Konsep MESRA dalam Membina Keluarga Islami

Publikasi: 28/04/2005 10:30 WIB

eramuslim - Membentuk dan membina keluarga islami merupakan cita-cita luhur setiap muslim. Keluarga islami adalah salah satu pondasi yang harus diwujudkan karena keluarga adalah salah satu unsur pembentuk masyarakat luas. Jika semakin banyak keluarga menerapkan konsep islami, maka diharapkan semakin mudah membentuk masyarakat islami. Salah satu metode membina keluarga islami adalah dengan menerapkan konsep MESRA dalam keluarga. MESRA merupakan kependekan dari Mendidik, Empati, Senyum, Rapi-Rajin dan Aktif. Lima langkah yang ingin ditawarkan dalam membina keluarga Islami. Mendidik Suami memiliki kewajiban untuk mendidik istrinya dalam mengembangkan berbagai potensi kebaikan. Walaupun ada kasus di mana secara akademis, istri memiliki jenjang pendidikan lebih tinggi, amanah sebagai qawwam di rumah tangga menyiratkan kebutuhan kematangan ilmu dan emosional pada diri suami. Isyarat peran suami sebagai pendidik disampaikan misalnya pada ayat: "Wahai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS at-Tahrim: 6). Puncak tujuan pendidikan adalah terjaminnya keselamatan keluarga di hari akhirat kelak. Istri dapat memposisikan diri sebagai mitra dan sebagai pembelajar dalam interaksinya dengan suami. Figur Ummul Mu'miniin, terutama pada Khadijah, Aisyah, dan Ummu Salamah radiyallahu anhun ajma'iin memberikan contoh-contoh peran sebagai mitra suami dalam menempuh cita-cita mulia kehidupan. Mereka mendukung perjuangan suami, berdialog, memberikan saran-saran dan memiliki sikap ingin tahu (curiousity) dalam ilmu-ilmu yang bermanfaat. Peran saling mendidik dan khususnya isyarat active self-learning process (proses pembelajaran mandiri) bagi para istri tertuang pada ayat: "Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Maha Melihat". (QS al-Ahzab: 34) Empati

sedih pada saat beban pikiran dan jiwa melanda pasangan. kecewa. Artinya tanpa harus yang satu sampai memaksa pasangannya untuk menolong dirinya. mendengar. Bahkan Nabi menyampaikan "tabassamu wajhi li akhika shadaqah". sebaliknya ketiadaan empati menampak pada perbuatan anti-sosial. Kita tidak berbicara menyakiti dalam bentuk membentak atau bersikap keras terhadap pasangan. Bahkan empati ini secara sangat lembut merupakan sensitifitas kita bersikap dan bertindak. tersenyumnya kita terhadap saudara muslim adalah sebuah shadaqah. Senyum Wajah Nabi Muhammad SAW senantiasa dihiasi dengan senyuman. Ini terlalu jauh. sebagaimana dikisahkan Aisyah ra. Karenanya menjaga suasana senyum di rumah tangga pada hakikatnya . Berbagai riset menunjukkan bahwa empati menjadi sumber berbagai sikap dan tingkah laku mulia. Bacalah kondisi hati kita.Istilah empati sepadan dengan terlibatnya hati dan pikiran dengan masalah yang dihadapi orang lain di luar kita. maka sangat sulit senyum ini terpancar. Begitulah keseharian beliau di rumah. Sebaliknya lemahnya empati menyebabkan berbagai efek buruk pada sikap dan tingkah laku. Suasana rumah tangga menjadi harmonis tatkala suami-istri saling berempati dengan pasangannya. Maka akan lebih besar pahala yang kita terima jika menghiasi wajah ini dengan senyuman untuk pasangan kita. Keberadaaan empati diasosiasikan dengan perbuatan pro-sosial. Sungguh senyum adalah pancaran hati yang damai dan hati yang diliputi cinta dan kasih sayang. Sebaliknya sikap jujur dalam kehidupan dan suasana bahagia karena prestasi pasangan akan menjadi kesegaran yang indah dalam rumah tangga. Empati adalah awal sikap untuk membantu. dan menghayati orang lain. Tingkat empati suami-istri memang diuji pada sejauhmana memahami kondisi gelisah. Lebih dari itu empati yang prima akan terwujud dalam suasana saling membantu di antara suami dan istri yang berlangsung secara alami. Empati ini akan mengurangi sikap-sikap menyakiti pasangan. Senyuman itu akan membuahkan cinta. ketika kita mampu menyampaikan apresiasi dengan tepat. Pada kondisi ini dukungan kita terhadap pasangan kita akan begitu besar manfaatnya. Tatkala ia ringkih dan kasat (keras). Cara paling efektif menumbuhkan empati adalah dengan berinteraksi. Senyuman suami terhadap istri atau sebaliknya sangat dengan dengan pemenuhan peran suami-istri sebagai kekasih.

adalah menjaga kondisi agar hati kita senantiasa hidup dengan dzikr kepada ar Rahmaan. tapi hanya terdampar di sungai-sungai . Rapi-Rajin Seorang suami akan merasa senang hatinya jika mendapati rumahnya dalam keadaan rapi. Rasa saling mencintai dan menyayangi diantara suami-istri. Anak-anak sudah mandi dan rapi dengan pakaian tidurnya di sore hari. Hal-hal di atas selaras dengan tuntunan Islam dalam interaksi suami-istri. Adapun diantara sifat istri shalihah yang diisyaratkan Nabi adalah yang membuat hati tertarik manakala melihatnya. ketika bahtera rumah tangga bukannya mengarungi samudra perjuangan yang luas. demikian isyarat Nabi. Begitu juga Nabi memerintahkan para sahabatnya agar merapikan rambutnya. yang hampa dari nilai mulia. pembangunan al usrah al islaamiyyah atau keluarga Islami menempati jejang penting dalam membangun peradaban Islami. maka diikrarkan pula untuk membangun keluarga di mana suami-istri berada dalam aktifitas kebaikan buat masyarakatnya. bukanlah hanya sebatas "kisah picisan". Teliti memperhatikan kebutuhan rumah tangga di sela-sela perjuangannya di masyarakat. yaitu banyak menyelewengnya wanita Bani Israil. Begitu juga menemui sang istri dalam keadaan rapi menarik. Tentu saja seorang istri akan senang melihat suaminya berpakaian rapi. Sebaliknya. Keluarga ini sendiri dibangun oleh seorang suami dan istri yang sama-sama berkomitmen membentuk pribadi Islami pada dirinya. apalagi jika suaminya tetap berusaha menjaga stamina tubuh agar senantiasa fit. bahkan beliau memberitahukan sebuah rahasia sosial. seorang istri akan sangat senang hatinya mendapatkan suaminya tekun dan rajin dalam bekerja. "Allah itu indah dan suka keindahan". Dialah yang menurunkan sakinah. Aktif Dalam kerangka dakwah. Dalam aktifitas kebaikan inilah sebuah keluarga akan menemukan tantangan perjuangan dan nilai mulia di tengah masyarakat. karena ketidakrapian suami mereka. mawaddah wa rahmah kepada kita dalam membina rumah tangga (QS ar-Ruum: 21). Ketika diikrarkan akad nikah. Kadang mencengangkan.

lelaki dan perempuan. Tidak! Keluarga Islami adalah yang cinta dan sayang diantara mereka terus dipupuk untuk saling mendukung dalam perjuangan besar. karena terus ditempa berbagai pelajaran kehidupan yang banyak dan bermutu. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf. 24 April 2005. Tokyo. Sibuk dengan urusan mencari harta. Gambaran kerja sama aktif kaum lelaki dan kaum perempuan untuk kerja-kerja perbaikan kondisi sosial-masyarakat dalam ayat: "Dan orang-orang beriman. mendirikan shalat. Setiap hari keluarga Islami menjadi semakin cerdas. bertengkar dan saling menyalahkan pasangan untuk masalah-masalah sepele.kecil. dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. menunaikan zakat. . mencegah dari yang mungkar. Forum Silaturahim Muslimah (FAHIMA). Peminat Masalah Pengembangan Diri <adijm2001 at yahoo dot com> Catatan: Butir-butir bahasan ini adalah sebagian bahan yang pernah disampaikan pada acara Keluarga Ceria. Keluarga Masyarakat Islam-Nagoya. Mustafa. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. 11 September 2004 dan pada Seminar Keluarga. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS at-Taubah: 71) *** Adi J.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful