1 | S y a r a h , K r i t i k & T a k h r i j H a d i t s

Qaidah Tasyri¶
Oleh : Safrudin, S.Ag.

I. Pendahuluan
Al-Qur'an berulang kali memerintahkan kaum mukmin agar taat kepada
Allah dan Rasul-Nya. Bahkan ketaatan kepada Allah tidak akan terlaksana dengan
benar tanpa mengikuti petunjuk dari Hadits Nabi saw. Oleh sebab itu yang
menyatakan beriman dan taat kepada Nabi sudah pasti dia akan beriman dan taat
kepada Allah, tetapi orang yang menyatakan beriman dan taat kepada Allah belum
tentu beriman dan taat kepada Nabi. Inilah di antara kadungan makna firman
Allah dalam surat An Nisa : 80 :
¬´ÿ ´´´´´· ´X¬´´´MOBb ´Pl´
´´B´"0 ´äBb P ¬´ÿ." Pß´l.¬V äB´o´
´Ó´×o´1´´´H"0 ´ò´·´T`1´´ B1´T´´´=
´´´´
Artinya : Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati
Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami
tidak mengutus untuk menjadi pemeliharan untuk mereka (QS. An-Nisa
: 80)

Atas dasar itu, kaum muslimin mengimani kewajiban mentaati Rasul Allah
sebagai salah satu pondasi dasar dalam ber-Islam secara benar. Mentaati Rasul
wajib sepanjang zaman, tidak hanya sewaktu beliau hidup dan tidak hanya bagi
mereka yang hidup bergaul langsung dengan Rasulullah. Karena mengimani dan
mentaati Rasul hakikatnya mengikuti ajarannya dan menteladani seluruh
perbuatan serta ucapannya (3:31). Dengan demikian, bagi mereka yang hidup
tidak berjumpa atau hidup sepeninggal Nabi, mentaati Nabi berarti mentaati
semua ajaran dan berita yang datang dari Nabi yang diriwayatkan dengan benar
dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiyah. Semua yang diriwayatkan dari
Nabi, baik itu perkataan, perbuatan, persetujuan dan sifat-sifat beliau, itulah yang
kemudian dalam tradisi ilmu Islam dinamakan dengan Hadits, atau Sunnah atau
Khabar. Oleh karena itu, kaum muslimin mengimani kewajiban mengamalkan
Hadits yang sahih sebagaimana kewajiban mengamalkan ayat Al-Qur'an.
1

II. Batasan Tasyri'
Pada paper ini penulis tidak akan mengulas tentang pengertian Hadits
mengingat pembahasan seputar batasan atau definisi hadits sudah berulang-ulang
dalam beberapa paper yang sudah disampaikan oleh teman-teman. Maka penulis
menggunakan istilah Hadits, Sunnah dan Khabar dalam pengertian yang sama,
yaitu segala hal yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad saw. berupa perkataan,

1
Juhaya S Praja, Ringkasan Sejarah Filsafat Hukum Islam, (Bandung: UNISBA, 2009)
2 | S y a r a h , K r i t i k & T a k h r i j H a d i t s

perbuatan, dan persetujuan beliau. Namun penulis memandang perlu untuk
menjelaskan terlebih dahulu pengertian atau batasan dari tasyri' sebelum dikaji
kaitan dan kedudukan Hadits dalam tasyri'.

Tasyri' secara bahasa diambil dari kata dasar syir'ah atau syarî'ah yang arti
asalnya adalah masyra'atul mâ-a ya'ni mauridul mâ-a = sumber air atau mata air.
2

Karena adanya sumber atau mata air itulah orang berdatangan ke tempat tersebut
secara rutin dan bergantian sehingga membentuk jalan. Kemudian istilah syariat
bergeser dari arti "sumber air" menjadi "jalan menuju sumber air" tersebut.
Penggunaan kata "jalan" dalam bahasa Arab dapat berarti jalan dalam makna asli
(hakiki) yang bersifat fisik materil yang dapat dicapai indra manusia seperti jalan
yang biasa ditempuh musafir di tanah atau dipadang pasir, dan jalan dalam
pengertian secara metaforis (majazi) yang bersifat abstrak, seperti suatu ajaran
atau tuntunan petunjuk kehidupan. Maka agama disebut "syir'ah" dan "syari'ah"
karena ia ajaran atau tuntunan laksana jalan yang harus ditempuh manusia menuju
kebenaran, menuju Tuhan dan menuju kebahagiaan hidupnya. Sebagaimana jalan
yang ditempuh untuk menuju mata air. Jalan agama itu tiada lain adalah ajaran
dan hukum yang terkandung didalamnya. Jalan agama Islam terbentuk dari dua
sumber yaitu Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunnah Rasulullah (Al Hadits yang
sahih). Maka apa yang digariskan keduanya melahirkan syariat. Proses
pembentukan jalan disebut tasyri'. Maka istilah tasyri' dalam konteks ini
bermakna "proses dan cara pembentukan syari'at".
Syari'at Islam mencakup hukum-hukum I'tiqâdiyat, Akhâq, dan A'mal.
I'tiqadiyat adalah syariat Islam yang terkait dengan amalan hati tentang apa yang
harus diimani dan diingkari seorang mukmin. Akhlaq adalah syariat tentang
kemuliaan budi pekerti dan kesucian jiwa. A'mal adalah syariat Islam yang
mengatur tentang perbuatan jasadiyah manusia. A'mal manusia itu terbagi pada
dua katagori; ibadah dan mu'amalah. Ibadah dalam pengertian khusus yaitu
upacara ritual menyembah Allah semisal shalat, shaum, haji, dzikir, dan do'a.
muamalah adalah ibadah dalam pengertian luas mencakup interaksi manusia
dengan sesamanya. Hukum syariat dalam muamalah mencakup beberapa aspek:
1. Hukum al-Ahwâlusyahshiyah. Yaitu hukum syariat yang mengatur muamalah
manusia dalam lingkup rumahtangga dan keluarganya seperti perkawinan,
perceraian, hak dan kewajiban suami-istri, dan pengasuhan anak.
2. Hukum al Madaniyah. Yaitu hukum syariat yang mengatur muamalah manusia
dengan sesamanya yang berkaitan dengan perikatan dan transaksi-transaksi jual
beli, pinjam-meminjam, sewa-menyewa, dan perjanjian-perjanjian kerjasama.
3. Hukum al Jinâiyah. Yaitu hukum syariat yang mengatur sanksi fisik atas
pelanggaran dan kejahatan terhadap jiwa, harta, dan kehormatan manusia.
Seperti hukuman pembunuhan, pencurian, peminum khamar, pezina dan
penuduh zina

2
Muhammad bin Mukrim bin Mandhur Al Afriqy, Lisânul Arab, (Beirut: Dar al Shadir, tt), vol.
VII, hal 175
3 | S y a r a h , K r i t i k & T a k h r i j H a d i t s

4. Hukum al Murâfaat. Yaitu hukum syariat yang mengatur tatacara peradilan,
pengajuan gugatan, penyelidikan, penetapan dan pelaksanaan vonis hukuman.
5. Hukum al Dusturiyah. Yaitu hukum syariat yang mengatur tentang kekuasaan,
pemimpin, rakyat, dan hak-hak warga negara.
6. Hukum al Duwaliyah. Yaitu hukum syariat yang mengatur tentang interaksi
antar bangsa, hukum perang dan damai.
7. Hukum al Iqtishadiyah. Yaitu hukum syariat yang mengatur pengelolaan dan
pengembangan harta kekayaan individu, negara dan masyarakat.
3


Semua hukum syariat tersebut di atas bersumber dari al-Qur'an dan al-
Hadits. Artinya bahwa cakupan hukum yang terkandung dalam al-Hadits sama
dengan apa yang terkandung dalam al-Qur'an. berkaitan dengan bagaimana
kedudukan al-Qur'an dalam hukum Islam serta bagaimana metode pensyariatan
hukum al-Qur'an telah banyak dibahas dalam ilmu tafsir dan ushul fikih. Maka
pada paper ini akan dikemukakan tentang kaitan Hadits dengan Tasyri'.
III. Hadits dalam Tasyri'
a. Kehujahan Hadits
Yang dimaksud dengan tasyri¶ adalah menetapkan ketentuan syari¶at
Islam atau hukum Islam. Hukum Islam adalah Firman syari¶ yang berhubungan
dengan perbuatan orang mukalaf, yang mengadung tuntutan, membolehkan
sesuatu atau menjadikan sesuatu sebagai syarat adanya yang lain.
4

Sebagaimana telah disinggung sepintas pada muqadimah bahwa dapat
dipastikan seluruh kaum muslimin mengimani wajibnya mentaati Rasulullah.
Manifestasi dari mentaati Rasulullah adalah mentaati ajarannya yang disampaikan
kepada kita lewat jalur periwayatan yang benar. Kewajiban mentaati Rasulullah
itu berdasar tiga sumber dalil utama kaum muslimin. Yaitu Al-Qur'an, Al-Hadits,
dan Ijma'. Ayat-ayat Al-Qur'an yang dijadikan dalil tentang wajibnya mengikuti
Sunah Rasulullah di antaranya:
B÷´P"0´´´· ´´´´C´äBb Pb´¬´o´ÿb.´
Pb¬´´M´´"0 ´äBb Pb¬´´M´´"0."
´X¬´´´MOBb ß´l0"´0." ´Ø´o1.Bb ´ó´N1´ÿ
P ´´T´ ´/´´´´´´´.1V ß´´ 0´´´A´
´`"´T´M´ ß`l´l ´äBb ´X¬´´´MOBb."
´´l ´/´´o´H ´´¬´1´ÿ´´V ´äBB´)
´ó´¬.M´OBb." ´M´.1´Bb P ´Ó´O´ß
´M´M´. ´¬÷´´="0." ´A·´"´0V
Artinya : Wahai orang-orang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah
kepada Rasul dan pemimpin di antara kalian. Jika kalian berselisih
faham dalam sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dna Rasul -Nya

3
Abdul Wahhab Khalaf, Ilmu Ushul Al Fiqh, (Kairo: Maktabah Da'wah Al Islamiyah, 1959),
hal.32-33
4
Endang Soetari, Ilmu Hadits Kajian Riwayah & Diroyah, Mimbar Pustaka, Bandung 2008
4 | S y a r a h , K r i t i k & T a k h r i j H a d i t s

jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian itu
lebih baik dan sebaik-baik akibatnya. (An Nisaa : 59)
´A´ ´Ó´`).H." ´N ´.¬´o´ÿ´´·
P´´/´= Aq¬´o´&N´´· B´oT´´ ´M´A´
´ó´·×o´×´) ´ò´ó ´N Pb"´P´·´ ´ß´´
´ò´´´´´ò"0 C3¬´M´= B´o´.ÿ
÷6´T´´C Pb¬´o´÷1÷´´·." BdoT´1´´`V

Artinya : Maka demi Tuhanmu, tidaklah mereka beriman sehingga meminta
keputusan hukum kepadamu tentang apa-apa yang mereka
perselisihkan di antara mereka kemudian mereka tidak merasa
keberatan atas apa yang kamu putuskan dan mereka tunduk setunduk-
tunduknya (An Nisa : 65)

¬´ÿ ´´´´´· ´X¬´´´MOBb ´Pl´
´´B´"0 ´äBb P ¬´ÿ." Pß´l.¬V äB´o´
´Ó´×o´1´´´H"0 ´ò´·´T`1´´ B1´T´´´=
Artinya : Barangsiapa yang taat kepada Rasul maka ia telah taat kepada Allah,
dan barangsiapa yang berpaling maka tidaklah Kami mengutusmu
sebagai penjaga mereka (An Nisa : 80)

Subsatansi pada ayat-ayat di atas secara berurutan menyatakan dengan
kalimat eksplisit bahwa 1) pengembalian segala perselisihan pendapat hanyalah
kepada Allah dan Rasul-Nya dengan tambahan anak kalimat "jika kamu beriman
kepada Allah dan hari akhirat", 2) ketundukan kepada keputusan Rasulullah
dalam segala perkara yang diperselisihkan di antara orang beriman merupakan
bukti keimanan yang sebenarnya sedang orang yang merasa berkeberatan dengan
keputusan Rasul dianggap sebagai orang yang tidak sungguh-sungguh beriman, 3)
mentaati Rasululah sebagai perwujudan ketaatan pada Allah karena seseorang
tidak akan dapat taat secara benar kepada Allah tanpa melalui ketaatan kepada
Rasul-Nya, 4) bahwa sikap mukmin yang benar manakala diseru oleh Allah dan
Rasul-Nya untuk ditetapkan suatu keputusan hukum di antara mereka mereka
menyatakan kesiapannya untuk mendengar dan taat meskipun tidak sejalan
dengan kepentingan hawa nafsu mereka sendiri.
Kehujahan Hadits sebagai sumber hukum syariat datang dari Hadits itu sendiri.
Pada beberapa Hadits diriwayatkan bahwa beliau bersabda, yang artinya :
Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah berkhutbah dihadapan manusia pada
haji wada', "Wahai manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah-
tengah kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya niscaya tidak akan
tersesat selamanya; yaitu Kitab Allah dan Sunnah nabi -Nya".
Dan hadits yang kedua yang artinya :
Dari Al Miqdam bin Ma'diyakrib al Kindy, Rasulullah bersabda, "Ingatlah,
sesungguhnya aku diberi al Kitab dan yang semisal dengannya! Ingatlah,
sesungguhnya aku diberi al Kitab dan yang semisal dengannya! Ingatlah, hampir
datang masa ada seseorang yang dengan perut kenyang bersandar di sofanya
seraya berkata; 'Cukuplah bagi kalian al Qur'an. Apa yang kalian dapatkan
5 | S y a r a h , K r i t i k & T a k h r i j H a d i t s

padanya sesuatu yang halal maka halalkanlah dan apa yang kalian dapatkan
padanya sesuatu yang haram maka haramkanlah!«"

Dua Hadits di atas mewakili sejumlah Hadits yang semakna dengannya.
Inti kandungan dari Hadits-Hadits di atas menegaskan bahwa Al-Qur'an tidak
terlepas dari Al-Hadits dan bahwa Al-Hadits itu bagian dari wahyu yang diberikan
Allah kepada Nabi saw. dengan cara yang berbeda. Sebagaimana disebutkan
dalam surat An Najm, "tidaklah dia (Muhammad) berkata dari hawanafsunya,
melainkan wahyu yang diwahyukan" (Surat An Najm: 3-4)
Kahujahan
5
Sunnah atau Hadits dari ijma' dapat diketahui dari kesepakatan
para shahabat Nabi saw. untuk menjadikan hadits sebagai rujukan dalam
menetapkan segala perkara. Sebagaimana diuraikan oleh Khudary Bek, bahwa
para shahabat nabi sepeninggal beliau, apabila menetapkan suatu keputusan atas
suatu perkara yang muncul mereka mengacu kepada ayat Al-Qura'an, jika mereka
tidak mendapatinya langsung dari Al-Qur'an mereka merujuk kepada sunah nabi,
jika mereka tidak mendapatinya pada Sunah Nabi mereka bermusyawarah
mencari keputusan. Sikap demikian itu dilakukan oleh semua pemimpin atau para
Khalifah sepeninggal Rasulullah. Dengan demikian telah terjadi ijma' di kalangan
para shahabat bahwa sunah adalah sumber hukum syariat di samping Al-Qur'an.

b. Dilalah Hadits terhadap Al-Qur'an.
Al-Qur'an diturunkan sebagai pedoman hidup, petunjuk, rahmat dan kabar
gembira bagi orang-orang yang berimanUntuk mengaplikasikan Al-Qur'an
sebagai petunjuk hidup, Allah menjadikan Rasul-Nya sebagai contoh ideal,
panutan dan suri tauladan bagi orang-orang yang beriman dan mengharap
keselamatan dunia dan akhirat. Banyak hukum-hukum yang terkandung dalam Al-
Qur'an hanya dapat diketahui dan difahami pengertiannya secara detail dan
penerapannya secara tepat hanya ketika telah dipraktekan oleh nabi Muhammad
saw. Karena keumuman ayat-ayat Al-Qur'an berisi pokok-pokok ajaran Islam
yang membutuhkan penjabaran serta rincian dari nabi Muhamad saw.
Merujuk kepada ayat ini, para ulama menyimpulkan bahwa tugas Rasul
terhadap Al-Qur'an adalah menjelaskan kandungan maknanya dan
mengaplikasikannya di tengah kehidupan manusia setelah membacakan dan
menyampaikannya kepada mereka.
Penjelasan Nabi terhadap Al-Quran disebut sebagai bayan. Bayan nabi
tehadap Al-Qur'an terkadang dengan perbuatan, terkadang juga dengan
penjabaran lisan atau terkadang dengan persetujuan beliau terhadap perbuatan
para sahabatnya. Semua perbuatan, perkataan dan persetujuan nabi diistilahkan
dengan sunah atau hadits. Karena itu kedudukan sunah atau hadits terhadap Al-
Qur'an pada intinya adalah penjelasan atau bayan. Secara substansial, kandungan
hadits terhadap Al-Qur'an terkadang merupakan interpretasi atas ayat-ayat yang
belum jelas, atau sebagai penegasan dan penguatan terhadap apa yang sudah jelas

5
Abdul Wahhab Khalaf, Khulashah Târîkh al Tasyri' alIslâmy, (Kuwait: Dar AlQalam, tt), hal.
40-42

6 | S y a r a h , K r i t i k & T a k h r i j H a d i t s

dalam Al-Qur'an, dan terkadang sebagai tambahan hukum terhadap apa yang tidak
disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an.
Imam Syafi'i mengklasifikasikan Hadits atau Sunah Nabi dalam kaitannya
dengan Al-Qur'an kepada tiga katagori. Pertama, Sunah yang berisi penegasan
dan penguatan atas hukum-hukum yang sudah jelas dalam Al-Qur'an. Kedua,
Sunah yang berisi penjelasan atau rincian terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang
bersifat umum atau mujmal. Ketiga, Sunah yang berisi hukum yang berdiri sendiri
tanpa ada rujukannya dalam Al-Qur'an baik yang secara eksplisit maupun implisit.
Dua yang disebut pertama, kata Imam Syafi'i adalah kaidah yang disepakati oleh
semua ulama Islam. Sedang satu yang disebut terakhir diperselisihkan oleh para
ulama.
Penjelasan Imam Asy Syafi'i di atas jika diuraikan lebih rinci, maka materi
Hadits dalam kaitannya dengan ayat-ayat Al-Qur'an dapat dikatagorisasikan
menjadi lima macam penjelasan atau bayan, yaitu:
a. Bayan Tafshil, Hadits yang kandungannya menjelaskan ayat-ayat yang masih
global dan ringkas
b. Bayan Takhshish, Hadits yang kandungannya membatasi ayat-ayat yang umum
c. Bayan Ta'yin, Hadits yang menegaskan maksud dari dua atau beberapa perkara
yang dimaksud oleh ayat Al-Qur'an
d. Bayan Tasyri', Hadits yang menetapkan suatu hukum pada perkara yang
didiamkan oleh Al-Qur'an
e. Bayan Nasakh, Hadits yang menentukan ayat-ayat tertentu telah di nasakh oleh
ayat yang lain yang nempaknya seolah-oleh bertentangan.

Para ulama yang lain dari kalangan Ahlus Sunnah sejalan dengan
pandangan Imam Asy Syafi'i di atas walaupun ada perbedaan-perbedaan
redaksional dan peristilahan dalam memposisikan kandungan Hadist terhadap Al-
Qur'anul karim. Tetapi esensinya sepakat bahwa Hadits atau Sunah adalah sumber
hukum syariat di samping Al-Qur'an dan bahwa Hadits berfungsi sebagai bayan
terhadap Al-Qur'an yang sekaligus dapat menetapkan hukum yang berdiri sendiri.

c. Rutbah Hadits dalam Tasyri'
Selain masalah kedudukan Hadits sebagai sumber hukum Islam, para
ulama juga membahas seputar tingkatan atau rutbah Hadits dalam syariat. Apakah
tingkat dan posisi Hadits sama dengan Al-Qur'an dalam memberikan landasan
hukum ataukah berbeda. Dengan kata lain, apakah posisi Hadits dengan Al-Qur'an
itu bersifat sejajar-setara (posisi horizontal) ataukan bertingkat-bertangga (posisi
vertikal). Dengan memperhatikan apa yang telah diuraikan di atas tentang
kehujahan dan kedudukan Hadits, dapat dikatakan bahwa ditinjau dari segi
kewajiban taat kepada Rasulullah sama dengan kewajiban taat kepada Allah maka
konsekwensi hukum yang ditetapkan Hadits secara global sama dengan apa yang
ditetapkan oleh Al-Qur'an. Artinya hukum yang ditetapkan oleh Hadits secara
materil hakikatnya adalah perincian dari yang ditetapkan oleh Al-Qur'an, karena
itu dari segi kewajiban melaksanakannya sama saja dengan kewajiban
melaksanakan Al-Qur'an. Hanya saja ada beberapa aspek dari sudut formilnya,
yaitu aspek prosedur dan metodologi periwayatan Hadits yang bersifat spesifik
7 | S y a r a h , K r i t i k & T a k h r i j H a d i t s

yang menyebabkan bobot kehujahan dan status Hadits tidak mungkin dapat
disamakan atau disejajarkan dengan Al-Qur'an:
1. Dari sudut kepastian datangnya (qath'iyatul wurud), seluruh ayat Al-Qur'an
bersifat pasti, qath'i, karena Al-Qur'an diriwayatkan secara mutawâtir,
periwayatan kolektif dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan jumlah
periwayat yang tidak memungkinkan secara akal dan adat terjadi kedustaan
atau kekeliruan. Sementara Hadits sangat sedikit yang diriwayatkan dengan
cara mutawâtir dan keumumannya periwayatan bersifat individual yang disebut
dengan riwayat âhad. Karena itu Hadits ditinjau dari segi datang dan
keberadaannya bersifat dhanny, masih menyimpan adanya kemungkinan
kekhilafan.
2. Sebagai konsekwensi dari dhanniyatul wurud pada hadits-hadits ahad, maka
terjadi kemungkinan kesalahan dalam periwayatan hadits, baik disengaja
ataupun disebabkan faktor human error. Karena itu para ulama Hadits
mengklasifikasikan Hadits kepada tingkatan Shahih, Hasan, dan Dhaif. Hanya
Hadits yang berderajat Shahih dan Hasan yang boleh dijadikan sandaran
hukum
3. Dalam pengklasifikasian Hadits menjadi Shahih, Hasan, dan Dhaif, tidak
seluruh Hadits yang dikatagorikan Shahih disepakati kesahihannya oleh semua
ulama Hadits, demikian juga tidak setiap yang dikatagorikan Dhaif disepakati
oleh semua ulama tentang kedhaifannya. Maka suatu yang tidak bisa dihindari
bahwa ada sebagian Hadits yang ditolak oleh sebagian kalangan ulama karena
dinilai lemah, dan diterima oleh sebagian ulama yang lain karena dinilai
Shahih. Kelompok yang menolak suatu Hadits karena dinilainya lemah tidak
dapat dihukumkan sebagai orang yang mengingkari ketaatan pada Rasul
sehingga divonis sebagai orang murtad. Sebab yang ia tolak bukan materi
Haditsnya sebagi perkataan atau perbuatan Rasulullah yang wajib diikuti, akan
tetapi prosedur dan metode penyampaian hadits tersebut yang tidak
meyakinkan sehingga diragukan kebenarannya dari Rasulullah.
4. Pada kenyataannya kewajiban mentaati Hadits ditetapkan oleh Al-Qur'an.
Maka Al-Qur'an adalah pokok atau pangkal dari hukum, sedang Hadits adalah
cabang yang ditetapkan oleh Al-Qur'an. Sebagaimana ijma' ditetapkan oleh
perintah Al-Qur'an dan Hadits. Maka suatu yang tidak rasional jika yang pokok
disamakan kedudukannya dengan yang cabang.
5. Tingkatan kehujahan Hadits sebagai dasar hukum kedua setelah Al-Qur'an juga
diisyaratkan dalam Al-Qur'an dan Hadits itu sendiri. Kemudian dipraktekan
oleh ijma' shahabat. Al-Qur'an mengatakan, "Ta'atlah kamu kepada Allah dan
taatlah kamu kepada Rasul agar kamu dirahmati" (Ali Imran [3] : 132). Pesan
Umar kepada Qadhi Syuraeh, "Perhatikanlah apa yang telah jelas kepadamu
dari Kitabullah, janganlah bertanya lagi darinya kepada siapapun. Dan jika
tidak jelas kepadamu pada Kitabullah maka ikutillah Sunnah Rasulullah
saw«.,
6




6
Apa yang dikemukakan oleh penulis diatas disarikan dan ditambahkan dari uraian TM.Hasbi As
Siddieqy, Sejarah dan pengantar Ilmu hadits, (Jakarta: Bulan Bintang, 1972), hal.171-175,
sebagaimana dikutip oleh Endang Soetari, ibid, hal. 87-92
8 | S y a r a h , K r i t i k & T a k h r i j H a d i t s


IV. Penutup
Uraian di atas dengan segala keterbatasannya telah mencoba
meneguhkan argumen Kehujahan Hadits sekaligus kedudukannya dalam
pembentukan Syariat Islam yang selama ini memang telah diyakini dan
dipedomani oleh umat Islam. Adanya pemikiran dan pendapat-pendapat yang
kritis terhadap posisi Hadits dalam Tasyri' sekeras dan sepahit apapun dari pihak-
pihak tertentu, baik kawan maupun lawan Islam, tidak seluruhnya berdampak
buruk bagi Islam dan umatnya. Sisi positif yang sangat terasa adalah semakin
teguhnya posisi Hadits dalam Tasyri' karena dengan badai kritik itulah pondasi
dan bangunan argumen kehujahan Hadits semakin teruji bersamaan dengan
rontoknya semua fitnah dan tuduhan keji terhadapnya. Wallahu A'lam bish
shawab.

Referensi

Endang Soetari, Ilmu Hadits; Kajian Riwayat Dan Dirayah, (Bandung: Mimbar
Pustaka, 2005), cet. ke-5, hal.100
Daud Rasyid, Fenomena Sunnah di Indonesia, Potret Pergulatan Melawan
Konspirasi, (Jakarta: Usamah Press, 2003), hal.158
Juhaya S Praja, Ringkasan Sejarah Filsafat Hukum Islam, (Bandung: UNISBA,
2009)
Manna'ul Qathan, Târikh Tasyri' al Islâmy, (Riyadh: Maktabah Al ma'arif, 1996)
Abdul Wahhab Khalaf, Ilmu Ushul Al Fiqh, (Kairo: Maktabah Da'wah Al
Islamiyah, 1959), hal.32-33
TM.Hasbi As Siddieqy, Sejarah dan pengantar Ilmu hadits, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1972), hal.171-175, sebagaimana dikutip oleh Endang Soetari, ibid, hal.
87-92
Daud Rasyid, Fenomena Sunnah di Indonesia, Potret Pergulatan Melawan
Konspirasi, (Jakarta: Usamah Press, 2003), hal.158

shaum. vol. hak dan kewajiban suami-istri. dan A'mal. sewa-menyewa. Hukum al-Ahwâlusyahshiyah. muamalah adalah ibadah dalam pengertian luas mencakup interaksi manusia dengan sesamanya. tt). Lisânul Arab. Yaitu hukum syariat yang mengatur sanksi fisik atas pelanggaran dan kejahatan terhadap jiwa. perceraian. Maka apa yang digariskan keduanya melahirkan syariat. 2. Maka istilah tasyri' dalam konteks ini bermakna "proses dan cara pembentukan syari'at". I'tiqadiyat adalah syariat Islam yang terkait dengan amalan hati tentang apa yang harus diimani dan diingkari seorang mukmin. (Beirut: Dar al Shadir. pinjam-meminjam. Jalan agama Islam terbentuk dari dua sumber yaitu Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunnah Rasulullah (Al Hadits yang sahih). Kritik & Takhrij Hadits . pencurian. Yaitu hukum syariat yang mengatur muamalah manusia dalam lingkup rumahtangga dan keluarganya seperti perkawinan. dan jalan dalam pengertian secara metaforis (majazi) yang bersifat abstrak. A'mal manusia itu terbagi pada dua katagori. dan perjanjian-perjanjian kerjasama. haji. Penggunaan kata "jalan" dalam bahasa Arab dapat berarti jalan dalam makna asli (hakiki) yang bersifat fisik materil yang dapat dicapai indra manusia seperti jalan yang biasa ditempuh musafir di tanah atau dipadang pasir. Syari'at Islam mencakup hukum-hukum I'tiqâdiyat.perbuatan. pezina dan penuduh zina 2 Muhammad bin Mukrim bin Mandhur Al Afriqy. VII. Hukum al Madaniyah. Tasyri' secara bahasa diambil dari kata dasar syir'ah atau syarî'ah yang arti asalnya adalah masyra'atul mâ-a ya'ni mauridul mâ-a = sumber air atau mata air. dan persetujuan beliau. hal 175 2 |Syarah. Hukum al Jinâiyah. dzikir. Yaitu hukum syariat yang mengatur muamalah manusia dengan sesamanya yang berkaitan dengan perikatan dan transaksi-transaksi jual beli. Akhâq. A'mal adalah syariat Islam yang mengatur tentang perbuatan jasadiyah manusia. harta. Ibadah dalam pengertian khusus yaitu upacara ritual menyembah Allah semisal shalat. Sebagaimana jalan yang ditempuh untuk menuju mata air. Maka agama disebut "syir'ah" dan "syari'ah" karena ia ajaran atau tuntunan laksana jalan yang harus ditempuh manusia menuju kebenaran. dan pengasuhan anak. Jalan agama itu tiada lain adalah ajaran dan hukum yang terkandung didalamnya. 3.2 Karena adanya sumber atau mata air itulah orang berdatangan ke tempat tersebut secara rutin dan bergantian sehingga membentuk jalan. peminum khamar. menuju Tuhan dan menuju kebahagiaan hidupnya. Namun penulis memandang perlu untuk menjelaskan terlebih dahulu pengertian atau batasan dari tasyri' sebelum dikaji kaitan dan kedudukan Hadits dalam tasyri'. Hukum syariat dalam muamalah mencakup beberapa aspek: 1. dan kehormatan manusia. ibadah dan mu'amalah. Proses pembentukan jalan disebut tasyri'. Kemudian istilah syariat bergeser dari arti "sumber air" menjadi "jalan menuju sumber air" tersebut. dan do'a. seperti suatu ajaran atau tuntunan petunjuk kehidupan. Seperti hukuman pembunuhan. Akhlaq adalah syariat tentang kemuliaan budi pekerti dan kesucian jiwa.

Manifestasi dari mentaati Rasulullah adalah mentaati ajarannya yang disampaikan kepada kita lewat jalur periwayatan yang benar. Yaitu hukum syariat yang mengatur tentang interaksi antar bangsa. Yaitu hukum syariat yang mengatur tentang kekuasaan. Yaitu Al-Qur'an. III. pemimpin. penetapan dan pelaksanaan vonis hukuman. Hukum Islam adalah Firman syari¶ yang berhubungan dengan perbuatan orang mukalaf. W<U! D . hukum perang dan damai. Kewajiban mentaati Rasulullah itu berdasar tiga sumber dalil utama kaum muslimin. berkaitan dengan bagaimana kedudukan al-Qur'an dalam hukum Islam serta bagaimana metode pensyariatan hukum al-Qur'an telah banyak dibahas dalam ilmu tafsir dan ushul fikih. Artinya bahwa cakupan hukum yang terkandung dalam al-Hadits sama dengan apa yang terkandung dalam al-Qur'an. 7. penyelidikan. Hukum al Duwaliyah. $W   RM jT S l TWT  S l T 1 < $ q &(] s  T WT #S n  Z s . 6. 5. Hadits dalam Tasyri' a. Kehujahan Hadits Yang dimaksud dengan tasyri¶ adalah menetapkan ketentuan syari¶at Islam atau hukum Islam.4. yang mengadung tuntutan. Hukum al Iqtishadiyah. Al-Hadits. pengajuan gugatan. Maka pada paper ini akan dikemukakan tentang kaitan Hadits dengan Tasyri'. Sebagaimana telah disinggung sepintas pada muqadimah bahwa dapat dipastikan seluruh kaum muslimin mengimani wajibnya mentaati Rasulullah. membolehkan 4 sesuatu atau menjadikan sesuatu sebagai syarat adanya yang lain.3 Semua hukum syariat tersebut di atas bersumber dari al-Qur'an dan alHadits. Hukum al Murâfaat. dan Ijma'. Yaitu hukum syariat yang mengatur tatacara peradilan. rakyat. Ayat-ayat Al-Qur'an yang dijadikan dalil tentang wajibnya mengikuti Sunah Rasulullah di antaranya: d  S . Yaitu hukum syariat yang mengatur pengelolaan dan pengembangan harta kekayaan individu. negara dan masyarakat. dan hak-hak warga negara. Hukum al Dusturiyah.

1959). (Kairo: Maktabah Da'wah Al Islamiyah.U #S nWT  sP PT k nU   DS < $ U ! . Kritik & Takhrij Hadits .  D [  Um  n \([ 3 SWl WT Zd T U! B^ OTWT o n[\ Artinya : Wahai orang-orang beriman. Ilmu Hadits Kajian Riwayah & Diroyah. Bandung 2008 3 3 |Syarah. . hal. Mimbar Pustaka. Ilmu Ushul Al Fiqh. taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan pemimpin di antara kalian.32-33 4 Endang Soetari. Jika kalian berselisih faham dalam sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dna Rasul -Nya Abdul Wahhab Khalaf.

bahwasanya Rasulullah berkhutbah dihadapan manusia pada haji wada'. [ rT Artinya : Barangsiapa yang taat kepada Rasul maka ia telah taat kepada Allah. p  0 J 4T  . Kehujahan Hadits sebagai sumber hukum syariat datang dari Hadits itu sendiri. sesungguhnya aku diberi al Kitab dan yang semisal dengannya! Ingatlah. 4) bahwa sikap mukmin yang benar manakala diseru oleh Allah dan Rasul-Nya untuk ditetapkan suatu keputusan hukum di antara mereka mereka menyatakan kesiapannya untuk mendengar dan taat meskipun tidak sejalan dengan kepentingan hawa nafsu mereka sendiri. M^ eWT ^/ k Artinya : Maka demi Tuhanmu. Apa yang kalian dapatkan 4 |Syarah. hampir datang masa ada seseorang yang dengan perut kenyang bersandar di sofanya seraya berkata. $ U d Y [ PWrWT ZU n[HZ [. dan barangsiapa yang berpaling maka tidaklah Kami mengutusmu sebagai penjaga mereka (An Nisa : 80) Subsatansi pada ayat-ayat di atas secara berurutan menyatakan dengan kalimat eksplisit bahwa 1) pengembalian segala perselisihan pendapat hanyalah kepada Allah dan Rasul-Nya dengan tambahan anak kalimat "jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat".k  P" S . sesungguhnya aku diberi al Kitab dan yang semisal dengannya! Ingatlah. Kritik & Takhrij Hadits . 3) mentaati Rasululah sebagai perwujudan ketaatan pada Allah karena seseorang tidak akan dapat taat secara benar kepada Allah tanpa melalui ketaatan kepada Rasul-Nya. yaitu Kitab Allah dan Sunnah nabi -Nya". K$ =B n[O U 8. (An Nisaa : 59) jU U #S n d B $ [. 2) ketundukan kepada keputusan Rasulullah dalam segala perkara yang diperselisihkan di antara orang beriman merupakan bukti keimanan yang sebenarnya sedang orang yang merasa berkeberatan dengan keputusan Rasul dianggap sebagai orang yang tidak sungguh-sungguh beriman. Rasulullah bersabda. Yang demikian itu lebih baik dan sebaik-baik akibatnya.U s WSU! B $WT  U T < k [O 0 I kP [ Q. tidaklah mereka beriman sehingga meminta keputusan hukum kepadamu tentang apa-apa yang mereka perselisihkan di antara mereka kemudian mereka tidak merasa keberatan atas apa yang kamu putuskan dan mereka tunduk setunduktunduknya (An Nisa : 65) jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhirat.[O s T j IU Y 0 1 1 IQ. "Ingatlah.ES . L[U d  . sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengahtengah kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya niscaya tidak akan tersesat selamanya. yang artinya : Dari Ibnu Abbas.k ZS . "Wahai manusia. Dan hadits yang kedua yang artinya : Dari Al Miqdam bin Ma'diyakrib al Kindy. 'Cukuplah bagi kalian al Qur'an. Pada beberapa Hadits diriwayatkan bahwa beliau bersabda.

Karena keumuman ayat-ayat Al-Qur'an berisi pokok-pokok ajaran Islam yang membutuhkan penjabaran serta rincian dari nabi Muhamad saw. Sebagaimana diuraikan oleh Khudary Bek. melainkan wahyu yang diwahyukan" (Surat An Najm: 3-4) Kahujahan5 Sunnah atau Hadits dari ijma' dapat diketahui dari kesepakatan para shahabat Nabi saw. b. Al-Qur'an diturunkan sebagai pedoman hidup. (Kuwait: Dar AlQalam. Dilalah Hadits terhadap Al-Qur'an. Khulashah Târîkh al Tasyri' alIslâmy. Sikap demikian itu dilakukan oleh semua pemimpin atau para Khalifah sepeninggal Rasulullah. Dengan demikian telah terjadi ijma' di kalangan para shahabat bahwa sunah adalah sumber hukum syariat di samping Al-Qur'an. Merujuk kepada ayat ini. para ulama menyimpulkan bahwa tugas Rasul terhadap Al-Qur'an adalah menjelaskan kandungan maknanya dan mengaplikasikannya di tengah kehidupan manusia setelah membacakan dan menyampaikannya kepada mereka. Banyak hukum-hukum yang terkandung dalam AlQur'an hanya dapat diketahui dan difahami pengertiannya secara detail dan penerapannya secara tepat hanya ketika telah dipraktekan oleh nabi Muhammad saw. atau sebagai penegasan dan penguatan terhadap apa yang sudah jelas 5 Abdul Wahhab Khalaf. Inti kandungan dari Hadits-Hadits di atas menegaskan bahwa Al-Qur'an tidak terlepas dari Al-Hadits dan bahwa Al-Hadits itu bagian dari wahyu yang diberikan Allah kepada Nabi saw. Sebagaimana disebutkan dalam surat An Najm. kandungan hadits terhadap Al-Qur'an terkadang merupakan interpretasi atas ayat-ayat yang belum jelas. "tidaklah dia (Muhammad) berkata dari hawanafsunya.padanya sesuatu yang halal maka halalkanlah dan apa yang kalian dapatkan padanya sesuatu yang haram maka haramkanlah!«" Dua Hadits di atas mewakili sejumlah Hadits yang semakna dengannya. petunjuk. rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berimanUntuk mengaplikasikan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. jika mereka tidak mendapatinya pada Sunah Nabi mereka bermusyawarah mencari keputusan. Kritik & Takhrij Hadits . Semua perbuatan. jika mereka tidak mendapatinya langsung dari Al-Qur'an mereka merujuk kepada sunah nabi. Secara substansial. dengan cara yang berbeda. panutan dan suri tauladan bagi orang-orang yang beriman dan mengharap keselamatan dunia dan akhirat. terkadang juga dengan penjabaran lisan atau terkadang dengan persetujuan beliau terhadap perbuatan para sahabatnya. Karena itu kedudukan sunah atau hadits terhadap AlQur'an pada intinya adalah penjelasan atau bayan. hal. untuk menjadikan hadits sebagai rujukan dalam menetapkan segala perkara. perkataan dan persetujuan nabi diistilahkan dengan sunah atau hadits. 40-42 5 |Syarah. Allah menjadikan Rasul-Nya sebagai contoh ideal. tt). Bayan nabi tehadap Al-Qur'an terkadang dengan perbuatan. apabila menetapkan suatu keputusan atas suatu perkara yang muncul mereka mengacu kepada ayat Al-Qura'an. Penjelasan Nabi terhadap Al-Quran disebut sebagai bayan. bahwa para shahabat nabi sepeninggal beliau.

yaitu aspek prosedur dan metodologi periwayatan Hadits yang bersifat spesifik 6 |Syarah. Sunah yang berisi hukum yang berdiri sendiri tanpa ada rujukannya dalam Al-Qur'an baik yang secara eksplisit maupun implisit. yaitu: a. Apakah tingkat dan posisi Hadits sama dengan Al-Qur'an dalam memberikan landasan hukum ataukah berbeda. Hanya saja ada beberapa aspek dari sudut formilnya. Hadits yang kandungannya menjelaskan ayat-ayat yang masih global dan ringkas b. karena itu dari segi kewajiban melaksanakannya sama saja dengan kewajiban melaksanakan Al-Qur'an. Para ulama yang lain dari kalangan Ahlus Sunnah sejalan dengan pandangan Imam Asy Syafi'i di atas walaupun ada perbedaan-perbedaan redaksional dan peristilahan dalam memposisikan kandungan Hadist terhadap Al Qur'anul karim. Bayan Tasyri'. Artinya hukum yang ditetapkan oleh Hadits secara materil hakikatnya adalah perincian dari yang ditetapkan oleh Al Qur'an. Sunah yang berisi penegasan dan penguatan atas hukum-hukum yang sudah jelas dalam Al-Qur'an. Dengan memperhatikan apa yang telah diuraikan di atas tentang kehujahan dan kedudukan Hadits. Hadits yang menentukan ayat-ayat tertentu telah di nasakh oleh ayat yang lain yang nempaknya seolah-oleh bertentangan. dapat dikatakan bahwa ditinjau dari segi kewajiban taat kepada Rasulullah sama dengan kewajiban taat kepada Allah maka konsekwensi hukum yang ditetapkan Hadits secara global sama dengan apa yang ditetapkan oleh Al-Qur'an. para ulama juga membahas seputar tingkatan atau rutbah Hadits dalam syariat. Penjelasan Imam Asy Syafi'i di atas jika diuraikan lebih rinci. Hadits yang menegaskan maksud dari dua atau beberapa perkara yang dimaksud oleh ayat Al-Qur'an d. Bayan Takhshish. Imam Syafi'i mengklasifikasikan Hadits atau Sunah Nabi dalam kaitannya dengan Al-Qur'an kepada tiga katagori. Bayan Tafshil. dan terkadang sebagai tambahan hukum terhadap apa yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an. Dua yang disebut pertama. Hadits yang menetapkan suatu hukum pada perkara yang didiamkan oleh Al-Qur'an e. maka materi Hadits dalam kaitannya dengan ayat-ayat Al-Qur'an dapat dikatagorisasikan menjadi lima macam penjelasan atau bayan. Kedua. Hadits yang kandungannya membatasi ayat-ayat yang umum c. Bayan Nasakh. c.dalam Al-Qur'an. Ketiga. Sunah yang berisi penjelasan atau rincian terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang bersifat umum atau mujmal. Tetapi esensinya sepakat bahwa Hadits atau Sunah adalah sumber hukum syariat di samping Al-Qur'an dan bahwa Hadits berfungsi sebagai bayan terhadap Al-Qur'an yang sekaligus dapat menetapkan hukum yang berdiri sendiri. Pertama. Rutbah Hadits dalam Tasyri' Selain masalah kedudukan Hadits sebagai sumber hukum Islam. kata Imam Syafi'i adalah kaidah yang disepakati oleh semua ulama Islam. Kritik & Takhrij Hadits . Bayan Ta'yin. Sedang satu yang disebut terakhir diperselisihkan oleh para ulama. Dengan kata lain. apakah posisi Hadits dengan Al-Qur'an itu bersifat sejajar-setara (posisi horizontal) ataukan bertingkat-bertangga (posisi vertikal).

hal. Karena itu Hadits ditinjau dari segi datang dan keberadaannya bersifat dhanny. Dalam pengklasifikasian Hadits menjadi Shahih. Maka suatu yang tidak bisa dihindari bahwa ada sebagian Hadits yang ditolak oleh sebagian kalangan ulama karena dinilai lemah. 4. masih menyimpan adanya kemungkinan kekhilafan.Hasbi As Siddieqy. Kemudian dipraktekan oleh ijma' shahabat. Kelompok yang menolak suatu Hadits karena dinilainya lemah tidak dapat dihukumkan sebagai orang yang mengingkari ketaatan pada Rasul sehingga divonis sebagai orang murtad. periwayatan kolektif dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan jumlah periwayat yang tidak memungkinkan secara akal dan adat terjadi kedustaan atau kekeliruan. Dan jika tidak jelas kepadamu pada Kitabullah maka ikutillah Sunnah Rasulullah saw«. sedang Hadits adalah cabang yang ditetapkan oleh Al-Qur'an.6 6 Apa yang dikemukakan oleh penulis diatas disarikan dan ditambahkan dari uraian TM. seluruh ayat Al-Qur'an bersifat pasti. maka terjadi kemungkinan kesalahan dalam periwayatan hadits. Maka Al-Qur'an adalah pokok atau pangkal dari hukum. ibid. dan diterima oleh sebagian ulama yang lain karena dinilai Shahih. tidak seluruh Hadits yang dikatagorikan Shahih disepakati kesahihannya oleh semua ulama Hadits. janganlah bertanya lagi darinya kepada siapapun. Sebab yang ia tolak bukan materi Haditsnya sebagi perkataan atau perbuatan Rasulullah yang wajib diikuti. Dari sudut kepastian datangnya (qath'iyatul wurud). Hanya Hadits yang berderajat Shahih dan Hasan yang boleh dijadikan sandaran hukum 3. Al-Qur'an mengatakan. akan tetapi prosedur dan metode penyampaian hadits tersebut yang tidak meyakinkan sehingga diragukan kebenarannya dari Rasulullah. 1972). dan Dhaif. 5.yang menyebabkan bobot kehujahan dan status Hadits tidak mungkin dapat disamakan atau disejajarkan dengan Al-Qur'an: 1. Maka suatu yang tidak rasional jika yang pokok disamakan kedudukannya dengan yang cabang. baik disengaja ataupun disebabkan faktor human error. (Jakarta: Bulan Bintang. Sejarah dan pengantar Ilmu hadits. Tingkatan kehujahan Hadits sebagai dasar hukum kedua setelah Al-Qur'an juga diisyaratkan dalam Al-Qur'an dan Hadits itu sendiri. Karena itu para ulama Hadits mengklasifikasikan Hadits kepada tingkatan Shahih. "Perhatikanlah apa yang telah jelas kepadamu dari Kitabullah. qath'i. "Ta'atlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul agar kamu dirahmati" (Ali Imran [3] : 132). Pada kenyataannya kewajiban mentaati Hadits ditetapkan oleh Al-Qur'an. Hasan. 87-92 7 |Syarah. hal. dan Dhaif. Kritik & Takhrij Hadits . karena Al-Qur'an diriwayatkan secara mutawâtir. 2. Sementara Hadits sangat sedikit yang diriwayatkan dengan cara mutawâtir dan keumumannya periwayatan bersifat individual yang disebut dengan riwayat âhad. Sebagai konsekwensi dari dhanniyatul wurud pada hadits-hadits ahad. Hasan.. Pesan Umar kepada Qadhi Syuraeh. sebagaimana dikutip oleh Endang Soetari.171-175. Sebagaimana ijma' ditetapkan oleh perintah Al-Qur'an dan Hadits. demikian juga tidak setiap yang dikatagorikan Dhaif disepakati oleh semua ulama tentang kedhaifannya.

Fenomena Sunnah di Indonesia. Kritik & Takhrij Hadits . ke-5. hal. (Kairo: Maktabah Da'wah Al Islamiyah. Fenomena Sunnah di Indonesia. Referensi Endang Soetari. Wallahu A'lam bish shawab. Potret Pergulatan Melawan Konspirasi. (Riyadh: Maktabah Al ma'arif. (Jakarta: Usamah Press. 2009) Manna'ul Qathan. Ringkasan Sejarah Filsafat Hukum Islam. hal. Adanya pemikiran dan pendapat-pendapat yang kritis terhadap posisi Hadits dalam Tasyri' sekeras dan sepahit apapun dari pihakpihak tertentu. 2003). 87-92 Daud Rasyid. 1996) Abdul Wahhab Khalaf.32-33 TM. Târikh Tasyri' al Islâmy. Ilmu Hadits. hal. Sejarah dan pengantar Ilmu hadits. hal.100 Daud Rasyid. Ilmu Ushul Al Fiqh. cet. hal. (Bandung: UNISBA. 2003). baik kawan maupun lawan Islam. (Jakarta: Usamah Press.158 8 |Syarah. Potret Pergulatan Melawan Konspirasi. hal.171-175. 1972). Kajian Riwayat Dan Dirayah. (Jakarta: Bulan Bintang.Hasbi As Siddieqy.158 Juhaya S Praja. Sisi positif yang sangat terasa adalah semakin teguhnya posisi Hadits dalam Tasyri' karena dengan badai kritik itulah pondasi dan bangunan argumen kehujahan Hadits semakin teruji bersamaan dengan rontoknya semua fitnah dan tuduhan keji terhadapnya. 1959).IV. (Bandung: Mimbar Pustaka. tidak seluruhnya berdampak buruk bagi Islam dan umatnya. sebagaimana dikutip oleh Endang Soetari. Penutup Uraian di atas dengan segala keterbatasannya telah mencoba meneguhkan argumen Kehujahan Hadits sekaligus kedudukannya dalam pembentukan Syariat Islam yang selama ini memang telah diyakini dan dipedomani oleh umat Islam. 2005). ibid.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful