P. 1
Konsep MESRA Dalam Membina Keluarga Islami

Konsep MESRA Dalam Membina Keluarga Islami

|Views: 18|Likes:
Published by teguh budiawan

More info:

Published by: teguh budiawan on Sep 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/06/2011

pdf

text

original

Konsep MESRA dalam Membina Keluarga Islami

Publikasi: 28/04/2005 10:30 WIB

eramuslim - Membentuk dan membina keluarga islami merupakan cita-cita luhur setiap muslim. Keluarga islami adalah salah satu pondasi yang harus diwujudkan karena keluarga adalah salah satu unsur pembentuk masyarakat luas. Jika semakin banyak keluarga menerapkan konsep islami, maka diharapkan semakin mudah membentuk masyarakat islami. Salah satu metode membina keluarga islami adalah dengan menerapkan konsep MESRA dalam keluarga. MESRA merupakan kependekan dari Mendidik, Empati, Senyum, Rapi-Rajin dan Aktif. Lima langkah yang ingin ditawarkan dalam membina keluarga Islami. Mendidik Suami memiliki kewajiban untuk mendidik istrinya dalam mengembangkan berbagai potensi kebaikan. Walaupun ada kasus di mana secara akademis, istri memiliki jenjang pendidikan lebih tinggi, amanah sebagai qawwam di rumah tangga menyiratkan kebutuhan kematangan ilmu dan emosional pada diri suami. Isyarat peran suami sebagai pendidik disampaikan misalnya pada ayat: "Wahai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS at-Tahrim: 6). Puncak tujuan pendidikan adalah terjaminnya keselamatan keluarga di hari akhirat kelak. Istri dapat memposisikan diri sebagai mitra dan sebagai pembelajar dalam interaksinya dengan suami. Figur Ummul Mu'miniin, terutama pada Khadijah, Aisyah, dan Ummu Salamah radiyallahu anhun ajma'iin memberikan contoh-contoh peran sebagai mitra suami dalam menempuh cita-cita mulia kehidupan. Mereka mendukung perjuangan suami, berdialog, memberikan saran-saran dan memiliki sikap ingin tahu (curiousity) dalam ilmu-ilmu yang bermanfaat. Peran saling mendidik dan khususnya isyarat active self-learning process (proses pembelajaran mandiri) bagi para istri tertuang pada ayat: "Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Maha Melihat". (QS al-Ahzab: 34) Empati

Sungguh senyum adalah pancaran hati yang damai dan hati yang diliputi cinta dan kasih sayang. sebagaimana dikisahkan Aisyah ra. Senyum Wajah Nabi Muhammad SAW senantiasa dihiasi dengan senyuman. sedih pada saat beban pikiran dan jiwa melanda pasangan. sebaliknya ketiadaan empati menampak pada perbuatan anti-sosial. Suasana rumah tangga menjadi harmonis tatkala suami-istri saling berempati dengan pasangannya. Bahkan empati ini secara sangat lembut merupakan sensitifitas kita bersikap dan bertindak. Senyuman itu akan membuahkan cinta. Senyuman suami terhadap istri atau sebaliknya sangat dengan dengan pemenuhan peran suami-istri sebagai kekasih. Kita tidak berbicara menyakiti dalam bentuk membentak atau bersikap keras terhadap pasangan. Tatkala ia ringkih dan kasat (keras). Berbagai riset menunjukkan bahwa empati menjadi sumber berbagai sikap dan tingkah laku mulia. Keberadaaan empati diasosiasikan dengan perbuatan pro-sosial. ketika kita mampu menyampaikan apresiasi dengan tepat. Bacalah kondisi hati kita. Artinya tanpa harus yang satu sampai memaksa pasangannya untuk menolong dirinya. Cara paling efektif menumbuhkan empati adalah dengan berinteraksi. mendengar. dan menghayati orang lain. maka sangat sulit senyum ini terpancar. Sebaliknya sikap jujur dalam kehidupan dan suasana bahagia karena prestasi pasangan akan menjadi kesegaran yang indah dalam rumah tangga. Pada kondisi ini dukungan kita terhadap pasangan kita akan begitu besar manfaatnya. Ini terlalu jauh. Lebih dari itu empati yang prima akan terwujud dalam suasana saling membantu di antara suami dan istri yang berlangsung secara alami. Karenanya menjaga suasana senyum di rumah tangga pada hakikatnya . Maka akan lebih besar pahala yang kita terima jika menghiasi wajah ini dengan senyuman untuk pasangan kita. Begitulah keseharian beliau di rumah.Istilah empati sepadan dengan terlibatnya hati dan pikiran dengan masalah yang dihadapi orang lain di luar kita. Empati ini akan mengurangi sikap-sikap menyakiti pasangan. Sebaliknya lemahnya empati menyebabkan berbagai efek buruk pada sikap dan tingkah laku. kecewa. tersenyumnya kita terhadap saudara muslim adalah sebuah shadaqah. Tingkat empati suami-istri memang diuji pada sejauhmana memahami kondisi gelisah. Empati adalah awal sikap untuk membantu. Bahkan Nabi menyampaikan "tabassamu wajhi li akhika shadaqah".

adalah menjaga kondisi agar hati kita senantiasa hidup dengan dzikr kepada ar Rahmaan. maka diikrarkan pula untuk membangun keluarga di mana suami-istri berada dalam aktifitas kebaikan buat masyarakatnya. demikian isyarat Nabi. Keluarga ini sendiri dibangun oleh seorang suami dan istri yang sama-sama berkomitmen membentuk pribadi Islami pada dirinya. Rapi-Rajin Seorang suami akan merasa senang hatinya jika mendapati rumahnya dalam keadaan rapi. mawaddah wa rahmah kepada kita dalam membina rumah tangga (QS ar-Ruum: 21). Dialah yang menurunkan sakinah. Begitu juga menemui sang istri dalam keadaan rapi menarik. Aktif Dalam kerangka dakwah. Kadang mencengangkan. tapi hanya terdampar di sungai-sungai . seorang istri akan sangat senang hatinya mendapatkan suaminya tekun dan rajin dalam bekerja. Dalam aktifitas kebaikan inilah sebuah keluarga akan menemukan tantangan perjuangan dan nilai mulia di tengah masyarakat. karena ketidakrapian suami mereka. Rasa saling mencintai dan menyayangi diantara suami-istri. Anak-anak sudah mandi dan rapi dengan pakaian tidurnya di sore hari. apalagi jika suaminya tetap berusaha menjaga stamina tubuh agar senantiasa fit. Tentu saja seorang istri akan senang melihat suaminya berpakaian rapi. yaitu banyak menyelewengnya wanita Bani Israil. Teliti memperhatikan kebutuhan rumah tangga di sela-sela perjuangannya di masyarakat. yang hampa dari nilai mulia. pembangunan al usrah al islaamiyyah atau keluarga Islami menempati jejang penting dalam membangun peradaban Islami. "Allah itu indah dan suka keindahan". bahkan beliau memberitahukan sebuah rahasia sosial. Adapun diantara sifat istri shalihah yang diisyaratkan Nabi adalah yang membuat hati tertarik manakala melihatnya. Sebaliknya. ketika bahtera rumah tangga bukannya mengarungi samudra perjuangan yang luas. Hal-hal di atas selaras dengan tuntunan Islam dalam interaksi suami-istri. Begitu juga Nabi memerintahkan para sahabatnya agar merapikan rambutnya. Ketika diikrarkan akad nikah. bukanlah hanya sebatas "kisah picisan".

Keluarga Masyarakat Islam-Nagoya. mencegah dari yang mungkar. Peminat Masalah Pengembangan Diri <adijm2001 at yahoo dot com> Catatan: Butir-butir bahasan ini adalah sebagian bahan yang pernah disampaikan pada acara Keluarga Ceria. menunaikan zakat. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". Tokyo. Tidak! Keluarga Islami adalah yang cinta dan sayang diantara mereka terus dipupuk untuk saling mendukung dalam perjuangan besar. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf. Gambaran kerja sama aktif kaum lelaki dan kaum perempuan untuk kerja-kerja perbaikan kondisi sosial-masyarakat dalam ayat: "Dan orang-orang beriman. sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. lelaki dan perempuan. dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (QS at-Taubah: 71) *** Adi J. mendirikan shalat. Mustafa. karena terus ditempa berbagai pelajaran kehidupan yang banyak dan bermutu. Setiap hari keluarga Islami menjadi semakin cerdas. 11 September 2004 dan pada Seminar Keluarga.kecil. 24 April 2005. bertengkar dan saling menyalahkan pasangan untuk masalah-masalah sepele. Forum Silaturahim Muslimah (FAHIMA). . Sibuk dengan urusan mencari harta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->