³Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya

(mualaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk membebaskan orang yang berhutang, untuk yang berada di jalan Allah dan untuk orang yang sedang di dalam perjalanan sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.´(Q.S.At-Taubah:60) [1] Ayat ini turun ketika orang-orang munafik yang bodoh itu mencela Rasulullah Shallallahu µAlaihi wa Sallam tentang pembagian zakat , kemudian Allah menjelaskan bahwa Allah ±lah yang mengatur pembagian zakat tersebut dan tidak mewakilkan hak pembagian itu kepada selain-Nya, tidak ada campur tangan Rasulullah Shallallahu µAlaihi wa Sallam. Allah membaginya hanya untuk mereka yang disebutkan dalam ayat tersebut. maksud dari ayat ini adalah zakat-zakat yang wajib, berbeda dengan sadaqah mustahabah yang bebas diberikan kepada semua orang tanpa ada pengkhususan.[2] Para ulama¶ berbeda pendapat berkaitan dengan delapan kelompok ini, apakah pembagian zakat harus meliputi semuanya, atau sebatas yang memungkinkan. Dalam hal ini terdapat dua pendapat :
y y

Pertama, harus meliputi semuanya. Ini adalah pendapat Imam As-Syafi¶I dan sekelompok ulama¶. Kedua, tidak harus semuanya. Harta zakat boleh diberikan kepada satu kelompok saja, meskipun terdapat kelompok yang lain. Ini adalah pendapat Imam Malik dan sekelompok ulama¶ salaf dan khalaf, di antaranya, Umar, Hudzaifah, Ibnu Abbas, Abul µAliyah, Said bin Zubair dan Mimun bin Mihran. Ibnu Jabir berkata, ³Ini adalah pendapat sebagian besar ulama¶.

Penyebutan kelompok-kelompok dalam ayat tersebut adalah untuk menjelaskan mereka yang berhak, bukan karena keharusan memenuhi semuanya.[3] Masharif Zakat

Pertama dan kedua,
Pada dasarnya kedua keadaan tersebut adalah sama dan sejenis, akan tetapi fakir keadaannya lebih memprihatinkan dari pada miskin, sehingganya Allah Subhanahu wa Ta¶ala menyebutkan fakir lebih dahulu dari pada miskin dalam ayat tersebut. Di bawah ini kami akan sebutkan beberapa perbedaan dan pengertian antara fakir dan miskin.

yaitu seorang amil diberikan zakat sesuai dengan kadar apa yang telah diperbuatnya. yaitu orang bertugas mengelola atau mengambil zakat dari orang-orang yang berhak mengeluarkan zakat kemudian membagikannya kepada orang yang berhak pula. Keempat.[5] Fakir ialah orang yang tidak mendapatkan apa-apa. ³ Sesunguhnya zakat itu tidak dihalalkan bagi Muhammad Shallallahu µAlaihi wa Sallam dan keluarganya. karena mereka tidak berhak menerima zakat berdasarkan hadits shahih dari yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abdul Muthalib bin Rabi¶ah bin al-Harits. sedangkan miskin ialah orang yang tidak punya tetapi ia masih berusaha untuk mencukupi kehidupannya´. Yaitu orang-orang yang perlu dilunakkan hatinya kepada Islam. Yunus. Adapun pendapat yang paling shahih dan mendekati kebenaran menurut Ibnu Jarir dalam kitabnya Jami¶ul Bayan adalah pendapat yang kedua. Para ulama¶ berselisih pendapat mengenai siapakah yang disebut dengan orang fakir dan miskin itu : y y y y y Waqi. Sesungguhnya zakat itu adalah kotoran (harta) manusia. dan supaya . Masharif zakat yang ketiga adalah amil zakat. ³Bahwasanya yang disebut dengan fakir ialah orang yang tidak punya apa-apa sedangkan ia hanya berpangku tangan dirumahnya. atau Rais kaum yang baru masuk Islam dan dia diberikan zakat supaya mereka menegetahui bahwasanya agama Islam adalah agama yang benar dan shalih. Ketiga. Mujahid. supaya mereka memberikan sumbangsinya kepada Islam. Ibnu Jarir.[6]. Ibnu Wahab dan Ibnu Zaid mereka berpendapat bahwa seorang amil mendapatkan sesuai dengan kadar apa yang dikerjakannya. Jika ia dapat mencukupi secara kesuluruhan maka ia bisa dikatakan sebagai orang yang kaya. sedangkan miskin ialah orang tidak punya dan ia meminta-minta. atau hanya mendapatkan sebagian kecil dari kebutuhannya.´[8] Para ulama¶ berselisih pendapat mengenai kadar yang diberikan kepada amil zakat : y y Dlohak ia berpendapat bahwasanya amil zakat mendapatkan seperdelapan dari zakat. . Seorang Amil tidak boleh dari kerabat Rasulullah Shallallahu µAlaihi wa Sallam. maka Rasulullah Shallallahu µAlaihi wa Sallam menjawab. namun tidak mencukupi secara keseluruhan. bahwa ia dan Fadl bin Abbas memohon kepada Rasulullah Shallallahu µAlaihi wa Sallam agar dijadikan sebagai amil zakat.Imam Abu Ja¶far berkata : Zakat hanyalah untuk orang fakir dan miskin. Miskin ialah seseorang yang mendapatkan atau bisa memenuhi sebagian besar dari kebutuhannya. sedangkan miskin ialah orang yang tidak punya dan ia tidak berhijrah.[4] Orang fakir ialah orang tidak punya dan ia berhijrah. ³Fakir ialah orang tidak punya tetapi ia tidak minta-minta. As¶as dan Hasan berpendapat.[7] Mereka berhak mendapatkan bagian zakat.

atau berhutang dan melakukan kemaksiatan lalu ia bertaubat. Maka Rasulullah Shallallahu µAlaihi wa Sallam berkata kepada para piutang tersebut. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu µAlaihi wa Sallam dari bu Sai¶d Al-Khudri ia berkata.´ Wajib bagi seorang Imam memerinya harta atau zakat dari Baitul Mal. Yaitu orang yang terlilit utang tetapi bukan dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta¶ala. Uyainah bin Badr dan Aqra¶ bin Habis. atau membeli diri mereka dari majikannya. akan tetapi tidak mencukupi untuk melunasi hutangnya. Yang dilunakkan hatinya supaya masuk Islam.[15] Ketujuh. . Orang yang mempunyai tanggungan denda atu hutang yang harus dipenuhi. Mujahid berkata. ³Ambillah apa yang kalian dapati. Umar bin Abdul Aziz. (HR.[10] Mereka ada tiga golongan : 1. ³Bersedekahlah kepadanya. ³Pada zaman Rasulullah Shallallahu µAlaihi wa Sallam ada seseorang yang menderita banyak kerugian karena buah-buahan yang barui saja dibelinya terkena hama. Berutang untuk pribadi. Said bin Zubar an-Nakha¶I. 3. Maka orang yang seperti ini diberi zakat. Mereka dimerdekakan dan dibantu dengan harta zakat.[11] Kelima.[14] 3.Muqatil bin Hayyan. sedangkan untuk memenuhinya ia harus menguras harta kekayaannya atau ia harus berhutang kepada orang lain.[9] Diantara mereka yang dilunakkan hatinya pada zaman Rasulullah Shallallahu µAlaihi wa Sallam adalah Sufyan bin Harb.´ maka orang-orangpun bersadaqah kepadanya. Mereka yang diberi zakat untuk mencegah kejelekan yang mereka timbulkan buat kaum mukminin.bertambah keimanannya. hanya itu saja bagaian yang kalian dapatkan. kemudian ia tidak bisa melunasi hutangnya tersebut. Berhutang untuk kebaikan orang yang berselisih sehinga diberi sesuai dengan kadar utangnya. Muslim). kemudian ia berhutang untuk membangun kembali rumahnya. Yaitu budak-budak yang sedang dalam proses memerdekakan diri. Maka Rasulullah Shallallahu µAlaihi wa Sallam bersabda. az-Zuhri dan Ibnu Zaid bahwa yang dimaksud dengan riqab adalah ³al-Mukatib´ yaitu hamba sahaya yang mengadakan perjanjian bebas. ³AlGharimin ialah orang yang terbakar rumahnya. Diriwaytakan dari Hasan alBashri . 2.[13] Dalam keadaan ini ada dua golongan : 1. yakni menanggung banyak utang tapi tidak mampu membayarnya. hingga hutangnya menumpuk.[12] Keenam. 2. Mereka yang masih lemah keislamannya atau lmannya.

Para ulama¶ berselisih pendapat mengenai pengertian fi sabilillah dalam ayat tersebut : y y y y Abu Yusuf berkata. bisa disimpulkan dalam dua hal : 1. Orang yang diberi zakat untuk memenuhi kebutuhannya. Ialah seorang musafir di suatu negeri yang bekalnya tidak mencukupi untuk dipakai pulang ke negerinya meskipun ia orang kaya. Wallahu µalam bi Shawab.[16] Kedelapan. Ad-Dauru Al-Mansur fi Tafsir Al-Mansur oleh Abdurrahman Jalaludin As-Suyuthi jilid 4. 1. Begitu pula dengan orang yang ingin bepergian. maka ia diberi bagian zakat yang mencukupi untuk pulang ke negerinya.´ Sebagian ulama¶ berpendapat mereka adalah orang yang sedang menuntut ilmu. Terjemahan Tafsir Ibnu Katsir jilid 4. 5. 2. Adapun yang paling mendekati kebenaran adalah setiap orang yang berusaha untuk taat kepada Allah dan orang-orang yang berada di jalan kebenaran. tidak ada sesuatu apapun yang samar bagi-Nya. Namun ia tidak diperbolehkan mengambil lebih dari kebutuhannya. . Allah Maha Mengetahui kemaslahatan mahluknya terhadapa apa saja yang diwajibkan kepada mereka. Pustaka Imam Asy-Syafi¶i. 4. Taisir Karim Ar-Rahman fi Tafsir Al-Kalamil Manan oleh Abdurrahman bin Nasir As-Sa¶di. 3.[19] REFERENSI 1. maka ia diberi dari bagian zakat untuk perbekalannya pergi dan pulang. Maktabah Taufiqiyah. Cetakan pertama. Kaero Mesir. ³Orang yang berhaji. Alqur¶anul Karim. Jami¶ Al-Bayan µan Ta¶wiliil Ayil Qur¶an Tafsir Tobari oleh Abu Ja¶far Muhammad Ibnu Jarir At-Tobari jilid 5. Dar Al-Fikr.[17] Maksudnya ialah pembagian ini adalah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta¶ala yang diwajibkan kepada orang yang mempunyai harta dari orang muslimin. Tidak mungkin Allah Subhanahu wa Ta¶ala mewajibkan zakat pada kaum muslimin melainkan ada maslahat di dalamnnya. ³Yang dimaksud adalah orang yang berjihad atau di dalam peperangan (mujahidin) yang berjuang untuk menegakkan kalimat Allah dan melawan musuh-musuhNya.´ Muhammad. Cetakan tahun 1414 H/ 1993 M. Orang yang diberi zakat dengan tujuan untuk kemaslahatan bagi Islam dan muslimin. Dialah Maha Bijaksana yang mengatur segala sesuatu.[18] Dari kedelapan masharif zakat tersebut. Muasasah Risalah.Cetakan kedua Dar As-Salam. 2. akan tetapi tidak memiliki bekal. Ruhul Ma¶ani Sihabuddin Sayyid Mahmud Al-Alusi jilid 6.

Tafsir At-Tobari jilid 5 hal 4026. [4] . [15] .Ruhul Ma¶ani Sihabuddin Sayyid Mahmud Al-Alusi jilid 6 hal 169. Terjemahan Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 hal 153-254. [14] . Ensiklopedi Islam Al-Kamil hal 776. Tafisr At-Tobari jilid 5 hal 4031.Pustaka Imam Asy-Syafi¶i.6. Cetakan kedua. [7] . [17] . [9] . Taisir Karim Ar-Rahman fi Tafsir Al-Kalamil Manan.Jami¶ Al-Bayan µan Ta¶wiliil Ayil Qur¶an Tafsir Tobari oleh Abu Ja¶far Muhammad Ibnu Jarir At-Tobari jilid 5 hal 4021.Taisir Karim Ar-Rahman hal 341. [5] . hal 341. [1] . [19] . hal 341 Muasasah Risalah. [6] . Darus Sunnah. [8] . Taisir Karim Ar-Rahman fi Tafsir Al-Kalamil Manan oleh Abdurrahman bin Nasir As-Sa¶di. Maktabah Taufiqiyah. Dar Al-Fikr. Terjemahan Tafsir Ibnu Katrsir jilid 4 hal 151. [16] . [13] . Terjemahan Tafsir Ibnu Katrsir jilid 4 hal 150-151. Ensiklopedi Islam Al-Kamil Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri. Terjemahan Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 hal 154.Ad-Dauru Al-Mansur fi Tafsir Al-Mansur oleh Abdurrahman Jalaludin As-Suyuthi jilid 4 hal 222. [10] . Darus Sunnah. Ensiklopedi Islam Al-Kamil Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri hal 776. Tafsir At-Tobari jilid 5 hal 4029.Pustaka Imam Asy-Syafi¶i. [12] . Maktabah Taufiqiyah. Taisir Karim Ar-Rahman fi Tafsir Al-Kalamil Manan oleh Abdurrahman bin Nasir As-Sa¶di. hal 341 Muasasah Risalah [3] . [18] . [11] . Terjemahan Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 hal 152. Ruhul Ma¶ani Sihabuddin Sayyid Mahmud Al-Alusi jilid 6 hal 171. Dar As-Salam. . At-Taubah 60. [2] .

Huruf lam yang terdapat pada lafal lilfuqaraa` memberikan pengertian wajib meratakan pembagian zakat kepada setiap individu-individu yang berhak. karena hal ini amat sulit untuk dilaksanakan. dan tidak boleh pula mencegah zakat dari sebagian golongan di antara mereka bilamana golongan tersebut memang ada. bilamana ia membaginya sendiri. hendaknya ia bukan keturunan dari Bani Hasyim dan tidak pula dari Bani Muthalib. dan yang mengumpulkannya (para mualaf yang dibujuk hatinya) supaya mau masuk Islam atau untuk memantapkan keislaman mereka. sekalipun mereka adalah orang-orang yang berkecukupan (dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan) yaitu yang kehabisan bekalnya (sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan) lafal fariidhatan dinashabkan oleh fi'il yang keberadaannya diperkirakan (Allah. atau mereka telah bertobat dari maksiat. hanya mereka tidak memiliki kemampuan untuk melunasi utangnya. Ayat ini menyatakan bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada orang-orang selain mereka. demikianlah pengertian yang disimpulkan dari ungkapan jamak pada ayat ini. Hanya saja tidak diwajibkan kepada pemilik harta yang dizakati. akan tetapi imam berhak mengutamakan individu tertentu dari suatu golongan atas yang lainnya. . dengan syarat bila ternyata utang mereka itu bukan untuk tujuan maksiat. Selanjutnya imamlah yang membagi-bagikannya kepada golongan-golongan tersebut secara merata. atau supaya mereka melindungi kaum Muslimin. maka keduanya masih berhak untuk diberi bagian. antara lain ialah muslim. yang membagibagikannya. meratakan pembagiannya kepada setiap golongan. Sunah telah memberikan penjelasannya.Berbeda dengan dua jenis mualaf yang lainnya. sekalipun mereka adalah orang-orang yang berkecukupan (untuk jalan Allah) yaitu orangorang yang berjuang di jalan Allah tetapi tanpa ada yang membayarnya. atau diberikan kepada orang-orang yang sedang bersengketa demi untuk mendamaikan mereka. juru tulisnya. Demikianlah menurut pendapat yang sahih (dan untuk) memerdekakan (budakbudak) yakni para hamba sahaya yang berstatus mukatab (orang-orang yang berutang) orang-orang yang mempunyai utang. dan Allah Maha Mengetahui) makhluk-Nya (lagi Maha Bijaksana) dalam penciptaan-Nya.Tidak cukup baginya bilamana ternyata zakatnya hanya diberikan kepada kurang dari tiga orang. atau supaya mau masuk Islam orangorang yang semisal dengannya. Akan tetapi cukup baginya memberikannya kepada tiga orang dari setiap golongan. Mualaf itu bermacam-macam jenisnya.Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 60 60) ) (Sesungguhnya zakat-zakat) zakat-zakat yang diberikan (hanyalah untuk orang-orang fakir) yaitu mereka yang tidak dapat menemukan peringkat ekonomi yang dapat mencukupi mereka (orangorang miskin) yaitu mereka yang sama sekali tidak dapat menemukan apa-apa yang dapat mencukupi mereka (pengurus-pengurus zakat) yaitu orang yang bertugas menarik zakat. menurut pendapat Imam Syafii jenis mualaf yang pertama dan yang terakhir pada masa sekarang (zaman Imam Syafii) tidak berhak lagi untuk mendapatkan bagiannya. bahwa syarat bagi orang yang menerima zakat itu. karena Islam telah kuat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful