P. 1
Belajar Membaca Dengan Metode Glenn Doman

Belajar Membaca Dengan Metode Glenn Doman

|Views: 209|Likes:
Published by arcier

More info:

Published by: arcier on Sep 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/31/2015

pdf

text

original

Belajar Membaca dengan Metode Glenn Doman Posted on February 16, 2011 by KB - TK ANAK CERIA BANJARBARU Persoalan membaca, menulis

, dan berhitung atau calistung memang merupakan fenomena tersendiri. Kini menjadi semakin hangat dibicarakan para orang tua yang memiliki anak usia taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar karena mereka khawatir anak-anaknya tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolahnya nanti jika sedari awal belum dibekali keterampilan calistung. Kekhawatiran orang tua pun makin mencuat ketika anak-anaknya belum bisa membaca menjelang masuk sekolah dasar. Hal itu membuat para orang tua akhirnya sedikit memaksa anaknya untuk belajar calistung, khususnya membaca. Terlebih lagi, istilah-istilah “tidak lulus”, “tidak naik kelas”, kini semakin menakutkan karena akan berpengaruh pada biaya sekolah yang bertambah kalau akhirnya harus mengulang kelas. Selama ini taman kanak-kanak didefinisikan sebagai tempat untuk mempersiapkan anak-anak memasuki masa sekolah yang dimulai di jenjang sekolah dasar. Kegiatan yang dilakukan di taman kanak-kanak pun hanyalah bermain dengan mempergunakan alat-alat bermainedukatif. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung tidak diperkenankan di tingkat taman kanak-kanak, kecuali hanya pengenalan huruf-huruf dan angka-angka, itu pun dilakukan setelah anak-anak memasuki TK B. Akan tetapi, pada perkembangan terakhir hal itu menimbulkan sedikit masalah, karena ternyata pelajaran di kelas satu sekolah dasar sulit diikuti jika asumsinya anak-anak lulusan TK belum mendapat pelajaran calistung. Karena tuntutan itulah, akhirnya banyak TK yang secara mandiri mengupayakan pelajaran membaca bagi murid-muridnya. Berbagai metode mengajar dipraktikkan, dengan harapan bisa membantu anak-anak untuk menguasai keterampilan membaca dan menulis sebelum masuk sekolah dasar. Beberapa anak mungkin berhasil menguasai keterampilan tersebut, namun banyak pula di antaranya yang masih mengalami kesulitan. Perkembangan keterampilan membaca Belajar membaca mencakup pemerolehan kecakapan yang dibangun pada ketrampilan sebelumnya. Jeanne Chall (1979) mengemukakan ada lima tahapan dalam perkembangan kemampuan membaca, dimulai dari ketrampilan pre-reading hingga ke kemampuan membaca yang sangat tinggi pada orang dewasa. Tahap 0, dimulai dari masa sebelum anak masuk kelas pertama, anak-anak harus menguasai prasyarat membaca, yakni belajar membedakan huruf dalam alfabet. Kemudian pada saat anak masuk sekolah, banyak yang sudah dapat “membaca” beberapa kata, seperti “Pepsi”, “McDonalds”, dan “Pizza Hut.” Kemampuan mereka untuk mengenali simbol-simbol populer ini karena seringnya melihat di televisi atau pun di sisi jalan serta meja makan. Hal ini mengindikasikan bahwa mereka dapat membedakan antara pola huruf, meskipun belum dapat mengerti kata itu sendiri. Pengetahuan anak-anak tentang huruf dan kata saat ini secara umum lebih baik ketimbang beberapa generasi sebelumnya, hal ini dikarenakan pengaruh acara

Knowledge of letters: Kebanyakan anak-anak dapat menceritakan ABC sebelum mereka masuk ke sekolah dan dapat mengidentifikasi individu huruf dari alphabet (kendati beberapa anak berpikir “elemeno” adalah nama huruf antara “k” dan “p”. dimulai pada saat sekolah tinggi. Mereka mungkin dapat mengidentifikasi Coca-Cola. Sebagai contoh. sebagai berikut. Burger King. dalam bahasa Inggris. Whitehurst dan Lonigan (199 mencatat sembilan komponen emergent literacy. tahap 4. Mereka belajar simbol tertulis sesuai dengan bahasa tutur ketika menyampaikan arti kepada orang lain. atas ke bawah. direfleksikan dengan kemampuan baca yang sangat fasih. yaitu keterampilan yang digunakan untuk menerjemahkan simbol-simbol ke dalam suara dan katakata. di mana anak yang memiliki kecakapan bahasa yang tinggi akan menjadi anak dengan kemampuan membaca yang juga baik. Gagasan bahwa ada kontinum perkembangan kemampuan membaca. di mana anak sudah belajar membaca dengan fasih. atau tanda Fruit Loops ketika melihatnya. Perubahan dari “learning to read” menuju “reading to learn” dimulai dalam tahap 3. apa yang dipelajari anak selama berbicara dengan orangtua tadi adalah kemampuan menyusun tahap membaca yang sebenarnya. Sebagai contoh. Di akhir kelas tiga. Jika anak belum menguasai ” how to” membaca ketika kelas empat. Emergent Literacy Kendati kebanyakan anak belajar membaca di sekolah. Anak menjadi semakin dapat memahami beragam materi bacaan dan menarik kesimpulan dari apa yang mereka baca. Kendati demikian. Language: membaca merupakan kemampuan bahasa. penelitian telah menunjukkan bahwa kemampuan anak taman kanak-kanak untuk menamai huruf memprediksikan nilai yang dapat diraihnya pada . Anak belajar kecakapan merekam fonologi. Anak-anak pada tahap ini sudah bisa mendapatkan informasi dari materi tertulis. maka kemajuannya membaca untuk kelas selanjutnya bisa terhambat. kebanyakan anak sekolah sudah menguasai hubungan dari huruf-ke-suara dan dapat membaca sebagian besar kata dan kalimat sederhana yang diberikan.” Tahap1. Tapi kebanyakan anak pra-sekolah tidak membaca—tidak benar benar membaca. dimulai dari kelas 4 sampai kelas 8. dan anak-anak harus cakap dengan bahasa tutur. anak-anak belajar bahwa membaca dilakukan dari kiri kek kanan. dan dari depan ke belakang.televisi anak seperti “Sesame Street. tapi ini bukan benar-benar membaca. Kemampuan ini diikuti dengan tahap kedua pada kelas dua dan tiga. Anak-anak di kelas ini diharapkan belajar dari buku yang mereka baca. namun sebagian besar anak belajar tentang membaca di rumah. Membaca tidak berarti refleksi bahasa tutur. pengetahuan huruf sangat kritis bagi kemampuan baca. kemampuan membaca yang terampil juga memerlukan lebih dari sekedar kecakapan bahasa tutur. Convention of print: anak-anak yang dipaparkan kepada pembacaan di rumah melalui penemuan cetak. dikatakan sebagai emergent literacy. dari anak usia pra-sekolah hingga yang sudah menjadi pembaca fasih. mencakup tahun pertama di kelas satu. dan ini direfleksikan dalam kurikulum sekolah.

Kebanyakan proses ini dimulai di masa pra-sekolah. anak-anak juga sering berpura-pura menulis. Motivasi print: seberapa tertariknya anak-anak dalam membaca dan menulis? Seberapa pentingkah bagi mereka untuk memahami kode rahasia yang memungkinkan orangtua mengartikan serangkaian tanda pada sebuah halaman? Beberapa bukti mengindikasikan bahwa anak kecil lebih tertarik dalam print (huruf cetak) dan membaca memiliki skill emergent literacy yang lebih besar ketimbang yang kurang termotivasi untuk melakukannya. Storch & Whitehurst. daripada keluarga yang hanya memberikan paket sedikit-sedikit (Bialystok. membuat narasi sesuai dengan gambar di halaman tersebut. Kemampuan membaca dan perkembangan kognitif Phonemic awareness. dan kata. Mungkin yang paling penting dari kemampuan linguistik untuk membaca adalah pengolahan fonologi. mengajukan pertanyaan tentang print. dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca ketika mereka sudah bisa. Burgess. di mana pengetahuan huruf dan sensitivitas fonologis berkembang secara simultan dan resiprok. 2002). Phonemic awareness adalah pengetahuan tentang huruf yang dapat dipisahkan dari suara. Mereka akan mengambil buku cerita yang sudah akrab bagi mereka dan “membaca” halaman per halamannya. Linguistic awareness. 2000. adalah salah satu skill yang dapat memprediksikan kemampuan membaca di kemudian hari. & Anthony. seperti fonem. Hubungan antara beberapa komponen emergent literacy dengan kemampuan baca terkadang sulit dijelaskan. jelas halnya bahwa keluarga memberikan “The Whole Package“. anak harus belajar mengidentifikasi tidak saja huruf melainkan unit linguistik. Emergent reading: banyak anak-anak pura-pura membaca.kemampuan membaca di kemudian hari. Other Cognitive Skill: Kemampuan kognitif individu. Namun demikian. 1996. Emergent writing: Sama dengan pura-pura membaca. ‘kesadaran ini belum muncul pada anak-anak prescholl. atau akan mengambil buku yang belum akrab bagi mereka dan pura-pura membaca. maka mereka harus mempelajari bagaimana suara ini sesuai dengan huruf tertulis. membuat garis lekuk (squiggle) pada sebuah halaman untuk “menuliskan” nama atau cerita mereka. Anak-anak yang tertarik dalam membaca dan menulis lebih mungkin mengetahui huruf cetak. 1998). Ini dibenarkan dengan penelitian sebelumnya yang melaporkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kemampuan emergent literacy selama masa pra sekolah dengan kemampuan membaca di sekolah dasar (Lonigan. mendorong orang dewasa untuk membacakannya untuk mereka. atau diskriminasi dan mengartikan berbagai suara bahasa. atau merangkai huruf yang benar untuk menghasilkan sesuatu yang menurut mereka sesuai dengan cerita. Korespondensi phoneme-grapheme: Ketika anak sudah memahami bagaimana mensegmentasikan dan mendiskriminasikan beragam suara bahasa. Munculnya keterampilan emergent literacy kepada anak-anaknya akhirnya anak akan membantu nantinya untuk memiliki kemampuan yang baca lebih baik baik di awal sekolah maupun di kemudian hari. Penelitian telah menunjukkan bahwa sensitivitas anak-anak terhadap ritme akan berujung pada kesadaran fonem. Berbagai aspek lain memori sangatlah penting di sini yang juga ikut mempengaruhi kemampuan membaca. Whitehurst & Lonigan. di samping yang berkaitan dengan bahasa dan kesadaran linguistik mempengaruhi kemampuan baca anak-anak. yang sebaliknya mempengaruhi kemampuan baca dan menjadikannya lebih mudah bagi anak-anak . silabel.

Proses phonologic recoding ini merupakan dasar dari mayoritas program instruksi membaca di AS saat ini. pembelajaran dapat efektif hanya pada seberapa jauh pembelajaran secara kognitif dikendalikan oleh siswa”. pengetahuan latar belakang. maka terlalu sedikit sumberdaya yang tertinggal untuk memenggal akta-kata dan memahami arti yang lebih besar dari suatu teks. Namun demikian. dikarenakan pemaknaan dan kepemaknaan yang penuh (meaningfulness) perlu didefiniskan secara internal dan tidak pernah melalui pernyataan (pronouncement). Di sini. atau (2) proses atas ke bawah (top-down process). Alasan bahwa kesadaran Phonologis merupakan predictor untuk kemampuan baca awal adalah karena kemampuan baca awal yang secara umum melibatkan penyuaraan kata-kata. anak-anak mempelajari komponen-komponen individu suatu bacaan (mengidentifikasi huruf. pembuatan tiap dikotomi artifisial. dan ekspektasi anak-anak menentukan informasi apa yang dipilih dari teks. “whole-language approach menekankan bahwa pembelajaran dilabuhkan pada dan dimotivasikan oleh makna. baik itu (1) proses bawah ke atas (bottom-up process). reading instruction. Kunci bagi kemampuan baca yang fasih adalah proses automatization (otomatisasi). kurikulum bahasa-menyeluruh (wholelanguage curricula) menekankan pada ketertarikan membaca (reading interesting) dan teks penuh . Oleh karena itu. membaca yang terampil melibatkan bottom-up dan top-down process. korespondensi suara-huruf [letter-sound correspondence]) dan meletakkannya bersamaan untuk memperoleh makna. anak-anak diajar korespondensi suara. Menurut Marilyn Adams dkk.untuk mengenali kata-kata tertulis baik yang bersuara ataupun yang mirip (misalnya. mengingat kembali ide-ide Piaget. terutama pada tingkat awal. Kemampuan mengakses arti kata. Proses terakhir ini merupakan suatu perspektif konstruktifis. Pada dasarnya (dan secara sederhana) instruksi membaca dapat dipikirkan sebagai. sering kali independen pada tiap konteks “yang penuh makna”. Kemampuan baca yang benar-benar fasih tidak dilakukan dengan menyuarakan setiap huruf namun dengan secara langsung mendapatkan arti keseluruhan kata dari memori (keseluruhan kata yang berdasar visual). yakni pemerolehan arti kata tanpa melakukan usaha (otomatis). Ketika terlalu banyak sumberdaya mental digunakan hanya untuk mendapatkan arti kata individual. tujuan. Anak yang sedari kecil memiliki kemampuan phonemic awareness yang baik dapat dipastikan kemampuan membacanya juga baik. Kurikulum yang menekankan top-down process ditunjukkan melalui pendekatan bahasa-menyeluruh (whole-language approach).. cat dan at). Kurikulum yang menekankan bottom-up process ditunjukkan melalui metode fonik (phonics method). Tentu saja. Phonologic Recoding. dan oleh karena itu dikotomi memiliki beberapa dasar dalam realitas.huruf spesifik. memperluas sumberdaya terbatas dari seseorang dalam proses ini sangat penting bagi kemampuan baca yang terampil. Selanjutnya. Pengajaran Membaca Ada dua pendekatan penting pada instruksi membaca (reading instruction) dan komentar tentang bagaimana bukti penelitian dipertimbangkan dalam topik ini. Anak-anak diajarkan mendengar huruf dan mencoba mencocokkan antara huruf dan suara. sering menekankan satu terhadap lainnya.

Selama bertahun-tahun belajar telah menjadi istilah yang mewakili kegiatan yang begitu serius. Bukti penelitian yang didiskusikan semestinya membuat gamblang pentingnya pemrosesan level dasar (bottom-up) dalam pembelajaran membaca. untuk mempelajarinya. Anak-anak bisa kehilangan gairah belajarnya karena menganggap pelajaran itu sangat sulit dan tidak menyenangkan. Belajar membaca. di manaanak-anak dianggap sudah bisa berpikir terstruktur. Teori psikologi perkembangan Jean Piaget selama ini telah menjadi rujukan utama kurikulum TK dan bahkan pendidikan secara umum.makna (meaningful text) sejak dini. Fase itu adalah fase. Sementara itu. Piaget beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasional konkret. Syaratnya hanyalah mengubah cara belajar. lebih cocok berpusat pada siswa (student centered) dibandingkan dengan berpusat pada guru (teacher centered). dan bahkan sains kini tidaklah perlu dianggap tabu bagi anak usia dini. Alih-alih ingin mencerdaskan anak. dan berhitung secara tidak langsung dilarang untuk diperkenalkan pada anak-anak di bawah usia 7 tahun. menulis. akhirnya anak-anak malah memiliki persepsi yang buruk tentang belajar dan menjadi benci dengan kegiatan belajar setelah mereka beranjak besar. menguras pikiran dan konsentrasi. sehingga tidak cocok diajarkan kepada anak-anak TK yang masih berusia balita. Paradigma belajar Membaca Pada Anak TK: Pro dan Kontra Calistung Perbedaan definisi belajar menjadi pangkal persoalan dalam mempelajari apa pun. menulis. Kemampuan tersebut tidak berkembang secara spontan. besar kemungkinan akan berakibat fatal. memiliki integrasi membaca dan menulis dalam keseluruhan kurikulum. Oleh karena itu. pada usia berapapun. memiliki penghindaran latihan bahasa. kegiatan belajar calistung sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur. Pelajaran membaca. Memang benar jika membaca diajarkan seperti halnya orang dewasa belajar. termasuk belajar membaca. namun tidak banyak orang memahami alasannya. disesuaikan dengan kecenderungan gaya belajar dan usianya masing-masing sehingga terasa menyenangkan dan membangkitkan minat untuk terus belajar. Persoalan terpenting adalah merekonstruksi cara untuk mempelajarinya sehingga anak-anak menganggap kegiatan belajar mereka tak ubahnya seperti bermain dan bahkan memang berbentuk sebuah permainan. . Pesan yang ditangkap dari teori Piaget sering kali berhenti pada “larangan belajar calistung”. Ruang kelas di mana bahasa keseluruhan diajarkan. permainan dan nyanyian tidaklah dikatakan belajar walaupun mungkin isi permainan dan nyanyian adalah ilmu pengetahuan. Kurikulum yang mengabaikan phonics. dan memiliki kesempatan kecil dalam hal pengelompokan kemampuan secara kaku. berhitung. Piaget khawatir otak anak-anak akan terbebani jika pelajaran calistung diajarkan pada anak-anak di bawah 7 tahun. mengabaikan tentang bagaimana “bermaknanya” phonics membuat pengalaman membaca. sedang meresikokan melek huruf pada kebanyakan siswanya. dan biasanya mengeksplisitkan instruksi. Padahal perkembangan dalam pembelajaran di era informasi sekarang ini sebenarnya sudah semakin jauh berubah. Topik pelajaran bukanlah persoalan yang akan menghambat seseorang. Keterampilan fonologis merupakan prediktor tunggal terbaik kemampuan membaca (dan ketidakmampuan membaca).

Itulah letak perbedaan Doman dan para pengkritiknya. Biasanya dinding kelas hanya berisi gambar benda-benda. Glenn Doman adalah contoh lain pendobrak teori perkembangan Piaget. Anak-anak bisa belajar membaca lewat poster-poster bergambar yang ditempel di dinding kelas. sampai akhirnya bisa menggabungkan huruf-huruf tersebut menjadi sebuah kata. seperti motorik dan kecerdasan bergaul ataupun musikal. gambar-gambar diganti dengan yang baru. Glenn Doman menjadi pelopor dalam pengembangan metode belajar membaca dan matematika bagi anak-anak usia dini. Bisa saja mulai saat ini gambar-gambar itu ditambahi posterposter kata. Hal itu disebabkan flash cards dianggap sebagai cara yang kurang rasional. termasuk sebagian ahli psikologi. Setiap satu atau dua minggu. bisa kita hitung. Penganut behaviorisme memang mencela pembelajaran baca-tulis dan matematika untuk anak usia dini. dengan ukuran huruf yang cukup besar dan warna yang mencolok. sesungguhnya pelajaran calistung hanyalah sebagian kecil pelajaran yang perlu diperoleh setiap anak. lumayan banyak juga kata yang bisa dibaca anak-anak. Bisa kita bayangkan. merusak pembelajaran nalar dan logika. Adakalanya tidak diperlukan waktu ataupun momentum khusus untuk mengajarkan calistung.Merujuk pada temuan Howard Gardner tentang kecerdasan majemuk. Kartukartu itu ditampilkan di hadapan si pasien dalam waktu cepat. Cara kita memandang calistung semestinya juga sama dengan cara kita memandang pelajaran lain. Flash cards berbasis hafalan. Metode flash cards bagi sebagian besar orang adalah mustahil. Doman adalah seorang dokter bedah otak. Mereka menganggap hal itu sebuah pembatasan terhadap keterampilan. bisa saja anak-anak menghafal kata-kata yang sudah diperkenalkan namun akan kebingungan ketika diberikan katakata baru yang belum pernah dibacanya. Anak-anak harus terlebih dahulu mengenal huruf dan mampu membedakan bunyi. Karena. dan tentu akan muncul lagi kata-kata baru bersamaan dengan penggantian itu. Ia berhasil membantu menyembuhkan orangorang yang mengalami cedera otak lewat flash card. dan kemungkinan anak-anak merasa terbebani karena metode itu sangatlah kecil. Doman hanya merekomendasikan pembelajaran membaca dan matematika sekitar 45 detik per hari. Dalam waktu satu atau dua tahun. Mengembangkan kemampuan para pendidik untuk mengajar calistung secara menyenangkan. Namun demikian pelajaran calistung bisa membaur dengan kegiatan lainnya yang dirancang dalam kurikulum TK tanpa harus membuat anak-anak terbebani. Kritik terhadap flash cards memang sering dilontarkan orang. betapa sebentarnya. Adanya perkembangan pada otak pasiennya membuat ia ingin mencobanya kepada anak-anak bahkan bayi. Jangan heran kalau akhirnya anak-anak bisa membaca tanpa guru yang merasa stres untuk mengajari mereka menghafal huruf atau mengeja. mungkin akan lebih baik daripada melarang pelajaran calistung pada anak usia dini secara . Ia membuat kartu-kartu kata yang ditulis dengan tinta berwarna merah pada karton tebal. sedangkan kemampuan membaca menurut para psikolog dan orang pada umumnya harus diproses melalui tahapan-tahapan fonemik dan fonetik. dengan ukuran huruf yang cukup besar. hanya satu detik per kata. Tak heran jika anak-anak usia 2 atau 3 tahun pun sudah mahir membaca dan juga menjadi sangat suka serta tentu saja tidak menolak untuk belajar membaca dengan pendekatan tersebut.

Syarat terpenting adalah. Hentikan permainan ini sebelum anak itu sendiri ingin menghentikannya. dan C selama tiga kali sehari. . tunjukkan dan bacakan set A dan set B. Ini dilakukan terus sampai kartu-kartu terbaca 15-25 kali. 2. gunakan nama-nama yang tidak asing bagi dia. buatlah 15 kata di atas 15 lembar karton. Yang jelas.5 sentimeter warna hitam. sehingga waktu kita menunjukkannya kepada anak urutannya tetap sama. terutama nama benda yang sering anak jumpai setiap hari. karena belajar membaca merupakan permainan yang bagus sekali. anak akan lebih mudah mengingatnya. Jangan pernah memaksa anak untuk belajar membaca tanpa kemauan dia sendiri. hanya ditunjukkan lima lembar pertama (set A) kepada anak dengan membacanya. bisa dibuat permainan menarik untuknya Membatasi waktu untuk melakukan permainan ini sehingga betul-betul singkat. tanpa memberikan solusi untuk mengatasi persoalan baca-tulis di sekolah dasar. Dengan demikian.Untuk tahap pertama. juga spidol ukuran 0. Pada hari pertama belajar. huruf yang sederhana dan konsisten. juga tiga kali sehari. Metode Pengajaran Membaca Anak Glenn Doman Ada dua faktor penting dalam Metode Glenn Doman ini adalah sebagai berikut : Sikap dan pendekatan orang dewasa. B.keseluruhan. Sementara pada hari ketiga. bahwa diantara orang dewasa dan anak harus ada pendekatan yang menyenangkan. dibagi menjadi tiga. Bukan pelajarannya yang harus dipersoalkan. Agar tidak terjadi kekeliruan. tiga kali sehari. lakukan seperti hari ketiga.5 sentimeter. Tuliskan kata di atas guntingan kertas karton dengan huruf kecil (bukan kapital). Perlu diingat bahwa urutan kata harus sama dari setiap setnya. lalu lima lembar kedua bertuliskan nama-nama organ tubuh (set B). Pada hari kedua. Tahap Pembelajaran 1. setiap kertas bisa diberi nomor di sebaliknya. Misalnya. Selain itu. Pada hari keempat. persiapkan kertas karton kaku warna putih dan spidol besar yang ujungnya rata (selebar satu sentimeter) berwarna merah. lima lembar pertama adalah nama-nama anggota keluarga (set A). Untuk tahap pertama. bacakan set A. sediakan pula yang selebar 12. tetapi cara menyajikannya. sedangkan lembar ketiga bertuliskan nama-nama bunga (set C). Biasakan anak membaca dengan suatu kegemaran. Kertas karton digunting-gunting sepanjang 60 sentimeter dengan lebar 15 sentimeter.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->