KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 441/KPTS/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG MENTERI PEKERJAAN

UMUM,

Menimbang

:

a.

bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah di bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah, urusan penyelenggaraan bangunan gedung telah diserahkan kepada Daerah baik Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II; bahwa perkembangan penyelenggaraan bangunan gedung dewasa ini semakin kompleks sehingga perlu adanya pengaturan mengenai ketentuan teknis yang menyangkut peruntukan dan intensitas bangunan, arsitektur dan lingkungan, serta keandalan bangunan yang menjadi persyaratan pokok suatu bangunan gedung; bahwa sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987, kepada Menteri Pekerjaan Umum diberi wewenang untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah; bahwa sehubungan dengan pertimbangan pertimbangan tersebut diatas perlu mengatur persyaratan teknis bangunan gedung, dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah; Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun; Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Parumahan dan Permukiman; Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang; Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah; Keputusan Presiden Rl Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen; Keputusan Presiden Rl Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Keputusan Rl Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen Sebagaimana Telah Tiga Puluh Kali Diubah Terakhir Dengan Keputusan Rl Nomor 23 Tahun 1994 Keputusan Presiden Rl Nomor 122/M Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan;

b.

c.

d.

Mengingat

:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

9.

Keputusan Menteri PU Nomor 211/KPTS/1994 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum.
MEMUTUSKAN :

Menetapkan

:

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG. BAB I KETENTUAN UMUM

TENTANG

Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada, diatas, atau di dalam tanah dan atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tampat manusia melakukan kegiatannya. 2. Penyelenggaraan bangunan gedung adalah proses kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan gedung 3. Daerah adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. 4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kotamadya Daerah T'ngkat II. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 (1) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung dimaksudkan untuk mewujudkan bangunan gedung yang berkualitas sesuai dengan fungsinya. (2) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung bertujuan terselenggaranya fungsi bangunan gedung yang aman, sehat, nyaman, efisien, seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya

BAB II PENGATURAN PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG

Bagian Pertama Persyaratan Teknis Pasal 3 (1) Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan mengenai : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. I. m. (2) Peruntukan dan Intensitas Bangunan. Arsitektur dan lingkungan. Struktur Bangunan Gedung. Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran. Sarana Jalan Masuk dan Keluar. Transportasi dalam Gedung. Pencahayaan Darurat, Tanda Arah Keluar, dan Sistem Peringatan Bahaya. Instalasi Listrik Penangkal Petir, dan Komunikasi dalam Gedung Instalasi Gas. Sanitasi dalam gedung. Ventilasi dan Pengkondisian Udara Pencahayaan. Kebisingan dan Getaran.

Rincian persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tercantum pada lampiran Keputusan Menten ini yang merupakan satu kesatuan pengaturan dalam keputusan ini Setiap orang atau badan termasuk instansi Pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung wajib memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) Pasal ini. Pasal 4

(3)

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Kedua Pengaturan Pelaksanaan di Daerah Pasal 5 (1) Untuk pedoman pelaksanaan penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah perlu dibuat Peraturan Daerah yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri ini. Dalam hal Daerah belum mempunyai Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini maka terhadap penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah

(2)

diberlakukan ketentuan-ketentuan Persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. (3) Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang persyaratan teknis bangunan gedung sebelum Keputusan Menteri ini diterbitkan harus menyesuaikannya dengan ketentuan-ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. Pasal 6 Dalam melaksanakan pembinaan pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah melakukan peningkatan kemampuan aparat Pemerintah maupun masyarakat dalam memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 untuk terwujudnya tertib pembangunan bangunan gedung. Dalam melaksanakan pengendalian pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah wajib menggunakan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 sebagai landasan dalam mengeluarkan persetujuan atau perizinan yang diperlukan. Terhadap aparat Pemerintah Daerah yang bertugas dalam pengendalian pembangunan bangunan gedung yang melakukan pelanggaran ketentuan dalam Pasal 3 dikenakan sanksi administrasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 7 (1) Penyelenggaraan bangunan gedung yang melanggar ketentuan-ketentuan Pasal 3 dan Pasal 4 Keputusan Menteri ini dikenakan sanksi administrasi yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 5. Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dikenakan sesuai dengan tingkat pelanggaran dapat berupa: a. Peringatan tertulis b. Pembatasan kegiatan c. Penghentian sementara kegiatan sampai dilakukannya pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung. d. Pencabutan izin yang telah dikeluarkan untok menyelenggarakan pembangunan bangunan gedung. (3) Selain sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), di dalam Peraturan Daerah dapat diatur mengenai pengenaan denda dan tindakan Pembongkaran atas terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung.

(1)

(2)

(3)

(2)

BAB III PEMB1NAAN DAN PENGAWASAN TEKNIS

Pasal 8 (1) Pembinaan dan Pengawasan Teknis untuk pelaksanaan ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 58/PRT/1991 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Teknis dan Pengawasan Teknis Bidang Pekerjaan Umum kepada Dinas Pekerjaan Umum. Pelaksanaan pembinaan teknis dan pengawasan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini didasarkan pada Rencana dan program yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Cipta Karya.
BAB IV KETENTUAN PERALIHAN

(2)

Pasal 9 Dengan berlakunya Keputusan Menteri inl, maka semua ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Keputusan Menteri ini masih tetap berlaku, sampai digantikan dengan yang baru.
BAB V KETENTUAN PENUTUP

Pasal 10 (1) (2) Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk diketahui dan dilaksanakan.
DITETAPKAN Dl PADA TANGGAL : JAKARTA : 10 NOPEMBER 1998

MENTERI PEKERJAAN UMUM

RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 441/KPTS/1998 TANGGAL 10 NOPEMBER 1998

DAFTAR ISI
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. 1 I.2 PENGERTIAN 1. Umum 2. Teknis MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud 2. Tujuan

BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II.1 PERUNTUKAN, FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Peruntukan Lokasi 2. Fungsi Bangunan 3. Klasifikasi Bangunan INTENSITAS BANGUNAN 1. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan 2. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB 3. Perhitungan KDB dan KLB GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Garis Sempadan (muka) Bangunan 2. Garis Sempadan Samping dan Belakang Bangunan 3. Pemisah di Sepanjang Halaman Depan, Samping, dan Belakang Bangunan

II.2

II.3

BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III.1 ARSITEK BANGUNAN 1. Tata Letak Bangunan 2. Bentuk Bangunan 3. Tata Ruang Dalam 4. Kelengkapan Bangunan RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. Fungsi dan Persyaratan Ruang Tebuka Hijau Pekarangan 2. Ruang Sempadan Bangunan 3. Tapak Basement 4. Hijau Pada Bangunan 5. Tata Tanaman SIRKULASI, PERTANDAAN, DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 2. Pertandaan (Signage) 3. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan

III.2

III.3

Keselamatan Struktur 2.2 .2 IV.4 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 1. Ketahanan Api dan Stabilitas 2. Tipe Konstruksi Tahan Api 3. Kontruksi Bangunan 2.III. Kriteria Demolisi 2.4 IV. Ketentuan UPL dan UKL 4. Pengendalian Asap Kebakaran 4. Keruntuhan Struktur DEMOLISI STUKTUR 1. Persyaratan Bahan PEMBEBANAN STRUKTUR ATAS 1. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi STRUKTUR BAWAH 1.6 BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Pondasi Bawah KEANDALAN STRUKTUR 1. Sistem Pemadam Kebakaran 2. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 5. Persyaratan Struktur 2. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 3. Prosedur dan Metoda IV.3 IV. Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 3. Dampak Penting 2. Kompartemensasi dan Pemisahan 5. Pusat Pengendali Kebakaran V.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. Proteksi Bukaan SISTEM PROTEKSI AKTIF 1.5 IV.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 5. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 4. Kontruksi Kayu 4. Pondasi Langsung 2. Kontruksi Baja 3.

Pegangan Rambat pada Tangga 18. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 22.2 VI.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 3.BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 5. Tangga. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 12. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 8. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 9.4 . Pintu Keluar Horisontal 12. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 10. Jumlah Orang Yang Ditampung KONTRUKSI JALAN KELUAR 1. Kebutuhan Jalan Keluar 3. Tangga Luar Bangunan 9. Injakan dan Tanjakan Tangga 14. Pengoperasian Gerendel Pintu 21. Rambu pada Pintu AKSES BAGI PENYANDANG CACAT VI. Pintu Ayun 20. Pintu 19. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 7. Bordes 15. Persyaratan Keamanan 2. Atap sebagai Ruang Terbuka 13. Lobby Bebas Asap 7. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 5. Lebar Tangga 10. Balustrade 17. Ambang Pintu 16. Ramp Pejalan Kaki 11. Pesyaratan Kinerja KETENTUAN JALAN KELUAR 1. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan 13. Fungsi 2. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 6.3 VI. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 8. Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift 14. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 6. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Penerapan 2. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar 11.

1 INSTALANSI LISTRIK 1.3 1SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT TANDA ARAH KELUAR SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 8. Pemeliharaan INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1. Instalansi Tata Suara IX. Jaringan Distribusi Listrik 3.BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Transformator Distribusi 6.1 LIF 1.2 VIII. Pemeliharaan INSTALANSI PENANGKAL PETIR 1. Kapasitas Lif 2. Pemeriksaan. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Lif Kebakaran 3. Instalansi Telepon 3. Beban Listrik 4. Instalansi Penangkal Petir 3.2 BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. Saf Lif 7. Pemeriksaan dan Pengujian 4. Sangkar Lif 6.3 . PENANGKAL PETIR.1 VIII. Instalasi Listrik 9. TANDA ARAH KELUAR. Pengujian dan Pemeliharaan TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN VII. Perencanaan Instalansi Listrik 2. Pemerikasaan dan Pengujian 7. Perencanaan Penangkal Petir 2. Sumber Daya Listrik 5. SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 2. Lif untuk Rumah Sakit 5. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 4.2 IX.

Jaringan Distribusi Gas Kota 3. 1 SISTEM PLAMBING 1. Kebutuhan Ventilasi 2. Jenis Gas 2. Pewadahan 3. BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII.1 XIII. Pemeriksaan dan Pengujian INSTALANSI GAS MEDIK 1. Konservaasi Energi 3. Sistem Pembuangan Air Kotor 4. Perencanaan Sistem Plumbing 2.2 XIII. Jenis Gas 2.1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 1. Ventilasi Buatan PENGKONDISIAN UDARA 1.BAGIAN X INSTALANSI GAS X.1 VENTILASI 1.2 BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII. Pemeriksaan dan Pengujian X. Penempatan pada Bangunan 2. Kebutuhan Pengkondisian Udara 2. Alat Plambing 5. Sistem Penyediaan Air Bersih 3. Sampah Berbahaya XI. Tangki Penyediaan Air Bersih 6.3 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN PENCAHAYAAN BUATAN PENCAHAYAAN ALAMI . Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan XII.2 BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI. Jaringan Distribusi Gas Medik 3. Ventilasi Alami 3. Pompa Air Bersih PERSAMPAHAN 1.

XIII.2 KEBISINGAN GETARAN BAGIAN XV PENUTUP LAMPIRAN .1 XIV.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KEBISINGAN DAN GETARAN XIV.

dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. perbelanjaan. Dinas Bangunan adalah salah satu Dinas Teknis di Daerah yang diantaranya mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. lorong ramp. Pengawas/Penilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. iii. b. rekreasi. pendidikan. KETENTUAN UMUM 1. c. termasuk struktur atap kaca. di mana: i. Kepala Daerah adalah Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. Daerah adalah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingka/lantai. seperti keagamaan. b. dsb.I. PENGERTIAN 1. 2. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. ii. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. dan kegiatan lainnya. atau Gubernur untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. c. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotoran-kotoran dapur. tidak termasuk lorong tangga. d. Umum Dalam pedoman teknis ini yang dimaksud dengan: a. mengadakan pertemuan. olah raga. di atas. bersosial-budaya. d. pembinaan. kamar mandi. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. Teknis a. atau ruang dalam shaft. e. berusaha. .

Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan. c. g. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. h. Antar massa bangunan lainnya. b. e. . f. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. iii. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. a. h. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. Batas lahan yang dikuasai. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. jaringan pipa gas dan sebagainya. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. atau iv. d. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. l. k. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil. jaringan tegangan tinggi listrik. g. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. Rencana saluran. Batas tepi sungai/pantai. ii. i. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan.f. Daerah Hijau Bangunan. j.

w. v. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). s. memperbaiki. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan.w. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. q. selain kamar untuk MCK dan dapur.i. n. . Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. r. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. y. Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan yang dimaksud pada butir 2. untuk tempat kegiatan manusia. o. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. p. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. Mendirikan. ii.m. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan prasarana saluran umum perkotaan. t. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. program tata bangunan dan lingkungan. memperluas. u. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. x. Mendirikan Bangunan i. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil.

Tujuan. Maksud Persyaratan Teknis Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Indonesia. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan.2 dalam ukuran waktu satuan menit. aa. dd. yaitu meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan. I. dan insulasi. Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. ruang ganti. peralatan. atau sejenisnya.z. . arsitektur dan lingkungan. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah. Tujuan Pedoman Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. 2. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. ii. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota. ee. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. integritas. Adapun tujuan dari pengaturan per-bagian adalah: a. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung. cc. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan. bb. serta keandalan bangunan. Peruntukan dan Intensitas: i.1. Tinghat Ketahanan Api (TKA).

iii. sehingga seimbang. iii. ketentuan wujud bangunan. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. dan budaya daerah. Arsitektur dan Lingkungan: i. dan lingkungan. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. Strukfur Bangunan: i. ii. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. e. c. menjamin keselamatan pengguna. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. ii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. d. serasi dan selaras dengan lingkungannya. iv. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. masyarakat. ii. iii. b. Ketahanan terhadap Kebakaran: i. ii. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat . menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api.

h. i. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. ii. ii. ii. f. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. Transportasl dalam Gedung: i. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak. Instalasi Listrik. . menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. ii. iii. aman. Pencahayean Darurat. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat. j. g. ii. apabila terjadi keadaan darurat. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. Instalasi Gas: i. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. menjamin terwujudnya kebersihan. iii menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik.iii. iii. Sanitasi dalam Bangunan: i. Tanda arah Keluar. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. dan nyaman di dalam bangunan gedung.

menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. ii. ii. Kebisingan dan Getaran: i. ii. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.k Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. l. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. . Pencahayaan: i. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. m.

Peruntukan Lokasi a.II. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah. Apabila persetujuan yang telah diberikan terdapat ketidak sesuaian dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan kemudian. f. Bangunan gedung harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam ketentuan tata ruang dan tata bangunan dari lokasi yang bersangkutan. kaidah perencanaan kota dan penataan bangunan ii.I. peraturan bangunan setempat dan RTBL berdasarkan rencana tata ruang yang lebih makro. Kepala Daerah dapat memberikan pertimbangan atas ketentuan yang diperlukan. seperti kepadatan bangunan. maka Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan gedung dengan pertimbangan: i. iii. d. Dalam hal rencana-rencana tata ruang dan tata bangunan sebagaimana dimaksud pada butir b belum ada. e. ketinggian bangunan. Peraturan bangunan setempat dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). dan garis sempadan bangunan. Peruntukan lokasi sebagaimana dimaksud dalam butir a. PERUNTUKAN. RRTR. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. merupakan peruntukan utama. PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Kepala Daerah segera menyusun dan menetapkan RRTR. maka perlu c. g. Ketentuan tata ruang dan tata bangunan ditetapkan melalui: i. iii. sedangkan peruntukan penunjangnya sebagaimana ditetapkan di dalam ketentuan tata bangunan yang ada di Daerah setempat atau berdasarkan pertimbangan teknis Dinas Bangunan. ataupun peraturan bangunan setempat dan RTBL. dengan tetap mengadakan peninjauan seperlunya terhadap rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada di Daerah. Bagi Daerah yang belum memiliki RTRW. Setiap pihak yang memerlukan keterangan atau ketentuan tata ruang dan tata bangunan dapat memperolehnya secara terbuka melalui Dinas Bangunan. ii. Keterangan atau ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir d meliputi keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan. Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR). Persetujuan membangun tersebut berstfat sementara sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan tata ruang yang lebih makro. b. .

tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas kendaraan. atau sarana lain perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. saluran. ii. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. Bagi Daerah yang belum memilih RTRW Daerah. iii. maka bangunan tersebut harus disesuaikan dengan rencana tata ruang yang ditetapkan. ii. iii. Pembangunan bangunan gedung dibawah tanah yang melintasi sarana dan prasarana jaringan kota perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. tidak menimbulkan perubahan atau arus air yang dapat merusak lingkungan. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah dan atau diatas tanah. iv. h. tetap memperhatikan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. iii. Pembangunan bangunan gedung diatas jalan umum. Pembangunan bangunan gedung dibawah atau diatas air perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i.diadakan penyesuaian dengan resiko ditanggung oleh pemohon/pemilik bangunan. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah tanah. v. ii. iv. dan fungsi indung kawasan. j. maupun barang. tidak mengganggu keseimbangan lingkungan. . tidak untuk fungsi hunian atau tempat tinggal. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. Apabila di kemudian hari terdapat penetapan RTRW Daerah yang bersangkutan. v. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. orang. penghawaan dan pencahayaan bangunan telah memenuhi persyaratan kesehatan sesuai fungsi bangunan. iv. Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan pada daerah tersebut untuk jangka waktu sementara. memiliki sarana khusus untuk kepentingan keamanan dan keselamatan bagi pengguna bangunan. i.

v. Rumah tinggal tunggal Rumah tinggal deret Rumah tinggal susun Rumah tinggal vila Rumah tinggal asrama f.iv. . kenyamanan. keselamatan. iv. c. keamanan. ii. letak bangunan tidak boleh melebihi atau melampaui garis sudut 45° (empat puluh lima derajat) diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. fungsi usaha. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. telah mempertimbangkan faktor keamaan. Fungsi Bangunan a. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. dan sanitasi yang memadai. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. b. dan fungsi khusus. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. 2. ii. d. Pembangunan bangunan gedung pada daerah hantaran udara (transmisi tegangan tinggi perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai perikut: i. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung. keamanan. kesehatan. kesehatan dan aksesibilitas bagi pengguna bangunan. letak bangunan minimal 10 (sepuluh) meter diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. tidak menimbulkan pencemaran. kenyamanan. iv. k. perkantoran niaga. iii. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. iii. setelah mendapat pertimbangan teknis dari para ahli terkait. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. fungsi sosial dan budaya. e. v. dan sejenisnya. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan.

terminal udara. pelaksanaan. a. dan sejenisnya. ii. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. gedung tempat parkir. kelenteng. Bangunan kebudayaan : museum. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). keveling. pertokoan. Setiap bangunan gedung. v. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. bangunan reaktor. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. g. Bangunan peribadatan: mesjid. sekolah dasar. dan sejenisnya. pelabuhan laut. hostel. motel. i. Bangunan Penyimpanan: gudang. Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. mal. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. rumah bersalin. gedung kesenian. sekolah tinggi/universitas. Bangunan perdagangan: pasar. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. gereja. penginapan.ii. vi. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. iii. pura. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: . dan sejenisnya. dan sejenisnya. & C. Dalam suatu persil. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. iv. dan sejenisnya. pusat perbelanjaan. halte bus. j. industri besar/berat. dan vihara. terminal bus. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. sekolah lanjutan. dan sejenisnya. Bangunan Terminal: stasiun kereta. iv. sosial dan budaya. industri sedang. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. bioskop. Bangunan dengan fungsi umum. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. rumah sakit klas A. iii. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. Bangunan Industri : industri kecil. poliklinik. dan sejenisnya h. B. 3.

pengurusan administrasi. rumah tamu. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. villa. atau (2) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. losmen. atau panti untuk orang berumur. ruang makan. tempat cuci umum. atau usaha komersial. v. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. atau anak-anak. 7. Klas 1b : rumah asrama/kost.i. termasuk i. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. termasuk rumah deret. . diluar bangunan klas 6. rumah tamu. hostel. cacat. 6. kafe. rumah taman. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. ruang pamer. atau 9. iv. atau ii.. 7. unit town house . ruang penjualan. Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. pasar. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. b. tempat potong rambut /salon. 8. atau iv. atau iii. f. rumah asrama. Klas 3: Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. Klas 4 : Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. ii iii. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut e. atau bengkel. termasuk: i. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. c. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. bar. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. restoran. ruang makan malam. d. atau ii.

g. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. kolam renang. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. yaitu: i. termasuk: i. bangunan budaya atau sejenis. hall. atau sejenisnya. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. antena. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. Klas 9: Bangunan Umum Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. perubahan. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. m. Klas 10 : Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. h. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. perakitan. temmasuk bengkel kerja. ii. atau sejenisnya. ii. Klas 10b: struktur yang berupa pagar. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. Klas 9b: bangunan pertemuan. carport. finishing. gudang. dan: . atau ii. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. perbaikan. pengepakan. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. k. tonggak. j. tempat parkir umum. bangunan peribadatan. Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. i. Klas 8 : Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi.

meliputi ketentuan tentang Jumlah Lantai Bangunan (JLB). dan peraturan bangunan setempat. f. iii. dan rendah. kemampuannya dalam menjamin kesehatan dan kenyamanan pengguna serta masyarakat pada umumnya. meliputi ketentuan tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB). 9b. e. yang dibedakan dalam tingkatan KDB padat. seperti kawasan wisata. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. ii. Untuk suatu kawasan atau lingkungan tertentu. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. dalam mencerminkan keserasian bangunan dengan b. iii. Klas-klas 1a. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan a. dengan pertimbangan kepentingan umum dan dengan persetujuan Kepala Daerah dapat diberikan kelonggaran atau pembatasan terhadap ketentuan kepadatan. 1b. Ruang-ruang pengolah. sedang. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud pada butir c tidak diperkenankan mengganggu lalu-lintas udara.i. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. dan renggang. dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang dibedakan dalam tingkatan KLB tinggi. . ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II. Bangunan gedung yang didirikan harus memenuhi persyaratan kepadatan dan ketinggian bangunan gedung berdasarkan rencana tata ruang wilayah Daerah yang bersangkutan. kemampuannya lingkungan. rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan. Kepadatan bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. dan b' laboratorium. ruang mesin lift. c. kemampuannya dalam menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan optimalnya intensitas pembangunan. ruang mesin. ketinggian bangunan dan ketentuan tata bangunan lainnya dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan. Persyaratan kinerja dari ketentuan kepadatan dan ketinggian bangunan ditentukan oleh: i. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. d. 9a. sedang. ii.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. pelestarian dan lain lain.

Perhitungan KDB dan KLB Perhitungan KDB maupun KLB ditentukan dengan pertimbangan sebagai berikut: . iv. d. daya dukung lahan/lingkungan. Ketentuan besarnya KDB dan JLB/KLB dapat diperbanui sejalan dengan pertimbangan perkembangan kota. keseimbangan dan persyaratan teknis serta mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. Apabila KDB dan JLB/KLB belum ditetapkan dalam rencana tata ruang. kebijaksanaan intensitas pembangunan. b. f. Kepala Daerah dapat menetapkan rencana perpetakan dalam suatu kawasan/lingkungan dengan persyaratan: i. e. dengan tetap menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan keserasian lingkungan. daya dukung lahan/ lingkungan. apabila perpetakan tidak ditetapkan. ditetapkan dengan mempertimbangkan perkembangan kota. Penetapan besarnya kepadatan dan ketinggian bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam II. dimungkinkan adanya pemberian dan penerimaan besaran KDB/KLB diantara perpetakan yang berdekatan.2. kebijaksanasn intensitas pembangunan. setiap bangunan yang didirikan harus sesuai dengan rencana perpetakan yang telah diatur di dalam rencana tata ruang. 3. untuk memudahkan lalu lintas.2. rencana tata bangunan dan lingkungan. ii. peraturan bangunan setempat.1 butir b dan c. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB a. maka KDB dan KLB diperhitungkan berdasarkan luas tanah di belakang garis sempadan jalan (GSJ) yang dimiliki. dan dengan memperhitungkan keadaan lapangan. penggabungan atau pemecahan perpetakan dimungkinkan dengan ketentuan KDB dan KLB tidak dilampaui. v. maka lebar dan panjang persil tersebut diukur dari titik pertemuan garis perpanjangan pada sudut tersebut dan luas persil diperhitungkan berdasarkan lebar dan panjangnya. Penetapan besamya KDB. untuk persil-persil sudut bilamana sudut persil tersebut dilengkungkan atau disikukan. JLB/KLB untuk pembangunan bangunan gedung diatas fasilitas umum adalah setelah mempertimbangkan keserasian. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. c. iii. Dimungkinkan adanya kompensasi berupa penambahan besarnya KDB JLB/KLB bagi perpetakan tanah yang memberikan sebagian luas tanahnya untuk kepentingan umum. Dengan pertimbangan kepentingan umum dan ketertiban pembangunan. maka Kepala Daerah dapat menetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. keserasian dan keamanan lingkungan serta memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan.

Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock). k. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 m. rencana tata bangunan dan lingkungan. luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1. Dalam perhitungan KDB dan KLB. I. luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB.20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai. f. maka ketinggian bangunan tersebut dianggap sebagai dua lantai. dan pendapat teknis para ahli terkait. selama tidak melebihi l0% dari luas lantai dasar yang diperkenankan. serta peraturan bangunan setempat.a. h. Dalam perhitungan ketinggian bangunan. l. d. luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1. Mezanine yang luasnya melebihi 50 % dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh.3 GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Garis Sempadan (muka) Bangunan a. dan total keseluruhan luas lantai bangunan dalam kawasan tersebut tehadap total keseluruhan luas kawasan. c. e. keselamatan.20 m di atas lantai ruangan tersebut dihiitung penuh 100 %. overstek atap yang melebihi lebar 1. Garis Sempadan Bangunan ditetapkan dalam rencana tata ruang. teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1. j. perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar. selama tidak melebihi 10 % dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan. ramp dan tangga terbuka dihitung 50 %. kesehatan. g. Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah (basement) ditetapkan Kepala Daerah dengan pertimbangan keamanan. b. selebihnya diperhitungkan 50 % terhadap KLB. . asal tidak melebihi 50 % dari KLB yang ditetapkan. luas tapak yang diperhitungkan adalah yang dibelakang GSJ.50 m maka luas mendatar kelebihannya tersebut dianggap sebagai luas lantai denah. i.20 m diatas lantai ruangan dihitung 50 %. perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan.

keserasian dengan lingkungan. Kepala Daerah dengan pertimbangan keselamatan. d. kenyamanan. kesehatan dan kenyamanan. yang diatur di dalam rencana tata ruang. maka Kepala Daerah menetapkan besarnya garis sempadan tersebut dengan setelah mempertimbangkan keamanan kesehatan dan kenyamanan. c. dan keserasian dengan lingkungan serta ketinggian bangunan. jaringan umum dan lapangan umum. Daerah berwenang untuk memberikan pembebasan dari ketentuan dalam butir g. Sepanjang tidak ada jarak bebas samping maupun belakang bangunan yang ditetapkan. untuk tiap-tiap klas bangunan dapat ditetapkan garis-garis sempadannya masing-masing. garis sempadan loteng. kesehatan. h. danau. e. g. Penetapan Garis Sempadan Bangunan didasarkan pada pertimbangan keamanan. garis sempadan muka bangunan. sungai. 2. begitu pula garis-garis sempadan untuk pantai. Daerah menentukan garis-garis sempadan pagar. rencana tata bangunan dan lingkungan. serta belakang bangunan terhadap batas persil. maka bagian muka bangunan harus ditempatkan pada garis tersebut. juga menetapkan garis sempadan samping kiri dan kanan. b.b. tidak boleh dilanggar. maupun pertimbangan lain dengan mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. . garis sempadan menara. maka Kepala Daerah dapat menetapkan GSB yang bersifat sementara untuk lokasi tersebut pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. f. sepanjang penempatan bangunan tidak mengganggu jalan dan penataan bangunan sekitarnya. dan peraturan bangunan setempat. Garis Sempadan Bangunan yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam butir a. Dalam mendirikan atau memperbarui seluruhnya atau sebagian dari suatu bangunan. yang ditetapkan pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. i Ketentuan besarnya GSB dapat diperbarui dengan pertimbangan perkembangan kota. kepentingan umum. Apabila Garis Sempadan Bangunan sebagaimana dimaksud pada butir a. Garis sempadan samping dan belakang bangunan a. Pada suatu kawasan/lingkungan yang diperkenankan adanya beberapa klas bangunan dan di dalam kawasan peruntukan campuran. tersebut belum ditetapkan. Dalam hal garis sempadan pagar dan garis sempadan muka bangunan berimpit (GSB sama dengan nol). garis sempadan podium.

struktur dan pondasi bangunan terluar harus berjarak sekurang-kurangnya 10 cm kearah dalam dari batas pekarangan. ii. d. iv. ii. jarak bebas samping dan jarak bebas belakang ditetapkan minimum 4 m pada lantai dasar.c. ii. Untuk bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahanbahan/benda-benda yang mudah terbakar dan atau bahan berbahaya. e. Pada daerah intensitas bangunan padat/rapat. bidang dinding terluar tidak boleh melampaui batas pekarangan. maka Kepala Daerah dapat menetapkan syarat-syarat lebih lanjut mengenai jarakjarak yang harus dipatuhi. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. Pada dinding batas pekarangan tidak boleh dibuat bukaan dalam bentuk apapun. f. . sedangkan jarak bebas belakang ditentukan minimal setengah dari besarnya garis sempadan muka bangunan. dan sedangkan untuk bangunan gudang serta industri dapat diatur tersendiri. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. pada bangunan rumah tinggal rapat tidak terdapat jarak bebas samping. jarak bebas di atasnya ditambah 0. dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan atau berlubang. untuk perbaikan atau perombakan bangunan yang semula menggunakan bangunan dinding batas bersama dengan bangunan di sebelahnya. g Jarak bebas antara dua bangunan dalam suatu tapak diatur sebagai berikut: i. sisi bangunan yang didirikan harus mempunyai jarak bebas yang tidak dibangun pada kedua sisi samping kiri dan kanan serta bagian belakang yang berbatasan dengan pekarangan. dan pada setiap penambahan lantai/tingkat bangunan. iii. maka garis sempadan samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. diluar yang diatur dalam butir a.50 m dari jarak bebas lantai di bawahnya sampai mencapai jarak bebas terjauh 12. maka jarak antara dinding tersebut minimal satu kali jarak bebas yang ditetapkan. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan. maka jarak bebas samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. Pada daerah intensitas bangunan rendah/renggang. disyaratkan untuk membuat dinding batas tersendiri disamping dinding batas terdahulu. maka jarak antara dinding atau bidang tersebut minimal dua kali jarak bebas yang ditetapkan.5 m.

kenyamanan. serta keserasian lingkungan. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. Kepala Daerah menetapkan ketinggian maksimum pemisah halaman muka. Dalam hal yang khusus Kepala Daerah dapat memberikan pembebasan dari ketentuan-ketentuan dalam butir a dan b.50 m di atas permukaan tanah. Kepala Daerah berwenang untuk menetapkan syarat-syarat lebih lanjut yang berkaitan dengan desain dan spesifikasi teknis pemisah di sepanjang halaman depan. samping. Pagar sebagaimana dimaksud pada butir e harus tembus pandang. Dalam hal pemisah berbentuk pagar. Kepala Daerah dapat menerapkan desain standar pemisah halaman yang dimaksudkan dalam butir a. Tinggi pagar batas pekarangan sepanjang pekarangan samping dan belakang untuk bangunan renggang maksimal 3 m di atas permukaan tanah pekarangan. samping. dan untuk bangunan bukan rumah tinggal termasuk untuk bangunan industri maksimal 2 m di atas permukaan tanah pekarangan. Halaman muka dari suatu bangunan harus dipisahkan dari jalan menurut cara yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. maka tinggi pagar pada GSJ dan antara GSJ dengan GSB pada bangunan rumah tinggal maksimal 1. dengan bagian bawahnya dapat tidak tembus pandang maksimal setinggi 1 m diatas permukaan tanah pekarangan. k. atau ditetapkan lebih rendah setelah mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan lingkungan. f. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum . Untuk sepanjang jalan atau kawasan tertentu. dan belakang bangunan a. dengan memperhatikan keamanan. dengan setelah mempertimbangkan hal teknis terkait. dan apabila pagar tersebut merupakan dinding bangunan rumah tinggal bertingkat tembok maksimal 7 m dari permukaan tanah pekarangan. Penggunaan kawat berduri sebagai pemisah disepanjang jalan-jalan umum tidak diperkenankan. c. d. . Kepala Daerah dapat menetapkan lain terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir e dan f. b. g h Untuk bangunan-bangunan tertentu. maka jarak dinding terluar minimal setengah kali jarak bebas yang ditetapkan. j. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. dan belakang bangunan.iii. e. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan. 3. Pemisah disepanjang halaman depan. i.

dan penataan bangunan dan lingkungan yang diharapkan. dengan pertimbangan kepentingan kenyamanan kemudahan hubungan (aksesibilitas). . keserasian lingkungan.l. Kepala Daerah dapat menetapkan tanpa adanya pagar pemisah halaman depan. samping maupun belakang bangunan pada ruas-ruas jalan atau kawasan tertentu.

dengan ketentuan tidak melebihi KLB.1. ARSITEKTUR BANGUNAN 1. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya. keselamatan. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau teladan bagi lingkungannya. (4) Kekecualian kelonggaran terhadap ketentuan butir III. Penambahan lantai atau tingkat suatu bangunan gedung diperkenankan apabila masih memenuhi batas ketinggian yang ditetapkan dalam rencana tata ruang kota. Ketentuan Umum i. (2) larangan membuat batas fisik atau pagar pekarangan.1. (3) ketentuan penataan bangunan yang harus diikuti dengan memperhatikan keamanan. keindahan dan keserasian lingkungan.III. persyaratan lebih lanjut dari ketentuanketentuan ini dapat ditetapkan pelaksanaaannya oleh Kepala Daerah dengan membentuk suatu panitia khusus yang bertugas memberi nasehat teknis mengenai ketentuan tata bangunan dan lingkungan. ii. Tapak Bangunan i.(2) dapat diberikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. Bilamana dianggap perlu. 2. pemasangan nama proyek dan sejenisnya dengan memperhatikan keamanan.iv. iv. harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku dan keserasian lingkungan. perlu ditetapkan penampang-penampang (profil) bangunan untuk memperoleh pemandangan jalan yang memenuhi syarat keindahan dan keserasian. Pada lokasi-lokasi tertentu Kepala Daerah dapat menetapkan secara khusus arahan rencana tata bangunan dan lingkungan. keindahan dan keserasian lingkungan. iv. Penempatan bangunan gedung tidak boleh mengganggu fungsi prasarana kota. Tinggi rendah (peil) pekarangan harus dibuat dengan tetap menjaga keserasian lingkungan serta tidak merugikan pihak lain. lalu lintas dan ketertiban umum. Pada daerah / lingkungan tertentu dapat ditetapkan: (1) ketentuan khusus tentang pemagaran suatu pekarangan kosong atau sedang dibangun.1 b. ii. keselamatan. Ketentuan Umum i. Pada jalan-jalan tertentu. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. Bentuk Bangunan a. Penambahan lantai/tingkat harus memenuhi persyaratan keamanan struktur. Tata Letak Bangunan a. iii. iii. . b.

Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya. Bentuk. Ketentuan pada butir II. Untuk bangunan dengan lantai banyak. iii.2. vi. Tata Ruang Dalam a.1. Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan.ii. tampak. iv. profil. kulit atau selubung bangunan harus memenuhi persyaratan konservasi energi. Ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir II 1. iv. dan atau rencana tata bangunan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut.b. vii. termasuk para penyandang cacat dan usia lanjut. Bentuk bangunan gedung harus dirancang sedemikian rupa sehingga setiap nuang dalam dimungkinkan menggunakan pencayahayaan dan penghawaan alami. harus dilengkapi dengan perlengkapan yang berfungsi sebagai pengaman terhadap lalu lintas udara dan atau lalu lintas laut. v.b. vi. iii. iii. Ketentuan Umum i. ii.ii harus tetap mengacu pada prinsipprinsip konservasi energi. tinggi ruang diukur dari permukaan atas lantai sampai permukaan bawah dari lantai di atasnya atau sampai permukaan bawah kaso-kaso. Dalam hal tidak ada langit-langit. iv. . Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan dengan fungsi ruang dan arsitektur bangunannya. detail. Tinggi ruang adalah jarak terpendek dalam ruang diukur dari permukaan bawah langit-langit ke permukaan lantai.1. Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan rencana tata ruang. Suatu bangunan gedung tertentu berdasarkan letak ketinggian dan penggunaannya. Bangunan yang didirikan sampai pada batas samping persil tampak bangunannya harus bersambungan secara serasi dengan tampak bangunan atau dinding yang telah ada di sebelahnya. 3.1.i tidak berlaku apabila sesuai fungsi bangunan diperlukan sistem pencahayaan dan penghawaan buatan. ii. Perancangan Bangunan i. Aksesibilitas bangunan harus mempertimbangkan kemudahan bagi semua orang. b. Ruangan dalam bangunan harus mempunyai tinggi yang cukup untuk fungsi yang diharapkan.2. v. material maupun warna bangunan harus dirancang memenuhi syarat keindahan dan keserasian lingkungan yang telah ada dan atau yang direncanakan kemudian dengan tidak menyimpang dari persyaratan fungsinya. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut.

atau ruang pertemuan dalam bangunan komersial (antara lain hotel. penambahan. vi. ix. iv.Jenis dan jumlah kebutuhan fasilitas penunjang yang harus disediakan pada setiap jenis penggunann bangunan ditetapkan oleh Kepala Daerah. gedung olah raga. Mezanin yang luasnya melebihi 50% dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. viii. Perubahan fungsi dan penggunaan ruang suatu bangunan atau bagian bangunan dapat diijinkan apabila masih memenuhi ketentuan penggunaan jenis bangunan dan dapat menjamin keamanan dan keselamatan bangunan serta penghuninya. Tata ruang dalam untuk bangunan tempat ibadah. Ruang-rongga atap untuk rumah tinggal harus mempunyai penghawaan dan pencahayaan alami yang memadai. ruang makan.v. Bangunan kantor sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan kerja. serta gedung sejenis lainnya diatur secara khusus. ix. ii. kecuali untuk penggunaan ruang lobby. ruang umum dan ruang pelayanan. gedung pertunjukan. kegiatan umum dan pelayanan. tidak boleh menyebabkan berubahnya fungsi/penggunaan utama. kegiatan keluarga bersama dan kegiatan pelayanan. Suatu bangunan gudang. vii. perluasan. ruang istirahat. dan pertokoan). Perhitungan ketinggian bangunan. Ruang rongga atap dilarang dipergunakan sebagai dapur atau kegiatan lain yang potensial menimbulkan kecelakaan/ kebakaran . gedung pertemuan. iii. x. ruang ganti pakaian karyawan. vi. b. keamanan dan keselamatan bangunan dan lingkungan. viii. bangunan monumental. sepanjang tidak menyimpang dari penggunaan utama bangunan. perkantoran. gedung serbaguna. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 meter. gedung sekolah. karakter arsitektur bangunan dan bagian-bagian bangunan serta tidak boleh mengurangi atau mengganggu fungsi sarana jalan keluar/masuk. vii Ruang penunjang dapat ditambahkan dengan tujuan memenuhi kebutuhan kegiatan bangunan. Ruang rongga atap hanya dapat diijinkan apabila penggunaannya tidak menyimpang dari fungsi utama bangunan serta memperhatikan segi kesehatan. Perancangan Ruang Dalam i. maka ketinggian bangunan dianggap sebagai dua lantai. Bangunan tempat tinggal sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan pribadi. sekurang-kurangnya harus dilengkapi dengan kamar mandi dan kakus serta nuang kebutuhan karyawawan v. Suatu bangunan pabrik sehurang-kurangnya harus dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan kakus. xi. serta ruang pelayanan kesehatan yang memadai. Bangunan atau bagian bangunan yang mengalami perubahan perbaikan. Penempatan fasilitas kamar mandi dan kakus untuk pria dan wanita harus terpisah. Bangunan toko sekurang-kurang memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan toko. .

atau untuk tanah-tanah yang miring. xiv Pada ruang yang penggunaannya menghasilkan asap dan atau gas harus disediakan lobang hawa dan atau cerobong hawa secukupnya. tidak berlaku jika letak lantai-lantai itu lebih tinggi dari 60 cm di atas tanah yang ada di sekelilingnya. tidak boleh mengubah sifat dan karakter arsitektur bangunannya. Sarana dan Prasarana Bangunan Gedung i. Lantai tanah atau tanah dibawah lantai panggung harus ditempatkan sekurang-kurangnya 15 cm diatas tanah pekarangan serta dibuat kemiringan supaya air dapat mengalir. kenyamanan. Syarat-syarat teknis lebih lanjut terhadap ketentuan tersebut di atas mengikuti standar teknis yang berlaku. (b) Sekurang-kurangnya 25 cm diatas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan. Cerobong asap dan atau gas harus dirancang memenuhi persyaratan pencegahan kebakaran.20 m di atas tinggi rata-rata tanah pekarangan atau tinggi rata-rata jalan. Kelengkapan Bangunan a. – xix. maka tinggi maksimal lantai dasar ditetapkan tersendiri. xvi. tidak dianggap sebagai penambahan tingkat bangunan. xviii Apabila tinggi tanah pekarangan berada di bawah titik ketinggian (peil) bebas banjir atau terdapat kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang besar pada tanah asli suatu perpetakan. dengan memperhatikan keserasian lingkungan. Bangunan tertentu berdasarkan letak. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan. Ketentuan Umum i. xiii Setiap bukaan pada ruang atap. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung. Setiap penggunaan ruang rongga atap yang luasnya tidak lebih dari 50% dari luas lantai di bawahnya. xx. xvii. 4. ketinggian dan penggunaannya harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan bangunan. (2) Dalam hal-hal yang luar biasa. . Tinggi ruang dalam bangunan tidak boleh kurang dari ketentuan minimum yang ditetapkan. ii. xv. Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya. ii Prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitarnya iii. Tinggi lantai dasar suatu bangunan diperkenankan mencapai maksimal 1. termasuk pengaman/ rambu-rambu terhadap lalu-lintas udara dan atau laut. kecuali menggunakan alat bantu mekanis. b.xii. Tinggi Lantai Denah: (1) Permukaan atas dari lantai denah (dasar) harus: (a) Sekurang-kurangnya 15 cm diatas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan. ketentuan dalam butir (1) tersebut.

maka dapat dibuat ketetapan yang bersifat sementara untuk lokasi/lingkungan yang terkait dengan setiap pemmohonan bangunan.1. c. h.2 RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. i. d. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan tidak boleh dilanggar dalam mendirikan atau rnemperbaharui seluruhnya atau sebagian dari bangunan.2. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. e. pohon-pohon menahun. f.iv.1. Parkir dan ketetapan lainnya. Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaik-baiknya. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut. terhadap suatu kawasan/daerah dapat diterapkan b. sungai besar. unsur-unsur estetik. sirkulasi. RTHP menupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. sungai. Ruang Terbuka Hijau adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. ekonomi maupun estetika. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir III. peresapan air. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. v. KDH. Setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau.2. KLB. . sosial. tanah dan permukaan tanah. g. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP).e dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. Fungsi dan Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan a. sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang. Apabila Ruang Terbuka Hijau Pekarangan sebagaimana dimaksud pada butir 111. Pintu masuk dan keluar area bangunan gedung harus direncanakan secara terintegrasi serta tidak mengganggu tata sirkulasi lingkungannya. termasuk para penyandang cacat dan warga usia lanjut. j. KDB. Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. Sebagai ruang transisi. gunung dan sebagainya. III.e ini belum ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan.

d. keselamatan pemakai dan kepentingan umum. pengendalian bentuk estetika bangunan secara keseluruhan/ kesatuan lingkungan. c. yang Sebagai perlindungan atas sumber-sumber daya alam yang ada. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. ketentuan teknis dan kebijaksanaan Daerah setempat. pagar. jalur pejalan kaki. 2. tidak di dalam wadah / container yang kedap air. vegetasi besar / pohon. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. dan aspek aksesibilitas. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan / penanaman di atas tanah. bangunan penunjang seperti pos jaga. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. 3. tiang telepon di kedua sisi jalan / ruas jalan yang dimaksud. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. Ruang Sempadan Bangunan a. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat/padat. b. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan ruang sempadan depan bangunan. tiang bendera. dapat ditetapkan persyaratan khusus bagi permohonan ijin mendirikan bangunan dengan mempertimbangkan hal-hal pencagaran sumber daya alam. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap . Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan.pengaturan khusus untok orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. 1. Tapak Basement a. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. bak sampah dan papan nama bangunan. serta tergantung pada kondisi lahan. seperti dari bahaya banjir. k. e. b. Keserasian tersebut antara lain mencakup: pagar dan gerbang.

2.3 PERTANDAAN. b. Hijau Pada Bangunan a. ii.basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangun harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir a. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut pada butir III. III.a dan III.5.b Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jeni-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. iv. c. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. Penyediaan parkir di pekarangan tidak boleh mengurangi daerah penghijauan yang telah ditetapkan. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. air. Prasarana parkir untuk suatu rumah atau bangunan tidak diperkenankan mengganggu kelancaran lalu lintas. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. . atau mengganggu lingkungan di sekitarnya. Setiap bangunan bukan rumah hunian diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan.2. batang dan cabangnya rapuh. 5. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. d. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. 4. Tata Tanaman a. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. Jumlah kebutuhan parkir menurut jenis bangunan ditetapkan sesuai dengan standar teknis yang berlaku. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. b. iii. kestabilan tanah / wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. Ketentuan Umum i.5.

Luas. pedestrian dan penghijauan. aman. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. rambu-rambu. nyaman. . elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman). Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas. memudahkan aksesibilitas. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. penghijauan. Parkir i. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. ii. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. Elemen pedestrian (street fumiture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. e. ii. penghijauan. guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. ii. Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. Sirkulasi i. Jalan i. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. iii. dan ruang terbuka umum. iii. Sirkulasi pertu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. d. dll. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan. dan memberikan pemandangan yang menarik. dan keJelasan kontinyuitas pedestrian. ii. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. iv. papan informasi sirkulasi. iii. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. dan kendaraan pelayanan lainnya. Pedestrian i. iii. iv. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. c.b.

III. pagar. fungsi dan arsitektur bangunan estetika amenity. b. atau habitat alaminya mengalami kerusakan. mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. b. b.4 PENGELOLAAN DAMPAK LAINGKUNGAN 1. visual yang tidak menarik. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang mengganggu dan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan harus dilengkapi dengan AMDAL sesuai ketentuan yang berlaku. Penempatan signage termasuk papan iklan/ reklame. tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan memperhatikan karakter lingkungan. Dampak Penting a. baik yang penempatannya pada bangunan keveling. Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai ketentuan yang berlaku. c. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan a. yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan penundang-undangan yang bertaku. menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan. dan lokasi dari signage. dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan.2. . harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan. Kepala Daerah dapat mengatur pembatasa-pembatasan ukuran. ii. 3. silau. menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. berdasarkan pertimbangan ilmiah. atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya. Kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut akan: i. Pertandaan (Signage) a. atau ruang publik. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu. c. iii. dan komponen promosi. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. bahan. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan. motif.

harus dapat menjamin keamanan keselamatan serta kesehatan penghuni dan lingkungannya. d. taman nasional. mudah terbakar atau bahan lain yang berbahaya. (2) Bangunan yang didirikan harus terletak pada jarak tertentu dari batas-batas pekarangan atau bangunan lainnya dalam pekarangan sesuai rekomendasi dinas terkait. Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan. menyimpan atau memproduksi bahan radioaktif. Ketentuan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang harus melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adaiah sesuai ketentuan yang berlaku. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menunut peraturan perundang-undangan. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang wajib AMDAL. Bangunan yang menurut fungsinya menggunakan. sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memnperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. Persyaratan Bangunan i. 2.iv. menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung.c merupakan kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi. cagar alam. racun. 3. suaka margasatwa. (3) Bagian dinding yang terlemah dari bangunan tersebut diarahkan ke daerah yang paling aman. vi. dapat diberikan ijin apabila: (1) Lokasi bangunan terletak di luar lingkungan perumahan atau berjarak tertentu dari jalan umum. vii. mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi.1. iii. jalan kereta api dan bangunan lain di sekitarnya sesuai rekomendasi dinas teknis terkait. . v. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. dan atau pemerintah.3. ii. 4. adalah sesuai Ketentuan pengelolaan Dampak Lingkungan yang berlaku. Kegiatan yang dimaksud pada butir III. Untuk mendirikan bangunan yang menurut fungsinya menggunakan menyimpan atau memproduksi bahan peledak dan bahan-bahan lain yang sifatnya mudah meledak.

iv. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah sakit di sekitarnya. Pembuangan limbah cair dan padat i. Guna pemulihan cadangan air tanah dan mengurangi debit air larian. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran pengering genangan sementara yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada.iv. c. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah. iii. harus dilengkapi dengan sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 l/dt atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapat ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula. . Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan. ii. Sarana pongumpulan dan pongolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lalu lintas. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. vi. maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang. atau tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan. v. Sampah yang dikumpulkan di sarana pengumpulan sampah padat harus selalu dikosongkan setiap hari untuk menjamin agar lalat tidak berkembang biak dan mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. b. maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan bidang resapan yang ukurannya disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. v. ii. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan membangkitkan LHR >= 60 SMP per 1000 ft2 luas lantai. iii.

b. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana. e. daerah Banjir dan yang sejenisnya.3.5.3. c. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. d. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir III.a. dengan memperhatikan keamanan. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir III. Pengelolaan Daerah Bencana a. dibatasi. keselamatan dan kesehatan lingkungan. bagi bangunanan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin.a dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. . keselamatan dan kesehatan dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat. atau dilarang membangun bangunan.5.5. dengan memperhatikan keamanan.

2 PEMBEBANAN 1 Analisa struktur harus dilakukan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban . Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain: meliputi beban gempa yang mungkin terjadi sesuai zona gempanya). Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. 2. termasuk beban tetap. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. b. Struktur bangunan harus direncanakan mampu memikul semua beban dan / atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. dan beban-beban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur. Penentuan mengenai jenis.IV. c.beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. sehingga pada kondisi pembebanan maksimum. 1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. IV. Struktur bangunan harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. . Persyaratan Struktur a. gempa) dan beban khusus. keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni. Persyaratan Bahan a. beban sementara (angin. Struktur bangunan yang direncanakan secara umum harus memenuhi persyaratan keamanan (safety) dan kelayakan (serviceability). seperti : 2. harta benda dan masih dapat diperbaiki. Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. b. d. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan. c.

Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. 3. SNI -1734. IV. SNI-3449. SNI-3430. f. 2. g. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung SNI 1727. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti: a. SNI-1728 Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. c. c. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 2847. e. seperti: a. b.a. d. d. seperti: a. . Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. STRUKTUR ATAS 1. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. b. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. b.3 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung SNI 1726. SNI-1729 Tata cara / pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. SNI-3976. SNI-2834 Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton.

b. SNI-2395. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Temmitisida. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanean suatu bangunan yang harus dipenuhi. b. Tata Cara Pencegahan Rayap pada Pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. tata cara. 4. f. SNI-1735. SNI-1736. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. SNI-2397. SNI-2404. b. i. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. SNI-2407. antara lain: a. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara Perancangan Bangunan Sederhana Tahan Angin. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancangan Bangunan Rumah dan Gedung. 5. Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. c. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-2405 . SNI-1963. c. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. SNI-1745. g. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. e. SNI-2394. h. Tata cara/ pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. d. d. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit.

e. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan. . 2.4 STRUKTUR BAWAH 1. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. Pondasi Dalam a. d.IV. c. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Pondasi Langsung a. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. c. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. d. b. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. b. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan korelasi tipikal parameter tanah yang lain. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek.

b. Keselamatan Struktur a.IV. Keruntuhan Struktur a. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan. Keselamatan struktur tergantung pada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila: a.6 DEMOLISI STRUKTUR 1. gempa. b. beban akibat perilaku manusia maupun beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.5 KEANDALAN STRUKTUR 1. Ketidak andalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku. 2. beban akibat perilaku manusia. d. d. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. Keruntuhan sruktur adalah diakibatkan oleh ketidak andalan suatu sistem atau komponen stnuktur untuk memikul beban sendiri. beban yang didukungnya. c. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan dalam pemanfaatannya. maupun bencana lainnya. dan atau beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. IV. dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau . Ketidak andalan struktur akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. Struktur bangunan sudah tidak andal. c. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandaian bangunan gedung. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur.

Prosedur. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. 2. masyarakat dan lingkungan. Prosedur dan Metoda a.ekonomis. Penyusunan prosedur. dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi. b. b. Adanya perubahan peruntukan lokasi/fungsi bangunan. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. . metoda dan rencana demolisi struktur dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

sampai dengan tingkat tertentu. iv. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. ii. cukup waktu untuk evakuasi penghuni secara aman. sehingga: i. dan x. b. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran. antara bangunan. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. ii. a. c. yang sesuai dengan: i. vi. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana/ prasarana pengamanan dan pencegahan penyebaran api. iii. yang menghubungkan kompartemen api. iii. . d. beban api. fungsi atau penggunaan bangunan.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1.ukuran setiap kompartemen api. ix intervensi pasukan pemadam kebakaran. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. waktu evakuasi ii. iv. dan ii.V. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. v. iii. Ketahanan Api dan Stabilitas. yang sesuai dengan: i. jumlah. tingkat bahaya api. membatasi berkembangnya asap dan panas. vii sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. kedekatan dengan bangunan lain. terutama pada bangunan klas 2. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. viii. 3 atau bagian dan bangunan klas 4: i. ketinggian bangunan. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. intensitas kebakaran. e. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. fungsi atau penggunaan bangunan. elemen bangunan lainnya.

iv. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. c. sistem proteksi aktif. iii. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. ukuran kompartemen. j. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. intensitas kebakaran. dan vi. Tipe A: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. ii.f. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. beban api. h. atau potensial dapat meledak. fungsi bangunan. Tipe B: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. tingkat bahaya api. sambungan konstruksi. 2. yaitu pada bukaan. Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. . Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. v. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. i. b. g. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untok mencegah penjaiaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. sesuai dengan: i. keruntuhan tersebut dapat dihindari. Tipe Konstruksi Tahan Api.

Tabel V. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan.000 m2 5. dan .1.000 m3 33. 2.8 atau 9a luasan lantai (kecuali daerah perawatan pasien Maksimum 30. i.000 m2 3. a.1. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran.7. Tipe konstruksi yang diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: Tabel V.500 m2 3.000 m2 b Pemberlakuan. iii. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10. agar dapat: i.000 m3 volume Tipe Konstruksi bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 8. perambatan api dan asap.500 m3 18.500 m3 12.500 m2 2. mengendalikan kebaran api agar tidak menjelar ke bangunan lain yang berdekatan.8 A B C C Kompartemenisasi dan Pemisahan Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial.9 A A B C 5.4 Ukuran maksimum dari kompartemen kebakaran Klasifikasi Bangunan Maksimum luasan lantai Klas 5 atau 9b Maksimum 48.3.3 Tipe Konstruksi yang diwajibkan KETINGGIAN (dalam jumlah lantai) KLAS BANGUNAN 4 atau lebih 3 2 1 4. ii.000 m3 21.3.000 m3 volume Maksimum 5.000 m2 Klas 6.6.7.

Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel V. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir 4. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. Bangunan dengan luasan melebihi 18. ventilasi.ii. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku. d. ketentuan pada butir c.ii. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. 6. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. Batasan umum luas lantai. Bagian bangunan. ii. atau ii. c. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir i.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut.4 dan butir f. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir 4. (2) bangunan klas 5 s. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18.4 bila: i. iv.e. Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. tanki air. e. kecuali seperti yang diijinkan pada butir d.i yang lebamya tidak kurang dari 18 meter. asap dan gas beracun. iii.1. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi.000 m3 dengan sistem sprinkler. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel v. sungai. .000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108.ii. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir i atau ii di atas. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir 4.1. maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter.e. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium. atau peralatan Lift.e. i. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. 7. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka.000 m2 atau 108.d. atau: ii. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. i. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii. d dan e tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler.

dan tertutup pada setiap lantai. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. pemisahan oleh dinding tahan api. (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. Tangga dan Lift pada satu shaft. Seluruh bukaan harus dilindungi.ii (3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. Proteksi Bukaan a. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir b. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa. dan . mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi (1) s. Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum.(2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir 4. g. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. ii. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. 5. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. f. . dan (4) tidak ada bangunan diatasnya. c. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai. Pada bangunan klas 2 dan 3.d. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. (4) di atas maka jalan tersebut dapat beriaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. h. shaft ventilasi. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa).e. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. b.

ii sambungan pengendali. f. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators). bila luas lubang/sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan. 45° Lebih dari 45° s. iii.d. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. Kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil. maka tidak boleh menempati lebih dari 1/3 luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi. atau (2) 1. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45.d kurang dari 180° 180° atau lebih Jarak Minimal Antara Bukaan 6m 5m 4m 3m 2m nol . Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i. dan ii.d. g. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. 135° Lebih dari 134° s.000 mm2. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10.1. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. Pemisahan Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. dan iii. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. damper. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir ii. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i.d.d. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir h. lubang tirai. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel V. Sudut Terhadap Dinding 0° (dinding-dinding saling berhadapan) Lebih dari 0° s. yang bukan dari klas 10.1. 90° Lebih darii 90° s. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan. Tabel V. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama.5 JARAK ANTARA BUKAAN PADA KOMPARTEMEN KEBAKARAN YANG BERBEDA e. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 m pada dinding yang sama.5.

ii. dan (2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan peruntukan bangunan. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 25 m. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor-bakar. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan. i. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan: (1) yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2. jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. jendela. (3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari: (a) 2 (dua) pompa. kecuali pada satuan peruntukan bangunan. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup). Sistem hidran kebakaran. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. dan (2) terdapat regu pemadam kebakaran. atau . maka jalan masuk. SNI 1745. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis). 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua). atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. 7. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku.h. ii. Hidran kebakaran. atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. (b) 2 (dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. atau (b) bangunan klas 5. Sistem Pemadam Kebakaran a. i. Bila diperlukan proteksi. 6. di mana: (a) bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian klas 4. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat. Pintu. atau (b) motor listrik yang dicatu dari generator darurat. (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. V.

maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. dimana satu atau lebih hidran dalam dipasang. kecuali pada satu unit hunian. untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. dan jika dalam jarak 6 m dari bangunan. dan dengan konstruksi yang mempunysi TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang: (a) mempunyai jelur keluar ke jalan atau ruang terbuka. tempat pompa harus terpisah dari bangunan.(5) (6) (7) (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. b. satu unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. dilayani oleh Hose Reei tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat Hose Reel melayani seluruh unit hunian. ii. . dan (b) pada bangunan klas 5. Sistem Hose Reel harus disediakan: (1) untuk melayani seluruh bangunan. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk memudahkan petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. 6. (a) pada bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian Klas 4 dilayani oleh Hose Reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. 7. (2) melayani hanya lantai dimana alat ini ditempatkan. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. tahan cuaca. Hose Reel i. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rurnah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai klas bangunannya. dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. Sistem Hose Reel.

maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel. atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar. sebuah katup yang memenuhi butir 5. atau (d) kombinasi (a). Luas panggung dan belakang panggung lebih dari 200 m Tiap bangunan beratrium Untuk memperoleh ukuran kompartemen . Tidak termasuk lapangan parkir terbuka. Bila dihubungkan dengan meteran air. (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. Ruang Pertunjukan. Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran.2. Bangunan Rumah Sakit. yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (kbs 6). 2.d harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. c. Termasuk lapangan parkir terbuka dalam bangunan campuran. sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap. Pada bangunan yang tinggi efektifnya lebih dari 25 m Dalam kompartemenisasi dengan salah satu ketentuan berikut: (a) luas lantai lebih dari 3. Konstruksi Atrium. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke Hose Reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam. Teater. Ruang Pertemuan Umum.000 m3. dan (c). (b) volume ruangan lebih dari 21. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api).(3) (4) (5) (6) Memiliki slang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian rupa untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan Hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) diatas ditempatkan: (a) di luar bangunan. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel V.1 Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua klas bangunan: 1. (b).500 m2. (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air. Lebih dari 2 (dua) lantai. Sistem Sprinkler i.

Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka. luar bangunan yang diisyaratkan menggunakan sprinkler. Pada kompartemen.000 m3.000 m2 dan volume 108. Ruang parkir. (b) semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18.000 m3. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. atau (b) sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikas intemal tidak disyaratkan.000 m3. Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan: (a) setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi intema yang disyaratkan. 108. (2) Bangunan bersprinkler. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku. dengan salah satu dari Bangunan dengan risiko bahaya kebakaran 2(dua) persyaratan : 2 (dua) persyaratan berikut: (a) Luas lantai melebihi 2.000 m2 den volume Bangunan berukuran begar den terpisah. dan klasifikas bangunan sesuai standar teknis yang berlaku. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. jika: (a) sprinkler terpasang diselunuh bangunan. . amat tinggi. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler. ·) (b) Volume lebih dari 12.000 m2. SNI-3989. selain nuang parkir terbuka Bila menampung lebih dari 40 kendaraan.9 dengan luas maksimum 18. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan: (i) sebagian bangunan dipasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler.yang lebih besar: (a) bangunan klas 5 . ii. (4) Pasokan air. dan (ii) setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinker diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan (3) Katup kontrol sprinkler. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan.

ii. kecuali di dalam unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. bangunan klas 9a. jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku. harus: (a) berdiri sendiri. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler didaerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. bangunan klas 2 dengan persyaratan khusus. Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-klas. ii. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. 7) Sistem sprinkler di ruang parkir. i. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektip terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. iii. anak-anak atau orang cacat. dengan ii. dan iv. PAR memenuhi butir i. bangunan klas 1b. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan Bab VIII. ruang pertemuan umum atau semacamnya. atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. d. Pemadam Api Ringan (PAR) i. atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi intemal tidak dipersyaratkan. Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran a. b. 2. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang diseluruh bangunan. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya. SNI-3985. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu dipasang di dalam bangunan atau bagian bangunan yang dilayani oleh Hose Reel. bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yang digunakan sebagai: (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. Spesifikasi Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran.(6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper). Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: i. Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan nuang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. dan (2) PAR dari jenis bukan klas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan .

Pemasangan. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia. 3. lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan disetiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0.c. ii.5 % smoke obscuration/m. termasuk didalam satuan numah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. ii. yaitu: (1) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan Pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i.10 m di atas level lantai. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. dan iii. Rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakoasi/ penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/ jalan keluar. iii. Persyaratan umum i. dipilih tipe foto-elektrik. ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi. dan iv. b. Pengendalian Asap Kebakaran a. Pada saat terjadi kebakaran. ditempatkan kurang dari 1. ruang kompartemen sanitasi. dan ii. (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. i. dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara. Penempatan Alat Pendeteksi Asap. d. bangunan klas 1 atau 10. Sistem sampling harus memenuhi Ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. iii. : Batas Ambang. . i. untuk selama tenggang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µm. ramp dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. Perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. ruang tanaman atau sejenisnya. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2. Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yang berlaku. ii. dan (2) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung. dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis.

2. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen. ii.3. iii. ii sifat penggunaan bangunan. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. meubel. sebuah ruang untuk pengendalian dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penanganan kondisi darurat lainnya. . Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap klas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku. Untuk keperluan ketentuan ini. tata letak bangunan. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengendalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran.iv. Persyaratan untuk bahaya khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: i. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. vi. harus: (a) beroparasi seperti sistem pengendali asap. iii. tidak digunakan bagi keperluan lain. Pusat Pengendali Kebakaran a. setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah. Konstruksi. harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran: (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel V. Ruang Pusat Pengendaii Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah..3. atau ketentuan pada butir b. dimana: b. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. v. dan tidak mensirkulasikan asap diantara kompartemen kebakaran.2. Untuk sistem pengatur udara lainnya. telepon. 4. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi. panel kontrol. c. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bagi penghuni bangunan.3 pada lampiran persyaratan teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i. sifat dan jumlah bahan yang disimpan.2. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memenuhi ketentuan standar yang berlaku. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. d.. atau ketentuan pada butir b. dilengkapi sarana alat pengendali.

untuk jendela. iii. Sebagai tambahan. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya nuang pengendali. d. c. genset darurat. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5). dan sistem manajemen. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. saluran. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. konstruksi penutupnya dari beton. pipa.1. Proteksi pada bukaan. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari (2) dua arah (1) arah pintu masuk di depan bangunan.50 m. langit-langit dan dinding dalam. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. dan (2) sistem keamanan bangunan. dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. . yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30. ii. Ukuran dan sarana. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. i. iv. ii.i. tidak boleh lewat ruang tersebut. sakelar pengendali jarak jauh untuk gas atau catu daya listrik. ventilasi. i. sistem pengamatan. pintu. pembungkus atau sejenisnya harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. panel indikator lif. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yang dilindungi terhadap api. iii. ii. sakelar kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangunan.5 Pintu Keluar. peralatan utilitas. saluran udara dan sejenisnya. (3) sebuah papan tulis dan sebush papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. kipas pengendali asap. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaan pada Bab V. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. (2) telepon sambungan langsung. seperti pada lantai. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokohan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. bukaan pada dinding. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi dari dalam bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1). Panel indikator kebakaran. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. e. bahan lapis penutup.

. (3) jika dipasang peralatan tambahan. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketika kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dbA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan didalam bangunan. h. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat.50 m2.(2) jika hanya menampung peralatan minimum. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m dan luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. atau ii. Sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. (4) mempunyai kipas. dan (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. g.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) diatas. (5) mempunyai catu daya listrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120. f. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. Ventilasi dan pemasok daya. Beberapa peralatan seperti Motor bakar. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara perjamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. i. pompa pengendali sprinkler. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat di capai dari ruang pengendali tersebut. dan tingkat iluminasi diatas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem.

Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. Akses ke dan di dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. d. iii. c. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ramp (3) Lantai bordes yang memadai uniuk menghindari keletihan (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1m atau lebih dari lantai/atap/melalui bukaan pada dinding luar bangunan. menerus sepanjang area yang berbahaya. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa meraskan keadaan darurat. Fungsi a. mampu menjaga lintasan anak-anak. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. kecuali tangga/ramp di luar bangunan. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. b. 3. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan.VI. aman.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. c. injakan dan akhiran injakan tangga. ii. Fungsi tersebut pada butir b di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. Persyaratan kinerja: a. e. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. iii. Butir c tersebut di atas tidak berlaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. ii. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai /atap. iv. b. nyaman. atau 4. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. dan memadai bagi semua orang. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan maka bangunan harus mempunyai antara lain: i. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. 2. . ii. nyaman dan memadai. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. Butir c tersebut tidak berlaku juga untuk: i. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. harus dibuatkan penghalang yang: i.

Intervensi pasukan pemadam kebakaran Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. Jarak tempuh ii. Fungsi bangunan iv. VI. Persyaratan Keamanan a. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1. jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. mobilitas dan karakter penghuni. h. lantai. kecuali: i. Fungsi bangunan iv. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. dimensi jelur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan . lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. Tangga.f. luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. Tinggi bangunan Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan: i. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan. ii. Bangunan klas 9: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada: i. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. Jumlah.atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m. setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. 2 .d. c. mobilitas dan karakter lain dan penghuni ii. iii. sesuai dengan: i. b Bangunan klas 2 s. Jumlah. Jumlah. Tangga. 8: Minimal harus tersedia 2 jalan ke!uar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebih dari 25 m c. balkon. i. d. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. i.5 m. Basement: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. Fungsi bangunan Butir h tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 1. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. dan ii. b. 3 dan 4. g. ramp. Kebutuhan Jalan Keluar a. balustrade atau penghalang lainya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh . setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6.

v. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. Bagian bangunan klas 4: Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. ii. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. Panggung terbuka: Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. iii. Pintu masuk dari setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari: (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. iv.d. . b. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan. ii. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke: i. Jarak jalur menuju pintu keluar a. f.iii. bila bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. sedikitnya 2 jalan keluar. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. 4. atau ii. setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. 1 jalan keluar. masing-masing merupakan bagian jelur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran a. pada bangunan klas 9a: tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Area perawatan pasien: Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. b. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: i. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka. Bangunan klas 2 dan 3 i. e. 3. Bangunan klas 2 dan 3: Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. atau ii. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. selain area perawatan pasien. g. Bangunan kelas 5 s.

jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. Gedung Pertemuan: Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. atau iii. atau ruang sirkulasi lainnya. tinggi bebas seluruhnya harus tidak kurang dari 2 m. f. lebar bebas. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih 20 m dari pintu keluar. . kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. lobby. dan ii. 5. atau ii. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. d. Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar: a. Bangunan klas 9a: Area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan c. berjarak tidak lebih dari: i. 1.8 m pada lorong. berjarak tidak kurang dari 9 m. Jarak maksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. dan ii. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. memiliki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya terlindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. f. tersebar merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. ii. atau 6.c. Dimensi/ukuran Pintu Keluar. Pada bangunan klas 5 atau 6. d. lebar bebas. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus: a. untuk bangunan lainnya. jarsk ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. ramp. 9: Terkena aturan butir d. c. Bangunan klas 5 s. Panggung Terbuka: Jarak jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbuka harus tidak lebih dari 60 m. b. i. b. e. atau ii. 1 m. e. 45 m pada bangunan klas 9a. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. bila : i.d. dan: i. konstruksi ruang tersebut bebas asap. 60 m. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m.

g. ke area tertutup yang: (1) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. e. (4) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dan 6 m. lebar bebas. b. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. f. lebar bebas. pada kasus lain. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung atau melawati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut: i. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. ketempat: (1) ruang atau lantai yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. 1.2 m: 1200 mm. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran.2 m: 1070 mm. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka. hall atau yang sejenisnya.2. atau ii. (3) mernpunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. 750 mm. ii. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir b. kecuali kalau pintu tersebut dari: i. lobby umum. iii. iii. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan.d. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi: i. bagian dinding tersebut harus mempunyai: c. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. (3) pintu keluar horisontal: 1250 mm. koridor. 7. lorong. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. ii. iii.8 m pada lorong. a. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. pada area perawatan pasien. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600. (2) lebar koridor lebih dari 2. (2) lintasan tanpa rintangan. ruang transisi atau yang sejenisnya. diukur tegak lurus ke jalur lintasan.8 m . d atau e. ii. minus 250 mm. jika membuka ke arah koridor dengan (1) lebar koridor antara 1. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. . ke jalan atau ruang terbuka. lebar pintu keluar: i. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. tidak lebih dari 20 m. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. (2) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. parkir kendaraan atau sejenisnya. komponen sanitasi. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. atau ii. c.

atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke Jalan atau ruang terbuka. d. . Pada bangunan klas 2. bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. atau ii.2.3 harus tersedia ii. d. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang berlaku. 9. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus mempunyai jalan lintasan menerus. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. membuka ke pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud i lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. e. 20 m dari pintu keluaar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. ii. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m. dan memenuhi ketentuan teknis yang berlaku. atau 9. Lintasan Melalui Tangga/Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. atau ii. Jika Jebih dari dua akses pintu.i. Pada bangunan klas 5 s d. 3 atau 9a. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka. tangga/ramp yan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i.1. Pada bangunan klas 5 s. Pada bangunan klas 2. 8 ata u 9b. 8. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. e. bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. tangga/ramp yang tidak diisolasi torhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari: i. jarak antara pintu keluar dari ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasii terhadap kebakaran harus tidak melampaui: i. 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. 30 m dan salah satu dari dua pintu atau lorong keluar bila arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. 3 atau 4.5. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. TKA sedikitnya 60/60/60. Tangga/ramp. dengan injakan dan tanjakan dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan b. c.d. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m.

atau mana yang lebih lebar. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dan 1 m. b. 11 Pintu Keluar Horisontal. dan c. jalur lintasan menuju ke jalan harus i. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita bagunan SD atau SLTP. a. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. Pada bangunan klas 9b. . Pada bangunan klas 2 atau 3. f. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila: i.4. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dan 500 orang. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terletak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. terhadap kebakaran dalam bangunan. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar: arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. bebas asap. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantai yang dipisahkan oleh dinding tahan api Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai dengan tidak kurang dari: i. d. Vl. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang.ii. ii. Jika pintu keluar yang disyaratkan menuju ke ruang terbuka. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. Pada bangunan klas 9a. atau tidak setinggi 1. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ramp yang tidak diisolasi.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. d.14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab. c. e. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. ii. 2.2. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. b. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal Kasus selain butir b di atas. 10. ii. dan bila perlu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. Pintu keluar harus tidak terhalang. antara unit hunian tunggal.

ii. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift. pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. d. kecuali bila dijinkan sesuai butir b atau c di atas. hall. tidak harus menghubungkan lebih dari i. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. ii. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. dan luas lantai dengan: a. dan ii. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a b. service duct dan yang sejenis. 8 atau 9. atau 13. 1. dan eskalator. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini c. tangga. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. tidak lebih dari 100 m2. Ruang Peralatan Dan Ruang Motor Lift a. koridor. Bila ruang peralatan atau ruang. tata letak lantai tersebut. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. lobby dan yang sejenis. ii pada area parkir kendaraan atau atrium. motor lif mempunyai luasan i. iii. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. Ramp Atau Eksalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran a. eskalator. bila: i. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. 12. ramp atau eskalator tersebut i. 3 lantai. iii. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. 0. di luar bangunan. iv. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. 14. Tangga. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai.c. dan satu dari lapis lantai tersebut terletak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka.2 sesuai jenis penghunian. . atau ii. 7. b. 6. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf.ii. 2 lantai dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan. lift. ramp.2.

3.5 1 4 2 30 pabrik VI. café. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r. Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. atau dengan konstruksi: 2. b. workshop . museum Bar. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas. laboratorium.3 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. dll . atau cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya. peragaan. bila terjadi kenusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api. sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: . penjualan: Level langsung dari luar Level lainnya r. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4. hostel. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD SLTP Pertokoan. manufaktur. tempat cuci Perpustakaan : . motel. baca. gereja. listrik. .2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan Galeri seni. r.r.ventilasi. ruang pamer. prosesing . Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. penyimpanan r. pamer : r. dari material tidak mudah terbakar. arcade Panggung penonton: darah panggung Kursi penonton R. elktrikal.boiler/sumber tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r. c. telepon Kolam renang Teater dan Hall R. ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : staf pemeliharaan Proses manufaktur m2/orang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 bengkel 3 5 5 0. kerja.r. r.mall.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel. r. Tabel VI.b. tunggu r.3 1 30 1. .r penyimpanan m2/orang 4 1 2 15 25 10 1 0. guest-house Stadion indoor area Kios Dapur.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Jenis Penggunaan Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : .

ii. c. terbentang antar balok lantai. . d. mempunyai TKA minimal 60/60/-. di setiap bukaan dari area hunian. dan ii. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4.2. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. mempunyai luas minimal 6 m2. baja dengan tebal minimal 6 mm kayu: i. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. b. dan: a. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam pedoman ini. di mana: i. 6. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. c. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon b. tidak harus disediakan dari tangga. setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. maka harus: a. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang 5. Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. atau ke bagian bawah langit-langit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. harus tidak ada hubungan langsung antara i.a. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. 7. luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. b. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. beton bertulang atau beton prestressed. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. b. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a.7 harus: a. b. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. iii.

1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. 1:8 untuk kasus lainnya c. motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. 9. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. bebas halangan. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis Lebar Tangga a. bila konstruksi yang menutup ramp. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. di mana: . kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. lobby. atau koridor. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. kecuali: i. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. b. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. ii. disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. dan iii. 10. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. lebar dan tinggi langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. bila peralatan dimaksud terdiri atas: i. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut.4 iii. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. b. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. disyaratkan. koridor. seperti pegangan rambat (handrail). bagian dari balustrade. 11. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. Ramp Pejalan Kaki a. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. ii. panel atau saluran distribusi. dan sejenisnya. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. d. gang. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. meter listrik. 8. lebar bebas halangan.c. b. gang. kecuali untuk list langit-langit.

Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. Ambang Pintu Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. dan jumlah sesuai standar teknis. d. ii. Meskipun dengan ketentuan butir a. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. tangga atau balkon luar ii. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. tanjakan. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. b. balkon dan sejenisnya. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai. 12. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. ii. i. bila: . balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan.6 m dan panjangnya minimal 2. pintu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. atap tersebut harus a.ii. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. Bangunan klas 9a: i. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. lebar minimal bordes 1. b. 14. lantai. c. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120.7 m. 13. kasus lainnya i. injakan. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. Balustrade a Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. tangga. injakan dan tanjakan konstan. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. e. ambang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. 15. b. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. koridor. ramp. ii. b. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran.b. Bordes a. ruang perawatan pasien bangunan klas 9a. 16. f.

i. balkon. kecuali sekeliling panggung.i. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. ii. 17. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii. bukan pintu berputar b. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. tangga. balkon dan sejenisnya. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat.b. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. c. g. f.ii. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. ii. b. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i. bangunan klas 9b untuk sekolah dasar.iii dan g. Balustrade. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. Balustrade sesuai ketentuan butir e. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. lantai. Tinggi balustrade: i. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. bila dibuat sesuai i. kecuali tangga/ramp luar bangunan. koridor. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. i. Bila menggunakan jeruji. lorong. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. Balustrade pada: i. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8. c. . tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. dibuat menerus 18. dan ii. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. e. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii. bukan pintu gulung. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii.i. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m. iii. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. mesanin dan sejenisnya. atap. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. tidak dibatasi dengan dinding. d. dan harus: i. 7. Pegangan Rambat Pada Tangga a.ii.

Bila terbuka sempurna. pintu dapat dibuka secara manual. ii. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. hanya melayani: i. alarm kebakaran dan lainnya.2 m dari lantai. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. ii. d. khususnya oleh pemilik. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. c. Pintu Ayun a. iii. kecuali: i membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. lorong atau ramp. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan.9 . kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. 20. ii. atau 8. termasuk bordes. dengan tangan. 7.1. d. b. 3. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu. dan . kecuali bila: a. kecuali: i. c. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. bangunan klas 9a b. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. ii. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan bukan pintu sorong. 6. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya.c. atau bagian klas 4. b. melayani kompartemen saniter. harus dapat dibuka secara manual. kecuali bangunan sekolah. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. Ayunan harus searah akses keluar. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan. pada bangunan klas 9b. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. 19. 21. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0.

i. 2.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. 22. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. ii. . b. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. tersedia sistem komunikasi internal. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi. termasuk penyandang cacat. Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. VI. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. Rambu. Rambu Pada Pintu a.

Kapasitas angkut lif barang yang diizinkan. dekat setiap tombol panggil untuk lif penumpang atau kelompok dari lif ada bangunan. Lif kebakaran dapat berupa lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur.VII. b. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. lif kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. kecuali ii. dipasang ditempat yang mudah terbaca: i. b. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (Fire Switch) terlebih dahulu. Waktu tunggu lif. Untuk mengubah fungsi lif penumpang atau lif barang menjadi lif kebakaran. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petuugas Kebakaran. d. Jumlah dan kapasitas lif harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untak sirkulasi vertikal pada bangunan. e. d. Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. c. g. 3. harus menjadi kapasitas angkut dari lif dimaksud. e. Kecepatan dan ukuran sangkar lif kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. Lif kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. Kapasitas angkut lif penumpang yang diizinkan. f. . Pintu saf lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan peraturan yang berlaku di Indonesia. 1 LIF 1. Kapasitas Lif a. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. c. Persyaratan teknis dari lif yang digunakan sebagai lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. dan menggunakan kabel tahan api. Peringatan Terhadap Pengguna Lif Pada Saat Terjadi Kebakaran Tanda peringatan harus: a. 2. Lift Kebakaran a. Sumber daya listrik untuk lif kebakaran harus direncanakan dari sumber yang berbeda.

Saf Lif a. Untuk saf lif yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. Mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 Kg. plastic atau sejenisnya dan dipasang tetap didinding. 1. ditatah atau huruf timbul pada logam. kayu. Sangkar Lif Sangkar pada setiap lif harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar. berukuran cukup untuk meletakkan fasilitas kereta dorong ( wheel strecther) secara horisontal ii. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. atau ii huruf yang diukir atau ditatah langsung dipermukaan bahan dinding iii. 5. telepon. . setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. 4. misalnya bangunan Kelas 9a. dan terdiri dari i. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai Lif pasien yang dibutuhkan pada butir a. Lif Untuk Rumah Sakit a. berupa bel listrik. bila diperlukan. dan iii. huruf yang diukir. harus: i. 1 Tanda Peringatan Lif Penumpang b. Dalam saf lif dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lif. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar Vll. Satu atau beberapa lif harus di pasang sebagai lif pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan ramp. b. 6. Lif yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan.DILARANG MENGGUNAKAN LIF BILA TERJADI KEBAKARAN 10 mm 8 mm ATAU Dilarang menggunakan Lif bila terjadi Kebakaran Gambar VII. b. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung ditempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan.

Pondasi harus menyangga berat mesin. b. atau disamping ruang luncur di lantai bawah. 9. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. tromol. governor dan peralatan lain.2 TANGGA DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan Teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. ii. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban dibawah ini: i. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. c. Instalasi Listrik a. Vll. 8. peralatan lain dan lantai diatasnya. b. Mesin Lif Dan Ruang Mesin Lif a. tromol tali. dengan beban sangkar lif. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada semua arah gaya d. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali baban berat pada arah sejajar. . pondasi untuk mesin. untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. iii. lantai dan penyangga di Ruang mesin harus di rencanakan dengan memenuhi: i. Balok. Instalasi lif yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lif. panel kontrol. Pengujian Dan Pemeliharaan a. ii. termasuk lantai ruang mesin. iv. Pemeriksaan. iii. motor generator. Prosedur pemeriksaan. Beban diperhitungkan pada saat bandul mekanis governor) bekerja. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap nuang mesin lif.7. b. Instalasi listrik untuk lif harus dilengkapi dengan pengaman harus lebih atau sakelar otomatis. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. pengujian dan pemeliharaan instalasi lif sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 03-2190-1991. c. Bangunan ruang mesin lif harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. Semua bagian logam dari lif pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. Jika mesin lif dan tali diempatkan di lantai bawah.

atau iv. ke jalan raya. atau ii ke ruang yang mempunyai lampu darurat. setiap lorong. dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. PENCAHAYAAN DARURAT. mudah dibaca. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. pencahayaan darurat digunakan pada tanda KELUAR. VIII. tangga yang tertutup. ke ruang terbuka. Jelas. c jalan lintas.2 TANDA ARAH KELUAR 1. yaitu pada: i. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien d. harus: a. hall. Setiap tanda “KELUAR” dibutuhkan. mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan. 2. harus : a. atau ramp yang digunakan untuk ii tangga luar. jika menggunakan sistem terpusat. ke koridor. jalan keluar di balkon yang menuju Keluar. dan harus dipasang diatas atau di dekat setiap: a. Tanda KELUAR harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 tetapi kurang 300 m2 yang terbuka: i. bekerja secara otomatis b. bangunan kelas 2 atau 3. bangunan kelas 9a. 3.VIII. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. ruang yang mempunyai luas lebih dari 300 m2. mempunyai tigkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. lorong atau ramp yang digunakan untuk Keluar iii. lorong. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai keluar i. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi daari kerusakan karena api dengan konstsruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. Setiap lampu darurat. b c. koridor. Sistem lampu darurat dipasang pada: a b. e. . atau sejenisnya yang digunakan pasien.1 SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT 1. 2. atau iii. ii. TANDA ARAH KELUAR. c.

di daerah bangsal perawatan. 5. hall. VIII. Bangunan Kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua: a. untuk gedung pertunjukan. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. lobi. dan: Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan KELUAR" pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai VIII.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. kecuali bila sistemnya a. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari tiga b. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan sesuai dengan tipe dan kondisi pasien Bangunan Kelas 9b a. lorong. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju Jalan raya atau ruang terbuka. b. sistem alarm diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. bagian rumah dari sekolahan. Pintu dari tangga tertutup. 2.1 3. maka tanda Keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. untuk sekolah. atau b. atau sejenisnya. c.b. 4. langsung memberikan peringatan pada petugas. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua. atau orang cacat. . 3. hall umum. dan: Jalan keluar horisontal. d. Jika tanda “KELUAR" tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m Bangunan Kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari dua lapis dan a. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petugas b. anak-anak. akomodasi untuk orang tua. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan.

jaringan distribusi. alat ukur. lingkungan. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. papan hubung bagi dan isinya . d. mengganggu dan merugikan bagi manusia. dipelihara. seperti pompa kebakaran. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya e. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik harus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran. c. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. . ukuran dan kemampuan. tombol. bagian bangunan dan instalasi lainnya. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. dengan frekuensi 50 Hertz. transformator dan peralatan lainnya. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. papan hubung bagi dan beban listrik. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. dengan frekuensi 50 Hertz. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api. c. b. PENANGKAL PETIR DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati.1 INSTALASI LISTRIK 1. Semua peralatan listrik diantaranya penghantar.IX. b. sistem komunikasi darurat. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. 2. Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketantuan: a. dapat menggunakan ketentuan/ standar dari negara lain atau badan international. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak dan busduct dari berbagai tipe. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. sistem deteksi dan alarm kebakaran. tidak membahayakan. Jaringan yang melayani beban penting. lif kebakaran. peralatan pengendali asap. Jaringan Distribusi Listrik a. INSTALASI LISTRIK.

Transformator Distribusi a. d. e. b. secara otomatis. atap dan lantai yang kokoh. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3. Sumber Daya Listrik a. b.3. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila tajadi gangguan sumber utama. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. c. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listrik tidak boleh putus. harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. f. c. yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau nomalisasi dari peraturan yang berlaku. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak momungkinkan. faktor kebersamaan (coincident factor) atau faktor ketidak bersamaan (diversity factor). 5. sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri. dengan ijin instansi yang bersangkutan. Pemeriksaan Dan Pengujian Instalasi listrik yang dipasang. dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang. . Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi golombang elektromanetik dan lain-lain. sebelum dipergunakan. 4. harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding. g. 6.

Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. b. sifat geografis.7. b. dan instalasi lainnya. serta diberi ventilasi cukup. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. 2. 1. c. harus mengacu pada rekomendasi dari badan International seperti IEC. termasuk manusia yang ada di dalamnya. tidak membahayakan. bagian bangunan dan instalasi lain.3 INSTANSI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG. perbaikan dan pelayanan. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. Perencanaan Penangkal Petir a. harus diberi instalasi penangkal petir. dipelihara. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. mengganggu dan merugikan lingkungan. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak. IX. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang c. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. b. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung a. IX. b. terhadap bahaya sambaran petir. bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai risiko terkena sambaran petir. Pemeliharaan a. instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. 3. Ha-hal yang belum diatur didalam peraturan tersebut diatas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. serta direncanakan . tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harus mudah diamati. harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan. harus memperhatikan arsitektur bangunan. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. Pada ruang panel hubung bagi. Instalasi Penangkal Petir a. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar.

Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m keatas. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran. ii. b. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: i. terang. . iii. b. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran.50 m x 0. kedap debu. Secara berkala dilakukan pengukuran/ pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. minimal berjarak 0. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak.80m. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan.b. 3. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. Instalasi Telpon a. terang. aman dan mudah dikerjakan. Ruang batere sistem telepon harus bersih. c. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. dan dilaksanakan berdasarkan standar. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi Persyaratan: i. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. Instalasi Tata Suara a. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. iii. ii. Ruang yang bersih. c. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. dan lain-lain. atau terdiri dari kabel tahan api. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. 2. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a diatas harus menggunakan sistem khusus.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. c. d. tidak ada genangan air.

Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut.2 INSTALASI GAS MEDIK 1. terdiri dari propane (C3H8) dan Butane (C4H10). Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter-gas)mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. Gas oxigen b. b. iv.1 INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang secara otomatis mematikan aliran gas. iii. Faktor diversifikasi (diversity factor). Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas). Gas elpiji. 2. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. Jaringan Distribusi Gas Kota a. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. Rancangan sistem distribusi gas pembakaran. Udara tekan . Pada instalasi gas untuk pembakaran. Jenis Gas Jenis gas medik yang dimaksud. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2He ). Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter-gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter-gas ke peralatan ii. Berat jenis dari gas. adalah : a. b. X. INSTALASI GAS X. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. 3. Gas nitrous Oxida (N2O) c. Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi: a. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Gas elpiji (LPG = Liquefied Petroleum Gasses).X. c. v. Panjang pipa dan jumlah sambungan. vi.

3. peralatan rawat gigi dan sebagainya. Kebutuhan gas medik garus disesuaikan dengan kebutuhan untuk asien rawat inap dan kebutuhan lain. khususnya untuk instalasi pipa oksigen. Jaringan Distribusi Gas Medik a.d. Rancangan sistem distribusi gas medik. d. Pada instalasi pipa gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. e. b. pipa Nitrous Oxida dan pipa udara tekan. pemilihan bahan dan kontruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang . seperti untuk ruang bedah orthopedi. Vakum 2. Pada instalasi gas medik harus dilengkap peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyarat tanda kebocoran gas. c.

f. b. e. 2. Sumber air bersih pada bangunan harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). alat plambing dapat bekerja dengan baik.1. dimana pipa pembawa air panas dari sumber air panas ke alat plambing cukup panjang. Kualitas air bersih yang dialirkan ke alat plambing dan perlengkapan plambing harus memenuhi standar kualitas air minum yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. dan apabila sumber air bukan dari PAM. meliputi sistem air bersih. Apabila kapasitas dan atau tekanan sumber yang digunakan tidak memenuhi kapasitas dan tekanan minimal pada titik pengaturan keluar.XI. maka harus dilengkapi dengan pipa sirkulasi. maka harus dipasang sistem tanki persediaan air dan pompa yang direncanakan dan ditempatkan sehingga dapat memberikan kapasitas dan tekanan yang optimal. sebelum digunakan harus mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang. Perencanaan Sistem Plambing a. Kebutuhan air bersih untuk perumahan berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. sedangkan untuk kelas bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. Temperatur air panas yang keluar dari alat plambing harus diatur. Sistem distribusi air harus direncanakan sehingga dengan kapasitas dan tekanan air yang minimal. SANITASI DALAM GEDUNG XI. g. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. serta diperhitungkan berdasarkan standar. c. SISTEM PLAMBING 1. petunjuk teknik. maksimum 60° C. . Sistem Penyediaan Air Bersih a. d. tidak mengganggu lingkungan. b. kecuali untuk penggunaan khusus. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. Pipa pembawa air panas yang cukup panjang tersebut harus dilapisi dengan bahan isolasi. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. Bangunan yang dilengkapi dengan sistem penyediaan air panas.

Pemeliharaan sistem air kotor dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya penyumbatan. baja maupun bahan lainnya yang tidak mudah rusak. i. i. . d. Sistem Pembuangan Air Kotor a. PE. tanah liat. Saluran air kotor dapat benupa pipa atau saluran lainnya. g. beton. h. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunaannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang akan dialirkan. tidak mengandung bahan beracun dan pemasangannya harus sesuai dengan petunjuk teknis bahan pipa yang bersangkutan. Air kotor yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. dipasang dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tidak mudah rusak dan tidak terkontaminasi dari bahan yang dapat memperburuk kualitas air bersih. j. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja. Sistem air kotor didalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa ven untuk menetralisir tekanan udara didalam saluran tersebut.h. c. tembaga. besi lapis galvanis atau Tembaga. Sistem pengaliran air kotor direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. f. e. Semua sistem pelayanan air bersih harus direncanakan. 3. karat dan kebocoran. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. tahan terhadap karat dan panas. baik dari bahan PVC. serta yang mengandung radioaktif. sesuai dengan petunjuk teknis dari bahan pipa yang bersangkutan dan ketentuan-ketentuan lain yang berlaku di Indonesia. Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilaksanakan. harus ditangani secara khusus. Pada dasarnya air kotor berasal dari aktivitas manusia. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. PE (poli-etilena). kakus maupun kegiatan lainnya. besi tuang. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. b. baik tempat mandi cuci.

b. tahan lama untuk digunakan. Bahan alat plambing harus mempunyai permukaan yang halus dan rapat air. minuman bahan steril atau bahan sejenis lainnya. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. Alat Plambing a. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan. fiberglass dan kayu. Tangki Penyediaan Air Bersih a. pipa peluap. Bahan tangki dapat berupa beton. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak dan lemak. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. Pada pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempat-tempat yang dapat menimbulkan pencemaran. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. f. harus dilakukan secara berkala untuk menjamin kebersihan dan bekerjanya alat tersebut dengan baik. c. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. baja. d. babas dari kerusakan dan tidak mempunyai bagian kotor yang tersembunyi. Apabila tangki penyediaan air bersih menggunakan bahan lapisan untuk mencegah kebocoran dan karat. serta dilengkapi dengan 1ubang pemeriksa. Tangki penyediaan air bersih harus diiengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar.4. perlengkapan bangunan. d. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. b. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. 5. c. bahan tersebut tidak boleh memperburuk kualitas air bersih. e. Pemeliharaan semua alat plambing. Fungsi tangki penyediaan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. . harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. e. pipa penguras dan pipa ven. Tangki penyediaan air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediakan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. Konstnuksi dan bahan tanki penyediaan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. g.

1. Apabila saluran dibuat tertutup. pipa isap dan pipa keluaran pompa.2 Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effsiensi yang maksimal. e. dan pada saluran yang lurus. c. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebab-sebab lain yang dapat diterima. SALURAN AIR HUJAN. Kemiringan saluran harus dibuat. XI. b. maka harus dilakukan cara-cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang 2. Pompa a. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Fungsi pompa air kotor adalah menyalurkan air ke saluran air kotor umum Kota atau ke bangunan pengolahan air lainnya. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. Kelengkapan pada Bangunan a. yang tanki kotor kotor b. d. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa. c.6. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. . Persyaratan Saluran a. c. Fungsi pompa air bersih adalah memberikan kapasitas dan tekanan cukup pada sistem penyediaan air bersih atau menyalurkan air ke penyediaan air bersih. b Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya.

Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. beton. dan pasangan bata atau beton. Pewadahan a. Bahan saluran dapat berupa PVC. fiberglass. Tempat pewadahan sampah harus terbuat dari bahan kedap air. besi dan baja. peti kemas fiberglass. Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik.3 PERSAMPAHAN 1. mempunyai tutup dan mudah diangkut. peti kemas baja. atau Pengelola Pengangkutan Sampah. XI. Sampah Berbahaya Untuk sampah padat yang dikatagorikan sebagai jenis buangan berbahaya dan beracun (sampah B3). tidak mudah rusak. seng. besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. tanah liat. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. c. Bentuk pewadahan sampah harus disesuaikan untuk kemudahan pengangkutan sampah oleh Dinas Kebersihan Kota.d. 3. b. pasangan. . Khusus untuk bahan seng. 3. penempatan dan pembuangannya harus ditangani secara khusus sesuai dengan peraturan yang berlaku. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. 2. Penempatan pada Bangunan Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas pewadahan dan atau penampungan sampah sementara yang memadai. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sementara harus dihitung berdasarkan jenis bangunan dan jumlah penghuninya.

bukaan pintu ventilasi. 6. pintu atau sarana bukaan lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10% dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. Ventilasi Alami a.1. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka i. dan: i. 7. Bangunan klas 2. dan yang sejenis. (2) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai lantai kedua ruangan tersebut. (3) Luas ventilasi yang diatur pada butir (1 ) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya. (1) jendela. Bangunan kelas 5. (3) ruangan bersebelahan dengan jendela. Penerapan ventilasi alami. (2) teras terbuka. bukaan. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang diventilasi. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 10% luas lantai kedua ruangan tersebut. atau daerah yang terbuka ke atas. jendela. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi. (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai. bukaan. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. . atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu. bukaan. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. bukaan.6 m diatas lantai. Ventilasi alami sesuai dengan butir XII. b. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. ii ke arah. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. 8 atau 9.2 di bawah ini atau b. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3. ii. 2. dengan jarak tidak lebih dari 3.1 VENTILASI 1. (2) jendela. Kebutahan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai: a. (1) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sanitasi.XII. pelataran parkir.

c. jika: i. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. iii. f. iv. . e. harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. jika berada dibawah lantai dasar. ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. koridor atau ruang lainnya. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan. v. ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. atau ii. d. dapur atau pantry. sekolah TK atau panggung terbuka). (1) jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: i. ii. harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/halaman dibawah lantai dasar. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yang dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya: i. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1. g. ii. Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah: i. (1) jalan masuk harus melalui ruang antara. sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 7. asrama pada bangunan Kelas 3. setiap peralatan masak yang mempunyai: (1) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. 6. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. atau iii. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang berlaku. sekolah TK atau panggung terbuka). ii ruang makan umum atau restoran. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan: i. sistem ventilasi alami permanen yang memadai. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. pada bangunan Kelas 5. atau (2) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam. 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4.

pemilihan peralatan. rumah sakit.8 MJ/jam untuk daya gas. total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak. f. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar. c. Bilamana digunakan ventilasi buatan. 3. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan a. Konservasi Energi a. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. lebih dari: (1) 0. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. e. b. Ventilasi buatan a. 3. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. c. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. toko. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. d. XII. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang berlaku. b. atau sebaliknya. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. atau (2) 1. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung.ii. Besamya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku. PENGKONDISIAN UDARA 1.2 2.60 meter diatas lantai. dan minimal 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. dan standar teknis lain yang berlaku. kantor. pabrik.5 kW untuk daya listrik. . gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya.

iii. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. ii.b. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem Fan. dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku. isolasi pemipaan. sistem distribusi udara. Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang. Penetapan sistem dan peralatan. Dasar perancangan i. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan. . sistem pompa dan pemipaan. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. . (2) Semua saluran udara harus direncanakan. sistem kontrol. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi.

pintu masuk ii. klub malam. museum dan monumen. c. Tingkat Iluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung XIII. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. seperti proses produksi dan penyimpanan. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. efektif dan sesuai dengan kebutuhan ruangan. meliputi: a. jalan. pencahayaan untuk rambu-rambu. gallery. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan knalitas tampilan. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. tempat bongkar muat barang. daerah luar bangunan.00 pagi. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. Kamar. selama operasi normal. e. pencahayaan darurat yang secara otomatis mati. PENCAHAYAAN BUATAN. seperti: i. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. n. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. j. pencahayaan untuk pembuatan film.2 2. ruangan didalam bangunan b. d.00 malam sampai jam 06. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan buatan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan beban pendinginan bangunan. m. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dan fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. pencahayaan untuk pameran seni. taman dan daerah bagian luar lainnya. kegiatan diluar bangunan. g. ruangan. fasilitas luar untuk olahraga.XIII. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi: a. f. Kamar. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. 2. k.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. . i. penyiaran televisi. 1. pencahayaan luar untuk monumen publik. b. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. iii. pencahayaan khusus laboratorium. pencahayaan di unit pengeboran. dsb. c. pintu ketuar. PENCAHAYAAN XIII. 1.

b. 2. Pemanfaatan pencahayaan alami Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. . c. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan: a. baik dari sumber sinar matahari langsung. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan monggunakan sumber pencahayaan yang tepat. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan.3. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor aluminium anodized berkualitas tinggi. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan atau kaca ganda. 6. 3. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung.3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut. Untuk fasilitas banyak bangunan. jenis reflektor yang efisien. a. dan reflaktor yang efisien. Penentuan besanya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI-2396 tentang Penerangan Alami Siang hari untuk Rumah dan Gedung. langit yang cerah. obyek luar. Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. Jika perlu. 7. mempunysi karakteristik distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidak nyamanan karena silau atau pantulan. 4. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. 5. Pengendalian silau pada bangunan. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. XIII. b. balas. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya.

pasar swalayan. kecuali: a. Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama didekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. Pengendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang tedetak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendali untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas.XIII. 2. hotel dan rumah sakit. Pengendali yang diprogram. b. e. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell). pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus menerus. e. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. c. Letak pengendali harus mudah dicapai. Semua sistem pencahayaan. kecuali yang diperlukan untak pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu “KELUAR”. . pertokoan. Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut. f. d. harus dilengkapi dengan pengendali manual. Pengendali otomatis. 1. otomatis atau yang terprogram. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafond harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. b. Pengendali dipusatkan di lokasi yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. kecuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. d. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap group yang melayani luasan 30 m atau kurang. Pengendali haruss digunakan sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. gudang dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut: a. Pengendali yang memerlukan operator yang terlatih.4 PENGENDALIAAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN. c.

XIV. KEBISINGAN DAN GETARAN
XIV. 1. KEBISINGAN 1. Baku Tingkat Kebisingan a. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. b. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut berlaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2

XIV.2

GETARAN 1. Baku Tingkat Getaran a. Sala satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. b. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut, berlaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2.

XV. KETENTUAN PENUTUP

XV.1

Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Bab-bab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI), pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi, tata cara, dan metode uji bangunan, komponen, elemen, serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatif serta penyesuaian penyesuaian yang diperlukan terhadap Persyaratan Teknis Bangunan Gedung diharapkan untuk dikembangkan oleh masing-masing Daerah disesuaikan dengan kondisi, permasalahan, kebutuhan, dan kesiapan kelembagaan di setiap Daerah.

XV.2

MENTERI PEKERJAAN UMUM ttd. RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN
TABEL V.2.3 PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. KETENTUAN UMUM
PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk: 1. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. Setiap lantai di atas tinggi efektif 25m, atau b. lebih dari 2 lantai di bawah tanah, atau c. atrium, atau d. bangunan klas 9a yang > 2 lantai, dan 2. jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka, harus dilengkapi dengan: 1. Sistem presurisasi otomatis, atau 2. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir Vl.3. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF >25 M Klas. 2, 3, den 4. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 2. Bila panjang koridor umum > 40 m, harus dibagi dengan interval < 40 m, dengan konstruksi sesuai ketentuan V.1.3, kecuali bahan pelapis dan bahan yang tidak mudah terbakar Klas5,6, 7,8,dan 9b (selain ruang/tempat parkir) Klas 9a 1. Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis, dan 2. Sistem pengendali asap tezona sesuai ketentuan yang berlaku

KLAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang Diisolasi terhadap kebakaran

BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Klas 2, 3, den 4 1. Harus dilengkapi dengan alarm dan detekai asap otomatis, dan 2. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran den bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan Kas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8, atau 9b, maka: a. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap Jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomati, atau b. Klas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8 dan 9b harus

atau 4. atau 9b (selain sekolah) maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. 7. 8. Sistem sesuai butir 2. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. dipajang. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. harus dipasang: 1. Sistem pengendali asap terzona. Klas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > 3 lantai. harus dipasang: a. atau ii.dilengkapi dengan i. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 6. sistem sprinkler 3. atau 2. termasuk jlan penghubung dan rampnya. Sistem sprinkler 1. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan. 8. atau ii. Sistem pengendali asap terzona.b. 2. Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat klas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/pengguna yang banyak. bila bangunan mempunyai lebih dari satu komprtemen kebakaran. atau digunakan dalam bangunan d. Sistem detektor dan alarm asap. Sistem pengendali asap terzona. maka: a. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan: a.a. atau 3. dan 9b (selain ruang/tempat parkir Klas 9a BASEMENT (selain ruang/tempat parkir) . fungsi khusus bangunan c. dan 2. atau iii. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. Basement dengan luas > 200 m2 harus dilengkapi dengan: a. Klas 6. Klas 6. Sistem sprinkler. 8. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Bila bangunan >2 lantai. atau 9b. bila basement mempunyai lebih daari satu kompartemen kebakaran. atau 3. diatas harus dipasang. atau b. 3. atau 2. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detekotr asap bekerja. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. 8. atau b. 6. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau b. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen Klas 5. atau 2. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan klas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan klas 5. Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. Sistem sprinkler 1. 7. Klas 5 atau 9b (sekolah) dan b. 7 (bukan tempat parkir terbuka). Bila > 2 lapis dibawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. 7. Pada bangunan: 1. karakter khusus bangunan b. Sistem presurisasi udara otomatis.

atau c. atau 2. sistem deteksi alarm kebakaran. terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko Klas 9b. sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomaatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1.500 m2 dan bangunan 2 lantaai atau kurang. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler. bila bangunan 1 lantai. dan b. Kompartemen kebakaran > 2. Bangunan satu lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka.500 m2. bangunan 1 lantai. dipasang sistem sprinkler 2. sistem peringatan kondisi darurat. Setiap kompartemen kebakaran.000 m2. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3. Bangunan klab malam. bila: a. tidak terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. Bila bangunan 1 lantai. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. harus dilengkapi dengan: a. toko dengan luas > 1. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. harus dilengkapi dengan: a. diskotek. sistem pembuangan asap otomatis.000 m2. bangunan 2 lantai atau kurang. termasuk ruang parkir dibawah tanah. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3. Kompartemen Kebakaran > 2. sistem pembuangan asap otomaatis. dan b. 1.000 m2. dan b. Bangunan Pertemuan . sistem pembuangan asap otomatis. Selasar terlindung. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. atau lubang-lubang Klas 6.000m2. luas lantai < 2. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. bila: a. sistem inter komunikasi darurat. dan sejenis. yang dilengkapi dengan sisitem ventilasi mekanis sesuai ketentuan: 1. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka 1. atau b. harus dilengkapi dengan: a. KETENTUAN KHUSUS KLAS/BAGIAN BANGUNAN Klas 6. atau ii. dan: i. dan toko (selain pada ketentuan 3 ) yang tidak membuka ke arah selasar terlindung.000m2 yang membuka ke arah selasar terlindung. dipasang sistem sprinkler 3.kecuali yang ditetapkan pada butir 2.Ruang/tempat parkir Atrium kebakaran Ruang/tempat parkir. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. luas bangunan < 2. dan 2. atau b.

dengan luas > 300m2 atau b.000-3. dan b. bila bangunaan 1 lantai 4. selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2. sistem pembuang asap otomatis. Mesjid dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis. diatas. dengan luas > 200 m2. sistem pembuang asap otomatis.000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seperti butir 4.500 m2. atau sistem sprinkler 2. bila bangunan 1 lantai. ruang senam. sistem pembuang asap otomatis. kolam renang dan sejenis) selain dari gedung olahraga(indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1. atau iii.000 m2 i. harus dilengkapi dengan a. bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5. atau ii. Gereja. Bangunan pertemuan lainnya (diluar butir 3 dan 4 diatas): a. sistem pembuang asap otomatis.ventilasi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. 5. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3.000 ii. dan b. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. kompleks olahraga (termasuk hall olah raga. Bangunan pameran.000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. bila bangunan 1 lantai. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. termasuk theater kuliah dan komplek auditorium: a. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. sistem sprinkler. sistem pengelola udara mekanis yang bukan meru-pakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shutdown) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja.b diatas b. atau sistem sprinkler. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Bila luas bangunan > 3. gereja. idem 1. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a diatas adalah: i. pada bangunan sekolah. . lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. atau ii. dipasang sistem sprinkler dan i. atau harus dilengkapi dengan: i. atau ii.500m2 i. atau iii. bilang bangunan 1 lantai 3. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. gereja.a. Bukan pada bangunan sekolah. Bila luas bangunan 2. dan c. atau ii. Bangunan theater atau tempaat pertemuan/hall umum: a.

IAI Ir. Dipl. IAI Ir. Imam S.. Jacob Ruzuar. MCM Ir G. PU Puslitbangkim. L. J. Dep. Roestanto Wahidi D. Tulus Rachmat S Ir. MSc Ir. Sri Hartinah. FRAIA Ir. Binlak Wilayah Barat. PU Sekretaris Ditjen Cipta Karya. PU Kepala Biro Hukum. PU Staf Ahli Menteri PU V Bidang Pengembangan Jasa Konstruksi Direktur Bina Teknis . Pengarah Drs. Sefiawan Kanani Ir. IAI. MSc Ir. Setjen Dep.. Dep. Hari Sasongko Suwarmo S. Sardjono Hadi Sugondo Ir. PU Dit. Dep. MSc. PU Dit. Antonius Budiono. Bambang Guritno. Balitbang. Balitbang. Dep. H. Achmad Lanti. Dep. Eko Widiatmo Ir. Dipl. Achid Winarno Ir. Sunaryo Sumadji. Ernawi. Hendro Moeljono Ir. Aim Abdurachim Idris. MSc Ir. MSc Ir. Rusdi Marzuki Ir. PU Puslitbangkim. Setjen Dep. Binlak Wilayah Timur. DJCK. PU Puslitbangkim. HR. PU Dit. P. Wiedodo Ir. Bintek. Bintek. DJCK. MCM.BD. DJCK Dit. Dep.E. J. DJCK. Dep. G. Gembong Priyono. PU Dit. PU Sekretaris Jenderal Dep. Pelaksana Ir. Dep. M. MSc Ir. Balitbang. MSc Kelompok Kerja Ir. PU Kepala Balitbang Dep. Bitnek. Sidjabat Ir. Suprapto. B. Adjar Prajudi. Balitbang. Eko Djuli Sasongko Ir. Hari Sidharta. DJCK Dit. Dep. PU Kepala Puslitbangkim. MPA Ir. SE Ir. PU Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) . SH Ir. MCM. Ir.Sc. PU Dit. Dipl. Bintek. Prawoto Menteri Pekerjaan Umum Direktur Jenderal Cipta Karya.TIM PENYUSUN PEDOMAN TEKNIS PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG Pembina Ir. Dep. DJCK. DJCK. Erry Saptaria Achyar. MSc Ir.Arch. DJCK. Dep. Ridwan Munzir Ir. Harlansyah Soerarso. Sutikni Utoro Wibisono Setio Wibowo. DJCK. MM. PU Biro Hukum. CES Ir. Sukartono Ir. H. Dep. Rachmadi BS. Bitnek. DJCK Bagian Hukum. Binlak Wilayah Tengah . Renyansih Ny. PU Dit. Dep. Eng. Diding Muchidin Ir. PU Widyaiswara Dep.

MT Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Ikatan Ahli Lansekap Indonesia (IALI) Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Teknik Tanah Indoensia (HATTI) Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Universitas Trisakti. Hendro Moeljono Ir.MAUD DR. Ing. MSA. J. Sofyan Nurbambang DR. MM Ir. Ernawi. Ir. Tulus Widiarso. Sugeng Triyadi S.U.Prasetiyo. Chaidir AM. A. Binsar Hariandja DR. IAI Ir. Jakarta 12110 Indonesia Telepon: (021) 7268203 Faks: (021) 7235223 E-med: bintekctaba@pu. Departemen P. Jl.March. MCM. Bintang Agus Nugroho. Ir. Ariono Suprayogi Ir. Soedibyono Ir. Drajat Hoedayanto. MT Ir. Zaenal Walidin DR. Jakarta Universitas Trisakti. MEng DR. MSCE Ir. Imam S.go. Ir. G. Daniel Mangindaan Ir. IALI Ir. Hadi Prabowo. Ir. Bambang Tata Samiadji. Eko Djuli Sasongko Studio Taba '98 Direktorat Bina Teknik Direktorat Jenderal Cipta Karya. MSc Ir.Ir.id . Raden Patah l/1 Lantai 7 Wing 1 Kebayoran Baru. Penyelaras Akhir Ir. Bambang Budiono Ir. Jakarta Disamping itu juga melibatkan peran aktif berbagai nara sumber di bidang tata bangunan yang tidak dapat disebutkan satu persatu.M. Eka Sediadi Rasyad Ir. Jakarta Universitas Trisakti.