P. 1
MAKALAH ENZIM

MAKALAH ENZIM

|Views: 1,975|Likes:
Published by MEy CEw LEbe

More info:

Published by: MEy CEw LEbe on Aug 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/07/2013

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA ENZIM

Disusun Oleh : E-6
1. Ni Nyoman M. Putri 2. Imanuel Tommy P. 3. Ekarani Suryaningsih 4. Maria H. C. Nalley 5. Lidya Dian Pratiwi 6. Iwan Susanto (1100084) (1100087) (1100108) (1100142) (1100805) (1100876)

Fakultas Farmasi Universitas Surabaya 2011

DAFTAR ISI

Halaman Judul Daftar Isi ...... ................................ ................................ ................................ ............ Bab I. Pendahuluan«««««««««««««««««««««««.. Bab II. Tujuan Percobaan ................................ ................................ ........................... Bab III Bahan dan Cara Kerja ................................ ................................ .................... Bab IV. Hasil Percobaan ................................ ................................ ............................ Bab V. Pembahasan ................................ ................................ ................................ ... Bab VI. Kesimpulan ................................ ................................ ................................ .. Lampiran Daftar Pustaka

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Enzim Enzim adalah golongan protein yang paling banyak terdapat dalam sel hidup. Sekarang, kira-kira lebih dari 2.000 enzim telah teridentifikasi, yang masing-masing berfungsi sebagai katalisator reaksi kimia dalam sistem hidup. Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian besar enzim dapat diperoleh dengan ekstraksi dari jaringan tanpa merusak fungsinya. Sebagai katalisator, enzim berbeda dengan katalisator anorganik dan organik sederhana yang umumnya dapat mengatalisis berbagai reaksi kimia, Enzim memiliki spesifitas yang sangat tinggi, baik terhadap reaktan (substrat) maupun jenis reaksi yang dikatalisiskan. Pada umumnya, suatu enzim hanya mengatalisis satu jenis reaksi dan bekerja pada suatu susbstrat tertentu. Kemudian, enzim dapat meningkatkan laju reaksi yang luar biasa tanpa pembentukan produk samping dan molekul berfungsi dalam larutan encer pada keadaan biasa (fisiologis) tekanan, suhu, dan pH normal. Hanya sedikit katalisator nonbiologi yang dilengkapi sifat-sifat demikian. Enzim merupakan unit fungsional dari metabolisme sel. Enzim bekerja dengan urutan-urutan yang teratur dan mengkatalisis ratusan reaksi dari reaksi yang sangat sederhana seperti replikasi kromosom sampai ke reaksi yang sangat rumit, misalnya reaksi yang menguraikan molekul nutrient; menyimpan; dan mengubah energi kimiawi. Masing-masing reaksi dikatalisis oleh sejenis enzim tertentu. Di antara sejumlah enzim tersebut, ada sekelompok enzim yang disebut enzim pengatur (enzim allosterik). Enzim dapat mengenali berbagai isyarat metabolis yang diterima. Melalui aktivitasnya, enzim pengatur mengkoordinasikan sistem enzim dengan baik, sehingga menghasilkan hubungan harmonis diantara sejumlah aktivitas metabolis yang berbeda.

. Walaupun struktur enzim menentukan fungsinya. Ditemukannya suatu enzim dalam darah dengan tingkat berlebihan seringkali menunjukkan adanya kerusakan sel di dalam organ yang sakit. Bagian protein dari enzim disebut apoenzim. Terdapat pula sejumlah kecil katalis RNA. dan lain-lain. seperti: infarktus otot jantung. sedangkan sebagian besar lainnya memiliki struktur rumit. prostat.500 residu pada asam lemak sintase. yang disebut atau Cu2+. gabungan apoenzim dan kofaktornya sehingga enzim menjadi aktif disebut holoenzim. Bola abu-abu adalah kofaktor seng yang berada pada tapak aktif. Aktivitas enzim ditentukan oleh struktur tiga dimensinya (struktur kuaterner). tetapi dapat pula berupa molekul organik kompleks yang disebut koenzim. prediksi aktivitas enzim baru yang hanya dilihat dari strukturnya adalah hal yang sangat sulit. sehingga terjadi pelepasan enzim hati ke dalam darah. 1.2 Struktur Enzim Diagram pita yang menunjukkan karbonat anhidrase II. Jenis enzim ini dirujuk sebagai RNA-enzim ataupun ribozim. Kemudian. Analisis enzim dalam serum dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit. Semua enzim pada hakikatnya adalah protein. Enzim umumnya merupakan protein globular dan ukurannya berkisar dari hanya 62 asam amino pada monomer 4oksalokrotonat tautomerase.Pada keadaan abnormal atau aktivitas berlebihan suatu enzim dapat menimbulkan penyakit. kebanyakan enzim baru berfungsi sebagai katalis apabila disertai zat lain yang bukan protein. hepatitis. Namun. sampai dengan lebih dari 2. Beberapa di antaranya mempunyai struktur agak sederhana. Penyakit tertentu seperti hepatitis terinfeksi menyebabkan jaringan hati mengalami kerusakan akibat infeksi. dengan yang paling umum merupakan ribosom.

Enzimologi terutama . tetapi hanya sebagian kecil asam amino enzim (sekitar 3±4 asam amino) yang secara langsung terlibat dalam katalisis. bukan protein structural Tidak semua protein bertindak sebagai enzim Protein Enzim protein sederhana Enzim Enzim Konjugasi Protein + Bukan Protein Bukan protein = Protein = apoenzim Gugus prostetik Organik= Koenzim Anorganik = kofaktor Hal yang berkaitan dengan enzim dipelajari dalam enzimologi. yang sering kali merupakan produk langsung ataupun tak langsung dari reaksi yang dikatalisasi. Enzim juga dapat mengandung tapak yang mengikat kofaktor yang diperlukan untuk katalisis. Beberapa enzim juga memiliki tapak ikat untuk molekul kecil. Pengikatan ini dapat meningkatkan ataupun menurunkan aktivitas enzim.2. Dalam dunia pendidikan tinggi. enzimologi tidak dipelajari tersendiri sebagai satu jurusan tersendiri tetapi sejumlah program studi memberikan mata kuliah ini. Daerah yang mengandung residu katalitik yang akan mengikat substrat dan kemudian menjalani reaksi ini dikenal sebagai tapak aktif.1 Susunan Enzim ‡ ‡ ‡ Komponen utama enzim adalah protein Protein yang sifatnya fungsional.Kebanyakan enzim berukuran lebih besar daripada substratnya. Dengan demikian ia berfungsi sebagai regulasi umpan balik. (Toha: 2005) 1.

sedangkan PRODUK adalah substansi baru yang terbentuk setelah reaksi mencapai keseimbangan.3 Sifat-sifat Enzim Sifat enzim yang sangat penting adalah tingginya efisiensi dan derajat spesifitas katalitik enzim terhadap substrat. urea dan dapat dihambat oleh racun enzim. Orientasi keduanya sangat mendukung sehingga saat terjadi reaksi tidak memerlukan energy yang besar untuk mengatur posisi. Misalnya gliserolkinase (katalisis gliserol menjadi gliserolfosfat dan ATP sebagai donor fosfat) yang secara teori dapat memindahkan gugus fosfat ke gugus hidroksil karbon. enzim memiliki kekhususan ruang yaitu kekhususan enzim dalam membedakan gugus kimia yang sama pada suatu substrat. Seperti protein pada umumnya enzim dapat mengalami denaturasi oleh berbagai faktor. teknologi pengolahan pangan. Pada enzim tersebut sangat penting untuk aktifitas kalalisis. temperatur. ilmu pangan.dipelajari dalam kedokteran. Spesifitas enzim berkaitan dengan reaksi enzim yang sangat spesifik. mempunyai struktur 3 dimensi. menghasilkan stereoisomer D dank e gugus hidroksil karbon 3 menghasilkan . seperti : perubahan pH yang mencolok. Kedua. Kekhususan ini memerlukan sisi aktif enzim yang lebih luwes. Pertama adalah kekhususan mutlak yaitu kekhususan enzim yang mempunyai sisi aktif tertata baik dan kaku sehingga enzim tersebut hanya mampu mengkatalisis satu reaksi substrat menjadi produk. APOENZIM bagian enzim yang merupakan protein. Ketiga. pelarut organik. oleh karena itu perubahan konformasi yang sedikit saja pada struktur enzim akan mempengaruhi aktifitasnya. dan cabangcabang ilmu pertanian SUBSTRAT adalah substansi yang mengalami perubahan kimia setelah bercampur dengan enzim. Enzim memiliki beberapa kekhususan dalam mengkatalisis satu reaksi substrat menjadi produk. satu enzim hanya akan bereaksi dengan satu substrata tau setiap enzim menyebabkan satu perubahan satu langkah pada substratnya. 1. kekhususan nisbi yaitu kekhususan enzim yang dapat mengkatalisis jenis reaksi sama dengan lebih dari satu substrat yang memiliki kemiripan struktur. Efisiensi katalitik enzim berkaitan dengan orientasi optimum gugus aktiv enzim dan substrat.

Pada tahun 1894.4. produk meninggalkan sisi akti enzim tersebut siap melakukan proses yang sama pada substrat yang baru.1 Model "kunci dan gembok" enzim dan Enzim Substrat Gambar Model ³Lock and Key´ Enzim sangatlah spesi ik. Pertama. Manakala model ini menjelaskan kespesi ikan enzim. enzim melakukan reaksi kimia pada substrat membentuk kompleks enzim-produk. ia gagal dalam menjelaskan stabilisasi keadaan . susbstrat melekat pada enzim dengan ikatan nonkovalen membentuk kompleks enzim substrat. Kedua. Tahap ketiga. Hal ini sering dirujuk sebagai model "Kunci dan Gembok".4 Mekani me Kerja Enzim Secara garis besar ada tiga tahap kerja enzim (E) pada substrannya (S).st oisom d ngan p l ang yang sama Nam n nyataannya yang t b nt selal dan hanya isomer L. Emil Fischer mengajukan bahwa hal ini dikarenakan baik enzim dan substrat memiliki bentuk geometri yang saling memenuhi. 1. 1.

misalnya glikosidase. Enzim dapat bekerja dengan beberapa cara.) . Daniel Koshland mengajukan modi ikasi model kunci dan gembok: oleh karena enzim memiliki struktur yang fleksibel. yang mana bentuk akhir dan muatan enzim ditentukan. dan model ketepatan induksilah yang sekarang paling banyak diterima. Akibatnya. tapak aktif secara terus menerus berubah bentuknya sesuai dengan interaksi antara enzim dan substrat. Pada tahun 1958. Orientasi rantai samping asam amino berubah sesuai dengan substrat dan mengijinkan enzim untuk menjalankan fungsi katalitiknya. molekul substrat juga berubah sedikit ketika ia memasuki tapak aktif. substrat tidak berikatan dengan tapak aktif yang kaku. 1.4.transisi yang dicapai oleh enzim.2 Model ketepatan induksi Diagram yang menggambarkan hipotesis ketepatan induksi. Model ini telah dibuktikan tidak akurat. Pada beberapa kasus. yang ke semuanya menurunkan Ea : ‡ Menurunkan energi aktivasi dengan menciptakan suatu lingkungan yang mana keadaan transisi terstabilisasi (contohnya mengubah bentuk substrat menjadi konformasi keadaan transisi ketika ia terikat dengan enzim. Tapak aktif akan terus berubah bentuknya sampai substrat terikat secara sepenuhnya.

Contohnya bereaksi dengan substrat sementara waktu untuk membentuk kompleks Enzim-Substrat antara.3 Inhibisi Inhibitor kompetitif mengikat enzim secara reversibel.4. i (Mathews: 1999) 1. ‡ Menyediakan lintasan reaksi alternatif. . dan kontribusinya terhadap katalis relatf kecil. ‡ Menurunkan perubahan entropi reaksi dengan menggiring substrat bersama pada orientasi yang tepat untuk bereaksi. Menariknya. Di lain pihak. efek entropi ini melibatkan destabilisasi keadaan dasar.‡ Menurunkan energi keadaan transisi tanpa mengubah bentuk substrat dengan menciptakan lingkungan yang memiliki distribusi muatan yang berlawanan dengan keadaan transisi. menghalangi pengikatan substrat. pengikatn substrat juga menghalangi pengikatan inhibitor. Substrat dan inhibitor berkompetisi satu sama lainnya.

Vmax reaksi berubah. Namun. inhibitor dapat merupakan bagian dari mekanisme umpan balik. Baik kompleks EI dan EIS tidak aktif. Km tetaplah sama. sehingga meningkatkan Km. kecuali kompleks EIS memiliki aktivitas enzimatik residual. namun memerlukan konsentrasi substrat yang lebih tinggi untuk mencapai kelajuan maksimal tersebut. kelajuan maksimal reaksi tidak berubah.W. Pada banyak organisme. metotreksat adalah inihibitor kompetitif untuk enzim dihidrofolat reduktase. Karena inhibitor tidak dapat dilawan dengan peningkatan konsentrasi substrat. Cleland. ‡ Inhibisi campuran Inhibisis jenis ini mirip dengan inhibisi non-kompetitif. y Inhibitor competiti e Pada inihibisi kompetitif. Laju reaksi enzim dapat diturunkan menggunakan berbagai jenis inhibitor enzim . Jika enzim memproduksi terlalu . Seringkali inhibitor kompetitif memiliki struktur yang sangat mirip dengan substrat asli enzim. Perhatikan bahwa pengikatan inhibitor tidaklah perlu terjadi pada tapak pengikatan substrat apabila pengikatan inihibitor mengubah konformasi enzim. Kemiripan antara struktur asam folat dengan obat ini ditunjukkan oleh gambar di samping bawah. Pada inhibisikompetitif. sehingga menghalangi pengikatan substrat. karena substrat masih dapat mengikat enzim. Sebagai contoh. inhibitor dan substrat berkompetisi untuk berikatan dengan enzim. ‡ Inhibitor non-competiti e Inhibitor non-kompetitif dapat mengikat enzim pada saat yang sama substrat berikatan dengan enzim.Jenis-jenis inihibisi Klasifikasi ini diperkenalkan oleh W.

1. sehingga pada saat bertumbukan dengan enzim. Suhu Pada suhu yang lebih tinggi. (a) Suhu optimum enzim (b) Denaturasi . Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim antara lain: 1. Enzim bekerja pada kondisi tertentu yang relatif ketat. energi molekul substrat berkurang. Aktivitas enzim meningkat dengan meningkatnya suhu sampai pada titik tertentu. dan menjadi setengahnya bila temperatur diturunkan dengan 10r. kecepatan molekul substrat meningkat.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Enzim Seperti molekul protein lainnya sifat biologis enzim sangat dipengaruhi berbagai faktor fisikokimia. Perbandingan yang tepat di mana kecepatan berubah untuk setiap kenaikan temperatur 10r C adalah Q10. produk tersebut dapat berperan sebagai inhibitor bagi enzim tersebut.banyak produk. atau koefisien temperatur. Peningkatan suhu meningkatkan energi kinetik pada molekul substrat dan enzim. Gambar 2. Hal ini memudahkan terikatnya molekul substrat pada sisi aktif enzim. Kecepatan banyak reaksi biologis kurang lebih naik dua kali dengan kenaikan temperatur 10r (Q10 = 2). Kurva substrat/kelajuan enzim ini tidak berbentuk hiperbola melainkan berbentuk S. Hal ini akan menyebabkan produksi produk melambat atau berhenti. Enzim memiliki bentuk regulasi seperti ini sering kali multimerik dan mempunyai tapak ikat alosterik. sehingga kecepatan reaksi meningkat pula. Bentuk umpan balik ini adalah umpan balik negatif.

sedangkan amilase (enzim yang bekerja di mulut dan usus halus) memiliki pH optimum sekitar 7.5 (agak basa). pepsin (enzim yang bekerja di dalam lambung) mempunyai pH optimum sekitar 2 (sangat asam). Perubahan kondisi asam dan basa di sekitar molekul enzim mempengaruhi benuk tiga dimensi enzim dan dapat menyebabkan denaturasi. Denaturasi menyebabkan aktivitas enzim menurun atau hilang. . 2. Setiap enzim memiliki pH optimum.Namun. Misalnya. energi kinetik molekul-molekul enzim menjadi demikian besar sehingga melampaui energi penghalang untuk memecahkan ikatan-ikatan sekunder yang mempertahankan enzim dalam keadaan aslinya atau keadaan katalitik aktif. Kecepatan enzim dalam mengkatalis reaksi mencapai puncaknya pada suhu tertentu. pH pH juga mempengaruhi aktivitas enzim. suhu optimal adalah suhu sel atau suhu di atas suhu sel di mana enzim -enzim terdapat di dalamnya. Suhu ini disebut suhu optimum enzim. Peningkatan suhu yang semakin tinggi menyebabkan putusnya ikatan hidrogen dan ikatan lain yang merangkai molekul enzim. Akan tetapi bila suhu tetap dinaikkan terus. Gambar 3. sehingga enzim mengalami denaturasi. Suhu optimum enzim berkisar antara 25r ± 40r C. Akibatnya struktur sekunder dan tersier hilang disertai hilangnya aktivitas katalitik. tidak berarti bahwa peningkatan ini berlangsung tidak terbatas. Untuk kebanyakan enzim. pH optimum beberapa jenis enzim. (Yasied: 2006) Kenaikan kecepatan di bawah suhu optimal disebabkan oleh kenaikan energi kinetika molekul-molekul yang bereaksi.

Namun. Sisi aktif suatu enzim dapat digunakan berulang kali oleh banyak substrat. Pelepasan produk menyebabkan sisi aktif enzim bebas untuk berikatan dengan substrat lainnya. Kondisi ini disebut konsentrasi substrat pada titik jenuh atau disebut kecepatan maksimum (Vmax).5 8-11 3.6-7. Dengan kata lain konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan reaksi. Gambar 4. Substrat yang berikatan dengan sisi aktif enzim akan membentuk produk. kecepatan reaksi akan meningkat dengan adanya peningkatan konsentrasi substrat. . penambahan substrat tidak dapat meningkatkan kecepatan reaksi enzim lebih lanjut. Konsentrasi Substrat Bila sejumlah enzim dalam keadaan tetap.2 5. Pengaruh konsentrasi enzim terhadap kecepatan reaksi 4. pada saat sisi aktif semua enzim bekerja. Konsentrasi Enzim Semakin besar konsentrasi enzim semakin cepat pula reaksi yang belangsung. Oleh karenanya hanya dibutuhkan sejumlah kecil enzim untuk mengkatalis sejumlah besar substrat. pankreas Pankreas Lambung Pankreas Substrat Sukrosa Amilum Etil butirat Albumin Kasein pH optimum 6.2 7.Tabel enzim dan pH optimumnya Enzim Sukrase Amilase Lipase Pepsin Tripsin Sumber Usus halus Saliva.0 1.5-2.

dan sisi aktif tidak dapat berfungsi. Inhibitor kompetitif dapat diatasi dengan cara penambahan konsentrasi substrat. Inhibitor : (a) Kompetitif (b) Non -Kompetitif Selain faktor-faktor diatas. sehingga bentuk enzim berubah. Ada dua macam inhibitor enzim. kerja enzim juga dapat dipengaruhi oleh:  Oksidasi oleh udara disekitar atau senyawa lain . Inhibitor kompetitif adalah molekul penghambat yang cara kerjanya bersaing dengan substrat untuk mendapatkan sisi aktif enzim. Gambar 6. Pengaruh konsentrasi substrat terhadap kecepatan reaksi 5. Contohnya. sianida bersaing deengan oksigen untuk mmendapatkan Hb dalam rantai respirasi terakhir.Gambar 5. yaitu inhibitor kompetitif dan nonkompetitif. Inhibitor Inhibitor merupakan suatu molekul yang menghambat ikatan enzim dengan substratnya. Inhibitor non-kompetitif adalah molekul penghambat enzim yang bekerja dengan cara melekatkan diri pada luar sisi aktif.

yaitu dehidrogenase dan oksidase. Enzim ini banyak terdapat pada mitokondria dalam semua sel jaringan. Enzim-enzim yang termasuk dalam golongan ini dapat dibagi dalam dua bagian. sedangkan senyawa yang menerima hidrogen adalah suatu koenzim nikotinadenindinukloetida. Reaksi pembentukan aldehida dari alkohol adalah contoh reaksi dehidrogenase.  Konsentrasi produk Semakin tinggi konsentrasi produk akan semakin menghambat kerja enzim. Dehidrogenase bekerja pada reaksi -reaksi dehidrogenase. Di sini alkohol adalah donor hidrogen. Sehingga secara kuantitas dan kualitasnya kerja enzim pun turun.6 Klasi ikasi Enzim Berdasarkan jenis reaksi yang dikatalisis. 1. yaitu: 1. (Holiday: 2005) . Hidrogen yang dilepas diterima oleh senyawa lain (akseptor). enzim dapat dibagi menjadi enam golongan utama. yaitu reaksi pengambilan atom hidrogen dari suatu senyawa (donor). Dalam reaksi ini asam glutamat diubah menjadi asam ketoglutarat. Enzim yang bekerja pada reaksi ini adalah alkohol dehidrogenase. Oksidoreduktase Merupakan kelompok enzim yang mengerjakan reaksi oksidasi dan reduksi. jadi sekresinya enzim menurun. Glutamat dehidrogenase adalah contoh enzim dehidrogenase yang bekerja terhadap asam glutamat sebagai substrat. Sinar ultraviolet  Sinar X  Terjadi perubahan fisiologi pada organ-organ tubuh.

yaitu suatu senyawa yang terdiri atas flavin yang berikatan dengan protein. Contoh lain enzim oksidase ialah asam amino oksidase. (Holiday: 2005) Xantin oksidase adalah enzim yang bekerja sebagai katalis pada reaksi oksidasi xantin menjadi asam urat. Transferase Merupakan kelompok enzim yang berperan dalam reaksi pemindahan suatu gugus dari suatu senyawa kepada senyawa lain.Enzim-enzim oksidase juga bekerja sebagai katalis pada reaksi pengambilan hidrogen dari suatu substrat. Beberapa contoh enzim yang termasuk golongan ini adalah metiltransferase. Enzim ini adalah suatu flavoprotein. Glisin oksidase adalah enzim pada reaksi oksidasi glisin menjadi asam glioksilat. Enzim asam amino oksidase terdapat dalam jaringan hati dan ginjal. yang bekerja sebagai katalis pada reaksi oksidasi asam -asam amino. Sebagai contoh enzim glukosa oksidase bekerja sebagai katalis pada reaksi oksidasi glukosa menjadi asam glukonat. . hidroksimetiltransferase. (Holiday: 2005) 2. Dalam reaksi ini yang bertindak sebagai selaku reseptor hidrogen ialah oksigen.

kimotripsin. 3. Ada tiga jenis hidrolase. tripsin. Lipase ialah enzim yang memecah ikatan ester pada lemak dan gliserol.karboksitransferase. lipase. Esterase yang terdapat dalam hati dapat memecah ester sederhana. asiltransferase. dan yang memecah ikatan peptida. fosfatase.Enzim transminase bekerja pada reaksi pemindahan gugus amino dari suatu asam amino kepada senyawa lain Contoh: . amino peptidase. Pembentukan glisin dari serin merupakan reaksi pemindahan gugus hidroksi metil. dan amino transferase atau transaminase. Beberapa enzim sebagai contoh ialah esterase. yaitu yang memecah ikatan ester. misalnya etil butirat menjadi etanol dan asam butirat. pepsin. Hidrolase Merupakan kelompok enzim yang berperan dalam reaksi hidrolisis. Fosfatase a dalah enzim yang . Gugus ini dilepaskan dari molekul serin dengan dibantu oleh enzim hidroksimetil transferase. karboksi peptidase. Esterase ialah enzim yang memecah ikatan ester dengan cara hidrolisis.Dalam reaksi ini asam tetrahidrofolat (THFA) bekerja sebagai akseptor gugus beratom C satu. Enzim metiltransferase bekerja pada reaksi pembentukan k eratin dari asam guanidino asetat. memecah glikosida. amilase.

maka enzim tersebut dinamakan juga peptidase. Enzim ini dapat memecah ikatan 1-4 dan 1-6 pada glikogen dan menghasilkan glukosa. Ada tiga macam enzim amilase. amilase.dapat memecah ikatan fosfat pada suatu senyawa. Eksopeptidase bekerja terhadap kedua ujung molekul protein. Endopeptidase memecah protein pada tempat-tempat tertentu dalam molekul protein dan biasanya tidak mempengaruhi gugus yang terletak di ujung molekul. Oleh karena itu yang dipecah adalah ikatan pada rantai peptida. Contohnya antara lain dekarboksilase. sedangkan amino peptidase dapat melepaskan asam amino pada ujung lain yang memiliki gugus ±NH2 bebas. yaitu amilase. Contoh endopeptidase ialah enzim pepsin yang terdapat pada usu halus dan papain. Ada dua macam peptidase. dan hidratase. yaitu endopeptidase dan eksopeptidase. aldolase. Liase Merupakan kelompok enzim yang mengkatalisis reaksi adisi atau pemecahan ikatan rangkap. (Holiday: 2005) Enzim yang bekerja sebagai katalis dalam reaksi pemecahan molekul protein dengan cara hidrolisis disebut enzim proteolitik atau protease. amilase telah diketahui terdapat dalam hati. amilase terutama terdapat pada tumbuhan dan dinamakan eksoamilase sebab memecah dua unit glukosa yang terdapat pada ujung molekul amilum secara berurutan sehingga pada akhirnya terbentuk maltosa. suatu enzim yang terdapat pada pepaya. amilase. Karboksipeptidase dapat melepaskan asam amino yang memiliki gugus ±COOH bebeas pada ujung molekul protein. (Holiday: 2005) Enzim amilase dapat memecah ikatan-ikatan pada amilum hingga terbentuk maltosa. Enzim ini memecah ikatan 1-4 yang terdapat dalam amilum dan disebut endo amilase sebab enzim ini memecah bagian dalam atau bagian tengah molekul amilum . (Holiday: 2005) 4. Denagn demikian eksopeptida melepas asam amino secara berurutan dimulai dari asam amino ujung pada molekul protein hingga seluruh molekul terpecah menjadi asam amino. misalnya glukosa-6-fosfat dapat dipecah menjadi glukosa dan asam fosfat. . dan amilase terdapat dalam saliva (ludah) dan pankreas.

Piruvat dekarboksilase adalah enzim yang bekerja pada reaksi dekarboksilasi asam piruvat dan menghasilkan aldehida. (Holiday: 2005) Enzim aldolase bekerja pada reaksi pemecahan molekul fruktosa 1. -difosfat menjadi dua molekul triosa yaitu dihidroksi aseton fosfat dan gliseraldehida. (Holiday: 2005) 5. (Holiday: 2005) Adapun enzim fumarat hidratase berperan dalam reaksi penggabungan satu molekul H2O kepada molekul asam fumarat dan membentuk asam malat. Isomerase Merupakan enzim yang mengkatalisis perubahan konformasi molekul (isomerasi). dan glukosafosfat isomerase. Contohnya ribulosafosfat epimerase. . Enzim ribulosa epimerase merupakan katalis bagi reaksi epimerasi ribulosa.-fosfat.

(Holiday: 2005) 1. -O. Contohnya antara lain adalah glutamin sintetase. suatu alat untuk mengukur intensitas cahaya. Ikatan yang terbentuk dari penggabungan tersebut adalah ikatan C C-S. dan infra merah. Spekt ofotometer dapat r mengukur intensitas sebagai fungsi dari warna.-fosfat dapat berlangsung dengan bantuan enzim glukosa fosfat isomerase. fungsi panjang gelombang. Alat yang digunakan dalam spektrofotometri disebut spektrofotometer. atau secara lebih khusus. Enzim glutamin sintetase yang terdapat dalam otak dan hati merupakan katalis dalam reaksi pembentukan glutaamin dari asam glutamat. Hanya saja pada spektrofotometri. a Oleh karena enzim-enzim tersebut juga dinamakan sintetase. dan piruvat karboksilase. Spektrum yangdiabsorpsi atau .(Holiday: 2005) 6.Dalam reaksi ini ribulosa-5-fosfat diubah menjadi xilulosa-5-fosfat.-fosfat menjadi fruktosa. visible. C-N atau C-C. Spektrofotometri adalah suatu alat yang digunakan untuk memeriksa jumlah energi radiasi cahaya yang diserap oleh molekulnya. Alat ini termasuk ke dalam jenis fotometer.7 Spektrofotometri Spektrofotometri merupakan teknik pengukuran jumlah zat yang juga berdasar spektroskopi. lebih spesifik untuk panjang gelombang UV (Ultraviolet)-dekat. Di samping itu reaksi isomerisasi glukosa. (Holiday: 2005) Disamping itu enzim karboksiase bekerja dalam reaksi pembentukan asam oksaloasetat dan asam piruvat yang merupakan reaksi dari metabolisme karbohidrat. Ligase Merupakan kelompok enzim yang mengkatalisis pembentukan ikat n kovalen. Spektrofotometri dimasukkan ke dalam elektromagnetik spectroscopy.

Dua ikatan rangkap yang hanya terpisah satu unit (conjugated) menurunkan jumlah tenaga yang diperlukan untuk perpindahan elektron ini sehingga menyebabkan peningkatan panjang gelombang di tempat khromofor menyerap. Peningkatan panjang gelombang ini disebut perpindahan batokhromik (bathoromic) sedangkan sebaliknya penurunan panjang gelombang disebut hipokhromik. Spektrum dalam keadaan ini memberikan informasi pada tingkat ini atau di atasnya. . Untuk senyawa berwarna akan memiliki satu atau lebih penyerapan spektrum yang tertinggi (extinction maximum) dan di daerah spektrus terbaca 400-700 nm. Spektrum yang terserap pada ultraviolet (200-400 nm) dan daerah nampak terjadi karena adanya perubahan energi elektron terluar dari molekul yang disebabkan adanya ikatan dan bukan ikatan. Istilah khromofor muncul untuk menggambarkan bagian kecil dari suatu molekul yang dapat meningkatkan serapan spektrum tertentu secara mandiri.tepatnya jumlah absolut spektrum sinar yang terserap oleh satu senyawa adalah sejumlah sinar yang diserap atau hilang (extinction) oleh satu senyawa dengan panjang gelombang tertentu. misalnya gugus karbonil. Panjang gelombang sinar yang terserap ditentukan oleh perpindahan yang terjadi. Biasanya elektron dalam molekul berada dalam keadaan dasar pada suhu kamar. -C = O. Puncak serapan dapat ditunjukkan dan berhubungan dengan struktur rinci dari molekulnya. Umumnya elektron yang berpindah tempat ini disebabkan adanya ikatan rangkap karbon-karbon atau pasangan nitrogen dengan oksigen.

1. Pengaruh kadar enzim terhadap aktivitas enzim Tujuan : Membuktikan bahwa kecepatan reaksi enzimatik berbanding lurus dengan konsentrasi enzim. Reaksi enzimatik mempunyai suhu maksimum. 2. .2.BAB II TUJUAN PERCOBAAN 2. Pengaruh temperatur terhadap aktivitas enzim Tujuan : Membuktikan bahwa kecepatan reaksi enzimatik sampai suhu tertentu sebanding dengan kenaikan suhu.

Hitung selisih serapan (¨A) antara tabung B ( A pada t = 0 menit) dengan tabung U dari tiap suhu .4 ml 0.BAB III BAHAN DAN CARA KERJA 3. Tiap pasang tabung diberi tanda B untuk blanko dan U untuk uji - Pipetkan ke dalam tiap-tiap tabung : Larutan Larutan pati Tabung B 0.4 ml Diamkan 5 menit pada suhu masing-masing Liur Campur baik-baik.4 ml 0.2 ml Segera baca serapan (A) pada panjang gelombang 680 nm.4 ml Tabung U 0.4 mg/ml Larutan iodium Prosedur : - Tampung 5 ml air liur dalam tabung reaksi yang bersih dan kering Encerkan 10x dengan air suling Siapkan 6 pasang tabung reaksi yang bersih dan kering. sumber amilase Larutan pati 0. diamkan 1menit Larutan iodium (untuk suhu 600C dan 1000C dilakukan ddi luar penangas) Air suling 9. Pengaruh temperatur terhadap aktivitas enzim Reagen dan Bahan : - Liur.2 ml 9 ml 0.1.

pada suhu ruang Pasangan keempat. ditempatkan dalam bejana berisi air yang suhunya dipertahankan 250C y y Pasangan ketiga. Pengaruh kadar enzim terhadap aktivitas enzim Reagen dan Bahan : - Liur sebagai sumber amilase. 300x. 200x. 400x. ditempatkan dalam bejana berisi air yang suhunya dipertahankan 1000C 3.Keterangan : y y Pasangan pertama. dan 500x dengan air suling. ditempatkan dalam bejana berisi air yang suhunya dipertahankan 370C y Pasangan kedua. Siapkan 5 pasang tabung reaksi yang bersih dan kering. Tiap pasangan tabung diberi tanda B untuk blanko dan U untuk uji. Tampung 5 ml liur dalam gelas kimia atau tabung reaksi yang bersih dan kering - Larutan pati 0. Pipetkan ke dalam tabung sesuai tabel berikut : . ditempatkan di rak tabung reaksi.4 mg/dl Larutan iodium Prosedur : Encerkan liur 1100x.2. ditempatkan dalam bejana berisi air yang suhunya dipertahankan 600C y Pasangan kedua. ditempatkan dalam bejana berisi es (00C) Pasangan kedua.

4 ml Inkubasi pada suhu 370C selama 5 menit Tabung U 0. inkubasi 1 menit 1 ml Larutan iodium Air suling 0.2 ml 0.4 ml Liur diencerkan Campur baik-baik. Hitung selisih serapan (¨A) antara tabung B ( A pada t = 0 menit ) dengan tabung U dari tiap suhu.4 ml 9. .Larutan Larutan pati Tabung B 0.4 ml 9 ml Segera baca serapan (A) pada panjang gelombang 680 nm.

087 0.5 0.1 0 -0.B B IV HASIL PE OBAAN 4.098 0.365 -0.308 0.185 0.363 ¨A/menit (V) 0.020 0.000 0.4 0.2 -0.195 0.270 0. Pengaruh suhu terhadap akti itas enzim Suhu 0°C 25°C Suhu ruang 37°C 60°C 100°C AB 0.183 AU -0.043 -0.1 25 Suhu kamar 37 60 100 Suhu -0.3 0.4 -0.422 0.18 Kurva hubungan kecepatan reaksi enzimatik A / menit dengan suhu 0.1.265 0.635 0.5 .442 -0.3 -0.2 0.195 -0.

2 0.195 AU 0.ml air suling.152 0.33 ml air liur ad 100 .ml air suling.5 ml air liur ad 250 .180 Kurva Hubungan Antara Kecepatan Reaksi Enzimatik dg Konsentarsi / Pengenceran Enzim A / menit 0.033 0.110 0.147 0. Pengenceran 300 X : 0.0.053 .185 0.25 ml air liur ad 100 . 5.033 0. Pengenceran 200 X : 0.241 0.4.05 0 ¡ 500x 00x     Konsentrasi 00x 200x 100x .ml air suling.ml air suling.15 0.25 0. AB 0.25 ml air liur ad 25 .004 0.1 0. 4. 3.163 0.2 Pengaruh kadar enzim terhadap akti itas enzim Pengenceran enzim 500 X 400 X 300 X 200 X 100 X Keterangan : 1.274 0. Pengenceran 500 X : 0. Pengenceran 400 X : 0. 2.ml air suling.151 0.009 V= ¨A/ menit 0. 0.25 ml air liur ad 50 . Pengenceran 100 X : 0.

Akan tetapi. yang menyebabkan protein enzim kehilangan biologiknya. 1. oleh karena itu semakin rendah suhu maka kecepatan reaksi enzimatik juga semakin rendah. harus diketahui bahwa enzim merupakan suatu protein. sehingga kompleks ES ( enzim-subtrat ) tidak terbentuk dalam jumlah yang sedikit. Pada umumnya kecepatan enzimatik di luar suhu optimum selalu lebih rendah. . Kenaikan suhu pada awalnya akan meningkatkan aktivitas enzim. Sehingga bangun tiga dimensi pada protein tersebut berubah secara bertahap. Pada suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan suhu optimum gerak termodinamik akan lebih meningkat. yaitu suhu dimana enzim memiliki aktivitas maksimum. Sebab jika kontak antara kedua jenis molekul sangat sedikit atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Padahal kompleks ini sangat diperlukan untuk subtrat menjadi produk. Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Enzim Setiap enzim mempunyai suhu optimum. makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin sukar subtract untuk duduk secara cepat dibagian aktif molekul enzim. Makin besar perbedaan suhu reaksi dengan suhu optimum makin rendah kecepatan enzimatik akan tetapi. Jika suhu terus menerus ditingkatkan maka dapat menyebabkan terjadinya denaturasi pada protein enzim tersebut. Pada suhu yang rendah (sebelum suhu optimum) penyebab kurangnya kecepatan reaksi enzimatik adalah kurangnya gerak termodinamik yang menyebabkan kurangnya tumbukan antara molekul enzim dengan subtrat. Jadi maki tinggi suhu di atas suhu optimum. sehingga benturan antar molekul enzim dan subtract akan lebih besar peluangnya untuk membentuk kompleks ES.BAB V PEMBAHASAN 5. keadaan yang menyebabkan rendahnya kecepatan di luar suhu optimum berbeda antara suhu yang lebih rendah dengan suhu yang lebih tinggi. dan ezim juga memiliki sifat yang sama dengan protein. Dan jika rendah itu semakin mendekat titik beku maka enzim akan menjadi inaktif. tetepi tidak merusak enzim tersebut.

absorbansi pada blanko 0. 2. Perbedaan warna antara blanko dan uji menunjukkan bahwa sebagian pati telah bereaksi dengan amylase sehingga warna blanko menjadi lebih gelap daripada uji.308. antara lain: 0oC (dalam es batu). Dalam waktu 5 menit ini diharapkan enzim amylase yang sudah ada bekerja mengurai pati yang ada. Pada tabung blanko tidak berisi air liur (berarti tidak mengandung enzim amilase). di dapatkan hasil sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui seberapa banyak pati yang bereaksi dengan enzim amylase ini maka digunakan metode spektrofotometri. Pada percobaan yang kami lakukan.442. yaitu selisih absorbansi blanko dengan uji di bagi dengan waktunya.098.043. Selisih absorbansi antara blanko dengan uji ini menunjukkan seberapa besar aktivitas kerja enzim. Pada percobaan ini digunakan enzim amylase yang terdapat dalam air liur dengan 6 macam perlakuan pada suhu yang berbeda-beda. dikarenakan kompleks ES yang sukar terbentuk sebagai akibat dari deformasi struktur tiga dimensi dari protein enzim. Absorbansi pada uji 0. 3. suhu 37 oC. Sedangkan pada larutan uji yang warnanya lebih muda absorbansinya lebih kecil. masingmasing kepada blanko dan uji yang berisi larutan pati.185.Akibatnya kecepatan reaksi enzimatik akan menurun. Selisih absorbansi atau ¨A/menit (v) dari data kelompok kami adalah 0. Pada suhu 0oC. Dari data ini maka bisa dihitung berapa kecepatana enzim amylase.020.422. dan 100oC. sedangkan pada tabung uji berisi air liur (berarti mengandung enzim amilase).087. . Pada suhu ruang.265. absorbansi pada blanko 0. suhu ruang. Kemudian di tambahkan larutan iodium untuk mengetahui apakah masih ada pati yang tersisa. Absorbansi pada uji -0. suhu 60oC. absorbansi pada blanko 0. Selisih absorbansi atau ¨A/menit (v) dari data kelompok kami adalah -0. Selisih absorbansi atau ¨A/menit (v) dari data kelompok kami adalah 0. dimana blanko yang memiliki warna lebih gelap absorbansinya juga lebih besar. 25oC. Blanko maupun uji memberikan hasil absorbansi yang berbeda. Pada suhu 25oC. Baik blanko maupun uji diinkubasi selama 5 menit. Dalam hal ini adalah waktu inkubasi yaitu waktu 5 menit. Absorbansi pada uji -0.

Ketidaksesuaian hasil praktikum kami dengan teori yang ad dikarenakan pengerjaan yang kurang teliti (tidak kuantitatif). Jadi semakin besar volume atau konsentrasi enzim. data kami tidak sesuai dengan teori yang ada di mana pada suhu 0°C. dan akhirnya enzim kehilangan semua aktivitas jika protein menjadi rusak akibat panas(denaturasi). Laju reaksi meningkat sesuai dengan kenaikan suhu. 5.183. Absorbansi pada uji 0. Banyak enzim berfungsi optimal dalam batas-batas suhu antara 25oC sampai 37oC. Selisih absorbansi atau ¨A/menit (v) dari data kelompok kami adalah 0. absorbansi pada blanko 0.000. Pada suhu 100oC. Absorbansi pada uji 0. Selain itu pada suhu 100°C.365. enzim dapat mengalami proses inakviasi sehingga aktifitas katalitiknya terganggu. 6. Kenaikan suhu sebelum mencapai titik di mana enzim akan dernaturasi menyebabkan kecepatan reaksi akan meningkat.18.195. Absorbansi pada uji 0. semakin tinggi pula aktivitas enzim dalam . bertambahnya konsentrasi enzim secara bertingkat akan meningkatkan kecepatan reaksi enzimatis. 5. Enzim pada suhu rendah menyebabkan reaksi berlangsung lambat. absorbansi pada blanko 0. kerja enzim amilase maksimal dimana seharusnya pada suhu 0°C. Pada suhu 37oC.195.4. sedangkan pada suhu tinggi (melewati suhu optimum) enzim akan denaturasi. Selisih absorbansi atau ¨A/menit (v) dari data kelompok kami adalah -0.635. Dilihat dari grafik yang ada. seharusnya enzim sudah mengalami denaturasi sehingga aktivitas enzim harus menurun. Pada suhu yang jauh lebih rendah (0oC) daripada suhu optimum. Pada suhu 60oC. Selisih absorbansi atau ¨A/menit (v) dari data kelompok kami adalah -0. enzim tidak stabil dan dapat mengalami inaktivasi. 2 Pengaruh Kadar Enzim Terhadap Aktivitas Enzim Pada konsentarsi substrat tertentu. Sebagian besar enzim terdenaturasi pada suhu di atas 60°C. absorbansi pada blanko 0.363.270.

Pertama larutan pati di masukan ke dalam tabung blanko dan uji. Biasanya pada larutan pekat atau yang berwarna gelap maka absorbansinya akan besar. 300x. dan 500x dengan menggunakan air suling. Dalam waktu 1 menit ini di harapkanenzim amilase sudah berkerja cukup lama untuk mendegradasi pati yang ada. larutan tersebut kemudian di uji daya absorbansinya menggunakan alat spektrofotometer. Optimal di sini dalam pengertian bahwa pati yang di degradasi tidak terlampau sedikit. Alat spektrofotometer ini berguna untuk mengukur jumlah atau kuantitas sinar yang di serap oleh suatu larutan pada panjang gelombang tertentu. Jadi semakin banyak sisa pati yang ada. Setelah 5 menit tabung uji ditambahkan dengan air liur yang mengandung enzim amilase dan di inkubasi kembali pada suhu 37oC selama 1 menit. Setelah diencerkan. Pemilihan suhu ini karena pada suhu tersebut enzim dapat berkerja secara optimum. kemudian di inkubasi pada suhu 37oC selama 5 menit. Air liur yang digunakan adalah sebagai sumber enzim amilase. sebaliknya pada larutan encer atau yang berwarna terang maka absorbansinya akan kecil. .memecah substrat yang dikatalis nya.Hal ini dapat dilihat hubungan antara selang waktu pengamatan dan konsentasi enzim dan kecepatan reaksi enzimatik yang ditalisis enzim tersebut. maka warna larutan menjadi semakin gelap. juga tidak terlampau banyak. Pada percobaan ini digunakan air liur yang diencerkan 100 x. Adapun pengenceran ini berfungsi aga absorbansi dari zat tersebut dapat terbaca dengan menggunakan spektrofotometer. 200x. Pengenceran air suling berfungsi agar absorbansinya dari zat tersebut dapat terbaca dengan menggunakan spektrofotometri. 400x. Setelah itu masing-masing zat dalam tabung tersebut diencerkan menggunakan air suling. Setelah itu ditambahkan larutan iodium yang akan bereaksi dengan pati membentuk warna biru tua. Amilase adalah enzim untuk memecah amilum atau pati. Dalam percobaan ini kami menggunakan variabel konsentrasi enzim untuk mengamati pengaruhnya terhadap aktivitas enzim.

4. Pada penggunaan air liur yang telah diencerkan 300x. Pada penggunaan air liur yang telah diencerkan 500x. Pada penggunaan air liur yang telah diencerkan 400x. 3. Jika kadar enzim menurun (semakin encer) maka selisih absorbansinya juga menurun. absorbansi pada blanko 0.274. Absorbansi pada uji -0. Selisih absorbansi atau ¨A/menit (v) dari data kelompok kami adalah 0. Absorbansi pada uji 0. absorbansi pada blanko 0. Absorbansi pada uji 0. maka aktivitas enzim semakin menurun. 2. Absorbansi pada uji 0.241.053.185. Dilihat dari grafik diatas.147. Hasil absorbansi blanko lebih besar dari absorbansi uji karena pada tabung uji larutan pati sudah bereaksi dengan enzim amylase pada air liur. Selisih absorbansi atau ¨A/menit (v) dari data kelompok kami adalah 0. Jika kadar enzim menurun. Pada penggunaan air liur yang telah diencerkan 200x.Pada percobaan yang kami lakukan.195. absorbansi pada blanko 0.151. Selisih absorbansi atau ¨A/menit (v) dari data kelompok kami adalah 0. 5.033.004. dimana seharisnya teori yang benar adalah : 1.163. Selisih absorbansi atau ¨A/menit (v) dari data kelompok kami adalah 0.009. absorbansi pada blanko 0. Pada penggunaan air liur yang telah diencerkan 100x. didapatkan hasil sebagai berikut : 1.152. Selisih absorbansi atau ¨A/menit (v) dari data kelompok kami adalah 0. maka hasil yang kami dapat tidak sesuai dengan teori yang ada.180. 3. 2.110. absorbansi pada blanko 0.033. . Absorbansi pada uji 0.

pH. konsentarsi enzim. sedangkan di atas suhu optimum enzim akan terdenaturasi. y Enzim pada suhu rendah berlangsung lambat.BAB VI KESIMPULAN y y Enzim adalah katalisator yang bekerja sangat spesifik.37°C. maka aktivitas enzim semakin rendah. Suhu optimum enzim antara 25°C .faktor yang mempengaruhi kerja enzim antara lain: suhu. . Faktor . maka aktivitas enzim semakin tinggi. konsentrasi substrat. dan inhibitor. y Semakin tinggi kadar enzim. Sebaliknya semakin rendah kadar enzim.

dan Nursanti. Lisda. Biokimia. Retno Sri & Ari Yuniastuti. 2006. Yogyakarta. y Wirahadikusumah. Jakarta. Penuntun Praktikum BIOKIMIA untuk Mahasiswa Analis.. Alfabeta : Bandung. Graha Ilmu : Yogyakarta. dan asam nukleat. 2005. Anna dan Supriyanti. y Toha. 2005. Universitas Indonesia Press .DAFTAR PUSTAKA y Iswari. Abdul Hamid A. Biokimia : Metabolisme Biomolekul. Biokimia protein. 2006. Yogyakarta. ITB : Bandung. y Poedjiadi. Estien. y Yazid. enzim. Dasar-dasar Biokimia. Titin. Muhamad. Andi. 2001.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->