P. 1
BAB II Remed Oes

BAB II Remed Oes

|Views: 223|Likes:
Published by NOes Eboel ALmuhtaj

More info:

Published by: NOes Eboel ALmuhtaj on Sep 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/29/2014

pdf

text

original

BAB II LANDASAN TEORITIK Strategi Pembelajaran Peer Lesson Pengertian Sebelum lebih jauh memaparkan mengenai strategi pembelajaran

peer lesson ada baiknya perlu diketahui mengenai pengertian belajar itu sendiri. Menurut Sudjana (2009:28) “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang, perubahan dari proses belajar dapat ditunjukan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuannya,

pemahamannya, sikapnya, daya penerimaannya dan lain-lain aspek yang ada pada individu”. Menurut Slameto (2003: 2), “Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selain itu Zaini dkk (2002:1) “belajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik”. Lebih kompleks, Usman (2000:4) menegaskan bahwa “belajar adalah proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungan”. Kemudian Gagne dalam Slameto, (2003:13) memberikan dua definisi, yaitu: a). Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan, dan tingkah laku. b) Belajar adalah pengusaan pengetahuan atau ketrampilan yang memperoleh dari instruksi Dari kutipan-kutipan di atas terlihat bahwa belajar sebagai suatu proses

lebih diharapkan kepada perubahan tingkah laku. Belajar pun hanya dipandang sebagai proses adaptasi yang akan mendatangkan hasil optimal bila diberi penguatan. Bentuk belajar yang demikian kiranya akan membawa kepada hasil pembelajaran yang bertolak pada perubahan tingkah laku dengan dibantu oleh suatu strategi pembelajaran yang diangkap tepat yaitu suatu pembelajaran yang aktif. Selain pandangan dari beberapa ahli di atas, ada baiknya kita meninjau teori pembelajaran aktif dalam kelompok (cooperative Learning). Menurut Zaini dkk (2008:xiv) “pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Selanjutnya, menurut Slavin (dalam Injoni, 2007:17) “cooperative learning adalah sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstruktur”. Untuk memperjelas tentang pengertian strategi pembelajaran itu sendiri, Mills menerangkan (dalam Suprijono, 2009:45) “strategi pembelajaran adalah bentuk representasi akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau kelompok orang berdasarkan strategi itu”. Menurut Suprijono (2009:46) strategi pembelajaran adalah pola yang digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi, dan pemberian petunjuk kepada guru di kelas. Menurut Hamalik (1993:79) “strategi pembelajaran adalah pola umum untuk mewujudkan proses belajar peserta didik dan guru terlibat didalamnya secara aktif. Selain itu Arends (dalam Suprijono, 2009:46) strategi pembelajaran adalah

25

26

mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuantujuan pembelajaran, tahapan-tahapan dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolahan kelas. Lebih komplek, menurut Suprijono (2009:45) strategi pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas maupun tutorial. Kemudian dari beberapa pendapat diatas lebih lanjut Joyce menerangkan tentang fungsi strategi pembelajaran, menurut Joyce (dalam Suprijono, 2009:46) fungsi strategi pembelajaran adalah “each strategi guides us as we design instruction to help students achieve various objectives”. Menurut Suprijono (2009:46) strategi pembelajaran berfungsi pula sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. Menurut Hamalik (1993:79) Fungsi strategi pembelajaran adalah untuk mencoba meningkatkan gejala yang nyata dalam kehidupan yang sangat komplek. Lebih komplek, Zaini dkk mengemukakan bahwa strategi pembelajaran aktif banyak macamnya, diantaranya: (Jigsaw learning, Snow balling, Everyone Is A Teacher, peer lesson dll). Kemudian silberman mengelompokan strategi pembelajaran aktif menjadi beberapa macam, diantaranya: (Silet Demonstration, peer lesson, Keep On Learning dll). Dari beberapa pendapat para ahli peneliti mengambil suatu strategi

pembelajaran peer lesson sebagai salah satu alternatif untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Menurut Zaini dkk (2008:63) “peer lesson adalah strategi pembelajaran yang digunakan untuk menggairahkan kemauan peserta didik untuk mengajarkan materi kepada temannya. Lebih komplek, menurut Silberman

(2009:53) peer lesson adalah strategi yang mengembangkan peer teaching dalam kelas yang menempatkan seluruh tanggung jawab untuk mengajar para peserta didik sebagai anggota kelas. Remedial Tantangan, krisis dan kesenjangan belajar berpengaruh terhadap pertumbuhan jumlah siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar di sekolah, terutama bagi siswa yang lamban dan berprestasi rendah. Bertambahnya jumlah siswa putus sekolah adalah wujud nyata dari permasalahan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya di masyarakat. Kalau dibiarkan begitu saja masalah itu akan membawa dampak besar terhadap peningkatan taraf hidup manusia di bidang sosial, ekonomi, budaya dan pengetahuan. Akibat tantangan, krisis, dan kesenjangan belajar itu sangat dirasakan oleh siswa yang mengalami kesulitan belajar terutama siswa yang lamban belajar dan berprestasi rendah. Untuk mengatasi kesulitan belajar siswa, maka perlu diadakanya pengulanganpengulangan materi yang dianggap siswa sulit, dan cara yang tepat untuk menangulangi permasalahan tersebut yaitu dengan mengadakan remedial. Teori Pendidikan Remedial Pembelajaran remedial dilakukan adanya faktor (sebab-sebab) kesulitan belajar yang dialami siswa, dari kesulitan itu perlu adanya penanganan khusus. Menurut Wijaya (2007:43) mengemukakan alasan dan sebabnya sebagai berikut: Rendahnya kemampuan yang dimiliki siswa dalam menguasai pengetahuan yang disampaikan guru di kelas, terutama pengetahuan yang dipelajari melalui cara-cara belajar tertentu sesuai dengan tuntutan kurikulum sekolah. Kebiasaan mempelajari pengetahuan melalui cara-cara lama yang sangat sulit diubah kedalam cara-cara yang sesuai dengan tuntutan kurikulum sekolah.

27

28

Kebiasaaan tidak gemar membaca dan menulis akibat budaya yang diturunkan leluhurnya dari generasi ke generasi serta akibat besarnya perhatian kepada alat-alat teknologi dan lingkungan yang eksentrik, disamping faktor kelelahan. Tersebarnya obat-obat terlarang yang digunakan secara tidak professional oleh sebagian siswa di sekolah, sehingga menimbulkan kemalasan yang terhingga dalam melakukan aktivitas belajar. Kurangnya perhatian orang tua di rumah dalam membimbing pendidikan anak-anaknya sehubungan dengan faktor kesibukan dan kelalaian. Di kalangan mereka terdapat orang tua yang mencari nafkah jauh dari tempat tinggal tidak dapat membimbing anaknya dengan baik bahkan bertemu pun dengan anak-anaknya seminggu atau dua minggu sekali bahkan berbulan-bulan. Kualitas pengajaran guru kurang memadai karena faktor intern dan ekstern yang tidak dikuasainya, antara lain pengetahuan, sikap, keterampilan, upah, suplai media sumber-sumber belajar, dan penghargaan yang dapat menimbulkan siswa kurang bermotivasi melakukan proses belajar yang optimal. Pendidikan dan pengajaran remedial memberi harapan baik terhadap siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Apabila kesulitan dalam belajar itu tidak ditangani secara serius, maka kegagalan akan dialami selama-lamanya. Pendidikan remedial juga memberi kejelasan terhadap perbedaan antara anak yang lemah berpikir dan lamban belajar yang membutuhkan latihan-latihan tertentu dalam bidang mata pelajaran dasar. Menurut Wijaya (2007:46-47) perbedaan-perbedaan itu membuahkan keyakinan para pakar pendidikan untuk berpendapat sebagai berikut: Abilitas manusia dapat diukur melalui alat ukur tertentu yang dibuat dengan cermat dan memenuhi kriteria validitas, reliabilitas, dan relevansi. Pengelompokan siswa dapat dilakukan sehingga pengajaran klasikal dapat diselenggarakan. Pelayanan pendidikan dan pengajaran remedial dapat dilakukan sesuai dengan tipe belajar siswa, kemampuan, umur, mental, dan bakat individu. Pendidikan dan pengajaran remedial diselenggarakan di sekolah dan dilakukan secara individual dengan program yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum sekolah. Wijaya (2007:47-48) mengungkapkan, berkaitan dengan hal itu terdapat

dua aliran yang berpengaruh: Pendapat mengenai kemampuan intelektual rendah dalam diri seseorang merupakan kondisi permanen yang tak dapat diubah. Usaha remediasi sudah tidak mungkin dilakukan, karena itu usaha membina siswa untuk bisa kembali menempati kedudukkan yang sejajar dengan teman sebayanya sudah tidak bisa lagi diharapkan. Siswa yang lamban belajar pada umumnya sebagai akibat dari kegagalan dalam proses belajar. Kesimpulannya terdapat salah satu fungsi organ jasmani dan rohani yang sedang mengalami kelainan dan dianggap sesuatu yang patologis. Menurut pendapat ini siswa yang sedang mengalami kesulitan belajar dapat didiagnosis dan kemudian dapat diberikan latihanlatihan khusus secara temporer. Siswa penderita yang sedang berada di kelas itu dapat segera ditarik ke kelas remedial untuk diberikan penyembuhan-penyembuhan (therapy), dan bila telah sembuh dia segera dikembalikan ke kelas biasa (ordinary class). Menurut Wijaya (2007:48) pendidikan dan pengajaran remedial berfungsi untuk membantu tugas-tugas sekolah di bidang pengajaran. Kemungkinan dalam pelaksanaannya akan memerlukan waktu relatif lama untuk kepentingankepentingan di atas. Untuk itu dalam beberapa hal kurikulum yang dibuat harus diarahkan kepada dua keperluan, pertama untuk kepentingan bersama (communal) dan kedua untuk kepentingan kasus, agar beban tanggung jawabnya lebih jelas dan terarah. Dari hal tersebut bahwa, pengajaran remedial adalah suatu bentuk pengajaran yang diupayakan oleh guru atau pihak lain dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Tentunya asumsi ini berdasarkan pada praduga bahwa siswa sesungguhnya memiliki kemampuan untuk mencapai kriteria atau tujuan dalam belajar, tetapi dalam proses pencapaianya mengalami hambatan atau kesulitan dalam belajar. Menurut Susilawati (2007:7-8) “melalui program remedial ini diharapkan kemampuan berhitung siswa meningkat. Adapun siswa yang dapat mengikuti program remedial adalah sebagai berikut:

29

30

Siswa yang belum menguasai ketrampilan dan pengalaman prasarat untuk memahami konsep yang diberikan. Siswa yang mempunyai kemampuan membaca dan berbahasa dibawah tingkat yang diperlukan sehingga memerlulan perhatian khusus dalam aspek ini. Tikat efesien dalam mengembangkan konsep (miskonsepsi) Mempunyai kebiasaan kerja yang ceroboh Sering absen Siswa yang memiliki latang belakang keluarga, teman, tetangga, dan budaya yang tidak mendukung mereka untuk sukses disekolahnya yang berdampak ketidak suksesan dalam pelajaran matematikanya Siswa pindahan yang mengalami masalah dalam proses adaptasi belajarnya Para imigran (pelajar) asing yang memiliki kesulitan dalam bahasa dan penyesuaian diri Siswa yang memiliki cacat jasmani atau ketidakmampuan belajar Sehubungan dengan hal tersebut Syamsudin (2007:343), mengemukakan bahwa: Pengajaran remedial adalah sebagai upaya guru (dengan atau tanpa bantuan atau kerja sama dengan ahli atau pihak lain) untuk menciptakan suatu situasi (kembali atau baru atau berbeda dari yang biasa) yang memungkinkan individu atau kelompok siswa ( dengan karakteristik tertentu lebih mampu mengembangkan dirinya (meningkatkan prestasi, penyesuaian kembali) seoptimal mungkin sehingga dapat memenuhi kriteria keberhasilan minimal yang diharapkan, dengan melalui suatu proses interaksi berencana, terorganisai, terarah, terkoordinasi dan terkontrol dengan lebih memperhatikan taraf kesesuaiannya terhadap keragaman kondisi objektif individu dan atau kelompok siswa yang bersangkutan serta daya dukung sarana dan lingkungannya. Pendapat lain dikemukakan oleh ahli matematika Ruseffendi (2004:) bahwa pengajaran remedial adalah pengajaran yang digunakan untuk

menyembuhkan kekeliruan-kekeliruan atau untuk memahami konsep-konsep yang telah dipelajari tetapi belum dikuasai. Berdasarkan teori-teori diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengajaran remedial adalah suatu bentuk khusus pengajaran yang dilakukan guru atau ahli untuk membantu siswa dalam mencapai hasil belajar yang sesuai dengan kriteria

atau karakteristik kesulitan belajar tersebut. Pengajaran Remedial Dalam Proses Belajar Menurut Bruner (dalam Nasution, 2009:9) mengemukakan bahwa dalam proses belajar dapat dibedakan tiga fase sebagai berikut: Informasi : dalam tiap pelajaran kita memperoleh sejumlah informasi, ada yang menambah pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya, ada pula informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya. Transformasi : informasi itu harus dianalisis, diubah atau di transformasikan kedalam bentuk yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas. Dalam hal ini bantuan guru sangat diperlukan. Evaluasi : kemudian kita nilai hingga manakah pengetahuan untuk kita peroleh dan transformasi itu dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain. Menurut Ahmadi (2004:153) dalam proses belajar mengajar siswa diharapkan dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya sehingga bila ternyata ada siswa yang belum berhasil sesuai dengan harapan maka diperlukan suatu proses pengajaran yang membantu agar tercapai hasil yang diharapkan. Dengan

demikian perbaikan diarahkan kepada pencapaian hasil yang optimal sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa melalui keseluruhan proses belajar mengajar dan keseluruhan pribadi siswa. Menurut Ahmadi (2004:152) dengan demikian perlunya/pentingnya pengajaran perbaikan atau remedial teaching itu dapat dilihat dari berbagai segi yaitu atas dasar pertimbangan: pedagogis, psikologis, didaktis, metodis, moral dan lain-lain. Menurut Ahmadi (2004:155) penyesuaian pengajaran perbaikan terjadi antara siswa dengan tuntutan dalam proses belajarnya. Artinya siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga peluang untuk mencapai hasil lebih baik

31

32

lebih besar. Tuntutan disesuaikan dengan jenis, sifat, dan latar belakang kesulitan sehingga mendorong untuk

lebih belajar. Lebih lanjut Ruseffendi (2006:483) menjelaskan bahwa ada perbedaan pengajaran remedial dengan pengajaran pada umumnya, sebagai berikut: Tujuan pembuatannya berbeda, yaitu untuk penyembuhan atau pembetulan pengajaran yang belum berhasil Pengajaran remedial dibuat berdasarkan hasil diagnosis kesulitan belajar siswa TIK yang hasus dicapai, dengan sendirinya materinya juga Metode yang dipergunakan adalah metode yang disesuaikan dengan cara dan kebiasaan siswa Sikap dan perbuatan guru lebih disesuaikan dengan kebutuhan fisik dan emosional (psikologis) siswa Tanpa evaluasi pengajaran remedial itu tidak banyak arti Menurut Wijaya (2007:49) semua guru bidang studi harus dipersiapkan dengan baik agar berkemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas pendidikan dan pengajaran remedial. Untuk keperluan itu setidaknya semua guru bidang studi dapat menjadi guru pendidikan remedial. Mereka harus mempunyai pandangan yang sama dengan guru pendidikan remedial lainnya dan memahami dengan baik tentang perubahan konsep pendidikan remedial serta perubahan-perubahan tuntutan kurikulum yang cocok dengan hakikat pendidikan remedial. Kemudian Alec Bourne dalam Dananjaya (2010:84) menegaskan bahwa proses pembelajaran berpusat pada siswa mengubah peran dominan guru, guru yang dominan mengkin saja memasukan sejuta fakta kedalam otak anak, tetapi anak akan tetap tidak terdidik. Kemudian Sudjana (2009:2) menerangkan bahwa “belajar mengajar sebagai suatu proses mengandung tiga unsure yang dapat dibedakan, yakni tujuan

pengajaran (instruksional), pengalaman (proses) belajar mengajar, dan hasil belajar”. Hubungan ketiga unsur tersebut digambarkan dalam gambar 2.3. (a) (b) Gambar 2.1 hubungan dalam proses belajar Keterangan: Garis (a) menunjukkan hubungan antara tujuan instruksional dengan pengalaman belajar, garis (b) menunjukkan hubungan antara pengalaman belajar dengan hasil belajar, dan garis (c) menunjukan hubungan tujuan instruksional dengan hasil belajar. Dari diagram di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan penilaian dinyatakan oleh garis (c), yakni suatu tindakan atau kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan-tujuan instruksional telah dapat dicapai atau dikuasai oleh siswa dalam bentuk hasil-hasil belajar yang diperlihatkannya setelah mereka menempuh pengalaman belajarnya (proses belajar mengajar). Proses Remedial Pada awal proses remedial, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan diantaranya mengetahui sebab-sebab atau sebab akibat ketidakpahaman siswa pada materi ini. Karena mengetahui penyebabnya akan mempermudah pengajaran remedial (Remedial Teaching), selain itu juga dapat membantu pencapaian pada tujuan yang diharapkan. Sebagaimana Wijaya (2007:52) berpendapat bahwa mengetahui ciri-ciri atau latar belakang siswa lamban belajar tujuannya adalah untuk mendata karakteristik tertentu siswa dalam skala siswa yang perlu mendapatkan pertolongan guru. Pengenalan ciri-ciri siswa lamban belajar dapat membantu guru dalam membuat hipotesis tentang sebab-sebab kesulitan belajar. (c)

Menurut Wijaya (2007:53) menjelaskan “bahwa ciri-ciri umum siswa lamban belajar dapat dipahami melalui pengamatan fisik siswa, perkembangan

33

34

mental, intelektual, sosial, ekonomi, kepribadian, dan proses-proses belajar yang dilakukan di sekolah dan di rumah”. Lebih komplek menurut Sudjana (2009:29) “proses belajar adalah proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar”. Pengajaran remedial merupakan salah satu tahapan kegiatan utama dalam keseluruhan kerangka pola layanan bimbingan belajar, serta merupakan rangkaian kegiatan lanjutan logis dari usaha diagnostik kesulitan belajar mengajar. Pengulangan materi yang sulit memicu ingatan siswa pada materi yang pernah diberikan, sehingga hal ini memicu untuk meningkatkan hasil belajar seperti yang diharapkan. Pengajaran remedial merupakan salah satu tahapan kegiatan utama dalam keselutuhan kerangka pola layanan bimbingan belajar, serta merupakan rangkaian kegiatan lanjutan logis dari usaha diagnostik kesulitan belajar mengajar. Selain itu, menurut Syamsudin (2007:343-344) secara skematik prosedur remedial dimulai dengan mendiagnostik kesulitan belajar mengajar, mempelajari kasus apa yang menyebabkan siswa kesulitan belajar, memilih alternatif tindakan yang tepat untuk siswa yang lamban belajar, pelaksanaan pengajaran remedial, adanya posttest untuk mengukur hasil belajar siswa, re-diagnostik dan langkah terakhir adanya tugas tambahan sehingga didapat hasil yang diharapkan. Skematik prosedur remedial tersebut dapat digambarkan pada gambar 2.2 :

Gambar 2.2 Prosedur Pengajaran

Dari gambar skematik tersebut dapat dikembangkan sekurang-kurangnya empat alternatif prosedur sesuai dengan keperluannya. Keempat alternatif itu ialah: Prosedur 1, mencakup langkah 1-2-3-4-5-6; Prosedur 2, mencakup langkah 1-2-(3)-4-5-6; Prosedur 3, mencakup langkah 1-2-3-4-5-6-(7);dan Prosedur 4,mencakup langkah 1-2-(3)-4-5-6-(7). Prosedur remedial pada gambar 2.1 dapat di jelaskan sebagai berikut : Penelaahan Kembali Kasus Dengan Permasalahannya

35

36

Langkah ini merupakan tahapan paling fundamental dalam pengajaran remedial karena merupakan landasan pangkal tolok langkah-langkah kegiatan berikutnya. Sasaran pokok langkah ini adalah: Diperolehnya gambaran yang lebih definitif mengenai karakteristik kasus berikut permasalahannya. Diperolehnya gambaran yang lebih definitif mengenai fasibilitas alternatif tindakan remedial yang direkomendasikan. Sesuai dengan sasaran tersebut maka kegiatan dalam langkah ini difokuskan kepada suatu analisis rasional atas hasil diagnostik yang telah kita lakukan atau rekomendasikan/referral yang kita terima dari pihak atau ahli lain (guru bidang studi, wali kelas, petugas BK dan sebagainya). Menentukan Alternatif Pilihan Tindakan Langkah ini merupakan langkah lanjutan logis dari langkah pertama. Dari hasil penelaahan yang kita lakukan pada langkah pertama itu akan diperoleh kesimpulan mengenai dua hal pokok, yaitu: pertama karakteristik khusus yang akan ditangani secara umum; dan kedua alternatif pemecahan. Dengan demikian, sasaran pokok kegiatan yang dilakukan dalam tahapan ini ialah membuat keputusan pilihan alternatif rasional yang seksama. mana yang ditempuh berdasarkan pertimbangan

Layanan Bimbingan Dan Konseling/Psikoterapi Layanan ini pada dasarnya bersifat pilihan bersyarat (optimal and

conditional) ditinjau dari kerangka keseluruhan prosedur pengajaran remedial. Oleh karena itu, sasaran pokok yang hendak dituju oleh layanan ini ialah terciptanya kesehatan mental kasus (mental health), dalam arti ia terbatas dari hambatan dan ketegangan batinnya untuk kemudian siap sedia kembali melakukan kegiatan belajar secara wajar dan realistis. Di dalam praktiknya, langkah ini mungkin sampai batas-batas tertentu masih ditangani oleh guru sendiri (bagi yang sudah cukup berpengalaman dan dianugerahi sifat-sifat kepribadian yang cocok untuk tugas itu). Namun, mungkin sekali dengan bantuan atau kerja sama pihak lain (petugas BK, wali kelas, psikolog, dokter dan sebagainya). Melaksanakan Pengajaran Remedial Sasaran pokok dari setiap pengajaran remedial ini ialah tercapainya peningkatan hasil belajar dan atau kemampuan penyesuaian diri sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditetapkan. Mengadakan Pengukuran Prestasi Belajar Kembali Dengan selesainya dilakukan pengajaran remedial, seyogianya dideteksi ada atau tidaknya perubahan pada diri kasus. Oleh karena itu perlu diadakan pengukuran kembali. Hasil pengukuran ini akan memberikan informasi seberapa jauh atau seberapa besar perubahan telah terjadi, baik dalam arti kualitatif maupun kuantitatif. Cara dan instrumen yang digunakan dalam pengukuran pada langkah ini seyogianya sama dengan apa yang digunakan pada waktu post-test atau tes sumatif dari PBM utama. Mengadakan Re-Evaluasi dan Re-Diagnostik

37

38

Langkah ini merupakan usaha untuk menafsirkan dan mempertimbangkan kembali hasil pengukuran dengan menggunakan cara dan kriteria seperti PBM biasa. Remedial Pengayaan Dan Atau Pengukuran (Tambahan) Sasaran pokok langkah ini adalah agar hasil remedial teaching itu lebih sempurna dengan adanya pengayaan (enrichment) pengukuhan (reinforcement) ini. Berhasil atau tidaknya dalam pelaksanaan pengajaran remedial ada dua kemungkinan yang akan didapat kelebihan dan kekurangan yang diperoleh: Kelebihan Remedial Teaching Dalam remedial teaching diharapkan adanya perubahan pada siswa dalam belajar dan mendorong kembali semangat siswa dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan adanya bantuan dari guru dengan diadakannya program remedial teaching akan membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajarnya. Perubahan-perubahan yang terjadi akan mendorong semangat bagi siswa dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Kekurangan Remedial Teaching Ketidakberhasilan remedial teaching disebabkan oleh beberapa

kemungkinan, antara lain: daya pikir siswa, kurang profesionalnya dan strategi yang diberikan guru kurang bervariasi, dan sebagainya.

Pengertian Hasil Belajar Siswa dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya pada Bidang Studi Matematika Pengertian Hasil Belajar

Menurut Sudjana (2009:45) hasil belajar adalah tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar, hasil belajar yang dicapai siswa penting diketahui oleh guru, agar guru dapat merancang/mendesain pengajaran secara tepat. Lebih komplek menurut Suprijono (2009:5) hasil belajar adalah pola-pola berbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan ketrampilan.

kemudian merujuk pada pemikiran Gagne (dalam Suprijono, 2009:5-6) menguraikan hasil belajar sebagai berikut: a). Informasi verbal yaitu kapasitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, naik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespons secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi symbol, pemecahan masalah maupun penerapan aturan. b). ketrampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambing. Ketrampilan intelektual terdiri dari kemmapuan mengkategorisasi, kemapuan analisis-sintesis fakta konsep dan mengembangkan prensip-prensip keilmuan. c). strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. d). ketrampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. e). sikap yaitu kemampuan menerima atau menolak objek berdasatkan penilaian berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Kemudian Sudjana (2009:22) menambahkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemapuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Lebih terperinci Horward Kingsley (dalam Sudjana, 2009:22) hasil belajar dapat dihasilkan dari ketrampilan dan kebiasaa, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita-cita.masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Dari uraian di atas peneliti mengambil kesimpulan bahwa penilaian hasil belajar dapat dilakukan setelah proses pembelajaran berlangsung, baik itu per

39

40

pokok bahasan maupun per pertemuan. Dan hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penerimaan seluruh pengalaman belajar individu. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Seperti yang dituturkan Syah (2004:144), “Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi tiga macam. Yakni: Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan disekitar siswa. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran”. Menurut Slameto (2010:123) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. Mengenai kedua faktor di atas, yakni faktor dari dalam dan dari luar siswa, menurut Sudjana (2009: 40-41), “Hubungan antara kemampuan siswa dan kualitas pengajaran mempunyai hubungan berbanding lurus dengan hasil belajar siswa. Artinya, makin tinggi kemampuan siswa dan kualitas pengajaran, makin tinggi pula hasil belajar siswa. Jika dilukiskan seperti dalam gambar 2.3 di bawah ini:

Gambar 2.3 Hubungan Antara Kualitas Pengajaran dengan Kemampuan Siswa Pada gambar 2.3 terlihat bahwa Y2 lebih tinggi dari Y1 disebabkan kemampuan siswa A2 dan kualitas pengajarannya (B2) lebih tinggi dibandingkan dengan A1 dan B1. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi dan menunjang hasil belajar siswa diantaranya sebagai berikut: Faktor internal siswa, meliputi minat, bakat, kemampuan, dan lain-lain. Faktor eksternal siswa, meliputi guru serta kompetensi dan strategi

pembelajarannya, karakteristik kelas, maupun karakteristik sekolah. Selain itu, Sudjana (2009:39) mengatakan bahwa “ Disamping faktor yang dimiliki siswa juga ada faktor lain yaitu: motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan, belajar, ketekunan, social, ekonomi, faktor fisik dan psikis. Dan faktor yang berada diluar diri siswa salah satunya adalah lingkungan belajar yang sangat dominan mempengaruhi hasil belajar di sekolah yaitu kualitas pengajaran. Menurut Caroll (dalam Sudjana,2009:40) “hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh lima factor, yakni (a) bakat pelajar, (b) waktu yang tersedia untuk belajar, (c) waktu yang diperlukan siswa untuk menjelaskan pelajaran, (d) kualitas pengajaran, dan (e) kemampuan individu.

41

42

Indikator Hasil Belajar Untuk mengetahui hasil belajar siswa, sudah sepatutnya memperhatikan beberapa aspek yang berkaitan dengan perubahan tingkah laku siswa. Karena berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran bergantung sejauh mana perubahan yang terjadi pada siswa. Tentu saja perubahan disini adalah perubahan kearah positif. Dalam hal ini Sudjana (2009:49) menyatakan bahwa: Tujuan pendekatan yang akan dicapai dikategorikan menjadi tiga bidang kognitif (penguasaan intelektual), bidang afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai), bidang psikomotor (kemampuan berperilaku, keterampilan bertindak). Ketiga bidang tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, bahkan dapat membentuk hubungan hirarki. Sebagai tujuan yang hendak dicapai, ketiganya harus nampak dari hasil belajar siswa di sekolah. Berdasarkan pendapat diatas, dari ketiga ranah tersebut yang menjadi objek penilaian hasil belajar. Ranah kognitiflah yang dipakai peneliti karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai bahan pengajaran. Menurut Sudjana (2009:22) “ranah kognitif adalah berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi”. Selanjutnya, Bloom dkk (dalam Winkel, 2007:274-276) menjelaskan masing-masing ranah tersebut adalah sebagai berikut: pengetahuan: mencakup ingkatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Hal-hal itu dapat meliputi fakta, kaidah dan prinsip, serta metode yang diketahui. pemahaman: mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Penerapan : mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus/problem yang kongret dan baru. Analisis : mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik.

Sintesis : mencakup kemampuan untuk membentuk suatu satu kesatuan atau pola baru. Evaluasi : mencakup kemampuan utnuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban pendapat itu, yang berdasarkan criteria tertentu. Selain itu, menurut Sudjana (2009:50-52) tipe hasil belajar bidang kognitif diuraikan sebagai berikut: Tipe hasil belajar pengetahuan hafalan (Knowledge) cakupan dalam pengetahuan hafalan termasuk pula pengetahuan yang sifatnya faktual, disamping pengetahuan yang mengenai hal-hal yang perlu diingat kembali. Tipe hasil belajar pemahaman (comprehensive) pemahaman memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti dari suatu konsep. Untuk itu maka diperlukan adanya hubungan atau pertautan antara konsep dengan makana yang ada dalam konsep tersebut. Tipe hasil belajar penerapan (aplikasi) Aplikasi adalah kesanggupan menerapkan, dan mengabstraksi suatu konsep, ide, rumus, hokum dalam situasi yang baru. Tipe hasil belajar analisis Analisis adalah kesanggupan memecah, mengurai suatu integritas (kesatuan yang utuh) menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang mempunyai arti, atau mempunyai tingkatan/hirarki. Tipe hasil belajar sintesis Sintesis adalah lawan analisis. Bila pada analisis tekanan pada kesanggupan menguraikan suatu integritas menjadi bagian yang bermakna, pada sintesis adalah kesanggupan menyatukan unsure atau bagian menjadi satu integritas. Tipe hasil belajar evaluasi Evaluasi adalah kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan judgment yang dimilikinya, dan criteria yang dipakainya. Dari pendapat-pendapat diatas, peneliti mengambil tipe hasil belajar ranah kognitif yang meliputi jenjang hafalan, pemahama , aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Sebagai alat ukur dari suatu proses pembelajaran untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak. Komposisi Dua Fungsi Dan Fungsi Invers Pengertian komposisi Dua fungsi dan fungsi invers

43

44

Sebelum dipaparkan secara lebih spesifik tentang apa yang dimaksud dengan Komposisi dua fungsi dan fungsi Invers di sekolah pada penelitian ini, akan diuraikan pengertian komposisi dua fungsi dan fungsi invers secara umum. Hal ini di lakukan sebagai upaya untuk memberikan pemahaman yang cukup dalam tentang Komposisi dua fungsi dan fungsi Invers matematika di sekolah. Untuk memahami operasi komposisi pada fungsi, perhatikan gambar 6-1 berikut.

efinisi: a fungsi f:A?B dinyatakan dengan pasangan berurut =a,b| a?A dan b?B aka invers fungsi f adalah f-1 :B?A ditentukan oleh -1=b,a| b?B dan a?A Perhatikan urutan langkah-langkahnya. Menurut wirodikromo (2006:179) Fungsi memetakan menjadi , kemudian fungsi mengolah menjadi . Fungsi ini adalah komposisi fungsi dan fungsi dengan di sebut fungsi komposisi yang dilambangkan oleh

. Sedangkan menurut Istiyanto (2009:116) menegaskan bahwa komposisi fungsi adalah jika ditentukan dengan rumus ditentukan dengan rumus maka komposisi fungsi dan ditentukan oleh rumus fungsi komposisi sebagai berikut: dan

Selanjutnya peneliti akan membahas tetang pengertian Fungsi Invers, Suatu fungsi memiliki fungsi invers jika semua anggota dan ke dan .

berkorespondensi satu-satu. Berlaku hubungan Istiyanto (2009:116). Misalkan fungsi F memetakan unsur sehingga fungsi

dapat dinyatakan dalam bentuk pasangan berurut: . Pemetaan diperoleh dengan cara .

menukarkan atau membalikan pasangan terurut Pasangan terurut ini adalah unsure dari invers . Jika invers dari fungsi , maka: .

itu dilambangkan dengan

(Wirodikromo, 2006:190) Perlu dicatat bahwa hasil invers suatu fungsi belum tentu suatu fungsi,

24

25

tetapi dapat saja merupakan suatu hubungan atau relasi biasa. Jika invers dari suatu fungsi merupakan fungsi pula, maka fungsi yang demikian disebut fungsi invers. Kompetensi dasar Berdasarkan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP 2006) pada pokok bahasan komposisi dua fungsi dan fungsi invers memiliki kompetensi dasar: “menentukan komposisi fungsi dari dua fungsi dan menentukan invers suatu fungi”. Jadi sebagai acuan kemampuan dasar dari pembelajaran matematika pokok bahasan komposisi dua fungsi dan fungsi invers, siswa dapat menggunakan pengetahuannya yang diperoleh dari hasil pembelajaran komposisi dua fungsi dan fungsi invers khususnya mengenai sifat khusus yang mungkin dimiliki oleh sebuah fungsi, melakukan operasi-operasi aljabar yang diterapkan pada fungsi, menentukan rumus fungsi dari setiap fungsi yang diberikan, menentukan fungsi jika fungsi komposisi dan sebuah fungsi lain diketahui dan menentukan fungsi invers dari suatu fungsi komposisi. Selain itu, komposisi dua fungsi dan fungsi invers juga dijadikan prasyarat untuk mempelajari pokok bahasan lainnya dalam matematika, terlebih ketika dihadapkan kepada materi yang membutuhkan penggabungan operasi dua fungsi. Ruang lingkup Materi Komposisi dua Fungsi dan Fungsi Invers Selanjut sebagai ruang lingkup bahasan materi komposisi dua fungsi dan fungsi invers adalah sebagai berikut : Rumus fungsi komposisi Misalkan diketahui fungsi-fungsi, ditentukan dengan rumus

, dan dan fungsi Contoh: Jika Penyelesaian :

ditentukan dengan rumus

. Maka komposisi dari fungsi .

ditentukan oleh rumus fungsi komposisi

dan

, maka

Jadi, Sedangkan jika ada suatu fungsi kebalikan dari fungsi diatas, misalkan diketahui fungsi-fungsi, ditentukan dengan rumus oleh rumus fungsi komposisi, Contoh: Jika Penyelesaian : dan , maka ditentukan dengan rumus . Maka ko,posisi dari fungsi . , dan dan ditentukan

Jadi, b. Menentukan Fungsi Jika Fungsi Komposisi dan Sebuah Fungsi Lain Diketahui. Misalkan fungsi komposisi fungsi atau diketahui dan sebuah ditemukan? Begitu pula

juga diketahui, mungkinkah fungsi

26

fx dan gx

fogx atau gofx

fx dan gofx gx dan fogx gx dan gofx

gx gx fx fx

27

kalau fungsi komposisi

atau

diketahui dan sebuah fungsi ditemukan? Persoalan ini dapat di

juga diketahui, mungkinkah ufngsi perlihatkan dengan bagan pada gambar berikut. Diketahui Dapat ditentukan

Diketahui

Dapat ditentukan

Contoh: Diketahui fungsi komposisi Tentukan fungsi Penyelesaian: sebab dan fungsi = 4x -1.

Jadi, fungsi . Sifat-Sifat Komposisi Fungsi Seperti pada umumnya operasi Aljabar, baik operasi aljabar pada bilangan maupun operasi aljabar pada fungsi, operasi komposisi pada fungsi mempunyai juga sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat operasi komposisi pda fungsi-fungsi adalah sebagai berikut: Pada umumnya opeasi komposisi pada fungsi-fungsi tidak komutatif. Untuk sembarang fungsi-fungsi dan , pada umumnya:

Contoh : Diketahui fungsi-fungsi dengan rumus ? Penyelesaian : dan dan masing-masing ditentukan . Tentukan apakah

Jadi, fungsi komposisi Berdasarkan hasil-hasil, tampak bahwa dengan

jadi, fungsi komposisi tidak sama

. Dengan demikian operasi komposisi

fungsi pada umumnya tidak komutatif dimana Operasi komposisi pada fungsi-fungsi bersifat asosiatif. Untuk sembarang fungsi-fungsi dan , maka berlaku hubungan:

Contoh : Diketahui fungsi-fungsi ditentukan dengan rumus ? Penyelesaian : Misalkan , maka: dan dan masing-masing . Tentukan apakah

28

29

Jadi, fungsi komposisi Misalkan

, maka:

Jadi, fungsi komposisi Dengan demikian, dikatakan operasi komposisi pada fungsi bersifat asosiatif, karena operasi komposisi pada contoh ini menunjukan bahwa

atau bias juga ditulis dengan Dalam operasi komposisi fungsi-fungsi terdapat sebuah unsure identitas, yaitu fungsi identitas fungsi identitas . Contoh : Diketahui fungsi-fungsi dan dan ? Penyelesaian : Fungsi Fungsi masing-masing . Tentukan apakah ini mempunyai sifat:

ditentukan dengan rumus.

Jadi, Dalam hal ini, fungsi

Jadi, fungsi identitaas dalam operasi komposisi

fungsi dimana contoh tersebut menghasilkan bahwa .

Fungsi Invers dari Fungsi Komposisi Misal fungsi dan atau dengan dengan dan . Jika adalah fungsi komposisi dari adalah maka

, maka invers fungsi . Jadi, jika .

Contoh: Diketahui . Tentukan Jawab: Jika Jika . dengan dan g-1x=x-4

maka

30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->