P. 1
pelimpahan_kewenangan

pelimpahan_kewenangan

|Views: 238|Likes:

More info:

Published by: Herlince Sartika Simorangkir on Sep 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/23/2015

pdf

text

original

PENDELEGA5IAN KEWENANGAN PEMERINTAH DAERAH

KEPADA KECAMATAN DAN KELURAHAN


ßahan Diskusi Iada
¨DikIal Ienalaan KeIenlagaan Ieneiinlah Daeiah¨
ßandung, 7 Aguslus 2OO4





TrI WIdndn W. Utnmn, 5H., MA



DAITAR ISI:

Ienganlai ............................ 1
Uigensi IendeIegasian Kevenangan kepada Kecanalan & KeIuiahan .. 2
Iendekalan dan IoIa IendeIegasian Kevenangan .......... 5
ßeleiapa Kiileiia IendeIegasian Kevenangan ............ 7
IendeIegasian Kevenangan: MasaIah yang MuncuI dan Kenungkinan
InpIenenlasinya ........................ 8
A. IendeIegasian Kevenangan daii ßupali / WaIikola Kepada Canal . 8
ß. IendeIegasian Kevenangan daii Canal Kepada Luiah ...... 1O
Issu Slialegis Sepulai IendeIegasian Kevenangan .......... 12
A. Kaiakleiislik Oiganisasi Kecanalan ............... 12
ß. LseIonisasi }alalan ...................... 14
IendeIegasian Kevenangan: Sludi Kasus Kola ßandung ....... 15
Ienulup ............................ 17



PU5AT KAJIAN DAN DIKLAT APARATUR I (PKP2A I)
LEMBAGA ADMINI5TRA5I NEGARA
2004
Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 1

PENDELEGA5IAN KEWENANGAN PEMERINTAH DAERAH KEPADA
KECAMATAN DAN KELURAHAN
1


Oleh: Tri Widodo W. Utomo, SH., MA
2



PENGANTAR

Semenjak berlakunya otonomi daerah yang luas, Kabupaten/Kota memiliki kewenangan
yang amat besar, yang kemudian disertai dengan transfer kepegawaian, pendanaan dan
asset yang besar pula. Hal ini mendorong Kabupaten/Kota untuk mengembangkan
format organisasinya secara kurang terkendali, sehingga pada akhirnya keluarlah PP No.
8/2003 yang membatasi jumlah perangkat daerah.

Ditengah semangat membangun otonomi, adalah hal ironis bahwa kewenangan dan
sumber daya besar yang dimiliki Kabupaten/Kota kurang berdampak pada
pemberdayaan Kecamatan dan Kelurahan. Padahal Kecamatan dan Kelurahan inilah
yang semestinya diposisikan sebagai ujung tombak pelayanan kepada masyarakat.
Otonomi boleh saja menjadi domein Pemkab/Pemkot, namun front line dari sebagian
fungsi pelayanan mestinya diserahkan kepada Kecamatan dan Kelurahan, disamping
kepada Dinas Daerah. Dengan demikian, Pemkab/Pemkot perlu lebih mengedepankan
fungsi-fungsi steering seperti koordinasi, pembinaan, fasilitasi, dan pengendalian, dari
pada fungsi rowing atau penyelenggaraan langsung suatu urusan.

Dari perspektif administrasi publik, pelimpahan kewenangan dari Bupati/Walikota
kepada Camat, dan dari Camat kepada Kelurahan ini bukan hanya sebuah kebutuhan,
namun lebih merupakan suatu keharusan untuk menciptakan efektivitas dan efisiensi
penyelenggaraan pemerintahan, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan umum di
daerah. Sebab, jika kewenangan dibiarkan terkonsentrasi di tingkat Kabupaten/Kota,
maka akan didapatkan paling tidak dua permasalahan.

Pertama, Pemkab/Pemkot akan cenderung memiliki beban kerja yang terlalu berat
(overload) sehingga fungsi pelayanan kepada masyarakat menjadi kurang efektif. Disisi
lain, sebagai akibat kewenangan yang terlalu besar, maka organisasi Kabupaten/Kota
juga didesain untuk mewadahi seluruh kewenangannya sehingga justru menjadikan
format kelembagaan semakin besar dan tidak efisien.

Kedua, Kecamatan sebagai perangkat Kabupaten/Kota dan Kelurahan sebagai perangkat
Kecamatan akan muncul sebagai organisasi dengan fungsi minimal. Apa yang
dilakukan oleh Kecamatan dan Kelurahan hanyalah tugas-tugas rutin administratif

1
Materi disampaikan pada “Diklat Penataan Kelembagaan Pemerintah Daerah”. PKP2A I – LAN,
Bandung, 7 Agustus 2004.
2
Peneliti LAN dan mahasiswa Program Doktor di Department of International Cooperation (DICOS),
Graduate School of International Development (GSID), Nagoya University, Japan.
Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 2
yang selama ini dijalankan, tanpa ada upaya untuk lebih memberdayakan kedua
lembaga ini. Hal ini sekaligus mengindikasikan adanya pemborosan organisasi yang
luar biasa.


URGENSI PENDELEGASIAN KEWENANGAN KEPADA KECAMATAN &
KELURAHAN

Wacana tentang desentralisasi dan otonomi daerah terus menggelinding. Saking
ramainya perdebatan tentang implementasi dan implikasi otonomi, banyak orang
melupakan hakekat dari otonomi itu sendiri. Jiwa atau semangat otonomi menurut UU
22/1999 adalah kewenangan kesatuan masyarakat hukum di daerah untuk mengatur
urusan rumah tangganya sendiri. Tercakup dalam pengertian kesatuan masyarakat
hukum disini tidak hanya pemerintah Kabupaten/Kota saja, tetapi juga meliputi para
pelaku bisnis lokal, NGO/organisasi kemasyarakatan, lembaga profesi, serta unit
pemerintahan yang lebih kecil seperti Kecamatan, Kelurahan/Desa, bahkan juga Rukun
Warga dan Rukun Tetangga.

Namun dalam prakteknya, otonomi lebih banyak diterima oleh daerah otonom yang
direpresentasikan oleh pemerintah daerah (Kabupaten/Kota), dibanding oleh komponen
masyarakat lokal lainnya. Akibatnya, UU 22/1999 lebih mencerminkan pengaturan
tentang “otonomi pemerintahan daerah” dari pada “otonomi daerah” itu sendiri. Hal
ini bisa disimak dari gelombang devolusi kewenangan yang teramat besar dari pusat
kedaerah, yang disusul dengan penataan kelembagaan yang cenderung gemuk dan
membebani anggaran. Akibatnya, mutu pelayanan publik bukan semakin membaik,
namun beban masyarakatlah yang justru bertambah berat dengan ditetapkannya
berbagai Perda tentang pungutan retribusi.

Penafsiran yang berlebihan – jika tidak dikatakan salah – terhadap otonomi inilah yang
telah melahirkan egoisme kedaerahan yang sempit. Egoisme ini pada dasarnya dapat
dibagi menjadi dua, yakni egoisme keatas (upward egoism) dan egoisme kebawah
(downward egoism).

Kondisi dimana daerah kurang mengindahkan aturan dan bimbingan dari atas, serta
kurang memberdayakan potensi dibawah inilah yang potensial melahirkan sosok pemda
yang tidak demokratis, atau bahkan otoritarian. Tidaklah mengherankan jika kemudian
berkembang gagasan untuk menarik kembali sebagian kewenangan otonomi ke Pusat
(resentralisasi), atau memindahkan titik berat otonomi pada level Propinsi
(reklasifikasi).

Pemerintah sendiri telah menjamin tidak akan melakukan resentralisasi, karena hal ini
memang merupakan kebijakan yang tidak populer dan gegabah. Justru ide reklasifikasi
atau rekalkulasi kewenangan antara Propinsi dan Kabupaten/Kota-lah yang lebih masuk
akal. Jika dalam konsep awal UU 22/1999 Kabupaten/Kota memiliki kewenangan luas
sedang Propinsi terbatas; maka dengan kebijakan reklasifikasi akan terdapat
perimbangan kewenangan yang lebih proporsional. Dan hanya dengan hubungan yang
lebih berimbang inilah dapat dihindarkan egoisme atau otoritarianisme lokal, sekaligus
Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 3
menjamin efektivitas roda pemerintahan dan pembangunan.

Beberapa keuntungan yang diperoleh dari model transfer of power dari pemerintah
Kabupaten/Kota kepada Kecamatan/Kelurahan ini antara lain adalah:

• Beban Pemda dalam penyediaan/pemberian layanan semakin berkurang
karena telah diambil alih oleh Kecamatan atau Kelurahan/Desa sebagai
ujung tombak;
• Pemda tidak perlu membentuk kelembagaan yang besar sehingga dapat
menghemat anggaran;
• Alokasi dan distribusi anggaran lebih merata keseluruh wilayah sehingga
dapat menjadi stimulan bagi pemerataan pembangunan dan pertumbuhan
ekonomi regional;
• Sebagai wahana memberdayakan fungsi Kecamatan atau Kelurahan/Desa
yang selama ini terabaikan.

Uraian diatas menggambarkan bahwa pendelegasian kewenangan kepada kecamatan
akan membawa manfaat tidak saja kepada kecamatan yang menerima limpahan, namun
juga kepada Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Disamping itu, kebijakan untuk
melimpahkan kewenangan kepada unit organisasi yang lebih rendah ini juga memiliki
manfaat pada 3 (tiga) bidang, yakni:

• Politik: menciptakan pemerintah yang demokratis (egalitarian governance)
serta untuk mendorong perwujudann good governance and good society.
• Sosial ekonomi: mengurangi kesenjangan antar wilayah (regional
disparity) atau ketimpangan (inequity), memacu pertumbuhan
pembangunan (economic growth), mendorong prakarsa dan partisipasi
publik, dan sebagainya.
• Administratif: mendorong efisiensi dan efektivitas penyelenggaraann
pemerintahan, mempercepat pelayanan publik, dan mmemeprkuat kinerja
pemerintahan secara umum.



Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 4
2 types of autonomy
local governance components
district /city
government
subdistrict &
village
government
purely private
institutions
semi-govt /
semi-private
institutions
community groups /
neighborhood
association
2 stages of autonomy
A
u
t
o
n
o
m
y

o
f

l
o
c
a
l

g
o
v
e
r
n
m
e
n
t

u
n
i
t

(
r
e
c
e
n
t
)

central role: government units located at the edge of the people
+ –
priority line
A
u
t
o
n
o
m
y

o
f

l
o
c
a
l

c
o
m
m
u
n
i
t
y

u
n
i
t

(
f
u
t
u
r
e
)

70 : 20 : 10 30 : 40 : 30

Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 5

PENDEKATAN DAN POLA PENDELEGASIAN KEWENANGAN

Penetapan suatu kewenangan, pada dasarnya dapat dilakukan melalui 2 (dua)
pendekatan, yakni pendekatan yuridis atau top down, dan pendekatan sosiologis atau
bottom up.

Menurut pendekatan yuridis, kewajiban melimpahkan kewenangan beserta rincian
kewenangan ditentukan secara limitatif melalui peraturan perundang-undangan tertentu.
Dalam hal ini, produk-produk hukum yang mengatur mengenai pelimpahan
kewenangan kepada Kecamatan adalah sebagai berikut:

a. Pasal 66 ayat (4) UU Nomor 22 Tahun 1999 yang berbunyi: “Camat
menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari
Bupati/Walikota”.
b. Lampiran Kepmendagri 158/2004 yang mengatur bahwa kewenangan
pemerintahan yang dapat dilimpahkan oleh Bupati/Walikota kepada Camat
meliputi 5 Bidang dengan 43 rincian kewenangan, yakni:
• Pemerintahan (17 rincian)
• Ekonomi dan Pembangunan (8 rincian)
• Pendidikan dan Kesehatan (8 rincian)
• Sosial dan Kesejahteraan Rakyat (6 rincian)
• Pertanahan (4 rincian)
c. Keputusan Bupati / Walikota suatu daerah otonom tentang “Pelimpahan
sebagian kewenangan pemerintahan kepada Camat”. Contoh:
• Wali Kota Bandung, melalui Keputusan No. 1342 tahun 2001 telah
melimpahkan 19 bidang kewenangan yang dijabarkan menjadi 96 rincian
kewenangan.
• Bupati Bandung, melalui Keputusan No. 8/2004 telah melimpahkan 614
rincian kewenangan.
• Walikota Depok, melalui Raperda Pelimpahan Kewenangan 2003, akan
melimpahkan 23 Bidang dengan 160 rincian kewenangan.

Pada sisi lain, kewenangan dapat juga berasal dari aspiirasi masyarakat tingkat
grassroot atas dasar kemampuan riil dan kebutuhan obyektif mereka. Jika model ini
diterapkan, maka yang ada sesungguhnya bukanlah “pelimpahan atau penyerahan
wewenanag”, melainkan “pengakuan kewenangan”. Kondisi ini serupa dengan model
otonomi yang dianut UU Nomor 22 Tahun 1999, dimana pemerintah Pusat melakukan
pengakuan terhadap kewenangan Kabupaten/Kota (Kepmendagri No. 130-67 Tahun
2002). Memang Kecamatan hanyalah merupakan perangkat daerah dan bukan unit
kewilayahan yang otonom. Namun demi alasan efektivitas dan efisiensi
penyelenggaraan pemerintahan, pendekatan sosiologis (bottom-up) ini penting untuk
dipertimbangkan.

Satu hal yang patut dicermati dari pendekatan yang digunakan dalam pelimpahan
kewenangan tadi adalah tentang besaran kewenangan kecamatan. Terdapat
Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 6
kecenderungan adanya orientasi yang sangat kontras dalam menetapkan besaran
kewenangan. Kepmendagri 158/2004, misalnya, hanya mengatur 43 rincian
kewenangan. Sementara disisi lain, Keputusan Bupati/Walikota memberikan
kewenangan yang jauh lebih besar. Sebagai contoh, rincian kewenangan yang
dilimpahkan oleh Walikota Bandung berjumlah 96 rincian (Keputusan Walikota No.
1342/2001), sedangkan di Kabupaten Bandung sebanyak 614 rincian kewenangan
(Keputusan Bupati No. 8/2004).

Jika pendekatan sosiologis dipakai, ada kemungkinan bahwa besaran kewenangan yang
dihasilkan akan sangat berbeda dibanding melalui pendekatan yuridis. Boleh jadi,
besaran kewenangan menjadi sangat kecil, jika memang potensi kecamatan dan
masyarakatnya belum tergali secara optimal. Sebaliknya, kewenangan tadi bisa saja
lebih besar, tergantung pada kondisi obyektifnya. Intinya adalah, kewenangan
kecamatan akan berjalan secara efektif apabila sesuai dengan kebutuhan dan potensi
yang dimiliki kecamatan tersebut.

Adanya perbedaan orientasi dalam menentukan besaran kewenangan kecamatan tadi
menunjukkan adanya ketidakkonsistenan dalam memetakan potensi dan kebutuhan
kecamatan. Inilah akibat logis yang timbul ketika pendekatan yuridis menjadi pilihan
tunggal dalam proses pelimpahan kewenangan. Sehubungan dengan hal tersebut, untuk
mendekatkan kesenjangan penafsiran yang muncul, maka dua penjelasan berikut
kiranya dapat dipertimbangkan:

1. Ketentuan dalam Kepmendagri No. 158//2004 harus ditafsitrkan sebagai
aturan yang bersifat minimalis. Artinya, peraturan ini hanya mengatur
kewenangan-kewenangan yang dipandang penting dan strategis untuk
dilimpahkan kepada Kecamatan, sementara Bupati/Walikota dapat
mengadopsi dan memodifikasi (menambah, mengurangi, atau mengubah)
sesuai keadaan dan kebutuhan daerahnya.

2. Pelaksanaan kewenangan yang dilimpahkan harus dievaluasi secara
periodik, sehingga dapat diketahui secara pasti kemampuan aparat
kecamatan dalam mengimplementasikan kewenangan tersebut. Selanjutnya,
atas dasar evaluasi ini, dapat ditentukan langkah-langkah assessment yang
diperlukan, baik berupa pengurangan / pencabutan atau penambahan
kewenangan, penyesuaian pemberian sumber daya, dan sebagainya.

Hal krusial lain yang perlu diperhatikan adalah tentang pola pendelegasian kewenangan.
Disini, pada prinsipnya terdapat dua kelompok, yaitu pola homogen dan pola heterogen.
Dalam pola homogen, kecamatan diasumsikan memiliki potensi dan karakteristik
yang relatif sama, sehingga diberikan kewenangan delegatif yang sama pula.
Sedangkan dalam pola heterogen, setiap kecamatan hanya menerima kewenangan yang
disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan, dan kondisi obyektif kecamatan yang
bersangkutan.

Dalam prakteknya, opsi pertama-lah yang banyak diterapkan. Namun, tentu saja pola ini
mengandung kelemahan yang cukup mendasar. Pola ini mengabaikan kondisi dan
Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 7
karakteristik yang berbeda-beda untuk tiap wilayah / kecamatan. Padahal, setipis apapun
perbedaannya, setiap kecamatan pasti memiliki ciri khas yang membedakannya dengan
kecamatan lainnya.

Katakanlah dalam kewenangan bidang pertambangan, tidak semua kecamatan memiliki
potensi tambang. Kecamatan yang tidak memiliki potensi tambang namun tetap diberi
delegasi wewenang untuk mengurus / mengatur bidang ini, adalah sebuah kesia-siaan,
kalau tidak dikatakan kesalahan administrasi. Dampaknya jelas bahwa kewenangan tadi
tidak mungkin dapat dioperasionalkan. Dan jika pendelegasian kewenangan ini
dijadikan sebagai alat ukur menilai kinerja kecamatan, maka dapat dipastikan bahwa
tingkat kinerja kecamatan dalam bidang itu sangat rendah (bahkan nol).

Untuk menghindari hal tersebut, pendelegasian kewenangan dengan pola heterogen
lebih dianjurkan. Meskipun demikian, pola homogen dapat saja diterapkan, namun
harus disertai dengan klausul bahwa kecamatan berhak untuk menyatakan suatu
kewenangan tertentu “tidak dapat dilaksanakan” atas dasar pertimbangan-
pertimbangan yang rasional.


BEBERAPA KRITERIA PENDELEGASIAN KEWENANGAN

Persoalan yang menyangkut besaran kewenangan kecamatan sebagaimana dikemukakan
diatas, juga bersumber dari tidak jelasnya kriteria yang dipakai dalam melimpahkan
kewenangan. Kewenangan kecamatan baik yang tercantum dalam Kepmendagri No.
158/2004 maupun dalam Keputusan Bupati/Walikota, terkesan “turun begitu saja dari
langit”, tanpa didahului oleh forum konsultasi dari bawah. Padahal, tanpa adanya
kriteria yang jelas, maka dapat dipastikan bahwa implementasi kewenangan tadi tidak
dapat berjalan dengan baik.

Untuk menghindari terjadinya kegagalan kebijakan mengenai pelimpahan kewenangan
tadi, maka beberapa kriteria dibawah ini perlu dipertimbangkan secara seksama:

a. Dilihat dari lokus dan kepentingannya, kewenangan tersebut lebih banyak
dioperasionalisasikan di Kecamatan sehingga berhubungan erat dengan
kepentingan strategis Kecamatan yang bersangkutan. Contoh: penanganan
penyakit masyarakat seperti perjudian, PSK, dan lain-lain
b. Dilihat dari fungsi administratifnya, kewenangan tersebut lebih bersifat
rowing (pelaksanaan) dari pada steering (pengaturan), sehingga kurang
tepat jika terdapat campur tangan dari pemerintah Kabupaten/Kota. Contoh:
pemberian ijin IMB (untuk luas tertentu), administrasi kependudukan, dan
lain-lain.
c. Dilihat dari kebutuhan dasar masyarakat, kewenangan tadi benar-benar
dibutuhkan secara mendesak oleh masyarakat setempat. Contoh: pelayanan
sampah dan kebersihan, sanitasi dan kebutuhan air bersih, pendidikan dasar
khususnya yang berkaitan dengan pemberantasan 3 B (Buta huruf, Buta
aksara, dan Buta pendidikan dasar), dan lain-lain.
Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 8
d. Dilihat dari efektivitas penyelenggaraan pemerintahan, suatu kewenangan
hamper tidak mungkin dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota karena alasan
keterbatasan sumber daya. Contoh: perbaikan dan pemeliharaan jalan-jalan
dan jembatan perintis, pelayanan penyuluhan pertanian / KB, dan lain-lain.
e. Dilihat dari penggunaan teknologi, suatu kewenangan tidak membutuhkan
pemakaian teknologi tinggi atau menengah. Contoh: pembinaan usaha kecil
dan rumah tangga (small and micro business), dan lain-lain.
f. Dilihat dari kapasitas, kecamatan memiliki kemampuan yang memadai
untuk melaksanakan kewenangan tersebut, baik dari aspek SDM, keuangan,
maupun sarana dan prasarana.


PENDELEGASIAN KEWENANGAN: MASALAH YANG MUNCUL DAN
KEMUNGKINAN IMPLEMENTASINYA

A. Pendelegasian Kewenangan dari Bupati / Walikota Kepada Camat

Sejak berlakunya UU No. 22/1999, ada beberapa perubahan signifikan yang
menyangkut status, fungsi dan peran kecamatan. Saat ini, Kecamatan bukan lagi
sebagai perangkat kewilayahan yang menyelenggarakan fungsi-fungsi
dekonsentrasi dan tugas pembantuan, namun menjadi perangkat daerah otonom.
Itulah sebabnya, dalam pasal 66 UU No. 22 tahun 1999 diatur bahwa “Camat
menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Bupati/Walikota”.
Ini berarti bahwa Kecamatan berfungsi atau berperan menjalankan sebagian
kewenangan desentralisasi.

Sejalan dengan ketentuan pasal 66 diatas, sungguh patut disyukuri bahwa banyak
Bupati/Walikota di Indonesia yang sudah melakukan pelimpahan kewenangan
kepada Camat di wilayahnya masing-masing. Tujuan utama dari pelimpahan
kewenangan kepada Camat tadi adalah untuk mempercepat proses sekaligus
meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat. Pada saat yang bersamaan,
kebijakan ini akan meringankan beban beban Daerah, sehingga penyelenggaraan
pemerintahan umum diharapkan akan semakin efektif dan efisien. Meskipun
demikian, perlu dicermati bahwa pelimpahan kewenangan tadi jelas membawa
konsekuensi di berbagai hal.

Beberapa aspek yang perlu dikaji lebih mendalam berkaitan dengan kebijakan
tersebut, paling tidak menyangkut 3 dimensi strategis sebagai berikut:

1. Koordinasi Antar Lembaga dan Standarisasi Tata Kerja

Pada umumnya, Keputusan Bupati / Walikota tentang Pendelegasian
Kewenangan kepada Kecamatan mengatur bahwa “kewenangan yang
dilimpahkan kepada Camat dilaksanakan oleh unit organisasi yang ada pada
Kecamatan”. Namun dalam hal-hal yang bersifat teknis operasional, Camat
wajib melakukan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi dengan
Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 9
Dinas Daerah, Cabang Dinas dan UPTD sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Selain itu, diatur pula bahwa “Dinas Daerah dan Lembaga Teknis daerah dalam
kerangka penyelenggaraan kewenangan yang dilimpahkan kepada Camat wajib
berkoordinasi dengan Camat dalam perencanaan, pembiayaan, pelaksanaan,
evaluasi dan pelaporan.
Dalam kaitan dengan koordinasi ini, perlu dipertegas antara tugas dan kewajiban
Kecamatan disatu pihak dengan tugas dan kewajiban Dinas / Cabang Dinas /
UPTD di pihak lain. Hal ini sangat penting agar tidak terjadi tumpang tindih
dalam pelaksanaan kewenangan tertentu.
Dalam hal pemberian IMB misalnya, perlu ada kejelasan tentang apa yg harus
disediakan dan/atau dilakukan Dinas dan Cabang Dinas Bangunan, apa yang
harus disediakan dan/atau dilakukan Kecamatan, serta tata laksana antara kedua
pihak lengkap dengan standar waktu dan sumber pembiayaannya. Tanpa adanya
kejelasan tentang pembagian tugas, tata kerja, standar kerja serta sumber
pendukung, pelimpahan kewenangan dikhawatirkan justru akan
membingungkan masyarakat yang membutuhkan jasa pelayanan publik.

2. Kebutuhan Perimbangan Sumber Daya Keuangan, SDM dan Sarana

Adalah hal yang logis jika pelimpahan kewenangan harus diikuti pula oleh
pemberian sumber-sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan
kewenangan tersebut. Sebagaimana halnya perimbangan sumber daya antara
Pusat dan Daerah, Keputusan Bupati/Walikota tentang Pendelegasian
Kewenangan kepada Kecamatan-pun harus disusul dengan penyusunan konsep
perimbangan sumber daya (keuangan, SDM dan sarana) antara Kabupaten/Kota
dengan seluruh Kecamatan di wilayahnya.
Tanpa adanya penguatan sumber daya, Kecamatan akan mengalami over-load
dalam tugas-tugasnya, dan kewenangan yang dilimpahkan tidak akan dapat
dilaksanakan secara efektif dan efisien. Jika ini terjadi, maka tujuan
pelimpahan kewenangan dapat dikatakan mengalami kegagalan.
Sebagai contoh, Kecamatan tidak mungkin dapat melaksanakan kewenangan
Lingkungan Hidup jika tidak disertai dengan alat uji / alat ukur tingkat
pencemaran air / udara / tanah.

3. Pengembangan / Penguatan Struktur Organisasi Kecamatan

Dengan bertambahnya kewenangan dan sumber-sumber daya yang diperlukan
untuk melaksanakan kewenangan, maka sangatlah wajar jika struktur organisasi
Kecamatan perlu dikembangkan atau diperkuat. Pada saat yang bersamaan,
organisasi pemerintah Kota Bandung (khususnya Dinas / Cabang Dinas dan
Lembaga Teknis yang kewenangannya telah diserahkan kepada Kecamatan),
perlu dirampingkan. Jika kewenangan-kewenangan teknis suatu Dinas / Cabang
Dinas telah dilimpahkan kepada Kecamatan sementara kelembagaannya justru
membengkak dengan dibentuknya cabang-cabang Dinas baru, maka akan terjadi
inkonsistensi antara pemegang dan pelaksana kewenangan.
Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 10
Salah satu prinsip dalam distribusi kewenangan yang harus dijaga adalah tidak
adanya kewenangan yang dimiliki dan / atau dilaksanakan secara
bersama-sama oleh lebih dari satu lembaga. Oleh karena itu, untuk
menghindari kewenangan rangkap tadi, suatu kewenangan mestinya hanya
dilaksanakan oleh lembaga yang memiliki dan/atau diberi delegasi untuk
melaksanakannya.
Adapun pilihan untuk mengembangkan organisasi Kecamatan dapat dipilih
diantara dua opsi berikut:
a. Menetapkan format organisasi secara seragam atau homogen
mengingat tipisnya karakteristik antar Kecamatan di suatu daerah.
b. Menetapkan format organisasi secara heterogen berdasar
tipologi-tipologi tertentu yang dihitung berdasarkan indikator jumlah
penduduk, jumlah kelurahan, luas wilayah, serta sarana / fasilitas
dasar bidang sosial ekonomi.
Kebijakan pemerintah sendiri nampaknya ingin mengkompromikan kedua opsi
tersebut. Hal ini terlihat dari ketentuan Kepmendagri No. 158 Tahun 2004
tentang Pedoman Organisasi Kecamatan, dimana jumlah seksi ditetapkan
sebanyak-banyaknya 5 (lima), dengan 2 (dua) diantaranya adalah Seksi
Pemerintahan dan Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum, namun
nomenklatur ketiga seksi lainnya dapat disesuaikan dengan spesifikasi dan
karakteristik wilayah kecamatan sesuai kebutuhan daerah (pasal 5).
Ketentuan diatas menggambarkan dengan jelas bahwa kebebasan daerah untuk
mendesain format kelembagaan kecamatan, sangatlah terbatas. artinya,
pemerintah Kabupaten / Kota hanya diberi hak untuk menentukan nomenklatur
dari seksi di kecamatan, namun tidak berhak menentukan jumlah seksi atau
besaran organisasi kecamatan.

B. Pendelegasian Kewenangan dari Camat Kepada Lurah

UU No. 22/1999 pasal 67 mengatur bahwa Kelurahan merupakan perangkat
Kecamatan, sehingga wajarlah jika Lurah sebagai Kepala Kelurahan menerima
pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Camat. Kecamatan sendiri
merupakan perangkat Daerah Kabupaten/Kota dan menerima pelimpahan sebagian
kewenangan pemerintahan dari Bupati/Walikota (pasal 66).

Uraian diatas telah menyinggung bahwa tanpa pendelegasian kewenangan kepada
unit kerja yang lebih rendah, Pemerintah Kabupaten / Kota akan memiliki beban
kerja yang terlalu berat sehingga fungsi pelayanan kepada masyarakat menjadi
kurang efektif. Selain itu, Kecamatan sebagai perangkat Kabupaten/Kota dan
Kelurahan sebagai perangkat Kecamatan akan muncul sebagai organisasi dengan
fungsi minimal.

Mengingat hal tersebut, maka pendelegasian atau pelimpahan sebagian wewenang
dari atas (dari Bupati/Walikota ke Camat dan dari Camat ke Lurah) perlu
Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 11
diupayakan seoptimal mungkin. Dalam hal ini, Keputusan Bupati/Walikota tentang
Pelimpahan Kewenangan kepada Camat, perlu dikaji lebih lanjut untuk dapat
dilimpahkan lagi kepada Kelurahan. Sebab, harus diakui bahwa Kecamatan tidak
cukup mampu untuk melaksanakan seluruh kewenangan yang dilimpahkan. Faktor
dukungan sumber-sumber daya (keuangan, SDM dan sarana/prasarana) yang masih
rendah, ditambah dengan belum jelasnya mekanisme kerja penyelenggaraan
kewenangan oleh Kecamatan, jelas akan menjadi hambatan utama dalam
implementasi kebijakan tersebut.

Oleh karena itu, disamping diperlukan adanya kejelasan tentang mekanisme kerja
Kecamatan dengan perangkat Daerah lainnya, juga sangat dibutuhkan adanya
pendistribusian kewenangan (sharing of authority) yang lebih proporsional
antara Kecamatan dengan perangkat dibawahnya, yaitu Kelurahan.

Meskipun demikian, disadari bahwa upaya melakukan pelimpahan sebagian
kewenangan pemerintahan dari Camat kepada Lurah masih menyimpan potensi
masalah atau kendala, antara lain sebagai berikut:

1. Kelurahan selama ini terbiasa menjalankan kewenangan yang bersifat
atributif (attributive authorities), yakni kewenangan-kewenangan yang
melekat pada saat pembentukannya. Akibatnya, pola kerja Kelurahan
terlihat kaku, mekanis dan cenderung kurang dinamis. Oleh karena
itu, jika Kelurahan akan diberi kepercayaan menjalankan kewenangan
tambahan yang bersifat delegatif (delegative authorities), maka perlu
dikaji secara mendalam kewenangan apa saja yang layak dan prospektif
untuk diemban oleh Kelurahan. Sebab, pelimpahan kewenangan yang
asal-asalan justru akan berdampak pada ketidakmampuan Kelurahan
melaksanakan kewenangan tersebut, serta terjadinya penurunan mutu
pelayanan umum.

2. Kondisi obyektif Kelurahan dapat dikatakan kurang mendukung
kebijakan tentang pelimpahan kewenangan pemerintahan kepada
Kelurahan. Jumlah dan kualitas SDM yang minim, sarana kerja yang
sangat konvensional, sumber dana yang terbatas, dan sebagainya
adalah beberapa fakta riil yang perlu diperkuat sebelum pelimpahan
kewenangan direalisasikan. Namun secara logika, pengembangan
kelembagaan akan terlebih dahulu diprioritaskan kepada Kecamatan
mengingat telah dilimpahkannya sebagian kewenangan Walikota
kepada Camat. Setelah kelembagaan dan fungsi baru Kecamatan
berjalan mantap, barulah tahap berikutnya dilakukan pengembangan
dan penguatan kelembagaan Kelurahan.

Mengingat pertimbangan diatas, pelimpahan sebagian kewenangan Camat
kepada Lurah tidak bisa dilaksanakan secara tergesa-gesa, namun perlu dikaji
secara matang khususnya dari kerangka waktunya (time frame). Dengan
demikian, hal ini akan efektif dilaksanakan jika kewenangan yang dilimpahkan
kepada kecamatan sudah dapat terlaksana secara optimal.
Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 12

Satu hal yang perlu dicatat disini adalah, meskipun banyak kendala yang harus diatasi,
namun pemberdayaan Kecamatan dan Kelurahan melalui pelimpahan kewenangan
beserta sumber daya pendukungnya adalah langkah terbaik untuk mewujudkan cita-cita
pemberian otonomi, yakni peningkatan kesejahteraan dan pelayanan umum, serta
kehidupan masyarakat daerah yang lebih demokratis.


ISSU STRATEGIS SEPUTAR PENDELEGASIAN KEWENANGAN

A. Karakteristik Organisasi Kecamatan

Pada umumnya, model kelembagaan di Kabupaten/Kota terdiri dari 4 (empat) jenis
atau fungsi, yakni organisasi Lini (direpresentasikan oleh Dinas), Staf dan Auxiliary
(Sekretriat), Supporting Units (Lembaga Teknis), serta organisasi Kewilayahan /
Teritorial (Kecamatan dan Kelurahan).

Oleh karena jenis dan fungsi dasarnya berbeda, maka kewenangan yang
diemban-pun juga berbeda. Dinas adalah organisasi yang menjalankan tugas-tugas
pokok (kewenangan substantif atau kewenangan material) daerah. Itulah sebabnya,
bidang kewenangan dan nomenklatur dinas dibentuk berdasarkan pertimbangan
sektoral (sektor pertanian, sektor kesehatan, dan sebagainya). Sedangkan Sekretariat
adalah unit organisasi yang bertugas menjalankan fungsi-fungsi pembantuan untuk
mendukung pelaksanaann fungsi lini yang dijalankan dinas. Dengan kata lain,
unit-unit dalam Sekretariat berkewajiban melaksanakan tugas-tugas ketatausahaan
dalam rangka pengambilan kebijakan, seperti Bagian Umum, Bagian Kepegawaian,
Bagian Keuangan, Bagian Bina Pemerintahan, dan sebagainya.

Selanjutnya, Lembaga Teknis berbentuk Badan atau Kantor bertugas melaksanakan
fungsi-fungsi strategis daerah yang belum terakomodasikan oleh pola kelembagaan
yang lain. Fungsii-fungsi yang diemban oleh Lembaga Teknis bukanlah kewenangan
substantif daerah, namun memiliki peran yang sangat penting bagi daerah.
Contohnya adalah Badan Penelitian dan pengembangan, Badan Pengawasan, dan
Badan Perencanaan Daerah. Adapun lembaga kewilayahan pada umumnya lebih
diarahkan sebagai pelaksana tugas bidang “pemerintahan umum” seperti masalah
ketentraman dan ketertiban (tramtib)), administrasi kependudukan, serta pembinaan
kemasyarakatan.

Pada masa UU Nomor 5 Tahun 1974, Kecamatan adalah perangkat dekonsentrasi,
yang bertugas menjalankan tugas pemerintahan umum dan kewenangan yang
dilimpahkan oleh aparat dekonsentrasi yang lebih tinggi, yakni Bupati, Gubernur,
ataupun Menteri. Namun dengan berlakunya UU Nomor 22 Tahun 1999, Kecamatan
berubah menjadi “perangkar daerah”, sehingga secara tidak langsung, berkewajiban
untuk ikut menjalankan sebagian tugas / kewenangan Kabupaten/Kota.


Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 13
Disinilah awal mula perlunya pelimpahan kewenangan kepada Kecamatan. Namun,
dari sini pula-lah kompleksitas itu menjadi semakin rumit. Kecamatan yang masih
berciri organisasi kewilayahan, justru diberi kewenangan yang bersifat sektoral.
Dalam hal ini, terdapat dilema perlu tidaknya Kecamatan menjalankan kewenangan
substantif / material. Sebab, pelimpahan kewenangan substantif kepada kecamatan
akan menimbulkan potensi benturan dengan lembaga-lembaga sektoral (Dinas).
Pada saat yang bersamaan, selain melaksanakan kewenangan substantif (yang diatur
dalam Peraturan Daerah), Dinas juga dapat menerima pelimpahan kewenangan dari
Bupati/Walikota melalui Surat Keputusan.

Jika kita konsisten dengan jenis dan fungsi kecamatan sebagai lembaga kewilayahan
(dibatasi oleh batas geografis dan administratif), maka perlu dipertimbangkan
kemungkinan Kecamatan hanya menyelenggarakan kewenangan / tugas-tugas
bidang “Pemerintahan Umum”. Hal ini sesuai dengan tugas pokok Camat
sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.061/729/TJ tgl.21
Maret 2000 tentang Penataan Perangkat Daerah, yakni:

• Memimpin pelaksanaan kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
di wilayah Kecamatan;
• Membantu Sekretaris Daerah dalam penyiapan informasi mengenai
wilayah Kecamatan yang dibutuhkan dalam perumusan kebijakan bagi
kepala Daerah;
• Mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan penyelenggaraan pelayanan
lintas Kelurahan dan Desa.

Fungsi kecamatan sebagai pelaksana tugas “pemerintahan umum” ini sebenarnya
diakomodir juga dalam Kepmendagri No. 158/2004. hal ini terlihat dari pengaturan
tentang 2 (dua) Seksi limitatif (dinyatakan secara wajib dalam peraturan
perundangan), yakni Seksi Pemerintahan dan Seksi Ketenteraman dan Ketertiban.
Kedua seksi ini, secara substantif termasuk dalam kategori kewenangan bidang
“Pemerintahan Umum”.

Hanya saja, kalau Kecamatan akan diarahkan untuk menjalankan fungsi
“Pemerintahan Umum” saja, maka hal ini tidak sejalan dengan ketentuan pasal 3
Kepmendagri No. 158 Tahun 2004 yang menyatakan bahwa “Camat mempunyai
tugas dan fungsi melaksanakan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan oleh
Bupati/Walikota sesuai karakteristik wilayah, kebutuhan daerah dan tugas
pemerintahan lainnya”. Dengan kata lain, Kepmendagri No. 158 Tahun 2004 ini
cenderung memerintahkan Kecamatan untuk ikut serta menyelenggarakan
kewenangan substantif / material. Dan disinilah letak kekurangkonsistenan
Kepmendagri ini.

Namun jika Kecamatan tetap harus menjalankan kewenangan substantif / material
ini, maka nomenklatur 3 (tiga) Seksi lain di Kecamatan dapat disesuaikan dengan
nomenklatur Asisten di Sekretariat Daerah, yakni:

Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 14
• Seksi Perekonomian, dengan tugas mengkoordinasikan pelaksanaan
kewenangan di bidang-bidang perdagangan dan industri, koperasi dan
UKM, perhubungan, pekerjaan umum, pertanian, kehutanan dan
perkebunan, serta pertambangan dan energi.
• Seksi Kesejahteraan Sosial, dengan tugas mengkoordinasikan
pelaksanaan kewenangan di bidang-bidang kesehatan, agama,
pendidikan, lingkungan hidup, sosial, transmigrasi dan
ketenagakerjaan.
• Seksi Administrasi, dengan tugas mengkoordinasikan pelaksanaan
kewenangan di bidang-bidang hukum dan informasi, kepegawaian,
keuangan, perlengkapan, dan umum.

Dalam hal Kecamatan tetap menjalankan fungsi / kewenangan substantif, maka
jenis atau karakteristik kecamatan sesungguhnya telah berubah dari organisasi
territorial menjadi organisasi lini territorial. Sementara itu, Dinas dapat
dikatakan sebagai organisasi yang bersifat lini teknis.


B. Eselonisasi Jabatan

Dalam prakteknya, eselonering menjadi penghambat bagi upaya mengembangkan
organisasi di tingkat kecamatan dan kelurahan. Seperti diketahui, kebijakan
desentralisasi berimplikasi pada terjadinya transfer pegawai secara berlimpah dari
Pusat ke Daerah. Akibatnya, Kabupaten/Kota mengalami surplus pegawai,
sementara Kecamatan dan Kelurahan tetap mengalami defisit pegawai baik secara
kuantitatif maupun kualitatif. Itulah sebabnya, sebagian pegawai dan jabatan di
tingkat Kabupaten/Kota mestinya didistribusikan lagi hingga tingkat Kecamatan dan
Kelurahan. Namun pelimpahan pegawai ini akan terbentur pada rendahnya jenjang
eselon jabatan di Kecamatan dan Kelurahan, dimana eselon tertinggi di Kecamatan
adalah III-b (Camat), sedang di Kelurahan adalah IV-a (Lurah). Akibatnya, struktur
kepegawaian tidak dapat terdistribusikan secara merata, dan malah cenderung
mengakibatkan pembengkakan organisasi di tingkat Kabupaten/Kota.

Dengan adanya berbagai permasalahan kepegawaian diatas, sudah sewajarnya jika
kebijakan tentang eselonering ini “ditinjau kembali”. Disamping itu, kewenangan
kepegawaian sebaiknya diletakkan pada level propinsi sehingga membuka peluang
mutasi yang lebih luas dalam lingkup regional. Jika kondisi kepegawaian tidak
dibenahi, bukan saja berdampak pada tidak dapat dioptimalkannya SDM daerah,
namun juga menjadi masalah laten bagi implementasi otonomi daerah secara luas
dan berkesinambungan.

Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 15

PENDELEGASIAN KEWENANGAN: STUDI KASUS KOTA BANDUNG

Pada tahun 2001, Walikota Bandung menerbitkan Keputusan No. 1342 tentang
Pelimpahan Sebagian Kewenangan Walikota Bandung kepada Camat. Kebijakan tadi
memberikan 19 bidang dan 96 rincian kewenangan kepada Camat. Kewenangan Kota
Bandung sendiri berjumlah 19 bidang dengan 249 rincian (Perda No. 2/2001). Ini
berarti bahwa kewenangan yang dilimpahkan kepada Camat masih sangat sedikit
(38,6%), dan terdapat kemungkinan untuk menambah kewenangan yang baru pada
waktu-waktu mendatang.

Kewenangan Kota Bandung sendiri sebenarnya belum optimal, karena hanya terdiri dari
249 rincian. Padahal menurut Kepmendagri No. 130-67 Tahun 2002 tentang Pengakuan
Kewenangan Kabupaten dan Kota, kewenangan yang dapat dilaksanakan oleh daerah
terdiri dari 19 bidang dan 1.193 rincian kewenangan.

Apabila dibuat perbandingan antara ketiga peraturan diatas, maka dapat diperoleh
gambaran yang bersifat piramida terbalik. Artinya, kewenangan yang diakui oleh Pusat
sebagai domein kabupaten/kota berjumlah sangat besar, namun ketika diformalisasi
kedalam Perda, kewenangan tadi menjadi mengecil / mengerucut. Dan ketika
kewenangan itu akan dilimpahkan kepada Camat, jumlahnya menjadi sangat kecil.
Dalam bentuk tabel, perbandingan bidang dan rincian kewenangan tadi dapat dilihat
sebagai berikut:

Tabel 1
Perbandingan Bidang dan Rincian Kewenangan Menurut 3 Peraturan

Rincian Kewenangan
No. Bidang Kewenangan Kepmendagri
130-67/2001
Perda
2/2001
SK Walikota
1342/2001
1 Kelautan 101 – –
2 Pertambangan & Energi 151 – –
3 Kehutanan & Perkebunan 110 – –
4 Penataan Ruang 17 – –
5 Permukiman 23 – –
6 Kepariwisataan 106 – –
7 Pertanian 187 8 3
8 Perindustrian & Perdagangan 40 8 3
9 Perkoperasian 18 3 4
10 Penanaman Modal 36 3 4
11 Ketenagakerjaan 56 8 2
12 Kesehatan 27 9 2
13 Pendidikan & Kebudayaan 23 38 7
14 Sosial 24 5 6
15 Pekerjaan Umum 85 44 24
16 Perhubungan 94 25 6
Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 16
17 Lingkungan Hidup 54 10 3
18 Kependudukan 25 9 1
19 Olah Raga 16 2 1
20 Pertanahan – 16 4
21 Politik Dalam Negeri & Adm.
Publik
– 13 1
22 Pengembangan Otda – 16 15
23 Perimbangan Keuangan – 9 5
24 Hukum & Perundangan – 12 3
25 Penerangan – 11 2
Jumlah 1.193 249 96

Catatan:
• Untuk kewenangan bidang Koperasi (No. 9), Penanaman Modal (No. 10)
dan Sosial (No. 14), agak membingungkan karena jumlah kewenangan
yang dilimpahkan kepada Camat ternyata lebih besar dari pada
kewenangan yang dimiliki oleh Kota Bandung.
• Perumusan Perda No. 2/2001 dan Keputusan Walikota No. 1342/2001
nampaknya lebih memperhatikan PP No. 25/2000 tentang Kewenangan
Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom, dan
kurang memperhatikan Kepmendagri No. 130-67/2001. Hal ini terlihat dari
adanya beberapa bidang di Kepmendagri No. 130-67/2001 yang tidak
terakomodir dalam Perda dan Keputusan Walikota. Padahal, Kota Bandung
jelas memiliki kewenangan-kewenangan pada bidang Pariwisata, dan Tata
Ruang.

Menurut hasil penelitian STPDN (2002), implementasi kebijakan tentang pelimpahan
kewenangan tadi tidak dapat berjalan optimal, salah satunya disebabkan belum adanya
Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis). Oleh karena itu. perlu
segera disusun juklak / juknis yang memuat pengaturan mengenai:

• Kelembagaan yang harus menangani di kecamatan (bentuk organisasi,
tupoksi, personil).
• Mekanisme koordinasi dalam pelaksanaannya (intern kecamatan, antar
lembaga).
• Mekanisme pengambilan keputusan dalam pelaksanaannya.
• Mekanisme perencanaannya (prosedur dan instansi yang terlibat).
• Pelaksanaan dan pengendalian (prosedur, pelaksana dan
penanggungjawab).
• Pelaporan (mekanisme, pelapor, penerima laporan).
• Pertanggungjawaban (mekanisme, petugas / penerima tanggungjawab,
bentuk / format pertanggungjawaban).
• Monitoring dan evaluasi (metoda / sistem dan instansi terkait).
• Pengawasan (bentuk, unsur-unsur / obyek pengawasan, petugas / unit
pengawas, instrument pengawasan, dan pelaksanaan pengawasan), dan
sebagainya.
Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 17

PENUTUP

Keberhasilan program pemberdayaan Kecamatan dan Kelurahan melalui pelimpahan
kewenangan, sangat tergantung kepada sejauhmana desain program disusun dengan
baik, dan juga sejauhmana program tadi benar-benar berbasis pada kebutuhan dan
kepentingan masyarakat local (people-centered policy). Salah satu hal yang sangat
krusial disini adalah perlunya ada kejelasan tentang format kelembagaan kecamatan di
masa mendatang, apakah akan dikembangkan menjadi “perangkat semi desentralisasii”
dengan tugas-tugas sektoral substantif, atau tetap pada posisi semula sebagai
“perangkat kewilayahan dibawah kabupaten/kota”.

Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 18
ANALISIS PROSPEK PENYELENGGARAAN KEWENANGAN YANG DILIMPAHKAN KEPADA KECAMATAN
DI KOTA BANDUNG

Dimensi Strategis Pelimpahan Kewenangan
No Nama Kecamatan
Jml.
Kewenangan
Ang. yang
Diberikan*
Jml.
Kelurahan
Jml.
Penduduk
Luas
Wilayah
Jml SDM
Pendukung
1 Sukasari 96 400 juta
2 Cidadap 96 400 juta
3 Coblong 96 400 juta
4 Cibeunying Kaler 96 400 juta
5 Cibeunying Kidul 96 400 juta
6 Sukajadi 96 400 juta
7 Cicendo 96 400 juta
8 Andir 96 400 juta
9 Bandung Kulon 96 400 juta
10 Babakan Ciparay 96 400 juta
11 Astana Anyar 96 400 juta
12 Bojongloa Kaler 96 400 juta
13 Bojongloa Kidul 96 400 juta
14 Bandung Kidul 96 400 juta
15 Regol 96 400 juta
16 Lengkong 96 400 juta
17 Sumur Bandung 96 400 juta
18 Bandung Wetan 96 400 juta
19 Kiara Condong 96 400 juta
20 Batununggal 96 400 juta
21 Cicadas 96 400 juta
22 Margacinta 96 400 juta
Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan
Bandung, 7 Agustus 2004
Tri Widodo W. Utomo, SH., MA 19
23 Rancasari 96 400 juta
24 Arcamanik 96 400 juta
25 Ujung Berung 96 400 juta
26 Cibiru 96 400 juta

*) Data tahun 2002 berdasarkan penjelasan Camat Margacinta, Dra. Tiny Rahayu.

Catatan:
• Dengan mengisi kolom-kolom diatas, akan dapat ditemukan gap antar lembaga/kecamatan. Dalam hal ini, lembaga yang
memiliki jenjang eselon yang sama, mestinya memiliki bobot kewenangan dan beban kerja yang sama pula, atau paling tidak
berada pada range yang tolerable.
• Disampng itu, akan dapat ditemukan pula gap antara beban kerja dengan sumber daya pendukung. Semakin besar gap yang ada,
maka semakin besar pula kemungkinan gagalnya implementasi pelimpahan kewenangan.

Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung, 7 Agustus 2004

$

Oleh: Tri Widodo W. Utomo, SH., MA

2

PENGANTAR
Semenjak berlakunya otonomi daerah yang luas, Kabupaten/Kota memiliki kewenangan yang amat besar, yang kemudian disertai dengan transfer kepegawaian, pendanaan dan asset yang besar pula. Hal ini mendorong Kabupaten/Kota untuk mengembangkan format organisasinya secara kurang terkendali, sehingga pada akhirnya keluarlah PP No. 8/2003 yang membatasi jumlah perangkat daerah. Ditengah semangat membangun otonomi, adalah hal ironis bahwa kewenangan dan sumber daya besar yang dimiliki Kabupaten/Kota kurang berdampak pada pemberdayaan Kecamatan dan Kelurahan. Padahal Kecamatan dan Kelurahan inilah yang semestinya diposisikan sebagai ujung tombak pelayanan kepada masyarakat. Otonomi boleh saja menjadi domein Pemkab/Pemkot, namun front line dari sebagian fungsi pelayanan mestinya diserahkan kepada Kecamatan dan Kelurahan, disamping kepada Dinas Daerah. Dengan demikian, Pemkab/Pemkot perlu lebih mengedepankan fungsi-fungsi steering seperti koordinasi, pembinaan, fasilitasi, dan pengendalian, dari pada fungsi rowing atau penyelenggaraan langsung suatu urusan. Dari perspektif administrasi publik, pelimpahan kewenangan dari Bupati/Walikota kepada Camat, dan dari Camat kepada Kelurahan ini bukan hanya sebuah kebutuhan, namun lebih merupakan suatu keharusan untuk menciptakan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pemerintahan, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan umum di daerah. Sebab, jika kewenangan dibiarkan terkonsentrasi di tingkat Kabupaten/Kota, maka akan didapatkan paling tidak dua permasalahan. Pertama, Pemkab/Pemkot akan cenderung memiliki beban kerja yang terlalu berat (overload) sehingga fungsi pelayanan kepada masyarakat menjadi kurang efektif. Disisi lain, sebagai akibat kewenangan yang terlalu besar, maka organisasi Kabupaten/Kota juga didesain untuk mewadahi seluruh kewenangannya sehingga justru menjadikan format kelembagaan semakin besar dan tidak efisien. Kedua, Kecamatan sebagai perangkat Kabupaten/Kota dan Kelurahan sebagai perangkat Kecamatan akan muncul sebagai organisasi dengan fungsi minimal. Apa yang dilakukan oleh Kecamatan dan Kelurahan hanyalah tugas-tugas rutin administratif

1

Materi disampaikan pada “Diklat Penataan Kelembagaan Pemerintah Daerah”. PKP2A I – LAN, Bandung, 7 Agustus 2004. Peneliti LAN dan mahasiswa Program Doktor di Department of International Cooperation (DICOS), Graduate School of International Development (GSID), Nagoya University, Japan.

2

Tri Widodo W. Utomo, SH., MA

1

banyak orang melupakan hakekat dari otonomi itu sendiri. Jika dalam konsep awal UU 22/1999 Kabupaten/Kota memiliki kewenangan luas sedang Propinsi terbatas. Hal ini bisa disimak dari gelombang devolusi kewenangan yang teramat besar dari pusat kedaerah. otonomi lebih banyak diterima oleh daerah otonom yang direpresentasikan oleh pemerintah daerah (Kabupaten/Kota). serta kurang memberdayakan potensi dibawah inilah yang potensial melahirkan sosok pemda yang tidak demokratis. Kelurahan/Desa. mutu pelayanan publik bukan semakin membaik. Akibatnya. UU 22/1999 lebih mencerminkan pengaturan tentang “otonomi pemerintahan daerah” dari pada “otonomi daerah” itu sendiri. SH. Akibatnya. Kondisi dimana daerah kurang mengindahkan aturan dan bimbingan dari atas. Egoisme ini pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua. NGO/organisasi kemasyarakatan. Utomo. serta unit pemerintahan yang lebih kecil seperti Kecamatan. Tidaklah mengherankan jika kemudian berkembang gagasan untuk menarik kembali sebagian kewenangan otonomi ke Pusat (resentralisasi). bahkan juga Rukun Warga dan Rukun Tetangga. Jiwa atau semangat otonomi menurut UU 22/1999 adalah kewenangan kesatuan masyarakat hukum di daerah untuk mengatur urusan rumah tangganya sendiri. lembaga profesi. tetapi juga meliputi para pelaku bisnis lokal. yang disusul dengan penataan kelembagaan yang cenderung gemuk dan membebani anggaran. 7 Agustus 2004 yang selama ini dijalankan. namun beban masyarakatlah yang justru bertambah berat dengan ditetapkannya berbagai Perda tentang pungutan retribusi. dibanding oleh komponen masyarakat lokal lainnya. atau memindahkan titik berat otonomi pada level Propinsi (reklasifikasi). Dan hanya dengan hubungan yang lebih berimbang inilah dapat dihindarkan egoisme atau otoritarianisme lokal. Pemerintah sendiri telah menjamin tidak akan melakukan resentralisasi. sekaligus Tri Widodo W. URGENSI PENDELEGASIAN KEWENANGAN KEPADA KECAMATAN & KELURAHAN Wacana tentang desentralisasi dan otonomi daerah terus menggelinding. Hal ini sekaligus mengindikasikan adanya pemborosan organisasi yang luar biasa. Tercakup dalam pengertian kesatuan masyarakat hukum disini tidak hanya pemerintah Kabupaten/Kota saja. tanpa ada upaya untuk lebih memberdayakan kedua lembaga ini. karena hal ini memang merupakan kebijakan yang tidak populer dan gegabah. yakni egoisme keatas (upward egoism) dan egoisme kebawah (downward egoism).. Justru ide reklasifikasi atau rekalkulasi kewenangan antara Propinsi dan Kabupaten/Kota-lah yang lebih masuk akal. maka dengan kebijakan reklasifikasi akan terdapat perimbangan kewenangan yang lebih proporsional. Saking ramainya perdebatan tentang implementasi dan implikasi otonomi. atau bahkan otoritarian. Penafsiran yang berlebihan – jika tidak dikatakan salah – terhadap otonomi inilah yang telah melahirkan egoisme kedaerahan yang sempit. MA 2 . Namun dalam prakteknya.Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung.

MA 3 . kebijakan untuk melimpahkan kewenangan kepada unit organisasi yang lebih rendah ini juga memiliki manfaat pada 3 (tiga) bidang. mempercepat pelayanan publik. yakni: • • Politik: menciptakan pemerintah yang demokratis (egalitarian governance) serta untuk mendorong perwujudann good governance and good society. Sosial ekonomi: mengurangi kesenjangan antar wilayah (regional disparity) atau ketimpangan (inequity). Sebagai wahana memberdayakan fungsi Kecamatan atau Kelurahan/Desa yang selama ini terabaikan.. namun juga kepada Kabupaten/Kota yang bersangkutan. • Tri Widodo W. mendorong prakarsa dan partisipasi publik. SH. Pemda tidak perlu membentuk kelembagaan yang besar sehingga dapat menghemat anggaran. 7 Agustus 2004 menjamin efektivitas roda pemerintahan dan pembangunan. Administratif: mendorong efisiensi dan efektivitas penyelenggaraann pemerintahan. Uraian diatas menggambarkan bahwa pendelegasian kewenangan kepada kecamatan akan membawa manfaat tidak saja kepada kecamatan yang menerima limpahan. Disamping itu. dan sebagainya. memacu pertumbuhan pembangunan (economic growth). dan mmemeprkuat kinerja pemerintahan secara umum. Utomo. Beberapa keuntungan yang diperoleh dari model transfer of power dari pemerintah Kabupaten/Kota kepada Kecamatan/Kelurahan ini antara lain adalah: • • • • Beban Pemda dalam penyediaan/pemberian layanan semakin berkurang karena telah diambil alih oleh Kecamatan atau Kelurahan/Desa sebagai ujung tombak.Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung. Alokasi dan distribusi anggaran lebih merata keseluruh wilayah sehingga dapat menjadi stimulan bagi pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi regional.

Utomo.2 types of autonomy Autonomy of local government unit (recent) 70 : 20 : 10 Autonomy of local community unit (future) Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung.. MA – 4 central role: government units located at the edge of the people . SH. 7 Agustus 2004 2 stages of autonomy local governance components 30 : 40 : 30 district /city government subdistrict & village government community groups / neighborhood association priority line purely private institutions semi-govt / semi-private institutions + Tri Widodo W.

Kondisi ini serupa dengan model otonomi yang dianut UU Nomor 22 Tahun 1999. Pasal 66 ayat (4) UU Nomor 22 Tahun 1999 yang berbunyi: “Camat menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Bupati/Walikota”. Menurut pendekatan yuridis. 1342 tahun 2001 telah melimpahkan 19 bidang kewenangan yang dijabarkan menjadi 96 rincian kewenangan. 7 Agustus 2004 PENDEKATAN DAN POLA PENDELEGASIAN KEWENANGAN Penetapan suatu kewenangan. Memang Kecamatan hanyalah merupakan perangkat daerah dan bukan unit kewilayahan yang otonom.Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung. Terdapat Tri Widodo W. SH. 8/2004 telah melimpahkan 614 rincian kewenangan. • Walikota Depok. Contoh: • Wali Kota Bandung. dimana pemerintah Pusat melakukan pengakuan terhadap kewenangan Kabupaten/Kota (Kepmendagri No. Utomo. pendekatan sosiologis (bottom-up) ini penting untuk dipertimbangkan. MA 5 . maka yang ada sesungguhnya bukanlah “pelimpahan atau penyerahan wewenanag”. Namun demi alasan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pemerintahan. yakni pendekatan yuridis atau top down. dan pendekatan sosiologis atau bottom up. kewenangan dapat juga berasal dari aspiirasi masyarakat tingkat grassroot atas dasar kemampuan riil dan kebutuhan obyektif mereka.. produk-produk hukum yang mengatur mengenai pelimpahan kewenangan kepada Kecamatan adalah sebagai berikut: a. melainkan “pengakuan kewenangan”. akan melimpahkan 23 Bidang dengan 160 rincian kewenangan. kewajiban melimpahkan kewenangan beserta rincian kewenangan ditentukan secara limitatif melalui peraturan perundang-undangan tertentu. Pada sisi lain. b. yakni: • Pemerintahan (17 rincian) • Ekonomi dan Pembangunan (8 rincian) • Pendidikan dan Kesehatan (8 rincian) • Sosial dan Kesejahteraan Rakyat (6 rincian) • Pertanahan (4 rincian) c. melalui Keputusan No. • Bupati Bandung. Lampiran Kepmendagri 158/2004 yang mengatur bahwa kewenangan pemerintahan yang dapat dilimpahkan oleh Bupati/Walikota kepada Camat meliputi 5 Bidang dengan 43 rincian kewenangan. Satu hal yang patut dicermati dari pendekatan yang digunakan dalam pelimpahan kewenangan tadi adalah tentang besaran kewenangan kecamatan. Jika model ini diterapkan. Dalam hal ini. Keputusan Bupati / Walikota suatu daerah otonom tentang “Pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan kepada Camat”. pada dasarnya dapat dilakukan melalui 2 (dua) pendekatan. melalui Raperda Pelimpahan Kewenangan 2003. 130-67 Tahun 2002). melalui Keputusan No.

sehingga diberikan kewenangan delegatif yang sama pula. Kepmendagri 158/2004. untuk mendekatkan kesenjangan penafsiran yang muncul. 8/2004).Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung. kewenangan kecamatan akan berjalan secara efektif apabila sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimiliki kecamatan tersebut. Adanya perbedaan orientasi dalam menentukan besaran kewenangan kecamatan tadi menunjukkan adanya ketidakkonsistenan dalam memetakan potensi dan kebutuhan kecamatan. Dalam prakteknya. Ketentuan dalam Kepmendagri No. tentu saja pola ini mengandung kelemahan yang cukup mendasar. sedangkan di Kabupaten Bandung sebanyak 614 rincian kewenangan (Keputusan Bupati No. jika memang potensi kecamatan dan masyarakatnya belum tergali secara optimal. sehingga dapat diketahui secara pasti kemampuan aparat kecamatan dalam mengimplementasikan kewenangan tersebut. MA .. dan kondisi obyektif kecamatan yang bersangkutan. 2. kecamatan diasumsikan memiliki potensi dan karakteristik yang relatif sama. Pelaksanaan kewenangan yang dilimpahkan harus dievaluasi secara periodik. yaitu pola homogen dan pola heterogen. ada kemungkinan bahwa besaran kewenangan yang dihasilkan akan sangat berbeda dibanding melalui pendekatan yuridis. Namun. Utomo. Sebaliknya. Inilah akibat logis yang timbul ketika pendekatan yuridis menjadi pilihan tunggal dalam proses pelimpahan kewenangan. dapat ditentukan langkah-langkah assessment yang diperlukan. kemampuan. penyesuaian pemberian sumber daya. baik berupa pengurangan / pencabutan atau penambahan kewenangan. 1342/2001). Selanjutnya. Artinya. pada prinsipnya terdapat dua kelompok. tergantung pada kondisi obyektifnya. peraturan ini hanya mengatur kewenangan-kewenangan yang dipandang penting dan strategis untuk dilimpahkan kepada Kecamatan. Jika pendekatan sosiologis dipakai. Keputusan Bupati/Walikota memberikan kewenangan yang jauh lebih besar. Boleh jadi. maka dua penjelasan berikut kiranya dapat dipertimbangkan: 1. SH. Intinya adalah. 7 Agustus 2004 kecenderungan adanya orientasi yang sangat kontras dalam menetapkan besaran kewenangan. Sedangkan dalam pola heterogen. kewenangan tadi bisa saja lebih besar. sementara Bupati/Walikota dapat mengadopsi dan memodifikasi (menambah. Sehubungan dengan hal tersebut. misalnya. mengurangi. Dalam pola homogen. Pola ini mengabaikan kondisi dan 6 Tri Widodo W. dan sebagainya. Disini. Sementara disisi lain. opsi pertama-lah yang banyak diterapkan. atau mengubah) sesuai keadaan dan kebutuhan daerahnya. Sebagai contoh. hanya mengatur 43 rincian kewenangan. besaran kewenangan menjadi sangat kecil. setiap kecamatan hanya menerima kewenangan yang disesuaikan dengan kebutuhan. atas dasar evaluasi ini. 158//2004 harus ditafsitrkan sebagai aturan yang bersifat minimalis. rincian kewenangan yang dilimpahkan oleh Walikota Bandung berjumlah 96 rincian (Keputusan Walikota No. Hal krusial lain yang perlu diperhatikan adalah tentang pola pendelegasian kewenangan.

setiap kecamatan pasti memiliki ciri khas yang membedakannya dengan kecamatan lainnya. kewenangan tersebut lebih banyak dioperasionalisasikan di Kecamatan sehingga berhubungan erat dengan kepentingan strategis Kecamatan yang bersangkutan. dan lain-lain. Dan jika pendelegasian kewenangan ini dijadikan sebagai alat ukur menilai kinerja kecamatan. Dilihat dari kebutuhan dasar masyarakat. 158/2004 maupun dalam Keputusan Bupati/Walikota. Buta aksara. 7 Agustus 2004 karakteristik yang berbeda-beda untuk tiap wilayah / kecamatan. tanpa didahului oleh forum konsultasi dari bawah. 7 Tri Widodo W. dan Buta pendidikan dasar). maka dapat dipastikan bahwa tingkat kinerja kecamatan dalam bidang itu sangat rendah (bahkan nol). pola homogen dapat saja diterapkan. Katakanlah dalam kewenangan bidang pertambangan. Dilihat dari lokus dan kepentingannya. administrasi kependudukan. dan lain-lain b. kewenangan tadi benar-benar dibutuhkan secara mendesak oleh masyarakat setempat. PSK. SH. Kecamatan yang tidak memiliki potensi tambang namun tetap diberi delegasi wewenang untuk mengurus / mengatur bidang ini. Dilihat dari fungsi administratifnya. pendidikan dasar khususnya yang berkaitan dengan pemberantasan 3 B (Buta huruf. Untuk menghindari hal tersebut. kewenangan tersebut lebih bersifat rowing (pelaksanaan) dari pada steering (pengaturan). Contoh: pelayanan sampah dan kebersihan. Dampaknya jelas bahwa kewenangan tadi tidak mungkin dapat dioperasionalkan. sanitasi dan kebutuhan air bersih. sehingga kurang tepat jika terdapat campur tangan dari pemerintah Kabupaten/Kota. Padahal. Meskipun demikian. terkesan “turun begitu saja dari langit”. Padahal. maka beberapa kriteria dibawah ini perlu dipertimbangkan secara seksama: a. Kewenangan kecamatan baik yang tercantum dalam Kepmendagri No. dan lain-lain.. Untuk menghindari terjadinya kegagalan kebijakan mengenai pelimpahan kewenangan tadi. adalah sebuah kesia-siaan. setipis apapun perbedaannya. pendelegasian kewenangan dengan pola heterogen lebih dianjurkan. juga bersumber dari tidak jelasnya kriteria yang dipakai dalam melimpahkan kewenangan. BEBERAPA KRITERIA PENDELEGASIAN KEWENANGAN Persoalan yang menyangkut besaran kewenangan kecamatan sebagaimana dikemukakan diatas. maka dapat dipastikan bahwa implementasi kewenangan tadi tidak dapat berjalan dengan baik.Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung. namun harus disertai dengan klausul bahwa kecamatan berhak untuk menyatakan suatu kewenangan tertentu “tidak dapat dilaksanakan” atas dasar pertimbanganpertimbangan yang rasional. MA . kalau tidak dikatakan kesalahan administrasi. Contoh: pemberian ijin IMB (untuk luas tertentu). Contoh: penanganan penyakit masyarakat seperti perjudian. c. tanpa adanya kriteria yang jelas. tidak semua kecamatan memiliki potensi tambang. Utomo.

SH. namun menjadi perangkat daerah otonom. Beberapa aspek yang perlu dikaji lebih mendalam berkaitan dengan kebijakan tersebut. e. Tujuan utama dari pelimpahan kewenangan kepada Camat tadi adalah untuk mempercepat proses sekaligus meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat. Dilihat dari efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. PENDELEGASIAN KEWENANGAN: MASALAH YANG MUNCUL DAN KEMUNGKINAN IMPLEMENTASINYA A. sinkronisasi dan simplifikasi dengan Tri Widodo W. kecamatan memiliki kemampuan yang memadai untuk melaksanakan kewenangan tersebut. 22/1999. Dilihat dari kapasitas. Sejalan dengan ketentuan pasal 66 diatas. suatu kewenangan hamper tidak mungkin dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota karena alasan keterbatasan sumber daya. sungguh patut disyukuri bahwa banyak Bupati/Walikota di Indonesia yang sudah melakukan pelimpahan kewenangan kepada Camat di wilayahnya masing-masing. Contoh: perbaikan dan pemeliharaan jalan-jalan dan jembatan perintis.Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung. Namun dalam hal-hal yang bersifat teknis operasional. Saat ini. 7 Agustus 2004 d. fungsi dan peran kecamatan. Itulah sebabnya. Pendelegasian Kewenangan dari Bupati / Walikota Kepada Camat Sejak berlakunya UU No. ada beberapa perubahan signifikan yang menyangkut status. keuangan. Utomo. dan lain-lain. sehingga penyelenggaraan pemerintahan umum diharapkan akan semakin efektif dan efisien. dan lain-lain. Camat wajib melakukan koordinasi. Keputusan Bupati / Walikota tentang Pendelegasian Kewenangan kepada Kecamatan mengatur bahwa “kewenangan yang dilimpahkan kepada Camat dilaksanakan oleh unit organisasi yang ada pada Kecamatan”. Meskipun demikian. Contoh: pembinaan usaha kecil dan rumah tangga (small and micro business). Ini berarti bahwa Kecamatan berfungsi atau berperan menjalankan sebagian kewenangan desentralisasi. maupun sarana dan prasarana. Koordinasi Antar Lembaga dan Standarisasi Tata Kerja Pada umumnya. MA 8 . dalam pasal 66 UU No. perlu dicermati bahwa pelimpahan kewenangan tadi jelas membawa konsekuensi di berbagai hal. 22 tahun 1999 diatur bahwa “Camat menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Bupati/Walikota”. f. Dilihat dari penggunaan teknologi. paling tidak menyangkut 3 dimensi strategis sebagai berikut: 1. Pada saat yang bersamaan. pelayanan penyuluhan pertanian / KB. integrasi. Kecamatan bukan lagi sebagai perangkat kewilayahan yang menyelenggarakan fungsi-fungsi dekonsentrasi dan tugas pembantuan. baik dari aspek SDM. suatu kewenangan tidak membutuhkan pemakaian teknologi tinggi atau menengah.. kebijakan ini akan meringankan beban beban Daerah.

Kebutuhan Perimbangan Sumber Daya Keuangan.Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung. pelaksanaan. Jika kewenangan-kewenangan teknis suatu Dinas / Cabang Dinas telah dilimpahkan kepada Kecamatan sementara kelembagaannya justru membengkak dengan dibentuknya cabang-cabang Dinas baru. Utomo. perlu dirampingkan. perlu ada kejelasan tentang apa yg harus disediakan dan/atau dilakukan Dinas dan Cabang Dinas Bangunan. maka sangatlah wajar jika struktur organisasi Kecamatan perlu dikembangkan atau diperkuat. tata kerja. evaluasi dan pelaporan. organisasi pemerintah Kota Bandung (khususnya Dinas / Cabang Dinas dan Lembaga Teknis yang kewenangannya telah diserahkan kepada Kecamatan). maka tujuan pelimpahan kewenangan dapat dikatakan mengalami kegagalan. pelimpahan kewenangan dikhawatirkan justru akan membingungkan masyarakat yang membutuhkan jasa pelayanan publik. Selain itu. diatur pula bahwa “Dinas Daerah dan Lembaga Teknis daerah dalam kerangka penyelenggaraan kewenangan yang dilimpahkan kepada Camat wajib berkoordinasi dengan Camat dalam perencanaan. maka akan terjadi inkonsistensi antara pemegang dan pelaksana kewenangan. SDM dan Sarana Adalah hal yang logis jika pelimpahan kewenangan harus diikuti pula oleh pemberian sumber-sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan kewenangan tersebut. Pengembangan / Penguatan Struktur Organisasi Kecamatan Dengan bertambahnya kewenangan dan sumber-sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan kewenangan. Jika ini terjadi. Kecamatan akan mengalami over-load dalam tugas-tugasnya. SDM dan sarana) antara Kabupaten/Kota dengan seluruh Kecamatan di wilayahnya. SH.. Sebagai contoh. standar kerja serta sumber pendukung. pembiayaan. Dalam kaitan dengan koordinasi ini. Pada saat yang bersamaan. 2. Hal ini sangat penting agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan kewenangan tertentu. MA 9 . apa yang harus disediakan dan/atau dilakukan Kecamatan. Sebagaimana halnya perimbangan sumber daya antara Pusat dan Daerah. Dalam hal pemberian IMB misalnya. Tanpa adanya penguatan sumber daya. 7 Agustus 2004 Dinas Daerah. Tri Widodo W. Kecamatan tidak mungkin dapat melaksanakan kewenangan Lingkungan Hidup jika tidak disertai dengan alat uji / alat ukur tingkat pencemaran air / udara / tanah. dan kewenangan yang dilimpahkan tidak akan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Cabang Dinas dan UPTD sesuai dengan tugas dan fungsinya. serta tata laksana antara kedua pihak lengkap dengan standar waktu dan sumber pembiayaannya. perlu dipertegas antara tugas dan kewajiban Kecamatan disatu pihak dengan tugas dan kewajiban Dinas / Cabang Dinas / UPTD di pihak lain. 3. Tanpa adanya kejelasan tentang pembagian tugas. Keputusan Bupati/Walikota tentang Pendelegasian Kewenangan kepada Kecamatan-pun harus disusul dengan penyusunan konsep perimbangan sumber daya (keuangan.

SH. Mengingat hal tersebut. untuk menghindari kewenangan rangkap tadi. pemerintah Kabupaten / Kota hanya diberi hak untuk menentukan nomenklatur dari seksi di kecamatan. luas wilayah. Menetapkan format organisasi secara seragam atau homogen mengingat tipisnya karakteristik antar Kecamatan di suatu daerah. Oleh karena itu. Pemerintah Kabupaten / Kota akan memiliki beban kerja yang terlalu berat sehingga fungsi pelayanan kepada masyarakat menjadi kurang efektif. Pendelegasian Kewenangan dari Camat Kepada Lurah UU No. jumlah kelurahan. 158 Tahun 2004 tentang Pedoman Organisasi Kecamatan. 22/1999 pasal 67 mengatur bahwa Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan. artinya. 7 Agustus 2004 Salah satu prinsip dalam distribusi kewenangan yang harus dijaga adalah tidak adanya kewenangan yang dimiliki dan / atau dilaksanakan secara bersama-sama oleh lebih dari satu lembaga. maka pendelegasian atau pelimpahan sebagian wewenang dari atas (dari Bupati/Walikota ke Camat dan dari Camat ke Lurah) perlu Tri Widodo W. Utomo. namun tidak berhak menentukan jumlah seksi atau besaran organisasi kecamatan. Selain itu. Adapun pilihan untuk mengembangkan organisasi Kecamatan dapat dipilih diantara dua opsi berikut: a. Ketentuan diatas menggambarkan dengan jelas bahwa kebebasan daerah untuk mendesain format kelembagaan kecamatan. dimana jumlah seksi ditetapkan sebanyak-banyaknya 5 (lima). namun nomenklatur ketiga seksi lainnya dapat disesuaikan dengan spesifikasi dan karakteristik wilayah kecamatan sesuai kebutuhan daerah (pasal 5). suatu kewenangan mestinya hanya dilaksanakan oleh lembaga yang memiliki dan/atau diberi delegasi untuk melaksanakannya. B.. Kebijakan pemerintah sendiri nampaknya ingin mengkompromikan kedua opsi tersebut. serta sarana / fasilitas dasar bidang sosial ekonomi. sangatlah terbatas. Kecamatan sendiri merupakan perangkat Daerah Kabupaten/Kota dan menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Bupati/Walikota (pasal 66). sehingga wajarlah jika Lurah sebagai Kepala Kelurahan menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Camat. Menetapkan format organisasi secara heterogen berdasar tipologi-tipologi tertentu yang dihitung berdasarkan indikator jumlah penduduk. Uraian diatas telah menyinggung bahwa tanpa pendelegasian kewenangan kepada unit kerja yang lebih rendah. Kecamatan sebagai perangkat Kabupaten/Kota dan Kelurahan sebagai perangkat Kecamatan akan muncul sebagai organisasi dengan fungsi minimal. MA 10 . Hal ini terlihat dari ketentuan Kepmendagri No. dengan 2 (dua) diantaranya adalah Seksi Pemerintahan dan Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum.Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung. b.

Meskipun demikian. yakni kewenangan-kewenangan yang melekat pada saat pembentukannya. mekanis dan cenderung kurang dinamis. serta terjadinya penurunan mutu pelayanan umum. Oleh karena itu. disadari bahwa upaya melakukan pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Camat kepada Lurah masih menyimpan potensi masalah atau kendala. jelas akan menjadi hambatan utama dalam implementasi kebijakan tersebut. Sebab. antara lain sebagai berikut: 1. Namun secara logika. Sebab. 2. jika Kelurahan akan diberi kepercayaan menjalankan kewenangan tambahan yang bersifat delegatif (delegative authorities). Jumlah dan kualitas SDM yang minim. ditambah dengan belum jelasnya mekanisme kerja penyelenggaraan kewenangan oleh Kecamatan. sarana kerja yang sangat konvensional. Akibatnya. pengembangan kelembagaan akan terlebih dahulu diprioritaskan kepada Kecamatan mengingat telah dilimpahkannya sebagian kewenangan Walikota kepada Camat. hal ini akan efektif dilaksanakan jika kewenangan yang dilimpahkan kepada kecamatan sudah dapat terlaksana secara optimal. Kelurahan selama ini terbiasa menjalankan kewenangan yang bersifat atributif (attributive authorities). Oleh karena itu. dan sebagainya adalah beberapa fakta riil yang perlu diperkuat sebelum pelimpahan kewenangan direalisasikan. pola kerja Kelurahan terlihat kaku. Keputusan Bupati/Walikota tentang Pelimpahan Kewenangan kepada Camat. 11 Tri Widodo W. pelimpahan sebagian kewenangan Camat kepada Lurah tidak bisa dilaksanakan secara tergesa-gesa. Mengingat pertimbangan diatas.Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung. disamping diperlukan adanya kejelasan tentang mekanisme kerja Kecamatan dengan perangkat Daerah lainnya. Faktor dukungan sumber-sumber daya (keuangan. maka perlu dikaji secara mendalam kewenangan apa saja yang layak dan prospektif untuk diemban oleh Kelurahan. Kondisi obyektif Kelurahan dapat dikatakan kurang mendukung kebijakan tentang pelimpahan kewenangan pemerintahan kepada Kelurahan. SDM dan sarana/prasarana) yang masih rendah. juga sangat dibutuhkan adanya pendistribusian kewenangan (sharing of authority) yang lebih proporsional antara Kecamatan dengan perangkat dibawahnya. SH. sumber dana yang terbatas. Dalam hal ini. yaitu Kelurahan. namun perlu dikaji secara matang khususnya dari kerangka waktunya (time frame).. perlu dikaji lebih lanjut untuk dapat dilimpahkan lagi kepada Kelurahan. 7 Agustus 2004 diupayakan seoptimal mungkin. pelimpahan kewenangan yang asal-asalan justru akan berdampak pada ketidakmampuan Kelurahan melaksanakan kewenangan tersebut. harus diakui bahwa Kecamatan tidak cukup mampu untuk melaksanakan seluruh kewenangan yang dilimpahkan. Setelah kelembagaan dan fungsi baru Kecamatan berjalan mantap. Dengan demikian. MA . Utomo. barulah tahap berikutnya dilakukan pengembangan dan penguatan kelembagaan Kelurahan.

Namun dengan berlakunya UU Nomor 22 Tahun 1999. Bagian Bina Pemerintahan. Selanjutnya. Badan Pengawasan. yang bertugas menjalankan tugas pemerintahan umum dan kewenangan yang dilimpahkan oleh aparat dekonsentrasi yang lebih tinggi. yakni peningkatan kesejahteraan dan pelayanan umum. serta pembinaan kemasyarakatan. Kecamatan adalah perangkat dekonsentrasi.Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung. namun memiliki peran yang sangat penting bagi daerah. dan sebagainya). Lembaga Teknis berbentuk Badan atau Kantor bertugas melaksanakan fungsi-fungsi strategis daerah yang belum terakomodasikan oleh pola kelembagaan yang lain. Bagian Keuangan. Bagian Kepegawaian. Pada masa UU Nomor 5 Tahun 1974.. dan sebagainya. Kecamatan berubah menjadi “perangkar daerah”. bidang kewenangan dan nomenklatur dinas dibentuk berdasarkan pertimbangan sektoral (sektor pertanian. Itulah sebabnya. maka kewenangan yang diemban-pun juga berbeda. Supporting Units (Lembaga Teknis). SH. serta organisasi Kewilayahan / Teritorial (Kecamatan dan Kelurahan). MA 12 . Gubernur. Karakteristik Organisasi Kecamatan Pada umumnya. Utomo. dan Badan Perencanaan Daerah. berkewajiban untuk ikut menjalankan sebagian tugas / kewenangan Kabupaten/Kota. Sedangkan Sekretariat adalah unit organisasi yang bertugas menjalankan fungsi-fungsi pembantuan untuk mendukung pelaksanaann fungsi lini yang dijalankan dinas. ISSU STRATEGIS SEPUTAR PENDELEGASIAN KEWENANGAN A. 7 Agustus 2004 Satu hal yang perlu dicatat disini adalah. yakni Bupati. Oleh karena jenis dan fungsi dasarnya berbeda. meskipun banyak kendala yang harus diatasi. model kelembagaan di Kabupaten/Kota terdiri dari 4 (empat) jenis atau fungsi. Fungsii-fungsi yang diemban oleh Lembaga Teknis bukanlah kewenangan substantif daerah. Dengan kata lain. Contohnya adalah Badan Penelitian dan pengembangan. namun pemberdayaan Kecamatan dan Kelurahan melalui pelimpahan kewenangan beserta sumber daya pendukungnya adalah langkah terbaik untuk mewujudkan cita-cita pemberian otonomi. Adapun lembaga kewilayahan pada umumnya lebih diarahkan sebagai pelaksana tugas bidang “pemerintahan umum” seperti masalah ketentraman dan ketertiban (tramtib)). Staf dan Auxiliary (Sekretriat). sehingga secara tidak langsung. ataupun Menteri. unit-unit dalam Sekretariat berkewajiban melaksanakan tugas-tugas ketatausahaan dalam rangka pengambilan kebijakan. seperti Bagian Umum. Tri Widodo W. yakni organisasi Lini (direpresentasikan oleh Dinas). Dinas adalah organisasi yang menjalankan tugas-tugas pokok (kewenangan substantif atau kewenangan material) daerah. serta kehidupan masyarakat daerah yang lebih demokratis. sektor kesehatan. administrasi kependudukan.

Dengan kata lain. MA 13 . Membantu Sekretaris Daerah dalam penyiapan informasi mengenai wilayah Kecamatan yang dibutuhkan dalam perumusan kebijakan bagi kepala Daerah. maka nomenklatur 3 (tiga) Seksi lain di Kecamatan dapat disesuaikan dengan nomenklatur Asisten di Sekretariat Daerah. Kecamatan yang masih berciri organisasi kewilayahan. 158 Tahun 2004 ini cenderung memerintahkan Kecamatan untuk ikut serta menyelenggarakan kewenangan substantif / material. 158 Tahun 2004 yang menyatakan bahwa “Camat mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan oleh Bupati/Walikota sesuai karakteristik wilayah. hal ini terlihat dari pengaturan tentang 2 (dua) Seksi limitatif (dinyatakan secara wajib dalam peraturan perundangan). pelimpahan kewenangan substantif kepada kecamatan akan menimbulkan potensi benturan dengan lembaga-lembaga sektoral (Dinas). Dan disinilah letak kekurangkonsistenan Kepmendagri ini. yakni: Tri Widodo W. Kedua seksi ini. Utomo.. Hal ini sesuai dengan tugas pokok Camat sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.061/729/TJ tgl. secara substantif termasuk dalam kategori kewenangan bidang “Pemerintahan Umum”. Namun. Kepmendagri No. • Fungsi kecamatan sebagai pelaksana tugas “pemerintahan umum” ini sebenarnya diakomodir juga dalam Kepmendagri No. SH.Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung. terdapat dilema perlu tidaknya Kecamatan menjalankan kewenangan substantif / material. maka hal ini tidak sejalan dengan ketentuan pasal 3 Kepmendagri No. 158/2004. Namun jika Kecamatan tetap harus menjalankan kewenangan substantif / material ini. kebutuhan daerah dan tugas pemerintahan lainnya”. yakni: • • Memimpin pelaksanaan kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di wilayah Kecamatan. Jika kita konsisten dengan jenis dan fungsi kecamatan sebagai lembaga kewilayahan (dibatasi oleh batas geografis dan administratif). Pada saat yang bersamaan. dari sini pula-lah kompleksitas itu menjadi semakin rumit. yakni Seksi Pemerintahan dan Seksi Ketenteraman dan Ketertiban. justru diberi kewenangan yang bersifat sektoral. Dalam hal ini. Mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan penyelenggaraan pelayanan lintas Kelurahan dan Desa. selain melaksanakan kewenangan substantif (yang diatur dalam Peraturan Daerah). Sebab. kalau Kecamatan akan diarahkan untuk menjalankan fungsi “Pemerintahan Umum” saja. maka perlu dipertimbangkan kemungkinan Kecamatan hanya menyelenggarakan kewenangan / tugas-tugas bidang “Pemerintahan Umum”. 7 Agustus 2004 Disinilah awal mula perlunya pelimpahan kewenangan kepada Kecamatan.21 Maret 2000 tentang Penataan Perangkat Daerah. Hanya saja. Dinas juga dapat menerima pelimpahan kewenangan dari Bupati/Walikota melalui Surat Keputusan.

Kabupaten/Kota mengalami surplus pegawai. Jika kondisi kepegawaian tidak dibenahi. bukan saja berdampak pada tidak dapat dioptimalkannya SDM daerah. Dengan adanya berbagai permasalahan kepegawaian diatas. MA 14 . koperasi dan UKM. sementara Kecamatan dan Kelurahan tetap mengalami defisit pegawai baik secara kuantitatif maupun kualitatif. eselonering menjadi penghambat bagi upaya mengembangkan organisasi di tingkat kecamatan dan kelurahan. Akibatnya.Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung. Utomo. dengan tugas mengkoordinasikan pelaksanaan kewenangan di bidang-bidang perdagangan dan industri. pendidikan. Seksi Administrasi. 7 Agustus 2004 • Seksi Perekonomian. perlengkapan. kepegawaian. maka jenis atau karakteristik kecamatan sesungguhnya telah berubah dari organisasi territorial menjadi organisasi lini territorial. Namun pelimpahan pegawai ini akan terbentur pada rendahnya jenjang eselon jabatan di Kecamatan dan Kelurahan. perhubungan. dimana eselon tertinggi di Kecamatan adalah III-b (Camat). sosial. • • Dalam hal Kecamatan tetap menjalankan fungsi / kewenangan substantif. dan malah cenderung mengakibatkan pembengkakan organisasi di tingkat Kabupaten/Kota. transmigrasi dan ketenagakerjaan. SH. serta pertambangan dan energi. Tri Widodo W. pekerjaan umum. Itulah sebabnya. pertanian. kewenangan kepegawaian sebaiknya diletakkan pada level propinsi sehingga membuka peluang mutasi yang lebih luas dalam lingkup regional. Eselonisasi Jabatan Dalam prakteknya. sudah sewajarnya jika kebijakan tentang eselonering ini “ditinjau kembali”. dan umum. Akibatnya. sebagian pegawai dan jabatan di tingkat Kabupaten/Kota mestinya didistribusikan lagi hingga tingkat Kecamatan dan Kelurahan. Dinas dapat dikatakan sebagai organisasi yang bersifat lini teknis. agama. B. namun juga menjadi masalah laten bagi implementasi otonomi daerah secara luas dan berkesinambungan. Seperti diketahui. lingkungan hidup. struktur kepegawaian tidak dapat terdistribusikan secara merata. Sementara itu. kebijakan desentralisasi berimplikasi pada terjadinya transfer pegawai secara berlimpah dari Pusat ke Daerah. sedang di Kelurahan adalah IV-a (Lurah).. Seksi Kesejahteraan Sosial. keuangan. kehutanan dan perkebunan. dengan tugas mengkoordinasikan pelaksanaan kewenangan di bidang-bidang hukum dan informasi. dengan tugas mengkoordinasikan pelaksanaan kewenangan di bidang-bidang kesehatan. Disamping itu.

Ini berarti bahwa kewenangan yang dilimpahkan kepada Camat masih sangat sedikit (38. 130-67 Tahun 2002 tentang Pengakuan Kewenangan Kabupaten dan Kota.6%).. Utomo. perbandingan bidang dan rincian kewenangan tadi dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 1 Perbandingan Bidang dan Rincian Kewenangan Menurut 3 Peraturan No. SH. Padahal menurut Kepmendagri No. Apabila dibuat perbandingan antara ketiga peraturan diatas. Kewenangan Kota Bandung sendiri sebenarnya belum optimal. 2/2001). 1342 tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan Walikota Bandung kepada Camat. jumlahnya menjadi sangat kecil.Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung. kewenangan yang dapat dilaksanakan oleh daerah terdiri dari 19 bidang dan 1. Dan ketika kewenangan itu akan dilimpahkan kepada Camat. kewenangan tadi menjadi mengecil / mengerucut.193 rincian kewenangan. MA 15 . Dalam bentuk tabel. Artinya. Kewenangan Kota Bandung sendiri berjumlah 19 bidang dengan 249 rincian (Perda No. namun ketika diformalisasi kedalam Perda. Kebijakan tadi memberikan 19 bidang dan 96 rincian kewenangan kepada Camat. karena hanya terdiri dari 249 rincian. 7 Agustus 2004 PENDELEGASIAN KEWENANGAN: STUDI KASUS KOTA BANDUNG Pada tahun 2001. Walikota Bandung menerbitkan Keputusan No. kewenangan yang diakui oleh Pusat sebagai domein kabupaten/kota berjumlah sangat besar. maka dapat diperoleh gambaran yang bersifat piramida terbalik. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Bidang Kewenangan Kelautan Pertambangan & Energi Kehutanan & Perkebunan Penataan Ruang Permukiman Kepariwisataan Pertanian Perindustrian & Perdagangan Perkoperasian Penanaman Modal Ketenagakerjaan Kesehatan Pendidikan & Kebudayaan Sosial Pekerjaan Umum Perhubungan Rincian Kewenangan Kepmendagri Perda SK Walikota 130-67/2001 2/2001 1342/2001 101 – – 151 – – 110 – – 17 – – 23 – – 106 – – 187 8 3 40 8 3 18 3 4 36 3 4 56 8 2 27 9 2 23 38 7 24 5 6 85 44 24 94 25 6 Tri Widodo W. dan terdapat kemungkinan untuk menambah kewenangan yang baru pada waktu-waktu mendatang.

petugas / unit pengawas. implementasi kebijakan tentang pelimpahan kewenangan tadi tidak dapat berjalan optimal. instrument pengawasan. SH. 1342/2001 nampaknya lebih memperhatikan PP No. Penanaman Modal (No. 7 Agustus 2004 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Lingkungan Hidup Kependudukan Olah Raga Pertanahan Politik Dalam Negeri & Adm. bentuk / format pertanggungjawaban). salah satunya disebabkan belum adanya Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis). Publik Pengembangan Otda Perimbangan Keuangan Hukum & Perundangan Penerangan Jumlah 54 25 16 – – – – – – 1. unsur-unsur / obyek pengawasan. antar lembaga). Mekanisme koordinasi dalam pelaksanaannya (intern kecamatan. Utomo. dan kurang memperhatikan Kepmendagri No. Kota Bandung jelas memiliki kewenangan-kewenangan pada bidang Pariwisata. 16 Tri Widodo W. dan sebagainya. 130-67/2001 yang tidak terakomodir dalam Perda dan Keputusan Walikota. 2/2001 dan Keputusan Walikota No. 9). Mekanisme perencanaannya (prosedur dan instansi yang terlibat).. dan pelaksanaan pengawasan). tupoksi. Hal ini terlihat dari adanya beberapa bidang di Kepmendagri No. Monitoring dan evaluasi (metoda / sistem dan instansi terkait). penerima laporan). 14). 25/2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom. dan Tata Ruang. perlu segera disusun juklak / juknis yang memuat pengaturan mengenai: • • • • • • • • • Kelembagaan yang harus menangani di kecamatan (bentuk organisasi. Mekanisme pengambilan keputusan dalam pelaksanaannya. petugas / penerima tanggungjawab. Pelaksanaan dan pengendalian (prosedur. Menurut hasil penelitian STPDN (2002). 130-67/2001. pelaksana dan penanggungjawab). Oleh karena itu. agak membingungkan karena jumlah kewenangan yang dilimpahkan kepada Camat ternyata lebih besar dari pada kewenangan yang dimiliki oleh Kota Bandung. MA . 10) dan Sosial (No. Pertanggungjawaban (mekanisme. Padahal. pelapor. • Perumusan Perda No. Pelaporan (mekanisme.193 10 9 2 16 13 16 9 12 11 249 3 1 1 4 1 15 5 3 2 96 Catatan: • Untuk kewenangan bidang Koperasi (No. personil). Pengawasan (bentuk.Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung.

Salah satu hal yang sangat krusial disini adalah perlunya ada kejelasan tentang format kelembagaan kecamatan di masa mendatang..Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung. atau tetap pada posisi semula sebagai “perangkat kewilayahan dibawah kabupaten/kota”. Utomo. SH. MA 17 . Tri Widodo W. apakah akan dikembangkan menjadi “perangkat semi desentralisasii” dengan tugas-tugas sektoral substantif. sangat tergantung kepada sejauhmana desain program disusun dengan baik. dan juga sejauhmana program tadi benar-benar berbasis pada kebutuhan dan kepentingan masyarakat local (people-centered policy). 7 Agustus 2004 PENUTUP Keberhasilan program pemberdayaan Kecamatan dan Kelurahan melalui pelimpahan kewenangan.

7 Agustus 2004 ANALISIS PROSPEK PENYELENGGARAAN KEWENANGAN YANG DILIMPAHKAN KEPADA KECAMATAN DI KOTA BANDUNG Dimensi Strategis Pelimpahan Kewenangan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Nama Kecamatan Sukasari Cidadap Coblong Cibeunying Kaler Cibeunying Kidul Sukajadi Cicendo Andir Bandung Kulon Babakan Ciparay Astana Anyar Bojongloa Kaler Bojongloa Kidul Bandung Kidul Regol Lengkong Sumur Bandung Bandung Wetan Kiara Condong Batununggal Cicadas Margacinta Jml. SH.. Kewenangan 96 96 96 96 96 96 96 96 96 96 96 96 96 96 96 96 96 96 96 96 96 96 Ang. Penduduk Luas Wilayah Jml SDM Pendukung Tri Widodo W. Utomo. MA 18 .Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung. yang Diberikan* 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta Jml. Kelurahan Jml.

atau paling tidak berada pada range yang tolerable. lembaga yang memiliki jenjang eselon yang sama. Tri Widodo W. • Disampng itu. MA 19 .. maka semakin besar pula kemungkinan gagalnya implementasi pelimpahan kewenangan. SH. Dra. Utomo. akan dapat ditemukan pula gap antara beban kerja dengan sumber daya pendukung.Pendelegasian Kewenangan Pemda Kepada Kecamatan & Kelurahan Bandung. Tiny Rahayu. mestinya memiliki bobot kewenangan dan beban kerja yang sama pula. Catatan: • Dengan mengisi kolom-kolom diatas. Semakin besar gap yang ada. akan dapat ditemukan gap antar lembaga/kecamatan. Dalam hal ini. 7 Agustus 2004 23 24 25 26 Rancasari Arcamanik Ujung Berung Cibiru 96 96 96 96 400 juta 400 juta 400 juta 400 juta *) Data tahun 2002 berdasarkan penjelasan Camat Margacinta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->