P. 1
Gaya Bahasa

Gaya Bahasa

|Views: 213|Likes:
Published by Mohd Ghadapi

More info:

Published by: Mohd Ghadapi on Aug 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2014

pdf

text

original

Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah pengungkapan perasaan atau pikiran dengan menggunakan
pilihan kata tertentu. Dengan cara itu, kesan dan efek yang ditimbulkan dapat
dicapai semaksimal mungkin. Gaya bahasa terbagi menjadi empat golongan:
y Gaya bahasa penegasan, terdiri dari:
o Repetisi, adalah gaya bahasa yang menegaskan sesuatu dengan mengatakannya
secara berulang-ulang
o Anafora, pengulangan kata pada awal kalimat
o Epifora, pengulangan kata pada akhir kalimat
y Gaya bahasa perbandingan,terdiri dari:
o Hiperbola, adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu secara berlebihan
o Metonimia, adalah gaya bahasa yang menamakan sesuatu dengan nama pabrik,
merek, atau yang lainnya
o Personifikasi, adalah gaya bahasa yang membandingkan seolah-olah benda mati
dapat bernyawa
o Metafora, adalah gaya bahasa yang membandingkan sesuatu secara langsung
dengan singkat dan padat
y Gaya bahasa pertentangan, terdiri dari:
o Paradoks, adalah gaya bahasa yang isinya bertentangan dalam satu kalimat
o Antitesis, adalah gaya bahasa yang menggunakan paduan kata yang saling
bertentangan
o Litotes, adalah gaya bahasa yang ditujukan untuk mengurangi makna yang
sebenarnya
o Oksimoron, adalah gaya bahasa yang antara bagian-bagiannya saling
bertentangan
y Gaya bahasa sindiran, terdiri dari:
o Ironi, adalah gaya bahasa yang mengatakan sesuatu dengan makna yang berlainan
o Sinisme, adalah gaya bahasa yang cara pengungkapannya lebih kasar
dibandingkan ironi
o Sarkasme, adalah gaya bahasa yang sindirannya paling kasar dalam
pengungkapannya
y GAYA BAHASA
y (a) Bahasa Arab (contoh: takdirullah, roh, hidayah, iradat)
y (b) Bahasa suku kaum atau daerah
(contoh: pidak, bahar, biabas, rogon, sigup)
y (c) Simpulan bahasa (contoh: air muka, iri hati)
y (d) Personifikasi (contoh: peluru senapang kian rancak meluahkan
muntahnya kini)
y (e) Simile (contoh: pucat bagaikan mayat)
y (f) Metafora (contoh: mengukir senyuman nakal)

RAGAM GAYA BAHASA
2011
01.03
Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan perasaan atau pikiran dengan bahasa sedemikian rupa, sehingga kesan
dan efek terhadap pembaca atau pendengar dapat dicapai semaksimal dan seintensif mungkin.
Berikut adalah berbagai ragam gaya bahasa dan contoh penggunaannya dalam Bahasa Indonesia.
I. GAYA BAHASA PENEGASAN
1. AIus¡o
Guyu buhusu yung menggunukun per¡buhusu yung muksudnyu suduh d¡puhum¡ umum.
Contoh :
Dalam bergaul hendaknya kau waspada.
Jangan terpedaya dengan apa yang kelihatan baik di luarnya saja.
Segala yang berkilau bukanlah berarti emas.
2. Antitesis
Gaya bahasa penegasan yang menggunakan paduan kata-kata yang artinya bertentangan.
Contoh :
Tinggi-rendah harga dirimu bukan elok tubuhmu yang menentukan, tetapi kelakuanmu.
3. Antiklimaks
Gaya bahasa penegasan yang menyatakan beberapa hal berturut-turut, makin lama makin rendah tingkatannya.
Contoh :
Kakeknya, ayahnya, dia sendiri, anaknya dan sekarang cucunya tak luput dari penyakit keturunan itu.
4. Klimaks
Gaya bahasa penegasan yang menyatakan beberapa hal berturut-turut, makin lama makin tinggi tingkatannya.
Contoh :
Di dusun-dusun, di desa-desa, di kota-kota, sampai ke ibu kota, hari proklamasi ini dirayakan dengan meriah.
5. Antonomasia
Gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata tertentu untuk menggantikan nama seseorang. Kata-kata ini diambil
dari sifat-sifat yang menonjol yang dimiliki oleh orang yang dimaksud.
Contoh :
Si Pelit den Si Centil sedang bercanda di halaman rumah Si Jangkung.
6. Asindeton
Gaya bahasa penegasan yang menyebutkan beberapa hal berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung.
Contoh :
Buku tulis, buku bacaan, majalah, koran, surat-surat kantor semua dapat anda beli di toko itu.
7. Polisindeton
Gaya bahasa yang menyebutkan beberapa hat berturut-turut dengan menggunakan kata penghubung
(kebalikan asindeton).
Contoh :
Buku tulis, majalah, dan surat-surat kantor dapat di beli di toko itu.
8. Elipsis
Gaya bahasa yang menggunakan kalimat elips (kalimat tak lengkap), yakni kalimat yang predikat atau subjeknya
dilesapkan karena dianggap sudah diketahui oleh lawan bicara.
Contoh :
͞Kalau belum jelas, akan saya jelaskan lagi.͟
͞Saya khawatir, jangan-jangan dia ͙.͟
9. Eufemisme
Gaya bahasa atau ungkapan pelembut yang digunakan untuk tuntutan tatakrama atau menghindari kata-kata
pantang (pamali, tabu), atau kata-kata yang kasar dan kurang sopan.
Contoh :
Putra Bapak tidak dapat naik kelas karena kurang mampu mengikuti pelajaran.
Pegawai yang terbukti melakukan korupsi akan dinonaktifkan.
10. Hiperbolisme
Gaya bahasa penegasan yang menyatakan sesuatu hal dengan melebih-lebihkan keadaan yang sebenarnya.
Contoh :
Suaranya mengguntur membelah angkasa.
Air matanya mengalir menganak sungai.
11. Interupsi
Gaya bahasa penegasan yang mempergunakan kata-kata atau frase yang disisipkan di tengah-tengah kalimat.
Contoh :
Saya, kalau bukan karena terpaksa, tak mau bertemu dengan dia lagi.
12. Inversi
Gaya bahasa dengan menggunakan kalimat inversi, yakni kalimat yang predikatnya mendahului subjek. Hal ini
sengaja dibuat untuk memberikan ketegasan pada predikatnya.
Contoh :
Pergilah ia meninggalkan kampung halamannya untuk mencari harapan baru di kota.
13. Koreksio
Gaya bahasa yang menggunakan kata-kata pembetulan untuk mengoreksi (menggantikan kata yang dianggap salah).
Contoh :
Setelah acara ini selesai, silakan saudara-saudara pulang. Eh, maaf, silakan saudara-saudara mencicipi hidangan yang
telah tersedia.
14. Metonimia
Gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata atau sebuah nama yang berhubungan dengan suatu benda untuk
menyebut benda yang dimaksud. Misal, penyebutan yang didasarkan pada merek dagang, nama pabrik, nama
penemu, dun lain sebagainya.
Contoh :
Ayah pergi ke Bandung mengendarai Kijang.
Udin mengisap Gentong, Husni mengisap Gudang Garam.
15. Paralelisme
Gaya bahasa pengulangan seperti repetisi yang khusus terdapat dalam puisi. Pengulangan di bagian awal
dinamakan anafora, sedang di bagian akhir disebutepifora.
Contoh AnuIoru :
Sunyi itu duka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu lampus
Contoh Epifora :
Rinduku hanya untukmu
Cintaku hanya untukmu
Harapanku hanya untukmu
16. Pleonasme
Gaya bahasa penegasan yang menggunakan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu karena artinya sudah terkandung
dalam kata sebelumnya.
Contoh :
Benar! Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa Tono berkelahi di tempat itu.
Dia maju dua langkah ke depan.
17. Parafrase
Gaya bahasa penguraian dengan menggunakan ungkapan atau frase yang lebih panjang daripada kata semula.
Misal, pagi-pagi digantikan ketika sang surya merekah di ufuk timur; materialistis diganti dengan gila harta benda.
Contoh :
͟Pagi-pagi Ali pergi ke sawah.͟ dijadikan ͞Ketika mentari membuka lembaran hari, anak sulung Pak Sastra itu
melangkahkan kakinya ke sawah.͟
18. Repetisi
Gaya bahasa penegasan yang mengulang-ulang sebuah kata berturut-turut dalam suatu wacana. Gaya bahasa jenis
ini sering dipakai dalam pidato atau karangan berbentuk prosa.
Contoh :
Harapan kita memang demikian, dan demikian pula harapan setiap pejuang.
Sekali merdeka, tetap merdeka!
19. Retoris
Gaya bahasa penegasan yang menggunakan kalimat tanya, tetapi sebenannya tidak bertanya.
Contoh :
Bukankah kebersihan adalah pangkal kesehatan?
Inikah yang kau namakan kerja?
20. Sinekdoke
Gaya bahasa ini terbagi menjadi dua yaitu : (a) Pars pro toto (gaya babasa yang menyebutkan sebagian untuk
menyatakan keseluruhan) dan (b) Totem pro parte(gaya bahasa yang menyebutkan keseluruhan untuk menyatakan
sebagian).
Contoh Purs pro toto :
Setiap kepala diwajibkan membayar iuran Rp1.000,00.
Sudah lama ditunggu-tunggu, belum tampak juga batang hidungnya.
Contoh Totem pro parte :
Cina mengalahkan Indonesia dalam babak final perebutan Piala Thomas.
21. Tautologi
Gaya bahasa penegasan yang menggunakan kata-kata yang sama artinya dalam satu kalimat.
Contoh :
Engkau harus dan wajib mematuhi semua peraturan.
Harapan dan cita-citanya terlalu muluk.
II. GAYA BAHASA PEMBANDINGAN
1. AIegor¡
Guyu buhusu perbund¡ngun yung membund¡ngkun duu buuh keutuhun berdusurkun persumuunnyu securu
menyeIuruh.
Contoh :
Kami semua berdoa, semoga dalam mengarungi samudra kehidupan ini, kamu berdua akan sanggup menghadapi
badai dan gelombang.
2. Litotes
Gaya bahasa perbandingan yang menyatakan sesuatu dengan memperendah derajat keadaan sebenarnya, atau yang
menggunakan kata-kata yang artinya berlawanan dari yang dimaksud untuk merendahkan diri.
Contoh :
Dari mana orang seperti saya ini mendapat uang untuk membeli barang semahal itu.
Silakan, jika kebetulan lewat, Saudara mampir ke pondok saya.
3. Metafora
Gaya bahasa perbandingan yang membandingkan dua hal yang berbeda berdasarkan persamaannya.
Contoh :
Gelombang demonstrasi melanda pemerintah orde lama.
Semangat juangnya berkobar, tak gentar menghadapi musuh.
4. Personifikasi atau Penginsanan
Gaya babasa perbandingan. Benda-benda mati atau benda-benda hidup selain manusia dibandingkan dengan
manusia, dianggap berwatak dan berperilaku seperti manusia.
Contoh :
Bunyi lonceng memanggil-manggil siswa untuk segera masuk kelas.
Nyiur melambai-lambai di tepi pantai.
5. Simile
Gaya bahasa perbandingan yang mempergunakan kata-kata pembanding (seperti, laksana, bagaikan, penaka, ibarat,
dan lain sebagainya) dengan demikian pernyataan menjadi lebih jelas.
Contoh :
Hidup tanpa cinta bagaikan sayur tanpa garam.
Wajahnya seperti rembulan.
6. Simbolik
Gaya bahasa kiasan dengan mempergunakan lambang-lambang atau simbol-simbol untuk menyatakan sesuatu.
Misal, bunglon lambang manusia yang tidak jelas pendiriannya; lintah darat lambang manusia
pemeras; kamboja lambang kematian.
Contoh :
Janganlah kau menjadi bunglon.
7. Tropen
Gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata yang maknanya sejajar dengan pengertian yang dimaksudkan.
Contoh :
Seharian ia berkubur di dalam kamarnya.
Bapak Presiden terbang ke Denpasar tadi pagi.
III. GAYA BAHASA PENENTANGAN
1. Anukron¡sme
Guyu buhusu yung mengundung uru¡un utuu pernyutuun yung t¡duk sesuu¡ dengun se|uruh utuu zumun tertentu.
M¡suInyu menyebutkun sesuutu yung beIum udu pudu suutu zumun.
Contoh :
Mahapatih Gadjah Mada menggempur pertahanan Sriwijaya dengan peluru kendali jarak menengah.
2. Kontradiksio in terminis
Gaya bahasa yang mengandung pertentangan, yakni apa yang dikatakan terlebih dahulu diingkari oleh pernyataan
yang kemudian.
Contoh :
Suasana sepi, tak ada seorang pun yang berbicara, hanya jam dinding yang terus kedengaran berdetak-detik.
3. Okupasi
Gaya bahasa pertentangan yang mengandung bantahan dan penjelasan.
Contoh :
Sebelumnya dia sangat baik, tetapi sekarang menjadi berandal karena tidak ada perhatian dari orang tuanya.
Ali sebenarnya bukan anak yang cerdas, namun karena kerajinannya melebihi kawan sekolahnya, dia mendapat nilai
paling tinggi.
4. Paradoks
Gaya bahasa yang mengandung dua pernyataan yang bertentangan, yang membentuk satu kalimat.
Contoh :
Dengan kelemahannya, wanita mampu menundukkan pria.
Tikus mati kelaparan di lumbung padi yang penuh berisi.
IV. GAYA BAHASA SINDIRAN
1. Inuendo
Guyu buhusu s¡nd¡run yung mempergunukun pernyutuun yung mengec¡Ikun kenyutuun sebenurnyu.
Contoh :
la menjadi kaya raya lantaran mau sedikit korupsi.
2. Ironi
Gaya bahasa sindiran paling halus yang menggunakan kata-kata yang artinya justru sebaliknya dengan maksud
pembicara.
Contoh :
͟Eh, manis benar teh ini?͟ (maksudnya: pahit).
3. Sarkasme
Gaya bahasa sindiran yang menggunakan kata-kata yang kasar. Biasanya gaya bahasa ini dipakai untuk menyatakan
amarah.
Contoh :
͟Jangan coba-coba mengganggu adikku lagi, Monyet!͟
͞Dasar goblok! Sudah berkali-kali diberi tahu, tetap saja tidak mengerti!͟
4. Sinisme
Gaya bahasa sindiran semacam ironi, tetapi agak lebih kasar.
Contoh :
͟Hai, harum benar baumu? Tolong agak jauh sedikit!͟

Contoh : Tinggi-rendah harga dirimu bukan elok tubuhmu yang menentukan.RAGAM GAYA BAHASA 2011 01. Antonomasia Gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata tertentu untuk menggantikan nama seseorang. tetapi kelakuanmu. anaknya dan sekarang cucunya tak luput dari penyakit keturunan itu. makin lama makin tinggi tingkatannya. hari proklamasi ini dirayakan dengan meriah. . Klimaks Gaya bahasa penegasan yang menyatakan beberapa hal berturut-turut. ayahnya. Contoh : Di dusun-dusun. sehingga kesan dan efek terhadap pembaca atau pendengar dapat dicapai semaksimal dan seintensif mungkin. Contoh : Si Pelit den Si Centil sedang bercanda di halaman rumah Si Jangkung. 5. di kota-kota. Kata-kata ini diambil dari sifat-sifat yang menonjol yang dimiliki oleh orang yang dimaksud. . Segala yang berkilau bukanlah berarti emas. 2. di desa-desa. Antitesis Gaya bahasa penegasan yang menggunakan paduan kata-kata yang artinya bertentangan. sampai ke ibu kota. Jangan terpedaya dengan apa yang kelihatan baik di luarnya saja. dia sendiri.03 Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan perasaan atau pikiran dengan bahasa sedemikian rupa. 3. Berikut adalah berbagai ragam gaya bahasa dan contoh penggunaannya dalam Bahasa Indonesia. Contoh : Kakeknya.*$<$%$+$6$3(1(*$6$1  $OXVLR *D\DEDKDVD\DQJPHQJJXQDNDQSHULEDKDVD\DQJPDNVXGQ\DVXGDKGLSDKDPLXPXP &RQWRK Dalam bergaul hendaknya kau waspada. 4. makin lama makin rendah tingkatannya. Antiklimaks Gaya bahasa penegasan yang menyatakan beberapa hal berturut-turut.

tak mau bertemu dengan dia lagi. Elipsis Gaya bahasa yang menggunakan kalimat elips (kalimat tak lengkap). Contoh : Suaranya mengguntur membelah angkasa. Contoh : Kalau belum jelas. majalah. Polisindeton Gaya bahasa yang menyebutkan beberapa hat berturut-turut dengan menggunakan kata penghubung (kebalikan asindeton). Contoh : Saya. Air matanya mengalir menganak sungai. Saya khawatir. 11. surat-surat kantor semua dapat anda beli di toko itu. atau kata-kata yang kasar dan kurang sopan. koran. Hiperbolisme Gaya bahasa penegasan yang menyatakan sesuatu hal dengan melebih-lebihkan keadaan yang sebenarnya. 8. Contoh : Putra Bapak tidak dapat naik kelas karena kurang mampu mengikuti pelajaran. tabu). Interupsi Gaya bahasa penegasan yang mempergunakan kata-kata atau frase yang disisipkan di tengah-tengah kalimat. jangan-jangan dia . .6. majalah. 10. Eufemisme Gaya bahasa atau ungkapan pelembut yang digunakan untuk tuntutan tatakrama atau menghindari kata-kata pantang (pamali. Contoh : Buku tulis. 9. 7. buku bacaan. dan surat-surat kantor dapat di beli di toko itu. yakni kalimat yang predikat atau subjeknya dilesapkan karena dianggap sudah diketahui oleh lawan bicara. Contoh : Buku tulis. Pegawai yang terbukti melakukan korupsi akan dinonaktifkan. kalau bukan karena terpaksa. Asindeton Gaya bahasa penegasan yang menyebutkan beberapa hal berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung. akan saya jelaskan lagi.

dun lain sebagainya.12. 15. Contoh : Pergilah ia meninggalkan kampung halamannya untuk mencari harapan baru di kota. Pengulangan di bagian awal dinamakan anafora. maaf. Metonimia Gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata atau sebuah nama yang berhubungan dengan suatu benda untuk menyebut benda yang dimaksud. yakni kalimat yang predikatnya mendahului subjek. &RQWRK$QDIRUD Sunyi itu duka Sunyi itu kudus Sunyi itu lupa Sunyi itu lampus Contoh Epifora : Rinduku hanya untukmu Cintaku hanya untukmu Harapanku hanya untukmu 16. 14. penyebutan yang didasarkan pada merek dagang. Udin mengisap Gentong. Misal. Koreksio Gaya bahasa yang menggunakan kata-kata pembetulan untuk mengoreksi (menggantikan kata yang dianggap salah). sedang di bagian akhir disebutepifora. Contoh : Ayah pergi ke Bandung mengendarai Kijang. Eh. Hal ini sengaja dibuat untuk memberikan ketegasan pada predikatnya. Paralelisme Gaya bahasa pengulangan seperti repetisi yang khusus terdapat dalam puisi. nama penemu. Husni mengisap Gudang Garam. Inversi Gaya bahasa dengan menggunakan kalimat inversi. nama pabrik. 13. Contoh : Setelah acara ini selesai. silakan saudara -saudara pulang. silakan saudara-saudara mencicipi hidangan yang telah tersedia. Pleonasme Gaya bahasa penegasan yang menggunakan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu karena artinya sudah terkandung .

dijadikan Ketika mentari membuka lembaran hari. anak sulung Pak Sastra itu melangkahkan kakinya ke sawah. . Retoris Gaya bahasa penegasan yang menggunakan kalimat tanya. Parafrase Gaya bahasa penguraian dengan menggunakan ungkapan atau frase yang lebih panjang daripada kata semula. Gaya bahasa jenis ini sering dipakai dalam pidato atau karangan berbentuk prosa. 18. Dia maju dua langkah ke depan. Sekali merdeka. dan demikian pula harapan setiap pejuang. belum tampak juga batang hidungnya. Sudah lama ditunggu-tunggu. Contoh Totem pro parte : Cina mengalahkan Indonesia dalam babak final perebutan Piala Thomas. &RQWRK3DUVSURWRWR Setiap kepala diwajibkan membayar iuran Rp1. Contoh : Pagi-pagi Ali pergi ke sawah.000. bahwa Tono berkelahi di tempat itu.00. Sinekdoke Gaya bahasa ini terbagi menjadi dua yaitu : (a) Pars pro toto (gaya babasa yang menyebutkan sebagian untuk menyatakan keseluruhan) dan (b) Totem pro parte(gaya bahasa yang menyebutkan keseluruhan untuk menyatakan sebagian). Contoh : Bukankah kebersihan adalah pangkal kesehatan? Inikah yang kau namakan kerja? 20. Contoh : Benar! Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Repetisi Gaya bahasa penegasan yang mengulang-ulang sebuah kata berturut-turut dalam suatu wacana. pagi-pagi digantikan ketika sang surya merekah di ufuk timur. tetap merdeka! 19. Misal. 17. tetapi sebenannya tidak bertanya. materialistis diganti dengan gila harta benda.dalam kata sebelumnya. Contoh : Harapan kita memang demikian.

Litotes Gaya bahasa perbandingan yang menyatakan sesuatu dengan memperendah derajat keadaan sebenarnya. Harapan dan cita-citanya terlalu muluk. Simile Gaya bahasa perbandingan yang mempergunakan kata-kata pembanding (seperti.21. atau yang menggunakan kata-kata yang artinya berlawanan dari yang dimaksud untuk merendahkan diri. Nyiur melambai-lambai di tepi pantai. Metafora Gaya bahasa perbandingan yang membandingkan dua hal yang berbeda berdasarkan persamaannya.*$<$%$+$6$3(0%$1'. Contoh : Engkau harus dan wajib mematuhi semua peraturan. Semangat juangnya berkobar. . tak gentar menghadapi musuh. penaka. Silakan. 4. dianggap berwatak dan berperilaku seperti manusia.. ibarat. Contoh : Bunyi lonceng memanggil-manggil siswa untuk segera masuk kelas. Contoh : Dari mana orang seperti saya ini mendapat uang untuk membeli barang semahal itu. 3. bagaikan. 2. kamu berdua akan sanggup menghadapi badai dan gelombang. Contoh : Gelombang demonstrasi melanda pemerintah orde lama. Tautologi Gaya bahasa penegasan yang menggunakan kata-kata yang sama artinya dalam satu kalimat. jika kebetulan lewat. Benda-benda mati atau benda-benda hidup selain manusia dibandingkan dengan manusia. laksana.1*$1  $OHJRUL *D\DEDKDVDSHUEDQGLQJDQ\DQJPHPEDQGLQJNDQGXDEXDKNHXWXKDQEHUGDVDUNDQSHUVDPDDQQ\DV HFDUD PHQ\HOXUXK &RQWRK Kami semua berdoa. . Saudara mampir ke pondok saya. semoga dalam mengarungi samudra kehidupan ini. Personifikasi atau Penginsanan Gaya babasa perbandingan. 5.

7. Contoh : Hidup tanpa cinta bagaikan sayur tanpa garam. Bapak Presiden terbang ke Denpasar tadi pagi. .. 3. Contoh : . hanya jam dinding yang terus kedengaran berdetak-detik. yakni apa yang dikatakan terlebih dahulu diingkari oleh pernyataan yang kemudian.. 2. kamboja lambang kematian. Kontradiksio in terminis Gaya bahasa yang mengandung pertentangan. Wajahnya seperti rembulan.dan lain sebagainya) dengan demikian pernyataan menjadi lebih jelas. Tropen Gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata yang maknanya sejajar dengan pengertian yang dimaksudkan. tak ada seorang pun yang berbicara. Contoh : Janganlah kau menjadi bunglon. lintah darat lambang manusia pemeras. Simbolik Gaya bahasa kiasan dengan mempergunakan lambang-lambang atau simbol-simbol untuk menyatakan sesuatu. Misal. 6. Okupasi Gaya bahasa pertentangan yang mengandung bantahan dan penjelasan. Contoh : Seharian ia berkubur di dalam kamarnya. bunglon lambang manusia yang tidak jelas pendiriannya. Contoh : Suasana sepi.*$<$%$+$6$3(1(17$1*$1  $QDNURQLVPH *D\DEDKDVD\DQJPHQJDQGXQJXUDLDQDWDXSHUQ\DWDDQ\DQJWLGDNVHVXDLGHQJDQVHMDUDKDWDX]DPDQWHUWHQWX 0LVDOQ\DPHQ\HEXWNDQVHVXDWX\DQJEHOXPDGDSDGDVXDWX]DPDQ &RQWRK Mahapatih Gadjah Mada menggempur pertahanan Sriwijaya dengan peluru kendali jarak menengah.

5$1  . tetapi agak lebih kasar. namun karena kerajinannya melebihi kawan sekolahnya. Sinisme Gaya bahasa sindiran semacam ironi.9*$<$%$+$6$6. Biasanya gaya bahasa ini dipakai untuk menyatakan amarah. Contoh : Eh. 3. Ironi Gaya bahasa sindiran paling halus yang menggunakan kata-kata yang artinya justru sebaliknya dengan maksud pembicara. Tikus mati kelaparan di lumbung padi yang penuh berisi. .Sebelumnya dia sangat baik. Sarkasme Gaya bahasa sindiran yang menggunakan kata-kata yang kasar. wanita mampu menundukkan pria. Contoh : Dengan kelemahannya. harum benar baumu? Tolong agak jauh sedikit! . yang membentuk satu kalimat. Paradoks Gaya bahasa yang mengandung dua pernyataan yang bertentangan. Contoh : Hai. tetap saja tidak mengerti! 4. Ali sebenarnya bukan anak yang cerdas. Contoh : Jangan coba-coba mengganggu adikku lagi. 2.1'. 4. manis benar teh ini? (maksudnya: pahit).QXHQGR *D\DEDKDVDVLQGLUDQ\DQJPHPSHUJXQDNDQSHUQ\DWDDQ\DQJPHQJHFLONDQNHQ\DWDDQVHEHQDUQ\D &RQWRK la menjadi kaya raya lantaran mau sedikit korupsi. dia mendapat nilai paling tinggi. tetapi sekarang menjadi berandal karena tidak ada perhatian dari orang tuanya. Monyet! Dasar goblok! Sudah berkali-kali diberi tahu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->