P. 1
Makalah Bk - Makna Belajar

Makalah Bk - Makna Belajar

|Views: 1,321|Likes:
Published by rinosnipper7

More info:

Published by: rinosnipper7 on Aug 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

pdf

text

original

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan sempurna, walaupun dalam penyusunannya ditemukan masih banyak kekurangan. Terima kasih kepada teman-teman semua karena dalam proses pembuatan makalah ini semua bekerja dan saling membantu, terima kasih juga kami haturkan kepada semua pihak yang turut membantu hingga rampungnya makalah kami. Makalah ini menyajikan tentang “Makna Belajar”, Dimana setiap manusia harus faham akan arti belajar tersebut. Seperti pernyataan dari seorang Andreas Harefa yang berbunyi “Tugas pertama manusia dalam proses menjadi dirinya yang sebenarnya adalah menerima tanggung jawab untuk menjadi pembelajar bukan hanya di gedung sekolah dan perguruan tinggi, tetapi terlebih penting lagi dalam konteks kehidupan.”. Untuk itulah maknailah belajarmu. Kami berharap makalah ini akan sangat berguna bagi kita semua dan bisa menjadi bahan acuan dan bahan belajar yang baik dan yang memenuhi standar.

1

1. PENDAHULUAN
Setiap orang belajar. Anak-anak, mahasiswa, bahkan orang tua tak terkecuali. Setiap manusia belajar dengan caranya sendiri. Ada yang belajar dengan cara menghadiri perkuliahan, ada yang banyak membaca buku apa saja, serta ada yang belajar dari cerita dan pengalaman hidup orang. Belajar merupakan tradisi umat manusia. Sebagai seorang pelajar, apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar kata belajar? Mungkin jawabannya bisa berbeda-beda. Tergantung cara pandang kita terhadap belajar itu sendiri. Sebagian membayangkan duduk dan mendengarkan ucapan bapak/ibu guru sambil mengantuk. Tugas-tugas yang bertumpuk. Ancaman mendapat nilai rendah atau malah di-DO. Setidaknya ada beberapa hal yang disepakati. Pertama belajar bukanlah pekerjaan yang meyenangkan. Kedua belajar Anda lakukan seringkali karena terpaksa. Apakah terpaksa lulus, atau terpaksa supaya dapat ijazah. Belajar menjadi kehilangan maknanya. Boleh saja Anda membantah pemyataan di atas. Tapi saya akan membuktikan bahwa Anda tidak lebih baik dari seorang bayi yang juga belajar seperti Anda. 1.1 LATAR BELAKANG Pernahkah Anda memperhatikan seorang bayi belajar berjalan? Dengan keberanian yang dimilikinya, ia melangkahkan kaki selangkah demi selangkah. Namun apa hendak dikata bayi tersebut jatuh tersungkur. Tapi, ia pantang menyerah. Tersungkur satu kali, dua kali, bahkan puluhan kali tidak membuatnya jera untuk terus melangkah dan melangkah. Akhirnya, dalam waktu yang relatif singkat sang bayi sudah dapat berjalan sendiri. Bagaimanakah bayi tersebut bisa belajar berjalan dengan sukses? Pertanyaan ini cukup menarik untuk dijawab. Seorang bayi tidak pernah diinstruksikan oleh orang tuanya atau siapa saja untuk belajar berdiri tegak, menjaga keseimbangan, atau menyuruhnya berjalan pelan-pelan supaya tidak jatuh. Tidak, sekali-kali tidak. Bayi tidak pernah diberi bimbingan macam-macam. Padahal berjalan adalah suatu kegiatan kompleks yang merupakan gabungan dari koordinasi gerak tubuh, keseimbangan dan kestabilan. Bayi itu temyata berhasil melakukan tugas sulit tersebut tanpa mendapatkan petunjuk teknis yang dibutuhkan. Sedikitnya ada dua hal yang membuat sang bayi berhasil. Pertama, ia tidak pemah mengenal konsep kegagalan. Ia hanya tahu untuk mencoba dan mencoba belajar dari pengalamannya sendiri. Ia tidak mau tersungkur untuk selama-lamanya. Kedua, sang bayi selalu mendapat dukungan positif. Ketika ia jatuh orangtuanya berkata, “Ayo nak berdiri lagi. Mama akan membantumu.” Dan ketika ia berhasil, semua orang bergembira dan memberi selamat atas keberhasilannya. Sekarang mari kita bandingkan dengan apa yang terjadi dengan diri Anda sekarang. Ketika guru mulai menerangkan pelajaran, mungkin Anda sudah berpikir kapan pelajaran akan usai. Ketika tugas diberikan, Anda mungkin dongkol dengan guru yang dianggap kelewatan dalam memberi tugas. Dan saat menjelang ujian, jika Anda termasuk golongan pelajar kebanyakan, Anda akan mulai sibuk mencari fotokopi catatan di sana-sini, pinjam buku di perpustakaan, dan mulai menyiapkan kopi buat begadang. Dan ketika ujian berlangsung, Anda merasakan tekanan yang luar biasa. Belajar menjadi sebuah beban yang terpaksa Anda lakukan. Anda belajar karena hal itu sebuah tradisi. Anda belajar karena ingin lulus, bukan karena Anda memang mencintai belajar. Cara dan gaya Anda belajar tidak lebih baik dari apa yang bisa dilakukan oleh seorang bayi. Semakin meningkatnya umur bukannya memberikan Anda cara dan 2

gaya belajar yang lebih kreatif. Hari demi hari, Anda terjebak dalam rutinitas belajar yang membosankan. Setelah lulus apa yang terjadi? Ternyata Universitas atau kampus-kampus sering kesal dengan para fresh graduate ini. Para lulusan dianggap tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup untuk menghadapi dunia nyata yang harus dihadapinya. Anda harus ditraining kembali untuk kuliah. Padahal Anda telah belajar bertahun-tahun. Enam tahun untuk SD, tiga tahun untuk SMP dan tiga tahun untuk SMA Tapi itulah yang terjadi. Hasil belajar Anda tidak dihargai. Anda hanya dihargai dari selembar ijazah sebagai prasyarat untuk melamar kerja nantinya. Selebihnya, Anda harus bersaing lagi, Anda harus dites lagi dan akhirnya, Anda malah di-training kembali. Ternyata, ada yang salah dalam proses pendidikan kita sekarang. Seorang sarjana teknik jadi pengusaha. Lulusan ekonomi jadi wartawan. Tamatan ilmu komputer bekerja di bank. Memang hal itu sah-sah saja, tapi rasanya ilmu yang didapatkan menjadi kurang berguna. Kita perlu mengubah semua kejadian tadi. Kita perlu belajar kembali tentang bagaimana caranya belajar. 1.1 RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana cara memaknai belajar kita? 2. Bagaimana makna belajar itu? 1.1 TUJUAN PENULISAN Dalam penulisan yang dilakukan untuk menyusun makalah ini memiliki beberapa tujuan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan, diantaranya: 1. Untuk mengetahui cara memaknai belajar 2. Untuk mengetahui makna-makna belajar dari para ahli

3

1. DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………………….. 1. PENDAHULUAN………………………………………………………………….... 1.1.LATAR BELAKANG…………………………………………………………… 1.2.RUMUSAN MASALAH………………………………………………………... 1.3.TUJUAN PENULISAN…………………………………………………………. 2. DAFTAR ISI………………………………………………………………………… 3. MAKNA BELAJAR………………………….…………………………………....... 4. KESIMPULAN…………………………………………………………………….... 5. PENUTUP…………………………………………………………………………… DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………….. 1 2 2 3 3 4 5 10 11 12

4

2. MAKNA BELAJAR
Belajar, sudah tak asing lagi kita dengar dikalangan pelajar. Belajar selalu kita lakukan, tapi kita belum mengetahui makna, apa itu belajar?. Beberapa ahli telah mendefinisikan arti belajar, diantaranya: 1. WJS Poerwadarminta (1953), dalam kamusnya menyatakan Belajar adalah berusaha(berlatih dan sebagainya) supaya memperoleh suatu kepandaian. Dan bila dilacak dari kata dasarnya "ajar", maka "belajar" diberi arti: (1) berusaha supaya beroleh kepandaian (ilmu dsb) dengan menghafal (melatih diri dsb), seperti dalam "belajar membaca" atau "belajar ilmu pasti"; dan (2) berlatih, misalnya dalam "belajar berenang" dan "belajar berkenalan". 2. Ernest R.Hilgard (1948), menyatakan learn is the process by which an activity originate or is a change through training procedures ( whether in the laboratory or in the natural environment) as distinguished from change by factors not attributable to training. 3. Cronbach, 1954. learn is shown by a change in behavior as a result of experience. 4. Harold Spear, 1955. Learn is to observe, to read, to initiate, to try something themselves, to listen, to follow instruction. 5. B.F. Skinner, 1958. Learn is a change in performance as a result of practice. 6. Thomas L. Good & Jere Brophy, 1977. learn is the development of new associations as a result of experience. 7. Douglas L. Hinzman, 1978. learn is a change in organization due to axperience which can effect the organization's behavior. 8. Witherington menjelaskan belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian. Dari pendapat diatas, agaknya makna belajar hampir semua dipertalikan dengan " proses perubahan ". Perubahan dalam hal apa? 1. Aspek Pengetahuan 2. Aspek Sikap / kemauan 3. Aspek Perilaku, Praktek dan ketrampilan 4. Perubahan pada aspek kinerja untuk kerja / performance Hasilnya untuk sementara dapat dirangkum menjadi satu : Belajar adalah proses pertumbuhan dan atau perubahan agar tahu, agar mau,agar bisa dan agar berhasil. atau dengan menempatkan manusia sebagi titik sentral dari proses pembelajaran, maka pengertian belajar mungkin juga bisa dipahami sebagai proses perubahan dan atau pertumbuhan manusia dari keadaan yang potensial (human being) menjadi aktual (being human) atau proses pemanusiawian manusia agar ia menjadi manusia sepenuhnya (fully human being). Dengan memperhatikan pengertian di atas, tidak terlalu anehjika sebagian (besar?) anggota masyarakat mempersamakan begitu saja kata "belajar" dengan "sekolah". Bukankah "sekolah" umumnya (dari tingkat SD sampai universitas) dipahami sebagai tempat "belajar" dalam arti memperoleh ilmu pengetahuan alam, sosial, dan lainnya, secara formal? "Belajar" juga dipersamakan dengan "kursus" dan "pelatihan" dalam arti berlatih untuk memperoleh keterampilan tertentu, baik yang bersifat teknis seperti kursus komputer, maupun yang nonteknis seperti pelatihan komunikasi dan manajemen, yang sifatnya non-formal. Masalahnya, 5

dengan mempersamakan begitu saja makna "belajar" dengan proses pendidikan yang bersifat formal dan non-formal, kita bisa melupakan sama sekali dimensi informal dari pendidikan yang justru paling penting dan merupakan dasar dari keduanya. Karena itu untuk mudahnya saya mengusulkan agar kata "belajar" kita pahami dalam sedikitnya empat arti, yakni: pertama, mengejar pengetahuan diri sebagai manusia (learning to be); kedua, memperkuat solidaritas dan tali silahturahmi sebagai mahluk sosial (learning how to live together); ketiga, meningkatkan pengetahuan (learning how to think and learn); dan keempat, meningkatkan keterampilan (learning how to do). Arti pertama dan kedua menunjuk pada dimensi informal (baca: pendidikan), yakni proses pembelajaran diluar lembaga-lembaga formal maupun non-formal. Arti ketiga menunjuk pada dimensi formal (baca: pengajaran), dan arti terakhir menunjuk pada dimensi non-formal (baca: pelatihan). Jadi, "belajar" yang sesungguhnya tidak dapat dan tidak mungkin dimonopoli sepenuhnya oleh lembaga-lembaga persekolahan yang formal itu. Tidak juga cukup bila ditambahkan dengan pelatihan- pelatihan di lembaga non-formal, tetapi harus berbasiskan keluarga dan masyarakat dimana hubungan antar pribadi berlangsung secara informal. Manajemen pendidikan berbasiskan sekolah mungkin penting, namun hal itu hanya merupakan sebagian dari proses pembelajaran dan pendidikan dalam artinya yang lebih dalam. Keempat makna belajar di atas itulah yang membuat saya berkeyakinan bahwa pada hakikatnya manusia itu dilahirkan pertama-tama sebagai mahluk pembelajar. Ia adalah satusatunya mahluk yang dapat dan memang harus "belajar". Hal itu saya tegaskan dengan menggunakan istilah "manusia pembelajar". Dan dalam buku Menjadi Manusia Pembelajar (Kompas, 2000), istilah "manusia pembelajar" itu saya definisikan sebagai: setiap orang (manusia) yang bersedia menerima tugas dan tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting, yakni: pertama, berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi-talenta dan bakat-bakat terbaiknya, dengan selalu berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistensial seperti "Siapakah aku?", "Dari manakah aku datang?", "Kemanakah aku akan pergi?", "Apakah yang menjadi tanggung jawabku dalam hidup ini?", dan "Kepada siapa aku harus percaya?"; dan kedua, berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap bakatpotensi-talenta-nya itu, mengekspresikan dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya, seutuhutuhnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan segala sesuatu yang "bukan dirinya". Tugas dan tanggung jawab pertama di atas membawa setiap pribadi pada perenungan diri agar ia menyadari keberadaannya sebagai "apa" dan "siapa". Tugas dan tanggung jawab kedua di atas membawa manusia untuk menampilkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri (delinked, tak terkait dengan lingkungannya) sekaligus saling bergantung dengan lingkungan hidup di sekitarnya (linked). Dan "belajar" dalam konteks ini tak lain adalah mengusahakan agar tampilan diri (personalitas, kepribadian) itu mencerminkan hakikat atau jati diri (bakat, karakter) manusia itu. Kedua tugas dan tanggung jawab tersebut melekat pada keberadaan manusia pribadi lepas pribadi. Tak bisa, dan memang tidak mungkin, ia "mendelegasikan" hal itu kepada pribadi atau pihak (lembaga, misalnya) lain yang bukan dirinya. Sebab saya menyetujui pandangan yang mengatakan bahwa menurut kodratnya, manusia memang memiliki Aufgabe (tugas) untuk membentuk dirinya sendiri. Dan karena ia pada dasarnya adalah unfertiges Wesen, mahluk yang tidak siap, maka ia perlu "belajar" dalam arti mempersiapkan dirinya untuk tugas memanusiawikan dirinya dan sesamanya. Saya juga menyetujui pandangan yang mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah "pembuat kesalahan" (Islam), semua manusia "telah jatuh ke dalam dosa" (Kristiani), dan "Erare humanum est" (Latin). Dan "belajar" dalam hal ini merupakan proses mengalami "metanoia", "paradigm repentance" alias pertobatan secara moral6

spiritual. "Belajar" bukan hanya sekadar memperoleh ilmu pengetahuan, meski itu sangat penting. "Belajar" bukan sekadar meningkatkan keterampilan, meski itu juga penting. "Belajar" itu bertobat, inilah yang terpenting (the most important). Pada titik ini kita mungkin dapat memahami makna yang lebih dalam dari "belajar". "Belajar" tak lain adalah proses pemanusiawian diri sendiri dan pemanusiawian sesama secara serentak bersamaan. "Belajar" adalah proses mengakui kesalahan dan bersedia meninggalkan yang salah itu dengan cara berharap sepenuhnya kepada Tuhan. Bahwa untuk itu diperlukan pengetahuan (knowledge) dari lembaga-lembaga pengajaran formal (termasuk agama dengan a kecil), sudah pasti. Bahwa untuk itu diperlukan keterampilan (skill) yang bisa diperoleh lewat pelatihan di lembaga-lembaga nonformal, juga jelas. Namun basis utamanya adalah proses pembelajaran dalam suasana informal, pertama-tama di rumah (keluarga) dan kemudian dalam masyarakat (lingkungan). Di rumah dan di masyarakatlah watak moral dan karakter seseorang dibentuk. Jadi, bila Sindhunata pernah mengatakan bahwa "pendidikan (di Indonesia, meski mungkin juga benar di negara lain-pen) hanya menghasilkan air mata", maka saya bertanyatanya apa yang terjadi dalam keluarga dan masyarakat kita selama ini? Bagaimana dengan hubungan suami-istri-anak di rumah-rumah kita? Bagaimana hubungan antar tetangga di masyarakat kita? Apakah rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) benar-benar benar-benar menciptakan kerukunan dan bukan pertengkaran? Apakah para pemimpin masyarakat, di pusat dan di daerah, di bidang ekonomi, politik, dan hukum, telah memainkan peranannya sebagaimana seharusnya? Apakah para pemimpin-pemimpin agama benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya? Tugas, tanggung jawab, dan panggilan pertama seorang manusia adalah menjadi manusia pembelajar. Sedangkan pelajaran pertama dan terutama yang perlu dipelajarinya adalah belajar menjadikan dirinya semanusiawi mungkin—memanusiakan manusia. Sesuai dengan isyarat yang terdapat dalam ayat Al-Quran yang pertama kali turun : iqro—bacalah—dan qolam—pena. Ayat 1-5 Surat Al-Alaq mengajarkan kepada manusia untuk tidak berhenti belajar—dalam arti luas. Tugas pertama manusia sebagai pembelajar memberikan kepada kita pemahaman bahwa itulah keunikan manusia dibandingkan dengan berbagai makhluk Allah lainnya, khususnya dengan binatang. Manusia dapat belajar tentang, belajar (melakukan), dan belajar menjadi dirinya sendiri. Sementara itu, binatang hanya dimungkinkan untuk belajar. Binatang tidak dapat belajar tentang, apalagi belajar menjadi. Ignas Kleden pernah menjelaskan perbedaan antara belajar tentang dan belajar. Misalnya, belajar tentang bersepeda berarti mempelajari teori-teori yang terkait dengan sepeda dan itu dapat dilakukan di sebuah ruangan yang tak ada sepeda sama sekali (cukup dengan buku panduan atau video turorial). Lain halnya dengan belajar bersepeda. Belajar bersepeda berarti pergi membawa sepeda ke tanah lapang atau jalan dan langsung melakukan, jatuh, bangun, jatuh lagi, lalu bangun, luka dan sebagainya. Atau belajar tentang bahasa Indonesia berarti mempelajari imbuhan, kata depan, awalan-akhiran, peribahasa, ungkapan, dan sebagainya. Sementara belajar bahasa Indonseia berarti berlatih mengarang, menulis, berpidato, berpuisi, dsb. Kleden kemudian menegaskan bahwa belajar pada dasarnya berarti mempraktikkan sesuatu, sedangkan belajar tentang hanya sebatas pada tahap mengetahui saja. Demikianlah belajar bahasa Inggris berarti mempraktikkan bahasa Inggris, vocabulary, conversation, dsb. Begitu juga dengan belajar menulis, belajar menulis berarti mempraktikkan teknik penulisan, memantik gagasan, belajar menuangkan kata, dsb. Selama pengetahuan belum diapropriasikan dan belum diambil sebagai bagian dari diri yang dapat digunakan seperti seseorang menggunakan kaki dan tangannya, maka pada dasarnya ia baru belajar tentang. Dia baru tahu tentang teori-teori bahasa Inggris dan kepenulisan, tapi belum tentu mampu mempraktikkannya dengan baik. 7

Tulisan Kleden berhasil menjelaskan perbedaan antara pengetahuan (knowledge)—yang dapat kita peroleh dari lembaga-lembaga pengajaran seperti sekolah dan universitas—dengan pelatihan skill. Sesuatu yang bersifat keterampilan tidak bisa diperoleh hanya dengan mengakumulasi pengetahuan, betapa pun banyaknya pengetahuan itu. Para penyandang gelar MBA, MM atau bahkan Doktor Manajemen, jelas tahu banyak soal ilmu manajemen dan ilmu administrasi, tapi belum tentu mampu melaksanakan, mempraktikkan ilmunya itu dalam situasi nyata. Begitu juga para pakar politik dan ekonomi yang mampu berpikir kritis, pandai berteori tentang cara mengatur pembagian kekusaan dan membangun sistem ekonomi Indonesia, tapi belum tentu mampu mengaplikasikan teori-teorinya ketika diberi kursi atau jabatan di pemerintahan. Dalam hal apa yang dipelajari seseorang itu adalah suatu ilmu atau teori, maka penjelasan Kleden amat berguna untuk menyadarkan kita bahwa seringkali antara teori di satu sisi dan praktik di sisi lainnya, memang terdapat kesenjangan. Masalahnya bila yang kita pelajari itu bukan teori atau ilmu, tapi manusia, maka pembedaannya bukan belajar tentang dan belajar (melakukan) saja, tapi juga belajar menjadi. Artinya, jika berbicara mengenai belajar tentang (learning how to think) dan belajar dalam arti praktik (learning how to do), maka yang perlu kita tambahkan dalam konteks manusia pembelajar yang berproses memanusiawikan dirinya adalah belajar menjadi (learning to be). Disini kita tidak membicarakan semata-mata soal pengajaran dan pelatihan, tapi juga proses pembelajaran, yakni pendidikan dalam arti yang sejati.Dari segi pengajaran, belajar tentang manusia berarti mempelajari biologi, psikologi, fisiologi, sosiologi, antroplogi, filsafat, dan berbagai kajian ilmu yang meletakkan manusia sebagai objek dan teori. Lalu belajar memanusiawikan diri berarti praktik, mencoba menerapkan perilaku dan kebiasaan tertentu yang menurut teori hanya dapat dilakukan oleh manusia. Diantara teori (knowledge) dan praktik (skill) terdapat semacam jembatan yang justru amat penting untuk dapat memanusiawikan diri seseorang, yakni ia harus belajar menjadi : yakni dengan merenungkan hakikat dirinya terlebih dahulu, mencari jati dirinya, menghayati keberadaannya sebagai “apa” dan “siapa”. Tidak semua teori tentang manusia perlu dipraktikkan. Teori-teori tentang kemampuan manusia berbuat sesuatu yang jahat—yang immoral, yang tidak etis—memang perlu dipelajari, tapi tentu tidak untuk dipraktikkan. Dalam perbandingannya dengan binatang, kita dapat mengatakan bahwa binatang dimungkinkan untuk belajar atau juga—dalam batas tertentu —untuk belajar tentang, tapi mustahil untuk bisa belajar menjadi. Misalnya, kita dapat melatih monyet untuk membuka kulit kacang, menari, dan sebagainya. Akan tetapi, kita tidak dapat melatih dan mengajarkan monyet untuk belajar menjadi dirinya sendiri (memonyetkan dirinya). Kita dapat mengajar lumba-lumba untuk menerobos lingkaran api, menyudul bola, dsb—seperti yang ditampilkan pada sirkus—tetapi tidak dapat membuatnya belajar menjadi dirinya sendiri. Kita dapat melatih anjing, gajah, harimau, kuda, dan binatang lainnya untuk melakukan apapun —dalam sirkus, tapi tidak untuk menyadarkan keberadaannya atau merenungi hakikat dan berproses menjadi dirinya. Jelaslah bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang dibekali kemampuan untuk belajar tentang (pengajaran) agar ia dapat belajar menjadi (pembelajaran) dengan cara belajar melakukan (pelatihan). Ia adalah subjek sekaligus objek bagi dirinya sendiri. Ia dapat mengambil jarak dengan dirinya, mengamatinya, dan mencoba mendefinisikannya dalam hubungannya dengan hal-hal dan dunia di luar dirnya, yakni dengan ciptaan-ciptaan Allah lainnya (alam, binatang, tumbuhan, dsb), juga dengan sesama manusia. Akan tetapi, mungkin yang membuatnya unik dan tidak dapat dibandingkan dengan binatang adalah kemampuan manusia untuk menyadari keberadaannya serta menempatkan dirinya dalam suatu hubungan dengan Sang Pencipta. Belajar harus menjadi hal yang menyenangkan. Anda belajar bukan kerena terpaksa tetapi karena belajar memang menyenangkan dan Anda mencintainya. Bobbi de Porter memberikan pemecahan alternatif dengan metode Quantum Learning. 8

Nama Quantum sendiri menunjukkan adanya lompatan besar terhadap cara pandang kita selama ini tentang belajar. Dengan berbagai keterampilan teknis seperti membaca cepat, teknik mencatat, bagaimana berpikir logis dan kreatif, serta menghilangkan mitos “Aku tidak bisa”. Perubahan paradigma ini diharapkan dapat memberikan hasil nyata terhadap kesuksesan Anda. Belajar seperti ini, mengharuskan Anda untuk memotivasi diri sendiri. Anda harus tahu manfaat apa yang bakal diperoleh dari ilmu yang Anda pelajari. Bagaimana mungkin Anda termotivasi jika Anda tidak tahu manfaat pekerjaan yang Anda lakukan? Anda tidak mungkin mengharapkan pujian orangtua, mendapat dukungan dari teman-teman, atau harapan positif lainnya. Anda harus secara aktif menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi diri Anda. Ketika semua orang tak lagi memotivasi, Anda harus mencari lingkungan baru yang dapat memotivasi Anda. Jika hal itu pun tak dapat dilakukan, setidaknya Anda masih punya diri sendiri untuk memberi semangat. Jika kita melihat sejarah ke belakang, kita akan temui banyak sekali orang yang belajar dengan benar. Anda pasti kenal Aristoteles, seorang ahli hikmah dari Yunani. Anda juga perlu merujuk pada ilmuwan muslim masa lalu. Al-Farabi yang ahli fisika, Ibnu Sina yang ahli kedokteran, atau Jabir bin Hayyan yang ahli kimia serta banyak lagi lainnya. Mereka adalah para ahli multi disiplin ilmu. Mereka sekaligus spesialis tak tertandingi di bidangnya. Satu hal yang seringkali kita lupa bahwa kita pun merniliki potensi yang sama dengan mereka. Hanya saja, mereka memanfaatkan potensi tersebut sedangkan kita mengabaikannya. Apa yang membedakan mereka dari kita? Tampaknya hanya satu hal yakni paradigma atau cara pandang mereka terhadap proses belajar itu sendiri. Mereka belajar dengan cara menemukan lebih dahulu apa manfaat dan bidang-bidang yang mereka kuasai. Mereka tidak ingin sekedar prestise yang diperoleh dari selembar ijazah tapi ingin penguasaan yang menyeluruh. Dengan demikian, mereka belajar dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka akan terus menggali ilmu dengan kesungguhan sampai maut memisahkan. Agama menyuruh umatnya untuk giat menuntut Ilmu. Al-Qur’an mengatakan bahwa Allah SWT meninggikan derajat orang yang berilmu lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak berilmu. Nabi mengajarkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina sekalipun. Ilmu laksana hikmah yang harus terus dicari, digali, dieksplorasi dan akhimya diambil dan dimanfaatkan demi kebaikan. Betapa banyak ayat-ayat Al-Qn’an yang menyuruh kita menggunakan akal untuk berpikir, menggunakan hati untuk merenung, serta memanfaatkan potensi diri sebesar-besarnya. Sebagai seorang calon intelektual kegiatan belajar merupakan makanan sehari-hari bagi Anda. Akan tetapi, sudahkah Anda memiliki motivasi yang tepat, niat yang benar serta mampu melihat manfaat dari setiap bidang yang Anda pelajari? Wallahu a’lam. Insya Allah, dengan mengubah cara pandang tentang belajar maka belajar Anda akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Anda tidak akan pernah lagi merasakan belajar sebagai sebuah beban melainkan melihatnya sebagai sebuah tantangan. Anda akan memasuki wilayah eksplorasi ilmu yang tiada habishabisnya. Anda akan merasakan indahnya ilmu Allah SWT yang saling terkait satu sama lain. Anda akan terus-menerus menemukan manfaat dan minat-minat baru dalam belajar. Anda tidak akan pernah puas mereguk lautan ilmu. Semakin banyakAnda mereguknya, Anda hanya akan semakin haus. Dan akhirnya Anda akan menjadi seorang pelajar Quantum. Seorang yang belajar kapan saja, di mana saja, dari siapa saja dan dengan cara apa saja. Anda bisa belajar di ruang kelas, di kamar pribadi, di bus, atau di jalanan. Anda dapat memperoleh ilmu dari dosen, teman, tukang ojek, atau bahkan anak-anak. Andajuga dapat belajar dengan cara membaca buku, berdialog dengan orang lain, belajar dari pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain, atau belajar dan alam semesta dengan melihat tanda-tanda kebesaran-Nya. Belajar Anda tidak lagi mengenal batasan tempat dan waktu.

4. KESIMPULAN
9

Jadi, Belajar adalah proses dari tidak tahu menjadi tahu. Jelaslah bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang dibekali kemampuan untuk belajar tentang (pengajaran) agar ia dapat belajar menjadi (pembelajaran) dengan cara belajar melakukan (pelatihan). Ia adalah subjek sekaligus objek bagi dirinya sendiri. Ia dapat mengambil jarak dengan dirinya, mengamatinya, dan mencoba mendefinisikannya dalam hubungannya dengan hal-hal dan dunia di luar dirnya, yakni dengan ciptaan-ciptaan Allah lainnya (alam, binatang, tumbuhan, dsb), juga dengan sesama manusia. Belajar memiliki empat tujuan diantaranya learn to do, learn to know , learn to be, dan learn to life together.

5. PENUTUP
Isi dari seluruh makalah ini tidak terlepas dari sebuah kekurangan serta kekeliruan baik yang bersifat tekhnis dalam penyusunannya. sebagaimana karena kita sadari bahwa segala hasil ciptaan manusia. Tidak ada sepenuhnya menjamin kesempurnaan, Untuk itu kami mengharapkan kritik, saran dan masukan dari anda guna untuk membangun kekurangan dari makalah ini.

10

DAFTAR PUSTAKA
Harefa, Andreas.2000.Menjadi Manusia Pembelajar.jakarta : Kompas Kleden, Ignas : Belajar dan Belajar Tentang, Tempo, 9 April 1988 Andrias Harefa, Mengasah Paradigma Pembelajar 2003 http://rizaldp.wordpress.com/2010/10/29/insan-pembelajar-1-tentang-makna-belajar.html http://aryadevi.co.cc/feeds/posts/default?alt=rss http://muslich-m.blogspot.com/feeds/posts/default?alt=rss

11

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->