ASKEP GANGGUAN JIWA PADA USILA

* KONSEP DASAR USILA * JENIS GANGGUAN JIWA PADA USILA * ASKEP PADA USILA
R. SAMSON MANAO

A. KONSEP DASAR USIA LANJUT
Definisi :  Menurut UU no 4 tahun 1945 Lansia adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000).
 Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima

sebagai suatu kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri dengan proses penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).

Batasan Usia Lanjut (WHO):
 Usia Pertengahan (Middle Age), adalah

usia antara 45-59 tahun  Usia Lanjut (Elderly), adalah usia antara 60-74 tahun  Usia Lanjut Tua (Old), adalah usia antara 75-90 tahun  Usia Sangat Tua (Very Old), adalah usia 90 tahun keatas

Tipe Usia Lanjut (Menurut Nugroho W, 2000) :
 Tipe Arif Bijaksana: Yaitu tipe kaya pengalaman,

 


menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, ramah, rendah hati, menjadi panutan. Tipe Mandiri: Yaitu tipe bersifat selektif terhadap pekerjaan, mempunyai kegiatan. Tipe Tidak Puas: Yaitu tipe konflik lahir batin, menentang proses penuaan yang menyebabkan hilangnya kecantikan, daya tarik jasmani, kehilangan kekuasaan, jabatan, teman. Tipe Pasrah: Yaitu lansia yang menerima dan menunggu nasib baik. Tipe Bingung: Yaitu lansia yang kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, pasif, dan kaget.

TEORI BIOLOGI  Teori genetic dan mutasi (Somatik Mutatie Theory) : Menurut teori ini menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang terprogram oleh molekul2 atau DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.  Teori radikal bebas : Tidak setabilnya radikal bebas mengakibatkan oksidasi-oksidasi bahan organik yang menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.TEORI-TEORI PROSES PENUAAN A.  Teori autoimun : Penurunan sistem limfosit T dan B mengakibatkan gangguan pada keseimbangan regulasi system imun (Corwin. 2001 .

termasuk didalamnya oleh karna stres dan hormon tubuh yang berkurang konsentrasinya akan memacu apoptosis diberbagai organ tubuh. makin sering sel membelah.  Teori telomere Dalam pembelahan sel. DNA membelah denga satu arah. . dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah dipakai.  Teori apoptosis Pada teori ini lingkumgan yang berubah. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kesetabilan lingkungan internal. makin cepat telomer itu memendek dan akhirnya tidak mampu membelah lagi. Teori stress Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Setiap pembelaan akan menyebabkan panjang ujung telomere berkurang panjangnya saat memutuskan duplikat kromosom.

 Keperibadian lanjut (Continuity theory) bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi tipe personality yg dimilikinya. . TEORI KEJIWAAN SOSIAL  Aktifitas atau kegiatan (Activity theory) bahwa pada lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut bnyak kegiatan social. baik secara kualitas maupun kuantitas.B.  Teori pembebasan (Disengagement theory) Dengan bertambahnya usia. seseorang secara berangsur-angsur melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi lanjut usia menurun.

C. Kondisi stres yang terus menerus dapat mempercepat proses penuaan. TEORI LINGKUNGAN  Exposure theory: Paparan sinar matahari dapat mengakibatkat percepatan proses penuaan. yang mempengaruhi kondisi epigenetik yang dpat mempercepat proses penuaan. .  Radiasi theory: Radiasi sinar y. sinar x dan ultrafiolet dari alat-alat medis memudahkan sel mengalami denaturasi protein dan mutasi DNA. air dan tanah yang tercemar polusi mengandung subtansi kimia.  Polution theory: Udara.  Stress theory: Stres fisik maupun psikis meningkatkan kadar kortisol dalam darah.

ukurannya lebih besar.  Sistem Penglihatan: Menurun lapang pandang dan daya akomodasi mata.  Sistem Pendengaran: Hilangnya atau turunnya daya pendengaran. lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak.PERUBAHAN YANG TERJADI PADA USIA LANJUT 1. Perubahan Fisik  Sel: Jumlahnya menjadi sedikit. suara tidak jelas.  Sistem Persyarafan: Respon menjadi lambat dan hubungan antara persyarafan menurun. terutama pada bunyi suara atau nada yang tinggi. sulit mengerti . pupil timbul sklerosis. daya membedakan warna menurun. berat otak menurun 10-20%.

asam lambung menurun. pelebaran esophagus. waktu pengosongan menurun. peristaltik lemah. dan sering timbul konstipasi. kemunduran terjadi krn beberapa factor: Temperatur tubuh menurun. rasa lapar menurun.  Sistem GI: Banyak gigi yang tanggal. fungsi absorbsi menurun. Kemampuan jantung menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun. sensitifitas indra pengecap menurun.  Sistem Respirasi: Paru-paru kehilangan elastisitas. Sistem Cardiovaskuler: Katup jantung menebal dan menjadi kaku. kehilangan sensitivitas dan elastisitas pembuluh darah. keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktifitas otot.  Sistem pengaturan temperatur tubuh: Pada pengaturan suhu hipotalamus. .

kifosis. berkurangnya elastisitas akibat penurunan cairan dan vaskularisasi. progesterone.  Sistem Kulit: Kulit menjadi keriput dan mengkerut karena kehilangan proses keratinisasi dan kehilangan jaringan lemak. dan testoteron. tendon mengkerut dan mengalami sclerosis. atropi serabut otot sehingga gerakan menjadi lamban. penipisan dan pemendekan tulang. persendian membesar dan kaku. .  System Muskuloskeletal: Tulang kehilangan cairan dan rapuh. elastisitas jaringan menurun dan disertai penurunan frekuensi seksual. pada wanita sering terjadi atrofi vulva. Sistem Genitourinaria: Otot-otot pada vesika urinaria melemah.  Sistem Endokrin: Produksi hampir semua hormon menurun dan penurunan sekresi hormone kelamin misalnya: estrogen. otot mudah kram dan tremor. selaput lendir mongering.

 Lingkungan. Perubahan Mental Faktor-faktor yang mempengaruhi:  Perubahan fisik. psikomotor terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan dari factor waktu.  Kesehatan umum. persepsi.  Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal.  Kenangan.2. . dan ketrampilan.  Perubahan kepribadian yang drastis namun jarang terjadi misalnya kekakuan sikap. kenangan jangka pendek yang terjadi 0-10 mnt  Kenangan lama tidak berubah.  Tingkat pendidikan. berkurangnya penampilan.  Hereditas.

kehilangan financial. pendapatan         berkurang. kemampuan gerak sempit.  Pensiunan. Perubahan dalam cara hidup. teman atau relasi Sadar akan datangnya kematian. Ekonomi akibat perhentian jabatan. kehilangan status.3. Gizi Kehilangan teman dan keluarga. Perubahan Psikososial  Ketergantungan fisik dan sosioekonomi. Penyakit kronis. Gangguan syaraf panca indra. . pengasingan dari lingkungan social. biaya hidup tinggi. Kesepian.

perawat harus mengadakan kontak sesama mereka. rekreasi. . menonton televise. memberi kesempatan utk berkumpul bersama dengan klien lansia. interpreter dan sebagai sahabat akrab. menanamkan rasa persaudaraan. serta bercerita.  Pendekatan Spiritual : Perawat harus bisa memberikan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan dan Agama yang dianut lansia. terutama bila lansia dalam keadaan sakit.PERAWATAN LANSIA  Pendekatan Psikis : Perawat punya peran penting untuk mengadakan edukatif yang berperan sebagai support system.  Pendekatan Sosial : Perawat mengadakan diskusi dan tukar pikiran.

 Gangguan perilaku adalah yg paling sering berupa agitasi. impulsivitas. meningkat prevalensinya dgn bertambahnya usia. JENIS GANGGUAN JIWA PADA USIA LANJUT 1.B. kekerasan. gangguan tidur dan waham . daya ingat. bahasa dan fungsi visuospasial. GANGGUAN DEMENSIA  Suatu gangguan intelektual yang umumnya progresif dan ireversibel. kegelisahan. penyerangan. berkelana.  Perubahan karakteristik dari demensia melibatkan fungsi kognisi. disinhibisi social dan seksual. . berteriak.

 Awalnya.  Penyebab: pemeriksaan neuropatologi dan biokimiawi postmortem menemukan kehilangan selektif neuron kolinergik dan penurunan volume girus pada lobus frontalis dan temporalis. Demensia Tipe Alzheimer  Ditandai oleh penurunan fungsi kognitif dengan onset yang bertahap dan progresif dan daya ingat mengalami gangguan.Terbagi 2 yaitu : 1. pasien mungkin memiliki suatu ketidakmampuan mempelajari dan mengingat informasi baru. dengan relatif terjaganya korteks motorik dan sensorik primer. selanjutnya gangguan penamaan. dan selanjutnya ketidakmampuan untuk mencontoh gambar. latihan dan pengawasan aktifitas .  Terapi: nutrisi yang tepat.

 Dibandingkan dengan demensia tipe Alzheimer. dan kelemahan pada anggota gerak. Demensia Vaskular  adalah tipe demensia kedua yang tersering yg ditandai oleh defisit kognitif yang sama seperti demensia tipe Alzheimer. demensia faskuler memiliki onset yang tiba-tiba dan merupakan penyebab pemburukan yang bertahap. palsi pseudobulbar. respon plantar ekstensor.2. seperti meningkatnya reflex tendon dalam. merokok. dan aritmia. kelainan gaya berjalan.  Dapat dicegah dengan menurunkan factor resiko yang diketehui seperti hipertensi.  Diagnose dapat ditegakkan dengan pencitraan resonansi magnetic (MRI) dan pemeriksaan aliran darah . tetapi demensia ini memiliki tanda dan gejala neurologis fokal. diabetes.

penurunan nafsu makan.  Depresi juga kemungkinan berhubungan dengan penyakit fisik yang dialami dan medikasi yang digunakan untuk mengobati penyakit tersebut. tidak berdaya.2. tidak berguna. ditandai dengan harga diri yang rendah. putus asa terutama bila hidup sendirian.  Lanjut usia rentan terhadap episode depresif berat dengan ciri melankolik. penurunan BB dan keluhan somatik. kematian pasangan). gangguan tidur (terutama terbangun dini hari dan sering terbangun di malam hari). perasaan tidak berharga dan kecenderungan menyalahkan diri sendiri dengan ide paranoid dan bunuh diri (perasaan kesepian. GANGGUAN DEPRESIF  Tanda dan gejala yang sering adalah penurunan energy dan konsentrasi. .

impulsivitas dan sering sekali asupan alcohol yang berlebihan. ekspansif dan mudah tersinggung.3.  Lithium tetap merupakan terapi terpilih untuk mania tetapi pemakaiannya pada lanjut usia harus dimonitor dengan cermat. . karena penurunan klirens pada lanjut usia menyebabkan toksisitas lithium adalah resiko yang bermakna. distrakbilitas. walaupun prefalensi seumur hidup sebesar 1 % adalah stabil sepanjang hidup. penurunan kebutuhan akan tidur.  Tanda dan gejala mania pada lanjut usia adalah serupa dengan tanda dan gejala pada orang dewasa yang lebih mudah dan berupa mood yang meninggi. GANGGUAN BIPOLAR I  Biasanya dimulai pada masa dewasa pertengahan.

 Kira-kira 20 persen orang skizofrenia tidak menunjukkan gejala aktif pada usia 65 tahun.4. . dianjurkan dirawat di rumah sakit dalam waktu jangka panjang. 80 persen menunjukkan gangguan dengan berbagai tingkatan. Psikopatologi menjadi kurang jelas saat pasien bertambah tua. Orang lanjut usia dengan skizofrenik adalah berespon baik terhadap obat antipsikotik.  Medikasi harus diberikan dengan hati-hati. SKIZOFRENIA  Biasanya mulai pada masa remaja akhir atau masa dewasa muda dan menetap seumur hidup.  Pasien yang tidak mampu merawat dirinya sendiri.

tetapi. pensiun.  Gangguan ini timbul selama beberapa tahun dan tidak disertai dengan demensia. Prognosis cukup baik pada sebagian besar kasus.  Sindroma delusional mungkin juga diakibatkan oleh medikasi atau merupakan tanda awal tumor otak. penyakit medis atau pembedahan yang menimbulkan kecacatan. GANGGUAN DELUSIONAL  biasanya antara usia 40 dan 55tahun. dan ketulian.  Gangguan delusional terjadi dibawah stress fisik dan psikologis pada orang yang rentan dan mungkin dicetuskan oleh kematian pasangan. keadaan finansial yang tidak baik. isolasi sosial. kehilangan pekerjaan. gangguan ini dapat terjadi kapan saja dalam periode geriatrik. dengan hasil terbaik dicapai melalui kombinasi . gangguan penglihatan.5.

gangguan stres akut. tanda dan gejala fobia pada usia lanjut kurang parah dibandingkan pada orang yang lebih mudah tetapi efeknya sama.  Gangguan paska traumatic sering lebih parah pada usia lanjut dibandingkan pada orang muda karena adanya kecatatan fisik yang menyertai pada usia lanjut. GANGGUAN KECEMASAN  Gangguan kecemasan berupa gangguan panic.  Menurut ECA.6. .dan gangguan stress pascatraumatik. gangguan paling sering adalah fobia sebanyak 4 persen dan gangguan panik sebanyak 1 persen. fobia.  Menurut Erik Erikson. gangguan kecemasan umum. gangguan obsesif kompulsif.

.7.  Gangguan biasanya kronis dan pemeriksaan fisik ulang berguna untuk menenteramkan pasien bahwa mereka tidak memiliki penyakit yang mematikan. Tetapi prosedur invasif yang memiliki resiko tinggi. harus dihindari. GANGGUAN SOMATOFORM  Ditandai oleh gejala fisik yang menyerupai penyakit medis.

 Disamping perubahan fisiologis dan sistem regulasi. kondisi medis umum. gangguan mental lain.8. penyebab gangguan tidur pada lanjut usia adalah gangguan tidur primer. . GANGGUAN TIDUR  Fenomena yang berhubungan dengan tidur yang lebih sering adalah gangguan tidur. mengantuk di siang hari dan tidur sejenak di siang hari . dan faktor sosial dan lingkungan.

ASKEP GANGGUAN JIWA PADA USIA LANJUT 1. Tujuan Asuhan Keperawatan lanjut usia: Meliputi :  Agar lanjut usia dapat melakukan kegiatan sehari- hari secara mandiri dengan:  Peningkatan kesehatan (health promotion)  Pencegahan penyakit  Pemeliharaan kesehatan sehingga memiliki ketenangan hidup dan produktif sampai akhir hidup  Agar lanjut usia dapat melakukan kegiatan seharihari secara mandiri dengan mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka yang usianya telah lanjut dgn jln perawatan dan .

agar para klien lanjut usia yang menderita suatu penyakit/gangguan. masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa suatu pertolongan (memelihara kemandirian secara maksimal) . perawat) untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnosa yang tepat dan dini. bila mereka menjumpai suatu kelainan tertentu  Mencari upaya semaksimal mungkin. Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat hidup klien lanjut usia (life support)  Menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita penyakit dan mengalami gangguan tertentu (kronis maupun akut)  Merangsang para petugas kesehatan (dokter.

2. Pencegahan penyakit (preventive) c. Mengoptimalkan fungsi mental d. Peningkatan kesehatan (helath promotion) b. Mengatasi gangguan kesehatan yang umum . Fokus Keperawatan Lanjut Usia a.

3. Pengkajian Tujuan:  Menentukan kemampuan klien untuk memelihara diri sendiri  Melengkapi dasar-dasar rencana perawatan individu  Membantu menghindarkan bentuk dan penandaan klien  Memberi waktu kepada klien untuk menjawab. .

sendi . minum .  Kebiasaan makan .  Kebiasaan lansia dalam memelihara kes dan kebiasaan minum obat .BAB / BAK .  Kebiasaan gerak badan / olah raga . pendengaran dan penglihatan).  Perubahan2 fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan.  Kebiasaan lansia merawat diri sendiri .Focus Pengkajian Fisik / biologis : 1. Wawancara riwayat kesehatan Pandangan lansia tentang kesehatannya :  Kegiatan yang mampu dilakukan lansia  Kekuatan fisik lansia ( otot . istirahat /tidur .

. Pendekatan yang digunakan dalam pemeriksaan fisik adalah metode head to toe dan sistem tubuh yang meliputi: Sistem intergumen / kulit Muskuluskletal Respirasi Kardiovaskuler Perkemihan Persyarafan Fungsi sensorik (penglihatan. perkusi. dan auskultasi untuk mengetahui perubahan sistem tubuh.         palpasi. pendengaran. Pemeriksaan fisik  Pemeriksaan dilakukan dengan cara inspeksi. pengecapan dan penciuman).2.

proses fikir  Perlu dikaji alam perasaan. proses pikir lambat. adanya perasaan sedih dan merasakan kurang perhatian  Hal hal yang perlu dikaji meliputi : .Psikologis :  Dilakukan saat berkomunikasi untuk melihat fungsi kognitif termasuk daya ingat. kemampuan dalam menyelesaikan masalah. orientasi terhadap realitas .  Perubahan umum yang terjadi meliputi: penurunan daya ingat.

 Apakah mengenal masalah masalah        utamanya Apakah optimas mengandung sesuatu dalam kegiatan Bagaimana sikapnya terhadap proses penuaan Apakah merasa dirinya dibutuhkan atau tidak Bagaimana mengatasi . masalah atas stress yang dialami Apakah mudah untuk menyesuaikan diri Apakah usila untuk menyesuikan diri Apakah usila menggali kegagalan .

Sosial Ekonomi :  Bagaimana lansia membina keakraban dengan teman sebaya maupun dengan lingkungan dan bagaimana keterlibatan lansia dalam organi sosial.antara lain : .  Penghasilan yang diperoleh  Perasaan sejahtera dalam kaitannya dengan sosial ekonomi  Hal hal yang perlu dikaji .

 Kesibukan lansia dalam mengisi waktu luang         . Kegiatan organisasi sosial yang diikuti Pandangan lansia terhadap lingkungannya Berapa sering lansia berhubungan dengan orang lain diluar rumah Siapa saja yang bisa mengunjunginya Seberapa besar ketergantungannya Apakah dapat menyalurkan hobi atau keinginan dengan fasilitas yang ada . Sumber keuangan . Dengan siapa yang ia tinggal .

apakah secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan. apakah secara teratur melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya. Hal – hal yang perlu dikaji antara lain : Kegiatan ibadah setiap hari. Kegiatan keagamaan. Cara menyelesaikan masalah apakah dengan berdoa Apakah terlihat sabar dan tawakal .Spiritual  Keyakinan agama yang dimiliki dan sejauh mana      keyakinan tersebut dapat diterapkan. misalnya pengajian.

 Gangguan pola tidur b/d kecemasan atau nyeri.. .  Gangguan pola nafas b/d penyempitan jalan nafas.  Kurangnya perawatan diri b/d menurunnya minat dalam merawat diri.  Resiko cidera fisik (jatuh) b/dpenyesuaian terhadap penurunan fungsi tubuh tidak adekuat.  Perubahan pola eliminasi b/d pola makan yang tidak efektif. Fisik / Biologis  Gangguan nutrisi (kurang/berlebihan dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat)  Gangguan persepsi sensorik b/d gangguan pendengaran/penglihatan sampai dengan hambatan penerimaan dan pengiriman rangsangan.DIAGNOSA KEPERAWATAN A.

 Perasaan tidak tenang b/d ketidakmampuan melakukan ibadah secara tidak tepat. Spiritual  Reaksi berkabung / berduka b/d ditinggal pasangan.  Penolakan terhadap proses penuaan b/d ketidaksiapan menghadapi kematian.B.  Marah terhadap Tuhan b/d kegagalan yang dialami. .

Cemas berhubungan dengan sumber keuangan yang terbatas .C. Psikososial  Isolasi Sosial berhubungan dengan perasaan      curiga Menarik diri dari lingkungan berhubungan dengan perasaan tidak mampu Depresi berhubungan dengan isolasi sosial Harga diri rendah berhubungan dengan perasaan ditolak Koping tidak adekuat berhubungan dengan ketidakmampuan mengemukakan perasaan secara tepat.

RENCANA KEPERAWATAN  Tujuan perencanaan : Membantu lansia berfungsi seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan kondisi fisik. dan sosial dengan tidak tergantung pada orang lain. psikologis.  Tujuan tindakan keperawatan : Tujuan tindakan keperawatan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar antara lain: .

 Batasi makanan yang mengandung kalori (gula. makanan manis. Pemenuhan kebutuhan nutrisi Intervensi :  Berikan makanan porsi kecil tapi sering. minyak. makanan berlemak).  Membatasi minum kopi dan teh.  Kebutuhan kalori laki-laki 2100 kalori.1.  Air 6 – 8 gelas/hari.  Usahakan makanan banyak mengandung serat. . wanita 1700 kalori:  KH 60% dari jumlah kalori  Lemak 15 – 20%  Protein 20 – 25%  Vitamin dan mineral > kebutuhan usia muda.

2. Meningkatkan keamanan dan keselamatan Intervensi:  biarkan menggunakan alat bantu  latih untuk / mobilisasi  menggunakan kaca mata  menemani bila berpergian  meletakkan bel dibawah bantal  tempat tidur tidak terlalu tinggi  lantai bersih. rata dan tidak licin / basah  Peralatan yang menggunakan roda dikunci  Pasang pengaman dikamar mandi  Hindari lampu yang redup dan yang menyilaukan ( sebaiknya lampu 70-100 watt)  Gunakan sepatu dan sandal yang beralat karet .

 Mengingatkan lanjut usia untuk membersihkan lubang telinga. Memelihara kebersihan diri Intervensi :  Mengingatkan / membantu lanjut usia untuk melakukan upaya kebersihan diri  Menganjurkan lanjut usia untuk menggunakan sabun lunak yang mengandung minyak atau gunakan skin lotion.3. . mata dan gunting kuku.

misalnya susu hangat. Intervensi :  Menyediakan tempat/waktu tidur yang nyaman  Mengatur lingkungan yang cukup ventilasi. Memelihara keseimbangan istirahat / tidur. bebas dari bau-bauan  Melatih lanjut usia untuk melakukan latihan fisik yang ringan (berkebun. berjalan. .  Memberikan minum hangat sebelum tidur. dll) untuk melancarkan sirkulasi dan melenturkan otot.4.

5. Intervensi:  Berkomunikasi dengan kontak mata  Memberikan stimulus/mengingatkan lansia terhadap kegiatan yang akan dilakukan. . Meningkatkan hubungan interpersonal melalui komunikasi efektif.  Memberikan kesempatan kepada lanjut usia untuk mengekspresikan perasaan  Melibatkan lansia untuk keperluan tertentu sesuai dengan kemampuan lansia  Menghargai pendapat lansia  Melibatkan lansia dalam kegiatan sehari–hari sesuai dengan kemampuan.  Menyediakan waktu untuk berbincang-bincang dengan lanjut usia.

THANK’S .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful