P. 1
Peranan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Tahun 1946-1949 Di Surakarta

Peranan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Tahun 1946-1949 Di Surakarta

|Views: 2,271|Likes:
Published by adee13
Peranan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Tahun 1946-1949 Di Surakarta
Peranan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Tahun 1946-1949 Di Surakarta

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: adee13 on Sep 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

06/19/2013

Sections

PERANAN RADIO REPUBLIK INDONESIA STASIUN SURAKARTA DALAM PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA TAHUN 1946-1949 DI SURAKARTA

SKRIPSI
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Sejarah pada Universitas Negeri Semarang

Oleh :

ARIEF SETIYADI HIDAYAT
NIM. 3101402040

FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN SEJARAH UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2006

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan kesidang panitia ujian skripsi. Hari :

Tanggal :

Pembimbing I

Pembimbing II

Prof. Drs. Hartono Kasmadi, M.Sc NIP.130324047

Drs. Ba’in, M.Hum NIP. 131876204

Mengetahui Ketua Jurusan Sejarah

Drs. Jayusman, M. Hum. NIP. 131764053

ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan sidang panitia ujian skripsi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada: Hari :

Tanggal :

Penguji Utama

Drs. R. Suharso, M.Pd NIP. 131691527

Anggota I

Anggota II

Prof. Drs. Hartono Kasmadi, M.Sc NIP.130324047

Drs. Ba’in, M.Hum NIP. 131876204

Mengetahui, Dekan

Drs. H. Sunardi, M.M NIP. 130367998

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain,baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, September 2006

Arief Setiyadi Hidayat NIM. 3101402040

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO:

“Doa, usaha dan kesabaran adalah modal besar menuju kesuksesan”

Karya ini kupersembahkan: 1. Ibu dan bapakku tercinta atas kasih sayang,

pengorbanan dan doa yang tak pernah bisa kubalas. 2. Keluarga besar Mbah Kakung di Magelang, terima kasih atas dukungan dan doanya. 3. Bulik Murti, yang telah banyak membantu ku. 4. Adikku Babon, Cemplok, Cancan, Maymay dan Momo yang selalu memberikan aku semangat. 5. Terima kasih banyak untuk de’ Puji untuk semua yang ade berikan. 6. Teman–teman seperjuangan Pendidikan Sejarah

2002, terima kasih atas kebersamaan doa dan semangat yang kalian berikan. 7. Special Thank’s buat some body some one di kelasku terima kasih atas spirit carries on nya. 8. Tuk teman-teman dari Imperial Band dan GPK Kost terima kasih banyak atas semua yang kalian berikan. 9. Omen, kang Atun, kang Arto, Slamet, Brondol, Aconx yang telah memberikan warna dalam hidupku.

v

PRAKATA

Alhamdulillah, Puji Syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “Peranan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Tahun 1946-1949 Di Surakarta”. Skripsi ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Dr. H. A.T. Soegito, SH, MM., selaku Rektor Universitas Negeri Semarang. 2. Bapak Drs. Sunardi, M.M, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial. 3. Bapak Drs. Jayusman, M.Hum, selaku Ketua Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang. 4. Bapak Prof. Drs. Hartono Kasmadi, M.Sc, selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan motivasi dan petunjuk dalam menyelesaikan skripsi ini. 5. Bapak Drs. Ba’in, M.Hum, selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, motivasi dan petunjuk dalam menyelesaikan skripsi ini. 6. Para Staf dan Karyawan Radio Republik Indonesia Cabang Muda Surakarta 7. Semua pihak yang telah membantu dalam terselesainya skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan pembaca.

Semarang,

September 2006

Penulis

vi

SARI Arief Setiyadi Hidayat. 2006. Peranan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Tahun 1946-1949 Di Surakarta. Skripsi. Jurusan Sejarah. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Semarang. 103 halaman. Kata Kunci: Peranan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta Radio Siaran merupakan salah satu media massa yang mempunyai jangkauan pemberitaan yang cukup luas. RRI Stasiun Surakarta telah mengalami perjalanan sejarah yang cukup panjang dari era kemerdekaan sampai era reformasi. Sebagai salah satu radio siaran pemerintah RRI Stasiun Surakarta dengan berpegang teguh kepada Tri Prasetya RRI selalu ikut berjuang dalam membantu pemerintah untuk menerapkan kebijakan-kebijakannya. Alasan itulah yang mendasari penulis untuk meneliti tentang peranan RRI Stasiun Surakarta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Surakarta pada tahun 1946-1949. Masalah pokok yang dikaji dalam penelitian ini adalah; (1) Bagaimanakah perkembangan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta? (2) Bagaimanakah situasi dan kondisi kota Surakarta pasca proklamasi kemerdekaan? (3) Peran seperti apakah yang dimainkan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Surakarta (4) Hambatan-hambatan apa yang dihadapi oleh RRI Stasiun Surakarta dalam memainkan peranannya untuk membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Untuk mengetahui perjuangan kemerdekaan di Surakarta (2) Untuk mendapatkan sedikit gambaran mengenai situasi dan kondisi kota Surakarta pada masa revolusi fisik (3)Untuk mengetahui sejarah perkembangan radio siaran di Indonesia (4) Untuk mengetahui seberapa jauh peranan yang dimainkan RRI Stasiun Surakarta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Surakarta Penelitian ini menggunakan metode sejarah. Penelitian ini dilakukan dengan meninjau masalah-masalah dari perspektif sejarah berdasarkan dokumen dan literatur yang ada. Penelitian ini difokuskan pada: (1) Kota Surakarta pasca kemerdekaan RI (2) Peranan radio RRI Stasiun Surakarta sebagai media propaganda dan media komunikasi massa pada era perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI di Surakarta. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa, radio siaran di Indonesia sudah dimulai sejak jaman Belanda yaitu dengan berdirinya BRV di Batavia (Jakarta tempo dulu). Berdirinya radio siaran BRV diikuti dengan berdirinya radio-radio siaran yang lain. Untuk bangsa Indonesia sendiri radio siaran dimulai dengan berdirinya SRV pada tanggal 1 April 1933. Pada masa penjajahan Jepang radio siaran diambil alih oleh pemerintahan kependudukan Jepang. Dengan nama Hoso Kyoku, radio siaran pada saat itu digunakan oleh pemerintah Jepang sebagai salah satu media propaganda. Pada era kemerdekaan Hoso Kyoku diambil alih oleh pemerintah RI dan diganti dengan nama Radio Republik Indonesia pada tanggal 11 September 1945.

vii

Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan RRI Surakarta sangat berperan dalam perjuangan tersebut. Perannya sebagai media propaganda pemerintah dan sebagai media komunikasi massa dapat dijalankan dengan baik. Dengan usahanya melakukan siaran luar negeri mendapatkan hasil yang positif bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI di Surakarta. Dukungan dari luar negeri terhadap perjuangan bangsa Indonesia terus mengalir. Ini merupakan hasil dari perjuangan keluar yang salah satunya dilakukan oleh RRI Stasiun Surakarta. Jangkauannya yang luas menyebabkan RRI Surakarta digunakan oleh pemerintah RI untuk menyampaikan berbagai kebijakan pemerintah. Berbagai acaran siaran pada masa revolusi fisik, seperti acara mengenai pergolakan daerah, hiburan, kebijakan-kebijakan pemerintah dan lain-lain sangat bermanfaat bagi penanaman nilai-nilai nasionalisme masyarakat Surakarta pada khusunya. Sehingga dengan penguatan nilai-nilai nasionalisme yang kuat terhadap masyarakat Surakarta maka perjuangan masyarakat Surakarta dalam mempertahankan kemerdekaan akan mencapai hasil yang maksimal. Dalam memainkan peranannya RRI Surakarta mendapatkan banyak hambatan seperti, penyerbuan terhadap studio RRI Surakarta, penyanggahan berita-berita RRI oleh Belanda dan kondisi jaman bahawa pada masa perjuangan orang yang memiliki radio relatif sedikit. Namun hal ini tidak pernah menyulutkan semangat RRI Surakarta untuk terus berjuang membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pasca kemerdekaan RI, Surakarta dihadapkan akan pergolakan politik yang cukup rumit. Gerakan anti daerah dan gerakan PKI merupakan penyebab rumitnya kondisi politik di Surakarta. Kota Surakarta resmi berdiri dengan dikeluarkannya Undang-undang Pembentukan No. 16 Tahun 1947. Pada tanggal 21 Desember kota Surakarta di kuasai oleh Belanda. Namun kota Surakarta dapat diambil alih kembali oleh bangsa Indonesia setelah melalui pertempuran empat hari di kota Surakarta dari tanggal 7-10 Agustus 1949.

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN......................................................................... PENGESAHAN KELULUSAN..................................................................... PERNYATAAN.............................................................................................. MOTTO DAN PERSEMBAHAN.................................................................. PRAKATA...................................................................................................... SARI................................................................................................................ DAFTAR ISI................................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... I PENDAHULUAN..................................................................................... A. Latar Belakang Masalah...................................................................... B. Rumusan Masalah............................................................................... C. Tujuan dan Manfaat Penelitian........................................................... D. Tinjauan Pustaka................................................................................ E. Ruang Lingkup Penelitian.................................................................. F. Metode Penelitian............................................................................... G. Sistematika Skripsi............................................................................. II GAMBARAN UMUM............................................................................. A. Kondisi Geografis Surakarta............................................................... B. Pembagian wilayah Administrasi kota Surakarta tahun 1947.............

i ii iii iv v vi vii ix xii 1 1 7 8 9 13 14 18 20 20 21

ix

C. Kondisi Ekonomi Surakarta................................................................. D. Sejarah Singkat Berdirinya Kota Surakarta......................................... III SEJARAH PERKEMBANGAN RADIO REPUBLIK INDONESIA STASIUN SURAKARTA......................................................................... A. Awal Mula Perkembangan Radio Siaran Di Indonesia....................... 1. Masa Kolonial Belanda..................................................................

23 24

28 28 28

2. Masa Penjajahan Jepang................................................................. 34 3. Masa Kemerdekaan......................................................................... 37 B. Sejarah Perkembangan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta.. 44 1. Awal mula perkembangan radio siaran di Surakarta...................... 44 2. Radio Republik Indonesia stasiun Surakarta................................... 49 IV PERANAN RADIO REPUBLIK INDONESIA DALAM PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN DI SURAKARTA ..................................................................................... 69 A. Surakarta Pada Masa Revolusi tahun 1945-1949................................. 69 1. Keadaaan Politik Surakarta Pasca Proklamasi Kemerdekaan ....... 69 2. Pergolakan Sosial Pasca Proklamasi Kemerdekaan Di Kota Surakarta......................................................................................... 75 3. Surakarta Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan...... 77 B. Peran RRI Stasiun Surakarta Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Kota Surakarta........................................................... 83 1. Peran Dalam Bidang Propaganda Dengan Dunia Internasional...... 85 2. Peran Dalam Bidang Sosial Budaya Masyarakat Kota Surakarta.... 91

x

3. Peran Dalam Bidang Militer............................................................ 93 4. Peran Dalam Bidang Politik............................................................. 95 C. Hambatan-hambatan RRI Stasiun Surakarta Dalam Menjalankan........ 97 Perannya Sebagai Radio Perjuangan Kemerdekaan RI V PENUTUP................................................................................................... 101 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 104 LAMPIRAN-LAMPIRAN................................................................................ 106

xi

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Rekomendasi Penelitian................................................................... 2. Peta Kota Surakarta................................................................................... 3. Surat Perintah Pemerintah Militer No. 1143/Ph ’49................................. 4. Surat Pemerintah Militer No 10/ 49.......................................................... 5. Surat Kementrian Jogjakarta No 241/A.I tahun 1949............................... 6. Berita-berita relay RRI Stasiun Surakarta pada bulan Juli tahun 1949..... 7. Gambar-gambar.........................................................................................

107 108 109 110 111 112 126

xii

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Proklamasi kemerdekaaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945 bertempat di gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta merupakan saat yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan RI bukanlah merupakan tujuan semata-mata, namun merupakan alat untuk mencapai cita-cita bangsa, karena tujuan negara Indonesia adalah membentuk masyarakat yang adil dan makmur. Adapun arti proklamasi itu dalam garis besarnya adalah: 1. Saat pencetusan revolusi rakyat Indonesia yang terus bergolak. 2. Lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. 3. Puncak perjuangan kebangsaan yang menyatakan kematangan pemikiran dan pengorganisasian setelah berjuang berpuluh-puluh tahun sebelum 17 Agustus 1945. Kemerdekaan bangsa Indonesia dapat tercapai dengan tidak lepas dari faktor menyerahnya bangsa Jepang terhadap Sekutu dalam perang Pasifik pada tanggal 15 Agustus 1945. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia kedudukan bangsa Jepang di Indonesia sangatlah sulit, karena bangsa Jepang di Indonesia menunggu pengembalian ke tanah airnya oleh pemerintah Jepang. Masih adanya keberadaan bangsa Jepang di Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan mendapat reaksi dari rakyat dengan berusaha

2

melucuti senjata tentara Jepang di Indonesia. Tentara Jepang dalam menanggapi reaksi rakyat Indonesia tersebut ada yang menyerah begitu saja akan tetapi ada juga yang melakukan perlawanan. Untuk mengantisipasi terjadinya bentrokan maka pada tanggal 20 Agustus 1945 pemerintah Indonesia membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) untuk menjamin keamanan dan ketentramanan. Akan tetapi hal ini tidak menjamin tentara Jepang di Indonesia menyerah begitu saja, sehingga perlawanan tentara Jepang di Indonesia menyebabkan terjadinya pertempuran-pertempuran sengit di kota-kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Yogyakarta, Bandung dan Semarang. Berkat rasa nasionalisme bangsa yang tinggi dalam usaha

mempertahankan

kemerdekaan,

Indonesia

mampu

mengatasi

perlawanan tentara Jepang yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Pada tanggal 29 September 1945 tentara Sekutu mendarat di Jakarta dibawah pimpinan Jendral Chistison. Tujuan utama tentara Sekutu datang ke Indonesia adalah untuk melucuti senjata tentara Jepang yang berada di Indonesia dan untuk menyelamatkan warga Belanda di Indonesia yang ditawan oleh Jepang. Akan tetapi pada akhirnya tujuan ini berubah, karena Belanda ingin menduduki kembali negara Indonesia. Hal ini pun mendapatkan reaksi yang cukup keras dari bangsa Indonesia karena hasil dari apa yang telah diperjuangkan selama ini yaitu kemerdekaan sepenuhnya ingin dihancurkan oleh Belanda. Sehingga setelah berhasil merebut kekuasaan dari tangan Jepang dan melucuti senjatanya, tugas utama rakyat Indonesia pada saat itu

3

adalah melawan intervensi Sekutu dan Agresi Militer Belanda yang ingin menjajah kembali bangsa Indonesia (Abdulah, 1979:9-15). Di Surakarta berita Proklamasi Republik Indonesia mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat Surakarta. Begitu mendengar berita proklamasi kemerdekaan, pemuda di Surakarta mendatangi markas tentara Jepang yang terletak di Timuran (markas Kenpei Tai Timuran) untuk melucuti senjata tentara Jepang. Meskipun dominasi bangsa Jepang di Surakarta telah runtuh, aksi Belanda yang ingin menanamkan kembali kekuasaanya di Indonesia mendapatkan reaksi yang cukup keras dari masyarakat Surakarta. Adanya Agresi Militer Belanda I dan II menghadapkan kembali masyarakat Surakarta pada perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan negara Republik Indonesia. Pada tanggal 12 September 1948 masyarakat Surakarta di hadapkan dengan kekuatan dari dalam yang berusaha meruntuhkan kedaulatan Republik Indonesia, yaitu dengan adanya peristiwa pemberontakan PKI di Madiun yang dipimpin oleh Muso. Hal ini menyebabkan terjadinya kekacauan, pertempuran dan penculikan-penculikan di kota Surakarta.. Dalam menghadapi perlawanan bangsa Jepang, Belanda maupun kekuatan dari dalam yang dapat mengancam keutuhan kedaulatan Republik Indonesia sangat dibutuhkan rasa nasionalisme yang tinggi. Salah satu faktor yang dapat menunjang terjaminnya rasa nasionalime dalam perjuangan kemerdekaan adalah adanya komunikasi antar bangsa Indonesia, karena dengan adanya komunikasi antara bangsa Indonesia yang berada di wilayah

4

yang berbeda maka bangsa Indonesia mampu mengetahui informasi mengenai pergolakan yang terjadi di berbagai daerah. Dalam perjuangan bangsa Indonesia salah satu media yang digunakan dalam komunikasi adalah radio siaran (radio broad cast) (Efendy, 1983:1). Radio telah menjalani proses perkembangan yang cukup lama dewasa ini. Siaran radio di Indonesia sudah dimulai sejak masa penjajahan bangsa Belanda, yaitu dimulai dengan berdirinya Bataviase Radio Vereniging di Batavia (Jakarta tempo dulu) pada tanggal 16 Juni 1925. Berdirinya Bataviase Radio Vereniging mempelopori berdirinya badan-badan radio siaran lainnya, seperti Nedelrandsh Indische Radio Omroep Mij (NIROM) di Jakarta, Bandung dan medan, Mataramse Vereniging Voor Radio Omroep (MAVRO) di Yogyakarta, Vereniging Voor Radio Luisteraars (Voro) di Bandung, Radio Semarang di Semarang, dll. Pada waktu bangsa Jepang menanamkan kekuasaannya di Indonesia, radio siaran mendapat perhatian yang cukup tinggi dari bangsa Jepang. Karena sifatnya yang menguntungkan bagi komunikasi, ketika Jepang berkuasa di Indonesia maka radio siaran sebagai salah satu fasilitas vital segera dikuasai. Radio yang pada masa Hindia Belanda berstatus perkumpulan swasta di matikan oleh bangsa Jepang dan di urus oleh jawatan khusus yang bernama Hosokanri Kyoku yang berkedudukan di Jakarta

dengan cabang-cabangnya yang dinamakan Hoso Kyoku yang terdapat di Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya dan Malang (Efendy, 1983: 52).

5

Dengan berkumandangnya proklamasi kemerdekaan Indonesia bukan berarti revolusi telah berakhir. Salah satu tindakan yang harus segera dilakukan adalah merebut senjata dan semua perusahaan (kantor, pabrik, perkebunan, dll) termasuk salah satunya stasiun radio dari tangan Jepang (Nasution A.H, 1973:250). Sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 radio siaran di Indonesia belum teroganisir. Oleh karena itu maka orang-orang radio menganggap hal itu penting, mengingat radio sebagai salah satu media massa elektronik dapat dipergunakan secara efisien untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Maka pada tanggal 10 September 1945 pemimpinpemimpin radio siaran di seluruh Jawa Tengah berkumpul di Jakarta untuk membicarakan hal tersebut dengan presiden Soekarno dan menuntut Jepang untuk menyerahkan semua stasiun radio beserta pemancarnya dan

perlengkapannya kepada bangsa Indonesia. Pertemuan tersebut, tidak membawa hasil karena semua pemancar dan alat-alat penyiaran radio Hoso Kyoku sudah didaftar dan ditanda tangani oleh Sekutu (SEAC di Singapura). Para pemimpin-pemimpin stasiun radio di Jawa Tengah kemudian menyelenggarakan pertemuan berikutnya yaitu pada malam harinya tanggal 10 September 1945 yang diselenggarakan di kediaman Adang Kadarusman di Jalan Menteng Jakarta. Dalam pertemuan tersebut beberapa hasil keputusan yang mendasar adalah

6

1. Tanggal 11 September 1945 ditetapkan sebagai hari lahirnya Radio Republik Indonesia (RRI). 2. Semua hadirin menyatakan diri sebagai pegawai RRI, sedangkan pegawai Hoso Kyoku bangsa Indonesia lainnya diminta secara suka rela memilih apakah menjadi pegawai RRI atau tidak. Pernyataan sumpah setia kepada RRI dan Negara Indonesia. 3. Jakarta untuk sementara ditetapkan sebagai pusat RRI. 4. Sebagai pemimpin umum RRI dipilih Abdulrachman Saleh, yang diberi kekuasaan menetapkan formasi RRI pusat. Perintah dari pusat hanya sah jika dikeluarkan oleh pemimpin umum. 5. Sebagai cabang RRI pertama dicatat: Jakarta, Bandung, Purwokerto, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Malang dan Surabaya. 6. Tri Pra Setya RRI, sebagai jiwa dan sumpah pegawai RRI kepada Republik Indonesia untuk menjaga Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai alat perjuangan bangsa. Pada hari itu pula lahirlah semboyan RRI yang tetap berlaku hingga sekarang “Sekali Di Udara Tetap Di Udara” (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1989:39). Untuk mengetahui bagaimana dan sejauh mana Radio Republik Indonesia (RRI) ikut berperan serta dalam perjuangan kemerdekaan mengingat salah satu hasil keputusan dalam pertemuan para pemimpin Hoso Kyoku di kediaman Adang Kadarusman pada tanggal 11 September 1945, yaitu Tri Prasetya RRI, sebagai jiwa dan sumpah pegawai RRI kepada Republik Indonesia untuk menjaga RRI sebagai alat perjuangan bangsa, maka

7

penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai peranan Radio Republik Indonesia stasiun Surakarta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tahun 1946-1949 dan hasilnya dituangkan sebagai skripsi. Selain itu penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian disebabkan oleh karena tidak adanya informasi atau buku yang menguraikan tentang peranan yang dimainkan RRI stasiun Surakarta dalam perjuangan

mempertahankan kemerdekaan tahun 1946-1949. Kebanyakan buku-buku yang ada cenderung menguraikan peristiwa perjuangan kemerdekaan di Surakarta dari segi politik dan militernya, misalnya Perubahan-perubahan Sosial-Politik Di Surakarta (Soejatno), Revolusi Di Surakarta (Kamajaya Karkono), Pertempuran Empat Hari Di Kota Solo (Murdiyo), dll. Dr. A.H Nasution dalam bukunya yang berjudul Sekitar Perang Kemerdekaan jilid 10 menyinggung sedikit mengenai RRI pada tahun 1948, itupun sifatnya umum di Indonesia dan urainnya cukup singkat.

B. Permasalahan Perumusan masalah dimaksudkan untuk mengungkapkan pokok pikiran secara jelas dan sistematik, sehingga akan mudah dipahami dengan jelas dari permasalahan sebenarnya. Adapun pokok dari permasalahan yang akan diteliti adalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah situasi dan kondisi kota Surakarta pada masa revolusi fisik?

8

2. Bagaimanakah Surakarta?

perkembangan

Radio

Republik

Indonesia

stasiun

3. Peran seperti apakah yang dimainkan Radio Republik Indonesia stasiun Surakarta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI di kota Surakarta? 4. Hambatan-hambatan apakah yang dihadapi Radio Republik Indonesia dalam memainkan peranannya untuk membantu perjuangan

mempertahankan kemerdekaan RI di kota Surakarta?

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah a. Untuk mengetahui situasi dan kondisi kota Surakarta pada masa revolusi fisik. b. Untuk mengetahui sejarah perkembangan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta. c. Untuk mengetahui seberapa jauh peranan yang dimainkan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta dalam perjuangan

mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surakarta. d. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi oleh Radio Republik Indonesia stasiun Surakarta dalam menjalankan perannya sebagai media perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI di kota Surakarta.

9

2. Manfaat yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah a. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sedikit gambaran kepada kita mengenai situasi dan kondisi kota Surakarta pada masa revolusi fisik b. Hasil penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan kita tentang sejarah RRI stasiun Surakarta dan peranan yang dimainkan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI tahun 1946-1949 di Kota Surakarta. c. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi salah satu bahan perbandingan apabila diadakan penelitian yang sejenis. d. Hasil penelitian diharapkan mampu memberikan rangsangan agar diadakan penelitian lebih lajut, karena peneliti menyadari tidak ada sesuatu yang sempurna sehingga penelitian ini terbuka untuk diuji dan dikaji kembali.

D. Tinjauan Pustaka Di dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa buah buku yang digunakan sebagai sumber sekunder, yang nantinya dapat menjadi dasar untuk menjawab setiap permasalahan dalam penelitian ini, diantaranya yaitu Pertama buku yang berjudul ”Radio Siaran dan Teknik” karya Onong Ujtana Efendy yang diterbitkan oleh PT Alumni Bandung tahun 1978. Buku ini membahas mengenai perkembangan Radio Siaran di Indonesia dari masa kolonial Hindia-Belanda sampai masa orde baru. Pembahasannya yang

10

kronologis memberikan gambaran yang jelas tentang sejarah perkembangan Radio Siaran di Indonesia. Di Indonesia radio siaran sudak dikenal semenjak jaman kolonial Hindia-Belanda. Radio siaran yang pertama kali berdiri adalah Bataviase Radio Vereniging (BRV) yang didirikan di Batavia pada tanggal 16 Juni 1925. Berdirinya BRV memicu para pecinta radio amatir di Indonesia untuk mendirikan radio siaran sendiri, sehingga lahirnya BRV memicu lahirnya badan-badan radio siaran lainnya seperti SRV, MAVRO, OMROEP, NIROM, VORO dll. Pada masa pemerintahan kependudukan Jepang segala radio siaran di Indonesia diambil alih oleh pemerintahan kependudukan Jepang. Radio siaran pada masa pemerintahan Jepang diatur oleh sebuah lembaga yang bernama Hoso Kanri Kyoku dengan cabangnya yang bernama Hoso Kyoku. Radio siaran inilah yang nantinya pada masa kemerdekaan berubah nama menjadi Radio Republik Indonesia. Dari buku ini penulis banyak mendapatkan sumbangan berupa data mengenai perkembangan radio siaran di Indonesia yang dimulai pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda sampai masa pemerintahan Orde Baru. Selain itu buku ini juga mengkaji mengenai arti penting radio siaran sebagai media komunikasi massa yang mana dapat menjadi referensi bagi penulis untuk mengkaji permasalahan. Sebagai buku pegangan kedua dalam penelitian ini, yaitu buku yang berjudul ”Hari Radio” terbitan RRI Stasiun Regional I Surakarta tahun 1995.

11

buku ini mengulas mengenai sejarah perkembangan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta dari awal berdirinya sampai tahun 1995. Pada masa kolonial Belanda, dikenal radio siaran di Surakarta yang bernama Soloese Radio Vereniging (SRV) yang didirikan pada tanggal 1 April 1933 atas inisiatif Ir. Sarsito Mangunkusumo. SRV inilah yang pada masa kemerdekaan nanti dibawah pimpinan Maladi berubah menjadi Radio Republik Indonesia stasiun Surakarta. Pada masa perjuangan kemerdekaan RI, RRI Surakarta memegang peranan yang sangat penting sebagai media perjuangan bangsa. RRI stasiun Surakarta pada masa revolusi fisik sempat melakukan pemindahan studio dari kota Surakarta ke Tawangmangu dan dari Tawangmangu ke Desa Balong Kabupaten Karanganyar. Keberhasilan RRI Surakarta dalam melakukan siaran luar negeri sangat membantu tercapainya cita-cita perjuangan kemerdekaan. Data-data mengenai sejarah perjalanan panjang RRI Stasiun Surakarta pada masa kemerdekaan Indonesia yang diulas dalam buku Hari Radio banyak membantu penulis dalam mengungkapkan sejarah perkembangan radio siaran di Surakarta pada umumnya dan Radio Republik Indonesia stasiun Surakarta pada khususnya. Buku ketiga yang digunakan sebagai acuan dalam penulisan skripsi ini adalah buku yang berjudul ”Ekonomi Politik Media Penyiaran” karangan Agus Sudibyo yang diterbitkan oleh LKIS Yogyakarta. Dalam buku ini diungkapkan mengenai peran media penyiaran salah satunya yaitu radio siaran dalam bidang politik.

12

Dari awal berdirinya, RRI mempunyai peran sentral sebagai stabilisator dan instrumen perekat negara kesatuan Republik Indonesia. Dalam setiap pemberontakan bersenjata yang terjadi di Indonesia RRI selalu menjadi sarana strategis untuk mengabarkan kepada khalayak betapa pemberontakan berhasil ditumpas, keamanan sudah stabil, kekuasaan bisa dikendalikan dan rakyat diminta untuk tetap tenang dan selalu waspada. Tercatat dari pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia) di Madiun pada tahun 1948, PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera Selatan, Permesta (Pemerintahan Rakyat Semesta) di Sulawesi Selatan, DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) di Aceh serta Jawa Barat dan Gerakan 30 September di Jakarta pada tahun 1965 selalu berhasil dipatahkan pemerintah Indonesia dengan merebut kembali RRI setelah sempat berada di tangan pemberontak selama beberapa waktu. Hampir setiap pulau, setiap wilayah dan area-area dengan potensi konflik besar selalu menuntut RRI untuk sigap menyuarakan nasionalisme dan proses integrasi bangsa yang dibalut jargon “menjaga persatuan dan kesatuan bangsa” Buku karangan Agus Sudibyo ini banyak membantu penulis dalam mengungkapkan peran yang di mainkan RRI Stasiun Surakarta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di samping buku-buku yang digunakan sebagai acuan dalam penulisan skripsi ini penulis juga menguraikan buku-buku lainnya sebagai bahan referensi, diantaranya buku yang berjudul; Sekitar Perang Kemerdekaan

13

karangan A.H Nasution, Kota Besar Surakarta tahun 1945-1953 terbitan dari DPRDS Surakarta tahun 1953, Sejarah Nasional Indonesia VI, Radio Siaran dan Demokratisasi karangan Masduki, dll.

E. Ruang Lingkup Penelitian Dalam penelitian ini, agar pembahasanya dapat terfokus maka perlu adanya pembatasan baik lingkup wilayah, waktu maupun permasalahan. Lingkup wilayah membatasi penelitian pada suatu daerah atau kawasan dimana suatu peristiwa sejarah terjadi. Dalam penelitian ini daerah yang dimaksud adalah kota Surakarta yang merupakan sebuah kota di Jawa Tengah yang terletak 60 Km dari Yogyakarta. Kota Surakarta mempunyai luas 44,51 Km yang meliputi 5 kecamatan, yaitu kecamatan Jebres, Banjarsari, Serengan, Lawiyan dan Pasar Kliwon. Namun demikian dalam pembahasannya nantinya mencakup pula peristiwa-peristiwa di daerah lain yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa bersejarah di kota Surakarta. Keberadaan radio siaran di Surakarta telah dimulai sejak masa kolonial Belanda, untuk itu dalam penelitian ini sejarah perjalanan panjang radio

siaran di Surakarta diuraikan sebagai latar belakang untuk melangkah pada pembahasan utama. Adapun pembahasan utama dalam penelitian ini di fokuskan pada mulai berdirinya kota Surakarta dan pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan di kota Surakarta pada tahun 1946-1949, dimana periode ini merupakan masa kritis bagi bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

14

Radio Republik Indonesia stasiun Surakarta pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan mempunyai wilayah operasional yang cukup luas, yaitu meliputi karisidenan Surakarta. Dalam penelitian ini peneliti memberi batasan wilayah operasional RRI Stasiun Surakarta meliputi kota Surakarta. Hal ini dimaksudkan agar pembahasan penelitian lebih terfokus pada permasalahan yang dikaji. Selain itu penelitian dibatasi pula dalam permasalahannya yang meliputi hal-hal sebagai berikut: 1. Sejarah Radio Republik Indonesia stasiun Surakarta. 2. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI di kota Surakarta. 3. Peranan Radio Republik Indonesia dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI di kota Surakarta . F. Metode Penelitian Penelitian ini bermaksud mengungkapkan peranan Radio Republik Indonesia stasiun Surakarta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Untuk mendapatkan gambaran tentang hal tersebut maka penulisan skripsi akan menggunakan metode sejarah. Menurut Gottchalk metode sejarah adalah suatu proses menguji dan menganalisa secara keritis rekaman dan peninggalan masa lampau (Gottchalk, 1975:32). Penelitian ini dilakukan dengan meninjau masalah-masalah dari perspektif sejarah berdasarkan dokumen dan literatur yang ada. Dalam hal ini digunakan 4 langkah kegiatan dalam metode penulisan sejarah yang meliputi:

15

1. Heuristik. Adalah merupakan kegiatan mencari sumber-sumber sejarah atau jejak-jejak masa lampau, yang merupakan langkah pertama dalam penulisan sejarah. Diartikan pula sebagai suatu usaha yang dilakukan untuk menghimpun data dan menyusun fakta-fakta sejarah yang berhubungan dengan penulisan ini. Untuk menghimpun data sejarah ini dilakukan cara sebagai berikut: a. Penelitian lapangan. Yaitu usaha menghimpun data sejarah dengan penelitian lapangan. Penulis berusaha mengunjungi tempat yang mengandung nilai sejarah di Surakarta yang bersangkutan dengan tema penelitian, seperti; RRI stasiun Surakarta, Tugu Peringatan tempat Pemancar PHB GM II di desa Balong Karanganyar, Monumen Pers, Museum Mandala Bhakti Semarang dan tempat lain yang relevan. b. Penelitian pustaka. Yaitu pengumpulan sumber-sumber sejarah dari buku-buku sejarah, majalah dan arsip yang berkaitan langsung dengan penelitian ini. Dalam melakukan penelitian lapangan beberapa data yang diperoleh adalah sebagai berikut: 1) Surat Kementrian Penerangan Yogayakarta, No. 241/A.I Tahun 1949 2) Surat Pemerintah Militer Daerah Surakarta No. 10/149 Tahun 1949

16

3) Surat Perintah Harian Pemerintah Militer Daerah Surakarta No.11 43/Ph’49 tahun 1949 4) Daftar mengenai berita-berita yang direlay oleh RRI Stasiun Surakarta pada tahun 1949 . 5) Buku-buku yang relevan seperti; Hari Radio terbitan RRI Surakarta, Kota Besar Surakarta 1945-1953 terbitan DPRDS Surakarta, Hari Radio Ke 39 terbitan RRI Surakarta dan lain sebagainya. 2. Kritik sumber. Adalah suatu kegiatan menyelidiki apakah sumber-sumber tentang masa lampau itu sejati baik bentuk maupun isinya. Menurut I Gede Widja, kritik sumber adalah usaha untuk mendapatkan jejak atau sumber yang benar, dalam arti benar-benar dibutuhkan, serta benar-benar mengandung informasi yang benar-benar relevan dengan sejarah yang ingin disusun. (I Gede Widja, 1988:21). Kritik sumber merupakan tahap penilaian atau pengujian terhadap bahan-bahan sumber yang telah diperoleh peneliti pada tahapan heuristik. 3. Interpretasi. Interpretasi atau menafsirkan sumber-sumber merupakan cara menentukan makna yang saling berhubungan dari fakta-fakta yang telah diperoleh pada tahapan sebelumnya. Menurut Louis Gotchalk, fakta sejarah adalah suatu unsur yang dijabarkan secara langsung dari dokumen sejarah dan dianggap dapat dipercaya setelah diuji kebenarannya dengan

17

ketentuan-ketentuan metode sejarah (Gotchalk, 1975:40). Dalam tahapan ini peneliti menyeleksi beberapa fakta-fakta sejarah yang diungkapkan dalam sumber-sumber sejarah yang telah diperoleh peneliti pada tahapan kritik sumber sehingga fakta-fakta tersebut relevan dengan permasalahan yang diangkat dalam penulisan skripsi. 4. Historiografi. Historiografi atau penulisan sejarah merupakan tahap akhir dari metode penulisan sejarah. Tahap ini merupakan tahap penyampaian sintesa yang diperoleh dalam bentuk suatu cerita. Hasil penafsiran atau interpretasi atas fakta-fakta sejarah yang telah dilakukan kemudian dituliskan menjadi suatu kisah yang selaras. Menurut Gotchalk dalam langkah ini disampaikan hasil rekonstruksi imajinasi dari masa lampau sehingga sesuai dengan jejaknya maupun imajinasi ilmiah. Dalam skripsi ini penulis menyajikan dalam bentuk cerita sejarah yang ditulis secara kronologis dari tema atau topik yang jelas dan mudah dipahami serta mengerti dengan judul; “Peranan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Tahun 19461949 Di Surakarta”

18

G. Sistematika Skripsi Hasil akhir penulisan yang tersrtuktur secara sistematis dan mengarah pada permasalahan memerlukan suatu sistematika. Untuk itu sistematika skripsi ini dibagi dalam lima bab. Pada bab I yang berisi pendahuluan peneliti berusaha untuk mengungkapkan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, ruang lingkup penelitian, metode penelitian dan sistematika skripsi. Untuk gambaran umum kota Surakarta pada masa revolusi fisik akan di jelaskan dalam bab II. Dalam bab II berturut-turut diuraikan mengenai keadaan geografis dan ekonomi kota Surakarta pada masa revolusi fisik dan sejarah singkat terbentuknya kota Surakarta Sejarah Perkembangan Radio Siaran Stasiun Surakarta akan diuraikan dalam Bab III. Dalam bab ini akan di jelaskan mengenai perkembangan radio siaran di Indonesia pada umumnya dan Radio Republik Indonesia stasiun Surakarta pada khsususnya dari awal berdirinya sampai pada masa proklamasi kemerdekaan. Bab IV dalam skripsi ini mengambil tema peranan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surakarta. Dalam bab ini akan di jelaskan mengenai perjuangan mempertahankan kemerdekaan di kota Surakarta dan peranan yang dimainkan Radio Republik Indonesia stasiun Surakarta dalam perjuangan

mempertahankan kemerdekaan di kota Surakarta.

19

Bab V merupakan penutup yang didalamnya berisi mengenai kesimpulan dari bab II, III dan IV.

20

BAB II GAMBARAN UMUM

A. Kondisi Geografis Surakarta Daerah Kota Surakarta atau lebih dikenal dengan nama “Solo” berada dalam dataran rendah yang merupakan pertemuan antara Sungai Pepe, Sungai Anyar, sejenis dengan sungai Bengawan Solo ditepi sebelah timur. Terletak antara 110° Bujur Timur sampai 111° Bujur Barat dan 7° Lintang Selatan sampai 8° Lintang Selatan. Batas-batas Kota Surakarta: 1. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar 2. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo 3. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar 4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo Tinggi tanah kurang lebih 98 Km dari permukaan air laut yang berarti lebih rendah ataupun hampir sama tingginya dengan Bengawan Solo. Beriklim panas dengan suhu 26° C (suhu maksimal 29,1° dan suhu minimal 19, 2° C). Tanahnya sebagian besar terdiri dari tanah liat dan pasir. Disamping itu juga terdapat tanah padas ditengah-tengah. Disebelah timur terdiri dari endapan lumpur (Keraton dan daerah Kedung Lumbu) karena dahulu kala daerah ini berupa rawa. Tekanan tanah umumnya rata-rata 0, 80 Kg/Cm² (maksimal 1, 75 Kg/Cm² dan minimal 0, 05 Kg/Cm²)

21

B. Pembagian wilayah Administrasi kota Surakarta tahun 1947 Dalam buku Kenang-kenangan Kota Besar Surakarta 1945-1953 yang diterbitkan oleh DPRDS Surakarta dijelaskan bahwa pembentukan daerah kota Surakarta di awali dengan dikeluarkannya Penetapan Pemerintah pada tanggal 15 Juli tahun 1946 No. 16 S.D yang menyatakan bahwa Daerah Surakarta untuk sementara merupakan daerah Karisidenan dan pula di bentuk daerah baru dengan nama Kota Surakarta. Dengan Undang-undang No. 16 tahun 1947 Kota Surakarta ditetapkan berdiri menjadi Haminte Kota Surakarta. Menurut pasal 1 Undang-undang No. 16 Tahun 1947, Daerah Haminte Kota Surakarta meliputi: 1. Sebagian dari Kabupaten Kota Kasunanan dan sebagian dari Kabupaten kota Mangkunegaran, yang batasnya ditetapkan dengan surat ketetapan Pemerintah Hindia Belanda termuat dalam Bijblad No. 13318 2. Keluruhan Nusukan yang dimaksudkan dalam surat ketetapan Pemerintah Mangkunegaraan tanggal 25 November 1942 No. 186 3. Kelurahan-kelurahan Karangasem, Kerten, Djajar, Sumber dan

Banyuanyar semula dari Onderdistrik Colomadu, Kabupaten Karanganyar. 4. Kelurahan-kelurahan Kadipiro dan Mojosongo dari Onderdistrik

Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Sampai penyerbuan tentara Belanda ke kota Surakarta, penggabungan kelurahan-kelurahan Nusukan, Karangasem, Kerten, Djajar, Sumber,

Banyuanyar, Kadipiro dan Mojosongo ke dalam daerah Haminte Kota

22

Surakarta belum terlaksana. Dengan demikian daerah Haminte Surakarta baru meliputi 5 Kecamatan dengan 44 Kelurahan, yaitu: 1. Kecamatan Djebres, yang terdiri dari; a. Kelurahan Jebres b. Kelurahan Pucangsawit c. Kelurahan Kampung Sewu d. Kelurahan Tegalharjo e. Keluraha Djagalan f. Kelurahan Gandekan g. Kelurahan Sudiraprajan h. Kelurahan Purwodiningratan i. Kelurahan Kepatihan Wetan j. Kelurahan Kepatihan Kulon.

2. Kecamatan Serengan, yang terdiri dari; a. Kelurahan Djojotakan b. Kelurahan Danusuman c. Kelurahan Serengan d. Kelurahan Tipes 3. Kecamatan Banjarsari, yang terdiri dari; a. Kelurahan Manahan b. Kelurahan Mangkubumen c. Kelurahan Punggawan d. Kelurahan Ketelan e. Kelurahan Timuran f. Kelurahan Keprabon g. Kelurahan Setabelan h. Kelurahan Gilingan i. Kelurahan Kestalan j. Kelurahan Nusukan e. Kelurahan Kratonan f. Kelurahan Djayengan g. Kelurahan Kemlajan

4. Kecamatan Pasar Kliwo, yang terdiri atas; a. Kelurahan Pasar Kliwon b. Kelurahan Kedunglumbu c. Kelurahan Sangkrah f. Kelurahan Balowarti g. Kelurahan Gajahan h. Kelurahan Djoypsuran

23

d. Kelurahan Kampung Baru e. Kelurahan Kauman

i. Kelurahan Semanggi

5. Kecamatan Lawiyan, yang terdiri dari; a. Kelurahan Lawiyan b. Kelurahan Pajang c. Kelurahan Bumi d. Kelurahan Purwosari (DPRDS Surakarta, 1953:39) f. Kelurahan Penumping g. Kelurahan Sondakan i. Kelurahan Penularan j. Kelurahan Sriwedari

C. Kondisi Ekonomi Masyarakat kota Surakarta pasca kemerdekaan RI. Kondisi perekonomian kota Surakarta pada masa revolusi sangat melemah. Kondisi jaman yang sedang dihadapkan dengan perang

mempertahankan kemerdekaan merupakan salah satu sebab melemahnya perekonomian di Surakarta. Dalam buku Kenang-kenangan Kota Besar Surakarta tahun 1945-1949, Soeharjo bekas pemangku jabatan Wali Kota Surakarta pada masa revolusi menyatakan bahwa:
Keluar, ia hadapi keadaan masjarakat jang kotjar-katjir perekonomiannja dan problim2 sosial jang membutuhkan tindakan jang tjepat. Keadaan seluruhnja itu adalah menghadapi musuh pada masa peperangan itu, langsung maupun tidak langsung tentulah mempengaruhi keadaan masjarakat. Bahan makanan seharihari sukar: perdagangan lumpuh : produksi nihil : modal ta’ ada djuga, ketjuali kaum modal jang besar berebut mendapatkan posisi jang baik. Oleh karena itu kita harus berani menanggung djawab serta berusaha sekuat tenaga guna memulihkan penghidupan jang normal dan mengadakan usaha2 jang konstruktip. Apparatuur distribusi kita hidupkan dan segera seluruh kota dpat dipenuhi dengan bahan2 makan dan textiel. Bank pasar dan bank kampung dapat pula didirikan guna membantu pedagang2 ketjil: transport dengan Semarang dapat kita atur, sedangkan credit dapat kita keluarkan untuk sekedar membantu memperlengkapi lagi perusahaan2 jang ketjil dan mengadakan laboratoria

(DPRDS Surakarta, 1953:18)

24

Dari pernyataan Soeharjo dapat dilihat bahwa pemerintah daerah Surakarta selalu berusaha untuk memulihkan keadaan perekonomian Surakarta. Pemulihan ini selalu dilakukan mengingat Surakarta mempunyai industri batik dan tenun yang cukup baik, sehingga setelah perang kemerdekaan pasca peralihan kekuasaan pemerintah kota Surakarta, pemerintah daerah berusaha untuk memajukan industri batik dan tenun. Disamping itu pula pemerintah daerah berusaha untuk menjamin lancarnya perdagangan dan kegiatan ekonomi di kota Surakarta. Hal ini dinyatakan oleh Soebakti Poesponoto Walikota Surakarta yang diangkat pada tanggal 1 Mei 1950
Kedua: kota Solo karena letaknja sedari dulu merupakan pusat pasar barang2 import dari Semarang dan bahan2 hasil daerah pedalaman jang luas sampai wilajah Patjitan dan Ponorogo. Kedudukan kota jang sebaek ini buat ekonomi penduduk oleh Balai Kota Sudah tentu diperhatikan benar2, misalnja lalu lintas dan pengangkutan dari luar ke kota akan di djaga supaja senantiasa aman, mudah dan murah, demikian djuga halnja pondokaqn2 kaum pembeli dan kaum pendjual besar ketjil. Dengan djalannja demikian tidak akan mereka berpindah langganan misalnja kelain kota setangga, sebagaimana baru-baru ini dichawatirkan oleh setengah kaum pengusaha disini. Keistimewaan nomer tiga buat kota Solo ialah: batik dan tenun. Lepas dari pada soal competentie, namun memadjukan - setidak2nja menghidupkan kembali – perindustrian dan perdagangan ini adalah termasuk kebijakan Pemerintah daerah di Solo, karena kehidupan rakjat langsung atau tidak langsung banjak tergantung dari padanja (DPRDS Surakarta, 1953:28)

D. Sejarah Singkat Berdirinya Kota Surakarta Dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia dijelaskan bahwa berdirinya kota Surakarta terkait dengan peristiwa pemberontakan orang-orang Cina melawan penjajah Belanda. Semula pemberontakan ini terjadi di Batavia, kemudian menjalar kebeberapa daerah seperti Rembang, Tegal, Semarang, Demak dan Surabaya. Ketika sampai di Kartosuro, Mas Garendi dapat memperalat orang-orang yang terlibat dalam pemberontakan ini untuk

25

menyerang keraton Kartosuro yang pada waktu itu diperintah oleh Paku Buwono II. Akibat pemberontakan ini, kraton Kartosuro rusak berat sehingga Paku Buwono II merencanakan untuk memindahkan keratonnya ke daerah lain. Akhirnya ditemukan suatu daerah yang cocok untuk kediaman raja Paku Buwono II, yakni di desa Solo. Pada tanggal 19 Febuari 1945 yang bertepatan dengan hari besar Budhha pada pagi hari 17 Sura tahun Je 1670 dengan Candra Sangkala “Kumbuling Puja Kaprijarsi” secara resmi Keraton mulai dipindah. Dalam upacara peresmian berdirinya Keraton ini, Paku Buwono II mengumumkan bahwa nama daerah yang baru ditempati ini menjadi Negeri Surakarta Hadiningrat. Selanjutnya pada jaman kolonial Belanda, Surakarta merupakan daerah Swapraja Kasunan dengan rajanya yang bergelar Paku Buwono dan Swapraja Mangkunegaraan dengan rajanya bergelar Mangkunegara. Untuk menguasai dan mengawasi kedua daerah kerajaan ini, pemerintah kolonial Belanda menempatkan seorang Gubernur. Pemerintah Belanda ini berakhir pada saat Tentara Jepang menyerbu daerah ini. Bentuk pemerintahan Jepang tidak banyak mengubah sistem pemerintahan Belanda sebelumnya. Setelah Indonesia merdeka, daerah Surakarta mengalami enam periode pemerintahan. Semula daerah ini merupakan daerah istimewa yang ditetapkan berdasarkan Piagam Penetapan Presiden Republik Indonesia tanggal 19 Agustus 1945. Dalam buku Kenang-kenangan Kota Besar Surakarta (1945-

26

1953) dijelaskan bahwa, pada tanggal 22 Agustus 1945 pemerintah pusat membentuk Komite Nasional Pusat. Segera setelah Komite Nasional Pusat (KNI) dibentuk, maka para terkemuka di Surakarta berusaha membentuk KNI daerah Surakarta. usaha ini berhasil dan sidang pertama diadakan di pendopo Woerjaningratan pada bulan September 1945. KNI daerah Surakarta terbentuk dengan diketuai oleh Mr. Soemodiningrat seorang bangsawan yang pernah menjabat opsir dalam pasukan PETA. Program yang ditetapkan pada waktu itu adalah melucuti senjata tentara Jepang dan memindahkan kekuasaan pemerintah Jepang di Surakarta ke tangan KNI daerah Surakarta Pada tahun 1945 Surakarta menjadi daerah istemewa yang pemerintahannya didominasi oleh kraton Kasunanan dan Mangkunegaraan. Hal ini menyebabkan terjadinya pertentangan antara pihak yang pro dan anti Daerah Istimewa yang makin hari makin kelihatan keras. Dari kabupatenkabupaten luar kota telah memulai tindakan-tindakan yang menyatakan anti Daerah Istimewa. Tindakan-tindakan ini kemudian disusul oleh pernyataan terang-terangan lepas dari Pemerintahan Keraton.Untuk mengendalikan situasi di Surakarta maka pada tanggal 15 Juli 1946 Pemerintah mengeluarkan UU. No. 16/SD/1946 yang menyebutkan: 1. Jabatan Komisaris Tinggi ditiadakan 2. Daerah Surakarta untuk sementara dijadikan daerah Karisidenan 3. Dibentuk daerah baru dengan nama Daerah Kota Surakarta Pada tahun 1947 Haminte Kota Surakarta ditetapkan berdiri berdasarkan Undang-Undang Pembentukan No. 16 Tahun 1947. Perlu

27

diterangkan bahwa Haminte atau Balai Kota menurut UU Pembentukan adalah merupakan Balai Kota Istimewa yang mempunyai hubungan langsung dengan Kementrian Dalam Negeri, berkedudukan sejajar dengan Karisidenan Dalam Negeri. Sedangkan Wali Kotanya berkedudukan sejajar dengan seorang Residen.

28

BAB III SEJARAH PERKEMBANGAN RADIO REPUBLIK INDONESIA STASIUN SURAKARTA

A. Awal Mula Perkembangan Radio Siaran Di Indonesia 1. Masa Kolonial Belanda Siaran radio di Indonesia sudah dimulai sejak jaman penjajahan Belanda. Ketika pecah Perang Dunia I, pemerintah Hindia Belanda dan kerajaan Belanda merasakan perlunya hubungan yang cepat antara kedua wilayah tersebut untuk menyampaikan peraturan pemerintah dan berita. Hal ini hanya dapat dilakukan melalui hubungan radio, yang lebih cepat daripada satu-satunnya saluran komunikasi yang ada pada waktu itu, yaitu telegraf dengan kabel laut. Sejak saat itulah tumbuh “semangat keradioan” di kalangan orang Belanda di negeri jajahannya. Dengan bantuan Jawatan Pos, Telepon dan Telegraf Belanda (PTT), tumbuhlah semangat radio amatir disini. PTT pun memberikan pemancar-pemancar yang kuat di Bandung (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1989 :33). Pada tanggal 16 Juni 1925 orang Belanda penggemar radio di Batavia mendirikan perkumpulan siaran radio yang bernama Bataviase Radio Vereniging (BRV). Dalam akte notarisnya dinyatakan bahwa perkumpulan ini didirikan untuk selama 29 tahun. Radio siaran pada masa penjajahan Belanda dahulu mempunyai status swasta. Munculnya BRV, menyebabkan munculnya badan-badan radio siaran lainnya seperti;

29

Nederlandsch Indische Radio Omroep Mij (NIROM) di Jakarta, Bandung dan Medan, Solossche Radio Vereniging (SRV) di Surakarta, Mataramse Vereniging voor Radio Omroep (MAVRO) di Yogyakarta, Vereniging Oosterse Radio Luisteraars (VORO) di Bandung, Vereniging voor Oosterse Radio Omroep (VORO) di Surakarta, Chinese en Inheemse Radio Luisterars Vereniging Oost Java (CIRVO) di Surabaya, Eerste Madiunse Radio Omroep (EMRO) di Madiun, Radio Semarang di Semarang. Untuk kota Medan selain NIROM juga terdapat radio swasta Meyers Omroep Voor Allen (MOVA), yang diusahakan oleh tuan Meyers, dan Algeemene Vereniging Omroep Medan (VROMA) (Efendy, 1978:52). Pada tahun 1927, seorang penggemar radio amatir yang bernama De Groot mendirikan stasiun radio Malabar di Bandung. Fungsinya utamanya adalah sebagai alat hubungan radio-telegrafis antara Hindia Belanda dengan negeri Belanda. Usahanya membuahkan hasil pada tanggal 12 Maret 1927, ketika De Groot mendapatkan siaran gelombang pendek dari Laboratorium Philips di Eindhoven, negeri Belanda. Sukses De Groot mendorong para pecinta radio di negeri Belanda untuk membangun pemancar siaran luar negeri. Di kalangan orang Indonesia, siaran Radio pertama kali di selenggarakan di Surakarta oleh perkumpulan Javaanse Kunstkring Mardi Raras Mangkunegaran (Lingkungan Kesenian Jawa Mardi Raras Mangkunegaraan). Pemancar mereka dengan nama panggilan PK 2MN, merupakan hadiah dari Sri Paduka Mangkunegaraan VII. Acara siarannya

30

hanya berupa kesenian Jawa dan ditangkap oleh lingkungan yang terbatas karena di Surakarta pada waktu itu baru ada 20 pesawat radio, yang umumnya milik bangsawan (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1989 :34). Untuk mempertahankan siaran tersebut, maka pada tanggal 1 April 1933 didirikan Solose Radio Veriniging (SRV) yang diketuai oleh Sarsito Mangun Kusumo. Sesudah berkali-kali diadakan siaran percobaan, SRV dapat menyelenggarakan siaran pertama yaitu berupa klenengan Jawa pada tanggal 15 Januari 1934. Berdirinya SRV Kemudian diikuti dengan munculnya perkumpulan lainnya yaitu Siaran Radio Indonesia (SRI) yang didirikan di Solo pada bulan Oktober 1934 oleh Pangeran Surjohamidjojo (Nardi, 1995:4). Dari berbagai macam perkumpulan-perkumpulan radio siaran hanyalah NIROM yang mampu berkembang dengan pesat. Hal ini disebabkan karena NIROM mendapat bantuan penuh dari pemerintah Hindia Belanda. Selain itu perkembangan NIROM yang pesat itu di sebabkan pula keuntungannya yang besar dalam bidang keuangan yakni dari pajak radio. Semakin banyak pesawat radio di kalangan masyarakat, semakin banyak uang diterima oleh NIROM. Dengan demikian, NIROM dapat meningkatkan daya pancarnya, mengadakan stasiun-stasiun relay, mengadakan sambungan telepon khusus dengan kota-kota besar, dan lainlain (Efendy, 1978:53). Pada tahun 1934, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan radiowet (undang-undang radio) yang mengatur siaran radio di tanah

31

jajahannya. Berdasarkan undang-undang ini, NIROM berdiri secara resmi dan kedudukannya makin kuat karena mendapat lisensi untuk

menyelenggarakan siaran radio selama lima tahun. NIROM kemudian menjadi studio siaran radio setengah resmi milik pemerintah Hindia Belanda dan berhak memungut pajak radio sebesar Fl 1.50 setiap bulan dari setiap pemilik pesawat radio. Jumlah ini tidaklah kecil mengingat bahwa sewa sebuah pemancar berkekuatan 150 watt adalah sebesar Fl 90 sebulan, sedangkan iuran para anggota perkumpulan siaran radio di Indonesia paling tinggi hanya Fl 0,50 sebulan. Dari pajak Fl 1,50 di potong Fl 0,25 untuk tata usaha PTT. Atas bantuan PTT, NIROM

memperbaiki dan menambah alat-alatnya dan kemudian dapat membangun stasiun pemancar di Bandung, Surabaya, Semarang, Surakarta,

Yogyakarta, Cepu, Malang, Sukabumi, Bogor dan Padang (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1989 :34). Pada tahun 1936 terbetik berita bahwa mulai tahun 1937 siaran ketimuran seluruhnya akan dikuasai oleh NIROM sendiri (Effendy, 1978:54). Ini berarti bahwa mulai tahun 1937 subsidi dari NIROM akan dicabut, setidak-tidaknya akan dikurangi, karena NIROM tidak akan lagi merelay siaran-siaran radio milik pribumi, setidak-tidaknya kalau terpaksa merelay hanya sedikit sekali. Seperti diketahui subsidi NIROM itu semula di berikan berdasarkan perhitungan jam-merelay. Memang adalah maksud NIROM yang bersandarkan kekuatan penjajahan itu adalah untuk mematikan perkumpulan-perkumpulan radio siaran ketimuran.

32

Pada tanggal 28 Maret 1937 atas usaha anggota Volksraad M. Sutarjo Kartokusuno dan seorang insinyur bernama Ir. Sarsito

Mangunkusumo diselenggarakan suatu pertemuan antara wakil-wakil radio ketimuran bertempat di Bandung. Wakil-wakil yang mengirim utusannya adalah: VORO (Batavia), VORL (Bandung), MAVRO (Yogyakarta), SRV (Solo) dan CIRCO (Surabaya). Pertemuan tersebut melahirkan suatu badan baru bernama Perikatan Perkumpulan Radio Ketimuran (PPRK) sebagai ketuanya adalah Sutarjo Kartohadikusumo. Tujuan PPRK bersifat sosial budaya semata, yaitu memajukan kesenian dan kebudayaan nasional guna kemajuan masyarakat Indonesia, rohani dan jasmani (Efendy, 1978:54). Pada tanggal 7 Mei 1937 diadakan pertemuan antara ketua PPRK, Sutardjo Kartohadikusumo, dan para pejabat pemerintah Hindia Belanda. Pertemuan tersebut menghasilkan persetujuan untuk menyerahkan urusan siaran ketimuran kepada PPRK, tetapi segi teknisnya masih di urus oleh NIROM. Pada tanggal 26 Maret 1938, dikeluarkan keputusan pemerintah yang mengakui PPRK sebagai badan hukum. Tetapi perselisihan dengan NIROM masih terus berlanjut, yakni mengenai besarnya subsidi untuk PPRK dan ketidak ikhlasan NIROM melepaskan hak siaran ketimuran sepenuhnya kepada PPRK. Pada tanggal 1 Juli 1939, pemerintah menyusun Oosterse Raad Van Advies (Dewan Penasehat Ketimuran) yang diketuai oleh

Sosrohadikusumo. Dewan ini beranggota 14 orang dari PPRK, PTT,

33

NIROM dan dewan rakyat. Atas desakan dewan, pemerintah pada bulan Agustus 1939 memberikan subsidi kepada PPRK sebesar Fl 126.000 untuk tahun 1940. dengan bantuan keuangan ini, PPRK diharapkan dapat menyiapkan diri untuk menerima penyerahan hak siaran dari NIROM. (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1989:36). Keputusan pemerintah yang menyetujui penyerahan penyelenggaraan siaran ketimuran dari NIROM kepada PPRK barulah di keluarkan pada tanggal 30 Juni 1940. Peperangan di Eropa yang juga melanda negeri Belanda menyebabkan negeri Belanda dalam keadaan sulit yang membutuhkan bantuan rakyat jajahannya menyebabkan pemerintah Hindia Belanda bersifat agak lunak. Sehingga hal ini dimanfaatkan oleh PPRK agar dapat menyelenggarakan siaran sendiri sepenuhnya tanpa bantuan dari NIROM. Maka pada tanggal 1 November 1940 tercapailah tujuan PPRK untuk dapat menyelenggarakan siaran pertama. Lambat laun koordinasi siaran antara studio PPRK dan studio-studio perkumpulan siaran radio anggota federasi PPRK semakin diperluas dan disempurnakan (Efendy, 1978:55). Enam bulan setelah memulai siarannya, barulah masyarakat umum dapat memahami usaha PPRK. Tetapi siaran itu dan semua siaran radio di Hindia Belanda hanya dapat hidup sampai bulan maret 1942, karena pada waktu itu Jepang mulai menduduki Hindia Belanda. Pada tahun 1939 terdaftar 87.510 pesawat radio di Hindia Belanda, tetapi hanya 25.608 yang dimiliki orang Indonesia (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1989:36).

34

2. Masa Penjajahan Jepang Dalam peperangan di Asia dan Pasifik yang berlangsung mulai tahun 1941, Jepang sebagai sekutunya Nazi Jerman dan Italia di Eropa, mengadakan ekspansi ke arah selatan. Pada bulan Maret 1942 pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, tepat tanggal 8 Maret 1942 pemerintah Hindia Belanda dengan seluruh angkatan perangnya

menyatakan menyerah kalah di Bandung kepada bala tentara Jepang. Sejak tanggal 8 Maret 1942 di bekas wilayah Hindia Belanda dulu berlaku pemerintahan militer Jepang atas nama resminya pada waktu itu adalah Dai Nippon (Efendy, 1978:55). Menjelang kedatangan tentara Jepang, pemerintah Hindia Belanda memerintahkan untuk penghancuran pemancar-pemancar radio. Tetapi ini hanya terjadi di Medan dan sebagian di Surakarta, sedangkan di kota-kota lain peralatan dapat diselamatkan. Pemerintah Dai Nippon membubarkan semua perkumpulan radio di Hindia Belanda dan menempatkannya di bawah kekuasaanya. Di pulau Jawa, urusan radio ditempatkan di bawah kepengurusan Djawa Hoso Kanrikyoku (Badan Pengawas Siaran di Jawa) yang dibentuk di tingkat pusat yaitu di Jakarta. Badan ini dipimpin oleh orang-orang Jepang yang ahli di bidang siaran radio dan propaganda. Cabangnya yang bernama Hoso Kyoku, didirikan di kota-kota besar di Jawa yaitu: Jakarta, Bandung, Purwokerto, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya dan Malang. Hoso Kanrikyoku di Jawa berada di

35

bawah pimpinan Tomabeci sedangkan cabang-cabangnya di pimpin oleh Shimamura (Pusponesgoro dan Notosusanto, 1984:58). Di samping adanya Hoso Kyoku tersebut, maka di kabupatenkabupaten didirikan lagi kantor studio yang bernama Shodanso. Shodanso ini selain menyelenggarakan penyiaran propaganda pemerintah

pendudukan Jepang juga melakukan reparasi dan servis radio di daerah tersebut. Kantor inilah satu-satunya yang diberi tugas oleh Jepang untuk menyelenggarakan reparasi, servis dan penyegelan radio. Shodanso juga memegang peranan penting dalam mengatur penyelenggaraan radio untuk umum, propaganda, penyegelan terhadap radio atau menetapkan gelombang-gelombang mana yang boleh didengarkan. Pada masa pendudukan Jepang, radio umum dipasang hampir disetiap tempat ramai sampai di pelosok-pelosok desa dengan maksud agar rakyat dapat mendengarkan siaran propaganda Jepang. Pengawasan radio dilakukan dengan ketat untuk mencegah, jangan sampai ada siaran kecuali siaran-siaran dari delapan cabang studio (Hosokyoku) untuk didengarkan masyarakat (Poesponegoro dan Notosusanto, 1984:58). Di Sumatera, pusat siaran radio bernama Tyuo Hosokyoku yang dibentuk di pusat pemerintahannya di bukit tinggi. Studio radio yang di koordinasi oleh badan Tyuo Hosokyoku adalah studio di Bukittinggi, Kutaraja (Banda Aceh), Medan, Padang dan Palembang. Semua studio radio itu hanya dapat menyiarkan berita tentang Sumatera dengan merelay siaran sentral dari Bukittinggi, sedangkan berita dunia dalam bahasa

36

Jepang hanya dengan merelai siaran sentral dari Tokyo. Kota-kota lain yang memiliki Hosokyoku adalah Banjarmasin, Makasar (Ujung Pandang) dan Manado (Efendy, 1978:56). Ciri-ciri siaran radio pada jaman Jepang ialah tingginya persentase siaran berita, yaitu sekitar 3 ½ jam atau ¼ jumlah jam siaran sehari, ditambah lagi siaran propaganda dari yang diselenggarakan oleh kantor Sendenbu (Propaganda). Siaran berita di semua studio radio harus bersumber pada kantor berita Jepang Domei. Siaran musik Barat tetap ada, tetapi sebagian besar karya kompunis Jepang atau negara-negara Eropa Barat yang bersekutu dengan Jepang dalam Perang Dunia II (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1989:37). Antipati Jepang terhadap bahasa Belanda dan lagu-lagu jazz dan swing dari Amerika merupakan pendorong bagi berkembangnya bahasa dan seni musik Indonesia. Para seniman Indonesia yang terhimpun dalam Keimin Bunka Shidoso (Pusat Kebudayaan) menciptakan ratusan lagu Indonesia, di antaranya yang mengandung propaganda. Lagu daerah yang sudah lama tidak diperdengarkan karena dianggap ketinggalan jaman, mulai terdengar kembali dalam siaran radio. Tidak seperti pada masa penjajahan Belanda, pada masa penjajahan Jepang ada kesempatan bagi para pemimpin politik Indonesia untuk berpidato kepada rakyat melalui radio. Dengan cerdik para politisi dari Indonesia memanfaatkan propaganda “Semangat Asia Timur Raya” untuk mengobarkan semangat nasionalisme dan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

37

3. Masa Kemerdekaan; Lahirnya Radio Republik Indonesia Pada tanggal 14 Agustus 1945 terdengar berita tentang kekalahan Jepang dalam perang pasifik setelah kota Hirosima dan Nagasaki di Bom atom oleh tentara Sekutu. Hal ini mempunyai dampak yang cukup besar bagi bangsa Indonesia yang pada saat itu berada di bawah penjajahan bangsa Jepang, salah satunya yaitu pemerintah Jepang membatasi rakyat Indonesia hanya di perbolehkan mendengarkan siaran radio Hosokyoku saja, meskipun demikian berita kekalahan bangsa Jepang terhadap sekutu dapat diketahui oleh bangsa Indonesia yang secara sembunyi-sembunyi terus mendengarkan siaran luar negeri. Berita kekalahan Jepang tidak disia-siakan oleh bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia mengadakan suatu gerakan memproklamasikan Negara Indonesia merdeka, pada saat Jepang tidak mempunyai kekuatan lagi. Dalam bukunya Radio Siaran Dan Teknik, Onong Ujtana Efendy menjelaskan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan bangsa Indonesia di proklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Sebenarnya para pemuda akan menyiarkan teks proklamasi itu pada saat teks dibaca oleh Bung Karno dan Bung Hatta, akan tetapi stasiun radio sejak tanggal 15 Agustus 1945 dijaga ketat oleh tentara Jepang. Baru malam harinya pada tanggal 17 Agustus 1945 yakni jam 19.00 dengan bantuan Suprapto dan Bachtar Lubis, penyiar seksi luar negeri teks proklamasi itu di siarkan dalam bahasa Indonesia oleh Jusuf Ronodipuro dan Suparapto menyiarkannya dengan bahasa Inggris. Akan tetapi siaran ini hanya

38

mampu di dengar oleh penduduk Jakarta. Maka kemudian para pegawai tehnik menyalurkan siarannya melalui siaran luar negeri baru pada tanggal 18 Agustus 1945. Dengan demikian siaran pembacaan teks proklamasi dapat didengar oleh penduduk Australia. Siaran pembacaan teks proklamasi kemudian di ikuti oleh cabang-cabang yang lainnya. Namanama penyiar Hosokyoku yang patut dicatat dalam penyiaran teks proklamasi untuk siaran luar negeri adalah Sakti Almsyah dan Hasjim Rachman serta para teknisi Bambang Sukijun, A.R Rasjid dan Brotokusumo, sedangkan di pihak PTT adalah Harjoprawoto, Dian dan Samjun serta seorang insinyur (belum diketahui namanya). Siaran ini mengudara melalui gelombang-gelombang pendek 16 meter, 19 meter, 24 meter dan 45 meter PMH. Siaran teks proklamasi ke luar negeri akhirnya di ketahui oleh Jepang. Hal ini menyebabkan siaran Hosokyoku di hentikan. Akan tetapi sebuah pemancar gelap berhasil di usahakan sehingga tidak lama kemudian berkumandang di udara radio siaran dengan Stasion Call Radio Indonesia Merdeka. Dari sinilah wakil presiden Mohammad Hatta dan pemimpin-pemimpin lainnya mengadakan pidato radio yang ditujukan kepada rakyat Indonesia. Disamping itu diusahakan pula hubungan kawat dengan pemancar PTT di Bandung yang terkuat pada waktu itu. Maka melalui studio di Sekolah Tinggi Kedokteran di Salemba Jakarta memancarlah siaran luar negeri dengan call: “This is the voice of free Indonesia”. Dalam hubungan hal ini perlu dicatat nama Dr. Abdurachman

39

Saleh yang sangat berjasa dalam mengusahakan siaran dalam masa yang genting tersebut (Efendy, 1978: 59). Menghadapi kekalahan Jepang, para pegawai radio bangsa Indonesia merasa perlu mempersatukan kekuatan mereka untuk membantu menegakkan perjuangan RI. Dalam rangka inilah, pada akhir Agustus 1945, Maladi dari Solo Hoso Kyoku mengirimkan surat kepada para teman-temannya di studio Semarang, Yogyakarta, Malang, Surabaya dan Jakarta meminta agar segera di adakan rapat di Jakarta untuk mengorganisir radio siaran di Indonesia. Atas dasar untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diperoleh bangsa Indonesia, maka pada tanggal 10 September 1945, para pegawai Hosokyoku berkumpul di Jakarta untuk merundingkan cara pengambil alihan radio Hosokyoku untuk dipersembahkan kepada bangsa Indonesia sebagai alat perjuangan. Pertemuan tersebut tidak membawa hasil karena semua pemancar dan alat-alat siaran Hosokyoku telah didaftar dan ditandatangani oleh Sekutu (SEAC di Singapura). Pertemuan berikutnya di selenggarakan dikediaman Adang Kadarusman pegawai Jakarta Hosokyoku di Menteng Dalam, Jakarta tepat pada pukul 24.00 WIB. Rapat tersebut dibuka oleh Dr. Abdulrachman Saleh, adapun pertemuan tersebut dihadiri oleh: a. Perwakilan Hoso Kyoku Jakarta, yaitu; Adang Kadarusman, Sutoyo Surjodipuro, Jusuf Ronodipuro, Sukasmo, Syawal Mochtarudin, M.A. Tjaja.

40

b. Perwakilan Hoso Kyoku Bandung, yaitu; Sjakti Alamsyah, R.A. Darja dan Agus Marah Sutan. c. Perwakilan Hoso Kyoku Yogyakarta, yaitu; R.M. Soemardi dan Sudomomarto d. Perwakilan Hoso Kyoku Surakarta, yaitu; R. Maladi dan Sutardi Hardjolukito e. Perwakilan Hoso Kyoku Semarang, yaitu; Suhardi dan Harto f. Perwakilan Hoso Kyoku Purwokerto, yaitu Suhardjo Pertemuan tersebut berakhir pada tanggal 11 September 1945 pukul 06.00 WIB yang membuahkan beberapa keputusan, diantaranya adalah: a. Menetapkan 11 September 1945 sebagai hari berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI). b. Semua hadirin menyatakan diri sebagai pegawai RRI, sedangkan pegawai Hoso Kyoku bangsa Indonesia lainnya diminta secara suka rela memilih apakah menjadi pegawai RI atau tidak. Pernyataan menjadi pegawai RRI harus disertai sumpah setia kepada RRI dan RI. c. Jakarta untuk sementara ditetapkan sebagai pusat RRI d. Sebagai pemimpin umum RRI dipilih Abdurachman Saleh, yang diberi kekuasaan menetapkan formasi RRI pusat. Perintah dari pusat hanya akan sah apabila dikeluarkan oleh pemimpin umum. e. Sebagai cabang RRI pertama dicatat: Bandung, Purwokerto,

Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Malang dan Surabaya.

41

f. Tri Prasetya RRI, sebagai jiwa dan sumpah pegawai RRI kepada Republik Indonesia untuk menjaga RRI sebagai alat perjuangan

bangsa Indonesia. Dalam bukunya yang berjudul Hari Radio, RRI stasiun Surakarta diuraikan bahwa Isi Tri Prasetya RRI adalah:
1) Kita harus menyelamatkan segala alat siaran radio, dari siapapun yang hendak menggunakan alat tersebut untuk menghancurkan Negara kita dan membela alat itu dengan segala jiwa raga, dalam keadaan bagaimanapun dan akibat apapun juga. 2) Kita harus mengemudikan siaran RRI, sebagai alat perjuangan dan alat revolusi seluruh bangsa Indonesia. Dengan jiwa kebangsaan yang murni hati yang bersih dan jujur, serta budi yang penuh kecintaan dan kesetiaan kepada tanah air dan bangsa. 3) Kita harus berdiri diatas segala aliran dan keyakinan partai atau golongan, dengan menyelamatkan persatuan bangsa, dan keslamatan negara, serta berpegangan pada jiwa proklamasi 17 Agustus 1945 (RRI

Stasiun Surakarta, 1995:1) Dengan lahirnya RRI maka pada hari itu pula lahirlah semboyan RRI yang tetap berlaku hingga sekarang, yaitu “Sekali Di Udara Tetap Di Udara”. Penyerahan studio radio oleh Jepang secara baik-baik kepada Indonesia hanya terjadi di Surakarta, Yogyakarta dan Semarang, meskipun didahului desakan kesar dari pihak Indonesia. Penyerahan studio ini dilakukan pada tanggal 1 Oktober 1945. dikota lain yang merupakan bekas tempat studio Hoso Kyoku penyerahan pemancar dan peralatan radio siaran dilakukan dengan jalan kekerasan. Para pemuda merebut pemancar dan peralatannya kemudian menyingkir keluar kota, terutama ke daerah pegunungan. Secara spontan dimana-mana tumbuh usaha membuat pemancar radio dengan peralatan yang seadanya. Organisasi radio Republik Indonesia waktu itu berjalan sesuai dengan roda pemerinthana yang serba darurat. Meskipun sudah ada RRI,

42

belum ada ketegasan apakah RRI masuk jawatan pos (PTT) atau Kementrian Penerangan. Bagian teknik RRI Bandung, misalnya masuk PTT, sedangkan urusan siaran masuk Jawatan Penerangan. Di Sumatera, ada yang dibawah Penerangan Gubernur Militer. Para pengisi acara hiburan tidak dibayar dan pegawai bekerja bukan mengharapkan gaji. Untuk mendapatkan biaya siaran, Radio Garut misalnya memungut bayaran Rp 5,00 dari tiap berita keluarga yang disiarkannya, sdangkan RRI Semarang dan Yogyakarta memunguit iuran radio setiap bulan. Ada pula perorangan yang menjamin makan pegawai studio. Yang bernasib agak baik adalah RRI Surakarta dan Surabaya, karena dibiayai Komite Nasional Indonesia (KNI) setempat. Untuk menertibkan organisasi, maka pada tanggal 12 Januari 1946 diadakan konferensi radio yang pertama di Surakarta, dibawah pimpinan Abdulrachman Saleh.konferensi tersebut dihadiri oleh wakil-wakil dari 8 studio. Dari Kementrian Penerangan Jakarta hadir Mr. Ali Sastroamidjojo. Pokok perbincangan berkisar soal menjadi Jawatan Pemerintah atau bukan Jawatan Pemerintah. Sebagian berpendapat bahwa sebaiknya RRI menjadi Jawatan Pemerintah, tetapi sebgian lainnya menganggap status diluar pemerintah lebih baik. Tetapi didalam perbedaan pendapat tersebut tetap disepakati bahwa siaran radio harus menjadi alat perjuangan nasional. Alat untuk kepentingan Pemerintah dan rakyat. Karena alasan yang dikemukakan oleh masing-masing pihak sama kuatnya dan dalam pemungutan suara didapat jumlah yang sama, yaitu 4:4 maka perlu

43

diambil pemungutan suara yang kedua. Dalam pemungutan suara yang kedua terjadi perubahan jumlah suara yaitu 6:2. Enam suara menghendaki RRI sebagai Jawatan Pemerintah dan dua suara dari RRI Surakarta dan Semarang menghendaki RRI diluar Jawatan Pemerintah. Sebelumnya sudah disetujui dengan suara bulat, bahwa jika RRI menjadi Jawatan Pemerintah maka akan mendapatkan kedudukan dalam lingkungan Kementrian Penerangan. Kemudian dibentuk sebuah Work Comite yang berkewajiban melaksanakan keputusan tersebut. Pembentukan Pusat Pimpinan waktu itu tidak berhasil, karena beberapa pimpinan yang dicalonkan untuk duduk dalam pucuk pimpinan belum bersedia. Sebagai ketua Work Comite ditunjuk Surjodipura yang dibantu oleh Sudomomarto dan Harto. Keputusan konferensi tersebut belum dapat dianggap sebagai keputusan yang definitif, karena pihak Pemerintah masih harus mendapatkan persetujuan. Oleh karena itu maka diadakan konferensi yang kedua di Purwokerto pada tanggal 23-24 Januari 1946. semua wakil dari studio RRI datang, kecuali Dr. Abdulrachman Saleh yang menyatakan berhalangan hadir. Wakil dari Kementrian Penerangan yang hadir adalah Sumarno. Pembicaraan dalam konferensi ini mengenai Pemimpin Umum dan anggota-anggota pucuk pimpinan RRI. Dalam konferensi tersebut ditetapkan bahwa Maladi diangkat sebagai Kepala Jawatan RRI dan kedudukan pusat Jawatan ditetapkan berada di Surakarta.

44

Satu hal yang harus di pertimbangkan kembali yakni mengenai penetapan Pemerintah mengenai pegawai-pegawai RRI bagian tekhnik dimasukkan sebagai pegawai PTT dan pegawai-pegawai siaran sebagai pegawai Kementrian Penerangan dan Mentri Perhubungan. Maka atas usul kepala Jawatan RRI pada tanggal 1 Maret 1946 diadakan pertemuan yang dihadiri Menteri Penerangan Moh Natsir, Sekjen Kementrian Penerangan Ali Budiarjo, Kepala Jawatan Penerangan Jawa Tengah Mr. Sudjarwo, Menteri Perhubungan Ir. Abdulkarim dan Kepala Jawatan PTT Suharto. Dari pihak RRI hadir Dr. Abdulrachman Saleh, Suhardi, Maladi dan Sutardi. Pertemuan tersebut menghasilkan persetujuan dari Menteri Perhubungan bahwa RRI seluruhnya dimasukkan dalam Kementerian Penerangan, sedangkan mengenai soal-soal teknik diadakan kerja sama yang baik antara PTT dan RRI. Setelah segala keterangan, seperti daftar Pegawai, soal keuangan dan lain-lain dari RRI disampaikan kepada menteri Penerangan, maka pada tanggal 1 April 1946 Radio Republik Indonesia (RRI) diresmikan sebagai Jawatan Radio didalam Kementrian Penerangan.

B. Sejarah Perkembangan Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta. 1. Awal mula perkembangan radio siaran di Surakarta Siaran-siaran radio yang berkumandang di Indonesia membuka pemikiran baru bagi bangsa Indonesia dan siaran-siaran ini dijadikan alat perjuangan melalui seni budaya yang terdapat di Indonesia, sebab secara

45

tidak langsung segala pemeliharaan seni budaya di Indonesia merupakan penanaman kesadaran berbangsa. Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia dijelaskan bahwa badio siaran yang pertama kali berdiri di Surakarta adalah PK2MN yang diusahakan oleh perkumpulan “Javaanse Kunstkring Mardi Raras Mangkunegaran”, asuhan Sri Paduka Mangkunegara VII, seorang bangsawan yang pernah ikut bergerak dalam Budi Oetomo yang terkenal sebagai penggemar seni siaran-siaran gamelan Jawa, Ketoprak dan siaransiaran lain dapat dipancarkan kepada penggemarnya. Pada waktu itu yang memiliki pesawat radio masih jarang sekali. Meskipun demikian, pengaruhnya terhadap masyarakat besar sekali dan akhirnya timbul pemikiran baru Sri Paduka Mangkunegara VII agar perkumpulan tersebut berusaha untuk mendapatkan pemancar baru, mengingat pemancar PK2MN alat-alatnya mudah rusak. Sebelum NIROM memulai siarannya secara resmi, meskipun sudah mengadakan percobaan-percobaan di Tanjung Priok Jakarta, di Surakarta sudah ada suatu pemancar radio ketimuran, yakni yang disebut PK2MN. Pemancar PK2MN mengirimkan siaran-siaran gamelan Jawa dari perkumpulan Javaanse Kunstkring tersebut dan siaran-siaran Ketoprak atau Wayang orang dari Taman Balekambang Manahan yang dulu namanya Partinituin. Akan tetapi pada waktu itu pesawat radio masih asing sekali bagi penduduk, pemilik pesawat penerima pada waktu itu tidak lebih dari 20 orang, terutama para bangsawan.

46

Pesawat radio milik Sri Paduka Mangkunegara VII selalu dipasang di pendapa besar Mangkunegaran, sehingga setiap minggu pagi samapai siang berkumpul rakyat untuk mendengarkan “peti ajaib”. Lambat laun pemancar kecil itu tidak memenuhi kebutuhan karena sudah ada beberapa bagian yang rusak. Atas perintah Sri Paduka Mangkunegara VII, supaya pengurus perkumpulan dapat membeli pemancar sendiri. Atas inisiatif Ir. Sarsito Mangunkusumo maka diadakan rapat dengan para anggota dan juga tokoh terkemuka serta hartawan di Surakarta, dengan maksud untuk mendirikan perkumpulan yang

mengusahakan penyiaran radio di Surakarta. Rapat yang dilaksanakan pada tanggal 1 April 1933, melahirkan Solose Radio Vereniging (SRV) dengan susunan pengurus sebagai berikut Ketua Penulis Bendahara : Ir. Sarsito Mangunkusumo : Sutarto Hadjowahono : Liem Tik Liang

Pembantu-pembantu : Dr. Murmohusodo, Tjan Ing Tjwan, Lowson, Wongsohartono, Tjiong Joe Hok, Prijosumarto. Komisi Teknik Komisi Penyiaran Komisi Propaganda : Dipimpin oleh ketua : Dipimpin oleh Sutarto Hardjowahono : Dipimpin oleh Dr. Murmohusodo, dibantu oleh Wongsohartono dan Prijosumarto.

47

Sejak berdirinya SRV, bertambah lama bertambah banyak anggotanya, pemancar dapat diperkuat dan siaran-siarannya tidak sampai kehabisan bahan. Pada tahun 1934 di Surakarta berdiri sebuah perkumpulan radio lagi yang bernama SRI (Siaran Radio Indonesia) dibawah asuhan Pangeran Surjohamidjojo, Muljadi Djojomartono dkk. Dalam perkembangan berikutnya SRV mampu menyewa dari pemerintah Kolonial Belanda sebuah pemancar dari PTT dengan kekuatan 150 Watt, Gelombang 62 meter. Pada tanggal 15 Januari 1935 SRV mengadakan konggres di Surakarta. Konggres antara lain memutuskan bahwa SRV harus mempunyai gedung tersendiri. Untuk membangun gedung diperlukan biaya sebanya FI. 7000, sedangkan pada waktu itu fonds studio yang didapat dari para dermawan baru FI. 2000. untuk meringankan usaha pengurus SRV maka Sri Paduka Mangkunegara VII telah menghadiahkan sebidang tanah yang luasnya 5.000 meter persegi yang letaknya di jalan Markoni (tepatnya di lokasi RRI Surakarta sekarang). Setelah rencana persiapan pembuatan gedung selesai, maka pada tanggal 15 September 1935 diadakan peletakan batu pertama dan pada tanggal 29 Agustus 1936 gedung SRV dibuka dengan resmi. Perencanaan siaran yang teratur itu, berpengaruh pula pada pertumbuhan masyarakat. Perkumpulan-perkumpulan musik, gamelan dan lain-lain berkembang dengan pesat. Bakat-bakat seni dan organisasi yang terpendam, timbul dengan pesatnya. Dapat dikatakan, siaran radio yang

48

sudah memiliki studio sendiri dan dengan organisasi yang teratur membawa dampak yang positif bagi masyarakat. Dengan menyerahnya Belanda kepada Jepang pada bulan Maret 1942, maka sejarah bangsa Indonesia mengalami babak baru. Gelombang baru ini pada pokoknya termaktub dala undang-undang Bala Tentara Dai Nippon nomor 1, pasal 1 yang berbunyi;
Karena bala tentara Dai Nippon berkehendak memperbaiki nasib rakyat Indonesia yang sebangsa dan seturunan dengan bangsa Nippon, dan juga hendak mendirikan ketentraman yang teguh untuk hidup makmur bersamasama rakyat Indonesia atas dasar mempertahankan Asia Raya bersama-sama, maka dari itu bala tentara Dai Nippon melangsungkan pemerintah militer bagi sementara waktu didaerah yang ditempatinya, agar supaya mendatangkan keamanan yang sentausa dengan segera. (RRI Stasiun

Surakarta, 1995:7) Pasukan Jepang masuk kota Surakarta pada tanggal 5 Maret 1942 melalui Gundih dan Kalioso. Pada tanggal 2 Maret 1942 tentara Belanda di Surakarta membumi hanguskan obyek-obyek penting termasuk pemancar serta alat-alat kecil tekhnik SRV. Berkat usaha pimpinan tekhnik SRV, Oetojo dan Soegoto, pemancar SRV tidak dirusak, hanya meteran dan alat-alat kecil diambil agar menimbulkan kesan bahwa perintah Belanda sudah diindahkan. Pada tanggal 8 maret 1942, H. Funabiki, komandan pasukan Jepang di Surakarta datang ke studio. Kedatangan H. Funabiki disambut oleh Sdr. Maladi (salah seorang anggota pengurus program komisi SRV). Kedatangan H. Funabiki bermaksud untuk menghidupkan kembali pemancar SRV. Dalam tempo beberapa hari pemancar sudah dapat berfungsi kembali dan pimpinan diserahkan kepada Maladi. SRV pada

49

masa kependudukan Jepang berubah menjadi Hoso Kyoku cabang Surakarta. Dalam langkahnya selalu dicari sela-sela segi perjuangan bangsa. Salah satu jalan kearah segi perjuangan bangsa Indonesia adlah mengisi acara yang bertendensi atau bersifat kebangsaan atau

nasionalisme. Lagu atau gending pembukaan “Puspowarno” dan lagu penutup “Ayak-ayakan Kaloran” dipilih sebagai lagu yang mampu menanamkan serta memelihara kecintaan kebudayaan bangsa Indonesia. Dengan langkah-langkah ini, pimpinan Radio Hoso Kanri Kyoku di Jakarta mencurigai pimpinan Radio di Surakarta dan Maladi dipanggil ke Jakarta untuk mempertanggung jawabkannya. Setelah memberikan alasan yang bermacam-macam, akhirnya Jepang menyetujui pendirian Maladi. (RRI Stasiun Surakarta, 2. Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta. Setelah diproklamirkannya kemerdekaan Republik Indonesia, maka para pemimpin radio berusaha keras menghimpun tenaga-tenaga untuk melancarkan jalannya revolusi. Seperti diketahui bahwa sistem organisasi Hoso Kyoku memberi kesempatan kepada pegawai bangsa Indonesia untuk mengadakan hubungan organisasi. Antara studio Semarang, Yogyakarta dan Surakarta sejak tahun 1944 tiap bulan diadakan pertemuan membicarakan acara-acara siaran. Dengan adanya hubungan rutin ini, maka diantara studio Tri Tunggal (Semarang, Yogyakarta dan Surakarta) sudah terdapat rasa sepenanggungan untuk melangkah lebih maju lagi.

50

Pada waktu pemerintahan Jepang banyak terjadi kekerasan dan kekejaman yang memakan banyak korban dikalangan bangsa Indonesia diantaranya adalah pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia. Pegawaipegawai Hoso Kyoku masih ada kesempatan untuk mendengarkan siaransiaran dari luar negeri. Dari sinilah timbul inisiatif untuk menghadapi jaman baru. Dengan terdengar berita kekalahan bangsa Jepang, bangsa Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk dapat merdeka lepas dari penjajahan yang telah dialami bangsa Indonesia selama ini. Setelah diketahui bahwa Indonesia memproklamasikan

kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Jepang melarang semua Hoso Kyokunya mengadakan siaran dan mengambil alat-alat yang penting termasuk pemancar agar tidak dapat mengudara karena alat-alat tersebut dapat digunakan oleh orang-orang Indonesia untuk memancarkan siarannya yang sangat merugikan pihak Jepang. Sejalan dengan revolusi nasional, maka dicari jalan untuk merebut serta menguasai radio-radio yang telah ada. Pada tanggal 11 September 1945 diadakan rapat diantara para perwakilan dari para pegawai bekas Hoso Kyoku yang tersebar di delapan tempat, yaitu Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Surabaya dan Semarang. Dalam rapat tersebut diambil keputusan bahwa setiap studio bekas Hoso Kyoku berkewajiban mengusahakan penyerahan segala pemancar dan alat-alat Hoso Kyoku dari Jepang untuk dijadikan tempat dan alat perjuangan selanjutnya.

51

Radio siaran yang semula bernama Hoso Kyoku berubah nama menjadi Radio Republik Indonesia (RRI). Dengan bekal ikrar dan beberapa keputusan hasil rapat tersebut maka wakil-wakil studio meneruskan perjuangan didaerahnya masing-masing atas dasar satu komando dari pimpinan umum RRI yaitu Dr. Abdulrachman Saleh. Dalam bukunya Hari Radio, RRI Stasiun Surakarta menjelaskan bahwa pertama-tama yang dikerjakan oleh RRI stasiun Surakarta setibanya dari konferensi 11 September 1945 adalah menanyakan kepada pegawaipegawai tentang kesanggupan masing-masing dalam menjalankan hasil konferensi pada tanggal 11 September 1945, dan ternyata semuanya bersedia bekerja bekerja pada pemerintah dan menyatakan sebagai pegawai Republik Indonesia. Penyerahan pemancar radio di Surakarta dari pihak Jepang ke Indonesia agak mengalami kesulitan. Pada mulanya pihak pimpinan Jepang tidak berani menyerahkan pemancar-pemancar dan alat-alatnya. Hal ini di sebabkan bahwa apabila pemancar-pemancar beserta alatalatnya diserahkan ke pihak Indonesia maka Jepang akan mendapatkan hukuman dari pihak Sekutu. Tetapi pada akhirnya pada tanggal 1 Oktober 1945, dengan syarat penyerahan resmi, Jepang menyerahkan segala kekuasaan atas Radio Surakarta kepada Maladi. Siaran pun dijalankan tanpa seijin Jepang. Sebelum ada ketentuan dan biaya dari pemerintah pusat, maka pemerintah daerah bersedia membiayai segala keperluan RRI Surakarta sebagai pinjaman yang kelak dapat dibayar kembali apabila

52

sudah mendapat keuangan dari pemerintah pusat. Di dalam mengusahakan keuangan RRI Surakarta pada waktu itu perlu disebut jasa-jasa Dr. Kartono yang mendorong pemerintah daerah untuk membiayai segala keperluan RRI Surakarta. Pada tanggal 4 Oktober 1945 RRI Surakarta dapat mengudara dengan baik. Jadi hanya satu setengah bulan saja RRI Surakarta tidak mengudara, yaitu dari pertengahan Agustus sampai dengan awal Oktober 1945. Usaha-usaha seterusnya dalam melaksanakan keputusan hasil rapat 11 September 1945 di Jakarta adalah mencari gedung-gedung di Tawangmangu untuk tempat siaran dan pemancar. Sembilan buah rumah yang terbaik di Tawangmangu diserahkan kepada RRI oleh pemerintah Indonesia. Pada bulan Desember 1945, Surjodipuro datang ke Surakarta untuk mengadakan siaran luar negeri di Surakarta. Segera pembantu-pembantu diusahakan dan pertama-tama Susanti Pudjo menyanggupkan diri, sehingga dalam bulan Januari 1946 sudah dapat dimulai dengan siaran dalam bahasa Inggris di Surakarta dengan gelombang 60 meter. Staf siaran dengan bahasa Inggris yang dipimpin oleh Surjodipuro kemudian diperkuat dengan tenaga-tenaga baru secara sukarela. Kader-kader baru segera menyusul dalam siaran Inggris ini dengan datangnya Rochmuljati, Winarsih dan Milke Saleh. Tahun 1946 bulan Maret, staf siaran luar negeri dapat diperlengkap dengan datangnya Soetantio Singgih, Hajji dan Budiman dari Yogyakarta.

53

Dengan demikian siaran-siaran bahasa Inggris berlangsung lebih sempurna dari studio Tawangmangu. Jumlah staf siaran luar negeri dengan keluarganya di Tawangmangu berjumlah 25 orang ini memerlukan bahanbahan makanan yang tidak sedikit dan juga sarana transportasi. Dalam hal ini bantuan tentara di Tawangmangu tidak sedikit. Dari Pak Sastro Lawu, pemimpin tentara di Tawangmangu mereka mendapat bantuan beras, gula dan lain-lain serta keperluan rumah tangga. Siaran Nusantara yang meliputi siaran mengenai berbagai pergolakan yang terjadi di daerah dan siaran mengenai nilai-nilai budaya bangsa sudah dimulai di Surakarta (kota) dan dipimpin oleh Sdr. Sukirman yang pada permulaan tahun 1947 yang kemudian dipindahkan ke Tawangmangu. Untuk siaran tersebut, PTT membantu pemancar dengan kekuatan 1500 watt pada gelombang 30,4 meter. Siaran-siaran dalam bahasa Inggris dan Siaran Nusantara di Tawangmangu disamping siaran-siaran keluar negeri, dan Siaran Nasional dari Yogyakarta, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dikalangan

pemerintah. Tetapi dalam logika RRI yang memandang situasi negara masih penuh dengan bahan-bahan eksplosif dan banyak macam kemungkinan yang dapat terjadi, siaran-siaran bahasa Inggris dan Nusantara sebagai front kedua dari yang ada di Yogyakarta dianggap perlu, kalau terjadi sesuatu hal yang buruk di Yogyakarta sebagai front kedua dari apa yang ada di Yogyakarta yang dianggap perlu.

54

Tahun 1948 adalah tahun yang penuh peristiwa bagi Surakarta. Antara lain diselenggarakanya Pekan Olah Raga Nasional I (PON I) di kota Surakarta tepatnya distadion Sriwedari. Hal ini membuat dunia semakin tahu bahwa bangsa Indonesia telah mampu berdiri menjadi negara yang berdaulat dan dapat menyelenggarakan pesta olah raga. Semua itu tidak lepas dari peranan RRI, yang mulai awal telah menyiarkan beritaberita sehubungan penyelenggaraan PON tersebut. Tidak kalah pentingnya peranan para musisi atau seniman Radio Surakarta, yang menyumbangkan lagu-lagu untuk disajikan pada waktu penyelenggaraan PON tersebut, baik pada waktu pembukaan maupun penutupan. Hasil-hasil pertandingan dan suasana pertandingan maupun kegiatan pada waktu itu telah disiarkan secara langsung oleh RRI Surakarta walaupun dengan peralatan yang seadanya. RRI Surakarta mampu menyiarkan berita-berita yang sangat dibutuhkan terutama untuk menggugah semangat para pemuda pada waktu itu. Perjanjian Renville yang pada mulanya meyakinkan pemerintah bahwa ketegangan Indonesia dengan Belanda telah berakhir ternyata tidak dapat terwujud. Belanda menyalahi isi perjanjian tersebut dan memulai kembali ketegangan hubungan RI dengan Belanda dengan menjalankan Agresi Militernya kembali. Agresi Militer Belanda juga dirasakan di Surakarta. Sejak tanggal 13 September 1948 Surakarta terlibat dalam suasana pertempuran dengan Belanda yang berusaha meruntuhkan kedaulatan Indonesia.

55

Di Kaliurang Yogyakarta pemerintah RI nampak sibuk karena diplomasi perundingan dengan pihak Belanda dibawah pengawasan UNCI. Meskipun telah ada perundingan damai dengan Belanda pimpinan Jawatan Radio merasa tidak tentram hatinya, karena dari Jawa Timur datang beritaberita yang menyatakan bahwa disepanjang garis demarkasi nampak kekuatan Belanda yang lebih besar. Untuk menindak lanjuti aksi Belanda tersebut Maladi sebagai kepala Jawatan RRI pada saat itu

menginstruksikan kepada cabang-cabang RRI supaya pemancar-pemancar besar harus segera dikeluarkan dari kota-kota dan studio-studio darurat di pegunungan harus siap bekerja. Instruksi ini dikeluarkan pada tanggal 14 Desember 1948. Pada tanggal 18 Desember 1948 pasukan Belanda mulai menyerang Delanggu. Dengan telah diserangnya Delanggu, RRI Surakarta berusaha memindahkan pemancar RCA, alat-alat studio dan segala perlengkapan pemancar ke Tawangmangu agar terhdindar dari

kehancuran. Pagi hari tanggal 19 Desember 1948 giliran kota Surakarta yang diserang oleh Belanda. Pertempuran antara TNI dengan pasukan Belanda dalam terjadi selama beberapa hari. Pertempuran ini berdampak jatuhnya kota Surakarta ke tangan Belanda pada tanggal 21 Desember 1948. Maka sepenuhnya RRI Surakarta segera dipindahkan ke Tawangmangu. (RRI Stasiun Surakarta, 1995:17) Setelah RRI Surakarta berada di Tawangmangu, pada tanggal 23 Desember 1948 terdengar kabar bahwa Pasukan Belanda sudah masuk ke

56

Tawangmangu. Hal ini kurang begitu meyakinkan karena tidak terdengar tembakan maupun ledakan karena jalan satu-satunya ke Tawangmangu yaitu dari jembatan Kalisamin dijaga ketat oleh pasukan TNI. Untuk menghindari berbagai hal yang tidak diinginkan maka diperintahkan untuk mengungsi ke arah utara untuk mencari tempat yang aman. Pada saat itu tidak banyak perlengkapan yang bisa dibawa. Setelah menempuh perjalan yang cukup jauh akhirnya para rombongan dapat menemukan tempat yang cukup aman pada tanggal 7 Januari 1949 yaitu di desa Balong (RRI Stasiun Surakarta, 1995:29). Dalam bukunya Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia AH Nasution menjelaskan bahwa sejak didudukinya Tawangmangu pada tanggal 23 Desember 1948, hampir semua pemancar dari Solo telah diangkut ke Tawangmangu (dari tanggal 19 Desember 1948 sampai tanggal 22 Desember 1948). Harapan terakhir tinggal pada sebuah pemancar yang dalam pengangkutan terakhir dari Solo (sebutan untuk kota Surakarta) yang disimpan di desa, Puntukrejo, 1 kilometer utara Karangpandan. Setelah diselidiki, ternyata pemancar tersebut sampai pada tanggal 19 Januari 1949 belum diketemukan oleh pasukan Belanda yang ada di Karangpandan; maka pada tanggal 20 Januari 1949 diadakan percobaan untuk mengambil pemancar tersebut dari Puntukrejo yang sesungguhnya sudah ada dalam daerah patroli Belanda (hanya 1 Kilometer dari markas Belanda di Karangpandan). Dengan bantuan pegawai-pegawai PTT dan

57

Letnan II Damanik dari Inspektorat Perhubungan, pemancar tersebut berhasil diambil dari Puntukrejo, lengkap dengan alat-alatnya dan alat-alat studio, yang semua beratnya tidak kurang dari 11/2 Ton, untuk dipindah ke Balong melalui daerah pegunungan yang jaraknya tidak kurang dari 10 Km. Sementara itu sejak tanggal 1 Januari 1949, dengan bantuan Mayor Suhardi dan Letnan II Damanik, di Balong telah disiapkan sebuah electrische centrale yang kuat denagn mengambil sebuah dinamo besar dari ondernaing Rejowinangun seberat 5 Ton melalui jarak lebih kurang 15 Km. Dengan segala usaha dan kerja keras maka pada tanggal 1 Febuari 1949 RRI Surakarta mulai mengudara kembali dengan panngilan “Disini Radio Republik Indonesia Stasiun Gelombang 30, 4 meter dari Balong”. Siarannya pada saat itu berupa penerangan-penerangan mengenai situasi politik dan berita-berita mengenai pertempuran melawan Belanda. Sejak tanggal 1 Febuari 1949 telah dapat dimulai siaran radio yang mula-mula memakai gelombang 60 meter kemudian 80 meter dan akhirnya sejak tanggal 1 Maret 1949 dengan gelombang 30 meter. Perubahan gelombang tersebut terutama disebabkan karena gelombang 60 meter dan 80 meter mendapat banyak gangguan dari pemancar-pemancar Belanda, selain itu pula karena gelombang 30 meter dapat mencapai jarak yang lebih jauh (korte golf). Laporan dari Sumatera tertanggal 27 Febuari 1949 membuktikan bahwa siaran RRI Surakarta dari Balong dapat ditangkap dengan baik di Sumatera.

58

Dari sebuah laporan RVD Jakarta tertanggal 2 Maret 1949 yang didapat dari bagian luisterdientsnya yang mencatat sebuah komentar radio kami pada tanggal 1 Maret 1949 hampir woordelijk, menunjukkan bahwa siaran dari Balong dapat ditangkap baik sekali di Jakarta. Siaran dari Balong tiap malam diadakan dari jam 19.00 sampai jam 21.00 dalam bahasa Indonesia dan Inggris, yaitu menyiarkan berita-berita dan komentar, sedang dari jam 21.00-21.30 diadakan acara secara dikte mengenai berita-berita perjuangan TNI (dari Sumatera atau Yogya) yang ternyata banyak dikutip oleh surat kabar di daerah-daerah pendudukan. Malahan beberapa kali oleh Radio Singapura dan New Delhi (Nasution A.H, 1973:430). Sejak bulan Mei 1949 RRI Surakarta stasiun Balong berusaha untuk mengadakan hubungan dengan stasiun-stasiun amateur di seluruh dunia. Dengan bantuan Bn PHB, maka disiapkanlah sebuah pemancar telegrafis bergelombang 20 meter untuk dipakai sebagai pemancar hubungan dengan stasiun-stasiun amateur di seluruh dunia. Pada pertengahan bulan Juni 1949 sudah dapat diadakan hubungan telegrafis dengan stasiun-stasiun amateur di London, Holmstedt, San Fransisco, Brazilia, Berlin, Moskou, Birmingham, Zurich, Seatlle, dan lain-lain negeri, ya boleh hampir dikatakan hampir dengan seluruh dunia. Kepada stasiun-stasiun amateur tersebut diminta supaya menyampaikan kepada kantor-kantor pers dunia seperti Reuter, United Press, dan sebagainya bahwa setiap hari disiarkan berita-berita Republik dengan

59

nama Ripress (Republik Indonesia Press)dengan pemancar yang bergelombang 20 meter pada tiap hari dari jam 18.00 sampai jam 19.00 (waktu Republik) dan minta agar kantor-kantor pers tersebut menyiarkan berita-berita yang disiarkan RRI Surakarta stasiun Balong. Pada tanggal 18 Juli 1949 dalam siaran “Press Opinion” pemancar radio Amerika Voice of Amerika menyiarkan berita-berita Ripress tentang pertempuran-

pertempuran di Sumatera yang disiarkan RRI Surakarta stasiun Balong pada tanggal 17 Juli 1949. Jelaslah bahwa siaran Ripress dapat ditangkap di Amerika dan digunakan dengan baik oleh Voice of Amerika, sebuah stasiun radio terbesar di Amerika. Mungkin sekali surat-surat kabar di Amerika juga memuat berita-berita Ripress. Dengan singkat dapat dikatakan, bahwa siaran radio dari Balong mendapat hasil yang baik, hingga mulai bulan Juni siaran-siaran dari Balong ditambah dengan siaran dalam bahasa Belanda. Pada tanggal 3 Agustus 1949 jam 06.00 pasukan-pasukan Belanda dengan kekuatan 1 ½ bn infanteri menyerbu Balong. Berkat kegiatan anggota-anggota staf TNI dan RRI, maka dapatlah diselamatkan: a. Pemancar siaran 30 meter lengkap b. 2 buah pesawat radio c. 3 buah mesin tulis d. Semua arsip e. Semua persediaan kertas f. Rumah studio lengkap

60

Yang diketemukan oleh Belanda dalam tempat simpanan (ditanam di bawah pohon-pohon bambu): a. 1 pesawat radio (sudah agak rusak), b. 1 alat versteker (sudah agak rusak), c. 1 peti persediaan lampu radio (gelijkstroom toestellen), d. 1 mesia roneso (sedang dalam reparasi) e. 1 mesin tulis (rusak dan sedang dalam reparasi). Selanjutnya rumah kantor dan asrama dan rumah luisterpost dibakar habis. Bahan makanan dan beberapa pakaian keluarga para staf RRI dan TNI ikut terbakar. Perlu diterangkan bahwa pada jam 03.00 pagi seluruh penduduk Balong telah mengungsi, hingga tidak ada seorang tenaga angkutan dari penduduk dapat membantu menyelamatkan alat-alat penyiaran dari Balong yang seberat dan sebanyak itu. Dibanding dengan apa yang masih dapat diselamatkan, alat-alat yang ketinggalan dapat dikatakan tidak seberapa, apalagi kalau diingat bahwa alat yang terpenting, yaitu pemancar radio selengkapnya, dapat dihindarkan dari bahaya. Kerugian 2 buah rumah yang dipakai oleh karyawan RRI Surakarta dan pejuang TNI di Balong, yang dibakar oleh Belanda, terutama sangat menimpa yang mempunyai rumah-rumah tersebut, karena semua harta benda mereka ikut terbakar, ialah electrische centrale yang dihancurkan oleh 2 buah bom dari pesawat udara yang tepat jatuh pada dinamo hingga centrale tersebut tidak dapat dipakai lagi.

61

Dengan perintah Staf GM II, maka pada tanggal 3 Agustus 1949 jam 16.00 seluruh staf berpindah ke Selatan jalan Karangpandan-Solo di daerah Jumapolo, kecuali 4 orang anggota yang diperintahkan tetap tinggal di sekitar Balong guna mengamat-amati alat-alat yang masih ada. Seluruh staf GM II sejak hari itu berkedudukan di sekitar Jumapolo. Staf PHB GM II sebagian ikut pindah ke daerah Jumapolo dan sebagian ke Jamus (daerah Madiun), dimana sebuah pemancar cadangan terus mengoper hubungan dengan Yogyakarta. Pemancar Ripress disembunyikan di sekitar Balong dan selamat adanya, tetapi hingga pasca penyerbuan Belanda ke desa Balong belum dapat melayang kembali berhubung aliran listrik di Balong belum dapat diperbaiki (AH Nasution, 1973: 429-438). Pada tanggal 10 Agustus 1949 di Solo (sebutan untuk kota Surakarta) terjadi pertempuran yang dikenal dengan “Pertempuran Empat Hari di Solo”. Meskipun Belanda menggunakan kekuatan di darat dan udara, namun Belanda terdesak dan separuh kota dapat diduduki oleh Tentara Pelajar dan TNI. Dengan dapat dikendalikannya situasi di Solo (sebutan untuk kota Surakarta) maka RRI Surakarta kembali ke kota Surakarta. Disamping membangun RRI Surakarta, maka pada tanggal 11 September 1949 sudah dapat kembali dirayakan hari Radio di Yogyakarta. Pada waktu Jakarta dan kota-kota besar dikuasai oleh Belanda pusat pemerintahan RI berada di Yogyakarta. Belanda mendirikan badan radio siaran yang lebih luas dengan nama Stichting Radio Omroep in

62

Overgangstijd (ROIO). Perlawanan gerilya-gerilya Indonesia yang menguasai daerah di luar kota-kota besar telah menggetarkan Belanda. Situasi ini memungkinkan diadakannya Konferensi Meja Bundar di Negeri Belanda. Konferensi ini menimbulkan kesepakatan bahwa penyerahan kedaulatan kepada RI akan dilakukan pada tanggal 27 Desember 1949. Dikota-kota Indonesia yang mempunyai kedudukan arti penting dari sudut politik, budaya, sosial dan ekonomi seperti Surakarta,

Semarang, Yogyakarta dan lain sebagainya diperlukan adanya pemancar yang kuat agar dapat ditangkap oleh banyak orang. Atas dasar politik ini maka disusun rencana 5 tahun yang disusun bersama Djawatan PTT di tahun 1950. rencana tersebut memerlukan anggaran belanja yang besar yang dipecah menjadi 2 golongan yaqitu dari anggaran pemerintah dan dari pinjaman eximbank. Pembelian baru dapat dijalankan ditahun 1953. pada bulan April 1953 tiba di Indonesia 3 buah pemancar RCA dari 7,5 Kw dan 5 buah pemancar Gates 1 Kw. Pada bulan Oktober 1953 datang pemancar-pemancar yang semuanya bikinan pabrik Gates Amerika:: a. 3 Pemancar dari 25 Kw. b. 7 pemancar dari 10 Kw. c. 3 Pemancar dari 5 Kw d. 5 Pemancar dari 1 Kw. Bersama dengan gerak langkah yang melengkapi kecanggihan prasarana siaran, berkembang pula acara-acara siaran para penyanyi seriosa, hiburan dan keroncong yang menggiatkan seluruh RRI di

63

Indonesia. Dibawah pimpinan Pak Bei Darso Sawego, seni karawitan RRI Surakarta bersama pabrik piringan hitam Lokananta mulai sibuk merekam gending klasik Jawa. Pada tahun-tahun 1959-1966 RRI dihadapkan pada tugas yang harus selalu siap siaga menghadapi mata acaran siaran yang sangat sarat dengan security, sehingga mental dalam gerak kerja dibidang redaksi harus selalu waspada dengan dasar Security Mindednes didalam mengkoreksi naskah-naskah siaran yang akan disiarkan. Sebagai media massa RRI harus selalu jujur dan selalu dapat berdiri diatas segala aliran atau golongan, dengan mengutamakan persatuan bangsa dan keselamatan negara, serta berpegangan pada jiwa Proklamasi 1945. Kejadian penting yang perlu dicatat dalam tahun-tahun tersebut adalah: a. Siaran sentral Dekrit Presiden RI, 5 Juli 1959 b. Tentang manifestasi kebudayaan c. Peristiwa G 30 S/PKI Dengan tekun dan waspada, para angkasawan RRI Surakarta dapat bertugas dengan baik dan selamat dalam mengendalikan setiap acara siarannya. Dalam peran serta turut melaksanakan pemulihan keamanan setelah terjadinya pemberontakan G 30 S/PKI, maka reporter RRI Surakarta pada saat itu Suwandi Atmodjanawi, O.B Kops dan crew yang lain selalu mengikuti tugas ABRI yang membubarkan Ormas dan Orpol

64

terlarang/PKI ke pelosok-pelosok daerah terpencil dan kecamatankecamatan untuk segera dapat menyiarkan lewat RRI Surakarta. Ditahun-tahun menjelang memuncaknya situasi panasnya politik sebagai akibat peristiwa G30S/PKI, RRI Surakarta, RRI Semarang dan RRI Yogyakarta merupakan studio RRI Tri Tunggal, menyelenggarakan siaran RRI di pusat kota Purwokerto. Siaran ini ditujukan untuk menanggulangi gerakan-gerakan dan isu-isu dari golongan yang masih mengadakan pemberontakan terhadap Indonesia. Sejak tahun 1966, setelah terlaksananya penumpasan

pemberontakan G30S/PKI, siaran RRI berfokus pada pembinaan sikap mental yang berkiblat pada butir-butir Orde Baru. Bagi Orde Baru, pada saat-saat selanjutnya RRI adalah perangkat politik untuk melaksanakan konsensus-konsensus politik permeintah pusat terhadap daerah. Jennifer Lindsay mencatat, pada paro 1970-an, RRI menyubordinasikan sebanyak 147 stasiun radio di kota-kota kabupaten yang biasa disebut Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) dan Radio Khusus Pemerintah Daerah (RKPD). Radio-radio ini diharuskan merelay program-program RRI tanpa perubahan dan koreksi. Keharusan ini sebenarnya bertentangan dengan gagasan bahwa RKPD dan RSPD adalah suatu ruang otonom milik pemerintah daerah dalam memformulasikan materi siarannya sendiri yang selaras dengan konteks kebutuhan daerah. Pembenahan mata acara siaranpun diketatkan. Bahan-bahan siaran diisi dari hasil kerja sama dengan Kantor Agama, ABRI dan Kepolisian.

65

Pengabdian RRI Surakarta terus melaju mensukseskan Orde Baru. Beberapa acara unggulan RRI Surakarta pada masa Orde Baru seperti; acara Desaku Maju, Gema Kota Bengawan, Solo Hari Ini, Mutu Ilmu dan Teknologi, Pembicaraan Kita Bulan Ini, Siapa Mau Boleh Ikut, dan lain sebagainya. Pasca tahun 1998 RRI terbagi dalam empat kriteria berdasarkan kondisi sosiologis dan ekonomi masyarakat pemirsanya. Ada RRI Utama, RRI Madya, RRI Muda, dan RRI Pratama. RRI Utama dan RRI Madya lazimnya berada di kota-kota besar dengan masyarakat yang lebih modern dan kosmopolit. Sedangkan RRI Muda dan Pratama berada di kota-kota kabupaten dan kota kecil lainnya. RRI Utama dan Madya dengan jenis sajian dan pangsa pasar pendengar dan iklan yang lebih kosmopolit tentu sangat berbeda dengan RRI Muda dan Pratama dengan segmen pendengar yang masih urban, apalagi rural, dengan pangsa iklan yang terbatas. (Sudibyo, 2004:338) Dalam situs RRI Surakarta dijelaskan bahwa dengan disahkannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang penyiaran, RRI saat ini berstatus Lembaga Penyiaran Publik. Pasal 14 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 menegaskan bahwa RRI adalah lembaga penyiaran publik yang bersifat independen, netral, tidak komersial dan berfungsi melayani kebutuhan masyarakat. Sebagai lembaga penyiaran publik, RRI terdiri dari Dewan Pengawas dan Dewan Direksi. Dewan Pengawas yang berjumlah 5 orang terdiri dari unsur publik, pemerintah dan RRI. Dewan Pengawas

66

yang merupakan wujud representasi dan supervisi publik memilih Dewan Direksi yang berjumlah 5 orang yang bertugas melaksanakan kebijakan penyiaran dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan penyiaran Status sebagai lembaga penyiaran publik juga ditegaskan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 11 dan 12 tahun 2005 yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Undang-undang No. 32 Tahun 2002. sebelum menjadi lembaga penyiaran publik hampur 5 tahun sejahk tahun 2000, RRI berstatus sebagai Perusahaan Jawatan (Perjan) yaitu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tidak mencari untung. Dalam status Perusahaan Jawatan RRI telah menjalankan prinsip-prinsip sebagai radio publik yang independen. Perusahaan Jawatan dapat dikatakan sebagai status transisi dari Lembaga Penyiaran Pemerintah menuju Lembaga Penyiaran Publik pada masa reformasi. Perubahan RRI menjadi Lembaga Penyiaran Publik telah melalui proses yang cukup panjang seiring semangat demokratisasi media yang berjalan seiring momentum reformasi. Sebelumnya, RRI adalah lembaga penyiaran pemeintah yang merupakan unit kerja Departemen Penerangan. Fungsi RRI sebagai lembaga penyiaran publik tidak hanya memberikan informasi yang aktual, tepat dan terpercaya, namun juga memberikan nilainilai yang edukatif seperti memebreikan porsi pada siaran pendidikan, baik secara instruksional seperti siaran SLTP, SMU dan Univeristas terbuka, juga memberikan pendidikan masyarakat seperti siaran pedesaan, siaran wanita, siaran nelayan dan lain-lain. Tidak ketinggalan RRI juga

67

menyajikan siaran yang menyajikan nilai seni dan budaya bangsa yang dikemas dalam sajian yang menarik. Hiburan musik dari manca negara pun tersaji apik dalam siaran RRI. Coverage area siaran RRI tidak saja di dalam negeri namun juga menenbus sampai manca negara yang tersaji dalam Voice of Indonesia (Siaran Luar Negeri RRI). Dalam memasuki statusnya sebagai perusahaan Jawatan, RRI Surakarta kini menjadi cabang muda yang mengarah pada segmen pendengar khususnya melalui Programa I, II dan III. a. Progama I memikat dengan format informasi, pendidikan dan hiburan. Sasaran wilayah RRI Surakarta diutamakan pada wilayah pembantu Gubernur Jateng untuk wilayah Karisedenan Surakarta, yang meliputi kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sragen, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri yang luasnya sekitar 7.500 Km² terbagi dalam 127 Kecamatan dan 1242 Desa/Kelurahan. Jumlah penduduk di Dati II tersebut sekitar 6,4 Juta Jiwa. Frek/Power: FM.102 MHz/3 Kw;AM. 972 KHz/50 Kw, dengan sapaan “Saudara Pendengar”. RRI Programa I memikat/mantap dan bermanfaat. b. Programa II, dengan format musik dan informasi, sasaran pendengar: pelajar, mahasiswa, profesional muda dan karyawan. Sasaran wilayah adalah kota Surakarta dan sekitarnya. Frek/Power: FM. 99MHz/3 Kw, dengan sapaan “Sobat Pro. II”. Posisioning RRI Pro. II PASS (Prima,

68

Aktif, Selektif, Santai). Acara unggulan: MAKITA (Masalah Kita) dan AURA (Anda Ungkapkan Rasa) tiap hari Pkl. 22.00-24.00WIB. c. Programa II, adalah program siaran RRI Surakarta yang sebagian besar acaranya merelay dari Programa III cabang utama Jakarta. Dan sebagian lagi diproduksi acara lokal. Format berita dan informasi 60% Frek/Power: FM. 105 MHz AM. 1053 KHz/1 Kw, dengan sapaan “Pendengar Pro. III”. Posisioning Pro III Prima Suara: Prima Dalam Berita: Prima Dalam Suara: Sumber Berita Anda. Kini secara geografis, wilayah operasional RRI Surakarta terletak diantara gunung Lawu di sebelah Timur dan Gunung Merapi di Sebelah Barat serta bagian Selatan Pegunungan Seribu. Perjan RRI Surakarta berada di kota Surakarta yang letaknya di dataran rendah lebih kurang 110 Meter diatas permukaan laut.

69

BAB IV PERANAN RADIO REPUBLIK INDONESIA DALAM PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN DI SURAKARTA

A. Kota Surakarta Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. 1. Keadaaan Politik Surakarta Pasca Proklamasi Kemerdekaan Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan sebagai negara merdeka setelah bertahun-tahun berada dibawah bayangbayang penjajahan bangsa Belanda dan Jepang. Proklamasi kemerdekaan RI yang dilakukan oleh Soekarno dan Moh Hatta merupakan awal dari berdirinya kedaulatan negara Republik Indonesia. Dalam buku Kenang-kenangan Kota Besar Surakarta (1945-1953) dijelaskan bahwa, pada tanggal 22 Agustus 1945 pemerintah pusat membentuk Komite Nasional Pusat. Segera setelah Komite Nasional Pusat (KNI) dibentuk, maka para terkemuka di Surakarta berusaha membentuk KNI daerah Surakarta. usaha ini berhasil dan sidang pertama diadakan di pendopo Woerjaningratan pada bulan September 1945. KNI daerah Surakarta terbentuk dengan diketuai oleh Mr. Soemodiningrat seorang bangsawan yang pernah menjabat opsir dalam pasukan PETA. Program yang ditetapkan pada waktu itu adalah Melucuti senjata tentara Jepang dan Memindahkan kekuasaan pemerintah Jepang di Surakarta ke tangan KNI daerah Surakarta Pada tanggal 30 September 1945 KNI Daerah yang dipimpin oleh Mr Soemadiningrat berhasil memaksa pembesar-pembesar Jepang

70

dibawah pimpinan Kochi Jimu Kyoku Chokan H. Watanabe untuk menyerahkan kekuasaan Pemerintahannya kepada KNI. Peristiwa ini terjadi di Balai Kota dan disaksikan oleh beribu-ribu masyarakat Surakarta. mulai tanggal 1 Oktober 1945 Pemerintahan di Surakarta selanjutnya diselenggarakan oleh Putjuk Pimpinan Tn. Soeprapto (Ketua Pengadilan Negeri Surakarta), Tn. Soetopo Adisapoetro dan Tn. Soemantri. Ketiga beliau ini bertugas melaksanakan tugas pemerintahan sehari. Kantor Kochi diganti nama dengan KPPRI (kantor Pusat Pemerintahan Indonesia). Nama ini dipandang kurang tepat lalu diganti dengan KDPRI (Kantor Daerah Pemerintahan Republik Indonesia.). Setelah pemindahan pemerintahan berhasil dilakukan, maka KNI Daerah berusaha untuk melaksanakan tugas keduanya yaitu melucuti senjata tentara Jepang. Hal ini di tindak lanjuti dengan melucuti senjata tentara Jepang yang markas terletak di Timuran (markas Kenpei Tai Timuran). Dalam buku Inventarisasi Sumber-sumber Sejarah Di Jawa Tengah R. Soembardjo, BSc mantan anggota Tentara Pelajar

menggambarkan keadaan kota Surakarta pasca proklamasi sebagai berikut
“Sebenarnya kota Solo waktu itu sudah dikondisikan untuk menyambut kemerdekaan, sehingga ketika Indonesia benar-benar merdeka orangorang Solo senang sekali, masyarakat menyambut dengan gegap gempita kemerdekaan itu. Orang-orang waktu itu mengenakan merah putih di kepalanya dan setiap bertemu orang pasti mengucapkan “merdeka” tapi kondisinya waktu itu tenang-tenang saja. Sumodiningrat sebagai walikota waktu itu menggerakkan rakyat mengambil senjata di markas Jepang. Waktu itu saya ikut mengambil senjata di Kempetai dan dari kita ada satu orang yang gugur namanya Arifin” (Balai Kajian Sejarah dan

Nilai Tradisional, 1995:279)

71

Pada tahun 1945 Surakarta menjadi daerah istemewa yang pemerintahannya didominasi oleh kraton Kasunanan dan

Mangkunegaraan. Hal ini menyebabkan terjadinya pertentangan antara pihak yang pro dan anti Daerah Istimewa yang makin hari makin kelihatan keras. Dari kabupaten-kabupaten luar kota telah memulai tindakantindakan yang menyatakan anti Daerah Istimewa. Tindakan-tindakan ini kemudian disusul oleh pernyataan terang-terangan lepas dari Pemerintahan Keraton. Jadi pernyataan lepas dari pemerintahan Keraton adalah suatu gerakan yang dimulai dari luar kota. Kabupaten Karanganyar pada tahun 1945 menyatakan lepas dari pemerintahan Mangkunegaraan. Kemudian disusul oleh Kabupaten Sragen, Klaten, Boyolali dan selanjutnya kota Surakarta. dengan pernyataan lepas ini, menyebabkan urusan pemerintahan Keraton yang berpusat di Kantor Kepatihan mulai terhambat. Di Kantor kepatihan sendiri kemudian timbul pergolakan-pergolakan, diantaranya para pegawainya terutama yang telah bergabung dengan SBNS (Serikat Buruh Negeri Surakarta). Serikat buruh ini menyatakan tidak puas dengan para petinggi Kantor Kepatihan. Serikat Buruh menginginkan para petinggi kantor berjiwa muda dan berjiwa revolusioner. Setelah tuntutannya itu kurang mendapatkan persetujuan dari pihak atasan maka suasana menjadi ricuh dengan terjadinya penculikan terhadap 9 orang pembesar kantor kepatihan.

72

Pergolakan

anti Daerah

Istimewa

makin

menjadi

setelah

Kepolisian Daerah Surakarta menyatakan lepas dari Pemerintahan Kasunanan dan Mangkunegaraan serta memaklumatkan berdiri sebagai Kepolisian Republik Indonesia. Dewan Pimpinan KNI mengeluarkan maklumat mengangkat Sidoredjo sebagai Kepala Daerah Kabupaten Kota Surakarta pada tanggal 19 Mei 1946. Untuk mengendalikan situasi politik di Surakarta Menteri Dalam Negeri mengangkat seorang wakil Pemerintah Pusat yang menjalankan Pemerintahan Daerah. Kewajiban ini diserahkan kepada P.T. Soerjo. Belimau menjabat sejak tanggal 27 Mei 1946. Pada tanggal 1 Juni 1946 Komandan dan Tentara Divisi X (Daerah Surakarta) Mayor Soetarto mengeluarkan maklumat No. 1 yang menyatakan bahwa untuk menjalankan Pemerintahan sehari-hari Tentara Angkatan Darat Divisi X membentuk suatu Badan Pekerja yang dinamakan Pemerintah Rakyat dan Tentara Daerah Surakarta. Pada tanggal 27 Juni 1946 di Surakarta terjadi peristiwa penculikan Perdana Mentri Sjahrir beserta rombongannya, yaitu Dr. Darmasetiawan (Menteri Olah Raga), Mayjen Soedibjo, Dr. Soemitro dan Tuan Gaos. Penculikan ini merupakan salah satu akibat adanya pergolakan politik yang tak kunjung reda di Surakarta. Akan tetapi pada tanggal 2 Juli 1946, Perdana Mentri Syahrir berhasil diselamatkan.

73

Untuk mengendalikan situasi di Surakarta maka pada tanggal 15 Juli 1946 Pemerintah mengeluarkan UU. No. 16/SD/1946 yang menyebutkan: 1. Jabatan Komisaris Tinggi ditiadakan 2. Daerah Surakarta untuk sementara dijadikan daerah Karisidenan 3. Dibentuk daerah baru dengan nama Daerah Kota Surakarta Pada tanggal 6 Agustus 1946 dengan keputusan Residen Surakarta tanggal 7 Agustus 1946 No. 6, ditetapkan bahwa telah dibentuk susunan Dewan Perwakilan Rakyat Surakarta. Dewan Pertahanan dihapus. Dewan Perwakilan Rakyat menggantikan kinerja KNI Daerah sebagai Badan Legislatif. Pada tanggal 9 November 1946 Residen Iskak yang juga merangkap sebagai wali kota Surakarta dan wakil Residen Soediro diculik oleh suatu gerombolan yang tidak dikenal. Permasalahan penculikan kedua pejabat tinggi Surakarta ini tidak juga dapat dipecahkan sehingga Pemerintah Pusat menganggap perlu menyatakan bahwa Residen Iskak dan Wakil Residen Soediro untuk sementara waktu tidak dapat menjalankan kewajibannya. Pemerintahaan Daerah berlangsung terus dan dipimpin oleh Badan Executief Karisidenan. Keadaan ini berlangsung sampai tanggal 6 Desember 1946 dengan diangkatnya Gubernur Soetardjo Kartohadikusoemo untuk menjabat sebagai Residen Di Surakarta. Haminte Kota Surakarta ditetapkan berdiri berdasarkan UndangUndang Pembentukan No. 16 Tahun 1947. Perlu diterangkan bahwa

74

Haminte atau Balai Kota menurut UU Pembentukan adalah merupakan Balai Kota Istimewa yang mempunyai hubungan langsung dengan Kementrian Dalam Negeri, berkedudukan sejajar dengan Karisidenan Dalam Negeri. Sedangkan Wali Kotanya berkedudukan sejajar dengan seorang Residen. Hal ini mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Pusat mengingat situasi dan kondisi politik Surakarta yang kacau balau. Dalam pertengahahan bulan Juli 1947 Wakil Residen Soediro diangkat menjadi Residen Surakarta. dengan ditetapkannya Wali Kota Sjamsuridjal dan Residen Soediro sebagai pejabat pemerintahan di daerah Surakarta lengkap dengan Dewan Perwakilan Rakyat dan Badan Executief maka sedikit demi sedikit jalan roda pemerintahan baik di kota Surakarta maupun Karisidenan Surakarta menjadi lancar. Di kota Surakarta terjadi pergolakan politik yang cukup hebat pasca perjanjian Renvile. Pertempuaran antara Tentara Pelajar yang ingin membersihkan kota Surakarta dari para penguasa yang korup dengan aparat keamanan setempat mengakibatkan situasi kota Surakarta menjadi memanas kembali. Pemerintah pusat mengatasi hal ini dengan

menempatkan Mr. Moeljatno dengan stafnya sebagai Perwakilan Mahkamah Agung Tentara yang bertugas mengatasi kesemrawutan di kota Surakarta. Perundingan damai pun dapat dilaksanakan dan mencapai hasil yang cukup baik. Sejak adanya perundingan tersebut kota Surakarta keadaanya berangsur-angsur membaik.

75

Pada tanggal 17 Agustus 1948 telah dibuka Expositie Nasional di kota Surakarta. Expositie ini diikuti oleh sebagian besar Kementrian dan Jawatan. Pembukaan dilakukan oleh P.J.M, Presiden beserta Menterimenteri dan pembesar-pembesar lainnya. Disamping itu juga ikut serta anggota KTN dan wartawan luar negeri yang berkunjung untuk menyaksikan pameran tersebut. Pada hari ketiga tepatnya tanggal 19

Agustus 1949 Expositie dibakar oleh seseorang yang tidak dikenal. Dengan adanya kejadian ini kota Surakarta diliputi lagi dengan kabut kegelapan yang penuh dengan dugaan-dugaan dan pertanyaan-pertanyaan. Untuk memajukan bidang olah raga, pada tanggal 9 September 1948 pemerintah RI mengadakan Pekan Olah Raga Nasional (PON) yang diselenggarakan dikota Surakarta. 2. Pergolakan Sosial Pasca Proklamasi Kemerdekaan Di Kota Surakarta Dalam buku Kenang-Kenangan Kota Besar Surakarta 1945-1953 yang diterbitkan oleh DPRD Sementara Kota Besar Surakarta, Sjamsuridjal Walikota Surakarta tahun 1946 menjelaskan keadaan sosial masyarakat kota Surakarta sebagai berikut;
”Masjarakat Surakarta jang ratusan tahun dalam pengaruh dan pimpinan suatu,,stelsel’’ pemerintahan jang ,,koloniaal-autokratis’’ harus dirobah dengan sekaligus mendjadi suatu Masjarakat jang demokratis dengan susunan pemerintahannja jang demokratis pula. Sudah barang tentu keadaan serupa itu membawa kegontjangan dan ,,ontwrichting’’ dalam segala lapangan dan sendi2 masjarakat. Hanja jiwa jang besar dan creatief jang dapat melaksanakan pekerdjaan jang maha hebat serupa itu. Untuk melaksanakan pekerdjaan itu kita harus pandai mentjiptakan hukum2 tata negara dan hukum2 masjarakat jang baru jang berdasar ,,Normen2’’ dan nilai2 jang baru pula. Dasar hukum jang lama ta’ dapat dipakai lagi karena ta’ hidup lagi dalam masjarakat itu.

76

Didasarkan pada ilmu2 hukum jang ada pada kita dan jang dilaksanakannya seyjara progresisief , maka dalam waktu enam bulan dapatlah tertjapai satu dasar hukum jang sesuai dengan azas2 demokrasi dan ,,Normen2 jang baru jang menjadi dasr Negara kita. Dalam waktu enam bulan itu Kota Surakarta mempunjai satu Undang2 pembentukan jakni satu-satunja Undang2 pembentukan daerah autonoom jang pertama-tama dihasilkan oleh pemerintah kita sendiri. (Badan Pekerdja KNIP dan Kabinet) Meskipun Undang2 itu masih ada kekurangan2nja, akan tetapi dasar hukum jang dapat mendjadi pegangan bagi Pemerintah Kota Surakarta sebagai daerah autonoom menurut Azas2 negara kita telah ada. Disampingnja persoalan hukum itu masih ada seribu satu persoalan sebagai akibat revolusi Nasional dan revolusi Sosial jang bergolak dikalangan masjarakat Surakarta itu. Waktu dan tempatnja ta’ ada disini untuk membentangkan persoalan2 ini setjara mendalam dan satu persatu. Tjukup kiranja djika saja terangkan disini, bahwa akibat2 itu dapat dianalisir dan diatur lebih ringan semendjak Pemerintah Kota Surakarta mempunjai dasar hukum itu” (DPRDS Surakarta, 1953:8).

Dari pernyataan Wali kota Surakarta Sjamjuridjal tersebut diatas maka dapat diketahui bahwa kondisi sosial masyarakat Surakarta pasca kemerdekaan RI diliputi oleh pertentangan-pertentangan nilai-nilai nasionalisme dan nilai-nilai budaya Kraton. Pertentangan ini makin nampak ketika daerah-daerah karisidenan Surakarta mulai berusaha untuk melepaskan diri dari pemerintahan Kraton. Pada masa revolusi pertentangan ini makin bertambah ketika Kraton Surakarta berpihak kepada Belanda. Dalam buku Inventarisasi Sumber-sumber Sejarah di Jawa Tengah, H.M Wahyudi seorang intel pada masa perjuangan kemerdekaan RI menyatakan kondisi sosial masyarakat Surakarta sebagai berikut:
”Masyarakat di kota Solo anehnya begitu ada Kraton Yogyakarta itu Republiken, tetapi Kraton di Solo ini pro Belanda, diantaranya kraton itu mempunyai pasukan yang bernama Semut Ireng yang dipersenjatai oleh Belanda. Kalau Kraton Yogyakarta hartanya untuk republik, tetapi jika Kraton Solo hartanya bingung. Tetapi mereka yang simpati dengan Belanda kami lucuti semua. Pemerintahan berjalan biasa terus. Jadi

77

lurahnya tidak di kota. Keraton sudah lama tidak ditaati” (Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 1995:347-348)

Pernyataan H.M Wahyudi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Surakarta pada masa revolusi terjadi kurang begitu memandang dan mentaati nilai-nilai Kraton. Hal ini disebabkan tindakan Kraton Surakarta yang pro dengan Belanda 3. Surakarta Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan. Setelah Indonesia merdeka, kekuatan asing berikutnya yang harus dihadapi oleh Indonesia adalah pasukan-pasuka Sekutu, yang ditugaskan untuk menduduki wilayah Indonesia dan melucuti tentara Jepang. Di bawah Letnan Jenderal Sir Philip Christison tentara Sekutu mendarat di Jakarta pada tanggal 29 September 1945, dengan tujuan: a. Menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Jepang b. Membebaskan para tawanan perang dan interniran Sekutu c. Melucuti dan dipulangkan. Kedatangan Sekutu semula disambut dengan sikap terbuka oleh pihak Indonesia. Akan tetapi, setelah diketahui bahwa pasukan Sekutu datang membawa tentara Belanda (NICA) yang hendak menegakkan kembali kekuasaan kolonial Hindia Belanda, sikap Indonesia berubahn menjadi curiga dan kemudian bermusuhan. Situasi dengan cepat menjadi buruk setelah NICA mempersenjatai kembali bekas KNIL yang baru dilepaskan dari tahanan orang Jepang. Orang-orang NICA dan KNIL di Jakarta, Surabaya dan Bandung mulai memancing kerusuhan dengan mengadakan mengumpulkan orang Jepang untuk kemudian

78

provokasi. Hal ini menyebabkan terjadinya pertempuran antara pasukan sekutu dengan bangsa Indonesia diberbagai daerah di Indonesia (Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1981:44-45). Dalam menghadapi aksi dari Belanda dan Sekutu pemerintah RI menempuh jalan berunding dengan pihak Belanda dan Sekutu. Namun perundingan yang dilakukan tidak cukup untuk menghentikan aksi Belanda dalam usahanya meruntuhkan kedaulatan RI. Pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda melancarkan serangan serentak terhadap daerah-daerah Republik Indonesia. Serangan militer ini dikenal sebagai Agresi Militer Belanda. Pada tanggal 18 September 1948 terjadi pemberontakan PKI di Madiun yang dipimpin oleh Muso. Hal ini memicu terjadinya pergolakan di Surakarta antara kaum komunis dengan rakyat yang mendukung dan melawan gerakan PKI. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah pusat mengangkat Kolonel Gatot Soebroto Gubernur Militer daerah Surakarta, Semarang, Pati dan Madiun. Pemerintah Indonesia mendapatkan tawaran bantuan dari Belanda untuk mengatasi hal ini. Akan tetapi tawaran tersebut ditolak oleh Drs. Moh Hatta. Gerakan pemberontakan PKI di Madiun berakhir pada tanggal 31 Oktober 1948 dengan terbunuhnya Muso di kampung Sumandang Kabupaten Ponorogo. Baru saja perang saudara di tanah Surakarta selesai, Surakarta dihadapkan dengan Agresi Militer Belanda. Setelah Yogyakarta dapat diduduki oleh Belanda, maka sasaran berikutnya Belanda adalah kota

79

Surakarta. Pada tanggal 21 Desember 1948 kota Surakarta dapat dikuasai oleh Belanda yang menyerbu dari arah Salatiga dan Yogyakarta. Dengan didudukinya kota Surakarta maka pemerintahan di kota Surakarta diambil alih oleh Belanda. Saat kota Surakarta diduduki oleh Belanda wali kota Syamsuridjal beserta beberapa pemimpin pemerintahan ditangkap oleh Belanda. Dengan keadaan yang sedemikian rupa seolah-olah kota Surakarta sudah terlepas dari kedaulatan Indonesia. Untuk mengatasi keadaan ini dan untuk melanjutkan perlawanan maka Menteri Dalam Negeri Dr. Soekirman pada tanggal 24 Januari 1949 memerintahkan Residen Surakarta untuk merangkap juga sebagai wali kota. Oleh karena Residen berada di luar kota, dan untuk lebih giat menjalankan tugas pekerjaan walikota maka residen mengangkat Soedjatmo Soemowerdojo untuk menjabat sebagai wali kota. Pada saat dikuasainya kota Surakarta oleh pasukan Belanda, keraton Kasunanan dan Mangkunegaraan dibalik perlindungan dan kekuasaan militer Belanda membentuk Pamong Praja, akan tetapi hal ini kurang mendapat dukungan dari masyarakat Surakarta, sehingga didalam kota Surakarta terdapat dua pemerintahan, yaitu pemerintahan Swapraja Kasunanan dan Mangkunegaraan yang jalan mendapat pengakuan dan perlindungan militer Belanda. Sedangkan yang kedua adalah Pemerintahan Republik Indonesia yang seolah-olah Pemerintahan bayangan tetapi kedudukannya cukup kuat dirasakan rakyat.

80

Mengenai sikap atau tindakan kooperatif Sri Susuhunan dan Mangkunegaraan terdapat berbagai keterangan. Berita pertama

mengatakan, bahwa kota Surakarta diduduki Belanda, mula-mula Mangkunegaraan dan Susuhunan sudah hendak mengadakan pengumuman sendiri-sendiri yang menyatakan bahwa Surakarta bukan lagi karisedenan, akan tetapi statusnya dikembalikan menjadi Daerah Istimewa

Mangkunegaraan dan Daerah Istimewa Kasunanan lagi. Sebelum Sunan dan Mangkunegaran dapat mengambil keputusan, pihak Belanda mengeluarkan pengumuman yang menyatakan bahwa keduanya sudah mau bekerja sama dengan Belanda. Sebetulnya kedua kerajaan ini baru hendak menerima utusan Belanda, dan belum pernah menyatakan dengan resmi sikap ingin bekerja sama dengan Belanda. Tetapi karena segala alat penerangan berada di tangan Belanda maka kedua kerajaan ini tidak dapat mengeluarkan bantahan atas pengumuman tersebut. Dalam bukunya Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, A.H Nasution menjelaskan bahwa;
Tetapi kenyataanya kedua raja tersebut dewasa itu bekerja sama dengan Belanda, sehingga pihak kita harus mengambil segala tindakan. Pengambilan tindakan itu ditugaskan kepada KMD Mayor Akhmadi. Direncanakan pula untuk mengangkat Sunan yang baru, yaitu Kolonel Jatikusumo, putera Paku Buwono X dan Letnan Kolonel Suryo Sularso sebagai Mangkunegaran yang baru. Akan tetapi tindakan demikian perlu menunggu kejernihan keadaan militer di daerah Surakarta, dan tidak boleh bertentangtan dengan adanya Pemerintahan Militer, yang dewasa itu bertugas memobilisasi semua tenaga rakyat yang berjuang. Ternyata banyak tentangan dari pihak tentara dari Solo sendiri, yang ingin menghapuskan swapraja sama sekali. Akan tetapi Mayor Akhmadi saya beri tugas langsung berhubungan dengan Keraton-keraton tersebut agar kedua raja itu dapat secara tegas memihak kita, dan kalau mereka menolak, agar diambil tindakan sesuai dengan Instruksi Non Kooperasi.

(Nasution A.H, 1973:111-112)

81

Pada tanggal 10 Juli 1949 jabatan walikota Surakarta diserahkan kepada Soeharjo Soerjopranoto. Tugas dalam fase pertama Militer Belanda pada waktu itu adalah a. Menanam gezag Republik Indonesia didalam kota Surakarta dengan jalan memperkuat organisasi Pramong Praja, serta menanamkan rasa nasionalisme yang kuat dalam jiwa rakyat kota Surakarta. b. Menghindarkan kekacauan yang terjadi didalam kota. c. Mencegah tiap-tiap usaha yang merugikan perjuangan bangsa Indonesia. d. Membimbing rakyat kearah pertahanan total dengan jalan penerangan dan membentuk organisasi-organisasi rakyat yang kemudian menjelma menjadi kader-kader pemerintah militer. Pada tanggal 3 Agustus 1949 terdengar berita tercapainya persetujuan Pemerintah Pusat RI dengan pihak Belanda mengenai penghentian permusuhan. Atas persetujuan kedua belah pihak dikeluarkan perintah bersama mengenai pemberhentian cease fire yang harus sudah berlaku pada tanggal 10 Agustus 1949. Dalam suasana menunggu tersebut di kota Surakarta tiba-tiba terdengar oleh masyarakat Surakarta bahwa pada pagi hari tepatnya tanggal 7 Agustus 1949 akan terjadi serangan umum. Serangan umum diwaktu siang sungguh-sungguh terjadi. Serangan umum ini dilakukan oleh TNI dibawah pimpinan Slamet Riyadi. Kota Surakarta dikepung dari berbagai jurusan sejumlah kurang lebih 2.000

82

pasukan TNI. Serangan umum ini dikenal dengan “Pertempuran 4 Hari Di Kota Solo” Pada hari pertama pertempuran tersebut Belanda mengerahkan empat buah pesawat untuk menakut-nakuti dan memaksa para gerilya Indonesia untuk meninggalkan kota Surakarta. Akan tetapi hal tersebut tidak pernah membuat semangat para gerilyawan Indonesia untuk tetap berjuang menjadi padam. Tentara Belanda menanggapi aksi para gerilyawan dengan melakukan pembunuhan terhadap penduduk kota Surakarta. Pada tanggal 10 Agustus 1949 jam 12.00 ketentuan untuk melakukan cease fire mulai berlaku. Kota Surakarta diliputi dengan suasana yang hening. Pada keesokan harinya tepatnya tanggal 11 Agustus 1949, di kota Surakarta terlihat beberapa gerilyawan yang berkeliaran didalam kota. Para geilyawan tidak lagi melakukan peperangan untuk mentaati perintah penghentian tembak menembak. Pada tanggal 4 September 1949 Mr. Wongsonegoro dengan diikuti oleh beberapa opsir TNI dan Belanda telah datang kekota Surakarta untuk mengurusi jalannya cease fire. Dengan adanya perintah cease fire maka Pada tanggal 5 September 1949 kurang lebih 1900 tawanan perang dan politik dari bangsa Indonesia dilepaskan oleh Belanda. Pada tanggal 23 Agustus 1949 diadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Konferensi ini bertujuan untuk mengakhiri permusuhan antara Belanda dengan Indonesia. Setelah melalui

83

perundingan yang berlarut-larut pada tanggal 2 November 1949 tercapailah persetujuan KMB. Hasil utamanya adalah Belanda akan menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat pada akhir bulan Desember 1949. Keputusan KMB tersebut disambut dengan rasa syukur oleh bangsa Indonesia, karena apa yang telah diperjuangkan dapat dicapai. Hasil dari persetujuan KMB memaksa Tentara Belanda untuk segera menngakhiri kependudukannya di daerah-daerah di wilayah Indonesia. Tentara Belanda mengakhiri kependudukannya di kota Surakarta pada tanggal 14 November 1949 ditandai dengan diadakanya serah terima kekuasaan militer dari pimpinan tentara Belanda yang diwakili oleh Kolonel Ohl kepada Letnan Kolonel Slamet Riyadi selaku wakil dari TNI. Serah terima kekuasaan militer ini dilakukan di stadion Sriwedari Surakarta.

B. Peran RRI Stasiun Surakarta Dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Di Kota Surakarta. Dalam bukunya Radio Siaran Praktek dan Teknik, Drs. Onong

Uchjana Effendy, M.A menjelaskan bahwa komunikasi massa adalah komunikasi dengan menggunakan media massa modern yang meliputi surat kabar yang mempunyai sirkulasi yang kuas, radio dan televisi yang siarannya ditujukan kepada masyarakat umum.

84

Melakukan kegiatan komunikasi massa jauh lebih sulit dari pada komunikasi antar pribadi. Seorang komunikator yang menyampaikan pesan kepada ribuan pribadi yang berbeda-beda satu samalain tetapi pada saat yang sama, tidak akan bisa menyesuaikan harapannya untuk memperoleh tanggapan komunikasi secara pribadi. Dalam komunikasi massa ada dua tugas kominikator, yaitu mengetahui mengenai apa yang disampaikan dan bagaimana cara penyampaian, sehingga berhasil melancarkan penetrasi kepada benak komunikan. Sebuah pesan yang isinya lemah yang disampaikannya dengan lemah pula kepada jutaan orang bisa menimbulkan pengaruh yang kurang efektif berbanding dengan pesan yang disampaikan dengan baik kepada komunikan yang jumlahnya sedikit. Sifat komunikasi massa adalah 1. Pesan komunikasi yang disampaikan media massa adalah terbuka untuk setiap orang 2. Komunikan bersifat heterogin 3. Media massa mengandung keserempakan.. Karena sifatnya yang lebih mudah dalam penyajian pesan, radio siaran lebih sering digunakan sebagai media komunikasi massa dibanding dengan media massa yang lain. Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, komunikasi massa sangat diperlukan, karena dengan adanya komunikasi khalayak dapat mengetahui tentang perjuangan yang sedang dilakukan oleh para pejuang Indonesia dalam melawan Belanda. Dengan adanya komunikasi massa ini

85

diharapkan tidak hanya angkatan bersenjata Indonesia yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia melainkan rakyat juga ikut berjuang. Dengan adanya pemberitaan tentang perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang RI diharapkan juga semangat rakyat untuk ikut berjuang juga muncul dan rasa nasionalisme yang kuat yang tertanam dalam jiwa rakyat Indonesia ikut muncul pula. Pada masa perjuangan salah satu media yang digunakan sebagai komunikasi massa adalah Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta. Peran Radio Republik Indonesia Stasiun Surakarta sebagai media komunikasi massa pada masa perjuangan meliputi berbagai bidang, yaitu; 1. Peran Dalam Bidang Propaganda Dengan Dunia Internasional Propaganda berasal dari bahasa Latin propagare artinya cara tukang kebun menyemaikan tunas suatu tanaman ke sebuah lahan untuk memproduksi tanaman baru yang kelak akan tumbuh sendiri. Dengan kata lain juga berarti mengembangkan atau memekarkan (untuk tunas). Dari sejarahnya sendiri, propaganda awalnya adalah mengembangkan dan memekarkan agama Katholik Roma baik di Italia maupun negara-negara lain. Sejalan dengan tingkat perkembangan manusia, propaganda tidak hanya digunakan dalam bidang keagamaan saja tetapi juga dalam bidang pembangunan, politik, komersial, pendidikan dan lain-lain. Adapun beberapa definisi atau pengertian propaganda adalah sebagai berikut: 1. Dalam Ensyclopedia International dikatakan propaganda adalah, “Suatu jenis komunikasi yang berusaha mempengaruhi pandangan dan

86

reaksi, tanpa mengindahkan tentang nilai benar atau tidak benarnya nilai yang disampaikan. 2. Everyman’s Encyclopedia diungkapkan bahwa propaganda adalah suatu seni untuk penyebaran dan meyakinkan suatu kepercayaan, khususnya suatu kepercayaan agama atau politik 3. Qualter mengatakan bahwa propaganda adalah suatu usaha yang dilakukan secara sengaja oleh beberapa individu atau kelompok untuk membentuk, mengawasi atau mengubah sikap dari kelompokkelompok lain dengan menggunakan media komunikasi dengan tujuan bahwa pada setiap situasi yang tersedia, reaksi dari mereka yang dipengaruhi akan seperti yang dfiinginkan oleh si propaganda. 4. Harnold D. Laswell dalam tulisannya Propaganda Technique in the World War menyebutkan propaganda adalah semata-mata kontrol opini yang dilakukan melalui simbol-simbol yang mempunyai arti, atau menyampaikan pendapat yang konkrit dan akurat melalui sebuah cerita, rumor laporan gambar-gambar dan bentuk-bentuk lain yang bisa digunakan dalam komunikasi sosial. 5. Leonard W. Dobb mengatakan, propaganda adalah usaha sistematis yang dilakukan individu yang masing-masing berkepentingan untuk mengontrol sikap kelompok atau individu lainnya dengan cara mengguinakan sugesti dan sebagai akibatnya mengontrol kegiatan tersebut. (Nurudin, 2001:10)

87

Melihat beberapa difinisi yang dikemukakan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa, dalam propaganda selalu ada pihak dengan sengaja melakukan proses penyebaran pesan untuk mengubah sikap dan perilaku sasaran propaganda. Dalam propaganda yang melakukan kegiatan ini sering disebut sebagai propagndis. Propagandis bisa berupa individu atau individu yang dalam kegiatannya selalu diatas namakan oleh suatu kelompok. Propaganda selalu dilakukan secara terus menerus. Dalam proses propaganda terdapat penyampaian ide, gagasan, kepercayaan atau bahkan doktrin. Prosdes penyampaian pesan ini melibatkan cara-cara tertentu, misalnya sugesti, agitasi atau rumor. Oleh karena itu, propaganda mempunyai tujuan mengubah pendapat, sikap dan perilaku individu maupun kelompok lain. Tujuan ini sedemikian pentingnya sehingga ada sindiran bahwa apapun akan dilakukan propagandis untuk mewujudkan tujuannya tersebut. Dalam menjalankan propaganda seorang propagandis memerlukan media untuk menunjang propaganda yang dilakukannya, salah satunya yaitu dengan menggunakan media massa. Media massa yang dimaksud dalam hal ini adalah media elektronik dan media cetak. Salah satu keunggulan media ini adalah jangkauannya yang luas. Peran media massa dalam propaganda bisa dikatakan sangat efektif. Sampai-sampai Napoleon Bonaparte harus mengurangi surat kabar dari 13 buah menjadi 4 buah saja dengan melarang pers mengkritik kebijakan pemerintah. Disamping itu pula Jerman di bawah Hitler pun juga melakukan hal yang serupa. Ini tak

88

lain karena media massa sangat berperan dalam propaganda. Salah satu jenis media massa yang sangat sering digunakan dalam menjalankan propaganda adalah radio siaran. Radio siaran yang secara serempak dapat mencapai rakyat banyak dengan seketika, telah menimbulkan pengaruh yang besar terhadap kehidupan politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, pendidikan dan militer. Pada mulanya, ketika radio siaran ditemukan, fungsinya hanya untuk memberi hiburan, penerangan dan pendidikan untuk khalayak. Tetapi ternyata kemudian oleh beberapa negara besar dipergunakan untuk propaganda. Dalam perjuangannya menghadapi kekuatan Belanda yang ingin menjatuhkan kedaulatan RI setelah proklamasi kemerdekaan, bangsa Indonesia memanfaatkan media radio siaran yang ada pada saat itu yaitu Radio Republik Indonesia sebagai media propaganda untuk mendapatkan dukungan dari pihak asing mengenai apa yang sedang diperjuangkan oleh bangsa Indonesia. Salah satu cabang RRI yang berperan besar dalam menjalankan propaganda pemerintah Indonesia pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah RRI cabang Surakarta. Seperti yang telah diketahui bahwa pada tanggal 2 Febuari 1949 RRI Surakarta stasiun Balong dapat mengudara kembali dengan gelombang 30, 4 meter dari Balong. Dalam buku kearsipan RRI Stasiun Surakarta menyebutkan bahwa salah satu usaha penting dan patut dicatat ialah usaha Mayor Hardi untuk mengadakan hubungan dengan pemancar-

89

pemancar amatir dunia. Usaha ini kemudian diserahkan kepada Letnan Damanik yang kemudian diganti oleh Kapten Mu’in sebagai Kepala PHB GM II. Kapten Mu’in berhasil mengadakan hubungan dengan pemancar amatir di dunia pada pertengahan bulan Mei 1949, diantaranya dengan San Fransisco, Seatlte, Berlin, London, Holmstedt, Peking, New Delhi dan lain-lain. Kepada radio siaran amatir tersebut diserukan supaya menyampaikan kepada dunia terutama kantor berita seperti U.P, A.P, Reuter dan lain-lain bahwa dari Indonesia setiap malam (waktu Jawa) jam 19.00-20.00 di siarkan cq. Press oleh RIPRESS (Kantor Berita Republik Indonesia Press) dengan gelombang 20 meter. Maka sejak saat itu dari Balong tiap malam disiarkan berita-berita Riprees dalam bahasa Inggris keseluruh dunia. Bukti bahwa berita tersebut dapat diterima oleh dunia luar adalah siaran-siaran radio di Amerika dalam bulan Juni 1949 dan seterusnya menyebut sumber berita dari Ripress. Adapun monitoring Balong menangkap berita-berita dari UP, AP, Reuter, Anete, Tass dan siaran radio BBC, All India, Singapore, Voice of America, Hilversum, Radio PBB, Moskow, Melbourne dan Radio Belanda (ROIO) sendiri di Indonesia dari Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, Makasar yang dapat didengar dengan baik. (RRI Stasiun

Surakarta,1995:51-52) Usaha RRI Surakarta agar siarannya dapat didengar oleh dunia internasional adalah dengan mengubah gelombang yang pada mulanya 60 meter menjadi 30 meter. Hal ini dapat dilihat dari isi Laporan Perwira

90

Penerangan MBKD, yang juga merangkap sebagai Staf Penerangan GM II yang berbunyi
Seperti tadi telah di uraikan dalam bab 1, maka sejak tanggal 1 Febuari 1949 telah dapat dimulai siaran radio yang mula-mula memakai gelombang 60 meter kemudian 80 meter dan akhirnya sejak tanggal 1 Maret 1949 dengan gelombang 30 meter. Perubahan gelombang tersebut terutama disebabkan karena gelombang 60 meter dan 80 meter mendapat banyak gangguan dari pemancar-pemancar Belanda, pula karena gelombang 30 meter dapat mencapai jarak yang lebih jauh (korte golf) (Nasution A.H 1973: 434)

Dari keterangan tersebut diatas maka dapat diketahui bahwa dalam usahanya untuk dapat melakukan propaganda RRI Surakarta berusaha untuk meningkatkan jangkauan siarannya. Disamping itu pula siaran dalam bahasa Inggris yang sudah dilakukan sejak tahun 1946 semakin ditingkatkan. Hal ini untuk menarik perhatian dari dunia internasional mengenai apa yang sedang disiarkan oleh RRI Stasiun Surakarta.. Melalui siaran RRI Surakarta ini para pejuang Indonesia dapat menyiarkan berita-berita keluar negeri meskipun secara terbatas. Selain itu banyak pula stasiun radio yang menyelenggarakan hubungan radio grafis dengan luar negeri, seperti pemancar AURI di Gading, Sumatera Barat yang dilayani sendiri oleh KSAU gerilya, KMU H. Sutono. Dengan demikian sedikit banyaknya RRI Surakarta dapat mengimbangi kabarkabar bersumber dari Belanda yang biasanya berat sebelah. Propaganda ke dunia Internasional yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan menggunakan media Radio Republik Indonesia sangatlah membantu perjuangan kemerdekaan RI. Dukungan dari berbagai negara termasuk PBB terhadap perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan terus mengalir. Hal ini tidak hanya

91

disebabkan karena perjuangan wakil-wakil bangsa di dunia internasional, akan tetapi juga karena propaganda yang dilakukan pemerintah RI melalui RRI. Kecaman dari India, Amerika dan PBB terhadap tindakan Agresi Militer Belanda di Indonesia merupakan salah satu bukti bahwa perjuangan keluar yang dilakukan oleh bangsa Indonesia mendapatkan hasil yang cukup maksimal. Adanya dukungan dari bangsa lain membuat semangat masyarakat Surakarta dalam berjuang mempertahankan

kemerdekaan di Surakarta tak pernah padam. Masyarakat Surakarta tahu kalau apa yang sedang diperjuangkan didukung oleh pihak asing. Dukungan dari pihak luar dan semangat berjuang yang tetap selalu tertanam dalam jiwa para pejuang dan masyarakat Surakarta merupakan salah satu faktor yang sangat mendukung dalam mengakhiri Agresi Militer Belanda di Indonesia. 2. Peran Dalam Bidang Sosial Budaya Masyarakat Kota Surakarta RRI stasiun Surakarta selain menyiarkan berita-berita mengenai pergolakan yang terjadi di berbagai daerah dan situasi politik Indonesia juga menyiarkan berbagai kesenian budaya masyarakat Jawa Tengah. Acara-acara siaran RRI Surakarta dalam bidang kebudayaan sangat berperan besar dalam menumbuh kembangkan nilai-nilai budaya bangsa dan masyarakat Jawa Tengah. Acara-acara siaran yang ditampilkan RRI Surakarta pada masa revolusi fisik yang sangat berperan dalam menumbuh kembangkan budaya bangsa adalah sebagai berikut;

92

a. Radio Orkes Surakarta atau POS dibawah pimpinan Sukarno dan kemudian Kamsidi, tidak saja terkenal di Surakarta tetapi juga di seluruh Jawa. b. Penyanyi lagu-lagu Indonesia dan Keroncong seperti mendiang Lily Harie, Hardjo Kahar, Annie Landouw, Samsidi dan yang kini masih ada adalah Gesang. Samsidi adalah VONDST dari “Malam Percobaan” yang diselenggaraakan untuk memberi kesempatan kepada penyanyi muda. c. Sandiwara radio dalam bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Keluarga Indonesia Muda Surakarta. Diantara cerita-cerita yang menjadi terkenal ialah “Arus Massa” dan “Tanah Tak Berdusta “ Selain sebagai pengobar semangat perjuangan rakyat dan TNI, RRI sebagai media komunikasi massa juga dapat berfungsi sebagai sarana penghibur rakyat. Keadaan dan kondisi peperangan yang dialami bangsa Indonesia khususnya masyarakat Surakarta menyebabkan masyarakat Surakarta secara psikologis berada dalam kondisi yang tertekan. Untuk tetap selalu dekat dihati rakyat terkadang RRI Surakarta juga menyiarkan musik, sandiwara dan program-program lainnya yang sifatnya menghibur ditengah ketegangan perang yang sedang melanda. Hal ini diutarakan oleh Sunarso seorang prajurit di Surakarta pada masa Kemerdekaan yang tertera dalam buku Inventarisasi Sumber-sumber Sejarah Di Jawa Tengah:
Setelah tahu akan kabar pengakuan kedaulatan oleh Belanda masyarakat sangat senang, mengadakan pesta-pesta kesenian juga pentas seperti ketoprak terutama RRI. Karena habis perang keadaan ekonomi juga susah, karena itu sifatnya juga sederhana saja. Jiwa perjuangan Budi Utomo telah melandasi

93

perjuangan kita seperti rasa kebersamaan (Balai Kajian Sejarah dan Nilai

Tradisional, 1995:294).

3. Peran Dalam Bidang Militer Dengan meningkatnya penyusunan pemerintahan gerilya dan pelaksanaan perlawanan gerilya, maka diusahakan pula pembentukan penerangan untuk mempergiat perlawanan psikologis. Pada awal bulan Maret 1949 ditugaskan kepada Maladi, kepala RRI Surakarta dan Pimpinan Staf Penerangan Gubernur Militer Gatot Subroto, untuk mengatur segala sesuatu yang diperlukan. Telah banyak hasil yang dicapainya dalam usaha penerangan itu, sebagaimana nampak jelas pada saat-saat penyelesaian peristiwa pemberontakan PKI di Madiun. Alat-alat perhubungan yang sangat penting buat perang gerilya dapat pula ditemukan oleh pasukan TNI, terutama berkat bantuan Mayor Suhardi dari Corps Perhubungan dan para anggota Tentara Pelajar. Di desa Balong di lereng Gunung Lawu, tempat Pusat Pimpinan Divisi II, telah teratur alat-alat pemancar dan penerima RRI Surakarta. Maka dari tempat tersebut dilakukan penyebaran berita-berita secara stensil ke seluruh Divisi II dan kepada para menteri KPPD serta Panglima Besar yang berada disekitar daerah tersebut. Pada waktu Belanda memulai gerakan militernya yang kedua, pembangunan kembali divisi II sedang berhasil mencapai 1 Brigade yang agak kompak, yaitu Brigade V dibawah pimpinan Letnan Kolonel Slamet Riyadi, Brigade IV (Semarang-Pati) yang dipimpin oleh Letnan Kolonel

94

Sunarto belum lagi tersusun dengan nyata, baik dari sudut kekuatan orang (mankracht) maupun dari sudut kekuatan senjata. Untuk pertahanan daerah Madiun hanya ada 1 Batalyon yang masih harus menghadapi sisa-sisa gerombolan PKI Muso. Penerangan ke dalam ditujukan untuk mendekati para komandan pasukan. Maka demikianlah usaha TNI dalam memanfaatkan RRI Stasiun Surakarta sejak bulan Januari 1949. Usaha tersebut dapat dibagi dalam 2 bagian: 1. 2. Mencari persoonlijk contact. Pertemuan komandan-komandan. Contact itu diadakan pertama dengan komandan-komandan muda yang dianggap bahwa pendirian mereka sehat. Maksudnya adalah supaya mereka ini menyebarkan penerangan-penerangan yang telah disampaikan kepada komandan-komandan lainnya dari Brigade 5. kecuali secara contact (dengan menemui mereka) pun diusahakan pemandanganpemandangan/komentar secara tertentu (geregeld), misalnya setiap ada kejadian penting (Resolusi DK 28 Januari) dan mengirimkan instruksiinstruksi/pengumuman atau maklumat dari MBKD dan pemandanganpemandangan Staf Angkatan Perang sebanyakbanyaknya. Dengan cara demikian dapatlah para komandan muda diisi dengan penerangan-penerangan yang sehat, hingga pendirian mereka menjadi sehat pula. Yang dikehendaki supaya mereka itu menjadi Staats-en militair bewust. Dari surat-surat yang diterima dari mereka yang menerangkan

95

bahwa mereka selalu mengharapkan bahan-bahan penerangan dan pemandangan politik, menunjukkan bahwa mereka mau menerima dan mungkin sekali condong kepada apa yang diberikan. Betapa besar peranan yang diberikan RRI dalam membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia dalam bidang militer. Bangsa Indonesia, terutama penduduk Jawa, yang ikut serta dalam revolusi fisik pasti masih ingat dan masih terngiang suara Jendral Sudirman mengenai pengumuman “cease fire” yang diumumkan melalui RRI. 4. Peran Dalam Bidang Politik Menengok sejarah RRI Surakarta berarti mencermati kembali sejarah masa awal kemerdekaan Indonesia. RRI Surakarta (pada saat itu masih bernama Hoso Kyoku cabang Surakarta) mempunyai peran sentral dalam mengampanyekan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta ke masyarakat Surakarta. Hal ini dapat dilihat dari wawancara dengan salah satu pejuang kemerdekaan di Surakarta, Sunarso yang tertera dalam buku Inventarisasi Sumber-sumber Sejarah di Jawa Tengah yang menyebutkan
Melalui radio,dan rencana Indonesia itu saya tahu Indonesia Merdeka selain itu juga saya tahu dari mas Ahmadi, dan dia lebih tahu dari saya (Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 1995:285)

Hal yang sama pun dituturkan oleh Suherman, salah satu mantan Prajurit Tentara Pelajar seksi 132, Kompil 130, Batalyon 100
“yaa saya pertama kali mendengar berita proklamasi itu dari radio”(Balai

Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 1995 :420)

96

Dari kedua pernyataan tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa peranan radio siaran yang ada pada waktu itu di Surakarta, salah satunya adalah Radio Republik Indonesia Surakarta sangatlah besar. Dengan adanya keberadaan RRI Surakarta maka rakyat Surakarta dapat menangkap berbagai informasi dari pemerintah, sebagai contoh adalah dalam peristiwa proklamasi. RRI berperan penting pada hampir seluruh pergeseran kekuasaan yang terjadi di negeri ini. Pada masa revolusi fisik RRI adalah perangkat politik untuk melaksanakan konsensus-konsensus politik pemerintah pusat terhadap daerah. Memahami pola hubungan suatu lembaga penyiaran yang mempunyai sejarah yang sangat sentralistis ditengah hiruk pikuk perubahan seperti antara RRI dengan pemerintah memang soal rumit. Bagaimana misalnya RRI memberlakukan kewajiban relay bagi setiap stasiun radio, khususnya yang berkaitan dengan siaran warta berita, pidato kenegaraan presiden dan seremoni pemerintahan yang aktif digalakkan pemerintah dalam rangka sosialisasi program-program pemerintah. Gambaran paling relevan dari kedekatan ini bisa ditilik pada bagaimana RRI memformat materi siarannya agar bisa mengakomodasi segenap kepentingan pemerintah. Pidato kenegaraan hampir tak mungkin tak disiarkan RRI, demikian juga dengan proses-proses politik di parlemen. Belum lagi keharusan bagi segenap angkasawan RRI untuk

mengintegrasikan semangat nasionalisme.

97

Dari berbagai keterangan tersebut diatas maka dapatlah dilihat betapa besar peranan RRI Surakarta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di Surakarta. Dalam menjalankan perannya sebagai media komunikasi massa RRI Surakarta tetap selalu setia menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan memegang teguh semangat Tri Prasetya RRI.

C. Hambatan-hambatan RRI Stasiun Surakarta Dalam Menjalankan Perannya Sebagai Radio Perjuangan Kemerdekaan RI. Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surakarta, RRI Surakarta memegang peranan yang cukup besar. Melalui RRI Surakarta para pejuang Indonesia memberitakan perjuangannya dalam melawan Belanda. Pada saat itu RRI dari berbagai cabang di Indonesia bekerja sama untuk saling menginformasikan mengenai pergolakan daerah yang terjadi diberbagai wilayah di Indonesia yang kemudian oleh para angkasawan RRI diberitakan kepada rakyat. Dengan mengetahui berita mengenai perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang di daerah lain maka para pejuang dan rakyat di Surakarta takkan pernah memadamkan semangatnya dalam berjuang melawan berbagai kekuatan yang berusaha meruntuhkan kedaulatan RI di Surakarta. Disamping itu jiwa nasionalisme yang tertanam dalam diri masyarakat Surakarta dapat tumbuh sebagai modal melawan kekuatan yang berusaha meruntuhkan berdiri tegaknya kedaulatan RI. Sadar akan pengaruh yang diberikan oleh RRI stasiun Surakarta terhadap perjuangan kemerdekaan RI, Belanda tidak hanya berpangku tangan melihat peranan yang dimainkan RRI Stasiun Surakarta. RRI stasiun Surakarta

98

terpaksa memindahkan studionya dari kota Surakarta ke Tawangmangu dan kemudian ke desa Balong karena Agresi Militer Belanda ke kota Surakarta. Akan tetapi pemindahan studio ke Tawangmangu bukan berarti bahwa Belanda dalam mengatasi RRI Stasiun Surakarta menyerah begitu saja. A.H Nasuiton dalam bukunya Sekitar Perang Kemerdekaan mengungkapkan
Sejak didudukinya Tawangmangu pada tanggal 23 Desember 1948, ke mana hampir semua pemancar dari Solo telah diangkut (dari tanggal 19 Desember 1948 sampai tanggal 22 Desember 1948), dan akibat pertahanan yang sangat lemah dari daerah tersebut hingga dengan diam-diam dan dengan sangat mudah tentara Belanda dapat masuk ke Tawangangu, yang menyebabkan rakyat dan tentara kita menjadi sangat kacau, maka semua pemancar di Tawangmangu tersebut jatuh ke tangan Belanda. Harapan kami tinggal pada sebuah pemancar yang dalam pengangkutan terakhir dari Solo kami simpan disebuah desa, Puntukrejo, 1 kilometer utara Karangpandan. (Nasution A.H, 1973:430)

Dari pernyataan tersebut diatas maka dapat dilihat bahwa usaha Belanda dalam menghentikan peranan yang dimainkan RRI Stasiun Surakarta terus dijalankan dengan menyerbu Tawangmangu. Meskipun stasiun RRI Surakarta pindah ke desa Balong setelah Tawangmangu diserbu oleh Belanda, desa Balong bukanlah jaminan keamanan dari penyerbuan Belanda. Pada tanggal 3 Agustus Belanda menyerbu desa Balong. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan laporan Perwira Penerangan MBKD, yang juga merangkap sebagai staf Penerangan GM II, sebagai berikut
Tidak mustahil jika kanonade Belanda dari Karangpandan ke Balong pada tanggal 21 Maret 1949 dengan 37 kali peluru dan serbuan 1 ½ bn infanteri pada tanggal 3 Agustus 1949 ke Balong ditujukan untuk menghancurkan pemancar siaran kami.(Nasution A.H, 1973:434)

Penyerbuan

ke

kota

Surakarta,

Tawangmangu

dan

Balong

menunjukkan betapa besar perhatian Belanda terhadap peran yang dimainkan

99

RRI Surakarta sebagai media komunikasi massa dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. Hambatan dalam menjalankan peranannya sebagai media massa dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI di Surakarta tidak hanya datang dari Belanda, akan tetapi juga datang dari rakyat mengingat kondisi jaman pada saat itu. Pada awal-awal kemerdekaan Indonesia, masyarakat Surakarta yang memiliki radio relatif sedikit. Pada era perang kemerdekaan radio merupakan suatu barang yang bernilai tinggi, sehingga masyarakat yang memiliki radio dapat dihitung jumlahnya. Hal ini diutarakan oleh H.M Wahyudi mantan intel semasa perjuangan kemerdekaan RI di Surakarta yang tertuang dalam buku Inventarisasi Sumber-sumber Sejarah di Jawa Tengah, menyebutkan sebagai berikut:
“…..Lha akhirnya pertempuran Surabaya itu saya mendengar dari radio. Di daerah saya itu satu-satunya radio itu langka sekali pak itu ada seorang Tionghua namanya tuan Bilk Liong, itu punya toko disel. Saya dapat mendengarkan pidatonya Bung Karno berapi-api dan ada takbirnya yang menggugah kemajuan para pejuang. Banyak pegawai sehabis Maghrib sampai malam banyak orang berkumpul mendengarkan radio di situ mendengarkan ceramah Bung Karno….”

(Balai Kajian Sejarah dan Tradisional, 1995:334) Dari pernyataan H.M Wahyudi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa meskipun radio masih merupakan barang yang langka, namun rasa nasionalisme dan persaudaraan yang kuat tidak menghalangi masyarakat Surakarta untuk dapat menikmati komunikasi media massa dengan menggunakan radio. Disamping dapat mendengarkan siaran radio melalui orang lain, masyarakat Surakarta yang berada lingkungan Kraton Mangkunegaraan juga dapat mendengarakan siaran radio di Kraton Mangkunegaraan. Dalam

100

wawancara yang tertuang dalam buku Inventarisasi Sumber-sumber Sejarah di Jawa Tengah, Sugiyarto Songkopamilih seorang Sersan Mayor Polisi Tentara pada masa perjuangan kemerdekaan diungkapkan
Waktu itu saya kerja di kantor Kepatihan Kepatihan Kraton terus pada waktu itu....pada kumpul semua di Kraton dari radio tahu-tahu Proklamasi di Jakarta. Saya tidak pakai ijin terus keluar begitu saja. Sebetulnya kalau saya minta ijin keluar saya dapat pensiunan tapi sudah ndak pakai ijin terus saya keluar gabung BPU (Badan Penyelidik Umum) (Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional,

1995:436) Meskipun radio pada saat itu merupakan suatu barang yang langka, namun semangat para angkasawan RRI Surakarta dalam menjalankan usahanya sebagai media komunikasi massa tak pernah sulut. Kelangkaan radio pada saat itu memang merupakan kendala bagi keberhasilan RRI Surakarta dalam menjalankan perannya sebagai media komunikasi massa. Namun kendala tersebut dapat diatasi oleh para angkasawan RRI Surakarta dengan semangat dan tekad untuk dapat mempertahankan kemerdekaan RI di seluruh wilayah Indonesia pada umumnya dan wilayah Surakarta pada khususnya.

101

BAB V PENUTUP

Pada masa awal-awal kemerdekaan Republik Indonesia, kota Surakarta merupakan salah satu kota yang cukup besar di Indonesia. Kebijakan mengenai statusnya sebagai salah satu daerah istimewa yang berada di bawah bayangbayang Keraton Surakarta menyebabkan daerah Surakarta berada dalam pergolakan politik yang cukup rumit. Disamping itu persaingan para elite politik di Surakarta menambah kacaunya keadaan politik Surakarta. Di Madiun terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh PKI dibawah pimpinan Muso.

Pemberontakan ini berdampak akan terjadinya kekacauan di kota Surakarta. Kedatangan tentara Belanda pada tanggal 21 Desember 1948 menyebabkan di kota Surakarta berlaku pemerintahan militer Belanda. Pada tanggal 7-10 Agustus 1949 di kota Surakarta terjadi peperangan yang dikenal dengan “Pertempuran Empat Hari di Solo”. Keadaan kota Surakarta pasca Pertempuran Empat Hari mulai dapat dikendalikan. Dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surakarta salah satu media yang digunakan adalah RRI Surakarta. Soloese Radio Vereniging atau disingkat SRV merupakan radio siaran yang pertama kali berdiri di Surakarta atas inisiatif Ir. Sarsito Mangunkusumo. Pada masa penjajahan Jepang SRV diambil alih oleh Jepang dan menjadi salah satu cabang radio siaran pada masa penjajahan Jepang yang bernama Hoso Kyoku. Dengan berakhirnya kekuasaan Jepang di Indonesia maka segala sesuatu yang berada dibawah kekuasaan Jepang segera diambil alih oleh bangsa

102

Indonesia, termasuk salah satunya stasiun radio siaran yang pada saat itu bernama Hoso Kyoku. Setelah Hoso Kyoku diambil oleh bangsa Indonesia, maka Hoso Kyoku berubah nama menjadi Radio Republik Indonesia (RRI) pada tanggal 11 September 1945, tidak luput pula Hoso Kyoku Surakarta berubah menjadi RRI Stasiun Surakarta dibawah pimpinan Maladi. Selama masa Revolusi Fisik, RRI Stasiun Surakarta sebagai salah satu alat perjuangan bangsa memegang peranan penting dalam perjuangan

kemerdekaan di Surakarta. Peran sebagai media komunikasi masyarakat dan alat propaganda pemerintah dapat dijalankan dengan sangat baik oleh RRI Stasiun Surakarta. Peran sebagai media komunikasi massa dalam bidang militer, hubungan dengan luar negeri, bidang sosial dan budaya dijalankan oleh RRI dengan mengisi acara siarannya dengan berbagai berita mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah RI, pergolakan yang terjadi di berbagai daerah dan hiburan yang dapat menghibur masyarakat Surakarta yang sedang dalam kondisi tertekan akibat perang. Melalui studionya yang berada di desa Balong RRI Surakarta selalu berusaha meningkatkan siaran-siaran luar negeri dengan berbahasa Inggris untuk menjalankan fungsinya sebagai alat propaganda. Disamping itu RRI Stasiun Surakarta juga berusaha meningkatkan jarak jangkauan siarannya sehingga siarannya dapat didengar oleh dunia internasional. Dengan adanya siaran propaganda oleh RRI Surakarta mengenai perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan maka perjuangan bangsa Indonesia mendapatkan

103

dukungan dari pihak luar. Sehingga hal ini meningkatkan semangat juang bangsa Indonesia pada umumnya dan masyarakat Surakarta pada khususnya. Dalam menjalankan perannya, RRI Surakarta mendapatkan berbagai macam hambatan seperti; penyerbuan tentara Belanda terhadap studio RRI Surakarta di Surakarta, Tawangmangu dan desa Balong. Namun hal ini tidak pernah menyurutkan semangat para angkasawan RRI Surakarta dalam menjalankan tugasnya.

104

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik, 1978. Sejarah Lokal Di Indonesia. Yogyakarta: Balai Pustaka A.H Nasution,1973. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia. Bandung: PT Angkasa Bandung Azwar Saiffudin,1997. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Dekker, Nyoman, 1980. Sejarah Revolusi Nasional. Jakarta: PN Balai Pustaka Efendy, Onong, 1978. Radio Siaran Dan Teknik. Bandung: PT Alumni Bandung. Gottschak, Louis. 1975. Mengerti Sejarah. Terjemahan Nugroho Notosusanto, Jakarta:Yayasan Penerbit Universitas Indonesia. Karkono Kamajaya, 1993. Revolusi di Surakarta. Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Nawawi Hadari, 2003. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Nurudin, 2001. Komunikasi Propaganda.Bandung:PT Remaja Manuju, Jodi dan Fadli, 1999. Jakarta Pagi ini Dari Udara Menebar Berita. Jakarta: PT Gramedia. Masduki, 2003. Radio Siaran Dan Demokratisasi. Jakarta: PT Jendela. M. Subana, 2001. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. Bandung: Pustaka Setia Partanto A Pius dan Dahlan,1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto, 1990. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto, 1990. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka Rickles M.C, 1991. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Rosyid Moh, 2004. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Semarang: UPT UNNES Press

105

Sudibyo Agus, 2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta:LKIS Sumarmo AJ,1990. Pendudukan Jepang Dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Semarang: IKIP Semarang Press. Surat Perintah Pemerintah Mileter Surakarta No. 1143/Ph ’49. Arsip Museum Mandala Bhakti Semarang Surat Pemerintah Militer Surakarta No 10/ 49. Arsip Museum Mandala Bhakti Semarang Surat Kementrian Jogjakarta No 241/A.I tahun 1949. Arsip Museum Mandala Bhakti Semarang www. Radio Republik Indonesia. Com www. Surakarta.Com ........, 1953. Kota Besar Surakarta Tahun 1945-1953. Surakarta: DPRDS Surakarta ........, 1984. Hari Radio Ke 39. Surakarta: RRI Stasiun Surakarta ........,1953. Sejarah Radio Di Indonesia. Jakarta: Kementrian Penerangan dan Jawatan Radio. ........, 1981. 30 Tahun Indonesia Merdeka 1945-1949. Jakarta: Sekreteriat Negara Republik Indonesia. .…..., 1995. Inventarisasi Sumber-sumber Sejarah Di Jawa Tengah. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah Dan Nilai Tradisional. .......,1995. Hari Radio. Surakarta: RRI Stasiun Surakarta …..., 1996. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka

Majalah-majalah: Majalah Merdeka, 8 April 1950. Halaman 17 Majalah Merdeka, 24 April 1948. Halaman 30 Majalah Mimbar Indonesia, 24 April 1948. Halaman 25

106

107

108

109

Lampiran 3

110

Lampiran 4

111

Lampiran 5

112

Lampiran 6 Radio Djokjakarta tgl 3/7-49 djam 22.00 1. Sebelum menarikkan tentara Belanda dari Djokja, 10 orang tawanan politik belum dibebaskan. Diduga mereka dibawa keluar kota. Maka dari itu sebuah panitya diketuai oleh Mr. Alisastro Amidjojo mengadjukan protes supaja mereka dengan selekas mungkin dibebaskan. 2. Kumpulan para wartawan di Djokja mengadakan silaturachmi Mangkukesuman. Diantaranja dari srt kabar Merdeka Djakarta, Waspada Sumatra dan lain2nja. 3. untuk menjambut kedatangan pemerintah Republik di Djokja, maka panitya telah mengundang semua murid2 mulai dari sekolah rakjat sampai para Mahasiswa utk berkumpul pada besok hari Rebo tgl 6 Juli di Kridosono. Dimuka presiden telah berkibar sang Merah Putih.

(Sumber: Dokumentasi Museum Mandala Bhakti Semarang, RRI Surakarta tahun 1945-1949)

113

Radio Djakarta tgl 6/7-49 djam 18.30 1. Sekitar kedatangan Presiden Sukarno di Djokja tadi siang djam 12.30 (waktu Rep.) telah datang di Maguwo PJM Presiden Sukarno dengan pesawat terbang PBB utk Indonesia. Kedatangannja disambut oleh Sri Sultan Djokja dan Sri Pakualam, para wartawan jang akan mengambil gambarnja, dan pengawal kehormatan. Dengan dispait ini oleh Sri Sultan beliau menudju ke istana Presiden. Sementara itu kelihatan Ir. Djuanda, I Kasimo, Ki Hadjar Dewantoro, Johanes jang telah datang dari gunung mengikuti pak gerilja dan Bung Tomo. Pula wakil2 dari India, Pakistan dan Tionghoa. Para penindjau militer dan anak2 sekolah. Diantara itu kelihatan djuga nj. Sukarno dan nj. dari pembesar2 lainnja. Djam 14.46 dengan auto menudju ke istana, disepandjang djalan disambut oleh rakjat dengan hangat serta pula dengan pekik Merdeka jang gemuruh. Setibanja di istana PJM Presiden maka diadakan mengheningkan tjipta. Sesudah itu diadakan pidato penjambutan oleh tn Tadjudin Noor. Setelah itu maka tampil kemuka PJM Presiden, beliau menerangkan bhw dapatnja beliau kembali ke Djokja atas perdjoangan rakjat Indonesia dan bantuan dari luar negeri. Sesudah itu maka diadakan berdjabatan tanbgan aqntara hadirin dengaan PJM Presiden. Diterangkan disini bhw PJM Presiden berpakaian seperti biasa dan Sri Sultan berpakaian sebagai Let Djendral TNI/2. Wk Mahkota telah memberi selamat kepada keluarga Radja mengenai hari perkawinan daro Putri Juliam. 3. Djendral mjoor Meyer telah meletakkan djabatannja sehabis dinas 31 thn. Menurut keterangan dari warta harian Merdeka atas berhentinja itu oleh karena tak dapat menjetudjui persetudjuan Royen Roem. Dengan perasaan berat beliau mendjalankan pekerdjaan mengenai pengosongan Djokja. Selandjutnja akan disusul pula oleh kol van Lange mengadjukan permintaan berhenti. 4. diduga dalam minggu ini van Royen akan menemui PJM Sukarno utk mengadakan perundingan setjara informeek (bertukar pikiran) 5. Keterangan Sri Sultan kepada harian Merdeka bhw dalam kota Djokja telah ada lebih 2000 TNI dan Polisi jang berdisiplin baik tuk mendjaga keamanan dan ketertiban. Selandjutnja harus diadakan politik yang sehat dan kuat. Terhadap party yang melanggar undang2 negara harus diambil tindakan jang keras. Plakaten jang banjak terdapat waktu masa pendudukan Belanda pada waktu sama sekali tidak ada. Tentang prodnotie bahan makan memuaskan. Sri Sultan menerangkan bhw larangan terhadap wartawan Belanda itu hanja bersifat sementara, nanti bila keadaan mengidjinkan akan diperbolehkan masuk kedalam kota Djokja. 6. Hubungan pos akan dibuka kembali dalam kota Djokja, tetapi mengarai srt tjatatan, pos wissel masih mendapat kesulitan. Mungkin hubungan Djokja-Djakarta akan diadakan.

114

7. Kekatjauan di Djawa. Dikabarkan dari Magelang bhw wali kota Magelang tn Sutodjo Hadipramono baru sekarang telah diketahui bhw beliau ditjulik oleh TNI. Luar Negeri. 1. Polisi Djepang telah menemui majatnja presiden dari kereta api Yama. Terdapat telah pisau dengan kepalanja. Seperti telah dikabarkan bhw beliau hilang di djalan ketika mau pergi kekantornja. 2. Pemogokan di Italia masih meluas. Kemarin 8000 orang telah mogok. 3. Pemogokan buruh tambang Ameriaka selesai. tentang persetudjuan jang hari sedang dibitjarakan. Adapun persetudjuan jang lama diha. 4. di Argentina pehbung dengan hudjan lebat terdjadi kebandjiran sama tingginja air 1 ½ m, berhubung dengan ini maka penduduk mendesak dibikinkan bendungan(pintu air)

Noot: Suara Radio Republik Indonesia petjah2 sukar diterimanja

(Sumber: Dokementasi Museum Mandala Bhakti Semarang, RRI Surakarta tahun 1945-1949)

115

Radio Djakarta tgl 15/7-49 djam 18.30 dan 07.00.Dalam Negeri.1. Kabinet Rep. menjetudjui persetudjuan van Royen-Roem. Tadi malam kabinet Rep. telah menjetudjui persetudjuan van Royen Roem. Tentang cease fire akan disusul nati. Selandjutnja Sultan Djokja menerima djabatan baru sebagai Menteri Pertahanan dari Wk. Presiden Drs Moh. Hatta. 2. Kemarin telah tiba di Djakarta Kolonel Hidajat dan hari ini beliau akan melandjutkan perdjalannja ke Djokja. Beliau berangkat dengan Mr. Roem dan 2 orang lagi. 3. Menurut kabar dari ASP mengabarkan bhw di Manilla memutuskan akan mendirikan kedutaan di Djokja, dan Rep akan segera mengirimkan wakilnja ke Pilipina. 4. Berhubung dengan perginja Mr. Kosasi ke djokja maka sidang Bfo ditunda. Seperti telah dikabarkan bhw perginja beliau ke Djokja akan merundingkan soal perundingan inter Indonesia. 5. Kedatangannja Mr. Kosasi dari Bfo diterima oleh Presiden Sukarno. Kedatangannja Mr. Kosasi utk merundingkan soal perundingan inter Indonesia. 6. Dikabarkan dari Djakarta bhw tadi pagi atas undangan, telah tiba di Djakarta Dr. Mansur. 7. Sebuah iring2an tentara keradjaan di Sumatra masuk perangkap. Sebuah iring2an tentara keradjaan di Sumatra telah diserang oleh pasukan gerilja, korban 1 orang tewas, 1 orang luka, beberapa orang ditjulik dan 6 orang hingga kini belum kembali. Iringan tersebut terdiri dari 2 mobil dan mobil tsb telah dibakar oleh psk gerilja tsb. 8. Mendjawab permintaan dari golongan bangsa Arab tentang turut mendengarkan perundingan medja bundar tak dapat dikabulkan. Dari pihak Rep. menerangkan bhw delegasi Rep. mungkin terdiri dari bangsa Arab. 9. di Djokja kini telah berdiri kantor pos jang telah lengkap, begitu tn Herowo kep. secre. dari kantor pos tsb mengabarkan. 10. Wk. Agung Mahkota ini lari pergi ke Makasar. Selain dengan njonja turut serta djuga ketua delegasi Bld Dr. Van Royen. Mereka tadinja akan berangkatdengan pesawat terbang KLM constalation. tetapi bhb keadaan mereka berangkat dengan pesawat terbang biasa. 11. Sidang BFO tertutup jang sebetulnja dilangsungkan pada kemarin hari. Ini hari akan dilangsungkan di gedung Indonesia serikat. Dimuklai pada djam 10.30. 12. Kemarin pagi telah datang di Makasar rombongan Wk. Agung Mahkota. Kedatanganja beliau disambut oleh presiden Sukawati. Rombongan bersantap di istana presiden Sukawati.

116

13. Menurut keterangan kuad territorial Djawa Tengah djendral maj. Meyer, djalan antara Ambarawa-Magelang, Ambarawa-Muntilan sudah dibuka kembali. Luar Negeri. 1. Angkatan udara Amerika Serikat mengadakan latihan trdjun dgn payung dari pesawat terbang jang sedang terbang dengan ketjepatan 850 km sedjam. 2. Reuter mengabarkan bhw dalam Minggu ini akan tertjapai gentjatan sendjata anatara Israel-Syria. 3. Menurut kabar dari Pilipina Romulo di UNO di undang kembali utk mengadakan perundingan soal pertahanan pasifik. Beliau ditunggu kedatangannja didalam tempo 1 minggu.4. Chiang Kai Sek dikanton menerangkan bhw beliau sanggup melandjutkan pimpinannja dan mengandjurkan kepad rakjat spj taat kepada perdana menteri Lie Tsun Yen. Kekalahan jang sekarang ini disebabkan kebanjakan coruptie, kurang disiplin, dan kebodohan. Selandjutnja beliau menerangkan bhw bantuan Amerika Serikat itu sangat penting. 5. Di Amerika telah ditjetak sebuah buku jang isinja memuat keterangan keadaan di Tiongkok. Buku jang pertama telah diserahkan kepada presiden Truman. 6. Menteri keuangan Inggris mengumumkan bhw Inggris akan mengurangi import dari Amerika sebesar 25%. 7. Kantor2 penerangan Inggris dan Amerika di siang hari disuruh tutup oleh kaum komunis 8. Senat Amerika Serikat pada minggu jang akan datang akan menjetudjui perdjanjian Atlantic. 9. Oleh angkatan darat, laut dan udara Amerika mengumumkan, pada hari Senen jang akan datang akan diadakan latihan perang2an di Tiongkok Selatan di pulau Luzon selama 14 hari.

(Sumber: Dokumentasi Museum Mandala Bhakti Semarang, RRI Surakarta tahun 1945-1949)

117

Radio Djakarta tgl 16/7-49. dj 18.30, 21.30. Dalan Negeri. 1. Kemaren pagi sidang BFO telah menerima baik usul dari Presiden Sukarno utk mengadakan conferencie Inter-Indonesia di Djokja dan selandjutnja di Djakarta. Pada tgl 19 Djuli akan berangkat Delegatie Bfo ke Djokja. Sultan Hamid II sebagai ketua Bfo memberi pandangannja tentang rentjana cof. dan pula tidak pada Rep. Pada tgl 23 Djuli mereka akan pelang ke tempatnja masing2 utk merajakan hari lebaran. Dan pada tgl 30 konferencie akan dilangsungkan di Djakarta. Setelah selesai segera akan disusun angg2 jg brangkat ke Den Haag utk menguudjungi konf. Medja Bundar. Angg2 tsb terdiri dari 60 orang dari Rep. Kelebihan anggauta Bfo lainnja di beri tempat beg. Klas II atau kl. III Keputusan Bfo ketua St. Hamid II segera akan mengirim kawat maupun pengumuman kepada presiden Soekarno mengenai rentjana Bfo. 2. Majoor Achmad Wiranata Kusumah telah dipetjat dari djabatannja, karena bekerdja sama2 dgn bld. Berita ini di dapat kabar dari Gubernur Militer Djawa Barat. 3. Zenazah2 dari kapal terbang Franecer telah dimakamkan di geredja Inggeris di Bombay. Semua penumpangnja sedjumlah 44 orang dapat ditemukan diantara 2 orang jang terbakar habis. 4. Menurut djuru bitjara Republiek, bahwa tentang penghentian permusuhan antara Rep-Bld sukar dilaksanakan karena alat2 pemerintah Republiek sebagian besar berada di luar daerah Republiek. Luar Negeri. 1. Federate serikat pekerdja sedunia telah menjokong pemogokan jang dilakukan olh pelaut2 Canada. 2. Menurut Berita Radio Pemerintah Komunis Tiongkok, menerangkan bahwa kerugian psk Pem. Nasional dalam 3 tahun adlah sedjumlah 5 ½ Djuta serdadu (tewas-luka2). Ada pula sebesar 3000 orang telah mengadakan pemberontakan terhadap pemerintah. Menurut tulisan Djendral Mao Tse Tung, disitu diterangkan bahwa kemenangan kaum komunis karena bantuan dari Rusia 3. Kebandjiran besar di New Delhi mengakibatkan 2 desa hanjut. 4. Dalam 24 djam lamanja pesawat Inggeris mengadakan pemboman diatas perbatasan Siam, dimana pasukan2 pemberontak sedang berkobar. Sesudah itu psk. Infanterie bergerak utk mengadakan pembersihan terhadap pasukan pemberontah tsb. 5. Laporan dari panitya ekonomi pbb, bahwa di Azia kekurangan makanan akibat dari banjaknja bandjir. 6. Di ndaerah pendudukan Perantjis di Djerman telah terdjadi ledakan Bom. Korban blm dapat diketahui

118

7. profesor2 Rusia telah menemukan, getaran udara diganti dgn getaran suara selandjutnja ke pantja indria jg dapat menjembuhkan orang buta.

(Sumber: Dokumentasi Museum Mandala Bhakti Semarang, RRI Surakarta tahun 1945-1949)

119

Berita Radio Djakarta tgl 18-7-49 djam 18.30 1. Dalam suatu pertanjaan tentang perundingan inter Indonesia Dr. Van Royen menerangkan bahwa perundingan inter Indonesia mungkin akan berdjalan dengan lantjar dan menurut garis2 jang telah ditetapkan. Dalam pertanjaan, apa di dalam konferensi medja bundar delegasi akan terdiri dari delegasi Rep. dan Bld. Dr. van Royen menerangkan bahwa dalam dalam konferensi medja bundar jang akan mengundjungi ialah dari delegasi Rep, delegasi Bld, delegasi BFO dan panitya untuk Indonesia selandjutnja Dr. van Royen menerangkan bahwa dalam konferensi medja bundar belaiau tidak akan duduk sebagai ketua. 2. Kemarin telah kembali dari Djokja rombongan delegasi Bld Dr. van Royen. Dengan diadakannja kundjungan ini maka delegasi Bld mempunjai kesempatan utk mengadakan perkenalan dengan Presiden Sukarno dan dengan delegasi Rep. Terutama dengan ketua pemerintah Darurat Mr. Sjafrudin, dan mangadakan tukar fikiran mengenai konferensi medja bundar. 3. Tadi pagi telah di landjutkan sidang BFO di gedung Indonesia Serikat. Ketua BFO Sultan Hamid II menerima surat dari Djambi jang menerangkan bahwa delegasi Djambi tak dapat mengundjungi sidang itu. Dalam sidang itu hadir pula para dokter jang nanti akan mengurus kesehatannja para orang jang akan mengundjungi konf. Medja bundar. 4. Kalangan politik di Djokja mengabarkan, bahwa pada sekarang ini perlu diadakan membentuk kabinet jang baru dan kuat. Dalam kalangan PNI dan Masjumi mengandjurkan untuk menjempurnakan pemerintahan, di Sumatera diurus oleh sedjumlah menteri jang diketuai mr. Sjafruddin dan di Djawa diurus oleh JM Sri Sultan, selandjutnja PJM wk Presiden sebagai ketua pemerintahan. 5. Pada tanggal 20 Djuli akan dibuka kembali hubungan pesawat terbang KLM antar Djakarta-Negeri Belanda dengan melewati India, pembukaan tersebut untuk pertama kalinja semendjak pemerintah India melarang pesawat Belanda terbang diwilayah India. 6. PCJ mewartakan dari Den Haag, sekitar dilangsukannja medja bundar. Konf medja bundar tidak dapat dilangsungkan sebelum penghentian tembak menembak terlaksana. Selandjutnja dikabarkan bahwa penetapan konf. medja bundar diundur. Mengenai penjerahan kedaulatan Indonesia diterangkan dapat terlaksana sebelum akhir tahun ini. 7. Menteri Moh Natsir menerangkan kepada Aneta bahwa pengumuman cease fire akan segera dikeluarkan. Adapun antara Belanda merupakan tentara asing jang taat bertugas. 8. Kapal kota Intan jang membawa 1600 orang serdadu belanda telah tiba di Negeri Belanda. Kebanjakan orang2 itu menderita penjakit blindedarm-onstiking. Pada hari Senen baru mereka boleh turun setelah diadakan penjuntikan.

120

Luar Negeri. 1. Rapat raksasa kaum buruh di London. Kemarin telah diadakan rapat raksasa kaum buruh di London jang dikundjungi oleh beribu2 orang. Meskipun dalam rapat tsb diandjurkan supaja mengadakan pemogokan terus. Meskipun dalam rapat itu di kundjungi oleh beribu2 orang tetapi tidak terjadi suatu incident. 2. Rusia telah mengadakan demonstrasi angkatan udara. Dalam demonstrasi itu dipertundjukan tjaranya mengangkut tentara besar2an dan penjerangan. Dalam demonstrasi itu diterangkan bahwa Rusia mempunjai pesawat radar, dan diterangkan pula bahwa Rusialah yang mengandjurkan tentara Jerman. 3. Panitya Internasional mengirimkan laporan kepada PBB, menerangkan bahwa Rusia masih ,e,punjai 20 djuta orang tawanan bangsa Djerman jang disuruh kerdja paksa di Saxen. 4. Serangan kaum komunis pada Tiongkok Selatan mendapat kemadjuan dengan susah pajah. Karena sulalu mendapat perlawanan jang sengit dari pasukan pemerintah nasionalis Tiongkok. 5. Para menteri keuangan Inggeris jang telah mengadakan sidang rahasia di London kini telah selesai dan akan segera mengirimkan laporan kepada pemerintahnja masing2.

(Sumber: Dokementasi Museum Mandala Bhakti Semarang, RRI Surakarta tahun 1945-1949)

121

Radio Djakarta tanggal 19-7-1949. dj. 21.30 Dalam Negeri 1. 3 orang angg. kom. Utk Indonesia berangkat ke Djokja utk mengadakan pembitjaraan dengan Pem. Rep. jg tidak ada hubungannja dgn konf. Inter-Indonesia esok harinja mereka terus kembali ke Djakarta. 2. Tadi pagi tiba di Djokja angg2 bfo sebanjak 63 orang dgn 3 buah pes. terb. Setelah itu angg2 tsb menghadiri sidang Bp. Knip, jam mana mereka dapat mendengarkan uraian wk. Pres. Moh Hatta tentang pers. V. Royen-Roem. Dj. 13.oo siang angg2 Bfo mengadakan perkundjungan kepada Pakualaman. Dikota Djokja orang menjadi gempar. Ditembok2 tertempel plakatan, jg menjebutkan seluruh bangsa Indonesia bersatu utk mentjapai kemerdekaan penuh. 3. Sidang dewan Menteri2 Rep. memutuskan memilih sbg. ketua Delegasi utk konf. Inter-Ind. dgn angg2 lainnja jang dulu turut serta dalam pers Bld-Rep. 4. Ini hari telah tiba di Djakarta Mr. Maramin Menteri Keuangan Rep. dari Filipina. Diduga besuk harinja akan berangkat ke Dk. 5. Dua orang angg. BFO telah berangkat ke Den Haag utk mengadakan persiapan konf. Medja Bundar nanti. 6. Didekat kota Sukabumi telah terdjadi tembak menembak antara psk TNI dan tentara keradjaan, jang tidak membawa korban bagi masing fihak. Luar Negeri 1. Djendral Mac Arthor telah minta bantuan tentara kepada Amerika Serikat utk memperkuat pertahanan di Djepang. 2. Konf. Tenaga atoom jang dihadiri oleh pembesar2 civiel dan tentara di Amerika Serikat mendjadi pusat perhatian bagi umum. 3. Pasukan komunis mengadakan penjerangan terhadap Tiongkok Selatan dan dapat merebut 1 kota. 4. Radio komunis Tiongkok menjiarkan bahwa sekarang diadakan kumpulan utk mengadakan persahabatan antara Rusia-Tiongkok. 5. Di Paris telah terdjadi pertempuran hebat antara polisi2 dan pekerdja2 pabrik kapal terbang. Perkerdja2 tersebut mengadakan demonstrasi setjara besar2an di muka pabrik jang sudah beberapa hari ditutup. 6. Perdjanjian gentjatan sendjata antara Israel-Syria besuk akan ditandatangani di salah suatu tempat dengan disaksikan oleh PBB>

(Sumber: Dokumentasi Museum Mandala Bhakti Semarang, RRI Surakarta tahun 1945-1949)

122

Radio Surabaja tgl 21/7-49 djam 19.00,1. Konf. Inter Ind. dimulai kemarin pagi di Djokja. Konf. Tsb dibuka oleh Tn Tadjudin Neer, setelah itu maka disambut oleh wk. Presiden Drs Moh Hatta, ketua Bfo Stn Hamid dan selandjutnja Pjm Presiden Sukarno. Dalam konf itu dirundingkan mengenai soal bentuknja Negara Ind. Serikat, senat, rakjat, ekonomi, keuangan dan militer. 2. Pendjelasan wk. Presiden Drs. Moh Hatta di KNIP diterima baik oleh kalang Djakarta. Diterangkan bhw persetudjuan van Royen Roem adalah suatu langkah utk melantjarkan djalannja perundingan. Dari Djakarta dikabarkan bhw di Djokja terlah mulai dapat berdjalan babak ke satu. 3. Anak Agung Gede Agung mengabarkan bhw konf. Inter Ind. akan memakan tempo sampai tgl 23 juli dan pada tgl 24 beliau akan pulang ke Makasar. Sementara itu beliau akan melantik kabinet di Makasar. Dan sesudah itu beliau akan mengdjungi konf. di Djakarta. Setelah itu akan pulang lagi ke Makasar dan sesudah dari Maksar beliau akan terus ke Den Haag. 4. Dalam pertjakapan antara para wartawan dengan Mr. Maranis diterangkan bhw nama Rep. Ind akan tidak baik djika perundingan menemui djalan jang buntu. Ketika diadakan sidang di KNIP dengan tak disangka2 beliau datang, dgn segera beliau disambut dengan gembira oleh para sidang. 5. Konsul Djendral Inggris kemarin pagi telah datang ke Djokja utk minta diri kepada Presiden Soekarno bhw beliau akan perlop. Pada waktu itu diperkenalkan Djuga penggantinja. 6. Kereta api jang pertama sedjak Djokja dikembalikan ke tangan Rep. dari Semarang tiba si setasiun Tugu. Kereta api tsb kereta api barang jang memuat barang sebanjak 300 ton dari Indonesia Timur jang akan diserahkan kepada pemerintah Rep. Adapun kerta api jang datangnja tertentu belum dapat dikabarkan.

(Sumber: Dokementasi Museum Mandala Bhakti Semarang, RRI Surakarta tahun 1945-1949)

123

Radio Republik Indonesia Djokjakarta tgl 25/7-49 Dj.22.00.1. Dari Djokja dikabarkan bahwa semalam telah diadakan sidang kabinet untuk merundingkan soal penghentian tembak-menembak. Diterangkan bahwa soal tersebut sukar dilakasanakan. 2. Kemarin Kol. Hidajat menjembahkan persembahan kepada Menteri Pertahanan Sri Sultan. Beliau menjatakan terima kasih atas djasanja tentang memegang keamanan waktu diadakan pengembalian kota Djokja. 3. baru2 ini telah tiba ketua delegasi Belanda Dr. V. Royen di ibu kota republik dengan rombongan stafnja. Kemarin kelihatan beliau dengan stafnja berdjalan-djalan disepanjang Malioboro. 4. Kementerian Sosial nanti pada tgl 26/7-49 akan mengadakan pebagian bahan pakaian jang diterima dari pemerintah NTT kepada rakjat Djokja jang membutuhkan. 5. di Djokja saluran air sedikit demi sedikit telah diperbaiki, pembagian air yang dulunja tidak teratur berhubung tidak ada meterannja kini mulai dipasang lagi.

(Sumber: Dokumentasi Museum Mandala Bhakti Semarang, RRI Surakarta tahun 1945-1949)

124

Radio Republik Indonesia Djokjakarta 26/7-1949. Dalam sidang KNIP pembitjaraan mengandjurkan djalan untuk melaksanakan penghentian tembak menembak djalan Tentara Belanda harus ditarik mundur. Memperingatkan pula kepada Pemerintah supaja memperhatikan kepada orang2 bekas PKI jang dulu telah ditangkap. Zainul Abidin Achmad dari Sumatra mengandjurkan supaja Pemerintah memperkuat kabinetnja. Mengenai soal penghentian tembak menembak djalan untuk melaksanakannja ialah perintah penghentian tembak menembak dikeluarkan, sementara itu tentara Belanda ditarik mundur. Mengenai tawanan politiek dan tentara, minta supaja segera dibebaskan dan pemerintah memberi ampun, selandjutnya disuruh bekerdja seperti biasa. Panitya penghentian tembak-menembak hari ini telah bersidang di Kepatihan Djokja. Kedua delegasi hadir, diantaranja Kol. Simatupang. Kementerian Kesehatan membentuk penitya untuk berusaha membeli obat2an di dalam dan di luar negeri diantarannja panitya itu Dr. Hutagalung.

(Sumber:Dokumentasi Museum Mandala Bhakti Semarang, RRI Surakarta tahun 1945-1949)

125

Radio Djakarta tgl 29/7-49 djam 8.30 1. Delegasi Bld dan Rep telah mengeluarkan komenike bersama, mengumumkan bhw perundingan tembak menembak telah berakhir jg dimulai pada tg 25 Juli. Segera akan diumumkan isi dari persetudjuan tsb. Dr. Royem dengan stafnja akan bertolak kembali ke Djakarta dan diduga minggu depan akan meninggalkan Indonesia. Perdana menteri Drs. Moh Hatta akan berangkat ke Djakarta utk mengundjungi konf inter Indonesia bersama-sama dengan Sri Sultan. 2. Konf inter Indonesia di Djakarta akan dimulai pada tgl 31 Juli. Sebagai pembukaan akan berpidato Stn Hamid II sebagai ketua Bfo dan selandjutnya akan disambut oleh Drs Moh Hatta sebagai wakil dari pemerintah Rep. 3. Dari fihak resmi mengabarkan bhw keadaan di Djawa Sumatera ada sedikit perubahan. Keadaan di Djawa Tengah berhubung dg adanja pengembalian pemerintah Rep di Djokja dan lantjarnya dalam konf inter Indonesia kekatjauan agak berkurang. Perkebunan di daerah Pekalongan masih selalu diganggu oleh segerombolan dari teror. Di daerah Tegal dan Brebes telah terjadi pertempuran jang sengit antara psk. TNI dengan D.I. keadaan di Djawa Timur tidak brerobah. Perkebunan masih selalu mendapat kesukaran2 oleh pengatjau2. banjak gerombolan2 jg bersendjata dapat dipakul. Perindustrian2mendapat kesukaran kekurangan buruh. Keadaan di Djawa Barat pun tidak berobah. Daerah Garut, Tasik, Tjiandjur, Sukabumi selalu mendapat gangguan dari grombolan2 pengatjau. Tentara keradjaan sedang giat memberantas gerombolan tsbt. Keadaan di Sumatera agak baik, dengan adanya Comf. Inter-Indonesia mempengaruhi Djawa rakjat turut membantu Pem. Indonesia dalam usaha pembangunan. Kegiatan kaum pengatjau berkurang. Di Tapanuli pabrik teh dibuka kembali. 4. Pemerintah Federal sementara telah mengeluarkan uang baru jang seharga R1,- dan R0,50.. 5. di kudus telah terdjadi kebakaran pada penjimpanan minjak jang berisi 25 ton. Diduga bahwa kedjadian ini atas perbuatan oranbg jang melemparkan granat kepada tank minjak tsb. 6. Wali-Negara Sumatra Timur tepat pada hari lebaran telah berpidato ditjorong radio jang ditundjukan kepada rakjat Sumatra Timur, bahwa segera akan dapat mentjiptakan tjita2 nasional dan seterusnja. Beliau mengharap supaya rakjat dg hati jang sutji memperdjuangkan tjita2 tsb.

(Sumber: Dokumentasi Museum Mandala Bhakti Semarang, RRI Surakarta tahun 1945-1949)

126

Lampiran 7

Gambar 2. Kerabat kerja monitoring RRI Surakarta tahun 1948 di desa Balong (Stasiun RRI Regional I Surakarta, 1995: 81)

127

Gambar 3. Pemancar Balong tahun 1948-1949 (Stasiun RRI Regional I Surakarta, 1995: 81)

128

Gambar 4. Maladi beserta angkasawan RRI di Stasiun penyiaran gerilya Balong (Stasiun RRI Regional I Surakarta, 1995: 82)

129

Gambar 7. Radio Portable Buatan Inggris tahun 1948 (Majalah Merdeka, 24 April 1948. Halaman 30)

130

Radio Panjti buatan Inggris tahun 1948 (Majalah Mimbar Indonesia, 24 April 1948. Halaman 25)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->