KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 441/KPTS/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG MENTERI PEKERJAAN

UMUM,

Menimbang

:

a.

bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah di bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah, urusan penyelenggaraan bangunan gedung telah diserahkan kepada Daerah baik Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II; bahwa perkembangan penyelenggaraan bangunan gedung dewasa ini semakin kompleks sehingga perlu adanya pengaturan mengenai ketentuan teknis yang menyangkut peruntukan dan intensitas bangunan, arsitektur dan lingkungan, serta keandalan bangunan yang menjadi persyaratan pokok suatu bangunan gedung; bahwa sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987, kepada Menteri Pekerjaan Umum diberi wewenang untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah; bahwa sehubungan dengan pertimbangan pertimbangan tersebut diatas perlu mengatur persyaratan teknis bangunan gedung, dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah; Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun; Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Parumahan dan Permukiman; Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang; Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah; Keputusan Presiden Rl Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen; Keputusan Presiden Rl Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Keputusan Rl Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen Sebagaimana Telah Tiga Puluh Kali Diubah Terakhir Dengan Keputusan Rl Nomor 23 Tahun 1994 Keputusan Presiden Rl Nomor 122/M Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan;

b.

c.

d.

Mengingat

:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

9.

Keputusan Menteri PU Nomor 211/KPTS/1994 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum.
MEMUTUSKAN :

Menetapkan

:

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG. BAB I KETENTUAN UMUM

TENTANG

Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada, diatas, atau di dalam tanah dan atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tampat manusia melakukan kegiatannya. 2. Penyelenggaraan bangunan gedung adalah proses kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan gedung 3. Daerah adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. 4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kotamadya Daerah T'ngkat II. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 (1) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung dimaksudkan untuk mewujudkan bangunan gedung yang berkualitas sesuai dengan fungsinya. (2) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung bertujuan terselenggaranya fungsi bangunan gedung yang aman, sehat, nyaman, efisien, seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya

BAB II PENGATURAN PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG

Bagian Pertama Persyaratan Teknis Pasal 3 (1) Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan mengenai : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. I. m. (2) Peruntukan dan Intensitas Bangunan. Arsitektur dan lingkungan. Struktur Bangunan Gedung. Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran. Sarana Jalan Masuk dan Keluar. Transportasi dalam Gedung. Pencahayaan Darurat, Tanda Arah Keluar, dan Sistem Peringatan Bahaya. Instalasi Listrik Penangkal Petir, dan Komunikasi dalam Gedung Instalasi Gas. Sanitasi dalam gedung. Ventilasi dan Pengkondisian Udara Pencahayaan. Kebisingan dan Getaran.

Rincian persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tercantum pada lampiran Keputusan Menten ini yang merupakan satu kesatuan pengaturan dalam keputusan ini Setiap orang atau badan termasuk instansi Pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung wajib memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) Pasal ini. Pasal 4

(3)

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Kedua Pengaturan Pelaksanaan di Daerah Pasal 5 (1) Untuk pedoman pelaksanaan penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah perlu dibuat Peraturan Daerah yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri ini. Dalam hal Daerah belum mempunyai Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini maka terhadap penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah

(2)

diberlakukan ketentuan-ketentuan Persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. (3) Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang persyaratan teknis bangunan gedung sebelum Keputusan Menteri ini diterbitkan harus menyesuaikannya dengan ketentuan-ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. Pasal 6 Dalam melaksanakan pembinaan pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah melakukan peningkatan kemampuan aparat Pemerintah maupun masyarakat dalam memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 untuk terwujudnya tertib pembangunan bangunan gedung. Dalam melaksanakan pengendalian pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah wajib menggunakan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 sebagai landasan dalam mengeluarkan persetujuan atau perizinan yang diperlukan. Terhadap aparat Pemerintah Daerah yang bertugas dalam pengendalian pembangunan bangunan gedung yang melakukan pelanggaran ketentuan dalam Pasal 3 dikenakan sanksi administrasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 7 (1) Penyelenggaraan bangunan gedung yang melanggar ketentuan-ketentuan Pasal 3 dan Pasal 4 Keputusan Menteri ini dikenakan sanksi administrasi yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 5. Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dikenakan sesuai dengan tingkat pelanggaran dapat berupa: a. Peringatan tertulis b. Pembatasan kegiatan c. Penghentian sementara kegiatan sampai dilakukannya pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung. d. Pencabutan izin yang telah dikeluarkan untok menyelenggarakan pembangunan bangunan gedung. (3) Selain sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), di dalam Peraturan Daerah dapat diatur mengenai pengenaan denda dan tindakan Pembongkaran atas terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung.

(1)

(2)

(3)

(2)

BAB III PEMB1NAAN DAN PENGAWASAN TEKNIS

Pasal 8 (1) Pembinaan dan Pengawasan Teknis untuk pelaksanaan ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 58/PRT/1991 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Teknis dan Pengawasan Teknis Bidang Pekerjaan Umum kepada Dinas Pekerjaan Umum. Pelaksanaan pembinaan teknis dan pengawasan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini didasarkan pada Rencana dan program yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Cipta Karya.
BAB IV KETENTUAN PERALIHAN

(2)

Pasal 9 Dengan berlakunya Keputusan Menteri inl, maka semua ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Keputusan Menteri ini masih tetap berlaku, sampai digantikan dengan yang baru.
BAB V KETENTUAN PENUTUP

Pasal 10 (1) (2) Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk diketahui dan dilaksanakan.
DITETAPKAN Dl PADA TANGGAL : JAKARTA : 10 NOPEMBER 1998

MENTERI PEKERJAAN UMUM

RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 441/KPTS/1998 TANGGAL 10 NOPEMBER 1998

DAFTAR ISI
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. 1 I.2 PENGERTIAN 1. Umum 2. Teknis MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud 2. Tujuan

BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II.1 PERUNTUKAN, FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Peruntukan Lokasi 2. Fungsi Bangunan 3. Klasifikasi Bangunan INTENSITAS BANGUNAN 1. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan 2. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB 3. Perhitungan KDB dan KLB GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Garis Sempadan (muka) Bangunan 2. Garis Sempadan Samping dan Belakang Bangunan 3. Pemisah di Sepanjang Halaman Depan, Samping, dan Belakang Bangunan

II.2

II.3

BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III.1 ARSITEK BANGUNAN 1. Tata Letak Bangunan 2. Bentuk Bangunan 3. Tata Ruang Dalam 4. Kelengkapan Bangunan RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. Fungsi dan Persyaratan Ruang Tebuka Hijau Pekarangan 2. Ruang Sempadan Bangunan 3. Tapak Basement 4. Hijau Pada Bangunan 5. Tata Tanaman SIRKULASI, PERTANDAAN, DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 2. Pertandaan (Signage) 3. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan

III.2

III.3

Prosedur dan Metoda IV. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 4. Persyaratan Struktur 2. Pengendalian Asap Kebakaran 4. Kontruksi Baja 3.5 IV. Kontruksi Bangunan 2. Persyaratan Bahan PEMBEBANAN STRUKTUR ATAS 1. Kriteria Demolisi 2. Keruntuhan Struktur DEMOLISI STUKTUR 1.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1.6 BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Pondasi Langsung 2. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 5. Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 3.2 .4 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 1.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1.4 IV. Proteksi Bukaan SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 5. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 3. Ketahanan Api dan Stabilitas 2. Kontruksi Kayu 4.2 IV. Dampak Penting 2. Pusat Pengendali Kebakaran V.III. Ketentuan UPL dan UKL 4. Keselamatan Struktur 2. Pondasi Bawah KEANDALAN STRUKTUR 1. Kompartemensasi dan Pemisahan 5. Sistem Pemadam Kebakaran 2. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi STRUKTUR BAWAH 1.3 IV. Tipe Konstruksi Tahan Api 3. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV.

Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar 11. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 8. Lobby Bebas Asap 7.3 VI. Pintu 19. Penerapan 2. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 4.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1.2 VI. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 6. Jumlah Orang Yang Ditampung KONTRUKSI JALAN KELUAR 1. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 5. Ramp Pejalan Kaki 11. Atap sebagai Ruang Terbuka 13. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 6. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 7.4 . Pengoperasian Gerendel Pintu 21. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 5. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Persyaratan Keamanan 2. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 8. Ambang Pintu 16. Balustrade 17. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 9. Fungsi 2. Pesyaratan Kinerja KETENTUAN JALAN KELUAR 1.BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift 14. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 10. Kebutuhan Jalan Keluar 3. Pintu Ayun 20. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan 13. Rambu pada Pintu AKSES BAGI PENYANDANG CACAT VI. Tangga. Tangga Luar Bangunan 9. Pegangan Rambat pada Tangga 18. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 3. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 12. Lebar Tangga 10. Pintu Keluar Horisontal 12. Bordes 15. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 22. Injakan dan Tanjakan Tangga 14.

Perencanaan Penangkal Petir 2. Pemerikasaan dan Pengujian 7. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. PENANGKAL PETIR. Pemeriksaan dan Pengujian 4.3 1SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT TANDA ARAH KELUAR SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK. Jaringan Distribusi Listrik 3.2 BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. Lif untuk Rumah Sakit 5.1 LIF 1. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 4. Perencanaan Instalansi Listrik 2. Sumber Daya Listrik 5. Instalansi Telepon 3. Kapasitas Lif 2. Pengujian dan Pemeliharaan TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN VII. Instalasi Listrik 9. Pemeliharaan INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 8.2 IX. Pemeriksaan. Lif Kebakaran 3. Beban Listrik 4. Instalansi Penangkal Petir 3.BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Sangkar Lif 6. Pemeliharaan INSTALANSI PENANGKAL PETIR 1.1 INSTALANSI LISTRIK 1. Saf Lif 7. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 2.2 VIII.1 VIII. Transformator Distribusi 6.3 . SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. TANDA ARAH KELUAR. Instalansi Tata Suara IX.

1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 1. Jaringan Distribusi Gas Kota 3. Perencanaan Sistem Plumbing 2. Jenis Gas 2. Jaringan Distribusi Gas Medik 3. Pemeriksaan dan Pengujian X. Tangki Penyediaan Air Bersih 6. Jenis Gas 2. 1 SISTEM PLAMBING 1. Sistem Penyediaan Air Bersih 3.3 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN PENCAHAYAAN BUATAN PENCAHAYAAN ALAMI . Kebutuhan Ventilasi 2. Pompa Air Bersih PERSAMPAHAN 1. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan XII. Penempatan pada Bangunan 2.2 BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI. BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII.1 XIII. Kebutuhan Pengkondisian Udara 2.2 BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII. Pemeriksaan dan Pengujian INSTALANSI GAS MEDIK 1. Ventilasi Alami 3.1 VENTILASI 1.2 XIII. Ventilasi Buatan PENGKONDISIAN UDARA 1. Pewadahan 3. Sistem Pembuangan Air Kotor 4.BAGIAN X INSTALANSI GAS X. Sampah Berbahaya XI. Konservaasi Energi 3. Alat Plambing 5.

1 XIV.4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KEBISINGAN DAN GETARAN XIV.2 KEBISINGAN GETARAN BAGIAN XV PENUTUP LAMPIRAN .XIII.

d. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. tidak termasuk lorong tangga. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. Dinas Bangunan adalah salah satu Dinas Teknis di Daerah yang diantaranya mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. PENGERTIAN 1. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. c. olah raga. mengadakan pertemuan. perbelanjaan. Pengawas/Penilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. b. di mana: i. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingka/lantai. bersosial-budaya. Kepala Daerah adalah Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. d. dsb. iii. rekreasi. atau Gubernur untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Teknis a. Daerah adalah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta. seperti keagamaan. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. lorong ramp. kamar mandi. e.I. . 2. Umum Dalam pedoman teknis ini yang dimaksud dengan: a. termasuk struktur atap kaca. dan kegiatan lainnya. di atas. c. atau ruang dalam shaft. berusaha. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotoran-kotoran dapur. b. ii. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. pendidikan. pembinaan. KETENTUAN UMUM 1.

h. h. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. g.f. f. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. a. b. atau iv. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Rencana saluran. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. d. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. jaringan pipa gas dan sebagainya. g. iii. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. Batas lahan yang dikuasai. Batas tepi sungai/pantai. k. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan. ii. Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil. Antar massa bangunan lainnya. i. c. e. Daerah Hijau Bangunan. . jaringan tegangan tinggi listrik. l. j.

w. program tata bangunan dan lingkungan. Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan yang dimaksud pada butir 2. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. y. memperluas. o. Mendirikan. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan. Mendirikan Bangunan i. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. v. . r. u. Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. selain kamar untuk MCK dan dapur. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil. x. s. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. q. untuk tempat kegiatan manusia. n. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. t. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. memperbaiki. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan.m. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. w. p. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). ii.i. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan prasarana saluran umum perkotaan.

Peruntukan dan Intensitas: i. serta keandalan bangunan. cc. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung. Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. . aa.2 dalam ukuran waktu satuan menit. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. Adapun tujuan dari pengaturan per-bagian adalah: a. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. Tinghat Ketahanan Api (TKA). ruang ganti. yaitu meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan. arsitektur dan lingkungan. Maksud Persyaratan Teknis Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Indonesia. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah. dan insulasi. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. dd. peralatan. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V. atau sejenisnya. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga.z. integritas.1. ii. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan. Tujuan.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. 2. bb. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. Tujuan Pedoman Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota. ee. I.

iii. ii. Arsitektur dan Lingkungan: i. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat . c. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. menjamin keselamatan pengguna. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. masyarakat. ii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. ketentuan wujud bangunan. serasi dan selaras dengan lingkungannya. sehingga seimbang. iv. ii. iii. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. dan budaya daerah. d. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. Strukfur Bangunan: i. e. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. ii. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. b. Ketahanan terhadap Kebakaran: i. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. dan lingkungan.iii.

f. ii. i. Instalasi Gas: i. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. h. . Tanda arah Keluar. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat. Transportasl dalam Gedung: i. Instalasi Listrik. menjamin terwujudnya kebersihan. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. aman. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. Sanitasi dalam Bangunan: i. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. iii. Pencahayean Darurat. menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. j. iii menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. ii. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik.iii. menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. ii. iii. apabila terjadi keadaan darurat. ii. dan nyaman di dalam bangunan gedung. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. g. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak.

baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. . ii. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. m. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. ii.k Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. ii. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. Kebisingan dan Getaran: i. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. Pencahayaan: i. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. l. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan.

Ketentuan tata ruang dan tata bangunan ditetapkan melalui: i. Peruntukan Lokasi a. sedangkan peruntukan penunjangnya sebagaimana ditetapkan di dalam ketentuan tata bangunan yang ada di Daerah setempat atau berdasarkan pertimbangan teknis Dinas Bangunan. Keterangan atau ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir d meliputi keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan. PERUNTUKAN. f. Apabila persetujuan yang telah diberikan terdapat ketidak sesuaian dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan kemudian. Bagi Daerah yang belum memiliki RTRW. Bangunan gedung harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam ketentuan tata ruang dan tata bangunan dari lokasi yang bersangkutan. Kepala Daerah dapat memberikan pertimbangan atas ketentuan yang diperlukan. iii. ii. ketinggian bangunan. iii. kaidah perencanaan kota dan penataan bangunan ii. e.I. dengan tetap mengadakan peninjauan seperlunya terhadap rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada di Daerah. Persetujuan membangun tersebut berstfat sementara sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan tata ruang yang lebih makro. merupakan peruntukan utama. maka Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan gedung dengan pertimbangan: i. Dalam hal rencana-rencana tata ruang dan tata bangunan sebagaimana dimaksud pada butir b belum ada. Kepala Daerah segera menyusun dan menetapkan RRTR. b. ataupun peraturan bangunan setempat dan RTBL. dan garis sempadan bangunan. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah. maka perlu c. RRTR. g. Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR). Setiap pihak yang memerlukan keterangan atau ketentuan tata ruang dan tata bangunan dapat memperolehnya secara terbuka melalui Dinas Bangunan. . Peraturan bangunan setempat dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). peraturan bangunan setempat dan RTBL berdasarkan rencana tata ruang yang lebih makro. seperti kepadatan bangunan. d.II. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Peruntukan lokasi sebagaimana dimaksud dalam butir a. PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II.

tidak mengganggu keseimbangan lingkungan. v.diadakan penyesuaian dengan resiko ditanggung oleh pemohon/pemilik bangunan. saluran. ii. v. ii. iv. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah tanah. maka bangunan tersebut harus disesuaikan dengan rencana tata ruang yang ditetapkan. maupun barang. ii. . tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah dan atau diatas tanah. iv. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. j. Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan pada daerah tersebut untuk jangka waktu sementara. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. i. orang. tetap memperhatikan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. Bagi Daerah yang belum memilih RTRW Daerah. atau sarana lain perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. dan fungsi indung kawasan. tidak untuk fungsi hunian atau tempat tinggal. Pembangunan bangunan gedung diatas jalan umum. tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas kendaraan. iv. Apabila di kemudian hari terdapat penetapan RTRW Daerah yang bersangkutan. memiliki sarana khusus untuk kepentingan keamanan dan keselamatan bagi pengguna bangunan. iii. tidak menimbulkan perubahan atau arus air yang dapat merusak lingkungan. iii. h. Pembangunan bangunan gedung dibawah atau diatas air perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. Pembangunan bangunan gedung dibawah tanah yang melintasi sarana dan prasarana jaringan kota perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. iii. penghawaan dan pencahayaan bangunan telah memenuhi persyaratan kesehatan sesuai fungsi bangunan.

dan sejenisnya. Rumah tinggal tunggal Rumah tinggal deret Rumah tinggal susun Rumah tinggal vila Rumah tinggal asrama f. k. keselamatan. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. dan sanitasi yang memadai. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. tidak menimbulkan pencemaran. v. letak bangunan tidak boleh melebihi atau melampaui garis sudut 45° (empat puluh lima derajat) diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. setelah mendapat pertimbangan teknis dari para ahli terkait. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. ii. dan fungsi khusus. Fungsi Bangunan a. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. iii. kenyamanan. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. ii. d. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. Pembangunan bangunan gedung pada daerah hantaran udara (transmisi tegangan tinggi perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai perikut: i. iv. iv. perkantoran niaga. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. 2. v. fungsi usaha. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. keamanan. .iv. keamanan. letak bangunan minimal 10 (sepuluh) meter diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. kesehatan dan aksesibilitas bagi pengguna bangunan. b. e. kenyamanan. telah mempertimbangkan faktor keamaan. kesehatan. c. fungsi sosial dan budaya. iii.

gedung tempat parkir. rumah bersalin. Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. i. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. iv. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. sekolah dasar. dan sejenisnya. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. kelenteng.ii. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. dan sejenisnya. g. sekolah tinggi/universitas. dan sejenisnya. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. dan sejenisnya. pertokoan. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). bioskop. dan sejenisnya. industri besar/berat. B. & C. dan sejenisnya h. hostel. dan vihara. terminal bus. poliklinik. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. bangunan reaktor. Bangunan kebudayaan : museum. keveling. v. vi. Bangunan Penyimpanan: gudang. motel. a. sekolah lanjutan. iii. Dalam suatu persil. penginapan. Bangunan Industri : industri kecil. pusat perbelanjaan. terminal udara. gedung kesenian. Bangunan peribadatan: mesjid. Bangunan dengan fungsi umum. pelaksanaan. mal. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. rumah sakit klas A. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. iii. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. halte bus. industri sedang. 3. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. Setiap bangunan gedung. sosial dan budaya. pura. iv. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. pelabuhan laut. ii. dan sejenisnya. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: . gereja. j. Bangunan perdagangan: pasar. Bangunan Terminal: stasiun kereta.

termasuk i. atau iv. atau (2) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. restoran. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. atau bengkel. d. f. unit town house . tempat cuci umum. rumah taman. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. rumah tamu. bar. losmen. v. cacat. atau ii. rumah tamu. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. atau iii. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah.. ruang makan malam. iv. Klas 1b : rumah asrama/kost.i. atau ii. atau usaha komersial. ruang pamer. termasuk rumah deret. villa. c. pasar. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut e. 7. tempat potong rambut /salon. atau panti untuk orang berumur. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. 7. kafe. ruang makan. pengurusan administrasi. Klas 4 : Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. . dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. atau 9. termasuk: i. hostel. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. Klas 3: Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. ii iii. rumah asrama. diluar bangunan klas 6. b. ruang penjualan. atau anak-anak. 8. 6. Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional.

bangunan peribadatan. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l. Klas 10b: struktur yang berupa pagar. dan: . carport. hall. atau ii. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. h. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. bangunan budaya atau sejenis. finishing. temmasuk bengkel kerja. termasuk: i. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. j. Klas 10 : Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. i. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. perbaikan. pengepakan. atau sejenisnya. perubahan. yaitu: i. perakitan. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. k. atau sejenisnya. ii. ii. tempat parkir umum. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. m. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi.g. kolam renang. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. Klas 9b: bangunan pertemuan. Klas 8 : Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. gudang. tonggak. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. Klas 9: Bangunan Umum Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. antena.

Untuk suatu kawasan atau lingkungan tertentu. 9b. iii. Persyaratan kinerja dari ketentuan kepadatan dan ketinggian bangunan ditentukan oleh: i. Kepadatan bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. e. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. dalam mencerminkan keserasian bangunan dengan b. dan rendah. ketinggian bangunan dan ketentuan tata bangunan lainnya dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan. sedang. dan peraturan bangunan setempat. dan b' laboratorium. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. ii. sedang. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang dibedakan dalam tingkatan KLB tinggi. ruang mesin lift. meliputi ketentuan tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB). Bangunan gedung yang didirikan harus memenuhi persyaratan kepadatan dan ketinggian bangunan gedung berdasarkan rencana tata ruang wilayah Daerah yang bersangkutan. f. meliputi ketentuan tentang Jumlah Lantai Bangunan (JLB). dengan pertimbangan kepentingan umum dan dengan persetujuan Kepala Daerah dapat diberikan kelonggaran atau pembatasan terhadap ketentuan kepadatan. ruang mesin. ii. Klas-klas 1a. Ruang-ruang pengolah. seperti kawasan wisata. yang dibedakan dalam tingkatan KDB padat. dan renggang. kemampuannya lingkungan. 9a. c.i. kemampuannya dalam menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan optimalnya intensitas pembangunan. kemampuannya dalam menjamin kesehatan dan kenyamanan pengguna serta masyarakat pada umumnya. pelestarian dan lain lain. ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II. 1b. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan a. d. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud pada butir c tidak diperkenankan mengganggu lalu-lintas udara.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. . iii.

Dimungkinkan adanya kompensasi berupa penambahan besarnya KDB JLB/KLB bagi perpetakan tanah yang memberikan sebagian luas tanahnya untuk kepentingan umum. Kepala Daerah dapat menetapkan rencana perpetakan dalam suatu kawasan/lingkungan dengan persyaratan: i. keseimbangan dan persyaratan teknis serta mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. keserasian dan keamanan lingkungan serta memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan. Penetapan besarnya kepadatan dan ketinggian bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam II. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB a.2. Ketentuan besarnya KDB dan JLB/KLB dapat diperbanui sejalan dengan pertimbangan perkembangan kota. d. dimungkinkan adanya pemberian dan penerimaan besaran KDB/KLB diantara perpetakan yang berdekatan. Dengan pertimbangan kepentingan umum dan ketertiban pembangunan. daya dukung lahan/ lingkungan. dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. iv. maka lebar dan panjang persil tersebut diukur dari titik pertemuan garis perpanjangan pada sudut tersebut dan luas persil diperhitungkan berdasarkan lebar dan panjangnya. kebijaksanaan intensitas pembangunan. untuk persil-persil sudut bilamana sudut persil tersebut dilengkungkan atau disikukan. peraturan bangunan setempat. setiap bangunan yang didirikan harus sesuai dengan rencana perpetakan yang telah diatur di dalam rencana tata ruang. ii. f. penggabungan atau pemecahan perpetakan dimungkinkan dengan ketentuan KDB dan KLB tidak dilampaui. dengan tetap menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan keserasian lingkungan.2. kebijaksanasn intensitas pembangunan. JLB/KLB untuk pembangunan bangunan gedung diatas fasilitas umum adalah setelah mempertimbangkan keserasian.1 butir b dan c. apabila perpetakan tidak ditetapkan. Apabila KDB dan JLB/KLB belum ditetapkan dalam rencana tata ruang. daya dukung lahan/lingkungan. dan dengan memperhitungkan keadaan lapangan. rencana tata bangunan dan lingkungan. Perhitungan KDB dan KLB Perhitungan KDB maupun KLB ditentukan dengan pertimbangan sebagai berikut: . untuk memudahkan lalu lintas. maka Kepala Daerah dapat menetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. maka KDB dan KLB diperhitungkan berdasarkan luas tanah di belakang garis sempadan jalan (GSJ) yang dimiliki. iii. c. ditetapkan dengan mempertimbangkan perkembangan kota. v. b. Penetapan besamya KDB. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. 3. e.

a. f. perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar. teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1.3 GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. selama tidak melebihi l0% dari luas lantai dasar yang diperkenankan. e. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 m. perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan. kesehatan. d. Dalam perhitungan KDB dan KLB. Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock). luas tapak yang diperhitungkan adalah yang dibelakang GSJ. dan total keseluruhan luas lantai bangunan dalam kawasan tersebut tehadap total keseluruhan luas kawasan. c. rencana tata bangunan dan lingkungan. Garis Sempadan Bangunan ditetapkan dalam rencana tata ruang. dan pendapat teknis para ahli terkait. h. g. overstek atap yang melebihi lebar 1. serta peraturan bangunan setempat. Mezanine yang luasnya melebihi 50 % dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh.50 m maka luas mendatar kelebihannya tersebut dianggap sebagai luas lantai denah. j.20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai. selebihnya diperhitungkan 50 % terhadap KLB. l. maka ketinggian bangunan tersebut dianggap sebagai dua lantai. luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB. keselamatan. b. i. .20 m di atas lantai ruangan tersebut dihiitung penuh 100 %. ramp dan tangga terbuka dihitung 50 %. selama tidak melebihi 10 % dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan. Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah (basement) ditetapkan Kepala Daerah dengan pertimbangan keamanan. Dalam perhitungan ketinggian bangunan. asal tidak melebihi 50 % dari KLB yang ditetapkan. Garis Sempadan (muka) Bangunan a. k. luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1. luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1.20 m diatas lantai ruangan dihitung 50 %. I.

d. Penetapan Garis Sempadan Bangunan didasarkan pada pertimbangan keamanan. yang diatur di dalam rencana tata ruang. Dalam mendirikan atau memperbarui seluruhnya atau sebagian dari suatu bangunan. danau. Daerah berwenang untuk memberikan pembebasan dari ketentuan dalam butir g. Dalam hal garis sempadan pagar dan garis sempadan muka bangunan berimpit (GSB sama dengan nol). garis sempadan loteng. g. sungai. h. sepanjang penempatan bangunan tidak mengganggu jalan dan penataan bangunan sekitarnya.b. Garis sempadan samping dan belakang bangunan a. maka Kepala Daerah dapat menetapkan GSB yang bersifat sementara untuk lokasi tersebut pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. maupun pertimbangan lain dengan mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. serta belakang bangunan terhadap batas persil. garis sempadan menara. garis sempadan podium. Daerah menentukan garis-garis sempadan pagar. untuk tiap-tiap klas bangunan dapat ditetapkan garis-garis sempadannya masing-masing. begitu pula garis-garis sempadan untuk pantai. dan keserasian dengan lingkungan serta ketinggian bangunan. 2. b. tersebut belum ditetapkan. Pada suatu kawasan/lingkungan yang diperkenankan adanya beberapa klas bangunan dan di dalam kawasan peruntukan campuran. tidak boleh dilanggar. jaringan umum dan lapangan umum. dan peraturan bangunan setempat. rencana tata bangunan dan lingkungan. yang ditetapkan pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. i Ketentuan besarnya GSB dapat diperbarui dengan pertimbangan perkembangan kota. kesehatan. kenyamanan. Apabila Garis Sempadan Bangunan sebagaimana dimaksud pada butir a. c. Sepanjang tidak ada jarak bebas samping maupun belakang bangunan yang ditetapkan. keserasian dengan lingkungan. maka Kepala Daerah menetapkan besarnya garis sempadan tersebut dengan setelah mempertimbangkan keamanan kesehatan dan kenyamanan. kesehatan dan kenyamanan. kepentingan umum. . f. juga menetapkan garis sempadan samping kiri dan kanan. garis sempadan muka bangunan. Garis Sempadan Bangunan yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam butir a. e. Kepala Daerah dengan pertimbangan keselamatan. maka bagian muka bangunan harus ditempatkan pada garis tersebut.

ii. g Jarak bebas antara dua bangunan dalam suatu tapak diatur sebagai berikut: i. pada bangunan rumah tinggal rapat tidak terdapat jarak bebas samping. d. maka jarak bebas samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. maka jarak antara dinding atau bidang tersebut minimal dua kali jarak bebas yang ditetapkan. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan. sedangkan jarak bebas belakang ditentukan minimal setengah dari besarnya garis sempadan muka bangunan. bidang dinding terluar tidak boleh melampaui batas pekarangan. dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan atau berlubang. Pada dinding batas pekarangan tidak boleh dibuat bukaan dalam bentuk apapun. ii. maka Kepala Daerah dapat menetapkan syarat-syarat lebih lanjut mengenai jarakjarak yang harus dipatuhi. diluar yang diatur dalam butir a. . Pada daerah intensitas bangunan padat/rapat. dan sedangkan untuk bangunan gudang serta industri dapat diatur tersendiri. iii. Pada daerah intensitas bangunan rendah/renggang. jarak bebas samping dan jarak bebas belakang ditetapkan minimum 4 m pada lantai dasar.50 m dari jarak bebas lantai di bawahnya sampai mencapai jarak bebas terjauh 12. maka garis sempadan samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. untuk perbaikan atau perombakan bangunan yang semula menggunakan bangunan dinding batas bersama dengan bangunan di sebelahnya. e. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. f. maka jarak antara dinding tersebut minimal satu kali jarak bebas yang ditetapkan.5 m. Untuk bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahanbahan/benda-benda yang mudah terbakar dan atau bahan berbahaya. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. dan pada setiap penambahan lantai/tingkat bangunan.c. sisi bangunan yang didirikan harus mempunyai jarak bebas yang tidak dibangun pada kedua sisi samping kiri dan kanan serta bagian belakang yang berbatasan dengan pekarangan. iv. disyaratkan untuk membuat dinding batas tersendiri disamping dinding batas terdahulu. struktur dan pondasi bangunan terluar harus berjarak sekurang-kurangnya 10 cm kearah dalam dari batas pekarangan. jarak bebas di atasnya ditambah 0. ii.

i. k. dengan setelah mempertimbangkan hal teknis terkait. Pemisah disepanjang halaman depan. atau ditetapkan lebih rendah setelah mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan lingkungan. Kepala Daerah berwenang untuk menetapkan syarat-syarat lebih lanjut yang berkaitan dengan desain dan spesifikasi teknis pemisah di sepanjang halaman depan.50 m di atas permukaan tanah. f. j. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. dan apabila pagar tersebut merupakan dinding bangunan rumah tinggal bertingkat tembok maksimal 7 m dari permukaan tanah pekarangan. dengan bagian bawahnya dapat tidak tembus pandang maksimal setinggi 1 m diatas permukaan tanah pekarangan. Tinggi pagar batas pekarangan sepanjang pekarangan samping dan belakang untuk bangunan renggang maksimal 3 m di atas permukaan tanah pekarangan. Kepala Daerah menetapkan ketinggian maksimum pemisah halaman muka. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan. g h Untuk bangunan-bangunan tertentu. Dalam hal pemisah berbentuk pagar. Penggunaan kawat berduri sebagai pemisah disepanjang jalan-jalan umum tidak diperkenankan. samping. dan belakang bangunan. e. Kepala Daerah dapat menetapkan lain terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir e dan f. Kepala Daerah dapat menerapkan desain standar pemisah halaman yang dimaksudkan dalam butir a. samping. dengan memperhatikan keamanan. Untuk sepanjang jalan atau kawasan tertentu. dan untuk bangunan bukan rumah tinggal termasuk untuk bangunan industri maksimal 2 m di atas permukaan tanah pekarangan. Pagar sebagaimana dimaksud pada butir e harus tembus pandang. serta keserasian lingkungan.iii. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum . maka tinggi pagar pada GSJ dan antara GSJ dengan GSB pada bangunan rumah tinggal maksimal 1. c. kenyamanan. Halaman muka dari suatu bangunan harus dipisahkan dari jalan menurut cara yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. d. 3. . b. dan belakang bangunan a. Dalam hal yang khusus Kepala Daerah dapat memberikan pembebasan dari ketentuan-ketentuan dalam butir a dan b. maka jarak dinding terluar minimal setengah kali jarak bebas yang ditetapkan.

. Kepala Daerah dapat menetapkan tanpa adanya pagar pemisah halaman depan. samping maupun belakang bangunan pada ruas-ruas jalan atau kawasan tertentu.l. dan penataan bangunan dan lingkungan yang diharapkan. keserasian lingkungan. dengan pertimbangan kepentingan kenyamanan kemudahan hubungan (aksesibilitas).

keindahan dan keserasian lingkungan. Penambahan lantai atau tingkat suatu bangunan gedung diperkenankan apabila masih memenuhi batas ketinggian yang ditetapkan dalam rencana tata ruang kota. Bentuk Bangunan a. Pada daerah / lingkungan tertentu dapat ditetapkan: (1) ketentuan khusus tentang pemagaran suatu pekarangan kosong atau sedang dibangun.1. perlu ditetapkan penampang-penampang (profil) bangunan untuk memperoleh pemandangan jalan yang memenuhi syarat keindahan dan keserasian. iii. Ketentuan Umum i. lalu lintas dan ketertiban umum. pemasangan nama proyek dan sejenisnya dengan memperhatikan keamanan. Penempatan bangunan gedung tidak boleh mengganggu fungsi prasarana kota. ARSITEKTUR BANGUNAN 1. (3) ketentuan penataan bangunan yang harus diikuti dengan memperhatikan keamanan. Tata Letak Bangunan a.1 b. Ketentuan Umum i. persyaratan lebih lanjut dari ketentuanketentuan ini dapat ditetapkan pelaksanaaannya oleh Kepala Daerah dengan membentuk suatu panitia khusus yang bertugas memberi nasehat teknis mengenai ketentuan tata bangunan dan lingkungan. Pada jalan-jalan tertentu. b. Tapak Bangunan i. iv. (2) larangan membuat batas fisik atau pagar pekarangan. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau teladan bagi lingkungannya.III. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. .(2) dapat diberikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku dan keserasian lingkungan. (4) Kekecualian kelonggaran terhadap ketentuan butir III. keselamatan. iii. Pada lokasi-lokasi tertentu Kepala Daerah dapat menetapkan secara khusus arahan rencana tata bangunan dan lingkungan. Bilamana dianggap perlu. keindahan dan keserasian lingkungan.iv. 2.1. keselamatan. ii. ii. dengan ketentuan tidak melebihi KLB. Penambahan lantai/tingkat harus memenuhi persyaratan keamanan struktur. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya. Tinggi rendah (peil) pekarangan harus dibuat dengan tetap menjaga keserasian lingkungan serta tidak merugikan pihak lain. iv.

iii. Tinggi ruang adalah jarak terpendek dalam ruang diukur dari permukaan bawah langit-langit ke permukaan lantai.b.ii. Bentuk.1. ii. termasuk para penyandang cacat dan usia lanjut. Dalam hal tidak ada langit-langit. iv.1. ii.2. Aksesibilitas bangunan harus mempertimbangkan kemudahan bagi semua orang. Ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir II 1. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut. Perancangan Bangunan i. v. iii. Untuk bangunan dengan lantai banyak. detail. Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa. dan atau rencana tata bangunan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut.2. tinggi ruang diukur dari permukaan atas lantai sampai permukaan bawah dari lantai di atasnya atau sampai permukaan bawah kaso-kaso. b. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya. iv. Bangunan yang didirikan sampai pada batas samping persil tampak bangunannya harus bersambungan secara serasi dengan tampak bangunan atau dinding yang telah ada di sebelahnya. tampak. Ketentuan pada butir II. Bentuk bangunan gedung harus dirancang sedemikian rupa sehingga setiap nuang dalam dimungkinkan menggunakan pencayahayaan dan penghawaan alami. Ketentuan Umum i. harus dilengkapi dengan perlengkapan yang berfungsi sebagai pengaman terhadap lalu lintas udara dan atau lalu lintas laut. Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan. profil. Tata Ruang Dalam a. Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan dengan fungsi ruang dan arsitektur bangunannya.i tidak berlaku apabila sesuai fungsi bangunan diperlukan sistem pencahayaan dan penghawaan buatan. vi. vii. v. material maupun warna bangunan harus dirancang memenuhi syarat keindahan dan keserasian lingkungan yang telah ada dan atau yang direncanakan kemudian dengan tidak menyimpang dari persyaratan fungsinya.ii harus tetap mengacu pada prinsipprinsip konservasi energi. vi. kulit atau selubung bangunan harus memenuhi persyaratan konservasi energi. 3. . Ruangan dalam bangunan harus mempunyai tinggi yang cukup untuk fungsi yang diharapkan. Suatu bangunan gedung tertentu berdasarkan letak ketinggian dan penggunaannya.b. iii. Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan rencana tata ruang. iv.1.

iii. Ruang rongga atap dilarang dipergunakan sebagai dapur atau kegiatan lain yang potensial menimbulkan kecelakaan/ kebakaran . ruang makan. Ruang-rongga atap untuk rumah tinggal harus mempunyai penghawaan dan pencahayaan alami yang memadai. sepanjang tidak menyimpang dari penggunaan utama bangunan. ix. serta ruang pelayanan kesehatan yang memadai. vii Ruang penunjang dapat ditambahkan dengan tujuan memenuhi kebutuhan kegiatan bangunan. Perhitungan ketinggian bangunan. kegiatan keluarga bersama dan kegiatan pelayanan. vii. ii. gedung olah raga. Bangunan kantor sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan kerja. ruang ganti pakaian karyawan. kecuali untuk penggunaan ruang lobby. viii. atau ruang pertemuan dalam bangunan komersial (antara lain hotel. gedung pertunjukan. perkantoran. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 meter. tidak boleh menyebabkan berubahnya fungsi/penggunaan utama. Bangunan toko sekurang-kurang memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan toko. vi. sekurang-kurangnya harus dilengkapi dengan kamar mandi dan kakus serta nuang kebutuhan karyawawan v. vi. xi. maka ketinggian bangunan dianggap sebagai dua lantai.v. Penempatan fasilitas kamar mandi dan kakus untuk pria dan wanita harus terpisah. Bangunan atau bagian bangunan yang mengalami perubahan perbaikan. Mezanin yang luasnya melebihi 50% dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. Bangunan tempat tinggal sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan pribadi.Jenis dan jumlah kebutuhan fasilitas penunjang yang harus disediakan pada setiap jenis penggunann bangunan ditetapkan oleh Kepala Daerah. ruang istirahat. gedung sekolah. . Perancangan Ruang Dalam i. ix. Ruang rongga atap hanya dapat diijinkan apabila penggunaannya tidak menyimpang dari fungsi utama bangunan serta memperhatikan segi kesehatan. bangunan monumental. penambahan. Suatu bangunan gudang. gedung serbaguna. perluasan. iv. Tata ruang dalam untuk bangunan tempat ibadah. Suatu bangunan pabrik sehurang-kurangnya harus dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan kakus. b. kegiatan umum dan pelayanan. karakter arsitektur bangunan dan bagian-bagian bangunan serta tidak boleh mengurangi atau mengganggu fungsi sarana jalan keluar/masuk. Perubahan fungsi dan penggunaan ruang suatu bangunan atau bagian bangunan dapat diijinkan apabila masih memenuhi ketentuan penggunaan jenis bangunan dan dapat menjamin keamanan dan keselamatan bangunan serta penghuninya. x. dan pertokoan). viii. serta gedung sejenis lainnya diatur secara khusus. gedung pertemuan. ruang umum dan ruang pelayanan. keamanan dan keselamatan bangunan dan lingkungan.

Ketentuan Umum i. Lantai tanah atau tanah dibawah lantai panggung harus ditempatkan sekurang-kurangnya 15 cm diatas tanah pekarangan serta dibuat kemiringan supaya air dapat mengalir. Setiap penggunaan ruang rongga atap yang luasnya tidak lebih dari 50% dari luas lantai di bawahnya. kenyamanan. xvi. maka tinggi maksimal lantai dasar ditetapkan tersendiri. Tinggi lantai dasar suatu bangunan diperkenankan mencapai maksimal 1. 4. (2) Dalam hal-hal yang luar biasa. xvii. kecuali menggunakan alat bantu mekanis. xiii Setiap bukaan pada ruang atap. dengan memperhatikan keserasian lingkungan. Bangunan tertentu berdasarkan letak. Sarana dan Prasarana Bangunan Gedung i. xv. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung. termasuk pengaman/ rambu-rambu terhadap lalu-lintas udara dan atau laut. tidak boleh mengubah sifat dan karakter arsitektur bangunannya. xx. ii. ketentuan dalam butir (1) tersebut. xiv Pada ruang yang penggunaannya menghasilkan asap dan atau gas harus disediakan lobang hawa dan atau cerobong hawa secukupnya. xviii Apabila tinggi tanah pekarangan berada di bawah titik ketinggian (peil) bebas banjir atau terdapat kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang besar pada tanah asli suatu perpetakan. Tinggi Lantai Denah: (1) Permukaan atas dari lantai denah (dasar) harus: (a) Sekurang-kurangnya 15 cm diatas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan. Syarat-syarat teknis lebih lanjut terhadap ketentuan tersebut di atas mengikuti standar teknis yang berlaku. . – xix. ii Prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitarnya iii. Kelengkapan Bangunan a. b. tidak berlaku jika letak lantai-lantai itu lebih tinggi dari 60 cm di atas tanah yang ada di sekelilingnya. Cerobong asap dan atau gas harus dirancang memenuhi persyaratan pencegahan kebakaran. tidak dianggap sebagai penambahan tingkat bangunan. (b) Sekurang-kurangnya 25 cm diatas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan.20 m di atas tinggi rata-rata tanah pekarangan atau tinggi rata-rata jalan. Tinggi ruang dalam bangunan tidak boleh kurang dari ketentuan minimum yang ditetapkan. Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya. ketinggian dan penggunaannya harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan bangunan.xii. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan. atau untuk tanah-tanah yang miring.

tanah dan permukaan tanah. d. ekonomi maupun estetika. gunung dan sebagainya. sungai besar. sungai.1. Setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. Sebagai ruang transisi. KDB. Pintu masuk dan keluar area bangunan gedung harus direncanakan secara terintegrasi serta tidak mengganggu tata sirkulasi lingkungannya. sirkulasi. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan tidak boleh dilanggar dalam mendirikan atau rnemperbaharui seluruhnya atau sebagian dari bangunan. Parkir dan ketetapan lainnya. v. Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaik-baiknya. Ruang Terbuka Hijau adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir III. Fungsi dan Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan a. c.iv. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). e. termasuk para penyandang cacat dan warga usia lanjut.1. h. maka dapat dibuat ketetapan yang bersifat sementara untuk lokasi/lingkungan yang terkait dengan setiap pemmohonan bangunan. f. RTHP menupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. pohon-pohon menahun. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman.2 RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1.2. terhadap suatu kawasan/daerah dapat diterapkan b.2. sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang.e ini belum ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan. KDH. Apabila Ruang Terbuka Hijau Pekarangan sebagaimana dimaksud pada butir 111. peresapan air. i. sosial. g. . unsur-unsur estetik. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut. KLB. j. III.e dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity.

k. ketentuan teknis dan kebijaksanaan Daerah setempat. c. bak sampah dan papan nama bangunan. Keserasian tersebut antara lain mencakup: pagar dan gerbang. tiang bendera. Ruang Sempadan Bangunan a. 3. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan. yang Sebagai perlindungan atas sumber-sumber daya alam yang ada. b. tidak di dalam wadah / container yang kedap air. d. b. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. pengendalian bentuk estetika bangunan secara keseluruhan/ kesatuan lingkungan. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. 1. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat/padat. keselamatan pemakai dan kepentingan umum. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan ruang sempadan depan bangunan. dapat ditetapkan persyaratan khusus bagi permohonan ijin mendirikan bangunan dengan mempertimbangkan hal-hal pencagaran sumber daya alam. bangunan penunjang seperti pos jaga. vegetasi besar / pohon.pengaturan khusus untok orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. jalur pejalan kaki. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap . 2. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. tiang telepon di kedua sisi jalan / ruas jalan yang dimaksud. pagar. dan aspek aksesibilitas. serta tergantung pada kondisi lahan. seperti dari bahaya banjir. Tapak Basement a. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan / penanaman di atas tanah. e. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan.

DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Setiap bangunan bukan rumah hunian diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. c. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. air. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP. 5. Jumlah kebutuhan parkir menurut jenis bangunan ditetapkan sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif.b Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jeni-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. Prasarana parkir untuk suatu rumah atau bangunan tidak diperkenankan mengganggu kelancaran lalu lintas.3 PERTANDAAN. Tata Tanaman a. Hijau Pada Bangunan a. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. iii.a dan III.2. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. kestabilan tanah / wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir a. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan.2. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. b.5. atau mengganggu lingkungan di sekitarnya. . iv.basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangun harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. d. batang dan cabangnya rapuh. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut pada butir III. Ketentuan Umum i. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Penyediaan parkir di pekarangan tidak boleh mengurangi daerah penghijauan yang telah ditetapkan. b.5. 4. III. ii.

ii. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. aman. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. dan kendaraan pelayanan lainnya. Parkir i. Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. rambu-rambu. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. iv. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. iii. Luas. iv. dan keJelasan kontinyuitas pedestrian. pedestrian dan penghijauan. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. dan memberikan pemandangan yang menarik. ii. . serta disesuaikan dengan daya tampung lahan. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. Pedestrian i. guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. ii. iii. e. dan ruang terbuka umum. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. dll. serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. Jalan i. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman). iii. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas. Sirkulasi pertu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan. Sirkulasi i. d. ii. nyaman.b. papan informasi sirkulasi. Elemen pedestrian (street fumiture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. iii. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. c. penghijauan. memudahkan aksesibilitas. penghijauan.

Kepala Daerah dapat mengatur pembatasa-pembatasan ukuran. Pertandaan (Signage) a. Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan memperhatikan karakter lingkungan. tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai ketentuan yang berlaku. visual yang tidak menarik. motif. Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu. menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. bahan. silau. . Pencahayaan Ruang Luar Bangunan a. atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya. tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. iii. menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan. atau habitat alaminya mengalami kerusakan. 3.4 PENGELOLAAN DAMPAK LAINGKUNGAN 1. yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan penundang-undangan yang bertaku. ii. dan komponen promosi. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. b. Penempatan signage termasuk papan iklan/ reklame. c. baik yang penempatannya pada bangunan keveling. dan lokasi dari signage. Dampak Penting a. b.2. c. berdasarkan pertimbangan ilmiah. Kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut akan: i. III. pagar. fungsi dan arsitektur bangunan estetika amenity. mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. atau ruang publik. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang mengganggu dan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan harus dilengkapi dengan AMDAL sesuai ketentuan yang berlaku. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan. b. harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan.

3. (3) Bagian dinding yang terlemah dari bangunan tersebut diarahkan ke daerah yang paling aman. menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung. vi. racun.iv. dapat diberikan ijin apabila: (1) Lokasi bangunan terletak di luar lingkungan perumahan atau berjarak tertentu dari jalan umum. Kegiatan yang dimaksud pada butir III. 4. Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan. 3. Untuk mendirikan bangunan yang menurut fungsinya menggunakan menyimpan atau memproduksi bahan peledak dan bahan-bahan lain yang sifatnya mudah meledak. d. adalah sesuai Ketentuan pengelolaan Dampak Lingkungan yang berlaku.c merupakan kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. suaka margasatwa. 2. mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. menyimpan atau memproduksi bahan radioaktif. harus dapat menjamin keamanan keselamatan serta kesehatan penghuni dan lingkungannya. Bangunan yang menurut fungsinya menggunakan. Ketentuan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang harus melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adaiah sesuai ketentuan yang berlaku. iii. v. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menunut peraturan perundang-undangan.1. ii. jalan kereta api dan bangunan lain di sekitarnya sesuai rekomendasi dinas teknis terkait. cagar alam. mudah terbakar atau bahan lain yang berbahaya. taman nasional. sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memnperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. vii. mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi. dan atau pemerintah. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang wajib AMDAL. Persyaratan Bangunan i. . (2) Bangunan yang didirikan harus terletak pada jarak tertentu dari batas-batas pekarangan atau bangunan lainnya dalam pekarangan sesuai rekomendasi dinas terkait. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a.

harus dilengkapi dengan sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Pembuangan limbah cair dan padat i. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan.iv. iii. . Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan. ii. maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. b. sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lalu lintas. ii. c. v. Sarana pongumpulan dan pongolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. vi. atau tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah. iii. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah sakit di sekitarnya. Guna pemulihan cadangan air tanah dan mengurangi debit air larian. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan membangkitkan LHR >= 60 SMP per 1000 ft2 luas lantai. v. iv. Sampah yang dikumpulkan di sarana pengumpulan sampah padat harus selalu dikosongkan setiap hari untuk menjamin agar lalat tidak berkembang biak dan mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran pengering genangan sementara yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 l/dt atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapat ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan bidang resapan yang ukurannya disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula.

a. . dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. Pengelolaan Daerah Bencana a. keselamatan dan kesehatan lingkungan. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir III. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. keselamatan dan kesehatan dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat.3. daerah Banjir dan yang sejenisnya. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. dengan memperhatikan keamanan.5. e. dengan memperhatikan keamanan.a dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun. atau dilarang membangun bangunan.3. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir III. c. bagi bangunanan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. dibatasi. d.5. b.5. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana.

termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain: meliputi beban gempa yang mungkin terjadi sesuai zona gempanya). intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Struktur bangunan harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa. seperti : 2. Penentuan mengenai jenis. keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni. Struktur bangunan harus direncanakan mampu memikul semua beban dan / atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. IV. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. 2.beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. d. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. c. sehingga pada kondisi pembebanan maksimum. beban sementara (angin. Struktur bangunan yang direncanakan secara umum harus memenuhi persyaratan keamanan (safety) dan kelayakan (serviceability). b.2 PEMBEBANAN 1 Analisa struktur harus dilakukan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban . Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. . gempa) dan beban khusus. b. dan beban-beban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur. termasuk beban tetap. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan. Persyaratan Bahan a. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. 1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. c. Persyaratan Struktur a. harta benda dan masih dapat diperbaiki.IV.

SNI-1728 Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. seperti: a. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. seperti: a. g.a. b. b. SNI-1729 Tata cara / pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. SNI -1734.3 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung SNI 1726. b. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. SNI-3449. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. f. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung SNI 1727. 3. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. c. d. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti: a. d. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. STRUKTUR ATAS 1. c. 2. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 2847. SNI-3976. IV. SNI-3430. . SNI-2834 Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. e. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku.

Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. Tata Cara Pencegahan Rayap pada Pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. SNI-2404. g. f. SNI-1735.b. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. i. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. b. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. antara lain: a. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. tata cara. SNI-2407. 5. c. b. 4. SNI-1736. SNI-2397. h. SNI-2394. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-1963. SNI-2395. SNI-2405 . standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanean suatu bangunan yang harus dipenuhi. c. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancangan Bangunan Rumah dan Gedung. Tata cara/ pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. SNI-1745. e. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Temmitisida. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. d. Tata Cara Perancangan Bangunan Sederhana Tahan Angin. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. d.

kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. Pondasi Dalam a. b. Pondasi Langsung a. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. c. Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. b. .4 STRUKTUR BAWAH 1. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. c. Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. d. 2. e. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan korelasi tipikal parameter tanah yang lain.IV. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. d.

d. c. d. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku.6 DEMOLISI STRUKTUR 1. b. Ketidak andalan struktur akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. gempa. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. IV. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan dalam pemanfaatannya. c. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila: a. b. dan atau beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. Ketidak andalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. Keruntuhan sruktur adalah diakibatkan oleh ketidak andalan suatu sistem atau komponen stnuktur untuk memikul beban sendiri. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandaian bangunan gedung. 2.5 KEANDALAN STRUKTUR 1. maupun bencana lainnya. Keruntuhan Struktur a. beban yang didukungnya. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan.IV. beban akibat perilaku manusia. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan. Struktur bangunan sudah tidak andal. Keselamatan struktur tergantung pada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya. Keselamatan Struktur a. dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau . beban akibat perilaku manusia maupun beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

ekonomis. metoda dan rencana demolisi struktur dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi. Penyusunan prosedur. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. b. Prosedur. masyarakat dan lingkungan. b. . 2. Prosedur dan Metoda a. Adanya perubahan peruntukan lokasi/fungsi bangunan. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan.

Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana/ prasarana pengamanan dan pencegahan penyebaran api. elemen bangunan lainnya. sehingga: i. fungsi atau penggunaan bangunan.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. dan ii. sampai dengan tingkat tertentu. viii. c. Ketahanan Api dan Stabilitas. b. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. vi. ii. waktu evakuasi ii. jumlah. v. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. yang sesuai dengan: i. iii. tingkat bahaya api. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. dan x. terutama pada bangunan klas 2. d. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. ketinggian bangunan. iv. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. 3 atau bagian dan bangunan klas 4: i. iii. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. iv. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. yang sesuai dengan: i. kedekatan dengan bangunan lain. fungsi atau penggunaan bangunan. ix intervensi pasukan pemadam kebakaran. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. vii sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. yang menghubungkan kompartemen api. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran. intensitas kebakaran. ii. beban api. iii.ukuran setiap kompartemen api. . e. antara bangunan. cukup waktu untuk evakuasi penghuni secara aman. dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya.V. membatasi berkembangnya asap dan panas. a.

keruntuhan tersebut dapat dihindari. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. atau potensial dapat meledak. c. Tipe B: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. 2. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. Tipe A: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. j. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. ukuran kompartemen. tingkat bahaya api. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untok mencegah penjaiaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. h. b. i.f. sesuai dengan: i. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. intensitas kebakaran. yaitu pada bukaan. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. dan vi. sistem proteksi aktif. fungsi bangunan. Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. sambungan konstruksi. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. Tipe Konstruksi Tahan Api. iv. v. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. ii. g. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. . beban api. iii.

8 atau 9a luasan lantai (kecuali daerah perawatan pasien Maksimum 30.6. dan . bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10.1.3.000 m3 21.000 m2 5.000 m2 3.3 Tipe Konstruksi yang diwajibkan KETINGGIAN (dalam jumlah lantai) KLAS BANGUNAN 4 atau lebih 3 2 1 4.4 Ukuran maksimum dari kompartemen kebakaran Klasifikasi Bangunan Maksimum luasan lantai Klas 5 atau 9b Maksimum 48. Tipe konstruksi yang diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: Tabel V.3. ii.500 m3 12.000 m3 volume Tipe Konstruksi bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 8.000 m2 Klas 6.000 m2 b Pemberlakuan. perambatan api dan asap. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran. agar dapat: i.1.7.000 m3 volume Maksimum 5.500 m2 2.500 m3 18. Tabel V.9 A A B C 5.500 m2 3.000 m3 33. iii. i.7.8 A B C C Kompartemenisasi dan Pemisahan Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial. 2. mengendalikan kebaran api agar tidak menjelar ke bangunan lain yang berdekatan. a.

ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter. Batasan umum luas lantai. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. sungai. iii.000 m2 atau 108. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium.000 m3 dengan sistem sprinkler. ventilasi.e.4 bila: i. d dan e tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler. asap dan gas beracun. (2) bangunan klas 5 s.ii. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. . d. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka.4 dan butir f. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir i. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel v. e. 6. i. atau: ii. iv. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir 4. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir 4. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5. dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir 4.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108.1. Bagian bangunan. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel V. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir i atau ii di atas. Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. 7.ii.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut. atau peralatan Lift.d. Bangunan dengan luasan melebihi 18. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling. i.i yang lebamya tidak kurang dari 18 meter. ii.e. c. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii. kecuali seperti yang diijinkan pada butir d.e. ketentuan pada butir c. atau ii.1. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter.ii. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter. tanki air.

Proteksi Bukaan a. . dan . kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum. (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. f. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. (4) di atas maka jalan tersebut dapat beriaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. ii.d. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. Seluruh bukaan harus dilindungi. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. dan tertutup pada setiap lantai. 5. g.ii (3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. dan (4) tidak ada bangunan diatasnya. h.e. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir b. Pada bangunan klas 2 dan 3. Tangga dan Lift pada satu shaft. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi (1) s. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa. shaft ventilasi. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. c. b. pemisahan oleh dinding tahan api.(2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir 4.

dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir h. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai.5 JARAK ANTARA BUKAAN PADA KOMPARTEMEN KEBAKARAN YANG BERBEDA e. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan.5. Sudut Terhadap Dinding 0° (dinding-dinding saling berhadapan) Lebih dari 0° s. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel V. bila luas lubang/sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka.d. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir ii. dan ii. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. f. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan.d kurang dari 180° 180° atau lebih Jarak Minimal Antara Bukaan 6m 5m 4m 3m 2m nol . yang bukan dari klas 10. ii sambungan pengendali.d. 135° Lebih dari 134° s. iii. g.d.1. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45. lubang tirai. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan. atau (2) 1. 45° Lebih dari 45° s. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators). dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 m pada dinding yang sama. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api. Tabel V. 90° Lebih darii 90° s.1.d. damper. Pemisahan Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran. dan iii. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama.000 mm2. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. maka tidak boleh menempati lebih dari 1/3 luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. Kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9.

atau (b) bangunan klas 5. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan. ii. (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. maka jalan masuk. Pintu. jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. Sistem hidran kebakaran. 6. (3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari: (a) 2 (dua) pompa. atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. V. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. dan (2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. SNI 1745. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 25 m. atau (b) motor listrik yang dicatu dari generator darurat. kecuali pada satuan peruntukan bangunan. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat. i. ii. 7.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. jendela. atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-. Hidran kebakaran. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan peruntukan bangunan. (b) 2 (dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup). 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua). atau . Sistem hidran harus dipasang pada bangunan: (1) yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. dan (2) terdapat regu pemadam kebakaran. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis). di mana: (a) bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian klas 4. (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor-bakar. i. Sistem Pemadam Kebakaran a.h. Bila diperlukan proteksi.

6. dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. . atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. Hose Reel i. dilayani oleh Hose Reei tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat Hose Reel melayani seluruh unit hunian. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk memudahkan petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. 7. untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. (2) melayani hanya lantai dimana alat ini ditempatkan. pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang: (a) mempunyai jelur keluar ke jalan atau ruang terbuka. dan jika dalam jarak 6 m dari bangunan. bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. (a) pada bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian Klas 4 dilayani oleh Hose Reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. ii. dan dengan konstruksi yang mempunysi TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. dimana satu atau lebih hidran dalam dipasang. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. b. dan (b) pada bangunan klas 5.(5) (6) (7) (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. kecuali pada satu unit hunian. tahan cuaca. serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rurnah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai klas bangunannya. Sistem Hose Reel harus disediakan: (1) untuk melayani seluruh bangunan. satu unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. Sistem Hose Reel.

(c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air. atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar. Sistem Sprinkler i. Konstruksi Atrium. c. Bila dihubungkan dengan meteran air. atau (d) kombinasi (a). Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran. Tidak termasuk lapangan parkir terbuka. yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (kbs 6).(3) (4) (5) (6) Memiliki slang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian rupa untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan Hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) diatas ditempatkan: (a) di luar bangunan. Luas panggung dan belakang panggung lebih dari 200 m Tiap bangunan beratrium Untuk memperoleh ukuran kompartemen .500 m2. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api). (b). maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel.d harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. sebuah katup yang memenuhi butir 5.2. Ruang Pertunjukan. (b) volume ruangan lebih dari 21. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel V. Termasuk lapangan parkir terbuka dalam bangunan campuran. Ruang Pertemuan Umum.1 Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua klas bangunan: 1. 2. (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap. dan (c). (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke Hose Reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam. Bangunan Rumah Sakit. Pada bangunan yang tinggi efektifnya lebih dari 25 m Dalam kompartemenisasi dengan salah satu ketentuan berikut: (a) luas lantai lebih dari 3.000 m3. Teater. Lebih dari 2 (dua) lantai.

jika: (a) sprinkler terpasang diselunuh bangunan.000 m3.yang lebih besar: (a) bangunan klas 5 . ·) (b) Volume lebih dari 12.000 m3. . 108. Pada kompartemen.000 m2 dan volume 108. dan (ii) setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinker diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan (3) Katup kontrol sprinkler. Ruang parkir. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler.9 dengan luas maksimum 18. ii. amat tinggi.000 m2 den volume Bangunan berukuran begar den terpisah.000 m3. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku. atau (b) sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikas intemal tidak disyaratkan. Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan: (a) setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi intema yang disyaratkan.000 m2. dengan salah satu dari Bangunan dengan risiko bahaya kebakaran 2(dua) persyaratan : 2 (dua) persyaratan berikut: (a) Luas lantai melebihi 2. SNI-3989. (2) Bangunan bersprinkler. dan klasifikas bangunan sesuai standar teknis yang berlaku. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan: (i) sebagian bangunan dipasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan. luar bangunan yang diisyaratkan menggunakan sprinkler. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. selain nuang parkir terbuka Bila menampung lebih dari 40 kendaraan. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka. (4) Pasokan air. (b) semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18.

atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. SNI-3985. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. d. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang diseluruh bangunan. Spesifikasi Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. bangunan klas 9a. bangunan klas 1b. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler didaerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. i. Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. ii. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan . Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. ii. iii. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu dipasang di dalam bangunan atau bagian bangunan yang dilayani oleh Hose Reel. Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran a. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektip terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya. ruang pertemuan umum atau semacamnya. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. 7) Sistem sprinkler di ruang parkir. jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan nuang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. dengan ii. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan Bab VIII. harus: (a) berdiri sendiri. dan (2) PAR dari jenis bukan klas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. 2. PAR memenuhi butir i. bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yang digunakan sebagai: (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. bangunan klas 2 dengan persyaratan khusus. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-klas.(6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper). dan iv. Pemadam Api Ringan (PAR) i. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: i. b. anak-anak atau orang cacat. kecuali di dalam unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi intemal tidak dipersyaratkan.

setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2. dan iv. dan ii. Pemasangan. Pengendalian Asap Kebakaran a. Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yang berlaku. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i.5 % smoke obscuration/m.10 m di atas level lantai. termasuk didalam satuan numah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. ruang kompartemen sanitasi. 3. Rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakoasi/ penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/ jalan keluar. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi. dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0. i. untuk selama tenggang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. ii. ii. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µm. ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap. Sistem sampling harus memenuhi Ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan. d.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. dipilih tipe foto-elektrik. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. ramp dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. Pada saat terjadi kebakaran. bangunan klas 1 atau 10.c. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka. iii. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan disetiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku. i. dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis. dan (2) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung. . Penempatan Alat Pendeteksi Asap. b. : Batas Ambang. (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. iii. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. ruang tanaman atau sejenisnya. Persyaratan umum i. ii. ditempatkan kurang dari 1. yaitu: (1) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan Pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2. Perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. dan iii.

dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bagi penghuni bangunan. Ruang Pusat Pengendaii Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah.. Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap klas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. c. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. . iii. vi. sebuah ruang untuk pengendalian dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penanganan kondisi darurat lainnya.iv.. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. Konstruksi. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memenuhi ketentuan standar yang berlaku. setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah.3 pada lampiran persyaratan teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i. harus: (a) beroparasi seperti sistem pengendali asap. 4. Untuk sistem pengatur udara lainnya. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. ii sifat penggunaan bangunan. tata letak bangunan. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen.3. atau ketentuan pada butir b. dimana: b. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. meubel. ii. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengendalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V.2. sifat dan jumlah bahan yang disimpan. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran.2. d. atau ketentuan pada butir b. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran: (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel V. harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan.3. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran. panel kontrol. Persyaratan untuk bahaya khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: i. telepon.2. Untuk keperluan ketentuan ini. dilengkapi sarana alat pengendali. tidak digunakan bagi keperluan lain. dan tidak mensirkulasikan asap diantara kompartemen kebakaran. Pusat Pengendali Kebakaran a. (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi. v. iii.

i. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yang dilindungi terhadap api. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi dari dalam bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. saluran. Proteksi pada bukaan. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30. Ukuran dan sarana. tidak boleh lewat ruang tersebut. (3) sebuah papan tulis dan sebush papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangunan.1. bahan lapis penutup. . sakelar pengendali jarak jauh untuk gas atau catu daya listrik. Panel indikator kebakaran. d. peralatan utilitas. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya nuang pengendali. bukaan pada dinding. Sebagai tambahan. (2) telepon sambungan langsung. pembungkus atau sejenisnya harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. ii. sakelar kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. iv. konstruksi penutupnya dari beton. dan sistem manajemen.5 Pintu Keluar. untuk jendela. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. iii. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaan pada Bab V. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari (2) dua arah (1) arah pintu masuk di depan bangunan. c. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokohan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. e. sistem pengamatan. genset darurat. panel indikator lif. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1). kipas pengendali asap. pintu. ii. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5). ventilasi. dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. ii. iii. saluran udara dan sejenisnya. dan (2) sistem keamanan bangunan. seperti pada lantai. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. i.i. pipa. langit-langit dan dinding dalam. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran.50 m. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu.

(2) jika hanya menampung peralatan minimum. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. Ventilasi dan pemasok daya. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat. i. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. dan (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. (4) mempunyai kipas.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) diatas. (3) jika dipasang peralatan tambahan. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara perjamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. f. atau ii. . Sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali.50 m2. (5) mempunyai catu daya listrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. dan tingkat iluminasi diatas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat di capai dari ruang pengendali tersebut. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali. pompa pengendali sprinkler. g. h. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketika kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dbA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan didalam bangunan. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m dan luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. Beberapa peralatan seperti Motor bakar.

bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. c. dan memadai bagi semua orang. Butir c tersebut tidak berlaku juga untuk: i. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. 2. iv. kecuali tangga/ramp di luar bangunan. e. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. menerus sepanjang area yang berbahaya. atau 4. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. ii. . Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1m atau lebih dari lantai/atap/melalui bukaan pada dinding luar bangunan. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. nyaman. Butir c tersebut di atas tidak berlaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. Akses ke dan di dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ramp (3) Lantai bordes yang memadai uniuk menghindari keletihan (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. nyaman dan memadai. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. aman. injakan dan akhiran injakan tangga. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan maka bangunan harus mempunyai antara lain: i. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. iii.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. b. c. Fungsi tersebut pada butir b di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. iii.VI. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa meraskan keadaan darurat. ii. 3. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai /atap. mampu menjaga lintasan anak-anak. Fungsi a. ii. harus dibuatkan penghalang yang: i. Persyaratan kinerja: a. b. d.

i. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. dimensi jelur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan .atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. balustrade atau penghalang lainya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh . setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. lantai. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. Jumlah. Tangga. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6. Jumlah. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. c.d.5 m. ii. Tinggi bangunan Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan: i. g. Jarak tempuh ii. mobilitas dan karakter penghuni. Persyaratan Keamanan a. h. d. Tangga. Fungsi bangunan Butir h tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan. VI. balkon. b Bangunan klas 2 s. kecuali: i. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. mobilitas dan karakter lain dan penghuni ii. i. Kebutuhan Jalan Keluar a. Bangunan klas 9: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada: i.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 1. b. Basement: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. Intervensi pasukan pemadam kebakaran Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. dan ii. sesuai dengan: i. jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. Jumlah. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. iii. 3 dan 4. 2 . luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2. Fungsi bangunan iv. Fungsi bangunan iv. 8: Minimal harus tersedia 2 jalan ke!uar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebih dari 25 m c. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1.f. ramp.

d. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan. g. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: i. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. Jarak jalur menuju pintu keluar a. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. e. Bangunan klas 2 dan 3 i. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke: i. b. 3. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. atau ii. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Pintu masuk dari setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari: (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. ii. Bagian bangunan klas 4: Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. 4. iv. atau ii. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i.iii. pada bangunan klas 9a: tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. . Bangunan kelas 5 s. bila bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. b. Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran a. 1 jalan keluar. setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. Bangunan klas 2 dan 3: Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka. harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. selain area perawatan pasien. v. masing-masing merupakan bagian jelur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. sedikitnya 2 jalan keluar. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. iii. Area perawatan pasien: Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. ii. f. Panggung terbuka: Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya.

. atau 6. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. b. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. 9: Terkena aturan butir d. Bangunan klas 9a: Area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. atau ruang sirkulasi lainnya. c. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. 45 m pada bangunan klas 9a. e. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. memiliki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya terlindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. ii. e. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. tinggi bebas seluruhnya harus tidak kurang dari 2 m. dan: i. berjarak tidak kurang dari 9 m. atau iii. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. lobby. atau ii. Gedung Pertemuan: Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. lebar bebas. Jarak maksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. bila : i. 5. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang.8 m pada lorong. f. 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. b. ramp. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih 20 m dari pintu keluar. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. jarsk ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. tersebar merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. 1 m. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m.d. 1. dan ii. Pada bangunan klas 5 atau 6. Dimensi/ukuran Pintu Keluar. atau ii. d. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia. Panggung Terbuka: Jarak jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbuka harus tidak lebih dari 60 m. 60 m. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus: a. Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar: a. d. berjarak tidak lebih dari: i. lebar bebas. i. untuk bangunan lainnya. dan ii.c. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan c. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. Bangunan klas 5 s. f. konstruksi ruang tersebut bebas asap.

kecuali kalau pintu tersebut dari: i. lebar pintu keluar: i. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. 1. minus 250 mm. ii. g. (2) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. ketempat: (1) ruang atau lantai yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. ke jalan atau ruang terbuka. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. f. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. . iii. parkir kendaraan atau sejenisnya.2. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600. c. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. iii. iii. ruang transisi atau yang sejenisnya. e. b. lorong. hall atau yang sejenisnya. lebar bebas. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. atau ii. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. a. lebar bebas. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12.2 m: 1070 mm. tidak lebih dari 20 m. d atau e. ii. 750 mm. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. komponen sanitasi. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. diukur tegak lurus ke jalur lintasan. ke area tertutup yang: (1) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir b. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung atau melawati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut: i. pada kasus lain.8 m pada lorong. (2) lebar koridor lebih dari 2. lobby umum. (3) mernpunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. atau ii. (2) lintasan tanpa rintangan. (3) pintu keluar horisontal: 1250 mm. pada area perawatan pasien.8 m . 7. bagian dinding tersebut harus mempunyai: c. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi: i. (4) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dan 6 m. ii.d. koridor. jika membuka ke arah koridor dengan (1) lebar koridor antara 1.2 m: 1200 mm. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka.

membuka ke pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud i lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. 9. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. atau 9. Pada bangunan klas 2. 3 atau 4. bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. TKA sedikitnya 60/60/60. Pada bangunan klas 5 s. d. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar.i. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. 3 atau 9a. jarak antara pintu keluar dari ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasii terhadap kebakaran harus tidak melampaui: i. atau ii. . 8 ata u 9b. dan memenuhi ketentuan teknis yang berlaku. Pada bangunan klas 5 s d. tangga/ramp yan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka. bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. Pada bangunan klas 2. e. ii.d. Tangga/ramp. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke Jalan atau ruang terbuka.1.2. 20 m dari pintu keluaar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang berlaku. Lintasan Melalui Tangga/Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. d. 8. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus mempunyai jalan lintasan menerus. Jika Jebih dari dua akses pintu. c. atau ii.5. 30 m dan salah satu dari dua pintu atau lorong keluar bila arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran. e. tangga/ramp yang tidak diisolasi torhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari: i.3 harus tersedia ii. dengan injakan dan tanjakan dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan b. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m.

bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ramp yang tidak diisolasi. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dan 500 orang.14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantai yang dipisahkan oleh dinding tahan api Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai dengan tidak kurang dari: i. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. dan c. d. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dan 1 m. atau tidak setinggi 1. antara unit hunian tunggal. Vl. Pada bangunan klas 2 atau 3. ii. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan. bebas asap.ii. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. ii.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila: i. c. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita bagunan SD atau SLTP.2. b. terhadap kebakaran dalam bangunan. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. ii. Jika pintu keluar yang disyaratkan menuju ke ruang terbuka. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. 11 Pintu Keluar Horisontal. dan bila perlu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. atau mana yang lebih lebar. . Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terletak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya. a. d. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. b. kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. 2. 10. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal Kasus selain butir b di atas. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang. e. Pintu keluar harus tidak terhalang.4. f. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar: arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. Pada bangunan klas 9a. Pada bangunan klas 9b. jalur lintasan menuju ke jalan harus i.

tidak harus menghubungkan lebih dari i. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. 3 lantai.c. lift. . koridor. tata letak lantai tersebut. ramp. 2 lantai dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan.2 sesuai jenis penghunian. dan ii. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. Ruang Peralatan Dan Ruang Motor Lift a. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. tidak lebih dari 100 m2. ii. Bila ruang peralatan atau ruang. dan eskalator. 7. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. Ramp Atau Eksalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran a.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. atau 13. Tangga. lobby dan yang sejenis. kecuali bila dijinkan sesuai butir b atau c di atas. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. 6. hall. di luar bangunan. ii pada area parkir kendaraan atau atrium. kecuali satu dari jalan keluar tersebut.2. 8 atau 9. tangga. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini c. b. service duct dan yang sejenis. ii. 14. eskalator. pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. ramp atau eskalator tersebut i. harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a b. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. 12. iii. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. iii. atau ii. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift. iv. dan satu dari lapis lantai tersebut terletak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. motor lif mempunyai luasan i. bila: i. d. dan luas lantai dengan: a.ii. 0. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. 1.

3 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: . workshop . mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan.3 1 30 1. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. dari material tidak mudah terbakar. Tabel VI.r. ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : staf pemeliharaan Proses manufaktur m2/orang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 bengkel 3 5 5 0. c. prosesing . penyimpanan r. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD SLTP Pertokoan.r. dll . laboratorium. . gereja. museum Bar.2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan Galeri seni. guest-house Stadion indoor area Kios Dapur.b. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4. r. Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel. café. peragaan. tempat cuci Perpustakaan : .r penyimpanan m2/orang 4 1 2 15 25 10 1 0. hostel. pamer : r. b. bila terjadi kenusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Jenis Penggunaan Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : . r. arcade Panggung penonton: darah panggung Kursi penonton R. atau cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya. listrik. baca. manufaktur.ventilasi. telepon Kolam renang Teater dan Hall R. penjualan: Level langsung dari luar Level lainnya r. kerja.5 1 4 2 30 pabrik VI. r. atau dengan konstruksi: 2. elktrikal. motel. . 3.mall. Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. tunggu r. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r. ruang pamer.boiler/sumber tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r.

lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. d. 6. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam pedoman ini. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. 7. setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. maka harus: a. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon b. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4. ii. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. dan ii. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. . b. terbentang antar balok lantai. iii. Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. c. di setiap bukaan dari area hunian. mempunyai TKA minimal 60/60/-. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii.7 harus: a. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. baja dengan tebal minimal 6 mm kayu: i. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. di mana: i. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. b. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar. harus tidak ada hubungan langsung antara i. b.a.2. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang 5. c. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a. dan: a. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. b. luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. tidak harus disediakan dari tangga. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. beton bertulang atau beton prestressed. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. mempunyai luas minimal 6 m2. atau ke bagian bawah langit-langit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit.

11. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. 10. dan sejenisnya. lobby. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. di mana: . disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. b. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. Ramp Pejalan Kaki a. bebas halangan. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. bagian dari balustrade. gang. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. b. bila peralatan dimaksud terdiri atas: i. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. meter listrik. 1:8 untuk kasus lainnya c. bila konstruksi yang menutup ramp. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. atau koridor. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. seperti pegangan rambat (handrail).c. koridor. 9. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. 8. panel atau saluran distribusi. kecuali untuk list langit-langit. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. b. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup.4 iii. kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. lebar bebas halangan. ii. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis Lebar Tangga a. lebar dan tinggi langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. gang. ii. disyaratkan. d. dan iii. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. kecuali: i.

tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. 13. injakan dan tanjakan konstan. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. tangga. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai. Balustrade a Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. Bordes a. b. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. ii. lebar minimal bordes 1. b. ruang perawatan pasien bangunan klas 9a. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. bila: .b. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. d. e. f. lantai. kasus lainnya i.6 m dan panjangnya minimal 2. ramp. atap tersebut harus a. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. tanjakan. ambang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. pintu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. tangga atau balkon luar ii. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. dan jumlah sesuai standar teknis. 14.ii. injakan. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. b. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. 16. 15. b. koridor. ii. c. Meskipun dengan ketentuan butir a. Ambang Pintu Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. Bangunan klas 9a: i. 12. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. i. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. ii. balkon dan sejenisnya.7 m.

Balustrade pada: i. Tinggi balustrade: i. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. f. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp.b. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8. d. tidak dibatasi dengan dinding. c. lorong. balkon dan sejenisnya. bila dibuat sesuai i. tangga. g.iii dan g. bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. bukan pintu gulung. Balustrade sesuai ketentuan butir e. i. ii. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. Bila menggunakan jeruji. dan ii. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. i. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. kecuali sekeliling panggung. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. ii. e. iii. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. Balustrade. bukan pintu berputar b. dibuat menerus 18. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. atap. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. c. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. mesanin dan sejenisnya. kecuali tangga/ramp luar bangunan. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. . b.i. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i.ii.ii. Pegangan Rambat Pada Tangga a. balkon. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. koridor.i. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii. dan harus: i. 17. lantai. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. 7. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii.

merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan bukan pintu sorong. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. 20. ii. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan. b. c. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. atau 8. d. b. pada bangunan klas 9b. Pintu Ayun a. kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya. kecuali bila: a. 21. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu. Bila terbuka sempurna. ii. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. melayani kompartemen saniter.2 m dari lantai. dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. iii. kecuali: i membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik. 6. dengan tangan. khususnya oleh pemilik. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan.9 . termasuk bordes. 3.1. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. kecuali: i. pintu dapat dibuka secara manual. 19. ii. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka.c. alarm kebakaran dan lainnya. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. lorong atau ramp. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. 7. dan . d. atau bagian klas 4. ii. kecuali bangunan sekolah. bangunan klas 9a b. Ayunan harus searah akses keluar. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. hanya melayani: i. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. harus dapat dibuka secara manual. c.

untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. 2.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. . Rambu. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. 22. tersedia sistem komunikasi internal. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. VI. Rambu Pada Pintu a.i. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. b. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. termasuk penyandang cacat. ii.

Lif kebakaran dapat berupa lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (Fire Switch) terlebih dahulu. . Kapasitas Lif a. Jumlah dan kapasitas lif harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untak sirkulasi vertikal pada bangunan. Lif kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. Kapasitas angkut lif barang yang diizinkan. 1 LIF 1. Waktu tunggu lif. b. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. c. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. harus menjadi kapasitas angkut dari lif dimaksud. Kapasitas angkut lif penumpang yang diizinkan. b. Kecepatan dan ukuran sangkar lif kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. Sumber daya listrik untuk lif kebakaran harus direncanakan dari sumber yang berbeda. dekat setiap tombol panggil untuk lif penumpang atau kelompok dari lif ada bangunan. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petuugas Kebakaran. Persyaratan teknis dari lif yang digunakan sebagai lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Untuk mengubah fungsi lif penumpang atau lif barang menjadi lif kebakaran. f. 3. lif kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. e. g. harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. dan menggunakan kabel tahan api. Pintu saf lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan peraturan yang berlaku di Indonesia.VII. d. Peringatan Terhadap Pengguna Lif Pada Saat Terjadi Kebakaran Tanda peringatan harus: a. Lift Kebakaran a. kecuali ii. Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. e. d. 2. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. dipasang ditempat yang mudah terbaca: i. c.

setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. bila diperlukan. 4. kayu. Mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 Kg. misalnya bangunan Kelas 9a. Lif Untuk Rumah Sakit a. b. atau ii huruf yang diukir atau ditatah langsung dipermukaan bahan dinding iii. dan iii. Untuk saf lif yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. Satu atau beberapa lif harus di pasang sebagai lif pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan ramp. . b. berukuran cukup untuk meletakkan fasilitas kereta dorong ( wheel strecther) secara horisontal ii. Lif yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. Saf Lif a. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar Vll. ditatah atau huruf timbul pada logam. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai Lif pasien yang dibutuhkan pada butir a.DILARANG MENGGUNAKAN LIF BILA TERJADI KEBAKARAN 10 mm 8 mm ATAU Dilarang menggunakan Lif bila terjadi Kebakaran Gambar VII. telepon. huruf yang diukir. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung ditempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. 6. 1. Dalam saf lif dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lif. dan terdiri dari i. 5. berupa bel listrik. harus: i. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. Sangkar Lif Sangkar pada setiap lif harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar. 1 Tanda Peringatan Lif Penumpang b. plastic atau sejenisnya dan dipasang tetap didinding.

ii. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap nuang mesin lif. pondasi untuk mesin. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban dibawah ini: i. Beban diperhitungkan pada saat bandul mekanis governor) bekerja. b. Pemeriksaan. Semua bagian logam dari lif pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. Mesin Lif Dan Ruang Mesin Lif a. Balok. motor generator. pengujian dan pemeliharaan instalasi lif sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 03-2190-1991. tromol tali. atau disamping ruang luncur di lantai bawah. dengan beban sangkar lif. Vll. Instalasi lif yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. c. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. 9. peralatan lain dan lantai diatasnya. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. tromol. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada semua arah gaya d. b. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. . Instalasi listrik untuk lif harus dilengkapi dengan pengaman harus lebih atau sakelar otomatis.2 TANGGA DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan Teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. Pengujian Dan Pemeliharaan a. iv. 8. Prosedur pemeriksaan. governor dan peralatan lain. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lif. b. iii. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). Instalasi Listrik a. untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. lantai dan penyangga di Ruang mesin harus di rencanakan dengan memenuhi: i. panel kontrol. Bangunan ruang mesin lif harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak.7. iii. Jika mesin lif dan tali diempatkan di lantai bawah. ii. termasuk lantai ruang mesin. c. Pondasi harus menyangga berat mesin. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali baban berat pada arah sejajar.

Tanda KELUAR harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. atau iv. lorong atau ramp yang digunakan untuk Keluar iii. mempunyai tigkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman.2 TANDA ARAH KELUAR 1. koridor. Setiap lampu darurat. c. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi daari kerusakan karena api dengan konstsruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. tangga yang tertutup. ke jalan raya. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. ke koridor. 2. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien d. atau sejenisnya yang digunakan pasien. harus : a. hall. Setiap tanda “KELUAR” dibutuhkan. dan harus dipasang diatas atau di dekat setiap: a. dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. atau ii ke ruang yang mempunyai lampu darurat. c jalan lintas. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai keluar i. atau ramp yang digunakan untuk ii tangga luar. ruang yang mempunyai luas lebih dari 300 m2. VIII. pencahayaan darurat digunakan pada tanda KELUAR. b c. atau iii. lorong. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 tetapi kurang 300 m2 yang terbuka: i. PENCAHAYAAN DARURAT.1 SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT 1. ii. Sistem lampu darurat dipasang pada: a b. Jelas. . e. 3. bekerja secara otomatis b. TANDA ARAH KELUAR. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. mudah dibaca. jika menggunakan sistem terpusat. mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan. jalan keluar di balkon yang menuju Keluar. ke ruang terbuka. bangunan kelas 9a. yaitu pada: i.VIII. 2. bangunan kelas 2 atau 3. harus: a. setiap lorong. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII.

akomodasi untuk orang tua. atau b. atau orang cacat. lobi. b. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju Jalan raya atau ruang terbuka. c. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. untuk sekolah. kecuali bila sistemnya a. atau sejenisnya. 4. 5. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petugas b. d. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua. dan: Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan KELUAR" pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai VIII. 2.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. hall. Jika tanda “KELUAR" tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. sistem alarm diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari tiga b. 3.1 3. maka tanda Keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. anak-anak. untuk gedung pertunjukan. . Bangunan Kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua: a. dan: Jalan keluar horisontal. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua. langsung memberikan peringatan pada petugas. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m Bangunan Kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari dua lapis dan a. lorong. di daerah bangsal perawatan. Pintu dari tangga tertutup. VIII.b. bagian rumah dari sekolahan. hall umum. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan sesuai dengan tipe dan kondisi pasien Bangunan Kelas 9b a.

. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. lingkungan. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. papan hubung bagi dan beban listrik. mengganggu dan merugikan bagi manusia. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik harus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran.1 INSTALASI LISTRIK 1. d. c. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. dapat menggunakan ketentuan/ standar dari negara lain atau badan international. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. b. Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketantuan: a. c. INSTALASI LISTRIK. Semua peralatan listrik diantaranya penghantar. Jaringan yang melayani beban penting. jaringan distribusi. PENANGKAL PETIR DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. sistem deteksi dan alarm kebakaran.IX. 2. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya e. b. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. seperti pompa kebakaran. lif kebakaran. tidak membahayakan. dengan frekuensi 50 Hertz. Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. dipelihara. dengan frekuensi 50 Hertz. sistem komunikasi darurat. papan hubung bagi dan isinya . maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. transformator dan peralatan lainnya. Jaringan Distribusi Listrik a. peralatan pengendali asap. alat ukur. bagian bangunan dan instalasi lainnya. tombol. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak dan busduct dari berbagai tipe. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. ukuran dan kemampuan.

g. dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak momungkinkan. secara otomatis. harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. dengan ijin instansi yang bersangkutan. Pemeriksaan Dan Pengujian Instalasi listrik yang dipasang. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup. di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. b. . Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang.3. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3. atap dan lantai yang kokoh. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi golombang elektromanetik dan lain-lain. 4. e. dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. c. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding. Sumber Daya Listrik a. sebelum dipergunakan. b. faktor kebersamaan (coincident factor) atau faktor ketidak bersamaan (diversity factor). Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila tajadi gangguan sumber utama. sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri. c. harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listrik tidak boleh putus. Transformator Distribusi a. 6. yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau nomalisasi dari peraturan yang berlaku. 5. d. f. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering.

bagian bangunan dan instalasi lain. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. IX. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. b. Instalasi Penangkal Petir a. dipelihara. termasuk manusia yang ada di dalamnya. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. Perencanaan Penangkal Petir a. c. dan instalasi lainnya. harus mengacu pada rekomendasi dari badan International seperti IEC. IX. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. Ha-hal yang belum diatur didalam peraturan tersebut diatas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. tidak membahayakan. bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai risiko terkena sambaran petir. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. 1. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. Pemeliharaan a. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. 2. harus diberi instalasi penangkal petir.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung a. 3. terhadap bahaya sambaran petir. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harus mudah diamati. serta direncanakan .7. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. Pada ruang panel hubung bagi. b. sifat geografis. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. mengganggu dan merugikan lingkungan. harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan. b. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. perbaikan dan pelayanan.3 INSTANSI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG. b. serta diberi ventilasi cukup. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang c. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. harus memperhatikan arsitektur bangunan.

c. Ruang yang bersih. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. kedap debu. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. Ruang batere sistem telepon harus bersih. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m keatas. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon.b. Secara berkala dilakukan pengukuran/ pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. dan dilaksanakan berdasarkan standar. iii. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. . Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a diatas harus menggunakan sistem khusus. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: i. atau terdiri dari kabel tahan api. 3. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. b. c. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak.50 m x 0. terang.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. dan lain-lain. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. b. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. minimal berjarak 0. Instalasi Tata Suara a. Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. tidak ada genangan air.80m. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. aman dan mudah dikerjakan. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi Persyaratan: i. terang. Instalasi Telpon a. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. c. ii. ii. iii. d. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. 2. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1.

Rancangan sistem distribusi gas pembakaran. Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas).X. Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi: a. c. Gas elpiji (LPG = Liquefied Petroleum Gasses). adalah : a. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. X. Pada instalasi gas untuk pembakaran. vi. b. Berat jenis dari gas. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. v. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. Panjang pipa dan jumlah sambungan. Jaringan Distribusi Gas Kota a. Gas elpiji.1 INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1.2 INSTALASI GAS MEDIK 1. harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang secara otomatis mematikan aliran gas. Faktor diversifikasi (diversity factor). 3. Gas nitrous Oxida (N2O) c. Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter-gas)mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. Gas oxigen b. Jenis Gas Jenis gas medik yang dimaksud. 2. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter-gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2He ). iv. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. INSTALASI GAS X. Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter-gas ke peralatan ii. b. terdiri dari propane (C3H8) dan Butane (C4H10). Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. iii. Udara tekan .

Rancangan sistem distribusi gas medik. Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang . Pada instalasi pipa gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. pipa Nitrous Oxida dan pipa udara tekan. peralatan rawat gigi dan sebagainya. seperti untuk ruang bedah orthopedi. Vakum 2. Pada instalasi gas medik harus dilengkap peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyarat tanda kebocoran gas. Kebutuhan gas medik garus disesuaikan dengan kebutuhan untuk asien rawat inap dan kebutuhan lain. 3. khususnya untuk instalasi pipa oksigen. Jaringan Distribusi Gas Medik a. c. b. d. e. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan.d. pemilihan bahan dan kontruksinya disesuaikan dengan penggunaannya.

meliputi sistem air bersih.XI. 2. alat plambing dapat bekerja dengan baik. . Kebutuhan air bersih untuk perumahan berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. SANITASI DALAM GEDUNG XI. maka harus dilengkapi dengan pipa sirkulasi. Kualitas air bersih yang dialirkan ke alat plambing dan perlengkapan plambing harus memenuhi standar kualitas air minum yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Bangunan yang dilengkapi dengan sistem penyediaan air panas. SISTEM PLAMBING 1. Sumber air bersih pada bangunan harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). f. tidak mengganggu lingkungan. Sistem distribusi air harus direncanakan sehingga dengan kapasitas dan tekanan air yang minimal. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. Apabila kapasitas dan atau tekanan sumber yang digunakan tidak memenuhi kapasitas dan tekanan minimal pada titik pengaturan keluar. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. b. Sistem Penyediaan Air Bersih a. c. serta diperhitungkan berdasarkan standar. g. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. maksimum 60° C. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. Pipa pembawa air panas yang cukup panjang tersebut harus dilapisi dengan bahan isolasi. maka harus dipasang sistem tanki persediaan air dan pompa yang direncanakan dan ditempatkan sehingga dapat memberikan kapasitas dan tekanan yang optimal. b. sebelum digunakan harus mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang. dimana pipa pembawa air panas dari sumber air panas ke alat plambing cukup panjang. dan apabila sumber air bukan dari PAM. d. kecuali untuk penggunaan khusus. e. petunjuk teknik.1. Temperatur air panas yang keluar dari alat plambing harus diatur. sedangkan untuk kelas bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. Perencanaan Sistem Plambing a.

f. kakus maupun kegiatan lainnya. j. Saluran air kotor dapat benupa pipa atau saluran lainnya. tahan terhadap karat dan panas. Sistem air kotor didalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa ven untuk menetralisir tekanan udara didalam saluran tersebut. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunaannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. g. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. baik tempat mandi cuci. i. harus ditangani secara khusus. e. tanah liat. PE (poli-etilena).h. beton. besi tuang. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang akan dialirkan. c. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. baik dari bahan PVC. PE. karat dan kebocoran. dipasang dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tidak mudah rusak dan tidak terkontaminasi dari bahan yang dapat memperburuk kualitas air bersih. Semua sistem pelayanan air bersih harus direncanakan. Sistem Pembuangan Air Kotor a. Pemeliharaan sistem air kotor dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya penyumbatan. serta yang mengandung radioaktif. . d. h. Pada dasarnya air kotor berasal dari aktivitas manusia. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. besi lapis galvanis atau Tembaga. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. Air kotor yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja. Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilaksanakan. i. 3. baja maupun bahan lainnya yang tidak mudah rusak. sesuai dengan petunjuk teknis dari bahan pipa yang bersangkutan dan ketentuan-ketentuan lain yang berlaku di Indonesia. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. tidak mengandung bahan beracun dan pemasangannya harus sesuai dengan petunjuk teknis bahan pipa yang bersangkutan. Sistem pengaliran air kotor direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. b. tembaga.

harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. b. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. Apabila tangki penyediaan air bersih menggunakan bahan lapisan untuk mencegah kebocoran dan karat. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. Bahan alat plambing harus mempunyai permukaan yang halus dan rapat air.4. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. Bahan tangki dapat berupa beton. Tangki Penyediaan Air Bersih a. serta dilengkapi dengan 1ubang pemeriksa. c. baja. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan. minuman bahan steril atau bahan sejenis lainnya. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. g. d. harus dilakukan secara berkala untuk menjamin kebersihan dan bekerjanya alat tersebut dengan baik. Alat Plambing a. pipa peluap. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempat-tempat yang dapat menimbulkan pencemaran. tahan lama untuk digunakan. 5. Fungsi tangki penyediaan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. e. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak dan lemak. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. fiberglass dan kayu. e. Konstnuksi dan bahan tanki penyediaan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. b. c. . f. babas dari kerusakan dan tidak mempunyai bagian kotor yang tersembunyi. pipa penguras dan pipa ven. perlengkapan bangunan. bahan tersebut tidak boleh memperburuk kualitas air bersih. Tangki penyediaan air bersih harus diiengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar. Pemeliharaan semua alat plambing. harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. d. Tangki penyediaan air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediakan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. Pada pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak.

1.6. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa. Kemiringan saluran harus dibuat. c. e. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. b Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup. pipa isap dan pipa keluaran pompa. d. Kelengkapan pada Bangunan a. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. c. XI.2 Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effsiensi yang maksimal. c. Fungsi pompa air kotor adalah menyalurkan air ke saluran air kotor umum Kota atau ke bangunan pengolahan air lainnya. Apabila saluran dibuat tertutup. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. dan pada saluran yang lurus. maka harus dilakukan cara-cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang 2. Pompa a. Persyaratan Saluran a. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. b. yang tanki kotor kotor b. lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. Fungsi pompa air bersih adalah memberikan kapasitas dan tekanan cukup pada sistem penyediaan air bersih atau menyalurkan air ke penyediaan air bersih. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. . Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebab-sebab lain yang dapat diterima. SALURAN AIR HUJAN.

atau Pengelola Pengangkutan Sampah. . besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. tidak mudah rusak. XI. mempunyai tutup dan mudah diangkut. dan pasangan bata atau beton. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni. tanah liat. Tempat pewadahan sampah harus terbuat dari bahan kedap air. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sementara harus dihitung berdasarkan jenis bangunan dan jumlah penghuninya. 3. peti kemas baja. pasangan. Khusus untuk bahan seng. b. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. beton. Penempatan pada Bangunan Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas pewadahan dan atau penampungan sampah sementara yang memadai. Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik.d. 2. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sampah Berbahaya Untuk sampah padat yang dikatagorikan sebagai jenis buangan berbahaya dan beracun (sampah B3).3 PERSAMPAHAN 1. Bahan saluran dapat berupa PVC. 3. c. besi dan baja. Pewadahan a. seng. fiberglass. Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. Bentuk pewadahan sampah harus disesuaikan untuk kemudahan pengangkutan sampah oleh Dinas Kebersihan Kota. peti kemas fiberglass. penempatan dan pembuangannya harus ditangani secara khusus sesuai dengan peraturan yang berlaku.

dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. bukaan pintu ventilasi. Ventilasi alami sesuai dengan butir XII. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai lantai kedua ruangan tersebut. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang diventilasi. Kebutahan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai: a. dengan jarak tidak lebih dari 3. (1) jendela.1 VENTILASI 1. bukaan. dan yang sejenis.1. 2. 8 atau 9. (3) Luas ventilasi yang diatur pada butir (1 ) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai. (2) jendela. 7.6 m diatas lantai. (2) teras terbuka. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu.XII. dan: i. b. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 10% luas lantai kedua ruangan tersebut. ii. Penerapan ventilasi alami. . Ventilasi Alami a. (2) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela.2 di bawah ini atau b. (3) ruangan bersebelahan dengan jendela. bukaan. Bangunan kelas 5. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka i. jendela. (1) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sanitasi. bukaan. bukaan. 6. ii ke arah. atau daerah yang terbuka ke atas. pintu atau sarana bukaan lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10% dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. pelataran parkir. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. Bangunan klas 2.

atau (2) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan: i. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yang dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya: i. harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/halaman dibawah lantai dasar. g. f. ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman.c. 7. jika berada dibawah lantai dasar. koridor atau ruang lainnya. asrama pada bangunan Kelas 3. harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. sekolah TK atau panggung terbuka). sistem ventilasi alami permanen yang memadai. ii ruang makan umum atau restoran. setiap peralatan masak yang mempunyai: (1) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. v. iv. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. iii. Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4. sekolah TK atau panggung terbuka). (1) jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. (1) jalan masuk harus melalui ruang antara. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. ii. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. atau ii. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah: i. atau iii. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1. . ii. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: i. dapur atau pantry. e. 6. jika: i. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang berlaku. pada bangunan Kelas 5. d. sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. . dan standar teknis lain yang berlaku. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni.8 MJ/jam untuk daya gas. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. 3.2 2. PENGKONDISIAN UDARA 1. XII. e.5 kW untuk daya listrik. Besamya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. pabrik. Konservasi Energi a. f. kantor. 3. Ventilasi buatan a. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. rumah sakit. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi. total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak. lebih dari: (1) 0. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. atau (2) 1. c. atau sebaliknya. Bilamana digunakan ventilasi buatan. pemilihan peralatan. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang berlaku. d. b. toko. c. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan a.60 meter diatas lantai.ii. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. b. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. dan minimal 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh.

atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang. sistem pompa dan pemipaan. . Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. isolasi pemipaan. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. iii. Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan. (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem Fan. dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku. (2) Semua saluran udara harus direncanakan. . isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. Penetapan sistem dan peralatan. ii. sistem distribusi udara. Dasar perancangan i. sistem kontrol.b.

b. ruangan didalam bangunan b. c. dsb. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. taman dan daerah bagian luar lainnya. tempat bongkar muat barang. PENCAHAYAAN XIII. Tingkat Iluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung XIII. 2. . daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. pencahayaan di unit pengeboran. pencahayaan darurat yang secara otomatis mati. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. n. g. daerah luar bangunan. efektif dan sesuai dengan kebutuhan ruangan.XIII. seperti: i. gallery. museum dan monumen. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan knalitas tampilan. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. selama operasi normal. ruangan. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. f. Kamar.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. i. c. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi: a. pencahayaan khusus laboratorium.00 malam sampai jam 06. penyiaran televisi. PENCAHAYAAN BUATAN. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dan fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. 1. k. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. pintu ketuar. pencahayaan luar untuk monumen publik. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. fasilitas luar untuk olahraga. e. m.00 pagi. d. pencahayaan untuk pameran seni. pencahayaan untuk rambu-rambu. iii. meliputi: a. seperti proses produksi dan penyimpanan. klub malam. Kamar. pencahayaan untuk pembuatan film. jalan.2 2. kegiatan diluar bangunan. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan buatan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan beban pendinginan bangunan. pintu masuk ii. j. 1.

kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan atau kaca ganda. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. a. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan: a. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor aluminium anodized berkualitas tinggi.3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan monggunakan sumber pencahayaan yang tepat. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut. balas. 2. b. jenis reflektor yang efisien. c. Pengendalian silau pada bangunan. mempunysi karakteristik distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidak nyamanan karena silau atau pantulan. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan. 6. baik dari sumber sinar matahari langsung. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. dan reflaktor yang efisien. . 7. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. Untuk fasilitas banyak bangunan. Pemanfaatan pencahayaan alami Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. Penentuan besanya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI-2396 tentang Penerangan Alami Siang hari untuk Rumah dan Gedung. langit yang cerah. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. 4. XIII. 5. Jika perlu. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. obyek luar. b.3. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. 3.

hotel dan rumah sakit. Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut. Pengendali dipusatkan di lokasi yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. b. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang tedetak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendali untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. kecuali yang diperlukan untak pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu “KELUAR”. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus menerus. Pengendali otomatis. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut: a. Pengendali yang memerlukan operator yang terlatih. gudang dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). Pengendali yang diprogram.4 PENGENDALIAAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN. e. harus dilengkapi dengan pengendali manual. kecuali: a. Pengendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. . 2.XIII. pertokoan. d. d. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell). Pengendali haruss digunakan sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. otomatis atau yang terprogram. Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap group yang melayani luasan 30 m atau kurang. b. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. Letak pengendali harus mudah dicapai. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. 1. pasar swalayan. kecuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafond harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. c. Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama didekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. e. Semua sistem pencahayaan. f. c. pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami.

XIV. KEBISINGAN DAN GETARAN
XIV. 1. KEBISINGAN 1. Baku Tingkat Kebisingan a. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. b. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut berlaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2

XIV.2

GETARAN 1. Baku Tingkat Getaran a. Sala satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. b. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut, berlaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2.

XV. KETENTUAN PENUTUP

XV.1

Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Bab-bab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI), pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi, tata cara, dan metode uji bangunan, komponen, elemen, serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatif serta penyesuaian penyesuaian yang diperlukan terhadap Persyaratan Teknis Bangunan Gedung diharapkan untuk dikembangkan oleh masing-masing Daerah disesuaikan dengan kondisi, permasalahan, kebutuhan, dan kesiapan kelembagaan di setiap Daerah.

XV.2

MENTERI PEKERJAAN UMUM ttd. RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN
TABEL V.2.3 PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. KETENTUAN UMUM
PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk: 1. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. Setiap lantai di atas tinggi efektif 25m, atau b. lebih dari 2 lantai di bawah tanah, atau c. atrium, atau d. bangunan klas 9a yang > 2 lantai, dan 2. jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka, harus dilengkapi dengan: 1. Sistem presurisasi otomatis, atau 2. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir Vl.3. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF >25 M Klas. 2, 3, den 4. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 2. Bila panjang koridor umum > 40 m, harus dibagi dengan interval < 40 m, dengan konstruksi sesuai ketentuan V.1.3, kecuali bahan pelapis dan bahan yang tidak mudah terbakar Klas5,6, 7,8,dan 9b (selain ruang/tempat parkir) Klas 9a 1. Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis, dan 2. Sistem pengendali asap tezona sesuai ketentuan yang berlaku

KLAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang Diisolasi terhadap kebakaran

BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Klas 2, 3, den 4 1. Harus dilengkapi dengan alarm dan detekai asap otomatis, dan 2. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran den bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan Kas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8, atau 9b, maka: a. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap Jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomati, atau b. Klas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8 dan 9b harus

atau b. Pada bangunan: 1. dipajang. Sistem detektor dan alarm asap. atau ii. atau 9b. maka: a. Klas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > 3 lantai. 6. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis.a. atau 3. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan klas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan klas 5. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detekotr asap bekerja. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Sistem sesuai butir 2. atau 4. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis.dilengkapi dengan i. Sistem sprinkler 1. atau iii. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau 3. harus dipasang: 1. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. atau digunakan dalam bangunan d. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan: a. Klas 6.b. 2. 7. dan 2. Bila > 2 lapis dibawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. atau b. 7. Sistem sprinkler 1. Basement dengan luas > 200 m2 harus dilengkapi dengan: a. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen Klas 5. atau 2. 8. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. 8. Klas 5 atau 9b (sekolah) dan b. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. 3. fungsi khusus bangunan c. Klas 6. Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. 8. 8. 6. 7. karakter khusus bangunan b. atau 9b (selain sekolah) maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. atau b. Bila bangunan >2 lantai. harus dipasang: a. Sistem presurisasi udara otomatis. atau ii. dan 9b (selain ruang/tempat parkir Klas 9a BASEMENT (selain ruang/tempat parkir) . Sistem sprinkler. bila bangunan mempunyai lebih dari satu komprtemen kebakaran. termasuk jlan penghubung dan rampnya. atau 2. diatas harus dipasang. bila basement mempunyai lebih daari satu kompartemen kebakaran. Sistem pengendali asap terzona. 7 (bukan tempat parkir terbuka). atau 2. Sistem pengendali asap terzona. Sistem pengendali asap terzona. sistem sprinkler 3. Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat klas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/pengguna yang banyak.

Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3.000m2.000 m2. atau 2. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. sistem pembuangan asap otomaatis. Kompartemen kebakaran > 2. bangunan 2 lantai atau kurang. 1.500 m2 dan bangunan 2 lantaai atau kurang. sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomaatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3. atau b.kecuali yang ditetapkan pada butir 2. dipasang sistem sprinkler 3. Bangunan klab malam. termasuk ruang parkir dibawah tanah. tidak terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. bila: a. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka 1. harus dilengkapi dengan: a.000m2 yang membuka ke arah selasar terlindung.500 m2. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. Bangunan Pertemuan . diskotek. sistem deteksi alarm kebakaran. Setiap kompartemen kebakaran. Bangunan satu lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. harus dilengkapi dengan: a.000 m2. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap.Ruang/tempat parkir Atrium kebakaran Ruang/tempat parkir. sistem pembuangan asap otomatis. atau b. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. dan b. atau c. bangunan 1 lantai. yang dilengkapi dengan sisitem ventilasi mekanis sesuai ketentuan: 1. dipasang sistem sprinkler 2. KETENTUAN KHUSUS KLAS/BAGIAN BANGUNAN Klas 6. luas bangunan < 2. terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko Klas 9b. Bila bangunan 1 lantai. sistem pembuangan asap otomatis. atau ii. dan sejenis. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. sistem peringatan kondisi darurat. bila bangunan 1 lantai. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler. dan: i. Kompartemen Kebakaran > 2. Selasar terlindung. toko dengan luas > 1. bila: a. harus dilengkapi dengan: a. dan b. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. luas lantai < 2. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1.000 m2. dan 2. dan toko (selain pada ketentuan 3 ) yang tidak membuka ke arah selasar terlindung. sistem inter komunikasi darurat. dan b. atau lubang-lubang Klas 6.

digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis.000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seperti butir 4. bila bangunaan 1 lantai 4. sistem sprinkler. atau sistem sprinkler. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a diatas adalah: i.000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3. ruang senam. Bangunan pertemuan lainnya (diluar butir 3 dan 4 diatas): a. dipasang sistem sprinkler dan i. atau ii. atau iii. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2. Bila luas bangunan > 3. atau iii. bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5. sistem pembuang asap otomatis. 5. bilang bangunan 1 lantai 3. idem 1. bila bangunan 1 lantai.000 ii. kolam renang dan sejenis) selain dari gedung olahraga(indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1. Bangunan pameran. pada bangunan sekolah.500m2 i. . atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. dan b. Gereja.a. atau ii. dan c. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis.500 m2. dengan luas > 200 m2. atau harus dilengkapi dengan: i. Bila luas bangunan 2.ventilasi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. gereja. kompleks olahraga (termasuk hall olah raga. harus dilengkapi dengan a. termasuk theater kuliah dan komplek auditorium: a. atau sistem sprinkler 2. bila bangunan 1 lantai. gereja.000-3. Bangunan theater atau tempaat pertemuan/hall umum: a. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. sistem pengelola udara mekanis yang bukan meru-pakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shutdown) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. diatas.000 m2 i. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. atau ii. lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. sistem pembuang asap otomatis. sistem pembuang asap otomatis. sistem pembuang asap otomatis. dengan luas > 300m2 atau b. atau ii. dan b. Bukan pada bangunan sekolah. Mesjid dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan.b diatas b. selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2.

Antonius Budiono. Eng. Adjar Prajudi. PU Dit.. MPA Ir. Sardjono Hadi Sugondo Ir. Sutikni Utoro Wibisono Setio Wibowo. H.Arch. PU Dit. MSc Ir. Dep. Sri Hartinah. Dep. DJCK Dit. Sidjabat Ir. PU Sekretaris Jenderal Dep. MCM Ir G. Hari Sidharta. Dep. Renyansih Ny. Dep. PU Puslitbangkim. PU Staf Ahli Menteri PU V Bidang Pengembangan Jasa Konstruksi Direktur Bina Teknis . PU Dit. PU Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) . DJCK. PU Sekretaris Ditjen Cipta Karya. Binlak Wilayah Timur. J. PU Dit. Bambang Guritno. PU Widyaiswara Dep. MSc Ir. DJCK. MSc Kelompok Kerja Ir. M. Pelaksana Ir. MSc Ir. Suprapto. Dipl. Sunaryo Sumadji. Aim Abdurachim Idris. Achmad Lanti. DJCK. Hendro Moeljono Ir. J. DJCK Dit. DJCK Bagian Hukum. Bitnek. Hari Sasongko Suwarmo S. Balitbang. MCM.. DJCK. Wiedodo Ir. MSc Ir. Jacob Ruzuar. Dep. Harlansyah Soerarso. Binlak Wilayah Tengah . Sukartono Ir. CES Ir. Bintek. SH Ir. Dep. Dep. Dep. IAI Ir.BD. FRAIA Ir. Bitnek. Ernawi. Ir. Balitbang. Dep. Roestanto Wahidi D. MSc Ir. Dep. Setjen Dep. MM. PU Biro Hukum. Dipl. PU Puslitbangkim. Ridwan Munzir Ir. P. MCM. PU Kepala Balitbang Dep. Dep. PU Dit. Rachmadi BS. HR. H. DJCK. Achid Winarno Ir. PU Dit. Binlak Wilayah Barat. Setjen Dep. Prawoto Menteri Pekerjaan Umum Direktur Jenderal Cipta Karya. Eko Widiatmo Ir. DJCK. IAI Ir. Bintek. MSc. DJCK. Dep. PU Puslitbangkim. MSc Ir. Erry Saptaria Achyar. Imam S.Sc.TIM PENYUSUN PEDOMAN TEKNIS PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG Pembina Ir. B. Pengarah Drs. Balitbang. G. Tulus Rachmat S Ir. L. Eko Djuli Sasongko Ir. Sefiawan Kanani Ir. Gembong Priyono. Dipl. SE Ir.E. Diding Muchidin Ir. Balitbang. PU Kepala Biro Hukum. IAI. PU Kepala Puslitbangkim. Bintek. Dep. Rusdi Marzuki Ir.

Jakarta 12110 Indonesia Telepon: (021) 7268203 Faks: (021) 7235223 E-med: bintekctaba@pu. Bintang Agus Nugroho. MT Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Ikatan Ahli Lansekap Indonesia (IALI) Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Teknik Tanah Indoensia (HATTI) Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Universitas Trisakti. Ir. Drajat Hoedayanto.M. Jl. MSCE Ir. A. Tulus Widiarso.Ir.go. Ir. Ariono Suprayogi Ir. MEng DR. Ing. Jakarta Disamping itu juga melibatkan peran aktif berbagai nara sumber di bidang tata bangunan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. MCM. Ir. Bambang Tata Samiadji.U. MSA. Hadi Prabowo. Ir. MT Ir. Sugeng Triyadi S. Zaenal Walidin DR.id . Eka Sediadi Rasyad Ir.Prasetiyo.MAUD DR. MM Ir. Bambang Budiono Ir. Penyelaras Akhir Ir. Jakarta Universitas Trisakti. Hendro Moeljono Ir. Soedibyono Ir. Chaidir AM. Sofyan Nurbambang DR. Jakarta Universitas Trisakti. Binsar Hariandja DR. J. IALI Ir. IAI Ir.March. G. Eko Djuli Sasongko Studio Taba '98 Direktorat Bina Teknik Direktorat Jenderal Cipta Karya. Ernawi. Departemen P. MSc Ir. Daniel Mangindaan Ir. Raden Patah l/1 Lantai 7 Wing 1 Kebayoran Baru. Imam S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful