P. 1
Pedoman_teknik2146 Topografi Untuk Pek Jalan & Jembatan - Vol 1

Pedoman_teknik2146 Topografi Untuk Pek Jalan & Jembatan - Vol 1

|Views: 404|Likes:
Published by se4lander

More info:

Published by: se4lander on Sep 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/20/2013

pdf

text

original

PEDOMAN

No:

OlO-A / PW / 2004

Pengukuran topografi untuk pekerjaan jalan danjembatan

Buku 1 Penjelasan Umum

DEPARTEMEN DIREKTORAT

PERMUKIMAN JENDERAL

DAN

PRASARANA

WILAYAH

PRASARAl\A

\VILAYAH

PRAKATA

Dalam rangka mendukung terwujudnya peningkatan kualitas pelaksanaan pembangunan dibidang prasarana jalan agar diperoleh hasil yang tepat mutu, tepat waktu . dan tepat biaya diperlukan aturan yang berupa NSPM (Norma, Standar, Pedoman, dan Manual) di bidang prasarana jalan.

Dengan diterbitkannya buku Pedoman Pengukuran Topografi untuk Pekerjaan Jalan dan Jembatan ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan para perencana, pengawas maupun para pelaksana mengenai pengukuran topografi untuk pekerjaan jalan danjembatan. Pedoman Pengukuran Topografi untuk Pengukuran Jalan dan jembatan ini, terdiri dari 4 (empat) buku yaitu: Buku 1 : Penjelasan Umum Buku 2 : Prinsip Dasar Pengukuran dan Perencanaan Topografi Buku 3 : Pelaksanaan Pengukuran Topografi Buku 4 : Pengenalan Beberapa Alat Ukur, dimana keempat buku 1111 merupakan satu kesatuan yang saling terkait.

Apabila dalam pelaksanaannya dijumpai k ekurangan / k ekeliruan dari pedoman ini, akan dilakukan penyempumaan di kemudian hari .

..'~:.=~.
',~ '':',:-,Jlendrianto Notosoegondo

1. 3. 3.18.11. titik kontrol horizontal 3. 3. Pengukuran perencanaan jalan 6.1.5.13.12. Sistematika pedoman 5.15. ~ ascii data recorder down load edm (electronic distance measure) ets (electronic total station) file batch ground model internal memory card gps (global positioning system) 3.7.3. 3.6. 3.DAFTAR lSI Prakata 1.16. 3.10. 3. titik kontrol horizontal 4.20.4.14. 3. Penjelasan umum 6. triangulated irregular networks (tin) 3.17. survey gps 3. Istilah dan definisi 3.8. metode poligon 3. sipat datar 3. Ruang Iingkup 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 2. Acuan normative 3. raw data 3.19. Persiapan 4 4 4 5 5 5 5 5 6 6 8 8 . sudut horizontal 3. surface 3.2.9. teodolit 3. jaring kontrol horizontal 3.

7. 7.8. 7. Pengukuran pelaksanaan jalan 8. 9. 8. 6. 7.3. Pengukuran perencanaan jembatan 7.1.1. II . 6. 6.1.4. 6.1.6.5.drawing Pengukuran stake-out untuk rencana pembebasan lahan Pengukuran stake-out untuk monitoring pelaksanaan konstruksi 9. Pengukuran stake-out untuk center line.5. Pengukuran stake-out untuk monitoring pelaksanaan 20 20 20 20 .2.6.3.1. posisi abutmen.3. Persiapan personil 6. 8.4.10.. 7. 7.7. 6.1. Pengukuran pelaksanaan pembangunan jembatan 9. 6. 8. Persiapan bahan dan peralatan 6. Pemasangan monumen Pengukuran kerangka kontrol vertikal Pengukuran kerangka kontrol horizontal Pengukuran penampang memanjang jalan Pengukuran penampang melintang jalan Pengukuran penampang melintang sungai Pengukuran situasi Pengikatan titik-titik referensi 8.4. " 8 8 9 9 10 11 12 12 13 13 14 14 15 15 16 16 17 17 17 18 18 19 19 19 Survey pendahuluan Pemasangan monumen Pengukuran kerangka kontrol vertikal Pengukuran kerangka kontrol horizontal Pengukuran penampang memanjang Pengukuran penampang melintang Pengukuran situasi Pengukuran azirnut jurusan Pengukuran pengikatan titik-titik referensi 6.8. 6. posisi pier dan elevasi jembatan. Pengukuran stake-out untuk center line Pengukuran stake-out untuk pembuatan shop.2.6.7.2.2. 7.2.9. 7.

2. Penggambaran 11.1. 11. Pengolahan data 21 22 22 23 11. Penggambaran secara manual Penggambaran secara digital III .10.

Acuan normative SNI 19-6724-2002 : Jarinq kontrol horizontal .1 ascii American Standard Code for Information Interchange.: di lapangan. Istilah dan definisi 3.1. Buku ini menjelaskan secara gans besar mengenai pengukuran topografi pada pekerjaaan jalan dan jembatan. Ruang lingkup Penyusunan laporan ini dibagi menjadi empat buku. mulai dan tahap persiapan. :~ 3. dengan tujuan agar pembaca dapat lebih mudah membaca buku yang sesuai dengan bahasan yang diperlukan. pengukuran . Buku I ini memuat sistematika pedoman dan penjelasan umum yang terdapat dalam buku II sampai dengan buku IV. 1 dari 23 . eara merawat dan cara melakukan kalibrasi. karena masing-masing buku menyajikan hal yang berbeda substansinya. Buku ini juga membahas berbagai macam alat ukur topografi teristris yang meliputi pengenalan alat. kedalaman sungai dengan menggunakan alat ukur echosounder 2. :.. serta pengukuran -pengukuran yang menunjang pengukuran topogratl teristris bidang jalan dan jembatan. sampai dengan pengolahan data dan penggambaran. seperti pengukuran posisi dengan teknologi GPS dan pengukuran . suatu format file yang bisa dibaca di semua program komputer.

4 edm (electronic distance measure) alat ukur jarak yang menggunakan pancaran gelombang elektromagnetik. 2 dari 23 . untuk memfungsikan alat ini dihubungkan dengan kabel.6 file batch file data yang berformat ASCII.2 data recorder alat bantu pada alat ETC (electronic total station) yang berfungsi sebagai penyimpan data hasil pengukuran.' data dari data recorder atau internal memory card 3. 3.3 \- download proses tranfer/pengiriman ke computer . hasil penghitungan dengan akan menggunakan program khusus survay topografi yang selanjutnya digunakan dalam penggambaran topografi secara digital. Alat ini berada diluar (tersendiri) atau tidak menjadi satu dengan alat ETC (electronic total station).5 ets (electronic total station) alat ukur jarak yang menggunakan pancaran gelombang elektromagnetik yang telah terintegrasi dengan alat pembacaan sudut digital. 3.3. file in. 3. ~. .

tergantung pada waktu dan 3. OEM file ( digital elevation model) digunakan untuk menyimpan dan memindahkan informasi pennukaan topografi.3.8 internal memory card kartu elektonik tambahan pengukuran yang berfungsi sebagai penyimpan data hasif 3. 3 dari 23 .7 ground model pembentukan model dari beda tinggi pennukaan tanah (kondisi lapangan) yang diukur. OEM file berisi data infonnasi koordinat XYZ 3.10 jaring kontrol horizontal sekumpulan titik kontrol horizontal yang satu sarna lainnya terikatkan dengan data ukuran jarak dan/atau metode sudut. dan koordinatnya ditentukan tertentu dalam suatu sisitem dengan referensi pengukuran/pengamatan koordinat horizontal tertentu.9 gps (global positioning system) sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat yang didesain untuk memberikan posisi tiga dimensi dan kecepatan serta infonnasi mengenai waktu secara kontinyu diseluruh dunia kepada banyak orang secara simultan tanpa cuaca.

11 metode poligon metode penentuan posisi dua dimensi secara terestris dan rangkaian titik-titik yang membentuk ditentukan poligon. 3.13 sudut horizontal sudut pada bidang horizontal yang diperoleh dan bacaan piringan horizontal terhadap dua titik yang berturutan.12 raw data format data yang di hasilkan dan hasil pengukuran yang menggunakan alat Total Station yang mana datanya tersimpan dalam intemal memory card atau data recorder/data co/ector. N).14 sipat datar alat untuk mengukur bed a tinggi antara dua titik atau lebih. horizontal di titik-titik berdasarkan pengamatan poligon serta jarak horizontal antar titik yang berdampingan. Y) atau (E. yang koordinat titik-titik sudut-sudut (X.15 surface kenampakan permukaan tanah yang diperoleh dan kumpulan data dan ground model hasil dan interpolasinya diantara 3 titik koordinat tanah.3. 4 dari 23 . 3. 3. 3.

yaitu E (timur) dan N (utara) 3. 3.16 survey gps survey penentuan posisi dengan pengamatan satelit GPS.3. Hubungan garisgaris ini adalah interpolasi dari 2 titik tersebut. 3.20 titik kontrol horizontal titik kontrol yang koordinatnya dinyatakan dalam sistim koordinat horizontal yang sifatnya dua-dimensi. yang merupakan proses penentuan koordinat dari sejumlah titik terhadap beberapa buah titik yang telah diketahui koordinatnya dengan menggunakan metode penentuan posisi deferensial (diferential positioning) serta data pengamatan fase (carier phase) dari sinyal GPS. serta koordinat dalam bidang proyeksi peta. dan dalam hal ini ada dua jenis koordinat koordinat horizontal yang umum digunakan : koordinat geodetic dua-dimensi.19 triangulated irregular networks (tin) TIN atau jaring-jaring segitiga yang tidak beraturan ini adalah garis-garis elevasi yang menghubungkan diantara 2 titik yang terdekat. yaitu <p (Iintang) dan x (bujur). dan dalam hal ini ada dua jenis koordinat 5 dari 23 .17 titik kontrol horizontal titik kontrol yang koordinatnya dinyatakan dalam sistim koordinat horizontal yang sifatnya dua-dimensi.18 teodolit alat ukur yang digunakan untuk mengukur sudut horizontal dan sudut vertikal. 3.

penjelasan umum pengukuran untuk perencanaan dan pelaksanaan jalan dan jembatan. .koordinat horizontal yang umum digunakan : koordinat geodetik dua-dimensi. (bujur). . Penjelasan umum Pada buku II dibahas mengenai prinsip-prinsip dasar pengukuran topografi. cara serta tahapan pengukuran topografi pada pekerjaan perencanaan jalan dan jembatan Prinsip -prinsip dasar pengukuran topografi teristris antara lain: • • • • pengukuran jarak pengukuran sudut pengukuran beda tinggi pengukuran-pengukuran yang merupakan gabungan dari pengukuran jarak. yaitu E (timur) dan N (utara) 4. pengukuran kedalaman dengan echosounding 5.buku I sistematika pedoman. serta koordinat dalam bidang proyeksi peta. yaitu cp (Iintang) dan A. sudut dan beda tinggi Tahapan- tahapan dan prosedur pengukuran topografi teristris yang dilakukan untuk pekerjaan perencanaan jalan dan jembatan meliputi: 6 dari 23 . pengukuran GPS.buku II prinsip dasar pengukuran topografi dan pengukuran topografi pada pekerjaan perencanaan jalan dan jembatan.buku IV pengukuran topografi pada pelaksanaan jalan dan jembatan. Sistematika pedoman topografi pada pekerjaan jalan dan Laporan pedoman teknik pengukuran jembatan terdiri dari empat buku yaitu : . alat ukur topografi.buku III .

bahan/alat. pengukuran mengimplementasikan gambar rencana (design drawing) dengan kondisi lapangan sebenamya. perawatan.• • • • tahap persia pan (personil. pengukuran untuk pembuatan shop drawing. Buku IV alat ukur topografi. alat ukur teodolit. yang meliputi pengenalan terhadap fungsi-fungsi alat serta cara pemakaian. alat ukur EDMIETS. Untuk menunjang pengukuran pengukuran pengukuran topografi teristris. Pada buku ini dibahas mengenai pengenalan alat ukur topografi. stake-out posisi abutment dan pier jembatan. Pengukuran stake out. tahap survey/pengukuran (survey pendahuluan dan survey detail) tahap pengolahan data tahap penggambaran Pada buku III dibahas mengenai pengukuran topografi pelaksanaan jalan dan jembatan. pembebasan lahan. pada buku ini juga dikenalkan posisi (koordinat) dengan menggunakan metode GPS. pengukuran steke-out untuk monitoring pelaksanaan konstruksi. penentuan batas ROW. kalibrasi berikut dengan formulir kalibrasinya. pengukuran GPS. Pengukuran stake out untuk pelaksanaan jembatan meliputi. pengukuran kedalaman dengan echosounding. alat ukur sipat datar. dengan bantuan titik-titik tetap yang ada di lapangan dari hasil pengukuran topografi sebelumnya. Pengenalan alat ukur topografi dilakukan terhadap alat-alat ukur untuk pengukuran topografi teristris seperti. dan administrasi). antara lain bertujuan untuk penentuan center line. 7 dari 23 . Pengukuran pengukuran topografi untuk yaitu pekerjaan pelaksanaan yang untuk pekerjaan jalan dilakukan bersifat untuk steke-out. serta kedalaman sungai dengan metode pengukuran echosounding (perum gema). maupun pengukuran untuk monitoring pelaksanaan konstruksi. pengukuran steke-out untuk center line.

Alat EDM (electronic distance measure) I alat ukur ETC (elektronic total station) untuk pengukuran jarak dengan ketelitian antara 2mm + 2ppm x 0 sampai dengan 5 mm + 5ppm x D. almanak matahari untuk tahun berjalan yang diterbitkan oleh institusi yang berwenang. alat ukur jarak dan alat ukur sipat datar.1. data koordinat nasional (X.1. Alat sipat datar yang diperlukan adalah sipat datar otomatis atau yang 8 dari 23 . Alat ukur sudut yang diperlukan adalah teodolit dengan tingkat ketelitian bacaan sudut minimal 1" (detik) untuk pengukuran dengan kerangka kompas kontrol ketelitian horizontal.1. Persiapan Pada tahap persiapan ini yang utama dnakukan adalah persiapan ternacap personil dan persiapan peralatan dan bahan serta data penunjang. Prisma Roe/oef untuk pengamatan matahari. Elevasi) existing yang terdapat di sekitar lokasi proyek.000.6. Y. minimal telah mengikuti pelatihan dasar-dasar dan aplikasi survey topografi.000. Persiapan peralatan topografi meliputi alat ukur sudut.. peta tata guna tanah.1. 1 : 50.2. alat ukur teodolit yang dilengkapi bacaan 20" (detik) untuk pengukuran situasi dan pengukuran penampang. 6. Pengukuran perencanaan jalan 6. alat ukur GPS. Surveyor topografi yang terlibat dalam pekerjaan ini disyaratkan mempunyai keahlian yang memadai. administrasi guna koordinasi dengan 6. Selain itu per1u juga dislapkan kelengkapan instansi terkait di daerah . Persiapan personil Personil yang dibutuhkan pada pekerjaan perencanaan jalan dan jembatan meliputi tenaga ahli pengukuran topografi (Geodetic Engineer') asisten ahli pengukuran topografi dan surveyor topografi. Persiapan bahan dan peralatan Persiapan bahan (data) penunjang antara lain peta topografi skala 1: 25.

dilakukan pemasangan patok sebagai sarana penyimpan informasi koordinat hasil pengukuran.2. kompas.000. Manumen pengukuran jalan dan jembatan berupa bench mark (8M). Alat ukur GPS tipe navigasi untuk keperluan survai pendahuluan. sedangkan heling meter/clinometer berfungsi untuk menentukan prosentase kemiringan vertikal pada as rencana. serta dari aspek geologi dan hidrologi setempat. kondisi topografi ( elevasi). 6.3. patok CP (concrete pOint) dan patok kayu pengukuran. Survey pendahuluan Survai pendahuluan (reconaissance) dilakukan untuk mengahui secara faktual kondisi rencana trase jalan yang telah dibuat.(concrete point) 9 dari 23 . Pemasangan monumen Sebelum dilakukan pengukuran. Peralatan ukur harus dikalibrasi dengan metode yang tepat sesuai dengan jenis dan spesifikasi masing-masingalat sebelum digunakan. GPS Navigasi dan kompas berfungsi untuk penentuan posisi (X.000 atau skala 1: 25. dilakukan penarikan beberapa altematif trase rencana diatas peta dengan mempertimbangkan jarak terdekat. Bench mark (8M) dipasang disepanjang ruas jalan yang akan diukur pada setiap interval jarak ± 1 Km.sederajat dengan deviasi standar pengukuran dalam 1 km pergi pulang s 5 mm. Setiap pemasangan 8M harus disertai pemasangan patok CP. GPS Navigasi. Peralatan dan bahan yang diperlukan antara lain peta rencana trase jalan diatas peta topografi skala 1 : 50. Jika trase rencana yang telah dibuat tidak memungkinkan diterapkan di lapangan maka dilakukanpemilihan altematif trase lain. tata guna Jahanyang ada. Y) di lapangan. dan alat GPS tipe geodetic untuk pengukuran titik-titik ikat (bila diperlukan). formulir survey dan calculator. heling meter/clinometer. 6. Dalam tahap persiapan ini.

6. Pemasangan 8M untuk jalan eksisting sebaiknya dipasang di kiri jalan dan CP di kanan jalan searah dengan jalur pengukuran tampak satu sama lain. pembacaan rambu harus dilakukan pada 3 benang silang yaitu benang atas (ba).2 km dengan persyaratan (toleransi) ketelitian s (kurang dari atau sarna dengan) 10 mm . Pada daerah tertentu yang tidak bisa dipasang patok kayu (di aspal.4.. batu. jembatan.JO.. Panjang seksi ± 1 . cor) dapat diganti dengan pemasangan paku payung dengan ditandai dengan cat disekitamya dan diberi nomor sesuai urutannya. CP dan semua patok kayu. Pengukuran kerangka kontrol vertikal Pengukuran kerangka kontrol vertikal dilakukan dengan metode sipat datar disepanjang trase jalan melewati 8M. Untuk memudahkan pencarian patok. Pemasangan patok kayu dilakukan setiap interval 50 m pada jalur yang lurus dan datar serta setiap 25 m pada jalur yang berbeloklperbukitan pada sisi dengan posisi saling jalan yang sama. Rambu ukur harus dilengkapi nivo kotak untuk pengecekan rambu. sebaiknya pada daerah sekitar diberi tanda khusus. Pengukuran sipat datar dilakukan pergi-pulang secara kring pada setiap seksi. vertikalnya IO dari 23 . benang tengah (bt) dan benang bawah (bb) sebagai kontrol bacaan.sebagai pasangannya untuk mendapatkan azimut arahan pada pskerjaan stake out pada tahap pelaksanaan. Elevasi titik referensi yang digunakan sebagai elevasi awal harus dihitung dan tinggi MSL (muka air laut rata-rata) Pengukuran sipat datar harus menggunakan alat sipat datar otomatis atau yang sederajat dengan deviasi standar ketelitian pengukuran alat per 1 km pergi pulang ketelitian s 5 mm. imana 0 adalah jumlah jarak O dalam Km.

. pengamatan dilakukan pagi dan sore dengan pembacaan tiap satu seri adalah 4 kali ( 2 Biasa dan 2 Luar Biasa). pengukuran sudut dikontrol dengan pengamatan matahari.Jn. sebaiknya kurang dari 5 km. Setiap 5 km pengukuran. Kesalahan penutup sudut poligon tidak boleh lebih dari 10". Jika tidak terdapat titik-titik kontrol horizontal exsisting maka dianjurkan untuk dilakukan pengukuran GPS. Pengukuran kerangka kontrol horizontal Pengukuran titik-titik kontrol horizontal dilakukan untuk merapatkan titik-titik kontrol horizontal yang telah ada (exsisting) di sekitar lokasi proyek. Tiap sudut poligon diukur dengan satu seri rangkap dengan hasil 4 (empat) kali sudut. Pengamatan matahari dilakukan dengan metode tinggi matahari. dimana n adalah jumlah titik poligon. Pengukuran poligon kerangka kontrol horizontal meliputi pengukuran sudut tiap titik poligon. Jarak sisl-sisi poligon dianjurkan diukur dengan alat EDM atau dengan electronic total station (ETS) diukur pergi-pulang 3 kali. dan tiap pengamatan dibuat sketsa penqarnatan. Titik-titik koordinat yang dipakai sebagai kontrol horizontal tersebut dianjurkan dalam sistem koordinat nasional dengan sistem proyeksi yang digunakan adalah UTM (Universal Transverse bidang Mecator). dari bacaan 2 biasa (B) dan 2 Luar Biasa (LB). posisi matahari dan posisi target.6. pengukuran jarak sisi poligon dan pengukuran azimut.5. Pengukuran/perapatan titik-titik kontrol horizontal dilakukan dengan metode poligon terbuka terikat sempuma atau dengan poligon tertutup. jalan dengan bersifat pertimbangan memanjang bahwa sehingga pengukuran topografi membutuhkan zone yang cukup besar ( lebar zone pada sistem proyeksi UTM sebesar 6°. Panjang setiap seksi poligon terbuka terikat sempuma menyesuaikan dengan jarak antara 2 BM GPS yang berurutan. sedangkan lebar zone untuk TM-3 sebesar 3°). 11 dari 23 . dengan ketelitian 5".

7. Pembacaan rambu harus dilakukan pada ketiga benang silang mendatar yaitu benang atas (ba). benang tengah (bt) dan benang bawah (bb) sebagai kontrol bacaan. dan untuk koridor sebelah kanan diberi notasi 12 dari 23 . pada masing -masing sisi koridor diberi notasi yang berbeda. Pengukuran penampang melintang Pengukuran penampang melintang ruas jalan dilakukan alat sipat datar pada daerah datar dan terbuka. Penqukuran penampang melintang dilakukan dengan persyaratan : kondisi datar.6. Untuk mempermudah pengecekan. landai dan lurus dilakukan pada interval tiap 50 m dengan lebar koridor 75 m ke kiri dan 75 m ke kanan as trase jalan. misal koridor sebelah kiri dari center line jalan diberi notasi alphabetic numeris. Pengukuran penampang melintang ruas jalan dilakukan harus tegak lurus dengan ruas jalan. 6. datar (jalan baru).6. Pengukuran penampang memanjang Pengukuran penampang memanjang dalam pelaksanaanya dilakukan bersamaan dengan pengukuran sipat penampang melintang Ualan exsisting). Pengambilan data dilakukan pada setiap perubahan muka tanah dan sesuai dengan faktor kerapatan peta detail yang yang ada dan dengan tingkat mempertimbangkan skala dihasilkan kepentingan data yang akan ditonjolkan. atau pengukuran Pengambilan data penampang memanjang dilakukan pada setiap perubahan muka tanah dan sesuai dengan kerapatan detail yang ada disepanjang trase. Pembacaan rambu harus dilakukan pada ketiga benang silang mendatar yaitu benang atas (ba). tetapi pada daerah dengan topografi bergelombang sebaiknya dilakukan dengan menggunakan teodolitkompas dengan ketelitian bacaan 20". benang tengah (bt) dan benang bawah (bb). Sketsa penampang melintang tidak boleh terbalik antara sisi kiri dengan sisi kanan.

Pengukuran situasi Pengukuran situasi dilakukan pada sepanjang rencana trase jalan dengan menggunakan teodolit dengan ketelitian bacaan :5 20 lokasi jalan di perkotaan II (detik). rumah. Pengukuran dilakukan terfladap semua obyek bentukan alam dan buatan manusia yang ada di sepanjang ruas jalan. Hal ini dikarenakan pada lokasi-Iokasi tersebut data dilapangan cukup kompleks dan padat. bukit.00 WIB sampai 13 dari 23 . 6. sungai. gedung. Dalam pengambilan data harus diperflatikan kerapatan detail yang diambil serta faktor skala peta yang akan digunakan serta tingkat kepentingan data yang akan ditonjolkan. batas ROW dsb. Pengukuran azimut jurusan Pengukuran azimut jurusan awal dilakukan dengan pengamatan metode tinggi matahari biasanya matahari dilakukan antara jam 7.8. Untuk lokasidan banyak detail yang ramai lalulintasnya situasinya. pembacaan rambu harus dilakukan pada ketiga benang silang mendatar yaitu benang atas (ba). sehingga diharapkan data yang dihasilkan dari pengukuran detail situasi dapat mewakili kondisi sebenamya dilapangan.- kondisi pegunungan dilakukan pada interval tiap 25 m dengan lebar koridor 75 m ke kiri dan 75 m ke Kanan kondisi tikungan dilakukan pada interval tiap 25 m dengan lebar koridor 75 m ke arah luar dan 125 m ke arah dalam. jembatan. Selain itu pada lokasi-Iokasi tersebut biasanya akan dilakukan desaindesain yang bersifat khusus yang memerlukan skata peta yang lebih besar misal skala 1 : 500. Untuk pengukuran metode tachimetry. 6. benang tengah (bt) dan benang bawah (bb) sebagai kontrol bacaan. seperti alur. Pada pengukuran situasi khusus seperti perpotongan sungai dan persimpangan jalan pengambilan titik detail situasi harus lebih rapat. dianjurkan menggunakan alat ETS (electronic total station).9.

yaitu diukur sudut titik poligon. Toleransi ketelitian pengukuran pengikatan titik-titik ikat tinggi adalah sama dengan dengan pengukuran kerangka kontrol vertikal. azimut jurusan langsung dapat dihitung.10. 7. pemasangan vertikal. pengukuran horizontal. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan prisma roeloff atau dengan cara tadah. Pengamatan dilakukan minimal dalam satu seri (rangkaian) penqarnatan yaitu 4 kali pengamatan (8. kerangka kontrol situasi. dengan metoda poliqon. Alat yang digunakan adalah teodolit dengan pembacaan piringan horizontal terkecil 1". patok 8M dan patok kayu. Pengukuran pengikatan horizontal dilakukar. Pengukuran Pengukuran pengikatan titik-titik referensi diikatkan pada titik-titik ikat kerangka kontrol horizontal (referensi) horizontal exsisting yang ada. Ketelitian azimuth hasil pengamatan antara satu pengamatan dengan pengamatan lainnya tidak boleh lebih dari 5" (detik). 6. Pengikatan titik tinggi dilakukan dari titik ikat (referensi) tinggi tersebut ke koordinat awal pengukuran dengan menggunakan alat sipat datar otomatis atau yang sederajat.30 WIB untuk pengamatan sore hari. Untuk titik awal yang menggunakan dua titik tetap yang telah diketahui harga koordinatnya. 8PN. pengukuran kerangka kontrol pengukuran 14 dari 23 . jarak sisi antar poligon dan asimut awal dari titik referensi dilakukan dengan alat ukur teodolit dan EDM atau dengan alat electrtonic total station.00 WIB untuk pengamatan pagi hari dan pukul 15.00 WIB sampai dengan 16. 8). Pengukuran perencanaan jembatan Pengukuran jembatan terdiri dari kegiatan persiapan.dengan 9. survey pendahuluan. atau dari hasil pengukuran proyek sebelumnya. Informasi keberadaan posisillokasi titik-titik ikat tersebut dapat dicari dari institusi· yang terkait antara 8AKOSURTANAL. LB. LB. Toleransi ketelitian pengukuran sudut dan jarak linier pengukuran pengikatan titik-titik ikat adalah sarna dengan toleransi pengukuran kerangka kontrol horizontal.

JO. Pemasangan monumen Monumen yang dipasang pada pengukuran jembatan terdiri dari patok 8M (Bench Mark) I CP (Concrete Point.2.Oimana 0 (kurang dari atau sarna dengan) 10 mm = jumlah jarak dalam Km. Untuk sungai dengan lebar s 50 8M dan CP masing-masing dipasang ditepi sungai yang berseberangan disekitar as rencana jembatan. 15 dan 25 meter sepanjang 125 meter ke arah hulu dan ke arah hilir sungai. Patok kayu juga dipasang di tepi sungai dengan interval jarak setiap 10. 7. Untuk sungai dengan lebar > 50 8M dan CP dipasang berpasangan untuk masing-masing tepi sungai yang berseberangan disekitar as rencana jembatan. Pembacaan Pengukuran sipat datar menggunakan alat sipat datar otomatis atau yang sederajat dengan deviasi standar ketelitian pengukuran alat per 1 km pergi pulang ketelitian rambu harus dilakukan pada 3 benang silang yaitu benang atas (ba). pengukuran penampang melintang sungai dan pengukuran situasi. CP dan patok kayu yang terdapat disekitar tepi $ sungai yang akan diukur. Pengukuran kerangka kontrol vertikal Pengukuran kerangka kontrol vertikal jembatan dilakukan dengan metode sipat datar tertutup (Loop) denqan melalui semua patok 8M. s (kurang dari atau sarna dengan) 5 mm. 15 dan 25 meter sepanjang 100 meter dan masing-masing tepi sungai ke arah as rencana jalan.1. nenang tengah (bt) dan benang bawah (bb).pengukuran penampang memanjang jalan. 15 dari 23 . pengukuran melintang jalan. 7. dengan persyaratan (toleransi) ketelitian -. Patok kayu dipasang dengan interval jarak 10. Pekerjaan persiapan dan survey pendahuluan sama saperti pada pekerjaan pengukuran perencanaan jalan.

Pengambilan data dilakukan pada setiap perubahan permukaan tanah pada as jalan exsiting Irencana sepanjang 100 m dari masing-masing tepi sungai. dilakukan pengamatan sore. yang terikat pada satu titik ikat exsisting yang diketahui.Rambu ukur harus dilengkapi rambu. Pengukuran sudut tiap titik poligon dilakukan dengan teodolit dengan ketelitian 1 " dilakukan pengukuran dengan sistem satu seri rangkap (4 kali sudut). CP dan patok kayu.4. sehingga 8M. Pengukuran kerangka kontrol horizontal melewati semua 8M I CP dan patok kayu. sehingga titik-titik tersebut terietak dalam satu rangkaian titik-titik poligon. Pengukuran kerangka kontrol horizontal Pengukuran kerangka kontrol horizontal dilakukan· dengan metode poligon tertutup. Pengamatan matahari pagi dan dilakukan dengan sistem tinggi matahari. Pengukuran penampang memanjang jalan dilakukan Pengukuran penampang memanjang jalan disekitar as jembatan denganalat ukur sipat datar atau dengan menggunakan teodolit dengan ketelitian bacaan s 20 ". 16 dan 23 . 7. nivo kotak untuk pengecekan vertikalnya 7.3. benang tengah (bt) dan benang bawah (bb) untuk kontrol bacaan. Setiap pembacaan rambu harus dilakukan pada ketiga benang silang horizontalnya yaitu benang atas (ba). Azimut poligon didapatkan dari pengamatan matahari atau dari 2 (dua) titik kontrol horizontal yang telah diketahui koordinatnya.

Pembacaan rambu harus dilakukan pada ketiga be nang silang mendatar yaitu benang atas (ba). Pengukuran situasi Pengukuran situasi dilakukan dengan menggunakan electronic total station (ETS) atau alat ukur teodolit dengan ketetitian bacaan s 20". Pengukuran kedalaman dasar sungai dilakukan dengan menggunakan rambu ukur atau bandul zonding jika kedalaman air kurang dari 5 m dan arus tidak deras. posisi pier dan abutmen jembatan exsisting. Setiap pengukuran penampang sketsanya. jika arus deras dan kedalaman air lebih dari 5 m pengukuran dilakukan dengan alat echo sounder. rumah. Tata cara pengukuran dengan echo sounding (perum gema) selengkapnya dapat dilihat pada buku IV. dan sebagainya.5. 7. Pengukuran penampang melintang jalan Pengukuran penampang melintang jalan dilakukan dengan menggunakan alat ukur sipat datar atau dengan menggunakan teodolit dengan ketelitian bacaan s 20 ". dermaga. Data yang diukur mencakup semua obyek bentukan alam dan buatan manusia yang ada disekitar rencana jembatan seperti bentuk sungai. Sketsa penampang dengan sisi kanan. gedung.1.6. Pengambilan data dilakukan setiap interval jarak 10. melintang yang dilakukan harus dibuat melintang tidak boleh terbalik antara sisi kiri 1. Pengukuran penampanq melintang sungai 125 meter dari as Koridor pengukuran kearah hulu dan hilir masing-masing rencana jembatan.7. dengan interval pengukuran 10. benang tengah (bt) dan benang bawah (bb) sebagai kontrol bacaan. dengan koridor 50 m as rencana jalan/exsisting. Pengambilan data penampang melintang jalan harus tegak lurus dengan ruas jalan. 17 dari 23 . 15 dan 25 meter. 15 dan 25 m sepanjang 100 m dari tepi masing-masing jalan/jalan sungai ke arah rencana eksisting.

Hal ini dikarenakan pada lokasi-Iokasi tersebut data dilapangan cukup kompleks dan padat. Y) diikatkan pada koordinat exsisting yang terdekat. Pengukuran untuk kegiatan pelaksanaan dilakukan dengan cara stake out. Titik ikat tinggi diambil dari titik tinggi (peil) exsisting terdekat. maupun elevasi (Z) menggunakan sistem koordinat nasional dan elevasi menggunakan tinggi muka air laut ratarata (MSL) yang juga dipakai bersama pada sistem koordinat dari pengukuran jalan. benang tengah (bt) dan benang bawah (bb) sebagai kontrol bacaan. yaitu meletakkan posisi-posisi detail dari gambar rencana kedalam posisi sebenamya di lapangan dengan dibantu oleh koordinat-koordinat yang ada di lapangan. rencana pembebasan lahan. dan monitoring pelaksanaan pekerjaan. Untuk pengukuran jembatan yang berdiri sendiri maka koordinat (X. atau dengan interpolasi peta topografi. Selain itu pada lokasi-Iokasi tersebut biasanya akan dilakukan desain-desain yang bersifat khusus yang memerlukan skala peta yang lebih besar misal skala 1 : 500. 18 dari 23 . pengambilan titik detail situasi harus lebih rapat. Pengukuran pelaksanaan jalan Pengukuran pelaksanaan jalan bertujuan untuk mengimplementasikan gambar rencana (design drawing) di lapangan. Pembacaan rambu harus dilakukan pada ketiga benang silang mendatar yaitu benang atas (ba). atau dari pengukuran GPS Navigasi. Sesuai dengan tujuannya. 8. pembuatan shop drawing. 7.Pada pengukuran situasi tersebut. maka implementasi tersebut dapat digunakan untuk penentuan center line.Y) horizontal.8. Pengikatan titik-titik referensi Untuk pengukuran jembatan yang dilakukan bersamaan dengan pengukuran jalan maka koordinat (X.

seperti jembatan dan bangunan bangunan pelengkap lainnya. Pengukuran stake-out untuk center line Pengukuran stake out untuk penentuan center line merupakan stake out bersifat garis. Alat 8. TC (tangent circle) CT (circle tangent). Stake out yang bersifat qaris lurus diJakukan terhadap center line pada jalan yang lurus. Stake out dilakukan setiap interval 50 m.circle . Alat yang digunakan adalah 19 dari 23 . di mana posisi-posisi yang akan di stake out antara lain posisi : PI (point intersection). Pengukuran stake-out untuk rencana pembebasan lahan Pengukuran stake out untuk rencana pembebasan lahan dilakukan bila dalam pelaksanaan pekerjaan diperlukan pembebasan lahan. Daerah yang di ukur adalah daerah yang terkena pembebasan lahan.spiral. Pada pengukuran ini dilakukan pemasangan patok-patok pada batas-batas daerah yang terkena pembebasan berdasarkan koordinat patok-patok batas yang telah terdapat dalam peta rencana teodolitlEDMIETS. 8.1. Pengukuran stake-out untuk pembuatan shop. ST (spiral tangent) untuk tikungan bentuk spiral . Pengukuran stake out ini bersifat stake out yang berupa titik yang bertujuan untuk menentukan posisi bangunan-bangunan yang digunakan adalah teodolitlEDMIETS. TS (tangent spiral). Alat ukur yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah teodolit IEDMIETS.3. untuk tikungan bentuk full circle.8. Untuk stake out yang bersifat garis lengkung dilakukan pada setiap tikungan jalan. baik berupa garis lengkung maupun garis lurus. pembebasan lahan. tersebut di atas. SC(spiral circle). Koordinat Ijarak dari titik-titik tersebut di atas sudah terdapat dalam gambar rencana (design drawing).drawing Pembuatan shop drawing dilakukan untuk pekerjaan-pekerjaan konstruksi yang bersifat parsial.2. CS (circle spira!).

posisi abutmen. Pengukuran stake-out untuk monitoring pelaksanaan jembatan Tujuan pengukuran ini adalah untuk mengetahui kemajuan pekerjaan dan menentukan perencanaan. Pengukuran stake out center line.1.4. untuk posisi dan alat sipat datar untuk tinggi 9.2. Y) maupun elevasi (Z) BM/CP jembatan yang ada di lapangan. Pengukuran stake-out untuk center line. Pengukuran stake-out untuk monitoring pelaksanaan konstruksi Tujuan pengukuran ini adalah untuk mengetahui kemajuan pekeqaan dan menentukan perencanaan. 9. pekerjaan konstruksi jalan apakah telah sesuai dengan Stake out untuk monitoring petaksanaan pekerjaan berupa stake out titik (posisi) dan garis peil tinggi (elevasi). posisi pier dan elevasi jembatan.8. Pengukuran ini bersifat menentukan posisi jembatan seperti center line. posisi abutmen. pekerjaan konstruksi jembatan apakah telah sesuai dengan pekerjaan berupa Stake out untuk monitoring pelaksanaan stake out titik (posisi) dan membuat peil tinggi (elevasi). Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat ukur teodoliU EDMIETS untuk penentuan posisi dan alat ukur sipat datar untuk penentuan elevasi. posisi pier (bila ada). Alat yang digunakan adalah teodoliUEDMIETS (elevasi). 9. Pengukuran pelaksanaan pembangunan jembatan pada dasarnya sama dengan stake out untuk pembuatan shop drawing. posisi pier dan elevasi jembatan diukur dengan bantuan koordinat (X. Alat yang digunakan 20 dari 23 . posisi abutmen. Pengukuran pelaksanaan pembangunan jembatan Pengukuran pelaksanaan jembatan bertujuan untuk mengimplementasikan gambar rencana jembatan (design drawing) di lapangan. dan elevasi jembatan.

sehingga prosesnya pengolahan data akan lebih mudah dan lebih cepat. Data field book kemudian dihutung dengan perangkat memperoleh harga koordinatnya. Pengolahan data dapat dilakukan dengan kalkulator. hitungan kerangka kontrol vertikal serta hitungan sipat datar untuk pengukuran posisi dan beda tinggi untuk pengukuran situasi dan pengukuran penampang melintang. azimut. yaitu hasil pengukuran topografi terdiri dari beberapa tahapan hitungan po ligon untuk pengukuran kerangka kontrol horizontal (sudut.adalah teodoliUEDMIETS (elevasi). lunak khusus topografi untuk 21 dari 23 . data ukur dicatat dalarn forrnulir pengukuran kernudian dihitung dengan bantuan kalkulator atau komputer dengan menggunakan perangkat lunak spreadsheet tertentu. Format data ini dikonversi ke format raw data dan selanjutnya dilakukan proses konversi ke data field book (data field book ini mempunyai format yang sarna dengan batch file). Data hasil pengukuran lapangan dapat berupa formulir yang berisi catatan hasil pengukuran maupun dapat berupa data yang direkam dalam file cara manual dengan bantuan elektronik. maupun dihitung dengan menggunakan program yang terdapat pada beberapa modul survey. untuk posisi dan alat sipat datar untuk tinggi 10. Pengolahan data Pengolahan data hitungan. Data ukur lapangan yang sudah tersimpan di dalam memory data recorder atau data collector bisa langsung di downloaded ke komputer dengan bantuan interface. Untuk pengukuran yang bersifat manual dan semi digital. ataupun dengan bantuan kornputer. maka data nasi! penqukuran direkam dalam bentuk file elektronik. Hasil hitungan manual dan semi digital berupa akan digunakan sebagai dengan koordinat masing-masing obyek yang selanjutnya masukan data untuk proses penggambaran. jarak). hal ini disebabkan alat ukur digital yang sudah dilengkapi dengan data recorder atau data collector. Untuk pengukuran sistem digital mumi.

Hasil akhir dan proses penggambaran hanya sampai draft milimeter (obrah).gnd koordinat biasanya setiap 10 em.1. garis kontur normal yaitu 1/2000 X skala peta dan kontur index setiap gambar dan eara (format) penulisan kontur kelipatan 5 dan kontur normal. peta situasi jalan adalah 1: 1000. Editing data situasi dan garis kontur dapat dilakukan secara langsung di atas kertas. busur derajat. menggunakan perangkat lunak komputer dan plotter dengan data masukan dan hasil hitungan dari spreadsheet ataupun download data dan pengukuran digital yang kemudian diproses dengan perangkat lunak topografi. 11. sudut dan jarak. pensil.11. besar kecilnya mata 22 dari 23 . Penggambaran secara manual Penggambaran secara manual dilakukan dengan tangan menggunakan alat bantu penggans/mistar. rapido dan scriber dengan cara plotting hasil pengukuran berupa koordinat. Penggambaran Penggambaran dapat dilakukan dengan dua eara yaitu penggambaran secara seeara manual dan penggambaran secara digital. Penggambaran manual dilakukan berdasarkan hasil ukuran lapangan yang dilakukan dengan menggunakan hitungan tangan diatas kertas milimeter dengan masukan data dan Penggambaran secara digital dilakukan dengan manual. dengan demikian proses penggambaran seeara manual eukup sedernana dan eepat. peta situasi khusus (persimpangan jalanl jembatan) adalah 1 : SOD. arah utara. index. penggambaran legenda. serta data tinggi masing-masing obeyekldetail di atas kertas milimeter. Pada proses penggambaran untuk pekerjaan jalan dan jembatan harus memperhatikan beberapa hal diantaranya: pemilihan skala peta yaitu. penggaris/mistar. penulisan huruf tegak dan huruf miring dan ukuran huruf. Ketelitian hasil penggambaran sangat rendah karena sangat tergantung pada ketelitian interpolasi busur derajat.

pencetakan kertas sesuai dengan format skala yang diminta. Data atau file yang dalam format ASCII ini dapat dibaea disemua perangkat lunak yang digunakan pada komputer. Untuk meningkatkan ketelitian hasil penggambaran topografi maupun meningkatkan kualitas hasil dan efisiensi waktu dalam pembuatan desain geometrik pencetakan dan bangunan pelengkap lainnya. pembuatan garis-garis grid dan legenda. serta kemudahan dalam dan pendokumentasian. Urutan format koordinat tersebut di atas adalah X (Easting). Tahapan-tahapan yang dilakukan pada penggambaran digital adalah melakukan setup parameter-parameter pengukuran yang digunakan seperti ukuran dalam meter.pensil yang digunakan.2. Z (elevasi) dan deskripsi. Y (Northing). 11. pembuatan garis konturyaitu garis yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai elevasi di atas yang sarna. Penggambaran Penggambaran secara digital masukan data koordinat seeara digital dilakukan dengan yang dapat dilakukan dengan dua eara. pembuatan ground model (pembentukan surface) dari kondisi permukaan tanah asli hasil dari pengukuran. penggambaran situasi dengan cara penarikan garis-garis antara 2 titik yang menggambarkan dari kondisi yang ada di lapangan. 23 dari 23 . melakukan edit pada pembentukan surface. satuan sudut yang digunakan. skala penggambaran. Hasil gambar seeara manual tidak dapat diperbanyak dan tidak dapat disimpan dalam bentuk file. maka penggambaran seeara digital sang at direkomendasikan. yaitu data dari hasil rekaman file elektronik dan kemudian diproses dengan software topografi (Fonnat batch file) yang disimpan dalam bentuk file ASCII atau data koordinat dari hitungan menggunakan spreadsheet yang kemudian disimpan dalam bentuk file ASCII (American Standard Code for Information Interchange).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->