P. 1
KONSEP BERMAIN PADA ANAK Dan Reaksi Hospitalisasi Pd Anak

KONSEP BERMAIN PADA ANAK Dan Reaksi Hospitalisasi Pd Anak

|Views: 1,238|Likes:

More info:

Published by: Mario Dylano Ivannando on Aug 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/29/2013

pdf

text

original

Nama : Livenia Wuisan NIM : 10061184

KONSEP BERMAIN BAGI ANAK USIA DINI

A.

PENDAHULUAN

Pendidikan bagi anak usia dini atau anak usia 0-8 tahun, sejak lama telah menjadi perhatian para orang tua, para ahli pendidikan, dan pemerintah. Hal ini karena begitu bermakna dan menentukan pendidikan pada masa usia dini tersebut bagi jenjang pendidikan dan perkembangannya di masa depan. Pada masa ini pendidikan, sesuai dengan watak anak, berlangsung dalam bentuk permainan. Karena itu, melarang bermain bagi anak sama dengan melarang anak belajar. Dalam kehidupan masyarakat banyak dijumpai para orang tua yang kurang atau tidak menyadari betapa pentingnya masalah bermain ini bagi tumbuh kembang anak, sehingga para orang tua tidak pernah memberikan perhatian, apalagi secara terencana untuk memfasilitasi kecenderungan tabiat bermain anak tersebut, apalagi secara terprogram. Bahkan tidak jarang orang tua tidak sabar dan merasa kesal bila melihat anaknya bermain dengan mengacak-acak barang yang dimainkannya. Tidak jarang orang tua memilih agar rumahnya tetap tampak rapih, tidak disentuh-sentuh, dicorat coret dan atau membatasi anaknya yang akan bermain, sehingga tanpa disadari bahwa secara substansial ia telah mengabaikan pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Akibatnya, banyak potensi anak yang semestinya berkembang dengan baik akan mengalami hambatan dan bahkan mati.

Pengertian Bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain , anak akan berkata-kata, belajar memnyesuaikan diri dgn ling, melakukan apa yg dapat dilakukan, dan mengenal waktu,

(MillerdanKeong.C ) pendidikan ini telah dilaksanakan ( Seefeldt dan Barbour. modern dan kontemporer. 1989) Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa bermain adalah ³´ Kegiatan yang tdk dpt dipisahkan dari kehidupan anak sehari-hari krn bermain sama dgn berja pada org dewasa. 1994:2 ). Selanjutnya Johan Pastalozi ( 1746-1827 ) berpendapat bahwa pendidikan dimulai dari rumah. baik dari tokoh klasik. Plato mengemukakan bahwa waktu yang paling tepat untuk pendidikan anak adalah sebelum usia 6 tahun.(Foster. dan sebagainya sehingga dapat menjadi media diskusi bagi para pendidik dan orang tua bagaimana sebaiknya menangani dan mendidik anak pada usia dini. B. menyesuaikan diri dgn ling. 2000).C ) dan Aristoteles ( 394-332 B.´´ Tulisan sederhana ini akan mengetengahkan tentang kapan waktu yang tepat bagi anak untuk bermain dan pertama mendapatkan pendidikan. Bermain adalah cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik dalam dirinya yang tidak disadarinya. yg dapat menurunkan stres anak.(Wong. melalui berbagai kegiatan yang dilakukan anak pada waktu bermain dan berbagai pengalaman indera yang dialaminya.1983) Bermain adalah kegiatan yang dilakukan sesaui dgn keinginanya sendiri dan memperoleh kesenangan. PERKEMBANGAN KOSEP BERMAIN Walaupun para ilmuwan sulit untuk mengetahui kapan pendidikan anak usia dini dilaksanakan untuk pertama kali.jarak. belajar mengenal dunia dan meningkatkan kesejahteraan mental serta sosial anak. . bagaimana konsep bermain yang dikemukakan oleh para tokoh. serta suara . belajar berkomunikasi dgn ling. pendidikan anak itu berlangsung sejalan dengan bermain karena bermain adalah realisasi dari pengembangan diri dalam kehidupan anak. Menurut Comenius. namun diperkirakan sejak para ahli filsafat seperti Plato ( 427-374 B.

Pada abad 18 atau zaman rasionalisme merupakan zaman perubahan yang hebat. melatih indera anak. ternyata tidaklah benar. Comenius yang beragama Kristen Protestan itu mempelajari teologi dan menjadi pendeta serta memimpin sekolah di Fulneck. Dalam hal ini. Hasil penelitian di bidang neurologi yang dilakukan Benyamin S. Buku tersebut berisi tentang cara bagaimana orang tua mendidik anaknya menjadi seorang Kristen Protestan yang baik. Misalnya pelajaran Aritmatika untuk soal pembagian akan mudah diterima oleh anak-anak dengan cara membagikan apel kepada mereka. semakin lama (lambat) anak mendapatkan penanganan dan bentuk-bentuk rangsangan yang baik. pendidikan scholastik. Dalam konteks belajar sekarang ini. pendidikan moral. bahasa asing. berenang. Plato melihat pentingnya nilai praktis yang ada dalam permainan. pendidikan agama melalui permainan. Plato adalah filsuf pertama yang memandang arti penting bermain bagi seorang anak. Pemikiran Locke dianjurkan oleh Jean Jacques Rousseau ( 1712-1778 ). Ia mengajarkan pendidikan rohani. pengamatan dan pengalaman. learning to be dan learning to live together. Bloom. pengamatan. seorang ahli pendidikan memperlihatkan. menyanyi.Adapun pendapat yang menyatakan. ibu harus mengajarkan dengan mengoptimalkan fungsi panca indera melalui peragaan dan mengurangi verbalisme. maka semakin buruk hasilnya. Artinya apabila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang optimal maka perkembangan otak anak tidak akan berkembang secara maksimal. moral. untuk memperoleh ilmu pengetahuan harus dilakukan melalui percobaan. maka konsep belajar di atas hampir setara dengan konsep learning to know. Zaman realisme abad 17 dipelopori oleh Johann Amos Comenius ( 1592-1670 ). . Lock menjelaskan kosep home Schooling. hingga usia 8 tahun mencapai 80 %. John Lock ( 1932-1704 ) adalah seorang pedagogik. bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0-4 tahun mencapai 50 %. Anak usia dini harus dididik dan diajarkan tentang pendidikan jasmani. bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah usia sekolah dasar. Dia menulis buku tentang informatorium. Hal ini karena untuk memperoleh ilmu pengetahuan harus yang hebat. learning to do. yaitu usia tujuh tahun. pengalaman. pemahaman jender. Sejarah perkembangan teori bermain juga berdampak positif terhadap reformasi pendidikan pada zaman realisme atau zaman baru. kebebasan bermain. Sebaliknya. jasmani. Menurutnya seorang ibu adalah seorang pendidik di rumah. Semakin dini penanganan dan bentuk-bentuk rangsangan yang dilakukan orang tua/ pendidik terhadap anaknya maka hasilnya akan semakin baik.

Konsep belajar seraya bermain ini sampai saat ini masih menjadi trend untuk pendidikan anak usia dini. Begitulah anak bermain dan ia belajar dari apa yang ia lihat. Konsep bermain bagi anak usia dini mengajarkan tentang berhitung. menulis. Karl Groos. Herbert Spencer ( kakek moyang Lady Diana ) dari Inggris dalam bukunya Principles of Psychology berpendapat bahwa kegiatan bermain seperti berlari. bahwa tujuan bermain adalah untuk memulihkan energi yang sudah terkuras saat bergerak atau melakukan sesuatu. Melakukan sesuatu atau bekerja dapat menyebabkan berkurangnya tenaga. Stanley H. Hal Groos. berfantasi. Friedrich Froebel ( 17821852 ) menjelaskan bahwa konsep bermain merupakan proses belajar bagi anak usia dini. umur 9 bulan. Anak diajak bekerja di kebun. bernyanyi. G. dirampas apa yang ia pegang atau apa yang ia mainkan. gerak badan. berjalan-jalan dengan bermain. maka ia akan menangis. Rumah adalah tempat anak bermain. yaitu: (1) bermain yang didasarkan pada teori surplus energi dan teori rekreasi. Moritz Lazarus dengan teori rekreasi menjelaskan. Dll. cium dan pegang dalam kehidupannya. Sebagai contoh. Ia mendasarkan teorinya itu pada prinsip seleksi alamiah yang dijelaskan oleh Charles Darwin. Saila. seperti kertas dan plastik atau mainan lainnya untuk dimainkannya sampai capek dan tidur. Lazarus. pekerjaan tangan atau keterampilan. Bila ia diganggu.bercakap-cakap. Pestalozzi menjelaskan bahwa melalui bermain maka anak usia dini secara alamiah akan berusaha mengembangkan kemampuan-kemampuan dasarnya untuk belajar. kecuali diberikan benda pengganti yang sama-sama menarik untuk dirinya. seorang filsuf menguraikan bahwa bermain berfungsi untuk memperkuat insting yang diperlukan untuk kelangsungan hidup anak di masa yang akan datang. atau mulutnya sampai bosan kemudian beralih ke benda lain. bersosialisasi. Fungsi bermain mempunyai manfaat . berguling terjadi akibat anak kelebihan energi. berlompat. adalah merupakan proses belajar sambil bekerja. Henrich Pestaloozi ( 1746-1827 ) menjelaskan konsep bermain dengan praktek langsung sehingga anak mempunyai pengalaman dan latihan. karena ia memang kelebihan energi dan merasa puas bereksplorasi dengan menyenangkan. Teori-teori tentang bermain dapat dikelompokan dalam 2 bagian. dengar.menggambar pada anak usia dini melalui pengenalan alam sekitar dimana anak berada. Abad 19 terdapat Spencer. seolah tanpa lelah. Tenaga ini dapat dipulihkan kembali dengan cara tidur atau melibatkan dalam kegiatan yang sangat berbeda dengan bekerja.. begitu ia terjaga dari tidur maka ia langsung tertawa dan merangkak lalu berpegangan kedinding tangga dan meraih benda atau mainan apa saja yang menarik hatinya kemudian memainkannya lewat tangan. (2) teori rekapitulasi dan praktis. bermain dengan pimpinan.

secara biologis untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Teori Kognitifa. Tampaknya Freud melihatnya dalam pengalaman lahir. . Semua itu akan sangat menyenangkan bagi anak dan merupakan pengalaman interaksi sosial yang sangat baik dari proses sosialisasi. Teori Psikoanalis Sigmund Freud 2. trauma dan mungkin juga frustasi keluar dari rahim ibunya. menurut pandangan psikoanalisis adalah untuk mengatasi pengalaman traumatik dan keluar dari rasa frustasi. menyatakan bahwa kegiatan bermain merupakan sarana sosialisasi. dst. Karena itu dalam konteks ini akan tampak. bermain dapat memajukan berpikir abstrak dan dengan belajar ia akan dapat mengatur dirinya. antara lain: 1. Teori Perkembangan sosial. Dalam teori perkembangan sosial. Peran bermain dalam perkembangan sosial anak misalnya. dan bermain menyebabkan anak ceria dan menimbulkan kreatifitas. seperti yang dikemukakan oleh Mildred Farten. sehingga anak akan merasa tenang dalam dekapan ibunya. Semakin banyak ia disosialisasikan dengan orang lain. Dalam kontes agama Islam. peran bermain terhadap perkembangan sosial anak adalah untuk memperaktikkan dan melakukan konsolidasi konsep-konsep serta keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya. Lev Vygotsky. Dengan bermain kadar interaksi sosialnya akan meningkat. setelah persalinan anak akan diadzankan oleh orang tuanya kemudian setelah tujuh hari ia akan diberi nama dan diakekahkan serta dipotong rambutnya di hadapan undangan yang diiringi dengan lagu-lagu pujian. Jean Piaget. maka akan semakin mudah ia berinteraksi dengan dan menerima (kehadiran) orang lain. 3. dls. Pada zaman modern sekarang ini memang sudah banyak sekali para ahli pendidikan yang membicarakan tentang bermain dan hubungannya dengan perkembangan anak. Bagi Piaget. bahwa anak yang dibiasakan bermain akan lebih mudah menerima kehadiran orang lain dan berinteraksi dengan orang lain. Menurut Vygotsky. Kadar interaksi sosial tersebut dimulai dari bermain sendiri dan dilanjutkan dengan bermain secara bersama. Dalam peristiwa kelahiran seorang bayi menyiratkan kesan tidak enak.

Jadi bagi anak. dimana saja anak-anak dunia bermain. budaya. Menurutnya anak yang banyak bermain akan meningkatkan kreativitasnya. baik laki-laki maupun perempuan dari anak-anak sampai orang dewasa. Konsep ini dikembangkan lebih lanjut oleh Charlotte Buhler yang menganggap bermain sebagai pemicu kreativitas. Stone mengatakan bahwa bermain ada di setiap negara. Bermain juga bisa menjadi sarana penyaluran kelebihan energi dan relaksasi. sarana sering menjadi tujuan. Dalam bermain anak-anak menumpahkan seluruh perasaannya. bermain berfungsi memelihara ego anak-anak. Karenanya menurut Erik Erikson. Stone (1993). Banyak respon muncul. fungsi kenikmatan meluas menjadi schaffensfreude (kenikmatan berkreasi). ya demi respon itu sendiri. Ia berusaha mengatur. . Anak berlari. menguasai. berpikir dan berencana. sehingga menimbulkan rasionalitas dan tenggang rasa terhadap anak lainnya. bahwa bermain menunjukkan dua realitas anak-anak. Hal ini dapat dipahami karena anak yang sedang bermain merasakan senang sehingga terpaksa ia harus mempertahankan kesenangannya itu atau sebaliknya ia akan memelihara egonya secara proporsional. bukan demi kesehatan tetapi demi lari itu sendiri. bermain adalah sarana untuk mengubah kekuatan potensial di dalam diri menjadi berbagai kemampuan dan kecakapan. Kegiatan bermain ini adalah fungsi dari seluruh manusia. Menurut Karl Buhler dan Schenk Danziger. Karena itu. Jean Piaget menyatakan. yaitu adaptasi terhadap apa yang sudah mereka ketahui dan respon mereka terhadap hal-hal baru. Sigmund Freud yakin bahwa anak-anak menganggap bermain sebagai sesuatu yang serius. Dan kenikmatan itu menjadi rangsangan bagi perilaku lainnya. bermain adalah ´kegiatan yang menimbulkan kenikmatan´. Lari ya lari. misalnya. bermain dilakukan oleh siapa saja di berbagai belahan dunia. titik.MAKNA BERMAIN Para ahli mendefinisikan bermain sebagai suatu perilaku yang mengandung motivasi internal yang berorientasi pada proses yang dipilih secara bebas dan bukan hanya prilaku pura-pura yang berorientasi pada suatu tujuan menyenangkan yang diperintahkan. Dalam bermain. bahasa. misalnya. Ketika anak-anak mulai mampu berbicara dan berfantasi. Semakin intens pengalaman itu dilalui anak akan semakin kuat juga interaksi sosialnya dalam proses sosialisasi tersebut.Sandra J. Bahkan mampu ´mengatur dunia dalamnya´ agar sesuai dengan ´dunia luar´. Kendati bermain bukanlah bekerja dan tidak sungguh-sungguh.

Perkembangan sosial. Perkbg sosial ditandai dgnkemampuan berinteraksi dgn lingkungannya. Perkembangan moral Anak mempelajari nilai benar dan salah dari ling.l. ukuran. Pada saat bermain anak akan melatih diri dan memecahkan masalah. bentuk. terutama dari ortu dan guru.takut. aktifitas motorik mrpk komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk perkembangan fungsi otot. terutama mengenal warna. Anak akan mengembangkan kemampuannya dlm mengatur t. 3. 7. tekstur dan membedakan objek. Perkembangan intelektual Anak melakukan ekplorasi dan manipulasi thp segala sesuatu yg ada di ling sekitarnya. .FUNGSI BERMAIN 1.cemas. sedih dan nyeri. Perkembangan sensorik motorik Pada saat melakukan permainan. 4. 2. Anak akan mendapatkan kesempatan utk menerapkan nilai-nilai sehingga dapat diterima di ling dan dpt menyesuaikan diri dgn aturan yg ada dikelompoknya. sehinggaanak ±anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya dlm bentuk permainan. Terapi Pada saat dirawat di RS anak akan mengalami berbagai perasaan yg sangat tidak menyenangkan.l terhadap orla. 6. Perkembangan kesadaran diri.Anak belajar berinteraksi dgn teman. memahami bahasa lawan bicara. Anak belajar bertanggung jawab atas segala tindakan yg akan dilakukan. 5. Perkbg kreatifitas Kemampuan utk menciptakan sesuatu dan mewujudkan ke dlm bentuk objek dan atau kegiatan yang dilakukannya. Anak akan belajar mengenal kemampuannya dan membandingkan dgn orla dan menguji kemampuannya dgn mencoba peran baru dan mengetahui dampak t. dan belajar ttg nilai sosial yang ada pd kelompok. Bermain dgn orla akan membantu anak utk mengembangkan hub sosial dan belajar memecahkan masalah dari hub tersebut. seperti marah.

2. Status kesehatan anak Perawat hrs mengetahui kondisi ana pada saat sakit dan jeli memilihkan permainan yg dapat dilakukan anak sesuai dgn prisnsip bermain pd anak yg sedang dirawat di RS.TUJUAN BERMAIN 1. 4. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIFITAS BERMAIN 1. 3.Tahap perkembangan anak Perawat hrs mengetahui dan memberikan jenis permainan yg tepat utk setiap tahapan pertumb dan perkem anak. Dapat beradaptasi secara efektif thp stres karena sakit dan di rawat di RS. Mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah. Ada pendapat ygdiyakini bahwa permainan adl salah satu alat mengenal identitas dirinya. Untuk melanjutkan tukem yg normal pada saat sakit . 2. 4. 5. dan fantasi serta ide-idenya. y Sense of pleasure play : permaianan yg sifatnya memberikan kesenangan pada anak (EX : . Ling yang mendukung Ling yg cukup luas utk bermain memungkinkan ana mempunyai cukup ruang utk bermain. Alat dan jenis permainan yg cocok Pilih alat bermain sesuai dgn tahapan tukem anak Alat permaianan tidak selalu harus dibeli ditoko dan harus mahal. 3. KLASIFIKASI BERMAIN a. Jenis kelamin Dalam melakukan aktifitas bermain tidak membedaskan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Mengekspresikan perasaan . Menurut isinya y Sosial affective play : hub interpersonal yg menyenangkan antara anak dgn orla (EX : ciluk-baa). keinginan.

Audio : berbicara dgn bayi . y Associative play : permeianna ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak dgn anak lain. y Un occupied behaviour: anak tidak memainkan alat permainan tertentu. tetapi tidak terorganisasi. tetapi anak bermain sendiri dgn alat permainan yg dimilikinya.main air dan pasir). bungkuk-bungkuk. y Solitary play : anak tampak berada dlm klp permaianan. y Skiil play : permainan yg sifatnya memberikan keterampilan pada anak (EX: naik sepeda). tidak ada pemimpin y y dan tujuan permaianan tidak jelas (EX bermain boneka. b. menggendong . Games : permaianan yg menggunakan alat tertentu yg menggunakan perhitungan / skor (EX : ular tangga). BENTUK-BENTUK PERMAIANAN BERDASARKAN KELOMPOK USIA a. tanpa ada inisiatif utk ikut berpartisifasi dlm permainan(EX : Congklak). meja dsb). Umur 1 bulan (sense of pleasure play). . Karakter sosial y Onlooker play : anak hanya mengamati temannya yg sedang bermain.masak-masak). b. memainkan kursi. tapi situasi atau objek yang ada disekelilingnya . yg digunakan sebagai alat permainan(EX : jinjit-jinjit. jalan-jalan. dan punya tujuan serta pemimpin (EX : main sepak bola).Taktil : memeluk. Umur 2-3 bln . tetapi antara satu anak dgn anak lain tidak terjadi kontak satu sama lain sehingga antara anak satu dgn lainya tida ada sosialisasi. Cooperative play : aturan permainan dlm klp tampak lebih jelas pada permaiann jenis ini.Visual :dpt melihat dgn jarak dekat .Kinetik : naik kereta. y y Dramatik Role play : anak bermain imajinasi/fantasi (EX : dokter dan perawat). y Parallel play : anak menggunakan alat permaianan yg sama.

buku cerita dan buku bergambar. f.Anak bermain secara spontan.. . latih meloncat.papa. memeras kertas.Kinetik : latih berdiri. . membiarkan anak merasakan angin.Cooperative play . bebas. . menyisir rambut.Taktil : membelai waktu mandi. . Umur 2-3 tahun .Kinetik : memberikan anak mainan besar yg dapat ditarik atau didorong. . merangkap. e.Paralel play dan sollatary play .Kinetik : latih berdiri.memyanyi . Umur 4-6 bln .Visual : Memperlihatkan gambar terang dlm buku.Jenis mainan :boneka.Sudah dapat bermain kelompok . dramatik play dan skill play.Audio : memanggil nama anak.Visual : memainkan kaca dan membiarkan main dgn kaca serta berbicara sendiri.Audio : mengajar bayi berbicara. Usia sekolah . Umur 7-9 bln . menunjukkan tubuh dan menyebutnya. memanggil namanya. balok besar dgn macam-macam ukuran.Kinetik : bantu bayitengkurap. latih meloncat.Taktil : membiarkan main pada air mengalir. . mendirikan bayi pada paha ortunya. .Jenis mainan : roda tiga. d. seperti sepeda atau kereta. mngulangi kata-kata yg diucapkan seperti mama.Associative play . g. c. Preschool 3-5 thn . memebawa bayi nontong TV. Umur 10-12 bln . . . . . merangkap.Taktil : membiarkan anak merasakan dingin dan hangat.Audio :berbicara dgn bayi.Audio : membunyikan suara binatang tiruang.Taktil : memberikan bayi bermain air.Visual : memberi objek terang.membawa bayi keruang yang berbeda . . berhenti bila capek. h.alat masak. koordinasi kurang (sering merusak mainan) .Visual : meletakkan bayi didepan kaca.

Dengan demikian. Melarang bermain berarti melarang belajar. PRINSIP BERMAIN DI RS Tidak banyak mengeluarkan energi.. dan bermain drama. musik. i. Perbedaan antara bermain dan bukan bermain tidak terletak pada jenis kegiatan (apa) yang dilakukan. singkat dan sederhana. Permainan tidak bertentangan dgn pengobatan Semua alat permaianan dpt dicuci Melibatkan ortu. KESIMPULAN Secara singkat dapat disimpulkan.Kumpul prangko. mengatur diri dan seterusnya. .komputer. Maka tidak seorangpun yang tidak pernah bermain. orang tua atau pendidik akan terhindar dari kesalahan atau meminimalkan kesalahan dalam mendidik anaknya. Kelompok umur yg sama. meningkatkan kemampuan berpikir abstrak. Dengan bermain anak akan ceria. Masa remaja .Olra. tentu sesuai kapasitas dan kemampuan dalam melakukannya. hubungan antar orang dan hubungan antara orang dan objek.Anak lebih dekat dgn kelompok . bahwa bermain merupakan sarana utama untuk belajar tentang hukum alam. olra. karena lekat dan merupakan kecenderungan tabiat insaniah. Karena itu bermain bagi anak adalah mutlak. akan tetapi lebih pada (bagaimana) sikap individu dalam melakukannya. Mempertimbangkan keamanan dan infeksi silang. kreatif. Konsep-konsep bermain seperti yang dikemukakan para ahli di atas bisa menjadi acuan untuk memahami dan mendorong serta mengarahkan anak dalam bermain.

DAFTAR PUSTAKA Stone. F. Jamaris. Martini. Jalal. Chicago: Brawn & Benchmark Tedjasaputra. (2001). Bule3tin PADU Jurnal Ilmiah Anak Usia Dini. Child Development.. Jhon. Playing A Kid¶s Bermain.. Mayke S. Thing to Do to Play and Learning. Greet Britain: Hamlyn. Jakarta: Grasindo. Einon. Dorothy. Jakarta: PT. (1994). 2003. 1993. United States of America: Good Year Books. Bermain Mainan untuk Anak Usia Dini. Sandra J. Grasindo. . Meningkatkan Kesadaran Masyarakat akan Pentingnya PADU. Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-kanan. Santrock W.

Masa bayi(0-1 th) Dampak perpisahan Pembentukan rasa P.Menolak makan .Disini respon perilaku anak dengan tahapnya. sedih.Menangis keras .Membina hubungan secara dangkal . Masa prasekolah ( 3 sampai 6 tahun ) . menolak perhatian orang lain > Putus asa menangis berkurang.Pergerakan tubuh yang banyak .D dan kasih sayang Usia anak > 6 bln terjadi stanger anxiety /cemas .Nama : Livenia Wuisan NIM : 10061184 REAKSI HOSPITALISASI PADA ANAK Reaksi tersebut bersifat individual dan sangat tergantung pada usia perkembangan anak.kehilangan.pengalaman sebelumnya terhadap sakit.Anak mulai menyukai lingkungannya 3.anak tak aktif.sistem pendukung yang tersedia dan kemampuan koping yang dimilikinya.Mulai menerima perpisahan .Sering bertanya .Ekspresi wajah yang tak menyenangkan 2.reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan. menjerit.kurang menunjukkan minat bermain. # Reaksi anak pada hospitalisasi : 1. apatis > Pengingkaran/ denial . > Tahap protes menangis.pada umumnya. perlukaan tubuh.Masa todler (2-3 th) Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan .dan rasa nyeri.

kehilangan klp sosial.kelemahan fisik Reaksi nyeri bisa digambarkan dgn verbal dan non verbal 5.tidak mau bekerja sama dengan perawat. berontak. takut sehingga menimbulkan reaksi agresif.bertanya-tanya . marah.Pembatasan aktivitas Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman. Sehingga ada perasaan malu. 4.perasaan takut mati.Masa remaja (12 sampai 18 tahun ) Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh kelompok sebayanya Saat MRS cemas karena perpisahan tersebut Pembatasan aktifitas kehilangan kontrol Reaksi yang muncul : > Menolak perawatan / tindakan yang dilakukan > Tidak kooperatif dengan petugas Perasaan sakit akibat perlukaan menimbulkan respon : .Menangis perlahan .Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan Perawatan di rumah sakit : . klg..Kehilangan kontrol . klp sosial sehingga menimbulkan kecemasan Kehilangan kontrol berdampak pada perubahan peran dlm klg.Masa sekolah 6 sampai 12 tahun Perawatan di rumah sakit memaksakan meninggalkan lingkungan yang dicintai .

Prosedur yang menyakitkan .menginginkan P.perasaan sedih dan frustasi: Kehilangan anak yang dicintainya: .Mencegah atau mengurangi dampak perpisahan .Mengurangi / meminimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa nyeri #Upaya mencegah / meminimalkan dampak perpisahan 1.putus asa.memaksimalkan manfaat hospitalisasi memberikan dukungan psikologis pada anggota keluarga .menolak kehadiran orang lain # Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi & Perasaan yang muncul dalam hospitalisasi: Takut dan cemas.Pengalaman perawatan sebelumnya &Perasaan sedih: Kondisi terminal perilaku isolasi /tidak mau didekati orang lain &Perasaan frustasi:Kondisi yang tidak mengalami perubahan Perilaku tidak kooperatif.meminimalkan stressor .Informasi buruk tentang diagnosa medis .benci.cemburu..mempersiapkan anak sebelum masuk rumah sakit # Upaya meminimalkan stresor atau penyebab stress Dapat dilakukan dengan cara : .P &Reaksi saudara kandung terhadap perawatan anak di RS: Marah.Perawatan yang tidak direncanakan .menolak tindakan.Mencegah perasaan kehilangan kontrol .rasa bersalah INTEVENSI PERAWATAN DALAM MENGATASI DAMPAK HOSPITALISASI Fokus intervensi keperawatan adalah . Melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak .menarik diri .

# Mempersiapkan anak untuk mendapat perawatan di rumah sakit > Siapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia anak. > Mengorientasikan situasi rumah sakit. .Bila anak diisolasi lakukan modifikasi lingkungan . > Memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak. Perlu dilakukan pengkajian tentang kemampuan psikologis anak menerima informasi ini dengan terbuka # Memaksimalkan manfaat hospitalisasi anak > Membantu perkembangan anak dengan memberi kesempatan orang tua untuk belajar .latihan.Hindarkan pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif. bertemu teman sekolah # Mencegah perasaan kehilangan kontrol: .Surat menyurat. gambar. > Meningkatkan kemampuan kontrol diri. > Memberi kesempatan untuk sosialisasi. Pada hari pertama lakukan tindakan : . > Memberi support kepada anggota keluarga.Buat jadwal untuk prosedur terapi. Modifikasi ruang perawatan 3.2. Mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah .bermain .Memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua dalam perencanaan kegiatan # Meminimalkan rasa takut terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri > Mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri > Lakukan permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak > Menghadirkan orang tua bila memungkinkan > Tunjukkan sikap empati > Pada tindakan elektif bila memungkinkan menceritakan tindakan yang dilakukan melalui cerita.

.laksanakan pengkajian . . . .Emosi.Lakukan pemeriksaan fisik. .Kenalkan perawat dan dokter yang merawatnya .Mudah dilakukan .Menyenangkan / dinikmati . # Pengertian bermain > Cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik dalam dirinya yang tidak disadari > Kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan sendiri untuk memperoleh kesenangan.Fisik.Kelompok umur. . .Jelaskan aturan rumah sakit.Waktunya singkat.Tidak membutuhkan banyak energi .Untuk belajar.Kenalkan pada pasien yang lain.Aman . . .Perkembangan mental. .Berikan identitas pada anak. . # Bermain merupakan kegiatan .. .Bermain dan bekerja # Tujuan bemain di rumah sakit > Untuk dapat melanjutkan tumbuh kembang yang normal selama di rawat > Untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dan fantasinya melalui permainan # Prinsip bermain di rumah sakit .Sosial.Intelektual.

Dilakukan oleh balita atau pre school .Perkembangan kognitif .dokter.Sosialisasi .Aktifitas sensori motorik ..Kreatifitas .Solitary play Dilakukan oleh balita ( todler) Bermain dalam kelompok 1 thn merupakan asyik dengan permainannya sendiri yang berlainan . # Fungsi bermain . Sosial affective play .ibu.Mengendarai sepeda.anak senang.Komunikasi. .tersenyum. Dramatic play/tole play Anak berfantasi menjalankan peran tertentu ±>Berperan sebagai: Perawat. Skill play ²²±>Anak memperoleh keterampilan tertentu .dll 4.Belajar memberi respon terhadap lingkungan * Orang tua berbicara/memanjakan ².Perkembangan moral therapeutik .Tidak bertentangan dengan terapi.memindahkan balon.Melibatkan keluarga. Isi permainan 1.dll 2. # Klasifikasi bermain I.mengeluarkan suara.ayah.Sense of pleasure play ²²²²Anak memperoleh kesenangan dari suatu obyek disekitarnya ²-Bermain air/pasir 3.dll # Karakteristik Sosial 1.

School age/ adolescant ²²>Permainan terorganisasi terencana. bermain sesuai dengan keinginannya ..tak tergantung .tetapi belum terorganisasi dengan baik .Belum ada pembagian tugas.Bermain dalam kelompok.Bermain dalam kelompok. Tahap perkembangan anak 2.Bermain dalam kelompok. Alat permain . Jenis kelamin 4.tak ada interaksi.ada aturan-aturan tertentu # Faktor-faktor yang mempengaruhi bermain 1. bermain sesuai dengan keinginannya .tetapi belum terorganisasi dengan baik .aktivitas sama.aktivitas sama.Belum ada pembagian tugas. Status kesehatan 3. permainan sejenis.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->