P. 1
makalah mkk

makalah mkk

|Views: 150|Likes:
Published by Fathia Rachmatina

More info:

Published by: Fathia Rachmatina on Aug 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/25/2011

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Anak yang mengalami kesulitan belajar adalah anak yang memiliki ganguan satu atau lebih dari proses dasar yang mencakup pemahaman penggunaan bahasa lisan atau tulisan, gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kemampuan yang tidak sempurna dalam mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja atau menghitung. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya. Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan dijelaskan dari masing-masing pengertian tersebut: 1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai. 2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh :
1

siswa yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik. 3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah. 4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama. 5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya. Dari sedikit penjelasan diatas, dirasakan bahwa orangtua perlu mengetahui bentuk kesulitan belajar yang dialami oleh putra/puteri mereka agar lebih mengerti bentuk kesulitan yang putera/puteri mereka hadapi. Banyak orangtua yang juga bertanya dan bingung tentang pendidikan dan prestasi belajar anak, baik di sekolah maupun dirumah. Bahkan belajar menjadi 4 golongan masalah yang biasanya terjadi pada anak kita. Pada dasarnya seorang anak memiliki 4 masalah besar yang tampak jelas di mata orang tuanya dalam kehidupannya yaitu: 1. dsb) 2. Bad Habit / Kebiasaan jelek (misalnya, suka jajan, suka merengek, suka ngambek, dsb.) 3. Maladjustment / Penyimpangan perilaku 4. Pause Playing Delay / Masa bermain yang tertunda.
2

Out of Law / Tidak taat aturan (seperti misalnya, susah belajar, susah menjalankan perintah,

prevalensi anak yang memiliki kesulitan belajar diperkirakan lebih besar. (7) gangguan intelektual. (4) gangguan emosi dan perilaku. ALB adalah anak yang memiliki kelainan fisik dan atau mental dan atau perilaku. di antara kelompok anak dengan kebutuhan khusus tersebut. Mereka diakui sebagai anak yang memerlukan perhatian khusus. (3) anak dengan kesulitan belajar. Ashman dan Elkins membagi anak dengan problema belajar menjadi: (1) anak berbakat. tunalaras [cacat suara dan nada]. Prevalensi Anak dengan Problema Belajar Studi khusus tentang angka prevalensi anak dengan problema belajar memang belum ada. menurut beberapa literatur. angka sakit diare. dan (8) gangguan fisik. dan tunaganda. disebabkan oleh gangguan sejak dalam kandungan sampai masa perkembangan dini sekitar lima tahun. tunagrahita [cacat pikiran. (6) gangguan pendengaran. (5) gangguan fisik dan kesehatan. Mereka terdiri atas tunanetra [tidak dapat melihat]. (5) gangguan penglihatan. Sementara anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. Di Indonesia. 2. mengelompokkannya menjadi: (1) anak yang memiliki kesulitan belajar. Namun. lemah daya tangkap]. tunarungu [tidak dapat mendengar]. tidak dikategorikan sebagai anak luar biasa. 3 . (6) gangguan pendengaran. terdapat anak luar biasa (ALB). Departemen pendidikan Amerika Serikat. Di negara berkembang seperti Indonesia. angka penyakit persalinan serta infeksi susunan saraf pusat pada bayi. (4) gangguan emosi. bayi. Kondisi ini sering kali mengakibatkan terjadinya kesulitan belajar pada anak. tunadaksa [cacat tubuh]. Sementara itu. misalnya. (2) gangguan wicara. jumlah anak yang mengalami kesulitan belajar diperkirakan mencapai 15 persen.cacat fisik dan mental]. (2) gangguan komunikasi. Di beberapa negara industri seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat. (3) retardasi mental [gangguan perkembangan inteligensi. dan anak. anak yang mengalami kesulitan belajar berkisar antara 1-3 persen. Penyebabnya adalah masih cukup tinggi angka kurang gizi pada ibu hamil.Ada beberapa klasifikasi anak dengan problema belajar. dan tunaganda [penderita cacat lebih dari satu kecacatan -.

nadi 80/menit. Katanya selalu mmimpi buruk. Sewaktu sudah masuk sekolah SD umur 7 tahun. Tinggi badn 125 cm. Kedua orang tuanya mendidik pasien dengan tegas dan keras. Pada pemeriksaan fisik. 4 . Berat badan 25 kg. temp 365C. air muka tidak cerah. pelupa dan sering mengeluh pusing dan sering melamun. Telapak tangan dan kaki basah berkeringat. Bila tidur sering gelisah dan teriak-teriak terbangun dan menangis. Kemampuan berjalan pada saat umur satu setengah tahun. konsentrasi kurang. Waktu dilahirkan pasien membiru tidak segera menangis. tampak agak murung.BAB II LAPORAN KASUS Pasien A. Pernah mengalami kejang dua kali waktu masih balita. Di dalam kamar tunggu pasien A. agak sukar diajak bicara. tensi 80/60. sering dibandingkan dengan kakaknya yang dikatakan lebih pandai. 12 tahun diantar ke Puskesmas oleh orang tunanya baik bapak dan ibu karena susah belajar. seperti cenderung gagap.

melamun.BAB III PEMBAHASAN IDENTITAS Nama Jenis Kelamin Umur Pekerjaan Alamat KELUHAN UTAMA KELUHAN TAMBAHAN : An. menangis dan selalu mimpi buruk. Bila tidur sering gelisah. pelupa. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU : Mengalami kejang dua kali waktu masih balita RIWAYAT PENGOBATAN RIWAYAT KELAHIRAN :: Lahir dengan sianosis. tidak segera menangis RIWAYAT TUMBUH KEMBANG: Berjalan pada saat umur 1. : Pasien sering pusing.5 tahun HIPOTESIS 1. teriak-teriak terbangun. Organic Brain Syndrome: Epilepsi (petit mal) 5 : . Anggara : Laki-laki : 12 tahun : Pelajar : : Kesulitan belajar dan sukar untuk berkonsentrasi.

- Down syndrome Infeksi intracranial Tumor intracranial Trauma 2. Gangguan psikogenik : Depresi Kekerasan dalam rumah tangga ADHD PTSD Gangguan kepribadian anxietas Pola asuh yang kurang baik ANAMNESIS TAMBAHAN  Riwayat Penyakit Sekarang  Kapan keluhan tersebut muncul? Sudah berapa lama pasien mengalami keluhan tersebut? Apakah ada keluhan yang lain? Apakah saat keluhan tersebut timbul disertai dengan kejang? Adakah faktor pencetus yang mengakibatkan keluhan tersebut timbul? Adakah faktor yang memperingan atau menghilangkan keluhan tersebut : Riwayat Penyakit Dahulu Apakah pernah mengalami trauma pada kepala? 6 .

seperti infeksi intracranial? Riwayat Penyakit Keluarga Apakah ada anggota keluarga yang pernah mengalami keluhan yang sama? Apakah di keluarga memiliki penyakit atopi seperti asma  Riwayat Psikologis Anak Bagaimana dengan nilai-nilai disekolah? Apakah mengalami kesulitan dalam bergaul? Apakah ada kejadian traumatik yang pernah dialami?  Riwayat Kehamilan dan Persalinan (Alloanamnesis) Umur ibu saat hamil? Apakah pernah menderita suatu penyakit infeksi saat sedang hamil? Bagaimana asupan nutrisi saat hamil? Melahirkan dengan cukup bulan atau tidak? Melahirkan dengan bidan atau dengan dokter? Saat persalinan dibantu dengan bantuan alat atau tidak? PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tanda-tanda vital : : . Apakah pernah menderita penyakit infeksi berat.Nadi : 80/menit 7 .Tekanan Darah : 80/60 .

.5C a. Palpasi Pemeriksaan persarafan pada muka Pemeriksaan reflex patologis dan fisiologis : 8 . Inspeksi Tampak agak murung Air muka tidak cerah Agak sukar diajak bicara Bicara gagap Telapak tangan dan kaki basah berkeringat Kepala Mata :  Konjungtiva anemis?  Sclera ikterik?  Mata berkedap-kedip?  Bentuk dan ukuran pupil?  Reflex pupil?  Discharge mulut dan gigitan lidah? b.Suhu : 36.

dan cenderung berbicara kasar. tampak murung. Masalah Lingkungan Lingkungan Keluarga Pasien dididik dengan keras dan dibandingkan dengan kakaknya dimana hal tersebut dapat menjadi faktor eksternal yang memicu stres seingga berdampak pada keluhan keluhan pasien seperti sulit berkonsentrasi. 9 . merasa paling benar. bicara gagap. 2) Orang tua cenderung mencari kesalahan-kesalahan anak dan kemudian menghukumnya.RUMUSAN MASALAH 1. Pola Asuh Keluarga Pola Asuh Otoriter Orang tua mendidik pasien dengan keras dan cenderung otoriter merupakan salah satu pola asuh yang buruk. 2. karena orang tua tidak berlaku sebagai pendengar yang baik. Ciri-ciri dari pola asuh otoriter adalah sebagai berikut : 1) Anak harus mematuhi peraturan-peraturan orang tua dan tidak boleh membantah. 3) Orang tua cenderung memberikan perintah dan larangan kepada anak.

kejang. retardasi mental. ketakutan. absences. Adapun dampak dari pola asuh yang keliru pada balita dan anak. gelisah. susah belajar. persaingan antar anak kandumg. perkembangan fisik mental buruk. pengalaman psikoseksual. autisme. tidak yakin diri. absence. 3. susah bergaul.Jika terdapat perbedaan pendapat antara orang tua dan anak. air muka tidak cerah. narkoba. bengong. gagap. pengalaman psikoseksual. Anak (6-12 tahun): Pendiam. autisme. muka depresi. yaitu: Balita (0-5 tahun): Pendiam. narkoba. perkembangan fisik mental tidak selaras. HIV AIDS. pelupa. HIV AIDS. mengompol. persaingan antar anak kandung. Pola Komunikasi Keluarga Komunikasi Verbal yang Buruk Orangtua pasien sering membandingkan pasien dengan kakaknya yang dikatakan lebih pandai merupakan salah satu contoh komunikasi verbal yang buruk yang juga dapat berdampak buruk pada kondisi psikologis pasien.cemas. ADHD (Attention Deficit Hyperkinetic Disorder). maka anak dianggap pembangkang. 10 . sering pusing. kejang.

11 . Contoh: Generalized epilepsy with febrile seizure plus. 3 Patofisiologi epilepsi yang lain adalah disebabkan adanya mutasi genetik. hipotesis lain mengatakan berasal dari korteks serebri. dimana secara normal aktivitas ritmik pada korteks terjadi pada saat tidur non-REM.PEMERIKSAAN PENUNJANG      Laboratorium : Darah rutin MMSE Pemeriksaan psikologis EEG CT. Terdapat beberapa hipotesis mengenai absans yaitu antara lain absans berasal dari thalamus. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa absans diduga terjadi akibat perubahan pada sirkuit antara thalamus dan korteks serebri. Pada absans terjadi sirkuit abnormal pada jaras thalamo-kortikal akibat adanya mutasi ion calsium sehingga menyebabkan aktivasi ritmik korteks saat sadar. Absans adalah salah satu epilepsi umum. onset dimulai usia 3-8 tahun dengan karakteristik klinik yang menggambarkan pasien “bengong” dan aktivitas normal mendadak berhenti selama beberapa detik kemudian kembali ke normal dan tidak ingat kejadian tersebut.Scan PATOFISIOLOGI Salah satu epilepsi umum yang dapat diterangkan patofisiologinya secara lengkap adalah epilepsi tipe absans. benign familial neonatal convulsions. Mutasi genetik terjadi sebagian besar pada gen yang mengkode protein kanal ion (tabel 3).

SCN2A.Tabel 3. CACNB4 CACNA1H Kanal Klorida CLCN2 Episodic ataxia tipe 2 Childhood absence epilepsy Juvenile myoclonic epilepsy Juvenile absence epilepsy Epilepsy with grand mal seizure on awakening Ligand-gated Reseptor asetilkolin CHRNB2. KCNQ3 Generalized epilepsies with febrile seizures plus Benign familial neonatal convulsions Kanal Kalsium CACNA1A. CHRNA4 Autosomal dominant frontal lobe epilepsi Gen Sindroma 12 . GABRG2 Kanal Kalium KCNQ2. SCN1B. Mutasi kanal ion pada beberapa jenis epilepsi4-6 Kanal Voltage-gated Kanal Natrium SCN1A.

Setiap orang sebetulnya dapat dimunculkan bangkitan epilepsi hanya dengan dosis rangsangan berbeda-beda. Mutasi kanal ion Sebagai penyebab dasar terjadinya epilepsi terdiri dari 3 katagori yaitu : 1. 13 . Non Spesifik Predispossing Factor ( NPF ) yang membedakan seseorang peka tidaknya terhadap serangan epilepsi dibanding orang lain. Kelainan epileptogenik ini dapat diwariskan maupun didapat dan inilah yang bertanggung jawab atas timbulnya epileptiform activity di otak. Hal yang sama terjadi pada benign familial neonatal convulsion dimana terdapat mutasi kanal kalium sehingga terjadi efluks kalium yang berlebihan dan menyebabkan hipereksitasi pada sel neuron (gambar 1C) Gambar 1. Timbulnya bangkitan epilepsi merupakan kerja sama SED dan NPF. Specific Epileptogenic Disturbances (SED). maka terjadi natrium influks yang berlebihan sedangkan kalium refluks tetap seperti semula sehingga terjadi depolarisasi dan repolarisasi yang berlangsung berkali-kali dan cepat atau terjadi hipereksitasi pada neuron (gambar1B).Reseptor GABA GABRA1. 2. GABRD Juvenile myoclonic epilepsy Pada kanal ion yang normal terjadi keseimbangan antara masuknya ion natrium (natrium influks) dan keluarnya ion kalium (kalium efluks) sehingga terjadi aktivitas depolarisasi dan repolarisasi yang normal pada sel neuron (gambar 1A). Jika terjadi mutasi pada kanal Na seperti yang terdapat pada generalized epilepsy with febrile seizures plus.

Fungsi jaringan neuron penghambat ( neurotransmitter GABA dan Glisin ) kurang optimal hingga terjadi pelepasan impuls epileptik secara berlebihan. 1. PF dapat membangkitkan reactive seizure dimana SED tidak ada. Keadaan dimana fungsi jaringan neuron eksitatorik ( Glutamat dan Aspartat ) berlebihan hingga terjadi pelepasan impuls epileptik berlebihan juga. dan konsentrasi ion natrium dan kalsium ekstraseluler tinggi. bila natrium ini memasuki sel. Hambatan oleh GABA dalam bentuk inhibisi potensial postsinaptik ( IPSPs = inhibitory post synaptic potentials) adalah lewat reseptor GABA. zat yang merupakan neurotransmitter inhibitorik utama pada otak. Dengan demikian konsentrasi yang tinggi ion kalium dalam sel ( intraseluler ). 14 . Merupakan faktor pencetus terjadinya bangkitan epilepsi pada penderita epilepsi yang kronis. tetapi sangat sulit dilalui oleh ion natrium dan ion kalsium.3. secara teori sinkronisasi ini dapat terjadi. Ternyata pada GABA ini sama sekali tidak sesederhana seperti yang disangka semula. Sinkronisasi ini dapat terjadi pada sekelompok atau seluruh neuron di otak secara serentak. Pada otak manusia yang menderita epilepsi ternyata kandungan GABA rendah. Hipotesis secara seluler dan molekuler yang banyak dianut sekarang adalah : Membran neuron dalam keadaan normal mudah dilalui oleh ion kalium dan ion klorida. Suatu hipotesis mengatakan bahwa aktifitas epileptic disebabkan oleh hilang atau kurangnya inhibisi oleh GABA. Fungsi neuron penghambat bisa kurang optimal antara lain bila konsentrasi GABA (gamma aminobutyric acid ) tidak normal. keadaan ini sama halnya dengan ion kalsium. sehingga terjadi sinkronisasi dari impuls. Presipitating Factor (PF). Penderita dengan nilai ambang yang rendah. Ketiga hal di atas memegang peranan penting terjadinya epilepsi sebagai hal dasar. 2. Bangkitan epilepsi karena transmisi impuls yang berlebihan di dalam otak yang tidak mengikuti pola yang normal. Riset membuktikan bahwa perubahan pada salah satu komponennya bias menghasilkan inhibisi tak lengkap yang akan menambah rangsangan. Sesuai dengan teori dari Dean (Sodium pump). sel hidup mendorong ion natrium keluar sel.

Kerusakan otak akibat trauma. Akan tetapi anak tanpa brain damage dapat juga menjadi epilepsi. Oleh karena itu tidak mengherankan bila lebih dari 50% epilepsi parsial. dalam hal ini faktor genetik dianggap penyebabnya. semuanya dapat mengembangkan epilepsi. DIAGNOSIS KERJA Absence/ petit mal epilepsy 15 . Lokasi yang berbeda dari kelompok neuron ini menimbulkan manifestasi yang berbeda dari serangan epileptik. maka serangan kejang cenderung berulang dan selanjutnya menimbulkan kerusakan yang lebih luas. yang pada gilirannya dapat membuat neuron glia atau lingkungan neuronal epileptogenik. obat atau toksin. khususnya grand mal dan petit mal serta benigne centrotemporal epilepsy. Daerah yang rentan terhadap kerusakan bila ada abnormalitas otak antara lain di hipokampus. infeksi. kongenital. sel neuron masih imatur sehingga mudah terkena efek traumatik. infeksi dan sebagainya. fokus asalnya berada di lobus temporalis dimana terdapat hipokampus dan merupakan tempat asal epilepsi dapatan. vaskuler. misalnya kelainan heriditer. sehingga mudah timbul epilepsi bila ada rangsangan yang memadai.Walaupun demikian proses yang mendasari serangan epilepsi idiopatik. Berbagai macam penyakit dapat menyebabkan terjadinya perubahan keseimbangan antara neuron inhibitor dan eksitator. hipoksia. Oleh karena setiap serangan kejang selalu menyebabkan kenaikan eksitabilitas neuron. sementara itu fungsi jaringan neuron eksitatorik ( Glutamat ) berlebihan. gangguan sirkulasi. Kelainan tersebut dapat mengakibatkan rusaknya faktor inhibisi dan atau meningkatnya fungsi neuron eksitasi. sekelompok besar atau seluruh neuron otak secara serentak. melalui mekanisme yang sama. Efek ini dapat berupa kemusnahan neuron-neuron serta sel-sel glia atau kerusakan pada neuron atau glia. Pada pemeriksaan jaringan otak penderita epilepsi yang mati selalu didapatkan kerusakan di daerah hipokampus. gangguan metabolik. infeksi.Sinkronisasi dapat terjadi pada sekelompok kecil neuron saja. Pada bayi dan anak-anak. tumor. Secara teoritis ada 2 penyebabnya yaitu fungsi neuron penghambat kurang optimal ( GABA ) sehingga terjadi pelepasan impuls epileptik secara berlebihan. gangguan metabolisme dan sebagainya.

Tipe Pola Asuh Pola asuh orang tua mempengaruhi seberapa baik anak membangun nilai-nilai dan sikapsikap anak yang bisa dikendalikan. 2. membimbing. Sikap yang dilakukan orang tua antara lain mendidik.Ad Fungsionam: Dubia ad Bonam .Ad Vitam : Ad bonam .Ad Sanationam : Dubia ad Bonam BAB IV TINJAUAN PUSTAKA Pola Asuh Orang Tua 1. 2008). Baumrind.PROGNOSIS . a. Pengertian Pola Asuh Pola asuh orang tua adalah sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. pakar perkembangan anak telah mengelompokkan pola asuh kedalam empat tipe : (Drew. 2006). serta mengajarkan nilai-nilai yang sesuai dengan norma-norma yang dilakukan di masyarakat (Suwono. Orang tua tipe ini memperlihatkan 16 . Pola asuh bisa diandalkan Orang tua yang bisa diandalkan menyeimbangkan kasih sayang dan dukungan emosional dengan struktur dan bimbingan dalam membesarkan anak-anak mereka.

c. Orang tua otoriter menekankan batasan dan larangan diatas respon positif. Orang tua akan emosi dan marah jika anak melakukan hal yang tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh orang tuanya. menarik diri. Orang tua sangat menghargai anak yang patuh terhadap perintah orang tua dan tidak melawan. keras dan kaku di mana orangtua akan membuat berbagai aturan yang harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa mau tahu perasaan sang anak. paranoid/selalu berada dalam ketakutan. Hukuman mental dan fisik akan sering diterima oleh anak-anak dengan alasan agar anak terus tetap patuh dan disiplin serta menghormati orang tua yang telah membesarkannya.cinta dan kehangatan kepada anak. Mereka harus mendengarkan secara aktif dan penuh perhatian. dan lainlain. dan berisiko terkena depresi. Jadi apapun yang mau dilakukan anak diperbolehkan seperti tidak sekolah. penuh ketakutan. Namun dibalik itu biasanya anak hasil didikan orang tua otoriter lebih bisa mandiri. hubungan positif dengan sebayanya. lebih disiplin dan lebih bertanggungjawab dalam menjalani hidup. bisa menjadi orang sesuai keinginan orang tua. Pola asuh permisif Pola asuh permisif adalah jenis pola mengasuh anak yang tidak peduli terhadap anak. bandel. Anak-anak dari orang tua yang bisa diandalkan cenderung memiliki kebanggaan diri yang sehat. Penelitian telah menunjukkan bahwa anak dari orang tua otoriter bisa menjadi pemalu. percaya diri. senang berada di luar rumah. dan sukses. serta menyediakan waktu bertemu yang positif secara rutin dengan anak. Anak yang besar dengan teknik asuhan anak seperti ini biasanya tidak bahagia. mudah sedih dan tertekan. melakukan banyak kegiatan 17 . Pola asuh otoriter Pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan anak yang bersifat pemaksaan. b. benci orang tua. Orang tua tipe bisa diandalkan membiarkan anak untuk menentukan keputusan sendiri dan mendorong anak untuk membangun kepribadian.

nakal. atau kejengkelan pada anak. pergaulan bebas negatif. matrialistis. Orang tua terombang-ambing antara tipe bisa diandalkan. kurang menghargai orang lain. dan lain sebagainya baik ketika kecil maupun sudah dewasa.maksiat. membiarkan saja jika tindakan anak masih dalam batas wajar dan memberikan alternatif jika anak paham tentang alternatif yang ditawarkan. kontrol diri buruk. Pola asuh campuran Pola asuh campuran orang tua tidak konsisten dalam mengasuh anak. kesibukan atau urusan lain yang akhirnya lupa untuk mendidik dan mengasuh anak dengan baik. merasa tidak berarti. Pada pola asuh ini orang tua tidak selamanya memberikan alternatif seperti halnya pola asuh bias diandalkan. d. Orang tua tipe permisif tidak memberikan struktur dan batasan yang tepat bagi anak. memiliki kemampuan sosialisasi yang buruk. Dengan begitu anak hanya diberi materi atau harta saja dan terserah anak itu mau tumbuh dan berkembang menjadi apa. Orang tua menyembunyikan ketidaksabaran. akan tetapi juga tidak selamanya melarang seperti halnya orang tua yang menerapkan otoriter dan juga tidak secara terus menerus membiarkan anak seperti pada penerapan pola asuh permisif. dan sebagainya. salah bergaul. Pada pola asuh campuran orang tua akan memberikan larangan jika tindakan anak menurut orang tua membahayakan. atau permisif. rendah diri. Orang tua tipe ini cenderung mempercayai bahwa ekspresi bebas dari keinginan hati dan harapan sangatlah penting bagi perkembangan psikologis. otoriter. Anak yang diasuh orang tua dengan metode semacam ini nantinya bisa berkembang menjadi anak yang tidak mempunyai pendirian tetap karena orang tua yang tidak konsisten dalam mengasuh anaknya. Anak yang diasuh orangtuanya dengan metode semacam ini nantinya bisa berkembang menjadi anak yang kurang perhatian. kemarahan. Biasanya pola pengasuhan anak oleh orangtua semacam ini diakibatkan oleh orangtua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan. 18 .

com/kenali-kesulitan-belajar-anak-sejak-dini/06511486) Accessed June 17.wordpress.com/doc/37947482/PATOFISIOLOGI-EPILEPSI) Accessed June 17. 2011 19 .scribd. Available at: (http://www. Available at: (http://www. Available at: (http://kholilahpunya. Patofisiologi Epilepsi.psikologizone.com/2011/01/21/referat-neurologi-epilepsi/) Accessed June 17. 2011 4. Problema Belajar Pada Anak. Kesulitan Belajar Pada Anak. 2011 2. Available at: (http://www. 2011 3.DAFTAR PUSTAKA 1. Hipotesis seluler dan molekuler epilepsi.org/c3i/hakikat_anak_dengan_problema_belajar) Accessed June 17.sabda.

20 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->