P. 1
Sejarah Hadis Pra-Kodifikasi

Sejarah Hadis Pra-Kodifikasi

|Views: 1,014|Likes:

More info:

Published by: Muhamad Ridwan Nurrohman on Sep 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2013

pdf

text

original

Sejarah Hadis Pra-Kodifikasi

Oleh: Muhamad Ridwan Nurrohman (Tafsir Hadis II) Pendahuluan Memulai makalah ini, perlu adanya pembedaan serta penjelasan tentang esensi dari hadis dan sunnah. Karena sering kali kedua istilah ini dianggap sama, atau dianggap sebagai murâdif. Padahal ada suatu perbedaan yang cukup mendasar, yang kiranya perlu disampaikan. Bila berbicara tentang hadis, ini lebih merupakan suatu laporan yang disampaikan seseorang atau beberapa orang mengenai perbuatan, perkataan, taqrir (persetujuan) atau hal-ihwal mengenai Rasulullah SAW, atau diistilahkan dengan sunnah.1 Jadi, sunnah itu disampaikan melalui hadis. Wallahu a’lam. Sebagai sebuah media, hadis ini merupakan sumber hukum yang penting dalam Islam. Karena tanpa hadis, umat Islam tidak akan tahu bagaimana sunnah Rasulullah SAW itu. Para ulama mengatakan hadis (atau yang lebih tepatnya disebut sunnah) ini digunakan sebagai tafsir al ‘amaliy (tafsir aplikatif) bagi Al Qur-an.2 Segala sesuatu yang tidak Allah jelaskan atau rinci dalam Al Qur-an, maka Allah mewahyukannya lewat hadis atau sunnah ini. Berbicara hadis dalam konteks sejarah, ini adalah sesuatu yang memang sangat urgen. Tidak sedikit orang-orang yang membuat penyelewengan dan memutar balikan sejarah yang sesungguhnya, demi kepentingannya masing-masing. Dalam suatu ungkapan, “Ketika kita bisa mengubah masa lalu, maka kita bisa merubah masa kini, dan juga masa depan.”3 Maka pantas, jika mereka (orang-orang yang membenci Islam) melakukannya terhadap hadis, selain tentu juga mereka lakukan terhadap hal-hal fundamen lainnya. Karena memang hadis ini memiliki posisi yang sangat strategis dalam kehidupan muslim. Maka Ibnu Al Jauzi pun mengkodifikasikannya dalam kitabnya “Al Maudhu’at” yang merupakan bentuk pembelaan terhadap sunnah Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dari orangorang seperti itu.4 Terlebih berbicara dalam konteks hadis masa pra-kodifikasi, ketika hadis-hadis ini belum berwujud sebagai kitab-kitab tebal yang berjilid-jillid seperti sekarang ini. Bahkan ada yang mengatakan bahwa hadis itu sama sekali belum pernah dituliskan oleh para sahabat pada masa Rasulullah SAW. 5 Yang semua ini dijadikan landasan bagi para orientalis seperti Joseph Schacht, Juyn Bolt, Goldziher, dan lain-lain.6 Selain tentunya dibarengi juga dengan praduga-praduga lainya.

M. Iqbal dan William Hunt. Ensiklopedi Ringkas Tentang Islam. 2005. Jakarta: MM Corp. Hlm. 125 dan 371. Yusuf Al Qardhawi. Pengantar Studi Hadis. 2007. Bandung: Pustaka Setia. Hlm. 123. 3 George Orwell (1903-1950) dalam Jalaluddin Rakhmat. Al Musthafa; Manusia Pilihan Yang Disucikan. 2008. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Hlm. 3-4. 4 Ibnu Al Jauzi (510-597 H). Al Mudhu’at. 1983. Beirut: Dar El Fikr. Hlm. 5-6. 5 Mereka berpendapat, bahwa orang Arab karena buta hurufnya, sehingga pada waktu itu mereka hanya mengandalkan ingatannya saja. Lihat, Mustafa Al Siba’i. Sunnah dan Peranannya Dalam Penetapan Hukum Islam. 2003. Jakarta: Putaka Firdaus. Hlm. 15-16. 6 Ahmad Luthfi Fathullah. Metode Belajar Interaktif Hadis dan Ilmu Hadis (CD Program). TT. Jakarta: Pusat Kajian Hadis.
2

1

1

Sifat-sifat mulia nabi di masa kecilnya (tepatnya sebelum kenabian) itu tidak hilang ketika beliau telah diangkat menjadi Rasul. Tadwin Al Sunnah Al Nabawiyyah Nasya’tuhu wa Tatowwuruhu. d. halaman 28-29. 97-98. Riyadh: Mamlakah Al ‘Arabiah Al Su’udiyyah. akan tetapi semua itu baru berwujud sahifah (lembaran-lembaran) saja. Masa Penyebaran Hadis Pada masa awal. yaitu pada masa pra-kodifikasi. b. bahwasanya tadwin atau kodifikasi ini lebih bermakna kepada pengumpulan menjadi suatu bundel lengkap. Karena sebagian orang orientalis banyak menyerang para sahabat. Karena dilihat dari makna dan arti hadis itu sendiri adalah media yang menyampaikan sunnah Rasul SAW. 101 H/720 M). Sedangkan sunnah itu sendiri merupakan sirah dan tariqah (perjalanan hidup dan gaya hidup) Rasulullah SAW yang ma’sum (terjaga). 1996. dengan menyebut mereka adalah pendusta. tafsir. 14. 9 Sama dengan pendapat Ibnu Mandzur dalam Tadwin Al Sunnah Al Nabawiyyah. 13. Ada beberapa hal atau amalan yang dilakukan Muhammad SAW (seperti tahannus -menyepi-) yang ternyata tidak Rasul amalkan lagi dan tidak lagi beliau ajarkan kepada para sahabatnya.” 7 2 . M. yaitu menjelaskan perjalanan (penyebaran) hadis dari periode awal yaitu masa Rasulullah SAW hingga sesaat sebelum pengkodifikasian hadis (tadwin Al Sunnah) pada masa Umar bin Abdul Aziz. Ibn Taimiyah berkata. Dan kesemuanya itu berbicara khususnya Muhammad SAW dalam konteks Rasulullah (utusan Allah). Inilah yang harus ditekakan antara perbedaan dua makna yaitu antara tadwin al hadis dengan kitabah al hadis. Selain juga mereka adalah orang-orang yang banyak dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan politik. maka sekarang masuk dalam pembahasan inti. yaitu pada periode Rasulullah SAW.Tapi apakah benar hadis itu belum tertulis pada masa Rasulullah SAW dan juga para sahabat? Dan apakah bisa disebut otentik. 2008. 8 Muhammad bin Shalih Al Usaimin. Muhammad bin Mathar Al Zahraniy. Insya Allah ta’ala. A. yaitu sebagai berikut: a. Hlm. “Berita yang berkenaan dengan Muhammad SAW ini banyak termaktub dalam kitabkitab sejarah. Mushthalah Hadits.7 Jadi apa yang dimaksud pra-kodifikasi ini bukan berarti masa-masa kosong dari penulisan hadis sama sekali. Hadis menyebar dengan sangat cepat. ataukah hanya berlaku setelah beliau didaulat menjadi Rosul. Amr (perintah) Allah SWT itu adalah supaya taat kepada Muhammad sebagai utusan Allah. bukanlah sebagai suatu usaha menuliskan suatu hal (dalam hal ini hadis atau disebut juga kitabah al hadis). hadis-hadis yang begitu banyak itu. namun tidak terkodifikasi dalam suatu bentuk yang ril? Untuk mengetahui itu. Dikarenakan hal ini merupakan dasar dari penelitian tentang otentisitas hadis. bukan sebagai manusia biasa. Syuhudi Ismail dalam bukunya Kaidah Kesahihan Sanad Hadis. maka perlu dibatasi pembahasan dalam makalah ini dalam periode pertama saja.9 Dengan demikian penyebaran hadis pada masa itu sangatlah cepat. Untuk mencari jawaban yang tepat. Hlm. Hingga hadis yang ada sekarang ini adalah hasil rekayasa mereka. Namun masih terjadi perbincangan dengan apa yang disebut sunnah ini dari masa Muhammad sebelum diutus menjadi Rasul. belum menjadi kitab yang berjilid-jilid seperti di zaman Umar bin Abdul Aziz (w. dan hadis. c. ia menuliskan empat alasan yang menguatkan pendapat pertama. Hlm. Hadis atau Sunnah Pada Masa Pra-Kodifikasi (Al Sunnah Qabla Tadwin) Perlu dijelaskan sebelumnya.8 Setelah mengetahui makna tersebut. Yogyakarta: Media Hidayah.

Sahih Muslim. atau bahkan semua hal-ihwal tentang Nabi SAW. 3 . 13 Al Hasan bin Abdurrahman Al Ramahurmuziy. وحدثوا عني ول حرج. Beirut: Dar El Fikr.”18 10 M. M. 15 Yaitu diantaranya Abu Bakar. juga para sahabat memang memiliki ghirah (semangat) yang hebat dalam mencari hadis serta mengajarkannya kepada yang lain. 366. 109. Ada yang berpendapat semua ini karena kebanyakan para sahabat adalah orang-orang yang buta huruf (tidak dapat menulis). Syuhudi Ismail. maka disiapkan tempat duduknya dari api neraka. kecerdasan dan kekuatan hafalan mereka sudah dapat diandalkan. Hadis Nabawi.قال همام أحسبه قال . 28. dan semula memang adanya larangan dari Rasulullah SAW. TT. Jakarta: PT Bulan Bintang. Akan tetapi ketika itu orang-orang tidak ada yang berani berdusta terhadap hadis Nabi SAW. 30-37. dan Sejarah Kodifikasinya. ada yang menghafalnya14.”13 Hal ini menunjukkan bahwa hadis yang diterima para sahabat itu tidaklah selamanya langsung dari Rasul SAW. 1971. 235. Kaidah Kesahihan Sanad Hadis. taqriri (persetujuan) atas amal para sahabatnya. 17 Pendapat Ibnu Hajar dalam M. yaitu dari masa Rasul SAW. 1992. maka hapuslah. Beirut: Muassasah Al Risalah. Dan sekurang-kurangnya ada dua reaksi atau sikap para sahabat setelah mendapatkan hadis tersebut. Ali bin Abu Thalib. Syuhudi Ismail. Jil. ومن كذب علي . 34: Hlm.dengan sengaja. 2005. Sunnah dan Peranannya Dalam Penetapan Hukum Islam.Ada beberapa metode Rasulullah SAW dalam menyampaikan hadis. Lihat Al Mizzi (654-742 H). Dan barangsiapa yang berdusta atas namaku -Hammam berkata: Aku kira ia (Zaid) berkata. M. Hlm. 2298. Azami. dan Abdullah bin Abbas. 14 Yaitu diantaranya Abu Hurairoh (w. 15. TT. Adakalanya mereka menerima dari sahabat lainnya. Beirut: Dar El Fikr. para sahabat. Orang yang hadir pun memberitakannya kepada orang yang tidak hadir. dan Tabi’in. dan ada juga yang menulisnya15. 12 Muhammad bin Ismail Al Bukhori. hadis sangat cepat tersebar.متعمدا‬ )‫فليتبوأ مقعده من النار‬ “Janganlah kalian menuliskan dariku kecuali Al Qur-an saja.10 Adapun peristiwa penyebaran hadis itu sendiri dapat dibagi menjadi tiga metode untuk mewakili periode awal ini. Hlm. Sahih Al Bukhori bi Hasiyah Al Sindi. diantaranya dengan metode lingua. Jil. Lihat. Hlm. 2006. Pelarangan Menulis Hadis Mengapa hadis tidak dicatat di masa Rasulullah SAW?16 Itulah pertanyaan yang seringkali muncul pada masa-masa sekarang. 4: Hlm. 39-40. 18 Muslim bin Hajjaz. maka barangsiapa yang menulisnya. Beirut: Dar Ihya Al Turats Al ‘Arabiy. 11 Ibid. Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah.11 1. Tahdzîbul Kamâl fi Asmâ Al Rijâl. Hlm. 57 H). Hlm. Kaidah Kesahihan Sanad Hadis. “Tidaklah kami semua dapat hadir langsung dan mendengar hadis dari Rasulullah SAW.12 Al Bara bin ‘Azib Al Awsiy (w. 16 Mustafa Al Siba’i. tidak apa-apa (tidak berdosa). Periwayatan di Zaman Nabi SAW Dalam masa ini. Sebagaimana yang diakui oleh beberapa sahabat beliau diantaranya Umar bin Al Khattab. Karena di antara kami ada yang tidak memiliki waktu atau sangat sibuk. praktik. Jakarta: Pustaka Firdaus. Selain karena Rasul SAW adalah sebagai titik acuan. Al Muhaddis Al Fâsil baena Al Râwi wa Al Wâ’iy. 72 H) juga berkata. Hlm.17 ‫عن أبي سعيد الخدري: أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: (ل تكتبوا عني ومن كتب عني‬ ‫غير القرآن فليمحه. Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash. Riwayatkan saja hadis dariku.

فقام أبو شاه رجل من أهل اليمن فقال اكتبوا‬ ( ‫لي يا رسول الله فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ) اكتبوا لبي شاه‬ “Abu Hurairoh berkata. Dan ketika dengan menulis hadis itu dijadikan upaya pemeliharaan sunnah maka hukumnya bisa menjadi wajib. 1995. 857. Takut berpegangan atau cenderung menulis hadis tanpa diucapkan atau ditela’ah. tentu tidak akan seperti itu kesimpulannya. 20 19 4 . seorang penduduk Yaman dan berkata. I: Hlm. 16. Beirut: Dar Ibnu Katsir. dalam Qurrata A’yunina. 91. b. Beliau berdiri di hadapan manusia.’ Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda. Dikuatkan juga oleh Mustafa Al Siba’i. maka Beliau memuji Allah dan mensucikan-Nya kemudian bersabda: Sesungguhnya Allah telah melarang menawan gajah di Makkah ini dan menyerahkan urusannya kepada Rasul-Nya dan Kaum Mu'minin. Namun ketika penulisan hadis tersebut diprediksikan akan berdampak negatif terhadap syar’i. kecuali pohon Idzhir. Muhammad bin Shalih Al Usaimin. Sejarah Perkembangan Hadist Masa Pra Kodifikasi. Ponorogo: STAIN Ponorogo. Jil.‫أبو هريرة رضي الله عنه قال: لما فتح الله على رسول صلى الله عليه و سلم مكة قام في‬ ‫الناس فحمد الله وأثنى عليه ثم قال ) إن الله حبس عن مكة الفيل وسلط عليها رسوله‬ ‫والمؤمنين فإنها ل تحل لحد كان قبلي وإنها أحلت لي ساعة من نهار وإنها ل تحل لحد بعدي‬ ‫فل ينفر صيدها ول يختلى شوكها ول تحل ساقطتها إل لمنشد .’ Berkata Al Walid bin Muslim. Sahih Al Bukhori. ‘Apa yang ia maksud dengan meminta ‘tuliskanlah buatku wahai Rasulullah’?’ Dia berkata. tidak boleh dipotong durinya. karena di tanah Makkah ini tidaklah dihalalkan bagi seorangpun sebelumku dan sesungguhnya pernah dihalalkan buatku pada suatu masa disuatu hari dan juga tidak dihalalkan bagi seseorang setelah aku. Mushthalah Hadits. ‘Aku bertanya kepada Al Awza'iy. karena pohon itu kami gunakan sebagai wewangian di kuburan kami dan di rumah kami. Jil. Khawatir terjadi kekaburan antara ayat-ayat Al Qur-an dan hadis Rasul bagi para muallaf.’ Lalu berdiri Abu Syah. Ibânatul Ahkam (Terjemah). Namun bila saja dikaji sedikit lebih dalam. TT. 19. ومن قتل له قتيل فهو بخير‬ ‫النظرين إما أن يفدى وإما أن يقيد ( . ‘Tuliskanlah buat Abu Syah. Maka tidak boleh diburu binatang buruannya. dan tidak boleh diambil barang temuan di sana kecuali untuk diumumkan dan dicari pemiliknya.”19 Secara dzahir hadis ini memang ta’arrudh (bertentangan). Barangsiapa yang dibunuh maka keluarga korban memiliki dua pilihan apakah dia akan meminta tebusan uang atau meminta balasan dari keluarga korban. فقال‬ ‫رسول الله صلى الله عليه و سلم ) إل الذخر ( .20 Adapun faktor-faktor utama dan terpenting yang menyebabkan Rasulullah SAW melarang penulisan dan pembukuan hadis adalah: a. tuliskanlah buatku?’ Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata. Karena sebenarnya pada dasarnya menulis hadis itu boleh. فقال العباس إل الذخر فإنا نجعله لقبورنا وبيوتنا . Hlm.21 Muhammad bin Ismail Al Bukhori. ‘Kecuali pohon Idzhir. c. Surabaya: Mutiara Ilmu. 2: Hlm. 21 Hasan Sulaiman Abas Alwi. Maka berkatalah Al 'Abbas. ‘Isi khuthbah tadi yang dia dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. ‘Ya. Sunnah dan Peranannya Dalam Penetapan Hukum Islam. 1987. ‘Wahai Rasulullah. dkk. maka penulisan tersebut dilarang. Khawatir orang-orang awam berpedoman pada hadis saja. Ketika Allah subhanahu wata'ala membukakan kemenangan bagi Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam atas Kota Makkah. Hlm.

Namun pembatasan tersebut tidak berarti bahwa kedua khalifah tersebut anti-periwayatan. Hlm.Jadi. Beirut: Dar Shodr. hanya saja beliau sangat selektif terhadap periwayatan tentang waris yang diriwayatkan oleh Imam Malik. 97-98. Umar berkata. begitulah makna hadis tentang pelarangan tadi menurut teori tariqatul jam’i (mengambil jalan tengah). Begitu juga dengan Khalifah Umar ibn Al Khattab. “Sekiranya aku meriwayatkan hadis di masa Umar seperti aku meriwayatkannya kepadamu (memperbanyaknya). Umar ibn Khattab bukanlah orang yang anti periwayatan hadis. Sehingga memudahkan untuk percepatan penyebaran hadis. Masa Pemerintahan Abu Bakar dan Umar ibn Khattab Setelah Rasulullah wafat. Hadis pada Periode Kedua (Masa Al Khulafa’ Al Rasyidin) 1. apakah ia banyak meriwayatkan hadis di masa Umar. 24 ‘Ajaz Al Khatib. 135. Dan ‘Ajaz Al Khatib. Tetapi saya mengangkat mereka untuk mengajarkan Al Qur-an dan hadis kepada kamu semua. Ushulul Hadits wa Mustholahuhu. dengan semakin mudahnya para sahabat meriwayatkan hadis dirasa cukup membahayakan bagi otentisitas hadis tersebut. Hlm. 96. Juz III: Hlm. B. “Saya tidak mengangkat penguasa daerah untuk memaki orang.”22 Riwayat Abu Hurairoh tersebut menunjukkan ketegasan Khalifah Umar dalam menerapkan peraturan pembatasan riwayat hadis pada masa pemerintahannya. langkah yang diterapkan tidaklah setegas langkah khalifah Umar bin Al Khottob. Al Sunnah Qabla Tadwin. sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadis. apalagi merampas harta kalian. seperti dalam permasalahan Mustafa Al Siba’i. Abu Hurairoh. 1963. maksud dari larangan Rasul SAW itu adalah menyatukan tulisan hadis dan Al Qur-an dalam satu catatan (sufah). Sunnah dan Peranannya Dalam Penetapan Hukum Islam. memukul. Wallahu a’lam. Pembatasan tersebut dimaksudkan agar tidak banyak dari sahabat yang mempermudah penggunaan nama Rasulullah SAW dalam berbagai urusan. banyak sahabat yang berpindah ke kota-kota di luar Madinah. Namun. Namun. supaya hadis itu tidak bercampur dengan ayat Al Qur-an. Kairo: Maktabah Wahbah. lalu menjawab. kebijakan pemerintahan Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib tentang periwayatan tidak berbeda dengan apa yang telah ditempuh oleh kedua khlaifah sebelumnya. Hlm. Segala periwayatan yang mengatasnamakan Rasulullah SAW harus dengan mendatangkan saksi. Namun di sisi lain. 22 5 . Dalam sebuah riwayat. Tobaqatul Kubra. Masa Pemerintahan Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib Secara umum. periwayatan Hadis pada masa pemerintahan hadis. 1989. 1968. Umar mengutus para ulama untuk menyebarkan Al Qur-an dan hadis. niscaya Umar akan mencambukku dengan cambuknya. Dalam sebuah kesempatan. 22. 23 Ibnu Sa’ad. Beirut: Dar El Fikr.”23 2. pernah ditanya oleh Abu Salamah.24 Namun pada dasarnya. Maka Khalifah Abu Bakar menerapkan peraturan yang membatasi periwayatan hadis. Dengan demikian periode tersebut disebut dengan masa “pembatasan periwayatan hadis”. Utsman meminta para sahabat agar tidak meriwayatkan hadis yang tidak mereka dengar pada zaman Abu Bakar dan Umar. meskipun jujur dan dalam permasalahan yang umum.

26 Ibnu ‘Asakir dalam Musthafa Al Siba’i dalam Sunnah dan Penerapannya dalam Penetapan Hukum Islam. Perbuatan mereka itu ditandingi oleh golongan Sunnah (Jumhur/Pemerintah) yang bodoh-bodoh. Kalangan Tabi’in telah semakin banyak yang aktif meriwayatkan hadis. Kegiatan periwayatan hadis pada masa itu lebih luas dan banyak dibandingkan dengan periwayatan pada periode Khulafa’ Al Rasyidin. 40. Sehingga masa ini disebut dengan “masa melimpahnya periwayatan hadis” (‫الحديث‬ ‫. Mereka juga membuat hadis-hadis untuk mengimbangi hadis golongan Syi'ah itu. tidak seluruh periwayat hadis dapat dipercaya riwayatnya.ini lebih banyak daripada pemerintahan sebelumnya. Hlm. Seorang ulama Syi'ah. Ibnu Abil Hadid menulis dalam kitab Najhu Al Balaghah.)عصر إكثار رواية‬ Keleluasaan periwayatan hadis tersebut juga disebabkan oleh karakteristik pribadi Utsman yang lebih lunak jika dibandingkan dengan Umar Selain itu. Pembakuan tatacara periwayatan hadis ini berkaitan erat dengan upaya ulama untuk menyelamatkan hadis dari usaha-usaha pemalsuan hadis. “Hadis keluar dari kita sejengkal. 25 6 . Hlm. umat Islam terpecah-pecah dan masing-masing lebih mengunggulkan golongannya. Hadis pada Periode Ketiga (Masa Sahabat Kecil . hal itu membawa dampak negatif dalam periwayatan hadis. wilayah kekuasaan Islam yang semakin luas juga menyulitkan pemerintah untuk mengontrol pembatasan riwayat secara maksimal. Meskipun masih banyak periwayat hadis yang berhati-hati dalam meriwayatkan hadis.” Karena banyaknya hadis palsu yang beredar di masyarakat dikeluarkan oleh golongan Syi'ah. Kepentingan politik telah mendorong pihakpihak tertentu melakukan pemalsuan hadis. Sejak timbul fitnah pada akhir masa Utsman. Imam Malik menamai kota Irak (pusat kaum Syi'ah) sebagai “negeri percetakan”. Dengan demikian. Bahkan Al Zuhri berkata. Secara tidak langsung. lalu kembali dari Irak sehasta. yakni pada masa kekhalifahan Daulah Umayyah.Tabi’in Besar) Masa Penyebarluasan Hadis Sesudah masa Khulafa’ Al Rasyidin. luasnya wilayah Islam dan kepentingan golongan memicu munculnya hadis-hadis palsu.25 C. Karena meskipun pembakuan tatacara periwayatan telah ditetapkan.”26 Lengkapnya dijelaskan oleh Musthafa Al Siba’i dalam Sunnah dan Penerapannya dalam Penetapan Hukum Islam. Masa itu merupakan masa krisis dan fitnah dalam masyarakat. Terjadinya peperangan antar beberapa kelompok kepentingan politik juga mewarnai pemerintahan Ali. 40-43. kehatihatian pada masa itu sudah bukan lagi menjadi ciri khas yang paling menonjol. situasi pemerintahan Islam telah berbeda dengan masamasa sebelumnya. “Ketahuilah bahwa asal mulanya timbul hadis yang mengutamakan pribadi-pribadi (hadis palsu) adalah dari golongan Syi'ah sendiri. Sedangkan pada masa Ali ibn Abi Thalib. Bahkan tatacara periwayatan hadis pun sudah dibakukan. Pemalsuan hadis mencapai puncaknya pada periode ketiga. timbullah usaha yang lebih sungguh untuk mencari dan meriwayatkan hadis.

bahwa penulisan hadis itu memang sudah terjadi di zaman Rasul SAW. para ulama pun tidak tinggal diam. penyebaran hadis makin meluas. Dan tradisi itu terus berlanjut hingga kini. belum dicatat secara resmi seperti juga Al Qur-an pra-periode khalifah Utsman bin Affan. Tadwînul Hadis. Penyebaran hadis pada periode ini terjadi begitu pesat.”28 Ditambah lagi fakta. Dan kesemuanya itu disebabkan dakwah dari kaum muslimin yang sangat hebat. Al ‘Alamah Al Sayyid Munadir Ahsan Al Kailani. hingga mulai muncullah hadis-hadis palsu.26. Hlm. baik dari metode maupun dari segi disiplin ilmunya. yang diawali dari periode Utsman hingga mencapai puncak di masa Umayyah. Mereka terus mencurahkan kemampuan dan usaha mereka demi menjaga sunnah Rasulullah SAW. 2004. Beirut: Dar El Ghorb Al Islamiyyah. Dalam penyebaran hadis ini dari masa ke masa semakin berkembang. Wallahu a’lam. 36-55. Akan tetapi dikarenakan adanya beberapa konflik yang terjadi di kalangan umat muslim pada waktu itu. “Apa yang dijadikan keraguan kaum orientalis terhadap hafalan para sahabat. Hlm. Adapun penulisan pada periode pra-kodifikasi ini adalah masih berupa catatan-catatan terpisah (sahifah).27 Namun. Kesimpulan Al ‘Alamah Al Sayyid Munadir Ahsan Al Kailani (1892-1956 H) berkata. Adapun pemalsuan-pemalsuan hadis yang terjadi. 7 . tanpa ada bukti historis maupun empiris yang kuat. selalu mendapatkan perlawanan yang sangat dahsyat dari para ulama penjaga sunnah yang sengaja Allah utus untuk menjaga wahyu dan juga ajaranNya di muka bumi ini. 27 28 (Lebih lengkapnya lagi lihat) Ibid. adalah hanya sangkaan saja. tanpa mengenal lelah dan juga bosan.Pada intinya.

1968. Al Sunnah Qabla Tadwin. Al ‘Alamah Al Sayyid Munadir Ahsan. Beirut: Dar Ibnu Katsir. Azami. Syuhudi. Muslim bin Hajjaz. Iqbal. M. Beirut: Dar El Fikr. Jakarta: PT Bulan Bintang.Referensi Al Bukhori. Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah. Beirut: Dar El Fikr. dan William Hunt. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Mustafa. Bandung: Pustaka Setia. Hadis Nabawi. Manusia Pilihan Yang Disucikan. Mushthalah Hadits. Al Siba’i. 2005. Yogyakarta: Media Hidayah. M. ____________________________. Sahih Muslim. TT. Beirut: Dar El Fikr. ____________. Ushulul Hadits wa Mustholahuhu. Pengantar Studi Hadis. Al Musthafa. 2007. Ensiklopedi Ringkas Tentang Islam. Mustafa. TT. Jakarta: Pusat Kajian Hadis. Rakhmat. dkk. Muhammad bin Shalih. Al Mudhu’at. dan Sejarah Kodifikasinya. Ibnu Sa’ad. A’yunina. Sahih Al Bukhori. Beirut: Dar El Ghorb Al Islamiyyah. 1989. Tobaqatul Kubra. Metode Belajar Interaktif Hadis dan Ilmu Hadis (CD Program). Jakarta: MM Corp. Jamaluddin Ibnu Yusuf bin Abdurrohman. Al Usaimin. Kaidah Kesahihan Sanad Hadis. 2008. Al Muhaddis Al Fâsil baena Al Râwi wa Al Wâ’iy. 1992. Beirut: Muassasah Al Risalah. Al Naisabury. Ismail. 1983. Tadwînul Hadis. Qurrata. Muhammad bin Ismail. Yusuf. Sunnah dan Peranannya Dalam Penetapan Hukum Islam. Ibnu Al Jauzi. Jakarta: Putaka Firdaus. Jalaluddin. Al Qardhawi. 2006. 1987. Abdurrohman bin Ali. Ponorogo: STAIN Ponorogo. Tahdzîbul Kamâl fi Asmâi Al Rijâl. TT. Al Ramahurmuziy. 2004. Muhamad. 1971. Ahmad Luthfi. Beirut: Dar El Fikr. 1963. Riyadh: Mamlakah Al ‘Arabiah Al Su’udiyyah. Beirut: Dar Shodr. Al Hasan bin Abdurrahman. Beirut: Dar Ihya Al Turats Al ‘Arabiy. 2008. Muhammad bin Mathar. Sejarah Perkembangan Hadist Masa Pra Kodifikasi. Tadwin Al Sunnah Al Nabawiyyah Nasya’tuhu wa Tatowwuruhu. 1996. Sahih Al Bukhori bi Hasiyah Al Sindi. Jakarta: Pustaka Firdaus. Al Kailani. TT. 2003. Fathullah. ‘Ajaz. Al Mizzi. 8 . 2005. Al Khatib. Kairo: Maktabah Wahbah. Al Zahraniy.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->