P. 1
psikologi-pendidikan

psikologi-pendidikan

|Views: 130|Likes:
Published by Maria Rinna Rosalia

More info:

Published by: Maria Rinna Rosalia on Aug 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2015

pdf

text

original

POKOK – POKOK MATERI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd.

UNIVERSITAS KUNINGAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN 2006

BAB I PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERILAKU INDIVIDU
A. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini, diharapkan Anda dapat : 1. Mendefinisikan psikologi dan psikologi pendidikan 2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan individu, indikator-indikator motivasi, bentukbentuk konflik, bentuk-bentuk perilaku salah-suai dan taksonomi perilaku individu. 3. Menjelaskan psikologi pendidikan sebagai ilmu, arti penting psikologi pendidikan bagi guru, peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu. 4. Menguraikan mekanisme pembentukan perilaku menurut pandangan behaviorisme dan holistik. B. Pokok Bahasan 1. Pengertian Psikologi Pendidikan. 2. Perilaku Individu. 3. Taksonomi Perilaku Individu. 4. Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan Perilaku dan Pribadi Individu. C. Intisari Bacaan Pengertian Psikologi Pendidikan Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya :  Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.

 Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.  Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)  Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.  Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.  Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan Disamping jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks. Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :  Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.  Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.  Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan. Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya membutuhkan psikologi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing, pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya,--terutama perilaku peserta

tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik. (b) memilih strategi atau metode pembelajaran. Selain itu. dengan memahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri-pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya. Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S R atau S O R . (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik. (h) menilai hasil pembelajaran. sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif. Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru. pengelolaan kelas. a. Perilaku Individu Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan perilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003).didik dengan segala aspeknya--. (c) memilih alat bantu dan media pembelajaran yang tepat. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. dengan memahami psikologi pendidikan. yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. dan (i) dapat mengadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan. Dalam hal ini. baik untuk kepentingan pembelajaran. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal. (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya. yang saling bertolak belakang. Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). seorang guru melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembelajaran. pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. Oleh karena itu itu. Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan. yakni kompetensi pedagogik. (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif.

Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W S Ow R W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung. sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. meminta ijin ke dosen. (2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan. waktu sore hari. secara spontan mahasiswa tersebut mengipasngipaskan buku untuk meredam kegerahannya. ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). berjalan ke depan.S = stimulus (rangsangan). Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia). maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W S O R W Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu : (1) Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S). dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa . R = Respons (perilaku. Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya. ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W). --meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya--. Ruangan kelas yang gelap. Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas.

masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf. tangan menekan saklar lampu merupakan effector. Sebenarnya. motif. Secara skematik rangkaian. demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya. baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan . Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. Menggerakkan kaki menuju ke depan. Selengkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Ow W S r e R W Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. mengucapkan minta izin kepada dosen. sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. bagan di atas dapat dijelaskan bahwa mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W).yang sadar tersebut (R). meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. b. dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Kebutuhan dirasakan (felt needs) Dorongan (motivation) Aktivitas yang dilakukan (Instrumental behavior) Tujuan dihayati (goals/ incentive) Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. Setiap individu. yakni perilakunya itu sendiri. tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose). yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat. otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). how (bagaimana). dan why (mengapa).

psikologikal dan intelektual. Tingkatan kebutuhan tersebut dapat diragakan seperti tampak dalam gambar berikut ini : SELF ACTUALIZATION ESTEEM NEEDS LOVE NEEDS SAFETY NEEDS PHYSIOLOGICAL NEEDS Sementara itu. (2) Kebutuhan berkuasa (need for power). sehingga membentuk suatu siklus. pangan dan papan. Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior). baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi. Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis. Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. seperti : sandang. tidak dalam arti fisik. dan (5) kebutuhan aktualisasi diri. (3) kebutuhan kasih sayang atau penerimaan. yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam kelompok. membentuk keluarga. yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. yang dapat digambarkan sebagai berikut : Motif Rasa puas atau kecewa Perilaku Instrumental Tujuan . (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). (4) kebutuhan prestise atau harga diri. yaitu kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat perkembangannya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. (2) kebutuhan keamanan. akan tetapi juga mental. Dalam hal ini. organisasi ataupun persahabatan. yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal.atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).2005) mengetengahkan empat jenis kebutuhan individu.

Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. 2. maksud dan aspirasi serta motif berprestasi. minat). keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. adakalanya individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. jika tujuan tersebut tidak tercapai dan . menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. Dalam pandangan holistik. seperti : takut yang dipelajari. (3) persistensi pada kegiatan. motif-motif sosial (ingin diterima.Berkaitan dengan motif individu. konformitas dan sebagainya). melarikan diri. (4) ketabahan. yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama kuatnya. untuk keperluan studi psikologis. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). yaitu : 1. Avoidance-avoidance conflict. manipulasi. Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. Namun sebaliknya. menyerang. Approach-avoidance conflict. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. Motif primer (basic motive dan emergency motive). jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. terdapat dua kemungkinan. menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. menyelamatkan diri dan sejenisnya. dikenal dengan istilah drive. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan. Motif sekunder. setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan tertentu. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan. yaitu : (1) durasi kegiatan. Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya. minum. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. 3. (2) frekuensi kegiatan. Approach-approach conflict. motif individu dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. dikehendaki serta bersifat positif. Bentuk-bentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. seperti : dorongan untuk makan. Dalam hal ini. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat. 2.

(4) fiksasi. dia berharap dapat . Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. nanti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). inteligensi). diantaranya : (1) agresi marah. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya. (2) kecemasan tak berdaya. Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. Namun. (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain). dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan. Selain itu. (6) rasionalisasi (mencari alasan). dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psikologi pendidikan. dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. Untuk lebih jelasnya. Contoh 1 : Karena gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment). Tujuan jangka menengah. Ketika mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti para mahasiswa. jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psikologi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia menyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. Bentuk perilaku salah suai (maldjustment). di bawah ini akan dikemukakan contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetahuan. (5) represi (menekan perasaan). (10) berfantasi (dalam angan-angannya.kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi. seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya). (3) regresi (kemunduran perilaku). Untuk tujuan jangka pendeknya. maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). yang diperolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan).

dia berhasil meraih sebagai juara pertama. Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten. kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah satu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). keinginan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya tentang materi yang disampaikan. rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerjanya sebagai guru. memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). para peserta didik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didiknya. Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom. Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. Pada akhir semester. sehingga selama kuliah. Begitu juga. dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompeten. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah mendasari dia menjadi seorang yang sukses. Setiap tugas yang diberikan diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. karena gagal mengikuti mengikuti testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menjadi guru (homeostatis). Bagi dirinya. pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. sikap yang positif dan memiliki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikologi. bahkan kepala sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat prakteknya. termasuk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekurangan motivasi). dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bidang psikologi pendidikan.melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jangka panjang. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya . Dia juga sangat menyukai diskusi tentang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrumental). membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. dia memperoleh pengetahuan yang luas.

yakni : a. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhirnya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. atau kesimpulan. Sambil menangis (regresi). dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proyeksi).  Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kembali tanggal. Selama satu semester mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. ide prosedur. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengelompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi). baik berbentuk verbal maupun non verbal. Tugas-tugas yang diberikan dosen pun jarang dikerjakan.dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan studi yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko orang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). daftar. definisi.  Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman  Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. nama. sumber informasi. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. peristiwa. b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu. kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan. rumus. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongkan sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. Kawasan Kognitif. teori. peristiwa. kejadian masa lalu. terdiri dari :  Mengetahui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. . orang tempat. Dia sering tidak masuk kuliah. tahun. konsep. dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan.Dalam konteks pendidikan. betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikannya. sekalipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). kebudayaan masyarakat tertentu. Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pernyataan hidup. 1) Pengetahuan (knowledge).

fakta disusun kembali dalam struktur kognitif yang ada.  Mengetahui prinsip dan generalisasi  Mengetahui teori dan struktur. bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenomena atau pikiran. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan tersebut adalah urutan bilangan prima. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yang lain. Temuan-temuan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. kelompok. menemukan atau menyelesaikan masalah. 2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan mental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. informasi. yaitu ide. 5.  Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tertentu. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. dengan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 dan ke-7 adalah 19. peristiwa. arah atau kelanjutan dari suatu temuan. prinsip. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. perangkat atau susunan yang digunakan di dalam bidang tertentu. 3. yaitu melihat kecenderungan. pendapat atau perlakuan. bagan atau grafik. Untuk bisa seperti itu.  Mengetahui metodologi. terlebih dahulu dicari prinsip apa yang bekerja diantara kelima bilangan itu. Misalnya.  Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta. 3) Penerapan (application) . sehingga membentuk struktur kognitif baru. atau memproses sesuatu. yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. dan c) Ekstrapolasi. Seseorang dapat dikatakan telah dapat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia telah mampu membedakan. Mengetahui penggolongan atau pengkategorisasian. Mengetahui kelas. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdasarkan prinsip tersebut. 11. 7.

 Kemampuan untuk memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga jenis kemampuan analisis. Bagi mereka. Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut.  Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif dan membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok. . Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru. mengklasifikasikan. Dengan pemahaman demikian. Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh. melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang menyokong suatu pernyataan. yaitu : a) Menganalisis unsur :  Kemampuan melihat asumsi-asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan  Kemampuan untuk membedakan fakta dengan hipotesa. menggunakan.Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.  Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna membedakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak.  Kemampuan untuk memisahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya. dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada petani di Amerika. Contoh. maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron horse (kuda besi). mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut.  Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pernyataan.  Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya. memanfaatkan. 4) Penguraian (analysis).  Kemampuan untuk membedakan pernyataan faktual dengan pernyataan normatif. ingat kuda ingat transportasi. b) Menganalisis hubungan  Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide dengan ide.

5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru. 1) Penerimaan (receiving/attending) . Kemampuan berfikir induktif dan konvergen merupakan ciri kemampuan ini.  Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tulis. sikap. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabungkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru. kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan.  Kemampuan untuk mengenal hubungan kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitungan historis. b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. Kawasan Afektif. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi  Kemampuan untuk menguraikan antara bahan dan alat  Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka memahami maknanya. seperti perasaan. misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai. atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen. yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal. baik-buruk. atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru.. minat. menciptakan logo organisasi. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan. b. yang dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. meramu. yang dilakukan dengan memperhatikan konsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam objek yang diamati. menilai dan mengambil keputusan benar-salah.  Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu materi yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional.

misalnya lukisan yang memiliki yang memuaskan. dan sebagainya. Misalnya pada desain atau warna saja. b) Menyeleksi nilai yang lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk mencari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. b) Kemauan menanggapi (willingness to respond). kagum. Kagum atas keberanian seseorang. 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (fenomena atau objek yang akan dipelajari). suara atau kata-kata tertentu saja. yaitu : a) Kesiapan untuk menerima (awareness). yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menanggapi ini adalah bertanya. memotret dari objek yang menjadi pusat perhatiannya. atau mentaati peraturan lalu lintas. 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi. b) Kemauan untuk menerima (willingness to receive). membuat coretan atau gambar. c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention). Komitmen ini dinyatakan dengan rasa senang.Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. Contoh : mengajukan pertanyaan. yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang . terpesona. menempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. Penilaian terbagi atas empat tahap sebagai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. yaitu kelanjutan dari usaha memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in response). 4) Pengorganisasian (organization) Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai tertentu seperti pada tahap komitmen. menunjukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding). yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan keinginan mengetahui. c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan alasan-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman.

menyesuaikan diri dengan situasi. sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. Proses ini terdiri atas dua tahap. atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. Proses ini terjadi dalam dua tahapan.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. b) Pengorganisasian sistem nilai. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan (set). yakni : a) Konseptualisasi nilai. (c) membiasakan (habitual). yaitu : a) Generalisasi. mempersiapkan alat. Artinya mudah berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis.relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai Kalau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun. menjawab pertanyaan. Kawasan Psikomotor. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh. 2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu. yaitu keinginan untuk menilai hasil karya orang lain. 4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. Pada tahap karakterisasi. b) Karakterisasi. (b) peniruan (imitation). (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination) 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya. yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersendiri pada kepribadian diri yang bersangkutan. sistem itu selalu konsisten. yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sistem berdasarkan tingkat preferensinya. yaitu kemampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu. maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. menyusul kemudian nilai yang dirasakan agak penting. 5) Karakterisasi (characterization). . c. dan seterusnya menurut urutan kepentingan.

serta media untuk meningkatkan keterampilan. Bagi kalangan behaviorisme. Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci dengan tahapan yang berbeda. menunduk. atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan dan perkembangan perilaku individu. Gerakan indah dan kreatif (Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. kekuatan (strength). Sementara itu. Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya. pendidikan dipahami sebagai sebagai alat pembentukan watak. 2) 3) 4) 5) 6) Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusia dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. dan cekatan dalam melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). alat pelatihan keterampilan. Gerakan fisik (Physical Abilities) yaitu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance). dan sebagainya. misalnya : melompat.5) Menciptakan (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil. Yang menjadi persoalan. tangkas. Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. serta wahana untuk pembebasan manusia. yang terpola dan dapat ditebak. yaitu : sub kawasan ini 1) Gerakan refleks (reflex movements). berjalan. . kelenturan (flexibility) dan kegesitan. Basis semua perilaku bergerak atau respons terhadap stimulus tanpa sadar. alat mengasah otak. pendidikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menjadi kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. Melihat begitu pentingnya pendidikan bagi umat manusia. Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual. Sementara kalangan humanisme. baik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran. banyak peradaban manusia yang “mewajibkan” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan.

seorang mahasiswa (O) dengan segala karakteristiknya (kondisi fisik. afektif. Pada dasarnya individu sejak lahir sudah dibekali potensi-potensi tertentu. dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya. khususnya dalam pandangan behaviorisme. menurut pandangan behaviorisme. baik dalam aspek kognitif. pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku. arah dan kualifikasi perubahan dan perkembangan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak ada hal yang kontras. misalnya melalui: diskusi dengan teman.Dengan demikian. sikap dan keterampilan tentang Psikologi Pendidikan (P). Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktualisasikan menjadi prestasi. . yang dimanifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P = f (S. hasil belajar sebelumnya serta karakteristik lainnya) mengikuti kegiatan belajar Psikologi Pendidikan. maupun psikomotor. selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang lain. Secara skematik. Menurut pandangan behaviorisme hasil belajar individu merupakan hasil reaktif dari lingkungan. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepakati dengan Dosen. Seberapa besar tingkat atau derajat perubahan dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha – usaha conditioning dikenal dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement). harus diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan memberikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku individu. perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belajar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan.O) P= person (pribadi. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yang memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya.Dengan menggunakan konsep dasar psikologis. hasil belajar individu merupakan hasil dari upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingkungan. terutama potensi intelektual. mengobservasi perilaku di kelas. motivasi. Walaupun demikian. bakat. termasuk lingkungan sekolah. Sementara itu. Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya perbedaan-perbedaan dalam pendekatan dan teknis proses pendidikan. Sedangkan dalam pandangan humanisme. minat. membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan.

bahkan melakukan penelitian. maka pada akhirnya. Dengan demikian. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidikan. d. c. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. kecuali : a. Kebutuhan akan aktualisasi diri. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempersiapkan diri untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. . c. dia mendapatkan pengetahuan. b. c. disamping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh faktor internal dari individu itu sendiri. Memberikan manfaat untuk kepentingan efektivitas dan efisiensi pendidikan. WS S S O WS Ow R R O R R W W 6. a. Kebutuhan akan harga diri. Kebutuhan akan prestasi. b. Arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru adalah : a. dan c benar 3. 4. Beberapa persyaratan ilmu yang sudah dipenuhi oleh Psikologi Pendidikan. Mekanisme terbentuknya perilaku sadar menurut pandangan Behaviorisme a. baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. b. kecuali : a. Memiliki obyek yang jelas yaitu perilaku individu yang terlibat dalam pendidikan. Konsep dan teori Psikologi Pendidikan diperoleh berdasarkan upaya yang sistematis. c. Di bawah ini merupakan jenis-jenis kebutuhan individu yang dikemukakan oleh Maslow. Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai : 1) 2) 3) 4) Ilmu Jiwa Ilmu yang mempelajari tentang perilaku peserta didik . d. d. Kebutuhan akan rasa aman. b. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 2. Menjadi pedoman bagi para pendidik dalam mengembangkan proses pendidikan. d. Guru dapat menjalankan peran tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien Guru dapat merencanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya Guru dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif. 5. Guru dapat menilai peserta didiknya secara efisien. b. Ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam situasi pendidikan.

evaluation Uraian 1. evaluasi b. b. Di bawah ini merupakan indikator untuk mengetahui tingkat motivasi individu. Di bawah ini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan perilaku kawasan afektif. Approach. a. Approach-approach conflict c. b dan c benar 11. Reaksi frustasi individu atas kegagalan dalam mencapai tujuan dan tidak terpenuhinya kebutuhan individu dengan cara mencari kambing hitam. synthesis d. application b. Uraikan dan berikan gambaran secara skematik tentang mekanisme pembentukan perilaku dan pribadi individu menurut aliran holistik ! . keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. durasi. dan c benar 9. b. analysis c. a. tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan dan arah sikap terhadap sasaran kegiatan. Konflik yang dialami jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. menggabungkan merupakan indikator atau kata kerja operasional untuk mengukur perubahan perilaku dalam aspek : a. dan c benar 8. agresi b. c. a. b . ketabahan.avoidance conflict b. Dapat menyimpulkan. a. characterization by value or value complex d. frekuensi dan persistensi kegiatan. proyeksi 10. a. d. a. fiksasi d. Avoidance-avoidance conflict d. a. menghubungkan. Non-discursive communication c. Jelaskan peranan dan pengaruh pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku individu ! 2. regresi c.7.

seorang guru mungkin akan dihadapkan dengan puluhan atau bahkan ratusan peserta didiknya. dalam Kecakapan dan C. ukuran kecerdasan. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman Kepribadian. B. dan kepribadian 2. Intisari Bacaan Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian Dalam melaksanakan tugasnya. ada peserta didik yang menunjukkan cepat dalam menangkap pelajaran. Mendefinisikan kecakapan nyata. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. dengan masing-masing karakateristik yang dimilikinya. Dari segi kepribadian. ciri-ciri keberbakatan. Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif. Keragaman Individu dalam Kecakapan dan Kepribadian. 3. Namun ketika berhadapan dengan peserta didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif. kecerdasan (inteligensi). 3. diharapkan Anda dapat : 1.BAB II KERAGAMAN INDIVIDU DALAM KECAKAPAN DAN KEPRIBADIAN A. Mengidentifikasi tentang indikator kecerdasan. Ujung-ujungnya . Menjelaskan tentang teori-teori kecerdasan dan pengukuran kecerdasan. Menganalis faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan.Dari segi kecepatan belajar. 4. Pokok Bahasan 2. guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didiknyanya yang khas atau unik. namun sebaliknya ada juga yang sangat lambat. yang penting dan perlu diketahui guru adalah berkenaan dengan kecakapan dan kepribadian peserta didiknya. kecakapan potensial. aspek-aspek kepribadian. adakalanya guru dibuat frustrasi. Di antara sekian banyak karakteristik yang dimiliki peserta didik.

dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Peserta didik dianggap kurang rajin, bodoh, malas, kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. Jika saja guru tersebut dapat memahami tentang keragaman individu, belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya, sehingga akan diketahui secara akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar, selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa dilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendalam sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Diferensial. Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya, di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. a. Keragaman Individu dalam Kecakapan Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan potensial (potential ability). Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang. Misalkan, setelah selesai mengikuti proses perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas), pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Ketika mahasiswa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen, maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). Sedangkan kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter). Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitudes). C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian inteligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidimensional (kecerdasan tunggal), yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja, seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factors”-nya. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kemampuan umum yang diberi kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factor). Selanjutnya, Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”, bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension); (2) kemampuan mengingat (memory); (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning); (4) kemampuan tilikan

ruangan (spatial factor); (5) kemampuan bilangan (numerical ability); (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency); dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). Sementara itu, J.P. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu : 1. Operasi Mental (Proses Befikir) a. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru). b. Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).

c. Memory Recording (ingatan yang segera). d. Divergent Production (berfikir melebar=banyak kemungkinan jawaban/
alternatif). e. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif). f. Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik, akurat, atau memadai). 2. Content (Isi yang Dipikirkan) a. Visual (bentuk konkret atau gambaran). b. Auditory. c. Word Meaning (semantic). d. Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi musik). e. Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara). 3. Product (Hasil Berfikir) a. Unit (item tunggal informasi). b. Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama). c. Relasi (keterkaitan antar informasi). d. Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan). e. Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi). f. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). Belakangan ini banyak orang menggugat tentang kecerdasan intelektual (unidimensional), yang konon dianggap sebagai anugerah yang dapat mengantarkan kesuksesan hidup seseorang. Pertanyaan muncul, bagaimana dengan tokoh-tokoh dunia, seperti Mozart dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan, atau Maradona dan Pele sang legenda sepakbola dunia,. Apakah mereka termasuk juga orang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal (uni-dimensional), kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak terakomodasikan. Maka muncullah, teori inteligensi yang berusaha mengakomodir kemampuan-kemampuan individu yang tidak hanya berkenaan dengan aspek

intelektual saja. Dalam hal ini, Howard Gardner (1993), mengemukakan teori Multiple Inteligence, dengan aspek-aspeknya sebagai tampak dalam tabel di bawah ini: INTELIGENSI 1. Logical – Mathematical 2. Linguistic 3. Musical 4. Spatial 5. Bodily Kinesthetic 6. Interpersonal 7. Intrapersonal KEMAMPUAN INTI Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola logis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional. Kepekaan terhadap suara, ritme, makna kata-kata, dan keragaman fungsi-fungsi bahasa. Kemampuan untuk menghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Nada dan bentukbentuk ekspresi musik. Kemampuan mempersepsi dunia ruangvisual secara akurat dan melakukan tranformasi persepsi tersebut. Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-objek secara terampil. Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati, temperamen, dan motivasi orang lain. Kemampuan untuk memahami perasaan, kekuatan dan kelemahan serta inteligensi sendiri.

Kecakapan potensial seseorang hanya dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indikator-indikatornya. Jika kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek inteligensi dari teori-teori inteligensi di atas, maka pada dasarnya indikator kecerdasan akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat), ketepatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. Dengan indikator-indikator perilaku inteligensi tersebut, para ahli mengembangkan instrumen-instrumen standar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum (kecerdasan) dan kecakapan khusus (bakat) seseorang. Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon -- walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat persekolahan (scholastic aptitude), belum dapat mengukur aspek – aspek inteligensi secara keseluruhan (multiple inteligence). Selain itu, ada juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu Tes Progressive Metrices (PM) yang dikembangkan oleh Raven. Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligent Quotient yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. Rumus yang biasa digunakan untuk menghitung IQ seseorang adalah :

(5) daya ingat.79 50 . diantaranya : DAT (Differential Aptitude Test). kreativitas dan komitmen terhadap tugas. Begitu juga kecerdasan atau bakat seseorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keberhasilan atau kesuksesan hidup seseorang. Untuk mengukur bakat seseorang. (2) kefasihan mengungkapkan kata. dapat menggunakan beberapa instrumen standar. Alat tes ini dapat mengungkap tentang : (1) pemahaman kata. Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi ciri-ciri keberbakatan peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan. untuk kepentingan pengembangan diri. (4) tilikan ruangan.25 % 0. yaitu dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan. (6) kecepatan pengamatan. baik menggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan sistematis guru bukanlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau bakat seseorang namun hanya sekedar memperkirakan (prediksi) saja. (7) berfikir logis. yaitu: .75 % 0.75 % 6% 13 % 60 % 13 % 6% 0.20 % 0.MA (Mental Age) IQ= 100 x CA (Chronological Age) Di bawah ini disajikan norma ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang. Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut. dan (8) kecakapan gerak. rata-rata (midle group) dan lambat (lower group) dalam belajarnya.05 % Selain menggunakan instrumen standar. (3) pemahaman bilangan. melalui pengamatan yang sistematis tentang indikator – indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didiknya. SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability).89 70 .69 25 .49 < 25 KATEGORI Jenius (Genius) Sangat Unggul (Very Superior) Unggul (Superior) Diatas rata-rata (High Average) Rata-rata (Average) Dibawah Rata-Rata (Low Average) Bodoh (Dull) Debil (Moron) Imbecil Idiot PERSENTASE 0. sehingga pada akhirnya akan diketahui kelompok peserta didik yang tergolong cepat (upper group). seorang guru pada dasarnya dapat pula mendeteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya. dan kemudahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. Dalam rangka Program Percepatan Belajar (Accelerated Learning). IQ > 140 130-139 120-129 110-119 90-109 80 . FACT (Flanagan Aptitude Calassification Test).

4. 8. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya Cermat atau teliti dalam mengamati. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir logis dan kritis Mampu belajar/bekerja secara mandiri. Belajar dengan dan cepat.1. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. . misalnya konstitusi dan kondisi fisik. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Mampu berkonsentrasi. Mempunyai minat luas. frustrasi dan konflik. diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Fromm. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya). 14. 13. teori Medan dari Kurt Lewin. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Hall dan Gardner Lindzey. Berangkat dari studi yang dilakukannya. Keragaman Individu dalam Kepribadian Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. Allport (Calvin S. 7. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. 3. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. ketegangan emosional. 6. 9. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. teori Personologi dari Murray. teori Analitik dari Carl Gustav Jung. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. hormon. Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat. tampang. b. 5. tergantung sudut pandang masing-masing. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. 11. 12. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. 10. teori Sosial Psikologis dari Adler. Horney dan Sullivan. Mempunyai daya imajinasi yang tinggi. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbedabeda. 2.

Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri. Kemandirian menghindar dari perilaku 6. yaitu disposisi reaktif seorang. Memiliki filsafat hidup otoritas 11. Berorientasi tujuan 6. Sering mengalami pusing kepala 13. Ketidakmampuan untuk 5. Karakter. Hull. Seperti mau menerima resiko secara wajar. Berorientasi keluar (ekstrovert) 7. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan kepribadian. Dapat mengontrol emosi menyimpang 7. teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Sementara itu. Mampu menilai diri sendiri secara 1. mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai dengan ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. Dalam hal ini. b. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. Mampu menilai prestasi yang depresi) diperoleh secara realistik 4. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. Menunjukkan kekhawatiran dan 2. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama 14. Kebiasaan berbohong 8. yang di dalamnya mencakup : tentang aspek-aspek a. Kurang rasa tanggung jawab 12. teori Stimulus-Respons dari Throndike. Sosiabilitas. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Sikap. Senang mengkritik/ mencemooh 10. Watson. Mudah marah realistik 2. atau putus asa e. Temperamen. Elizabeth Hurlock (Syamsu Yusuf. c. f. Bersikap kejam 4. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. cuci tangan. Penerimaan sosial 8. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Menerima tanggung jawab 5. Hiperaktif 9. sedih. Mampu menilai situasi secara kecemasan realistik 3. Seperti mudah tidaknya tersinggung. negatif atau ambivalen d. sebagai berikut : KEPRIBADIAN YANG TIDAK SEHAT 1. Berbahagia 9. marah.teori Psikologi Individual dari Allport. 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat. Stabilitas emosi. Bersikap memusuhi semua bentuk 10. Sering merasa tertekan (stress atau 3. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Sulit tidur 11. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Responsibilitas (tanggung jawab). Pesimis KEPRIBADIAN YANG SEHAT .

Sehingga peserta didik dapat mengembangkan diri sesuai dengan kecepatan belajar dan karakteristik perilaku dan kepribadiannya masing-masing. 1. dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehnya melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya. Kendati demikian. Kurang bergairah Berdasarkan uraian diatas kita dapat memahami bahwa ketika seorang guru berhadapan dengan peserta didiknya di kelas. akan didapati beberapa . Oleh karena itu. Herediter. Hal ini disebabkan karena pada waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda. Asas Reproduksi Menurut asas ini bahwa kecakapan (achievement) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anaknya. dengan memperhatikan aspek perbedaan atau keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki peserta didiknya. kecakapan potensial (bakat dan kecerdasan). dan tiap-tiap sel kelaminnya menerima salah satu faktor dari pasangan keturunan itu. Seberapa kuat pengaruh keturunan sangat bergantung pada besarnya kualitas gen yang dimiliki oleh orang tuanya (ayah atau ibu). seperti : konstitusi dan struktur fisik. baik yang berasal dari ayah maupun ibu. bahwa : (1) tiap-tiap sifat (traits) makhluk hidup itu dikendalikan oleh keturunan. dan satu dari pada pasangan alternatif itu memegang pengaruh besar. Beberapa asas tentang keturunan di bawah ini akan memberikan gambaran pembanding kepada kita tentang apa-apa yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya : 1. Berdasarkan percobaannya dengan cara mengawinkan bunga merah dengan bunga putih. Oleh karena itu. Asas Variasi Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan bervariasi. dia dihadapkan dengan sejumlah keragaman kecakapan dan kepribadian yang dimiliki para peserta didiknya. dan (3) pada waktu proses pembentukan sel-sel kelamin. yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil perpaduan benih saja. pasangan faktor keturunan itu memisah. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Keragaman dalam Kecakapan dan Kepribadian Timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh bebagai faktor. Hasil percobaan Mendel ini menjelaskan kepada kita bahwa faktor keturunan memegang peranan penting bagi perilaku dan pribadi individu. (2) tiap-tiap pasangan faktor keturunan menentukan bentuk alternatif sesamanya. Gregor Mendel mengemukakan pandangannya. yaitu : a.15. seyogyanya guru dapat memperlakukan peserta didik dan mengembangkan strategi pembelajaran. pembawaan sejak lahir atau berdasarkan keturunan yang bersifat kodrati. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat reproduksi. 2. para ahli sepakat bahwa pada dasarnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor utama. baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya.

Misalnya. karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. dapat kita ikuti pada uraian berikut : 1. sedangkan bagi anak laki-laki akan lebih banyak memilki sifat pada ibunya. Asas Regresi Filial Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari sifat-sifat ibunya. akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia . Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya. b. Seorang anak perempuan akan lebih banyak memilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya. 3. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu. karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-sifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik dari pada masing-masing sifat keturunan tersebut. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis. Environment. lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi. 5. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi. Asas konformitas Berdasarkan asas konformitas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya. orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang-orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia.perbedaan sifat dan ciri-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara. termasuk didalamnya adalah belajar. Asas Jenis Menyilang Menurut asas ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pada pengaruh lingkungan itu. walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. 4.

2. c. Obyek penyesuaian diri bagi individu. Contoh : dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga dikamarnya menjadi sejuk. namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi. Lingkungan memiliki peranan bagi individu. maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. Contoh : air banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya. karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya.sebagai manusia. karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya. individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usaha untuk memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis. Dalam hal ini. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat lambat sekali. . akan tetapi serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia. sebagai : a. baik secara alloplastis maupun autoplastis. Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya. penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya. Contoh : air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah. Contoh : seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar. pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan. d. sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. Sesuatu yang diikuti individu. apabila dianggap sesuai dengan dirinya. Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja. Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. b. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik. canggung pemalu dan lain-lain. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang. walaupun diberinya cukup makanan dan minuman.

c. a. otot. a. (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor). Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. b dan c benar. Kecakapan khusus individu yang merupakan hasil pembawaan. c. Inteligensi merupakan penjelmaan dari : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension). (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning). (5) kemampuan bilangan (numerical ability). (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency). Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tertentu. Achievement b. seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh. dan . kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembangan yang dijalani individu. 3. Aptitude c. dan kemudahan peserta didiknya dalam menyelesaikan tugastugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : P= f (H. terutama dalam mata pelajaran Matematika dan bahasa Inggris b. moral. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya perubahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu. seperti : kemampuan berfikir. dan kepribadian. termasuk belajar) M=Maturity (tingkat kematangan) D.M) P= Pribadi atau perilaku f = fungsi H= Herediter (pembawaan) E=Environment (lingkungan. emosi. Maturity. seorang guru dapat melakukan pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : a. hasil belajar yang diperoleh peserta didik. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. syaraf dan kelenjar. (2) kemampuan mengingat (memory). Kepribadian 2. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis. cara berbicara dan bertindak peserta didik sehari-hari. Inteligensi d.E. religius. d. sosial. kecepatan ketepatan. Latihan Soal : Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat.

dan c benar 5. b. d. c. d. Di bawah ini merupakan aspek-aspek kepribadian menurut Abin Syamsuddin Makmun : a. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa X memiliki kecerdasan tergolong : a. d. b. Asas Reproduksi . d. karakter dan temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emosi responsibilitas dan sosiabilitas a. Di bawah ini merupakan ciri-ciri keberbakatan dalam rangka percepatan belajar (accelerated learning). b. Very Superior Superior Genius Di atas rata-rata 6. mampu belajar/bekerja secara mandiri. d. kemampuan usia prestasi belajar a. b. b. c. tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar. a. atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan yang datang dari lingkungan. 7. Merupakan teori inteligensi : a. selalu memperoleh peringkat pertama di kelas memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah.(7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). b. d. kecuali : a. b. b. c. siswa X memperoleh ukuran kecerdasan (IQ) sebesar 135. Berdasarkan hasil test kecerdasan. a. Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya. c. Intelligence Quotient (IQ) merupakan ukuran tingkat kecerdasan seseorang dibandingkan dengan : a. karakter temperamen stabilitas emosi sikap dan stabilitas emosi 9. dan c benar 4. dan c benar terhadap rangsangan- 8. b. Two Factors Primary Mental Abilities Multiple Intlelligence a. c. c. Disposisi reaktif seorang.

lingkungan dan kematangan dapat mempengaruhi terhadap timbulnya keragaman dalam kecakapan dan kepribadian ! . Jelaskan tentang teori Multiple Inteligensi menurut Howard Gardner ! 2. well-adjusment Uraian 1.b. autoplastis c. Jelaskan bahwa faktor herediter. alloplastis b. a. mal-adjusment d. Jelaskan bagaimana cara mengukur kecerdasan seseorang ? 3. Penyesuaian diri yang dilakukan individu dengan berusaha merubah lingkungannya. Asas konformitas d. Asas Variasi c. Asas Jenis Menyilang 10.

dan model pentahapan perkembangan individu. B. prinsip-prinsip perkembangan. 5. tugas perkembangan individu dan masa remaja. serta problema yang dihadapi pada masa remaja. aspek-aspek perkembangan perilaku dan pribadi pada masa remaja. Pengertian Perkembangan. Mendefinisikan perkembangan. dan remaja. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Model Pentahapan Perkembangan. Yang dimaksud dengan sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. 2. Pengertian Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis. 3.BAB III PERKEMBANGAN INDIVIDU A. 4. baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. Aspek – Aspek Perkembangan Individu. Kemampuan berjalan seseorang akan seiring . Menjelaskan tahapan perkembangan individu berdasarkan pendekatan didaktis. 6. 2. Pokok Bahasan 1. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Mengidentifikasi ciri-ciri umum perkembangan. diharapkan Anda dapat : 1. Menguraikan tugas-tugas perkembangan individu pada masa bayi kanak-kanak. Intisari Bacaan 1. 4. progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. 5. Menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan individu. 3. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Perkembangan Pada Masa Remaja C.

Terjadinya perubahan dalam proporsi. Dari konkret ke abstrak. b. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. Syamsu Yusuf (2003) memerinci. 2. seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. individu. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu Perkembangan individu mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut : a. seperti : berat dan tinggi badan. Terjadinya perubahan dalam aspek : 1. Psikis. 6. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju. 2. Diferensiasi ke integrasi. c. seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai perkembangannya. Dari egosentris ke perspektivisme. meningkat dan meluas. Contoh : untuk dapat berdiri. 3.dengan kesiapan otot-otot kaki. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung. e. perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku). seorang anak terlebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan duduk dan merangkak. Contoh : perubahan proporsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar). 1. Yelon dan Winstein (Syamsu Yusuf. Lebih jauh lagi. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. Fisik. 2. dengan fase . Berkesinambungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. 4. Dari outer control ke inner control. Struktur mendahului fungsi. d. Psikis. beberapa prinsip perkembangan Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. 2. 2003) mengemukakan tentang arah atau pola perkembangan sebagai berikut : 1. paru dan sebagainya) ke samping (tangan). Begitu juga ketertarikan seorang remaja terhadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. seperti : berbicara dan berfikir. Semua aspek perkembangan saling berhubungan. Fisik. f. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. c. b. 5. yaitu : a. baik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). Setiap individu normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan. Lenyapnya tanda-tanda yang lama.

1. Fisik; seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu, kelenjar thymus dan kelenjar pineal. 2. Psikis; seperti : lenyapnya masa mengoceh, perilaku impulsif. d. Diperolehnya tanda-tanda baru. 1. Fisik; seperti : pergantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja, seperti kumis dan jakun pada laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita, tumbuh uban pada masa tua. 2. Psikis; seperti berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. 3. Model Pentahapan Perkembangan Individu Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembangan individu, maka untuk kepentingan studi para ahli telah mencoba mengembangkan model pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan. Para ahli mengemukakan pendapat tentang model – model petahapan yang beragam, yang secara garis besarnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan yaitu pendekatan biologis, didaktis, dan psikologis. Di bawah ini disajikan tabel tentang model tahapan perkembangan yang dikemukakan oleh beberapa ahli.
Nama Ahli Aristoteles Tahapan Masa Kanak-Kanak Masa Anak Sekolah Masa Remaja Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Menengah Masa Usia Mahapeserta didik Tahap I Masa Asuhan Tahap II Masa Pendidikan Jasmani dan latihan Panca Indera Tahap III Masa Pendidikan Akal Tahap IV Masa Pendidikan Watak dan Agama Fullungs (Pengisisian) I Streckungs (Rentangan) I Fullungs (Pengisisian) II Streckungs (Rentangan)II Pranatal Infancy (orok) Babyhood (bayi) Childhood (kanak-kanak) Adolesence/puberty (masa remaja): - Pre Adolesence - Early Adolesence - Late Adolesence Adulthood (masa dewasa) Middle age (tengah baya) Old Age (masa tua) Sensori-motor Pra-operasional : - Pre-konseptual - Intuitif Konkret -Operasional Waktu 0-7 th 7-14 th 14-21 th 0- 6 th 6-12 th 12-18 th 18- 25 th 0-2 th 2-12 th 12-15 th 15-20 th 0-3 th 3-7 th 7-13 th 13-20th 9 bln-280 hr 10 hr-14 hr 2 mng -2 th 2 th-remaja 11-13 th 16-17 th 18-21 th 21-25 th 25-30 th 30- wafat 0-2 th 2-7 th 2-4 th 4-7 th 7-11 th

Syamsu Yusuf

Rosseau

Kretschmer

Elizabeth Hurlock

Piaget

Formal - operasional

11-15 th

Loevenger sebagaimana dikemukakan oleh Sunaryo dkk (2003) mengemukakan tentang fase-fase perkembangan individu beserta ciri-cirinya, yaitu :
Tahap Impulsif Ciri – Ciri Identitas diri terpisah dari orang lain Bergantung pada lingkungan Beorientasi hari ini Individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku Peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain 2. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik 3. Berfikir tidak logis dan stereotip 4. Melihat kehidupan sebagai “zero-sum game” 5. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain 1. Peduli terhadap penampilan diri 2. Berfikir sterotip dan klise 3. Peduli akan aturan eksternal 4. Bertindak dengan motif dangkal 5. Menyamakan diri dalam ekspresi emosi 6. Kurang introspeksi 7. Perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal 8. Takut tidak diterima kelompok 9. Tidak sensitif terhadap keindividualan 10. Merasa berdosa jika melanggar aturan 1. Bertindak atas dasar nilai internal 2. Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan 3. Mampu melihat keragaman emosi, motif. Dan perspektif diri 4. Peduli akan hubungan mutualistik 5. Memiliki tujuan jangka panjang 6. Cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial 7. Berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis 1. Peningkatan kesadaran invidualitas 2. Kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan 3. Menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain 4. Mengenal eksistensi perbedaan individual 5. Mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan 6. Membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya 7. Mengenal kompleksitas diri 8. Peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial 1. Memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan 2. Bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain 3. Peduli akan paham abstrak, seperti keadilan sosial. 4. Mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan 5. Peduli akan self fulfillment 6. Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal 7. Respek terhadap kemandirian orang lain 8. Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain 1. 2. 3. 4. 1.

Perlindungan Diri

Konformistik

Seksama

Individualistik

Otonomi

9.

Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan

Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas, Sunaryo, dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Selanjutnya, dengan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003), di bawah ini dikemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: a. Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik 1. Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak belajar mengendalikan impulsimpuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya. 2. Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka. b. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : 1. 2. 3. 4. 5. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. Adanya kecenderungan memuji diri sendiri Membandingkan dirinya dengan anak yang lain Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting. 6. Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret

2. 3. persyarafan. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai. kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis. indeks tinggi dan berat badan. yang terbagai ke dalam 3 bagian yaitu : 1. yang akan memberikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. 6. pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup. adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang. Aspek. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus 4. c. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya. setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya. . Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama.Aspek Perkembangan Individu a. seperti konstraksi otot-otot. masa remaja. rasa ingin tahu dan ingin belajar 3. mereka membuat peraturan sendiri. 4. biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif. d. Perkembangan fisiologis. prestasi. 2. serta sikap sosial. proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara keseluruhan. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya 5. ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif.00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada). sekresi kelenjar dan pencernaan. Masa Usia Kemahasiswaan (18. pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja. kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya. Amat realistik. masa remaja awal. dalam jasmani dan mental. Perkembangan anatomis. Masa Usia Sekolah Menegah Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. pantas dijunjung dan dipuja. masa remaja akhir. peredaran darah dan pernafasan.2. Perkembangan Fisik Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek : 1.00-25. Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup.

gemar bertanya yang tidak selalu harus dijawab. pada masa bayi dan kanak-kanak perubahan fisik sangat pesat. membuat kalimat sederhana. gambar. mulai masa remaja terjadi amat mencolok. Perkembangan Perilaku Kognitif Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information and Verbal Analogies. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghujung masa remaja akhir. mengkodifikasikan. tulisan. setelah itu kepesatannya berangsur menurun. dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. mengekspresikan dan mengkomunikasikan berbagai informasi. Dua prinsip utama dalam perkembangan psikomotorik.gerik.Laju perkembangan berjalan secara berirama. pada usia sekolah menjadi lambat. baik dalam bentuk lisan. Perkembangan Bahasa Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. membaca dan menggambar permulaan. b. Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ. d. afektif.kembangan menurun sangat lambat bahkan menjadi mapan. Bloom (1964) mengungkapkan prosentase taraf perkembangan sebagai berikut : Usia Perkembangan . bicara monolog. Loree dalam Abin Syamsuddin (2003) mengatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus dikuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau masa kanak-kanak yaitu berjalan (walking) dan memegang benda (prehension). laju per. Perkembangan bahasa dimulai dengan masa meraban. lukisan gerak . pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria. c. dan (2) dari yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik dan terkoordinasikan (finely coordinated movements). menyimpan. yaitu : (1) bahwa perkembangan itu berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks.1970) menunjukkan bahwa laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja. Jones dan Conrad (Loree. manusia. dan bahasa ekspresif dengan belajar menulis. Kemudian. haus nama-nama. Kedua jenis keterampilan ini menjadi dasar bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks untuk bermain (playing) dan bekerja (working). Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun. dan setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya berangsur menurun. Perkembangan Perilaku Psikomotorik Perkembangan psikomotorik memerlukan adanya koordinasi fungsional antara neuronmuscular system (sistem syaraf dan otot) dan fungsi psikis (kognitif. konatif). mencatat. Melalui bahasa.

Jadi. dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. 4. namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. benda apapun yang tidak ia lihat. sebagai berikut : 1.dewasa) Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu : a. Artinya. Tahap formal-operasional (11 . pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor. Artinya. Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation. Sebelum usia 18 bulan. insight learning dan kemampuan berbahasa. atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. anak belum mengenal object permanence. Kapasitas menggunakan hipotesis . didengar atau disentuh lagi. Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. 3. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif. yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat.24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis. Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret.1 tahun 4 tahun 8 tahun 13 tahun Sekitar 20 % Sekitar 50 % Sekitar 80 % Sekitar 92 % Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif diungkapkan oleh Piaget. Tahap Sensori-Motor (0-2) Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence). anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada. walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. 2. tidak ia sentuh. Tahap Pra Operasional (2 – 7) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. Dalam rentang 18 .

ia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari masyrakat dan dituntut untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat. baik yang menyangkut nilai. mengidentifikasi dan mengamati segala sesuatu yang ditampilkan orang tua dan anggota keluarga lainnya. kepercayaan terhadap individu lain. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pada intinya merupakan upaya mempersiapkan individu untuk dapat berperilaku sesuai dengan lingkungan sosialnya. Kecenderungan ekspresif (expressive disposition). Krech et. b. Pada awalnya. Buhler (Abin Syamsuddin Makmun. Sementara itu Gilmore (1974) mengemukakan bahwa “…socialization is the process whereby an individual is prepared or trainned to participate in his environment”. 2003) mengemukakan tahapan dan ciri-ciri perkembangan perilaku sosial individu sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut : . Akhirnya. ciri-ciri respons interpersonal yang merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu. ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri. dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashion). e. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak Kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. Selanjutnya ia mempelajari keadaan-keadaan di luar rumah. Kagan (1972) mengartikan sosialisasi sebagai: “…the process by which the child is integrated into the society throgh exposure to the actions and opnions of older members of the society”. dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. 3. ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan. norma. ia mempelajari segala yang terjadi dalam lingkungan keluarga. al. Sementara itu. Proses tersebut biasa disebut sosialisasi. Ia mencoba meniru. Perkembangan Perilaku Sosial Sejak individu dilahirkan ke muka bumi ini ia telah mulai belajar tentang keadaan lingkungan sosialnya. (1962) mengemukan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu. 2. dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya. yang dibagi ke dalam tiga kategori : 1. Kecenderungan peranan (role disposition).Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Kecenderungan sosiometrik (sociometric disposition).

sebagaimana tampak dalam tabel berikut : Tingkat Pre Conventional (0 – 9) Conventional (9 – 15) Post Conventional ( > 15 ) 6. 1970). 2.Tahap Kanak-Kanak Awal ( 0 – 3 ) Subyektif Kritis I ( 3 . Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan . individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun. bersamaan itu pula individu mulai menyadari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan. Perkembangan Moralitas Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada. Penghayatan seperti itu disebut pengalaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat. keras kepala Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan Membandingkan dengan aturan – aturan Perilaku coba-coba. 5. 3.4 ) Trozt Alter Kanak – Kanak Akhir ( 4 – 6 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Anak Sekolah ( 6 – 12 ) Masa Obyektif Kritis II ( 12 – 13 ) Masa Pre Puber Remaja Awal ( 13 – 16 ) Masa Subyektif Menuju Masa Obyektif Remaja Akhir ( 16 – 18 ) Masa Obyektif Ciri-Ciri Segala sesuatu dilihat berdasarkan pandangan sendiri Pembantah. 4. serba salah. Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan moralitas individu. Perkembangan Penghayatan Keagamaan Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif. 1. termasuk dirinya. kognitif. ingin diuji Mulai menyadari adanya kenyataan yang berbeda dengan sudut pandangnya Berperilaku sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kemampuan dirinya f. Dalam hal ini. pada saat-saat tertentu. norma-norma/nilai-nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas. Tahap Orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman Relativistik hedonism Orientasi mengenai anak yang baik Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial Prinsip etis universal g. dan konatifnya.

Oleh karena itu. melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura) Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau. baik secara individual maupun kolektif. bersamaan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya Pandangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja. Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahapan Ciri-Ciri Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Masa Kanak-Kanak Pandangan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam. namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Masa Sekolah Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik. secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : .keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin. ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manusia perkembangan keagamaan Perkembangan Perilaku Konatif Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhubungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber dari kebutuhan-kebutuhannya. sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan Sikap kembali ke arah positif.2003) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan obyek pemuasan psychosexual.

1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak. (2) perubahan– perubahan fisiologis yang terjadi pada individu. Bridges (Loree. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) Infantile Sexuality Mulut dan benda Menghisap ibu jari Menggigit. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimus) dan yang ketiga (respons). Perkembangan Emosional Aspek emosional dari suatu perilaku. dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel. dan (3) pola sambutan. memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis Dubur dan benda Memeriksa dan memainkan duburnya Memainkan dan memperhatikan duburnya Menyentuh. sebagai berikut : .Daerah Sensitif Pre Genital Period Oral Stage Early Oral Late Oral Anal Stage Early Anal Late Anal Early Genital Period (phalic stage) No New Zone (tidak ada daerah sensitif baru) Late Genital Period Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak Akhirnya.derungan kasih sayang Berkembangnya perasaan sosial perasaan– C. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) Mengurangi cara-cara waktu masa kanakkanak Munculnya cara orang memperoleh pemuasan dewasa Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya mungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) h. sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. siap berfungsinya alat kelamin Cara Pemuasan Sasaran Pemuasan A. menunjukkan alat kelaminnya melihat. yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus). Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur B. memegang. Terdapat dua dimensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak senang (suka-tidak suka). merusak dengan mulut Mulut sendiri.

Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata. perlakuan asing dan sebagainya. Perkembangan Kepribadian Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust.3 bln 3 – 6 bln 9 – 12 bln 18 bulan pertama 2 th 5 th Ciri-Ciri Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. kebencian dan ketakutan Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang Kenikmatan dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. tetapi di pihak lain dia ga telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame. doubt. cahaya. 4. sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. 2. terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis. berjalan. 2005 mengemukakan perkembangan kepribadian dengan kecenderungan yang bipolar : tahapan 1. dalam arti duduk. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri. temperatur) Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya. suara asing. namun dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya. berdiri. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan. cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dalam harapan dam kasih sayang i. tempat asing.Usia Pada saat dilahirkan 0 . dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. pada masa ini anak . Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya. bermain. 3. tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya.

5. semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas.sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. 6. Mereka sudah mulai selektif. hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan. Sesuai dengan namanya masa dewasa. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak. . ciri-ciri yang khas dari dirinya. sehingga perkembangan individu sangat pesat. sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. hambatan bahkan kegagalan. 8. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi. individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada. tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan. sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia. dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya. 7. dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota. tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran. Kalau pada masa sebelumnya. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. kecakapannya cukup banyak. tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadangkadang dia menghadapi kesukaran. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Pengetahuannya cukup luas. dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham.

interest. Perkembangan Karier Perkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaan seseorang. Zunker (Popon Sy. persiapan karier hingga sampai pada penempatan kariernya. berkenaan dengan tahapan perkembangan karier. work out put. namun merupakan suatu proses panjang dari tahapan perkembangan karier yang dilalui sepanjang hayatnya. attitudes. Selanjutnya. mulai dari usaha memperoleh kesadaran karier. Tugas – Tugas Perkembangan Individu Salah satu prinsip perkembangan bahwa setiap individu akan mengalami fase perkembangan tertentu. and needs associated with self concept Tentative phase in which choices are narrowed but not finalized Trial and stabilization trhough work experiences A continual adjustment process to improve working position and situation Preretirement consideration. and eventual retirement. Arifin. yang merentang sepanjang hidupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : . Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kematangan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier dengan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu.…) 5. Adapun yang dimaksud dengan perilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha menyiapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya.1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu. Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identity Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs Despair j. eksplorasi karier.Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini : Developmental Stage Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence Basic Components Trust vs Mistrust Autonomy vs Shame. Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini : Tahap Growth Exploratory Establishment Maintenance Decline Ciri-Ciri Development of capacity. Usia (birth -14 or 15) (15 – 24) (25 – 44) (45 – 64) (65 .

. Yang dimaksud dengan kedewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan. sehingga dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap.0–6. 4.d. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. 2. succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task. Belajar memakan makan padat. 6. difficulty with later task. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua.Masa Dewasa : Masa Tua Tengah Baya Masa Dewasa Awal Masa Remaja (Adolesence) : (1) Late Adolesence (18 – 21 th) (2) Early Adolesence (16 – 17 th) (3) Pre Adolesence (11 – 13 th) Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) Masa Bayi (2 Minggu s. 7. 8. while failure leads to unhappiness in the individual. saudara. a. Belajar berbicara. Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam. 9. disaproval by society. dan (4) norma-norma agama. (3) tuntutan dan dorongan dan cita-cita individu iru sendiri. Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase menurut Havighurst. (2) tuntutan masyarakat secara kultural. 5.0) Belajar berjalan pada usia 9. (0. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal 1.0 bulan. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati. Havighurst (1961) memberikan pengertian tugas-tugas perkembangan bahwa : “ A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual. 3. 2 th) Masa Orok (10 –14 hari) Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan. Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : (1) kematangan fisik. Belajar buang air kecil dan buang air besar. Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan.0 – 15. perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. dan orang lain. Oleh karena itu segenap proses pendidikan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugastugas perkembangannya para peserta didik. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin.

Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara.0) 1. yaitu : . Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku. 6. 8. Memulai hidup dengan pasangan. Sementara itu. 7. Memelihara anak. 4. 3. 7. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara. 9. 2. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial.b. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. 4. Mengelola rumah tangga. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal 1. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial. yang dijadikan sebagai rujukan Standar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Memulai bekerja. Menemukan suatu kelompok yang serasi. 8. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari. 10. 6. Belajar keterampilan dasar dalam membaca. d. 2. menulis dan berhitung.0-21. 8. 4. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan. 5. Belajar hidup dengan pasangan. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. 2.0) 1. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. 3. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12. Memilih dan mempersiapkan karier. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi. Belajar bergaul dengan teman sebaya. 3. 9. 6. Memilih pasangan. c. Mengembangkan kata hati. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6.0-12. 7. 5. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga. 5. Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis.

. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. dan kesenian sesuai dengan program kurikulum. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya. 9. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi seni. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berbangsa dan bernegara. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau mempersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat. 5. intelektual dan ekonomi. Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional. 7. sosial. Mempersiapkan diri. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi. 3. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA 1. Mengembangkan penguasaan ilmu. sosial dan ekonomi. 2. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP 1. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas. 4.a. teknologi. 5. 8. 3. Mengenal kemampuan bakat. anggota masyarakat dan minat manusia. bermasyarakat. 8. serta kematangan dalam perannya sebagai pria dan wanita. Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai. 7. menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. 6. dan minat serta arah kecenderungan karier dan apresiasi seni. persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat 4. Mencapai kematangan dalam pilihan karir 6. b.

18-20 th). Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isimengisi. Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja : 1. Pengetian dan Makna Masa Remaja Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. sosial. psikomotor. Perkembangan Pada Masa Remaja a. 5. dan (2) remaja akhir (14-16 th s. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikap-sikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. keagamaan. bahasa. para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s. Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 1113 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin.d. Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan.d. Oleh karena itu. di bawah ini disajikan berbagai karakteristik perilaku dan masa remaja. b. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. 3. Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental.6. G. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan). emosi afektif dan kepribadian. 1415 th). Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time. . konatif. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa.d. baik secara kuantitatif maupun kualitatif. 4. yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s.d. 2. moralitas. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. kognitif. 2003).

2. Perilaku Kognitif 1. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua 1. 1. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. komparasi. 3. Menggemari literatur yang bernafaskan dan 2. meskipun relatif terbatas. Aktif dalam berbagai permainan.d. 2. Perilaku Sosial 1. 2. Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi.kali kurang seimbang.d.s. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi 1. 2. Bahasa 1. 3.Remaja Awal (11-13 Th s. 2. Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel. Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai menujukkan kecenderungan-kecenderungan yang lebih jelas.14-15 Th) Fisik 1. Kecakapan dasar intelektual menjalani laju perkembangan yang terpesat. Moralitas 1. kausalitas) yang bersifat abstrak. 2. ethis. kecuali dengan teman dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. Psikomotor Gerak – gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan. 2. Lebih memantapkan diri pada bahasa dan mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu).18-20 Th) 1. Laju perkembangan secara umum kembali menurun. diferen-siasi. asing. Menggemari literatur yang bernafaskan mengandung segi erotik. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan orang dewasa. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal 2. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang menunjang kepada persiapan kerja. 3. fantastik dan dan mengandung nilai-nilai filosofis. Gerak gerik mulai mantap. Remaja Akhir (14-16 Th. . Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering. religius. 2. 3. jenis cabang 1. Adanya kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul dengan banyak teman tetapi bersifat temporer. Sudah mampu meng-operasikan kaidahkaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan komprehensif. Kecenderungan bakat tertentu mencapai titik puncak dan kemantapannya 1. 1. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau) yang suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. estetik. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. sangat lambat. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif seperti pada orang dewasa.

Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. Problema yang mungkin timbul pada masa remaja diantaranya : 1. c.dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar kepribadiannya. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya 2. Eksistensi dan sifat kemurah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaan atau agama yang dianutnya.nya mana yang harus dirundingkan dengan orang tuanya. yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya. politis. 3. yang mungkin saja dapat menimbulkan problema tertentu bagi si remaja. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis. 3. Mulai dapat memelihara jarak dan batas-batas kebebasan. bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal. 2. Mulai menemukan pegangan hidup 3. 2. 2. Emosi. kasih sayang. 1. Problema pada Masa Remaja Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan. yang akan membentuk kepribadiannnya. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat 3. rasa aman. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. 2. Merupakan masa kritis dalam rangka meng-hadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. 1. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas 3. 2. Perilaku Keagamaan 1. Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat. Penghayatan kehidupan keagamaan seharihari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. sosial. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. 3. baik secara fisik maupun psikis. Afektif dan Kepribadian 1. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencobacoba. . ekonomis. 4. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas seperti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendidikan lanjutannya. Kalau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan ditemukan identitas kepribadiannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hidupnya sampai masa dewasa. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup Konatif. 4. estetis. dan religius).

terutama melalui pendidikan di sekolah. maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. perkembangan fisik yang tidak proporsional. Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan dalam dirinya. dalam era globalisasi sekarang ini. namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Begitu juga masa remaja. menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing.Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. terutama secara ekonomis. Tidak bisa dipungkiri. penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting. Namun ketika. Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial. namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. Begitu juga. di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri. namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya. Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial). Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk . Hal ini disebabkan pada masa remaja. hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya. termasuk dengan guru di sekolah. si remaja tidak mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual. sosial. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional. yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. 3. moralitas dan keagamaan. khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen. terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya. 2.

Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. dan emosional. a. Perkembangan bersifat progresif. c. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. Perkembangan bersifat sistematis Perkembangan berkesinambungan. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya. kecuali : a. Lenyapnya tanda-tanda yang lama. d. sekolah.mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada. Usaha pencarian identitas pun. Perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya. b. 4. jika tidak terbimbing. Dalam hal ini. Rosseau . mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya. d. Latihan Soal : Pilihan Ganda : Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat. peranan orang tua. tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. perilaku imitasi atau identifikasi. a. Terjadinya perubahan dalam proporsi. Ahli yang mengelompokkan tahapan perkembangan berdasarkan pendekatan didaktis. baik internal maupun eksternal. Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian. banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba. b dan c benar 2. Di bawah ini merupakan ciri-ciri umum perkembangan individu. b. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. a. Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya. D. 3. sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Selain yang telah dipaparkan di atas. Timbulnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor. dengan cara memberikan tanda silang (X) ! 1. dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion. Diperolehnya tanda-tanda baru Setiap individu menjadi lebih matang. serta masyarakat sangat diharapkan. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja menjadi amat penting. c.

gemar bertanya. Konformistik Seksama Individualistik Otonomi 5.. c. Piaget d. terjadi pada masa : a. Kanak-Kanak Awal (0–3 th) Kanak – Kanak Akhir (4–6 th) Anak Sekolah (6–12 th) Remaja Awal (13–16 th) 10. Meraban. bayi (0-2 th). b. b. kanak-kanak (2-7 th) dan sekolah (7-12 th). haus nama-nama. . Kretschmer c. d. bicara monolog. membuat kalimat sederhana. haus nama-nama. membuat kalimat sederhana. d. bahasa ekspresif. d. d. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th). gemar bertanya. bayi (0-2 th). tahapan perkembangan tertinggi untuk siswa tingkat SMTA. 6. c. bicara monolog. Elizabeth Hurlock 4.b. gemar bertanya. bicara monolog. Menurut Lovenger. membuat kalimat sederhana. c. bicara monolog. d. haus nama-nama. kanak-kanak (2-7 th) dan remaja (12-20 th) bayi (0-2 th) dan remaja (12-20 th). Meraban. b. gemar bertanya. b. Meraban. Pola urutan perkembangan bahasa adalah : a. Tahap Sensori-Motor Tahap Pra-Operasional Tahap Konkret-Operasional Tahap Formal-Operasional 9. namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. haus nama-nama. bahasa ekspresif. c. d. Tahap perkembangan moralitas yang ditandai dengan orientasi mengenai anak yang baik dan mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. b. Perkembangan perilaku sosial yang ditandai dengan usaha untuk membandingkan aturan – aturan. a. Perkembangan psikomotorik utama yang harus dikuasai pada masa bayi dan masa kanakkanak : a. Perkembangan fisik yang sangat pesat terjadi pada masa : a. 8. dan bahasa ekspresif. yaitu : a. Merangkak dan memegang Memegang dan berjalan Berjalan dan berbicara Memegang dan berbicara 7. Kemampuan kognitif anak sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. b. bahasa ekspresif. c. c. Meraban.

c. Gerak gerik mulai mantap. temperatur) c. 14. Perkembangan penghayatan keagamaan pada masa kanak-kanak ditandai oleh adanya : a. b. Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang. c. Infancy Early Childhood Pre-Schoolage Adolescence. d. b. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif. d. 13. Pandangan ke-Tuhan-an yang kacau. Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic. cahaya. Perkembangan kepribadian yang ditandai oleh adanya dorongan untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri. b. Post Conventional d. a. dan c benar 16. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. d. a. Perkembangan emosi pada usia 0-3 bulan ditandai oleh adanya : a. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan seringkali kurang seimbang. b. c. 12. Penghayatan rohaniah yang skeptik. otot mengembang pada bagian – bagian tertentu). Kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi. Non Conventional 11. Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan. Perkembangan perilaku motorik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. . c. sehingga enggan melaksanakan ritual. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region. d. Aktif dalam berbagai jenis cabang permainan. terjadi pada tahap: a.a. Perkembangan fisik pada masa remaja awal ditandai oleh adanya: a. Conventional c. Growth Exploratory Establishment Maintenance 15. b. b. c. Sikap negatif yang disebabkan melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura). dan c benar. karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan. b. d. b. disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. Pre Conventional b. Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya. d. Perkembangan karier yang ditandai oleh adanya proses penyesuaian yang berkesinambungan untuk meningkatkan posisi dalam pekerjaan. kebencian dan ketakutan. terjadi pada masa : a.

estetis. c. Uraian 1. Menarik diri dari lingkungan sosialnya. Berupaya mempelajari norma-norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. dan religius). 19. politis. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan marah. Kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi. 18. a. kecuali : a. harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya. d. b. b. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. ekonomis. Jelaskan tugas-tugas perkembangan individu pada masa remaja ! Bagaimana implikasinya terhadap pendidikan ? 3. c. sosial. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap dan nilai mulai tampak (teoritis. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya.. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. Jelaskan problema-problema yang terjadi pada masa remaja ! dan bagaimana pula peran orang tua. d. Apa yang dimaksud dengan tugas perkembangan ? 2. Perkembangan perilaku moralitas pada masa remaja akhir ditandai oleh adanya : a. Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam. Lima kebutuhan dasar (fisiologis. Dengan sikap dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya. yang akan membentuk kepribadiannnya. d. Ciri-ciri Perkembangan perilaku keagamaan pada masa remaja awal. b. meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba. rasa aman. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup. d. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). Di bawah ini merupakan ciri perkembangan konatif pada masa remaja awal.17. 20. c. guru serta masyarakat dalam upaya mencegah timbulnya berbagai prolema pada remaja ? . b. gembira atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat. kasih sayang. Masa kritis dalam rangka menghadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. Perkembangan perilaku sosial pada masa remaja awal ditandai oleh adanya : a. c.

Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli :  Moh. sikap. pengetahuan dan sikap baru”. Intisari Bacaan 1. masalah-masalah dalam pengelolaan kelas. Hakekat Belajar.  Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan. 5. 2.  Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan. kebiasaan. B. Lantas. Mendefinisikan belajar dan pengelolaan kelas. Menjelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar. Teori-Teori Pokok Belajar. 4. bentuk-bentuk perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Menerapkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah pengelolaan kelas. Pokok Bahasan 1. 3. pendekatan . 3. 4. 2.  Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi” . pengetahuan dan kecakapan”. C.pendekatan pembelajaran.BAB IV PROSES BELAJAR MENGAJAR A. Mengidentifikasi ciri-ciri belajar. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”. Hakekat Belajar Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Pembelajaran Peran dan Kompetensi Guru Pengelolaan Kelas. peran dan kompetensi guru. diharapkan Anda dapat : 1.

c. individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat. Begitu juga. baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku. yaitu : a. b. seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Begitu juga. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. . kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku.  Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman” Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas. Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku. Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu). Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya. Misalnya. pengetahuan. sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional). Misalnya. dengan memperoleh sejumlah pengetahuan. sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan. sikap dan keterampilan berikutnya. maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru. Dalam hal ini. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Perubahan yang fungsional. Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan. seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”. dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. maka pengetahuan.

mahasiswa belajar mengoperasikan komputer. maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut. Begitu juga. baik tujuan jangka pendek. Perubahan yang bertujuan dan terarah. Untuk memperoleh perilaku baru. Di . jangka menengah maupun jangka panjang. disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”. Perubahan yang bersifat pemanen.d. Misalnya. Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai. e. h. individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan. seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya. Misalnya. Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”. tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan. Misalnya. maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan. Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata. Perubahan perilaku secara keseluruhan. tetapi melalui berbagai tahapan dan kegiatan yang harus ditempuh individu. mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”. berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya. namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan. Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Belajar merupakan suatu proses. Perubahan yang bersifat positif. terjadinya perubahan perilaku diperoleh tidak secara tiba-tiba. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan. Misalnya. tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. f. g. Perubahan yang bersifat aktif. Misalnya. dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru.

Setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Metode-Metode Pembelajaran” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience). lalu dia datang meminta bantuan dari konselor yang ada di kampus (PreLearning). dengan bertambah pengetahuan. sikap keterampilannya tentang “TeoriTeori Belajar” (Post Learning). dia memiliki motivasi yang sangat kuat . sikap keterampilannya tentang “Metode-Metode Pembelajaran” (Post Learning). dia dapat berhasil menghilangkan kebiasaan merokoknya (Post Learning). Dengan tekun dan penuh kesungguhan dia mengikuti apa-apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya (Learning Experience). Praktik. Contoh 3 : Mahasiswa Z memiliki kebiasaan merokok yang ingin dihilangkannya. Akhirnya.dan seberapa kuat komitmen individu terhadap tujuan belajarnya akan menentukan kualitas perubahan perilaku belajarnya. Kemudian oleh konselor dia dilatih untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya.Vesta dan Tompson dalam Abin Syamsuddin (2003:157) menggambarkan perubahan perilaku atau pribadi yang terjadi dari suatu proses belajar seperti tampak dalam bagan berikut: Perilaku/Pribadi sebelum belajar (Pre Learning) X=0 Y=1 Z= 1 Perilaku/Pribadi setelah belajar (Post Learning) X = (X+1) = 1 Y = (Y+1) = 2 Z = (Z-1) = 0 Pengalaman.-. Latihan (Learning Experience) Contoh 1 : Mahasiswa X belajar akan mempelajari tentang “Teori-Teori Belajar” dalam perkuliahan Psikologi Pendidikan pada semester 1. Pada semester 1 dia telah menguasai tentang “Teori-Teori Belajar” yang akan mendasari penguasaan “MetodeMetode Pembelajaran” (Pre Learning). Belajar terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong (motivasi) dan ada suatu tujuan yang ingin dicapai. seorang mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. maka dalam dirinya telah bertambah kemampuannya. Pada awalnya dia tidak memiliki pengetahuan. --khususnya motif berprestasi-. dalam perkuliahan Strategi Belajar Mengajar pada semester 2. Seberapa kuat motivasi belajar yang dimiliki individu. dengan bertambah pengetahuan. sikap dan keterampilan tentang “Teori-Teori Belajar” (Pre learning). maka kemampuannya akan meningkat. Contoh 2 : Mahasiswa Y akan mempelajari tentang “Metode-Metode Pembelajaran”.menggunakan teknikteknik konseling tertentu-. Misalnya. namun setelah dia membaca dan mengkaji buku dan berlatih mempraktekan “Teori-Teori Belajar” dalam kegiatan simulasi (Learning Experience).

sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran. dan mencium. maka sangat mungkin mahasiswa tersebut akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan Belajar juga merupakan bentuk pengalaman kehidupan melalui situasi nyata. individu memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indrawi yang memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan dari melihat. aturan dan hukum. mendengar. kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Dalam konteks proses pembelajaran. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination). definisi. dan sebagainya. Sikap. misalnya: penggunaan simbol matematika. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah. c. perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak. misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda. mencicipi. Informasi verbal. e. didalamnya terdapat unsur pemikiran. dia juga memperoleh pengalaman bagaimana bekerjasama dengan temannya dan berkomunikasi dengan orang lain. yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol. yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa. Kecakapan motorik. Kecakapan intelektual. memahami konsep konkrit. Misalnya. . Dengan kata lain. perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk : a. mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan ingin memperoleh pengetahuan tentang “Keterampilan Pengelolaan Kelas”. 2003). Dia dapat mengamati langsung bagaimana guru mempraktekkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam pengelolaan kelas. Dalam belajar. yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik. meraba/menjamah. Selain itu. konsep abstrak. Strategi kognitif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran. Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun. d. b. Begitu juga.untuk menjadi yang terbaik (the best) di kelasnya. lalu dia bersamasama kawan-kawannya melakukan observasi langsung ke kelas. dalam belajar individu juga memperoleh berbagai pengalaman sosial melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. baik secara tertulis maupun tulisan. Selain itu. dia memiliki komitmen yang kuat serta memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas.

behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan. . Berfikir asosiatif. afektif dan psikomotor. d. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan. e. kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Dengan kata lain.Namun dalam kesempatan ini hanya akan dikemukakan lima jenis teori belajar saja. dan mengabaikan aspek – aspek mental. Moh. f. c. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir). Teori Behaviorisme Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. was-was dan sebagainya. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam : a. bakat. kecewa. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. marah. yaitu: (a) teori behaviorisme. Pengamatan. h. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Kebiasaan. Sedangkan menurut Bloom. Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). g. dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar. keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi. menafsirkan. Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu). dan (5) teori belajar gestalt. senang. yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. gembira. seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik. yakni proses menerima. Keterampilan. a.Sementara itu. benci. b. sedih. sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif. (lihat tentang taksonomi perilaku individu pada Bab I) Teori-Teori Pokok Belajar Jika menelaah literatur psikologi. (4) teori pemrosesan informasi dari Gagne. beserta tingkatan aspek-aspeknya. seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut. i. (b) teori belajar kognitif menurut Piaget.

Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike. maka hubungan Stimulus .F. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat.Respons akan semakin kuat. diantaranya: a. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat.F. Law of Effect. 2. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer. Reber (Muhibin Syah. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar. Sebaliknya. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap . dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih. c. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. b. Law of Readiness. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat. diantaranya : a. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer). Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit). maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.Respons. maka kekuatannya akan menurun. b. pendekatan behaviorisme ini. Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. 3. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. Law of Exercise. diantaranya : a. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar. b. Operant Conditioning menurut B.Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari diantaranya : 1.

Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond). Menurut Piaget. (2) pre operational. (3) concrete operational dan (4) formal operational. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya. 4. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Prinsip dasar belajar menurut teori ini. bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik.lingkungan. Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method). Melalui pemberian reward dan punishment. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Dalam bab sebelumnya telah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu tahap (1) sensory motor. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan. . Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan. namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. 2. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method). b. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : 1. seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

(5) ingatan kembali. penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan. warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. dan 2. Arah bersama (common direction). Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. (3) pemerolehan. d. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisikondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Penampilan suatu obyek seperti ukuran. Kesamaan (similarity). 5. c. Kesederhanaan (simplicity). (2) pemahaman. 5. (7) perlakuan dan (8) umpan balik. 4. potongan. anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi. maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Di dalam kelas. 4. bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki. (1) motivasi. 3. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Menurut Koffka dan Kohler. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship). (4) penyimpanan. Kedekatan (proxmity). Bila figure dan latar bersifat samar-samar. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu.3. bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. (6) generalisasi. bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana. ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1. . Teori Belajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”.

seperti : sagitarius. bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. mengikuti kuliah. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt. adanya penamaan kumpulan bintang. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons. kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Perilaku bertujuan (pusposive behavior). Dalam proses pembelajaran. sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. (lingkungan behavioral). 4. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu. akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). 3. Misalnya. Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. 2. khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Berlari. bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. 2. berjalan. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa. pisces. Proses pembelajaran . Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”. Misalnya. gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah. virgo. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar. Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Pengalaman tilikan (insight). padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis). sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. 3. Contoh lain. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain : 1. bahwa perilaku terarah pada tujuan.6. yaitu: 1.

guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya. materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik. sementara tuntutan kehidupan yang harus dipenuhi individu semakin tinggi. Secara garis besarnya. Interaksi pendidikan seperti itu biasa disebut pembelajaran. yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. yaitu : a. transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. maka kegiatan belajar di sekolah dijadikan pilihan untuk mengembangkan perilaku dan pribadi individu dalam rangka memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. Oleh karena itu. Transfer dalam Belajar. Pembelajaran. sopan santun berhadapan dengan orang tua dan sebagainya. Orang tua memiliki keterbatasan dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik di rumah. Berbeda dengan kegiatan belajar di rumah. Oleh karena itu. atau peserta didik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). memasak. termasuk metode ceramah .akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. disengaja dan direncanakan. namun juga dilaksanakan di rumah maupun masyarakat. biasanya lebih banyak diperoleh dari pengalaman belajarnya di rumah. Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik di sekolah sangat ditentukan oleh pendekatan-pendekatan pembelajaran yang diberikan oleh guru. dengan bimbingan guru atau pendidik lainnya. menyeterikan baju. Pendekatan Ekspositorik adalah pendekatan yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya penyampaian informasi. guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. seorang anak perempuan memiliki keterampilan bagaimana cara mencuci piring. kegiatan belajar yang berlangsung di sekolah lebih bersifat formal. Oleh karena itu. Belajar tidak hanya berlangsung sekolah saja. Menurut pandangan Gestalt. 5. Kegiatan belajar di sekolah ditandai dengan adanya interaksi antara atau pendidik dengan peserta didik. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. 4. bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. terdapat dua pendekatan pembelajaran. Misalnya. Prinsip ruang hidup (life space).

Peran dan Kompetensi Guru Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran dan kompetensi guru. . yang harus dapat menciptakan situasi. c. inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan. eksperimen. menggerakkan. Pendekatan Heuristik yaitu yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih metode yang sifatnya praktek. transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik. transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya. di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person). baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik. Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas. konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems). seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai : a. d. motivator dan pembimbing untuk kepentingan belajar peserta didiknya.dan sejenisnya. observasi dan sejenisnya. yang mencakup : a. Pendekatan ini lebih menekankan kepada aktivitas siswa dan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator. memimpin. Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan. dan kalau masih dalam batas kewenangannya. c. berdasarkan kriteria yang ditetapkan. menganalisa. prognosa. e. Selanjutnya. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas. harus membantu pemecahannya (remedial teaching). konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan. Pendekatan ini lebih berpusat kepada guru dan pada umumnya guru bertindak sebagai sumber informasi yang utama. Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). Guru sebagai pelaksana (organizer). Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel). baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana. dalam proses interaksi dengan sasaran didik. menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement). atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran. di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan. b.. Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner. melakukan diagnosa. termasuk discovery-inquiry. dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia. serta Tuhan yang menciptakannya). b. mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik. b. merangsang.

Orang tua. guru berperan sebagai : a. pengarah. dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. penilai hasil pembelajaran peserta didik. pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. Pelaksana administrasi pendidikan. Pekerja sosial (social worker). yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan b. guru berperan sebagai : e. pengelola pembelajaran. guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). i. e. Wakil masyarakat di sekolah. dan agen masyarakat (social agent). seorang guru berperan sebagai : a. d. yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik. Pelajar dan ilmuwan. kepada masyarakat. Di sekolah. f. Pengambil inisiatif. yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya. dan penilai pendidikan. artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan. Sementara itu di masyarakat. artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan. penemu masyarakat (social inovator). Pakar psikologi pendidikan. dan k. Sedangkan dalam keluarga. . yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya. Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan. dan Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Moh. Pemimpin generasi muda. model keteladanan. Penegak disiplin. guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer). g. yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. j. Dari sudut pandang secara psikologis. h. c. artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh mpara peserta didik. keluarga dan masyarakat. Penterjemah kepada masyarakat. Seorang pakar dalam bidangnya. yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin. Lebih jauh. guru berperan sebagai perancang pembelajaran. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah. diri pribadi (self oriented). Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented).Di lain pihak. dan dari sudut pandang psikologis. artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah.

guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran. sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif. artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia. guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut. namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. Disamping itu. Pembentuk kelompok (group builder).b. interaksi peserta didik dengan guru. dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun. Sementara itu. guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya. Catalyc agent atau inovator. berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. . a. sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker). artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik. Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran. yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations). disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung. peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks. dan lain-lain. pengelolaan sumber belajar. ia akan terpuruk secara profesional. Begitu juga. Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru yaitu menciptakan keteraturan (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning). Sejalan dengan tantangan kehidupan global. dan e. khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan. Artinya. interaksi peserta didik dengan sesamanya. pengelolaan bahan belajar. jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelajaran. d. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat. disiplin peserta didik di kelas. berkembang. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh. seperti : tata letak tempat duduk. ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. lingkungan belajar. orang tua maupun masyarakat. guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya. Kalau hal ini terjadi. c. Di masa depan.

4. berwibawa. dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar. kompetensi. konsep. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar. 2. mengevaluasi kinerja sendiri. sertifikasi dan remunerasi guru. sesama pendidik. berkomunikasi lisan dan tulisan. struktur. orangtua/wali peserta didik. pemahaman terhadap peserta didik. 6. bergaul secara efektif dengan peserta didik. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. 2. Berkenaan dengan kompetensi guru. tenaga kependidikan. c. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: 1. 8. dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. 6. 3. arif dan bijaksana. 4. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. 5. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat.Untuk meningkatkan profesionalisme guru di Indonesia. dalam Undang-Undang tersebut dikemukakan empat jenis kompetensi yang harus dikuasai guru yaitu : a. dan 4. perancangan pembelajaran. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang : 1. 2. yang di dalamnya mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan profesi guru. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : 1. d. berakhlak mulia. 7. 3. hubungan konsep antar mata pelajaran terkait. . 3. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional. dewasa. mantap. pengembangan kurikulum/silabus. 3. b. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: 1. 5. evaluasi hasil belajar. stabil. 9. materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah. diantaranya adalah berkenaan dengan kualifikasi. 7. 2.

Penghargaan guru terhadap perbedaan individual peserta didik. dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya. Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi yang seyogyanya dimiliki guru. seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada. memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. sesama guru. Sebagai pembanding. baik dengan peserta didik. dapat memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya. Dengan demikian. Kompetensi personal. Surya (1997) a. di dalamnya terdiri dari lima proposisi utama. d. yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru. dan .4. Kompetensi kemasyarakatan. yaitu kemampuan yang diperlukan oleh seorang guru agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. yaitu: a. dan perwujudan diri. yaitu berbagai kemampuan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional . Kompetensi profesional. c. c. mengetengahkan lima jenis kompetensi guru. Kompetensi intelektual. yaitu kualitas kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. meliputi : Moh. b. dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do. tut wuri handayani. pengarahan diri. mampu berkomunikasi. memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya. Kompetensi personal. maupun masyarakat luas. penerimaan diri. yaitu kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai seorang yang beragama. ing madya mangun karsa. Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial. rasa tanggung jawab akan tugasnya. Perlakuan guru terhadap seluruh peserta didik secara adil. National Board for Profesional Teaching Skill (NBPTS) merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika. Dengan jumlah yang berbeda namun esensinya sama. Kompetensi sosial. Pemahaman guru tentang perkembangan belajar peserta didik. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri. e. 3. Teachers are Committed to Students and Their Learning : 1. Kompetensi spiritual. Sementara itu. Kompetensi profesional. dan 5. yaitu : a. 2. b. kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional. Kompetensi profesional meliputi aspek kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya. yaitu penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru.

khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati. Guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) memaparkan tentang beberapa kemampuan guru yang mencerminkan guru yang efektif. 6. Guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. Secara tulus menerima dan memperhatikan peserta didik.4. kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan peserta didik. Misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir peserta didik. Penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran. 4. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran. dan 4. 2. Menilai kemajuan peserta didik secara teratur. Kesadaran akan tujuan utama pembelajaran. Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning : 1. Guru meminta saran dari pihak lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan praktek pembelajaran. d. Teachers are Members of Learning Communities: 1. yaitu mencakup : a. Memiliki kemampuan interpersonal. . b. Guru bekerja sama dengan tua orang peserta didik. penghargaan kepada peserta didik. dan ketulusan. disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain. Mengutip pemikiran Davis dan Margareth A. Menunjukkan minat dan enthusias yang tinggi dalam mengajar. 3. Menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting). seperti : 1. 2. 3. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Students : 1. Apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan. Melibatkan peserta didik dalam mengorganisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran. Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik 3. 2. Kemampuan yang terkait dengan iklim kelas. 3. Thomas dalam bukunya Effective Schools and Effective Teachers. 2. c. 2. Mampu menciptakan atmosfer untuk bekerja sama dan kohesivitas dalam kelompok. Mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path). 5. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience : 1. e.

yaitu : 1. penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan metode-metode pengajaran. . penetapan norma kelompok yang produktif). Mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik. Masalah Individual : 1. Kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen. Mampu memberikan respon yang membantu kepada peserta didik yang lamban belajar. evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu pembelajaran. Memiliki kemampuan secara rutin untuk mengahadapi peserta didik yang tidak memiliki perhatian. b. pelaksanaan.7. c. Kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri. Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam). seperti: 1. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargai hak peserta didik untuk berbicara dalam setiap diskusi. Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). pemberian ganjaran. 3. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan. Mampu memanfaatkan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan metode pengajaran. didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas. 2. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban yang kurang memuaskan. helplessness (peragaan ketidakmampuan). penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas. 4. suka menyela. Pengelolaan Kelas Dalam uraian di atas telah disinggung bahwa salah satu keterampilan yang harus dimiliki guru adalah keterampilan dalam mengelola kelas. yaitu : a. Mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda. 2. Mampu memberikan bantuan kepada peserta didik yang diperlukan. Kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). mengalihkan pembicaraan. antara lain: 1. dan 8. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport. Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif. Mmeminimalkan friksi-friksi di kelas jika ada. 2. dan mampu memberikan transisi dalam mengajar. d. Pengelolaan kelas merupakan hal yang berbeda dengan pengelolaan pembelajaran. 3. 2. 4. 3. Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas.

menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance. Masalah Kelompok : 1. Kelas kurang kohesif. serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. 3. . Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik . Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah. tingkatan sosial ekonomi. 6. dan sebagainya. menyusun rencana pemecahannya. Sedangkan Haim C. prizing. “Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok. Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya. Berangkat dari teori-teori belajar sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan kelas. 7.guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim. sosio-emosional yang baik. bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan. congruence).b. genuiness. Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seyogyanya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi. serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian. mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat. Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya. yaitu : l. karena alasan jenis kelamin. Behavior . 4. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaan baru. trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”. menganalisis dan menilai masalah.Modification Approach (Behaviorism Apparoach) Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar. Carl A. guru berusaha untuk membicarakan situasi. Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru. suku. m. Dalam hal ini. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness. caring. 5. karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. 2. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.

c. (d) communication. memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya. g. Informasi verbal Kecakapan intelektual Strategi kognitif Sikap dan kecakapan motorik 4. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus. positif. d. Sebaliknya. kontinyu.Respons. Di bawah ini merupakan ciri-ciri perubahan perilaku dari kegiatan belajar : e. b. d. Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process. Belajar merupakan kegiatan individu di sekolah untuk memperoleh pengetahuan 2. b. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons. c. Perubahan yang bersifat aktif dan menyeluruh. dan permanen Perubahan yang bersifat fungsional. h. dari tidak tahu menjadi tahu. Schmuck & Patricia A. Belajar merupakan usaha individu memperoleh perubahan perilaku. n.Sementara itu. Jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. Law of Effect Law of Readiness Law of Exercise Law of Respondent Conditioning . a. dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab. b dan c benar 3. a. Di bawah ini merupakan hakekat belajar. c. (c) attraction (pola persahabatan). kecuali : a. Belajar merupakan usaha individu. Group Process Approach Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat. Perubahan yang bersifat intensional. bertujuan dan terarah. Richard A. dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat. Belajar sebagai usaha untuk memperoleh pengetahuan. Schmuck menegemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses. (d) cohesiveness D. d. f. b. yaitu : (a) mutual expectations. (c) norm. Keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol merupakan bentuk perubahan perilaku dalam : a. (b) leadership. Latihan : Soal : Pilihan Ganda 1.

Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : a. Pentingnya reinforcement dalam pembentukan perilaku individu Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. c. d.5. b. b. c. Pendekatan pembelajaran yang dianggap paling sesuai untuk pembentukan kompetensi peserta didik. adalah : a. Ekspositorik Heuristik Discovery Inquiry 9. Uraian 1. Connectionism (S-R Bond) Classical Conditioning Social Learning Operant Conditioning 6. dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar merupakan peran guru sebagai : a. b. c. d. a. b. menggerakkan. d. memimpin. merencanakan. Kompetensi akademik Kompetensi personal Kompetensi pedagogik Kompetensi sosial . d. a. dan c benar. merangsang. Apa yang dimaksud dengan pengelolaan kelas ? 2. Dalam proses pembelajaran. c. Dapat menciptakan situasi belajar. Kompetensi guru yang berhubungan dengan pemahaman perkembangan peserta didik. b. Perencana Pembelajaran Pelaksana Pembelajaran Evaluator Pembelajaran Fasilitator Pembelajaran 10. Teori belajar yang menganggap pentingnya imitation dan modelling dalam belajar. melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. b. Jelaskan secara skematik tentang perubahan perilaku dan pribadi yang terjadi dari proses belajar !. Behaviorisme Gestalt Kognitif Pemrosesan Informasi 8. c. 7. c. Materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik merupakan salah satu aplikasi dalam pembelajaran yang dihasilkan dari teori belajar : a. d. a. d. hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa. b.

BAB V BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH A. 2. Intisari Bacaan 1. b. or steer (menunjukkan. Pengertian Bimbingan dan Konseling Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. 3. conducting (menuntun). leading (memimpin). diharapkan Anda dapat : 1. 5. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling a. bimbingan terhadap peserta didik bermasalah. 4. giving instructions (memberikan petunjuk). prinsip. apa yang akan dilakukan jika di kelas menemukan: a. 4.3. 3. Menjelaskan peran kepala sekolah dan guru mata pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling. Tujuan : Setelah mempelajari Bab ini. Pokok Bahasan 1. asas. C. Menerapkan teknik – teknik dalam konseling. prosedur umum bimbingan dan konseling. para siswa kurang kompak dan selalu berisik. Mengidentifikasi fungsi. proses konseling. pilot. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling. governing (mengarahkan) dan giving advice (memberikan nasehat). 6. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah.S. B. Sedangkan menurut W. menentukan. orientasi baru. Sebagai guru. 5. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling. atau mengemudikan). mengatur. Peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling. manager. 2. Mendefinisikan bimbingan dan konseling. Winkel (1981) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding : “ showing a way” (menunjukkan jalan). jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Menganalisis kasus dan mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. Proses dan Teknik Konseling. Sertzer & Stone (1966) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yang mempunyai arti to direct. . siswa yang sedang asyik ngobrol dengan temannya. regulating (mengatur).

Willis. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. Surya. 1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. Dalam pelaksanaannya.al. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi.  Peters dan Shertzer (Sofyan S.  Prayitno. 1978) memberikan rumusan bimbingan sebagai kegiatan yang terorganisir untuk memberikan bantuan secara sistematis kepada peserta didik dalam membuat penyesuaian diri terhadap berbagai bentuk problema yang dihadapinya. dan merencanakan masa depan”. bimbingan harus mengarahkan kegiatannya agar peserta didik mengetahui tentang diri pribadinya sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. kesehatan. Djumhur dan Moh. misalnya problema kependidikan. dalam bimbingan pribadi.  Dalam Peraturan Pemerintah No. sekolah dan masyarakat.  United States Office of Education (Arifin. agar tercapai kemampuan untuk dapat memahami dirinya (self understanding). bimbingan sosial. dan bimbingan karier. kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction) dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan. Surya. keluarga dan masyarakat. bimbingan belajar. dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan penting dan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuhnya terhadap keputusan yang diambilnya. melalui . (2003) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik. sosial dan pribadi. 2004) mendefiniskan bimbingan sebagai : the process of helping the individual to understand himself and his world so that he can utilize his potentialities. jabatan. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian bimbingan. (1975) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. mengenal lingkungan.Penggunaan istilah bimbingan seperti dikemukakan di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pembimbing.  Jones et. di bawah ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli :  Miller (I. Djumhur dan Moh. dkk. baik keluarga. kemampuan untuk menerima dirinya (self acceptance).  I. (1970) mengemukakan : “guidance is the help given by one person to another in making choice and adjusment and in solving problem.

dan menghukum para peserta didik yang melakukan tindakan indisipliner. terlambat SPP. yang memberikan pengertian bimbingan disatukan dengan konseling merupakan pengertian formal dan menggambarkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam sistem pendidikan nasional.10%). Dari beberapa pendapat di atas. tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian bimbingan. b. meski secara formal istilah ini belum digunakan. dkk. tempat menangkap. perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian istilah. guru bahkan kepala sekolah. penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Konseling sesuai dengan istilah formal yang saat ini dipergunakan dalam sistem pendidikan nasional. Akhir-akhir ini para ahli mulai meluncurkan sebutan Profesi Konseling. yakni hanya berupaya menangani para peserta didik yang bermasalah saja. seperti peserta didik yang bolos. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). bahwa :  Bimbingan merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik. Padahal kenyataan di sekolah jumlah peserta didik yang bermasalah atau berperilaku menyimpang mungkin hanya satu atau dua orang saja. berdasarkan norma-norma yang berlaku. bodoh. berkelahi. dalam prakteknya masih ditemukan) bahwa penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling cenderung bersifat klinis-therapeutis atau menggunakan pendekatan kuratif. kendati demikian kita dapat melihat adanya benang merah. Bantuan dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. Ada anggapan bimbingan dan konseling merupakan “polisi sekolah”. Dari 100 orang peserta didik paling banyak 5 hingga 10 (5% .berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Selebihnya. Masalah-masalah . Dari pendapat Prayitno. menentang guru dan sebagainya.  Tercapainya penyesuaian diri. Anggapan lain yang keliru bahwa bimbingan dan konseling sebagai “keranjang sampah” tempat untuk menampung semua masalah peserta didik. Untuk kepentingan penulisan ini. Orientasi Baru Bimbingan dan Konseling Pada masa sebelumnya (atau mungkin masa sekarang pun. peserta didik yang tidak memiliki masalah (90% -95%) kerapkali tidak tersentuh oleh layanan bimbingan dan konseling.. kemudian pada Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. Akibatnya. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang panjang. merazia. bimbingan dan konseling memiliki citra buruk dan sering dipersepsi keliru oleh peserta didik.

Sofyan. Profesional. teoritis. artinya menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik. Mengingat keadaan seperti itu. Humanistik-religius. jabatan/pekerjaan. 4. Dengan demikian. kehadiran bimbingan dan konseling di sekolah akan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh peserta didik. tidak hanya bagi peserta didik yang bermasalah saja. Pedagogis. Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan orientasi baru Bimbingan dan konseling terdapat beberapa fungsi yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Pengentasan. 3. menghasilkan pemahaman pihak-pihak tertentu untuk pengembangan dan pemacahan masalah peserta didik meliputi : (a) pemahaman diri dan kondisi peserta didik. artinya setiap peserta didik adalah individu yang memiliki potensi untuk dikembangkan. yaitu : landasan-landasan filosofis dari orientasi 1. orang tua. 2. c. Pemahaman. sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diatasinya sendiri. artinya pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. yaitu: 1. Pencegahan. peserta didik sebagai manusia dianggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya. S. menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami peserta didik. tetapi upaya pemberian layanan bimbingan dan konseling lebih dikedepankan dan diutamakan yang bersifat pengembangan dan pencegahan. Willis (2004) mengemukakan baru bimbingan dan konseling. dan keluarga peserta didik dan orang tua. bukan berarti upaya-upaya bimbingan dan konseling yang bersifat klinis ditiadakan. Dengan adanya orientasi baru ini. (2) lingkungan peserta didik termasuk di dalamnya lingkungan sekolah. . menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang timbul dan menghambat proses perkembangannya. 3. 2. Potensial. informasi pendidikan. yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan konseling. guru pembimbing. kiranya perlu adanya orientasi baru bimbingan dan konseling yang bersifat pengembangan atau developmental dan pencegahan pendekatan preventif.kecil seperti itu dapat diantisipasi dan diatasi oleh para guru mata pelajaran atau wali kelas dan tidak perlu diselesaikan oleh guru pembimbing. lingkungan yang lebih luas. . yaitu proses bimbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis. dan sosial budaya/terutama nilai-nilai oleh peserta didik.

serta berbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan dan konseling. (a) bimbingan dan konseling bagian integral dari pendidikan dan pengembangan individu. jenis layanan dan kegiatan pendukung. Pemeliharaan dan pengembangan. Prinsip-prinsip tersebut adalah : 1. agama dan status sosial. Advokasi.4. 2. suku. dan (e) proses pelayanan bimbingan dan konseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaian layanan. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling . (a) melayani semua individu tanpa memandang usia. (b) memperhatikan tahapan perkembangan. 5. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan Bimbingan dan Konseling. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling : Sejumlah prinsip mendasari gerak langkah penyelenggaraan kegiatan bimbingan dan konseling. terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. (b) timbulnya masalah pada individu oleh karena adanya kesenjangan sosial. sekolah dan masyarakat sekitar. baik di rumah. sasaran layanan. (c) permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/profesional yang relevan dengan permasalahan individu. e. ekonomi dan budaya. Prinsip-prinsip ini berkaitan dengan tujuan. menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hakhak dan/atau kepentingan pendidikan. d. (d) perlu adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orang tua dan bila perlu dengan pihak lain yang berkewenangan dengan permasalahan individu. (b) program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan yang dialami individu. 3. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan. (b) pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri. sehingga program bimbingan dan konseling diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik. (a) diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. (d) program pelayanan bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian hasil layanan. (a) menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik individu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan. (c) program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu. jenis kelamin. 4. (c) perhatian adanya perbedaan individu dalam layanan.

Guru Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya. Asas Kegiatan. sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan. maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali. Betapa pentingnya asas-asas bimbingan konseling ini sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kekarelaan. dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya. serta mewujudkan diri sendiri. yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. yaitu asas yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan. yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan konseling. Agar peserta didik (klien) mau terbuka. guru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri.asas bimbingan dan konseling tersebut adalah : 1. Guru Pembimbing (konselor) berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu. mampu mengambil keputusan. yaitu asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Dalam hal ini. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan. 2. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. 3. Asas Keterbukaan. Asas Kemandirian. yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri. Asas Kerahasiaan (confidential). Guru Pembimbing . yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. 5. juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. Asas Kesukarelaan. guru pembimbing (konselor) berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. baik dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Apabila asas-asas ini tidak dijalankan dengan baik. 4. Asas. mengarahkan.Penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu.

yaitu asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. 10. kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan harus dilaksanakan sebaikbaiknya. Demikian pula. saling menunjang. Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan apa yang ada dan diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang. Asas Alih Tangan Kasus. guru-guru lain. Asas Kekinian. yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli. baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah. Dalam hal ini. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. 12. 7. sebaliknya guru pembimbing (konselor). para pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling. 11. adat istiadat. yaitu asas yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang. Asas Tut Wuri Handayani. Asas Kedinamisan. 9. hukum. tidak monoton. Dalam hal ini. yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. Asas Keahlian. dapat mengalihtangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten. Asas Keterpaduan. mengembangkan keteladanan. atau ahli lain. baik norma agama. 8. Bahkan lebih jauh lagi. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. 6.(konselor) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik. yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klien) hendaknya selalu bergerak maju. yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman). ilmu pengetahuan. peraturan. yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma. dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. dan . Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. Asas Kenormatifan. menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut. harmonis dan terpadukan. melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami.

Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing . Membantu Guru Pembimbing mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Sedangkan. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama. sehingga pelayanan pengajaran. Menyediakan prasarana. c. Secara garis besarnya. Guru Mata Pelajaran dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling Dalam kurikulum 2004. peran. sebagai berikut : a. guru mata pelajaran dan wali kelas. latihan. dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Bidang BK. secara tegas dikemukakan bahwa : “Sekolah berkewajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang menyangkut tentang pribadi. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling Di sekolah kepada Dinas Pendidikan yang menjadi atasannya. peran. e. 2. maka setiap sekolah mutlak harus menyelenggarakan bimbingan dan konseling. tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. belajar. dan dinamis. dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien.memberikan rangsangan dan dorongan. penyelenggaraan Bimbingan dan konseling di sekolah. Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program. Kepala sekolah selaku penanggung jawab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. harmonis. sosial. serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut. Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan berlangsung di sekolah. Dengan adanya kata “kewajiban”. tidak lepas dari peranan berbagai pihak di sekolah. c. dan karier”. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa b. Peranan Kepala Sekolah. Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah. kesempatan. dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu. tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah : a. tenaga. juga perlu melibatkan kepala sekolah . penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling. Menyediakan fasilitas. d. serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju. b.

seperti konferensi kasus. Namun. untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan dan konseling. membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Kegiatan Layanan dan Pendukung Bimbingan dan Konseling Kegiatan layanan merupakan kegiatan dalam rangka memenuhi fungsi-fungsi bimbingan dan konseling. c. jujur dan asli. b. Wali Kelas berperan : a. Namun sangat mungkin ke depannya akan semakin berkembang. d. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. ramah. khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling. dan e. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa. . g. program pengayaan). e. membantu Guru Pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya. memahami dan menghargai tanpa syarat. yaitu siswa yang menuntut Guru Pembimbing memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan. baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pendukung. h. konkret. Sofyan S. kedua jenis layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan. Willis (2005) mengemukakan bahwa guru-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-religius. membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa. mendorong.d. bersahabat. 3. Menerima siswa alih tangan dari Guru Pembimbing. Sedangkan kegiatan pendukung merupakan kegiatan untuk menopang terhadap keberhasilan layanan yang diberikan. seperti konferensi kasus. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung. khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya. Berkenaan peran guru mata pelajaran dan wali kelas dalam bimbingan dan konseling. Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Membantu mengembangkan suasana kelas. f. Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu. mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada Guru Pembimbing. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua jenis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling.

Layanan orientasi merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. 5.Untuk lebih jelasnya. Kegiatan Layanan Bimbingan dan Konseling 1. a. sosial. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. minat dan segenap potensi lainnya. program latihan. pendidikan lanjutan). merupakan layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk . sekurangkurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. Layanan Pembelajaran. 6. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan Orientasi. 3. dalam bidang pribadi. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. jurusan/program studi. magang. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi belajar atau penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. Layanan Penempatan dan Penyaluran. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. di bawah ini akan diuraikan tujuh jenis layanan dan lima kegiatan pendukung bimbingan dan konseling yang saat ini diterapkan dalam pendidikan nasional. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. Layanan Bimbingan Kelompok. karier. Layanan Konseling Perorangan. pergaulan. 2. kelompok belajar. 4. kegiatan ko/ekstra kurikuler. Layanan Informasi.

yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. 2. b. . merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Layanan Konseling Kelompok. Konferensi Kasus. sistematik. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik. komprehensif.menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan 7. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. kiranya perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung Dalam hal ini. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. Kunjungan Rumah. kemudahan. Aplikasi Instrumentasi Data. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. 3. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya. merupakan layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Himpunan Data. merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. baik tes maupun non tes. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. 4. Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas. yaitu : 1. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. keterangan. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. terpadu dan sifatnya tertutup. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. terdapat lima jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.

dokter serta ahli lainnya. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. seperti tes inteligensi. merupakan upaya untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. 2. Prosedur Umum Bimbingan dan Konseling Secara umum. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. tes bakat. penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. prosedur bimbingan dan konseling dapat ditempuh melalui prosedur seperti tampak dalam bagan berikut : Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Evaluasi/Follow Up a. yakni : 1. 3. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. Alih Tangan Kasus. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya.5. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. 4. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. menciptakan hubungan yang baik. Maintain good relationship. Identifikasi kasus. Call them approach. . Developing a desire for counseling. misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler.

Prayitno dkk. sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya. (6) pendidikan dan pelajaran. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. bisa dilihat dari segi input. ataupun out put belajarnya. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. bakat. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus). langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material. yaitu : (1) faktor internal. Melakukan analisis sosiometris. dan (10) waktu senggang. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. (4) ekonomi dan keuangan. (3) hubungan sosial. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. d. (2) diri pribadi. dan atau (4) personality. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. proses. dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus . (8) hubungan muda-mudi. e. (3) behavioral. dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial b. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar peserta didik. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Untuk mengidentifikasi masalah peserta didik. 5. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. (5) karier dan pekerjaan. nilai dan moral. langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih . Identifikasi Masalah. kepribadian. seperti : lingkungan rumah.H. (9) keadaan dan hubungan keluarga. c. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar. Namun. jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing. Diagnosis. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. (7) agama. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik. Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. W. (2) struktural – fungsional. pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. emosi. dan (2) faktor eksternal. kecerdasan.4. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM).kasus yang dihadapi. faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. Prognosis. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik.

dan 3. f. Dalam hal ini.mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten. sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. Peserta didik telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. 3. Peserta didik telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). Sementara itu. 7. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah peserta didik harus ditangani oleh Guru Pembimbing (konselor). Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. Sofyan S. 2. Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu : 1. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. Peserta didik telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). yaitu apabila: 1. 2. untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Peserta didik telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Evaluasi dan Follow Up. 5. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan. Peserta didik telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Bimbingan terhadap Peserta Didik Bermasalah Bimbingan terhadap peserta didik bermasalah tetap menjadi perhatian bimbingan dan konseling. Peserta didik telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 5. Peserta didik mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan. sebagaimana dalam bagan berikut : Ringan Masalah peserta didik Sedang Berat Semua Guru/Wali Kelas Guru Pembimbing Alih Tangan Kasus . evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut. 4. cara manapun yang ditempuh.

Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. mencuri kelas sedang. b. Masalah (kasus) berat. pelaku kriminalitas. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. Kasus sedang dibimbing oleh guru pembimbing (konselor). a. minum minuman keras tahap pertengahan. berpacaran. Dalam prakteknya. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. berkelahi dengan teman sekolah. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. 6. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. karena gangguan di keluarga. percobaan bunuh diri. 1. seperti : membolos. peserta didik hamil. melakukan gangguan sosial dan asusila. ahli/profesional. Proses Konseling Secara umum. Tahap Awal . berkelahi antar sekolah. dokter. guru dan sebagainya.a. kesulitan belajar. mencuri kelas ringan. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. kesulitan belajar pada bidang tertentu. Proses Konseling dan Teknik-Teknik Konseling Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. malas. berpacaran. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. bertengkar. c. polisi. seperti : gangguan emosional. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. polisi. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. Masalah (kasus) sedang. seperti : gangguan emosional berat. kecanduan alkohol dan narkotika. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. Oleh karena itu. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). (2) tahap inti (tahap kerja). tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. minum minuman keras tahap awal. dengan perbuatan menyimpang. Masalah (kasus) ringan.

2. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. Hal ini bisa terjadi jika : . 2. berisi : 1. c. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. b. b. Kontrak tugas. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. diantaranya : a. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asasasas bimbingan dan konseling. Kontrak waktu. dan kegiatan. Menegosiasikan kontrak Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. terutama asas kerahasiaan. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. Tahap Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. keterbukaan. Membuat penaksiran dan perjajagan Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan.Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Kontrak kerjasama dalam proses konseling. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. d. Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). 3. kesukarelaan. diantaranya : a.

Menurunnya kecemasan klien Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. bahasa tubuh. Menciptakan suasana yang aman . Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling b. Teknik Umum Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapantahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. yaitu : a. c. c. 2. diantaranya : a. a. Tahap Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. yaitu . baik oleh pihak konselor maupun klien. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).1. Meningkatkan harga diri klien. yaitu : (1) teknik umum dan (2) teknik khusus. Teknik-Teknik Konseling Dalam konseling perorangan terdapat dua jenis teknik yang biasa dilakukan. sehat dan dinamis. d. c. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. Perilaku attending yang baik dapat : 1. 1. d. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. b. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. dan bahasa lisan. 2. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata. di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum. Untuk lebih jelasnya. b. serta menampakan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. 3.

diam (menanti saat kesempatan bereaksi). Mendengarkan : aktif penuh perhatian. yaitu : a. ” Saya mengerti keinginan Anda”. Posisi tubuh : tegak kaku. 3. bersandar.3. menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. duduk kurang akrab dan berpaling. Perhatian : terpecah. Kepala : melakukan anggukan jika setuju 2. Contoh perilaku attending yang tidak baik : 1. jarak duduk dengan klien menjauh. Muka : kaku. Contoh perilaku attending yang baik : 1. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. b. pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. b. Empati primer. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah. 4. Memutuskan pembicaraan. Posisi tubuh : agak condong ke arah klien. Kepala : kaku 2. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien. duduk akrab berhadapan atau berdampingan. tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. Terdapat dua macam empati. tidak melihat saat klien sedang bicara. yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan. perhatian terarah pada lawan bicara. senyum 3. menunggu ucapan klien hingga selesai. pikiran dan keinginan klien. miring. 5. 5. mengalihkan pandangan. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending. mudah buyar oleh gangguan luar. ceria. 4. Contoh ungkapan empati primer : ” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. menggunakan tangan sebagai isyarat. mata melotot. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan . Empati tingkat tinggi. jarak antara konselor dengan klien agak dekat. ekspresi melamun. Ekspresi wajah : tenang. yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan. merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka.

Eksplorasi . Terdapat tiga jenis refleksi. yaitu : 1. berupa perasaan..” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan..” d. pengalaman termasuk penderitaannya. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu.” ” Barangkali yang akan Anda utarakan adalah.” ” Adakah yang Anda maksudkan..” ” Barangkali Anda merasa. Refleksi pengalaman.” 3. dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”.(kiasan)” ” Adakah yang Anda maksudkan.. yaitu teknik untuk memantulkan pengalamanpengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Refleksi perasaan.. dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya.. yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien... yaitu teknik untuk memantulkan ide. pikiran....” ” Adakah yang Anda maksudkan peristiwa... dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : ”Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan.. pikiran.” 2. pikiran... Refleksi pikiran. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah ... c..terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam..” ” Hal itu rupanya seperti ..

tertekan dan terancam. yaitu teknik untuk menggali ide. terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi. Eksplorasi pikiran. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. menutup diri. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien.” ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja” ” Saya kira pendapat Anda mengenai hal itu baik. yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam . Contoh : ” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan . pikiran. mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. dan pengalaman klien.Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan. biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya.. pikiran.. yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Contoh : ” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” e. Eksplorasi pengalaman. Seperti halnya pada teknik refleksi. atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya.. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” 2. Dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut ? 3. dan mengamati respons klien terhadap konselor. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut. Eksplorasi perasaan. dan pendapat klien. yaitu : 1.

. : ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”.. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” ” Bagaimana perasaan Anda saat ini ?” ” Dapatkah Anda mengemukakan hal itu lebih lanjut ?” g. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien.... ya. : ” Itu suatu pekerjaan yang baik.dan. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. . (3) memberi arah wawancara konseling......bentuk ringkasan . Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien.. adakah. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. lebih baik gunakan kata tanya apakah.. Contoh dialog : Klien Konselor f.” Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. terus. : ” Empat ” : ” Sekarang berapa ? ” : ” Sebelas ” Konselor Klien Konselor Klien h.Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh. dapatkah. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya.. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. bagaimana. Oleh karenanya. akan tetapi saya tidak mengambilnya. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” : ” Tampaknya Anda masih ragu. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. lalu...

Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran.. Saya tak dapat lagi menahan diri. Membantu orang tua memang harus. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. : ” Saya putus asa. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda.” : ” nekad bunuh diri” : ” lalu. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas.. ” (klien menghentikan pembicaraan) : ” ya..” Konselor j.” : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara.” Konselor .Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab.” : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. bukan pandangan subyektif konselor. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”. Contoh dialog : Klien Konselor Klien Konselor i.. dan saya nyaris.... karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya.. Karena tantangan masa depan makin banyak. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu.

Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan.k. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. Pada umumnya dalam wawancara konseling. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” m. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Misalnya dengan mengatakan : ” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. kedua. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. Tapi bagaimana ya?” masalah : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. diantaranya : 1. Contoh dialog : Klien Konselor :” Saya mungkin berfikir juga tentang hubungan dengan pacar.” l. (3) meningkatkan kualitas diskusi. Contoh : . Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . Oleh karena itu. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Fokus pada diri klien.

” :” Anda mengatakan baik-baik saja. Contoh : ” Roni. dan sebagainya. (suara rendah. Menjernihkan (Clarifying) ucapan dengan . atau kontradiksi dalam dirinya. konflik.” Tanti. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. senyum dengan kepedihan. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. ” Tampaknya Anda berjuang sendirian” 2.” n. wajah murung. Fokus pada topik. Contoh dialog : Klien Konselor : ” Saya baik-baik saja”. Fokus mengenai budaya. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi.(2) tidak menilai apalagi menyalahkan. telah membuat kamu menderita. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. posisi tubuh gelisah). tapi kelihatannya ada yang tidak beres” ”Saya melihat ada perbedaan antara kenyataan diri ”. o. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. 4. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. (2) meningkatkan potensi klien. Fokus pada orang lain. ide awal dengan ide berikutnya. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur.

. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending.” q. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. dan dengan alasan-alasan yang logis.Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar. kurang jelas dan agak meragukan... Contoh: . (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan..” : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah... (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas. (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara... mengulang dan mengilustrasikan perasaannya.. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu. (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan.. paling lama 5 – 10 detik.. ungkapan kata-kata yang tegas..... Saya... ibu. komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal.. dan pengalamannya secara bebas Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya.. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung...harus bagaimana.” (diam) Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara. dan kurang parisipatif..” (diam) :” Saya. atau saudara-saudara Anda. Contoh dialog : Klien Konselor Klien Konselor r.. pikiran.... tidak tahu.. sering diam... :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” :”. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat.. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan.” Konselor p.. :”. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. (2) agar klien menjelaskan. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir.

Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab. 2. apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” v. jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Teknik-Teknik Khusus Dalam konseling. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action).” Baiklah. di samping menggunakan teknik-teknik umum.com di internet”. terutama mengenai kecemasan. Coba Anda renungkan kembali”.upi. sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia. Teknik-teknik khusus ini . Walaupun demikian. konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan. s. saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Contoh : ” Nah. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat. saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www. dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Kalau pun konselor mengetahuinya.” t. (2) memantapkan rencana klien. dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya. dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya. perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. (3) pemahaman baru klien. u.

kesulitan menyatakan tidak. d. Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling. yaitu : a. b. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. dapat menggunakan model audio. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. c. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh.dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. . Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Rational Emotive Theraphy. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. model fisik. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. seperti pendekatan Behaviorisme.

Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. misalnya : 1. Misalnya : “Saya merasa jenuh. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. Sering terjadi.. “Saya malas.dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Bermain Proyeksi Proyeksi :  Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya  Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. f. Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. 4. 2. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. g. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”.. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah. 3. 5. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Melalui dialog yang kontradiktif ini.e. Dalam teknik bermain proyeksi .

h. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaanperasaan yang dikeluhkannya. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. j. Dengan tugas rumah yang diberikan. . Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan.konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. i. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Home work assigments. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. membiasakan diri.

Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. bimbingan sosial. m. Bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi. d. b. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. c. baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal. Fungsi bimbingan dan konseling yang menghasilkan kondisi pembelaaan terhadap pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan. dan bimbingan karier. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. c. mengenal lingkungan. 2.k. Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan untuk peserta didik. a. bimbingan belajar. dalam bimbingan pribadi. keluarga dan masyarakat. Di bawah ini merupakan pengertian bimbingan dan konseling. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. D. berdasarkan normanorma yang berlaku. d. mendorong. b. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran layanan . kecuali : a. Bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah. l. Pemahaman dan pencegahan Pengembangan Advokasi Pengentasan 3. Bimbingan dan konseling merupakan upaya untuk membantu mengatasi masalahmasalah yang dihadapi peserta didik. Latihan : Soal : 1. dan merencanakan masa depan.

b. Di bawah ini merupakan beberapa asas yang harus dipenuhi dalam layanan bimbingan dan konseling. Kegiatan pendukung yang dilakukan guru atau konselor. kerahasiaan. b. b. c. dan c benar Orientasi dan Informasi Konseling Perorangan dan Konseling Kelompok Pembelajaran dan Bimbingan Kelompok Penempatan 5. setiap layanan yang diberikan kepada peserta didik hendaknya didukung oleh : a. d. 6. Jenis layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Tujuan dilaksanakan kegiatan konferensi kasus. kedinamisan. d. a. d. Mencari cara yang terbaik guna menyelamatkan kepentingan dan nama baik klien maupun sekolah. apabila kasus yang ditangani berada diluar kemampuan atau kewenangannya. a. 4. b. Orientasi Informasi Konseling Perorangan Pembelajaran 7. agama dan status sosial. b. dan c benar 8. dan c benar 9. Kunjungan rumah Konferensi kasus Alih tangan kasus Aplikasi instrumentasi data . jenis kelamin. b. suku. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri. b. a. d. b. c.a. a. kemandirian. a. Membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka penegakan disiplin sekolah. d. tut wuri handayani a. Petugas bimbingan yang profesional Data yang lengkap dan memadai Bekerja sama dengan kalangan profesional lainnya a. a. c. c. keahlian kegiatan. alih tangan kasus. Pengambilan keputusan yang diambil oleh klien hendaknya atas kemauan diri sendiri b. d. c. keterbukaan. b. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang usia. kekinian. Memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang klien dan membangun komitmen dari para peserta konferensi dalam rangka pengentasan masalah klien. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan. sukarela. d. c. Bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan ilmiah. c. Layanan bimbingan dan konseling yang memiliki fungsi pemahaman dan pencegahan. keterpaduan kenormatifan. Oleh karena itu.

dapat dilakukan oleh : a.10. kecuali a. Penanganan peserta didik yang menunjukkan permasalahan atau perilaku menyimpang tingkat ringan. seperti bolos. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. ”Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya. Permainan dialog c. b. 14. ”Saya dapat memahami pikiran Anda”. d. a. Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaanperasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Di bawah ini merupakan hal-hal yang perlu dilakukan pada tahap awal konseling. c. tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. ”Anda mengatakan baik-baik saja. Bermain peran d. b. Jelaskan orientasi baru bimbingan dan konseling ! 2. Upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. ” Saya kira rasa sedih Anda sangat mendalam. Contoh ungkapan penggunaan teknik konfrontasi : a. berkelahi dengan teman. Teknik konseling dengan menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Identifikasi kasus Diagnosis Prognosis Treatment 12. Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih. d. Guru pembimbing/konselor Guru dan wali kelas Polisi a. b.” b. Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). d. Home work assigments Uraian 1. Aversi Desensitisasi Latihan asertif Pembentukan Perilaku Model 15. a. Dapat Anda kemukakan lebih lanjut ?” d. karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Analisis Kasus : . c. c. b. Mengapa guru pembimbing (konselor) perlu menjaga kerahasiaan data klien ? 4. c. c. Membuat penaksiran dan perjajagan 13. Imitasi b. d. b dan c benar 11. a. Jelaskan peran Kepala Sekolah dan Guru Mata Pelajaran dalam Bimbingan dan Konseling ! 3.

Tugas : Tuntaskan kasus tersebut di atas dengan memperhatikan dan menggunakan prinsipprinsip dan prosedur bimbingan dan konseling ! . tercatat sudah tujuh hari dia tidak masuk kelas. bahwa jika dia tidak masuk kelas. Sementara itu. Ketika dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP. Selama bulan Februari 2006. jika dibiarkan tentunya Fulan sangat beresiko tinggi untuk tidak naik kelas bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah. Berdasarkan informasi dari rekan sekelasnya. dia suka nongkrong di terminal. Padahal ketika masih duduk di kelas X kehadirannya termasuk bagus. pada semester yang lalu dia sering tidak masuk sekolah. pernah menyaksikan dia dalam keadaan teler di terminal dan sempat meminta paksa uang kepadanya. Dalam buku Laporan Pendidikan semester yang lalu. Berdasarkan catatan absensi yang ada di wali kelas. Bahkan Andi. tanpa alasan yang jelas. prestasi belajarnya sungguh sangat tidak memuaskan. Melihat kondisi demikian.Kabupaten Nun Jauh Disana. kecuali untuk Mata Pelajaran Kesenian. prestasinya malah jauh berada di atas kawan-kawannya. dia pernah meraih predikat sebagai Siswa Berprestasi seKecamatan Nunjauh Disana dan pernah menjadi Juara Pertama Lomba Nyanyi AnakAnak se.Fulan seorang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Nunjauh Disana. hampir terjadi pada semua mata pelajaran. kawan sekelasnya. dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Ketika dia masih duduk dibangku SD. dia telah menjadi anak yatim dan semenjak itu dia hidup bersama dengan kakek-neneknya. sang ibu sudah satu tahun ini pergi merantau ke Malaysia menjadi TKI di sana namun jarang memberi khabar apalagi memberi kiriman uang untuk anaknya.

New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. 2004. ---------. Bandung : Pustaka Setia. Publishing. NBPTS Home Page. Kurikulum Berbasis Kompetensi.T. 2004. 2003. Prayitno. Gendler. Calvin S.2003. Five Core Propositions. Psikologi Belajar. Willis. <http://www. Bandung : P. Psikologi Pendidikan.DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun.Karakteristik dan Implementasi. dkk. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. National Board for Professional Teaching Standards. Bandung PPB . 2004. Sugiharto. 2004. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Kamus Lengkap Psikologi. Elizabeth B. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Chaplin.P. Remaja Rosdakarya. Depdiknas. Jakarta : Dirjen Dikdasmen. dkk. 2003. 1980. PPB-UPI Bandung .Bandung : P. Bandung : P. 1997. 2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Surya. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. SMP dan SMA. Jakarta : Rineka Cipta. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. ----------. Remaja Rosdakarya.IKIP Bandung. Jakarta : PT Raja Grafindo. 2002. Bandung : Lab. Remaja Rosdakarya. Kartini Kartono). Sofyan S. (terj. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti --------. Nana Syaodih Sukmadinata. Jakarta. Jakarta : P.T. Arifin. E. 2003. 2005. Learning & Instruction. Hurlock. Mulyasa.T. Margaret E.2005. PT Golden Terayon Press. 1984. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling.T. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Teori dan Praktek.1992. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Konsep. Theory Into Practice. 2003. (Accessed. New York : McMillan H. Inventori Tugas Perkembangan. J. Developmental Phsychology.. Muhibbin Syah.org/ standards/fivecore. Bandung : Alfabeta Sudarwan Danim. Raja Grafindo Persada.html>. Jakarta : Depdiknas.nbpts.(2005. 31 Oct 2002).2003.Konseling Individual. Panduan Pembelajaran KBK. Psikologi Kepribadian. Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata. Jakarta : Rajawali. 2002 .M. Implementasi Kurikulum 2004. Supratiknya). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Pedoman Penyelenggaraaan Program Percepatan Belajar SD. 2004. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Sunaryo Kartadinata.

www.. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.puskur. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Syamsu Yusuf LN. 2003. Yogyakarta : Adi Cita.go. 2000.id.Suyanto dan Djihad Hisyam. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->