P. 1
Panduan Ekstra PAI

Panduan Ekstra PAI

|Views: 1,442|Likes:
Published by Dwi Wahyudi Zain

More info:

Published by: Dwi Wahyudi Zain on Aug 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/05/2013

pdf

text

original

PANDUAN PEMBIASAAN AKHLAK MULIA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Departemen Agama Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Direktorat Pendidikan Agama Islam pada Sekolah

Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama

Tahun 2009

Kata Pengantar Bismillahirrahmanirrahim Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan tersebut merupakan tolok ukur yang harus dicapai oleh setiap kegiatan pendidikan. Diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Islam nomor Dj.I/12A Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam pada Sekolah dimaksudkan sebagai upaya untuk memperkuat pencapaian tujuan pendidikan tersebut diatas, dengan menekankan kegiatan ekstrakurikuler sebagai ajang untuk kompetensi dari hasil pembelajaran pendidikan agama Islam. Dengan kata lain kegiatan ekstrakurikuler merupakan pengalaman pendidikan agama Islam sekaligus sebagai bagian dari program pendidikan berkelanjutan (Education for Sustainable Development). Kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam diharapkan menjadi bagian dari kehidupan siswa sehingga akan melekat menjadi bagian pola hidupnya. Dengan demikian terbentuklah i

kepribadian sesuai dengan yang diharapkan dari pelajaran pendidikan agama Islam yang diterimanya. Untuk memberikan panduan bagi penyelenggaraan satuan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler pendidikan agama Islam, Direktorat Pendidikan Agama Islam pada Sekolah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama bekerja sama dengan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional menerbitkan buku Panduan Kegiatan Ekstra Kurikuler Pendidikan Agama Islam untuk SMP. Buku Panduan ini masih bersifat umum. Dalam pelaksanaannya sekolah-sekolah dapat mengembangkan sesuai dengan situasi, kondisi, dan potensi sekolah masing-masing. Semoga buku Panduan ini bermanfaat dalam rangka memberikan pelayanan pendidikan agama Islam yang lebih merata dan bermutu bagi para siswa SMP di seluruh Indonesia. Jakarta, Maret 2009 Direktur Pendidikan Agama Islam Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama

DR. H. Imam Tholkhah, MA NIP. 150202547 ii

Didik Suhardi, SH, M.Si NIP. 131270212

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………..…..…………………i DAFTAR ISI ………………………………………………… iii BAB I PENDAHULUAN ………………………..…………1 A. Latar Belakang …………………………..…………1 B. Landasan Hukum ………………………..…………4 C. Tujuan …………………………………...………….5 D. Sasaran ……………………………………...………6 BAB II KONSEP PEMBIASAAN AKHLAK MULIA ….….7 A. Pengertian …………………………….…………….7 B. Tujuan dan Fungsi Pembiasaan …………………..8 C. Bentuk–Bentuk Akhlak Mulia …………………….9 D. Materi Akhlak Mulia ………………….………….25 BAB III PELAKSANAAN PEMBIASAAN AHKLAK MULIA…………………..…………..………..……43 A. Tugas dan Tanggung Jawab………..……..……...43 B. Penerapan Ahklak Mulia……………....…………45 C. Sarana dan Prasarana………………..…..……….50 D. Pembiayaan ……………………………..………...51 BAB IV PENILAIAN, SERTIFIKASI DAN PELAPORAN………………….………….………53 A. Penilaian ………………………..………….……...53 B. Instrumen Penilaian …………………….………..54 C. Sertifikasi ……………………………….…………58 D. Pelaporan ……………………………….…………58 BAB V PENUTUP…………………..…………….………..61 iii

iv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Undang Undang Dasar Rl-1945 yang diamandemen mengamanatkan pemerintah, untuk mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pendidikan nasional yang dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta meningkatkan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejalan dengan itu, Undang-undang RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia sebagai karsa sila pertama Pancasila tidak dapat terwujud secara tiba-tiba. Manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia akan terbentuk melalui proses kehidupan, terutama melalui proses pendidikan, khususnya kehidupan beragama dan pendidikan agama. Proses pendidikan ini terjadi dan berlangsung seumur hidup baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun di masyarakat. Melalui proses pendidikan, setiap warga negara Indonesia dibina dan ditingkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha 1

Esa serta akhlak mulianya. Dengan demikian, meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan berakhlak mulia, sebagai salah satu unsur tujuan pendidikan nasional mempunyai makna dalam pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang kita dambakan. Upaya pendidikan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, memberikan makna perlunya pengembangan seluruh dimensi aspek kepribadian secara serasi, selaras, dan seimbang. Konsep manusia seutuhnya harus dipandang memiliki unsur jasad, akal, dan kalbu serta aspek kehidupannya sebagai makhluk individu, sosial, susila, dan agama. Kesemuanya harus berada dalam kesatuan integralistik yang bulat. Pendidikan agama perlu diarahkan untuk mengembangkan iman, akhlak, hati nurani, budi pekerti serta aspek kecerdasan dan keterampilan sehingga terwujud keseimbangan. Dengan demikian, pendidikan agama secara langsung akan mampu memberikan kontribusi terhadap seluruh dimensi perkembangan manusia. Pendidikan agama dan keagamaan memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan aspek mental spiritual. Pendidikan agama memberikan dasar pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agama. Pendidikan keagamaan mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan agama dan menjalankan ajaran agama. Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia, Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama. Pendidikan agama bertujuan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memahami menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama. 2

Pendidikan agama Islam merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diberikan kepada peserta didik di semua tingkat satuan pendidikan. Pendidikan agama Islam di sekolah bertujuan untuk membentuk pola pikir, pola sikap, dan pola tindak peserta didik yang mengarah pada akhlak mulia. Pembentukan pola pikir, pola sikap, dan pola tindak peserta didik dapat dilakukan melalui kegiatan pembelajaran dan praktik pembiasaan. Kegiatan pembelajaran menekankan pada penguasaan pengetahuan tentang ajaran Islam. Kegiatan pembiaan lebih menekankan pada intenalisasi amaliah nilai-nilai ajaran Islam yang. diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pelaksanaannya, pendidikan dan praktik pembiasaan akhlak mulia yang obyeknya adalah pribadi anak yang sedang berkembang, memerlukan hubungan timbal balik antara penanggung jawab pendidikan, yaitu kepala sekolah, guru, orang tua, dan anggota keluarga. Kerjasama antara penanggungjawab pendidikan perlu diintensifkan, baik melalui usaha guru di sekolah maupun orang tua siswa. Selain itu, masyarakat juga mempunyai pengaruh terhadap pendidikan anak di sekolah. Sekolah dan masyarakat mempunyai hubungan timbal balik, yaitu sekolah menerima pengaruh masyarakat dan masyarakat pun dipengaruhi oleh hasil pendidikan sekolah. Program pendidikan agama pada ketiga lingkungan pendidikan tersebut harus diusahakan agar tidak tumpang tindih, tidak saling melemahkan dan tidak terjadi pertentangan satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, prinsip keterpaduan pendidikan agama Islam akan tercapai dengan baik. Proses pendidikan agama Islam diselenggarakan melalui kegiatan intrakurilkuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan di sekolah pada jam-jam pelajaran terjadwal dan terstruktur yang waktunya telah ditentukan dalam kurikulum. Kegiatan ekstrakurilkuler merupakan kegiatan pembelajaran 3

yang diselenggarakan di luar jam pelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan pengetahuan, pengembangan, bimbingan, dan pembiasaan peserta didik agar memiliki kemampuan dasar penunjang. Kegiatankegiatan dalam program ektrakurikuler diarahkan kepada upaya memantapkan pembentukan akhlak dan kepribadian peserta didik. Pembiasaan bagi peserta didik di Sekolah Menengah Pertama merupakan hal yang penting dalam penanaman akhlak mulia. Praktik pembiasaan dalam penanaman akhlak mulia perlu terus dijaga dan dikembangkan secara terus-menerus dan berkelanjutan melalui kegiatan keagamaan. Oleh karena itu, perlu disusun buku panduan praktik pembiasaan akhlak mulia di SMP, agar internalisasi dan implementasi nilai-nilai ajaran Islam dapat terlaksana dengan baik dan terukur. B. Landasan Hukum 1. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. 2. Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. 3. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 4. Peraturan Pernerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan 5. Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. 6. Peraturan Menteri Agama Nomor 3 tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Agama. 7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. 4

8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah 9. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, Nomor 22 dan Nomor 23 tahun 2006. C. Tujuan 1. Tujuan Buku Panduan a. Meningkatkan peran guru pendidikan agama Islam dan stakeholders pendidikan dalam mengoptimalkan kegiatan penanaman akhlak mulia melalui praktik pembiasaan. b. Memberikan panduan operasional kepada para stakeholders pendidikan dan sekolah dalam penanaman akhlak mulia kepada peserta didik melalui praktik pembiasaan c. Memberikan panduan pemantauan, penilaian, dan pelaporan kegiatan praktik pembiasaan akhlak mulia yang terintegrasi antara pembelajaran intrakurikuler dan kegiatan ektrakurikuler, baik di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat. 2. Tujuan Pembiasaan Akhlak Mulia a. Memberikan pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman melaksanakan pembiasaan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. b. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia. c. Menanamkan akhlak mulia kepada siswa melalui kegiatan pembiasaan positif. d. Mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam dan mengamalkan akhlak mulia dalam kehidupan 5

sehari-hari baik di sekolah, di rumah maupun di masyarakat. D. Sasaran Buku ini dapat dijadikan panduan dalam pelaksanaan kegiatan praktk pembiasaan akhlak mulia, khususnya bagi: 1. Kepala SMP 2. Guru Pendidikan Agama Islam 3. Komite sekolah SMP 4. Peserta didik

6

BAB II KONSEP PEMBIASAN AKHLAK MULIA

A. Pengertian 1. Pembiasan Istilah pembiasan berasal dari kata biasa yang artinya lazim atau tidak berkelainan. Sesuatu yang lazim dilakukan dengan terus-menerus secara konsisten maka akan menjadi terbiasa. Keadaan seperti ini dapat dikatakan sebagai proses praktik pembiasaan. Pengertian pembiasaan dalam buku panduan ini merupakan upaya praktik amaliah yang dilakukan oleh Sekolah Menengah Pertama (SMP) dalam rangka mengkondisikan siswanya agar berperilaku atau bertindak sesuai dengan tujuan tertentu yang diharapkan. Dalam proses pendidikan, praktik pembiasaan dimaksudkan agar peserta didik di sekolah, di rumah, dan di masyarakat terbiasa melakukan perilaku positif. Dalam kaitan ini, sekolah dituntut memasyarakatkan, menanamkan, dan membangun nilai dan kebiasaan positif yang bermanfaat bagi kehidupan mereka kelak. Misalnya, dalam pembelajaran pendidikan agama, sekolah perlu secara terus-menerus dan konsisten membangun kebiasaan positif seperti, taat beribadah sesuai syariat, suka menolong, membuang sampah di tempat yang disediakan, menjaga kebersihan lingkungan sekolah, berpakaian rapi dan sopan, dan selalu menjaga amanah, kejujuran, dan sebagainya. Akh1ak Mulia Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam kuat dalam jiwa seseorang yang tampak dalam bentuk perbuatan lahiriah dan perbuatan batiniah yang dilakukan dengan mudah dan sudah menjadi kebiasaan. Akhlak 7 2.

mulia merupakan sifat maupun perilaku dan melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji secara akal selaras dengan ajaran agama Islam. Dengan demikian pembiasaan akhlak mulia merupakan upaya yang dilakukan oleh sekolah untuk mengkondisikan siswanya agar terus-menerus dan berkesinambungan serta terbiasa berpikir, bersikap, dan melakukan hal-hal yang terpuji berdasarkan nilai-nilai ajaran agama Islam. B. Tujuan dan Fungsi Pembiasaan 1. Tujuan Pembiasaan Kegiatan pembiasaan akhlak mulia di sekolah bukan merupakan pembelajaran yang harus diberikan dalam bentuk tatap muka, melainkan sebagai kegiatan PAI tambahan yang bertujuan untuk membentuk karakter dan kepribadian peserta didik agar menjadi seorang muslim yang taat menjalankan agamanya, juga untuk menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi terwujudnya kultur sekolah yang lebih agamis. Kegiatan pembiasaan akhlak mulia dilaksanakan setiap saat selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran di lingkungan sekolah yang melibatkan seluruh warga. Melalui pembiasaan akhlak mulia diharapkan siswa terbiasa mengamalkan akhlak dan perilaku mulia dalam rangka terwujudnya masyarakat sekolah yang berkarakter positif dalam kehidupan bermasyarakat. 2. Fungsi Pembiasaan Seseorang yang terbiasa mengamalkan perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari senantiasa akan memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa karena ia akan merasa dekat dengan Allah. Orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah akan memperoleh ketenteraman jiwa karena kebutuhan jiwa dapat terpenuhi. Orang yang selalu dekat dengan Allah akan selalu terhindar dari perbuatan buruk dan 8

keyakinannya akan mencegah perilaku negatif yang kontra produktif. Dalam kehidupan sosial, praktik pembiasaan akhlak mulia akan membawa pengaruh positif pada kehidupan sosial. Apabila seluruh anggota masyarakat selalu terbiasa mengamalkan akhlak mulia, maka akan terbentuk masyarakat yang harmonis. Dapat pula dikatakan bahwa kesalehan pribadi akan membentuk kesalehan sosial yang akan mereduksi segala bentuk perilaku negatif . C. Bentuk-Bentuk AkhIak Mulia Program ekstrakulikuler dalam bentuk praktik pembiasaan akhlak mulia merupakan bagian integral dari kegiatan pembelajaran PAI yang dilakukan di sekolah atau di luar sekolah (keluarga dan masyarakat). Kegiatan pembiasaan bentuk pengembangan dari kegiatan intrakurikuler PAI. Kegiatan ekstrakurikuler ini ditujukan untuk meningkatkan keterbiasaan siswa dalam mengintegrasikan dan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang telah dipelajari pada kegiatan intrakurikuler PAI dalam situasi kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah, keluarga, dan di masyarakat. Pada prinsipnya, program kegiatan pembiasaan akhlak mulia merupakan upaya peningkatan mutu keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT bagi peserta didik melalui keteladanan, bimbingan, dan latihan dalam tata cara berbicara, berpakaian, berperilaku, dan bertindak secara terus-menerus baik secara formal maupun informal, di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat. Adapun subtansi yang berkaitan dengan pembiasaan akhlak mulia ini meliputi: 1. Akhlak terhadap Allah Akhlak terhadap Allah (al-Khalik) adalah hubungan manusia dengan pencipta-Nya yang terwujud dalam bentuk ibadah dan disiplin pribadi yang dimanifestasikan dalam sikap pribadinya terhadap Allah SWT. Secara umum, contohcontoh akhlak terhadap Allah meliputi: cinta kepada Allah, takut kepada Allah, berharap kepada Allah, syukur kepada Allah, 9

taubat dan nadam (penyesalan), tawadhu’ kepada Allah, tawakal kepada Allah, ikhlas dan ridha terhadap qadha dan qadar. Secara spesifik berakhlak mulia terhadap Allah dapat dikategorikan menjadi lima bentuk, yaitu : berpegang teguh kepada agama-Nya, beribadah, berdoa, dzikir, dan bertasbih. Beberapa bentuk hubungan ini secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Berpegang teguh kepada agama Allah Berpegang teguh kepada agama Allah merupakan suatu perintah yang amat fundamental, karena manusia dalam kehidupannya memerlukan norma dan kode etik, yaitu suatu sistem yang mengatur bagaimana ia harus berhubungan dengan Allah, dengan manusia dan dengan lingkungan hidupnya. Kekuatan yang mampu memberi kode etik bernilai absolut untuk mengangkat martabat manusia dan membedakannya dari jenis binatang dan makhluk lainnya, hanyalah agama. Oleh sebab itu, agama merupakan kebutuhan yang mendasar yang dihajatkan manusia. Itulah sebabnya Allah memerintahkan manusia berpegang teguh kepada agama-Nya, sesuai dengan firman-Nya dalam Surat Alr Rum ayat 30, yang artinya: ''Maka hadapkanlah wajahmu lurus kepada agama sebagaimana engkau adalah hanief (secara kodrat memihak kebenaran). Itulah fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu (Q.S. 30: 30). Andai kata dalam kehidupan dipatuhi lagi nilai-nilai halal kenal antara muhrim dan penguasa negeri yang adil 10 suatu masyarakat, tidak dan haram, sudah tidak yang bukan muhrim, tidak lagi diperhatikan

seruannya, maka ketika itulah martabat kemanusiaannya meluncur jatuh ke martabat binatang seperti Firman Allah SWT dalam surat Al A’raf ayat 179, yang artinya “....Mereka Itu sebagai binatang ternak bahkan mereka lebih sesat “ (Q.S.7: 179) Dari uraian di atas, terlihat jelas bahwa berhubungan dengan Allah dalam bentuk mematuhi ajaran-ajaran-Nya pada hakikatnya adalah untuk kepentingan manusa itu sendiri, yaitu agar tercipta suasana kehidupan yang beradab dan bermartabat, tidak jatuh kepada tingkat kehidupan binatang. b. Beribadah Secara umum ibadah berarti bakti manusia kepada Allah SWT, karena didorong dan dibangkitkan oleh aqidah/tauhid. la juga berarti memusatkan perhatian dan pengabdian hanya kepada Allah semata-mata, tidak ada yang disembah dan dipuja kecuali Allah saja. Pengabdian berarti penyerahan mutlak dan kepatuhan sepenuhnya secara lahir dan batin kepada kehendak Ilahi. Semua itu dilakukan dengan kesadaran, baik sebagai pribadi dalam masyarakat, maupun secara bersama-sama dalam hubungan garis lurus manusia dengan Khaliknya. lbadah yang dikerjakan manusia dapat berupa melaksanakan ibadah yang telah ditetapkan aturannya, caranya dan ukurannya seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Ada pula ibadah yang tidak ditetapkan aturan, ukuran, dan tata caranya seperti menolong orang yang dalam kesusahan, terkena musibah, fakir, miskin, dan sebagainya. lbadah model kedua ini, waktu, cara, dan kadarnya diserahkan kepada kesanggupan manusia. Namun bersamaan dengan itu ibadah tersebut harus didasarkan semata-mata karena Allah, bukan karena tujuan-tujuan yang bersifat pribadi, 11

seperti ingin dipuji orang, ingin mendapat penghargaan sosial dan semacamnya. Suatu kegiatan dalam kehidupan yang didasarkan kepada tujuan ibadah akan memberikan ketenangan hidup dan kerja. Kerja yang diliputi ketenangan akan mendatangkan hasil yang lebih baik daripada kerja yang dilakukan tanpa ketenangan. Sebaliknya manakala suatu kegiatan dalam kehidupan tidak bertujuan ibadah, mudah dijangkiti penyakit putus asa. Demikian pula jika seseorang tanpa tujuan hidup atas dasar ibadah, maka dalam pekejaannya mudah terlibat dalam kecurangan, kejahatan, yang akan membawa akibat buruk dan kerusakan hidup bersama dalam masyarakat dan bernegara. Memperhatikan keterangan di atas, jelaslah bahwa berhubungan dengan Allah melalui ibadah akan mendatangkan keuntungan kepada manusia, bukan untuk keuntungan Allah. Sebaliknya meninggalkan ibadah dapat mengundang bencana atau adzab Tuhan. Oleh karena itu, hubungan dengan Allah perlu dipelihara terusmenerus c. Berdoa Hubungan akhlak dengan Allah selanjutnya dapat berbentuk berdoa kepada-Nya, yakni memohon sesuatu yang kita inginkan dengan tujuan agar dapat menambah peningkatan pengabdian kepada-Nya. Berdoa memperlihatkan bahwa manusia, di samping memiliki kelebihan atau kecakapan berupa kekuatan fisik, akal, perasaan, dan kemampuan rohani lainnya, juga masih banyak sesuatu yang tejadi di luar batas kesanggupan dan kecakapannya itu. Manusia yang tidak bertuhan seringkali mengatasi masalah tersebut dengan caracara yang sesungguhnya bukan menghilangkan problema, malah mendatangkan problema baru. MisaInya pergi ke tempat judi, mabuk-mabukan, foya-foya di tempat maksiat, dan sebagainya. 12

Dalam ajaran Islam, problema tersebut hanya dapat dipecahkan dengan mendekatkan diri dan melakukan hubungan yang lebih harmonis lagi dengan Allah, yang antara lain dengan doa. Dalam doa yang dipanjatkan itu terdapat tata cara yang harus diperhatikan, karena dalam doa manusia sedang berhadapan dengan Allah SWT, maka perlu disertai dengan etika berdoa atau adab-adabnya, yang antara lain: 1) Suci dari hadats dan najis; 2) Menghadap kiblat; 3) Dilakukan dengan khusu'; 4) Dimulai dengan membaca istighfar; 5) Mengucapkan pujian dan shalawat; 6) Sebaiknya mengerti dan memahami isi do’anya Di samping itu, bagi yang melakukan doa harus disertai ketaatan terhadap segala perintah Allah dan Rasul-Nya, menjauhi segala larangan-Nya seperti perbuatan berdosa, memelihara kesucian dirinya dari kesalahan lahir dan batin. Selanjutnya dengan hati yang ikhlas, khusyu', dan tawadhu (merendah diri dan tenang), memusatkan pikiran dan hati hanya kepada Allah, mengucapkan kata-kata pujian, membaca shalawat, kemudian dilanjutkan dengan permohonan, disertai sikap tidak putus asa, walaupun doa tersebut belum waktunya dikabulkan. Dengan berdoa tersebut, seseorang seolah-olah menyerahkan dirinya kepada Allah SWT semata-mata. Namun doa tersebut hendaknya dibarengi dengan usaha atau kerja keras yang tak mengenal lelah. Sebab terkabulnya doa itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan memerlukan sarana lain untuk tersalurnya permohonan tersebut. Usaha tersebut juga perlu ditingkatkan dari segi caranya, waktunya dan sebagainya. Doa tanpa usaha, sama artinya orang yang memohon datangnya emas dari langit, dan itu tidak akan terjadi. 13

Memperhatikan keterangan di atas, terlihat jelas bahwa manfaat dari segi hubungan manusia dengan Allah melalui doa itu pada akhimya adalah untuk kebahagiaan manusia itu sendiri. Dengan kata lain manfaat hubungan melalui doa adalah bentuk kesejahteraan hidup manusia juga. d. Berdzikir Hubungan akhlak dengan Allah selanjutnya berbentuk dzikir atau ingat kepada Allah swt. Dalam kehidupan umat Islam, dzikir sudah banyak dilakukan, terutama pada saat selesai menunaikan shalat, maupun dalam keadaan khusus ingin mendapatkan ketenangan atau ketentraman jiwa. Manfaat dzikir tersebut juga untuk kebahagiaan manusia itu sendiri, bukan untuk Allah. Firman Allah SWT dalam Surat Al Anfal ayat 45, yang artinya: ''Dan bordzikiriah kamu sekalian kepada Allah sebanyak-banyaknya agar kamu memperoleh kebahagiaan. '' (Q.S. 8- 45) Selanjut-nya Allah berfiman dalam Surat Ar Ra’du ayat 28 yang artinya: ''Ingat, hanya dengan dzikir kepada Allah, jiwamu akan tentram. '' (Q. S. 13: 28) Bentuk dzikir yang mana yang dapat membawa kebahagiaan dan ketenangan itu? Jawabannya tentu memerlukan pemikiran agak mendalam. Untuk lebih jelasnya bahwa dalam berdzikir orang biasanya menyebut nama Allah seperti pada kata-kata: Subhanallah (Maha Suci Allah), Allahu Akbar (Allah Maha Besar), dan sebagainya. Ucapan tersebut seharusnya dilanjutkan dengan pemahaman terhadap artinya, merasakan dan menghayati maknanya, kemudian melaksanakannya. dalam kehidupan seharihari. Dzikir pada intinya mengingat Allah, juga dapat diartikan mengingat dan menghayati ajaran Allah dan berupaya melaksanakan ajaran tersebut sesuai dengan kesanggupan yang dimiliki. 14

Dzikir dapat pula menjadi pengendali nafsu dan perilaku diri agar tidak menyimpang dari garis atau ketentuan Allah. la dapat pula berarti kesediaan menerima hukuman Allah, manakala ia bersalah, juga kesediaan menegakkan amanah jika ia mendapat perintah Allah. Kemudian mencontoh budi pekerti yang tertuang dalam asma-asma Allah yang baik (asmaul husna). Sebagai contoh, Allah bersifat Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Mengetahui, Maha, Pemurah, dan seterusnya, karena, itu manusia mencoba menjadikan dirinya menjadi orang yang senantiasa berbudi pekerti sebagai pengasih, penyayang, berilmu, pemurah, dan sebagainya, walaupun sifat-sifat atau budi pekerti tersebut tidak sama persis dengan budi pekerti atau sifat-sifat Allah yang tidak terbatas. Dengan memahami dzikir seperti diuraikan di atas, terlihat sekali manfaatnya, dzikir dapat menghidupkan mental spiritual serta budi pekerti yang mulia pada diri manusia. Hal ini adalah penting dalam upaya menopang keberhasilan hidupnya. Manfaat hubungan dan akhlak manusia dengan Allah melalui dzikir itu adalah untuk kebahagiaan, ketenangan, dan keberhasilan manusia sendiri, seperti disinggung dalam ayat-ayat di atas. e. Bertasbih Bertasbih seperti halnya berdzikir merupakan salah satu satu bentuk hubungan dengan Allah. Dalam bertasbih biasanya seseorang mengingat Allah dengan memakai kata-kata Subhanallah yang artinya, ''Maha Suci Allah''. Tasbih ini pun jika dilakukan dengan benar dapat membawa keuntungan bagi orang yang melakukannya. Karena bertasbih pada dasarnya merupakan bagian dari dzikir. Cara tersebut antara lain dengan mengerahkan kepatuhan manusia kepada Allah dalam perilakunya sehari-hari. Pada tasbih misalnya, dikatakan bahwa Allah SWT adalah Maha Suci dari segala sifat yang tercela atau kekurangan. 15

Dalam pada itu manusia berusaha semaksimal mungkin menghilangkan sikap tercela dan kekurangan yang ada dalam dirinya untuk kemudian diganti dengan sifat terpuji dan penuh keutamaan, walaupun kadar keterpujian dan keutamaan itu tidak sama dengan Allah, dan hal itu memang tidak mungkin. Tasbih menimbulkan semangat dalam diri manusia untuk berusaha menghiasi diri dengan perilaku yang baik dan berusaha sekeras mungkin mengatasi kekurangan yang ada pada dirinya. Dengan memperhatikan keterangan di atas, dapat difahami bahwa berhubungan dan berakhlak mulia dengan Allah yang antara lain dilakukan melalui berpegang teguh kepada agama-Nya, beribadah, berdoa, berdzikir dan bertasbih, serta menghayati makna dzikir itu akan dapat mendatangkan keuntungan atau kebahagiaan bagi manusia yang melakukannya. Namun dalam melakukan hal-hal tersebut dibarengi dengan kerja keras, pemikiran yang mantap, penghayatan yang mendalam, perasaan yang terkendali, dan perbuatan yang secara keseluruhan mencerminkan kesesuaian dengan yang dikehendaki Allah. 2. AkhIak terhadap Sesama Manusia Akhlak terhadap sesama manusia adalah hubungan manusia dengan sesama, yang terwujud dalam bentuk perbuatan ihsan, yaitu dengan cara mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan diri sendiri. Bentuk hubungan dengan sesama manusia sangat luas. Hubungan tersebut dapat mengambil bentuk kerja, seperti bidang pertanian, perdagangan, transportasi, jasa dan lain-lain. Selanjutnya hubungan dan akhlak mulia tersebut dapat pula dilihat dari segi peran dan kedudukan masing-masing dalam stuktur keluarga, di dalamnya ada ibu, bapak, anak, dan sebagainya. Dalam struktur pekerjaan ada majikan, karyawan, dan sebagainya. 16

Namun agar pembahasan tidak tentang luas, hubungan dan akhlak mulia akan dibatasi dalam uraian ini ke dalam bentuk hubungan keluarga, hubungan pergaulan di sekolah, hubungan bertetangga, dan hubungan berbangsa. Penjelasan singkat masing-masing hubungan akhlak mulia tersebut adalah sebagai berikut: a. Hubungan dalam keluarga Manusia diciptakan Allah dalam keadaan berpasang-pasangan, laki-laki perempuan. Antara satu dan lainnya mempunyai keinginan untuk dapat berhubungan dengan akrab, masing-masing dapat saling menolong, cinta-mencintai, dan memenuhi kebutuhan biologisnya. Untuk memenuhi hasrat itu, agar tidak terjadi penyimpangan yang berakibat kekacauan hidup manusia, maka Allah memberikan aturan dalam memasuki hidup berkeluarga (suami istri) dan memperoleh keturunan. Tujuan hidup seperti ini sangat dianjurkan dan diberi tempat yang terhormat di dalam ajaran Islam dan sekaligus memberikan arah dan petunjuk tentang cara-cara mencapai tujuan hidup berkeluarga itu sebagaimana firman Allah SWT dalam urat Ar Rum ayatt 21, yang artinya : ''Dan sebagian dari tanda (kebesaran Tuhan) yaitu diciptakannya bagimu pasangan agar tercapai ketenangan padanya dan dijadikan pula di antaramu kasih sayang. '' (Q. S. 30: 21) Dalam ayat tersebut di atas dinyatakan bahwa tujuan hidup berkeluarga adalah untuk mendapatkan ketenangan atau sakinah. Ketenangan itu bakal dapat diraih jika yang satu dengan yang lainnya saling mencintai dan saling menyayangi. Satu dan lainnya harus bantu membantu yang dilandasi oleh sikap saling menghargai, saling mempercayai, dan saling menutupi kekurangan. Pelaksanaan dari hal-hal tersebut dapat diartikan sebagai ibadah kepada Allah SWT, sehingga dalam pelaksanaannya tidak dirasakan sebagai beban, melainkan karena semata-mata panggilan agama. Dalam keluarga tersebut terdapat struktur yang di dalamnya diatur cara-cara hubungan antar anggota keluarga. Misalnya seorang anak harus patuh kepada orang tua dan menghormatinya. 17

Sebaliknya orang tua pun bertanggung jawab atas nafkah, baik yang bersifat material maupun immaterial. Hal-hal yang bersifat material bisa diwujudkan dalam memberi makan, pakaian, tempat tinggal, dan sebagainya. Sedangkan yang bersifat immaterial dapat berbentuk pemberian pendidikan, bimbingan, kasih sayang, pengawasan, pengalaman, hiburan, rekreasi, dan sebagainya. Pelaksanaan semua hak dan kewajiban tersebut hanya dapat terwujud atau berjalan dengan baik, apabila masing-masing anggota dalam keluarga menyadan hak dan kewajibannya masing-masmg serta mewujudkan secara harmonis, tulus, dan ikhlas. b. Hubungan dan pergaulan di sekolah Sekolah adalah sarana berinteraksi dan bersosialisasi antara teman sebayanya. Peran serta sekolah dalam mendorng terwujudnya hubungan harmonis pada tingkatan anak-anak yang hampir memiliki kesamaan usia, adalah cukup strategis. Keberadaannya menjadi sarana yang dapat membantu memudahkan anak-anak untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Komponen sekolah pada umumnya adalah sama dengan komponen keluarga. Maka tidaklah mengherankan jika tanggung jawab sekolah dalam proses pendidikan khususnya pendidikan yang bermuara pada akhlak mulia sama halnya dengan apa yang dilakukan di lingkungan keluarga. Di sekolah, adanya komponen kepala sekolah, guru, peserta didik, dan lain-lain. Kepala sekolah dapat diumpamakan sebagai seorang kepala keluarga di rumah, karena ia bertanggung jawab penuh terhadap kondisi yang ada di sekolahnya. Guru dapat diumpamakan sebagai ibu, karena dengan kehadirannya ia dapat melahirkan berbagai pengetahuan, penghayatan, pengalaman, dan pengamalan dari nilai-nilai yang terkandung dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan di kelas, sehingga anak-anak usia sekolah ini memperoleh sesuatu yang baru dalam kehidupannya. Peserta didik dapat disamakan dengan anak-anak dalam 18

sebuah keluarga, karena itu mereka senantiasa harus diarahkan dan dibimbing setiap langkah kehidupannya ke arah yang baik, terlebih lagi jika itu dimulai sejak usia dini. Di sekolah, hubungan harmonis di antara sesama anak-anak dapat mengambil bentuk berteman dengan menghormati kepala sekolah, guru, pegawai sekolah, dan teman-teman yang usianya lebih atas darinya, memilih teman yang baik, menuntut ilmu dengan ikhlas dan senang hati, belajar dengan sungguh-sungguh, tidak bermalas-malasan, mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan baik, menaati tata tertib dan peraturan sekolah, dan lain sebagainya. c. Hubungan dalam bentuk bertetangga Masyarakat yang terdekat setelah keluarga adalah tetangga atau jiran. Peranan tetangga dalam kehidupan manusia sangat penting. Demikian pentingnya, sehingga kadang-kadang melebihi peranan anggota keluarga atau famili kita sendiri yang kebetulan bertempat tinggal jauh dari kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berhadapan dengan berbagai kasus yang meminta keterlibatan tetangga, seperti ketika akan mengadakan pesta, ditimpa kematian, kecurian, kecelakaan, dan lain-lain. Dalam kasus-kasus tersebut, tetanggalah yang biasanya datang menolong lebih dahulu untuk mengatasi kesulitan yang kita hadapi sebelum orang lain atau famili kita sendiri yang kebetulan bertempat tinggal jauh. Alangkah susahnya bila dalam keadaan kesulitan itu tak ada orang lain atau tetangga yang menolongnya. Untuk terciptanya saling menolong itu, maka perlu dijaga hubungan yang harmonis di antara sesamanya. Hal ini antara lain dapat dilakukan dengan cara tolong menolong, tenggang rasa, saling menghargai, saling menghormati, saling memberi dan menerima, dan seterusnya. Menciptakan hubungan yang harmonis dengan tetangga mendapat perhatian yang besar dari ajaran Islam. Rasulullah SAW sendiri menurut suatu riwayat selalu mendapat pesan dari Malaikat Jibril agar beliau 19

berbuat baik kepada tetangganya. Pesan itu demikian pentingnya diberikan sehingga beliau mengira bahwa tetangga itu akan dijadikan ahli waris beliau. Dalam sebuah hadits lain diriwayatkan oleh Ibnu Bazzar, yang artinya: Belum sempurna iman seseorang kepadaKu, yaitu orang yang senantiasa dalam keadaan kenyang padahal tetangganya menderita kelaparan, dan ia tahu tentang keadaan tetangganya itu. (H.R. Ibn Bazzar) Berbuat baik kepada tetangga dalam pengertian yang minimal antara lain, kita tidak berbuat salah dan tidak saling menggangu. Ketika tetangga kita sakit, ataupun terkena musibah misalnya, kita memperlihatkan sikap berduka cita dan membantu meringankannya, jangan sampai menunjukkan sikap yang memperlihatkan tidak simpatik atau menambah susah. d. Hubungan Berbangsa Manusia selain sebagai individu anggota masyarakat, ia juga merupakan penduduk dari suatu bangsa, atau negara. Sebagai suatu bangsa. ia juga mempunyai tujuan yang hendak dicapai yaitu menginginkan suatu negara yang baik dan diridhoi Allah (baldatun thayibatun wa rabbun ghafur). Sebagai bangsa Indonesia tujuan hidup bernegara kita ditetapkan dalam pembukaan Undangundang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 alinea keempat berikut penjelasannya sebagai berikut: ''Negara'' begitu bunyinya membimbing segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan berdasar atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia'' Negara ini berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut asas kemanusiaan yang adil dan beradab, serta keberadaannya adalah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Sebagai suatu bangsa, tujuan hidup itu diletakkan pada kepentingan bersama sebagai suatu keseluruhan, setiap individu yang ada di negara ini tidak boleh melanggar ketentuan yang telah disepakati bersama. Oleh karena 20

itu, di antara mereka harus bersatu, tolong menolong, bahu membahu, terutama dalam situasi negara berada dalam keadaan bahaya. Dalam suatu negara biasanya terdiri atas berbagai suku, adat istiadat, tingkat sosial, dan lain-lain yang berbeda-beda. Semua itu hendaknya tidak menjadi penghalang untuk melaksanakan tujuan bersama. Untuk ini Allah SWT. berfirman dalam Surat Al Hujurat ayat 13, yang artinya ''Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling mengenaL '' (Q. S. 49:13) Untuk itu, maka perlu diciptakan hubungan yang harmonis antara seluruh anggota yang ada dalam lingkungan bangsa tersebut.

3. AkhIak terhadap Diri Sendiri Berhubungan atau berakhlak mulia terhadap diri sendiri pada dasarnya adalah menjaga diri dan anggota badan agar melakukan perintah Allah dan menjauhi perbuatan yang dilarang oleh-Nya, serta tidak berusaha untuk mendzhalimi diri sendiri. Perbuatan yang dilakukan sesuai dengan kernampuan yang ada pada diri sendiri adalah upaya untuk membuat diri tidak merasa terbebani oleh pekerjaan yang mengakibatkan anggota badan dan diri ini merasa di luar kemampuannya. Akhlak terhadap diri sendiri ialah sikap pribadi terpuji yang dimiliki seseorang, seperti: a. Selalu berpegang teguh kepada aqidah yang benar; b. Taat beribadah; c. Kerja keras, tekun, dan sungguh-sungguh; d. Selalu berkata benar, lembut, dan sopan; e. Memelihara amanah orang lain; f. Berlaku jujur dan adil; g. Berani melakukan kebenaran; h. Malu melakukan maksiat/dosa; i. Bersikap bijaksana, dan proporsional; 21

j. Menyadari hak orang lain yang terkait dengan diri; k. Tidak menyakiti diri; dan l. Tidak melakukan perbuatan yang membahayakan merokok, minuman keras, narkoba, dan sejenisnya

diri, seperti

Pekerjaan melindungi diri dan anggota badan lainnya dari bahaya fisik dan nonfisik yang diakibatkan dari hasil interaksi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya adalah upaya untuk menjaga hubungan baik dengan diri sendiri. Menjaga kebersihan dan keindahan anggota badan dengan menggunakan sesuatu yang bisa menimbulkan kenyamanan diri dan orang lain untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan diri kita sendiri. Di samping itu, berhubungan baik dengan orang lain adalah berusaha mengerti akan hak orang lain yang ada pada diri kita, tidak menyakiti dan menyinggung perasaan orang lain yang diajak berbicara, karena jika dilakukan maka dampaknya akan dirasakan oleh diri kita sendiri, baik secara langsung balasannya maupun pada masa-masa yang akan datang.

4. AkhIak terhadap Lingkungan Sekitar Akhlak terhadap lingkungan sekitar adalah hubungan manusia dengan alam sekitarnya yang terwujud dalam bentuk perbuatan ihsan yaitu menjaga keserasian dan kelestarian serta tidak merusak lingkungan hidup. Akhlak terhadap lingkungan hidup ini meliputi manifestasi sikap pribadi manusia terhadap keserasian dan kelesatarian tumbuh-tumbuhan (flora) dan binatang/ hewan (fauna). Akhlak terhadap lingkungan hidup (binatang/hewan) ini terdiri atas dua pengertian, yaitu syafaqah dan himayah. Syafaqah ialah perasaan halus dan rasa belas kasihan untuk berbuat baik kepada sesama makhluk Tuhan. Sedangkan himayah ialah memelihara hewan dengan memenuhi kebutuhan makanannya dan kesenangannya. Air, tanah, flora, dan fauna semesta alam adalah komponen lingkungan hidup manusia dalam satu sistem ekologi. Manusia dapat mengubah alam menjadi suatu sumber kehidupan yang positif dan 22

bermanfaat. Sebaliknya manusia juga dapat mengubahnya menjadi sesuatu yang bersifat negatif atau mudharat. Apa yang menyebabkan kehancuran kehidupan semua makhluk termasuk manusia sendiri. Manusia tentunya mengharapkan dampak positif dari lingkungan alam tersebut. Untuk itu, perlu menciptakan hubungan yang harmonis dengan alam lingkungan hidup. Upaya ke arah hubungan yang harmonis dapat dilakukan dengan cara : a. Memberi tempat yang wajar kepada makhluk yang ada di sekitarnya dan tidak melakukan pengrusakan, atau mengeksploitasinya di luar batas kesanggupan alam tersebut. b. Tidak bersikap berlebihan, boros, tamak dalam mempergunakan lingkungan guna memenuhi kebutuhan. c. Senantiasa memelihara keseimbangan takaran yang telah ditentukan Allah SWT, seperti diatur dalam ketentuan sunnatullah. d. Senantiasa mempergunakan akal sehat dan perasaan yang jernih pada setiap kali hendak memanfaatkan alam. Dengan memperhatikan prinsip-prinsip hubungan tersebut, maka lingkungan hidup akan tetap memberikan dampak positif kepada orang yang ada di dalamnya, dan lingkungan tersebut tetap harmonis. Selain itu perlu diperhatikan bahwa lingkungan hidup itu akan dapat membawa bencana, atau malapetaka, jika manusia tidak bersikap baik kepadanya. Dalam hal ini ada baiknya diperhatikan cara-cara melakukan hubungan-hubungan yang harmonis terhadap air, tanah, tumbuh-tumbuhan, binatang, udara, dan lain-lain. Berbuat baik terhadap air, misalnya dapat mengambil bentuk menjaga mutu air agar senantiasa bersih dengan tidak membuang kotoran, sampah, racun, dan sebagainya, dan tidak membuangnya tanpa ada keperluan. Selain itu juga dengan cara menyediakan tempat-tempat air yang terjaga kebersihannya. Dengan cara demikian, air akan memberikan manfaat kepada manusia. Kemudian dalam berbuat baik terhadap tanah dapat dilakukan antara lain menggunakan tanah tersebut sesuai dengan fungsinya. Jangan dibiarkan ia terlantar, melainkan ditanami tumbuh-tumbuhan, atau dibuat kolam, dijaga kesuburannya, tidak membuang kotoran, sehingga 23

mengganggu keindahannya, dan sebagainya. Sedangkan berbuat baik terhadap tumbuh-tumbuhan, dapat dilakukan dengan cara menyiramnya dengan air, memberi pupuk, memberikan sinar matahari dan udara, tidak memotongnya atau menebangnya tanpa ada keperluan. Tidak membiarkan ia tumbuh tanpa terpelihara atau dirawat dengan baik. Selanjutnya berbuat baik terhadap binatang dapat dilakukan antara lain dengan menyediakan kandang, makan dan minumnya, tempat bergerak, menyembelihnya dengan pisau yang tajam, dan tidak membiarkan dia mati kelaparan atau hidup berkeliaran. Adapun berbuat baik terhadap udara antara lain dapat dilakukan dengan cara tidak mencemarinya dengan asap beracun, menanami tumbuhtumbuhan agar udara tetap dapat bertiup dan menimbulkan rasa sejuk, segar dan nyaman. Jika melakukan hubungan yang baik terhadap lingkungan tersebut, maka akan tetap terpelihara keharmonisan dan keindahannya dan memberikan manfaat kepada manusia. Dari keempat akhlak mulia tersebut di atas, menunjukkan bahwa akhlak mulia sangat berperan dalam membentuk watak dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, setiap orang harus mengetahui, memahami, dan menerapkan akhlak mulia dalam dirinya masing-masing. Al-Gazali menerangkan bahwa berakhlak baik atau berakhlak terpuji itu artinya menghilangkan semua adat-adat kebiasaan yang tercela yang sudah dijelaskan dalam agama Islam serta menjauhkan diri dari padanya, sebagaimana menjauhkan diri dari tiap najis dan kotoran, kemudian membiasakan adat kebiasaan yang baik, menggemarinya, melakukannya dan mencintainya. Pada dasarnya akhlak mulia merupakan sifat-sifat atau tingkah laku yang sesuai dengan normanorma atau ajaran agama. Oleh sebab itu, yang dimaksud dengan bentukbentuk akhlak mulia adalah semua sifat-sifat atau tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma atau ajaran agama Islam. Akhlak mulia dapat dikategorikan ke dalam dua macam atau bentuk, yaitu taat lahir dan taat batin. Taat lahir ialah melakukan 24

seluruh amal ibadah yang diwajibkan Tuhan, seperti mengucapkan dua kalimat syahadat, menegakkan sholat, dan seterusnya seperti yang dikehendaki oleh rukun Islam, termasuk semua perbuatan baik, baik terhadap Tuhan, sesama manusia, dan alam sekitar. Dengan kata lain, taat lahir adalah segala sifat atau tingkah laku yang terpuji yang dikerjakan oleh anggota lahir, seperti berkata benar, bertobat, memaafkan, dan bersyukur. Sedangkan taat batin segala sifat yang baik, yang terpuji yang diperbuat oleh anggota batin (baca:hati), seperti tawakal, sabar (sabar dalam beribadah, sabar ditimpa malapetaka, sabar terhadap kehidupan dunia, sabar terhadap maksiat, sabar dalam perjuangan, dan seterusnya, dan merasa cukup (qana'ah). Bentuk-bentuk akhlak mulia secara operasional dapat ditampilkan dalam berbagai lingkungan, yakni di sekolah, di rumah, dan di masyarakat. Bentuk-bentuk akhlak mulia yang biasanya dapat dilembagakan dalam diri peserta didik melalui pembiasaan pada masing-masing lingkungan tersebut dapat diklasifikasikan dalam daftar materi akhlak mulia.

D. Materi AkhIak Mulia Materi akhlak mulia yang dapat diajarkan dan dipraktikkan dalam pembiasaan kepada peserta didik Sekolah Menengah Pertama (SMP) di antaranya sebagai berikut: 1. Akhlak ketika masuk masjid a. Adab masuk masjid Ketika masuk ke dalam masjid hendaknya: Membaca doa: Allahummaftahli abwaaba rohmatika (Ya Allah bukalah pintu rahmat-Mu) Mendahulukan kaki kanan Masuk dengan tenang, tertib, dan rapi b. Adab dalam masjid Ketika di dalam masjid hendaknya: 25

Diutamakan shalat tahiyyatul masjid 2 rokaat untuk menghormati masjid sebelum duduk di masjid Senantiasa bersholawat dan berdzikir saat menunggu sholat Berdoa, sholat, dan mengaji dengan penuh kesungguhan dan kekhusyukan Menjaga ketenangan, ketertiban, kerapian, kebersihan, dan keindahan masjid. c. Adab keluar masjid Ketika keluar masjid hendaknya: Membaca doa: Allahumma inni asaluka min fadhlik (Ya Allah aku memohon karunia-Mu) Mendahulukan kaki kiri Keluar dengan tenang, tertib, dan rapi 2. Akhlak membaca Al Qur'an Ketika membaca Al Qur'an sebaiknya: Berwudhu sebelum membaca Al Qur'an Membaca Ta'awudz dan basmalah Tempatkan Al Qur'an dengan layak Bacalah Al Qur'an dengan suara yang jelas Bacalah A Qur'an dengan tartil Simpan kembali Al Qur'an di tempatnya 3. Akhlak berdoa Ketika berdoa hendaknya: Hendaknya dalam keadaan suci Menghadap ke arah qiblat Berdoalah dengan khusyuk Angkatlah kedua tangan Berprasangka baik kepada Allah 4. Akhlak mulia ketika mendapat nikmat Ketika mendapat nikmat hendaknya: Bersyukur seraya mengucapkan alhamdulilah. 26

Meningkatkan ketakwaan dan keimanan Berbagi nikmat kepada orang lain Tidak sombong dan angkuh Berdo’a agar nikmatnya menjadi berkah 5. Akhlak mulia ketika mendapat musibah Ketika mendapat musibah hendaknya: Mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi roji’un (sesunggunya kami milik Allah dan akan kembali kepada-Nya) Mengambil hikmah atau manfaat dari kejadian tersebut Tidak berburuk sangka kepada Allah Mendoakan para korban yang mengalami musibah Berdoa semoga kejadian (musibah) itu tidak terulang lagi 6. Akhlak mulia pada oarang tua Terhadap orang tua (ibu dan bapak) kita harus Menghormati dan menyayangi dengan sepenuh hati Membantu keduanya Tidak berkata keras, kotor, dan tidak sopan kepada keduanya Menuruti perintah dan nasihat keduanya Tidak membuat kesal dan marah Senantiasa mendo’akan keduanya 7. Akhlak mulia pada teman Ketika bergaul dengan teman kita harus: Menyayangi mereka Memberikan contoh yang baik Tidak berkata keras, kotor, dan tidak sopan kepada mereka Saling membantu dan bekerjasama dalam kebaikan Tidak saling menyakiti dan menghina Menghindari perkelahian atau pertengkaran 27

Melerai/memisahkan teman yang bertengkar atau berkelahi 8. Akhlak mulia kepada guru Terhadap guru kita harus: Menghormati dan menyayangi Membantu keduanya Tidak berkata keras, kotor, dan tidak sopan kepadanya Menuruti perintah dan nasihatnya Tidak membuat kesal atau marah Senantiasa mendoakannya 9. Akhlak mulia pada tetangga Terhadap tetangga sebaiknya: Menghormati hak-hak sebagai tetangga Menjaga nama baiknya Membantu sesuai keperluan Saling menjaga dan melindungi 10. Akhlak mulia ketika meminjamkan a. Orang yang meminjamkan barang hendaknya: Memberikan barang pinjaman secara ikhlas Memohon agar barang pinjaman dijaga dan dirawat Memerikan barang pinjaman dengan cara yang baik (dengan tangan kanan dan tidak memberikan dengan cara dilempar) Tidak menyakiti hati orang yang meminjam barang Diperkenankan bertanya bila barang pinjaman belum dikembalikan tepat pada waktunya b. Meminjam barang Peminjam barang hendaknya: Meminta/meminjam barang dengan sopan(kata-kata yang baik Mendatangi/menghampiri orang yang akan meminjamkan barang 28

Menjaga dan memelihara agar barang yang dipinjam tidak rusak Mengembalikan barang yang dipinjam tepat ada waktunya Menerima barang yang dipinjam dengan cara yag baik (dengan tangan kanan dan tidak menerimanya dengan cara memaksa) Mengucapkan terima kasih 11. Akhlak mulia ketika berbicara a. Berbicara kepada yang lebih muda Ketika berbicara kepada yang lebih muda hendaknya: Berbicara dengan baik dan benar serta sopan Berbicara dengan lemah dan penuh kesabaran Memberi kesempatan orang lain berbicara Tidak memotong pembicaraan Berbicara dengan baik dan benar serta sopan Selama berbicara tidak menyinggung perasaan orang lain Berbicara dengan lemah lembut dan penuh kesabaran Memberi kesempatan orang lain (teman berbicara) b. Berbicara kepada teman seusia Ketika bebicara kepada teman hendaknya: Berbicara dengan baik dan benar serta sopan Selama berbicara tidak menyinggung perasaan orang lain Berbicara dengan lemah lembut dan penuh kesabaran Memberi kesempatan kepada orang lain (teman) berbicara Mendengarkan dan memperhatikan pembicaraan teman Tidak memotong pembicaraan 29

c. Berbicara kepada orang yang lebih tua Ketika berbicara kepada orang yang lebih tua (kakak, kakek, orang tua, bapak dan ibu guru) hendaknya: Berbicara secara baik dan benar serta sopan Bebicara lemah lembut Mendengarkan dan memperhatikan dengan penuh perhatian serta mengikuti nasihatnya Tidak memotong pembicaraan 12. Akhlak ketika bermain Ketika bemain dengan teman kita harus Senantiasa menjaga hubungan baik dengan teman sepermainan Melakukan permainan yang tidak membahayakan Saling menasihati dan mengingatkan tentang kebaikan Bersikap jujur dan sportif Menjalin kerja sama dan persahabatan 13. Akhlak ketika berjanji Kepada siapapun ketika berjanji kita harus: Menepati janji yang telah kita sepakati Mengucapkan : insya Allah (jika Allah menghendaki) sebelum mengucapkan janji yang dimaksud. Contoh: ”insya Allah, aku besok ke rumahmu” Berniat kuat untuk mewujudkan janji yang telah dibuat Bila kita tidak bisa melaksanakan janji, segeralah menemui/menghubungi orang yang kita janjikan dengan memohon maaf kepadanya. 14. Akhlak ketika makan dan minum a. Sebelum makan dan minum Sebelum makan dan minum hendaknya: Mencuci kedua tangan Membaca doa : “Bismillahirahmaanirrahim (dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Allahumma barik lanaa fiima rozaqtana 30

wa qinaa adzabannar (Ya Allah berkatilah kami terhadap apa-apa yang Engkau berikan kepada kami dan lindungilah kami dari adzab api neraka) b. Ketika makan dan minum Ketika sedang makan dan minum hendaknya: Duduk dengan tenang, tertib, dan rapi (tidak berdiri atau berjalan Menggunakan tangan kanan Mengambil makanan yang terdekat Menggunakan tangan atau sendok dengan baik Tidak berbicara (ketika makanan masih ada di dalam mulut) Tidak duduk dengan bersandar Makan dan minum tidak tergesa-gesa Minumlah perteguk (tidak sekaligus habis) Tidak meniup makanan/minuman Tidak mencela makanan dan minuman yang dihidangkan Menawarkan makanan dan minuman kepada teman yang tidak/belum memperoleh makanan/minuman makanan dan minuman Mendahulukan orang yang lebih tua Menghabiskan makanan dan minuman Menjaga kebersihan dan kerapian tempat makan dan minum Membuang bungkus makanan/sampah pada tempatnya c. Sesudah makan dan minum Sesudah makan dan minum hendaknya: Mencuci kedua tangan Membaca doa : Alhamddulillahilladzi ath’amana wasaqoona waja’alana (minal) muslimin (segala puji 31

bagi Allah yang telah menjadikan kami termasuk orang-orang muslim) Merapikan kembali tempat makan dan minum Menyikat gigi d. Ketika lupa membaca doa makan dan minum Ketika lupa berdoa dan baru ingat ketika sedang makan maka yang harus kita lakukan adalah Membaca doa: Bismillahi awwaluhu wa akhiruhu (Dengan Nama Allah di awal dan di akhir) Melajutkan kembali aktivitas makan dan minum 15. Akhlak mulia ketika hendak tidur a. Sebelum tidur hendaknya: Buang air kecil terlebih dahulu Mencuci tangan dan kaki sampai bersih (menggunakan sabun) Menggosok gigi sampai bersih (menggunakan pasta gigi) Diutamakan berwudhu Diutamakan shalat sunnah 2 rakaat Membaca Al Fatihah, An Naas, Al Falaq dan Al Ikhlas Membaca ayat kursi Membaca subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar Membaca doa: bismika Allahumma ahya wa bismika amuut (dengan nama-Mu ya, Allah aku hidup dan mati) Memohon kepada Allah agar bisa dibangunkan esok hari (agar tidak kesiangan/agar bisa bangun malam b. Ketika tidur Ketika tidur hendaknya: Diutamakan berbaring menghadap ke arah kiblat dan meletakkan kedua tangan di atas pipi kanan 32

Menggunakan pakaian tidur yang baik dan sesuai kondisi cuaca Menggunakan lampu ruangan yang sesuai Senantiasa menutup aurat ketika tidur Bila bermimpi baik, agar mengucapkan; Alhamdullilahirobbil’alamiin (sedikit meludah ke arah kiri) Bila bermimpi buruk mengucapkan Auzubillahiminas syaithaanirrajiim Bila tidak bisa tidur perbanyaklah berdzikir kepada Allah swt. c. Saat bangun tidur Setelah bangun tidur hendaknya: Membaca doa: Alhamdulillahilladzi ahyana ba’dama amatanaa wa ilaihin nusyuur (segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali sesudah kematian dan kepada-Nyalah kami kembali) Merapikan kembali tempat tidur, bantal, dan selimut Segera mandi dan menggosok gigi Segera bersiap menunaikan shalat shubuh (setelah tidur malam hari 16. Akhlak ketika masuk rumah atau kelas a. Adab masuk rumah atau kelas Sebelum masuk kelas rumah hendaknya: Mengucapkan salam (Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh) Mengetuk pintu beberapa kali (bila dibutuhkan) Membaca doa: Allahumma inni asaluka khairul maulaji wa khairul makhraji. Bismillahi kharajna wa ala rabbina tawakkalna (Ya Allah aku memohon kepada-Mu sebaik-baik tempat masuk dan keluar) Dengan nama Allah kami masuk, dan dengan nama Allah kami keluar, serta kepada Allah kami tawakal) 33

Mendahulukan kaki kanan Masuk dengan tenang, tertib dan rapi b. Ketika di dalam rumah atau kelas Di dalam rumah atau kelas hendaknya: Menjaga ketenangan, ketertiban, kebersihan, keindahan, dan kerapian kelas atau di rumah Tidak merusak dan mengotori isi kelas atau rumah Menjadikan kelas atau rumah sebagai tempat berteduh yang baik (baiti jannati) c. Ketika keluar kelas atau rumah hendaknya: Meminta izin kepada bapak/ibu guru bila ada dikelas Meminta izin kepada ayah/ibu atau wali bila ada di rumah Membaca doa : Bismillahi tawakkaltu’ alallah la hawla walaa quwwata illa billah (Dengan Nama Allah aku bertawakal Kepada-Mu, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) Mengucapkan salam (Assalamu’alaikum Warohmatullahi wa barakatuh) Mendahulukan kaki kanan ketika keluar kelas atau rumah Keluar kelas atau rumah dengan tenang, tertib, rapi Menutup kembali pintu secara baik (bila diperlukan 17. Akhlak ketika di kamar kecil a. Adab masuk kamar kecil (toilet) Sebelum masuk kamar kecil (toilet) hendaknya: Membaca doa: Allahumma inni audzubika minal khubutsi wal khabaits (Ya, Allah aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaithan laki-laki dan perempuan Mengetuk pintu terlebih dahulu (bila diperlukan) Mendahulukan kaki kiri Masuk dengan tenang, tertib, dan rapi 34

Tidak membawa Al Qur'an atau barang-barang yang bertuliskan lafazh Allah swt. Meletakkan barang di luar kamar kecil jika diperlukan b. Adab di dalam kamar kecil Saat di dalam kamar kecil (toilet) hendaknya: Menutup pintu Menjaga ketenangan dan ketertiban (tidak bernyanyinyanyi, bersiul, atau berkelakar) Menjaga kebersihan badan dan pakaian Ketika buang air (kecil/besar) tidak menghadap kiblat Istinjak dengan bersih menggunakan tangan kiri (tangan kanan memegang gayung) Menyiram toilet setelah digunakan sebersih mungkin c. Adab keluar kamar kecil Ketika keluar kamar kecil hendaknya: Membaca doa :Ghufraanaka (Ya Allah, ampunilah kami) Mendahulukan kaki kiri Menutup kembali pintu dengan rapat dan baik 18. Akhlak ketika buang air kecil/besar Ketika buang air kecil/besar hendaknya: Tidak membawa Al Qur'an atau tulisan berlafazh Allah Membuang air kecil di air yang mengalir atau di toilet Membuang air kecil. di tempat yang tertutup atau di toilet Diutamakan dalam keadaan duduk Menjauh dari orang lain Menjaga kebersihan dan kesucian badan/ pakaian Menjaga. ketenangan dan ketertiban (tidak bernyanyi, bersiul, atau berkelakar) Istinjak dengan bersih menggunakan tangan kiri (tangan kanan memegang gayung) 19. Akhlak ketika berpakaian a. Memakai pakaian 35

Sebelum berpakaian hendaknya: Memilih pakaian yang bersih dan terhindar dari najis Membaca doa : Bismillahirahmaanirrahiim Allahumma inni asaluka, min khairihi wa khairi maahuwa, lahu wa. audzubika. min syarrihi wa syarri maa huwalahu (Dengan Nama Allah Yang Maha, Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah aku memohon kepada-Mu dari kebaikan pakaian ini dan dari kebaikan sesuatu yang ada di pakaian ini. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan pakaian ini dan kejahatan sesuatu yang ada di pakaian ini) Mendahulukan bagian (tangan atau kaki) kanan Memakai pakaian dengan tenang (tidak tergesa-gesa) b. Ketika berpakaian Ketika berpakaian hendaknya: Senantiasa menjaga kebersihan, kerapian, dan kesucian pakaian Menggunakan pakaian yang baik, sopan, dan menutup aurat Tidak untuk kesombongan (pamer) Menggunakan atribut yang lengkap (untuk seragam sekolah) Tidak mencela pakaian yang digunakan oleh orang lain Senantiasa berterima kasih kepada Allah atas pakaian yang digunakan dengan menjaga kebersihan, kerapian, kesucian, dan keindahannya c. Ketika melepas pakaian Ketika melepas pakaian hendaknya: Membaca doa: Bismillahilladzi laa ilaha illa huwa (Dengan Nama Allah yang Tuhan selain Dia) Mendahulukan bagian (tangan atau kaki kiri) Melepas pakaian dengan tenang (tidak tergesatergesa) 36

Merapikan dan meletakkan kembali pakaian yang telah digunakan di tempat yang tersedia 20. Akhlak ketika bercermin Ketika bercermin atau berhias hendaknya: Membaca doa : Allahumma kamaa a’hsanta khalqi fahassin khuluqi (ya Allah sebagaimana engkau telah membaguskan wajahku maka baguskanlah akhlakku) Ketika berhias atau bersisir pergunakan tangan (kanan dan dahulukan bagian kanan) Memakai dan mengembalikan alat berhias di tempatnya Tidak menganggap bahwa dirinya paling baik (cantik atau tampan) Senantiasa berterimakasih (bersyukur) kepada Allah 21. Akhlak ketika berkendaraan a. Adab ketika berkendaraan Sebelum naik kendaraan hendaknya: Membaca doa; (1) Bila berkendaran darat Subhanalladzi sakkhara lana haadza wa maa kunna lahu muqriniin wa inna ila Rabbina lamunqalibuun (Maha Suci Allah yang telah menundukkan (kendaraan) kami ini dan tidaklah kami mampu sebelumnya dan sesungguhnya kepada-Mulah kami kembali) (2) Bila kendaraan laut atau udara Bismillahi majreha wamursaha inna rabbi laghafuururrahiim (Dengan nama Allah yang menjalankan kendaraan ini berlayar dan berlabuh, sesungguhnya Tuhanku Maha Pemaaf lagi Maha Pengasih) Mendahulukan kaki kanan ketika melangkahkan naik kendaraan Mendahulukan kaum perempuan atau anak-anak untuk naik 37

Mendahulukan mereka naik bagi mereka yang harus didahulukan Naiklah dengan hati-hati, tenang, dan tertib (tidak berebut atau tergesa-tergesa) b. Adab ketika dalam kendaraan Ketika di dalam kendaraan hendaknya: Menjaga ketenangan, ketertiban, dan kebersihan Senantiasa mengingat Allah SWT. Tidak melakukan hal-hal yang membahayakan, seperti: membuang sampah dari dalam kendaraan, meludah, mengeluarkan tangan, mengejek, dan mengganggu kendaraan lain Bila kendaraan mendaki ucapkanlah Allaahu akbar Bila kendaraan menurun ucapkanlah Subhanallaah. Mengutamakan kaum perempuan atau anak kecil/orang tua untuk mendapatkan duduk c. Adab ketika turun dari kendaraan Ketika turun dari kendaraan hendaknya: Memeriksa kembali barang yang dibawa agar tidak tertinggal Membaca hamdalah (Alhamdulillahirabbil alamiin) Mendahulukan kaum perempuan atau anak-anak untuk turun terlebih dahulu Mendahulukan turun kepada mereka yang harus didahulukan Mendahulukan kaki kiri Turun dengan hati-hati, tenang, dan tertib (tidak berebut) 22. Akhlak ketika belajar a. Sebelum belajar hendaknya: Membaca Surat A lfatihah Membaca doa: Rabbi zidniiman warzukni fahman (Ya Allah tambahilah ilmuku dan pertinggikanlah kecerdasanku) Rabbisyrahli shadri wayassirli amri wahlul uqdatam mil lisaani yafqahu qauli (Ya Allah lapangkanlah dadaku, permudahkanlah lisanku) 38

b. Saat belajar Saat belajar hendaknya: Memperhatikan penjelasan bapak/ibu guru dengan baik Mengerjakan latihan dengan jujur dan sungguh-sungguh Tidak membuat keributan Bertanya kepada bapak/ibu guru apabila belum jelas (mengangkat tangan kanan) Belajar dengan semangat dan gembira Menjaga kerapian kursi, karpet, buku, dan alat tulis c. Sesudah belajar Sesudah belajar hendaknya: Merapikan kembali semua alat tulis, buku, dan lain-lain kemudian mengembalikan di tempatnya Membaca surat Al Ashri (atau surat lain) Membaca doa : Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (Maha suci Engakau Ya Allah, bagi-Mu segala puji aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Engkau aku memohon ampun dan taubat kepada-Mu) 23. Akhlak ketika bersin Ketika bersin hendaknya: Bagi orang yang bersin agar menutup mulut dengan kedua tangan atau sapu tangan Tidak mengeraskan suara (memainkan suara) Tidak menghadap orang lain Diutamakan menjauh dari orang lain Bagi yang bersin mengucapkan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) Bagi yang mendengar mengucapkan : Yarhamukallah (semoga Allah menyayangimu), apabila yang bersin laki-laki dan mengucapkan yarhamukillah (semoga Allah menyayangimu) Bagi yang bersin kembali mengucapkan: yahdikumullah (semoga Allah memberi petunjuk kepadamu) 39

24. Akhlak ketika menguap Ketika menguap hendaknya: Menutup mulut dengan kedua tangan atau sapu tangan Tidak mengeraskan suara (memainkan suara) Tidak menghadap orang lain Diutamakan menjauh dari orang lain 25. Akhlak ketika meludah Ketika meludah hendaknya: Tidak meludah di sembarang tempat Tidak meludah ke arah kiblat Tidak meludah dihadapan orang lain Menjauh dari orang lain Di air yang mengalir (menyiramnya setelah meludah) 26. Akhlak ketika sakit Ketika sakit hendaknya: Menerima dengan ikhlas, sabar, dan tabah, (tidak berkeluh kesah) Senantiasa berdoa kepada Allah untuk memohon kesembuhan Minta didoakan oleh orang-orang yang shaleh seperti kakek , nenek, orangtua, guru, dan teman Berobat secara rutin untuk penyembuhan Berkeyakinan bahwa Allah akan menyembuhkan penyakitnya Mendoakan orang yang menjenguk atau mendoakannya 27. Akhlak ketika sedang marah Ketika sedang marah hendaknya: Marah hanya untuk kebaikan Diam dan mengucapkan istighfar berulang-ulang Ambillah air wudhu Duduklah dengan tenang Tidak berkata kotor dan berbuat keji Tidak menyakiti atau menyinggung orang lain 28. Akhlak ketika berbelanja Ketika membeli atau berbelanja sesuatu (barang) hendaknya: 40

29.

30.

31.

32.

Mengucapkan salam Meminta izin untuk melihat atau memilih bila diharuskan memilih telebih dahulu Memilih dengan sopan dan cara yang baik (tidak merusak barang) Tidak mengambil barang tanpa izin penjual Menawar barang dengan sopan dan cara yang baik Membayar sesuai dengan dengan harga yang disepakati Mengucapkan terima kasih dan salam Akhlak ketika melihat kejadian alam Ketika melihat kejadian alam seperti : badai, banjir, gempa bumi dan sebagainya hendaknya: Mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi roji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali kepada-Nya) Mengambil hikmah dan manfaat dari kejadian tersebut Tidak berburuk sangka kepada Allah Mendoakan para korban yang mengalami musibah Berdoa semoga kejadian (musibah) itu tidak terulang kembali Akhlak ketika melihat keindahan alam Ketika melihat keindahan alam hendaknya: Mengucapkan Subhanallah (maha suci Allah) atau Masya Allah (sesuai kehendak Allah) Menjadikan rasa syukur kita kepad a Allah semakin bertambah Meyakini bahwa keindahan itu adalah ciptaan Allah Akhlak kepada hewan Terhadap hewan kita hendaknya: Merawat dan melindunginya (tidak menyakitinya) Tidak mengusir dan mencelanya Tidak menyiksa dan membunuhnya (kecuali hewan tertentu) Akhlak kepada tumbuhan Terhadap tumbuhan kita hendaknya: Memeliharanya dan menjaganya (tidak memetiknya tanpa keperluan) Merawat dan merapikan tumbuhan atau tanaman hias secara teratur 41

Merasakan bahwa tumbuhan adalah bagian dari hidup kita 33. Akhlak mulia ketika bersilaturahmi a. Ketika bertamu Ketika kita bertamu ke rumah saudara, teman, atau orang lain hendaknya : Mengucapkan salam (bila perlu mengetuk pintu dengan baik) Tidak masuk sebelum diizinkan oleh tuan rumah Duduk di tempat yang telah disediakan (setelah dipersilakan ) Duduk dengan tertib dan rapi Berbicara dengan baik dan benar (sesuai adab berbicara) Menjaga pandangan atau tidak melihat-lihat isi rumah tanpa seizin tuan rumah b. Ketika menerima tamu Ketika menerima tamu hendaknya: Menyambut salam tamu yang datang Menyambut dengan penuh ramah, senang, dan penuh perhatian Mempersilakan tamu untuk masuk dan duduk di tempat yang disediakan Menghidangkan suguhan untuk keakraban (bila ada) Mengajak berbicara dan berdiskusi dengan penuh perhatian (sesuai adab berbicara) Memberikan kenangan sebelum tamu pulang (bila ada) Mengantarkan kepulangan tamu minimal sampai pintu pagar rumah kita

42

BAB III PELAKSANAAN PEMBIASAN AKHLAK MULIA

A. Tugas dan Tanggung Jawab Keluarga dan sekolah merupakan benteng utama yang secara menerus harus menjalin komunikasi produktif dalam rangka melakukan pembinaan dan pembiasaan akhlak mulia. Rumah adalah lingkungan pertama dan utama seorang anak. Sedangkan sekolah menjadi komunitas sosial yang dapat menjadi proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian seorang anak. Penanggung jawab pelaksanaan praktik pembiasaan akhlak mulia di sekolah adalah kepala sekolah, sedangkan pelaksanaannya adalah Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI), dan guru-guru lainnya yang beragama Islam. Tugas dan tanggung jawab sekolah khususnya guru PAI dalam praktik pembiasaan akhlak mulia adalah : 1. Mengembangkan, membina, dan meciptakan suasana sekolah yang religius (Islami) 2. Melakukan bimbingan, pembinaan, dan pemantauan secara langsung kepada siswa-siswanya dalam melaksanakan kegiatan praktik pembiasaan akhlak mulia. 3. Menyediakan sarana dan prasarana yang terkait dengan pelaksanaan praktik pembiasaan akhlak mulia, seperti alat peraga, mushalla, tempat wudhu, buku cerita, dan lain-lain. 4. Menyediakan buku panduan atau format pelaksanaan pembiasaan akhlak mulia untuk mengetahui dan mengevaluasi pelaksanaan di kegiatan tersebut oleh siswa di sekolah, rumah dan masyarakat. 5. Melakukan evaluasi dan membuat laporan tertulis secara periodik pelaksanaan kegiatan pembiasaan akhlak mulia 43

6.

yang dilaksanakan siswa di sekolah, di rumah, dan di masyarakat. Membuat penilaian terhadap kegiatan pembiasaan akhlak mulia yang terintegrasi dengan kegiatan belajar-mengajar pendidikan agama Islam di kelas.

Penanggung jawab pelaksanaan pembiasaan akhlak mulia di rumah adalah orang tua dan anggota keluarga, seperti bapak, ibu, kakak, saudara, dan anggota keluarga lainnya yang ada di lingkungan keluarga. Tugas dan tanggung jawab keluarga adalah : 1. Mengembangkan dan membina suasana dan tatakrama rumah yang Islami 2. Memberikan bimbingan, pembinaan, dan pemantauan secara langsung kepada anak-anak dalam melaksanakan kegiatan pembiasaan akhlak mulia. 3. Memberikan keteladanan, contoh, dan bimbingan kepada anak dalam pelaksanaan pembiasaan akhlak mulia di rumah. 4. Menyediakan sarana dan prasarana terkait dengan pelaksann pembiasaan akhlak mulia di rumah. 5. Bersedia bekerjasama dengan sekolah dalam pemantauan pelaksanaan kegiatan pembiasaan akhlak mulia di rumah. Tugas dan tangung jawab masyarakat Penanggung jawab pelaksanaan pembiasaan akhlak mulia di masyarakat adalah setiap individu yang berinteraksi di luar lingkungan sekolah dan rumah. Masyarakat memiliki tugas dan tanggung jawab dalam pelaksanaan pembiasaan akhlak mulia di lingkungan masyarakatnya. 1. Mengembangkan dan membina budaya masyarakat yang Islami 2. Memberikan dukungan terhadap setiap kegiatan pembiasaan akhlak mulia, yang salah satunya memberikan kemudahan dalam mengunakan fasilitas umum. 44

B. Penerapan Akhlak Mulia Pembinaan dan penerapan kebisaan akhlak mulia kepada siswa tingkat SMP harus dilakukan secara terpadu antara tiga pusat lingkungan pendidikan, yaitu rumah, sekolah, dan masyarakat. Ketiga lingkungan tersebut perlu menciptakan suasana yang seirama, karena tiga pusat lingkungan pendidikan tersebut adalah tempat hidup anak-anak berada dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Pada tahap awal, proses pembiasaan akhlak mulia dapat dilakukan sedikit pemaksaan agar nilai-nilai baik tersebut tertanam pada jiwa siswa didik, dan terwujud dalam tingkah laku positif yang muncul secara mudah dan spontan. Proses penanaman nilai ini menjadi tugas setiap guru beragama Islam yang harus dilakukan secara bersamasama dengan orang tua siswa, didukung oleh lingkungan masyarakat yang juga mengembangkan nilai-nilai akhlak mulia dalam tata hubungan sosial mereka, sehingga anak-anak tidak dihadapkan pada konflik nilai antara pengalaman yang diperoleh di sekolah dengan pengalaman di rumah, dan di masyarakat. Berikut beberapa model (contoh) pembinaan dan penerapan peraktik pembiasaan akhlak mulia yang bisa diterapkan dalam kehidupan siswa. 1. Akhlak mulia di sekolah Pembiasaan akhlak mulia yang dapat diterapkan dan diamalkan dalam kehidupan siswa di sekolah, dapat dikelompokkan ke dalam empat kegiatan, yaitu kegiatan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. a. Kegiatan harian, meliputi : - Berpakaian bersih, rapi, dan menutupi aurat sesuai dengan peraturan sekolah. - Mengucapkan salam setiap kali bertemu dengan kepala sekolah, guru, dan teman. - Berjabat dan mencium tangan guru. - Berkata lemah lembut dan sopan kepada semua warga sekolah. - Membiasakan berkata dan berperilaku jujur dan amanah. - Bersegera masuk kelas ketika bel telah berbunyi. 45

- Sebelum pelajaran jam pertama dimulai membaca doa pada saat awal dan akhir pelajaran. - Membaca surat atau beberapa ayat sari Al-Quran secara berturut (tadarusan) dipandu oleh guru kelas masing-masing. - Membaca Asma’ul Husna. - Shalat dhuha sebelum belajar atau pada waktu istirahat. - Pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran pada jam istirahat dengan menggunakan kaset atau oleh siswa. - Memungut sampah apabila menemukannya sampah di lingkungan sekolah dan membuang ke tempat sampah. - Turut serta dan memelihara tanaman dan hiasan di lingkungan sekolah. - Menjaga ucapan dan perbuatan yang dapat menyinggung perasaan orang lain. - Melatih kepedulian sosial siswa dengan menyediakan kotak amal di kelas masing-masing. - Turut serta menjaga keamanan, ketenangan, ketertiban, dan kebersihan serta keindahan masjid dan sekolah. - Melaksanakan shalat dhuhur dan shalat ashar berjamaah. - Disiplin dalam segala hal. - Pemberian matei kuliah tujuh menit setelah shalat dhuhur atau ashar berjama’ah oleh siswa secara bergiliran. - Menjaga pegaulan dengan sesorang yang bukan muhrimnya. - Tidak membolos. b. Kegiatan mingguan, meliputi: - Mengikuti upacara sekolah dengan tertib dan sopan - Shalat Jum'at berjamaah di masjid - Kuliah dhuha pada waktu istirahat - Mentoring, yaitu bimbingan senioren (alumni) kepada siswa junior tentang : Belajar baca Al-Quran yang diprioritaskan bagi siswa-siswi yang belum mampu membaca Al-Quran pada siang setelah selesai jam jam pelajaran (pada hari tertentu) 46

- Pembinaan agama Islam bagi siswa pada waktu sore hari (pada hari tertentu) - Mengenakan busana muslim muslimah pada setiap hari Jum'at. - Memberikan infaq dan shadaqah setiap hari Jum'at, yaitu mengumpulkan infaq dan shadaqah yang dikumpulkan siswa perkelas dalam kotak amal. c. Kegiatan bulanan, meliputi: - Mabit (malam bina iman dan takqwa) d. Kegiatan tahunan, meliputi - Menyelenggarakan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) - Menyelenggarakan bakti sosial, berupa pemberian santuan kepada anak yatim, fakir, miskin, dan lain-lain - Mengadakan kegiatan tadabbur alam, tamasya, rekreasi, atau studi banding untuk melakukan pengamatan dan pengenalan secara langsung terhadap sesuatu yang dilihat, didengar, dan dirasakan kemudian diambil manfaat serta hikmahnya untuk diterapkan. 2. Akhlak Mulia di Rumah Pembiasaan akhlak mulia yang dapat diterapkan dan diamalkan dalam kehidupan siswa di rumah, dapat dikelompokkan ke dalam tiga kegiatan yaitu kegiatan harian, mingguan, dan bulanan. a. Kegiatan harian, meliputi: - Membersihkan dan merapikan kembali tempat tidur setelah digunakan. - Membiasakan berdo'a pada saat hendak dan bangun tidur. - Membiasakan menggosok gigi sehabis makan, sebelum dan setelah bangun tidur. - Membantu sebagian pekerjaan orang tua. - Berpakaian bersih, rapi, dan menutupi aurat. 47

- Berucap salam pada setiap kali masuk dan keluar rumah. - Berjabat dan mencium tangan orang tua setiap kali mau pergi ke sekolah, pulang sekolah, atau bepergian ke tempat lain. - Berkata lemah lembut dan sopan kepada orang tua, kakak, dan adik. - Membiasakan berkata dan berbuat jujur dan amanah. - Melaksanakan perintah orang tua dan tidak mengucapkan kata-katan yang bersifat penolak-an terhadap perintah tersebut. - Berdoa setiap saat dan berdoa sebelum memulai melaksanakan pekerjaan. - Membiasakan belajar selama kurang lebih I 0 menit setiap hari. - Membiasakan shalat fardhu secara berjamaah di rumah atau masjid terdekat di lingkungan tempat tinggalnya. - Shalat berjama'ah di rumah dapat dilakukan oleh semua anggota keluarga, dengan bapak sebagai imam shalatnya. - Membiasakan membaca ayat-ayat suci Alquran pada setiap selesai shalat fardhu, atau sekurangkurangnyasetelah selesai shalat maghrib saja. - Ikut serta merawat dan memelihara tanaman dan hiasan di lingkungan rumah. - Menjaga ucapan dan perbuatan yang tidak baik dan dapat menyinggung perasaan orang tua, kakak, dan adik, sehingga tidak menimbulkan perselisihan. - Turut serta menjaga keamanan ketenangan, kebersihanan keindahan rumah, dan lingkungan sekitar. - Berlaku hemat dari setiap kali menggunakan uang . 48

- Membiasakan berwudhu sebelum tidur. b. Kegiatan mingguan, meliputi: - Melakukan tugas kelompok secara bersama-sama dengan teman pada saat libur /hari minggu di sekolah. - Melakukan kunjungan ke toko buku atau museum untuk mendapatkan informasi terbaru. c. Kegiatan bulanan, meliputi: - Mengikuti acara silaturrahmi keluarga dengan anggota keluarga. - Mengadakan kunjungan ke tempat-tempat yang mengandung nilai sejarah perjuangan dan seni sehingga dapat mengambil manfaat dan hikmahnya. 3. Akhlak Mulia di Masyarakat Pembiasaan akhlak mulia yang dapat diterapkan dan diamalkan dalam kehidupan siswa di masyarakat, antara lain sebagai berikut : - Berperilaku ramah, sopan, dan santun terhadap tetangga, baik yang sudah dewasa ataupun yang masih kecil. - Berkata dan berbuat jujur dan amanah kepada anggota masyarakat. - Menolong tetangga dan orang lain yang mendapat kesusahan. - Menghargai tetangga yang beragama lain. - Turut serta dalam mengurus jenazah. - Turut aktif dalam kegiatan dan organisasi remaja masjid/mushalla. - Turut serta dalam kegiatan kerja bakti. - Tidak menyetel radio/TV terlalu keras. - Tidak mengambil hak orang lain. - Ikut serta menjaga keamanan, ketentraman, ketertiban, dan kebersihan di lingkungan masyarakat. - Membiasakan sholat berjamaah di masjid. - Aktif mengikuti pengajian/ta'lim lingkungan. - Selalu menjaga kelestarian dan keindahan lingkungan, misalnya ikut serta menanam dan merawat tanaman. 49

- Aktif dalam penghijauan lingkungan, turut aktif dalam kegiatan Peringatan Hari dan besar Islam (PHBI) dan Peringatan Hari - Besar Nasional (PHBN) - Tidak terlibat dalam tawuran. - Peduli terhadap kaum dhuafa, fakir, miskin, anak terlantar, anak jalanan. - Aktif berinfaq dan bershadaqah - Memungut sampah atau benda lain yang membahayakan orang baik yang berada di jalan atau tempat umum. - Merawat dan menjaga fasilitas umum - Tidak terlibat kasus kriminal yang merugikan orang lain - Membiasakan budaya tertib dan antri. C. Sarana dan Prasarana 1. Sarana Penyelenggaraan pembiasaan akhlak mulia, membutuhkan sarana, dan prasarana, yang baik, memadai, dan cocok dengan substansi materi PAI. Di antara sarana dan prasaran yang dibutuhkan, adalah sarana yang berbentuk fisik dan sarana yang berbentuk nonfisik. Sarana fisik yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan pembiasaan akhlak mulia, yaitu: a. Ketersediaan alat dan perlengkapan beribadah, seperti masjid atau mushalla, perlengkapan shalat, tempat wudhu, dan lainlain. b. Gambar visual, poster, atau kaligrafi yang dapat dilihat langsung oleh sisiwa peserta seperti gambar orang yang sedang shalat, gambar tata cara berwudhu, garnbar cara membuang sampah pada tempatnya, gambar kaligrafi dan sebagainya c. Buku, bahan bacaan, dan sumber referensi untuk menambah pengetahuan, pemahaman, seperti buku cerita, buku kisah-kisah para nabi dan rasul, buku bergambar lainnya. Sedangkan sarana nonfisik yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan pembiasaan akhlak mulia, yaitu: 50

a. Kesamaan persepsi dan pandangan antara unsur-unsur yang ada di sekolah (kepala sekolah, staf, guru, dan siswa), di rumah (bapak, ibu, kakak, dan adik), di masyarakat (tokoh masyarakat, pemuda kaum bapak-bapak, kaum ibu-ibu) dalam melaksanakan program pembiasaan akhlak mulia di tiga lingkungan pendidikan. b. Setelah sarana non fisik ini didapat, maka diharapkan semua pihak sekolah, rumah, dan masyarakat dapat memberikan dukungan moril terhadap siswa dalam melakukan pembiasaan akhlak mulia. c. Suri tauladan dan contoh yang baik dan benar dalam ucapan, perkataan, sikap, tingkah laku dan perbuatan dari semua pihak yang dapat memberikan kesan positif kepada siswa seperti tidak merokok di depan siswa, membuang sampah di tempat sampah, dan seterusnya. d. Sarana sosialisasi kegiatan pembiasaan akhlak mulia bagi peserta didik di SMP kepada semua unsur di sekolah, di rumah, dan di masyarakat, dengan cara memberikan penerangan dan penjelasan program pembiasaan ini sesuai dengan harapan yang ingin dicapai dari akhir pembiasaan akhlak mulia. Sosialisasi semacam ini bermanfaat agar semua pihak yang berkepentingan mengetahui tentang hal-hal dilakukan dan yang akan diwujudkan, yaitu terciptanya insan-insan kamil yang mengamalkan dan mempraktikkan ajaran agamanya secara langsung dalam kehidupan nyata, dan pada akhimya akan mengarah pada budaya agama (religious culture) di sekolah, di rumah, dan masyarakat. D. Pembiayaan Pelaksanaan kegiatan pembiasaan akhlak mulia, membutuhkan pembiayaan yang harus menjadi perhatian dan tanggung jawab bersama antara semua pihak di sekolah, rumah, dan masyarakat. Pembiayaan kegiatan pembiasaan akhlak mulia tidak membutuhkan biaya yang besar, tetapi dapat dilakukan dengan biaya yang lebih 51

murah dan sederhana, yang paling penting untuk diperhatikan adalah tentang proses pelaksanaan pembiasaan akhlak mulia ini dapat dilaksanakan.

52

BAB IV PENILAIAN SERTIFIKASI DAN PELAPORAN

A. Penilaian Untuk memperoleh data dan informasi sebagai dasar penentuan tingkat keberhasilan siswa dalam pembiasaan akhlak mulia perlu adanya tagihan-tagihan. Setiap jenis tagihan diperlukan alat dan jenis penilaian. Misalnya, untuk mengetahui penguasaan ranah kognitif siswa dapat dilakukan melalui ulangan harian dapat digunakan tes tulis dan tes lisan, sedangkan untuk mengukur ranah psikomotorik dilakukan tes perbuatan berupa tes identifikasi, tes simulasi, atau yang lainnya. Seperangkat bentuk dan jenis penilaian yang dapat digunakan antara lain sebagai berikut. 1. Pertanyaan lisan, digunakan untuk mengukur penguasaan siswa tentang pemahaman mengenai fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang berkaitan dengan akhlak mulia yang dibiasakan. 2. Tugas individu, dilakukan secara periodik untuk diselesaikan oleh setiap peserta didik berupa tugas di sekolah, di rumah, dan di masyarakat. 3. Tugas kelompok, digunakan untuk mengetahui kemampuan kerja kelompok dalam upaya pemecahan masalah, sekaligus juga untuk membangun sikap kebersamaan pada diri siswa. Tugas kelompok ini akan lebih baik jika diarahkan pada penyelesaian mengenai hal-hal yang bersifat empirik dan kasuistik. 4. Responsi atau ujian praktik, digunakan untuk mengetahui kegiatan pembiasaan akhlak mulia yang ada kegiatan praktiknya, seperti ibadah shalat, yaitu untuk mengetahui penguasaan akhir, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

53

B. Instrumen Penilaian Instrumen penilaian ada yang berbentuk tes dan ada yang berbentuk non-tes. Alat penilaian berbentuk tes merupakan alat penilaian yang hasilnya dapat dikategorikan menjadi benar atau salah, misalnya penilaian untuk mengungkapkan aspek kognitif dan psikomotorik. Alat penilaian non-tes hasilnya tidak dapat dikategorikan benar atau salah, dan umumnya dipakai untuk mengungkapkan aspek afektif. 1. Instrumen Penilaian Berbentuk Tes. Bentuk tes ada yang berupa tes nonverbal (perbuatan) dan tes verbal. Tes nonverbal digunakan untuk mengukur kemampuan psikomotor. Tes verbal dapat berupa tes tulis dan dapat berupa tes lisan. Tes tulis dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes objektif dan tes non objektif. a.Tes untuk mengukur ranah kognitif Penguasaan kognitif diukur dengan menggunakan tes lisan atau berupa tes tertulis. Tes lisan berupa pertanyaan lisan yang dipergunakan untuk mengetahui daya serap siswa terhadap masalah yang berkaitan dengan kognitif. Tes tertulis dilakukan untuk mengungkapkan penguasaan siswa dalam aspek/ranah kognitif mulai dari jenjang pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, sampai evaluasi. Bentuknya dapat berupa isian singkat, uraian objektif, uraian non objektif, hubungan sebab akibat, hubungan konteks, klasifikasi, atau kombinasinya. Ranah kognitif juga dapat diukur dengan menggunakan portofolio, dalam pengertian sebagai berikut : 1) Suatu koleksi pekerjaan siswa yang menunjukkan segala usaha, kemajuan, dan pencapaian akhlak mulia. 2) Koleksi pekerjaan terbaik siswa atau usaha terbaiknya berdasarkan bukti hasil belajar dan pembiasaan yang dapat diukur. 3) Sejenis kliping atau album foto yang menyimpan kemajuan suatu program pembiasan yang dilakukan oleh siswa. 54

Portofolio terdiri dari tiga, macam, yaitu: 1. Documentation portofolio; Memperlihatkan pertumbuhan dan kemajuan belajar pembiasaan peserta didik tentang akhlak mulia yang teridentifikasi. 2. Process portofolio; Mendokumentasikan seluruh segi tahapan proses pembiasaan akhlak mulia. 3. Showcase portofolio; Penguasaan Siswa terhadap bukti hasil belajar dan pembiasaan akhlak mulia selama, waktu tertentu (tengah dan akhir semester). Ketiga Jenis portofolio ini merupakan satu kesatuan yang utuh, artinya dalam melakukan penilaian pembiasaan akhlak mulia harus menggunakan ketiga jenis untuk mengetahui perkembangan keberhasilan program pembelajaran pembiasaan, sekaligus untuk mengetahui pencapaian hasil belajar siswa. Tahapan portofolio adalah sebagai berikut: 1. Pengorganisasian dan perencanaan(membangun kesepakatan guru dan siswa). 2. Pengumpulan informasi mengenai kemajuan belajar (produk akhlak mulia) yang dilakukan dan dihasilkan peserta, didik. 3. Refleksi, yaitu guru memberikan catatan akhir dari seluruh penilaian yang dilalui peserta didik. Penilaian portofolio pada dasarnya adalah menilai karyakarya siswa berkaitan dengan pembelajaran pembiasaan akhlak tertentu. Semua tugas yang dikerjakan siswa dikumpulkan. Pada akhir satu unit program pembelajaran pembiasaan, diberikan penilaian. Dalam menilai dilakukan diskusi antara siswa dan guru untuk menentukan skornya dan untuk melatih 55

kejujuran siswa. Prinsip penilaian portofolio adalah siswa dapat melakukan penilaian sendiri kemudian hasilnya dibahas. Karya yang dinilai adalah suatu metode pengukuran dengan melibatkan peserta didik untuk menilai kemajuan pembelajaran pembiasaan. b. Tes untuk mengukur ranah psikomotorik Tes untuk mengukur psikomotorik adalah tes yang dilakukan untuk mengukur penampilan/perbuatan atau kinerja (performance) yang telah dikuasai siswa. Berikut contoh-contoh tes penampilan atau kinerja. 1) Tes tertulis (paper and pencil), Walaupun bentuk aktivitasnya seperti tertulis, namun yang menjadi sasaramya adalah kemampuan siswa dalam menampilkan karya, misalnya gambar orang shalat, wudhu, membersihkan rumah, gambar adab masuk masjid, dan sebagainya. 2) Tes identifikasi Tes yang ditujukan untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengidentifikasi sesuatu, misalnya menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran agama, contohnya ada tulisan jorok, sampah berserakan, anak yang nakal, dan sebagainya. 3) Tes simulasi Dilakukan jika tidak ada alat yang sesunggulmya dapat dipakai untuk memperagakan penampilan siswa. Melalui simulasi ini diharapkan dapat dinilai tingkat penguasaan siswa, terampil atau belum, misalnya cara memandikan dan mengkafani mayat. 4) Tes petik kerja (work sample) Dilakukan dengan media sesungguhnya dan tujuannya untuk mengetahui apakah tingkat pengusaan dan keterampilan menggunakan media tersebut, misalnya menggunakan globe 56

untuk menunjukkan letak ka'bah di Saudi Arabia, menggunakan papan tempel untuk urutan gambar tata cara shalat, wudhu, haji, dan sebagainya. Tes penampilan/perbuatan, baik berupa tes identifikasi, tes simulasi, atau petik unjuk kerja, semuanya diperoleh datanya dengan menggunakan daftar cek (check-list) ataupun skala penilaian (rating scale). Daftar cek lebih praktis jika digunakan untuk menghadapi subjek dalam jumlah besar atau jika perbuatan yang dinilai memiliki kecocokan untuk menghadapi subjek penilaian dengan rentangan dari sangat tidak sempurna. Jika dibuat skala 5, maka skala 1 paling tidak sempurna dan skala 5 paling sempurna. 2. Instrumen Penilaian Berbentuk Non-Tes Komponen afektif ikut menentukan keberhasilan pembelajaran pembiasaan akhlak mulia siswa, bahkan dalam menentukan nilai akhir. Paling tidak ada dua komponen afektif yang penting untuk diukur, yaitu sikap dan minat terhadap program pembiasaan akhlak mulia. Sikap siswa terhadap pembiasaan akhlak mulia bisa positif bisa negatif atau netral. Hal ini tidak dapat dikategorikan benar atau salah. Guru memiliki tugas untuk membangkitkan dan meningkatkan minat siswa terhadap pembiasaan akhlak mulia, serta mengubah dari sikap negatif ke sikap positif. Keterlibatan atau sikap siswa terhadap kegiatan juga dapat dinilai dengan memanfaatkan teman sekelompok (peerassessment). Hasil penelitian antara teman dapat dipakai untuk menjadikan pertimbangan dalam memberikan saran-saran agar siswa lebih termotivasi juga agar mau berinteraksi secara lebih baik sesama teman. Untuk menilai aspek afektif tersebut bisa dilakukan dengan kolokium. Kolokitum adalah suatu diskusi mendalam tentang suatu aspek pembiasaan akhlak mulia tertentu untuk mengungkapkan 57

pengetahuan dan pengalaman seseorang. Kolokium ini dilakukan untuk pelengkap portofolio. C. Sertifikasi Semua bentuk hasil penilain yang diberikan dari semua aspek pembiasaan akhlak mulai dari hasil penilaian tes dan penilaian non tes, dapat diberi sertifikat. Sertifikat diberikan sebagai bukti kongkrit dari hasil pembiasaan akhlak mulia oleh siswa di rumah, sekolah, dan masyarakat dan dilanjutkan dengan penilaian akhir. Sertifikasi hasil penilaian merupakan motivasi agar siswa merasa terpanggil hatinya untuk terus menampilkan perilaku dan perbuatan sehari-harinya dengan membiasakan akhlak mulia dalam kehidupan. Bukan sebaliknya, sertifikasi hanya sebagai ''hiasan'' akhir yang tidak diikuti oleh perilaku dan perbuatan yang mengarah pada pembiasaan akhlak mulia. Penilaian dalam bentuk sertifikasi ini, hendaknya dilakukan secara objektif dan melibatkan semua unsur dan komponen pada tiga lingkungan pendidikan dan pembelajaran, yaitu rumah, sekolah dan masyarakat. Guru pendidikan agama Islam sebagai pelaku utama yang dapat menentukan dan menjadi juru kunci dalam penilaian sertifikasi dan seterusnya. D. Pelaporan Laporan kemajuan pembelajaran pembiasaan akhlak mulia merupakan sarana komunikasi antara sekolah, siswa, dan orang tua. Oleh karena itu, laporan ini adalah bagian penting dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan hubungan kerja sama antara sekolah, siswa, dan orang tua/wali. Proses pelaporan penilaian hasil pembelajaran pembiasaan akhlak mulia merupakan satu tahapan dari serangkaian proses pendidikan di sekolah yang harus dilalui. Pada pelaksanaanya, pelaporan harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut: 1. Konsisten dengan pelaksanaan penilaian di sekolah. 58

2. Memuat perincian hasil pembelajaran pembiasaan akhlak mulia yang bermanfaat bagi pengembangan potensi pembiasaan. 3. Menjamin adanya infomasi permasalahan siswa dalam pembelajaran akhlak mulia bagi para orang tua. 4. Mengandung berbagai cara dan strategi berkomunikasi. 5. Memberikan informasi yang benar, jelas, komprehensif, dan akurat. Agar peran serta masyarakat dalam dunia pendidikan semakin meningkat, bentuk laporan pembelajaran akhlak mulia siswa harus disajikan secara sederhana, mudah dibaca dan dipahami, komunikatif, serta menampilkan profil atau tingkat kemajuan peserta didik. Dengan demikian, orang tua atau pihak yang berkepentingan (stakeholder) mudah mengidentifikasi kompetensi-kompetensi dimiliki peserta didik, serta kompetensi yang harus ditingkatkan. Dari kenyataan tersebut orang tua atau stakeholders dapat lebih mengetahui masalah dan jenis bantuan yang diperlukan untuk membantu anaknya. Siswa sendiri juga dapat mengetahui keunggulan dan kelemahan dirinya sehingga dapat mengetahui aspek yang harus di tingkatkan.

59

60

BAB V PENUTUP Program dan kegiatan pembiasaan akhlak mulia pada siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) merupakan pembelajaran ekstrakurikuler yang dilakukan di luar kegiatan pembelajaran di kelas. Tujuannya untuk menambah pengetahuan, penghayatan, pengamalan dan pengalaman sisiwa di bidang pembiasaan akhlak mulia. Kegiatan ini juga merupakan pendukung tercapainya program pembelajaran secara keseluruhan di SMP. Dalam penyusunan buku panduan ini, masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan. Untuk itu kami mengharapkan kritik, saran, masukan yang konstruktif dan membangun dari semua pihak yang berkompeten dalam rangka penyempurnaan yang lebih baik. Kepada pihak-pihak yang telah berpartisipasi mewujudkan buku panduan ini kami mengucapkan terima kasih, mudah-mudah amal dan baktinya mendapat balasan dan ganjaran pahala dari Allah SWT. Semoga buku panduan ini dapat bermanfaat dalam menyemarakkan pelaksanaan kegiatan pendidikan agama Islam di sekolah masing-masing dan meningkatkan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, dan pengalaman serta berujung pada kepribadian siswa di SMP dalam bidang pendidikan agama Islam.

61

62

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->