P. 1
Majalah Forum Tenaga Kependidikan Edisi 1/2011

Majalah Forum Tenaga Kependidikan Edisi 1/2011

|Views: 491|Likes:
Published by Dipo Handoko
Majalah Forum Tenaga Kependidikan diterbitkan Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan
Majalah Forum Tenaga Kependidikan diterbitkan Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan

More info:

Published by: Dipo Handoko on Sep 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2012

pdf

text

original

NOMOR 1/TAHUN I/MARET 2011

daftar isi
PESAN KAPUS
Dr. Abi Sujak: Revitalisasi Peran Tenaga Kependidikan

SUSUNAN REDAKSI
Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D Dr . Abi Sujak

PENGARAH PEMBINA

PEMIMPIN REDAKSI
Otong Kusnadi

LAPORAN UTAMA
6

4

Miftah, Agus Wahyu Sadikin, Mansur Fauzi, Budi Supriyatno, Nurlela, Djohan Maulana, Djoko Sumanto, Kaswinah Sri Endah Prih Yudianto, M. Noer Sholihin, Ngadimin, Martono, Din Burhanuddin, Ahmad Fauzi, Saiful Anam, Dipo Handoko, Mukti Ali, Eva Rohilah, Supriono Darmawan Affandi Zaimuri, Wining Widhiarti, Tono Suryono

DEWAN REDAKSI

Wawancara Wakil Mendiknas Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D: Tiga Strategi Merevitalisasi Gerakan Pendidikan Karakter Brigjen TNI (Purn) H.Soemarno Soedarsono: Pembangunan Karakter Sangat Mendesak Ir Ratna Megawangi, M.Sc, Ph.D: Pendidikan Holistik Berbasis Karakter Ary Ginanjar Agustian: Menghidupkan FItrah Manusia Prof Dr Marwah Daud Ibrahim, PhD Mengelola Hidup Merencanakan Masa Depan

STAF REDAKSI

10 12 14 16

SEKRETARIS REDAKSI

DISAIN DAN TATA LETAK
Dipo Handoko

Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Penjamin Mutu Pendidikan Kemdiknas Gedung D Lt 17, Jl. Pintu 1, Senayan, Jakarta Telp. 021-57946110 Fax. 021-57946110 e-mail: tendik@kemdiknas.go.id

PENERBIT

ALAMAT

SEKOLAH 19 Testimoni Pendidikan Karakter di TK 20 Testimoni Pendidikan Karakter di SD 27 Testimoni Pendidikan Karakter di SMP 44 Testimoni Pendidikan Karakter di SMA 57 Testimoni Pendidikan Karakter di SMK

3

Pesan KAPUS
MENGGAGAS ARAH KEBIJAKAN PUSAT PENGEMBANGAN TENAGA KEPENDIDIKAN
Oleh: Dr. Abi Sujak Kepala Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan

T

enaga kependidikan (tendik) yang meliputi pengawas sekolah, kepala sekolah, tenaga laboratorium sekolah, tenaga perpustakaan sekolah, dan tenaga tata usaha sekolah, memiliki peran penting dalam upaya peningkatan mutu sekolah. Sejak enam tahun terakhir, upaya peningkatan mutu tenaga kependidikan itu ditangani secara khusus oleh Direktorat Tenaga Kependidikan, yang berada di bawah Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK). Setelah dilakukan reformasi birokrasi di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), kini upaya peningkatan mutu tendik tersebut diteruskan oleh Pusat Pengambangan Tenaga Kependidikan (Pusbang Tendik), yang berada di bawah Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penjaminan Mutu Pendidikan. Disadari begitu pentingnya peran tenaga kependidikan, khususnya pengawas sekolah dan kepala sekolah bagi peningkatan mutu pendidikan kita, maka dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010, peningkatan kompetensi kepala sekolah dan pengawas sekolah untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah merupakan sebagian dari sejumlah aspek yang diprioritaskan dalam pembangunan bidang pendidikan. Mengacu pada Inpres tersebut, yang kemudian dielaborasi ke dalam Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) kemudian menyelenggarakan program pelatihan bagi ribuan pengawas dan kepala sekolah dengan pendekatan IN

– ON – IN (In service learning, On the job learning, dan In service learning). Program ini terus dilanjutkan pada tahun ini, di bawah koordinasi Pusbang Tendik.

PE RAN STRATE GIS PE NGAWAS SEKOLAH
Pengawas sekolah memiliki peranan strategis dalam Sistem Manajemen Mutu Sekolah. Apabila pengawas sekolah dapat diberdayakan dengan baik, maka Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dapat memantau proses pendidikan yang terjadi pada masing-masing sekolah. Melalui rentang pengendalian dengan perbandingan 1 pengawas membina 10 s.d. 15 sekolah, keberadaan pengawas sekolah akan sangat membantu peran Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dalam menguasai informasi operasional yang berlangsung di sekolah. Pengawas sekolah memiliki dua peran utama, yaitu melaksanakan supervisi akademik dan supervisi manajerial. Proses percepatan peningkatan mutu pendidikan di sekolah akan dapat dilaksanakan dengan baik apabila peran supervisi akademik dapat dilaksanakan oleh pengawas sekolah. Akan tetapi, situasi yang ada di kabupaten/ kota, umumnya baru peran supervisi manajerial yang sudah dapat dilaksanakan. Hal ini terjadi karena latar belakang perekrutan pengawas sekolah tidak didasarkan pada kompetensi mata pelajaran (Mapel) atau rumpun mata pelajaran (Rumpun Mapel) yang relevan dengan kompetensi untuk melaksanakan supervisi akademik. Seiring dengan berlakunya sertifikasi pendidik bagi pengawas sekolah, yang dilaksanakan berdasarkan pada Mapel atau Rumpun Mapel bagi pengawas SMP, SMA,

SMK, dan PLB, maka ke depan perekrutan dan seleksi pengawas sekolah diarahkan menuju pengawas Mapel dan pengawas Rumpun Mapel. Tetapi untuk pengawas TK dan SD tetap dengan sistim pengawas satuan pendidikan. Dengan tersedianya pengawas Mapel dan Rumpun Mapel, maka kegiatan peningkatan mutu guru di Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) akan memperoleh kontribusi dari keahlian spesifik yang dimiliki pengawas Mapel/ Rumpun Mapel.

MENYIAPKAN & MENGEMBANGKAN
Sistem penyiapan calon kepala sekolah di Indonesia telah lama tertinggal dibanding Singapura, Malaysia, ataupun negaranegara maju. Singapura dan Malaysia menyiapkan calon kepala sekolah melalui pelatihan selama 1 tahun (6 bulan teori, 6 bulan praktik). Di Singapura, calon kepala sekolah diwajibkan praktik magang di industri, atas dasar pertimbangan karena pengguna lulusannya adalah dunia industri; dan benchmarking ke sekolah di negara maju. Di Malaysia, calon kepala sekolah diwajibkan praktik di sekolah yang mutunya rendah dan agar berusaha memperbaiki mutunya. Di Indonesia, melalui Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010, calon kepala sekolah diwajibkan mengikuti pelatihan minimal 100 jam dan praktik di sekolah minimal 3 bulan. Dengan pendekatan IN-ON-IN (In service learning/pembelajaran tatap muka, diikuti On the job learning/praktik, dan In service learning/pertemuan tatap muka untuk melaporkan dan berbagi pengalaman hasil praktiknya), diharapkan akan dapat diwujudkan calon kepala sekolah yang menguasai Standar Kompetensi Kepala

4

Sekolah (Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007). Terkait dengan upaya pelaksanaan Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010 ini, Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan (Pusbang Tendik) bersama Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) di Surakarta (sebagai UPT Badan Pengembangan SDM Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan), telah menyiapkan tim (nara sumber) pada masing-masing provinsi di bidang penilaian potensi kepemimpinan dan fasilitator peningkatan kompetensi calon kepala sekolah. Ke depan, seiring telah dimulainya gerakan nasional penguatan kompetensi kepala sekolah, sebagaimana termaktub dalam agenda Program Inpres Nomor 1 Tahun 2010, maka Pusbang Tendik akan terus melangkah ke depan menuju terwujudnya pengembangan komptensi kepala sekolah secara utuh dan terus m e n e r u s ( C o n t i n u i n g P r o fe s s i o n a l Development). REVITALISASI PERAN TENAGA LABORATORIUM, TENAGA PERPUSTAKAAN, DAN TENAGA ADMINISTRASI Upaya mengantarkan peserta didik hingga level “memahami” dan “terampil” sangat dipengaruhi oleh peran tenaga laboratorium sekolah. Demikian pula upaya mewujudkan pembelajaran yang efektif, penuh makna, dan menyenangkan akan diwarnai oleh peran tenaga perpustakaan. Tertib administrasi keuangan dan urusan akademik di sekolah akan diwarnai oleh peran tenaga administrasi sekolah. Karena itu, ke depan penting dibangun sistem

peningkatan mutu yang efisien, penuh makna, dan dapat menjangkau seluasluasnya bagi tenaga laboratorium sekolah, tenaga perpustakaan, dan tenaga administrasi sekolah. PERUMUSAN STANDAR KOMPETENSI, PENGEMBANGAN PAKET PELATIHAN SECARA UTUH, DAN PEMBANGUNAN SISTEM PENINGKATAN KOMPETENSI PEGAWAI KEMDIKNAS SECARA EFISIEN DAN MENJANGKAU LUAS Peningkatan kualitas layanan pegawai Kemdiknas akan dapat terus ditingkatkan apabila standar kompetensi pegawai pada bidang-bidang pekerjaan telah dapat dirumuskan dengan baik dan diikuti dengan pengembangan paket program pelatihan secara sistematis. Melalui proses ini, maka jenis-jenis diklat teknis bagi pegawai Kemdiknas akan dapat dibangun secara utuh. Berbekal dari pengalaman ex Pusdiklat Kemdiknas (sekarang menyatu ke dalam Pusbang Tendik) yang telah berpuluh-puluh tahun dalam binaan Lembaga Administrasi Negara (LAN) melaksanakan diklat kepemimpinan, Pusbang Tendik akan melangkah terus mewujudkan diklat teknis bagi pegawai Kemdiknas dan membangun delivery system yang memungkinkan masing-masing unit kerja mengembangkan pegawai. PENGEMBANGAN WIDYAISWARA Peningkatan mutu supervisi akademik pengawas sekolah, kepemimpinan kepala sekolah, dan tenaga laboratorium sekolah akan banyak diwarnai oleh mutu widyaiswara Pusat Pengembangan dan

Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) dan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP). Oleh karena itu, untuk meningkatkan mutu widyaiswara PPPPTK dan LPMP, ke depan akan dilaksanakan kerja sama dengan perguruan tinggi dan dunia industri. Selain itu juga akan dilaksanakan training provider di luar negeri untuk peningkatan profesionalitas widyaiswara. PEMBERDAYAAN ORGANISASI PROFESI TENAGA KEPENDIDIKAN Hingga saat ini, telah terdapat organisasi profesi tenaga kependidikan pada tingkat kabupaten/ kota, nasional, dan regional. Sejumlah organisasi tersebut meliputi KKKS (Kelompok Kerja Kepala Sekolah – untuk kepala SD), MKKS (Muusyawarah Kerja Kepala Sekolah – untuk kepala SMP, SMA, SMK), KKPS (Kelompok Kerja Pengawas Sekolah – untuk pengawas SD), MKPS (Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah— untuk pengawas SMP, SMA, SMK), AKSI (Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia), APSI (Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia), ATPUSI (Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia), AKTAS (Asosiasi Kepala Tenaga Administrasi Sekolah), dan SEASPF (South East Asia School Principal Forum) dengan sekretariat tetap di Indonesia (di Pusbang Tendik). Sejak Ditjen PMPTK berdiri pada tahun 2005, dukungan dana melalui hibah kompetitif telah dianggarkan di LPMP untuk kegiatan KKKS, MKKS, KKPS, MKPS beriringan dengan hibah untuk KKG dan MGMP. Ke dapan, upaya membangun sistem pembinaan organisasi profesi tendik akan terus ditingkatkan, sehingga akan mempercepat terwujudnya gerakan learning communities yang selalu up to date terhadap perkembangan informasi di bidang profesi tendik. Seluruh upaya peningkatan kompetensi tenaga kependidikan tersebut akan dilandasi nilai-nilai karakter, yang merupakan salah satu program prioritas Kemdiknas. Pada gilirannya, nilai-nilai karakter itu akan membantu terwujudnya pencapaian visi pembangunan tenaga kependidikan yang telah sejak enam tahun l a l u d i c a n a n g k a n , y a i t u “ Te n a g a Kependidikan yang Profesional dan Bermartabat”. Amiin.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

5

Laporan Utama Utama

Wawancara Wakil Menteri Pendidikan Nasional Prof. dr. Fasli Jalal, PhD

TIGA STRATEGI MEREVITALISASI

GERAKAN PENDIDIKAN KARAKTER

D
6

i era Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, pendidikan karakter lebih digalakkan di sekolah. Pemerintah memandang salah satu penyebab maraknya praktik-praktik tidak terpuji dalam kehidupan masyarakat adalah rapuhnya karakter. Oleh karena itu, sejak awal menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA telah menekankan program pendidikan karakter. Mengapa pendidikan karakter sekarang dipandang sangat medesak? Apa saja strategi yang akan dilakukan Kemdiknas dalam menggalakkan pendidikan karakter? Bagaimana menghadapi tantangan yang begitu berat dalam melaksanakan pendidikan karakter, terutama dari media televisi? Itulah sebagian pertanyaan mendasar yang dilontarkan tim wartawan Majalah FORUM TENAGA KEPENDIDIKAN yang terdiri dari Saiful Anam, Dipo Handoko, dan Mukti Ali, saat berbincang dengan Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Prof. dr. Fasli Jalal, PhD, di ruang kerjanya, Senin (7/3) lalu. Untuk mengetahui jawaban selengkapnya, ikuti wawancara lengkap dengan Pak Wamen berikut ini.

Ini sebetulnya lebih pada penyegaran kembali. Kalau kita lihat sejarahnya, pada masa lalu guru memandang akhlak atau budi pekerti sebagai indikator terpenting dalam menilai muridmuridnya. Mereka sendiri yang tahu seorang anak berbudi pekerti baik atau tidak. Karena itu, kalau guru memberi nilai K (kurang) pada akhlak atau budi pekerti kepada muridnya, maka berapa pun nilai matapelajaran lainnya tidak

Apa urgensi pendidikan karakter, dan bukankah sejak dulu beberapa aspek dalam pendidikan karakter sudah dilaksanakan di sekolah?

dipertimbangkan. Nilai anak langsung jatuh, tidak naik kelas atau tidak lulus. Nilai budi pekerti yang diberikan itu merupakan akumulasi dari interaksi guru dengan murid. Dan tentu guru yang tahu persis perilaku murid-muridnya. Jika guru menemukan ada murid berperilaku tidak baik, maka ia akan melakukan berbagai cara untuk memperbaikinya, misalnya datang ke rumah dan berkomunikasi dengan orangtuanya. Ujung-ujungnya nanti jangan sampai anak tersebut memperoleh nilai K. Tapi kalau memang dirasa perlu, ya tidak apa-apa dikasih K. Ini semua menjadi otoritas guru, dan mereka tidak ragu memberikannya. Tidak ada protes dari orangtuanya, juga tidak ada perdebatan di sekolah, karena otonomi pedagogik guru dalam menilai anak dalam aspek psikomotor dan afektifnya besar. Itulah mengapa pada waktu itu demikian kokohnya kedudukan karakter di dalam pembelajaran maupun evaluasi. Ini terjadi sejak zaman Belanda sampai Indonesia merdeka kirakira pada awal Pelita pada zaman Orde Baru, atau awal tahun 1970-an. Tetapi, begitu proyek SD Inpres membahana yang dilakukan sejak awal tah u n 1970-an , yan g d i b aren gi pengangkatan guru dalam jumlah besar untuk memenuhi luapan SD Inpres, maka posisi guru yang sebelumnya kokoh dalam otonomi pedagogik itu menjadi berkurang. Apalagi waktu itu mulai berlaku pemeringkatan siswa berdasarkan nilai rapor, yang lebih menekankan pada aspek kognitif. Akhirnya kemampuan anak lebih dilihat dari peringkat akademisnya yang bersifat kognitif. Akibatnya, penghargaan terhadap aspek afektif dan psikomotoriknya menjadi kurang. Tidak mungkin lagi guru menahan murid untuk tidak naik kelas atau tidak lulus sekolah hanya karena budi pekertinya kurang baik, sementara nilai peringkatnya bagus. Malah kalau guru itu tidak menaikkan atau tidak meluluskan bisa disalahkan. Jadi guru tersebut tidak berdaya lagi. Rezim akhlak dan budi pekerti yang sebelumnya dominan dikalahkan oleh rezim kognitif (pemeringkatan). Ini berdampak terus sampai sekarang.

Sebenarnya di setiap kurikulum norma-norma budi pekerti selalu d i s e b u t . Te ta p i d a l a m s t ra t e g i pembelajarannya, guru tidak merujuk. Apalagi begitu diberlakukan sistem EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) tahun 1982, maka nilai yang dijadikan acuan baik nilai EBTA maupun NEM (Nilai Ebtanas Murni) bersifat kognitif semua. Kondisi ini terus berlaku sampai sekarang, saat kita memberlakukan Ujian Nasional (UN). Oleh karena itu, sekarang mari kita tangani serius pendidikan karakter ini. Pendidikan karakter yang sebelumnya sudah ada dan menjadi bagian penting dalam proses pendidikan perlu direvitalisasi. Jadi yang direvitalisasi adalah gerakan pendidikan karakter.

Apakah bukan karena kurikulumnya?

Gerakan ini tentu menggunakan s e m u a p e l u a n g , b a i k ku r i ku l e r, kokurikuler maupun ekstrakurikuler. Strateginya juga bermacam-macam, ada yang dari atas diimbaskan ke bawah sampai ke sekolah atau top down. Kemudian ada dari bawah berupa sekolah-sekolah yang sudah punya kecanggihan-kecanggihan lokal, baik karena misi atau keunikan tertentu yang banyak dimiliki sekolah swasta, atau sekolah negeri tertentu yang menjadikan beberapa hal yang berhubungan dengan karakter atau akhlak dijadikan visi dan misi sekolahnya. Sekolah-sekolah dari bawah ini dijadikan model. Mereka dari berbagai jenjang dan bendera. Ada yang mengusung nasionalisme, ada yang berbasis agama, ada yang masuk melalui pintu budaya, dan macam-macam. Ini adalah strategi bottom up. S t rate g i ket i ga a d a l a h k i ta memanfaatkan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang sudah ada selama ini di sekolah tapi belum dipakai sebagai pintu masuk pendidikan karakter, ke depan kita berdayakan. Oleh karena itu, saya diminta Pak Menteri untuk mengoordinasikan tiga strategi itu.

Bagaimana cara merevitalisasi pendidikan karakter?

Kita lihat kurikulumnya. Standar kompetensinya kita bedah. Kita cermati betul, matapelajaran apa saja yang memuat standar kompetensi yang melahirkan akhlak atau karakter. Selanjutnya dipertegas dan dipastikan bahwa nilai-nilai karakter harus menjadi bagian dari proses pembelajaran, harus dicapai kompetensi, dan harus ada strategi pembelajaran dan sistem evaluasinya untuk mencapai itu. Kemudian kita bedah pula bagaimana agar standar kompetensi yang sudah dimasukkan ke berbagai matapelajaran itu dipastikan ada komponen dari ekstrakurikuler dan kokurikuler yang bisa memperkuat pendidikan karakternya. Karena kadang ada juga standar kompetensi yang jauh lebih mudah dicapai melalui ekstrakurikuler. Ini tugas Bu Diah (Diah Harianti, Kepala Pusat Kurikulum) untuk membedahnya. Selanjutnya bagaimana kita menawarkan atau membuat modelmodel pembelajaran, baik pembelajaran intrakurikuler, ekstrakurikuler maupun kokurikuler dalam menuju pada standar yang sudah di-insert nilai-nilai karakter itu. Dibuatkan bagaimana kegiatan terstruktur, kegiatan spontan, dan dalam bentuk apa saja bisa dicapai. Jadi nilain i l a i i t u d i m a s u k ka n ke d a l a m matapelajaran yang ada, bukan membuat mata pelajaran baru. Jadi dibuatkan pedomannya. Sudah ada pedoman untuk sekolah. Sebagian sudah disosialisasikan ke sekolah. Selain itu kita juga berkomunikasi terus dengan berbagai stakeholders. Kita meminta masukan dari pelaku-pelaku pendidikan karakter untuk menyerap apa saja yang sudah mereka lakukan, dan selanjutnya kita melakukan sinergi dengan mereka. Termasuk baru saja kita mengundang Bu Ratna Megawangi, Bu Marwah Daud, Pak Soemarno, dan dan Pak Ary Ginanjar. Kita sebelumnya juga sudah bertemu dengan banyak pakar pendidikan karakter. Kemudian kita ajak orangorang itu untuk masuk menjadi pelatih tingkat nasional, yang awalnya berjumlah sekitar 150 orang. Mereka selanjutnya

Buku pedoman itu belum jadi?

Apa saja yang akan dibenahi dari strategi pertama?

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

7

Laporan Utama
melatih sekitar 1.200 orang dari seluruh Indonesia. Mereka terdiri dari guru, dosen perguruan tinggi, ada pula dari widyaiswara. Mereka ini diharapkan m e n j a d i m o t o r d a l a m g e ra ka n pendidikan karakter yang bersifat top down. kita rekam dalam bentuk VCD/DVD. Bu Diah (Ka Puskur) juga sudah punya rekaman 120 sekolah. Kemudian kita juga kerjasama dengan Pak Muchlas Samani (Rektor Universitas Negeri Surabaya) juga sudah merekam 100 sekolah lebih. Semua itu kita siapkan untuk kita berikan kepada mereka. Supaya begitu pulang, mereka membawa oleh-oleh berupa buku panduan dan VCD/DVD itu. Kemudian bersama guru-guru yang lain di sekolahnya mereviu contoh-contoh yang dilakukan sekolah-sekolah dalam DVD/VCD tersebut. Setelah melihat rekaman VCD/DVD, bagi sekolah-sekolah tertentu mungkin sudah melakukan, tinggal melakukan penekanan-penekana saja. Tapi ada pula sekolah-sekolah yang mungkin belum melakukan sama sekali, sehingga bisa meniru apa saja yang sudah dilakukan sekolah-sekolah lain dalam rekaman tersebut. Selanjutnya nanti kita monitor, dan kita lakukan pembinaan berkelanjutan. Inilah strategi top down yang kita lakukan. Bagaimana dengan strategi kedua? Tiap tahun kita minta kabupaten/kota menggali pengalaman sekolah-sekolah yang dianggap baik dalam melakukan pendidikan karakter tadi. Misalnya sekolah A baik dalam hal kejujuran melalui penyelenggaraan kantin kejujuran. Atau sekolah lain kuat dalam hal kerjasama melalui Pramuka. Pokoknya ada sesuatu yang pantas ditiru oleh yang lain. Kita harapkan 500 kabupaten/kota lebih itu melakukan berbagai upaya untuk mengangkat contoh-contoh yang baik pendidikan karakternya untuk digelar di pertemuan daerah mereka. Yang baik dari kabupaten/kota nanti dimasukkan ke provinsi. Selanjutnya di provinsi digelar lagi, dilihat lagi kelebihan dan apa saja yang menjadi inspirasi dari sekolah itu. Selanjutnya, sekolahsekolah yang baik di tingkat provinsi itu dibawa ke tingkat nasional.

Nantinya mereka akan memberi masukan kepada tim pengembang ku r i ku l u m t i n g kat p rov i n s i d a n kabupaten/kota. Selanjutnya mengalir ke KKG/MGMP, kemudian mengalir ke sekolah. Untuk itu, pada tahun 2011 ini kita akan melatih 215.000 SD dan SMP yang pelaksanaannya bersamaan dengan pelatihan manajemen BOS. Kita akan titipkan pengenalan bagaimana strategi merevitalisasi pendidikan karakter di sekolah. Dari 215.000 SD dan SMP negeri dan swasta, tiap sekolah mengirimkan tiga orang, terdiri dari kepala sekolah, komite sekolah, dan satu guru senior. Jadi total yang kita latih tahun ini saja hampir 650.000 orang.

Apa ouput yang diharapkan dari mereka?

Tidak harus, karena yang paling penting adalah apa saja inspirasi dan nilai tambah pendidikan karakter yang dihasilkan sekolah tersebut. Bisa tentang satu hal saja, tapi dianggap bagus. Misalnya kejujuran saja, atau tentang kerjasama saja yang kuat. Mereka diharapkan menjadi model bagi sekolah yang lain. Kita akan melihat kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang sudah ada di sekolah kemudian kita kembangkan dari sudut pendidikan karakternya. Misalnya pramuka dan olimpiade, selama ini masih kurang ditonjolkan nilai-nilai kerjasama, kejujuran, kerja keras, dan lain-lain. Nanti akan kita pertegas dan perkuat pendidikan karakternya. Dengan demikian, setiap kegiatan sekolah itu tidak bebas nilai. Langsung ditonjolkan nilai apa yang diharapkan. Dengan sendirinya, cara penilaiannya juga terpengaruh. Kalau seorang anak menjadi pemenang olimpiade, tapi tidak diperoleh dengan jujur, jelas nilainya akan terganggu. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan tersebut nanti kemasannya harus diwarnai oleh nilainilai pendidikan karakter itu. Jadi strateginya tiga itu. Pertama, top down. Ini besar-besaran, karena semua kepala sekolah SD,SMP, SMA, SMK kita latih. Untuk SD dan SMP memang cukup besar, karena ada 215.000 sekolah, dan tiap sekolah kita latih 3 orang. Selain itu kita akan melatih kembali 29.000 kepala

Apakah sekolah-sekolah itu nanti dilombakan?

Pertama tentu konsep-konsep pendidikan karakter. Selain itu, juga kita berikan bahan-bahan berupa contohcontoh VCD/DVD dari sekolah-sekolah yang baik pendidikan karakternya. Di tingkat SMP sudah ada 60 sekolah yang

Apa saja yang diberikan dalam pelatihan itu?

Bagaimana dengan strategi ketiga?

8

sekolah dan pengawas sekolah yang sudah dilatih sebelumnya, untuk dilatih lebih dalam tahun ini. Kemudian ada tambahan 34.000 kepala sekolah dan pengawas sekolah yang pelatihannya dikaitkan dengan program penjaminan mutu pendidikan melalui pola evaluasi diri sekolah (EDS). Kita juga mengajak Ibu Ratna Megawangi untuk ikut menangani pendidikan karakter di PAUD, Pak Ary Ginanjar kita minta memberi motivasi dan perubahan mindset guru dan kepala sekolah, Ibu Marwah Daud kita minta memberi pencerahan kepada mahasiswa dan siswa-siswa SMA/SMK, kemudian untuk Pak Soemarno kita minta memberi pelatihan kepada para pegawai Kemdiknas.

Iya, karena itu saya bicara beberapa kali dengan teman-teman di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Pertama, kita akan mengadakan gerakan pendidikan media literacy di jajaran pendidikan. Mudah-mudahan nanti kepala sekolah, pengawas, guru, dan jajaran pendidikan yang lain bisa memilah-milah mana

Walaupun gerakan pendidikan ka r a kte r d i r ev i ta l i s a s i , ta p i tantangan di luar sekolah sangat berat, terutama dari media televisi yang sarat berbagai tayangan yang tidak kondusif bagi pembentukan karakter. Lantas apa yang akan dilakukan?

siaran atau media yang baik dan mana yang kurang baik. Ini benteng pertama yang akan kita benahi dulu. Kalau strategi ini berhasil, selanjutnya kita harapkan mengalir ke siswa dan m a h a s i s wa , d a n k i ta h a ra p ka n mengimbas ke keluarga dan masyarakat. Kedua, kita akan mencoba menghitung berapa kemampuan kita untuk memfasilitasi lahirnya kontenkonten pendidikan karakter untuk ditayangkan di berbagai media itu. Juga kita pikirkan, apakah nanti dirasa perlu memberikan penghargaan bagi media yang programnya sangat mendukung pendidikan karakter. Kita juga akan lihat, apakah kita punya block grant kalau ada ide-ide untuk pengembangan konten yang mengandung pendidikan karakter, baik berupa sinetron, feature, maupun film baik layar lebar sejenis Lasykar Pelangi. Kalau itu bisa kita lakukan, tentu akan mendorong orang berlomba-lomba membuat konten yang mengandung pendidikan karakter. Juga kita pikirkan bagaimana agar Pustekom dan PIH (Pusat Informasi dan Humas) sendiri selalu siap memproduksi film, berita, dan feature yang secara gratis bisa dengan mudah disiarkan oleh televisi atau media lain melalui fasilitasi dari KPI. Kemudian tentu bagaimana kita bersama-sama menistakan kalau ada orang atau media yang terus-menerus anti pendidikan karakter. Ini strategi terakhirlah.

Kita berharap, kalau kita lakukan serius, maka pada akhirnya berpengaruh ke masyarakat. Ibarat telor dengan ayam, mana yang dulu. Begitu pula dalam hal karakter ini, apakah pendidikan atau masyarakat. Kalau kita mengeluh saja kan tidak jadi-jadi, karena itu kita mulai dulu apa yang bisa kita lakukan. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan ini bisa seperti mata air. Ibarat mata air yang muncul di lingkungan air keruh sungai, begitu keluar pada awalnya akan dikalahkan oleh polutan yang banyak. Tidak apa-apa, silahkan saja. Tapi kalau nanti mata air yang muncul semakin banyak, maka sungai yang sebelumnya penuh polutan ini lamalama akan menjadi jernih. Itulah yang kita harapkan.

Iya, tidak bisa. Pokoknya kita mulai dulu gerakan pendidikan karakter ini. Supaya semua pihak, baik sekolah, orang tua, maupun lingkungan masyarakat sadar betapa pentingnya pembangunan karakter anak melalui pendidikan karakter yang harus saling terkait antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Memang tantangannya berat juga, terutama yang paling berat adalah media televisi. Tapi pelan-pelan coba kita lawanlah. Mudah-mudahan mereka menyambut baik upaya yang kita lakukan.

Hasil pendidikan karakter ini tidak bisa dilihat dalam waktu cepat?

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

9

Laporan Utama
Brigjen TNI (Purn) H. Soemarno Soedarsono, Ketua Yayasan Jati Diri Bangsa

PEMBANGUNAN KARAKTER SANGAT MENDESAK

Lemhanas, sekaligus menjadi dosen di lembaga tersebut. Tugasnya adalah membantu Gubernur Lemhanas untuk menyiapkan calon-calon pimpinan nasional. Posisinya di Lemhanas itu s e m a k i n m e m p e r ku at te ka d nya mendalami masalah karakter dan jati diri bangsa. S a a t m e n ga w a l i t u ga s nya d i Lemhanas, ia menemukan sebuah dokumen tentang Ketahanan Nasional Indonesia, yang dikeluarkan SESKOAD tahun 1965. “Konsep itu bagus sekali, tapi kurang diimplementasikan dengan baik,” katanya. Konsep produk SESKOAD tersebut kemudian dimodifikasi, disempurnakan, dan diperkaya kembali menjadi dokumen yang kemudian diajarkannya di Lemhanas tentang karakter dan jati diri bangsa. YAYASAN JATI DIRI BANGSA Dalam perjalanannya, Soemarno yang pensiun dari militer tahun 1985 dengan pangkat terakhir Brigjen itu menyadari bahwa pembangunan karakter dan jadi diri bangsa saja tidak cukup kalau hanya d i wa ca n a ka n ata u d i a j a r ka n d i Lemhanas. Apalagi, Indonesia kemudian dihantam krisis multidimensi pada tahun 1997. Ia melihat krisis ini disebabkan dan diperparah oleh rapuhnya karakter dan jati diri kita sebagai bangsa. Oleh karena itu, ia kemudian mendirikan Forum Masyarakat Peduli Jati Diri Bangsa, pada tahun 1997. Selanjutnya, pada tanggal 11 Januari 2002 ia mendirikan Yayasan Jati Diri Bangsa (YJDB). Ia berpendapat, pembangunan karakter akan berjalan baik kalau diwujudkan dalam bentuk kebijakan nasional, dan harus dimulai dari keteladanan dari para pemimpin. Rakyat pasti akan mengikuti. Oleh karena itu, melalui YJDB ia mendesak pemerintah untuk membangun karakter d a n j at i d i r i s e ca ra s e r i u s d a n

S
10

alah seorang tokoh gaek yang dikenal sangat getol dalam m e n y u a ra k a n p e n t i n g n y a pendidikan karakter adalah Brigadir Jenderal TNI (Purn) H. Soemarno Soedarsono. Kendati pada tanggal 7 Agustus nanti usianya memasuki 81 tahun, namun dosen senior Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) itu tetap lantang dalam mengingatkan pentingnya pembangunan karakter dan jati diri bangsa. Pergumulan Soemarno dalam menekuni masalah karakter dan jati diri bangsa dimulai sejak ia ditugasi menjadi Komandan Resimen Taruna di Akademi

Militer Nasional (AMN) Magelang tahun 1970, yang bertugas membantu Gubernur AMN dalam membentuk calon perwira. Saat itu pangkatnya Letnan Kolonel. Di situlah ia mulai menemukan filosofi bahwa membentuk perwira militer yang tanguh dan berintegritas tinggi tidak akan berhasil tanpa membentuk karakternya. Selanjutnya, tahun 1974 ia dipindah menjadi perwira bagian perencanaan operasi di Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) II, di Jl. Merdeka Utara, Jakarta Pusat. Berikutnya, tahun 1979 saat pangkatnya sudah Kolonel, ia mendapat tugas sebagai Direktur Pendidikan

direalisasikan dalam bentuk kebijakan nasional. Namun, pada era Presiden Gus Dur dan Megawati, usulan YJDB itu masih kurang direspons serius. Baru pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, perjuangan YJDB mendapat respons positif. Pria kelahiran Magelang, 7 Agustus 1930, itu bertemu langsung dan menyampaikan pentingnya pembangunan karakter dan jati diri bangsa kepada Presiden SBY pada tahun 2004, 2007, dan 2009. Syukurlah, setelah melalui proses cukup panjang, akhirnya Presiden SBY memberikan perhatian sangat serius dengan mengangkat Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA sebagai Menteri Pendidikan Nasional, yang secara khusus ditugasi untuk menggalakkan pendidikan karakter dan budaya bangsa. Pada tanggal 24 November 2009, atau beberapa hari setelah dilantik sebagai Mendiknas, Mohammad Nuh menerima Soemarno. Pada pertemuan itu, YJDP memberikan sejumlah masukan tentang pembangunan karakter dan jati diri bangsa yang selama beberapa tahun sebelumnya telah ditangani YJDB. “Saya tidak perlu mengatakan bahwa hal itu merupakan sebagian dari perjuangan kami, tapi kita harus bersyukur bahwa sekarang pemerintah memberi perhatian sangat serius. Namun, tugas kita belum selesai. Kita harus ikut mengawal dan mengamankan pelaksanaan pendidikan karakter ini agar berjalan baik,” katanya. Soemarno merasa perlu mengawal pelaksanaan program ini lantaran pada masa lalu upaya pendidikan karakter yang dilakukan Orde Lama dan Orde Baru gagal. Pada era Soekarno, pembangunan karakter sudah dimulai, yang disebut dengan character and nation building. Namun, upaya yang dilakukan berhenti di tengah jalan. Pada zaman Orde Baru, Presiden Soeharto juga menggelorakan pendidikan karakter melalui Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), tapi gagal. Pasalnya, saat itu P4 diajarkan sebagai suatu pengetahuan dan diujikan. “Padahal pendidikan karakter harus ditularkan melalui keteladanan dan pembiasaan. Jadi

konsep dan metodenya saja sudah salah,” ujarnya. Meski nilai-nilai yang terkandung dalam P4 bagus, tapi apalah artinya kalau pemimpin dan gurunya tidak memberi teladan yang baik. “Oleh karena itu, agar tidak mengalami kegagalan yang ketiga kalinya, kita akan ikut mengawal pelaksanaan pendidikan karakter ini,” kata alumni pertama (tahun 1950) SMAN 1 Jakarta, atau yang kondang dengan sebutan SMA Boedi Oetomo (Boedoet) itu. Soemarno menambahkan, pendidikan karakter tidak boleh menjadi matapelajaran tersendiri, tapi harus ditularkan melalui keteladanan guru yang mengajar. “Kuncinya guru” katanya. “Seluruh matapelajaran dan kegiatan di sekolah harus dimanfaatkan dan mengandung pendidikan karakter,” kata suami Yolanda, mantan petenis nasional pada tahun 1970-an itu. Namun ia juga mengingatkan, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) sebagai motor yang menggerakkan pendidikan karakter tidak akan berhasil kalau para pejabat dan pegawainya sendiri tidak memiliki karakter yang tangguh. “Kami telah menjalin kerjasama dengan Kemdiknas melalui Pak Fasli Jalal, Wakil Menteri Pendidikan Nasional, untuk memberikan pelatihan pendidikan karakter bagi para pejabat dan pegawai Kemdiknas,” katanya. SANGAT MENDESAK Soemarno merasa prihatin melihat potret bangsa kita dewasa ini yang dijejali oleh berbagai karakter yang tidak terpuji, antara lain rendahnya disiplin dan kepatuhan terhadap hukum, sikap masa bodoh terhadap kepentingan bersama, meluasnya kecenerungan saling tidak mempercayai (low trust society), suka mengelak dari tanggung jawab, tidak punya rasa malu, korupsi, arogan, mudah marah, bersikap individualistik, cenderung cari selamat, gemar mencari kesalahan orang lain, mengutamakan budaya asal bapak senang (ABS), dan suka menampilkan tindakan-tindakan anarkis. “Korupsi yang terus merajalela telah menggerus kesanggupan kita untuk tumbuh,

berkembang, dan berdaya saing tinggi,” tandasnya. Dalam pandangan Soemarno, kondisi bangsa kita yang seperti itu lantaran selama lebih dari 65 tahun sejak Indonesia merdeka telah mengabaikan pembangunan karakter. Oleh karena itu, pembangunan karakter bangsa sekarang menjadi sangat penting dan mendesak (urgent), karena kondisi bangsa kita sudah benar-benar berada di ujung tanduk. Menurut Soemarno, karakter tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus kita bentuk, ditumbuhkembangkan, dan dibangun secara sadar, sengaja, dan berkelanjutan (never ending process). Karakter inilah yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku kita yang bisa menghasilkan tampilan perilaku seperti budi pekerti, akhlak mulia, daya hidup, daya dorong, dan daya juang. Dalam pembangunan karakter, Soemarno menawarkan rrumus 5+3+3, yakni 5 sikap dasar, 3 syarat, dan 3 cara. Kelima sikap dasar adalah jujur, terbuka, b e r a n i m e n g a m b i l r e s i ko d a n bertanggung jawab, komitmen, dan mampu berbagi (sharing). Tiga syaratnya meliputi nawaitu (niat, membaca Bismillah setiap mengawali tindakan), mencari perkenan Tuhan (insya Allah), dan selalu bersyukur (Alhamdulillah). S e d a n g ka n t i ga ca ra nya a d a l a h beribadah, mewujudkan perubahan, dan memberi suri tauladan (panutan). Soemarno menambahkan, pengalaman menunjukkan bahwa negara-negara yang maju dan jaya tidak semata-mata disebabkan oleh kompetensi, teknologi canggih, maupun kekayaan alamnya, tetapi yang utama dan terutama adalah karena dorongan semangat dan karakternya. Bila karakter dan jati diri bangsa kita kuat, maka negara kita akan memiliki fondasi bangunan dan ketahanan nasional yang kuat pula dalam melangkah menuju Indonesia yang lebih maju, jaya, dan sejahtera. SAIFUL ANAM

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

11

Laporan Utama
Ir Ratna Megawangi, MSc, PhD Ketua Yayasan Warisan Nilai Luhur Indonesia

PENDIDIKAN HOLISTIK BERBASIS KARAKTER

K

risis pada tahun 1998 sudah m e m p o ra k p o ra n d a ka n berbagai aspek dalam kehidupan bangsa Indonesia. Kerusuhan, penjarahan, konflik antarsuku yang berdarah-darah, dan banyaknya berita buruk tentang kerusakan moral bangsa Indonesia menjadi kegelisahan Ratna Megawangi PhD. Kegelisahan itulah yang membuat istri mantan menteri BUMN Sofyan Djalil itu memperdalam tentang pendidikan karakter. “Pada 1998 itu konflik dan prahara terjadi di mana-mana. Saya benar-benar khawatir dengan kondisi ini. Berita tentang kerusakan moral menjadi perhatian saya, sehingga pada tahun 2000 saya mulai berdiskusi mencari penyelesaian masalahnya. Ada apa dengan bangsa ini?” ujar penulis buku Membiarkan Berbeda Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender ini m e n c e r i ta ka n k i p ra h nya d a l a m membangun pendidikan karakter di Indonesia. Menurut Ratna Megawangi dalam bukunya berjudul Pengembangan Program Pendidikan Karakter di Sekolah: P e n g a l a m a n S e ko l a h K a r a k t e r mempertanyakan mengapa di negara tercinta ini yang manusianya telah dipersiapkan untuk mempunyai moral tinggi, yaitu dengan mewajibkan seluruh jenjang pendidikan untuk memberikan mata pelajaran Agama, dan Pendidikan Moral Pancasila, namun perilaku manusia Indonesia masih belum sesuai dengan prinsip-prinsip moral yang berlaku Sejak usia dini, bahkan usia TK, anak-anak Indonesia sudah wajib diajarkan agama di sekolah, dan ketika di SD sampai SMA dan Univesitas, wajib

HOLISTIK BERBASIS KARAKTER

mengikuti pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan sejenisnya. Namun kalau kita lihat perilaku remaja menyontek, kebiasaan bullying di sekolah, tawuran, kekerasan serta perilaku korupsi yang merajalela. Fakta ini menunjukkan bahwa ada kegagalan pada institusi pendidikan kita dalam hal menumbuhkan manusia Indonesia yang berkarakter atau berakhlak mulia. Karena apa yang d i a j a r ka n d i s e ko l a h te nta n g pengetahuan agama dan PMP, belum berhasil membentuk manusia yang berkarakter. Padahal menurut ibu tiga anak ini, apabila dilihat isi dari pelajaran agama dan Pancasila, semuanya bagus, d a n b a h ka n k i ta b i s a memahami dan menghafal apa maksudnya. Untuk itulah, kata Ratna, pentingnya pendidikan ka ra kte r ka re n a b e d a dengan pendidikan budi pekerti. Pendidikan budi pekerti hanya sampai pada tahap knowing atau tahu saja. Kalau tahu tapi tidak mengamalkan itu bahaya. “Dalam pendidikan karakter itu kita menerapkan metode knowing the good, (mengetahui), feeling the good (merasakan) dan acting the good (melakukan). Nah pendidikan karakter itu konsisten antara perkataan dan perbuatan,” ujar guru besar Institut Pertanian Bogor ini. Untuk itu, Ratna Megawangi menganggap bahwa untuk menjadikan manusia yang cinta damai,

jujur, bertanggung jawab menjaga lingkungan dan kualitas akhlak lainnya, adalah dengan menciptakan manusiamanusia Indonesia yang batinnya hidup, yaitu yang mampu memilih mana yang baik dan benar, mampu mengontrol dorongan-dorongan nafsu ketamakan, berpikir kritis, kreatif, beretos kerja tinggi, dan selalu berinisiatif untuk melakukan kebaikan, dan berusaha untuk semakin lebih baik setiap harinya. Tentu ini merupakan hal yang sulit, namun membangun manusia yang batinnya hidup mutlak diperlukan sebagai fondasi penting bagi terbentuknya manusia-manusia yang berkarakter mulia. Pertanyaannya adalah apakah i n st i t u s i s e ko l a h m a m p u u nt u k melakukannya, terutama setelah melihat hasil pendidikan yang kelihatannya gagal untuk membentuk karakter. Masalah pembentukan karakter adalah erat kaitannya dengan menyiapkan internal/ batin individu yang senantiasa berpikir baik, berhati baik, dan bertindak baik,” ujar peraih Post Doctoral Fellow, Tufts

12

University School of Nutrition, Medford, Massachussets, AS bidang Keluarga, Pengasuhan Anak, Orangtua, 1991-1993 ini menjelaskan. Ratna Megawangi tergerak hatinya berbuat sesuatu. Pada tahun 2000, ia bersama suaminya Prof Dr. Sofyan Djalil m e n d i r i ka n I n d o n e s i a H e r i ta g e Foundation (IHF) atau Yayasan Warisan Nilai Luhur Indonesia. Sebuah organisasi nirlaba yang menelorkan model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK). Model ini diterapkan pada TK Karakter, SD Karakter, dan Semai Benih Bangsa (SBB), model TK nonformal berbasis masyarakat. “Saat ini ada 1600 sekolah karakter yang dikembangkan IHF sejak tahun 2000, di antaranya telah diterapkan di sekolah PAUD SBB. Menurut kami membangun karakter anak adalah suatu hal yang rumit, namun bisa dilakukan apabila lingkungan dan proses belajar mengajar memang kondusif,” ujar perempuan murah senyum ini. Misi IHF adalah mengembangkan dan menyebarluaskan sebuah model pendidikan yang bertujuan untuk mengoreksi praktik-praktik umum yang dilakukan di PAUD/TK, dan SD, termasuk S M P/ S M A ya n g te r nya ta d a p a t membunuh karakter anak-anak.Maka, pendekatan model ini cukup komprehensif, karena yang ingin dihasilkan adalah para siswa berkarakter mulia yang merupakan habit of the mind, habit of the heart, dan habit of the hands. Model ini disebut Pendidikan Holistik Berbasis Karkater (Character-based Holistic Education). Kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum Holistik Berbasis Karakter (Character-based Integrated Curriculum), yaitu kurikulum terpadu yang “menyentuh” semua aspek kebutuhan anak, yang bertujuan untuk mengembangkan seluruh dimensi manusia. Manusia berkarakter adalah manusia yang berkembang seluruh dimensinya secara utuh (holistik), sehingga manusia tersebut bisa disebut holy (suci dan bijak). Akar kata holy, adalah whole (menyeluruh), sehingga arti holy man adalah manusia yang berkembang secara utuh dan seimbang

seluruh dimensinya. “IHF melakukan pelatihan pendidikan holistik berbasis karakter bagi guru ini selama 14 hari, dimana para guru yang dilatih sudah diberikan modul-modul penunjang,” ujar Ratna Megawangi menambahkan. Misi utama IHF adalah menyediakan model kurikulum Pendidikan Holistik Berbasis Karakter untuk mengembangkan secara terus-menerus seluruh aspek dari dimensi manusia: sosial, emosi, kognitif, kreativitas, fisik, moral dan spiritual. Kurikulum ini menghendaki anak berkembang sebagai individu yang terintegrasi dengan baik, memiliki pemikiran kreatif mandiri, bertanggung jawab, dan individu yang bebas. Selain itu, IHF juga menyebarluaskan sebuah pendidikan karakter yang efektif (mengetahui, mencintai, dan melakukan kebaikan) kepada sekolah-sekolah dan para orangtua untuk mengaplikasikan sembilan pilar Karakter yaitu : 1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya 2. Tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian 3. Kejujuran/Amanah dan diplomasi 4. Hormat dan santun 5. Dermawan, suka menolong, dan gotong-royong/Kerjasama 6. Percaya diri, kreatif, dan pekerja Keras 7. Kepemimpinan dan keadilan 8. Baik dan rendah hati 9. Toleransi, kedamaian, dan kesatuan Metode penanaman 9 pilar karakter tersebut dilakukan secara eksplisit dan

SEMBILAN PILAR KARAKTER

sistematis. Dengan knowing the good anak terbiasa berpikir hanya yang baikbaik saja. Reasoning the good juga perlu dilakukan supaya anak tahu mengapa dia harus berbuat baik. Anak tidak hanya menghafal kebaikan tetapi juga tahu alasannya. Dengan feeling the good, kita membangun perasaan anak akan kebaikan. Anak-anak diharapkan mencintai kebaikan. Lalu, dalam acting the good, anak mempraktekkan kebaikan. Jika anak terbiasa melakukan knowing, reasoning, feeling, dan acting the good lama kelamaan anak akan terbentuk karakternya. Masih menurut Ratna, untuk mewujudkan pendidikan karakter, faktor lain yang harus diperhatikan adalah terciptanya lingkungan yang nyaman dan menyenangkan, tersedianya kurikulum dan modul yang berbasis karakter, tersedianya guru yang kompeten dan berkarakter, tersedianya characterbased teaching aids (alat bantu mengajar berbasis karakter), dan kerjasama antara sekolah dan orangtua. Meskipun sibuk mengajar di IPB dan mengurus rumah tangga, namun Ratna memiliki perhatian besar terhadap kemajuan pendidikan karakter di Indonesia. “Saya senang melakukan ini semua, karena saya melakukan dengan hati. Apa yang dilakukan dengan sepenuh h at i , Tu h a n a ka n m e m u d a h ka n jalannya,”kata Ratna. EVA ROHILAH

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

13

Laporan Utama

MENGHIDUPKAN FITRAH MANUSIA

Ary Ginanjar Agustian Pendiri ESQ Leadership Center

Contoh salah satunya adalah penyampaian mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dan pendidikan agama yang selama ini dilakukan oleh para guru ditingkat Sekolah Dasar hingga sekolah Menengah Atas, mendidik para muridnya untuk menghapalkan beberapa bahan yang disampaikan oleh gurunya seperti halnya mereka menghapal mata pelajaran Fisika dan Matematika. Kesalahan utama para guru dalam menyampaikan materi yang berkaitan dengan pendidikan moral dan agama, kata Ary Ginanjar, bisa disimak pada penataran P4, pelajaran PPKN, bahkan pelajaran agama yang jelas sudah menghabiskan waktu dan tenaga. “Apa hasilnya? Tidak maksimal karena tidak dimasukkannya belief system. Selama ini metode pengajaran pendidikan yang menyangkut budi pekerti hanya bersifat kognitif, sama saja pengajarannya dengan matematika dan fisika,” katanya. Pendidikan karakter, kata Ary Gianjar, pada dasarnya adalah jiwa dan keyakinan yang harus diberikan dengan cara afektif dan psikomotor. Ia mencontohkan pendidikan budi pekerti d a n P 4 ya n g d i b e r i ka n d e n ga n metodologi kognitif. “Murid hanya diminta menghapalkan ini itu, sehingga anak cenderung hanya menghapal,” ujar Ary Ginanjar Agustian, pendiri Emotional and Spiritual Quotient Leadership Center (ESQ LC) panjang lebar. Menurut lelaki yang mendapat gelar Honoris Causa bidang pendidikan karakter dari Universitas Negeri Yogyakarta ini, pendidikan karakter yang diterapkan dalam pelatihan ESQ Karakter itu kan sesung guhnya outputnya adalah orang-orang yang berakhlak mulia. “Dalam strateginya

TIGA MODAL MANUSIA

S
14

alah satu kegagalan sistem pendidikan yang ada sekarang ini adalah metodologi pengajaran. Beberapa materi yang bermuatan m o ra l d a n a h l a k m a n u s i a ya n g disampaikan secara kognitif. Sehingga, tidak jarang kita temui murid atau siswa sekolah dalam menjalankan proses belajar mengajar melakukan tindakantindakan yang tidak seharusnya dilakukan seperti mencontek dan berbohong untuk mendapatkan nilai bagus dimata gurunya.

membangun karakter itu ESQ menggabungkan tiga unsur motivasi manusia, modal manusia, kecerdasan manusia yaitu intelektual, emosional dan spiritual. Artinya karakter yang dibangun ini didasari oleh tiga dasar. Intelektual adalah perilaku atau kegiatan yang nampak, yang kedua emosional itu nanti ada unsur malu, bahagia dan bangga bahagia misalnya, kalau melakukan kejujuran. Yang ketiga adalah spiritual dimana ketika dia berbuat kebaikan ia melakukannya bukan karena peraturan pemerintah, bukan karena takut oleh guru, atau takut dengan atasan dan bukan karena ingin d i l i h a t o ra n g l a i n t a p i ka re n a ketaqwaannya,” ujar lelaki kehiran Bandung 24 Maret 1965 ini menjelaskan. Menurut peraih Agents of Change 2005 versi Harian Republika ini, Ketika tiga hal di atas digabungkan, maka yang akan muncul adalah jati diri spiritual. “Karakter itu jika digambarkan seperti gunung es, padahal dibawah gunung es situ ada gunung es yang lebih besar lagi nah itu yang disebut nilai atau belief system, jadi selama ini karakter yang dibangun hanya di permukaan saja, seperti dilarang mencontek dan lain sebagainya, tapi nilai di dalamnya tidak tertanam, sehingga kejujuran dalam hatinya belum tertanam. Nah, disinilah ESQ menanamkan nilai-nilai yang ada itu sampai masuk ke alam bawah s a d a r n y a ,” u j a r A r y G i n a n j a r menambahkan. Ary Ginanjar memberi masukan kepada pelaksana pendidikan yaitu tiga hal dalam menerapkan pendidikan karakter, pertama, mengajarkan perilaku itu harus jiwanya yang dibangun jangan pikirannya saja, dimana, dalam jiwa itu ada dua macam, yaitu emosional dan spiritual, jadi itu yang harus diajarkan dalam pendidikan karakter di setiap sekolah baik negeri maupun swasta, juga di jajaran instansi pendidikan. Langkah kedua yang harus dibangun adalah sistem yang harus diterapkan dalam nilai. Sehingga pada saatnya nanti dalam proses belajar mengajar, akan muncul bintang kelas kejujuran, bintang

JIWA, SISTEM, DAN LEADERSHIP

kelas disiplin, dan lain sebagainya. Langkah ketiga adalah leadership atau contoh, disini, guru dan kepala sekolah, dan lingkungan memiliki peranan penting dalam kapasitasnya sebagai contoh yang baik dan menjadi pemimipin teladan. “Kepala sekolah dan para guru itu memiliki peranan yang penting dalam pendidikan karakter, karena merekalah yang memiliki metode dan akan menyampaikan metode pendidikan karakter pada anak didiknya. Kita akan melihat sejauh mana guru menghargai nilai - nilai yang ada seperti kejujuran, kedisiplinan, kasih saying, cinta dan keikhlasan. Kalau guru itu tidak memiliki nilai-nilai diatas, maka ia tidak bisa mengajarkan pendidikan karakter pada muridnya. Ada baiknya jika pelatihan yang namanya MOS (Masa Orientasi siswa) dan OPSPEK itu ada baiknya juga diisi sebuah pelatihan yang menanamkan karakter,” ujar The Most Powerful People and Ideas in Business 2004 versi majalah SWA ini semangat. Untuk itulah pendidikan karakter sangat penting bagi pembentukan jati diri bangsa. “Karakter itu adalah titipan ilahi yang ada dalam jiwa manusia yang namanya fitrah. Sehingga pendidikan karakter itu sesungguhnya adalah menghidupkan apa yang ada dalam fitrah manusia. Itulah yang disebutkan pendidikan karakter yang didasarkan pada spiritualitas atau berbasis pada iman dan taqwa,”ujarnya menambahkan. Ary juga mengakui bahwa saat ini penghargaan terhadap nilai-nilai masih sebatas permukaan yang bersifat material. “Saat ini orang merasa bangga jika punya mobil mewah, jabatan tinggi dan menggunakan barang-barang mahal, bukan bangga menjadi orang jujur dan orang yang adil,”ujar lelaki tinggi besar itu menyayangkan. Ari Ginanjar Agustian dengan teori ESQ juga menyodorkan pemikiran bahwa setiap karakter positif sesungguhnya akan merujuk kepada sifat-sifat mulia Allah, yaitu al-Asmâ al-Husnâ. Sifat-sifat dan nama-nama mulia Tuhan inilah sumber inspirasi setiap karakter positif yang dirumuskan oleh siapapun.

ASMAUL HUSNA

“Manusia pada dasarnya harus terus ingat dan berdzikir, berdzikir itu ingat, ingatlah kepada keadilan, ingatlah kepada kebenaran, ingatlah kepada kejujuruan, ingatlah kepada alhaq, ingatlah kepada al mukmin, ingatlah kepada alwakil, nah jika kita mengingat akan sifat-sifat Allah, maka outputnya adalah hormat pada sifat-sifat Allah, jika sudah menghargai sifat-sifat Allah maka dari situlah akan muncul karakter dari spiritualitas,” ujar lelaki yang sudah 10 tahun mengembangkan ESQ LC ini. Dari sekian banyak  yang bisa diteladani dari nama-nama Allah itu, Ari merangkumnya dalam 7 nilai yang disebut dengan 7 budi utama, yaitu jujur, tanggung jawab, disiplin, visioner, adil, peduli, dan kerja sama. Ary Ginanjar juga menyarankan sudah saatnya kementrian pendidikan nasional memiliki karakter apa yang akan dibangun. Contohnya kalau ESQ kita punya 7 budi utama maka Kemdiknas juga harus memiliki nilai yang akan diterapkan di lingkungan pendidikan dan jajarannya, kemudian yang kedua memiliki sistem nilai dan ketiga leadership. Dengan dilaunchingnya pendidikan karakter di kementrian pendidikan nasional dan di beberapa sekolah yang ada di Indonesia, Ary Ginanjar menyambut baik langkah dan terobosan luar biasa ini. “Saya memuji apa yang dilakukan oleh Menteri dan Wakil Menteri Pendidikan nasional, momen ini, seperti cahaya dalam kegelapan. Jadi saat kondisi berita di Indonesia gelap, tiba-tiba ada cahaya lilin tentang pendidikan karakter dan mendiknas akan mendeklarasikan ini,” ujar Ary Ginanjar gembira. “Saya sudah 10 tahun mengelola ESQ LC karena saat ini alumni ESQ sudah 1 juta lebih dan saya optimis pendidikan karakter ini akan berhasil diterapkan, hal ini sejalan dengan visi ESQ tentang kebangkitan Indonesia pada 2020, jadi selama ini secara tidak langsung kita sudah membantu program kemendiknas” p u n g ka s A r y G i n a n j a r A g u st i a n mengakhiri pembicaraan. EVA ROHILAH

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

15

Laporan Utama
kekuatan meraih sukses kunci pertama yang harus dibangun adalah merubah mindsetnya. Harus ada keyakinan bahwa Indonesia adalah negara besar yang diberkahi oleh Tuhan. Harus tertanam kebanggaan sebagai warga negara Indonesia. Harus pula tertananam semangat bahwa orang Indonesia juga bisa maju selayaknya orang-orang di negara yang lebih dulu maju. ”Kalau orang lain bisa, kita juga harus bisa. Kalau bangsa lain bisa, bangsa kita juga harus bisa. Kalau mereka tidak bisa, kita tetap harus berusaha untuk bisa,” kata si empunya julukan Bintang dari Timur itu. Karena pada dasarnya, lanjut Marwah, secara umum orang yang sukses memiliki beberapa kesamaan prinsip dasar. Mulai dari memiliki iman yang kuat, kepercayaan diri yang tinggi, motivasi yang kuat, disiplin dan etos kerja yang ting gi serta mampu membangun hubungan antar manusia yang erat dan santun. Mereka juga memiliki visi misi hidup yang spesifik. Pergerakan meraih sukses dari tiap individu pada nantinya akan menggerakkan kesuksesan negaranya. Sebagaimana dikatakan Marwah, bahwa kesuksesan suatu negara adalah akumulasi dari kesuksesan individu. Negara yang sukses menjadi negara maju akan tampil menjadi negara yang memiliki kekuatan karakter. Marwah mencontohkan bagaimana Singapura dan Malaysia yang begitu dengan cepat melaju menjadi negara maju, bahkan lebih maju 10 kali lipat dibanding Indonesia. Padahal, beberapa puluh tahun silam, kedua negara kecil tersebut tak jauh beda dengan Indonesia. Marwah mengaku sudah cukup lama terkesima dan mencermati bagaimana kedua negara tersebut bisa dengan cepat menjadi negara maju. Namun, jauh sebelumnya, Marwah juga telah mencermati kemajuan negara dan orang-orang Eropa. ”Mulanya saya berpikir bahwa orang Eropa bisa maju karena berada di kawasan dengan empat musim. Ada masa enam bulan musim dingin, saat itu orang praktis tidak bisa bekerja. Konsekwensinya

AKUMULASI SUKSES INDIVIDU

Prof. Dr. H. Marwah Daud Ibrahim, Ph.D

KARAKTER ITU KOMPAS KEBENARAN

D
16

i negara maju, di Eropa misalnya, sukses adalah hal yang umum terjadi. Artinya sebagian besar orang bisa dipastikan akan meraih hidup sukses. Sedangkan tidak sukses, adalah sebuah kebetulan. Artinya sedikit sekali orang Eropa yang tidak sukses. Kondisi ini berbanding terbalik dengan yang terjadi di Indonesia. Di Indonesia sebagian tidak sukses adalah hal yang umum, artinya banyak orang yang tidak sukses. Sedangkan sukses adalah suatu yang

terjadi nkarena kebetulan. ”Ini sangat memprihatinkan, kalau mindset masyarakat kita terus menganggap sukses itu kebetulan, akan sulit sukses itu kita raih. Padahal sukses itu bisa diraih, tentu dengan perencanaan. Sukses bukan hanya menjadi hak tiap orang, tapi juga menjadi hal yang wajib diraih bagi setiap orang,” tegas Prof. Dr. H. Marwah Daud Ibrahim ,Ph.D. Sehingga, lanjut Mawrah, untuk menciptakan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang punya

sebelum musim dingin tiba mereka harus bekerja keras dan rajin menabung. Saya kira itu yang menjadikan mereka maju. Ternyata keliru, karena Malaysia dan Singapura yang tidak memiliki empat musim bisa dengan cepat tampil menjadi negara maju meninggalkan Indonesia,” kata perempuan kelahiran 8 November 1956 di Takkalala, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan itu. Kok bisa? Ternyata, kata Mawrah, ada nilai-nilai yang ditanamkan kepada warga negaranya, dan nilai tersebut mampu membangkitkan kebanggan sebagai warga negara, membangkitkan semangat untuk berkarya dan menjadi wa rga ya n g l e b i h m a j u . D a l a m pendidikannnya, selalu dimulai penanaman pemuliaan bangsanya. Sebelum pelajaran dimulai, siswa diajak hormat terhadap bendera negara. Diluangkan waktu sejenak menyampaikan sepatah kata pembangkit semangat, semisal ”bikin bendera ini berkibar di olimpaide internasional, bikin bendera ini berkibar dengan karyakaryamu”. Hal itu terkesan sangat sepele, namun memberi makna sangat dalam tentang nasionalisme. Dari proses penanaman semangat yang sejak dini tersebut, warga negaranya tumbuh menjadi warga yang penuh semangat meraih sukses. Berbeda dengan di Indonesia. Penanaman kebanggaan akan negara sangat jarang diberikan. Akibatnya, ada arus budaya negatif yang terjadi dan sangat cepat mengakar. Mulai dari rasa tidak bangga sebagai warga negara Indonesia, cenderung sering mengeluh akan nasibnya, suka membicarakan halhal yang negatif, suka mengolok-olok diri sendiri, serta mencabik-cabik diri sendiri. Bahkan terbudayakan pula kebiasaan membicarakan kekurangan, kejelekan para pemimpin negaranya sendiri. Halhal negatif ini merasuki mindset dan terjadi secara turun temurun. Anak-anak sejak dini pun mulai terjangkiti virus mindset yang demikian. Pada sisi lain, anak-anak kerap menerima sesuatu yang sering berbeda dari apa yang sampaikan di sekolah, di rumah, di lingkungan bermain, di

BERHENTI MENCABIK

televisi, di internet, dan di tempattempat lain. Seolah tidak ada kekuatan pegangan bagi anak menjalani proses hidupnya. Anak-anak semakin dibuat bingung, mereka juga makin tidak mampu menggali dan mengasah potensi yang dimilikinya. Semakin terbiasa dengan kondisi tersebut, anak makin berada dalam ketidakterarahan, serta makin tidak menemukan jati diri dan karakternya. Memang cukup miris. Namun tidak tepat jika hanya berpangku tangan belaka serta meratapi keadaan. Marwah berpendapat, tidak ada kata terlambat untuk bangkit menjadi yang lebih baik. Menurutnya, saat ini rakyat Indonesia berada dalam masa transisi menuju kebangkitan dan lepas dari ketertinggalan. Adalah saat yang tepat untuk menyemai benih karakter yang akan dipanen beberapa puluh tahun ke depan. ”Saya yakin Indonesia akan menjadi negara besar dan menjadi kekuatan dunia,”katanya. Jalan realistis untuk melakukan pembenahan salah satunya melalui jalur pendidikan. Di jalur itulah tertanam generasi masa depan bangsa, serta menjadi aset berharga yang akan menetukan masa depan Indonesia. Anak-anak harus mulai dibimbing dan dikawal menggali dan mengasah potensi dirinya untuk membentuk pribadi yang kuat. ”Sekali lagi, harus dirubah dulu mindsetnya. Dengan mengubah cara pikir, seseorang akan dapat merubah tindakannya. Dan dengan merubah tindakan, orang tersebut akan mengubah gagasan-gagasannya. Gagasan-gagasan tersebut akan mengubah karakternya,”lanjutnya. Selain individu, guru dan orang tua memeiliki peran penting dalam mengarahkan anak mampu menggali potensi diri yang dimiliki. Setelah peng galian potensi, selanjutnya dilakukan analisis terhadap potensi tersebut, menganalisis peluang yang tersedia dan peluang-peluang baru yang memungkinkan dapat diciptakan. Kemudian menetapkan cita-cita dan tujuan hidup. Konsep inilah yang kemudian oleh Marwa dinamai sebuah peta hidup. Konsep peta hidup ini biasa disampaikan Marwah dalam bentuk

training melalui lembaga Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan (MHMMD) yang dibentuk tahun 1996 silam. Melalui peta hidup, seseorang akan memiliki arah dan tujuan hidup yang jelas. Marwah meyakini, jika setiap orang telah menyusun peta hidup dan konsisten ingin meraih puncak indah sebagaimana yang tertuang dalam peta hidupnya, secara otomatis orang tersebut akan fokus pada semua tindakan yang sesuai. Pihak kalangan pendidikan/ guru dan orang tua murid harus memiliki kesamaan pandangan dalam pembimbingan masa depan anak didik. Hal ini untuk menghindari guncangan-guncangan prikologis dalam diri anak. Perbedaan-perbedaan pandangan akan suatu hal dari sudut pandang sekolah dan sudut pandang orang tua akan sangat berperan melemahkan pembentukan karakter anak tersebut. Akan tetapi, ketika karakter sudah terbentuk, seseorang tidak akan mudah terganggu oleh keadaan. Bahkan dimanapun orang itu ditempatkan, ia akan tetap konsisten dengan jati diri dan karakternya. ”Karakter itu ibarat kompas kebenaran, dimanapun ia ditempatkan dan dalam keadaan apapun, jarum kompas akan tetap menunjuk arah yang pasti,” kata perempuan aktifis ICMI itu. Marwah juga mengatakan, bahwa kekuatan karakter harus dilandasi pula oleh sikap sebagai manusia beragama. Dengan begitu akan dapat dipahami apa sesungguhnya makna dari hidup tersebut. Hal yang paling mendasar dan menjadi anugerah tersebsar dari Sang Pencipta, Allah S.W.T adalah masih diberkannya nafas, atau panjang umur. Dengan panjang umur orang dapat menjadi sosok yang dicita-citakan, dapat meraih apa yang diinginkan. Tetapi jangan sampai terlena dan terpeleset oleh kenikmatan duniawi. ”Karena ada tanggungjawab atas hidup yang telah diberikan Allah S.W.T kepada kita. yaitu mengagungkanNya dan memakmurkan bumi,” kata anggota DPR /MPR RI itu. MUKTI ALI

MEMBUAT PETA HIDUP

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

17

Sekolah
Jakarta International School, Jakarta

t the Jakarta International School, we want our students to be the "best for the world." In order to realize this goal, vitually everything that we do has this end in mind. Sharply focused on student learning, the JISdesigned Essential Qualities (responsible world citizens, effective communicators, collaborative workers, problem solvers, creative individuals, and self-directed, positive, and adaptable learners) guide our work as we want our students to be not just strong academically, but also compassionate, well rounded people. Creative assemblies and student projects often include reference to the JIS Essential Qualities, and students are frequently encouraged to reference them in their learning. Elements of both our curricular and co-curricular learning programs are designed to help our students to collaboratively diagnose problems, creatively design solutions, and passionately take action for the betterment of our world. "Service Learning," the label for this mode of education, is woven into the fabric of our curriculum and it is chosen after school by students who want to make a profound difference in the world while they are still in elementary and secondary

A

To be The Best for The World

JIS High School students interact with Indonesian students during a ceremony to open 10 clean water stations that were established using funds raised by the JIS students.

school. Environmental stewardship is another schoolwide theme as well as an opportunity for service learning. Our "Green Dragons" group, made up of students, faculty, and administrators, helps raise ecological awareness and design ways for our school to reduce its carbon footprint. While we have some partnerships with Indonesian schools, JIS would like to team up with others in service to our local communities. At JIS, we realize that our Essential

Qualities need to be lived every day. We therefore have a discipline program called "restitution" that asks students to not only apologize but to take responsibility for any hurt caused by their mistakes. Being "best for the world" means practicing humility and compassion, and yet confidently acting on our beliefs. TIMOThy S. CaRR head of Jakarta International School

JIS students hard at work at a Habitat for Humanity build

JIS High School students interact with Indonesian students during

18

TK Pelangi Semarang

P

Tangguh melalui Family Camp

enanaman sikap jujur, cerdas, tangguh dan peduli menjadi tujuan pembelajaran di TK Pelangi, Semarang. Kegiatan Family Camp diciptakan di TK yang berlamat di Jl. Mayjen DI Panjaitan 62 Semarang itu dengan melibatkan para orangtua siswa. Tujuannya untuk menciptakan kondisi harmonis antara siswa, sekolah dan orangtua siswa. Kondisi tersebut menjadi lahan yang subur untuk menanamkan nilai-nilai dan karakter dan budaya bangsa. Baik pada anak-anak juga pada orang tuanya. Kegiatan ini, diselenggarakan dua hari satu malam dalam bentuk outbond. Pembiayaan ditanggung bersama dengan cara iuran. Dalam kegiatan outbond tersebut peserta dibagi dalam beberapa kelompok. Anak dan orang tuanya berada dalam kelompok yang sama. Kegiatan ini berhasil meningkatkan rasa tangguh dan percaya diri anak. Orang tua juga makin peduli dan kreatif menanamkan prinsip-prinsip hidup yang positif, menanamkan semangat, keberanian, serta lebih peka akan perkembangan potensi anaknya. Hanya saja, ada beberapa orang tua yang tidak bisa mengikuti kegiatan family camp tersebut. Rata-rata alasannya

karena kesibukan di luar. Pe r l u k i ra ny a d a l a m beberapa kegiatan family camp, orangtua yang sibuk kegiatannya diharapkan menyempatkan setidaknya s e ka l i a t a u d u a ka l i mengikuti family camp. Kegiatan lainnya adalah Peduli Kasih. Kegiatan ini diniatkan agar anak-anak m e m p u nya i ka ra k t e r kepedulian kepada warga di sekitar TK Pelangi. Acara tersebut dikemas dengan memberikan nasi bungkus kepada tukang las yang ada di depan TK Pelangi.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

19

Sekolah
SD Kharisma Bangsa Tangerang Selatan

Ada Star Wars hingga The Journey of Bawang Putih

anyak kegiatan di SD Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan, yang merupakan implementasi pendidikan karakter. Beberapa yang menonjol, di antaranya, pertama reading time. Siswa diwajibkan membaca buku di awal kegiatan belajar, pukul 07.1507.30, setiap Senin hingga Jumat. Buku yang dibaca bebas, tapi sudah tercatat oleh guru kelas. Ada juga hari khusus untuk penukaran buku yang telah dibaca, dengan kelas lain. Kedua, penghargaan kepada siswa yang menunjukkan sikap-sikap positif. Poin-poin yang dikumpulkan siswa dapat ditukarkan dengan poin sekolah. Lima poin kelas dapat ditukarkan dengan satu poin sekolah. Poin-poin sekolah dapat ditukarkan di setiap akhir bulan di Program Exchanging Point. Siswa dapat menukarnya dengan buku cerita, alatalat tulis, atau mainan. Ketiga, siswa bercerita, yang merupakan bagian pembelajaran bahasa Indonesia. Kompetensi siswa dikembangkan dalam hal menggali dan membahas cerita, baik dari khasanah Nusantara maupun kisah klasik dunia.

B

Keempat, kunjungan guru dan kepala sekolah ke rumah siswa. Tujuannya untuk menjalin kekeluargaan antara sekolah dan rumah. Diharapkan anak dapat menjadi lebih nyaman dan berani dalam menyampaikan hal-hal yang dipikirkan dan dirasakannya baik ke p a d a g u r u a t a u p u n ke p a d a orangtuanya. Kelima, sopan santun, yang diwujudkan dengan sambutan para guru kepada siswa saat memasuki pintu gerbang sekolah. Tu j u a n nya mengajarkan anak bersikap santun kepada guru dan orang yang lebih tua. Keenam, fund raising by market day, yakni setiap kelas berjualan makanan ataupun m i n u m a n ya n g dibawa siswa dari rumah. Hasil penjualannya disumbangkan ke

anak yatim piatu. Kegiatan ini dikelola oleh student’s council, organisasi siswi SD Kharisma Bangsa. Ketujuh, star wars. Siswa dikelompokkan dengan kostum dan aksesoris khusus. Setiap guru mata pelajaran mewakili satu planet. Misalnya, Merkurius adalah matematika, neptunus adalah bahasa Indonesia. Siswa berhamburan mendatangi planet-planet dan meminta pertanyaan dari guru. Setiap jawaban yang benar mendapat poin yang bisa ditukarkan dengan voucher makanan. Kedelapan, mother’s day, berupa pemberian penghargaan kepada para ibu melalui kegiatan lomba di sekolah. Misalnya lomba mendekorasi kue atau meja makan Kesembilan, family water rocket, yang diperuntukkan untuk keluarga. Siswa dan orangtuanya membuat roket dengan tenaga pendorong air. Tujuannya agar siswa dekat dengan orangtuanya. Kesepuluh, English Drama, yakni kegi atan tah u n an s eko l ah yan g melibatkan seluruh siswa dan guru. Mereka menggelar drama kolosal dengan dialog bahasa Inggris. English Drama yang telah dipentaskan di antaranya, The Butterflies Kingdom, Aladdin Lost in The Jungle, dan The Journey of Bawang Putih. Kesebelas, kegiatan ekstrakurikuler berupa fun cooking atau little chef. Siswa belajar memasak dari berbagai bahan masakan.

20

Keduabelas, fun book shopping, yakni berkunjung ke toko buku. Siswa mendapat penjelasan berbagai buku, memilih buku yang bagus yang kemudian dipakai saat kegiatan reading time. alah satu kegiatan yang dilaksanakan SLBN Pangkalpinang dalam membentuk karakter anak didiknya adalah memalui kegiatan upacara bendera. Menurut Nila Masitah M.MPd, tujuan dari kegiatan upacara bendera adalah untuk menanamkan, menumbuhkan, dan mengamalkan nilai-nilai karakter budaya bangsa, khususnya nilai religius, disiplin, percaya diri, kerja sama, cinta Tanah Air, rasa ingin tahu, tanggung jawab, dan kemandirian. P r o s e s pelaksanaan pendidikan karakter bangsa dan penanaman nilai-nilai karakter budaya bangsa pada kegiatan upacara bendera dimulai dari mengondisikan siswasiswi untuk berbaris sesuai dengan satuan pendidikan dan tingkatan kelasnya masing-masing. “Selanjutnya guru mengoordinasikan siswa untuk menjadi petugas upacara sesuai dengan kemauan dan kemampuan

S

Ketigabelas, berani bertanya. Siswa belajar topik-topik yang lebih aplikatif. Misalnya bertanya mengenai proyekproyek yang disiapkan kakak kelas di SMP dan SMA dalam kegiatan International Science Project Olympiad (ISPO).

SLBN Kota Pangkalpinang

Membangun Karakter Melalui Upacara Bendera

siswa, serta mendampinginya saat upacara bendera berlangsung,” katanya. Masitah menambahkan, kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan ini antara lain mengoordinasikan anak-anak untuk datang ke sekolah lebih

awal, menumbuhkan rasa percaya diri untuk menjadi petugas upacara, serta menumbuhkan sikap dan tanggung jawab pada diri mereka.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

21

D Muhammadiyah Sapen Yo g y a k a r t a y a n g beralamat di Bimokurdo N o m o r 3 3 , Gondokusuman, Yogyakarta, bolehlah berbangga sebagai SD paling maju di Yogyakarta. Predikatnya pun RSDBI atau Rintisan Sekolah Dasar Bertaraf Internasional. Banyak prestasi telah dipersembahkan siswa sekolah ini. Di antaranya juara I Lomba Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat Nasional, juara II Lomba Kearsipan Tingkat Nasional Tingkat Nasional, juara II Lomba Guru Berprestasi Tingkat Nasional, juara II Lomba Olimpicad Matematika Tingkat Nasional Persyarikatan Muhammadiyah, juara II Lomba Olimpiade Bahasa Indonesia Tingkat Nasional, dan juara III Lomba Olimpiade Bahasa Indonesia Tingkat Nasional. Prestasi tersebut tidak datang dengan sendirinya. Tapi buah dari kerja keras yang diterapkan H. Saijan, S.Ag, Kelapa SD Muhammadiyah Sapen. Kerja keras diwujudkan dalam bentuk pembudayaan kedisiplinan. Meliputi disiplin belajar, disiplin berbudaya, disiplin kerja, dan disiplin beribadah. ”Kedisiplinan adalah jantung kehidupan bagi individu atau institusi yang mau meraih kesuksesan,” kata kepala sekolah. Penguatan kedisiplinan dipercantik dengan program salam, sapa, jabat tangan, dan kekeluargaan. Kegiatan ini, memberi manfaat pembiasaan siswa agar mengucapkan salam dan jabat

S

Sekolah

SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta

Disiplin adalah Jantung Sekolah
tangan ketika bertemu dengan siapa saja. Tercipta suasana kekeluargaan di lingkungan sekolah, serta menciptakan rasa aman, nyaman berada di sekolah. Rasa aman dan nyaman di sekolah, akan menumbuhkan kecintaan pada sekolah, kecintaan belajar, kecintaan untuk meraih prestasi dan kesuksesan. Itulah ke k u a t a n g e n e ra s i y a n g m e s t i dibangkitkan sejak dini.

22

SDN Soropaten, Klaten

P

Membentuk Karakter Sejak Dini

embentukan karakter anak sejak dini sangat penting, terutama untuk membentuk karakter anak yang disiplin, patuh,jujur,sopan dan santun terhadap orang tua atau orang yang lebih tua. “Dalam membentuk katakter anak perlu pendidikan, bimbingan dan pelatihan yang berulang- ulang serta dibiasakan sejak dini,” kata Santi Haryani, S.Pd, Kepala SDN 1 Soropaten, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Menurut Santi, membentuk karakter anak dapat dilaksanakan di sekolah dengan membiasakan anak dari kelas I sampai kelas VI Sekolah Dasar. Adapun pembiasaan-pembiasaan yang sudah dilakukan di SDN 1 Soropaten antara lain: 1. Dibiasakan datang ke sekolah sebelum jam masuk. Setelah bel masuk berbunyi, anak dibiasakan untuk berbaris di depan kelas yang dipimpin oleh ketua kelas (bisa untuk memupuk kedisiplinan dan rasa tanggung jawab). 2. Setelah masuk kelas, dilanjutkan berdoa bersama dipimpin oleh ketua kelas (memupuk rasa ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa). 3. Anak mengucapkan salam atau selamat pagi kepada guru yang akan mengajar. Harapannya mampu memupuk rasa hormat kepada guru

dan orangtua atau orang yang lebih tua. 4. Setelah selesai pelajaran, anak dibiasakan berkemas, duduk tertib, memberi salam kepada guru dilanjutkan berdoa bersama dipimpin ketua kelas. 5. Selesai berdoa, dibiasakan keluar kelas dengan tertib dan berjabat tangan satu per satu dengan bapak atau ibu guru. 6. Selain kebiasaan datang dan pulang sekolah, anak juga dibiasakan agar menyapa apabila bertemu bapak atau ibu guru di mana pun.

7. Pada bulan Ramadhan diadakan kegiatan pesantren kilat dan buka puasa bersama baik anak maupun guru. 8. Biasakanjuga mengadakan halal bi halal pada masuk pertama setelah libur Hari Raya Idul Fitri.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

23

Sekolah
SDN Kaliasin Surabaya
Ayo siswa siswi SDN Kaliasin satu Siap-siaplah belajar Untuk menuntut ilmu Jangan bermalas-malas Di masa mudamu ini Mari kita giatkan Belajar di sekolah Luruskan barisan Tegakkan disiplin Mari kita giatkan Menyongsong masa depan

Membudayakan Pendidikan Karakter Bangsa

I

nilah mars SDN Kaliasin I Surabaya yang rutin dinyanyikan sebagai penyemangat siswa. Menyanyi mars sekolah adalah salah satu budaya yang menjadi pembentuk karakter siswa. Ke g i a t a n l a i n y a n g m e n j a d i pendidikan karakter adalah disiplin, religius, bekerja keras, mencintai flora dan fauna, peduli lingkungan dan budaya berprestasi. Kegiatan nyata untuk membentuk karakter tersebut antara lain berbaris sebelum masuk kelas dengan menyanyikan mars SDN Kaliasin I sebagai penyemangat, sholat dhuhur berjamaah, membuat taman gantung, memilah sampah dan mengikuti berbagai lomba dalam bidang tari, paduan suara, silat, lomba MIPA, story telling and speech contest, serta drum band. Sopan santun ditanamkan sejak dini dan terus menerus. Kegiatan yang rutin dilakukan adalah para guru menyambut siswa di pintu gerbang setiap pagi. Seluruh siswa bersalaman dengan para guru dan kepala sekolah. Kegiatan cinta lingkungan yang telah dilaksanakan misalnya mengadakan Hari Cinta Puspa Satwa pada November 2010. Seluruh siswa membawa burung ke sekolah. Mereka berjajaj di tepi jalan Jalan Gubernur Suryo. Tepat pukul 9.00 semua siswa melepas burung ke alam bebas.

24

SDN Karangmelati 2 Demak

K

Peduli Lingkungan dengan Kerja Bakti

epedulian terhadap lingkungan dengan cara bersih-bersih memang terkesan sepele. Namun kegiatan tersebut memiliki makna cukup besar. Mulai dari rasa cinta terhadap lingkungan, kerja keras, serta dapat menumbuhkan kesabaran dan kebersamaan. Dalam praktiknya, diterapkan kerja bakti saban hari. Yaitu dialokasikan waktu lima menit sebelum jam pelajaran dimulai pukul 07.00 untuk memberi tugas kepada anak-anak membersihkan ruang kelas dan halamannya agar terbebas dari sampah dan kotoran. Sutikno, S.Pd, M.Pd.

SDN Tanjungrejo Malang

Jumat Besat, Saatnya Bersih Sehat
endidikan Karakter di SDN Ta n j u n g r e j o 2 M a l a n g , diimplementasikan melalui kegiatan antara lain: upacara bendera, budaya 3 S, IMTAQ , kantin kejujuran, dan Jumat Besat (bersih dan sehat). Setiap pagi kepala sekolah dan guru piket menyambut peserta didik dengan senyum, sambil bersalaman Bapak/Ibu guru memperhatikan dan merapikan penampilan mereka (seragam, atribut, dll). Tujuan kegiatan 3S adalah menanamkan dan membiasakan peserta didik untuk selalu hormat kepada Bapak/Ibu guru serta kepada orang tua. Untuk menanamkan rasa iman dan taqwa, kami melaksanakan kegiatan IMTAQ yaitu, mengaji bersama bagi peserta didik yang beragama Islam, dan berdoa bersama bagi yang beragama selain Islam. Kegiatan ini dipandu oleh Bapak/Ibu guru, 30 menit sebelum pelajaran dimulai (setiap hari Selasa-Jumat). Nilai kejujuran dibudayakan lewat kantin kejujuran, sedangkan rasa cinta terhadap lingkungan ditanamkan lewat merawat taman sesuai kapling dan kelasnya (Jumat Besat).

P

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

25

ejumlah kegiatan untuk menumbuhkan karakter siswa adalah wisata pendidikan, belajar ko m p u t e r, p ra m u k a , p a s k i b ra , taekwondo.Wisata pendidikan bisa berupa kunjungan ke musium, out bond, atau studi banding. Studi banding melibatkan siswa kelas 1, 2, dan 3. Siswa mengikuti proses pembelajaran di sekolah lain. Diharapkan anak mengenal lingkungan baru, melatih kreativitas dan mandiri, memperkaya wawasan dalam pengalaman belajar, melatih mental siswa di lingkungan baru. Belajar komputer menjadi pilihan kegiatan ekstra kurikuler yang banyak diminati siswa. Melalui komputer siswa bisa menambah wawasan tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, merangsang daya imajinasi, memberikan nuansa baru agar siswa tak jenuh dalam belajar. Persoalannya, masih terbatas jumlah komputer dan minimnya tenaga pengajar yang memahami komputer. Pramuka, merupakan wadah bagi siswa untuk membentuk karakter yang disiplin, rajin bekerja, berjiwa ksatria, mempunyai rasa kesetia kawanan yang tinggi, berbudi pekerti luhur, menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Siswa juga dilatih bekerja keras pantang menyerah, keterampilan, dan jiwa besar. Pramuka juga mengajarkan karakter yang agamis, kreatif, inovatif, dan mandiri dalam berbagai hal. Paskibra, merupakan pengembangan dari pramuka yang lebih dikhususkan untuk kegiatan upacara bendera. Paskibra juga menjadi wadah bagi siswa

S

Sekolah

SDN Cibeureum Mandiri 1 Kota Cimahi

Murid SD pun Terbiasa Studi Banding
untuk membentuk karakter yang disiplin, rajin bekerja, berjiwa ksatria, mempunyai kesetiakawanan tinggi, berbudi pekerti luhur, menjungjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Taekwondo baru dikenalkan di SD Cibeureum tahun 2009. Siswa yang mengikuti kegiatan ini terbentuk karakternya menjadi mandiri, sportif, melatih mental, membina solidaritas, dan memupuk jiwa pemberani .

26

eragam cara yang dilakukan sekolah dalam rangka pembentukan karakter pada tiap anak diriknya. Di SDN 68 Pontianak Barat dilakukan dengan penanaman sikap jujur. Mulai dari jujur pada sesama teman, jujur pada guru, pada kepala sekolah, pada tukang kebun, dan jujur pada orang lain di dilingkungan sekolah, termasuk para penjual jajanan atau penjaga kantin sekolah. Pembiasaan dan pengakaran kejujuran dikuatkan dengan pencanangan hari Jumat sebagai hari kejujuran. Pada hari itu, dialokasikan jam tambahan selama 35 menit digunakan guru untuk mengajak anak didiknya bersikap dan berkata jujur. Tiap jam tersebut ada lima anak secara bergiliran mengungkapkan kejujurannya tentang apa yang dilakukan selama sepekan di hadapan guru dan teman-temannya. Anak

B

Mencanangkan Hari Kejujuran

SDN 68 Pontianak

bebas mengungkapkan perbuatan baik dan buruk yang mereka lakukan. Selanjutnya guru mengajak siswa lain untuk menganggapi dan mengungkapkan sikap-sikap apa saja yang pantas dan baik dilakukan oleh setiap siswa. Jika ada ungkapan siswa yang perlu ditindaklanjuti maka dapat diselipkan dalam bahan ajar yang relevan. Selain itu siswa diminta untuk m e n c e r i ta ka n p e n ga l a m a n te m a n teman kepada orang tua masing-masing kemudian menuliskan tanggapan o ra n g t u a te r h a d a p pengalaman tersebut dan didiskusikan pada materi ajar yang relevan. Dari pembelajaran kejujuran tersebut, siswa sekolah yang beralamat di Jalan Kom Yos Sudarso Pontianak Barat, Kalimantan Barat itu menjadi lebih terbiasa berkata dan berperilaku jujur. Juga lebih berani mengakui kesalahan dan kekeliruannya. Anak-anak juga makin bisa bagaimana menghormati orang lain, memiliki jiwa besar, menjadi pemaaf, dan mampu menunjukkan perbuatan yang lebih baik dari sebelumnya.

ecara bergiliran, tiap pagi dan siang hari, kala siswa SMPN 2 Pemalang hendak masuk dan meninggalkan area sekolah, terdapat dua atau empat siswa yang bertugas sebagai Patroli Kemanan Sekolah (PKS). Kegiatan tersebut sejatinya adalah untuk memudahkan siswa lain yang hendak masuk atau meninggalkan area sekolah. Namun, makna lain yang tak kalah penting adalah kegiatan tersebut sebagai media belajar secara langsung bagaimana rasanya mengatur lalu lintas. Keberanian, percaya diri, serta disiplin adalah nilai yang terkandung dari PKS. Dan itu menjadi salah satu bentuk pendidikan karakter yang dilakukan oleh sekolah yang beralamat di Jl. Pemuda no. 34 Pemalang, Jawa Tengah. Penguatan karakter bagi siswa, juga dilakukan

S

Menanam Karakter Lewat Polisi Sekolah

SMPN 2 Pemalang

dengan pembiasaan beberapa kegiatan positif lainnya. Di antaranya, saling sapa dan senyum, saling menghargai sesama, gemar membaca, peduli lingkungan sosial, peduli sesama, semangat berprestasi, disiplin dan tanggungjawab, budaya antri, penanaman jiwa patriotisme melalui upacara, dan lain-lain.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

27

Sekolah
SMP IT Mentari Ilmu Karawang

M P
2. 3. 4. 5. endidikan karakter dilakukan melalui kegiatan pembiasan, antara lain: 1. Budaya 5 S: Salam, sapa, senyum, sopan dan santun. Siswa berjabat tangan dengan kepala sekolah, guru, dan karyawan yang siap menanti kedatangan siswa. Budaya ini juga berlaku antarsiswa dan antargurukaryawan, juga kepada tamu. Tadarus dan baca kitab. Setiap hari selama 10 menit, jam pertama, siswa muslim membaca Al Quran, sedangkan nonmuslim mengkaji kitab. Salat dhuha bagi siswa muslim. Awalnya dilakukan pada jam pelajaran Islam. Selanjutnya siswa menjalankan sendiri salat dhuha. Jumat Bersih dilakukan rutin setiap Jumat khususnya untuk karyawan. Penggunaan bahasa Jawa sebagai pengantar setiap Sabtu. Selain melaksanakan instruksi Gubernur DIYogyakarta, juga untukmendekatkan warga sekolah kepada budaya Jawa

Berbagi Peran Guru Rumah dan Guru Sekolah

enanamkan karakter pada siswa usia SMP membutuhkan kerja keras dan waktu yang tidak sebentar. Pada dasarnya 70% karakter terbentuk ketika anak berusia 8 tahun. Penanaman karakter di sekolah memerlukan usaha sungguh-sungguh yang difasilitasi oleh sistem, aturan, tata tertib, budaya dan iklim sekolah, yang diperkuat keteladanan guru dan karyawan, serta kerjasama dan peran orangtua. Pendidikan karakter terintegrasi melalui berbagai kegiatan kesiswaan, di antaranya, tahfidz, pembinaan akhlak melalui mentoring, membaca Al Quran, salat berjamaah, puasa sunnah dan ibadah lainnya. Kegiatan lainnya adalah pramuka, paskibra, dan kegiatan tak rutin seperti Prophetic Leadership Training dan outbond. Toh, sederet kegiatan itu tak cukup membuat siswa tertib, disiplin dan patuh di sekolah dan di rumah. Penyebab utamanya adalah perbedaan aturan dan sistem antara rumah dan sekolah. Sekolah kemudian mengadakan pertemuan dengan pra orangtua untuk menyepakati pembagian peran dalam penanaman pendidikan karakter. Para orangtua atau “guru rumah” memberikan hasil pembinaan karakter di rumah melalui Rapor Bina Karakter Siswa. Alhamdullilah, berbagi peran tersebut memberikan hasil memuaskan.

Pembiasaan, Ujung Tombak Pendidikan Karakter

SMPN 1 Bantul

28

SMPN 1 Cimahi

Membangun Kesetiakawanan Sosial

auh hari pemikir ternama di bidang pendidikan, Herbert Spencer, sudah mengingatkan bahwa “The great aim of education is not knowledge, but action. Education has for its object the formation or character”. Mengacu pada pemikiran tersebut, maka tujuan utama pendidikan di SMPN 1 Cimahi bukan hanya mengajar ilmu pengetahuan, melainkan melakukan tindakan nyata sesuai karakter yang dibentuk oleh pendidikan. Itulah prinsip pendidikan karakter yang dilakukan di SMP Negeri 1 Cimahi.

J

Konsep pendidikan karakter adalah tidak diajarkan, tetapi dibiasakan melalui proses pembiasaan dan keteladanan. Penanaman nilai-nilai karakter di sekolah dilakukan dalam berbagai situasi dan kondisi, baik secara fomal maupun informal. Adapun kegiatankegiatan yang dilakukan antara lain khitanan massal, kantin kejujuran, dan perayaan Idul Adha. Kegiatan khitanan massal dimaksudkan untuk membangun kesetiakawanan sosial. Pada tahun 2010 lalu, kegiatan ini dilaksanakan tanggal 22 Desember yang bertempat di

halaman sekolah, bertema : “Dengan Semangat Kebersamaan Ikatan Alumni SMPN 1 Cimahi Kita Tingkatkan Rasa Kesetiakawanan Sosial Nasional”. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun, kadang dilakukan bersamaan dengan ulang tahun sekolah setiap tanggal 15 Agustus. Selain itu, mulai tahun 2010, sekolah ini juga menyelenggarakan program kantin kejujuran (sincerity corner). Penanggung jawab ditugaskan kepada guru yang ditunjuk kepala sekolah, yang pelaksanaannya dibantu OSIS. Selain menanamkan nilai-nilai kejujuran, kegiatan ini juga untuk menanamkan nilai kerja keras, kemandirian, dan jiwa kewirausahaan. SMN 1 Cimahi juga secara rutin menyelenggarakan pemotongan hewan kurban setiap Idul Adha. Selain menanamkan ketaqwaan kepada Tuhan, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menanamkan nilai kepedulian kepada sesama, terutama kepada warga di sekitar sekolah yang kurang mampu. Kegiatan ini juga bermanfaat dalam membangun nilai kerjasama, karena dilaksanakan secara bersama-sama dengan melibatkan warga setempat.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

29

Sekolah

Pola Hidup Bersih dan Peningkatan Iman-Takwa
M P N I Ka ra n ga nya r berada di Jl. Ir. H.Juanda no. 18 Karang Anyar Keb u men . S eko l ah unggulan ini terdiri dari jumlah keseluruhan siswa 768 orang. Secara geografis sekolah ini strategis karena terletak di pusat kota Karanganyar. SMPN I Karang anyar didirikan tahun 1953 dan di negerikan tanggal 5 Agustus 1955. Prestasi akademik dan non akademik banyak dicapai para siswa SMP Negeri 1 Karanganyar baik dari tingkat Kabupaten, Karesidenan, Propinsi maupun tingkat Nasional, bahkan salah satu siswa SMP Negeri 1 Karanganyar mengikuti Olympiade Matematika IJSO tingkat Internasional di Brazil. Kegiatan siswa dalam membangun

SMPN 1 Karanganyar

S

karakter dan budaya siswa diantaranya adalah ada kegiatan setiap hari jum’at pagi antara lain Jalan Sehat, Siraman Rohani serta kegiatan jum’at bersih. Dengan jalan sehat , siswa dilatih akan pentingnya olahraga, sedangkan peningkatan iman dan takwa melalui siraman rohani, serta pola hidup bersih dilaksanakan dengan Jum’at bersih. Ketiga kegiatan ini dilaksanakan rutin agar para siswa terbiasa dengan kebersihan dan berakhlak mulia. SMP Negeri 1 Karanganyar telah mendapatkan sertifikat ISO 9001:2008. Untuk kegiatan pembelajaran siswa menggunakan Laboratorium Bahasa dan Laboratorium Komputer. Sarana penunjang bagi siswa antara lain area Hotspot dan komputer bagi siswa di perpustakaan yang terhubung ke

Internet serta sumber pembelajaran yang tersimpan di server data sehingga dapat diakses melalui LAN sekolah. Untuk menambah wawasan guru SMPN 1 Karanganyar mengadakan studi banding ke sekolah-sekolah bertaraf Internasional dalam negeri dan luar negeri. Manfaat bagi siswa dengan adanya fasilitas sekolah dapat menunjang kegiatan belajar mereka. Permasalahan untuk pengembangan sekolah bertaraf internasional antara lain luas tanah yang kurang mendukung dikarenkan tidak ada lagi lahan yang kosong untuk pelebaran luas sekolah, tantangan yang dihadapi menjadi sekolah bertaraf internasional yang bisa bersaing di tingkat internasional.

30

U

Menanam Jiwa Patriot Melalui Upacara
pacara bendera pada senin pagi di tiap sekolah bukan hal asing lagi. Namun, sejatinya tidak semua siswa bahkan guru secara tulus dan semangat mengikuti kegiatan tersebut. Keikutsertaan dalam upacara terkadang hanya untuk menghindari sanksi sekolah. Padahal, upacara bendera memiliki makna sangat besar, terutama dalam pembentukan sikap disiplin dan jiwa patriot. Untuk itulah, penyadaran akan pentingnya upacara bendera benar-benar digalakkan di SMPN 2 Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Sikap disiplin dan jiwa patriotisme yang terbentuk dari kegiatan upacara, selanjutnya diarahkan mampu terbawa dalam sikap disiplin dalam mengikuti proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar, kelas tidak lagi dijadikan dan dipahamkan sebagai satu-satunya tempat penyelenggaraan paling efektif. Pembelajaran mulai beralih dengan menggunakan ruang/ tempat lain. Kadang berlangsung di perpustakaan, di laboratorium, di lapangan, di ruang ketrampilan, bahkan di ruang sanggar tari. Kegiatan tersebut, dapat dijadikan sebagai alat ukur untuk mengetahui seberapa disiplin dan sigap berada di tempat yang akan digunakan proses pembelajaran. Anak yang disiplin dan berjiwa patriot niscaya akan segera menuju tempat berlangsungnya pembelajaran.

SMPN 2 Wuryantoro, Wonogiri

SMPN 1 Eromoko, Wonogiri

Pembiasaan Lepas Sepatu

K

elas sejauh ini tetap menjadi sarana penting untuk keberlangsungan proses belajar mengajar. Meskipun pembelajaran dapat dilakukan di luar kelas, tetapi ruang kelas harus tetap dipunyai oleh setiap sekolah. Sayangnya, tidak semua siswa, bahkan sangat jarang, siswa yang peduli terhadap kelasnya, rasa memiliki juga sangat rendah. Sebagai contoh, kadang ada siswa yang begitu gampang menyembunyikan sampah di pojok kelasnya, atau di bawah kursinya. Mencoret-coret meja, bahkan membiarkan sepatunya masuk kelas dengan penuh kotoran. Tentu akan menjadi kondisi yang tidak nyaman untuk berlangsungnya belajar mengajar. Untuk itu, pendidikan karakter di SMPN 1 Eromoko, Wonogiri salah satunya ditanamkan dengan pembiasaan lepas sepatu kala masuk kelas. Di beberapa tempat tertentu juga diberlakukan hal yang sama. Sejak program ini dicanangkan, ternyata semua jajaran keluarga besar sekolah, terutama siswa menyambutnya dengan positif dan semangat. Begitu bel berbunyi, siswa segera beranjak menuju kelas dengan melepas sepatu dan ditaruh di sebuah tempat/ rak yang telah disediakan. Manfaat dari program tersebut, siswa makin betah dan nyaman dengan kelasnya. Siswa terlihat makin mencintai kelasnya, sedikit ada kotoran, tanpa dikomando mereka langsung membersihkannya. Kelas yang bersih juga membantu pembelajaran berlangsung dengan efektif tanpa terganggu pemandangan yang kotor dan kumuh.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

31

Sekolah
SMPN 2 Maos Cilacap

Mencintai yang di Bumi agar Dicintai yang di Langit

P

endidikan karakter dimaknai SMP 2 Maos Cilacap sebagai perilaku warga sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter. Berbagai kegiatannya antara lain: 1. Budaya 5 S ( Salam, Senyum, Sapa, Sopan dan Simpatik ). Budaya 5 S ini dilaksanakan setiap hari. Setiap pagi beberapa orang guru menyambut kedatangan siswa di pintu gerbang sekolah. Semua siswa disambut dengan senyum, salam, disapa dengan sopan dan penuh simpatik. Budaya 5S juga diterapkan pada kegiatan pembelajaran, hingga jam pulang sekolah. Para guru turut mengantarkan siswa hingga pintu gerbang. 2. Memutar Lagu-lagu Nasional dan Daerah. Hampir setiap pagi lagu-lagu nasional dan daerah diperdengarkan di sekolah. Lagu-lagu nasional bahkan diputar sebulan penuh pada setiap A g u s t u s , m e m p e r i n ga t i H a r i Kemerdekaan 17 Agustus. 3. Bakti Sosial Warga Sekolah. Dalam rangka mengembangkan sifat sosial sejak dini, siswa mengadakan kegiatan bakti sosial, di antaranya, menyantuni abang becak, tukang ojek, dan tukang odong-odong. Selain itu juga mengadakan bedah rumah bagi salah satu karyawan sekolah yang kurang

4.

5.

6.

7.

mampu, serta menyantuni siswa kurang mampu. Kegiatan dilaksanakan pada HUT SMP 2 Maos Cilacap. Lomba antarorangtua siswa. Ulang tahun sekolah juga dimeriahkan lomba yang diikuti orangtua siswa. Lomba yang diadakan di antaranya menyanyi, memasak, badminton, tenis meja dan catur. Pemilihan Ketua OSIS. Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa kelas 7, 8 dan 9. Calon ketua OSIS sebelumnya mengikuti seleksi yang diselenggarakan panitia pemilihan. Seleksi meliputi tes tertulis dan wawancara. Hanya 6 calon yang berhak berkampanye menuju kursi ketua. Berbusana batik. Busana batik dikenakan seluruh siswa saat perpisahan kelas 9. Selain memamakai pakaian batik, siswa kelas 9 juga membawa bunga sebagai simbol perdamaian. Kegiatan ini disambut baik didukung orangtua siswa, Muspika, dan masyarakat Maos. Lomba lukis pohon. Melukis pohon dilaksanakan pada lomba Classmeeting, pada akhir semester ganjil tahun lalu. Kegiatan melibatkan seluruh kelas 7, 8 dan 9. Pohon yang akan dicat dibersihkan dari lumut dan kotoran dan tidak sampai merusak kambium pohon agar tetap hidup.

8. Memotivasi kelas 9 yang akan Ujian Nasional. Dua hari sebelum pelaksanaan Ujian Nasional, setiap kelas dihias bak pesta, dan diberi tulisan-tulisan yang memotivasi siswa kelas 9 saat menjalankan UN. Misalnya, Prestasi Yes, Kejujuran Harus”, “ Jangan Mencontek” , “Setelah ada Kesulitan Pasti ada Kemudahan” Setiap hari setelah selesai mengikuti ujian, sekolah memutar lagu-lagu pop dan daerah, agar siswa yang sudah selesai mengerjakan soal-soal ujian merasa senang dan gembira. 9. Indahnya semangat berbagi. Siswa yang memiliki uang saku cukup atau lebih dari cukup untuk memberikan sebagian uang sakunya kepada teman yang tidak mampu. Caranya dengan iuran tiap hari, sekecil apapun, meski hanya Rp 100. Dana iuran juga bisa dipakai untuk karya wisata. 10. Membangkitkan kepedulian terhadap sesama. Siswa menghimpun dana untuk membantu temannya yang mengalami kesulitan dalam hal mencukupi biaya pendidikan. Bantuan yang pernah diberikan siswa sepeda kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam transportasi, memberi sarapan pagi bagi siswa kurang mampu yang jarang makan pagi, membelikan sepatu, tas, kacamata, buku bagi siswa kurang mampu.

32

SMPN 3 Pati

Melahirkan Siswa yang Beretika dan Santun

D

itetapkannya SMP Negeri 3 Pati sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional secara institusional m e m b a w a ko n s e k u e n s i u n t u k menampilkan salah satu keunggulannya yang membedakan dengan sekolah menengah pertama pada umumnya. Dengan konsep Pendidikan Karakter SMP Negeri 3 Pati berkomitmen untuk menciptakan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang berorientasi etika perilaku yang santun. Sekolah berikut warga yang menghuninya dituntut memiliki wawasan wiyata mandala dan perilaku etika yang santun. Implementasi Pendidikan Karakter dalam kegiatan nyata di sekolah ditempuh dengan menyelenggarakan kegiatan yang bersifat multi even yang memungkinkan berbagai jenis lomba dapat berkolaburasi dalam tema yang sama yaitu etika yang santun. Pendidikan Karakter SMP Negeri 3 Pati dijadikan sebagai even rutin tahunan dengan maksud membuka wawasan warga sekolah dengan berperan serta aktif dalam kegiatan bertema etika yang s a nt u n ya n g b e rs i fat te r b u ka , kekeluargaan dan demokratis dengan tujuan antara lain: Membentuk karakter

siswa SMP Negeri 3 Pati yang berwawasan dan berbudaya kesantunan, Menumbuh kembangkan jiwa semangat menjaga kelesatarian etika yang santun khususnya di sekolah dan tempat tinggal masyarakat sekitar sekolah, Meningkatkan kesadaran akan arti penting etika yang santun, Membangkitkan daya kreatifitas siswa dalam berkesenian dan berkreasi terutama di bidang etika,

Mensosialisasikan hari-hari “etika yang santun” agar membumi dalam kehidupan sehari-hari warga sekolah. Untuk menggairahkan animo siswa terlibat aktif dalam kegiatan Pendidikan Karakterdisajikan . bermacam kegiatan dan perlombaan antara lain: Car Free Day, melukis mural, majalah dinding, membuat puisi , membuat poster dan menanam pohon.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

33

P

Sekolah
SMPN 1 Margahayu Kabupaten Bandung

endidikan karakter SMPN 1 Margahayu diawali dengan sosialisasi kepada para stakeholders, saat peresmian Kerukunan Sekolah Permata Bangsa Tingkat Nasional. Pendidikan karakter berpijak atas dasar enam pilar. Pertama, kepercayaan (trustworthiness). Contoh kegiatannya mendirikan Kantin Kejujuran. Tujuannya mengembangkan kebiasaan dan perilaku jujur, tidak mencuri, dan berani melakukan hal yang benar dan terpuji. Kedua, respek. Contoh kegiatannya menerapkan sopan santun dalam berkata d a n b e rs i ka p , to l e ra n te r h a d a p perbedaan, terutama saat berkomunikasi dengan pelajar asal Jerman, Korea, Singapura, Swiss, Jepang, dan Maroko. Ketiga, tanggung jawab (responsibility). Contoh kegiatannya mengembangkan lingkungan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, penuh kreativitas dan kekuatan (dignity). Konsepnya keseimbangan ekosistem secara berkelanjutan dan bertanggungjawab dengan membuat lubang biopori. Keempat, keadilan (fairness). Contoh kegiatannya mewujudkan zebra cross

Bertumpu pada Enam Pilar

dan layanan pengamanan penyeberangan tidak hanya untuk siswa SMPN 1 Margahayu, tetapi juga masyarakat sekitar. Kelima, peduli (caringi). Contoh kegiatannya menumbuhkan sikap peduli siswa melalui artefak pembentukan nilai karakter bangsa

bernuansa religius dalam mengembangkan potensi kalbu. Keenam, kewarganegaraan (citizenship). Contoh kegiatannya membina kepribadian insan kamil berkarakter sebagai dasar dari tonggak persatuan yang berwawasan kebangsaan.

Menumbuhkan Empati
membagi mereka dalam tiga kelompok. Kelompok atas, terdiri dari siswa yang siap ujian secara kognitif. Biasanya mereka individualis dan kurang teposliro (empati) terhadap sesama. Kelompok ini diajak beranjangsana ke panti jompo. Diharapkan tumbuh sikap peduli pada sesama, tidak sombong, dan tidak gampang meremehkan orang lain. Kelompok tengah, terdiri dari anakanak yang cenderung kurang siap menghadapi ujian. Mereka berkunjung ke panti asuhan. Diharapkan siswa bisa bersyukur, rajin beribadah, belajar dan berbakti pada orangtua. Sehingga menemukan kesadaran nikmatnya memiliki keluarga dan orangtua. Kelompok bawah, terdiri dari siswa yang tidak siap menghadapi ujian. Mereka diajak berkunjung ke Sekolah Luar Biasa (SLB). Siswa melihat anakanak SLB yang memiliki keragaman kekurangsempurnaan fisik namun sangat gigih layaknya anak normal. Kepada siswa ditanamkan semangat untuk membantu sesama. Jika mau memberi makanan, disarankan siswa memasak sendiri, sekaligus makan bersama. Jika alat-alat kebersihan yang dihadiahkan, siswa perlu memberikan contoh agar bisa diteruskan di kemudian hari. Jika siswa ingin memberi bahan bacaan ke panti jompo maka siswa harus membacakannya. Hal yang paling mengejutkan, para siswa menjadi siap menghadapi hidup dan ujian dengan kesungguhan hati. Drs. AGUS TRIYANTO, MMPd Kepala SMP 1 Purbalingga

SMPN 1 Purbalingga

D
34

i SMPN 1 Purbalingga, Jawa Tengah, ruang hati, menjadi area yang mendapat sentuhan khusus dalam penumbuhkembangan kekuatan jiwa dan sikap yang senantiasa siap dan sigap. Salah satu kegiatannya adalah bakti sosial. Menjelang ujian nasional, siswa kelas 9 selalu disiapkan secara holistik dengan

SMP Negeri 6 Semarang

MP Negeri 6 Semarang merupakan salah satu rintisan atau piloting pendidikan budaya dan karakter bangsa (PBKB) yang dimulai pada Oktober Tahun 2010. Dari 18 butir nilai karakter yang dikembangkan Pusat Kurikulum, SMP Negeri 6 Semarang memfokuskan pengembangan pada 4 nilai karakter yaitu nilai religius, kejujuran, nasionalisme, dan peduli lingkungan. Implementasi pendidikan karakter bangsa melalui 3 cara: 1) mengintegrasikan nilai-nilai utama tersebut ke dalam pembelajaran; 2) ke dalam kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan terprogram; dan 3) melalui habituasi atau pembiasaan-pembiasaan untuk membangun budaya sekolah. Pengintegrasian nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam pembelajaran, misalnya dengan memilih bahan ajar, gambar, film, atau model yang dapat memperkenalkan nilai-nilai karakter yang dikembangkan. Pengembangan nilai-nilai karakter melalui ekstra kurikuler dan kegiatan terprogram misalnya kegiatan sosial dan kemanusiaan, membantu korban bencana alam, mengunjungi panti asuhan, dan panti jompo. Kegiatan

S

Menerapkan Empat Nilai Karater Utama

lainnya antara lain, bersih lingkungan sekolah, penghijauan, dan pembuatan kompos dari sampah organik. Habituasi yang dilakukan di antaranya pengembangan nilai-nilai nasionalisme, contohnya kegiatan upacara bendera harian, memutar lagu-lagu wajib atau lagu nasional setiap pagi sebelum bel masuk, istirahat, dan menjelang pulang sekolah, mengawali pembelajaran PKn dengan menyanyikan lagu wajib atau lagu nasional pilihan kelas, mengawali kegiatan rapat, pelatihan, workshop, atau in house training dengan menyanyikan Indonesia Raya, diakhiri dengan Bagimu Negeri, dan memajang ornamen warisan b u d aya b a n g s a s e p e r t i wayang, batik, atau keris di setiap ruang. Pembiasaan nilai-nilai religius melalui kegiatan beribadah menurut agama

masing-masing secara berjamaah. Pembacaan Asmaul Husna pada pagi hari dan sholat lohor berjamaah bagi siswa muslim, sedangkan yang Kristiani melakukan doa bersama di tempat tersendiri. Pembiasaan nilai-nilai kejujuran dengan mengembangkan Kantin Kejujuran dan Kotak Penemuan Barang, pembiasaan 6 S (Senyum, Salam, Salim, Sapa, Sopan dan Santun) di antara semua warga sekolah. Pembiasaan nilai-nilai kepedulian lingkungan di antaranya melalui keteladanan dan imbauan terus menerus untuk bersedia memungut sampah dan meletakkannya di tempat sampah. Selain itu juga melaksanakan Program 3R, yakni Reuse (menggunakan ke m b a l i b a r a n g - b a r a n g y a n g berpotensi menjadi sampah), Reduce (mengurangi penggunaan barang berpotensi sampah), dan Recycle (mendaur ulang sampah menjadi barang yang bisa digunakan).

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

35

da banyak kegiatan yang dilaksanakan SMPN 4 Martapura dalam membangun karakter anak didiknya, mulai dari salat berjamaah, patroli keamanan sekolah, hingga kantin kejujuran. Seluruh kegiatan ini diselenggarakan untuk membentuk karakter siswa dan mengembangkan potensi yang dimilikinya, sehingga setiap anak mempunyai kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuan dan prestasinya. “Seluruh kegiatan dilakukan secara terintegrasi dalam kegiatan reguler sekolah, seperti kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler, melalui mata pelajaran, muatan lokal, maupun kegiatan pengembangan diri,” katanya. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan antara lain: 1. Salat dzuhur berjamaah setiap hari, dan salat hajat pada waktu-waktu tertentu untuk keberhasilan siswa. 2. Penyelenggaraan kantin kejujuran. 3. Larangan membawa HP ke sekolah. 4. Bagi anak-anak yang beragama Islam, berdoa setiap pagi di kelas dan bersalaman dengan wali kelas, sedangkan untuk anak-anak non muslim dilakukan di ruang OSIS. 5. M en ga d a ka n ke gi ata n Pat ro l i Keamanan Sekolah (PKS), dan mengundang nara sumber dari kepolisian setempat. 6. Pembagian penugasan menjaga kebersihan kebun, mengadakan menyeleng garakan 13 cabang ekstrakurikuler yang variatif. 7. Mengembangkan kegiatan siswa dalam memanfaatkan limbah menjadi barang hiasan, mengadakan ekstrakurikuler seni drumband, musik panting, dan band sekolah. 8. Membuat papan majalah dinding di setiap kelas, dan mengoptimalkan pemanfaatan papan tayang kelas. 9. Upacara bendera setiap Senin/hari besar nasional/hari bertemakan lingkungan. 10. Mengikuti setiap lomba karnaval HUT RI tingkat kabupaten. 11. Memberikan piagam dan bingkisan kepada siswa pemenang lomba.

A

Sekolah
SMPN 4 Martapura

Dari Salat Berjamaah hingga Kantin Kejujuran

12. Menyelenggarakan halal bi Halal setiap Idul Fitri. 13. Mengoptimalkan pelaksanaan program Adiwiyata yang ditunjang dengan kegiatan Jumat bersih dan gotong royong.

14. Menyelenggarakan gerakan saudara asuh melalui kegiatan pengumpulan Infaq untuk disumbangkan kepada siswa lain yang memerlukan. Drs. MUHAMMAD ARSYAD, M.Pd, Kepala SMPN 4 Martapura,

36

SMPN 1 Baureno, Bojonegoro

M

Menyiapkan Calon Pemimpin
encetak calon pemimpin berintegritas tinggi dan tangguh bukan pekerjaan mudah. Dari sekian banyak kegiatan yang terkait dengan pendidikan karakter, SMPN 1 Baureno memiliki kepedulian tinggi dalam menyiapkan siswa-siswinya sebagai calon pemimpin. Adapun kegiatan yang dilaksanakan antara lain berupa Latihan Dasar Kepemimpinan Sekolah (LDKS). Menurut Drs. Edy Dwi Susanto, M.Pd, Kepala SMPN 1 Baureno, kegiatan LDKS itu ditujukan untuk melatih ketangguhan siswa sebagai calon pemimpin masa depan. Sebagai calon pemimpin, melalui kegiatan ini juga ditanamkan sikap ulet dan tidak cepat p u t u s a s a . Ke g i a t a n l a i n y a n g dilaksanakan adalah diskusi bersama untuk memecahkan masalah tertentu. Kegiatan ini bertujuan untuk m e n a n a m k a n n i l a i ke r j a s a m a , musyawarah, dan menghargai orang lain. Selain itu, SMPN 1 Baureno juga melaksanakan sejumlah kegiatan lain yang terkait dengan pendidikan karakter. Misalnya, untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan, digalakkan kegiatan penghijauan. Para siswa membawa, menanam dan merawat pohon secara mandiri pada lahan kosong di Desa Sendangrejo, Kecamatan Baureno. Kegiatan ini juga untuk menanamkan nilai cinta Tanah Air. Kegiatan lain yang dilaksanakan adalah jalan sehat setiap jumat pagi. Kegiatan ini dilakukan sambil memberikan bingkisan kepada pak polisi yang setiap pagi dan siang selalu membantu anak-anak mengatur lalu lintas di depan sekolah. Nilai yang ditanamkan dari kegiatan ini adalah menghargai jasa orang lain.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

37

Sekolah
SMPN 6 Tasikmalaya

Memberi Anugerah Terpuji

M P N 6 Ta s i k m a l a y a dikenal memiliki brandimage sebagai sekolah “Innovation School Centre”. Predikat itu, sontak membakar semangat di benak seluruh jajaran SMPN 6 Tasikmalaya, mulai dari siswa, guru, pegawai non guru, orang tua siswa, komite sekolah, hingga tukang sapu untuk bergerak maju dan mengukir prestasi. Lantas sekolah ini mengusung 5 C sebagai nyawa seluruh aktivitas. Meliputi Care, Change, Commitment, Consistency dan Continuity. Sekolah ini juga meletakkan akhlak mulia, budi pekerti luhur dan kebangsaan sebagai komitmen bersama yang harus selalu dijunjung. Komitmen tersebut diaktualisasi dalam berbagai penumbuhan sikap positif. Meliputi religius, jujur, toleransi, disiplin, cinta tanah air, cinta damai, kerja keras, kreatif, mandiri, menghargai, haus prestasi, gemar membaca, peduli lingkungan dan sosial, tanggungjawab dan lain-lain. Pembiasaan sikap tersebut, oleh s e ko l a h d i t i n d a k l a n j u t i d e n ga n

S

meluncurkan penghargaan “Anugerah Terpuji”. Diberikan kepada siswa yang terbukti telah menunjukkan pelilaku mulia, budi pekerti luhur dan prestasi membanggakan. Ada beberapa jenis anugerah terpuji, di antaranya Anugerah Terpuji atas Kejujuran, Anugerah Terpuji atas Ta t a k r a m a d a n K e s a n t u n a n Berbicara, Anugerah Terpuji atas Khatam Al-Qur’an, Anugerah Terpuji atas Karya Tulis Terbaik, Anugerah

Terpuji atas Prestasi Tertinggi Mata Pelajaran, Anugerah Terpuji atas Prestasi Gemar Menabung. Selain itu ada pula A n u g e r a h Te r p u j i a t a s Kepemimpinan Kelas / OSIS, prestasi Olimpiade, Anugerah Te r p u j i a t a s P r e s t a s i Pemeliharaan Lingkungan Hidup, Anugerah Terpuji atas Prestasi dan Kemampuan Bidang ICT, Anugerah Terpuji atas Kemandirian dan Entrepreneur, dan lain-lain. Drs. H. DADANG YUDHISTIRA, S.H., M.Pd Kepala SMPN 6 Tasikmalaya

38

SMPN 7 Jambi

Pendidikan Karakter Sekolah Berwawasan Lingkungan
ejak berdiri tahun 1976, SMP Negeri 7 Kota Jambi telah menanamkan dasardasar pendidikan karakter. Adapun implementasinya tiga tahun t e ra k h i r a n t a ra l a i n , p e r t a m a , penanaman nilai ketakwaan melalui kegiatan keagamaan, yang meliputi siraman rohani setiap Jumat pagi

S

(ceramah agama oleh siswa secara bergantian), salat luhur berjamah, pemotongan hewan kurban setiap Idul Adha, dan perayaan hari besar agama. Kedua, mengembangkan sikap jujur. Sebuah laboratorium kejujuran yang dikelola bersama antara SMPN 7 dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan, dan Karang Taruna menjadi bukti penanaman sikap kejujuran. Bermodalkan Rp 4.000.000 dari pinjaman KPN, kantin tersebut mampu memberikan sisa hasil usaha sekitar Rp 80 jutapada akhir tahun pelajaran 2008/2009 dan lebih kurang Rp. 120 juta pada akhir tahun pelajaran 2009/2010. Kebanggaan pun bertambah dengan dilaksanakan kegiatan akbar yang dihadiri Jaksa Agung , Wakil Ketua KPK, Wakil Ketua M a h ka m a h A g u n g , Gubernur Jambi, dan sejumlah bupati/ walikota. Ketiga, menanamkan jiwa bersih dan cinta lingkungan. Mengambil 3 helai sampah m e r u p a ka n “ t i ke t ” masuk sekolah setiap pagi. Tahun 2009 SMPN

7 Kota Jambi dinobatkan sebagai Sekolah Berwawasan Lingkungan dan memperoleh piagam dan uang tunai dari Mendiknas. Selain itu, Tri Wahyuni, siswi SMP Negeri 7 Kota Jambi, menjadi Juara Kader Kesehatan Nasional peringkat 2 tahun 2009. Kemudian Palang Merah (PMR) SMP Negeri 7 Kota Jambi sempat mendapat binaan dari Palang Merah Dunia. Keempat, menanamkan nilai berbakti kepada orangtua dan guru. Budaya hormat dan taat terhadap orangtua selalu dikembangkan di sekolah ini. Secara terus-menerus budaya salam dan mohon doa selalu ditunjukan anak setiap diantar oleh orang tua di depan sekolah dan dilihat oleh guru. Selain itu, secara simbolis telah diadakan kegiatan akbar “Basuh Kaki Ibu”, yang melibatkan 1.500 pasang ibu dan anak, dan tercatat di MURI. Kelima, bekerja keras dan didiplin. Kerja keras dan disiplin merupakan modal hidup. Oleh karena itu, SMPN 7 Jambi getol menanamkan nilai-nilai tersebut. Keenam, ber wawasan global. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain: Jambore Pramuka se-Asean di Singapura, Jumbhara PMR Asean di Batam, kejuaran karate internasional di Skandinavia, mengirimkan guru untuk mengikuti pelatihan manajemen di Singapura dan Malaysia, dan pengembangan pembelajaran MIPA berbahasa Inggris di Australia dan Selandia Baru.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

39

Sekolah

SMPN 10 Tarakan

Menanamkan Nilai Demokrasi, Kreativitas, dan Peduli Lingkungan
da sejumlah kegiatan yang dilaksanakan SMPN 10 Ta ra ka n d a l a m membentuk karakter siswa, antara lain pemilihan pengurus O S I S s e c a ra d e m o k ra t i s , s e r t a memanfaatkan potensi dan limbah hasil laut. Menurut kepala SMPN 10 Tarakan, pemilihan pengurus OSIS secara terbuka ini bertujuan untuk melatih siswa dalam mengambil keputusan secara bersama dengan sistem yang selalu terbuka. Pemilihan pengurus OSIS ini juga melibatkan seluruh warga sekolah, termasuk kepala sekolah dan para guru. “Pemilihan pengurus OSIS ini dilaksanakan setiap awal tahun pembelajaran dan mengandung nilai demokrasi” katanya. Selain itu, karena SMPN 10 Tarakan terletak di daerah pesisir pantai, maka pembelajaran muatan lokal memanfaatkan potensi hasil laut. Pembuatan kerupuk udang dan ikan serta snack menjadi pilihan sekolah untuk dijadikan pembelajaran muatan lokal. Hal ini dapat bermanfaat bagi

A

siswa untuk dijadikan sebagai bekal berwirausaha dan berkreatif. Pembuatan ke r u p u k d a n camilan ini termasuk bagian dari pendidikan karakter yang mempunyai nilai kreativitas. Sekolah ini sekitar 80% s i s w a nya bertempat tinggal di pesisir pantai yang banyak terdapat limbah laut, antara lain limbah kerang dan tempurung kelapa. Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, maka pengolahan limbah laut berupa kerang dijadikan pilihan sebagai pembelajaran muatan lokal. Berbagai jenis limbah kerang dan kelapa diproses untuk dijadikan aneka

ragam souvenir dan kerajinan tangan. Kegiatan ini termasuk dalam pendidikan karakter untuk menanamkan nilai peduli lingkungan.

40

SMPN 11 Jayapura

P

Menguatkan Karakter Melalui Pramuka dan PMR
para siswa kelak tumbuh menjadi generasi dengan jiwa nasionalisme yang kuat dan mau berjuang dan berkarya membangun daerah dan negara sebagaimana tokoh asal Papua tersebut. Siswa SMPN 11 Jayapura, tampak semangat dan antusias mengikuti kegiatan-kegiatan pendidikan karakter yang diterapkan. Sayangnya, sekolah ini masih minim fasilitas pendukung kegiatan, guru yang menangani pun juga masih minim, hanya dua guru.

endidikan karakter di SMPN 11 Jayapura ditanamkan melalui kegiatan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) pada anggota pramuka serta kegiatan Palang Merah Remaja (PMR). Kedua kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan kepekaan serta kepedulian pada sesama dan lingkungan, juga ringan tangan dan aktif dalam tindakan-tindakan kemanusiaan. Kepedulian anggota Pramuka dan PMR juga diperkuat dengan pembiasaan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, terutama kepedulian pada kebersihan, ketertiban dan keamanan. Setiap 3 bulan sekali, siswa diajak terjun ke lapangan melakukan bersih-bersih. Pembiasaan ini ditargetkan dapat tumbuh dan membudaya dalam diri siswa. Diharapkan pula, kebiasaan positif di sekolah dapat diaktualisasikan di lingkungan tempat tinggal. Siswa juga diajak lebih peduli akan penghijauan dan manfaatnya, serta bahaya penggundulan hutan. Kegiatannya menanam pohon pada hutan yang gundul di sekitar sekolah. Selain itu, siswa juga diberi materi tentang tokoh-tokoh dan pahlawan nasional asal Papua. Harapannya agar

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

41

Sekolah
SMPN 14 Bandung

Nuansa Religius, Unggulkan Pramuka
bersama, dan salat duhur bersama. Saban hari jum’at dibudayakan salat duha bersama dan salat Jum’at berjama’ah. Dibudayakan juga selalu ucap salam kala bertemu sesama. Selain itu, anak-anak disediakan 17 pilihan ekstrakurikuler. Mulai dari bidang akademik hingga pengembangan bakat dan minat. Di antaranya adalah PMR, Karawitan, Angklung, Seni tari, Paduan Suara, Kabaret, Futsal, Basket Ball, Karate, Bulu Tangkis, Catur, KIR Fisika, KIR Biologi, KIR Matematika, KIR IPS, Remaja Islam Mesjid. Serta kegiatan Pramuka sebagai unggulan. Siswa kelas VII wajib menjadi anggota Pramuka agar te r ke ku at ka n s i ka p d i s i p l i n nya , tanggungjawabnya, kemandiriannya, kepercayaan dirinya, keberaniannya, sosialnya serta jiwa patriotismenya. Drs.H.DWI MARKONIANDI SUTISNA M.Pd Kepala SMP 14 Bandung

nak-anak usia SMP adalah kaum Anak Baru Gede (SBG). Pada usia ini kecenderungan ingin mencoba sangat tinggi. Penting dilakukan pengawalan secara intensif serta arahan dan bimbingan yang tepat. Sekolah, sebagai tempat mereka menimba ilmu mesti bisa menciptakan nuansa yang nyaman kegiatan bermakna sebagai pondasi penemuan karakternya. Seperti halnya yang dilakukan SMPN 14 Kota Bandung. Sekolah di Jl. Lapangan Supratman No.8 Kelurahan Cihapit, Bandung Wetan Kota Bandung ini memiliki beberapa program unggulan sebagai wahana pembentukan karakter. Kehidupan sekolah dibudayakan semangat keilmuan yang diperkuat dengan nuansa religius. Setiap hari, sebelum pelajaran dimulai anak-anak diajak membaca ayat Al-Qur’an selama 10 menit, membaca Asmaulhusna, doa

A

42

SMPN 1 Curup Tengah, Bengkulu

Pembiasaan Melalui Jumat Bersih
alah satu bentuk pendidikan karakter dan penanaman nilai yang diterapkan di SMPN 1 Curup Tengah adalah kegiatan “Jumat B e rs i h ”, ya n g b e r t u j u a n u n t u k menanamkan kebiasaan hidup sehat dan bersih. Kegiatan ini melibatkan semua pihak di sekolah, baik guru, pegawai maupun siswa. Fokus kegiatan ini pada keaktifan siswa untuk berpartisipasi menjaga dan memelihara lingkungan sekolah, mulai dari kebersihan kelas siswa, memelihara tanaman, menjaga kebersihan di sekitar lingkungan kelas, serta menambah keindahan kelas dengan memberi berbagai atribut kelas. Kegiatan ini dilakukan dua kali dalam satu bulan selama satu jam pelajaran. Kegiatan ini memberikan sejumlah manfaat bagi siswa, antara lain menanamkan pola hidup bersih dan sehat, gotong royong, tanggung jawab, kompetitif, serta menanamkan nilai kebersamaan dan kerjasama. Karena kepeduliannya pada kebersihan dan sekehatan sekolah, SMPN1 Curup Tengah pernah meraih Juara 1 Sekolah Sehat Tingkat Provinsi Bengkulu. Adapun ke s u l i ta n ya n g d i h a d a p i d a l a m pelaksanaan kegiatan ini adalah waktu yang tersedia hanya sedikit dan luasnya lokasi yang harus dibersihkan.

S

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

43

Sekolah
SMA Bakti Idhata Jakarta

Implementasi Nilai-nilai Karakter Bangsa dalam Kurikulum
penilaiannya sebagai tolok ukur tercapai tidaknya program. Padahal yang dinilai adalah sikap dan perbuatan yang tidak memiliki standar penilaian. Tetapi, bila hal ini dijadikan kegiatan ekstrakurikuler, maka dipastikan banyak guru yang akan mengabaikannya, karena tidak memiliki porsi penilaian dalam rapor. Bahkan mungkin tidak semua guru dapat menampilkan karakter yang sesuai dengan materi. Yang berkembang justru anggapan bahwa yang bertanggung jawab terhadap penanaman nilai-nilai yang baik tersebut hanya pada guru mata pelajaran Agama dan PKn, karena muatan afektif/nilainya lebih banyak dibanding dengan muatan kognitifnya. sehingga upaya penanaman nilai tersebut kurang mendapat dukungan penuh seluruh guru dan warga sekolah. Oleh karena itu, menurut saya pendidikan karakter harus diintegrasikan ke dalam seluruh kehidupan siswa, mulai dari kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Selain itu, keluarga dan masyarakat sekitar harus ikut bertanggung jawab membimbing penanaman nilai budaya bangsa, antara lain melalui: 1. Pembiasaan menjaga lingkungan akan kebersihan. 2. Penanaman nilai keagamaan melalui salat berjamaah, pengumpulan dana amal, menjenguk teman yang sakit. 3. Menyanyikan lagu Indonesia raya sebelum belajar dimulai 4. M e m b e r i k a n h u k u m a n y a n g bermuara pada pembentukan karakter, dan lain-lain.

P

roses pendidikan di sekolah d i p a n d a n g ya n g p a l i n g bertanggung jawab akan cerah dan gelapnya moral s i s wa , s e ka l i p u n s e s u n g g u h nya pendidikan secara umum kini mengalami reduksi yang mendangkalkan akidah dan keimanan siswa. Bisa dibayangkan ketika di sekolah siswa diajarkan hormat dan sopan santun kepada orang lain dalam setuasi dan kondisi apapun, tetapi ketika pulang sekolah siswa kita menyaksikan orang-orang yang sama sekali tidak mempedulikan sesamanya, tidak toleran, acuh, egois, bahkan banyak orang beragama tapi tidak menjalankan ajarannya. Idealisme berbanding terbalik dengan realitas. Dengan demikian, masihkah dianggap satuan pendidikan atau sekolah yang paling bertanggung jawab terhadap masalah kemerosotan moral peserta didik? Sampai dengan saat ini, pendidikan karakter dianggap sebagai salah satu solusi yang dapat mengubah karakter negatif apalagi melalui jalur sekolah, yang diintegrasikan ke dalam kurikulum

setiap mata pelajaran. Saya mengajak kita semua mari kita semai nilai-nilai yang baik kepada anak didik dengan memberikan contoh bicara dan bertingkah laku yang baik. Ingat, knowledge is power, but character is more. Tugas membangun karakter ini menjadi bertambah berat manakala banyak contoh melalui media TV, koran dan internet yang bertolak belakang dengan yang diupayakan oleh guru di sekolah. Misalnya, masyarakat kita sekarang lebih senang dengan yang instan (contonhnya menentukan yang baik melalui SMS), tayangan sadisme, berita sampah, berita gosip dan sejenisnya, sinetron mistis dan gak masuk akal, dan lain-lain. Yang menjadi persoalan inti adalah bagaimana proses pendidikan karakter tersebut dapat dilaksanakan di sekolah? Mengingat bila pendidikan karakter dijadikan sebagai mata pelajaran, tentu akan menimbulkan kesulitan tersendiri dalam melakukan penilaian, karena setiap mata pelajaran harus ada

44

SMAN 1 Banjarmasin

M

Dari Kantin Kejujuran Hingga Antikorupsi

enyadari bahwa peran sekolah sebagai agen penyiapan generasi penerus bangsa yang tangguh dan kompeten, SMAN 1 Banjarmasin, Kalimantan Selatan menggenjot siswanya dengan pendidikan karakter dan budaya bangsa. Kegiatan ini dijadikan pembelajaran sisipan (Hidden Curriculum) dalam rangka memperkuat sistem penanaman nilainilai keagamaan, kebangsaan dan kearifan lokal. Materi pendidikan karakter disisipkan dan diintegrasikan dalam mata pelajaran PKn, Pendidikan agama, Sejarah, biologi dan mata pelajaran lain yang relevan. Diperkuat dengan menanamkan nilainilai pendidikan karakter bangsa juga dilakukan dalam bentuk pengembangan diri/ekstrakurikuler. Kemudian, ditindaklanjuti dengan aktivitas dan pembudayaan dalam tata hidup di sekolah. Kekuatan pembiasaan yang dilakukan oleh siswa, pada akhirnya akan mengantarkan sekolah menemukan kekuatan jati dirinya. Sekolah semakin menemukan stabilitas sosial, semakin memiliki keberartian dalam lingkungannya. Sejumlah program pembelajarannya meliputi pendidikan antikorupsi dan kantin kejujuran (dalam mata pelajaran PKn). Hidup bersih dan sehat, lingkungan bersih dan (dalam mata pelajaran biologi). Iman dan taqwa, akhlak mulia, budi pekerti, kejujuran, sopan santun, toleransi dan lain-lain (dalam pendidikan agama). Selain itu, pembudayaan kultur positif diperkuat dengan pemasangan banner (tulisan/ slogan besar) yang bersifat himbauan, peringatan dan penegasan dan lain-lain. Contohnya “Come on time”, “Pray before learning”, “No drugs”.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

45

Sekolah

Berkarakter Lewat Pendekatan Imtak

SMAN 1 Bukittinggi

MAN I Bukit Tinggi yang beralamat di jalan Jambek no.36 Bukit tinggi Sumatera Barat ini menorehkan banyak prestasi di berbagai bidang. Diantaranya adalah lomba desain poster, juara debat bahasa asing, dan sederet penghargaan lainnya yang membuat bangga para murid. Keberhasilan dalam menciptakan prestasi diiringi dengan penanaman karakter yang kuat dalam jiwa setiap murid dengan melakukan pendekatan iman dan takwa. Hal ini diterapkan oleh pihak sekolah pagi sebelum dilaksanakan proses belajar mengajar. Tiap pagi hari setelah memasuki gerbang sekolah siswa-siswi disambut oleh Kepala Sekolah/Waka/Guru untuk bersalaman Budaya Salam. Selanjutnya, setiap akan memulai pelajaran pada jam pertama siswa berdoa bersama dipimpin oleh ketua kelas dan dilanjutkan dengan tadarus (membaca Al Quran ) yang dilakukan oleh

S

2 atau 3 siswa. Hal ini dilakukan untuk melancarkan pembacaan Al-Quran oleh para murid. Pada saat istirahat pertama, pukul 10.30-10.50 WIB, siswa dianjurkan untuk melaksanakan shalat sunat Dhuha. Alhamdulillah setiap hari jumlah siswa yang melaksanakannya semakin bertambah. Salat dhuha ini efektif untuk

meningkatkan kesehatan jasmani, kecerdasan, dan memudahkan jalan meraih rezeki. Selanjutnya salat Zuhur berjamaah dilaksanakan pada waktu istirahat kedua pukul 12.20 – 12.50 WIB. Dengan Sholat Dhuhur berjamaah, para siswa dilatih disiplin dan kebersamaan, sehingga para murid akan terhindar dari sikap-sikap menyimpang, tawuran dan lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta, Allah SWT. Sedangkan untuk memperdalam spiritual, setiap jumat dilaksanakan acara Kultum yang diselenggarakan setiap Jum’at pukul 07.30 – 08.15 diikuti oleh seluruh warga sekolah. Acara ini diisi oleh setiap kelas secara bergiliran setiap minggu.

46

SMAN 1 Karang Baru, Nanggroe Aceh Darussalam

P

Memperkokoh Predikat Green School
kesadaran akan pentingnya ekosistem lingkungan hidup dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. “Secara fisik, sekolah ditata sesuai ekologinya, sehingga menjadi wahana pembelajaran bagi seluruh warga sekolah untuk bersikap arif dan berperilaku ramah lingkungan,” katanya. Program ini diarahkan untuk membentuk karakter anak agar peduli dan mampu mengelola lingkungan dengan baik. Pengolahan lahan sebagai apotik hidup memberikan manfaat ketersediaan alternatif obat-obatan. Pembudidayaan tanaman memberikan peluang pendapatan ekonomi. Adanya unit-unit pengelolaan biota berguna bagi ekosistem kolam yang di dalamnya terdapat ikan, hidrilla, enceng gondok dan katak. Hal ini juga dapat dijadikan bahan/sarana pembelajaran ekologi dan
Muslizar, SPd

eperti telah diketahui bahwa setiap harinya s i s wa m e n g h a b i s ka n waktunya untuk proses belajar mengajar di sekolah sebanyak 6-7 jam, atau hanya 30 % dari total waktu 24 jam. Sisanya, atau sebanyak 70 % adalah waktu yang dimiliki siswa di luar kegiatan formal sekolah. Waktu sebanyak 70 % itu dihabiskan di rumah dan di lingkungannya. Sebagian waktu untuk kebersamaan dalam keluarga, sebagian untuk belajar, bermain dan berbagai aktivitas lain. Banyaknya waktu di luar sekolah yang dimiliki siswa, menjadikan siswa rentan terbawa arus negatif. Untuk itu, SMAN 1 Tukka, Sumatera Selatan benar-benar mengintegrasikan berbagai sikap positif dalam proses pembelajaran, juga dalam perilaku keseharian di sekolah. Penguatan sikap positif tersebut diharapkan dapat tertanam dan diterapkan kala berada di luat sekolah. Beberapa sikap positif tersebut

S

rofil sekolah hijau (green school) dipandang penting di era pemanasan global dewasa ini. Oleh karena itu, penghijauan di lingkungan SMAN 1 Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, menjadi program prioritas untuk mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang sehat (school healty). Selain untuk memperkuat pencitraan sekolah, program ini juga untuk memberdayakan serta membudayakan warga sekolah agar memiliki kesadaran pentingnya menjaga kelestarian lingkungan yang hijau. Menurut Muslizar, S.Pd, Kepala SMAN 1 Karang Baru, Tujuan program ini adalah mananamkan, menjaga dan mengembangkan nilai-nilai

sebagai bahan praktikum anatomi dan fisiologi. Kepedulian SMAN Karang Baru dalam mengembangkan program sekolah hijau ini juga menorehkan prestasi. Buktinya, sekolah ini pernah meraih juara 1 lomba Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Provinsi Aceh. Muslizar menambahkan, lingkungan hidup adalah sistem kehidupan yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda (materi), daya ( energi), keadaan (tatanan alam) dan mahluk hidup, termasuk manusia dengan perilakunya yang memengaruhi ke l a n g s u n ga n ke h i d u p a n d a n kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

SMAN 1 TUKKA Sumatra Selatan

Menumbuhkan Semua Bentuk Kegiatan
meliputi pembudayaan sikap religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja ke ra s , k re a t i f, demokratif, semangat ke b a n g s a a n , c i nta tanah air, menghargai orang lain, cinta damai, bersahabat dan komunikatif. Selain itu juga ditanamkan sikap gemar membaca, peduli sosial dan lingkungan.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

47

Sekolah
SMAN 1 Kota Gajah, Lampung

Berkarakter Lewat Kantin Kejujuran
sosialisasi kepada semua warga sekolah yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2008 hingga sekarang. Barang sudah tertata di tempatnya masing-masing dengan dilengkapi label harga. Warga sekolah memilih barang dan membayar sesuai harga yang diambil secara mandiri. Diharapkan dengan adanya kantin ke j u j u ra n a d a l a h , s i s wa d a p at menerapkan sikap jujur, disiplin dan bertanggung jawab di lingkungan sekolah yang pada akhirnya akan terbiasa bersikap jujur. Dengan adanya kantin kejujuran, ada beberapa manfaat yang akan diterima siswa yaitu Siswa dapat mengaplikasikan kegiatan wirausaha secara nyata, siswa dapat menerapkan sikap jujur, disiplin dan tanggung jawab dan terpenuhinya kebutuhan siswa melalui kantin kejujuran. Meskipun demikian, pihak sekolah mengakui masih mengalami kesulitan terdapatnya siswa yang belum bisa berlaku jujur ( pada proses Pembayaran), Belum terbuka luasnya hubungan kerjasama dengan pihak usaha luar, tempat yang kurang representatif dan m a s i h ku ra n g nya m o d a l u nt u k pengembangan usaha.

MAN I Kota Gajah terletak di jalan Raya Kota Gajah L a m p u n g Te n g a h . Sebelumnya Sekolah ini bernama SMU N I Punggur. Ciri khas sekolah ini dalam penerapan pendidikan karakter dan budaya sekolah adalah adanya kantin kejujuran sekolah. Para pembeli di kantin ini tentunya, diharapkan, adalah para siswa dan guru yang memasuki kantin dengan penuh

S

keimanan di dada dan juga harus menguasai matematika agar tidak keliru dalam membayar sejumlah uang sesuai dengan makanan, minuman, dan camilan yang mereka konsumsi serta berapa kembaliannya. Tujuan diadakannya kantin kejujuran sekolah ini adalah untuk menanamkan perilaku jujur, disiplin dan bertanggung jawab kepada siswa. Proses Pelaksanaan kantin kejujuran dimulai dengan

48

SMAN 1 Sangasanga, Kutai Kartanegara

Membentuk Karakter Melalui Kegiatan Napak Tilas
angasanga adalah satu kawasan yang berada di wilayah pesesisir pantai. Jarak tempuh ke tempat ini sekitar dua jam dari ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara, atau sekitar satu jam dari ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda. Daerah ini juga dikenal dengan potensi alamnya sebagai penghasil minyak dan batu bara. Sangasanga juga dikenal sebagai kota bersejarah, bahkan oleh masyarakat disebut sebagai kota pejuang. Sebutan ini tentu sangat beralasan karena di tempat ini banyak ditemukan situs-situs peninggalan sejarah pertempuran merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Di Sangasanga ini pula terjadi peristiwa perobekan bendera Belanda. Untuk mengenang peristiwa monumental ini telah dibangun tugu perjuangan, yang diberi nama Tugu Merah Putih. Setiap tanggal 27 Januari di tempat ini diperingati dengan upacara bendera untuk mengenang rakyat Sangasanga dalam menumpas penjajah. Menurut Syahrial K, S.Pd, MM, bentuk lain untuk mengenang peristiwa ini melalui teaterikal missal, yaitu

S

sebuah repertoar napak tilas dan rekonstruksi perobekan bendera Belanda yang diperankan oleh para pelajar SMAN 1 Sangasanga. Kegiatan napak tilas ini juga menjadi bagian dari pendidikan karakter. Syahrial menambahkan, kegiatan ini memiliki banyak nilai bagi pembentukan karakter anak, antara lain memberi p e l u a n g ke p a d a s i swa u nt u k m e n g e m b a n g k a n ke p r i b a d i a n ,

kreativitas, memperluas wawasan, watak kepeloporan, jiwa pionir, patriotisme, nasionalisme, idealisme, disiplin, kesederhanaan, kemandirian, dan tanggung jawab. Selain itu, juga untuk memberikan pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai perjuangan yang memberikan inspirasi dan motivasi untuk meneruskan perjuangan para pahlawan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan dalam NKRI.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

49

P

Sekolah
SMAN 1 Singaraja, Bali

M

ersoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam di masyarakat. Disinyalir, persoalan yang muncul saat ini akibat rendahnya pendidikan karakter. Oleh karena itu, SMAN 1 Singaraja, Bali, telah berupaya melaksanakan berbagai kegiatan ke arah pembentukan budaya positif dan pendidikan karakter. Salah satunya kegiatan yang dilaksanakan adalah “Bendera Award”. Tu j u a n ke g i a t a n i n i a d a l a h menanamkan nilai-nilai budaya bersih dalam rangka pembentukan sikap peduli lingkungan. Melalui kegiatan ini, semua warga sekolah senantiasa diminta menjaga kebersihan diri, kelas, dan lingkungannya masing-masing. Penilaian kebersihan dilaksanakan oleh OSIS. Hasilnya diumumkan setiap hari Senin ketika diselenggarakan upacara bendera. Kelas dan lingkungan yang mendapat predikat paling bersih diberikan award bendera hijau. Sedangkan kelas dan lingkungan

Award Budaya Bersih

terkotor diberikan award bendera hitam. Selanjutnya b e n d e ra t e s e b u t h a r u s dipajang di depan kelasnya selama satu minggu. Pembiasaan yang positif ini terbukti berimplikasi pada sikap siswa untuk senantiasa peduli terhadap diri, kelas, dan lingkungannya. Hal ini penting tidak hanya ketika mereka berada di

sekolah, namun diharapkan menjadi sebuah tradisi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sebagai indikatornya terbukti dari tingginya frekuensi kegiatan kemanusiaan bernuansa green and clean yang dirancang dan diikuti oleh seluruh warga sekolah.

engharap karunia dan rahmat Allah merupakan motto SMAN 8 Kota Ternate dalam mewujudkan visi “unggul dalam ilmu, iman, dan amal,” menjadi aksi “membentuk generasi cerdas, terampil, kreatif, dan berakhlak mulia”. Menurut Arifin, S.Pd, M.Si, Kepala SMAN 8 Kota Ternate, karunia dan rahmat Allah hanya bisa diraih dengan sikap komitmen dan konsisten dalam berusaha meraih keinginan untuk menjadi yang terbaik dan meyakini bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Allah yang terbaik untuk hambanya. “Oleh karena itu, sekolah kami melaksanakan kegiatan bertajuk “pembiasaan senantiasa mengharap karunia dan rahmat Allah”. Tujuan kegiatan ini adalah membentuk karakter siswa yang religius, suka bekerja keras, mandiri, kreatif, dan komitmen terhadap tugas yang merupakan tanggung jawab dalam meraih prestasi. “Adapun manfaat kegiatan ini bagi siswa antara lain mereka menjadi lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam meraih prestasi, lebih rajin beribadah,” kata Arifin. Anak-anak dibiasakan salat duha, salat duhur berjamaah, kultum atau ceramah agama, siraman rohani (bagi siswa yang beragama Kristen dan Konghucu), senantiasa berdoa, dan bernadzar “puasa atau sedekah” dalam setiap menghadapi tantangan, seperti ujian nasional, lomba, atau seleksi prestasi lainnya.

SMAN 8 Kota Ternate

Berkomitmen Menjadi yang Terbaik

50

SMAN 1 Tangerang

MAN I Tangerang yang terletak di jl Daan Mogot no 50 Tangerang Banten memiliki karakter dan budaya yang khas dalam menerapkan nilai-nilai seni pada anak didiknya, terutama seni tari. Hal ini dikatakan oleh salah satu pengajar di sekolah itu yang bernama Muhamad Munir, S.Pd. Menurut Muhamad Munir, SMAN I Tangerang mengajarkan tari Saman pada siswa-siswi Macksville High School pada saat melakukukan kunjungan ke sekolah itu pada 2008 dalam program sister’s school. “Hal mendasar yang membuat siswa d a n s i sw i S M AN I Ta n ge ra n g mengajarkan mereka tari saman adalah antusias mereka menonton pertunjukan tari saman yang siswa siswi kami tampilkan setelah acara itu mereka sangat berkeinginan untuk mengetahui tari apa itu, bagaimana gerakan gerakannya lalu mereka minta kami untuk mengajari gerakan-gerakan tari saman itu,” ujar Muhammad Munir Menjelaskan. M en u ru t M u h a m m a d M u n i r, Mereka dengan tekun mendengarkan pengarahan dan mengikuti gerakan gerakan tari tersebut, setelah latihan berulang ulang mereka pun mulai paham akan gerakan gerakan akan tari itu. Alangkah mengejutkan dan mengharukannya pada saat kunjunga kami yang kedua saat acara penyambutan ternyata mereka mempersembahkan tari saman yang dulu mereka pelajari dengan kelompok tarinya dengan gaya dan menggunakan kostum yang mirip penari aslinya. “Sungguh menakjubkan, Kami merasa bangga akan budaya bangsa sendiri kami juga sangat bangga akan pelestarian seni tari sehingga apa yang kita miliki masih menjadi kekaguman bagi bangsa lain Kami bangga menjadi orang Indonesia, Bravo Indonesia,” ujar Muhammad Munir gembira.

S

Menerapkan Pendidikan Karakter dan Budaya Lewat Tari Saman

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

51

Sekolah
SMAN 4 Gorontalo

MAN 4 Gorontalo menerapkan pendidikan karakter bangsa dan budaya melalui kegiatan ekstrakurikuler sekolah dengan tema khusus, yaitu Peningkatan Nilai-Nilai Imtak Siswa dalam Kehidupan Persekolahan. Kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan dengan tujuan: 1. Untuk mengembangkan akhkak terpuji dalam pembelajaran dan pencapaian cita-cita. 2. Menumbuhkan daya inovasi untuk m e n u n j a n g ke g i a t a n a k a d e m i k berlandaskan nilai-nilai budaya daerah dan agama. 3. Menggali, mengembangkan, serta menerapkan IPTEK dan keagamaan yang berguna bagi masyarakat. Kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan selama 4 hari. Jenis kegiatan meliputi debat kandungan Al’quran dalam bahasa Inggris dan Indonesia, Olahraga dan Kesenian. Kegiatan diikuti oleh perwakilan dari seluruh kelas XI sampai dengan Kelas XII. Kegiatan-kegiatan tersebut, telah memberi manfaat pada siswa. Selain menjadi wadah pengembangan minat dan bakat, juga menjadi motivator belajar siswa. Kegiatan juga memberi

S

Menguatkan Karakter melalui Debat Kandungan Al Quran

dampak positif dalam mengembangkan sikap dan perilaku siswa yang sesuai dengan budaya dan agama. Namun demikian, sedikit kendala selalu saja muncul, mulai dari masih adanya siswa yang kurang disiplin, keterbatasan dana, fasilitas minim, hingga waktu yang terbatas. Dan sejatinya, penerapan pendidikan karakter di sekolah yang beralamat di

Jalan Brigjen Piola Isa, Wongkaditi Kecamatan Kota Utara Kota Gorontalo itu sejalan dengan visi sekolah. Yaitu Terwujudnya SMA Negeri 4 Gorontalo sebagai sekolah pusat sumber belajar berbasis keunggulan lokal menuju sekolah berdaya saing internasional yang mampu menyiapkan siswa berwawasan IPTEK, dan memiliki IMTAQ sehat Jasmani dan Rohani.

52

SMAN 2 Balikpapan

D

Memberdayakan Hari Senin dan Sabtu

alam upaya membentuk karakter siswa, SMAN 2 B a l i k p a p a n menyelenggarakan sejumlah kegiatan, antara lain kantin kejujuran, pembacaan kitab suci Al Quran setiap pagi, unjuk kompetensi, dan Sabtu bersih. Kantin kejujuran SMAN 2 Balikpapan sudah berlangsung sejak tahun ajaran 2009/ 2010. “Tujuan kegiatan ini untuk menanamkan sikap kejujuran dan bertanggungjawab, serta melatih jiwa berwirausaha. Setiap hari Senin saat upacara bendera, p el aksan aan kegi atan i n i dievaluasi, terutama tentang jumlah barang yang terjual dan jumlah uang yang masuk,” kata Drs. H. Totok Ismawanto, M. MPd, Kepala SMAN 2 Balikpapan. Kegiatan pembacaan kitab suci Al-Qur’an dilakukan setiap pagi selama 15 menit sudah berlangsung sejak 2006. Tujuannya antara lain untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan seluruh civitas sekolah, menanamkan keyakinan diri bahwa setiap manusia wajib berusaha, namun Tuhan yang menentukan. Selama 15 menit dari jam 07.15 s.d. jam 07.30, seluruh siswa, guru, dan karyawan membaca kitab sucinya masing-masing. Kegiatan lain yang dilaksanakan adalah unjuk kompetensi, yang berlangsung sejak tahun ajaran 2008/2009. Tujuannya meningkatkan kreativitas siswa, melatih percaya diri siswa tampil di depan umum, serta melatih tanggungjawab dan kebersamaan kelompok. Setiap kelas s e ca ra b e rg i l i ra n m e n a m p i l ka n kreativitas siswa secara individu atau kelompok di depan peserta upacara Senin pagi. Unjuk kompetensi yang ditampilkan bisa berupa pidato bahasa Inggris/bahasa asing, tari, vokal group, operet singkat, dan lain-lain.

Selain itu, juga dilaksakan kegiatan Sabtu bersih, Kegiatan ini dilaksanaan sejak tahun ajaran 2010/2011, sebagai pengganti dari kegiatan Jumat bersih. Tu j u a n n y a a n t a r a l a i n u n t u k m e n go pt i m a l ka n m o to S M AN 2 Balikpapan Be Religious, Be Smart and

Have Fun, mengoptimalkan keyakinan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, mengoptimalkan rasa ikut memiliki (sense of belonging), dan meningkatkan kerjasama dan kebersamaan dalam kelas.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

53

P

Sekolah
SMAN 5 Palembang

enanaman nilai dan karakter antara lain dilakukan melalui kegiatan yang dibiasakan dalam keseharian yang bersifat informal, menyentuh dan menyenangkan, dengan dilandasi hubungan kemanusiaan, cinta kasih dan kedamaian. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan di SMAN 5 Palembang a d a l a h m e nya p a s i s wa d e n ga n memberikan salam, penghormatan, serta berjabat tangan dengan ekspresi bersujud di antara anak dengan orang tua. Pe n a n a m a n n i l a i s e p e r t i i n i diharapkan berkesan, dikenang dan diimplementasikan oleh segenap peserta didik di mana pun ia berada. Suasana damai, cinta kasih dan p e n g h o r m ata n ke p a d a h a r kat kemanusiaan ini jika meluas, menyeluruh dan terus-menerus kita laksanakan akan memberikan ciri bangsa ini adalah bangsa yang beradab, beretika dan penuh dengan suasana kasih dan sayang. Pada akhirnya budaya dan karakter bangsa akan terbentuk melalui proses penanaman nilai-nilai yang salah satunya adalah dengan cara bersalaman dan memberi penghormatan atau salam. S e l a i n i t u , s e ko l a h i n i j u ga menyelenggarakan kegiatan Latihan Disiplin Siswa bagi siswa kelas X (sepuluh). Secara umum kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kedisiplinan kepada peserta didik yang selanjutnya mereka akan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Program latihannya memadukan antara aktivitas fisik seperti latihan baris-berbaris, latihan upacara, senam jasmani, dan lain-lain. Di samping itu juga terdapat latihan mental berupa ketepatan waktu, kecepatan bergerak, kesigapan, kerapian, dan keserasian antara gerak dan pikiran. Manfaat kegiatan ini antara lain kesadaran mematuhi disiplin dan tata tertib sekolah, disiplin dan mematuhi tata tertib berlalulintas, dan berbagai budaya disiplin di masyarakat. Yang juga tidak kalah penting adalah kegiatan pengucapan janji siswa setiap upacara Senin pagi. Janji siswa itu

Bersalaman, Latihan Kedisiplinan, dan Janji Siswa

mencakup: setia kepada Pancasila, UUD1945 dan NKRI; mematuhi tata tertib sekolah; menjaga panji-panji nama baik sekolah; menjaga pergaulan antarsiswa sebagai satu keluarga; menjaga kebersihan lahir dan batin sebagai siswa generasi muda penerus perjuangan; dan tidak akan terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, tawuran dan seks bebas.

54

SMAN 4 Malang

Mengandalkan Tiga Kegiatan

rogram pendidikan karakter di SMAN 4 Malang, Jawa Timur, mengandalkan tiga kegiatan penting, yakni Kantin Kejujuran, Positive Character Camp (PCC), dan Lomba Budi Pekerti. Menurut Kepala SMAN 4 Malang, Drs. H. Tri Suharno, M.Pd, program kantin kejujuran bertujuan untuk melatih siswa berperilaku jujur, memiliki sikap tanggung jawab dan mampu mengontrol diri sendiri, menanamkan nilai-nilai kemandirian, serta taat dan patuh pada norma, tatib dan ketentuan yang berlaku di sekolah maupun masyarakat. Tahapan pelaksanaan kegiatan kantin kejujuran meliputi: penyiapan daftar siswa yang akan bertugas untuk piket, menyiapkan persedian barang dagangan yang akan dijual, melaksanakan pembagian tugas tim, mendata siswa yang akan membantu piket, menyediakan uang kembalian, mencatat jumlah barang yang dibeli, membuat laporan hasil penjualan harian, dan membuat laporan hasil penjualan setiap bulan. Positive character camp (PCC) adalah kegiatan penanaman karakter positif melalui kemah siswa secara langsung dalam kehidupan masyarakat desa. Tujuannya antara lain melatih siswa untuk menyelami kehidupan masyarakat desa serta menanamkan nilai-nilai kemandirian dan kesetiakawanan sosial. Kegiatan dilakukan hari Sabtu setelah pulang sekolah sampai Minggu pagi. “Usai kegiatan, para siswa membuat laporan singkat,” kata Suharno. Selain itu, sekolah yang berdiri sejak 1958 ini juga menggelar lomba budi pekerti. Kegiatan ini membawa hasil yang cukup membanggakan. Saat mengikuti lomba budi pekerti tingkat provinsi, SMAN 4 Malang berhasil meraih juara 3. Penghargaan berupa trophy diterima A. Zaini, Wakil Kepala SMAN 4 Bidang Humas, pada 24 Januari lalu. Juara 1 dan 2 masing-masing diraih SMKN 3 Malang dan SMKN 1 Boyolangu, Tulungagung.

P

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

55

Sekolah
SMAN 1 Sambi Boyolali

Membumikan Karakter Luhur Bangsa
ebagai sekolah yang menjadi pilot project pendidikan budaya dan karakter bangsa di Kabupaten Boyolali, SMA Negeri 1 Sambi, yang saat ini dipimpin Dra Tutik Mulyati,M.Pd selangkah lebih awal menginternalisasi setiap nilai ke dalam perilaku setiap komponen sekolah. “Membumikan karakter dan nilai-nilai luhur bangsa sebagai suatu keharusan sehingga menjadi perilaku yang tumbuh dalam diri setiap siswa sudah sangat mendesak untuk dilaksanakan,” ujar Dra. Tutik Mulyati tegas. Komitmen seluruh warga sekolah bahwa SMA Negeri1 Sambi harus bisa menebar virus positif agar nilai nilai luhur kepribadian bangsa semakin tumbuh subur di Boyolali. Satu tahun terakhir ini, SMA 1 Sambi telah melaksanakan kegiatan integrasi kurikulum, yang secara eksplisit memasukkan pendidikan budaya dan karakter bangsa di dalam pembelajaran pada setiap matapelajaran. sudah dilegalisasi kepala sekolah dan pengawas sekolah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Boyolali. Sedangkan kegiatan rutin yang dilakukan adalah melaksanakan upacara bendera setiap hariSenin, tanggal 17, dan hari-hari besar kenegaraan dan Mengumandangkan lagu-lagu nasional sebelum, saat jeda, dan usai pembelajaran. Sedangkan kegiatan incidental diantaranya bersama pengurus OSIS mengadakan sweeping terhadap ketertiban seragam dan handphone. Disamping kegiatan rutin ada juga kegiatan lainnya yaitu kegiatan insidental denga cara menumbuhkan tanggung jawab dan menghidupkan team work,sedangkan kegiatan pembudayaan, melalui pembudayaan program Lima S” Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan santun, menghidupkan suasana religious dengan sholat Dhuha, mempersiapkan spiritualitas dengan do’a saat memulai dan mengakhiri pelajaran, serta membudayakan panca tertib yaitu tertib waktu, tertib mengajar, tertib Administrasi dan Tertib Lingkungan.

S

SMAN 2 Ungaran Semarang

P

Menyatu dalam Pembelajaran dan Ekstrakurikuler

endidikan karakter di SMA Negeri 2 Ungaran, S e m a ra n g d i b e r i ka n d a l a m u p aya merangsang tumbuhnya perilaku positif dalam membangun hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Adapun jenis kegiatan yang diadakan meliputi rohani Islam masjid, paskibra, kepramukaan, olah raga dan seni, penelitian ilmiah remaja maupun saint dan teknologi. Melalui kegiatan tersebut diharapkan terbangun nilai-nilai seperti sikap taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, disiplin, cinta tanah air, budaya sportif dan cinta keindahan, serta pengembangan ilmu pengetahuan yang akan sangat bermanfaat masa depan para siswa. Pelaksanaan kegiatan di SMA Negeri 2 Ungaran dilakukan secara integral dengan kegiatan pembelajaran ataupun melalui kegiatan ekstrakurikuler. Para siswa diarahkan untuk aktif mengikuti satu atau lebih kegiatan yang diadakan sekolah melalui unit kegiatan yang telah dibentuk. Dengan bantuan para guru pembimbing para siswa dilatih untuk dapat mengembangkan kemampuannya secara optimal sesuai dengan minat masing-masing.

56

Membangun Kepribadian Siswa Mandiri dan Berakhlak Mulia

SMKN 8 Bandung

P

ada awal masuk, siswa kelas X dibina melalui MPLS serta pelatihan Out Bound bekerja sama dengan Sesko Tentara Nasional Indonesia dan melakukan pelatihan Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Secara rutin pula di SMK Negeri 8 melakukan Upacara Bendera setiap hari senin, dan Upacara untuk memperingati Hari Besar Nasional, selain itu pula secara rutin tiap hari Jumat melaksanakan Senam Gembira dan Jumsih (Jumat Bersih) yang diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan staf TU. Dalam kegiatan-kegiatan tersebut secara langsung proses pembinaan akhlak mulia dan pembentukan karakter bangsa kepada siswa diberikan. Selain kegiatan rutin tesebut di atas, secara tentative pembinaan terhadap siswa secara terus menerus dilakukan apabila ada hal-hal yang mendesak dan perlu, sebagai contoh apabila ada masalahmasalah yang darurat di lingkungan masyarakat yang secara langsung atau tidak langsung berdampak pada siswa, misalnya masalah geng motor, penyalah gunaan narkotik dan obat –obat terlarang, tawuran dan lain sebagainya. Hal lain mengenai pembinaan akhlak mulia dan karakter bangsa di SMK Negeri 8 juga dilakukan training Motivasi, Hypnotherapy, sampai pada pelaksanaan Psycho Test, di samping pembinaan ekstrakurikuler untuk lebih meningkatkan pembinaan kepribadian siswa agar lebih mandiri dan berakhlak mulia baik.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

57

Sekolah
SMKN Cilaku Cianjur

Tak Pernah Tawuran

D

alam pembelajaran pembentukan karakter, tiap sekolah mememiliki cara berbeda-beda. Namun intinya sama, yaitu mengarahkan dan mengawal siswa memiliki kepribadian dan jati diri serta kekuatan karakter. Di SMKN 2 Cianjur, Jawa Barat, pembelajaran pembentukan karakter dilakukan kegiatan Bimbingan Akhlakul Karimah. Diwujudkan dengan melakukan salat dhuha bersama di sekolah pada hari Sabtu. Setelah salat dhuha dilanjutkan kegiatan tausiah atau siraman rohani tentang akhlak mulia. Penceramahnya berasal dari kalangan yang punya peran terhadap pembentukan akhlak mulia. Mulai dari Dinas Kesehatan, Kantor Lingkungan Hidup, Polres, Kodim, Dinas Perhubungan, Kantor Pemberdayaan Perempuan, dan lain-lain. Semuanya ditujukan pada upaya untuk meningkatkan kesadaran warga sekolah terhadap pentingnya berakhlak mulia dalam berkehidupan sehari-hari. Mulai dari ketika bersama anggota keluarga di rumah, bersama teman-teman permainan, bahkan ketika berkendara di jalanan. Pengetahuan yang didapatkan pada setiap hari Sabtu diimplementasikan di antaranya dalam bentuk, rajin dan tepat waktu beribadah, sadar kebersihan lingkungan, sadar keberagaman, sadar ke b a n g s a a n , s a d a r p e n t i n g n y a kemandirian, sadar akan pentingnya kejujuran, sadar akan pentingnya keterbukaan dan lain-lain. Melalui kegiatan tersebut, SMKN 2 Cianjur berhasil menjauhkan siswanya dari budaya tawuran pelajar. Siswa sekolah ini juga tidak memiliki rekam jejak dalam kenalakan remaja. Sebaliknya, hampir tiap bulan ada trophi yang dipersembahkan ke sekolah, buah dari prestasi siswa.

58

SMKN 2 Jiwan Madiun

Mengantar Siswa ke Dunia Industri

N

ilai-nilai akhlak mulia yang menjadi karakter seseorang dibiasakan dengan gerakan ”kembali ke rumah”. Hati manusia itu bagaikan rumah. Siswa diajak kembali ke rumah sebagai pusat dan sumber energi segala aktivitas. Yang dinilai dalam pendidikan karakter, terutama perilaku atau pembiasaan, bukan pemahaman. Pembiasan pendidikan karakter di sekolah, antara lain: 1. Kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) untuk menyiapkan karakter siswa yang dibutuhkan sekolah maupun industri, serta membentuk memupuk sikap kreativitas dan semangat berkarya. Materi MOS adalah outbond dan gathering dipandu dan difasilitasi tim Instruktur berpengalaman. 2. Pelatihan baris berbaris, untuk menanamkan rasa nasionalisme, persatuan dan kesatuan, memupuk jiwa tangguh dan meningkatkan animo pelajar dalam hal barisberbaris. 3. Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa, s e b a g a i s a ra n a t e p a t u n t u k membangun sistem pengkaderan kepemimpinan yang terpadu. OSIS menjadi wahana untuk menampung dan menyalurkan kreativitas, baik melalui kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. 4. Jumat Bersih, dilaksanakan setiap Jumat pada pekan kesatu dan ketiga, pada jam pertama pelajaran. Slogannya mewujudkan Clean and Green School. 5. S e n a m k e s e g a r a n j a s m a n i , dilaksanakan setiap Jumat pada pekan kedua dan keempat untuk menjaga kesegaran, kebugaran, dan menghilangkan kepenatan.

6. Pada jam istirahat diperdengarkan lagu lagu nasional. 7. Upacara bendera setiap Senin, dan Hari Besar Nasional merupakan bagian dari interaksi edukatif dan sarana efektif menumbuhkembangkan nilai-nilai karakter tertentu. 8. Membaca Al Quran (Tadarus) dilakukan siswa muslim setiap pagi. 9. Ekstrakurikuler adalah kegiatan nonakademik sebagai wadah siswa mengembangkan kreativitas sesuai bakat dan minat. 10. Melaksanakan budaya 5 S yaitu Salam, Senyum, Sapa, Sopan, Santun di antara semua warga sekolah 11. Menumbuhkan budaya apresiasif konstruktif 12. Berpikir objektif komprehensif 13. Menghidupkan kembali budaya dan karakter bangsa jujur dan berakhlak mulia. 1 4 . G u r u j u ga b e r p e ra n d a l a m

membentuk kejujuran, kedisiplinan, ketekunan dan toleransi. Berbagai pembiasaan kegiatan itu diharapkan mampu menciptakan suasana kerja yang cool of gathering dan suasana belajar yang kondusif. Pendidikan karakter dapat mewujudkan korelasi positif antara soft skill dan hard skill sebagai modal siswa berkompetisi di dunia kerja. Dibutuhkan guru yang cerdas, kreatif, memiliki integritas, komitmen tinggi, dan mengajar siswa dengan hati. Guru harus meninggalkan metode lama mengajar yang hanya sekadar mengejar target kurikulum . Guru dituntut kembali mengajar seperti falsafah yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara, yakni ing ngarso sing tulodo, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani. Guru yang bukan hanya mengajar, tapi juga mendidik.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

59

Sekolah

SMKN 8 Jakarta

Melatih Kepemimpinan dan Kewirausahaan
MK Negeri 8 Jakarta menaruh perhatian besar terhadap pendidikan karakter untuk mewujudkan peserta didik yang terpelajar dan berprestasi. Remaja yang mampu mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang bermanfaat untuk masa depannya, dan mampu menjauhkan diri dari perbuatan yang merugikan dirinya dan orang banyak. Untuk merealisasikan hal tersebut, salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah Latihan Dasar Kepemimpinan kelas X (siswa baru). Menurut Dra. Hj. A. Eryatun Koswara, M.Pd, Kepala SMKN 8 Jakarta, kegiatan LDK tersebut bertujuan untuk membina peserta didik agar dapat tumbuh menjadi pelajar dan pemuda yang bertanggung jawab, disiplin pada tata tertib yang disepakati bersama, sopan santun dalam bergaul dan berkomunikasi, serta memiliki kekuatan fisik dan mental. “Melalui kegiatan ini, diharapkan setiap peserta didik dapat membekali diri dengan wawasan, pengetahuan dan sikap sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh seorang pelajar” katanya. Untuk tahun 2011, kegiatan LDK tersebut dilaksanakan bekerjasama dengan Rindam Jaya. Kegiatan yang dilaksanakan di Rindam Jaya itu berlangsung tanggal 7 – 8 Januari lalu. SMKN 8 juga menggelar kegiatan “Praktek Mengelola Usaha”. Kegiatan ini bertujuan untuk memberi bekal dan menumbuhkembangkan sifat-sifat dan jiwa kewirausahaan kepada peserta didik. Sifatsifat karakter dan budaya bangsa yang ditanamkan dalam kegiatan ini antara lain: tanggung jawab, jujur, kreatif, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, komunikatif, dan kepedulian sosial. Selain dua kegiatan tersebut, SMKN 8 Jakarta juga rutin menggelar kegiatan bertajuk Roleplay Akhlakul Karimah, yang dibimbing salah seorang guru bernama Dra. Hj. Iim Halimah. Kegiatan ini bertujuan memberikan contoh-contoh perbuatan yang menunjukan sikap-sikap seorang muslim/muslimah yang baik. Kegiatan ini sangat berguna bagi pembentukan karakter siswa.

S

60

SMKN 48 Jakarta

Menanam benih jiwa Wirausaha
ekolah Menengah Ke j u r u a n N e g e r i 4 8 Jakarta beralamat di Jalan R a d e n I nta n I I N o . 3 Buaran Duren Sawit Jakarta Timur adalah SMK yang berhasil menanamkan jiwa wirausaha pada murid-muridnya. Bahkan dalam upaya mengembangkan Teaching Industry & Business Center, SMK Negeri 48 Jakarta telah bekerjasama dengan PT. Zyrexindo Mandiri Buana melakukan perakitan Laptop, Notebook dan Komputer dengan merk SMK-ZYREX. SMK-ZYREX adalah merk bersama hasil Cooperation Brand (Co Branding) dimana PT. Zyrexindo Mandiri Buana bertindak sebagai supplier komponen Personal Computer dan Notebook, sedangkan proses perakitan menjadi PC dan Notebook dan install software dilakukan 100 % oleh guru dan siswa SMKN 48 Jakarta. Nilai-nulai yang ditanamkan dalam menerapkan jiwa wirausaha diantara pertama adalah memiliki sense of economy atau memiliki sistem nilai ekonomi dengan cara memahami barang

S

dan jasa yang berharga,Cost-Benefit, Cost Effectiveness dan Memiliki naluri bisnis. Kemudian yang kedua adalah memiliki semangat penjelajah dengan ciri-ciri berkemauan kuat menemukan sesuatu yang baru,Tidak senang dengan keadaan status quo, senang menghadapi tantangan, tidak mengenal istilah kapok, menggunakan kegagalan sebagai batu loncatan untuk berhasil dan mengejar kepuasan melalui keberhasilan. Kreatif, menciptakan peluang dan berjiwa mandiri juga merupakan nilainilai yang harus dimiliki untuk menjadi wirausaha profesional. Aspek yang tidak kalah penting juga untuk menjadi wirausaha mandiri adalah dengan berfikir positif dengan cara: meyakini, bahwa di setiap masalah ada hal positifnya, meyakini memiliki kemampuan mengatasi setiap masalah yang digadapinya,Tidak mensugesti diri dengan pernyataan ekstrim negatif dan meyakini bahwa keberuntungan hanya datang bagi orang yang berniat baik.

FORUM TENDIK

Edisi 1/Tahun I/Maret2011

61

Sekolah
SMKN Tanjungpinang

Menerapkan 7 Nilai Utama
a l a h s a t u s e ko l a h y a n g merupakan piloting sekolah Karakter adalah SMK Negeri 1 Tanjungpinang Prov. Kepulauan Riau. Sekolah yang beralamat di Jalan Pramuka No 6 kota Tanjungpinang itu juga merupakan sekolah RSBI. SMK I Tanjung Pinang adalah sekolah tertua di kota Tanjungpinang. Berbagai prestasi telah ditorehkan oleh para siswa dan menjadi kebanggaan kota Tanjungpinang. Saat ini ada enam program keahlian yaitu: Akuntansi, Pemasaran, Sekretaris, Usaha Jasa Pariwisata (UJP), Teknik Komputer dan Jaringan dan Multimedia. Saat ini SMK I Tanjung Pinang memiliki siswa 1060 berjumlah orang. Ada tujuh nilai-nilai pendidikan karakter di SMKN 1 adalah Religius, 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun), Disiplin, Jujur, Tangguh, Peduli, dan Bersih. Religius ditunjukkan dengan patuh menjalankan kegiatan keagamaan. 5 S, dilaksanakan setiap datang dan pulang sekolah semua siswa bersalaman dengan guru dan sesama guru. Displin, yaitu tindakan yang menunjukkan

S

perilaku tertib dan patuh pada b e r b a g a i ke t e n t u a n d a n peraturan sekolah,misalnya menggunakan pakaian seragam yang sesuai dan rapi,hadir tepat waktu, menyelesaikan PR rumah dan tugas-tugas sekolah tepat waktu. Jujur,merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya dalam perkataan,tindakan, dan pekerjaan. Hal tersebut harus diterapkan misalnya tidak mencontek jika sedangan ulangan, tidak berbohong,tidak mengambil barang milik orang lain dan mengumumkan barang hilang yang ditemukan. Tangguh,yaitu dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu meskipun menghadapi tantangan dan hambatan.Selalu mempersiapkan diri dengan maksimal dalam menempuh ujian atupun berbagai perlombaan sehingga memperoleh prestasi yang membanggakan Peduli, yaitu berpartisipasi memberikan sumbangan pemikiran atau pun materi untuk menyelesaikan kegiatan bersama guna mencapai tujuan bersama. Bersih, merupakan sikap yang memperhatikan kebersihan diri ,kelas,dan lingkungan.Hal ini dapat tercermin dari penampilan yang rapi dan bersih,ruang kelas yang sehat,suasana lingkungan sekolah yang beriman (bersih,rapi,indah dan nyaman).

eragam media informasi dengan cepat menyajikan perubahanperubahan dan peradaban baru yang terjadi di berbagai belahan bumi. Tak luput, peradaban buruk dan menyimpang dari norma agama juga deras mengalir. Hanya kekuatan akhlak yang dapat menjadi benteng penghalau. Karena itu, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta menempatkan penguatan akhlak sebagai nafas utama proses belajar mengajarnya. Sekolah yang sudah bergelar RMBI (Rintisan Madrasah Bertaraf Internasional) ini menerapkan pembelajaran sistem boarding school atau sekolah berasrama. Dengan demikian siswa tetap terkontrol segala perilakunya. Siswa MAN 1 Surakarta juga makin mudah diarahkan dalam pembudayaan kehidupan

B

Menguatkan Akhlak melalui Aromaniska

MAN 1 Surakarta

sekolah secara islami. Semakin molek, lantaran siswa MAN 1 Surakarta tampil sebagai insan yang haus akan ilmu pengetahuan. Berbagai nilai akhlak mulia diberikan secara integrasi melalui semua kegiatan dan materi pembelajaran. Dibudayakan sikap saling taawun atau ringan tangan. Juga saling sapa terhadap sesama dengan tutur yang santun dan menghargai. Selain itu siswa di sekolah yang beralamat di Jl. Sumpah Pemuda no 25, Banjarsari Kota Surakarta, Jawa Tengah itu juga biasakan untuk peduli lingkungan dan sosial, seperti melakukan penggalangan dana untuk bencana alam. Sekolah ini juga memiliki program andalan yang menjadi khas MAN 1 Surakarta, yakni Aromaniska atau Aksi Ramadhan OSIS MAN 1 Surakarta. Kegiatannya adalah berlatih dakwah. Juga ada program CDR atau Camping Da’wah Ramadhan. Drs. M.haRIyaDI PURwaNTO, Mag Kepala MaN 1 Surakarta

62

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->