1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Jumlah mobil di indonesia dari tahun ke tahun semakin bertambah. Hal ini disebabkan karena mobil merupakan salah satu alat transportasi yang memberikan banyak kenyamanan dalam berkendara. Seiring dengan bertambahnya jumlah mobil tersebut, megakibatkan dampak yang tidak baik yaitu meningkatnya polusi udara dikarenakan oleh emisi kendaraan bermotor. Indonesia kini dinobatkan sebagai negara dengan tingkat polusi udara ketiga terparah di dunia setelah Meksiko dan Bangkok(Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia,2011).

Seperti diketahui bahwa proses pembakaran bahan bakar dari motor bakar khususnya bensin,ketika campuran bahan bakar degan udara dalam ruang bakar dibakar akan menghasilkan gas tidak berbahaya N2, H2O, dan CO2, tetapi bersamaan dengan itu dihasilkan juga gas yang berbahaya CO, HC (akibat pembakaran yang tidak sempurna), dan NOx sebagai (akibat suhu pembakaran yang terlampau tinggi).

Ada dua metode yang dapat digunakan untuk menurunkan emisi dari motor bakar. Pertama dengan meningkatkan teknologi mesin dan bahan bakar menjadi lebih baik dari generasi sebelumnnya. Kedua dengan cara

2

aftertreatment gas buang motor bakar (Pulkrabek Willard W,Engineering Fundamentals of the Internal Combustion Engine:31)

Dalam hal ini penulis mengambil metode yang pertama yaitu dengan menigkatkan teknologi dari engine yaitu dengan membuat manipulator sensor IAT(inlet air temperature). Seperti diketahui bahwa Bacaan sensor digunakan penggunaan penyesuaian bahan bakar dan ini

waktu

pengapian,kompensasi temperatur udara pada idle-control (duty-control), dan penyesuaian memperlambat waktu pengapian pada knocking control (Hyundai Motor Company,EMS & Troubleshootin:49). Berdasarkan permasalahan di atas penulis mengambil judul “Rancang Bangun Manipulator Sensor IAT (Intake Air Temperature) Terhadap konsentrasi Emisi Gas Buang Pada Mesin Bensin Multi Silinder”.

1.2 Perumusan Masalah 1. Bagaimana membuat manipulator sensor IAT? 2. Berapa besar resistansi dan tegangan ouput manipulasi sensor IAT pada suhu kerja mesin? 3. Bagaimana cara kerja manipulator sensor IAT sehingga dapat menghasilkan emisi gas buang yang lebih ramah lingkungan? 1.3 Batasan Masalah Dalam pembahasan kali ini penulis memfokuskan pada : 1. Pengertian IAT dan cara kerjanya.

3

2. Komponen apa saja yang digunakan untuk membuat manipulator sensor IAT. 3. Pembuatan manipulator sensor IAT. 4. Cara kerja manipulator sensor IAT. 5. Emisi yang dihasilkan oleh akibat adanya manipulator sensor IAT.

1.4 Tujuan 2. Mahasiswa dapat mendesain dan membuat manipulator sensor IAT. 3. Mahasiswa mengerti berapa besar resistansi dan tegangan output sensor IAT pada kondisi suhu kerja mesin. 4. Mahasiswa dapat mengetahui cara kerja manipulator sensor IAT dan mengoperasikannya sehingga dapat menghasilkan emisi gas buang yang lebih ramah lingkungan.

1.5 Manfaat Dengan adanya tugas akhir “Manipulasi Program ECU Dan Pembuatan Manipulator Sensor IAT (Inlet Air Temperature) Untuk Mengubah Emisi Gas Buang Mesin Agar Lebih Ramah Lingkungan” manfaat yang diperoleh adalah:  Bagi mahasiswa Mahasiswa dapat memanipulasi sensor IAT serta dapat mengaplikasikannya pada mesin EFI sehingga dapat menghasilkan emisi gas buang yang lebih ramah lingkungan.

4

 Bagi lingkungan Polusi udara akibat kendaraan bermotor akan sedikit terkurangi dengan adanya manipulator yang dipasang pada kendaraan.

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Prinsip Kerja Motor 4 Tak Pada Mesin Bensin 2.1.1 Langkah Hisap Piston bergerak dari TMA ke TMB, katup isap terbuka dan katup buang tertutup, kemudian campuran udara dan bensin masuk ke dalam silinder akibat hisapan dari piston, perbandingan udara dan bensin yang sesuai diharapkan masuk kedalam
TTA Indo 01/02

Campuran Udara Bensin

TMA

TMB

silinder motor.

Gambar 1 Langkah hisap

2.1.2 Langkah Kompresi Piston bergerak dari TMB ke TMA kedua katup menutup sehingga campuran udara dan bensin
TMB TMA

dikompresikan oleh piston, akibatnya tekanan dalam silinder naik,suhu juga naik.
TTA Indo 01/02

Gambar 2 Langkah kompresi

bahaya emisi dengan : a) Perbandingan campuran udara yang sesuai. HC. katup hisap tertutup. Langkah Buang Pada langkah ini piston TMA bergerak dari TMB ke TMA beserta katup buang terbuka. gas buang dikeluarkan TTA Indo 01/02 TMB melalui katup buang. Gas buang mengandung emisi yang berbahaya.4.1. campuran udara dan bensin yang dikompresikan terbakar dan menggerakkan piston ke TMB. Gambar 3 Langkah usaha 2. tersebut dapat dikurangi Gambar 4 Langkah buang . dan NOx. contohnya CO.3. Saat pengapian harus tepat campuran udara dan bensin harus sesuai adalah syarat utama daya optimal dan emisi bagus. Langkah Usaha Pada akhir langkah kompresi busi mempercikan bunga api. Langkah ini dipakai untuk TMB TMA TTA Indo 01/02 menggerakkan beban.6 2.1.

dan menyebabkan injektor untuk menginjeksikan bahan bakar. Pada sistem EFI dengan mesin berbahan bakar bensin. Sistem harus dapat mensuplai jumlah bahan bakar yang bervariasi. Pada saat inlet valve terbuka. Secara ideal.7 b) Saat pengapian yang tepat c) Menggunakan catalitic converter 2.1 Penjelasan Istilah sistem injeksi bahan bakar (EFI) dapat digambarkan sebagai suatu sistem yang menyalurkan bahan bakarnya dengan menggunakan pompa pada tekanan tertentu untuk mencampurnya dengan udara yang masuk ke ruang bakar. udara yang masuk ke ruang bakar sudah bercampur dengan bahan bakar.2 Electronic Fuel Injection(EFI) 2. ECU adalah komponen dalam sistem EFI yang berguna untuk menghitung volume injeksi bahan bakar optimal.2. . Sistem EFI menggunakan beragam sensor untuk mendeteksi kondisi kerja mesin dan kendaraan. agar perubahan kondisi operasi kerja mesin tersebut dapat dicapai dengan unjuk kerja mesin yang tetap optimal. kondisi suhu kerja mesin dan suhu atmosfir saat itu. yaitu pada langkah hisap. pada umumnya proses penginjeksian bahan bakar terjadi di bagian ujung intake manifold/manifold sebelum inlet valve (katup/klep masuk). sistem EFI harus dapat mensuplai sejumlah bahan bakar yang disemprotkan agar dapat bercampur dengan udara dalam perbandingan campuran yang tepat sesuai kondisi putaran dan beban mesin.

Injector (nozel penyemprot bahan bakar) 4. Pressure regulator (pengatur tekanan) 3.8 Gambar 5 Konfigurasi Dasar EFI (Unit Pelaksana Teknis Pelatihan Kerja Mojokerto 2009 hal 3) Keterangan gambar : 1. Fast idle system 8. Throttle position sensor (sensor posisi throttle) . Throttle body butterfly (katup throttle) 7. Air temperature sensor (sensor suhu udara) 6. Air box (saringan udara) 5. Fuel rail/delivery pipe (pipa pembagi) 2.

Keuntungan lainnya. sehingga dengan EFI menghasilkan emisi gas buang (exhaust emission) yang lebih bersih. konsumsi bahan bakar yang lebih hemat. Crankshaft position sensor (sensor posisi poros engkol) 11. Oxygen (lambda) sensor 13. adalah bahwa mesin mobil akan mendapat distribusi bahan bakar yang lebih merata. Engine/coolant temperature sensor (sensor suhu air pendingin) 10. respons injakan pedal gas lebih baik dan tingkat emisi yang rendah tanpa asap. Putaran mesin tanpa beban pun akan sangat halus. . Camshaft position sensor (sensor posisi poros nok) 12. Paling penting dari semua hal itu. dengan rentang tenaga yang lebih besar serta penyaluran bahan bakar yang optimum. dan daya guna (efisiensi) yang meningkat.9 9. mobil akan mengasilkan tenaga dan torsi lebih besar pada RPM rendah. Intake air pressure sensor (sensor tekanan udara masuk) 15. ECU (Electronic control unit) 16. Ignition coil (koil pengapian) 17. yang akan menambah tenaga dan membuatnya lebih mudah dinyalakan dalam keadaan dingin maupun panas. Atmospheric pressure sensor (sensor tekanan udara atmosfir ) Adapun keuntungan pada sistem ini jumlah bahan bakar yang disemprotkan ke ruang pembakaran dikontrol lebih akurat dengan komputer yang mensuplai bahan bakar ke mesin melalui injektor. Catalytic converter 14.

Sistem kontrol secara elektronik umumnya terdiri dari actuator yang merubah hasil deteksi dari sistem mekanis ke sinyal listrik dengan menggunakan bermacam sensor. kemudian menentukan dan memproses sinyal tersebut untuk kemudian kembali dirubah ke ukuran fisik. Actuator yang malakukan proses dan menjalankannya berdasarkan sinyal output dari ECU.10 2. Sebenarnya sensor dan actuator lah yang berperan . Engine control module (ECM) Gambar 6 ECM(Unit Kontrol Elektronik (ECU) « MECHANICAL BLOG) 1) Fungsi Sistem kontrol secara elektronik yang diterapkan pada kendaraan adalah dirancang untuk memberikan suatu kontrol untuk berbagai kepentingan yang lebih efektif dibandingkan dengan sistem kontrol secara mekanis.2. Sensor merubah elemen input ke dalam sinyal elektrik kemudian ECU (engine control unit) memutuskan dan memproses sinyal tersebut.2 Komponen Komponen Sistem Bahan Bakar EFI A.

Voltage regulator: Voltage regulator memberikan arus tegangan secara stabil sebesar 5V yang diperlukan untuk menjalankan Microcomputer dari tegangan normal battery (12-14V) b. Sensor memberikan masukan ke ECU untuk mengetahui kondisi kendaraan dengan sistem kontrol secara elektronik. . c.11 melakukan proses terhadap sinyal karena itulah merupakan elemen penting yang sangat memempengaruhi performa ECU dalam merubah input yang di dalam dari sensors ke sinyal elektrik untuk proses perhitungan. RAM adalah sejenis memori volatile diamana seluruh data yang tersimpan akan terhapus bila power-off. alat ini akan langsung me-reset ulang CPU ke kondisi kerja normal. dan sebagainya. Battery back-up: memberikan tenaga cadangan ke RAM (random access memory) untuk menyimpan bermacam nilai pembelajaran dan kode kerusakan yang dihasilkan selama mobil berjalan setelah kunci kontak dimatikan. Actuator menerima sinyal elektrikal dari ECU kemudian menjalankan sistem control. dan kemudian menggunakan hasil hitungannya untuk menjalankan actuator. Reset circuit and Watchdog timer part: Apabila Microcomputer mengalami kesalahan. setelah mendeteksi. tekanan. ECU membetulkan nilai hitungan seperti temperatur. 2) Konfigurasi (1) Komponen power supply a.

Analog input processing. Digital input processing: Microcomputer mempunyai circuit untuk memperoses sinyal input dari switch on/off untuk menghasilkan sinyal digital high/low. ignition. Komponen penggerak injector Microcomputer mengeluarkan sinyal digital untuk waktu penyinjeksian secara tepat berdasarkan kondisi mesin. Misalnya bila mobil mempunyai 10 bit 32 channel A/D converter.12 (2) Input circuit a. dan mengekpresikan sinyal analog sebagai sinyal digital 10 2 =1024. ISA . (3) Output circuit Output circuit terdiri dari komponen penggerak injector. dan power transistor digunakan untuk memberikan arus yang cukup ke coil. Dasar besar injeksi bahan bakar adalah mempercayakan kepada nilai mapping udara dan putaran mesin. b. . Sinyal input analog tidak dapat diproses oleh Microcomputer karena itu diperlukan analogue/digital converter untuk merubah ke sinyal digital. converter dapat merubah 32 sinyal analog ke sinyal digital. Injector adalah meruakan tipe current-driven. a. control relays dan komponen solenoid control. dan transistor boost current untuk menggerakkan injector. dan kompensasi bahan bakar.

ECU mengontrolnya dalam batasan antara 100Hz atau 250Hz. Komponen penggerak pengapian Sistem pengapian adalah sistem listrik untuk menghasilkan percikan bunga api pada saat campuran gas dikompresi dalam silinder. temperatur pendingin). Basic idle duty rate decision dipakai untuk besar kompensasi idle duty rate dan idle control berdasarkan kondisi kerja mesin (kompensasi temperatur intake air . Komponen penggerak ISA Fungsi dari komponen penggerak ISA adalah mengontrol kecukupan rata-rata intake air untuk kondisi idling. dan bergantung pada induksi timbal balik antara kumparan pengapian pertama dan kedua. ECU mengontrol waktu dan titik powering waktu pengapian coil pertama. c. dan meningkatkan daya transistor dalam rangka untuk menyediakan arus yang cukup pada kumparan pertama. .. beban. high-altitude temperature .13 b. Control relay dan solenoid valves Output sinyal tinggi / rendah microcomputer sudah cukup untuk memberikan on / off relai kontrol dan solenoid. d. dan busi yang menghasilkan percikan pengapian. Sistem ini terdiri dari kumparan pengapian yang meningkatkan tegangan rendah dari baterai ke tegangan tinggi.

air-conditioning system dan pembelajaran idle speed actuator. Jika besar udara melebihi batas (output terminal mengalami short ke baterai) atau berada dibawah batas (short circuit ke ground) maka nilai batas atas dan bawa akan diset berdasarkan putaran mesin. Air intake rate (voltage output) = f (proporsional mengalikan besar air intake). berdasarkan hasil deteksi dan kemudian menggunakannya untuk kompensasi bahan bakar. (2) Penentuan Kesalahan 1.14 B. . Airflow Rate Sensor adalah untuk menentukan besarnya bahan bakar dan waktu pengapian. Airflow Rate Sensor (AFS atau MAF) Gambar 7 MAF sensor(Bosch sensor) (1) Fungsi Elemen hot film di dalam sensor adalah untuk mengukur besar aliran udara intake dengan menggunakan karakter panas sensor yang mempunyai kecenderungan untuk tetap menjaga temperatur konstan.

ISA duty. failure→ mengambil angka udara efektif terakhir. ISA duty. Throttle position sensor. intake air temperature) 2. Throttle position sensor. maka nila ratarata udara normal atau gagal untuk throttle position sensor akan diterapkan. Intake air temperature sensor (IAT) Gambar 8 IAT sensor(Bosch sensor) . C. intake air temperature): Putaran maksimal mesin akan dibatasi sampai 3000rpm 3. failure→Air rate substitute = f (engine rpm. Jika rata-rata udara berada dibawah batas. maka set angkanya dengan bukaan throttle diatas certain level (mengandalkan putaran mesin). (3) Prosedur yang dijalankan bila sensor mengalami kesalahan 1. oleh karenanya jika kesalahan final sudah ditentukan. Engine drive sensor.15 2. throttle opening position. normal→Air rate substitute = f (engine rpm.

Bacaan sensor ini digunakan penggunaan penyesuaian bahan bakar dan waktu pengapian . (3) Prosedur yang harus dilakukan jika sensor mengalami kesalahan 1. = 60 derajat celcius. dan penyesuaian memperlambat waktu pengapian pada knocking control(Hyundai Motor Company. Coolant temperature sensor. normal-if coolant temp.75 derajat celcius. sensor. (2) Penentuan Kesalahan Jika nilai output pada intake sensor di luar batas atas dan bawah. < 69. .EMS & Troubleshooting.16 (1) Fungsi Sensor ini menggunakan elemen NTC (negative temperature coefficient) untuk mengukur temperatur udara yang masuk ke mesin. pengganti temperatur intake air adalah =0 derajat celcius. failure→ pengganti intake air temp. 2. kompensasi temperatur udara pada idle-control (duty-control). misalnya sekitar 140°(short circuit ke ground) atau dibawah sekitar −30°(short circuit ke battery). 3. Elemen NTC adalah sebuah thermistor resistor yang nilai tahanannya akan berkurang bila temperaturnya naik. Kontrol pembelajaran pemakaian bahan bakar Idling akan dihentikan. Coolant temp. Jika temperatur coolant ≥69 derajat celcius.2004). maka pengganti temperatur intake air adalah =60 derajat celcius.

dan modulasi exhaust gas yang digunakan untuk penyetelan bahan bakar . Intake air temp. menentukan besar idle control duty pada saat starting.2004). misalnya diatas sekitar 140°(short circuit ke ground) atau dibawah sekitar -45°(short circuit ke baterai) (3) Prosedur yang dilakukan pada saat sensor mengalami kesalahan 1.EMS & Troubleshooting. Elemen pada NTC adalah sebuah thermistor resistor yang nilai tahanannya akan turun bila temperatur naik. Sensor ini memberikan informasi yang diperlukan untuk menentukan dasar besar bahan bakar dan waktu pengapian untuk starting.17 D. normal → Pengganti Coolant temp. Engine Coolant temp. sensor. (2) Penentuan kesalahan Jika nilai output coolant temp. sensor (ECT ) Gambar 9 ECT sensor(Bosch sensor) (1) Fungsi Sensornya menggunakan elemen NTC (negative temperature coefficient) untuk mengukur temperatur coolant. cooling fan control dan traction control untuk dash port(Hyundai Motor Company. sensor berada diluar batas atas dan bawah .. = mengambil inisial intake air temp. dan secara bertahap .

Intake air temp. = mengambil 20 derajat celcius. sensor. Ada dua jenis sensor. 3. Pertama adalah tipe . beban penuh. sensor. Kontrol kecepatan cooling fan.18 menaikkan coolant temp. dan setalah kesalahan final dapat ditentukan. Kontrol pembelajaran pemakaian bahan bakar Idling akan dihentikan. Crank Position Sensor (CKP) (1) Fungsi Sinyal CMP sensor dan sinyal crank position sensor dibandingkan untuk mengukur posisi crankshaft (piston) pada kompresi titik mata tengah atas. 5. waktu injeksi bahan bakar.5 detik sebagaimana nilai ratarata udara sampai mencapai 110 derajat celcius. failed → Pengganti Coolant temp. Coolant temp. yang mana siyal tersebut dipakai untuk menentukan putaran mesin. dan waktu pengapian. beban sebagian. dan secara bertahap menaikkan coolant temp. maka secara bertahap tempratur coolant akan dinaikan setiap 0. dst) bersama dengan sinyal throttle.5 detik sebagaimana nilai rata-rata udara sampai mencapai 110 derajat celcius. setiap 0. E. 2. Sinyal tersebut digunakan untuk menentukan kondisi kerja mesin(idle.5 detik sebagaimana nilai rata-rata udara sampai mencapai 110 derajat celcius. mengalami kegagalan pada saat mesin hidup → mengambil temperatur coolant efektif terakhir. setiap 0. 4.

CMP sensor (1) Fungsi Sinyal TDC sensor dan sinyal crank position sensor dibandingkan untuk mengukur kompresi titik mati tengah atas pada . (2) Penentuan kesalahan 1. F. Menganalisa sinyal TDC sensor untuk menghitung posisi crank. Untuk spesifikiasi rincinya. Titik acuan berada diluar batas dengan putaran mesin yang telah ditentukan. (3) Prosedur yang dilakukan bila ditemukan kesalahan 1. 2. Titik acuan dideteksi dua kali atau lebih setelah kunci kontak diputar ke ON. Sinyal yang keluar dari sensor jenis hall adalah digital dari 0 sampai 5 Volt. Knocking control dihentikan 3. Kecepatan mesin dibasi sampai 3000 rpm. yang memakainya adalah Siemens dan Melco EMS. dan putaran untuk mengontrol besar bahan bakar dan waktu pengapian (memungkinkan untuk menjalankan kendaraan) 2. maka perlu dipertahankan celah antara target wheel dan sensor yang pas. Untuk mendapatkan pola gelombang yang benar. Dan untuk jenis hall sensor CKP.19 induktif dan yang kedua adalah tipe hall sensor. Untuk jenis sensor induktif yang memakainya adalah Bosch EMS dengan sinyal analog. lihat buka panduan perbaikan.

berputar dengan pelat tahanan di dalam sensor. Input pada CMP signal 2 dua kali atau lebih dalam satu siklus mesin. Throttle position sensor (TPS) Gambar 10 TPS sensor(Bosch sensor) (1) Fungsi Ketika sensor wiper (slide) yang berputar dengan throttle body valve shaft.20 masing-masing cylinder. 2. . Terdiri dari satu elemen hall yang menghasilkan output sinyal digital. (3) Prosedur yang dilakukan pada saat terjadi kesalahan 1. maka sensor ini akan mendeteksi posisi cam. tidak ada sinyal output setelah 100 putaran camshaft. Pada saat kunci kontak ON. G. (2) Penentuan kesalahan 1. Knocking control dihentikan /idle mileage learning dihentikan. Sinyal crank position sensor digunakan untuk menghitung putaran mesin di saat TDC (kemungkinan TDC akan terdeteksi 50% ) untuk mengatur jumlah bahan bakar dan waktu pengapiannya (memungkinkan untuk menjalankan kendaraan) 2.

Air rate sensor. idle duty rate) 2. A/F ratio learning dihentikan . Air rate sensor.21 lalu sensor tersebut menghasilkan sinyal secara proporsional dengan nilai tahanannya. normal→ nilai pengganti TPS = f (engine rpm. dst.3: putara maksimal mesin dibatasi sampai 3000rpm 3. ISA failure (open coil ground short)-Maksimal putaran mesin dibatasi sampai 3000rpm 4. partial-load. (2) Penentuan kesalahan Jika tingkat bukaan throttle diluar batas atas dan bawah (misalnya short circuit ke battery atau ke ground) (3) Prosedur yang dilakukan ketika ditemukan kesalahane 1. air rate. failed→ nilai pengganti TPS =25. waktu pengapian. mencegah sentakan. kerja air conditioning (tidak bekerja sekitar 3 detik setelah akselerasi). Sensor ini digunakan dengan crank position sensor untuk menentukan kondisi kerja mesin (idle. dan full load) untuk mengatur dasar jumlah bahan bakar.

22 H. C=static capacity) . . MTB mesin (minimum pemajuan pengapian untuk momen terbaik) letaknya setelah dan sebelum titik batas knocking. ECU mengatur waktu pengapian untuk memberikan kerja mesin secara optimal sebelum batas knocking. untuk mendeteksi getaran mesin (Knocking setiap cylinder). Knock sensor Gambar 11 Knock sensor(Bosch sensor) (1) Fungsi Knock sensor menggunakan piezo-ceramic yang dipasang pada bagian tengah cylinder block masing-masing bank #1/#2. Piezo-ceramic output (v) = Q/C = 2dF/C (d = Piezo constant dari piezo ceramic.

120rpm (untuk menghindari mesin overheating). J. Maksimal kecepatan mesin dibatasi sampai 5.23 I. dan mengirimkannya ke ECU. dan dikontrol dalam (100 Hz) oleh ECU. Kecepatan kendaraan tetapdi angka 0 Kilometer per jam 2. Idle Speed Actuator (1) Fungsi Mengatur besar intake air secara benar yang diperlukan untuk mesin idling atau kondisi kerja lainnya. . Vehicle speed sensor Gambar 12 Speed sensor(Bosch sensor) (1) Fungsi Car speed sensor dipasang di dalam transmission housing (outputs 4 pulses per putaran) mendeteksi sinya tooth di dalam. Terdiri dari dual coils (buka/tutup). dan juga untuk menampilkan kecepatan kendaraan pada tachometer (2) Prosedur yang dilakukan pada saat ada kesalahan 1. Sinyal ini digunakan oleh ECU untuk menghitung kecepatan kendaraan.

Open coil ground short→ISA duty=5. ISA learning control dihentikan 4.3% 2.3% 3.1% coil ground short→ISA duty=95. Secara penuh (100%) membuka ISA dan menutup lagi ketika kunci kontak diputar ke Off untuk menghilangkan benda asing yang ada. ISA open coil ground short atau mechanical error→Max.=f (TPS) TPS = 1. dan kontrol idling. ECU menggerakkan injector melalui arus. ). Closing coil Vb short atau circuit-break→ISA duty=5. .1% circuit-break→ISA duty=95. putaran mesin dibatasi: Nomad. ISA (open coil ground short) dan beberapa kali kesalahan TPS Open Open coil Vb short atau →Putaran maksimal mesin tetap di putaran 3000 rpm. dan setiap kondisi kerja mesin (kompensasi intake air temp. kompensasi high altitude.2deg – celcius 3488 rpm TPS = 30deg –celcius 6066 rpm 5.4 deg –celcius 504 rpm TPS =5.24 Tergantung dari penentuan dasar idle duty. (2) Prosedur yang dilakukan pada saat ada kesalahan 1. sensor ini memberikan sinyal yang digunakan untuk kompensasi duty rate. kompensasi beban dan kompensasi coolant temp. Besarnya injeksi ditentukan oleh . Injector (1) Fungsi Menyemprotkan bahan bakar berdasarkan sinyal input injeksi yang diberikan oleh ECU berdasarkan kondisi mesin. K.

fuel rate learning.3. fuel increase. pada saat akselerasi. (2) Prosedur yang diperlukan pada saat ada kesalahan 1. karena sebenarnya reaksi pembakaran itu menghasilkan zat N2. O2. Namun kenyataannya pembakaran sempura tidak sepenuhnya bisa diwujudkan. fuel vapor control. HC. bermacam-macam NOx begitu juga C02 dan H2O. fuel increase under full load. Pembakaran di dalam mesin merupakan reaksi oksidasi antara oksigen dan bensin yang membangkitkan energi panas dalam bentuk majemuk. deselerasi air rate control. CO.25 nilai pemetaan berdasarkan besar udara. Bensin mengandung HC yang bisa mengeluarkan karbon dan hidrogen. catalysis heating control. Idle mileage learning control dan feedback control dihentikan. ada pencegahan injeksi bahan bakar pada kecepatan kendaraan diatas 200 kilometer per jam atau kecepatan mesin 6800 rpm. Untuk keamanannya. putaran mesin dan kompensasi bahan bakar yang tergantung dari parameter kompensasi bahan bakar (sinyal idling mileage control. 2. Diantara sisa gas buang zat CO. warm-up control.1 Pengertian Emisi Gas Buang Emisi gas buang adalah hasil dari proses pembakaran antara campuran bahan bakar dan udara.3 Emisi Gas Buang Mesin Bensin 2. 2.2004). HC yang tidak terbakar. Untuk pembakaran yang sempurna gas buangnya adalah C0 2 dan H2O.EMS & Troubleshooting. Traction control dihentikan (Hyundai Motor Company. dan NOx diketahui dapat membahayakan . dan starting ulang). idling control.

Willem.L. 2.Willem. hidung dan tenggorokan.merupakan zat potensial penyebab Kanker.L. 1987) Mengurangi kemampuan darah dalam menyerap Oksigen. 1987) Pada konsentrasi yang tinggi menyebabkan gangguan pada selaput lendir. jika menghirup sekitar 30 menit dapat menyebabkan fatal/kematian. Ada tiga elemen catalysis yang dapat memurnikan gas buang. Bila campurannya lebih sedikit maka menghasilkan CO dan HC yang lebih banyak. sehingga pengaturan rasio udara/bahan bakar bisa menjadi mudah.26 manusia. . dan gas buang beracun akan berkurang. dan apabila campurannya lebih banyak maka menghasilkan NOx yang lebih banyak. CO atau karbon monoksida ( Spuller. HC atau Hidro Carbon( Spuller. dan sudah menjadi standar baku peraturan pembatasan gas.mata.3 % saja di udara.3.2 Dampak Dari Emisi Gas Buang Mesin Berbahan Bakar Bensin Dampak dampak dari gas sisa pembakaran motor berbahan bakar bensin antara lain adalah : 1. buang disetiap negara.pada konsentrasi 0. Gas buang dipengaruhi oleh rasio campuran udara/bahan bakar. Kontrol rasio udara/bahan bakar ini sangat jauh lebih baik dibanding dengan karburator. oleh karena itulah ketiganya harus dikontrol agar bisa memenuhi rasio bahan bakar yang optimal. 2. Dimana pengontrolan secara elektronik dilakukan berdasarkan umpan balik dan kontrol menggunakan oxygen sensor.

Willem. . Komponen manipulator terdiri atas: 1. misalnya sebagai sensor joystick (Rusmadi. 2. Output sensor IAT yang berupa tegangan digunakan sebagai input manipulator sehingga dapat diubah-ubah sesuai keinginan dan tegangan tersebut keluar sebagai output manipulator menuju ke ECU. 1987) Berbau tajam / pedas sehingga mengganggu organ organ pernafasan. Potensiometer biasanya digunakan untuk mengendalikan peranti elektronik seperti pengendali suara pada penguat. Manipulator diletakkan diantara sensor IAT dengan ECU.27 3. potensiometer berperan sebagai resistor variabel atau Rheostat. Potensiometer yang dioperasikan oleh suatu mekanisme dapat digunakan sebagai transduser.05 s/d 0.L. CO2 Gas ini tidak terlalu bebahaya bagi manusia tetapi pengaruhnya tinggi terhadap pemanasan global.15 % Nox diudara dapat menyebabkan kerusakan paru-paru 4. Jika hanya dua terminal yang digunakan (salah satu terminal tetap dan terminal geser). Nox atau Nitrogen Oksida ( Spuller. Mengenal Teknik Elektronika). Dedi.4 Manipulator Sensor IAT Manipulator adalah suatu alat yang digunakan untuk memanipulasi sinyal tegangan output pada sensor IAT. Potensiometer Potensiometer adalah resistor tiga terminal dengan sambungan geser yang membentuk pembagi tegangan dapat disetel.pada konsentrasi 0. 1994 : 22.

Terdapat empat macam ADC yang memenuhi standar integrating. dan driver display LED. Keempat jenis ADC tersebut mewakili beberapa macam pertimbangan diantaranya resolusi. saklar analog. IC L7106 dalam aplikasi volt meter digital ini didalamnya telah dilengkapi dengan rangkaian referensi tegangan internal. successive arall akusisi arallel. . ADC adalah proses pengubahan sinyal analog menjadi sinyal digital.html) 2. yaitu dan approximation flash/ arallel. tracking converter.wordpress.28 Gambar 13 Potensiometer (www.com/products/1186074/wirewound_potentiometer.weiku. IC L7106 IC L7106 merupakan Analog to Digital Converter (ADC) yang telah dilengkapi dengan driver penampil 7 segment 3 1/2 digit. Rangkaian volt meter digital ini dapat dioperasikan dengan tegangan kerja 9VDC. Proses pengubahan ini dikenal juga dengan nama data.com/2010/12/05/analog-to-digital-converter-adc). sequential control logic. kecepatan konversi dan biaya (matrudian..

Bila kumparan ini dienergikan.com/2010/12/05/analog-to-digital-converter-adc) 3. Relay Relay adalah suatu peranti yang menggunakan elektromagnet untuk mengoperasikan seperangkat kontak sakelar.29 Gambar 14 Analaog Digital Converter (matrudian. LCD panel meter LCD atau Liquid Crystal Display berfungsi menampilkan tegangan output sensor ECT.com/Electronics/advanced/8051/Interfacings.html) 4. Susunan paling sederhana terdiri dari kumparan kawat penghantar yang dililit pada inti besi. .tech-vogue.wordpress. Gambar 15 LCD (http://www. medan magnet yang terbentuk menarik armatur berporos yang digunakan sebagai pengungkit mekanisme sakelar.

Tukar-sambung. Terbuat dari dua lidi feromagnetik yang dikapsulkan dalam sebuah tabung gelas. Kumparan dililitkan pada tabung gelas.ebay. Digunakan untuk pensakelaran cepat daya rendah. Normal tertutup.maka seketika gulungan akan berubah menjadi medan magnit. Kontak sakelar terbuka hanya jika relai dihidupkan. Bila arus masuk Pada gulungan maka seketika gulungan. Kontak sakelar tertutup hanya jika relai dihidupkan.com/2-pcs-5-Volt-Relay-Latching-2-Form-C-DPDT-AL5WNK) .1 Jenis-jenis relay Berdasarkan cara kerja     Normal terbuka. Gambar 16 Relay 5 volt (www. Kontak sakelar berpindah dari satu kutub ke kutub lain saat relai dihidupkan.30 4.cgi.gaya magnit inilah yang akan menarik luas sehingga saklar akan bekerja Berdasarkan konstruksi   Relai menggrendel. Relai lidi. Jenis relai yang terus bekerja walaupun sumber tenaga kumparan telah dihilangkan.

dan bisa terhubung atau terpisah sesuai dengan keadaan sambung (on) atau putus (off) dalam rangkaian itu. saklar yang digunakan adalah jenis SPDT (Single-pole double throw). saklar berbentuk kecil juga dipakai untuk alat komponen elektronika arus lemah. atau untuk menghubungkannya (Marsudi. Pada rangkaian manipulator. Saklar Saklar adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk memutuskan jaringan listrik. karena alat ini bisa dipakai pada mikrokontroller untuk pengaturan rangkaian pengontrolan. Material kontak sambungan umumnya dipilih agar supaya tahan terhadap korosi.id) .web. Gambar 17 Saklar geser 3 posisi(www. saklar terdiri dari dua bilah logam yang menempel pada suatu rangkaian. Selain untuk jaringan listrik arus kuat.31 5. 2005:16) Jadi saklar pada dasarnya adalah alat penyambung atau pemutus aliran listrik. dengan saklar ini kita bisa menhubungkan atau memutuskan dua buah rangkaian. Kalau logam yang dipakai terbuat dari bahan oksida biasa. Untuk mengurangi efek korosi ini. paling tidak logam kontaknya harus disepuh dengan logam anti korosi dan anti karat. maka saklar akan sering tidak bekerja.elektronikabersama. Pada dasarnya saklar tombol bisa diaplikasikan untuk sensor mekanik. Secara sederhana.

1 Tinjauan Umum Berikut adalah flow chart kerja dari pembuatan alat dan pengujian alat pada mesin agar proses pembuatan dapat tersusun sesuai dengan perencanaan waktu.32 BAB III PERENCENAAN DAN PEMBUATAN ALAT 3. Mulai Studi Literatur Identifikasi Masalah Studi Lapangan Judul Perumusan Masalah Desain Alat Menyiapkan Alat dan Bahan Tidak Pengujian alat dan bahan Ya Merangkai Alat Tidak Unjuk Kerja Alat Ya A .

1 Flow chart kerja Sumber : Perancangan 1. 2. Dalam tahap ini perlu mempelajari latar belakang pembuatan alat. Identifikasi masalah Berdasarkan studi lapangan dan literatur didapatkan pokok permasalahan yang di timbulkan oleh kendaraan terutama pada gas buang. 3. Judul Menentukan judul berdasarkan hasil identifikasi masalah . Mulai Merupakan tahap awal pembuatan alat dengan berbagai persiapannya.33 A Pengujian Mesin Tanpa Manipulator Pengujian Mesin Pengujian Mesin Pengujian Mesin Dengan Manipulator Pengambilan Data Tidak Pengambilan Data Data Valid ? Data Valid ? Ya Ya Komparasi Analisa Data Kesimpulan Selesai Gambar 3.

Merangkai alat Merangkai alat sesuai dengan desain. Hal ini di lakukan berulang sampai alat bekerja dengan baik. 10. Jika tidak sesuai maka di lakukan perangkaian kembali pada alat. Menyediakan alat dan bahan Menyediakan alat dan bahan untuk pembuatan alat. rangkaian. Pengambilan data Pengambilan data dilakukan sesuai dengan bacaan yang terdapat pada alat uji emisi (gas analyzer) 11. Uji coba pada mesin Jika alat sudah sesuai dengan rencana alat siap di uji coba pada mesin. dan komponen yang telah di siapkan. Komparasi data Membandingkan data yang telah didapatkan dari kedua uji coba yaitu mesin dengan manipulator dengan mesin tanpa manipulator 12. 9. 6. Perumusan masalah Mencari permasalahan utama dan pemecahan masalah berdasarkan hasil idetifikasi masalah. 7. Desain alat Membuat rancangan alat dan serta rangkaian yang dibutuhkan sesuai dengan buku – buku literatur yang telah di dapatkan.34 4. 5. Analisa data Melakukan analisa terhadap data yang telah didapatkan sehingga nantinya akan mendapatkan kesimpulan dari data yang telah didapatkan. . Unjuk kerja alat Mencoba kerja alat untuk mengetahui alat bekerja sesuai dengan rencana atau tidak. 8.

manipulasi dan fail/ sensor di short atau diputuskan hubungannya dengan ECU. LCD LCD digunakan untuk menampilkan tegangan yang terukur pada rangkaian manipulator sensor.2 Spesifikasi Alat dan Perangkaian Alat 3. Potensiometer Potensiometer digunakan untuk menaikan atau menurunkan tegangan yang terbaca oleh sensor agar bisa dimanipulasi dari keadaan aslinya.2. Relay Dalam hal ini relai difungsingkan untuk mengaktifkan rangkaian manipulator yaitu untuk meghidupkan rangkaian digital voltmeter pada manipulator. VCC 5 volt Disini diambil VCC dari luar dengan tujuan agar tegangan dapat dinaikan dari posisi aslinya. 4. 3. .1 Komponen Alat 1. 2. Saklar Dalam hal ini digunakan saklar tiga posisi yang akan digunakan untuk asli. 5.35 3.

3. Baterai 9 volt. dan driver display LED.36 6. Rangkaian volt meter digital ini dapat dioperasikan dengan tegangan kerja 9V DC. 7.htm) . sequential control logic. IC L7106 IC L7106 dalam aplikasi volt meter digital ini didalamnya telah dilengkapi dengan rangkaian referensi tegangan internal.2.2 Rangkaian Alat G Gambar 19 rangkaian voltmeter digital(ICL7107 Digital Voltmeter Skema Rangkaian Electronic Schematic Circuit Diagram. Digunakan untuk tegangan kerja rangkain voltmeter digital. saklar analog.

Gambar 21 Penggergajian akrelik Sumber : Perancangan 2) Pengeboran Pengeboran pada akrelik dilakukan untuk dudukan komponen seperti potensiometer.2. Pengeboran dilakukan sesuai dengan diameter – diameter atau besarnya . serta juga saklar dan juga lubang untuk baut.3 Pembuatan Box 1) Memotong Akrelik Bahan untuk membuat box adalah akrelik.37 Gambar 20 rangkaian manipulator sensor IAT 3. banana. Pemotongan akrelik menggunakan gergaji sesuai dengan ukuran desian box yang telah ditentukan terlebih dahulu.

Setelah pengeboran dilakukan maka proses selanjutnya adlaah pengeleman.38 komponen. Gambar 22 Pengeboran akrelik Sumber : Perancangan 3) Pengeleman Pengeleman akrelik dilakukan dengan menggunakan lem khusus yang memang digunakan untuk mengelem akrelik. Selain itu dilakukan pemasangan profil L yang fungsinya untuk memperkuat sambungan – sambungan akrelik. Hal ini dikarenakan mudah tergoresnya bahan akrelik ini. Pengeleman dilakukan pada ujung – ujung akrelik. Gambar 23 Pemasangan skotlet Sumber : Perancangan . 4) Pemasangan Skotlet Pemasangan skotlet ini bertujuan untuk melapisi permukaan – permukaan dari box akrelik yang telah jadi.

4. Hal ini bertujuan agar rangkaian siap untuk digunakan. Nyalakan mesin/kontak ON maka tegangan dari IAT sensor akan terbaca. Sambungkan output dari manipulator pada kabel yang menuju ke ECU. 2. 3. 3. Penyoderan dilakukan untuk menyambungkan semua komponen dengan menggunakan kabel. Beri tegangan VCC 5 volt(+) dan ground pada manipulator untuk mengatifkan manipulator.4 Pemasangan Komponen dan Penyoderan Sebelum dilakukan penyoderan dilakukan dahulu peletakan komponen – komponen yang akan digunakan pada lubang atau dudukan seseuai dengan ukuran komponen.3 Pengujian Alat Pada Mesin D(S) output Manipulator ECU Injektor Mesin Sensor ECT Gambar 24 diagram blok kerja alat Setelah alat selesai dirangkai kita dapat menguji alat dengan langsung memasangnya pada mesin.39 3.2.langkah langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut : 1. . Potong kabel output dari IAT sensor dan sambungkan pada kabel input manipulator.

b) Hidupkan sesuai prosedur pengoperasian (sesuai dengan rekomendasi manufaktur alat uji). AC) dalam kondisi mati.40 3. b) Pipa gas buang (knalpot) tidak bocor. Kemudian manipulator dapat membaca teganngan keluaran dari sensor IAT dan bila ingin dimanipulasi bsar tegangan yang terbaca.5 Pengukuran Emisi 1. e) Kondisi temperatur tempat kerja pada 200C sampai dengan 350C. Persiapan kendaraan uji Persiapan kendaraan uji dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: a) Kendaraan yang akan diukur komposisi diparkir pada tempat yang datar. gas buang harus 2. d) Sistem asesoris (lampu.4 Cara Kerja Alat Manipulator sensor akan menerima tegangan vcc dan mengaktifkan rangkaian voltmeter digital sat kunci kontak ON. Persiapan peralatan Persiapan gas analyzer dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: a) Pastikan bahwa alat dalam kondisi telah terkalibrasi. . c) Temperatur mesin normal 800C sampai dengan 850C atau sesuai rekomendasi manufaktur. 3.saklar diposisikan pada manipulasi dan putar ke kanan/ke kiri potensiometer untuk menaikan atau menurunkan tegangan dai kondisi asli.

900 rpm sampai dengan 3. dan HC dalam satuan ppm yang terukur pada alat uji.100 rpm kemudian tahan selama 60 detik. d) Selanjutnya lakukan pengukuran pada kondisi idle dengan putaran mesin 700 rpm sampai dengan 3000 rpm atau sesuai rekomendasi manufaktur(kenaikan 250 rpm) e) Masukkan probe alat uji ke pipa gas buang sedalam 30 cm. . bila kedalaman pipa gas buang kurang dari 30 cm maka pasang pipa tambahan. f) Tunggu 20 detik dan lakukan pengambilan data kadar konsentrasi gas CO dalam satuan persen (%).41 c) Naikkan (akselerasi) putaran mesin hingga mencapai 2.

19 2.1 Hasil Pengujian Tegangan Dilakukan pengukuran besar tegangan output dan besar resistansi sensor IAT (Intake Air Temperature) dengan menggunakan variable temperatur.3 38.74 0. Tabel 4.64 0.7 31.70 1.06 O.39 1.83 1.86 0.22 1.54 1.55 0 Besar Tegangan Besar Resistansi (kΩ) .04 1.42 BAB IV HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN 4.6 28.06 1.29 1.5 45 50 55 2.14 1.7 25.14 1.10 1.92 1.1 Pengukuran tegangan output dan resistansi sensor IAT Temperatur mesin ( C) (V) 23.29 1.90 0.7 42.2 34.

2 4.12V. Kondisi dengan Manipulator dengan dimanipulasi Tegangan 1. Ada lima kondisi pengambilan data uji emisi.3 43.8 LAMDA 1.97 2.39V .5 5.7 5.06 0.727 .08 0.4 6.1 7 CO2 (%) 4. Kondisi dengan Manipulator tanpa melakukan penambahan tegangan (tegangan original).405 2. Temperatur 450C.5 46.48 0.7 5.07 0.6 8.29V .2 8.09 0. 3.6 9.296 1.315 1.2 Data Pengukuran Emisi Gas Buang Pengambilan data uji emisi dilakukan sebanyak tiga kali per kondisi.2 5. Kondisi dengan Manipulator tanpa melakukan penambahan tegangan (tegangan dan Temperatur Original).1 5.2 45. Kondisi dengan Manipulator di manipulasi Tegangan 1. yaitu: 1. 2.2 5.006 1.07 0.2 Pengukuran ke. CO Temperatur mesin (ᵒC) 55.0 53. Temperatur 42.8 5.50C.025 2.0 55.1 47.1 48.7 5.7 RPM 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 (%) 3.816 1.1 (tegangan dan Temperatur Original).75 0.43 4.6 44. Temperatur 500C.7 8. Tabel 4. 4. Kondisi dengan Manipulator dengan dimanipulasi Tegangan 1.262 2.4 7.08 HC (ppm) 518 764 1210 2042 1951 2181 2132 2248 2445 O2 (%) 6.032 2. 1.

1 0.46 1.4 8.1 48.0 55.11 0.09 HC (ppm) 849 732 1053 2281 2212 2359 2134 2364 2512 O2 (%) 9.62 0.1 5.044 2.787 2.8 5.3 6.874 1.7 Tabel 4.3 43.1 8.7 4.0 53.1 0.837 1.3 Pengukuran ke.2 5.982 1.043 1.9 5.2 8 7.09 0.1 47.3 5.4 5.8 LAMDA 1.3 (tegangan dan Temperatur Original).1 8.2 5.2 4.203 1.5 46.1 7.4 CO2 (%) 4.4 Pengukuran ke.5 9.1 0.993 2.09 0.2 9.11 HC (ppm) 717 829 1042 2445 2437 2580 2489 2637 2384 O2 (%) 9.51 0.382 1.08 0. CO RPM 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 (%) 2.5 46.7 RPM 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 (%) 3.44 Tabel 4.1 7.11 0.005 Temperatur mesin (ᵒC) 55.2 (tegangan dan Temperatur Original).3 9 8.4 8.0 55.2 45.6 CO2 (%) 3.285 2.094 1.2 45.8 1.6 LAMDA 1.6 44.49 0.1 48.5 4.92 1.2 5.3 8. CO Temperatur mesin (ᵒC) 55.935 2.6 44.458 2.2 9.6 0.5 5.316 1.09 0.8 9.2 9.932 1.745 .3 5.0 53.2 5 5.1 47.3 43.09 0.

522 1.203 2.577 1.058 1.53 1.07 0.32 0.6 8.7 4.6 4.7 9.12V.54 0.07 HC (ppm) 609 870 1620 2133 2247 O2 (%) 7.8 5.6 Pengukuran ke.12V.8 LAMDA 1.4 8. Kondisi dengan Manipulator di manipulasi Tegangan 1.39 1.411 1.06 0.1 7 7.29V. Temperatur 500C Tabel 4.864 1.29V.075 2.5 5 6.09 HC (ppm) 878 916 1407 1991 1920 2086 2200 2380 2508 O2 (%) 7.09 0. Temperatur 500C (Tegangan original 1.09 0.583 2.4 9. Temperatur Original 550C) CO Temperatur mesin (ᵒC) 50 50 50 50 50 50 50 50 50 RPM 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 (%) 3. Temperatur Original 550C) CO RPM 50 50 50 50 50 1000 1250 1500 1750 2000 (%) 1.28 0.7 8.26 2.45 2.12V.1 6 5.1 Tegangan 1.9 4.7 6.4 5.666 1.7 7.959 2.257 2.725 Tabel 4.1 5.8 CO2 (%) 4.8 CO2 (%) 4.08 0.5 Pengukuran ke.2 Tegangan 1. Temperatur 500C (Tegangan original 1.07 0.1 5.3 4.4 LAMDA 1.41 Temperatur mesin (ᵒC) .7 5 5.15 0.1 9.

5 8.07 0.29V.8 9.09 0.3 7.5 4.943 Tabel 4.4 LAMDA 1.9 7.6 4.9 5.245 2.584 2.1 2.3 Tegangan 1.2 7.258 2.7 Pengukuran ke.862 .9 7.854 1.6 4.46 50 50 50 50 2250 2500 2750 3000 0.09 HC (ppm) 864 902 1524 2108 2122 1382 2249 2362 2464 O2 (%) 7.3 9.54 0.1 9.7 7.44 0. Temperatur 500C (Tegangan original 1.2 4.425 1.58 1.6 5 5.7 5.29 1.09 0.127 1.12V.08 0.09 2354 2277 2417 2463 9.2 5.7 5.1 CO2 (%) 4.08 0.977 1.064 2.08 0.07 0.1 8.542 1.284 2.07 0. Temperatur Original 550C) CO Temperatur mesin (ᵒC) 50 50 50 50 50 50 50 50 50 RPM 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 (%) 2.1 5.1 7.8 4.

5 4.1 5.5 CO2 (%) 3.33 2.4 8.9 9 9 7.367 1.08 0.182 2.1 LAMDA 1.31 0.2 5.7 5.482 1.9 CO2 (%) 4.1 Tegangan 1.3 5.1 5.04 0.3 4.108 1.09 HC (ppm) 1217 1482 1996 2481 2415 2528 O2 (%) 6.9 Pengukuran ke.8 Pengukuran ke.2 8.3 5.8 4.51 2.29V . Temperatur 450C Tabel 4. Temperatur 450C (Tegangan original 1.34 1.383 2.6 5.29 1.404 2.398 1.104 .974 2.2 5.104 2.053 2.5 8.8 5.7 6.09 0.1 0. Temperatur 450C (Tegangan original 1.2 Tegangan 1. Kondisi dengan Manipulator dengan dimanipulasi Tegangan 1.29V .11 0.1 0. Temperatur Original 550C) CO Temperatur mesin (ᵒC) 45 45 45 45 45 45 45 45 45 RPM 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 (%) 2.09 0.08 0.4 9.77 1.5 5.47 3.87 1.43 0.809 Tabel 4.9 5.05V. Temperatur Original 550C) CO Temperatur mesin (ᵒC) 45 45 45 45 45 45 RPM 1000 1250 1500 1750 2000 2250 (%) 3.1 9.6 5.1 HC (ppm) 571 913 1257 1060 2048 2453 2210 2143 2319 O2 (%) 9.9 10.6 5.29V .05V.8 LAMDA 1.

Kondisi dengan Manipulator dengan dimanipulasi Tegangan 1. Temperatur 42.385 1.498 1.1 0.6 5.39V .11 Pengukuran ke.175 2.11 HC (ppm) 1124 1352 1857 2352 2583 2681 2254 2415 2531 O2 (%) 7.09 0.004 1.75 0.59 2.348 1.3 LAMDA 1.08 0.7 5.6 7.825 4.5 42.7 8.05V. Temperatur 42.291 .11 2373 2423 2601 8. Temperatur Original 550C) CO Temperatur mesin (ᵒC) 42.9 5. Temperatur 450C (Tegangan original 1.7 5.09 0.47 2.1 0.3 8.1 8.005 1.5 RPM 1000 1250 (%) 3.2 5.11 0.8 5.50C (Tegangan original 1.6 8.302 1.2 5.5 5.3 9.5 7.1 5.8 9.29V .8 CO2 (%) 4.1 5.48 45 45 45 2500 2750 3000 0.8 4. Temperatur Original 550C) CO Temperatur mesin (ᵒC) 45 45 45 45 45 45 45 45 45 RPM 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 (%) 3.5 5.1 Tegangan 1.164 2.5 CO2 (%) 4.50C Tabel 4.05V.141 2.8 LAMDA 1.958 1.10 Pengukuran ke.15 0.3 5.59 HC (ppm) 1200 1450 O2 (%) 6.3 5.09 0.6 2.935 2.2 5.39V .776 Tabel 4.3 Tegangan 1.

3 5.419 2.2 3.39V .3 8.697 Tabel 4.7 8.09 0.9 5.9 5.5 42.49 42.2 Tegangan 1.1 0.1 4.5 42.09 0.5 42.57 0.3 CO2 (%) 3.11 1944 2369 2419 2520 2380 2560 2620 5.05V.9 4.387 2.9 7.1 0.005 2.5 42.5 6 9.5 42.5 42.325 1.2 9.3 4.5 RPM 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 (%) 4.1 3.12 Pengukuran ke.477 2.814 1.171 2.1 4.11 0.03 1.5 42.417 1.6 7.5 42.50C (Tegangan original 1.1 5.1 4.09 0.6 4.323 2. Temperatur 42.75 2.08 0.1 0.5 42.8 6.061 2.64 0.9 1.9 LAMDA 1. Temperatur Original 550C) CO Temperatur mesin (ᵒC) 42.081 1.11 HC (ppm) 777 861 1370 2085 2051 2180 2160 2217 2390 O2 (%) 7 6.26 0.1 6.5 42.961 .1 10.1 5.694 2.5 42.1 9 9.5 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 0.5 5.6 9 7.5 42.08 0.09 0.5 42.657 2.5 42.

6 8.7 LAMDA 1.5 42.39V .1 CO2 (%) 4. Temperatur Original 550C) CO Temperatur mesin (ᵒC) 42.05V.954 2.09 0.398 1.959 1.2 7.6 8.709 4.6 5.50 Tabel 4.094 2.13 Pengukuran ke.5 42.3 Tegangan 1.3 9.41 1.304 1.08 0.3 5.74 3.5 RPM 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 (%) 3.266 2.3 4.367 1.1 5.483 1.6 5.5 42.09 1. Berikut data hasil ratarata pengujian emisi: RPM CO rata-rata (%) HC rata-rata (ppm) 02 rata-rata (%) CO2 rata-rata (%) LAMDA rata-rata 1000 1250 3.5 42.3 8.544 .6 8.86 695 775 8.0 4.1 0.3 Pembahasan Dilakukan penjumlahan dari masing-masing kondisi kemudian di rata-rata.11 HC (ppm) 738 1008 1554 2240 2285 2468 2334 2421 2551 O2 (%) 7 5.09 0.5 42.5 42.11 0.5 42.2 5.3 6 5.50C (Tegangan original 1.5 42.0 1.006 1. setelah itu dilakukan proses analisa data.7 5 5. Temperatur 42.9 8.1 0.

9 7.898 1.3 9. RPM CO rata-rata (%) HC rata-rata (ppm) 02 rata-rata (%) CO2 rata-rata (%) LAMDA rata-rata 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 2.10 0.4 5.6 5.3 8.843 Tabel 4.09 0.4 1.033 2.09 0.021 2.07 0.8 9.08 0.7 4.8 5.8 7.09 1102 2256 2200 2373 2252 2416 2447 8.4 7.09 0.6 4.08 0.2 5.07 0.689 2.826 1.41 1.531 1.2 5.214 2.4 8.158 1.4 1.5 9.64 0.501 1.1 4.15 Rata-rata hasil percobaan Tegangan 1.826 Tabel 4.1 6.0 8.0 5.2 4.969 1.8 6.3 5.45 0.14 Rata-rata hasil percobaan Kondisi dengan Manipulator tanpa melakukan penambahan tegangan (tegangan original).002 1.3 8.08 0.290 2.2 7.262 2.0 5. Temperatur 500C (Tegangan original 1.29V.09 784 896 1517 2077 2096 1941 2242 2386 2478 7.63 0.6 5.12V.10 0.8 5.2 5.9 5.7 8. Temperatur Original 550C) .51 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 0.581 2.

211 .7 1.023 1.10 0.7 9.10 0.16 Rata-rata hasil percobaan Tegangan 1. Temperatur 450C (Tegangan original 1.115 2.08 0.8 6.803 Tabel 4.83 0.8 5.4 8.7 1.75 0.5 5.5 4.5 8.1 4.6 5.10 0.8 9.9 8.9 4.1 4.107 2.2 5.254 2.4 5.09 HC rata-rata (ppm) 02 rata-rata (%) CO2 rata-rata (%) LAMDA rata-rata 905 1106 1623 2231 2252 2389 6.6 8.8 5.3 4.383 1.8 5.09 0.08 0.99 0.0 5.504 2.337 1.8 4.083 2.05V.080 2.454 2.365 2.29V .7 7.9 9.331 1.03 2.09 0.52 RPM CO rata-rata (%) HC rata-rata (ppm) 02 rata-rata (%) CO2 rata-rata (%) LAMDA rata-rata 1000 1250 1500 1750 2000 2250 2500 2750 3000 1.67 0.11 1249 1703 1964 2349 2554 2279 2327 2484 5.9 8.2 5. Temperatur Original 550C) CO rata-rata (%) RPM 1000 1250 1500 1750 2000 2250 4.1 5.

39V .1 5.120 1. Temperatur Original 550C) Gambar 25 Grafik Gas CO .9 5.7 7. Temperatur 42.5 2.05V.789 Tabel 4.10 0.53 2500 2750 3000 0.17 Rata-rata hasil percobaan Tegangan 1.7 7.11 0.1 4.11 2291 2399 2520 8.951 1.50C (Tegangan original 1.

54 Gambar 26 Grafik HC .

1 volt pada pembacaan ECU dan penambahan suhu sebesar 30C dari yang asli.550C. 3.05 volt .maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut : 1.1 Kesimpulan setelah pembuatan manipulator sensor IAT(intake air temperature) dan melakukan pengujian manipulator terhadap emisi gas buang. 2. 5.1.55 kΩ – 0.9 kΩ pada saat suhu intake manipold berkisar antara 430C .39 volt pada resistansi berkisar antara 0. Manipulator sensor bekerja layaknya pembagi tegangan yag dapat menurunkan tegangan bila bila resistansi potensiometer dinaikan.06 volt . .dan juga dengan tambahan dapat menaikan tegangan karena adanya penambahan VCC 5 volt pada salah satu potensiometer.55 BAB V PENUTUP 5.2 Saran Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan yang seharusnya perlu diperbaiki. 1) Perlu penilitian lebih lanjut tentang alat manipulator dengan rangkaian yang berbeda. Untuk membuat manipulator sensor IAT menggunakan potensiometer dan rangkaian voltmeter digital maka diperlukan adanya masukan VCC 5 volt agar tegangan dapat dinaikan dari tegangan asli IAT. oleh karena itu penulis memberikan saran-saran untuk penyempurnaan sebagai berikut. Dari hasil pengujian manipulator dapat disimpulkan besar tegangan kerja sensor IAT adalah 1. mengingat jika dipasangi manipulator terdapat penambahan tegangan sebesar 0.

sehingga ketika pengambilan data lebih akurat. .56 2) Gunakan alat emisi gas buang yang masih akurat dan gunakan mesin yang kinerjanya masih optimal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful