P. 1
Laporan Praktikum Pupuk Dan Pemupukan

Laporan Praktikum Pupuk Dan Pemupukan

|Views: 1,601|Likes:
Published by Nol Enam

More info:

Published by: Nol Enam on Aug 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/09/2013

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM PUPUK DAN PEMUPUKAN (341 G213

)

KELOMPOK 8 RATI PRADHANIA SUDIRMAN (G 111 09 294) (G 211 06 019)

JURUSAN ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

HALAMAN PENGESAHAN Judul : Laporan Praktikum Pupuk dan Pemupukan (341 G213) Nama : Rati Pradhania

(G 111 09 294) (G 211 06 019)

Sudirman
Kelompok Jurusan : 8 (Delapan) : Agroteknologi

Laporan ini Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Melulusi Mata Kuliah Pupuk dan Pemupukan (341 G213)

Pada

Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar 2011

Menyetujui, Koordinator Asisten Asisten Pembimbing

( Hamran ) Tanggal Pengesahan : 18 Mei 2011

(A. Nur Aisyah T)

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pupuk, lahan, tenaga kerja dan modal adalah faktor produksi utama dalam suatu kegiatan pertanian. Pada umumnya pemupukan memegang peranan penting dalam menunjang pertumbuhan dan produktivitas tanaman, namun agar tujuan pemupukan itu tercapai, maka pupuk harus diaplikasikan secara tepat. Jumlah pupuk yang diberikan kepadatan aman juga harus diperhatikan jangan sampai melampaui dosis harus tepat dengan kebutuhan hara yang diperlukan oleh tanaman yang akan dipupuk. Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik, sedangkan pemupukan adalah pemberian berbagai jenis pupuk kedalam tanah. Maksud pemupukan adalah memberikan unsur hara kedalam tanah agar cukup tersedia untuk pertumbuhan tanaman. Pemupukan yang efektif dan efisien akan tercapai apabila diketahui dulu kondisi kesuburan lahan dan jenis tanaman, kemudian dibuatkan susunan hara (formula) berdasar kepentingan spesifik lokasi kebun tertentu. Tiap jenis tanaman membutuhkan unsur banyak dalam saat-saat tertentu pada pertumbuhannya sehingga waktu pemberian pupuk harus disesuaikan pada saat ini, misalkan untuk pupuk kompos pada tanah Alfisol, pemberian pupuk terlalu awal akan berakibat hilangnya pupuk oleh pencucian sebelum dapat diambil oleh tanaman. Selain itu dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut,

agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan dan jika pupuk yang diberikan terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pemupukan dengan menggunakan pupuk kompos dapat meningkatkan ketersediaaan unsur hara sehingga sesuai dengan kebutuhan tanaman, apalagi kompos yang mempunyai C/N rationya sebesar 9,0 ± 20,0%, dengan penambahan bahan organic itu sangat banyak memperbaiki kualitas tanah. Bahan organic ini mempunyai nilai tertentu yaitu pembentukan agregat dari pertikel-partikel tanah. Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan percobaan ini untuk melihat pengaruh pupuk kompos khususnya pada tanah Alfisol terhadap pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman jagung (Zea mays L). 1.2 Tujuan dan Kegunaan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk kompos II terhadap pertumbuhan tanaman jagung pada tanah Alfisol. Kegunaannya adalah sebagai informasi bagi mahasiswa tentang pemberian pupuk kompos terhadap pertumbuhan tanaman jagung pada tanah Alfisol.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanah Alfisol Tanah Alfisol merupakan morfologi yang khas dari Alfosol dicirikan oleh horizon eluviasi dan iluviasi yang jelas, yang mana horizon permukaan umumnya berwarna terang karena dipengaruhi oleh beberapa jenis mineral seperti kuarsa yang dapat mempengaruhi warna tanah Alfisol lebih terang (Hardjowigeno, 1995). Tanah Alfisol memiliki struktur tanah yang liat. Liat yang tertimbun di horizon bawah ini berasal dari horizon diatasinya dan tercuci kebawah bersama dengan gerakan air. Dalam banyak pola Alfisol digambar adanya perubahan tekstur yang sangat jelas dalam jarak vertikal yang sangat pendek yang dikenal Taksonomi Tanah (USDA, 1985) sebagai Abrupat Tekstural Chage (perubahan tekstur yang sangat ekstrim) (Buchman dan Brady, 1982). 2.2 Tanaman Jagung (Zea mays L.) Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetative dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generative (Effendi, 1985). Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan (Kuswara, 1982).

Fungsi dari akar penyangga adalah menjaga tanaman agar tetap tegak dan mengatasi rebah batang. Akar ini juga membantu penyerapan hara dan air. Perkembangan akar jagung (kedalaman dan penyebarannya) bergantung pada varietas, pengolahan tanah, fisik dan kimia tanah, keadaan air tanah, dan pemupukan. Akar jagung dapat dijadikan indicator toleransi tanaman terhadap cekaman aluminium. Tanaman yang toleran aluminium, tudung akarnya terpotong dan tidak mempunyai bulu-bulu akar (Syafruddin, 2002). Jagung (Zea mays L.) sangat cocok ditanam di daerah yang sejuk dan cukup dingin. Tanaman ini tumbuh baik mulai dari 50o LU sampai 40o LS dengan ketinggian 3000 m dpl. Faktor-faktor iklim yang paling mempengaruhi peretumbuhan tanaman adalah curah hujan dan suhu. Secara umum tanaman jagung (Zea mays L.) memerlukan air sebanyak 200 ± 300 mm/bulan (PalungkundanAsiani, 1991). Tanaman jagung (Zea mays L.) dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. Tanah-tanah dengan kandungan unsure hara tinggi, kelembaban yang optimal dan factor-faktor eksternal, seperti curah hujan, dan temperatur yang optimum bagi pertumbuhan tanaman dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung (Zea mays L.) (PalungkundanAsiani, 1991). 2.3 Pupuk Kompos Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik.

Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi (Crawford, 2003). Manfaat kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan

kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit (Isroi, 2008). Kompos sebagai penyedia unsure hara utama nutrient tanah (NPK) didalam kompos terdapat kandungan Nitrogen (N) sebesar 0,7 - 2,5%, Karbon ( C ) sebesar 19,0 ± 40%, Fosfor (P) sebesar 0,01 - 0,14%, Kalium (K) sebesar 0,39 ± 1,35%, Magnesium (Mg) sebesar 0,04 ± 0,21%, Kalsium (Ca) 0,13 ± 1,32%, dan C/N rationya sebesar 9,0 ± 20,0% (Handsayani, 2009). Kekurangan dari kompos adalah kandungan unsure hara jumlahnya kecil, sehingga jumlah pupuk yang diberikan harus relatif banyak bila dibandingkan dengan pupuk anorganik, karena jumlahnya banyak, menyebabkan memerlukan tambahan biaya operasional untuk pengangkutan dan implementasinya. Dan keunggulannya adalah pupuk organic mengandung unsure hara yang lengkap, baik unsure hara makro maupun unsure hara mikro. Kondisi ini tidak dimiliki oleh pupuk buatan (anorganik). Selain itu untuk memperbaiki dan menjaga struktur tanah dan menjadi penyangga pH tanah serta menjadi penyangga unsur hara anorganik yang diberikan (Isroi, 2008).

III.

BAHAN DAN METODE

3.1 Tempat dan Waktu Praktikum Pupuk dan Pemupukan dilaksanakan di Kebun Percobaan Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar pada bulan Februari sampai Mei 2011. 3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cangkul, parang, pot ukuran 15 kg, dan meteran/mistar. Sedangkan bahan yang digunakan adalah benih jagung, tanah Alfisol sebanyak 15 kg, label, pupuk kompos dengan berat 75 gram. 3.3 Prosedur Kerja Adapun prosedur kerja dari praktikum ini adalah: 1. 2. Membersihkan lahan Mengambil sampel tanah Alfisol dengan menggunakan cangkul dan skop. Kemudian, tanah yang telah diambil dikering udarakan. 3. 4. 5. Mengisi ember dengan tanah yang sudah dikering udarakan sebanyak 15 kg. Melakukan penyiraman sampai tanah pada keadaan jenuh. Melakukan pemupukan dengan cara mencampur tanah dengan pupuk kompos sebanyak 75 gram.

6.

Menyiapkan benih jagung yang akan ditanam, sebelumnya benih itu direndam selama 1 x 24 jam.

7.

Menanam benih jagung, setelah penanaman maka dilakukan penyiraman dan perawatan tanaman.

8.

Melakukan pengamatan setiap minggu, dengan parameter tinggi tanaman dan jumlah daun.

9.

Memotong tanaman jagung, lalu menimbang berat segar dan berat keringnya.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Berdasarkan praktikum Pupuk dan Pemupukan yang telah dilakukan maka didapatkan hasil sebagai berikut. 4.1.1 Tinggi Tanaman Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan diperoleh hasil pengukuran tinggi tanaman jagung (Zea mays L.) selama bulan Febuari sampai Mei adalah sebagai berikut : Grafik 1. Pengukuran Tinggi Tanaman Jagung Setiap Minggu

Grafik Tinggi Tanaman
120 100 80 60 40 20 0 Kompos 1 Kompos 2 Kompos 3 Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5 Minggu 6 Minggu 7 Minggu 8

Gambar 1: Diagram perbandingan tinggi tanaman jagun pada perlakuan kompos 1, Kompos 2 dan Kompos 3.

4.1.2 Jumlah Daun Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan diperoleh hasil pengukuran jumlah daun tanaman jagung (Zea mays L.) selama bulan Febuari sampai Mei adalah sebagai berikut : Grafik 2. Pengukuran Jumlah Daun Tanaman Jagung Setiap Minggu

Grafik Jumlah Daun
9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Kompos 1 Kompos 2 Kompos 3 Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5 Minggu 6 Minggu 7 Minggu 8

4.1.3 Berat Segar Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan diperoleh hasil pengukuran berat segar tanaman jagung (Zea mays L.) selama bulan Febuari sampai Mei adalah sebagai berikut :

Grafik 3. Berat Segar Tanaman Jagung

Grafik Berat Segar
140 120 100 80 60 40 20 0 Kompos 1 Kompos 2 Kompos 3 70.63 57 119.97

4.1.4 Berat Kering Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan diperoleh hasil pengukuran berat segar tanaman jagung (Zea mays L.) selama bulan Febuari sampai Mei adalah sebagai berikut : Grafik 4. Berat Kering Tanaman Jagung

Grafik Berat Kering
50 40 40.7 30 20 10 0 Kompos 1 Kompos 2 Kompos 3 11.77 45.37

4.1.5 Gejala Morfologi Tanaman Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan diperoleh hasil pengukuran berat segar tanaman jagung (Zea mays L.) selama bulan Febuari sampai Mei adalah sebagai berikut : Tabel 1. Gejala Morfologi pada Tanaman Jagung Perlakuan Gejala yang diperhatikan Tanaman kerdil serta kurus. Daun dan batang nampak menguning serta batang tidak tegak/layu. Jumlah daun sedikit serta tidak terjadi pertumbuhan bunga Pada minggu ke-V hingga minggu ke-VIII terdapat bercak kuning pada daun, kemudian menguning secara keseluruhan lalu mengering dan daun menjadi gugur Daun perlahan-lahan menguning dan lama kelamaan daun akan mengering. Tanaman jagung nampak kerdil jika dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman jagung pada umumnya.

Kompos 1

Kompos 2

Kompos 3

Sumber: data primer setelah diolah, 2011 4.2 Pembahasan Berdasarkan praktikum Pupuk dan Pemupukan yang telah dilakukan, yaitu dengan menggunakan pupuk kompos dengan beberapa perlakuan, yaitu kompos 1,

kompos 2, dan kompos 3 yang masing-masing mempunyai dosis yang berbeda pada setiap tanaman jagung. Pada perlakuan kompos 1, kompos 2, dan kompos 3 didapatkan hasil yang berbeda. Berikut ini adalah pembahasan dari hasil yang telah diperoleh dengan beberapa parameter pengamatan yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, berat segar, berat kering dan gejala morfologi yang terdapat pada jagung selama praktikum berlangsung. 4.2.1 Tinggi Tanaman Salah satu parameter pengamatan dalam praktikum ini adalah tinggi tanaman pada jagung, hasil yang didapatkan pada minggu ke- I sampai minggu ke- VIII pada perlakuan kompos 1 berturut-turut adalah 8,27 cm, 27 cm, 40,17 cm, 57,75 cm, 64,77 cm, 72,5 cm, 84,33 cm dan 94,67 cm, pada perlakuan kompos 2 yaitu 4,17 cm, 21,6 cm, 41,83 cm, 60,5 cm, 75,17 cm, 87,67 cm, 93,5 cm, dan 100,33 cm, sedangkan pada perlakuan kompos 3 hasilnya adalah 12,83 cm, 23 cm, 33,67 cm, 54,67 cm, 76 cm, 89,2 cm, 60 cm dan 63 cm.

Kecepatan tertinggi untuk tumbuh pada perlakuan kompos 1 terdapat pada minggu pertama ke minggu kedua yaitu sebesar 18,73 cm, untuk perlakuan kompos 2 pertumbuhan tercepat terdapat pada minggu kedua ke minggu ketiga sebesar 20,22 cm, dan untuk perlakuan kompos 3 terdapat pada minggu ke lima ke minggu ke enam sebesar 21,33 cm. 4.2.2 Jumlah Daun Hasil dari pengamatan jumlah daun yang telah dirata-ratakan pada setiap perlakuan dari minggu ke- I sampai minggu ke- VIII yaitu pada perlakuan kompos 1 berturutturut adalah 2 helai, 5 helai, 6,33 helai, 5,33 helai, 6 helai, 6,33 helai, 7 helai, dan 7,33 helaian daun. Untuk kompos 2 didapatkan hasil yaitu 0,67 helai, 4 helai, 6,67 helai, 7,33 helai, 7 helai, 7,33 helai, 7,33 helai dan 8 helaian daun jagung. Sedangkan pada perlakuan kompos 3 adalah 2,67 helai, 4 helai, 5,33 helai, 6,67 helai, 7 helai, 8 helai, 5,67 helai, 6,33 helaian daun. 4.2.3 Berat Segar Berat basah tanaman jagung diperoleh pada saat jagung telah dipanen dengan cara dipotong, berikut ini hasil berat segar yang telah didapatkan, pada perlakuan kompos 1 sebesar 70,63 gram, pada kompos 2 berat jagung sebesar 119,97 gram dan pada kompos 3 sebesar 57 gram. 4.2.4 Berat Kering

Setelah didapatkan berat basah, jagung dimasukkan dalam oven agar didapatkan berat kering dari tanaman jagung tersebut. Adapun hasil dari berat kering jagung pada perlakuan kompos 1 sebesar 40,7 gram, pada perlakuan kompos 2 sebesar 45,37 gram, dan pada perlakuan kompos 3 didapatkan berat sebesar 11,77 gram. 4.2.5 Gejala Morfologi Tanaman Dari pengamatan yang telah dilakukan selama bulan Febuari sampai bulan Mei didapatkan gejala tanaman pada kompos 1 yaitu tanaman jagungnya menjadi kerdil serta kurus. Daun dan batang nampak menguning serta batang tidak tegak/layu. Jumlah daun sedikit serta tidak terjadi pertumbuhan bunga. Gejala pada kompos 2 adalah pada minggu ke-V hingga minggu ke-VIII terdapat bercak kuning pada daun, kemudian menguning secara keseluruhan lalu mengering dan daun menjadi gugur. Sedangkan gejala morfologi pada kompos 3 adalah daun jagung perlahanlahan menguning dan lama kelamaan daun akan mengering. Tanaman jagung nampak kerdil jika dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman jagung pada umumnya.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dari laporan Pupuk dan Pemupukan di atas dapat di simpulkan bahwa :  Perlakuan dengan menggunakan pupuk kompos dibagi menjadi tiga yaitu kompos 1, kompos 2 dan kompos 3 yang masing-masing dibagi berdasarkan dosis pupuk kompos yang digunakan. 

Parameter pengamatan yang dilakukan yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, berat segar, berat kering dan gejala morfologi yang terdapat pada jagung selama praktikum berlangsung.  Dari semua parameter pengamatan yang telah dilakukan, perlakuan kompos 2 paling baik pertumbuhannya. Hal ini dapat dilihat dari tanaman jagung yang tertinggi yaitu 100,33 cm, dan kecepatan pertumbuhan tanaman jagung yang tertinggi juga terdapat pada perlakuan kompos 2 yaitu sebesar 20,22 cm. Jumlah daun terbanyak sebanyak 8 helaian daun, berat segar sebesar sebesar 119,97 gram, berat kering sebesar 45,37 gram, dan gejala morfologi tanamannya paling ringan karena hanya terdapat bercak kuning dan daun yang gugur karena menguning sedangkan pada perlakuan kompos yang lain tanamannya kerdil, menguning kemudian daunnya gugur.  Perlakuan kompos 2 dengan dosis pupuk 75 gram sangat sesuai untuk tanaman jagung pada tanah Alfisol.

5.2 Saran Sebaiknya dalam praktikum Pupuk dan Pemupukan ini pengambilan data mingguan yaitu parameter tinggi tanaman dan jumlah daun dilakukan dengan serentak tiap minggu selain itu seharusnya dilakukan pertukaran data yang telah diambil tersebut setiap minggunya agar pada saat pembuatan laporan tidak bingung lagi mencari data dari kelompok lain.

. DAFTAR PUSTAKA

Buckman, H. O., N, C Brady, 1982. Ilmu Tanah. Penerbit Bharata Karya Aksara : Jakarta. Crawford. 2003. Pengaruh Kompos Terhadap Ketersediaan Hara dan Produksi Tanaman Caisin Pada Tanah Latosol Dari Gunung Sindur. http://www.superpimper.com/pupuk-dan-pemupukan.html. diakses pada tanggal 1 Mei 2011. Effendi, S. 1985. Bercocok Tanam Jagung. PT Mediyatama yasaguna. Jakarta.

Handayani, Mutia. 2009. Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Kompos Terhadap Pertumbuhan Bibit Salam. http://eone87.wordpress.com/PUPUK DAN PEMUPUKAN. diakses pada tanggal 1 Mei 2011. Hardjowigeno, S. 1995. Ilmu Tanah. Penerbit Akademi Pressindo. Jakarta. Isroi. 2008. Kompos. Makalah. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor. Kuswara, J. 1982. Jagung. Departemen Agronomi Fakultas Pertanian IPB. Bogor. Mul Mulyani, 1999. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.

LAMPIRAN I

y

Lampiran Perhitungan

Tabel 1. Tinggi Tanaman pada Kompos 1 Kompos 1 1 2 3 Rata-rata Minggu I 10 9.5 5.3 8.27 Minggu II 15.5 33 32.5 27.00 Minggu III 25.5 39 56 40.17 Minggu IV 38.7 55.5 79 57.73 Minggu V 45.8 58.5 90 64.77 Minggu VI 53 67.5 97 72.50 Minggu VII 67 71 115 84.33 Minggu VIII 78 85 121 94.67 Jumlah 333.5 419 595.8 449.43 Rata-rata 41.69 52.38 74.475 56.18 Sumber: data primer setelah diolah, 2011 Pengamatan

Tabel 2. Tinggi Tanaman pada Kompos 2 Kompos 2 1 2 3 Rata-rata Minggu I 6 2.5 4 4.17 Minggu II 27 12.3 25.5 21.60 Minggu III 42 38 45.5 41.83 Minggu IV 55 61.5 65 60.50 Minggu V 65 75.5 85 75.17 Minggu VI 84 82.5 96.5 87.67 Minggu VII 91 85 104.5 93.50 Minggu VIII 106 88 107 100.33 Jumlah 476.00 445.30 533.00 484.77 Rata-rata 59.50 55.66 66.63 60.60 Sumber: data primer setelah diolah, 2011 Pengamatan

Tabel 3. Tinggi Tanaman pada Kompos 3 Kompos 3 1 2 3 Rata-rata Minggu I 13 15 10.5 12.83 Minggu II 26 23 20 23 Minggu III 40 31 30 33.67 Minggu IV 54 53 57 54.67 Minggu V 67 91 70 76 Minggu VI 75 96 96.6 89.2 Minggu VII 82 98 0 60 Minggu VIII 85 104 0 63 Jumlah 442.00 511.00 284.10 412.37 Rata-rata 55.25 63.88 35.51 51.55 Sumber: data primer setelah diolah, 2011 Pengamatan

Tabel 4. Jumlah Daun pada Kompos 1 Kompos 1 1 2 3 Minggu I 2 2 2 Minggu II 5 5 5 Minggu III 6 6 7 Minggu IV 4 5 7 Minggu V 5 6 7 Minggu VI 5 7 7 Minggu VII 6 7 8 Minggu VIII 8 6 8 Jumlah 41 44 51 Rata-rata 5,125 5,5 6,38 Sumber: data primer setelah diolah, 2011 Pengamatan rata-rata 2 5 6,33 5,33 6 6,33 7 7,33 20 5

Tabel 5. Jumlah Daun pada Kompos 2 Kompos 2 1 2 3 Minggu I 2 0 0 Minggu II 2 5 5 Minggu III 7 8 5 Minggu IV 7 8 7 Minggu V 8 8 5 Minggu VI 8 8 6 Minggu VII 9 5 8 Minggu VIII 10 5 9 Jumlah 51 47 45 Rata-rata 7.29 6.71 6.43 Sumber: data primer setelah diolah, 2011 Pengamatan Rata-rata 0.67 4.00 6.67 7.33 7.00 7.33 7.33 8.00 47.67 6.81

Tabel 6. Jumlah Daun pada Kompos 3

Kompos 3 1 2 3 Minggu I 3 2 3 Minggu II 4 4 4 Minggu III 6 5 5 Minggu IV 7 7 6 Minggu V 8 6 7 Minggu VI 9 7 8 Minggu VII 9 8 0 Minggu VIII 11 8 0 Jumlah 54 45 30 Rata-rata 7.71 6.43 4.29 Sumber: data primer setelah diolah, 2011 Pengamatan

Rata-rata 2.67 4 5.33 6.67 7 8 5.67 6.33 43 6.142857

Tabel 7. Berat Segar pada Tanaman Jagung Perlakuan Kompos 1 Kompos 2 Kompos 3 36 135 0 171 57 Rata-rata 76.73 114.60 56.27 247.60 82.53

1 54.6 139.6 2 63.4 145.4 3 93.9 74.9 Jumlah 211.9 359.9 Rata-rata 70.63 119.97 Sumber: data primer setelah diolah, 2011

Tabel 8. Berat Kering pada Tanaman Jagung Perlakuan 1 2 3 Kompos 1 Kompos 2 11.6 16.6 93.9 48.7 37.7 49.7 Kompos 3 7.8 27.5 0 Rata-rata 22.7 27.27 47.87

Jumlah 122.1 136.1 Rata-rata 40.70 45.37 Sumber: data primer setelah diolah, 2011 y Lampiran Gambar

35.3 11.76667

97.83 32.61

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->