PENINGKATAN KUALITAS GULA TUMBU DENGAN METODE SULFITASI (Quality Improvement Of Red Cane Sugar By Sulphitation Method) Sari

Purnavita dan Mumpuni Asih Pratiwi

StafPengajar Akademi Kimia Industri St. Paulus 11.Sriwijaya 104 Semarang TIp (024) 8442979
ABSTRACT The purposes of this study are to determine the optimum pH in the purification process of the cane juice and the optimum cooking temperature during the production of red cane sugar using the sulphitation method. In this study, the red cane sugar was produced by heating the cane liquor to a temperature of 60°C, and then, lime milk was added until the mixture reached pH 9. Afterwards, the solution was divided and suphite acid was added until the solution reached a pH of pH 7 in one part and pH 8 in the other part. The cane liquor solutions at the two pH values were heated until boiling for sterilization, and then solutions were cooked at temperatures of 100°C, 90°C, 80°C, and 70°C until thickened. The thickened sugar was poured in the mold. The study showed that more closer to a neutral pH and cooking temperature, the lighter color of the red cane sugar {light brown}. The lightest color was produced with a cooking temperature of 70°C and pH 7. The water content and sugar content as sucrose of the red cane sugar are not affected by pH and cooking temperature. The sucrose and water content of the red cane sugar produced in this study meet the Indonesian National Standard (SNl) 013743.1995 for all pH and temperature variables. The quality of the red cane sugar with regards to the following parameters: color, sugar content as sucrose, and the water content produced using the sulphitation method are better than the red cane sugar produced by the industry in Dawe Subdistrict, Kudus Regency. Keywords: cane juice, red cane sugar, sulphitation content, and water content. method, color, sucrose

PENDAHULUAN

Industri gula tumbu merupakan industri berbasis pertanian, agroindustri atau agrobisnis, yang mengolah tebu menjadi gula merah dan telah dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Kudus secara tradisional serta berlangsung terus menerus
JurnalTEKNOLOGl Pangan dan BaSil Pertaman

hingga sekarang setiap musim panen tebu. Gula merah tebu yang dihasilkan, disebut juga gula tumbu. Produksi gula tumbu pada tahun 2007 mencapai 20.304 ton/hari dengan kebutuhan bahan baku 203.040 ton tebu/hari. Harga juaJ gula tumbu berkisar Rp. 2.500,-ikg hingga Rp. 3.000,-Jkg. Penggunaan gula tumbu masih dibutuhkan,

vs. 5

No. 2 AaJaman 118 - 123

118

2 H+ ---).' nira mentah dipanaskan terlebih dulu 100°C JurnallEKNOLOGl kemudian susu kapur ditambahkan hingga pH 7.6 %. Defekasi merupakan proses pemumian nira yang dilakukan dengan penambahan susu kapur sebagai bahan untuk mengikat pengotor-pengotor dalam nira.3%. industri makanan lain 6. sulfitasi alkalis. sulfitasi ·asam.4 kemudian dipanaskan.2 . sulfitasi. Pada sulfitasi netral. nira disulfitasi sampai pH 3. maka perlu memperhatikan tahap proses pemumian nira. Ca2+ + 2 OH---).8%.3 kemudian nira dipanaskan sampai suhu 100°C.5. defekasi panas. kemudian dilanjutkan dengan sulfitasi sampai pH sekitar 7. ada 3 (tiga ) macam cara pemumian nira. proses sulfitasi dapat dilakukan dengan tiga cara. kemudian sulfitasi dilanj utkan sampai pH sekitar 7. Proses pemumian secara sulfitasi banyak digunakan karen a dapat menghasilkan gula dengan kualitas yang lebih baik dibanding proses defekasi Kualitas gula yang dihasilkan oleh pemumian dengan cara sulfitasi 118 . melainkan juga industri besar dan menengah. Defekasi dingin. Agar gula yang dihasilkan berkualitas baik. Sulfitasi merupakan proses pemumian nira yang dilakukan dengan menambahkan susu kapur dan gas S02.9%). Pengolahaan gula turnbu yang dilakukan oleh para pengrajin gula turnbu di Kabupaten Kudus masih bersifat tradisional (sangat sederhana) sehingga kualitas gula tumbu yang dihasilkan adalah Kualitas 11.123 Pangan dan RasJl Pertaman vol.0. Pada sulfitasi asam.2 . Pada ketiga metode tersebut penambahan susu kapur disertai dengan proses pendidihan larutan nira.6.8.8.5 . yaitu berwama coklat tua. sehingga nira menjadi jemih.62% sehingga belum rnernenuhi syarat SNI untuk parameter wama dan kadar gula sebagai sukrosa. H2S03 sol- + S03-2 ---). kurang keras (kadar air 8. kemudian baru diikuti penambahan susu kapur sampai pH 8.2 dilanjutkan dengan pemanasan lagi. dan karbonatasi.2 Ralaman 119 .6% dan industri yang lain 1. lalu ditambahkan susu kapur lagi hingga pH 7.konsurnennya bukan hanya masyarakat umum maupun industri kecil dan industri rurnah tangga yang membuat aneka makanan khas saja. ataupun sulfitasi netral. yaitu : defekasi.6 . susu kapur dimasukkan kedalam nira mentah hingga pH 6.8. Defekasi terpisah.industri yang menggunakan gula tumbu adalah : industri kecap 63. penambahan susu kapur dan sulfitasi dilakukan secara bersamaan sampai pH 8.11. Sulfitasi dilanjutkan sampai dicapai pH sekitar 7. Defekasi panas. kadar gula sebagai sukrosa 64.7%. farmasi 1. ~ No. susu kapur ditambahkan ke dalam nira hingga pH 7. Sulfitasi alkalis dilakukan dengan cara penambahan nira menggunakan susir kapur sarnpai pH 10. Reaksi yang terj adi : S02 + H20 H2S03 Ca(OH)2 Ca2+ + ---).5. Pemumian nira dengan cara defekasi dibagi menjadi : defekasi dingin. Menurut Hugot (1972). CaS03" Menurut Soejardi (1982). Tujuan pemumian nira adalah untuk menghilangkan sebanyak mungkin pengotor. restoran 16.8. dan defekasi terpisah. Industri . menjadi bentuk garam yang mengendap.

Pertama setelah susu kapur dijaga alkalinitasnya pada pH 10. Kabupaten Kudus. Kabupaten Kudus saat ini adalah metode defekasi panas dengan pH yang cukup tinggi (PH 10) dan suhu pematangan cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mencari kondisi pHpemurnian nira dan suhu pematangan yang optimum pada pembuatan gula turnbu dengan metode sulfitasi. dilakukan dengan cara menambahkan susu kapur ke dalam nira secara berlebih. dan analisa kadar gula sebagai sukrosa dengan metode luff schoorl. Kelebihan susu kapur tersebut dinetralkan dengan menambah gas CO2 membentuk endapan CaC03. ) No~ 2 Balaman 120 . 90°C.5 kemudian nira ditapis. Analisa warna dilakukan dengan uji panelis. analisa kadar air dengan metode gravimetri. Proses karbonatasi rangkap pada dasarya sama dengan proses karbonatasi tunggal. proses pencampuran dilakukan dalam satu reaktor. tetapi pemberian gas CO2 dilakukan 2 tahap. Prosedur Pembuatan gula tumbu pada penelitian ini dilakukan dengan metode sulfitasi. Setelah itu larutan nira dipanaskan sampai mendidih untuk sterilisasi. Parameter kualitas gula turnbu pada penelitian ini meliputi warna. Pemurnian nira dengan metode sulfitasi mampu mengikat kotoran lebih sempurna dibanding metode defekasi. Pada proses karbonatasi tunggal. METODE PENELITIAN Bahan Bahan-bahan untuk pembuatan gula turnbu yang dilakukan pada penelitian ini adalah tebu yang diperoleh dari Kecamatan Dawe. reaksinya : Ca(OH)2+ CO2 -----+ CacoJ + H20 Ada dua metode dalam proses karbonatasi. dan asam sulfit yang dibuat dari Na2S03 teknis dan HCI teknis. Hasil tapisan ini dialiri gas C02 lagi. Alkalinitas dijaga antara pH 9 . Nira bersih dipanaskan pada suhu 60°C.10. Kemudian pemanasan dilanjutkan untuk proses pematangan dengan variasi suhu 100°C. Sebenarnya pemurnian nira dengan metode sulfitasi masih dapat ditingkatkan dengan metode karbonatasi tetapi secara teknis metode karbonatasi sulit diterapkan untuk pembuatan gula pada industri kecil seperti halnya industri gula tumbu. kadar air dan kadar gula sebagai sukrosa. kapur tohor. dan 70°C sampai mengental dan dilakukan pencetakkan. Karbonatasi. Metode pemurnian nira yang dilakukan oleh para pengrajin sentra industri gula tumbu di Kecamatan Dawe. Nira ditambahkan susu kapur berlebih kemudian dinetralkan menggunakan gas CO2. Oleh karena itu untuk meningkatkan Jurnall'EKNOLOGl kualitas gula tumbu pada penelitian ini dipilih cara pemurnian nira dengan metode sulfitasi. Metode sulfitasi juga lebih ekonomis dibanding metode karbonatasi. lalu ditambahkan susu kapur sampai pH 9 dan dilanjutkan penambahan asam sulfit dengan variasi pH 7 dan 8. yaitu karbonatasi tunggal dan karbonatasi rangkap. 80°C.masih dapat ditingkatkan dengan metode karbonatasi. Rancangan Percobaan dengan Penelitian irn dirancang rancangan acak lengkap 118 ~ 123 Pangan dan Basil Pertaman Vol.

Parameter kualitas gula tumbu pada Tabell. Pemurnian nira dengan metode sulfitasi mampu mengikat kotoran lebih sempurna dibanding metode defekasi.15 %) dan Air (60 . kadar gula sebagai sukrosa dan kadar air. Zat anorganik (0. Dengan menggunakan metode sulfitasi pada pemurnian nira maka pH dapat diturunkan sampai netral dengan adanya penarnbahan asarn sulfit. Zat organik (0. Gula tumbu yang dihasilkan berkualitas rendah/kualitas II dengan warna coklat kehitarnan.80 %). Untuk mengkaji apakah perlakuan pH dan suhu pematangan memberikan pengaruh terhadap kualitas gula tumbu dilakukan dengan uji statistik Analisis Varian (Anava). Sabut (10 . Kabupaten Kudus ditingkatkan dengan cara memperbaiki proses pemurnian niranya. Pada penelitian ini. gom (7.faktorial dengan 3 kali ulangan. Rerata warna gula tumbu pH Suhu (OC) \ 70 80 90 100 IA 4.2. 8 1. proses pemurnian nira diIakukan dengan metode sulfitasi. Gula mereduksi (0.0. HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitasgula tumbu yang dihasilkan oleh industri gula tumbu di Kecarnatan Dawe. 1.14 %).5 . penelitian ini ditinjau dari segi warna. Semakin rendah suhu pematangan dan semakin netral pH maka warna gula tumbu yang dihasilkan semakin muda (dari coklat tua menuju coklat muda). malam.15 %).5 . 2 Halaman 118-123 121 . Metode pemurnian nira yang dilakukan oleh sentra industri gula saat ini adalah metode defekasi panas dengan pH yang cukup tinggi (PH 10) dan suhu ~ematangan cukup tinggi(diatas 100 C).3A 7 A 26Jj lA IA .3 Keterangan : Angka dengan notasi yang sarna dinyatakan tidak berbeda nyata . Warna Berdasarkan uji Anava diketahui bahwa antar perlakuan menunjukkan warna gula tumbu yang berbeda sangat nyata. yang dapat memberikan hasiI gula tumbu dengan kualitas terbaik. pada kondisi proses pH yang tinggi maka gula reduksi (fruktosa dan glukosa) akan pecah menjadi zat warna yang dapat menyebabkan warna gelap dan membentuk asam organik. Zat warna. Nira mentah mengandung gula dan zat bukan gula dalarn susunan rata-rata sebagai berikut: Gula Sukrosa (11 .2 %). Dari uji DMRT diketahui bahwa warna gula tumbu yang paling muda dihasilkan pada perlakukan suhu 70°C dan pH 7. Jurnatl'EKNOLOG1PangandanHasliPertaman • vs: 5 No.5 .15 .3c 13A .2 %). Menurut Hugot (1972).5 %). Apabila didapati adanya pengaruh maka dilanjutkan dengan uji beda DMRT untuk menentukan pH dan suhu pematangan yang optimal.

013743.1995.42% A A 5. Pada pH dibawah 7 dengan suhu yang tinggi sukrosa akan terinversi menjadi gula reduksi (glukosa dan fruktosa). sukrosa merupakan disakarida dan seeara komersial diperoleh dari batang tebu dan bit gula. Dengan demikian kadar gula sebagai sukrosa pada gula tumbu yang dihasilkan dari penelitian im telah memenuhi Standar Kualitas I1Standar Nasional Indonesia untuk kualitas gula merah (SNI . No.3%A 86.123 • 122 . Jumlah gula sebagai sukrosa dari gula tumbu hasil penelitian dengan metode sulfitasi untuk semua perlakukan lebih tinggi dari yang dihasilkan oleh sentra industri dan telah memenuhi SNI.7% A 81.20% A 4.2% A 7 77.50% 7 5.Semakin rendah suhu maka kemungkinan terjadinya kerusakan sukrosa juga semakin keeil. Karena pH pemumian nira yang dilakukan pada penelitian ini pada pH 7 dan 8 maka sukrosa yang terkandung didalam nira tidak terinversi menjadi glukosa dan fruktosa. Rerata kadar gula sebagai sukrosa dapat dilihat pada Tabel2. Tabel2.7% A 83.3% A 80. Kadar gula sebagai sukrosa Suhu pemasakan dan pH tidak memberikan perbedaan terhadap jumlah gula sebagai sukrosa pada gula tumbu. Rerata kadar air (bb) Suhu(C) 80 90 100 5. Rerata kadar gula sebagai sukrosa (bb) Suhu (C) pH 80 100 70 90 88.Dengan demikian maka kerusakan atau peeahnya gula reduksi yang terkandung didalam nira dapat diminimalkan.82% A 3.63% A 4. Dengan semakin rendah suhu dan semakin netral pH maka wama dari gula tumbu yang dihasilkan juga lebih muda (eoklat muda) sehingga memenuhi SNI. Menurut Hart dkk (2003).013743.87% A notasi yang sarna dinyatakan tidak berbeda nyata J 70 pH 8. sehingga warna gula tumbu yang dihasilkan lebih muda.1995) yang menetapkan jumlah gula sebagai sukrosa minimal 77%.7%A 8 Keterangan : Angka dengan notasi yang sarna dinyatakan tidak berbeda nyata Tabel3.93% 8 Keterangan : Angka dengan Jurnal1EKNOLOGl Pangan dan Basil Pertaman Vol. Jumlah gula sebagai sukrosa dari sampe1 yang diambil dari sentra industri di Kecamatan Dawe belum memenuhi SNI yakni hanya 64%. Hidrolisis sukrosa memberikan D-glukosa dan Dsfruktcsa dengan jurnlah mol yang ekuivalen.57% A A 6. Semakin netral pH maka jumlah asam sulfit (reduktor) yang ditambahkan lebih banyak sehingga proses reduksi warna yang disebabkan kandungan asam-asam organik yang terdapat dalam nira menjadi semakin sempurna.2% A 82. 2 Halaman 118 .8% A 78.

1995) menetapkan kadar air maksimal 10%bb. Lembaga Pendidikan Perkebunan. Gula tumbu yang dihasilkan berwarna coklat muda.Kadar air Suhu pematangan dan . Rerata kadar air dapat dilihat pada Tabel3. Aldo Priwijaya yang telah membantu dalam penelitian ini. Kajian Industri Gula Tumbu di Kabupaten Kudus Karakteristik: Pengusaha. Kimia Organik.9%bb. SPd. Dengan kadar air yang lebih rendah maka diperoleh gula tumbu yang lebih keras dan awet. Struktur Produksi. 1982. Dasar-dasar Teknologi Gula. Leslie E. Jurnall'EKNOLOGl Pangan dan usn Pertaman Vol. dan Sdr. edisi 11. Jakarta UCAP AN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Antonius Prihanto. Penerbit Erlangga. DAFTARPUSTAKA Hugot. Craine & David J. 2 Halaman llB ~ 123 123 . Kadar air dari gula tumbu yang diambil dari industri di Kecamatan Dawe pada kondisi ambang batas yaitu sebesar 8. Y ogya kart a. Kondisi optimum pada pembuatan gula tumbu dengan metode sulfitasi adalah pada pH 7 dan suhu pematangan 70°C. Elsevier Publishing Company Amsterdam. 2003.8% bb.pH tidak mem berikan perbedaan terhadap kadar air pada gula tumbu.Harold. Standar Kualitas I1Standar Nasional Indonesia untuk kualitas gula merah (SNI . dan kadar air 8. London. SIMPULAN Semua perlakuan pembuatan gula tumbu dengan menggunakan metode sulfitasi dapat meningkatkan kualitas gula tumbu dan memenuhi SNI dari segi warna. Hart. 1972. Salatiga: UKSW. Latief.' kadar gula sebagai sukrosa 77. A. Handbook of Cane Sugar Engineering.013743. Soejardi. 2001. Kadar air dari gula turnbu hasil penelitian dengan metode sulfitasi untuk semua perlakukan lebih rendah dari kondisi di 1apangan. New York Sutowo. Pemasaran dan Kontribusi terhadap Pendapatan. Hart. kadar air dan kadar gula sebagai sukrosa. • j No.5% bb.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful