Sejarah Angklung Angklung wuh gw tahu nih adalah alat musik khas sunda banget hehe, gw sadari gw harus

tahu hehe peduli akan sejarah… jadi gooooo

Gambar Berikut Artikel cuman COPAS diharapkan kunjungi www.angklung-udjo.co.id Maafkan klo tulisan dibawah tidk rapih hahaha.. udah copas gk dirapihkan hehe tapi gw hanya menyimpan sbgi arsip buat gw dan mungkin gw ikut serta merapaikan saja Pada jaman dahulu kala, instrumen angklung merupakan instrumen yang memiliki fungsi ritual keagamaan. Fungsi utama angklung adalah sebagai media pengundang Dewi Sri (dewi padi/kesuburan) untuk turun ke bumi dan memberikan kesuburan pada musim tanam. Angklung yang dipergunakan berlaraskan tritonik (tiga nada), tetra tonik (empat nada) dan penta tonik (5 nada). Angklung jenis ini seringkali disebut dengan istilah angklung buhun yang berarti “Angklung tua” yang belum terpengaruhi unsur-unsur dari luar . Hingga saat ini di beberapa desa masih dijumpai beragam kegiatan upacara yang mempergunakan angklung buhun, diantaranya: pesta panen, ngaseuk pare, nginebkeun pare, ngampihkeun pare, seren taun, nadran, helaran, turun bumi, sedekah bumi dll. Angklung Tradisional Angklung Baduy Tidak diketahui dari mana asal-usul Angklung Baduy dan sejak kapan jenis Angklung ini mulai muncul. Penyebarannya pun tidak terlalu luas. Hal ini diperkirakan karena bentuk pertunjukannya yang monoton dan membosankan bagi yang melihatnya. Pada masyarakat Baduy Jero, Angklung Baduy dipergunakan sebagai kesenian yang mendukung upacara adat tradisional menghormati Sang Hyang Asri atau Dewi Sri sebagai dewi pertanian dan kesuburan. Upacara tersebut dikenal dengan nama ngaseuk pare, yaitu upacara yang dilaksanakan saat penanaman benih padi di ladang, dan upacara ngampihkeun pare, yaitu pada saat mengangkut padi hasil panen ke lumbung. Angklung Baduy terdiri dari empat buah ancak yang masing-masing disebut king-king, indo, panempas, dan gong-gong. Dog-dog dan bedug berfungsi sebagai pengiring irama lagu dan tempo irama. Para pemain mengenakan pakaian kampret hitam atau putih, lomar, dan iket. Jumlah pemain mencapai lima belas orang, terdiri dari sembilan orang yang memainkan angklung, tiga orang pemain bedug, dan yang lainnya bertindak sebagi penari.

subur. acara perkawinan. Lagu-lagu yang dimainkan antara lain berjudul Ayun-ayunan. Namun usaha-usaha tersebut tidak membawa hasil. Bambu tersebut kemudian dikeringkan dan sambil melakukan mati geni selama empat puluh hari. pertunjukan karinding. Jari Gandang. Bogor. dan bergerak berkeliling. Ngaseh. tanaman padi penduduk tumbuh dengan baik. Kampung Cipining. Angklung Buncis dimainkan sebagai kesenian yang mengiringi upacara – upacara rakyat atau acara-acara yang melibatkan orang banyak. Angklung Gubrag Pada zaman dahulu. Pak Bonce membuat tujuh set Angklung Buncis yang kemudian dijual kepada Aki Dartiam. upacara heleran atau pawai mengiringi anak khitanan dari rumah anak yang dikhitan ke rumah bengkong (pengkhitan). sambil menari. suatu saat mendapati sungai tempat ia menyimpan bubu meluap dilanda banjir. diancam oleh bencana kelaparan akibat tanaman padi di ladang-ladang yang tidak tumbuh dengan baik. Yandi Bibi. Dewi Sri tetap tidak berkenan turun ke bumi. Hal itu diyakini sebagai pertanda bahwa Dewi Sri telah menerima upacara tersebut. Oleh Aki Dartiam. Angklung tersebut lalu dinamakan Angklung Buncis. Penduduk yang juga meyakini bahwa Dewi Sri bersemayam di angkasa kemudian melakukan berbagai usaha untuk mengundang kembali Dewi Sri untuk turun ke bumi dan memberikan berkahnya bagi kesuburan tanaman padi penduduk.Dalam permainannya. Pong-pok. Beberapa usaha dilakukan. Angklung dan dog-dog mengiringi mereka yang bernyanyi dan menari (ngalagu jeung ngalage). dan dalam menyambut hari-hari besar nasional. Bandung. Ia kemudin mengajarkan permainan Angklung kepada penduduk dan mengatur suatu upacara bagi Dewi Sri. di antaranya adalah menyediakan sedekah sesajian. . Cik Arileu. Angklung-angklung tersebut lalu dikombinasikan dengan dog-dog dan terompet. mengadakan acara-acara kesenian seperti pertunjukan seruling. Arjasari. bambu-bambu tersebut dipukulpukul dan ternyata menghasilkan bunyi yang bagus dan nyaring. Akhirnya. di antaranya upacara nginebkeun pare atau mengangkut padi dari sawah ke rumah. Karena Angklung tersebut ternyata mampu memikat Dewi Sri untuk turun dari langit (dalam bahasa Sunda Ngagubrag). Bambu-bambu tersebut kemudian diolah dan dibuat alat musik Angklung. Banjir tersebut menghanyutkan beberapa batang bambu yang kemudian ia bawa pulang dan disimpan di atas tungku. dan lain-lain. dan tanaman padi penduduk tetap tidak tumbuh dengan baik. tampillah kemudian seorang pemuda yang bernama Mukhtar. Setelah kering. Ketek-ketek. Salaela. Desa Baros. Ternyata setelah upacara tersebut. Angklung Buncis Angklung Buncis dibuat pertama kali oleh Pak Bonce pada tahun 1795 di Kampung Cipurut. Bibi Lenjang. Nganteh. Mukhtar mengolah bambu-bambu tersebut menjadi waditra Angklung. Hiah-hiah Panjang. Penduduk meyakini bahwa musibah tersebut terjadi akibat kemarahan Dewi Sri yang sedang murung karena kurang mendapat hiburan. Keupat Rendang. Pak Bonce yang sehari-hari bekerja sebagai pembubu ikan di sungai. dan berkenan turun ke bumi memberikan berkah kesuburannya. Diceritakan. dan butir-butirnya pun begitu bernas. Nyanyian dilakukan dengan cara bersahut-sahutan. Ia mengajak kawan-kawannya pergi ke Gunung Cirangsad untuk menebang pohon bambu surat. atau sedang murka kepada penduduk. dan Pileuleuyan. Lili-liyang. Oray-orayan. Angklung tersebut lalu disempurnakan dengan ditambahkan dua buah dog-dog lojor. dengan mempergunakan kesenian Angklung sebagai media.

tidak saja yang terdapat dalam khasanah musik nasional. kesenian Angklung Sered di daerah Tasikmalaya yang berupa perlombaan memainkan waditra Angklung bagi anak-anak. dan acara-acara lain yang menyangkut dan melibatkan orang banyak. Angklung Bungko pertama masih ada. hari-hari besar nasional. . Di samping itu. Angklung Bungko Angklung Bungko terdapat di Desa Bungko yang terletak di perbatasan antara Cirebon dan Indramayu. seorang guru Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Kabupaten Kuningan. Angklung Gubrag juga dimainkan pada upacara-upacara hajatan keluarga. Daeng mempelajari seluk beluk Angklung secara lebih mendalam. Oleh Ki Gede Bungko. Angklung ini kemudian dikenal dengan nama Angklung Daeng atau biasa disebut juga Angklung Padaeng. Angklung Bungko dilestarikan oleh seorang tokoh masyrakat bernama Syeh Bentong atau Ki Gede Bungko. memungkinkan menjangkau repertoarrepertoar lagu populer. Daeng menganggap Angklung yang berskala diatonis cenderung lebih komunikatif untuk diajarkan di sekolah-sekolah. dan lainlain. dinilai telah berhasil dengan baik menempatkan kembali kedudukan angklung di tengah-tengah masyarakat dengan melakukan modernisasi alat musik Angklung dari alat yang sederhana dan hanya berskala tangga nada pentatonis menjadi Angklung kompleks yang berskala tangga nada diatonis. Pada waktu mengajar di HIS Kuningan. Walaupun begitu. ada kesenian Angklung tanpa vokal di daerah Kanekes. Selain itu. masih banyak lagi jenis-jenis Angklung lain yang tersebar di hampir seluruh pelosok daerah Jawa Barat.Angklung tersebut kemudian dinamakan Angklung Gubrag. walaupun sudah tidak bernada lagi. yaitu upacara besarbesaran pada akhir tahun panen. Jawa Barat. tersimpan dengan baik. Daeng sejak kecil sangat menggemari angklung. setelah dipergunakan sebagai kesenian yang mengiringi penduduk Desa Bungko berperang melawan serangan bajak laut. Angklung Bungko kemudian dipergunakan sebagai kesenian yang mendukung penyebaran agama Islam. Angklung Daeng. Angklung Bungko pertama ini selalu disertakan dalam setiap pergelaran kesenian Angklung Bungko sebagai simbol resminya pergelaran tersebut. Selain jenis-jenis Angklung tersebut. Angklung Modern (Padaeng) Pada tahun 1938. dilihat dari tata cara memainkan dan skala tangga nadanya. Tercatat ada Angklung Jinjing yang kerap dimainkan dalam acara-acara hiburan. kesenian Angklung dengan lirik berupa susualan di daerah Panamping. Angklung Bungko yang pertama dibuat diyakini telah berusia lebih dari 600 tahun. Daeng yang saat masih belajar di Kweekschool mempelajari musik Barat. Daeng. termasuk proses pembuatan dan pemeliharaannya dari seorang tokoh pembuat angklung yang bernama Pak Djaja. perhelatan hari raya. Salah satu usaha pelestarian dan pengembangan kesenian Angklung tradisional telah dilakukan oleh Udjo Ngalagena melalui program pelatihan kesenian Angklung tradisional di sanggar seni Saung Angklungnya. kemudian mencoba membuat Angklung yang mempergunakan skala tangga nada diatonis. masyarakat luas telah lebih mengenal skala tangga nada diatonis dibandingkan skala tangga nada pentatonis. di mana tiap – tiap peserta pelatihan diharuskan mempelajari dan menguasai dulu Angklung tradisional sebelum melangkah ke pelatihan Angklung modern atau kesenian Sunda lainnya yang telah dimodifikasi. Angklung Gubrag dimainkan pada upacara seren taun. tetapi juga musik Barat lainnya.

seperti membangkitkan perhatian terhadap musik. Daeng melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang positif untuk pendidikan. Sementara itu. * Hal lain yang tidak kalah penting adalah: * Pengembangan intelegensi. untuk mengiringi alat musik Angklung tersebut. * Sarana penyaluran emosi. Daeng pindah ke Bandung dan mengajar di SMPN 2 Bandung. Tampak dalam permainan Angklung sifat-sifat bekerja sama. dan rasa tanggung jawab. selain dalam skala tangga nada. disiplin. harmoni. Pada tahun 1946 grup kesenian Angklung Daeng dipercaya mempertunjukan kebolehannya pada acara hiburan dalam Perundingan Linggar Jati. melodi. * Kreativitas. di mana setiap pemain memainkan hanya satu nada saja. Angklung melodi memiliki nomor untuk setiap angklung. Pada tahun 1950. ekspresi untuk kebahagian dalam bermain musik. sedangkan Angklung daeng dibuat untuk dimainkan bersama. keterampilan. dan tidak akan berubah meskipun lagu yang dimainkan memiliki nada dasar yang berbeda. * Mengembangkan rasa ritme. Alat musik tersebut kemudian dengan cepat diterima menjadi sarana kesenian dalam kehidupan kelompok Pramukanya. Selama di Bandung pula. Daeng Sutigna tidak saja berhasil memperkaya khazanah alat musik Angklung. yang akan dikonversikan menjadi nada tertentu. * Menghidupkan musikalitas. menjadi bertambah dengan adanya Angklung berlaraskan diatonis kromatis. kecermatan. Daeng berhasil membuat satu set Angklung diatonis yang kemudian diperkenalkan pertama kali kepada anak-anak Pramuka dimana Daeng sendiri bertindak sebagai pembina. dilengkapi dengan Angklung akor atau akompanyemen (besar dan kecil). Demikian pula mengenai hal-hal yang merupakan dasar-dasar pokok dalam pendidikan musik. dan mengembangkan musikalitas. Daeng mengembangkan Angklung diatonis dan diberikan kehormatan untuk menampilkannya dalam acara kesenian Konferensi Asia Afrika tahun 1955. terutama dalam pertemuanpertemuan kepramukaan dan perkemahan. Perbedaan Angklung tradisional dengan Angklung Daeng. Angklung tradisional merupakan Angklung renteng yang dimainkan oleh seorang pemain saja. tetapi Bapak Daeng juga sangat berjasa di dalam pengembangannya menjadi perangkat musik modern. Sebagai seorang guru. Secara garis besar. * Serta melatih koordinasi gerak tubuh saat mengikuti irama musik dala rangka pengembangan syaraf psikomotorik. . terutama dalam pendidikan pembentukan watak. Angklung Padaeng di Kuningan mulai terkenal secara luas di berbagai kalangan. yang meliputi melodi seluas 3½ oktaf. sesuai dengan nada dasar yang dipergunakan. menghidupkan musik. pembagian Angklung Padaeng adalah seperti tertera di bawah ini : Perkembangan Angklung di Indonesia Sebuah Keajaiban Angklung Hal lain adalah pengembangan nilai-nilai yang berarti dalam didikan seni suara seperti: * Membangkitkan perhatian terhadap musik. dan lain-lain. melodi.Dengan bantuan Pak Djaja. juga terdapat dalam cara memainkannya. yang sebelumnya hanya berlaraskan tangga nada tradisional (pentatonis). disiplin. dan harmoni. dan harmoni lagu dapat dicapai dengan kerjasana yang rapi antara para pemain. Sedangkan angklung pengiring / akompanyemen telah mempunyai akor yang tetap. ritme.

melalui kesenian tradisional diharapkan akan dapat merangsang idealisme dan minat generasi muda terhadap eksistensi kesenian tradisional Sunda dan pelestarian lingkungan hidup. merupakan “Sebuah Keajaiban Angklung”. Gotong Royong. memiliki efek samping lain yang baik pula karena beberapa manfaat nyatanya adalah: Melalui kesenian angklung. * Lebih jauh. seperti: Kerja sama. Ketangkasan. Tanggung jawab dan lainlain. Disiplin.* Bahkan saat ini. terutama dalam character-buliding. Kecermatan. di beberapa pusat kesehatan telah ditemukan penelitian bahwa angklung dapat menjadi terapi penyembuhan seperti yang diungkapkan di atas mengenai pengembangan syaraf psikomotorik. diharapkan akan dapat menumbuhkan nilai-nilai baik yang terdapat didalamnya. Angklung & Character Building Angklung dari sekian pesona dan daya tariknya. Hal tersebut menurut bahasa kami. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful