P. 1
Naskah Pidato Pengukuhan Guru Besar

Naskah Pidato Pengukuhan Guru Besar

|Views: 678|Likes:
Published by Enjoy Myself

More info:

Published by: Enjoy Myself on Aug 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/05/2013

pdf

text

original

METODOLOGI PEMBELAJARAN BAHASA DAN PERKEMBANGAN KEBAHASAAN DI ERA INFORMASI

Oleh Prof. Dr. Patrisius Istiarto Djiwandono

Disampaikan dalam sidang senat terbuka upacara pengukuhan Guru Besar

Program Studi Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni UNIVERSITAS MA CHUNG

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 1

Yth. Bapak Ketua Kopertis wilayah VII atau wakilnya, Yth. Bapak Ketua Yayasan Harapan Bangsa Sejahtera, Yth. Ketua dan para anggota Senat Universitas Yth. Rektor Universitas Ma Chung dan jajarannya, Yth. para Rektor perguruan tinggi di Malang Yth. rekan-rekan dosen dan staf Universitas Ma Chung, saudara/saudari perwakilan mahasiswa, serta para hadirin sekalian yang saya muliakan, Adalah suatu kehormatan tersendiri untuk dapat berdiri disini sebagai seorang Guru Besar di bidang yang telah saya tekuni selama hampir 20 tahun terakhir. Perkenankan saya menyampaikan rangkaian inti sari pikiran yang selama ini menjadi inti kepakaran saya, yakni metodologi pembelajaran dan penelitian bahasa. Naskah pengukuhan Guru Besar ini terbagi menjadi dua bagian utama sesuai dengan kepakaran saya yang tercantum dalam SK Mendiknas, yaitu Metodologi Pembelajaran dan Penelitian Bahasa. Sebagian besar isinya merupakan rangkaian inti sari berbagai penelitian yang telah saya lakukan sejak menulis disertasi pada tahun 1997 sampai pada kurun waktu 2010. Hasil itu kemudian dikaitkan dengan ulasan teoretis yang saya ambil dari perkembangan metodologi pengajaran bahasa dan penelitian bahasa sampai dekade ini. Berbicara tentang metodologi pembelajaran bahasa tidak bisa dilepaskan dari pengertian tentang bahasa itu sendiri. Pemahaman tentang bahasa sebagai medium komunikasi yang bisa dipecah-pecah menjadi komponenkomponen penyusunnya sampai pada bahasa sebagai sesuatu yang luwes mengikuti konteks pragmatiknya telah membentuk metodologi pembelajarannya sejak akhir abad ke 19 sampai saat ini. Pada saat yang sama, peran dan kondisi pembelajar juga semakin dipertimbangkan dalam merancang suatu metodologi pembelajaran. Gaya belajar, kepribadian,

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 2

strategi dan bakat mereka turut mewarnai bangunan metodologi yang dinamis dari waktu ke waktu. Uraian yang akan saya sajikan merupakan sekeping fragmen yang akan menggambarkan secara umum bagaimana bangunan metodologi pembelajaran bahasa terbentuk seiring dengan semakin diakuinya peran pebelajar dan konteks interaksinyadi era modern ini.

Banyak hal yang dipersyaratkan untuk menjadi seorang guru bahasa yang baik. Yang jelas, kemampuan berbicara bahasa Inggris dengan lancar bukan satu-satunya bekal. Selain kemampuan itu, seorang guru bahasa perlu mengetahui teori bahasa dan prinsip-prinsip dasar pembelajaran bahasa. Tak kalah pentingnya, pengetahuan tentang psikologi pebelajar pun juga harus dikuasainya, sebab tanpa itu, seorang guru hanya akan bersikeras pada penerapan teori belajar tanpa memperdulikan kondisi mental dan afektif muridnya. Pendek kata, guru bahasa yang baik bukan hanya sekedar yang menguasai berbagai teori kebahasaan dan teori pembelajaran, namun juga harus mempunyai semangat mengasuh, mempunyai kesabaran dan empati terhadap pola pikir, cara belajar, bahkan kepribadian anak didiknya. Guru yang baik senantiasa sabar membimbing anak didiknya, dan tak segan berupaya menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga para murid mencintai bahasa tersebut dan terinspirasi untuk memakainya secara baik dan benar. Kecakapan kognitif dalam penguasaan teori harus dipadu dengan kepekaan afektif dan interpersonal untuk menciptakan suasana belajar yang inspiratif dan progresif.

Hadirin sekalian yang saya hormati, Sudah panjang dan berliku jalan yang ditempuh bangsa ini untuk menjadi cakap dalam berbahasa asing.

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 3

Pada tahap tertentu perasaan seperti berayun pulang pergi dari satu paradigma ke paradigma lain sangat terasa. Pada dekade 1960 an dimana paradigma behaviorisme di ilmu psikologi dan strukturalisme dalam kebahasaaan sedang berjaya, tubian (drill) pola-pola kalimat dan metode audiolingualisme kental mewarnai pembelajaran di sekolahsekolah. Paradigma ini kemudian mencapai titik nadirnya dan perlahan-lahan digeser oleh paham kognitif dan kecakapan komunikatif pada awal dekade 1980 an. Kebebasan berekspresi dan komunikasi lisan menggeser tubian dan latihan tata kalimat. Akhirnya, pada dua dekade terakhir kembali kita menyaksikan bangkitnya kesadaran akan pentingnyakaidah bahasa dan pembentukan sikap cermat berbahasa. Pendekatan berbasis wacana (genre-based approach), Focus on Form (Doughty dan Williams, 1998) dan Consciousness-Raising menjadi kata kunci baru. Kepada anak didik masih ditekankan keberanian untuk berujar, namun sekarang disertai dengan instruksi untuk mencamkan model bahasa yang baik dan benar. Paradigma ketat aturan beralih ke paradigma komunikatif, dan bergeser lagi ke arah taat kaidah ini seperti ayunan pendulum, demikian saya menulis dalam suatu makalah untuk TEFLIN ke 50 di Surabaya.

Perkembangan termutakhir dalam pengajaran bahasa tidak lagi kukuh bertahan pada satu paradigma pembelajaran tertentu. Di bawah keyakinan post-method, kelas bahasa menjadi lebih luwes, tidak segan memadukan berbagai pendekatan untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan seefisien mungkin. Kegiatan belajar berangkat dari tema atau situasi yang relevan dengan kebutuhan murid. Tubian dilakukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang paling sering berulang pada ujaran murid; segera setelah itu, aktivitas komunikatif yang lebih menekankan pada kefasihan dan ketepatan mengambil alih. Sementara pengajaran berlangsung, guru meresepkan berbagai kiat dan strategi belajar untuk membuat murid mempelajarinya dengan lebih mudah, lebih menyenangkan dan lebih efisien. Hal ini

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 4

setidaknya saya amati sendiri dalam kelas-kelas pasca era Pendekatan Komunikatif. Studi saya ini (Djiwandono, 2004) menunjukkan bahwa guru-guru bahasa di jaman modern tidak lagi terpaku secara kaku pada satu jenis pendekatan dan metode tertentu. Mereka mengkombinasikan berbagai teknik sesuai dengan kemampuan murid yang diajarnya dan situasi pembelajaran yang dihadapinya. Dalam peristilahan metodologi pembelajaran, era ini disebut Post Method, dimana pendekatan pembelajaran menjadi lebih luwes, lebih responsif dan adaptif terhadap situasi belajar, sesuatu yang oleh Mellow (2002) disebut sebagai ³principled eclecticism´. Dalam pendekatan post-method, teknik-teknik yang di jaman dulu dianggap kuno dan bahkan membahayakan perkembangan kecakapan berbahasa seperti terjemahan dan tubian (drill), bisa mendapat tempat dan bisa saling berkelindan dengan rapi dalam kelas bahasa modern. Setidaknya satu penelitian yang saya lakukan tentang tindak penerjemahan di kelas Conversation (Djiwandono, 2002) menunjukkan bahwa penerjemahan mendukung proses pembelajaran terutama oleh murid-murid yang kemampuan bahasa Inggrisnya masih rendah. Saya pribadi berpendapat bahwa era post method memberikan kesempatan kepada para guru bahasa untuk mengasah kebebasan dan kemampuan kreatifnya dalam menyajikan pembelajaran yang selaras dengan tingkat kecakapan, gaya belajar, dan tuntutan sasaran belajar dari para muridnya.

Pembelajaran Bahasa di Masa Depan Era Post Methodmembawa kita pada pertanyaan: seperti apa pendekatan pembelajaran bahasa di masa depan? Kajian prediktif tentang pendekatan pembelajaran bahasa di masa depan dirangkum oleh Rodgers (2001). Ada delapan pendekatan yang menarik untuk disimak disini, yakni Teacher±Learner Collaborates, Method Synergistics, Multi Intelligencia, Content-Basics, Strategopedia, Lexical

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 5

Phraseology, Total Functional Response, Consciousness Raisingdan Implicational Universals.

Teacher-Learner Collaborates Pendekatan ini memadukan pebelajar bahasa dengan guru bahasa yang mempunyai kecocokan gaya belajar yang sama. Seorang pebelajar yang suka menghafal, misalnya, akan cocok dengan seorang guru yang cenderung memberikan koreksi. Seorang pebelajar lain yang menyukai belajar pola-pola kalimat akan sesuai dengan guru yang bisa memberikan contoh dan melatih dengan drill.

Method Synergistics Yang dimaksud sinergi disini adalah perpaduan antara dua metode dan pendekatan yang mempunyai filosofi dasar yang mirip. Pendekatan Natural, misalnya, akan cocok dengan metode Silent Way karena keduanya sama-sama meyakini bahwa pebelajar menyerap pola-pola bahasa melalui periode sunyi, yaitu periode dimana mereka memproses masukan bahasa namun tidak mengujarkannya dalam tuturan atau tulisan.

Multi Intelligencia Sebagaimana tersirat dari namanya, pendekatan ini bertumpu pada 8 kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner (1983). Pendekatan ini memadupadankan kegiatankegiatan belajar berbahasa yang sesuai dengan tipe kecerdasan dari sang murid. Murid bertipe kecerdasan linguistik, misalnya, akan cocok dengan kegiatan ceramah, permainan kata, atau debat; mereka yang bertipe spatial akan menyukai bagan, skema, gambar-gambar, bahkan film;

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 6

mereka yang cerdas dalam musik akan menyukai kegiatan menyanyi atau berpuisi; mereka yang peka terhadap lingkungan akan menggemari kegiatan menjelajah alam, menceritakan gambar, atau proyek yang melibatkan hewan dan tumbuhan.

Content-Basics Pendekatan ini bertumpu pada prinsip bahwa belajar bahasa akan terjadi ketika murid memusatkan perhatiannya pada makna. Disini makna diwakili sebagai isi suatu mata pelajaran, dan isi inilah yang harus diupayakan sesuai dengan minat dan kebutuhan murid, sehingga menentukan kemajuan dalam penguasaan bahasanya. Dalam konteks terkini, pendekatan ini sama dengan apa yang disebut CBI (Content-Based Instruction).

Strategopedia Pendekatan ini meyakini bahwa terdapat beberapa strategi yang membuat belajar bahasa menjadi lebih mudah, lebih cepat dan lebih menyenangkan (Oxford, 1990). Strategi belajar meliputi pengaktifan daya kognitif, metakognitif, dan afektif. Strategi kognitif bekerja pada tindakan menyerap informasi, menyimpannya dalam ingatan jangka panjang, dan mengingatnya kembali; strategi metakognitif lebih berperan dalam merencanakan tindakan, memperkirakan tuntutan dalam kegiatan belajar, dan memonitor serta mengevaluasi kelancaran belajar. Strategi afektif berperan besar dalam menciptakan sikap positif dan kegigihan dalam menguasai suatu bahasa. Seiring dengan semakin banyaknya penelitian di bidang ini, para ahli merasa yakin bahwa strategi merupakan hal yang bisa digali, diukur, dan diajarkan kepada murid, dan murid bisa mendayagunakannya untuk mencapai kemajuan yang lebih besar dalam belajar bahasa.

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 7

Lexical Phraseology Pendekatan ini percaya bahwa sejatinya hampir semua ujaran baik lisan maupun tertulis pernah dikeluarkan oleh manusia di berbagai belahan dunia, khususnya yang menggunakan bahasa Inggris. Ujaran ini bisa dilihat sebagai kumpulan frasa atau kalimat yang makin lama makin menjadi sangat akrab di telinga karena sangat sering diucapkan. Maka, implikasinya adalah bahwa guru bahasa bisa membentuk pola relatif tetap dari frasa-frasa ini, kemudian merancang teknik pembelajaran yang memungkinkan muridmuridnya menghafalkan atau menginternalisasi pola-pola tersebut sebagai titik pijak untuk berbicara atau menulis. Nattinger dan DeCarrico (1992:xv) meyakini gagasan berikut ini:

One common pattern in language acquisition is that learners pass through a stage in which they use a large number of unanalyzed chunks of language in certain predictable social contexts. They use, in other words, a great deal of µprefabricated language. . . . more recent research puts this formulaic speech at the very center of language acquisition and sees it as a basic to the creative rule-forming processes which follow.

Gaung pendekatan berbasis frasa ini juga diperkuat oleh the Lexical Approach (Lewis, 2003). Lewis meyakini bahwa prinsip kunci pembelajaran bahasa adalah ³grammaticalized lexis, not lexicalized grammar´, dalam arti bahwa kata, bukan tata bahasa, merupakan unit yang menjadi dasar untuk pembelajaran bahasa. Tugas guru adalah membangkitkan kesadaran muridnya akan kata-kata yang sudah menyatu menjadi pola-pola frasa atau kalimat

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 8

tersebut. Tak kalah pentingnya adalah digantikannya teknik Present-Practice-Produce dengan teknik ObserveHypothesize-Experiment. Jadi, alih-alih menyajikan pola kalimat, kemudian mempraktekkannya, pendekatan ini meminta pembelajar untuk mengamati wacana aktual, membuat dugaan akan pola-pola yang muncul disitu, kemudian mencobanya dalam tuturan. Erat dengan pendekatan berbasis frasa atau kata ini adalah korpora, yaitu kumpulan sangat banyak ujaran atau tulisan yang pernah diujarkan manusia dalam konteks alamiah. Nattinger dan DeCarrico (1992) menyebut jumlahnya mencapai 10 sampai 1.000 juta kata. Bank data yang sangat besar ini menjadi sangat membantu ketika dunia pembelajaran bahasa ingin mengetahui dan mempelajari pola-pola kalimat yang umumnya memuat suatu kata. Kata ³discuss´, misalnya, menurut korpora bahasa Inggris ternyata tidak diikuti oleh preposisi ³about´ sebagaimana yang sering diujarkan oleh murid Indonesia.

Total Functional Response Nama pendekatan ini mirip, atau memang merupakan plesetan dari pendekatan terdahulu yang bernama Total Physical Reponse. Jika Total Physical Reponse ini menekankan pentingnya aktivitas fisik dalam pembelajaran bahasa, maka Total Functional Response lebih menitikberatkan pada fungsi-fungsi linguistik, yang pada tataran praktisnya diterjemahkan menjadi genre atau jenis wacana. Dirintis oleh Derewianka (1990), pendekatan ini melihat pola-pola retoris yang bisa dipelajari pada berbagai jenis wacana, seperti surat, cerita, paparan ilmiah, laporan, bahkan sampai pada iklan dan banyolan. Karena pola-pola ini sangat terstruktur dan banyak dijumpai dalam dunia seharihari, pengajarannya pun relatif tidak sulit. Murid diminta untuk mencermati suatu wacana, memilah-milahnya menjadi bagian-bagiannya, kemudian mempelajari bagian-bagian

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 9

tersebut beserta ciri kebahasaannya, untuk kemudian memproduksi wacana yang sama untuk situasi yang berbeda. Consciousness-Raising Consciousness Raising, atau disingkat C-R, pada intinya menekankan pemercepatan penguasaan bahasa melalui serangkaian proses yang bertumpu pada kesadaran murid akan bentuk-bentuk formal bahasa dan fungsinya. Pada tataran praktis, Doughty dan Williams (1998) menyebut Focus on Form untuk suatu teknik yang menarik perhatian murid pada pola-pola tertentu dan makna yang diungkapkannya. Kongkritnya, guru yang memakai teknik ini akan mengajak murid-muridnya untuk pertama-tama melakukan kegiatan komunikatif secara relatif alamiah, kemudian berangsur-angsur mengajak mereka untuk mencermati pola-pola atau penggalan kalimat yang penting dalam komunikasi. Kedua pakar itu menekankan pentingnya penguasaan makna, sebelum sampai ke fokus pada bentuknya. Penelitian saya pada tahun ini (Djiwandono, 2011) yang relevan dengan pendekatan C-R dilakukan pada kelas Business Correspondence. Beberapa mahasiswa diminta untuk mencermati tindak retoris, pola-pola kalimat dan ungkapan-ungkapan pada sebuah surat bisnis yang dijadikan model. Setelah itu mereka diminta untuk menulis sendiri surat mereka dengan isi yang sama. Kesalahan mereka dihitung dan diklasifikasikan. Hasil menunjukkan bahwa teknik C-R dimana mereka mencermati isi dan pola kalimat surat tadi hanya efektif sampai pada memproduksi tindak retoris, namun gagal membuat mereka menulis dengan tata bahasa yang baku dan ungkapan yang tepat. Ini membuktikan bahwa teknik C-R perlu dikombinasikan dengan Focus on Form untuk menjadi perpaduan yang efektif dalam membantu pebelajar menguasai bahasa sasarannya.

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 10

Implicational universals: Belajar dari yang Sulit ke yang Mudah Keinginan untuk menemukan teknik pembelajaran bahasa yang lebih efisien tidak pernah surut. Dilatarbelakangi oleh kemungkinan teoretis bahwa murid yang sudah menguasai bentukan paling rumit dalam Klausa Relatif akan dengan sendirinya menguasai pola yang lebih sederhana, ahli-ahli seperti Cook (1993) dan Ellis (1990) meyakini bahwa ada kemungkinan materi yang lebih rumit harus diajarkan lebih dulu, sehingga materi yang lebih mudah akan terikut (implicated) dengan sendirinya. Gagasan ini tentunya sangat revolusioner, mengingat bahwa anggapan lumrah selama ini adalah mengajarkan pola-pola yang mudah dan berangsurangsur menuju ke yang lebih rumit. Penelitian saya sendiri di bidang ini, (Djiwandono, 1998; Djiwandono, 2000) menemukan adanya dua faktor yang ternyata juga harus diperhitungkan dalam hipotesis di atas, yakni apa yang disebut oleh Bley-Vroman (1989) sebagai Language-Specific Cognitive System (LSC) dan Problem-Solving Cognitive System (PSC). LSC adalah sistem yang sangat bertumpu pada mekanisme bahasa yangsudah tertanam secara alamiah dalam benak manusia. LSC inilah yang memungkinkan adanya hipotesis yang disebut Implicational Universals di atas, dimana penguasaan hal yang lebih rumit akan dengan sendirinya mengikutkan penguasaan hal yang lebih mudah. Di sisi yang lain, PSC membuat pembelajaran bahasa untuk murid usia dewasa (20 tahun ke atas) hampir sama seperti pembelajaran yang lain, seperti belajar matematika, belajar memasak, belajar mengemudikan mobil, atau belajar mengoperasikan program komputer. Jadi, sementara LSC memungkinkan akses langsung ke mekanisme universal bahasa, PSC justru menghambatnya dan menggantikannya dengan mekanisme pembelajaran secara umum. Akibatnya, teknik dari rumit ke mudah yang berdasarkan pada hipotesis Implicational Universals belum bisa dipastikan akan membawa pembelajar dengan sendirinya menguasai pola yang mudah setelah mempelajari bentukan yang rumit. Banyak variabel lain yang menentukan

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 11

hasil akhir, seperti misalnya metode pembelajaran yang digunakan oleh guru, kualitas buku teks, dan kualitas serta intensitas latihan yang diberikan.

Bahasa Inggris Baku dan Bahasa Inggris Global Dengan semakin meluasnya pemakaian bahasa Inggris di berbagai belahan dunia, Bahasa Inggris standar menjadi makin kabur. Graddol (2006) bahkan meramalkan matinya istilah EFL (English as a Foreign Language), atau Bahasa Inggris sebagai bahasa asing, seiring dengan makin menguatnya gejala yang dia sebut ³global English´. Global English adalah kecenderungan baru yang terwujud dalam pemakaian bahasa Inggris yang makin intens di berbagai belahan dunia yang bukan merupakan negara penutur asli bahasa Inggris. Pada gilirannya, kecenderungan ini berangsur namun pasti merubah juga profil pembelajaran bahasa Inggris di negara-negara tersebut, menjauhi apa yang dianggap baku. Graddol (2006:83) menyebutkan beberapa faktor penentu, yaitu kecakapan bahasa yang dianggap paling penting, ragam bahasa Inggris apa yang dianggap baik, tingkat kecakapan yangdianggap layak, motivasi belajar bahasa, kapan dan dimana bahasa Inggris akan dipakai, dan kriteria apa yang akan diacu dalam tes bahasa Inggris. Maka, variasi bahasa Inggris yang dulunya dipandang sebagai tidak baku semakin mendapatkan pengakuan. Testes bahasa internasional, misalnya, sudah memasukkan materi lisan bahasa Inggris yang diucapkan orang-orang Asia, Timur Tengah dan Skandinavia. Penduduk dunia di era ini mengenal bahasa Inggris ragam Asia Tenggara, bahasa Inggris yang dipakai di Eropa, bahasa Inggris ragam Timur Tengah dan masih banyak lagi.Kachru (dalam McKay dan Hanberger, 1996) menegaskan apa yang disebutnya expanding circle, suatu kawasan dunia yang menggunakan bahasa Inggris untuk tujuan-tujuan khusus dan sebagai mata

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 12

pelajaran, yaitu negara-negara seperti China, Indonesia, Jepang, dan Korea. Erat hubungannya dengan gejala di atas adalah pertanyaan seberapa jauh ragam baru yang disebut global Englishes tersebut berterima atau dapat dipahami oleh komunitas diluar suatu negara. Kachru (dalam Mc Kay dan Hanberger, 1996) mengemukakan isu intelligibility dancomprehensibility, yang menyangkut kekhawatiran bahwa dengan semakin beragamnya penutur bahasa Inggris di seluruh dunia, variasi elemen-elemen linguistik dan pragmatiknya pun semakin beragam, sedemikian sehingga bahasa tersebut menjadi semakin sulit dipahami oleh penutur aslinya. Senada dengan dia, Crystal (2004) mengungkapkan konsekuensi lebih lanjut, yaitu gejala terfragmentasinya bahasa Inggris menjadi bahasa-bahasa baru yang makin sulit dimengerti oleh penutur aslinya. Ternyata pada kajian empiris, data menunjukkan dukungan terhadap isu tersebut. Khususnya pada ranah pengucapan, penelitian terbaru saya (Djiwandono, 2010) menunjukkan bahwa tingkat keterpahaman ujaran lisan yang diujarkan pebelajar Indonesia di kalangan orang asing sedikit banyak ditentukan oleh ketepatan pengucapan mereka. Tata bahasa boleh sedikit salah, pilihan kosa kata boleh sedikit kurang tepat, namun pengucapan yang keliru menyebabkan ujaran menjadi sulit dipahami. Studi-studi terdahulu juga sudah mendukung anggapan ini. Penelitian oleh Wigdorsky-Vogelsang (1978), misalnya, menemukan bahwa kesalahan pengucapan terbukti lebih kritis daripada kesalahan semantis dan sintaksis. Implikasinya, pembelajaran bahasa baik untuk mahasiswa bidang studi bahasa maupun bidang studi non-bahasa dapat lebih memberi penekanan pada aspek pengucapan ini, karena kesalahan dalam pengucapan jauh lebih mempengaruhi penyampaian pesan daripada kesalahan penggunaan kata/istilah atau kesalahan tata bahasa. Penelitian oleh Munro dan Derwing (1995) juga layak dikutip disini. Studi mereka melihat efek dari aksen non-

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 13

Inggris terhadap keterpahaman di pihak penyimak yang merupakan para penutur asli bahasa Inggris. Ternyata ujaran bahasa Inggris yang dibuat oleh penutur beraksen non-Inggris memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk diproses dan dipahami daripada aksen asli Inggris. Semakin jauh ujaran itu dari aksen versi Inggrisnya, semakin rendah keterpahamannya, dan semakin lama pemrosesan maknanya oleh penyimak. Jadi, para rater di studi penulis ini nampaknya juga mengalami hal yang sama. Mereka masih bisa memahami ujaran para mahasiswa, sekalipun lama pemrosesan untuk sampai pada keterpahaman itu bervariasi. Mahasiswa yang ujarannya sudah lebih mirip penutur asli bahasa Inggris memerlukan waktu lebih pendek untuk dipahami daripada mereka yang ujarannya masih beraksen Indonesia atau bahkan Jawa. Namun, secara keseluruhan, sekali lagi karena dukungan faktor non-linguistik tadi, semua tetap bisa dipahami. Implikasi untuk pengajaran bahasa Inggris adalah bahwa pengucapan tetap merupakan aspek penting yang tidak bisa diremehkan. Kualitas pengucapan dalam penuturan lisan harus dilatih dan dibentuk sedemikian rupa sehingga para pendengarnya tidak memerlukan waktu yang lebih lama dan upaya yang lebih keras untuk memahaminya. Mungkin hal ini sedikit melegakan untuk para dosen/guru, bahkan mahasiswa, yang selama ini beranggapan bahwa jika mereka tidak sangat cakap dalam tata bahasa dan kosa kata, mereka akan mengalami kesulitan untuk dipahami. Ternyata, bukan kosa kata dan grammar, tapi kualitas pengucapan lah yang lebih menentukan. Kajiantentang Strategi Belajar Bahasa Belajar bahasa adalah suatu kegiatan kognitif yang ternyata mendapat banyak sumbangan dari aspek selain kognitif. Para ahli dalam strategi belajar bahasa sepakat bahwa kunci keberhasilan belajar bahasa bukan hanya meliputi aspek kecakapan kognitif seperti menghafal, menganalisis, atau membentuk ulang pola-pola gramatikal

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 14

dalam benak, namun juga aspek metakognitif, afektif, dan sosial (O¶Malley dan Chamot, 1990; Oxford, 1990) Pada tataran metakognitif, seorang pebelajar yang sukses mampu memonitor proses mentalnya, mampu memperkirakan tingkat kesulitan materi belajarnya, kemudian mengatur sumber daya pikirannya sehingga dapat mencapai tujuan belajarnya. Pada aspek afektif, dia mampu mengelola emosinya, tidak mudah patah semangat, dan mampu memotivasi dirinya untuk terus belajar. Pada aspek sosial, dia bergaul dengan penutur asli atau pebelajar yang lebih mahir, tidak malu mencoba, tidak segan dikoreksi, dan menjadikan lingkungan sosial ini untuk memacu kecepatan belajarnya. Disertasi saya pada tahun 1998 (Djiwandono, 1998) mengungkapkan bahwa strategi belajar bahasa yang baik, terutama untuk kemahiran berbicara, ternyata tidak tergantung pada tipe kepribadian seseorang pebelajar. Baik seorang yang introvert maupun ekstrovert mempunyai potensi untuk sukses dalam belajar bahasa asing kalau mereka melakukannya secara ajeg, dan tidak enggan memakai strategi belajar yang beragam. Temuan ini ternyata diperkuat oleh peneliti lain. Chen (2008) menemukan faktor-faktor yang sama pada strategi menyimak oleh pebelajar bahasa Inggris berbahasa ibu bahasa Tionghoa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa keragaman strategi dan keajegan penggunaannya adalah dua hal penting yang menentukan penguasaan bahasa asing. Secara lebih spesifik, temuan saya bisa dirumuskan dalam persamaan Y = 0.275DIVE + 0.109EXP ± 1.363, dimana Y adalah kecakapan berkomunikasi lisan, DIVE adalah keragaman strategi belajar, dan EXP adalah kadar ekspresif dalam mengungkapkan pendapat, yang merupakan salah satu faktor dalam kepribadian ekstrovert.Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa kecakapan seseorang berkomunikasi lisan dalambahasa Inggris dipengaruhi oleh keragaman startegi belajarnya dan keekspresifannya dalam mengungkapkan buah pikirannya. Sebagaimana yang saya tegaskan di atas, sekalipun sifat ekspresif adalah ciri khas orang ekstrovert, orang introvert

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 15

pun masih bisa juga bercakap secara fasih jika dia memakai strategi belajar yang beragam. Penelitian saya yang lain menyoroti dimensi sosial strategi belajar, dan sedikit banyak berhasil mengungkapkan dampak positif dari pembelajaran kelas menyimak (listening comprehension) dimana para pebelajarnya saling berbagi kiat dalam menyerap dan memahami ujaran lisan (Djiwandono, 2006). Mereka yang masih belum mahir bisa dengan lebih cepat mengadopsi kiat dari rekan-rekannya yang sudah lebih mahir; pada saat yang sama, para pebelajar yang sudah lebih mahir bisa saling bertukar kiat, bisa mengetahui kelemahan taktiknya, dan memperbaikinya. Studi sesudahnya oleh Chen (2008) sedikit banyak menegaskan bahwa memang terdapat perbedaan antara mereka yang sudah mahir dengan mereka yang belum dalam hal strateginya, sehingga temuan saya tersebut bisa merupakan titik tolak untuk penelitian-penelitian lain berskala lebih besar dalam ranah yang sama. Dalam ranah pembelajaran kata, penelitian saya (Djiwandono, 2009) menunjukkan efektivitas keragaman strategi ini. Para subjek yang dibimbing untuk membentuk kalimat-kalimat dengan menggunakan kata-kata yang baru dipelajarinya ternyata mampu menghafalkan kata-kata tersebut lebih baik daripada mereka yang hanya menghafalkan saja. Pembelajaran strategi yang baik ternyata tidak bisa berlangsung seketika dan dalam waktu yang singkat. Penelitian saya pada tahun 2007 (Djiwandono dan Noertjahyanto, 2007) belum bisa membuktikan dampak positif suatu upaya pembelajaran strategi menyimak karena singkatnya waktu yang tersedia. Upaya yang seharusnya dilakukan untuk menjamin efektivitas adalah integrasi antara pembelajaran kecakapan berbahasa dengan pembelajaran strategi, pembelajaran yang eksplisit, terentang dalam periode yang cukup, dan mencakup kombinasi beberapa gugus strategi (Oxford, 2002). Pada gilirannya, hal ini menuntut guru yang benar-benar cakap sehingga dia bisa

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 16

menjadi model bagi murid-muridnya. Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah pembangkitan kesadaran tentang seberapa jauh suatu strategi belajar sudah berdampak positif terhadap kemajuan belajar. Secara ringkas penanaman kebiasaan belajar yang strategis ini harus meliputi apa yang disebut oleh Oxford (1990) sebagai dimensi kognitif, dimensi sosial-afektif, dan dimensi metakognitif. Ulasan teoretis tentang keberhasilan belajar bahasa juga sudah diungkapkan oleh Spolsky (1988). Spolsky mengemukakan gagasan necessary, gradient dan typicality condition sebagai faktor penentu. Necessary condition meliputi adanya bahasa sasaran yang mau dipelajari, input dan motivasi. Gradient condition meliputi faktor-faktor yang akan semakin terasa dampaknya jika dilakukan makin sering, seperti misalnya berinteraksi dengan penutur asli bahasa sasaran. Typicality condition meliputi faktor-faktor yang sebenarnya tidak esensial, namun umumnya membantu keberhasilan belajar, seperti misalnya sikap yang positif terhadap budaya bahasa sasaran, atau tipe kepribadian yang luwes dan suka bergaul. Kombinasi dari ketiga kondisi ini sedikit banyak menentukan keberhasilan belajar bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.

Peran Bahasa Inggris dalam Ranah Akademik dan Tujuan Khusus Dalam dua dekade terakhir, perhatian para pakar pembelajaran bahasa semakin meningkat pada ranah Bahasa Inggris untuk tujuan khusus. Salah satunya adalah English for Academic Purposes. Isu utama yang memicu keprihatinan mereka adalah bagaimana menciptakan suasana belajar yang kondusif untuk orang-orang yang bukan berlatar belakang bahasa Inggris sehingga mereka bisa fasih menggunakan bahasa itu untuk berinteraksi secara profesional dan akademis dalam disiplin ilmunya sendiri. Pada tataran ini, kontras antara CALP (Cognitive Academic

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 17

Language Proficiency) dan BICS (Basic Interpersonal Communication Skills) yang dikemukakan oleh Cummins (1981) menjadi sangat relevan. Yang pertama adalah kemampuan berbahasa dalam konteks akademik dan ilmiah, sementara yang kedua adalah kemampuan berbahasa untuk tujuan umum sehari-hari. Kebanyakan orang di bidang ilmu selain bahasa sudah relatif mampu menggunakan bahasa Inggris untuk ranah BICS (Basic Interpersonal Communication Skills), yaitu bahasa Inggris untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Kajian-kajian di bidang ini menunjukkan bahwa kemampuan BICS diperoleh dalam kurun waktu rata-rata dua tahun, sementara penguasaan CALP bisa memerlukan sekitar empat sampai tujuh tahun, tergantung pada kemampuan awal, usia, dan faktor-faktor pendukung akdemis (Reed dan Railsback, 2003). Jadi, sebagian mahasiswa kita di Indonesia sudah bisa bercakap-cakap untuk konteks pergaulan sosial sehari-hari, namun belum bisa secara sama fasihnya menggunakan bahasa tersebut untuk memahami wacana ilmiah, berdiskusi, menulis, bahkan mengajar dalam bahasa tersebut. Hal ini tampak secara jelas dari keluhan para guru atau dosen yang merasa kesulitan ketika harus mengajar bidang studinya dalam bahasa Inggris, sebagaimana yang dipersyaratkan oleh sekolah-sekolah yang merintis jalan ke arah standar internasional. Ketika mereka berusaha melakukannya, giliran para muridnya yang mengeluh karena materi pengajarannya menjadi sulit dimengerti. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar pembelajaran dalam ranah ESP disebut Sheltered-Instruction Methodatau Structured Immersion (Reed dan Railsback, 2003:13). Pada intinya, pendekatan ini mengajarkan suatu bidang ilmu dengan cara yang terpahami (comprehensible), mampu mengaktifkan pembelajar, dan pada saat yang sama meningkatkan kecakapan bahasa Inggris mereka. Menurut Echevarria, Vogt dan Short (2000) pendekatan ini memerlukan kecakapan mengajar bahasa Inggris maupun pengetahuan yang cukup tentang bidang ilmu non-bahasa

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 18

yang sedang dipersiapkan. Tak kalah pentingnya selain kecakapan tersebut adalah tujuan yang jelas baik dari pengajaran bahasa maupun materi bidang ilmunya. Upaya untuk membuat kemajuan signifikan dalam ranah ESP adalah apa yang disebut Content-Based Instruction (CBI). Definisi paling sederhana tentang CBI dikemukakan oleh Davies (2003:5), yang mengatakan bahwa ³Content-Based Instruction (CBI) is a teaching method that emphasizes learning about something rather than learning about language´. Dengan kata lain, CBI adalah metode pembelajaran yang membuat mahasiswa belajar tentang disiplin ilmunya melalui sarana komunikasi bahasa Inggris. Meskipun mereka memakai bahasa Inggris, namun tujuan utama mereka bukan semata-mata mempelajari bahasa tersebut, melainkan mempelajari disiplin ilmunya. Beberapa pakar lain mengatakan bahwa pada pembelajaran CBI, pada kenyataannya mahasiswa akan secara tanpa sadar mempelajari dua hal, yakni displin ilmunya sendiri, dan bahasa Inggris. Ciri ini menjadikan CBI sebagai metode pembelajaran yang sangat populer terutama untuk siswasiswa yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris. Menurut Davies pula, CBI bisa diwujudkan dalam dua teknik yang berbeda, yang disebut Adjunct Model dan Sheltered Model. Adjunct Model mempersiapkan para siswa dalam suatu kelas bahasa Inggris yang khusus dirancang untuk memampukan mereka mengikuti pembelajaran suatu bidang ilmu. Kelas Adjunct ini diajar oleh seorang guru bahasa Inggris, dan pada prinsipnya membantu siswa menguasai bentukan-bentukan kalimat, kosa kata, dan aspek kebahasaan lain yang nantinya akan sering muncul ketika mereka mengikuti perkuliahan atau pembelajaran bidang ilmu tertentu. Sementara itu, Sheltered Model menggabungkan dua guru dalam satu perkuliahan; satu adalah Content Specialist (dosen pengajar bidang ilmu tertentu), dan satu lagi adalah English Specialist (dosen bahasa Inggris). Sementara Content Specialiast mengajarkan isi mata kuliah tersebut, sang English Specialist membantu pebelajar dengan menjelaskan kosa kata. Sejauh ini, menurut klaim Davies,

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 19

pembelajaran dengan Sheltered Model menuai cukup banyak sukses di University of Ottawa. Namun, sejauh pengamatan penulis, kisah sukses seperti ini masih sangat jarang dilaporkan dari lingkup universitas atau tempat lain. Penelitian yang saya lakukan bersama beberapa rekan (Djiwandono, Ginting dan Setyaningsih, 2009)menyajikan potret yang lebih jelas tentang bagaimana pembelajaran berbasis CBI dilakukan di tingkat perguruan tinggi. Titik tolak kami adalah prinsip bahwa hal palingutama dalam pembelajaran CBI sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pembelajaran di kelas-kelas konvensional yang lain. Jordan, Schwartz dan McGhie-Richmond (2009: 535) menyarikannya sebagai berikut: Effective teaching skills consist of high levels of student engagement based on good classroom and time management skills, the ability to scaffold learning that is adapted to students¶ current levels of understanding, cognitively engaging students in higher-order thinking, and encouraging and supporting success. Gagasan yang setara dikemukakan oleh Borich (2007:9), yang meyakini bahwa kunci pembelajaran yang efektif adalah (1) kejelasan materi, (2) variasi pembelajaran, (3) orientasi pada tugas/kegiatan belajar, (4) keterlibatan siswa dalam proses belajar, dan (5) tingkat keberhasilan siswa. Kecakapan-kecakapan seperti inilah yang harus dimiliki oleh seorang dosen CBI. Pada kasus studi kami, hasil pengamatan maupun komentar para mahasiswa menunjukkan betapa vitalnya penguasaan aspek-aspek di atas oleh seorang dosen CBI. Aspek student engagement yang berdasarkan pada kecakapan mengelola kelas dan manajemen waktu setidaknya tercermin dari frekuensi pertanyaan kepada mahasiswa, jenis pertanyaan, kecepatan menyajikan materi, kejelasan penyajian, dan pemberian tugas. Dalam studi kasus ini ditemukan bahwa aspek-aspek tersebut ternyata belum secara optimal dilakukan oleh subyek penelitian. Oleh karena itu, dalam upaya menyeleksi dosen

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 20

yang dipandang cakap untuk mengajar kelas-kelas CBI, kami memandang penting bahwa kecakapan-kecakapan itu dimasukkan sebagai kriteria dalam instrumen tes kemampuan mengajar. Kemampuan lain yang penting menurut para ahli di atas adalah memberikan scaffold(bantuan berupa pola-pola kalimat atau model kalimat yang memuat komponen utama) sesuai dengan kecakapan mahasiswa. Dalam studi kami, hal ini tercermin setidaknya dari upaya dosen menerjemahkan materinya ke bahasa Indonesia. Namun sekali lagi, upaya scaffolding ini masih kurang optimal dilakukan. Glossary untuk kosa kata bahasa Inggris yang ada dalam materi bisa diberikan sebelum atau minimal seiring dengan penyajian materi tersebut. Dalam kaitannya dengan keterlibatan siswa dalam proses belajar, ternyata temuan di lapangan menunjukkan masih tingginya dominasi dosen dalam kegiatan belajar di kelas. Pengamatan kami menunjukkan betapa dosen melakukan perkuliahan satu arah hampir selama 40 ± 50 menit terus menerus. Kecenderungan ini sudah terbaca oleh Musumeci (1996), yang menemukan bahwa pada kenyataannya, dosen memang lebih banyak mendominasi perkuliahan dengan ceramah. Jika pun terjadi interaksi, negosiasi makna yang terjadi sering tidak tuntas. Interaksi yang mengarah kepada pembetulan kesalahan berbahasa pun sangat minim. Jika CBI ingin menciptakan suasana pemerolehan materi ajar dan pemerolehan berbahasa secara optimal, hal ini tentunya harus dirubah; suasana lebih interaktif antara dosen dengan mahasiswa dan antara mahasiswa dengan mahasiswa harus lebih digalakkan. Setidaknya satu studi oleh Laufer dan Hill (2000) menyarankan penggunaan kamus, baik elektronik atau konvensional, untuk mendukung penguasaan kata-kata baru oleh mahasiswa. Pada prakteknya, hal ini bisa diwujudkan dengan memberikan hyperlink pada kata-kata yang dosen anggap penting pada materi Power Pointnya ke suatu halaman glossary yang memuat arti kata-kata tersebut dalam

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 21

bahasa Indonesia. Jika hal ini bisa disajikan sebelum perkuliahan, mahasiswa bisa lebih siap mencerna materi kuliah, dan, selaras dengan temuan Laufer dan Hill, menguasai kata-kata baru tersebut untuk jangka waktu yang lama. Alternatif lain adalah memberikan materi Power Point kepada mahasiswa sebelum kelas berjalan. Materi kuliah yang disajikan sebelum sesi kelas setidaknya bisa menarik minat mahasiswa untuk menghadiri kuliah tersebut. Hal ini selaras dengan studi Bab dan Ross (2009), yang menemukan bahwa ketersediaan materi kuliah tersebut dapat meningkatkan baik kehadiran maupun partisipasi para pebelajar. Salah satu pernyataan yang paling sering dikemukakan oleh mahasiswa sebagai responden dalam studi ini adalah kurangnya kecakapan bahasa Inggris mereka. Ternyata di bagian dunia lain dimana bahasa Inggris sudah hampir merupakan bahasa kedua pun hal ini masih dirasakan. Evans dan Green (2007) mengadakan survey tentang pentingnya EAP di sekitar 5000 orang mahasiswa di Hong Kong, dan mendapati bahwa kesulitan terbesar mereka adalah pada menulis dan berbicara akademis, khususnya dalam ranah style, tata bahasa, koherensi, pengucapan serta kefasihan. Selain menggarisbawahi gejala penguasaan bahasa Inggris yang minim tersebut, hasil studi ini juga menunjukkan arah yang lebih jelas untuk upaya peningkatan kecakapan bahasa Inggris di kalangan para akademik. Upaya yang harus dilakukan sudah tidak lagi terbatas pada bahasa Inggris umum, namun sudah harus menukik lebih khusus ke ranah pembekalan kosa kata, bentukan, dan ragam bahasa Inggris akademik dan bidang dari disiplin ilmu yang sedang diajarkan. Hasil pemetaan materi ajar dalam studi kami menunjukkan bahwa kosa kata akademis (Academic Words, disingkat AW) membentuk porsi yang cukup besar dalam materi ajar dosen. Temuan ini selaras dengan banyak hasil

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 22

studi sebelumnya. Chen dan Ge (2007), misalnya, menemukan bahwa dalam bidang kedokteran pun, kosa kata AW membentuk sekitar 10 ± 12 % dari keseluruhan kata. Studi Vongpumivitch, Huang dan Chang (2009) di ranah yang sama dalam jurnal linguistik terapan pun menelurkan hasil yang mirip, yakni 11%. Implikasinya, karena AW membentuk bagian yang cukup besar dalam materi akademik, sudah seharusnya para pengajar maupun mahasiswa memiliki penguasaan AW yang dapat diandalkan. Temuan dalam ranah ini menyiratkan perlunya upaya persiapan ekstra untuk para murid sebelum mengikuti kuliah disiplin ilmunya dalam bahasa Inggris. Persiapan tersebut sebaiknya ditekankan pada penguasaan kata-kata kunci yang terkandung dalam materi pembelajaran dan penguasaan konsep ± konsep utamanya. Dalam beberapa konteks, penerjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia memainkan peran yang tidak kalah pentingnya disini. Upaya penerjemahan ini tidak bertujuan membuat para pebelajar menjadi tergantung pada bahasa ibunya, namun untuk menjembatani kesenjangan yang besar antara konsep yang mereka kuasai dengan konsep-konsep dasar yang diperlukan dalam pemahaman materi tersebut (Reed dan Railsback, 2003). Ketika skemata atau struktur pengetahuan di benak para murid sudah relatif runtut dan mantap, barulah para murid diperkenalkan pada wacana lanjut yang berbahasa Inggris, lengkap dengan daftar kata-kata baru yang akan menambah penguasaan reseptif mereka tentang kata-kata Inggris. Pada konteks ini bisa dipertimbangkan penerapan CALLA (Cognitive Academic Language Learning Approach) yang diperkenalkan oleh Chamot dan O¶Malley (1994). Pada intinya, metode ini mengkombinasikan pembelajaran bidang ilmu dengan kegiatan-kegiatan yang mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris, ditambah dengan pengenalan strategi belajar. Pembelajaran bahasa untuk tujuan ESP bisa menarik manfaat dari mekanisme belajar secara alamiah.

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 23

Pembelajaran bahasa asing tidak harus semata-mata berupa pembelajaran secara formal di kelas; pada taraf tertentu, para murid bisa menyerap beberapa pola kalimat, ungkapanungkapan dan beberapa kata yang membanjiri lingkungan mereka. Secara tanpa sepenuhnya sadar, mereka mulai bisa memahami elemen-elemen linguistik ini, dan bahkan mengujarkannya atau menuliskannya dengan benar. Implikasi dari hal di atas adalah bahwa para guru dan pendidik di lingkungan pembelajaran ESP harus membuat bahasa Inggris dipakai untuk berbagai tujuan dan media. Seminar pakar dari luar negeri, media kampus atau sekolah berbahasa Inggris, diskusi baik secara offline maupun online di Internet, melihat film berbahasa Inggris, majalah dinding berbahasa Inggris dimana dosen/guru dan murid memajang hasil karyanya adalah beberapa contoh kegiatan yang mampu mengaktifkan mekanisme belajar setengah sadar ini. Universitas Ma Chung tempat saya bekerja sungguh beruntung telah secara taktis menerapkan pembiasaan berbahasa Inggris di kampus, sehingga para mahasiswanya pun terpacu untuk berkomunikasi secara reseptif dan produktif dalam bahasa ini.

Pada bagian kedua dari naskah pengukuhan ini, saya ingin sekilas mengaitkan bidang metodologi pembelajaran bahasa dengan gejala-gejala kebahasaan yang akhir-akhir ini marak. Gejala pemakaian bahasa kreatif oleh generasi muda, penerjemahan oleh komputer, keterkaitan antara pembelajaran bahasa dengan pendidikan karakter, dan sekolah berstandar internasional akan menjadi pusat dari pembahasan berikut ini.

Gejala Kebahasaan Generasi Muda Seolah mengacuhkan kaidah berbahasa secara baik dan benar sesuai dengan pedoman nasional, generasi muda

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 24

menciptakan sendiri gaya bahasanya. Di era 1980 an kita mengenalnya dengan bahasa prokem. Di Malang sendiri sudah terkenal sejak dulu bahasa µwalikan¶ , yaitu membalik urutan pengucapan kata. Di era millenium kedua ini, muncul lagi apa yang disebut bahasa alay. Hutabarat (2010) di Kompas edisi 17 September 2010 membahasnya sebagai pergeseran sikap kebahasaan di kalangan generasi muda yang akrab dengan jejaring sosial jagad virtual. Tak terhindarkan nada prihatin dalam ulasannya itu terhadap gejala kebahasaan ini. Apapun yang sedang terjadi dengan gejala pemakaian bahasa ini, saya percaya hal itu adalah sesuatu yang sulit dicegah, jika tidak bisa dikatakan mustahil. Kebakuan -- dan bahkan sedikit banyak kekakuan ± pola-pola bahasa yang secara preskriptif digariskan oleh otoritas lembaga kebahasaan harus rela mengakui tumbuh suburnya ragam bahasa yang mengingkari pola-pola baku. Kreativitas, dipadu dengan keinginan komunal untuk menciptakan interaksi yang lebih cair dan sedikit eksklusif di kalangan anggotanya, menyebabkan gejala ini makin tak terbendung. Masalah akan timbul manakala buah-buah kreativitas kebahasaan ini menukik terlalu dalam sehingga melibas sikap taat kaidah pola-pola bahasa yang baku. Kemunculan polapola baru tersebut hanya akan nyaman disimak pada konteks komunikasi informal antar teman, namun tidak seharusnya melebar pada konteks formal seperti penyajian ilmiah, penulisan karya ilmiah, penulisan surat resmi, bahkan dalam situasi belajar mengajar di lembaga-lembaga pendidikan. Akankah generasi sekarang menyadari bahaya tersebut dan mampu memisahkan kedua konteks kebahasaan tersebut? Jawabannya terpulang kepada para pendidik bahasa. Secara arif mereka hendaknya tetap menghargai kreatifitas kebahasaan, namun tetap kokoh mengajarkan dan menanamkan sikap taat aturan kebahasaan yang baku untuk situasi-situasi formal. Segaris dengan apa yang disarankan oleh Cummins (1981) melalui dikotomi BICS dan CALPnya, pendidikan bahasa seharusnya mampu menghargai

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 25

kreatifitas kebahasaan pada konteks Komunikasi Interpersonal namun tetap memelihara keajegan pengajaran ragam baku pada situasi Akademik Formal. Para pendidik bahasa hendaknya bisa menggugah kesadaran para anak didiknya tentang bagaimana harus berbahasa sesuai konteks komunikasinya. Mengkritik secara gencar bahasa alay, bahasa prokem atau bahasa walikan sementara kurang memperhatikan ketaatan pada pola-pola baku pada situasi formal tidak akan banyak menyelesaikan masalah ini.

Penerjemahan oleh Komputer dan Relevansinya dengan Pengajaran Dunia penerjemahan digemparkan oleh kemunculan Google Translate, sebuah aplikasi dari Google yang berfungsi untuk menerjemahkan teks dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Pada awal kelahirannya, hasilnya hanya mengundang tawa para penerjemah profesional karena masih banyaknya kesalahan pada hasil kerjanya. Namun, Google dengan ajeg memperbaiki kinerja aplikasi ini, dan mutu terjemahannya pun meningkat dengan pesat. Terakhir kali saya mencoba piranti ini untuk menerjemahkan sehalaman teks ilmiah berbahasa Indonesia ke bahasa Inggris, saya sangat terkesan dengan hasilnya. Hanya dalam hitungan detik, Google Translate mampu menerjemahkannya dengan hanya membuat tiga kesalahan pada tataran pola kalimat dan ungkapan idiomatis. Yang menarik dan mengandung pelajaran dari piranti canggih ini adalah cara pembuatannya. Para pakar informatika yang membangun Google Translate menceritakan bahwa mereka membiarkan komputernya mempelajari sendiri pola-pola kalimat dari jutaan teks yang ada di jagad maya. Apa yang dilakukan Google ini sebenarnya tidak berbeda dengan benak seorang anak kecil yang sedang belajar bahasa ibunya. Setelah terpapar pada jutaan ujaran yang melakukan fungsi-fungsi komunikatif dalam kesehariannya

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 26

sebagai seorang bocah, pada titik tertentu dia mulai bisa menggunakan masukan itu untuk membentuk sendiri ujarannya, mulai dari yang sederhana seperti meminta mainan sampai pada yang jauh lebih rumit seperti berdebat dengan saudara atau bahkan orang tuanya. Pada tataran teori pembelajaran bahasa, Larsen-Freeman (2003) mengulas pendekatan Connectionism yang juga berpangkal dari jejaring saraf tiruan pada komputer. Melalui pemajanan secara sangat intensif pada ujaran-ujaran gramatikal, mekanisme itu akhirnya mampu secara induktif menyimpulkan beberapa pola bahasa yang selaras dengan masukan-masukan linguistik yang diterimanya. Ternyata bakat istimewa ini juga sudah sejak lama tertanam pada benak manusia. Ahli lain seperti Schmidt dan Rutherford (1987) mengemukakan prinsip bahwa melalui tindakan noticing (mencamkan) elemen-elemen linguistik dari bahasa sasaran, para pebelajar mampu membentuk sendiri pola-pola gramatikal dalam benaknya, sehingga pada akhirnya mampu mengujarkan bahasa tersebut. Larsen-Freeman mengakhiri ulasannya dengan pesan yang bagus untuk para pemerhati pendidikan bahasa: frekuensi masukan bahasa sangat penting untuk mengaktifkan daya belajar induktif pada benak pebelajar. Maka, semakin sering masukan bahasa yang dipajankan kepada anak didik, semakin besar peluang mereka untuk menguasainya secara utuh.

Sekolah Berstandar Internasional Pencetusan ide sekolah berstandar internasional di tanah air, saya percaya, merupakan langkah antisipatif pemerintah untuk memampukan generasi muda Indonesia turut berkiprah dalam kancah global. Pada pelaksanaannya, harus diakui bahwa ada beberapa dampak yang kurang diantisipasi, sehingga yang terjadi di lapangan adalah kerancuan dan bahkan salah kaprah. Yang jelas, pandangan umum di kalangan pendidik adalah keharusan memakai bahasa Inggris untuk mengajarkan semua mata pelajaran,

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 27

dan fasilitas belajar yang modern. Dengan kata lain, inti dari standar internasional terkungkung semata-mata pada pemakaian bahasa Inggris dan pemakaian fasilitas canggih, yang pada gilirannya, setidaknya pada ranah akademik, juga menimbulkan kesulitan tersendiri karena minimnya penguasaan bahasa tersebut di kalangan para guru dan sebagian besar anak didiknya. Bisa dibayangkan kesulitan mereka ini, yang mungkin hanya sedikit fasih dalam ranah BICS, ketika harus memakai bahasa tersebut dalam ranah CALP untuk menguraikan berbagai hal teoretis dalam interaksi akademik di kelas. Lepas dari tujuan perintisan Sekolah Berstandar Internasional yang tentunya selaras dengan kemajuan jaman, yang sebenarnya juga diperlukan adalah persiapan menyeluruh mulai dari tingkat pendidikan terendah sampai jenjang pendidikan tinggi untuk membuat para pelaku di lapangan fasih memakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar pembelajaran. Sebagaimana tersirat dalam penelitian saya dan beberapa kolega di atas (Djiwandono, Ginting dan Setyaningsih, 2009), pada jenjang pendidikan menengah sudah seharusnya pembelajaran bahasa Inggris semakin berorientasi pada penajaman kemampuan CALP. Pada tahap awal ini bisa diawali dengan pengenalan kosa kata Academic Words, kemudian pengungkapan buah pikiran dalam pola-pola kalimat yang sering dipakai dalam ranah akademik internasional, berawal dari berbicara sampai menulis ilmiah. Tentunya ini adalah upaya yang memerlukan tinjau ulang kurikulum, sedemikian sehingga kurikulum mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi saling terkait secara progresif. Lepas dari upaya susah payah untuk menguasai bahasa Inggris dalam sekolah berstandar internasional, suatu ulasan kritis tentang apa itu standar internasional patut disimak. Dalam ceramahnya di forum .. . . ITB . . mengemukakan bahwa standar internasional seharusnya mengacu pada keprihatinan dunia terhadap aspek-aspek vital kehidupan.

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 28

Pengembangan Karakter melalui Pendidikan Bahasa Semakin tingginya kesadaran akan pembentukan karakter positif di dunia pendidikan memacu juga upaya untuk mengaitkannya dengan pendidikan bahasa. Pertanyaan sederhana yang tercetus di benak saya adalah: pendidikan karakter melalui pembelajaran bahasa, ataukah pembelajaran bahasa untuk membina karakter? Nampaknya, keduanya harus dipandang sebagai interaksi timbal balik. Pendidikan karakter membuat anak didik mengerahkan upaya untuk menguasai bahasa Inggris, dan sebaliknya pendidikan bahasa membuat mereka peka terhadap hal-hal yang pada ujungnya membentuk karakter positif. Ada enam pilar karakter positif, yang masing-masing mengandung nilai-nilai lebih spesifik. Keenam pilar tersebut adalah terpercaya, rasa hormat, tanggung jawab, keadilan, kepedulian, dan ketaatan pada hukum. Beberapa nilai spesifik yang terkandung di dalam keenam pilar tersebut dan relevan dengan pembelajaran bahasa adalah ketekunan, komunikasi antar manusia, toleransi, kendali emosi, optimisme, dan pikiran positif. Ranah hubungan antara pembentukan karakter dan pembelajaran bahasa ini praktis belum banyak digali oleh kajian dan studi-studi empiris. Sebenarnya, secara tidak langsung Brown (1987)telah membuka rintisan ke arah pengembangan nilai-nilai positif dengan penguasaan bahasa. Disebutkannya beberapa faktor yang sangat menentukan dalam tipe kepribadian seorang pebelajar, yakni tipe kepribadian ekstrovert, keberanian mengambil resiko, empati, kecemasan, harga diri, dan toleransi terhadap ketaksaan. Semua faktor ini akan berujung pada pembentukan karakter yang ideal untuk bisa menguasai suatu bahasa asing.

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 29

Kembali pada pembentukan karakter dan keberhasilan belajar bahasa asing, kita dihadapkan pada pertanyaan: seberapa erat hubungan keduanya? Apakah tindak pengembangan karakter positif menyebabkan peningkatan kecakapan berbahasa, atau peningkatan motivasi dan upaya belajar bahasa? Metode apa yang paling tepat untuk mengintegrasikan pendidikan karakter dalam pembelajaran bahasa? Sadtono (2011) memulai rintisan sangat awal dengan menggunakan sebuah buku yang digunakan untuk secara implisit menanamkan nilai-nilai positif dalam karakter mahasiswa melalui kegiatan membaca. Bagaimana dampak aktivitas belajar ini terhadap pembentukan karakter insan akademik? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang memicu tindak kongkrit dalam penelitian dan pembelajaran. Pada gilirannya, hasil yang konklusif akan membuka wawasan baru dalam bidang pembelajaran bahasa, dan memicu ide-ide kreatif dalam memadukan pengembangan karakter dengan upaya menguasai satu bahasa.

Secara umum, pembelajaran bahasa meliputi setidaknya tiga tahap utama, masing-masing mengandung potensi untuk pembentukan karakter pebelajar. Pada tahap awal belajar, komitmen dan tekad yang kuat serta ketekunan menjadi nilai-nilai utama yang bisa dikembangkan oleh pendidik untuk anak didiknya. Pada tahap berikutnya, kecakapan komunikatif akan mulai terbentuk. Disini, karakter hubungan antar pribadi, ketelatenan dalam mendengarkan, dan kemauan untuk menerima koreksi menjadi hal-hal yang harus dikembangkan pada bangunan karakter sang murid. Sama pentingnya

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 30

adalah kemauan untuk berani mengambil resiko (misalnya, dalam mencoba berbicara, mengawali interaksi dengan penutur asli, mengikuti lomba berbahasa, dan sejenisnya) dan belajar dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Pada tahap akhir pembelajaran bahasa dimana kemampuan menyimak, membaca, menulis dan berbicara menjadi semakin fasih, diperlukan karakter rendah hati untuk tidak menjadi takabur akan prestasinya, dan kemauan yang ajeg untuk senantiasa belajar dari lingkungannya. Pada keseluruhan tahap belajar bahasa, karakter yang selalu penting adalah pengendalian emosi, sehingga pebelajar tidak terperangkap pada rasa cemas yang berlebihan karena takut membuat kesalahan, atau terjerumus pada rasa frustrasi melihat upayanya belum berhasil mengatasi tantangan pembelajaran. Singkat kata, secara umum dapat disimpulkan bahwa ada kaitan erat antara pembelajaran bahasa dan upaya pengembangan karakter positif.

SIMPULAN Metode pembelajaran bahasa merupakan ilmu yang sudah berkembang dalam kurun waktu yang cukup lama. Di Indonesia sendiri, beberapa tonggak penting menandai dinamika perkembangan metodologi pembelajaran bahasa asing. Setelah beberapa lama seperti pendulum yang bergerak bolak-balik dari fokus keakuratan bahasa ke fokus kelancaran komunikasi, metode pembelajaran memasuki era Post Method yang dicirikan oleh kombinasi cerdas antara dua atau lebih metode untuk mencapai hasil yang optimal dalam setiap kekhasan situasi belajar.

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 31

Dalam pada itu, ilmu pembelajaran juga terus berkembang menggali potensi tersembunyi dalam teknik dan pendekatan belajar yang belum banyak dilakukan kalangan pendidik. Perpaduan strategi belajar dengan tindak pengajaran bahasa, pembalikan urutan materi dari yang sukar ke yang mudah, sampai pada pembangkitan kesadaran akan pola-pola bahasa sasaran, mencirikan eksplorasi yang akan terus berkembang di masa depan. Seiring dengan perubahan peta geopolitik di dunia, profil penutur dan pembelajar bahasa Inggris pun juga berubah. Global Englishes makin menguat. Dampak dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa merupakan hal yang patut dipelajari. Salah satunya adalah semakin pentingnya kecakapan berbahasa Inggris untuk melakukan interaksi akademik di semua bidang ilmu. Penelitianpenelitian saya di bidang ini membawa pada kesimpulan bahwa faktor kecakapan mengajar menjadi tak kalah pentingnya di samping faktor penguasaan bahasa Inggris itu sendiri. Abad milennium kedua juga ditandai oleh gejala pemakaian bahasa kreatif oleh generasi muda, penerjemahan oleh komputer, keterkaitan antara pembelajaran bahasa dengan pendidikan karakter, dan, khususnya di negara kita, sekolah berstandar internasional. Yang diperlukan dalam menghadapi gejala-gejala ini adalah kearifan dalam menyeimbangkan antara ketaatan pada aturan berbahasa dan keluwesan dalam berkomunikasi, serta kejelian dalam memasukkan unsur pembinaan karakter dalam pendidikan bahasa. Diperlukan juga kemauan untuk mengkaji ulang kebijakan pendidikan yang telah diambil, sedemikian sehingga bangsa ini berada pada arah dan kecepatan yang benar dalam memajukan kaum muda terdidiknya.

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 32

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, J. R. 1983. The architecture of cognition. Cambridge, MA: Harvard University Press. Avermaet, P.V., and Gysen, S. 2006. From needs to tasks: language learning needs in a task-based approach. Dalam Branden, K.V. (Ed). Task-based language education: From theory to practice. 2006. Cambridge University Press. Babb, K.A dan Ross, C. 2009. The timing of online lecture slide availability and its effect on attendance, participation, and exam performance. Computers & Education 52, hal. 868±881. Borich, G.D. 2007. Effective teaching method: research-based practice. New Jersey: Prentice Hall. Bley-Vroman, R. 1989. What is the logical problem of foreign language learning?. Dalam Gass, S., dan Schachter, J. (editor). Linguistic perspectives on second language acquisition. Cambridge: Cambridge University Press, hal 58 - 72 Brown, H. D. (1987). Principles of language learning and teaching. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall. Chen, S. (2008). Listening comprehension strategies and language proficiency. Tesis Master tidak diterbitkan. College of Applied Languages, Ming Chuan University. Chen, Q., dan Ge, G. (2007). A corpus-based lexical study on frequency and distribution of Coxhead¶s AWL word families in medical research articles (RAs). English for Specific Purposes 26, hal. 502-514. Cook, V. (1993). Linguistics and second language acquisition. London: The Macmillan Press.

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 33

Cummins, J. (2000). Language, power and pedagogy: Bilingual children in the crossfire. Clevedon: Multilingual Matters Crystal, D (2004). The language revolution. Malden, MA: Polity Press. Cummins, J. 1980. The construct of language proficiency in bilingual education. Dalam J.E. Alatis (ed). Georgetown University Roundtable on Language and Linguistics. Washington DC: Georgetown University Press. Ellis, R. (1990). Instructed second language acquisition. Oxford: Basil Blackwell Ltd. Evans, S., dan Green, C. 2007. Why EAP is necessary: A survey of Hong Kong tertiary students. Journal of English for Academic Purposes 6, hal 3 ± 17.

Derewianka, B. (1990). Exploring how texts work. Sydney: Primary English Teaching Association

Djiwandono, P.I., Ginting, D., dan Setyaningsih, Y. (2009).

Djiwandono, P. I. (2011). Applying consciousness-raising method to a writing class. Makalah dalam Conference nd Proceeding di 2 International Conference on Foreign

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 34

Language Learning and Teaching, Bangkok, Thailand, 11 ± 12 Maret 2011, hal 17 ± 24.

Djiwandono, P. I. (1998). Implicational Universals: How it is affected by second language instruction. Dalam ATMA nan JAYA, XI, 2, hal 63 ± 78

Djiwandono, P. I. (1998). Learning Strategies, Degree of Extroversion, Learning Styles and their Relationship with Oral Communication Proficiency: A Study at Widya Karya University. Disertasi tidak diterbitkan. Program Pasca Sarjana IKIP Malang.

Djiwandono, P. I. (2000). The contribution of classroom formfocused interactive drill to the grammatical accuracy: Monitor Hypothesis revisited. Dalam Purwo, B. K. (editor). Kajian serba linguistik untuk Anton Moeliono pereksa bahasa. Jakarta: Universitas Katolik Atma Jaya dan BPK Gunung Mulia. Djiwandono, P. I. (2002). The roles of Indonesian in role-play activities in an English language class. Dalam Linguistik Indonesia, 20, 2, Agustus 2002. Jakarta: Masyarakat Linguistik Indonesia, hal 173 ± 284. Djiwandono, P. I. (2003). A glimpse at the future: exploring the prospects of processing instruction and implicational universals for TEFLIN. Dalam TEFLIN Journal, 14, 1, February 2003, hal. 70 ± 81. Djiwandono, P.I (2004). EFL teaching in the post-method era. Dalam Cahyono, B. Y, dan Widiati, U. (editor). The tapestry of English language teaching and learning in

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 35

Indonesia. Malang: State University of Malang Press. Hal 157 - 167

Djiwandono, P. I. (2006). Cooperative listening as a means to promote strategic listening comprehension. English Teaching FORUM, vol 44, no. 3. hal 32 ± 37.

Djiwandono, P. I. dan Noertjahyanto, M. C. (2007). The effect of teaching listening strategies on EFL learners th comprehension. Prosiding seminar The 55 TEFLIN International Conference, Jakarta, hal 278 ± 281.

Djiwandono, P.I. (2009). Enhancing vocabulary learning through written productive tasks: a study of preintermediate EFL learners at Ma Chung University. Prosiding seminar Foreign Language Learning and Teaching, Bangkok, Thailand, hal 24 - 31. Djiwandono, P. I. (2010). Keterpahaman wacana lisan dan tulisan bahasa Inggris oleh mahasiswa Universitas Ma Chung. Penelitian tidak diterbitkan.Universitas Ma Chung.

Doughty, C., dan Williams, J. (1998). Focus on form in classroom second language acquisition. Cambridge: Cambridge University Press.

Echevarria, J., Vogt, M., & Short, D.(2000). Making content comprehensible for English language learners: The SIOP model. Boston, MA: Allyn & Bacon.

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 36

Gardner, H. (1983). Frames of mind. New York: Basic Books

Graddol, D. (2006). English next: why global English may mean µthe end of English as a foreign language.¶ British Council. Hutabarat, R. M. P. Bahasa alay. Kompas, edisi 17 September 2010 hal 15. Jordan, A., Schwartz, E., dan McGhie-Richmond, D. (2009). Preparing teachers for inclusive classrooms. Teaching and Teacher Education 25, hal. 535 ± 542 Krashen, S. (1981). Second language acquisition and language learning. Pergamon Press. Larsen-Freeman, D. (2003). Teaching language: from grammar to grammaring. Thomson-Heinle.

Laufer, B., dan Hill. M. (2000). What lexical information do l2 learners select in a CALL dictionary and how does it affect word retention? Language Learning & Technology, 3, No. 2, hal. 58-76 Lee, J.J. (2009). Size matters: an exploratory comparison of small- and large-class university lecture introductions. English for Specific Purposes 28, hal 42±57.

Lewis, M. (2003). Lexical approach: The state of ELT and the way forward. Language Teaching Publication.

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 37

Long, M. H. (1991). Focus on form: A design feature in language teaching methodology. Dalam de Bot, K., Ginsberg, R. B., & Kramsch, C. (eds.), Foreign language research in cross-cultural perspective (hal 39-52). Amsterdam: John Benjamins.

McKay, S., dan Hanberger, N. H. (1996) Sociolinguistics and language teaching. Cambridge: Cambridge University Press.

Mellow, J. D. (2002). Toward the principled eclecticism in language teaching: the two dimensional model and centering principle. TESL EJ, 5 (4), hal 1 ± 19.

Morris, L, dan Cobb, T. (2004). Vocabulary profiles as predictors of the academic performance of Teaching English as a Second Language trainees. System 32, hal 75 ± 87. Munro dan Derwing. (1995). Processing time, accent, and comprehensibility in the perception of native and foreign-accented speech. Language Speech, 38, hal. 289-306. Musumeci, D. (1996). Teacher-learner negotiation in ContentBased Instruction: communication at crosspurposes. Applied Linguistics, 17, (3): hal 286 ± 325 Nattinger, J. R., & DeCarrico, J. S. (1992). Lexical phrases in language teaching. Oxford: Oxford University Press.

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 38

Oxford, R.L. (1990). Language learning strategies: what every teacher should know. Boston: Heinle and Heinle. Oxford, R.L. (2002). Language learning strategies in anutshell: update and ESL suggestions. Dalam Methodologyin language teaching. Richards, J. C., dan Renandya, W.A. Cambridge: Cambridge University Press, hal 124±132.

Rodgers, T. S. (2001). Language teaching methodology. ERIC Clearinghouse on Languages and Linguistics. Diunduh 10 Mei 2011 dari http://www.cal.org/resources/digest/digest_pdfs/rodg ers-methods-paper.pdf Rutherford, W.E. (1987). Second language grammar: learning and teaching. Longman Group UK Limited. Sadtono, E. (2011). Character building through foreign language teaching. Dalam An Anthology of Scientific Articles IV: A New Beginning. Malang: Ma Chung Press, hal 157 - 166. Spolsky, B. (1988). Bridging the gap: a general theory of second language learning. TESOL Quarterly 22, hal. 377- 396. Vongpumivitch, V., Huang, J., dan Chang, Y. (2009). Frequency analysis of the words in the Academic Word List (AWL) and non-AWL content words in applied linguistics research papers. English for Specific Purposes, 28, hal 33-41. Wigdosrky-Vogelsang, L. (1978). Foreign language performance requirements for decoding by native speakers: a study of intelligibility of foreigners'

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 39

English. Disertasi tidak diterbitkan. University of Essex, England. | |

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Page 40

Pertama tentu saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kua Kasih dan rahmatNya yang tak kenal putus dan tak kenal lelah telah mem masa-masa kerja keras menapaki jalan menuju puncak pengabdian. Ka membentuk dan mengendalikan saya melewati beberapa masa yang sulit menerangi pikiran saya untuk senantiasa mencari, menggali, dan berupay dalam bidang ilmu yang saya tekuni.

Kemudian saya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada aya Soenardi Djiwandono, dan Sri Esti Wuryani, yang tak ternilai lagi upaya dan ka saya, menyediakan kehidupan yang baik dan sejahtera, memberikan contoh tak henti-hentinya menyemangati saya dalam mengarungi perjalanan hidu gejolak ini. Juga saya sampaikan terima kasih kepada kedua adik saya, Helen dan Caecillia Triastuti Djiwandono, ibu mertua saya, Ny. Ernawati, istri saya kedua anak saya, Tiara Dewanti Djiwandono dan Jonathan Immanuel Djiwan orang-orang yang secara tidak langsung memberi motivasi dan kecerahan ters karir yang saya jalani sebagai seorang guru.

Ucapan terima kasih tentunya juga saya ungkapkan kepada Departe khususnya Menteri Pendidikan Nasional dan jajarannya, yang telah memberi dan prestasi akademik saya selama saya merintis karir sebagai seorang p apresiasi serta rasa terima kasih untuk Universitas Ma Chung, Bapak/Ib pengurus dan pembina Yayasan Harapan Bangsa Sejahtera, Ibu Rektor pimpinannya, yang telah memberi saya kesempatan untuk berkarir disini, me pencapaian saya, dan memberikan dukungan untuk meraih gelar profesi tertin

Ketika berdiri disini, saya tak lupa mengingat jasa kolega-kolega say Setyaningsih dan rekan-rekan di Prodi Sastra Inggris yang telah bekerja k tenaga dan pikiran demi terselenggaranya acara pengukuhan ini. Secara k ucapan terima kasih kepada Prof. E. Sadtono, promotor saya ketika saya Doktor, dan yang saya anggap sebagai figur teladan dalam kerendahhatia sebagai seorang akademisi.

Saya juga mengenang jasa baik semua guru saya yang telah me sekali masa-masa penuh tempaan sehingga saya menjadi seperti sekarang i ingin menyebut Pak Tom, guru saya di SMP, Ibu Rumbilin Supadi, Ibu Djoeh Pak Setyadi Setyapranata, Pak Effendi Kadarisman, dan banyak lagi dose Negeri Malang (yang dahulu semasa saya kuliah di jenjang S1 bernama IK mengukir karya dan didikannya dalam sejarah hidup saya sebagai seorang ak

Akhirnya, saya tak lupa mengingat dan menyampaikan terima kasih ke baik di jenjang Diploma, S1, maupun S2. Mereka, dengan segala ke kemampuannya, senantiasa membuat pikiran saya bekerja untuk selalu tid menggali ilmu dan menelisik lebih dalam alternatif-alternatif dalam pembelajara Kiranya Tuhan memberkati dan membalas budi baik mereka semua.

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Istri Anak Alamat

: Apriyani Suzanna : Agnes Tiara Dewanti Djiwandono Jonathan Immanuel Djiwandono : Jl. Taman Sulfat Blok 10 / 15 Malang 65123

LATAR BELAKANG PENDIDIKAN 1994 ± 1998 1991- 1994 1992

: Doktor Pendidikan Bahasa Inggris, IKIP Ma

: Master dalam Pendidikan Bahasa Inggris, I

: Diploma TESL, English Language Institute Wellington, New Zealand.

1986 ± 1991

: Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Fakul dan Seni, IKIP Malang.

RIWAYAT PEKERJAAN

Februari 2008 ± sekarang Mei 2004 ± Februari 2008

: :

Dosen tetap di Fakultas Bahasa dan Seni

Dosen tetap di Foreign Business Lan Universitas Surabaya

September 2001-Februari 2008 :

Dosen tidak tetap di Master Program of E Widya Mandala, Surabaya.

1996 ± April 2004

:

Dosen tidak tetap di Jurusan Pendidikan Widya Mandala, Surabaya

1992 - Oktober 2003

:

Dosen tetap di Program D3 Kesekretaria Univeritas Katolik Widya Karya, Malang

April 2009 ± Januari 2011 Maret 2008 ± sekarang Februari 2008 ± sekarang

: : :

Anggota Dewan Riset Kabupaten Malang Editor Asian EFL Journal Editor Jurnal Linguistik Indonesia

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

April 1999 ± Oktober 2003

:

Kepala Pusat Penelitian, Universitas Kato

KARYA PENELITIAN 2010 :

Keterpahaman Wacana Lisan dan Tulisan Mahasiswa Universitas Ma Chung.

2009

:

Aspek-Aspek Pembelajaran dan Rancan Mengajar untuk Content-Based Instruction: Universitas Ma Chung

Enhancing Vocabulary Learning through Wri study of pre-intermediate EFL learners at Ma 2007 : The Effect of Learning Strategy Instruction Comprehension Ability (didanai oleh Dikti).

2003

:

Instruction Based On the Information Technology for Empowering High Schoo Income Families (didanai oleh Assosiasi Pe Indonesia)

2002

:

Analysis of Gender Bias in English, Indone Textbooks for Elementary Schools: A Case S (didanai oleh Assosiasi Perguruan Tinggi Kat

2001

:

Potentials and Problems in Teaching English Preliminary Survey :

2000

The Effect of Post-Lesson Quiz on the V Learners of English as a Foreign Language

Developing A Communicative Competence Bahasa Indonesia (didanai oleh Dikti) 1998 :

Learning Strategies, Degree of Extroversio their Relationship with Oral Communication P Widya Karya University (disertasi doktor).

1995

:

The Role of Prior Knowledge in Reading C Learners Reading Strategies of Indonesian Learners

1994

:

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Lambert Academic Publishing, Jerman. 2009: :

Strategi Belajar Bahasa Inggris: Membaca, M Berbicara dengan Taktis, diterbitkan oleh Ind

2006:

:

Reading Skills and Academic Vocabul Engineering, diterbitkan oleh Srikandi.

2005 2004

: :

Recent Issues in Language Testing, diterbitk

Membaca Taktis lewat Penguasaan Pola Inggris,diterbitkan oleh PT Gramedia

2001

:

Strategi Membaca Bahasa Inggris, diterbitkan

Artikel

2011

:

A Profile of Teaching Performances an Pedagogical Skills at Ma Chung University,d Scientific Articles IV: A New Beginning´, Univ

2010

:

Instructional Aspects and Test Design fo Ability in Content-Based Instruction: A Cas University, dalam Indonesian Journal of Engl vol. 6, no. 1, hal 13 ± 29.

2009

:

Upaya Bangsa Mempelajari Bahasa Asing: Kemana, dalam Jurnal ³Linguistik Indonesi 2009, pp. 1 ± 14

2008

:

A Different Touch on Reading Compre Techniques to Promote Lively Class Atm Bahana Sang Bahasawan´, diterbitkan U Agustus 2008, pp. 611 ± 620.

2006

:

Cooperative Listening as A Means to Prom Comprehension, dalam English Teaching FO 3, 2006, pp. 32-38

Cultural Bias in Language Testing,dalam TEF as A Foreign Language in Indonesia) Journa ± 93.

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

2003:

A Glimpse at the Future: Exploring the Pr Instruction and Implicational Universal for Journal, 14, 1, February 2003, pp. 70 -81.

2002:

Pengembangan Tes Kemampuan Berba Pemelajar Asing.Dalam Purwo, B. K. (Ed Kanisius: Jakarta, pp. 261 - 286.

The Roles of Indonesian in Role-Play A Language Class. Dalam Linguistik Indonesi Masyarakat Linguistik Indonesia: Jakarta, pp

2001:

Some Important Aspects of A Cultural Orien Learners (Magister Scientiae, no. 9, Maret 20

2000:

Online Instructions: Problems and Potentia English in Indonesia. Dalam TEFLIN Journal 2000, hal 1 - 21)

Understanding Texts by Hierarchical Readin nan Jaya, Tahun XIII no. 2, August 2000)

The Contribution of Classroom Form-Focu The Grammatical Accuracy: Monitor Hypot Purwo, B. K. 2000 (Editor). Kajian Serba Moeliono Pereksa Bahasa. Jakarta: Univers dan BPK Gunung Mulia )

1999

:

Coherence as a Criterion for Evaluating an DalamMAGISTER Scientiae Journal no. 7, Ju 1998 :

The Language Learning Strategies and Intermediate and Beginning Learners in In Journal, vol. IX, No. 1, August 1998)

Implicational Universals: How it is Affected Instruction.DalamATMA nan JAYA, Th. XI no

1997

:

C-Test and Its Potential as an English Profic Predictive Validation Dalam ³The Deve Indonesia´ by E. Sadtono (editor), 1997)

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Learning Strategies, Degree of Extroversion Relationship with Oral Communicat English.(DalamATMA nan JAYA, Th. VIII, No

1993

:

Developing EFL Students¶ Reading Com (Dalam TEFLIN Journal Vol. VI, No. 1, Febru

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->