P. 1
Modul-PLPG_PKn

Modul-PLPG_PKn

|Views: 457|Likes:
Published by Taufik Agus Tanto
Modul PLPG PKn
Modul PLPG PKn

More info:

Published by: Taufik Agus Tanto on Sep 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2013

pdf

text

original

Satu Untuk UNM

A. PENDAHULUAN 1. Deskripsi Singkat a. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Bidang Studi PKn ini memuat tentang; (1) Norma Dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara, (2) Hak Asasi Manusia, (3) Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat, (4) Pancasila Sebagai Dasar Dan Ideologi Negara, (5) Konstitusi Negara RI, (6) Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia, (7) Otonomi Daerah, (8) Globalisasi, (9) Sistem Hukum dan Peradilan Nasional, (10) Kewarganegaraan, (11) Budaya Politik, (12) Hubungan Internasional, (13) Pers dalam Masyarakat Demokrasi. 2. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) a. Merumuskan sikap terhadap norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 1) Mengategorikan hakikat norma-norma, kebiasaan, adat istiadat, peraturan yang berlaku dalam masyarakat. 2) Membandingkan norma-norma, kebiasaan, adat istiadat dan peraturan yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. b. Merumuskan sikap terhadap perlindungan dan penegakan Hak Azasi Manusia (HAM). 1) Mengategorikan hakikat, hukum dan kelembagaan HAM. 2) Memecahkan contoh kasus pelanggaran dan upaya penegakan HAM. c. Menampilkan contoh kemerdekaan mengemukakan pendapat. 1) Menganalisis hakikat kemerdekaan mengemukakan pendapat. 2) Menggeneralisasi pentingnya kemerdekaan mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab. d. Merumuskan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Menganalisis nilai-nilai Pancasila sebagai dasar Negara dan ideologi Negara. e. Merangkum berbagai konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia. 1) Membandingkan berbagai konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia. 2) Menganalisis penyimpangan-penyimpangan terhadap konstitusi yang berlaku di Indonesia. f. Membuktikan pelaksanaan demokrasi dalam berbagai aspek kehidupan. 1) Merumuskan hakikat demokrasi. 2) Memutuskan pentingnya kehidupan demokratis dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

26

Satu Untuk UNM
g. Menilai pelaksanaan otonomi daerah. Merumuskan pengertian, prinsip dan asas otonomi daerah. h. Menyimpulkan dampak globalisasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 1) Memperjelas dampak globalisasi bagi Indonesia. 2) Merumuskan politik luar negeri dalam hubungan internasional di era global. i. Menilai sikap terhadap sistem hukum dan peradilan nasional 1) Menelaah sistem hukum dan peradilan nasional. 2) Menganalisis peranan lembaga-lembaga peradilan j. Membuktikan persamaan kedudukan warga Negara dalam berbagai aspek kehidupan. 1) Menilai kedudukan warga Negara. 2) Menganalisis persamaan kedudukan warga Negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 3) Menilai persamaan kedudukan warga Negara tanpa membedakan ras, agama, gender, golongan, budaya dan suku. k. Menganalisis budaya politik di Indonesia 1) Merumuskan makna budaya politik. 2) Menyimpulkan macam dan bentuk budaya politik. l. Menilai hubungan internasinal dan organisasi internasional Menganalisis sarana-sarana hubungan internasional bagi suatu Negara m. Mengevaluasi peranan pers dalam masyarakat demokrasi. Membandingkan fungsi dan peran serta perkembangan pers di Indonesia. A. KEGIATAN BELAJAR 1. Kegiatan Belajar 1 a. Norma dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara b. Indikator: 1) Menganalisis macam-macam peraturan yang berlaku dalam masyarakat Indonesia 2) Menemukan penerapan norma-norma, kebiasaan, adat istiadat dan peraturan yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. c. Uraian Materi dan Contoh: A. Pendahuluan Norma merupakan kaidah atau aturan-aturan yang berisi petunjuk tentang tingkahlaku yang wajib dilakukan atau tidak boleh dilakukan oleh manusia dan bersifat mengikat. Kata “mengikat” di sini berarti bahwa setiap orang dalam
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 27

Satu Untuk UNM
lingkungan berlakunya norma itu wajib menaatinya. Kepada para pelanggar norma itu akan dikenai sanksi tertentu. Tujuan dari diberlakukannya suatu norma pada dasarnya adalah untuk menjamin terciptanya ketertiban masyarakat. Norma itu pada umumnya berlaku dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu. seperti dalam lingkungan etnis tertentu di suatu wilayah atau negara tertentu. Namun demikian ada pula norma-norma yang bersifat universal yang berlaku bagi seluruh umat manusia misalnya larangan menipu, mencuri, menganiaya, membunuh, dan lain-lain. Dalam kehidupan manusia dikenal adanya beberapa macam norma. B. Perwujudan Norma dalam Kehidupan Bersama Dalam perwujudannya, norma dapat berwujud agama, kesusilaan, kesopanan dan hukum.

1. Norma Kesusilaan
Kansil (1998:84) mengatakan, bahwa norma kesusilaan ialah peraturan hidup yang dianggap sebagai suara hati sanubari manusia (insan kamil). Peraturanperaturan hidup itu berkenaan dengan bisikan kalbu atau suara batin yang diakui dan diinsafi oleh setiap orang sebagai pedoman dalam sikap dan perbuatannya. Oleh karenanya Soerojo Wignjodipuro (1983:13) menyebutnya sebagai norma yang paling tua dan asli. Dikatakan demikian, karena norma kesusilaan adanya bersamaan dengan kelahiran atau keberadaan manusia itu sendiri, tanpa melihat jenis kelamin dan darimana asal kebangsaaannya. Norma kesusilaan berkenaan dengan bisikan hati nurani, dalam arti bagaimana suara hati itu dapat mengatakan sesuatu fakta atau konsep, sekalipun mungkin bertentangan dengan apa yang diucapkannya. Misalnya ketika ditanya siapa di antara kalian yang menyembunyikan pensil milik temanmu yang hilang? Mungkin tidak ada seorangpun di antara siswa yang mengakui perbuatannya secara langsung, namun dalam hati sanubarinya dia akan mengatakan, bahwa sesungguhnya sayalah yang menyembunyikan atau mengambil pensil tersebut.

2. Norma Adat/Masyarakat
Norma atau kaidah adat/kemasyarakatan adalah kaidah atau aturan hidup yang timbul dari pergaulan hidup masyarakat tertentu. Landasan kaidah ini adalah kepatutan, kepantasan dan kebiasaan yang berlaku pada suatu masyarakat. Oleh karena itu kaidah ini sering disamakan dengan sopan santun, tata krama atau adat

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

28

Satu Untuk UNM
istiadat, walaupun ada juga pakar hukum yang tidak mau menyamakan pengertian kebiasaan dengan adat dan sopan santun. Norma adat adalah aturan tidak tertulis, yang merupakan pedoman bagi masyarakat dan dipertahankan dalam pergaulan hidup sehari-hari baik di kota maupun di desa. Norma adat senantiasa tumbuh dari suatu kebutuhan hidup yang nyata, cara hidup dan pandangan hidup yang keseluruhannya merupakan kebudayaan masyarakat tempat norma adat itu berlaku.

3. Norma Agama
Norma agama merupakan sekumpulan kaidah atau peraturan hidup yang sumbernya dari wahyu Tuhan. Oleh karena itu para penganut agama merasa yakin bahwa apa yang diatur dalam ajaran agama merupakan kaidah yang datang dari Tuhan. Di sini jelas yang berbicara selain hati nurani juga adalah keyakinan terhadap ajaran agama. Berkaitan dengan hal ini di Indonesia agama yang tumbuh dan berkembang tidak hanya satu, maka dalam pelaksanaan kehidupan beragama seharihari terdapat berbagai variasi sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

4. Norma Hukum
Ketiga norma yang telah dikemukakan pada hakikatnya adalah norma hidup yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, yang sumbernya juga dari kehidupan masyarakat itu sendiri, maka sumber norma hukum berasal dari negara sebagai penguasa yang mengatur ketertiban kehidupan suatu negara. Norma hukum sebagaimana dikemukakan Kansil (1998:37) mempunyai ciri: a. Peraturan mengenai tingkahlaku manusia dalam pergaulan masyarakat b. Diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib c. Bersifat memaksa d. Sanksi terhadap pelanggaran peraturan tegas e. Berisi perintah dan larangan f. Perintah/larangan itu harus dipatuhi C. Tujuan dan Kegunaan Norma Setiap jenis norma secara kualitatif mempunyai tujuan dan fungsi yang relatif berbeda sesuai dengan karakter atau ciri khas dari norma yang bersangkutan. Adapun tujuan dan kegunaan dari setiap norma dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Norma Kesusilaan
Bila seseorang melanggar norma/kaidah kesusilaan, maka dia akan dicap sebagai orang yang a-susila, dalam arti tidak mempunyai rasa kesusilaan. Tujuan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 29

Satu Untuk UNM
kaidah kesusilaan ini adalah agar setiap orang mempunyai rasa kesusilaan yang tinggi dalam hidup dan kehidupannya di masyarakat. Karena sumber norma kesusilaan adalah hati nurani, maka norma ini mempunyai kegunaan untuk mengendalikan ucap, sikap dan perilaku setiap individu melalui teguran hati nuraninya.

2. Norma Adat/Kemasyarakatan
Bila seseorang melanggar norma adat/ kemasyarakatan, maka dia akan dikenai sanksi berupa pengucilan atau pengusiran dari masyarakat adat tersebut. Dalam arti mereka yang telah melakukan pelanggaran terhadap norma adat tidak akan dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan upacara adat di daerah atau masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena itu tujuan norma adat ini agar setiap anggota masyarakat menaati segala apa yang diharuskan oleh adatnya. Kegunaan norma adat adalah untuk mengatur kehidupan/hubungan antar manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya, sehingga tidak timbul perselisihan di antara sesama anggota masyarakat yang bersangkutan. Dengan adanya norma adat ini, setiap anggota masyarakat akan selalu berupaya menyikapi dan mematuhi apaapa yang menjadi keharusan dalam hidup dan kehidupan di masyarakat di mana dia tinggal.

3. Norma Agama
Bila seseorang melanggar norma/kaidah agama, maka dia akan mendapatkan sanksi dari Tuhan sesuai dengan keyakinan agamanya masing-masing. Oleh karena itu tujuan norma agama adalah menciptakan insan-insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dalam arti mampu melaksanakan apa yang menjadi perintah-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Adapun kegunaan norma agama adalah untuk mengendalikan sikap dan perilaku setiap insan dalam hidup dan kehidupannya melalui pelaksanaan norma agama, dimana setiap manusia akan selalu berupaya melaksanakan apa-apa yang menjadi keharusan Tuhan dan meninggalkan apa yang harus ditinggalkannya dalam sikap dan perilaku sehari-hari dalam kehidupannya di masyarakat.

4. Norma Hukum
Bila seseorang melanggar norma/kaidah hukum, maka dia akan mendapat sanksi yang tegas dari peraturan hukum. Sanksi yang diberikan sebelumnya ditentukan lebih dahulu, misalnya dalam pasal 338 KUHP: barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain , diancam dengan hukuman setinggitingginya lima belas tahun . Jadi jelas bahwa keberadaan norma hukum ini bertujuan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 30

Satu Untuk UNM
untuk mewujudkan ketertiban dan kedamaian dalam masyarakat melalui upaya

penciptaaan kepastian hukum., Sementara itu kegunaan norma hukum adalah untuk melindungi kepentingan orang lain, misalnya yang berhubungan dengan : a. Jiwa ………. Pembunuhan (pasal 335 – 350 KUHP b. Badan ….. ….Penganiayaan (pasal 351 – 358 KUHP) c. Kehormatan …Penghinaan (pasal 310 – 321 KUHP) d. Kemerdekaan…Perdagangan (pasal 324 – 337 KUHP) e. Kekayaan/Benda…..Pencurian (pasal 362 – 367 KUHP). d. Rangkuman 1. Norma merupakan kaidah atau aturan-aturan yang berisi petunjuk tentang tingkahlaku yang wajib dilakukan atau tidak boleh dilakukan oleh manusia dan bersifat mengikat. 2. Dalam perwujudannya, norma dapat berwujud agama, kesusilaan, kesopanan dan hukum. 3. Norma kesusilaan berkenaan dengan bisikan hati nurani, dalam arti bagaimana suara hati itu dapat mengatakan sesuatu fakta atau konsep, sekalipun mungkin bertentangan dengan apa yang diucapkannya. 4. Norma adat (sering pula disamakan dengan norma kesopanan) adalah aturan tidak tertulis, yang merupakan pedoman bagi masyarakat dan dipertahankan dalam pergaulan hidup sehari-hari baik di kota maupun di desa. 5. Norma agama merupakan sekumpulan kaidah atau peraturan hidup yang sumbernya dari wahyu Tuhan. 6. Norma hukum adalah seperangkat aturan menengenai tingkah laku manusia yang berisi perintah dan larangan yang bersifat mengikat dan memaksa, memiliki sanksi yang tegas, dan diadakan oleh suatu badan yang resmi. e. Latihan Sepasang kekasih yang kebetulan adalah “public figure” sedang dimabuk asmara. Karena ia adalah “public figure”, maka segala sepak terjangnya senantiasa menjadi sorotan masyarakat dan selalu menghangatkan acara-acara infortainment di media-media TV. Hubungan keduanya sudah begitu jauh dan bahkan sudah seperti layaknya suami isteri. Ia kemudian mendokumentasikan hubungannya itu yang layaknya (hanya “boleh” dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah) dalam sebuah media audio visual (CD).
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 31

Satu Untuk UNM
Persoalan kemudian muncul ketika tayangan tersebut muncul di internet dan dapat diungguh oleh jutaan orang tanpa mengenal batas usia, terlepas apakah sengaja dilakukan atau tidak, ataukah dilakukan oleh orang yang berniat merusak nama baik kedua pasangan tersebut. Berbagai komentar kemudian muncul, baik yang bernada membela pasangan tersebut maupun yang bernada mencaci maki atas nama hukum, moral etika dan kesopanan. Ada juga yang mencoba mengambil jalan tengah dengan menyarankan kepada pasangan tersebut untuk mengakui saja perbuatannya, meminta maaf kepada masyarakat, kemudian menikah baik-baik. Yang jelas, proses hukum sudah berjalan, dua-duanya sudah ditetapkan sebagai tersangka pelaku kegiatan “pornografi” oleh Kepolisian, dengan perlakuan yang kelihatannya berbeda di antara keduanya. Sang laki-laki kini mendekam dalam tahanan kepolisian, sedangkan sang perempuan masih bebas berkeliaran dan mengadakan jumpa pers.

Instruksi:
Analisis kasus tersebut di atas, kemudian: 1. Buatlah suatu jalan keluar bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut berdasarkan norma agama, norma kesusilaan, norma adat dan peraturan perundang-undangan yang berlaku! 2. Identifikasi berbagai macam alternative pemecahan yang muncul di masyarakat, baik berdasarkan norma agama, norma kesusilaan, norma adat, maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku! 3. Berdasarkan identifikasi yang telah dilakukan, buatlah suatu telaah tentang penerapan norma-norma dan peraturan perundang-undangan tersebut!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

32

Satu Untuk UNM
2. Kegiatan Belajar 2 a. Hak Asasi Manusia (HAM) b. Indikator: 1) Menganalisis hakikat hukum dan kelembagaan HAM di Indonesia. 2) Menelaah contoh kasus pelanggaran dan penegakan HAM. 3) Memerinci upaya penegakan HAM. c. Uraian Materi dan Contoh: A. Pengertian Hak dan Kewajiban Asasi manusia

1. Hak Asasi Manusia (HAM)
Hak asasi manusia merupakan hak yang bersifat asasi, artinya hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya yang tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya. Jadi, hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang dimiliki manusia sejak lahir sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Jika memperhatikan UUD 1945 hasil amandemen IV, maka jaminan terhadap HAM diatur dalam Pasal 27, 28 28A – 28I, 29, 30, dan 31.

2. Kewajiban Asasi Manusia
Disamping ada hak asasi ada pula kewajiban asasi yang harus kita laksanakan terlebih dahulu sebelum menuntut hak. Dalam pelaksanaannya, hak asasi manusia itu tidak dapat dituntut secara mutlak karena penuntutan pelaksanaan hak asasi manusia secara mutlak, dapat melanggar hak-hak asasi orang lain. Contohnya, jika berjalan di jalan umum, kita tidak dapat berjalan sesuai dengan kehendak kita karena ada orang lain juga yang mempunyai hak untuk menggunakan jalan tersebut. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Pasal 1 angka (2) menegaskan bahwa ”kewajiban dasar manusia adalah seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan, tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya hak asasi manusia”. Contoh kewajiban asasi seperti yang dijamin dalam UUD NKRI 1945 sebagaimana termaktub dalam Pasal 27, 28 J dan Pasal 30. B. Kasus-kasus Pelanggaran HAM Dalam sejarah peradaban manusia telah banyak peristiwa dan penindasan terhadap manusia, baik yang terjadi di wilayah publik maupun pada wilayah domestik yang di dalamnya terjadi tindakan pelanggaran HAM. Sebagai contoh; Indonesia dijajah oleh bangsa Belanda dan Jepang, oleh karena itu muncullah bentuk-bentuk

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

33

Satu Untuk UNM
perlawanan untuk melindungi HAM dengan melakukan perlawanan terhadap para penguasa yang menindas. Adanya bentuk pertentangan yang terjadi antara penjajah dengan yang dijajah, yang berkuasa dengan rakyat, mayoritas dan minoritas, kaya dan miskin serta tuan dan budak. Berdasarkan hal tersebut maka kita dapat mengidentifikasi kasus-kasus pelanggaran HAM diantaranya sebagai berikut : 1. Bentuk penjajahan yang terjadi pada masa lalu yang dilakukan oleh negara-negara Imprealis (Indonesia dijajah oleh Belanda dan Jepang). 2. Pembantaian Suku atau kaum Minoritas (pembantaian suku Kurdi dan pembantaian warga Bosnia). 3. Pembantaian Ras (yang dilakukan oleh NAZI pada masa Hitler). 4. Kejahatan perang yang dilakukan oleh suatu rezim atau elite politik yang berkuasa. 5. Penindasan Ras kulit hitam di Afrika. C. Upaya-upaya Penegakan HAM Pasal 28 UUD NKRI 1945 menjamin adanya hak berserikat, menyatakan pikiran baik secara lisan maupun tulisan. Pasal ini merupakan salah satu dasar utama adanya kehidupan kenegaraan yang berdinamika di mana setiap orang bebas mendirikan organisasi dan bebas pula menyatakan pendapat. Dari penjelasan tersebut mencerminkan bangsa Indonesia menjamin pelaksanaan HAM, dimana dalam pelaksanaanya memerlukan dukungan dari semua pihak seperti tokoh masyarakat, LSM, POLRI, TNI dan kalangan profesi hukum, ekonomi, politik, serta political will pemerintah Indonesia. Perjalanan bangsa Indonesia menuju masyarakat yang demokratis tanpa melupakan budaya bangsa yang sudah berakar beratus-ratus tahun lampau tetap harus berlandaskan pada prinsip supremasi hukum, transparansi, akuntabilitas, profesionalisme serta prinsip musyawarah dan mufakat. Adapun langkah-langkah pembentukan sistem hukum yang ditempuh bangsa Indonesia dalam upaya penegakan HAM adalah sebagai berikut: 1. Prinsip transparansi; yaitu pembahasan naskah RUU harus terbuka, artinya DPR dan Presiden dalam membuat UU harus terbuka menerima masukan dari masyarakat. 2. Prinsip supremasi hukum; yaitu kepastian hukum, persamaan kedududkan didepan hukum dan keadilan hukum berdasarkan proporsionalitas.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 34

Satu Untuk UNM
3. Prinsip profesionalisme; yaitu dalam penyusunan dan pembentukan hukum keikutsertaan dan perananan pakar-pakar hukum dan non hukum yang releVan harus diutamakan sehingga diharapkan dapat melahirkan perundang-undangan yang berkualitas. 4. Internalisasi nilai-nilai HAM; yaitu wujud nyata dari pengakuan rakyat dan pemerintah terhadap hak-hak asasi manusia sehingga diharapkan memberikan karakteristik tersendiri terhadap setiap produk hukum dan perundang-undangan. Selanjutnya langkah-langkah hukum yang ditempuh pemerintah Indonesia telah diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan yakni : 1. UUD NKRI 1945 2. UU No. 5 Thn 1998 tentang pengesahan konvensi menentang penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman lain merendahkan martabat manusia . 3. UU No. 9 Thn 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum 4. UU No. 39 Thn 1999 tentang HAM 5. UU No. 26 Thn 2000 tentang pengadilan HAM 6. UU No. 23 Thn 2004 tentang PKDRT 7. UU No. 12 Thn 2006 tentang UU kewarganegaraan 8. UU No. 23 Thn 2002 tentang perlindungan anak B. Lembaga Nasional Untuk Memajukan dan Melindungi Hak Asasi Manusia yang kejam, tidak manusiawi atau

1. Komisi Hak Asasi Manusia
Komisi ini bersifat mandiri yang keanggotannya terdiri dari individu yang memiliki keragaman latar belakang. Salah satu fungsi penting dari Komisi ini adalah menerima dan memeriksa pengaduan dari perseorangan dan kadang-kadang dari kelompok mengenai dugaan penyalahgunaan hak asasi manusia yang dilakukan sebagai pelanggaran hukum nasional yang ada.Selain itu komisi ini juga memiliki fungsi untuk secara sistematik meninjau kembali kebijakan pemerintah di bidang hak asasi manusia untuk menilai hasil-hasil penataan hak asasi manusia dan menyarankan langkah-langkah perbaikan. Selain itu komisi juga memantau Negara atas pelaksanaan hukum-hukumnya sendiri begitupun halnya dengan hukum hak asasi manusia internasional bila perlu memberikan rekomendasi-rekomendasi agar terciptanya sebuah perubahan. Indonesia memiki komisi hak asasi manusia yang dikenal dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

35

Satu Untuk UNM
2. Komisi Ombudsman
Lembaga ini dapat terdiri dari satu orang atau sekumpulan orang yang dipilih oleh parlemen. Obudsman memiliki fungsi melindungi individu yang merasa menjadi korban perlakuan yang tidak adil. Secara umum fungsi utama dari ombudsman adalah menjamin keadilan dan legalitas dalam administrasi publik. Aktivitas atau jenis kegiatan yang dilakukan oleh lembaga Ombudsman adalah menerima pengaduan dan melakukan penyelidikan terhadap kasus yang kemudian mereka tangani, selain itu mereka juga berhak memberikan rekomendasi kepada pemerintah atau pihak bertikai lainnya berdasarkan hasil penyelidikan dari kasus yang mereka tangani. Walaupun secara umum fokus dari Ombdusman adalah pengaduan individual, namun tidak menutup kemungkinan terhadap aktivitas lain yang lebih luas mengenai perlindungan dan pemajuan hak asasi manusia.

3. Lembaga Khusus
a) Komisi Nasional Perempuan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan atau Komisi Nasional (Komnas) Perempuan adalah lembaga independen di Indonesia yang dibentuk sebagai mekanisme nasional untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan. Komisi nasional ini didirikan tanggal 15 Oktober 1998 berdasarkan Keputusan Presiden No. 181/1998. b) Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) KPAI adalah Lembaga Independen yang kedudukannya setingkat dengan Komisi Negara yang dibentuk berdasarkan amanat Keppres 77/2003 dan pasal 74 UU No. 23 Tahun 2002. Komisi Nasional Perlindungan Anak memiliki prinsip sebagai organisasi yang independen, dan memegang teguh prinsip pertanggungjawaban publik serta mengedepankan peluang dan kesempatan pada anak dan partisipasi anak serta menghargai dan memihak pada prinsip dasar anak. d. Rangkuman 1. Hak asasi adalah hak darat yang melekat pada diri manusia sesuai keodratnya yang tidak dapat dipisahkan dari diri manusia itu dan merupakan pemberian Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam pelaksanaannya harus pula memperhatikan HAM orang lain.. 2. Disamping HAM adapula Kewajiban Asasi yaitu seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan, tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya hak asasi manusia .
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 36

Satu Untuk UNM
3. Bentuk-bentuk pelanggaran HAM dapat berupa penjajahan, genosida, kejahatan kemanusiaan, kekerasan fisik, psikis, seksual maupun penelantaran rumah tangga. 4. Adapun upaya penegakan HAM dilakukan dengan pemberian jaminan dalam berbagai peraturan perundang-undangan, yang dalam pelaksanaannya harus memperhatikan prinsip transparansi, supremasi hukum, profesionalisme dan internalisasi nilai-nilai HAM. 5. Lembaga HAM di Indonesia terdiri atas KOMNAS HAM, Komisi Ombudsman dan Lembaga lain berupa Komnas Perempuan dan KPAI. e. Latihan

Kasus I
Suatu peristiwa penyerangan dilakukan oleh aparat keamanan terhadap warga desa di Bonto-Bonto. Kasus tersebut dipicu oleh ketersinggungan aparat keamanan yang kebetulan tidak sedang bertugas dan lewat di depan seorang pemuda desa yang sedang mabuk berat. Sang aparat keamanan kemudian menganiaya pemuda tersebut. Masyarakat yang mendapat informasi tentang penganiayaan salah seorang warganya, beramai-ramai mencari pelakunya dan menemukannya sedang bertugas di sebuah pos polisi. Tanpa banyak bertanya, masyarakat kemudian memukul petugas tersebut, dan karena emosi yang tak terkendali, kantor polisi pun ikut dibakar. Bala bantuan dari pihak keamanan keemudian datang dan balik menyerang warga masyarakat. Akibatnya, puluhan warga desa meninggal dan luka-luka. Sedangkan aparat keamanan yang sedang bertugas di pos polisi tadi, juga ditemukan sudah tidak bernyawa lagi.

Instruksi:
Analisis kasus tersebut kemudian jawab pertanyaan berikut: 1. Benarkah tindakan masyarakat dan aparat keamanan tersebut berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku? Jelaskan jawaban Anda! 2. Untuk menyelesaikan kasus tersebut, lembaga-lembaga apa saja yang berwenang menyelesaikannya? 3. Menurut Anda, apakah kasus tersebut termasuk pelanggaran HAM? Jika ya, apakah kategorinya berat atau ringan? Jelaskan!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

37

Satu Untuk UNM
Kasus II
Seorang guru sebuah Sekolah Mengengah Atas menghukum siswanya yang telah berulang kali melakukan pelanggaran tata tertib sekolah dengan cara mengikat dan menjemurrnya di bawah terik matahari. Oleh orang tua siswa tersebut, sang guru kemudian dilaporkan ke pihak Kepolisian. Sang guru kemudian diciduk dan ditahan oleh polisi dengan tuduhan pelanggaran HAM anak.

Instruksi:
Analisis kasus tersebut, kemudian jawab pertanyaan berikut: 1. Apakah tindakan guru tersebut termasuk kategori pelanggaran HAM? Jelaskan jawaban Anda! 2. Jika tindakan tersebut termasuk pelanggaran HAM, undang-undang HAM apa yang telah dilanggar? 3. Menurut Anda, tindakan apa yang seharusnya dilakukan oleh guru untuk menghadapi anak semacam itu agar tidak melanggar HAM? 4. Untuk memperkuat jawaban Anda, kemukakan beberapa contoh kasus pelanggaran HAM anak dan pelanggaran HAM yang terjadi di lingkungan sekolah, kemudian uraikan proses penyelesaiaannya serta lembaga-lembaga HAM apa saja yang terlibat di dalamnya!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

38

Satu Untuk UNM
3. Kegiatan Belajar 3 a. Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat b. Indikator: 1) Memerinci hakikat kemerdekaan mengemukakan pendapat. 2) Menyimpulkan dasar hukum, hakikat dan tata cara kemerdekaan mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab. c. Uraian Materi dan Contoh: A. Pendahuluan Kemerdekaan berpendapat merupakan salah satu jenis kebebasan yang dijamin oleh negara. Jaminan ini dituangkan dalam berbagai instrumen hukum, mulai dari konstitusi sampai pada peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tingkatannya. Pemberian jaminan oleh negara ini bukan saja karena secara filosofis kemerdekaan menyampaikan pendapat sebagai salah satu hak dasar warga negara, tetapi secara ideologis negara dibangun dan kelola atas dasar kedaulatan rakyat dan lebih dari itu secara praktis-fungsional menjadi kebutuhan dalam pelaksanaan pembangunan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. B. Pengertian. Pendapat secara umum diartikan sebagai buah gagasan atau buah pikiran. Berpendapat berarti mengemukakan gagasan atau mengeluarkan pikiran. Dalam kehidupan bangsa Indonesia, seseorang yang mengemukakan pendapatnya atau mengeluarkan pikirannya dijamin secara konstitusional. Pengertian kemerdekaan menyampaikan pendapat dinyatakan dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, bahwa “kemerdekaan menyampaikan pendapat adalah hak setiap warga Negara untuk menyampaikan pikiran secara lisan, tulisan dan sebagainya secara bebas dan bertanggungjawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Oleh karena itu warga Negara yang menyampaikan pendapatnya di muka umum berhak untuk menyampaikan pikiran secara bebas dan memperoleh perlindungan hukum (pasal 5 UU No.9 tahun 1998). C. Dasar Hukum Dasar hukum kemerdekaan mengemukakan pendapat dijamin dan diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan sebagai berikut:

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

39

Satu Untuk UNM
1. Undang–Undang Dasar NKRI 1945 Pasal 28 “kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. Ketentua. ini dipertegas lagi dalam Pasal 28 E ayat (3), yang merupakan hasil amandemen bahwa ”setiap orang berhak atas kebebasan beerserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat”. 2. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. 3. Sebagai anggota PBB yang telah berkomitmen mengimplementasikan Universal

Declaration of Human Rigth, maka bisa juga disebut salah satu instrument hukum
kemerdekaan menyampaikan pendapat ini diatur dalam Pasal 19 Deklarasi tersebut yang berbunyi; ”setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat, dalam hal ini termasuk kebebasan menganut pendapat tanpa mendapat gangguan, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan keterangan-keterangan dan pendapat dengan cara apapun dan dengan tidak memandang batas-batas”. D. Asas dan Tujuan Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum dilaksanakan berdasarkan pada asas-asas tertentu, dengan maksud agar penyampaian pendapat dimuka umum dapat efektif dengan tidak mencederai hak dan kepentingan orang lain yang dapat menimbulkan konflik baik vertikal maupun horizontal. Asas-asas dimaksud adalah: 1. Asas keseimbangan antara hak dan kewajiban 2. Asas musyawarah dan mufakat 3. Asas kepastian hukum dan keadilan 4. Asas proporsionalitas, dan 5. Asas mufakat E. Hak dan Kewajiban Dalam Menyampaikan Pendapat Sebagaimana halnya peraturan perundang-undangan pada umumnya, UU. No. 9 tahun 1998 juga mengatur tentang hak dan kewajiban dari subyek hukum yang diaturnya, sehingga tiap warga Negara sesuai dengan ketentuan peraturan ini dalam hal menyampaikan pendapat (di muka umum) mengemban hak sekaligus kewajiban. Adapun hak-hak dari warga Negara adalah: 1. Mengeluarkan pikiran secara bebas, yang berarti bahwa mengeluarkan pendapat, pandangan, kehendak atau perasaan yang bebas dari tekanan, baik secara fisik
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 40

Satu Untuk UNM
maupun psikis, atau pembatasan yang bertentangan dengan hak-hak asasi manusia. 2. Memperoleh perlindungan hukum, termasuk di dalamnya jaminan keamanan dan keselamatannya. Sedangkan kewajiban warga Negara dalam kaitan dengan UU No.9 tahun 1998 ini adalah: 1. Menghormati hak-hak dan kebebasan orang lain 2. menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum seperti mengindahkan norma agama, kesopanan, kesusilaan dalam kehidupan bermasyarakat. 3. Menaati hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku 4. Menjaga dan menghormati keamanan dan ketertiban umum 5. Menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa. G. Bentuk dan Tatacara Mengemukakan Pendapat di Muka Umum. Ada berbagai bentuk/cara yang dapat digunakan oleh warga Negara dalam menyampaikan pendapat di muka umum, baik perorangan maupu secara berkelompok. Variasi dari bentuk dan cara ini kelihatannya berkembang seiring dengan kreativitas warga Negara, terutama sejak bergulirnya reformasi. Secara umum bentuk-bentuk dan cara-cara ini adalah: 1. Unjuk rasa/demonstrasi 2. pawai 3. rapat umum, dan/atau mimbar bebas Media yang digunakan dalam menyampaikan pendapat kini sudah tersedia baik media cetak maupun elektronik, melalui panggung-panggung kesenian, dan sebagainya. UU NO.9 tahun 1998 menggariskan prosedur yang ditempuh atau tata cara yang digunakan jika akan menyampaikan pendapat di muka umum, yakni; 1. Penyampaian pendapat di muka umum wajib diberitahukan secara tertulis kepada polri; 2. Pemberitahuan secara tertulis disampaikan oleh yang bersangkutan, pemimpin, atau penanggungjawab kelompok; 3. Pemberitahuan sebagaimana dimaksud ialah pemberitahuan yang dilakukan selambat-lambatnya 3 x 24 jam sebelum kegiatan dimulai telah diterima oleh polri setempat.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

41

Satu Untuk UNM
d. Rangkuman 1. Kemerdekaan mengemukakan pendapat merupakan salah hak dasar manusia yang mendapatkan jaminan dan perlindungan dari Negara. Kemerdekaan tersebut berupa kebebasan untuk mennyampaikan gagasan, idea atau buah pikiran, baik secara lisan, tertulis ataupun dengan bentuk lain secara bertanggung jawab sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. Kemerdekaan mengemukakan pendapat telah diatur dengan tegas dalam UUD 1945 Pasal 28 dan Pasal 28 E ayat (3), UU No.9 Tahun 1998, serta Pasal 19 “The Universal of Human Rights”. 3. Mengenai tata cara mengemuakan pendapat secara bebas, diatur dalam UU No.9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. e. Latihan Merespon wacana pemerintah untuk menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL), mahasiswa UNM melakukan unjuk rasa sebagai bentuk penolakan atas kebijakan tersebut. Ratusan mahasiswa melakukan orasi di JL. A.P.Petta Rani disertai dengan pembakaran ban bekas. Akibatnya, lalu lintas menjadi macet. Aparat kemudian turun melakukan penanganan dan melakukan pembubaran secara paksa disertai tindakan refresif lainnya. Akhirnya terjadi bentrok yang mengakibatkan seorang polisi dan puluhan mahasiswa luka-luka, bahkan seorang mahasiswa sedang kritis. Bukan itu saja, berbagai fasilitas perkuliahan rusak akibat tindakan polisi yang merangsek masuk ke lokasi perkuliahan untuk mengejar dan menangkap mahasiswa.

Instruksi:
Analisis kasus tersebut di atas kemudia jawab pertanyaan berikut: 1) Apakah tindakan mahasiswa dan kepolisian tersebut dapat dibenarkan jika dilihat dari hakikat kemerdekaan mengemukakan pendapat? Jelaskan jawaban Anda disertai dengan dasar hukumnya! 2) Dampak positif dan dampak negative apa yang kira-kira ditimbulkan peristiwa tersebut. Buat rinciannya! 3) Menurut Anda, apakah maraknya unjuk rasa di berbagai tempat seperti kasus tersebut di atas terjadi karena adanya pembatasan kemerdekaan mengemukakan pendapat atau karena kebebasan yang justru “kebablasan”? 4) Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, buatlah rincian tata cara mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab!
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 42

Satu Untuk UNM
4. Kegiatan Belajar 4 a. Pancasila Sebagai Dasar dan Ideologi Negara b. Indikator: Menegaskan nilai Pancasila sebagai dasar Negara. c. Uraian Materi dan Contoh: A. Pengertian Dasar negara adalah landasan kehidupan berbangsa dan bernegara yang keberadaannya wajib dimiliki oleh setiap negara dalam setiap detail kehidupannya. Dasar negara bagi suatu negara merupakan suatu dasar untuk mengatur semua penyelenggaraan yang terbentuk dalam sebuah negara. Negara tanpa dasar negara berarti negara tersebut tidak memiliki pedoman dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara, maka akibatnya negara tersebut tidak memiliki arah dan tujuan yang jelas, sehingga memudahkan munculnya kekacauan. Dasar negara sebagai pedoman hidup bernegara mencakup norma bernegara, cita-cita negara, dan tujuan negara. B. Pancasila Sebagai Dasar dan Ideologi Negara Pancasila dalam kedudukannya ini sering disebut sebagai Dasar Filsafat atau Dasar Falsafah Negara (Philosofische Gronslag) dari Negara, ideologi Negara atau (Staatsidee). Dalam pengertian ini pancasila merupakan suatu dasar nilai serta norma untuk mengatur pemerintahan Negara, atau dengan kata lain Pancasila merupakan suatu dasar untuk mengatur penyelenggaraan Negara. Konsekuensinya seluruh pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara terutama segala peraturan perundangundangan termasuk proses reformasi dalam segala bidang dewasa ini dijabarkan dan diderivasikan dari nilai-nilai pancasila. Maka Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum. Pancasila merupakan sumber kaidah hukum Negara yang secara konstitusional mengatur Negara Republik Indonesia beserta seluruh unsur-unsurnya yaitu rakyat, wilayah, beserta pemerintah Negara. Sebagai dasar Negara, Pancasila merupakan suatu asas kerohanian yang meliputi suasana kebatinan atau cita-cita hukum, sehingga merupakan suatu sumber nilai, norma serta kaidah, baik moral maupun hukum Negara, dan menguasai hukum dasar baik yang tertulis atau Undang-Undang Dasar maupun yang tidak tertulis atau dalam kedudukannya sebagai dasar Negara, Pancasila mempunyai kekuatan mengikat secara hukum. Sebagai sumber dari segala hukum atau sebagai sumber tertib hukum Indonesia maka Pancasila tercantum dalam ketentuan tertinggi yaitu Pembukaan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 43

Satu Untuk UNM
UUD NKRI 1945, kemudian dijelmakan atau dijabarkan lebih lanjut dalam pokokpokok pikiran, yang meliputi suasana kebatinan dari UUD NKRI 1945, yang pada akhirnya dikongkritkan atau dijabarkan dari UUD NKRI 1945, serta hukum positif lainnya. Kedudukan Pancasila sebagai dasar Negara tersebut dapat diakatakan bahwa, Pancasila sebagai dasar Negara adalah merupakan sumber dari segala sumber hukum (sumber tertib hukum) Indonesia. Dengan demikian Pancasila merupakan asas kerokhanian tertib hukum Indonesia yang dalam Pembukaan UUD NKRI 1945 dijelmakan lebih lanjut ke dalam empat pokok pikiran. Meliputi suasana kebatinan (Geistlichenhintergrund) dari Undang-Undang Dasar NKRI 1945, mewujudkan cita-cita hukum bagi hukum dasar Negara (baik hukum dasar tertulis maupun tidak tertulis), mengandung norma yang mengharuskan Undang-Undang Dasar mengandung isi yang mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggara Negara (termasuk para penyelenggara partai dan golongan fungsional) memgang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur. Hal ini sebagaimana tercantum dalam pokok pikiran keempat yang berbunyi sebagai berikut : “….. Negara berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab”. Merupakan sumber semangat bagi Undang-Undang Dasar NKRI 1945, bagi penyelenggara Negara, para pelaksana pemerintahan (juga para penyelenggara partai dan golongan fungsional). Hal ini dapat dipahami karena semagat adalah penting bagi pelaksanaan dan penyelengaraan Negara, karena masyarakat dan Negara Indonesia senantiasa tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan dinamika masyarakat dan Negara akan tetap diliputi dan diarahkan asas kerokhanian Negara. Dasar formal kedudukan Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia tersimpul dalam Pembukaan UUD NKRI 1945 alenia IV yang berbunyi sebagai berikut:”….. maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial seluruh rakyat Indonesia”. Pengertian kata “…..dengan berdasar kepada….” Hal ini secara yuridis memiliki makna sebagai dasar negara. Walaupun dalam kalimat terakhir Pembukaan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 44

Satu Untuk UNM
UUD NKRI 1945 tidak tercantum kata ’Pancasila’ secara eksplisit namun anak kalimat ”dengan berdasar kepada” ini memiliki makna dasar Negara adalah Pancasila. Hal ini berdasarkan interpretasi historis yang ditentukan oleh BPUPKI bahwa dasar Negara Indonesia itu disebut dengan istilah Pancasila. Sebagaimana diinginkan oleh pembentuk Negara bahwa tujuan utama dirumuskannya Pancasila adalah sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Oleh karena itu fungsi pokok Pancasila adalah sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Hal ini sesuai dengan dasar yuridis sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD NKRI 1945, ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 jo Ketetapan MPR No. V/MPR/1973 dan Ketetapan MPR No. IX/MPR/1978, dijelaskan bahwa Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber tertib hukum Indonesia yang ada pada hakikatnya adalah merupakan suatu pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum serta cita-cita moral yang meliputi suasana kebatinan dari bangsa Indonesia. Selanjutnya dikatakan bahwa cita-cita mengenai kemerdekaan individu, kemerdekaan bangsa, perikemanusiaan, keadilan sosial, perdamaian nasional dan internasional, cita-cita politik mengenai sifat, bentuk dan tujuan Negara, cita-cita moral mengenai kehidupan kemasyarakatan dan keagamaan sebagai pengejawantahan dari budi nurani manusia. Dalam proses reformasi dewasa ini MPR melalui sidang Istimewa tahun 1998, mengembalikan kedudukan Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia yang tertuang dalam Tap. MPR No. IIII/MPR/1998. Oleh karena itu segala agenda dalam proses reformasi, meliputi berbagai bidang lain mendasarkan pada kenyataan aspirasi rakyat (Sila IV) juga harus mendasarkan pada nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Reformasi tidak mungkin menyimpang dari nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan serta keadilan, bahkan harus bersumber kepadanya. d. Rangkuman Pancasila dalam kedudukannya sebagai dasar Negara, sering disebut sebagai Dasar Filsafat atau Dasar Falsafah Negara (Philosofische Gronslag) dari Negara, ideologi Negara atau (Staatsidee). Dalam pengertian ini pancasila merupakan suatu dasar nilai serta norma untuk mengatur pemerintahan Negara, atau dengan kata lain Pancasila merupakan suatu dasar untuk mengatur penyelenggaraan Negara. Sebagai dasar Negara, Pancasila merupakan suatu asas kerohanian yang meliputi suasana kebatinan atau cita-cita hukum, sehingga merupakan suatu sumber
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 45

Satu Untuk UNM
nilai, norma serta kaidah, baik moral maupun hukum Negara, dan menguasai hukum dasar baik yang tertulis atau Undang-Undang Dasar maupun yang tidak tertulis atau dalam kedudukannya sebagai dasar Negara, Pancasila mempunyai kekuatan mengikat secara hukum. e. Latihan Seorang Dosen UNM melanjutkan pendidikannya ke Singapura atas biaya Negara. Karena sang dosen termasuk mahasiswa yang sangat brilian dan ia menguasai banyak informasi tentang keanekaragaman kekayaan laut dan migas di perairan Indonesia, perguruan tinggi tempat sang dosen belajar menawarinya sebuah pekerjaan dengan gaji yang sangat menggiurkan. Bahkan sang dosen ditawari oleh pemerintah Singapura untuk menjadi warga negaranya jika bersedia menerima pekerjaan tersebut. Berdasarkan pertimbangan perbedaan gaji yang diterima selama ini dengan tawaran yang di dapatkan, ia kemudian memutuskan untuk menerima pekerjaan tersebut dan memboyong keluarganya menuju Singapura.

Intruksi:
Analisis kasus tersebut di atas, kemudian jawab pertanyaan berikut: 1. Apakah tindakan dosen tersebut dapat dibenarkan jika dilihat dari sisi hak asasinya sebagai manusia pribadi dan dari sisi wawasan kebangsaan? Jelaskan jawaban Anda! 2. Apakah tindakan dosen tersebut dapat juga dipandang bertentangan dengan Pancasila sebagai nilai dan norma yang mengatur penyelenggaraan Negara? Jika bertentangan, tindakan hukum apa yang dapat diberikan kepada dosen tersebut? Jelaskan!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

46

Satu Untuk UNM
Kegiatan Belajar 5 a. Konstitusi Negara Republik Indonesia b. Indikator: 1) Membandingkan sistem konstitusi pada masa UUD 1945, RIS 1949 dan UUDS 1950. 2) Menganalisis beberapa penyimpangan terhadap konstitusi yang berlaku di Indonesia pada periode 1945-1959. c. Uraian Materi dan Contoh: A. Pengertian Konstitusi Menurut para ahli, antara “Konstitusi” dengan “Undang-Undang Dasar” ada yang berpendapat sama, tetapi ada juga yang berpendapat berbeda. Kata Konstitusi secara etimologis berasal dari bahasa Latin (constitutio), ”constitution” (Inggris), ”constituer” (Perancis), ”constitutie” (Belanda), undang-undang dasar, hukum dasar atau susunan badan. B. Konstitusi yang Pernah Berlaku di Indonesia Sejak tanggal 18 Agustus 1945 hingga sekarang (tahun 2010), di negara Indonesia pernah menggunakan tiga macam UUD yaitu UUD 1945, Konstitusi RIS 1949, dan UUD Sementara 1950. Dilihat dari periodesasi berlakunya ketiga UUD tersebut, dapat diuraikan menjadi lima periode yaitu: 1. 18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949 berlaku UUD 1945, 2. 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950 berlaku Konstitusi RIS 1949, 3. 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959 berlaku UUD Sementara 1950, 4. 5 Juli 1959 – 19 Oktober 1999 berlaku kembali UUD 1945 5. 19 Oktober 1999 – sekarang berlaku UUD 1945 (hasil perubahan). C. Penyimpangan-penyimpangan Terhadap Konstitusi Dalam praktik ketatanegaraan kita sejak 1945 terjadi penyimpangan terhadap konstitusi (UUD) seperti 1. Penyimpangan terhadap UUD 1945 masa awal kemerdekaan, antara lain: a. Keluarnya Maklumat Wakil Presiden Nomor X (baca: eks) tanggal 16 Oktober 1945 yang mengubah fungsi KNIP dari pembantu menjadi badan yang diserahi kekuasaan legislatif dan ikut serta menetapkan GBHN sebelum terbentuknya MPR, DPR, dan DPA. Hal ini bertentangan dengan UUD 1945 pasal 4 aturan peralihan yang berbunyi ”Sebelum MPR, DPR, dan DPA terbentuk, segala
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 47

dan ”Konstitution”

(Jerman). Dalam pengertian ketatanegaraan, istilah Konstitusi mengandung arti

Satu Untuk UNM
kekuasaan dilaksanakan oleh Presiden dengan bantuan sebuah komite nasional”. b. Keluarnya Maklumat Pemerintah tanggal 14 November 1945 yang merubah sistem pemerintahan presidensial menjadi sistem pemerintahan parlementer. Hal ini bertentangan dengan pasal 4 ayat (1) dan pasal 17 UUD 1945. 2. Penyimpangan terhadap UUD 1945 pada masa Orde Lama, antara lain: a. Presiden telah mengeluarkan produk peraturan dalam bentuk Penetapan Presiden, yang hal itu tidak dikenal dalam UUD 1945. b. MPRS, dengan Ketetapan No. I/MPRS/1960 telah menetapkan Pidato Presiden tanggal 17 Agustus 1959 yang berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita (Manifesto Politik Republik Indonesia) sebagai GBHN yang bersifat tetap. c. Pimpinan lembaga-lembaga negara diberi kedudukan sebagai menteri-menteri negara, yang berarti menempatkannya sejajar dengan pembantu Presiden. d. Hak budget tidak berjalan, karena setelah tahun 1960 pemerintah tidak mengajukan RUU APBN untuk mendapat persetujuan DPR sebelum berlakunya tahun anggaran yang bersangkutan; e. Pada tanggal 5 Maret 1960, melalui Penetapan Presiden No.3 tahun 1960, Presiden membubarkan anggota DPR hasil pemilihan umum 1955. Kemudian melalui Penetapan Presiden No.4 tahun 1960 tanggal 24 Juni 1960 dibentuklah DPR Gotong Royong (DPR-GR); f. MPRS mengangkat Ir. Soekarno sebagai Presiden seumur hidup melalui Ketetapan Nomor III/MPRS/1963. 3. Penyimpangan terhadap UUD 1945 pada masa Orde Baru a. MPR berketetapan tidak berkehendak dan tidak akan melakukan perubahan terhadap UUD 1945 serta akan melaksanakannya secara murni dan konsekuen (Pasal 104 Ketetapan MPR No. I/MPR/1983 tentang Tata Tertib MPR). Hal ini bertentangan dengan Pasal 3 UUD 1945 yang memberikan kewenangan kepada MPR untuk menetapkan UUD dan GBHN, serta Pasal 37 yang memberikan kewenangan kepada MPR untuk mengubah UUD 1945. b. MPR mengeluarkan Ketetapan MPR No. IV/MPR/1983 tentang Referendum yang mengatur tata cara perubahan UUD yang tidak sesuai dengan pasal 37 UUD 1945.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

48

Satu Untuk UNM
d. Latihan Beberapa saat yang lalu ketika gencar-gencarnya desakan pengusutan kasus Bank Century oleh masyarakat, dan berbagai kasus besar lainnya seperti kasus Pimpinan KPK dan Susno Duadji, ditambah dengan gonjang-ganjing perpolitikan nasional seperti pembentukan Sekretariat Bersama koalisi partai pendukung pemerintah, presiden mengumpulkan para pimpinan lembaga-lembaga Negara di Cekeas-Bogor. Maksud dari pertemuan tersebut seperti yang terungkap di media massa bertujuan untuk melakukan sinkronisasi demi kelancaran pemerintahan sistem presidensial. Sekilas kegiatan tersebut adalah baik. Tetapi dipandang dari sisi politik dan ketatanegaraan, kontra. bisa saja menimbulkan tafsir yang bermacam-macam. Kenyataannya, begitu banyak komentar yang timbul baik yang pro maupun yang

Instruksi:
Analisis kasus tersebut di atas kemudian jawablah pertanyaan berikut ini: 1. Menurut UUD NKRI tahun 1945, apakah kegiatan tersebut dapat dibenarkan atau tidak? Jelaskan jawaban Anda dengan menunjukkan pasal-pasal UUD NKRI tahun 1945 yang berkaitan dengan peristiwa tersebut! 2. Menurut Anda, apakah kegiatan tersebut dapat dipandang berlebihan dan melampaui batas kewenangan seorang Presiden, ataukah justru merupakan suatu bentuk tanggung jawab untuk melakukan harmonisasi demi stabilisasi bidang pemerintahan? 3. Perkuat argumentasi Anda dengan menunjukkan bukti-bukti penyimpangan terhadap Konstitusi, baik di masa Orde Lama, Orde Baru, maupun era Reformasi!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

49

Satu Untuk UNM
Kegiatan Belajar 6 a. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia b. Indikator: 1) Menegaskan sejarah perkembangan dan macam-macam demokrasi di Indonesia dan hakikat demokrasi Pancasila. 2) Menelaah pentingnya kehidupan demokratis dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara pada kehidupan sosial. c. Uraian Materi dan Contoh: A. Pengertian dan Hakekat Demokrasi

1. Pengertian
Kata demokrasi berasal dari kata “demos” yang berarti rakyat, dan kata “cratos” yang berarti kedaulatan. Jadi, demokrasi berarti keadaan negara yang dalam sistem pemerintahaannya kedaulatan berada di tangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan kekuasaan oleh rakyat.

2. Hakekat Demokrasi
Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dalam Negara demokratis, norma-norma yang dijadikan pandangan hidup adalah sebagai berikut: a. Pentingnya kesadaran akan pluralisme b. Musyawarah c. Pertimbanganmoral d. Pemufakatan yang jujur dan sehat e. Pemenuhan segi-segi ekonomi f. Kerja sama antar warga masyarakat dan sikap mempercayai itikad baik masingmasing g. Pandangan hidup demokratis harus dijadikan unsur yang menyatu dengan sistem pendidikan. Negara demokrasi perlu ditegakkan. Beberapa hal yang menjadi unsure penegak demokrasi adalah: a. Negara Hukum, yang di dalamnya terdapat: 1) Adanya perlindungan HAM 2) Adanya pemisahan dan pembagian kekuasaan pada lembaga untuk menjamin perlindungan HAM

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

50

Satu Untuk UNM
3) Pemerintahan berdasarkan peraturan 4) Adanya peradilan administrasi b. Masyarakat Madani, dengan cirri-ciri masyarakat terbuka, bebas dari pengaruh kekuasaan dan tekanan negara, kritis dan berpartisipasi aktif, serta egaliter (kesetaraan). c. Adanya partai politik dengan struktur kelembagaan politik yg anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama, yaitu memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik dalam mewujudkan kebijakannya. d. Adanya kelompok gerakan/organisasi masyarakat, yaitu sekumpulan orang yang berhimpun dalam satu wadah organisasi yang berorientasi pada pemberdayaan warganya. e. Adanya kelompok penekan yaitu kelompok kepentingan berupa sekelompok orang dalam sebuah wadah organisasi yang didasarkan pada kriteria profesionalitas dan keilmuan tertentu, seperti KADIN, AIPI, ICMI, LIPI, dsb. f. Pers yang bebas dan bertanggung jawab. g. prinsip dan parameter demokrasi. B. Prinsip dan Parameter Demokrasi Adapun yang menjadi prinsip demokrasi adalah persamaan, kebebasan, dan pluralisme. Menurut Robert A. Dahl prinsip demokrasi terdiri dari kontrol atas keputusan pemerintah, pemilihan yang teliti dan jujur, hak memilih dan dipilih, kebebasan menyatakan pendapatan tanpa ancaman, kebebasan mengakses informasi, dan kebebasan berserikat. Sedangkan parameter Negara demokratis terdiri dari beberapa hal sebagai berikut: 1. Masalah Pembentukan Negara; Menentukan kualitas, watak dan pola hubungan yang akan terbangun. Pemilu dipercaya sebagai salah satu instrumen penting. 2. Dasar Kekuasaan; Konsep legitiminasi kekuasaan dan pertanggungjawabannya langsung kepada rakyat. 3. Susunan Kekuasaan Negara; Kekuasaan negara dijalankan secara distributif untuk menghindari penumpukan kekuasaan dalam satu tangan/wilayah. Penyelenggaraan negara harus diatur dalam suatu tata aturan yang membatasi dan sekaligus memberikan koridor dalam pelaksanaannya, yaitu desentaralisasi dan kekuasaan tidak menjadi tidak terbatas.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 51

Satu Untuk UNM
C. Perkembangan Demokrasi di Indonesia

1. Periode 1945-1959
Demokrasi pada masa ini dikenal dengan sebutan demokrasi parlementer. Sistem perlementer yang mulai berlaku sebulan sesudah kemerdekaan diproklamirkan dan kemudian diperkuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan UUDS 1950, ternyata kurang cocok untuk Indonesia. Persatuan yang dapat digalang selama menghadapi musuh bersama dan tidak dapat dibina menjadi kekuatan-kekuatan konstuktif sesudah kemerdekaan tercapai. Karena lemahnya benih-benih demokrasi, sistem parlementer memberi peluang untuk dominasi partai-partai politik di Dewan Perwakilan Rakyat. Undang-Undang Dasar Sementara 1950 menetapkan berlakunya sistem parlementer di mana badan eksekutif terdiri dari Presiden sebagai kepala negara konstitusional (constitutional head) beserta menteri-menterinya yang mempunyai tanggung jawab politik. Karena fragmentasi partai-partai politik, usia kabinet pada masa ini jarang dapat bertahan cukup lama. Koalisi yang dibangun dengan sangat gampang pecah. Hal ini mengakibatkan destabilisasi politik nasional.

2. Periode 1959-1965
Ciri-ciri periode ini adalah dominasi dari Presiden, terbatasnya tekanan partai politik, berkembangnya pengaruh komunis dan meluasnya peranan ABRI sebagai unsur sosial politik. Dekrit Presiden 5 Juli dapat dipandang sebagai suatu usaha untuk mencari jalan keluar dari kemacetan politik melalui pembentukan kepemimpinan yang kuat. "Undang-Undang Dasar 1945 membuka kesempatan bagi seorang Presiden untuk bertahan selama sekurang-kurangnya lima tahun. Akan tetapi Ketetapan MPRS No. III/1963 yang mengangkat Ir. Soekarno sebagai "Presiden seumur hidup” telah membatalkan pembatasan waktu lima tahun.

3. Periode 1965-1998
Landasan formil dari periode ini adalah Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 serta ketetapan-ketetapan MPRS. Dalam usaha untuk meluruskan kembali penyelewengan terhadap Undang-Undang Dasar 1945 yang telah terjadi dalam masa demokrasi terpimpin, telah diadakan tindakan korektif. Ketetapan MPRS No. III/1963 yang menetapkan masa jabatan seumur hidup untuk Ir. Soekarno telah dibatalkan dan jabatan presiden kembali menjadi jabatan efektif setiap lima tahun. Ketetapan MPRS No. XIX/1966 telah menentukan ditinjaunya kembali produk-produk legislatif dari masa demokrasi terpimpin dan atas dasar itu Undang-undang No. 19/1964 telah diganti dengan suatu undang-undang baru (No. 14/1970) yang menetapkan kembali azas "kebebasan badan-badan pengadilan". Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong diberi beberapa hak
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 52

Satu Untuk UNM
kontrol, di samping itu tetap mempunyai fungsi untuk membantu pemerintah. Pimpinannya tidak lagi mempunyai status menteri.

4. Priode 1998-sekarang
Runtuhnya rezim otoriter orde baru telah membawa harapan baru bagi tumbuhnya demokrasi di Indonesia. Bergulirnya reformasi yang mengiringi kerutuhna rezim tersebut menandakan tahap awal bagi transisi demokrasi Indonesia. Transisi demokrasi merupakan fase krusial yang kritis, karena dalam fase ini akan ditentukan ke mana arah demokrasi yang akan dibangun. Selain itu dalam fase ini pula bisa saja terjadi pembalikan arah perjalanan bangsa dan negara yang akan menghantar Indonesia kembali memasuki masa otoriter sebagaimana yang terjadi pada periode orde lama dan orde baru. Sukses atau gagalnya suatu transisi demokrasi sangat bergantung pada empat faktor kunci: yakni, (1) komposisi elite politik, (2) desain institusi politik, (3) kultur politik atau perubahan sikap terhadap politik dikalangan elite dan non elite, dan (4) peran civil

society (masyarakat madani). Keempat faktor itu harus jalan secara sinergis dan
berkelindan sebagai modal untuk mengonsolidasikan demokrasi. d. Rangkuman 1. Perkembangan demokrasi di Indonesia setelah merdeka telah memasuki empat fase dengan segala kelebihan dan kekurangannya. 2. Dalam perkembangan demokrasi tersebut, berbagai contoh penerapan nilai-nilai Demokrasi dalam berbagai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara telah dipraktekkan. e. Latihan Pada bulan Juni 2010 yang lalu, beberapa daerah kabupaten dan kota melakukan Pemilukada secara serentak. Tidak lama kemudian, pada detik-detik sebelum tenggat waktu penetapan pemenang Pemilukada oleh KPUD setempat, beberapa daerah pemilihan mengalami kerusuhan. Terjadi bentrok massa, kantor kecamatan sampai kantor KPUD dibakar massa. Fenomena ini tidak saja terjadi satu kali dua kali, tetapi sudah berulangkali di seluruh penjuru negeri. Akankah fenomena ini selalu menyertai semakin luas dan bebasnya kehidupan demokrasi di Indonesia?

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

53

Satu Untuk UNM
Instruksi:
Analisis kasus tersebut di atas kemudian jawab pertanyaan berikut ini: 1. Menurut Anda, apakah fenomena tersebut di atas adalah sesuatu hal yang wajar dalam Negara demokrasi, ataukah sesuatu yang justru mencederai kehidupan demokrasi? Jelaskan jawaban Anda! 2. Jika Anda dihadapkan pada dua pilihan, suatu kehidupan yang otoriter tetapi aman tenteram dan kebutuhan sandang pangan tercukupi, ataukah Anda hidup dalam alam demokrasi dengan segala eksesnya seperti sekarang ini, manakah yang Anda pilih? Perjelas jawaban Anda dengan mengemukakan hakikat demokrasi, dan seperti apa sebenarnya kehidupan demokrasi yang diinginkan oleh UUD NKRI tahun 1945! 3. Adakah bentuk-bentuk praktek kehidupan demokrasi sekarang ini yang dapat dikategorikan sesuai dengan UUD NKRI tahun 1945? Tunjukkan minimal 3 (tiga) contohnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

54

Satu Untuk UNM
7. Kegiatan Belajar 7 a. Otonomi Daerah b. Indikator: 1) Membandingkan prinsip dan asas otonomi daerah berdasarkan UU No.22 tahun 1999 jo UU No.32 tahun 2005. c. Uraian Materi dan Contoh: A. Pengertian Otonomi Daerah Secara etimologis, istilah "otonomi" berasal dari bahasa Latin, ”autos” yang berarti sendiri, dan ”nomos” yang berarti aturan. Berdasarkan arti secara etimologis tersebut, otonomi diartikan sebagai mengatur atau memerintah sendiri. Jadi, otonomi daerah dapat diartikan pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengatur dirinya sendiri. Menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,

otonomi daerah adalah wewenang daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan yang diserahkan oleh pemerintah pusat dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Yang dimaksud dengan daerah otonom (sebagai sebutan umum bagi Provinsi, Kabupaten, dan Kota) adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. B. Asas-Asas Otonomi Daerah Menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan pada asas sebagai berikut:

1. Asas Desentralisasi
Desentralisasi adalah penyerahan wewenang oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Desentralisasi dapat dimanifestasikan dalam wujud pembentukan daerah otonom dalam wilayah dan sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang terbagi dalam daerah provinsi, dan dalam daerah provinsi dibentuk daerah kabupaten dan kota. Di samping kepada daerah diserahi fungsi urusan pemerintah tertentu seperti urusan kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, pertanian, kehutanan, perkebunan, peternakan, perikanan, pertambangan, industri, perdagangan, koperasi, pariwisata, perhubungan,
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 55

Satu Untuk UNM
kebudayaan, pertanahan, kesejahteraan sosial, komunikasi, penanaman modal,

ketenagakerjaan, kependudukan, dan urusan pemerintah lain yang tidak ditangani oleh pemerintah sendiri yang ditentukan dalam undang-undang.

2. Asas Dekonsentrasi
Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang oleh pemerintah pusat kepada gubernur sebagai wakil pemerintah pusat dan/atau kepala instansi vertikal di wilayah tertentu untuk mengurus urusan pemerintahan. Dekonsentrasi dimanifestasikan dalam hal berikut: a. Pelimpahan wewenang menangani urusan pemerintahan yang bersifat absolut dari pemerintah kepada aparatnya untuk menangani fungsi urusan pemerintah tertentu seperti tugas dalam ruang lingkup pertahanan, keamanan, kehakiman, kejaksaan, kepolisian, keuangan, dan keagamaan. b. Pelimpahan wewenang urusan pemerintahan yang bersifat tidak absolut dan menjadi kewenangan pemerintah dapat dilimpahkan kepada gubernur selaku wakil pemerintah di daerah. c. Penetapan kawasan khusus baik yang berada dalam daerah otonom maupun di luar daerah otonom untuk menyelenggarakan fungsi-fungsi pemerintahan tertentu yang bersifat khusus dan untuk kepentingan nasional/berskala nasional, misalnya dalam bentuk kawasan cagar budaya, taman nasional, pengembangan industri strategis, pengembangan teknologi tinggi seperti pengembangan tenaga nuklir, peluncuran senjata/ rudal, peluru kendali bertenaga atom atau nuklir, pengembangan prasarana komunikasi, telekomunikasi, transportasi, pelabuhan dan daerah perdagangan bebas, pangkalan militer, serta wilayah eksploitasi, konservasi bahan galian strategis, penelitian dan pengembangan sumber daya nasional, laboratorium sosial, lembaga pemasyarakatan spesifik dan lain-lain. Pengelolaan kawasan khusus tersebut dapat dilakukan oleh Pemerintah atau bekerja sama antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah, masyarakat, atau dapat pula dalam hal dengan negara-negara lain.

3. Asas Tugas Pembantuan
Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah dan/atau desa dan dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan desa serta dari pemerintah kabupaten/kota ke desa untuk melaksanakan tugas tertentu dalam jangka waktu tertentu disertai pendanaan dan dalam hal tertentu disertai sarana dan prasarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan. Asas tugas pembantuan pada dasarnya merupakan keikutsertaan daerah atau desa termasuk masyarakatnya atas
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 56

Satu Untuk UNM
penugasan atau kuasa dari pemerintah atau pemerintah daerah untuk melaksanakan urusan pemerintah di bidang tertentu. d. Rangkuman 1. Daerah Otonom adalah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. Otonomi Daerah adalah wewenang daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan yang diserahkan oleh pemerintah pusat dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 3. Prinsip pelaksanaan otonomi daerah adalah otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab. 4. Asas pelaksanaan otonomi daerah adalah desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas perbantuan. e. Latihan Sekira bulan Mei 2010 yang lalu, sebuah harian yang cukup terkenal di kota Makassar memberitakan tentang calon bupati dan calon wakil bupati di sebuah daerah kabupaten di Sulawesi Selatan yang ternyata tidak bisa menghafal Pancasila dengan benar. Kasus lain yang berkaitan dengan persoalan otonomi daerah adalah terjadinya mutasi terhadap beberapa PNS Daerah yang ditengarai oleh oleh Calon Bupati Terpilih adalah pihak-pihak yang dianggap berseberangan pada saat pencalonan tempo hari. Yang lebih parah lagi, ratusan peraturan daerah yang telah dibuat dengan biaya yang begitu besar, telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi karena divonis bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya. Sebuah fenomena otonomi daerah yang memperlihatkan betapa luas dan bebasnya pelaksanaan otonomi daerah.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

57

Satu Untuk UNM
Instruksi:
Analisis kasus tersebut di atas, kemudian jawablah pertanyaan berikut ini: 1. Apakah pelaksanaan otonomi daerah seperti yang tergambar dalam beberapa kasus tersebut di atas sudah sesuai dengan UU No.32 Tahun 2004? 2. Dilihat dari segi prinsip dan asas otonomi daerah sebagaimana yang dianut oleh UU No.32 Tahun 2004, apakah pelaksanaan otonomi daerah sebagaimana telah digambarkan dapat dianggap sudah sejalan atau tidak? 3. Kemukakan minimal 3 (tiga) contoh pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia yang dapat dijadikan sebagai contoh teladan pelaksanaan otonomi daerah yang dikehendaki oleh Undang-Undang!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

58

Satu Untuk UNM
Kegiatan Belajar 8 a. Globalisasi b. Indikator: 1) Menelaah globalisasi dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat di Indonesia. 2) Merumuskan dampak globalisasi bagi kehidupan. 3) Menemukan hubungan internasional pada era global. c. Uraian Materi dan Contoh: A. Makna Globalisasi dalam Berbagai Kehidupan Globalisasi adalah proses terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat untuk mengikuti sistem yang sama. Menurut Michael Haralambas dan Martin Holborn (Sri Jutmini dan Winarno, 2007: 129): “globalisasi adalah proses yang didalamnya batas-batas Negara luluh dan tidak penting lagi dalam kehidupan sosial”. Dalam sejarah panjang globalisasi, ada enam tahapan yang telah ditempuh, yaitu: 1. Tahap embrional (tahun 1500-1800), 2. Tahap pertumbuhan (tahun 1810-1870), 3. Tahap take off (tahun 1870-1920), 4. Tahap perjuangan hegemoni (tahun 1920-1960), 5. Tahap ketidakpastian (tahun 1960-1990), dan 6. Tahap kebudayaan global (setelah tahun 1990). Adapun wujud dari arus budaya global ini adalah sebagai berikut: 1. Arus etnis ditandai dengan mobilitas manusia yang tinggi dalam bentuk imigran, turis, pengungsi, tenaga kerja, dan pendatang. 2. Arus teknologi ditandai dengan munculnya multinational corporation dan transnational

corporation yang kegiatannya dapat menembus batas-batas Negara.
3. Arus keuangan yang ditandai dengan makin tingginya mobilitas modal, investasi, pembelian melalui internet dan penyimpanan uang di bank asing. 4. Arus media yang ditandai dengan makin kuatnya mobilitas informasi, baik melalui media cetak maupun elektronik. Berbagai peristiwa di belahan dunia seakan-akan berada di hadapan kita karena cepatnya informasi. 5. Arus ide yang ditandai dengan makin derasnya nilai baru yang masuk ke suatu Negara. Dalam arus ide ini, muncul isu-isu yang telah menjadi bagian dari masyarakat internasional.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

59

Satu Untuk UNM
B. Pentingnya Globalisasi bagi Bangsa Indonesia Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional 2004-2009 dinyatakan bahwa perkembangan masyarakat yang sangat cepat sebagai akibat dari globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi membutuhkan penyesuaian tata nilai dan perilaku. Oleh karena itu, salah satu prioritas pembangunan nasional adalah pengembangan kebudayaan yang berlandaskan kepada nilai-nilai luhur bangsa. Dalam program pembangunan nasional lima tahunan dinyatakan adanya program pembangunan nilai budaya. Program tersebut bertujuan untuk memperkuat jati diri bangsa (identitas nasional) dan memantapkan budaya nasional). Tujuan tersebut dapat dicapai antara lain melalui upaya memperkokoh ketahanan budaya nasional sehingga mampu menangkal penetrasi budaya asing yang bernilai negatif dan memfasilitasi proses adopsi dan adaptasi budaya asing yang bernilai positif dan produktif. C. Dampak Globalisasi Globalisasi memang memunculkan kekhawatiran yang luas bahwa kedaulatan suatu negara akan digerogoti. Namun, globalisasi adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari pada saat ini. Bagi bangsa Indonesia, globalisasi telah memengaruhi seluruh perikehidupan manusia Indonesia dalam bidang politik dan keamanan, ekonomi, dan sosial budaya, seperti berikut ini.

1. Bidang Ekonomi
Pengaruh globalisasi dalam bidang ekonomi antara lain menimbulkan krisis moneter yang dialami oleh banyak negara, termasuk Indonesia sehingga harus mengundang peran IMF untuk menentukan nasib bangsa dan negara. Keadaan yang demikian membawa dampak bagi terbukanya pasar dalam negeri dan ekonomi nasional terhadap ekonomi internasional. Dampak globalisasi di bidang ekonomi dapat juga terlihat dalam hal peran Pemerintah yang memberi regulasi dalam pengaturan ekonomi yang mekanismenya ditentukan oleh pasar.

2. Bidang Sosial Budaya
Dampak globalisasi di bidang sosial budaya dapat terlihat seperti berikut: a. Semakin banyak warga negara asing masuk ke Indonesia, baik itu untuk tujuan bisnis, wisata ataupun aktivitas lainnya. Masuknya warga negara asing itu selain mendatangkan devisa, juga membawa masuknya budaya asing ke Indonesia. b. Semakin mudahnya nilai-nilai budaya Asing masuk ke Indonesia melalui internet, televisi, antene parabola, dan media cetak, sehingga terjadi perubahan pola kehidupan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 60

Satu Untuk UNM
dalam masyarakat Indonesia. c. Semakin memudarnya apresiasi terhadap nilai-nilai budaya lokal dan melahirkan gaya hidup materialisme (mengutamakan dan mengukur segala sesuatu berdasarkan materi), sekularisme (memisahkan kehidupan duniawi dengan kehidupan akhirat),

individualisme (memerhatikan kepentingan diri sendiri), hedonisme (kenikmatan
sesaat), dan konsumerisme (lebih senang memakai daripada membuat). d. Masuknya lembaga pendidikan asing ke Indonesia dapat memberi peluang bagi bangsa untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas, namun dapat juga menjadi ancaman bagi lembaga pendidikan Indonesia.

3. Bidang Politik dan Keamanan
Dampak globalisasi di bidang politik dan keamanan dapat terlihat seperti berikut: a. Semakin meningkatnya kesadaran politik masyarakat, seperti ikut serta dalam pemilihan umum untuk memilih anggota DPR, DPRD dan DPD, pemilihan umum untuk memilih presiden dan wakil presiden, serta pemilihan langsung kepala daerah. b. Semakin banyaknya partai-partai politik baru. c. Semakin beraninya sekelompok masyarakat dan organisasi sosial politik dalam menyuarakan haknya, ketidakadilan, dan aspirasi masyarakat lainnya, dengan melakukan unjuk rasa atau demonstrasi, yang terkadang mengabaikan kepentingan umum dan bersifat anarkis. d. Diterapkannya sistem penyelenggaraan pemerintahan yang baik seperti yang diterapkan di negara maju lainnya dengan prinsip-prinsip partisipasi, responsif, transparansi, efektif dan efisien, akuntabilitas, dan rule of law. e. Semakin lunturnya semangat persatuan dan kesatuan bangsa sehingga menimbulkan gejala disintegrasi di beberapa wilayah Indonesia, seperti munculnya Gerakan Papua Merdeka, dan Gerakan Aceh Merdeka. Saat ini, Gerakan Aceh Merdeka telah memasuki tahap perdamaian. f. Semakin menguatnya supremasi hukum, demokratisasi dan tuntutan terhadap dilaksanakan hak asasi manusia. g. Menguatnya supremasi sipil dengan menempatkan tentara (TNI dan polisi (Polri) sebatas penjaga keamanan, ketertiban dan kedaulatan negara. h. Meningkatnya kejahatan internasional dan transnasional, seperti terorisme, perdagangan manusia, perdagangan narkotika, penyelundupan barang-barang dari luar negeri, dan kejahatan lintas batas lainnya. i. Meningkatnya kerja sama militer antar negara, baik regional maupun internasional, guna memerangi atau menumpas kejahatan-kejahatan internasional, seperti terorisme.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 61

Satu Untuk UNM
D. Hubungan Antar Bangsa Hubungan antar bangsa telah menjadi sistem global yang terbuka. Tidak ada satu wilayah pun yang dapat menutup diri dari arus barang, jasa, modal, tenaga kerja, dan nilai-nilai baru yang akan masuk. Semua itu masuk melalui jaringan ekonomi, informasi, dan transportasi yang makin dinamis. Pemerintah negara sudah tidak mampu lagi menahan dan menutup masuknya hal-hal tersebut, misalnya masuknya berita melalui internet. Dalam sistem global seperti ini, akan tampil aktor-aktor baru yang pada abad sebelumnya tidak dikenal dalam hubungan internasional. Aktor baru tersebut adalah organisasi nasional ataupun internasional nonnegara, seperti teritorial nonnegara, perusahaan transnasional, intergovernmental organization (IGO), dan nongovernmental

organization (NGO).
Contoh lembaga-lembaga dimaksud di atas adalah PLO (teritorial nonnegara), Coca Cola (perusahaan transnasional), LSM (LBHI, Kontras, Green Peace, Henry Dunant

Centre, Walhi) untuk lembaga NGO. Lembaga-lembaga ini telah menjadi subyek hukum
internasional, bahkan sekarang mampu menekan negara sebagai subyek hukum internasional yang utama. Organisasi nonnegara makin meningkatkan peranannya dan makin penting untuk diperhatikan oleh masyarakat internasional, sejalan dengan makin meningkatnya hubungan internasional yang semakin tak terbatas. Salah satu peranan yang sering ddilakukan adalah kemampuan organisasi ini untuk membentuk pendapat atau opini masyarakat internasional atas sebuah kasus yang dihadapi oleh suatu negara. Atas kegiatan yang dilakukan lembaga-lembaga internasional nonnegara inilah sebuah kasus mencuat menjadi perhatian seluruh publik dan masyarakat internasional. Kemampuan ini salah satunya didukung oleh kemajuan sarana komunikasi dan informasi. Selain itu, peran negara sebagai subyek utama hubungan internasional semakin berkurang dan tidak mampu menahan arus global yang berjalan. d. Rangkuman 1. Globalisasi adalah proses terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat untuk mengikuti sistem yang sama dimana dalam proses tersebut batasbatas Negara tidak lagi menjadi penghalang. 2. Dalam rangka pembangunan nasional, globalisasi menjadi penting untuk diperhatikan dalam rangka memperkuat jati diri bangsa. 3. Diterima atau tidak, globalisasi telah membawa dampak yang sangat luar biasa dalam seluruh aspek kehidupan, baik yang sifatnya positif atau pun negatif. Dengan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 62

Satu Untuk UNM
demikian, dibutuhkan sikap yang arif dan bijaksana sekaligus kesiapan untuk menghadapinya. 4. Hakikat politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif tidak lagi semata-mata dijalankan oleh negara sebagai subyek hukum internasional, tetapi kini subyek hukum internasional telah berkembang menjadi pribadi-pribadi ataupun badan-badan hukum. e. Latihan

Kasus I
Belum lepas dari ingatan kita tentang kasus beberapa perempuan muda yang meninggalkan rumah dan pergi bersama teman laki-lakinya yang mereka kenal di dunia maya. Ada yang kembali dengan selamat dan ada pula yang ditemukan sudah tidak bernyawa lagi. Fakta ini menunjukkan betapa bebasnya orang melakukan komunikasi tanpa batas etika dan moral di era globalisasi sekarang ini. Dalam bidang yang lain, kemajuan IPTEK di bidang Perbankan telah memicu pula munculnya kasus-kasus pembobolan rekening nasabah.

Instruksi:
Analisis kasus tersebut di atas dan jawablah pertanyaan berikut ini: 1. Menurut Anda, apakah globalisasi itu adalah sesuatu yang harus dihindari? 2. Jika globalisasi itu adalah sebuah keniscayaan, apa makna yang dapat dipetik oleh bangsa Indonesia? 3. Untuk memperkuat argumentasi Anda, tunjukkan beberapa dampak globalisasi baik yang bersifat positif maupun negatif dalam kehidupan ekonomi, sosial dan politik!

Kasus II
Sebuah misi kemanusiaan untuk jalur Gaza yang lebih dikenal dengan ”Tragedi Marmara” baru saja mengoyak perasaan kita. Misi kemanusiaan yang bertolak dari Turki dengan menggunakan Kapal Marmara berbendera Turki, mengangkut ratusan ton bantuan kemanusiaan dan ratusan aktivis kemanusiaan, diserang secara membabi buta olah pasukan Israel. Serentak negara-negara mengeluarkan kutukan. Tak terkecuali Turki yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Israel mengeluarkan kecamatan yang sangat keras, bahkan sampai pada pemutusan hubungan diplomatik.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

63

Satu Untuk UNM
Instruksi:
Mencermati kasus tersebut di atas: 1. Sikap dan peran apa yang seharusnya diambil oleh pemerintah Indonesia berkaitan dengan kebijakan politik luar negeri? 2. Bagaimana pula pandangan Anda sebagai warga negara Indonesia yang baik terhadap kelompok-kelompok misi kemanusiaan ke luar negeri yang dengan tulus ikhlas mengorbankan harta dan jiwanya untuk sesama manusia? 3. Selain bentuk misi kemanusiaan, tunjukkan minimal 3 (tiga) bentuk hubungan internasional baru di era globalisasi.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

64

Satu Untuk UNM
Kegiatan Belajar 9 a. Sistem Hukum dan Peradilan Nasional b. Indikator: 1) Memerinci pengertian sistem hukum dan peradilan nasional berdasarkan UUD 1945. 2) Menganalisis peranan lembaga peradilan di Indonesia yang ada. c. Uraian Materi dan Contoh: A. Pengertian Sistem Hukum Secara singkat dapat dikatakan bahwa sistem hukum adalah satu kesatuan hukum yang berlaku pada suatu negara tertentu yang dipatuhi dan diataati oleh setiap warganya. Dapat pula dikatakan bahwa sistem hukum adalah keseluruhan komponen sistem hukum yang saling berkaitan satu sama lain. Adapun komponen sistem hukum itu menurut L. Friedmann terdiri dari komponen:

1. Substansi Hukum, yaitu aturan hukum itu sendiri, berupa pasal-pasal peraturan
perundang-undangan dalam berbagai tingkatan hirarkhinya ataupun berupa keputusan para hakim di lembaga peradilan (yurisprudensi). dalam berbagai lingkungan dan tingkatannya

2. Struktur Hukum,
pemasyarakatan.

yaitu seluruh aparat penegak hukum seperti polisi, jaksa dan

hakim, termasuk di dalamnya para advokat atau pengacara dan aparat lembaga

3. Budaya Hukum, yaitu penerimaan masyarakat terhadap hukum yang berlaku
(hukum positif), yang ditandai dengan kepatuhan atau ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. B. Sistem Hukum dan Ciri-cirinya Secara konvensional dikenal dua macam sistem hukum (legal sistem) atau tradisi hukum (the law tradition), yaitu Sistem Hukum Eropa Kontinental yang yang disebut juga Sistem Hukum Sipil (Civil Law Tradition) dan Sistem Hukum Anglo Sakson. Sistem Hukum Eropa Kontinental berkembang di negara-negara Eropa seperti di Perancis, Jerman, dan Belanda. Sistem Hukum Eropa Kontinental lebih mengutamakan perundang-undangan sebagai sendi utamanya. Dalam sistem hukum ini, hukum lebih banyak dibentuk melalui peraturan perundang-undangan. Bahkan ada kecenderungan untuk melakukan kodifikasi dan unifikasi atau sekurang-kurangnya dilakukan kompilasi hukum. Itulah sebabnya sistem hukum ini disebut juga ”codified

legal sistem” atau sistem hukum kodifikasi. Dengan ditetapkannya hukum dalam
perundang-undangan, maka kasus-kasus yang terjadi ”disesuaikan” dengan prinsipprinsip umum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan. Pada sisi lain, melalui
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 65

Satu Untuk UNM
peraturan perundang-undangan dapat dilakukan ”sosial engineering” atau ”sosial

modification”. Hal itu berkaitan dengan salah satu fungsi hukum yaitu ”law as a tool of sosial engineering” atau hukum sebagai sarana pembaruan. Dalam hal ini hukum
berfungsi secara direktif. Sebaliknya, dalam Sistem Hukum Anglo Sakson, dimulai dari kasus-kasus yang konkrit untuk kemudian ditarik asas-asas hukum dan kaidah-kaidah hukum umum. Dengan demikian putusan-putusan hakim (yurisprudensi) menjadi ”barometer” dalam menilai suatu kasus yang lahir kemudian. Putusan hakim menjadi sendi utama dalam pembentukan hukum. Oleh karena berangkat dari kasus-kasus yang konkrit, maka sistem hukum ini disebut juga ”case law sistem”. C. Penggolongan Hukum Perhatikan bagan penggolongan hukum di bawah ini.
Tertilis Wujud Tidak Tertulis Lokal Ruang Nasional Internasional Ius Constitutum

Hukum

Waktu

Ius Constituendum Hukum Antar Waktu Satu Golongan

Pribadi

Semua Golongan Antar Golongan Publik Hk. Tata Negara Hk. Adm. Negara Hk. Pidana Hk. Acara Hk. Perorangan Privat/Perdata Hk. Keluarga Hk. Kekayaan Hk. Waris

Isi

Tugas dan Fungsi

Material Formal Pidana Formal Perdata Formal

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

66

Satu Untuk UNM
D. Sumber-sumber Hukum Perkataan sumber hukum dapat diartikan bermacam-macam, tergantung dari sudut mana melihatnya. Menurut Utrecht (Ni’matul Huda, 2005: 28): “mengenai sumber hukum dapat dibagi dalam arti formal dan materil”.

1. Sumber Hukum Formal
Sumber hukum dalam arti formal adalah sumber hukum yang dapat dilihat dan dikenal dari segi bentuknya. Karena bentuknya, hukum tersebut berlaku umum, diketahui dan ditaati. Ia menjadi sumber/tempat kaidah dan petunjuk hidup bagi yang berwenang dan masyarakat untuk mengukur apakah tingkah laku atau perbuatannya benar atau salah. Sumber hukum formal diartikan sebagai tempat atau sumber dari suatu peraturan memperoleh kekuatan hukum. Hal ini berkaitan dengan bentuk atau cara yang menyebabkan peraturan hukum itu berlaku secara formal. Atau dengan kata lain bahwa sumber hukum formal adalah suatu bentuk pernyataan yang menyatakan berlakunya sumber hukum materil. Jadi sumber hukum formal adalah wadahnya atau bentuk luarnya seperti peraturan perundang-undangan (perhatikan hirarkhi peraturan perundangundangan menurut UU No. 10 tahun 2004), kebiasaan (konvensi), yurisprudensi, traktat dan doktrin. Atau secara singkat dapat dikatakan bahwa sumber hukum formal adalah bentuk yang oleh karenanya kita dapat menemukan hukum yang berlaku. Suatu kaidah atau norma dapat dikatakan sebagai sumber hukum yang formal apabila sekurang-kurangnya mempunyai dua cirri, yaitu: a. Dirumuskan dalam suatu bentuk, sebagaimana telah dikemukakan di atas. b. Berlaku umum, mengikat dan ditaati.

2. Sumber Hukum Materil
Menurut Utrecht (Solly Lubis, 1987: 53): “Yang dimaksud dengan sumbersumber hukum materil ialah keyakinan dan perasaan hukum individu dan pendapat umum

(public opinion) yang menentukan isi (materi) dari hukum, dengan kata lain: perasaan
dan keyakinan hukum anggota masyarakat serta pendapat umum yang menjadi sumber bagi hukum, yakni ketentuan-ketentuan apakah yang akan merupakan aturan hukum…”. Philipus M. Hadjon, dkk. (1995: 65-66) memberikan tekanan pada factor-faktor yang telah menentukan isi yang sesungguhnya dari hukum, sebagai sumber hukum. Faktor-faktor tersebut dapat berupa factor sosiologis seperti situasi sosial-ekonomis dan hubungan-hubungan politik, factor sejarah dan sebagainya.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

67

Satu Untuk UNM
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sumber hukum materil berkaitan dengan factor apa yang menentukan isi (pasal-pasal) dari suatu peraturan perundangundangan. Faktor-faktor tersebut dapat berupa: a. Perasaan (keyakinan) hukum individu, b. Pendapat umum (public opinion), c. Faktor sosiologis, d. Faktor sejarah dan sebagainya. E. Peradilan Nasional Istilah Peradilan dan Pengadilan dapat ditemukan dalam UU Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman jo UU No. 35 tahun 1999 tentang Perubahan atas UU No.14 Tahun 1970. Istilah pengadilan menunjuk kepada lembaga atau kantor tempat proses hukum diselesaikan, sedangkan istilah peradilan menunjuk kepada lingkungan di mana pengadilan itu berada. Jika yang disebut pengadilan, maka yang dimaksud antara lain adalah kantor Pengadilan Negeri yang berkedudukan di ibu kota kabupaten, atau kantor Pengadilan Tinggi yang berkedudukan di ibu kota provinsi, dan seterusnya. Sedangkan peradilan adalah lingkungannya, apakah itu lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer, atau Peradilan Tata Usaha Negara, di mana di dalamnya terdapat berbagai tingkatan baik tingkat pertama, tingkat banding, maupun kasasi. Lingkungan tersebut dibedakan berdasarkan jenis perkara yang menjadi kewenangannya, misalnya perkara perdata dan pidana bagi masyarakat umum menjadi kewenangan pengadilan dalam lingkungan peradilan umum. Berdasarkan pasal 2 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004, bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya dalam lingkungan sebagai berikut : 1. Peradilan Umum, 2. Peradilan Agama, 3. Peradilan Militer, 4. Peradilan Tata Usaha Negara, dan 5. Oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.

1. Pengadilan Negeri
Pengadilan Negeri adalah suatu pengadilan umum yang sehari-hari memeriksa dan memutuskan perkara dalam tingkat pertama dari segala perkara perdata dan pidana sipil untuk semua golongan penduduk, termasuk anggota POLRI (warga negara dan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 68

Satu Untuk UNM
orang asing). Dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun1986 tentang Peradilan Umum, bahwa yang dimaksud Peradilan Umum adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya. Pengadilan Negeri berkedudukan di ibukota Kabupaten/Kota, dan daerah hukumnya meliputi wilayah Kabupaten/Kota. Perkara-perkara yang ada diselesaikan oleh hakim dan dibantu oleh panitera. Pada tiap-tiap Pengadilan Negeri ditempatkan pula Kejaksaan Negeri sebagai alat pemerintah yang bertindak sebagai penuntut umum dalam suatu perkara pidana terhadap si pelanggar hukum. Tetapi dalam perkara perdata, Kejaksaan negeri tidak ikut campur (tangan).

2. Pengadilan Agama
Adalah pengadilan yang memeriksa dan memutuskan perkara-perkara yang timbul antara orang-orang Islam, yang berkaitan dengan nikah, rujuk, talak (perceraian), nafkah, waris, dan lain-lain. Dalam hal yang dianggap perlu, keputusan Pengadilan Agama dapat dinyatakan berlaku oleh Pengadilan Negeri.

3. Pengadilan Militer
Adalah pengadilan yang mengadili hanya dalam lapangan pidana, khususnya bagi : a. Anggota TNI, b. Seseorang yang menurut Undang-Undang dapat dipersamakan dengan anggota TNI, c. Anggota jawatan atau golongan yang dapat dipersamakan dengan TNI menurut Undang-Undang, d. Tidak termasuk a sampai dengan c tetapi menurut keputusan Menteri Pertahanan yang ditetapkan dengan persetujuan Menteri Kehakiman harus diadili oleh Pengadilan Militer.

4. Pengadilan Tata Usaha Negara
Kehadiran Pengadilan Tata Usaha Negara di Indonesia tergolong masih sangat baru. Hal itu bisa kita lihat dari keberadaannya yang berdasarkan UU Nomor 5 tahun 1986 dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1991 sebagaimana telah diubah dengan UU No.51 tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Pengadilan Tata Usaha Negara adalah badan yang berwenang memeriksa dan memutus semua sengketa tata usaha negara dalam tingkat pertama. Sengketa dalam tata usaha negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha negara.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 69

Satu Untuk UNM
Keputusan tata usaha negara adalah suatu ketetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan tata usaha negara yang berisi tindakan hukum badan tata usaha negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang menerbitkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum. Masalah-masalah yang menjadi jangkauan Pengadilan Tata Usaha Negara, antara lain sebagai berikut. a. Bidang Sosial, yaitu gugatan atau permohonan terhadap keputusan administrasi tentang penolakan permohonan suatu izin. b. Bidang Ekonomi, yaitu gugatan atau permohonan yang berkaitan dengan perpajakan, merk, agraria, dan sebagainya. c. Bidang Function Publique, yaitu gugatan atau permohonan yang berhubungan dengan status atau kedudukan seseorang. Misalnya, bidang kepegawaian, pemecatan, pemberhentian hubungan kerja, dan sebagainya. d. Bidang Hak Asasi Manusia, yaitu gugatan atau permohonan yang berkaitan dengan pencabutan hak milik seseorang serta penangkapan dan penahanan yang tidak sesuai dengan prosedur hukum (seperti yang diatur di dalam KUHP) mengenai praperadilan, dan sebagainya. Pengadilan Tata Usaha Negara dilaksanakan oleh badan pengadilan berikut : a. Pengadilan Tata Usaha Negara sebagai pengadilan tingkat pertama di kabupaten/kota. b. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara sebagai pengadilan tingkat banding di provinsi. d. Rangkuman 1. Tata hukum Indonesia menganut sistem eropa continental sebagai daerah bekas jajahan Belanda. Dalam perkembangannya, sistem hukum di Indonesia dibangun tidak saja berdasarkan sistem eropa continental tersebut, tetapi membuka jalan bagi berkembangnya sistem hukum yang lain. 2. Hukum dapat digolongkan ke dalam enam macam penggolongan, yaitu menurut wujud, ruang, waktu, pribadi, isi, tugas dan fungsinya. Berdasarkan penggolongan tersebut, ada 21 macam jenis hukum. 3. Sumber hukum formal adalah bentuk yang oleh karenanya kita dapat menemukan hukum yang berlaku. Sedangkan sumber hukum materil berkaitan dengan factorfaktor apa yang menentukan isi dari suatu peraturan perundang-undangan. 4. Lembaga peradilan di Indonesia dilaksanakan dalam tiga lingkungan peradilan dan ditambah dengan Mahkamah konstitusi, dimana dalam tiga lingkungan peradilan tersebut masing-masing memiliki tingkatan yang berpuncak pada Mahkamah Agung.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 70

Satu Untuk UNM
Dilihat dari pelaksanaannya, dimulai dari tingkat pertama, kemudian tingkat banding, tingkat kasasi, sampai kepada suatu upaya hukum. e. Latihan

Kasus I
Seorang perempuan tua buruh tani yang miskin di sebuah desa harus berurusan dengan pengadilan karena telah memungut tiga biji kakao di sebuah perusahaan perkebunan swasta. Oleh aparat keamanan perkebunan, ia kemudian dilaporkan ke polisi dan ditahan. Sang perempuan tak pernah tahu pasal-pasal KUHAP dan KUHPidana. Ia juga menganggap perbuatannya biasa-biasa saja, tidak seperti pejabat berdasi yang menilap milyaran uang rakyat tanpa rasa malu dan bersalah. Meskipun demikian, apa yang dilakukan oleh sang perempuan tua tadi, rupanya secara formal telah memenuhi unsure pidana pencurian.

Instruksi:
Analisis kasus tersebut di atas, kemudian jawablah pertanyaan berikut ini: 1. Menurut Anda, apakah semua kasus seperti di atas harus diproses secara hukum sampai tuntas? Dan bagaimana pula sikap aparat kepolisian menurut Anda? 2. Langkah apa yang harus dilakukan oleh Pemerintah untuk mencegah terulangnya kasus yang serupa?

Kasus II
Melalui keputusan Pengadilan Negeri Makassar yang telah berkekuatan hukum tetap, Pemerintah Kota Makassar harus merelakan asset tanah dan bangunan pemerintah kota (SD Bung dan SDI Bung) beralih ke tangan penggugat Isa dan kawan-kawan. Ratusan siswa harus berpindah lokasi ke tempat yang jauh dan rawan banjir dan demam berdarah, serta harus rela belajar secara bergantian. Aset gedung telah dihancurkan. Semuanya terjadi gara-gara secara formal dan berdasarkan bukti-bukti tertulis, pemerintah kota ternyata telah membangun gedung sekolah pada persil yang salah. Gedung sekolah tersebut telah dibangun dan dimanfaatkan puluhan tahun yang lalu. Yang menjadi perntanyaan, mengapa selama puluhan tahun itu tidak ada pihak yang mengklaim? Mengapa baru sekarang ketika harga tanah dan letaknya telah menjadi sangat strategis? Apakah pemerintah kota selama bertahun-tahun lamanya tidak pernah mencocokkan antara surat kepemilikan dan fakta-fakta di lapangan? Seribu pertanyaan lagi mungkin muncul bagi orang-orang yang sedikit mengerti tentang liku-liku hukum dan segala sistemnya.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 71

Satu Untuk UNM
Instruksi:
Cermati kasus tersebut di atas dan jawablah pertanyaan berikut ini: 1. Menurut Anda, dalam sebuah kasus perdata apakah sebuah logika hukum yang mungkin saja dapat mengarahkan kita untuk mencapai sebuah kebenaran hakiki dapat saja mengesampingkan bukti tertulis yang ada? Jika jawaban Anda Ya, itu adalah cirri-ciri dari sistem hukum apa? Dan jika jawaban Anda tidak, itu juga merupakan cirri-ciri dari sistem hukum apa? 2. Menurut Anda, sistem hukum apa yang telah dikembangkan di Indonesia? Dan apakah dalam pembangunan hukum nasional memungkinkan pengembangan sistem hukum yang lain? 3. Berdasarkan pertimbangan kepentingan umum, apakah fakta-fakta tertulis yang terungkap di pengadilan dapat dikesampingkan? 4. Jika sudah tidak ada jalan keluar lagi, apakah Anda setuju jika Pemerintah Kota membeli saja tanah yang disengketakan?

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

72

Satu Untuk UNM
Kegiatan Belajar 10 a. Kewarganegaraan b. Indikator: 1. Merumuskan kedudukan warga Negara dan pewarganegaraan di Indonesia dilihat dari dasar hukum, asas dan syarat kewarganegaraan. 2. Menganalisis persamaan kedudukan warga Negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 3. Menilai tentang persamaan kedudukan warga Negara tanpa membedakan ras, agama, gender, golongan, budaya dan suku. c. Uraian Materi dan Contoh: A. Hakikat Kewarganegaraan Kewarganegaraan merupakan keanggotaan seseorang dalam satuan politik tertentu (secara khusus: negara) yang dengannya membawa hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik. Seseorang dengan keanggotaan yang demikian disebut warga negara. Seorang warga negara berhak memiliki paspor dari negara yang dianggotainya. Kewarganegaraan merupakan bagian dari konsep kewargaan (bahasa Inggris:

citizenship). Di dalam pengertian ini, warga suatu kota atau kabupaten disebut sebagai warga kota atau warga kabupaten, karena keduanya juga merupakan satuan politik.
Dalam otonomi daerah, kewargaan ini menjadi penting, karena masing-masing satuan politik akan memberikan hak (biasanya sosial) yang berbeda-beda bagi warganya. B. Kedudukan Warga Negara menurut UUD 1945 Ketentuan mengenai Warga Negara dalam UUD 1945, secara tegas diatur dalam Bab X tentang Warga Negara dan Penduduk. Dalam Pasal 26 ayat (1) ditegaskan bahwa: “Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan

orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga Negara”. Selanjutnya ketentuan mengenai warga Negara diatur dengan undang-undang
sebagaimana ditegaskan dalam pasal 26 ayat (3) UUD 1945. Dalam pasal yang lain yaitu dalam pasal 27, 28, 30 dan 31, UUD 1945 memberikan penegasan mengenai jaminan tentang hak dan kewajiban warga Negara. Dalam ketentuan tersebut, hak dan kewajiban warga Negara yang mendapatkan jaminan dan perlindungan adalah sebagai berikut: 1. Hak dan kewajiban untuk ikut dalam upaya pembelaan Negara. 2. Hak untuk mendapatkan jaminan dan perlindungan hukum serta kewajiban untuk mematuhinya.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 73

Satu Untuk UNM
3. Hak untuk berserikat, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya. 2. Hak untuk menadapatkan pengajaran. C. Asas dan Syarat-syarat Kewarganegaraan

1. Asas Kewarganegaraan
Mengenai asas-asas kewarganegaraan menurut ketentuan UU No.12 tahun 2006 dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Asas Ius Sanguinis (law of tempat kelahiran. b. Asas Ius Soli (law of the soil) secara terbatas, adalah asas yang menentukan kewarganegaraan undang-undang ini. c. Asas Kewarganegaraan Tunggal, adalah asas yang menentukan satu kewarganegaraan bagi setiap orang. d. Asas Kewarganegaraan Ganda Terbatas, dengan undang-undang ini. Dengan diterapkannya asas-asas tersebut di atas, maka masalah kewarganegaraan di Indonesia sekarang ini tidak mengenal lagi istilah kewarganegaraan ganda (bipatride) dan tanpa kewarganegaraan (apatride). adalah asas yang menentukan kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur seseorang berdasarkan negara tempat kelahiran, yang diberlakukan terbatas bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam

the blood), adalah asas yang menentukan

kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan, bukan berdasarkan negara

2. Syarat dan Tata Cara Memperoleh Kewarganegaraan
Untuk dapat menjadi warga Negara Indonesia, ada beberapa syarat dan tata cara yang harus dimiliki dan dilakukan. Berdasarkan ketentuan UU No.12 tahun 2006, syarat-syarat yang harus dimiliki adalah sebagai berikut: a. Telah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin; b. Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah negara Republik Indonesia paling singkat 5 (lima ) tahun berturut-turut atau paling singkat 10 (sepuluh puluh) tahun tidak berturut-turut; c. Sehat jasmani dan rohani; d. Dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar negara Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; e. Tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 1 (satu) tahun atau lebih;
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

74

Satu Untuk UNM
f. Jika dengan memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia, tidak menjadi berkewarganegaraan ganda; g. Mempunyai pekerjaan dan/atau berpenghasilan tetap; dan h. Membayar uang pewarganegaraan ke Kas Negara. Kewarganegaraan Republik Indonesia dapat juga diperoleh melalui pewarganegaraan atau naturalisasi, yaitu kepada orang asing yang telah berjasa kepada negara Republik Indonesia atau dengan alasan kepentingan negara dapat diberi Kewarganegaraan Republik Indonesia oleh Presiden setelah memperoleh pertimbangan Dewan ganda. Adapun tata cara untuk memperoleh kewarganegaraan Indonesia adalah sebagai berikut: a. Permohonan pewarganegaraan diajukan di Indonesia oleh pemohon secara tertulis dalam bahasa Indonesia di atas kertas bermeterai cukup kepada Presiden melalui Menteri, berkas permohonan disampaikan kepada Pejabat ; b. Menteri meneruskan permohonan yang disertai dengan pertimbangan kepada Presiden dalam waktu paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak permohonan diterima; c. Permohonan Pemerintah; d. Presiden mengabulkan atau menolak permohonan pewarganegaraan yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak permohonan diterima oleh Menteri dan diberitahukan kepada pemohon paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak Keputusan Presiden ditetapkan; e. Penolakan permohonan pewarganegaraan harus disertai alasan dan diberitahukan oleh Menteri kepada yang bersangkutan paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak permohonan diterima oleh Menteri ; f. Keputusan Presiden mengenai pengabulan terhadap permohonan Pewargane-garaan berlaku efektif terhitung sejak tanggal pemohon mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia. g. Paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak Keputusan Presiden dikirim kepada pemohon, Pejabat memanggil pemohon untuk mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia; pewarganegaraan dikenai biaya yang diatur dengan Peraturan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, kecuali dengan pemberian kewarganegaraan tersebut mengakibatkan yang bersangkutan berkewarganegaraan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

75

Satu Untuk UNM
h. Dalam hal setelah dipanggil secara tertulis oleh Pejabat untuk mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia pada waktu yang telah ditentukan ternyata pemohon tidak hadir tanpa alasan yang sah, Keputusan Presiden tersebut batal demi hukum; i. Dalam hal pemohon tidak dapat mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia pada waktu yang telah ditentukan sebagai akibat kelalaian Pejabat, pemohon dapat mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia di hadapan Pejabat lain yang ditunjuk Menteri; j. Pengucapan sumpah atau pernyataan janji setia dilakukan di hadapan Pejabat; dan pejabat tersebut membuat berita acara pelaksanaan pengucapan sumpah atau pernyataan janji setia; k. Paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal pengucapan sumpah atau pernyataan janji setia, Pejabat menyampaikan berita acara pengucapan sumpah atau pernyataan janji setia kepada Menteri. Sumpah atau pernyataan janji setia adalah sebagai berikut : Yang mengucapkan sumpah, lafal sumpahnya sebagai berikut : Demi Allah/demi Tuhan Yang Maha Esa, saya bersumpah melepaskan seluruh kesetiaan saya kepada kekuasaan asing, mengakui, tunduk, dan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan akan membelanya dengan sungguh-sungguh serta akan menjalankan kewajiban yang dibebankan negara kepada saya sebagai Warga Negara Indonesia dengan tulus dan ikhlas. Yang menyatakan janji setia, lafal janji setianya sebagai berikut : Saya berjanji melepaskan seluruh kesetiaan saya kepada kekuasaan asing, mengakui, tunduk, dan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan akan membelanya dengan sungguh-sungguh serta akan menjalankan kewajiban yang dibebankan negara kepada saya sebagai Warga Negara Indonesia dengan tulus dan ikhlas. l. Setelah mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia, pemohon wajib menyerahkan dokumen atau surat-surat keimigrasian atas namanya kepada kantor imigrasi dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal pengucapan sumpah atau pernyataan janji setia ; m.Salinan Keputusan Presiden tentang pewarganegaraan dan berita acara pengucapan sumpah atau pernyataan janji setia dari Pejabat, menjadi bukti sah Kewarganegaraan Republik Indonesia seseorang yang memperoleh kewarganegaraan ;

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

76

Satu Untuk UNM
n. Menteri mengumumkan nama orang yang telah memperoleh kewarganegaraan dalam Berita Negara Republik Indonesia.

3. Kehilangan Kewarganegaraan
Selain memperoleh kewarganegaraan, beberapa hal dapat juga menyebabkan seseorang kehilangan kewarganegaraan sebagaimana yang diatur dalam UU No.12 tahun 2006 sebagai berikut: a. Memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri; b. Tidak menolak atau tidak melepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan orang yang bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu; c. Dinyatakan hilang kewarganegaraannya oleh Presiden atas permohonannya sendiri, yang bersangkutan sudah berusia 18 (delapan belas) tahun, bertempat tinggal di luar negeri, dan dengan dinyatakan hilang Kewarganegaraan Republik Indonesia tidak menjadi tanpa kewarganegaraan; d. Masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari Presiden; e. Secara sukarela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan dalam dinas semacam itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan hanya dapat dijabat oleh Warga Negara Indonesia; f. Secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian dari negara asing tersebut; g. Tidak diwajibkan tetapi turut serta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat ketatanegaraan untuk suatu negara asing; h. Mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau surat yang dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku dari negara lain atas namanya; i. Bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia selama 5 (lima) tahun terus-menerus bukan dalam rangka dinas negara, tanpa alasan yang sah dan dengan sengaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi Warga Negara Indonesia sebelum jangka waktu 5 (lima) tahun itu berakhir, dan setiap 5 (lima) tahun berikutnya yang bersangkutan tidak mengajukan pernyataan ingin tetap menjadi Warga Negara Indonesia kepada Perwakilan Republik Indonesia yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal yang bersangkutan padahal perwakilan Republik Indonesia tersebut telah memberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan, sepanjang yang bersang-kutan tidak menjadi tanpa kewarganegaraan.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

77

Satu Untuk UNM
Bagi warga negara Indonesia di luar negeri yang kehilangan kewarganegaraan nya bukan karena kemauan sendiri, mereka masih diberi kesempatan untuk tetap menjadi warga negara Indonesia dengan persyaratan tertentu, antara lain: pernyataan atas kelalaiannya dan kesetiaannya kepada pemerintah Indonesia. Dalam hal ini, orang tersebut harus mengajukan pernyataan kepada menteri kehakiman melalui KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) tempat ia berada dan sekaligus dapat ditentukan apakah pernyataannya dapat diterima atau ditolak. 3. Persamaan Kedudukan Warga Negara dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara

1. Makna Persamaan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sadari bahwa setiap manusia selain kodratnya sebagai makhluk pribadi adalah juga sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, sangat merasakan bantuan, pertolongan dan bantuan dari orang lain. Untuk mewujudkan dirinya sebagai makhluk sosial tersebut, maka timbul perasaan dan sikap ingin dihormati dan dihargai orang lain. Dengan dihormati dan dihargai tersebut, maka setiap manusia merasakan adanya pengakuan dari orang lain, dari kelompok atau masyarakat sekitar. Penting bagi setiap manusia untuk dapat mengembangkan sikap hormat dan menghargai orang lain agar di dalam kehidupannya terwujud kerukunan dan kerja sama yang baik sehingga tercapai keingin kedamaian dan ketenteram hidup. Karena setiap manusia sangat mendambakan suasana kehidupan yang akrab, ramah dan penuh kedamaian.

2. Jaminan Persamaan Hidup (Pendekatan Kultural)
Dalam kehidupan bangsa Indonesia secara kultural bahwa jaminan terhadap persamaan hidup telah tertanam dalam-dalam melalui adat dan budaya daerah yang relatif memiliki nilai-nilai yang hampir sama. Kehidupan masyarakat yang bersahaja dan sangat bersahabat dengan sesama, yaitu saling menghargai dan menghormati sampai sekarang masih nampak dalam perisai lambang burung Garuda Pancasila ”Bhinneka Tunggal Ika”. Hal ini menandakan bahwa dalam kurun waktu perjalanan hidup bangsa Indonesia hingga saat ini, masalah perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan tidaklah menjadi penghalang dalam pergaulan hidup, akan tetapi justru sebaliknya mampu menjadi perekat dalam kehidupan yang serasi, selaras dan seimbang. Beberapa nilai kultural bangsa Indonesia yang patut kita lestarikan dalam upaya memberikan jaminan persamaan hidup dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, antara lain :
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 78

Satu Untuk UNM
a. Nilai Religius Realitas kehidupan bangsa Indonesia sejak jaman nenek moyang hingga sekarang ini sarat dengan nilai-nilai religius, meskipun disadari bahwa tata cara ritual dan bentuk-bentuk yang disembah berbeda. Ada sebagian masyarakat yang menganut persembahan ritual dengan perantara roh (animisme), melalui benda-benda/pohonpohon tertentu (dinamisme), kepada dewa-dewa (pantheisme) dan kepada Tuhan Yang Maha Esa (monoteisme). Esensi nilai religius, sangat menghargai persamaan hidup dan memberi jaminan kepada umatnya bahwa setiap manusia diciptakan adalah sama dihadapan yang kuasa/Tuhan. Sedangkan yang membedakan adalah derajat ilmu pengetahuan, adab, dan keimanan dari setiap masing-masing manusia. b. Nilai Gotong Royong Pada sebagian masyarakat Indonesia, nilai-nilai gotong royong masih sangat kuat dipertahankan sebagai wujud kepedulian dan mau membantu sesama. Bentuk perbuatan gotong royong seperti; membantu dalam membangun rumah, bersamasama membuat jembatan, menolong yang kena musibah bencana alam, menjaga keamanan bersama (ronda/siskamling) dan sebagainya, merupakan wujud ”jaminan persamaan hidup” dengan tidak membeda-bedakan status sosial maupun suku, agama, ras dan antar golongan. Esensi nilai gotong royong adalah adanya keinginan kuat dalam setiap anggota masyarakat dalam meringankan beban orang lain, sehingga mampu hidup mandiri layaknya masyarakat lain. c. Nilai Ramah Tamah Kebiasaan dalam pergaulan hidup yang mengembangkan sopan santun dan ramah tamah, merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia yang membedakan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Salah satu keunggulan dan sekaligus kebanggaan warisan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang harus dilestarikan kepada generasi penerus bangsa adalah sikap sopan dan ramah kepada siapapun tamu yang hadir yang memiliki itikad baik. Banyak bangsa lain jika berkunjung ke tempat-tempat wisata atau ke daerah-daerah tertentu di Indonesia sangat terkesan dengan sikap sopan dan ramah tamah tersebut. Esensi sikap sopan dan ramah tamah adalah adanya ketulusan melakukan suatu perbuatan dengan berprasangka baik terhadap orang lain baik yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal. Terdapat juga keinginan untuk membantu dan bekerja sama dengan mengedepankan rasa hormat dan penghargaan kepada orang
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 79

Satu Untuk UNM
lain tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras dan antar golongan. Dengan demikian, sesungguhnya nilai sopan santun dan ramah tamah sangat memberi peluang dan kesempatan dalam memberikan jaminan persamaan hidup yang tulus kepada siapapun mereka yang hadir bersama-sama untuk hidup di dalam masyarakat. d. Nilai Kerelaan Berkorban dan Cinta Tanah Air Melalui nilai-nilai semangat rela berkorban dan cinta tanah air, bangsa Indonesia telah teruji selama penjajahan berlangsung dalam merebut kemerdekaan. Rela berkorban dan cinta tanah air, merupakan wujud ketulusan pengorbanan seseorang dalam bentuk harta benda maupun nyawa untuk kepentingan harga diri, harkat martabat bangsa dan negara. Dalam lingkup kepentingan masyarakat, kerelaan berkorban waktu dan tenaga serta kemauan untuk memelihara kelestarian lingkungan, hal ini sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat. Karena sangat disadari bahwa hidup tanpa mau berkorban untuk kepentingan orang lain dan memelihara rasa kebersamaan, tidak akan mempunyai arti di dalam masyarakat. Esensi rela berkorban dan cinta tanah air dalam jaminan persamaan hidup adalah bahwa dalam kehidupan manusia ada rasa kebanggaan yang mendalam jika sanggup melakukan pengorbanan untuk kepentingan orang lain atau bangsa dan negara sebagai wujud rasa cinta yang tulus dan mendalam.

3. Jaminan Persamaan Hidup Dalam Konstitusi Negara
Para pendiri negara (founding fathers) sangat menyadari bahwa setelah bangsa Indonesa merdeka, negara yang akan dibangun adalah negara yang berisi masyarakat Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika dengan keberagaman suku, agama, ras dan antar golongan dari Sabang sampai Merauke. Oleh sebab itu, dasar negara yang menjadi pedoman penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara haruslah mampu mewadahi (mengakomodir) kepentingan-kepentingan masyarakat dan bangsa secara keseluruhan. Mengingat konstruksi yang dibangun oleh bangsa Indonesia dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bersumber dari keberagaman suku, agama, ras dan antar golongan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, maka sudah menjadi kewajiban negara untuk mampu memberikan “jaminan persamaan hidup” dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jaminan persamaan hidup warga negara di dalam konstitusi negara, dapat disebutkan antara lain :
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

80

Satu Untuk UNM
a. Pembukaan UUD 1945 Pada alinea 1 Pembukaan UUD 1945, disebutkan bahwa sesungguhnya

kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Kalimat tersebut mengandung makna adanya pengakuan jaminan
persamaan hidup bagi bangsa beradab manapun di dunia ini, karena tidak satupun bangsa yang mau dijajah oleh bangsa lain. Dengan semangat kebangsaan yang tinggi baik internal maupun eksternal untuk memperoleh jaminan persamaan hidup di dunia, bangsa Indonesia telah melakukan berbagai upaya-upaya nyata untuk mendorong bangsa-bangsa lain terutama di Asia dan Afrika untuk memperoleh hak kemerdekaannya. Hal ini dilakukan melalui banyaknya hubungan bilateral dan kerja sama multilateral dalam wadah Gerakan Negara-Negara non Blok, ASEAN, PBB dan sebagainya. Demikian di dalam alinea ke 4 Pembukaan UUD 1945, yang antara lain berbunyi “ ........ Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan

seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, dan seterusnya.
Pada kalimat ”melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia”, hal ini mengandung makna merupakan wujud keinginan kuat dari penyelenggara negara untuk mampu memberikan jaminan persaman hidup yang berkeadilan sosial baik internal bangsa Indonesia maupun partisipasi aktif terhadap dunia internasional. Jadi, jelaslah bahwa perihal jaminan persaman hidup di Indonesia secara konstitusional seperti yang termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945, telah secara eksplisit dinyatakan untuk selanjutnya diimplementasikan ke dalam peraturan perundangundangan yang berlaku. b. Sila-Sila Pancasila Pengakuan jaminan persamaan hidup dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia, juga telah dirumuskan secara filosofis dalam dasar negara Pancasila melalui sila-sila Pancasila c. UUD 1945 dan Peraturan Perundangan Lainnya Bila memperhatikan komitmen bangsa Indonesia dalam penyelenggaraan negara yang ingin mewujudkan “jaminan persaman hidup” dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sudah sangat jelas bahwa hal tersebut ingin segera diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Guna lebih mempertajam keinginan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 81

Satu Untuk UNM
penyelenggara negara dalam memberikan jaminan persamaan hidup bagi warganya, berikut ini dapat dilihat pada pasal-pasal UUD 1945 dan peraturan perundangan lainnya. Tabel 2: Landasan Hukum Jaminan Persamaan Kedudukan Warganegara No 1. UUD 1945/Peraturan Perundangan Pasal 26 ayat (1) Isi/Uraian

2.

Pasal 27 ayat (1)

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Pasal 27 ayat (2) Pasal 27 ayat (3) Pasal 28 Pasal 28A Pasal 29 ayat (2) Pasal 30 ayat (1) Pasal 31 ayat (1) Pasal 32 ayat (1)

11. 12. 13. 14. 15. 16.

Pasal 33 ayat (3) Pasal 34 ayat (1) UU No. 40 Tahun 1999 UU No. 3 Tahun 2002 UU No. 31 Tahun 2002 UU No. 4 Tahun 2004

“Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara”. “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara” ”Kemerdekaan berserikat, berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang” “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya” ”Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara”. “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan” “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”. “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”. Jaminan kepada warga negara untuk mengeluarkan pikiran dan tulisan melalui media massa “Pers”. Jaminan kepada warga negara dalam membela negara melalui “Pertahanan Negara”. Jaminan kepada warga negara untuk mendirikan “Partai Politik” Jaminan kepada warga negara untuk hak praduga tak bersalah melalui “Kekuasaan Kehakiman”.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

82

Satu Untuk UNM
4. Menghargai Persamaan Kedudukan Warga Negara Tanpa Membedakan Ras, Agama, Gender, Golongan, Budaya dan Suku Bagi setiap warga negara Indonesia berdasarkan pendekatan kultural muapun konstitusional, sangatlah kecil untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak menghargai persamaan kedudukan warga negara karena faktor ras, agama, gender, golongan, budaya dan suku bangsa. Sejarah telah mencatat bahwa nilai-nilai luhur budaya bangsa sangat menjunjung tinggi keberagaman bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Oleh sebab itu, semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan wawasan nusantara tidak hentihentinya kita gelorakan untuk kepentingan keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsa. Sangat riskan bagi bangsa Indonesia yang dihuni oleh masyarakat multi etnis dan budaya apabila ada sebagian masyarakat yang tidak menghargai perbedaan (diskriminasi) dengan apapun alasannya. Diskriminasi merupakan sikap dan perbuatan yang harus dihindari, karena cepat atau lambat akan menjadi bom waktu perpecahan dan sangat berpotensi terjadinya konflik vertikal (dengan penguasa) maupun konflik horizontal (dengan sesama masyarakat). Dalam rangka menghargai persaman kedudukan bagi setiap warga negara, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Regulasi yang dilakukan oleh lembaga eksekutif maupun legistlatif, sebelum disahkan sudah seharusnya dibuat dalam kajian akademis yang memadai dan analisis-analisis psikologi sosial yang mendalam, sehingga menghasilkan peraturan dan kebijakan yang tidak diskriminatif yang dirasakan oleh sebagian warga negara/masyarakat. 2. Implementasi suatu kebijakan atau aturan, agar pelaksanaanya dilakukan oleh aparat yang betul-betul memahami, proporsional dan profesional. Hal ini penting untuk dipahami, agar pada saat terjadi penindakan pelanggaran (law enforcement) mampu berlaku adil dan sesuai ketentuan yang berlaku. 3. Sosialisasi suatu peraturan atau kebijakan diperluas jangkauan dan publikasinya agar warga masyarakat yang berkepentingan merasa berperan aktif untuk memahami. Jika sosialisasi telah terpahami dengan baik, warga masyarakat akan semakin cerdas untuk melaksanakannya tanpa ada rasa curiga atau salah paham. 4. Masyarakat harus dilatih dan diberikan pembelajaran pentingnya “taat asas” dan “taat aturan” sehingga dalam menyelesaikan suatu masalah atau urusan adminstrasi tertentu betul-betul mematahu rambu-rambu yang telah ditentukan. Jangan sampai ada diantara mereka karena kenal sehingga semua urusan dapat dengan mudah, sementara yang tidak punya akses atau kenalan merasa dipersulit sehingga terjadi diskriminasi.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

83

Satu Untuk UNM
5. Aparatur penyelenggara negara/pemerintah dan masyarakat tidak saling memberi peluang munculnya tindak Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Karena sesungguhnya KKN merupakan salah satu sumber diskrimanasi perlakukan terhadap warga masyarakat, karena ada yang diistimewakan dan sementara yang lain diacuhkan. 6. Keteladanan dan pembelajaran yang berkelanjutan dijalur pendidikan melalui jenjang sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi untuk melestarikan nilai-nilai budaya bangsa yang sangat menghargai dan menghormati adanya perbedaan dalam masyarakat. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, akan tetapi harus selalu dicari titik temu sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. 7. Aparat penegak hukum senantiasa mewaspadai dan antisipatif terhadap potensipotensi konflik yang mengarah pada perbedaan ras, gender, golongan, budaya dan suku yang ada di dalam masyarakat. Upayakan kejelian dalam pendeteksian dini sehingga segala sesuatu dapat dicegah sebelum konflik muncul ke permukaan. d. Rangkuman Siapapun warganya dan dimanapun negaranya, tentu ingin hidup aman dan sejahtera. Setiap warga negara ingin hak-haknya juga diberikan oleh negara adalah sama tanpa membeda-bedakan ras, agama, gender, golongan, budaya dan suku. Secara sosiologis, rakyat adalah sekumpulan manusia yang dipersatukan oleh rasa persamaan, dan yang bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu. Secara hukum, rakyat merupakan warga negara dalam suatu negara yang memiliki ikatan hukum dengan pemerintah. Rakyat di dalam suatu negara dapat dibedakan, berdasarkan hubungannya dengan daerah tertentu di dalam suatu negara (penduduk dan bukan penduduk). Sedangkan hubungannya dengan pemerintah negaranya, yaitu warga negara dan bukan warga negara. Adanya ketentuan-ketentuan yang tegas mengenai kewarganegaan adalah sangat penting bagi tiap warga negara, karena hal itu dapat mencegah adanya penduduk yang a-patride dan yang bi-patride. Ketentuan-ketentuan itu penting pula untuk membedakan hak dan kewajiban-kewajiban bagi warganegara dan bukan warganegara. Hak dan kewajiban warga negara Indonesia secara konstitusional telah dijamin di dalam Undang-Undang Dasar 1945. Beberapa acuan yang dapat kita pedomani sebagai bukti adanya hak dan kewajiban warga negara Indonesia dapat dilihat pada peraturan perundangan yang berlaku.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

84

Satu Untuk UNM
Persamaan, merupakan perwujudan kehidupan di dalam masyarakat yang saling menghormati dan menghargai orang lain dengan tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Mengingat konstruksi yang dibangun oleh bangsa Indonesia dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bersumber dari keberagaman suku, agama, ras dan antar golongan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, maka sudah menjadi kewajiban negara untuk mampu memberikan “jaminan persamaan hidup” dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. e. Latihan

Kasus I
Seorang perempuan Warga Negara Indonesia kawin dengan seorang laki-laki WNA. Dalam perkawinannya mereka dikaruniai 2 (dua) orang anak yang lahir di Indonesia. Beberapa tahun kemudian, terjadilah perceraian.

Instruksi:
1. Bagimanakah status perempuan WNI tersebut setelah menikah dan setelah bercerai menurut UU No.12 Tahun 2006? 2. Asas apakah yang digunakan untuk menentukan status kewarganegaraan anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut?

Kasus II
Si A seorang laki-laki WNI menikahi si B seorang perempuan WNA. Si B kemudian melahirkan seorang anak di Negara lain yang menganut asas ius soli.

Instruksi:
Apakah anak yang lahir tersebut berstatus apatride atau bipatride? Jelaskan alasannya!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

85

Satu Untuk UNM
Kegiatan Belajar 11 a. Budaya Politik b. Indikator: Menelaah budaya politik dilihat dari cirri-ciri, macam-macam, dan sejarah perkembangannya. c. Uraian Materi dan Contoh: A. Pendahuluan Setiap warga negara, dalam kesehariannya hampir selalu bersentuhan dengan aspek-aspek politik praktis baik yang bersimbol maupun tidak. Dalam proses pelaksanaannya dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung dengan praktik-praktik politik. Jika secara tidak langsung, hal ini sebatas mendengar informasi, atau berita-berita tentang peristiwa politik yang terjadi. Dan jika seraca langsung, berarti orang tersebut terlibat dalam peristiwa politik tertentu. Kehidupan politik yang merupakan bagian dari keseharian dalam interaksi antar warga negara dengan pemerintah, dan institusi-institusi di luar pemerintah (non-formal), telah menghasilkan dan membentuk variasi pendapat, pandangan dan pengetahuan tentang praktik-praktik perilaku politik dalam semua sistem politik. Oleh karena itu, seringkali kita bisa melihat dan mengukur pengetahuan-pengetahuan, perasaan dan sikap warga negara terhadap negaranya, pemerintahnya, pemimpim politik dan lai-lain. B. Pengertian Budaya politik merupakan sistem nilai dan keyakinan yang dimiliki bersama oleh masyarakat. Namun, setiap unsur masyarakat berbeda pula budaya politiknya, seperti antara masyarakat umum dengan para elitenya. Di Indonesia, menurut Benedict R. O'G Anderson, kebudayaan Indonesia cenderung membagi secara tajam antara kelompok elite dengan kelompok massa. Almond dan Verba mendefinisikan budaya politik sebagai suatu sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sistem politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap terhadap peranan warga negara yang ada di dalam sistem itu. Dengan kata lain, bagaimana distribusi pola-pola orientasi khusus menuju tujuan politik diantara masyarakat bangsa itu. Lebih jauh mereka menyatakan, bahwa warga negara senantiasa mengidentifikasikan diri mereka dengan simbol-simbol dan lembaga kenegaraan berdasarkan orientasi yang mereka miliki. Dengan orientasi itu pula mereka menilai serta mempertanyakan tempat dan peranan mereka di dalam sistem politik.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

86

Satu Untuk UNM
C. Komponen-Komponen Budaya Politik Seperti dikatakan oleh Gabriel A. Almond dan G. Bingham Powell, Jr., bahwa budaya politik merupakan dimensi psikologis dalam suatu sistem politik. Maksud dari pernyataan ini menurut Ranney, adalah karena budaya politik menjadi satu lingkungan psikologis, bagi terselenggaranya konflik-konflik politik (dinamika politik) dan terjadinya proses pembuatan kebijakan politik. Sebagai suatu lingkungan psikologis, maka komponen-komponen berisikan unsur-unsur psikis dalam diri masyarakat yang terkategori menjadi beberapa unsur. Menurut Ranney, terdapat dua komponen utama dari budaya politik, yaitu orientasi kognitif (cognitive orientations) dan orientasi afektif (affective oreintatations). Sementara itu, Almond dan Verba dengan lebih komprehensif mengacu pada apa yang dirumuskan Parsons dan Shils tentang klasifikasi tipe-tipe orientasi, bahwa budaya politik mengandung tiga komponen obyek politik sebagai berikut:

Orientasi kognitif : yaitu berupa pengetahuan tentang dan kepercayaan pada politik,
peranan dan segala kewajibannya serta input dan outputnya.

Orientasi afektif

: yaitu perasaan terhadap sistem politik, peranannya, para aktor dan pe-nampilannya.

Orientasi evaluatif : yaitu keputusan dan pendapat tentang obyek-obyek politik yang
secara tipikal melibatkan standar nilai dan kriteria dengan informasi dan perasaan. D. Tipe-tipe Budaya Politik

1. Berdasarkan Sikap Yang Ditunjukkan
Pada negara yang memiliki sistem ekonomi dan teknologi yang kompleks, menuntut kerja sama yang luas untuk memperpadukan modal dan keterampilan. Jiwa kerja sama dapat diukur dari sikap orang terhadap orang lain. Pada kondisi ini budaya politik memiliki kecenderungan sikap ”militan” atau sifat ”toleransi”. a. Budaya Politik Militan Budaya politik dimana perbedaan tidak dipandang sebagai usaha mencari alternatif yang terbaik, tetapi dipandang sebagai usaha jahat dan menantang. Bila terjadi kriris, maka yang dicari adalah kambing hitamnya, bukan disebabkan oleh peraturan yang salah, dan masalah yang mempribadi selalu sensitif dan membakar emosi. b. Budaya Politik Toleransi Budaya politik dimana pemikiran berpusat pada masalah atau ide yang harus dinilai, berusaha mencari konsensus yang wajar yang mana selalu membuka pintu untuk
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

87

Satu Untuk UNM
bekerja sama. Sikap netral atau kritis terhadap ide orang, tetapi bukan curiga terhadap orang.

2. Berdasarkan Orientasi Politiknya
Realitas yang ditemukan dalam budaya politik, ternyata memiliki beberapa variasi. Berdasarkan orientasi politik yang dicirikan dan karakter-karakter dalam budaya politik, maka setiap sistem politik akan memiliki budaya politik yang berbeda. Perbedaan ini terwujud dalam tipe-tipe yang ada dalam budaya politik yang setiap tipe memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Dari realitas budaya politik yang berkembang di dalam masyarakat, Gabriel Almond mengklasifikasikan budaya politik sebagai berikut : a. Budaya politik parokial (parochial political culture), yaitu tingkat partisipasi politiknya sangat rendah, yang disebabkan faktor kognitif (misalnya tingkat pendidikan relatif rendah). b. Budaya politik kaula (subyek political culture), yaitu masyarakat bersangkutan sudah relatif maju (baik sosial maupun ekonominya) tetapi masih bersifat pasif. c. Budaya politik partisipan (participant political culture), yaitu budaya politik yang ditandai dengan kesadaran politik sangat tinggi. E. Budaya Politik di Indonesia Menurut Rusadi Kantaprawira (1999: 37.-39), budaya politik di Indonesia dewasa ini dapat melalui variabel-variabel berikut: 1. Konfigurasi subkultur yang beraneka ragam, yang akhir-akhir ini menimbulkan konflik baik secara vertikal maupun horizontal. Konflik yang muncul antara lain konflik dengan Gerakan Aceh Merdeka, konflik antar suku di Sampit, konflik anta:-agama di Maluku dan bentrok pemekaran Papua. 2. Budaya politik Indonesia yang bersifat parokial di satu pihak dan budaya politik partisipan di pihak lain. Masih banyak warga negara Indonesia yang ketinggalan dalam menggunakan hak dan dalam memikul tanggung jawab politiknya yang mungkin disebabkan oleh isolasi dari budaya luar, pengaruh penjajahan, feodalisme bapakisme dan ikatan primordial. Pada sisi lain, sebagian warga negara Indonesia sangat aktif dalam kehidupan politik yang tercermir dalam kegiatan elite politik. 3. Sifat ikatan primordial masih kuat berakar, yang berupa sentimen kedaerahan, kesukuan dan keagamaan. Otonomi daerah dewasa ini membawa dampak antara lain pada penguatan kepemimpinan daerah dan pengutamaan putra daerah. Kehidupan partai politik mengandalkan kekuatan umat, bukan perebutan massa melalui program yang ditawarkan.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 88

Satu Untuk UNM
4. Kecenderungan budaya politik Indonesia yang masih mengakui sikap patenalisme dan sifat patrimonial, seperti bapakisme, asal bapak senang. 5. Dilema interaksi tentang introduksi modemisasi dengan tradisi dalam masyarakat. Masyarakat kurang menerima pemikiran rasionalitas dalam kehidupan politik, tapi nampak mulai terbuka pemikiran baru dalam berpolitik. d. Rangkuman 1. Menurut Gabriel A. Almond dan Sidney Verba, istilah ”budaya politik” terutama mengacu pada orientasi politik sikap terhadap sistem politik dan bagian-bagiannya yang lain serta sikap terhadap peranan kita sendiri dalam sistem tersebut. Suatu budaya politik, yaitu terdapatnya satu perangkat yang meliputi seluruh nilai-nilai politik yang terdapat di seluruh bangsa. 2. Menurut G. Almond dan S. Verba, bahwa objek orientasi politik warga negara adalah sistem politik. Setiap sistem politik akan terbagi ke dalam tiga golongan objek, yaitu : a. Peranan atau struktur khusus seperti badan legislatif, eksekutif atau birokrat. b. Pemegang jabatan, seperti pemimpin monarki, legislator dan administrator. 3. Kebijaksanaan, keputusan atau penguatan keputusan, struktur pemegang jabatan. Struktur secara timbal balik diklasifikasi apakah mereka termasuk dalam proses input politik atau dalam proses adminsitratif atau output. 4. Budaya politik masyarakat sangat dipengaruhi oleh sruktur politik, sedangkan daya opeasional struktur ditentukan oleh konteks kultural tempat struktur itu berada. Kalau dicermati dari segi fungsi secara keseluruhan, budaya politik bertujuan untuk mencapai dan memelihara sistem politik yang demokratis. Budaya politik dapat berfungsi dengan baik, pada prinsipnya ditentukan oleh tingkat keserasian antar budaya itu dengan struktur politiknya. 5. Melalui proses sosialisasi politik , para anggota masyarakat memperoleh sikap dan orientasi terhadap kehidupan politik yang berlangsung dalam masyarakat. Proses ini berlangsung seumur hidup melalui pendidikan formal, non formal, dan informal atau tidak sengaja melalui kontak dan pengalaman sehari-hari, baik dalam kehidupan keluarga atau tetangga maupun dalam pergaulan masyarakat. 6. Dalam Proses Sosialisasi Politik, metode yang kerap digunakan dapat berupa Pendidikan Politik dan Indoktrinasi Politik. Pendidikan politik melalui suatu proses dialog sehingga masyarakat mengenal nilai, norma, dan simbol politik. Sedangkan proses Indoktrinasi Politik ialah proses sepihak ketika penguasa memobilisasi dan memanipulasi warga masyarakat untuk menerima nilai-nilai, norma, dan simbol yang dianggap oleh pihak yang berkuasa ideal dan baik.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 89

Satu Untuk UNM
7. Robert Le Vine berpendapat bahwa sosialisasi politik di negara-negara berkembang cenderung mempunyai relasi lebih dekat pada sistem-sistem lokal, kesukuan, etnis, dan regional daripada dengan sistem-sistem politik nasional. Namun, masalah terberat yang dihadapi oleh negara berkembang adalah adanya berbagai macam kelompok dan tradisi di negara itu. 8. Proses sosialisasi politik sesungguhnya berlanjut terus sepanjang hidup setiap orang. Sebagai contoh seperti yang dikemukakan Almond, bahwa suatu perang yang besar, ataupun depresi ekonomi, pengalaman fascisme di Itali, atau Nazi di Jerman, merupakan e. Latihan Si A calon bupati di sebuah daerah pemilihan tingkat II. Oleh KPUD setempat, waktu untuk melakukan kampanye adalah satu bulan kemudian, tetapi si A sudah melakukan macam-macam kegiatan. Mulai dari temu kader, sampai ke pada ssosialisasi program. Kegiatan ini rupanya disambut hangat oleh masyarakat setempat. Si B yang warga masyarakat di mana si A mencalonkan diri tidak mengambil pusing dengan kegiatan si A. Si B merasa tidak ada lagi calon yang dapat ditokohkan dan dibanggakan. Ia merasa putus asa dan prustrasi dengan kondisi perpolitikan dan ketatanegaraan dewasa ini. Tetapi anehnya, ia justru turut menikmati segala macam program-program social yang sudah dijalankan oleh si A. Bahkan ketika sehari sebelum pemilihan, beberapa utusan dari calon yang sedang bersaing datang membawa amplop berisi uang, tidak ditolaknya. Ia berprinsip, pemberian tidak boleh ditolak tetapi hati nurani yang menentukan pilihan. Bahkan sebenarnya ia sudah berencana untuk tidak memilih siapa-siapa (golput) pengalaman belajar yang dahsyat yang tidak dimediakan (dikomunikasikan) melalui institusi sosial yang manapun.

Intruksi:
Analisis kasus tersebut di atas, kemudian jawablah pertanyaan berikut ini: 1. Apakah tindakan si A dapat dikategorikan telah melakukan kampanye sebelum waktunya? 2. Apakah si A dapat dikatakan telah melakukan money politic? Jika ya, apa indikatornya, dan jika tidak apa pula alasannya? 3. Apakah perilaku si B dapat dikategorikan sebagai warga Negara yang baik atau tidak? Mengapa demikian? 4. Jika dipandang dari sisi perkembangan budaya politik, termasuk budaya politik apakah yang terjadi sebagaimana yang digambarkan dalam kasus di atas? Jelaskan!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

90

Satu Untuk UNM
Kegiatan Belajar 12 a. Hubungan Internasional b. Indikator: Menganalisis sistem dan landasan hubungan internasional. c. Uraian Materi dan Contoh: A. Pendahuluan Negara Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, setelah memperoleh pengakuan baik de facto maupun de jure berhak untuk menentukan nasibnya sendiri termasuk dalam hal kebijakan-kebijakan luar negerinya. Sebagai sebuah negara, bangsa Indonesia menyadari bahwa kita tidak mungkin sanggup untuk memenuhi semua kebutuhan tanpa bantuan dari bangsa atau negara lain. Oleh sebab itu, untuk memenuhi kebutuhan baik yang meyangkut bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya diperlukan kerja sama dalam bentuk hubungan internasional. Kerjasama dengan bangsa lain mutlak diperlukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan warganya dan pencapaian kepentingan nasional. Hubungan antar bangsa atau negara harus dilandasi oleh prinsip persamaan derajat. Negara Indonesia dalam mengadakan hubungan internasional, menerapkan politik luar negeri bebas dan aktif yang diabdikan bagi kepentingan nasional. Hal ini terutama ditujukan untuk kepentingan pembangunan di segala bidang serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi, dan keadilan sosial. B. Pengertian, Pentingnya dan Sarana-Sarana Hubungan Inter Nasional Bagi Suatu Negara

1. Pengertian Hubungan Internasional
Hubungan internasional menurut buku Rencana Strategi Pelaksnaan Politik Luar

Negeri RI

(Renstra), adalah hubungan antar bangsa dalam segala aspeknya yang

dilakukan oleh suatu negara untuk mencapai kepentingan nasional negara tersebut. Hubungan ini dalam Encyclopedia Americana dilihat sebagai hubungan politis, budaya, ekonomi ataupun hankam. Konsep ini berhubungan erat dengan subyek-subyek, seperti organisasi internasional, diplomasi, hukum internasional, dan politik internasional. Konsep hubungan internasional berhubungan erat dengan subjek-subjek internasional, seperti organisasi internasional, hukum internasional, politik internasional termasuk diplomasi.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

91

Satu Untuk UNM
2. Arti Penting Hubungan Internasional bagi suatu Negara
Suatu negara dapat mengadakan kerja sama antar negara atau hubungan internasional, manakala telah diakui kemerdekeaan dan kedaulatannya baik secara de

facto maupun de jure oleh negara lain. Hubungan antar negara merupakan salah satu
hubungan kerjasama mutlak diperlukan, karena tidak ada satu negarapun di dunia yang tidak bergantung kepada negara lain. Ketergantungan inilah yang menuntut diperlukannya hubungan antar negara. Dalam Pelaksanaan hubungan antar negara perlu dilandasi dengan prinsip persamaan derajat dan didasarkan pada kemauan bebas dalam melaksanakan hubungan tersebut. Arti penting hubungan internasional bagi suatu negara antara lain karena faktor-faktor sebagai berikut : a. Faktor internal : Yaitu adanya kekhawatiran terancam kelangsungan hidupnya baik melalui kudeta maupun intervensi dari negara lain. b. Faktor eksternal : 1) Yaitu ketentuan hukum alam yang tidak dapat dipungkiri bahwa suatu negara tidak dapat berdiri sendiri, tanpa bantuan dan kerja sama dengan negara lain. Ketergantungan tersebut, terutama dalam upaya memecahkan masalah-masalah ekonomi, politik, hukum, sosial budaya, pertahanan dan keamanan. 2) Untuk membangun komunikasi lintas bangsa dan negara guna mewujudkan kerja sama yang produktif dalam memenuhi berbagai kebutuhan yang meyangkut kepentingan nasional negara masing-masing. 2) Mewujudkan tatanan dunia baru yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan dan perdamaian yang abadi bagi warga masyarakat dunia.

3. Sarana-Sarana Hubungan Internasional bagi suatu Negara
Suatu hubungan antar bangsa dan negara (internasional) akan dapat berlangsung dengan baik, manakala terdapat pedoman-pedoman yang dijadikan sebagai landasan berpijak. Pedoman-pedoman internasional, harus dipatuhi oleh pihak-pihak yang mengadakan hubungan baik tertulis maupun yang tidak tertulis. Beberapa sarana penting dalam membangun hubungan internasional adalah sebagai berikut : a. Asas-Asas Hubungan Internasional Ada 3 (tiga) asas dalam hubungan internasional yang antara satu dengan lainnyan saling memengaruhi :

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

92

Satu Untuk UNM
1. Asas Teritorial
Asas ini didasarkan pada kekuasaan negara atas daerahnya. Menurut asas ini, negara melaksanakan hukum bagi semua orang dan semua barang yang ada di wilayahnya. Jadi, terhadap semua barang atau orang yang berada di luar wilayah tersebut, berlaku hukum asing (internasional) sepenuhnya.

2. Asas Kebangsaan
Asas ini didasarkan pada kekuasaan negara untuk warga negaranya. Menurut asas ini, setiap warga negara di manapun ia berada, tetap menapat perlakuan hukum dari negaranya. Asas ini mempunyai kekuatan exteritorial. Artinya hukum dari negara tersebut tetap berlaku juga bagi warga negaranya, walaupun berada di negara asing. 3) Asas Kepentingan Umum Asas ini didasarkan pada wewenang negara untuk melindungi dan mengatur kepentingan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam hal ini, negara dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan dan peristiwa yang bersangkut paut dengan kepentingan umum. Jadi, hukum tidak terikat pada batas-batas wilayah suatu negara. b. Faktor-faktor Penentu Dalam Hubungan Internasional Beberapa faktor yang ikut menentukan dalam proses hubungan internasional, baik secara bilateral maupun multilateral adalah sebagai berikut, 1) Kekuatan Nasional (National Power), 2) Jumlah Penduduk, 3) Sumber Daya, dan 4) Letak Geografis. Berdasarkan faktor-faktor tersebut maka dapat difahami bagaimana suatu negara dalam mengadakan hubungan internasional:

Pertama

:

Jika suatu Negara telah memiliki 4 (empat) faktor kekuatan tersebut

dengan baik, mereka relatif lebih longgar untuk tidak mengadakan hubungan internasional.

Kedua

: Namun jika suatu negara yang memiliki 4 (empat) faktor kekuatan tersebut lemah, mereka harus mengadakan hubungan internasional.

C. Sistem dan Landasan Hubungan Internasional

1. Dasar Pertimbangan
Pada tahun-tahun pertama berdirinya negara Republik Indonesia, kita dihadapkan pada kenyataan sejarah, yaitu munculnya dua kekuatan besar dunia. Satu pihak, yaitu blok Barat dengan ideologi liberal yang didominasi Amerika dan Blok Timur dengan Ideologi Komunis yang kuasai Uni Sovyet. Kenyataan demikian sangat
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 93

Satu Untuk UNM
berpengaruh terhadap usaha-usaha bangsa Indonesia dalam konsolidasi demi

kelangsungan hidup bangsa. Pengaruh lain adalah adanya ancaman dari Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Kondisi inilah yang kemudian menguatkan tekad bangsa Indonesia untuk merumuskan politik luar negerinya. Pemerintah berpendapat bahwa pendirian yang harus kita ambil adalah pendirian untuk tidak menjadi objek dalam pertarungan politik internasional, tetapi harus tetap menjadi subjek yang berhak menentukan sikap sendiri dan memperjuangkan tujuan sendiri, yaitu Indonesia merdeka seluruhnya. Perjuangan kita harus dilaksanakan di atas dasar semboyan kita yang lama, yaitu percaya akan diri sendiri dan berjuang atas kesanggupan kita sendiri. Dengan semboyan ini kita menjalin hubungan dengan negaranegara lain di dunia. Berdasarkan kondisi di atas menyebabkan pemerintah RI mengambil kebijakan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Bagan 2: Politik Luar Negeri Indonesia
Artinya kita bebas menentukan sikap dan pandangan kita terhadap masalah-masalah internasional dan terlepas dari ikatan kekuatan-kekuatan raksasa dunia secara ideologis bertentangan (Timur dengan komunisnya dan Barat dengan liberalnya).

I N D O N E S I A

BEBAS POLITIK LUAR NEGERI AKTIF

Artinya kita dalam politik luar negeri senantiasa aktif memperjuangkan terbinanya perdamaian dunia. Aktif memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan, aktif memperjuangkan ketertiban dunia, dan aktif ikut serta menciptakan keadilan sosial dunia.

2. Landasan Hukum Politik Luar Negeri RI
Pelaksanaan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, didasarkan pada landasan hukum sebagai berikut : a. Landasan idiil adalah Pancasila b. Landasan konstitusional adalah UUD c. Landasan operasional adalah sebagai berikut: 1) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XI/MPR/1998 Tahun 1998 Tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme;

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

94

Satu Untuk UNM
2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1982 tentang Pengesahan Konvensi Wina mengenai Hubungan Diplomatik dan Hubungan Konsuler beserta Protokol Opsionalnya mengenai Hal Memperoleh Kewarganegaraan; 3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme; 4) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri; 5) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional; 6) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara; 7) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; 8) Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 2003 tentang Organisasi Perwakilan RI di Luar Negeri; 9) Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009;. 10) Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia; 11) Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon 1 Kementerian Negara Republik Indonesia; 12) Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP); 13) Keputusan Menteri Luar Negeri Nomor SK.05/A/OT/IV/2004/02 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Lampiran Keputusan Menteri Luar Negeri Nomor SK.03/A/OT/XII/2002/02 Tahun 2002 tentang Pedoman Umum Implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Departemen Luar Negeri dan Perwakilan RI di Luar Negeri; 14) Keputusan Menteri Luar Negeri Nomor SK.06/A/OT/VI/2004/01 Tahun 2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri. d. Rangkuman 1. Saat ini tidak ada lagi Negara yang dapat mengucilkan diri dari pergaulan internasional. Mengucilkan diri berarti menutup akses dan sumber-sumber kehidupan masyarakat untuk mengembangkan diri. 2. Hubungan kerjasama antar negara (internasional) di dunia diperlukan guna memenuhi kebutuhan hidup dan eksistensi keberadaan suatu negara dalam tata pergaulan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

95

Satu Untuk UNM
internasional, di samping demi terciptanya perdamaian dan kesejahteraan hidup yang merupakan dambaan setiap manusia dan negara di dunia. 3. Untuk melakukan hubungan internasional, diperlukan sarana-sarana berupa pedomanpedoman internasional yang harus dipatuhi oleh pihak-pihak yang mengadakan hubungan baik tertulis maupun yang tidak tertulis. Pedoman tersebut berupa asas-asas hubungan internasional dan beberapa faktor penentu seperti kekuatan Nasional (National Power), jumlah penduduk, sumber daya, dan letak geografis. 4. Dalam rangka menciptakan perdamaian dunia yang abadi, adil, dan sejahtera, negara kita harus tetap melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif dengan berlandaskan pada 16 peraturan perundang-undangan yang berlaku. e. Latihan Secara sosiologis, Malaysia adalah Negara serumpun dengan Indonesia. Keterikatan social budaya dan politik begitu kuat antara Indonesia dan Malaysia sudah terjalin dengan kuat. Akan tetapi, beberapa kasus antara Indonesia dan Malaysia seakan membuat kita harus berfikir keras. Kasus pelecehan seksual dan penganiayaan TKI di Malaysia misalnya, sampai kepada kasus pulau Ambalat yang nyaris saja membuka front perang terbuka.

Instruksi:
Cermati kasus tersebut di atas, dan jawablah pertanyaan di bawah ini: 1. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya ketidakharmonisan hubungan dengan Negara lain, ataupun untuk menghindari agar suatu Negara tidak didikte oleh Negara lain, mungkinkah suatu Negara dapat hidup mengucilkan diri? Sertakan jawaban Anda dengan sebuah contoh konkrit. 2. Mengapa Negara Indonesia tetap merasa perlu untuk mempertahankan hubungan dengan Negara Malaysia? Jelaskan alasan Anda jika dipandang dari ekonomi, social, politik, dan budaya! 3. Untuk mempererat kembali hubungan dengan Malaysia, sarana-sarana hubungan apa yang dapat dimanfaatkan?

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

96

Satu Untuk UNM
Kegiatan Belajar 13 a. Pers dalam Masyarakat Demokrasi b. Indikator: Mengkaji fungsi, tugas, kewajiban, peran dan tanggung jawab serta perkembangan pers di Indonesia dalam era demokrasi. c. Uraian Materi dan Contoh: A. Pendahuluan Salah satu ciri menonjol negara demokrasi adalah adanya kebebasan untuk berekspresi. Kebebasan berekspresi dapat terwujud dalam berbagai bentuk, seperti; berkesenian, menyampaikan protes atau menyebarkan gagasan melalui media cetak sebagai bagian dari bentuk ekspresi. Di antara media ekspresi dan penyebarluasan gagasan yang banyak dikenal masyarakat adalah melalui pers. Dalam sejarah kehidupan masyarakat Indonesia, dunia pers tidaklah asing. Jauh sebelum Indonesia merdeka, awal kemunculan pers merupakan alat perjuangan bagi seluruh komponen masyarakat Indonesia dalam menyampaikan aspirasinya guna mencapai Proklamasi Kemerdekaan. Pasca Proklamasi Kemerdekaan 1945, peranan pers sangat besar sebagai alat perjuangan dalam rangka menyebarluaskan informasi atau berita-berita ke seluruh pelosok daerah Indonesia bahkan ke seluruh penjuru dunia. Dalam perkembangannya di Indonesia, dunia pers pernah mengalami pasang surut baik di era liberal, orde lama, orde baru maupun era reformasi. Pada kehidupan masyarakat demokratis, salah satu peranan penting pers adalah sebagai penggerak prakarsa masyarakat, memperkenalkan usaha-usahanya sendiri, dan menemukan potensipotensinya yang kreatif dalam usaha memperbaiki peri kehidupannya. B. Pengertian, Fungsi Dan Peran Serta Perkembangan Pers dalam Masyarakat Demokratis

1. Pengertian Pers
Apa sesungguhnya makna pers itu? Untuk memahami makna tentang pers, berikut ini akan diberikan beberapa pengertian: a. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata “pers” berarti a) alat cetak untuk mencetak buku atau surat kabar; 2) alat untuk menjepit, memadatkan; 3) surat kabar dan majalah yang berisi berita : berita seperti yang ditulis oleh ..... ; 4) orang yang bekerja di bidang persuratkabaran. b. Ensiklopedi Indonesia, istilah Pers merupakan nama seluruh penerbitan berkala : koran, majalah, dan kantor berita.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 97

Satu Untuk UNM
c. Ensiklopedi Pers Indonesia, istilah Pers merupakan sebutan bagi

penerbit/perusahaan/kalangan yang berkaitan dengan media masa atau wartawan. Sebutan ini bermula dari cara bekerjanya media cetak yang awalnya menekankan huruf-huruf di atas kertas yang akan dicetak. Dengan demikian segala barang yang dikerjakan dengan mesin cetak disebut pers. d. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, bahwa yang dimaksud Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia.

2. Fungsi dan Peranan Pers
a. Fungsi Pers Pers sesungguhnya lebih dikenal sebagai Lembaga Kemasyarakatan (sosial

institution). Sebagai lembaga sosial, pers memengaruhi pola pikir dan kehidupan
masyarakat, tetapi sebaliknya masyarakat juga berpengaruh terhadap pers. Pers dapat memengaruhi masyarakat karena ia sebagai komunikator massa. Pers berusaha menyampaikan informasi dengan sesuatu yang baru, karena masyarakat sebagai konsumen pers, sangat selektif dalam memilih informasi. Pers sebagai lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang pengumpulan dan penyebaran informasi mempunyai misi sebagai berikut : 1) Ikut mencerdaskan masyarakat, 2) Menegakkan keadilan, 3) Memberantas kebatilan. Dalam tulisan Kusman Hidayat yang berjudul “Dasar-dasar Jurnalistik/Pers“ menyatakan bahwa Pers mempunyai 4 (empat) fungsi sebagai berikut : 1) Fungsi Pendidik, yaitu melalui karya-karya tercetaknya dengan segala isi, baik langsung ataupun tidak langsung dengan sifat keterbukaannya, membantu masyarakat meningkatkan budayanya. Segala peristiwa yang dimuat pers, masyarakat bisa menilai sendiri hal ihwal sebagai teladan bagi kehidupannya. Melalui rubrik-rubrik khusus, seperti ruang kebudayaan atau ruang ilmu pengetahuan, dapat menambah pengetahuan masyarakat. 2) Fungsi Penghubung, dengan ciri universalitasnya, pers merupakan sarana lalulintas hubungan antar manusia. Melalui pers akan tumbuh saling pengertian atau dapat digunakan oleh lembaga-lembaga kemasyarakatan untuk menumbuhkan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 98

Satu Untuk UNM
kontak antar manusia agar tercipta saling pengertian dan saling tukar pandangan bagi perkembangan dan kemajuan hidup manusia. 3) Fungsi Pembentuk Pendapat Umum; melalui rubrik-rubrik dan kolom-kolom tertentu seperti tajuk rencana, pikiran pembaca, pojok, dan lain-lain, merupakan suatu ruang untuk memberikan pandangan atau pikiran kepada khalayak pembaca. 4) Fungsi Kontrol, dengan fungsi ini pers berusaha melakukan bimbingan dan pengawasan kepada masyarakat tentang tingkah laku yang benar atau tingkah laku yang tidak dikehendaki oleh khalayak. b. Peranan Pers Di dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, disebutkan bahwa pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut : 1) Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui. 2) Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia, serta menghormati kebhinekaan. 3) Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar. 4) Melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum. 5) Memperjuangkan keadilan dan kebenaran. 2. Perkembangan Pers di Indonesia a. Pers Jaman Penjajahan Belanda Pemerintah penjajah Belanda sejak menguasai Indonesia, mengetahui dengan benar pengaruh surat kabar terhadap masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu dipandang perlu membuat undang-undang khusus untuk membendung pengaruh pers Indonesia, karena merupakan momok yang harus diperangi. b. Pers di Masa Pergerakan Masa pergerakan adalah masa bangsa Indonesia berada pada detik-detik terakhir penjajahan Belanda sampai saat masuknya Jepang menggantikan Belanda. Pers pada masa pergerakan tidak bisa dipisahkan dari kebangkitan nasional bangsa Indonesia melawan penjajahan. Setelah munculnya pergerakan modern Budi Utomo tanggal 20 Mei 1908, surat kabar yang dikeluarkan orang Indonesia lebih banyak berfungsi sebagai alat perjuangan. Pers saat itu merupakan “terompet” dari organisasi pergerakan orang Indonesia. Surat kabar nasional menjadi semacam parlemen orang Indonesia yang terjajah. Pers menyuarakan kepedihan, penderitaan dan merupakan refleksi dari isi
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 99

Satu Untuk UNM
hati bangsa terjajah. Pers menjadi pendorong bangsa Indonesia dalam perjuangan memperbaiki nasib dan kedudukan bangsa. Karena sifat dan isi pers pergerakan anti penjajahan, pers mendapat tekanan dari pemerintah Hindia Belanda. Salah satu cara pemerintah Hindia Belanda saat itu adalah dengan memberikan hak kepada pemerintah untuk memberantas dan menutup usaha penerbitan pers pergerakan. Pada masa pergerakan itu berdirilah Kantor Berita Nasional Antara pada tanggal 13 Desember 1937. c. Pers di Masa Penjajahan Jepang Pers di masa pendudukan Jepang semata-mata menjadi alat pemerintah Jepang dan bersifat pro Jepang. Beberapa harian yang muncul pada masa itu, antara lain: 1) Asia Raya di Jakarta 2) Sinar Baru di Semarang 3) Suara Asia di Surabaya 4) Tjahaya di Bandung Pers nasional masa pendudukan Jepang memang mengalami penderitaan dan pengekangan kebebasan yang lebih daripada jaman Belanda. Namun, ada beberapa keuntungan yang didapat oleh para wartawan atau insan pers di Indonesia yang bekerja pada penerbitan Jepang, antara lain sebagai berikut: 1) Pengalaman yang diperoleh para karyawan pers Indonesia bertambah. Fasilitas dan alat-alat yang digunakan jauh lebih banyak daripada masa pers jaman Belanda. Para karyawan pers mendapat pengalaman banyak dalam menggunakan berbagai fasilitas tersebut. 2) Penggunaan Bahasa Indonesia dalam pemberitaan makin sering dan luas. Penjajah Jepang berusaha menghapuskan bahasa Belanda dengan kebijakan menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai kesempatan. Kondisi ini sangat membantu perkembangan bahasa Indonesia yang nantinya juga menjadi bahasa nasional. 3) Adanya pengajaran untuk rakyat agar berpikir kritis terhadap berita yang disajikan oleh sumber-sumber resmi Jepang. Selain itu, kekejaman dan penderitaan yang dialami pada masa pendudukan Jepang memudahkan para pemimpin bangsa memberikan semangat untuk melawan penjajahan. d. Pers di Masa Revolusi Fisik Pada saat ini, pers terbagi menjadi dua golongan, yaitu : 1) Pers yang diterbitkan dan diusahakan oleh tentara pendudukan Sekutu dan Belanda yang selanjutnya dinamakan Pers Nica (Belanda).
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 100

Satu Untuk UNM
2) Pers yang diterbitkan dan diusahakan oleh orang Indonesia yang disebut Pers Republik. Kedua golongan ini sangat berlawanan. Pers Republik disuarakan oleh kaum Republik, yang berisi semangat mempertahankan kemerdekaan dan menentang usaha pendudukan Sekutu. Pers ini benar-benar menjadi alat perjuangan masa itu. Sebaliknya, Pers Nica berusaha memengaruhi rakyat Indonesia agar menerima kembali Belanda untuk berkuasa di Indonesia. e. Pers di Era Demokrasi Liberal (1949-1959) Di era demokrasi liberal, landasan kemerdekaan pers adalah Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS 1949) dan Undang-Undang Dasar Sementara (1950). Dalam Konstitusi RIS yang isinya banyak mengambil dari Piagam Pernyataan Hak Asasi Manusia sedunia Universal Declaration of Human Rights, -- pada pasal 19 menyebutkan “Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan

pendapat”. Isi pasal ini kemduain dicantumkan kembali dalam Undang-Undang Dasar Sementara (1950).
Awal pembatasan terhadap kebebasan pers adalah efek samping dari keluhan para wartawan terhadap pers Belanda dan Cina. Pemerintah mulai mencari cara membatasi penerbitan itu, karena negara tidak akan membiarkan ideologi “asing” merongrong saja. f. Pers di Zaman Orde Lama atau Pers Terpimpin (1956-1966) Lebih kurang 10 hari setelah Dekrit Presiden R.I. yang menyatakan kembali ke UUD 1945, tindakan tekanan terhadap pers terus berlangsung, yaitu pembredelan terhadap Kantor berita PIA dan Surat Kabar Republik, Pedoman, Berita Indonesia, dan Undang-undang Dasar. Pada akhirnya pemerintah melakukan pembredelan pers, dengan tindakan-tindakannya yang tidak terbatas pada pers asing

Sin Po yang dilakukan oleh Penguasa Perang Jakarta.
Upaya untuk membatasi kebebasan pers itu tercermin dari pidato Menteri Muda Penerangan Maladi, ketika menyambut HUT Proklamasi Kemerdekaan R.I ke14, antara lain ia menyatakan; “...Hak kebebasan individu disesuaikan dengan hak

kolektif seluruh bangsa dalam melaksanakan kedaulatan rakyat. Hak berfikir, menyatakan pendapat, dan memperoleh penghasilan sebagaimana yang dijamin Undang-Undang Dasar 1945 harus ada batasnya: keamanan negara, kepentingan bangsa, moral dan kepribadian Indonesia, serta tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa”.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

101

Satu Untuk UNM
g. Pers di Era Demokrasi Pancasila dan Orde Baru Di awal pemerintahan Orde Baru, pemerintah menyatakan akan membuang jauh-jauh praktek demokrasi terpimpin dan menggantinya dengan Demokrasi Pancasila. Pernyataan tersebut tentu saja membuat para tokoh politik, kaum intelektual, tokoh umum, tokoh pers terkemuka dan lain-lain menyambutmya dengan antusias sehingga lahirlah istilah Pers Pancasila. Pemerintahan Orde Baru sangat menekankan pentingnya pemahaman tentang Pers Pancasila. Menurut rumusan Sidang Pleno XXV Dewan Pers, (Desember 1984) bahwa “Pers Pancasila adalah pers Indonesia dalam arti pers yang orientasi, sikap dan

tingkah lakunya berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Hakekat Pers Pancasila adalah pers yang sehat, yakni pers yang bebas dan bertanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang benar dan obyektif, penyalur aspirasi rakyat dan kontrol sosial yang konstrukrif”
Masa “bulan madu” antara pers dan pemerintah ketika itu dipermanis dengan keluarnya Undang-undang Pokok Pers (UUPP) Nomor 11 Tahun 1966, yang dijamin tidak ada sensor dan pembredelan, serta penegasan bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk menerbitkan pers yang bersifat kolektif, dan tidak diperlukan surat izin terbit. Kemesraan tersebut ternyata hanya berlangsung kurang lebih delapan tahun, karena sejak terjadinya “Peristiwa Malari” (peristiwa limabelas Januari 1974), kebebasan pers mengalami set-back (kembali seperti jaman Orde Lama). Terjadinya Peristiwa Malari tahun 1974, berakibat beberapa surat kabar dilarang terbit. Tujuh surat kabar terkemuka di Jakarta (termasuk Kompas ) diberangus untuk beberapa waktu dan baru diijinkan terbit kembali, setelah para pemimpin redaksinya menandatangani surat pernyataan maaf. Penguasa lebih menggiatkan larangan-larangan melalui telepon supaya pers tidak menyiarkan suatu berita, ataupun para wartawan lebih diperingatkan untuk mentaati kode etik jurnalistik sebagai “selfcensorship”.(saya memperhitungkan ). Demikian juga pengawasan terhadap kegiatan pers dan wartawan diperketat. (menjelang ) Sidang MPR-1978. h. Kebebasan Pers di Era Reformasi Sejak masa reformasi tahun 1998, pers nasional kembali menikmati kebebasan pers. Hal demikian sejalan dengan alam reformasi, keterbukaan dan demokrasi yang diperjuangkan rakyat Indonesia. Pemerintahan pada masa reformasi sangat mempermudah izin penerbitan pers. Akibatnya, pada awal reformasi banyak sekali penerbitan pers atau koran-koran, majalah atau tabloid baru bermunculan. Bisa dikatakan pada awal reformasi kemunculan pers ibarat jamur di musim hujan.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 102

Satu Untuk UNM
Kalangan pers mulai bernafas lega ketika di era reformasi pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kendati belum sepenuhnya memenuhi keinginan kalangan pers, kelahiran undang-undang pers tersebut disambut gembira, karena tercatat beberapa kemajuan penting dibanding dengan undangundang sebelumnya, yaitu Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982 tentang PokokPokok Pers (UUPP). Pada masa reformasi ini dengan keluarnya Undang-Undang tentang pers, yaitu Undang- Undang No. 40 Tahun 1999 tentang pers, maka pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut : 1) Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan informasi 2) Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan 3) Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar 4) Melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum 5) Memperjuangkan keadilan dan kebenaran. C. Pers dalam Masyarakat Demokratis di Indonesia

1. Landasan Hukum Pers Indonesia
a. Pasal 28 UUD 1945 “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan

tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”.
b. Pasal 28 F UUD 1945

Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”.
c. Tap MPR No. III/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia Lebih rincinya lagi terdapat pada Piagam Hak Asasi Manusia, Bab VI, Pasal 20 dan 21 yang berbunyi sebagai berikut: (20) “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk

mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya”.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

103

Satu Untuk UNM
(21) “Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan,

mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”.
d. Undang-Undang No. 39 Tahun 2000 Pasal 14 Ayat 1 dan 2 tentang Hak Asasi Manusia (1) “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi yang

diperlukan untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya”.
(2) “Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan,

mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis sarana yang tersedia”.
e. Undang-undang No. 40 Tahun 1999 dalam Pasal 2 dan Pasal 4 ayat 1 tentang pers Pasal 2 berbunyi, “Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat

yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan dan supremasi hukum”.
Pasal 4 Ayat 1 berbunyi, “Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga

negara”. 2. Norma-Norma Pers Nasional
Dalam melaksanakan fungsinya sehari-hari, partisipasi pers dalam pembangunan melibatkan lembaga-lembaga masyarakat lainnya yang lingkup hubungannya, dapat dibagi dalam dua golongan sebagai berikut: a. Hubungan antara pers dan pemerintah b. Hubungan antara pers dan masyarakat cq. golongan-golongan dalam masyarakat. Hubungan antara pers dan pemerintah terjalin dalam bentuk yang dijiwai oleh semangat persekawanan (partnership) dalam mengusahakan terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

3. Organisasi Pers
Organisasi Pers adalah organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers (ps. 1: 5). Organisasi-organisasi tersebut mempunyai latar belakang sejarah, alur perjuangan dan penentuan tata krama professional berupa kode etik masing-masing. PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) yang lahir di Surakarta, dalam kongresnya yang berlangsung tanggal 8-9 Februari 1946 dan SPS (Serikat Penerbit Surat Kabar) yang lahir di serambi Kepatihan Yogyakarta pada hari Sabtu tanggal 8 Juni 1946, merupakan komponen penting dalam pembinaan pers Indonesia. Ketika itu di Indonesia sedang berkobar revolusi fisik melawan kolonialisme Belanda yang mencoba menjajah kembali negeri kita.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 104

Satu Untuk UNM
Dari organisasi inilah adanya komponen sistem pers nasional, yang di dalamnya terdapat Dewan Pers sebagai lembaga tertinggi dalam sistem pembinaan pers di Indonesia dan memegang peranan utama dalam membangun institusi bagi pertumbuhan dan perkembangan pers. Dewan pers yang independent, dibentuk dalam upaya mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional (UU No. 40/1999 ps. 15: 1). Dan Dewan pers melaksanakan fungsi-fungsi sebagai berikut: a. Melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain; b. Melakukan pengkajian untuk pengembangan pers; c. Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik; d. Memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers; e. Mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat dan pemerintah; f. Memfasilitasi organisasi-organisasi pers dalam menyusun peraturan di bidang pers dan meningkatkan kualitas profesi kewartawanan; g. Mendata perusahaan pers (ps. 15: 2). Anggota Dewan Pers terdiri dari: a. Wartawan yang dipilih oleh organisasi wartawan; b. Pimpinan perusahaan pers yang dipilih oleh organisasi perusahaan pers; c. Tokoh masyarakat, ahli bidang pers atau komunikasi dan bidang lainnya yang dipilih oleh organisasi perusahaan pers; d. Ketua dan wakil ketua Dewan Pers dipilih dari dan oleh anggota; e. Keanggotaan Dewan Pers sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 3 pasal 15 ditetapkan dengan keputusan presiden; f. Keanggotaan Dewan Pers berlaku untuk masa tiga tahun dan sesudah itu hanya dapat dipilih kembali untuk satu periode berikutnya.

4. Sistem Pers Indonesia
Ciri khas sistem pers adalah sebagai berikut : a. integrasi (integaration ) b. keteraturan (regularity ) c. keutuhan (wholeness ) d. organisasi (organization ) e. koherensi (coherence ) f. keterhubungan (connectedness ) dan g. ketergantungan (interdependence ) dari bagian-bagiannya.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 105

Satu Untuk UNM
Inti permasalahan dalam sistem kebebasan pers adalah sistem kebebasan untuk mengeluarkan pendapat (freedom of expression ) di negara-negara barat atau sistem kemerdekaan untuk “mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan”, sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 UUD 1945. Faham dasar sistem pers Indonesia tercermin dalam konsideran Undang-undang Pers, yang menegaskan bahwa “Pers Indonesia (nasional) sebagai wahana komunikasi

massa, penyebar informasi, dan pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemerdekaan pers yang profesional, sehingga harus mendapat jaminan dan perlindungan hukum, serta bebas dari campur tangan dan paksaan dari manapun”.
Dengan demikian, sistem pers Indonesia tidak lain adalah sistem pers yang berlaku di Indonesia. Kata “Indonesia” adalah pemberi, sifat, warna, dan kekhasan pada sistem pers tersebut. Dalam kenyataan, dapat dijumpai perbedaan-perbedaan essensial sistem pers Indonesia dari periode yang satu ke periode yang lain, misalnya Sistem Pers Demokrasi Liberal, Sistem Pers Demokrasi Terpimpin, Sistem Pers Demokrasi Pancasila, dan Sistem Pers di era reformasi, sedangkan falsafah negaranya tidak berubah.

5. Sistem Pers dan Karakteristiknya di Negara-negara Berkembang
Sistem politik dan sistem pemerintahan di negar-negara berkembang pada umumnya masih mengikuti atau meneruskan sistem pemerintahan/sistem politik negara bekas penjajahnya dengan beberapa penyesuaian, termasuk pula pada sistem persnya. Pers di negara-negara berkembang hingga kini, kebanyakan berada dalam proses transisi dan transformasi dari nilai-nilai lama (kolonial) ke nilai-nilai baru (nasional). Dengan demikian berarti mereka berada dalam proses mencari bentuk yang paling tepat, atau sedang berusaha keras untuk menemukan indentitas dirinya. Ciri-ciri khusus sistem pers pada negara-negara berkembang umumnya adalah sebagai berikut : a. Sistem persnya cenderung mengikuti sistem pers negara bekas penjajahnya. b. Pers di negara berkembang sampai saat ini berada dalam bentuk transisi. Ia masih berusaha mencari bentuk yang tepat atau mencari identitas. Karena masih dalam taraf transisi, maka pers negara berkembang biasanya kurang stabil. c. Negara berkembang umumnya sedang membangun. Hal ini menyebabkan pers dituntut untuk bisa berperan sebagai “agent of sosial change” di mana pers bersmasama pemerintah mempunyai tanggung jawab atas keberhasilan pembangunan. d. Secara umum kebebasan pers di negara berkembang diakui keberadaannya, tetapi dalam pelaksanaannya terdapat pembatasan-pembatasan. Hal ini disebabkan oleh karena pers dituntut untuk ikut menjamin atau mengusahakan stabilitas politik dan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 106

Satu Untuk UNM
ikut serta dalam pembangunan ekonomi. Pada umumnya, sistem persnya menganut sistem tanggung jawab sosial (sosial responsibility). e. Pada umumnya, pers di negara berkembang mengalami masalah yang sama di bidang komunikasi, yaitu; ketimpangan informasi, monopoli, dan pemusatan yang berlebihan dari sumber dan jalur komunikasi. Hal ini mengakibatkan adanya dominasi negara maju atas negara berkembang di bidang informasi dan komunikasi. f. sistem dan pola hubungan antara pers dan pemerintah mempunyai tendensi perpaduan antara sistem-sistem yang ada (libertarian,

authoritarian,

sosial

responsibility, dan lain-lain.).
g. Rumuskan kembali pemahaman anda tentang perkembangan kehidupan pers di Indonesia semenjak pra kemerdekaan hingga sekarang ini ! h. Berikan penjelasan bagaimana peranan pers Indonesia pada masa penjajahan Belanda dan Jepang ! i. j. Berikan penjelasan kembali tentang peranan pers di masa revolusi yang dikatakan sebagai “penjaga kepentingan publik” ! Berikan sekurang-kurangnya 2 (dua) indikator yang mendasar antara peranan pers pada masa orde lama dan orde baru ! k. Identifikasikan kembali dalam bentuk apa sajakah perubahan pers di Indonesia paska rezim orde baru atau era reformasi dewasa ! d. Rangkuman 1. Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia. 2. Pers antara lain berfungsi sebagai pendidik, penghubung, pembentuk pendapat masyarakat dan sebagai lembaga control. 3. Pers mempunyai peran sebagai jembatan informasi dari bawah ke atas atau sebaliknya dari atas ke bawah. 4. Pers telah mengalami dinamika perkembangan yang bermacam-macam sejak saman penjajahan sampai dengan era reformasi. 5. Pers di negara-negara berkembang hingga kini, kebanyakan berada dalam proses transisi dan transformasi dari nilai-nilai lama (kolonial) ke nilai-nilai baru (nasional),

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

107

Satu Untuk UNM
sehingga mereka berada dalam proses mencari bentuk yang paling tepat, atau sedang berusaha keras untuk menemukan indentitas dirinya. e. Latihan Baru-baru ini (Juni 2010), majalah Tempo memberitakan tentang rekening gendut beberapa perwira polisi. Pada sampulnya, sang perwira diasosiasikan dengan seekor celeng (selanjutnya istilah “celeng” dipahami sebagai suatu bentuk kegiatan menabung). Hanya beberapa saat setelah edisi tersebut terbit, majalah Tempo menghilang dari pasaran. Khabarnya, semuanya telah diborong oleh seseorang. Untuk apa? Ada yang mensinyalir agar berita yang dimuat dalam majalah tersebut tidak tersebar dan diketahui oleh masyarakat luas. Selang beberapa saat kemudian, seorang aktivis ICW yang vocal menyuarakan kasus rekening gendut tersebut, harus dirawat di rumah sakit akibat dikeroyok oleh sekelompok orang tak dikenal. Kuat dugaan, apa yang dialami sang aktivis tersebut, erat kaitannya dengan apa yang disuarakannya dan diberitakan oleh majalah Tempok. Kini, pak polisi sedang sibuk mengusut kasus tersebut, entah kapan terungkapnya.

Instruksi:
Cermati kasus tersebut di atas, dan jawablah pertanyaan di bawah ini: 1. Menurut Anda, apakah perkembangan pers di Indonesia dapat dipandang telah berkembang ke arah yang lebih demokratis, ataukah masih seperti perkembangannya pada masa orde baru? Buatlah suatu rumusan singkat mengenai kondisi perkembangan pers di Indonesia berdasarkan berbagai fakta-fakta yang telah terungkap! 2. Jika pers sudah dapat melakukan fungsi pengusutan, apakah hal itu tidak berarti telah melampaui tugas kepolisian? Apakah sebenarnya tugas dan peran pers dalam masyarakat demokratis?

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

108

Satu Untuk UNM
C. PENUTUP

1. Daftar Istilah usage : cara folkways: Kebiasaan mores : Tata kelakuan custom: Adat-istiadat equality before the law: hak kesamaan dalam hukum fair trial: peradilan yang jujur

the right to development: hak akan pembangunan Genosida: adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnakan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama

crime a gaints humanity: Kejahatan Kemanusiaan Prinsip transparansi; yaitu pembahasan naskah RUU harus terbuka Prinsip supremasi hukum; yaitu kepastian hukum, persamaan kedudukan di depan
hukum dan keadilan hukum berdasarkan proporsionalitas.

Prinsip profesionalisme; yaitu dalam penyusunan dan pembentukan hukum

keikutsertaan dan perananan pakar-pakar hukum dan non hukum yang releVan harus diutamakan sehingga diharapkan dapat melahirkan perundang-undangan yang berkualitas. Philosofische Gronslag: Falsafah Negara Staatsidee: ideologi Negara atau Geistlichenhintergrund: suasana kebatinan Constitution: Konstitusi droit constitunelle: hukum dasar Die politische verfassung als gesselchaffliche wirklichkeit: artinya konstitusi yang mencerminkan kehidupan politik dalam masyarakat sebagai suatu kenyataan Die verselbstandigte rechtverfassung: mencari unsur-unsur hukum dari konstitusi yang hidup dalam masyarakat untuk dijadikan kaidah hukum. Die geschriebene verfassung: adalah menuliskan konstitusi dalam suatu naskah sebagai peraturan perundang-undangan yang paling tinggi derajatnya yang berlaku dalam suatu negara. “instrument of government: bahwa undang-undang dibuat, sebagai pegangan untuk memerintah the rule of the constitution: suatu ketentuan yang mengatur the statement of idea: cita-cita politik beloosfsbelijdenis: pengakuan kepercayaan demos: rakyat cratos: kedaulatan culturally bounded: dibatasi oleh budaya rechtstaat: berdasarkan hukum machtstaat: tidak berdasarkan kekuasaan belaka constitutional head: kepala negara konstitusional rubber stamp president: Presiden yang membubuhi capnya belaka civil society: masyarakat madani constitutional reform: reformasi sistem institutional reform and empowerment: reformasi kelembagaan polical culture: budaya politik powerless: rakyat biasa merasa tidak punya kekuasaan collective memory: ingatan kolektif tate and society: negara dan masyarakat
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 109

Satu Untuk UNM
civic education: pendidikan kewargaan newly emerging democracies: negara-negara demokrasi baru democratic citizenship: kewargaan demokratis preparatory phase: tahap persiapan decision phase: penentuan consolidation phase: tahap konsolidasi status quo: mempertahankan keadaan yang ada sekarang autos: sendiri nomos: aturan

globalisasi : adalah proses yang didalamnya batas-batas Negara luluh dan tidak penting lagi dalam kehidupan social”. perusahaan multinasional dan transnasional : kegiatan usaha berbadan hukum yang share holdernya terdiri dari beberapa negara, dan/atau melintasi batas negara sekularisme : suatu paham yang memisahkan kehidupan duniawi dengan kehidupan akhirat hedonisme: suatu aliran filsafat yang menekankan bahwa nilai utama dalam kehidupan ini adalah kenikmatan Mobilitas masyarakat ; keadaan bergerak dari masyarakat sebagai akibat dari interaksi komponen-komponen dalam masyarakat sistem hukum : adalah satu kesatuan hukum yang berlaku pada suatu negara tertentu yang dipatuhi dan diataati oleh setiap warganya. Dapat pula dikatakan bahwa sistem hukum adalah keseluruhan komponen sistem hukum yang saling berkaitan satu sama lain kodifikasi : penyusunan undang-undang sejenis ke dalam suatu kitab secara sistimatis logis unifikasi : penyeragaman atau penyatuan. Dalam konteks hukum adalah pemberlakuan hukum yang sama untuk semua subyek hukum social engineering : suatu upaya tau kebijakan penataan masyarakat ke arah tertentu pengadilan: menunjuk kepada lembaga atau kantor tempat proses hukum diselesaikan, peradilan :menunjuk kepada lingkungan di mana pengadilan itu berada atau dapat juga diartikan sebagai proses dalam upaya mewujudkan keadilan Kewarganegaraan: menunjukkan keanggotaan seseorang dalam satuan politik tertentu (secara khusus: negara) yang dengannya membawa hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik Apatride, : menunjuk pada seorang penduduk yang sama sekali tidak mempunyai kewarganegaraan Bipatride: adalah adanya seorang penduduk yang mempunyai dua macam kewarganegaraan sekaligus (kewarganegaraan rangkap). Budaya politik: adalah pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik yang dihayati oleh para anggota suatu sistem politik. sosialisasi politik: adalah proses dengan mana individu-individu dapat memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, dan sikap-sikap terhadap sistem politik masyarakatnya Bebas aktif: negara Indonesia tidak terikat pada suatu blok tertentu, tetapi ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Kemerdekaan pers: adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan dan supremasi hukum”. Individualisme: Paham yang menempatkan kepentingan individu di atas segalanya, termasuk Negara diadakan untuk melindungi kepentingan individu.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 110

Satu Untuk UNM
Genosida: setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnakan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama dengan berbagai cara. Rule of Law: penegakan hukum Cultural Shock: kegoncangan budaya Cultural lag: ketimpangan budaya Multikultural: artinya kebudayaan majemuk Kompetitif: Persaingan. Cyber crime: kejahatan dunia maya Rubber Stamp presiden; presiden yang membubuhi cap belaka Collective memory: ingatan kolektiof State and society: Negara dan masyarakat Civics Education: Pendidikan Kewargaan Democratif Citizenship: Kewargaan demokratis Rezim: pemerintahan Consolidation: konsolidasi

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

111

Satu Untuk UNM
Daftar Pustaka
Anonim. Tahun 2002. Kapita Selekta Pendidikan Pancasila. Dirjen Pendidikan Tinggi. Departemen Pendididikan Nasional, Jakarta. Agus Dwiyono dkk., 2007. Kewarganegaraan. Yudisthira, Jakarta. Ahmad Zubaidi, 2002. Pendidikan Kewarganegaraan, Paradigma, Yogyakarta. AS. Hikam, 1999. Demokrasi dan Civil Society, cet.ke-2 jurnal Pemikiran Islam PARAMADINA, Volume I, NO.2, LP3ES, Jakarta. --------------, 1999. Politik Kewarganegaraan, Landasan Redemokratisasi di Indonesia. Erlangga. Jakarta. Azyumardi Azra, 1999. Menuju Masyarakat Madani, cet. ke-1, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Cholisin, 2002. Militer Dan Geakan Pro Demokrasi,Tiara Wacana, Yogyakarta. Franz-Magnis Suseno ,1997. Mencari Sosok Demokrasi, Sebuah Telaah Filosofis, cet.ke-2. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. George Clack dan Kathleen Hug, 1998. Hak Asasi Manusia. Sebuah pengantar. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. George Sorensen, 2003. Demokrasi dan Demokratisasi. Pustaka Pelajar, Jakarta. Gunawan Ismu dkk., 2001. Hak Asasi Wanita. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. Isjwara, 1992. Pengantar Ilmu Politik, Erlangga, Jakarta. Kuncoro Purbo Pranoto, 1982. HAM dan Pancasila. Pradnya Pramita, Jakarta. Mahfud MD, 1999. Hukum dan Pilar-Pilar Demokrasi, Gamma Media, Yogyakarta. Miriam Budiarjo, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Politik , Garamedia, Jakarta. Mulyana W. Kusuma, 1981. Hukum dan HAM Suatu Pemahaman Kritis, Alumni, Bandung. M. Solly Lubis, 1987. Asas-asas Hukum Tata Negara, Alumni, Bandung. Ni’matul Huda, 2005. Hukum Tata Negara Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Nugroho Notosusanto, 1985. Angkatan Besenjata Dalam Percaturan Poltik Indonesia, LP3ES, Jakarta. Philipus M. Hadjon, dkk., 1995. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia (Introduction to the Indonesian Administrative Law), Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Projodikoro, 1981. Asas-Asas Ilmu Negara dan Politik, Eresco, Bandung. Ramlan Subakti, 1992. Memahami Ilmu Politik Jakarta, Garamedia Widiasarana, Jakarta. Rizal dan J. Kristiadi,1999. Hubungan Sipil-Militer dan Transisi Demokrasi di Indonesia: Persepsi Sipil dan Militer, cet. I. CSIS, Jakarta. Ruslan Abdul Gani. 1986. Indonesia Menata Masa Depan, Pustaka Merdeka. Jakarta. Sri Jutmini dan Winarno, 2007. Pendidikan Kewarganegaraan 3, PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo. T. Mulya Lubis,1987. Ham dan Pembangunan, YLBHI, Jakarta. UUD 1945 Hasil Amandemen. UU No.9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia. UU No 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Azasi manusia UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

112

Satu Untuk UNM
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN A. Pendahuluan Bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) PKn yang telah disusun dan siap diaplikasikan guru, merupakan anatomi lengkap pembelajaran PKn, dimana di dalamnya antara lain berisi strategi dan model, media dan asesmen materi pembelajaran PKn yang akan disajikan guru dalam kelas dengan kurun waktu tertentu.

1. Deskripsi
Dalam rangka mendapatkan hasil pembelajaran PKn yang sesuai sasaran trimatra PKn, yaitu Gatra cognetive, Gatra Affective dan Gatra Psychomotoric, sangat diharapkan para guru pembina mata pelajaran PKn memahami, mencermati secara baik model pembelajaran yang akan diterapkan, memilih dan menggunakan media yang tepat dan sesuai serta memilih prosedur pola evaluasi dan penetapan hasil belajar PKn sesuai tujuan pembelajaran PKn yang telah ditetapkan. Modul Kompetensi Pedagogik PKn ini terdiri dari 3 (tiga) kegiatan belajar yang berisi materi tentang perancangan pembelajaran PKn yang sesuai dengan panduan silabus PKn, perekonstruksian pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan tujuan PKn di sekolah, dan pemilihan prosedur dan pola evaluasi pembelajaran PKn yang sesuai dengan karakteristik PKn untuk mengembangkan potensi peserta didik. Alokasi waktu yang disediakan untuk modul ini sebanyak 22 jam diklat.

2. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)
a. Standar Kompetensi: Memahami karakteristik peserta didik dan mampu merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran yang mendidik. b. Kompetensi Dasar: 1) Merancang pembelajaran PKn sesuai dengan panduan silabus KTSP. 2) Merekonstruksi pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan tujuan PKn di sekolah. 3) Memilih prosedur dan pola evaluasi pembelajaran PKn yang sesuai dengan karakteristik PKn untuk mengembangkan potensi peserta didik.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

113

Satu Untuk UNM
B. Kegiatan Belajar 1. Kegiatan Belajar 14 a. Rancangan Pembelajaran PKn b. Indikator: Merumuskan dengan tepat setiap komponen dalam rancangan pembelajaran PKn. c. Uraian Materi dan Contoh: A. Pendahuluan Berdasarkan Undang-Undang (UU) nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) maka Pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 22 dan nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Sedangkan standar lainnya ditetapkan melalui Permendiknas nomor 13, 16, 19, 20, 24 dan 41 Tahun 2007 tentang tenaga pendidik dan kependidikan, pengelolaan, penilaian,sarana prasarana, dan proses. SNP merupakan acuan dan pedoman dalam mengembangkan kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pemerintah tidak lagi menetapkan kurikulum seperti kurikulum 1984, 1994 dan sebagainya. Pemerintah hanya menetapkan SNP yang menjadi acuan sekolah dalam mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sesuai dengan karakteristik, kebutuhan potensi peserta didik, masyarakat dan lingkungannya. Pengembangan KTSP berdasarkan SNP memerlukan langkah dan strategi yang harus dikaji berdasarkan analisis yang cermat dan teliti. Analisis dilakukan terhadap tuntutan kompetensi yang tertuang dalam rumusan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD); analisis mengenai kebutuhan dan potensi peserta didik, masyarakat, dan lingkungan; serta analisis peluang dan tantangan dalam memajukan pendidikan pada masa yang akan datang dengan dinamika dan kompleksitas yang semakin tinggi. Penjabaran SK dan KD sebagai bagian dari pengembangan KTSP dilakukan melalui pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Silabus merupakan penjabaran lebih lanjut dari SK dan KD menjadi indikator, kegiatan pembelajaran, pembelajaran materi (RPP) pembelajaran adalah rencana dan yang penilaian. Rencana pelaksanaan prosedur dan menggambarkan

pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu KD yang ditetapkan dalam SI dan telah dijabarkan dalam silabus.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 114

Satu Untuk UNM
B. Pengembangan Indikator Pembelajaran Berdasarkan uraian di atas, maka pengembangan indikator merupakan langkah strategis dalam peningkatan kualitas pembelajaran di kelas dan pencapaian kompetensi peserta didik. Dengan demikian diperlukan pemahaman yang mendalam serta keterampilan dalam pengembangan indikator yang dapat dijadikan sebagai bekal bagi guru dan sekolah dalam mengembangkan SK dan KD tiap mata pelajaran.

1. Pengertian
Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan: a. tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam KD; b. karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah; c. potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/ daerah. Dalam mengembangkan pembelajaran dan penilaian, terdapat dua rumusan indikator, yaitu: a. Indikator pencapaian kompetensi yang dikenal sebagai indikator; b. Indikator penilaian yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal yang di kenal sebagai indikoator soal. Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja operasional. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.

2. Fungsi Indikator
Indikator memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam mengembangkan pencapaian kompetensi berdasarkan SK-KD. Indikator berfungsi sebagai berikut : a. Pedoman dalam mengembangkan materi pembelajaran b. Pedoman dalam mendesain kegiatan pembelajaran c. Pedoman dalam mengembangkan bahan ajar d. Pedoman dalam merancang dan melaksanakan penilaian hasil belajar

3. Mekanisme Pengembangan Indikator
a. Menganalisis Tingkat Kompetensi dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 115

Satu Untuk UNM
Langkah pertama pengembangan indikator adalah menganalisis tingkat kompetensi dalam SK dan KD. Hal ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan minimal kompetensi yang dijadikan standar secara nasional. Sekolah dapat mengembangkan indikator melebihi standar minimal tersebut. Tingkat kompetensi dapat dilihat melalui kata kerja operasional yang digunakan dalam SK dan KD. Tingkat kompetensi dapat diklasifikasi dalam tiga bagian, yaitu tingkat pengetahuan, tingkat proses, dan tingkat penerapan. Kata kerja pada tingkat pengetahuan lebih rendah dari pada tingkat proses maupun penerapan. Tingkat penerapan merupakan tuntutan kompetensi paling tinggi yang diinginkan. b. Menganalisis Karakteristik Mata Pelajaran, Peserta Didik, dan Sekolah Pengembangan penilaian. c. Menganalisis Kebutuhan dan Potensi Kebutuhan dan potensi peserta didik, sekolah dan daerah perlu dianalisis untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan indikator. Penyelenggaraan pendidikan seharusnya dapat melayani kebutuhan peserta didik, lingkungan, serta mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Peserta didik mendapatkan pendidikan sesuai dengan potensi dan kecepatan belajarnya, termasuk tingkat potensi yang diraihnya. Indikator juga harus dikembangkan guna mendorong peningkatan mutu sekolah di masa yang akan datang, sehingga diperlukan informasi hasil analisis potensi sekolah yang berguna untuk mengembangkan kurikulum melalui pengembangan indikator. d. Merumuskan Indikator Dalam merumuskan indikator perlu diperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: 1. Setiap KD dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi tiga indikator 2. Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam kata kerja yang digunakan dalam SK dan KD. Indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal KD dan dapat dikembangkan melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik. 3. Indikator yang dikembangkan harus menggambarkan hirarki kompetensi.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 116

indikator

mempertimbangkan

karakteristik

mata

pelajaran, peserta didik, dan sekolah karena indikator menjadi acuan dalam

Satu Untuk UNM
4. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua aspek, yaitu tingkat kompetensi dan materi pembelajaran. 5. Indikator harus dapat mengakomodir karakteristik mata pelajaran sehingga menggunakan kata kerja operasional yang sesuai. Contoh kata kerja yang dapat digunakan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran tersaji dalam lampiran 1. 6. Rumusan indikator dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotorik.

4. Mengembangkan Indikator Penilaian
Indikator penilaian merupakan pengembangan lebih lanjut dari indikator (indikator pencapaian kompetensi). Indikator penilaian perlu dirumuskan untuk dijadikan pedoman penilaian bagi guru, peserta didik maupun evaluator di sekolah. Dengan demikian indikator penilaian bersifat terbuka dan dapat diakses dengan mudah oleh warga sekolah. Setiap penilaian yang dilakukan melalui tes dan non-tes harus sesuai dengan indikator penilaian. Indikator penilaian menggunakan kata kerja lebih terukur dibandingkan dengan indikator (indikator pencapaian kompetensi). Rumusan indikator penilaian memiliki batasan-batasan tertentu sehingga dapat dikembangkan menjadi instrumen penilaian dalam bentuk soal, lembar pengamatan, dan atau penilaian hasil karya atau produk, termasuk penilaian diri.

5. Manfaat Indikator Penilaian
Indikator Penilaian bermanfaat bagi : a. Guru dalam mengembangkan kisi-kisi penilaian yang dilakukan melalui tes (tes tertulis seperti ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester, tes praktik, dan/atau tes perbuatan) maupun non-tes. b. Peserta didik dalam mempersiapkan diri mengikuti penilaian tes maupun non-tes. Dengan demikian siswa dapat melakukan self assessment untuk mengukur kemampuan diri sebelum mengikuti penilaian sesungguhnya. c. Pimpinan sekolah dalam memantau dan mengevaluasi keterlaksanaan pembelajaran dan penilaian di kelas. d. Orang tua dan masyarakat dalam upaya mendorong pencapaian kompetensi siswa lebih maksimal.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

117

Satu Untuk UNM
C. Merumuskan Tujuan Pembelajaran Pada kenyataannya, perumusan tujuan pembelajaran sering dianggap sesuatu yang gampang sekaligus membingungkan. Ada yang menganggap penting untuk dituliskan, dan ada pula yang menganggap tidak perlu. Kalau memang harus dituliskan, rumusan tujuan pembelajaran tersebut cukup menyalin ulang kalimatkalimat yang ada pada indikator pembelajaran. Pada dasarnya tujuan pembelajaran sangat berbeda dengan indikator pembelajaran. Indikator pembelajaran cukup mengandung dua komponen, yaitu komponen perilaku (behavior) dan komponen materi atau isi (content).

Contoh indikator: menyebutkan (B) macam-macam norma (C), menguraikan (B)
unsur-unsur hukum (C), dan sebagainya. Dibandingkan dengan indikator pembelajaran, tujuan pembelajaran paling sedikit memuat tiga komponen yaitu sasaran (audience), tingkah laku (behavior), materi atau isi (content). Untuk lebih lengkapnya, sering ditambah dengan komponen derajat (degree) yaitu tingkat atau standar pencapaian belajar yang dipakai sebagai indikator atau petunjuk bahwa tujuan tersebut telah tercapai. Atau dengan lain perkataan bahwa suatu tujuan pembelajaran idealnya memenuhi unsur ABCD (Audience, Behavior, Content dan Degree). Berbeda dengan indikator yang hanya memuat unsur BC (Behavior dan Content) saja. Contoh: Indikator: menyebutkan (B) tata urutan peraturan perundang-undangan (C). Tujuan Pembelajaran: Siswa dapat (A) menyebutkan (B) tata urutan peraturan perundang-undangan (C) secara hirarkhis (D). D. Pengorganisasian Materi Pembelajaran

1. Pengantar
Dalam PP nomor 19 tahun 2005 Pasal 20, diisyaratkan bahwa guru diharapkan mengembangkan materi pembelajaran, yang kemudian dipertegas malalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Salah satu elemen dalam RPP adalah sumber belajar. Dengan demikian, guru diharapkan untuk mengembangkan materi pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar dan acuan pembelajaran.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

118

Satu Untuk UNM
2. Pengertian Materi Pembelajaran
Keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan sangat tergantung pada keberhasilan guru merancang materi pembelajaran. Materi Pembelajaran pada hakekatnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Silabus, yakni perencanaan, prediksi dan proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat Kegiatan Pembelajaran. Secara garis besar dapat dikemukakan bahwa Materi pembelajaran

(instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus
dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.

3. Jenis-Jenis Materi Pembelajaran
Jenis-jenis materi pembelajaran dapat diklasifikasi sebagai berikut. a. Fakta yaitu segala hal yang bewujud kenyataan dan kebenaran, meliputi namanama objek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, nama bagian atau komponen suatu benda, dan sebagainya. Contoh dalam mata pelajaran Sejarah: Peristiwa sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 dan pembentukan Pemerintahan Indonesia. b. Konsep yaitu segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti /isi dan sebagainya. Contoh, dalam mata pelajaran Biologi: Hutan hujan tropis di Indonesia sebagai sumber plasma nutfah, Usaha-usaha pelestarian keanekargaman hayati Indonesia secara in-situ dan ex-situ, dsb. c. Prinsip yaitu berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi terpenting, meliputi dalil, rumus, adagium, postulat, paradigma, teorema, serta hubungan antarkonsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat. Contoh, dalam mata pelajaran Fisika: Hukum Newton tentang gerak, Hukum 1 Newton, Hukum 2 Newton, Hukum 3 Newton, Gesekan Statis dan Gesekan Kinetis, dsb. d. Prosedur pelajaran merupakan TIK: langkah-langkah sistematis atau berurutan trik dan dalam strategi mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem. Contoh, dalam mata Langkah-langkah mengakses internet, penggunaan Web Browser dan Search Engine, dsb. e. Sikap atau Nilai merupakan hasil belajar aspek sikap, misalnya nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar dan bekerja, dsb. Contoh, dalam mata pelajaran Geografi: Pemanfaatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan, yaitu pengertian lingkungan, komponen ekosistem, lingkungan hidup sebagai sumberdaya, pembangunan berkelanjutan.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 119

Satu Untuk UNM
4. Prinsip-Prinsip Pengembangan Materi
Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam menentukan materi pembelajaran adalah kesesuaian (relevansi), keajegan (konsistensi), dan kecukupan (adequacy). a. Relevansi artinya kesesuaian. Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis materi yang lain. Misalnya : kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah ”Menjelaskan hukum permintaan dan hukum

penawaran serta asumsi yang mendasarinya” (Ekonomi kelas X semester 1) maka
pemilihan materi pembelajaran yang disampaikan seharusnya ”Referensi tentang hukum permintaan dan penawaran” (materi konsep), bukan Menggambar kurva permintaan dan penawaran dari satu daftar transaksi (materi prosedur). b. Konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada empat macam, maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah Operasi Aljabar bilangan bentuk akar (Matematika Kelas X semester 1) yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan merasionalkan pecahan bentuk akar. c. Adequacy artinya kecukupan. Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum (pencapaian keseluruhan SK dan KD).

5. Penentuan Cakupan dan Urutan Materi Pembelajaran
a. Penentuan cakupan materi pembelajaran Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran harus memperhatikan apakah materinya berupa aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip, prosedur) aspek afektif, ataukah aspek psikomotor, karena ketika sudah diimplementasikan dalam proses pembelajaran maka tiap-tiap jenis uraian materi tersebut memerlukan strategi dan media pembelajaran yang berbeda-beda.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

120

Satu Untuk UNM
b. Urutan Materi Pembelajaran Urutan penyajian berguna untuk menentukan urutan proses pembelajaran. Tanpa urutan yang tepat, jika di antara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan peserta didik dalam mempelajarinya. Misalnya, materi norma, pengertian hukum, penggolongan hukum, konstitusi dan seterusnya. Peserta didik akan mengalami kesulitan mempelajari penggolongan hukum ataupun konstitusi jika materi norma dan pengertian hukum belum dipelajari. Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok, yaitu: pendekatan prosedural dan hierarkis.

6. Penentuan Sumber Belajar
Berbagai sumber belajar dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Beberapa jenis sumber belajar antara lain: materi tertentu. Penentuan tersebut harus tetap mengacu pada setiap

a. buku b. laporan hasil penelitian c. jurnal (penerbitan hasil penelitian dan pemikiran ilmiah) d. majalah ilmiah e. kajian pakar bidang studi f. karya profesional g. buku kurikulum h. terbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulanan i. situs-situs Internet j. multimedia (TV, Video, VCD, kaset audio, dsb) k. lingkungan (alam, sosial, seni budaya, teknik, industri, ekonomi) l. narasumber
E. Metode, Strategi dan Model Pembelajaran

1. Pengantar
Metode ada yang mengartikan benar-benar sebagai metode, ada pula yang mengartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih. Dalam model ini, metode
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

121

Satu Untuk UNM
adalah bagian suatu model pembelajaran. Karena itu pada bagian metode dalam sebuah RPP, dicantumkan model pembelajaran dan metode yang diintegrasikan dalam satu kegiatan pembelajaran peserta didik. Model adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan. Jadi, model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran bagi para guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran.

d. Berbagai Model Pembelajaran
Telah dikemukakan bahwa “model pembelajaran” adalah kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran bagi para guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajarannya. Beberapa model yang ditawarkan oleh para ahli, misalnya model desain sistem instruksional dari Banathy yang mengandung enam unsur yaitu: 1) perumusan tujuan, 2) mengembangkan tes, 3) menganalisis kegiatan belajar mengajar, 4) menyusun pola sistem, 5) melasksanakan test output, dan 6) merubah untuk memperbaiki. Model disain pembelajaran dari vermon S. Gerlach, Donal F. Ely yang mengandung sepuluh unsur, yaitu: 1) pengkhususan tujuan pengajaran, 2) menyeleksi isi pelajaran, 3) mengakses kemampuan dasar murid, 4) strategi yang akan dilaksanakan, 5) mengorganisasikan murid ke dalam kelompok-kelompok, 6) alokasi waktu, 7) alokasi unit tempat-tempat belajar, 8) menyeleksi sumber-sumber belajar yang tepat, 9) mengevaluasi penampilan guru dan siswa dan , 1) suatu analisis bahan umpan balik oleh guru dan murid. a. Model Pembelajaran CTL Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat dalam jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan masalah dalam antara materi yang diajarkannya kehidupan jangka panjang. Pembelajaran CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

122

Satu Untuk UNM
mendorong membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. b. Model Pembelajaran Keterampilan Pemecahan Masalah Sosial Dalam kehidupan bermasyarakat individu merupakan ”aktor sosial”. Salah satu kemampuan yang dituntut untuk menjadi seorang aktor sosial yang baik adalah mengambil putusan secara nalar atau well informed and reasoned decision making (Banks dalam Direktorat ketenagaan Ditjen Dikti, 2007:121). Kemampuan tersebut akan tercermin melalui proses pembelajaran yang memungkinkan individu terlibat dalam berbagai bentuk kegiatan pemecahan masalah sosial baik secara individu maupun kelompok. c. Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif Pembelajaran kreatif dan produktif merupakan model yang dikembangkan dengan mengacu kepada berbagai pendekatan pembelajaran yang diasumsikan mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Pendekatan tersebut antara lain: belajar aktif, kreatif, konstruktif, serta kolaboratif dan kooperatif. Karakteristik penting dari setiap pendekatan tersebut diintegrasikan sehingga menghasilkan satu model yang memungkinkan peserta didik menegembangkan kreativitas untuk menghasilkan produk yang bersumber dari pemahaman mereka terhadap konsep yang sedang dikaji. Beberapa karakteristik tersebut adalah sebagai berikut: 1) Keterlibatan peserta didik secara intelektual dan emosional dalam pembelajaran 2) Peserta didik didorong untuk menemukan/mengkonstruksi sendiri konsep yang sedang dikaji melalui penafsiran yang dilakukan dengan berbagai cara, seperti observasi, diskusi, atau percobaan 3) Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanggungjawab menyelesaikan tugas bersama. Kesempatan ini diberikan melalui kegiatan eksplorasi, interpretasi, dan re-kreasi. 4) Untuk menjadi kreatif, seseorang harus bekerja keras berdedikasi tinggi, antusias, serta percaya diri. d. Model Pembelajaran Kooperatif

Cooverative mengandung pengertian bekerja bersama dalam mencapai
tujuan bersama. Dalam kegiatan kooperatif, peserta didik secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompoknya. Jadi, dalam pembelajaran kooperatif terdapat saling ketergantungan positif di antara peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap peserta didik mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Kegiatan belajar berpusat pada peserta didik
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 123

Satu Untuk UNM
dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar yang efektif peserta didik termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berpikir tingkat tinggi, serta mampu membangun hubungan interpersonal. Model pembelajaran kooperatif memungkinkan semua peserta didik dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar. F. Strategi dan Metode Pembelajaran

1. Pengertian
Dalam menggunakan model pembelajaran sudah barang tentu guru yang tidak mengenal strategi dan metode pembelajaran jangan diharap bisa melaksanakan proses belajar mengajar dengan sebaik-baiknya. Untuk mendorong keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar, berikut ini disajikan strategi dan metode mengajar yang mungkin dapat dilaksanakan oleh guru. Strategi pembelajaran adalah pola umum kegiatan pembelajaran (transaksi pengajaran) yang seyogyanya terjadi di kelas pada saat pembelajaran. Juga adalah garis besar rancangan kegiatan guru – siswa dalam melakukan pencapaian tujuan instruksional. Metode mengajar atau metodik berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu. Metodologi adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai. Jadi, strategi lebih luas dari metode, artinya dalam strategi belajar mengajar menggunakan berbagai metode.

2. Penggolongan Strategi Pembelajaran
Gagne dan Briggs, mengelompokkan strategi pembelajaran atas dua jenis, yaitu: strategi pembelajaran ekspositorik dan strategi pembelajaran heuristic atau hipotetik. Apabila dikaji berbagai literatur, masih banyak jenis strategi yang dapat diketahui, sepertinya strategi deduktif yang hampir sama dengan expository, induktif yang hampir sama dengan inquiry/discopery, strategi belajar tuntas atau maju berkelanjutan (mastery learning), dan berdasarkan domein tujuan, seperti strategi domein kognitif, strategi domein affektif, dan strategi domein psikomotor. Namun yang dijelaskan berikut ini hanalah strategi ekspositorik dan heuristic.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

124

Satu Untuk UNM
a. Strategi Pembelajaran Ekspositorik Strategi pembelajaran ekspository disebut juga dengan mengajar secara konvensional, mengajar secara verbal adalah pengajaran yang menyampaikan pesan dalam keadaan telah siap. Strategi ini, berpandangan bahwa tingkah laku kelas pengajaran dan distribusi pengetahuan itu dikontrol dan ditentukan oleh guru. Maka hakikat mengajar menurut pandangan ini adalah penyampaian ilmu pengetahuan kepada peserta didik yang dipandang sebagai obyek yang menerima apa yang diberikan dari guru. Peserta didik mendengar dan mencatat apa yang disampaikan oleh guru, sekali-sekali bertanya pada guru. Jadi, guru berperan lebih aktif, lebih banyak melakukan aktivitas dibandingkan siswanya yang berperan lebih pasif hanya menerima bahan ajaran yang disampaikan kepadanya. Dalam interaksi hanya terjadi “komunikasi satu arah atau komunikasi aksi. Supaya tingkat CBSA menjadi tinggi diperlukan alat bantu/media pembelajaran dan variasi dengan memberi contoh soal, metode tanya jawab dan sebagainya. b. Strategi Pembelajaran Heuristik Strategi pembelajaran heuristik atau hipotetik, adalah pengajaran yang mengharuskan pengolahan oleh peserta didik sendiri. Dalam strategi pengajaran heuristik meliputi dua substrategi yaitu Discovery (penyelidikan). Penemuan, yaitu para peserta didik diharuskan menemukan prinsip atau hubungan yang sebelumnya tidak diketahuinya yang merupakan akibat dari pengalaman belajarnya yang telah “diatur” secara cermat dan seksama oleh guru. Penyelidikan, yaitu peserta didik sebagai subjek di samping sebagai objek pengajaran (belajar). Mereka dilepas bebas untuk menemukan sesuatu melalui proses “asimilasi” yaitu “memasukkan” hasil pengamatan ke dalam struktur kognitif peserta didik yang telah ada dan proses “akomodasi” yakni mengadakan perubahanperubahan atau “penyesuaian” dalam struktur kognitif yang lama hingga cocok/tepat dan sesuai dengan penomena baru yang diamati. (penemuan) dan inquiry

3. Berbagai Metode Pembelajaran
Metode mengajar, sangat banyak dan beraneka ragam. Setiap metode mempunyai keunggulan dan kelemahan dibandingkan dengan yang lain. Seperti halnya dengan tidak ada obat yang mujarab di dunia ini hanyalah mujarab karena cocok penyakitnya. Juga tidak ada satu pun metode yang dianggap ampuh untuk segala situasi. Suatu metode dapat dipandang ampuh untuk suatu situasi, namun tidak ampuh untuk situasi lain.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 125

Satu Untuk UNM
Seringkali terjadi pengajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai metode secara bervariasi. Dapat pula suatu metode dilaksanakan secara berdiri sendiri. Ini tergantun kepada pertimbangan didasarkan situasi belajar mengajar yang relevan. Agar dapat menerapkan suatu metode yang relevan dengan situasi tertentu perlu dipahami keadaan metode tersebut. Dari sekian banyak metode mengajar, dalam penggunaannya dapat dikategorikan ke dalam tiga pendekatan, yaitu: a. pendekatan kelompok/klasikal b. pendekatan bermain, dan c. pendekatan individu

4. Kriteria Pemilihan Metode Mengajar PKn
Paradigma lama mengajar sebagai usaha mentransfer atau menyampaikan (relay) sesuatu pengetahuan guru kepada peserta didik sebanyak mungkin, sudah saatnya perlu ditingkatkan lebih dari itu. Dengan usaha membina, membantu, memotivasi, mendorong dan memberikan fasilitas kepada peserta didik dalam mencapai keberhasilannya secara mantap dan wajar. Untuk itu, keharusan penggunaan asas multi metode dalam kegiatan pembelajaran. Dalam upaya menentukan jenis ragam metode kearah multi metode mengajar yang akan digunakan dalam rangka pembelajaran PKn perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut: a. tujuan berbagai jenis dan fungsinya b. Subjek didik yang berbagai tingkat kematangannya/jenjangnya c. Situasi dalam berbagai keadaan/kondisinya d. Fasilitas yang berbagai kualitas dan kuantitasnya e. Pribadi guru/calon guru serta kemampuan profesi yang berbeda-beda G. Media Pembelajaran

1. Pengertian Media Pembelajaran
Media Pembelajaran merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran di kelas. Pemanfaatan media pembelajaran merupakan upaya kreatif dan sistematis untuk menciptakan pengalaman yang dapat membelajarkan peserta didik sehingga pada akhirnya tercipta suatu lulusan yang berkualitas.

2. Manfaat Media Pembelajaran
Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 126

Satu Untuk UNM
akan lebih efektif dan efisien. Tetapi secara lebih khusus ada beberapa manfaat media yang lebih rinci, yaitu: a. menyampaikan materi pembelajaran dapat diseragamkan b. proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik c. proses pembelajaran lebih intensif d. efisiensi dalam waktu dan tenaga e. meningkatkan kualitas hasil belajar anak didik f. media memungkinkan proses belajar dapat didlakukan di mana saja dan kapan saja g. media dapat menumbuhkan sikap positif anak didik terhadap materi dan prfoses belajar h. mengubah peran guru kearah yang lebih positif dan produktif

3. Jenis Media Pembelajaran
Kemajuan teknologi masuk di dunia pendidikan (persekolahan) dan di dalam ruangan lingkup kelas sangat mengembangkan media pembelajaran. Aderson (Etin Solihatin, 2007: 26) mengelompokkan media menjadi sepuluh golongan seperti tabel di bawah ini. Tabel 1. Klasifikasi Media Menurut Anderson No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Golongan Media Audio Cetak Audio cetak Proyeksi visual diam Proyeksi audio visual diam Visual gerak Audio visual gerak Obyek fisik Manusia dan lingkungan Komputer Contoh dalam Pembelajaran Kaset audio, siaran radio, CD, telepon Buku Pelajaran, modul, brosur, leaflet, gambar Kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis Overhead Transparancy (OHP), film bingkai (slide) Film bingkai (slide) bersuara Film bisu Film gerak bersuara, video/ved, televisi Benda nyata, model, specimen Guru, pustakawan, laboran CAI (pembelajaran berbantuan computer), CBI (pembelajaran berbasis computer)

Klasifikasi media yang dikemukakan oleh Anderson dalam tabel 1 pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu: media cetak, media elektronik, dan media objek nyata atau realita.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

127

Satu Untuk UNM
4. Kriteria Kualitas Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran di sekolah. Pemanfaatan media pembelajaran merupakan upaya kreatif dan sistematis untuk mengefektifkan pembelajaran. Karena itu, kualitas media pembelajaran diperlukan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, dengan criteria kualitas sebagai berikut: a. dapat menciptakan pengalaman yang bermakna b. menfasilitasi interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan ahli lainnya c. memperkaya pengalaman belajar siswa d. mampu mengubah suasana belajar menjadi aktif mencari informasi melalui berbagai sumber.

5. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran PKn
Secara umum, kriteria yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran, adalah: a. Tujuan pembelajaran b. Prinsip-prinsip pembelajaran PKn c. Manfaat dan ketepatgunaan d. Sasaran didik e. Karakteristik media yang bersangkutan f. Kemampuan guru menggunakan suatu jenis media g. Keluwesan atau fleksibilitas dalam penggunaannya h. Kesesuaian dengan alokasi waktu dan sarana pendukung yang ada i. Biaya j. Ketersediaannya k. Mutu teknis

6. Prinsip Pemanfaatan Media Pembelajaran
Etin Solihatin dan Raharjo (2007: 32) mengemukakan prinsip umum yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan media pembelajaran, yaitu: a. Setiap jenis media memiliki kelebihan dan kelemahan. Tidak ada satu jenis media yang cocok untuk segala macam proses belajar dan dapat mencapai semua tujuan belajar. Ibaratnya, tidak ada satu jenis obat yang manjur untuk semua jenis penyakit b. Penggunaan beberapa macam media secara bervariasi memang perlu. Namun harap diingat, bahwa penggunaan media yang terlalu banyak sekaligus dalam suatu kegiatan pembelajaran, justru akan membingungkan siswa dan tidak akan
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 128

Satu Untuk UNM
meperjelas pelajaran. Oleh karena itu, gunakan media seperlunya, jangan berlebihan. c. Penggunaan media harus dapat memperlakukan siswa secara aktif. Lebih baik menggunakan media sederhana yang dapat mengaktifkan seluruh siswa daripada media canggih, namun justru membuat siswa terheran-heran pasif. d. Swebelum media digunakan harus direncanakan secara matang dalam penyusunan rencana pelajaran. Tentukan bagian materi mana saja yang akan disajikan dengan bantuan media. Rencanakan bagaimana strategi dan teknik penggunaannya. e. Hindari penggunaan media yang hanya dimaksudkan sebagai selingan atau sekadar pengisi waktu kosong. Jika siswa sadsr bahwa media yang digunakan hanya untuk mengisi waktu kosong maka kesan ini akan selalu muncul setiap kali guru menggunakan media. f. Harus senantiasa dilakukan persiapan yang cukup sebelum penggunaan media. Kurangnya persiapan bukan saja membuat proses kegiatan belajar mengajar tidak efektif dan efisien, tetapi justru mengganggu kelancaran proses pembelajaran. Hal ini terutama perlu diperhatikan ketika akan menggunakan media eletronik. H. Asesmen

1. Pengertian dan Prosedur Asesmen
a. Pengertian Asesmen Asesmen adalah prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang prestasi atau kinerja seseorang yang hasilnya akan digunakan untuk evaluasi. Asesmen dilakukan untuk mengetahui seberapa tinggi kinerja atau prestasi seseorang. Informasi tersebut diperoleh dari hasil pengolahan data pengukuran dan non pengukuran. Informasi disajikan dalam bentuk profil peserta didik untuk menetapkan apakah peserta didik dinyatakan sudah atau belum menguasai kompetensi yang ditargetkan. b. Karakteristik Asesmen Berbasis Kompetensi 1) Berfokus pada hasil, sehingga anak didik yang mengalami kesulitan 2) Dilaksanakan untuk setiap individu dan untuk menentukan dia sudah menguasai atau belum menguasai kompetensi yang diajarkan 3) Mengacu kepada standar/kriteria dan tidak untuk membandingkan keberhasilan seseorang dengan orang lainnya.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

129

Satu Untuk UNM
4) Memberikan kesempatan mahasiswa dapat mengevaluasi diri sendiri sehingga hasil akan lebih bermakna, baik bagi pendidik, peserta didik, maupun administrator. 5) Bersifat autentik, terbuka, holistik, dan integratif. Autentik, terfokus kepada kompetensi yang didemonstrasikan. Terbuka, memberi peluang anak didik merespons secara kreatif. Holistik, mencakup semua kemampuan dan kompetensi; sehingga satu kesatuan 6) Kelulusan menurut ketercapaian standar yang ditentukan untuk semua kompetensi utama, dinyatakan kompeten atau tidak (lulus atau tidak lulus). Tidak kompeten atau tidak lulus apabila tingkat penguasaannya kurang dari 70 % pendekatan integratif yaitu dari beberapa menjadi

2. Metode dan Bentuk Instrumen Asesmen
a. Tes (Gradasi benar – salah) 1) Tes formal adalah tes yang dilakukan dalam waktu khusus, terpisah/di luar waktu untuk kegiatan pembelajaran, yaitu: a) tes tulis dengan bentuk instrumennya diklasifikasikan dalam tiga jenis soal, yaitu: (1) soal dengan memberi jawaban, meliputi             Item tes isian atau melengkapi Item tes jawaban singkat atau pendek Item tes uraian (tes uraian terbatas dan bebas) Item tes pilihan ganda Item tes dua pilihan (benar salah, ya - tidak) Item tes menjodohkan Item tes sebab akibat Item tes pilihan ganda beralasan Item tes dua pilihan beralasan Dll.

(2) Soal dengan memilih jawaban, meliputi:

(3) Soal gabungan memilih dan memberi jawaban, sepertinya:

b) tes lisan, dengan bentuk instrumennya Daftar pertanyaan Item tes paper and pencil
130

c) tes kinerja, dengan bentuk instrumennya

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

Satu Untuk UNM
  

Item tes identifikasi Item tes simulasi Item tes uji petik kerja

2) Tes non-formal adalah tes yang dilakukan menyatu dengan kegiatan pembelajaran atau dilaksanakan tidak khusus dalam suasana tes, yaitu: a) Observasi, dengan bentuk instrumennya      Lembar observasi Tugas proyek Tugas portofolio Tugs rumah Dll. b) Penugasan, dengan bentuk instrumennya

b. Non-tes (positif-negatif, setuju-tidak setuju, suka-tidak suka) 1) Observasi, dengan bentuk instrumen lembar observasi 2) Wawancara, dengan bentuk instrumen pedoman wawancara 3) Inveentori, dengan beentuk instrumen skala inventori 4) Self report, dengan bentuk kuesioner, ceklis, catatan harian (angket, daftar cek, daftar catatan harian) d. Latihan Pak Tinulu adalah guru PKn yang baru terangkat di SMP Lamacca Disamakan. Dalam RPP yang telah dibuat, Pak Tinulu hendak menyampaikan Kompetensi Dasar “Mendeskripsikan hakikat norma-norma, kebiasaan, adat istiadat,

peraturan yang berlaku dalam masyarakat”.
Sebelum merumuskan tujuan pembelajaran, Pak Tinulu terlebih dahulu merumuskan indicator pembelajaran, yaitu; 1) menjelaskan pengertian norma, kebiasaan, adat istiadat dan peraturan yang berlaku dalam masyarakat, 2) menyebutkan contoh-contoh norma, adat istiadat dan peraturan dalam masyarakat. Agar RPP Pak Tinulu menjadi lengkap, maka ia merumuskan tujuan pembelajaran dengan menulis kembali seluruh kalimat-kalimat yang dalam dalam indicator yang telah dibuat sebelumnya, dengan terlebih dahulu menuliskan kalimat “Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat: …). Selanjutnya, Pak Tinulu mencantumkan materi pembelajaran dengan menuliskan pokok-pokok bahasan; pengertian hukum dan norma, penerapan norma dalam kehidupan bermasyarakat, defenisi dan unsur-unsur hukum. Sedangkan model pembelajaran yang direncanakan sebagaimana telah ditulis dalam RPP tersebut
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar 131

Satu Untuk UNM
adalah “Snow Ball” dengan metode diskusi, ceramah dan tanya jawab. Adapun media pembelajaran yang disiapkan adalah LCD. Dan teknik penilaian yang direncanakan adalah non tes. Perlu diketahui bahwa kapasitas listrik di SMP Lamacca Disamakan hanya 450 watt sehingga lampunya sering padam. Setelah dilakukan penilaian pada akhir semester, ternyata 80% siswa gagal memenuhi Kompetensi Dasar.

Instruksi:
Lakukan analisis terhadap RPP yang dibuat Pak Tinulu. Di mana letak kekeliruan Pak Tinulu dalam mempersiapkan pembelajarannya? Jika sudah ditemukan, buatlah perbaikan-perbaikan atas kekeliruan tersebut! Buat pula minimal 2 (dua) RPP lain dengan memperhatikan kompetensi dasar dan indicator yang ada pada modul Kompetensi Profesional!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

132

Satu Untuk UNM
Kegiatan Belajar 15 a. Rekonstruksi Pelaksanaan Pembelajaran PKn b. Indikator: Mendiagnosis pelaksanaan pembelajaran dengan baik sesuai prosedur dan rancangan pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran PKn. c. Uraian Materi dan Contoh: A. Keterampilan Membuka dan Menutup Pembelajaran

1. Membuka Pembelajaran (Set Induction)
Yang dimaksud dengan set induction ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam setting pembelajaran untuk menciptakan pra kondisi bagi peserta didik, agar mental maupun perhatiannya terpusat pada apa yang akan dipelajarinya. Usaha menciptakan pra kondisi yang baik akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar peserta didik. Usaha yang bisa dilakukan guru berupa penghubungan pengalaman siswa dengan tujuan pembelajaran; penarikan perhatian siswa sehingga secara sadar atau tidak sadar siswa suka dan siap memasuki persoalan pokok (materi pembelajaran). Tujuan pokok siasat membuka pembelajaran antara lain adalah : a. Untuk menyiapkan mental siswa agar terlibat dan siap memasuki / menerima materi pembelajaran. b. Untuk menimbulkan minat serta pemusatan perhatian siswa terhadap apa (materi pembelajaran) yang akan dilakukan. Set induction biasanya dilakukan pada permulaan pembelajaran atau pada pengenalan konsep dan prinsip baru atau pada saat akan membuka materi pembelajaran dikelas

2. Menutup Pembelajaran
Yang dimaksud menutup pembelajaran (closure) ialah usaha atau kegiatan guru untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran dikelas. Bentuk – bentuk kegiatan menutup pembelajaran, antara lain : a. Merangkum atau membuat garis – garis besar dari persoalan (materi pembelajaran) yang baru saja dipelajari, sehingga para siswa memperoleh gambaran yang jelas tentang makna serta esensi dari pokok persoalan yang telah dipelajari. b. Mengkonsolidasikan perhatian siswa terhadap hal – hal yang pokok dalam pembelajaran (materi yang telah disampaikan), agar informasi yang telah diterimanya

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

133

Satu Untuk UNM
dapat membangkitkan minat serta kemampuannya pada masa-masa mendatang dalam kelanjutan pembelajaran dan penghidupannya. c. Mengorganisasikan semua kegiatan maupun pembicaraan (materi yang telah dipelajari) pada pertemuan tersebut, sehingga merupakan suatu kebulatan yang berarti dalam memahami esensi bahan yang baru saja dipelajari. Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa dalam membuka pembelajaran guru melakukan kegiatan berupa apersepsi, motivasi seperlunya dan menciptakan prakondisi dan suasana yang berkaitan dengan fasilitas dan sarana pembelajaran. Sedangkan dalam menutup pembelajaran guru melakukan kegiatan berupa refleksi, kesimpulan materi (rangkuman), tes dan penugasan untuk pengayaan, pendalaman remedial dan akselerasi. 2) Contoh Keterampilan Membuka & Menutup Pembelajaran di Kelas

Keterampilan membuka :
Untuk Kelas Tujuan Profesional Tujuan Instruksional Guru (G) : PPL 1 : Terampil membuka dan menutup pembelajaran : Dapat memberi definisi tentang “Mengajar”

Keterampilan Membuka : : Selamat pagi anak – anak, Pagi ini kita akan melanjutkan kegiatan kita minggu yang lalu mengenai “pengertian belajar”. Siapa yang masih ingat apa yang disebut belajar? Amin (M1) Badu (M2) Guru (G) Guru (G) : Saya, pak : Belajar adalah membaca, : Bukan, Pak! Belajar adalah memasukkan ilmu. : Benarkah kamu suwito pendapat dari Amin dan Badu itu? : Tepat sekali, tetapi masih ada yang mungkin lebih tepat dari pendapat Suwito itu. Aceng (M4) : Saya, Pak! Belajar adalah “Perbuatan yang menyebabkan perubahan tingkah laku”. Guru (G) Siti (M5) Unyil (M6) Guru (G) Usro (M7) : Hampir sempurna. Dapatkah kamu melengkapinya sedikit siti? : (Diam) : Bagaimana kalau ditambah dengan : “yang berbeda sebelum belajar dan sesudah belajar”. : Ya, itu lebih lengkap, sekarang siapa yang masih ingat pengertian mengajar. : Mengajar adalah memberikan ilmu pengetahuan.
134

Suwito (M3) : Salah, Pak! “Belajar adalah mengorganisasikan materi”.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

Satu Untuk UNM
Guru (G) Siswa (M) (Isi) Guru (G) Siswa (M) Guru (G) Siswa (M) : Benarkah pendapat usro? : Kita belum belajar itu Pak. :................................................ : Baiklah, sekarang marilah kita bicarakan besama – sama. : (Mencari jawaban, berpikir sambil menoleh kekiri kekanan). : (Menjelaskan, diselingi pertanyaan – pertanyaan disertai contoh – contoh). : (Mendengarkan dan mencoba sedapat mungkin menjawab pertanyaan – pertanyaan guru). Keterampilan Menutup : Guru (G) : Marilah sekarang kita rangkum apa yang telah kita pelajari mengenai pengertian mengajar. Coba apa pengertian mengajar secara lengkap? Suwitno (M3) Guru (G) Aceng (M4) Guru (G) Unyil (M6) Guru (G) : Perbuatan yang menyebabkan siswa aktif. : Baik, apa lagi yang menyebabkan siswa aktif. : Biasanya siswa mau belajar. : Bagus, coba beri beberapa contoh, kamu unyil?? : (memberi contoh) : Baik, jadi kamu tahu sekarang bahwa didalam mengajar seorang guru harus membuat siswa mau belajar. Nak, untuk lebih memantapkan pengertian kamu, coba kerjakan tugas – tugas ini sebagai pekerjaan rumah. d. Latihan Pak Baco Lolo adalah guru PKn di sebuah SMP Negeri di Makassar. Pada saat Pak Baco Lolo hendak mengajar dengan Kompetensi Dasar “Menjelaskan Hakikat Demokrasi”, ia langsung menuliskan pokok bahasan di papan tulis tentang demokrasi dan perkembangannya di Indonesia. Selanjutnya Pak Baco Lolo menjelaskan materi tersebut secara runtut. Lima menit sebelum waktunya habis, Pak Baco Lolo meminta siswa untuk menaikkan selembar kertas dan mengerjakan soal yang ditulis di papan tulis.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

135

Satu Untuk UNM
Instruksi:
Lakukan analisis terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan Pak Baco Lolo! Tunjukkan kelemahan/kekurangannya jika dilihat dari segi cara membuka dan menutup pembelajaran yang baik, pemilihan model, metode dan prosedur pembelajarannya, pemilihan dan penggunaan media pembelajarannya, serta langkah-langkah umpan balik dan penugasan yang telah dilakukan! Setelah itu, buat rincian cara-cara perbaikannya secara terstruktur dengan memperhatikan karasteristik mata pelajaran PKn! Rekonstruksikan kembali suatu kegiatan pembelajaran PKn yang benar untuk indicator yang lain!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

136

Satu Untuk UNM
Kegiatan Belajar 16 a. Konsep Dasar Asesmen Pembelajaran PKn b. Indikator: Menilai prosedur pengembangan alat evaluasi dengan benar untuk mengungkap potensi peserta didik dalam belajar PKn. c. Uraian Materi dan Contoh: Konsep Dasar Asesmen Pembelajaran PKn Dalam rangka pembaruan Sistem Pendidikan Nasional, khususnya sistem pendidikan tenaga kependidikan maka persoalan bagaimana mengetahui kemajuan hasil belajar peserta didik, merupakan masalah yang cukup menuntut perhatian. PKn yang bertujuan menanamkan nilai-nilai moral, di samping nilai-nilai ilmiah dan kesadaran Nasional, masalahnya menjadi lebih ruwet dan kompleks. Masalah evaluasi pembelajaran PKn menjadi sangat penting dan terus menerus perlu dikembangkan untuk mendapatkan sistem evaluasi pembelajaran PKn yang benar-benar mampu memonitor dan menilai perkembangan hasil belajar PKn.

1. Prinsip – prinsip Penilaian PKn
Pada dasarnya prinsip penilaian hasil belajar PKn, secara teoretis tidak jauh berbeda dengan prinsip-prinsip penilaian hasil belajar pada umumnya, hanya saja PPKn mempunyai karakter khusus dengan tekanan sasaran pada pembinaan moral dan etika. Persoalan bagaimana merancang, bagaimana melakukan, cara dan alat ukur apa yang pantas digunakan dalam penilaian PKn adalah hal – hal pokok yang harus dipertimbangkan guru dalam evaluasi pembelajaran PKn. Oleh karena itu dalam penilaian hasil belajar PKn harus dilakukan dengan hati-hati serta dengan tingkat ketelitian yang cukup tinggi. Dalam masalah penilaian hasil belajar PKn, kiranya perlu memperhatikan beberapa prinsip dasar berikut; a. Sasaran harus jelas. Perumusan sasaran yang akan diukur dalam evaluasi pembelajaran PKn sangat memudahkan pekerjaan dan lebih menjamin keberhasilan hasil pengukuran. Guru harus benar – benar memahami sasaran yang jelas yang harus dievaluasi. b. Objektivitas Prinsip dalam penilaian PKn harus ada kejujuran (fair). Perasaan subjektif harus dihindari sedapat mungkin sehingga objektifitas dalam penilaian hasil belajar PKn benar – benar merupakan suatu keharusan.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

137

Satu Untuk UNM
c. Keterbukaan Bahwa evaluator (Guru / Dosen) sering tidak cukup terbuka dalam masalah penilaian terutama tentang bobot nilai yang akan diberikan untuk setiap soal, tidak mengembalikan pekerjaan atau tugas peserta didik yang dinilai, bahkan mungkin tidak memberitahukan nilai yang mereka peroleh. Apa yang disampaikan hanya berupa informasi tentang Lulus atau Tidak Lulus. d. Refresentatif Prinsip ini menuntut bahwa data atau aspek yang akan dinilai harus benar – benar mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Dalam hal ini evaluator harus hati – hati, jangan terkecoh oleh gejala yang bersifat kamuflase atau jangan terjerat oleh haloeffect, karena semua itu akan memberikan hasil penilaian yang tidak benar. e. Kesaksamaan Evaluasi pembelajaran PKn yang salah satunya menitikberatkan pada aspek afektif, namun tidak berarti melupakan aspek – aspek lainnya. Guru dalam hal ini harus memahami kesaksamaan yaitu : 1) Saksama dalam jelas. 2) Saksama dalam memilih metoda dan teknik serta instrumen yang digunakan, agar benar – benar menghasilkan informasi yang mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. 3) Saksama dalam mengolah data informasi yang diperoleh, sehingga memperoleh hasil penilaian yang dapat dipertanggung jawabkan. 4) Saksama dalam membuat kriteria patokan yang akan dipakai untuk membandingkan atau mengukur sasaran yang dimaksudkan. 5) Saksama dalam menafsirkan hasil pengukuran merumuskan sasaran yang akan dinilai, sehingga menjadi

2. Tujuan Penilian PKn
Pada dasarnya tujuan penilian PKn adalah : a. Untuk mengetahui keberhasilan dan masalah peserta didik dalam mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan. b. Untuk mengetahui keberhasilan dan hambatan dalam penyelenggaraan program dan proses pembelajaran untuk tercapainya penguasaan kompetensi. c. Untuk mendapatkan input guna perbaikan program pembelajaran PKn yang lebih bermutu. d. Untuk menilai ketepatgunaan strategi pembelajaran PKn (bahan review).
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

138

Satu Untuk UNM
e. Untuk mendiagnosa kesulitan belajar peserta didik (bahan terapi) f. Untuk mengetahui dan menentukan berhasil tidaknya peserta didik (sertifikat / Ijazah) g. Untuk memotivasi dan memahami tingkat keberhasilan PKn

3. Pendekatan Penilaian
Pendekatan yang biasanya digunakan dalam penilaian hasil pembelajaran / pendidikan pada umumnya ialah : a. Penilaian acuan patokan (PAP) atau Criterion Refenced Evaluation (CRE) b. Penilaian acuan norma (PAN) atau Norma Refenced Evaluation (NRE) Untuk menyegarkan ingatan kita, barangkali ada baiknya pada kesempatan ini dikemukakan pokok – pokok pengertian dari kedua pendekatan itu. PAP, memuntut adanya semacam kriterium atau semacam patokan untuk dipakai sebagai alat pembanding terhadap hasil pengukuran. PAP adalah penilaian yang dilakukan dengan membandingkan hasil belajar yang diukur dengan patokan yang telah dibuat sebelumnya. Pendekatan PAP sering juga disebut objektif Referenced ebaluation (ORE) atau Competency referenced evaluation (ORE), dapat menunjukkan kwalitas lulusan yang sama. Maksudnya kapanpun dan di manapun patokan digunakan maka kualifikasi lulusannya akan sama saja, dalam arti bahwa mereka telah mencapai atau melampaui patokan atau batasan lulus yang telah ditentukan. Inilah salah satu keunggulan daripada pendektan PAP. PAN, sering juga disebut penilaian berpatokan relatif, pada dasarnya tidak mempunyai kriterium yang menunjukkan kualitas lulusan. Alat pembanding untuk memberikan arti atas skor yang dicapai, ditentukan berdasarkan prestasi rata – rata dari kelas yang dinilai. Patokan pembanding PAN berubah – ubah untuk setiap saat penilaian atau setiap kelas yang dinilai.

4. Metode dan Teknik Penilaian PKn
Metode dan teknik penilaian PKn yang dapat digunakan adalah : a. Observasi Observasi adalah metode untuk mendapatkan data informasi yang akan diukur atau dinilai dalam materi pembelajaran PKn. Observasi dapat berupa langsung, tidak langsung, berstruktur, tidak berstruktur, berpartisipasi, tidak berpartisipasi, Quasi berpartisipasi, dan Observasi Experimental.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

139

Satu Untuk UNM
b. Inquiry Metode ini bermaksud untuk menggali keterangan – keterangan yang diperlukan untuk dinilai, dengan memberikan berbagai pertanyaan baik lisan maupun tertulis. Yang tergolong dalam inquiry ini adalah teknik – teknik ; inventori, quisioner, dan wawancara. c. Testing Metode ini paling populer digunakan. Metode tes ini akan dibahas lebih lanjut. Tes dapat berupa Essay Test dan Objective Test. Objective test dapat berupa True False Test, Multiple Choice Test, Matching Test dan Completion Test. d. Skala (Non tes) Evaluasi hasil pembelajaran PKn berupa non tes dapat dilakukan guru melalui ; Daftar Cek (Check List), Skala nilai (Rating Scala), Pencacatan Peristiwa (Anecdotal Record), Karangan atau semboyan, Sosiometri. d. Latihan Seorang guru PKn baru saja mengajarkan materi tentang sila-sila Pancasila. Ia kemudian ingin mengetahui tingkat keberhasilan siswa pada indicator “Menunjukkan sikap positif terhadap Pancasila dalam kehidupan bernegara”. Tetapi ia kebingungan bagaimana menyusun perangkat penilaiannya. Akhirnya ia memutuskan untuk membuat soal essay dengan soal “Jelaskan mengapa kita harus menunjukkan

sikap positif terhadap Pancasila?”, lengkap dengan skoringnya. Setelah hasil tes
dianalisis, ternyata seluruh siswa menjawab dengan benar. Persoalan kemudian muncul setelah kepada siswa tersebut dilatih untuk mengerjakan soal yang sudah baku dari Dinas Pendidikan setempat pada indicator yang sama. Ternyata hasilnya menunjukkan semua siswa gagal.

Instruksi:
1. Lakukan analisis terhadap perangkat penilaian yang telah dibuat oleh guru tersebut! Setelah itu, tunjukkan di mana letak persoalannya! 2. Buatlah beberapa perangkat penilaian berdasarkan indicator yang terdapat dalam modul pendalaman kompetensi professional! 3. Buat pula rancangan cara melakukan scoring terhadap tes hasil belajar tersebut!

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

140

Satu Untuk UNM
4. Buat pula rancangan analisis soal berdasarkan tingkat kesukaran, daya pembeda, validitas dan reliabilitasnya! 5. Buatlah contoh kesimpulan atas hasil penilaian dari soal yang telah dibuat dengan jelas dan logis! 6. Berdasarkan kesimpulan yang Anda buat, tuliskan rencana perbaikan perangkat penilaaiannya! C. PENUTUP

1. Daftar Istilah
Asesmen: penilaian Gatra Kognitif: domain, kawasan pengetahuan Gatra Afektif: domain, kawasan sikap Gatra Psikomotor: domain, kawasan keterampilan Audience: Sasaran belajar (siswa/mahasiswa) Behavior: perilaku, tingkah laku yang harus dimiliki/dikuasai Content: Isi, materi Degree: tingkatan, situasi dan kondisi perilaku yang dikehendaki Intructional Materials: Materi pembelajaran Relevansi: kesesuaian Konsisstensi: Keajegan Adequacy: kecukupan Prerequisite: prasyarat Hirarkhis: berurutan secara bertingkat Masteri learning: belajar tuntas Contextual teaching and learning: model pemb. berdasarkan masalah social Keywords: kata kunci Homo sapiens: mahluk social Curiosity: rasa ingin tahu

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

141

Satu Untuk UNM
DAFTAR PUSTAKA

Harrow, A. J. (1972). A taxonomy of the psychomotor domain: A guided for developing behavioral objective. New York: David Mc Key Company. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002). Jakarta: Balai Pustaka Mardapi, Dj. dan Ghofur, A, (2004). Pedoman Umum Pengembangan Penilaian; Kurikulum Berbasis Kompetensi SMA. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum. Mehrens, W.A, and Lehmann, I.J, (1991). Measurement and Evaluation in Education and Psychology. Fort Woth: Holt, Rinehart and Winston, Inc. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Fokus Media. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 14 tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Pendidikan Dasar dan Menengah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, Jakarta, 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, Jakarta, 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2007. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Menengah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 tentang tentang Standar Penilaian Pendidikan. Popham,W.J., (1999). Classroon Asessment: What teachers need to know. Mass: Allyn-Bacon. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Fokus Media. Diepdikbud RI. 1983. Evaluasi Hasil Belajar PMP, Modul Akta – VB, Buku II. Jakarta : Dirjen Dikti Consuelo G. Cs. Alih bahasa Alimuddin Tuwu. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta : UI Press Suharsimi Arikunto. 1991. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : PT. Rineka Cipta Dendasurono Prawiroatmodjo, Dkk. 1987. Pembinaan Kompetensi Mengajar. Jakarta : IKIP Jakarta H. Sangkala Ibsik & M. Rifdan. 2006. Pancasila dan Kewarganegaraan. Makassar : UNM

Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen

Kerja di Lingkungan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24 Universitas Negeri Makassar

142

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->