P. 1
4.1 ISDN

4.1 ISDN

|Views: 45|Likes:
Published by Okky Martha

More info:

Published by: Okky Martha on Sep 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/01/2011

pdf

text

original

BAB II ISDN (Integrated Service Digital Network) & Video Conference

Pengertian ISDN ISDN adalah suatu sistem telekomunikasi yang mengintegrasikan layanan antara data, suara, dan gambar dalam suatu jaringan yang terpadu. Integrasi dari sistem komunikasi ini memberikan keuntungan berupa penghematan dan fleksibilitas kepada para pemakainya, karena biaya pengadaan untuk sistem yang terintegrasi ini akan jauh lebih murah dari pada bila kita membeli sistem yang terpisah. Jadi ISDN dapat dikatakan dibentuk oleh tiga konsep fundamental, yaitu : 1. terkoneksi secara digital untuk seluruh transfer informasi antar jaringan. 2. pertukaran chanel pensinyalan umumnya untuk mengawali dan mengakhiri komunikasi dan mengontrol sumbernya. 3. dapat menyediakan kapabilitas pelayanan para pengguna pada interface jaringan pengguna. Banyak pengguna yang memakai ISDN karena dapat menggabungkan beberapa trafik jaringan yang berbeda ke sebuah hubungan dimana dapat dikendalikan oleh chanel sinyal reliable dengan harga yang cukup ekonomis.
User

Integrated Service Digital Network Gambar.1 ISDN dengan satu jaringan(single network)

User

Prinsip & Tujuan ISDN ISDN memiliki beberapa prinsip dan tujuan yang telah ditetapkan oleh CCITT, yaitu 1. Mendukung penerapan suara dan non suara dengan menggunakan peralatan yang dibatasi standar tertentu 2. Mendukung penerapan switch dan non switch 3. Bergantung pada hubungan 64 kbps 4. Jaringan yang pintar,arsitektur lapisan protocol dan konfigurasi yang bervariasi 5. Pengaturan seluruh servis ke dalam satu jaringan yang mampu menyediakan seluruh servis yang diinginkan oleh pelanggan 6. Memperbaiki kualitas dan mengurangi biaya pengoperasian jaringan pelayanan Evolusi ISDN Evolusi pada ISDN juga telah ditetapkan oleh CCITT, seperti pada prinsip ISDN, yaitu dipengaruhi oleh :  Evolution from telephone IDN Perubahan ini didasarkan pada dua teknologi yaitu digital switching dan digital transmission.

: :

PCM TERM

Digital Switch

Digital Transmission

Digital Switch

PCM TERM

: :

Gambar.2 Integration of digital transmission and switching  Perubahan dari beberapa dekade  Beberapa jaringan yang ada sebelumnya  Susunan sementara jaringan pengguna  Koneksi yang lebih cepat, di atas 64 Kbps. Struktur ISDN  Bearer channel (B-channel) Kanal B adalah kanal dasar, dapat digunakan untuk membawa data digital, PCMencoded digital voice, atau campuran trfaik berkecepatan rendah dll. (64 Kbps) Tiga jenis koneksi dapat dilakukan pada kanal ini, yaitu : - Circuit-switched Koneksi ini ekivalen dengan pelayanan switched digital yang tersedia saat ini. - Packet-switched Pemakai terhubung ke packet switching node dan data dipertukarkan dengan user lainnya menggunakan X.25 . Semipermanent : Sistem koneksi ini ekivalen dengan leased line. Signaling channel (D-channel) Kanal D menyediakan dua fungsi, pertama untuk signalling & controlling, dan kedua dapat dipakai untuk packet-switching atau low-speed data telemetry pada saat tidak ada informasi signalling yang sedang ditunggu. Kecepatan kanal D 16 atau 64 kbps. Kanal H disediakan untuk pemakai dengan bit rate yang tinggi. Kecepatan pada kanal H mencapai 384, 1536 dan 1920 kbps. Channel B D H0 H1 Purpose Bearer Service Signalling and packet mode data Six B- channels All available H0 channels H11(24B) H12(30B) Broadband ISDN (proposed) H21 H22 Broadband ISDN (proposed) Bit Rate 64 kbps 16kbps (BRI) 64kbps (PRI) 384 kbps 1.536 Mbps 1.920 Mbps 32.768 Mbps 43-45 Mbps 132-132.240 Mbps

H2

H4

Arsitektur ISDN
ISDN menyediakan jaringan/hubungan fisik yang baru kepada user, yaitu digital sub- scriber loop (link dari end user ke sentral), dan memodifikasi semua peralatan sentral . Perangkat common physical interface digunakan untuk hubungan DTE-DCE, telepon, terminal komputer dan lain-lain. Blok diagram dari ISDN dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Common Physical Interface

Subscriber loop – ISDN Channel Structure

ISDN Central Office

Packet – Switched backbone

Basic = 64 kbps + 64 kbps + 16 kbps Primary = multiplex 64 kbps channel

Network – based Processing Service IDN

Gambar 3 Blok diagram dari ISDN

Komponen ISDN
Komponen ISDN terdiri atas : Terminal Equipment (TE) Terminal Adapter (TA) Network Termination (NT) Line Terminating Equipment (LTE) Exchange Termination Equipment.

Perhatikan gambar berikut :
Switched Network

TE1
S

NT2 T NT2 S T

NT1 U NT1 U ISDN Switch Packet Network ISDN Switch

TE2
R

TA

NT12 S U

PrivateLine Network

Gambar 4 Terminal ISDN Ada dua jenis Terminal ISDN , yaitu : - Terminal Equipment type 1 (TE1) Berupa terminal yang sesuai dengan standard ISDN interface, antara lain telepon digital, integrated voice /data terminal dan perangkat facsimile digital. TE1 terhubung ke jaringan ISDN melalui link digital berupa kabel twisted-pair. - Terminal Equipment type 2 (TE2) Berupa terminal non-ISDN, antara lain telepon standard, host komputer dengan interface X.25, terminal dengan interface EIA-232-D.. TE2 terhubung ke jaringan ISDN melalui terminal adapter (TA) Ada tiga jenis Network Termination devices, yaitu - Network Termination type-1 (NT1) Mencakup fungsi-fungsi yang berhubungan dengan terminasi pisik dan elektrik (berkaitan dengan fungsi layer 1 dari model OSI). - Network Termination type-2 (NT2) Perangkat intelligent yang dapat melakukan fungsi-fungsi switching dan concentration, termasuk fungsi-fungsi yang sesuai dengan layer 3 dari model OSI. - Network Termination type kombinasi (NT12) Satu perangkat yang berisi kombinasi fungsi-fungsi pada NT1 dan NT2. ISDN menspesifikasikan sejumlah point reference yang mendefinisikan logical interface antara kelompok-kelompok fungsional, seperti TA dan NT. Point-point reference tersebut adalah sebagai berikut : - R : Point reference antara perangkat non-ISDN dan TA - S : Point reference antara terminal pemakai dengan NT2 - T : Point reference antara perangkat NT2 dengan NT1 - U : Point reference antara perangkat NT1 dengan LTE The User Interface Pelanggan/user dapat mengakses ISDN melalui local interface menuju sebuah pipa digital dengan bit rate tertentu. Pipa dengan berbagai ukuran akan tersedia untuk

memenuhi berbagai keperluan sistem. Sebagai contoh pelanggan perumahan hanya memerlukan kapasitas yang kecil untuk menangani terminal telepon dan videotex, sedangkan sebuah kantor /perusahaan akan memerlukan pipa dengan kapasitas yang lebih besar untuk keperluan hubungan digital PBX dll. Pada selang waktu tertentu dengan beberapa key berdasarkan permintaan dari pemakai, pipa digital tersebut memiliki kapasitas yang tetap. Akan tetapi traffik yang terdapat dalam pipa tersebut dapat bervariasi. Pemakai dapat mengakses pelayanan circuit switched dan packet switched dengan sama baiknya.
Digital pipe

Telepon Term. Data PBX Alarm Customer ISDN Interface
Digital Pipe

Circuit Switching Network

ISDN Central Office

Other Networks Data Bases

LAN
Other Services

Gambar 5 The user interface ISDN ISDN Objectives Beberapa sasaran kunci dalam pengembangan ISDN adalah sbb. :  Standardization  Transparency  Separation of competitive functions  Leased and switched services  Cost related tariffs  Smooth migration  Multiplexed support Services Sistem ISDN akan menyediakan berbagai jenis pelayanan, baik yang mendukung aplikasi voice dan data yang sudah ada maupun aplikasi-aplikasi baru yang sedang dalam perkembangan.. Jenis-jenis pelayanan ini dibagi dalam katagori-katagori voice, data digital text dan image. Beberapa dari pelayanan ini dapat disediakan dengan kapasitas transmisi 64 kbps atau kurang. Beberapa pelayanan memerlukan kecepatan data yang lebih besar dan mungkin dapat disediakan dengan fasilitas high speed diluar sistem ISDN seperti TV cable dsb. ISDN juga menawarkan dua jenis pelayanan, yaitu :  Basic Rate Inteface (BRI) Terdiri atas dua kanal B 64 kbps dan satu kanal D 16 kbps (2B+D) dengan total bit rate 192 kbps (termasuk bit-bit untuk framing dan synchronization).  Primary Rate Interface (PRI)

Ada dua jenis PRI : 1. Terdiri atas 23 kanal B 64 kbps dan satu kanal D 64 kbps dengan total bit rate 1,544 Mbps (digunakan di Amerika Utara dan Jepang) 2. Terdiri atas 30 kanal B 64 kbps dan satu kanal D 64 kbps dengan total bit rate 2,048 Mbps (digunakan di Eropa, Australia dll). Primary Rate interface juga digunakan untuk mendukung kanal H. Beberapa struktur yang dikenal adalah : - Primary Rate Interface H0 channel structures Terdiri atas 3 kanal H0 384 kbps + 1 kanal D 64 kbps atau 4 kanal H0 untuk membentuk interface 1,544 Mbps, atau 5 kanal H0 + satu kanal D untuk membentuk interface 2,048 Mbps. - Primary Rate Interface H1 channel structures Terdiri atas satu kanal H11 1536 kbps atau 1 kanal H12 1920 kbps + 1 kanal D. - Primary Rate interface structure for mixture of B and H0 channels Terdiri dari satu atau nol kanal D dan beberapa kemungkinan kombinasi dari kanal B dan kanal H0 (misal : 3H0 + 5B + D atau 3H0 + 6 B). Service yang dapat diberikan oleh kanal B dan D dapat dilihat pada tabel berikut : B Channel (64 kbps)
Digital Voice 64 kbps PCM Low bit rate (32 kbps) High-speed data Circuit switched Packet-switched Other Facsimile Slow-scan video

D Channel (16 kbps)
Signalling Basic Enhanced Low-speed data Videotext Teletext Terminal Telemetry Emergency services Energy management

Ada banyak jenis pelayanan yang dapat didukung oleh ISD, tetapi yang akan di bahas lebih dalam dalam makalah ini adalah salah satu produk multimedia video conference yang akan dibahas dalam bab selanjutnya.

*

Gambar 6 Enterprise ISDN Video Conference Dalam fasilitas melakukan perencanaan sebelum menggelar konferensi video melalui Internet, kita perlu memperhitungkan kebutuhan bandwidth untuk sukses-nya sebuah konferensi video. Secara umum ada dua (2) kebutuhan bandwidth yang perlu di penuhi, yaitu:  Kebutuhan bandwidth untuk mengirimkan sinyal gambar / video.  Kebutuhan bandwidth untuk mengirimkan sinyal suara / audio. Diantara kedua kebutuhan di atas, kebutuhan bandwidth pengiriman video menjadi sangat penting karena akan memakan sebagian besar bandwidth komunikasi yang ada. Tidak mengherankan jika teknik-teknik untuk melakukan kompresi data menjadi sangat strategis untuk memungkinkan penghematan bandwidth telekomunikasi. Sekedar gambaran singkat, sebuah kanal video yang baik tanpa di kompresi akan mengambil bandwidth sekitar 9Mbps. Sebuah kanal suara (audio) yang baik tanpa di kompresi akan mengambil bandwidth sekitar 64Kbps. Memang akan memakan bandwidth yang sangat lebar. Dengan teknik kompresi yang ada pada hari ini, kita dapat

menghemat sebuah kanal video menjadi sekitar 30Kbps dan kanal suara menjadi 6Kbps (half-duplex), artinya sebuah saluran Internet yang tidak terlalu cepat sebetulnya dapat digunakan untuk menyalurkan video dan audio sekaligus. Tentunya untuk kebutuhkan konferensi dua (2) arah dibutuhkan double bandwidth, artinya minimal sekali kita harus menggunakan kanal 64Kbps ke Internet. Dengan banyaknya WARNET maupun RT/RW-Net yang menggunakan peralatan wireless Internet 2.4GHz pada kecepatan 11Mbps, bahkan sebagian mulai berexperimen dengan kecepatan 54Mbps pada frekuensi 5.8GHz, sebetulnya bandwidth yang ada pada infrastruktur jaringan Internet lokal sebetulnya sudah cukup lebar, bahkan mungkin sangat lebar. Jika saja para pengelola WARNET berminat untuk bersatu, sebetulnya konferensi video maupun internet telepon antar WARNET maupun RT/RW-net seharusnya dapat menjadi komoditi yang menarik untuk diberikan kepada pelanggan. Kebutuhan Bandwidth Suara / Audio Suara / audio akan memakan bandwidth jauh lebih sedikit di banding pengiriman gambar / video. Perkiraan kebutuhan bandwidth beserta gambaran kebutuhan kompresinya, akan diterangkan pada bagian ini. Teknik kompresi suara ini juga menjadi dasar pada internet telepon sehingga dapat melakukan hubungan SLJJ & SLI secara murah. Pada tabel terlampir daftar beberapa teknik kompresi suara yang sering digunakan dengan beberapa parameter yang mencerminkan kinerja dari teknik kompresi suara tersebut.

Kompresi G.711PCM G.726 ADPCM G.728 LD-CELP G.729 CS-ACELP G.729 x2 Encoding G.729 x3 Encoding G.729a CS-ACELP G.723.1 MPMLQ G.723.1 ACELP

Kbps 64 32 16 8 8 8 8 6.3 5.3

MIPS 0.34 14 33 20 20 20 10.5 16 16

ms 0.125 0.125 0.625 10 10 10 10 30 30

MOS 4.1 3.85 3.61 3.92 3.27 2.68 3.7 3.9 3.65

Kolom Kbps memperlihatkan berapa lebar bandwidth yang di ambil untuk mengirimkan suara yang di kompres menggunakan teknik kompresi tertentu. MIPS (Mega Instruction Per Second) memperlihatkan berapa kebutuhan waktu pemrosesan data pada saat melakukan kompresi suara dalam juta instruksi per detik. Mili-detik (ms) adalah waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kompresi. Mean Opinion Score (MOS) adalah nilai opini pendengar di ujung pesawat penerima. Teknik kompresi dengan standar G.711 yang menggunakan teknik Pulse Code Modulation (PCM) adalah teknik standar yang digunakan oleh operator telekomunikasi, seperti Telkom, dalam mengirimkan suara melalui jaringan data mereka. Standar G.711 merupakan teknik kompresi yang paling tidak effisien, karena akan memakan bandwidth 64Kbps untuk kanal pembicaraan. Memang G.711 akan memberikan kualitas suara

terbaik, dengan Mean Opinion Score (MOS) sebesar 4.1. Karena teknik kompresi-nya tidak effisien, G.711 juga tidak memakan banyak kekuatan prosesor (komputer) yaitu hanya 0.34MIPS dan membutuhkan waktu proses 0.125ms. Untuk memperoleh kualitas yang baik, mendekati MOS 4.1, biasa digunakan teknik kompresi dengan standar G.729 yang akan memakan bandwidth 8Kbps (hanya 1/8 dari G.711). Untuk itu membutuhkan prosesor sinyal digital yang cukup cepat dengan kemampuan mengolah data mencapai 20MIPS. Bagi mereka yang menginginkan kompresi suara yang maksimal dapat menggunakan standar G.723.1 yang akan memakan bandwidth 5-6Kbps per kanal suara. Yang artinya sebuah kanal suara Telkom (64Kbps menggunakan G.711) akan mampu memuat kira-kira 10 kanal suara internet telepon dengan kompresi G.723.1. Memang kualitasnya tidak sebaik G.729, tapi masih lumayan untuk komunikasi biasa. Kebutuhan Bandwidth Video Ada dua kasus yang mengidentifikasikan layanan video conference ataupun video telephone, hasil dari proses encoding video conference adalah sebagai berikut: Pada dasarnya video telephone ataupun video conference menggunakan satu B-channel pada interface jaringan pengguna. Sama halnya dengan diatas namun ada dua jenis alur dalam kasus ini, pertama ketika sinyal audio dikirmkan melalui satu channel-B dan sinyal video dilalukan melelui kanal yang lainya.dan macam lainnya adalah ketika kesmpatan lewatnya sinyal audio hanya sebagian dari channel-B,dan video sinyal memiliki kesempatan lewat secara menyeluruh pada kanal-B. Beberapa hal yang disarankan sebagai protokol pensinyalan guna mendukung layanan video conference,adalah seperti:  Penambahan kode pada BC dan HLC untuk video telephone  Prosedur pensinyalan guna mencegah tejadinya ‘panggilan’ balik’ hinga 3,1 kHz atau 7 kHz frekuensi telephone  Untuk kasus ke-2 diatas,adalah mekanisme untuk mendirikan hubungan 2 channel – B kepada pengguna yang sama(2 x 64 kbits/s bearer service )

Pada saat ini, ada dua (2) buah standar kompresi video yang umum digunakan dalam pengiriman video melalui saluran komunikasi yang sempit, yaitu:  H.261 – biasanya menggunakan kanal ISDN dengan kecepatan p x 64Kbps, dimana p adalah 1, 2, 3, …, 30.  H.263 – di arahkan untuk mengirimkan gambar video berkecepatan rendah mulai dari 20-30 Kbps ke atas. Pada saat ini standar H.263 merupakan standar kompresi video yang sering digunakan dalam konferensi video melalui Internet. Beberapa hal yang perlu di perhatian adalah:  Jika kita menggunakan video hitam-putih akan memakan bandwidth lebih kecil daripada jika kita melakukan konferensi menggunakan video berwarna.

Jika kita menggunakan Jika kita menggunakan kecepatan pengiriman frame per second (fps) video yang rendah, akan memakan bandwith yang rendah dibandingkan frame per second (fps) yang tinggi.

Video yang cukup baik biasanya dikirim dengan kecepatan frame per second (fps) sekitar 30 fps. Jika dikirimkan tanpa kompresi, sebuah video dengan 30fps akan mengambil bandwidth kira-kira 9Mbps, amat sangat besar untuk ukuran kanal komunikasi data. Untuk memberikan gambaran bagaimana upaya untuk penghematan bandwidth dan rasio kompresi yang dibutuhkan, ada baiknya kita perhatikan tabel terlampir. kecepatan pengiriman frame per second (fps) video yang tampak pada table Keterangan Orisinil, 30 fps 10fps, 20Kbps 10fps, 50Kbps 10fps, 100Kbps 10fps, 500Kbps Rata-rata PSNR (dB) 38.51 41.75 43.98 48.38 Bitrate (Kbit/s) 9124 22.81 56.70 112.09 505.61 Rasio Kompresi 1:1 133:1 54:1 27.1 6:1

Sebuah pengiriman video yang asli (tidak di kompres) dengan kecepatan 30fps akan memakan bandwidth 9Mbps. Dalam pengiriman video untuk konferensi video melalui Internet, biasanya kita mengurangi jumlah frame yang dikirim, misalnya menjadi 10fps. Beberapa teknik kompresi digunakan mulai dari yang paling kecil hasilnya yaitu 133:1 s/d yang akan memakan banyak bandwidth (500Kbps) dengan rasio kompresi 6:1. Terlihat bahwa video 10fps hasil kompresi 133:1 dapat dikirimkan dalam kanal 23Kbps dengan rata-rata Signal To Noise Ratio 38.51dB, cukup lumayan. Tentunya jika kita ingin memperoleh kualitas yang lebih baik, PSNR yang lebih baik, kompresi dapat dikurangi hingga rasio 6:1 atau lebih rendah lagi. ITU-T H.263 standar kompresi video Standar H.263 di publikasikan oleh International Telecommunications Union (ITU) untuk mendukung aplikasi konferensi video maupun video telephony. Secara umum pola kerja H.263 adalah sebagai berikut. Video frame akan di tangkap di sumber / pengirim dan di enkode (dikompress) dengan video enkoder. Aliran video yang terkompres kemudian dikirimkan melalui jaringan atau saluran telekomunikasi dan di ujungnya di dekode (dekomresi) menggunakan video dekoder. Frame yang di dekode ini yang kemudian akan di tampilkan. Pada hari ini, cukup banyak standar yang ada, masing-masing di disain untuk keperluan tertentu. Sebagai contoh, JPEG untuk gambar diam, MPEG2 untuk televisi digital, H.261 untuk konferensi video melalui ISDN. H.263 di arahkan untuk pengkodean video untuk kecepatan rendah (biasanya 20-30Kbps dan tentu di atasnya). Standar H.263 menentukan kebutuhan untuk enkoder dan dekoder video. H.263 tidak menjelaskan tentang enkoder atau dekoder itu sendiri. Akan tetapi, H.263 menspesifikasikan format dan isi dari aliran data yang di enkode (kompres).

Koding Video H.263 H.263 adalah standar ITU-T (International Telecommunication Unions), yang di publikasi sekitar tahun 1995/1996. H.263 pada saat itu di disain untuk saluran komunikasi data berkecepatan rendah, draft awalnya bahkan menspesifikasikan kecepatan komunikasi data kurang dari 64Kbps, akan tetapi batasan ini telah di buang. Oleh karena itu, diharapkan standar H.263 dapat digunakan untuk berbagai kecepatan, tidak hanya aplikasi dengan kecepatan rendah. Bukan mustahil, standar H.263 akan menggantikan standar H.261 pada banyak aplikasi. Algoritma pengkodean H.263 mirip dengan yang digunakan pada H.261, akan tetapi dengan beberapa perbaikan dan perubahan untuk memperbaiki kinerja dan kemampuan untuk perbaikan karena kesalahan. Beberapa perbedaan algoritma pengkodean antara H.261 dan H.263 dapat dijelaskan berikut ini. Ketelitian setengah pixel digunakan untuk kompensasi gerakan pada H.263, sedang pada H.261 digunakan ketelitian pixel penuh dan filter loop. Beberapa bagian dari struktur hirarki pengiriman data dapat digunakan sebagai pilihan (optional) saja, tidak harus di implementasikan secara ketat, oleh karena itu bagian pengkodean / pendekodean (codec) dapat dikonfigurasi secara relax untuk mengejar kecepatan rendah atau perbaikan kesalahan.

Pengiriman Video Melalui ISDN

Gambar 7

Terminal adapter ISDN PRI Berbeda dengan H.263, H.261 di rancang untuk pengiriman video melalui jaringan Integrated Services Digital Network (ISDN). Pada awalnya di tahun 1984, badan telekomunikasi internasional CCITT (International Telegraph and Telephone Consultative Committee) Study Group XV membentuk sebuah group spesialis untuk melakukan koding untuk telepon visual dengan merekomendasikan sebuah standar koding untuk pengiriman data dengan kelipatan m x 384Kbps (m=1,2,..5). Selanjutnya, penelitian mereka menemukan sebuah standar, p x 64 Kbps (p=1,2,..,30), yang dapat digunakan untuk mengisi penuh seluruh kanal ISDN. Setelah lebih dari lima (5) tahun pengembangan, rekomendasi CCITT H.261, codec video untuk servis audio visual pada p x 64 Kbps, akhirnya berhasil di selesaikan dan di setujui pada bulan Desember 1990. Di Amerika Utara, mereka menggunakan rekomendasi H.261 yang sedikit di modifikasi. Untuk p=1 atau 2, karena keterbatasan bandwidth yang ada, hanya digunakan untuk komunikasi visual desktop face-to-face (biasanya dikenal sebagai videophone). Untuk p>=6, dimana bandwidth yang ada cukup lebar >384Kbps, karena kualitas gambar yang dikirim jauh lebih baik, kita dapat melakukan konferensi video. Algoritma tang telah distandardisasikan oleh CCITT seperti merekomendasikan H.21 yang biasa digunakan dalam rentang kira-kira 40 kbit/s dan 2 Mbit/s.Untuk videotelephone dan video conference pengkodean bit stream akan dikombinasikan dgn audio dalam strukture multiplex pada H.221 yang memiliki banyak variasi channel. Beberapa pilihan telah disediakan untuk algoritma pengkodean audio ,sehingga keseimbangan antara audio dan kualitas video dapat disempurnakan untuk setiap pemberian total bit rate.algoritma ini dapat menyediakan kecepatan bit rate setidaknya hingga beberapa ribu kbit/s.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->