PENGATURAN MATA UANG REPUBLIK INDONESIA

1

Oleh: Tim Peneliti Fakultas Hukum UGM

A. Pendahuluan Di dalam lalu lintas perekonomian baik nasional maupun internasional, lazimnya uang diartikan sebagai alat pembayaran yang sah. Pada kehidupan manusia sehari-hari, uang merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan itu sendiri. Uang adalah sesuatu yang secara umum diterima di dalam pembayaran untuk pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta untuk pembayaran hutang-hutang. Uang juga sering dipandang sebagai kekayaan yang dimilikinya yang dapat digunakan untuk membayar sejumlah tertentu hutang dengan kepastian dan tanpa penundaan.2 Lazimnya uang memiliki karakteristik acceptability dan cognizability, stability of value, elasticity of supply, portability, durability, divisibility. Sebagai sarana perekonomian, uang memiliki empat
1

fungsi, yaitu:3 alat pertukaran, unit penghitung, penyimpanan nilai dan standar untuk pembayaran tertangguhkan. Uraian di atas menunjukkan betapa pentingnya uang di dalam lalu lintas perekonomian dan pergaulan masyarakat suatu negara. Oleh karena itu di Indonesia tentang uang ini di atur dalam konstitusi yaitu Pasal 23B UUD 1945, yang menentukan bahwa “macam dan harga mata uang ditetapkan dengan Undang-Undang”. Pengaturan lebih lanjut tentang uang ini dimuat di dalam Pasal 2 UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004, bahwa satuan mata uang negara Republik Indonesia adalah rupiah (Rp.). Uang rupiah adalah alat pembayaran yang sah di wilayah negara Republik Indonesia. Dalam fungsinya sebagai alat pembayaran yang sah, maka setiap perbuatan yang menggunakan uang atau mempunyai tujuan pembayaran atau kewajiban yang harus dipenuhi dengan uang jika dilakukan di wilayah negara Republik
3

Executive Summary dari Penelitian dengan judul “Kajian Terhadap Pengaturan Mata Uang Republik Indonesia”, Kerjasama antara Bank Indonesia dengan Fakultas Hukum UGM (2005), dengan Tim Peneliti: Dr. Marsudi Triatmadja, S.H., LL.M., Sularto, S.H., CN., MH., Daniar Rahmawati, S.H., LL.M., Edward O.S. Hiariej, S.H., MH., dan Amirullah Setiahadi, SE., M.Ec. Iswardono, 1999, Uang dan Bank, Cetakan Keenam, Edisi Keempat, BPFE, Jogjakarta, hlm. 4.

2

Diulio, 1993, Theory and Problems of MONEY AND BANKING, Alih Bahasa Burhanuddin Abdullah, Erlangga, Jakarta, hlm. 2.

BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN

29

Volume 4 Nomor 1, April 2006

perlu tidaknya pengaturan mata uang dilakukan secara terpisah dengan Undang-Undang Bank Indonesia. sehingga dengan demikian pengaturan mata uang yang akan datang sesuai dengan amanat UUD Tahun 1945. Definisi tersebut dalam prakteknya kemudian mengalami perkembangan. Keharusan penggunaan legal tender tersebut apakah mencakup semua transaksi pembayaran atau pemenuhan kewajiban seperti yang tercantum dalam Nepal Renstra Bank Act “The currency notes 4 http//dictionary. 2. serta BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN tindak pidana di bidang mata uang beserta penerapan sanksinya. Legal tender pada prinsipnya adalah sebuah ketentuan hukum yang menyatakan bahwa suatu alat pembayaran dapat diterima secara umum sebagai alat pembayaran yang sah secara hukum dan tidak dapat ditolak sebagai alat pembayaran. apakah hanya terbatas pada uang kartal baik uang kertas maupun uang koin ataukah juga menjangkau pada alat pembayaran yang lain seperti cek. khususnya mengenai pengaturan mata uang yang sekarang ini ada. perlu tidaknya back up emas atau logam mulia lainnya terhadap setiap nilai uang yang telah dicetak. Batasan apa saja yang tergolong dalam legal tender.laborlawtalk. mengapa tidak diatur dalam suatu UndangUndang yang secara khusus mengatur materi tersebut. Dalam perkembangannya. Penggunaan Rupiah Sebagai Legal Tender Legal tender is a payment that can not 4 be refused in settlement of debt” . dan kartu debit serta berbagai alat pembayaran sejenis dengan metode non-currency. kecuali ditetapkan secara lain. Demikian juga setiap orang atau badan yang berada di wilayah negara Republik Indonesia dilarang menolak untuk menerima uang rupiah yang penyerahannya dimaksudkan sebagai pembayaran atau memenuhi kewajiban yang harus dipenuhi dengan uang. pengaturan macam dan harga mata uang yang dituangkan dalam UU Bank Indonesia menimbulkan persoalan. khususnya mengenai: 1. akan tetapi pengaturan yang demikian dirasakan belum melaksanakan amanat yang diperintahkan oleh UUD 1945. kartu kredit. baik pengaturan di dalam UUD 1945 maupun peraturan perundang-undangan di bawahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih mendalam tentang permasalahan yang berkaitan dengan pengaturan mata uang. April 2006 . B.Indonesia wajib menggunakan uang rupiah.com// 30 Volume 4 Nomor 1. Meskipun sebenarnya secara materiil pengaturan tentang macam dan harga mata uang di dalam UU Bank Indonesia telah mencukupi. prinsip legal tender yang diterapkan di dalam pengaturan mata uang sekarang ini.

Demikian pula dalam hal penggunaan legal tender di Amerika tidak hanya sebatas untuk pembayaran hutang tetapi juga untuk pungutan publik. Dunia usaha.treat.C 5103. this has been construed to apply only to "payment for debts when tendered 6 to a creditor.S adalah tidak hanya sebatas uang kartal saja tetapi juga penggunaan 5 6 uang modern seperti kartu kredit. yang kemudian dituangkan baik dalam Undang-Undang Mata Uang (currency act) maupun dalam Undang-Undang Bank Central (Central Bank Act). Section 8 menyatakan: “a tender of payment of money is a legal tender if it is made: (a) in coins that are current under section 7. Treasure of Department.issued by this bank shall be legal tender in payment for the amount expressed there in through out the 5 kingdom of Nepal” ataukah hanya berupa pembayaran transaksi hutang piutang. pajak dan retribusi.justice. Di Amerika Serikat. masyarakat. public charges. and dues. Hal ini dimaksudkan agar mereka tetap memiliki pecahan mata uang yang cukup seimbang pada kasirnya dan juga sebagai pengaman jika pada suatu ketika terjadi perampokan. and (b) in notes issued by the Bank of Canada pursuant to the Bank of Canada Act 7 intended for circulation in Canada”. Ini berarti adanya batasan legal tender di Kanada yakni hanya berupa dollar Kanada yang dikeluarkan oleh Bank of Canada yang berlaku sebagai legal tender di Kanada dan koin dengan menerapkan batasan: Nepal Renstra Bank Act Coinage Act of 1965 (as amended) section 31 U.S. Part 1 Currency and Coinage. taxes. Di Kanada dalam Canada Currency Act Chapter-52." With respect to private transactions.html." Berdasarkan definisi tersebut berarti pengertian legal tender di U. United State. definisi legal tender berdasarkan Coinage Act of 1965. bahkan beberapa toko di Amerika Serikat telah mengambil kebijakan untuk menolak pembayaran dengan denominasi besar (biasanya di atas USD 20). 31 Volume 4 Nomor 1. bahwa sampai dimanakah batasan legal tender kemudian menjadi kewenangan sepenuhnya dari negara masingmasing untuk menentukan.ca/en/c-52/46135.gov/education/faq’s/currency 7 Http//Canada. dan organisasi bebas menetukan dengan model apa mereka akan melakukan pembayaran.gc." which states: "United States coins and currency (including federal reserve notes and circulating notes of Federal reserve banks and national banks) are legal tender for all debts. baik untuk keseluruhan transaksi maupun untuk transaksi tertentu saja. www. Praktik yang terjadi di dunia. sehingga batasan legal tender antara negara yang satu dengan negara lain akan berbeda-beda. April 2006 BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN . khususnya bagian 31 menyatakan "Legal tender.

10 dollar jika denominasinya 10 sen atau lebih. Pengaturan tersebut terdapat dalam Pasal 2 UU No 3 Tahun 2004 yang berbunyi sebagai berikut: (1) Satuan mata uang negara Republik Indonesia adalah Rupiah yang di singkat dengan Rp. namun masih lebih kecil dari 10 dollar 2. beberapa sektor usaha di Kanada menggunakan transaksi dengan denominasi US Dollar. (2) Uang Rupiah adalah alat pembayaran yang sah di wilayah negara Republik Indonesia. 5 dollar jika denominasinya 5 sen 5. Berdasarkan ketentuan tersebut maka untuk kategori legal tender tidak ada pembatasan wujud uang rupiah. April 2006 BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN . (4) Setiap orang atau badan yang berada di wilayah Negara Republik Indonesia dilarang menolak untuk menerima uang rupiah yang penyerahannya dimaksudkan sebagai pembayaran atau pemenuhan kewajiban yang harus dipenuhi dengan uang sebagaimana dalam ayat (3). yang akan ditetapkan dengan peraturan Bank Indonesia. Sementara di Indonesia batasan tentang legal tender diatur dalam UU No. berarti tidak ada keharusan bahwa yang merupakan alat pembayaran yang sah adalah uang kartal baik uang kertas maupun uang koin sebagaimana yang berlaku pada beberapa negara lain. untuk maksud pembayaran. namun tidak lebih dari 1 dollar 4. (3) Setiap Perbuatan menggunakan uang yang atau mempunyai tujuan pembayaran atau kewajiban yang harus dipenuhi dengan uang jika dilakukan di wilayah Republik Indonesia wajib menggunakan uang rupiah. kecuali apabila ditetapkan lain dengan peraturan Bank Indonesia. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004. Ketentuan Pasal 2 tersebut pada prinsipnya melahirkan 2 ketentuan 32 Volume 4 Nomor 1. atau untuk memenuhi kewajiban dengan valuta asing yang telah diperjanjikan secara tertulis. 25 dollar jika denominasinya 1 dollar 3. meskipun mata uang Amerika Serikat bukanlah merupakan legal tender di Kanada.1. (5) Pengecualian sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diberikan untuk keperluan pembayaran di tempat atau di daerah tertentu. Sebagai contoh. 40 dollar jika denominasinya 2 dollar atau lebih besar. 25 sen jika denominasinya 1 sen Namun demikian ada transaksi komersial tertentu yang dapat dilakukan dengan aturan-aturan tertentu pula.

2000.or. bill. matter anything whatsoever relating to money or involving the payment of. executed. Keharusan penggunaan mata uang Rupiah dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini mengingat mata uang merupakan salah satu simbol kedaulatan negara. executed entered into. in and in relation on malaysian dollar shall be deemed instead to be made. Penggunaan mata uang rupiah di wilayah Republik Indonesia berarti penghormatan terhadap kedaulatan Indonesia. Sementara ketentuan Article 46 Bank of Japan Law as amanded in 1998. any money which but for this subsection would have been deemed to be made. note. in and 8 in relation to ringgit” . sale.bnm. 2001 menyatakan “The Banknote issued by the Bank shall be legal tender and hence shall be used for payment without limits”9 Pengaturan yang sangat ketat dan tanpa pembatasan ini pada akhirnya mampu membawa 8 9 www. Pemuatan aturan ini dalam UU berarti bahwa aturan tersebut adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan dan sesuai dengan azas hukum yang menyatakan bahwa ketika suatu Undang-Undang diundangkan berarti semua orang dianggap tahu. dan dilarang menolak pembayaran dengan rupiah bagi penerima pembayaran. sementara penggunaan BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN mata uang asing di wilayah Republik Indonesia dengan mengesampingkan mata uang rupiah berarti merupakan salah satu tindakan penjajahan terhadap kedaulatan Bangsa Indonesia khususnya di bidang ekonomi yang berpotensi besar untuk menyerang bidang-bidang lain di wilayah Republik Indonesia. or the liability to pay.boj. Dalam Central Bank of Malaysia Act 1958 (revised 1994) section 18 subsection (2) menyatakan”…every contract. April 2006 . done and had for. instrument and security for money and every transaction. Aturan ini mengharuskan kepada setiap orang atau badan apapun kewarganegaraannya. done and had for. maka semua orang atau badan yang berkaitan dengan aturan tersebut dianggap dan dibebani kewajiban untuk melaksanakan.gov. entered into. yang harus ditegakkan keberadaannya. Beberapa negara lain seperti Malaysia dan Jepang juga menerapkan aturan yang serupa.yang harus dipenuhi oleh setiap orang dan badan yang berada dalam wilayah Republik Indonesia yaitu: wajib menggunakan mata uang rupiah sebagai alat pembayaran.jp 33 Volume 4 Nomor 1.my www. dealing. dengan apapun model dan jenis transaksinya selama berada di wilayah Republik Indonesia dan menggunakan alat pembayaran maka harus merujuk pada rupiah dan tidak diperbolehkan untuk menggunakan mata uang lain. payment.

April 2006 .perekonomian Jepang menjangkau seluruh pelosok dunia. Wilayah Perbatasan Daratan Wilayah perbatasan harusnya diatur kebijakan khusus tentang kewajiban penggunaan rupiah yang berbeda dengan wilayah di Indonesia pada umumnya. maka pengaturan pengecualian terdapat penggunaan rupiah tetap diperlukan. 34 Volume 4 Nomor 1. yaitu Treaty-1891 serta Konvensi 1915 dan 1928. Beberapa wilayah perbatasan daratan Republik Indonesia adalah: a) Batas dengan Malaysia di Kalimantan dan pulau Sebatik. jauhnya pusat ekonomi dalam negara Republik Indonesia dan juga lemahnya nilai rupiah terhadap mata uang di negara perbatasan. Saat ini tidak semua transaksi di wilayah Republik Indonesia bisa menggunakan rupiah. sekitar 2004 kilometer. tetapi seharusnya pengecualiannya adalah dengan pembatasan yang tegas. Pembatasan yang tegas tersebut dapat dilakukan misalnya dengan mengatur pengecualian penggunaan rupiah tersebut dalam sebuah Peraturan Pemerintah yang dikeluarkan oleh presiden sehingga lebih menjamin implementasi pengaturan kewajiban penggunaan uang rupiah. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai pembebanan keharusan penggunaan rupiah ini justru membatasi kegiatan perekonomian yang nantinya berpotensi membawa keterpurukan ekonomi bangsa Indonesia. Menyadari bahwa saat ini rupiah bukanlah merupakan hard money dan belum pula semua negara mau menerima uang rupiah. aturan ini pada prinsipnya adalah untuk meningkatkan nilai rupiah. Hal ini karena batas perbatasan yang kadang kabur. Adapun beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan dalam penetapan pengecualian terhadap penggunaan rupiah antara lain: 1. serta pengimpor terkemuka atas minyak dan gas bumi dan perdagangan internasionalnya memiliki pengaruh yang akan selalu diperhitungkan oleh negara-negara besar di dunia. mengacu kepada perjanjian batas antara wilayah kolonial Inggris dengan Hindia Belanda. BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN sehingga tidak mengaburkan kewajiban pengunaan rupiah sebagai legal tender. Prinsip dalam pembuatan suatu peraturan selain dimaksudkan untuk mengatur juga diusahakan mampu dilaksanakan. yang berarti dalam pelaksanaannya tidak boleh terlalu membebani atau membatasi. menjadi negara pemasok hasil industri. Demikian pula dalam keharusan penggunaan rupiah. Prinsip pengecualian ini juga dianut beberapa negara lain seperti Kanada.

Transaksi Ekspor Transaksi International Impor/ penggunaan rupiah perlu diatur dalam sistem pembayaran untuk traksaksi ekspor impor. Hal ini membuat beberapa wilayah di Indonesia merupakan kawasan wisata yang sudah bertaraf international dengan segmen pasar bukan hanya penduduk pribumi tetapi juga wisatawan mancanegara dari berbagai negara di dunia. Maka pengaturan secara khusus tentang kewajiban penggunaan rupiah dalam transaksi Dalam posisi Rupiah saat ini belum memungkinkan setiap negara mau untuk membayar atau dibayar dalam rupiah.b) Batas dengan PNG.. yang hasilnya disepakati pada tanggal 8 April 2005 dalam bentuk sebuah Provisional Agreement. BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 35 Volume 4 Nomor 1.Surv. mengacu pada perjanjian batas antara Hindia Belanda dengan Portugis pada tahun 1904 (Treaty-1904) dan Permanent Court Award (PCA) 1914. Pengaturan ini bukan berarti pelegalan tanpa batas penggunaan uang asing dalam transaksi ekspor impor tapi lebih pada pengaturan bagaimana traksaksi ekspor impor Indonesia tetap lancar tetapi tidak mengarah pada penurunan nilai rupiah. Sobar Sutrina.10 2. Maka pengaturan yang berbeda tentang kewajiban 10 Dr. mengacu perjanjian tentang batas-batas negara antara Indonesia dengan Papua Nugini oleh Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia pada tahun 1973. April 2006 .Ir. Batas-batas NKRI. c) Batas dengan Timor-Leste. Potensi ini harus terus dikembangkan sebagai salah satu aset negara. Wilayah Pariwisata Wilayah Indonesia merupakan salah satu kawasan di dunia yang cukup diakui keindahan dan keunikan kekayaan alamnya. Sc. Makalah dalam “Seminar Nasional Batas Wilayah” diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi FT-UGM di Yogyakarta pada tanggal 3 Mei 2005. Hasil perjanjian terakhir diratifikasi dengan UU No. Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Timor-Leste sepakat untuk melakukan delineasi bersama. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yakni dengan memberikan kenyamanan pada wisatawan di wilayah wisata tersebut. 6 tahun 1973. di Papua (Irian Jaya) sekitar 780 kilometer. Dalam hal ini tentu diatur jenis komoditi apa saja dan dengan negara mana. termasuk persyaratan diperbolehkan menggunakan mata uang asing.. M. sekitar 255 kilometer. Mengacu kepada dua produk hukum tersebut. 3.

dan kemudahannya untuk dibagi. dan semakin berbahayanya melakukan perjalanan jauh.juga perlu khusus. Perkembangan penggunaan emas sebagai alat pembayaran telah berkembang sedemikian rupa. dan menghindari terjadinya kelangkaan dalam peredarannya akibat adanya penimbunan. mengurangi kemungkinan terjadinya debasement coins (penurunan nilai koin). menyebabkan emas dapat memiliki fungsi sebagai alat penyimpan nilai (store of value) dan satuan hitung (unit of account). April 2006 . 36 Volume 4 Nomor 1. Akibat selanjutnya adalah mata uang pada sistem ini dapat digunakan secara aman sebagai alat untuk mempertahankan nilai kekayaan dari pengaruh inflasi. fungsi dari uang kertas (paper currency) adalah untuk mengurangi risiko bahaya memindahkan emas (gold transporting) dari satu tempat ke tempat lain karena alasan keamanan. BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN Dipakainya emas sebagai standar disebabkan karena sifatnya yang langka dan tahan lama. pengaturan secara C. dan uang yang diedarkannya disebut dengan certificates. dan yang menyandarkan nilai notes-nya pada sejumlah emas tertentu pada prinsipnya telah menerapkan sistem kurs tetap (fixed exchange rates). Saat sistem hard-money digunakan. Negara yang menerapkan aturan unit satuan hitung semacam ini. Maksud dari diciptakannya sistem ini adalah untuk menciptakan suatu sistem yang kebal terhadap hilangnya kredibilitas otoritas moneter dan ekspansi hutang yang berlebihan. Uang yang dijamin dengan emas (specie) disebut dengan representative money. Back Up Currency Penerbitan Uang Dalam Secara umum penggunaan back up currency dalam sistem moneter dunia dapat merujuk pada penggunaan emas sebagai standar atas diterbitkannya mata uang (gold standard). Berkembangnya penggunaan uang kertas pada mulanya disebabkan semakin buruknya kualitas transportasi. kepadatan. seiring dengan keinginan pemerintah untuk mengatur perkembangan sektor bisnis. dan selanjutnya akan memaksa suatu sistem dimana mata uang tidak dapat diciptakan secara fiat oleh pemerintah. Gold standard adalah sebuah sistem moneter di mana standar satuan hitung ekonomi (notes) diukur dengan bobot yang tetap oleh sejumlah emas dengan nilai tertentu dan memiliki jaminan dari penerbitnya (issuer guarantee) dalam hal penukaran notes tersebut dengan sejumlah emas yang telah ditentukan. Para pakar sejarah telah mempercayai bahwa tingginya nilai guna. agar dapat dibedakan dengan uang-uang jenis lainnya. keseragaman. tahan lamanya.

Namun demikian. dan adanya ketidakpastian atas daya beli di masa yang akan datang telah menekan kepercayaan dunia usaha dan menyebabkan menurunnya arus perdagangan dan investasi. Beberapa notes yang diterbitkan oleh private (e-gold/digital gold currency) di back-up oleh gold bullion (emas batangan). Akan tetapi banyak negara yang menyimpan emas dengan jumlah yang signifikan untuk mem-back up mata uangnya dan untuk meng-hedge dari US Dollar. Teori ini bermula dari ide bahwa adanya inflasi yang disebabkan karena meningkatnya jumlah uang. untuk menjaga nilai emas sebagai cadangan. April 2006 .Penerapan emas sebagai standar mata uang didasarkan pada teori sistem standar emas. Hal ini untuk mencegah agar tidak terjadi pengikisan nilai emas. manfaat dari penerapan kebijakan fiskal dan moneter oleh pemerintah dapat berpengaruh terhadap manfaat ekonomi yang diperoleh. Mata uang Franc Swiss telah meninggalkan sistem full-gold convertible backing. artinya. Emas juga dipegang oleh bank sentral sebagai cadangan internal (internal reserves) untuk hedging pinjaman terhadap pemerintah. Selain sebagai logam mulia. pertumbuhan ekonomi akan lebih cepat daripada pertumbuhan cadangan emas. Emas juga tidak boleh diperjualbelikan secara bebas selain transaksi yang sudah disetujui. Penguasaan atas emas oleh pemerintah dapat menyebabkan timbulnya disinsentif terhadap aktivitas ekonomi. Selain itu dengan mengurangi campur tangan pemerintah dalam pasar akan menjamin hak kebebasan individu dan vitalitas ekonomi. 37 Volume 4 Nomor 1. Pelemahan US Dollar cenderung akan menyebabkan meningkatnya harga emas. Tidak ada benda lain yang dapat memiliki kestabilan nilai sama seperti emas. Dalam teori standar emas. gold standar bersifat deflationary. Pada tahun 1999. Selama era 1990-an. European Central Bank menandatangani “Washington Agreement” bahwa emas tidak akan boleh disewakan untuk tujuan spekulasi. Penerapan standar emas ini juga untuk menciptakan kepastian perdagangan internasional melalui kepastian nilai tukar. sementara negara lain berusaha mengumpulkan emas untuk persiapan pembentukan monetary union. Rusia melikuidasi banyak cadangan emas yang dimiliki BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN oleh Uni Soviet. Sistem standar emas secara teori telah membatasi kekuatan pemerintah yang dapat menyebabkan inflasi melalui penciptaan yang berlebihan (excessive issue) atas paper currency. emas juga memiliki fungsi sebagai penyimpan nilai. Emas juga telah menjadi aset finansial yang utama sebagai back up dari government bonds dan foreign currency.

Demikian juga penerbitan mata uang rupiah. sedangkan untuk mencetak uang lagi. Pengaturan Mata Uang Di dalam kehidupan sehari-hari. seiring dengan tidak adanya lagi BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN kemampuan konvertibilitas emas. namun dalam perkembangannya dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Posisi hutang luar negeri negara-negara yang terlibat perang bertambah. 38 Volume 4 Nomor 1. Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa sepakat untuk tidak lagi memperjualbelikan emas di pasar London. Oleh karena itu kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan standar emas menjadi turun akibat penggunaannya yang tidak bisa fleksibel mengikuti perkembangan ekonomi. sehingga ada yang berpendapat bahwa dunia sebagaimana yang kita kenal ini tidak dapat berlangsung tanpa uang. Pasca berakhirnya perang dunia ke dua. dirasa tidak perlu di back up dengan emas. emas sebagai cadangan di dalam penerbitan uang pernah diterapkan oleh beberapa negara. pimpinan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat bertemu di Bretton Woods untuk membahas tentang pengenaan emas sebagai standar mata uang yang kemudian diterapkan sampai dengan tahun 1971. Berdasarkan gambaran di atas. D. Walaupun uang itu bukan faktor produksi seperti tanah dan tenaga kerja. Uang juga sering dipandang sebagai kekayaan yang dimilikinya yang dapat digunakan untuk membayar sejumlah tertentu hutang dengan kepastian dan tanpa penundaan. namun uang merupakan syarat mutlak bagi metode-metode produksi modern. sehingga tanpa uang tanah. negara terbentur pada kondisi di mana sumber emas tidak lagi bisa mengikuti berkembangnya kebutuhan akan pembiayaan negara dalam rangka perang. Amerika Serikat telah memiliki 75% cadangan emas dunia dan Amerika Serikat hanyalah satu-satunya negara yang mata uangnya masih di back up oleh emas. Pada tahun 1968. Keadaan semacam ini mengharuskan negara mencari sumber pembiayaan lainnya secara cepat. uang merupakan sesuatu yang secara umum diterima di dalam pembayaran untuk pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta untuk pembayaran hutanghutang. April 2006 . posisi politik dunia berubah. Pada akhir perang dunia ke dua.Seiring dengan adanya perang dunia. sedangkan uang negara yang tersedia semakin menipis. Akhirnya pada tahun 1971. maka emas menjadi tidak berharga dan bank sentral tidak lagi mempunyai alasan untuk menyimpannya. Begitu pentingnya uang. maka penerbitan mata uang baru tidak serta merta di back up dengan emas yang disimpan pada bank sentral.

2nd edition.tenaga kerja dan modal tidak mempunyai kemampuan untuk menjalankan kehidupan 11 perekonomian. dan Pasal 72. pengaturan tentang mata uang ini dimuat di dalam konstitusi (UndangUndang Dasar) dari negara yang bersangkutan. Pasal 20. Oleh karena itu di banyak negara. Pasal 66. Kata ”dengan” tersebut berbeda dengan kata ”dalam” Undang-Undang. Pasal 23B UUD 1945 Amandemen keempat menentukan bahwa “macam dan harga mata uang ditetapkan dengan Undang-Undang”. Pasal 11 21. April 2006 Luckett. Ada alasanalasan yang dapat digunakan sebagai dasar agar pengaturan mata uang dituangkan dalam Undang-Undang tersendiri. Di samping itu ketentuan tentang sanksi pidana juga masih mendasarkan pada Bab X Buku Kedua tentang Kejahatan Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP). Erlangga. Selanjutnya ketentuan formal khususnya yang menyangkut sanksi diatur dalam Pasal 65. ketentuan tentang mata uang ini dimuat di dalam Pasal 23 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945 sebelum amandemen) yang menentukan bahwa “macam dan harga mata uang ditetapkan dengan Undang-Undang”. Hlm. Pasal 22. akan tetapi dalam perkembangannya pengaturan yang demikian itu dianggap kurang pas dan tidak sesuai dengan semangat UUD 1945 yang mengamanatkan pengaturannya dengan UndangUndang tersendiri yang secara khusus mengatur materi tersebut. dan Pasal 77A. Meskipun secara materiil pengaturan tentang macam dan harga mata uang di dalam UU Bank Indonesia dan KUHP dirasakan telah mencukupi. Di Indonesia. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. Berdasarkan karakteristik dan fungsi uang tersebut di atas. Pengaturan lebih lanjut tentang mata uang ke dalam Undang-Undang organik dimuat dalam Undang-Undang No. Di dalam UU Bank Indonesia tersebut ketentuan secara materiil tentang mata uang diatur dalam Pasal 2. Ketentuan yang sama diatur kembali dalam Pasal 23B UUD 1945 setelah amandemen keempat. Kata ”dengan” mengandung makna bahwa pengaturan lebih lanjut dilakukan dengan menuangkan dalam UndangUndang yang khusus mengatur tentang itu. Pasal 23. Pasal 19. BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN . 257. terlihat betapa pentingnya uang di dalam lalu lintas perekonomian baik di dalam suatu negara maupun antar negara. sebagaimana diuraikan berikut ini. 3 Tahun 2004 (selanjutnya disingkat UU Bank Indonesia). 1994. Jakarta. yang mempunyai makna bahwa pengaturan lebih lanjut 39 Volume 4 Nomor 1. Rasyadi. Alih Bahasa: Paul C. Money and Banking.

hlm. 2002. Yogyakarta. April 2006 . sementara itu tentang bank sentral diatur dalam Pasal 23D yang menentukan bahwa “Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan. tetapi sebenarnya tetap merupakan satu kesatuan tatanan yang saling berkaitan antara aturan yang satu dengan lainnya. Pemisahan pengaturan tersebut dapat saja ditafsirkan bahwa pengamandemen batang tubuh UUD 1945 menghendaki agar kedua materi tersebut diatur secara terpisah dalam Undang-Undang yang berbeda.dapat dimasukkan dalam UndangUndang apa saja yang terkait dengan materi yang bersangkutan. Era reformasi dewasa ini memungkinkan timbulnya perubahanperubahan yang kadang-kadang terjadi secara tiba-tiba dan tidak terencana sebelumnya. tanggung jawab. Liberty. Pasal 19. kewenangan. dan independensinya diatur dengan Undang-Undang”. 102. Dengan demikian dapatlah ditafsirkan bahwa pengaturan lebih lanjut dari macam dan harga mata uang dituangkan dalam bentuk Undang-Undang tersendiri. Pasal 22. Pasal 20. 40 Mengenal Hukum. Perubahan tersebut tentunya akan berimbas terhadap kebijakan yang akan diterapkan oleh lembaga/pejabat baru hasil perubahan. Pasal 21. Sehingga apabila terjadi perubahan pengaturan dan kebijakan kewenangan terhadap substansi tertentu tidak akan begitu mempengaruhi pada substansi terkait lainnya. 12 Mertokusumo. Meskipun demikian perlu diingat bahwa hukum merupakan suatu sistem. kedudukan. dan Pasal 23 Undang-Undang ini dinyatakan tetap berlaku hingga diatur lebih lanjut dengan Undang-Undang tersendiri”. baik di bidang politik. Volume 4 Nomor 1. Sebagaimana telah disebutkan di muka bahwa pengaturan macam dan harga mata uang diatur dalam Pasal 23B. BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN Ketentuan Pasal 77A tersebut tersirat makna bahwa tentang mata uang akan diatur dengan Undang-Undang tersendiri terlepas dari UU Bank Indonesia. Jadi meskipun pengaturannya dipisahkan. pemerintahan maupun perekonomian. pengaturan macam dan harga mata uang dipisah dalam pasal yang berbeda dengan pengaturan bank sentral. Di dalam UUD 1945 setelah Amandemen keempat.12 artinya bahwa hukum itu merupakan suatu kesatuan tatanan yang utuh yang terdiri dari bagianbagian atau unsur-unsur yang saling berkaitan erat satu sama lain. Pasal 77A UU Bank Indonesia menentukan bahwa “Ketentuan mengenai mata uang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. pengaturan secara mandiri terhadap berbagai substansi dalam UndangUndang tersendiri menjadi sangat penting. Oleh karena itu.

Sementara itu dengan ditingkatkannya normanorma dalam Peraturan Bank Indonesia ke dalam Undang-Undang. Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas. (2) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1953 Tentang Penetapan "UndangUndang Darurat Tentang Penghentian Berlakunya "Indische Muntwet 1912" dan Penetapan Peraturan Baru Tentang Mata Uang (Undang-Undang Darurat Nomor 20 Tahun 1951) Sebagai Undang-Undang. UII Press. April 2006 . yaitu: (1) Undang-Undang Darurat Nomor 20 Tahun 1951 Tentang Penghentian Berlakunya "Indische Muntwet 1912" dan Penetapan Peraturan Baru Tentang Mata Uang. baik alasan dari segi normatif. sosiologis.13 Landasan filosofis (filosofische grondslag) menentukan bahwa suatu rumusan peraturan perundang-undangan harus mendapatkan pembenaran yang dapat diterima jika dikaji secara filosofis. secara historis di Indonesia pernah diberlakukan Undang-Undang yang khusus mengatur tentang mata uang. hlm. (3) Undang-Undang Darurat Nomor 4 Tahun 1958 Tentang Pengubahan "Undang-Undang Mata Uang Tahun 1953". Suatu peraturan yang baik harus memiliki landasan peraturan perundang-undangan. sehingga nantinya 13 Sinaga.Disamping alasan-alasan tersebut di atas. dan landasan yuridis. maka sangat dimungkinkan pengaturan macam dan harga mata uang akan lebih komprehensif serta lebih banyak mengatur norma-norma BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN yang selama ini dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia. Ilmu Pengetahuan Perundang-undangan. 41 Volume 4 Nomor 1. 2004. Yogyakarta. historis. yaitu landasan filosofis. maka perlu kiranya untuk dipikirkan kemungkinan pengaturan macam dan harga mata uang terpisah dari pengaturan tentang Bank Indonesia. maka untuk selanjutnya Peraturan Bank Indonesia lebih difokuskan pada ketentuan-ketentuan yang bersifat teknis operasional maupun administratif. landasan sosiologis. Landasan yuridis (rechtgrond) menentukan bahwa suatu peraturan perundang-undangan harus mempunyai landasan hukum atau dasar hukum atau legalitas yang terdapat dalam ketentuan lain yang lebih tinggi. Landasan sosiologis (sociologische grondslag) menentukan bahwa suatu peraturan perundang-undangan harus sesuai dengan keyakinan umum atau kesadaran hukum masyarakat. 33. Di dalam peraturan mata uang juga diharapkan memiliki ketiga landasan tersebut. dan (4) UndangUndang Nomor 71 Tahun 1958 Tentang Penetapan "Undang-Undang Darurat Nomor 4 Tahun 1958 Tentang Pengubahan Undang-Undang Mata Uang Tahun 1953" Sebagai UndangUndang. Dengan pengaturan dalam Undang-Undang yang terpisah.

maka pokok-pokok materi muatan yang seyogianya dimuat dalam peraturan mata uang adalah sebagai berikut: 1. Ketentuan Pidana. Kejahatan Mata Uang Bentuk dan jenis kejahatan mata uang yang terdapat dalam KUHP dan Undang-Undang Bank Indonesia. Ketentuan Peralihan. E. Macam. Pengawasan pelaksanaan kewenangan Bank Indonesia. fungsi. 8. setelah diadakan penyesuaianpenyesuaian dengan perkembangan dewasa ini. 5. 7. Disamping itu peraturan mata uang ini harus mampu menambah materi muatan baru yang selama ini belum diatur di dalam beberapa peraturan yang telah disebut tadi. 6. Uang rupiah sebagai alat pembayaran yang sah (legal tender). Dengan demikian peraturan mata uang yang baru mampu memberikan pencerahan baik dari segi kepastian. Materi muatan yang akan dituangkan dalam peraturan mata uang paling tidak harus mampu menampung materi-materi yang selama ini sudah diatur baik di dalam UU Bank Indonesia. kelancaran operasional maupun efektivitas dan efisiensi kerja serta pertumbuhan perekonomian secara nasional. Ketentuan Penutup. Satuan dan harga mata uang negara Republik Indonesia. dan hierarki peraturan perundang-undangan”. Penukaran Uang. Sedangkan kejahatan mata uang dalam Undang-Undang Bank Indonesia lebih mengarah pada misdemeanors atau mala probibita. Kewenangan Bank Indonesia sebagai bank sentral. di dalam Pasal 1 butir 12 UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan ditentukan bahwa ”materi muatan peraturan perundang-undangan adalah materi yang dimuat dalam peraturan perundang-undangan sesuai dengan jenis. 42 Volume 4 Nomor 1. April 2006 . 3. KUHP. kejahatan mata uang yang diatur dalam KUHP lebih mengarah pada felonies atau mala in se. 2. maupun yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia yang bersifat mengatur. Sebab pada dasarnya pemalsuan adalah perilaku menyimpang dalam kehidupan masyarakat. ada beberapa catatan sebagai berikut: PERTAMA.dapat dikualifikasikan peraturan yang baik. Dengan mengkombinasi materi yang sudah diatur dalam berbagai aturan tersebut dengan penyesuaianpenyesuaian secukupnya dan BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN penambahan materi baru yang dianggap perlu. 4. sebagai Selanjutnya mengenai materi muatan dari pengaturan mata uang.

tetapi terhadap kejahatan tersebut hakim diperintahkan untuk menjatuhkan dua 14 pidana pokok dengan stelsel 15 pemidanaan indeterminate sentence. dalam kaitannya dengan ancaman pidana.Artinya. Artinya. KUHP yang kita gunakan sekarang usianya hampir mencapai 200 tahun. namun terhadap kejahatan tersebut hakim hanya dapat menjatuhkan pidana pokok dengan stelsel pemidanaan indefinite 14 Sementara perbuatan sentence. KEEMPAT. pengaturannya perlu secara khusus. pidana yang berkaitan dengan mata uang dalam Undang-Undang Bank Indonesia kendatipun dikualifikasikan sebagai pelanggaran. Untuk menanggulangi kejahatan mata uang. akan tetapi untuk mensinkronkan perbuatan pidana baru yang berkaitan dengan mata uang dan lebih untuk mensinergikan sistem pemidanaan terhadap kejahatan mata uang. kendatipun perihal pemalsuan uang dapat dijerat dengan ketentuan dalam KUHP dan masih relevan hingga saat ini. KETIGA. perbedaan kualifikasi perbuatan pidana yang menyangkut mata uang dalam KUHP dan UndangUndang Bank Indonesia kiranya dapat dipahami. dari segi hukum material yang berlaku saat ini sebenarnya sudah cukup mengantisipasi kejahatan mata 15 Indefinite sentence juga dikenal dengan sistem maksimum. terkait dengan yang pertama di atas. Pembedaan kedua katagori perbuatan pidana ini membawa dampak dalam hal prosedural maupun penghukuman. sementara kejahatan mata uang dalam Undang-Undang Bank Indonesia dikualifikasikan sebagai pelanggaran. si pembuat Undang-Undang hanya memberi batasan terhadap maksimum pidana yang boleh dijatuhkan. kejahatan mata uang dalam KUHP dapat dicabut. KEDUA. 43 Volume 4 Nomor 1. sementara dalam menghadapi perkembangan zaman banyak perilaku orang yang dianggap tidak menjaga kedaulatan mata uang rupiah di wilayah Negara Republik Indonesia sehingga perbuatan tersebut kemudian dikriminalkan. perilaku tertentu dari orang atau badan hukum yang oleh pembentuk Undang-Undang dinyatakan sebagai pelanggaran. Dengan berlakunya aturan khusus tersebut yang berkaitan dengan mata uang termasuk ketentuan pidana dan terlebih proses beracaranya dalam rangka law enforcement. Indeterminate sentence adalah sistem pemidanaan yang mana pembentuk Undang-Undang memberi batasan minimum dan batasan maksimum pidana yang boleh dijatuhkan. citra dan kedaulatan uang rupiah di wilayah negara Republik Indonesia. Kedua pasal dalam Undang-Undang Bank Indonesia yang berkaitan dengan kejahatan mata uang lebih pada menjaga eksistensi. secara tegas bahwa kejahatan mata uang dalam KUHP dikualifikasikan sebagai kejahatan. KELIMA. meskipun kualifikasi perbuatan pidana yang berkaitan dengan mata uang dalam KUHP adalah kejahatan. April 2006 BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN .

banyak modus operandi pengedaran uang palsu yang bersumber dari luar negeri. Atas dasar pertimbangan tersebut di atas. 5. Dalam rangka penanggulangan preventif kejahatan mata uang. April 2006 . sangat bersifat teknis sehingga untuk menentukan apakah uang tersebut palsu atau tidak. Hal ini berdasarkan beberapa pertimbangan. kejahatan mata uang acap kali dilakukan sebagai kejahatan terorganisir bahkan melibatkan orang-orang yang punya kedudukan dan status dalam masyarakat. kejahatan mata uang adalah kejahatan yang sangat kompleks dalam pengertian BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN tidak menyangkut motivasi ekonomi semata tetapi juga motivasi politik yang bertujuan terhadap instabilitas ekonomi suatu negara. Perihal kedua dan ketiga ini. khususnya yang berkaitan dengan pemalsuan dan pengedarannya. Akan tetapi dari segi hukum formal perlu memperhatikan beberapa hal yang berkaitan dengan profesionalisme aparat. kejahatan mata uang. yang berhak dan mempunyai kewenangan penuh untuk menentukan palsu atau tidaknya uang yang beredar adalah Bank Indonesia. kejahatan mata uang adalah transnational crime yang melewati lintas batas negara. penyelidikan dan penyidikan dilakukan oleh pegawai Bank Indonesia yang diangkat sebagai Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). yaitu: 1. Dalam kaitannya dengan profesionalisme aparat untuk menanggulangi kejahatan mata uang khususnya uang palsu. dibutuhkan keahlian tersendiri. Bank Indonesia adalah institusi yang sangat memegang peranan penting. 4. Sebab. 2. pembuktian kejahatan mata uang yang berkaitan dengan pemalsuan tidaklah mudah karena si tersangka selalu mengatakan ketidaktahuannya bahwa uang yang dibawanya adalah palsu. tetapi juga perlu campur tangan institusi lain tanpa mengecilkan arti institusi penegak hukum yang ada. 44 Volume 4 Nomor 1. sarana dan prasarana. tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum semata. khususnya pemalsuan. untuk penanggulangan represif terhadap kejahatan mata uang perlu ditempuh hal-hal sebagai berikut: 1. Dalam rangka penanggulangan secara represif. 3.uang baik yang terdapat dalam KUHP maupun dalam Undang-Undang Bank Indonesia.

2. maka mata uang merupakan salah satu simbol kedaulatan negara. Badan Intelijen Negara dan pegawai Bank Indonesia. Salah satu upaya penegakannya adalah dengan menegaskan dalam Currency Act bahwa rupiah adalah satu-satunya legal tender untuk seluruh wilayah Republik Indonesia. yang berarti penggunaannya adalah wajib dalam transaksi apapun dan siapapun selama di wilayah Indonesia dengan konsekuensi pidana bagi yang melanggar. khususnya yang berkaitan dengan teknik penyidikan serta perlindungan terhadap korban dan saksi. transaksi international. dengan pembatasan yang diatur dalam peraturan pemerintah. Dalam kaitannya dengan penggunaan uang rupiah sebagai legal tender bagi wilayah Republik Indonesia. Penutup Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan sebagaimana diuraikan di atas. maka penggunaan mata uang rupiah di wilayah Republik Indonesia berarti penghormatan terhadap kedaulatan Indonesia. dan daerah wisata. Perlu dilakukan kerjasama yang lebih intensif oleh Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (BOTASUPAL) tidak hanya antara penyidik Polri. Perlu diatur dalam ketentuan tersendiri perihal hukum acara. BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 45 Volume 4 Nomor 1. Pengecualian terhadap prinsip “Rupiah satu-satunya legal tender di Indonesia” hanya dibenarkan untuk wilayah perbatasan. maka dapat disimpulkan hal-hal berikut ini: 1. tetapi diperluas dengan petugas bea dan cukai serta petugas imigrasi dalam rangka penanggulangan kejahatan mata uang. 3. Penyamaran seperti ini diperlukan agar tersangka dapat tertangkap tangan dan untuk mengungkap kejahatan mata uang yang dilakukan secara terorganisir. sementara penggunaan mata uang asing di wilayah Republik Indonesia dengan mengesampingkan mata uang rupiah berarti merupakan salah satu tindakan penjajahan terhadap kedaulatan Bangsa Indonesia khususnya di bidang ekonomi yang berpotensi besar untuk menyerang bidang-bidang lain di wilayah Republik Indonesia. Kewenangan penyidik dalam menanggulangi kejahatan uang palsu tidak hanya sebatas dalam KUHAP. Kejaksaan. tetapi perlu diperluas seperti under cover operation atau operasi terselubung. April 2006 . F.

Atas berbagai keterbatasan ini. tahan lamanya. Secara materiil pengaturan tentang macam dan harga mata uang di BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN dalam UU Bank Indonesia dan KUHP dirasakan telah mencukupi. namun juga untuk keperluan yang lain. Uang rupiah sebagai alat pembayaran yang sah (legal tender) di wilayah Republik Indonesia. satuan dan harga mata uang negara Republik Indonesia. keseragaman. Penggunaan emas sebagai standar mata uang telah dipakai tidak hanya sebagai alat pembayaran. dan kemudian juga akan menyebabkan mengalirnya emas keluar dari bank. akan tetapi dalam perkembangannya pengaturan yang demikian itu dianggap kurang pas dan tidak sesuai dengan semangat UUD 1945 yang mengamanatkan pengaturannya dengan Undang-Undang tersendiri yang secara khusus mengatur materi tersebut. Selanjutnya materi muatan yang sebaiknya dimuat atau diatur di dalam UU Mata Uang yang akan datang antara lain: a. menyebabkan emas dapat memiliki fungsi sebagai alat penyimpan nilai (store of value) dan satuan hitung (unit of account). Ada alasan-alasan baik secara yuridis normatif. Penukaran uang. sosiologis maupun historis yang dapat digunakan sebagai dasar agar pengaturan mata uang dituangkan dalam Undang-Undang tersendiri. Komitmen atas penerapan sistem standar emas akan secara ketat membatasi penciptaan kredit (credit creation). Penciptaan kredit oleh lembaga perbankan dalam sistem standar emas akan menghambat convertibility (kemudahan mengubah bentuk aset) dari notes yang telah diterbitkan. Kewenangan Bank Indonesia sebagai bank sentral. Para pakar sejarah telah mempercayai bahwa tingginya nilai guna. maka penggunaan emas sebagai back up currency di banyak negara sudah ditinggalkan. Pengawasan pelaksanaan kewenangan Bank Indonesia. Ketentuan peralihan. f. Macam.2. Ketentuan pidana. dan kemudahannya untuk dibagi. terlepas dari UU Bank Indonesia. c. g. d. kepadatan. dengan pengecualian-pengecualian. Penggunaan emas dalam transaksi perdagangan internasional juga mengalami penurunan karena sifatsifatnya yang tidak mudah dipindahkan. April 2006 b. e. Volume 4 Nomor 1. 46 . yaitu untuk menentukan nilai kurs (exchange rate) dan sebagai back up currency. 3. Dipakainya emas disebabkan karena sifatnya yang langka dan tahan lama.

Dari segi hukum material yang berlaku saat ini sebenarnya sudah cukup mengantisipasi kejahatan mata uang baik yang terdapat dalam KUHP maupun dalam UU Bank Indonesia. 4. April 2006 .h. Ketentuan penutup. Selanjutnya perlu diatur tentang kerjasama dalam bidang penyidikan dan penuntutan bagi kejahatan mata uang lintas batas negara dengan memperhatikan prinsip resiprokal. UU Mata Uang yang akan datang tidak hanya mengakomodasi semua ketentuan pidana yang berkaitan dengan pemalsuan dalam KUHP tetapi juga perlu mengakomodasi pemalsuan uang dalam bentuk lain. Akan tetapi dari segi sanksi pidana yang diancam dan hukum formal perlu memperhatikan beberapa hal yang berkaitan dengan sinkronisasi ancaman pidana terhadap kejahatan-kejahatan baru yang berkaitan dengan mata uang. BULETIN HUKUM PERBANKAN DAN KEBANKSENTRALAN 47 Volume 4 Nomor 1.