerapkan tarif).1. Mirip dengan penelitian di Cyprus bahwa dimensi mutu empathy lebih tinggi pada unit pelayanan swasta bila dibandingkan dengan unit pelayanan milik pemerintah yang gratis (8). Begitu juga dari penelitia di Helsinki bahwa kecepatan pelayanan merupakan penentu tingkat Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.0. Berarti puskesmas di Kabupaten Simalungun (yang membebaskan tarif) dan Asahan (yang menerapkan tarif) mempunyai kemampuan yang sama dalam hal memberikan keandalan dan jaminan kepada pasien. Untuk melihat tingkat kepuasan terhadap mutu pelayanan dapat dilihat dari gap antara harapan dan ke nyataan di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). membuat kunjungan pasien berulang (23).19 0.000* Responsiveness Pembebasan Tarif . menyatakan bahwa petugas yang memberikan perhatian yang dalam kepada pasie n.000* Reliability Pembebasan Tarif . pengabdian dan komitmen yang tinggi untuk menerapkan sistem manajemen mutu yang berorientasi kepada kepentingan pasien.74 . Total Perbedaan Gap Pasien di Puskesmas Variabel Puskesmas Mean Gap P Tangible Pembebasan Tarif . WPS no.000* .2.49 0.Kabupaten Asahan masih muda dan mempunyai semangat.id 11 Hartati.1.2.ugm.90 0. Hal ini sesuai bahwa dalam penerapan sistem manajem en mutu peran aktif manajemen puncak harus benar -benar dirasakan sampai tingkat bawah (20).2. Begitu juga dilaporkan dari penelitian i di Campbell.

id 12 Hartati. Sebenarnya t ingkat kepuasan pasien pada puskesmas yang membebaskan tarif maupun yang menerapkan tarif masih rendah ditandai adanya gap yang negatif berarti hal ini disebabkan oleh terlalu tingginya harapan pasien terhadap mutu pelayanan di puskesmas pada kelima dimensi. Hal ini sama dengan hasil penelitian yang melaporkan ketidakpuasan pasien Askes dan Umum di Rumah Sakit Umum Bengkulu pada ke 5 (lima ) dimensi mutu yaitu tangibles.4 Oktober 2007 1st draft Tabel 3 menunjukkan bahwa total perbedaan harapan dan kenyataan yang dialami pasien di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan) berdasarkan masing -masing variabel ada perbedaan signifikan. Skor Gap untuk Lima Dimensi Kepuasan pada Pasien Gratis Dari pengolahan data menunjukkan perbedaan signifikan dimana p<0. Hal ini menunjukkan tingkat kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan. WPS no.id 13 Hartati. Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. dimana mutu pelayanan di fasilitas pemerintah yang tidak bayar lebih rendah daripada pelayanan swasta yang membayar (8).4 Oktober 2007 1st draft Tapi bila dibandingkan gap antara pasien di puskesmas yang bayar gapnya lebih rendah daripada gap pasien yang gratis berarti pasien yang bayar lebih puas dari pasien di puskesmas .000* Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk.0. assurance dan empathy (12).41 0. responsiveness.1. -12 -10 -8 -6 -4 -2 0 Gratis Bayar tangibles reability responsivenes Assurance Emphaty total Gambar 1.91 Penerapan Tarif . Sesuai dengan laporan penelitian di Cyprus bahwa ada perbedaan mutu pelayanan pada pelayanan kesehatan pemerintah yang gratis dan pelayanan swasta.52 -1. Tjahjono Kuntjoro.ac. Tjahjono Kuntjoro. realibility.05. Untuk melihat gambaran gap dari masingm asing variabel dapat dilihat pada Gambar 3.ugm.50 -1. Dari hasil perhitungan statistik gap menunjukkan ada perbedaan harapan dan kenyataan yang dialami pasien pada puskesmas yang membebaskan tarif dengan yang menerapkan tarif. Hal ini menunjukkan pembebasan tarif retribusi mempengaruhi mutu pelayanan. WPS no.82 Penerapan Tarif .30 0.1.000* Emphaty Pembebasan Tarif .ac.0.Assurance Pembebasan Tarif . Dengan demikian memang ada perbedaan antara mutu pelayanan di puskesmas yang membebaskan tarif dan yang menerapkan tarif. pada semua dimensi mutu.ugm.

Hasil wawancara mendalam dengan pasien terlihat. dan dibandingkan dengan yang tidak diintervensi terlihat perbedaan tingkat kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan (17).yang gratis. Dimensi mutu tangibles penting untuk organisasi jasa karena suatu pelayanan jasa tida k bisa dilihat secara nyata maka pelanggan akan menggunakan alat inderanya untuk menilai suatu kualitas pelayanan (18). harapan pasien masih belum terpenuhi karena ada yang belum sesuai dengan etika pelayanan kedokteran karena kadang -kadang dokter meninggalkan tugas pada jam kerja di puskesmas yang membebaskan tarif.ugm. Tjahjono Kuntjoro.id 14 Hartati. kenyamanan dan sarana non medis pada puskesmas yang membebaskan tarif bila dibandingkan dengan puskesmas yang menerapkan tarif. Untuk puskesmas yang membebaskan . tidak adanya keamanan non medik.4 Oktober 2007 1st draft ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa pelayanan yang bermutu apabila penerapan kode etik kedokteran dan standar pelayanan dapat memuaskan pasien (24).ac. bila dibandingkan de ngan pelayanan di puskesmas yang menerapkan tarif. di Cyprus menyatakan pasien yang menggunakan fasilitas kesehatan pemerintah yang gratis tingkat kepuasannya rendah dibandingkan dengan pasien yang menggunakan fasilitas swasta yang menerapkan tarif (8). kepercayaan dan komunikasi. yaitu fasilitas fisik dan lingkungan puskesmas yang tidak memadai. ini sejalan dengan penelitian. Peningkatan mutu pelayanan yang berkesinambungan menjadi salah satu kunci penting dalam menghadapi era globalisasi yang mengisyaratkan bahwa pelayanan haru s dilakukan sesuai standar dan memenuhi kaidah -kaidah mutu yang berorientasi kepada kepentingan konsumen. Hal ini juga didukung oleh penelitian di India yang melaporkan bahwa fasilitas pemerintahan yang diintervensi dengan perbaikan mutu melalui proyek dari The World Bank. untuk kategori biaya pelayanan pasien berharap tidak perlu naik. hal -hal yang menjadi harapan pasien terhadap mutu pelayanan puskesmas dapat dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu harapan pasien terhadap fasil itas fisik dan lingkungan puskesmas. harapan pasien terhadap pelayanan petugas dan harapan pasien terhadap pembebasan tarif. WPS no. Hal ini juga didukung penelitan di Kabupaten Tapanuli Tengah berpendapat bahwa kesenangan dan kenyamanan di sekitar pelayanan kesehatan t erutama di unit pelayanan kesehatan swasta memiliki pengaruh yang baik terhadap kepuasan pasien (19). Sebagian besar responden menyatakan tidak puas dengan kenyataan yang ada. Untuk pelayanan petugas. penampilan petugas. Berarti pelayanan di puskesmas yang membebaskan tarif pelayanan tidak bermutu hal Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. berarti penyedia layanan harus terus beradaptasi dengan kebutuhan konsumen (13). yaitu kecepatan pelayanan. Harapan pasien terhadap tarif puskesmas (gratis dan bayar) dari hasil wawancara mendalam mengenai harapan pasien terhadap pembayaran tarif.

2001 terlihat hasilnya tidak terlalu jauh perbedaan antara puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dengan yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). jumlah besaran dana. (b) Penyebaran. Sedangkan menurut aturan yang ada untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan masyarakat yang menjadi tanggungjawab puskesmas. akan tetapi karena di Kabupaten Asahan sudah menerapkan Good Governance hasil penilaian sedikit lebih tinggi penerapan ISO 9001. Dari hasil observasi kelengkapan dokumen di puskesmas ternyata semua dok umen yang ada hampir sama. dari 6 pasien yang diwawancara 60% menyatakan kebijaksanaan ini tidak perlu dihentikan kar ena dalam situasi ekonomi yang sulit dapat membantu pasien. (c) Pemanfaatan. Tjahjono Kuntjoro. Dari wawancara dengan kepala puskesmas dari kedua kabupaten menunjukkan. syarat pokok yang harus dipenuhi dalam m emberikan pelayanan bidang kesehatan . kecuali pada Puskesmas Mutiara dan Aek . WPS no.tarif. bila dana yang tersedia tidak dapat dialokasikan dengan baik. Ketiga syarat tersebut perlu diperhatikan. (a) Jumlah. bahwa fasilitas pemerintah sebaiknya memberlakukan pembayaran ( fee) yang sangat berguna sebagai pendapatan ( revenue) yang sebagian dapat langsung digunakan sebagai penunjang biaya operasional (17). Hal ini menunjukkan pengalokasian dana. niscaya akan menyulitk an penyelenggaraan setiap upaya kesehatan. karena tidak ada peningkatan mutu pelayanan setelah diberlakukan pembebasan tarif. akan banyak menimbulkan masalah (24).2001. sekalipun dana Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa.id 15 Hartati. bila tidak mendapatkan pengaturan yang seksama.4 Oktober 2007 1st draft mencukupi jika syarat yang lain tidak terkelola dengan baik maka pembiayaan pelayanan kesehatan tidak berjalan secara optimal. Untuk memberikan pelayanan yang baik di puskesmas dibutuhkan dana yang cukup. merupakan syarat utama dalam arti dapat membiayai penyelenggaraan semua upaya kesehatan yang dibutuhkan. Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000. bahwa dana operasional puskesmas ada tetapi pengelolaannya langsung oleh dinas kesehatan sehingga semua biaya untuk kelengkapan administrasi. Jadi dalam pembiayaan kesehatan harus transparan. Hal ini sesuai penelitian di India. Tetapi sebagian lagi pasien menyarankan pemberlakuan tarif kembali asal tidak memberatkan masyarakat dan mutu pelayanan ditingkatkan lagi. dari hasil observasi check list ISO 9001. perencanaan dana yang tidak transparan. Hal ini didukung juga laporan dari Campbell bahwa pasien psikatri yang membayar di praktek dokter swasta lebih puas daripada di rumah sakit pemerintah yang membebaskan tarif (22). baik terhadap alokasi maupun pemanfaatannya.ac. peralatan medis dan non medis sampai kebutuhan obat langsung ditangani oleh dinas kesehatan.ugm. asal mutu pelayanan ini dapat ditingkatkan. perlu ditunjang dengan tersedianya pembiayaan yang cukup (9).

Suatu organisasi di era globalisasi ekonomi yang menyebabkan terjadinya kompetisi maka organisasi itu dituntut untuk terus mengembangkan konsep dan teknologi peningkatan mutu(26). Banyak rekomendasi sebelumnya bahwa suatu penyedia jasa pelayanan kesehatan haruslah menerapkan sistem manajemen mutu termasuk metode untuk memonitor kepuasan pelanggan. (2). Pembiayaan kegiatan operasional puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dan yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan) ada perbedaan dalam hal besaran dana. responsiveness. Karena standar ISO 9001. Penutup Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh pembebasan tarif retribusi puskesmas terhadap mutu pelayanan di Puskesmas Kabupaten Simalungun dapat disimpulkan sebagai berikut: (1).2000 di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) masih rendah dibandingkan dengan puskesmas yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). proses yang tidak stabil. Perbedaan mutu t erdapat pada semua dimensi mutu tangibles.Loba dokumen lebih lengkap dengan adanya dokumen hasil survey kepuasan pelanggan. WPS no. realibility.2000 dapat digunakan oleh organisasi yang perlu proses perencanaan. Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001. Tjahjono Kuntjoro. bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun perlu memperbaiki mutu pelayanan puskesmas dengan melengkapi sarana dan prasarana baik medis maupun non medis. sebagian besar mereka belum familiar dengan istilah ini.id 16 Hartati. suatu organisasi harus dapat menerapkan sistem manajemen mutu. mutu pelayanan di puskesmas yang membebaskan tarif (Kabupaten Simalungun) dengan yang menerapkan tarif (Kabupaten Asahan). mengoreksi kekurangan yang dialami dan untuk memperbaiki proses secara berkesinambungan (27). . Hasil wawancara mendalam terhadap kepala puskesmas dari dua kabupaten tersebut. yaitu ada perbedaan signifikan. (3). bahwa organisasi yang sudah berorientasi kepada kepuasan pelangan merupakan prasyarat sistem manajemen mutu ISO 9001. Sesuai dengan p endapat yang menyatakan.ac. jumlah dana yang tersedia di puskesmas yang membebaskan tarif lebih besar daripada di puskesmas yang menerapkan tarif. Dimana mutu Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. proses pengamatan. Untuk meningkatkan mutu.4 Oktober 2007 1st draft pelayanan di puskesmas yang membebaskan tarif lebih rendah dibandingkan dengan di puskesmas yang menerapkan tarif. Bahwa hasil penelitian ini mendukung hipotesa yang diajukan. padahal keberadaan ISO 9001.2000 ini sudah lama. Saran Pertama. assurance dan empathy.2000 (25). Menurut penelitian di Helsinki menyatakan bahwa pengukuran dan peningkatan kepuasan pelanggan dalam sistem p elayanan kesehatan adalah bagian yang penting dari manajemen mutu (21).ugm.

ugm. sedang dimensi mutu realibility. memanfaatkan dana yang ada seefektif dan seefisien mungkin dalam meningkatkan mutu pelayanan.ac. mempertahankan sistem manajemen mutu dalam dimensi secara keseluruhan mulai dari tangibles. Kedua. Bagi Puskesmas Dolok Batu Nanggar hanya perlu memperbaiki tangibles (fasilitas fisik. assurance dan empathy.2000. bagi Kepala Puskesmas yang membebaskan tarif disarankan untuk melakukan evaluasi mutu berdasarkan persepsi pasien untuk memperbaiki mutu pelayanan disarankan untuk melakukan evaluasi mutu berdasarkan persepsi pasien untuk memperbaiki mutu pelayanan.id 17 Hartati. assurance dan empathy tetap dipertahankan. Ketiga. bagi peneliti selanjutnya disarankan melakukan penelitian mengenai komitmen dan motivasi petugas puskesmas terhadap pelayanan puskesmas yang membebaskan tarif.2000 di puskesmas. meningkatkan mutu pelayanan puskesmas dengan peningkatan kualitas secara berkesinambungan. Tjahjono Kuntjoro. dan walaupun sudah diterapkan Good Governance pada pelayanan di puskesmas tapi perlu dipertimbangkan untuk mengadopsi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001. melakukan penelitian mengenai efisiensi dan efektifitas . assurance (jaminan) dan empathy (perhatian). dengan memperbaiki fasilitias fisik. Bagi Puskes mas Siantar perlu melakukan perbaikan dimensi mutu tangibles dan empathy. 2000 untuk meningkatkan mutu pelayanan yang berorientasi kepada pasien.2000 di puskesmas. bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan perlu melakukan evaluasi mutu pelayanan setiap puskesmas secara rutin agar supaya kualitas pelayanan puskesmas dapat dipantau.4 Oktober 2007 1st draft tanggap). realibility (keandalan). Keempat. misalnya rehabilitasi gedung). responsiveness. puskesmas yang menerapkan tarif disarankan untuk secara terus menerus melakukan evaluasi mutu pelayanan dengan berfokus pada kepuasan pasien. Bagi Puskesmas Gunung Malela perlu melakukan perbaikan pada lima (5) dimensi mutu tangibles (penampilan fisik puskesmas). mengalokasian anggaran puskesmas sesuai dengan kebutuhan dan peningkatan fungsi pengawasan keuangan puskesmas. Puskesmas perlu memanfaatkan dana yang ada seefektif dan seefisien mungkin dalam memperbaiki mutu pelayanan.memperbaiki mutu pelayanan dengan pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan dan pemberian rewards. responsiveness (daya Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. dan memberikan pelatihan customer service dan ketrampilan medis bagi puskesmas yang mutu pelayanan rendah. Kelima. responsiveness. dan mensosialisasikan dan menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001. dan meningkatkan motivasi petugas untuk lebih mementingkan apa yang diinginkan oleh pasien. serta menggabungkan penerapan Good Governance dan ISO 9001. WPS no. reliability. dan komitmen kepala dinas untuk meningkatkan mutu pe layanan dengan menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001.

Jakarta. Oxford University 11. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 128/Menkes/SK/II/2004.N. Distant Learning Resouce Center Magister KMPK UGM http://lrc-kmpk. 1.K. (www. Yogyakarta. & Lee.wiley. 18. Tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat . 14. Edisi Pertama. 4. Daftar Pustaka 1. Gadjah Mada University Press. Kim. Laksono. Cho. dan Utarini. Opini 07 Juli (2006).2.Yunus Bengkulu.). UG.T.22. Edisi.com). Bandung 7. Hanson. Expectation As Determinant of Patient Satisfaction: Concept. 3. 12. 8. Jakarta. Susanto.pembiayaan di puskesmas yang membebaskan tarif. Pelayanan yang memuaskan. Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat. 1. 2006. Tjiptono. Journal Health Care Services Research 39 : 1.ugm. Pertama. Agus. 13.. Andi.id 18 Hartati. A. (2006). U.H.No. Jakarta.C . Thompson. Desentralisasi Kesehatan Di Indonesia dan Perubahan Fungsi Pemerintah 2001-2003. Winnie. Utarini. (2000. 2. Sunol. M. M. Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat.S. Bayumedia Publishing. 10. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.ac. Patient perception of quality following a visit to a doctor in a primary care unit.K. Journal Health Economics.dan Roberge.Yogyakarta. Hubungan antara Persepsi Tarif Retribusi dengan Kualitas Pelayanan di Balai Pengobatan Puskesmas. Mukti. Tjahjono Kuntjoro. 9. Wiyadi. vol. Gajah Mada University Press. (2005).CV. Alfabeta. (2005). Yogyakarta.H.127-1 16. Vol.Juni 2006. Trisnantoro. Arief.H. Ed. Departemen Kesehatan RI. The Impact of Visit Frequency on the Relationship between Service Quality and Outpatient Satisfaction. 19-22. (1995). 19. (2005) Hubungan Persepsi Terhadap Kualitas .W. International Journal for Quality in Health Care.W. :<http:// Health Economics.L. Peters.htm.A. (2004). (2004) Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management) Edisi pertama. Dilema Puskesmas. Family Practice ±An International Journal.N. Mutu pelayanan pasien peserta Askes dan Umum di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Tarif versus mutu. Haddad. Rao.. WPS no. (2004). Modul mata kuliah Magister Perilaku dan Promosi Kesehatan. (2004) The Impact of quality on the demand for outpatient services in Cyprus.D. no. (2006) Quality Improvement and Its. (2006). Choi..D.& Hsiao. London.C. & Purwanta (2003). (2006). Ghalia Indonesia: Jakarta. Manajemen Jasa. Mewujudkan Good Governance. Marsuli. (2006). A South Korean Study. Statistika untuk Penelitian . (2005).UGM. F. Sugiyono.D.G. Journal Health Economic. Melalui Pelayanan Publik. Yogyakarta. Dwiyanto. Pemasaran Jasa & Kualitas Pelayanan. Prestaka.R.K. N.A. 5. Siantar.2000 di puskesmas yang membebaskan tarif.M.K. Elex Media Komputindo. PT. Theory and Evidence.U. Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun. (2004) Metode Penelitian Kualitatif. M. 17.E. Potvin.4 Oktober 2007 1st draft 6.13: 1167-1180. dan melakukan penelitian mengenai penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001.17.. Profil Kesehatan Kabupaten Simalungun. Iqbal. 08 (01). Impact on The Use and Equality of Outpatient Health Services in India. Yogyakarta 15. Haryono. (2002). Nasution.IV. 7(2).interscience.

Bagi sebagian rumah sakit pemerintah.id/2011/07/badan-layanan-umum-blu-rumah-sakit/LATAR BELAKANG Biaya pelayanan kesehatan akan semakin meningkat terus . Oleh karena itu. sebagai dasar penyusunan anggaran dan subsidi. maka dapat terjadi subsidi untuk masyarakat atas. Hal ini menunjukkan adanya kontrol ketat pemerintah sebagai pemilik terhadap rumah sakit sebagai firma atau pelaku usaha.pdfhttp://tinarbukaaw. pemahaman mengenai konsep tarif perlu diketahui oleh para manajer rumah sakit. Adanya kebijakan swadana telah memberikan wewenang penetapan tarif pada direktur rumah sakit.undip. efisiensi. Akan tetapi. apabila tingkat pemulihan biaya ternyata juga rendah untuk kelas VIP misalnya.4__Hartati_10_07_WPS. Rumah sakit sebagai penyelenggara layanan kesehatan mempunyai beban tersendiri untuk bisa memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan adil bagi masyarakat.students-blog. Tarif rumah sakit merupakan aspek yang sangat diperhatikan oleh rumah sakit swasta juga oleh rumah sakit milik pemerintah. 146 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi BAB X KONSEP PENETAPAN TARIF DAN INVESTASI 10. Dikeluarkannya PP No. baik pihak rumah sakit maupun stakeholder untuk menghitung secara riil berapa biaya pelayanan yang dibutuhkan sehingga bisa menjadi alat advocacy dalam pembiayaan pelayanan kesehatan.ac. Apabila tarif mempunyai tingkat pemulihan biaya rendah diberlakukan pada kelas pelayanan bawah (misal kelas III) maka hal tersebut merupakan sesuatu yang layak. tarif memang ditetapkan berda-sarkan Surat Keputusan Menkes atau Pemerintah Daerah. Dalam rangka memberikan kemampuan pemahaman sebagaimana dimaksud dan mempersiapkan RS Pemerintah menjadi BLU serta RS Swasta menuju pada RS yang efisien dan bermutu tinggi. Hal ini mendorong seluruh elemen. maka Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) Wilayah B ali bekerja sama dengan SMARTPlus Management Training & Consulting. Good governance telah menjadi isu sentral saat ini.ugm. bermaksud menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) dengan topik ³Penghitungan Unit Cost Rumah Sakit´. penanganan pasien lebih cepat. dan kualitas pelayanan kesehatan mempunyai implikasi rumah sakit harus mampu dalam pengelolaan biaya secara komprehensif. 61 Tahun 2007 tentang Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) menuntut rumah sakit harus banyak berbenah terutama dari sisi keuangan dan akuntabilitasnya. Akan tetapi disadari bahwa tarif pemerintah umumnya mempunyai cost-recovery (pemulihan biaya) yang rendah.Pelayanan dengan Minat Pemanfaatan Pelayanan Rawat Inaphttp://www. alat negosiasi pembiayaan kepada stakeholder terkait dan dapat pula dijadikan acuan dalam mengusulkan tarif pelayanan rumah sakit yang baru dan terjangkau masyarakat. harga relatif murah dan bermanfaat. 23 tahun 2005 tentang Badan Layanan Umum (BLU) oleh Departemen Keuangan dan Permendagri No. sehingga terjadi subsidi pemerintah bagi masyarakat miskin untuk menggunakan pelayanan rumah sakit. Analisis biaya melalui perhitungan biaya per unit ini (unit cost) dapat dipergunakan rumah sakit sebagai dasar pengukuran kinerja. Untuk mengakomodir akuntabilitas terutama dalam tarif layanan rumah sakit.ac. .1 Konsep Penetapan Tarif dalam Manajemen Rumah Sakit Tarif adalah nilai suatu jasa pelayanan yang ditetapkan dengan ukuran sejumlah uang berdasarkan pertimbangan bahwa dengan nilai uang tersebut sebuah rumah sakit bersedia memberikan jasa kepada pasien. khususnya untuk bangsal VIP dan kelas I yang tidak banyak mempengaruhi orang miskin.lrckmpk. penghitungan unit cost menjadi sesuatu yang urgent untuk dibuat sehingga pengambilan keputusan yang diambil mempunyai dasar yang kuat. Prinsip keadilan. akuntanbilitas manajemen menjadi suatu unsur yang sangat penting.id/id/UP-PDF/_working/No. Jasa pelayanan yang diberikan harus bermutu lebih baik.

sudah dikenal suatu titik keseimbangan yaitu harga berada pada equilibrium berdasarkan demand dan supply (Lihat Bab II).Dalam ekonomi mikro. Pada sistem ekonomi yang berbasis pada keseimbangan pasar. jelas bahwa subsidi pemerintah tidak dilakukan Bagian III 147 .

Akibatnya. maka rumah sakit keagam saat ini bukan aan tempat berobat untuk orang miskin. Hal ini disebabkan oleh rumah sakit keagamaan sudah tidak mendapat subsidi dari pemerintah ataupun dari masyarakat baik melalui gereja ataupun dana-dana kemanusiaan lain. Penetapan Tarif untuk Pemulihan Biaya Tarif dapat ditetapkan untuk meningkatkan pemulihan biaya rumah sakit. Akan tetapi. tarif dapat ditetapkan dengan berbagai tujuan sebagai berikut. Oleh karena itu.atau terbatas pada masyarakat miskin. Pada masa lalu kebijakan swadana rumah sakit pemerintah pusat ditetapkan berdasarkan pemulihan biaya ( costrecovery. 10. terdapat penggolongan rumah sakit berdasarkan pemiliknya yaitu penanganan penetapan tarif dan tujuan penetapan tersebut dipengaruhi oleh pemiliknya. Dalam kaitan dengan misi sosial. sehingga subsidi perlu diberikan karena keadaan ini sangat penting pada proses penetapan tarif rumah sakit pemerintah. muncul pendapat yang menyatakan bahwa kebijakan swadana berkaitan dengan naiknya tarif rumah sakit. Dengan latar belakang kepemilikan tersebut. tarif dibiarkan sesuai dengan permintaan pasar. Keadaan ini terutama terdapat pada rumah sakit pemerintah yang semakin lama semakin berkurang subsidinya. 148 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi . hal ini dapat menyebabkan terjadinya ketidakadilan yaitu masyarakat miskin sulit mendapatkan pelayanan rumah sakit. menarik untuk diperhatikan bahwa tarif rumah sakit keagamaan ternyata lebih tinggi dibandingkan tarif rumah sakit pemerintah. penetapan tarif dapat menunjukkan misinya.) Oleh karena itu.2 Tujuan Penetapan Tarif Sebagaimana disebutkan dalam Bab I. Di pandang dari aspek masyarakat sebagai pengguna.

Akan tetapi. Oleh karena itu. misalnya instalasi farmasi. Sebagai contoh IRD mempunyai potensi sebagai bagian yang mendatangkan kerugian. Kebijakan subsidi silang ini secara praktis sulit dilakukan karena terjadi tarif rumah sakit yang melakukan subsidi silang jauh berada di atas tarif pesaingnya. Selain subsidi silang berbasis pada ekonomi. Dengan konsep subsidi silang ini maka tarif bangsal VIP atau kelas I harus berada di atas unit cost agar surplusnya dapat dipakai untuk mengatasi kerugian di bangsal kelas III. perlu disubsidi oleh bagian lain yang mempunyai potensi mendatangkan keuntungan. pemerintah atau pemilik rumah sakit ini mempunyai kebijakan penetapan tarif serendah mung-kin.Penetapan Tarif untuk Subsidi Silang Dalam manajemen rumah sakit diharapkan ada kebijakan agar masyarakat ekonomi ku dapat ikut at meringankan pembiayaan pelayanan rumah sakit bagi masyarakat ekonomi lemah. patut diperhatikan bahwa akses tinggi belum berarti menjamin mutu pelayanan yang baik. Berbagai pene litian menunjukkan bahwa mutu pelayanan rumah sakit pemerintah rendah akibat subsidi pemerintah terbatas dan tarif rumah sakit rendah dengan sistem manajemen yang birokratis. Tujuan Penetapan Tarif untuk Meningkatkan Akses Pelayanan Ada suatu keadaan rumah sakit mempunyai misi untuk mela-yani masyarakat miskin. Diharapkan dengan tarif yang rendah maka akses orang miskin menjadi lebih baik. Kegagalan pemerintah memberikan subsidi cukup bagi biaya operasional dan pemeliharaan rumah sakit yang mempunyai tarif rendah menyebabkan mutu pelayanan rumah sakit semakin rendah secara berkesinambungan. Apabila rumah sakit memaksakan melakukan subsidi silang dari tarif±tarif yang ada dikhawatirkan akan terjadi penurunan mutu pelayanan dalam jangka panjang dibandingkan dengan rumah sakit yang tidak mempunyai tujuan untuk subsidi silang. Oleh karena itu. Bagian III 149 . rumah sakit juga diharapkan melakukan kebijakan penetapan tarif yang berbeda pada bagian-bagiannya.

Dengan cara ini. Sebagai contoh. rumah sakit yang sudah terlebih dahulu beroperasi mempunyai strategi agar tarifnya tidak sama dengan rumah sakit baru. Tanpa kehadiran pesaing dalam suasana pasar dengan demand tinggi. misalnya mengurangi pesaing. Penetapan tarif untuk mengurangi pesaing dapat dilakukan untuk mencegah adanya rumah sakit baru yang akan menjadi pesaing. mengurangi pemakaian. Penetapan tarif untuk memperbesar keuntungan dapat dilakukan pada pasar rumah sakit yang cenderung dikuasai satu rumah sakit (monopoli). Oleh karena itu. kebijakan pene-tapan tarif pada bangsal VIP dilakukan berdasarkan pertimbangan untuk peningkatan mutu pelayanan dan peningkatan kepuasan kerja dokter spesialis. Ada hal yang menarik tentang penetapan tarif yang bertujuan minimalisasi penggunaan pelayanan. memaksimalkan pendapatan. Penetapan Tarif untuk Tujuan Lain Beberapa tujuan lainnya. Penetapan tarif dengan tujuan menciptakan Corporate Image adalah penetapan tarif yang ditetapkan dengan tujuan meningkatkan citra sebagai rumah sakit golongan masyarakat kelas atas. bangsal VIP dibangun untuk mengurangi waktu spesialis di rumah sakit swasta. tarif dapat ditetapkan secara tinggi. Dengan cara ini maka fungsi rujukan dapat ditingkatkan sehingga masyarakat hanya menggunakan rumah sakit apabila perlu saja. mencip-takan corporate image. penetapan tarif dapat dilakukan dengan tujuan memaksimalisasikan pendapatan. Sebagai contoh. meminimalkan penggunaan. Terlalu lamanya waktu yang dipergunakan dokter spesialis pemerintah bekerja di rumah sakit swasta dapat mengurangi mutu pelayanan. berbagai rumah sakit di Jakarta mene-150 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi . sehingga dapat meningkatkan surplus secara maksimal.Tujuan Penetapan Tarif untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan Di berbagai rumah sakit pemerintah daerah. tarif periksa umum pada rumah sakit pemerintah ditetapkan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pelayanan serupa di Puskesmas. maka tarif dapat dipasang pada tingkat yang setinggi-tingginya. Sebagai contoh.

Dengan perbedaan tersebut. Di sektor rumah sakit. Misi dan tujuan rumah sakit swasta dan pemerintah tentu dapat berbeda. kontrak dan cost-plus. baik monopoli. oligopoli. perorangan ataupun pemerintah. target rate of return pricing. 10. acceptance pricing. Full-Cost Pricing Cara ini merupakan cara yang paling sederhana secara teoritis. Dasar cara Bagian III 151 .3 Proses Penetapan Tarif Pemilik rumah sakit dapat berupa lembaga swasta. Penetapan Tarif Rumah Sakit dengan Menggunakan Pendekatan Perusahaan Pada perusahaan penetapan tarif mungkin menjadi keputusan yang sulit dilakukan karena informasi mengenai biaya produksi mungkin tidak tersedia. maka proses penetapan tarif dapat berbeda pula. Teknik-teknik tersebut antara lain: full-cost pricing. tetapi membutuhkan informasi mengenai biaya produksi. Timbul kesan seolah-olah berlomba untuk mendapatkan citra rumah sakit paling mewah. Teknik-teknik penetapan tarif pada perusahaan sebagian besar berlandaskan informasi biaya produksi dan keadaan pasar. maupun persaingan sempurna. masih sangat jarang. keadaannya lebih parah karena informasi mengenai unit cost misalnya. Rumah sakit swasta dapat berupa rumah sakit for-profit ataupun non-profit.tapkan tarif bangsal super VIP dengan nilai yang sangat tinggi. Pada bagian ini akan dibahas mengenai perbedaan penetapan tarif rumah sakit swasta dengan rumah sakit pemerintah.

ataupun konsumen yang tergabung dalam satu organisasi. Tarif kontrak ini dapat memaksa rumah sakit menyesuaikan tarifnya sesuai dengan kontrak yang ditawarkan perusahaan asuransi kesehatan. Dengan berbasis pada unit cost. sering mengabaikan faktor demand. dibutuhkan modal yang besar. Misalnya. Sebagai gambaran untuk mengembangkan sistem akuntasi yang baik. Walaupun cara ini masih dikritik karena berbasis pada unit cost. atau justru malah rugi atau memberikan subsidi. Dengan demikian. tarif ditentukan oleh direksi harus mempunyai 10% keun-tungan.500. Dengan demikian teknik ini mengabaikan faktor kompetisi. Dengan asumsi ini maka pembeli seakan-akan dipaksa menerima jalur produksi yang menimbulkan biaya walaupun mungkin tidak efisien. Kedua. maka asumsinya tidak ada pesaing ataupun demand-nya sangat tinggi. apabila biaya produksi suatu pemeriksaan darah Rp5. Dengan cara ini.ini dilakukan dengan menetapkan tarif sesuai dengan unit cost ditambah dengan keuntungan. Dengan demikian.00 agar memberi keuntungan 10%. Target Rate of Return Pricing Cara ini merupakan modifikasi dari metode full-cost di atas. tetapi faktor demand dan pesaing telah 152 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi . jelas bahwa analisis biaya (lihat bagian terdahulu) merupakan hal mutlak yang harus dilakukan. membutuhkan penghitungan biaya yang rumit dan tepat.000. masalah efisiensi menjadi hal yang penting untuk dipertimbangkan.00. saat ini perhitungan tarif kontrak dengan asuransi kesehatan masih sering menimbulkan perdebatan : apakah rumah sakit mendapat surplus dari kontrak. maka tarifnya harus sebesar Rp5. Teknik penetapan tarif ini dikritik karena pertama. Kontrak dan Cost-Plus Tarif rumah sakit dapat ditetapkan berdasarkan kontrak misal-nya kepada perusahaan asuransi. Dalam kontrak tersebut penghitungan tarif juga berbasis pada biaya dengan tambahan surplus sebagai keuntungan bagi rumah sakit. Akan tetapi.

pertama. Walaupun mungkin tidak ada komunikasi formal. tetapi ada saling pengertian antarrumah sakit. Rumah sakit yang lain mengikutinya.diperhitungkan. Penetapan Tarif dengan Melihat Pesaing Struktur pasar rumah sakit saat ini menjadi semakin kompetitif. Pada situasi ini. Dalam metode ini. rumah sakit harus dapat memperkirakan besar pemasukan yang benar. dan (2) penetapan tarif di bawah pesaing. Penetapan tarif benar-benar dilakukan berbasis pada analisis pesaing dan demand. Pada saat melakukan investasi. Jadi hal ini bukan semacam kartel. dan ketiga. Dalam teknik ini dibutuhkan beberapa kondisi antara lain. Hubungan antarrumah sakit dalam menetapkan tarif dapat menjadi "saling mengintip". Terdapat dua tipe metode ini yaitu: (1) penetapan tarif di atas pesaing. Dengan melihat berbagai macam teknik penetapan tarif di perusahaan swasta. dapat muncul rumah sakit yang menjadi pemimpin harga. seharusnya telah diproyeksikan demand dan pesaingnya sehingga direksi berani menetapkan target tertentu. rumah sakit harus dapat menetapkan tarif sendiri tanpa harus menunggu persetujuan pihak lain. rumah sakit harus mempunyai pandangan jangka panjang terhadap kegiatannya. Masalah akan timbul apabila pemimpin harga ini merubah tarifnya. Bagian III 153 . Para pengikutnya harus mengevaluasi apakah akan mengikutinya atau tidak. kedua. Mengapa butuh pemimpin dalam menetapkan harga? Keadaan ini dapat tim karena bul rumah-rumah sakit sakit enggan terjadi perang tarif dan mereka enggan saling merugikan. beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain. Rumah sakit lain akan mengikuti pola pentarifan yang digunakan oleh rumah sakit tersebut. biaya yang menyesuaikan dengan tarif. Acceptance Pricing Teknik ini digunakan apabila pada pasar terdapat satu rumah sakit yang dianggap sebagai panutan (pemimpin) harga.

Pertama: rumah sakit pemerintah merupakan milik masyarakat sehingga direksi rumah sakit harus bertanggung jawab kepada pemimpin politik daerah atau nasional. Kewajiban ini ditujukan untuk menjamin terjadinya pemerataan pelayanan rumah sakit. maka rumah sakit pemerintah berbeda dengan swasta dalam beberapa hal. pemerintah masih mempunyai kewajiban mengatur tarif. investasi. jika dipandang dari sudut ekonomi manajerial. antara lain gaji.tujuan penetapan tarif harus diyakini secara jelas. Kedua: rumah sakit pemerintah cenderung lebih besar dibanding dengan swasta. informasi kualitatif perlu dicari untuk membantu penetapan tarif. pemerintah merasa perlu menegaskan bahwa berbagai komponen biaya pe nyelenggaraan rumah sakit tetap disubsidi. struktur pasar dan demand harus dianalisis. Keadaan ini menyebabkan keputusan-keputusan manajemen rumah sakit pemerintah seringkali menjadi lamban karena harus menunggu persetujuan pihak-pihak berwenang. rumah sakit terbesar adalah milik pemerintah pusat dan daerah. misalnya di Jakarta dan Surabaya. Dengan disubsidinya investasi dan biaya-biaya penelitian pengembangan. dan penelitian pengembangan. pendapatan total dan biaya total harus dievaluasi dalam berbagai tingkat harga dengan asumsi-asumsi yang perlu dan penetapan tarif harus melibatkan partisipasi dari bagian akuntansi. Dengan latar belakang ini. dan tarif harus ditetapkan dengan berbasis pada tujuan. dan bertanggung jawab pula kepada Dewan Perwakilan Rakyat. dan unit-unit pelaksana fungsional. Untuk itu. Contoh klasik yaitu penetapan tarif rumah sakit daerah yang harus membutuhkan persetujuan bupati dan DPRD. Penetapan Tarif pada Organisasi Pemerintah Pada berbagai sektor termasuk kesehatan. rumah sakit pemerintah mendapat pengaruh langsung dari peraturan-peraturan atau norma-norma pemerintah. rumah sakit pemerintah terutama rumah 154 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi . pemasaran. Dengan demikian. pusat atau daerah. Besar dalam segi ukuran juga sering disertai dengan kepemimpinan dalam teknologi kedokteran.

dalam proses pentarifan sering kali biaya sumber daya manusia tidak diperhitungkan. dan isu politik. isu ekonomi. Ketiga: rumah sakit pemerintah cenderung mempunyai over-head cost yang tinggi. Isu-Isu Ekonomi Sebagaimana suatu industri yang mempunyai struktur fixed cost yang tinggi. Berbasis perbedaaan dengan rumah sakit swasta. biaya investasi tidak diperhitungkan dalam pentarifan sehingga dapat lebih murah dibanding swasta. Akibatnya. dengan segera akan terjadi gelombang protes. Dengan demikian. rumah sakit pemerintah menghadapi problem dalam Bagian III 155 . maka proses penetapan tarif dalam rumah sakit pemerintah harus memperhatikan berbagai isu yaitu isu sosial dan amanat rakyat. akan tidak disertai dengan produktivitas yang tinggi. Isu Sosial dan Amanat Rakyat dalam Penetapan Tarif Satu hal penting yang harus diperhatikan dalam penetapan tarif rumah sakit pemerintah berkaitan dengan amanat rakyat yaitu pelayanan rumah sakit secara tradisional sebagai pelayananan sosial pemerintah yang harus disubsidi sehingga perlu berhati-hati dalam menaikkan tarif. Sebenarnya rumah sakit keagamaan atau sosial yang tidak mencari keuntungan juga menghadapi berbagai isu yang serupa misalnya.sakit pendidikan mempunyai peluang untuk memonopoli segmen pelayanan tertentu tanpa mempertimbangkan biaya investasi. Hal ini terutama karena biaya gaji yang tinggi akibat besarnya jumlah pegawai tetap. Pengalaman kasus kenaikan tarif pada rumah sakit pemerintah menunjukkan hal tersebut. Keadaan inilah yang menyebabkan perubahan tarif rumah sakit pemerintah harus mendapat persetujuan wakil wakil rakyat. bagaimana isu melayani kaum dhuafa bagi rumah sakit Islam atau menjalankan pelayanan berdasarkan Kasih bagi orang miskin pada rumah sakit Katolik. Apabila kenaikan tarif dirasakan terlalu tinggi bagi masyarakat.

tarif ditetapkan rendah dan sebaliknya jika daerahnya kuat. Misi rumah sakit pemerintah menuntut agar amanat rakyat dalam pelayanan rumah sakit dipenuhi. ada tarik-menarik antara sentralisasi dan desentralisasi perencanaan. Kebu-tuhan untuk berkembang ini semakin tinggi karena persaingan antar rumah sakit semakin besar. Penetapan tarif adalah bentuk kewenangan pemerintah. Menarik bahwa untuk beberapa produk. mutu pelayanan akan semakin turun. ibarat seseorang yang masuk lumpur pasir. penetapan tarif model perusahaan harus diperhatikan oleh rumah sakit pemerintah. Fenomena menarik yaitu rumah sakit yang tidak mampu mengembangkan diri. Problem ini terjadi apabila daya subsidi pemerintah berkurang. Bagi provinsi yang lemah secara ekonomi. Akibatnya terjadi berbagai isu ekonomi yang berkaitan dengan tarif rumah sakit pemerintah. Dengan kewenangan ini. Berbagai hal di atas menunjukkan bahwa penetapan tarif rumah sakit pemerintah memang lebih kompleks daripada rumah sakit swasta. Pada prinsipnya tarif yang ada. Dengan kebijakan ini.investasi dan pengembangan program. pemerintah pusat akan mengatur tarif sesuai dengan kekuatan daerah. dalam perubahan rumah sakit menjadi lembaga sosial-ekonomi dengan prinsip-prinsip swadana. Pada keadaan yang sangat sentralisasi. penghitungan tarif sudah mendekati 156 Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi . secara tidak langsung pemerintah menerapkan subsidi silang antardaerah. cost-recovery-nya tidak memungkinkan rumah sakit pemerintah untuk berkembang. Isu Politik Sebagaimana galibnya suatu pemerintahan. semakin berusaha akan semakin terpuruk. pemerintah pusat ingin melakukan perencanaan ketat yang menunjukkan kewenangan. Jika suatu rumah sakit secara ekonomis tidak menarik stafnya. Sumber anggaran pemerintah pusat berdasarkan asas keadilan akan lebih banyak diberikan ke daerah daerah yang lemah secara ekonomi. Akan tetapi. Akan tetapi. Hal ini berakibat menurunnya jumlah pasien atau melayani pasien yang terbatas kemampuan membayar dan tuntutannya. kemampuan pemerintah kurang.

.000 Kelas III Kelas II Kelas I VIP Unit Cost Tarif 1. 2.000 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.000 25. d.960 14.unit-cost.245 3. bahwa dalam rangka peningkatan mutu dan jangkauan pelayanan Rumah Sakit serta pengaturan hak dan kewajiban masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan. c. perlu mengatur Rumah Sakit dengan Undang -Undang.800 1.000 (3B) 10. perlu . Menimbang : a. bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang -Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang harus diwujudkan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.000 (3A). bahwa Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan. kemajuan teknologi. dan huruf d serta untuk memberikan kepastian hukum bagi masyarakat dan Rumah Sakit. dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi -tingginya. -2e. e. bahwa pengaturan mengenai rumah sakit belum cukup memadai untuk dijadikan landasan hukum dalam penyelenggaraan rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan bagi masya rakat. Tabel 10.000 40.1 Contoh perhitungan tarif dan Unit Cost bangsal Kegiatan/Bangsal IRJ 2. huruf b. . huruf c.890 39. bahwa .000 27. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a.000 3. b. Tabel di bawah menunjukkan contoh tarif dari suatu rumah sakit pemerintah dan penghitungan unit-cost-nya.

Pelayanan . 3. rawat jalan. baik secara langsung maupun tidak langsung di Rumah Sakit. MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG RUMAH SAKIT. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. . adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. preventif. persamaan hak dan . Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan. keadilan.membentuk Undang-Undang tentang Rumah Sakit. atau Walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Pasal 28H ayat (1). dan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan rehabilitatif. 6. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pemerintah Daerah adalah Gubernur. . kuratif. etika dan profesionalitas. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyed iakan pelayanan rawat inap. Mengingat : Pasal 5 ayat (1). BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan. 4. Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut. Bupati. -33. 2. Pelayanan Kesehatan Paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif. 7. 5. Pasal 20. dan gawat darurat. Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan. manfaat.

anti diskriminasi. penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu peng etahuan bidang kesehatan. Rumah Sakit mempunyai fungsi : a. memberikan kepastian hukum kepada pasien. masyarakat. b. serta mempunyai fungsi sosia l. masyarakat. -5b. . sumber daya manusia rumah sakit. menyediakan Rumah Sakit berdasarkan kebutuhan masyarakat. c. . . dan d. . Pasal 5 Untuk menjalankan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan d. Pasal 3 . BAB IV TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH DAN PEMERINTAH DAERAH Pasal 6 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab untuk : a. c. pemeliharaan . pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis. penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan. meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit. perlindungan dan keselamatan pasien. mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien. -4Pasal 3 Pengaturan penyelenggaraan Rumah Sakit bertujuan: a. . b. BAB III TUGAS DAN FUNGSI Pasal 4 Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan sta ndar pelayanan rumah sakit. pemerataan. dan Rumah Sakit. lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit.

(2) Rumah Sakit dapat didirikan oleh Pemerintah. sumber daya manusia. . atau orang tidak mampu sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.b. dan j. dan peralatan. c. atau Lembaga Teknis Daerah dengan pengelolaan Badan Layanan Umum atau Badan Layanan Umum Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. i. (2) Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan BAB V PERSYARATAN Bagian Kesatu Umum Pasal 7 (1) Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi. menyediakan informasi kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Instansi tertentu. membina dan mengawasi penyelenggaraan Rumah Sakit. g. h. . -6e. e. memberikan perlindungan kepada Rumah Sakit agar dapat memberikan pelayanan kesehatan secara profesional dan bertanggung jawab. ata u swasta. . menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. f. -7(3) Rumah Sakit yang didirikan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus berbentuk Unit Pelaksana Teknis dari Instansi yang bertugas di bidang kesehatan. memberikan . menggerakkan peran serta masyarakat dalam pendirian Rumah Sakit sesuai dengan jenis pelayanan yang dibutuhkan masyarakat. d. menjamin pembiayaan pelayanan kegawatdaruratan di Rumah Sakit akibat bencana dan kejadian luar biasa . kefarmasian. memberikan perlindungan kepada masyarakat pengguna jasa pelayanan Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (4) Rumah Sakit yang didirikan oleh swasta sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) harus . Pemerintah Daerah. bangunan. . (3) Rumah Sakit . mengatur pendistribusian dan penyebaran alat kesehatan berteknologi tinggi dan bernilai tinggi. prasarana. menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit bagi fakir miskin.

(2) Ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyangkut Upaya Pemantauan Lingkungan.berbentuk badan hukum yang kegiatan usahanya hanya bergerak di bidang perumahsakitan. (4) Hasil kajian kebutuhan penyelenggaraan Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didasarkan pada studi kelayakan dengan menggunakan prinsip pemerataan pelayanan. . Bagian Ketiga Bangunan Pasal 9 Persyaratan bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus memenuhi : a. serta sesuai dengan hasil kajian kebutuhan dan kelayakan penyelenggaraan Rumah Sakit. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. efisiensi dan efektivitas. dan b. . -9Pasal 10 (1) Bangunan Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 harus dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang . (3) Ketentuan . kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian pelayanan serta perlindungan dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat. keselamatan lingkungan. persyaratan teknis bangunan Rumah Sakit. serta demografi. dan orang usia lanjut. persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung pada umumnya. Upaya Pengelolaan Lingkungan dan/atau dengan An alisis Mengenai Dampak Lingkungan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang -undangan. Bagian Kedua Lokasi Pasal 8 (1) Persyaratan lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus memenuhi ketentuan mengenai kesehatan. sesuai dengan fungsi. dan tata ruang. Pasal 10 . anak-anak. Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan dan/atau Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan. . . -8(3) Ketentuan mengenai tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota.

d. n. i. ruang pendidikan dan latihan. f. (2) Bangunan rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri atas ruang: a. instalasi air. b. ruang tunggu. i. c. ruang penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit. . kamar jenazah. t. h. pendidikan dan pelatihan. pelataran parkir yang mencukupi. g. m. instalasi pengelolaan limbah. r. ruang dapur. ruang laboratorium. laundry. ruang menyusui. ruang rawat inap.paripurna. (3) Ketentuan . h. j. p. standar dan sarana evakuasi saat terjadi keadaan darurat. d. sistem informasi dan komunikasi. e. pencegahan dan penanggulangan kebakaran. serta penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. ruang ibadah. ruang operasi. instalasi tata udara. dan u. g. e. taman. q. instalasi uap. Bagian Keempat Prasarana Pasal 11 (1) Prasarana Rumah Sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) dapat meliputi: a. rawat jalan. ambulan.10 (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis bangunan Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. ruang mekanik. k. dan j. ruang tenaga kesehatan. f. c. b. . pengolahan sampah. instalasi gas medik. ruang kantor dan administrasi. ruang radiologi. ruang farmasi. (2) Prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) . o. s. ruang gawat darurat. petunjuk. l. ruang sterilisasi. . instalasi mekanikal dan elektrikal.

(4) Rumah Sakit dapat mempekerjakan tenaga tidak tetap dan konsultan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan. (2) Tenaga kesehatan tertentu yang bekerja di Rumah Sakit wajib memiliki izin sesuai den gan ketentuan peraturan perundang -undangan. tenaga kefarmasian. . . (3) Rumah Sakit harus memiliki dat a ketenagaan yang melakukan praktik atau pekerjaan dalam penyelenggaraan Rumah Sakit. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai prasarana Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri. serta keselamatan dan kesehatan kerja penyelenggaraan Rumah Sakit (3) Prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dalam keadaan terpe lihara dan berfungsi dengan baik. . (3) Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit harus bekerja sesuai dengan standar profesi. Bagian Kelima Sumber Daya Manusia Pasal 12 (1) Persyaratan sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) yaitu Rumah Sakit harus memiliki tenaga tetap yang meliputi tenaga medis dan penunjang medis. keamanan. dan tenaga nonkesehatan. . tenaga manajemen Rumah Sakit. . . Pasal 13 .harus memenuhi standar pelayanan. (2) Jumlah dan jenis sumber daya manusia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus sesuai dengan jenis dan klasifikasi Rumah Sakit. (4) Pengoperasian . (5) Pengoperasian dan pemeliharaan prasarana Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didokumentasi dan dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan. tena ga keperawatan.11 (4) Pengoperasian dan pemeliharaan prasarana Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai kompetensi di bidangnya.12 Pasal 13 (1) Tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran di Rumah Sakit wajib memiliki Surat Izin Praktik sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. .

aman dan terjangkau. Bagian Keenam Kefarmasian Pasal 15 (1) Persyaratan kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) harus menjamin ketersediaan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang bermutu. (4) Ketentuan mengenai tenaga medis dan tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan.13 (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendayagunaan tenaga kesehatan asing pada ayat (1) ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan bahan habis pakai di Rumah Sakit harus dilakukan oleh Instalasi farmasi sistem satu pintu. . (3) Pengelolaan alat kesehatan. etika profesi. Pasal 14 (1) Rumah Sakit dapat mempekerjakan t enaga kesehatan asing sesuai dengan kebutuhan pelayanan. (3) Pendayagunaan tenaga kesehatan asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan bagi tenaga kesehatan asing yang telah memiliki Surat Tanda Registrasi dan Surat Ijin Praktik (4) Ketentuan . bermanfaat. . sediaan farmasi. menghormati hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasien. (2) Pelayanan sediaan farmasi di Rumah Sakit harus mengikuti standar pelayanan kefarmasian. . standar prosedur operasional yang berlaku.standar pelayanan Rumah Sakit. Bagian Ketujuh Peralatan Pasal 16 (1) Persyaratan peralatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) meliputi peralatan medis dan nonmedis harus memenuhi standar pelayanan. (2) Pendayagunaan tenaga kesehatan asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan alih teknologi dan ilmu pengetahuan serta ketersediaan tenaga kesehatan setempat. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar pelay anan kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. (4) Besaran harga perbekalan farmasi pada instalasi farmasi Rumah Sakit harus wajar dan berpatokan kepada harga patokan yang ditetapkan Pemerintah. .

. jenis penyakit.persyaratan mutu. . (4) Penggunaan peralatan medis dan nonmedis di Rumah Sakit harus dilakukan sesuai dengan indikasi medis pasien. (3) Rumah Sakit Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu. Pasal 15. (6) Pemeliharaan peralatan harus didokumentasi dan dievaluasi secara berkala dan berkesinambungan (7) Ketentuan mengenai pengujian dan/atau kalibrasi peralatan medis. dicabut atau tidak diperpanjang izin operasional Rumah Sakit.. Pasal 10. BAB IV . standar yang berkaitan dengan keamanan. (3) Peralatan yang menggunakan sinar pengion harus memenuhi ketentuan dan harus diawasi oleh lembaga yang berwenang. . keamanan. . dan Pasal 16 tidak diberikan izin mendirikan. (2) Rumah Sakit Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. . . organ. (2) Peralatan .15 BAB VI JENIS DAN KLASIFIKASI Bagian Kesatu Jenis Pasal 18 Rumah Sakit dapat dibagi berdasarkan jenis pelayanan dan pengelolaannya. . Pasal 17 Rumah Sakit yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. mutu. Pasal 14. Pasal 8. dan manfaat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. Pasal 19 (1) Berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan. (5) Pengoperasian dan pemeliharaan peralatan Rumah Sakit harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai kompetensi di bidangnya. golongan umur. Pasal 11. Pasal 12. Pasal 13. Pasal 9.14 (2) Peralatan medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan dan/atau institusi pengujian fasilitas kesehatan yang berwenang. keselamatan dan laik pakai. Rumah Sakit dikategorikan dalam Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus.

(4) Rumah Sakit publik yang dikelola Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat dialihkan menjadi Rumah Sakit privat. Pasal 21 Rumah Sakit privat sebagaimana dima ksud dalam Pasal 20 ayat (1) dikelola oleh badan hukum dengan tujuan profit yang berbentuk Perseroan Terbatas atau Persero. . (2) Dalam . Pasal 23 (1) Rumah Sakit pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 merupakan Rumah Sakit yang menyelenggarakan pendidikan dan penelitian secara terpadu dalam bidang pendidikan profesi kedokteran.16 (3) Rumah Sakit publik yang dikelola Pemerintah dan Pemerintah Daerah diselenggarakan berdasarkan pengelolaan Badan Layanan Umum atau Badan Layanan Umum Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. (2) Rumah Sakit publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikelola oleh Pemerintah. Pemerintah Daerah. . . . rumah sakit . Bagian Kedua Klasifikasi Pasal 24 (1) Dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara berjenjang dan fungsi rujukan. pendidikan kedokteran berkelanjutan. Pasal 22 (1) Rumah Sakit dapat ditetapkan menjadi Rumah Sakit pendidikan setelah memenuhi persyaratan dan standar rumah sakit pendidikan. Pasal 20 (1) Berdasarkan pengelolaannya Rumah Sakit dapat dibagi menjadi Rumah Sakit publik dan Rumah Sakit privat. .17 (2) Dalam penyelenggaraan Rumah Sakit Pend idikan dapat dibentuk Jejaring Rumah Sakit Pendidikan. dan pendidikan tenaga kesehatan lainnya.atau kekhususan lainnya. (3) Rumah sakit . (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai Rumah Sakit pendidikan diatur dengan Peraturan Pemerintah. . (2) Rumah Sakit pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri setelah berkoordinasi dengan Menteri yang membidangi urusan pendidikan. dan badan hukum yang bersifat nirlaba.

(3) Izin mendirikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan untuk jangka waktu 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang untuk 1 (satu) tahun.18 BAB VII PERIZINAN Pasal 25 (1) Setiap penyelenggara Rumah Sakit wajib memiliki izin. Rumah Sakit umum kelas A. b. (5) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan setelah memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. (3) Klasifikasi Rumah Sakit khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas : a. Rumah Sakit khusus kelas A. b. d. . c. Rumah Sakit khusus kelas C. Rumah Sakit umum kelas B c. Rumah Sakit khusus kelas B. (3) Izin . (2) Izin Rumah Sakit penanaman modal asing atau penanaman modal dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah mendapat rekomendasi dari instansi yang melaksanakan urusan penanaman modal asing atau penanaman modal dalam negeri. . . (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai klasifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.umum dan rumah sakit khusus diklasifikasikan berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan Rumah Sakit. BAB VII . (4) Izin operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang kembali selama memenuhi persyaratan. Rumah Sakit umum kelas D. (2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari izin mendirikan dan izin operasional. . . Pasal 26 (1) Izin Rumah Sakit kelas A dan Rumah Sakit penanaman modal asing atau penanaman modal dalam negeri diberikan oleh Menteri setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Provinsi. Rumah Sakit umum kelas C. (2) Klasifikasi Rumah Sakit umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas : a. .

atas perintah pengadilan dalam rangka penegakan hukum. ambulan gratis. melaksanakan. bermutu. antidiskriminasi. b. menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau miskin.. memberi pelayanan kesehatan yang aman. berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana. c. memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya. memberikan . Pasal 28 Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan diatur dengan Peraturan Menteri. e. pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa. tidak lagi memenuhi persyaratan dan standar. f. membuat.20 a. (4) Izin Rumah Sakit kelas C dan kelas D diberikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. pelayanan gawat darurat tanpa uang muka. dan/atau d. BAB VIII KEWAJIBAN DAN HAK Bagian Kesatu Kewajiban Pasal 29 (1) Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban : a. d. memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit kepada masyarakat. g. dan ef ektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit. c. melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin. . dan menjaga standar . terbukti melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan. Pasal 27 Izin Rumah Sakit dapat dicabut jika: a. b.19 (3) Izin Rumah Sakit kelas B diberikan oleh Pemerintah Daerah Provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan. sesuai dengan kemampuan pelayanannya. . habis masa berlakunya. .

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kew ajiban Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. p. h. melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara regional maupun nasional. Bagian Kedua Hak Rumah Sakit Pasal 30 (1) Setiap Rumah Sakit mempunyai hak: a. ruang tunggu. i.mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit sebagai acuan dalam melayani pasien. m. . jenis. . . melaksanakan sistem rujukan. menolak keinginan pasien yang bertentangan den gan standar profesi dan etika serta peraturan perundang -undangan. s. n. r. menyusun dan melaksanakan peraturan internal Rumah Sakit (hospital by laws). sarana untuk orang cacat. melaksanakan etika Rumah Sakit. menerima . dan kualifikasi sumber daya manusia sesuai dengan klasifikasi Rumah Sakit. menentukan jumlah. teguran. l. memiliki .21 o. j. q. memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana. menyelenggarakan rekam medis. . memberikan informasi yang benar. b.22 - . b. anak-anak. atau c. denda dan pencabutan izin Rumah Sakit. (2) Pelanggaran atas kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi admisnistratif berupa: a. lanjut usia. k. teguran tertulis. o. membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya. menghormati dan melindungi hak -hak pasien. melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas Rumah Sakit dalam melaksanakan tugas. wanita menyusui. dan t. menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain sarana ibadah. parkir. jelas dan jujur mengenai hak dan kewajiban pasien. . memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagai kawasan tanpa rokok. .

Bagian Keempat Hak Pasien Pasal 32 Setiap pasien mempunyai hak: a. c. melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam rangka mengembangkan pelaya nan. f. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai insentif pajak sebagaimana dmaksud pada ayat (1) huruf h diatur dengan Peraturan Pemerintah. menerima imbalan jasa pelayanan serta menentukan remunerasi. mendapatkan insentif pajak bagi Rumah Sakit publik dan Rumah Sakit yang ditetapkan sebagai Rumah Sakit pendidikan. e. insentif. g. . mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan pelayanan kesehatan. . mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan. e. c. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai promosi layanan kesehatan sebagaimana dmaksud pada ayat (1) huruf g diatur dengan Peraturan Menteri. b. adil. dan h. (2) Ketentuan . memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional. d. dan penghargaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. jujur. . f. dan tanpa diskriminasi. memperoleh layanan yang manusiawi.23 (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban pasien diatur dengan Peraturan Menteri. menerima bantuan dari pihak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. mempromosikan layanan kesehatan yang ada di Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. menggugat pihak yang mengakibatkan kerugian. memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien.b. d. memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit. . memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi. Bagian Ketiga Kewajiban Pasien Pasal 31 (1) Setiap pasien mempunyai kewajiban terhadap Rumah Sakit atas pelayanan yang diterimanya.

risiko dan kompli kasi yang mungkin terjadi. memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit. l. mendapatkan . didampingi keluarganya dalam keadaan kritis. memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit. k. mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. . m.24 i. unsur pelayanan medis. mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya. mengajukan usul. o. q. BAB IX . unsur . unsur keperawatan. n. meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit. dan r. menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana. mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis. alternatif tindakan. tujuan tindakan medis. i. . dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan. perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya. j. . dan akuntabel. menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya. . saran. . . p.25 BAB IX PENYELENGGARAAN Bagian Kesatu Pengorganisasian Pasal 33 (1) Setiap Rumah Sakit harus memiliki organisasi yang efektif. menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya. (2) Organisasi Rumah Sakit paling sedikit terdiri atas Kepala Rumah Sakit atau Direktur Rumah Sakit. h. memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya.g. efisien.

. Pasal 35 Pedoman organisasi Rumah Sakit ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Pasal 38 (1) Setiap Rumah Sakit harus menyimpan rahasia kedokteran. Bagian Kedua . . (3) Audit kinerja dan audit medis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan secara internal dan eksternal. (2) Rahasia kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dibuka untuk kepentingan kesehatan pasien.26 Bagian Kedua Pengelolaan Klinik Pasal 36 Setiap Rumah Sakit harus menyelenggarakan tata kelola Rumah Sakit dan tata kelola klinis yang baik.penunjang medis. .27 Pasal 39 (1) Dalam penyelenggaraan Rumah Sakit harus dilakukan audit. . (2) Audit sebagaimana dimaksud pada a yat (1) dapat berupa audit kinerja dan audit medis. (3) Pemilik Rumah Sakit tidak boleh merangkap menjadi kepala Rumah Sakit. (2) Tenaga struktural yang menduduki jabatan sebagai pimpinan harus berkewarganegaraan Indonesia. Pasal 34 (1) Kepala Rumah Sakit harus seorang tenaga medis yang mempunyai kemampuan dan keahlian di bidang perumahsakitan. . Pasal 39 . (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur dengan Peraturan Menteri. serta administrasi umum dan keuangan. atas persetujuan pasien sendiri. Pasal 37 (1) Setiap tindakan kedokteran yang dilakukan di Rumah Sakit harus mendapat persetujuan pasien atau keluarganya. . komite medis. . untuk pemenuhan permintaan aparat penegak hukum dalam rangka penegakan hukum. atau berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan. (2) Ketentuan mengenai persetujuan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. satuan pemeriksaan internal.

(4) Audit kinerja eksternal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan oleh tena ga pengawas. (5) Pelaksanaan audit medis berpedoman pada ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri. Bagian Ketiga Akreditasi Pasal 40 (1) Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit wajib dilakukan akreditasi secara berkala menimal 3 (tiga) tahun sekal i. (2) Akreditasi Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suatu lembaga independen baik dari dalam maupun dari luar negeri berdasarkan standar akreditasi yang berlaku. (3) Lembaga independen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. (4) Ketentuan . . . - 28 (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai akreditasi Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Bagian Keempat Jejaring dan Sistem Rujukan Pasal 41 (1) Pemerintah dan asosiasi Rumah Sakit membentuk jejaring dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan. (2) Jejaring sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi informasi, sarana prasarana, pelayanan, rujukan, penyediaan alat, dan pendidikan tenaga. Pasal 42 (1) Sistem rujukan merupakan penyelenggaraan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal, maupun struktural dan fungsional terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau permasalahan kesehata n. (2) Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban merujuk pasien yang memerlukan pelayanan di luar kemampuan pelayanan rumah sakit. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem rujukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Bagian Kelima . . . - 29 Bagian Kelima Keselamatan Pasien Pasal 43 (1) Rumah Sakit wajib menerapkan standar keselamatan pasien.

(2) Standar keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui pelaporan insiden, menganalisa, dan menetapkan pemecahan masalah dalam rangka menurunkan angka kejadian yang tidak diharapkan. (3) Rumah Sakit melaporkan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada komite yang membidangi keselamatan pasien yang ditetapkan oleh Menteri. (4) Pelaporan insiden keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuat secara anonim dan ditujukan untuk mengkoreksi sistem dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Bagian Keenam Perlindungan Hukum Rumah Sakit Pasal 44 (1) Rumah Sakit dapat menolak mengungkapkan segala informasi kepada publik yang berkaitan dengan rahasia kedokteran. (2) Pasien . . . - 30 (2) Pasien dan/atau keluarga yang menuntut Rumah Sakit dan menginformasikannya melalui media massa, dianggap telah melepaskan hak rahasia kedokterannya kepada umum. (3) Penginformasian kepada media massa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memberikan kewenangan kepada Rumah Sakit untuk mengungkapkan rahasia kedokteran pasien sebagai hak jawab Rumah Sakit. Pasal 45 (1) Rumah Sakit tidak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien dan/atau keluarganya menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien setelah adanya penjelasan medis yang komprehensif. (2) Rumah Sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka menyelamatkan nyawa manusia. Bagian Ketujuh Tanggung jawab Hukum Pasal 46 Rumah Sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit.

Bagian Kedelapan . . . - 31 Bagian Kedelapan Bentuk Pasal 47 (1) Rumah Sakit dapat berbentuk Rumah Sakit statis, Rumah Sakit bergerak, dan Rumah Sakit lapangan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan Rumah Sakit bergerak dan Rumah Sakit lapangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. BAB X PEMBIAYAAN Pasal 48 (1) Pembiayaan Rumah Sakit dapat bersumber dari penerimaan Rumah Sakit, anggaran Pemerintah, subsidi Pemerintah, anggaran Pemerintah Daerah, subsidi Pemerintah Daerah atau sumber lain yang tidak mengikat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Ketentuan lebih lanjut meng enai subsidi atau bantuan Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 49 (1) Menteri menetapkan pola tarif nasional. (2) Pola . . . - 32 (2) Pola tarif nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan berdasarkan komponen biaya satuan pembiayaan dan dengan memperhatikan kondisi regional. (3) Gubernur menetapkan pagu tarif maksimal berdasarkan pola tarif nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berlaku untuk rumah sakit di Provinsi yang bersangkutan. (4) Penetapan besaran tarif rumah sakit harus berdasarkan pola tarif nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan pagu tarif maksimal sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 50 (1) Besaran tarif kelas III Rumah Sakit yang dike lola Pemerintah ditetapkan oleh Menteri. (2) Besaran tarif kelas III Rumah Sakit yang dikelola Pemerintah Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. (3) Besaran tarif kelas III Rumah Sakit selain rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Pimpinan Rumah Sakit dengan

memperhatikan besaran tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (2). BAB XI . .33 BAB XI PENCATATAN DAN PELAPORAN Pasal 52 (1) Setiap Rumah Sakit wajib melakukan pencatatan dan pelaporan tentang semua kegiatan penyelenggaraan Rumah Sakit dalam bentuk Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit. dan pasien penderita ketergantungan narkotika dan/atau psikotropika dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 51 Pendapatan Rumah Sakit publik yang dikelola Pemerintah dan Pemerintah Daerah digunakan seluruhnya secara langsung untuk biaya operasional Rumah Sakit dan tidak dapat dijadikan pendapatan negara atau Pemerintah Daerah. . (2) Pembinaan dan pengawasan sebagaim ana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk : a. . peningkatan mutu pelayanan kesehatan. . Pasal 53 (1) Rumah Sakit wajib menyelenggarakan penyimpanan terhadap pencatatan dan pelaporan yang dilakukan untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. keselamatan pasien . (2) Pemusnahan atau penghapusan terhadap berkas pencatatan dan pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan. (2) Pencatatan dan pelaporan terhadap penyakit wabah atau penyakit tertentu lainnya yang dapat menimbulkan wabah. c.34 BAB XII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Bagian Kesatu Umum Pasal 54 (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap Rumah Sakit dengan melibatkan organisasi profesi. dan organisasi kemasyaratan lainnya sesuai dengan tugas dan fungsi masingmasing. . . BAB XII . b. . pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat. asosiasi perumahsakitan.

(5) Dalam rangka pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat mengambil tindakan administratif berupa: a. Bagian Kedua Dewan Pengawas Rumah Sakit Pasal 56 (1) Pemilik Rumah Sakit dapat membentuk Dewan Pengawas Rumah Sakit. (3) Dalam melaksanakan tugas pengawasan. teguran. asosiasi perumahsakitan.d. (3) Pembinaan dan pengaw asan secara eksternal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia. teguran . peningkatan kemampuan kemandirian Rumah Sakit. ayat (2). . . ayat (3).36 (3) Keanggotaan Dewan Pengawas Rumah Sakit terdiri dari unsur pemilik Rumah Sakit. denda dan pencabutan izin. b. Pasal 55 (1) Pembinaan dan pengawa san nonteknis perumahsakitan yang melibatkan unsur masyarakat dapat dilakukan secara internal dan eksternal. . (3) Keanggotaan . dan/atau c. (4) Tenaga pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) melaksanakan pengawasan yang bersifat teknis medis dan teknis perumahsakitan. dan e. . (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).35 b. dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri. teguran tertulis. ayat (4). pengembangan jangkauan pelayanan. . . (2) Pembinaan dan pengawasan secara internal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Dewan Pengawas Rumah Sakit. dan tokoh masyarakat. . organisasi profesi. Pemerintah dan Pemerintah Daerah mengangkat tenaga pengawas sesuai kompetensi dan keahliannya. (2) Dewan Pengawas Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan suatu unit nonstruktural yang bersifat independen dan bertanggung jawab kepada pemilik Rumah Sakit. (4) Keanggotaan Dewan Pengawas Rumah Sakit berjumlah maksimal 5 (lima) terdiri dari 1 (satu) orang ketua merangkap anggota dan 4 (empat) orang anggota.

(5) Dewan Pengawas Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas : a. d. mengawasi kepatuhan penerapan etika Rumah Sakit. . (5) Keanggotaan Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia terdiri dari unsur pemerintah. menilai dan menyetujui pelaksanaan rencana anggaran. etika profesi. dan g. e.37 (2) Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia bertanggung jawab kepada Menteri. Pasal 58 Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia bertugas: a. . f. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai Dewa n Pengawas Rumah Sakit diatur dengan Peraturan Menteri Bagian Ketiga Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia Pasal 57 (1) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) dan ayat (2) dilakukan oleh Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia yang ditetapkan oleh Menteri. mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban Rumah Sakit. dan peraturan perundangundangan. c. menentukan arah kebijakan Rumah Sakit. (4) Keanggotaan Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia berjumlah maksimal 5 (lima) orang terdiri dari 1 (satu) orang ketua merangkap anggota dan 4 (empat) orang anggota. (7) Biaya untuk pelaksanaan tugas-tugas Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia dibebankan kepada anggaran pendapatan dan belanja negara. dan tokoh masyarakat. asosiasi perumahsakitan. (2) Badan . b. mengawasi pelaksanaan kendali mutu dan kendali biaya. membuat pedoman tentang pengawasan Rumah Sakit untuk digunakan oleh Badan Pengawas Rumah . (6) Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia dalam melaksanakan tugasnya dibantu sekretariat yang dipimpin oleh seorang sekretaris. organisasi profesi. . menyetujui dan mengawasi pelaksanaan rencana strategis. mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban pasien. (3) Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia merupakan unit nonstruktural di Kementerian yang bertanggung jawab dibidang kesehatan d an dalam menjalankan tugasnya bersifat independen.

melakukan . Melakukan analisis hasil pengawasa n dan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk digunakan sebagai bahan pembinaan. organisasi profesi. e.Sakit Provinsi. Pasal 60 Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) bertugas : a. menerima pengaduan dan melakukan upaya penyelesaian sengketa dengan cara mediasi. (5) Biaya untuk pelaksanaan tugas -tugas Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi dibebankan kepada anggaran pendapatan dan belanja daerah. asosiasi perumahsakitan. c. . dan peraturan perundang -undangan. mengawasi penerapan etika Rumah Sakit. dan tokoh masyarakat. d. (4) Keanggotaan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi berjumlah maksimal 5 (lima) terdiri dari 1 (satu) orang ketua merangkap anggota dan 4 (empat) orang anggota. Pasal 61 Ketentuan lebih lanjut mengenai B adan Pengawas . Melakukan . . b. dan f. Pasal 59 (1) Badan Pengawas Rumah Sakit dapat dibentuk di tingkat provinsi oleh Gubernur dan bertanggung jawab kepada Gubernur. . mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban pasien di wilayahnya. etika profesi. b. .39 d. melakukan analisis hasil pengawasan dan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Daerah untuk digunakan sebagai bahan pembinaan. membentuk sistem pelaporan dan sistem informasi yang merupakan jejaring dari Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia dan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi. . (3) Keanggotaan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi terdiri dari unsur pemerintah. .38 c. mengawasi dan menjag a hak dan kewajiban Rumah Sakit di wilayahnya. (2) Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi merupakan unit nonstruktural pada Dinas Kesehatan Provinsi dan dalam menjalankan tugasnya bersifat independen. melakukan pelaporan hasil pengawasan kepada Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia. dan c.

selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya. .Rumah Sakit Indonesia dan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 66 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. . . (2) Selain . . pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62.000. Pasal 63 (1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 dilakukan oleh korporasi. BAB XIII KETENTUAN PIDANA Pasal 62 Setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan Rumah Sakit tidak memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp. pencabutan izin usaha. Agar . paling lambat dalam jangka waktu 2 (dua) tahun setelah Undang -Undang ini diundangkan. 5.000.41 Agar setiap orang mengetahuinya.(lima milyar rupiah).40 (2) Selain pidana denda sebagaimana d imaksud pada ayat (1). (2) Pada saat undang -undang ini berlaku. dan/atau b. semua Rumah Sakit yang sudah ada harus menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku dalam Undang Undang ini. BAB XIV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 64 (1) Pada saat Undang-Undang ini berlaku.000.00 . . . korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa: a. Izin penyelenggaraan Rumah Sakit yang telah ada tetap berlaku sampai habis masa berlakunya. pencabutan status badan hukum. memerintahkan . BAB XV KETENTUAN PENUTUP Pasal 65 Pada saat diundangkannya Undang -Undang ini berlaku semua peraturan perundang -undangan yang mengatur Rumah Sakit tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti berdasarka n Undang-Undang ini.

perdamaian abadi.pengundangan Undang -Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Disahkan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober 2009 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ttd. Wisnu Setiawan PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT I. ttd. Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum harus diwujudkan melalui berbagai upaya kesehatan dalam rangkaian pembangunan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu yang didukung oleh suatu sistem kesehatan nasional. dan keadilan sosial. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Sejalan dengan amanat Pasal 28 H ayat (1) Undang -Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah ditegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober 2009 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. Penyelenggaran pelayanan kesehatan di Rumah Sakit mempunyai karakteristik dan organisasi yang sangat kompleks. DR. kemudian dalam Pasal 34 ayat (3) dinyatakan negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Berbagai jenis tenaga kesehat an dengan perangkat keilmuannya masing -masing berinteraksi satu sama lain. UMUM Cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan keseja hteraan umum. H. Ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang berkembang sangat pesat yang harus diikuti oleh tenaga kesehatan dalam rangka pemberian . mencerdaskan kehidupan bangsa. Rumah Sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan. PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 153 Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT NEGARA RI Kepala Biro Peraturan Perundang -undangan Bidang Politik dan Kesejahteraan Rakyat.

. Yang dimaksud dengan ´nilai persamaan hak dan anti diskriminasi´ adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit tidak boleh membedakan masyarakat baik secara individu maupun kelompok dari semua lapisan. agama. Antisipasi dampak globalisasi perlu didukung dengan peraturan perundang -undangan yang memadai. Yang dimaksud dengan ´nilai perlindungan dan keselamatan . Yang dimaksud dengan ´nilai keadilan´ ad alah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit mampu memberikan pelayanan yang adil dan merata kepada setiap orang dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat serta pelayanan yang bermutu. Yang dimaksud dengan ´nilai etika dan profesionalitas´ adalah bahwa penyelenggaraan rumah sakit dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki etika profesi dan sikap profesional. Yang dimaksud dengan ´nilai pemerataan´ adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit menjangkau seluruh lapisan masyarakat. membuat semakin komple ksnya permasalahan dalam Rumah Sakit. sehingga perlu didukung dengan ketersediaan pendanaan yang cukup dan berkesinambungan. . -2Pada hakekatnya Rumah Sakit berfungsi sebagai tempat penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dan fungsi dimaksud memiliki makna tanggung jawab yang seyogyanya merupakan tanggung jawab pemerintah dalam meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. serta mematuhi etika rumah sakit. Pasal 2 Yang dimaksud dengan ´nilai kemanusiaan´ adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit dilakukan dengan memberikan perlakuan yang baik dan manusiawi dengan tidak membedakan suku.pelayanan yang bermutu. II. status sosial. mengarahkan dan memberikan dasar bagi pengelolaan Rumah Sakit diperlukan suatu perangkat hukum yang mengatur Rumah Sakit secara menyeluruh dalam bentuk Undang -Undang. . PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. dan ras. . Pada . Dari aspek pembiayaan bahwa Rumah Sakit memerlukan biaya operasional dan investasi yang besar dalam pelaksanaan kegiatannya. Yang dimaksud dengan ´nilai ma nfaat´ adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya . -3sebesar-besarnya bagi kemanusiaan dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dalam rangka memberikan kepastian dan perlindungan hukum untuk meningkatkan. Peraturan perundang -undangan yang dijadikan dasar penyelenggaraan Rumah Sakit saat ini masih pada tingkat Peraturan Menteri yang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan. bangsa.

Yang dimaksud dengan sumber daya manusia di Rumah Sakit adalah semua tenaga yang bekerja di Ru mah Sakit baik tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan. Huruf d Cukup jelas.pasien´ adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan semata. Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan paripurna tingkat ketiga adalah upaya kesehatan perorangan tingkat lanjut dengan mendayagunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan sub spesialistik. Termasuk di dalamnya asesmen . kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti insiden. Yang dimaksud dengan ³fungsi sosial rumah sakit´ adalah bagian dari tanggung jawab yang melekat pada setiap rumah sakit. Pasal 5 Huruf a Cukup jelas. yang merupakan ikatan moral dan etik dari rumah sakit dalam membantu pasien khususnya yang kurang/tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan kesehatan Pasal 3 Huruf a Cukup jelas. Huruf b Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan paripurna tingkat kedua adalah upaya kesehatan perorangan tingkat lanjut dengan mendaya gunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan spesialistik. Pasal 4 Yang dimaksud dengan Pelayanan kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan. identifikasi. . tetapi harus mampu memberikan peningkatan derajat kesehatan dengan tetap memperhatikan perlindungan dan kesela matan pasien. dan memulihkan kesehatan. Yang dimaksud dengan ³nilai keselamatan pasien´ adalah bahwa penyelenggaraan rumah sakit selalu mengupayakan peningkatan keselamatan pasien melalui upaya majamenen risiko klinik. -4asesmen risiko. Huruf c Cukup jelas. dan manajemen risiko terhadap pasien. Huruf b Yang dimaksud dengan keselamatan pasien (patient safety´ adalah proses dalam suatu rumah sakit yang memberikan pelayanan pasien yang lebih aman. . mencegah dan menyembuhkan penyakit. pelaporan dan analisis insiden. dan menerapkan solusi untuk mengurangi serta meminimalisir timbulnya risiko. .

sehingga diperlukan tindakan darurat dan luar biasa un tuk menolong dan menyelamatkan korban yaitu manusia beserta lingkungannya. ketersediaan tempat tidur. Huruf e Cukup jelas. hasil pelayanan. Huruf j Yang dimaksud berteknologi tinggi dan bernilai tinggi adalah teknologi masa depan dan teknologi baru yang mempunyai aspek kemanfaatan yang tinggi dalam pelayanan kesehatan. Huruf f Cukup jelas. Huruf d . . serta tarif. . . Huruf d Cukup jelas. Yang dimaksud dengan Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/ kematian . ketenagaan. -6kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. -5Huruf d Penapisan teknologi dimaksudkan dalam rangka perlindungan terhadap keamanan dan keselamatan pasien. . Huruf i Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas.Huruf c Cukup jelas. . Pasal 6 Ayat (1) Huruf a Penyediaan Rumah Sakit didasarkan pada perhitungan rasio tempat tidur dan jumlah penduduk . Huruf h Yang dimaksud dengan bencana adalah suatu peristiwa yang terjadi secara mendadak/tidak terencana atau secara perlahan tetapi berlanjut yang menimbulkan dampak terhadap pola kehidupan normal atau kerusakan ekosistem. Huruf g Informasi meliputi jumlah dan jenis pelayanan. Huruf c Cukup jelas.

. Studi . termasuk dalam hal pemekaran wilayah. dan kajian terhadap kemampuan pembiayaan. Pasal 9 Huruf a Bangunan Rumah Sakit merupakan wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya. -7Studi kelayakan Rumah Sakit merupakan suatu kegiatan perencanaan Rumah Sakit secara fisik dan nonfisik aga r Rumah Sakit berfungsi secara optimal pada kurun waktu tertentu. maka pendirian Rumah Sakit baru tidak menjadi prioritas. Ayat (4) Kegiatan usaha hanya bergerak di bidang perumahsakitan dimaksudkan untuk melindungi usaha rumah sakit agar terhindar dari risiko akibat kegiatan usaha lain yang dimiliki oleh badan hukum pemilik rumah sakit. Ayat (3) Yang dimaksud dengan lokasi dan tata ruang adalah jika dalam satu wilayah sudah ada Rumah Sakit. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf b Persyaratan teknis bangunan untuk penyandang cacat. sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah yang berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan pelayanan. Pasal 8 Ayat (1) Kajian kebutuhan penyelenggaraan Rumah Sakit meliputi kajian terhadap kebutuhan akan pelayanan Rumah Sakit. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. kajian terhadap kebutuhan sara na. prasarana.Ayat (2) Cukup jelas. dana dan tenaga yang dibutuhkan untuk pelayanan yang diberikan. peralatan. Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 11 Ayat (1) . Ayat (2) Cukup jelas. . anakanak dan orang usia lanjut memiliki karakteristik sendiri.

Ayat (3) Cukup jelas. Huruf i Cukup jelas. Huruf j Cukup jelas. yang diolah secara terpisah. . -9Pasal 12 Ayat (1) Yang dimaksud dengan tenaga tetap adalah tenaga yang bekerja secara purna waktu. Ayat (4) Yang dimaksud dengan kemampuan meliputi kemampuan . Ayat (2) Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. tenaga kebersihan. Huruf c . Pasal 12 .Huruf a Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. . . Yang dimaksud dengan tenaga nonkesehatan antara lain tenaga administratif. Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas. cair. bahan gas yang bersifat infeksius. Huruf f Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas. bahan kimia beracun dan sebagian bersifat radioaktif. Ayat (2) Cukup jelas. Huruf b Termasuk catu daya pengganti atau generator. . Huruf e Pengelolaan limbah di rumah sakit dilaksanakan meliputi pengelolaan limbah padat. Huruf h Cukup jelas. -8Huruf c Cukup jelas. dan tenaga keamanan.

dan okupasi terapis. pera wat gigi. terapis wicara. bahan obat. . Yang dimaksud dengan izin adalah izin kerja atau izin praktik bagi tenaga kesehatan tersebut.dana dan pelayanan Rumah Sakit. standar pelayanan medis. . Ayat (3) Yang dimaksud dengan standar profesi adalah batasan kemampuan (capacity) meliputi pengetahuan (knowledge). apoteker. merawat orang sakit serta memulihkan kesehatan pada manusia dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh. mesin. serta implan yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah. Yang . refraksionis optisien. mendiagnosa. menyembuhkan dan meringankan penyakit. . instrumen. asisten apoteker. bidan. obat tradisional. aparatus. Ayat (2) Yang dimaksud dengan tenaga kesehatan tertentu adalah tenaga perawat. Yang dimaksud dengan etika profesi adalah kode etik yang disusun oleh asosiasi atau ikatan profesi. Ayat (4) Cukup jelas. fisioterapis. Yang dimaksud dengan standar prosedur operasional adalah suatu perangkat instruksi/langkah -langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan proses kerja rutin tertentu. keterampilan (skill). radiografer. Standar prosedur operasional memberikan langkah y ang benar dan terbaik berdasarkan konsensus bersama untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan yang dibuat oleh sarana pelayanan kesehatan berdasarkan standar profesi. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas. dan standar asuhan keperawatan. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan sediaan farmasi adalah obat. dan kosmetika. Pasal 14 Cukup jelas. Yang dimaksud dengan alat kesehatan adalah bahan.10 Yang dimaksud dengan standar pelayanan Rumah Sakit adalah pedoman yang harus diikuti dalam menyelenggarakan Rumah Sakit antara lain Standar Prosedur Operasional. . dan sikap profesional (professional attitude) yang minimal harus dikuasai oleh seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi.

. Ayat (5) . . dan pendistribusian alat kesehatan. . Ayat (3) . . mengkoordinasikan. terapi. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 16 Ayat (1) Yang dimaksud dengan peralatan medis adalah peralatan yang digunakan untuk keperluan diagnosa. sediaan farmasi.12 untuk membandingkan alat yang diukur dengan standar. Yang dimaksud dengan standar peralatan medis disesuaikan dengan standar yang mengikuti standar industri peralatan medik. Yang dimaksud dengan kalibrasi adalah kegiatan peneraan untuk menentukan kebenaran nilai penunjukkan alat ukur dan/atau bahan ukur. . . Ayat (3) Cukup jelas.11 Ayat (3) Yang dimaksud dengan ³instalasi farmasi´ adalah bagian dari Rumah Sakit yang bertugas menyelenggarakan. mengatur dan mengawasi seluruh kegiatan pelayanan farmasi serta melaksanakan pembinaan teknis kefarmasian di Rumah Sakit. Yang dimaksud dengan sistem satu pintu adalah bahwa rumah sakit hanya memiliki satu kebijakan kefarmasian termasuk pembuatan formularium pengadaan. Ayat (4) Informasi harga obat (perbekalan farmasi) harus transparan atau dicantumkan di dalam buku daftar harga yang dapat diakses oleh pasien. atau untuk menentukan besaran atau kesalahan pengukuran.Ayat (2) Cukup jelas. dan bahan habis pakai yang bertujuan untuk mengutamakan kepentingan pasien. rehabilitasi dan penelitian medik baik secara langsung maupun tidak langsung. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pengujian adalah keseluruhan tindakan yang meliputi pemeriksaan fisik dan penguk uran untuk . Ayat (4) Cukup jelas. Yang dimaksud dengan peralatan nonmedis adalah peralatan yang digunakan untuk mendukung keperluan tindakan medis.

Ayat (6) Cukup jelas. Ayat (2) Rumah Sakit Umum Kelas A adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar. Pasal 22 Cukup jelas. . . Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (7) Cukup jelas. 12 (dua belas) spesialis lain dan 13 (tiga belas) subspesialis. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. melainkan digunakan untuk peningkatan pelayanan. Pasal 17 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan Pemerintah adalah Pemerintah Pusat termasuk TNI dan POLRI. Perkumpulan dan Perusahaan Umum. . . Rumah Sakit . .Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 20 . Ayat (2) Dalam ayat ini yang dimaksud dengan badan hukum nirlaba adalah badan hukum ya ng sisa hasil usahanya tidak dibagikan kepada pemilik. yaitu antara lain Yayasan. .13 Pasal 20 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan kekhususan lainnya adalah jenis pelayanan Rumah Sakit sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan bidang kedokteran. 5 (lima) spesialis penunjang medik. Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas.

Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 27 Cukup jelas. . . Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) . . Yang dimaksud dengan izin operasional adalah izin yang diberikan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan setelah memenuhi persyaratan dan standar. Ayat (4) Cukup jelas. Rumah Sakit Khusus kelas C adalah Rumah Sakit Khusus yang mempunyai fasilitas dan kemampuan paling sedikit pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis sesuai kekhususan yang minimal. 4 (empat) spesialis penunjang medik. . Rumah Sakit Umum Kelas C adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar dan 4 (empat) spesialis penunjang medik.15 Ayat (2) Yang dimaksud dengan izin mendirikan adalah ijin yang diberikan untuk mendirikan rumah sakit setelah memenuhi persyaratan untuk mendirikan. Ayat (3) Cukup jelas.. Rumah Sakit Khusus kelas B adalah Rumah Sakit Khusus yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pali ng sedikit pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis sesuai kekhususan yang terbatas. 8 (delapan) spesialis lain dan 2 (dua) subspesialis dasar.14 Rumah Sakit Umum Kelas B adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar. Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 26 Cukup jelas. Rumah Sakit Umum Kelas D adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 2 (dua) spesialis dasar. Ayat (3) Rumah Sakit Khusus kelas A adalah Rumah Sakit Khusus yang mempunyai fasilitas dan kemampuan paling sedikit pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis sesuai kekhususan yang lengkap.

Huruf e Yang dimaksud dengan ´pasien tidak mampu atau miskin´ adalah pasien yang memenuhi persyaratan yang diatur dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Huruf k Cukup jelas. Huruf h Yang dimaksud dengan penyelenggaraan rekam medis dalam ayat ini adalah dilakukan sesuai dengan standar yang secara bertahap diuapayakan mencapai standar internasional Huruf i Cukup jelas. Huruf d .16 Huruf d Cukup jelas. Huruf j Cukup jelas. . Huruf n Cukup jelas. kesehatan dan keselamatan . standar pelayanan medis. Huruf g Cukup jelas. prasarana dan peralatan yang dapat difungsikan serta dipelihara sedemikian rupa untuk mendapatkan keamanan. Pasal 29 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. . standar asuhan keperawatan. Huruf o Rumah Sakit dibangun serta dilengkapi dengan sarana. . Huruf c Cukup jelas. Huruf l Cukup jelas. . . Huruf m Cukup jelas. antara lain Standar Prosedur Operasional.17 terjaminnya keamanan. Huruf b Yang dimaksud dengan standar pelayanan rumah sakit adalah semua standar pelayanan yang berlaku di rumah sakit.Pasal 28 Cukup jelas. . mencegah kebakaran/bencana dengan terjaminnya .

Huruf t Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Ayat (2) . petugas. Huruf d Cukup jelas. Huruf p Cukup jelas Huruf r Yang dimaksud dengan peraturan internal Ru mah Sakit (Hospital bylaws) adalah peraturan organisasi Rumah Sakit (corporate bylaws) dan peraturan staf medis Rumah Sakit (medical staff bylaw) yang disusun dalam rangka menyelenggarakan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) dan tata kelola klinis yang baik (good clinical governance). memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima di Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan yang berlak u. Pasal 32 Huruf a Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Huruf s Cukup jelas. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya kepada tenaga kesehatan di Rumah Sakit.pasien. Huruf f Cukup jelas. dan lingkungan Rumah Sakit. . Pasal 31 Ayat (1) Kewajiban pasien yang dimaksud dalam ayat ini antara lain mematuhi ketentuan yang berlaku di Rumah Sakit. pengunjung. dan mematuhi kesepakatan dengan Rumah Sakit. Dalam peraturan staf medis Rumah Sakit (medical staff bylaw) antara lain diatur kewenangan klinis (Clinical Privilege). Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. .18 Ayat (2) Cukup jelas. . Ayat (3) Cukup jelas. .

Huruf r Cukup jelas. Huruf p Cukup jelas. serta direktur sumber daya manusia. . Huruf q Cukup jelas. pendiri yayasan. Huruf i Cukup jelas. Yang dimaksud dengan kepala Rumah Sakit adalah pimpinan tertinggi dengan jabatan Direktur Utama (Chief Executive . Huruf n . Huruf k Yang dimaksud dengan pemberian persetujuan atau penolakan atas tindakan kedokteran atau kedokteran gigi dapat berupa seluruh tindakan yang akan dilakukan atau dapat berupa tindakan tertentu yang disetujui. Ayat (2) Pimpinan yang harus berkewarganegaraan Indonesia adalah direktur utama.19 Huruf n Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas. Ayat (3) Yang dimaksud dengan pemilik Rumah Sakit antara lain komisaris perusahaan. Huruf j Cukup jelas. Pasal 34 Ayat (1) Cukup jelas. direktur medis dan keperawatan. Huruf l Cukup jelas. Huruf o Cukup jelas. . atau pemerintah daerah. Ayat (2) Cukup jelas. . Pasal 33 Ayat (1) Organisasi Rumah Sakit disusun dengan tujuan untuk mencapai visi dan misi Rumah Sakit dengan menjalankan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) dan tata kelola klinis yang baik (Good Clinical Governance).Huruf g Cukup jelas. Huruf m Cukup jelas.

pengelolaan keluhan. mekanisme monitor hasil pelayanan. audit klinis. independensi dan responsibilitas. peningkatan kinerja. . Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 37 Ayat (1) Setiap tindakan kedokteran harus memperoleh persetujuan dari pasien kecuali pasien tidak cakap atau pada keadaan darurat. Pasal 35 . dan akreditasi rumah sakit. Ayat (2) Cukup jelas. Audit medis adalah upaya evaluasi secara profesional terhadap mutu pelayanan medis yang diberikan kepada pasien dengan menggunakan rekam medisnya yang dilaksanakan oleh profesi medis Ayat (3) Audit medis internal dilakukan o leh Komite Medik rumah sakit Audit kinerja internal dilakukan oleh Satuan Pemeriksaan . . . data klinis.Officer) termasuk Direktur Medis. Ayat (3) Cukup jelas. . Persetujuan tertulis hanya diberikan pada tindakan kedokteran berisiko tinggi. risiko klinis berbasis bukti. Persetujuan tersebut diberikan secara lisan atau tertulis. kesetaraan dan kewaja ran. Pasal 39 . Pasal 36 Tata kelola rumah sakit yang baik adalah penerapan fungsi -fungsi manajemen rumah sakit yang berdasarkan prinsip -prinsip tranparansi.20 Pasal 35 Cukup jelas.21 Pasal 39 Ayat (1) Cukup jelas. . Ayat (2) Audit kinerja adalah pengukuran kinerja berkala yang meliputi kinerja pelayanan dan kinerja keuangan. pengembangan profesional. . akuntabilitas. Pasal 38 Ayat (1) Yang dimaksud dengan ³rahasia kedokteran´ adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan hal yang ditemukan oleh dokter dan dokter gigi dalam rangka peng obatan dan dicatat dalam rekam medis yang dimiliki pasien dan bersifat rahasia. Tata kelola klinis yang baik adalah penerapan fungsi manajemen klinis yang meliputi kepemimpinan klinik.

Pasal 48 Cukup jelas. . kejadian yang tidak diharapkan (adverse event). kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti insiden. Pasal 47 Cukup jelas. Pasal 41 Cukup jelas. identifikasi. . Ayat (3) Cukup jelas. dan nyaris terjadi (near miss). Pasien yang menolak pengobatan karena alasan finansial harus diberikan penjelasan bahwa pasien berhak memperoleh jaminan dari Pemerintah. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 44 Cukup jelas. . Pasal 40 Cukup jelas. Ayat (5) Cukup jelas . Pasal 45 Ayat (1) Pasien berhak menolak atau menghentikan pengobatan. dan menerapkan solusi untuk mengurangi serta meminimalisir timbulnya risiko.Internal. Termasuk di dalamnya asesmen risiko. dan manajemen risiko terhadap pasien. Pasal 49 Ayat (1) . Pasal 43 Ayat (1) Yang dimaksud dengan keselamatan pasien (patient safety) adalah proses dalam suatu Rumah Sakit yang memberikan pelayanan pasien yang lebih aman. Ayat (5) Cukup jelas. Ayat (2) . Ayat (2) Cukup jelas.22 Ayat (2) Yang dimaksud dengan insiden keselamatan pasien adalah kesalahan medis (medical error). pelaporan dan analisis insiden. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 42 Cukup jelas. Pasal 46 Cukup jelas.

Pasal 58 Cukup jelas. Ayat (4) Yang dimaksud dengan pengawasan teknis medis adalah audit medis Yang dimaksud dengan pengawasan teknis perumahsakitan adalah audit kinerja rumah sakit. Pasal 56 Cukup jelas. . Pasal 52 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. . Ayat (5) Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Pasal 55 Cukup jelas. Pasal 54 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 51 Cukup jelas. .Pola Tarif Nasional adal ah pedoman dasar yang berlaku secara nasional dalam pengaturan dan perhitungan untuk menetapkan besaran tarif rumah sakit yang berdasarkan komponen biaya satuan (unit cost).24 Ayat (6) Cukup jelas. .23 Ayat (2) Yang dimaksud dengan ´biaya satuan (unit cost)´ ada lah hasil perhitungan total biaya operasional pelayanan yang diberikan Rumah Sakit. Pasal 53 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 50 Cukup jelas. . . . Yang dimaksud kondisi regional termasuk didalamnya indeks kemahalan setempat Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) . Ayat (6) .

Pasal 60 Cukup jelas. PP tersebut bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik oleh Pemerintah. Dipandang dari segmentasi kelompok masyarakat.Pasal 59 Cukup jelas. sumber daya manusia yang dimiliki (profesionalitas) dan yang tidak kalah penting adalah perkembangan teknologi dari rumah sakit itu sendiri. Jenis BLU disini antara lain rumah sakit. penyiaran. karena sebelumnya tidak ada pengaturan yang spesifik mengenai unit pemerintahan yang melakukan pelayanan kepada masyarakat yang pada saat itu bentuk dan modelnya beraneka macam. sehingga tidak bisa mengembangkan mutu layanannya. Rumah sakit pemerintah yang terdapat di tingkat pusat dan daerah tidak lepas dari pengaruh perkembangan tuntutan tersebut. Pasal 61 Cukup jelas. dan lain-lain. Tuntutan lainnya adalah pengendalian biaya. Penyebabnya sangat klasik. tak sedikit keluhan selama ini diarahkan pada kualitas pelayanan rumah sakit yang dinilai masih rendah. secara umum rumah sakit pemerintah merupakan layanan jasa yang menyediakan untuk kalangan menengah ke . Rumah sakit sebagai salah satu jenis BLU merupakan ujung tombak dalam pembangunan kesehatan masyarakat. yaitu masalah keterbatasan dana yang dimiliki oleh rumah sakit umum daerah dan rumah sakit milik pemerintah. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5072 Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 1 RUMAH SAKIT PEMERINTAH DAERAH SEBAGAI BADAN LAYANAN UMUM (BLU) I. yaitu antara lain bahwa rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. dan biaya pelayanan kesehatan terkendali sehingga akan berujung pada kepuasan pasien. pelayanan lisensi. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU) adalah sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 69 ayat (7) UU No. Pasal 66 Cukup jelas. Pasal 63 Cukup jelas. baik dari aspek manajemen maupun operasional sangat dipengaruhi oleh berbagai tuntutan dari lingkungan. Perkembangan pengelolaan rumah sakit. tindakan ekonomis. Pengendalian biaya merupakan masalah yang kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai pihak yaitu mekanisme pasar. Latar Belakang Diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) No. Pasal 62 Cukup jelas. Pasal 65 Cukup jelas. Ini terutama rumah sakit daerah atau rumah sakit milik pemerintah. baik karena peralatan medis yang terbatas maupun kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang rendah. lembaga pendidikan. Namun. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Pasal 64 Cukup jelas.

maka dapat terlihat bahwa BLU memiliki suatu karakteristik tertentu. Berkedudukan sebagai lembaga pemerintah yang tidak dipisahkan dari kekayaan Negara. 2. Sedangkan Asas BLU diatur menurut Pasal 3 PP No. Akibatnya rumah sakit pemerintah diharapkan menjadi rumah sakit yang murah dan bermutu. ditegaskan kembali dalam PP No. Biaya kesehatan cenderung terus meningkat. Tujuan dibentuknya BLU adalah sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 68 ayat (1) yang menyebutkan bahwa ³Badan Layanan Umum dibentuk untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa Kemudian ´. Penerimaan baik pendapatan maupun sumbangan dapat digunakan secara langsung. yaitu : 1. Dari uraian definisi. . Menghasilkan barang dan/atau jasa yang diperlukan masyarakat. Apa saja yang dapat dikategorikan sebagai BLU? 4. Permasalahan 1. BLU tidak mencari laba. Dikelola secara otonom dengan prinsip efisiensi dan produktivitas ala korporasi. 6. 3. Rencana kerja. tidak terpisah secara hukum dari instansi induknya. 1 Tahun 2004. Tidak bertujuan untuk mencarai laba. Pengelolaan sejalan dengan praktik bisnis yang sehat. II. 4. Menyelenggarakan pelayanan umum yang pengelolaannya berdasarkan kewenangan yang didelegasikan. 23 Tahun 2005 sebagai peraturan pelaksanaan dari asal 69 ayat (7) UU No. 7. yaitu : ³Badan Layanan Umum adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas´. 5. 5. Pejabat BLU bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan layanan umum kepada pimpinan instansi induk. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 2 bawah. anggaran dan pertanggungjawabannya dikonsolidasikan pada instansi induk. Tujuan dan Azas BLU Pengertian atau definisi BLU diatur dalam Pasal 1 angka 23 UU No. anggaran dan laporan BLU dan instansi induk tidak terpisah. Peningkatan biaya kesehatan menyebabkan fenomena tersendiri bagi rumah sakit pemerintahan karena rumah sakit pemerintah memiliki segmen layanan kesehatan untuk kalangan menengah ke bawah. 3. Pemecahan Pengertian. 23 Tahun 2005. Pasal 2 yang menyebutkan bahwa ³BLU bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi dan produktivitas. Pegawai dapat terdiri dari pegawai negeri sipil dan bukan pegawai negeri sipil. sedangkan rumah sakit swasta melayani masyarakat kelas menengah ke atas. Apa yang dimaksud dengan Badan Layanan Umum (BLU)? 2. yaitu: 1. tujuan dan asas BLU. Pengertian ini kemudian diadopsi kembali dalam peraturan pelaksanaannya yaitu dalam Pasal 1 angka 1 PP No.dan rumah sakit dituntut untuk secara mandiri mengatasi masalah tersebut. Bagaimana kaitannya antara BLU dengan Rumah Sakit Pemerintah Daerah? III. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 3 4. 2. Dimanakah pengaturan mengenai BLU? 3. dan penerapan praktek bisnis yang sehat´. Rencana kerja.

yaitu: 1. 109/PMK. sekalipun BLU dikelola secara otonom dengan prinsip efisiensi dan produktivitas ala korporasi. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan keuangan BLU diatur dalam peraturan pemerintah (dhi. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 10/PMK. Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 4 9. 8. Peraturan Menteri Keuangan No.02/2006 tentang Kewenangan Pengadaan Barang/Jasa Pada Badan Layanan Umum. Dan Perubahan Rencana Bisnis Dan Anggaran serta Dokumen Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum.8.05/2007 tentang Persyaratan Administratif Dalam Rangka Pengusulan Dan Penetapan Satuan Kerja Instansi Pemerintah Untuk Menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan . Pengajuan. Peraturan Menteri Keuangan No. Pendapatan tersebut dapat digunakan langsung untuk membiayai belanja yang bersangkutan. Pendapatan yang diperoleh BLU sehubungan dengan jasa layanan yang diberikan merupakan pendapatan negara/daerah. 66/PMK. 07/PMK. yaitu: 1. 6. Peraturan Menteri Keuangan No. Peraturan Menteri Keuangan No. 5. 3. Peraturan Menteri Keuangan No.02/2006 tentang Persyaratan Administratif Dalam Rangka Pengusulan Dan Penetapan Satuan Kerja Instansi Pemerintah Untuk Menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. 9. PP No. BLU dibentuk untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu. 2. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. namun terdapat beberapa karakteristik lainnya yang membedakan pengelolaan keuangan BLU dengan BUMN/BUMD. PP No. 4. Penetapan. 3.02/2006 tentang Pembentukan Dewan Pengawas Pada Badan Layanan Umum.02/2006 tentang Tata Cara Penyusunan. 09/PMK. 4. PMK No. 10. PP No. 73/PMK. 23 Tahun 2005). Peraturan Menteri Keuangan No. 08/PMK. Dasar Pengaturan BLU BLU diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengaturnya.02/2006 jo. Setiap BLU wajib menyusun rencana kerja dan anggaran tahunan. 10. BLU bukan subyek pajak.05/2007 tentang Dewan Pengawas Badan Layanan Umum. 119/PMK.05/2007 tentang Pedoman Penetapan Remunerasi Bagi Pejabat Pengelola. Pembinaan BLU instansi pemerintah pusat dilakukan oleh Menteri Keuangan dan pembinaan teknis dilakukan oleh menteri yang bertanggung jawab atas bidang pemerintahan yang bersangkutan. BLU dapat menerima hibah atau sumbangan dari masyarakat atau badan lain. 8. Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) serta laporan keuangan dan laporan kinerja BLU disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari RKA serta laporan keuangan dan laporan kinerja kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah. 6. Pasal 1 angka 23. Peraturan Menteri Keuangan No. Pasal 68 dan Pasal 69 UU No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. 2. Dewan Pengawas dan Pegawai Badan Layanan Umum. 5. Pembinaan keuangan BLU instansi pemerintah daerah dilakukan oleh pejabat pengelola keuangan daerah dan pembinaan teknis dilakukan oleh kepala satuan kerja perangkat daerah yang bertanggung jawab atas bidang pemerintahan yang bersangkutan. 7. 7. Kekayaan BLU merupakan bagian dari kekayaan negara/daerah yang tidak dipisahkan serta dikelola dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk menyelenggarakan kegiatan BLU yang bersangkutan.

sebagai berikut: 1. Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 5 Standar layanan Tarif layanan Pengelolaan keuangan Tata kelola Ketentuan lain 15. dan manfaat bagi masyarakat. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. pelayanan lisensi. c. dan f. 14. dan 3. laporan keuangan pokok. yaitu : a. yaitu: 1. b. Persyaratan teknis : kinerja. Penyediaan barang dan/atau jasa layanan umum. dan b. 13. laporan audit terakhir atau pernyataan bersedia untuk diaudit secara independen. 11. maka harus memenuhi persyaratan sebagaimana diatur menurut Pasal 4 PP No. dana UKM. Persyaratan Substantif. pola tata kelola (yang baik). penyiaran. Persyaratan administratif : dokumen-dokumen Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 6 Rumah Sakit Pemerintah Daerah Sebagai BLU Standar Pelayanan dan Tarif Layanan . Untuk menjadi sebuah BLU. standar pelayanan minimum. lembaga pendidikan. 2. Peraturan Menteri Keuangan No. BLU yang kegiatannya menyediakan barang atau jasa meliputi rumah sakit. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. Pengelolaan wilayah/kawasan tertentu untuk tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat atau layanan umum. e. 76/PMK. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. kinerja pelayanan di bidang tugas pokok dan fungsinya layak dikelola dan ditingkatkan pencapaiannya melalui BLU sebagaimana direkomendasikan oleh menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD sesuai dengan kewenangannya.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. 3. dan/atau c. Persyaratan Teknis. Jenis dan Persyaratan BLU Apabila dikelompokkan menurut jenisnya BLU terbagi menjadi 3 kelompok. Per-50/PB/2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak ( PNBP) Oleh Satuan Kerja Instansi Pemerintah Yang Menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK-BLU). BLU yang kegiatannya mengelola wilayah atau kawasan meliputi otorita pengembangan wilayah dan kawasan ekonomi terpadu (Kapet). 2. 3. Per-67/PB/2007 tentang Tata Cara Pengintegrasian Laporan Keuangan Badan Layanan Umum Ke Dalam Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga. apabila menyelanggarakan layanan umum yang berhubungan dengan : a. b. Per-62/PB/2007 tentang Pedoman Penilaian Usulan Penerapan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Pengelolaan dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/atau pelayanan kepada masyarakat. d. 2. Persyaratan Administratif.Layanan Umum. yaitu : a. 23 Tahun 2005. penerusan pinjaman dan tabungan pegawai. Gambar : syarat-syarat BLU 1. keuangan. 12. Persyaratan substantif : penyelenggaraan layanan umum. kinerja keuangan satuan kerja instansi yang bersangkutan adalah sehat sebagaimana ditunjukkan dalam dokumen usulan penetapan BLU. BLU yang kegiatannya mengelola dana khusus meliputi pengelola dana bergulir. pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja pelayanan. rencana strategis bisnis. dan lain-lain.

Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 7 membuat rumah sakit pemerintah daerah harus melakukan banyak penyesuaian khususnya dalam pengelolaan keuangan maupun penganggarannya. asas keadilan dan kepatutan. dan khusus untuk RSUD. 2. dan 4. Imbalan atas barang/jasa layanan yang diberikan tersebut ditetapkan dalam bentuk tarif yang disusun atas dasar perhitungan biaya per unit layanan atau hasil per investasi dana. indikator proses dan indikator output. Terukur. Standar pelayanan minimal tersebut harus memenuhi persyaratan. Tarif layanan yang diusulkan dan ditetapkan tersebut harus mempertimbangkan halhal sebagai berikut: 1. berkaitan dan dapat dipercaya untuk menunjang tugas dan fungsi BLU/BLUD. merupakan kegiatan nyata yang dapat dihitung tingkat pencapaiannya. UU No. yaitu : 1.Rumah Sakit Pemerintah Daerah yang telah menjadi BLU/BLUD menggunakan standar pelayanan minimum yang ditetapkan oleh menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya. merupakan kesesuaian jadwal dan kegiatan pelayanan yang telah ditetapkan. 3. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan . pengelolaan keuangannya harus mengacu dan berdasarkan Permendagri Permendagri No. Anggaran yang akan disusun pun harus berbasis kinerja (sesuai dengan Kepmendagri No. PP No. merupakan kegiatan yang pencapaiannya dapat dinilai sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. rumah sakit pemerintah daerah mengalami perubahan menjadi BLU. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. 3. Fokus pada jenis pelayanan. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. 29 Tahun 2002). 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Umum Penyusunan APBD. Tarif layanan diusulkan oleh rumah sakit kepada menteri keuangan/menteri kesehatan/kepala SKPD sesuai dengan kewenangannya. Perubahan ini berimbas pada pertanggungjawaban keuangan tidak lagi kepada Departemen Kesehatan tetapi kepada Departemen Keuangan. Relevan dan dapat diandalkan. rasional sesuai kemampuan dan tingkat pemanfaatannya. sehingga harus mengikuti standar akuntansi keuangan yang pengelolaannya mengacu pada prinsip-prinsip akuntabilitas. 5. Tepat waktu. Penyusunan anggaran rumah sakit harus berbasis akuntansi biaya yang didasari dari indikator input. Dapat dicapai. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. 76/PMK. kemudian PP No. daya beli masyarakat. dan kemudian ditetapkan oleh menteri keuangan/kepala daerah dengan peraturan menteri keuangan/peraturan kepala daerah. 4. serta Kepmendagri No. Pengelolaan Keuangan Adanya desentralisasi dan otonomi daerah dengan berlakunya UU tentang Pemerintahan Daerah (UU No. sebagaimana diatur berdasarkan PP No. termasuk penentuan biaya. Rumah Sakit Pemerintah Daerah yang telah menjadi BLU/BLUD dapat memungut biaya kepada masyarakat sebagai imbalan atas barang/jasa layanan yang diberikan. PMK No. pemerataan dan kesetaraan layanan. Dengan terbitnya PP No. terakhir diubah dengan UU No. kontinuitas dan pengembangan layanan. 12 Tahun 2008). biaya serta kemudahan untuk mendapatkan layanan. 23 Tahun 2005. kompetisi yang sehat. 2. Dalam hal rumah sakit pemerintah di daerah (RSUD) maka standar pelayanan minimal ditetapkan oleh kepala daerah dengan peraturan kepala daerah. dan Permendagri No.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum. harus mempertimbangkan kualitas layanan. 32 Tahun 2004. merupakan kegiatan yang sejalan. dalam arti mengutamakan kegiatan pelayanan yang menunjang terwujudnya tugas dan fungsi BLU/BLUD. transparansi dan efisiensi. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.

yaitu sebagai organisasi nirlaba (PSAK No. maupun laporan keuangan pemerintah daerah. Laporan keuangan rumah sakit yang harus diaudit oleh auditor independen. Laporan keuangan tersebut merupakan penyampaian informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap entitas tersebut. 3. mengukur jasa atau manfaat bagi entitas yang bersangkutan. 45) dan menyanggupi untuk laporan keuangannya tersebut diaudit oleh auditor independen. Laporan arus kas yang mencakup arus kas dari aktivitas operasi. Sedangkan aktiva bersih diklasifikasikan aktiva bersih tidak terikat. mengetahui perubahan aktiva bersih (disajikan dalam bentuk laporan aktivitas). Catatan atas laporan keuangan. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. 4.Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. tidak disebut neraca). namun dalam PP No. 76/PMK. Sebagai organisasi kepemerintahan yang bersifat nirlaba. aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan. Yang dimaksud pembatasan permanen adalah pembatasan penggunaan sumber daya yang ditetapkan oleh penyumbang. 4. 23 Tahun 2005 menggunakan PSAK (Standar Akuntansi Keuangan) yang berasal dari IAI. sehingga isi pelaporan keuangan rumah sakit pemerintah daerah harus mengikuti ketentuan untuk pelaporan keuangan sebagaimana diatur menurut SAK. beban dan kerugian dan perubahan dalan aktiva bersih). Adapun Laporan Keuangan rumah sakit pemerintah daerah sebagai BLU yang disusun harus menyediakan informasi untuk: 1. Laporan keuangan rumah sakit pemerintah daerah merupakan laporan yang disusun oleh pihak manajemen sebagai bentuk penyampaian laporan keuangan suatu entitas. Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 8 2. Laporan aktivitas (yaitu penghasilan.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi . Sesuai dengan Pasal 26 ayat (2) PP No. utang dan aktiva bersih. maka rumah sakit pemerintah daerah semestinya juga menggunakan SAP bukan SAK. maka rumah sakit pemerintah daerah sebagai BLU/BLUD mengembangkan sub sistem akuntansi keuangan yang menghasilkan Laporan Keuangan sesuai dengan SAP (Pasal 6 ayat (4) PMK No. Pelaporan dan Pertanggungjawaban BLU sebagai instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan merupakan organisasi pemerintahan yang bersifat nirlaba. Dalam hal konsolidasi laporan keuangan rumah sakit pemerintah daerah dengan laporan keuangan kementerian negara/lembaga. mengetahui kontinuitas pemberian jasa (disajikan dalam bentuk laporan posisi keuangan). laporan keuangan rumah sakit pemerintah daerah mencakup sebagai berikut: 1. dan perubahan klasifikasi aktiva bersih. terikat kontemporer dan terikat permanen.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum). Ketentuan ini menimbulkan inkonsistensi. Berdasarkan PMK No. Sehingga. Laporan posisi keuangan (aktiva. Sedangkan pembatasan temporer adalah pembatasan penggunaan sumber daya oleh penyumbang yang menetapkan agar sumber daya tersebut dipertahankan sampai pada periode tertentu atau sampai dengan terpenuhinya keadaan tertentu. karena BLU merupakan badan/unit atau organisasi pemerintahan yang seharusnya menggunakan PSAP atau Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana diatur menurut PP No. antara lain sifat dan jumlah pembatasan permanen atau temporer. 3. 2. Klasifikasi aktiva dan kewajiban sesuai dengan perusahaan pada umumnya. pertanggungjawaban manajemen rumah sakit (disajikan dalam bentuk laporan aktivitas dan laporan arus kas). 76/PMK. 23 Tahun 2005 yang menyebutkan bahwa ³Akuntansi dan laporan keuangan BLU diselenggarakan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesia´.

menyusun dan menyajikan: 1. IV. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. . BLU yang kegiatannya mengelola dana khusus meliputi pengelola dana bergulir. dan 4. dan lain-lain. Laporan Keuangan. namun dalam hal tidak terdapat satuan pemeriksaan intern. 4. Laporan Keuangan rumah sakit pemerintah daerah tersebut sebelum disampaikan kepada entitas pelaporan direviu oleh satuan pemeriksaan intern. 3. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum). Neraca. Catatan atas Laporan Keuangan. PP No. Peraturan Menteri Keuangan No. antara lain yaitu: a. Rumah Sakit Pemerintah Daerah yang telah menjadi BLU/BLUD menggunakan standar pelayanan minimum yang ditetapkan oleh menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota. Pasal 68 dan Pasal 69 UU No. penerusan pinjaman dan tabungan pegawai. pelayanan lisensi. b.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum. Tarif layanan diusulkan oleh rumah sakit kepada menteri keuangan/menteri kesehatan/kepala SKPD sesuai dengan kewenangannya. 2. Dalam hal rumah sakit pemerintah di daerah (RSUD) maka standar pelayanan minimal ditetapkan oleh kepala daerah dengan peraturan kepala daerah. dan 2. Yang dapat dikategorikan sebagai BLU menurut jenisnya terbagi menjadi 3 kelompok. c. Imbalan atas jasa layanan yang diberikan tersebut ditetapkan dalam bentuk tarif yang disusun atas dasar perhitungan biaya per unit layanan atau hasil per investasi dana. maka rumah sakit pemerintah daerah dalam rangka pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan dan kegiatan pelayanannya. Pasal 1 angka 23. reviu dilakukan oleh aparat pengawasan intern kementerian negara/lembaga. Badan Layanan Umum adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas (Pasal 1 angka 23 UU No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. dan kemudian ditetapkan oleh menteri keuangan/kepala daerah dengan peraturan menteri keuangan/peraturan kepala daerah. dan Pasal 1 angka 1 PP No. 3. yaitu: a. d. Penutup 1. 2. Laporan Kinerja. lembaga pendidikan. Sedangkan Laporan Keuangan tahunan BLU diaudit oleh auditor eksternal. Peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur BLU/BLUD. 23 tahun 2005. dan c. b. penyiaran. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. BLU yang kegiatannya mengelola wilayah atau kawasan meliputi otorita pengembangan wilayah dan kawasan ekonomi terpadu (Kapet).Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum dan sesuai pula dengan Pasal 27 PP No.dan e. dana UKM. Reviu ini Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 9 dilaksanakan secara bersamaan dengan pelaksanaan anggaran da penyusunan n Laporan Keuangan BLU. Selain itu Rumah Sakit Pemerintah Daerah dapat memungut biaya kepada masyarakat sebagai imbalan atas jasa layanan yang diberikan. 76/PMK. Laporan Arus Kas. Laporan Realisasi Anggaran dan/atau Laporan Operasional. Laporan Keuangan tersebut paling sedikit terdiri dari: 1. BLU yang kegiatannya menyediakan barang atau jasa meliputi rumah sakit. PP No.

Vianey Norpatiwi. Menimbang : a. sejalan dengan keputusan Konperensi Presidium Kabinet Kerja dengan semua Catur Tunggal Tingkat I seluruh Indonesia di Jakarta pada tanggal 11 s/d 16 Maret 1964.jdih. Referensi : 1. ³ Aspek Value Added Rumah Sakit Sebagai Badan Layanan Umum´. Peraturan Menteri Keuangan No. Reviu ini dilaksanakan secara bersamaan dengan pelaksanaan anggaran dan penyusunan Laporan Keuangan BLU. PP No. 23 Tahun 2005. PENYERAHAN/PENYELENGGARAAN. Sedangkan Laporan Keuangan tahunan BLU diaudit oleh auditor eksternal yaitu BPK.M. 8. c. 29 Tahun 2002. 49 tahun 1952 (Lembaran. Soetomo" di Surabaya tersebut. PP No.Sie Infokum ± Ditama Binbangkum 10 Dengan terbitnya PP No.bpk. 4. Soetomo" tersebut Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur melakukan pengerahan dan pengumpulan (alamulasi) dana dan daya (funds and forces). PP No. yang menurut keputusan Konp erensi tersebut di-jalankan untuk kepentingan kerja pembangunan Daerah.id/informasihukum/RSUD_BLU. 6. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. UU No.pdfhttp://www. transparansi dan efisiensi. 7. 3. 80). Mengingat: 1. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. yang menurut pasal 2 ayat (3) Peraturan Pemerintah No. b. Laporan Keuangan rumah sakit pemerintah daerah tersebut sebelum disampaikan kepada entitas pelaporan direviu oleh satuan pemeriksaan intern. 2.bpk. Perubahan ini berimbas pada pertanggungjawaban keuangan tidak lagi kepada Departemen Kesehatan tetapi kepada Departemen Keuangan. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah.Negara tahun 1952 No. PENYERAHAN/PENYELENGGARAAN RUMAH SAKIT UMUM "DR. rumah sakit pemerintah daerah mengalami perubahan menjadi BLU. . disarikan dari Acara Workshop Penyusunan RPP tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU).jdih. 76/PMK. http://www. reviu dilakukan oleh aparat pengawasan intern kementerian negara/lembaga. 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Anggaran yang akan disusun pun harus berbasis kinerja sesuai dengan Kepmendagri No.Pasal 5 ayat 2 Undang-undang Dasar.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum.bahwa memandang perlu Rumah Sakit "Dr. Joko Supriyanto dan Suparjo. perlu diselaraskan dengan keputusan Konperensi tersebut. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.bahwa untuk pembiayaan Rumah Sakit Umum "Dr. Presiden Republik Indonesia. ditugaskan kepada Kementerian Kesehatan. Soetomo" di Surabaya diserahkan kepada/diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur. sehingga harus mengikuti standar akuntansi keuangan yang pengelolaannya mengacu pada prinsip-prinsip akuntabilitas. 5.pdf PP 4/1965. A.id/informasihukum/RSUD_BLU.go. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. SOETOMO" DI SURABAYA KEPADA PEMERINTAH DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR Oleh:PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor:4 TAHUN 1965 (4/1965) Tanggal:27 JANUARI 1965 (JAKARTA) Kembali ke Daftar Isi Tentang:PENYERAHAN/PENYELENGGARAAN RUMAH SAKIT UMUM "DR. ³Badan Layanan Umum : Sebuah Pola Pemikiran Baru atas Unit Pelayanan Masyarakat´.go.bahwa ketentuan mengenai penyelenggaraan Rumah Sakit "Dr. SOETOMO" DI SURABAYA KEPADA PEMERINTAH DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR TINGKAT I JAWA TIMUR. namun dalam hal tidak terdapat satuan pemeriksaan intern.

Pasal 2 ayat (3) dan pasal 10 Peraturan Pemerintah no. 49 tahun 1952 (Lembaran-Negara tahun 1952 No.2. Pasal 1. 80). Soetomo" di Surabaya kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur. Mendengar: Menteri Koordiantor Kompartimen Kesejahteraan dan Menteri Kesehatan. . Memutuskan: Menetapkan : Peraturan Pemerintah tentang penyerahan/penyelenggaraan Rumah Sakit Umum "Dr.

Soetomo" di bidang pemeriksaan. -------------------------------CATATAN Borneo Tribune. distribusi dan sebagainya) menjadi tanggungan Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur. ICHSAN. Ia juga menambahkan ke depan harus ada penataan area menyediakan tempat untuk peristirahatan yang nyaman dan sejuk segar bagi pasien maupun keluarga pasien sehingga nantinya sebuah RS tidak hanya memberikan pengobatan secara medis saja akan tetapi juga . *16620 Pa 2. tentu harus ada upaya bertahap yang harus dilakukan Pemkab untuk pembangunannya. 49 tahun 1952 (Lembaran-Negara tahun 1952 No. Ketapang Masih kurangnya fasilitas yang dimiliki RSUD AgoesDjam Ketapang hendaknya jangan dijadikan alasan untuk tidak memberikan pelayanan yang maksimal kepada pasien. b. Presiden Republik Indonesia. pengangkutan. pengobatan dan perawatan. Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran-Negara Republik Indonesia. Soetomo" di Surabaya sebagaimana yang dimaksudkan dalam pasal 2 ayat (3) Peraturan Pemerintah No. dipekerjakan pada Rumah Sakit Umum "Dr.Rumah Sakit Umum "Dr. SUKARNO. pembenahan dan penataan ruangan ini tentunya diiringi terutama peningkatan profesionalisme dalam pekerjaan dan meningkatkan mutu pelayanan. Demikian dikatakan Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana (PKBI) Ketapang Ny Hj Hartati. Diakui memang fasilitasi gedung khususnya masih minim namun. Pemeliharaan pegawai (perumahan. Departemen Kesehatan memberikan bantuan dalam hal keperluan akan obat obat dan alat-alat kesehatan menurut ketentuan-ketentuan tertentu.pelaksanaan funksi dan tugas pekerjaan Rumah Sakit Umum "Dr. MOHD. Untuk itu. sal Penyelenggaraan yang dimaksudkan dalam pasal 1 Peraturan Pemerintah ini meliputi : a. alat-alat kedokteran dan lain-lain sebagainya. Pasal 5. Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1965.penyelenggaraan administrasi. pemeliharaan gedung-gedung alat-alat rumah tangga. Soetomo". hal itu kata dia terlihat dari sisi pelayanan dan penataan ruang yang sudah terlihat familiar. Para pegawai sekarang tetap memiliki status sebagai pegawai Pemerintah Pusat. Diundangkan di Jakarta pada tanggal 27 Januari 1965. Pasal 6. Senin kemarin. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 27 Januari 1965. Pasal 3. sejak satu tahun terakhir ini pelayanan di RS kebanggaan Ketapang ini sudah terlihat baik. Ia sendiri mengakui. Pasal 4.satunya RS milik pemerintah yang tedapat di Kabupaten Ketapang ini RS harus berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara prima dan profesionalisme. 80) penyelenggaraannya diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur. pendidikan. Sekretaris Negara. Namun sebagai satu . ia memberikan apresiasi kepada pengelola RS banyak melakukan pembenahan dan penataan ruangan dengan harapan pasien yang berobat kesini akan merasa nyaman dan terobati.

´ Demikian dikatakan anggota DPRD Provinsi Dapil Ketapang dari Partai Golkar.Md mengatakan bahwa kendati tidak secara langsung namun keberadaan rumah sakit memiliki kaitan dengan pariwisata karena sama ± sama pemberi jasa dalam bidang pelayanan hanya saja bedanya rumah sakit dalam bidang jasa pelayanan kesehatan sedangkan pariwisata dalam bidang jasa pelayanan umum. rumah sekolah. seperti pada jalan poros Pelang-Tumbang Titi. namun pada prinsipnya sama yaitu membuat atau menciptakan rasa atau suasana nyaman dan betah bagi konsumen. Sehingga perlu perhatian serius. Anastasius Bantang. A. Menurut Anastasius. Kepala Seksi Pariwisata Abdul Manan. 2 Desember 2006 Unsur dlm Pelayanan Prima R Efektif R Efisien R Aman R Nyaman R Memuaskan . Di Ketapang kota gedung dan tugu indah dan besar-besar. ketika ditemui di rumahnya di Pontianak (5/1). Dengan adanya APBD 2009 diharapkan semua jalan di Kabupaten Ketapang supaya diaspal. sementara keadaan di desa pedalaman memprihatinkan. agar memudahkan transportasi dan memperlancar arus perekonomian masyarakat pedalaman. Siduk-Sungai kelik. Kalau kita membawa orang sakit yang sudah koma bisa game di jalan. Dia berharap tahun 2009 ini APBD yang untuk pos pembagunan infrastruktur agar digunakan untuk pembenahan jalan seperti poros Ketapng-Tumbang Titi. Bahkan kata dia. jalan Tumbang Titi-Ketapang. di negara maju RS dapat dijadikan tempat wisata bagi pasien. pembangunan infrastruktur jalan tanah di pedalaman Ketapang sebenarnya sudah tidak layak. ³Seperti contoh. TIPs dan trik peayanan prima RS (*Disampaikan pada:In-House Training ³Pelayanan Sepenuh Hati´ di RS PKU Muhammadiyah Sruweng. Anastasius meminta jangan sampai gambut serta krisis global dijadikan alasan tersendatnya pembangunan jalan. itu betul. ³Pembangunan di Pedalaman Ketapang lamban. hal ini yang membuat tidak masuk akal. Anastasius berharap agar pembangunan di Ketapang berpihak juga pada masyarakat pedalaman.´ ujarnya.dapat memberikan pengobatan hati disamping tidak melupakan budaya keramah-tamahan dalam pelayanan kami kepada pasien. Sementara itu. Indonesia sudah merdeka 63 tahun. Sungai Gantang ± Teluk Batu. rumah guru dan kesejahteraannya di pedalaman juga diperhatikan. namun jalan di pedalaman Ketapang belum diaspal. seperti pembanguna gedung sekolah yang sudah sepantasnya direhab jangan dibiarkan sampai roboh.

R Social/Affiliation Needs (kebutuhan untuk bersosialisasi) R Esteem Needs (kebutuhan harga diri).´ R Harus fokus pada peningkatan KINERJA KARYAWAN Kinerja Karyawan tergantung pada (Gibson): R Motivasi R Kemampuan R Lingkungan kerja Apa sebenarnya yg dibutuhkan karyawan (Maslow): R Physiological Needs (Kebutuhan fisiologis/dasar/pokok) R Safety Needs (kebutuhan akan rasa aman). pengalaman) R Kondisi Tubuh R Faktor Keluarga (demographical factors) R Faktor alamiah (geographical factors) Lingkungan kerja R Struktur tugas dan pola kerja R Kompleksitas pekerjaan R Pola kepemimpinan dan kerjasama R Ketersediaan alat sarana kerja R Imbalan (reward system) Tips Memotivasi Karyawan R Komunikasi Yang Terbuka: memberikan kepada pekerja keterangan yang mereka perlukan untuk melakukan sesuatu pekerjaan yang baik R memberikan kesempatan umpan balik secara teratur R meminta masukan dari karyawan dan melibatkan mereka di dalam keputusan yang mempengaruhi pekerjaan mereka R Membuat saluran komunikasi yang mudah dipergunakan. dari aspek: R financial measurement R marketing perspective R production & operational perspective R human resource perspective R Jalan Menuju RS Barokah Bagaimana Mewujudkannya? R bicara ³fokus pada pelanggan´ maka konteks seharusnya adalah pada ³pelanggan internal dan eksternal. informasi. sehingga karyawan dapat .´ R Tidak mungkin terjadi ³fokus pada pelanggan´ tanpa didahului oleh ³fokus pada karyawan. R Self-actualization Needs (kebutuhan aktualisasi diri). Ada apa dengan Kemampuan karyawan? R Pengetahuan (Pendidikan. pelatihan.Manfaat Pelayanan Prima bagi RS R Mencerminkan produktivitas RS R Balancad Score-Card tinggi.

R Sambungan telepon langsung. R mempelajari apa saja kegiatan-kegiatan lain yang pekerja lakukan bila mereka mempunyai waktu luang. R Kenalilah kebutuhan-kebutuhan pribadi karyawan R Gagasan menggunakan kinerja sebagai dasar untuk promosi R menetapkan suatu kebijakan promosi dari dalam secara komprehensif. forum-forum kelompok kecil. R menegaskan komitmen perusahaan terhadap perkaryaan jangka panjang R membantu berkembangnya rasa ³bermasyarakat´ R Gajilah karyawan secara bersaing berdasarkan apa yang mereka kerjakan R menawarkan ³pembagian keuntungan´ (profit sharing) kepada karyawan. R memberi selamat secara pribadi kepada karyawan yang melakukan pekerjaan dengan baik. R terus menerus memelihara hubungan dengan orang yang mereka bawahi R menulis Memo secara pribadi kepada mereka tentang hasil kinerja mereka. dan kemudian menciptakan kesempatan bagi mereka untuk melakukan kegiatan itu secara lebih teratur.menggunakannya untuk mengutarakan pertanyaan/kehawatiran mereka dan memperoleh jawaban. . tanya jawab dengan pimpinan dan ³politik pintu terbuka´ R belajar dari para karyawan itu sendiri apa yang memotivasi mereka. kotak saran. R menghargai karyawan karena pekerjaan mereka yang baik secara umum R meliputi pertemuan-pertemuan pembentukan moril seperti ³merayakan kesuksesan yang dicapai kelompok´ R memberi karyawan satu pekerjaan yang baik untuk dikerjakan R apakah karyawan mempunyai sarana kerja yang terbaik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful