P. 1
Chapter II Sirih

Chapter II Sirih

|Views: 242|Likes:
Published by Nehemia Sembiring

More info:

Published by: Nehemia Sembiring on Sep 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2014

pdf

text

original

18 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1.

Konsep Perilaku Menurut Notoatmodjo (2003), perilaku adalah keadaan jiwa (berpendapat, berfikir, bersikap dan sebagainya) untuk memberikan responsi terhadap situasi diluar subjek tersebut. Respons ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan) dan dapat juga bersifat aktif (dengan tindakan atau action). Menurut Ensiklopedi Amerika, perilaku diartikan sebagai suatu aksi dan reaksi organisme terhadap lingkungan. Hal ini berarti bahwa perilaku baru akan terwujud bila ada suatu yang diperlukan untuk menimbulkan tanggapan yang disebut rangsangan. Dengan demikian maka suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan perilaku tertentu pula. Skinner (1983), seorang ahli perilaku, mengemukakan bahwa perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan respon. Ia membedakan adanya dua respon, yakni : 1. Respondent Respon atau Reflexive, ialah respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan tertentu. Perangsangan-perangsangan seperti ini disebut electing stimuli karena menimbulkan respon-respon yang relatif ketat misalnya cahaya yang kuat akan menyebabkan mata tertutup dan sebaginya. Pada umumnya perangsangan-perangsangan yang demikian ini mendahului respon yang ditimbulkan. 2. Operant Response atau Instrumental Response adalah respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsangan tertentu. Perangsangan semacam ini

Universitas Sumatera Utara

19 disebut reinforcing stimuli atau reinforcing karena perangsang-perangsang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan, oleh sebab itu perangsangan yang demikian itu mengikuti atau memperkuat perilaku tertentu yang telah dilakukan. 2.1.1. Bentuk-bentuk Perilaku Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku itu dalam tiga domain (ranah/kawasan) meskipun kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas dan tegas. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan, yaitu mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku tersebut, yang terdiri dari: ranah kognitif (Cognitive Domain), ranah afektive (Afektive Domain), dan ranah psikomotor (Pcyhomotor Domain). Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan dan untuk kepentingan pengukurang hasil pendidikan ketiga domain diukur dari : 1. Pengetahuan (knowledge) adalah merupakan hasil dari ”tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Dari pengalaman dan penelitian terbuktibahwa perilaku didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai beberapa tingkatan yaitu ;

Universitas Sumatera Utara

20 a. Tahu (know), diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima, oleh sebab itu tahu merupakan tingkatan pengetahuan paling rendah. b. Memahami (Comprehension), diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. c. Analisis (Analysis), adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi yang saling terkait. d. Sintetis (Syntetis), adalah menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. e. Evaluasi (Evaluation), ini berkaitan dengan kemampuan untuk penilaian terhadap suatu materi atau objek. 2. Sikap (attitude) adalah anggapan seseorang terhadap objek yang diberikan. Sikap merupakan suatu tindakan atau aktivitas yang merupakan predisposisi tindakan atau suatu perilaku. Sikap masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.

Universitas Sumatera Utara

21 3. Tindakan (Practice) adalah praktek atau perbuatan seseorang terhadap rangsangan dari luar. Perbuatan nyata atau tindakan terwujud perlu adanya faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan antara lain adalah fasilitas dan dukungan dari pihak lain (Notoatmodjo, 2003). a. Persepsi (Perseption) , adalah mengenal dan memilih berbagai objek

sehubungan dengan tindakan yang diambil. b. Respon terpimpin (Guided response), adalah tindakan atau perlakuan terhadap sesuatu sesuai dengan contoh (perumpamaan). c. Mekanisme (Mecanisme), adalah seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan. d. Adaptasi (Adaptation), adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik, artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. 2.1.2. Proses Adopsi Perilaku Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru) didalam diri oarang tersebut terjadi pendidikan proses yang berurutan yakni : 1. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek). 2. Interst (tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut dan sikap objek sudah mulai timbul. 3. Evaluation (menilai) menimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya, hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

Universitas Sumatera Utara

22 4. Trial (Mencoba) Subjek sudah mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dihendaki oleh stimulus. 5. Adoption (menerima) dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut diatas. Apabila penerimaan perilaku adopsi perilaku melalui proses yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak disadari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama. Teori Rogers ini telah dimodifikasi oleh Rogers sendiri yang dikutip oleh, Hosia (1989) menjadi 4 fase yaitu : a. Knowledge Dengan cara memberikan pengetahuan-pengetahuan menurut bidang yang akan dicapai, dengan sendirinya pengetahuan yang diberikan itu disesuaikan dengan tingkat perkembangan individu tersebut. b. Persuassion Dalam tingkat ini orang sudah mulai mengambil hati terhadap pengetahuan yang diperoleh, maka pendidikan bertugas untuk mendekati mereka, kalau perlu adanya

motivasi yang kuat dari petugas dan juga penerangan-penerangan yang jelas agar putusan mereka tidak berdasarkan paksaan.

Universitas Sumatera Utara

23 c. Decision Dalam fase ini orang sudah memutuskan untuk mencoba tingkah laku baru. Maka perlu adanya motivasi yang kuat dari petugas dan juga penerangan-penerangan yang jelas agar putusan mereka tidak berdasarkan paksaan. d. Confirmation Apabila orang atau individu telah mau melaksanakan tingkah laku yang baru sesuai dengan norma-norma, kita tinggal menguatkan tingkah laku mereka ini supaya tidak menjadi drop-out (DO) caranya dengan tetap meneruskan usaha-usaha yang telah ada. 2.1.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Perubahan Perilaku Untuk mengungkapkan determinan perilaku berangkat dari analisis-analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku Lawrence Green (1980) menentukan perilaku terbentuk dari 3 (tiga) faktor, yaitu : 1. Faktor pendukung (Predisposing Factors) yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai juga dipengaruhi oleh faktor demografi seperti status ekonomi, umur, pendidikan, jenis kelamin dan sebagainya. 2. Faktor pendukung (Enabling Factors) yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas atau sarana. 3. Faktor pendorong (Reinforcing Factors) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lainnya yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

Universitas Sumatera Utara

24 2.2 Komposisi Menyirih

2.2.1. Sirih Nama latin dari sirih adalah Piper betle. Nama lokal sirih adalah Betel

(Perancis), Betel, Betlehe, Vitele (Portugal); Sirih (Indonesia), Suruh, Sedah (Jawa), Seureuh (Sunda), Belo (Karo), Ranub (Aceh), Demban (Batak Toba), Lahina atau Tawuno (Nias), Sireh, Sirih (Palembang), Suruh, Sirih (Minang), Canbai (Lampung), Ju Jiang (China) (Suriawiria U, 2006). Sirih (Piper betle) termasuk jenis tumbuhan merambat dan bersandar pada batang pohon lain. Tanaman ini panjangnya mampu mencapi puluhan meter. Bentuk daunnya pipih menyerupai jantung dan tangkainya agak panjang. Permukaan daun berwarna hijau dan licin, sedangkan batang pohonnya berwarna hijau tembelek (hijau agak kecoklatan) dan permukaan kulitnya kasar serta berkerut-kerut. Daun sirih disamping untuk keperluan ramuan obat-obatan juga masih sering digunakan oleh ”ibu-ibu generasi tua untuk kelengkapan ”nyuntil” tersebut adalah daun sirih, kapur sirih, pinang, gambir dan tembakau (Suriawiria U, 2006) Daun sirih mengandung minyak atsiri (betlephenol), seskuitterpen, pati, diatase, gula, chavicol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi, fungisida, dan anti jamur. Daun sirih mengandung phenolic yang menstimulasi katekolamin, sehingga menyirih mempengaruhi fungsi simpatik dan parasimpatik. Daun sirih memiliki manfaat yang sangat luas sebagai bahan obat batuk, bronchitis, gangguan lambung, rematik, menghilangkan bau badan, keputihan dan sebagainya. Bahkan, rebusan daun sirih juga sangat bermanfaat untuk obat sariawan, pelancar dahak, pencuci luka, obat gatal-gatal,

Universitas Sumatera Utara

25 obat sakit perut yang melilit, obat jantung, menghentikan pendarahan (Suriawiria U, 2006) 2.2.2 Pinang Nama Latin bagi pinang ialah Areca cathechu. Dalam bahasa Hindi buah ini dipanggil supari dan pan-supari sebagai sirih pinang. Tetapi bahasa Malaysia disebut adakku dan addekka, Sri Lanka dikenali sebagai puvak, Thai sebagai mak dan masyarakat Cina menyebutnya dengan nama pin-lang (Suriawiria U, 2006). Tumbuhan Tropika ini ditanam untuk mendapatkan buahnya dan karena keindahannya, tumbuhan ini digunakan sebagai hiasan taman. Tingginya antara 10 hingga 30 m dan meruncing dibagian pucuk. Buah pinang berbentuk bulat dan berwarna hijau semasa muda dan apabila masak maka pinang menjadi berwarna kuning dan merah (http.sirih pinang.com.). Secara tradisonal, biji pinang (Areca catecu) sudah digunakan secara luas sejak ratusan tahun lalu. Penggunaan paling populer adalah kegiatan menyirih dengan bahan campuran biji pinang, daun sirih, dan kapur. Ada juga yang mencampurnya dengan tembakau. Sebelum dikonsumsi, pinang diproses terlebih dahulu dengan dibakar, dijemur, dan dipanaskan. Pinang diduga dapat menghasilkan rasa senang, rasa lebih baik, sensasi hangat di tubuh, keringat, menembah saliva, menambah stamina kerja, menahan rasa lapar. Selain tersebut di atas, pinang juga mempengaruhi sistem saraf pusat dan otonom (Gandhi G, 2001). Komponen penting dari pinang adalah tannin (11-26%) dan alkoloid (0,150,67%). Sedangkan komposisi kecilnya adalah arakaidin, guakin guvokalin, dan arekolidin (kandungan alkoloid terbesar), yang dapat digunakan sebagai obat cacing.

Universitas Sumatera Utara

26 Namun penggunaan pinang berlebihan justru membahayakan kesehatan. Karena arekolin merupakan senyawa alkoloid aktif yang mempengaruhi syaraf parasimpatik dengan merangsang reseptor muskarinik dan nikotinik sehingga harus digunakan dalam jumlah kecil. Sebanyak 2 mg arekolin murni sudah dapat menimbulkan efek stimulan yang kuat, sehingga dosis yang dianjurkan tidak melebihi 5 mg untuk sekali pakai. Penggunaan serbuk biji sebaiknya tidak lebih dari 4 kg untuk sekali pakai. Jika digunakan pada dosis 8 g, akan segera berakibat fatal karena arekolin bersifat sebagai sitoksik dan sastatik kuat. Secara in vitro (dalam tabung reaksi), penggunaan arekolin dengan konsentrasi 0,042 mM (milimol) mengakibatkan penurunan daya hidup sel serta penurunan kecepatan sintesis DNA dan protein. Arekolin juga menyebabkan terjadinya kegagalan glutationa, yaitu sejenis enzim yang berfungsi melindungi sel dari efek merugikan (Agusta A, 2001). Biji pinang juga mengandung senyawa golongan fenolik dalam jumlah relatif tinggi. Selama proses pengunyahan biji pinang di mulut, oksigen reaktif (radikal bebas) akan terbentuk senyawa fenolik itu. Adanya kapur sirih yang menciptakan kondisi pH alkali akan lebih merangsang pembentukan oksigen reaktif itu. Oksigen reaktif inilah salah satu penyebab terjadinya kerusakan DNA atau genetik sel epiteltial dalam mulut (Chiba I, 2001). Kerusakan dapat berkembang menjadi fibrinosis submukosa, yaitu salah satu jenis kanker mulut, yang telah mengjangkiti sekitar, 0.5% pengguna biji pinang. Biji pinang juga mengandung tannin yang dapat menimbulkan luka pada mulut dan usus, yang jika dibiarkan dapat berakhir dengan munculnya kanker. Namun Tanin dalam pinang dapat juga digunakan untuk mengobati diare (Agusta A, 2001).

Universitas Sumatera Utara

27 Kandungan berbahaya lain pada biji pinang adalah senyawa turunan nitroso, yaitu N-nitrosoguvakolina, N-nitrosoguvasina, 3-(N-nitrosometilamino) propinaldehidida dan 3-(N-nitrosometillamino) propianitrile. Keempat turunan nitroso ini merupakan senyawa bersifat sitotosik (meracuni sel) dan geneositoksik (meracuni gen) pada sel ephithial buccal, dan dapat juka menyebabkan terjadinya tumor pada pankreas, paru-paru dan hati. Pada hewan percobaan, senyawa nitroso biji pinang juga terbukti dapat menyebabkan efek diabetogenik yaitu pemunculan diabetes secara spontan (Agusta A, 2001). 2.2.3. Gambir Gambir adalah sejenis tumbuhan yang terdapat di Asia Tenggara. Gambir termasuk dalam genus Rubiaceae. Daunnya berbentuk bujur telur atau lonjong dan permukaannya licin. Bagian pangkalnya membulat. Bahkan, ada pula yang bentuknya seperti jantung. Permukaan daunnya gundul, tidak berbulu. Bunganya berwarna kelabu dan bentuknya seperti tabung. Dari jenis tanamannya, gambir termasuk tumbuhan semak yang tumbuhnya memanjang dan merambat. Konon tumbuhan ini asli dari kawasan Asia Tenggara. Sampai saat ini tumbuhan ini sudah banyak dibudidayakan di berbagai daerah, seperti Kalimantan, Sumatra, dan sebagian daerah Jawa Barat. Daerah-daerah tersebut dikenal sebagai penghasil gambir (www.replubika.co.id.). Pada masyarakat tradisional di berbagai daerah, gambir merupakan satu bahan yang cukup banyak dibutuhkan. Gambir digunakan sebagai bahan tambahan untuk menyirih. Selain untuk menambah rasa, gambir juga memberi manfaat lain, yaitu untuk mencegahberbagai penyakit di daerah kerongkongan (www.replubika.co.id.).

Universitas Sumatera Utara

28 Gambir juga memiliki khasiat sebagai obat mencuci luka bakar dan luka pada penyakit kudis. Di samping itu, gambir pun dapat digunakan untuk menghentikan diare tetapi penggunaan lebih dari 1 ibu jari, bukan sekedar menghentikan diare tetapi akan menimbulkan kesulitan buang air besar selama berhari-hari. Di samping itu, gambir juga dapat mengakibatkan atrisi dan abrasi pada gigi karena adanya kandungan dari gambir yang bersifat abrasif yaitu catechin (Katno, 2008). 2.2.4. Kapur Kapur atau cunan (kapur mati) berwarna putih kilat seperti krim yang dihasilkan dari cangkang siput laut yang telah dibakar. Hasil dari debu cangkang tersebut dicampur dengan air untuk memudahkan pada saat kapur disapukan ke atas daun sirih. (http. sirih ..htm.2008). Kapur dapat diperoleh dengan membakar batu kapur (Kalsium karbonat CaCo3). Apabila dibakar pada suhu tertentu ia mengeluarkan gas yang disebut karbondioksida (CO2) dan akan menjadi kalsium Hidroksida (Ca(OH2). Penggunaan kapur sirih dapat mengakibatkan panyakit periodontal. Penyebab terbentuknya penyakit periontal adalah karang gigi akibat stagnasi saliva pengunyah sirih karena adanya kapur Ca(OH)2. Gabungan kapur dengan pinang mengakibatkan respon primer terhadap formasi oksigen reaktif dan mungkin mengakibatkan kerusakan oksidatif pada DNA di bukal mukosa penyirih (Chiba I, 2001).

Universitas Sumatera Utara

29 2.2.5. Tembakau Tembakau (Nicotiana spp., L.) adalah genus tanaman yang berdaun lebar yang berasal dari daerah Amerika Utara dan Amerika Selatan. Tembakau dapat tumbuh dalam keadaan iklim yang berlainan, suhu yang panas dan lembab. Untuk mendapatkan daun yang bermutu, tembakau dipanen ketika musim kemarau. Daun-daun tembakau yang bermutu hanya dapat dihasilkan di kawasan-kawasan tertentu saja. Jenis tembakau yang sama jika ditanam di kawasan yang mempunyai tanah yang berlainan dapat menghasilkan mutu daun yang rendah (http. sp sirih/sp.pinang/sp.kapur.htm.). Daun dari pohon ini sering digunakan sebagai bahan baku rokok, baik dengan menggunakan pipa maupun digulung dalam bentuk rokok atau cerutu. Daun tembakau dapat pula dikunyah atau dikulum, dan ada pula yang menghisap bubuk tembakau melalui hidung. Daun tembakau juga dapat digunakan sebagai pelengkap dalam menyirih. Tembakau mengandung kira-kira 1000 macam zat kimia. Nikotin merupakan komponen penting dalam tembakau karena sifatnya yang menimbulkan ketagihan atau adiksi. Selain itu, pada tembakau karena sifatnya yang menimbulkan ketagihan atau adiksi. Selain itu, pada tembakau juga ditemukan komponen yang bersifat karsinogenik seperti N-Nitrosamin. Namun zat alkaloid nikotin, sejenis neurotoxin juga sangat ampuh jika digunakan pada serangga. Zat ini sering digunakan sebagai bahan utama insektisida (http.wikipedia.org).

Universitas Sumatera Utara

30 2.3. Penggunaan Sirih Dalam Kehidupan Sosio Kultural

2.3.1. Kepercayaan Penggunaan Sirih pada masyarakat Karo sudah ada sejak zaman dahulu . Sirih digunakan bila seseorang jatuh sakit atau lemah badannya, meninggal dunia untuk meramal, untuk penghormatan, pada acara merdang (menanam padi), pada upacara berkeramas, untuk mengusir roh, pada upacara ngkuruk emas (mengambil emas), dan upacara muat kertah (mengambil belerang). Pada seseorang yang jatuh sakit atau lemah badannya, sirih digunakan untuk menentukan jenis penyakit dan siapa yang membuat sakit. Hal ini ditanyakan pada ”Guru Sibaso” yang berperan sebagai dukun melalui daun sirih (Bangun T, 1986). Sirih juga digunakan ketika ada orang yang meninggal dunia. Ketika ada yang meninggal maka kuku jari tangan dan kaki famili terdekat dari yang meningggal dunia, dikikis keatas selembar daun sirih sambil meludahinya empat kali lalu dibuang ke mayat yang sudah dimasukkan dalam peti. Ini maksudnya agar mereka yang ditinggalkan tidak diganggu oleh begu (arwah) yang meninggal dunia tadi. Sirih juga dapat digunakan untuk meramal. Meramal dilakukan dengan cara memberikan sirih kepada guru (dukun). Dari daun sirih yang disodorkan kepada dukun maka dapat diketahui tentang suatu kejadian ataupun penyakit serta tanda-tanda yang bakal datang cara mengatasi atau mengobati (Bangun T, 1986). Pada suku Karo terdapat suatu rumah adat yang ditempati oleh delapan kepala rumah tangga yang disebut dengan rumah ”siwaluh jabu”. Dimana rumah pertama ditempati oleh ”penghulu taneh” atau ”bangsa taneh”. Sedangkan rumah tangga kedelapan disebut ”jabu singkapuri belo”. Kewajiban dari rumah tangga kedelapan

Universitas Sumatera Utara

31 adalah bilamana penghuni rumah tangga nomor satu didatangi tamu dari luar (terutama dari luar kampung), maka wajiblah istri kepala rumah tangga delapan itu datang ke rumah tangga nomor satu dan salah satu istri menyodorkan kampil (tempat berisi perlengkapan menyirih) sebagai penghormatan seisi rumah tangga itu dan kemudian menanyakan apa maksud kedatangannya (Prinst Darwan, 1986). Pada upacara merdang (menanam padi), juga digunakan sirih. Merdang (menanam padi) adalah upacara yang dilakukan sebelum perladangan ditanami dengan bibit padi. Maksud penyelenggaraan ini untuk memohon kepada beraspati taneh atau dewa penguasa tanah agar memelihara padi yang ditanam. Sirih juga digunakan pada upacara berkeramas pada suku Batak Karo. Upacara ini disebut juga erpangir ngarkari (berkeramas) . Upacara ini dilakukan untuk mengetahui sebab-sebab kejadian yang meresahkan masyarakat dan mengetahui sebab-sebab penyakit yang aneh. Upacara ini dilakukan didalam desa. Musyawarah diselenggakan di jambur (balai desa), dan memilih hari baik yang dilaksanakan di rumah dukun. Pada acara erpangir ini digunakan juga sirih yang terdiri dari beberapa jenis yaitu belo bujur (sebagai pertanda ucapan terima kasih), belo selangsong (untuk mendorong membersihkan desa), belo limpek (untuk mematahkan perbuatan tidak baik), belo pangan (yang dimakan), belo sinambul (untuk menutup roh jahat agar tidak masuk desa), dan belo baja minak untuk erpangir (berkeramas). Acara ini dilakukan oleh beberapa dukun di desa. Setelah acara erpangir (berkeramas) selesai, maka tugas dukun selesai, maka selanjutnya diberikanlah upah dukun. Hal ini dilakukan di rumah dukun, dengan cara seorang Ibu yang dituakan menyerahkan seperangkat sirih yang terdiri dari sirih, gambir, kapur pinang dan tembakau. Sirih ini dinamakan belo bujur sebagai pertanda ucapan

Universitas Sumatera Utara

32 terima kasih. Setelah sirih diberikan, lalu disusul dengan penyerahan kampil (tempat sirih) dan sang dukun memakan sirih yang tersedia didalamnnya. Dan saat dukun mengunyah sirih, maka ditanyakanlah upah yang diminta dukun. Oleh dukun dijawab bahwa upah yang diinginkan adalah beras sada tumba (2 liter), manuk nggeluh sada ikur (ayam hidup seekor), gambir sada keping (sekeping gambir), bako sada lingkar (tembakau selingkar), dan pinang sebuah. Pada acara ini, seperangkat sirih melambangkan kekuatan untuk mengusir roh. Sirih melambangkan alat berkomunikasi kepada orang lain. Belo selongsong adalah untuk mendorong membersihkan desa. Belo limpek adalah untuk mematahkan perbuatan yang tidak baik. Belo selongsong adalah untuk mendorong membersihkan desa. Belo sinumbul adalah untuk menutup roh jahat agar tidak masuk ke desa (Sinaga et al, 1985 ). Sirih juga digunakan dalam upacara ngkuruk emas (mengambil emas). Upacara ini dilakukan bila warga desa ingin mengambil emas dengan cara menambangnya. Hal ini dilakukan agar begu jabu (roh penjaga rumah) merestui keberangkatannya. Dengan demikian selama dalam perjalanan agar tetap dijagai begu jabu. Sirih diberikan sebagai persembahan kepada dewa taneh atau beraspati taneh (dewa penguasa tanah) sebagai persembahan agar sang dewa tidak merasa terkejut ketika mengambil emas atau mengorek tanah. Sirih juga diartikan sebagai ucapan terima kasih (Sinaga, 1985). Sirih juga digunakan dalam upacara mengambil belerang pada suku Karo. Upacara ini disebut muat kertah (mengambil belerang). Penduduk desa mengambil belerang dari puncak Gunung Sibayak. Hal-hal yang harus dilakukan pada upacara ini adalah ersudip man begu jabu yaitu berdoa kepada roh penjaga rumah untuk memohon restu, ercibal belo ras ngasap kemenen yaitu memberikan sirih dan membakar kemenyan

Universitas Sumatera Utara

33 sebagai persembahan kepada roh penghuni Gunung Sibayak, ercibal belo man beraspati taneh yaitu memberikan sirih persembahan kepada beraspati taneh (dewa penguasa tanah). Ercibal belo ras ngasap kemenen dimaksudkan sebagai permohonan kepada nini sibayak batu ernala (roh penghuni Gunung Sibayak ) agar bermurah hati memberikan belerang kepada warga. Diyakini bahwa belerang tersebut adalah milik sang nini. Sirih dan kemenyan adalah sebagai ucapan terima kasih (Sinaga, 1985). Persiapan yang dilakukan dalam upacara muat kertah (mengambil belerang) adalah menyediakan bahan dan peralatan upacara. Untuk keperluan ersudip man begu jabu dipersiapkan antara lain sirih (belo), kapur dan gambir. Kemudian piring digunakan sebagai tempat sirih dan tikar digunakan sebagi tempat meletakkan persembahan. Kamar tidur juga dibersihkan. Gambir dan kapurdimasukkan ke dalam lipatan sirih dan diletakkan diatas piring dan tikar dihamparkan di atas tempat tidur. Untuk upacara di Puncak Gunung Sibayak dipersiapkan pula belo cawir (sirih), kapur, gambir, kemenen (kemenyan) dimana sirih dikepitkan dicelah kayu dan tangkai sirih menghadap kepada orang lain dan bagian ujung daun sirih menghadap kepada orang dan bagian sirih ujung daun sirih menghadap kearah matahari. Setelah selesai upacara dilanjutkan dengan persembahan sirih kepada beraspati taneh. Pada salah satu babatuan yang dipecah, sirih yang telah berisi kapur dan gambir diletakkan dan menghadap ke matahari terbit. Ketika menyampaikan sirih persembahan, tangkai sirih tidak boleh mengarah kepada yang diberikan. Perbuatan yang demikian dianggap tidak beradat (Sinaga et al, 1985). Sirih persembahan yang diberikan kepada roh penghuni Gunung Sibayak tujuannya adalah memohon agar ”beliau” bermurah hati memberikan tanamannya yakni belerang, sekaligus sirih tersebut merupakan ucapan terima kasih. Sirih merupakan alat

Universitas Sumatera Utara

34 komunikasi dengan roh. Sirih, kapur, dan gambir merupakan susunan kekerabatan masyarakat Karo yang terdiri dari kalimbubu (kerabat pemberi isteri), senina (teman semarga), dan anak beru (kerabat penerima isteri). Letak sirih dan tikar persembahan diatas kepala ketika tidur menandakan tanda hormat kepada penjaga roh rumah (Sinaga et al, 1985). 2.3.2. Adat Istiadat Masyarakat Karo mempunyai kebiasaan mengunyah sirih yang biasanya dilakukan terutama pada adat-istiadat. Kebiasaan mengunyah sirih yang berhubungan dengan adat-istiadat digunakan sebagai suguhan untuk orang-orang atau tamu yang dihormati, misalnya pada acara pertemuan atau acara perkawinan (Purba J, 2005). Memakan sirih juga merupakan bagian dari acara ketika membicarakan mahar dan hari pernikahan. Acara pertemuan ini disebut dengan ngembah belo selambar.Selain acara ngembah belo selambar, sirih juga digunakan pada saat nganting manuk. Nganting manuk adalah kelanjutan proses dari acara maba belo selambar dengan membawa seekor ayam sebagai jalan untuk membuka musyawarah (Prinst Darwan et al, 2005). 3.3.3 Dampak Sirih terhadap Kesehatan Piper betle L., merupakan salah satu tanaman obat yang banyak tumbuh di Indonesia dan dikenal dengan nama sirih. Secara tradisional sirih dipakai sebagai obat sariawan, sakit tenggorokan, obat batuk, obat cuci mata, obat keputihan, pendarahan pada hidung/mimisan, mempercepat penyembuhan luka, menghilangkan bau mulut dan mengobati sakit gigi. Daun sirih mempunyai aroma yang khas karena mengandung minyak atsiri 1-4,2%, air protein, lemak. Sirih merupakan tumbuhan obat yang sangat besar manfaatnya. Ia mengandung zat antiseptik pada seluruh bagiannya. Daunnya

Universitas Sumatera Utara

35 banyak digunakan untuk mengobati mimisan, mata merah, keputihan, membuat suara nyaring, dan banyak lagi, termasuk disfungsi ereksi. Khasiat daun sirih sudah banyak dikenal dan telah teruji secara klinis. Hingga kini, penelitian tentang tanaman ini masih terus dikembangkan. Daun sirih telah berabad-abad dikenal oleh nenek moyang kita sebagai tanaman obat berkhasiat. Secara tradisional ini dipakai untuk mengatasi bau badan dan mulut, sariawan, mimisan, gatal-gatal dan koreng, serta mengobati keputihan pada wanita. Ini karena tanaman obat yang sudah dikenal sejak tahun 600 SM ini mengandung zat antiseptik yang mampu membunuh kuman. Kandungan fenol dalam sifat antiseptiknya lima kali lebih efektif dibandingkan dengan fenol biasa. Dalam farmakologi Cina, sirih dikenal sebagai tanaman yang memiliki sifat hangat dan pedas. Secara tradisional mereka menggunakan daun sirih untuk meluruhkan kentut, menghentikan batuk, mengurangi peradangan, dan menghilangkan gatal. Pada pengobatan tradisional India, daun sirih dikenal sebagai zat aromatik yang menghangatkan, bersifat antiseptik, dan bahkan meningkatkan gairah seks. Dengan sifat antiseptiknya, sirih sering digunakan untuk menyembuhkan kaki yang luka karena mengandung styptic buat menahan pendarahan dan vulnerary, yang menyembuhkan luka pada kulit. Juga bisa dikunyah untuk memperbaiki kualitas suara pada penyanyi. Dari hasil penelitian sebagaimana dikutip oleh buku tanaman obat terbitan Kebun Tanaman Obat Karyasari diungkapkan bahwa sirih juga mengandung arecoline di seluruh bagian tanaman. Zat ini bermanfaat untuk merangsang saraf pusat dan daya pikir, meningkatkan gerakan peristaltik, meredakan dengkuran. Pada daunnya terkandung eugenol yang mampu mencegah ejakulasi dini, membasmi jamur Candida albicans, dan bersifat analgesik (meredakan rasa nyeri). Ada juga kandungan tannin pada

Universitas Sumatera Utara

36 daunnya yang bermanfaat mengurangi sekresi cairan pada vagina, melindungi fungsi hati, dan mencegah diare. Khasiat daun sirih juga dalam menyembuhkan keputihan pernah diuji secara klinis. Ini diungkapkan oleh Amir Syarif dari Bagian Farmakologi Universitas Indonesia. Ia mengatakan bahwa daun sirih punya khasiat yang lebih bermakna dibandingkan dengan plasebo. Pengujian melibatkan 40 pasien penderita keputihan yang tidak sedang hamil, menderita diabetes melitus, ataupun penyakit hati dan ginjal. Dua puluh di antaranya mendapatkan daun sirih, sedang sisanya diberi plasebo. Baik daun sirih maupun plasebo itu diberikan pada vagina sebelum pasien tidur selama tujuh hari. Dari 40 pasien tersebut, 22 orang mendapat pemeriksaan ulang, masing-masing 11 mendapat plasebo dan daun sirih. Hasil pengujian ini membuktikan sekitar 90,9% pasien yang mendapat daun sirih dinyatakan sembuh, sedangkan pada kelompok yang diberi plasebo hanya 54,5% saja. Penelitian lain tentang manfaat sirih dilakukan di IPB Bogor Nuri Andarwulan dan kawan-kawan dari Fakultas teknologi Pertanian IPB melakukan penelitian untuk memanfaatkan limbah minyak asiri daun sirih untuk memproduksi zat antioksidan. Ekstrak antioksidan tersebut selama ini masih diimpor. Penelitian ini berpotensi menurunkan nilai impor bahan antioksidan. Di samping itu, produk emulsi yang dihasilkan dalam penelitian itu juga dapat dimanfaatkan untuk industri kecantikan. Sementara itu, ada laporan penelitian yang mengatakan daun sirih mempengaruhi kesuburan pria, seperti dilaporkan oleh Indian Journal of Pharmacology. Efek daun sirih terhadap kesuburan laki-laki ini diujikan pada tikus. Diduga, pemberian ekstrak daun sirih yang mengandung alkohol secara oral pada tikus punya efek antikesuburan. Menurut

Universitas Sumatera Utara

37 laporan tersebut pemberian dosis ekstrak yang meningkat menyebabkan terjadinya penurunan jumlah sperma pada tikus. (http.iptek.net.tanaman obat.phpid.2008) Menurut Tuti Octavira (2008) efek baiknya menyirih terhadap gigi di antaranya untuk menghambat proses pembentukan karies. Sedangkan efek negatif adalah bisa menyebabkan penyakit periodontal yaitu penyakit inflamasi kronik rongga mulut yang umum dijumpai dan pada mukosa mulut. Jika didiamkan, dapat menyebabkan timbulnya lesi-lesi pada mukosa mulut, oral hygiene yang buruk, dan dapat menyebabkan atrofi (penyusutan) pada mukosa lidah. Di negara yang sedang berkembang, kanker pada mukosa pipi dihubungkan dengan kebiasaan mengunyah campuran pinang, daun sirih, kapur dan tembakau. Susur tersebut berkontak dengan mukosa pipi kiri dan kanan selama beberapa jam. Kanker pada gingiva umumnya berasal dari daerah dimana susur tembakau ditempatkan pada orangorang yang memiliki kebiasaan ini. Daerah yang terlibat biasanya lebih sering pada gingiva mandibula daripada gingiva maksila (Daftary et al, 1992). Kanker rongga mulut merupakan kira-kira 3% dari semua keganasan yang terjadi pada kaum pria dan 2% pada kaum wanita. Diperkirakan kasus kanker rongga mulut ini akan bertambah jumlahnya setiap tahun. Penyebab kanker rongga mulut multifaktorial, salah satu faktor kanker rongga mulut adalah kebiasaan menyirih. Zat-zat yang merugikan yang terdapat pada komposisi yang digunakan untuk menyirih dikatakan dapat menyebabkan terjadi kanker rongga mulut. Misalnya zat yang terdapat pada buah pinang, kapur, dan daun sirih. Pada kasus ini dilaporkan 1 kasus pasien penderita kanker rongga mulut akibat

Universitas Sumatera Utara

38 2.4. Teori Scenhandu B. Kar Teori ini mengungkapkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua hal yaitu masyarakat atau individu melakukan suatu perilaku dipengaruhi oleh lingkungan sosial budaya sekitarnya dan juga individu dipengaruhi oleh suatu objek yang membuat individu merasa perilaku tersebut bermanfaat. 2.5. Kerangka Pikir Karakteristik - Usia - Tingkat pendidikan - Pekerjaan - Lingkungan Sosial budaya

Pengetahuan wanita Karo tentang dampak menyirih terhadap kesehatan

Sikap wanita Karo dalam konsumsi sirih

Tindakan dalam menyirih

Dampak positif dan negatif terhadap kesehatan yang dirasakan pada wanita Karo

Dari skema diatas dapat kita lihat pengetahuan wanita Karo tentang dampak menyirih terhadap kesehatan dipengaruhi oleh usia, tingkat pendidikan, pekerjaan dan juga lingkungan. Dari pengetahuan akan terbentuk sikap dalam konsumsi sirih sehingga melalui tindakan akan diketahui dampaknya terhadap kesehatan yang dirasakan pada wanita Karo.

Universitas Sumatera Utara

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->