ASKEP GANGGUAN JIWA PADA USILA

* KONSEP DASAR USILA * JENIS GANGGUAN JIWA PADA USILA * ASKEP PADA USILA
R. SAMSON MANAO

A. KONSEP DASAR USIA LANJUT
Definisi :  Menurut UU no 4 tahun 1945 Lansia adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000).
 Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima

sebagai suatu kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri dengan proses penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).

Batasan Usia Lanjut (WHO):
 Usia Pertengahan (Middle Age), adalah

usia antara 45-59 tahun  Usia Lanjut (Elderly), adalah usia antara 60-74 tahun  Usia Lanjut Tua (Old), adalah usia antara 75-90 tahun  Usia Sangat Tua (Very Old), adalah usia 90 tahun keatas

Tipe Usia Lanjut (Menurut Nugroho W, 2000) :
 Tipe Arif Bijaksana: Yaitu tipe kaya pengalaman,

 


menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, ramah, rendah hati, menjadi panutan. Tipe Mandiri: Yaitu tipe bersifat selektif terhadap pekerjaan, mempunyai kegiatan. Tipe Tidak Puas: Yaitu tipe konflik lahir batin, menentang proses penuaan yang menyebabkan hilangnya kecantikan, daya tarik jasmani, kehilangan kekuasaan, jabatan, teman. Tipe Pasrah: Yaitu lansia yang menerima dan menunggu nasib baik. Tipe Bingung: Yaitu lansia yang kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, pasif, dan kaget.

TEORI-TEORI PROSES PENUAAN A. 2001 . TEORI BIOLOGI  Teori genetic dan mutasi (Somatik Mutatie Theory) : Menurut teori ini menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang terprogram oleh molekul2 atau DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.  Teori autoimun : Penurunan sistem limfosit T dan B mengakibatkan gangguan pada keseimbangan regulasi system imun (Corwin.  Teori radikal bebas : Tidak setabilnya radikal bebas mengakibatkan oksidasi-oksidasi bahan organik yang menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.

Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kesetabilan lingkungan internal. dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah dipakai.  Teori apoptosis Pada teori ini lingkumgan yang berubah.  Teori telomere Dalam pembelahan sel. termasuk didalamnya oleh karna stres dan hormon tubuh yang berkurang konsentrasinya akan memacu apoptosis diberbagai organ tubuh. Teori stress Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Setiap pembelaan akan menyebabkan panjang ujung telomere berkurang panjangnya saat memutuskan duplikat kromosom. makin sering sel membelah. makin cepat telomer itu memendek dan akhirnya tidak mampu membelah lagi. . DNA membelah denga satu arah.

 Teori pembebasan (Disengagement theory) Dengan bertambahnya usia.  Keperibadian lanjut (Continuity theory) bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi tipe personality yg dimilikinya. baik secara kualitas maupun kuantitas. TEORI KEJIWAAN SOSIAL  Aktifitas atau kegiatan (Activity theory) bahwa pada lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut bnyak kegiatan social. seseorang secara berangsur-angsur melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi lanjut usia menurun.B. .

.  Stress theory: Stres fisik maupun psikis meningkatkan kadar kortisol dalam darah.C. air dan tanah yang tercemar polusi mengandung subtansi kimia.  Polution theory: Udara. sinar x dan ultrafiolet dari alat-alat medis memudahkan sel mengalami denaturasi protein dan mutasi DNA.  Radiasi theory: Radiasi sinar y. TEORI LINGKUNGAN  Exposure theory: Paparan sinar matahari dapat mengakibatkat percepatan proses penuaan. Kondisi stres yang terus menerus dapat mempercepat proses penuaan. yang mempengaruhi kondisi epigenetik yang dpat mempercepat proses penuaan.

 Sistem Penglihatan: Menurun lapang pandang dan daya akomodasi mata. pupil timbul sklerosis.PERUBAHAN YANG TERJADI PADA USIA LANJUT 1. lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak. berat otak menurun 10-20%.  Sistem Pendengaran: Hilangnya atau turunnya daya pendengaran. Perubahan Fisik  Sel: Jumlahnya menjadi sedikit.  Sistem Persyarafan: Respon menjadi lambat dan hubungan antara persyarafan menurun. daya membedakan warna menurun. sulit mengerti . ukurannya lebih besar. terutama pada bunyi suara atau nada yang tinggi. suara tidak jelas.

dan sering timbul konstipasi.  Sistem pengaturan temperatur tubuh: Pada pengaturan suhu hipotalamus. rasa lapar menurun.  Sistem Respirasi: Paru-paru kehilangan elastisitas. keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktifitas otot. kemunduran terjadi krn beberapa factor: Temperatur tubuh menurun. asam lambung menurun. sensitifitas indra pengecap menurun. kehilangan sensitivitas dan elastisitas pembuluh darah. peristaltik lemah. Sistem Cardiovaskuler: Katup jantung menebal dan menjadi kaku. pelebaran esophagus. .  Sistem GI: Banyak gigi yang tanggal. waktu pengosongan menurun. fungsi absorbsi menurun. Kemampuan jantung menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun.

progesterone. elastisitas jaringan menurun dan disertai penurunan frekuensi seksual. berkurangnya elastisitas akibat penurunan cairan dan vaskularisasi. selaput lendir mongering. pada wanita sering terjadi atrofi vulva. otot mudah kram dan tremor. penipisan dan pemendekan tulang. kifosis. tendon mengkerut dan mengalami sclerosis.  Sistem Endokrin: Produksi hampir semua hormon menurun dan penurunan sekresi hormone kelamin misalnya: estrogen. persendian membesar dan kaku. Sistem Genitourinaria: Otot-otot pada vesika urinaria melemah. . dan testoteron. atropi serabut otot sehingga gerakan menjadi lamban.  System Muskuloskeletal: Tulang kehilangan cairan dan rapuh.  Sistem Kulit: Kulit menjadi keriput dan mengkerut karena kehilangan proses keratinisasi dan kehilangan jaringan lemak.

 Kesehatan umum.2. dan ketrampilan. kenangan jangka pendek yang terjadi 0-10 mnt  Kenangan lama tidak berubah.  Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal.  Lingkungan. . persepsi.  Perubahan kepribadian yang drastis namun jarang terjadi misalnya kekakuan sikap. berkurangnya penampilan.  Kenangan.  Tingkat pendidikan. psikomotor terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan dari factor waktu.  Hereditas. Perubahan Mental Faktor-faktor yang mempengaruhi:  Perubahan fisik.

teman atau relasi Sadar akan datangnya kematian. . pendapatan         berkurang. kehilangan financial. Perubahan dalam cara hidup. kehilangan status. Gangguan syaraf panca indra. kemampuan gerak sempit.3. pengasingan dari lingkungan social.  Pensiunan. Penyakit kronis. Ekonomi akibat perhentian jabatan. Perubahan Psikososial  Ketergantungan fisik dan sosioekonomi. Kesepian. Gizi Kehilangan teman dan keluarga. biaya hidup tinggi.

menonton televise. menanamkan rasa persaudaraan.  Pendekatan Sosial : Perawat mengadakan diskusi dan tukar pikiran. memberi kesempatan utk berkumpul bersama dengan klien lansia. terutama bila lansia dalam keadaan sakit. .PERAWATAN LANSIA  Pendekatan Psikis : Perawat punya peran penting untuk mengadakan edukatif yang berperan sebagai support system. serta bercerita. interpreter dan sebagai sahabat akrab.  Pendekatan Spiritual : Perawat harus bisa memberikan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan dan Agama yang dianut lansia. rekreasi. perawat harus mengadakan kontak sesama mereka.

berteriak. disinhibisi social dan seksual.  Perubahan karakteristik dari demensia melibatkan fungsi kognisi. GANGGUAN DEMENSIA  Suatu gangguan intelektual yang umumnya progresif dan ireversibel. bahasa dan fungsi visuospasial. impulsivitas. meningkat prevalensinya dgn bertambahnya usia. gangguan tidur dan waham . . kekerasan. JENIS GANGGUAN JIWA PADA USIA LANJUT 1. daya ingat. berkelana. kegelisahan.  Gangguan perilaku adalah yg paling sering berupa agitasi. penyerangan.B.

selanjutnya gangguan penamaan. latihan dan pengawasan aktifitas .Terbagi 2 yaitu : 1. Demensia Tipe Alzheimer  Ditandai oleh penurunan fungsi kognitif dengan onset yang bertahap dan progresif dan daya ingat mengalami gangguan. dengan relatif terjaganya korteks motorik dan sensorik primer. pasien mungkin memiliki suatu ketidakmampuan mempelajari dan mengingat informasi baru.  Awalnya. dan selanjutnya ketidakmampuan untuk mencontoh gambar.  Terapi: nutrisi yang tepat.  Penyebab: pemeriksaan neuropatologi dan biokimiawi postmortem menemukan kehilangan selektif neuron kolinergik dan penurunan volume girus pada lobus frontalis dan temporalis.

palsi pseudobulbar. dan aritmia. diabetes. merokok.  Dapat dicegah dengan menurunkan factor resiko yang diketehui seperti hipertensi. kelainan gaya berjalan.2.  Diagnose dapat ditegakkan dengan pencitraan resonansi magnetic (MRI) dan pemeriksaan aliran darah . tetapi demensia ini memiliki tanda dan gejala neurologis fokal. seperti meningkatnya reflex tendon dalam. Demensia Vaskular  adalah tipe demensia kedua yang tersering yg ditandai oleh defisit kognitif yang sama seperti demensia tipe Alzheimer. dan kelemahan pada anggota gerak. demensia faskuler memiliki onset yang tiba-tiba dan merupakan penyebab pemburukan yang bertahap.  Dibandingkan dengan demensia tipe Alzheimer. respon plantar ekstensor.

kematian pasangan). perasaan tidak berharga dan kecenderungan menyalahkan diri sendiri dengan ide paranoid dan bunuh diri (perasaan kesepian. GANGGUAN DEPRESIF  Tanda dan gejala yang sering adalah penurunan energy dan konsentrasi. penurunan nafsu makan. putus asa terutama bila hidup sendirian. tidak berdaya. tidak berguna.  Lanjut usia rentan terhadap episode depresif berat dengan ciri melankolik. penurunan BB dan keluhan somatik.2. . gangguan tidur (terutama terbangun dini hari dan sering terbangun di malam hari).  Depresi juga kemungkinan berhubungan dengan penyakit fisik yang dialami dan medikasi yang digunakan untuk mengobati penyakit tersebut. ditandai dengan harga diri yang rendah.

GANGGUAN BIPOLAR I  Biasanya dimulai pada masa dewasa pertengahan. impulsivitas dan sering sekali asupan alcohol yang berlebihan. walaupun prefalensi seumur hidup sebesar 1 % adalah stabil sepanjang hidup. . distrakbilitas. ekspansif dan mudah tersinggung.3.  Tanda dan gejala mania pada lanjut usia adalah serupa dengan tanda dan gejala pada orang dewasa yang lebih mudah dan berupa mood yang meninggi. karena penurunan klirens pada lanjut usia menyebabkan toksisitas lithium adalah resiko yang bermakna.  Lithium tetap merupakan terapi terpilih untuk mania tetapi pemakaiannya pada lanjut usia harus dimonitor dengan cermat. penurunan kebutuhan akan tidur.

 Kira-kira 20 persen orang skizofrenia tidak menunjukkan gejala aktif pada usia 65 tahun. SKIZOFRENIA  Biasanya mulai pada masa remaja akhir atau masa dewasa muda dan menetap seumur hidup. Orang lanjut usia dengan skizofrenik adalah berespon baik terhadap obat antipsikotik.  Pasien yang tidak mampu merawat dirinya sendiri.4. 80 persen menunjukkan gangguan dengan berbagai tingkatan.  Medikasi harus diberikan dengan hati-hati. Psikopatologi menjadi kurang jelas saat pasien bertambah tua. dianjurkan dirawat di rumah sakit dalam waktu jangka panjang. .

kehilangan pekerjaan. dengan hasil terbaik dicapai melalui kombinasi . GANGGUAN DELUSIONAL  biasanya antara usia 40 dan 55tahun. isolasi sosial. penyakit medis atau pembedahan yang menimbulkan kecacatan. gangguan penglihatan.  Gangguan delusional terjadi dibawah stress fisik dan psikologis pada orang yang rentan dan mungkin dicetuskan oleh kematian pasangan. tetapi. Prognosis cukup baik pada sebagian besar kasus.5. gangguan ini dapat terjadi kapan saja dalam periode geriatrik. pensiun.  Gangguan ini timbul selama beberapa tahun dan tidak disertai dengan demensia. keadaan finansial yang tidak baik. dan ketulian.  Sindroma delusional mungkin juga diakibatkan oleh medikasi atau merupakan tanda awal tumor otak.

fobia.  Gangguan paska traumatic sering lebih parah pada usia lanjut dibandingkan pada orang muda karena adanya kecatatan fisik yang menyertai pada usia lanjut.6.dan gangguan stress pascatraumatik.  Menurut Erik Erikson.  Menurut ECA. . gangguan kecemasan umum. gangguan obsesif kompulsif. gangguan paling sering adalah fobia sebanyak 4 persen dan gangguan panik sebanyak 1 persen. GANGGUAN KECEMASAN  Gangguan kecemasan berupa gangguan panic. tanda dan gejala fobia pada usia lanjut kurang parah dibandingkan pada orang yang lebih mudah tetapi efeknya sama. gangguan stres akut.

Tetapi prosedur invasif yang memiliki resiko tinggi. GANGGUAN SOMATOFORM  Ditandai oleh gejala fisik yang menyerupai penyakit medis. . harus dihindari.7.  Gangguan biasanya kronis dan pemeriksaan fisik ulang berguna untuk menenteramkan pasien bahwa mereka tidak memiliki penyakit yang mematikan.

 Disamping perubahan fisiologis dan sistem regulasi. . gangguan mental lain.8. GANGGUAN TIDUR  Fenomena yang berhubungan dengan tidur yang lebih sering adalah gangguan tidur. penyebab gangguan tidur pada lanjut usia adalah gangguan tidur primer. kondisi medis umum. dan faktor sosial dan lingkungan. mengantuk di siang hari dan tidur sejenak di siang hari .

ASKEP GANGGUAN JIWA PADA USIA LANJUT 1. Tujuan Asuhan Keperawatan lanjut usia: Meliputi :  Agar lanjut usia dapat melakukan kegiatan sehari- hari secara mandiri dengan:  Peningkatan kesehatan (health promotion)  Pencegahan penyakit  Pemeliharaan kesehatan sehingga memiliki ketenangan hidup dan produktif sampai akhir hidup  Agar lanjut usia dapat melakukan kegiatan seharihari secara mandiri dengan mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka yang usianya telah lanjut dgn jln perawatan dan .

agar para klien lanjut usia yang menderita suatu penyakit/gangguan. Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat hidup klien lanjut usia (life support)  Menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita penyakit dan mengalami gangguan tertentu (kronis maupun akut)  Merangsang para petugas kesehatan (dokter. perawat) untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnosa yang tepat dan dini. masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa suatu pertolongan (memelihara kemandirian secara maksimal) . bila mereka menjumpai suatu kelainan tertentu  Mencari upaya semaksimal mungkin.

Mengoptimalkan fungsi mental d. Mengatasi gangguan kesehatan yang umum . Fokus Keperawatan Lanjut Usia a. Peningkatan kesehatan (helath promotion) b.2. Pencegahan penyakit (preventive) c.

3. Pengkajian Tujuan:  Menentukan kemampuan klien untuk memelihara diri sendiri  Melengkapi dasar-dasar rencana perawatan individu  Membantu menghindarkan bentuk dan penandaan klien  Memberi waktu kepada klien untuk menjawab. .

 Kebiasaan lansia dalam memelihara kes dan kebiasaan minum obat . istirahat /tidur .  Kebiasaan makan .BAB / BAK . Wawancara riwayat kesehatan Pandangan lansia tentang kesehatannya :  Kegiatan yang mampu dilakukan lansia  Kekuatan fisik lansia ( otot . pendengaran dan penglihatan).sendi .  Kebiasaan lansia merawat diri sendiri . minum .  Perubahan2 fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan.  Kebiasaan gerak badan / olah raga .Focus Pengkajian Fisik / biologis : 1.

2. Pemeriksaan fisik  Pemeriksaan dilakukan dengan cara inspeksi. pendengaran.         palpasi. pengecapan dan penciuman). dan auskultasi untuk mengetahui perubahan sistem tubuh. perkusi. . Pendekatan yang digunakan dalam pemeriksaan fisik adalah metode head to toe dan sistem tubuh yang meliputi: Sistem intergumen / kulit Muskuluskletal Respirasi Kardiovaskuler Perkemihan Persyarafan Fungsi sensorik (penglihatan.

Psikologis :  Dilakukan saat berkomunikasi untuk melihat fungsi kognitif termasuk daya ingat.  Perubahan umum yang terjadi meliputi: penurunan daya ingat. adanya perasaan sedih dan merasakan kurang perhatian  Hal hal yang perlu dikaji meliputi : . orientasi terhadap realitas . kemampuan dalam menyelesaikan masalah. proses pikir lambat. proses fikir  Perlu dikaji alam perasaan.

 Apakah mengenal masalah masalah        utamanya Apakah optimas mengandung sesuatu dalam kegiatan Bagaimana sikapnya terhadap proses penuaan Apakah merasa dirinya dibutuhkan atau tidak Bagaimana mengatasi . masalah atas stress yang dialami Apakah mudah untuk menyesuaikan diri Apakah usila untuk menyesuikan diri Apakah usila menggali kegagalan .

Sosial Ekonomi :  Bagaimana lansia membina keakraban dengan teman sebaya maupun dengan lingkungan dan bagaimana keterlibatan lansia dalam organi sosial.antara lain : .  Penghasilan yang diperoleh  Perasaan sejahtera dalam kaitannya dengan sosial ekonomi  Hal hal yang perlu dikaji .

 Kesibukan lansia dalam mengisi waktu luang         . Dengan siapa yang ia tinggal . Kegiatan organisasi sosial yang diikuti Pandangan lansia terhadap lingkungannya Berapa sering lansia berhubungan dengan orang lain diluar rumah Siapa saja yang bisa mengunjunginya Seberapa besar ketergantungannya Apakah dapat menyalurkan hobi atau keinginan dengan fasilitas yang ada . Sumber keuangan .

misalnya pengajian.Spiritual  Keyakinan agama yang dimiliki dan sejauh mana      keyakinan tersebut dapat diterapkan. apakah secara teratur melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya. Cara menyelesaikan masalah apakah dengan berdoa Apakah terlihat sabar dan tawakal . apakah secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan. Hal – hal yang perlu dikaji antara lain : Kegiatan ibadah setiap hari. Kegiatan keagamaan.

 Gangguan pola nafas b/d penyempitan jalan nafas.  Resiko cidera fisik (jatuh) b/dpenyesuaian terhadap penurunan fungsi tubuh tidak adekuat.  Gangguan pola tidur b/d kecemasan atau nyeri. ..  Perubahan pola eliminasi b/d pola makan yang tidak efektif.  Kurangnya perawatan diri b/d menurunnya minat dalam merawat diri. Fisik / Biologis  Gangguan nutrisi (kurang/berlebihan dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat)  Gangguan persepsi sensorik b/d gangguan pendengaran/penglihatan sampai dengan hambatan penerimaan dan pengiriman rangsangan.DIAGNOSA KEPERAWATAN A.

Spiritual  Reaksi berkabung / berduka b/d ditinggal pasangan.  Marah terhadap Tuhan b/d kegagalan yang dialami. .  Perasaan tidak tenang b/d ketidakmampuan melakukan ibadah secara tidak tepat.B.  Penolakan terhadap proses penuaan b/d ketidaksiapan menghadapi kematian.

Psikososial  Isolasi Sosial berhubungan dengan perasaan      curiga Menarik diri dari lingkungan berhubungan dengan perasaan tidak mampu Depresi berhubungan dengan isolasi sosial Harga diri rendah berhubungan dengan perasaan ditolak Koping tidak adekuat berhubungan dengan ketidakmampuan mengemukakan perasaan secara tepat. Cemas berhubungan dengan sumber keuangan yang terbatas .C.

dan sosial dengan tidak tergantung pada orang lain. psikologis.  Tujuan tindakan keperawatan : Tujuan tindakan keperawatan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar antara lain: .RENCANA KEPERAWATAN  Tujuan perencanaan : Membantu lansia berfungsi seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan kondisi fisik.

 Membatasi minum kopi dan teh. makanan manis.  Batasi makanan yang mengandung kalori (gula.  Usahakan makanan banyak mengandung serat.  Kebutuhan kalori laki-laki 2100 kalori. minyak. makanan berlemak). . Pemenuhan kebutuhan nutrisi Intervensi :  Berikan makanan porsi kecil tapi sering. wanita 1700 kalori:  KH 60% dari jumlah kalori  Lemak 15 – 20%  Protein 20 – 25%  Vitamin dan mineral > kebutuhan usia muda.  Air 6 – 8 gelas/hari.1.

Meningkatkan keamanan dan keselamatan Intervensi:  biarkan menggunakan alat bantu  latih untuk / mobilisasi  menggunakan kaca mata  menemani bila berpergian  meletakkan bel dibawah bantal  tempat tidur tidak terlalu tinggi  lantai bersih. rata dan tidak licin / basah  Peralatan yang menggunakan roda dikunci  Pasang pengaman dikamar mandi  Hindari lampu yang redup dan yang menyilaukan ( sebaiknya lampu 70-100 watt)  Gunakan sepatu dan sandal yang beralat karet .2.

.  Mengingatkan lanjut usia untuk membersihkan lubang telinga.3. Memelihara kebersihan diri Intervensi :  Mengingatkan / membantu lanjut usia untuk melakukan upaya kebersihan diri  Menganjurkan lanjut usia untuk menggunakan sabun lunak yang mengandung minyak atau gunakan skin lotion. mata dan gunting kuku.

Memelihara keseimbangan istirahat / tidur. . bebas dari bau-bauan  Melatih lanjut usia untuk melakukan latihan fisik yang ringan (berkebun. berjalan.  Memberikan minum hangat sebelum tidur.4. misalnya susu hangat. dll) untuk melancarkan sirkulasi dan melenturkan otot. Intervensi :  Menyediakan tempat/waktu tidur yang nyaman  Mengatur lingkungan yang cukup ventilasi.

Meningkatkan hubungan interpersonal melalui komunikasi efektif.  Memberikan kesempatan kepada lanjut usia untuk mengekspresikan perasaan  Melibatkan lansia untuk keperluan tertentu sesuai dengan kemampuan lansia  Menghargai pendapat lansia  Melibatkan lansia dalam kegiatan sehari–hari sesuai dengan kemampuan. Intervensi:  Berkomunikasi dengan kontak mata  Memberikan stimulus/mengingatkan lansia terhadap kegiatan yang akan dilakukan. .  Menyediakan waktu untuk berbincang-bincang dengan lanjut usia.5.

THANK’S .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful