P. 1
HIPERTENSI

HIPERTENSI

|Views: 245|Likes:
Published by NoNO

More info:

Published by: NoNO on Sep 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Keberadaan masalah kesehatan akan berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan dunia. Transisi kesehatan yang terjadi berkaitan erat dengan transisi demografi. Keberhasilan keluarga berencana telah merubah pola fertilitas dan pola demografi, lebih lanjut transisi kesehatan ditandai dengan timbulnya transisi epidemiologi yaitu terjadinya penyakit kronik tidak menular / penyakit degeneratif. Pola perubahan struktur masyarakat agraris ke masyarakat industri banyak memberi andil terhadap fertilitas, gaya hidup, sosial ekonomi, yang pada gilirannya dapat memacu semakin meningkatnya penyakit tidak menular. Kelompok penyakit kardiovaskuler yang paling banyak menarik perhatian dewasa ini adalah penyakit jantung koroner dan hipertensi. Hipertensi merupakan penyebab utama kematian dan gangguan kardiovaskuler, sehingga hipertensi sering disebut “Silent Killer”, karena menimbulkan komplikasi pada jantumg, otak, dan ginjal, namun sayangnya sekitar 50% penderita hipertensi tidak menyadari adanya hipertensi tersebut. Sampai saat ini belum ada definisi yang tepat mengenai hipertensi oleh karena itu ada batasan jelas yang membedakan antara hipertensi dan normal, yang telah dibuktikan adalah bahwa peningkatan tekanan darah akan menaikkan mortalitas dan morbiditas tetapi dalam perkembangan selanjutnya WHO (Word Health Organization) tahun 1999 memberikan batasan bahwa tekanan darah yang masih dianggap normal adalah 140/90 mmHg dan tekanan darah sama atau diatas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi, bila dihubungkan dengan perbedaan usia dikatakan hipertensi bila tekanan darah diatas atau sama 130/90 mmHg pada golongan usia 45 tahun. Pada penyelidikan prospektif terdapat bukti nyata bahwa komplikasi yang timbul selama tindakan anestesia dan pembedahan jauh lebih sedikit pada penderita hipertensi yang diberi pengobatan anti hipertensi terlebih dulu dari pada yang tidak. Hal ini memaksa kita untuk melakukan evaluasi praanestesia lebih teliti, untuk menilai sejauh mana pengaruh hipertensi terhadap organ-organ target seperti jantung, otak, ginjal, mata, dan lain-lain.

1

Banyak penderita hipertensi diperkirakan sebesar 15 juta bangsa Indonesia tetapi dengan hanya 4% yang controlled hypertension. Hipertensi terkontrol berarti mereka yang menderita hipertensi dan tahu bahwa mereka menderita hipertensi dan sedang berobat untuk itu. Di Amerika data statistik pada tahun 1980 menunjukkan bahwa sekitar 20% penduduk menderita hipertensi. Di Indonesia belum ada penelitian nasional yang menyeluruh, namun diperkirakan angka statistik di Indonesia tidak berbeda jauh dengan Amerika. Bila ditinjau perbandingan antara perempuan dan laki-laki, ternyata perempuan lebih banyak menderita hipertensi, misalnya penelitian yang dilakukan oleh sugiri (1997) di jawa tengah di dapatkan angka prevalensi 6,0% laki-laki dan 11,6% untuk perempuan.

2

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Hipertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang akan berlanjut untuk suatu target organ seperti stroke (untuk otak), penyakit jantung koroner (untuk pembulu darah jantung), dan left venticle Hypertropy (untuk otot jantung). Dengan target organ di otak yang berupa stroke, hipertensi adalah penyebab utama stroke yang membawa kematian tinggi. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas). Pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka misalnya 120/70 mmHg. Nilai 120 mmHg menunjukkan tekanan darah tertinggi saat jantung memompa, sedangkan nilai 70 menunjukkan tekanan darah terendah saat jantung selesai memompa. Tekanan darah digolongkan normal jika tekanan darah sistolik tidak melampaui 140 mmHg dan tekanan darah diastolik tidak melampaui 90 mmHg dalam keadaan istirahat. Tekanan darah dipengaruhi oleh kegiatan harian, waktu tidur malam hari tekanan darah berada dalam kondisi paling rendah dan dapat mencapai 80-90 mmHg sistolik dan 40-60 mmHg diastolik.

B. Penyebab Hipertensi Penyebab hipertensi masih tetap merupakan suatu misteri, tetapi kemungkinan akibat dari kelainan ginjal, sebagai akibat infeksi dan lama, dapat menyebabkan naiknya tekanan darah, dengan mempengaruhi kontrol normal dari sistem syaraf, dan juga melalui pengaruh hormonal yang di produksi oleh ginjal.

3

C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Risiko Hipertensi 1) Jenis Kelamin Jenis kelamin dalam hubungannya dengan sifat keterpaparan dalam tingkat kerentangan perenan sendiri dan harus selalu diperhitungkan pada peristiwa penyakit tertentu. Bia dijumpai pada perbedaan atas penyakit menurut jenis kelamin apakah karena faktor kebiasaan hidup saja. Pria pada umumnya lebih mudah terserang hipertensi dibandingkan dengan wanita. Hal itu mungkin disebabkan kaum pria lebih banyak mempunyai faktor yang mendorong terjadinya hipertensi seperti stress, kelelahan, makan tidak terkontrol, dan lain-lain. Sementara risiko wanita akan mengalami kenaikan setelah mengalami masa menopause (45 tahun).

2) Obesitas Obesitas adalah keadaan dimana terjadi penumpukan lemak didalam tubuh, sehingga Body Mass Indeks atau Indeks Masa Tubuh (IMT) ≥ 25 kg/m² dan dapat diapresiasikan dengan perbandingan berat badan serta tinggi badan yang berlebihan, dimana rumus yang digunakan yaitu IMT = BB/(TB)². Seseorang dikatakan obesitas bila nilai IMT ≥ 25,0 kg/m². Orang gemuk lebih sering menderita hipertensi dari pada orang normal. Bagaimana kegemukan menimbulkan hipertensi belum jelas benar. Ada bermacam teori yang berusaha menjelaskannya, tapi penurunan berat badan jelas menurunkan tekanan darah, penurunan ini tentunya dilakukan dengan mengurangi masukan makanan / kalori, dan olahraga (mengluarkan energi/kalori). Sebaiknya tidak memakai obat-obatan, karena obat yang dapat membuat kurus badan pada umumnya adalah obat perangsang yang akan menaikkan tekanan darah. Penyebab obesitas ada yang bersifat exofagus, yaitu konsumsi energi yang berlebihan dan penyebab endogenous yang berarti adanya gangguan metabolik didalam tubuh, misalnya adanya tumor pada hipotalamus sehingga penderita mengalami hiperphagia atau nafsu makan berlebihan. Obesitas diduga ikut menjadi penyebeb hipertensi, jantung koroner, diabetes melitus, dan penyakit pernafasan. Selain itu penderita obesitas sering mengalami gangguan emosional.
4

3) Hiperkolestrol Tekanan darah yang meninggi antara lain akibat adanya penyempitan pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah erat kaitannya dengan kebiasaan makan enak. Makanan enak berkalori tinggi, umumnya juga mengandung kadar kolesterol yang tinggi pula. Kadar lemak yang tinggi di dalam menu sehari-hari akan berakibat meningkatkan tekanan darah. Kita dianjurkan untuk mengkonsumsi lemak kurang dari 30% total kalori. Tetapi lebih penting dari itu ialah kita harus membatasi lemak jenuh yang banyak terkandung dalam minyak kelapa. Apabila ada pilihan sebaiknya gunakan minyak jagung atau minyak sayur yang kandungan lemak jenuhnya lebih rendah, selain itu dianjurkan untuk mengurangi konsumsi makanan yang kaya akan kandungan asam lemak jenuh dan kolesterol tinggi, serta memperbanyak konsumsi sayuran, ikan, polong-polongan dan kacang-kacangan sebagai sumber asam lemak tak jenuh. Membatasi konsumsi lemak dilakukan agar kadar kolesterol darah tidak terlalu tinggi. Kadar kolesterol darah yang tinggi dapat mengakibatkan terjadinya endapan kolesterol didalam dinding pembuluh darah. Lama-kelamaan, jika endapan kolesterol bertambah akan menyumbat pembuluh nadi dan mengganggu peredaran darah. Dengan demikian, akan memperberat kerja jantung dan secara tidak langsung memperparah hipertensi.

4) Gangguan Ginjal Gangguan ginjal adalah terjadinya penurunan fungsi ginjal dalam membersihkan darah dari bahaya-bahaya racun yang menyebabkan penimbunan limbah metabolik didalam darah. Fungsi utama ginjal ialah mengatur keseimbangan cairan tubuh dan takanan darah, memproses sekitar 200 liter darah setiap hari, dan membuang zat-zat yang sudah tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh dalam bentuk urine. Selain itu fungsi lain dari ginjal ialah membersihkan obat-obatan dan toksin dalam tubuh, mengeluarkan hormon, dan menguatkan tulang-tulang badan.

5

Gangguan pada ginjal dapat berupa Gangguan Ginjal Akut (GGA) maupun Gangguan Ginjal Kronik (GGK). Pada GGA terjadi penurunan fungsi ginjal secara cepat, sebaliknya penurunan ginjal secara perlahan atau bertahap disebut GGK. Gangguan fungsi ginjal baru terlihat secara nyata setelah lebih dari setengah bagian ginjal mengalami kerusakan. Adanya gangguan fungsi ginjal dapat menyebabkan gangguan keseimbangan air dan elektrolit, yang akibatnya dapat menimbulkan

gangguan pada pengaturan tekanan darah jangka panjang. Hipertensi berkaitan erat dengan ginjal. Ginjal berperan pada pengaturan tekanan darah dan salah satu komplikasi hipertensi adalah terjadinya gangguan pada ginjal. Adanya hipertensi dapat menyebabkan pembuluh darah pada ginjal mengkerut, sehingga aliran nutrisi ke ginjal terganggu dan akibatnya sel-sel pada ginjal akan rusak. Pada akhirnya akan terjadi gangguan fungsi ginjal, sebaliknya adanya kelainan tertentu pada ginjal dapat menyebabkan hipertensi, misalnya penyempitan pembuluh arteri di ginjal. Gejala-gejala yang sering muncul pada penderita ginjal : a. b. c. d. e. f. g. Tidak bisa bersemangat dan selalu merasa lelah. Perhatian menurun, nafsu makan berkurang, gangguan tidur. Kejang atau kram pada malam hari. Bengkak pada bagian kaki dan tumit. Sekitar mata bengkak, khusus pada pagi hari. Kulit kering dan sering merasa gatal-gatal. Banyak buang air kecil, khususnya pada malam hari.

5) Riwayat Keluarga Manusia adalah makhluk yang sangat unik. Mereka berbeda satu sama lain dalam ciri normal fisik, fisiologis dan mentalnya. Mereka juga berbeda dalam kemungkinan menderita penyakit-penyakit tertentu atau abnormalitas lain. Keanekaragaman ini sebagian disebabkan karena perbedaan kondisi lingkungan tempat mereka hidup, tetapi keanekaragaman ini tergantung juga pada perbedaan bawaan. Memang kecuali kembar satu telur, sangat boleh jadi tidak ada dua individu yang memiliki susunan genetis yang serupa.
6

Pada umumnya disepakati bahwa gen sebetulnya adalah bagian-bagian dari molekul deoxyribonucleic acid, atau DNA. DNA adalah molekul yang kompleks dengan bentuk yang tidak biasa, lebih menyerupai dua utas tali yang saling membelit. Cara molekul-molekul yang lebih kecil tersusun dalam molekul raksasa, ini sebenarnya merupakan sebuah kode yang mengandung intruksi untuk mengarahkan sintesis protein, pada tingkat inilah terjadi pertumbuhan sifat-sifat tertentu. Kode ini misalnya mengarahkan pembentukan protein yang memberi warna iris mata dan dengan demikian menentukan warna mata, kode itu juga mengarahkan pembentukan molekul hemoglobin sel dalam darah merah. Hipertensi diketahui bersifat poligenik dan multifaktorial dan berhubungan dengan riwayat keluarga yang hipertensi. Diketahui bahwa faktor hereditas merupakan salah satu unsur yang penting dalam redisposisi hipertensi, dimana ayah mempunyai konstribusi genetik lebih kuat dibanding ibu.

D. Klasifikasi Hipertensi Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah dari pada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik dimana akan lebih tinggi saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda, paling tinggi waktu pagi dan paling rendah pada saat tidur di malam hari.

E. Gejala Hipertensi Peningkatan tekanan darah seringkali merupakan satu-satunya gejala hipertensi esensial atau primer. Kadang-kadang hipertensi esensial berjalan tanpa gejala dan baru timbul gejala setelah terjadi komplikasi pada organ sasaran seperti pada ginjal, mata, otak, dan jantung. Gejala-gejala seperti sakit kepala, mimisan, pusing atau migren sering ditemukan sebagai gejala klinis hipertensi esensial. Pada survey hipertensi di Indonesia tercatat gejala - gejala sebagai berikut : 1) Pusing 2) Mudah marah
7

3) Telinga berdengung 4) Mimisan (jarang) 5) Sukar tidur 6) Sesak nafas 7) Rasa berat di tungkuk 8) Mudah lelah 9) Mata berkunang-kunang

Gejala akibat komplikasi hipertensi dapat dijumpai sebagai berikut : 1) Gangguan penglihatan 2) Gangguan saraf 3) Gangguan jantung 4) Gangguan fungsi ginjal 5) Gangguan serebral (otak) mengakibatkan kejang dan pendarahan pembuluh darah otak yang dapat menyebabkan terjadinya kelumpuhan, gangguan kesadaran hingga koma.

F. Diagnosis Diagnosis hipertensi didasarkan pada peningkatan tekanan darah yang terjadi pada pengukuran berulang. Diagnosis digunakan sebagai prediksi terhadap konsekuensi yang dihadapi pasien, jarang meliputi pernyataan tentang sebab-sebab hipertensi.

G. Pengobatan Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu : 1) Pengobatan non obat (non farmakologis) diantaranya adalah : a. Mengatasi obesitas / menunjukkan kelebihan berat badan b. Mengurangi asupan garam kedalam tubuh c. Ciptakan keadaan rileks d. Melakukan olahraga seperti senam aerobik atau jalan cepat e. Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol

8

2) Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis) diantaranya adalah : a. Diuretik, pelancar kencing sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan. b. Alfa – bloker c. Beta – bloker d. Antagonis kalsium e. Obat anti hipertensi sentral (simpatokolitika) f. Vasodilator g. Penghambat ACE

H. Pencegahan Sesuai dengan prinsip pencegahan penyakit secara umum, maka tingkat pencegahan secara umum selanjutnya akan diuraikan sebagai berikut : 1) Pencegahan Primary Ditujukkan untuk pencegahan hipertensi pada individu yang mempunyai resiko besar untuk terjadinya hipertensi dikemudian hari, maka sebagai usaha yang dilakukan pada tingkat primer adalah menerapkan perilaku hidup sehat. Pencegahan primary meliputi : a. Primodial Pencegahan primodial pada penderita hipertensi dilakukan dengan cara mengubah kebiasaan-kebiasaan atau perlaku-perilaku hidup agar tidak

mempunyai gaya hidup yang dapat meningkatkan resiko terkena hipertensi. b. Promosi Pencegahan promosi dapat dilakukan dengan cara memberikan penyuluhanpenyuluhan kepada masyarakat atau membuat iklan-iklan tentang bahaya hipertensi serta cara-cara pencegahannya. c. Preventif Pencegahan ini dapat dilakukan dengan melakukan gaya hidup yang sehat dan menghindari kebiasaan-kebiasaan yang dapat menyebabkan hipertensi serta membiasakan diri untuk berolahraga.

9

2) Pencegahan Sekundary Dilakukan terhadap individu yang telah diketahui menderita hipertensi. Dilakukan secara menyeluruh terhadap penderita hipertensi baik dengan obat-obatan maupun tindakan-tindakan seperti yang dilakukan pada pencegahan sekunder ini timbul, dengan cara mengendalikan tekanan darah agar tetap terkontrol dan stabil.

3) Pencegahan Tertiary Pencegahan tersier pada tahap rehabilitasi yaitu suatu usaha untuk

mengembalikan fungsi organ yang rusak akibat hipertensi. Demikian diharapkan agar tubuh yang terkena komplikasi tersebut diusahakan semaksimal sehingga ketergantungan akibat hipertensi dapat dikurangi. Adapun upaya pencegahan lain yang muda dimengerti dan dilaksanakan antara lain : a. b. c. d. e. f. g. h. Mengurangi konsumsi garam Menghindari kegemukan (obesitas) Membatasi konsumsi lemak Olahraga teratur Makan banyak buah da sayuran segar Tidak merokok dan tidak minum alkohol Latihan relaksasi Berusaha membina hidup yang positif

10

BAB III PENUTUP
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas). Faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko hipertensi yaitu jenis kelamin, obesitas, hipertensi, gangguan ginjal dan riwayat keluarga penderita. Pencegahan hipertensi dapat dilakukan melalui tiga tahap yaitu pencegahan primary, pencegahan sekundary dan pencegahan tertiary. Pengobatannya dapat dilakukan dengan non farmakologi dan farmokologi.

11

DAFTAR PUSTAKA
Bustan, MN. 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Rineka Cipta. Jakarta. Kusmana, Dede, 1997, Pentingnya Olahraga Tehadap Kesehatan. FKUI : Jakarta. Gunawan, Lany, Hipertensi / Tekanan Darah Tinggi. KANISIUS : UGM, Gadjah Mada Univercity Press, Edisi Ketiga, Yogyakarta. Yundini, Faktor Risiko Terjadi Hipertensi, http://www.mail-

archive.com/sukasukamu@yahoogroups.com/msg.html Williams, Pengobatan Hipertensi, http://id.novartis.com/obat-tensi.html

12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->