Keadaan Sosial Budaya Papua

Propinsi Irian Jaya ini, sekarang sudah akrab dipanggil dengan nama provinsi Papua meski secara resmi DPR-RI belum mengubahnya. Nama Papua terasa lebih menyatu dan memiliki nilai historis, sehingga dipilih oleh masyarakat propinsi ini. Banyak keistimewaan yang dimiliki wilayah ini. Dari sisi kebersamaan dengan Indonesia saja, propinsi ini baru ditetapkan sebagai prorinsi daerah Tingkat 1 Irian Jaya pada 10 September 1969, sekaligus menetapkan Jayapura sebagai ibu kotannya. Papua juga satu – satunya propinsi yang pernah di bawah penguasaan PBB. Keberadaan di bawah lembaga dunia ini berlangsung dari 1 Oktober 1962. Dari segi luas, propinsi Papua Barat merupakan propinsi dengan wilayah terbesar, sekitar 21 persen seluruh wilayah Indonesia. Kerena itu, pada pemerintahan BJ Habibie, propinsi ii sudah dipersiapkan untuk dibagi menjadi tiga, Irian Selatan, Tengah, dan Utara. Dilihat dari jumlah penduduk, wilayah ini juga merupakan propinsi dengan jumlah penduduk terkecil. Mereka yang terdiri atas belasan suku bangsa itu kebanyakan masih hidup di daerah pedalaman. Tak sedikit di antara mereka yang masih hidup seperti jaman kuno, seperti berburu dan pertanian yang sangat sederhana untuk mempertahankan hidupnya. Sudah sejak lama ujung barat laut Irian dan seluruh pantai utara penduduknya dipengaruhi oleh penduduk dari kepulauan Maluku (Ambon, Ternate, Tidore, Seram dan Key), maka adalah tidak mengherankan apabila

Manado. tetapi lebih diutamakan pendidikan . Pendidikan mendapat jatah yang cukup besar dalam anggaran pemerintah Belanda. Pendidikan dasar sebagian besar diselenggarakan oleh kedua misi keagamaan tersebut. Sorong. Pada tanggal 5 Februari 1935. Dari Merauke aktivitas keagamaan misi katholik dimulai dan pada umumnya disepanjang pantai selatan Irian. Sanger-Talaud.000 orang menganut agama kristen protestan. Ternate. Pada akhir tahun 1961 rencana pendidikan diarahkan kepada usaha peningkatan keterampilan. Seram. dimana pelajaran diberikan dalam bahasa Melayu. Zending atau misi kristen protestan dari Jerman (Ottow & Geissler) tiba di pulau Mansinam Manokwari 5 Februari 1855 untuk selanjutnya menyebarkan ajaran agama disepanjang pesisir pantai utara Irian. dimana guru sekolah dan guru agama umumnya berasal dari Indonesia Timur (Ambon. Pembagian kedua kelompok agama tersebut kelihatannya identik dengan keadaan di Negeri Belanda dimana Kristen Protestan di Utara dan Kristen Katholik di Selatan. pada tahun-tahun terakhir masa penjajahan.suku-suku bangsa disepanjang pesisir pantai (Fak-Fak. Akan tetapi pendidikan tidak disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja disektor perekonomian modern. Key. anggaran pendidikan ini mencapai 11% dari seluruh pengeluaran tahun 1961.100 orang pemeluk agama katholik. Tidore. dan Timor). tercatat lebih dari 50. Manokwari dan Teluk Cenderawasih) lebih pantas digolongkan sebagai Ras Melanesia dari pada Ras Papua. Kemudian pada tahun 1898 pemerintah Hindia Belanda membuka Pos Pemerintahan pertama di Fak-Fak dan Manokwari dan dilanjutkan dengan membuka pos pemerintah di Merauke pada tahun 1902. Pada tahun 1933 tercatat sebanyak 7. dan yang lebih diutamakan adalah nilai-nilai Belanda dan agama Kristen.

Walaupun Belanda harus mengeluarkan anggaran yang besar untuk menbangun Irian Barat.untuk kemajuan rohani dan kemasyarakatan. Tercatat bahwa pada tahun 1961 terdapat 496 sekolah misi tanpa subsidi dengan kurang lebih 20. Walaupun bahasa "Melayu" dijadikan sebagai bahasa "Franca" (Lingua Franca). Manokwari.000 murid belajar di sekolah menengah pertama. 95 orang Irian Belajar diluar negeri yaitu Belanda. Pada tahun 1950-an pendidikan dasar terus dilakukan oleh kedua misi keagamaan tersebut. Belanda juga membuka 17 kantor POS dan telekomunikasi yang melayani antar kota. bahasa-bahasa Inggris. dan Merauke. dan Australia dimana ada yang masuk Perguruan Tinggi serta ada yang masuk Sekolah Pertanian maupun Sekolah Perawat Kesehatan (misalnya pada Nederland Nasional Institut for Tropica Agriculture dan Papua Medical College di Port Moresby). Port Moresby. Sorong. Negeri Belanda.000 murid. Biak. Terdapat sebuah telepon radio yang dapat menghubungi Hollandia-Amsterdam melalui Biak. juga ditiap kota . Sekolah Dasar yang bersubsidi sebanyak 776 dengan jumlah murid pada tahun 1961 sebanyak kurang lebih 45. Selain itu ada kapal-kapal kecil milik pemerintah untuk keperluan tugas pemerintahan. dan seluruhnya ditangani oleh misi. namun hubungan antara kota dan desa atau kampung tetap terbatas. Pada tahun 1961 tercatat 1. dan pelajaran agama merupakan mata pelajaran wajib dalam hal ini.000 murid. Hubungan laut dan luar negeri dilakukan oleh perusahaan Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM) yang menghubungkan kota-kota Hollandia. Fak-Fak. Jerman dan Perancis merupakan bahasa kedua yang mulai diajarkan di sekolah lanjutan. bahasa Belanda tetap diajarkan sebagai bahasa wajib mulai dari sekolah dasar. Singapura.

dan Jayawijaya dengan pesawat DC-3. Mengenai kebudayaan penduduk atau kultur masyarakat di Irian Barat dapat dikatakan beraneka ragam.terdapat telepon. Budaya penduduk Irian yang beraneka ragam itu dapat ditandai oleh jumlah bahasa lokal khususnya di Irian Barat. Biak 135 Km. Merauke. dimana jumlah itu akan terus meningkat mengingat penelitian ini masih terus dilakukan. Sorong. Manokwari. dan Merauke 70 Km. Terdapat perusahaan penerbangan Nederland Nieuw Guinea Luchvaart Maatschappij (NNGLM) yang menyelenggarakan penerbanganpenerbangan secara teratur antara Hollandia. Jalan-jalan terdapat disekitar kota besar yaitu di Hollandia 140 Km. beberapa suku mempunyai kebudayaan yang cukup tinggi dan mengagumkan yaitu suku-suku di Pantai Selatan Irian yang kini lebih dikenal dengan suku "ASMAT" kelompok suku ini terkenal karena memiliki kehebatan dari segi ukir dan tari. Selain penerbangan tersebut. Manokwari 105 Km. Sudah sejak tahun 1950 lapangan terbang Biak menjadi lapangan Internasional. Berdasarkan hasil penelitian dari suami-isteri Barr dari Summer Institute of Linguistics (SIL) pada tahun 1978 ada 224 bahasa lokal di Irian Barat. kemudian disusul oleh perusahaan penerbangan Kroonduif dan Koniklijk Luchvaart Maatschappij (KLM) untuk penerbangan luar negeri dari Biak. Fak-Fak 5 Km. Sorong 120 Km. Biak. Bahasa di Irian Barat digolongkan kedalam kelompok bahasa Melanesia dan diklasifikasikan dalam 31 kelompok . masih terdapat juga penerbangan yang diselenggarakan oleh misi protestan yang bernama Mission Aviation Fellowship (MAF) dan penerbangan yang diselenggarakan oleh misi Katholik yang bernama Associated Mission Aviation (AMA) yang melayani penerbangan ke pos-pos penginjilan di daerah pedalaman.

Kapauku. Adat istiadat . tipe pemukiman masyarakat Irian Barat dapat dibagi kedalam 4 kelompok dimana setiap tipe mempunyai corak kehidupan sosial ekonomi dan budaya tersendiri. Pesechem. Boazi. Hatam. Moni. Teliformin. Jumlah pemakai bahasa tersebut diatas sangat bervariasi mulai dari puluhan orang sampai puluhan ribu orang. Ingkipulu. Mereka ada yang mendiami tanah kering dan ada yang mendiami rawa dan payau serta sepanjang aliran sungai. Penduduk pesisir pantai. Komoron. Mereka senang mengembara dalam kelompok kecil. Adat Istiadat mereka ketat dan selalu mencurigai pendatang baru. berkebun. dan memelihara babi sebagai ternak utama. dengan penampilan yang ramah bila dibandingkan dengan penduduk tipe kedua (2). Jenan. Klader. Komunikasi dengan kota dan masyarakat luar sudah tidak asing bagi mereka. Roon. Sohur. Waoisiran. Karon. berburu dihuta disekeliling lingkungannya. 1. 2. Penduduk pegunungan yang mendiami lembah. Mereka termasuk peramu sagu. Mereka bercocok tanam. dan Serki. Pola pemukimannya tetap secara berkelompok. Kapaur. Kauwerawet. Arfak. Ambai. kadang kala mereka berburu dan memetik hasil dari hutan. Wondama. Marind-Anim. Penduduk ini mata pencaharian utama sebagai Nelayan disamping berkebun dan meramu sagu yang disesuaikan dengan lingkungan pemukiman itu. Mandobo. Pauwi. Auyu. Secara tradisional. Jap. Mimika. Kuime.bahasa yaitu: Tobati. menangkap ikan disungai. Penduduk pedalaman yang mendiami dataran rendah. Sewan. Turu. Awin. 3.

dan bunuh diri merupakan tindakan terpuji bila melanggar adat karena akan menghindarkan bencana dari seluruh kelompok masyarakatnya. posisi-posisi baik dibidang pemerintahan. Penduduk pegunungan yang mendiami lereng-lereng gunung. memberi kesan bahwa mereka ini menempati tempat yang strategis terhadap jangkauan musuh dimana sedini mungkin selalu mendeteksi setiap makhluk hidup yang mendekati pemukimannya. pembangunan (dinas-jawatan) baik sebagai pimpinan . Pada waktu Belanda meniggalkan Irian Barat. Ada suatu peristiwa gerakan cargo yang paling tua di Irian Jaya pada tahun 1861 dan terjadi di Biak yang bernama "KORERI". Pembalasan dendam merupakan suatu tindakan heroisme dalam mencari keseimbangan sosial melalui "Perang Suku" yang dapat diibaratkan sebagai pertandingan atau kompetisi. Dalam berbagai kebudayaan dari penduduk Irian ada suatu gerakan kebatinan yang dengan suatu istilah populer sering disebut cargo cults. sebagian masih "KANIBAL" hingga kini. Adat istiadat mereka sangat ketat. Peristiwa atau gerakan cargo terakhir itu pada tahun 1959 sampai tahun 1962 di Gakokebo-Enarotali (kabupaten Paniai) yang disebut " WERE/WEGE" sebagaimana telah dikemukakan bahwa gerakan ini yang semula bermotif politik. dan curiga pada orang asing cukup tinggi juga. Melihat kepada tempat pemukimannya yang tetap di lereng-lereng gunung. Perang suku merupakan aktivitas untuk pencari keseimbangan sosial. Ketat dalam memegang dan menepati janji. 4. Sifat curiga tehadap orang asing ada tetapi tidak seketat penduduk tipe 2 (kedua).dijalankan secara ketat dengan "Pesta Babi" sebagai simbolnya.

Katakanlah bahwa ini suatu bentuk "Etis-Politik Gaya Baru". dan Belanda sengaja memperlambat perkembangan di Irian Barat/Nieuw Guinea sesuai dengan permintahaan dan kebutuhan orang-orang Irian Barat. sekalipun dalam hal ini tidak semua orang Biak itu pro-Papua. tidak semua orang Serui itu pro-Indonesia dan tidak semua orang Tanah Merah-Jayapura itu pro-Papua dan pro-Indonesia. maka Belanda didalam menjajah Irian Barat sangat hati-hati sekali dalam meningkatkan kehidupan Masyarakat di berbagai bidang. Belanda juga meninggalkan ekses konflik antara suku-suku besar sebagai akibat dari aktivitas politik yaitu pertentangan antara "Elite ProPapua" dan "Elite Pro-Indonesia" yang ditandai dengan pertentangan antara "Suku Biak lawan Suku Serui. karena mereka tidak bisa menjualnya dan juga tidak ada pembeli pada masa itu. Suku tanah Merah-Jayapura lawan Suku Serui".maupun pimpinan menengah diserahterimakan kepada putra daerah (orang Papua/Irian Barat) sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Termasuk didalamnya usaha untuk membentuk "Nasionalisme Papua". Berdasarkan pengalaman Belanda di Indonesia atau Hindia-Belanda dalam kemerdekaan tahun 1945. Juga seluruh rumah dan harta termasuk gedung dan tanah milik orang Belanda itu diserahkan kepada kenalan mereka orang Papua (pembantu dan teman sekerja) untuk dimiliki. Cara Belanda yang demikian itu menyebabkan orang-orang Irian Jaya tidak merasa bahwa mereka sedang dijajah sebab mereka hidup dalam suatu keadaan perekonomian yang baik dan tidak merasakan adanya penderitaan dan tekanan dari Belanda .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful