P. 1
Istoria Vi Edition

Istoria Vi Edition

|Views: 341|Likes:
Published by Jack Sudrajat
ISTORIA is journal that perform article in which elaborate historia on methodolocal or learn.
ISTORIA is journal that perform article in which elaborate historia on methodolocal or learn.

More info:

Published by: Jack Sudrajat on Aug 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/24/2014

pdf

text

original

Volume VI Nomor 2, April 2008

ISSN: 1858-2621

ISTORIA
Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sejarah
Teologi, Kekuasaan dan Keadilan Dalam Perspektif Sejarah Islam Saefur Rochmat Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad Sudrajat Donggala: From the Imperialism to the Regency Establishment Lukman Nadjamuddin dan Idrus Optimalisasi Pembelajaran Sejarah Dengan Penerapan Metode Active Debate Dyah Kumalasari Penerapan Model Delikan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS-Sejarah di SMP Muhammadiyah IV Yogyakarta Aman, Grendy Hendrastomo, Sudrajat. Kebijakan Pendidikan di Amerika Serikat Taat Wulandari Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 Supardi

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS ILMU SOSIAL dan EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

ISTORIA
Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sejarah

Alamat Redaksi: Jurusan Pendidikan Sejarah FISE UNY Kampus Karangmalang Yogyakarta Telp. (0274) 586168, ext 385

Terbit Pertama Kali Tanggal 1 September 2005 Frekuensi Terbit 2 kali setahun ISSN: 1858-2621

ISSN: 1858-2621

ISTORIA
Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sejarah SUSUNAN DEWAN REDAKSI Penanggungjawab: Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah FISE UNY Pimpinan Redaksi: A. Daliman Dewan Redaksi: Sardiman, AM. Terry Irenewaty Harianti Penyunting Ahli: Djoko Suryo (UGM) Ahmad Syafi’i Maarif (UNY) Husain Haikal (UNY) Suyatno Kartodirdjo (UNS) Sekretaris Redaksi: M. Nur Rokhman Staff Redaksi: Supardi Dyah Kumalasari Sudrajat Taat Wulandari Editor Bahasa: Aman

Alamat Redaksi: Jurusan Pendidikan Sejarah FISE UNY Kampus Karangmalang Yogyakarta Telp. (0274) 586168, ext 385

Terbit Pertama Kali Tanggal 1 September 2005 Frekuensi Terbit 2 kali setahun ISSN: 1858-2621

PENGANTAR REDAKSI Kami panjatkan puji syukur ke hadhirat Allah, Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal Istoria Edisi April 2008. Jurnal Istoria terbit dengan frekuensi dua kali dalam setahun yaitu pada Bulan April dan September. Dalam edisi ini, Istoria belum tampil secara tematis karena keterbatasan artikel dan hasil penelitian yang masuk ke meja redaksi. Untuk edisi berikutnya dewan redaksi berharap lebih banyak artikel dan hasil penelitian yang dapat disajikan sehingga dapat meningkatkan penampilan dan kualitas. Istoria berusaha untuk menampilkan artikel-artikel ilmiah serta hasil-hasil penelitian dalam bidang kesejarahan, baik ilmu maupun pendidikan sejarah. Dengan adanya media ini diharapkan hadirnya pemikiran serta paradigma baru tentang kesejarahan dan pendidikan sejarah. Hal ini sangat perlu mengingat adanya kebutuhan yang mendesak akan pembaharuan dalam bidang sejarah baik keilmuan, pendidikan maupun metodologinya. Sejarah harus mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta adanya dinamika dalam kehidupan politik ekonomi dan sosial budaya.Oleh karena itu pemikiran dan wawasan baru mutlak dihadirkan sehingga sejarah dan pendidikan sejarah akan semakin berkembang ke arah yang lebih baik. Dewan redaksi menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada para penulis yang telah bersedia memberikan kontribusi pemikiran baik dalam bentuk artikel maupun hasil penelitiannya. Tidak lupa juga terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh jajaran dewan redaksi yang telah bersungguh-sungguh untuk menerbitkan jurnal ini. Kepada dosen-dosen Jurusan Pendidikan Sejarah FISE UNY dewan redaksi juga mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang terjalin sehingga jurnal ini dapat terbit sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Last but not least, tiada gading yang tak retak, dewan redaksi mengharapkan sumbang saran, kritik, serta masukan dari pembaca demi perbaikan pada edisi berikutnya. Kami berharap, semoga kehadiran Istoria edisi kali ini memberikan manfaat yang sebesar-besarnya.

Yogyakarta, April 2008

DAFTAR ISI
Halaman Judul Susunan Dewan Redaksi Pengantar Redaksi Daftar Isi Saefur Rahmad Sudrajat ~ ii ~ iii ~i

Teologi, Kekuasaan Dalam Perspektif Sejarah Islam

~ iv

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad ~ 17 Donggala: From the Imperialism to the Regency Establishment ~ 36

~ 1

Lukman Najamudin dan Idrus Dyah Kumalasari

Optimalisasi Pembelajaran Sejarah Dengan Penerapan Active Debat

Penerapan Model Delikan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS-Sejarah di SMP Muhammadiyah IV Yogyakarta ~ 66

~ 57

Aman, Grendy Hendrastomo, Sudrajat Taat Wulandari Supardi

Kebijakan Pendidikan di Amerika Serikat Pedoman penulisan naskah Istoria

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 ~ 103

~ 78

~ 88

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam TEOLOGI, KEKUASAAN, DAN KEADILAN DALAM PERSPEKTIF SEJARAH ISLAM Oleh: Saefur Rochmat Abstract It is very often for some people to define theology as the core of Islamic teachings in the regard of its content as the science of God. It has Arabic similar terms such as Aqidah and Kalam for explaining the principles of God. It is not surprisingly that Moslem should deal with the issues of theology since the early history of Islam, but why do appear some conflicts in the matters of theology. Theological controversies are something inherent regarding theology is the result of man’s thinking which are bound by the limits of space and of time as the contexts. In other words, theology is the application of the principle of universalism of Islamic teachings in the certain contexts of space and time. Consequently theology is improperly to be claimed as having a universal application. That is why theology is different from iman (belief). It is believed by the Sufis who evaluate correctly that theology does not have an in-depth feeling of spirituality due to its main focus on the use of ratio for the elaboration. Meanwhile iman exists in all religions theology exists in the religions which deal with the matters of worldly affairs, especially in monotheist religions such as Yew, Christian, and Islam. Theology is in great need at the time of crisis such as at the time of the death of Muhammad PBUH the prophet. Indeed at that time theology has not developed well and be arranged systematically as today. We have some theological groups such as Shiite, Sunni, Khawarij. And in Indonesia we have Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, and PKS which all of them come from the Sunni sect. It is possible to notice them from their different socio-cultural background. In other words, socio-cultural background influence the form of theology. Keywords: theology, belief, Sunni, Shiite, Muhammadiyah, NU, and PKS. A. PENDAHULUAN Sebelum bicara panjang lebar tentang permasalahan teologi, kekuasaan, dan keadilan dalam Islam saya ingin mendudukkan permasalahan dalam suatu kerangka yang memungkinkan adanya interplay teologi, kekuasaan, dan keadilan. Secara harfiah teologi berarti ilmu mengenai Tuhan, dan implikasinya agama seolah-olah identik dengan teologi. Walaupun Islam menganggap penting persoalan teologi, tetapi Islam tidak dapat disamakan dengan teologi Islam. Satu-satunya hal yang bisa dikatakan milik semua umat Islam dan
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 1

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam menjadi tempat rujukan bagi semua Muslim adalah Al Kur’an. Memang dari satu sumber ini memancarkan berbagai wajah Islam seperti terlihat dalam berbagai macam aliran teologi dalam Islam. Dalam Islam, teologi seringkali disebut dengan ilmu aqidah atau ilmu kalam, karena teologi mengajarkan pokok-pokok keyakinan pada Tuhan. Memang teologi dibangun diatas unsur-unsur keyakinan, namun teologi tidak dapat disamakan dengan iman/keyakinan (belief) karena makna dari iman (belief) lebih luas dari aqidah. Iman memiliki karakteristik dan ciri-ciri tertentu, tetapi pada dasarnya iman tidak memiliki “bentuk” karena bersifat konseptual dan teoritikal sebagaimana dijelaskan dalam Al-Kur’an Ali Imran 193. Oleh karena itu gerakan purifikasi seringkali mengalami kesulitan karena bid’ah dalam urusan agama seringkali bercampur dengan bid’ah dalam budaya karena ke dalam budaya telah disuntikkan dengan nilai-nilai agama. 1 Adalah kurang tepat menyamakan teologi dengan iman karena teologi lebih merupakan hasil usaha pemikiran manusia, 2 sedangkan iman lebih mementingkan hasil olah perasaan manusia dalam rangka memahami realitas eksistensi Tuhan (Absolute Truth, Ultimate Truth). Oleh karena itu munculnya aliran-aliran teologi (kalam) dalam Islam mendapatkan tantangan yang hebat dari kaum Sufi. Kaum Sufi mengkritik secara meyakinkan bahwa teologi bersifat elitis karena hanya mereka yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi yang dapat mengembangkan teologi. Kaum Sufi juga menilai kalau pemikiran intelektual tidak dapat menjelaskan semua permasalahan agama yang seringkali bersifat misteri. Bahkan kaum Sufi menilai pemikiran teologis bersifat kering, karena tidak melibatkan aspek perasaan, sesuatu yang sangat fundamental dalam agama sebagai keterkaitan hati berserta dengan makna mendalam yang menyertainya. Sebaliknya, kaum Sufi menempuh aspek perasaan dalam rangka mengenal realitas mutlak. Aspek perasaan memang memiliki daya jangkau yang lebih luas dari teologi karena aspek perasaan dimiliki oleh siapa saja baik mereka yang pandai maupun mereka yang bodoh. Mereka sama-sama bisa merasakan susah dan bahagia. Kaum Sufi juga lebih mengena dalam mengembangkan sensivitas kesadaran spiritual karena melalui komunikasi
Abdullah, M. Amin, 1995, “Pendekatan “Teologis” dalam Memahami Muhammadiyah”, Dalam Kelompok Studi Lingkaran (ed.). Intelektualisme Muhammadiyah: Menyongsong Era Baru. Bandung: Mizan & KSL, hal. 11. 2 Murata, Sachiko, 1996, The Tao of Islam, terj. Rahmani Astuti and M.S. Nasrullah, Bandung: Mizan, hal. 41.
1

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

2

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam individual dengan Tuhan melalui berbagai doa-doa (puji-pujian). Aspek “hubungan manusia dengan Tuhan” memang merupakan aspek yang paling asasi dalam agama, sedangkan aspek “hubungan manusia dengan sesama” tidak selalu menjadi sorotan agama. Adanya aspek “huhungan manusia dengan Tuhan” yang menonjol dalam agama-agama Semitis (Yahudi, Kristen, dan Islam) menjadikan mereka digolongkan ke dalam “World Religions”, sedangkan agama-agama tradisi cenderung hanya memperhatikan aspek “hubungan manusia dengan Tuhan” baik melalui tindakan memuja kepada yang dianggap “Absolute Truth” maupun dengan menyatukan diri dengan alam. Tidak heran bila praktek sufi atau mistis seringkali dijumpai pada agama-agama tradisi ini. Dari perbincangan di atas kita tahu bahwa World Religions telah mengembangkan konsep hubungan manusia dengan makhluk lainnya (sesama dan alam). Walaupun demikian, apa yang tertulis dalam kitab-kitab sucinya tidak dapat menjelaskan semua persoalan duniawi karena persoalan duniawi terus bermunculan, sedangkan proses pewahyuannya sudah berhenti. Oleh karena itu, umat beragama merasa perlu melakukan reintrepretasi terhadap kitab suci, sebagai rujukan utamanya, lalu melakukan rekonstruksi terhadap ajaran-ajaran agama itu. Dalam Islam dikenal dengan istilah ijtihad (pembaharuan pemikiran agama) dan lagi-lagi ijtihad tidak bisa disamakan begitu saja dengan ber-teologi karena ijtihad bisa dilakukan di luar konteks berteologi. Memang tidak salah menghubungkan persoalan teologi dengan masalah kekuasaan dan keadilan karena kedua hal terakhir berkaitan dengan problem keduniawian atau kemanusiaan. Memang agama-agama yang masuk kategori World Religions memiliki ciri-ciri teologis karena berpretensi juga mengatur “hubungan manusia dengan makhluk lainnya”. Aspek inilah yang terasa kurang dalam “agama-agama tradisi” sehingga tidak jarang para penganutnya pindah agama ke dalam agama-agama World Religions. Perpindahan agama terjadi karena mereka tidak dapat mencari jawaban persoalan kemanusiaan dalam agama tradisinya. Akan tetapi mereka tidak hanya bersifat pasif, sehingga mereka tetap memelihara”aspek hubungan manusia dengan Tuhan” yang ada dalam tradisinya. B. PENTINGNYA TEOLOGI DALAM ISLAM Sudah dijelaskan di atas bahwa teologi memiliki tempat tersendiri dalam “agama-agama dunia” seperti halnya dalam Islam. Munculnya aliran teologi
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 3

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam dalam Islam dapat dilacak pada sejarah awal Islam, khususnya sejak komunitas Islam periode Medinah. Sebelum bicara panjang lebar masalah teologi dalam seluruh gerak sejarah Islam maka saya ingin menjelaskan satu hal yang sering dilupakan orang yaitu komunitas Islam pada periode Mekkah. Pada periode Mekah, ajaran agama lebih menekankan “aspek hubungan manusia dengan Tuhan” atau dengan kata lain aspek iman/keyakinan. Memang ayat-ayat yang turun pada periode ini juga mengkritisi keadaan masyarakat pada saat itu, tetapi tidak ada keinginan untuk menggantikan sistem masyarakat pada waktu itu. Nabi Muhammad SAW hanya ingin melakukan ”reformasi” dalam sistem masyarakat yang dinilainya telah menyimpang dari semangat awal terbentuknya sistem masyarakat itu. Contohnya, dalam Al-Kur’an Surat AlBaqarah dijelaskan bahwa ibadah haji sebagai salah satu Rukun Islam (kewajiban agama Islam) merupakan warisan sistem Arab. Nabi Muhammad hanya mengkritik ritual ibadah haji yang sudah diselewengkan sebagai arena untuk bermegah-megahan dan membanggakan kebesaran nenek moyangnya. Dalam periode Mekkah, Islam masih menekankan pada pentingnya iman dalam kehidupan. Iman yang ditekankan oleh Nabi Muhammad adalah ”monotheisme” (kepercayaan kepada Tuhan Yang Esa). Walaupun iman seperti ini masih bersifat abstrak, namun para penguasa Quraisy takut terhadap dampak yang disebabkan oleh ajaran Muhammad tersebut, sehingga mereka berusaha menghalang-halangi dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Sebenarnya mereka sudah mengenal ”haji”, mereka sudah mengenal akan konsep Tuhan, tetapi lagi-lagi mereka sudah menyelengkan pengertian Tuhan dalam terminologi monotheisme. Perlu diketahui bahwa situasi Arab pada waktu itu berada dalam pengaruh peradaban lain yang lebih dominan seperti Peradaban Persia sehinga mereka memiliki perasaan inferior. Konsekuensinya, mereka mengadopsi tuhan-tuhan dari peradaban lain itu yang disimbolkan dengan berbagai macam patung, karena mereka ragu-ragu dengan keampuhan Tuhan mereka sendiri, yang tidak menjadikan mereka sebagai bangsa yang besar. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah agama identik dengan kebesaran di dunia ini? Sejarah menunjukkan bahwa antara agama dengan urusan dunia saling berkaitan, sehingga penafsiran agama juga akan sejalan dengan perkembangan sejarah peradaban manusia.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

4

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam Dakwah Nabi Muhammad yang ingin menandaskan konsep monotheisme bukanlah sesuatu yang asing dalam tradisi Arab pada waktu itu. 3 Yang menjadi akar bagi penentangan dakwah Islam adalah implikasi politis dan ekonomis dari ajaran monotheisme itu. Implikasi politisnya, bila mereka mengikuti ajaran Islam maka mereka takut akan kehilangan posisi yang ada, disamping sebagai tanda klannya tunduk kepada klan Nabi Muhammad. Ini adalah suasana psikologis masyarakat kesukuan. Oleh karena itu para pembesar Quraisy sangat gigih menentang Islam. Implikasi ekonomisnya, dengan mengakui Islam maka bisnis patung yang sangat menjanjikan akan lenyap. Tidak heran bila yang gigih menentang Islam adalah para pedagang kaya yang merasa terancam bisnis patungnya. 4 Saling keterkaitan urusan agama dengan urusan duniawi dapat dilihat dalam gerak sejarah Islam. Tapi disini saya takut kalau sampai ada anggapan bahwa agama yang diridlai Tuhan adalah agama yang mampu mengembangkan kedua unsur (urusan dunia dan sakral) ini secara seimbang. Semua agama adalah valid disisi Allah sejauh pemeluknya berbuat kebajikan di dunia ini demi Allah. Pengidentikan agama yang diridlai Tuhan dengan kesuksesan dalam urusan duniawi akan terbantahkan oleh fakta bahwa Tuhan tidak mengutus para Nabi dalam personifikasi yang selalu sukses secara duniawi. Kita tahu bahwa Nabi Ayub itu sakit-sakitan, Nabi Ibrahim terusir dari tanah kelahirannya, Nabi Musa juga diutus untuk umat Yahudi yang sedang dalam keadaan terhina sebagai budak. Memang penguraian keterkaitan urusan sakral dengan urusan duniawi dimaksudkan untuk mengikuti logika yang runtut sebagai prinsip yang mengatur jalannya alam semesta maupun jalannya sistem kehidupan umat manusia. Akan tetapi kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan bisa sewaktu-waktu melakukan intervensi terhadap jalannya sejarah umat manusia karena Dia tidak terikat oleh hukum yang Dia sendiri yang membuatnya. Keterlibatan Nabi Muhammad dalam sejarah juga harus dipahami dalam keterkaitan antara usaha manusia yang sifatnya mengikuti hukum alam (sunatullah) dengan bimbingan Tuhan dalam perajalan sejarah Nabi Muhammad sebagai orang yang dikasihi-Nya. Ini dapat dilihat dalam Al-Kur’an yang juga memuat ”ramalan Nabi Muhammad, yang tentunya atas Petunjuk
Djaka Soetapa, 1980, Konsep Ummah dalam Islam, Yogyakarta: Tiara Wacana, hal. 56-57,

3

65. W. Montgomery Watt. 2006. Kejayaan Islam, a.b. Hartono Hadikusuno, Yogyakarta: Tiara Wacana, hal. 3.
4

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

5

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam Tuhan” yang ternyata juga terbukti kebenarannya. Ini dapat dilihat dalam AlKur’an Surat Ar-Ruum. 5 Pada waktu itu umat Islam merasa sedih melihat fakta yang memilukan karena bangsa Romawi yang percaya pada monotheisme dikalahkan oleh bangsa Persia yang memuja dewa Api. Kemudian turun wahyu yang menghibur umat Islam itu: Sepuluh tahun setelah kekalahan dari bangsa Persia, bangsa Romawi akan mengalahkan bangsa Persia. Ramalan dalam bentuk wahyu ini merupakan bentuk intervensi Tuhan, akan tetapi Nabi Muhammad juga memiliki pengetahuan politik global yang dapat dilihat dalam usaha dakwah yang ditujukan kepada pembesar Quraisy, dimana Nabi mengatakan ”Saya atau umatku akan dapat mengalahkan bangsa Persia dan bangsa Romawi”. Pada waktu itu bangsa Persia dan bangsa Romawi merupakan dua negara superpower pada waktunya. Perkataan itu menjadikan para pembesar Quraisy itu menuduh agama Islam sebagai agama politik. Kita kembali ke komunitas Islam periode Mekkah dimana Islam tampil dalam wajahnya yang masih abstrak, terutama menjelaskan hubungan vertikal manusia dengan Tuhan dan belum membahas manifestasi iman yang tercermin dalam hubungan horisontal manusia dengan sesama makhluk. Memang iman adalah sesuatu yang abstrak dan tidak ada bentuknya, tetapi iman harus dimanifestasikan dalam kehidupan, karena iman bukan hanya sekedar ucapan (dua kalimat sahadat) tetapi harus dibuktikan dalam bentuk ”amal saleh”, yang manifestasinya berupa pilihan moral, perbuatan, dan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan semua makhluk lainnya. 6 Islam menuntut iman bukan hanya ucapan saja, dan konsekuensinya ”ucapan dua kalimat sahadat” ditempatkan sebagai komponen pertama dalam Rukun Islam (atau, kewajiban agama) dan harus diikuti dengan berbagai kewajiban agama yang lain seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Sebenarnya sahadat merupakan pernyataan keimanan kepada komunitas, sehingga sudah ada unsur hubungan horisontal. Kalau iman sendiri, seperti yang tercantum dalam 6 ”Rukun Iman”, sifatnya murni hubungan vertikal. Bila Muslim melakukan ritual-ritual agama yang lebih menekankan pada hubungan vertikal ini maka amal saleh yang muncul akan berbentuk ”kesalehan pribadi”, sebagaimana ditekankan dalam ”agama-agama tradisi”. Dalam pandangan ”Islam kaffah” (Islam yang sempurna), kesalehan pribadi harus diikuti dengan
Syari’ati, Ali, 1992, Membangun Masa Depan Islam, translated by Rahmani Astuti, Bandung: Mizan, hal. 103-105. 6 “Mu’tazilah”, in http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_theology, hal. 3.
5

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

6

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam bentuk-bentuk ”kesalehan sosial”, sebagaimana dengan ”Rukun Islam” yang menghendaki adanya keterlibatan dengan komunitas. Keterlibatan Islam dalam sejarah ini sejalan dengan misi diutusnya umat manusia ke bumi yaitu sebagai ”khalifah fil ardhi” (penguasa di bumi), disamping sebagai ”’abdullah” (hamba Allah). Seorang dianggap Muslim bila dia menjalankan Kewajiban Islam seperti yang tertera dalam Rukun Islam, sehingga menjadi Muslim tidak harus mendalami masalah teologi. Kalau kita lihat pelaksanaan Rukun Islam maka haji hanya berlaku bagi mereka yang mampu, sedangkan yang menjadi pusat perhatian adalah shalat karena hal ini merupakan bentuk komunikasi langsung dengan Tuhan dan diharapkan bisa membentuk manusia yang ”taqwa”, yaitu manusia yang menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya”. Orang yang shalat tapi masih melakukan tindakan keji seperti korupsi maka dia termasuk orang yang fasik, seperti tercantum dalam Alquran surat al-Ma’un (45) ”Celakalah orang yang shalat tetapi melalaikan shalatnya”. 7 Pelajaran yang dapat dipetik dari pesan taqwa ini adalah kita tidak disuruh mengubah sistem masayarakat yang ada tetapi disuruh berbuat baik dan mencegah dari perbuatan munkar dalam konteks sistem yang ada. Adalah tepat ucapan Joseph Schact bahwa kewajiban Islam dapat dijalankan tanpa adanya regulasi negara karena Islam dapat dipraktekkan dalam suatu komunitas. Kewajiban-kewajiban agama ini diatur bukan dalam masalah teologi tetapi dalam syariah (hukum Islam), atau lebih tepatnya dalam fiqih (hukum legal Islam). Bila prioritas dari Islam adalah menjalankan kewajiban-kewajiban agama seperti tertera dalam Rukun Islam maka tidak perlu ”kompetisi” dalam urusan duniawi, bagi mereka yang menganut teologi jabariyah (menyerah pada takdir). 8 Sebenarnya kewajiban agama seperti zakat dan haji menuntut Muslim untuk berkompetisi dalam urusan duniawi. Memang kompetisi diperbolehkan dengan mengindahkan prinsip-prinsip moralitas. Mengenai gejala fundamentalisme yang merebak akhir-akhir ini dikarenakan mesjid tidak dibangun atas ”landasan taqwa” (ussisa ’ala taqwa) tetapi dijadikan ussisa ’ala siyasah (dijadikan basis perpolitikan), padahal orientasi politik tiap kelompok berbeda-beda. 9 Oleh karena itu, penting
Yusman Roy, “Akhlak Mulia, Buah Shalat Berkualitas”, dalam http://islamlib.com/id/index.php?page=article&mode=print&id=1267, hal. 2. 8 W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam, a.b. Hartono Hadikusuno, Yogyakarta: Tiara Wacana, hal. 15. 9 K.H. Mukhlas Syarkun, “Semangat Siasah Lebih Dominan Daripada Takwa”, dalam http://islamlib.com/id/index.php?page=article&mode=print&id=1216, hal. 1.
7

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

7

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam kiranya mesjid dijadikan sebagai arena publik dimana berbagai macam ide diperbolehkan dan karenanya penguasaan mesjid oleh sekelompok orang perlu dicegah. C. KONFLIK TEOLOGIS DALAM ISLAM Yang sangat menyedihkan adalah konflik terjadi dengan sesama saudara dan penyebabnya adalah rebutan warisan ”klaim kebenaran”. Ini bisa dilihat dalam kasus Tradisi Ibrahim dimana rebutan warisan terjadi antara Yahudi, Kristen, dan Islam. Rebutan warisan ”klaim kebenaran” apalagi sesama ”saudara kandung” adalah tidak etis, karena mereka diharapkan bisa memelihara ”warisan monotheisme” dari Tradisi Ibrahim itu. Perbedaan agama merupakan sunnatullah pluralitas kemanusiaan itu sendiri. Masing-masing memiliki keunikan ”jalan” sendiri-sendiri, tetapi bukan berarti mereka tidak memiliki ”tujuan” yang sama. Sebenarnya kemunculan agama itu dapat dilihat dalam kacamata dialektika. Karena Yahudi sangat menekankan aspek ”hukum” 10 yang menjadikan non-Yahudi sulit menganut agama Yahudi maka lahirlah Kristen yang lebih menekankan aspek ”belief” yang sifatnya cair dan masih abstrak sehingga bisa menjustifikasi berbagai sistem yang sudah ada, sedangkan Islam berusaha menggabungkan aspek ”hukum” dan ”belief” sekaligus. Hal ini bukan berarti Islam lebih unggul, melainkan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang memiliki karakteristik sintesis itu. Aspek ”belief” dalam Islam tercermin dalam periode Mekkah, sedangkan aspek ”hukum” tercemin dalam periode Medinah dimana Nabi memiliki ”kekuasaan duniawi” yang berpretensi mengatur jalannya peradaban di muka bumi. 11 Konflik teologis Islam dengan Yahudi dan Kristen yang sering menghalangi sikap toleransi pihak Islam adalah persepsi umat Islam bahwa Yahudi dan Kristen tidak pernah mau mengakui esksistensi Islam seperti tercemin dalam sejarah awal Islam. Hal ini terekam dalam Alquran surat alBaqarah 120. Gus Dur menilai surat itu ditujukan kepada Nabi Muhammad, bukan kepada semua Muslim, ketika Nabi menghadapi orang Yahudi dan Kristen yang militan dan mereka tidak mau mengakui eksistensi Islam. Masalah utama yang mendorong mereka mengingkari Piagam Medinah bukanlah motivasi agama, tetapi motivasi politik dan karenanya Nabi memerangi mereka
10 11

Djaka Soetapa, op. Cit., hal. 69. Nasr, Seyyed Hossein, 1994, Ideals and Realities of Islam, London: Allen and Unwin, hal

146-147.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

8

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam bukan berdasarkan pertimbangan agama tetapi berdasarkan pertimbangan politik. Dengan demikian surat al-Baqarah 120 tidak berlaku unviersal tetapi dalam konteksnya karena ternyata sikap tidak mau menerima eksistensi Islam sudah tidak berlaku lagi dengan adanya ”Vatican Conciliation II” pada tahun 1962-1965, disamping minoritas Islam di Eropa memiliki kebebasan juga dalam menjalankan agamanya. Oleh karena itu, surat al-Baqarah 120 merupakan perintah historis dengan konteks politik bukan konteks religious. 12 Permasalahan ”klaim kebenaran” sangat menonjol dalam ”World Religions” karena mereka sangat menekankan peranan individu dalam sejarah sehingga dikenal dengan ”personal religion”. Tidak mengeherankan bila umat Kristen dan Islam dalam berperang membawa-bawa ”atas nama agama” dan para teroris mengebom tempat ibadah atas nama Tuhan. Karen Amstrong menilai ”agama tradisi” cenderung bersifat toleran karena sifatnya yang ”impersonal religions”, dimana mereka cenderung bersifat kompromi dalam menghadapi sistem keyakinan yang berbeda. 13 Saya tidak menyarankan agar kita mengkompromikan keyakinan kita, tetapi yang lebih penting adalah saling menghormati keyakinan masing-masing dan tidak menganggap agama sendiri sebagai yang paling benar karena setiap agama menawarkan suatu jalan tersendiri yang unik bagi para penganutnya. Masalah teologis dalam Islam muncul ketika Islam bersentuhan dengan masalah ”duniawi”, terutama urusan politik. Masalah teologi muncul ketika Nabi Muhammad wafat, sementara Nabi tidak menunjuk penggantinya ataupun mempersiapkan prosedur suksesi kepemimpinan. Alquran juga tidak mengatur masalah suksesi ini karena Alquran memang bukan kita politik. Memang Alquran merasa berkepentingan dengan urusan duniawi, tetapi tidak masuk akal bila Alquran memuat secara detail urusan duniawi mengingat urusan duniawi senantiasa mengalami perubahan. Alquran hanya memberikan ”petunjuk etik” dalam mengatur urusan duniawi, termasuk dalam urusan politik. Memang politik sangat krusial dalam agama, tidak terkecuali dalam Islam. Tidak mengherankan bila sejarah ”World Relgions” penuh dengan gerakan politik untuk mewujudkan keselamatan di dunia ini dalam bentuk
Abdurrahman Wahid, 2000, “Islam: Punyakah Konsep Kenegaraan?”, dalam Shaleh Isre ed., Tuhan Tidak Perlu Dibela, Yogyakarta: LkiS, hal. 108-109. 13 Amstrong, Karen, (2002), Sejarah Tuhan, translated by Mizan team, Bandung: Mizan, p. 164.
12

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

9

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam keadilan, kesejahteraan, keamanan dan kebebasan sebagai karakteristik Tuhan di dunia ini. Karen Amstrong benar bahwa nilai-nilai eksternal sejarah (politik) bagi Muslim bukanlah perhatian kedua karena salah satu karakteristik dari Islam adalah pensakralan sejarah. 14 Hal ini berkaitan dengan status manusia sebagai khalifah fil ardhi (penguasa di dunia) yang mengindikasikan perlunya ”kekuasaan” untuk memenuhi keselamatan manusia di dunia ini. Misi keselamatan ini merupakan komitmen manusia dalam statusnya sebagai khalifah fil ardhi dalam rangka memenuhi peran lainnya sebagai ’abdullah (hamba Allah). 15 Oleh karena itu kita tidak dibenarkan mengeksploitasi alam maupun manusia; dengan kata lain manusia diperkenankan memanfaatkannya sesuai dengan proporsinya. Memang banyak yang mengklaim memiliki hak untuk menggunakan kekuasaan untuk mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini. Walaupun saya melihat peranan politik bagi eksistensi agama, namun hal ini tidak berarti bahwa politik harus dimaknai sebagai suatu cara untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan negara. Saya lebih cenderung memaknai politik sebagai suatu cara mempertahankan eksistensi agama dengan berbagai cara dalam berbagai aspek kehidupan baik politik, ekonomi, budaya, sosial, dan pertahanan. Mengenai pentingnya politik ini Injil menyebut dengan istilah ”Principalities and Powers”, yang didefinisikan oleh Wink ”powers are the simultanity of an outer, visible structure and an inner, spiritual reality.” 16 Untuk itu kita harus memilih alat-alat politik yang sesuai dengan situasi dan kondisi serta sejarah suatu daerah agar kita dapat memaksimalkan tujuan penggunaan alatalat politik tersebut, disamping jangan sampai menodai misi agama untuk melindungi kemanusiaan atau dengan kata lain melindungi hak hidup orang lain. Sangat sering dipahami kalau politik selalu memiliki implikasi kekerasan, seperti halnya konsep jihad dalam Islam. Jihad merupakan salah satu konsep utama dalam Islam dan dimaknai ”usaha dengan sekuat tenaga” dalam semua hal, sehingga salah kalau dipahami sebagai ”berperang di jalan Allah”. Islam memiliki berbagai macam terminologi jihad seperti jihad paling ringan, jihad kecil, jihad besar, dan jihad akbar. Justru Islam memandang perang merupakan
Armstrong, Karen, 2000, Sepintas Sejarah Islam, A.b. Ira Puspito Rini, Yogyakarta: Ikon Teralitera, hal. ix. 15 Murata, Sachiko, 1996, The Tao of Islam, terj. Rahmani Astuti and M.S. Nasrullah, Bandung: Mizan, hal. 38. 16 Wink, Walter, 1992, Engaging the Powers: Discernment and Resistence in a World of Domination, Minneapolis: Fortress Press, hal. 13-14.
14

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

10

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam jenis jihad kecil. Hal ini dikatakan Nabi ketika baru pulang dari perang Uhud yang menelan korban paling banyak di pihak Islam. Lalu para pengikutnya menanyakan hal itu dan Nabi menjawab jihad akbar adalah jihad melawan hawa nafsu. Hal berikut lebih mencengangkan lagi bagi mereka yang suka menggunakan kekerasan dalam mempertahankan Islam karena Alquran tidak pernah menggunakan kata jihad untuk menyebutkan perang-perang yang dialami oleh Nabi, melainkan dengan kata kootilu dan kata-kata turunannya seperti yang tercantum dalam Alquran surat al-Baqarah 190-193 dan 216. 17 Memang kekerasan dalam Islam seringkali didorong oleh pemahaman tekstual terhadap Alquran baik dengan adanya ayat-ayat yang menegasikan penganut agama lain seperti tersebut di atas atau menginginkan “sistem” yang dimaksud di dalam Alquran. Bila “sistem” yang dijadikan alasan maka sikap Muslim menjadi anti-modern dan menginginkan Islam pada zaman kejayaannya. Ini merupakan pemahaman Islam yang apologis. Sebenarnya Alquran bukan merupakan suatu “sistem”, seperti dikatakan memiliki sistem politik. Istilah kekhalifahan dan Dar al-Islam (negara Islam) tidak terdapat dalam Alquran dan itu hanya terdapat dalam fiqh (hukum legal Islam) produk pemikir Islam masa klasik. Tentunya fiqh klasik itu berlaku untuk waktu dan daerah yang sudah ditentukan, sedangkan masa sekarang ini hendaknya perlu dirumuskan fiqh baru sebagai suatu bentuk dari syariah (hukum Islam). Memang Alquran menyebut “sistem” seperti “sistem masyarakat Arab” tetapi itu hanya untuk menunjukkan bagaimana implementasi prinsip-prinsip moral dan nilainilai univesal. Persoalan teologi juga menjadi pemicu kekerasan dalam Islam sendiri, namun kita harus melihat bahwa teologi merupakan suatu usaha justifikasi terhadap krisis yang sedang melanda umat Islam. Teologi bukan merupakan penyebab dan yang menjadi penyebab adalah krisis yang melanda umat baik itu krisis psikologis maupun krisis sosial. Akar persoalan teologi mengemukan ketika Nabi Muhammad wafat tanpa meninggalkan pengganti maupun sistem suksesi. Beberapa kelompok ingin menjadi pemimpin baik dari suku-suku di Medinah maupun dari suku-suku dari Mekkah. Suku-suku dari Medinah menarik keinginannya setelah mempertimbangkan maksud awal mengundang Nabi Muhammad adalah untuk menghindari konflik sesama suku. Suku-suku dari Mekkah menandaskan adanya hadits Nabi bahwa yang berhak menjadi
Al-Hilalli, Muhammad Taqi-ud-Din dan Muhammad Muhsin Khan, 1996, Interpretation of the Meaning of the Noble Qur’an, Riyadh: Darussalam.
17

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

11

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam pemimpin adalah suku Quraisy. Kelompok Quraisy sendiri pecah karena Tradisi Arab Selatan, yang terbiasa dengan sistem keturunan dalam kepemimpinan, menginginkan Ali sebagai khalifah karena dianggapnya mewarisi sifat kepemmpinan Nabi Muhammad. Sedangkan Tradisi Arab Utara, yang terbiasa dengan sistem pemilihan, menginginkan Abu Bakar sebagai khalifah. 18 Krisis ini bisa diselesaikan dengan bijaksana oleh para sahabat Nabi pada waktu itu, karena Ali berhasil menjelaskan kepada pendukungnya bahwa ia akan bertindak sebagai penasehat para khalifah.
19

Kita perlu kritis apakah hadits yang menegaskan hak kepemimpinan dalam Islam berada di tangan suku Quraisy itu shahih dan kalau shahih apakah konteks penerapannya tepat. Karena kemudian muncul aliran Mu’tazilah yang bersemboyan la hukma illa lillah (tidak ada hukum kecuali dari Allah) dan jargon inipun muncul sebagai respon terhadap situasi krisis (psikologis) karena kecewa terhadap kesediaan Ali melakukan perundingan dengan Muawiyah. Kita juga bertanya apakah ayat yang dipakai sebagai jargon itu tepat konteksnya? Janganjangan mereka tidak memahami semangat Alquran secara umum dan hanya mengamalkan ayat-ayat secara terpisah-pisah tanpa tahu konteksnya. Persoalan teologis telah menyebabkan konflik yang tidak perlu dalam Islam dan hal ini masih saja berlangsung sampai sekarang ini. D. PERSOALAN TEOLOGIS DI INDONESIA Mayoritas umat Islam di Indonesia adalah penganut teologi Sunni dan madzah Syafii dalam bidang fiqih. Memang Islam menekankan pada aspek teologi dan hukum sekaligus karena keyakinan teologis harus diterapkan dalam bentuk amal sebagaimana diatur oleh kitab fiqih. Sudah kita ketahui bersama bahwa umat Islam di Indonesia terbelah dalam dua kubu yang berbeda, walaupun perbedaan itu sudah mulai mencair dengan adanya saling komunikasi dan pemahaman di antara mereka walaupun belum seperti yang diharapkan. Walaupun semboyan “purifikasi” Muhammadiyah banyak mendapat pengaruh dari Gerakan Wahabi yang menganut Madzah Hambali tetapi Muhammadiyah tidak mau digolongkan ke dalam pengikut Madzab Hambali.
W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam, a.b. Hartono Hadikusuno, Yogyakarta: Tiara Wacana, hal. 16. 19 Abdurrahman Wahid, 2000, “Islam: Punyakah Konsep Kenegaraan?”, dalam Shaleh Isre ed., Tuhan Tidak Perlu Dibela, Yogyakarta: LkiS, hal. 1.
18

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

12

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam Ternyata teologi Sunni juga mengalami perkembangan yang tidak mudah dicari titik temunya. Persoalan teologi akan terus mengalami perkembangan dalam Islam karena Islam berpretensi ikut mengatur gerak sejarah peradaban umat manusia. Ada dua kecenderungan yang mendorong munculnya aliranaliran teologi, yaitu “ideologi-ideologi dunia” dan keadaan “sosio kultural” masyarakat. Kedua hal inilah yang menggerakan teologi dalam Islam dan hal ini mengarahkan sedangkan (Modernisasi). Sekarang NU dan Muhammadiyah sebagai mainstream Islam di Indonesia mengakui Pancasila sebagai landasan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, walaupun hal itu baru secara formal dirumuskan pada tahun 1983 dan 1985 sebagai jawaban terhadap kebijakan asas tunggal Pancasila. Adopsi konsep nation state merupakan keharusan sejarah di era modern ini. Bila umat Islam tidak mau mengadopsi ini maka mereka akan mengalami alienasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara walaupun mereka merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Hal ini tentu tidak diharapkan oleh para pemimpin Muslim karena dapat mengarah kepada konflik yang tidak terkendali. Adalah salah bila pemerintah tidak melibatkan partisipasi umat Islam. Indonesia sudah memiliki dua presiden yang lahir dari tradisi Islam yaitu B.J. Habibie dan Gus Dur, namun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Meskipun mereka berasal dari tradisi Islam mereka tidak dapat memegang tampuk kepresidenan untuk waktu yang wajar. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki legitimasi dari seluruh kalangan umat Islam dan ini menunjukkan Muslim Indonesia belum berhasil mengembangkan dialog yang konstruktif. Krisis kepemimpinan semakin nyata ketika Gus Dur diturunkan sebelum waktunya habis. Kalau saya amati antara Gus Dur dan Amien Rais sudah mengadopsi konsep nation state tetapi mereka gagal menjalin kerjasama karena masalah saling kecurigaan antara “komunitas sosial yang berbeda”. Jadi masalah “sosio kultural” telah diangkat menjadi permasalahan “teologis”. Ini dapat dilihat dari sikap kalangan Muhammadiyah yang menuduh PKS sebagai alat dari Gus Dur karena PKS mengikuti metode ru’yat (melihat bulan dengan mata) yang digunakan NU dalam menentukan awal dan akhir bulan puasa dan tidak mengikuti metode hisab (berdasarkan perhitungan) yang digunakan oleh Muhammadiyah. Padahal kalau kita percaya pada survey yang dilakukan oleh AMM menunjukkan bahwa 67% anggota PKS
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 13

NU

mengadopsi

jargon

“Pribumisasi

dan

Modernisasi”, Dinamisasi

jargon

Muhammadiyah

adalah

“Purifikasi

dan

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam berasal dari kalangan Muhammadiyah. 20 Lagi-lagi masalah “sosio-kultural” diangkat ke dalam persoalan “teologis”. Bila kita cermati maka konteks sosialkultural dari PKS dan Muhammadiyah berbeda, walaupun mayoritas anggota PKS berasal dari Muhammadiyah. Gejala sekresi dapat dilihat lebih awal lagi semenjak Islam memasuki kontak dengan peradaban modern Barat. Hal ini terjadi karena Islam harus melakukan respon terhadap ideologi-ideologi dunia yang berkembang pada saatnya dan masing-masing kelompok Islam tidak mengadopsi ideologiideologi dunia dengan jenis dan kadar yang berbeda. Pertamakali lahir gerakan Islam yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh H. Samanhudi. Organisasi yang bercorak ekonomi itu menjelma menjadi partai Sarekat Islam pada tahun 1912 di bawah pimpinan HOS Cokroaminoto. Walaupun HOS Cokroaminoto dibesarkan dalam sistem pendidikan modern (Barat), namun dia mendapat dukungan baik dari umat Islam yang berlatar belakang perkotaan maupun pedesaan karena umat Islam sedang menantikan munculnya seorang pemimpin, walau-pun mereka membawa persepsi yang bermacam-macam. Hal itu telah dicermati oleh pihak Belanda untuk menjalankan politik devide et impera (memecah-belah) dengan mengakui cabangcabang SI sebagai organisaasi yang otonom dari pusat (Central Sarekat Islam). 21 Di dalam SI berkembang berbagai macam pema-haman tentang Islam, dan sikap revolusionernya digerakkan oleh konsep Imam Mahdi (milleniarisme atau mesianisme) dan konsep-konsep komunisme yang radikal itu. Ketika SI (dari sayap kanan maupun kiri) tidak dapat mengambil keputusan yang strategis dalam mengakomo-dasikan konsep-konsep Islam dengan konsepkonsep komu-nisme dengan diberlakukannya monoloyalitas maka SI mengalami perpecahan ke dalam SI Putih dan SI Merah. Hal itu menandai kemunduran SI karena banyak rakyat yang sudah terpengaruh konsep radikal komunisme tidak siap untuk dicap sebagai atheis sehingga tidak mau masuk ke dalam SI Merah karena mengandung resiko yang tidak ringan, sedangkan mau masuk ke dalam SI putih tidak at home karena tidak memberikan jaminan ideologis terhadap keinginannya yang radikal, walaupun pemahaman Islam HOS Cokroaminoto sudah menerima sosialisme. Perpecahan dalam tubuh SI sekaligus menghapus kesempatan Islam untuk tampil sebagai meanstream
AMM, “Beberapa Catatan Pasca Pemilu”, hal. 2. Sartono Kartodirdjo, 1993, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional Jilid II, Jakarta, Gramedia, hal. 108.
20 21

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

14

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam ideologi politik di Indonesia karena kepemimpinan politik nasional segera diambil alih oleh ideologi nasionalisme. Hal itu terjadi karena nasionalisme bersifat open minded (terbuka) dan tidak mau menghakimi pemahaman keagamaan seseorang dengan hukum wajib dan dosa. REFERENSI: “Mu’tazilah”, in http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_theology. Abdullah, M. Amin, 1995, “Pendekatan “Teologis” dalam Memahami Muhammadiyah”, Dalam Kelompok Studi Lingkaran (ed.). Intelektualisme Muhammadiyah: Menyongsong Era Baru. Bandung: Mizan & KSL. Al-Hilalli, Muhammad Taqi-ud-Din dan Muhammad Muhsin Khan, 1996, Interpretation of the Meaning of the Noble Qur’an, Riyadh: Darussalam. AMM, “Beberapa Catatan Pasca Pemilu”. Amstrong, Karen, 2002, Sejarah Tuhan, translated by Mizan team, Bandung: Mizan. Armstrong, Karen, 2000, Sepintas Sejarah Islam, A.b. Ira Puspito Rini,

Yogyakarta: Ikon Teralitera. Kartodirdjo, Sartono, 1993, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional Jilid II, Jakarta, Gramedia. Murata, Sachiko, 1996, The Tao of Islam, translated by Rahmani Astuti and M.S. Nasrullah, bandung: Mizan. Nasr, Seyyed Hossein, 1994, Ideals and Realities of Islam, London: Allen and Unwin. Roy, Yusman, “Akhlak Mulia, Buah Shalat Berkualitas”, dalam

http://islamlib.com/id/index.php?page=article&mode=print&id=1267. Soetapa, Djaka, 1980, Konsep Ummah dalam Islam, Yogyakarta: Tiara Wacana.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

15

Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Islam Syarkun, Mukhlas, “Semangat Siasah Lebih Dominan Daripada Takwa”, dalam http://islamlib.com/id/index.php?page=article&mode=print&id=1216. Syari’ati, Ali, 1992, Membangun Masa Depan Islam, translated by Rahmani Astuti, Bandung: Mizan. Wahid, Abdurrahman, 2000, “Islam: Punyakah Konsep Kenegaraan?”, dalam Shaleh Isre ed., Tuhan Tidak Perlu Dibela, Yogyakarta: LkiS. Watt, W. Montgomery,1990, Kejayaan Islam, a.b. Hartono Hadikusuno, Yogyakarta: Tiara Wacana. Wink, Walter, 1992, Engaging the Powers: Discernment and Resistence in a World of Domination, Minneapolis: Fortress Press. Tentang Penulis Saefur Rochmat lahir di Kebumen 22 Nopember 1968, menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Kebumen. Dia lulus dari IKIP Yogyakarta tahun 1993 dan langsung menjadi dosen di almamaternya Jurusan Pendidikan Sejarah FISE UNY. Dia melanjutkan studi ke Jurusan Sejarah di UI dan La Trobe University dan memperoleh Master of International Relations dari Ritsumeikan University, Japan. Tulisannya telah diterbitkan baik di jurnal internasional maupun nasional terakreditasi seperti Ritsumeikan International Affairs, International Journal of Social Studies, MILLAH, Hermeneutik, Cakrawala, dan Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Sekarang dia menduduki jabatan Lektor Kepala dalam bidang Sejarah Indonesia.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

16

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad KISAH ADIPATI JAYAKUSUMA-PANEMBAHAN SENOPATI DALAM HISTORIOGRAFI BABAD Oleh: Sudrajat 1 Abstract This research is to elaborate the relationship between Adipati Jayakusuma from Pati and Panembahan Senopati from Mataram. Regarding historians give little attention to solve this mysterious theme, we like to do research about it. This research uses historical method involving four steps that are: heuristic, critics, interpretations and historiography. We use babad as primary source of research in which Babad Pati to compare with Babad Tanah Jawi and other sources. We know that babad has several methodological weaknesses such as spatial, temporal, and factual. Regarding little writing sources, we have opinion that babad is one of solution to work away at problem. Despite, our work is not a history but a story; we wish invite for historians to begin analytical work for affect this course. From our research, we conclude that Adipati Jayakusuma and Panembahan Senopati have a brotherhood relationship. Adipati Jayakusuma is old brother because her sister is Panembahan Senopati’s wife. For the other hand their ancestor has brotherhood relationship. But we can’t tell anything that they were combat to kill one and, another. Babad Pati gives us informations that combating between Adipati Jayakusuma and Panembahan Senopati has two causes. First, misunderstanding about nonattendance Adipati Jayakusuma to meeting with her on Mataram Palace. Second, dissastified accumulation of Adipati Jayakusuma exclusively about exchange Juru Taman horse and Pragola cow, and the accomplish of Panembahan Senopati to married with Madiun princess. Finally, these causes lead for two prince from Pati and Mataram to combating one by one in Prambanan (Babad Tanah Jawi) or Kemalon (Babad Pati). But after Adipati Jayakusuma die, Mataram Prince dissatisfied in her heart caused for her misunderstanding. Keywords: Adipati Jayakusuma, Panembahan Senopati, Babad Pati, Babad Tanah Jawi.

Dosen pada Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta.
1

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

17

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad A. Latar Belakang Penulisan sejarah lokal yang mulai sering dilakukan akhir-akhir ini merupakan sebuah usaha yang konstruktif dalam rangka meningkatkan gairah penelitian sejarah. Hal ini tentunya membantu upaya rekonstruksi sejarah nasional yang lebih objektif dan komprehensif. Namun usaha tersebut menjumpai permasalahan yang sulit untuk diatasi yaitu adanya keterbatasan sumber tertulis. Sebagaimana terjadi dalam penulisan sejarah lokal lainnya, penulisan sejarah awal Mataram khususnya pada masa konsolidasi kekuasaan di bawah Panembahan Senopati, banyak dijumpai tabir-tabir kegelapan yang sampai sekarang penuh dengan misteri yang belum berhasil diungkap. Hal ini sekali lagi disebabkan oleh adanya keterbatasan sumber tertulis, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar. Oleh karenanya tidak berlebihan apabila kemudian Hermanus Johannes de Graaf (1899-1984), sejarawan Belanda yang dikenal sebagai Bapak Sejarah Jawa mengatakan bahwa penelitian sejarah Jawa pada abad ke-16 diabaikan dan terjepit antara dua pusat perhatian yaitu: kajian arkeologis pada masa praabad ke-16 dan kajian masa kolonial pada masa pasca abad ke-16. 2 Berbicara mengenai konsolidasi kekuasaan pada awal kerajaan Mataram, maka akan ditemui serangkaian peperangan antara Panembahan Senopati dengan penguasa-penguasa lokal yang tidak mau tunduk terhadap kekuasaannya. Rangkaian peperangan yang dilakukan oleh Panembahan Senopati yang belum banyak ditulis oleh sejarawan antara lain: peperangan menghadapi Ki Ageng Mangir (penguasa lokal di Bantul) dan Adipati Jayakusuma (penguasa Pati) . Adipati Jayakusuma adalah seorang penguasa Kadipaten Pati, Jawa Tengah, daerah bawahan Kerajaan Mataram. Pada dasarnya Mataram merupakan sebuah kesultanan baru yang mewarisi kesultanan sebelumnya yaitu Pajang. Pajang yang merupakan kelanjutan dari Demak, merupakan kesultanan Islam transisi dari Demak ke Mataram. Pajang mengalami disintegrasi politik setelah Sultan Adiwijaya meninggal pada tahun 1528. takhta Pajang. Beliau kemudian Panembahan Senopati berhasil menguasai kemelut politik pasca meninggalnya Sultan Adiwijaya serta menduduki memindahkan pusat pemerintahan dari Pajang ke Mataram pada tahun 1586.

De Graaf, HJ. (1985), Awal Kebangkitan Mataram: Masa Panembahan Senopati (Judul asli: De Regering van Panembahan Senapati Ingalaga) , Jakarta: Grafitti Pers., hlm. 1.
2

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

18

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad Hubungan antara Adipati Jayakusuma dengan Panembahan Senopati sebenarnya sangat erat. Hal ini disebabkan adanya hubungan keluarga diantara keduanya. Panembahan Senopati adalah kakak ipar Adipati Jayakusuma, karena adanya perkawinan Panembahan Senopati dengan kakak perempuan Adipati Jayakusuma. Di samping itu diantara keduanya memang mempunyai hubungan persahabatan yang erat. Hal ini dapat dilihat dari peristiwa tukar-menukar kendaraan pribadi. Adipati Jayakusuma mempunyai kendaraan pribadi berwujud seekor lembu bernama Pragola. Lembu Pragola itu pada mulanya adalah kendaraan pribadi Panembahan Senopati, tetapi atas permintaan Panembahan Senopati sendiri lembu tersebut ditukarkan dengan seekor kuda kendaraan pribadi Adipati Jayakusuma yang bernama Juru Taman. Dengan terjadinya tukar-menukar kendaraan pribadi ini terlihat hubungan yang akrab antara kedua tokoh ini, di samping hubungan akrab sebagai saudara tua terhadap saudara muda. Akhirnya kedua tokoh ini, Adipati Jayakusuma dan Penambahan Senopati, terlibat dalam perang tanding yang hebat. Namun sayangnya peristiwa tersebut belum berhasil diungkap secara tuntas. Hal ini sekali lagi terkendala dengan keterbatasan sumber sejarah terutama sumber tertulis. Oleh karenanya dalam kajian ini akan disajikan kisah antara Adipati Pragola-Panembahan Senopati dalam historiografi babad. B. Babad Dalam Historiografi Indonesia Beberapa permasalahan dalam historiografi Indonesia sampai saat ini masih terus mengemuka, salah satunya adalah kurangnya sumber tertulis, khususnya masa abad XVI-XVIII. Padahal masa tersebut merupakan masa yang sangat penting dimana kerajaan-kerajaan Islam memainkan peranan signifikan dalam kehidupan politik Indonesia, khususnya di Jawa. Dalam periode kerajaan Islam, sumber tertulis yang dapat ditemui masih terbatas pada historiografi tradisi seperti: babad, kronik, hasil kesusastraan, dan kitab-kitab sastra. Sumber sejarah yang berupa babad sampai saat ini masih belum banyak dimanfaatkan oleh para sejarawan. Mungkin karena secara teoritik dan metodologis babad memiliki banyak kekurangan, khususnya bila dikaitkan dengan persoalan temporal, faktual maupun spasial. Di samping itu, karena merupakan sebuah karya sastra, maka babad menggunakan bahasa sastra yang sukar dipahami oleh masyarakat awam. Babad Tanah Jawi misalnya, sampai saat ini masih belum dapat dipahami seluruhnya mengenai asal, maksud, bahan dan komponennya. Bahkan De Graaf
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 19

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad menyebutkan bahwa Babad Tanah Jawi sebagai sebuah tulisan yang aneh. Ada dugaan bahwa babad tersebut ditulis oleh beberapa orang yang ditujukan untuk memperkuat legitimasi dari raja yang sedang berkuasa. 3 Last but not least faktor isi yang kadang-kadang tidak dapat diterima dengan akal sehat, semakin menjauhkan perhatian sejarawan terhadap karya sastra tersebut. Terlepas dari semua kelemahan-kelemahannya, sebenarnya babad juga mengandung beberapa fakta sejarah. Dalam hal ini Taufik Abdullah menyatakan bahwa melalui karya sastra kita dapat memahami prosesi peristiwa masa lalu dan menangkap kembali struktur waktu dari realitas. Lebih lanjut Taufik Abdullah menyatakan bahwa karya sastra merupakan pengalaman kolektif dari pengarang dan merefleksikan suasana waktu ketika karya itu diciptakan. 4 Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Bambang Purwanto mengatakan bahwa karya sastra telah menjadi bagian yang integral dengan sejarah sebagai sebuah tradisi. Sebagai sebuah tradisi karya sastra mempunyai empat fungsi utama. Pertama sebagai alat dokumentasi, kedua sebagai media untuk mentransfer memori masa lalu antar generasi, ketiga sebagai alat untuk membangun legitimasi, dan keempat sebagai bentuk eskpresi intelektual. 5 Sebagai sebuah karya tradisi, babad memuat realitas yang terbungkus dalam fantasi. Akhirnya Bambang Purwanto menyarankan agar sejarawan meningkatkan pemahaman metodologis dan pengetahuan substansi historis yang luas dan dalam untuk dapat mengungkap realitas yang ada di dalamnya. 6 C. Hubungan Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Sejarah Pati sangat erat kaitannya dengan sejarah Mataram. Hal ini dapat dirunut dari sejarah tiga orang Sela di Pajang yaitu Kiai Gede Pemanahan, Kiai Juru Martani, Panjawi. Mereka ini merupakan putra-putra Kiai Gede Ngenis dengan perkecualian Panjawi yang merupakan seorang putra angkat. 7 Bila dilihat dari nama-namanya kelihatan bahwa mereka ini merupakan seorang rakyat jelata. Namun karena Sultan Pajang menyayanginya, maka kemudian

Ibid., hlm. 3. Bambang Purwanto, (2006), Gagalnya Historiografi Indonesiasentris, Yogyakarta: Penerbit Ombak., hlm. 90. 5 Ibid., hlm. 98. 6 Ibid., hlm. 102. 7 De Graaf, Op. cit., hlm. 19. Istilah “Tiga Orang Sela” ini diambil dari de Graaf.
3 4

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

20

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad Sultan Pajang mengajak mereka keluar dari Sela dan pindah ke Hubungan antara ketiga orang Sela dengan Sultan Pajang semakin erat. Keberhasilan Tiga Orang Sela membunuh Aria Penangsang telah mengubah nasib mereka 8. Penjawi mendapat hadiah tanah yaitu daerah Pati. Sedangkan Kiai Pemanahan memilih daerah Mataram yang masih berupa hutan. Kalau Penjawi langsung segera menempati tanah Pati, tidak demikian halnya dengan Kiai Pemanahan. Sultan Pajang menunda penyerahan Mataram karena beliau sangat khawatir dengan ramalan yang menyatakan bahwa Mataram kelak akan tumbuh menjadi sebuah kerajaan besar. Ada beberapa perdebatan mengenai alasan penundaan ini. Sebagian berpendapat bahwa sultan berusaha untuk mencarikan tanah yang lebih baik untuk Ki Pemanahan. Hal ini didasarkan atas jasa Ki Pemanahan yang dikatakan lebih besar bila dibandingkan dengan Ki Penjawi. Sementara itu sebagian lagi berpendapat bahwa sultan bimbang dan resah dengan prediksi Sunan Giri bahwa kelak di Mataram akan timbul seorang raja yang besar sama dengan raja Pajang. 9 Atas intervensi Sunan Kalijaga, maka Sultan Hadiwijaya kemudian menyerahkan tanah Mataram kepada Ki Pemanahan. Pemberian hadiah tanah kepada dua orang bersaudara dari Sela ini kemudian mengawali perjalanan sejarah Ki Penjawi di Pati yang kemudian bergelar Ki Ageng Pati di satu sisi serta Ki Pemanahan yang kemudian bergelar Ki Gede Mataram. Kiai Gede Pemanahan mengajak anaknya R. Ng. Sutawijaya ke Mataram dan membangun daerah ini menjadi sebuah kadipaten. Sementara itu Panjawi yang mendapat hadiah Pati dapat segera menempatinya karena Pati telah berupa kota yang telah ramai dan banyak penduduknya. Panjawi mempunyai dua orang anak yaitu seorang perempuan dan Jayakusuma. Babad Pati menceritakan ha; ini dengan tembang Dhandhanggula pupuh XV sebagai berikut: Putraniro neggih naming kalih, ingkang sepuh wanodya yu endah, ingkang hanom kakung putrane, cumantya ramenipun, haneng Pati nama Dipati, aran Pajang.

Sebenarnya yang berhasil membunuh Aria Penangsang adalah Sutawijaya. Akan tetapi mereka melaporkan bahwa yang membuhuh Aria Penangsang adalah Kiai Pemanahan dan Penjawi. 9 Ibid., hlm. 62.
8

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

21

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad Jayakusuma, digdaya pinunjul, sumiwi marang Mataram, karatone ing Pajang sampun gumanti Mataram Senopatyo. 10 (Putranya hanya dua orang, yang tua adalah seorang wanita dan yang muda laki-laki. Putranya yang laki-laki lalu menggantikan kedudukan ayahnya di Pati, yang bernama Jayakusuma. Dia sangat sakti sekali serta tunduk kepada Mataram. Pada waktu itu kerajaan Pajang sudah berganti menjadi kerajaan Mataram). Hubungan antara Adipati Jayakusuma dengan Panembahan Senopati adalah saudara sepupu karena orang tua mereka bersaudara. Hubungan kekerabatan antara Adipati Jayakusuma dengan Panembahan Senopati semakin erat dengan dikawininya putri Pemanahan yang merupakan kakak Adipati Jayakusuma oleh Panembahan Senopati. 11 Cerita Babad Pati senada dengan silsilah raja-raja Surakarta dan Yogyakarta yang di dalamnya disusun nama-nama seperti Ki Penjawi, Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati, Adipati Pati, Sultan Agung sampai Pakubuwono X disusun dengan susunan yang jelas. 12 Silsilah tersebut menggambarkan hubungan kekerabatan antara Adipati Jayakusuma dengan Panembahan Senopati. Tetapi pada perkembangannya Adipati Jayakusuma ditempatkan sebagai lawan politik yang membahayakan kedaulatan dan integritas Mataram. Barangkali hal inilah yang membawa dua orang bersaudara sepupu dan ipar ini terlibat dalam perang tanding yang dikisahkan secara panjang lebar oleh Babad Pati. D. Sebab-sebab Permusuhan Sebab-sebab pertentangan antara Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati disebabkan oleh beberapa faktor. Babad Pati mengungkapkan bahwa pertukaran kendaraan antara kuda Juru Taman dengan sapi Pragola sebenarnya sangat mengecewakan Adipati Jayakusuma. Hal ini diilustrasikan dengan tembang Kinanthi pupuh XXII sebagai berikut:
Sosrosumarto & Dibyosudiro, (1980), Serat Babad Pati (alihbahasa dan aksara oleh Yanti Darmono), Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Proyek Pengadaan Buku Sastra Nasional dan Daerah. Hlm. 208. 11 Lihat Pari Sewuli, Silsilah Raja-raja, edisi huruf Jawa Carikan. 12 Karaton Surakarta tuwin Yogyakarta wiwit panjenenganipun prabu Brawijaya kaping V hing Majapahit hingkang wekasan. Koleksi Museum Radyapustaka, Surakarta. Lihat juga Pari Sewuli, Op. cit.
10

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

22

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad … kudamu iku sun teda, apa pareng sira yayi?” nanging jrih lenggana, sumangga karsa narpati, kawula darmi punika, sadaya kagungan aji, nanging tyas dereng alila, margi remen kang turanggi, nagning jrih lamun lenggana, pramila matur tan yekti. 13 (… kudamu aku minta, bolehkah dinda?” Sang Adipati takut menolaknya, “silahkan saja kehendak paduka, hamba berikan. Semuanya adalah milik paduka raja”. Tetapi sesungguhnya hatinya belum rela, sebab dia senang kepada kudanya. Namun oleh karena takut menolak, maka dari itu ia berbohong). Pada perkembangannya kemudian Panembahan Senopati menempatkan Adipati Jayakusuma sebagai salah seorang senopatinya dalam usaha konsolidasi kekuasaan menghadapi bupati-bupati dari Jawa Timur. Dalam usaha untuk menaklukkan Madiun, Adipati Jayakusuma berjuang dalam pertempuran yang hebat di Gunung Pandan melawan prajurit Madiun. H. J. de Graaf menengarai bahwa keterlibatan Adipati Jayakusuma dalam pertempuran melawan Madiun dilatarbelakangi oleh kekhawatiran akan maneuver bupati Madiun terhadap Warung yaitu sebuah daerah di Blora yang secara geopolitis juga membahayakan kedaulatan Pati. 14 Panembahan Senopati kemudian memanggil seluruh senopatinya, termasuk Adipati Jayakusuma untuk berperang melawan Madiun. Babad Pati mengilustrasikan peristiwa tersebut dengan tembang Kinanthi pupuh XXII sebagai berikut: Sang dipati wau tinimbalan mring Mentawis, kinen nanggulan karaman, Gunung Pandan den njageni, anganti praptaning kraman, nggenya baris wadya aji . . . , sang dipati wau, hantuk boyongan pawestri, putri kalih ayu endah, wus katur sri narapati, kang rayi nora sinungan, marma sakit ing penggalih. 15 (sang Adipati tadi dipanggil ke Mataram, disuruh mengatasi pemberontakan, yaitu berjaga di Gunung Pandhan, tempatnya barisan raja menunggu, para pemberontak . . ., Sang Adipati mendapat boyongan dua dua orang putri cantik. Putri tersebut sudah diberikannya kepada raja, namun dia tidak diberi oleh karena itu sakit hatinya).

13 14 15

Sosrosumanto, Op cit., hlm. 230 De Graaf, Op cit., hlm. 105. Sosrosumanto, Op. cit., hlm. 231.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

23

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad Kutipan di atas menjelaskan bahwa Jayakusuma membantu Panembahan Senopati dalam menumpas pembelotan yang dilakukan oleh bupati-bupati Jawa Timur yang dikomandani oleh Madiun. Dijelaskan juga bahwa Jayakusuma berhasil membawa harta rampasan berupa dua orang puteri yang disebutnya sebagai puteri boyongan dari Gunung Pandan. Kemungkinan besar puteri-puteri tersebut dikawini oleh Panembahan Senopati. Hal ini didasarkan pada silsilah raja-raja Surakarta dan Yogyakarta yang menyatakan bahwa Panembahan Senopati mempunyai dua orang garwa (isteri) yang pertama putri dari Pati sedangkan yang kedua adalah putri dari Madiun. 16 HJ. de Graaf menyatakan bahwa puteri bupati Madiun yang memimpin perlawanan terhadap Mataram akhirnya diperistri oleh Senopati. Babad Tanah Jawi yang gemar akan anekdot mengilustrasikan pertempuran antara antara pasukan Mataram dengan pasukan dari Jawa Timur (Madiun) yang dipimpin oleh senopati wanitanya sebagai berikut: Panembahan Madiun terkejut sekali tentang kekalahan pasukannya dan berkata, “saya tidak menduga bahwa beginilah maksud Senopati. Ia memang dapat dinamakan manawisa: bagai madu di luar, tetapi racun di dalam.” Setelah itu ia bersama pengikutnya berangkat ke Wirasaba, dan meninggal-kan putrinya Retna Jumilah, yang bersenjatakan Keris Gumarang. Setelah beberapa lama pingsan, putri itu siuman kembali dan berdandan seperti satria, bersenjatakan keris, pistol dan tombak. Dengan senjata itulah ia menunggu kedatangan Senopati di dalam keraton. Senapati ternyata kebal terhadap senjata-senjata itu. Bahkan juga terhadap pisau cukur. Akhirnya putri itu dapat dirangkul Senopati dan dijadikan istrinya.” 17 Pernikahan antara Panembahan Senopati dengan putri Madiun ini menambah kekecewaan Adipati Jayakusuma. Babad Tanah Jawi menceritakan Ketika Adipati Pati mendengar perkawinan itu ia sangat cemas. Ia minta izin pulang dengan alasan daerahnya dalam bahaya. Senopati menahannya, tetapi sia-sia. Senopati merasa khawatir bahwa Adipati pati
Kraton Surakarta tuwin Yogyakarta wiwit panjenenganipun Prabu Brawijaya kaping V hing Majapahit hingkang wekasan. Koleksi Museum Radya Pustaka, Surakarta. 17 Dikutip dari H. J. de Graaf, Op. cit., hlm. 108.
16

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

24

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad akan membelot. Lalu menyampaikan kekhawatirannya itu kepada pamannya. Adipati Mandaraka, akibat pemberitahuan itu juga merasa cemas. 18 Sementara itu Serat Kandha menceritakan pada hari persidangan agung setelah perkawinan itu, Adipati Pati berangkat pulang tanpa berpamitan, jengkel karena perkawinan itu diadakan dalam masa terjadinya banyak pertumpahan darah.
19

Senopati

sambil

menduga-duga

alasan

itu,

membiarkannya pergi.

Babad Pati menceritakan bahwa pada waktu Panembahan Senopati sedang tidur sebelum pulang ke Mataram, pada pagi harinya ada sorang abdi memberi tahu bahwa tadi malam Adipati Jayakusuma telah pulang lebih dulu. Panembahan Senopati menduga barangkali Adipati Jayakusuma sakit hati, sehingga pulang tanpa pamit kepadanya. 20 H. J. de Graaf menduga bahwa tindakan Adipati Jayakusuma didasarkan pada kekhawatirannya terhadap kekuasaan Mataram yang semakin luas pasca kemenangannya menghadapi bupati-bupati Jawa Timur. Atau mungkin ia menduga bahwa saudara perempuannya yang kawin dengan Senopati mungkin akan tergeser kedudukannya akibat kedatangan putri dari Madiun tersebut. 21 Terlepas dari analisis-analisis yang dikemukakan oleh para ahli, benang merah kekecewaan Adipati Jayakusuma terhadap Panembahan Senopati telah terajut sejak lama. Kekecewaan ini diawali oleh pertukaran kendaraan kuda Juru Taman dengan lembu Pragola yang disusul dengan kekecewaan-kekecewaan lainnya. Akumulasi kekecewaan inilah yang mendasari keberanian Adipati Jayakusuma untuk tidak menghadap ke Mataram. E. Menuju Arena Perang Tanding. Ketidakhadiran Adipati Jayakusuma dalam pisowanan agung di Mataram menimbulkan kecurigaan aka adanya pembelotan. Babad Pati menceritakan pengkhianatan kuda Juru Taman yang berakhir pada kematiannya telah meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi raja Mataram. Hal itu

Ibid. Ibid. 20 Sosrosumarto, Op. cit., hlm. 146. 21 Ibid.
18 19

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

25

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad mendorong raja Mataram memikirkan adik ipar dan sepupunya yaitu Adipati Jayakusuma yang sudah selama enam tahun tidak menghadap ke Mataram. 22 Babad Tanah Jawi tidak memberikan keterangan secara terperinci tentang awal mula perselisihan Adipati Jayakusuma dengan Panembahan Senopati. Dalam Babad Tanah Jawi hanya diceritakan bahwa ketika Panembahan Senopati mengumpulkan para senopati perangnya, Adipati Jayakusuma datang terlambat, sehingga sangat malu dibuatnya. Karena hal tersebut, maka Adipati Jayakusuma ingin memberontak kepada Mataram. … Dipati pati wiyose, keladuk pomadiyun, Panembahan Mataram nuli, lajeng ing Pasuruan, . . . Adipati Pati tan menangi, apan mulih mring negaranira, purwana kangen rabine, sanget ing wirangipun, pan angrasa kantun ing kardi, mila kala semana, mbalik karsanipun, …….. 23 Keterangan tersebut tampaknya sangat meragukan, hanya karena perasaan malu kemudian tiba-tiba seorang adipati memberontak kepada raja sekaligus kakaknya. Barangkali keterangan ini dibuat oleh penulis babad untuk menunjukkan bahwa Adipati Jayakusuma benar-benar memberontak, meskipun dengan alasan yang dibuat-buat. Selanjutnya Babad Tanah Jawi menceritakan bahwa Adipati Jayakusuma mengirimkan utusan ke Mataram dengan tujuan untuk meminta hak pengurusan atas semua tanah pedesaan di sebelah utara Pengunungan Kendeng, dan juga meminta 100 mata tombak dengan batangnya. Senopati memberikan semuanya, kecuali batang tombak, yang berarti perang. Mandaraka sangat terkesan oleh kejadian itu. 24 Babad Pati tidak menyinggung adanya permintaan Adipati Pati atas hak pengurusan pedesaan di sebelah utara Pengunungan Kendeng maupun 100 batang tombak. Babad Pati melanjutkan ceritanya bahwa ketika sedang tidur di pendopo, Panembahan Senopati bertanya kepada prajurit penjaga istana. Kebetulan yang bertugas jaga malam adalah Kiageng Jambeyan dan Plangitan. Hal ini diceritakan dengan tembang Pocung pupuh XXV sebagai berikut: … Wus dinangu ya ta pangandikanipun: “heh panggedhe siro, Jambeyan Plangitan ugi, paran baya sira weruh purwanira, Ariningsun, nggone nora seba mring sun, apa darunanya, de lami tan ana prapti, datan karsa seba mring
Ibid., hlm. 240. Anonim, (1940), Babad Tanah Jawi VII (edisi huruf Jawa), Jakarta: Balai Pustaka., hlm. 31Ibid., hlm. 33. Lihat juga HJ. de Graaf, Op. cit., hlm. 124.

22 23

32.
24

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

26

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad karatoningwang. Laminipun saprene wataranipun, wus ana nem warsa, apa baya yayi sakit, lah panggedhe matura ing yektinira.” Nulya matur Kyageng Jambeyan punika: “aduh … duh gusti kula, nuwun duka amba yekti, pireng ulun rayi tuwan sang dipatya, sampun ngumpul dipati Pati puniku, sagung praboting prang, arsa nglurug mring Metawis, kinten amba datan dangu mulya prapta.” 25 … Lalu ditanyai, demikian katanya, “hai pembesar Jambeyan juga pembesar Plangitan, apakah kalian mengetahui sebabnya adikku tak menghadap kepadaku. Dan apakah sebabnya lama tidak mau datang menghadap ke keratonku, lamanya sampai sekarang sudah ada sekitar enam tahun. Apakah adikku sakit. Lah pembesar katakanlah sesungguhnya?” Kyageng Jambeyan segera berkata, “aduh … duh paduka hamba minta maaf, hamba sungguh-sungguh mendengar bahwa adik paduka Sang Adipati Pati sudah mengumpulkan semua peralatan perang, akan datang menyerbu Mataram. Menurut perkiraan hamba tak lama lagi tiba.” Dikisahkan oleh Babad Pati bahwa Panembahan Senopati belum yakin betul dengan jawaban Kiageng Jambeyan dan Plangitan. Untuk menyakinkan hatinya, Panembahan Senopati menghadap seorang pendeta untuk meminta pendapat. Kemudian pendeta tersebut menyarankan agar Panembahan Senopati mengirmkan surat kepada adiknya tersebut. Adipati Jayakusuma yang menerima surat tersebut sudah tahu maksudnya, bahwa Panembahan Senopati menuduhnya akan memberontak. Adipati Jayakusuma sama sekali tidak berkata apapun, hanya menggertakkan giginya. Babad Pati tidak menyebutkan siapa pendeta tersebut, akan tetapi kemungkinan besar pendeta yang dimaksud adalah Kiai Juru Martani yang sejak awal mendampingi Panembahan Senopati dan menjadi otak di balik kesuksesan raja Mataram tersebut. Nama lain yang kemungkinan diidentikkan dengan pendeta tersebut adalah Patih Mandaraka. HJ. de Graaf menyatakan bahwa patih Mandaraka mempunyai perang penting dalam masa pemerintahan Panembahan Senopati. 26

25 26

Sosrosumarto, Op. cit., hlm. 241. de Graaf, Op. cit., hlm. 125.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

27

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad F. Jalannya Perang Tanding Setelah menerima surat dari Adipati Jayakusuma, Panembahan Senopati segera menyiapkan prajuritnya dan berangkat ke Pati. Ketika telah sampai di tepi sungai Juwana, pasukan Mataram berhenti untuk beristirahat dan mendirikan perkemahan di desa Jetak. Panembahan Senopati bermaksud mengirim utusan ke Pati, tetapi urung dan memenuhi saran Kiai Juru Martani untuk membunyikan meriam Kalantaka. Mendengar dentuman meriam Kalantaka, Adipati Jayakusuma mengetahui bahwa kakak iparnya telah datang. Persesuaian kisah tersebut dengan Babad Tanah Jawi adalah lokasi yang berdekatan dengan sungai. Desa Jetak yang disebutkan dalam Babad Pati tampaknya meragukan. Babad Tanah Jawi menyebut bahwa peperangan itu terjadi di Prambanan. Babad Tanah Jawi kemudian menceritakan bahwa ketika Pangeran Mahkota Mataram pergi ke Prambanan, tentara Pati bergerak ke Kemalon. Adipati Jayakusuma sangat marah dan menantang Panembahan Senopati untuk perang tanding. Akhirnya terjadi perang tanding antara Adipati Jayakusuma menghadapi kemenakannya yang dimenangkan oleh Adipati Jayakusuma. Penambahan Senopati dengan restu permaisurinya, kakak Adipati Jayakusuma, segera mengejar prajurit Pati yang membangun benteng pohon kelapa di Prambanan. 27 Babad Pati menceritakan bahwa mengetahui Panembahan Senopati telah datang, maka Adipati Jayakusuma segera bersiap untuk menyambutnya. Adipati Jayakusuma melarang para prajuritnya untuk ikut menyambut kedatangan pasukan Mataram. Adipati Jayakusuma hanya didampingi oleh kakaknya (Pangeran Arya) dan enam orang tamtama. Keenam tamtama tersebut adalah: (1) Patih Sumerja, (2) Sutawanengpati, (3) Sutawanenggita, (4) Sambaprada, (5) Sambanipis, (6) Rujakbeling. 28 Adipati Jayakusuma menyeberangi sungai Juwana dan menantang Panembahan Senopati untuk melakukan perang tanding dan tidak melibatkan prajurit masing-masing. Dalam hal ini Babad Pati mengungkapkan dengan tembang Sinom pupuh XXVI sebagai berikut: … “Duh kangmas nata ing Metawis, sami sugeng rawuhnya paduka nata, rawuh Pati arsa yuda, arinta sumanggeng karsi, nanging panuwun kawula, sampun ngaben kang prajurit, tyang alit boten uning dosanya ngawula ratu, dari

27 28

Ibid. Sosrosumarto, Op. cit., hlm. 126.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

28

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad suwawi glis miyose, kawula tur mundura.”29 ( … duh kanda raja Mataram, selamat datang. Paduka raja datang di Pati ini akan berperang, adindamu mempersilakan kehendak paduka. Akan tetapi permintaan hamba jangan mengadu para prajurit, sebab orang kecil tidak mengetahui dosa raja. Marilah keluar segera, hamba akan menghaturkan bakti, dan masakan adik paduka di Pati mundur)” Mendengar tantangan ini Panembahan Senopati menjadi sangat marah dan keluar dari barisan untuk menghadapi Adipati Jayakusuma. Diceritakan oleh Babad Pati, Panembahan Senopati menusuk dada Adipati Jayaksuma dengan tombaknya, sampai tiga kali tusukan tetap tidak mempan. Gantian Adipati Jayakusuma menusukkan tombaknya ke dada Panembahan Senopati, namun sampai tiga kali juga tidak mempan. Mereka perang tanding selama tiga hari dengan berbagai macam senjata, tombak, pedang, dan keris, akan tetapi dua orang kakak beradik ini sama-sama saktinya. Babad Pati menceritakan bahwa perang tanding tersebut terjadi pada hari Kamis Pon. 30 Setelah tiga hari berperang tanding, maka mereka kemudian memutuskan untuk berhenti dan mandi di sumur yang ada di dekat mereka. Ketika sedang mandi, Adipati Jayakusuma mendapat firasat bahwa dalam perang tanding nanti dirinya akan kalah. Firasat tersebut berupa sinar (tejo) yang memancar terus di dalam sumur saat Panembahan Senopati mandi, tetapi sinar itu patah setelah dirinya masuk ke pemandian. Mendapat firasat tersebut, Adipati Jayakusuma memerintahkan kepada Sutawanengpati untuk membunuh seluruh isteri dan anaknya. G. Akhir Perang Tanding Perang tanding antara Panembahan Senopati melawan Adipati Jayakusuma telah berlangsung selama tiga hari. Semua jenis senjata telah dipergunakan, baik tombak, pedang, maupun keris. Namun tampaknya tidak ada tanda-tanda siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang. Babad Pati menceritakan bahwa setelah melakukan perang tanding selama tiga hari, Panembahan Senopati merasa kewalahan menghadapi Adipati Jayakusuma.
29 30

pangabekti, rayi tuwan ing Pati mangsa

ini akan

Ibid., hlm. 245. Ibid.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

29

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad Panembahan Senopati kemudian meminta nasehat Kiai Juru Martani. Dalam nasehatnya, Kiai Juru Martani mengatakan bahwa kelemahan orang Pati adalah kalau mereka sesumbar dan menampakkan dadanya, maka kesaktian yang dimiliki akan hilang. Akan tetapi Panembahan Senopati merasa kesulitan untuk memancing adiknya agar bersumbar. Selama perang tanding saja ketika akan membalas serangan, Adipati Jayakusuma selalu menghaturkan sembah terlebih dahulu. 31 Selanjutnya, Babad Pati menceritakan keadaan tersebut dengan tembang Durma pupuh XVII sebagai berikut: Kyai Juru mesem jro tyas sarwi nabda: “gampang bae ngakali, wantune rayinta, ing Pati barangasan, nora betah den campahi, marmanta sira, numpako kuda dhisik, yen wus numpak nuli sira ngandika: ‘layak sira Dipati, kandhel kulitira, de nganggo kere walanda, pesthine tan pasha wesi, pesthine sumbar, adimu adipati.” 32 (Ki Juru tersenyum dalam hatinya serta berkata, ”mudah saja mengakalinya, watak adikmu Dipati Pati itu pemarah, tidak tahan bila dicela, oleh karena itu engkau naik kuda dahulu, bila sudah naik berkatalah engkau, Pantas tebal kulitmu Dipati Pati, sebab memakai baju kerai Belanda, tentu saja tidak mempan dengan besi, adikmu pasti bersumber” Panembahan Senopati menuruti nasehat Kiai Juru Martani, dan pada pagi harinya, dia keluar naik kuda sambil memanggul tombak Kyai Plered. Babad Pati menyebutkan bahwa hari itu adalah hari Jum’at Wage yang dikatakan sebagai hari naasnya orang Pati. Untuk selanjutnya perang tandingpun segera dimulai kembali. Babad Pati menceritakan peristiwa tersebut dengan Durma Pupuh XXVII sebagai berikut: Sang dipati nulya nitih kudanira, napas ules wajik, ngembat lawungira Ki Bedru namanira, sasirig madyaning jurit, wus ayun-ayunan, sang nata ngandika ris, ”Lah ta yayi sira glis andhisikana!”, umatur ingkang rayi, ”Sumangga paduka, namani dhateng amba”, Senapati angayati nanting kang tumbak, pan sarwi dipun tinggil. Pamrihira mantep tibanya kang tumbak, kenging jaja amuni, jumebles swaranya. Senapati ngandika, ”Layak adhi sira sekti, tan pasah tumbak, nganggo kere Walanda!”. Sru Bramantya Dipati Jayakusuma, rasukan dipun wingkis, kang jaja tinggal katingal, sarwi sumbar mangkana ”Boten watak
31 32

Sosrosumarto Op cit. hlm. 248. Ibid.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

30

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad tiyang Pati, lamun nganggea kerene tyang walandi!” Senapati wus awas pandulunira, jajanya katon kuning, lir kulit wanodya, lajeng sinogok tumbak, Kyai Plered ingkang manjing tumaneng jaja, Dipati dhawah nuli. 33 (Sang Dipati segera naik kudanya yang berwarna kelabu agak kekuningan, sambil menarik tumbaknya Ki Bedru. Melompat-lompat dia di tengah-tengah medan laga. Sesudah berhadap-hadapan, raja berkata lembut, ” Adinda ... segeralah kau mulai!”. Adiknya berkata, ”Silahkan paduka mengenai hamba dulu”. Senapati lalu menarik serta mengangkat tombaknya ke atas, maksudnya agar supaya tepat jatuhnya. Tombak itu mengenai dada, berdenting suaranya. Senapati berkata, ”Adinda pantas engkau sakti dan tidak mempan dengan tombak, sebab engkau mengenakan baju kerai besi Belanda!” Dipati Jayakusuma sangat marah, pakaiannya disingsingkan hingga kelihatan dadanya, serta bersumbar demikian, ”Tidak patut jikalau orang Pati memakai baju kerai besi Belanda!” Penglihatannya Senapati sudah waspada, lalu dadanya yang kelihatan kuning seperti kulit wanita itu ditusuk dengan tombaknya Kyai Plered. Tombak tersebut mengenai dada lalu Dipati jatuh). Meninggalnya Adipati Jayakusuma dalam perang tanding melawan Panembahan Senopati membuat pengikutnya yang berjumlah enam orang mengamuk. Mereka menerjang dan menyerang prajurit Mataram. Akan tetapi perlawanan pengikut Adipati Jayakusuma sia-sia belaka sebab jumlah prajurit Mataram sangat banyak. Babad Pati menyebutkan bahwa perbandingannya 1:100 orajurit. 34 Meskipun jumlah tersebut agaknya meragukan, tetapi dapat kita bayangkan bahwa enam orang pengikut Adipati Jayakusuma itu menjadi bulan-bulanan prajurit Mataram. Akhirnya pengikut Adipati Jayakusuma melarikan diri dari medan pertempuran. Dikisahkan bahwa Sutawanengpati yang sedang mengamuk menghadapi prajurit Mataram teringat akan perintah oleh Adipati Jayakusuma untuk membunuh semua anak dan isteri sang adipati. Oleh karena itu Sutawanenggita segera masuk ke istana kadipaten dan membunuh semua anak dan isteri Adipati Jayakusuma. Hanya Raden Janaka yang masih berumur satu tahun yang diselamatkan dan dibawa pergi ke sebuah gua. Sementara itu Raden

33 34

Ibid., hlm. 249. Ibid., hlm. 249.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

31

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad Penjaringan yang terluka punggungnya, melarikan diri dan diikuti oleh abdiabdinya yang lain. H. Simpulan Dalam penulisan sejarah awal berdirinya Mataram pada abad XVI masih terdapat tabir-tabir yang perlu untuk diungkapkan. Kisah Senopati-Adipati Jayakusuma dari Pati merupakan salah satunya. Kurangnya sumber tertulis, khususnya dari luar, menyebabkan kisah tersebut masih menjadi sebuah misteri yang sangat menantang untuk diungkap. Sementara sumber dari dalam masih terbatas pada historiografi tradisi yang berupa babad. Babad Pati yang ditulis oleh Sosrosumanto dan Dibyosudiro merupakan salah satu babad yang menceritakan kisah berdirinya Pati sekitar tahun 1292 sampai kurang lebih tahun 1600. Babad ini merupakan salah satu babad yang layak dipertimbangkan sebagai salah satu sumber untuk mengungkapkan kisah Senopati-Adipati Jayakusuma. Dikisahkan oleh Babad Pati bahwa tokoh yang memiliki peran penting dalam tahap awal berdirinya Pati adalah Kembangjaya atau terkenal dengan nama Ki Ageng Kemiri. Melalui serangkaian peperangan menghadapi beberapa daerah, akhirnya Ki Ageng Kemiri berhasil menyatukan beberapa daerah yang kemudian dinamakan Kadipaten Pesantenan. Setelah Ki Ageng Kemiri wafat, putranya yang bernama Raden Tondonegara diangkat menjadi adipati menggantikan ayahnya. Raden Tondonegara merupakan seorang adipati yang bertindak arif dan bijaksana. Ia menjadi sosok agung yang dapat mengayomi rakyatnya sehingga kehidupan rakyat pada waktu itu diliputi oleh suasana kerukunan, kedamaian, ketenangan dan kesejahteraan. Raden Tondonegoro memindahkan pusat pemerintahan dari desa Kemiri ke desa Kaborongan dan mengubah nama Pesantenan menjadi Pati, dan kemudian bergelar Ki Ageng Pati. Peristiwa tersebut terjadi kira-kira tahun 1323. Babad Pati menceritakan sejarah berdirinya Pati sampai di situ. Selanjutnya Babad Pati menceritakan peperangan antara Adipati Jayakusuma melawan Panembahan Senopati. Babad Pati secara panjang lebar menceritakan konflik Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati yang diawali oleh kekecewaan Adipati Jayakusuma. Kekecewaan Adipati Jayakusuma diawali dengan ketidakrelaannya atas pertukaraan kuda Juru Taman dengan lembu Pragola. Berikutnya Adipati Jayakusuma sangat sakit hati dengan perkawinan
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 32

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad antara Panembahan Senopati dengan putri dari Madiun. kekecewaan inilah yang melatarbelakangi Adipati menghadap ke Mataram selama enam tahun. Panembahan Senopati menganggap tindakan Adipati Jayakusuma yang tidak menghadap ke Mataram sebagai pembelotan. Hasutan dari Ki Ageng Jambeyan dan Plangitan yang mengatakan bahwa Adipati Jayakusuma telah mempersiapkan tentara dan akan segera menyerang Mataram menyebabkan Panembahan Senopati memimpin pasukannya berangkat ke Pati. Sementara itu Adipati Jayakusuma menyonsong Panembahan Senopati hanya diikuti oleh enam orang prajuritnya. Dengan kebesaran jiwanya, Adipati Jayakusuma menantang Panembahan Senopati untuk perang tanding satu lawan satu. Diceritakan selanjutnya oleh Babad Pati, bahwa perang tanding antara Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati berjalan selama tiga hari. Perang tersebut berjalan seimbang dan tidak ada tanda-tanda siapa yang akan kalah ataupun menang. Karena merasa kesulitan untuk menandingi Adipati Jayakusuma, Panembahan Senopati meminta nasehat Kiai Juru Martani. Dengan sedikit tipu muslihat, sesuai dengan nasehat Kiai Juru Martani, akhirnya Panembahan Senopati dapat mengalahkan Adipati Jayakusuma. Namun ternyata kematian Adipati Jayakusuma menimbulkan penyesalan yang mendalam. Apalagi setelah diketahui bahwa Adipati Jayaksusuma tidak pernah menyiapkan pasukan untuk memberontak kepada Mataram sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kiai Ageng Jambeyan dan Plangitan. Penyesalan Panembahan Senopati semakin terasa mendalam tatkala menemukan anak dan isteri Adipati Jayakusuma dibunuh semuanya dengan tujuan agar tidak dijadikan boyongan ke Mataram. Dengan segala kekurangannya, Babad Pati telah memberikan gambaran tentang kisah perang tanding antara Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati secara panjang lebar. Ada beberapa kesesuaian dan ketidaksesuaian antara Babad Pati dengan sumber-sumber lain yang memberikan informasi tentang persitiwa tersebut. Hal ini bertitiktolak dari tujuan si penyusun sumber yang bersifat subjektif. Sebagai sejarawan akademik kita tidak boleh menerima begitu saja apa yang disampaikan oleh sebuah sumber. Akan tetapi dengan adanya keterbatasan sumber tertulis yang mengungkap kisah Panembahan SenopatiAdipati Jayakusuma, setidak-tidaknya, Babad Pati telah mengisi celah-celah tersebut. Akumulasi tidak Jayakusuma

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

33

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad Daftar Pustaka Buku Anonim. (1940). Babad Tanah Jawi VII. Jakarta: Balai Pustaka. Bambang Purwanto. (2006). Gagalnya Historiografi Indonesiasentris. Yogyakarta: Penerbit Ombak. De Graaf, H.J. (1985). Awal Kebangkitan Mataram. Jakarta: Grafitti Press. Gootschalk, Louis. (1986). Understanding History: A Primer Historical Method (ab. oleh Nugroho Notosusanto, Mengerti Sejarah). Jakarta: UI Press. Ibrahim Alfian, T., dkk. (1987). Dari Babad dan Hikayat Sampai Sejarah Kritis. Yogyakarta: Gajahmada University Press. Sosrosumanto, KM. & Dibyosudiro. (1925). Babad Pati. Yogyakarta: NV. Mardimulyo (terbit dalam edisi huruf Jawa). Sosrosumanto, KM. & Dibyosudiro. (1980). Serat Babad Pat (alih bahasa dan aksara oleh Yanti Darmono). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Proyek Pengadaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Sukardi, dkk. (2004). Pedoman Penelitian (Edisi 2004). Yogyakarta: UNY Press. Sutjipto, FA. (1981). ”Struktur Politik dan Historiografi Tradisional”. Makalah Dalam Seminar Nasional III. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai tradisional Depdikbud. Terbitan dan Situs Internet “Sejarah Kabupaten Pati”, Tersedia dalam www.depdagri.go.id. Diakses pada tanggal 20 Agustus 2007. Karaton Surakarta tuwin Yogyakarta wiwit panjenenganipun prabu Brawijaya kaping V hing Majapahit hingkang wekasan. Koleksi Museum Radyapustaka, Surakarta.
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 34

Kisah Adipati Jayakusuma-Panembahan Senopati Dalam Historiografi Babad Praba Hapsara. (2003). ”Menjadi Budakpun Dilakoninya: Baron Sekeber 2, Suara Merdeka Edisi 2 September 2005. Tentang Penulis. Sudrajat, dosen muda pada Jurusan Pendidikan Sejarah FISE Universitas Negeri Yogyakarta. Menyelesaikan pendidikan S1 pada program studi Pendidikan Sejarah IKIP Yogyakarta pada tahun 1999. Saat ini sedang menempuh pendidikan S2 pada program studi Pendidikan IPS di Universitas Negeri Yogyakarta. Mata kuliah yang diampu antara lain: Sejarah Eropa Lama, Sejarah Eropa Baru, Pengantar Sejarah Eropa, dan Sejarah Lisan.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

35

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment DONGGALA: FROM IMPERALISM TO THE REGENCY ESTABLISHMENT Oleh: Lukman Nadjamuddin 1 and Idrus 2 Abstract The Effort exerted by the Dutch to conquer Banawa Kingdom, particularly Donggala City, began with the assumption derived from economic and political calculation that the confiscation would make it possible for the Dutch to pacify its trade channel in Makasar narrows and extend economic exploitation, given that Donggala had a strategic port, related to the chain of Archipelago’s trade. The method of confiscation-friendship relation was not realized because resistances, in the form of physical attack- began to come forward. In Donggala, Molanda played a role as the main actor in the rebellion. In Sigi, Toma I Dompo consistently attacked, both after and before arrested in Sukabumi. In Sojol, Toma Tarima along with his son assailed the Dutch and in Kulawi, Toma Itorengke set about the Dutch as well. During the Japanese imperialism, the education system of the Dutch was eliminated, and replaced with Japanese education which required to speak Japanese and Indonesia languages, to sing Kimigayo, to give respect to Hinomaru, to do Seikrei, Kinrohosyi and Taiso. The social and political organization was limited, while those which supported the mass mobilization were established, such as Seinendan. This led the nationalists to do the underground movement. In the agriculture, native people were obligated to plant cotton, rice, corn and cassava as to overcome the lack of food and clothing. After the independence was announced, Donggala faced by two struggle NICA attack and to establish the Donggala Regency. The effort to maintain the freedom was conducted in two ways, physical struggle and establish of social and political organization, while the establishment of Donggala Regency gained two important momentum; the establishment of Administrative region of Donggala on the basis of Sulawesi Governor’s verdict no. 633 on October 25th, 1951 and the establishment of Donggala Regency on the basis of Government regulation no.33 on August 12th.1952. Keyword: Donggala, Imperialism, Regency.

Dosen pada Program Studi Pendidikan Sejarah serta pembantu dekan III FKIP Universitas Tadulako, Palu. 2 Widyaiswara pada LPMP Sulawesi Tengah serta dosen luar biasa pada Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Tadulako, Palu.
1

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

36

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment A. Pendahuluan Donggala yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini adalah sebuah kota tua yang kondisi masyarakatnya heterogen dan sejak lama telah berinteraksi dengan dunia luar. Meskipun demikian, kajian sejarah lokal oleh sejarawan yang berkembang pesat belakangan ini belum banyak menyentuh Donggala. Muklis Paeni 3 merumuskan bahwa sejarah lokal berhubungan dengan kisah dari hal ikhwal masa lampau masyarakat yang berada pada suatu ruang lingkup geografis yang terbatas. Keterbatasan ruang lingkup geografis tidak berarti meniadakan pengaruh luar yang merubah keadaan lokal. Sebutan Donggala bersumber dari Don 'Nggolo, nama kapten kapal Spanyol yang merapat di muara Teluk Palu pada tahun 1200 untuk mengisi air tawar. Sebutan Don 'Nggolo kemudian berubah menjadi Donggala sesuai dialek setempat dan sejak itu kata Donggala mulai diperkenalkan. 4 Dalam literatur Perancis kata Donggala disebut dengan kata Dunggally. Pemuatan kata Dunggally tersebut dapat dilihat dalam peta tua Pulau Sulawesi yang dibuat pada tahun 1805 oleh D. Woodard, sementara peta Pulau Sulawesi yang dibuat oleh Lodocus Hondius pada tahun 1611, Donggala disebut dengan istilah Durate. 5 Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengikuti prosedur kerja dalam penelitian sejarah yang dikemukakan oleh Isaiah Berlin 6, yakni berusaha menemukan, melukiskan, dan menerangkan aspek sosial serta akibat yang ditimbulkan oleh apa yang dilakukan dan diderita manusia. Menurut Louis Gottschalk 7 prosedur metode sejarah meliputi pengumpulan informasi yang diperlukan dari berbagai sumber, pengujian otentisitas sumber-sumber yang didapatkan (kritik eksternal) dan penentuan kredibilitas sumber-sumber yang ditemukan (kritik internal).

Muklis Paeni, 1985. Sejarah Kabupaten Daerah Tk. II Sidenreng-Rappang, Ujung Pandang: Universitas Hasanuddin, hal ii. 4 Andi Mas Ulun Parenrengi Lamarauna, 1998. Pelabuhan Donggala dalam Tinjauan Sejarah. Manuskrip, hal 1. 5 E.J. BRILL, 1918. "La Cartographic Neerlandaise de La Celebes, D'Apres Des Modeles Etrangers 1590-1670," dalam: E. C. Abendanon, Expedition De La Celebes Centra Ie, Voyages Geologiques Et Geographiques A Travers La Celebes Centrale 1909-1910. Leyde: Librairie et Imprimerie Ci-Devant, hal 1457. 6 T.B. Bottomore, 1971. Sociology: A Guide to Problem and Literature. London: George Alien & Unwin Ltd, hal 308. 7 Louis Gottschalk, 1986. Terj. Nugroho Notosusanto, Mengerti Sejarah. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, hal 32.
3

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

37

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment Jenis-jenis sumber yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber primer dan sekunder. Sumber primer berupa Besluit van Gouverneur Generaal, Besluit van Resident Manado, Memorie van Overgave Afdeling Donggala, Koloniaal Verslag, Indische Verslag, Politik Verslag, Regeerings Almanak van Nederlandsch Indie, dan Staatsblad van Nederlandsch Indie. Sumber sekunder adalah buku, jurnal, dan hasil wawancara saksi sejarah atau yang memiliki pengetahuan tentang sejarah Donggala, terutama pada masa pendudukan Jepang dan setelah kemerdekaan. Penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan: (1) bagaimana bentuk hegemoni pemerintahan Belanda dan resistensi yang muncul; (2) bagaimana proses pendudukan Jepang dan dampaknya dalam kehidupan sosial; dan (3) bagaimana dinamika setelah kemerdekaan dan proses sebagai Kabupaten? penetapan Donggala

B. Hegemoni Pemerintahan Belanda dan Munculnya Resistensi Berdasarkan surat keputusan Gubernur Jenderal tanggal 18 Agustus 1924, 8 Sulawesi memiliki dua karesidenan, yakni Sulawesi serta bawahannya dan Manado. Untuk karesidenan Manado terbagi dalam lima afdeling, yakni: Afdeling Manado, Afdeling Gorontalo, Poso, Donggala, dan Afdeling Kepulauan Sangihe & Talaud. Afdeling Donggala terbagi dalam empat onderafdeling yakni: Onderafdeling Donggala, Palu, Parigi, dan Onderafdeling Tolitoli. Perkembangan berikutnya, Afdeling Donggala berubah menjadi Afdeling Sulawesi Tengah yang diikuti dengan pembagian sejumlah onderafdeling sebagai berikut: 9 (1) Teluk Palu, yang mencakup daerah Palu, Sigi-Biromaru, Dolo, Rindau, Dolo Kaleke, Banawa atau Donggala, Tavaeli dan daerah sekitarnya di bawah civiel gezaghebber yang berkedudukan di Donggala; (2) Tolitoli di bawah seorang civiel gezaghebber yang berkedudukan di Kampung Baru; dan (3) Teluk Tomini yang mencakup Moutong, Sigenti, Kasimbar, Toribulu, Ampibabo, Parigi, Sausu, Poso, Tojo, Kepulauan Togean dan Una-Una serta Mapane di bawah Kontrolir.

Staatsblad Nederlansch-Indie No. 366, tahun 1927 dan Army van den Boch, op.cit., hal 138. ANRI, “Besluit van Gouverneur Generaal 9 December 1904”, bundel Algemeen Secretarie.
8 9

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

38

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment Sektor ekonomi yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dan menentukan perkembangan Donggala menjadi sasaran eksploitasi pemerintah Belanda sejak dekade terakhir abad XIX dan semakin intensif ketika memasuki abad XX. Kebijakan ekonomi kolonial bukan hanya ditopang oleh kepentingan pemerintah kolonial, tetapi juga ditentukan oleh kepentingan kapitalis swasta. Bersamaan dengan intensifikasi dalam perdagangan kopra di Makassar dan Manado, pemerintah Belanda juga mencoba untuk mencari pasokan kopra dalam jumlah memadai di Donggala. 10 Untuk kepentingan pengangkutan kopra dari pelabuhan Donggala ke Jawa dan Eropa, pemerintah kolonial membuat kontrak dengan perusahaan perkapalan Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) yang menerima hak monopoli untuk mengelola armada pengangkutan di seluruh wilayah Hindia Belanda. KPM memiliki kapal-kapal yang digerakkan oleh tenaga uap dengan tonase cukup besar. Dengan demikian KPM berhasil menghubungkan antara Jawa dan seluruh wilayah di luar Jawa, kemudian menghubungkan antara daerah-daerah tertentu di luar Jawa dan Jawa dengan pusat-pusat konsumen produk tropis di Eropa dan Asia. 11 Dari 14 jalur pelayarannya, KPM mencantumkan Manado. Produk lain yang menjadi sasaran eksploitasi adalah hasil hutan terutama kayu besi, kayu hitam, rotan, dan damar, karena harganya yang mahal di pasar internasional. Kayu dan produk hutan lainnya diangkut dengan kapal-kapal KPM dari pelabuhan Donggala, kemudian dibawa ke pasar lelang kayu di Surabaya dengan harga yang tinggi, sehingga pemerintah Belanda memperoleh keuntungan yang besar. 12 Dalam eksploitasi kayu, pemerintah kolonial mengalami kesulitan, karena prasyarat utama yang diperlukan adalah ketersediaan modal usaha dan pengetahuan memadai tentang hasil hutan
H.J. Vingerhoets, 1933. "Coprahcontracten in de Minahassa", dalam Koloniaal Tijdschrift, jilid ke-22, hal 301 - 310. 11 J.A. Campo, 1994. "Steam navigation and state formation", dalam Robert Cribb (ed.) The Late Kolonial State in Indonesia: Political and Economic Foundations of the Netherlands Indies 18801942. Leiden: KITLV Press, hal 18. Posisi yang diraih oleh KPM dalam pelayaran uap di Hindia Belanda ini sering digambarkan sebagai monopoli baru oleh sebuah perusahaan perkapalan atas perdagangan dan pengangkutan inter-regional dan internasional. 12 J.S. van Braam, 1914. "De Buitenbezittingen en het boschwezen", Tijdschrift voor Binnenlands Bestuur, jilid 47, hal 275-290. Surabaya merupakan pusat lelang kayu untuk kawasan Indonesia bagian Timur.
10

pelabuhan

Donggala

sebagai

salah

satu

jalur

yang

menghubungkan pelabuhan Surabaya dengan pelabuhan Makassar dan

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

39

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment tersebut. Kedua prasyarat itu tidak dimiliki oleh pemerintah kolonial, sehingga solusi yang ditempuh adalah melibatkan pihak swasta untuk memborong konsesi ekploitasi hutan. Pada tahun 1891 dilakukan pelelangan untuk eksploitasi kayu selama 40 tahun dan penawar tertinggi diajukan oleh firma Lamerts van Bueren. 13 Sebelum melakukan eksploitasi, perusahaan ini membagi tiga hutan Dampelas yakni Levono, Mafida, dan Kaliburu. Firma ini membuka kantor cabang di Batusuya untuk mengawasi eksploitasi hutan di Dampelas. Kebutuhan tenaga kerja dipenuhi dengan cara mendatangkan para kuli tebang dari daerah lain dengan gaji harian. Firma Lamerts van Beuren mengeksploitasi secara besar-besaran jenisjenis kayu dan hasil hutan yang memiliki nilai jual tinggi di pasar internasional. Dalam masa kontrak selama 40 tahun, Firma Lamerts van Beuren tidak melakukan peremajaan sehingga hutan Dampelas menjadi gundul dan kritis. Ketika pemerintah kolonial membutuhkan kayu untuk pembangunan infrastruktur, harus membeli dengan harga tinggi dari firma. Hal ini dianggap sebagai kerugian bagi pemerintah kolonial, sehingga Residen Manado mengusulkan kepada pemerintah pusat di Batavia agar tidak memperpanjang konsesi Firma Lamerts van Beuren tersebut. Pada tahun 1931, ketika masa konsesi firma ini berakhir dan meminta perpanjangan konsesi, pemerintah Batavia menolak kemudian mengambil alih konsesi hutan Dampelas dari firma tersebut. 14 Sasaran monopoli lainnya oleh pemerintah kolonial adalah garam. Di Donggala, terutama di daerah Banawa, pembuatan garam dilakukan secara tradisional yakni menguapkan air laut. Konsumen garam terbesar terdapat di Banawa Selatan dan Sirenja karena kondisi geologi kedua daerah ini yang tidak memungkinkan pembuatan garam sehingga harus membeli dari tempat lain. Ketika terjadi pertumbuhan ekonomi dan perluasan pemukiman di Donggala, kebutuhan garam sebagai konsumsi sehari-hari semakin meningkat. Pemerintah kolonial melihat peluang tersebut sebagai sesuatu yang menguntungkan sehingga mengambil alih perdagangan garam. 15 Untuk menopang akses ekonomi dan politik, pemerintah membangun jalan, antara lain: (1) Donggala-Watusampu 20 km; (2) Donggala-Tulongano 21
Koloniaal Verslag over het jaar 1891, hoofdstuk C, hal 16 - 17. ANRI, “Besluit van Resident Manado 17 Agustus 1931 no. 28/1/3”, bundel Algemeen ANRI, “Agenda Nomor 11952/07”, bundel Algemeen Secretarie.

13 14

Secretarie.
15

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

40

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment km sepanjang pantai dari Limboro; (3) Tondo (batas Palu-Tavaeli)-Siojong 144 km; dan (4) Donggala ke arah Selatan sampai Siruyu 35 km dengan dua cabang Tanjung Karang 32 km dan Kola-Kola 2 km sebagai perpanjangan jalan di Polege (jalan ini menuju ke Siruyu arah Selatan) ke arah Watu dan Surumana. Setelah pembuatan jalan dirampungkan, program berikutnya membuat jembatan, terutama yang menghubungkan antara kota Donggala dan pelabuhan yang menghabiskan biaya sebesar f 3.713.59. Menyadari peran strategis pelabuhan Donggala, pemerintah Belanda membangun sejumlah fasiltas, seperti gudang dan dermaga. Peran strategis tersebut sudah lama berlangsung, karena pada masa pemerintahan Raja Banawa II, pelabuhan Donggala ramai dikunjungi perahu-perahu besar dan kapal dagang milik orang asing, 16 bahkan pada era pemerintahan Raja Banawa III, berperan sebagai "penghubung" dengan kerajaan-kerajaan luar seperti kesultanan Ternate, kerajaan Gowa, Bone, dan Mandar untuk kepentingan perdagangan kopra, rotan, kayu, damar, dan sapi. Pada masa pemerintahan raja Banawa V, pelabuhan Donggala menjadi tempat bertemu antara pedangang Gujarat, Cina, dan Arab, sehingga perhiasan emas, permata, serta kain dan benang sutra berdatangan di Pelabuhan Donggala yang dibarter dengan kopra, rotan, dan damar. 17. Stibbe mencatat bahwa tahun 1914. Pelabuhan Donggala menjadi pelabuhan terbanyak kedua dikunjungi kapal-kapal asing jenis kapal uap dan kapal layar setelah pelabuhan Manado dalam wilayah Residen Manado. 18 Obsesi Pemerintah Belanda untuk menjadikan Donggala sebagai basis perekenomian di Sulawesi Tengah disertai hegemoni politik berdampak pada munculnya resistesi dalam bentuk perang fisik di berbagai daerah. Di kota Donggala, Malonda mengambil peran sebagai aktor utama pembangkangan terhadap Belanda; Di Sigi, Toma I Dompo, secara konsisten melawan, baik sebelum ditawan maupun setelah ditawan; Di Sojol, Toma Tarima bersama anaknya melawan Belanda; dan di Kulawi Toma Itorengke melakukan hal serupa. Dari sekian banyak bentuk perlawanan terhadap Belanda, tampaknya sumber tertulis lebih banyak menjelaskan tentang Toma I Dompo. Perlawanan Toma I Dompo, terutama disebabkan oleh kerja wajib dalam penyediaan lahan
Andi Mas Ulun Parenrengi Lamarauna, 1998. Pelabuhan Donggala dalam Tinjauan Sejarah. Manuskrip, hal 2. 17 Ibid., hal 3. 18 Stibbe, D.G. 1935. Encyclopaedic Van Nederlandsch Indie, S-Gravenhage: Martnus Nijhoff, hal. 395
16

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

41

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment untuk pembangunan jalan, material bangunan yang ada di lokasi pembangunan tanpa ganti rugi, dan tenaga kerja wajib tanpa dibayar. Ketiga tuntutan itu dianggap oleh Toma I Dompo sebagai pelanggaran atas kewenangannya dan akan banyak merampas tanah di wilayah Biromaru. Pada awal Desember 1904, Engelenberg memerintahkan memulai pembangunan jalan di Tambarana. Ditempat ini, Toma I Dompo diwajibkan untuk menyiapkan tenaga kerja dan material bangunan. Ketika hari mulai siang para pekerja istirahat, Engelenberg memerintahkan agar terus bekerja, tetapi mereka menolak. Engelenberg memerintahkan aparat pribumi untuk bertindak tegas, akibatnya rakyat menjadi marah dan menyerang aparat pemerintah. Pertempuran tidak dapat dihindarikan. Beberapa orang aparat pemerintah terbunuh dan terluka, tetapi Engelenberg dan Intje Dahlan berhasil menyelamatkan diri. Engelenberg segera meminta kepada komandan pasukan Belanda di Donggala, Kapten Mazee, untuk mengirim pasukan ke Tambarana. Orang-orang Biromaru yang dipimpin Toma I Dompo masih menguasai Tambarana sepanjang hari dan bertekad untuk melakukan perlawanan. Pasukan Belanda yang terdiri atas 20-an serdadu bersenjata api tiba di Tambarana dan langsung menyerbu pengikut Toma I Dompo. Pertempuran terjadi kembali, pasukan Belanda berhasil membubarkan konsentrasi orang Biromaru. Beberapa korban jatuh dan lainnya lari menyerahkan diri kepada Engelenberg dan bersedia mengerjakan jalan sesuai dengan instruksinya. 19 Di antara mereka adalah Papa I Jaelani dan Papa I Tarumpae yang bersedia membayar denda sebagai kompensasi atas perbuatan mereka. Engelenberg tidak mentaati janji yang diberikan bahwa mereka yang menyerah dan telah membayar pajak akan dibebaskan dan dikembalikan pada posisinya. Kedua pembantu Toma I Dompo tersebut tetap ditahan dan diadili. Pada bulan September 1905 atas keputusan Landraad Donggala, Papa I Jaelani dan Papa I Tarumpae tidak diperkenankan tinggal di wilayah Sulawesi Tengah. Pada bulan Oktober 1905, beberapa tokoh pengikut Toma I Dompo antara lain; Hanusu dan penguasa Pakawa ditangkap. 20

Koloniaal Verslag over het jaar 1906, hoofdstuk C. Di antara mereka yang berhasil lolos adalah Papa I Lila dan Uma I Baturu yang merupakan orang-orang kepercayaan Karanjalemba atau Toma I Dompo untuk memimpin orang-orang Biromaru. 20 Koloniaal Verslag over het jaar 1910. Daerah Pekava belum aman meskipun penguasanya telah ditangkap, Pimpinan baru yaitu I Gompo tetap tidak mau menjalankan perintah
19

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

42

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment Setelah keamanan di Tambarana dipulihkan, pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Mazee bergerak menuju Biromaru untuk menangkap Toma I Dompo. Tanpa banyak perlawanan, Biromaru berhasil diduduki dan Toma I Dompo bersama keluarganya ditangkap dan ditahan di Watunonju sebelum dibawa ke Donggala. 21 Setelah interogasi terhadap Toma I Dompo dilakukan, Engelenberg menerima perintah dari Residen Manado untuk membawa Toma I Dompo ke Manado menghadiri persidangan di Pengadilan Negeri (landraad) di Manado. Ketika sampai di Manado, Toma I Dompo langsung dimasukkan dalam penjara untuk mempermudah pengumpulan bukti dan data mengenai keterlibatannya dalam gerakan melawan pemerintah. Dalam persidangan pada pertengahan Mei 1906, dituduh dengan dakwaan primer melakukan makar terhadap pemerintahan yang sah dan dakwaan sekunder, dianggap telah membangkang instruksi pemerintah untuk membuat jalan dari Biromaru ke Donggala, melanggar korte verklring yang telah ditandatanganinya, dan menghambat masyarakat. Landraad maupun Residen Manado tidak bisa menjatuhkan vonis sehingga menyerahkan besarnya hukuman bagi Toma I Dompo kepada pemerintah pusat di Batavia. Atas pertimbangan dari Direktur Kehakiman, Gubernur Jenderal J. B. van Heutsz diputuskan hukuman sepuluh tahun pembuangan di Sukabumi. Setelah mempertimbangkan usul dari Direktur Pemerintahan (Binnenlandsch Bestuur), 22 pada minggu pertama bulan Juni 1906, Toma I Dompo diberangkatkan ke Sukabumi dengan kapal uap milik KPM. Sampai tahun 1913, stabilitas keamanan di Sigi tidak bisa dikendalikan, terutama di pegunungan Larangganau dan Pekava, serta kerja wajib yang sukar diterapkan. Pemerintah kolonial mengambil kebijakan untuk mengembalikan Toma I Dompo dari Sukabumi. Pengaruh Toma I Dompo yang masih besar di Biromaru menjadikan pemerintah Belanda berharap dapat membuat kesepakatan dengan Toma I Dompo agar bersedia menjadi mediator untuk melaksanakan instruksi dalam membuka jalan di pedalaman. Toma I Dompo
pemerintah dan akhirnya pasukan militer dikirim ke Pekava tanggal 1 September 1909 untuk memaksanya menyerah. 21 Koloniaal Verslag over het jaar 1906, hoofdstuk C. Menurut laporan Kapten Mazee, dalam perjalanan kembali dari Biromaru perlawanan pengikut Toma I Dompo jalan BiromaruPalu sangat mengganggu. Akibatnya untuk sementara Toma I Dompo ditempatkan di Watunonju dan tidak dibawa ke Donggala. 22 ANRI, Besluit van Gouverneur Generaal 3 Juni 1906 no. 14, bundel Algemeen Secretarie.

program

pemerintah

untuk

meningkatkan

kesejahteraan

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

43

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment juga akan dijamin dikembalikan pada posisi lamanya sebagai penguasa Biromaru dan diminta untuk menenangkan kembali daerah Larangganau dan Pekava. Atas keputusan dari pemerintah di Batavia, maka pada bulan Juni 1915, Toma I Dompo dibebaskan dari tahanannya di Sukabumi dan kembali ke Biromaru. 23 Setibanya di Biromaru, sesuai dengan instruksi pemerintah Belanda, Toma I Dompo menemui para pemimpin To Larangganau di pegunungan Biromaru. Pertemuan yang berlangsung bulan November 1916 dengan para tokoh To Larangganau, dimanfaatkan untuk menyampaikan maksudnya mengembalikan kekuasaan kerajaan Biromaru seperti sebelum tahun 1907. Pembicaraan kemudian tidak lagi menyangkut masalah pembukaan jalan, tetapi menyusun kekuatan untuk melawan tekanan pemerintah kolonial. Para bangsawan Biromaru dan penguasa yang berpengaruh di Larangganau mendukung maksud tersebut. 24 Pada akhir Maret 1917, Toma I Dompo mengundang tokoh Biromaru dan Larangganau dalam upacara adat Mentaka di desa Manusi untuk meminta restu para roh leluhur agar memberikan kemenangan dalam peperangan. Upacara adat ini ditandai dengan pemotongan seekor kerbau dan boneka kayu yang melambangkan seorang budak. Darah kerbau kemudian dipercikkan kepada semua orang yang hadir karena dianggap sebagai zimat kekebalan menghadapi senjata musuh. Setelah berakhirnya upacara itu, seruan perlawanan disebarkan ke segala penjuru hingga ke Palu. 25 Rencana tersebut diketahui oleh Civiel Gezaghebber Palu, sehingga memerintahkan pasukan militer untuk berangkat ke Biromaru yang dengan cepat berhasil mengepung rumah Toma I Dompo dan menangkapnya tanpa perlawanan. Toma I Dompo kemudian dibawa ke Donggala untuk diadili dengan tuduhan penyalahgunaan kekuasaan, dan kembali dijatuhi hukuman seumur di Sukabumi. 26
Koloniaal Verslag over het jaar 1915, hoofdstuk C, hal 33-34. Pengaruh Toma I Dompo ini masih cukup besar yang dari penyambutan para bangsawan Biromaru di pelabuhan Donggala ketika kembali dari pengasingan. 24 ANRI, “Missive van Gouvernement Secretaris tanggal 3 November 1916 no. 461”, bundel Algemeen Secretarie. Residen Kroon dan Asisten Residen Grijzen telah menyampaikan keberatannya terhadap pengembalian Toma I Dompo ke Biromaru karena keduanya menduga bahwa akan timbul masalah baru dengan tokoh ini.
23

Koloniaal Verslag over het jaar 1917, hoofdstuk C, hal 33-34. ANRI, “Nota voor den adviseur voor de bestuurszaken der buitenbezittingen ajun adviseur voor Bestuurszaken der Buitenbezittingen AJ. Knaap”, Besluit van Gouverneur Generaal 12 Mei 1917 no. 1, bundel Algemeen Secretarie. Toma I Dompo
26

25

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

44

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment Orang-orang Larangganau di bawah pimpinan I Ngaja yang mendengar berita tentang penangkapan Toma I Dompo, melarikan diri ke pegunungan untuk menghindari penangkapan pasukan kolonial. Pengejaran terus dilakukan, sehingga pada bulan Oktober 1917, I Ngaja berhasil ditangkap dan dibawa ke Biromaru. Orang-orang Larangganau diperintahkan untuk kembali ke pemukimannya, tetapi sebagian besar tetap melakukan perlawanan hingga ke daerah Sausu. Meskipun semua perlawanan berhasil dipatahkan, tetapi aktivitas di Larangganau masih dianggap mengganggu keamanan dan ketertiban umum. Karena itu, pada bulan Oktober 1918 dengan alasan untuk merayakan panen besar, Kontrolir Palu melaksanakan pesta rakyat di kampung Janu, tempat pemukiman orang-orang Larangganau yang menyerah dan berharap para pelarian yang lain bersedia kembali. Keinginan ini tidak terwujud, sehingga Kontrolir Palu mengirim tiga orang tokoh Larangganau untuk mendatangi orang-orang yang masih bersembunyi di Sausu. Para pemberontak di bawah pimpinan Labarisi tidak bersedia menyerah, tetapi sebaliknya menyerang utusan Kontrolir Palu tersebut. 27 Kontrolir Palu kemudian mengirimkan pasukan untuk mengejar para pemberontak Larangganau. Akibat serangan ini, kaum pemberontak terpecah menjadi dua: satu kelompok di bawah pimpinan Labarisi bertahan di Biromaru, sementara kelompok lain di bawah pimpinan Lalowe bergerak menuju Parigi. Pengejaran terhadap keduanya terus dilakukan, sehingga pada bulan Juli 1919, Lalowe terdesak dalam suatu operasi militer di Parigi dan tertangkap. Lalowe dibawa ke Palu untuk diadili. Melalui operesi militer pada bulan Desember 1919, Labarisi berhasil ditangkap di Biromaru kemudian ditahan di Palu. Sejak itu perlawanan masyarakat Larangganau berhenti, 28 tetapi gangguan keamanan yang bersifat kriminal masih terus berlangsung sampai akhir pemerintahan Belanda. C. Pendudukan Jepang Pada bulan April 1942, pasukan Angkatan Laut Jepang (Kaigun) tiba di Donggala dengan kapal penjelajah bersama beberapa kapal pemburu torpedo, kemudian menemui raja-raja lokal di Donggala. Sebelum pendaratan dimulai, Pelabuhan Donggala dihujani bom sehingga bangunan sepanjang pantai hancur

dituduh menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepada pemerintah Belanda dan menjadi tokoh pengganggu keamanan dan ketertiban di wifayah Sulawesi Tengah. 27 Koloniaal Verslag over het jaar 1919, hoofdstuk C, hal. 71. 28 Koloniaal Verslag over het jaar 1920, hoofdstuk C.
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 45

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment rata dengan tanah. 29 Setelah tentara Jepang mendarat, langsung mencari pejabatpejabat pemerintahan Belanda, tetapi Asisten Residen Donggala de La Vuente bersama keluarganya telah menyingkir ke Napu, bergabung dengan temantemannya, menuju Kolonodale. Periode pendudukan Jepang, semua pendidikan pribumi dan pendidikan peninggalan Belanda dihapuskan dan digantikan dengan sistem pendidikan Jepang didominasi oleh kurikulum pelajaran Jepang seperti lagu-lagu dan bahasa Jepang, kemudian dilarang mengunakan bahasa Belanda. Lagu Kimigayo harus dihafal dan dinyanyikan oleh murid-murid sekolah setiap melakukan upacara bendera. Murid-murid sangat takut kepada guru, sehingga mereka menghafal lagu tersebut,
30

karena

jika ada yang tidak menghafal akan

mendapat hukuman.

Taiso (olah raga) juga menjadi bahan ajar yang penting.

Tujuan Jepang melakukan pembinaan olah raga adalah merupakan strategi untuk persiapan perang, karena mengharapkan hanya orang Jepang di Indonesia itu tidak mungkin sehingga mereka juga membutuhkan tentara cadangan dari penduduk. Masa pendudukan Jepang menyebabkan, hubungan dagang dengan daerah lain menjadi terputus, sehingga tidak ada kapal komersial yang berlabuh di pelabuhan Donggala. Kalaupun ada yang berlabuh, berada di bawah pengawasan tentara Sekutu dan tidak diperbolehkan melakukan bongkar muat logistik untuk kepentingan Jepang. Hal ini menyebabkan pakaian sangat sulit diperoleh, umumnya pakaian dibuat dari karung atau kain kasur yang telah dikeluarkan kapuknya. Akhirnya rakyat diwajibkan menanam kapas untuk diolah menjadi bahan pakaian. Rakyat juga kekurangan bahan makanan sehingga diwajibkan menanam singkong sebagai bahan makanan. Tanaman lain yang diharuskan ditanam adalah labuh, kentang, dan padi, juga diwajibkan menanam kama yang akan dijadikan bahan baku membuat karung. 31 Tanaman kapas merupakan prioritas utama sehingga perawatannya dilakukan secara teratur. Jika diketahui ada yang menanam tanaman lain diselasela tanaman kapas, seperti tanaman jagung dan kacang maka akan mendapat hukuman, bahkan jika di antara tanaman kapas terdapat rumput yang lebat, Jepang tidak segan-segan untuk menampar pemilik kebun kapas tersebut. Hal
29 30

Wawancara dengan Tomas di Donggala pada tanggal 20 Juni 2006. Wawancara dengan Lubis Ponulele di Biromaru Donggala pada tanggal 25 Juni Ibid.,
46

2006.
31

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment ini pernah dialami oleh Mama Yakan yang ketahuan menanam kacang dan jagung di kebun kapasnya. Perlawanan rakyat Donggala terhadap pendudukan Jepang tidak seheroik di Tolitoli, Poso, dan Luwuk, karena resistensi dilakukan dalam bentuk gerakan di bawah tanah, yang dipengaruhi oleh tokoh-tokoh merah putih Gorontalo. Dalam buku Sejarah Sulawesi Tengah dinyatakan bahwa: "Pergerakan di bawah tanah di Sulawesi Tengah pada mula hubungannya dengan pergerakan Merah Putih di Gorontalo sejak pada masa-masa menjelang kedatangan Jepang dan dilanjutkan pada masa pendudukan Jepang sampai ketika Jepang kalah, sehingga dengan cepat pengambilalihan kekuasaan pemerintah Jepang dapat dilaksanakan.” 32 Kutipan ini membuktikan bahwa gerakan di bawah tanah yang berjalan sejak tahun 1939-an berlangsung hingga masa pendudukan tentara Jepang di Sulawesi Tengah. Pada bulan Nopember 1945 kelompok pemuda yang dipimpin oleh A. T. Nurdin dan A. Baro menyerang Bivak atau Pos NICA di KM 4 Donggala dan berhasil menyita satu pucuk karaben dan dua samurai Jepang. 33 D. Dinamika setelah Kemerdekaan dan Proses Penetapan Donggala sebagai Kabupaten Untuk mempertahakan kemerdekaan, aktivis Laskar Pemuda Indonesia Merdeka (PIM) melakukan sejumlah gerakan sebagai berikut: (1) pada tanggal 11 Nopember 1945, mereka menaikkan bendera merah putih di depan Kantor Doane Donggala setelah merobek bendera Belanda yang berwarna biru sehingga tinggal warna merah putih. 34 Kegiatan ini merupakan show of force dari pemuda-pemuda Donggala dalam memperlihatkan jati dirinya sebagai pejuang sejati. Kegiatan laskar ini sesuai dengan issue nasional mengenai upaya empat bulan dalam mempertahankan kemerdekaan di wilayah Donggala; (2) pada tahun 1946, Datu Aras dengan kekuatan 40 orang anak muda menyerang Ibid., Rusdi Toana dkk. 1990. Sejarah Perjuangan Rakyat Kabupaten Donggala. Palu: Pemerintah Daerah Tingkat II Donggala. 34 Rusdy Toana dkk, 1990. Sejarah Perjuangan Rakyat Kabupaten Donggala, Hasil Seminar Sejarah Perjuangan Rakyat Kabupaten Donggala. Palu: Pemda Tingkat II Donggala, hal 106.
33 32

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

47

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment pos Nederlands Indische Civiel Administratie (NICA) di Lono atau Ganti serta A. Baro dan Abdul Wahid memimpin 30 orang pemuda untuk menghadang patroli NICA di Salumbone atau Tovale dan juga merusak jembatan agar dapat menghadang NICA di Limboro; (3) pada tahun 1947, A. Baro bersama 25 orang pemuda menghadang patroli NICA di Surumana. Ladising bersama 5 orang pemuda membumihanguskan gedung kopra milik Coprafounds. Pembakaran ini dimaksudkan untuk melumpuhkan kekuatan ekonomi Belanda; dan (4) pada tahun 1948, Umar bersama 25 orang pemuda menyerang patroli NICA di Bambaira. Pada malam tanggal 11 November 1945, yakni setelah peristiwa perobekan bendera di halaman kantor doane yang dipimpin oleh A. T. Nurdin, Lagama Borahima, Abd. Wahid Maluku, dan Ladising, NICA menelusuri aktivis PIM, sehingga sejumlah pemuda ditangkap. Penangkapan tersebut menimbulkan solidaritas dan kesadaran berbangsa di kalangan pemuda. Karena itu, PIM membentuk sepuluh kesatuan atau sektor-sektor pertahanan untuk membendung keganasan tentara NICA. Sektor-sektor pertahanan tersebut terdiri dari: 1. Sektor kota Donggala: dipimpin oleh Lagama Borahima, Ladising, Sanusi Jengi, dan Lamado. 2. Sektor Kabonga/Loli : dipimpin oleh Umar Kandia, Taha, Muhammad Tang, dan Abu Latake. 3. Sektor Ganti/Surumana: dipimpin oleh Andi Baro L. Datuara Lamakagili, Mislaini La Ujeng, Abd. Wahid Maluku, dan Labatji. 4. Sektor Bambaira: dipimpin oleh Andi Ngaru Pettalolo, Lapalu, Larumpa, dan A. Wahab. 5. Sektor Palu Kota: dipimpin oleh M. Ali Pettalolo, Ismail Masloman, dan M. Amin Alimuda 6. Sektor Palu Barat: dipimpin oleh M. Jabar, Idris Sunusi, dan Arsyad Parampasi 7. Sektor Palu Timur: dipimpin oleh Bestari Borahima, Philips Ranti, dan Umar 8. Sektor Wani: dipimpin oleh A. Baso, dan Abdullah Nento 9. Sektor Tibo: dipimpin oleh Adam

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

48

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment 10. Sektor Banawa Utara : dipimpin oleh A. T Nurdin, Muhammad Habi, A. Hamid, Ismail Kabdina, dan Majid Dansa. 35 Bulan Desember 1945 para pemuda bertemu di Kaleke dipimpin oleh Hi. Daeng Pawindu, untuk merumuskan strategi menghadapi NICA. Saat itu PIM Donggala diwakili oleh Lagama Borahima, Andi Ngaru Pettalolo, Moh. Tang dan Labatji. Pertemuan berikutnya yang dilaksanakan di Tovale, Watatu, dan Bambaira, berhasil membangun jaringan dengan kelompok pergerakan di Makasar dan mendapat petunjuk dari Ratulangi tentang cara-cara melumpuhkan tentara NICA. Dampak dari pertemuan tersebut, sejumlah aktivis PIM ditangkap kemudian dimasukkan ke dalam tahanan NICA di Besusu. Pertemuan ”rahasia“ juga digelar di Biromaru, di rumah Lolonto Mene Lamakarate, untuk merespons instruksi Ratulangi melalui Piolo Isai, agar dapat mempertahankan kemerdekaan. Salah satu keputusan dalam pertemuan tersebut adalah menunjuk Mene Lamakarate sebagai pemimpin yang mengkoordinir pembentukan laskar-laskar yang akan mempertahankan kemerdekaan. Sejumlah laskar segera terbentuk, salah satunya adalah Laskar Pemuda Merah Putih. Di Biromaru, laskar ini dipimpin oleh Mene Lamakarate, di Dolo oleh Dg. M. Gagaramusu, serta di Tavaeli oleh D. M. Lamakarate dan Dj. Jotolembah. Bertempat di rumah M. Dj. Abdullah di Sidera, Laskar Pemuda Merah Putih melakukan pertemuan untuk membicarakan utusan yang akan ke Makasar melaporkan perkembangan kelaskaran di Sulawesi Tengah. Mene Lamakarate dan D. M. Gagaramusu yang ditunjuk sebagai utusan ke Makasar. Menjelang berakhirnya pertemuan, tentara NICA yang dipimpin Qune Indo mengepung rumah Abdullah dan menangkap Mene Lamakarate, mereka menyita seluruh dokumen yang diketemukan. Penangkapan tersebut ditentang keras oleh Raja Palu dan atas jaminannya, Mene Lamakarate dibebaskan. Setelah NICA mengetahui ada gerakan di bawah tanah dan mempunyai jaringan dengan Makasar, mereka segera melakukan pengamanan secara ketat dan menangkap orang-orang yang terlibat secara langsung. Pada awal Nopember 1945, A. Monoarfah ditangkap kemudian ditahan di kamp militer Ny. Mas Ulun Andi Bara Lamarauna, 1986. Suatu Hubungan Sosial Masyarakat Kerajaan Banawa Kabupaten Donggala dan Susunan Raja-Raja yang Memerintah. Palu: Tidak Diterbitkan, hal 99.
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 49
35

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment NICA. Pada pertengahan Nopember 1945, NICA melakukan penangkapan secara besar-besaran terhadap tokoh-tokoh politik antara lain: Hi. Dg. Pawindu, Hi. Lasingka, Lakacinda, Dg. Pawara, Thalib Latjinala, dan M. Dj. Abdullah. Konsekuensi mengkoordinir dari penangkapan tersebut, Lolonto Mene Lamakarate gerakan yang berkekuatan 1000 orang, berasal dari Tavaili,

Kaleke, Pewunu, Dolo, dan Biromaru, dengan bersenjatakan tombak, bambu runcing, guma, dan sumpit. Lolonto Mene Lamakarate segera bertemu dengan Kapten Barrow untuk menuntut pembebaskan para tahanan politik, jika tidak dibebaskan maka akan terjadi pertumpahan darah. Kapten Barrow menyarankan bahwa sebelum tuntutan tersebut dipenuhi, Lolonto Mene Lamakarate bertemu dengan Dewan Raja-Raja, akhirnya hasil pertemuan tersebut memutuskan untuk membebaskan seluruh tahanan politik. Pada tanggal 11 Pebruari 1946, pemuda yang terdiri dari: Panituru, Sobe, L. Pandan, Dj. Pakamundi, Dg. Matadjo Gagaramusu, Dg. Mangesa Datu Palinge, Andi Nawir Sangi, dan Abd. Hafid Tayeb di bawah pimpinan H.J. Dg. Pawindu mengibarkan bendera merah putih di halaman masjid Al Mujahidin Kaleke. Pertemuan di rumah Hi. J. Dg. Pawindu tanggal 3 Maret 1946, disepakati bahwa laskar-laskar di Sulawesi Tengah harus meningkatkan perlawanan terhadap NICA, dengan cara menggalang persatuan dan kesatuan. Disadari bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak cukup jika hanya mengandalkan kekuatan fisik, sehingga sejumlah organisasi sosial dan politik dibentuk. Di Sigi terbentuk Perjuangan Rakyat Indonesia Merdeka (PRIMA) yang diketuai oleh Hi. J. Dg. Pawindu dan sekretaris M. Dj. Abdullah; di Tavaeli terbentuk Gerakan Rakyat Indonesia Merdeka (GERAM) yang pengaruhnya sampai ke Parigi, di ketuai oleh Jondi Maranua dan sekretaris Dg. Maraja Lamakampali; di Wani terbentuk Partai Rakyat Indonesia (PRI) dengan ketua R. Ambija dan sekretaris Junus Sanusi; di Biromaru terbentuk Persatuan Wanita (PERWANI) dengan ketua Ny. Kalsum L. Raja Tiangso dan sekretaris Ny. S. Subaedah Abdullah serta penasehat dr. Suwondo. Pada tanggal 24 Desember 1946, van Mook membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) yang bertujuan untuk memecah Negera Kesatuan Republik Indonesia. Setelah melalui Konferensi Malino dan Konferensi Denpasar tahun 1946, Makasar ditetapkan sebagai ibukota NIT dengan Presiden Tjokorde Gede Rake Sukowati. Dampaknya bagi Sulawesi Tengah, terjadi penyatuan wilayah yang sebelumnya terdiri dari Afdeling Donggala dan Poso menjadi Sulawesi

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

50

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment Tengah dengan Kepala Daerah Radjawali Muhammad Pusadan yang berkedudukan di Poso. Pada tanggal 2 Januari 1947, untuk menggalang persatuan di kalangan politisi, maka seluruh partai politik lokal menyatu dalam Gabungan Partai Perjuangan Rakyat Indonesia Sulawesi Tengah (GAPPRIST) dengan susunan pengurus sebagai berikut: Penasehat, dr. Suwondo; Ketua, Hi. Moh. Arsyad (Parindo Wani); Sekretaris, M. Dj. Abdullah (Prima Sigi-Dolo); anggota, Prima Palu, Gerima Tavaeli, Parindo Wani, Prima Sigi-Dolo, Api Palu, dan Perwani Biromaru. Tujuan utama GAPPRIST adalah menghimpun kekuatan untuk meneruskan perjuangan dan membangun jaringan dengan daerah lain terutama Jawa, Sulawesi Selatan, Poso, Tolitoli, dan Gorontalo. Keputusan politik yang dilahirkan oleh GAPPRIST adalah membuat pernyataan dukungan terhadap keberadaan Pemerintah Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta dan tidak mengakui NIT. Akibatnya, Asisten Residen Belanda memanggil pimpinan GAPPRIST yang diwakili oleh Djabar Pasau dan M. Dj. Abdullah untuk menjelaskan kedudukan Sulawesi Tengah dalam NIT. Kedua tokoh ini, atas nama GAPPRIST menyatakan menolak keberadaan NIT, ketegasan sikap mereka membesarkan jiwa tokoh pergerakan lainnya sehingga semakin agresif melakukan aksi-aksi penyadaran untuk menjaga keutuhan Republik Indonesia. Bentuk penolakan terhadap NIT dapat dicermati dari isi kawat Ikatan Persatuan Perjuangan Rakyat Indonesia (IPPRI) yang dikirim ke DPR di Makasar sebagai berikut. Imade geria/dpr empreshotel Makasar kami partai-partai pergerakan sulawesi tengah di Palu koma tavaeli koma donggala dan sigi dolo terdiri dari 29 partai koma memutuskan setuju dan menyokong adanya gerakan pembubaran nit dengan segera dan terbentuknya Negara Kesatuan RI titik habis "IPPRI" (Palu 3 April 1950 ttd rambing abdullah. 36 Pada bulan Desember 1951 keluar Surat Keputusan penyerahan tugas oleh Radjawali Muhammad Pusadan kepada Abdul Latif Dg. Masikki sebagai Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) di Poso dan Ince Nairn Daeng Mamangung sebagai Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) di Donggala. Menurut Laporan Politik tahun 1953 37 yang menjadi penggerak terbentuknya Kabupaten Donggala
36 37

Ibid., hal 114. Arsip Rahasia Propinsi Sulawesi (Laporan Politik), no registrasi 236.
51

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment antara lain: Laparendrengi (Kepala Swapraja Banawa); Abdurachman Mardjukie (Jaksa di Donggala); L.A. Sondakh (Letnan PDM Donggala); A. Supit (Inspeksi); Jondi Maranua (Pegawai Telepon-Central di Tavaeli); Nicolas Djiloy (Asisten Wedana Kulawi); Labaso Borman (Pegawai Kantor Agama Kabupaten Donggala); Andi Raga Pettalolo (Peninjau Bahagian Politik Kantor Daerah Donggala); Frans Josep Mamahit (Kepala Administrasi Kantor Kewedanan Borsumy Donggala); A. Bustan (Klerk Kantor Borsumy Donggala); dan Daeng Maraja Lamakarate (KPN Donggala). Nama-nama tersebut diambil dari kepanitiaan yang disusun untuk Festival Internasional di Jakarta setelah setahun terbentuk Kewedanan Donggala. Menindaklanjuti Surat Keputusan Gubernur, DPRD-S melaksanakan sidang pada tanggal 16 Nopember 1951 dan secara aklamasi memutuskan dua hal: (1) menyetujui Sulawesi Tengah dipecah menjadi dua daerah yakni Poso dan Donggala, dan (2) membuat pernyataan yang isinya tentang pembekuan DPRD-S dan dewan pemerintahannya serta tugas kekuasaan diserahkan kepada Gubernur Sulawesi dibantu oleh Badan Penasehat yang diangkat oleh Menteri dalam Negeri. Pernyataan tersebut disyahkan oleh Gubernur Sulawesi melalui Surat Keputusan No. 118 tanggal 14 Maret 1952. Pada tanggal 12 Agustus 1952, dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 1952 yang menetapkan bahwa Kabupaten Daerah Tingkat II Donggala ibukota sementara berkedudukan di Palu dengan Kepala Daerah Ince Nairn Dg. Mamangun kemudian Kabupaten Daerah Tingkat II Poso dengan ibukota berpusat di Poso dengan Kepala Daerah Radjawali Muhammad Pusadan. Konsekuensi dari munculnya kabupaten baru, sejumlah partai politik bermunculan. Menurut Laporan pada tahun 1952, ada dua partai politik baru didirikan di Kabupaten Donggala yakni Masyumi dan Partai Nasional Indonesia (PNI). Pengurus Dewan Pimpinan Cabang Partai Masyumi Kabupaten Donggala dibentuk pada tanggal 22 Desember 1952 dengan susunan pengurus sebagai berikut: Ketua Umum merangkap bendahara, H. N. Parendrengi; Wakil Ketua I, Abdurahman Marzukie; Wakil Ketua II, Jondi Maranua; Sekrtaris, M.Dj. Abdullah; Wakil Sekretaris, Andi Aksa Tombolotutu, sedangkan anggotanya adalah: Said Naser, Said Ali, D. Taleb, dan A. Amu. Pengurus Dewan Pimpinan PNI Kabupaten Donggala di Palu sebagai berikut: Ketua, Z. Tumbol di Palu; Sekretaris, K. B. Parengkuan; Bendahara, Hasal Albanjar; Ketua Cabang PNI Parigi, H. Pondaag sebagai; Ketua cabang PNI Donggala, L. Lamarauna; Ketua cabang PNI Kaleke, Hadji Daeng

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

52

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment Pawindu. 38 PNI cabang Donggala ini terbentuk sejak tanggal 1 Nopember 1952 di Palu. Delapan tahun kemudian atau pada tahun 1960 pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 151/1960 tanggal 13 Desember 1960, yang menetapkan pemekaran Sulawesi menjadi dua Propinsi yakni: Propinsi Sulawesi Selatan Tenggara dengan ibukota Makasar dan Propinsi Sulawesi Utara Tengah dengan ibukota Manado. A. A. Baramuli, SH ditunjuk sebagai Gubernur Propinsi Sulawesi Utara Tengah. Pemekaran ini diikuti dengan penambahan jumlah kabupaten menjadi empat yakni: (1) Kabupaten Daerah Tingkat II Donggala dengan ibukota sementara di Palu; (2) Kabupaten Daerah Tingkat II Poso dengan ibukota di Poso; (3) Kabupaten daerah Tingkat II Buol Tolitoli dengan ibukota di Tolitoli; dan (4) Kabupaten daerah Tingkat II Banggai dengan ibukota di Luwuk. E. Kesimpulan Obsesi Pemerintah Belanda untuk melakukan eksploitasi ekonomi dan hegemoni politik permanen di Donggala pasca pemaksaan ”kontrak persahabatan,” tidak mudah terwujud karena muncul resistensi dalam bentuk perlawanan fisik seperti; perlawanan Malonda di Donggala, Toma I Dompo Di Sigi, Toma Tarima bersama anaknya di Sojol, dan Toma Itorengke mengobarkan perlawanan di Kulawi. Pendudukan Jepang mengakhiri penjajahan Belanda setelah pasukan Kaigun tiba di Donggala dengan kapal penjelajah bersama beberapa kapal pemburu torpedo pada bulan april 1942. Pendidikan peninggalan Belanda dihapus dan keberadaan organisasi sosial politik dibrangus kecuali yang mendukung mobilisasi massa untuk kepentingan perang. Pendudukan Jepang meninggalkan penderitaan dan kelangkaan pangan dan pakaian. Dinamika baru muncul di Donggala setelah kemerdekaan yakni upaya mempertahankan kemerdekaan dari serangan NICA dan perjuangan pembentukan kabupaten Donggala. Untuk menghadapi NICA dilakukan dengan perjuangan fisik dan penggalangan kekuatan sosial politik dengan membentuk; Laskar Pemuda Indonesia Merdeka (PIM), Rakyat Indonesia Merdeka (PRIMA), Gerakan Rakyat Indonesia Merdeka (GERAM), Partai Rakyat Indonesia (PRI), Persatuan Wanita (PERWANI). Sementera itu, upaya Arsip Rahasia Propinsi Sulawesi (Laporan Politik Sulawesi Tengah), nomor registrasi 236.
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 53
38

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment menjadikan Donggala sebagai kabupaten mendapat dua momentum penting yakni: pembentukan Daerah Administratif Donggala berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulawesi no. 633 tanggal 25 Oktober 1951 dan pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Donggala berdasakan Peraturan Pemerintah no. 33 tanggal 12 Agustus 1952. Kepustakaan Andi Mas Ulun Parenrengi Lamarauna, 1998. Pelabuhan Donggala dalam Tinjauan Sejarah. Manuskrip ANRI, “Besluit van Gouverneur Generaal 9 December 1904”, bundel Algemeen Secretarie. ANRI, “Besluit van Resident Manado 17 Agustus 1931 no. 28/1/3”, bundel Algemeen Secretarie. ANRI, “Agenda Nomor 11952/07”, bundel Algemeen Secretarie. ANRI, Besluit van Gouverneur Generaal 3 Juni 1906 no. 14, bundel Algemeen Secretarie. ANRI, “Missive van Gouvernement Secretaris tanggal 3 November 1916 no. 461”, bundel Algemeen Secretarie. ANRI, “Nota voor den adviseur voor de bestuurszaken der buitenbezittingen ajun adviseur voor Bestuurszaken der Buitenbezittingen AJ. Knaap”, Besluit van Gouverneur Generaal 12 Mei 1917 no. 1, bundel Algemeen Secretarie. Arsip Rahasia Propinsi Sulawesi (Laporan Politik), no registrasi 236. Arsip Rahasia Propinsi Sulawesi (Laporan Politik Sulawesi Tengah), nomor registrasi 236.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

54

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment Brill, E. J. 1918. La Cartographic Neerlandaise de La Celebes, D'Apres Des Modeles Etrangers 1590-1670, dalam: E.C. Abendanon, Expedition De La Celebes Centra Ie, Voyages Geologiques Et Geographiques A Travers La Celebes Centrale 1909-1910. Leyde: Librairie et Imprimerie Ci-Devant. H.J. Vingerhoets, 1933. "Coprahcontracten in de Minahassa", dalam Koloniaal Tijdschrift, jilid ke-22 J.A. Campo, 1994. "Steam navigation and state formation", dalam Robert Cribb (ed.) The Late Kolonial State in Indonesia: Political and Economic Foundations of the Netherlands Indies 1880-1942. Leiden: KITLV Press. J.S. van Braam, 1914. "De Buitenbezittingen en het boschwezen", Tijdschrift voor Binnenlands Bestuur, jilid 47. Koloniaal Verslag over het jaar 1891, hoofdstuk C. Koloniaal Verslag over het jaar 1906, hoofdstuk C. Koloniaal Verslag over het jaar 1907, hoofdstuk C. Koloniaal Verslag over het jaar 1908, hoofdstuk C. Koloniaal Verslag over het jaar 1909, hoofdstuk C. Koloniaal Verslag over het jaar 1915, hoofdstuk C Koloniaal Verslag over het jaar 1916, hoofdstuk C. Koloniaal Verslag over het jaar 1917, hoofdstuk C. Koloniaal Verslag over het jaar 1919, hoofdstuk C Koloniaal Verslag over het jaar 1920, hoofdstuk C. Louis Gottschalk, 1986. Terj. Nugroho Notosusanto, Mengerti Sejarah. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

55

Donggala: From Imperialism to the Regency Establishment Muklis Paeni, 1985. Sejarah Kabupaten Daerah Tk. II Sidenreng-Rappang, Ujung Pandang: Universitas Hasanuddin Ny. Mas Ulun Andi Bara Lamarauna, 1986. Suatu Hubungan Sosial Masyarakat Kerajaan Banawa Kabupaten Donggala dan Susunan Raja-Raja yang Memerintah. Palu: Tidak Diterbitkan Rusdi Toana dkk. 1990. Sejarah Perjuangan Rakyat Kabupaten Donggala. Palu: Pemerintah Daerah Tingkat II Donggala. Staatsblad Nederlansch-Indie No. 366, tahun 1927. Stibbe, D.G. 1935. Encyclopaedic Van Nederlandsch Indie, S-Gravenhage: Martnus Nijhoff. T.B. Bottomore, 1971. Sociology: A Guide to Problem and Literature. London: George Alien & Unwin Ltd

Tentang Penulis. Drs. Lukman Nadjamuddin, M. Hum. Dosen Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako Palu. Menamatkan Program S1 Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Tadulako Palu tahun 1991 dan S2 Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tahun 2000. Saat ini menjabat sebagai Pembantu Dekan III Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako Palu. Idrus, S.Pd. SH. Mantan guru sejarah (1995-2006), Dosen Luar Biasa pada Pendidikan Sejarah FKIP-Untad (1996-2003) dan sejak 2006 sebagai widyaiswara pada LPMP Sulawesi Tengah. Menamatkan Program S1 Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako Palu tahun 1994 dan S1 Ilmu Hukum (Tata Negara) Universitas Muhammadiyah Palu tahun 2007. Saat ini sedang menempuh Program Magister Pendidikan IPS PPS UNY.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

56

Optimalisasi Pembelajaran Sejarah Dengan Penerapan Metode Active Debate OPTIMALISASI PEMBELAJARAN SEJARAH DENGAN PENERAPAN METODE ACTIVE DEBATE Oleh: Dyah Kumalasari Abstract This research is intended to solve the problem of optimizing the application of active debate method to improve of learning quality of History Reflection subject at the History Education Department of Social Science and Economics Faculty of the State University of Yogyakarta. The research is designed as a classroom action research, applied to the sixth semester students, from January to July of the 2006 academic year. The research is conducted in two cycles of actions through four stages: the stage I and II encompassing the First Diagnostic and Therapy stage, and the stage III and stage IV constituting the Repeated Diagnostic and Therapy Stage. The data of study were collected by means of observations and interviews as well as evaluation of the quality of discussing skills with the grading scores of 1, 2, 3, and 4, and the data obtained were then analyzed using a ttest. Findings of the classroom action research through optimizing the application of the active debate method to the learning process of History Reflection subject show the significant improvement in learning process and achievement. Qualitatively, the quality of learning process increase significantly and quantitatively the learning achievement improved the averaged achievement of 2,3. Therefore, the research has been able to increase the averaged achieved score of 79,6, with a t-coefficient of 2,89344047 at the level of significance of 1% (very significant). Keywords: Active Debate Method, Historical Learning, Learning Quality A. Pendahuluan Sistem pengajaran sebagai bagian integral dari sistem kegiatan pendidikan, merupakan fenomena yang harus diperbaiki dan dikembangkan oleh pihak-pihak yang terkait dan berkepentingan. Hal ini menyangkut kurikulum, metode, media pengajaran, materi pengajaran, kualitas pengajar, dan lain sebagainya sehingga tercipta sistem pengajaran yang baik dan berorientasi ke masa depan. Dengan demikian perlu dikembangkan prinsipprinsip belajar yang berorientasi pada masa depan, dan menjadikan peserta didik tidak hanya sebagai objek belajar tetapi juga subjek dalam belajar. Pendidikan tidak lagi berpusat pada lembaga atau pengajar, yang hanya akan
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 57

Optimalisasi Pembelajaran Sejarah Dengan Penerapan Metode Active Debate mencetak para lulusan yang kurang berkualitas, melainkan harus berpusat pada peserta didik sebagai pusat belajar, yang tidak hanya “disuapi” dengan materi tetapi juga harus diberi kesempatan untuk bersikap kreatif dan mengembangkan diri sesuai dengan potensi intelektual yang dimilikinya. Mengajar merupakan suatu aktivitas profesional yang memerlukan ketrampilan tingkat tinggi dan mencakup hal-hal yang berkaitan dengan pengambilan keputusan-keputusan 1 Sekarang ini pengajar lebih dituntut untuk berfungsi sebagai pengelola proses belajar mengajar yang melaksanakan tugas yaitu dalam merencanakan, mengatur, mengarahkan, dan mengevaluasi. Keberhasilan dalam belajar mengajar sangat tergantung pada kemampuan pengajar dalam merencanakan, yang mencakup anatra lain menentukan tujuan belajar peserta didik, bagaimana caranya agar peserta didik mencapai tujuan tersebut, sarana yang diperlukan, dan lain sebagainya. Dalam proses belajar mengajar, pengajar perlu mengadakan keputusankeputusan, misalnya metode apakah yang perlu dipakai untuk mengajar mata pelajaran tertentu, alat dan media apakah yang diperlukan untuk membantu peserta didik membuat suatu catatan, melkukan praktikum, menyusun makalah diskusi, atau cukup hanya dengan mendengar ceramah pengajar saja. Dalam proses belajar mengajar pengajar selalu dihadapkan pada bagaimana melakukannya, dan mengapa hal tersebut perlu dilakukan. Begitu juga dalam hal evaluasi atau penilaian yang digunakan, bagaimana kriterianya, dan bagaimana pula kondisi peserta didik sebagai subjek belajar yang memerlukan nilai itu. Dalam rangka pengembangan pengajaran sejarah agar lebih fungsional dan terintegrasi dengan berbagai bidang keilmuan lainnya, maka terdapat berbagai bidang yang seyogianya mendapat perhatian, yaitu: pertama, untuk menjawab tantangan masa depan, kreativitas dan daya inovatif diperlukan agar bangsa Indonesia buka sekedar menjadi konsumen IPTEK, konsumen budaya, maupun penerima nilai-nilai dari luasr secara pasif, melainkan memiliki keunggulan komparatif dalam hal penguasaan IPTEK. Oleh karena itu, kreativitas perlu dikembangkan melalui penciptaan situasi proses belajar mengajar yang kondusif, di mana pengajar mendorong vitalitas dan kreativitas peserta didik untuk mengembangkan diri. Peserta didik perlu diberi kesempatan untuk belajar dengan daya intelektualnya sendiri, melalui proses
1

Winata Putera, US. (1992). Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud. Hlm. 86.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

58

Optimalisasi Pembelajaran Sejarah Dengan Penerapan Metode Active Debate rangsangan-rangsangan baik yang berupa pertanyaan-pertanyaan maupun penugasan, sehingga peserta didik dapat melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang dan dapat menemukan berbagai alternative pemecahan masalah yang dihadapi. Peserta didik dapat mengembangkan daya kreativitasnya apabila proses belajar mengajar dilaksanakan secara terencana untuk meningkatkan dan membangkitkan upaya untuk kompetitif. Oleh karena itu, proses belajar mengajar yang memberi peluang kepada peserta didik untuk menyelesaikan tugas secara kompetitif perlu disosialisasikan, kemudian juga perlu adanya penghargaan yang layak kepada mereka yang berprestasi. Hal ini akan berdampak positif terhadap terbentuknya rasa percaya diri pada peserta didik. Pengalaman ini selanjutnya dapat menjaga proses pembentukan kemandirian. Dalam hal ini peserta didik juga perlu dilibatkan dalam proses belajar mengajar yang memberikan pengalaman bagaimana peserta didik bekerja sama dengan peserta didik yang lain seperti dalam hal berdiskusi. Pengalaman seperti ini selanjutnya akan dapat membentuk sikap kooperatif dan ketahanan bersaing dengan pengalaman nyata untuk dapat menghargai segala kelebihan dan kelemahan masing-masing. Dalam rangka optimalisasi pembelajaran sejarah khususnya untuk mata kuliah Refleksi Sejarah, maka dirasakan perlu untuk mengadakan penelitian tindakan kelas mengenai “Penerapan Metode Active debate dalam Pembelajaran Mata Kuliah Refleksi Sejarah di Jurusan Pendidikan Sejarah FISE UNY”, sebagai bagian dari proses pendidikan. Dengan penerapan metode active debate secara optimal diharapkan mahasiswa akan lebih aktif dan kreatif dalam mencari sumber-sumber atau referensi. Dengan aktif dan kreatifnya baik dalam mencari sumber-sumber maupun dalam diskusi sebagai upaya pemecahan masalah, mahasiswa benar-benar akan memahami materi perkuliahan. Dengan dikuasainya materi perkuliahan, dimungkinkan mereka akan mendapatkan nilai yang optimal dan pada gilirannya indeks prestasinya akan meningkat. Dengan demikian Jurusan Pendidikan Sejarah akan menghasilkan lulusan yang berkualitas dan nantinya akan menjadi guru-guru sejarah yang profesional. B. Cara Penelitian Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada mahasiswa semester VI Jurusan Pendidikan Sejarah FISE UNY. Tindakan yang dilakukan merupakan upaya meningkatkan kualitas pembelajaran mahasiswa
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 59

Optimalisasi Pembelajaran Sejarah Dengan Penerapan Metode Active Debate dalam mencari, menemukan, dan memecahkan permasalahan dalam perkualiahan dengan penerapan metode active debate, yang pada dasarnya juga merupakan penerapan metode sejarah, yaitu: heuristic, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, yakni siklus pertama sebagai imolementasi tindakan, sedangkan siklus kedua sebagai perbaikan. Alur kegiatan pada siklus I adalah sebagai berikut: tahap I, tahap ini meliputi kegiatan pengumpulan data tentang pembelajaran sejarah, yang meliputi identifikasi masalah, perumusan masalah, analisis masalah, dan perumusan hipotesis tindakan. Pada tahap ini sumber data diperoleh dari ketua Jurusan, pimpinan program studi, dosen, dan referensi. Tahap II adalah tahap terapi, meliputi kegiatan perencanaan tindakan, pelaksanaan, pemantauan, dan perbaikan tindakan. Pada tahap ini melibatkan peran aktif dan intensif secara bersama-sama antara dosen, peneliti, dan pakar pendidikan sejarah. Alur kegiatannya adalah sebagai berikut: (1) kelas dibagi menjadi 2 atau 3 kelompok, dosen memberi informasi singkat tentang materi dan tugas yang harus dikerjakan oleh masing-masing kelompok dengan merumuskan masalahnya; (2) masing-masing kelompok/individu diberi waktu kurang lebih 30 menit untuk mencari sumber-sumber yang berkaitan dengan permasalahannya, dapat berupa narasumber, buku, majalah, jurnal, dan lain sebagainya; (3) setelah sumber terkumpul dilaksanakan diskusi untuk membuktikan hipotesis yang dibuat, juga diberikan penilaian/skor: 1, 2, 3, atau 4 tergantung dari keaktifan berdiskusi, kualitas jawaban atau sanggahan, dan lain sebagainya. Ketiga alur tersebut juga dilaksanakan pada siklus 2. Tahap III adalah tahap diagnostik ulang. Pada tahap ini meliputi kegiatan mengevaluasi hasil tindakan yang sudah dilakukan, melakukan verifikasi hipotesis tindakan, spesifikasi permasalahan yang belum teratasi serta mengambil kesimpulan penyebabnya (khusus untuk masalah yang belum teratasi) berdasarkan diagnostik ulang tersebut. Tahap IV adalah tahap terapi ulang. Pada tahap ini meliputi kegiatan perencanaan tindakan perbaikan ulang (untuk permasalahan yang belum teratsai), pelaksanaan, dan pemantauan. Pihak-pihak yang berperan dalam kegiatan ini adalah pimpinan jurusan, pimpinan program studi, dosen, dan peneliti. C. Hasil Penelitian dan Pembahasan

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

60

Optimalisasi Pembelajaran Sejarah Dengan Penerapan Metode Active Debate Dari tahap I: tahap Diagnostik dan Tahap II: Tahap Terapi menghasilkan nilai/skor seperti dalam Tabel I sebagai berikut: Tabel I Nilai/Skor Tahap I dan Tahap II: Diagnostik dan Terapi (XI) (N:60) Ubahan Nilai/Skor Tertinggi Nilai/Skor Terendah Rentang Nilai/Skor Rerata Simpang Baku N Besarnya Nilai 90 66 24 77.3 7.4 60

Melihat rentang nilai/skor X1 (24) dan simpang baku X1 (7.4) memberikan diagnostik bahwa nilai/skor X1 belumlah begitu homogen. Untuk memperbaiki nilai/skor para peserta dilakukan Tahap III dan Tahap IV: Tahap Diagnostik dan Tahap Terapi Ulang. Pada Tahap III dilakukan evaluasi hasil tindakan yang telah dilakukan, verifikasi hipotesis tindakan, spesifikasi permasalahan yang belum teratasi, serta berdasarkan diagnostik ulang menarik kesimpulan tentang sebab-sebabnya terutama belum teratasinya permasalahan. Pada tahap IV, Tahap Terapi Ulang, dilakukan perencanaan perbaikan ulang untuk kemudian dilaksanakan dengan tiap-tiap kali memantaunya. Hasil nilai/skor pada Tahap III dan Tahap IV menunjukkan hasil yang lebih baik dan lebih homogen. Keadaan nilai/skornya nampak dalam Tabel 2 berikut ini Tabel 2 Nilai/Skor Tahap III dan Tahap IV: Diagnostik dan Terapi Ulang (X2) Ubahan Skor Nilai/Skor Tertinggi Nilai/Skor terendah Rentang Nilai/Skor Rerata Simpang Baku N Besarnya Nilai 90 67 23 79.6 5.1 60

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

61

Optimalisasi Pembelajaran Sejarah Dengan Penerapan Metode Active Debate Dibandingkan dengan rentang nilai/skor X1 (24) dan simpang baku nilai/skor X2 (23) dan simpang baku X2 (5.1), menunjukkan bahwa nilai/skor Tahap III dan Tahap IV: Diagnostik dan Terapi Ulang (X2) berhasil dengan baik, sebab dengan nyata kenaikan rerata X2 (79.6) sebesar 2.3 dibandingkan dengan rerata X1 (77.4). Setelah hasil komputasi Tahap III dan Tahap IV sebagai Diagnostik dan Terapi Ulang terhadap Tahap I dan Tahap II penerapan metode active debate pada pembelajaran mata kuliah Refleksi Sejarah menunjukkan kenaikan ratarata nilai/skor sebesar 2.3 (dari 77.3 menjadi 79.6), maka langkah selanjutnya adalah untuk membuktikan apakah kenaikan rerata sebesar 2.3 itu signifikan atau tidak. Untuk itu perlu dilakukan komputasi dengan menggunakan rumus uji-t (t-Test): ∑D t = _________________________________ √ N ∑ D2 – ( ∑ D )2 N–1 Keterangan: t D ∑D ∑ D2 N : Koefisien t : beda X2 – X1 : sigma (jumlah) beda X2 – X1 : sigma (jumlah) kuadrat beda X2 – X1 : jumlah individu mahasiswa

Hasil komputasi dari N; ∑ D; ∑ D 2 ; dan N – 1 adalah sebagai berikut: N ∑D ∑ D2 N–1 : 60 : 109 : 1593,5 : 59

Jika angka hasil komputasi tersebut dimasukkan ke dalam rumus Uji-t tersebut, maka diperoleh hasil sebagai berikut: t = ___________109_________________ = 2.89344047 √ 60 x 1593.5 - 11881 59
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 62

Optimalisasi Pembelajaran Sejarah Dengan Penerapan Metode Active Debate Ternyata hasil komputasi koefisien t = 2.89344047 ini memiliki makna sangat signifikan, karena harga t = 2.89344047 lebih besar terhadap harga kritis 2.660 pada taraf signifikansi 1%. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan metode active debate telah mampu meningkatkan proses pembelajaran. Indikator meningkatnya proses pembelajaran melalui penerapan metode active debate dapat dilihat dari aktivitas mereka baik pada Tahap I dan Tahap II: Tahap Diagnostik dan TAhap Terapi dan pada Tahap III dan Tahap IV: Tahap Diagnostik dan Terapi Ulang. Melalui tahap-tahap tersebut mahasiswa tidak dapat tidak harus aktif untuk: (1) membuat perencanaan dalam pemecahan masalah; dan (2) merumuskan proposisi-proposisi yang jelas, menyeluruh, tepat, dengan bukti dan argumentasi; (3) mengkomunikasikan teruji t=

pemikirannya dengan lugas dan tegas; (4) harus setiap kali mampu mengubah statusquo melemahkan posisinya untuk dapat bertahan dalam kualitasnya. Ini semua jelas akan memacu pendalaman dalam pemahaman dan penguasaan materi dan bahan pengetahuan yang diperlukan, yang jelas meningkatkan dalam melakukan diskusi para mahasiswa. Indokator-indikator tersebut jelas secara kualitatif membenarkan hipotesis pertama, bahwa penerapan metode active debate mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Secara kuantitatifhipotesis kedua yang menyatakan bahwa penerapan metode active debate dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran Refleksi Sejarah dapat dibenarkan dan dapat diterima. Melalui proses diagnostik dan Terapi Ulang rerata prestasi pembelajaran Refleksi Sejarah dapat ditingkatkan sebesar 2.3 dari yang semula 77.3 menjadi 79.6. Uji – t menunjukkan bahwa kenaikan rerata sebesar 2.3 tersebut sangat signifikan. Koefisien t = 2.893443047 jauh melebihi harga kritis koefisien t pada taraf signifikansi 1% yang besarnya 2.660. Demikianlah penerapan metode active debate pada mata kuliah Refleksi Sejarah mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran sejarah, dan karenanya hasil prestasi pembelajaran Refleksi Sejarah dapat ditingkatkan pula secara signifikan baik secar kualitatif maupun kuantitatif. D. Kesimpulan Hasil penelitian penerapan metode active debate pada mata kuliah Refleksi Sejarah telah berhasil menunjukkan bagaimana mengoptimalkan metode active debate guna meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil prestasi

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

63

Optimalisasi Pembelajaran Sejarah Dengan Penerapan Metode Active Debate pembelajaran mata kuiah Refleksi Sejarah pada Jurusan Pendidikan Sejarah FISE UNY. Penerapan metode active debate dalam dua siklus, ialah Tahap I dan II: Tahap Diagnostik dan Terapi, dan Tahap III dan IV: Tahap Diagnostik dan Terapi Ulang mampu mengoptimalkan proses pembelajaran sejarah: (1) mahasiswa aktif mencari, menemukan, dan memecahkan permasalahan pembelajaran sejarah; (2) memberi motivasi kepada mahasiswa untuk secara aktif dan kreatif dalam berpartisipasi dalam pembelajaran; (3) juga meningkatkan motivasi dan kemampuan para dosen dalam evaluasi proses pembelajaran dan hasil pembelajaran secara berkelanjutan dalam upaya memperbaiki dan mengembangkan proses pembelajaran sejarah. Proses tersebut ternyata mampu meningkatkan kualitas proses pembelajarannya dan kualitas hasil prestasi pembelajarannya. Hasil prestasi pembelajaran dalam dua siklus penerapan metode active debate secara signifikan mampu meningkatkan rerata prestasi pembelajaran dari 77.3 menjadi 79.6 atau sebesar 2.3 dengan koefisien t sebesar 2.89344047 pada taraf signifikansi 1%. E. Saran-Saran Keberhasilan peningkatan kualitas proses pembelajaran dan hasil prestasi pembelajaran sejarah secara signifikan melalui penerapan metode active debate secara implicit sekaligus mengandung saran-saran: 1. Diterapkannya metode active debate pada mata kuliah-mata kuliah lain pada Jurusan Pendidikan Sejarah, sehingga hasilnya akan semakin memantapkan signifikansi metode active debate sebagai metode pembelajaran sejarah; 2. diterapkannya juga metode-metode pembelajaran sejarah lainnya bersifat student centered oriented pada berbagai mata kuliah sejarah dengan harapan akan semakin meningkatkan motivasi pembalajaran mahasiswa; 3. Lembaga pendidikan, khususnya Jurusan Pendidikan Sejarah, FISE UNY perlu menanggapi secara positif terhadap hasil penemuan ini dengan meningkatkan perhatian dan partisipasi para tenaga pengajar. Penerapan metode-metode pembelajaran yang bersifat student centered oriented jelas menuntut aktivitas dan kreativitas dosen baik dalam pembelajarannya maupun dalam teknik evaluasi hasil pembelajarannya.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

64

Optimalisasi Pembelajaran Sejarah Dengan Penerapan Metode Active Debate Daftar Pustaka A. Syafii Maarif. (1995). Historiografi dan Pengajaran Sejarah. Yogyakarta: FPIPS IKIP Yogyakarta. Banathy, Bela H. (1992) A Sistems View of Education: Concepts and Principles for Effective Practice. Englewood Cliffs: Educational Technology Publications. Hariyono. (1992). “Pengajaran Sejarah dan Egenwelt Subjek-Didik”. Historika. No. 1 Vol 1. Surakarta: PPs Pendidikan Sejarah IKIP Jakarta KPK UNS. MD. Dahlan. (1999). Model-Model Mengajar. Bandung: Diponegoro. Moedjanto, G. (1999). “Reformasi Pengajaran Sejarah Nasional”. Kompas. 1 Mei 1999. Soewarso. (2000). Cara-Cara Penyampaian Pendidikan Pendidikan Sejarah Untuk Membangkitkan Minat Peserta Didik Mempelajari Sejarah Bangsanya. Jakarta: Dirjendikti Depdiknas. Winata Putera, US. (1992). Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.

BIODATA PENULIS Dyah Kumalasari, Lahir di Klaten, 18 Juni 1977. Lulus dari Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta spesialisasi Ilmu Sejarah, tahun 2000. S2 ditempuh di Program Pascasarjana UNS di Jurusan Pendidikan Sejarah, lulus tahun 2003. mengabdi di UNY sejak akhir tahun 2003 di Jurusan Pendidikan Sejarah FISE UNY, dengan spesialisasi mata kuliah pada Sejarah Pendidikan dan Sejarah Indonesia Masa Pergerakan Nasional. Karya ilmiah yang pernah dibuat di antaranya adalah: Point dan Coins, Studi pembelajaran bermakna dalam Mata Kuliah Dasar-Dasar Ilmu Sejarah (2004); Hambatan Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah dalam Penyusunan Tugas Akhir (2005); Optimalisasi Pembelajaran Sejarah Dengan Penerapan Metode Active Debate (2005).

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

65

Model Delikan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS-Sejarah PENERAPAN MODEL DELIKAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPS-SEJARAH DI SMP MUHAMMADIYAH IV YOGYAKARTA Oleh Aman, Grendi Hendrastomo, Sudrajat. 1 Abstract For students at Junior High School, the subject of social studies is very bored to be heared. Learning method is one of several factors that cause these problem. The goal of our research is to apply the delikan method to improve the quality of social studies learning at Junior High School. This class action research uses recommendation from Kurt Lewin models involving a spiral of cycles: initial idea, reconnaissance (fact finding), general plan, implement, and evaluate. We implements two cycles in which paper in first cycles and comic in second cycles. Delikan is a learning method involves hear (de), see (li), and done (kan). For implement this method we divide class on eight groups. For each groups, we give one theme for their task. From our research, we conclude that implementation of Delikan method lead improvement on social studies subject at Junior High School level. We have four parameters indicating the fenomenon. First, students have done the task with happy. They have a pleasant time to improve their ability to write and draw. Second, students enjoy work together in group collaboration with their classmate. This method can improve social relations between the students. Third, this method can exploit another student’s competencies, for example: write, draw etc. Finally, delikan motivate students to further learn with read another sources: book, magazine, internet, etc. Keyword: delikan, social studies, method of learning.

A. Pendahuluan Salah satu faktor penyebab keterpurukan bangsa Indonesia saat ini adalah rendahnya kualitas pendidikan nasional. Bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga, pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal. Kalau pada era 1970-an Malaysia merupakan salah satu anak didik kita, namun sekarang kita harus belajar banyak dari mantan anak didik kita tersebut. Salah satu faktor penyebab keterpurukan pendidikan di Indonesia barangkali

Dosen pada Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.
1

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

66

Model Delikan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS-Sejarah disebabkan oleh adanya politisasi dunia pendidikan, sehingga pendekatan yang dipergunakan serba instan dan hanya sekadar kebijakan tambal sulam yang tidak akan menyelesaikan permasalahan secara fundamental. Salah satu contoh adalah tidak dipenuhinya tuntutan UUD 1945 yang mengamanatkan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. Akibatnya banyak sekali sekolah yang tidak layak pakai, rendahnya kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan, rendahnya kualitas guru, dan lain-lain. Rendahnya kualitas dan kesejahteraan guru merupakan inti dari permasalahan pendidikan di Indonesia. Kondisi yang demikian menyebabkan mereka tidak optimal dalam menjalankan tugasnya. Mengajar merupakan suatu aktivitas yang memerlukan ketrampilan tingkat tinggi dan mencakup hal-hal yang berkaitan dengan pengambilan keputusan. 2 Sekarang ini guru dituntut untuk berperan sebagai pengelola proses belajar mengajar. Keberhasilan proses belajar mengajar sangat tergantung pada kemampuan guru dalam membuat perencanaan pembelajaran, yang menyangkut antara lain menentukan tujuan pembelajaran, bagaimana cara dan metode yang akan digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan itu. Sementara itu dalam kaitannya dengan mengatur proses pembelajaran, guru juga dituntut untuk menentukan bagaimana caranya memberikan motivasi kepada peserta didik, memilih alat, media, dan sarana yang akan dipergunakan dalam proses pembelajaran dan lain-lain. Mengingat pentingnya hal tersebut, maka tidak mengherankan apabila guru mendapat ekspektasi yang cukup signifikan dalam upaya peningkatan pendidikan nasional. Terkait dengan proses pembelajaran di sekolah, maka IPS-Sejarah merupakan salah satu mata pelajaran yang perlu mandapat perhatian dari semua pihak khususnya pakar dan pemerhati masalah pendidikan. Sebagai dampak dari diberlakukannya IPS Terpadu, maka IPS-Sejarah merupakan salah satu bagian dari keterpaduan IPS, di samping mata pelajaran lainnya seperti IPS-Geografi dan IPS-Ekonomi. Sampai sekarang format dan kurikulum yang telah dipergunakan masih terus mengalami penyempurnaan sehingga mata pelajaran yang satu ini perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Di luar hal-hal tersebut, metode pembelajaran IPS merupakan permasalahan yang perlu mendapat perhatian. Sudah jamak diketahui oleh semua kalangan bahwa salah satu kelemahan metode pembelajaran IPS adalah adanya

2

Winata Putera (1992), Model-model Pembelajaran, Jakarta: Depdikbud. Hlm. 86.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

67

Model Delikan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS-Sejarah penjejalan materi sehingga pembelajaran menjadi kurang bermakna bagi siswa. Pembelajaran yang bersifat kognitif ini harus perlahan-lahan diubah sehingga aspek afektif dan psikomotor juga mendapat porsi yang seimbang. Permasalahannya adalah apakah ada metode yang tepat untuk mencapai pembelajaran yang demikian itu? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan yang demikian, karena memang tidak ditemukan metode yang paling tepat untuk mengajarkan IPS-Sejarah. Oleh karena itu guru harus mampu berimprovisasi dengan suasana dan fasilitas yang dimiliki oleh sekolah. Dalam kaitan dengan hal tersebut, Delikan merupakan salah satu model pembelajaran yang perlu dicoba untuk diterapkan dalam proses pembelajaran. B. Delikan Sebagai Model Pembelajaran Delikan merupakan akronim dari dengar (de), lihat (li), dan kerjakan (kan). Model ini diangkat dan dikembangkan atas dasar pengalaman empiris di lapangan, artinya merupakan pengkajian dari hasil pengamatan terhadap praktek mengajar para guru di sekolah, terutama kaitannya dengan upaya untuk mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran. 3 Pada awalnya model ini dikembangkan di sekolah dasar, namun pada perkembangannya model tersebut juga dapat diterapkan pada pembelajaran untuk tingkat SMP maupun SMA. Sebagai sebuah model pembelajaran, delikan harus dipandang secara holistik dan berkesinambungan. Dalam hal ini proses dengar dibarengi oleh proses lihat dan proses kerja.4 Dengan demikian maka pembelajaran akan memberikan kesan yang mendalam dan bermakna karena ditangkap oleh tiga indera yaitu penglihatan, pendengaran, dan tentunya juga indera motorik. Aspek yang dikembangkan dalam pembelajaran dengan model delikan antara lain: kognitif (dalam proses mendengar dan melihat), afektif, dan psikomotor. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dengan diterapkannya model delikan antara lain: 1. Materi pembelajaran lebih bermakna bagi siswa; 2. Mendorong siswa untuk belajar lebih lanjut; 3. Memori siswa bertahan lebih lama. Penyelidikan dari para ahli ilmu jiwa membuktikan dengan tegas bahwa berhasil tidaknya belajar tergantung pada makna dari apa yang dipelajari.
Sri Anitah Wiryawan & Nurhadi (2001), Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Hlm. 270. 4 Ibid.
3

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

68

Model Delikan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS-Sejarah Pelajaran itu bermakna sejauh pelajaran atau masalah itu riil atau berharga bagi si pelajar, dan sejauh hubungan esensial antara bagian-bagiannya ditegaskan, sehingga murid adalah menangkap atau memahami hubungan-hubungan dalam keseluruhan itu. 5 Model delikan merupakan suatu strategi pembelajaran
6

yang

memungkinkan peserta didik mendapatkan jawabannya sendiri. Ini merupakan sebuah model pembelajaran yang penyampaian bahan pelajarannya tidak berbentuk final, tidak langsung. Artinya dalam penyampaian materi peserta didik diberi kesempatan untuk mencari dan memecahkan sendiri permasalahannya dengan mempergunakan teknik pemecahan masalah. Sementara itu pengajar bertindak sebagai pengarah, mediator dan fasilitator yang wajib memberika informasi yang relevan dengan permasalahan atau materi pelajaran. Hal ini dapat dilakukan di dalam kelompok-kelompok kecil di dalam kelas melalui diskusi dan bermain peran. Dalam kegiatan ini peserta didik dituntut untuk aktif dan terlibat dalam situasi belajar. Peserta didik menyadari adaya masalah, mengajukan pertanyaan, selanjutnya menghimpun informasi sebelum mengambil keputusan. 7 Model delikan diterapkan dengan enam tahap pelaksanaan yang meliputi: 1. Tahap orientasi berupa kegiatan menetapkan masalah sebagai pokok bahasan yang akan dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. 2. Tahap hipotesis yaitu merumuskan hipotesis sebagai acuan dalam delikan. 3. Tahap definisi yaitu menguraikan dan memperjelas hipotesis. 4. Tahap eksploratif berupa pengujian hipotesis menurut logika yang disesuai dengan implikasi dan asumsi 5. Tahap pembuktian yaitu mengumpulkan data dan fakta untuk membuktikan hipotesis, 6. Tahap generalisasi yaitu membuat kesimpulan sebagai pemecahan atau jawaban permasalahan yang dapat diterima kebenarannya. C. Konsep Dasar IPS Istilah ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan terjemahan dari social studies yang diterapkan di Amerika Serikat. Perkembangan social studies di
Nasution, (2002), Mengajar Dengan Sukses, Yogyakarta: Bumi Aksara. Hlm. 20. Soewarso (2000), Cara Penyampaian Pendidikan Sejarah Untuk Membangkitkan Minat Peserta Didik Mempelajari Sejarah Bangsanya, Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas. Hlm. 57. 7 Ibid.
5 6

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

69

Model Delikan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS-Sejarah Amerika Serikat terkait erat dengan adanya kebutuhan integrasi nasional akibat membajirnya imigran dari Eropa Selatan yang dikhawatirkan dapat mengacaukan perkembangan peradaban Anglo-Saxon. Sementara itu mata pelajaran sejarah, geografi, dan civics yang diajarkan secara terpisah dianggap tidak mampu mencapai tujuan nasional Amerika Serikat. Oleh karena itu pada tahun 1916 Wesley, mengusulkan perlunya penggabungan mata pelajaran sejarah, geografi dan civics menjadi mata pelajaran IPS. Wesley merumuskan social studies sebagai: the simplified for pedagogical purpose … in school the social studies usually consist of geography, history, economics, sociology and civics, and various combination of these subjects. 8 Definisi social studies mengalami perkembangan dengan hadirnya National Council for Social Studies (NCSS) yang memberikan definisi bahwa social studies sebagai the integrated study of the social sciences and humanities to promote civics competence. Penekanan pada kewarganegaraan disebabkan oleh adanya upaya untuk mempersiapkan warga negara untuk dapat hidup dalam negara demokrasi. Di Indonesia, latar belakang munculnya IPS terkait erat dengan pembangunan nasional dan integrasi nasional (national development and national integration). Hal ini diatasi dengan diperkenalkannya pendidikan civics yang pada perkembangannya menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Terakhir kali berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006, Pendidikan Moral Pancasila diganti menjadi Pendidikan Kewarganegaraan yang disingkat Pkn. Pada perkembangannya masalah sosial yang muncul sebagai dampak pembangunan nasional memerlukan sebuah pelajaran yang tidak semata-mata pada pembentukan watak dan karakter warga negara, namun juga perlu adanya penekanan pada wawasan sosial yang lebih luas. Oleh karena itu ilmu pengetahuan sosial merupakan solusi untuk mengatasi masalah kerawanan sosial sebagai dampak pembangunan nasional. Melalui IPS siswa diajarkan untuk memahami kenyataan masyarakat dengan berbagai permasalahannya. Di Indonesia IPS didefinisikan sebagai penyederhanaan, adaptasi, seleksi, dan modifikasi dari disiplin akademis ilmu-ilmu sosial yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis yang diperkenalkan di sekolah dasar dan menengah dalam rangkan mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang

8

Ibid.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

70

Model Delikan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS-Sejarah berdasarkan Pancasila. Sementara Daldjoeni memberikan pengertian IPS sebagai pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk pendidikan tingkat SD, SMP dan SMA. 9 Hakekat IPS merupakan pengetahuan yang mengkaji hubungan antar manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial dengan menggunakan ilmu politik, ekonomi, sejarah, geografi, sosiologi, antropologi, dan hukum. D. Hakekat Pembelajaran IPS-Sejarah Pembelajaran sejarah sebagai subsistem dari kegiatan pendidikan merupakan sarana yang efektif untuk meningkatkan kualitas dan integritas bangsa melalui proses pembelajaran. Sistem pendidikan dan pengajaran merupakan sistem yang kompleks diletakkan sebagai usaha bersama untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dalam rangka membangun dan mengembangkan diri. 10 Dalam pengajaran sejarah masih banyak hal yang memerlukan pembenahan agar sejarah dapat berperan optimal dalam pembentukan watak bangsa (nation and character building). Dengan demikian pengajaran sejarah tidak lagi menitikberatkan pada pencapaian ranah kognitif, tetapi harus mulai menyentuh ranah afektif dan psikomotor. Dalam hal ini sebenarnya sejarah dapat berperan dengan baik karena pelajaran ini dapat menumbuhkan semangat nasionalisme. Pembelajaran sejarah yang menekankan fakta-fakta keras perlu mendapatkan perhatian karena hanya akan menimbulkan rasa bosan di kalangan peserta didik dan pada gilirannya nanti akan menimbulkan keengganan untuk belajar sejarah di kalangan generasi muda. 11 Lebih lanjut, Dennis Gunning menambahkan bahwa pembelajaran sejarah bertujuan untuk membentuk warga negara yang baik. Di samping itu sejarah juga menyadarkan peserta didik untuk mengenal diri dan lingkungannya serta memberikan perspektif historis. Secara spesifik tujuan pembelajaran sejarah ada tiga: mengajarkan konsep, mengajarkan ketrampilan intelektual, dan memberikan informasi kepada peserta didik. 12 Dalam hal ini pembelajaran sejarah tidak lagi sekadar menghafal pelbagai peristiwa dengan angka tahun dan tempat-tempat terjadinya persitiwa tersebut. Namun
Ibid. Banathy, Bella H (1992), A System View of Education: Concepts and Principles for Effective Practice, Englewood Cliffs: Educational Technology Publication. Hlm. 175. 11 Soedjatmoko (1976), “Kesadaran Sejarah Dalam Pembangunan”, Prisma Edisi VII. Hlm. 15. 12 Gunning, Dennis (1978), The Teaching of History, London: Cronhelm. Hlm. 179.
9 10

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

71

Model Delikan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS-Sejarah pembelajaran sejarah diarahkan pada pembentukan karakter melalui aktualisasi diri dan kesadaran akan adanya kebersamaan dalam keberagaman sehingga peserta didik ikut serta menentukan masa depan yang lebih manusiawi. Menurut Preire yang terpenting adalah pendidikan harus berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri. 13 Pada sisi yang lain, tujuan pembelajaran sejarah harus melalui proses dimana guru dan peserta didik melakukan riset bersama. Dengan jalan demikian maka peserta didik dihadapkan dengan tantangan intelektual sehingga terbentuklah sebuah adventure antara pendidik dan peserta didik. 14 Pada akhirnya pembelajaran sejarah memerlukan strategi dan metode baru untuk membentuk image pelajaran yang lebih positif. Dalam pemilihan metode dan strategi ini pendidik semestinya mempertimbangkan situasi, kondisi, dan sarana yang dimiliki oleh sekolah. Hal ini sangat penting karena pemilihan suatu metode pembelajaran mengandung konsekwensi yang sangat serius terhadap peserta didik. E. Cara Penelitian 1. Siklus I Dalam penelitian yang kami lakukan di SMP Muhammadiyah IV Yogyakarta, model delikan dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS-Sejarah. Bahkan dapat disimpulkan bahwa penerapan model delikan dalam pembelajaran IPS-Sejarah dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal ini dapat kami lihat dari kualitas portofolio, proses belajar, dan daya tangkap siswa yang lebih baik. Hal ini barangkali disebabkan oleh proses pembelajaran di SMP Muhammadiyah IV Yogyakarta telah didukung dengan sarana yang memadai. Misalnya tersedianya sumber belajar yang lengkap, tingkat kemampuan siswa yang cukup baik, dan sarana belajar yang memadai. SMP Muhammadiyah IV Yogyakarta juga telah memiliki sarana ICT untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya sehingga hal ini memudahkan para siswa dan guru untuk mengakses internet sebagai sumber belajar. Penerapan delikan dalam pembelajaran IPS-Sejarah di SMP Muhammadiyah IV Yogyakarta dapat kami gambarkan sebagai berikut:
Freire, Paulo (1999), Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan (terj.) Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hlm. Ix. 14 Soedjatmoko, Op. cit. hlm. 180.
13

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

72

Model Delikan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS-Sejarah 1. Kelas yang terdiri dari 40 siswa dibagi dalam 8 kelompok, sehingga masingmasing kelompok terdiri dari 5 orang siswa. 2. Guru memberikan informasi tentang materi pembelajaran, termasuk tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok. Untuk tugas yang harus dikerjakan, dalam siklus I dipilih membuat makalah dengan tema yang sudah ditentukan (proses dengar). Dalam kesempatan tersebut guru kolaborator juga menunjukkan contoh makalah yang baik kepada tiap-tiap kelompok (proses lihat) 3. Kelompok kerja siswa diberikan waktu selama 1 minggu untuk mengumpulkan sumber belajar yang berkaitan dengan materi yang ditentukan. Penentuan materi belajar dapat dijabarkan sebagai berikut: No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kelompok P. Diponegoro Cut Nya’ Dien KHA. Dahlan Imam Bonjol KH Dewantara Kahar Muzakir Jend. Sudirman Kartini Materi Bandung Lautan Api Pertempuran 10 November di Surabaya Pertempuran Medan Area Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 Perjanjian Linggarjati Agresi Militer Belanda I Serangan Umum 1 Maret 1949 PDRI

4. Setelah masing-masing kelompok mengetahui tugasnya masing-masing, maka mereka diberikan kebebasan untuk mengerjakan tugasnya di dalam kelas. Dalam hal ini siswa berdiskusi dalam kelompok-kelompok yang telah ditentukan. Point penting yang dapat kami tangkap dari diskusi mereka adalah adanya usaha dari siswa untuk mencari informasi dari sumber belajar. Mereka juga sharing dengan teman-temannya dalam kelompok tersebut, bahkan adan usaha saling melengkapi pengetahuan dan informasi. 5. Setelah siswa memperoleh pengetahuan yang memadai, mereka diminta membuat makalah (proses kerjakan). Di sini mereka membuktikan bahwa di samping memahami materi yang telah ditentukan mereka juga mampu mengolah pengetahuan yang diperoleh dan menuangkannya ke dalam bentuk makalah dengan kata-kata mereka sendiri. Subjek penelitian ini adalah kelas IX SMP Muhammadiyah IV Yogyakarta. Pemilihan kelas IX didasarkan pada asumsi bahwa kelas tersebut telah memiliki kemampuan berfikir memadai. Mereka juga telah mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh gurunya.
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 73

Model Delikan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS-Sejarah Penilaian tim peneliti ternyata terbukti benar, karena pada umumnya siswa sangat appreciate dengan model pembelajaran yang diterapkan. Di dalam kelas siswa terlihat sangat antusias mempelajari materi pelajaran yang diberikan melalui berbagai sumber belajar. Siswa mencari bahan untuk penyusunan makalah dari berbagai sumber antara lain buku di perpustakaan, majalah dan internet. Mereka terlihat sangat familiar dengan internet, karena memang sekolah menyediakan fasilitas tersebut. Penyusunan makalah dilakukan secara bersama-sama di dalam kelas. Mereka berdiskusi dengan temannya dalam satu kelompok untuk membahas masalah-masalah yang mereka hadapi. Dalam diskusi terlihat siswa mampu memberikan masukan yang cukup signifikan. Mereka juga terlihat saling melengkapi pengetahuan yang mereka peroleh. 2. Siklus II Dalam siklus II tim peneliti memutuskan untuk memberikan tugas membuat komik sejarah. Membuat komik sejarah lebih kompleks bila dibandingkan dengan menyusun makalah karena dalam membuat komik diperlukan kemampuan untuk memahami peristiwa sejarah serta kemampuan berimajinasi dalam menuangkan peristiwa tersebut ke dalam bentuk cerita bergambar. Dalam membuat komik sejarah juga diperlukan kemampuan dan keahlian lain yaitu kemampuan melukis atau menggambar. Oleh karena itu tim peneliti melakukan pemetaan kemampuan siswa, sehingga setiap kelompok dipastikan ada seorang siswa yang mempunyai kemampuan melukis dengan baik. Dalam mengimplementasikan model delikan, tim peneliti mengambil langkah-langkah sama seperti dalam siklus I. Pertama-tama guru kolaborator memberikan orientasi dan penjelasan mengenai tujuan pembelajaran serta tugas yang harus dilaksanakan oleh siswa (proses dengar). Dalam hal ini guru kolaborator juga membuka kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan apabila merasa belum jelas dengan tugas yang akan dikerjakan. Pada umumnya siswa telah mengerti dan memahami tugas mereka masing-masing sehingga proses dengar dapat berjalan dengan lancar. Selanjutnya guru kolaborator menunjukkan contoh-contoh komik yang baik (proses lihat). Hal ini dilakukan dengan tujuan agar kerja siswa sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, yakni memahami peristiwa sejarah dengan unjuk kerja.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

74

Model Delikan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS-Sejarah Tahap selanjutnya siswa diminta melaksanakan tugas dengan membuat komik (proses kerjakan). Proses pembuatan komik dilakukan di dalam jam pelajaran di kelas sehingga guru kolaborator dapat melihat dan mengamati proses pembuatan komik secara langsung. Dalam proses kerjakan terlihat bahwa siswa berusaha mengidentfikasi tokoh-tokoh sejarah berdasarkan persepsi masing-masing sehingga antara kelompok satu dan kelompok yang lain terdapat beberapa perbedaan dalam mengidentifikasi tokoh-tokoh sejarah. Proses kerjakan berjalan selama dua minggu atau dua kali jam pelajaran, namun ternyata siswa belum dapat menyelesaikan tugasnya sehingga tim peneliti dan guru kolaborator memutuskan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan tugas di luar jam pelajaran. Dengan demikian maka siswa menyelesaikan tugas tersebut di rumah dan di sekolah setelah jam pelajaran. Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa siswa mempunyai motivasi yang amat tinggi untuk belajar. Barangkali proses pembelajaran dengan model delikan memberikan nuansa yang baru kepada siswa sehingga mereka mempunyai semangat untuk menyelesaikan tugas-tugas dari gurunya. Setelah diberi tambahan waktu selama seminggu, siswa berhasil menyelesaikan tugasnya dan dikumpulkan kepada guru kolaborator. Dari evaluasi tim peneliti, siswa berhasil menyelesaikan pekerjaan mereka dengan cukup baik. Hal ini didasarkan pada penilaian terhadap hasil karya mereka yang secara umum sudah cukup baik. Penilaian ini didasarkan kepada beberapa kriteria antara lain: 1. Alur cerita 2. Skenario 3. Script 4. Identifikasi tokoh-tokoh sejarah baik yang protagonist maupun antagonis. 5. Setting (baik waktu maupun tempat) Dengan kriteria tersebut maka tim peneliti dapat menentukan mana yang termasuk kategori amat baik, baik, cukup, dan kurang. Dari lima buah komik yang dihasilkan, hanya satu yang dianggap cukup, dua komik lainnya termasuk baik, sedangkan dua komik amat baik. Dilihat dari alur cerita, scenario, script, dan settingnya, seluruh komik menunjukkan bahwa pembuatnya menguasai materi dengan amat baik. Sementara itu identifikasi tokoh menurut tim peneliti dianggap kurang karena tokoh-tokoh sejarah diidentifikasi dengan pahlawan-pahlawan masa kini dengan aksesori pakaian dan penampilan yang kurang pas. Namun secara keseluruhan komik yang dihasilkan oleh siswa telah
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 75

Model Delikan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS-Sejarah baik sehingga ini merepresentasikan keberhasilan model pembelajaran yang dilakukan oleh guru. F. Penutup Berdasarkan hasil penelitian tersebut, tim peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa dengan penerapan model delikan, pembelajaran IPS-Sejarah di SMP mengalami peningkatan yang signifikan. Pola pembelajaran yang bergerak dari strategi ekspository menuju inquiry yang melibatkan peranan guru dan siswa menghasilkan pola pembelajaran yang impresif, dialogis, dan bermakna bagi siswa. Ketika model delikan dipadu dengan metode diskusi maka terlihat siswa dapat mengambil peranan yang signifikan dalam upaya penguasaan materi pembelajaran. Meskipun model delikan dianggap sebagai model pembelajaran yang konvensional, akan tetapi dengan beberapa inovasi ternyata model tersebut efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Di mata siswa penerapan model delikan dalam mata pelajaran IPS-Sejarah menghasilkan pembelajaran yang menyenangkan, humanis, dan merdeka sehingga mereka dapat menikmati proses pembelajaran dengan perasaan senang, merdeka, dan bahagia. Hal ini menumbuhkan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Muara dari semua itu adalah adanya efektifitas proses pembalajaran IPS-Sejarah sehingga model delikan dapat dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Daftar Pustaka Banathy, Bella H (1992), A System View of Education: Concepts and Principles for Effective Practice, Englewood Cliffs: Educational Technology Publication. Beyer, Barry K. (1999), Inquiry in the Social Studies Clasroom Strategy for Teaching, Ohio: Charles Merry Publishing. Elliot, John. (1991), Action Research For Educational Change, Milton Keynes, Philadelphia: Open University Press. Freire, Paulo (1999), Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan (terj.) Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

76

Model Delikan Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS-Sejarah Nasution, (2002), Mengajar Dengan Sukses, Yogyakarta: Bumi Aksara. Soedjatmoko (1976), “Kesadaran Sejarah Dalam Pembangunan”, Prisma Edisi VII. Gunning, Dennis (1978), The Teaching of History, London: Cronhelm. Soewarso (2000), Cara Penyampaian Pendidikan Sejarah Untuk Membangkitkan Minat Peserta Didik Mempelajari Sejarah Bangsanya, Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas. Sri Anitah Wiryawan & Nurhadi (2001), Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Winata Putera (1992), Model-model Pembelajaran, Jakarta: Depdikbud.

Tentang Penulis Aman, menyelesaikan S1 dari Jurusan Pendidikan Sejarah IKIP Yogyakarta pada tahun 1999. Sedangkan S2 pada program studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta diselesaikan beberapa tahun kemudian. Saat ini sedang menyelesaikan pendidikan doktoralnya dalam bidang penelitian dan evaluasi pendidikan pada Universitas Negeri Yogyakarta. Mata kuliah yang diampu antara lain: Statistika, Sejarah Indonesia Abad XIX, dan Seminar Sejarah. Grendy Hendrastomo, Menyelesaikan pendidikan S1 pada program studi Sosiologi Universitas Gajah Mada pada tahun 2004, sedangkan Gelar Magister Manajemen diperolehnya pada tahun 2007. Saat ini sedang menempuh pendidikan S2 pada program studi Sosiologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Mata kuliah yang diampu antara lain: Sosiologi Hukum, Komputer, dan Dasar-dasar Sosiologi. Sudrajat, salah satu dosen muda pada Jurusan Pendidikan Sejarah FISE Universitas Negeri Yogyakarta. Menyelesaikan pendidikan S1 pada program studi Pendidikan Sejarah IKIP Yogyakarta pada tahun 1999. Saat ini sedang menempuh pendidikan S2 pada program studi Pendidikan IPS di Universitas Negeri Yogyakarta. Mata kuliah yang diampu antara lain: Sejarah Eropa Lama, Sejarah Eropa Baru, Pengantar Sejarah Eropa, dan Sejarah Lisan.
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 77

Kebijakan Pendidikan di Amerika Serikat KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI AMERIKA SERIKAT Taat Wulandari 1

Abstract Regarding education is a means of countries to develop, there are some policies and strategies to fulfill the above mission. Such as to provide good infrastructures and structures to develop curriculum, to develop the quality of teachers, to increase education budget and to adopt the good aspect of others education system. This article is to elaborate education system in United States of America. Despite there are some countries which have good education system, USA has relatively good education system. It is not surprisingly that there are some qualified universities, so that some students choose these universities for studying. Up to now the numbers of Indonesian graduate from USA is still in the first range. Keywords: Education, policy.

A. Pendahuluan Sudah banyak contohnya bahwa pendidikan mampu membawa perubahan dalam berbagai aspek. Entah itu dalam aspek ekonomi, sosial, politik, budaya, dan tentu saja dalam penguasaan wawasan keilmuan. Jepang adalah salah satu negara yang sukses menjadi bangsa yang besar dalam hal pendidikan dan pengetahuan dengan mengirim generasi mudanya sekolah di luar negeri. Dari negeri matahari terbit ini telah ditunjukkan bagaimana meluasnya pendidikan secara cepat mampu membantu terjadinya modernisasi Jepang. Negara ini dalam kenyataannya mempunyai peraturan wajib belajar di seluruh negeri dan sudah menjadi nomor dua sesudah Amerika dalam hal jumlah siswa yang menerima pendidikan tinggi. 2 Bagaimana dengan Amerika Serikat? Pendidikan di Amerika Serikat sudah dirintis pada masa Amerika Serikat belum terbentuk. Negara ini malah belum memproklamasikan kemerdekaannya ketika College-college sebagai dasar pendidikan Amerika didirikan oleh pemerintah kolonial. Pada masa-masa awal, rakyat di seluruh koloni sudah sadar bahwa yang paling penting untuk masa depan adalah dasar-dasar pendidikan dan budaya Amerika. Hal ini terus
1

2

Staff pengajar pada Jurusan Pendidikan Sejarah, FISE, UNY. Tadashi Fukutake. (1988). Masyarakat Jepang Dewasa Ini. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka,

hlm. 203.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

78

Kebijakan Pendidikan di Amerika Serikat berlanjut pada masa kolonial, diteruskan dan semakin disempurnakan pada masa-masa berikutnya sampai sekarang. Amerika Serikat yang sudah berumur ratusan tahun sejak kemerdekaannya tentunya memiliki banyak pengalaman dalam mencari format pendidikan yang cocok. Pada tahun 1636 di Cambridge, Massachussetts telah didirikan Harvard College. Akhir abad XVII didirikan College of William dan College of Mary di Virginia. Beberapa tahun kemudian didirikan College School of Connecicut, yang kemudian menjadi Yale College. Dan pada awal perkembangannya banyak juga sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh golongan keagamaan. Seperti diketahui sekolah-sekolah tersebut di atas pada kenyataannya tetap eksis sampai sekarang. Bagaimana dan seperti apa kebijakan pendidikan di AS tentunya sangat bisa menjadi wacana bagi pemerhati masalah-masalah pendidikan. Sebuah negara yang maju tentunya mempunyai sistem pendidikan yang baik pula. B. Politik Pendidikan AS Kekuasaan adalah segalanya. Kekuasaan pula dapat memberikan corak dari setiap kebijakan yang akan diambil oleh pengambil kebijakan (negara). Penguasa dengan kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki dapat menentukan mau seperti apa aspek-aspek kehidupan yang harus dijalankan menurut kepentigannya. Tidak hanya aspek kenegaraan, ekonomi, social, budaya, bahkan pendidikan pun dapat dijadikan alat penguasanya. Pada umumnya kebijakan pendidikan yang diambil di suatu Negara cenderung dijadikan alat intervensi negara kepada warga negaranya. Bentuk intervensi itu dapat berupa justifikasi (diakui/tidaknya) ilmu pengetahuan tertentu, pengaturan kelembagaan sekolah, lama pendidikan dan gelar, serta kualifikasi pendidikan yang dikaitkan dengan posisi pekerjaan (jabatan). Pada tataran pendidikan tertentu biasanya akan lebih mudah untuk dilaksanakan intervensi tersebut. Di antara jenjang pendidikan sekolah (mulai dari tingkat dasar hingga Perguruan Tinggi) yang ada, umumnya Negara lebih memilih mengkonsentrasikan kekuasaannya untuk mengintervensi pendidikan sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak, remaja dan kaum muda. Hampir tidak ada negara yang menaruh perhatian cukup besar pada pendidikan untuk orangorang dewasa. Pertanyaannya adalah; mengapa negara lebih memilih memusatkan perhatiannya kepada pendidikan anak-anak (muda) dibandingkan dengan

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

79

Kebijakan Pendidikan di Amerika Serikat pendidikan orang dewasa?. Sebenarnya jawabannya sepele saja, karena anakanak muda adalah generasi penerus bangsa. Pada tingkat anak-anak (muda) sangat mudah untuk dipengaruhi pola berpikirnya. Dengan demikian masamasa itu harus dijadikan timing yang tepat untuk membentuknya. Sebagian negara yang lain memiliki alasan bahwa sekolah cukup menarik untuk dikuasai, dimana di dalamnya terdapat generasi yang sangat mudah untuk dipengaruhi. Ada juga sebagian negara beralasan karena hak suara untuk pemilihan politik di masa yang akan datang perlu proses sosialisasi, dan itu cocok dilakukan untuk anak-anak melalui sekolah-sekolahnya. Pendidikan bagi sebagian masyarakat sudah dianggap sebagai kebutuhan dasar dan bukan lagi menjadi kebutuhan sekunder. Karena itu para orang tua berbondong-bondong memasukkan anaknya di berbagai lembaga pendidikan, terutama lembaga pendidikan formal yang diselenggarakan atau diakreditasi oleh negara. Campur tangan dan intervensi negara pada pendidikan sekolah formal tampaknya sering diabaikan oleh para orang tua. Oleh sebab itu perlu adanya mekanisme pengawasan yang dilakukan oleh orang-orang dewasa (masyarakat) setempat terhadap penyelengaraan pendidikan sekolah-sekolah formal agar intervensi (kebijakan) negara dalam sektor pendidikan bermakna positif bagi generasi berikutnya yang lebih handal, sekaligus untuk mengurangi terjadinya peluang penyimpangan yang mungkin dilakukan negara dalam kegiatan intervensinya itu. Di negara-negara demokrasi, kesadaran untuk mengawasi dan membatasi intervensi pemerintah pada sektor pendidikan itu ditandai dengan dipilihnya asas desentralisasi dalam pengambilan kebijakan (pengaturan) sektor pendidikan. Amerika Serikat adalah salah satu Negara pelopor demokrasi. Sudah sejak lama kebijakan pendidikan di Amerika Serikat menjadi tanggung jawab Pemerintah Negara Bagian (State) dan Pemerintah Daerah (Distrik). Sebelumnya, Pemerintah Pusat memang mengintervensi kebijakan pendidikan, sebagaimana yang terjadi sejak tahun 1872, dimana Pemerintah Pusat AS mengintervensi kebijakan pendidikan dengan cara memberikan tanah negara kepada Negara Bagian untuk pembangunan fakultas-fakultas pertanian dan teknik, membantu sekolah dengan program makan siang, menyediakan pendidikan bagi orang-orang Indian, menyediakan dana pendidikan bagi para veteran yang kembali ke kampus untuk menempuh pendidikan lanjutan, menyediakan pinjaman bagi mahasiswa, menyediakan anggaran untuk keperluan penelitian, pertukaran mahasiswa asing dan bantuan berbagai

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

80

Kebijakan Pendidikan di Amerika Serikat kebutuhan mahasiswa lainnya, serta memberikan bantuan tidak langsung (karena menurut ketentuan Undang-Undang Amerika Serikat pemerintah dilarang memberikan bantuan langsung) kepada sekolah-sekolah agama dalam bentuk buku-buku teks dan laboratorium. Namun semenjak masa Pemerintahan Presiden Ronald Reagen, intervensi Pemerintah Pusat AS terhadap pendidikan mulai dikurangi. Hal ini terungkap dalam kepercayaan Reagen bahwa pemerintah terlalu mencampuri kehidupan masyarakat. Ia ingin mengurangi program-program yang menurutnya tidak dibutuhkan rakyat dengan Selanjutnya menghapus ”pemborosan, penipuan, dan penyalahgunaan.” 3 tanggung jawab dan inisiatif kebijakan

pendidikan diserahkan kepada Negara Bagian (setingkat Propinsi) dan Pemerintah Daerah/Distrik (setingkat Kabupaten/Kota). Di Amerika Serikat terdapat 50 negara bagian dan 15.358 distrik. Jadi sebanyak itu lembaga yang diberi kewenangan dan otonomi untuk mengelola pendidikan. C. Tujuan Pendidikan AS Sistem pendidikan di Amerika Serikat (AS) mencerminkan ciri dari sistem pemerintahan di sana yaitu federal dengan desentralisasi melalui pemerintahan negara-negara bagian (states). Penanggung jawab utama sistem pendidikan di sana adalah departemen pendidikan pemerintah federal di Washington D.C, namun kegiatan sehari-hari didelegasikan penuh kepada pemerintah setiap Negara bagian yang kemudian mendelegasikannya lagi kepada Kantor Pendidikan Distrik (Public School District), dan kepada badan-badan penyantun college dan universitas. Sebagaimana dideskripsikan di atas bahwa karakteristik utama politik sistem pendidikan Amerika Serikat adalah menonjolnya desentralisasi. Pemerintah Pusat sangat memberi otonomi seluas-luasnya kepada Pemerintah di bawahnya, yaitu Negara Bagian dan Pemerintah Daerah (Distrik). Meskipun Amerika Serikat tidak mempunyai sistem pendidikan yang terpusat atau yang bersifat nasional, akan tetapi bukan berarti tidak ada rumusan tentang tujuan pendidikan yang berlaku secara nasional. Tujuan sistem pendidikan Amerika secara umum dirumuskan dalam 5 poin sebagai berikut: a. Untuk mencapai kesatuan dalam keragaman; b. Untuk mengembangkan cita-cita dan praktek demokrasi;
3

Richard Hofstadter, dkk. (2004). Garis Besar Sejarah Amerika Serikat. Deplu AS. Hlm. 417-

418.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

81

Kebijakan Pendidikan di Amerika Serikat c. Untuk membantu pengembangan individu; d. Untuk memperbaiki kondisi social masyarakat; dan e. Untuk mempercepat kemajuan nasional. Di luar 5 tujuan tersebut, Amerika Serikat mengembangkan visi dan missi pendidikan gratis bagi anak usia sekolah untuk masa 12 tahun pendidikan awal, dan biaya pendidikan relatif murah untuk tingkat pendidikan tinggi. D. Manajemen Pendidikan AS Manajemen pendidikan di AS dikembangkan berdasarkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat Negara Bagian dan Pemerintah Daerah setempat. Hal ini dilakukan mengingat AS adalah Negara dengan system desentralisasi. Di tingkat nasional (federal/pusat) dibentuk satu departemen, yaitu Departemen Pendidikan Federal. Jadi meski dalam sistem pendidikan di Amerika, sekolah adalah tanggung jawab pemerintah lokal, Deparemen Pendidikan menyediakan kepeminpinan nasional untuk menjawab isu-isu penting dalam pendidikan Amerika. 4 Departemen ini dipimpin oleh seorang setaraf Sekretaris Kabinet. Tugas departemen ini adalah melaksanakan semua kebijakan pemerintah federal dalam sektor pendidikan di semua tingkatan pemerintahan dan untuk semua jenjang pendidikan. Tetapi, karena sebagian besar kewenangan dan tanggung jawab pendidikan sudah diserahkan kepada Negara Bagian dan Pemerintah Daerah, maka Departemen Pendidikan Federal hanya menjalankan monitoring dan pengawasan saja. Di tingkat Negara Bagian dibentuk sebuah badan yang diberi nama Board of Education. Badan ini bertugas dan berfungsi membuat kebijakankebijakan serta menentukan anggaran pendidikan untuk masing-masing wilayah (Negara Bagian) nya, khususnya berkenaan dengan Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Selanjutnya, untuk menangani permasalahan yang berkaitan dengan hal-hal yang lebih teknis (yaitu; tentang kurikulum sekolah, penentuan persyaratan sertifikasi, guru-guru, dan pembiayaan sekolah) dibentuk sebuah bagian pendidikan yang disebut sebagai comissioner, sering juga disebut sebagai superintendent Bagian ini dipimpin oleh seorang yang ditunjuk oleh Board of Education atau oleh Gubernur.

4

Richard C. Schroeder. (2000). Garis Besar Pemerintahan Amerika Serikat. Deplu AS.hlm.

62-63.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

82

Kebijakan Pendidikan di Amerika Serikat Untuk beberapa Negara Bagian, pimpinan Bagian Pendidikan ini dipilih oleh masyarakatada. Sementara itu pada level operasional, pelaksanaan manajemen pendidikan dijalankan oleh unit-unit yang lebih rendah, bahkan banyak secara langsung dilaksanakan oleh masing-masing sekolah yang bersangkutan. Para pimpinan atau Kepala Sekolah pada prinsipnya memiliki kebebasan dan otonomi yang luas untuk menjalankan manajemen operasional pendidikan. Khusus untuk menangani kebijakan Pendidikan Tinggi, manajemen pendidikan Amerika Serikat yang dikembangkan oleh Negara-Negara Bagian memisahkan antara Badan yang memberi izin pendirian Perguruan Tinggi (Negeri dan Swasta) dengan Badan yang merumuskan kebijakan akademik serta keuangan. Badan yang menangani kebijakan akademik dan keuangan untuk pendidikan Tinggi adalah board of trustees. Untuk Perguruan Tinggi Negeri anggota badan tersebut ditunujuk oleh Gubernur Negara Bagian. Ada juga yang dipilih dari dan oleh kelompok yang akan diwakili. Sedangkan untuk Perguruan Tinggi Swasta anggota badan tersebut dipilih dari perguruan tinggi masing-masing. E. Pendanaan Pendidikan AS Sumber pendanaan pendidikan di Amerika, khususnya pendidikan dasar dan menengah, yang lebih dikenal dengan public schools, berasal dari Anggaran Pemerintah Pusat (Federal), Anggaran Pemerintah Negara Bagian dan Anggaran Pemerintah Daerah. F. Isu-isu Pendidikan AS Pada dekade 1990-an, Departemen Pendidikan memfokuskan pada isuisu berikut: meningkatkan standar seluruh siswa, memajukan pengajaran, melibatkan orangtua dan keluarga dalam pendidikan anak, penciptaan sekolah yang aman, disiplin dan bebas narkoba, mempererat hubungan antara sekolah dan dunia kerja, meningkatkan akses bantuan financial untuk para siswa agar dapat kuliah dan menerima pelatihan, serta membantu seluruh siswa agar melek teknologi. 5 Menurut hasil studi perbandingan yang dilakukan oleh Agustiar Syah Nur (2001), seperti dikutip oleh Ulul Albab; ada beberapa isu dan masalah pendidikan yang dialami pemerintah dan masyarakat Amerika Serikat, antara lain:
5

Ibid.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

83

Kebijakan Pendidikan di Amerika Serikat a. Banyaknya anak usia sekolah yang tidak diasuh langsung oleh orang tua mereka, karena adanya dinamika perubahan social masyarakat AS yang umumnya baik sang ibu atau sang ayah memiliki kesibukan yang sangat tinggi di luar rumah. Hal ini akan a. menjadi permasalahan yang serius bagi perkembangan social anak dilihat dari aspek psikis dan emosional. b. Tingginya tingkat perceraian, yang mengakibatkan banyaknya anak-anak usia sekolah yang hanya diasuh oleh sang ibu sebagai single-parent dalam rumah tangga. Tidak sedikit janda cerei di AS yang terpaksa harus berporfesi rendahan dan kasar. Hal ini jugamempengaruhi perkembangan social anak-anak mereka. c. Tingginya tingkat imigrasi yang umumnya berasal dari kalangan tidak mampu dan tidak terdidik, yang karenanya banyak diantara mereka yang tidak memperoleh pekerjaan yang layak. Hal ini menyebabkan masalah pendidikan anak-anak dari keluarga imigran tidak dapat teratasi. Ditambah lagi faktor bahasa dari kalangan imigran yang menyulitkan bagi anak-anak imigran itu sendiri jika mereka mendapat akses pendidikan. d. Dari berbagai monitoring dan evaluasi pendidikan yang dilakukan oleh berbagai badan resmi AS sendiri, ternyata kualitas pendidikan dan lulusan sekolah di AS masih kalah dibandingkan dengan negara-negara lain dalam standar internasional. Banyak anak-anak yang drop-outs dan tingginya kekerasan oleh anak-anak. G. Reformasi Pendidikan AS Karena adanya berbagai permasalahan tersebut, pemerintah AS sejak tahun 1990 mencanangkan reformasi pendidikan. Nampaknya George Bush masih melanjutkan kebijakan Reagen bahwa terdapat industri swasta serta pemerintah local dan Negara bagian turut menanggung biaya kebijakan pemerintah. Pada tahun tersebut Presiden AS George H. B. Bush beserta seluruh Gubernur Negara Bagian (saat itu Bill Clinton termasuk menjadi salah satu Gubernur Negara Bagian) menyetujui reformasi pendidikan dengan mencanangkan 6 tujuan nasional pendidikan AS yang baru. Yaitu: a. Pada tahun 2000, seluruh anak di AS di waktu mulai masuk sekolah dasar sudah siap untuk belajar. b. Pada tahun 2000, tamatan sekolah menengah naik sekurang-kurangnya 90%.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

84

Kebijakan Pendidikan di Amerika Serikat c. Pada tahun 2000, murid-murid di AS yang menyelesaikan pendidikannya pada “grade 4, 8 dan 12” mampu menunjukkan kemampuannya dalam mata pelajaran yang menantang, yaitu bahasa inggris, matematika, sains, sejarah, dan geografi. Setiap sekolah di AS harus mampu menunjukkan bahwa anakanak dapat menggunakan pikirannya dengan baik, sehingga mereka siap menjadi warga negara yang baik, siap untuk memasuki pendidikan yang lebih tinggi, serta siap pula untuk pekerjaan yang produktif dalam perekonomian modern. d. Pada tahun 2000, siswa-siswa AS adalah yang terbaik di dunia dalam bidang sains dan matematika. e. Pada tahun 2000, setiap orang dewasa AS dapat membaca dan menulis, memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk bersaing dalam ekonomi global, serta dapat melaksanakan hak dan tanggung jawabnya sebagai warga negara. f. Pada tahun 2000, setiap sekolah di AS harus bebas dari obat-obat terlarang dan kekerasan, serta dapat menciptakan suasana lingkungan yang mantap dan aman sehingga kondusif untuk belajar. Pokok-pokok reformasi tersebut dimaksudkan sebagai pegangan dalam membuat kebijakan-kebijakan pendidikan yang sudah harus segera diimplementasikan dan hasilnya sudah harus kelihatan pada tahun 2000. Dan memang itulah yang terjadi di AS. Pokok-pokok reformasi pendidikan itu akhirnya ditindak lanjuti dengan berbagai kreasi kebijakan pendidikan di tingkat negara bagian dan pemerintah derah. Gerakan reformasi pendidikan di kalangan Gubernur itu dipelopori oleh Gubernur Bill Clinton dan Lamar Alexander di masing-masing negara bagiannya. Gebrakan yang dilakukan adalah: a. Meningkatkan persyaratan untuk menamatkan suatu jenjang pendidikan b. Melaksanakan test standar untuk mengukur keberhasilan siswa c. Menjalankan sistem penilaian yang ketat terhadap guru sejalan dengan pembenahan jenjang karir bagi guru-guru d. Memperbesar tambahan dana dari negara bagian bagi sekolah sekolah. Tambahan dana baru ini pada umumnya dipakai untuk meningkatkan gaji guru yang kala itu masih berada pada taraf sangat rendah. Akhirnya AS benar-benar memperoleh kemajuan di bidang pendidikan, sehingga ketika Bill Clinton menjadi Presiden AS, keberhasilan AS dalam mengembangkan kebijakan pendidikan mendapat perhatian khusus.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

85

Kebijakan Pendidikan di Amerika Serikat H. Penutup Dari deskripsi kebijakan pedidikan yang diambil pemerintah Amerika Serikat, tentunya banyak hal yang mungkin saja dapat diambil sisi-sisi yang sekiranya baik untuk dijadikan referensi dalam rangka meningkatkan kualitas sistem pendidikan di negara kita. Ternyata sudah menjadi kultur budaya yang sangat mengakar dalam sejarah AS bahwa pendidikan menjadi tugas bagi keluarga dan masyarakat. oleh karena itu masyarakat tidak mau kalau pendidikan diatur oleh pemerintah pusat, bahkan oleh pemerintah negara bagian, bahkan oleh pemerintah lokal sekalipun. Masyarakat merasa memiliki hak yang sangat kuat untuk menentukan sistem pendidikan seperti apa yang paling tepat untuk masyarakat mereka. Mereka menganggap tantangan yang dihadapi oleh setiap komunitas tidaklah sama, jadi sistem pendidikan juga tidak boleh atau tidak perlu disamakan antara satu kota dengan kota lain, antara satu state dengan state lain. Kita melihat masih terlalu banyak problema dan ketidakpuasan diseputar persoalan pendidikan ini, tetapi sebagai bangsa yang besar dan sudah tua mereka sangat berpengalaman dalam memberikan respon yang cepat dan tepat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi. Karakter ini sudah menjadi budaya bangsa Amerika yang perlu kita pelajari untuk kita ambil manfaatnya.

DAFTAR PUSTAKA Richard Hofstadter, dkk. 2004. Garis Besar Sejarah Amerika Serikat. Deplu AS. Richard C. Schroeder. 2000. Garis Besar Pemerintahan Amerika Serikat. Deplu AS. Richard N. Current. 1965. American History: A Survey. New York: Alfred A. Knopft. Tadashi Fukutake. 1988. Masyarakat Jepang Dewasa Ini. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Sumber dari Internet:

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

86

Kebijakan Pendidikan di Amerika Serikat http://hendronurprasetyo.blogspot.com/2007/07/sistem-pendidikan-di-amerikaserikat.html http://www.unitomo.ac.id/artikel/ululalbab/edu_policy/babempat.pdf Tentang Penulis Taat Wulandari, S. Pd. Merupakan dosen pada Jurusan Pendidikan Sejarah, FISE, UNY. Saat ini sedang menyelesaikan pendidikan S2 pada Program Studi PIPS Universitas Negeri Yogyakarta. Saat ini mengampu mata kuliah: Sejarah Amerika, Sejarah Pemikiran, dan Pendidikan IPS.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

87

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 PERKEMBANGAN DAN PENINGGALAN DINASTI MOGHUL DI INDIA 1525-1857 Supardi 1 Abstract There are three objectives to writing this article as follow, First is to know the background of the rise of Moghul Empire, Second to know growth and fall of the Moghul Empire, and the last several Moghul legacies such as in the aspect of politic, social, art, etc. The founding father of Moghul Empire is Kutbu’ddin Aibak (1206-1211), who was able to establish Independence Islamic Kingdom of India. There are several ruler: Sultan Akbar, Syah Jahan, dan Aurangzib. Sultan Akbar has reputation as the ruler who was able to maintain stability of the empire as well as to combine the Islamic and Hindus civilization. Meanwhile Syah Jahan inherit some relics, such as the famous Taj Mahal. Other ruler Aurangzib was to expand his empire. But the generation after Aurangzib fail to maintain unity of his empire and Moghul breakdown to several independence kingdom. The Sepoy Mutiny in 1857 is the end of Moghul Empire. British replace Moghul Empire and occupied whole India until 1947. Keywords: Moghul Empire, Moghul inheritance, India. A. Pendahuluan India yang pada masa lalu meliputi negara India, Pakistan, dan Bangladesh pada masa sekarang selalu menarik dikaji. Ketiga negara ini memiliki kesinambungan sejarah yang satu hingga masa kolonialisme Barat. Secara geografis India terpisah oleh benteng alam pegunungan Himalaya di sebelah utara dan Hindu Kusy di sebelah Barat Laut. Pegunungan Himalaya merupakan benteng terpanjang yang membujur dari Afghanistan hingga Assam sejauh 2.500 km 2. Kondisi geografis inilah sebagai salah satu penyebab sulitnya pengaruh luar masuk ke India. Walaupun begitu, berbagai bangsa silih berganti masuk ke daerah India dan memberikan warna perkembangan kebudayaan India terutama melalui celah Khyber yang menghubungkan dengan

Dosen pada Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, UNY. Abu Su’ud. 1988. Memahami Sejarah Bangsa-bangsa Asia Selatan Sejak Jaman Purba sampai Kedatangan Islam. Jakarta: Depdikbud PPLPTK. Hlm.10
1 2

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

88

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 Afghanistan dan lintas Bolan yang di Pakistan. 3. Setidaknya di India telah lahir 4 agama dunia yakni Hindu, Buddha, Jain, dan Sikh. Selain keempat tersebut, warna sejarah India juga dipengaruhi oleh pengaruh Islam yang berkembang pesat sejak pertengahan abad VII M dari jazirah Asia Barat. Sejak awal abad XIII sampai dengan pertengahan XIX dinasti Islam berkembang di India. Masa pengaruh politik Islam telah dimulai sejak awal abad VIII ketika Muhammad bin al-Qasim diutus Khalifah al-Walid I menyerbu daerah Sind mulai tahun 708 M. 4 Walaupun belum menguasai seluruh India, Qasim telah berhasil menancapkan pengaruh politik Islam di daerah Punjab. Sejak masa itu politik Islam terus merangsek di India. Dinasti Ghazni yang berkembang sejak tahun 961 M berpusat di Afghanistan menjadi kekuatan politik kedua yang berpengaruh di India, dan dinasti Ghuri adalah pengaruh politik ketiga dalam sejarah kerajaan Islam di India. Akhir Dinasti Ghuri menandai mulainya kekaisaran Islam di India ditandai dengan berdirinya Kesultanan Delhi oleh Kutbu’ddin Aibak (1206-1211). Sejak saat itulah dinasti Islam berkembang di India sampai dengan tahun 1857. Mengkaji kekuasaan para dinasti Islam di India sangat menarik, selain kekhasan sifat politik para dinasti Islam di India, juga akan ditemukan berbagai peninggalan kebudayaan yang luar biasa tinggi. Ada lima dinasti Islam yang berkuasa di India mulai tahun 1206-1857 M. Kelima Dinasti yang memerintah tersebut adalah ; Dinasti Budak (1206-1290), Dinasti Khilji (1290 – 1321), Dinasti Taghluk (1321 – 1388 ), Dinasti Lodhi (1450 – 1526), dan Dinasti Moghul (1526 – 1857). Berbagai peninggalan baik kebudayaan, sistem sosial, ekonomi, politik, hukum, dan pemerintahan masih dapat ditelusuri pada masa sekarang. Dinasti Moghul adalah dinasti terakhir yang memerintah di India. Bagaimana perkembangan dinasti Moghul dan pengaruhnya bagi sejarah peradaban bangsa India? B. Munculnya Kerajaan Moghul Peletak dasar dinasti Islam di India adalah Kutbu’ddin Aibak (1206-1211), yang berhasil mendirikan kerajaan Islam di India yang merdeka.
3

5

Setelah

Irwan Suhanda (ed.). 2007. India Bangkitnya Raksasa Baru Asia, Calon Pemain Utama Dunia di Era Globalisasi. Jakarta: Kompas. 4 M Abdul Karim. 2003. Sejarah Islam di India . Yogyakarta: Bunga Grafies Production. Hlm. 12. 5 TSG Mulia. 1952. India Sejarah Politik dan Pergerakan Kebangsaan. Jakarta: Balai Pustaka. Hlm.40

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

89

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 merasa cukup kuat untuk mendirikan kekuasaan di India, pada tahun 1206 ia mendirikan Kesultanan Delhi di India yang berhasil dipertahankan hingga 1290. Dinasti keturunan Aibak sering disebut dinasti keturunan hamba-hamba raja, karena Aibak sendiri bukanlah keturunan raja. Sultan Balban adalah raja terakhir dinasti keturunan hamba-hamba raja. Dia tidak meninggalkan keturunan dan pemerintahan Kesultanan Delhi selanjutnya diambil alih oleh dinasti raja-raja keturunan Khilji (1290-1321), kemudian dilanjutkan raja-raja keturunan Tughlak (1321-1399), dinasti para Sayid (1414-1451), dan dinasti rajaraja keturunan Lodi (1451-1526), kemudian yang terakhir adalah dinasti Dinasti Moghul. Pergantian pemerintahan para raja yang berkuasa di Delhi tidak mulus begitu saja, tetapi sering terbentur pertumpahan darah dan saling menjatuhkan. Keturunan ketiga keluarga Lodi adalah Sultan Ibrahim Lodi (1517-1526) yang dianggap oleh beberapa pembesar kerajaan kurang cakap memerintah. Paman Ibrahim Lodi yang bernama Dhaulad Khan dan Alam Khan menjalin kerjasama dengan bangsa Mongol Sultan Babar dari Kabul (timur Afghanistan) untuk menjatuhkan Ibrahim Lodi. Kelompok Sultan Babur ini telah lama masuk Islam, dan mereka ahli dalam melakukan peperangan. Sultan Babar/Babur adalah seorang keturunan bangsa Turki (pihak ayah) dan bangsa Padang Pasir Lodi/ Jengis Khan (pihak ibu). 6 Sebagai seorang keturunan Mongol, Babar memiliki sifat bawaan pemberani dan ahli dalam perang. Ia berpandangan bahwa India akan berhasil dibangun menjadi imperium yang kuat mengingat kekayaan yang dimilikinya. Pada saat Babur berkuasa di Kabul, situasi di India sedang dalam masa kekacauan pada masa pemerintahan Ibrahim Lodi. Kesempatan ini sebagai pintu bagi Babur untuk merealisasikan impiannya memperluas imperium sampai di India. Sultan Babur segera menyiapkan pertempuran untuk menjatuhkan raja Lodi. Pada tahun 1526 terjadi pertempuran besar di kota Panipat. Sultan Ibrahim Lodi dapat dikalahkan oleh tentara Sultan Babur, dan berakhirlah kerajaan Delhi. Sultan Babar kemudian mendirikan kerajaan Moghul dan pemerintahannya terkenal dengan kerajaan Moghul selanjutnya? nama kesultanan Moghul dengan ibu kotanya di kota Agra. Bagaimana perkembangan pemerintahan

Tuti Nuriah Erwin. 1990. Asia Selatan dalam Sejarah. Jakarta : Lembaga Penerbit Universitas Indonesia. Hlm.37.
6

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

90

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 C. Perkembangan Politik Kerajaan Moghul 1. Pemerintahan Babur Kesultanan Moghul adalah Dinasti Islam yang terbesar dan terakhir di India. Setelah mengalahkan Ibrahim Lodi, Babur membangun stabilitas politik dan memperkuat angkatan perang serta melakukan penetrasi. Sampai tahun 1529 wilayah kekuasaan Moghul sangat luas mulai dari Turkestan sampai Teluk Bengala. Artinya daerah-daerah penting telah ada di bawah kekuasaan Moghul. Walaupun demikian Babur belum dapat dikatakan berhasil mengausai seluruh India. 2. Pemerintahan Humayun Pada tahun 1530 Babur meninggal meninggalkan dua putra yakni Humayun dan Kamran. Humayun naik tahta menggantikan ayahnya dengan menghadapi berbagai persoalan gerakan desintegrasi dan ancaman usaha menjatuhkan kekuasaannya termasuk dari saudaranya sendiri. Waktunya lebih banyak untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Ancaman paling berat adalah dari Afghanistan. Kekuatan besar disiapkan untuk menghadapi Sher Khan (dari Afghanistan) yang berusaha merebut Agra. Humayun sempat menyingkir dari Agra, dan dengan bantuan Shah Thomas dari Persia Humayun berhasil menguasai Kabul kembali, kemudian Agra juga berhasil direbut tahun 1555. Humayun mempunyai putra bernama Akbar yang lahir semasa pelarian (1542). Pada tahun 1556 Akbar menggantikan Humayun yang kemudian terkenal sebagai sultan yang gagah berani dan memiliki prestasi tinggi. 3. Pemantapan politik Sultan Akbar Sultan Akbar menghadapi persoalan kerajaan yang amat rumit. Dia berprinsip bahwa kekuatan negara terletak pada tentara dan administrasi 7. Berbagai gerakan desintegrasi dan ancaman penjatuhan kekuasaan masih besar di depannya. Diantaranya adalah keponakan Sultan Sher Shah bernama Sultan Muhammad Adil Shah yang bekerjasama dengan panglima bangsa Hindu bernama Hemu. Tetapi kemudian Hemu justru melakukan perlawanan sendiri dengan menobatkan diri sebagai Vikramaditya (gelar Chandragupta II yang mashur pada abad IV M). Upaya penggulingan Sultan Akbar gagal, bahkan kemudian Delhi dapat direbut kembali dan perluasan kekuasaan terus dilakukan dengan gemilang. Pada tahun 1576 Rajputana, Gujarat, dan Bengala

7

ODP Sihombing. 1953. India, Sejarah dan Kebudayaannya. Bandung: W. Van Hoeve.,

hlm.70.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

91

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 telah berhasil dikuasai Sultan Akbar. Dengan demikian pintu barat dan timur melalui laut di India telah dikuasai Sultan Akbar. Pada waktu naik tahta, Sultan Akbar baru berumur 13 tahun, sehingga kekuasaan kerajaan dipangku oleh wazir bernama Bairam Khan. Wazir ini pulalah yang menjadi guru Akbar sejak kecil sampai naik tahta. Setelah berusia 18 tahun, Akbar mulai melepas berbagai ketergantungan kepada orang lain. Upaya yang dilakukan Akbar adalah melepaskan diri dari berbagai orang, keluarga, dan bangsawan yang terlalu mempengaruhi dirinya. Akbar memiliki pemikiran ke depan untuk membangun India sebagai negara besar. Prestasi politik gemilang Sultan Akbar adalah keberhasilannya mempersatukan berbagai daerah di India dalam kesultanan Moghul. Usaha ini bukan hal yang mudah, mengingat pada masa tersebut masih berkembang beberapa kerajaan Hindu dan Islam yang merdeka. Kegigihan dan kegagahan pasukan perang Akbar akhirnya berhasil menaklukan satu demi satu berbagai kerajaan di India. Kegemilangan penguasaan dimulai dalam mematahkan gerakan perlawanan bangsa Rajput yang tidak mau tunduk pada kekuasaan Moghul. Dikisahkan bahwa dalam menundukkan perlawanan tersebut pasukan Moghul membutuhkan waktu 7 bulan menggempur benteng Chitor di Udaipur. Kekalahan bangsa Rajput pada masa tersebut ditandai oleh kejadian dramatis. Sisa-sisa pasukan Rajput melakukan perlawanan puputan (habis-habisan). Orang tua, wanita, dan anak-anak melakukan bunuh diri setelah pasukan Rajput tidak lagi mampu membendung pasukan Moghul. Setidaknya 30 000 korban tewas atau bunuh diri dalam pembasmian perlawanan bangsa Rajput. Keberhasilan awal Sultan Akbar diikuti oleh kegemilangan terhadap perluasan kekuasaan selanjutnya. Tahun 1573 Gujarat berhasil dikuasai kemudian disusul Bengala tahun 1576. Akbar telah berhasil menguasai daerahdaerah penting India. Menjelang wafatnya tahun 1605, kekuasaan Moghul semakin mantap. Akbar juga melakukan akomodasi dengan masyarakat Hindu dengan melakukan berbagai kebijakan seperti penghapusan Jizya dan Djazia, pelarangan penyembelihan sapi, bahkan mengangkat beberapa orang Hindu untuk menduduki menteri-menteri dan pimpinan pasukan 8. 4. Sultan Jahangir (1605-1628)

8

Richard Symons. 1951. Pembinaan Pakistan. Jakarta: Balai Pustaka.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

92

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 Salim , putra Akbar dinobatkan sebagai raja Moghul dengan gelar Sultan Nurud’din Muhammad Jahangir Pasha Ghazi. Jahangir kontras dengan bapaknya dalam menegakkan pemerintahan Moghul terutama dalam menghadapi kelompok Hindu 9. Dia menghadapi konflik luar biasa dengan

anaknya sendiri, sampai kemudian meninggal tahun 1627 menyisakan konflik kerajaan. Kedua putranya bernama Shah Jahan dan Azaf Khan sama-sama berhasrat menggantikan ayahnya. 5. Masa pemerintahan Sultan Shah Jahan (1628-1658) Shah Jahan akhirnya memenangkan persaingan untuk menggantikan Jahangir sebagai sultan Moghul. Pemerintahan masa Shah Jahan masih menghadapi berbagai gejolak dalam negeri dan ancaman perebutan kekuasaan dari negara-negara lain. Shah Jahan melanjutkan politik Sultan Akbar dengan melakukan penaklukan berbagai daerah untuk meredam pemberontakan dan memperluas kerajaan. Pada tahun 1636 dua kerajaan penting berhasil dikuasai yakni Ahmadnagar dan Bijabur 10. Pada saat perluasan kekuasaan permaisurinya yang bernama Mumtaz-i-Mahal, istri yang amat dicintainya meninggal pada saat perang. Shah Jahan begitu kehilangan istri yang amat cantik dan dicintainya. Peninggalan makam dan masjid Tajmahal yang saat ini merupakan salah satu 7 keajaiban dunia merupakan tanda kasih Shah Jahan kepada istrinya. Shah Jahan memiliki putra bernama Aurangzeb yang diberi kekuasaan di Decaan. Aurangzeb berhasil membuat stabilitas di Decaan terutama dalam menghadapi kekuatan kerajaan Hindu yang masih berusaha menolak kekuasaan Islam.. Persaingan paling kuat adalah antara Aurangzib dengan Dara Sikhoh. Dalam persaingan tersebut Aurangzib berhasil mengalahkan Dara Shikoh, dan mengambil alih kekuasaan Sultan Moghul tahun 1658. Sementara selama 7 tahun Shah Jahan menghabiskan waktunya di dalam benteng Agra hingga wafat menjemputnya. Shah Jahan, raja yang berambisius telah meninggalkan berbagai bangunan penting pada masa kesultanan Moghul yang menandai kebesaran kebudayaan kerajaan Moghul. 6. Pemerintahan Aurangzib Alamgir dan upaya mengembalikan kebijakan jizya (1659-1707) Sultan Aurangzib Alamgir (penakluk dunia) dinobatkan di Delhi tahun 1659 segera melakukan kontrol keamanan dalam negeri dengan mamantapkan kembali kekuasaan di Decaan. Usahanya tidak sia-sia dengan semakin
9

10

ODP Sihombing., Op .cit., hlm.72 TSG Mulia. Op. cit., hlm.53

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

93

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 banyaknya wilayah yang dikuasai. Tahun 1685 kerajaan Bijabur tunduk, disusul Golkonda tahun 1687, Tanjore dan Trichinopoly tahun 1689.
11

Aurangzib

berhasil memperluas kekuasaan di India secara utuh melebihi daerah yang berhasil ditaklukan Sultan Akbar. Tinggal bangsa Maratha yang belum benarbenar bisa ditaklukan Aurangzib. Perlawanan bangsa Maratha merupakan ancaman paling berat pada masa-masa selanjutnya. Sampai Aurangzib wafat tahun 1707 bangsa Maratha masih memberikan perlawanan sengit terhadap kesultanan Moghul. Tahun 1707 merupakan akhir pemerintahan Aungrazib yang tutup mata pada usia 90 tahun. Kekuasaan Aungrazib merupakan antiklimaks pemerintahan Moghul di India. Masa sesudahnya, kekuasaan Moghul terus mengalami kemunduran. Konflik saudara dari anak-anak Aungrazib menyebabkan kekuatan negara kian keropos. Apalagi pada masa pemerintahan Aungrazib, bangsa-bangsa Barat sudah giat melakukan perjalanan ke timur. Inggris adalah salah satu bangsa barat yang berhasil menduduki Surat, pelabuhan di Gujarat pada masa pemerintahan Aungrazib. Inilah cikal bakal kolonialisme dan imperialisme Barat di India yang akan mempengaruhi babak baru perjalanan sejarah bangsa India. Aungrazib menghidupkan kembali jizya yang pernah dicabut oleh Sultan Akbar, dan melakukan sikap keras terhadap orang-orang Hindu 12.

7. Dinasti Moghul pasca pemerintahan Aurangzib (1707-1857) Setelah meninggalnya Aurangzib situasi Dinasti Moghul semakin menunjukkan tanda-tanda keruntuhan, sementara kelompok Maratha justru menunjukkan kekuatannya baik dalam menggalang kekuatan maupun luas wilayah. 13 Tiga keturunan Aungrazib yakni Muazzam, Azzam, dan Kambakhsh saling berselisih memperebutkan warisan dinasti kerajaan. Muazzam ternyata lebih kuat dan berhasil menobatkan diri sebagai penerus Moghul dengan gelar Sultan Bahadur Shah/Muhammad Syah (1707-1712 M). Kepemimpinan Sultan Bahadur Shah menghadapi keadaan kerajaan yang sulit untuk dikendalikan. Beberapa pemberontakan menggoyang eksistensi Moghul, termasuk

Ibid., hlm.59 Amal Hamzah.1952. Dunia Sekitar Kita, Pakistan Sebuah Negara Islam Muda. Jakarta: Djambatan. Hlm.19 13 Madjumdar, R.C., 1963. The Sepoy Mutiny and the Revolt of 1857, 2th edition. Calcutta: Firma K.L. Mukhopadhyay. Hlm.1.
11 12

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

94

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 pemberontakan kaum Sikh sebagai kelompok ‘agama’ baru yang merupakan sinkritisme Hindu dan Islam. Secara politik sampai dengan keruntuhannya, kesultanan Moghul tinggal berusaha mempertahankan eksistensinya. Para sultan yang berkuasa tidak mampu menyatukan kerajaan. Kerajaan-kerajaan berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Moghul. Konflik keluarga kerajaan terus memperlemah kekuasaan dan mendorong gerakan desintegrasi terus menjalar. Sepeninggal Sultan Bahadur Shah (1712) terjadi perebutan kekuasaan oleh empat putranya. Jahamdar Shah berhasil naik tahta kerajaan selama 11 bulan, karena pada tahun 1713 ia dibunuh keponakannya bernama Farukhsiyar yang kemudian berhasil naik tahta hingga tahun 1719. Para sultan yang memerintah sampai dengan tahun 1761 adalah Sultan Muhammad Shah, Ahmad Shah, dan Alamgir II. Sementara kerajaan-kerajaan merdeka terus berdiri sendiri seperti Hydrabad, Quth, dan Bengala. Dengan begitu kekuataan kesultanan Moghul semakin lemah. Bangsa Maratha adalah kelompok yang paling diuntungkan dengan situasi demikian. Mereka juga telah berhasil membangun kekuatan dan sistem pemerintahan yang lebih rapi. Sedikit-demi sedikit daerah yang dahulu dikuasai kesultanan Moghul direbutnya, seperti Gujarat dan Malwa. Pada tahun 1758 Punjab telah berhasil dikuasai Maratha, yang artinya Delhi sebagai pusat kekuasaan Moghul tinggal menunggu waktu saja. Dalam keadaan yang semakin kacau, para raja Islam mulai sadar untuk melakukan persatuan melawan Maratha. Para raja Islam bersekutu dan meminta bantuan Sultan Ahmad Shah Durrani dari Afghanistan. Pada tahun 1760 Maratha telah menyerang Delhi dan terus bergerak ke utara. Pada tahun 1761 pecah pertempuran di dekat kota Panipat antara pasukan Maratha dengan pasukan gabungan kerajaan Islam India dan tentara Sultan Ahmad Shah Durrani. Tentara Maratha tidak kuasa menghadapi gabungan tentara Islam yang sangat tangguh. Sebanyak 200.000 tentara Maratha tewas dari seluruhnya yang berjumlah 300.000. Perang tersebut merupakan klimaks perlawanan Maratha terhadap kerajaan Islam di India, karena mereka tidak lagi berani mengusik kekuasaan Moghul di India. Keberhasilan menangkis perlawanan bangsa Maratha tidak serta merta membawa dinasti Moghul dalam kejayaan kembali. Kerajaan-kerajaan Islam yang semula bergabung melawan Maratha kembali melakukan rutinitasnya
ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008 95

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 sebagai kerajaan yang berdiri sendiri. Tidak ada upaya nyata dalam menyatukan berbagai kerajaan tersebut. Dinasti Moghul tetap masih ada, tetapi layaknya sebagai macan ompong yang tidak lagi memiliki wibawa. D. Berbagai peninggalan Dinasti Moghul 1. Sistem Politik dan Ekonomi. a. India sebagai negara merdeka Kebesaran dinasti Moghul tidak hanya ditunjukkan luasnya daerah yang disatukan dalam satu imperium, tetapi juga berbagai pembaharuan sistem politik. Apabila dicermati, penetrasi politik Islam pada masa sebelum dinasti Moghul masih memiliki ikatan kuat dengan dinasti Islam di Asia Barat. Dinasti Moghul dengan raja pertamanya Kutbu’ddin Aibak telah mendirikan dasar pemerintahan Islam secara merdeka di India, lepas dari kesultanan di Asia Barat. Hal ini sebagai hal yang unik mengingat wilayah Asia Selatan (India) bergandengan langsung dengan wilayah Asia Barat, walaupun secara geografis dipisahkan oleh pegunungan yang sulit dilalui. Sebagai sebuah negara, wilayah kesultanan Moghul mencapai wilayah terluas di India sepanjang sejarah sejajar dengan masa pemerintahan Ashoka. b. Pembagian wilayah kerajaan Kerajaan Moghul memiliki pemerintah pusat yang beribukota di Delhi, sedangkan wilayah-wilayah di bawahnya identik dengan sistem propinsi dengan raja muda yang mengepalainya. Hal ini sebagai bentuk langsung pengaruh sistem pemeintahan Islam di Asia Barat. Gelar Sultan juga sebagai bentuk nyata pengaruh sistem politik Islam di Asia Barat. Walaupun secara politik kerajaan Moghul tidak memiliki ikatan secara langsung, tetapi hukum Islam yang diterapkan di berbagai kerajaan Islam memiliki peran kuat dalam sistem pemerintahan Moghul. Sebagai bentuk dinasti, kerajaan Moghul memiliki kelemahan seperti halnya sistem kedinastian lain. Dalam kerajaan berbentuk dinasti, penguasa tertinggi dilakukan turun-temurun. Akibatnya keadaan kerajaan sangat tergantung pada kecakapan seorang raja dalam memerintah. Hal ini dapat dilihat dalam perjalanan sejarah kerajaan Moghul. Sultan Akabar dapat dinilai sebagai raja yang cakap dalam memantapkan stabilitas pemerintahan dan melakukan akomodasi berbagai kekuatan politik yang menyebabkan perpecahan. c. Sumber pendapatan negara

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

96

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 Pajak merupakan salah satu sumber utama keuangan kerajaan. Pada masa pemerintahan Islam di India jizya diterapkan sejak pemerintahan Dinasti Taghluk (1321 – 1388). Jizya adalah pajak kepala untuk orang-orang non muslim. Sementara untuk orang Islam zakat merupakan bentuk pajak menurut syariat Islam. Dengan demikian pada dasarnya baik muslim maupun non muslim memiliki tanggungjawab sama dalam masalah pajak. Kaum non muslim tetap mendapat perlindungan dari kerajaan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari maupun dalam menjalankan ibadahnya. Pada masa Sultan Akbar, jizya ini dihapuskan dan digantikan dengan pajak tanah. Dengan dibantu seorang Hindu bernama Raja Todar Mall Sultan Akbar menerapkan pajak tanah yang nilainya disesuaikan dengan tingkat kesuburan dan luas tanah 14. diberlakukan. 2. Perubahan Sosial Semenjak Islam masuk ke India, pengaruh mendasar yang utama adalah masalah penghapusan kasta yang telah mendarah daging ratusan tahun lamanya. Islam tidak mengenal kasta, sehingga oleh sebagian masyarakat Islam di India terutama pada kasta rendah, kedatangan Islam disambut dengan senang hati. Dampaknya adalah terjadinya transformasi sosial karena kesetaraan penduduk dalam memperoleh akses ekonomi dan untuk bagian tertentu adalah menjadi pegawai pemerintah dan tentara. Perubahan menonjol lainnya adalah masalah kesetaraan gender. Keberadaan kaum wanita yang selama ratusan tahun menjadi kelompok kelas dua terangkat oleh masuknya Islam di India. Upacara Sati (menceburkan diri ke api seorang perempuan dalam pembakaran mayat suaminya) terus terkikis oleh pengaruh Islam di India. Namun demikian bukan berarti upacara Sati ini terhapus begitu saja di India. Sampai dengan abad XX upacara Sati masih dilakukan oleh sebagian masyarakat India. Kedatangan Islam di India memang menjadi pencerahan bagi kaum lemah seperti yang diungkapkan Hunter dalam Rychard Symonds 15; Bagi orang-orang melarat ini nelajan-nelajan, pemburu-pemburu, perompakperompak dan pembadjak-pembadjak tanah, dari kasta rendah, Islam datang sebagai kurnia dari langit. Ia merupakan kepercayaan dari kaum yang memerintah ....”
14
15

Pada masa Aurangzib

jizya kembali

TSG Mulia. Op.cit.,hlm.48. Rychard Symonds. Op.cit., hlm.19

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

97

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 Kisah yang cukup menarik adalah munculnya empat ratu (raja perempuan) di kerajaan Bhopal yang melepaskan diri dari Mohul abad XIX. Salah satu dari keempat ratu tersebut adalah Syahjihan Begum (1868-1901) yang menikah dengan seorang ulama besar Maulvi Sayid Muhammad Shadieq Hasan Kan. 16 Tidak bisa dipungkiri bahwa pengaruh Islam di India telah mengangkat jutaan kaum tertindas dari kasta rendah. Namun di sisi lain kedatangan Islam menyebabkan kemunduran kebudayaan Hindu yang telah berlangsung berabad-abad sebelum Masehi. Bahkan beberapa sikap raja Muslim kadang menyakitkan sebagian masyarakat Hindu. Hal ini tentu bukan disebabkan oleh ajaran Islam itu sendiri, tetapi oleh sikap dan karakter individu raja tersebut. Sebagai contoh adalah kebijakan yang dilakukan Aurangzib dalam memperlakukan masyarakat Hindu. Misalnya ia melarang pembangunan kuil-kuil untuk orang Hindu dan pemberlakuan pajak lebih berat pada masyarakat Hindu. 17 Hal ini sebagai salah satu penyebab semakin memudarnya kewibawaan kesultanan Moghul. 3. Seni dan Bangunan a. Karya Sastra Berbagai karya sastra banyak muncul di India pada masa Dinasti Moghul. Dalam syariat Islam tidak ada pemisahan antara politik dan ibadah, antara imam dan pemimpin pemerintahan. Tiap sendi kehidupan manusia terintegrasi dalam nilai-nilai agama. Pemimpin kerajaan bukan sekedar melaksanakan roda pemerintahan, tetapi sekaligus sebagai imam yang berpengetahuan keagamaan tinggi dan pantas diteladani. Tidak heran bila karya seni dan sastra yang muncul tidak sebatas ditulis para ulama, tetapi juga para raja. Pada masa raja Akbar riwayat dan pemikiran Sultan Akbar ditulis oleh filosof Abul Fazl dengan judul A’ini Akbari dan Akbar-nama. Dua kitab tersebut ditulis dalam bahasa Persi dan kini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris. Akbar adalah sosok pemimpin yang berusaha menyatukan dua kekuatan penting di India yakni Islam dan Hindu. Maka beliau terkenal dengan ajarannya Din-Illahi yang hendak dijadikan agama kerajaan. Beliau
H Zainal Abidin Ahmad. 1979. Ilmu Politik Islam V. Sejarah Islam dan Umatnya Sampai Sekarang (Perkembangannya dari zaman ke zaman). Jakarta: Bulan Bintang. 17 Tuti Nuriah Erwin, Op. cit., hlm. 42.
16

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

98

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 juga mengambil permaisuri seorang Hindu sehingga sebagian ada yang menyangsikan kehidupan Islam Sultan Akbar. Toleransinya sangat dikenal bahkan memberi kebebasan para misionaris Barat untuk menyebarkan agama Kristen di India. Raja Jahangir juga meninggalkan karysa satra dengan menulis riwayat hidupnya dalam kitab Tzuk-i-Jahangiri. Abdul Hamid Lahori, seorang sejarawan pada masa Shah Jahan menulis riwayat hidup Shah Jahan dalam kitab Padchah Nama. b. Bangunan Sultan Akbar tidak hanya terkenal sebagai raja yang disegani karena keberaniannya dalam peperangan. Pemerintahan beliau juga meninggalkan berbagai bangunan penting seperti bangunan masjid dan istana di kota Agra. Pada tahun 1636 Sultan Shah Jahan berhasil menguasai dua kerajaan penting berhasil dikuasai yakni Ahmadnagar dan Bijabur. Pada saat perluasan kekuasaan tersebut permaisurinya Mumtaz-i-Mahal meninggal tahun 1631. Begitu cintanya pada istrinya, Shah Jahan mengenangnya dengan membuat mega proyek makam Mumtaz Mahal yang artinya mutiara istana yang dibangun tahun 1631-1648 dengan melibatkan 20.000 pekerja 18. Bangunan makam tersebut dilengkapi dengan masjid dan taman dengan arsitek tinggi. Kemashurannya sampai di penjuru benua, dan saat ini merupakan salah satu keajaiban dunia. Shah Jahan juga telah membuat rencana bangunan makam untuk dirinya yang rencananya tidak kalah indahnya dengan Mumtaz Mahal. Tetapi wasiat itu tidak dilaksanakan penggantinya Aurangzib yang tidak menyukai kemegahan bangunan. Jenazah Shah Jahan dimakamkan berdampingan dengan istri tercintanya Mumtaz Mahal. Shah Jahan juga meninggalkan berbagai bangunan indah dan megah lainnya seperti Masjid Ja’mi, Istana Shah Jahanabad, Masjid Mutiara di Agra, Dewan di Delhi, Agra, dan Lahore merupakan kekhasan bangunan dengan kreasi tinggi perpaduan arsitek Persia dan India. Aurangzib, walaupun tidak meninggalkan bangunan sebesar masa Shah Jahan, tetapi juga membangun masjid Badshahi di Lahor dan Pearl Mosque di Delhi, walaupun kecil tetapi berninai arsitek tinggi dan kemewahan bangunan. 19
Ruslan dan Feby Nurhayati. 2007. Di Balik Pesona Tujuh Keajaiban (Baru) Dunia. Yogyakarta: Ombak. 19 http://www.indialife.com/history/themughal, diakses tanggal 12 Oktober 2008
18

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

99

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 4. Perkembangan kepercayaan dan aliran keagamaan Masuknya Islam di India bukan tidak menimbulkan masalah konflik kepercayaan. Hal ini sangat wajar mengingat di wilayah tersebut berkembang dua agama besar terutama Hindu dan Islam. Sikap para penguasa Islam yang berusaha membuat keadilan dalam menjalankan Upaya melakukan akomodasi kedua agama ini ibadah kadang sulit dilakukan oleh munculnya berbagai kecurigaan dan kesalahpahaman politik. pernah dilakukan oleh Sultan Akbar dengan melahirkan ajaran baru Din Illahi tahun 1582 20, namun tidak mendapat respon positif dari para ulama Islam. Akbar juga memperistri seorang Hindu dengan maksud menghilangkan pertentangan dua pemeluk agama terbesar di India tersebut. Islam dan Hindu yang kadang memunculkan pertentangan tersebut kemudian mendorong munculnya aliran kepercayaan baru yang kemudian berkembang menjadi salah satu agama besar di India. Pada abad XV muncul agama Sikh yang merupakan sinkritisme Islam dan Hindu dengan pemimpinnya yang terkenal dengan sebutan Guru Nanak (1469-1539). Sikh (artinya murid) terus berkembang, dan guru Nanak laksana sebagai Rasul yang kemudian dilanjutkan oleh guru-guru selanjutnya sampai guru ke sepuluh yakni Guru Govind Singh (1675-1708). Agama Sikh terus berkembang dan mendapat tentangan baik umat Islam maupun Hindu. Lambat laun penganut Sikh membuat kelompok tersendiri dan berhasil membangun kekuatan baru di Asia Selatan. E. Indian Mutiny 1857 dan Runtuhnya Dinasti Moghul Masuknya bangsa-bangsa Barat ke India telah menambah konflik semakin rumit untuk diselesaikan Dinasti Moghul. Inggris berhasil membuka pintu timur, yakni di Selat Benggala, ditandai pada tahun 1764 Gubernur Benggala sebagai pintu masuk India ditundukkan Inggris yang. Sejak saat itulah penetrasi bangsa Barat semakin merangsek ke berbagai pelosok India. Walaupun demikian, secara formal keberadaan Dinasti Moghul masih ada hingga tahun 1857, ketika Sultan Bahadur Shah yang berkuasa masa tersebut dijadikan simbol perlawanan/pemberontakan terhadap Inggris yang terkenal

. Schulberg, Lucille (ed.). 1983. India yang Bersejarah, terj.Tira Pustaka, ( judul asli: Historic India). Jakarta: Tira Pustaka. Hlm.162.
20

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

100

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 dengan nama “Pemberontakan Sepoy, Sepoy Mutiny, atau The First War of India Independence”. F. Kesimpulan Peletak dasar dinasti Islam di India adalah Kutbu’ddin Aibak (12061211), yang berhasil mendirikan kerajaan Islam di India yang merdeka. Raja-raja terbesar dari dinasti Moghul adalah Sultan Akbar, Sultan Shah Jahan, dan Sultan Aurangzib. Sultan Akbar terkenal sebagai raja yang berusaha melakukan akomodasi politik dan kultur atas kekuasaan Islam dan masyarakat Hindu di India. Di bawah kepemimpinannya Moghul berhasil berkembang menjadi dinasti yang besar. Sultan Shah Jahan terkenal dengan peninggalannya dalam seni dan bangunan. Makam Tajmahal sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia saat ini merupakan salah satu bangunan peninggalan masa pemerintahannya. Sementara Sultan Aurangzib sebagai pemimpin yang berhasil mengembangkan kekuasaan Dinasti Moghul sehingga memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas. Generasi sesudah Aurangzib gagal membangun kesatuan kerajaan, hingga akhirnya Mogul terpecah menjadi beberapa kerajaan yang berdiri sendiri. Bersamaan melemahnya Moghul, bangsa-bangsa Barat terus melakukan penetrasi di India. Akhirnya Inggris berhasil menjadi negara yang paling berkuasa di India hingga tahun 1947. Pemberontakan Serdadu India/Sepoy Mutiny/India Mutiny yang gagal menandai berakhirnya Dinasti Moghul. Sultan Bahadurshah diasingkan ke Birma, dan kesultanan Moghul dihapus, pemerintahan di India diambil alih oleh Inggris. DAFTAR PUSTAKA Abu Su’ud. 1988. Memahami Sejarah Bangsa-bangsa Asia Selatan Sejak Jaman Purba sampai Kedatangan Islam. Jakarta: Depdikbud PPLPTK. Amal Hamzah.1952. Dunia Sekitar Kita, Pakistan Sebuah Negara Islam Muda. Jakarta: Djambatan. H Zainal Abidin Ahmad. 1979.Ilmu Politik Islam V. Sejarah Islam dan Umatnya Sampai Sekarang (Perkembangannya dari zaman ke zaman. Jakarta: Bulan Bintang. Irwan Suhanda (ed.). 2007. India Bangkitnya Raksasa Baru Asia, Calon Pemain Utama Dunia di Era Globalisasi. Jakarta: Kompas

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

101

Perkembangan dan Peninggalan Dinasti Moghul di India 1525-1857 Madjumdar, R.C., 1963. The Sepoy Mutiny and the Revolt of 1857, 2th edition. Calcutta: Firma K.L. Mukhopadhyay. M Abdul Karim. 2003. Sejarah Islam di India. Yogyakarta: Bunga Grafies Production. ODP Sihombing. 1953. India, Sejarah dan Kebudayaannya. Bandung: W. Van Hoeve., Richard Symons. 1951. Pembinaan Pakistan. Jakarta: Balai Pustaka Schulberg, Lucille (ed.). 1983. India yang Bersejarah, terj.Tira Pustaka, judul asli:Historic India. Jakarta:Tira Pustaka. TSG Mulia. 1952. India Sejarah Politik dan Pergerakan Kebangsaan.Jakarta: Balai Pustaka. Tuti Nuriah Erwin. 1990. Asia Selatan dalam Sejarah. Jakarta : Lembaga Penerbit Universitas Indonesia. Internet : “Ancient India: The Mughal, an Introduction to the Mughal Dynasty and Mughal Agra” dalam http://www.indialife.com/history/themughal, diakses tanggal 12 Oktober 2008 Tentang Penulis: Supardi Menyelesaikan pendidikan S1 dari Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS IKIP Yogyakarta pada tahun 1997. Sementara S2 pada Program Studi PIPS Universitas Negeri Yogyakarta diselesaikan pada tahun 2007. Kegiatan akademik yang dilakukan antara lain: seminar, menulis, dan membimbing mahasiswa. Saat ini mengampu mata kuliah: Sejarah Asia Selatan, Strategi Pembelajaran Sejarah dan Pendidikan IPS.

ISTORIA Volume VI Nomor 2 April 2008

102

ISTORIA Volume VI No. 2 2008
PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL ISTORIA

1. Redaksi menerima naskah berupa hasil pemikiran, analisis ilmiah, kajian teori, maupun hasil penelitian bidang sejarah dan pendidikan sejarah. 2. Naskah dapat disajikan dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. 3. Naskah belum pernah diterbitkan oleh media lain, baik media cetak

maupun elektronik. 4. Panjang tulisan berkisar antara 10-25 halaman dalam kertas ukuran A4 dengan spasi ganda. 5. Naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Inggris, bila naskah ditulis dalam bahasa Indinesia, dan dalam bahasa Indonesia bila naskah ditulis dalam bahasa Inggris. Abstrak disertai dengan kata kunci yang merupakan variabel dalam naskah. 6. Sistematika penulisan sebagai berikut: a. Judul b. Abstrak disertai kata kunci c. Pendahuluan d. Isi atau pembahasan e. Penutup dan simpulan f. Daftar pustaka g. Biodata penulis 7. Penulisan referensi menggunakan catatan kaki (foot note). 8. Redaksi berhak mengedit tata bahasa maupun naskah yang dimuat tanpa mengurangi maksud dan tujuan tulisan. 9. Isi tulisan merupakan tanggung jawab penulis sepenuhnya.

103

ISTORIA Volume VI No. 2 2008
10. Naskah dikirim kepada redaksi Istoria rangkap 2 dalam format print out yang disertai soft copy dala format CD, disket, atau media lainnya. 11. Kepada penulis yang naskahnya dimuat akan diberikan 2 eksemplar jurnal sebagai bukti. 12. Naskah yang tidak dimuat dikembalikan kecuali disertai dengan perangko secukupnya. 13. Naskah dikirimkan kepada redaksi paling lambat 2 bulan sebelum penerbitan.

104

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->