KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 441/KPTS/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG MENTERI PEKERJAAN

UMUM,

Menimbang

:

a.

bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah di bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah, urusan penyelenggaraan bangunan gedung telah diserahkan kepada Daerah baik Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II; bahwa perkembangan penyelenggaraan bangunan gedung dewasa ini semakin kompleks sehingga perlu adanya pengaturan mengenai ketentuan teknis yang menyangkut peruntukan dan intensitas bangunan, arsitektur dan lingkungan, serta keandalan bangunan yang menjadi persyaratan pokok suatu bangunan gedung; bahwa sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987, kepada Menteri Pekerjaan Umum diberi wewenang untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah; bahwa sehubungan dengan pertimbangan pertimbangan tersebut diatas perlu mengatur persyaratan teknis bangunan gedung, dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah; Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun; Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Parumahan dan Permukiman; Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang; Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah; Keputusan Presiden Rl Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen; Keputusan Presiden Rl Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Keputusan Rl Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen Sebagaimana Telah Tiga Puluh Kali Diubah Terakhir Dengan Keputusan Rl Nomor 23 Tahun 1994 Keputusan Presiden Rl Nomor 122/M Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan;

b.

c.

d.

Mengingat

:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

9.

Keputusan Menteri PU Nomor 211/KPTS/1994 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum.
MEMUTUSKAN :

Menetapkan

:

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG. BAB I KETENTUAN UMUM

TENTANG

Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada, diatas, atau di dalam tanah dan atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tampat manusia melakukan kegiatannya. 2. Penyelenggaraan bangunan gedung adalah proses kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan gedung 3. Daerah adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. 4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kotamadya Daerah T'ngkat II. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 (1) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung dimaksudkan untuk mewujudkan bangunan gedung yang berkualitas sesuai dengan fungsinya. (2) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung bertujuan terselenggaranya fungsi bangunan gedung yang aman, sehat, nyaman, efisien, seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya

BAB II PENGATURAN PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG

Bagian Pertama Persyaratan Teknis Pasal 3 (1) Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan mengenai : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. I. m. (2) Peruntukan dan Intensitas Bangunan. Arsitektur dan lingkungan. Struktur Bangunan Gedung. Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran. Sarana Jalan Masuk dan Keluar. Transportasi dalam Gedung. Pencahayaan Darurat, Tanda Arah Keluar, dan Sistem Peringatan Bahaya. Instalasi Listrik Penangkal Petir, dan Komunikasi dalam Gedung Instalasi Gas. Sanitasi dalam gedung. Ventilasi dan Pengkondisian Udara Pencahayaan. Kebisingan dan Getaran.

Rincian persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tercantum pada lampiran Keputusan Menten ini yang merupakan satu kesatuan pengaturan dalam keputusan ini Setiap orang atau badan termasuk instansi Pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung wajib memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) Pasal ini. Pasal 4

(3)

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Kedua Pengaturan Pelaksanaan di Daerah Pasal 5 (1) Untuk pedoman pelaksanaan penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah perlu dibuat Peraturan Daerah yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri ini. Dalam hal Daerah belum mempunyai Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini maka terhadap penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah

(2)

diberlakukan ketentuan-ketentuan Persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. (3) Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang persyaratan teknis bangunan gedung sebelum Keputusan Menteri ini diterbitkan harus menyesuaikannya dengan ketentuan-ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. Pasal 6 Dalam melaksanakan pembinaan pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah melakukan peningkatan kemampuan aparat Pemerintah maupun masyarakat dalam memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 untuk terwujudnya tertib pembangunan bangunan gedung. Dalam melaksanakan pengendalian pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah wajib menggunakan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 sebagai landasan dalam mengeluarkan persetujuan atau perizinan yang diperlukan. Terhadap aparat Pemerintah Daerah yang bertugas dalam pengendalian pembangunan bangunan gedung yang melakukan pelanggaran ketentuan dalam Pasal 3 dikenakan sanksi administrasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 7 (1) Penyelenggaraan bangunan gedung yang melanggar ketentuan-ketentuan Pasal 3 dan Pasal 4 Keputusan Menteri ini dikenakan sanksi administrasi yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 5. Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dikenakan sesuai dengan tingkat pelanggaran dapat berupa: a. Peringatan tertulis b. Pembatasan kegiatan c. Penghentian sementara kegiatan sampai dilakukannya pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung. d. Pencabutan izin yang telah dikeluarkan untok menyelenggarakan pembangunan bangunan gedung. (3) Selain sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), di dalam Peraturan Daerah dapat diatur mengenai pengenaan denda dan tindakan Pembongkaran atas terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung.

(1)

(2)

(3)

(2)

BAB III PEMB1NAAN DAN PENGAWASAN TEKNIS

Pasal 8 (1) Pembinaan dan Pengawasan Teknis untuk pelaksanaan ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 58/PRT/1991 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Teknis dan Pengawasan Teknis Bidang Pekerjaan Umum kepada Dinas Pekerjaan Umum. Pelaksanaan pembinaan teknis dan pengawasan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini didasarkan pada Rencana dan program yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Cipta Karya.
BAB IV KETENTUAN PERALIHAN

(2)

Pasal 9 Dengan berlakunya Keputusan Menteri inl, maka semua ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Keputusan Menteri ini masih tetap berlaku, sampai digantikan dengan yang baru.
BAB V KETENTUAN PENUTUP

Pasal 10 (1) (2) Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk diketahui dan dilaksanakan.
DITETAPKAN Dl PADA TANGGAL : JAKARTA : 10 NOPEMBER 1998

MENTERI PEKERJAAN UMUM

RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 441/KPTS/1998 TANGGAL 10 NOPEMBER 1998

DAFTAR ISI
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. 1 I.2 PENGERTIAN 1. Umum 2. Teknis MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud 2. Tujuan

BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II.1 PERUNTUKAN, FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Peruntukan Lokasi 2. Fungsi Bangunan 3. Klasifikasi Bangunan INTENSITAS BANGUNAN 1. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan 2. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB 3. Perhitungan KDB dan KLB GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Garis Sempadan (muka) Bangunan 2. Garis Sempadan Samping dan Belakang Bangunan 3. Pemisah di Sepanjang Halaman Depan, Samping, dan Belakang Bangunan

II.2

II.3

BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III.1 ARSITEK BANGUNAN 1. Tata Letak Bangunan 2. Bentuk Bangunan 3. Tata Ruang Dalam 4. Kelengkapan Bangunan RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. Fungsi dan Persyaratan Ruang Tebuka Hijau Pekarangan 2. Ruang Sempadan Bangunan 3. Tapak Basement 4. Hijau Pada Bangunan 5. Tata Tanaman SIRKULASI, PERTANDAAN, DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 2. Pertandaan (Signage) 3. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan

III.2

III.3

Kontruksi Baja 3. Pondasi Bawah KEANDALAN STRUKTUR 1. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 5. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Pengendalian Asap Kebakaran 4. Ketahanan Api dan Stabilitas 2. Dampak Penting 2.5 IV.3 IV. Proteksi Bukaan SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi STRUKTUR BAWAH 1. Persyaratan Struktur 2. Prosedur dan Metoda IV. Tipe Konstruksi Tahan Api 3. Kontruksi Kayu 4. Kontruksi Bangunan 2. Keruntuhan Struktur DEMOLISI STUKTUR 1. Kompartemensasi dan Pemisahan 5. Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 3.2 IV. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 5. Ketentuan UPL dan UKL 4. Pondasi Langsung 2. Keselamatan Struktur 2. Persyaratan Bahan PEMBEBANAN STRUKTUR ATAS 1. Pusat Pengendali Kebakaran V.4 IV. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 3.6 BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Kriteria Demolisi 2.4 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 1.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 4. Sistem Pemadam Kebakaran 2.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1.III.2 .

3 VI. Injakan dan Tanjakan Tangga 14. Pintu Ayun 20. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 6. Pintu 19. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Lobby Bebas Asap 7. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan 13. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 12. Rambu pada Pintu AKSES BAGI PENYANDANG CACAT VI. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 8. Kebutuhan Jalan Keluar 3. Penerapan 2. Ambang Pintu 16.BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Lebar Tangga 10. Bordes 15. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 6. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 7. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 10. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 9. Tangga Luar Bangunan 9. Tangga. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 5. Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift 14. Balustrade 17. Atap sebagai Ruang Terbuka 13. Fungsi 2. Pintu Keluar Horisontal 12. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 22. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 5. Pegangan Rambat pada Tangga 18. Pesyaratan Kinerja KETENTUAN JALAN KELUAR 1. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 8. Pengoperasian Gerendel Pintu 21. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 3.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1.2 VI. Ramp Pejalan Kaki 11. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 4.4 . Jumlah Orang Yang Ditampung KONTRUKSI JALAN KELUAR 1. Persyaratan Keamanan 2. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar 11.

PENANGKAL PETIR. Transformator Distribusi 6. Instalansi Telepon 3. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 2.1 LIF 1. Sangkar Lif 6. Pemerikasaan dan Pengujian 7.2 IX. Jaringan Distribusi Listrik 3.3 .BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Sumber Daya Listrik 5.2 BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT.1 VIII. Pemeriksaan. Pemeliharaan INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 4. Lif untuk Rumah Sakit 5.2 VIII. Pemeriksaan dan Pengujian 4. SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. Saf Lif 7. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. TANDA ARAH KELUAR. Pemeliharaan INSTALANSI PENANGKAL PETIR 1. Beban Listrik 4. Pengujian dan Pemeliharaan TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN VII. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 8. Perencanaan Penangkal Petir 2. Perencanaan Instalansi Listrik 2.1 INSTALANSI LISTRIK 1. Kapasitas Lif 2. Instalasi Listrik 9. Instalansi Penangkal Petir 3. Instalansi Tata Suara IX. Lif Kebakaran 3.3 1SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT TANDA ARAH KELUAR SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK.

BAGIAN X INSTALANSI GAS X. Tangki Penyediaan Air Bersih 6. Perencanaan Sistem Plumbing 2. Pompa Air Bersih PERSAMPAHAN 1. Jenis Gas 2. 1 SISTEM PLAMBING 1. Sistem Penyediaan Air Bersih 3.2 BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan XII. Jaringan Distribusi Gas Medik 3.1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 1. Kebutuhan Pengkondisian Udara 2. Pemeriksaan dan Pengujian INSTALANSI GAS MEDIK 1. Pemeriksaan dan Pengujian X.1 XIII. Sampah Berbahaya XI. Pewadahan 3. Jaringan Distribusi Gas Kota 3. Konservaasi Energi 3.2 BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII. Sistem Pembuangan Air Kotor 4. Penempatan pada Bangunan 2.1 VENTILASI 1. Kebutuhan Ventilasi 2.2 XIII.3 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN PENCAHAYAAN BUATAN PENCAHAYAAN ALAMI . Ventilasi Alami 3. Jenis Gas 2. Ventilasi Buatan PENGKONDISIAN UDARA 1. Alat Plambing 5. BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII.

4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KEBISINGAN DAN GETARAN XIV.1 XIV.XIII.2 KEBISINGAN GETARAN BAGIAN XV PENUTUP LAMPIRAN .

dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. PENGERTIAN 1. atau Gubernur untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. kamar mandi. atau ruang dalam shaft. c. ii. Pengawas/Penilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. Umum Dalam pedoman teknis ini yang dimaksud dengan: a. dsb. . termasuk struktur atap kaca. d. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingka/lantai. seperti keagamaan. pendidikan. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. perbelanjaan. mengadakan pertemuan. pembinaan. c. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotoran-kotoran dapur. Dinas Bangunan adalah salah satu Dinas Teknis di Daerah yang diantaranya mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. e. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. dan kegiatan lainnya. rekreasi.I. Daerah adalah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta. olah raga. Kepala Daerah adalah Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. bersosial-budaya. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. KETENTUAN UMUM 1. tidak termasuk lorong tangga. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. b. di mana: i. berusaha. Teknis a. lorong ramp. 2. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya. iii. di atas. b. d. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada.

h. Rencana saluran. g. j. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. jaringan tegangan tinggi listrik. b. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. a. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. . l. Antar massa bangunan lainnya. atau iv. ii. Daerah Hijau Bangunan. Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan. d. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan. jaringan pipa gas dan sebagainya. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia. f. g. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. e. Batas tepi sungai/pantai. i. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. Batas lahan yang dikuasai. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. h. k. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. c.f. iii.

mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines).m. . Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan yang dimaksud pada butir 2. p. r. n. y. Mendirikan Bangunan i. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan.w. t. q.i. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. s. v. o. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Mendirikan. u. program tata bangunan dan lingkungan. x. ii. memperbaiki. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan prasarana saluran umum perkotaan. memperluas. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. w. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. untuk tempat kegiatan manusia. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. selain kamar untuk MCK dan dapur.

Maksud Persyaratan Teknis Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Indonesia. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. cc. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah. peralatan. integritas. serta keandalan bangunan. Tujuan. dd. arsitektur dan lingkungan. bb. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung. dan insulasi. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. atau sejenisnya. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota. I. Peruntukan dan Intensitas: i. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. .2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. yaitu meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan. Tujuan Pedoman Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. ii.z.1. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. aa.2 dalam ukuran waktu satuan menit. 2. Adapun tujuan dari pengaturan per-bagian adalah: a. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V. ee. Tinghat Ketahanan Api (TKA). Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. ruang ganti. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan.

menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya.iii. e. Arsitektur dan Lingkungan: i. Strukfur Bangunan: i. ketentuan wujud bangunan. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. dan lingkungan. Ketahanan terhadap Kebakaran: i. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. ii. serasi dan selaras dengan lingkungannya. sehingga seimbang. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. iii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. iii. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. masyarakat. ii. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat . ii. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. ii. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. b. iv. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. menjamin keselamatan pengguna. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. d. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. dan budaya daerah. c.

menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. iii. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. apabila terjadi keadaan darurat. ii. . menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. h. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. ii. ii. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. Sanitasi dalam Bangunan: i. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terwujudnya kebersihan. Instalasi Listrik. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. Tanda arah Keluar. Pencahayean Darurat. j. f. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat.iii. iii. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik. ii. aman. menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. Instalasi Gas: i. g. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. Transportasl dalam Gedung: i. dan nyaman di dalam bangunan gedung. i. ii. iii menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik.

menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. ii. l. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. m.k Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. . menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. ii. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. ii. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. Pencahayaan: i. Kebisingan dan Getaran: i.

seperti kepadatan bangunan. ketinggian bangunan. iii. Persetujuan membangun tersebut berstfat sementara sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan tata ruang yang lebih makro. merupakan peruntukan utama. Bagi Daerah yang belum memiliki RTRW. ataupun peraturan bangunan setempat dan RTBL. ii. peraturan bangunan setempat dan RTBL berdasarkan rencana tata ruang yang lebih makro. g. . sedangkan peruntukan penunjangnya sebagaimana ditetapkan di dalam ketentuan tata bangunan yang ada di Daerah setempat atau berdasarkan pertimbangan teknis Dinas Bangunan.I. RRTR. Bangunan gedung harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam ketentuan tata ruang dan tata bangunan dari lokasi yang bersangkutan. PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. dengan tetap mengadakan peninjauan seperlunya terhadap rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada di Daerah. Dalam hal rencana-rencana tata ruang dan tata bangunan sebagaimana dimaksud pada butir b belum ada. Peruntukan lokasi sebagaimana dimaksud dalam butir a. b. Peraturan bangunan setempat dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). maka Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan gedung dengan pertimbangan: i. Apabila persetujuan yang telah diberikan terdapat ketidak sesuaian dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan kemudian. Setiap pihak yang memerlukan keterangan atau ketentuan tata ruang dan tata bangunan dapat memperolehnya secara terbuka melalui Dinas Bangunan. d. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah. Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR). maka perlu c. Kepala Daerah dapat memberikan pertimbangan atas ketentuan yang diperlukan. e. dan garis sempadan bangunan. f. PERUNTUKAN.II. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. iii. Ketentuan tata ruang dan tata bangunan ditetapkan melalui: i. kaidah perencanaan kota dan penataan bangunan ii. Kepala Daerah segera menyusun dan menetapkan RRTR. Keterangan atau ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir d meliputi keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan. Peruntukan Lokasi a.

iv. orang. atau sarana lain perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. saluran. i. v. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. memiliki sarana khusus untuk kepentingan keamanan dan keselamatan bagi pengguna bangunan. v. tetap memperhatikan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah dan atau diatas tanah. Pembangunan bangunan gedung dibawah atau diatas air perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. tidak menimbulkan perubahan atau arus air yang dapat merusak lingkungan. maka bangunan tersebut harus disesuaikan dengan rencana tata ruang yang ditetapkan. j. Bagi Daerah yang belum memilih RTRW Daerah. h. tidak untuk fungsi hunian atau tempat tinggal. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah tanah. dan fungsi indung kawasan. ii. penghawaan dan pencahayaan bangunan telah memenuhi persyaratan kesehatan sesuai fungsi bangunan. Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan pada daerah tersebut untuk jangka waktu sementara. tidak mengganggu keseimbangan lingkungan. Apabila di kemudian hari terdapat penetapan RTRW Daerah yang bersangkutan.diadakan penyesuaian dengan resiko ditanggung oleh pemohon/pemilik bangunan. iv. Pembangunan bangunan gedung dibawah tanah yang melintasi sarana dan prasarana jaringan kota perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. iii. iii. ii. . Pembangunan bangunan gedung diatas jalan umum. tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas kendaraan. maupun barang. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. iii. ii. iv.

setelah mendapat pertimbangan teknis dari para ahli terkait. kesehatan dan aksesibilitas bagi pengguna bangunan. k. c. 2. v. keamanan. v. dan fungsi khusus. keselamatan. . Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung. Fungsi Bangunan a. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. perkantoran niaga. letak bangunan tidak boleh melebihi atau melampaui garis sudut 45° (empat puluh lima derajat) diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. Rumah tinggal tunggal Rumah tinggal deret Rumah tinggal susun Rumah tinggal vila Rumah tinggal asrama f. d. fungsi sosial dan budaya. telah mempertimbangkan faktor keamaan. tidak menimbulkan pencemaran. Pembangunan bangunan gedung pada daerah hantaran udara (transmisi tegangan tinggi perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai perikut: i. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. ii. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. iv. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. b. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. e. fungsi usaha. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. dan sejenisnya. iii. kenyamanan. keamanan.iv. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. kenyamanan. dan sanitasi yang memadai. letak bangunan minimal 10 (sepuluh) meter diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. iv. iii. kesehatan. ii.

hostel. Bangunan kebudayaan : museum. j. sekolah lanjutan. vi. mal. Bangunan perdagangan: pasar. sosial dan budaya. keveling. v. Dalam suatu persil. iii. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. Bangunan peribadatan: mesjid. Setiap bangunan gedung. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. gereja. Bangunan Terminal: stasiun kereta. i. gedung kesenian. Bangunan Industri : industri kecil. sekolah dasar. g. rumah bersalin. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. pelaksanaan. iv. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. a. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. Bangunan dengan fungsi umum. dan sejenisnya. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. Bangunan Penyimpanan: gudang. motel. terminal udara. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: . industri besar/berat. pelabuhan laut. kelenteng. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. iii. dan sejenisnya h. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. dan vihara. dan sejenisnya. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. 3. bangunan reaktor. Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. pertokoan. dan sejenisnya. pura. industri sedang. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. dan sejenisnya. penginapan. sekolah tinggi/universitas. B. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). dan sejenisnya. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. iv. & C.ii. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. pusat perbelanjaan. dan sejenisnya. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. halte bus. bioskop. poliklinik. terminal bus. rumah sakit klas A. ii. gedung tempat parkir.

tempat cuci umum. termasuk i. kafe. termasuk: i. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. diluar bangunan klas 6. pasar. atau (2) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. 8. losmen. ruang pamer. atau anak-anak. Klas 1b : rumah asrama/kost. 6. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. bar. atau iii. atau 9. ruang makan. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. atau panti untuk orang berumur. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. 7. ruang makan malam. Klas 4 : Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. atau ii. . termasuk rumah deret. rumah tamu. atau iv. ruang penjualan. atau usaha komersial. hostel. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. pengurusan administrasi. 7. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. tempat potong rambut /salon. v. rumah asrama. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. Klas 3: Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. ii iii.. iv.i. f. atau ii. c. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. atau bengkel. rumah taman. villa. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut e. unit town house . d. b. rumah tamu. cacat. restoran.

Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. Klas 10 : Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. finishing. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. ii. pengepakan. j. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. dan: . Klas 10b: struktur yang berupa pagar. m. atau sejenisnya. carport. ii. hall. h. gudang. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. k. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. perubahan. bangunan peribadatan. perbaikan. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. i. Klas 9b: bangunan pertemuan. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. Klas 8 : Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. yaitu: i. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. temmasuk bengkel kerja. antena. atau ii. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. termasuk: i. tempat parkir umum. tonggak. perakitan.g. atau sejenisnya. bangunan budaya atau sejenis. Klas 9: Bangunan Umum Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. kolam renang.

kemampuannya lingkungan. dan renggang. iii. Bangunan gedung yang didirikan harus memenuhi persyaratan kepadatan dan ketinggian bangunan gedung berdasarkan rencana tata ruang wilayah Daerah yang bersangkutan. seperti kawasan wisata. pelestarian dan lain lain.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan.i. yang dibedakan dalam tingkatan KDB padat. dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang dibedakan dalam tingkatan KLB tinggi. f. dan rendah. ruang mesin. ii. 1b. 9a. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. ruang mesin lift. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud pada butir c tidak diperkenankan mengganggu lalu-lintas udara. ii. sedang. Klas-klas 1a. dan b' laboratorium. kemampuannya dalam menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan optimalnya intensitas pembangunan. 9b. kemampuannya dalam menjamin kesehatan dan kenyamanan pengguna serta masyarakat pada umumnya. sedang. c. dan peraturan bangunan setempat. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. e. Untuk suatu kawasan atau lingkungan tertentu. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan a. meliputi ketentuan tentang Jumlah Lantai Bangunan (JLB). Kepadatan bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. iii. dalam mencerminkan keserasian bangunan dengan b. dengan pertimbangan kepentingan umum dan dengan persetujuan Kepala Daerah dapat diberikan kelonggaran atau pembatasan terhadap ketentuan kepadatan. Ruang-ruang pengolah. meliputi ketentuan tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB). d. Persyaratan kinerja dari ketentuan kepadatan dan ketinggian bangunan ditentukan oleh: i. ketinggian bangunan dan ketentuan tata bangunan lainnya dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan. . Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II.

Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB a. untuk memudahkan lalu lintas. dan dengan memperhitungkan keadaan lapangan. untuk persil-persil sudut bilamana sudut persil tersebut dilengkungkan atau disikukan. setiap bangunan yang didirikan harus sesuai dengan rencana perpetakan yang telah diatur di dalam rencana tata ruang. iii. ii. keserasian dan keamanan lingkungan serta memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan. rencana tata bangunan dan lingkungan. dimungkinkan adanya pemberian dan penerimaan besaran KDB/KLB diantara perpetakan yang berdekatan. Dengan pertimbangan kepentingan umum dan ketertiban pembangunan. c. Dimungkinkan adanya kompensasi berupa penambahan besarnya KDB JLB/KLB bagi perpetakan tanah yang memberikan sebagian luas tanahnya untuk kepentingan umum.2. dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. Kepala Daerah dapat menetapkan rencana perpetakan dalam suatu kawasan/lingkungan dengan persyaratan: i. ditetapkan dengan mempertimbangkan perkembangan kota. v. Penetapan besamya KDB.2. keseimbangan dan persyaratan teknis serta mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. JLB/KLB untuk pembangunan bangunan gedung diatas fasilitas umum adalah setelah mempertimbangkan keserasian. b. daya dukung lahan/ lingkungan. Perhitungan KDB dan KLB Perhitungan KDB maupun KLB ditentukan dengan pertimbangan sebagai berikut: . maka lebar dan panjang persil tersebut diukur dari titik pertemuan garis perpanjangan pada sudut tersebut dan luas persil diperhitungkan berdasarkan lebar dan panjangnya.1 butir b dan c. 3. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. dengan tetap menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan keserasian lingkungan. Penetapan besarnya kepadatan dan ketinggian bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam II. apabila perpetakan tidak ditetapkan. peraturan bangunan setempat. d. kebijaksanasn intensitas pembangunan. e. maka KDB dan KLB diperhitungkan berdasarkan luas tanah di belakang garis sempadan jalan (GSJ) yang dimiliki. Ketentuan besarnya KDB dan JLB/KLB dapat diperbanui sejalan dengan pertimbangan perkembangan kota. f. maka Kepala Daerah dapat menetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. daya dukung lahan/lingkungan. penggabungan atau pemecahan perpetakan dimungkinkan dengan ketentuan KDB dan KLB tidak dilampaui. iv. Apabila KDB dan JLB/KLB belum ditetapkan dalam rencana tata ruang. kebijaksanaan intensitas pembangunan.

serta peraturan bangunan setempat. Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock). ramp dan tangga terbuka dihitung 50 %. d. e. asal tidak melebihi 50 % dari KLB yang ditetapkan. . f. i. Garis Sempadan (muka) Bangunan a. dan total keseluruhan luas lantai bangunan dalam kawasan tersebut tehadap total keseluruhan luas kawasan. luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1. perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar. luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1. luas tapak yang diperhitungkan adalah yang dibelakang GSJ. selama tidak melebihi l0% dari luas lantai dasar yang diperkenankan. maka ketinggian bangunan tersebut dianggap sebagai dua lantai. dan pendapat teknis para ahli terkait. k. kesehatan.20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai.3 GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. g. luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB. rencana tata bangunan dan lingkungan. selama tidak melebihi 10 % dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan. Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah (basement) ditetapkan Kepala Daerah dengan pertimbangan keamanan. Mezanine yang luasnya melebihi 50 % dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan. Dalam perhitungan KDB dan KLB. j. c. selebihnya diperhitungkan 50 % terhadap KLB.a. overstek atap yang melebihi lebar 1.20 m diatas lantai ruangan dihitung 50 %. teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1. Dalam perhitungan ketinggian bangunan. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 m.50 m maka luas mendatar kelebihannya tersebut dianggap sebagai luas lantai denah. h. I.20 m di atas lantai ruangan tersebut dihiitung penuh 100 %. keselamatan. b. Garis Sempadan Bangunan ditetapkan dalam rencana tata ruang. l.

maka bagian muka bangunan harus ditempatkan pada garis tersebut. Apabila Garis Sempadan Bangunan sebagaimana dimaksud pada butir a. yang diatur di dalam rencana tata ruang. h. garis sempadan podium. dan peraturan bangunan setempat. juga menetapkan garis sempadan samping kiri dan kanan. f. Sepanjang tidak ada jarak bebas samping maupun belakang bangunan yang ditetapkan. garis sempadan menara. jaringan umum dan lapangan umum. 2. garis sempadan muka bangunan. sepanjang penempatan bangunan tidak mengganggu jalan dan penataan bangunan sekitarnya. kesehatan. e. Kepala Daerah dengan pertimbangan keselamatan. g. Daerah menentukan garis-garis sempadan pagar. tidak boleh dilanggar. garis sempadan loteng. Dalam hal garis sempadan pagar dan garis sempadan muka bangunan berimpit (GSB sama dengan nol). Garis sempadan samping dan belakang bangunan a. maupun pertimbangan lain dengan mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. yang ditetapkan pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. keserasian dengan lingkungan. kenyamanan. kepentingan umum. i Ketentuan besarnya GSB dapat diperbarui dengan pertimbangan perkembangan kota. sungai. tersebut belum ditetapkan. Dalam mendirikan atau memperbarui seluruhnya atau sebagian dari suatu bangunan. b. Daerah berwenang untuk memberikan pembebasan dari ketentuan dalam butir g. d. untuk tiap-tiap klas bangunan dapat ditetapkan garis-garis sempadannya masing-masing. serta belakang bangunan terhadap batas persil. . rencana tata bangunan dan lingkungan.b. Garis Sempadan Bangunan yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam butir a. danau. Penetapan Garis Sempadan Bangunan didasarkan pada pertimbangan keamanan. begitu pula garis-garis sempadan untuk pantai. maka Kepala Daerah menetapkan besarnya garis sempadan tersebut dengan setelah mempertimbangkan keamanan kesehatan dan kenyamanan. dan keserasian dengan lingkungan serta ketinggian bangunan. kesehatan dan kenyamanan. c. Pada suatu kawasan/lingkungan yang diperkenankan adanya beberapa klas bangunan dan di dalam kawasan peruntukan campuran. maka Kepala Daerah dapat menetapkan GSB yang bersifat sementara untuk lokasi tersebut pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan.

Untuk bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahanbahan/benda-benda yang mudah terbakar dan atau bahan berbahaya. dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan atau berlubang. e. dan pada setiap penambahan lantai/tingkat bangunan. Pada daerah intensitas bangunan rendah/renggang. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. diluar yang diatur dalam butir a. jarak bebas samping dan jarak bebas belakang ditetapkan minimum 4 m pada lantai dasar. pada bangunan rumah tinggal rapat tidak terdapat jarak bebas samping. maka jarak antara dinding tersebut minimal satu kali jarak bebas yang ditetapkan. Pada dinding batas pekarangan tidak boleh dibuat bukaan dalam bentuk apapun. f. . iv. maka Kepala Daerah dapat menetapkan syarat-syarat lebih lanjut mengenai jarakjarak yang harus dipatuhi. ii. sisi bangunan yang didirikan harus mempunyai jarak bebas yang tidak dibangun pada kedua sisi samping kiri dan kanan serta bagian belakang yang berbatasan dengan pekarangan. g Jarak bebas antara dua bangunan dalam suatu tapak diatur sebagai berikut: i. Pada daerah intensitas bangunan padat/rapat. ii.50 m dari jarak bebas lantai di bawahnya sampai mencapai jarak bebas terjauh 12.c. d. struktur dan pondasi bangunan terluar harus berjarak sekurang-kurangnya 10 cm kearah dalam dari batas pekarangan. ii.5 m. disyaratkan untuk membuat dinding batas tersendiri disamping dinding batas terdahulu. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan. maka jarak bebas samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. dan sedangkan untuk bangunan gudang serta industri dapat diatur tersendiri. jarak bebas di atasnya ditambah 0. sedangkan jarak bebas belakang ditentukan minimal setengah dari besarnya garis sempadan muka bangunan. bidang dinding terluar tidak boleh melampaui batas pekarangan. maka garis sempadan samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. untuk perbaikan atau perombakan bangunan yang semula menggunakan bangunan dinding batas bersama dengan bangunan di sebelahnya. iii. maka jarak antara dinding atau bidang tersebut minimal dua kali jarak bebas yang ditetapkan.

dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan. Penggunaan kawat berduri sebagai pemisah disepanjang jalan-jalan umum tidak diperkenankan. d. maka tinggi pagar pada GSJ dan antara GSJ dengan GSB pada bangunan rumah tinggal maksimal 1. Dalam hal pemisah berbentuk pagar. Tinggi pagar batas pekarangan sepanjang pekarangan samping dan belakang untuk bangunan renggang maksimal 3 m di atas permukaan tanah pekarangan. c. serta keserasian lingkungan. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum . Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. atau ditetapkan lebih rendah setelah mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan lingkungan. dengan setelah mempertimbangkan hal teknis terkait. f. kenyamanan. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. g h Untuk bangunan-bangunan tertentu. i. Halaman muka dari suatu bangunan harus dipisahkan dari jalan menurut cara yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. Pagar sebagaimana dimaksud pada butir e harus tembus pandang. Dalam hal yang khusus Kepala Daerah dapat memberikan pembebasan dari ketentuan-ketentuan dalam butir a dan b. dengan memperhatikan keamanan. k. 3. samping. dan untuk bangunan bukan rumah tinggal termasuk untuk bangunan industri maksimal 2 m di atas permukaan tanah pekarangan. b. e.iii. maka jarak dinding terluar minimal setengah kali jarak bebas yang ditetapkan.50 m di atas permukaan tanah. Kepala Daerah berwenang untuk menetapkan syarat-syarat lebih lanjut yang berkaitan dengan desain dan spesifikasi teknis pemisah di sepanjang halaman depan. Kepala Daerah dapat menetapkan lain terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir e dan f. j. Pemisah disepanjang halaman depan. dan belakang bangunan a. dan belakang bangunan. . dengan bagian bawahnya dapat tidak tembus pandang maksimal setinggi 1 m diatas permukaan tanah pekarangan. Kepala Daerah menetapkan ketinggian maksimum pemisah halaman muka. Kepala Daerah dapat menerapkan desain standar pemisah halaman yang dimaksudkan dalam butir a. samping. dan apabila pagar tersebut merupakan dinding bangunan rumah tinggal bertingkat tembok maksimal 7 m dari permukaan tanah pekarangan. Untuk sepanjang jalan atau kawasan tertentu.

. Kepala Daerah dapat menetapkan tanpa adanya pagar pemisah halaman depan.l. samping maupun belakang bangunan pada ruas-ruas jalan atau kawasan tertentu. dan penataan bangunan dan lingkungan yang diharapkan. dengan pertimbangan kepentingan kenyamanan kemudahan hubungan (aksesibilitas). keserasian lingkungan.

iv. Pada daerah / lingkungan tertentu dapat ditetapkan: (1) ketentuan khusus tentang pemagaran suatu pekarangan kosong atau sedang dibangun. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau teladan bagi lingkungannya. persyaratan lebih lanjut dari ketentuanketentuan ini dapat ditetapkan pelaksanaaannya oleh Kepala Daerah dengan membentuk suatu panitia khusus yang bertugas memberi nasehat teknis mengenai ketentuan tata bangunan dan lingkungan. perlu ditetapkan penampang-penampang (profil) bangunan untuk memperoleh pemandangan jalan yang memenuhi syarat keindahan dan keserasian. (3) ketentuan penataan bangunan yang harus diikuti dengan memperhatikan keamanan. Ketentuan Umum i. . (2) larangan membuat batas fisik atau pagar pekarangan. keindahan dan keserasian lingkungan. iv. Bilamana dianggap perlu. Tapak Bangunan i. pemasangan nama proyek dan sejenisnya dengan memperhatikan keamanan. Penempatan bangunan gedung tidak boleh mengganggu fungsi prasarana kota. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya. lalu lintas dan ketertiban umum. ii. Tinggi rendah (peil) pekarangan harus dibuat dengan tetap menjaga keserasian lingkungan serta tidak merugikan pihak lain. Pada jalan-jalan tertentu. keselamatan. keindahan dan keserasian lingkungan.1. Pada lokasi-lokasi tertentu Kepala Daerah dapat menetapkan secara khusus arahan rencana tata bangunan dan lingkungan. Bentuk Bangunan a.1 b. keselamatan.iv. iii. iii. b. harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku dan keserasian lingkungan.III. Penambahan lantai/tingkat harus memenuhi persyaratan keamanan struktur. (4) Kekecualian kelonggaran terhadap ketentuan butir III. Ketentuan Umum i. Penambahan lantai atau tingkat suatu bangunan gedung diperkenankan apabila masih memenuhi batas ketinggian yang ditetapkan dalam rencana tata ruang kota.(2) dapat diberikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan.1. Tata Letak Bangunan a. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. 2. ARSITEKTUR BANGUNAN 1. dengan ketentuan tidak melebihi KLB. ii.

2. v. vii. iv. termasuk para penyandang cacat dan usia lanjut. Tata Ruang Dalam a. Ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir II 1. dan atau rencana tata bangunan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut. iii. Bentuk. detail. Ketentuan pada butir II. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya.ii harus tetap mengacu pada prinsipprinsip konservasi energi. Ketentuan Umum i. ii. Ruangan dalam bangunan harus mempunyai tinggi yang cukup untuk fungsi yang diharapkan. v. Aksesibilitas bangunan harus mempertimbangkan kemudahan bagi semua orang. Suatu bangunan gedung tertentu berdasarkan letak ketinggian dan penggunaannya.2. Dalam hal tidak ada langit-langit. Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan. tampak. Perancangan Bangunan i. b.1. vi. material maupun warna bangunan harus dirancang memenuhi syarat keindahan dan keserasian lingkungan yang telah ada dan atau yang direncanakan kemudian dengan tidak menyimpang dari persyaratan fungsinya. Bentuk bangunan gedung harus dirancang sedemikian rupa sehingga setiap nuang dalam dimungkinkan menggunakan pencayahayaan dan penghawaan alami. Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan dengan fungsi ruang dan arsitektur bangunannya.1.i tidak berlaku apabila sesuai fungsi bangunan diperlukan sistem pencahayaan dan penghawaan buatan. Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan rencana tata ruang.1. harus dilengkapi dengan perlengkapan yang berfungsi sebagai pengaman terhadap lalu lintas udara dan atau lalu lintas laut. vi. kulit atau selubung bangunan harus memenuhi persyaratan konservasi energi. profil. Untuk bangunan dengan lantai banyak.ii. iii. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut. Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa. Tinggi ruang adalah jarak terpendek dalam ruang diukur dari permukaan bawah langit-langit ke permukaan lantai. iii.b.b. tinggi ruang diukur dari permukaan atas lantai sampai permukaan bawah dari lantai di atasnya atau sampai permukaan bawah kaso-kaso. . ii. iv. iv. 3. Bangunan yang didirikan sampai pada batas samping persil tampak bangunannya harus bersambungan secara serasi dengan tampak bangunan atau dinding yang telah ada di sebelahnya.

apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 meter. karakter arsitektur bangunan dan bagian-bagian bangunan serta tidak boleh mengurangi atau mengganggu fungsi sarana jalan keluar/masuk. Bangunan toko sekurang-kurang memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan toko. kecuali untuk penggunaan ruang lobby. ruang ganti pakaian karyawan. Perhitungan ketinggian bangunan. dan pertokoan). Perancangan Ruang Dalam i. viii. perluasan. Bangunan atau bagian bangunan yang mengalami perubahan perbaikan. Bangunan kantor sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan kerja. gedung serbaguna. Penempatan fasilitas kamar mandi dan kakus untuk pria dan wanita harus terpisah. Ruang rongga atap hanya dapat diijinkan apabila penggunaannya tidak menyimpang dari fungsi utama bangunan serta memperhatikan segi kesehatan. Tata ruang dalam untuk bangunan tempat ibadah. Suatu bangunan pabrik sehurang-kurangnya harus dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan kakus. iv. ruang istirahat. viii.Jenis dan jumlah kebutuhan fasilitas penunjang yang harus disediakan pada setiap jenis penggunann bangunan ditetapkan oleh Kepala Daerah. ii. sepanjang tidak menyimpang dari penggunaan utama bangunan. gedung pertemuan. serta ruang pelayanan kesehatan yang memadai. vii. gedung olah raga. vii Ruang penunjang dapat ditambahkan dengan tujuan memenuhi kebutuhan kegiatan bangunan. b. sekurang-kurangnya harus dilengkapi dengan kamar mandi dan kakus serta nuang kebutuhan karyawawan v. . gedung pertunjukan. bangunan monumental. xi. Suatu bangunan gudang. kegiatan keluarga bersama dan kegiatan pelayanan. Perubahan fungsi dan penggunaan ruang suatu bangunan atau bagian bangunan dapat diijinkan apabila masih memenuhi ketentuan penggunaan jenis bangunan dan dapat menjamin keamanan dan keselamatan bangunan serta penghuninya. ruang makan. Ruang rongga atap dilarang dipergunakan sebagai dapur atau kegiatan lain yang potensial menimbulkan kecelakaan/ kebakaran . atau ruang pertemuan dalam bangunan komersial (antara lain hotel. serta gedung sejenis lainnya diatur secara khusus. Mezanin yang luasnya melebihi 50% dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. tidak boleh menyebabkan berubahnya fungsi/penggunaan utama. iii. vi. perkantoran. ruang umum dan ruang pelayanan. vi. Ruang-rongga atap untuk rumah tinggal harus mempunyai penghawaan dan pencahayaan alami yang memadai.v. ix. ix. keamanan dan keselamatan bangunan dan lingkungan. gedung sekolah. x. penambahan. Bangunan tempat tinggal sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan pribadi. maka ketinggian bangunan dianggap sebagai dua lantai. kegiatan umum dan pelayanan.

20 m di atas tinggi rata-rata tanah pekarangan atau tinggi rata-rata jalan. kenyamanan. atau untuk tanah-tanah yang miring. Cerobong asap dan atau gas harus dirancang memenuhi persyaratan pencegahan kebakaran. Lantai tanah atau tanah dibawah lantai panggung harus ditempatkan sekurang-kurangnya 15 cm diatas tanah pekarangan serta dibuat kemiringan supaya air dapat mengalir.xii. Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya. 4. (b) Sekurang-kurangnya 25 cm diatas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan. Ketentuan Umum i. b. xviii Apabila tinggi tanah pekarangan berada di bawah titik ketinggian (peil) bebas banjir atau terdapat kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang besar pada tanah asli suatu perpetakan. termasuk pengaman/ rambu-rambu terhadap lalu-lintas udara dan atau laut. . Tinggi ruang dalam bangunan tidak boleh kurang dari ketentuan minimum yang ditetapkan. tidak berlaku jika letak lantai-lantai itu lebih tinggi dari 60 cm di atas tanah yang ada di sekelilingnya. ii Prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitarnya iii. Setiap penggunaan ruang rongga atap yang luasnya tidak lebih dari 50% dari luas lantai di bawahnya. ii. Kelengkapan Bangunan a. ketinggian dan penggunaannya harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan bangunan. kecuali menggunakan alat bantu mekanis. (2) Dalam hal-hal yang luar biasa. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan. Sarana dan Prasarana Bangunan Gedung i. Tinggi Lantai Denah: (1) Permukaan atas dari lantai denah (dasar) harus: (a) Sekurang-kurangnya 15 cm diatas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan. tidak dianggap sebagai penambahan tingkat bangunan. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung. xvii. – xix. Tinggi lantai dasar suatu bangunan diperkenankan mencapai maksimal 1. Syarat-syarat teknis lebih lanjut terhadap ketentuan tersebut di atas mengikuti standar teknis yang berlaku. Bangunan tertentu berdasarkan letak. tidak boleh mengubah sifat dan karakter arsitektur bangunannya. ketentuan dalam butir (1) tersebut. maka tinggi maksimal lantai dasar ditetapkan tersendiri. xiv Pada ruang yang penggunaannya menghasilkan asap dan atau gas harus disediakan lobang hawa dan atau cerobong hawa secukupnya. dengan memperhatikan keserasian lingkungan. xvi. xiii Setiap bukaan pada ruang atap. xv. xx.

sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan tidak boleh dilanggar dalam mendirikan atau rnemperbaharui seluruhnya atau sebagian dari bangunan. maka dapat dibuat ketetapan yang bersifat sementara untuk lokasi/lingkungan yang terkait dengan setiap pemmohonan bangunan. pohon-pohon menahun. termasuk para penyandang cacat dan warga usia lanjut. g. III.iv. Sebagai ruang transisi. Parkir dan ketetapan lainnya. tanah dan permukaan tanah.e dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. Ruang Terbuka Hijau adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. RTHP menupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. Setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. c. sungai besar. KDH. sirkulasi. KDB. ekonomi maupun estetika.1. Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. h. j. Pintu masuk dan keluar area bangunan gedung harus direncanakan secara terintegrasi serta tidak mengganggu tata sirkulasi lingkungannya. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut. peresapan air. sosial. KLB. .1.e ini belum ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan. e. unsur-unsur estetik.2. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity.2. d. f.2 RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. gunung dan sebagainya. i. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir III. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. v. Fungsi dan Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan a. sungai. terhadap suatu kawasan/daerah dapat diterapkan b. Apabila Ruang Terbuka Hijau Pekarangan sebagaimana dimaksud pada butir 111. Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaik-baiknya. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP).

1. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai.pengaturan khusus untok orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. bangunan penunjang seperti pos jaga. yang Sebagai perlindungan atas sumber-sumber daya alam yang ada. tidak di dalam wadah / container yang kedap air. tiang telepon di kedua sisi jalan / ruas jalan yang dimaksud. Keserasian tersebut antara lain mencakup: pagar dan gerbang. b. ketentuan teknis dan kebijaksanaan Daerah setempat. e. 3. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan. dapat ditetapkan persyaratan khusus bagi permohonan ijin mendirikan bangunan dengan mempertimbangkan hal-hal pencagaran sumber daya alam. keselamatan pemakai dan kepentingan umum. 2. vegetasi besar / pohon. b. c. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan ruang sempadan depan bangunan. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat/padat. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. dan aspek aksesibilitas. bak sampah dan papan nama bangunan. jalur pejalan kaki. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan / penanaman di atas tanah. pagar. tiang bendera. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. Ruang Sempadan Bangunan a. k. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap . pengendalian bentuk estetika bangunan secara keseluruhan/ kesatuan lingkungan. seperti dari bahaya banjir. d. Tapak Basement a. serta tergantung pada kondisi lahan.

Jumlah kebutuhan parkir menurut jenis bangunan ditetapkan sesuai dengan standar teknis yang berlaku.a dan III. 4.2. c. b. Setiap bangunan bukan rumah hunian diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan.2. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia.5. III. b. air. atau mengganggu lingkungan di sekitarnya. Ketentuan Umum i. kestabilan tanah / wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. 5.5. d.3 PERTANDAAN. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir a. iv. batang dan cabangnya rapuh. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. Prasarana parkir untuk suatu rumah atau bangunan tidak diperkenankan mengganggu kelancaran lalu lintas. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut pada butir III.basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangun harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. Hijau Pada Bangunan a. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. ii. Tata Tanaman a. Penyediaan parkir di pekarangan tidak boleh mengurangi daerah penghijauan yang telah ditetapkan. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan.b Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jeni-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. . iii.

dan ruang terbuka umum. dan memberikan pemandangan yang menarik. dan kendaraan pelayanan lainnya. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. c. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. penghijauan. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas. nyaman. aman. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. iii. iii. Sirkulasi pertu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman). Luas. iv. Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. iii. Pedestrian i. rambu-rambu. penghijauan. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung.b. . Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan. papan informasi sirkulasi. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan. ii. dll. Jalan i. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. iv. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. e. memudahkan aksesibilitas. ii. ii. ii. pedestrian dan penghijauan. Sirkulasi i. guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. iii. dan keJelasan kontinyuitas pedestrian. Parkir i. d. Elemen pedestrian (street fumiture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan.

baik yang penempatannya pada bangunan keveling. visual yang tidak menarik. III. berdasarkan pertimbangan ilmiah. tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai ketentuan yang berlaku. silau. b. Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan memperhatikan karakter lingkungan. Dampak Penting a. yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan penundang-undangan yang bertaku. ii. bahan. .4 PENGELOLAAN DAMPAK LAINGKUNGAN 1. Pertandaan (Signage) a. iii.2. c. tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. Kepala Daerah dapat mengatur pembatasa-pembatasan ukuran. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan a. Kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut akan: i. 3. menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. b. dan komponen promosi. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. pagar. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang mengganggu dan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan harus dilengkapi dengan AMDAL sesuai ketentuan yang berlaku. Penempatan signage termasuk papan iklan/ reklame. motif. mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. b. dan lokasi dari signage. menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan. atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan. atau habitat alaminya mengalami kerusakan. atau ruang publik. c. harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan. fungsi dan arsitektur bangunan estetika amenity.

dan sebagainya) yang telah ditetapkan menunut peraturan perundang-undangan. jalan kereta api dan bangunan lain di sekitarnya sesuai rekomendasi dinas teknis terkait.3. Bangunan yang menurut fungsinya menggunakan. Untuk mendirikan bangunan yang menurut fungsinya menggunakan menyimpan atau memproduksi bahan peledak dan bahan-bahan lain yang sifatnya mudah meledak. v.1. d. cagar alam. racun. merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi. menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung.c merupakan kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. menyimpan atau memproduksi bahan radioaktif. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang wajib AMDAL. mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. taman nasional. dapat diberikan ijin apabila: (1) Lokasi bangunan terletak di luar lingkungan perumahan atau berjarak tertentu dari jalan umum. sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memnperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan. 3. mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. Persyaratan Bangunan i. suaka margasatwa. 2. harus dapat menjamin keamanan keselamatan serta kesehatan penghuni dan lingkungannya. mudah terbakar atau bahan lain yang berbahaya. . dan atau pemerintah. vi. adalah sesuai Ketentuan pengelolaan Dampak Lingkungan yang berlaku. (3) Bagian dinding yang terlemah dari bangunan tersebut diarahkan ke daerah yang paling aman. iii. ii. (2) Bangunan yang didirikan harus terletak pada jarak tertentu dari batas-batas pekarangan atau bangunan lainnya dalam pekarangan sesuai rekomendasi dinas terkait. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. Ketentuan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang harus melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adaiah sesuai ketentuan yang berlaku. vii. Kegiatan yang dimaksud pada butir III. 4.iv.

iii. b. . iv. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan membangkitkan LHR >= 60 SMP per 1000 ft2 luas lantai. c. atau tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan. maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan bidang resapan yang ukurannya disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. ii. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran.iv. maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lalu lintas. Pembuangan limbah cair dan padat i. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan. Sarana pongumpulan dan pongolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. vi. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan. harus dilengkapi dengan sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang. ii. Sampah yang dikumpulkan di sarana pengumpulan sampah padat harus selalu dikosongkan setiap hari untuk menjamin agar lalat tidak berkembang biak dan mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. iii. atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran pengering genangan sementara yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. v. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 l/dt atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapat ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. Guna pemulihan cadangan air tanah dan mengurangi debit air larian. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah sakit di sekitarnya. v. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah.

dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. e. dengan memperhatikan keamanan. c. Pengelolaan Daerah Bencana a. bagi bangunanan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin.5. . dengan memperhatikan keamanan.5. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir III.a. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana.a dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun. atau dilarang membangun bangunan. dibatasi.3. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir III. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. keselamatan dan kesehatan lingkungan. d. keselamatan dan kesehatan dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat.3. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. b. daerah Banjir dan yang sejenisnya.5.

Struktur bangunan yang direncanakan secara umum harus memenuhi persyaratan keamanan (safety) dan kelayakan (serviceability). Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. Persyaratan Bahan a. 1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Penentuan mengenai jenis. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait.beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. gempa) dan beban khusus. b.IV. b. seperti : 2. Struktur bangunan harus direncanakan mampu memikul semua beban dan / atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur. c. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. Persyaratan Struktur a. harta benda dan masih dapat diperbaiki.2 PEMBEBANAN 1 Analisa struktur harus dilakukan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban . keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. c. dan beban-beban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur. d. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain: meliputi beban gempa yang mungkin terjadi sesuai zona gempanya). IV. Struktur bangunan harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan. beban sementara (angin. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. 2. . sehingga pada kondisi pembebanan maksimum. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. termasuk beban tetap.

seperti: a. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. c. IV. d. SNI -1734. STRUKTUR ATAS 1. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. d. SNI-3449. b. c. SNI-3430. SNI-3976. SNI-1728 Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan.3 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung SNI 1726. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 2847. Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-2834 Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. 2. SNI-1729 Tata cara / pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. . Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti: a. b. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. seperti: a. e. g. b. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung SNI 1727. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. 3.a. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. f. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku.

Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. Tata cara/ pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. SNI-2407. d. Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Temmitisida. c.b. SNI-2404. SNI-2397. tata cara. e. antara lain: a. 4. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. f. b. SNI-1735. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. SNI-2395. i. Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. SNI-1736. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Pencegahan Rayap pada Pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Perancangan Bangunan Sederhana Tahan Angin. SNI-1745. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancangan Bangunan Rumah dan Gedung. g. d. b. h. SNI-2405 . standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanean suatu bangunan yang harus dipenuhi. c. SNI-1963. SNI-2394. 5. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi.

Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. b. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random. d. Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas.4 STRUKTUR BAWAH 1. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan korelasi tipikal parameter tanah yang lain. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. c. Pondasi Langsung a. kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. e. .IV. Pondasi Dalam a. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. b. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. d. c. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. 2.

Ketidak andalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. b. beban yang didukungnya. Ketidak andalan struktur akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan. Keruntuhan sruktur adalah diakibatkan oleh ketidak andalan suatu sistem atau komponen stnuktur untuk memikul beban sendiri. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku. beban akibat perilaku manusia maupun beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. Keruntuhan Struktur a. maupun bencana lainnya. IV. Struktur bangunan sudah tidak andal. 2.5 KEANDALAN STRUKTUR 1. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandaian bangunan gedung. d. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan dalam pemanfaatannya. Keselamatan struktur tergantung pada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. b. d.6 DEMOLISI STRUKTUR 1. beban akibat perilaku manusia. Keselamatan Struktur a. gempa. dan atau beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau .IV. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila: a. c. c.

b. masyarakat dan lingkungan. 2. b. . serta dapat membahayakan pengguna bangunan. Prosedur dan Metoda a. dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi. Adanya perubahan peruntukan lokasi/fungsi bangunan.ekonomis. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. Prosedur. Penyusunan prosedur. metoda dan rencana demolisi struktur dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

ukuran setiap kompartemen api. d. ketinggian bangunan. terutama pada bangunan klas 2. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. intensitas kebakaran. dan x. ii. dan ii. v. iii.V. elemen bangunan lainnya. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. tingkat bahaya api. b. . sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran. kedekatan dengan bangunan lain. iii. iv. 3 atau bagian dan bangunan klas 4: i. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. beban api. dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. iv. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. jumlah. yang menghubungkan kompartemen api. cukup waktu untuk evakuasi penghuni secara aman. antara bangunan. sehingga: i. fungsi atau penggunaan bangunan. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana/ prasarana pengamanan dan pencegahan penyebaran api. membatasi berkembangnya asap dan panas. ii. a. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Ketahanan Api dan Stabilitas. sampai dengan tingkat tertentu. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. ix intervensi pasukan pemadam kebakaran. vi. vii sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. iii. yang sesuai dengan: i. viii. e. fungsi atau penggunaan bangunan. c. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. yang sesuai dengan: i. waktu evakuasi ii.

untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. tingkat bahaya api. iii. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. ii. intensitas kebakaran. beban api. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untok mencegah penjaiaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. yaitu pada bukaan. 2. b. Tipe A: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. i. Tipe B: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. iv. .f. sesuai dengan: i. ukuran kompartemen. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. g. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. v. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. c. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. sambungan konstruksi. h. atau potensial dapat meledak. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. fungsi bangunan. Tipe Konstruksi Tahan Api. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. keruntuhan tersebut dapat dihindari. sistem proteksi aktif. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. j. Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. dan vi.

8 A B C C Kompartemenisasi dan Pemisahan Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial. Tabel V.500 m2 2. perambatan api dan asap. ii.3.000 m2 b Pemberlakuan.8 atau 9a luasan lantai (kecuali daerah perawatan pasien Maksimum 30.6.1.000 m2 3.500 m2 3.000 m3 volume Tipe Konstruksi bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 8. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10. Tipe konstruksi yang diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: Tabel V.500 m3 18. agar dapat: i. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran.000 m3 33.000 m3 volume Maksimum 5.3 Tipe Konstruksi yang diwajibkan KETINGGIAN (dalam jumlah lantai) KLAS BANGUNAN 4 atau lebih 3 2 1 4.7.4 Ukuran maksimum dari kompartemen kebakaran Klasifikasi Bangunan Maksimum luasan lantai Klas 5 atau 9b Maksimum 48.9 A A B C 5.000 m2 Klas 6. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan. 2.7.3. i.000 m3 21.1.000 m2 5.500 m3 12. mengendalikan kebaran api agar tidak menjelar ke bangunan lain yang berdekatan. a. dan . iii.

Bangunan dengan luas tidak melebihi 18. iv. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir i. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. atau ii. maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium. e. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. tanki air.d.ii. ventilasi. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran.ii. d. atau peralatan Lift.ii. iii. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir 4. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan. 6. .e.e. Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. (2) bangunan klas 5 s. 7. asap dan gas beracun.4 bila: i.i yang lebamya tidak kurang dari 18 meter. ii. c. Bagian bangunan.000 m3 dengan sistem sprinkler. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel v. atau: ii. dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir 4.000 m2 atau 108. d dan e tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel V.e.4 dan butir f. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. i. ketentuan pada butir c. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter. sungai. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir i atau ii di atas. Bangunan dengan luasan melebihi 18. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108. Batasan umum luas lantai. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter. kecuali seperti yang diijinkan pada butir d. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling. i. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir 4.1.1.

bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. Pada bangunan klas 2 dan 3. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir b.(2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir 4.e. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai. f. shaft ventilasi. dan tertutup pada setiap lantai. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. pemisahan oleh dinding tahan api. g. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. dan . dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. ii. dan (4) tidak ada bangunan diatasnya. b. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. Seluruh bukaan harus dilindungi. h. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). . dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. Proteksi Bukaan a. (4) di atas maka jalan tersebut dapat beriaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi (1) s.ii (3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum. Tangga dan Lift pada satu shaft. c. 5.d.

bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir ii.d. 45° Lebih dari 45° s.5 JARAK ANTARA BUKAAN PADA KOMPARTEMEN KEBAKARAN YANG BERBEDA e. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan. Sudut Terhadap Dinding 0° (dinding-dinding saling berhadapan) Lebih dari 0° s. atau (2) 1.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai. bila luas lubang/sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 m pada dinding yang sama. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil. f. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. lubang tirai. Kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9.d.d. ii sambungan pengendali. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel V. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama. g.d kurang dari 180° 180° atau lebih Jarak Minimal Antara Bukaan 6m 5m 4m 3m 2m nol . dan iii. 135° Lebih dari 134° s. maka tidak boleh menempati lebih dari 1/3 luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. dan ii. yang bukan dari klas 10.d. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i.1. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir h. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10.5. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45. damper. Tabel V. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi. 90° Lebih darii 90° s. iii. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan.000 mm2. Pemisahan Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran.1. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators). Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api.

dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. Sistem hidran kebakaran. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua). Sistem Pemadam Kebakaran a.h. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan: (1) yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2. di mana: (a) bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian klas 4. V. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. kecuali pada satuan peruntukan bangunan. dan (2) terdapat regu pemadam kebakaran. atau (b) bangunan klas 5. atau (b) motor listrik yang dicatu dari generator darurat.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup). satu pompa digerakkan oleh: (a) motor-bakar. (3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari: (a) 2 (dua) pompa.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. maka jalan masuk. atau . (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 25 m. ii. i. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan peruntukan bangunan. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis). Pintu. i. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat. jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan. ii. 7. 6. jendela. (b) 2 (dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. Hidran kebakaran. atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. SNI 1745. dan (2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku. Bila diperlukan proteksi.

pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang: (a) mempunyai jelur keluar ke jalan atau ruang terbuka. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. b. dilayani oleh Hose Reei tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat Hose Reel melayani seluruh unit hunian. dan dengan konstruksi yang mempunysi TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. dimana satu atau lebih hidran dalam dipasang. Hose Reel i. ii. .(5) (6) (7) (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. (a) pada bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian Klas 4 dilayani oleh Hose Reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. dan (b) pada bangunan klas 5. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. Sistem Hose Reel harus disediakan: (1) untuk melayani seluruh bangunan. satu unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. kecuali pada satu unit hunian. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. 7. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. 6. untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rurnah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai klas bangunannya. dan jika dalam jarak 6 m dari bangunan. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. tahan cuaca. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. (2) melayani hanya lantai dimana alat ini ditempatkan. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk memudahkan petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. Sistem Hose Reel.

maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel. Lebih dari 2 (dua) lantai.000 m3. 2. Konstruksi Atrium.1 Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua klas bangunan: 1. Pada bangunan yang tinggi efektifnya lebih dari 25 m Dalam kompartemenisasi dengan salah satu ketentuan berikut: (a) luas lantai lebih dari 3. yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (kbs 6).d harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. sebuah katup yang memenuhi butir 5. atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar. (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. Ruang Pertunjukan. Teater. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel V. Termasuk lapangan parkir terbuka dalam bangunan campuran. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke Hose Reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam.(3) (4) (5) (6) Memiliki slang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian rupa untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan Hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) diatas ditempatkan: (a) di luar bangunan. dan (c). sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap.500 m2. atau (d) kombinasi (a). (b) volume ruangan lebih dari 21. (b). Bangunan Rumah Sakit. Ruang Pertemuan Umum. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api).2. c. (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air. Sistem Sprinkler i. Luas panggung dan belakang panggung lebih dari 200 m Tiap bangunan beratrium Untuk memperoleh ukuran kompartemen . Tidak termasuk lapangan parkir terbuka. Bila dihubungkan dengan meteran air. Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran.

SNI-3989.000 m3. Pada kompartemen.000 m3. atau (b) sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikas intemal tidak disyaratkan. Ruang parkir. 108. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku. luar bangunan yang diisyaratkan menggunakan sprinkler. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku. Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan: (a) setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi intema yang disyaratkan. dengan salah satu dari Bangunan dengan risiko bahaya kebakaran 2(dua) persyaratan : 2 (dua) persyaratan berikut: (a) Luas lantai melebihi 2. (2) Bangunan bersprinkler. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler. (4) Pasokan air. . selain nuang parkir terbuka Bila menampung lebih dari 40 kendaraan. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. amat tinggi.000 m2. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka.yang lebih besar: (a) bangunan klas 5 . jika: (a) sprinkler terpasang diselunuh bangunan. (b) semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya.9 dengan luas maksimum 18.000 m2 den volume Bangunan berukuran begar den terpisah. dan (ii) setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinker diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan (3) Katup kontrol sprinkler. ii.000 m2 dan volume 108. ·) (b) Volume lebih dari 12. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan: (i) sebagian bangunan dipasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler. dan klasifikas bangunan sesuai standar teknis yang berlaku.000 m3.

Spesifikasi Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran a. PAR memenuhi butir i. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: i. Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. kecuali di dalam unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektip terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. harus: (a) berdiri sendiri. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan nuang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air.(6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper). bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yang digunakan sebagai: (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. iii. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. Pemadam Api Ringan (PAR) i. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. dengan ii. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu dipasang di dalam bangunan atau bagian bangunan yang dilayani oleh Hose Reel. jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku. ii. dan iv. Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-klas. SNI-3985. bangunan klas 2 dengan persyaratan khusus. ii. ruang pertemuan umum atau semacamnya. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. bangunan klas 1b. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya. b. bangunan klas 9a. atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi intemal tidak dipersyaratkan. 7) Sistem sprinkler di ruang parkir. atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang diseluruh bangunan. dan (2) PAR dari jenis bukan klas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. i. d. anak-anak atau orang cacat. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan . 2. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler didaerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan Bab VIII.

yaitu: (1) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan Pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung. dan iii. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. Pemasangan. Perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. iii.10 m di atas level lantai. ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap. dan ii. Sistem sampling harus memenuhi Ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan. iii. . ruang parkir terbuka atau panggung terbuka. i. bangunan klas 1 atau 10. Pada saat terjadi kebakaran. dipilih tipe foto-elektrik.c. ruang kompartemen sanitasi. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2. dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara. dan (2) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung. 3. ii. Penempatan Alat Pendeteksi Asap. ruang tanaman atau sejenisnya. termasuk didalam satuan numah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. ii. d. Persyaratan umum i. : Batas Ambang.5 % smoke obscuration/m. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. Pengendalian Asap Kebakaran a. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia. dan iv. Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yang berlaku. ii. Rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakoasi/ penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/ jalan keluar. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. untuk selama tenggang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis. (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. b. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0. lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan disetiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. ditempatkan kurang dari 1. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µm. ramp dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. i.

2. (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. ii sifat penggunaan bangunan. 4. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. tidak digunakan bagi keperluan lain.. Persyaratan untuk bahaya khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: i. d. atau ketentuan pada butir b. dilengkapi sarana alat pengendali.2. setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah. vi.iv. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran: (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v. sifat dan jumlah bahan yang disimpan. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. meubel. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memenuhi ketentuan standar yang berlaku. c. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. atau ketentuan pada butir b. ii. dan tidak mensirkulasikan asap diantara kompartemen kebakaran. . Ruang Pusat Pengendaii Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah. sebuah ruang untuk pengendalian dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penanganan kondisi darurat lainnya. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bagi penghuni bangunan. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen.2. harus: (a) beroparasi seperti sistem pengendali asap. v. Untuk sistem pengatur udara lainnya.3 pada lampiran persyaratan teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran. dimana: b. harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengendalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap klas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. tata letak bangunan. iii. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel V.3. Pusat Pengendali Kebakaran a. iii. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. telepon. panel kontrol.. Konstruksi.3. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. Untuk keperluan ketentuan ini.

panel indikator lif. pembungkus atau sejenisnya harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. dan (2) sistem keamanan bangunan. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangunan. (2) telepon sambungan langsung. ii. saluran udara dan sejenisnya. d. .i. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari (2) dua arah (1) arah pintu masuk di depan bangunan. seperti pada lantai. e. ii. ii.5 Pintu Keluar. sistem pengamatan. iii. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. langit-langit dan dinding dalam. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi dari dalam bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. sakelar kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. saluran. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. pipa. Panel indikator kebakaran. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaan pada Bab V. iii. Sebagai tambahan. konstruksi penutupnya dari beton. kipas pengendali asap. iv. i. peralatan utilitas. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokohan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. Ukuran dan sarana. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya nuang pengendali. i. ventilasi. sakelar pengendali jarak jauh untuk gas atau catu daya listrik. dan sistem manajemen. (3) sebuah papan tulis dan sebush papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran.50 m. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1). c. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. genset darurat. bukaan pada dinding. tidak boleh lewat ruang tersebut. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5).1. untuk jendela. pintu. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yang dilindungi terhadap api. bahan lapis penutup. Proteksi pada bukaan. ventilasi dan lubang perawatan lainnya.

Beberapa peralatan seperti Motor bakar. h. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. . Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) diatas. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. (4) mempunyai kipas. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali. g. (3) jika dipasang peralatan tambahan.(2) jika hanya menampung peralatan minimum.50 m2. dan (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara perjamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. Ventilasi dan pemasok daya. Sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m dan luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. (5) mempunyai catu daya listrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. i. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat di capai dari ruang pengendali tersebut. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketika kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dbA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan didalam bangunan. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. atau ii. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat. pompa pengendali sprinkler. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120. dan tingkat iluminasi diatas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. f.

Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa meraskan keadaan darurat.VI. Butir c tersebut tidak berlaku juga untuk: i. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. iv. nyaman dan memadai. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. mampu menjaga lintasan anak-anak. ii. dan memadai bagi semua orang. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. nyaman. ii. atau 4. aman. d. Akses ke dan di dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. kecuali tangga/ramp di luar bangunan. Butir c tersebut di atas tidak berlaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. b. c. Fungsi tersebut pada butir b di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. ii. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan maka bangunan harus mempunyai antara lain: i. Fungsi a. iii. injakan dan akhiran injakan tangga. Persyaratan kinerja: a. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. menerus sepanjang area yang berbahaya. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai /atap. harus dibuatkan penghalang yang: i. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ramp (3) Lantai bordes yang memadai uniuk menghindari keletihan (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. 3. e. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. c. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1m atau lebih dari lantai/atap/melalui bukaan pada dinding luar bangunan. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. 2. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. . iii. b.

jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. dan ii. balustrade atau penghalang lainya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh . g. Kebutuhan Jalan Keluar a. Jumlah. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. Tangga. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2. dimensi jelur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan . balkon.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 1.d. ii. b Bangunan klas 2 s. c. 2 . Tangga. iii. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii.5 m. b. Fungsi bangunan Butir h tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. 8: Minimal harus tersedia 2 jalan ke!uar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebih dari 25 m c.atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m. Fungsi bangunan iv. ramp. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. lantai. 3 dan 4. Tinggi bangunan Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan: i. Jumlah. h. Basement: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. Fungsi bangunan iv. Intervensi pasukan pemadam kebakaran Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. Persyaratan Keamanan a. VI. Jarak tempuh ii. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1. mobilitas dan karakter lain dan penghuni ii. i. sesuai dengan: i. setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. i. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. d. Bangunan klas 9: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada: i. mobilitas dan karakter penghuni.f. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. Jumlah. kecuali: i.

merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. atau ii. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke: i. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan. Panggung terbuka: Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. b. f. harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. sedikitnya 2 jalan keluar. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. Bangunan kelas 5 s. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp.d. selain area perawatan pasien. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. iii. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. Jarak jalur menuju pintu keluar a. v. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka.iii. g. Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran a. bila bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. e. . Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Bagian bangunan klas 4: Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. b. 4. setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. iv. 1 jalan keluar. Pintu masuk dari setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari: (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. ii. masing-masing merupakan bagian jelur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. Bangunan klas 2 dan 3: Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. 3. atau ii. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: i. Area perawatan pasien: Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. ii. pada bangunan klas 9a: tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat. Bangunan klas 2 dan 3 i.

jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. . atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. 1 m. jarsk ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar: a. 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang.8 m pada lorong. b. e. 45 m pada bangunan klas 9a. 9: Terkena aturan butir d. lobby. Jarak maksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. konstruksi ruang tersebut bebas asap. bila : i. untuk bangunan lainnya. berjarak tidak kurang dari 9 m. Bangunan klas 9a: Area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. e. Dimensi/ukuran Pintu Keluar. 60 m. memiliki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya terlindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. f. lebar bebas. f. atau ii. d. atau 6. ii. ramp. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. i. dan: i. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih 20 m dari pintu keluar. 5. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. dan ii. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. Bangunan klas 5 s. tersebar merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. Panggung Terbuka: Jarak jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbuka harus tidak lebih dari 60 m. 1. atau ii. c. Gedung Pertemuan: Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. atau iii. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus: a. tinggi bebas seluruhnya harus tidak kurang dari 2 m. berjarak tidak lebih dari: i. atau ruang sirkulasi lainnya. b. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan c. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i.c. d. Pada bangunan klas 5 atau 6.d. dan ii. 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. lebar bebas. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia.

ruang transisi atau yang sejenisnya. atau ii. . komponen sanitasi. a. atau ii. c.d. d atau e. pada kasus lain. 750 mm. 7. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi: i. g. kecuali kalau pintu tersebut dari: i. ke jalan atau ruang terbuka. (4) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dan 6 m. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. 1. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung atau melawati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut: i.8 m . 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. diukur tegak lurus ke jalur lintasan. iii. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. ketempat: (1) ruang atau lantai yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600. lebar bebas.8 m pada lorong. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir b. (2) lintasan tanpa rintangan. jika membuka ke arah koridor dengan (1) lebar koridor antara 1. (2) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. ke area tertutup yang: (1) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. (3) mernpunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. hall atau yang sejenisnya. e.2 m: 1070 mm. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. parkir kendaraan atau sejenisnya. ii. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. pada area perawatan pasien. minus 250 mm. b. iii. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. bagian dinding tersebut harus mempunyai: c. koridor. lebar pintu keluar: i. ii. (2) lebar koridor lebih dari 2. (3) pintu keluar horisontal: 1250 mm. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. f. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. lebar bebas. iii. lorong. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. lobby umum.2 m: 1200 mm. tidak lebih dari 20 m. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga.2. ii.

tangga/ramp yan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. Tangga/ramp. e. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. 30 m dan salah satu dari dua pintu atau lorong keluar bila arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. dan memenuhi ketentuan teknis yang berlaku. bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke Jalan atau ruang terbuka. bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m. 8. Pada bangunan klas 2. Pada bangunan klas 5 s. Jika Jebih dari dua akses pintu. 20 m dari pintu keluaar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. atau ii. e. ii. 9.5.d.1. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka. membuka ke pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud i lobby bebas asap sesuai dengan Bab V.2. d. 3 atau 4. c.3 harus tersedia ii. d. . dengan injakan dan tanjakan dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan b.i. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran. Lintasan Melalui Tangga/Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. atau ii. TKA sedikitnya 60/60/60. tangga/ramp yang tidak diisolasi torhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari: i. atau 9. 3 atau 9a. Pada bangunan klas 5 s d. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. Pada bangunan klas 2. 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. 8 ata u 9b. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus mempunyai jalan lintasan menerus. jarak antara pintu keluar dari ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasii terhadap kebakaran harus tidak melampaui: i. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang berlaku.

terhadap kebakaran dalam bangunan. Pada bangunan klas 2 atau 3. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini.14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab. Vl. e. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dan 500 orang. 10. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita bagunan SD atau SLTP. c.ii. kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. 11 Pintu Keluar Horisontal. antara unit hunian tunggal. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terletak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya. atau mana yang lebih lebar. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal Kasus selain butir b di atas. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar: arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. a. d. atau tidak setinggi 1. ii. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan.2. f. dan bila perlu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. 2. . dan c. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantai yang dipisahkan oleh dinding tahan api Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai dengan tidak kurang dari: i. Pintu keluar harus tidak terhalang. ii. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. Jika pintu keluar yang disyaratkan menuju ke ruang terbuka. jalur lintasan menuju ke jalan harus i. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. b. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dan 1 m. Pada bangunan klas 9a. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang. bebas asap. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ramp yang tidak diisolasi. b. ii.4. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila: i. d. Pada bangunan klas 9b.

ii. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini c. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. tata letak lantai tersebut. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. kecuali bila dijinkan sesuai butir b atau c di atas. hall. b. atau ii. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. dan satu dari lapis lantai tersebut terletak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. ii. iii. 2 lantai dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan. ramp atau eskalator tersebut i.2. 12. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. motor lif mempunyai luasan i. 8 atau 9.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. 1. harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a b. eskalator. 6. Ruang Peralatan Dan Ruang Motor Lift a. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. atau 13. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. ii pada area parkir kendaraan atau atrium. Bila ruang peralatan atau ruang. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf. . pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. 7. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i.ii. ramp.2 sesuai jenis penghunian. 0. lift. pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. iv. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. tangga. di luar bangunan. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. bila: i.c. lobby dan yang sejenis. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. d. Tangga. Ramp Atau Eksalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran a. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. dan luas lantai dengan: a. service duct dan yang sejenis. dan eskalator. 3 lantai. koridor. iii. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. tidak lebih dari 100 m2. dan ii. tidak harus menghubungkan lebih dari i. 14. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift.

workshop . Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. motel. r. arcade Panggung penonton: darah panggung Kursi penonton R. prosesing . penjualan: Level langsung dari luar Level lainnya r. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan. tunggu r. 3.r. atau cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya.3 1 30 1. sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: . c.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Jenis Penggunaan Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : .5 1 4 2 30 pabrik VI. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r. Tabel VI.r.3 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : staf pemeliharaan Proses manufaktur m2/orang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 bengkel 3 5 5 0. museum Bar.ventilasi.2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan Galeri seni. dll . elktrikal.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel. r. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD SLTP Pertokoan. Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. penyimpanan r. pamer : r. café.boiler/sumber tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r. manufaktur. hostel. ruang pamer. r. . guest-house Stadion indoor area Kios Dapur.r penyimpanan m2/orang 4 1 2 15 25 10 1 0. gereja. bila terjadi kenusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api. .mall. peragaan. dari material tidak mudah terbakar. b.b. atau dengan konstruksi: 2. kerja. tempat cuci Perpustakaan : . Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4. listrik. baca. laboratorium. telepon Kolam renang Teater dan Hall R. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas.

baja dengan tebal minimal 6 mm kayu: i. tidak harus disediakan dari tangga. 7. beton bertulang atau beton prestressed. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang 5. maka harus: a. c. harus tidak ada hubungan langsung antara i. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. b. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. dan ii. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon b. luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. d.2. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. iii. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i.a. mempunyai TKA minimal 60/60/-. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. di setiap bukaan dari area hunian. c. di mana: i. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. b. setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. 6. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. ii. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. . terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar. mempunyai luas minimal 6 m2. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam pedoman ini.7 harus: a. b. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a. atau ke bagian bawah langit-langit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. b. terbentang antar balok lantai. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4. dan: a.

kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. 8. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. b.4 iii. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. atau koridor. panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. 1:8 untuk kasus lainnya c. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup. b. lebar dan tinggi langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. gang. dan iii. bebas halangan.c. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. ii. d. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis Lebar Tangga a. lebar bebas halangan. kecuali: i. lobby. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. 9. motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. panel atau saluran distribusi. b. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. kecuali untuk list langit-langit. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. di mana: . bila konstruksi yang menutup ramp. koridor. meter listrik. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. ii. gang. seperti pegangan rambat (handrail). 11. bila peralatan dimaksud terdiri atas: i. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. disyaratkan. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. 10. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. Ramp Pejalan Kaki a. dan sejenisnya. bagian dari balustrade.

b. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. i. bila: . balkon dan sejenisnya. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. pintu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. lantai. injakan dan tanjakan konstan. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. c. 14. b. ii. atap tersebut harus a.b. ruang perawatan pasien bangunan klas 9a. Ambang Pintu Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a. kasus lainnya i. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. tangga. 16. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. d. Balustrade a Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. 13. Bangunan klas 9a: i. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. 12. ambang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin.6 m dan panjangnya minimal 2. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. ramp. Meskipun dengan ketentuan butir a. dan jumlah sesuai standar teknis. Bordes a. b.ii. tangga atau balkon luar ii. tanjakan.7 m. ii. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. koridor. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. e. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. f. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. b. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. injakan. 15. ii. lebar minimal bordes 1. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka.

atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m.iii dan g. . tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. tidak dibatasi dengan dinding.ii. c. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. dan ii. lorong. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. iii.ii. bukan pintu berputar b. balkon. Balustrade sesuai ketentuan butir e. 17. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp. g. Balustrade pada: i. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. Pegangan Rambat Pada Tangga a. bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. balkon dan sejenisnya. atap. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. tangga. bila dibuat sesuai i. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. Balustrade. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. Tinggi balustrade: i. i. lantai. kecuali tangga/ramp luar bangunan. koridor. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. mesanin dan sejenisnya. bukan pintu gulung. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. c. 7. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. b. d. e. i. Bila menggunakan jeruji.i. ii.i. dan harus: i. dibuat menerus 18. ii. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. kecuali sekeliling panggung.b. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. f.

Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan. ii. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya.1. khususnya oleh pemilik. Pintu Ayun a. Ayunan harus searah akses keluar. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. hanya melayani: i. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. d. bangunan klas 9a b.9 . 21. pintu dapat dibuka secara manual. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan. kecuali: i membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. melayani kompartemen saniter. kecuali bila: a. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. termasuk bordes. dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. lorong atau ramp. ii. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik. b. iii. kecuali bangunan sekolah. kecuali: i. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. 19. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan bukan pintu sorong. kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. b.2 m dari lantai. Bila terbuka sempurna. 6. dan . pada bangunan klas 9b. ii. atau bagian klas 4. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. 7. d. unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. harus dapat dibuka secara manual. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. 3. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. dengan tangan. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu. 20.c. atau 8. alarm kebakaran dan lainnya. c. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. c. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. ii.

sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi. ii. Rambu. b. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. Rambu Pada Pintu a. 2.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. tersedia sistem komunikasi internal. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. 22. termasuk penyandang cacat. VI. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm.i. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. . Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi.

TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. Lif kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai.VII. Waktu tunggu lif. lif kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. g. Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. Sumber daya listrik untuk lif kebakaran harus direncanakan dari sumber yang berbeda. 1 LIF 1. harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. 3. Kapasitas Lif a. dipasang ditempat yang mudah terbaca: i. Kecepatan dan ukuran sangkar lif kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. . dekat setiap tombol panggil untuk lif penumpang atau kelompok dari lif ada bangunan. dan menggunakan kabel tahan api. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. harus menjadi kapasitas angkut dari lif dimaksud. Pintu saf lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan peraturan yang berlaku di Indonesia. Lift Kebakaran a. Jumlah dan kapasitas lif harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untak sirkulasi vertikal pada bangunan. e. Kapasitas angkut lif penumpang yang diizinkan. Untuk mengubah fungsi lif penumpang atau lif barang menjadi lif kebakaran. b. Kapasitas angkut lif barang yang diizinkan. Lif kebakaran dapat berupa lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur. c. 2. kecuali ii. Peringatan Terhadap Pengguna Lif Pada Saat Terjadi Kebakaran Tanda peringatan harus: a. f. Persyaratan teknis dari lif yang digunakan sebagai lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. d. b. c. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petuugas Kebakaran. d. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (Fire Switch) terlebih dahulu. e.

Untuk saf lif yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. 6. bila diperlukan. b. Sangkar Lif Sangkar pada setiap lif harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai Lif pasien yang dibutuhkan pada butir a. harus: i. . kayu. 5. Lif Untuk Rumah Sakit a. ditatah atau huruf timbul pada logam. telepon. berukuran cukup untuk meletakkan fasilitas kereta dorong ( wheel strecther) secara horisontal ii. 1. berupa bel listrik. plastic atau sejenisnya dan dipasang tetap didinding. dan terdiri dari i.DILARANG MENGGUNAKAN LIF BILA TERJADI KEBAKARAN 10 mm 8 mm ATAU Dilarang menggunakan Lif bila terjadi Kebakaran Gambar VII. 1 Tanda Peringatan Lif Penumpang b. Lif yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. Mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 Kg. 4. Saf Lif a. setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. dan iii. atau ii huruf yang diukir atau ditatah langsung dipermukaan bahan dinding iii. Satu atau beberapa lif harus di pasang sebagai lif pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan ramp. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung ditempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar Vll. b. huruf yang diukir. misalnya bangunan Kelas 9a. Dalam saf lif dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lif.

untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap nuang mesin lif. dengan beban sangkar lif. Instalasi Listrik a.2 TANGGA DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan Teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lif. motor generator. Prosedur pemeriksaan. Instalasi listrik untuk lif harus dilengkapi dengan pengaman harus lebih atau sakelar otomatis.7. Mesin Lif Dan Ruang Mesin Lif a. peralatan lain dan lantai diatasnya. Instalasi lif yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. iii. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang. Jika mesin lif dan tali diempatkan di lantai bawah. Semua bagian logam dari lif pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. atau disamping ruang luncur di lantai bawah. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban dibawah ini: i. b. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali baban berat pada arah sejajar. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. lantai dan penyangga di Ruang mesin harus di rencanakan dengan memenuhi: i. Beban diperhitungkan pada saat bandul mekanis governor) bekerja. b. iii. tromol tali. iv. governor dan peralatan lain. 9. ii. Vll. . pengujian dan pemeliharaan instalasi lif sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 03-2190-1991. c. Balok. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. panel kontrol. termasuk lantai ruang mesin. c. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). 8. tromol. Bangunan ruang mesin lif harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. Pengujian Dan Pemeliharaan a. Pemeriksaan. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. b. Pondasi harus menyangga berat mesin. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada semua arah gaya d. pondasi untuk mesin. ii.

atau iii. 2. bangunan kelas 2 atau 3. Jelas. Setiap tanda “KELUAR” dibutuhkan. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. ke koridor. PENCAHAYAAN DARURAT. tangga yang tertutup. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. bekerja secara otomatis b. hall. setiap lorong. Setiap lampu darurat. c jalan lintas. koridor. ii. pencahayaan darurat digunakan pada tanda KELUAR. ke ruang terbuka. atau ii ke ruang yang mempunyai lampu darurat. b c. atau ramp yang digunakan untuk ii tangga luar. jalan keluar di balkon yang menuju Keluar.VIII. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 tetapi kurang 300 m2 yang terbuka: i. 2.1 SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT 1. lorong. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai keluar i. dan harus dipasang diatas atau di dekat setiap: a. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi daari kerusakan karena api dengan konstsruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. Tanda KELUAR harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. ruang yang mempunyai luas lebih dari 300 m2. 3. VIII. bangunan kelas 9a. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien d. TANDA ARAH KELUAR. atau iv. harus : a. . mudah dibaca. jika menggunakan sistem terpusat. Sistem lampu darurat dipasang pada: a b. harus: a. lorong atau ramp yang digunakan untuk Keluar iii.2 TANDA ARAH KELUAR 1. mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan. c. atau sejenisnya yang digunakan pasien. yaitu pada: i. mempunyai tigkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. e. ke jalan raya.

Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m Bangunan Kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari dua lapis dan a. maka tanda Keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. Bangunan Kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua: a. lorong. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju Jalan raya atau ruang terbuka. d. 2. 5. atau b. akomodasi untuk orang tua.1 3. anak-anak. c. atau sejenisnya. untuk gedung pertunjukan. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. kecuali bila sistemnya a. langsung memberikan peringatan pada petugas. VIII.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan sesuai dengan tipe dan kondisi pasien Bangunan Kelas 9b a. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari tiga b. untuk sekolah. . 4. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petugas b. Jika tanda “KELUAR" tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. dan: Jalan keluar horisontal. dan: Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan KELUAR" pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai VIII. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua. hall umum. bagian rumah dari sekolahan. b. di daerah bangsal perawatan. hall. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua. lobi.b. atau orang cacat. 3. Pintu dari tangga tertutup. sistem alarm diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma.

INSTALASI LISTRIK. d. . Semua peralatan listrik diantaranya penghantar. c. transformator dan peralatan lainnya. b. Jaringan yang melayani beban penting. Jaringan Distribusi Listrik a. c. PENANGKAL PETIR DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. mengganggu dan merugikan bagi manusia. papan hubung bagi dan isinya . dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. bagian bangunan dan instalasi lainnya. peralatan pengendali asap. Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketantuan: a. sistem komunikasi darurat. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik harus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. seperti pompa kebakaran. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. ukuran dan kemampuan. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. papan hubung bagi dan beban listrik. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. dengan frekuensi 50 Hertz. maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. dengan frekuensi 50 Hertz. jaringan distribusi. lif kebakaran. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. dipelihara. lingkungan. Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak dan busduct dari berbagai tipe. dapat menggunakan ketentuan/ standar dari negara lain atau badan international. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. 2. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya e. alat ukur.IX. tombol. sistem deteksi dan alarm kebakaran. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar.1 INSTALASI LISTRIK 1. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. b. tidak membahayakan.

Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup. 4. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3. 5. yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau nomalisasi dari peraturan yang berlaku. . harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak momungkinkan. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang. d. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi golombang elektromanetik dan lain-lain. 6. c. b. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listrik tidak boleh putus. e.3. c. dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. Transformator Distribusi a. Pemeriksaan Dan Pengujian Instalasi listrik yang dipasang. secara otomatis. sebelum dipergunakan. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding. faktor kebersamaan (coincident factor) atau faktor ketidak bersamaan (diversity factor). atap dan lantai yang kokoh. Sumber Daya Listrik a. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila tajadi gangguan sumber utama. dengan ijin instansi yang bersangkutan. f. harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. g. dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri. di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. b. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering.

Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. sifat geografis.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. serta diberi ventilasi cukup. c. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. b. bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai risiko terkena sambaran petir. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang c. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. harus mengacu pada rekomendasi dari badan International seperti IEC. dipelihara. Pemeliharaan a. tidak membahayakan. 1. b. serta direncanakan .3 INSTANSI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harus mudah diamati. harus diberi instalasi penangkal petir. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. terhadap bahaya sambaran petir. Perencanaan Penangkal Petir a. instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. dan instalasi lainnya. termasuk manusia yang ada di dalamnya.7. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung a. IX. b. 3. IX. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. bagian bangunan dan instalasi lain. Ha-hal yang belum diatur didalam peraturan tersebut diatas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. Instalasi Penangkal Petir a. harus memperhatikan arsitektur bangunan. 2. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak. perbaikan dan pelayanan. b. mengganggu dan merugikan lingkungan. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan. Pada ruang panel hubung bagi.

iii. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. minimal berjarak 0. Ruang yang bersih.b. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. iii. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. atau terdiri dari kabel tahan api. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: i. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. c. 2.50 m x 0. ii. Secara berkala dilakukan pengukuran/ pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). ii. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. aman dan mudah dikerjakan. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. c. d. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. 3. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. c.80m. b. b. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m keatas. Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a diatas harus menggunakan sistem khusus. . kedap debu. Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. tidak ada genangan air. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi Persyaratan: i. Instalasi Telpon a. dan dilaksanakan berdasarkan standar. dan lain-lain. terang. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. Ruang batere sistem telepon harus bersih. terang. Instalasi Tata Suara a. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran.

Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi: a. 2. c. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. Gas elpiji (LPG = Liquefied Petroleum Gasses). Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter-gas)mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. adalah : a. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. iii. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2He ). Pada instalasi gas untuk pembakaran. 3. Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter-gas ke peralatan ii. v. Udara tekan . b. Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter-gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. Gas nitrous Oxida (N2O) c. X.X. vi. Gas oxigen b. harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang secara otomatis mematikan aliran gas.2 INSTALASI GAS MEDIK 1. terdiri dari propane (C3H8) dan Butane (C4H10). Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. iv. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. Rancangan sistem distribusi gas pembakaran. Berat jenis dari gas. Gas elpiji. Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas).1 INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. Jaringan Distribusi Gas Kota a. Panjang pipa dan jumlah sambungan. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Jenis Gas Jenis gas medik yang dimaksud. Faktor diversifikasi (diversity factor). INSTALASI GAS X. b.

Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang . Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. peralatan rawat gigi dan sebagainya. Pada instalasi gas medik harus dilengkap peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyarat tanda kebocoran gas. Rancangan sistem distribusi gas medik. pipa Nitrous Oxida dan pipa udara tekan. c. khususnya untuk instalasi pipa oksigen.d. Pada instalasi pipa gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. Kebutuhan gas medik garus disesuaikan dengan kebutuhan untuk asien rawat inap dan kebutuhan lain. b. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. seperti untuk ruang bedah orthopedi. Jaringan Distribusi Gas Medik a. pemilihan bahan dan kontruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. e. Vakum 2. d. 3.

2. b. Perencanaan Sistem Plambing a. Temperatur air panas yang keluar dari alat plambing harus diatur. f. meliputi sistem air bersih. SANITASI DALAM GEDUNG XI. Sumber air bersih pada bangunan harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). d. serta diperhitungkan berdasarkan standar. alat plambing dapat bekerja dengan baik. Kualitas air bersih yang dialirkan ke alat plambing dan perlengkapan plambing harus memenuhi standar kualitas air minum yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. maka harus dilengkapi dengan pipa sirkulasi. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. Kebutuhan air bersih untuk perumahan berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. Apabila kapasitas dan atau tekanan sumber yang digunakan tidak memenuhi kapasitas dan tekanan minimal pada titik pengaturan keluar. kecuali untuk penggunaan khusus. dan apabila sumber air bukan dari PAM. sedangkan untuk kelas bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. g. Pipa pembawa air panas yang cukup panjang tersebut harus dilapisi dengan bahan isolasi. SISTEM PLAMBING 1. Sistem distribusi air harus direncanakan sehingga dengan kapasitas dan tekanan air yang minimal. petunjuk teknik. Bangunan yang dilengkapi dengan sistem penyediaan air panas. maka harus dipasang sistem tanki persediaan air dan pompa yang direncanakan dan ditempatkan sehingga dapat memberikan kapasitas dan tekanan yang optimal. sebelum digunakan harus mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. maksimum 60° C. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya.XI. b. dimana pipa pembawa air panas dari sumber air panas ke alat plambing cukup panjang. e. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. . tidak mengganggu lingkungan.1. Sistem Penyediaan Air Bersih a. c.

Saluran air kotor dapat benupa pipa atau saluran lainnya. . maka dapat menggunakan sistem perpompaan. Air kotor yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. 3. karat dan kebocoran. tidak mengandung bahan beracun dan pemasangannya harus sesuai dengan petunjuk teknis bahan pipa yang bersangkutan. Pada dasarnya air kotor berasal dari aktivitas manusia.h. kakus maupun kegiatan lainnya. PE. f. Sistem pengaliran air kotor direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. Semua sistem pelayanan air bersih harus direncanakan. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. h. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. b. tahan terhadap karat dan panas. i. beton. tanah liat. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunaannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. PE (poli-etilena). Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang akan dialirkan. i. j. harus ditangani secara khusus. baik tempat mandi cuci. g. sesuai dengan petunjuk teknis dari bahan pipa yang bersangkutan dan ketentuan-ketentuan lain yang berlaku di Indonesia. e. Sistem air kotor didalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa ven untuk menetralisir tekanan udara didalam saluran tersebut. serta yang mengandung radioaktif. Sistem Pembuangan Air Kotor a. baik dari bahan PVC. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilaksanakan. besi tuang. d. c. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. besi lapis galvanis atau Tembaga. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. tembaga. baja maupun bahan lainnya yang tidak mudah rusak. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja. dipasang dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tidak mudah rusak dan tidak terkontaminasi dari bahan yang dapat memperburuk kualitas air bersih. Pemeliharaan sistem air kotor dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya penyumbatan.

f. b. c. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan. b. babas dari kerusakan dan tidak mempunyai bagian kotor yang tersembunyi. d. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. harus dilakukan secara berkala untuk menjamin kebersihan dan bekerjanya alat tersebut dengan baik. g. Tangki penyediaan air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediakan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. Bahan alat plambing harus mempunyai permukaan yang halus dan rapat air. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak dan lemak. pipa penguras dan pipa ven. tahan lama untuk digunakan. d. Bahan tangki dapat berupa beton.4. baja. pipa peluap. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. minuman bahan steril atau bahan sejenis lainnya. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. Pada pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. e. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempat-tempat yang dapat menimbulkan pencemaran. bahan tersebut tidak boleh memperburuk kualitas air bersih. fiberglass dan kayu. Fungsi tangki penyediaan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. e. c. Konstnuksi dan bahan tanki penyediaan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. . Pemeliharaan semua alat plambing. serta dilengkapi dengan 1ubang pemeriksa. Alat Plambing a. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. Tangki penyediaan air bersih harus diiengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar. Tangki Penyediaan Air Bersih a. perlengkapan bangunan. Apabila tangki penyediaan air bersih menggunakan bahan lapisan untuk mencegah kebocoran dan karat. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. 5.

dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. Kemiringan saluran harus dibuat. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebab-sebab lain yang dapat diterima. XI. b Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup. dan pada saluran yang lurus. lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. b. SALURAN AIR HUJAN. e. Kelengkapan pada Bangunan a. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa.6. 1. pipa isap dan pipa keluaran pompa.2 Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effsiensi yang maksimal. Persyaratan Saluran a. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. d. Apabila saluran dibuat tertutup. Fungsi pompa air bersih adalah memberikan kapasitas dan tekanan cukup pada sistem penyediaan air bersih atau menyalurkan air ke penyediaan air bersih. yang tanki kotor kotor b. c. . sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku. c. maka harus dilakukan cara-cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang 2. c. Pompa a. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. Fungsi pompa air kotor adalah menyalurkan air ke saluran air kotor umum Kota atau ke bangunan pengolahan air lainnya. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa.

Khusus untuk bahan seng. seng. tanah liat. beton. Pewadahan a. pasangan.d. . Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. besi dan baja.3 PERSAMPAHAN 1. peti kemas baja. tidak mudah rusak. atau Pengelola Pengangkutan Sampah. mempunyai tutup dan mudah diangkut. fiberglass. 3. Bentuk pewadahan sampah harus disesuaikan untuk kemudahan pengangkutan sampah oleh Dinas Kebersihan Kota. Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. Penempatan pada Bangunan Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas pewadahan dan atau penampungan sampah sementara yang memadai. Sampah Berbahaya Untuk sampah padat yang dikatagorikan sebagai jenis buangan berbahaya dan beracun (sampah B3). 3. peti kemas fiberglass. XI. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni. c. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. penempatan dan pembuangannya harus ditangani secara khusus sesuai dengan peraturan yang berlaku. dan pasangan bata atau beton. Bahan saluran dapat berupa PVC. b. besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sementara harus dihitung berdasarkan jenis bangunan dan jumlah penghuninya. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. 2. Tempat pewadahan sampah harus terbuat dari bahan kedap air.

VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. Ventilasi Alami a. (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu.6 m diatas lantai. Penerapan ventilasi alami. (2) teras terbuka. (3) Luas ventilasi yang diatur pada butir (1 ) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya. bukaan. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi.XII. b. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 10% luas lantai kedua ruangan tersebut. bukaan.1 VENTILASI 1. 8 atau 9. (2) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. Bangunan klas 2. bukaan. ii. bukaan pintu ventilasi. . ii ke arah. bukaan. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. Bangunan kelas 5. (1) jendela. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. Kebutahan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai: a. 2.2 di bawah ini atau b. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. Ventilasi alami sesuai dengan butir XII. dengan jarak tidak lebih dari 3. (1) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sanitasi. jendela. 6. pelataran parkir.1. 7. atau daerah yang terbuka ke atas. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. dan: i. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3. dan yang sejenis. (3) ruangan bersebelahan dengan jendela. (2) jendela. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang diventilasi. pintu atau sarana bukaan lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10% dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai lantai kedua ruangan tersebut. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka i.

sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. atau ii. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yang dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya: i. koridor atau ruang lainnya. atau iii.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. g. ii. ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. pada bangunan Kelas 5. Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah: i. f. harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/halaman dibawah lantai dasar. setiap peralatan masak yang mempunyai: (1) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. jika: i. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan: i. 6. (1) jalan masuk harus melalui ruang antara. iv. 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4.c. sistem ventilasi alami permanen yang memadai. ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. (1) jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman. sekolah TK atau panggung terbuka). d. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. . ii. 7. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: i. sekolah TK atau panggung terbuka). koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1. iii. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang berlaku. jika berada dibawah lantai dasar. e. asrama pada bangunan Kelas 3. dapur atau pantry. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan. ii ruang makan umum atau restoran. v. atau (2) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam.

d. XII.ii. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. PENGKONDISIAN UDARA 1.8 MJ/jam untuk daya gas. toko. dan standar teknis lain yang berlaku. c. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. rumah sakit. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. b. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. 3.2 2. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang berlaku. Besamya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar. e. c. lebih dari: (1) 0. Bilamana digunakan ventilasi buatan. 3. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. atau sebaliknya.5 kW untuk daya listrik. b. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. Konservasi Energi a. .60 meter diatas lantai. f. kantor. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan a. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. Ventilasi buatan a. pabrik. atau (2) 1. dan minimal 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. pemilihan peralatan. total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak.

dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku. . Dasar perancangan i. . sistem kontrol. Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan.b. (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem Fan. sistem pompa dan pemipaan. ii. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. isolasi pemipaan. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. sistem distribusi udara. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. iii. Penetapan sistem dan peralatan. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. (2) Semua saluran udara harus direncanakan.

ruangan didalam bangunan b. meliputi: a. 1. pencahayaan untuk pameran seni. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi: a. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. d.00 malam sampai jam 06. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. 2. e. Kamar. .00 pagi. g. dsb. j. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan knalitas tampilan. daerah luar bangunan. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dan fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. c. kegiatan diluar bangunan. efektif dan sesuai dengan kebutuhan ruangan. pencahayaan di unit pengeboran. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan buatan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan beban pendinginan bangunan. n.XIII. PENCAHAYAAN XIII. seperti: i. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. taman dan daerah bagian luar lainnya. pintu ketuar. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. ruangan. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. klub malam. Tingkat Iluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung XIII. b. m. pencahayaan untuk rambu-rambu. jalan. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. penyiaran televisi. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. pencahayaan darurat yang secara otomatis mati.2 2. selama operasi normal. museum dan monumen. seperti proses produksi dan penyimpanan. k. gallery. 1. Kamar. pencahayaan khusus laboratorium. c.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. pintu masuk ii. f. pencahayaan luar untuk monumen publik. iii. pencahayaan untuk pembuatan film. fasilitas luar untuk olahraga. i. tempat bongkar muat barang. PENCAHAYAAN BUATAN.

Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan monggunakan sumber pencahayaan yang tepat.3. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Pengendalian silau pada bangunan. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut. c. baik dari sumber sinar matahari langsung. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. Jika perlu. Pemanfaatan pencahayaan alami Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor aluminium anodized berkualitas tinggi. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan atau kaca ganda. balas. XIII. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. 4. 7. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan. dan reflaktor yang efisien. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. .3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. 5. 3. 6. a. Untuk fasilitas banyak bangunan. mempunysi karakteristik distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidak nyamanan karena silau atau pantulan. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan: a. b. b. Penentuan besanya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI-2396 tentang Penerangan Alami Siang hari untuk Rumah dan Gedung. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. obyek luar. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. langit yang cerah. jenis reflektor yang efisien. Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. 2. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya.

Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama didekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. Pengendali yang memerlukan operator yang terlatih. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus menerus. kecuali: a. Pengendali otomatis. gudang dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. Pengendali dipusatkan di lokasi yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. otomatis atau yang terprogram.4 PENGENDALIAAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN. f. hotel dan rumah sakit. Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang tedetak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendali untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. c. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell).XIII. pertokoan. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. c. d. Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap group yang melayani luasan 30 m atau kurang. b. 2. harus dilengkapi dengan pengendali manual. kecuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. Pengendali haruss digunakan sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami. Pengendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. pasar swalayan. e. b. Letak pengendali harus mudah dicapai. Semua sistem pencahayaan. . Pengendali yang diprogram. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafond harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. e. kecuali yang diperlukan untak pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu “KELUAR”. d. 1. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut: a.

XIV. KEBISINGAN DAN GETARAN
XIV. 1. KEBISINGAN 1. Baku Tingkat Kebisingan a. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. b. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut berlaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2

XIV.2

GETARAN 1. Baku Tingkat Getaran a. Sala satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. b. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut, berlaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2.

XV. KETENTUAN PENUTUP

XV.1

Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Bab-bab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI), pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi, tata cara, dan metode uji bangunan, komponen, elemen, serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatif serta penyesuaian penyesuaian yang diperlukan terhadap Persyaratan Teknis Bangunan Gedung diharapkan untuk dikembangkan oleh masing-masing Daerah disesuaikan dengan kondisi, permasalahan, kebutuhan, dan kesiapan kelembagaan di setiap Daerah.

XV.2

MENTERI PEKERJAAN UMUM ttd. RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN
TABEL V.2.3 PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. KETENTUAN UMUM
PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk: 1. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. Setiap lantai di atas tinggi efektif 25m, atau b. lebih dari 2 lantai di bawah tanah, atau c. atrium, atau d. bangunan klas 9a yang > 2 lantai, dan 2. jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka, harus dilengkapi dengan: 1. Sistem presurisasi otomatis, atau 2. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir Vl.3. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF >25 M Klas. 2, 3, den 4. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 2. Bila panjang koridor umum > 40 m, harus dibagi dengan interval < 40 m, dengan konstruksi sesuai ketentuan V.1.3, kecuali bahan pelapis dan bahan yang tidak mudah terbakar Klas5,6, 7,8,dan 9b (selain ruang/tempat parkir) Klas 9a 1. Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis, dan 2. Sistem pengendali asap tezona sesuai ketentuan yang berlaku

KLAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang Diisolasi terhadap kebakaran

BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Klas 2, 3, den 4 1. Harus dilengkapi dengan alarm dan detekai asap otomatis, dan 2. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran den bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan Kas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8, atau 9b, maka: a. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap Jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomati, atau b. Klas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8 dan 9b harus

Klas 6. sistem sprinkler 3. Sistem detektor dan alarm asap. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan klas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan klas 5. 8. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. atau 3. Sistem pengendali asap terzona. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis.a. 6. atau 2.dilengkapi dengan i. harus dipasang: 1. atau b.b. bila bangunan mempunyai lebih dari satu komprtemen kebakaran. atau 9b (selain sekolah) maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. Klas 5 atau 9b (sekolah) dan b. atau b. dan 9b (selain ruang/tempat parkir Klas 9a BASEMENT (selain ruang/tempat parkir) . atau b. fungsi khusus bangunan c. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau digunakan dalam bangunan d. diatas harus dipasang. Sistem sprinkler. atau 2. Pada bangunan: 1. 8. 7. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 8. atau iii. bila basement mempunyai lebih daari satu kompartemen kebakaran. atau ii. Sistem sprinkler 1. atau 2. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan: a. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detekotr asap bekerja. Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat klas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/pengguna yang banyak. Bila > 2 lapis dibawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen Klas 5. Sistem pengendali asap terzona. Basement dengan luas > 200 m2 harus dilengkapi dengan: a. maka: a. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. Sistem pengendali asap terzona. 3. atau 3. 7. harus dipasang: a. Klas 6. 6. Bila bangunan >2 lantai. karakter khusus bangunan b. 2. atau 9b. Sistem presurisasi udara otomatis. termasuk jlan penghubung dan rampnya. atau 4. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Sistem sesuai butir 2. dipajang. Sistem sprinkler 1. dan 2. 7. atau ii. 8. 7 (bukan tempat parkir terbuka). Klas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > 3 lantai.

harus dilengkapi dengan: a. Setiap kompartemen kebakaran.000 m2. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. Bila bangunan 1 lantai. 1. dan 2. dan sejenis. Kompartemen kebakaran > 2. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. atau b.500 m2 dan bangunan 2 lantaai atau kurang. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3. sistem peringatan kondisi darurat. termasuk ruang parkir dibawah tanah. harus dilengkapi dengan: a. bila bangunan 1 lantai.500 m2. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. dan b.000 m2. dan toko (selain pada ketentuan 3 ) yang tidak membuka ke arah selasar terlindung. sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomaatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. atau ii. diskotek. dipasang sistem sprinkler 3. bila: a. sistem inter komunikasi darurat. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. luas bangunan < 2. bila: a. sistem deteksi alarm kebakaran. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka 1. Selasar terlindung. toko dengan luas > 1. Bangunan klab malam.Ruang/tempat parkir Atrium kebakaran Ruang/tempat parkir.kecuali yang ditetapkan pada butir 2. sistem pembuangan asap otomatis. atau lubang-lubang Klas 6.000m2 yang membuka ke arah selasar terlindung. atau b. luas lantai < 2. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler. dan b. Bangunan satu lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. bangunan 2 lantai atau kurang. dipasang sistem sprinkler 2. sistem pembuangan asap otomatis.000 m2. dan b. Kompartemen Kebakaran > 2. atau c. bangunan 1 lantai. Bangunan Pertemuan . tidak terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko Klas 9b. dan: i. yang dilengkapi dengan sisitem ventilasi mekanis sesuai ketentuan: 1. sistem pembuangan asap otomaatis.000m2. harus dilengkapi dengan: a. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. KETENTUAN KHUSUS KLAS/BAGIAN BANGUNAN Klas 6. atau 2.

000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis. Mesjid dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. atau sistem sprinkler 2. gereja. bilang bangunan 1 lantai 3. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a diatas adalah: i. bila bangunan 1 lantai. atau ii. Bangunan theater atau tempaat pertemuan/hall umum: a.500m2 i. dan c. atau iii. . sistem sprinkler. bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5. lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. kompleks olahraga (termasuk hall olah raga. bila bangunaan 1 lantai 4. atau iii. bila bangunan 1 lantai. Bangunan pameran.ventilasi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai.000 ii. pada bangunan sekolah. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. diatas.000-3. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2. sistem pembuang asap otomatis. Bukan pada bangunan sekolah. atau harus dilengkapi dengan: i.500 m2. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3.000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seperti butir 4. dipasang sistem sprinkler dan i. Bila luas bangunan > 3. harus dilengkapi dengan a. gereja. idem 1. Bangunan pertemuan lainnya (diluar butir 3 dan 4 diatas): a. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. ruang senam. 5. dengan luas > 300m2 atau b. sistem pembuang asap otomatis. dan b. atau ii. termasuk theater kuliah dan komplek auditorium: a.000 m2 i. atau ii. dan b.b diatas b. sistem pembuang asap otomatis. sistem pengelola udara mekanis yang bukan meru-pakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shutdown) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. dengan luas > 200 m2. selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. atau ii.a. Bila luas bangunan 2. kolam renang dan sejenis) selain dari gedung olahraga(indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1. sistem pembuang asap otomatis. Gereja. atau sistem sprinkler.

PU Dit. Bintek. Sri Hartinah. Dipl. Bitnek. Bitnek. Balitbang. Sukartono Ir. PU Kepala Biro Hukum. PU Kepala Puslitbangkim. Erry Saptaria Achyar. Sidjabat Ir. MSc Ir. Dep. PU Staf Ahli Menteri PU V Bidang Pengembangan Jasa Konstruksi Direktur Bina Teknis . Dep. Dep. Balitbang. DJCK Dit.Arch. PU Dit. Sardjono Hadi Sugondo Ir. Gembong Priyono. Setjen Dep. Dep. PU Dit. Dep. DJCK. Achmad Lanti.E. PU Kepala Balitbang Dep.Sc. Sefiawan Kanani Ir. Prawoto Menteri Pekerjaan Umum Direktur Jenderal Cipta Karya. Renyansih Ny. Hendro Moeljono Ir. MSc Ir. IAI. Aim Abdurachim Idris.. Eng. Dep. Dep. H. Antonius Budiono. Tulus Rachmat S Ir. Balitbang. Dep. Dep. MSc. DJCK Dit. IAI Ir. Bintek. Eko Widiatmo Ir. MSc Ir. Sutikni Utoro Wibisono Setio Wibowo. Hari Sidharta. DJCK. SH Ir. Binlak Wilayah Timur. SE Ir. Ernawi. Balitbang. MSc Ir. DJCK. MCM. Adjar Prajudi.TIM PENYUSUN PEDOMAN TEKNIS PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG Pembina Ir. H. IAI Ir. Imam S. MSc Kelompok Kerja Ir. Suprapto. Dep. FRAIA Ir. PU Biro Hukum. PU Puslitbangkim. DJCK. Pelaksana Ir. Rusdi Marzuki Ir. Dep. CES Ir. Hari Sasongko Suwarmo S. MCM. Diding Muchidin Ir. Pengarah Drs.BD. J. DJCK Bagian Hukum. MCM Ir G.. Bintek. PU Sekretaris Jenderal Dep. J. Dipl. M. Rachmadi BS. DJCK. B. MPA Ir. P. DJCK. HR. Harlansyah Soerarso. MM. PU Puslitbangkim. G. PU Sekretaris Ditjen Cipta Karya. Sunaryo Sumadji. Jacob Ruzuar. PU Dit. Dep. Eko Djuli Sasongko Ir. Roestanto Wahidi D. PU Widyaiswara Dep. PU Dit. Binlak Wilayah Barat. PU Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) . Ridwan Munzir Ir. L. MSc Ir. MSc Ir. Binlak Wilayah Tengah . Achid Winarno Ir. Ir. Bambang Guritno. Setjen Dep. PU Puslitbangkim. Dipl. DJCK. PU Dit. Dep. Wiedodo Ir.

Sugeng Triyadi S.id . IALI Ir. Hadi Prabowo. Raden Patah l/1 Lantai 7 Wing 1 Kebayoran Baru. Bambang Budiono Ir. Jakarta Universitas Trisakti. Binsar Hariandja DR.Prasetiyo. J. MCM. Eka Sediadi Rasyad Ir. Jakarta Universitas Trisakti. IAI Ir. Jl. Ing. Imam S. Soedibyono Ir. MM Ir. Ir. Ir. MT Ir. Daniel Mangindaan Ir. G. Jakarta Disamping itu juga melibatkan peran aktif berbagai nara sumber di bidang tata bangunan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Bintang Agus Nugroho. Tulus Widiarso. MEng DR. Jakarta 12110 Indonesia Telepon: (021) 7268203 Faks: (021) 7235223 E-med: bintekctaba@pu. Hendro Moeljono Ir. Ir. MSCE Ir. Zaenal Walidin DR.Ir. Bambang Tata Samiadji. Ernawi.go.M. Drajat Hoedayanto. Ir. Penyelaras Akhir Ir. Chaidir AM. Sofyan Nurbambang DR. Eko Djuli Sasongko Studio Taba '98 Direktorat Bina Teknik Direktorat Jenderal Cipta Karya. MSA. Departemen P.U. MSc Ir. MT Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Ikatan Ahli Lansekap Indonesia (IALI) Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Teknik Tanah Indoensia (HATTI) Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Universitas Trisakti.MAUD DR.March. A. Ariono Suprayogi Ir.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful