P. 1
Artikel Pemantauan Jentik Berkala

Artikel Pemantauan Jentik Berkala

|Views: 240|Likes:

More info:

Published by: Everly Christian Corputty on Aug 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2014

pdf

text

original

Medical Soul Society http://lebihgelapdarihitam.wordpress.

com/

Pemantauan Jentik Berkala di Daerah Sario Tumpaan Lingkungan 3 Manado Sulawesi Utara Oleh: Ida Bagus Amertha Putra Manuaba (080 111 176) Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Universitas Sam Ratulangi Manado

Pendahuluan

Di Indonesia ada tiga jenis nyamuk Aedes yaitu : Aedes aegypti, Aedesalbopictus, Aedes scutellaris. Diantara ketiga jenis nyamuk tersebut Aedesaegypti, paling berperan dalam penularan penyakit Demam

BerdarahDengue. Aedes aegypti merupakan nyamuk kecil berwarna gelap yangpada dorsal toraksnya (bagian punggung) terdapat garis putih keperakanyang tajam dengan bentuk lire. Selain itu pada tarsus terdapat gelangputih. Pada saat hinggap, tubuh Aedes aegypti sejajar dengan permukaanbenda yang

dihinggapinya. Untuk membedakan jenis kelamin Aed esaegypti dilihat antenanya. Aedes aegypti betina mempunyai bulu yangtidak lebat (pilose), sedangkan yang jantan mempunyai bulu yang lebat(plumose) (Widya, 2006).

Gambar 1. Nyamuk Aedes Aegepti

1

Tempat peri tempatpenampungan memenuhikebutuhan air

an Aedes aegypti berupa wadah yang menjadi bersih yang airnya (artifi ial digunakan container). manusia Aedes untuk aegypti

sehari-harinya

sangatantropofilik, walaupun ia juga bisa makan dari hewan berdarah panaslainnya. Sebagai hewan diurnal, nyamuk betina memiliki dua

periodeaktivitas menggigit, yaitu : pada pagi hari dan selama beberapa jamsebelum gelap. Setelah menggigit (menghisap darah) dan selamamenunggu pematangan telur, nyamuk Aedes aegypti beristirahat di tempat-tempatgelap, lembab, dan sedikit angin.Metodologi survei yang digunakan adalah

menggunakan prosedur surveilarva dan nyamuk dewasa(Widya, 2006).

Kl ifi

iA

A y i

Philum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Diptera Sub Ordo : Nematocera Famili : Culicidae Genus : Aedes Sub Genus : Stegomya Species : Aedes aegypti

H il

i

W

i T

c

i

l

Survei ini hanya dilihat dan dicatatada/tidaknya larva di dalamkontainer, tidak dilakukan pengambilan/ pemeriksaan jenis larva.Sesuai dengan ketentuan WHO(1972) Indeks-indeks larva dapatdihitung sebagai berikut:
(a). House Index (HI)
Jumlah rumah yang ada larva Aedes aegypti X 100% HI : Jumlah rumah yang diperiksa

Hasil: (2x100%) / 100 = 2% 2

(b). Container Index (CI)
Jumlah kontainer yang ada larva Aedes aegypti X 100% HI : Jumlah kontainer yang diperiksa

Hasil: (4x100%) / 100 = 4%
(c). Breteau Index (BI) BI : Jumlah kontainer yang menjadi sarang Aedes aegypti per 100 rumah di suatu daerah.

Hasil: 4 / 100 = 0,04% Survei y uk dewasa

(a). Penangkapan nyamuk umpan orang(Biting) Pengumpulan tempat hinggap atautempat gigitan nyamuk merupakancara yang sensitif untuk mendeteksigangguan pada tingkat yang rendah,tetapi cara ini sangat menghabiskantenaga.

Jumlah yang tertangkapumumnya dengan menggunakan jaring tangan hand nets) atau aspirator,karena nyamuk tampaknyamendekati atau hinggap dipengumpul biasanya dinyatakandalam istilah angka hinggap/gigitanper manusia per jam (Biting rate).

(a). Biting rate
Jml Aedes aegypti betina yang tertangkap pada umpan orang

=
Jumlah penangkap X Jumlah jam Penangkapan

Hasil: 5 / (3x5) = 0,33%

3

(b). Resting rate
Jumlah Aedes aegypti betina tertangkap pada penangkapan nyamuk hinggap

=
Jumlah penangkap X Jumlah jam Penangkapan

Hasil: 10 / (3x5) = 1,33% Si ulan

Berdasarkan standar WHO, House Index (HI) dan ContainerIndex (CI) apabila lebih dari 5%merupakan risiko tinggi terjadinyapenyakit DBD, Begitu pula denganBreteau Index (BI) diatas 5. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa di daerah Sario Tumpaan Lingkungan 3 Manado tidak masuk kategori resiko tinggi terjadi DBD.

Namun, tetap dihimbau kepada masyarakat dan pemerintah daerah untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan agar tidak terjadi ketidakseimbangan antara agent, host, dan environment (Amertha, 2011).

Gambar 6. Keseimbangan Agent Host dan Environment Gangguan pada environment (lingkungan), alam di sekitar kita, akhirnya menyebabkan ketidakseimbangan di sebuah daerah dan akhirnya membawa bencana di wilayah tersebut(Amertha, 2011).

4

Gambar 7. Ketidakseimbangan Agent Host dan Environment

5

Daf ar Pustaka Amertha Putra Manuaba.2011.Menekan Laju Penyebaran Koleradi Asiadengan 3SW (Sterilization, Sewage, Sources, and Water Purification). Medical Soul Society. Depkes RI. 2000. Epidemologi DemamBerdarah. Depkes RI. 1987. Pemberantasan DitjenPPM/PLP, Jakarta. Vektordan Cara-Cara Evaluasinya.

Robert F. Harwood, Ph. D, Maurice T.James, Ph.D. 1979. Entomology inHuman and Animal Health.Macmillan Publishing. Thomas Suroso, Dr, MPH dkk, ed. 2000.Pencegahan dan PenanggulanganPenyakit Demam Dengue danDemam Berdarah Dengue.Terjemahan, WHO dan Depkes RI,Jakarta. Widya Hary Cahyati*) Suharyo**)DINAMIKA AEDES AEGYPTI SEBAGAI VEKTOR PENYAKIT.pdf World Heald Organization. 2004.Panduan Lengkap Pencegahan &Pengendalian Dengue & DemamBerdarah Dengue. Penerbit BukuKedokteran EGC.

http://www.time.com/time/world/article/0,8599,2048937,00.html http://en.wikipedia.org/wiki/Cholera http://lebihgelapdarihitam.wordpress.com/ Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia No 16 /XX / 2009.

6

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->