PENJELASAN SAMBUNGAN STAR-DELTA A.

Penjelasan pengkabelan pada switch star delta Pada bagian ini kita hanya akan membicarakan bagaimana merakit 3 Magnetic Contactor menjadi suatu rangakaian yang memungkinkan motor listrik beberja dengan hubungan star maupun delta untuk rangakaian yang langsung berhubungan dengan motor listrik akan dibahas pada bagian tersendiri. Sesuai dengan wiring diagram yang ada maka kita tempatkan Magnetic Contactor (MC) sebagai berikut dari arah kiri ke kanan, MC1 adalah MC Utama dengan no seri LC1 D12, sebelah kanannya MC3 dengan nomor seri LC1 D12 terakhir adalah MC2 dengan nomor seri LC1 D09. Mengapa untuk MC3 menggunakan seri yang lebih kecil, karena MC3 hanya berfungsi sesaat pada hubungan star. Kenapa urut-urutan MC yang terpangsang menjadi MC1, MC3 dan MC2, semata-mata untuk memudahkan logika berfikir kita bahwa pada saat pertama kali start MC yang on adalah MC1 dan MC2 (MC utama dan MC star), setelah beberapa saat oleh karena adanya timer maka MC yang on adalah MC1 dan MC3 (MC utama dan MC delta) Untuk sementara keberadaan EOCR kita abaikan saja karena akan kita ganti dengan TOR (Thermal Overload Relay) yang akan kita tempatkan pada MC1 sebelum masuk ke motor listrik. Arus listrik melalui PB Switch Normally Close (NC) kemudian ke PB Switch Normally Open (NO) ke coil Magnetic contactor utama (MC1) kalau untuk produk Telemecanique tertera tulisan A1 dan A2 di atas terminal konektornya. PB switch NO kita parallel dengan kontak NO pada MC1 sehingga apabila PB switch NO dilepas maka MC1 akan tetap on dan baru off setelah PB switch NC ditekan. Arus listrik dari NO yang “tertutup” akan kita gunakan untuk memberi arus ke saklaar NO dan NC yang berada di atas timer. Untuk memudahkan instalasi maka kita sepakati seluruh teriminal A2 pada magnetic contactor kita hubungkan ke line netral dari jaringan listrik (kita gunakan saja kabel hitam dari A2 nya MC1 ke A2 nya MC3 terakhir disambung ke A2 nya MC2 kemudian ke terminal blok line netral). Timer, penempatannya diatas MC1, keberadaan timer adalah untuk memindahkan dari hubungan star menjadi delta. Timer disini diaktifkan secara mekanik (tidak dengan arus listrik) sehingga tidak ada arus listrik yang berhubungan langsung dengan timer ini. Penjelasannya adalah sebagai berikut, pada saat MC1 aktif maka bagian tengah MC1 akan tertarik ke bawah, dengan tertariknya bagian tengah MC1 ini akan ikut menarik bagian tengah dari timer (setelah dirangkai di atas MC1 maka ada bagian timer yang terhubung
Ditulis oleh : Darmanto untuk peminat masalah kelistrikan 1

Keamanan juga bisa diperbaiki dengan penambahan MCB 2 Ampere sebelum masuk NC pada TOR.langsung ke MC1). Setelah beberapa saat timer akan off ini ditunjukkan oleh “tertutupnya” NO yang ada di atas timer. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat diagram alur arus listrik berikut ini. saklaar ini kita manfaatkan untuk menghidupkan coil MC3 (MC delta). Dengan tertariknya bagian tengah timer maka selama beberapa saat timer akan on yang ditunjukkan oleh “tertutupnya” saklaar NO pada bagian atas timer. Ditulis oleh : Darmanto untuk peminat masalah kelistrikan 2 . keadaan ini akan kita gunakan untuk menghidupkan coil dari MC2 (MC untuk star) tetapi agar tidak on terus menerus kita lewatkan dulu pada NC dari MC3. sama seperti pada keadaan sebelumnya agar MC3 dapat on dan off maka setelah melewati saklaar NC di atas timer selanjutnya kita lewatkan NC dari MC2. Diagram perjalanan arus listrik pada rangakain star delta Line 220 Volt MCB 2 Ampere NC TOR PB switch NC PB switch NO di parallel dengan NO MC1 Masuk ke NO dan NC dari timer Keluaran NO keluaran NC NC dari MC3 NC dari MC2 Coil MC2 Coil MC3 Catatan : Agar motor listrik lebih aman dari overload maka sebelum masuk ke PB switch NC kita lewatkan dulu pada NC dari TOR.

Lampu indikator dapat ditambahkan pada panel untuk memudahkan mengidentifikasi kondisi rangakaian. Apabila pada nameplate tertulis 220 V pada (∆) dan 380 V pada star (Y) maka berarti motor listrik kita hanya bisa disambung pada sambungan star(Y) pada tegangan 380 V. Arus yang masuk ke MC1 kita masukkan juga ke MC3 dengan urutan yang sama. apakah bisa dipasangkan rangakain ini. Warning : Oleh karena coil pada MC hanya boleh dicatu dengan tegangan 220 V maka kita ambilkan dari netral dan salah satu dari phase. caranya mudah kendorkan ke tiga terminalnya masukkan TOR kemudian kencangkan bautnya. terminal keluarannya tempat ditempelkannya TOR. Lain-lain Sebelum kita rakit rangkaian switch star-delta kita lihat motor listrik yang akan kita gunakan. Ditulis oleh : Darmanto untuk peminat masalah kelistrikan 3 . Keluaran dari MC3 selain dihubungkan ke motor listrik juga dihubungkan ke terminal MC2. Artinya phase R dari MC3 tidak boleh disambungkan pada U2 pada motor listrik. Keluaran dari MC3 kita hubungkan ke motor listrik sedemikian sehingga terjadi urutan yang benar. Penjelasan pengkabelan pada 3 phase line motor listrik. kalau kita akan catu dengan voltase 380 V pada keadaan terhubung delta maka pada nameplate motor listrik tersebut harus tertulis 380 pada kondisi delta (∆) biasanya untuk hubungan star-nya tertulis 660 V. Keluaran dari terminal TOR langsung sambungkan ke motor listrik dengan urutan U1-V1-W1 jangan terbalik. sehingga kemungkinannya adalah phase R dihubungkan ke W2 dari motor listrik. C. Untuk lebih fungsional juga dapat ditambahkan Volt meter dan Ampere meter. jangan terbalik. masuk ke terminal MC1 secara urut dari kiri ke kanan R-S-T. Motor listrik yang hanya dapat disambung pada sambungan star (Y) biasanya berukuran kecil.B. phase S tidak boleh disambungkan pada V2 pada motor listrik dan phase T tidak boleh disambungkan ke W2 dari motor listrik. untuk ampere meter biasanya diperlukan 3 bh CT (current transformer). Bukan line to line. phase S dihubungkan ke U2 dari motor listrik dan phase T dihubungkan ke V2 dari motor listrik. kecuali untuk MC khusus yang di design untuk tegangan 380 V. bagian lain dari terminal MC2 phase R-S-T nya dijadikan satu (disatukan). Tiga phase arus listrik (R-S-T) kita lewatkan pada MCCB yang sesuai (ampere nya). sebagian besar dapat diambilkan pada saklaar NO yang ada pada MC yang akan kita deteksi kondisinya (sedang 0n atau off).

% ¾ f–f  fff f°f° .

f ff.

Df¯f °–f°°¾ .

  ¾ ff°f°°f.

 °–f°°¯¾ .

 ff ff.

 °–f°°¯¾  .

 . °–f½f°.

¯ °––°ff°¾ f°–  n f °f.

f°f €°–¾¾ ¾ff½f f °–f°¾f   °f½f f°.

f°– ½f°–¾f°–¯ °©f .

 .

 f°.

 ¾ ¯ff ¯ff° ¯ ¯ ff°–f €f ff½f f¾ff½ f¯ff¾f.

f°–°f ff .

 f°.

%.

f¯f f°.

¾f% ¾  f f½f¾ff f °ff f°f¯  ¯ff.

f°–°f ff.

 f°.

%.

f¯f f°.

 f% D°¾ ¯ °ff f ff°.

ff ff°¾f©ff °fff°f–f° °–f°@ %@ ¯f f  f%f°–ff°f ¯½ff°½f f.

¾ ¯¯f¾ ¯ ¾  ¾¾¯ f9 n-¯f.

¾ %-.

f–° nn°fnf¯f%.% ¯ f° 9 n-¯f½ ° %-% n.

%ff°½ @  ¯ nf°   f ¾f° f° ff¾ ¯°f° °f 9 ¾n-f½ff  °–f°°f -½f f.

¾ °––ff½f f9 ¾n-  ½f¾¯ff.

ff° f½° f° f€€ ¾  f9 ¾n-.

  f°  ¾¾ f-f°–# ½#ff°f–°ff°°¯ ¯ f¾ ¾fff- f°-.

f°– f f ff¾¯   D°¯ ¯ ff°°¾ff¾¯fff¾ ½ff¾  ¯°f½f f¯f–° n n°fnf °–f° ° ° f f©f°–f°¾%f–°ff°¾f©ff f¯ f°f.

 °f.

 f ¾f¯ °– °f.

 ¯ f°  ¯°f ° ° f%  @¯  ½ ° ¯½ff°°f ff¾.

  f ff°¯ f ff°¯ ¯° ff° f  °–f°¾f¯ °©f  f @¯  ¾° f€f°¾ nff¯ f°% f °–f°f¾ ¾%¾ °––f ff ff¾¾f°–  °–f°f°–¾°– °–f°¯ °  9 °© f¾f°°ff ff¾ f–f  ½f f¾ff.

f€¯ff f–f° °–f.

ff°  f  ff  °–f° f°f f–f° °–f.

°ff°¯ °f f–f°  °–f f¯ %¾  f f°–f ff¾.

¯fff f f–f°¯ f°–  °– ¾  f¯f°°½ ¯°f¯f¾ff ¾f°   .

f°–¾°– .

%  °–f° f°f f–f° °–f¯ ¯ff¾ f¯f f½f¾ff ¯ ff°°f°– °©f° # ½°f#¾fff-½f f f–f°ff¾¯    f ff°°ff°f–°ff°°¯ °– ½f°n f.

%.

°¾f% f½ f–f f° ¾¯ ° ¾f ff° ½f f-.

 f.

    f f½f¾ff¯ ff°€€° °©f° # ½°f#-f°–f f ff¾ ¯  ¾fff°f¯f°€fff°°¯ °– ½f°n.

%.

 f% ¾f¯f¾ ½  ½f f f ff°¾ ¯°ff–f.

 f½f° f°€€¯ff¾  f¯  f¾fff-.

  ff¾¯ ¾ f°©°ff ff°-.

 f.

 D° © f¾°f f½f f f–f¯ff¾¾ °    f–f¯½ ©ff°f°f¾¾½f ff°–ff°¾f f  ° I   -.

@  .f¾ - f°-.

 f¯         .

fff°   –f¯¾ f¯f° f f ¯ff¾ ¯¯f¾ 9 ¾n-.

 f ff° ½f f-.

 f@    f¯f°f°©–f ¾f ½  f °–f°½ °f¯ ff°.

¯½  ¾ ¯¯f¾ -.

½f f@  ¾  f¯f°°½ ¯°f¯f¾ff ¾f°    .

¯½    9 ¾n-.

   9 ¾n- ½ff  °–f°-.

  ff°-      ff°-.

 -.

 f.

     -.

 f.

 .

.

     .

.

 .

  9 °© f¾f°½ °–f f°½f f½f¾ ° ¯¾  @–f½f¾ f¾¾%  @%f ff°½f f.

.

f°–¾ ¾f%f¯½  °f% ¯f¾   ¯°f.

¾ nff f f°f°  @  ¯°f ff°°f ¯½f  ¯½ f°°f@ nff°f¯ f ° f° –f ¯°f°f¯f¾f°@  ¯ f° °nf°–f° f°f  ff° f ¯°f@f°–¾°–¾f¯ °–f° ¯ ¾ °–f°f°D I J©f°–f°  f  ¾f°–¯f¾ .

f¯f¾f°©–f .

 °–f°f°f°–¾f¯f ©f°–f°   f   ff° f.

f °–f° ¯¾¾ ¯f°¾ °––f ©f f°f°– °f °f½f¾  f.

 f   ¾f¯ °–f°½f fD½f f¯¾  ½f¾  f   ¾f¯ °–f°½f fI½f f¯¾ f°½f¾ @ f   ¾f¯ °–f° J f¯¾ ¾ °––f ¯°–°f°°ff ff½f¾   °–f° J f¯¾ ½f¾   °–f° D f¯¾ f° ½f¾ @  °–f° I f¯¾   ff° f.

¾ f°  °–f° ¯¾©–f  °–f°  ¯°f.

  f–f°f° f ¯°f.

½f¾   @°f ©f f°¾f% ¾ff°%  .

 f° f°  ¯fff°–ff°¾n¾f fff¯¾f°–ff°f–°ff°  f½ff ¾f ½f¾f°–f°f°–ff°° fffff°nf °–f°f¾ I½f f  f ff°  °– f¯ff½f f°f¯ ½f ¯¾ ¾ f¾ ¾ ½f f° ¾ f% % f¾f°f° °–f°¾f °f ¾I ½f f½f f °f¯ ½f  ¾I½f f% % f°I½f f¾f%%¯ff f¯¾f f°f ¾f ¾f¯ °–½f f¾f¯ °–f°¾f%%½f f –f°–f°I .¾f°– f°f f½f ¾f¯ °–½f f¾f¯ °–f°¾f%% f¾f°f f° n  f¯½° f f½f f¯ ff°½f f½f° °¯ ¯ ff°¯ °– °€f¾ ° ¾f°–fff° ¾ f–f° ¾f f½f f¯ f°½f f¾fff-f°–f f½f f.

 f°–ff°f  ¾° ¾°f%¾ f°–°ff€€%  D° €°–¾°f©–f f½f f¯ ff°I¯   f°¯½  ¯   ° f¯½  ¯   f¾f°f ½ f° .

@%n °f°¾€¯ %   Jf°°–  f °fn½f f.

f°f   nf °–f° –f°–f°I¯fff f¯ f° f° f f°¾ff¾f f½f¾  f°° °  nf°.

¾¾ f°–  ¾–°° –f°–f°I  ¾  f¯f°°½ ¯°f¯f¾ff ¾f°   .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful