P. 1
Modul-PLPG_Paud

Modul-PLPG_Paud

|Views: 663|Likes:
Published by Taufik Agus Tanto
Modul PLPG PAUD
Modul PLPG PAUD

More info:

Published by: Taufik Agus Tanto on Sep 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2013

pdf

text

original

Satu Untuk UNM

PENDAHULUAN

Modul ini berisi pemahaman tentang anak Taman Kanak Kanak (TK). Anak Taman Kanak-kanak merupakan anak yang berada dalam proses perkembangan, baik perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional maupun bahasa. Setiap anak memiliki karakteristik tersendiri. Perkembangan setiap anak berbeda beda baik dalam kualitas maupun tempo perkembangannya. Perkembangan anak bersifat progresif, sistematis dan berkesinambungan. yang lainnya. Seorang guru hendaknya juga memahami tugas-tugas perkembangan anak usia TK, kebutuhan dan minat serta permasalahan yang sering dihadapi anak. Sehingga dalam mengajar anda dapat memilih strategi yang tepat sesuai tugas dan karakteristik perkembangan anak. Keberhasilan seorang guru sangat erat kaitannya dalam pemilihan strategi dalam pembelajaran. Anda akan kesulitan untuk memilih strategi jika tidak mengenal anak didik anda. Anak didik hadir dengan berbagai tipe dan gaya belajar. Oleh sebab itu modul ini juga akan mengantar anda untuk mengenal tipe-tipe dan gaya belajar anak. Sebagai guru TK anda pasti telah tahu bahwa bagi seorang anak, bermain adalah kegiatan yang mereka lakukan sepanjang hari, karena bagi anak bermain adalah hidup mereka. Anak TK tidak membedakan antara bermain, belajar dan bekerja. Berhubungan dengan pembelajaran, Vygotsky (Naughton, 2003:52) berpendapat bahwa bermain dapat menciptakan suatu zona perkembangan proximal pada anak, dalam bermain, anak selalu berperilaku di atas usia rata-ratanya, di atas perilakunya sehari-hari, dalam bermain anak dianggap „lebih‟ dari dirinya sendiri. Prinsip pembelajaran merupakan hal yang penting yang harus diperhatikan oleh guru dalam setiap kegiatan pembelajaran agar penyampaian materi pembelajaran sesuai dengan karakteristik perkembangan anak. Kegiatan pembelajaran hendaknya tidak menimbulkan kecemasan (stress) bagi anak. Sebagai seorang guru, anda seharusnya memahami kurikulum anak TK dan bagaimana pengembangannya. Secara umum kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini dapat dimaknai sebagai seperangkat kegiatan belajar sambil bermain yang sengaja direncanakan untuk dapat dilaksanakan dalam rangka menyiapkan dan meletakkan pengembangan diri anak usia dini lebih lanjut. dasar-dasar bagi Setiap aspek perkembangan saling berkaitan satu sama lain, terhambatnya satu aspek perkembangan tertentu akan mempengaruhi aspek perkembangan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

1

Satu Untuk UNM
Kurikulum bagi anak TK dikembangkan berdasarkan sejumlah pendekatan yang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan anak TK. Landasan konseptual yang digunakan dalam kurikulum adalah berdasarkan teori perkembangan anak, pendekatan berpusat pada anak, pendekatan konstruktivisme dan pendekatan bermain kreatif. Kompetensi yang Akan Dicapai Setelah anda mempelajari modul ini maka diharapkan anda memiliki kompetensi sebagai berikut; 1. Menguasai karakteristik peserta didik dan mampu merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran di Taman Kanak-kanak, yang meliputi: 1) mendeteksi pertumbuhan dan perekembangan peserta didik, 2) Menganalisis minat, kebutuhan dan permasalahan anak TK, 3) Menganalisis potensi anak TK, 4) Menganalisis ciri-ciri kepribadian anak, 5) Menganalsisi gaya belajar anak, 6) menganalisis manfaat dan pengaruh lingkungan terhadap perkembangan anak TK. 7) menganalisis teori pendidikan dan pembelajaran di TK, 8) memilih Strategi dan media pengembangan, bidang pengembangan sesuai dengan tema, karakteristik anak dan kemampuan yang ingin dicapai 2. Kompetensi professional Yang meliputi: 1) Menganalisis konsep dasar pengembangan kurikulum TK, 2) menganalisis substansi bidang pengembangan anak TK, 3) menelaah konsep dasar bidang studi sebagai metode pengembangan bidang perkembangan anak TK.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

2

Satu Untuk UNM
KEGIATAN BELAJAR 1. Kegiatan Belajar I a. Memahami Peserta Didik Anak Taman Kanak-kanak merupakan anak yang berada dalam proses perkembangan, baik perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional maupun bahasa. Setiap anak memiliki karakteristik tersendiri. Perkembangan setiap anak berbeda beda baik dalam kualitas maupun tempo perkembangannya. Perkembangan anak bersifat progresif, sistematis dan berkesinambungan. Setiap aspek perkembangan saling berkaitan satu sama lain, terhambatnya satu aspek perkembangan tertentu akan mempengaruhi aspek perkembangan yang lainnya. 1. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Taman Kanak-kanak Istilah pertumbuhan dan perkembangan seringkali dipergunakan seolah-olah keduanya mempunyai pengertian yang sama, karena menunjukan adanya suatu proses perubahan tertentu yang mengarah kepada kemajuan. Padahal sesungguhnya istilah pertumbuhan dan perkembangan ini mempunyai pengertian yang berbeda. Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan yang bersifat kuantitatif, sebagai akibat dari adanya pengaruh luar atau lingkungan. Pertumbuhan mengandung arti adanya perubahan dalam ukuran dan struktur tubuh sehingga lebih banyak menyangkut perubahan fisik. Selain dari pengertian di atas, pertumbuhan dapat didefinisikan pula sebagai perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada diri individu yang sehat dalam fase-fase tertentu. Hasil dari pertumbuhan ini berupa bertambah panjang tulang-tulang terutama lengan dan tungkai, bertambah tinggi dan berat badan serta makin bertambah sempurnanya susunan tulang dan jaringan syaraf. Pertumbuhan ini akan terhenti setelah adanya maturasi atau kematangan pada diri individu. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan adalah suatu perubahan fungsional yang bersifat kualitatif, baik dari fungsi-fungsi fisik maupun mental sebagai hasil keterkaitannya dengan pengaruh lingkungan. Perkembangan dapat juga dikatakan sebagai suatu urutan-urutan perubahan yang bersifat sistematis, dalam arti saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara aspek-aspek fisik dan psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Contoh,. anak diperkenalkan bagaimana cara memegang pensil, membuat huruf-huruf dan diberi latihan oleh orangtuanya. Kemampuan belajar menulis akan mudah dan cepat dikuasai anak apabila
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 3

Satu Untuk UNM
proses latihan diberikan pada saat otot-ototnya telah tumbuh dengan sempurna, dan saat untuk memahami bentuk huruf telah diperoleh. Dengan demikian anak akan mampu memegang pensil dan membaca bentuk huruf. Selain itu perubahan juga bersifat progresif, yang berarti bahwa perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan mendalam baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Contoh, perubahan pengetahuan dan kemampuan anak dari yang bersifat sederhana berkembang ke arah yang lebih kompleks Berkesinambungan merupakan ciri lain dari perubahan yang terjadi, artinya perubahan itu berlangsung secara beraturan atau berurutan, tidak bersifat meloncat-loncat atau karena unsur kebetulan. Contoh, agar anak mampu berlari maka sebelumnya anak harus mampu berdiri dan merangkak terlebih dahulu. Melalui belajar anak akan berkembang, dan akan mampu mempelajari hal-hal yang baru. Perkembangan akan dicapai karena adanya proses belajar, sehingga anak memperoleh pengalaman baru dan menimbulkan perilaku baru. Dari uraian pengertian perkembangan di atas perlu disadari bahwa pertumbuhan fisik mempengaruhi perkembangan psikis individu, karena pada suatu saat tertentu kedua istilah ini dapat digunakan secara bersamaan. Dengan kata lain, perkembangan merupakan hasil dari pertumbuhan, pematangan fungsi-fungsi fisik, pematangan fungsi-fungsi psikis dan usaha belajar. 2. Tugas-tugas Perkembangan Masa Kanak-kanak Tugas perkembangan merupakan suatu tugas yang muncul dalam suatu periode tertentu dalam kehidupan individu. Tugas tersebut harus dikuasai dan diselesaikan oleh individu, sebab tugas perkembangan ini akan sangat mempengaruhi pencapaian perkembangan pada masa perkembangan berikutnya. Menurut Havighurst, jika seorang individu gagal menyelesaikan tugas perkembangan pada satu fase tertentu, maka ia akan mengalami kegagalan dalam pencapaian tugas perkembangan pada masa berikutnya. Pada setiap masa perkembangan individu, ada berbagai tugas perkembangan yang harus dikuasai, adapun tugas perkembangan masa kanak-kanak menurut Carolyn Triyon dan J. W. Lilientha (Hildebrand, 1986:45) adalah sebagai berikut :

a) Berkembang menjadi pribadi yang mandiri. Anak belajar untuk berkembang menjadi
pribadi yang bertanggung jawat dan dapat memenuhi segala kebutuhannya sendiri sesuai dengan tingkat perkembangannya di usia Taman Kanak-kanak. b)

Belajar memberi, berbagi dan memperoleh kasih sayang. Pada masa Taman Kanakkanak ini anak belajar untuk dapat hidup dalam lingkungan yang lebih luas yang tidak hanya terbatas pada lingkungan keluarga saja, dalam masa ini anak belajar untuk dapat
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 4

Satu Untuk UNM
sating memberi dan berbagi dan belajar memperoleh kasih sayang dari sesama dalam lingkungannya.

c)

Belajar bergaul dengan anak lain. Anak belajar mengembangkan kemampuannya untuk
dapat bergaul dan berinteraksi dengan anak lain dalam lingkungan di luar lingkungan keluarga.

d)

Mengembangkan pengendalian diri. Pada masa ini anak belajar untuk bertingkah laku
sesuai dengan tuntutan lingkungannya. Anak belajar untuk mampu mengendalikan dirinya dalam berhubungan dengan orang lain. Pada masa ini anak juga perlu menyadari bahwa apa yang dilakukannya akan menimbulkan konsekuensi yang harus dihadapinya.

e)

Belajar bermacam-macam peran orang dalam masyarakat. Anak belajar bahwa dalam
kehidupan bermasyarakat ada berbagai jenis pekerjaan yang dapat dilakukan yang dapat menghasilkan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya dan dapat menghasilkan jasa bagi orang lain. Contoh, seorang dokter mengobati orang sakit, guru mengajar anak-anak di kelas, pak polisi mengatur lalu lintas, dan lain sebagainya.

f)

Belajar untuk mengenal tubuh masing-masing. Pada masa ini anak perlu mengetahui
berbagai anggota tubuhnya, apa fungsinya dan bagaimana penggunaannya. Contoh, mulut untuk makan dan berbicara, telinga untuk mendengar, mata untuk melihat dan sebagainya.

g)

Belajar

menguasai

ketrampilan

motorik

halus

dan

kasar.

Anak

belajar

mengkoordinasikan otot-otot yang ada pada tubuhnya, baik otot kasar maupun otot halus. Kegiatan yang memerlukan koordinasi otot kasar diantaranya berlari, melompat, menendang, menangkap bola dan sebagainya. Sedangkan kegiatan yang memerlukan koordinasi otot halus adalah pekerjaan melipat, menggambar, meronce dan sebagainya. h)

Belajar mengenal lingkungan fisik dan mengendalikan. Pada masa ini diharapkan anak
mampu mengenal benda-benda yang ada di lingkungan, dan dapat menggunakannya secara tepat. Contoh, anak belajar mengenal ciri-ciri benda berdasarkan ukuran, bentuk, dan warnanya. Selain dari itu, anak dapat membandingkan satu benda dengan benda lain berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki benda tersebut.

i)

Belajar menguasai kata-kata baru untuk memahami anak/orang lain. Anak belajar
menguasai berbagai kata-kata baru baik yang berkaitan dengan benda-benda yang ada di sekitarnya, maupun berinteraksi dengan lingkungannya. Contoh, anak dapat menyebutkan nama suatu benda, atau mengajak anak lain untuk bermain, dan sebagainya.

j)

Mengembangkan perasaan positif dalam berhubungan dengan lingkungan. Pada masa
ini anak belajar mengembangkan perasaan kasih sayang terhadap apa-apa yang ada
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 5

Satu Untuk UNM
dalam lingkungan, seperti pada teman sebaya, saudara, binatang kesayangan atau pada benda-benda dimilikinya. 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Taman Kanak-kanak Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian dapat dibagi dalam 2 kelompok: A. Faktor-faktor pada anak Faktor-faktor yang mempengaruhi dan membentuk kepribadiannya dapat diteliti dengan lebih terperinci sebagai berikut.

1) Faktor-faktor berhubungan dengan konstitusi tubuh
Keadaan fisik anak, keadaan fisiologis, ketangkasan motorik, keadaan mental dan emosionalitas seseorang mempengaruhi sifat-sifat dan tingkah lakunya. Pola kepribadiannya pada setiap tahap perkembangan dipengaruhi oleh berbagai aspek konstitusi umum. Sebagai seorang individu dengan konstitusi tubuhnya ia mempengaruhi orang lain. Sebaliknya orang lain juga mempengaruhi dirinya, hal mana terlihat dari reaksinya bila ia menyadari pandangan orang lain terhadap dirinya. Seorang anak yang menderita kelainan jantung, keadaan fisiknya mungkin lemah. Keadaan konstitusi badan, yang kurang menguntungkan perkembangan fisik, mengakibatkan orangtua dan orang lain di sekitarnya bersikap penuh perhatian. Sikap penuh perhatian ini menyebabkan anak menguasai orangtua dan orangorang lain. 2). Struktur tubuh dan keadaan fisik Seorang anak yang kuat dan sehat lebih beruntung di bandingkan dengan anak yang kecil dan "ringkih", ia dapat lebih banyak mengikuti, aktivitas-aktivitas sesuai dengan tahap perkembangannya. Kegiatan-kegiatan tersebut memberikan pengalaman baginya yang merupakan modal dasar bagi perkembangannya. Seorang anak yang terlalu kurus, terlalu gemuk, terlalu tinggi atau terlalu pendek tubuhnya, oleh teman-teman yang mempunyai struktur tubuh yang normal, kurang lebih sama dan merata, dianggap sebagai suatu penyimpangan. Mereka yang struktur badannya lebih atau kurang dari temannya, aka menjadi obyek gangguan dan cemoohan teman-teman, hal mana mempengaruhi pembentukan sikap dan kepribadiannya. Keadaan fisik anak juga mempengaruhi sikap orangtua terhadap anak. Sikap dan harapan orangtua mengenai anaknya turut pula berpengaruh. Seorang anak yang fisiknya berkembang dengan baik, di harapkan sanggup bertingkah laku dengan cara yang lebih matang daripada semestinya.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

6

Satu Untuk UNM
Anak yang kecil dan mungil akan sangat dilindungi oleh Seorang ibu yang cemas dan bersemangat. Ibu tersebut akan menolak memberi kebebasan kepada anaknya dalam kegiatan yang mungkin diperbolehkan bagi anak-anak yang lebih besar tubuhnya. Bahkan sering pula anak setelah mencapai ukuran normal, masih diperlakukan dengan perhatian penuh perlindungan dan pembatasan aktivitas, karena ibunya masih terpengaruh oleh kenangan akan masa kecilnya si anak dan "keringkihannya" pada masa itu. Beberapa sikap yang terbentuk pada masa kanak-kanak, akan menetap terus, walaupun sudah tidak ada alasan untuk mempertahankan sikap-sikap tersebut : cacat tubuh, misalnya : bentuk tubuh, kesulitan pendengaran, alergi, konstitusi yang lemah, biasanya mempunyai pengaruh yang kurang menguntungkan terhadap kecenderungan anak. Akhirnya anak akan memperlihatkan cara bertingkah laku yang tidak diinginkan, misalnya terlalu agresif, cepat marah, emosi yang berlebih-lebihan atau malu. Sikap teman-teman terhadap dirinya dan penyimpangan fisiknya, akan mempengaruhi sejauh mana anak akan memperlihatkan sifat-sifat yang timbul sebagai reaksi terhadap cacat tersebut. 3) Koordinasi motorik Biasanya anak senang ikut dalam kegiatan yang meliputi kekuatan dan koordinasi motorik, dan ingin menonjol pada aktivitas itu. Ia akan dikagumi bila dapat melebihi teman-temannya dalam suatu kegiatan tertentu. Apabila prestasinya terlalu tinggi melewati teman-teman, ia akan menjadi obyek kedengkian teman-temannya yang sebaya. Dengan prestasi yang jauh melebihi teman sebaya, ia mungkin memasuki kelompok teman yang lebih tua dan terpaksa bersaing dengan teman-teman yang lebih tua, yang tidak dapat menerima kekurangannya pada aspek-aspek lain. Karena ia ditolak baik oleh kelompok yang sebaya maupun yang lebih tua, maka ia akar berusaha menindas anak yang lebih muda, yang tidak berani menolak karena takut. Anak yang lebih lemah dari rata-rata dan yang koordinasi motoriknya juga kurang dari rata-rata, akan bersifat malu, takut atau mengalami frustrasi. Hal ini sering kita temukan pada anak-anak yang tidak diperbolehkan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang umum bagi usianya, karena orangtuanya takut kalau-kalau anaknya akan mengalami kekecewaan. 4) Kemampuan mental dan bakat khusus Seorang yang waspada dapat menyesuaikan diri lebih mudah kepada lingkungan dan patokan-patokan sosial dibandingkan dengan mereka yang lamban.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

7

Satu Untuk UNM
Seorang anak yang pandai, pada umur yang muda sudah dapat mengenal hubungan antara dirinya dan benda-benda di lingkungannya. Sesuai dengan cara bagaimana orang anak sejak kecil dianjurkan untuk mengadakan penyesuaian. yang pantas, maka ia juga akan cepat mengerti bentuk penyesuaian yang tepat, yang seimbang dengan masa kematangan dan tuntutan yang dihadapinya. a. Inteligensi yang tinggi Anak yang terlalu tinggi kemampuan inteleknya, bisa mengalami kesulitan. Tingkahlakunya yang cepat yang, menyebabkan dia terlalu banyak dipuji, sehingga ia menganggap kesanggupannya hebat. Ia tidak disenangi baik oleh teman-teman sebaya maupun oleh yang lebih tua, ia terasing dan mencari penyalurannya dengan memperluas pengetahuan dari buku-buku. Anak yang pandai sekali belum tentu cekatan dalam keterampilan mekanik, ia cemas untuk bersaing dalam bidang ini dan hanya mau memperkembangkan kemampuan mekanik bila mendapat bimbingan yang baik. Orangtua yang mengerti kematangan anak-anak seperti ini, akan disenangi. Anak-anak ini akan tertarik dan menguasai waktu orang dewasa atau guru yang mereka senangi. Mereka akan menentang orang dewasa yang tidak disenangi, karena mereka cepat mengerti peraturan orang dewasa yang sering tidak memberikan kepastian kepada mereka. b. Hambatan mental Anak yang lamban akan mengalami kesulitan dalam perkembangan kepribadian yang berbeda, bila dibandingkan dengan anak-anak yang pandai. Biasanya orangtua tidak dapat menerima bahwa anaknya tidak mampu bersaing dengan anak lain, sehingga anak dipaksa nnelampaui batas-batas kemampuan mentalnya. Orangtua tidak sabar melihat usaha anaknya yang tidak berhasil, dan sering menganggap kelambatan anak sebagai keterlambatan perkembangan anaknya. Anak dianggap masih seperti anak kecil, yang perlu dilindungi terhadap orang lain. Di sekolah ia akan mengalami kegagalan dan ia akan menyadari kekurangannya dalam kemampuan belajar. Hinaan teman-teman yang menyebabkan dirinya terasing dan sikap keluarga di rumah, mengakibatkan terbentuknya pola kepribadian dengan perasaan rendah diri. Usaha memperoleh teman-teman dengan cara mentraktir mereka dan cara-cara lain, dapat mengubah sikap teman-temannya,tetapi tidak mengubah pandangan mereka terhadap dirinya. kekecewaan mereka terhadap teman-temannya, akan terus mempengaruhl kepribadiannya masa dewasa dalam hidup bermasyarakat.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 8

Satu Untuk UNM
Pengaruh dari lingkungan Telah kita lihat bahwa baik lingkungan yang meliputi keadaan situasi sekitar anak maupun orang yang berada di lingkungan tersebut. Akan mempengaruhi perkembangan kepribadian anak. Faktor lingkungan yang paling berperanan dalam perkembangan kepribadian adalah rumah, sekolah dan teman sebaya. Dengan mengetahui peranan lingkungan dalam pembentukan kepribadian, maka perlu diciptakan lingkungan dengan sifat-sifat yang sedemikian rupa sehingga menghasilkan perkembangan kepribadian yang paling harmonis dan wajar. 1. Rumah Rumah adalah lingkungan pertama yang berperan dalam pembentukan kepribadian. Perlu kita ketahui beberapa sifat lingkungan rumah yang memungkinkan anak membentuk sifat-sifat kepribadian yang dapat diterima oleh umum, yakni a. b. c. Kesediaan orangtua menerima anak: sebagai anggota keluarga yang berharga. Pertengkaran dan perselisihan paham antar orangtua supaya tidak terjadi di hadapan anak. Adanya sikap demokratis yang memungkinkan setiap anggota keluarga mengikuti arah minatnya sendiri, sejauh tidak merugikan atau merintangi kesejahteraan orang lain, baik dalam lingkungan keluarga maupun di luar lingkungan keluarga. d. e. f. Penyesuaian yang baik antara ayah dan ibu dalam pernikahan. Keadaan ekonomis yang serasi. Penerimaan (akseptasi) sosial para tetangga terhadap keluarga. Keadaan rumah yang tidak mencerminkan sifat-sifat tersebut di atas, tidak menguntungkan bagi tercapainya penyesuaian kepribadian anak yang wajar. Anak yang dibesarkan dalam rumah di mana kerja sama antar anggota keluarga tidak ada, di mana tidak terlihat patokan hidup yang baik dalam tingkah-laku anggota keluarga dan orangtua tidak berusaha menyembunyikan ketidakcocokan mereka, di mana anak tidak diharapkan dan tidak dianjurkan membentuk kebiasaan tingkah laku sosial yang pantas, keadaan rumah seperti ini tidak akan membantu, bahkan akan menghambat anak dalam usahanya supaya dapat dicerna oleh kelompok sosial yang lebih luas. Peranan keadaan ekonomi suatu keluarga tidak terlalu besar dalam mempengaruhi perkembangan anak. Keadaan rumah yang sederhana, bersih, rapih, dimana anak mendapat makanan yang sehat dan anggota keluarga bersikap sedemikian rupa sehingga memberi rasa aman kepada anak, inilah yang akan membantu perkembangan kepribadian anak ke arah terbentuk kepribadian yang harmonis dan.wajar.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 9

Satu Untuk UNM
2. Sekolah Pengaruh sekolah dalam perkembangan kepribadian anak dapat dibagi dalam 3 kelompok, meliputi: a. b. c. Kurikulum dan anak, Hubungan guru dan murid, Hubungan antar anak.

Kurikulum dan anak
Dalam pembahasan mengenai hubungan kesehatan mental dan sekolah, telah kita lihat bahwa bahan yang dipelajari di sekolah belum mencakup semua bahan yang perlu dikuasainya sebagai anggota masyarakat. Prestasi skolastik Gan kemajuan dalam bidang skolastik belum menjamin keberhasilan seseorang dalam masyarakat. Untuk lebih mempersiapkan anak bagi kehidupannya di kemudian hari, banyak usaha telah dilakukan untuk mengubah cara mengajar dan bahan yang harus dipelajari. faktor yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan anak didik. Beberapa saran perlu diperhatikan, yakni : - Kurikulum harus disesuaikan dengan keadaan perkembangan belajar anak. - Kurikulum harus mencakup keterampilan, pengetahuan, sikap-sikap yang perlu dibentuk oleh anak dalam pengalamannya sekarang dan sesuai untuk memenuhi kebutuhan pendidikan di kemudian hari. - Anak harus dibiasakan belajar dengan aktivitas sendiri dan bukan secara pasif mengharapkan "hasil kunyahan" dari guru. Perlu diusahakan supaya apa yang dipelajari oleh anak disesuaikan dengan minat dan keinginan anak, dan bukan semata-mata berdasarkan harapan dan cita-cita orangtua terhadap anak.

Hubungan guru dan murid
Seorang anak kira-kira 5 jam sehari berada lingkungan sekolah. Apalagi kalau dipikirkan bahwa seorang anak setiup hari tidur selama 9 Jam, maka 15 jam dalam keadaan tidak tidur, di mana 1/3 dari waktunya ditempuh di lingkungan sekolah. Dari 5 atau 6 jam di sekolah, anak hanya 1/2 jam istirahat, jadi 41/2 atau 5 jam anak berada di bawah pengawasan guru. Guru berada dalam lingkungan yang dekat,- Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang guru cukup besar pengaruhnya dalam pembentukan patokan-patokan hidup, sikap-sikap dan tingkah-laku yang dicita-citakan. Sepanjang masa anak sekolah, maka anak menganggap guru sebagai sumber kepandaian, dan anak cenderung untuk meniru tingkah-laku guru. Anak juga peka terhadap sifat-sifat dan tingkah-laku yang diperlihatkan guru, misalnya kejujuran,
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 10

Satu Untuk UNM
keadilan, penghargaan terhadap usaha, simpati, pengertian, kesanggupan menerangkan dan sikap mengharap tingkahlaku kooperatif dan terkendalikan dari para murid. Melihat pentingnya peranan guru dalam perkembangan aspek intelek dan kepribadian anak, maka guru perlu menyadari kedudukan dan sikap-sikap maupun kepribadiannya. Guru, di samping menambah pengetahuan anak, juga menambah dan mengubah sifatsifat kepribadian anak dalam proses identifikasi. Lebin-lebih jika guru dianggap, dipilih sebagai tokoh identifikasi anak tersebut.

Hubungan antara anak
Baik di sekolah maupun di luar sekolah kepribadian anak banyak dipengaruhi oleh temanteman sebayanya. Dalam lingkungan sekolah, anak belajar bermain dengan, anak lain, belajar bekerja sama dengan anak lain. anak dan remaja berusaha mencapai realisasi diri melalui keberhasilan, ia harus melebihi hasilnya sendiri untuk dapat maju, dan harus dapat menyaingi orang lain juga. Cara-cara yang memberikan keberhasilan dalam persaingan dalam hubungan dengan teman sekolah, akan dipakainya dalam kompetisi selanjutnya. Kebiasaan ini akan berlangsung terus dalam integrasi kepribadian pada masa dewasa.

Pengaruh faktor-faktor lain
Pada umumnya anak-anak yang berasal dari lingkungan yang sama dan di sekolah mendapat pendidikan dan pengajaran yang sama, ternyata masih juga memperlihatkan perbedaan-perbedaan yang menyolok pada kepribadiannya. Dapat disimpulkan bahwa kebudayaan juga turut berpengaruh terhadap pembentukan pola-pola tingkah-laku yang dapat diterima baik oleh umum. Tentunya pengaruh kebudayaan juga berperan dalam pem bentukan kepribadian. Demikian pula angan-angan yang dapat diterima, bertalian dengan apa yang diharapkan dari seseorang yang mempunyai sifat dapat dipercaya, kejujuran, loyalitas, kooperasi dan sikap terhadap hubungan sosial dengan jenis lainnya Disamping itu, ciri-ciri khas yang menandai pria dan wanita, juga berakar pada kebudayaan, demikian pula pandangan terhadap peranan khusus pria atau khusus wanita. Nama panggilan di rumah yang sering dibuat berdasarkan bentuk tubuh atau kedudukan anak, misalnya Duti (karena sewaktu kecil anak tersebut gendut) atau Su (karena anak bungsu) sering tidak disenangi apabila mereka sudah besar dan mereka tidak mau disapa dengan nama panggilan di rumah. Minat dan hobi juga turut berperan dalam perkembangan kepribadian. Minat dan hobi
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 11

Satu Untuk UNM
yang mengkutertakan anak-anak lain, lebih positif akibatnya terhadap perkembangan kepribadian, dibandingkan dengan anak yang kesepian dan mengambil hobi hanya sebagai pengganti teman, karena tidak dapat berkawan. 4. Minat, Kebutuhan dan Permasalahan Anak a. Menganalisis minat Anak Banyak orang tidak mengerti arti sebenarnya istilah "minat" (interest). Akibatnya, mereka sering mengacaukannya dengan apa yang tepatnya dapat disebut suatu "kesenangan" (whim). Suatu "minat" telah diterangkan sebagai "sesuatu dengan apa anak mengidentifikasikan keberadaan pribadinya". Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih. Bila mereka melihat bahwa sesuatu akan menguntungkan, mereka merasa berminat. Ini kemudian mendatangkan kepuasan. Bila kepuasan berkurang, minat pun berkurang. Sebaliknya, kesenangan merupakan minat yang sementara. la berbeda dari minat bukan dalam kualitas melainkan dalam ketetapan (persistence). Selama kesenangan itu ada, mungkin intensitas dan motivasi yang menyertainya sama tinggi dengan minat. Namun ia segera mulai berkurang karena kegiatan yang ditimbulkannya hanya memberi kepuasan yang sementara. Minat lebih tetap (persistent) karena minat memuaskan kebutuhan yang penting dalam kehidupan seseorang. Setiap minat memuaskan suatu kebutuhan dalam kehidupan anak, walaupun kebutuhan ini mungkin tidak segera tampak bagi orang dewasa. Semakin kuat kebutuhan ini, semakin kuat dan bertahan pada minat tersebut. Selanjutnya, Semakin sering minat diekspresikan dalam kegiatan, semakin kuatlah ia. Sebaliknya minat akan padam bila tidak disalurkan. Bila misalnya lingkungan ternpat anak hidup membatasi kesempatan bermain dengan anak lain, minat terhadap teman bermain mulai berkurang dan minat lain akan menggantikannya. Bila anak dapat menemukan pengganti teman bermain yang memuaskan, akan tiba suatu saat mereka merasa kurang berminat terhadap teman bermain. Anak itu kemudian bahkan menyatakan bahwa teman sebaya "membosankan"-nya. Suatu kegiatan yang tidak memuaskan, merangsang atau menantang individu disebut "membosankan": individu tidak mampu melihat bagaimana kegiatan itu dapat memberikan keuntungan pribadi atau kepuasan. Jadi kebosanan, yang terdiri atas perasaan jemu dan ketidakpuasan, merupakan lawan dari minat.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

12

Satu Untuk UNM
b. Pentingnya Minat Mereka dewasa. Semakin yakin mereka mengenai pekerjaan yang diidamkan, semakin besar minat mereka terhadap kegiatan, di kelas atau di luar kelas, yang mendukung tercapainya aspirasi itu. Minat menambah kegembiraan pada setiap kegiatan yang ditekuni seseorang. Bila anak-anak berminat pada suatu kegiatan, pengalaman mereka akan jauh lebih menyenangkan daripada bila mereka merasa bosan. Lagi pula, jika anak-anak tidak memperoleh kegembiraan suatu kegiatan, mereka hanya akan berusaha seperlunya saja. Akibatnya, prestasi mereka jauh lebih rendah dari kemampuan mereka. Ini menjadikan mereka merasa bersalah dan malu, sikap ini lebih mengurangi kesenangan mereka pada kegiatan tersebut. c. Aspek-aspek Minat Semua minat mempunyai dua aspek yaitu aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek kognitif didasarkan atas konsep yang dikembangkan anak mengenai bidang yang berkaitan dengan minat. Misalnya, aspek kognitif dari minat anak terhadap sekolah. Bila mereka menganggap sekolah sebagai tempat mereka dapat belajar tentang hal-hal yang telah menimbulkan rasa ingin tahu mereka dan tempat mereka akan mendapat kesempatan untuk bergaul dengan teman sebaya tidak dapat pada masa pra sekolah. Minat mereka terhadap sekolah akan sangat berbeda dibandingkan bila minat itu didasarkan atas konsep sekolah yang menekankan frustrasi dan pengekangan oleh peraturan sekolah dan kerja keras untuk mengahafal pelajaran. Karena minat masa kanak-kanak cenderung egosentris, aspek kognitif minat ini berkisar sekitar pertanyaan apa saja keuntungan dan kepuasan pribadi yang dapat diperoleh dari minat itu. Sebagai contoh, anak ingin merasa yakin bahwa waktu dan usaha yang dihabiskannya dengan kegiatan yang berkaitan dengan minatnya akan memberinya kepuasan dan keuntungan pribadi. Bila terbukti bahwa ada keuntungan dan kepuasan, minat mereka tidak saja menetap melainkan juga menjadi lebih kuat tatkala keuntungan dan kepuasan menjadi nyata. Hal sebaliknya akan terjadi bila tidak terdapat atau hanya terdapat sedikit keuntungan atau kepuasan pribadi. Konsep yang membangun aspek kognitif minat didasarkan atas pengalaman pribadi dan apa yang dipelajari di rumah, di sekolah, dan di masyarakat, serta dari berbagai jenis media massa. Dari sumber tersebut anak belajar apa saja yang akan memuaskan kebutuhan mereka dan yang tidak. Aspek afektif atau bobot emosional konsep yang membangun aspek kognitif minat dinyatakan dalam sikap terhadap kegiatan yang ditimbulkan minat. Seperti halnya aspek
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 13

Satu Untuk UNM
kognitif, aspek afektif berkembang dari pengalaman pribadi, dari sikap orang yang penting, yaitu orangtua, guru dan teman sebaya, terhadap kegiatan yang berkaitan dengan minat tersebut, dan dari sikap yang dinyatakan atau tersirat dalam berbagai bentuk media massa terhadap kegiatan itu. d. Bagaimana Minat Dipelajari Umumnya, minat bertumbuh dari tiap jenis pengalaman belajar. Pertama, dalam belajar coba-ralat, anak-anak menernukan bahwa sesuatu menarik perhatian mereka. Minat yang diperoleh dengan cara ini mungkin berlangsung lama atau mungkin ternyata merupakan kesenangan, yang Bila dikombinasi dengan bimbingan coba-ralat merupakan cara yang berharga untuk mengembangkan minat baru karena anak mempunyai kesempatan mencoba apa yang menarik bagi mereka melihat apakah hal itu benar-benar memenuhi kebutuhan tertentu dalam kehidupan mereka atau tidak. Kedua, dalam belajar melalui identifikasi dengan orang yang dicintai atau dikagumi, anak-anak mengambil. minat orang lain itu dan juga pola perilaku mereka, sebagai contoh, bila ayah dan seorang anak laki-laki berminat mengutak atik motor sebagai suatu hobi, maka anak itu akan mengembangkan minat yang serupa sehingga ia dapat ikut serta dalam kegiatan bersama ayahnya. Pokok penting mengenai metode belajar minat ini harus dicatat. Pertama-tama, jika anak tidak mempunyai keterampilan atau kemampuan untuk mempertahankan minat ini, minat tersebut akan memberinya sedikit kepuasan dan akan segera mnghilang. Hal kedua yang sama pentingnya, sumber entifikasi bergeser dengan bertambah nya usia anak. Bila hal ini terjadi, anak kemudian mencoba untuk mencontoh orang lain dengan siapa ia mengidentifikasi dirinya. Ini berarti suatu pergeseran minat yang mungkin menyebabkan konflik antara minat baru yang sedang dikembangkan dan minat yang lama. Ketiga, minat mungkin berkembang melalui bimbingan dan pengarahan seseorang yang mahir menilai kemampuan anak. Karena metode belajar ini memperhitungkan kemampuan anak, lebih besar kemungkinannya ia membuahkan perkembangan minat yang akan memuaskan kebutuhan anak dari pada cara belajar coba-ralat atau identifikasi. Karena perbedaan dalam kemampuan dan pengalaman belajar, minat anak bervariasi, terutama minat anak yang bervariasi. e. Kebutuhan Anak Usia Dini Sejak anak lahir, secara instink ia membutuhkan air susu ibu untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Air susu ibu mengandung unsur-unsur kimia yang dibutuhkan oleh tubuh baik dalam pertumbuhannya dari hari ke hari. Kalau kebutuhan ini tak terpenuhi,
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 14

Satu Untuk UNM
maka bayi akan secara spontan menangis sebagai reaksi atas rasa haus dan lapar yang belum terpenuhi. Bayi akan menunjukkan kegembiraan, misalnya dengan senyum apabila kebutuhannya telah terpenuhi. Dengan demikian dalam kehidupan awal seorang anak, ada tiga kebutuhan pokok yang memerlukan perhatian, yaitu kebutuhan jasmaniah, sosial, dan psikologis. Ketiga kebutuhan itu sangat berperan dalam menciptakan kondisi kebahagiaan pada masa awal kanak-kanak. 1) Kebutuhan Jasmani Kebutuhan jasmani atau sering disebut juga kebutuhan biologis meliputi kebutuhan untuk makan, minum, dan pakaian. Pemenuhan atas kebutuhan ini merupakan tugas dan tanggung jawab orangtua dan pengasuh. orangtua adalah pengasuh utama dan pengasuh hanya membantu orangtua. Keduanya harus senada dalam memperhatikan kebutuhan makanan, minuman, dan pakaian yang cocok untuk anak yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Selanjutnya orangtua dan pengasuh harus memperhatikan makanan dan minuman tertentu yang menjadi kesukaan anak, dengan memperhatikan faktor gizi dan kebersihan. Begitu juga makanan tertentu yang dapat mengganggu kesehatan anak harus dihindari. Makanan yang bergizi dengan tingkat kebersihan yang terjamin akan mendukung anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap-tahap perkembangan tertentu. Selain itu, untuk memelihara kesehatan anak, orangtua harus mengetahui jenis-jenis makanan yang mengandung gizi yang sesuai dengan tingkat kebutuhan anak. Sebaliknya orangtua dan pengasuh yang tidak atau kurang memperhatikan kebutuhan gizi anak dapat menyebabkan anak akan mengalami gangguan dalam perkembangan fisik karena sering sakit-sakitan dan tidak dapat melakukan aktivitas seperti anak yang sehat pada umumnya. Dalam upaya memelihara kesehatan anak yang optimal, juga sangat dibutuhkan lingkungan tempat tinggal dengan air dan sanitasi memadai serta udara yang segar untuk dihirupnya setiap hari. Selain itu, anak juga memerlukan tempat dan kesempatan untuk bermain dan beristirahat. Antara bermain dan beristirahat harus ada keseimbangan sehingga melalui bermain anak dapat bergerak. Di samping kegiatan bermain, anak juga memerlukan kegiatan istirahat. Yang dimaksud dengan beristirahat adalah anak berhenti dari segala aktivitasnya seperti tidur. Dengan istirahat anak dapat memulihkan tenaga yang terpakai pada waktu bermain. 2) Kebutuhan Sosial Setiap orang mempunyai kebutuhan mendapatkan penghargaan dari orang lain seperti pengakuan terhadap sesuatu yang telah dilakukannya. Dengan penghargaan seperti
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 15

Satu Untuk UNM
ini ia akan merasa berguna karena mampu memberikan sesuatu atau dapat berperan untuk membantu orang lain. Begitu pula dengan anak-anak, mereka merasa senang apabila melakukan sesuatu dan mendapat penghargaan dari guru, orangtua, dan atau dari orang dewasa yang lain. Dengan demikian, anak yang melakukan sesuatu yang baik patut mendapatkan penghargaan. Penghargaan yang berulang-ulang akan menumbuhkan kepercayaan pada diri anak. Selain itu, anak juga membutuhkan kasih sayang dari orangtua dan orang dewasa yang lain. Dengan diberikannya kasih sayang yang tulus, anak akan, merasa bahagia dan gembira sehingga anak bebas dari ketegangan-ketegangan. Kasih sayang yang diberikan orangtua atau orang dewasa yang lain dapat berbentuk kata-kata, sikap dan perbuatan seperti memberi senyum atau membelai. Selanjutnya antara penghargaan, kasih sayang dan persahabatan merupakan hal yang saling berhubungan satu dengan lain. Anak-anak membutuhkan suatu persahabatan yaitu yang antara anak dengan orangtua atau orang dewasa yang lain atau dengan remaja atau dengan teman sebaya. Namun yang paling menonjol di sini adalah hubungan antara teman sebaya karena mereka bisa saling berkomunikasi tentang kebutuhan dan keinginan mereka. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tugas orang dewasa adalah membantu anak agar dapat bergaul dengan teman sebayanya. 3) Kebutuhan Psikologis Anak akan merasa aman apabila merasa bahwa orang dewasa telah menerimanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sebaliknya, anak akan merasa terganggu apabila mendapat perlakuan yang kurang tepat dari orang tua seperti kurang peduli, kurang memberi perhatian yang wajar, acuh tak acuh, membiarkan anak atau terlalu memanjakan anak. Kondisi dan pola pengasuhan seperti ini akan menimbulkan efek perkembangan psikologis yang merugikan anak, seperti timbul perasaan cemas, malu, tidak percaya diri, menjauhkan diri dari teman-teman atau sebaliknya anak akan bersifat agresif. Selain itu, masa kanak-kanak merupakan masa munculnya rasa ingin tahu (sense of

curiosity) yang tinggi, terutama pada usia 3 - 4 tahun. Keadaan ini disebut Montessori (1983)
sebagai masa peka. Anak akan bertanya tentang apa saja yang ada di lingkungannya, apalagi kalau obyek itu masih baru dan belum diketahui sebelumnya. Para ahli psikologi anak berpendapat bahwa pada usia ini anak menganggap dirinya sebagai pusat segala-galanya. Karenanya masa ini juga sering disebut sebagai mas egosentrisme. Meski demikian, otoritas anak pada masa ini sangat penting bagi proses perkembangan intelektual. Anak merasa tidak mendapatkan kepuasan apabila orang tua dan lingkungannya tidak bisa memenuhi kebutuhan rasa ingin tahunya.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 16

Satu Untuk UNM
Untuk itu orangtua atau orang dewasa yang lain hendaknya dengan senang hati dan tidak bosan dapat menjawab dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak. f. Permasalahan pada Anak Taman Kanak-kanak Dari berbagai perubahan yang tampak selama proses pembelajaran di taman kanakkanak maka secara makro permasalahan anak taman kanak-kanak dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok masalah, yaitu masalah pribadi, sosial dan keterampilan. Masalah pribadi adalah masalah yang berkenaan dengan pemahaman anak terhadap kondisi diri dan lingkungannya, pembentukan konsep diri dan harga diri, menumbuhkan motivasi (dorongan) untuk berprestasi, menumbuhkan perilaku bertanggung jawab dan kemampuan menyesuaikan diri. Masalah sosial adalah masalah yang berkenaan dengan hubungan interpersonal yaitu bagaimana anak mampu berhubungan dengan teman sebaya, orang yang lebih muda, yang lebih tua atau dengan orang tua, serta bagaimana berhubungan dengan orang lain yang memiliki latar belakang budaya atau kebiasaan yang berbeda dengan dirinya. Anak yang berada di dalam satu kelas taman kanak-kanak adalah anak yang datang dari lingkungan keluarga yang berbeda-beda. Perbedaan keluarga ini membawa perbedaan dalam kebiasaan, pola pengasuhan, adat istiadat dan sebagainya. Adanya perbedaan budaya ini membuat guru dan anak-anak harus mampu. Keluarga dapat menjadi salah satu sebab timbulnya masalah pada diri anak, walau kadangkala keluarga (orang tua atau anggota keluarga lain) kurang menyadari bahwa apa yang dilakukannya yang memberikan dampak terhadap perilaku anak sehari-hari. Layanan konseling pada dasarnya merupakan suatu layanan yang bersifat terapeutik (penyembuhan) dan layanan ini hanya dapat dilakukan oleh petugas yang memiliki kemampuan atau kewenangan untuk melakukan konseling. Guru di taman kanak-kanak tidak dibekali untuk memiliki kemampuan konseling, guru konseling dapat menggunakan materi ini sebagai gambaran atau upaya memahami perlakuan yang dapat dilakukan bila menemukan permasalahan pada anak. Bila ternyata masalah yang dihadapi anak cukup berat maka guru dapat melakukan referal (mengalihtangankan) penanganan kepada ahlinya, misalnya kepada konselor atau psikolog. Pelaksanaan layanan bimbingan yang berorientasi kepada masalah yang dihadapi anak akan diuraikan berdasarkan tiga kelompok masalah yaitu masalah pribadi, sosial dan keterampilan.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

17

Satu Untuk UNM
a. Pelaksanaan layanan bimbingan yang berorientasi kepada masalah pribadi anak Permasalahan pribadi pada anak bisa ditunjukkan anak melalui perubahan perilaku, jarang anak mampu mengungkapkan masalahnya secara verbal karena anak cenderung sulit menyampaikannya. Keterbatasan bahasa dan pola pikir anak seusia taman kanak-kanak ini menuntut guru untuk lebih memahami adanya perubahan yang terjadi pada anak didik. Berikut ini dipaparkan satu contoh riil yang terjadi pada anak berkaitan dengan masalah pribadi yang dialami anak usia taman kanak-kanak. Seperti yang diuraikan pada bahasan sebelumnya, layanan konseling pada anak dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1 ). Identifikasi Masalah Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui masalah apa dihadapi anak. Misalnya, ketika guru di kelas mengajak anak untuk belajar menempel suatu gambar dengan menggunakan bulu ayam, salah seorang anak bernama Risma tidak melakukannya. Penolakan ini seringkali ditunjukkan Risma guru mengajak anak belajar menggunakan media ayam atau sejenisnya. Dalam langkah ini guru mencoba mengumpulkan berbagai data atau informasi masalah yang mungkin dihadapi Risma. Upaya yang dilakukan guru dimaksudkan untuk memperoleh kejelasan tentang kemungkinan adanya masalah yang dihadapi Risma. 2 ). Analisis Masalah Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui atau mengecek seberapa jauh anak mengalami masalah, apakah masalah itu bersifat menetap atau terus menerus timbul pada diri anak atau bersifat insidental. Selain itu perlu dicek pula apakah masalah ini mempengaruhi aspek perkembangan lainnya atau tidak langkah ini dapat dilakukan dengan melihat perkembangan perilaku dan hasil pembelajaran ditunjukkan anak. Misalnya dari keberanian bicara, keberanian tampil di depan kelas, hasil karya kemampuan menjawab pertanyaan guru, aktivitas sosial anak dan lain-lain. Seperti contoh anak Risma, guru menganalisis masalahnya dari aktivitas kemampuan lai ditunjukkan Risma, apakah Risma menjadi anak yang menolak kegiatan-kegiatan lain, mengisolasi diri, sering gemetar/takut bila berhadapan dengan bulu ayam atau sejenisnya, pemarah atau pendiam. Selain itu guru juga dapat melakukan percakapan, seperti contoh di bawah ini: Guru :"Ibu lihat Risma belum menyentuh dan mengerjakan gambar, apa Risma hari ini sedang sakit? Risma :(menggeleng)

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

18

Satu Untuk UNM
Guru Guru :"Risma menggambarnya mau diberi warna saja atau ditempel bulu ayam? : "Kalau ibu temani dan bantu memegang bulu ayamnya untuk ditempel digambar Risma mau tidak?" (sambil memberikan bulu ayamnya pada Risma) Risma :(menggeleng sambil menjauhkan badannya dari bulu ayam).

Risma : "Diberi warna saja"

3). Diagnosis
Langkah ini dimaksudkan untuk menemukan latar belakang masalah yang dihadapi anak, apakah masalah itu bersumber dari diri sendiri atau dari lingkungannya. Diagnosis dapat dilakukan dengan cara : (a) melihat sejak kapan perilaku masalah itu muncul, (b) melakukan percakapan dengan anak, (c) melakukan percakapan dengan orang tua, atau (d) melakukan kunjungan rumah (home visit). Kedalaman masalah dapat dirasakan berbeda-beda oleh setiap anak. Hal ini mempengaruhi bagaimana anak menyikapi masalah yang dihadapinva. Percakapan dengan anak dapat dilakukan bilamana anak memiliki kemampuan verbal yang cukup baik, permasalahan yang dialami anak tidak terlalu berat dan ungkapan bahasa atau pertanyaan yang diberi guru sesuai dengan kemampuan berfikir anak. Bilamana ini tidak dapat dilakukan, maka upaya menemukan latar belakang masalah dapat dilakukan melalui percakapan dengan orang tua dan kunjungan rumah (home visit). Contoh percakapan guru dengan orang tua sebagai berikut Guru : "Ibu, akhir-akhir ini saya melihat Risma tidak berminat untuk belajar menempel bila menggunakan media bulu ayam. Setiap belajar yang menggunakan bulu ayam selalu menolak dan kadang minta diganti dengan media yang lain. Boleh saya tahu bagaimana pendapat Ibu?” Ibu Risma : "Kalau di rumah Risma biasa-biasa saja, dan tidak pernah cerita kalau di TK dia tidak bisa mengerjakan sesuatu. Biasanya Risma kalau menggambar memang selalu minta krayon atau pensil warna. Karena dia minta itu, ya saya berikan apa yang dia minta" Guru : "Saya pernah menemani Risma untuk menempel gambar dengan bulu ayam, tapi Risma selalu menolak dan malah menjauhi saya karena saya memegang bulu ayam, menurut Ibu mengapa sikap Risma begitu?" Ibu Risma : "Saya tidak mengerti mengapa Risma bersikap begitu, apa Risma menunjukkan sikap lainnya Bu?" Guru :"Ya, ketika saya memberikan bulu ayam, Risma terlihat agak ketakutan dan tangannya gemetar. Menurut 1bu, apakah Risma pernah mengalami suatu
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 19

Satu Untuk UNM
peristiwa dengan bulu ayam, atau Risma pernah melakukan kesalahan dan seringkali berhubungan dengan bulu ayam?" Ibu Risma: "Ya ya, di rumah kalau Risma nakal atau tidak nurut apa yang diminta Bapaknya, Bapak suka menakut-nakutinya dengan kemoceng (pembersih debu dari bulu avam). Apa mungkin itu penyebabnya?" Guru : "Mungkin saja, sikap yang ditunjukkan Bapak dengan menakut-nakuti Risma pakai kemoceng membuat Risma merasa ketakutan dan menganggap setiap bulu ayam akan melukai dirinya" 3). Prognosis Langkah ini dilakukan untuk menetapkan bantuan yang akan diambil, apakah bantuan ini langsung berhubungan dengan anak atau perlu keterlibatan teman lain dan anggota keluarganya. Seperti yang diuraikan di awal, permasalahan anak mungkin disebabkan oleh hambatan yang ada pada dirinya atau disebabkan karena lingkungan dalam hal ini lingkungan teman lingkungan atau keluarga. Keterlibatan bantuan orang tua dalam upaya mengurangi atau menghilangkan masalah yang dihadapi anak jelas diperlukan karena hubungan anak dengan orang tua relatif kuat. Selain dari itu, penyebab anak mengalami masalah bisa disebabkan karena salahnya perlakuan orang tua terhadap anak sehingga anak mengalami masalah tertentu. Dalam langkah prognosis, guru menetapkan langkah apa yang akan diambil untuk mengurangi rasa takut Risma bila berhadapan dengan bulu ayam. Alternatif yang mungkin dapat dilakukan guru adalah: (a) Bercakap-cakap dengan Risma untuk menumbuhkan pemahaman bahwa bulu ayam tidak akan melukai dirinya. (b) Menyimpan atau menggantungkan bulu ayam di dalam kelas dengan posisi yang tidak terlalu dekat untuk membiasakan Risma melihat dan memperhatikan bulu ayam. (c) Bekerja sama dengan orang tua untuk menghilangkan kebiasaan memukul atau memarahi anak dengan mememgang/memperlihatkan kemoceng (bulu ayam) (d) Melakukan pembelajaran yang menggunakan bulu ayam dengan melibatkan temantemannya. Teman-temannya diminta untuk membuat sesuatu dengan bulu ayam dan Risma dilibatkan secara perlahan-lahan dalam kegiatan tersebut. 4) Pelaksanaan bantuan Dari beberapa alternatif bantuan yang ada, guru menetapkan langkah mana yang akan dilakukan. Setelah menetapkan bantuan yang akan digunakan, guru kemudian melaksanakan bantuannya. Misalnya guru memilih alternatif bantuan : (a) bekerja sama
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

20

Satu Untuk UNM
dengan orang tua, dan (b) melaksanakan pembelajaran dengan melibatkan temantemannya. Untuk melibatkan peran orang tua dalam upaya membantu mengurangi atau menghilangkan hambatan yang dihadapi anak perlu kemampuan berkomunikasi yang baik dari seorang guru taman kanak-kanak. langkah hambatan yang dihadapi anak mengurangi atau menghilangkan hambatan yang dihadapi anak perlu kemampuan berkomunikasi yang baik dari seorang guru taman kanak-kanak. Guru perlu memperhatikan hal-hal berikut : (a). Tidak menggunakan kata-kata yang akan menyinggung perasaan. (b). Tidak bertindak seolah-olah menggurui (c). Tidak menyalahkan peran orangtua maupun anak (d). Mengajak orangtua untuk melakukan perbaikan dan memilih langkah yang terbaik bagi perkembangan anak. (e). Bersikap sabar, hangat dan penuh pengertian. Keterlibatan teman dalam proses perbaikan bagi anak yang bermasalah merupakan suatu solusi (pemecahan) yang dapat dilakukan, berhubung anak pada usia taman kanak-kanak adalah masa bersosialisasi. Kelekatan dan kepedulian anak terhadap temannya pada usia ini relatif tinggi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam melaksanakan bantuan pada anak yaitu: (a). Tidak perlu menceritakan kesulitan atau kekurangan yang dimiliki anak (Risma) kepada temannya, karena akan menimbulkan penilaian dari anak lain bahwa Risma takut terhadap sesuatu yang tidak riil (nyata) (b). Melibatkan Risma dalam upaya perbaikan perlu dilakukan secara perlahan dan tanpa paksaan, dengan paksaan dapat membuat anak menolak dan menumbuhkan ketakutan yang berlebih (c). Perlu diciptakan suasana yang menyenangkan selama proses perbaikan (d). Perlu diberikan penguatan (reinforcement) bilamana Risma menunjukkan perubahan sikap ke arah yangbaik, misalnya dengan mengatakan "sekarang Risma lebih pintar, sudah bisa membuat gambar yang lebih baik". (e). Perlu diciptakan suasana saling membantu antara teman dengan Risma dengan cara melakukan pekerjaannya secara berkelompok. 5). Penilaian dan tindak lanjut Penilaian dan tindak lanjut dimaksudkan untuk mengevaluasi langkah dan bantuan yang telah diberikan pada anak. Evaluasi ini dapat dilakukan dengan melihat perubahan perilaku yang terjadi pada anak, apakah anak mnunjukkan adanya perubahan ke arah yang

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

21

Satu Untuk UNM
lebih baik atau bahkan mengalami kemunduran. Bila perilaku anak ternyata tidak ada perubahan atau bahkan menjadi lebih buruk maka guru perlu mengintrospeksi langkahlangkah yang sudah dilakukan. Ketidakberhasilan itu mungkin terjadi karena : (a). Tidak- tepat mengidentifilasi masalah yang dihadapi anak (b). Perlu dilakukan alternatif lain yang dipandang lebih tepat (c). Keterlibatan orang tua perlu dilakukan secara terus menerus (d). Menciptakan situasi yang aman dan menyenangkan bagi anak baik di rumah maupun di taman kanak-kanak. b. Pelaksanaan layanan bimbingan yang berorientasi kepada masalah sosial anak 1-) Identifikasi masalah Contoh masalah sosial yang dapat digambarkan pada bagian ini yaitu masalah anak taman kanak-kanak yang sering menyerang temannya. Ketika aktivitas pembelajaran berlangsung baik di dalam kelas terlihat seorang anak (Dian) ribut dengan temannya, Dian merebut pinsil warna temannya dan terjadi saling tarik menarik. Teman Dian berusahe mempertahankan barang miliknya, tapi Dian memaksa dan akhirnya memukul temannya. Dari peristiwa itu, teman Dian menangis dan Dian dengan tenangnya mengambil pinsil dan mewarnai gambar miliknya. Guru di kelas melihat peristiwa itu dan mencatat peristiwa yang terjadi. Peristiwa yang terjadi pada Dian merupakan satu contoh perubahan perilaku yang ditunjukkan anak. Guru perlu memahami mengapa anak, bertingkah demikian. Sebagai pembimbing guru perlu melakukan identifikasi terhadap masalah yang dihadapi Dian. 2). Analisis masalah Guru dapat menganalisis masalah yang mungkin dihadapi Dian dalam jangka waktu tertentu. Guru dapat mengamati tingkah laku Dian apakah dalam setiap kegiatan Dian menunjukkan aktivitas yang sama atau Dian melakukan hal itu hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Guru dapat mengecek perilaku Dian dengan beberapa cara, misalnya memenuhi permintaan Dian bila sedang mengerjakan tugas tertentu, diberi kesempatan untuk tampil di depan kelas untuk bernyany atau bercerita, melakukan aktivitas kelompok atau memberi tugas pada anak secara berkelompok dan sebagainya. Dari perlakuan-perlakuan ini guru perlu menganalisis dan menandai pada saat-saat kapan Dian menunjukkan aktivitas tersebut, dan adakah aktivitas lain yang ditunjukkan Dian yang merugikan temannya atau akan menjadi masalah bagi dirinya. 3). Diagnosis Untuk mengetahui berbagai faktor penyebab mengapa Dian bersikap sering menyerang
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

22

Satu Untuk UNM
temannya, maka guru perlu melakukan terhadap orang tua Dian. (a). Pendekatan terhadap anak (Dian) Pendekatan terhadap Dian dapat dilakukan guru dengan guru dialog atau pereakapan untuk mengetahui mengapa Dian bersikap agresif pada temannya. Contoh dialog dengan Dian adalah sebagai berikut: Guru Dian Guru Dian Guru Dian Guru Dian Guru Dian Guru Dian Dian Dian Guru : "Dian sekarang sedang membuat apa?" : (diam saja) : (sambil mendekat pada Dian) "Apa Dian sekarang sedang menggambar pesawat terbang?" : "Iya" (mengangguk tapi kepalanya tetap menunduk) : "Wah gambar Dian bagus, Dian senang Pesawat terbang ya?" : (mengangguk) : "Kalau. Dian menggambar pesawat terbang, Dian senang pakai warna apa?" : "Itam biru" (sambil memperlihatkan pinsil yang direbutnya dari Faris) : "Itu pinsil punya siapa?" (diam), "Faris" : "Kenapa Dian merebut pinsil punya Faris?" : (diam) "Biar aja" : "Dian punya pinsil warna?" : "Punya" : "Kenapa Dian merebut pinsil Faris, kan Dian punya pinsil sendiri?" berbagai langkah, diantaranya (1) guru

melakukan pendekatan terhadap anak (Dian), dan (2) guru melakukan pendekatan

5. Potensi Anak Taman Kanak Kanak Memahami potensi anak didik adalah merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh guru karena dengan cara yang dapat dilakukan : 1) Berbagi informasi di kelas. Guru menyuruh anak untuk bercerita tentang dirinya secara bergiliran dihadapan temantemannya 2) Guru mengamati anak di dalam kelas Pengamatan di dalam kelas dapat memberikan informasi berkenaan dengan: perilaku anak, minat, motivasi, kemampuan/potensi dan sosial anak berinteraksi dengan temantemannya.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 23

memahami anak,

guru mampu memberikan kegiatan

pembelajaran yang menarik, bermotivasi, menentang dan berharga bagi anak. Beberapa

Satu Untuk UNM
3) Bercengkrama dengan anak Pada waktu istirahat guru dapat berinteraksi secara akrab dengan anak baik secara perorangan maupun secara kelompok sehingga dapat memahami karakter anak 4) Laporan dalam dokumen Menggali informasi anak menggunakan dokumen yang memuat informasi tentang anak yang pengisiannya dilakukan oleh orang tua sehingga guru dapat memahami anak. 5) Diskusi dengan profesional lainnya Guru berupaya untuk mencari informasi yang lengkap tentang anak dengan cara menghubungi tenaga profesional atau guru lainnya atau orang dewasa yang mengenal anak secara lebih dekat Menganalisis potensi pada anak adalah menguraikan kecerdasan yang dimiliki anak, menurut Nurlaila Ngm Tientje (2009) bahwa kecerdasan yang ada pada anak bermacammacam, tentu hal ini karena anak dari genetis yang berbeda-beda, ada anak yang memiliki potensi kinestetik, logik, linguistik, spasial, matematik, kinestetik, interpesonal dan intrapersonal. Macam-macam potensi/multipel intelegensi itu perlu digali dan ditumbuhkembangkan dengan berbagai cara. 1) Potensi Kinestetik Potensi kinestetik berkaitan dengan kemampuan mengatur tubuh dalam menempatkan dirinya dalam permainan, tarian, ritual keagamaan. Kemampuan kinestetik selain didapat dari faktor genetis dalam diri anak juga diperoleh melalui latihan dan pembelajaran yang benar semasa kecil. Diberbagai daerah seperti Indonesia pelajaran menari, ritual agama dapat memperkaya kemampuan kinestetik, daerah budaya seperti Bali , anak- anak disana mempunyai DNA tertentu yang dominan untuk menari, sehing ga terlihat orang di Bali pintar menari karena kegiatan menari dan ritual agama selalu dilakukan.Contoh : ada seorang anak didik dimana orang tuanya ingin sekali anaknya trampil dalam kegiatan senam tapi karena kemampuan kinestetik anaknya rendah maka kemampuan untuk mengerti apa yang harus dikerjakan dalam latihan kegiatan senam lambat yang akhirnya orang tua anak didik itu bosan dan marah-marah. kepada anaknya. Pemecahannya: guru dan orang tua memberikan pembelajaran/latihan yang sering hal ini sesuai dengan hukum belajar latihan menjelaskan makin sering diulang suatu pelajaran, makin mantap pengertian terhadap pelajaran itu, dengan kata lain pengalaman yang diulang-ulangi memperbesar peluang timbulnya respon yang benar, akan tetapi pengulangan saja kalau tidak disertai keadaan memuaskan tidak mengakibatkan belajar.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

24

Satu Untuk UNM
2) Potensi Visual Spasial Potensi Visual Spasial berkaitan dengan kemampuan untuk melihat objek yang ada disekitarnya dengan tepat. Orang yang mempunyai kemampuan visual spasial yang tinggi dapat menciptakan kembali semua aspek dari gambaran yang dilihat dalam mata pikirannya. Kemampuan spasial hanya dapat meningkat dengan latihan, anak harus banyak diberikan pengalaman yang berfokus pada hubungan bentuk-bentuk geometri Pemahaman pertama anak geometri adalah sebatas pengetahuan ruang secara fisik, kemudian sejalan dengan bertambahnya usia pemahaman terhadap ruang adalah mengenai objek dan hubungan dengan objek lain disekitarnya. Pembelajaran dan pelatihan tentang pemahaman geometri dapat distimulas dengan topologi topik, topologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara objek dengan objek lain atau hubungan objek dengan tempat, sehingga dapat dikatakan bahwa membutuhkan pengalaman topologikal dalam berbagai ukuran ruang (besar, sedang, kecil) untuk dapat mengembangkan inteligensi spasialnya. Menurut Nurlaila (2010) ada 4 bentuk konsep topologi yang dapat dikenalkan kepada anak sebagai pemberian pengalaman dalam bentuk geometri yaitu proksimiti, pemisahan, beraturan dan batasan. a.Proksimiti Proksimiti berhubungan dengan posisi benda, arah dan jarak. Pertanyaan yang dapat diajukan oleh anda sebagai guru adalah kamu ada dimana? Jawaban anak bervariasi, tetapi biasanya anak hanya menjawab singkat, tugas anda untuk melengkapi jawaban anak tersebut agar anak paham tentang topologi Guru : Kamu ada di mana? Anak : Di kelas( maksudnya di dalam kelas) Anak : Di kursi (maksudnya duduk di atas kursi) Variasi Jawaban anak yang mengarah ke posisi(diluar, didalam,dibawah, dibelakang, didepan). Jawaban yang menunjukkan arah dan menunjukkan jarak(dekat, jauh). b. Pemisahan Pemisahan berhubungan dengan kemampuan melihat keseluruhan objek kumpulan dari sebagai potongan-potongan yang terpisah. Konsep potongan dan utuh secara

bertahap dapat membentuk model bangunan, puzzele, balok-balok. Pemisahan juga dpat memberikan pemahaman tentang batas pemisah. Contoh: rumah dengan jalan dipisahkan dengan pagar

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

25

Satu Untuk UNM
c. Beraturan Beraturan berhubungan dengan urut-urutan benda atau peristiwa, contoh setelah hari senin adalah hari selasa, rabu, kamis dst d. Batasan Batasan berhubungan dengan benda yang ada di dalam dan benda yang ada di luar, contoh konsep struktur bangunan terdiri dari dinding, pintu dan atap. Agar keempat bentuk topologi bermakna bagi anak perlu anda mengenalkan warna. Permainan dengan menggambar adalah cara terbaik untuk melatih intelegensi /kemampuan visual spasial 3) Kemampuan Linguistik Makin banyak informasi yang diketahui, makin cerdas anak dan makin tinggi intelegensinya., biasanya intelegensi yang tinggi sejalan dengan tingginya pendidikan. Banyaknya kata yang dimiliki anak adalah sesuai dengan kemampuannya untuk belajar dan luasnya pengetahuan yang didapat. Tes emampuan yang biasa digunakan untuk mengetahui intelegensi linguistik yaitu tes kosakata adalah tes untuk menentukan kemampuan anak mengenal kata-kata, guru menanyakan kepada anak tentang kata, misalnya binatang apa ini nak? Banyaknya kata yang dijawab anak sangat bergantung pada kecerdasan. Sedangkan tes sinonim-antonim, sinonim adalah kata yang mempunyai arti hampir sama. Orang menguasai sinonim berarti menguasai kosakata, tujuan pemberian tes antonim adalah untuk megenalkan relasi dari kata-kata itu, misalnya bila ada atas maka ada bawah, bila ada wanita maka ada pria. Dan guru harus bisa membuat dialog yang baik dengan anak. 4) Kemampuan Interpersonal Kemampuan interpersonal berhubungan dengan kepekaan seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain atau dengan kelompok. Anak usia dini mengalami kesulitan menerima pendapat orang lain karena anak usia dini bersifat egosentris, dalam kelompoknya anak anak saling brbicara tanpa mengharapkan saling mendengarkan atau saling menjawab. Dilembaga Paud.anak-anak diberi kesempatan untuk mendengarkan pendapat teman. Pendapat yang didengarnya itu tidak dilihat dari salah atau benarnya. karena tujuan berpendapat agaranak terbiasa mengeluarkan kata-kata secara lisan dengan menggunakan bahasa yang dikuasainya. Kemampuan interpesonal penting karena persahabatan yang kuat akan membantu dalam kehidupan pribadi, Tugas guru adalah meluruskan persepsi yang belum tepat ketika anak berpendapat, tetapi bukan menyalahkan pendapat anak.Melatih kemampuan interpesonal harus diiringi dengan melatih kepekaan emosional

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

26

Satu Untuk UNM
5) Kemampuan Intrapersonal Kemampuan intrapersonal berhubungan dengan kemampuan mengenal diri, kemampuan ini adalah kemampuan untuk memahami diri dan bertanggung jawab atas kehidupan sendiri. Orang yang memiliki kemampuan intrapersonal yang kuat,.cenderung emosi yang dimilikinya stabil, mudah mengendalikan dan mengarahkan emosi Kemampuan melihat diri bukanlah suatu bakat melainkan suatu kebiasaan yang dibina, jika anda ingin anak anda yang tumbuh lebih baik dalam mengendalikan hidupnya, mulailah dengan memberikan kesempatan untuk mulai melakukan pemikiran reflektif. Bila anak anda ikut dalam suatu kegiatan, berikan waktu tenang, untuk memikirkan hal-hal yang berikut, Guru bertanya kepada anaknya, apa yang kamu lakukan nak? Apa isi/materi yang kamu lakukan?, bagaimana perasaanmu dalam melakukannya? Bagimana kamu dapat menerapkan apa yang telah kamu lakukan?, bila anak kesulitan menjawabnya sabar dan bimbinglah anak itu dengan pelan-pelan. Hal yang penting adalah bukan dalam memperoleh jawaban yang benar melainkan membuatnya terbiasa memikirkan tentang apa yang dia lakukan dan mengapa dia melakukannya. 6) Kemampuan Logik-Matematis Kemampuan logik-matematis adalah kemampuan yang berhubungan dengan bilangan dan perhitungan, anak-anak yang cerdas secara matematis sering tertarik dengan bilangan. Kemampuan logik matematis penting dalam kehidupan modern, anak dapat mengukur apa pun, menggunakan uang, oleh karena itu penting mendorong anak mulai berhitung sejak kecil sehingga anak dapat menerapkan matematika dalam kehidupan seperti berjualan dan berbelanja. Mempelajari kuantitas, guru menyuruh anak melak ukan sendiri dengan menggunakan benda-benda nyata sehingga ketika memperlihatkan benda yang lebih banyak dan lebih sedikit anak dapat rasakan dan hitung, barulah lambang bilangannya ditulis. Guru biasanya mengajar geometri tentang bentuk dan sudut dengan cara membuat gambar rumah, alat-alat rumah tangga sederhana yang menggabungkan berbagai bentuk geometri. Menurut Howard Gardner (Nurlaila;2010) menyarankan mengembangkan kemampuan matematika dengan permainan angka. 6. Perkembangan Potensi Aktual Anak TK Menganalisis perkembangan potensi maksudnya adalah menguraikan berbagai potensi/kemampuan yang dimiliki anak, menurut Hetheringthon (Rita Eka Izzaty; 2005) perkembangan anak usia TK meliputi: perkembangan fisik, perkembangan intelektual, bahasa, perkembangan emosi, perkembangan sosial dan moral.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

27

Satu Untuk UNM
a. Perkembangan Fisik Secara fisik anak usia 4-6 tahun makin berkembang, sesuai dengan bertambah matangnya perkembangan otak yang mengatur system syaraf otot yang memungkinkan anak menjadi lincah dan aktif bergerak sehingga kegiatan-kegiatan motorik kasar diberikan kepada anak, Menurut Wiguna dan Noorhana (Rita.Eka Izzaty;2005) menyatakan tahapan perkembangan fisik yang dicapai anak usia TK adalah naik sepeda roda tiga, kebebasan dalam melakukan gerakan, meniru bentuk lingkaran. Di TK permaianan untuk menunjang perkembangan motorik kasar anak sangat banyak, guru tugasnya mengawasi anak ketika bermain, sebagai contoh anak bermain panjat-panjatan yang bentuknya seperti bola, dengan permainan itu anak berlatih untuk memanjat dengan kaki bergantian dan tetap diawasi oleh guru. Disamping itu ada hari khusus, guru mengajak anak melakukan kegiatan jalan-jalan keliling sekitar sekolah, kegiatan ini selain bertujuan mengenal lingkungan pada anak juga bertujuan untuk melatih anak pada motorik kasar. Pada usia TK selain perkembangan motorik kasar meningkat, perkembangan motorik halus juga meningkat, dimana koordinasi mata- tangan anak semakin baik sehingga anak sudah dapat menyikat gigi, menyisir, mengancingkan baju. Kelenturan tangannya semakin baik sehingga anak menggunakan tangannya untuk berkreasi, contohnya menggunting kertas dengan hasil guntingan yang lurus, zikzak meskipun belum begitu rapi dan tepat. Faktor-faktor yang mendukung dalam meningkatkan perkembangan motorik baik motorik kasar maupun motorik halus antara lain adalah mainan atau lingkungan yang mungkinkan anak untuk melatih keterampilan motoriknya. b. Perkembangan Intelektual Perkembangan intelektual anak berfokus pada tahap pemikiran praoperasional, dimana pemikiran anak masih didominasi oleh hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas fisik dan persepsinya sendiri, menurut Piaget (Rita Eka Izzaty: 2005) pemikiran praoperasional merupakan awal kemampuan untuk merekontruksikan pada tingkat pemikiran apa yang telah dilakukan didalam perilaku. Pada usia ini anak belum punya pemahaman yang realistis dan obyektif tentang lingkungan yang berada diluar dirinya, dan selalu bertanya karena terdorong oleh rasa ingin tahu yang besar. Pertanyaannya selalu muncul mengapa seperti itu? sebagai contoh ketika anak diberi tugas untuk mengelompokkan bangunan yang sama, anak-anak akan menanyakan mengapa dikelompokkan? untuk apa? begitu juga anak dalam bermain suka bertanya kepada guru, anak bermain pasir, membuat istana pasir, tetapi sebenarnya anak belum tahu bentuk istana seperti apa, sehingga anak bertanya, istana itu apa bu? menghadapi pertanyaan seperti itu guru hendaknya menjawab dengan bijak. Pada usia ini juga daya imajinasi anak mulai berkembang sehingga kecenderungan anak
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 28

Satu Untuk UNM
menganggap semua benda mempunyai nyawa, contoh anak bermain sandiwara atau berbicara sendiri dengan media yang ada seperti mainan telefon, anak mencoba berbicara dengan ibunya melalui telefon melalui daya khayal anak. c. Perkembangan Bahasa Kemampuan bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain Perkembangan bahasa pada masa ini merupakan hal yang penting karena merupakan masa yang sangat ideal untuk mengembangkan kemampuan bahasa, Tugas-tugas yang akan dilakukan dalam perkembangan bahasa pada anak TK yaitu tugas pemahaman, dimana anak mampu memahami makna ucapan orang lain dan mampu menyatakan perasaan .dan pikiran kepada orang lain, setelah kemampuan berbicara dimiliki oleh anak, tahap berikutnya yang perlu dipelajari adalah mengembangkan jumlah kosa kata untuk kemudian dirangkai dalam bentuk kalimat dengan menggunakan tata bahasa yang lazim. Terdapat beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi perbedaan dalam berbicara pada anak yaitu, kondisi kesehatan, tingkat kecerdasan, keadaan sosial ekonomi, dorongan berkomunikasi yang dipengaruhi oleh tipe kepribadian, jumlah keluarga, urutan kelahiran, metode pelatihan, yang digunakan, serta pola komunikasi yang ada dalam keluarga.. Usaha guru untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak di TK dilakukan tiap hari, sebagai contoh, guru seringkali mengajak anak untuk menceritakan kembali apa yang telah dilakukan sebelum berangkat kesekolah, hal ini bertujuan untuk melatih perkembangan bahasa anak. Dengan anak bercerita akan menambah perbendaharaan kata dan melatih kepercayaan diri anak ketika mereka mencoba untuk maju kedepan kelas dan bercerita. d. Perkembangan Emosi Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada sejak anak dilahirkan, tidaklah berjalan dengan sendirinya, tetapi proses belajar yang dlakukan. Dalam peran namun perkembangan emosional berikutnya dipengaruhi oleh kematangan, dan

kenyataan.kehidupan pengendalian emosional sangat berpengaruh terhadap penyesuaian pribadi yang pada gilirannya akan mempengaruhi perkembangan aspek psikologis yang lain,. Ada 2 fungsi emosi pada anak usia dini, yakni sebagi pendorong, dan sebagai alat komunikasi , sebagai pendorong emosi akan menentukan perilaku anak melakukan sesuatu, contoh, anak merasa senang dengan jenis permainan puzzel, perilaku yang nampak pada anak adalah apabila meliha puzzel, ia akan melakukannya. Selanjutnya fungsi emosi sebagai alat komunikasi, dengan reaksi emosi anak akan memperlihatkan apa yang dirasakannya, contoh, pada awal permulaan masuk TK, anak menunjukkan reaksi menangis bila berpisah dengan ibunya, hal ini menunjukkan bahwa anak merasa aman bila ibunya berada didekatnya. Contoh yang lain, ketika anak dalam mengerjakan tugas dari ibu guru dapat
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 29

Satu Untuk UNM
menyelesaikan dengan baik maka anak akan meluap rasa gembira dengan berkata dan

bertingkahlaku” Hore, aku sudah selesai mengerjakan gambar mobil dan anak berlari-lari mengelilingi kelas dengan rasa gembira dan mencoba melihat pekerjaan temannya. Pada umumnya emosi anak bersifat spontan, akan sangat berbeda dengan orang dewasa disekitarnya. Kondisi yang menimbulkan emosi anak yang meninggi yaitu, kondisi fisik, kesehatan yang buruk, seperti adanya penyakit eksim, kaligata, batuk dan sebagainya, kemudian kondisi psikologis yang berpengaruh terhadap pertahanan emosi adalah intelegensi yang rendah, tingkat kegagalan dalam mencapai aspirasi tertentu, kecemasan yang membekas. Selanjutnya kondisi lingkungan , tekanan yang terus menerus dari lingkungan fisik dan sosial, kekangan yang berlebihan dari orang dewasa disekitarnya, sikap orang tua yang selalu melindungi e. Perkembangan Sosial Anak dilahirkan belum bersifat sosial, dalam arti anak belum memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang lain. Untuk mencapai kematangan sosial, anak harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkungannya, baik orang tua, saudara, teman sebaya, atau orang dewasa lainnya. Apabila lingkungan sosial seperti orang tua, sanak keluarga memfasilitasi atau memberikan peluang terhadap pekembangan secara positif maka anak akan dapat mencapai perkembangan sosialnya secara matang, apabila lingkungan sosial itu kurang kondusif, seperti perlakuan orang tua yang kasar, sering memarahi anak, acuh tak acuh, tidak memberikan teladan, tidak membiasakan terhadap anak dalam menerapkan norma-norma baik agama, maupun budi pekerti cenderung menampilkan perilaku maladjustment, seperti senang menyendiri, kurang tenggang rasa, bersifat minder,kurang memperdulikan norma dalam berperilaku. Sosialisasi dari orang tua sangatlah penting bagi anak, karena anak belum memiliki pengalaman untuk membimbing perkembangannya sendiri kearah kematangan. Aktifitas yang dilakukan guru dalam mengembangkan kemampuan sosial anak yaitu dengan kegiatan sosiodrama, bermain dan belajar bersama. f. Perkembangan Moral Perkembangan sosial dan moral berkaitan dengan aturan tentang apa yang seharusnya dilakukan dalam interaksinya dengan orang lain, adapun tujuan diberikan kepada anak aturan adalah sebagi pedoman bertingkah laku yang dapat diterima sesuai situasi atau kondisi saat itu, sedangkan fungsi aturan sebagai pendidik dan pengendali diri. Menurut Piaget(Syamsu Yusuf; 2001) pemahaman sosial anak terjadi melalui relasi-relasi teman
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 30

serta

suasana otoriter di sekolah akan dapat

menimbulkan emosional yang tinggi pada anak

Satu Untuk UNM
sebaya sebagi contoh, anak ketika di sekolah bermain ayunan, karena mainan tersebut terbatas hanya satu, maka harus sabar untuk menunggu giliran main, sebelum itu guru memberikan arahan untuk tidak berebut, jika nanti berebut ibu tidak memberikan kesempatan bermain ayunan, setelah anak mengerti apa yang dijelaskan oleh ibu gurunya, maka anak sudah dapat menyetujui aturan main yang telah disepakati besama. Perkembangan sosial dan moral perlu dilatih. Ada beberapa aktifitas untuk mengembangkan sosial dan moral anak yaitu permainan dalam tim, bermain sosiodrama, mendongeng yang bermuatan kisah-kisah moral dalam pergaulan sosial, Perkembangan sosial anak baik, bila anak dapat bergaul dan dapat berkomunikasi dengan teman. Anak dalam bermain seringkali berkomunikasi dengan temannya bagaimana cara bermain? dan aturannya seperti apa?, selain bergaul menambah perkembangan sosial, moral dan juga melatih perkembangan bahasa 7. Ciri-Ciri Kepribadian Anak Menganalisis ciri-ciri kepribadian anak maksudnya menguraikan ciri-ciri kepribadian anak, Guru selain memahami potensi anak, perkembangan potensi aktual dan juga memahami ciri-ciri kepribadian anak. Ciri-ciri kepribadian akan nampak pada sifat-sifat khas seseorang. Tiap orang memiliki sikap berbeda-beda terhadap suatu ransangan, ini disebabkan karena berbagai faktor yang ada pada diri individu masing-masing seperti adanya perbedaan dalam kecerdasan, perasaan, pengetahuan, pengalaman, keadaan fisik, sifat seseorang. Menurut Purwanto(2002) sifat merupakan ciri-ciri tingkah laku atau perbuatan yang banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor dari dalam diri seperti pembawaan. Hal ini didukung Gregory G Young.(2009) bahwa sifat diperoleh dari warisan salah seorang orang tua, seperti pepatah bahwa buah jatuh ambivert. a. Introvert Anak yang tergolong introvert memiliki sifat-sifat: kurang pandai bergaul, pendiam, sukar diselami bathinnya, suka menyendiri, tertutup jiwanya, lekas malu dan canggung, menyukai bekerja sendiri, senang membaca buku dan majalah. Tugas guru dalam hal ini memberikan kegiatan belajar dengan pendekatan kooperatif, Pendekatan kooperatif adalah pendekatan menggunakan kelompok kecil anak didik untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar, Think-Pair-Share, langkah-langkahnya sebagai berikut: adapun caranya dengan tidak jauh dari pohonnnya. Jung (Ngalim Purwanto;2002) mengemukakan sifat orang terbagi atas tiga yaitu, introvert, ekstrovert, dan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

31

Satu Untuk UNM
Langkah 1 . Berpikir ( Thinking) , guru mengajukan pertanyaan/isu yang berkaitan dengan pelajaran, dan anak didik diberi waktu satu menit untuk berpikir sendiri mengenai jawaban Langkah 2. Berpasangan (Pairing), selanjutnya guru meminta anak didik untuk berpasangan dan mendiskusikan yang telah dipikirkan . Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama, biasanya guru memberi waktu 10 menit untuk berpasangan . Langkah 3. Berbagi (Sharing) , pada langkah ini guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan mengenai yang mereka bicarakan, langkah ini akan efektif jika guru berkeliling kelas dari pasanagan yang satu ke pasangan yang lain sehingga seperempat atau separuh dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor. b. Sifat Ekstrovert Selanjutnya orang-orang yang tergolong ekstrovert mempunyai sifat sebagai berikut: Lancar dalam berbicara, tidak lekas malu dan canggung , ramah dan suka barteman, suka bekerja sama dengan orang lain, kurang peduli dengan penderitaan sendiri, bebas dari kecemasan. Tugas guru dalam hal ini memberikan kegiatan belajar dengan menggunakan pendekatan berbasis masalah/Pembelajaran Proyek. Pendekatan ini menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks agar anak dapat berpikir kritis dan terampil memecahkan masalah serta mendapatkan pengetahuan, adapun langkah-langkahnya sebagai berikut: Langkah 1. Pengajuan masalah yang benar-benar nyata Langkah 2. Orientasi anak didik kepada masalah, guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi anak didik agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya. Langkah 3.Mengorganisasi anak didik untuk belajar, guru membantu anak didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. Langkah 4. Membimbing penyelidikan individu dan kelompok, guru mendorong anak didik mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Langkah 5. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, guru membantu anak didik merencanakan, menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, dan model serta membantu anak didik berbagi tugas dengan temannya.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

32

Satu Untuk UNM
Langkah 6. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, guru membantu anak didik melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan dan prosesproses yang anak didik gunakan. c. Sifat Ambivert. Kemudian orang-orang yang tergolong ambivert menunjukkan adanya sifat campuran/ gabungan dari kedua sifat introvert dan ekstrovert, bahkan mungkin dapat dikatakan bahwa kebanyakan orang termasuk dalam tipe campuran itu. d. Sifat egosenteris Endang Poerwanti (2000) mengartikan egosentris adalah segala sesuatu ingin dipusatkan kepada dirinya, dan selalu mementingkan pemenuhan kebutuhannya, anak sering menuntut agar seluruh lingkungan memperhatikan dirinya bahkan dibawah kekuasaannya, contoh bila anak dibawa ketoko oleh ibunya, selalu minta dibelikan mainan, bila ibunya tidak membelikan, anak tersebut menangis. Upaya yang dilakukan oleh orang tua kepada anak tersebut adalah memberikan pemahaman- pemahaman, Contoh yang lain adalah anak tidak mau meminjamkan mainan kepada temannya, Tugas guru dalam hal ini adalah guru memberikan pemahaman selanjutnya anak dikelompokkan dalam kegiatan belajar dan bermain., sedangkan menurut Kagan.dkk(Rusdinar dan Elizar;2005) egosentris pada usia TK adalah anak tidak dapat melihat sesuatu dari pandangan orang lain , misalnya ada seorang anak hari itu tidak mau belajar, dia katakan tidak mau balajar ibu guru, tugas guru mendekati anak dan membujuknya serta guru mencari penyebab mengapa hari itu anak tidak mau belajar.dan guru juga perlu memperhatikan unsur variasi individual serta minat yang dimiliki anak. e. Sifat Aktif dan Energik Bergerak secara aktif bagi anak TK merupakan suatu kesenangan, yang kadangkala terlihat seakan-akan tidak ada hentinya, sehingga anak senang lari, melompat dan memanjat , ada orang yang menyatakan, bila ada anak yang tidak aktif mungkin karena sakit atau akan tidur . Sikap aktif dan energik nampak jika anak menghadapi kegiatan yang baru, contohnya bila anak dijanjikan untuk pergi jalan-jalan maka anak senang , melompatlompat dan aktif menyiapkan diri. Tugas guru dalam hal ini memberikan pembelajaran aktif, dimana anak aktif bergerak, mendengar, mencari, merasakan, langkah-langkah pembelajaran aktif sebagai berikut; kegiatan-kegiatan yang dilakukan melalui interaksi sosial dengan guru, orang dewasa dan orang lain., Adapun

Langkah 1. Kegiatan yang diarahkan pada obyek
Anak diarahkan belajar tentang objek alami maupun objek buatan seperti perabot rumah tangga, mainan, peralatan, dan perlengkapan, anak aktif, mulai memanipulasikan objek,
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 33

Satu Untuk UNM
menggunakan tubuhnya dan semua alat inderanya untuk menemukan objek-objek tersebut, berbuat dengan objek memberikan suatu yang nyata kepada anak untuk dipikirkan dan dibicarakan, melalui pengalaman-pengalaman yang konkrit dengan bahan dan manusia secara berangsur-angsur anak mulai membentuk konsep.

Langkah 2. Refleksi pada kegiatan.
Setelah anak paham tentang objek, lalu anak mencari jawaban dari pertanyaan, contoh; seorang anak bermain bola, kemudian anak tersebut merefleksikan pemahamanyang lebih lengkap tentang objek /lingkungan kegiatan tersebut dengan menjawab pertanyaan maka akan menghasilkan perkembangan berpikir dan

Langkah 3. Motivasi Intrinsik, penemuan, dan menyimpulkan
Anak aktif untuk bertanya , melakukan eksplorasi untuk menemukan solusi dan hasil menurut pemikiran anak seperti menggabungkan benda, ide dan pengalaman untuk menghasilkan sesuatu yang baru.

Langkah 4. Pemecahan masalah
Pengalaman yang diperoleh anak akan menghasilkan nampak yang dapat atau tidak dapat mengantisipasinya, hal ini penting untuk perkembangan kognitif anak, contoh: Seorang anak bernama Andi, mencoba menutup panci sup dengan tutup panci, tetapi ukurannya kecil sehingga tutup panci tersebut masuk kedalam dengan pengalaman f. Sifat Imajinasi Anak menyenangi hal yang bersifat imajinatif, oleh karena itu anak mampu bercerita melebihi pengalamannya. Sifat ini memberikan implikasi terhadap pembelajaran bahwa metode bercerita dapat dijadikan salah satu metode belajar Tugas guru, menyiapkan metode bercerita baik untuk mengembangkan kemampuan dasar anak maupun untuk mengembangkan perilaku Pada masa ini anak senang melakukan kegiatan berbicara sendiri, dimana anak berbicara sesuai dengan pengalamannya, contoh, seorang anak bermain dokter-dokteran, adakala anak itu berbicara seperti dokter, kemudian berbicara sebagai pasien.. Pada masa ini juga anak mudah takut, sehingga orang dewasa sering menggunakan takut sebagai alat, agar anak mau berhenti melakukan kegiatan yang dilarang. g. Sifat Rasa Ingin Tahu yang Kuat dan Antusias Pada masa ini anak mempunyai sifat banyak memperhatikan, membicarakan, mempertanyakan sesuatu yang dilihat, didengar, hal ini karena rasa ingin tahunya yang
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 34

pancinya dan airnya

membasahi tangan Andi, akhirnya Andi memutuskan untuk mencari tutup panci yang pas, seperti ini anak belajar melalui pemecahan masalah, dalam belajar aktif anak menjadi problem solver.

Satu Untuk UNM
tinggi untuk mengisi kemampuan kognitif/pengetahuannya yang masih kurang, contoh; anak menanyakan mengapa kita harus sembahyang ibu guru? Tentu guru harus siap untuk menjawabnya, karena jawaban itu merupakan penambahan pengetahuan bagi anak didik. Disamping itu.guru perlu menyiapkan metode bercakap-cakap dalam pembelajaran. 8. Gaya Belajar Anak TK Sebelum anda mempelajari lebih jauh tentang gaya belajar anak usia taman kanakkanak, maka terlebih dahulu akan dijelaskan tetang cara berpikir anak taman kanak-kanak. Menurut Piaget (1973), perkembangan kognitif anak usia TK (5-6 tahun) sedang beralih dari fase Pra Operasional ke fase konkret operasional. Cara berpikir konkret berpijak pada pengalaman akan benda-benda konkret, bukan berdasarkan pengetahuan atau konsepkonsep abstrak. Pada tahap ini anak belajar terbaik melalui kehadiran benda-benda, obyek permanen sudah mulai berkembang. Anak dapat belajar mengingat benda-benda, jumlah dan ciri-cirinya meskipun bendanya sudah tidak berada dihadapnnya. Misalnya, setelah melihat mobil, anak dapat mengingat warnanya, banyaknya ban maupun ciri lainnya secara sederhana. Selain bersifat kokret sebagaimana yang dijelaskan di atas, cara berpikir anak juga bersifat transduktif. Anak menghubungkan benda-benda yang baru dipelajarinya berdasarkan pengalamannya berinteraksi dengan benda-benda sebelumnya. Anak biasanya hanya memperhatikan salah satu ciri benda yang menurutnya paling menarik untuk membuat suatu kesimpulan. Cara pengambilan kesimpulan seperti itu disebut cara berpikir transduktif. Misalnya, anak pernah melihat balon berwarna merah dengan gambar yang menarik, maka ketika ia akan membeli balon, ia akan memilih balon yang berwarna merah. Anak TK juga masih sulit membuat generalisasi atau menarik kesimpulan yang mencakup semua fakta. Sebagai contoh, anak dihadapkan pada satu keranjang buah-buahan yang di dalamnya ada pisang, semangka, salak dan langsat. Kemudian ditanyakan apa isi keranjang tersebut, maka anak akan menjawab dengan menyebutkan satu persatu isi keranjang tersebut, yaitu pisang, langsat, salak dan semangka berturut-turut sesuai apa yang paling digemarinya. Mereka tidak mengambilan kesimpulan bahwa isi keranjang tersebut adalah buah-buahan. Dari cara berpikir anak TK diatas, hal yang mempengaruhi kagiatan belajar anak juga adalah bergantung pada tipe kecerdasan dan modalitas belajar anak yang berbeda. Sehingga pembelajaran untuk tiap anak juga akan sangat menentukan keberhasilan mereka. Modalitas belajar ialah semua organ indera yang mendukung fungsi belajar anak. Ada anak yang memiliki pendengaran yang tajam, selain itu ada anak yang penglihatannya
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

35

Satu Untuk UNM
awas dan tajam atau perabaannya yang sensitif. Di sisi lain, ada anak yang memiliki perasaan yang peka. Semua modalitas belajar tersebut selanjutnya digunakan untuk belajar. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Lynn O‟Brien terungkap bahwa gaya belajar anak dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu haptik atau kinestetik, visual dan auditorial, seperti gambar di bawah ini: 1) Gaya Belajar Visual Setiap anak memiliki potensi visual sebagai kemampuan untuk melihat dan mengamati suatu benda sehingga memperoleh informasi tentang benda tersebut. Kemampuan visual yang dimiliki anak meliputi: visual attention, visual recognition,

visuospatial,visul for action action for visual dan visual imajinasi.
Visual attention adalah kemampuan mata mengamati sesuatu.visual recognition merupakan kemampuan untuk mengenali bentuk,warna dan jumlah. Visuospatial adalah kemampuan vital yaitu kemampuan mata mengingat letak suatu bneda atau terhadap laianya (anggota tubuh). Visual for action berupa kemampuanmata untuk melihat benda yang bergerak dan action for visual adalah kemampuan mata untuk mengikuti benda yang bergerak. Anak yang gaya belajarnya bersifat visual, memanfaatkan potensi visual tersebut secara maksimal dalam kegiatan belajarnya. Pada saat anak bermain matanya lebih banyak dimanfaatkan untuk mengamati benda, gambar atau smbol yang ada di sekitarnya sehingga ia lebih mudah memperoleh informasi dari hasil pengamatannya tersebut. Anak yang bergaya belajar visual akan lebih cepat mengerti jika dapat melihat langsung benda yang dijelaskan oleh guru, ataupun gambar-gambar serta dengan cara membaca (meskipun pada anak TK, membaca bukan sebagai kegiatan utama). Anak yang langgam belajarnya secara visual akan sangat mudah diperkenalkan sesuatu melalui simbol atau gambar-gambar. Anak dengan gaya belajar visual mudah diketahui dengan ciri-ciri senang mengamati sesuatu, berminat terhadap gambar dan simbol. Jika anak didik anda memiliki ciri tersebut maka anda dapat memilih strategi pembelajaran yang mengundang perhatian anak melalui gambar-gambar atau simbol yang menarik sehingga anak dengan mudah mengenal dan mengingat sesuatu sekaitan dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan. Berikut ini strategi yang dapat dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran terhadap anak yang berlanggam belajar visual. Siapkanlah gambar-gambar seri yang menarik untuk mintalah anak untuk mengamati lalu menceritakan gambar yang telah diamati. Untuk mengajarkan anak pengenalan konsep
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

36

Satu Untuk UNM
bilangan, anda dapat menggunakan simbol-simbol yang menarik yang menggambarkan keterkaitannya dengan bilangan, mintalalah anak untuk mengamati sehingga anak mampu mengenal dan mengingat bilangan-bilangan yang dimaksud. Demikian pula terhadap kegiatan membaca permulaan, siapkan gambar dan simbol yang melambangkan huruf atau kata yang dihadapi anak, sehinga anak lebih mudah mengenal huruf dari kata yang telah dikenalnya 2) Gaya belajar auditorial Gaya belajar auditorial adalah gaya belajar pada anak, dimana anak lebih senang belajar dengan mendengar suara atau musik. Pada anak dengan gaya belajar ini, sangat aktif dan mudah memperoleh informasi melalui indra pendengarannya. Jika guru melihat ciri tersebut pada anak, maka anak dapat diajak belajar dengan cara bernyanyi atau mendengarkan musik yang berkaitan dengan tema. Oleh sebab itu anda diharapkan lebih kreatif untuk menciptakan lagu atau mampu memilih lagu yang menarik bagi anak yang berhubungan dengan tema pembelajaran. 3) Gaya belajar kinestetik Anak yang memiliki gaya belajar kinestetik, akan belajar secara optimal dengan cara menyentuh, membongkar-pasang dan melakukan sendiri (Lerning by doing). Sebagai seorang guru anda hendaknya mengenal anak didik yang memiliki gaya belajar seperti ini. Sebenarnya sebagian besar anak didik kita memiliki gaya belajar seperti ini. Oleh sebab itu pendidik harus mampu melibatkan anak didiknya semaksimal mungkin dalam kegiatan pembelajaran. Anak yang bertipe kinestetik adalah anak yang indra perabanya sangat peka. Ciri yang nampak pada anak yang gaya belajarnya bersifat kinestetik adalah perilaku anak yang selalu ingin mencoba sesuatu. Anak ini cenderung kelihatan agresif, dan senantiasa membongkar mainan yang dimilikinya. Bila melihat mainan, anak tersebut tidak tahan hanya dengan memandang atau mengamatinya saja, akan tetapi akan segera membongkar mainan tersebut seperti mencari sesuatu. Kemudian berusaha memasang kembali. Anak demikian juga senantiasa bergerak untuk menjangkau sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia tidak bisa diam hanya memandang mainan tersebut. Guru yang menemukan anak dengan gaya belajar kinaestetik hendaknya dapat memilih teknik untuk dapat mengoptimalkan kemampuan anak didiknya. Hendaknya menyediakan alat bermain yang semakin merangsang anak untuk dapat melakukan kegiatan yang dapat membantu anak menemukan informasi melalui kegiatan langsung oleh anak. Misalnya menyiapkan berbagai macam puzzel sesuai dengan tema. Mengajak anak untuk bermain pembangunan, melakukan berbagai kegiatan eksperimen yang dapat melibatkan anak secara langsung.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 37

Satu Untuk UNM
4) Gaya belajar campuran Sebenarnya hampir semua anak didik (TK) memiliki gaya belajar campuran, sangat sedikit anak yang memiliki hanya satu gaya belajar. Gaya belajar campuran adalah gaya belajar dimana anak kadang bertipe auditorial sekaligus visual dan atau juga kinestetik, atau hanya kinestetik dan visual. Ketika anak melakukan kegiatan main, semua alat indra dan kinestetiknya akan dimanfaatkan secara maksimal. Itulah sebabnya bermain merupakan kegiatan yang paling tepat diberikan pada anak usia dini, karena di samping menyenangkan buat anak, juga akan memaksimalkan pengindraan dan kinestetik anak, sehingga mampu memberikan informasi pengetahuan sebanyak-banyaknya pada anak. Ketika anak bermain lompat tali maka otomatis kinestetiknya akan berkembang, anak juga akan mengamati bunyi yang ditimbulkan oleh lompatan kaki, anak akan berusaha menghitung berapa kali mereka melompat dan melihat/mengamati gerak tali atau kesalahan yang dilakukan temannya. Kegiatan gerak, mendengar dan mengamati tersebut merupakan berbagai kegiatan belajar yang melibatkan seluruh alat indra anak. Berbagai informasi yang diperoleh mengenai gaya belajar ini memberikan sumbangan besar khususnya bagi Guru dalam menyajikan kegiatan pembelajaran misalnya mengenai alokasi waktu, pemilihan metode pembelajaran dan lain sebagainya. 9. Manfaat dan Pengaruh Lingkungan Terhadap Perkembangan Anak Anak membangun konsep-konsep melalui berbagai kegiatan sehari-hari yang ia lakukan. Anak-anak sering mendengar dan mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan berbagai hal di lingkungan sekitarnya baik dari orang tua, guru dan juga sesamanya. Pada umumnya anak mendengar dan mengucapkan terlebih dahulu berbagai konsep baru kemudian seiring dengan meningkatnya usia dan kemampuan berpikirnya, ia mulai memahami konsep-konsep tersebut dengan lebih mendalam (Fromboluti dan Rick,1999). Lingkungan alamiah dimana anak berada sangat membantu perkembangan anak, baik sosial emosional, moral, kognitif, motorik maupun bahasa anak. Di pedesaan misalnya, keadaan fisik perumahan, tanaman,pepohonan, sungai yang mengalir dan keadaan tanah berbeda dan unik, sehingga proses pengembangan diri anak juga berbeda. Contoh lain susunan pagar di suatu bagian pedesaan. Perbedaan apa yang terlihat antara pagar rumah di desa dan di kota? Apakah pagarnya terbuat dari besi, tembok atau tanaman? Bila dari tanaman, jenis tanaman apakah yang dibuat pagar? Dan sebagainya. Anak bermain petak umpet. Ada yang berusaha menerobos di bawah pagar, yang memberi peluang pada nak untuk meayap. Pada saat hujan anak kadang bermain hujanPendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

38

Satu Untuk UNM
hujanan, pada saat itulah anak juga belajar tentang konsep air. Anak desa dengan bebas memanjat pohon-pohon yang ada di sekitar mereka, bermain tanah, bermain pelepah pisang di saluran irigasi dan sebagainya yang menambah wawasan tentang lingkungan alamnya. Tetapi untuk pengembangan motorik halus mereka sangat sedikit yang bisa di lakukan, pensil dan krayon masih sulit disediakan oleh orang tua mereka. Sementara anak di kota dengan fasilitas buatan yang lengkap, anak di bawa ke mall. Anak banyak belajar dan bermain di tempat-tempat mandi bola sehingga terlatihlah fisik motorik mereka, meskipun dengan keterbatasan waktu, dan tidak semua orang tua mampu memfasilitasi anak mereka. Akan tetapi untuk pengembangan otorik halus, di kota mudah disiapkan oleh orang tua mereka, pensil dan krayon mudah di dapatkan dengan harga terjangkau. Pengembangan kognitif anak misalnya juga dibentuk melalui pengalaman langsung (hands on experiences) yang dapat dilakukan anak pada berbagai percobaan atau penemuan. Kognitif anak dapat pula dikembangkan melalui berbagai kegiatan bermain misalnya bermain pasir, bermain air, bermain puzzle, bermain balok, bermain masakmasakan. Melalui berbagai kegiatan ini, secara tidak langsung anak belajar tentang konsep ukuran, bilangan , warna, bentuk dan lain sebagainya. Anak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membangun kognisi dalam dirinya, karena pengembangan kognitif memerlukan kemampuan untuk berpikir abstrak. Kemampuan anak untuk berpikir abstrak masih belum sempurna dan akan terus berkembang seiring dengan tingkat usianya. Guru yang kreatif adalah guru yang mampu menghadirkan lingkungan sekitar anak ke dalam kelas. Pembelajaran yang dilakukan di desa berbeda dengan pembelajaran di kota. Konsep alam sekitar anak di desa telah dipahami betul oleh anak, tapi mereka perlu diberi latihan agar apa yang diperoleh dari lingkungannya dapat bermanfaat bagi mereka untuk setiap aspek perkembangannya. Sementara anak kota, dengan keterbatasan ligkungan main, perlu ditambahkan konsep alamiah sehingga mereka bisa lebih dekat dengan alamnya. Adapun tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget (Hadis, 1996:47) antara lain: (1) sensorimotorik (0-2 tahun), (2) praoperasional (2-7 tahun), (3) operasional kongkrit (712 tahun), dan (4) opersional formal (12 tahun ke atas). Menurut pendapat tersebut, pada tahap sensorimotorik (0-2 tahun), anak memperoleh pengalaman melalui berbagai kontak fisik dan eksplorasi terhadap lingkungannya. Ia memahami konsep tentang ruang melalui proses merangkak mengelilingi ruangan, konsep tentang warna dengan melihat dan membandingkan warna-warna yang ada pada benda, konsep bulat dengan menyentuh bola dan alat mainan lainnya.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 39

Satu Untuk UNM
Pada tahap Praoperasional (2-7) tahun, anak sudah mampu menggunakan simbolsimbol dalam pikirannya untuk merepresentasikan benda-benda atau kejadian. Anak mampu mengklasifikasikan menurut tanda tertentu misalnya mengelompokkan semua balok berwarna merah tanpa memperhatikan bentuknya atau semua balok persegi tanpa memperhatikan warnanya (Atkinson, 1994). Kemampuan mengklasifikasikan benda pada tahapan praoperasional masih bersifat sederhana, pada saat ini anak hanya mampu mengikuti satu sampai dengan dua aturan pengklasifikasian. Lebih lanjut Santrock (1995) menegaskan, pada tahapan praoperasional, anak belum mampu memahami peraturan tertentu atau operasi. Pada tahap ini anak belum mampu berfikir secara operasional. Operasi merupakan perangkat tindakan terinternalisasi yang memungkinkan anak melakukan secara mental apa yang dilakukan secara fisik sebelumnya. Tahap praoperasional dibagi menjadi dua subtahap yaitu subtahap fungsi simbolis (Symbolic

function substage) dan subtahap pemikiran intuitif (intuitive thought substage).
Subtahap fungsi simbolis berlangsung antara usia 2 – 4 tahun, dimana anak mampu membayangkan secara mental obyek yang tidak ada. Ciri-ciri berpikir tahap ini adalah anak bersifat egosentrisme dan animisme. Egosentrisme adalah ketidakmampuan untuk membedakan antara perspektif dirinya dengan orang lain. Sedangkan animisme adalah suatu keyakinan bahwa obyek yang tidak bergerak memiliki kualitas “semacam kehidupan dan dapat bertindak. Subtahap pemikiran intuitif berlangsung antara usia 4 – 7 tahun. Pada subtahap ini anak-anak memulai penalaran primitif dan ingin tahu jawaban atas semua bentuk pertanyaan. Anak-anak mengetahui tentang sesuatu, tetapi pengetahuan mereka tidak didasarkan atas pemikiran yang rasional. Karakteristik yang menonjol pada masa ini adalah

centration yaitu memusatkan perhatian terhadap satu karakteristik dan mengesampingkan
semua karakteristik yang lain. ciri lainnya adalah konservasi yaitu keyakinan akan keabadian atribut obyek atau situasi tertentu terlepas dari perubahan yang bersifat dangkal. Pada tahapan operasional konkrit (7-12 tahun) anak sudah mampu berpikir logis mengenai obyek dan kejadian, menguasai konservasi jumlah (usia 7 tahun), jumlah tak terbatas dan berat (usia 9 tahun), menghasilkan obyek menurut beberapa tanda dan mampu menyusunnya dalam beberapa seri berdasarkan satu dimensi. Berk (2006), menegaskan bahwa anak yang berada pada tahapan operasional konkrit sudah mulai mampu menerapkan logika untuk memahami persepsi-persepsi. Meskipun demikian, anak yang kurang memperoleh stimulasi yang baik dari lingkungan masih sering meninggalkan karakteristik berpikir pada tahap sebelumnya. Mereka masih berada pada masa transisi antara kemampuan berpikir tahap praoperasional dan operasional konkrit.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 40

Satu Untuk UNM
Hal ini ditegaskan oleh Copley (2000) dan Wortham (2006:350), bahwa antara usia 5-8 tahun, kemampuan berfikir anak bergerak dari tahap praoperasinal menuju operasional konkrit atau disebut dengan masa transisi. Kemampuan berfikir anak, bergerak dari kemampuan berfikir yang didomonasi oleh persepsi visual menuju kemampuan berfikir logis. Hal ini mendorong anak untuk menggunakan skema mental dalam menyelesaikan berbagai operasi melalui benda-benda konkrit. Meskipun anak membutuhkan berbagai benda konkrit untuk memahami konsep-konsep baru, tidak jarang ia menghabiskan waktu yang lama hanya untuk memanipulasi suatu benda. Skema mental dapat juga digunakan untuk mengklasifikasikan, melakukan seriasi (menyusun benda berdasarkan urutan tertentu), menghitung dan fungsi lainnya. Tahap operasional formal (12 tahun keatas), merupakan tahap terakhir dalam perkembangan berpikir manusia. Pada tahapan ini anak mampu berpikir logis, abstrak pleksibel dan hipotetikal. Mereka sudah mampu menghadapi berbagai permasalahan dan berpikir bagaimana cara menyelesaikannya (Hadis, 1996:47). Kemampuan berpikir pada tahap operasional formal hampir menyerupai kemampuan berpikir orang dewasa, namun masih perlu dikembangkan agar kemampuan berpikir semakin matang dan dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang ditemui dalam kegidupan sehari-hari. Berdasarkan tahapan kognitif tersebut maka anak usia 5-6 tahun berada pada tahap peralihan antara kemampuan berpikir praoperasional dan operasional konkrit. Sebagian anak kurang memperoleh stimulasi lingkungan masih meninggalkan ciri-ciri berpikir pada tahap praoperasional. Oleh sebab itu kegiatan pembelajaran harus dilakukan sesuai karakteristik dan ciri-ciri berpikir pada tahap ini. Bruner (1966) mengungkapkan bahwa dalam kegiatan pembelajaran anak sebaiknya diberikan kesempatan untuk memanipulasi benda-benda atau alat peraga, sehingga anak dapat melihat langsung bagaimana keteraturan serta pola-pola yang terdapat pada benda yang sedang diperhatikannya. Perkembangan pemahaman konsep dilakukan anak melalui tiga tahapan yaitu: (1) tahap enaktif, (2) tahap ikonik, (3) tahap simbolik. Berdasarkan pendapat tersebut, pada tahap enaktif anak secara langsung terlibat dalam memanipulasi obyek. Pada tahap ikonik, kegiatan yang dilakukan anak berhubungan dengan mental, yang merupakan gambaran dari obyek-obyek yang dimanipulasinya. Anak tidak langsung memanipulasi obyek seperti pada tahap pertama. Pada tahap simbolik, anak memanipulasi simbol-simbol atau lambang-lambang tertentu. Anak tidak lagi terikat dengan obyek-obyek pada tahap sebelumnya. Pendapat lain dikemukakan Dienes sebagaimana dikutip Reys et. al. (1998:20), anak melalui lima tahapan pemahaman dalam mempelajari konsep yaitu: (1) permainan bebas
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 41

Satu Untuk UNM
(free play), (2) generalisasi (generalization), (3) representasi (representation), (4)
simbolisasi (simbolization), dan (5) formalisasi (formalization). Menurut pendapat ini, pada tahap permainan bebas (free play), anak belajar konsep yang aktivitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. Melalui aktivitas ini memungkinkan anak mengadakan percobaan dan memanipulasi benda-benda kongkrit dan abstrak dari unsur-unsur yang sedang dipelajari. Pada tahap generalisasi (generalization), anak mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu, mencari kesamaan sifat dalamsuatu pemahaman. Pada tahap representasi (representation), anak berusaha mencari kesamaan sifat dari beberapasituasi yang sejenis. Anak menentukan representasi dari konsep-konsep secara abstrak kemudian menyimpulkan. Pada tahap simbolisasi (simbolization), anak harus mampu merumuskan representasi dario setiap konsep dengan simbol sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut. Guru perlu memahami berbagai perkembangan konsep yang terjadi dalam diri seorang anak, sehingga ia mampu merencanakan dan menyelenggarakan kegiatan pembelajaran secara tepat sesuai dengan karakteristik berpikir dan belajar anak usia dini. Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan berbagai jenis pengalaman belajar yang dapat memenuhi tujuan-tujuan program pembelajaran yang berkualitas. Guru harus mampu merancang pembelajaran yang dapat mendorong atau melalui perumusan verbal. Pada tahap formalisasi (formalization, anak dituntut untuk mengurutkan

pencapaian kompetensi sebagaimana direkomendasikan oleh NCTM (2003). Pada saat proses pembelajaran berlangsung, guru hendaknya mampu memodifikasi berbagai tingkah laku yang ditampilkan anak saat pembelajaran. Proses modifikasi tingkah laku merupakan hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini sangat membantu keberhasilan program pembelajaran yang telah direncanakan. Proses untuk memodifikasi berbagai tingkah laku anak dapat dilakukan melalui pemberian stimulus, penguatan/imbalan (reinforcement) dan hukuman (punishment). Proses pembelajaran yang terjadi melalui interaksi sosial antara pendidik dan anak didik memiliki peranan penting dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap , karena melalui interaksi sosial tersebut anak akan memperoleh model yang tepat (modelling) dan mampu meniru perilaku yang ditampilkan (imitating). Anak belajar melalui proses interaksi sosial yang terjadi pada saat pembelajaran. Hal inilah yang akan membangun citra positif anak terhadap setiap tema dalam pembelajaran .

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

42

Satu Untuk UNM
Rangkuman Perkembangan setiap anak berbeda-beda baik dalam kualitas maupun tempo perkembangannya. berkesinambungan. yang lainnya. Guru berada dalam lingkungan yang dekat,- Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang guru cukup besar pengaruhnya dalam pembentukan patokan-patokan hidup, sikap-sikap dan tingkah-laku yang dicita-citakan. Sepanjang masa anak sekolah, maka anak menganggap guru sebagai sumber kepandaian, dan anak cenderung untuk meniru tingkahlaku guru. Anak juga peka terhadap sifat-sifat dan tingkah-laku yang diperlihatkan guru, misalnya kejujuran, keadilan, penghargaan terhadap usaha, simpati, pengertian, kesanggupan menerangkan dan sikap mengharap tingkahlaku kooperatif dan terkendalikan dari para murid. Makanan yang bergizi dengan tingkat kebersihan yang terjamin akan mendukung anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap-tahap perkembangan tertentu. Selain itu, untuk memelihara kesehatan anak, orangtua harus mengetahui jenis-jenis makanan yang mengandung gizi yang sesuai dengan tingkat kebutuhan anak. Sebaliknya orangtua dan pengasuh yang tidak atau kurang memperhatikan kebutuhan gizi anak dapat menyebabkan anak akan mengalami gangguan dalam perkembangan fisik karena sering sakit-sakitan dan tidak dapat melakukan aktivitas seperti anak yang sehat pada umumnya. Dalam upaya memelihara kesehatan anak yang optimal, juga sangat dibutuhkan lingkungan tempat tinggal dengan air dan sanitasi memadai serta udara yang segar untuk dihirupnya setiap hari. Soal 1. 2. 3. 4. 5. Bagamana cara anda mengatasi anak yang cengeng ditinjau dari karakteristik anak, padahal anak tersebut telah memasuki kelompok B ? Sebagai seorang guru apa yang anda lakukan agar anak dapat berkembang secara sempurna, sesuai dengan tugas tugas perkembangan anak? Jika anak kurang termotivasi dalam belajar, apa yang anda lakukan sebagai guru dalam menangani anak tersebut? Jika anak menggambar secara berulang-ulang, apakah berarti anak minat menggambar ataukah hanya kesenangan? Mengapa seorang guru perlu memahami potensi /kemampuan anak didiknya?
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 43

Perkembangan Setiap aspek

anak

bersifat

progresif,

sistematis

dan

perkembangan saling berkaitan satu sama lain,

terhambatnya satu aspek perkembangan tertentu akan mempengaruhi aspek perkembangan

Satu Untuk UNM
6. 7. 8. 9. Bagaimana caranya memahami potensi /kemampuan anak didik? Jelaskan taraf berpikir anak TK adalah pada taraf praoperasional? Mengapa anak usia TK selalu bertanya kepada guru /orangtuanya? Bagaimana perkembangan perilaku moral, sosial dan emosional anak TK? apakah anak tersebut dan bagaimana cara membelajarkan anak tersebut.

10. Jika anda melihat anak didik anda sangat senang mengamati sesuatu, gaya belajar

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

44

Satu Untuk UNM
Kegiatan Belajar II Merancang Kegiatan Belajar yang Mendidik 1. Konsep Dasar Pendidikan Anak TK Sebagai guru TK anda pasti telah tahu bahwa bagi seorang anak, bermain adalah kegiatan yang mereka lakukan sepanjang hari, karena bagi anak bermain adalah hidup mereka. Anak TK tidak membedakan antara bermain, belajar dan bekerja. Bermain adalah kegiatan yang dilakukan secara berulang dan menimbulkan kesenangan/kepuasan bagi diri seseorang (Piaget dalam Mayesty: 1990). Sedangkan menurut Parten kegiatan bermain sebagai sarana sosialisasi, diharapkan dapat memberi kesempatan pada anak untuk bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi dan belajar secara menyenangkan.(Sudjiono, 2009: 134). Berhubungan dengan pembelajaran, Vygotsky (Naughton, 2003:52) berpendapat bahwa bermain dapat menciptakan suatu zona perkembangan proximal pada anak, dalam bermain, anak selalu berperilaku di atas usia rata-ratanya, di atas perilakunya sehari-hari, dalam bermain anak dianggap „lebih‟ dari dirinya sendiri. Setelah anda mengetahui pentingya bermain bagi anak usia dini, Bagaimanakah pembelajaran bagi anak didik di TK? Tujuan pembelajaran yang utama pada anak usia dini (TK) adalah untuk mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh serta terjadinya komunikasi interaktif. Kurikulum bagi anak usia dini haruslah memfokuskan pada perkembangan yang optimal pada anak melalui lingkungan sekitarnya yang dapat menggali berbagai potensi tersebut melalui permainan serta hubungan dengan orang tua atau orang dewasa sekitarnya. Oleh sebab ituu kelas-kelas bagi anak usia dini merupakan kelas yang mampu menciptakan suasana yang kreatif dan penuh kegembiraan bagi anak. Tujuan program pembelajaran adalah membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan kreativitas yang diperlukan oleh anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan pada tahap berikutnya. Oleh sebab itu maka strategi pembelajaran bagi anak usia dini berorientasi pada: (1) tujuan yang mengarah pada tugas-tugas perkembangan disetiap rentang usia nak;(2) materi yang diberikan harus mengacu dan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan yang sesuai dengan taraf perkembangan anak;(3)metode yang dipilih hendaknya bervariasi serta menyenangkan;(4) media dan lingkungan bermain yang digunakan haruslah aman, nyaman dan menimbulkan ketertarikan bagi anak dan perlu adanya waktu yang cukup untuk

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

45

Satu Untuk UNM
bereksplorasi. Evaluasi yang terbaik dan dianjurkan untuk dilakukan adalah rangkaian sebuah assesment melalui sebuah observasi partsipatif terhadap segala sesuatu yang dilihat. Proses pembelajaran yang dilaksanakan guru perlu juga mempertimbangkan prinsipprinsip pembelajaran untuk anak usia dini. Reys, 1998:22) mengemukakan beberapa prinsip pembelajaran, diantaranya: (1) melibatkan keaktifan anak, (2) disesuaikan dengan karekteristik perkembangan anak, (3) merupakan kegiatan yang berkesinambungan, (4) mampu mengembangkan kemampuan berbahasa yang bersifat integral (5) Guru harus mampu menyajikan pertanyaan-pertanyaan yang baik yang dapat memfasilitasi kegiatan belajar dan mampu menstimulasi proses berpikir anak, (6) anak diberi kesempatan untuk memanipulasi alat peraga, (7) harus mampu mengembangkan kemampuan metakognisi berhubungan dengan kemampuan seorang anak untuk mengetahui tentang kelemahan dan kekuatan yang dimiliki oleh dirinya, sehingga ia dapat menggunakannya dalam kegiatan belajar. Anak mengatahui dan meyakini kemampuan yang dimilikinya sebagai seorang pembelajar, sehingga ia berusaha menyesuaikan diri, mengontrol kemampuannya dan menemukan gaya belajar yang sesuai bagi dirinya, (8) guru merupakan model dalam proses pembelajaran, sehingga seluruh perilaku yang ditampilkan guru dapat mempengaruhi kemampuan belajar anak, (9) materi yang diajarkan tanpa melalui tahapan pembelajaran yang tepat akan menimbulkan kecemasan terhadap anak itu sendiri (mathophobia), (10) adanya keseimbangan perlakuan anak laki-laki dan perempuan dalam proses pembelajaran, (11) kegiatan pembelajaran harus mampu meningkatkan keterampilan dalam mengingat. Prinsip pembelajaran merupakan hal yang penting yang harus diperhatikan oleh guru dalam setiap kegiatan pembelajaran agar penyampaian materi pembelajaran sesuai dengan karakteristik perkembangan anak. Kegiatan pembelajaran hendaknya tidak menimbulkan kecemasan (stress) bagi anak. Lebih lanjut Reys, et al. (1998:22) menyebutkan beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam mengantisipasi kecemasan anak terhadap pembelajaran adalah sebagai berikut ; (1) pembelajaran hendaknya lebih menekankan pada makna dan pemahaman dari pada mengingat fakta, janganlah memaksakan anak menghafal materi atau fakta yang telah diajarkan; (2) guru hendaknya lebih memilih strategi pembelajaran dengan menggunakan teknik

problem-solving

dari

pada

menyajikan

materi

dan

cara

penyelesaiannya, misalnya nada mengajarkan tema “kebutuhanku”, janganlah anda menjelaskan satu persatu kebutuhan anak, tapi tantanglah anak dengan meminta nak mencari atau menunjukkan apa yang dia butuhkan pda saatakan berngkat sekolah, pulang sekolah atau pada saat ia lapar. (3) sajikan kegiatan pembelajaran melalui pengalaman yang menarik dan menantang, (4) bantu anak untuk menghargai dan memahami bahwa itu penting dan memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, (5) doronglah anak
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 46

Satu Untuk UNM
untuk mengemukakan kesan dan perasaannya terhadap tema pembelajaran, (6) peliharalah perilaku positif yang di tampilkan anak terhadap pembelajaran, dengan jalan memberikan penguatan-penguatan baik berupa pujian atau simbol-simbol yang menyenangkan buat anak; (7) lakukanlah berbagai latihan di kelas secara hati-hati karena beberapa anak yang senang dengan kompetisi namun tidak sedikit yang merasa tertekan (stress), dan (8) lakukanlah diagnosis terhadap anak yang mengalami kesulitan terhadap pembelajaran. Apabila guru melaksanakan hal tersebut di atas maka tidak akan ada anak yang merasa takut dengan kegiatan pembelajaran dan mereka akan antusias mengikutinya. Kegiatan pembelajaran selain melatih kemampuan berfikir logis dan abstrak, juga harus mampu melatih daya ingat anak. Beberapa kiat yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mengingat adalah sebagai berikut: (1) pembelajaran harus bermakna bagi anak ,(2) kegiatan pembelajaran harus mampu menghubungkan antara berbagai pengetahuan yang telah dimiliki anak dengan berbagai topik yang diajarkan dalam tema-tema pembelajaran. 2. Teori-teori belajar dan Penerapannya dalam Kegiatan Belajar Melalui Bermain di TK Untuk dapat memahami model pembelajaran yang tepat untuk anak usia dini, berikut disajikan teori pembelajaran dari beberapa ahli: 1. Teori behavioris, berdasarakan penelitian Pavlov dalam mengamati perilku hewan, bahwa jika hewan diberi stimulus tertentu, maka menimbulkan respons yang tertentu sesuai dengan stimulasi yang diberikan. Skinner mengemukakan bahwa seluruh perilaku manusia dapat dijelaskan atau diamati sebagai respons yang terbentuk dari berbagai stimulus yang pernah diterimanya dari lingkungannya. 2. Teori perkembangan, para ahli psikologi perkembangan melihat bahwa anak meiliki motivasi diri yang dilimilikinya sejak lahir untuk menjadi mampu. Motivasi berkemampuan inilah yang kemudian dipandang oleh para ahli psikologi sebagai dasar untuk mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada anak dengan menghargai seluruh proses perkembangan yang dimiliki oleh anak dan berkembang sesuai dengan ritme yang dimiliki masing-masing anak, dengan menciptakan lingkungan dan menyediakan peralatan yang menyediakan kesempatan pada anak untuk belajar dan berkembang. Dari kedua teori di atas, nampak bahwa ada dua model pembelajaran yang dapat diberikan guru. Teori pertama mengarahkan guru untuk menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada guru. Guru hendaknya mampu memberikan stimulus yang baik pada

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

47

Satu Untuk UNM
anak, untuk membentuk dan mengembangkan perilaku anak. Gaya mengajar, metode serta materi yang diberikan oleh guru sangat menentukan respon anak selanjutnya. Sementara teori kedua mengarahkan guru untuk mengembangkan model pembelajaran yang berpusat pada anak. Materi, metode dan media yang disediakan oleh guru hendaknya berpusat pada karakteristik, kebutuhan dan ritme perkembangan anak. Janganlah guru memaksakan anak untuk belajar membaca dan menulis hanya karena tuntutan orang tua yang menginginkan anak mereka segera pintar baca tulis. Jika guru menginginkan anak didik mereka untuk belajar baca tulis, kembangkanlah jenis-jenis serta alat permainan yang mengundang anak bermain sekaligus melalui permainan tersebut anak belajar baca tulis. Janganlah memaksa anak belajar dengan memberikan Pekerjaan Rumah (PR). Secara operasional, berikut beberapa contoh model pembelajaran yang dapat diberikan pada anak. 1) Model Pembelajaran bermain Kreatif Pada model pembelajaran bermain kreatif, kegiatan pembelajaran berbasis pengembangan kecerdasan jamak (multiple intellegence) pada anak yang berbasis pada tema. Bermain kreatif dalah kegiatan bermain yang memberikan kebebasan pada anak untuk berimajinasi, bereksplorasi dan menciptakan suatu bentuk kreativitas yang unik. Contoh: Tema Sub Tema : Aku dan Keluargaku : Anggot keluarga dan tugas-tugasnya

Alokasi waktu: 08.30-10.20 Pembukaan: jurnal Pagi: o Salam pagi hari o Ikrar & berdoa bersedia. o Jurnal pagi : menanyakan situasi dan kondisi anak pagi hari ini, membicarakan kegiatan kemarin dan kegiatan yang akan dilakukan hari ini. Kegiatan inti: ASPEK PENGEMBANGAN DAN INDIKATOR
Dapat melakukan gerakan bebas mengikuti irma lagu

: menyambut kedatangan anak dengan kehangatan dan cinta : anak bersama guru, boleh dipimpin oleh salah satu anak yang

STRATEGI PENGEMBANGAN Materi
Gerak senam sederhana

Metode
Praktik langsung Out door

Media
Tape Recorder Kaset

Pengalaman belajar & urutan kegiatan
- Guru mengajak anak ke halaman dan membuat lingkaran

Assesmen Perkembangan Anak
Lisan Perbuatan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

48

Satu Untuk UNM
Lagu “oh ibu dan Ayah” Guru mengadakan pemanasan Anak bersama guru mulai melakukan gerak-an bebas seirama dengan lagu “Oh Ibu dan Ayah” Gerakan Pendinginan Dapat menjawab pertanyaan tentang terbiasa berbagi dengan anggota keluarga Dapat menjawab pertanyaan sederhana tentang tugas anggota keluarga Berbagi dengan anggota keluarga Bercerita Bercakap -cakap Flanel anggota keluarga Istirahat sejenak Kegiatan ini tergintegrasi antara kegiatan di rumah dan di sekolah: -Guru mengatur posisi duduk anak (Melingkar, dsb.) -Guru mulai bercerita tentang anggota keluarga dan tugasnya Diselingi dengan kegiatan bercakapcakap antara anak dan guru serta anak dengan anak lainnya - Guru menghubungkan antara tugas anak di rumah dengan di sekolah Guru memperlihatkan boneka anggota keluarga Anak diminta untuk diminta mengamati dan mengurutkan mulai dari ukuran tubuh yg terbesar sampai yang terkecil dgn bergantian. Dilanjutkan dengan berdoa, kegiatan ini berlangsung setelah anak melakukan kegiatan mengukur: - Sikap tubuh, tangan dan mata saat berdoa - Suara berdoa lembut dan jelas - suasan hening sejenak Cairkan beberapa warna cat air dalam piring kemudian celupkan tangan anak pada cat air tersebut Idem Portofolio hasil kerja anak

Tugas anggota Krluarga

Bercakap -cakap

Dapat membedakan ukuran besar dan kecil: Aku, ayah dan ibu serta saudara2.

Ukuran: besar-kecil

Diskusi

Boneka/la minating anggota keluarga

Idem

Dapat mengucapkan doa ”untuk Ibu dan Ayah”

Doa utk ayah ibu dan artinya

Praktik langsung

Dapat menstempel dengan tangan

Stempel tangan

Praktik langsung

Kertas A4 Cat Air Piring cat Krayon/pe

Idem

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

49

Satu Untuk UNM
nsil warna Buat stempel tangan pada kertas A4, guru memberi nama anak di bagian belakang kertas Hias stempel tangan tersebut dengan menggambar sesuai keinginan dan kreasi anak Guru meminta anak untuk berdiri dan membuat setengah lingkaran, posisi anak menghadap guru. Guru mencontohkan cara bertepuk, diikuti semua anak Anak-anak mengulang tepukan tangan, guru boleh meminta beberapa anak yg telah terampil bertepuk untuk memimpin.

Dapat bertepuk tangan mengikuti irama lagu “sayang Ayah dan Ibu”

Bertepuk ikut irama

Praktik langsung

Tangan Anak

Idem

Penutup/jurnal siang: o Jurnal siang: review kegiatan satu hari, umpan balik dan informasi tentang kegiatan besok hari sebagai motivasi bagi anak, pesan moral o Doa pulang dan salam perpisahan

2) Model Pembelajaran Berdasarkan Minat Model ini merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan di TK atau RA. Model pembelajaran ini bermuara dari teori perkembangan yang mengarahkan guru untuk mengadakan pembelajaran yang berpusat pada anak termasuk pada minat-minat anak. Berikut ini disajikan contoh perencanaan model pembelajaran berdasarkan minat: Kelompok Semester/Minggu Tema/Sub Tema Waktu :B : I/I : Diri sendiri/Mengenal Diriku : 7.30-10.15

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

50

Satu Untuk UNM
Indikator 1) Mentaati peraturan yang ada (Pembiasaan perilaku) 2) Menceritakan pengalaman/kejadian secara sederhana dengan urut (Bahasa) 3) Menyebutkan nama diri, nama oran tua, jenis kelamin, alamat rumah dengan lengkap (bahasa) 4) Berjalan maju diatas garis lurus (fisik-motorik) 5) Membilang/menyebut urutan bilangan 1-10 (Kognitif) 6) Mencoba dan mengamati macam-macam rasa (Kognitif) 7) Menggambar bebas dengan berbagai media (kapur tulis, pensil warna, karayon, arang dan bahan alam) dengan rapi (Seni). 8) Menciptakan 3 bentuk bangunan dari balok (seni) 9) Bertepuk tangan dengan 3 pola (seni) Langkah Kegiatan: 1. Kegiatan Awal (Klasikal)   Mengucap salam, bernyanyi dan berdoa (Pembiasaan) Bercerita tentang penglaman (3-4 anak) setiap hari dan 3-4 orang anak menanggapi (bahasa)   2. Membicarakan tema/subtema (bahasa) Melakukan kegiatan fisik motorik, dapat melakukan di luar atau di dalam ruangan

Kegiatan inti (Individual di area)  Sebelum melaksanakan kegiatan inti, guru membicarakan tugas-tugas diarea yang diprogramkan pada hari itu.  Area yang dibuka setiap hari adalah 4-5 sesuai indikator yang dikembangkan  Kegiatan pembelajaran sebagai berikut:  Area Berhitung/matematika Pemberian tugas membilang dan menyebut urutan bilangan 1-5  Area seni/moorik Menggambar bebas dengan krayon  Area IPA Eksperimen membuat teh manis  Area Balok Menciptakan satu bangunan dari balok  Anak dibebaskan untuk memilih area mana yang disukai  Anak dapat berpindah sesuai dengan minatnya tanpa ditentukan oleh guru
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 51

Satu Untuk UNM
 Apabila anak tidak mau melakukan kegiatan di 4-5 area yang diprogramkan, maka guru diharuskan untuk memotivasi anak agar mau melakukan kegiatan  Bagi area yang membutuhkan pemahaman atau membahayakan, jumlah anak dapat dibatasi.  Orang tua/kelaurga dapat dilibatkan untuk berpartisipasi 3. Istirahat/Makan bersama Cuci tangan, makan (Berdoa sebelum dan sesudah makan), bermain. 4. Kegiatan akhir (Klasikal)    Bertepuk tangan dengan 3 pola Diskusi tentang kegiatan hari ini dan menginformasikan kegiatan esok hari. Menyanyi, pesan moral, berdoa, pulang

3. MERANCANG KEGIATAN BELAJAR YANG MENDIDIK Merancang kegiatan belajar merupakan tugas yang penting bagi guru karena guru bertanggung jawab agar pembelajaran efektif, memungkinkan anak-anak menguasai pembelajaran menyenangkan. Memilih Strategi Pembelajaran Menurut Moeslichatoen (2000) memilih strategi Yang akan digunakan dalam program kegiatan Belajar di Taman kanak-kanak guru perlu mempunyai alasan yang kuat dan faktor-faktor yang mendukung pemilihan strategi seperti karakteristik tujuan kegiatan dan karakteristik anak yang diajar, tema. a. Karakteristik tujuan Pembelajaran Yang dimaksud dengan karakteristfik tujuan adalah pengembangan kemampuan dasar dan perilaku. Adapun kemampuan dasar terdiri dari pengembangan kemampuan kognitif, pengembangan kreativitas, pengembangan bahasa, pengembangan emosi, pengembangan motorik, dan pengembangan perilaku terdiri dari : perilaku moral, disiplin, emosional, agama, dan kemamdirian. Untuk mengembangkan kemampuan kognisi anak dapat dipergunakan strategi yang mampu menggerakkan anak agar menumbuhkan berpikir, menalar, mampu menarik kesimpulan dan membuat generalisasi. Caranya adalah dengan memahami lingkungan di sekitarnya, mengenal orang dan benda-benda yang ada, memahami tubuh dan perasaan mereka sendiri, melatih memahami untuk mengurus diri sendiri. Selain itu melatih anak menggunakan bahasa untuk berhubungan dengan orang lain, dan melakukan apa yang dianggap benar berdasar nilai yang ada dalam masyarakat.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 52

pembelajaran dikatakan efektif bila sikap, dan keterampilan dan

pengetahuan,

Satu Untuk UNM
Guru mengembangkan kreativitas anak, strategi yang dipilih adalah strategi yang dapat menggerakkan anak untuk meningkatkan mengembangkan motivasi rasa ingin tahu dan yang mengmbangkan imajinasi. Dalam kreativitas anak, strategi

dipergunakan mampu menorong anak mencari dan menemukan jawabannya, membuat pertanyaan yang membatu mmecahkan, memikirkan kembali, dan menemukan hubunganhubungan baru. Guru mengembangkan kemampuan bahasa anak dengan menggunakan strategi yang dapat meningkatkan perkembangan kemampuan berbicara, mendengar, membaca dan menulis. Guru memberi kesempatan anak memperoleh pengalaman yang luas dalam mendengarkan dan berbicara. Guru mengembangkan emosi anak dengan menggunakan strategi yang menggerakkan anak untuk mengekspresikan perasaan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan secara verbal dan tepat. b. Karakteristik Anak Didik Pemilihan strategi perlu diperhatikan karakteristik anak didik yaitu anak sellau bergerak, mempunyai rasa ingin tahu kuat, senang bereksperimen, mempunyai imajinasi, senang berbicara, anak tidak dapat disuruh duduk diam selama jam kegiatan karena bagi anak TK duduk diam selama jam kegiatan merupakan pekerjaan yang berat. Oleh karena itu anak membutuhkan dan menuntut untuk bergerak melibatkan koordinasi otot kasar seperti merayap, berjalan, merangkak, berlari, meloncat, menendang, melompat dan melempar. c. Tema Tema merupakan bahan ajar yang disajikan anak. Penggunaan tema dalam pembelajaran di taman kanak-kanak adalah suatu hal yang amat penting karena pembelajaran dengan tema relevan dengan karakteristik perkembangan anak yang bersifat holistik. Melalui tema anak-anak dapat mengembangkan seluruh aspek pengembangannya meliputi perkembangan kognitif, bahasa, fisik, motorik, sosial dan emosi, Tema dipilih harus relevan dengan minat anak dan dikembangkan melalui pengelaman langsung serta dimulai dari lingkungan terdekat. d. Perbandingan berbagai Strategi Pembelajaran di TK Menurut Masitoh (2007) Strategi pembelajaran terdiri dari: kegiatan eksploratori, penemuan terbimbing, pemecahan masalah, bercakap-cakap, belajar kooperatif, demonstrasi, dan pengajaran langsung. Kegiatan Eksplatori Dalam kehidupan sehari-hari anak banyak melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya baik dengan benda, binatang, tanaman, manusia, dan peristiwa /kejadian
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 53

Satu Untuk UNM
.Melalui kegiatan ini anak membangun pengetahuannya sendiri sehingga dapat

mengembangkan kemampuan berpikirnya dari berpikir kongkrit menuju berpikir abstrak. Untuk menghargai kegiatan dan penemuan anak, guru menggunakan strategi reflksi katakata dan refleksi tingkah laku. Penemuan Terbimbing Tujuan dari penemuan terbimbing bagi anak-anak adalah agar anak-anak dapat membuat hubungan dan membangun konsep melalui interaksi dengan benda dan manusia. Peranan guru adalah untuk menyediakan alat dan informasi yang dibutuhkan yang dapat mendukung kemajuan anak melalui pengembangan kemampuan dasar. Kegiatan penemuan terbimbing menggabungkan strategi modelling, penghargaan yang efektif, bercerita, do-itssignal dan pertanyaan. Pemecahan Masalah Melalui strategi pemecahan masalah, anak-anak merencanakan, meramalkan, mengamati hasil tindakan, merumuskan kesimpulan dari hasil-hasil tindakannya. Peran guru dalam hal ini sebagai fasilitator. Penggunaan metode pemecahan masalah bagi anak mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: Langkah pertama, menyadari adanya masalah (memahami, mengamati dan mengidentifikasi). Langkah kedua, Merumuskan hipotesis/dugaan-dugaan sementara (memikirkan alasanalasan yang tepat mengapa sesuatu terjadi, mengumpulkan informasi, membuat perkiraan yang didasarkan pada pengalaman dan meramalkan). Langkah ketiga, Melakukan eksperimen (menguji ide). Langkah keempat, Menggambarkan kesimpulan. Langkah kelima, mengkomunikasikan hasil (mengemukakan apa yang terjadi, mencatat apa yang terjadi, membuat perencanaan untuk ekspeimen selanjutnya dengan suatu hipotesis baru). Bercakap-Cakap Bercakap-cakap adalah salah satu strategi pembelajaran yang menunjukkan interaksi timbal balik antara guru dan anak, guru berbicara kepada anak , anak berbicara kepada guru, anak berbicara kepada anak lainnya. Peran guru mendorong anak mengemukakan gagasannya sendiri, mengkomunikasikan, serta mengembangkan gagasan tersebut secara luas kepada orang lain yaitu teman-teman/gurunya

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

54

Satu Untuk UNM
Belajar Kooperatif Belajar kooperatif adalah sebagai suatu strategi pembelajaran yang melibatkan anak-anak untuk bekerja sama dalam kelompok kecil, anak berpartisipasi dalam tugas-tugas bersama yang telah ditentukan dengan jelas. Belajar kooperatif agak mudah dilaksanakan karena pada masa ini aspek perkembangan sosial anak sedang berkembang dengan pesat , anak senang berteman, bermain bersama dan bekerja dalam kelompok kecil. Peran guru dalam hal ini mendukung anak untuk belajar bersama. Demonstrasi Demostrasi adalah strategi pembelajaran yang dilaksanakan dengan cara memperlihatakan bagaimana proses terjadinya/cara bekerjanya sesuatu tugas-tugas itu dilaksanakan, adapun langkah-langkahnya sebagai berikut; Langkah 1 Meminta perhatian anak Langkah 2. Menunjukkan sesuatu kepada anak Langkah 3. Meminta tanggapan /respons anak terhadap apa yang mereka lihat, dapat berupa kata-kata atau tindakana yang ditunjukkan sesuai petunjuk guru. Pengajaran Langsung Pengajaran langsung/ bercerita, dalam implementasinya pengajaran langsung dapat dikombinasikan dengan strategi yang lainnya, misalnya, untuk mengajarkan cara berbicara melalui telepon, setelah guru memberikan penjelasan singkat kepada anak, kegiatan belajar dapat dilaksanakan melalui praktek lansung yang diberi kesempatan untuk belajar berkomunikasi melalui telepon di area bermain drama.. 4. Strategi Pengembangan Moral, Emosi dan Sosial Perilaku moral adalah perilaku yang sesuai dengan tata cara yang ada di masyarakat. Belajar meresapi nilai-nilai moral kelompok membutuhkan waktu, dan proses belajar dipersulit oleh sejumlah faktor: 1. kebingungan akan memperlambat proses belajar, bila terdapat konflik antara aturan di rumah dan aturan di sekolah. 2. kebingungan yang menyebabkan anak mempertanyakan konsep keadilan, bila ini terjadi.akan melemahkan motivasi anak menerima konsep moral, 3. kebinguingan dalam konsep moral mempengaruhi keputusan moral. Sejak anak pandai berbahasa pada usia 2-3 tahun pendidika moral berlangsung dengan pesat melalui interaksi menerapkan ajaran-ajaran moral seperti tidak boleh berbohong, tidak boleh mengambil barang orang lain, dibiasakan mengucapkan terima kasih pada orang lain bila diberi sesuatu, ini diberikan dengan pelajaran yang cepat dan memberikan contoh kepada anak dalam bentuk perilaku. Selain itu penanaman perilaku moral akan lebih berhasil, perlu diberikan dengan reaksi yang menyenangkan sepeti : pujian, dukungan dan hadiah, sebaliknya pada
55

dan bagaimana

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

Satu Untuk UNM
perbuatan yang tidak baik dihubungkan dengan reaksi yang tidak menyenangkan seperti pengasingan sementara. Dengan demikian lambat laun pada anak akan terbentuk kesadaran bathin atau kata hati. Jadi penilaian baik dan buruk tidak lagi datang dari luar tetapi datang dari dalam dirinya sendiri, anak akan bangga dan bahagia jika melakukan perbuatan baik dan sebaliknya anak akan merasa malu dan bermasalah jika anak melakukan yang kurang baik 5. Strategi Pengembangan Kognitif dan Kreativitas Anak TK Dalam memilih strategi pengembangan kognitif dan kreativitas anak, maka pertama harus dipahami tujuan pengembangan daya pikir dan tujuan pengembangan daya cipta Tujuan pengembangan daya pikir adalah agar anak didik mampu menghubungkan pengetahuan yang sudah diketahui dengan pengetahuan baru yang diperolehnya. Secara rinci dikemukakan sebagai berikut : a. Mengembangkan kemampuan berpikir logis dan pengetahuan akan ruang dan waktu b. Anak didik mampu mengembangkan pengetahuan yang sudah diketahui dengan pengetahuan yang baru diperolehnya. c. Mengembangkan kemampuan memahami sesuatu dengan cara melihat bermacammacam hubungan antar satu obyek dengan obyek lain berdasarkan perbedaan atau persamaan. d. Mengembangkan imaqjinasi melalui bermacam-macam kegiatan e. Memberi kesempatan untuk mengolah lingkungan atau membangun dunia se3cara aktif f. Agar anak dapat menghargai dan mencintai isi alam sebagai ciptaan Tuhan g. Agar anak dapat berpikir secara kreatif. Tujuan pengembangan daya cipta adalah kegiatan untuk membuat anak kreatif yaitu: lancar, fleksibel, dan orisinil dalam bentuk kata-kata, berpikir serta berolah tangan dan berolah tubuh sebagai latihan motorik halus dan motorik kasar. Berdasarkan tujuan pengembangan daya cipta maka dapat dilihat bahwa daya cipta harus ada dalam pengembangan bahasa, daya pikir, keterampilan, dan jasmani. Pengembangan daya cipta diarahkan kepada : a. Pengembangan kemampuan mengelola perolehannya b. Menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan masalah c. Pengembangan imajinasi. Menurut Vigotsky, manusia itu lahir dengan seperangkat fungsi kognitif dasar yakni kemampuan memperhatikan, mengamati dan mengingat ( Dworetzky,1992; 27 )

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

56

Satu Untuk UNM
Jadi pada prinsipnya seseorang memperoleh pengetahuan, menyimpannya, kemudian menggunakannya atau mereproduksikannya, sangat tergantung pada kemampuan berpikir atau kognisinya. Dengan demikian maka strategi yang dapat digunakan adalah : 1. Strategi Bermain 2. Strategi Karya Wisata 3. Bercakap-cakap 4. Demonstrasi 5. Proyek 6. Bercerita 7. Pemberian Tugas Semua strategi tersebut di atas dapat digunakan oleh guru dalam mengembangkan kognitif dan kreativitas anak. Disinilah keterampilan guru sangat dibutuhkan dalam memilih strategi yang tepat sehingga betul-betul anak dapat mengembangkan kognitif dan kreativitasnya. Hal memilih strategi, guru jangan pernah lupa tentang tema dan sub tema yang diajarkan yang tentu berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut . Misalnya menghubungkan konsep bilangan dengan lambang bilangan 1-10, maka strategi yang cocok digunakan adalah pemberian tugas atau praktek langsung . 6. Strategi Pengembangan Seni Anak TK Pengembangan seni anak dapat juga dilakukan dengan berbagai strategi, yang tentu guru diharapkan jangan pernah melupakan tujuan yang akan dicapai dalam pengembangan seni tersebut Adapun strategi yang dimaksud adalah : 1. 2. 3. 4. Strategi menggambar dan melukis Strategi mencoret-coret Strategi menyanyi Strategi membuat karya Misalnya anak diharapkan untuk dapat mengembangkan imajinasi dan mampu mengembangkan ekspresi dirinya maka strategi yang dianggap lebih tepat untuk dipilih digunakan adalah strategi menggambar dan melukis. Disebabkan kegiatan menggambar dan melukis tampaknya yang paling sering dilakukan karena kegiatan ini dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan biaya relative murah. Pada anak, kegiatan menggambar dan melukis tampaknya yang paling sering

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

57

Satu Untuk UNM
dilakukan mengingat kegiatan ini dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan biaya yang relatif murah. 7. Strategi Pengembangan Bahasa Anak TK Pengembangan kemampuan berbahasa merupakan salah satu kemampuan dasar yang dimiliki anak TK. Kemampuan dasar ini merupakan sarana komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan anak untuk menyertakan pikiran dan perasaan kepada orang lain. Maka strategi pengembangan bahasa adalah : 1. Strategi bercerita 2. Strategi permainan bahasa 3. Strategi sandiwara boneka 4. Strategi bercakap-cakap 5. Strategi Tanya jawab 6. Strategi demonstrasi 7. Strategi mengucapkan syair 8. Strategi bermain peran 9. Strategi karya wisata Semua strategi tersebut di atas dapat saja dilakukan dan dipilih dalam untuk mengembangkan bahasa anak, hanya tetap perlu diingat bahwa tema dan sub tema apa yang sedang dilaksanakan oleh guru dalam pembelajaran tersebut, misalnya menumbuhkan rasa sosial anak mengutarakan buah pikirannya tentang sesuatu, maka guru dapat memilih strategi bercakap-cakap sehingga anak dapat mengutarakan informasi, perasaannya dan pendapatnya tentang sesuatu itu. 8. Strategi pengembangan fisik-motorik anakTK Pengembangan fisik-motorik anak adalah merupakan suatu cara yang dapat digunakannya di dalam melakukan gerakan yang bagus, berlari, menari, membangun sesuatu, semua seni dan hasta karya. Maka strategi dalam pengembangan fisik-motorik anak ada beberapa yang dapat digunakan adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Strategi menari Strategi bermain peran Strategi drama Strategi latihan fisik Strategi pantomin Strategi berbagai olah gerak
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

58

Satu Untuk UNM
Pada semua pengembangan yang telah disinggung di atas, juga sama dengan pengembangan fisik dan motorik ini misalnya; anak diharapkan memiliki keseimbangan, keselarasan gerak tubuh, kekuatan dan kelenturan otot, maka strategi menari dapat dipilih sebagai strategi dalam pembelajarannya. C. PENILAIAN HASIL BELAJAR 1. Perencanaan Penilaian Proses Belajar Anak di TK Penilian Proses Belajar Anak TK dapat dilakukan dengan berbagai cara/teknik antara lain. a. Pengamatan (observasi) Pengamatan (observasi) adalah suatu teknik yang dapat dilakukan guru untuk mendapatkan berbagai informasi atau data tentang perkembangan dan permasalahan anak. Melalui pengamatan, guru dapat mengetahui bagaimana perubahan yang terjadi pada anak dalam satu waktu tertentu. Observasi dilakukan dengan cara mengamati berbagai perilaku atau perubahan yang terjadi (nampak) yang ditunjukkan anak selama kurun waktu tertentu. Teknik ini dilakukan hanya dengan cara mengamati dan tidak melakukan percakapan (wawancara) dengan anak yang sedang diamati. Anak seringkali menunjukkan perubahan perilaku yang tiba-tiba. Misalnya, ketika masuk ke dalam kelas anak menunjukkan sikap yang tenang dan menyenangkan, tetapi beberapa waktu kemudian berubah menjadi pemurung dan tidak mau diajak berbicara. Pada dasarnya perubahan perilaku yang tiba-tiba pada anak adalah wajar, karena anak cenderung tidak mampu menutupi berbagaipermasalahn yang dihadapinya. Namun bila perubahan perilakunya sering ditunjukan anak selama proses pembelajaran di taman kanak-kanak, memberikan gambaran mungkin anak sedang mengalami suatu masalah tertentu, baik yang berkaitan dengan diri sendiri atau dengan lingkungannya. Misalnya, anak tiba-tiba menunjukkan perubahan sikap tertentu, mungkin anak saat itu sedang sakit, atau anak mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan dari lingkungannya. Anak umumnya belum dapat mneyadari bahwa dirinya mengalami suatu masalah tertentu, sehingga bila anak ditanya apakah anak sedang punya masalah tertentu, cenderung anak tidak dapat menjawabnya. Oleh karena itu masalah anak dapat dilihat dari berbagai perilaku yang ditampakkannya. Teknik observasi memberikan kesempatan kepada guru untuk mengetahui berbagai masalah yang dihadapi anak berdasarkan tingkah laku yang ditunjukkan anak. Namun agar

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

59

Satu Untuk UNM
proses pengamatan yang dilakukan guru lebih terarah, maka guru dapat membuat dan menggunakan pedoman observasi. Pedoman observasi adalah suatu format pernyataan yang dijadikan pegangan oleh guru selama proses pengamatan berlangsung. Dengan pedoman ini, apa yang diobservasi dapat berfokus dan tidak berpindah pada aspek-aspek yang lain. Pedoman observasi yang digunakan guru di taman kanak-kanak dapat berbentuk daftar cek (ceklist) yang bersifat terstruktur dan yang bersifat tidak terstruktur. Format yang bersifat terstruktur, pengisiannya cukup dilakukan dengan cara memberikan tanda cek (O) pada pernyataan yang menunjukkan perilaku yang ditampakkan anak. Sementara untuk format yang bersifat tidak terstruktur, pengisiannya berupa narasi atau bentuk pernyataan perilaku yang ditunjukkan anak selama masa pengamatan. Dari hasil kegiatan observasi, guru/observer dapat membuat suatu kesimpulan dari hasil observasi yang telah dilakukan. Contoh pedoman observasi yang tidak terstruktur dapat dilihat dalam format sebagai berikut: Pedoman A. Nama anak B. Kelas/Kelompok C. Hari/tanggal observasi observasi tentang aktivitas anak taman kank-kank saat proses pembelajaran berlangsung (tidak terstruktur) : ........................................................................... : ........................................................................... : ........................................................................... Hasil Observasi

No. Aspek yang diobservasi 1. Sikap anak ketika guru memberikan penjelasan tentang kegiatan yang akan ditempuh pada hari ini. 2. Sikap anak ketika guru bertanya. 3. Sikap anak ketika ada anak yang bermain-main selama guru sedang membnerikan penjelasan. 4. Sikap anak ketika anak sedang melakukan suatu pekerjaan/tugas yang diminta guru. * pernyataan dapat diperbanyak.

D. Kesimpulan : ............................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... Observer/Guru

(......................)
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

60

Satu Untuk UNM
Contoh pedoman observasi yang terstruktur dapat dilihat dalam format sebagai berikut: Pedoman observasi tentang aktivitas anak taman kanak-kanak saat proses pembelajaran berlangsung (terstruktur) A. Kelas/kelompok B. Hari/tanggal observasi : .................................................................................. : .................................................................................. Kegiatan Menjawab Bertanya ketika guru ketika guru bertanya menerangkan

Anak didik

Memperhatikan apa yang diterangkan guru

Bermain-main dengan teman didekatnya

1. Sinta 2. Andi 3. Nadila 4. Budi 5. Desi * Jawaban diberi tanda cek (O) Pernyataan dan jumlah anak dapat diperbanyak. C. Kesimpulan: ................................................................................................................ .................................................................................................................................... Observer/Guru

(........................)

Kelebihan dan Kelemahan Observasi

Kelebihan Observasi
a. Waktu yang digunakan tidak terlalu lama karena guru cukup memberikan tanda cek atau gambaran perilaku yang ditampakkan anak terhadap pernyataan yang ada dalam format observasi. b. Observasi memungkinkan pencatatan yang serempak untuk beberapa responden (yang diobservasi), khususnya bila menggunakan pedoman observasi yang terstruktur. c. Tidak membutuhkan biaya yang besar, dan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

61

Satu Untuk UNM
d. Teknik pengumpulan dilakukan hanya dengan cara mengamati saja, tidak perlu menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan objek yang sedang diobservasi.

Kelemahan Observasi
a. Guru hanya mengamati perilaku yang nampak pada anak, kurang mendapat informasi yang mendalam tentang permasalahan atau perkembangan yang terjadi pada anak. b. Perilaku yang nampak belum tentu menggambarkan masalah atau perkembangan yang sebenarnya pada anak, c. Apabila objek observasi mengetahui bahwa ia sedang diobservasi maka cenderung dapat bertingkah yang dibuat-buat, d. Timbulnya suatu kejadian yang hendak diobservasi tidak selalu dapat diramalkan sebelumnya oleh guru sebagai observer sehingga sukar untuk menentukan waktu yang tepat untuk melakukan observasi, dan e. Observasi banyak tergantung kepada faktor-faktor yang tidak dapat dikontrol, seperti cuaca, berbagai kegiatan yang berlangsung tiba-tiba, dan sebagainya. b. Wawancara Wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data yang dapat dilakukan oleh guru untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan dan permasalahan anak dengan cara melakukan percakapan langsung baik dengan anak maupun dengan orang tua. Dengan wawancara, guru dapat menggali lebih jauh kondisi obyektif anak. Teknik wawancara terbagi atas dua bentuk, yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tak terstruktur. Wawancara terstruktur adalah wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan tertulis (kuesioner) dan jawabannya sudah disediakan yang berbentuk skala, misalnya senang, ragu-ragu dan tidak senang. Pewawancara membacakan pernyataan yang ada dalam pedoman tersebut dan menanyakan kepada responden (anak/orang yang diwawancara) tentang jawabannya sesuai dengan pernyataan dalam skala yang telah disiapkan. Jawaban cukup dilakukan dengan cara memberikan tanda cek (O) pada kolom yang sesuai dengan jawaban responden. Sedangkan wawancara tak terstruktur adalah wawancara dengan menggunakan pedoman wawncara (pokok-pokok pernyataan) dan pewawancara merumuskan/mengemukakan pertanyaan secara lisan berdasarkan pokokpokok yang akan ditanyakan tersebut. Dengan menggunakan pedoman wawancara yang tidak terstruktur, guru dapat lebih baik mengembangkan pertanyaan sehingga dapat diperoleh jawaban yang lebih luas dan mendalam. Di akhir pelaksanaan wawancara, guru/pewawancara menarik suatu kesimpulan berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 62

Satu Untuk UNM
Contoh pedoman wawancara yang terstruktur dapat dilihat dalam format sebagai berikut: Pedoman Wawancara (Terstruktur) A. Nama anak yang diwawancara B. Usia C. Jenis Kelamin D. Tanggal wawancara E. Tempat wawancara F. Wawancara ke : ...................................................................... : ...................................................................... : ...................................................................... : …………………………………………………. : …………………………………………………. : ………………………………………………….

Aspek sosial No. Pernyataan Senang 1. Apakah kamu senang atau tidak main di TK ini? 2. Kalau ada teman yang berkelahi, kira-kira kamu senang tidak melihatnya? 3. Senang atau tidak, bila misalnya ada teman yang kelihatan sayang kepada teman lain? 4. Rasanya senang atau tidak kalau ada teman yang atau memberi sebagian bekalnya sama kamu? * Jawaban diberi tanda cek (O) Pernyataan dapat diperbanyak G. Kesimpulan wawancara Pewawancara/Guru

Ragu-ragu

Tidak Senang

: ...................................................................................

(..............................)

Contoh pedoman wawancara yang tidak terstruktur dapat dilihat dalam format sebagai berikut: Pedoman Wawancara (Tidak Terstruktur)
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

63

Satu Untuk UNM
A. Nama anak yang diwawancara B. Usia C. Jenis Kelamin D. Tanggal wawancara E. Tempat wawancara F. Wawancara ke : ...................................................................... : ...................................................................... : ...................................................................... : …………………………………………………. : …………………………………………………. : ………………………………………………….

Aspek sosial No. Pernyataan Hasil Wawancara 1. Teman yang disenangi dalam bermain ketika belajar di TK 2. Bekerjasama anak dengan anak lain ketika mengerjakan tugas di dalam kelas. 3. Berbagi dengan anak lain yang tidak membawa bekal makanan 4. Menunggu giliran ketika bermain bersama di dalam kelas maupun luar kelas. * Pernyataan dapat diperbanyak G. Kesimpulan wawancara Pewawancara/Guru (..............................) : ...................................................................................

Syarat utama dalam melaksanakan teknik wawancara, guru harus menciptakan rapport (hubungan yang akrab/menyenangkan) dengan responden. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah: a. Menjelaskan maksud dan tujuan diadakan wawancara serta mengapa responden dipilih untuk diwawancara. b. Mempersiapkan penampilan diri sebaik mungkin baik sikap, cara bertanya, berpakaian dan cara mencatat jawaban. Dalam melaksanakan wawancara, tidak selamanya pewawancara atau guru mendapatkan jawaban yang jelas, apalagi wawancara dilakukan terhadap anak-anak. Jika jawaban dari responden tidak jelas, maka pewawancara dapat melakukan probing, yaitu dengan cara:
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 64

Satu Untuk UNM
a. Mengulangi pertanyaan yang sama. b. Mengulangi atau menyebutkan kembali jawaban responden c. Tidak memberikan komentar atau tanggapan terhadap jawaban responden beberapa saat. d. Memberikan perhatian khusus terhadap jawaban responden dengan cara: membenarkan atau menyela jawaban. e. Memberikan komentar yang netral. Fungsi dari probing adalah: a. Membimbing responden untuk memberikan jawaban yang akurat atau sekurangkurangnya masuk akal. b. Membimbing responden agar memberikan jawaban yang komprehensif. Kelebihan dan kelemahan wawancara Kelebihan wawancara a. Bersifat fleksibel (luwes), rumusan pertanyaan dapat berubah, isi/pengertian tetap disesuaikan dengan kondisi responden atau situasi wawancara. b. Informasi yang diperoleh lebih mendalam, terutama bentuk pedoman wawancara yang tidak terstruktur. c. Tingkat pengembalian jawaban dari responden tinggi. d. Reaksi responden dapat diamati e. Urutan dan susunan pertanyaan dapat dikonstruk oleh pewawancara. f. Dapat mencatat jawaban yang spontan. g. Dapat mengontrol lingkungan. Kelemahan wawancara a. Memakan waktu yang cukup lama. b. Waktu wawancara sulit dibatasi terutama bila berkaitan dengan informasi informasiinformasi lain yang perlu penjelasan lebih mendalam. c. Pewawancara hanya berhadapan dengan satu orang dan tidak dapat melaksanakannya serempak untuk beberapa orang atau anak. d. Praduga/bias dari pewawancara terhadap jawaban responden e. Sangat tergantung kepada kesediaan dari kedua belah pihak f. Perlu penguasaan bahasa yang baik dari pewawancara atau guru sehingga orang tua atau anak yang diwawancara dapat memberikan berbagai informasi yang diperlukan.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

65

Satu Untuk UNM
c. Angket (kuesioner) Angket (kuesioner) merupakan alat pengumpul data berupa daftar pertanyaan yang disampaikan kepada orang tua untuk mendapatkan data secara umum tentang anak dan hal-hal yang berkaitan dengan anak. Data atau informasi yang dapat dikumpulkan guru melalui teknik angket ini dapat berkaitan dengan data tentang identitas anak, identitas orang tua, kondisi fisik dan kesehatan anak. Selain data umum, guru juga dapat membuat angket sesuai dengan kebutuhan, misalnya kebiasaan anak dalam berprilaku, kebiasaan tidur, makan, pola pengasuhan orang tua di rumah, dan sebagainya. Dalam menyusun angket (kuesioner) guru perlu mengikuti beberapa petunjuk ssebagai berikut: a. b. c. Menggunakan kalimat sederhana tetapi jelas dan mudah dimengerti. Tidak menggunakan kata-kata yang negatif dan menyinggung perasaan responden. Pertanyaan tidak bersifat memaksa responden untuk menjawab

Contoh angket yang dapat digunakan guru dapat dilihat dalam format berikut: Angket A. Identitas anak Nama Jenis Kelamin Kelas/kelompok Tempat tanggal lahir Suku bangsa Agama Tinggal bersama Posisi anak dalam keluarga Alamat B. Identitas orang tua 1. Ayah a. Nama c. Agama d. Alamat e. Pekerjaan : ................................................................................ : ................................................................................ : ................................................................................ : ................................................................................ : ................................................................................ : ................................................................................ : ................................................................................ : ................................................................................ : ................................................................................ : ................................................................................ : ................................................................................ : Orang tua / Wali : Anak ke ......... dari ......... bersaudara : ................................................................................

b. Tempat tanggal lahir : ................................................................................

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

66

Satu Untuk UNM
2. Ibu a. Nama c. Agama d. Alamat e. Pekerjaan a. Tinggi badan b. Berat badan d. Kondisi fisik D. Kebiasaan anak b. Melinting rambut c. Berontak bila marah d. Memukul / mencubit e. Ngompol f. Sulit tidur g. Menghisap jari : ................................................................................ : ................................................................................ : ................................................................................ : ................................................................................ : ................................................................................ : ................................................................................ : ................................................................................ : utuh / cacat : : ............................................................................... : ............................................................................... : ............................................................................... : ............................................................................... : ............................................................................... : ...............................................................................

b. Tempat tanggal lahir : ................................................................................

C. Kondisi Fisik dan Kesehatan

c. Penyakit yang pernah diderita :..............................................................................

a. Menggigit kuku/benda lain : ...............................................................................

Kelebihan dan kelemahan angket Kelebihan : a. Waktu yang dibutuhkan untuk pengumpulan data relatif singkat. b. Cara pengisian mudah karena instrumen (alat) pengumpul data sudah memuat daftar isian, responden tinggal mengisinya c. Dalam waktu yang tidak terlalu lama dapat terkumpul data dalam jumlah yang relatif banyak. d. Biaya relatif murah Kelemahan : a. Instrumen khususnya diarahkan pada orang tua, karena angket membutuhkan kemampuan untuk menulis. b. Jawaban bisa saja tidak sesuai dengan kenyataan, dimungkinkan responden menjawab apa yang diinginkan oleh penamya. c. Tidak dapat menilai ekspresi wajah, karena teknik pengumpulan data dengan cara menyebarkan format isian.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 67

Satu Untuk UNM
d. Catatan Anekdot Catatan anekdot adalah suatu teknik pengumpulan data yang bersifat pengamatan (observasi), karena guru selaku pengamat hanya mencatat berbagai peristiwa yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung atau ketika anak bermain di luar kelas. Teknik ini teknik mengadakan komunikasi dengan anak yang diamati, dan hanya mencatat peristiwa yang betul-betul bermakna, catatan anekdot tidak dibuat sebelumnya, catatan dibuat oleh guru setelah peristiwa terjadi. Beberapa petunjuk yang dapat digunakan guru dalam membuat catatan anekdot adalah: a. Terdiri atas kata-kata yang menggambarkan situasi/peristiwa yang sebenarnya. b. Mencatat peristiwa yang bersifat insidental c. Cara menggambarkannya hendaknya khusus (kejadian, reaksi/tingkah laku anak, ucapan) dan bermakna. d. Apa yang dicatat bukan berbentuk interprestasi e. Pencatatan bersifat runtut, peristiwa demi peristiwa disebutkan secara berurutan. f. Pencatatan sebaiknya segera dilakukan setelah peristiwa terjadi. Contoh format catatan anekdot dapat dilihat berikut ini: Catatan Anekdot A. B. C. E. F. Nama anak Usia Jenis kelamin : .............................................................................................. : .............................................................................................. : ..............................................................................................

D. Tanggal peristiwa : .............................................................................................. Waktu peristiwa : .............................................................................................. Kegiatan : .............................................................................................. : ..............................................................................................

G. Pengamat H. Hasil Observasi

Ketika pembelajaran di dalam kelas berlangsung, guru mengajak anak untuk mendengarkan cerita. Anak-anak diajak untuk berpindah tempat duduk dan semua anak mengikuti perintah guru kecuali Dani. Guru mengajak Dani untuk pindah tempat duduk ”Dani sekarang kita pindah duduknya di karpet yu”, Dani saat itu diam saja dan guru kembali mengulangi ucapannya, akhirnya Dani mau pindah tempat. Ketika guru sedang bercerita, anak-anak banyak bertanya, Dani hanya diam saja, Guru melihat kondisi dan meminta Dani untuk mau menceritakan kembali apa yang disampaikan guru, akhirnya Dani mau bercerita.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 68

Satu Untuk UNM
Setelah bercerita, Guru meminta anak-anak untuk kembali ke tempat duduk semula, tapi Dani tidak mau beranjak dari duduknya. Bu Guru mengajak Dani untuk berpindah duduk, dan Dani akhirnya mau. I. Interprestasi Dani pada dasarnya memiliki keinginan untuk mengikuti kegiatan yang terjadi di dalam kelas, hal tampak bilamana guru mengajak, namun Dani memerlukan perhatian khusus dari guru untuk senantiasa mendorong Dani terlibat dalam suatu kegiatan.

Pengamat, (...............................) Kelebihan dan kelemahan catatan anekdot Kelebihan catatan anekdot a. Guru tidak perlu memiliki kemampuan atau latihan khusus b. Pengamatan biasanya bersifat terbuka c. Pengamat atau guru dapat memperoleh informasi atau kejadian yang tidak terduga sebelumnya. d. Guru bertugas hanya mencatat dan menemukan hal-hal yang penting saja. Kelemahan catatan anekdot a. Sangat tergantung pada kemampuan daya ingat pengamat b. Kondisi, suasana dan mimik responden tidak tergambarkan dalam catatan anekdot dapat menimbulkan interprestasi yang keliru. c. Sulit melakukan coding (pengklasifikasian) terhadap pencatatan anekdot e. Penilaian Portofolio di TK Portofolio diartikan sebagai bukti-bukti pengalaman belajar peserta didik yang dikumpulkan sepanjang waktu (satu semester atau selama setahun). Berdasarkan bukti-bukti pengalaman belajar peserta didik tersebut, guru dapat melihat tingkat perkembangan motorik halus peserta didik.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

69

Satu Untuk UNM
2. Perencanaan Penilaian Hasil Belajar di TK Penilaian hasil belajar di TK dapat dilaksanakan dengan cara a. b. Tes Non Tes

Tes, yang dimaksud dalam penilaian hasil belajar di TK, adalah: 1) Tes lisan Tes lisan dilakukan dalam suatu komunikasi langsung antara guru dan peserta didik. Tes lisan digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar berupa kemampuan untuk mengemukakan pendapat-pendapat atas gagasan-gagasannya secara lisan. 2) Tes Tindakan Tes tindakan dimaksudkan untuk mengukur keterampilan peserta didik dalam melakukan suatu kegiatan. Dalam tes tindakan, persoalan disajikan dalam bentuk tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Pada intinya aa dua unsur yang bisa dijadikan bahan penilaian dalam tes tindakan yaitu proses dan produk. Pengukuran proses merujuk kepada pengukuran keterampilan dari kemahiran peserta didik melakukan suatu kegiatan, sedangkan pengukuran produk merujuk kepada segi kualitas hasil. b) Non Tes Non tes ini dilakukan seperti yang telah dikemukakan di atas yaitu: Observasi Wawancara Angket dan Catatan anekdot Portofolio

3. Perencanaan Penilaian Program Kegiatan Pembelajaran Pada pelaksanaan pembelajaran pada Anak Usia Dini (TK) ada hal-hal tertentu yang harus diperhatikan, misalnya bagaimana guru membuat program semester. Mingguan dan Program kegiatan hari ini, semuanya inilah yang akan diberikan penilaian. Tujuan penilaian adalah untuk menghasilkan sejumlah keputusan pembelajaran dan administratif yang snagat berguna bagi pemeliharaan dan peningkatan mutu proses belajar mengajar yang diharapkan bermuara pada peningkatan mutu pendidikan dan peningkatan kualitas manusia Indonesia seutuhnya. Sekaitan dengan hal tersebut pada bagian ini akan dibahas mengenai berbagai kegunaan hasil tes dalam konteks proses belajar mengajar dan Administrasi kelas.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 70

Satu Untuk UNM
a. Implikasi hasil tes bagi proses belajar Dalam kaitan dengan perbaikan proses belajar mengajar ditetapkan tolok ukur tertentu sebagai batas keberhasilan sebuah proses belajar mengajar. Menurut Purwanto (1984-143) mengemukakan sejumlah patokan sebagai berikut: 1) Bila mayoritas peserta didik (sekitar 60% atau lebih) gagal dalam mengerjakan suatu tes misalnya: maka perlu diulang kembali pengajaran mengenai bahan yang berhubungan dengan soal (pertanyaan) bagi seluruh anak 2) Bila kurang 60% yang gagal menjawab pertanyaan, pengulangan kembali bahan yang berhubungan dengan pertanyaan tersebut peserta didik yang bersangkutan dengan petunjuk dan pengarahan dari guru.\ Sebagai catatan, menurut Purwanto, bahwa bila persentase peserta didik yang gagal 60% atau lebih (seperti pada butir a di atas), untuk tahun berikutnya perlu pula dipertimbangkan penggunaan cara yang lebih baik dalam mengerjakan bahan yang bersangkutan. Misalnya: Guru kita mempelajari kembali tentang Satuan Kegiatan Hariannya. b. Apakah metode pembelajarannya Materinya Medianya Tujuannya sudah sesuai Tema dan Sub Tema serta kegiatannya dan lain sebagainya. Implikasi hasil tes bagi setiap peserta didik Pertimbangan-pertimbangan implikasi hasil tes bagi para peserta didik, dapat dipergunakan ketentuan sebagai berikut: 1) Bila hasil yang dicapai oleh peserta didik dalam tes adalah 75% atau lebih, peserta didik tersebut dipandang telah menguasai bahan pelajaran yang bersangkutan dan siap untuk mengikuti program atau satuan pelajaran berikutnya. 2) Bila hasil yang dicapai oleh peserta didik kurang dari 75%, maka masih dapat dizinkan untuk mengikuti program atau satuan pelajaran berikutnya, tetapi kepada peserta didik tersebut perlu diberikan perhatian atau bantuan khusus sehubungan kesulitan yang masih dialaminya. Selain hal tersebut di atas juga perlu diketahui penggunaan hasil penilaian dapat dijadikan sebagai kepentingan administratif, pengajaran. Administrator juga dapat menggunakan data penilaian untuk melengkapi laporanm-laporan kepada orang tua, kepada sekolah juga untuk melengkapi laporan-laporan periodik tentang kemajuan TK kepada instansi atasan yang memerlukan.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 71

Satu Untuk UNM
Sedangkan untuk kepentingan pengajaran, ada sejumlah pihak yang terlibat antara lain pengawas, kepala sekolah, hasil-hasil evaluasi itu dapat digunakan. Untuk membantu guru dalam cara-cara mengajar yang baik Untuk membantu status peserta didik dalam hubungannya dengan tujuan pokok kurikulum. 2. Menganalisis Hasil Penilaian Proses dan Hasil Belajar Untuk Menentukan Tingkat Perkembangan Anak a) Menganalisis hasil penilaian proses pembelajaran Dalam menganalisis hasil penilaian proses pembelajaran di TK, harus berdasarkan SKH pada setiap proses pembelajaran untuk dapat dilihat kemampuan apa yang akan dicapai> Misalnya SKH Kelompok B semester I Tema Kebutuhanku dengan indikator mewarnai gambar pisang, mangga dengan krayon/pinsil warna, maka pada saat itulah diadakan penilaian dalam proses pembelajaran tersebut bisa dengan menggunakan format observasi atau format wawancara pada setiap anak untuk setiap kemampuan yang akan dicapai dalam SKH tersebut. Hasil dari observasi atau wawancara pada setiap anak diberi penilaian sesuai dengan tingkat kemampuannya misalnya O bundar kosong, V tanda ceklis, O bundaran penuh yang masing-masing artinya: O = belum menguasai V = sudah menguasai O = sangat menguasai Hasil dari sinilah yang dimaksukkan pada daftar nilai harian anak didik kelompok B, dengan format sebagai berikut: Daftar Nilai Harian Anak Didik Kelompok B Taman Kanak-kanak : Kelompok No 1. 2. 3. 4. 5. :B Jumat O Bhs 2 V O Kognitif O V O O Seni V O Dan seterusnya Hari/Tgl. 9 Juli 2010 Nama Anak Afandi Hasna Erin Arif Dan seterusnya

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

72

Satu Untuk UNM
Setelah itu nilai dari setiap anak untuk setiap kemampuan dalam sehari, dimasukkan ke dalam format rekapitulasi nilai untuk setiap bulan dan dimasukkan ke dalam daftar rekapitulasi dalam satu semester untuk setiap anak. b) Menganalisis hasil penilaian hasil belajar Berdasarkan hasil penilaian proses belajar maka dapat dilakukan analisis hasil penilaian hasil belajar anak misalnya Afandi dalam satu semester dapat dilihat kembali hasil penilaiannya dalam satu semester tersebut untuk setiap kemampuan yang dicapai yaitu memperoleh (O) bundaran penuh dalam kegiatan kognitif maka berarti Afandi dalam perkembangan kognitif telah tercapai secara baik, dan bila Afandi dalam kegiatan seni memperoleh nilai (V) tanda ceklismaka berarti Afandi telah memiliki kemampuan seni yang baik. Serta sebaliknya bila Afandi hanya mendapatkan nilai O (bundar kosong) maka berarti Afandi belum sempurna pengembangan seni atau kognitifnya. c) Menganalisis hasil penilaian program kegiatan belajar Penilaian hasil program kegiatan belajar harus ditetapkan tolok ukur tertentu sebagai batas keberhasilan sebuah proses belajar mengajar. Salah satu tolak ukur yang dapat digunakan adalah yang sudah diterangkan pada bagian perencanaan penilaian program kegiatan belajar di TK misalnya 60% gagal dalam menyelesaikan suatu kemampuan maka untuk tahun berikutnya perlu dipertimbangkan penggunaan program tersebut, apakah dilihat dari metode, materinya, medianya dan lain sebagainya. d) Menginterprestasikan hasil analisis penilaian proses belajar anak Dalam menginterprestasikan hasil analisis penilaian proses belajar anak, diharapkan anak menggunakan hasil rekapitulasi dari hari ke perminggu dari perminggu ke perbulan dan perbulan ke persatu semester, sehingga perkembangan anak betul-betul dapat tercermin sesuai kenyataannya berdasarkan kemampuan yang dicapainya. e) Menginterprestasikan hasil analisis penilaian hasil belajar anak Hasil analisis penilaian hasil belajar anak, juga harus menggunakan tolok ukur atau mempergunakan ketentuan-ketentuan tertentu yaitu: jika anak didik mencapai 75% atau lebih dari kemampuan yang diharapkan, maka anak tersebut dipandang telah menguasai kemampuan yang telah dipelajari dan yang bersangkutan siap untuk mengikuti satuan pelajaran berikutnya. Jika sebaliknya yaitu kurang dari 75%, anak didik tersebut masih dapat izinkan untuk mengikuti satuan pelajaran berikutnya, tetapi kepada anak tersebut perlu diberikan perhatian atau bantuan khusus sehubungan kesulitan-kesulitan yang masih dialaminya.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 73

Satu Untuk UNM
f) Menginterprestasikan hasil analisis penilaian program Pada bagian ini akan dibahas hasil analisis penilaian program secara makro dalam arti dalam skala yang lebih luas dari sekedar lingkup proses belajar mengajar. Khusus dalam pelaksanaan pendidikan di tingkat TK misalnya, guru menentukan program Tahunan, program Semester, program Mingguan dan program Harian, semuanya saling mempunyai keterkaitan karena pada akan mencapai suatu tujuan yang sama. Rangkuman Tujuan pembelajaran yang utama pada anak usia dini (TK) adalah untuk mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh serta terjadinya komunikasi interaktif. Kurikulum bagi anak usia dini haruslah memfokuskan pada perkembangan yang optimal pada anak melalui lingkungan sekitarnya yang dapat menggali berbagai potensi tersebut melalui permainan serta hubungan dengan orang tua atau orang dewasa sekitarnya. Oleh sebab ituu kelas-kelas bagi anak usia dini merupakan kelas yang mampu menciptakan suasana yang kreatif dan penuh kegembiraan bagi anak. Oleh sebab itu maka strategi pembelajaran bagi anak usia dini berorientasi pada: (1) tujuan yang mengarah pada tugas-tugas perkembangan disetiap rentang usia nak;(2) materi yang diberikan harus mengacu dan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan yang sesuai dengan taraf perkembangan anak;(3)metode yang dipilih hendaknya bervariasi serta menyenangkan;(4) media dan lingkungan bermain yang digunakan haruslah aman, nyaman dan menimbulkan ketertarikan bagi anak dan perlu adanya waktu yang cukup untuk bereksplorasi. Evaluasi yang terbaik dan dianjurkan untuk dilakukan adalah rangkaian sebuah assesment melalui sebuah observasi partsipatif terhadap segala sesuatu yang dilihat. Latihan 1. Anda sebagai pendidik anak usia Dini, dipastikan bahwa pernah melakukan penilaian terhadap anak didiknya, jelaskan dan tunjukkan format apa yang digunakan dalam proses penilaian pembelajaran? 2. Apakah anda sebagai Pendidik Anak usia dini telah melaksanakan penilaian dalam proses belajar dengan Portofolio dari anak, jelaskan dan sebutkan bukti-bukti yang digunakan? 3. 4. Penilaian hasil belajar di TK dapat dilaksanakan dengan tes dan non tes, jelaskan setujukah anda tentang hal ini dan jika setuju berikan contoh? Dalam menyusun program kegiatan pembelajaran, anda menggunakan/berpedoman dari apa saja. Jelaskan dan berilah suatu contoh?
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 74

Satu Untuk UNM
5. Sudahkah anda melakukan penilaian proses belajar sesuai dengan tingkatannya misalnya dari hasil pencapaian melalui SKH setiap hari pada semua kemampuan dan pada setiap anak, dan setelah itu dimanakah anda selanjutnya sampai dengan masuknya ke laporan keinginan tingkat perkembangan anak dalam satu semester. Tunjukkan contoh yang anda lakukan di lapangan? 6. 7. 8. 9. Upaya apakah yang dilakukan guru TK bila ada anak didik sulit berkomunikasi dengan orang lain? Bila ada anak didik menangis karena takut ditinggalkan oleh ibunya pada saat permulaan masuk sekolah , apakah yang dilakukan guru TK dalam hal ini? Cara apakah yang dilakukan guru TK bila ada anak mengambil mainan temannya? Strategi apakah dilakukan guru bila ada anak mempunyai kemampuan logik matematiknya kurang ? 10. Jelaskan strategi yang dilakukan guru TK bila ada anak yang tidak mau bergaul dengan temannya? 11. Rancanglah sebuah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model bermain kreatif untuk tema lingkungan?

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

75

Satu Untuk UNM
Kegiatan Belajar III Bidang Pengembangan Anak TK A. Konsep Dasar Pengembangan Kurikulum Sebagai seorang guru, anda seharusnya memahami kurikulum anak TK dan bagaimana pengembangannya. Secara umum kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini dapat dimaknai sebagai seperangkat kegiatan belajar sambil bermain yang sengaja direncanakan untuk dapat dilaksanakan dalam rangka menyiapkan dan meletakkan pengembangan diri anak usia dini lebih lanjut. Bennet, Fin dan Cribb (1999), menjelaskan bahwa pada hakikatnya pengembangan kurikulum adalah pengembangan sejumlah pengalaman belajar melalui kegiatan bermain yang memperkaya pengalaman anak tentang berbagai hal, seperti cara berfikir tentang diri sendiri, tanggap pada pertanyaan, dapat memberikan argumentasi untuk mencari berbagai alternatif. Kurikulum bagi anak TK dikembangkan berdasarkan sejumlah pendekatan yang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan anak TK. Landasan konseptual yang digunakan dalam kurikulum adalah berdasarkan teori perkembangan anak, pendekatan berpusat pada anak, pendekatan konstruktivisme dan pendekatan bermain kreatif. 1. Teori Perkembangan Anak Menurut teori ini, perkembangan terdahulu anak akan menjadi dasar perkembangan selanjutnya. Oleh sebab itu, apabila terjadi hambatan pada perkembangan terdahulu maka perkembangan selanjutnya akan cenderung mendapat hambatan. Montessori (Hainstock, 1999) berpendapat bahwa pada anak usia dini merupakan periode sensitif. Selama masa ini anak secara khusus mudah menerima stimulusstimulus dari lingkungannya. Teori perkembangan lainnya meyekini bahwa setiap anak lahir dengan lebih dari satu bakat. Bakat tersebut bersifat potensial dan ibaratnya belum mucul ke permukaan. Untuk itulah diperlukan pemberian pendidikan yang sesuai dengan perkembangannya dengan cara memperkaya lingkungan bermainnya. Dari teori tersebut nampak bahwa anda sebagai guru harus mengembangkan kurikulum sedemikian rupa sehingga pembelajaran yang diberikan pada anak sesuai dengan irama perkembangan anak didik. 2. Pendekatan berpusat pada anak Pendekatan yang berpusat pada anak adalah suatu kegiatan belajar dimana terjadi interaksi dinamis antara guru dan anak atau antara anak dengan anak lainnya.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 76

dasar-dasar bagi

Satu Untuk UNM
Filosofi dari pembelajaran berpusat pada anak adalah program tahap demi tahap, yang didasari pada adanya suatu keyakinan bahwa anak-anak dapat tumbuh dengan baik jika mereka dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar. Lingkungan yang dirancang secara cermat dengan menggunakan konsep tahap demi tahap mendorong anak untuk bereksplorasi, mempelopori dan menciptakan sesuatu. Dari penjelasan di atas nampak bahwa seorang guru dalam mengembangkan kurikulum hendaknya mampu menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan anak untuk belajar secara bertahap, sesuai karaktristik dan irama perkembangan anak. 3. Pendekatan Konstruktivisme Pendekatan ini menekankan bahwa proses belajar adalah membangun (to constuc) pengetahuan itu sendiri, setelah dicerna kemudian dipahami dalam diri individu dan merupakan perbuatan dari individu itu sendiri. Pengalaman sosial membentuk cara berpikir dan cara menginterpretasikan lingkungan. Menurut Piaget otak manusia tahu cara mengenali benda melalui input dari indra seperti mata, telinga, kulit, hidung dan mulut yang secara langsung akan menunjukkan reaksi tertentu trhadap lingkungan sekitar. Contoh: seorang anak tidak akan tahu bahwa rasa gula adalah manis, jika tidak mencicipinya terlebih dahulu dengan indra lidah sebagai alat sensor rasa. Menurut Bredekamp, Copple dan William (1998), dalam pengembangan kurikulum anak usia dini harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) Kurikulum harus berfokus pada keseluruhan perkembangan anak dan dibuat secara terprogram dengan mengintegrasikan semua bidang pengembangan. 2) Guru sebagai pengembang kurikulum harus memiliki pemahaman yang memadai tentang teori perkembangan dan teori belajar. 3) Anak adalah pembelajar yang aktif, sehingga pendekatan yang paling tepat dalam pembelajaran anak usia dini adalah melalui kegiatan bermain. 4) Kurikulum haruslah merefleksikan peranan konteks sosial dan budaya sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Oleh sebab itu seorang guru yang ingin mengembangkan kurikulum anak TK harus berpegang pada prinsip-prinsip pengembangan kurikulum anak usia dini sebagai berikut: 1) Prinsip relevansi, bahwa kurikulum anak TK harus relevan dengan kebutuhan dan perkembangan anak secara individual 2) Prinsip adaptasi, bahwa kurikulum untuk anak TK harus memperhatikan dan mengadaptasi perubahan ilmu, teknologi dan seni yang berkembang di masyarakat. 3) Prinsip kontuniutas, bahwa kurikul;um harus disusun secara berlkelanjutan antara satu tahap perkembangan ke tahapan perkembangan berikutnya.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 77

Satu Untuk UNM
4) Prinsip Fleksibilitas, bahwa kurikulum anak TK harus dapat dipahami, dipergunakan dan dikembangklan secara luwes sesuai dengan keunikan,kebutuhan anak dan kondisi dimana pendidikan itu berlangsung. 5) Prinsip kepraktisan dan akspebilitas, bahwa kurikulum antuk anak TK harus dapat memberikan kemudahan 6) Prinsip kelayakan, bahwa bagi praktisi dan masyarakat dalam melaksanakan kurikulum harus menunjukkan kelayakan dan pendidikan pada anak usia dini. keberpihakan pada anak. Contoh: anak jangan dipaksa belajar Calistung sementara mereka belum siap. 7) Prinsip akuntabilitas, bahwa kurikulum yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkan pada masyarakat sebagai pengguna jasa. B. Konsep Dasar Bidang Studi 1. Konsep dasar Matematika yang sesuai untuk Menstimulasi Perkembangan Anak Anak membangun konsep-konsep matematika melalui berbagai kegiatan sehari-hari yang ia lakukan. Anak-anak sering mendengar dan mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan matematika dari orang tua, guru dan juga sesaamanya. Pada umumnya anak mendengar dan mengucapkan terlebih dahulu berbagai konsep yang berhubungan dengan matematika baru kemudian seiring dengan meningkatnya usia dan kemapuan berpikirnya, ia mulai mendalam. Anak memasuki TK dengan level pemahaman matematika yang berbeda. Guru harus mengenali perbedaan ini dan merencanakan pengalaman yang akan memperluas fondasi individu untuk memperoleh konsep matematika lebih lanjut. Anak harus mempelajari matematika secara seimbang antara pemahaman terhadap konsep dan juga keterampilan matematika agar mereka mampu memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari Program pembelajaran matematika hendaknya didesain untuk membantu anak-anak memperoleh dan menerapkan pemahaman konsep dan keterampilan matematika. Guru merencanakan untuk mengajarkan konsep matematika kepada anak dengan memecahkan masalah yang bermakna. keterampilan matematika merupakan fokus dari pembelajaran yang dikembangkan melalui permainan spontan. Konsep matematika juga dibentuk melalui pengalaman langsung (hands on memahami konsep-konsep matematika itu dengan lebih

experiences) yang dapat dilakukan anak pada berbagai percobaan atau penemuan. Konsep
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 78

Satu Untuk UNM
matematika dapat pula dikembangkan melalui berbagai kegiatan bermain, misalnya bermain pasir, bermain puzzle, bermain balok , bermain masak-masakan. Melalui berbagai kegiatan ini, secara tidak langsung anak belajar tentang konsep ukuran, bilangan, warna, bentuk dan lain sebaginya. anak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membangun konsep matematika dalam dirinya, karena belajar matematika memerlukan kemampuan untuk berpikir abstrak. Kemampuan anak untuk berpikir abstrak masih belum sempurna dan akan terus berkembang seiring dengan tingkat usianya. Oleh sebab itu tahapan pembelajaran matematika hendaknya disesuaikan dengan tahapan perkembangan kognitif anak. Penanaman konsep matematika dapat dilakukan sedini mungkin melalui kegiatan permainan matematika yang menyenangkan bagi anak. Kegiatan permainan matematika selain dapat dijadikan sebagai sarana rekreasi yang menyenangkan, dapat juga dijadikan sebagai sarana untuk membangun kesiapan anak dalam elajar matematika pada tahapan selanjutnya. Ciri-ciri yang menandai bahwa anak sudah mulai menyenangi permainan matematika adalah sebagai berikut: (1) anak secaraspontan menunjukkan ketertarikan padaaktivitas permainan, (2) menyebut urutan bilangan tanpa pemahaman, (3) anak mulai menghitung benda-benda yang ada disekitarnya secara spontan, (4) anak mulai membandingkan bendabenda dan peristiwa yang ada disekitarnya,(5) anak mulai menjumlahkan atau mengurangi angka dan benda-benda yang ada dai sekitarnya tanpa disengaja(Depdiknas, 2000:11). Ada beberapa kegiatan bermain matematika yang dapat menstimulasi perkembangan anak antara lain: (1) bermain pola (2) bermain klasifikasi, (3) bermain bilangan, (4) bermain ukuran,(5) bermain bentuk geometri (6) bermain statistika, (7) bermain estimasi (perkiraan) Melalui kegiatan bermain pola, anak diharapkan dapat mengenal danmenyusun polapola yang terdapat disekitarnyasecara berurutan. Setelah melihat dua smapai tiga pola yang ditunjukkan oleh guru anak mampu membuat urutan pola sesuai kreativitasnya. dan bentuk, bermain pola bernjalan, bertepuk tangan dan sebagainya. Melalui kegiatan bermain klasifikasi, anak diharapkan dapat mengelompokkan aau memilih benda berdasarkan jenis, fungsi, warna dan bentuk pasangannya sesuai contoh yang diberikan guru. Contoh permainan ini adalah , mengklasifikasi hewan yang berkakui empat, mengklasifikasi makanan yang rasanya manis, mengklasifikasi benda halus atau kasar, dsb. Pada bermain bilangan, anak diharapkan dapat mampu mengenal dan memahami konsep bilangan, transisi dan lambang bilangan sesuai dengan jumlah benda, pengenalan bentuk lambang serta dapat mencocokkan sesuai lambang bilangan. Contoh: meletakkan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 79

Bentuk

bermain pola antara lain, kegiatan meronse, menyusun pola benda,menyusun pola warna

Satu Untuk UNM
sejumlah kancing yang telah ditentukan pada gambar baju, meletakkan pengurangan melalui bernyanyi. Pada bermain ukuran, anak diharapkan dapat mengenal konsep ukuran standar yang bersifat informal atau alamiah, antara lain panjang, besar, tinggi dan isi melalui alat ukur alamiah, antara lain: jengkal, jari, langkah, tali, tongkat, lidi dsb. Melalui kegiatan bermain geometri, anak diharapkan dapat mengenal dan menyebutkan berbagai macam benda berdasarkan bentuk geometri dengan cara mengamati benda yang ada disekitarnya misalnya lingkaran, segi tiga, segi empat, persegipanjang dan lain sebagainya. Contoh kegiatannya adalah; menjiplak bentuk geometri, menggambar bentuk geometri secara bertahap, bermain balok dsb. Melalui bermain statistika, anak diharapkan mampu memahami perbedaanperbedaaan dalam jumlah dan perbandingan dari hasil pengamatan terhadap sesuatu. Contoh kegiatannya adalah: mengenal konsep bilangan yang sama dan tidak sama, membandingkan jumlah anak yang menyukai buah apel dan yang menyukai buah jeruk, membandingkan jumlah anak laki-laki dan anak perempuan. Dalam permainan estimasi anak diharapkan memiliki kemampuan memperkirakan sesuatu, misalnya perkiraan terhadap waktu, luas ataupun ruang. Selain itu juga anak terlatih untuk menagantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat dihadapi. Contoh kegiatan: pencampuaran warna, perkiraan berapa hari biji tumbuh melalui keagiatan menanam, permainan kantong pintar. 2. Konsep Dasar Sains untuk Menstimulasi Perkembangan Anak Pengenalan sains untuk anak TK lebih ditekankan pada proses daripada produk. Proses sains dikenal dengan metode ilmiah, yang secara garis besar meliputi: 1) obsevasi, 2) menemukan masalagh, 3) melakukan percobaan, 4) menganalisis data dan 5) mengambil kesimpulan. Untuk anak TK keterampilan proses sains hendaknya dilakukan secara sederhana sambil bermain. Kegiatan sains memungkinkan anak melakukan eksplorasi terhadap berbagai benda, baik benda hidup maupun benda tak hidup yang ada disekitar anak. Anak belajar menemukan gejala benda dan gejala peristiwa dari benda-benda tersebut. Sains juga melatih anak menggunakan lima indranya untuk mengenal berbagai gejala benda dan gejala peristiwa. Anak dilatih untuk melihat, meraba, membau, mersakan dan mendengar. Semakin banyak keterlibatan indera dalam belajar, anak semakin memahami apa yang dipelajari. Anak memperoleh pengethuan baru hasil penginderaannya dengan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 80

sejumlah biji

semangka pada gambar semangka, permainan angka dan benda bermain penjumlahan dan

Satu Untuk UNM
berbagai benda yang ada disekitarnya. Pengetahuan yang diperolehnya akan berguna sebagai modal berpikir lanjut. Melalui proses sains, anak dapat melakukan percobaan sederhana. Percobaan tersebut melatih anak menghubungkan sebab akibat dari suatu perlakuan sehingga melatih anak berpikir logis. Untuk anak TK fakta dan konsep sederhana dapat dipelajari melalui kegiatan bermain. Sebagai contoh, melalui bermain air, anak mengmati air dan melakukan berbagai percobaan terhadap air seperti melempar, menuang, memasukkan benda, dan mengambil dengan berbagai cara. Aplikasi sains dalam kehidupan sehari-hari diwujudkan dalam bentuk karya teknologi. Radio, mesin cuci, komputer, TV dan HP adalah contoh karya teknologi. Anak TK sangat ingin tahu bagaimana benda-benda tersebut bekerja, anak ingin tahu isi radio, isi Televisi atau HP. Kegiatan sains untuk anak TK dapat mengembangkan kemampuan anak anatara lain: 1) Observasi, yaitu berlatih menggunakan semua indranya untuk melakukan pengamatan atau pengindraan terhadap bwerbagai benda. Anak juga berlatih mengenal nama benda, mengamati bagian-bagian, memberi nama bagian serta fungsinya. 2) Klasifikasi, yaitu berlatih mengelompokkan benda-benda berdasarkan ciri tertentu. Gunakan satu jenis terlebih dahulu dan jangan menggunakan dua atau tiga jenis sekaligus. Ciri tersebut berupa warna, ukuran bwentuk dan fungsi. 3) Melakukan pengukuran, yaitu mengunakan alat ukur untuk mengukur jarak, berat, volume dimulai alat ukur nonstandar yaitu: jengkal, kaki dan depa ke alat ukur standar meliputi penggaris, timbangan atau literan. 4) Menggunakan bilangan, yaitu menggunakan angka untuk menyatakan sesuatu secara kuantitatif. Anak dapat menghitung banyaknya benda, membaca angka pada alat ukur atau menuliskan angka. 5) 6) Mengenal produk teknologi yaitu mengenal berbagai produk teknologi, cara menggunakannya, dan algoritme/sistem kerja di dalamnya. Mengenal berbagai benda tak hidup dan gejalanya, yaitu berinteraksi, melakukan eksplorasi/penyelidikan dan percobaan sederhana dengan berbagai benda seperti air, angin, api dan magnet. 7) Mengenal berbagai benda hidup dan gejalanya, yaitu berinteraksi dan melakukan eksplorasi terhadap mahluka hidup dan gejalanya.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

81

Satu Untuk UNM
Rambu-rambu Kegiatan Sains Kegiatan sains untuk anak TK sebaiknya disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. Guru TK hendaknya tidak menjejalkan konsep sains kepada anak, tetapi memberikan kegiatan pembelajaran yang memungkinkan anak menemukan sendiri fakta dan konsep sederhana tersebut. Ada beberapa kritria pembelajaran sains untuk anak TK (Suyanto, 2005) antara lain: 1) 2) Bersifat konkret, kegiatan pembelajaran dilakukan sambil bermain dengan benda-benda konkrit. Hubungan sebab akibat terlihat secara langsung, sains kaya akan kegiatan yang melatih anak untuk menghubungkan sebab dan akibat, contoh es yang dipanaskan akan segera mencair. 3) Memungkinkan anak melakukan eksplorasi, guru dapat menghadirkan objek dan fenomena yang menarik di TK, misalnya guru membawa induk kucing dengan anaknya, guru mengajak anak membuat tauge dari kacang hijau dan sebagainya. 4) Memungkinkan anak mengkonstruksi pengetahuan sendiri, sebaiknya dalam pegenalan sains anak tidak diperlihatkan model atau gambar, akan tetapi sebaiknya melalui objek langsung sehingga anak menemukan sendiri dfinisi yang tepat untuk benda yang diamatinya. 5) Lebih menekankan proses dari pada produk. Dalam melakukan eksplorasi, akan meneyenangkan pada anak tanpa berpikir bagaimana hasilnya oleh sebab itu guru tidak perlu mengajarkan berbagai konsep sains, biarkan anak menemukan sendiri. 3. Konsep Dasar Bahasa Untuk Menstimulasi Perkembangan Anak Anak TK pada umumnya sudah mampu berkomunikasi secara lisan. Namun untuk menulis dan membaca, pada umumnya anak masih mengalami kesulitan, mengingat bahasa merupakan sistem yang rumit dan melibatkan berbagai unsur seperti huruf (simbol), kata, frase, kalimat dan tata bahasa serta tatacara melafalkannya. Pada tahap berikutnya bahasa juga melibatkan unsur etika dan estetika yang menyulitkan anak TK berbahasa yang baik dan benar. Menurut Nigel Hall (1987) permulaan membaca dan menulis bukan dimulai sejak TK, tetapi jauh sebelum anak memasuki TK. Menurutnya, anak sudah berlatih membaca dan menulis (literasi) sejak kecil dari lingkungannya. Anak, sejak kecil telah diahdapkan pada berbagai bentuk tulisan di lingkungannya yang dikenal dengsan Environmental print seperti papan iklan di tepi jalan, nama-nama toko, tulisan di bungkus makanan, iklan di TV dan lain sebagainya.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 82

Satu Untuk UNM
Perkembangan kemampuan literasi terjadi secara sistematis dan sikuensial sebagi respons terhadap berbagai bentuk bahasa sosial yang dialami anak dari lingkungannya. Perkembangan kemampuan berbahasa sangat erat kaitannya dengan perkembangan fisik dan mental. Perkembangan fisik, terutama organ-organ yang berfungsi untuk membentuk bunyi, seperti gigi dan lidah. Sejalan dengan perkembangan mentalnya, bahasa dan pikiran menjadi satu kesatuan. Apa yang diucapkan anak merupakan representase dari apa yang ia pikirkan. Belajar bahasa tidak jauh beda dengan belajar sains, anak menggunakan indera dan pikirannya untuk belajar. Anak juga bereksperimen dengan cara mengucaokan kata, merespon, dan berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa ibu merupakan bahasa yang mulamula dipelajari anak. Kata, struktur kata dan bunyi bahasa ibu merupakan realisasi dari makna tersebut. Jadi belajar bahasa adalah belajar memaknakan. Mengenal huruf alfabet dari A-Z dan mengingatnya seharusnya bukanlah hal yang terlalu sulit, tetapi mengapa membaca dan menulis bukanlah hal yang mudah bagi anak?menurut hasil penelitian, salah satu penyebabnya adalah mengenal huruf dan merangkai menjadi kata adalah hal yang menyulitkan bagi anak. Oleh sebab itu diperlukan berbagai strategi dalam mengajarkan anak membaca dan menulis permulaan. Mulai dari strategi membaca fonik yaitu dengan cara mengeja kata dari huruf ke huruf. Hasil penelitian longitudinal menunjukkan bahwa kemampuan fonemik anak membantu kesuksesan belajar membacanya. Strategi lain adalah cara membaca keseluruhan (whole language). Cara ini mengajarkan membaca dari keseluruhan lebih dahulu, kemudian anak anak diajak mencari huruf penyusunnya (whole to part). Misalnya guru menunjukkan gambar anak yang sedang makan, kemudian bertanya gambar anak sedang apa ini? Anak menjawab”MAKAN”. Cobaulangi kata “MAKAN”. Kemudain huruf apa saja pada kata “MAKAN”?. Dan seterusnya. Strategi lain adalah membaca dalam bahasa Jepang, dengan pola: B C D F G Dst. A BA CA DA FA GA I BI CI DI FI GI U BU CU DU FU GU E BE CE DE FE GE O BO CO DO FO GO

Melalui kombinasi seperti itu anak dapat mengenalo pola bagaiman huruf itu dapatdigabung dan bagaimana membacanya. Misalnya kata “BUKU” anak tinggal mencari pola BU + KU. Lalu membacanya “BUKU”. Dst.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 83

Satu Untuk UNM
Strategi lainnya adalah melalui metode Iqra. Pada metode tersebut anak diperkenalkan sedikit demi sedikit huruf konsonan dan vokal dan kombinasinya untuk membaca. Misalnya diberi huruf B dan A, anak dilatih membaca kombinasi BABA, ABA, BAA, ABA. Di sinmi juga terlihat adanya pola-pola kombinasi huruf dan cara membacanya. Mengenal pola kombinasi huruf dan caramembacanya tampaknya merupakan modal yang sangat penting dalam membaca. 4. Konsep Dasar Pengetahuan Sosial unuk menstimulasi Perkembangan Anak Ilmu Pengetahuan Sosial mempelajari interaksi antar manusia dan manusa dengan lingkungannya. Dewan nasional ilmu-ilmu sosialAmerika Serikat merumuskan tujuan dari pengenalan pengetahuan sosial ada tiga hal taitu meliputi: 1) pengetahuan, 2) kecakapan dan 3) sikap dan nilai sosial. Bagi anak TK tentunya konsep-konsep yang sederhana yang dapat dipahami anak melalui kegiatan berinteraksi sosial baik dengan teman sebaya, dengan keluarga, maupun dengan masyarakat. Kegiatan belajar dimulai dari lingkungan sosial terdekat, misalnya mengenal keluarga, mengenal teman, mengenal tetangga, negara, dan mengenal dunia. Mengenal negara antara lain meliputi mengenal benders, lagu kebangsaan, hari-hari besar nasional dan sejarahnya. Anak juga berlatih mengenal globe, sungai, laut, gunung, dan daratan pada peta. Anak juga berlatih mengenal aturan, otoritas, dan norma-norma sosial. Berbagai kegiatan sosial, seperti jual beli, uang sebagai alat tukar, dan pekerjaan juga bagian dari pengetahuan sosial. Kecakapan sosial ialah kemampuan anak untuk berinteraksi sosial dengan temannya, dengan keluarga, guru, dan masyarakat di sekitarnya. Pada mulanya anak tidak dapat melihat cara pandang orang lain. Kemudian, anak belajar mengenal bahwa setiap anak memiliki pemikiran, sifat, dan kemauan yang berbeda dengan dirinya sehingga ia dapat memahami orang lain. Anak juga pada mulanya tidak mengenal adanya aturan, norma, dan otoritas. Lalu anak belajar dan mengenal adanya aturan, norma-norma sosial, dan otoritas sehingga ia dapat berperilaku lebih baik. Sikap sosial meliputi kemampuan anak untuk dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain. Mengenal perasaan gembira, sedih, disukai, dibenci, marah, dan cara penggunaannya merupakan bagian dari sikap sosial. Demikian pula sikap suka menolong, memperhatikan orang lain saat bicara, memberi komentar yang baik dan menyenangkan, dan memperhatikan nasehat orangtua merupakan bagian dari sikap sosial. Kecakapan sosial dinyatakan dengan SQ (Sosial Quotient). SQ dipandang sangat penting karena fungsinya dalam kehidupan dominan. Di masyarakat orang lebih dinilai dari
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 84

Satu Untuk UNM
segi sosialnya dibanding kecerdasan otaknya. Kegiatan sosial amat luas, dan oleh karenanya pengenalan pengetahuan sosial memiliki dimensi yang luas, meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap sosial. Ilmu pengetahuan sosial antara lain meliputi sosiologi, antropologi, geografi, ekonomi, geografi, dan sejarah. Untuk anak TK pengenalan ilmu sosial dilakukan secara terpadu antar bidang ilmu tersebut dan jugs dengan ilmu lainnya (matematika, sains, seni dan bahasa). Berikut beberapa tema penting dalam pengenalan pengetahuan sosial. A. Pojok Keluarga Pojok pengetahuan sosial sering disebut juga Pojok Keluarga. Isi dari pojok keluarga meliputi berbagai benda yang digunakan oleh keluarga dan masyarakat. Berikut contoh isi dari Pojok keluarga. - Beberapa set meja dan kursi tamu - Beberapa set peralatan dapur - Beberapa set meja makan dan perangkat makan - Beberapa set perabot kamar tidur - Beberapa set perabot tempat belajar - Boneka berbagai ukuran dan bentuk - Berbagai model kendaraan (mobil, pesawat terbang, kereta api, perahu) - Telepon, TV, radio, dan tape mainan. - Mata uang mainan - Cermin, alat berhias diri - Koran, majalah, buku - Kamera, foto, CD, CD player (asli dan mainan) - Globe, peta, bendera negara, lambang negara, foto presiden, foto pahlawan - DII. B. Kegiatan Pengenalan Pengetahuan Sosial 1. Mengenal Diri dan Keluarga Kegiatan mengenal diri dan keluarga dimaksudkan untuk melatih anak mengenal identitas dirinya dan keluarganya. Dengan mengenal diri dan keluarganya diharapkan akan menumbuhkan identitas diri (self identity) atau perasaan "aku". Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

85

Satu Untuk UNM
a. Menggambar bercerita tentang keluarga Bahan - Kertas manila, krayon, pensil Prosedur
 Bed setiap anak bahan-bahan di atas  Ajak anak untuk menggambar dirinya dan keluarganya  Setelah gambar selesai, ajak anak menceritakan diri dan keluarganya  Berbagai pertanyaan dapat diajukan kepada anak, misalnya: anak ke berapa, berapa

jumlah saudaranya, berapa usianya, kapan ulang tahunnya, apa hobinya, apa pekerjaan orangtuanya, di mana alamatnya. b. Bercermin dan mengenal diri Bercermin dan merias diri merupakan awal pembentukan estetika pada diri anak. Dengan adanya cermin dan sisir guru dapat melatih anak untuk melihat dirinya dan penampilannya. Anak dapat melihat apakah rambutnya sudah disisir, apakah giginya sudah bersih, apakah bajunya sudah rapi, dan sebagainya. Bahan
 Cermin

Prosedur
 Sediakan cermin yang cukup lebar dan tinggi untuk anak  Pasang tegak dari lantai sehingga anak dapat melihat dirinya dari ujung kaki sampai

kepala
 Ajak anak untuk mengamati dirinya di cermin  Ajak anak untuk menceritakan kembali ciri-ciri dirinya (bentuk badan, warna kulit, bentuk

rambut, bentuk muka, dsb.) c. Mengenal teman Mengenal dan akrab dengan teman sekelas merupakan bagian dari perkembangan sosial anak. Guru hendaknya mengatur agar setiap anak pernah berinteraksi satu dengan lainnya. Misalnya melalui pembentukan kelompok dan penentuan tempat duduk dapat dilakukan secara bergantian agar setiap anak mengenal teman-temannya. Guru hendaknya memberitahukan kepada orangtua agar menanyakan kepada anak siapa saja temantemannya. Anak yang mampu bersosialisasi dengan baik biasanya dalam waktu satu bulan sudah mengenal semua nama teman-temannya di kelas. Sebaliknya ada pula anak yang dalam waktu satu bulan teman yang dikenal hanya dua orang.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 86

Satu Untuk UNM
d. Mengenal aturan Setiap sekolah memiliki aturan. Mengenal aturan di sekolah dan di rumah merupakan bagian dari pengetahuan sosial. Sebagai contoh di sekolah anak harus datang tepat waktu, tidak boleh bermain di luar halaman sekolah, baju seragam harus dipakai, dan sebagainya. Aturan tersebut hendaknya diperkenalkan kepada anak sedikit demi sedikit, misalnya untuk dua hari, guru memperkenalkan aturan mengenai kehadiran tepat waktu. Hati-hati dalam menentukan hukuman pada anak yang melanggar aturan. Sebaiknya bentuk hukuman didiskusikan dan ditentukan lebih dahulu dengan anak. Tulis aturan-aturan tersebut dan tempelkan di dinding kelas. Tuliskan pula bentuk hukuman atas pelanggarannya. Dengan demikian, anak senantiasa ingat aturan dan hukumannya. Permainan berikut dapat untuk melatih anak memahami aturan dan hukuman. e. Mengenal otoritas sekolah Di awal semester anak masuk sekolah, Jelaskan nama-nama guru, kepala sekolah, dan pegawai tata usaha sekolah. Jelaskan pula kewenangan masing-masing. Jelaskan bahwa Kepala Sekolah (Kepala TK) memiliki otoritas (kewenangan) paling tinggi di TK. Guru-guru merupakan orang tua kedua yang juga harus dipatuhi oleh anak tanpa memandang bahwa hanya guru kelasnya saja sebagai orang yang harus diparuhi. 5. Konsep Dasar Moral untuk Menstimulasi Perkembangan anak Perilaku Moral adalah perilaku yang sesuai dengan tata cara yang ada di masyarakat. Belajar meresapi nilai-nilai moral kelompok membutuhkan waktu, dan proses belajar dipersulit oleh sejumlah faktor: 1) kebingungan akan memperlambat proses belajar, bila terdapat konflik antara aturan dirumah dan aturan di sekolah. 2) kebingungan yang menyebabkan anak mempertanyakan konsep keadilan, bila ini terjadi.akan melemahkan motivasi anak menerima konsep moral, 3)kebinguingan dalam konsep moral mempengaruhi keputusan moral .Sejak anak pandai berbahasa pada usia 2-3 tahun pendidika moral berlangsung dengan pesat melalui interaksi menerapkan ajaran-ajaran moral seperti tidak boleh berbohong, tidak boleh mengambil barang orang lain, dibiasakan mengucapkan terima kasih pada orang lain bila diberi sesuatu, ini diberikan dengan pelajaran yang cepat dan memberikan contoh kepada anak dalam bentuk perilaku. Selain itu penanaman perilaku moral akan lebih berhasil, perlu diberikan dengan reaksi yang menyenangkan sepeti : pujian, dukungan dan hadiah, sebaliknya pada perbuatan yang tidak baik dihubungkan dengan reaksi yang tidak menyenangkan seperti pengasingan sementara. Dengan demikian lambat laun pada anak akan terbentuk kesadaran bathin atau kata hati. Jadi penilaian baik dan buruk tidak lagi datang dari luar tetapi datang
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 87

Satu Untuk UNM
dari dalam dirinya sendiri, anak akan bangga dan bahagia jika melakukan perbuatan baik dan sebaliknya anak akan merasa malu dan bermasalah jika anak melakukan yang kurang baik 6. Konsep Dasar Seni Untuk Menstimulasi Perkembangan Anak A. Esensi Pembelajaran Seni Pembelajaran seni bermanfat untuk mengembangkan estetika, kreativitas, dan untuk mengekspresikan diri pada anak. Lebih rinci Schickedanz, dkk (1983) menyatakan bahwa pembelajaran seni untuk anak TK memiliki beberapa fungsi, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sebagai media untuk mengekspresikan diri; Mengembangkan estetika; Mengembangkan kemampuan motorik; Mengembangkan kemampuan koordinasi; Mengembangkan persepsi; Mengembangkan kreativitas, daya pikir dan daya cipta. Seni sebagai media untuk mengekspresikan diri. Dalam kegiatan seni anak-anak dapat menyatakan perasaannya melalui menggambar, menyanyi, bermain drama, maupun melalui seni kriya. Anak dapat mengekspresikan rasa senang, gembira, sedih, dan kecewa melalui obyek seni seperti cat, kuas, lempung, pasir, dan balok (Erickson, 1950). Anak yang tertekan biasanya akan menggambar sesuatu yang tragic, jelek, atau menggunakan warnawarna yang gelap. Anak juga dapat mengungkapkan perasaannya melalui lagu. Perasaan senang diekspresikan melalui lagu yang gembira, tempo cepat, dengan irama yang menghentak. Sementara perasaan sedih diungkapkan melalui lagu yang melankolis dan dengan tempo lambat. Melalui media seni drama anak dapat menceritakan pengalamannya, perasaannya, dan kekecewaannya kepada orang lain. Banyak ahli pendidikan anak usia dini menyatakan bahwa dasar-dasar estetika diperoleh anak sejak usia dini (Brittain, 1979; Erickson, 1950; William, 1977). Nilai-nilai estetis, keindahan, dan kecantikan sangat baik untuk ditanamkan anak sejak usia dini. Melalui penataan benda-benda di ruangan, anak-anak belajar tentang keteraturan dan keindahan. Begitu pula dengan menggambar dan mengkombinasikan warna untuk mencapai suatu keindahan akan menanamkan nilai-nilai estetik pada anak. Berkaca, menyisir rambut, merias wajah, menggunakan kostum yang lucu dan indah dalam bermain peran akan melatih anak mencintai keindahan dan kecantikan badan. Seni juga mengembangkan kemampuan anak melakukan koordinasi. Gerak dan lagu dan seni tari melatih anak menyeleraskan antara gerakan tubuh dengan irama lagu.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 88

Satu Untuk UNM
Menggambar melatih koordinasi gerak tangan dan mata. Menggunakan berbagai alat seni, seperti gunting, kuas, lem, krayon, dan pensil melatih anak mengontrol gerakan tubuh. Kemampuan mengontrol gerakan tubuh sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan. Makan, minum, berlari, mengendarai sepeda, dan menyetir mobil memerlukan koordinasi berbagai anggota tubuh. Pendidikan seni juga mengembangkan kreativitas, daya pikir, dan daya cipta. Melalui seni anak dapat menggunakan berbagai benda untuk menciptakan sesuatu sesuai imajinasi dan fantasinya. Ada empat ciri anak yang kreatif yaitu 1) orisinil, 2) tepat dan relevan. 3) menyesuaikan keadaan, 4) fleksibel (Guilford, 1957; Jakcon and massick, 1965). Jadi pendidikan seni mengembangkan kreativitas pada anak. Anak yang kreatif mampu menciptakan suatu yang tidak dilakukan anak lain. Ciri anak yang kreatif ialah mampu mewujudkan ide, fantasi, dan imajinasinya dalam suatu karya orisinil. Ketika melihat permainan badminton di TV, Ahbar dan kakaknya ingin dibelikan raket, kok dan net. Tetapi orangtuanya mengatakan terlalu mahal untuk anaknya yang masih berusia empat tahun. Lalu mereka menggunakan potongan kardus sebagai raket, mengikatkan benang antar kursi sebagai net, dan menggunakan kaos kaki yang digulung sebagai kok untuk bermain badminton. Jadi anak secara kreatif menggunakan berbagai bends yang ada di sekitarnya untuk bermain. Ciri anak yang kreatif ialah mampu melakukan sesuatu secara tepat dan relevan dengan konteks atau tujuannya. Ketika melewati perkemahan, lka ingin sekali memiliki tenda dan berkemah. Sesampainya di rumah ia mengambil selendang ibunya dan menutupkannya di antara dua kursi sehingga mirip tenda perkemahan. Lalu ia memasukkan mainannya ke dalam "tenda"nya. dan bermain masak-memasak dengan temannya. Apa yang ia lakukan tepat dan relevan dengan konteks yang ia lihat dan tujuannya yaitu ingin memiliki tenda dan berkemah. Anak yang kreatif mampu mengikuti keadaan untuk mewujudkan ide, imajinasi, dan fantasinya. Suatu ketika Aryo ikut ayahnya membeli voucher handphone. Sementara menunggu ayahnya, ia mengoleksi berbagai macam voucher bekas yang berceceran di lantai. Ketika ayahnya mengajak pulang, ia menunjukkan kepada ayahnya voucher yang ia dapat sambil berkata, "Yah, lihat Aryo juga punya banyak voucher." Di rumah ia berpurapura mengisi ulang handphone mainannya dengan voucher bekas yang ia peroleh. Ciri lain anak yang kreatif ialah fleksibel. la tidak terpaku pada satu benda untuk mewujudkan ide, fantasi, dan imajinasinya. Suatu saat Kiki menggambar sebuah rumah dikelilingi taman bunga dengan krayon. Adiknya, Fandi ingin mengikutinya menggambar sebuah rumah dengan krayon. Kakaknya tidak meminjamkan krayonnya dengan alasan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 89

Satu Untuk UNM
adiknya suka mematahkan krayon. Fandi lalu mengambil gunting, lem dan majalah ibunya. la mencari gambar rumah dan bunga, menggunting dan menempelkannya pada buku gambarnya. Lalu ia bilang, "Hore, aku juga punya sebuah rumah dengan taman bunga!" teriaknya bangga. Dalam hal ini Fandi tidak patah arang untuk mewujudkan keinginannya, banyak cara yang dapat ia lakukan untuk mewujudkan idenya itu. B. Perkembangan Anak dalam Seni Perkembangan Anak dalam bidang seni dimulai dari tidak mengenal seni sampai dapat mengekspresikan diri melalui seni. Paling tidak ada empat tahapan perkembangan anak dalam pendidikan seni, khususnya seni lukis (Lansing, 1971; Britain, 1979; Schikedanz, 1983), seperti berikut ini: 1. Tahap Manipulatif 2. Tahap Mengenal Pola 3. Tahap Simbolik 4. Tahap Representasi Tahap manipulatif merupakan tahap awal anak mulai tertarik kegiatan seni. Tahap ini biasanya dimulai sejak usia 2-3 tahun. Pada tahap ini bukanlah seni atau hasil karya yang menjadi tujuan anak terlibat dalam kegiatan seni, melainkan keinginan anak untuk mencoba alat-alat yang digunakan dalam pendidikan seni. Dalam seni lukis anak ingin mencoba menggunakan kuas dan cat. Sering anak membuat coretan sebisanya, termasuk coretan di dinding rumah. Anak bangga akan hasilnya, bukan karena merupakan karya seni yang baik atau indah, tetapi karena ia merasa dapat menggunakan benda-benda tadi. Dalam seni musik, anak juga ingin menabuh atau membunyikan alat-alat musik. Setelah membunyikan terompet, anak akan bercerita bahwa ia sudah bisa main terompet. Demikian pula dalam seni kriya, anak ingin bermain dengan benda-benda yang digunakan seperti lempung. Sering anak menggunakan lempung untuk membentuk apa saja yang ia sukai. Sering lempung yang sudah terbentuk diubah lagi dan diubah lagi. benda yang digunakan dalam pendidikan seni sehingga dikenal dengan tahap manipulatif. Tahap berikutnya ialah tahap membuat pola, biasanya berkembang sejak anak usia empat tahun. Pada tahap ini anak mulai menunjukkan pola dalam menggunakan bendabenda seni. Anak mulai membuat garis, lingkaran, atau kotak. Pada seni musik anak mulai menunjukkan adanya irama meskipun belum stabil. Dalam seni kriya, anak sudah menunjukkan membuat pola tertentu, misalnya membuat ular dari lempung. Tahap ketiga ialah simbolik, biasanya pada usia empat-lima tahun. Pada tahap ini anak sudah mulai menunjukkan bentuk, pola, dan memberi nama apa yang dibentuknya. Sebagai
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 90

Satu Untuk UNM
contoh anak membuat lingkaran dengan beberapa garis tambahan, kemudian anak ditanya gambar apa itu? Anak dengan tegas menjawab, "Gambar ayam", meskipun gambar tersebut sama sekali tidak mirip ayam. Kadang anak ditanya mau menggambar apa, lalu anak menjawab mau menggambar ayam. Ketika sudah jadi, ternyata gambarnya mirip boneka, kemudian anak ingat bonekanya di rumah, lalu ia mengatakan ini bukan ayam, ini boneka. Tahap memberi nama objek tersebut dikenal dengan tahap simbolik. Pada usia lima sampai enam tahun anak mulai menunjukkan tahap representasi. Pada tahap ini anak sudah mulai mencocokkan antara apa yang ia kerjakan dengan fenomena yang ada. Meskipun anak belum dapat menggambar dengan tiga dimensi, gambarnya sudah mulai menunjukkan bentuk yang lebih realistik. Misalnya dalam menggambar wajah orang sudah ada mata, hidung, telinga, mulut dan rambut. Apa relevansi tahapan tersebut bagi guru TK? Sering kita sebagai orang dewasa menilai karya anak seperti kita menilai karya seni orang dewasa yaitu dari segi kemiripan dengan objek nyata dan keindahannya. Kalau gambar ayam tidak mirip ayam, kita nilai jelek. Padahal bagi anak, apapun hasil karyanya, mirip objek atau tidak, tidak menjadi masalah. Bagi anak yang penting ia "bisa" menggunakan benda-benda pendidikan seni. Untuk itu bagi guru TK, hasil karya anak tidak perlu dinilai dengan cara seperti itu, tetapi menggunakan pendidikan seni untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak. Suatu ketika Aji sedang menggambar sesuatu yang mirip benang kusut. Lalu saya mendekatinya dan berkata, "Wah gambarnya bagus sekali, gambar apa ya?" Lalu ia menjawab dengan cerita yang cukup panjang dan diluar dugaan saya. la mengatakan, "Ini gambar burung. Kakak saya punya merpati. Merpatinya terbang tinggi ... sekali. Tingginya sama dengan kapal terbang. Ini disini kapal terbangnya (katanya sambil menunjukkan garis yang sama sekali tidak mirip kapal terbang). Lalu kakak saya memanggilnya, hei turun... nanti ketabrak kapal terbang... lalu ia turun ..Nih disini... (sambil menunjuk garis di bagian bawah)" Kalau kita nilai dari gambarnya, tentu amat jelek. Tetapi kalau kita dengar ceritanya, bukan main, anak tersebut dapat menggunakan bahasa dengan baik, urut, dan logis. Jadi ia menggunakan seni (lukis) untuk mengekspresikan idenya dengan baik. 6. Konsep Jasmani dan Motorik untuk Menstimulsi Perkembangan Anak Pendidikan jasmani untuk anak usia dini diarahkan untuk mengembangkan badan anak agar tumbuh sehat dan kuat. Pengertian tubuh yang sehat dan kuat, mencakup kekuatan otot, gerakan, dan kekuatan sistem organ yang terkait, seperti jantung dan paru. Orang yang tubuhnya tegap, ototnya kuat, belum tentu memiliki jantung dan paru yang kuat. Penelitian Kathleen dan Jonathan (1992) pada binaragawan dan atlet angkat besi
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 91

Satu Untuk UNM
mengungkapkan hal itu. Banyak atlet angkat besi dan binaragawan yang tubuhnya tegap dan ototnya besar akan tetapi daya tahannya kurang. Ketika mereka disuruh bekerja secara terus-menerus mereka akan mengalami kelelahan yang parah da kekuatannya menurun drastis. Hal itu disebabkan karena para binaragawan dan atlet angkat besi lebih mengkonsntrasikan diri pada olahraga isotonik dan isometrik saja dan kurang gerak isokinetik. Oleh karena itu pendidikan jasmani hendaknya meliputi gerak isokinetik, di samping gerak isotonik dan isometrik. Kegiatan yang bersifat isotonik (iso=sama, tonik=tegangan/ tekanan) ialah kegiatan dengan kontraksi otot persendian kaki dan tangan di mana badan relatif tetap di tempat. Contohnya ialah angkat besi dan angkat beban. Kegiatan tersebut dapat meningkatkan kekuatan otot tangan dan kaki, tetapi tidak meningkatkan kekuatan jantung dan sistem peredaran darah serta paru-paru. Sedangkan kegiatan isometric adalah kegiatan yang tidak melibatkan kontraksi otot persendian kaki dan tangan. Contohnya antara lain ialah mendorong atau mengangkat benda diam. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Kenneth Cooper dari Institut Aerobics di Dallas USA. la menemukan bahwa atlet lari cepat bertahan lama jika lari marathon. Mereka unggul pada 20 menit pertama, kemudian tenaganya merosot tajam dan jantungnya berdeyut sangat kencang. Menurutnya hal itu disebabkan karena para atlet lari cepat lebih mengekonsentrasikan diri pada gerakan anaerobik dari pada aerobik. Untuk itu kegiatan pendidikan jasmani hendaknya meliputi kegiatan aerobik dan anaerobik. Kegiatan aerobik tidak membutuhkan udara (oksigen) yang diambil oleh paru-paru. Lari cepat, misalnya, tidak menggunakan oksigen dari paru-paru. Para atlet lari cepat 100 meter dapat menahan nafas sekitar 10 detik saat berlari kencang. Berbeda dengan gerak anaerobik, gerak aerobik memerlukan udara (oksigen) yang diambil dari udara oleh paruparu. Senam aerobik, lari marathon, dan gerak jalan merupakan contoh gerak aerobik. Kegiatan pendidikan jasmani untuk anak TK sebaiknya mengembangkan unsur-unsur dasar kesehatan tubuh berikut ini 1. Kekuatan (strength) 2. Ketahanan (endurance) 3. Kelincahan (agility) 4. Keseimbangan (Balance) 5. Koordinasi (coordination), dan Meskipun demikian, semua bentuk kegiatan harus dilakukan secara menyenangkan dan disesuaikan dengan kekuatan masing-masing anak. Anak TK sedang mengalami pertumbuhan badan sangat pesat, terutama pertumbuhan tulang. Pertumbuhan tulang
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 92

Satu Untuk UNM
terjadi pada daerah ujung tulang (epifisis) yang merupakan tulang rawan. Pemberian beban yang berlebihan, seperti beban berat atau berlari di luar kapasitasnya dapat merusak daerah pertumbuhan tulang tersebut. Akibatnya pertumbuhan tulang anak dapat terganggu. Selain itu pendidikan jasmani juga ditunjukan untuk mengembangkan kemampuan motorik anak, baik motorik kasar maupun motorik halus. Melalui pendidikan jasmani, diharapkan otot-otot tubuh anak berkembang sehingga mereka mampu melakukan gerak dasar, seperti berjalan, berlari, melempar, menangkap, melompat, dan menendang. Rangkuman Program pembelajaran matematika hendaknya didesain untuk membantu anak-anak memperoleh dan menerapkan pemahaman konsep dan keterampilan matematika. Guru merencanakan untuk mengajarkan konsep matematika kepada anak dengan memecahkan masalah yang bermakna. keterampilan matematika merupakan fokus dari pembelajaran yang dikembangkan melalui permainan spontan. Belajar bahasa tidak jauh beda dengan belajar sains, anak menggunakan indera dan pikirannya untuk belajar. Anak juga bereksperimen dengan cara mengucaukan kata, merespon, dan berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa ibu merupakan bahasa yang mulamula dipelajari anak. Kata, struktur kata dan bunyi bahasa ibu merupakan realisasi dari makna tersebut. Jadi belajar bahasa adalah belajar memaknakan. Nilai-nilai estetis, keindahan, dan kecantikan sangat baik untuk ditanamkan anak sejak usia dini. Melalui penataan benda-benda di ruangan, anak-anak belajar tentang keteraturan dan keindahan. Begitu pula dengan menggambar dan mengkombinasikan warna untuk mencapai suatu keindahan akan menanamkan nilai-nilai estetik pada anak. Tes 1. Buatlah masing-masing contoh kegiatan dalam SKH anda yang menunjukkan bahwa anda merancang kegiatan pembelajaran berdasarakan konsep perkembangan dan konsep pembelajaran yang berpusat pada anak! 2. Anda telah memahami bahwa kegiatan belajar yang paling menyenangkan adalah bermain. Rancanglah suatu kegiatan bermain matematika yang dapat membantu anak memecahkan masalah dalam mengenal bentuk, memahami konsep bilangan dan mampu menaksir gejala suatu benda ! 3. Bagaimana anda memahami dan membedakan bahwa dalam kegiatan menggambar, aspek yang dikembangkan adalah aspek seni atau aspek motorik halus anak !

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

93

Satu Untuk UNM
4. Belajar bahasa tidak jauh beda dengan belajar sains, anak menggunakan indera dan pikirannya untuk belajar jelaskan pendapat tersebut, dengan contoh yang sering anda lakukan dalam mengajrkan bahasa pada anak didik anda ! 5. Jelaskan apa yang anda lakukan dalam menanamkan nilai-nilai estetis, keindahan, dan kecantikan pada anak didik anda !

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

94

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->