P. 1
2011 Ped Tek Pengembangan Irigasi Air Permukaan 2011

2011 Ped Tek Pengembangan Irigasi Air Permukaan 2011

|Views: 873|Likes:
Published by Muhammad Albar

More info:

Published by: Muhammad Albar on Sep 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2013

pdf

text

original

PT-PSP C 1.

2 - 2011

PEDOMAN TEKNIS

PENGEMBANGAN AIR PERMUKAAN

DIREKTORAT PENGELOLAAN AIR IRIGASI
DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2011

RESUME Pengembangan air permukaan adalah pengembangan sumber-sumber air yang terdapat di permukaan sebagai sumber irigasi untuk kegiatan budidaya pertanian dan kegiatan peternakan. terjunan 1) air, Sumber-sumber dan aliran air permukaan Jenis yang dapat untuk dimanfaatkan seperti air bekas galian tambang/air kolong, sungai. kegiatan pengembangan air permukaan meliputi : Kincir air, yaitu pengambilan air menggunakan alat yang berbentuk roda yang mempunyai poros dan jari-jari dan di lingkaran bagian luar terdapat tabung pengangkut air, kincir air mempunyai ukuran/diameter yang disesuaikan dengan kondisi lapangan, 2) Pompanisasi, yaitu upaya mengambil air dari sumber air permukaan yang diangkat dan didistribusikan dengan mempergunakan pompa air, 3) Hidram, yaitu mengambil air dari sumber air permukaan dengan menaikkan air dari tempat yang lebih rendah ke tempat hidram yang 8 m, lebih tinggi dengan air memanfaatkan yang dapat elevasi/beda ketinggian minimal dari sumber air ke pompa dimana ketinggian diangkat/dipompakan sampai dengan 400 meter dari sumber air,
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

4)

Pipanisasi,

yaitu

pendistribusian

air

secara

tertutup

dengan sistem gravitasi. Khusus disesuaikan Sebagai untuk dengan kegiatan kebutuhan pipanisasi dan hidram, daerah. RAB,

perhitungan Rancanagn Anggaran dan Biaya (RAB) dapat masing-masing perhitungan contoh bila berdasarkan

anggarannya melebihi dari unit cost per unitnya (>50 jt/unit), maka pada satu lokasi dapat diberikan beberapa unit sesuai RAB.

i

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

ii

KATA PENGANTAR

potensi

daerah

yang

berdampak

pada

beragamnya

perkembangan teknologi irigasi yang berkembang di setiap Sampai saat ini air permukaan masih merupakan sumber air yang memberikan konstribusi terbesar untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik untuk memenuhi kebutuhan langsung hidupnya maupun sebagai sumber air irigasi untuk kegiatan budidaya pertanian (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan maupun peternakan). Dengan demikian pemanfaatan air permukaan sebagai sumber air irigasi perlu dikelola dengan baik sesuai dengan potensinya sehingga dapat dimanfaatkan secara lestari. Pedoman Teknis untuk Pengembangan Air Permukaan ini disusun panduan bagi pelaksana di tingkat daerah. Perbedaan budaya, kondisi sosial ekonomi petani maupun kondisi fisik geografis akan menyebabkan adanya pemilihan teknologi pemanfaatan sumber air permukaan yang berbeda pula. Selanjutnya Pedoman Teknis ini harus dijabarkan lebih lanjut dalam Petunjuk Pelaksanaan oleh Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Propinsi dan Petunjuk Teknis oleh Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten/Kota yang disesuaikan dengan kondisi dan potensi di daerah masingmasing. Akhirnya harapan kami semoga pedoman ini dapat bermanfaat sebagai acuan dasar dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan air permukaan sehingga harapan masyarakat petani terhadap ketersediaan air irigasi dapat dipenuhi. Jakarta, Januari 2011

memberikan

lapangan agar dapat melaksanakan kegiatan pengembangan air permukaan dengan lebih baik. Pedoman ini memuat arahan secara garis besar tentang persyaratan pemilihan lokasi & petani/kelompok, bentuk sumber air permukaan dan jenis-jenis kegiatan, tata cara pelaksanaan maupun sistem monitoring dan evaluasinya. Dengan disusunnya pedoman ini diharapkan adanya kesamaan pemahaman antara aparat Pusat-Propinsi-Kabupaten/Kota kondisi dan dalam melaksanakan kegiatan pengembangan air permukaan. Hal ini perlu dilakukan mengingat beragamnya
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

Direktur Pengelolaan Air,

Ir. Prasetyo Nuchsin, MM NIP. 19570903 198503 1 001

iii

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

iv

DAFTAR ISI RESUME KATA PENGANTAR DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ................................................. 1 B. Tujuan dan Sasaran.......................................... 2 C. Pengertian ....................................................... 3 PEMILIHAN LOKASI PETANI/KELOMPOK TANI… 6 A. Pemilihan Lokasi ............................................... 6 B. Pemilihan Petani/Kelompok Tani ....................... 7

V.

MONITORING DAN EVALUASI ............................ A. Indikator Kinerja .............................................. B. Monitoring dan Evaluasi .................................... C. Pelaporan ........................................................ D. Pengendalian ...................................................

38 38 39 40 41

DAFTAR PUSTAKA 1

II.

III. BENTUK-BENTUK SUMBER AIR DAN JENIS KEGIATAN ............................................................ 9 A. Sumber Air Permukaan ..................................... 9 B. Jenis-Jenis Kegiatan ......................................... 12 IV. PELAKSANAAN ..................................................... A. Survai, Investigasi dan Desain Sederhana .......... B. Pola Pelaksanaan Konstruksi/Pengembangan Air Permukaan ................................................. C. Operasi dan Pemeliharaan ................................ D. Prinsip, Kebijakan dan Strategi .......................... E. Pembiayaan ..................................................... 30 30 33 34 34 36

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

v

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

vi

I.

PENDAHULUAN

B. Tujuan dan Sasaran 1. Tujuan Tujuan kegiatan pengembangan air permukaan adalah :

A. Latar Belakang Dalam kegiatan

budidaya

pertanian

baik

dalam

a.

Memanfaatkan potensi sumber air permukaan sebagai air irigasi; air minum & sanitasi untuk budidaya ternak;

pengembangan tanaman pangan, hortikultura, peternakan maupun perkebunan; ketersediaan air irigasi merupakan faktor yang sangat strategis. Tanpa adanya dukungan ketersediaan air yang sesuai dengan kebutuhan baik dalam dimensi jumlah, mutu, ruang maupun waktunya, maka dapat dipastikan kegiatan budidaya tersebut akan berjalan dengan tidak optimal. Air permukaan dan air tanah merupakan sumber air utama yang digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pertanian, industri, rumah tangga dan kebutuhan2. kebutuhan lainnya. Namun demikian sampai saat ini c. d. b.

Meningkatkan ketersediaan air irigasi sehingga dapat menjamin pasokan air dalam berusaha tani secara umum (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan); Meningkatkan luas areal tanam, indeks pertanaman (IP) dan produktivitas usaha tani ; Meningkatkan produksi pertanian, pendapatan dan kesejahteraan petani.

Sasaran a. Terbangunnya pengembangan air permukaan sebagai irigasi untuk mengairi lahan pertanian; sebagai sumber air minum dan sanitasi ternak; b. c. Meningkatnya ketersediaan air irigasi untuk usaha tani; Meningkatnya luas areal tanam, indeks pertanaman dan produktivitas usaha tani;

sebagian besar kebutuhan air masih mengandalkan dari sumber air permukaan. Oleh karena itu sumber air permukaan perlu dikelola dengan baik sehingga mampu memberikan pertanian. Dengan adanya pedoman teknis ini diharapkan sumber air permukaan dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

manfaat

bagi

pengembangan

sektor

1

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

2

d.

Meningkatnya produksi pertanian, pendapatan dan kesejahteraan petani.

5.

Prinsip/cara kerja pompa hidram adalah bekerja dengan sistim pemanfaatan tekanan dinamik atau gaya air yang timbul karena adanya aliran air dari sumber air ke pompa, gaya tersebut dipergunakan untuk menggerakan katup yang bekerja dengan frekwensi tinggi, sehingga diperoleh gaya besar untuk mendorong air ke atas.

C. Pengertian 1. Air Permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah (sungai, danau, mata air, terjunan air). 2. 3. Air Tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. Pompa adalah suatu alat yang terdiri dari impeler dan cassing yang berfungsi untuk mengalirkan fluida dari potensial rendah ke potensial tinggi dengan 7. menggunakan gerak putaran dari blades (sudu) dan mempunyai arah aliran yang sejajar dengan sumbu porosnya. Pompa yang biasa digunakan didalam bidang pertanian adalah pompa tipe sentrifugal, yaitu pompa yang digerakan oleh sebuah mesin bensin atau diesel. 4. Pompa Hidram adalah suatu alat yang digunakan untuk memompa dengan cara menaikkan air dari tempat yanglebih rendah ke tempat yang lebih tinggi dengan hasil guna tinggi dimana mampu mengalirkan air secara terus menerus selama dua 24 jam pada ketinggian sampai dengan 400 meter dari sumber air.
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

6.

Pipanisasi, adalah cara/metode pendistribusian air irigasi dengan memanfaatkan saluran yang terbuat dari pipa pvc maupun campuran beton. Dalam irigasi ini jaringan pipa dapat dilengkapi dengan bak-bak penampung. Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk menunjang usaha pertanian, yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah & irigasi tambak.

8.

Sumber air adalah tempat/wadah air alami dan atau buatan yang terdapat pada, diatas ataupun di bawah permukaan tanah.

9.

Koordinat : letak/posisi suatu wilayah berdasarkan garis lintang, garis bujur dan ketinggian diatas permukaan laut.

3

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

4

10. Kincir Air adalah alat yang terbuat dari besi berbentuk roda dengan berputar dapat mengambil dan memindahkan air dari aliran air sungai.

II. PE MILIHAN LOKASI PETANI/KELOMPOK PETANI Dalam pengembangan air permukaan, ada dua faktor penting yang perlu diperhatikan agar kegiatan ini dapat berhasil dengan baik. Faktor tersebut adalah : (a) pemilihan lokasi dan (b) pemilihan petani/kelompok tani. A. Pemilihan Lokasi Pemilihan lokasi memperhatikan hal-hal sebagai berikut : Mempunyai potensi sumber air permukaan, baik kuantitas maupun kualitasnya, yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan irigasi. Sering mengalami kendala/kekurangan air irigasi terutama pada musim kemarau (untuk usahatani tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan). Diprioritaskan pada lokasi lahan sawah tadah hujan dan lahan kering kawasan untuk tanaman hijauan pangan, makanan peternakan hortikultura, dan perkebunan. peternakan, merupakan digunakan kawasan Untuk kawasan

ternak, air minum ternak, dan sanitasi ternak pengembangan yang memerlukan air sebagai air minum dan sanitasi

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

5

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

6

ternak serta pengairan irigasi untuk hijauan makanan ternak. Lokasi yang telah ditetapkan agar dicatat koordinat geografisnya yang meliputi lintang, bujur dan ketinggian lokasi di atas permukaan laut (dpl) menggunakan Global Positioning System (GPS), hal ini bertujuan untuk menentukan lokasi kegiatan secara akurat. B. Pemilihan Petani/Kelompok Tani Pemilihan 1. Petani petani/kelompok di lokasi tani memperhatikan air irigasi dan persyaratan sebagai berikut : memerlukan memanfaatkan mampu/bersedia baik. 2. Diutamakan telah terbentuk Kelompok Tani/P3A, bila belum ada agar segera membentuknya sebelum penetapan lokasi. 3. Mampu dan bersedia menyediakan dana operasional & pemeliharaan secara berkelompok. 4. Petani/kelompok tani terpilih belum pernah mendapat bantuan sejenis. 5. Diprioritaskan pada calon petani/kelompok tani yang mempunyai semangat partisipatif untuk melakukan
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

”sharing”

dalam

bentuk

tenaga

kerja

dan

penambahan kekurangan material yang diperlukan untuk penyempurnaan pekerjaan pengembangan air permukaan. 6. Tidak ada tuntutan ganti rugi pembebasan lahan dari petani/kelompoktani yang dibuktikan dengan surat pernyataan petani/kelompok tani.

serta

merawat

infrastruktur pengembangan air permukaan dengan

7

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

8

III. BENTUK-BENTUK SUMBER AIR PERMUKAAN DAN JENIS KEGIATAN A. Sumber Air Permukaan Beberapa contoh sumber air permukaan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi, adalah : 1. Air Bekas Galian Tambang/Air Kolong Bekas aktivitas galian tambang biasanya meninggalkan lubang-lubang besar yang setelah selesainya penggalian ditinggal begitu saja. Bekas galian ini pada musim hujan akan penuh terisi air yang sangat berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai air irigasi. Di Propinsi Bangka Belitung bekas galian tambang timah dapat mencapai ukuran 80 x 40 x 5 meter. Sehingga air yang tertampung di dalam galian ini sebesar 16.000 m3, jumlah yang cukup untuk dapat dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi. Salah satu contoh air kolong yang terdapat di Propinsi Bangka Belitung seperti pada gambar 1. 2. Terjunan Air Terjunan air (gambar 2) merupakan air permukaan yang sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai air irigasi. Terjunan air seperti ini pada umumnya belum termanfaatkan secara optimal. Dengan sedikit sentuhan teknologi (pembuatan bak penampung, pembuatan saluran terbuka (open chanel) atau saluran tertutup/pipa (close chanel), maka air ini dapat dimanfaatkan untuk mengairi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan maupun untuk

Gambar 1. Sumber air permukaan bekas air kolong penambangan timah di Bangka Belitung yang dapat dimanfaatkan untuk irigasi.

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

9

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

10

memenuhi kebutuhan air untuk pengembangan peternakan.

kebutuhan air bagi pertanian (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan).

Gambar 2. Air permukaan yang belum dimanfaatkan dan sangat berpotensial untuk dikembangkan sebagai sumber air irigasi melalui pembuatan bak penampung dan pemasangan pipa distribusi

Gambar 3. Aliran sungai/anak sungai yang dapat disadap sebagai sumber air irigasi melalui pembuatan saluran air

B. 3. Aliran Sungai Pada daerah-daerah tertentu banyak dijumpai aliran sungai yang belum dimanfaatkan dengan optimal (gambar 3). Melalui pengembangan air permukaan (misalnya dengan pembuatan kincir air, pembuatan saluran pembawa ataupun pemasangan pipa) maka sumber air ini dapat dimanfaatkan untuk memenuhi
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

Jenis-Jenis Kegiatan Disadari bahwa kondisi lapangan sangat bervariasi, dengan demikian jenis kegiatan yang dapat dilaksanakan melalui kegiatan pengembangan air permukaan sangat beragam sesuai dengan kondisi dan potensi yang ada di daerah. Beberapa dalam contoh kegiatan air yang dapat dilaksanakan pengembangan permukaan

adalah sebagai berikut :
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

11

12

1. Kincir Air Pembangunan kincir air (gambar 4) dimaksudkan untuk menaikkan air sungai dengan memanfaatkan tenaga dari aliran/arus air. Pada umumnya kincir air terdiri poros, lingkaran roda yang dilengkapi dengan tabung dan sudu-sudu yang dipasang di sekeliling roda. Ukuran dan besarnya kincir disesuaikan dari ketinggian muka air dengan lahan yang akan diairi. Pembuatan kincir air terdiri dari tiga komponen yaitu bendung pengarah air, kincir air, dan saluran ke lahan yang akan diairi.

Gambar 4. Penggunaan kincir air untuk irigasi yang telah dipakai masyarakat tani di Sumatera Barat.

2. Pompanisasi Sistem pompanisasi dalam pengembangan irigasi air permukaan adalah upaya mengambil air dari sumber air permukaan (sungai, danau dll), yang diangkat dan didistribusikan dengan mempergunakan pompa air. Komponen dalam kegiatan ini adalah : mesin pompa air, pipa/selang hisap/buang, saluran distribusi ke lahan yang akan diari, rumah pompa apabila pompa dalam posisi tetap/stationer (gambar 5) atau alat pengangkut pompa apabila dalam penggunaannya akan berpindah-

pindah/mobile (gambar 6), bak penampung air (gambar 7). Saluran distribusi dapat berupa saluran terbuka ataupun saluran tertutup/pipa paralon (gambar 8 dan 9).

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

13

Contoh penempatan pompa air secara tetap (stationer) di dalam rumah pompa Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

Gambar 5.

14

Gambar 7. Pembuatan bak penampung air sebelum air dialirkan ke lahan pertanian

Gambar 6.

Contoh alat pengangkut yang digunakan untuk memudahkan pompa.

Gambar 8. Salah satu contoh pembuatan saluran terbuka.

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

15

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

16

Gambar 9.

Salah satu contoh pembuatan saluran tertutup dengan menggunakan pipa paralon.

Gambar 8. Mesin Diesel

2.1 Spesifikasi Teknis Pompa Air Jenis dan Ukuran Pompa Air Jenis pompa air yang biasa digunakan dalam kegiatan usahatani ini adalah pompa sentrifugal. Dan untuk ukuran kebutuhan pompa air ini disesuaikan dengan total head dan debit air yang diinginkan.

2.2 Perhitungan dalam Pemilihan Pompa Air Ada tiga langkah penting dalam memilih pompa air, apakah pompa tersebut besar atau kecil. Langkah-langkah yang dimaksud adalah : 1. 2. 3. Membuat skets pompa dan bagan susun (layout) pepipaan Menentukan kapasitas pompa Menentukan tinggi tekan total Membuat Skets Bagan Susun Dasarkanlah skets tersebut pada pekerjaan yang aktual, pastikan bahwa semua pemipaan, piting-piting, katup, peralatan, dan unit lainnya telah tercakup dalam sistem. Tandailah panjang pipa pada skets tersebut. Pastikan bahwa semua pengangkatan vertikal sudah tercakup, bila pemipaannya rumit, skets isometrisnya. Menentukan Kapasitas Kondisi pekerjaan akan menentukan kapasitas yang dibutuhkan, misalnya jumlah

Mesin Penggerak Pompa Air Pompa sentrifugal dapat digerakan oleh motor/penggerak berbahan bakar bensin, diesel dan listrik. Pemilihan disesuaikan mesin penggerak pompa ini dengan kondisi wilayah

setempat, dibawah ini adalah salah satu contoh alat/mesin penggerak pompa.

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

17

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

18

air yang dibutuhkan untuk pengairan sawah adalah untuk mengganti penyusutan air ratarata. Jumlah ini akan bertambah sampai mencapai maksimum pada permulaan musim tanam, yaitu pada saat persiapan, penanaman, dan pembuangan. Jadi kapasitas pompa yang direncanakan harus ditentukan atas dasar kebutuhan maksimum.

Keperluan air sawah untuk tanaman padi harus digenangi air dengan kedalaman tertentu. Untuk memelihara kedalaman karena melalui sawah tersebut transpirasi pernapasan (penguapan diperlukan tambahan air terus menerus guna mengganti tanaman tanaman), penyusutan (penguapan penguapan

langsung dari air ke udara), dan perlokasi (peresapan air ke dalam tanah). Jadi :

Qp = Qk / T Dimana : Qp Q k T : kapasitas pompa yang direncanakan (m /jam) : Jumlah (m3/hari) : koefisien kehilangan air di saluran (=1,1) : jumlah kerja aliran dalam kondisi kebutuhan puncak (18 s/d 21 jam) Misalnya untuk kebutuhan pengairan di : a. Pengairan sawah
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011
3

Penyusutan kedalaman air per hari (h) mm/hari = transpirasi + penguapan + peresapan – curah hujan.
Curah hujan dan penguapan selama jangka waktu pengairan tergantung pada musim, tempat dan cuaca. Komponen-komponen penyusutan air dapat ditaksir secara kasar sebagai berikut : Transpirasi tanaman : 6 – 7 mm/hari Penguapan : 4 – 5 mm/hari Perlokasi : 10 – 20 mm/hari (sawah lama) 30 – 45 mm/hari (sawah baru) Adapun jumlah air yang diperlukan seluruhnya

air

irigasi

keseluruhan

19

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

20

dapat dihitung dengan : Kapasitas Q = 10 h A Dimana : Q: jumlah air irigasi total (m3/hari) h : laju penyusutan (mm/hari) A : luas sawah (ha) h b. Pengairan ladang Pengairan untuk ladang berbeda dengan A k D T hilang karena E pengairan sawah, disini air dialirkan melalui saluran dan parit-parit diantara petak-petak tanaman atau disiramkan dengan penyemprot melalui pipa-pipa. Pemberian air dilakukan setiap 3 sampai 10 hari sekali. Air yang diberikan sebagian akan diserap tanaman yang dan sebagian peresapan ke dalam tanah. Karena itu ada disebut : jumlah air yang diperlukan (mm/hari) (padi ladang atau gogo rancah = 6–9 mm/hari ; sayuran = 3 – 5 mm/hari) : luas ladang (ha) : koefisien kehilangan dalam saluran (k = 1,1 untuk pengairan melalui parit) : selang (interval) pemberian air (hari) : jumlah jam tang dipergunakan untuk setiap kali pemberian air (jam) : efesiensi pengairan (E = 0,65 untuk pengairan parit, E = 0,80 untuk pengairan siram atau sprinkler) Dalam hal pengairan siram, tekanan pada penyemprot biasanya berkisar antara 2 -3
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

pompa

yang

diperlukan

dapat

ditaksir dengan persamaan : Qp = Dimana : QP : kapasitas pompa yang direncanakan (m3/s)

hAkD 360TE

efesiensi

pengairan,

yaitu

perbandingan antara jumlah air yang diserap tanaman dan jumlah air yang diberikan.
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

21

22

kgf/cm2 atau 0,2 – 0,3 Mpa Menentukan Tinggi Tekan Total (head total) Head total pompa yang harus disediakan untuk mengalirkan jumlah air seperti ha

H = ha + ∆hp + hl + Dimana : H :

2 vd 2g

he ad total pompa (m) : he ad statis total (m) he ad ini adalah perbedaan tinggi antara muka air di sisi keluar dan di sisi isap ; tanda (+) dipakai apabila muka air di sisi luar lebih tinggi dari sisi isap.

direncanakan, dapat ditentukan dari kondisi instalasi yang akan dilayani oleh pompa. Dapat dilahat pada gambar di bawah. Gambar 1

Gambar nentuan tinggi tekan total

9. Pe

∆hp

:

perbedaan head tekanan yang bekerja pada kedua permukaan air (m), ∆hp = hp2 – hp1

Head total pompa dapat ditulis sebagai berikut : hl :

ber
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

23

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

24

bagai kerugian head di pipa, katup, belokan, sambungan, dll (m) hl = hld + hls v2/2g : head kecepatan keluar (m) g : gravitasi (= 9,8 m/s )
2

Specifications Diameter Suction- Revolution Power TYPE Discharge (RPM) (HP) Capacity Total Capacity Total Capacity Total Head Head Head (Inch) (ℓ / min) (ℓ / min) (ℓ / min) (M) (M) (M) GTO 2 GTO 3 GTO 4 2000 2" - 2" 2400 2700 1850 3" - 3" 2200 2450 1700 4" - 4" 1900 2070 1450 6" - 6" 1500 1700 1.1 2 2.6 2.5 4.2 5.8 3 4.2 5.2 7.1 7.4 10.5 375 460 500 1050 1240 1280 1600 1740 1800 3382 3471 3540 10 12.5 14 10 11 12 8.5 9.5 10 7 8 9 300 390 450 750 1065 1170 1250 1400 1500 3175 3230 2416 13 16 19 13 16 19 11.5 13 15 10.5 11 12.5 200 280 360 550 800 950 750 1050 1300 2100 2150 2370 16 21 25 15 19 23 14 16 17 14 15 18

Beberapa Contoh Pompa Buatan Pabrikan Yang Sudah Tersedia Dipasaran
Features

GTO 6

• • • • • •

Open impeller Easy maintenance Simple construction Durable Maximum water temperature 40° C Suitable for Irrigation, Fishery, and Plantation

Features

• • • • • •

Close Impeller Easy maintenance Simple construction Durable Maximum water temperature 40° C Suitable for Irrigation, Fishery, and Plantation

Specifications Diameter Suction- Revolution Power TYPE Discharge (RPM) (HP) Capacity Total Capacity Total Capacity Total Head Head Head (Inch) (ℓ / min) (ℓ / min) (ℓ / min) (M) (M) (M)

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

25

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

26

2000 GTR 2 2" - 2" 2400 2700 1850 GTR 3 3" - 3" 2200 2450 1850 GTR 4 4" - 4" 2100 2300 1450 GTR 6 6" - 6" 1750 1950 1450 GTR 8 8" - 8" 1650 1800

1.25 2.00 3.00 3.25 5.25 7.50 6.25 8.50 11.50 9.50 15.50 21.50 12.75 19.25 25.00

120 180 195 280 425 610 655 785 850 1340 1475 1690 1935 2805 3110

15.5 21.0 26.3 18.0 23.4 29.0 20.7 23.8 29.0 16.0 22.5 27.6 142 16.4 19.5

220 300 315 635 760 975 1020 1160 1240 2250 2665 2835 3720 4380 4655

12.0 15.5 20.0 14.3 18.8 21.6 16.9 19.0 23.4 12.2 16.7 20.7 10.3 12.5 14.7

285 365 410 880 1050 1190 1415 1510 1600 3130 3595 3915 4760 5155 5930

8.3 10.2 12.8 8.8 11.4 14.0 9.0 11.6 14.0 6.4 9.0 11.2 6.4 8.6 9.0

Konstruksi/pembangunan pompa hidram secara umum dilakukan dengan tahapan : • Pembuatan bangunan penangkap air • Pembuatan dudukan pompa hidram • Pembuatan bangunan penampung air • Pemasangan pipa pemasukan • Penyediaan pipa-pipa beserta pelengkapnya • Pemasangan pipa pengeluaran • Pembangunan jaringan distribusi irigasi pompa hidram

4. Pipanisasi 3. Hidram Sistem Hidram dalam air dari dll), pengembangan mengambil sumber (sungai, air air danau Dalam upaya memanfaatkan air permukaan sebagai sumber air irigasi, beberapa hal yang perlu dilakukan, diantaranya : pengambilan/pengangkatan air dari sumbernya, penampungan dan penyaluran ke lahan yang akan dilayani oleh irigasi pipa. Dengan demikian ada beberapa komponen (disesuaikan dengan keadaan lokasi) yang harus diperhatikan dalam mengembangkan irigasi pipa, yaitu : 1. mber air Sumber air permukaan dapat berupa : sungai,
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

permukaan adalah upaya permukaan

dengan menaikkan air dari tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi dengan mempergunakan pompa hidram, dimana ketinggian air yang dapat diangkat sampai dengan 400 meter dari sumber air.

Su

27

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

28

danau, terjunan air, mata air, genangan air dlsbnya. Dalam menentukan calon lokasi, kondisi sumber air merupakan faktor penentu. Diharapkan sumber air tidak mengalami penurunan debit yang nyata terutama pada musim kemarau. Dengan demikian kemampuannya untuk mensuplai air ke lahan pertanian tetap terjamin 2. k Penampung Bak penampung dibangun sebagai resorvoir untuk mendekatkan jarak dari sumber air ke lahan yang akan diari. Bak penampung terbuat dari konstruksi beton sehingga tidak mudah bocor. 3. mpa Digunakan apabila posisi sumber air lebih rendah dari lahan yang akan diari, sehingga tidak dapat memanfaatkan gaya gravitasi untuk mengalirkan air 4. Jaringan distribusi Jaringan/pipa dapat terbuat dari pvc ataupun besi yang berfungsi untuk membawa dan atau membagi air ke lahan yang akan diari. Pipa distribusi yang dipergunakan hendaknya telah memiliki standar SNI.
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

Mengenai ukuran ataupun jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan lapangan (sesuai hasil SID).

Ba

Po A.

IV.

PELAKSANAAN

Survai, Investigasi dan Desain Sederhana 1. Survey Investigasi a. Survey investigasi dimaksudkan untuk mendapatkan calon lokasi dan petani yang sesuai untuk pengembangan air permukaan, baik dari segi teknis maupun sosial. b. Pelaksanaan survei investigasi dikoordinasikan dengan instansi/Sub Dinas terkait terutama

29

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

30

dengan Sub Dinas yang menangani komoditas yang akan dikembangkan. c. Pelaksanaan survei investigasi dibiayai oleh daerah (tidak termasuk dalam dana TP yang dialokasikan) dan dilaksanakan oleh petugas Dinas Pertanian Kabupaten/Kota bersama dengan petugas Kecamatan. d. Calon lokasi dan calon petani yang memenuhi persyaratan permukaan. ditetapkan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota sebagai lokasi pengembangan air 2.

• Potensi air permukaan untuk kebutuhan irigasi, meliputi kedalaman dan kapasitas pompa/air yang keluar dari mesin pompa. • Luas layanan oncoran (command area) yang akan diairi. Desain/rancangan permukaan • Rancangan/desain sederhana disusun untuk lokasi yang ditetapkan sebagai calon lokasi pengembangan air permukaan. • Rancangan/desain pengembangan air permukaan sederhana sekurang-kurangnya mencakup luas lahan yang akan diairi (daerah oncoran), dan dalam biaya sederhana pengembangan air

e.

Laporan hasil survei investigasi paling tidak memuat : • Letak lokasi berdasarkan daerah administratif dan koordinat lintang dan bujur dengan menggunakan Global Positioning System/GPS atau ekstrapolasi dari peta topografi yang tersedia. • Kondisi usaha tani dan jenis komoditi yang layak dikembangkan. • Gambar/sketsa saluran distribusi.

letak/lokasi Satu dalam hal hal

sumber/pompa yang perlu

(koordinat),

rancangan jaringan irigasi yang akan dibangun. diperhitungkan Untuk menekan pengembangan air permukaan sederhana yaitu distribusi. operasional dalam hal distribusi air, maka air permukaan yang telah diangkat dari sumbernya dengan menggunakan pompa air dapat ditampung pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan daerah layanan irigasinya dengan menggunakan bak

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

31

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

32

penampung

air

(jika

dananya

mencukupi),

B.

Pola Pelaksanaan Konstruksi/Pengembangan Air Permukaan 1. Pelaksanaan (dana Konstruksi/pengembangan langsung Pola ke air

sehingga dapat didistribusikan ke lahan usaha tani dengan gaya gravitasi. a. Kebutuhan bahan, peralatan, dan mesin Berdasarkan hasil desain sederhana akan dapat diketahui kebutuhan bahan, peralatan, dan mesin yang diperlukan. Data kedalamam dan potensi air tanah, ketinggian bak penampung dari posisi pompa air dan luas lahan oncoran dapat digunakan untuk menetapkan spefisikasi pompa air, spesifikasi motor penggerak pompa, jumlah dan spesifikasi kebutuhan pipa-pipa, dan pembangunan/perbaikan jaringan irigasi yang diperlukan. b. Kebutuhan anggaran Meliputi perkiraan kebutuhan biaya untuk pengadaan bahan, peralatan, pompa air dan perlengkapannya, pemasangan pipa-pipa, dan pengembangan/ perbaikan jaringan distribusinya. Perkiraan kebutuhan anggaran ini dijadikan acuan dalam penyusunan harga perkiraan sendiri (HPS). C.

permukaan dilaksanakan dengan pola Bansos ditransfer tani). rekening Bansos kelompok pelaksanaan

mengikuti ketentuan yang ada dalam Pedoman Umum Bansos Direktorat Jenderal Prasarana Dan Sarana Pertanian. 2. Pelaksanaan pengembangan air permukaan

dilakukan berdasarkan kepada usulan yang diajukan oleh petani/kelompoktani seperti RUKK (Rencana Usulan Kerja Kelompok) setelah mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Kab/Kota. Operasi dan Pemeliharaan 1. Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi diserahkan kepada petani/kelompok tani. 2. Biaya operasi dan pemeliharaan menjadi tanggung jawab petani/kelompok tani sebagai penerima manfaat.

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

33

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

34

3.

Besarnya iuran pelayanan irigasi yang dibutuhkan, ditetapkan berdasarkan hasil musyawarah anggota/kelompok tani.

b.

Pemenuhan keperluan mencukupi,

kebutuhan diutamakan air tanah

air dari

untuk

berbagai air

sumber

permukaan. Dalam hal air permukaan tidak digunakan sebagai tambahan pasokan air. c. Pemanfaatan air permukaan dikenakan pajak dan atau iuran. 3. Strategi a. Menyusun perencanaan alokasi air didasarkan pada potensi air permukaan dan kebutuhan berdasarkan wilayah sumberdaya air. b. Menyusun Sistem Informasi Sumber Daya Air (SISDA). c. Menyelenggarakan dengan perizinan dan yang terkait

D.

Prinsip, Kebijakan dan Strategi 1. Prinsip a. Pemanfaatan air permukaan merupakan bagian tak terpisahkan dalam pengelolaan sumber daya air yang mengacu kepada pola pengelolaan sumber daya air yang didasari wilayah sumber daya air. b. Pengelolaan air permukaan dilaksanakan berdasarkan pada wilayah sungai.

perencanaan

pelaksanaan

2.

Kebijakan a. Pemanfaatan air permukaan dilaksanakan d. e. secara terpadu untuk memanfaatkan sumber daya tersebut secara optimal dan berkelanjutan bagi sebesar-besarnya asas kemakmuran kemanfaatan rakyat umum, berdasarkan

pemanfaatan air permukaan sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan. Melaksanakan konservasi air permukaan. Melaksanakan pembinaan, pengawasan, dan pengendalian permukaan.
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

(binwasdal)

pemanfaatan

air

keseimbangan, kelestarian, dan keadilan.
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

35

36

f.

Melaksanakan koordinasi dan kerja sama antar lembaga pengelola sumber daya air, baik air permukaan maupun air tanah.

Rencana Usulan Kegiatan Kelompok (RUKK) dapat dilihat pada Lampiran 2.

E.

Pembiayaan Biaya yang diperlukan untuk melaksanakan ini dibebankan pada anggaran tugas pembantuan dengan memperhatikan mata anggaran yang tercantum pada DIPA/POK Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian tahun 2011. Dana pembuatan dimaksudkan untuk pengadaan material/bahan, alat mesin serta biaya-biaya lain yang diperlukan. Sedangkan kebutuhan biaya untuk penentuan lokasi, survey investigasi dan desain (SID), dan pembinaan dibebankan pada anggaran dan/atau APBD Propinsi, APBD Kabupaten/Kota, partisipasi masyarakat. A. V. MONITORING DAN EVALUASI

Indikator Kinerja Beberapa indikator kinerja yang dipergunakan sebagai ukuran untuk menilai kinerja kegiatan pengembangan air permukaan adalah sebagai berikut : 1. Output : Tersedianya prasarana irigasi dari pembuatan sumber air permukaan dan air tanah dangkal sebanyak 606 unit di 24 Propinsi 91 Kabupaten.

Pemanfaatan dana dengan mata anggaran bantuan sosial agar dalam pelaksanaannya selalu mengacu pada ”Pedoman Pengelolaan Bantuan Sosial” yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian. Jadwal pelaksanaan kegiatan, bobot dari masing-masing tahap-tahap pelaksanaan kegiatan serta contoh dari
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

37

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

38

Perincian per kabupaten seperti pada Lampiran 3. 2. Outcome : Petani dapat mengusahakan B.

kinerja, sehingga seluruh proses kegiatan harus mengacu pada sasaran indikator tersebut. Monitoring dan Evaluasi 1. Monitoring pengembangan air permukaan dilakukan secara swakelola oleh Dinas Pertanian/Perkebunan/ Peternakan Kabupaten/Kota. 2. Evaluasi kegiatan dilakukan pada saat pelaksanaan dan setiap akhir masa pelaksanaan kegiatan. C. Pelaporan 1. Perkembangan pelaksanaan kegiatan pengembangan sumber air dilaporkan secara kontinyu. Laporan yang disusun terdiri dari laporan perkembangan (bulanan) dan laporan akhir . 2. Laporan bulanan memuat perkembangan pelaksanaan kegiatan yang disusun setiap bulan, berisi kemajuan pelaksanaan kegiatan sampai bulan berjalan. Laporan bulanan dikirim ke Dinas Pertanian Propinsi dengan tembusannya disampaikan ke Pusat (Ditjen PSP dan Direktorat Pengelolaan Air Irigasi) laporan bulanan disusun mengacu pada Lampiran 4.1, 4.2 (diisi ditingkat kabupaten/kota) serta 4.3 dan 4.4 (diisi ditingkat propinsi). 3. Laporan Akhir disusun setelah pelaksanaan pengembangan air permukaan selesai, berisi seluruh

lahannya untuk usaha pertanian. 3. Benefit : Adanya harapan petani produksi untuk dan

meningkatkan

produktivitas usaha taninya. 4. Impact : Tersedianya kebutuhan bahan

pangan utama untuk petani dan masyarakat pedesaan disekitarnya serta meningkatnya pendapatan petani melalui usaha diversifikasi usaha tani. Disadari bahwa pencapaian indikator tersebut diatas bukan hanya sebagai akibat kegiatan pengembangan air permukaan saja melainkan merupakan akumulasi dampak dari kegiatan-kegiatan lainnya maupun faktorfaktor internal dan eksternal. Namun demikian hendaknya indikator ini dijadikan patokan dalam melakukan penilaian terhadap hasil
Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

39

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

40

rangkaian

kegiatan

pelaksanaan.

Agar

lebih

propinsi

dan

kabupaten/kota

dapat

membuat

informatif dan komunikatif, Laporan tahap akhir kegiatan agar (sebelum

Akhir agar dalam pada

daftar/check list pengendalian dengan mempedomani check list yang tercantum pada Lampiran 6 dimaksud.

dilengkapi dengan foto-foto dokumentasi dari setiap kegiatan, seperti pelaksanaan dan setelah selesai kegiatan). Laporan mengikuti outline Lampiran 5.

4. Laporan

perkembangan

dan

laporan

akhir

disampaikan kepada Direktur Jenderal Prasarana Dan Sarana Pertanian c.q Direktur Pengelolaan Air Irigasi dengan alamat Direktorat Pengelolaan Air Jl. Taman Margasatwa No. 3 Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan, dengan tembusan kepada Kepala Dinas tingkat Propinsi.

D.

Pengendalian Dalam upaya mengurangi kesalahan yang terjadi dalam pelaksanaan pengembangan sumber air, maka perlu dilaksanakan pengendalian yang intensif. Pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan pengembangan sumber air akan dilaksanakan dengan mengikuti acuan Sistem Pengendalian Internal (SPI) sebagaimana tercantum pada Lampiran 6. Selanjutnya pelaksana di tingkat

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

41

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

42

DAFTAR PUSTAKA

 

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. 2004. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Jakarta Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi, Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian, Departemen Pertanian. 2002. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Pompa. Jakarta. Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi, Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian, Departemen Pertanian. 2004. Penyusunan Database Sarana Air Tanah Untuk Irigasi Pertanian. Laporan Akhir. PT. Gita Rencana Multiplan. Jakarta. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Nomor : 1451 K/10/MEM/2000 Tanggal 3 Nopember 2000 tentang Prosedur Pemberian Izin Pengeboran dan Izin Pengambilan Air Bawah Tanah (Lampiran V). Jakarta. Sosrodarsono, Suyono dan Takeda, Kensaku (editor). Hidrologi Untuk Pengairan. 2003. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.

Pedoman Teknis Pengembangan Air Permukaan TA. 2011

43

LAMPIRAN 1
JADWAL PALANG PELAKSANAAN KEGIATAN PENGEMBANGAN AIR PERMUKAAN TA. 2011
BULAN KE : JENIS DAN TAHAPAN KEGIATAN Januari Minggu Februari Minggu Maret Minggu April Minggu Mei Minggu Juni Minggu Juli Minggu Agustus Minggu Sept Minggu Okt Minggu Nop Minggu Des Minggu (%) Bobot Progres

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I KEGIATAN BANSOS PLA A PERSIAPAN 1 JUKLAK DITERIMA OLEH KAB 2 PEMBUATAN JUKNIS OLEH KAB. 3 SK-SK TIM 4 DESAIN SEDERHANA 5 RUKK & SURAT PERJANJIAN 6 PEMBUKAAN REK PETANI

20 2 2 4 4 4 4

B PELAKSANAAN 1 TRANSFER DANA KE REKENING KELOMPOK 2 KONSTRUKSI *) 3 MONITORING : OLEH KABUPATEN OLEH PROPINSI EVALUASI : OLEH KABUPATEN OLEH PROPINSI OLEH PUSAT 4 PELAPORAN - BULANAN - TRIWULAN - TAHUNAN/AKHIR

80 4

76

*) Realisasi fisik dihitung berdasarkan kemajuan fisik yang telah dilaksanakan dengan mengacu pada jumlah dana yang telah terpakai untuk melaksanakan kegiatan dimaksud

LAMPIRAN 2
CONTOH RENCANA USULAN KEGIATAN KELOMPOK PENGEMBANGAN AIR PERMUKAAN TAHUN 2011 Harga satuan (Rp) 4 Biaya yang diperlukan (Rp) 5 Sumber Pembiayaan Tugas Perbantuan APBD Sharing Petani (Rp) (Rp) (Rp) 6 7 8

No 1 1.

Kegiatan 2 Bahan/Material - Pasir - Semen - Batu kali - Batu bata - dst ………….. Insentif tenaga kerja - ………….. - ………….. - ………….. - ………….. - dst ………….. ………………….. - ………….. - ………….. - dst ………….. Total

Volume 3

Jumlah (Rp) 9 = (6 + 7 +8)

2.

3

Disetujui Kepala Dinas ttd Nama Jelas

………………….., ………………2011 Ketua KelompokTani,

ttd Nama Jelas

39

ALOKASI PENGEMBANGAN AIR PERMUKAAN TAHUN ANGGARAN 2011
Pengembangan Air Permukaan Hortikultura Perkebunan Biaya Unit Biaya 3.000.000.000 1.200.000.000 500.000.000 250.000.000 250.000.000 200.000.000 86 4.300.000.000 -

LAMPIRAN 3

No

Propinsi / Kabupaten / Kota

Tanaman Pangan Unit Biaya 384 22 5 5 5 2 19.200.000.000 1.100.000.000 250.000.000 250.000.000 250.000.000 100.000.000

Unit 60 24 10 5 5 4

Unit 76 -

Peternakan Biaya 3.800.000.000 -

TOTAL INDONESIA 1 Prop. Jawa Barat 1 Bogor 2 Cianjur 3 Cirebon 4 Majalengka 5 Subang 6 Sukabumi 7 Tasikmalaya 8 Kota Bogor

5

250.000.000

40

No

Propinsi / Kabupaten / Kota

Tanaman Pangan Unit Biaya 1 50.000.000

Unit 6

Pengembangan Air Permukaan Hortikultura Perkebunan Biaya Unit Biaya 300.000.000 3 150.000.000

Unit 12 5 5

Peternakan Biaya 600.000.000 250.000.000 250.000.000

2 Prop. Jawa Tengah 9 Banyumas 10 Brebes 11 Jepara 12 Magelang 13 Pati 14 Pemalang 15 Purbalingga 16 Semarang 3 Prop. DIY 17 Bantul 18 Gunung Kidul 19 Kulon Progo 20 Sleman

1 4 2 1 50.000.000 200.000.000 2 100.000.000

50.000.000 100.000.000

2 5 250.000.000 4 4 200.000.000 200.000.000 6 2 4 300.000.000 100.000.000 200.000.000 -

100.000.000 -

3 2

150.000.000 100.000.000

41

No

Propinsi / Kabupaten / Kota

Tanaman Pangan Unit Biaya 41 2 16 15 8 6 4 2 40 5 5 5 5 5 5 2.050.000.000 100.000.000 800.000.000 750.000.000 400.000.000 300.000.000 200.000.000 100.000.000 2.000.000.000 250.000.000 250.000.000 250.000.000 250.000.000 250.000.000 250.000.000

Unit 13

Pengembangan Air Permukaan Hortikultura Perkebunan Biaya Unit Biaya 650.000.000 16 16 800.000.000 800.000.000

Unit 2 2

Peternakan Biaya 100.000.000 100.000.000

4

Prop. Jawa Timur 21 Gresik 22 Madiun 23 Magetan 24 Nganjuk 25 Tuban Prop. Sumatera Utara 26 Toba Samosir 27 Kota Tebing Tinggi Prop. Sumatera Barat 28 Agam 29 Pasaman 30 Pesisir Selatan 31 Sijunjung 32 Solok 33 Tanah Datar 34 Kota Padang Panjang 35 Kota Pandang 36 Dharmas Raya 37 Pasaman Barat

3 10 -

150.000.000 500.000.000 -

5

6

-

-

7 2 2

350.000.000 100.000.000 100.000.000

8 2

400.000.000 100.000.000

2 1 2 50.000.000 100.000.000 4

100.000.000

10

500.000.000

200.000.000

42

No

Propinsi / Kabupaten / Kota

Tanaman Pangan Unit Biaya 5 5 250.000.000 250.000.000 -

Unit -

Pengembangan Air Permukaan Hortikultura Perkebunan Biaya Unit Biaya -

Unit -

Peternakan Biaya -

7 Prop. Jambi 38 Bungo 8 Prop. Kalimantan Barat 39 Pontianak 9 Prop. Kalimantan Selatan 40 Hulu Sungai Selatan 10 Prop. Kalimantan Tengah 41 Lamandau 42 Murung Rayang 11 Prop. Kalimantan Timur 43 Berau 44 Bulungan 45 Kota Samarinda

-

-

-

-

2 2 -

100.000.000 100.000.000 -

-

-

6 6 -

300.000.000 300.000.000 -

-

-

6 3 3 10 10

300.000.000 150.000.000 150.000.000 500.000.000 500.000.000

-

-

-

-

-

-

-

-

8 4 1 3

400.000.000 200.000.000 50.000.000 150.000.000

43

No

Propinsi / Kabupaten / Kota

Tanaman Pangan Unit Biaya 26 2 21 3 1.300.000.000 100.000.000 1.050.000.000 150.000.000

Unit 5

Pengembangan Air Permukaan Hortikultura Perkebunan Biaya Unit Biaya 250.000.000 -

Unit -

Peternakan Biaya -

12 Prop. Sulawesi Utara 46 Minahasa 47 Sangihe 48 Talaud 49 Kota Bitung 13 Prop. Sulawesi Tengah 50 Banggai 14 Prop. Sulawesi Selatan 51 Bantaeng 52 Luwu 53 Pangkep 54 Pinrang 55 Sidenreng Rappang 56 Soppeng 57 Kota Makassar

5 16 16 89 16 10 23 10 10 10 10 800.000.000 800.000.000 4.450.000.000 800.000.000 500.000.000 1.150.000.000 500.000.000 500.000.000 500.000.000 500.000.000 -

250.000.000 -

-

-

-

-

-

-

44

No

Propinsi / Kabupaten / Kota

Tanaman Pangan Unit Biaya 29 3 4 5 3 2 2 5 3 2 1.450.000.000 150.000.000 200.000.000 250.000.000 150.000.000 100.000.000 100.000.000 250.000.000 150.000.000 100.000.000 -

Unit 2

Pengembangan Air Permukaan Hortikultura Perkebunan Biaya Unit Biaya 100.000.000 -

Unit -

Peternakan Biaya -

15 Prop. Sulawesi Tenggara 58 Buton 59 Buton Utara 60 Konawe 61 Kolaka 62 Muna 63 Kota Bau-Bau 64 Konawe Selatan 65 Konawe Utara 66 Bombana 67 Kolaka Utara 16 Prop. Maluku 68 Maluku Tenggara 69 Maluku Tenggara Barat

2

100.000.000

-

-

2 2

100.000.000 100.000.000

12 2 10

600.000.000 100.000.000 500.000.000

45

No

Propinsi / Kabupaten / Kota

Tanaman Pangan Unit Biaya -

Unit -

Pengembangan Air Permukaan Hortikultura Perkebunan Biaya Unit Biaya 3 150.000.000

Unit 17 10 2 5

Peternakan Biaya 850.000.000 500.000.000 100.000.000 250.000.000

17 Prop. Bali 70 Badung 71 Bangli 72 Buleleng 73 Tabanan 18 Prop. NTB 74 Bima 75 Lombok Barat 76 Lombok Tengah 77 Lombok Timur 78 Lombok Utara 79 Sumbawa 80 Kota Bima 19 Prop. NTT 81 Alor

1 2 41 4 10 6 10 11 2.050.000.000 200.000.000 500.000.000 300.000.000 500.000.000 550.000.000 19 3

50.000.000 100.000.000 950.000.000 150.000.000

-

-

5 5 6 20 20

250.000.000 250.000.000 300.000.000 1.000.000.000 1.000.000.000 -

5 5

250.000.000 250.000.000

46

No

Propinsi / Kabupaten / Kota

Tanaman Pangan Unit Biaya 1 1 15 10 5 50.000.000 50.000.000 750.000.000 500.000.000 250.000.000

Unit -

Pengembangan Air Permukaan Hortikultura Perkebunan Biaya Unit Biaya -

Unit -

Peternakan Biaya -

20 Prop. Papua 82 Jayapura 21 Prop. Bengkulu 83 Bengkulu Selatan 84 Muko-Muko 85 Kepahiang 22 Prop. Maluku Utara 86 Halmahera Barat 87 Halmahera Timur 88 Halmahera Selatan 23 Prop. Gorontalo 89 Gorontalo Utara 24 Prop. Papua Barat 90 Sorong 91 Manokwari

-

-

-

-

5 1 4

250.000.000 50.000.000 200.000.000 300.000.000 200.000.000 100.000.000

5

250.000.000

-

-

-

-

6 4 2

5 11 11 10 10

250.000.000 550.000.000 550.000.000 500.000.000 500.000.000 -

-

-

10 10

500.000.000 500.000.000

4 4

200.000.000 200.000.000

47

LAMPIRAN 4.1
LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN T.A. 2011
Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Program Bulan : …………………………….. : …………………………….. : …………………………….. : …………………………….. : …………………………….. : …………………………….. Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 4 5 Realisasi Keuangan (Rp) 6 (%) 7 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 8 9 Nama Kelompok 10 Lokasi Kegiatan Desa/ Kecamatan 11 Keterangan 13 Form PSP.01

No.

Aspek

Kegiatan 3
1. Rehab JITUT 2. 3. 4. 5. Rehab JIDES TAM Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam

Koordinat 12

1 2 A. Pengelolaan Air Irigasi

6. Air Permukaan 7. Pompa 8. Embung 9. Dam Parit 10. Sumur Resapan 11. P I P 12. Balai Subak 13. Sekolah Lapang

JUMLAH
Catatan : 1. Laporan dikirim ke Ditjen PSP Pusat, paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. Kanpus Kementerian Pertanian Gedung D Lantai 8 Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan.go.id 3. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja, dll *) Coret yang tidak perlu

………………………., …………………………...…………. 2011

Penanggung jawab kegiatan Kabupaten

LAMPIRAN 4.2
LAPORAN REALISASI FISIK DAN KEUANGAN KEGIATAN DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN TA 2011
Dinas Propinsi Subsektor Program Bulan No. 1 1 Dinas Kabupaten/Kota*) 2 Dinas…………………….*) Kab/Kota ………………… Aspek 3 Pengelolaan Air Irigasi : …………………………….. : …………………………….. : …………………………….. : …………………………….. : …………………………….. Kegiatan 4
1. Rehab JITUT 2. Rehab JIDES 3. TAM 4. Irigasi Tanah Dangkal 5. Irigasi Tanah Dalam 6. Air Permukaan 7. Pompa 8. Embung 9. Dam Parit 10. Sumur Resapan 11. P I P 12. Balai Subak 13. Sekolah Lapang
Form PLA.02

Pagu DIPA Keuangan Fisik (Rp) (Ha) 5 6

Realisasi Keuangan (Rp) 7 (%) 8 Fisik Konstruksi (Ha) Tanam (Ha) 9 10

Keterangan 11

2

Dinas…………………….*) Kab/Kota ………………… Dinas…………………….*) Kab/Kota …………………
1. Rehab JITUT 2. Rehab JIDES 3. TAM 4. Irigasi Tanah Dangkal 5. Irigasi Tanah Dalam 6. Air Permukaan 7. Pompa 8. Embung 9. Dam Parit 10. Sumur Resapan 11. P I P 12. Balai Subak 13. Sekolah Lapang

3

JUMLAH

Ctt: 1. Laporan dikirim ke Ditjen PSP Pusat, paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. Kanpus Kementerian Pertanian Gedung D Lantai 8 Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan Jaksel 3. Realisasi adalah realisasi kumulatif s/d bulan ini (bulan laporan) 4. Kolom (13) dapat diisi serapan tenaga kerja, dll *) Diisi nama Dinas Kabupaten/Kota yang melaksanakan kegiatan PLA. **) Coret yang tidak perlu ………………………., ……………………...………………. 2011 Penanggung jawab kegiatan Propinsi

48

LAMPIRAN 4.3 LAMPIRAN 4.4
Form PLA.03

LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN TA. 2007, 2008, 2009 dan 2010
Dinas Kabupaten Provinsi Subsektor Tahun : ……………………………….. : ……………………………….. : ……………………………….. : ……………………………….. : ………………………………..

Form PSP.04

REKAPITULASI LAPORAN MANFAAT KEGIATAN PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN TA. 2007, 2008, 2009 dan 2010
Dinas Provinsi Subsektor : ……………………………….. : ……………………………….. : ………………………………..

No. 1 A. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air Irigasi Rehab JITUT Rehab JIDES T A M Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Air Permukaan Pompa Embung Dam Parit Sumur Resapan PIP Balai Subak Sekolah Lapang

Target Fisik DIPA 3

Realisasi Fisik 4

Manfaat 5

No. 1 A.

Kegiatan 2 Aspek Pengelolaan Air 1. Rehab JITUT 2. Rehab JIDES 3. TAM 4. Irigasi Tanah Dangkal 5. Irigasi Tanah Dalam 6. Air Permukaan 7. Pompa 8. Embung 9. Dam Parit 10.Sumur Resapan 11.P I P 12.Balai Subak 13.Sekolah Lapang

Target Fisik 3

Realisasi Fisik 4

Manfaat 7

Catatan : 1. Laporan dikirim ke Ditjen PSP Pusat, paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. Kanpus Kementerian Pertanian Gedung D Lantai 8 Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan.go.id 3. Manfaat harus terukur, contoh : a. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha, menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha, sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0,5 X 5 Ton = 1.250 ton b. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. 25; / Kg atau Rp. 25.000; / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. 25.000 X 1.000 = Rp. 25.000.000; c. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2,5 ton/Ha dan IP 150 %, sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2,5 ton X 1,5 = 750 ton

Catatan : 1. Laporan dikirim ke Ditjen PSP Pusat, paling lambat tanggal 10 setiap bulan 2. Laporan ke Pusat ke Bagian Evaluasi dan Pelaporan d/a. Kanpus Kementerian Pertanian Gedung D Lantai 8 Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan Jaksel via Fax : 021-7816086 atau E-mail : simonevpla@deptan.go.id 3 Manfaat harus terukur, contoh : a. Kegiatan JITUT/JIDES seluas 500 Ha, menaikan IP 50 % dengan produktivitas 5 ton/Ha, sehingga manfaat kegiatan berupa peningkatan produksi sebanyak 500 X 0,5 X 5 Ton = 1.250 ton b. Rehab JUT/JAPROD Manfaat mengurangi ongkos angkut Rp. 25; / Kg atau Rp. 25.000; / Ton pada areal dengan tingkat produksi 1.000 ton sehingga manfaat kegiatan dapat mengurangi ongkos angkut Rp. 25.000 X 1.000 = Rp. 25.000.000; c. Cetak Sawah Seluas 200 Ha Menyebabkan perluasan areal tanam seluas 200 Ha dengan produktivitas 2,5 ton/Ha dan IP 150 %, sehingga manfaat kegiatan cetak sawah berupa peningkatan produksi sebesar 200 X 2,5 ton X 1,5 = 750 ton

………………., ………………….…………. 2011

Penanggungjawab Kegiatan Propinsi
………….…………, ………………………… 2011

Penanggungjawab Kegiatan Kabupaten

49

50

LAMPIRAN 6

LAMPIRAN 5

Daftar Isian (check list) Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Sumber Air
No. I PERSIAPAN 1. Juklak 2. Juknis 3. Organisasi/kelembagaan 4. SID Sederhana 4.1. Calon lokasi Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada URAIAN KEGIATAN KETERANGAN

Outline Laporan Akhir

I. Pendahuluan A. Latar Belakang B. Tujuan dan Sasaran II. Pelaksanaan A. Lokasi (administratif dan koordinat) B. Masukan C. Tahap Pelaksanaan D. Masalah E. Pemecahan Masalah III. HASIL IV. MANFAAT V. DAMPAK VI. KESIMPULAN/SARAN

a.

Apakah di lokasi tersebut benar-benar memerlukan irigasi air permukaan Ya/tidak Ada/tidak ada Cukup/tidak cukup Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak

b. Apakah ada sumber air b. Debit air mencukupi untuk mengembangkan komoditi yg diusahakan d. Apakah calon lokasi mudah diakses e. f. Apakah calon lokasi dilengkapi dengan titik koordinat Apakah calon lokasi diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas

4.2. Calon Petani a. Apakah petani berdomisili di lokasi kegiatan b. Apakah sdh terbentuk kelompok tani c. d. Apakah kelompok tani mempunyai respon positif terhadap kegitan ini Apakah calon petani diperkuat dengan SK Bupati/Kepala Dinas Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak Ya/tidak

51

52

No.

URAIAN KEGIATAN 4.3. Desain Sederhana a. Apakah sudah disusun desain sederhana

KETERANGAN

No.

URAIAN KEGIATAN c. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas monitoring

KETERANGAN Sudah/belum

Sudah/belum

d. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil monitoring Sudah/belum

5. RAB a. Apakah telah disusun RAB kegiatan b. Apakah RAB dilengkapi dengan rincian biaya c. Apakah RAB sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota d. Apakah RUKK sudah dilegalisir oleh Kadis Kab/Kota e. Apakah mekanisme pencairan rekening kelompok melalui "contra sign" f. Apakah perjanjian kerjasama sudah ditanda tangani para pihak Ya/tidak 4.3. Pelaporan a. Laporan pertanggungjawaban dana sesuai tahap II PENYUSUNAN SK 1. SK KPA, PPK, Bendahara Pengeluaran 2. SK Tim Teknis /Koorlap 3. SK Penetapan Lokasi dan Petani Ada/tidak ada Ada/tidak ada Ada/tidak ada 5.1. Apakah sudah dibuat BA Penyelesaian Pekerjaan III PELAKSANAAN 1. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti desain 2. Pelaksanaan konstruksi telah mengikuti jadwal palang 3. Hasil pelaksanaan (irigasi air permukaan) telah dimanfaatkan Sudah/belum Ya/tidak Ya/tidak 5.2. Apakah sudah dibuat dokumentasi (sebelum, dalam pelaksanaan dan akhir) 5.3. Apakah sudah dibuat dokumen bukti pembayaran 5.4. Apakah sudah dibuat pembukuan Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum kegiatan b. Apakah sudah dibuat laporan bulanan c. Apakah sudah dibuat laporan akhir Sesuai/tdk sesuai Sudah/belum Sudah/belum Ya/tidak Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum 4.2. Evaluasi a. Apakah sudah dibuat pedoman evaluasi b. Apakah sudah dibuat jadwal evaluasi c. Apakah sudah dibentuk Tim/Petugas evaluasi d. Apakah sudah dibuat laporan pelaksanaan dan hasil evaluasi Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum Sudah/belum

IV

MONEV DAN PELAPORAN 4.1. Monitoring a. Apakah sudah dibuat pedoman monitoring b. Apakah sudah dibuat jadwal monitoring Sudah/belum Sudah/belum

53

54

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->