Gurindam 12 Pasal 1

Pasal I Ikan pelata dimasak gulai Masak bersama ditambah serai Pasal pertama kita mulai Pantunku hanya berandai – andai Ayat 1 “Barang siapa tiada mengenal agama Sekali – kali tiada boleh dibilang nama Tanjung sesup sipulau jaga Tebar jala sampai kesenja Arah hidup tiada bermakna Mengejar dunia yang serba fana Dari jaga kepulau nipah Seberang kedarat memakai galah Hidup tiada mengenal Allah Apa yang buat selalu salah Gelama teri ditanjung sesup Dijala bersama dapat seikat Agama jadi penuntun hidup Bahagia didunia serta akhirat Cari galah diteluk ranai Dapat sedepa diikat-ikat Janji Allah pasti tunai Surga neraka pasti ditempat

Ayat 2 “Barang siapa mengenal yang empat Maka itulah yang berma’rifat” Turun layar dihujan lebat Angin bertiup layar tersayat Hukum diajar syariat dibuat Pasti hidup kita selamat Laknat maksiat jadi mudarat Harus disanggah warga masyarakat Hakikat syariat mesti sepakat Perintah Allah tidak disekat Dekat penarah selat beliah Laju berlayar menuju barat Hakikat sudah syariat sudah Barulah belajar ilmu tarikat Berangkat dari kepale jeri Bawa berniaga rotan berkebat Tarikat jadi pembersih diri Hasanah didunia serta akhirat Ayat 3 “Barang siapa mengenal Allah Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah” Pergi kenduri rumah cik Zainal Bahulu lepat dibelah – belah Diri sendiri harus dikenal Baru dapat mengenal Allah Talam ditata jamuan walimah Acara bersama bersuka – suka Alam semesta ciptaan Allah Tanda Allah Maha Kuasa Mudah berserat hati berduka Dari hati yang sangat dalam Kuasa Allah tiada tara Meliputi isi segala alam Tilawah bergema sendu terasa Dengarlah dengan hati tenteram

Allah punya asmaul husna Bacalah ia siang dan malam Ayat 4 “Barang siapa mengenal diri Maka telah mengenal akan tuhan yang bahari” Menata tari beserta nyanyi Pada acara dipagi hari Tercipta dari setetes mani Awal mula manusia terjadi Pulau manda pulaulah sugi Pagi hari cari rezeki Kalau dah tau asalnya diri Jauh dari sombong dan dengki Padi di tumbuk lalu ditampi Beras disaring didalam panci Pembaik pemburuk didalam diri Sebongkah daging bernama hati Dari sugi kepulau ngal Lalu singgah dipulau manda Diri sendiri mesti dikenal Baru mengenal Allah pencipta Ayat 5 “Barang siapa mengenal dunia Tahulah ia barang yang terpedaya” Buah kuini buah pepaya Makanan manis lepas dahaga Dunia ini tipu daya Jangan sampai kita tergoda Turun sauh mengail unga Kerat gurita buat umpannya Terlalu jauh mengenal dunia Akhirat kita menjadi lupa Pekan niaga buat berjual Banyak terdapat si ikan bawal Jadikan dunia mencari bekal Buat akhirat yang akan kekal

Berlayar diselat mencari siput Bersama kawan tanjung pelanduk Kejar akhirat dunia mengikut Tanda insan selalu tunduk Ayat 6 “Barang siapa mengenal akhirat Tahulah ia dunia mudarat” Dari mana datangnya obat Dari zainal buat simamat Dunia umpama jembatan akhirat Carilah bekal agar selamat Pulau belat mencari gamat Membawa bekal kue belebat Selalu ingat akan akhirat Buatlah amal sepanjang hayat Laksmana datang dari melaya Membawa senjata tombak sedepa Harta hanya daki dunia Jika tergoda akhiratkan lupa Banyak benalu dipohon kuini Benalu dari burung kedidi Ingatlah selalu kiamat mini Hari mati setiap pribadi

Gurindam 12 Pasal 2
Pasal II Jauhkan ganja beserta dadah Bisa bahaya membawa padah Pasal pertama selesai sudah Pasal kedua kita tela’ah Ayat 1 “Barang siapa mengenal yang tersebut Tahulah ia makna takut” Dari jaga tanjung malim Bawa sekebat bunga melati Menjadi tanda sebagai muslim Baca syahadat makna dihati Sangat hebat bila bermadah Tangan bergerak menunjuk jari Ucap syahadat memakai lidah Yakinkan benar didalam hati Belidah masin didalam peti Hidang bersama sebaki siput Bila dah yakin didalam hati Langgar tegahnya pasti takut Seakan mata termasuk sampah Mata kiri terasa nyeri Amalkan segala seruan Allah Sebagai bukti tawakal diri Ayat 2 “Barang siapa meninggalkan Sembahyang Seperti rumah tiada bertiang” Tanjung dua panca delima Pulau dituju melewati sungai Rukun kedua dari yang lima Lima waktu wajib ditunai Dayang suri dalam istana Pengawal berada menjaga tempat Sembahyang menjadi tiang agama Awal bicara alam akhirat

Shalawat badar bermula adat Tanda melayu selalu ingat Shalatnya benar tanpa cacat Bahagia hidup dunia akhirat Adat menjadi bila dijaga Jagalah ia dengan sempurna Shalat wajib lima waktunya Janganlah lalai mengerjakannya Ayat 3 “Barang siapa meninggalkan puasa Tidaklah mendapat dua kemasya” Desa Judah aman bahagia Warga teladan bekerja sama Puasa adalah rukun ketiga Bulan ramadhan wajib hukumnya Laksamana bintan bernama besar Gagah perkasa berilmu juga Puasa laksanakan secara benar Bahagia rasanya waktu berbuka Tanah daik desa selayar Pecan ramai tempat saudagar Siapa puasa baik dan benar Akan selamat dihari mahsar Pulau benan desa penaga Belayar mari bertiang dua Puasa menahan lapar dahaga Kautsar menanti waktu disurga Ayat 4 “Barang siapa meninggalkan zakat Tiadalah hartanya beroleh berkat” Ambil keladi lalu diikat Tali diikat sangat kuat Air menjadi pembersih Jasad Bersih harta dengan zakat Awal musin angin barat Sebagai tanda hujan lebat

Tanda muslim selalu sepakat Yang kaya wajib tunaikan zakat Lawan ringan tentulah berat Lawan longgar tentulah ketat Siapa yang enggan membayar zakat Bersama qarun dihari kiamat Sepakat kata sepakat bahasa Tekat musyawarah buatlah kerja Zakat harta cukup nisabnya Zakat fitrah bulan puasa Ayat 5 “Barang siapa meninggalkan haji Tidaklah mnyemprnakan janji” Belajar mengaji kepada guru Duduk bersama kecuali minggu Tunaikan haji bagi yang mampu Rukun yang lima menjadi padu Dari pekan ketanjung malim Berangkat mari bersama naim Haji jadikan insanul karim Syariat dari nabi ibrahim Asia barat terdapat gurun Tumbuh subur sipohon zaitun Tunaikan syarat bersama rukun Haji mabrur jadi terhimpun Dari barat jalan jelajah Singgah makan menghilang lelah Haji di buat bulan zulhijjah Qurban hewan diperintah Allah

Gurindam 12 Pasal 3

Pasal III Jual merica ditanah seberang Hari senja ku terus pulang Pasal ketiga pantun di karang Tidak sempurna banyak yang kurang Ayat 1 “Apabila terpelihara mata Sedikitlah bercita-cita” Banyak sahabat dikala suka Pabila duka sahabat tiada Indra melihat bernama mata Gunakan pada yang Allah suka Samudra hindia laut gelora Samudra jawa gelora sama Apabila lihat yang terbuka Rumah tangga jadi porak peranda Pergi memanjat pohon berangan Ambil galah buat pegangan Mata melihat yang bukan-bukan Dihati masuklah godaan syaitan Madah kelana suara indah Hati pilu pastikan suka Selalulah jaga pandangan mata Pasti jauh perbuatan dosa Ayat 2 “Apabila terpelihara kuping Kabar yang jahat tidak damping” Bendera berkibar lagu beriring Telah dipasang ditepi tebing Indra pendengar itulah kuping Allah ciptakan dualah kuping Kebandar daik beli kemunting Belanja sama si ikan kering Dengar yang baik serta yang penting Supaya kepala tidaklah pusing

Bunga manggar bunga kemuning Bunga dipasang acara penting Banyak mendengar berita miring Fikiran akan terasa runsing Jalan beriring pergi kepasar Bawa kerupuk untuk saudagar Gunakan kuping dengar yang benar Perkara buruk akan terhindar Ayat 3 “Apabila terpeliha lidah Niscaya dapat darinya faedah” Buah rawa tanjung Judah Pulau jaga dan pulau mandah Indra perasa nama lidah Agar manusia dapat bertitah Ikan belidah dibelah belah Bersame todak disamasak rempah Gunakan lidah bagi yang faedah Supaye tidak timbulkan fitnah Cempedak diambil memakai galah Dimakan mari bersame esah Perbanyak zikir kepada Allah Gunakan hati berserta lidah Lagu dan tari terlihat indah Dara bujang dari sekanah Jauhkan dari umpat dan fitnah Allah akan beri anugrah Ayat 4 “Bersungguh-sungguh engkau memelihara tangan Dari pada selalu berat dan ringan” Indah nian istana bunian Tempat bunian berkasih kasihan Allah telah ciptakan dua belah tangan Manfaatkan dengar ridho tuhan Kuat menerima cobaan tuhan Jauhkan dari godaan syaitan

Giat bekerja ringankan tangan Jangan amalkan panjang tangan Tanam getah diatas lahan Lahan tak cukup kena sempadan Tangan ditadah kepada tuhan Tangan telungkup kepada insan Selada dibuat untuk makanan Bersama makan hidangan tuan Kepada anak tangan tak ringan Kepada kerja ringankan tangan Ayat 5 “Apabila perut terlalu penuh Keluarga fi’il yang tiada senonoh” Disiram terus kuntumkan mekar Indah benar terkena sinar Makan harus sebelum lapar Supaya lancar akan ikhtiar Dari pekan membeli kajang Besar dilipat bawa senayang Berhenti makan sebelum kenyang Agar tidak jadi mengkayang Laut surut menjadi dangkal Banyak karang terasa terjal Untuk perut mesti yang halal Supaya perangai tidaklah bingal Pulau bintan jauh terkenang Masa yang lalu pada tersayang Bila makan terlalu kenyang Mata nak tidur pikiran melayang Ayat 6 “Anggota tangah hendaklah ingat Disitulah banyak orang hilang semangat” Sayang hang tuah kemalaka Dilanda badai karam bahtera Anggota tangah harus dijaga Itulah sebagai penerus baka

Kalau harus bersusah payah Jati diri tidakkan goyah Kalau mampu segera menikah Jauhi dari perbuatan zinah Samudra hindia lautan tengah Kapal berlalu sangat indah Supaya lupa tentang hal zinah Ingat lah selalu akan orang rumah Kaum kerabat buat mufakat Tanda keluarga sudah sepakat Ape dibuat tidak semangat Karena yang tengah sudah tak kuat Ayat 7 “Hendaklah Pelihara Kaki Dari Berjalan Membawa Rugi” Membawa lukah mencari ikan Pakai juga kail berjoran Dicipta Allah kiri dan kanan Bagi manusia untuk berjalan Ikan dicari ditepi kali Joran dari kayu mentigi Gunakan kaki cari rezeki Jangan dipakai pada yang rugi Pulau sebaik tinggal kenangan Punah hutan dari pandangan Buat yang baik dahulukan kanan Sunah nabi kita amalkan Camar mungil terbang menari Merah jingga warna mentari Kekamar kecil dahulukan kiri Insyaallah kita tidak merugi

Gurindam 12 Pasal 4
Pasal IV Pasir lulun dan tanjung lipat Tempat mencari si ikan sepat

Teruskan pantun pasal ke empat Pantun berisi banyak nasehat Ayat 1 “Hati itu kerajaan didalam tubuh Jikalau Zalim segala angota pun roboh” Sebilah lembing darilah buluh Bilah dibeli desa gemuruh Sebongkah daging didalam tubuh Itulah hati sangat berpengaruh Laksamana mati karena dibunuh Dendam kesumat bagai diteluh Pangkalnya hati didalam tubuh Jasadkan buat apa disuruh Datang dari teluk kuantan Berniaga benda dari anyaman Bila hati dirasuk syaitan Angkara murka jadi perbuatan Simpan galah didalam peti Simpan mari berhari hari Ingatkan allah didalam hati Jasmani rohani menjadi suci Ayat 2 “Apabila dengki sudah bertanda Datanglah dari padanya bebrapa anak panah” Ngarai berbatu jalan ditepi Lama berjalan bisa dikaki Perangai selalu iri dan dengki Tanda syaitan bertahta di hati Dari khurapat akan sesat Jauhkan dirimu dikala dapat Dengki khianat jangan didekat Diri akan selalu dilaknat Bagai duri sudah melekat Kulit seakan dikerat kerat Iri dan dengki sudah bersahabat Penyakit akan selalu dekat

Asam kandis jatuh ketanah Jatuh dikali sibuah getah Ibarat kudis mulai bernanah Dengki dihati susah diubah Ayat 3 “Mengumpat mengiji hendaklah piker Disitulah banyak orang tergelincir” Ikan terubuk dalam hidangan Hidangan lebai buat undangan Jangan mabuk akan pujian Gunakan sebagai penguat iman Tabir terbuka dimulai tari Indah tarian dari sang putri Bibir berucap ikhlas dihati Itulah pujian paling hakiki Kuat bukan buat diuji Akan merugi diri sendiri Berbuat jangan harap dipuji Tidakkan sempurna seperti dihajati Dikerat dulu baru disimpan Petuah dari datuklah uban Berbuat selalu harap pujian Jauh dari redhanya tuhan Ayat 4 “Pekerjaan marah jangan dibela Nanti hilang akal dikepala” Buah padi tebar ditanah Keluar keringat terasa lelah Bila diri terasakan marah Segeralah ingat kepada allah Emas merah bertatah intan Suasa juga pakai ditangan Sifat marah perbuatan syaitan Pabila datang segera dilawan Cuaca cerah disiang hari Mega berlalu hilang mentari

Marah sudah didalam hati Segera berwudhu sucikan diri Rotan berduri dikebun getah Getah bersusu putih dan merah Lawan dari nafsu amarah Itulah nafsu muthmainnah Ayat 5 “Jika sedikitpun berbuat bohong Bolehlah diumpamakan mulutnya pekong” Siakap senohong mari dikail Masak di panci di campur air Bila pembohong sedari kecil Besar menjadi menipu mahir Terong biru segera dipetik Buat makanan musim paceklik Bohong itu tanda munafik Akhirnya akan menjadi fasik Dari bakong kesungai pancur Layar biduk haluan timur Hindari bohong jadilah jujur Agar hidup tidak hancur Sorong papan buat terali Papan dari dahan berduri Bohong jangan buat sekali Akan menjadi kebiasaan diri Ayat 6 “Tanda orang amat celaka Aib dirinya tiada disangka” Berburu macan dibulan terang Malam hari timbul bintang Tahu akan aibnya orang Tanda diri selalu kurang Naik bendi di pekan raya Naik berteman dengan ceria Aib sendiri jadikan rahasia Aib orang jangan dicerita

Tasik biru indah menawan Sendiri menyepi tanda berteman Aib itu jadikan sempadan Perbaiki diri hari depan Daik Bintan kuala tungkal Laut cina mencari bawal Aib teman selalu dibual Aib kita selalu dijual Ayat 7 “Bakhil jangan diberi singgah Itulah perompak yang sangat gagah” Bila berhasil janganlah pongah Sudah pasti semuakan marah Bila bakhil sudah menjamah Jauhlah diri dari amanah Dari sekolah ketugu pinsil Bersama teman sambil mengail Dihati singgah penyakit bakhil Semua perbuatan menjadi bathil Ambil pasir dekat pesisir Sudah diambil buat cek basir Bakhil dan kikir sifat rentenir Jauhilah sampai hayat berakhir Disana gurun disini air Diatas gurun terdapat pasir Bersama qarun dihari akhir Setiap insan bersifat kikir Ayat 8 “Barang siapa yang sudah besar Janganlah kelakuannya membuat kasar” Jika melipat baju seluar Letak selendang didalam bangsal Bila jasad tumbuh membesar Otak berkembang makin berakal Dengan saudagar barang di tukar Pasar serang tempat berjual

Badan besar berbuat kasar Tanda orang kurang berakal Sunggunh indah gunung banang Lautan besar luas terbentang Tumbuh jasad akal berkembang Kelakuan kasar jauh dibuang Datang kesini ingin belajar Belajar silat dari dasar Pendidikan dini baik dan benar Dewasa tidak menjadi kasar Ayat 9 “Barang siapa perkataan kotor Mulutnya itu umpama ketor” Pasang pelita dikala senja Malam hari gelap gulita Jaga kata kalau berbicara Jangan sampai merusak etika Datuk pendekar telah ditawan Ditawan pasukan darilah bintan Bertutur kata mestilah sopan Kawan dan lawan pastilah segan Senjata meriam isilah pelor Arah bidik tuju ketimur Jika banyak berkata kotor Jauh dari tabi’at jujur Serasan dekat pulau Tambelan Pulau Jemaja pulau Siantan Berkata dengan bahasa sopan Bagai puspa harum ditaman Ayat 10 “Dimanakah salah diri Jika tidak orang lain perperi” Kehulu sungai indragiri Henda memikat burung kedidi Tak tahu akan kesalahan diri Tanpa diingat teman sendiri

Pekan lama dipulau jeri Tempat perahu mengikat tali Teman umpama cerminan diri Tingkah laku harus kita cermati Sungai Ungar Tanjung Berlian Masa lalu satu kecamatan Selalu dengar nasehat kawan Supaya tau buruknya badan Hang Tuah pahlawan memang tawaduk Tinggal dirumah seperti gubuk Petuah taulan jadikan cambuk Untuk mengubah tabiat buruk Ayat 11 “Pekerjaan takabur jangan direpih Sebelum mati didapat juga sapih” Tumbuh ditaman kembang nan subur Sangat indah bagai menghibur Hidup jangan sombong takabur Mendapat azab didalam kubur Indah sungguh nyanyian kenari Balam juga sama berbunyi Manusia selalu banggakan diri Dalam hidupnya pastilah rugi Sarang tambuan dipohon nyiur Hinggap selalu burung tekukur Senang jangan jadi takabur Ingat waktu badanmu uzur Pergi gelugur membeli besi Belikan juga papan meranti Hidup takabur selalu dibenci Jauhkan ia jangan dekati

Gurindam 12 Pasal 5
Pasal V Titah sultan disinggah sana Datuk menteri duduk bersama

Baca teruskan pasal kelima Didalam hati menjadi makna Ayat 1 “Jika hendak mengenal orang berbangsa Lihatlah kepada budi dan bahasa” Bila rindu mulai terasa Segera bertemu dengan si dia Jaga selalu budi bahasa Agar melayu tidak tercela Singgah kekedai membeli bunga Aneka bunga berupa rupa Behasa sebagai pengenal bangsa Setiap warga wajib menjaga Ulama sholeh taat beragama Ibadah mengharap mencuci dosa Bahasa boleh berbeda beda Negara tetap Indonesia Selatan utara kompas berputar Arah didapat terus berlayar Gunakan bahasa baik dan benar Supaya tidak jadi tercemar Ayat 2 “Jika hendak mengenal orang bahagia Sangat memeliharakan yang sia-sia” Kuala selat ada buaya Takut sekali tiada dua Banyak berbuat yang sia-sia Hidup jadi tidak berguna Serah hatimu kepada Allah Kerjakan segera amal ibadah Berbuatlah selalu yang faedah Hal sia-sia tak akan singgah Desa Keban banyak rumbia Pohonnya banyak didalam paya Di dunia buat yang sia-sia Di akhirat akan teraniaya

Biduk lalu muatan sarat Dari desa ke Batu Pahat Buat selalu hal manfaat Hal sia- sia tidaklah dekat Ayat 3 “Jika hendak mengenal orang mulia Lihatlah kelakukan dia” Tudung periuk banyak berkarat Masak menjerang si air hangat Kelakuan buruk jangan dibuat Banyak orang takkan mendekat Pergi kenduri hari Selasa Tuan Haji membaca doa Baik budi indah bahasa Pasti jadi insan mulia Masuk angin beri halia Halia campurkan dengan merica Bila ingin jadi mulia Jaga kelakuan serta etika Desa Kelarik pulau Jemaja Dilaut Cina tempat letaknya Kelakuan baik santun bahasa Menjadi tanda orang mulia Ayat 4 “Jika hendak mengenal orang berilmu Bertanya belajar tidaklah jemu” Kala dipandang malu malu Saat pancaran dizaman dulu Tanda – tanda orang berilmu Terus belajar tiadalah jemu Bikin pondok tepi perigi Buat menanam bunga semanggi Makin tunduk makin berisi Tanda insan berilmu tinggi Dulu buruk sekarang menawan Pemuda gagah jadi idaman

Ilmu dituntut dari buaian Sabda nabi rasul junjungan Mencari sotong mencari delah Hiu datang sampan dipindah Bagai pohon tidak berbuah Ilmu yang ada tidak diindah Ayat 5 “Jika hendak mengenal orang yang berakal Didalam dunia mengambil bekal” Duduk bersila disinggah sana Sambil berbual dalam istana Hidup di dunia jangan terlena Sipakan bekal kealam sana Kala hari menjadi redup Hujan turun basah kuyup Bekal dicari selagi hidup Jangan tunggu mata menutup Tarian sakral si Pancang Jermal Tarian dibawa kedaerah Kawal Persiapkan bekal perbanyak amal Hidup didunia tidaklah kekal Surga dibawah kaki ibu Bakti padanya tidakkan jemu Berakal didunia selagi mampu Hari tua jangan ditunggu Ayat 6 “Jika hendak mengenal orang baik perangai Lihatlah ketika bercampur dengan orang ramai” Lapon menjerat burung punai Batang karet ujung terjuntai Berkumpul dengan orang ramai Yang baik dan buruk dapat dinilai Ribut bernama badai dan topan Badai bertiup mematah dahan Bertemu bersama handai dan taulan Perangai buruk segera tinggalkan

Sejuk dingin dimalam hari Smpai menusuk tulang dan sendi Hidup ingin menang sendiri Perangai buruk diri merugi Duduk menonton tarian randai Madah dibaca pembuka tirai Hidup rukun bersama yang ramai Pastilah dia baik perangai

Gurindam 12 Pasal 6
Pasal VI Badan pegal harus bersenam Petang hari sambil menyelam Inilah pasal yang keenam Saya tulis diwaktu malam Ayat 1 “Cahari olehmu akan sahabat Yang boleh dijadikan obat” Kelurahan Daik desa Duara Terdapat lagi desa Penuba Sahabat yang baik bagai saudara Tempat berbagi suka dan duka Jangan bakar menjadi abu Agar berguna ujungnya tebu Teman tertawa beribu ribu Teman berduka hanyalah Satu Cangai Gundik dipulau Belat Penarah juga ditepi selat Sahabat yang baik tempat mufakat Dapat kita tukar pendapat Mengelola memahat si kayu getah Dibuat budak sebuah galah Carilah sahabat penunjuk salah Supaya tidak salah melangkah Ayat 2 “Cahari olehmu akan guru Yang boleh tahukan setiap seteru”

Berburu rusa dihutan hantu Rusa betina sedang menyusu Berguru kepada orang yang tahu Supaya berguna segala ilmu Sampan dibina didesa Buru Baru dibuat diatas batu Jangan durhaka kepada guru Ilmu didapat tidak bermutu Meranti, gaharu adalah kayu Dibuat tanggul menangkap lundu Hormati guru, setelah bapakmu Sabda rasul jadi penentu Gemetar dada melihat darah Darah pekat diluka parah Belajar kepada guru yang salah Tidak mendapat redhanya Allah Ayat 3 “Cahari olehmu akan istri Yang boleh menyerahkan diri” Pergi mencari sebuah nangka Dihutan besar jumpa geliga Carilah istri agama sempurna Teman kekal sampai kesurga Tuan putri cantik jelita Terdapat mahkota intan dan ratna Mendapat istri yang gila harta Membuat kita tidur tak lena Mari menjerat burung kedidi Getah dipasang diatas jati Istri yang taat pada suami Itulah dia wanita sejati Menyusun tari jarinya lentik Cincin dijari berbatu akik Mencari istri karena cantik Cemburu dihati selalu terbetik

Ayat 4 “Cahari olehmu akan kawan Pilih segala orang yang setiawan” Ikan unga dimasak kari Ikan pelata dimasak cili Kawan setia susah dicari Kawan hura hura banyak sekali Tarian melayu dara jelita Sudah ternama keliling kota Teman selalu seia sekata Itulah teman paling setia Makan ketupat dikala penat Rasa enak dikerat kerat Jangan didekat teman khianat Supaya tidak jadi subahat Pelepah dibuat bakul anyaman Anyaman jadi jual kepekan Jagalah sifat setia kawan Supaya abadi dalam persahabatan Ayat 5 “Cahari olehmu akan abdi Yang baik sedikit budi” Beras kencur cuci disumur Setelah bersih lalu dijemur Pembantu jujur pekerti luhur Usaha akan selalu mujur Bangku diduduk letak disudut Canda dan tawa sampai larut Pembantu ditunjuk tak pernah ikut Tanda usaha segera bangkrut Pilah dahulu baru diolah Jadi sempurna serta faedah Carilah pembantu mau bersusah Mau bekerja walaupun payah Kayu dipikul untuk penanggah Acara memasak diakad nikah

Pembantu yang selalu membuat ulah Segala dibuat tak pernah sudah

Gurindam 12 Pasal 7
Pasal VII Pulau tujuh natuna tempatnya Pulau berpencar jauh semua Pasal ketujuh banyak ayatnya Baca pantunnya santailah saja Ayat 1 “Apabila banyak berkata-kata Disitulah jalan masuk dusta” Merah warna sibunga jambu Jambu batu tumbuh beribu Hendaklah bicara pada yang perlu Kalau tak perlu, baik membisu Bunga mawar bunga cempaka Bunga semanggi tumbuh melata Bicara saja apa yang ada Supaya tak jadi orang pendusta Letak batu sebagai tanda Terih diambil bata dibawa Tak perlu perbanyak kota Lebih baik kita bekerja Berakit kota dekat Toapaya Berniaga barang aneka rupa Sedikit bicara banyak bekerja Itulah orang berhasil guna Ayat 2 “Apabila banyak berlebih-lebihan suka Itu tanda hampirkan duka” Bertahta raja di Kota Banda Kotanya ramai sejak merdeka Bersuka ria biar berpada Jangan sampai menjadi duka

Indragiri putra mahkota Putra raja seri baginda Lupa diri terlalu suka Tanda duka segera melanda Langit berawan berarak arak Dilanda hujan layar tersibak Menangis jangan suara serak Tertawa jangan sampai terbahak Megat alang minta suaka Berangkat berdua datuk panglima Ingat duka dikala suka Ingat sengsara dikala kaya Ayat 3 “Apabila kita kurang siasat Itulah tanda pekerjaan hendak sesat” Kaum kerabat tetap diingat Susah senang baik sepakat Sebelum berbuat hendaklah siasat Supaya pekerjaan menjadi tepat Terbang beribu burung gelatik Menyambut mendung hujan menitik Segala sesuatu hendaklah selidik Untuk menghubung segala titik Muatan sarat sehingga tumpah Susun dulu baru dipindah Jangan buat pekerjaan marah Sebelum tahu duduk masalah Tanjung Kilang Durai terdapat Disana pukat melempar pukat Sebelum pekerjaan mulai dibuat Minta pendapat agar selamat Ayat 4 “Apabila anak tiada dilatih Jika besar bapaknya letih” Sahabat katib susah dicari Teman baik sejiwa sehati

Anak di didik sedari dini Akan menjadi anak berbakti Lempar sauh tali digantung Dekat pulau sampan didayung Melentur buluh sedari rebung Supaya tau ibu yang mengandung Sejajar letak pulau idaman Tempat nelayan menangkap ikan Mengajar anak dengan teladan Tidak dengan perintah suruhan Cabang ranting buah dipetik Letaknya jauh tali ditarik Kesabaran penting dalam mendidik Anak cepat menjadi cerdik Ayat 5 “Apabila banyak mencacat orang Itulah tanda diri kurang” Duduk rapat tengah bersembang Bersandar mari ditepi jurang Selalu melihat lemahnya orang Tak sadar dirinya yang banyak kurang Letak pakaian dalam lemari Baju dan kain susunan rapi Selalu menyalahkan teman sendiri Untuk tutupi kesalahan diri Mengasah parang sampai berkilat Buatan dari Rantau Prapat Cacatnya orang selalu dilihat Kesalahan diri disimpan rapat Buahnya kelat serta berduri Diberi nama bu8ah keranji Carilah cepat cacatnya diri Serta berusaha untuk perbaiki Ayat 6 “Apabila orang yang banyak tidur Sia-sia sajalah umur”

Atur sampan ditepi laut Susun diwaktu airnya surut Tidur jangan sampi larut Bangun pagi kan nampak kusut Susun atur nampak terawat Tanaman tumbuh segar dan sehat Bangun tidur jangan terlambat Sholat subuh akan terlewat Sesudah setrika baju dilipat Lalu letakkan dilemari tingkat Tidurlah pada waktu yang tepat Badanmu akan selalu sehat Turun meluncur dengan riang Bertemu teman duduk bersembang Bangun tidur terlalu siang Rezekimu akan dikebas orang Ayat 7 “Apabila mendengar akan khabar Menerimanya itu hendaklah sabar” Besar untuk dibuat lebar Dekat mari kita berikrar Kabar buruk jadi iktibar Membuat hati tabah dan sabar Lempar kail hati berdebar Menanti dengan perasaan sabar Kabar baik kalau didengar Motivasi meningkat harapan besar Jala ditebar lelah terasa Usaha ikhtiar buat keluarga Sampaikan kabar jangan tergesa Supaya yang dengar siap terima Bunga mekar menambah segar Ditepi danau duduk bersandar Terima kabar janganlah gusar Selidik dahulu dengan benar

Ayat 8 “Apabila mendengar akan aduan Membicarakannya itu hendaklah cemburuan” Makan belebat dirumah intan Mari bersama buat jamuan Jangan berbuat mengikut syaitan Cari penyebab asal aduan Menuju kehulu mencari lampu Dian pelita jadi pemandu Pengadu selalu jadi pengampu Jauhkan dia sedari mampu Bukan pendekar tidak bersilat Tangan terikat kain pelikat Jangan didengar aduan penjilat Berangan nak cepat naik pangkat Delman dari pulau Sumba Delman dibawa paduka raja Jangan menjadi pengadu domba Jadilah manusia rajin bekerja Ayat 9 “Apabila perkataan yang lemah lembut Lekaslah segala orang mengikut” Terantuk tengadah segera menyebut Rabbul alamin nama tersebut Suruh tegah haruslah lembut Jadi pemimpin banyak pengikut Duduk tengadah memeras otak Cara obati penyakit bengkak Suruh, tegah dengan membentak Para pengikut akan berontak Demam berpeluh terasa gundah Hati terasa resah gelisah Dalam menyuruh atau mencegah Bagai lebutnya gigi dari lidah Tanah gambut hutan belukar Siram tanaman tumbuhlah akar

Kata yang lembut selalu keluar Tanda insan bertingkah benar Ayat 10 “Apabila perkataan yang amat kasar Lekaslah sekalian orang gusar” Kayu teratak kuat dan besar Agar dapat Honda keluar Selalu membentak bersikap kasar Akan membuat suasana gusar Pintu kamar buatan Taiwan Dibawa dari kota Belawan Prilaku kasar bawaan hewan Jauhkan diri supaya aman Bayar biaya untuk cik nyonya Upah kerja tidak berapa Kasar bahasa buruk tingkahnya Tiada siapa orang menyapa Tertusuk duri darah keluar Sakit bisa, tahan dan sabar Jauh dari membentak mengasar Jadi manusia berjiwa besar Ayat 11 “Apabila pekerjaan yang amat benar Tidaklah boleh orang berbuat honar” Cinta diikat cincin melingkar Tanda adik sudah dilamar Kerja dibuat teliti dan benar Hasilnya baik pasti keluar Bermain senjata pakai perisai Perisai dibeli di Tanjung Balai Jangan bekerja asal selesai Teliti kembali sebelum usai Pada berangkas harta berpeti Harta dirampas karena korupsi Tanamkan lekas didalam hati Kerja cerdas jadi tekadnya diri

Letak beras diatas kulkas Sebelum dimasak harus dibilas Kerja keras dan kerja lekas Hasil manfaat hatipun puas

Gurindam 12 Pasal 8
Pasal VIII Selar papan sebangsa ikan Bangsa ikan dalam lautan Pasal delapan kita lanjutkan Baca perlahan jangan ketiduran Ayat 1 “Barang siapa khianat pada dirinya Apalagi pada lainnya” Ingat kepada akan mati Jangan sembarang diatas bumi Khianat akan diri sendiri Pada orang lain lebih lagi Dara menari dimalam jum’at Gendang berbunyi suasana hikmat Kepada diri jangan khianat Jadilah diri orang amanat Kubur keramat jauh diselat Siapa percaya jadi mudarat Ilmu khianat membawa laknat Dapat neraka dihari akhirat Siti aminah datang menikah Tempat menikah dirumah Allah Buat amanah, jangan khianat Mendapat berkah dari yang rahmah Ayat 2 “Kepada dirinya dia aniaya Orang ini jangan engkau percaya” Jidup berbakti pada dunia Akhirat datang pastikan lupa Diri sendiri dia aniaya Semua orang takkan percaya

Bintang bercahaya dimalam hari Tampak redup bilakan pagi Orang aniaya diri sendiri Ibarat hidup inginkan mati Buah mengkudu masak sebiji Diperah perah obatkan hati Hidup selalu menyiksa diri Murka allah sudahlah pasti Bunga melati bunga cempaka Didalam hutan alam terbuka Menyiksa diri didalam dunia Allah pastikan hidup derita Ayat 3 “Lidah suka membenarkan dirinya Dari pada yang lain dapat kesalahannya” La haula wala quata Jauh daya serta upaya Bila lidah mulai berdusta Mulut bicara mengada ada Burung nuri terbang berputar Terbang melayang jauhi sangkar Mengaku diri yang paling benar Pada yang lain selalu ingkar Sajak dibaca pakai pepatah Bersikap menantang pada yang salah Bijak berkata bersilat lidah Menganggap orang selalu lemah Putri menanti hati nan gundah Dengan segala resah gelisah Berhati hati menggunakan lidah Jangan sampai membawa padah Ayat 4 “Dari pada memuji diri hendaklah sabar Biar dari pada orang datangnya kabar” Bakar belalang di bara api Untuk dimakan oleh kelinci

Jangan sembarang kita memuji Harus dengan ikhlas dihati Camar singgah ditiang layar Senja hari terlihat samar Khabar didengar hendaklah sabar Supaya hati tidak tersasar Hidang disaji buat kenduri Makan setalam dengan pak haji Jangan memuji kepada diri Ri’a tertanam didalam hati Tikar padi bentangkan lebar Duduk bersama akan belajar Kabar angin jangan didengar Harus periksa dengan benar Ayat 5 “Orang suka menampakkan jasa Setengah dari pada syirik mengaku kuasa” Tanjung Kelit menjadi desa Camat Senayang jadi ketua Berbuat baik ingin dipuja Itulah orang berpura pura Kuala selat tempat mengaji Tempatnya indah banyak santri Apa dibuat minta dipuji Dimata allah tidak berarti Merapat kapal pada dermaga Pangkal lanang tempat tamasya Berbuat jasa tak harap dipuja Akan dikenang sepanjang masa Pala jintan rempah rempahan Memasak gulai ikan haruan Segala perbuatan harap pujian Syirik mulai singgah dibadan Ayat 6 “Kejahatan diri sembunyikan Kebaikan diri diamkan”

Hancur kemiri karena digilas Buat memasak tumisan pedas Menabur budi niat yang ikhlas Tidak mengharap budi dibalas Patahlah hati jiwakan sunyi Ingatkan kasih tiada kembali Salahnya diri kita sembunyi Jadikan sebagai sempadan hati Buah durian mari di sekah Makan bergizi buat yang lemah Tangan kanan beri sedekah Tangan kiri haruslah lengah Kelapa kemantan mari di panjat Campurkan selai dibuat sorbat Segala perbuatan baik dan jahat Rahasia diri ditutup rapat Ayat 7 “Keaiban orang jangan dibuka Keaiban diri hendaklah sangka” Tabib dari Tanjunglah lipat Tabib seberang memberi obat Aib sendiri harus diingat Aibnya orang ditutup rapat Pinang sebatang tinggi menjulang Ambil sebiji dikala petang Bercerita tentang aibnya orang Aib sendiri tampaklah terang Sirip ikan di buat acar Dibuat makan diwaktu ashar Aib teman selalu disiar Aib kita terangkan sebar Sari madu beli di pekan Belikan barang buat campuran Aib dan malu jadi sempadan Melangkah yang baik dihari depan

Gurindam 12 Pasal 9

Pasal IX Bandar sudah menjadi pecan Banyak dijual buah buahan Tak sadar sudah pasal sembilan Tiga pasal ada di depan Ayat 1 “Tahu pekerjaan yang tak baik Tetapi dikerjakan Bukanlah manusia yaitulah syaitan” Kain secarik tolong belikan Buat dijahit kain lap tangan Hal yang baik tidak dikerjakan Kita menjadi sahabat syaitan Batang betik tidak terawat Diganti dengan tanaman obat Pekerjaan yang baik cepat dibuat Supaya syaitan tidak mendekat Hutan dibabat lautan dikeruk Kelakuan sadis para cecunguk Banyak membuat pekerjaan buruk Syaitan dihati sudah kemaruk Ikan disimpan dalam periuk Untuk temani makan gegetuk Syaitan arahkan pada yang buruk Hidup dan mati kita terpuruk Ayat 2 “Kejahatan seorang perempuan tua Itulah iblis punya punggawa” Sarang tempua jangan dipanjat Baik biarkan burung mendekat Wanita tua berbuat laknat Syaitan akan jadi sahabat Tarian barat tarian samba Tari kecak budaya bangsa Kelakuan bejat wanita tua Hari akhirat masuk neraka

Pulau perca nama Sumatra Medan langkat sidanau Toba Wanita tua berbuat dosa Syaitan angkat jadi punggawa Semai lada diladang desa Lada diikat didalam tenda Wahai wanita bergelimang dosa Segera bertaubat jangan ditunda Ayat 3 “Kepada segala hamba hamba raja Disituklah syaitan tempatnya manja” Angin sepoi menderu terasa Malam hari duduk diberanda Ingin jadi pembantu penguasa Didalam hati syaitan meraja Tabla gendang kulit buaya Indah berbunyi dikala senja Apabila kurang iman didada Jauhkan menjadi pembantu penguasa Padi tumbuh ditengah desa Masyarakat adil makmur sejahtera Menjadi pembantu para penguasa Rakyat kecil harus dibela Dara bujang sedang bercinta Hati rindu tiada tara Supaya syaitan tidakkan manja Menjadi pembantu beriman dan takwa Ayat 4 “Kebanyakan orang yang muda muda Disitulah syaitan tempat berkuda” Lihat wanita cantik dan lawa Seakan ditikam panah asmara Jadi pemuda beriman dan takwa Syaitan jauh berdepa depa Ramah tamah sifat terpuji Ditiru pula pemuda pemudi

Jadilah remaja ashabulkahfi Pintu surga senantiasa menanti Sungai raya terang benderang Ramai mencari si orang hilang Wahai pemuda di zaman sekarang Perisailah diri syaitan menyerang Panglima teguh di medan laga Senjata ditangan gagah perkasa Pemuda yang penuh iman di dada Membuat syaitan selalu berduka Ayat 5 “Perkumpulan laki laki dengan perempuan Disitulah syaitan punya jamuan” Bila tumpul pisau senjata Diasah dengan batu geliga Pria berkumpul dengan wanita Disitu syaitan berpesta pora Jalan beriring pasukan musuh Gagah berani saling membunuh Bukan muhrim jangan di sentuh Kelak pasti imankan runtuh Kalau harta jadi tujuan Harus berhamba pada hartawan Pria wanita satu jamuan Berkumpul sama para syaitan Berbiduk sampan layar terkembang Berlayar pula mengikut pasang Bertepuk tangan syaitan jembalang Pria wanita duduk berdendang Ayat 6 “Adapun orang tua yang hemat Syaitan tak suka membuat sahabat” Obat luka makanlah gamat Dicuci dulu ditumbuk lumat Bila si tua selalu hemat Anak cucu hidupnya cermat

Pedang cina penuh berkarat Pedang buatan abad keempat Orang tua hidup berhemat Padanya syaitan takut mendekat Pulut apit dicampur gula Kopi koko beri halia Hidup irit harus dibela Jadi contoh bagi belia Pisang tanduk dibelah empat Makanan inti waktu berehat Orang tua hidup hemat dan cermat Syaitan benci kalau melihat Ayat 7 “Jika orang muda kuat berguru Dengan syaitan jadi seteru” Telah lama tidak bertemu Gelisah rasa memendam rindu Dari muda menimba ilmu Sesudah tua tidakkan semu Tenda biru beli di Kelumu Baru dipasang saat menjamu Pemuda berguru mencari ilmu Hantu syaitan tidakkan bertemu Biar terang dalam istana Lampu pelita dimana mana Belajar tentang ilmu dunia Untuk bekerja dialam fana Dari galang ke tanjung uma Singgah belanja batu permata Pelajari tentang ilmu agama Untuk bekal menutup mata

Gurindam 12 Pasal 10
Pasal X Hidup rukun si warga pauh Karena berpegang pesan sesepuh

Dah sampaipun pasal ke sepuluh Apakah tuan dah berpeluh Ayat 1 “Dengan bapa jangan durhaka Supaya allah tidak murka” Gula jawa dimakan lalat Lalat hitam warna berkilat Dengan bapa jangan kualat Kelak akan hidup terlaknat Pada harta janganlah tamak Mata silau jadi berontak Ada ayah barulah anak Pada beliau jangan tergamak Masak lemak dan tumis udang Beri kuah talam dihidang Kepada anak harus disayang Bakti ayah tiada terbilang Dunia fana takkan baqa Setiap insan akan tergoda Kepada bapa jangan durhaka Allah campakkan dalam neraka Ayat 2 “Dengan ibu hendaklah hormat Supaya badan dapat selamat” Dayang senandung didalam taman Harap putra kembali kepangkuan Ibu mengandung sembilan bulan Tidak merasa menjadi beban Bunga layu bunga melati Tidak berharga lempar di kali Kepada ibu harus berbakti Merawat menjaga sepenuh hati Ketawa dulu baru dibuka Senyum dukulum waktu membaca Kepada ibu kita durhaka Tidak mencium baunya surga

Bunga kiambang aneka rupa Warna merah harum baunya Orang tua ikhlas dan rela Reda allah datang bersama Ayat 3 “Dengan anak janganlah lalai Supaya boleh naik ketengah balai” Budak meral pergi mengail Budak benama atan ismail Anak diajar sedari kecil Bila besar tidaklah degil Pujangga bersajak diatas balai Madah bicara sampai selesai Menjaga anak janganlah lalai Setelah besar kita tak lunglai Pilar tegak terlihat megah Pilar terletak dimuka rumah Mengajar anak segala faedah Bila besar kita tak lelah Datang hadir segala arah Melihat lomba gasing terindah Anak lahir membawa fitrah Harta berharga yang paling mewah Ayat 4 “Dengan istri dan gundik janganlah alfa Supaya kemaluan jangan menerpa” Berperi bengis raja dahulu Terhadap rakyat suka menipu Beristri lebih darilah satu bersikap adil sudah ditentu barang seni didalam pura letak ditempat akan dijaga ladang sendiri rawat dan bela jangan membabat lahan tetangga membawa sirih adat meminang berlaku adat orang bertunang

kepadan istri janganlah curang disitu tempat menganga lobang goni sarat dengan jerami dibawa pedagang kepulau sugi istri ibarat ladang suami jagalah dengan sepenuh hati Ayat 5 “Dengan Kawan Hendaklah Adil Supaya Tangannya Jadi Kafil” Kail gelama tengah lautan Sampan dibawa penuh muatan Adil seksama dalam berteman Akan ingat dalam kenangan Mari berjalan naik sepeda Kota serang dipulau jawa Mencari teman memilih bangsa Semua orang tidakkan suka Akhir zaman segera tiba Tanda kecil sudah terasa Jadilah teman bagai saudara Selalu adil dan bijaksana Indah nian kampung gelugur Terbang berkawang burung tekukur Kepada teman berlaku jujur Pergaulan akan selalu akur

Gurindam 12 Pasal 11
Pasal XI Didalam gelas airlah soda Lalu direndam batu geliga Pasal sebelas terus dibaca Pasal gurindam hamper semprna Ayat 1 “Hendaklah berjasa Kepada yang sebangsa”

Dari utara ke tenggara Bebas pergi kemana suka Bakti pada negara dan bangsa Tugas suci setiap warga Dulu kaya sekarang sengsara Nasib kita tiada mengira Selalu bertanya jasa negara Tapi apakah kita berjasa ? Datang mencari dara jelita Jadikan istri berumah tangga Berjuang mengisi negara merdeka Dengan berbakti berbuat jasa Kemana pergi mencari harta Bagi mengisi hidup keluarga Bangga menjadi warga negara visi, misi giat bekerja Ayat 2 “Hendak jadi kepala Buang perangai yang cela” Memburu landak memakai kain Buat obat kurang vitamin Kalau hendak jadi pemimpin Jujur berbuat bekerja rajin Bangau tegak ditepi hutan Kurus diri karma tak makan Kalau hendak menjadi tuan Harus hargai para bawahan Sayang serawak di Malaysia Laksamana bintan gagah perkasa Pimpinan banyak aib dan cela Negara akan jadi celaka Zapin besama tari serimpi Tarian budaya kita lindungi Pemimpin kerja selalu korupsi Tidak kan lama masuk jeruji

Ayat 3 “Hendaklah Memegang Amanat Buanglah Khianat” Terang sudah makna tersirat Dapat dengan belajar giat Pegang kuat akan amanat Khianat jangan sekali dibuat Batu Pahat dekat segamat Banyak di jaja bahulu lepat Buat khianat tidak selamat Dalam neraka disitu tempat Datang senja petang berpindah Bulan terang dilangit cerah Barang siapa pegang amanah Itulah orang mengikut sunah Bila berjalan dari siantan Pindah dagangan dari Tambelan Amanah jangan disia siakan Khianah jangan coba lakukan Ayat 4 “Hendak marah Berulukan Hujan” Dimana sendu disitu gelisah Dimana tempat disitu rumah Periksa dahulu sebelum marah Janganlah cepat naik darah Dengan lurah menuju bangsal Turun dahulu membeli bekal Jangan marah tak tentu pasal Sebelum tahu sesuatu hal Indah sekuntum bungan nan merah Bunga idaman buat rapeah Marah sebelum gunakan hujah Sesal kemudian tak ada faedah

Setengah bulan berjalan sudah Uang dikumpul tinggal setengah Marah bukan pecahkan masalah Dahulukan usul serta telaah Ayat 5 “Hendak Ramai Murahkan Perangai” Bunga melati si bunga rampai Dihias mari malam berinai Murah hati pada yang ramai Hidup pasti terasa damai Dari Daik jalan Kemusai Panggak darat indah dan permai Baik baik buat perangai Jahat di buat janganlah sampai Pantai teluk pantai pelawan Kapal keruk tengah lautan Perangai buruk kita lakukan Akan tersuruk dalam berteman Bias kaki tertikam teruk Obat dicari daun senuduk Jauhkan dari perangai buruk Tidak jadi manusia terkutuk

Gurindam 12 Pasal 12
Pasal XII Pohon kapas disambar petir Kilat dan hujan berdesir desir Pasal dua belas pasal terakhir Membuat tuan untuk berpikir Ayat 1 “Raja Mufakat Dengan Menteri Seperti Kebun Berpagar Duri” Sinden putri membaca hikayat Para brahmana mendengar cermat Presiden mentri selalu mufakat Makmur sejahtera hidupnya rakyat

Guntur dan petir menyambar getah Ranting tersayat terbelah belah Gubenur dan wakil tuju searah Pasti masyarakat hidupnya cerah Hari jumat baca shalawat Bagi rasul harap syafaat Bupati camat hidup merakyat Pasti membantu masyarakat melarat Menjalin tali memasang jerat Dara tekukur tidak terlihat Pemimpin mentri tidak sepakat Negara hancur terkerat kerat Ayat 2 “Betul hati kepada raja Tanda jadi sebarang kerja” Diatas kursi kaki dilunjur Meja jati beri pelitur Pada pemimpin hendaklah jujur Kerja pasti akan teratur Kayu jati dihias ubin Jendela rapat bertirai kain Lurus hati pada pemimpin Kerja dibuat tak main main Udara dingin dari kemarin Hujan berangin hingga ke senin Kerja ingin dipuji pemimpin Depan pemimpin pura pura rajin Bulan purnama dimalam hari Duduk santai hungga kepagi Jangan bekerja harap dipuji Anggap sebagai tanggungan diri Ayat 3 “Hukum adil atas rakyat Tanda raja beroleh inayat” Kumtum kembang sedang layu Puspa bunga seakan biru

Hokum jangan memandang bulu Sama saja raja, penipu Nujum memburu landak dan kancil Mantra dibaca nampaklah hasil Hokum berlaku rakyat kecil Tanda pemimpin tidaklah adil Tanjung biru kuala deli Kapal berangkat kesungai musi Hokum selalu dijual beli Tanda aparat suka korupsi Kuntum bunga indah ditata Bunga raya indah jelita Hukum berlaku sama dan rata Buat raja rakyat jelata Ayat 4 “Kasihkan Orang Yang Berilmu Tanda Rahmat Akan Dirimu” Nikmat sungguh sibatang tebu Terasa kenyang duduk dibangku Rahmad selalu datang menuju Pada orang menuntut ilmu Tebang kelapa tebang mengkudu Batang dibuat penyangkut baju Sayang kepada orang berilmu Syaitan akan takut kepadamu Baju berenda atur berjajar Baju diangkat letak ditikar Ilmu berguna selalu diajar Ilmu yang sesat harus dihindar Berlayar bahtera pemantang siantar Lautan biru ombaknya besar Belajar kepada oring yang pintar Jalan dituju pastilah benar Ayat 5 “Hormat Akan Orang Orang Yang Pandai Tanda Mengenal Kasa dan Cindai”

Baca pelan coba mengeja Dengan tenang santai bercanda Kaca intan pandai dibeda Orang yang pintar tiada dua Jia belajar tidak mengantuk Dengan mudah ilmu kan masuk Datap menakar baik dan buruk Kepada allah selalu tunduk Kasa cindai masuk kepeti Buat bawa kepulau sugi Pada sipandai harus hormati Pada si tua harus sayangi Buat kerupuk disiang rabu Jemur dipantai bersama sagu Baik dan kuruk timbang dikalbu Barulah pandai membeda batu Ayat 6 “Ingatkan Dirinya Mati Itulah Asal Berbuat Bakti” Takwa padanya tetap dituntut Tegah suruhnya segera direbut Setiap bernyawa pastikan maut Tinggal menuju ajal menjemput Sepakat kata satukan hati Bebuat benar sama berjanji Melayat pada orang yang mati Banyak i’tibar kita dapati Menanti hari menunggu janji Ikrar dilidah tekad dihati Mati pasti menjemput diri Pada allah perbanyak bakti Terus berhayal untuk mendapat Dengan ragu akan sahabat Harus menyesal sebelum lambat Jangan menunggu keliang lahat

Ayat 7 “Akhirat Itu Terlalu Nyata Kepada Hati Yang Tidak Buta” Kita sembahyang menghadap kiblat Lalu berdoa harap dijabat Berita tentang hari akhirat Pasti nyata wahai sahabat Pelita mati gulita terasa Dekat katil sendiri saja Buta hati karena dunia Akhirat nanti pasti merana Kiamat dekat didepan mata Gundah gulana tidak mengena Akhirat tempat yang sangat baqa Dunia hanya tempat yang fana Sakit terasa kala disebat Sebadan penuh dan sangat kuat Wajib percaya pada akhirat Hanya menunggu cepat dan lambat

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful