KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 441/KPTS/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG MENTERI PEKERJAAN

UMUM,

Menimbang

:

a.

bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah di bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah, urusan penyelenggaraan bangunan gedung telah diserahkan kepada Daerah baik Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II; bahwa perkembangan penyelenggaraan bangunan gedung dewasa ini semakin kompleks sehingga perlu adanya pengaturan mengenai ketentuan teknis yang menyangkut peruntukan dan intensitas bangunan, arsitektur dan lingkungan, serta keandalan bangunan yang menjadi persyaratan pokok suatu bangunan gedung; bahwa sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987, kepada Menteri Pekerjaan Umum diberi wewenang untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah; bahwa sehubungan dengan pertimbangan pertimbangan tersebut diatas perlu mengatur persyaratan teknis bangunan gedung, dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah; Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun; Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Parumahan dan Permukiman; Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang; Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah; Keputusan Presiden Rl Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen; Keputusan Presiden Rl Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Keputusan Rl Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen Sebagaimana Telah Tiga Puluh Kali Diubah Terakhir Dengan Keputusan Rl Nomor 23 Tahun 1994 Keputusan Presiden Rl Nomor 122/M Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan;

b.

c.

d.

Mengingat

:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

9.

Keputusan Menteri PU Nomor 211/KPTS/1994 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum.
MEMUTUSKAN :

Menetapkan

:

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG. BAB I KETENTUAN UMUM

TENTANG

Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada, diatas, atau di dalam tanah dan atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tampat manusia melakukan kegiatannya. 2. Penyelenggaraan bangunan gedung adalah proses kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan gedung 3. Daerah adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. 4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kotamadya Daerah T'ngkat II. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 (1) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung dimaksudkan untuk mewujudkan bangunan gedung yang berkualitas sesuai dengan fungsinya. (2) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung bertujuan terselenggaranya fungsi bangunan gedung yang aman, sehat, nyaman, efisien, seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya

BAB II PENGATURAN PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG

Bagian Pertama Persyaratan Teknis Pasal 3 (1) Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan mengenai : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. I. m. (2) Peruntukan dan Intensitas Bangunan. Arsitektur dan lingkungan. Struktur Bangunan Gedung. Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran. Sarana Jalan Masuk dan Keluar. Transportasi dalam Gedung. Pencahayaan Darurat, Tanda Arah Keluar, dan Sistem Peringatan Bahaya. Instalasi Listrik Penangkal Petir, dan Komunikasi dalam Gedung Instalasi Gas. Sanitasi dalam gedung. Ventilasi dan Pengkondisian Udara Pencahayaan. Kebisingan dan Getaran.

Rincian persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tercantum pada lampiran Keputusan Menten ini yang merupakan satu kesatuan pengaturan dalam keputusan ini Setiap orang atau badan termasuk instansi Pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung wajib memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) Pasal ini. Pasal 4

(3)

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Kedua Pengaturan Pelaksanaan di Daerah Pasal 5 (1) Untuk pedoman pelaksanaan penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah perlu dibuat Peraturan Daerah yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri ini. Dalam hal Daerah belum mempunyai Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini maka terhadap penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah

(2)

diberlakukan ketentuan-ketentuan Persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. (3) Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang persyaratan teknis bangunan gedung sebelum Keputusan Menteri ini diterbitkan harus menyesuaikannya dengan ketentuan-ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. Pasal 6 Dalam melaksanakan pembinaan pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah melakukan peningkatan kemampuan aparat Pemerintah maupun masyarakat dalam memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 untuk terwujudnya tertib pembangunan bangunan gedung. Dalam melaksanakan pengendalian pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah wajib menggunakan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 sebagai landasan dalam mengeluarkan persetujuan atau perizinan yang diperlukan. Terhadap aparat Pemerintah Daerah yang bertugas dalam pengendalian pembangunan bangunan gedung yang melakukan pelanggaran ketentuan dalam Pasal 3 dikenakan sanksi administrasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 7 (1) Penyelenggaraan bangunan gedung yang melanggar ketentuan-ketentuan Pasal 3 dan Pasal 4 Keputusan Menteri ini dikenakan sanksi administrasi yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 5. Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dikenakan sesuai dengan tingkat pelanggaran dapat berupa: a. Peringatan tertulis b. Pembatasan kegiatan c. Penghentian sementara kegiatan sampai dilakukannya pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung. d. Pencabutan izin yang telah dikeluarkan untok menyelenggarakan pembangunan bangunan gedung. (3) Selain sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), di dalam Peraturan Daerah dapat diatur mengenai pengenaan denda dan tindakan Pembongkaran atas terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung.

(1)

(2)

(3)

(2)

BAB III PEMB1NAAN DAN PENGAWASAN TEKNIS

Pasal 8 (1) Pembinaan dan Pengawasan Teknis untuk pelaksanaan ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 58/PRT/1991 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Teknis dan Pengawasan Teknis Bidang Pekerjaan Umum kepada Dinas Pekerjaan Umum. Pelaksanaan pembinaan teknis dan pengawasan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini didasarkan pada Rencana dan program yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Cipta Karya.
BAB IV KETENTUAN PERALIHAN

(2)

Pasal 9 Dengan berlakunya Keputusan Menteri inl, maka semua ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Keputusan Menteri ini masih tetap berlaku, sampai digantikan dengan yang baru.
BAB V KETENTUAN PENUTUP

Pasal 10 (1) (2) Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk diketahui dan dilaksanakan.
DITETAPKAN Dl PADA TANGGAL : JAKARTA : 10 NOPEMBER 1998

MENTERI PEKERJAAN UMUM

RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 441/KPTS/1998 TANGGAL 10 NOPEMBER 1998

DAFTAR ISI
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. 1 I.2 PENGERTIAN 1. Umum 2. Teknis MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud 2. Tujuan

BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II.1 PERUNTUKAN, FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Peruntukan Lokasi 2. Fungsi Bangunan 3. Klasifikasi Bangunan INTENSITAS BANGUNAN 1. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan 2. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB 3. Perhitungan KDB dan KLB GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Garis Sempadan (muka) Bangunan 2. Garis Sempadan Samping dan Belakang Bangunan 3. Pemisah di Sepanjang Halaman Depan, Samping, dan Belakang Bangunan

II.2

II.3

BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III.1 ARSITEK BANGUNAN 1. Tata Letak Bangunan 2. Bentuk Bangunan 3. Tata Ruang Dalam 4. Kelengkapan Bangunan RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. Fungsi dan Persyaratan Ruang Tebuka Hijau Pekarangan 2. Ruang Sempadan Bangunan 3. Tapak Basement 4. Hijau Pada Bangunan 5. Tata Tanaman SIRKULASI, PERTANDAAN, DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 2. Pertandaan (Signage) 3. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan

III.2

III.3

Keruntuhan Struktur DEMOLISI STUKTUR 1. Ketahanan Api dan Stabilitas 2.6 BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Kriteria Demolisi 2.2 IV.4 IV. Kontruksi Baja 3. Keselamatan Struktur 2.2 . Kompartemensasi dan Pemisahan 5. Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 3. Persyaratan Bahan PEMBEBANAN STRUKTUR ATAS 1. Pondasi Langsung 2. Persyaratan Struktur 2. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 3. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 5. Proteksi Bukaan SISTEM PROTEKSI AKTIF 1.III. Kontruksi Bangunan 2. Tipe Konstruksi Tahan Api 3. Pondasi Bawah KEANDALAN STRUKTUR 1. Pengendalian Asap Kebakaran 4. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 5. Ketentuan UPL dan UKL 4.4 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 1.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. Dampak Penting 2. Kontruksi Kayu 4.3 IV. Sistem Pemadam Kebakaran 2.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. Prosedur dan Metoda IV.5 IV. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi STRUKTUR BAWAH 1. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 4. Pusat Pengendali Kebakaran V.

Tangga Luar Bangunan 9. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar 11. Pintu Keluar Horisontal 12. Fungsi 2. Pegangan Rambat pada Tangga 18. Bordes 15.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 12. Rambu pada Pintu AKSES BAGI PENYANDANG CACAT VI. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan 13.2 VI. Balustrade 17. Atap sebagai Ruang Terbuka 13. Jumlah Orang Yang Ditampung KONTRUKSI JALAN KELUAR 1. Kebutuhan Jalan Keluar 3. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 7. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 22. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 10.3 VI. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 5. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Ambang Pintu 16. Pintu 19. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 8. Tangga. Pintu Ayun 20. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 3. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Pengoperasian Gerendel Pintu 21. Lobby Bebas Asap 7. Ramp Pejalan Kaki 11. Penerapan 2. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 9. Injakan dan Tanjakan Tangga 14. Pesyaratan Kinerja KETENTUAN JALAN KELUAR 1. Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift 14. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 8. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 6. Persyaratan Keamanan 2.BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 5.4 . Lebar Tangga 10. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 6.

1 INSTALANSI LISTRIK 1.1 VIII. Lif Kebakaran 3. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 4. Transformator Distribusi 6. Pemeliharaan INSTALANSI PENANGKAL PETIR 1.3 1SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT TANDA ARAH KELUAR SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK. Perencanaan Instalansi Listrik 2. Instalansi Telepon 3. Pemeriksaan dan Pengujian 4. Beban Listrik 4. Pemeriksaan.1 LIF 1. Instalasi Listrik 9. Sangkar Lif 6.3 .2 IX. Sumber Daya Listrik 5. Pemerikasaan dan Pengujian 7. Saf Lif 7. Jaringan Distribusi Listrik 3. TANDA ARAH KELUAR. Kapasitas Lif 2. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 2. SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Pemeliharaan INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1. Instalansi Tata Suara IX.BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Pengujian dan Pemeliharaan TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN VII. Instalansi Penangkal Petir 3.2 VIII. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 8.2 BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. PENANGKAL PETIR. Lif untuk Rumah Sakit 5. Perencanaan Penangkal Petir 2.

BAGIAN X INSTALANSI GAS X.2 BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI. Tangki Penyediaan Air Bersih 6. Perencanaan Sistem Plumbing 2. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan XII. Penempatan pada Bangunan 2. Kebutuhan Pengkondisian Udara 2. Jaringan Distribusi Gas Kota 3.2 BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII. Ventilasi Alami 3. Ventilasi Buatan PENGKONDISIAN UDARA 1. 1 SISTEM PLAMBING 1. Pewadahan 3. Pemeriksaan dan Pengujian INSTALANSI GAS MEDIK 1.1 VENTILASI 1. Alat Plambing 5.2 XIII. Jenis Gas 2. Konservaasi Energi 3.1 XIII. Sampah Berbahaya XI. Sistem Penyediaan Air Bersih 3. BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. Sistem Pembuangan Air Kotor 4. Pemeriksaan dan Pengujian X. Jaringan Distribusi Gas Medik 3.1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 1. Pompa Air Bersih PERSAMPAHAN 1.3 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN PENCAHAYAAN BUATAN PENCAHAYAAN ALAMI . Kebutuhan Ventilasi 2. Jenis Gas 2.

1 XIV.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KEBISINGAN DAN GETARAN XIV.2 KEBISINGAN GETARAN BAGIAN XV PENUTUP LAMPIRAN .XIII.

Kepala Daerah adalah Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. lorong ramp. bersosial-budaya. KETENTUAN UMUM 1. Pengawas/Penilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. pembinaan. d. e. Daerah adalah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. perbelanjaan. kamar mandi. Teknis a. Umum Dalam pedoman teknis ini yang dimaksud dengan: a. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotoran-kotoran dapur. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. ii. di mana: i. PENGERTIAN 1. Dinas Bangunan adalah salah satu Dinas Teknis di Daerah yang diantaranya mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. atau Gubernur untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. seperti keagamaan. tidak termasuk lorong tangga. d. b.I. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. berusaha. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya. c. di atas. . dsb. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingka/lantai. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. iii. mengadakan pertemuan. atau ruang dalam shaft. dan kegiatan lainnya. b. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. termasuk struktur atap kaca. 2. pendidikan. rekreasi. olah raga. c. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya.

i. h.f. Batas tepi sungai/pantai. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. ii. l. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. g. e. jaringan pipa gas dan sebagainya. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. b. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. atau iv. Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan. g. a. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil. j. jaringan tegangan tinggi listrik. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. Rencana saluran. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. k. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. d. Antar massa bangunan lainnya. iii. f. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. c. Daerah Hijau Bangunan. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. h. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. Batas lahan yang dikuasai. .

Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan prasarana saluran umum perkotaan. x.m. q. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. n. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. . Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan yang dimaksud pada butir 2.i. ii. untuk tempat kegiatan manusia. memperluas. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. program tata bangunan dan lingkungan. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil.w. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). o. memperbaiki. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. s. selain kamar untuk MCK dan dapur. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan. p. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. t. v. y. Mendirikan Bangunan i. w. Mendirikan. u. r.

. cc. Tujuan Pedoman Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. dan insulasi. Tinghat Ketahanan Api (TKA). Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. ruang ganti. Peruntukan dan Intensitas: i. atau sejenisnya. peralatan. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. integritas. aa. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. I. arsitektur dan lingkungan. dd. ii. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V.z. 2.2 dalam ukuran waktu satuan menit.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. serta keandalan bangunan.1. ee. Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. Adapun tujuan dari pengaturan per-bagian adalah: a. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. bb. Tujuan. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah. Maksud Persyaratan Teknis Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Indonesia. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung. yaitu meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan.

Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. iii. dan lingkungan. ketentuan wujud bangunan. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. ii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. sehingga seimbang.iii. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. ii. ii. Strukfur Bangunan: i. menjamin keselamatan pengguna. ii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. e. iii. serasi dan selaras dengan lingkungannya. b. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. d. Ketahanan terhadap Kebakaran: i. c. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat . menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. iv. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. masyarakat. dan budaya daerah. Arsitektur dan Lingkungan: i. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur.

ii. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. Sanitasi dalam Bangunan: i. iii menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. g. h. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. Transportasl dalam Gedung: i. ii. Tanda arah Keluar. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak. ii. Pencahayean Darurat. dan nyaman di dalam bangunan gedung. ii. iii. j.iii. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terwujudnya kebersihan. menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. . ii. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. iii. aman. apabila terjadi keadaan darurat. Instalasi Listrik. i. Instalasi Gas: i. f. menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup.

menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. ii. . menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan.k Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. Kebisingan dan Getaran: i. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. Pencahayaan: i. l. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. ii. m. ii. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.

b. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Kepala Daerah segera menyusun dan menetapkan RRTR. e. ii. Kepala Daerah dapat memberikan pertimbangan atas ketentuan yang diperlukan. g. RRTR. peraturan bangunan setempat dan RTBL berdasarkan rencana tata ruang yang lebih makro. Keterangan atau ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir d meliputi keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan. PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. ataupun peraturan bangunan setempat dan RTBL. f. iii. maka perlu c. seperti kepadatan bangunan. Ketentuan tata ruang dan tata bangunan ditetapkan melalui: i. . Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah. kaidah perencanaan kota dan penataan bangunan ii. maka Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan gedung dengan pertimbangan: i. Peraturan bangunan setempat dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). ketinggian bangunan. Peruntukan Lokasi a. iii. Persetujuan membangun tersebut berstfat sementara sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan tata ruang yang lebih makro. Bagi Daerah yang belum memiliki RTRW. Setiap pihak yang memerlukan keterangan atau ketentuan tata ruang dan tata bangunan dapat memperolehnya secara terbuka melalui Dinas Bangunan. dengan tetap mengadakan peninjauan seperlunya terhadap rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada di Daerah.I. dan garis sempadan bangunan. Peruntukan lokasi sebagaimana dimaksud dalam butir a. Bangunan gedung harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam ketentuan tata ruang dan tata bangunan dari lokasi yang bersangkutan. d. Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR). Apabila persetujuan yang telah diberikan terdapat ketidak sesuaian dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan kemudian.II. sedangkan peruntukan penunjangnya sebagaimana ditetapkan di dalam ketentuan tata bangunan yang ada di Daerah setempat atau berdasarkan pertimbangan teknis Dinas Bangunan. PERUNTUKAN. merupakan peruntukan utama. Dalam hal rencana-rencana tata ruang dan tata bangunan sebagaimana dimaksud pada butir b belum ada.

tidak menimbulkan perubahan atau arus air yang dapat merusak lingkungan. ii. dan fungsi indung kawasan. maka bangunan tersebut harus disesuaikan dengan rencana tata ruang yang ditetapkan. Bagi Daerah yang belum memilih RTRW Daerah. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah dan atau diatas tanah. tidak mengganggu keseimbangan lingkungan. h. tidak untuk fungsi hunian atau tempat tinggal. tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas kendaraan. v. saluran. tetap memperhatikan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. Pembangunan bangunan gedung diatas jalan umum. j. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. iv. Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan pada daerah tersebut untuk jangka waktu sementara. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. penghawaan dan pencahayaan bangunan telah memenuhi persyaratan kesehatan sesuai fungsi bangunan.diadakan penyesuaian dengan resiko ditanggung oleh pemohon/pemilik bangunan. Apabila di kemudian hari terdapat penetapan RTRW Daerah yang bersangkutan. iii. iv. iii. iv. . i. Pembangunan bangunan gedung dibawah atau diatas air perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. v. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah tanah. ii. ii. orang. atau sarana lain perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. Pembangunan bangunan gedung dibawah tanah yang melintasi sarana dan prasarana jaringan kota perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. iii. memiliki sarana khusus untuk kepentingan keamanan dan keselamatan bagi pengguna bangunan. maupun barang.

Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. Rumah tinggal tunggal Rumah tinggal deret Rumah tinggal susun Rumah tinggal vila Rumah tinggal asrama f. perkantoran niaga. dan sanitasi yang memadai. kesehatan dan aksesibilitas bagi pengguna bangunan. kenyamanan. iv. letak bangunan minimal 10 (sepuluh) meter diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. setelah mendapat pertimbangan teknis dari para ahli terkait. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. keselamatan. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung. v. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. ii. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. keamanan. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. iii. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. e.iv. b. fungsi sosial dan budaya. iii. Pembangunan bangunan gedung pada daerah hantaran udara (transmisi tegangan tinggi perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai perikut: i. kesehatan. kenyamanan. k. dan fungsi khusus. v. tidak menimbulkan pencemaran. d. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. letak bangunan tidak boleh melebihi atau melampaui garis sudut 45° (empat puluh lima derajat) diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. telah mempertimbangkan faktor keamaan. keamanan. fungsi usaha. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. 2. ii. . iv. Fungsi Bangunan a. dan sejenisnya. c.

& C. industri besar/berat. dan sejenisnya. pura. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: . Bangunan dengan fungsi umum. bangunan reaktor. penginapan. Bangunan Industri : industri kecil. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. gereja. iv. g. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. j. pelaksanaan. dan sejenisnya. pusat perbelanjaan. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. B. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. a. Bangunan kebudayaan : museum. Setiap bangunan gedung. iv. vi. iii.ii. Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. keveling. rumah bersalin. hostel. terminal bus. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. dan sejenisnya. dan sejenisnya. industri sedang. ii. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. kelenteng. Bangunan Penyimpanan: gudang. gedung tempat parkir. bioskop. dan sejenisnya. dan vihara. sekolah tinggi/universitas. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. Bangunan peribadatan: mesjid. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. sekolah dasar. rumah sakit klas A. poliklinik. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. dan sejenisnya. dan sejenisnya h. motel. iii. Bangunan Terminal: stasiun kereta. 3. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. mal. sosial dan budaya. gedung kesenian. pelabuhan laut. sekolah lanjutan. Dalam suatu persil. Bangunan perdagangan: pasar. pertokoan. halte bus. terminal udara. i. v.

termasuk: i. atau iv. Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. atau (2) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. restoran. 7. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut e. 7. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. hostel. ii iii. Klas 4 : Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. losmen. atau usaha komersial. atau iii. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. Klas 1b : rumah asrama/kost.i. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. c. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. pengurusan administrasi. kafe. f. . atau 9. cacat. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. rumah asrama. rumah tamu. atau anak-anak. pasar. ruang makan. atau ii. tempat cuci umum. iv. atau panti untuk orang berumur. Klas 3: Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. termasuk rumah deret. tempat potong rambut /salon. atau bengkel.. termasuk i. v. rumah tamu. rumah taman. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. ruang makan malam. atau ii. diluar bangunan klas 6. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. bar. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. villa. 8. unit town house . atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. b. d. 6. ruang penjualan. ruang pamer.

dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. dan: . kolam renang. bangunan budaya atau sejenis. carport. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. atau sejenisnya. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya.g. tempat parkir umum. Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. tonggak. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. termasuk: i. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. atau ii. Klas 9: Bangunan Umum Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. temmasuk bengkel kerja. k. h. bangunan peribadatan. antena. perubahan. Klas 8 : Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. perakitan. Klas 10b: struktur yang berupa pagar. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. perbaikan. ii. Klas 9b: bangunan pertemuan. Klas 10 : Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. atau sejenisnya. j. m. ii. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. hall. pengepakan. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. gudang. yaitu: i. finishing. i.

dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang dibedakan dalam tingkatan KLB tinggi. kemampuannya lingkungan. Kepadatan bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. ruang mesin lift. kemampuannya dalam menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan optimalnya intensitas pembangunan. rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan. dan peraturan bangunan setempat. ketinggian bangunan dan ketentuan tata bangunan lainnya dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan. meliputi ketentuan tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB). f. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan a. dalam mencerminkan keserasian bangunan dengan b. iii. dan renggang. sedang. e. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. Bangunan gedung yang didirikan harus memenuhi persyaratan kepadatan dan ketinggian bangunan gedung berdasarkan rencana tata ruang wilayah Daerah yang bersangkutan.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. iii. Klas-klas 1a. Ruang-ruang pengolah. meliputi ketentuan tentang Jumlah Lantai Bangunan (JLB). seperti kawasan wisata. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. ii. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. 1b. dan rendah.i. 9a. dan b' laboratorium. 9b. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud pada butir c tidak diperkenankan mengganggu lalu-lintas udara. yang dibedakan dalam tingkatan KDB padat. . d. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. kemampuannya dalam menjamin kesehatan dan kenyamanan pengguna serta masyarakat pada umumnya. ii. Untuk suatu kawasan atau lingkungan tertentu. sedang. ruang mesin. c. dengan pertimbangan kepentingan umum dan dengan persetujuan Kepala Daerah dapat diberikan kelonggaran atau pembatasan terhadap ketentuan kepadatan. Persyaratan kinerja dari ketentuan kepadatan dan ketinggian bangunan ditentukan oleh: i. pelestarian dan lain lain. ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II.

dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. v. iv. b. c. peraturan bangunan setempat. Penetapan besamya KDB. rencana tata bangunan dan lingkungan. Dengan pertimbangan kepentingan umum dan ketertiban pembangunan.2. setiap bangunan yang didirikan harus sesuai dengan rencana perpetakan yang telah diatur di dalam rencana tata ruang. maka KDB dan KLB diperhitungkan berdasarkan luas tanah di belakang garis sempadan jalan (GSJ) yang dimiliki. dengan tetap menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan keserasian lingkungan. Perhitungan KDB dan KLB Perhitungan KDB maupun KLB ditentukan dengan pertimbangan sebagai berikut: . penggabungan atau pemecahan perpetakan dimungkinkan dengan ketentuan KDB dan KLB tidak dilampaui. untuk persil-persil sudut bilamana sudut persil tersebut dilengkungkan atau disikukan. untuk memudahkan lalu lintas. Apabila KDB dan JLB/KLB belum ditetapkan dalam rencana tata ruang. kebijaksanasn intensitas pembangunan. Ketentuan besarnya KDB dan JLB/KLB dapat diperbanui sejalan dengan pertimbangan perkembangan kota. iii. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. JLB/KLB untuk pembangunan bangunan gedung diatas fasilitas umum adalah setelah mempertimbangkan keserasian. f. keserasian dan keamanan lingkungan serta memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan. kebijaksanaan intensitas pembangunan. 3. apabila perpetakan tidak ditetapkan. daya dukung lahan/ lingkungan.2. maka Kepala Daerah dapat menetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. Kepala Daerah dapat menetapkan rencana perpetakan dalam suatu kawasan/lingkungan dengan persyaratan: i. ii. keseimbangan dan persyaratan teknis serta mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. e. daya dukung lahan/lingkungan. maka lebar dan panjang persil tersebut diukur dari titik pertemuan garis perpanjangan pada sudut tersebut dan luas persil diperhitungkan berdasarkan lebar dan panjangnya. dan dengan memperhitungkan keadaan lapangan. Dimungkinkan adanya kompensasi berupa penambahan besarnya KDB JLB/KLB bagi perpetakan tanah yang memberikan sebagian luas tanahnya untuk kepentingan umum.1 butir b dan c. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB a. dimungkinkan adanya pemberian dan penerimaan besaran KDB/KLB diantara perpetakan yang berdekatan. d. ditetapkan dengan mempertimbangkan perkembangan kota. Penetapan besarnya kepadatan dan ketinggian bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam II.

teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1. e. luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1. Mezanine yang luasnya melebihi 50 % dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh.20 m diatas lantai ruangan dihitung 50 %.a. perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar. h. . ramp dan tangga terbuka dihitung 50 %. Garis Sempadan (muka) Bangunan a. perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan.20 m di atas lantai ruangan tersebut dihiitung penuh 100 %. serta peraturan bangunan setempat. l. luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1. I. kesehatan. k. selama tidak melebihi 10 % dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan. j. i.3 GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. overstek atap yang melebihi lebar 1.20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai. luas tapak yang diperhitungkan adalah yang dibelakang GSJ. selebihnya diperhitungkan 50 % terhadap KLB. rencana tata bangunan dan lingkungan. luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB. dan pendapat teknis para ahli terkait. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 m. b. g. maka ketinggian bangunan tersebut dianggap sebagai dua lantai. d. dan total keseluruhan luas lantai bangunan dalam kawasan tersebut tehadap total keseluruhan luas kawasan. Dalam perhitungan KDB dan KLB. f. asal tidak melebihi 50 % dari KLB yang ditetapkan. c.50 m maka luas mendatar kelebihannya tersebut dianggap sebagai luas lantai denah. keselamatan. Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock). Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah (basement) ditetapkan Kepala Daerah dengan pertimbangan keamanan. Dalam perhitungan ketinggian bangunan. selama tidak melebihi l0% dari luas lantai dasar yang diperkenankan. Garis Sempadan Bangunan ditetapkan dalam rencana tata ruang.

Dalam mendirikan atau memperbarui seluruhnya atau sebagian dari suatu bangunan. tersebut belum ditetapkan. begitu pula garis-garis sempadan untuk pantai. . h. yang ditetapkan pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. garis sempadan menara. Kepala Daerah dengan pertimbangan keselamatan. yang diatur di dalam rencana tata ruang. maka bagian muka bangunan harus ditempatkan pada garis tersebut. i Ketentuan besarnya GSB dapat diperbarui dengan pertimbangan perkembangan kota. Apabila Garis Sempadan Bangunan sebagaimana dimaksud pada butir a. d. sungai. sepanjang penempatan bangunan tidak mengganggu jalan dan penataan bangunan sekitarnya. g. Dalam hal garis sempadan pagar dan garis sempadan muka bangunan berimpit (GSB sama dengan nol). rencana tata bangunan dan lingkungan. tidak boleh dilanggar. e. kesehatan dan kenyamanan. juga menetapkan garis sempadan samping kiri dan kanan. Daerah menentukan garis-garis sempadan pagar. maupun pertimbangan lain dengan mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. garis sempadan podium. jaringan umum dan lapangan umum. garis sempadan muka bangunan. f. Garis sempadan samping dan belakang bangunan a. keserasian dengan lingkungan. dan keserasian dengan lingkungan serta ketinggian bangunan. 2. kepentingan umum. danau.b. Daerah berwenang untuk memberikan pembebasan dari ketentuan dalam butir g. kesehatan. Pada suatu kawasan/lingkungan yang diperkenankan adanya beberapa klas bangunan dan di dalam kawasan peruntukan campuran. untuk tiap-tiap klas bangunan dapat ditetapkan garis-garis sempadannya masing-masing. dan peraturan bangunan setempat. Sepanjang tidak ada jarak bebas samping maupun belakang bangunan yang ditetapkan. kenyamanan. serta belakang bangunan terhadap batas persil. garis sempadan loteng. Penetapan Garis Sempadan Bangunan didasarkan pada pertimbangan keamanan. maka Kepala Daerah menetapkan besarnya garis sempadan tersebut dengan setelah mempertimbangkan keamanan kesehatan dan kenyamanan. Garis Sempadan Bangunan yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam butir a. c. b. maka Kepala Daerah dapat menetapkan GSB yang bersifat sementara untuk lokasi tersebut pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan.

maka jarak antara dinding tersebut minimal satu kali jarak bebas yang ditetapkan. e. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. struktur dan pondasi bangunan terluar harus berjarak sekurang-kurangnya 10 cm kearah dalam dari batas pekarangan. Pada dinding batas pekarangan tidak boleh dibuat bukaan dalam bentuk apapun. dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan atau berlubang. jarak bebas samping dan jarak bebas belakang ditetapkan minimum 4 m pada lantai dasar. maka jarak bebas samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. Pada daerah intensitas bangunan rendah/renggang. untuk perbaikan atau perombakan bangunan yang semula menggunakan bangunan dinding batas bersama dengan bangunan di sebelahnya. g Jarak bebas antara dua bangunan dalam suatu tapak diatur sebagai berikut: i. ii. iv. d. Pada daerah intensitas bangunan padat/rapat. ii. Untuk bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahanbahan/benda-benda yang mudah terbakar dan atau bahan berbahaya. . dan sedangkan untuk bangunan gudang serta industri dapat diatur tersendiri. ii. diluar yang diatur dalam butir a. pada bangunan rumah tinggal rapat tidak terdapat jarak bebas samping. maka Kepala Daerah dapat menetapkan syarat-syarat lebih lanjut mengenai jarakjarak yang harus dipatuhi.5 m. disyaratkan untuk membuat dinding batas tersendiri disamping dinding batas terdahulu. dan pada setiap penambahan lantai/tingkat bangunan. maka jarak antara dinding atau bidang tersebut minimal dua kali jarak bebas yang ditetapkan. maka garis sempadan samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. jarak bebas di atasnya ditambah 0. f. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan.c. bidang dinding terluar tidak boleh melampaui batas pekarangan.50 m dari jarak bebas lantai di bawahnya sampai mencapai jarak bebas terjauh 12. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. iii. sedangkan jarak bebas belakang ditentukan minimal setengah dari besarnya garis sempadan muka bangunan. sisi bangunan yang didirikan harus mempunyai jarak bebas yang tidak dibangun pada kedua sisi samping kiri dan kanan serta bagian belakang yang berbatasan dengan pekarangan.

Kepala Daerah berwenang untuk menetapkan syarat-syarat lebih lanjut yang berkaitan dengan desain dan spesifikasi teknis pemisah di sepanjang halaman depan. Kepala Daerah menetapkan ketinggian maksimum pemisah halaman muka. maka jarak dinding terluar minimal setengah kali jarak bebas yang ditetapkan. dan untuk bangunan bukan rumah tinggal termasuk untuk bangunan industri maksimal 2 m di atas permukaan tanah pekarangan. Penggunaan kawat berduri sebagai pemisah disepanjang jalan-jalan umum tidak diperkenankan. atau ditetapkan lebih rendah setelah mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan lingkungan. b. j. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum . serta keserasian lingkungan. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan. Halaman muka dari suatu bangunan harus dipisahkan dari jalan menurut cara yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. Kepala Daerah dapat menerapkan desain standar pemisah halaman yang dimaksudkan dalam butir a. dan belakang bangunan a. Dalam hal yang khusus Kepala Daerah dapat memberikan pembebasan dari ketentuan-ketentuan dalam butir a dan b.50 m di atas permukaan tanah. maka tinggi pagar pada GSJ dan antara GSJ dengan GSB pada bangunan rumah tinggal maksimal 1. samping. samping. k. . f. kenyamanan. dan belakang bangunan. Pemisah disepanjang halaman depan. dengan setelah mempertimbangkan hal teknis terkait. Pagar sebagaimana dimaksud pada butir e harus tembus pandang. e. d. dengan bagian bawahnya dapat tidak tembus pandang maksimal setinggi 1 m diatas permukaan tanah pekarangan. g h Untuk bangunan-bangunan tertentu. dengan memperhatikan keamanan. Tinggi pagar batas pekarangan sepanjang pekarangan samping dan belakang untuk bangunan renggang maksimal 3 m di atas permukaan tanah pekarangan. c. Kepala Daerah dapat menetapkan lain terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir e dan f. dan apabila pagar tersebut merupakan dinding bangunan rumah tinggal bertingkat tembok maksimal 7 m dari permukaan tanah pekarangan. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. i.iii. Untuk sepanjang jalan atau kawasan tertentu. 3. Dalam hal pemisah berbentuk pagar. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran.

keserasian lingkungan. dengan pertimbangan kepentingan kenyamanan kemudahan hubungan (aksesibilitas). . Kepala Daerah dapat menetapkan tanpa adanya pagar pemisah halaman depan.l. dan penataan bangunan dan lingkungan yang diharapkan. samping maupun belakang bangunan pada ruas-ruas jalan atau kawasan tertentu.

keselamatan. Penambahan lantai/tingkat harus memenuhi persyaratan keamanan struktur. (4) Kekecualian kelonggaran terhadap ketentuan butir III. . iv. Tapak Bangunan i.1.(2) dapat diberikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku dan keserasian lingkungan. ii. Bilamana dianggap perlu. Bentuk Bangunan a. Tinggi rendah (peil) pekarangan harus dibuat dengan tetap menjaga keserasian lingkungan serta tidak merugikan pihak lain. keindahan dan keserasian lingkungan. iii.III. 2. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. Penambahan lantai atau tingkat suatu bangunan gedung diperkenankan apabila masih memenuhi batas ketinggian yang ditetapkan dalam rencana tata ruang kota. Tata Letak Bangunan a. lalu lintas dan ketertiban umum. Pada jalan-jalan tertentu. Penempatan bangunan gedung tidak boleh mengganggu fungsi prasarana kota.iv. keindahan dan keserasian lingkungan. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau teladan bagi lingkungannya. (3) ketentuan penataan bangunan yang harus diikuti dengan memperhatikan keamanan. (2) larangan membuat batas fisik atau pagar pekarangan. Ketentuan Umum i. pemasangan nama proyek dan sejenisnya dengan memperhatikan keamanan. dengan ketentuan tidak melebihi KLB. perlu ditetapkan penampang-penampang (profil) bangunan untuk memperoleh pemandangan jalan yang memenuhi syarat keindahan dan keserasian. Ketentuan Umum i. Pada daerah / lingkungan tertentu dapat ditetapkan: (1) ketentuan khusus tentang pemagaran suatu pekarangan kosong atau sedang dibangun. persyaratan lebih lanjut dari ketentuanketentuan ini dapat ditetapkan pelaksanaaannya oleh Kepala Daerah dengan membentuk suatu panitia khusus yang bertugas memberi nasehat teknis mengenai ketentuan tata bangunan dan lingkungan. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya.1 b. ii. iv. keselamatan.1. b. Pada lokasi-lokasi tertentu Kepala Daerah dapat menetapkan secara khusus arahan rencana tata bangunan dan lingkungan. ARSITEKTUR BANGUNAN 1. iii.

iv. iv. Bentuk. dan atau rencana tata bangunan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut. Perancangan Bangunan i. tinggi ruang diukur dari permukaan atas lantai sampai permukaan bawah dari lantai di atasnya atau sampai permukaan bawah kaso-kaso. vi. Dalam hal tidak ada langit-langit. Ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir II 1.ii harus tetap mengacu pada prinsipprinsip konservasi energi. termasuk para penyandang cacat dan usia lanjut. ii.i tidak berlaku apabila sesuai fungsi bangunan diperlukan sistem pencahayaan dan penghawaan buatan. b. vi. detail.2. v. iii.ii. iii. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya. Untuk bangunan dengan lantai banyak. ii.1. . Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa. vii. material maupun warna bangunan harus dirancang memenuhi syarat keindahan dan keserasian lingkungan yang telah ada dan atau yang direncanakan kemudian dengan tidak menyimpang dari persyaratan fungsinya. profil.1. Tata Ruang Dalam a. Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan rencana tata ruang. 3. v.b.1. harus dilengkapi dengan perlengkapan yang berfungsi sebagai pengaman terhadap lalu lintas udara dan atau lalu lintas laut. Tinggi ruang adalah jarak terpendek dalam ruang diukur dari permukaan bawah langit-langit ke permukaan lantai. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut.b. iv. Aksesibilitas bangunan harus mempertimbangkan kemudahan bagi semua orang. Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan. Ketentuan pada butir II. kulit atau selubung bangunan harus memenuhi persyaratan konservasi energi. tampak. Ketentuan Umum i. Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan dengan fungsi ruang dan arsitektur bangunannya. Bentuk bangunan gedung harus dirancang sedemikian rupa sehingga setiap nuang dalam dimungkinkan menggunakan pencayahayaan dan penghawaan alami. Ruangan dalam bangunan harus mempunyai tinggi yang cukup untuk fungsi yang diharapkan.2. Suatu bangunan gedung tertentu berdasarkan letak ketinggian dan penggunaannya. Bangunan yang didirikan sampai pada batas samping persil tampak bangunannya harus bersambungan secara serasi dengan tampak bangunan atau dinding yang telah ada di sebelahnya. iii.

Bangunan atau bagian bangunan yang mengalami perubahan perbaikan. Penempatan fasilitas kamar mandi dan kakus untuk pria dan wanita harus terpisah. Bangunan kantor sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan kerja. viii. Perubahan fungsi dan penggunaan ruang suatu bangunan atau bagian bangunan dapat diijinkan apabila masih memenuhi ketentuan penggunaan jenis bangunan dan dapat menjamin keamanan dan keselamatan bangunan serta penghuninya. ix. Bangunan tempat tinggal sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan pribadi. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 meter. ruang umum dan ruang pelayanan. Mezanin yang luasnya melebihi 50% dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. iv. vi. xi. vii. serta ruang pelayanan kesehatan yang memadai. perkantoran. vii Ruang penunjang dapat ditambahkan dengan tujuan memenuhi kebutuhan kegiatan bangunan. b. gedung pertemuan. ix. keamanan dan keselamatan bangunan dan lingkungan. Perhitungan ketinggian bangunan. ii. tidak boleh menyebabkan berubahnya fungsi/penggunaan utama. Ruang rongga atap hanya dapat diijinkan apabila penggunaannya tidak menyimpang dari fungsi utama bangunan serta memperhatikan segi kesehatan. serta gedung sejenis lainnya diatur secara khusus. x. atau ruang pertemuan dalam bangunan komersial (antara lain hotel. penambahan. ruang makan.Jenis dan jumlah kebutuhan fasilitas penunjang yang harus disediakan pada setiap jenis penggunann bangunan ditetapkan oleh Kepala Daerah. Suatu bangunan gudang. sepanjang tidak menyimpang dari penggunaan utama bangunan. Bangunan toko sekurang-kurang memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan toko. kecuali untuk penggunaan ruang lobby.v. kegiatan keluarga bersama dan kegiatan pelayanan. Tata ruang dalam untuk bangunan tempat ibadah. sekurang-kurangnya harus dilengkapi dengan kamar mandi dan kakus serta nuang kebutuhan karyawawan v. viii. kegiatan umum dan pelayanan. karakter arsitektur bangunan dan bagian-bagian bangunan serta tidak boleh mengurangi atau mengganggu fungsi sarana jalan keluar/masuk. bangunan monumental. Ruang-rongga atap untuk rumah tinggal harus mempunyai penghawaan dan pencahayaan alami yang memadai. perluasan. gedung serbaguna. Perancangan Ruang Dalam i. Ruang rongga atap dilarang dipergunakan sebagai dapur atau kegiatan lain yang potensial menimbulkan kecelakaan/ kebakaran . . maka ketinggian bangunan dianggap sebagai dua lantai. gedung sekolah. ruang istirahat. dan pertokoan). Suatu bangunan pabrik sehurang-kurangnya harus dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan kakus. iii. gedung olah raga. ruang ganti pakaian karyawan. vi. gedung pertunjukan.

Tinggi ruang dalam bangunan tidak boleh kurang dari ketentuan minimum yang ditetapkan. (2) Dalam hal-hal yang luar biasa. Kelengkapan Bangunan a. Bangunan tertentu berdasarkan letak. Ketentuan Umum i. xiii Setiap bukaan pada ruang atap. dengan memperhatikan keserasian lingkungan. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung. ketinggian dan penggunaannya harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan bangunan. kecuali menggunakan alat bantu mekanis. Setiap penggunaan ruang rongga atap yang luasnya tidak lebih dari 50% dari luas lantai di bawahnya. xiv Pada ruang yang penggunaannya menghasilkan asap dan atau gas harus disediakan lobang hawa dan atau cerobong hawa secukupnya. xx. ii. 4.xii. tidak dianggap sebagai penambahan tingkat bangunan. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan. xviii Apabila tinggi tanah pekarangan berada di bawah titik ketinggian (peil) bebas banjir atau terdapat kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang besar pada tanah asli suatu perpetakan. Tinggi Lantai Denah: (1) Permukaan atas dari lantai denah (dasar) harus: (a) Sekurang-kurangnya 15 cm diatas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan. xv. . ketentuan dalam butir (1) tersebut. – xix. xvii. ii Prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitarnya iii. atau untuk tanah-tanah yang miring. xvi. Cerobong asap dan atau gas harus dirancang memenuhi persyaratan pencegahan kebakaran. b. Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya. Lantai tanah atau tanah dibawah lantai panggung harus ditempatkan sekurang-kurangnya 15 cm diatas tanah pekarangan serta dibuat kemiringan supaya air dapat mengalir. (b) Sekurang-kurangnya 25 cm diatas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan. Tinggi lantai dasar suatu bangunan diperkenankan mencapai maksimal 1. maka tinggi maksimal lantai dasar ditetapkan tersendiri. kenyamanan. tidak boleh mengubah sifat dan karakter arsitektur bangunannya. Syarat-syarat teknis lebih lanjut terhadap ketentuan tersebut di atas mengikuti standar teknis yang berlaku. tidak berlaku jika letak lantai-lantai itu lebih tinggi dari 60 cm di atas tanah yang ada di sekelilingnya.20 m di atas tinggi rata-rata tanah pekarangan atau tinggi rata-rata jalan. Sarana dan Prasarana Bangunan Gedung i. termasuk pengaman/ rambu-rambu terhadap lalu-lintas udara dan atau laut.

sirkulasi. pohon-pohon menahun. Fungsi dan Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan a. gunung dan sebagainya.1. . Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. d. Pintu masuk dan keluar area bangunan gedung harus direncanakan secara terintegrasi serta tidak mengganggu tata sirkulasi lingkungannya. h.2 RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan tidak boleh dilanggar dalam mendirikan atau rnemperbaharui seluruhnya atau sebagian dari bangunan. j. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. sungai besar.iv. sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang.e dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan.1. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaik-baiknya. Setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir III. ekonomi maupun estetika. sosial.2. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman.2. g. e. KLB. Sebagai ruang transisi. tanah dan permukaan tanah. unsur-unsur estetik. peresapan air. f. III. terhadap suatu kawasan/daerah dapat diterapkan b. c. termasuk para penyandang cacat dan warga usia lanjut. maka dapat dibuat ketetapan yang bersifat sementara untuk lokasi/lingkungan yang terkait dengan setiap pemmohonan bangunan. v. i. RTHP menupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. KDH. Parkir dan ketetapan lainnya.e ini belum ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan. KDB. sungai. Ruang Terbuka Hijau adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. Apabila Ruang Terbuka Hijau Pekarangan sebagaimana dimaksud pada butir 111. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut.

3. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap . b. Ruang Sempadan Bangunan a. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan / penanaman di atas tanah. d. Keserasian tersebut antara lain mencakup: pagar dan gerbang. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. b. c. 1. seperti dari bahaya banjir. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan.pengaturan khusus untok orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. k. vegetasi besar / pohon. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. jalur pejalan kaki. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. serta tergantung pada kondisi lahan. ketentuan teknis dan kebijaksanaan Daerah setempat. dan aspek aksesibilitas. pagar. pengendalian bentuk estetika bangunan secara keseluruhan/ kesatuan lingkungan. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan ruang sempadan depan bangunan. 2. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. bangunan penunjang seperti pos jaga. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. tidak di dalam wadah / container yang kedap air. Tapak Basement a. tiang bendera. bak sampah dan papan nama bangunan. e. tiang telepon di kedua sisi jalan / ruas jalan yang dimaksud. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat/padat. yang Sebagai perlindungan atas sumber-sumber daya alam yang ada. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. dapat ditetapkan persyaratan khusus bagi permohonan ijin mendirikan bangunan dengan mempertimbangkan hal-hal pencagaran sumber daya alam. keselamatan pemakai dan kepentingan umum.

Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif.a dan III. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir a. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. 4.5. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. Penyediaan parkir di pekarangan tidak boleh mengurangi daerah penghijauan yang telah ditetapkan. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut pada butir III. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia.5. Tata Tanaman a. ii.b Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jeni-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. iv. III. d. Ketentuan Umum i. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. Prasarana parkir untuk suatu rumah atau bangunan tidak diperkenankan mengganggu kelancaran lalu lintas. Jumlah kebutuhan parkir menurut jenis bangunan ditetapkan sesuai dengan standar teknis yang berlaku. batang dan cabangnya rapuh. 5.2. kestabilan tanah / wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai.2. b. Hijau Pada Bangunan a. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin.3 PERTANDAAN. Setiap bangunan bukan rumah hunian diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan. c. iii. . Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. air. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. b. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP.basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangun harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. atau mengganggu lingkungan di sekitarnya.

aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. nyaman. iv. dan kendaraan pelayanan lainnya. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. . dan memberikan pemandangan yang menarik. dan ruang terbuka umum. serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. ii. iii. memudahkan aksesibilitas. ii. penghijauan. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. iii. c. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. iii. Pedestrian i. ii. Sirkulasi pertu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman). Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. Luas. Elemen pedestrian (street fumiture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. aman. Jalan i. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas. iii. dll. Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan. d. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. dan keJelasan kontinyuitas pedestrian. Parkir i. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. e. Sirkulasi i. ii. iv. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. pedestrian dan penghijauan. papan informasi sirkulasi.b. rambu-rambu. penghijauan.

bahan. menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. Kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut akan: i. tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai ketentuan yang berlaku.4 PENGELOLAAN DAMPAK LAINGKUNGAN 1.2. . dan komponen promosi. harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan. Penempatan signage termasuk papan iklan/ reklame. b. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang mengganggu dan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan harus dilengkapi dengan AMDAL sesuai ketentuan yang berlaku. Dampak Penting a. III. visual yang tidak menarik. atau ruang publik. motif. menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan. iii. fungsi dan arsitektur bangunan estetika amenity. atau habitat alaminya mengalami kerusakan. berdasarkan pertimbangan ilmiah. c. yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan penundang-undangan yang bertaku. Pertandaan (Signage) a. tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan. dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. baik yang penempatannya pada bangunan keveling. b. Kepala Daerah dapat mengatur pembatasa-pembatasan ukuran. silau. b. ii. c. atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya. mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. pagar. dan lokasi dari signage. 3. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan a. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan memperhatikan karakter lingkungan.

adalah sesuai Ketentuan pengelolaan Dampak Lingkungan yang berlaku.c merupakan kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. menyimpan atau memproduksi bahan radioaktif. cagar alam. Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan. menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung. mudah terbakar atau bahan lain yang berbahaya. merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi. Untuk mendirikan bangunan yang menurut fungsinya menggunakan menyimpan atau memproduksi bahan peledak dan bahan-bahan lain yang sifatnya mudah meledak. 3. sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memnperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. Ketentuan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang harus melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adaiah sesuai ketentuan yang berlaku. mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi.3. mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. Bangunan yang menurut fungsinya menggunakan. Persyaratan Bangunan i. iii. racun. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang wajib AMDAL. dapat diberikan ijin apabila: (1) Lokasi bangunan terletak di luar lingkungan perumahan atau berjarak tertentu dari jalan umum. jalan kereta api dan bangunan lain di sekitarnya sesuai rekomendasi dinas teknis terkait. vii.iv. 2. harus dapat menjamin keamanan keselamatan serta kesehatan penghuni dan lingkungannya. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menunut peraturan perundang-undangan. ii. v. suaka margasatwa. d.1. . (3) Bagian dinding yang terlemah dari bangunan tersebut diarahkan ke daerah yang paling aman. 4. taman nasional. dan atau pemerintah. vi. (2) Bangunan yang didirikan harus terletak pada jarak tertentu dari batas-batas pekarangan atau bangunan lainnya dalam pekarangan sesuai rekomendasi dinas terkait. Kegiatan yang dimaksud pada butir III.

v. Sampah yang dikumpulkan di sarana pengumpulan sampah padat harus selalu dikosongkan setiap hari untuk menjamin agar lalat tidak berkembang biak dan mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. ii. b. Pembuangan limbah cair dan padat i. iii. atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan. ii. c. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan membangkitkan LHR >= 60 SMP per 1000 ft2 luas lantai.iv. atau tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan. sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran. . iii. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 l/dt atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapat ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan bidang resapan yang ukurannya disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. vi. Guna pemulihan cadangan air tanah dan mengurangi debit air larian. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. v. Sarana pongumpulan dan pongolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah. maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang. harus dilengkapi dengan sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran pengering genangan sementara yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah sakit di sekitarnya. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lalu lintas. iv. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan.

keselamatan dan kesehatan lingkungan. dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. dengan memperhatikan keamanan.5. dengan memperhatikan keamanan. atau dilarang membangun bangunan. b.5.5. daerah Banjir dan yang sejenisnya. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. c. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir III. bagi bangunanan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir III.a. dibatasi. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. d. keselamatan dan kesehatan dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat.3. e. Pengelolaan Daerah Bencana a.3. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana. .a dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun.

c. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan.IV. Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. sehingga pada kondisi pembebanan maksimum. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. Struktur bangunan harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Penentuan mengenai jenis. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan. Struktur bangunan harus direncanakan mampu memikul semua beban dan / atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur. 2. 1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. seperti : 2. d. Persyaratan Bahan a. c. Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. IV. gempa) dan beban khusus. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni.beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. . Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan.2 PEMBEBANAN 1 Analisa struktur harus dilakukan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban . Persyaratan Struktur a. dan beban-beban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain: meliputi beban gempa yang mungkin terjadi sesuai zona gempanya). Struktur bangunan yang direncanakan secara umum harus memenuhi persyaratan keamanan (safety) dan kelayakan (serviceability). beban sementara (angin. harta benda dan masih dapat diperbaiki. b. b. termasuk beban tetap.

Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. SNI-1729 Tata cara / pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. SNI-3976. f. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung SNI 1727. d. b. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. seperti: a. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. seperti: a. Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. b. c. g. 2. SNI-3430. SNI-1728 Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. e. d. c. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi.a. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 2847. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti: a. SNI -1734. IV.3 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung SNI 1726. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. 3. STRUKTUR ATAS 1. SNI-3449. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. . b. SNI-2834 Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton.

Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. c. SNI-1736. SNI-2405 . Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Temmitisida. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. h. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. antara lain: a. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancangan Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. Tata Cara Pencegahan Rayap pada Pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. 5. b. d. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. SNI-1745. 4. SNI-1735. SNI-2407. e. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. SNI-2397. Tata Cara Perancangan Bangunan Sederhana Tahan Angin. b. SNI-2395. g. d. SNI-1963. Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut.b. SNI-2404. c. Tata cara/ pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. SNI-2394. tata cara. f. i. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanean suatu bangunan yang harus dipenuhi.

Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. c. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. e. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan. b. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.IV. c. Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan korelasi tipikal parameter tanah yang lain. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan. Pondasi Dalam a.4 STRUKTUR BAWAH 1. d. b. d. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. 2. Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. . kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. Pondasi Langsung a.

dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan. beban akibat perilaku manusia. Ketidak andalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. b. beban akibat perilaku manusia maupun beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. Keruntuhan Struktur a. Ketidak andalan struktur akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. d. Keruntuhan sruktur adalah diakibatkan oleh ketidak andalan suatu sistem atau komponen stnuktur untuk memikul beban sendiri. gempa. IV. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan dalam pemanfaatannya. Keselamatan Struktur a. d. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandaian bangunan gedung. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila: a. beban yang didukungnya. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. dan atau beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. maupun bencana lainnya. dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau .IV. Keselamatan struktur tergantung pada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya. Struktur bangunan sudah tidak andal. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku. 2. c. c. b.6 DEMOLISI STRUKTUR 1.5 KEANDALAN STRUKTUR 1.

dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi. Penyusunan prosedur. . b. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. Adanya perubahan peruntukan lokasi/fungsi bangunan. b. masyarakat dan lingkungan.ekonomis. Prosedur dan Metoda a. metoda dan rencana demolisi struktur dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. Prosedur. 2.

ii. 3 atau bagian dan bangunan klas 4: i. fungsi atau penggunaan bangunan.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. terutama pada bangunan klas 2. yang sesuai dengan: i. iii. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. membatasi berkembangnya asap dan panas. . cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. jumlah. iv. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. iii. a. dan ii. e. Ketahanan Api dan Stabilitas. tingkat bahaya api. viii. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran. fungsi atau penggunaan bangunan. iv. yang sesuai dengan: i. iii.V. waktu evakuasi ii. antara bangunan. ketinggian bangunan. cukup waktu untuk evakuasi penghuni secara aman.ukuran setiap kompartemen api. intensitas kebakaran. dan x. kedekatan dengan bangunan lain. vi. dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana/ prasarana pengamanan dan pencegahan penyebaran api. elemen bangunan lainnya. d. vii sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. ix intervensi pasukan pemadam kebakaran. yang menghubungkan kompartemen api. v. b. ii. beban api. sehingga: i. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. sampai dengan tingkat tertentu. c.

tingkat bahaya api. intensitas kebakaran. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untok mencegah penjaiaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. atau potensial dapat meledak. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. g. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. j. sambungan konstruksi. beban api. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. iii. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. c. Tipe B: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. h. yaitu pada bukaan. sesuai dengan: i. Tipe Konstruksi Tahan Api. ii. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. b. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. .f. Tipe A: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. fungsi bangunan. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. v. 2. i. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. ukuran kompartemen. dan vi. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. sistem proteksi aktif. iv. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. keruntuhan tersebut dapat dihindari. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran.

7.000 m2 5. mengendalikan kebaran api agar tidak menjelar ke bangunan lain yang berdekatan.000 m2 Klas 6.4 Ukuran maksimum dari kompartemen kebakaran Klasifikasi Bangunan Maksimum luasan lantai Klas 5 atau 9b Maksimum 48. ii.000 m3 33. iii.000 m2 b Pemberlakuan.6.3 Tipe Konstruksi yang diwajibkan KETINGGIAN (dalam jumlah lantai) KLAS BANGUNAN 4 atau lebih 3 2 1 4.1.3.500 m3 18. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10. dan .500 m2 2.000 m2 3.7. i. agar dapat: i.500 m3 12.3. perambatan api dan asap.1.000 m3 21. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan.500 m2 3.9 A A B C 5.8 atau 9a luasan lantai (kecuali daerah perawatan pasien Maksimum 30. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran.8 A B C C Kompartemenisasi dan Pemisahan Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial.000 m3 volume Maksimum 5. Tabel V. 2.000 m3 volume Tipe Konstruksi bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 8. Tipe konstruksi yang diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: Tabel V. a.

Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. 6. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18. ii. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir i. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii. d.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108.e. asap dan gas beracun. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter.e. kecuali seperti yang diijinkan pada butir d. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5.i yang lebamya tidak kurang dari 18 meter. i. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter.1.d.1. atau ii. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. tanki air. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. . iii. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel V. maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir i atau ii di atas. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. Bangunan dengan luasan melebihi 18.ii.e. dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir 4. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium. 7. iv. atau peralatan Lift. d dan e tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler.ii. c. e. atau: ii. i. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi. ketentuan pada butir c. Batasan umum luas lantai. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel v. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir 4.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut.000 m3 dengan sistem sprinkler. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka.000 m2 atau 108. (2) bangunan klas 5 s. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku.4 bila: i. Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir 4. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku.ii. sungai. ventilasi.4 dan butir f. Bagian bangunan. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran.

(2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir 4. pemisahan oleh dinding tahan api. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3. dan tertutup pada setiap lantai. . mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. dan . dan (4) tidak ada bangunan diatasnya. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum. atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. f.d. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. 5. ii. (4) di atas maka jalan tersebut dapat beriaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya.e. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. Proteksi Bukaan a. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi (1) s. (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. Tangga dan Lift pada satu shaft.ii (3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. h. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir b. b. Seluruh bukaan harus dilindungi. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. shaft ventilasi. Pada bangunan klas 2 dan 3. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. g. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai. c.

d. maka tidak boleh menempati lebih dari 1/3 luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada.1. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. 90° Lebih darii 90° s. Kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. dan iii. ii sambungan pengendali. 45° Lebih dari 45° s. iii. lubang tirai. 135° Lebih dari 134° s.000 mm2. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api.5 JARAK ANTARA BUKAAN PADA KOMPARTEMEN KEBAKARAN YANG BERBEDA e. f.d. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan.d. g. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 m pada dinding yang sama.1.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai. atau (2) 1. Sudut Terhadap Dinding 0° (dinding-dinding saling berhadapan) Lebih dari 0° s. Pemisahan Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators). bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir ii. Tabel V. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i. bila luas lubang/sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan. damper. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir h.5.d. dan ii. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel V. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45.d kurang dari 180° 180° atau lebih Jarak Minimal Antara Bukaan 6m 5m 4m 3m 2m nol . berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. yang bukan dari klas 10. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil.

(3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari: (a) 2 (dua) pompa. di mana: (a) bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian klas 4. jendela. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan peruntukan bangunan. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 25 m. (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. SNI 1745. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua). satu pompa digerakkan oleh: (a) motor-bakar. Sistem Pemadam Kebakaran a. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. 6. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat. atau . jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. Pintu. (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan. Sistem hidran kebakaran. ii. V. Bila diperlukan proteksi.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. (b) 2 (dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. atau (b) bangunan klas 5. 7. dan (2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup). i. i. kecuali pada satuan peruntukan bangunan. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan: (1) yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2. Hidran kebakaran. atau (b) motor listrik yang dicatu dari generator darurat. atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. maka jalan masuk. atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-. dan (2) terdapat regu pemadam kebakaran. ii.h. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis).

dimana satu atau lebih hidran dalam dipasang. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. b. (a) pada bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian Klas 4 dilayani oleh Hose Reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. (2) melayani hanya lantai dimana alat ini ditempatkan. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. dan (b) pada bangunan klas 5. Sistem Hose Reel harus disediakan: (1) untuk melayani seluruh bangunan. ii. 6. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk memudahkan petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. Sistem Hose Reel. tahan cuaca. Hose Reel i. dan jika dalam jarak 6 m dari bangunan. dilayani oleh Hose Reei tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat Hose Reel melayani seluruh unit hunian. kecuali pada satu unit hunian. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rurnah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai klas bangunannya. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. . 7. dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. dan dengan konstruksi yang mempunysi TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya.(5) (6) (7) (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang: (a) mempunyai jelur keluar ke jalan atau ruang terbuka. satu unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4.

1 Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua klas bangunan: 1. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel V. Ruang Pertunjukan. Teater. Luas panggung dan belakang panggung lebih dari 200 m Tiap bangunan beratrium Untuk memperoleh ukuran kompartemen . maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel. atau (d) kombinasi (a). Sistem Sprinkler i.000 m3. (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air.d harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke Hose Reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam. Ruang Pertemuan Umum. (b). Bila dihubungkan dengan meteran air. dan (c). Termasuk lapangan parkir terbuka dalam bangunan campuran. Pada bangunan yang tinggi efektifnya lebih dari 25 m Dalam kompartemenisasi dengan salah satu ketentuan berikut: (a) luas lantai lebih dari 3. Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran. Bangunan Rumah Sakit. atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar.2. Konstruksi Atrium. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api). Lebih dari 2 (dua) lantai. sebuah katup yang memenuhi butir 5. yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (kbs 6). (b) volume ruangan lebih dari 21. Tidak termasuk lapangan parkir terbuka.500 m2. (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm.(3) (4) (5) (6) Memiliki slang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian rupa untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan Hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) diatas ditempatkan: (a) di luar bangunan. 2. c.

selain nuang parkir terbuka Bila menampung lebih dari 40 kendaraan.000 m3. SNI-3989. Ruang parkir. dan klasifikas bangunan sesuai standar teknis yang berlaku.000 m3.000 m2 dan volume 108. dengan salah satu dari Bangunan dengan risiko bahaya kebakaran 2(dua) persyaratan : 2 (dua) persyaratan berikut: (a) Luas lantai melebihi 2. luar bangunan yang diisyaratkan menggunakan sprinkler.yang lebih besar: (a) bangunan klas 5 . (2) Bangunan bersprinkler. ii.000 m3. atau (b) sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikas intemal tidak disyaratkan. 108. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler.000 m2. Pada kompartemen. dan (ii) setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinker diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan (3) Katup kontrol sprinkler. amat tinggi. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku. ·) (b) Volume lebih dari 12. .000 m2 den volume Bangunan berukuran begar den terpisah. Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan: (a) setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi intema yang disyaratkan. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. (b) semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan.9 dengan luas maksimum 18. jika: (a) sprinkler terpasang diselunuh bangunan. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan: (i) sebagian bangunan dipasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler. (4) Pasokan air. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka.

d. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya. ii. iii. 2. ii. dan iv. Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran a. anak-anak atau orang cacat. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang diseluruh bangunan. harus: (a) berdiri sendiri. SNI-3985. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku.(6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper). Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-klas. atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. PAR memenuhi butir i. ruang pertemuan umum atau semacamnya. Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektip terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. i. dan (2) PAR dari jenis bukan klas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan nuang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. bangunan klas 9a. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. kecuali di dalam unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler didaerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. bangunan klas 2 dengan persyaratan khusus. dengan ii. bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yang digunakan sebagai: (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan . Pemadam Api Ringan (PAR) i. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: i. bangunan klas 1b. Spesifikasi Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi intemal tidak dipersyaratkan. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan Bab VIII. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu dipasang di dalam bangunan atau bagian bangunan yang dilayani oleh Hose Reel. 7) Sistem sprinkler di ruang parkir. b.

Pengendalian Asap Kebakaran a. lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan disetiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku. i. dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara.c. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka. Pada saat terjadi kebakaran.10 m di atas level lantai. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi. Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yang berlaku. iii. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2. dan iii. ditempatkan kurang dari 1. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia. ruang kompartemen sanitasi. . Perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. : Batas Ambang.5 % smoke obscuration/m. bangunan klas 1 atau 10. (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. untuk selama tenggang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. ii. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. Sistem sampling harus memenuhi Ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan. ii. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. Pemasangan. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. dan iv. ruang tanaman atau sejenisnya. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µm. dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis. dan (2) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. 3. i. ii. dan ii. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i. ramp dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. Penempatan Alat Pendeteksi Asap. Persyaratan umum i. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. b. termasuk didalam satuan numah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. Rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakoasi/ penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/ jalan keluar. yaitu: (1) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan Pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung. iii. dipilih tipe foto-elektrik. d. ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0.

(2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. Pusat Pengendali Kebakaran a.. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel V. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. meubel.2. setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah.iv. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengendalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan. harus: (a) beroparasi seperti sistem pengendali asap. sebuah ruang untuk pengendalian dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penanganan kondisi darurat lainnya. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. v. panel kontrol. atau ketentuan pada butir b. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. tata letak bangunan. iii. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memenuhi ketentuan standar yang berlaku.3. . Untuk keperluan ketentuan ini. tidak digunakan bagi keperluan lain. iii. Ruang Pusat Pengendaii Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah.3. sifat dan jumlah bahan yang disimpan. Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap klas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku. d. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. telepon. Untuk sistem pengatur udara lainnya..3 pada lampiran persyaratan teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen. 4. dimana: b. dilengkapi sarana alat pengendali. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran. ii sifat penggunaan bangunan. Konstruksi. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran: (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v. atau ketentuan pada butir b. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. ii. Persyaratan untuk bahaya khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: i.2. dan tidak mensirkulasikan asap diantara kompartemen kebakaran.2. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. vi. c. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bagi penghuni bangunan.

dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi dari dalam bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5). Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari (2) dua arah (1) arah pintu masuk di depan bangunan. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangunan. ii. langit-langit dan dinding dalam.1. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. ii. sakelar pengendali jarak jauh untuk gas atau catu daya listrik. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yang dilindungi terhadap api. seperti pada lantai. i. (2) telepon sambungan langsung. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1). yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30.5 Pintu Keluar. bahan lapis penutup. dan sistem manajemen. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. i. kipas pengendali asap. pintu. saluran. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. iv. konstruksi penutupnya dari beton. . pembungkus atau sejenisnya harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. dan (2) sistem keamanan bangunan. genset darurat. dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. c. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. ventilasi. saluran udara dan sejenisnya. bukaan pada dinding. tidak boleh lewat ruang tersebut. pipa. ii. untuk jendela. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya nuang pengendali. iii. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaan pada Bab V. Proteksi pada bukaan. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. (3) sebuah papan tulis dan sebush papan tempel (pin-up board) berukuran cukup.i. sistem pengamatan. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokohan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. iii. sakelar kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. Sebagai tambahan. panel indikator lif. Ukuran dan sarana. e. peralatan utilitas. d.50 m. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. Panel indikator kebakaran.

dan tingkat iluminasi diatas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat di capai dari ruang pengendali tersebut. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120.50 m2. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. i. atau ii. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m dan luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) diatas. Beberapa peralatan seperti Motor bakar. pompa pengendali sprinkler.(2) jika hanya menampung peralatan minimum. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat. dan (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. Sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. (4) mempunyai kipas. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara perjamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. Ventilasi dan pemasok daya. (5) mempunyai catu daya listrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. . f. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. g. (3) jika dipasang peralatan tambahan. h. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketika kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dbA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan didalam bangunan. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali.

Butir c tersebut di atas tidak berlaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai /atap. 2. iii.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. d. iii. b. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ramp (3) Lantai bordes yang memadai uniuk menghindari keletihan (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. nyaman dan memadai.VI. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa meraskan keadaan darurat. 3. . Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. mampu menjaga lintasan anak-anak. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1m atau lebih dari lantai/atap/melalui bukaan pada dinding luar bangunan. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. injakan dan akhiran injakan tangga. Akses ke dan di dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. Fungsi tersebut pada butir b di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan maka bangunan harus mempunyai antara lain: i. b. c. aman. iv. nyaman. Butir c tersebut tidak berlaku juga untuk: i. menerus sepanjang area yang berbahaya. e. kecuali tangga/ramp di luar bangunan. ii. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. Fungsi a. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. harus dibuatkan penghalang yang: i. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. dan memadai bagi semua orang. ii. atau 4. c. Persyaratan kinerja: a. ii.

luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. b.5 m.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 1. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. Jumlah. Bangunan klas 9: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada: i. 3 dan 4. dimensi jelur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan . balustrade atau penghalang lainya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh . ii. sesuai dengan: i. mobilitas dan karakter penghuni. Tinggi bangunan Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan: i. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6. i. Fungsi bangunan iv. Fungsi bangunan Butir h tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. ramp. Jumlah. Fungsi bangunan iv.d. h. 8: Minimal harus tersedia 2 jalan ke!uar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebih dari 25 m c. iii. lantai. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan. i. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. Intervensi pasukan pemadam kebakaran Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan.atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m. jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. d. setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. Jumlah. Kebutuhan Jalan Keluar a. b Bangunan klas 2 s. balkon. Persyaratan Keamanan a. Basement: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. c.f. kecuali: i. g. Jarak tempuh ii. VI. dan ii. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. Tangga. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. Tangga. 2 . mobilitas dan karakter lain dan penghuni ii.

dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. Bangunan klas 2 dan 3 i. e.d. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. ii. atau ii. b. f. atau ii. . Bagian bangunan klas 4: Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. masing-masing merupakan bagian jelur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. iv. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka. g. 3. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan. Pintu masuk dari setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari: (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Area perawatan pasien: Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. 4. pada bangunan klas 9a: tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke: i. Panggung terbuka: Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. 1 jalan keluar. b. Jarak jalur menuju pintu keluar a. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. bila bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran a. Bangunan kelas 5 s. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. selain area perawatan pasien. iii. setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih.iii. sedikitnya 2 jalan keluar. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: i. v. ii. Bangunan klas 2 dan 3: Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran.

ramp. 1 m. konstruksi ruang tersebut bebas asap. 45 m pada bangunan klas 9a. Bangunan klas 5 s. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. b. Dimensi/ukuran Pintu Keluar. atau ruang sirkulasi lainnya. 60 m. . i. tersebar merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. Panggung Terbuka: Jarak jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbuka harus tidak lebih dari 60 m. bila : i. Bangunan klas 9a: Area perawatan pasien pada bangunan klas 9a.d. f. e. d. berjarak tidak lebih dari: i. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. Gedung Pertemuan: Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih 20 m dari pintu keluar. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. atau 6.8 m pada lorong. dan ii. 5. dan ii.c. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. lebar bebas. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. c. dan: i. f. lobby. 9: Terkena aturan butir d. e. b. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. jarsk ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. tinggi bebas seluruhnya harus tidak kurang dari 2 m. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus: a. atau ii. Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar: a. atau ii. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. ii. atau iii. Pada bangunan klas 5 atau 6. d. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan c. 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. untuk bangunan lainnya. lebar bebas. Jarak maksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. berjarak tidak kurang dari 9 m. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. memiliki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya terlindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. 1. 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang.

bagian dinding tersebut harus mempunyai: c.2 m: 1070 mm. ruang transisi atau yang sejenisnya. g. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. . tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka. (4) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dan 6 m. b. pada area perawatan pasien. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud.d. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. koridor. atau ii. lebar pintu keluar: i.8 m pada lorong. minus 250 mm. (2) lintasan tanpa rintangan. komponen sanitasi. diukur tegak lurus ke jalur lintasan. kecuali kalau pintu tersebut dari: i. 7. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. ii. lorong. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. a. ketempat: (1) ruang atau lantai yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. tidak lebih dari 20 m. (2) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. d atau e. iii.2 m: 1200 mm. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600. lebar bebas. 750 mm.8 m . iii.2. 1. lebar bebas. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. e. ii. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir b. f. atau ii. ke jalan atau ruang terbuka. ke area tertutup yang: (1) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. jika membuka ke arah koridor dengan (1) lebar koridor antara 1. parkir kendaraan atau sejenisnya. (3) mernpunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi: i. iii. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. hall atau yang sejenisnya. ii. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. c. lobby umum. (2) lebar koridor lebih dari 2. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung atau melawati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut: i. pada kasus lain. (3) pintu keluar horisontal: 1250 mm.

dan memenuhi ketentuan teknis yang berlaku. . jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. atau 9. Pada bangunan klas 2. atau ii. 9. 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. 3 atau 4.3 harus tersedia ii. 3 atau 9a. bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang berlaku. tangga/ramp yang tidak diisolasi torhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari: i. dengan injakan dan tanjakan dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan b. Pada bangunan klas 5 s d. c. tangga/ramp yan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke Jalan atau ruang terbuka. Pada bangunan klas 2. 20 m dari pintu keluaar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. d. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m. 30 m dan salah satu dari dua pintu atau lorong keluar bila arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. 8 ata u 9b.i. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. ii.5. membuka ke pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud i lobby bebas asap sesuai dengan Bab V.d. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka. e. atau ii. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. Jika Jebih dari dua akses pintu. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. Lintasan Melalui Tangga/Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. e. jarak antara pintu keluar dari ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasii terhadap kebakaran harus tidak melampaui: i. 8. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran. d.1. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. Tangga/ramp.2. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus mempunyai jalan lintasan menerus. bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. Pada bangunan klas 5 s. TKA sedikitnya 60/60/60. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya.

Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. atau tidak setinggi 1. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantai yang dipisahkan oleh dinding tahan api Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai dengan tidak kurang dari: i. terhadap kebakaran dalam bangunan. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. Pintu keluar harus tidak terhalang. f. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. .5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. ii.ii. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. ii. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. atau mana yang lebih lebar. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal Kasus selain butir b di atas. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang. 10. Jika pintu keluar yang disyaratkan menuju ke ruang terbuka. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita bagunan SD atau SLTP. dan c. jalur lintasan menuju ke jalan harus i. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila: i. b. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan. bebas asap. d. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dan 1 m. kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. ii. c. Pada bangunan klas 9b. 2. antara unit hunian tunggal. e.4.2. Pada bangunan klas 9a. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terletak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya.14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab. Pada bangunan klas 2 atau 3. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ramp yang tidak diisolasi. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar: arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. 11 Pintu Keluar Horisontal. a. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dan 500 orang. dan bila perlu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. Vl. d. b.

iv. tangga. tidak harus menghubungkan lebih dari i. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. dan luas lantai dengan: a. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. 1. . merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf. atau ii. Tangga. 7. dan satu dari lapis lantai tersebut terletak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. 6. dan eskalator. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. 12. service duct dan yang sejenis. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. atau 13. di luar bangunan. iii.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. 8 atau 9. ramp atau eskalator tersebut i. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. Ruang Peralatan Dan Ruang Motor Lift a. 0. eskalator. 14. ramp. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a b. Bila ruang peralatan atau ruang. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. motor lif mempunyai luasan i. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift. tidak lebih dari 100 m2. ii. tata letak lantai tersebut. 3 lantai.2. lift. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. dan ii. lobby dan yang sejenis. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i.2 sesuai jenis penghunian. b. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. kecuali bila dijinkan sesuai butir b atau c di atas. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini c.ii. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. bila: i. iii. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya.c. pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. hall. ii pada area parkir kendaraan atau atrium. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. ii. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. d. Ramp Atau Eksalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran a. koridor. 2 lantai dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan.

r. penyimpanan r. atau dengan konstruksi: 2. tempat cuci Perpustakaan : . hostel. laboratorium. tunggu r. ruang pamer. r.2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan Galeri seni.3 1 30 1. workshop . pamer : r. . Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. . peragaan. Tabel VI.boiler/sumber tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan.r penyimpanan m2/orang 4 1 2 15 25 10 1 0. elktrikal. kerja. telepon Kolam renang Teater dan Hall R.5 1 4 2 30 pabrik VI. ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : staf pemeliharaan Proses manufaktur m2/orang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 bengkel 3 5 5 0. dll .mall. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD SLTP Pertokoan. manufaktur.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel. atau cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a.3 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. r. bila terjadi kenusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api. dari material tidak mudah terbakar. r. 3.r. Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. café. motel. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4. prosesing .ventilasi. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r. gereja.b. b. sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: . museum Bar. listrik.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Jenis Penggunaan Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : . baca. penjualan: Level langsung dari luar Level lainnya r. guest-house Stadion indoor area Kios Dapur. c. arcade Panggung penonton: darah panggung Kursi penonton R.

mempunyai TKA minimal 60/60/-. b. beton bertulang atau beton prestressed. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. b. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. . 6. luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii.2. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. b. c. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4. 7. setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. baja dengan tebal minimal 6 mm kayu: i. ii. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon b. tidak harus disediakan dari tangga. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap.7 harus: a. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang 5. harus tidak ada hubungan langsung antara i. maka harus: a. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. dan ii. b. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. d. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. terbentang antar balok lantai. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam pedoman ini. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar. dan: a. c. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. mempunyai luas minimal 6 m2. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a.a. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. di setiap bukaan dari area hunian. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. di mana: i. atau ke bagian bawah langit-langit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. iii.

disyaratkan. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. b. panel atau saluran distribusi. dan iii. motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. ii. kecuali: i. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. Ramp Pejalan Kaki a. bagian dari balustrade. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis Lebar Tangga a. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. 11.c. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. 1:8 untuk kasus lainnya c. lebar bebas halangan. gang. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. kecuali untuk list langit-langit. 8. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. gang. dan sejenisnya. kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. b. di mana: . bebas halangan. seperti pegangan rambat (handrail). b. atau koridor. 9. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. lebar dan tinggi langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. meter listrik. disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. 10. panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. ii. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup.4 iii. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. bila peralatan dimaksud terdiri atas: i. lobby. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. bila konstruksi yang menutup ramp. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. koridor. d. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i.

bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i.6 m dan panjangnya minimal 2. ruang perawatan pasien bangunan klas 9a. e. ambang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. tangga. f. c. ii. b. Balustrade a Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. bila: . injakan dan tanjakan konstan. lebar minimal bordes 1. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. Ambang Pintu Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. tangga atau balkon luar ii. Meskipun dengan ketentuan butir a. dan jumlah sesuai standar teknis. b. 16. balkon dan sejenisnya. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. 14. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. 12. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. i. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. b. b. Bangunan klas 9a: i. Bordes a. d. ii. 15. atap tersebut harus a.ii. lantai. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai.b. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. 13. pintu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. ii. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. injakan. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. kasus lainnya i. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. ramp.7 m. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. tanjakan. koridor.

ii. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. i. d. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. bukan pintu berputar b. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. Balustrade pada: i. tidak dibatasi dengan dinding. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii. c. bila dibuat sesuai i. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a.ii. dan ii. 17. Tinggi balustrade: i. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i.ii. 7. balkon dan sejenisnya. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. lantai. kecuali tangga/ramp luar bangunan.b. Balustrade sesuai ketentuan butir e. koridor. dibuat menerus 18. f. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp. Bila menggunakan jeruji. bukan pintu gulung. dan harus: i. c. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. lorong. e. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. kecuali sekeliling panggung. iii. balkon. g.i.i. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b.iii dan g. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m. i. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8. tangga. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. Balustrade. Pegangan Rambat Pada Tangga a. bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i. . tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. atap. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. b. mesanin dan sejenisnya. ii.

19. lorong atau ramp. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan. termasuk bordes. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik.2 m dari lantai. iii. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. 21. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. melayani kompartemen saniter. 7. dengan tangan. bangunan klas 9a b. hanya melayani: i. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya. kecuali bangunan sekolah. pintu dapat dibuka secara manual. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan bukan pintu sorong. d. ii. b. Pintu Ayun a. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. c. Ayunan harus searah akses keluar.9 . 3. d. ii. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan. atau 8.c. 6. khususnya oleh pemilik. ii. kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran.1. Bila terbuka sempurna. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. kecuali: i membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. c. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. harus dapat dibuka secara manual. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. dan . alarm kebakaran dan lainnya. b. pada bangunan klas 9b. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. kecuali bila: a. 20. kecuali: i. dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. atau bagian klas 4. ii. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu.

Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. Rambu Pada Pintu a. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. VI.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. b. tersedia sistem komunikasi internal. untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. . ii. Rambu. 2.i. termasuk penyandang cacat. 22.

Kapasitas angkut lif barang yang diizinkan. Lif kebakaran dapat berupa lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur. Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. Persyaratan teknis dari lif yang digunakan sebagai lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. c. d. Peringatan Terhadap Pengguna Lif Pada Saat Terjadi Kebakaran Tanda peringatan harus: a. Waktu tunggu lif. 2. g. b. harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. Lif kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. Jumlah dan kapasitas lif harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untak sirkulasi vertikal pada bangunan. 1 LIF 1. Kapasitas angkut lif penumpang yang diizinkan. Kapasitas Lif a.VII. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (Fire Switch) terlebih dahulu. . dekat setiap tombol panggil untuk lif penumpang atau kelompok dari lif ada bangunan. e. c. harus menjadi kapasitas angkut dari lif dimaksud. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. lif kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. kecuali ii. dipasang ditempat yang mudah terbaca: i. d. Pintu saf lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan peraturan yang berlaku di Indonesia. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. b. f. Lift Kebakaran a. Sumber daya listrik untuk lif kebakaran harus direncanakan dari sumber yang berbeda. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petuugas Kebakaran. Untuk mengubah fungsi lif penumpang atau lif barang menjadi lif kebakaran. e. Kecepatan dan ukuran sangkar lif kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. dan menggunakan kabel tahan api. 3. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya.

Untuk saf lif yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. 1 Tanda Peringatan Lif Penumpang b. atau ii huruf yang diukir atau ditatah langsung dipermukaan bahan dinding iii. Satu atau beberapa lif harus di pasang sebagai lif pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan ramp.DILARANG MENGGUNAKAN LIF BILA TERJADI KEBAKARAN 10 mm 8 mm ATAU Dilarang menggunakan Lif bila terjadi Kebakaran Gambar VII. huruf yang diukir. bila diperlukan. 4. b. Dalam saf lif dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lif. telepon. harus: i. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar Vll. setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. berupa bel listrik. dan iii. Lif Untuk Rumah Sakit a. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai Lif pasien yang dibutuhkan pada butir a. 6. berukuran cukup untuk meletakkan fasilitas kereta dorong ( wheel strecther) secara horisontal ii. dan terdiri dari i. Mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 Kg. b. kayu. . misalnya bangunan Kelas 9a. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. 1. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung ditempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. ditatah atau huruf timbul pada logam. Lif yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. plastic atau sejenisnya dan dipasang tetap didinding. Saf Lif a. Sangkar Lif Sangkar pada setiap lif harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar. 5.

iv. Instalasi lif yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap nuang mesin lif. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada semua arah gaya d. iii. Mesin Lif Dan Ruang Mesin Lif a. Prosedur pemeriksaan. termasuk lantai ruang mesin. Instalasi listrik untuk lif harus dilengkapi dengan pengaman harus lebih atau sakelar otomatis. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lif. dengan beban sangkar lif. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban dibawah ini: i. panel kontrol. 8. Jika mesin lif dan tali diempatkan di lantai bawah. governor dan peralatan lain. Beban diperhitungkan pada saat bandul mekanis governor) bekerja. ii. iii. motor generator. lantai dan penyangga di Ruang mesin harus di rencanakan dengan memenuhi: i. Vll. untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. atau disamping ruang luncur di lantai bawah. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. tromol tali. Instalasi Listrik a. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. peralatan lain dan lantai diatasnya. b. Semua bagian logam dari lif pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. b. Pengujian Dan Pemeliharaan a. . Bangunan ruang mesin lif harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. ii. tromol. pengujian dan pemeliharaan instalasi lif sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 03-2190-1991. pondasi untuk mesin. c. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali baban berat pada arah sejajar. Balok. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. b. Pemeriksaan.2 TANGGA DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan Teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. 9. Pondasi harus menyangga berat mesin. c. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang.7. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok.

2 TANDA ARAH KELUAR 1. VIII.1 SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT 1. Setiap tanda “KELUAR” dibutuhkan. dan harus dipasang diatas atau di dekat setiap: a. koridor. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai keluar i.VIII. lorong. ii. dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. atau iii. hall. b c. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. jika menggunakan sistem terpusat. 2. bangunan kelas 2 atau 3. tangga yang tertutup. lorong atau ramp yang digunakan untuk Keluar iii. e. atau iv. c. ruang yang mempunyai luas lebih dari 300 m2. harus : a. Tanda KELUAR harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. atau ramp yang digunakan untuk ii tangga luar. harus: a. 3. atau ii ke ruang yang mempunyai lampu darurat. yaitu pada: i. ke ruang terbuka. setiap lorong. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 tetapi kurang 300 m2 yang terbuka: i. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi daari kerusakan karena api dengan konstsruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. 2. bekerja secara otomatis b. PENCAHAYAAN DARURAT. c jalan lintas. ke jalan raya. . mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan. jalan keluar di balkon yang menuju Keluar. TANDA ARAH KELUAR. Jelas. pencahayaan darurat digunakan pada tanda KELUAR. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien d. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. ke koridor. bangunan kelas 9a. atau sejenisnya yang digunakan pasien. mempunyai tigkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. Sistem lampu darurat dipasang pada: a b. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. Setiap lampu darurat. mudah dibaca.

Jika tanda “KELUAR" tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. sistem alarm diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. akomodasi untuk orang tua. Pintu dari tangga tertutup. dan: Jalan keluar horisontal. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m Bangunan Kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari dua lapis dan a. 2. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua. 5. . atau sejenisnya. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua. 4. lorong. 3. anak-anak. untuk sekolah. langsung memberikan peringatan pada petugas. VIII. untuk gedung pertunjukan. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju Jalan raya atau ruang terbuka. bagian rumah dari sekolahan. Bangunan Kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua: a.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. di daerah bangsal perawatan. d. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petugas b. dan: Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan KELUAR" pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai VIII. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. hall. lobi. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan sesuai dengan tipe dan kondisi pasien Bangunan Kelas 9b a. atau b. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari tiga b. kecuali bila sistemnya a. hall umum. maka tanda Keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor.1 3. c. atau orang cacat.b. b.

Jaringan Distribusi Listrik a. lif kebakaran. seperti pompa kebakaran. dengan frekuensi 50 Hertz.1 INSTALASI LISTRIK 1. Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketantuan: a. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak dan busduct dari berbagai tipe. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. alat ukur. peralatan pengendali asap. maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. dengan frekuensi 50 Hertz. b. mengganggu dan merugikan bagi manusia. INSTALASI LISTRIK. bagian bangunan dan instalasi lainnya. dapat menggunakan ketentuan/ standar dari negara lain atau badan international. d.IX. Jaringan yang melayani beban penting. lingkungan. 2. ukuran dan kemampuan. sistem komunikasi darurat. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. sistem deteksi dan alarm kebakaran. PENANGKAL PETIR DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. dipelihara. c. tombol. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. transformator dan peralatan lainnya. papan hubung bagi dan isinya . tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya e. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. papan hubung bagi dan beban listrik. . Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik harus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran. b. Semua peralatan listrik diantaranya penghantar. c. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. tidak membahayakan. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. jaringan distribusi.

secara otomatis. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila tajadi gangguan sumber utama. f. 5. Transformator Distribusi a. dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3. sebelum dipergunakan. dengan ijin instansi yang bersangkutan. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. Pemeriksaan Dan Pengujian Instalasi listrik yang dipasang. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak momungkinkan. 6. c. c. harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. 4. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding. sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri. atap dan lantai yang kokoh. Sumber Daya Listrik a.3. . Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup. yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau nomalisasi dari peraturan yang berlaku. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. faktor kebersamaan (coincident factor) atau faktor ketidak bersamaan (diversity factor). e. dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. b. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listrik tidak boleh putus. di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. d. harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. b. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi golombang elektromanetik dan lain-lain. g.

Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang c. b.7. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. b. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. Pada ruang panel hubung bagi. dipelihara. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. Instalasi Penangkal Petir a. IX. Ha-hal yang belum diatur didalam peraturan tersebut diatas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. b. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harus mudah diamati. harus mengacu pada rekomendasi dari badan International seperti IEC. dan instalasi lainnya. Pemeliharaan a. bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai risiko terkena sambaran petir. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung a. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. mengganggu dan merugikan lingkungan. 2. Perencanaan Penangkal Petir a. harus diberi instalasi penangkal petir. perbaikan dan pelayanan. harus memperhatikan arsitektur bangunan. b. serta diberi ventilasi cukup. IX. 3. sifat geografis. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. serta direncanakan .3 INSTANSI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG. c. bagian bangunan dan instalasi lain. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. tidak membahayakan. terhadap bahaya sambaran petir. termasuk manusia yang ada di dalamnya. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. 1. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1.

maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. kedap debu. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. tidak ada genangan air. aman dan mudah dikerjakan. terang.50 m x 0. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. terang. b. iii. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: i. c. Instalasi Tata Suara a. 2. mempunyai dinding dan lantai tahan asam.80m. Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a diatas harus menggunakan sistem khusus. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi Persyaratan: i. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m keatas.b. ii. c. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. dan lain-lain. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. c. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. d. Ruang yang bersih. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. atau terdiri dari kabel tahan api. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. . harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. iii. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. Ruang batere sistem telepon harus bersih. dan dilaksanakan berdasarkan standar. minimal berjarak 0. 3. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. Secara berkala dilakukan pengukuran/ pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). Instalasi Telpon a. b. ii.

c. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. v. Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter-gas ke peralatan ii. Gas elpiji (LPG = Liquefied Petroleum Gasses). Jaringan Distribusi Gas Kota a. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. Gas nitrous Oxida (N2O) c. X. iv. b. vi. 2. Pada instalasi gas untuk pembakaran. iii.2 INSTALASI GAS MEDIK 1. Rancangan sistem distribusi gas pembakaran. Udara tekan . Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. adalah : a. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2He ). terdiri dari propane (C3H8) dan Butane (C4H10). harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang secara otomatis mematikan aliran gas. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter-gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Gas elpiji. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Faktor diversifikasi (diversity factor).1 INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. Berat jenis dari gas. INSTALASI GAS X. Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi: a. Panjang pipa dan jumlah sambungan. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. 3. Jenis Gas Jenis gas medik yang dimaksud. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. b. Gas oxigen b. Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter-gas)mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang.X. Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas).

Pada instalasi pipa gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. Kebutuhan gas medik garus disesuaikan dengan kebutuhan untuk asien rawat inap dan kebutuhan lain. Jaringan Distribusi Gas Medik a. b. Vakum 2. d. Rancangan sistem distribusi gas medik. c. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang . khususnya untuk instalasi pipa oksigen.d. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. pipa Nitrous Oxida dan pipa udara tekan. peralatan rawat gigi dan sebagainya. Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. pemilihan bahan dan kontruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. e. 3. Pada instalasi gas medik harus dilengkap peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyarat tanda kebocoran gas. seperti untuk ruang bedah orthopedi.

Perencanaan Sistem Plambing a. . sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. petunjuk teknik. Sistem Penyediaan Air Bersih a. maka harus dipasang sistem tanki persediaan air dan pompa yang direncanakan dan ditempatkan sehingga dapat memberikan kapasitas dan tekanan yang optimal. maka harus dilengkapi dengan pipa sirkulasi. c. 2. Pipa pembawa air panas yang cukup panjang tersebut harus dilapisi dengan bahan isolasi. b. sedangkan untuk kelas bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. Apabila kapasitas dan atau tekanan sumber yang digunakan tidak memenuhi kapasitas dan tekanan minimal pada titik pengaturan keluar. b. dimana pipa pembawa air panas dari sumber air panas ke alat plambing cukup panjang.XI. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. maksimum 60° C. serta diperhitungkan berdasarkan standar. sebelum digunakan harus mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang. SANITASI DALAM GEDUNG XI. Kualitas air bersih yang dialirkan ke alat plambing dan perlengkapan plambing harus memenuhi standar kualitas air minum yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. e. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. d. alat plambing dapat bekerja dengan baik. g. Temperatur air panas yang keluar dari alat plambing harus diatur. kecuali untuk penggunaan khusus. Sistem distribusi air harus direncanakan sehingga dengan kapasitas dan tekanan air yang minimal. f. SISTEM PLAMBING 1. dan apabila sumber air bukan dari PAM. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. Sumber air bersih pada bangunan harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). meliputi sistem air bersih.1. tidak mengganggu lingkungan. Kebutuhan air bersih untuk perumahan berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. Bangunan yang dilengkapi dengan sistem penyediaan air panas.

f.h. h. tembaga. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. Semua sistem pelayanan air bersih harus direncanakan. g. b. tidak mengandung bahan beracun dan pemasangannya harus sesuai dengan petunjuk teknis bahan pipa yang bersangkutan. Saluran air kotor dapat benupa pipa atau saluran lainnya. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja. Sistem air kotor didalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa ven untuk menetralisir tekanan udara didalam saluran tersebut. karat dan kebocoran. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. j. 3. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang akan dialirkan. . sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. besi tuang. tahan terhadap karat dan panas. baja maupun bahan lainnya yang tidak mudah rusak. harus ditangani secara khusus. Sistem pengaliran air kotor direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. dipasang dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tidak mudah rusak dan tidak terkontaminasi dari bahan yang dapat memperburuk kualitas air bersih. i. Pemeliharaan sistem air kotor dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya penyumbatan. Air kotor yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. serta yang mengandung radioaktif. Sistem Pembuangan Air Kotor a. tanah liat. baik tempat mandi cuci. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunaannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. e. PE. Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilaksanakan. beton. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. baik dari bahan PVC. d. besi lapis galvanis atau Tembaga. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. i. PE (poli-etilena). sesuai dengan petunjuk teknis dari bahan pipa yang bersangkutan dan ketentuan-ketentuan lain yang berlaku di Indonesia. c. kakus maupun kegiatan lainnya. Pada dasarnya air kotor berasal dari aktivitas manusia.

bahan tersebut tidak boleh memperburuk kualitas air bersih. babas dari kerusakan dan tidak mempunyai bagian kotor yang tersembunyi. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak dan lemak. serta dilengkapi dengan 1ubang pemeriksa. d. Apabila tangki penyediaan air bersih menggunakan bahan lapisan untuk mencegah kebocoran dan karat. 5. f. tahan lama untuk digunakan. b. Bahan alat plambing harus mempunyai permukaan yang halus dan rapat air. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan. baja. Tangki Penyediaan Air Bersih a. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempat-tempat yang dapat menimbulkan pencemaran. perlengkapan bangunan. fiberglass dan kayu. e. harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. harus dilakukan secara berkala untuk menjamin kebersihan dan bekerjanya alat tersebut dengan baik. pipa peluap. pipa penguras dan pipa ven. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. g.4. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. Bahan tangki dapat berupa beton. Tangki penyediaan air bersih harus diiengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar. Tangki penyediaan air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediakan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. b. e. Konstnuksi dan bahan tanki penyediaan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. Alat Plambing a. c. minuman bahan steril atau bahan sejenis lainnya. c. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. . Pemeliharaan semua alat plambing. Pada pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. Fungsi tangki penyediaan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. d.

Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. e. 1. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan. Kelengkapan pada Bangunan a. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. Fungsi pompa air bersih adalah memberikan kapasitas dan tekanan cukup pada sistem penyediaan air bersih atau menyalurkan air ke penyediaan air bersih. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. XI. . Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. Pompa a. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Fungsi pompa air kotor adalah menyalurkan air ke saluran air kotor umum Kota atau ke bangunan pengolahan air lainnya. c. dan pada saluran yang lurus. lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. b. maka harus dilakukan cara-cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang 2. Persyaratan Saluran a. SALURAN AIR HUJAN. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku.6. pipa isap dan pipa keluaran pompa. Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebab-sebab lain yang dapat diterima.2 Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effsiensi yang maksimal. d. c. Kemiringan saluran harus dibuat. yang tanki kotor kotor b. c. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. b Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup. Apabila saluran dibuat tertutup.

Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni. Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. Khusus untuk bahan seng. Sampah Berbahaya Untuk sampah padat yang dikatagorikan sebagai jenis buangan berbahaya dan beracun (sampah B3). 3. Bentuk pewadahan sampah harus disesuaikan untuk kemudahan pengangkutan sampah oleh Dinas Kebersihan Kota. XI. pasangan.3 PERSAMPAHAN 1. 3. fiberglass. Tempat pewadahan sampah harus terbuat dari bahan kedap air. beton. atau Pengelola Pengangkutan Sampah. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. peti kemas fiberglass. seng. besi dan baja.d. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sementara harus dihitung berdasarkan jenis bangunan dan jumlah penghuninya. penempatan dan pembuangannya harus ditangani secara khusus sesuai dengan peraturan yang berlaku. tidak mudah rusak. tanah liat. besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. dan pasangan bata atau beton. c. peti kemas baja. 2. . Bahan saluran dapat berupa PVC. mempunyai tutup dan mudah diangkut. Penempatan pada Bangunan Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas pewadahan dan atau penampungan sampah sementara yang memadai. Pewadahan a. b.

Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. Bangunan klas 2. 7.XII. bukaan. (3) ruangan bersebelahan dengan jendela. b. . Ventilasi Alami a. pelataran parkir.1 VENTILASI 1. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 10% luas lantai kedua ruangan tersebut. (1) jendela. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi. atau daerah yang terbuka ke atas. (2) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. pintu atau sarana bukaan lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10% dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. ii ke arah. jendela. ii. (1) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sanitasi. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu. 2. (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai. bukaan pintu ventilasi.1. dan yang sejenis.6 m diatas lantai. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai lantai kedua ruangan tersebut. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka i. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang diventilasi. Bangunan kelas 5. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. Kebutahan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai: a. Ventilasi alami sesuai dengan butir XII. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3. dan: i. bukaan. 8 atau 9. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. bukaan. dengan jarak tidak lebih dari 3. bukaan. Penerapan ventilasi alami.2 di bawah ini atau b. (2) jendela. (2) teras terbuka. (3) Luas ventilasi yang diatur pada butir (1 ) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya. 6.

iii. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: i. f. koridor atau ruang lainnya. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1. d. iv. asrama pada bangunan Kelas 3. dapur atau pantry. sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. atau (2) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam. jika: i.c. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang berlaku. g. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan: i. sekolah TK atau panggung terbuka). 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. (1) jalan masuk harus melalui ruang antara.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. 6. v. ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4. harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman. ii. e. ii. harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. atau ii. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. atau iii. sistem ventilasi alami permanen yang memadai. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yang dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya: i. . (1) jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. setiap peralatan masak yang mempunyai: (1) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. sekolah TK atau panggung terbuka). ii ruang makan umum atau restoran. Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah: i. pada bangunan Kelas 5. 7. harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/halaman dibawah lantai dasar. jika berada dibawah lantai dasar. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir.

Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. XII.2 2. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang berlaku. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. c. kantor. .60 meter diatas lantai. atau sebaliknya. rumah sakit. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. pemilihan peralatan. e. dan standar teknis lain yang berlaku. PENGKONDISIAN UDARA 1. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan a. atau (2) 1. Besamya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar.8 MJ/jam untuk daya gas. 3. Konservasi Energi a. d. total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak. 3. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. f. dan minimal 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung.ii. Bilamana digunakan ventilasi buatan. b. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. b. lebih dari: (1) 0. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. Ventilasi buatan a.5 kW untuk daya listrik. c. pabrik. toko. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi.

tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan. . ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. (2) Semua saluran udara harus direncanakan. sistem distribusi udara. . atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. iii. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. ii. sistem kontrol. isolasi pemipaan. (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem Fan. dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku. Dasar perancangan i. sistem pompa dan pemipaan. Penetapan sistem dan peralatan. Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya.b.

presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dan fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. iii. 1. pintu ketuar. Kamar. museum dan monumen. tempat bongkar muat barang.00 pagi. kegiatan diluar bangunan.XIII.00 malam sampai jam 06. g. klub malam. m. k. 1. PENCAHAYAAN BUATAN. e. ruangan. 2. penyiaran televisi. ruangan didalam bangunan b. i. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. seperti proses produksi dan penyimpanan. pencahayaan untuk pameran seni. taman dan daerah bagian luar lainnya. seperti: i. d. b. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan knalitas tampilan. fasilitas luar untuk olahraga. selama operasi normal. jalan.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. pencahayaan di unit pengeboran. dsb. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. c. j. pintu masuk ii. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi: a. c. PENCAHAYAAN XIII. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. . Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. daerah luar bangunan. pencahayaan darurat yang secara otomatis mati. pencahayaan luar untuk monumen publik. meliputi: a. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan buatan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan beban pendinginan bangunan. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. Tingkat Iluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung XIII. Kamar. f. efektif dan sesuai dengan kebutuhan ruangan. pencahayaan untuk rambu-rambu. pencahayaan khusus laboratorium. n. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. pencahayaan untuk pembuatan film. gallery.2 2.

3. Untuk fasilitas banyak bangunan. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. dan reflaktor yang efisien. langit yang cerah. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan: a. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut.3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. 6. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. obyek luar. 5. 4. XIII. 3. c. Jika perlu. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya. balas. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan monggunakan sumber pencahayaan yang tepat. 7. Penentuan besanya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI-2396 tentang Penerangan Alami Siang hari untuk Rumah dan Gedung. 2. b. mempunysi karakteristik distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidak nyamanan karena silau atau pantulan. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan atau kaca ganda. a. jenis reflektor yang efisien. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor aluminium anodized berkualitas tinggi. . Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. b. baik dari sumber sinar matahari langsung. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. Pemanfaatan pencahayaan alami Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. Pengendalian silau pada bangunan.

Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang tedetak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendali untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. . Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafond harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. kecuali: a. b. Pengendali otomatis. e. kecuali yang diperlukan untak pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu “KELUAR”. e. Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut.XIII. d. Pengendali yang diprogram. Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap group yang melayani luasan 30 m atau kurang. Semua sistem pencahayaan. hotel dan rumah sakit. 2. 1. b. d. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus menerus. Pengendali haruss digunakan sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. harus dilengkapi dengan pengendali manual. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell). Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik.4 PENGENDALIAAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut: a. c. Pengendali yang memerlukan operator yang terlatih. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. f. pasar swalayan. c. kecuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. Pengendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. Pengendali dipusatkan di lokasi yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. Letak pengendali harus mudah dicapai. gudang dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). otomatis atau yang terprogram. Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama didekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. pertokoan. pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami.

XIV. KEBISINGAN DAN GETARAN
XIV. 1. KEBISINGAN 1. Baku Tingkat Kebisingan a. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. b. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut berlaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2

XIV.2

GETARAN 1. Baku Tingkat Getaran a. Sala satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. b. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut, berlaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2.

XV. KETENTUAN PENUTUP

XV.1

Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Bab-bab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI), pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi, tata cara, dan metode uji bangunan, komponen, elemen, serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatif serta penyesuaian penyesuaian yang diperlukan terhadap Persyaratan Teknis Bangunan Gedung diharapkan untuk dikembangkan oleh masing-masing Daerah disesuaikan dengan kondisi, permasalahan, kebutuhan, dan kesiapan kelembagaan di setiap Daerah.

XV.2

MENTERI PEKERJAAN UMUM ttd. RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN
TABEL V.2.3 PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. KETENTUAN UMUM
PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk: 1. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. Setiap lantai di atas tinggi efektif 25m, atau b. lebih dari 2 lantai di bawah tanah, atau c. atrium, atau d. bangunan klas 9a yang > 2 lantai, dan 2. jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka, harus dilengkapi dengan: 1. Sistem presurisasi otomatis, atau 2. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir Vl.3. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF >25 M Klas. 2, 3, den 4. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 2. Bila panjang koridor umum > 40 m, harus dibagi dengan interval < 40 m, dengan konstruksi sesuai ketentuan V.1.3, kecuali bahan pelapis dan bahan yang tidak mudah terbakar Klas5,6, 7,8,dan 9b (selain ruang/tempat parkir) Klas 9a 1. Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis, dan 2. Sistem pengendali asap tezona sesuai ketentuan yang berlaku

KLAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang Diisolasi terhadap kebakaran

BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Klas 2, 3, den 4 1. Harus dilengkapi dengan alarm dan detekai asap otomatis, dan 2. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran den bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan Kas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8, atau 9b, maka: a. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap Jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomati, atau b. Klas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8 dan 9b harus

Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat klas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/pengguna yang banyak. diatas harus dipasang. Klas 6. termasuk jlan penghubung dan rampnya. karakter khusus bangunan b. harus dipasang: 1. 7. atau iii. fungsi khusus bangunan c. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. atau 4. Basement dengan luas > 200 m2 harus dilengkapi dengan: a. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan klas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan klas 5. Pada bangunan: 1. Klas 5 atau 9b (sekolah) dan b. 8. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen Klas 5. Bila bangunan >2 lantai. Sistem pengendali asap terzona. 6. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau 3. Sistem sprinkler. Sistem sprinkler 1. Klas 6. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan: a. dan 9b (selain ruang/tempat parkir Klas 9a BASEMENT (selain ruang/tempat parkir) . atau ii. atau 9b. atau b. 6. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. 7. Sistem pengendali asap terzona. atau 3. 7. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. atau 9b (selain sekolah) maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. atau b. atau b. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan. Sistem sesuai butir 2. 3. Klas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > 3 lantai. Sistem presurisasi udara otomatis. Sistem detektor dan alarm asap. 8. sistem sprinkler 3. dan 2.dilengkapi dengan i. atau 2. 7 (bukan tempat parkir terbuka). atau ii. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. maka: a. 8. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau 2. bila bangunan mempunyai lebih dari satu komprtemen kebakaran. harus dipasang: a. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detekotr asap bekerja. 8. bila basement mempunyai lebih daari satu kompartemen kebakaran. dipajang. Bila > 2 lapis dibawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. atau 2. Sistem pengendali asap terzona. Bila < 2 lapis di bawah tanah: i.a. Sistem sprinkler 1. 2. atau digunakan dalam bangunan d. sistem alarm dan deteksi asap otomatis.b.

termasuk ruang parkir dibawah tanah. sistem pembuangan asap otomatis. Kompartemen Kebakaran > 2. dan: i. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler. Setiap kompartemen kebakaran. KETENTUAN KHUSUS KLAS/BAGIAN BANGUNAN Klas 6. sistem peringatan kondisi darurat.kecuali yang ditetapkan pada butir 2. 1.000 m2.000m2. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka 1.500 m2.Ruang/tempat parkir Atrium kebakaran Ruang/tempat parkir.000 m2. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3. terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko Klas 9b. luas lantai < 2. bila: a. harus dilengkapi dengan: a. bila bangunan 1 lantai. sistem pembuangan asap otomaatis. Bangunan klab malam. Kompartemen kebakaran > 2. Selasar terlindung. harus dilengkapi dengan: a. sistem deteksi alarm kebakaran. luas bangunan < 2.000 m2. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. atau ii. dan 2. diskotek. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. Bangunan satu lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomaatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. dipasang sistem sprinkler 2. Bila bangunan 1 lantai. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. toko dengan luas > 1. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. tidak terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. sistem inter komunikasi darurat. yang dilengkapi dengan sisitem ventilasi mekanis sesuai ketentuan: 1. atau b. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. dan b. bangunan 1 lantai. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3.000m2 yang membuka ke arah selasar terlindung. atau c. dipasang sistem sprinkler 3. dan b. dan toko (selain pada ketentuan 3 ) yang tidak membuka ke arah selasar terlindung. bila: a.500 m2 dan bangunan 2 lantaai atau kurang. atau 2. dan b. Bangunan Pertemuan . atau lubang-lubang Klas 6. bangunan 2 lantai atau kurang. atau b. harus dilengkapi dengan: a. dan sejenis. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. sistem pembuangan asap otomatis.

Bangunan theater atau tempaat pertemuan/hall umum: a. dan c.000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seperti butir 4. gereja. sistem pembuang asap otomatis.500m2 i. Bangunan pameran. bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5. kompleks olahraga (termasuk hall olah raga. termasuk theater kuliah dan komplek auditorium: a.a. dipasang sistem sprinkler dan i. selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2. atau ii.b diatas b. . sistem pengelola udara mekanis yang bukan meru-pakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shutdown) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. atau ii. Bila luas bangunan 2.ventilasi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. Mesjid dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. sistem pembuang asap otomatis. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. 5. dan b.500 m2. dengan luas > 300m2 atau b. Bila luas bangunan > 3. atau iii. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2. bila bangunan 1 lantai. sistem pembuang asap otomatis. dengan luas > 200 m2. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. atau ii. harus dilengkapi dengan a. sistem pembuang asap otomatis. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a diatas adalah: i. diatas. atau sistem sprinkler 2. atau ii. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. bila bangunaan 1 lantai 4. sistem sprinkler. atau sistem sprinkler. atau harus dilengkapi dengan: i.000 m2 i. idem 1. dan b. Gereja. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. pada bangunan sekolah. atau iii. lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. ruang senam. bila bangunan 1 lantai. gereja.000-3. Bukan pada bangunan sekolah. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3.000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. bilang bangunan 1 lantai 3.000 ii. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis. Bangunan pertemuan lainnya (diluar butir 3 dan 4 diatas): a. kolam renang dan sejenis) selain dari gedung olahraga(indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1.

DJCK. Dep. MSc. Bitnek. PU Sekretaris Ditjen Cipta Karya. Sefiawan Kanani Ir. Dep. PU Dit. L. MCM Ir G. Dipl. Balitbang. MSc Kelompok Kerja Ir. Bintek. H. Wiedodo Ir. Binlak Wilayah Tengah . MCM. J. Binlak Wilayah Barat. Bintek. MSc Ir. Achid Winarno Ir. Sutikni Utoro Wibisono Setio Wibowo. Hari Sidharta. DJCK. PU Puslitbangkim. Adjar Prajudi. PU Dit. Gembong Priyono. Dipl. Dep. PU Staf Ahli Menteri PU V Bidang Pengembangan Jasa Konstruksi Direktur Bina Teknis . Roestanto Wahidi D. Jacob Ruzuar. Pelaksana Ir. Dep. DJCK. Dep. Hari Sasongko Suwarmo S. Dep. Diding Muchidin Ir.. DJCK Dit. Dep. Rachmadi BS. Balitbang. MSc Ir. Binlak Wilayah Timur. DJCK Bagian Hukum. Hendro Moeljono Ir. Sukartono Ir. Pengarah Drs. Dep.BD. MSc Ir. PU Kepala Biro Hukum. MSc Ir. Harlansyah Soerarso. SE Ir.. PU Puslitbangkim. G. Eng. MM. Dep. P. J.TIM PENYUSUN PEDOMAN TEKNIS PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG Pembina Ir. PU Widyaiswara Dep. PU Puslitbangkim. Tulus Rachmat S Ir. DJCK. PU Sekretaris Jenderal Dep. Bambang Guritno. H. IAI Ir. M. Setjen Dep. Dep. Ir. Eko Widiatmo Ir. Bitnek. Sri Hartinah. Sidjabat Ir. MPA Ir. DJCK. Ridwan Munzir Ir. PU Kepala Balitbang Dep. Antonius Budiono. PU Kepala Puslitbangkim.Sc. PU Biro Hukum. MSc Ir. Dipl. Imam S. PU Dit. SH Ir. Dep. Ernawi. Achmad Lanti. Erry Saptaria Achyar. Renyansih Ny. PU Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) . Rusdi Marzuki Ir. PU Dit. Balitbang. DJCK Dit. IAI. DJCK. MSc Ir.Arch. Setjen Dep. Eko Djuli Sasongko Ir. Sardjono Hadi Sugondo Ir. MCM. Dep.E. DJCK. Bintek. Dep. Prawoto Menteri Pekerjaan Umum Direktur Jenderal Cipta Karya. Sunaryo Sumadji. HR. PU Dit. PU Dit. IAI Ir. CES Ir. Balitbang. Suprapto. B. FRAIA Ir. Aim Abdurachim Idris.

Jakarta 12110 Indonesia Telepon: (021) 7268203 Faks: (021) 7235223 E-med: bintekctaba@pu. MCM.Ir. MT Ir. J. Ir. Jakarta Universitas Trisakti. IALI Ir. MEng DR. A.M. Eka Sediadi Rasyad Ir. MSCE Ir. Ir. Hendro Moeljono Ir. Zaenal Walidin DR. Daniel Mangindaan Ir. Ariono Suprayogi Ir. MM Ir. Bambang Tata Samiadji. Jl.go.March. Ernawi. Chaidir AM. Imam S. Sofyan Nurbambang DR.Prasetiyo. MSc Ir. Jakarta Universitas Trisakti. Tulus Widiarso. Ir. Penyelaras Akhir Ir. G. Binsar Hariandja DR. Jakarta Disamping itu juga melibatkan peran aktif berbagai nara sumber di bidang tata bangunan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Soedibyono Ir. Hadi Prabowo. MT Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Ikatan Ahli Lansekap Indonesia (IALI) Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Teknik Tanah Indoensia (HATTI) Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Universitas Trisakti. Bintang Agus Nugroho.id . Ing. Bambang Budiono Ir. Departemen P.U. Sugeng Triyadi S. Raden Patah l/1 Lantai 7 Wing 1 Kebayoran Baru. IAI Ir. Ir. Drajat Hoedayanto. Eko Djuli Sasongko Studio Taba '98 Direktorat Bina Teknik Direktorat Jenderal Cipta Karya.MAUD DR. MSA.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful