P. 1
Pendidikan Luar Biasa A-O

Pendidikan Luar Biasa A-O

|Views: 55|Likes:

More info:

Published by: Nina 'nitiw' Pertiwi on Sep 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/14/2012

pdf

text

original

PENGANTAR PENDIDIKAN KHUSUS

(PLB)
Oleh :

Nina Pertiwi 19 Bintaro Bpk. Noor Isnanto

Angkatan : Cabang :
Dosen :

Pendidikan khusus Pendidikan yang khusus diselenggarakan bagi peserta didik yang menyandang kelainan fisik, mental, perilaku atau gabungan. Pendidikan khusus atau PLB (pendidikan luar biasa) bertujuan membantu peserta didik agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai individu yang nantinya siap bermasyarakat dan mengembangkan kemampuan untuk pendidikan lanjutan bahkan dunia kerja. Anak berkebutuhan khusus Atau ALB (anak luar biasa), anak yang menyimpang dari rata-rata normal. Penyimpangan bisa diatas normal, dibawah normal, maupun pada keduanya. Penyimpangan tersebut memerlukan pelayanan pendidikan secara khusus. Berdasarkan agen pembawa keluarbiasaan, pada dasarnya disebabkan oleh bawaan (turunan) dan dapatan. Namun secara garis besar, ketidaknormalan kondisi seorang anak dapat disebabkan oleh faktor yang ada atau terjadi sebelum kelahiran (prenatal), saat kelahiran (natal) dan setelah kelahiran (post natal). Faktor penyebab sebelum kelahiran (prenatal) diantaranya adalah sebagai berikut :  Kekurangan zar-zat makanan bervitamin, timbulnya infeksi, luka dan keracunan sewaktu anak masih dalam kandungan.  Karena proses pembuahan yang kurang sempurna, misalnya pembuahan yang terjadi di luar kandungan.  Faktor genetik (terlalu lemah atau masih ada hubungan familiy yang dekat antara suami & isteri)  Kecelakaan saat seorang ibu dalam keadaan mengandung, seperti jatuh, terkena pukulan yang sangat keras pada bagian perut yang mengakibatkan pendarahan atau luka pada bayi Faktor penyebab saat kelahiran (natal) :  Kelahiran dengan bantuan alat/tang (tangver lossing)  Kekurangan oksigen Kelahiran yang terlalu lama  Anak lahir sebelum masanya (prematur) Faktor setelah kelahiran (post natal) diantaranya adalah :  Karena kecelakaan, karena luka-luka di bagian kepala yang mengakibatkan gegar otak.  Karena penyakit, seperti celebral meningitis, malaria tropik, dan lain-lain yang menyebabkan infeksi pada selaput otak.  Karena faktor psikologis, antara lain rumah tangga yang kacau yang mengakibatkan anak menderita batin sehingga perasaannya tidak dapat berkembang dengan wajar. Dengan pendeteksian sedini mungkin, maka dapat diberikan pula kekhususan dalam perlakuan, perhatian, pendidikan dan pelayanannya. Dari hasil survei, yang dilakukan Pusat Kurikulum Depdiknas terungkap bahwa kunci kesuksesan pendidikan adalah 80% mindset dan 20% technical skills. Menurut UUSPN pasal 5 ayat 2 menyatakan bahwa “Warga negara yang memiliki kelainan fisik,emosional,mental intelektual dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus “.Dalam keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0491/U/1992 mengenai penyelenggaraaan PLB dapat dilakukan melalui pendidikan terpadu, kelas khusus, guru kunjungan atau bentuk pelayanan pendidikan lainnya.

SLB bagian: A Jenis kelainan: TUNANETRA

IDENTFIKASI TUNANETRA Tunanetra (Visually Impaired) adalah mereka yang mengalami gangguan daya penglihatan berupa kebutaan menyuluruh atau sebagian, dan walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat khusus, mereka masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Ciri-ciri dari peyandang tunanetra:  Ciri fisik : mata juling, sering berkedip, menyipitkan mata, kelopak mata merah, mata infeksi,gerakan mata takberaturan (goyang), mata selalu beair;  Ciri perilaku : membaca terlalu dekat, membaca banyak yang terlewati,cepat lelah ketika membaca/menulis, sering menggerakan kepala ketika membaca, mengeryitkan kepala ketika melihat papan tulis, seing mengusap mata, mendongakkan kepala, berjalan sering menabrak benda di depannya, salah menyalin dalamjarak dekat, dsb.  Ciri keluhan : merasa sakit kepala, sulit melihat dengan jelas dari jarak jauh, penglihatan terasa kabur ketika membaca/menulis, benda terlihat seperti dua buah, mata sering terasa gatal. Dengan menggunakan ukuran ketajaman penglihatan, seseorang disebut buta apabila ia memiliki tingkat efisiensi penglihatan 20,0 % atau lebih kecil. Menurut ukuran Snellen ketajaman penglihatan seseorang dihubungkan dengan tingkat efisiensi yang tersisa, dilukiskan sebagai berikut :

No 1. 2. 3 4 5.

Tingkat Ketajaman 20/20 f 20/35 f 20/70 f 20/100 f 20/200 f

Tingkat efisiensi Efisiensi = 100 % Efisiensi = 87,5 % Efisiensi = 64,5 % Efisiensi = 48,9 % Efisiensi = 20,0 %

INTERVENSI PENANGANAN PENDIDIKAN PADA TUNANETRA Kebutuhan orientasi dan mobilitas tuanetra dalam berinteraksi dengan lingkungan yang konkrit untuk mendapatkan pengalaman baru dan memadukan kebutuhan belajar/berbuat, diperlukan layanan pendidikan formal menurut kebutuhannya, seperti sistem segregrasi (sekolah khusus) yang dikelompokkan menjadi: 1. Kelompok buta dengan media pendidikannya adalah braille. 2. Kelompok low Vision dengan menyediakan media adalah tulisan awas seperti alat Bantu optic, alat Bantu kacamata, kaca mata pembesaran dan alat peraga.

SLB bagian : B Jenis kelainan : TUNARUNGU

IDENTIFIKASI TUNARUNGU Gangguan pendengaran yang kehilangan secara menyeluruh atau sebagian daya pendengarannya, sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal, walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah: 27-40dB = Sangat ringan 41-55dB = Ringan 56-70dB = Sedang 71-90dB = Berat < 91dB = Ekstrim / Tuli Gejala dan tanda-tandanya, seperti: 1. Sering mengeluh tentang sakit telinga. 2. Artikulasi bicara buruk. 3. Pertanyaan yang mudah kurang tepat jawaban. 4. Pada situasi bicara biasa anak sering salah dalam merespon dan perhatiannya kurang. 5. Mendengar lebih jelas bila berhadapan muka dengan yang diajak bicara. 6. Sering meminta diulangi apa yang diucapkan pembicara. 7. Bila mendengarkan radio ia sering memutar volume sangat tinggi sehingga untuk ukuran orang normal sudah melebihi batas.

INTERVENSI PENANGANAN PENDIDIKAN PADA TUNARUNGU Penanganan yang diberikan melalui pembinaan komunikasi dengan merehabilitasi pendengaran seperti persepsi bunyi dan irama, serta mengembangkan penataan pendidikan. Kebutuhan pembelajaran tunarungu (Saran untuk para guru dalam pembelajaran): 1. Tidak membelakangi anak saat sedang bicara. 2. Anak hendaknya duduk dan berada ditengah paling depan kelas sehingga memiliki peluang untuk mudah membaca bibir guru. 3. Bila telinganya hanya satu yang tuli tempatkan anak sehingga telinga yang baik berada dekat dengan guru. 4. Perhatikan posture anak, sering anak meggelengkan kepala untuk mendengarkan. 5. Dorong anak untuk selalu memperhatikan wajah guru dan bicaralah dengan anak dengan posisi berhadapan dan bila memungkinkan kepala guru sejara dengan kepala anak. 6. Guru bicara dengan volume biasa tetapi gerakan bibirnya harus jelas.

SLB bagian : C Jenis kelainan : TUNAGRAHITA

IDENTIFIKASI TUNAGRAHITA Ketunagrahitaan mengacu pada fungsi intelektual umum yang secara signifikan berada di bawah rata-rata normal. Tunagrahita mengalami kekurangan dalam tingkah laku dan penyesuaian. Semua itu berlangsung atau terjadi pada masa perkembangannya. Seorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki tiga faktor, yaitu: (1) keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah rata-rata (2) ketidakmampuan dalam perilaku adaptif (3) terjadi selama perkembangan sampai usia 18 tahun. Ketunagrahitaan biasanya dihubungkan dengan tingkat kecerdasan seseorang. Tingkat kecerdasan secara umum biasanya diukur melalui tes Inteligensi yang hasilnya disebut dengan IQ (intelligence quotient). Para ahli indonesia menggunakan klasifikasi sebagai berikut :  Tunagrahita ringan (moron) IQ: 55 - 69  Tunagrahita Sedang (imbesil) IQ: 40 - 54  Tunagrahita berat (debil) IQ: 25 - 39  Tunagrahita sangat berat (idiot) IQ: < 24 Anak yang ber-IQ antara 70-90, termasuk katagori Garis batas (border line) yang secara pendidikan disebut Lamban belajar (slow learner). Untuk menjelaskan klasifikasi /pengelompokan anak tunagrahita diatas menurut IQ nya, dapat dijelaskan sebagai berikut: Umur kecerdasan Nama Umur (CA) IQ Kemampuan (MA) Si A Si B Si C Si D Si E 10 th 10 th 10 th 10 th 10 th 100 70 - 55 55 - 40 40 - 25 25 - < 10 th 7 - 5,5 th 5,5 - 4 th 4 - 2,5 th 2,5 - < Tidak kesulitan mempelajari dan melakukan tugas tugas se-umurnya karena CA-nya sama dengan MA-nya Dapat mempelajari materi pembelajaran/tugas anak usia 5,5 - 7 tahun Dapat mempelajari materi pembelajaran/tugas anak usia 4 tahun - 5,5 tahun Dapat mempelajari materi pembelajaran/tugas anak usia 4 tahun - 2,5 tahun Dapat mempelajari materi pembelajaran/tugas anak usia 2,5 tahun kebawah

*(Cronological Age= CA), (Mental Age = MA)

INTERVENSI PENANGANAN PENDIDIKAN PADA TUNAGRAHITA Kebutuhan Pembelajaran Anak tunagrahita: 1. Dalam belajar keterampilan membaca, keterampilan motorik, keterampilan lainnya adalah sama seperti anak normal pada umumnya. 2. Perbedaan Tunagrahita dalam mempelajari keterampilan terletak pada karakteristik belajarnya. 3. Perbedaan Karakteristik belajar anak tunagrahita terdapat pada tiga daerah yaitu: a. Tingkat kemahirannya dalam keterampilan tersebut. b. Generalisasi dan tranfer keterampilan yang baru diperoleh. c. Perhatiannya terhadap tugas yang di embannya.

SLB bagian : D Jenis kelainan : TUNADAKSA

IDENTIFIKASI TUNADAKSA Tunadaksa adalah penderita kelainan fisik atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang,sendi,otot). Jika mengalami gangguan gerak karena kelayuan pada fungsi syaraf otak disebut cerebral palsy (cp). Tunadaksa bisa dilihat dari segi fungsi fisiknya dan dari segi anatominya. 1. Dari segi fungsi fisik, tunandaksa diartikan sebagai seseorang yang fisik dan kesehatannya mengalami masalah yang menghasilkan kelainan dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya dan untuk meningkatkan fungsinya diperlukan program dan layanan khusus. 2. Pengertian yang didasarkan pada anatomi biasanya digunakan dalam kedokteran yang tubuhnya mengalami kelainan pada daerah tertentu seperti; anggota gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh, kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali), terdapat bagian anggota gerak yang kecil dari biasanya, terdapat cacat pada alat gerak, jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam, kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal, hiperaktif/tidak dapat tenang.

INTERVENSI PENANGANAN PENDIDIKAN PADA TUNADAKSA Pelayanan dan pengajaran bagi tunadaksa yang perlu diperhatikan: 1. Segi Medis Apakah ia memiliki kelainan khusus seperti kencing manis atau pernah di oprasi, masalah lain seperti harus meminum obat dan sebagainya. 2. Kemampuan gerak dan bepergian Apakah anak kesekolah menggunakan tranportasi, alat bantu dan sebagainya. Ini berhubungan dengan lingkungan yang harus dipersiapkan 3. Cara komunikasi Apakah anak mengalami kelainan dalam berkomunikas, dan alat komunikasi apa yang digunakan (lisan, tulisan, isyarat) dan sebagainya. 4. Perawata dirinya Apakah anak dapat melakukan perawatan diri dalam aktifitas kegiatan sehari-hari. 5. Posisi Disini dimaksudkan tentang bagaimana posisi anak tersebut didalam menggunakan alat bantu, Posisi duduk dalam menerima pelajaran, waktu istirahat, waktu ke kamar kecil (toilet), makan dan sebagainya. Dalam hal ini physical therapis sangat diperlukan.

SLB bagian : E Jenis kelainan : TUNALARAS IDENTIFIKASI TUNALARAS Tunalaras (behavioral disorders), gangguan kesulitan dalam penyesuaian diri dan tingkah laku tidak sesuai dengan norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, maka diperlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungan. Kelainan tingkah laku yang ditetapkan bila terdapat unsur: 1. Persepsi kita bila tingkah laku anak menyimpang dari standart yang diterima umum; sering melakukan tindakan agresif, merusak, mengganggu 2. Derajat penyimpangan tingkah laku dari standart yang semakin ekstrim; Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum 3. Lamanya waktu pola tingkahlaku itu dilakukan; membangkang, mudah terangsang emosinya/emosional/mudah marah

INTERVENSI PENANGANAN PENDIDIKAN PADA TUNALARAS Hal yang perlu diperhatikan dalam kebutuhan pembelajaran tunalaras:  Mengingat kelainan tingkah laku ini banyak disebabkan oleh lingkungan maka penataan lingkungan merupakan salah satu pendekatan yang perlu diperhatikan oleh guru.  Kita setuju bahwa kelainan tingkah laku disebabkan oleh anak itu sendiri tetapi mungkin disebabkan oleh guru itu sendiri atau hasil interaksi antara guru dan anak.  Assessment dari masalah tingkah laku, situasi masalah, lingkungan anak, harus diselesaikan dulu bila ingin mengatasi masalah kelainan tingkah laku pada anak.

SLB bagian : F Jenis kelainan : TUNAWICARA

IDENTIFIKASI TUNAWICARA Tunawicara atau Bissu (disambiguasi), gangguan verbal atau ketidakmampuan seseorang untuk berbicara yang disebabkan oleh gangguan pada organ-organ seperti tenggorokan, pita suara, paru-paru, mulut, lidah, dan sebagainya. Tunawicara sering dikaitkan dengan tunarungu.

INTERVENSI PENANGANAN PENDIDIKAN PADA TUNAWICARA Dasar pendekatan pengajaran alternatif bagi siswa dengan penyandang tunawicara (ataupun tunarungu). 1. Metode manual, terdiri dua komponen dasar, yaitu: Bahasa isyarat (sign language) Abjad Jari (Finger Spelling/Finger Alphabet)

2.

Metode Oral Metode oral membantu siswa untuk lebih memahami ucapan orang lain. Siswa dilatih untuk memperhatikan gerak bibir, posisi bibir, serta gigi agar dapat memahami apa yang sedang diucapkan. Serta cara membaca isyarat-isyarat seperti ekspresi wajah yang akan memudahkan komunikasi. Metode Komunikasi Total Penggabungan kedua metode sebelumnya. Metode ini dipopulerkan oleh lembaga Maryland School for the Deaf. Komunikasi total memuat spektrum model bahasa yang lengkap, membedakan gerakan/mimic tubuh anak, bahasa isyarat yang formal, belajar berbicara, membaca ucapan, abjad jari, serta belajar membaca dan menulis. Sehingga mereka berkesempatan untuk mengembangkan dirinya.

3.

Strategi pendidikan penyandang tunawicara : 1. Membaca isyarat 2. Membaca gerak bibir 3. Strategi tertulis 4. Verbalisasi oleh lawan bicara

SLB bagian : G Jenis kelainan : TUNAGANDA

IDENTIFIKASI TUNAGANDA Tunaganda (Anak tunamajemuk, anak cacat ganda, anak cacat majemuk, multiple handicaps, multiple disabilities) adalah kombinasi kelainan (baik dua jenis kelainan atau lebih) yang menyebabkan adanya masalah pendidikan yang serius ,sehingga tidak hanya dapat diatas dengan suatu program pendidikan khusus untuk satu kelainan saja, melaiankan harus didekati dengan variasi program pendidikan sesuai kelainan yang dimiliki. Anak tunaganda biasa menunjukkan fenomena-fenomena perilaku : 1. Kurang komunikasi atau sama sekali tidak dapat berkomunikasi. 2. Perkembangan motorik dan fisik yang terlambat. 3. Seringkali menunjukkan perilaku yang aneh dan tidak bertujuan. 4. Kurang dalam keterampilan menolong diri sendiri. 5. Jarang berperilaku dan berinteraksi yang sifatnya konstruktif. 6. Kecenderungan lupa akan keterampilan keterampilan yang sudah dikuasai. 7. Memiliki masalah dalam mengeneralisasikan keterampialan dari suatu situasi ke situasi lainnya. Beberapa kombinasi kelainan tunaganda: tunagrahita – tunanetra tunanetra – tunalaras tunadaksa – tunarungu/tunanetra/gaya emosi dan kelainan lain tunalaras – austisme/ tunarungu dan Kombinasi kelainan lain.

INTERVENSI PENANGANAN PENDIDIKAN PADA TUNAGANDA 1. Program penanganan tunaganda mengakses empat bidang utama, yaitu: Bidang domestik, rekreasional, kemasyarakatan, dan vokasional. 2. Untuk pengajaran mencakup: Ekspresi pilihan, komunikasi,pengembangan keterampilan fungsional, dan latihan keterampilan sosial sesuai dengan usianya. 3. Pendekatan multidipliner: Tempat terapi yang tidak terpisah dari kerjasama guru khusus/kelas dan orangtua. 4. Penataan kelas yang sesuai. Menggunakan alat bantu dalam meningkatkan keterampilan dan fungsional. 5. Integrasi dengan menghadirkan sekolah regular dan berpartisipasi dengan anak-anak normal yang seusia merupakan komponen penting lainnya. Untuk pengembangkan keterampilan sosial dan persahabatan, di samping dapat mendorong adanya perubahan sikap yangg lebih positif.

SLB bagian : H Jenis kelainan : HIV / AIDs

IDENTIFIKASI HIV / AIDs HIV (human immunodeficiency virus) adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia - terutama CD4+ T cell dan macrophage. komponen vital dari sistem sistem kekebalan tubuh "tuan rumah" - dan menghancurkan atau merusak fungsi mereka. Infeksi dari HIV menyebabkan pengurangan cepat dari sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan kekurangan imun. HIV merupakan penyebab dasar AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). akibat dari HIV ini dapat timbul berbagai macam penyakit, karena berkurangnya daya imunitas tubuh. Akibat dari keterbatasan inilah, orang penderita HIV/aids juga butuh perlakuan khusus agar dapat menerima perlakuan dan pendidikan yang baik dan tetap dapat diterima baik pula di masyarakat. Ciri-ciri pada anak yang mengalami gangguan, yaitu:  Pertumbuhan cenderung lambat  Mengidap diare yang sangat berat (> 14hari)  Demam selama satu bulan  Infeksi pada telinga, mulut, tenggorokan, dan bagian tubuh lainnya.  Terdapat bintik putih pada idah, mulut atau tenggorokan  Kulit gatal, ciri yang sama seperti dewasa pengidap HIV/AIDs

INTERVENSI PENANGANAN PENDIDIKAN PADA HIV / AIDs Program Komunikasi akan menjamin efektifitas dalam bentuk dukungan (termasuk komunikasi perubahan perilaku), media, informasi dan advokasi bagi seluruh komponen program kerjasama, dengan jalan membuat lingkungan yang berbasis hak bagi anak dan perempuan sesuai dengan Konvensi Hak-hak Anak dan CEDAW. Hasil yang diharapkan, strategi dan kegiatan untuk mencapai tujuan ini dijabarkan dalam komponen program yang lain.

SLB bagian : I Jenis kelainan : GIFTED / TALENTED

IDENTIFIKASI GIFTED / TALENTED Anak-anak dengan kemampuan intelektual unggul dan bahkan istimewa “Gifted and Talented” disebut sebagai anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa (UU No. 2/1989 Ps 8:2). Ciri anak berbakat yang dikategorikan menurut Renzulli dan Hatman (1971), sebagai berikut : a. Karakteristik yang menonjol dalam belajar (gifted) misalnya; mengusai jumlah kosakata yang luar biasa, memiliki pengetahuan yang luas, cepat memahami hubungan sebab akibat, mudah menangkap isi pelajaran, banyak membaca sendiri dan sebagainya. b. Karakteristik yang menonjol dalam motivas (prodigy) antara lain terlihat serius menghadapi trik tertentu, mudah bosan dengan tugas rutin, tekun, ulet, tahan lama dalam menghadapi tugas, selalu berusaha mencapai prestasi tinggi. c. Karakteristik kepemimpinan (talented) yang menonjol adalah mudah bekerja sama dengan orang lain, rasa tanggung jawb yang besar, dapat mempengaruhi temannya, mudah menyesuaikan diri sehingga dipilih untuk memimpin kegiatan dan sebagainya. d. Karakteristik kreativitas (genius) yang menonjol adalah banyak mengemukakan gagasan, mudah menyesuaikan gagasan dengan keadaan yang ada serta sering mempunyai gagasan yang baru dan orisinil. Adapula anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa yang tidak mendapat pelayanan pendidikan yang sesuai, sehingga menyebabkan prestasi belajarnya berada di bawah potensinya atau sering disebut under achiever.

INTERVENSI PENANGANAN PENDIDIKAN PADA GIFTED / TALENTED 1. Program kesamping (Horisontal program) yaitu: a. Mengembangkan kemampuan eksplorasi. b. Mengembangkan pengayakan dalam arti memperdalam hal-hal yang ada diluar kurikulum biasa. c. Executive intensive dalam arti memberikan kesempatan untuk mengikuti program intensif bidang tertentu yang diminati sampai mendalam dalam waktu tertentu. 2. Program keatas (Vertikal program) yaitu: a. Acceleration, percepatan/ maju berkelanjutan dalam mengikuti program yang sesuai dengan kemampuannya, dan jangan dibatasi oleh jumlah waktu, atau tingkatan kelas. b. Independent study, biarkan anak untuk belajar dan menjelajahi sendiri bidang yang diminati. c. Mentorship, padukan antara yang diminati anak gifted dan talented dengan para ahli yang ada di masyarakat. 3. Program pendekatan untuk anak under achiever, yaitu: a. Pendekatan/model discrepancy Pendekatan ini menggunakan perhitungan kesenjangan belajar antara skor yang diperoleh dari tes prestasi belajar dengan skor yang dperoleh melalui tes intelegensi. Jika terjadi kesenjangan antara hasil tes intelegensi dan hasil tes prestasi belajar-hasil tes intelegensi labih tinggi dairpada hasil tes prestasi belajar disebut under achiever. b. Pendekatan/model regression Pendekatan ini menghitung korelasi intelegensi dan hasil belajar. Disebut under achiever jika terdapat korelasi rendah antara skor prestasi belajar dengan skor intelegensi. c. Pendekatan/model indeks prestasi. Pendekatan ini dilakukan dengan cara menetapkan suatu indeks atau batas tertentu untuk dapat disebut under achiever.

SLB bagian : J Jenis kelainan : BERBAKAT KHUSUS

IDENTIFIKASI BERBAKAT KHUSUS Anak berbakat khusus merupakan satu interaksi diantara tiga sifat dasar manusia yang menyatu. Ikatan tersebut terdiri dari kemampuan umum dengan tingkatnya di atas kemampuan rata- rata, komitmen yang tinggi terhadap tugas, dan kreativitas yang tinggi. Anak berbakat khusus ialah anak yang memiliki kecakapan dalam mengembangkan gabungan ketiga sifat ini dan mengaplikasikan dalam setiap tindakan yang bernilai. Anak-anak yang mampu mewujudkan ketiga sifat itu masyarakat memperoleh kesempatan pendidikan yang luas dan pelayanan yang berbeda dengan program-program pengajaran yang reguler (Swissing, 1985) Lewis Terman (1916) mengembangkan gagasan mengenai IQ dan mengklasifikasi skala dari skor IQ, yakni: • >200 = "genius tidak terukur" • 180 – 200 = Genius tertinggi • 165 - 179 = Sangat genius • 155 – 164 = Genius (setingkat pemenang nobel) • 145 – 154 = Genius (setingkat professors) • 135 – 144 = Sangat berbakat (setingkat cendikiawan) • 125 – 134 = Cerdas berbakat (setingkat pascasarjana) • 115 – 124 = Superior cerdas (setingkat mahasiswa) • 90 – 109 = Normal atau rata-rata kecerdasan • 80 – 89 = Bodoh / dullness • 70 – 79 = Borderline; Lambat belajar/slow learner Anak berbakat sering ditandai kemampuan intelektual seperti: Mempunyai banyak kegemaran (hobi), mengingat dan menguasai dengan cepat apa yang dipelajari, dapat membaca di umur yang sangat muda, dapat melihat hubungan antar ide, memiliki perbendaharaan kata yang tinggi, berperilaku terarah pada tujuan, mempunyai daya imajinasi yang kuat, mempunyai daya ingat yang kuat, tidak cepat puas dengan prestasinya, peka, menggunakan firasat (intuisi), menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.

INTERVENSI PENANGANAN PENDIDIKAN PADA BERBAKAT KHUSUS Penanganan pendidikan untuk anak berbakat khusus tidak jauh berbeda dengan anak gifted/talented. Bahkan ada beberapa tambahan seperti: 1) Home-schooling diadakan dengan cara orang tua atau tenaga ahli yang ditunjuk bisa membuat program khusus yang sesuai dengan bakat istimewa anak yang bersangkutan. Pada suatu ketika jika anak sudah siap kembali ke sekolah, maka ia bisa saja dikembalikan ke sekolah pada kelas tertentu yang cocok dengan tingkat perkembangannya. 2) Menyelenggarakan kelas-kelas tradisional dengan pendekatan individual. Dalam model ini biasanya jumlah anak per kelas harus sangat terbatas sehingga perhatian guru terhadap perbedaan individual masih bisa cukup memadai. Masing-masing anak didorong untuk belajar menurut ritmenya masing-masing. Anak yang sudah sangat maju diberi tugas dan materi yang lebih banyak dan lebih mendalam daripada anak lainnya. Demikian pula guru harus siap dengan berbagai bahan yang mungkin akan dipilih oleh anak untuk dipelajari dengan tingkat perkembangan sesuai ritme belajarnya.

SLB bagian : K Jenis kelainan : KESULITAN BELAJAR

IDENTIFIKASI KESULITAN BELAJAR Kesulitan belajar (Learning disability/LD) mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik terutama dalam hal kemampuan membaca, menulis, berbicara dan berhitung. Diduga disebabkan adanya faktor disfungsi neugologis, bukan disebabkan karena faktor intelegensi (intelegensi normal bahkan ada yang diatas normal). Beberapa kategori dalam kesulitan belajar:  Kesulitan belajar membaca (diseleksia) Perkembangan kemampuan membaca terlambat, kemampuan memahami isi bacaan rendah, membaca sering banyak yang salah  Kesulitan belajar menulis (digrafia) Terlambat menyalin tulisan, sering salah menulis huruf ‘b’ dengan ‘p’, ‘p’ dengan ‘q’ ,‘v’ dengan ‘u’, angka ‘2’ dengan angka ‘5’, ‘6’ dengan ‘9’ dan sebagainya. Hasil tulisan jelekdan tidak terbaca, tulisan banyak yang salah/terbalik/huruf hilang, sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.  Kesulitan belajar berhitung (diskalkulia) Tertukar/salah membedakan tanda-tanda : + - x > < = Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan, sering salah membilang denga urut, sering salah membedakan angka 9 dengan 6, 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8 dsb. Sulit membedakan bangun-bangun geometri  Kesulitan belajar bicara (disphasia) Ketidakmampuan atau keterbatasan kemampuan anak untuk menggunakan simbol linguistik dalam rangka berkomunikasi secar verbal. Gangguan pada anak yang terjadi pada fase perkembangan ketika anak belajar bebicara disebut sebagai disphasia perkembangan (develompment dysphasia). Disphasia terbagi dua jenis : Disphasia reseptif anak mengalami gangguan pemahaman dalam penerimaan bahasa. Anak dapat mendengar kata-kata yang diucapkan, tetapi tidak mengerti apa yang didengar karena menglami gangguan dalam memproses stimulus yang masuk. Disphasia ekspresi anak tidak mengalami gangguan pemahaman bahasa, tetapi ia sulit mengekspresikan kata secara verbal. Anak dengan gangguan perkembangan bahasa akan berdampak pada kemampuan membaca dan menulis

INTERVENSI PENANGANAN PENDIDIKAN PADA KESULITAN BEAJAR Model intervensi yang dirancang adalah Program Pendidikan Individual Individal Education Program/IEP) yang terintegrasi dalam kegiatan belajar siswa. Abdurrahman, M (1999) menyatakan bahwa intervensi kesulitan belajar harus menggunakan prinsip Program Pendidikan Individual (Individual Education Program/IEP). Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa tiap anak berkesulitan belajar memiliki status program yang diindividualkan untuk mempertemukan kebutuhan-kebutuhan khas yang dimiliki mereka. Artinya model ini adalah suatu cara atau metode yang dirancang sesuai kebutuhan individu dengan karakterisktik LD tertentu. Metode IEP terinterasi dengan kegiatan belajar, memuat serangkaian strategi yang difasilitasi oleh guru. Dalam penelitian ini strategi-strategi metode IEP yang digunakan merujuk pada strategi penanganan LD yang dikemukakan oleh Lerner (2003).

SLB bagian : L Jenis kelainan : LAMBAT BELAJAR

IDENTIFIKASI LAMBAT BELAJAR Lambat belajar (slow learner) adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit dibawah normal tapi belum termasuk tunagrahita. Anak lamban belajar memiliki IQ sekitar 70-90 dan biasanya mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan adaptasi sosial, tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan anak tunagrahita. Anak lamban belajar membutuhkan waktu yang lebih lama dan berulang-ulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademin maupun non akademik, dan karenanya memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Karakteristis Anak Yang Lamban Belajar 1. Rata-rata prestasi belajarnya kurang dari 6, 2. Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman-teman seusianya, 3. Daya tangkap terhadap pelajaran lambat, 4. Pernah tidak naik kelas

INTERVENSI PENANGANAN PENDIDIKAN PADA LAMBAT BELAJAR 1. Bimbingan bagi anak dengan masalah konsentrasi Memperlambat laju presentasi materi, menggunakan perangkat visul seperti membuat bagan/skema garis, Adakan pertemuan dengan siswa, Bimbing siswa lebih dekat ke proses pengajaran, Berikan dorongan secara langsung dan berulang-ulang, jaga kontak mata ketika pembelajaran, mengutamakan ketekunan dari pada kecepatan dalam menyelesaikan tugas. 2. Bimbingan bagi anak dengan masalah daya ingat Mengajarkan menggunakan highlighting atau menggaris bawahi dengan penanda, untuk membantu memancing ingatan, Perbolehkan menggunakan alat bantu memori (memory aid), Biarkan siswa yang mengalami masalah sulit mengingat untuk mengambil tahapan yang lebih kecil dalam pengajaran, mengajarkan siswa untuk berlatih mengulang dan mengingat.

3. Bimbingan bagi anak dengan masalah kognisi
Berikan materi yang dipelajari dalam konteks “high meaning” untuk mengetahui apakah siswa memahami arti bacaan, Menunda ujian akhir dan penilaian sampai siswa menguasai sepenuhnya materi yang dipelajari, Temapatkan siswa dalam konteks pembelajaran yang “tidak pernah gagal” untuk menciptakan cipta diri (sense of self) dan tidak memiliki perasaan gagal (sense of failing). 4. Bimbingan bagi anak dengan masalah sosial dan emosional Membuat sistem perhargaan untuk memahami proses “keuntungan”, membentuk kesadaran diri dan orang lain agar membantu siswa lambat belajar mengenal sikap dan mengembangkan emosi dan sisi social, mengajarkan sikap posisitf, beri pemahaman bahwa selalu meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan atau ketidakmampuan.

SLB bagian : M Jenis kelainan : AUTIS IDENTIFIKASI AUTIS Autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks, biasanya muncul pada usia 1-3 tahun (childhood autism) dan beberapa diluar usia 1-3 tahun (Sindrom Asperger, Gangguan Disintegrasi, Sindrom Rett dan Gangguan Perkembangan Pervasif YTT /PDD-NOS). Tanda-tanda autisme biasanya muncul pada tahun pertama dan selalu sebelum anak berusia 3 tahun (childhood autism), seperti: 1. Komunikasi : kualitas komunikasinya yang tidak normal, seperti ditunjukkan dibawah ini :  Perkembangan bicaranya terlambat, atau samasekali tidak berkembang.  Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak atau mimik muka untuk mengatasi kekurangan dalam kemampuan bicara.  Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau memelihara suatu pembicaraan dua arah yang baik.  Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau stereotipik.  Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif, biasanya permainannya kurang variatif. 2. Interaksi sosial : adanya gangguan dalam kualitas interaksi social :  Kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan ekspresi fasial, maupun postur dan gerak tubuh, untuk berinteraksi secara layak.  Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya, dimana mereka bisa berbagi emosi, aktivitas, dan interes bersama.  Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca emosi orang lain.  Ketidak mampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama. 3. Perilaku : aktivitas, perilaku dan interesnya sangat terbatas, diulang-ulang dan stereotipik seperti dibawah ini :  Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola perilaku yang tidak normal, misalnya duduk dipojok sambil menghamburkan pasir seperti air hujan, yang bisa dilakukannya berjam-jam.  Adanya suatu kelekatan pada suatu rutin atau ritual yang tidak berguna, misalnya kalau mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki dikeset, baru naik ketempat tidur. Bila ada satu diatas yang terlewat atau terbalik urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan nangis teriak-teriak minta diulang.  Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-ulang, seperti misalnya mengepak-ngepak lengan, menggerak-gerakan jari dengan cara tertentu dan mengetok-ngetokkan sesuatu.  Adanya preokupasi dengan bagian benda/mainan tertentu yang tak berguna, seperti roda sepeda yang diputar-putar, benda dengan bentuk dan rabaan tertentu yang terus diraba-rabanya, suarasuara tertentu. Anak-anak ini sering juga menunjukkan emosi yang tak wajar, temper tantrum (ngamuk tak terkendali), tertawa dan menangis tanpa sebab, ada juga rasa takut yang tak wajar, sering pula menunjukkan gangguan sensoris, seperti adanya kebutuhan untuk mencium-cium/menggigit-gigit benda, tak suka kalau dipeluk atau dielus. INTERVENSI PENANGANAN PENDIDIKAN PADA AUTIS o Mengembangkan kemampuan eksplorasi. o Executive intensive dalam arti memberikan kesempatan untuk mengikuti program intensif bidang tertentu yang diminati sampai mendalam dalam waktu tertentu. o Acceleration, percepatan/ maju berkelanjutan dalam mengikuti program yang sesuai dengan kemampuannya, dan jangan dibatasi oleh jumlah waktu, atau tingkatan kelas. o Independent study, biarkan anak untuk belajar dan menjelajahi sendiri bidang yang diminati. o Mentorship, padukan antara yang diminati anak gifted dan talented dengan para ahli yang ada di masyarakat.

SLB bagian : N Jenis kelainan : NARKOBA

IDENTIFIKASI KORBAN NARKOBA Perubahan Fisik dan Lingkungan Sehari-hari - Jalan sempoyongan, bicara pelo, tampak terkantuk-kantuk - Kamar tidak mau diperiksa atau selalu terkunci - Sering menerima telepon atau tamu yang tidak dikenal - Ditemukan obat-obatan, kertas timah, jarum suntik, korek api di kamar / di dalam tas - Terdapat tanda-tanda bekas suntikan atau sayatan dibagian tubuh - Sering kehilangan uang/barang di rumah - Mengabaikan kebersihan diri Perubahan Perilaku Sosial - Menghindari kontak mata langsung - Berbohong atau manipulasi keadaan - Kurang disiplin - Bengong atau linglung - Suka membolos - Mengabaikan kegiatan ibadah - Menarik diri dari aktivitas bersama keluarga - Sering menyendiri atau bersembunyi di kamar mandi, di gudang atau tempat-tempat tertutup Perubahan psikologis - Malas belajar dan sulit berkonsenrasi - Mudah tersinggung DAMPAK PSIKOLOGIS & SOSIAL LAIN SECARA UMUM - Emosi yang tidak terkendali - Kecenderungan berbohong - Tidak memiliki tanggung jawab - Hubungan dengan keluarga, guru dan teman serta lingkungannya terganggu - Cenderung menghindari kontak komunikasi dengan orang lain - Merasa dikucilkan atau menarik diri dari lingkungan - Tidak peduli dengan nilai atau norma yang ada - Cenderung melakukan tindak pidana kekerasan

INTERVENSI PENANGANAN PENDIDIKAN PADA KORBAN NARKOBA Tahap awal yang harus dilakukan adalah Detoxifikasi, Pengobatan gangguan organobiologis, Habilitasi mental-emosional yang dilanjutkan untuk pembinaan sosial dan kepribadian dengan tingkatan: 1. Siswa korban narkoba dapat bersekolah seperti biasa dengan komunikasi efektif bersama orangtua. 2. Siswa korban tetap bersekolah dengan upaya rehabilitasi dan komunikasi orang tua. 3. Siswa korban narkoba cuti dari sekolah dengan binaan pusat rehabilitasi dengan mengikuti ujian disekolah artinya korban di izinkan oleh sekolah untuk berobat secara intensif di pusat,kemudian hadir disekolah pada saat menempuh ulangan umum untuk kenaikan kelas atau ujian akhir. 4. Siswa terpaksa dikeluarkan oleh sekolah karena oleh sekolah karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan lagi. Tahap keempat ini hanya dilakukan bagi siswa korban narkoba yang tergolong berat, siswa kembali ke orang tua atau dikeluarkan dari sekolah untuk selanjutnya mengikuti rehabilitasi hingga relatife sembuh, kemudian siswa mengikuti ujian persamaan ditiap tingkat sekolah.

SLB bagian : O Jenis kelainan : INDIGO

IDENTIFIKASI INDIGO Mempunyai kesadaran diri yang tinggi, terhubung dengan sumber (Tuhan), tidak nyaman dengan disiplin dan cara yang otoriter tanpa alasan yang jelas, menolak mengikuti aturan atu petunjuk, tidak sabar dan tidak suka bila harus menunggu, frustasi dengan sistem yang sifatnya ritual dan tidak kreatif, mereka punya cara yang lebih baik dalam menyelesaikan masalah, sebgaian besar adalah orang yang menimbulkan rasa tidak nyaman, tidak bisa menerima hukuman yang tanpa adanya alasan yang jelas, mudah bosan dengan tugas yang diberikan, kreatif, mudah teralihkan perhatiannya; mampu mengerjakan bayak hal bersamaan, menunjukkan intuisi yang kuat, punya empati yang kuat terhadap sesama atau tidak punya empati sama sekali , sangat berbakat dan pintar (CIBI), saat kecil sering di identifikasi ADHD (susah berkonsentrasi), mempunyai visi dan cita-cita yang kuat, pandangan mata mereka terlihat bijaksana dan mendalam, mempunyai kesadaran spiritual atau mempunyai kemampuan psikis, berada didunia untuk merubah dunia untuk membantu hidup harmonis. Macam-macam indigo: - Indigo humanis Anak yang akan bekerja dengan orang banyak seperti dokter, pengacara, guru, ahli pemasaran dimasa depan bergaul secara luas sangat aktif sering tertentu karena tidak punya rem. - Indigo artis Indigo yang sangat sensitif, perawakankecil berminat pada seni. Meski menjadi dokter mereka akhirnya menjadi ahli bedah atau peneliti. Pada umur 5-10 tahun mereka telah menguasai 15 jenis seni yang berbeda. Jika tertarik ke musik mereka bisa menguasai lebih 4 jenis alat musik. - Indigo interdimensional Indigo yang paling sakti. Pada umur 2 tahun mereka sudah bisa diajak bicara banyak hal. Pada umur itu mereka sudah bisa bilang “saya sudah tahu hal itu” atau “saya bisa atasi hal itu”,”biarkan saya sendiri” - Indigo konseptual Lebih banyak menggarap proyek dibanding orang lain. Mereka adalah arsitek, ahli mesin, perancang,astronot di masa mendatang. Fisik mereka terlihat sangat atletis dan punya kemampuan mengendalikan orang, biasanya sasaran adalah ibunya.

INTERVENSI PENANGANAN PENDIDIKAN PADA INDIGO o Mengembangkan kemampuan eksplorasi. o Executive intensive dalam arti memberikan kesempatan untuk mengikuti program intensif bidang tertentu yang diminati sampai mendalam dalam waktu tertentu. o Acceleration, percepatan/ maju berkelanjutan dalam mengikuti program yang sesuai dengan kemampuannya, dan jangan dibatasi oleh jumlah waktu, atau tingkatan kelas. o Independent study, biarkan anak untuk belajar dan menjelajahi sendiri bidang yang diminati. o Mentorship, padukan antara yang diminati anak dengan para ahli yang ada di masyarakat.

Sumber:

- Faculty of Psychology and Socio-Cultural Sciences – UII http://fpscs.uii.ac.id - Pembelajaran adaptif Drs. Irham Hosni http://www.ditplb.or.id/profile.php?id=63 - www.its.ac.id

- http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus - Fiki http://ayopeduli.110mb.com/abouthem.htm#g - SLB Kartini Batam http://www.slbk-batam.org/ - Identifikasi dan Model Intervensi Gangguan Kesulitan Belajar Oleh Nur Ainy Fardana Nawangsari dan Veronika
Suprapti - Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

- http://www.autis.info - http://narkobatik.blogspot.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->