DASAR PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM DALAM MENGADILI DAN MEMEMUTUS PERKARA PELANGGARAN HAK ANAK DAN TINDAK PIDANA

ANAK

Pengantar Sebelum kami memaparkan makalah ini, perlu dikemukakan filosofi kinerja Pengadilan Negeri Yogyakarta, yakni Motto : kekuasaan tanpa hukum akan kacau, hukum tanpa keadilan tiada makna, keadilan itu mendekati takwa dan takwa itu kemuliaan hakiki. Adapun Visinya adalah memberikan keadilan menurut hukum, moral dan sosial berdasarkan Pancasila sebagai perwujudan Negara Hukum Republik Indonesia yang demokratis. Sedangkan Misinya mengadili : menerima, memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara dan memberikan pelayanan kepada publik secara legal, akurat, akuntabel dan transparansi. Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas kepercayaan panitia meskipun harus disadari hal ini bersifat sederhana, namun semoga dapat memberikan manfaat dan memenuhi tujuannya. Bertitik tolak dari judul di atas dan berdasarkan teori kausalitas (sebab - ada pelanggaran hukum, berakibat - ada proses peradilan), maka sistematika dalam penulisan ini akan disusun menjadi sebagai berikut : Dasar hukum substansi makalah, makna pelanggaran hak anak dan tindak pidana anak dan dimensi dasar pertimbangan hukum hakim dalam mengadili dan memutus perkara tersebut. 1. Dasar hukum dalam penulisan makalah ini antara lain Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1999 tentang Pengesahan ILO Convention Number 138 Concerning Minimum Age for Admission to Employment (Konversi ILO mengenai Usia Minimum untuk Diperbolehkan Bekerja) 2. Makna Pelanggaran Hak Anak dan Tindak Pidana Anak. 1. Pelanggaran dimaknai sebagai perbuatan (perkara) melanggar, tindak pidana yang lebih ringan dari pada kejahatan ± Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1996. halaman 561 Hak anak dengan merujuk Undang-undang Perlindungan Anak pada pasal 1 angka 12 mendefinisikan hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara. Dengan berasaskan Pancasila dan berlandaskan UUD 1945 serta prinsip dasar Konvensi Hak-hak Anak sebagai konsekuensi logis dan yuridisnya maka merupakan hal mutlak (conditio sine quanon) adanya penyelenggaraan perlindungan anak yang meliputi : non diskriminasi, kepentingan yang terbaik bagi anak, hak untuk hidup kelangsungan hidup dan perkembangannya, dan penghargaan terhadap pendapat anak. Adapun tujuannya adalah jaminan terpenuhi hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya Anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera.

Normal. Mendapat hidup. penyiksaan atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. bergaul dengan yang sebaya. kekejamanan. Untuk beribadah menurut agamanya. Beristirahat dan memanfaatkan waktu luang. tumbuh. mental. spiritual dan sosial ± Pasal 8. 15 dan 16 yaitu setiap anak berhak : 1. Atas suatu nama sebagai identitas dari status kewarganegaraan ± Pasal 5. kerusuhan sosial. wali atau pihak lain yang bertanggung jawab. menerima. memperoleh bantuan hukum atau lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku. berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi ± Pasal 4 2. Memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik.Selanjutnya perwujudan HAM Anak tersebut di atas dirinci / diejawantahkan dalam berbagai kondisi : 1. berkreasi sesuai minat dan bakat tingkat kecerdasan demi pengembangan dirinya ± Pasal 11. Menyatakan dan didengar pendapatnya.d. merupakan pertimbangan terbaik bagi anak dan yang terakhir ± Pasal 14 3. Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk : mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa. pelibatan dalam sengketa bersenjata. Perkecualian. 11. adalah jika ada alasan dan / atau aturan hak yang sah demi kepentingan terbaik bagi anak. berfikir dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya dalam bimbingan orang tuanya ± Pasal 6 4. penelantaran. 8. 7. mencari dan memberikan informasi demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan ± Pasal 10. Memperoleh pendidikan dan pengajaran guna pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai minat dan bakatnya ± Pasal 9 ayat 1. 2. 11. 9. sedangkan yang memiliki keuangan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus ± Pasal 9 ayat 2. dibesarkan dan diasuh orang tuanya sendiri. dan membela diri . penahanan atau pidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir ± Pasal 16 ayat 3. bermain . ekploitasi (ekonomi / seksual). 1. Memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan. Jika orang tuanya tidak dapat menjamin tumbuh kembang anak atau anak dalam keadaan terlantar. sebagaimana diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 4 s. Penyandang cacat : ia juga memperoleh pendidikan luar biasa. Untuk mengetahui orang tuanya. 10. anak mendapat perlindungan dari perilaku : diskriminasi. Selama dalam asuhan orang tua. kekerasan. penganiayaan. Maka ia berhak diasuh atau diangkat sebagai anak asuh atau anak angkat oleh orang lain sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku ± Pasal 7 ayat 1 dan 2 5. terhadap pemisahan anak untuk diasuh oleh orang tuanya. 4. 3. ketidakadilan dan perilaku salah lainnya ± Pasal 13 ayat1. 6. 13. Memperoleh perlindungan dari penyalahgunaan dalam kegiatan politik. juga memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum ± Pasal 16 ayat 1 dan 2. Selain itu ia berhak memperoleh rehabilitasi bantuan sosial dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial ± Pasal 9 ayat 2 dan Pasal 12. Upaya terakhir (ultimum remedium) berupa penangkapan. peristiwa yang mengandung unsur kekerasan dan peperangan ± Pasal 15.

Timbul pertanyaan politik hukum apakah yang melandasi pembuat undangundang menggunakan frase dipidana tersebut. Pemakalah berpendapat idealnya UU Perlindungan Anak secara lengkap sanksi pidana bagi pelanggar hak-hak anak tersebut dengan klasifikasinya sebagai kejahatan dan pelanggaran. yang semuanya berdasarkan teori hukum pidana adalah kejahatan dengan pidana paling singkat 2 tahun. 90. Jika pembuat undang-undang menghendaki adanya kumulasi pidana penjara dan denda mestinya tanpa frase ³atau´ dan jika konsisten seperti itu hakim dapat menggunakan frase ³atau´ sehingga dapat menjadi pilihan dalam penerapan pidananya tanpa ³dan´ sehingga berakibat dapat menjatuhkan pidana denda saja. antara lain pada pasal 278. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Bab XII memuat ketentuan pidana dan tersurat pada Pasal 77 s.-.000. Berhak mendapatkan bantuan hukum dan lainnya bagi setiap anak yang menjadi korban atau pelaku pidana. tidak seperti pada sistem sanksi pidana pada KUHP yang menggunakan frase ³diancam pidana´. Oleh karena itu pemakalah berpendapat tindak pidana anak adalah tindak pidana yang dilakukan oleh anak.-³ . ternyata undang-undang tersebut tidak menentukannya secara lengkap. 283. meski substansinya memuat perlindungan terhadap hak anak. Terkecuali UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan UU Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak telah mengakomodasi hal sejenis. 80. bukankah kalau terdakwa terbukti bersalah akan dijatuhi pidana atau dipidana. sehingga logikanya produk legislasi (persetujuan antara Pemerintah dan DPR). 79. 85. 1. 89. Berdasarkan ketentuan pidana di atas tidak secara limitatif disebut adanya tindak pidana anak. 341.Pasal 89 ayat 2. mestinya frase redaksional tersebut cukup ³paling singkat atau paling sedikit menjadi paling singkat penjara 2 tahun dan paling sedikit Rp 20.dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang obyektif dan tidak memihak serta dalam sidang tertutup untuk umum ± Pasal 17 ayat 1. 308. 297.000. 290. dengan kualifikasi sebanyak 33 jenis Tindak Pidana Umum. Akan tetapi kesemuanya merupakan tindak pidana biasa yang dapat dilakukan oleh orang dewasa.000. dan tidak ada yang berjenis pelanggaran meski pada Pasal 90 dikenal adanya pidana denda namun sebagai pemberatan saja yaitu ditambah 1/3 (sepertiga) karena pelaku pidananya adalah korporasi. 78. dan 356. Frase dipidana.000. Tindak Pidana Anak. KUHP baik secara langsung maupun tidak langsung telah mengaturnya. 88. 305.d. bagaimana jika terjadi pelanggaran dan siapakah yang harus mempertanggungjawabkannya. Dari paparan hak anak di atas. karena tidak bertindak sebagai aparat yudikatif (hakim). 301. Tren terakhir pembuat undang-undang banyak menggunakan frase dipidana dan bukannya diancam pidana. Sedangkan apabila terjadi pelanggaran hak anak termasuk tindak pidana umum berupa kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan oleh anak maka diklasifikasikan sebagai tindak pidana anak. Perlu dicermati pula adanya 3 (tiga) frase yang dapat diperdebatkan yaitu : ³dan paling singkat 2 (dua) tahun dan denda paling sedikit Rp 20. 5. 287. yang berumur 8 tahun tetapi belum berumur 18 tahun dan belum kawin atau yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak. Kemudian frase dan atau pada pasal 77. Berhak dirahasiakan yaitu bagi setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan dengan hukum ± Pasal 17 ayat 2 6. baik menurut peraturan perundang-undangan maupun . Mengenai hal demikian. 87. 86.

melainkan hakim tidak boleh menolak perkara dengan alasan hukum tidak ada. Wali. Sedangkan menurut Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Secara Legal Justice Ketentuan normatif yuridis yang dimaksud antara lain : 1. hakim wajib menerima. adapun dalam pemeriksaan dalam sidang pengadilan perkara anak nakal wajib hadir dalam sidang tersebut yaitu Penutut Umum. hal ini akan mempengaruhi/ mendasari hakim dalam pertimbangannya untuk mengadili dan memutus perkara tersebut. wali atau orang tua asuh. wali. Penuntut umum berwenang menahan selama 10 hari dan dapat diperpanjang 15 hari. Dalam hal pemeriksaan pada penyidikan dan penuntutan berhak didampingi penasehat hukum. Pembimbing Kemasyarakatan. Dalam sidang pengadilan hakim anak bersidang sebagai hakim tunggal yang dalam hal tertentu dan dipandang perlu dapat dilakukan dengan hakim majelis. Saat menjalani proses hukum. memutus dan menyelesaikan perkara. c. Penasehat Hukum. orang tua asuh untuk mengemukakan segala hal ihwal yang bermanfaat bagi anak ± Pasal 59 UU Pengadilan Anak. memeriksa. Hakim Banding berwenang menahan selama 15 hari dan dapat diperpanjang 30 hari. Sebelum putusannya diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum hakim memberikan kesempatan kepada orang tua. atau orang tua Asuh dan Saksi. d. yaitu: keadilan (Gerechtigkeit). memeriksa. Hakim tingkat pertama berwenang menahan selama 15 hari dan dapat diperpanjang 30 hari. Penyidik berwenang menahan selama 20 hari dan dapat diperpanjang 10 hari. dan memutus perkara pidana. kemanfaatan (Zweekmossigkeit). Selain itu dalam sidang hakim anak harus memperhatikan terlebih dahulu hasil penelitian kemasyarakatan yang dibuat oleh Balai Pemasyarakatan disertai orang tua. penahanan dapat dilakukan terhadap anak sebagai tersangka atu terdakwa.peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan ± Pasal 1 angka 1 dan 2 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. yang pemeriksaannya dilakukan dalam sidang tertutup untuk umum namun putusannya diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum. Menurut KUHAP Pasal 1 angka 9 mengadili adalah serangkaian tindakan hakim untuk menerima. Dengan demikian keseluruhan masa tahanan yan dijalani mencapai 200 hari. Ketiga unsur tersebut secara empiris hakim memperhatikan sisi keadilan dan kemanfaatan bagi anak disamping itu juga kepastian . 1. dalam mengadili perkara pidana anak maka dasar pertimbangan hukum adalah berpijak pada legal justice yang termuat dalam norma hukum yang berlaku (hukum positif). Hakim Kasasi berwenang menahan 25 hari dan dapat diperpanjang 30 hari. Hakim dalam memutus perkara tindak pidana anak harus mencakup beberapa aspek sebagaimana menurut Gustaf Rutbruch dengan teorinya ³Ide des rechts´.Pasal 55 UU Pengadilan Anak. 2. 2. Timbul pertanyaan bagaimana implementasi terhadap adanya indikator yang berdimensi pelanggaran hak anak dan adanya tindak pidana anak.. Orang tua. kepastian hukum (Rechts sicherheit). Oleh karena itu menurut doktrin hakim dianggap tahu hukum (ius curia novit) dan putusan hakim dianggap benar res judicata pro veritate habetur. Adapun masing-masing aparat negara dan Penasehat Hukum tidak memakai pakaian dinas atau toga. Penasehat Hukum ± Pasal 56 dan 57 UU Pengadilan Anak.

Menurut pendapat Lawrance Friedman. orang yang tidak tunduk pada hukum . 1. denda atau pengawasan dan pidana tambahan : perampasan barang tertentu dan atau pembayaran ganti rugi. dengan etika profesinya harus juga memperhatikan faktor kriminologi. sosiologi dan psikologi. Dalam penjatuhan pidana tersebut hakim berpijak pada Pasal 23 maupun Pasal 24 yaitu berupa pidana pokok : Penjara. Menyerahkan kepada negara untuk mengikuti pendidikan. Mengembalikan kepada orang tua. maka ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Anak sebagai anak negara maka demi kepentingan anak Kepala LPA dapat minta ijin kepada Menteri Hukum dan HAM agar ditempatkan di Lembaga Pendidikan Anak yang diselenggarakan Pemerintah atau Swasta. atau Organisasi Sosial Kemasyarakatan yang bergerak di bidang pendidikan. Secara Moral Justice Hakim mendasari pertimbangan dalam mengadili dan memutus perkara tindak pidana anak selain memperhatikan hukum positif. Namun jika hakim memutuskan anak nakal wajib mengikuti pendidikan. Menyerahkan kepada Departemen Sosial. 2. Demikian pula terhadap pidana kurungan dan pidana denda dapat dikenakan pada anak nakal yaitu ½ dari orang dewasa.hukum. orang tua asuh. kurungan. ± Pasal 31 UU Pengadilan Anak. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan efek jera bagi anak maupun pihak lain sehingga bermanfaat pula bagi anak yang dipidana tersebut. Sedangkan pidana mati atau seumur hidup maksimalnya 10 tahun. Jika hakim menjatuhkan pidana penjara bersyarat pada anak nakal maksimalnya 2 tahun dengan ditentukan syarat umum dan khusus berupa anak nakal tidak melakukan tindak pidana lagi dengan tetap memperhatikan kebebasan anak. Dari ketiga alternatif di atas dapat dijatuhkan apabila pelaku tindak pidana anak tersebut belum mencapai umur 12 tahun jika tidak diancam pidana mati atau seumur hidup ± Pasal 26 UU Pengadilan Anak. yang jangka waktu pidana bersyarat tersebut paling lama 3 tahun. pembinaan dan latihan kerja atau. Jika anak nakal diputus untuk diserahkan kepada negara. wali atau orang tua asuh. Apabila anak belum mencapai umur 12 tahun dapat diambil tindakan yang dijatuhkan kepada anak nakal berupa : 1. ± Pasal 29 UU Pengadilan Anak. wali. Dalam hal ini jaksa melakukan pengawasan dan Pembimbing Kemasyarakatan melakukan bimbingan oleh BAPAS dan berstatus Klien Pemasyarakatan agar anak nakal menepati persyaratan yang ditentukan dan dapat mengikuti pendidikan sekolah. ± Pasal 32 UU Pengadilan Anak. Apabila tidak membayar denda dapat diganti dengan wajib latihan kerja paling lama 90 hari kerja dan tidak lebih dari 4 jam sehari serta bukan pada malam hari ± Pasal 28 UU Pengadian Anak. Khusus pidana penjara dijatuhkan paling lama ½ dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa. pembinaan dan latihan kerja. 3. Terhadap putusan pengadilan mengenai perkara anak nakal yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat dimohonkan peninjauan kembali oleh anak dan atau orang tua. pembinaan dan latihan kerja maka hakim dalam putusannya sekaligus menentukan Lembaga mana yang harus melaksanakannya. atau penasehat hukum kepada Mahkamah Agung sesuai dengan ketentuan Undang-undang yang berlaku.

Walaupun anak telah melakukan sendiri langkah perbuatan berdasarkan pikiran. sekolah hingga tuntutan gaya hidup di lingkungan pertemanan. 1. Dasar pertimbangan hukum hakim dalam mengadili dan memutus perkara anak pelanggaran hak anak dan tindak pidana anak antara lain : .bukan hanya karena ia tidak mengetahui peraturan perundang-undangan. menurut Undang-undang Kekuasaan Kehakiman hakim wajib menggali nilainilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Salah satu argumentasi adalah bahwa seseorang bisa melanggar hukum karena lingkungan pergaulan mendorongnya untuk melakukan kejahatan. sehingga putusan hakim in casu dalam perkara tindak pidana anak berdimensi memberikan keadilan yang bermanfaat demi kepentingan anak tersebut juga kepada lingkungan sosialnya termasuk orang tua. sering kali motif kejahatan yang dilakukan lebih disebabkan oleh faktor di luar diri anak. kejiwaan dan alam sadarnya lebih didorong oleh faktor emosionalnya. Tindakan seorang anak tidak mungkin dilakukan karena hanya didorong oleh pertimbangan individual saja. dasar yang melatarbelakangi seorang anak untuk melakukan tindak pidana atau kejahatan. seperti pengaruh lingkungan pergaulan. dalam artian dalam memutuskan untuk meakukan perbuatan. seperti teman sepergaulan. Dengan demikian hakim dalam menegakan hukum positif (law in book) dapat mewujudkan keadilan sosial (law in action). Tindakan anak tidak berdiri sendiri tetapi terangkai dalam suatu rangkaian sistem peranan yang diharapkan (role expectation). Sedangkan dari aspek psikologis. Secara Social Justice Hakim tidak hidup di singgasana melainkan hidup bersosialisasi dengan masyarakat lingkungannya yang bersifat heterogen. orang tua dan masyarakat sekitarnya seharusnya dapat lebih bertanggungjawab terhadap pembinaan pendidikan dan pengembangan perilakunya. keluarga. Dalam kasus anak nakal. Oleh karena itu anak nakal cenderung berasal dari keluarga yang tidak harmonis dan keluarga terlantar dimana sang anak mencontoh perbuatan dari orang-orang terdekatnya yaitu keluarga. anak bisa dikategorikan sebagai manusia yang belum cakap. yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia karena anak hakekatnya adalah pewaris dan pelanjut cita-cita bangsanya. perasaan dan kehendaknya. bukan logika berfikirnya yang sempurna selayaknya orang dewasa. tetapi juga karena faktorfaktor yang mempengaruhi dirinya. Dengan kata lain dengan putusan tersebut terjaminlah perlindungan hak anak tanpa menegasikan kepastian hukum sehingga supremasi hukum tetap ditegakkan terhadap anak sejak usia dini sehingga ia bermanfaat bagi pelanjut sejarah perjuangan bangsanya meraih tujuan bernegara. pikiran. Penutup. Dari sisi sosiologis perkembangan anak. sekolah bahkan dalam lingkungan keluarga. Putusan yang demikian itu tentunya akan dapat mempengaruhi tumbuh kembang dalam hidup dan kehidupan demi masa depan perkembangan kecerdasan intelektual sosial maupun emosionalnya yang berguna bagi perbaikan anak pidana serta generasi penerus lainnya untuk kejayaan bangsa dan negara. Oleh karena itu anak nakal. wali atau orang tua asuhnya serta masyarakat sekitarnya. perlu dipertimbangkan kedudukan anak dengan segala ciri dan sifatnya yang khas. tetapi keadaan sekitar dapat mempengaruhi perilakunya.

2. Pelaksanaan pidana terhadap anak nakal harus mengandung unsur reedukasi. Namun jika kondusif bagi kepentingan masa depan anak cukup diberikan tindakantindakan berupa pengembalian kepada orang tua kepada negara maupun kepada Departemen Sosial atau Organisasi Sosial Kemasyarakatan dengan disertai syarat tambahan yang ditetapan oleh hakim. sekolah dan masyarakat lingkungan kehidupan sosial anak. 3.1. dan adilnya diberikan kesempatan untuk mengubah atau memperbaiki perilakunya tanpa harus dijatuhi pidana penjara. DAFTAR PUSTAKA Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak Undang-undang Nomor 20 Tahun 1999 tentang Pengesahan ILO Convention Number 138 Concerning Minimum Age for Admission to Employment (Konversi ILO mengenai Usia Minimum untuk Diperbolehkan Bekerja) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak . Agar diperhatikan laporan penelitian kemasyarakatan yang memuat kondisi lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya sehingga ptusan hakim dapat menumbuh kembangkan kecerdasan intelektual emosi dan sosialnya dikemudian hari. 4. Terhadap anak nakal pelaku tindak pidana pertama kali ideal. reharmonisasi dan resosialisasi dengan membedakan antara pidana untuk pelaku kejahatan dengan pelaku pelanggaran. Penegakan hukum pidana pada anak tidak dapat dipisahkan dari penyelesaian permasalahan dalam lingkungan keluarga.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful