MAKALAH TUGAS BESAR MATA KULIAH: ALAT PENUKAR KALOR: DOUBLE PIPE

KELOMPOK 1: Abdul Jabbar (0706266) Alwin Nurman (0706266840) Andre Grivanzi (0706266853) Ardhana Putranto (0706266891)

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA

perlu adanya pelatihan mengenai basic kalkulasi atau analisa dari sistem alat penukar kalor secara aktual. Sebagai mahasiswa yang dipersiapkan untuk menghadapi tantangan aplikasi sistem dalam industri (alat penukar kalor). Pada laporan ini. khususnya industri proses. Peningkatan performa alat penukar kalor dapat membantu industri menjadi lebih baik. Oleh karena itu. . dan industri kimia. alat penukar kalor yang akan dibahas adalah alat penukar kalor yang paling sederhana dan paling kompak yakni double pipe heat exchanger. Proses perpindahan kalor itu terjadi antara dua fluida yang dipisahkan oleh suatu batas dan mempunyai temperatur yang berbeda. dimensi. Alat penukar kalor adalah suatu alat yang dapat menghasilkan perpindahan kalor dari suatu fluida ke fluida lain. Demikian besarnya peranan dan penggunaan alat penukar kalor dalam dunia industri.BAB 1 PENDAHULUAN 1. manufaktur.1 Latar Belakang Alat penukar kalor (heat exchanger) merupakan alat yang banyak digunakan dalam industri. sistematika dan kalkulasi perpindahan kalor untuk selanjutnya dapat merancang desain model yang memenuhi sebagian property tersebut atau keseluruhan property untuk model yang lebih baik. dilakukan-lah perancangan model beberapa jenis alat penukar kalor. Perancangan alat penukar kalor dimulai dari model dapat memicu mahasiswa untuk lebih siap melakukan peningkatanpeningkatan performa alat penukar kalor. sehingga penelitian-penelitian yang diarahkan dengan maksud untuk mengoptimalkan fungsi dan unjuk kerja termal alat penukar kalor hingga kini tetap dikembangkan. Perancangan model alat penukar kalor mengharuskan mahasiswa menganalisa property dari alat penukar kalor yang telah tersedia seperti konstruksi.

1. Bab IV Penutup Pada bab ini diuraikan mengenai kesimpulan dan saran dari perhitungan alat penukar kalor. Dasar Teori Pada bab ini diuraikan mengenai prinsip-prinsip dasar dan prinsip perhitungan pada double pipe. menghitung over-all heat transfer coefficient 4. Bab I. Adapun susunan sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. mempelajari rumus dasar dari sebuah alat penukar kalor yang paling sederhana.3 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan akan memberikan gambaran secara garis besar tentang apa yang akan dikemukakan dalam pokok bahasan. 3. 2. Pendahuluan Pada bab ini diuraikan tentang alat penukar secara umum. 2. Bab II.2 Tujuan Maksud dan tujuan yang ingin dicapai penulis dalam makalah ini adalah: 1. 3. Pada bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah. menghitung dan merancang sebuah alat penukar kalor (double pipe) 1. Bab III. tujuan dan sistematika penulisan. Perhitungan Pada bab ini diuraikan mengenai perhitungan rancangan sebuah alat penukar kalor (double pipe) 4. menghitung heat balance dari alat penukar kalor. .

... (ii) Qw=qw=q.BAB 2 Dasar Teori 2... (i) qw = w cp (t2-t1).... Ketika fluida panas mengalir pada single tube dan fluida dingin mengalir pada jacket dan kalor (Qw) akan ditransfer melalui dinding dari tube dalam keadaan steady state...1 Double Pipe Heat Exchanger Double pipe heat exchanger terdiri atas single tube dan jacket (Fig.. ......1)... Kalor yang hilang pada fluida panas akan sama dengan kalor yang diterima dengan fluida dingin.. (iii) Qw = panas yang diberikan oleh fluida panas (kcal/h) T = temperature fluida panas ( ˚C ) W = aliran udara panas (kg/h) Cp = spesifik heat fluida panas (kcal/kg ˚C) qw = fluida yang diterima oleh fluida dingin (kcal/h) t = temperature fluida dingin ( ˚C ) w = aliran udara dingin (kg/h) cp = spesifik heat fluida dingin (kcal/kg ˚C) Ketika fluida berubah fase seperti berubah menjadi uap pada temperature tinggi maka fluid heat balance menjadi....... Heat balance Qw = W Cp (T1-T2)..

.. sehingga didapat rumus kalor yang dapat dipindahkan (q) q = A U ∆tm.Mλ + m Cp (T0 – T’0) = w cp ( t2 .. (vi) q = kalor yang ditransfer (kcal/h) A = seluruh area permukaan perpindahan kalor (m2) jika tube maka A = ΠdL U = over-all heat transfer coefficient (kcal/m2 h ˚C) ∆tm = logarithmic mean temperature difference (˚C) ( ) ( ) Dimana ∆tm(untuk counter flow) = Perhitungan untuk efisiensi dari sebuah alat penukar kalor ( ( ) ( ( ) ) ηh = = = ) .. direpresentasikan dengan ∆tm.. (v) dimana q = (Qw + qw)/2.....(iv) Q = jumlah heat yang ditransfer (dipindahkan) (kcal/h) m = jumlah fluida yang dikondensasikan (kg/h) λ = spesifik heat dari uap (kcal/kg ˚C) T0 = temperature saturasi untuk uap (˚C) T’0 = temperature fluida kondensasi pada outlet of heat exchanger (˚C) Perbedaan temperature rata-rata antara kedua fluida.....t1 ) = q........

5 W/mK Inner diameter (i.4 mm =2. Heat Viscocity Density Water (cold stream) = 30C = 40C = 35C = 4.8 cP = 1000 kg/m3 = 0. Inner Tube spec = 21 mm = 25.154 W/mK = 1000 kg/hr Thermal conductivity Flow rate b.2 mm = 74.36 cP = 860 kg/m3 = 0. Outer Pipe Spec = 41 mm = 48 mm Inner diameter (i.d) Outer diameter (o.d) Outer diameter (o.BAB 3 PERHITUNGAN Dua fluida yang diasumsikan pada perhitungan ini adalah benzena sebagai fluida panas dan air sebagai fluida dingin. T in T out T average Sp. air dapat dengan mudah mengalami fouling dan korosi sehingga air akan dialiri pada sisi tube untuk mengurangi kerusakan pada double .88 kJ/kgC = 0.d) Wall thickness Thermal conductivity Seperti yang telah diketahui.d) d. Berikut adalah parameter-parameter yang akan digunakan untuk melakukan perhitungan (beberapa parameter adalah asumsi penulis): a.187 kJ/kgC = 0.623 W/mK = 1000 kg/hr Thermal conductivity Flow rate c. T in T out T average Sp. Heat Viscocity Density Benzene (hot stream) = 75C = 50C = 62.5C = 1.

Menghitung kalor (Q) 1000 kg benzene didinginkan dari temperature 75 C menjadi 50 c per jam. Menghitung heat transfer co-efficient (U) Menghitung convective heat transfer coefficient for tube side (hi) Velocity = volumetric flow rate / flow area =0.88 kJ/kg °C)(75 – 50)°C = 47. Sehingga : Water flow rate = Q / Cp x (t2-t1) = 47000/(4187)(10) =1122 kg/h 3.000 kJ/h Panas yang dilepas fluida panas = panas yang diterima oleh fluida dingin Air dipanaskan dari temperature 30 C menjadi 40 C. Oleh sebab itu. benzene akan dialiri sepanjang sisi pipa.pipe tersebut. Sehingga : Heat duty (Q) = m Cp (T2-T1) = (1000 kg. Re = dvp/u . Arah aliran yang dipilih adalah counter flow karena membutuhkan luas area yang lebih kecil dibandingkan dengan co-current flow./h)(1. a. Langkah-langkah perhitungan : 1.9 m/sec Reynolds number. Menghitung LMTD 2.

= (21 x 10-3)(0.8(Pr)0.3 = (0.2086m hydraulic diameter of annulus dh=4 x ( flow area/wetted perimeter) =0.3 =120 hi=120x(k/di)=35660W/m2°C b.023)(23.397 m/s Reynolds number.37 Use of Dittus-Boelter equation to calculate hi.625 Prandtl number. Nu = hidi/k = 0.outer cross-section of the tube wetted perimeter= Pi(iD2+OD1)=0.187)(1000)(8 x 10-4)/0.3 =(0.51 Calculation of ho from the Dittus-Boelter equation Nu = hodi/k = 0.4 = 89.8(4. Menghitung convective heat transfer coefficient for annulus side (h0) = Pi/4(iD2) .625)0.12 .163 m3/hr Velocity = volumetric flow rate / flow area = 0.51)0.023)(14395)0.13x10-4 m2 Flow area annulus = inner cross-section of the pipe .023(Re)0.623 = 5.Pr = Cpu/k = 4.8 (5.Pi/4(OD1)=8. Pr = Cpu/k =(4.023(Re)0. Re = dvp/u = 14395 Prandtl number.37)0.8(Pr)0.0156m Benzene mass flow rate = 1000 kg/h Benzene volumetric flow rate = (1000)/(860) = 1.9)(1000)/8 x 10-4 =23.

8 C Ao = Q / Uo∆Tm= 0.021)(L) Am = (OD-ID) / Ln (OD/ID) = (0.0254/0.3 m .21 1/Uo=1/ho +(Ao/Am)x(ro-ri/kw)+Ao/Ai(1/hi) Uo = 662.0. Menghitung panjang double pipe Q = UoAo∆Tm Dimana Q = 1122 kg/h Uo = 662.0254)(L) inside area of tube = Ai = ∏ ID L = ∏ (0.021) = 0.3W/m2K 4.74 / ∏ (0.098 A0/Ai = 1.74m2 Tube length necessary.3W/m2K ∆Tm= 26.0254 .8W/m2C outside area of tube = A0 = ∏ OD L = ∏(0.12 x k/dh) = 879. L = Ao / ∏ OD1 L = 0.ho = (89.0254) = 9.021)(∏L)/ Ln (0.023 (∏L) A0/Am = 1.

3W/m2K 3. . 5.1 Kesimpulan Dari hasil perhitungan untuk merancang sebuah Heat Exchanger jenis double pipe didapatkan hasil sebagai berikut : Fluida panas menggunakan Benzene dan fluida dingin menggunakan air. 1. pipa tembaga ¼ inch. Potong pipa tembaga sepanjang kurang lebih 5 cm sebanyak dua buah. Masukkan pipa pvc ke dalam tabung akrilik dan tutup dengan gasket pada tiap ujungnya lalu direkatkan dengan lem. Potong pipa pvc sepanjang 40 cm dan tabung akrilik sepanjang 20 cm. LMTD 2.3 m 4. 2. Lubangi tabung akrilik dengan bor pada tiap ujung tabung namun pada sisi yang berbeda (lihat gambar). Kalor (Q) = 26.2 Perancangan model Model heat exchanger jenis double pipe ini dibuat dengan bahan pipa pvc diameter 20 mm. 3. panjang double pipe = 9. sebuah tabung akrilik diameter 40 mm.80C = 47000 kj/h = 662.4 mm (outer) dengan arah aliran counter flow. kemudian lubangi bagian tengahnya sesuai diameter luar tabung pvc. over-all heat transfer coefficient 4. Diameter tube luar 41mm(inner) dan 48 mm (outer) serta diameter tube dalam 21 mm(inner) dan 25. lalu letakkan pada ke dua buah lubang yang terdapat pada sisi tabung akrilik kemudian rekatkan dengan lem. 4. dua buah gasket dan lem.BAB4 PENUTUP 4. Potong karet sesuai diameter dalam tabung akrilik. 1.

 . +¯.

 ©¯f ff°– f°¾€ % ½° ff°%%nf$% ¯ ©¯f€ ff°– ° °¾f¾f°%–$%  ¾½ ¾€ f ff½%nf$–Ù.½%@ @#% n½% %   .

% @  ¯½ f ¾ff¾°f½%Ù.

% @#  ¯½ f € f° °¾f¾½f f € f nf°– %Ù.

%  %%   9  ff°  ¯½ f  ff ff f°ff  f € f   ½ ¾ °f¾f° °–f° ¯ ¾ °––f  f½f¯¾ff°– f½f ½° ff°%%  D ¯   ff°– f°¾€ %nf$%  ¾ f f½ ¯ff°½ ½° ff°f%¯%©f ¯ff õ  D   f ff°¾€ n €€n °%nf$¯Ù.

% ¯ –f¯n¯ f° ¯½ f  €€  °n %Ù.

+%$ %%     { { { {   { { { {  .%  ¯f°f ¯%°n° €%   9 °–f°° €¾ °¾ f¾ fff½ °ff        { { { { %% ¯f°f %.

  9@D--  f€ ff°– f¾¯¾f°½f f½ °–f°°f ff ° °f¾ f–f€ f ½f°f¾ f°f¾ f–f€ f °–°  f ff½ff¯   ½ff¯  f°–ff° –°ff°°¯ ff°½ °–f°% f½f½ff¯  f fff¾¯¾½ °¾%  f @° @ ° ° %¾ f¯%        .

 .

  .

  $–.

  n9 –$¯  J$¯ –$ @f f–  ½  f I¾nn  °¾ @ ¯fn° n f   @° @  Jf %n ¾ f¯%        .

 .

 .

  $–.

  n9 –$¯  J$¯ –$ @f f–  ½  f I¾nn  °¾ @ ¯fn° n f  n   9½ ½ n ¯¯ ¯¯ °°  f¯  % %   f¯  % %  °° @ ¾½ n °°  f¯  % %   f¯  % % Jfn° ¾¾  @ ¯fn° n  ¯¯  ¯¯  ¯¯  J$¯  ½ f°– f  f f f½f °–f°¯ f¯ °–ff¯€°– f° ¾ ¾ °––f f ff° f ½f f ¾¾   ° ¯ °–f°–  ¾ff° ½f f    .

°–°–.% %  HH – ° °   °–°f° f ¯½ f .½½   ¾     ¾ f    ° °  ff° f ¾ ½f°©f°– ¾¾ ½½f  f ff° f°– ½ f ff n°  € f °f ¯ ¯ f° f¾ f f f°–    n  f° °–f° °–f°n n °€  f°–f f°–f½ °–f°    .@    HH    Z   Z HH   . °–°–f%.

% ¯.¯ °©f n½ ©f¯  °––f   f %.

½%@ @%  %– $%% $–.

%% %.

   $ 9f°f¾f°–  ½f¾€ f½f°f¾ ½f°f¾f°–  ¯f € f °–°  ½f°f¾f° f ¯½ f .

¯ °©f .

 °––f  Jf €f  .$.

°–°– ff°¾€ n €€n °%D% . °–°–n° n  ff°¾€ n €€n °€ ¾ %% I n ¯ n€f $€f f   ¯$¾ n  ° ¾°¯     ½$ .½% %  $%%%%  –$   f .

 % %% %%%$     9f° °¯  9 .

½$  % %%%% %$      D¾ €¾    f°nfnf   -  $  % % %9%   % %% % % %      %$ % J$¯.

 . °–°–n° n  ff°¾€ n €€n °€f°°¾¾ %% f ff°°¾ °° n¾¾ ¾ n°€ ½½   n¾¾ ¾ n°€    9$%% 9$%%   ¯      ½ ¯   9%+%  ¯  fn f¯  €f°°¾  %€f f$  ½ ¯  %   ¯       ° ¾°¯     ½$ ° ° ¯f¾¾€f  –$ ° ° ¯ n€f  %%$%%  ¯$ I n ¯ n€f $€f f  ¯$¾    9f° °¯  9 .

½$     .

fnf°€€¯ ¾    f° -  $  % % %9%   % %%% % %    .

 % $ %  J$¯.

 D @¯ ¯f°f. °–°–½f°©f°–   ½½    . –$ D  J$¯   @¯  .    ¾ f f€      % %%% °¾ f f€      % %%% ¯ % %$°%$%  %   %% %$°% $ %   % % $¯    $   $D $+%$¯%% $%+$%$% D  J$¯    .

$D  @¯  ¯  @  °–° n ¾¾f  $    $ % %   ¯             .  .

%   .   9-D@D9    ¾¯½f° ff¾½ °–f°°¯ f°nf°–¾ f fnf°– © °¾   ½½   f½ff°f¾¾ f–f    f½f°f¾¯ °––°ff° ° °  f°€ f °–°¯ °––°ff°f f¯    f¯¯%°° % f°¯¯% %¾ f f¯    ff¯¯¯%°° % f° ¯¯% % °–f°ffff°n° €    .@   f%.

f¾f°½½f½n  ff¯f °–f f°½ °–f°–f¾ ½f f f½©°–°ff  ff° °–f° ¯     f°–f °–f °–f° ½f ff½©°–f °–°f¯°½f f¾¾ f°–  f%f–f¯ f%    9°–½½f ¯ f–f¾ ½f°©f°–f°– n¯¾ f°f f f f  ff°½f f  f f f°–f°–  f½f½f f¾¾f °–f  ¯ f° ff° °–f° ¯    .  f nf°– © °¾   ½½ °  f °–f° ff°½½f½n f¯   ¯¯ ¾ ff °–f f¯  ¯¯ ½½f ¯ f–f*°n  f f –f¾  f° ¯    9°–½½f½n¾ ½f°©f°–n¯ f°f °–f¾ ½f°©f°–n¯    9°–f ¾ ¾f f¯   ff¯f °–f  ¯ f° f°– f–f°  °–f°f¾ ¾f f¯  ff °–½n    . ©$  J$¯      f ff°¾€ n €€n °   ½f°©f°–   ½½   ¯   9 f°nf°–f°¯  .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful