Sejarah hidup imam ghazali Kategori Biografi | 10-05-2008 | 98 Komentar

Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. Sehingga setiap kaum muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau. Nama, Nasab dan Kelahiran Beliau Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A¶lam Nubala¶ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi¶iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali). Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, ³Tasydid dalam Al Ghazzali adalah yang benar.´ Bahkan Ibnu Assam¶ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, ³Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang da erah Al Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.´ Ada yang berpendapat Al Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka¶ab Al Akhbar, ini pendapat Al Khafaji. Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab Thabaqat Asy Syafi¶iyah dalam catatan kakinya 6/192-192). Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A¶lam Nubala¶ 19/326 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi¶iyah 6/193 dan 194). Kehidupan dan Perjalanannya Menuntu t Ilmu Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, ³Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.´

Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali. Beliau pun bercerita. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi . Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi¶iyah 6/194). Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi¶i dan fikih khilaf. ushul. beliau menangis dan memohon kepada Allah ta¶ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. ilmu perdebatan. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma¶ili dan menulis buku At Ta¶liqat. Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Dia berkata. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. hingga beliau berkata. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi.´ Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta¶ala. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. hikmah dan filsafat. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih). Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya.´ (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi¶iyah 6/193-194). Mencapai kedudukan yang sangat tinggi. ³Ketahuilah oleh kalian berdua. beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. manthiq. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat. Thabaqat Asy Syafi¶iyah 6/191). saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. ³Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta¶ala . maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu. Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi¶iyah 6/195). Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. serta memberikan nafkah semampunya. yaitu Al Juwaini (Lihat Adz Dzahabi. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Setelah Imam Haramain meninggal.Setelah meninggal. sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Siyar A¶lam Nubala¶ 19/323 dan As Subki. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat.

Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis. Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak.´ (Majmu¶ Fatawa 6/54). cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu. ³Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. berupa filsafat. (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan. ³Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa¶. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya. Melatih jiwa dan mengenakan pakaian para ahli ibadah. ³Abu Hamid condong kepada filsafat. Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya Ulumuddin. Al Qisthas dan kitab Mahakkun Nadzar. Hingga murid terdekatnya. walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Beliau senang membeda h dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata. ikhlas dan perbaikan jiwa. dan kembali ke Damaskus beri¶tikaf di menara barat masjid Jami¶ Damaskus. Al Arba¶in. Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih. Polemik Kejiwaan Imam Ghazali Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Adz Dzahabi berkata. ilmu kalam. ³Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar¶i). tasawuf dan ushul.´ (Majmu¶ Fatawa 4/164). akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya. ³Abu Hamid rahimahullah berhaji dan tinggal di Syam sekitar 10 tahun. Oleh karena itu. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata.´ (Majmu¶ Fatawa 6/54). Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits -hadits Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin) yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami¶ Umawi (yang sekarang dinamai Al Ghazaliyah). dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Pada bulan Dzul Qai¶dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya. Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya¶ Ulumuddin.yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. yaitu kitab At Tahafut. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata. Dia membongkar kejelekan mereka.´ (Siyar A¶lam Nubala 19/328). Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi. Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu µalaihi wa sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Ibnu Asakir berkata. kemudian ingin keluar dan tidak mampu. Beliau menulis dan bermujahadah dan tinggal di menara barat masjid Jami¶ Al . ³Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan. niscaya dia telah binasa.

niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Masa Akhir Kehidupannya Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. lalu berkata. Kemudian pindah ke Baitul Maqdis.´ Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya. -bersambung insya Allah*** Sumber: Majalah As Sunnah Penyusun: Ust. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri. Ketika Wazir Fakhrul Mulk menjadi penguasa Khurasan. saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat.´ (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A¶lam Nubala 6/34). Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim).or. Lalu menjadi orang yang zuhud. Dipublikasikan kembali oleh www. Beliau wafat di kota Thusi. ³Bawa kemari kain kafan saya. (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A¶lam Nubala 6/34). pulang ke negerinya dengan menekuni ilmu dan menjaga waktunya untuk beribadah.´ Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat.´ (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A¶lam Nubala 6/34). Beliau tinggalkan jabatannya pada tahun 488 H. berkumpul dengan ahli ibadah. Kemudian kembali ke Thusi. Pada subuh hari Senin. Sampai akhirnya beliau datang ke Naisabur dan mengajar di madrasah An Nidzamiyah beberapa saat.id Al-Ghazali. Berkata Imam Adz Dzahabi. Setelah beberapa tahun. ³Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut. Kholid Syamhudi. Disampaikan juga oleh Ibnu Khallakan dengan perkataannya. pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi¶iyah 6/201). dan berkata. Mendengarkan kitab Shahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin Ubaidilah A l Hafshi.muslim. Seandainya beliau berumur panjang.Umawi. Beliau habiskan sisa waktunya dengan mengkhatam Al Qur¶an. beliau dipanggil hadir dan diminta tinggal di Naisabur. menukil cerita Ahmad (saudaranya). Lc.´ Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. mengajar para penuntut ilmu dan melakukan shalat dan puasa serta ibadah lainnya sampai meninggal dunia. berhaji dan tinggal menetap di Damaskus beberapa lama. ³An Nidzam (Nidzam Mulk) mengutusnya untuk menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad tahun 484 H. lalu ke Mesir dan tinggal beberapa lama di Iskandariyah. ³Pada akhir kehidupannya. Ilmuwan dan Filosof Besar Islam . Beliau mendirikan satu madrasah di samping rumahnya dan asrama untuk orang-orang shufi.

Selang beberapa tahun kemudian ia pergi ke Naisabur. al-Ghazali banyak mengkaji buku-buku filsafat. Banyuwangi Tokoh yang bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad ath -Thusi al-Ghazali ini dilahirkan di Ghazalah. Di sana ia belajar berbagai macam disiplin ilmu. Buku-bukunya banyak dikaji dan hampir menjadi rujukan wajib di perguruan-perguruan tinggi Islam sejak masa itu hingga kini. Dikenal sebagai orang yang dekat dan mencintai ulama juga cendekiawan. Ahmad bin Muhammad ar -Razikani. Kepadanya Imam Ghazali belajar ilmu kalam dan logika. Meliputi ilmu Kalam (teologi Islam). kedua. Setelah ayahnya wafat. pendiri madrasah Nizhamiyah. Ia mengembara selama 10 tahun. Filsafat. tasawuf. dari cara berpakaian hingga potongan rambut. ia pun meninggalkan Naisabur menuju Muaskar. Selanjutnya ia disekolahkan di sebuah sekolah yang menanggung biaya hidup muridnya.A. karya-karyanya cukup diminati dan dikagumi oleh banyak kalangan. Dia diterima masuk di Madrasah Nizhamiyah pimpinan Imam al-Haramain al-Juwaini. Tak satu forum agama pun yang tidak dihadirinya. Lima tahun kemudian (1095) ia mengundurkan diri. Imam Ghazali juga tergolong penulis yang produktif. Ia belajar dasar-dasar ilmu agama dan membaca Al-Quran kepadanya. Ia terus menekuni disiplin ilmu ini dalam masa dua tahun yang dilanjutkan dengan perenungan dan pe ngkajian mendalam. Setelah al-Juwaini meninggal. Pertama. ia dikarunia dua orang putra yang kelak menjadi orang yang terpandang di dunia Islam. Dalam perjalanannya. Ahmad. ia memasuki fase kesufian. ia dan saudaranya. Pada masa itu ia mengurung diri di masjid Damaskus. Saudara al-Ghazali ini lebih sering berkecimpung dalam dunia dakwah. dititipkan kepada teman ayahnya. seorang sufi besar. Hakam Saifullah Baihaqi. Ahmad. Beberapa tahun kemudian. mengobarkan oborobor agama. Fikih. untuk dididik dan diurus semua kebutuhan hidupnya. Setelah tahun itu. Selanjutnya ia diangkat menjadi guru besar di madrasah Nizhamiyah di Baghdad pada tahun 1090 M. Di antara gurunya adalah Imam Abu Nasr al-Ismaili. Sedangkan di bidang keagamaan bukunya yang sangat fenomenal adalahIhya¶ Ulum ad-Din dan alMunqizh min adh-Dhalal. Hampir 100 buku yang ia tulis. Di antara gurunya adalah Yusuf an -Nasj. Akhlak. . Ihya¶ µUlum ad-Din. Ayah beliau adalah seorang pemintal wol di Thus. Ia banyak merubah penampilannya. Bukunya yang terkenal di bidang filsafat adalah Maqashid al±Falasifah dan Tahafut al-Falasifah. Imam Ahmad yang bergelar Majd ad-Din. ia menuntut ilmu ke Jurjan. Dari kegemarannya itu ia berharap mempunyai putra yang meneruskan perjuangan ulama pendahulunya. guna memenuhi panggilan Perdana Menteri Nizham al-Mulk. Buku-bukunya ditulis dengan bahasa Arab dan Persia serta telah diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia. sebuah kota yang menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan saat itu. Di dekat kota kecil Thus di Khurasan. Pada tahun itu pula ia meninggalkan profesi sebagai guru. Posisinya digantikan saudaranya. dan Autobiografi. Tidak lama ia di sana. cambang dan jenggotnya. Imam Ghazali. Di masjid inilah ia menyusun karya masterpiece-nya. Walaupun dikarang saat dia masih berusia muda. kendatipun ia juga seorang faqih yang mumpuni. Usaha dan doanya tidaklah sia-sia. sehingga banyak orang yang tidak mengenalinya. Sejak kecil Imam Ghazali dididik langsung oleh ayahnya sendiri. Selain dikenal sebagai tokoh yang ahli ibadah. Ia mulai menemukan kelemahan dan kesesatan ajaran filsafat yang mengantarkannya untuk segera meng counter dalam buku-bukunya.

putra Nizham al-Mulk.dom . memenuhi panggilan Fakhr al Mulk.Pada tahun 1105 ia kembali mengajar di madrasah Nizhamiyah. Ia lalu kembali ke Thus mendirikan Halaqah (sekolah khusus sufi) sampai ia meninggal di kota tersebut pada tahun 1111 M. Namun hanya sebentar. sumber : www.sidogiri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful