P. 1
Kepmen Pu Teknis Bangunan Gedung

Kepmen Pu Teknis Bangunan Gedung

|Views: 632|Likes:
Published by azano marbi

More info:

Published by: azano marbi on Sep 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 441/KPTS/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG MENTERI PEKERJAAN

UMUM,

Menimbang

:

a.

bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah di bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah, urusan penyelenggaraan bangunan gedung telah diserahkan kepada Daerah baik Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II; bahwa perkembangan penyelenggaraan bangunan gedung dewasa ini semakin kompleks sehingga perlu adanya pengaturan mengenai ketentuan teknis yang menyangkut peruntukan dan intensitas bangunan, arsitektur dan lingkungan, serta keandalan bangunan yang menjadi persyaratan pokok suatu bangunan gedung; bahwa sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987, kepada Menteri Pekerjaan Umum diberi wewenang untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah; bahwa sehubungan dengan pertimbangan pertimbangan tersebut diatas perlu mengatur persyaratan teknis bangunan gedung, dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah; Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun; Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Parumahan dan Permukiman; Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang; Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah; Keputusan Presiden Rl Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen; Keputusan Presiden Rl Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Keputusan Rl Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen Sebagaimana Telah Tiga Puluh Kali Diubah Terakhir Dengan Keputusan Rl Nomor 23 Tahun 1994 Keputusan Presiden Rl Nomor 122/M Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan;

b.

c.

d.

Mengingat

:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

9.

Keputusan Menteri PU Nomor 211/KPTS/1994 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum.
MEMUTUSKAN :

Menetapkan

:

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG. BAB I KETENTUAN UMUM

TENTANG

Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada, diatas, atau di dalam tanah dan atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tampat manusia melakukan kegiatannya. 2. Penyelenggaraan bangunan gedung adalah proses kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan gedung 3. Daerah adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. 4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kotamadya Daerah T'ngkat II. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 (1) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung dimaksudkan untuk mewujudkan bangunan gedung yang berkualitas sesuai dengan fungsinya. (2) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung bertujuan terselenggaranya fungsi bangunan gedung yang aman, sehat, nyaman, efisien, seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya

BAB II PENGATURAN PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG

Bagian Pertama Persyaratan Teknis Pasal 3 (1) Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan mengenai : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. I. m. (2) Peruntukan dan Intensitas Bangunan. Arsitektur dan lingkungan. Struktur Bangunan Gedung. Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran. Sarana Jalan Masuk dan Keluar. Transportasi dalam Gedung. Pencahayaan Darurat, Tanda Arah Keluar, dan Sistem Peringatan Bahaya. Instalasi Listrik Penangkal Petir, dan Komunikasi dalam Gedung Instalasi Gas. Sanitasi dalam gedung. Ventilasi dan Pengkondisian Udara Pencahayaan. Kebisingan dan Getaran.

Rincian persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tercantum pada lampiran Keputusan Menten ini yang merupakan satu kesatuan pengaturan dalam keputusan ini Setiap orang atau badan termasuk instansi Pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung wajib memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) Pasal ini. Pasal 4

(3)

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Kedua Pengaturan Pelaksanaan di Daerah Pasal 5 (1) Untuk pedoman pelaksanaan penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah perlu dibuat Peraturan Daerah yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri ini. Dalam hal Daerah belum mempunyai Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini maka terhadap penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah

(2)

diberlakukan ketentuan-ketentuan Persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. (3) Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang persyaratan teknis bangunan gedung sebelum Keputusan Menteri ini diterbitkan harus menyesuaikannya dengan ketentuan-ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. Pasal 6 Dalam melaksanakan pembinaan pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah melakukan peningkatan kemampuan aparat Pemerintah maupun masyarakat dalam memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 untuk terwujudnya tertib pembangunan bangunan gedung. Dalam melaksanakan pengendalian pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah wajib menggunakan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 sebagai landasan dalam mengeluarkan persetujuan atau perizinan yang diperlukan. Terhadap aparat Pemerintah Daerah yang bertugas dalam pengendalian pembangunan bangunan gedung yang melakukan pelanggaran ketentuan dalam Pasal 3 dikenakan sanksi administrasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 7 (1) Penyelenggaraan bangunan gedung yang melanggar ketentuan-ketentuan Pasal 3 dan Pasal 4 Keputusan Menteri ini dikenakan sanksi administrasi yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 5. Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dikenakan sesuai dengan tingkat pelanggaran dapat berupa: a. Peringatan tertulis b. Pembatasan kegiatan c. Penghentian sementara kegiatan sampai dilakukannya pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung. d. Pencabutan izin yang telah dikeluarkan untok menyelenggarakan pembangunan bangunan gedung. (3) Selain sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), di dalam Peraturan Daerah dapat diatur mengenai pengenaan denda dan tindakan Pembongkaran atas terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung.

(1)

(2)

(3)

(2)

BAB III PEMB1NAAN DAN PENGAWASAN TEKNIS

Pasal 8 (1) Pembinaan dan Pengawasan Teknis untuk pelaksanaan ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 58/PRT/1991 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Teknis dan Pengawasan Teknis Bidang Pekerjaan Umum kepada Dinas Pekerjaan Umum. Pelaksanaan pembinaan teknis dan pengawasan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini didasarkan pada Rencana dan program yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Cipta Karya.
BAB IV KETENTUAN PERALIHAN

(2)

Pasal 9 Dengan berlakunya Keputusan Menteri inl, maka semua ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Keputusan Menteri ini masih tetap berlaku, sampai digantikan dengan yang baru.
BAB V KETENTUAN PENUTUP

Pasal 10 (1) (2) Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk diketahui dan dilaksanakan.
DITETAPKAN Dl PADA TANGGAL : JAKARTA : 10 NOPEMBER 1998

MENTERI PEKERJAAN UMUM

RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 441/KPTS/1998 TANGGAL 10 NOPEMBER 1998

DAFTAR ISI
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. 1 I.2 PENGERTIAN 1. Umum 2. Teknis MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud 2. Tujuan

BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II.1 PERUNTUKAN, FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Peruntukan Lokasi 2. Fungsi Bangunan 3. Klasifikasi Bangunan INTENSITAS BANGUNAN 1. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan 2. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB 3. Perhitungan KDB dan KLB GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Garis Sempadan (muka) Bangunan 2. Garis Sempadan Samping dan Belakang Bangunan 3. Pemisah di Sepanjang Halaman Depan, Samping, dan Belakang Bangunan

II.2

II.3

BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III.1 ARSITEK BANGUNAN 1. Tata Letak Bangunan 2. Bentuk Bangunan 3. Tata Ruang Dalam 4. Kelengkapan Bangunan RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. Fungsi dan Persyaratan Ruang Tebuka Hijau Pekarangan 2. Ruang Sempadan Bangunan 3. Tapak Basement 4. Hijau Pada Bangunan 5. Tata Tanaman SIRKULASI, PERTANDAAN, DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 2. Pertandaan (Signage) 3. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan

III.2

III.3

Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 4.4 IV. Kompartemensasi dan Pemisahan 5. Pondasi Bawah KEANDALAN STRUKTUR 1. Keselamatan Struktur 2. Prosedur dan Metoda IV. Sistem Pemadam Kebakaran 2. Persyaratan Struktur 2.III. Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 3.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Ketahanan Api dan Stabilitas 2. Tipe Konstruksi Tahan Api 3. Persyaratan Bahan PEMBEBANAN STRUKTUR ATAS 1. Pengendalian Asap Kebakaran 4.2 .5 IV. Pondasi Langsung 2.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1.6 BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Proteksi Bukaan SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. Kontruksi Baja 3. Dampak Penting 2.3 IV. Pusat Pengendali Kebakaran V. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi STRUKTUR BAWAH 1. Kontruksi Bangunan 2. Kontruksi Kayu 4. Keruntuhan Struktur DEMOLISI STUKTUR 1. Ketentuan UPL dan UKL 4.2 IV.4 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 1. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 5. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 5. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 3. Kriteria Demolisi 2.

Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 12. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 8. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 6.4 . Bordes 15.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. Persyaratan Keamanan 2. Lebar Tangga 10. Ambang Pintu 16. Atap sebagai Ruang Terbuka 13. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 6. Penerapan 2. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 7. Pesyaratan Kinerja KETENTUAN JALAN KELUAR 1. Pintu Ayun 20. Kebutuhan Jalan Keluar 3. Pintu 19. Ramp Pejalan Kaki 11. Tangga Luar Bangunan 9.BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Rambu pada Pintu AKSES BAGI PENYANDANG CACAT VI. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 5.2 VI. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 5. Tangga. Pintu Keluar Horisontal 12. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar 11. Jumlah Orang Yang Ditampung KONTRUKSI JALAN KELUAR 1. Fungsi 2. Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 3. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 9. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 22. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 8. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Balustrade 17. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 10. Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift 14. Lobby Bebas Asap 7. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan 13. Injakan dan Tanjakan Tangga 14.3 VI. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Pegangan Rambat pada Tangga 18. Pengoperasian Gerendel Pintu 21.

Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 4.1 INSTALANSI LISTRIK 1. Transformator Distribusi 6.3 1SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT TANDA ARAH KELUAR SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK. Instalansi Penangkal Petir 3. Instalansi Telepon 3.2 IX. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 2. TANDA ARAH KELUAR. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 8. SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. Saf Lif 7.2 BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. Lif Kebakaran 3.1 VIII.3 . Instalansi Tata Suara IX. Perencanaan Penangkal Petir 2. Beban Listrik 4. Pengujian dan Pemeliharaan TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN VII.1 LIF 1. Pemeriksaan dan Pengujian 4. Pemerikasaan dan Pengujian 7. Lif untuk Rumah Sakit 5. Perencanaan Instalansi Listrik 2.2 VIII. Pemeriksaan. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Sumber Daya Listrik 5. Jaringan Distribusi Listrik 3. PENANGKAL PETIR. Pemeliharaan INSTALANSI PENANGKAL PETIR 1.BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Sangkar Lif 6. Instalasi Listrik 9. Kapasitas Lif 2. Pemeliharaan INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1.

Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan XII. Pompa Air Bersih PERSAMPAHAN 1. BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. Jaringan Distribusi Gas Medik 3. Jenis Gas 2.1 XIII. Perencanaan Sistem Plumbing 2. Konservaasi Energi 3. Ventilasi Alami 3. Ventilasi Buatan PENGKONDISIAN UDARA 1.BAGIAN X INSTALANSI GAS X. Kebutuhan Ventilasi 2. Sampah Berbahaya XI. Pemeriksaan dan Pengujian INSTALANSI GAS MEDIK 1. Jenis Gas 2.2 XIII. Sistem Penyediaan Air Bersih 3. Alat Plambing 5.2 BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII. Jaringan Distribusi Gas Kota 3. Sistem Pembuangan Air Kotor 4. Kebutuhan Pengkondisian Udara 2.2 BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI.3 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN PENCAHAYAAN BUATAN PENCAHAYAAN ALAMI .1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 1. Penempatan pada Bangunan 2. Pewadahan 3. 1 SISTEM PLAMBING 1. Pemeriksaan dan Pengujian X. Tangki Penyediaan Air Bersih 6.1 VENTILASI 1.

1 XIV.2 KEBISINGAN GETARAN BAGIAN XV PENUTUP LAMPIRAN .4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KEBISINGAN DAN GETARAN XIV.XIII.

mengadakan pertemuan. dsb. rekreasi. termasuk struktur atap kaca. b. Umum Dalam pedoman teknis ini yang dimaksud dengan: a. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. d. Kepala Daerah adalah Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. olah raga. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. berusaha. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. bersosial-budaya. Dinas Bangunan adalah salah satu Dinas Teknis di Daerah yang diantaranya mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotoran-kotoran dapur. ii. kamar mandi. iii. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya. di atas. c. dan kegiatan lainnya. seperti keagamaan. KETENTUAN UMUM 1. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. PENGERTIAN 1. c. e. di mana: i. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. lorong ramp. d. tidak termasuk lorong tangga.I. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingka/lantai. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. . atau ruang dalam shaft. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. b. Pengawas/Penilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. Daerah adalah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta. pembinaan. Teknis a. perbelanjaan. atau Gubernur untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. 2. pendidikan.

g. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. c. k. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. h. i. ii. atau iv. l. h.f. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil. jaringan tegangan tinggi listrik. jaringan pipa gas dan sebagainya. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. iii. e. a. Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan. Batas tepi sungai/pantai. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. . Batas lahan yang dikuasai. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. d. Antar massa bangunan lainnya. g. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. b. Daerah Hijau Bangunan. f. j. Rencana saluran. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan.

Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. ii. s. n. . Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan prasarana saluran umum perkotaan. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil. o. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. p. selain kamar untuk MCK dan dapur. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. t. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. r. q. w. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan. y. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. untuk tempat kegiatan manusia. x. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. memperluas. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). Mendirikan. memperbaiki. u. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan yang dimaksud pada butir 2. program tata bangunan dan lingkungan. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada.m. v.i. Mendirikan Bangunan i.w.

Tujuan. ee. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota.z. serta keandalan bangunan. Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. dd. I. dan insulasi. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah. . integritas. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V. bb. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. Maksud Persyaratan Teknis Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Indonesia. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. aa. ii. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung. Peruntukan dan Intensitas: i. atau sejenisnya. ruang ganti. Tujuan Pedoman Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. 2. termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. Tinghat Ketahanan Api (TKA). arsitektur dan lingkungan. peralatan.1. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. yaitu meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. cc.2 dalam ukuran waktu satuan menit. Adapun tujuan dari pengaturan per-bagian adalah: a.

ketentuan wujud bangunan. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. Ketahanan terhadap Kebakaran: i. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. e.iii. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. Arsitektur dan Lingkungan: i. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. c. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. sehingga seimbang. dan lingkungan. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. Strukfur Bangunan: i. ii. ii. b. iii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. ii. menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. dan budaya daerah. menjamin keselamatan pengguna. iii. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat . menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. serasi dan selaras dengan lingkungannya. masyarakat. ii. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. d. iv.

ii. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak.iii. Sanitasi dalam Bangunan: i. f. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. iii menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. g. . h. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. dan nyaman di dalam bangunan gedung. Instalasi Gas: i. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik. i. iii. aman. ii. ii. Instalasi Listrik. apabila terjadi keadaan darurat. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. menjamin terwujudnya kebersihan. Transportasl dalam Gedung: i. ii. j. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. Tanda arah Keluar. iii. menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. Pencahayean Darurat.

ii. Pencahayaan: i. m. ii. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. Kebisingan dan Getaran: i. ii. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. l.k Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. . menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.

maka Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan gedung dengan pertimbangan: i. PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II. Persetujuan membangun tersebut berstfat sementara sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan tata ruang yang lebih makro. PERUNTUKAN. maka perlu c. Setiap pihak yang memerlukan keterangan atau ketentuan tata ruang dan tata bangunan dapat memperolehnya secara terbuka melalui Dinas Bangunan. Bagi Daerah yang belum memiliki RTRW. Apabila persetujuan yang telah diberikan terdapat ketidak sesuaian dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan kemudian. b. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah. f. Peruntukan Lokasi a. dan garis sempadan bangunan. iii. ketinggian bangunan. Dalam hal rencana-rencana tata ruang dan tata bangunan sebagaimana dimaksud pada butir b belum ada. Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR). Peruntukan lokasi sebagaimana dimaksud dalam butir a. e.II. dengan tetap mengadakan peninjauan seperlunya terhadap rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada di Daerah. d. g. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Ketentuan tata ruang dan tata bangunan ditetapkan melalui: i. . sedangkan peruntukan penunjangnya sebagaimana ditetapkan di dalam ketentuan tata bangunan yang ada di Daerah setempat atau berdasarkan pertimbangan teknis Dinas Bangunan. Bangunan gedung harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam ketentuan tata ruang dan tata bangunan dari lokasi yang bersangkutan. Peraturan bangunan setempat dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). ii. merupakan peruntukan utama.I. Keterangan atau ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir d meliputi keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan. kaidah perencanaan kota dan penataan bangunan ii. RRTR. iii. Kepala Daerah dapat memberikan pertimbangan atas ketentuan yang diperlukan. Kepala Daerah segera menyusun dan menetapkan RRTR. ataupun peraturan bangunan setempat dan RTBL. seperti kepadatan bangunan. peraturan bangunan setempat dan RTBL berdasarkan rencana tata ruang yang lebih makro.

atau sarana lain perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. h. iii. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah dan atau diatas tanah. orang. dan fungsi indung kawasan. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. Apabila di kemudian hari terdapat penetapan RTRW Daerah yang bersangkutan. memiliki sarana khusus untuk kepentingan keamanan dan keselamatan bagi pengguna bangunan. iv. tidak mengganggu keseimbangan lingkungan. saluran. ii. iii. tetap memperhatikan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. ii. iv. i. v. Bagi Daerah yang belum memilih RTRW Daerah. tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas kendaraan. v. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah tanah. maupun barang. iv. penghawaan dan pencahayaan bangunan telah memenuhi persyaratan kesehatan sesuai fungsi bangunan. tidak menimbulkan perubahan atau arus air yang dapat merusak lingkungan. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah.diadakan penyesuaian dengan resiko ditanggung oleh pemohon/pemilik bangunan. tidak untuk fungsi hunian atau tempat tinggal. Pembangunan bangunan gedung dibawah atau diatas air perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. . Pembangunan bangunan gedung diatas jalan umum. Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan pada daerah tersebut untuk jangka waktu sementara. Pembangunan bangunan gedung dibawah tanah yang melintasi sarana dan prasarana jaringan kota perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. iii. j. ii. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. maka bangunan tersebut harus disesuaikan dengan rencana tata ruang yang ditetapkan.

iv. e. b. Fungsi Bangunan a. v. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. Pembangunan bangunan gedung pada daerah hantaran udara (transmisi tegangan tinggi perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai perikut: i. dan sejenisnya. ii. iii. kenyamanan. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. dan fungsi khusus. 2. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. keamanan. perkantoran niaga. telah mempertimbangkan faktor keamaan. v. Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. dan sanitasi yang memadai. kesehatan dan aksesibilitas bagi pengguna bangunan. k. Rumah tinggal tunggal Rumah tinggal deret Rumah tinggal susun Rumah tinggal vila Rumah tinggal asrama f. iv. fungsi usaha. ii. iii. c. setelah mendapat pertimbangan teknis dari para ahli terkait. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. kesehatan. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. . tidak menimbulkan pencemaran. keamanan. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung. letak bangunan minimal 10 (sepuluh) meter diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. fungsi sosial dan budaya. kenyamanan. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. keselamatan.iv. d. letak bangunan tidak boleh melebihi atau melampaui garis sudut 45° (empat puluh lima derajat) diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan.

Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. 3. terminal udara. gedung tempat parkir. a. iv. Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. mal. gereja. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. vi. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. pertokoan. Setiap bangunan gedung. dan vihara. Bangunan Industri : industri kecil. Bangunan kebudayaan : museum. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang. sekolah dasar. dan sejenisnya. dan sejenisnya. & C. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. motel. industri sedang. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. sekolah tinggi/universitas. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. kelenteng. sosial dan budaya. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. v. pura. dan sejenisnya. iii. i. rumah bersalin. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. Bangunan Terminal: stasiun kereta. bioskop. g. B. j. poliklinik. hostel. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. keveling. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. dan sejenisnya. Bangunan peribadatan: mesjid. pelaksanaan. halte bus. Dalam suatu persil. dan sejenisnya h. sekolah lanjutan. dan sejenisnya. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: . bangunan reaktor. gedung kesenian. pelabuhan laut. Bangunan Penyimpanan: gudang. pusat perbelanjaan. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). iii. iv. industri besar/berat. dan sejenisnya. penginapan. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. ii. terminal bus. Bangunan perdagangan: pasar. rumah sakit klas A.ii. Bangunan dengan fungsi umum.

termasuk: i. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. diluar bangunan klas 6. Klas 1b : rumah asrama/kost. ruang pamer. restoran. atau 9. atau iv.i. rumah tamu. f. 8.. 7. 6. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut e. atau ii. Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. pasar. ruang makan malam. rumah asrama. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. cacat. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. . ruang penjualan. c. atau bengkel. 7. atau usaha komersial. iv. ii iii. ruang makan. rumah taman. atau ii. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. d. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api. v. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. atau panti untuk orang berumur. pengurusan administrasi. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. Klas 4 : Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. b. atau anak-anak. villa. tempat potong rambut /salon. kafe. atau iii. hostel. tempat cuci umum. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. bar. atau (2) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. termasuk i. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. rumah tamu. Klas 3: Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. termasuk rumah deret. unit town house . losmen.

laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. temmasuk bengkel kerja. Klas 9b: bangunan pertemuan. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. ii. Klas 8 : Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. atau ii. ii. kolam renang. finishing. j. termasuk: i. Klas 10 : Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah. perakitan. hall. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. bangunan budaya atau sejenis. pengepakan. Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. antena. k. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. gudang. tempat parkir umum. perubahan. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. perbaikan. carport. Klas 10b: struktur yang berupa pagar. Klas 9: Bangunan Umum Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. h. i. tonggak. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l.g. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. bangunan peribadatan. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. atau sejenisnya. yaitu: i. m. atau sejenisnya. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. dan: . Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut.

dan peraturan bangunan setempat. c. Ruang-ruang pengolah. ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II. Klas-klas 1a. meliputi ketentuan tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB). 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan a. . sedang. 9a. sedang. dan rendah. 9b. pelestarian dan lain lain. Untuk suatu kawasan atau lingkungan tertentu. iii. ruang mesin lift. kemampuannya lingkungan. ketinggian bangunan dan ketentuan tata bangunan lainnya dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan. ii.i. dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang dibedakan dalam tingkatan KLB tinggi. kemampuannya dalam menjamin kesehatan dan kenyamanan pengguna serta masyarakat pada umumnya. rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan. iii. d. dengan pertimbangan kepentingan umum dan dengan persetujuan Kepala Daerah dapat diberikan kelonggaran atau pembatasan terhadap ketentuan kepadatan. yang dibedakan dalam tingkatan KDB padat. seperti kawasan wisata. Bangunan gedung yang didirikan harus memenuhi persyaratan kepadatan dan ketinggian bangunan gedung berdasarkan rencana tata ruang wilayah Daerah yang bersangkutan. dalam mencerminkan keserasian bangunan dengan b. kemampuannya dalam menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan optimalnya intensitas pembangunan. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud pada butir c tidak diperkenankan mengganggu lalu-lintas udara. dan b' laboratorium. Persyaratan kinerja dari ketentuan kepadatan dan ketinggian bangunan ditentukan oleh: i. e. dan renggang. ii. meliputi ketentuan tentang Jumlah Lantai Bangunan (JLB). Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. Kepadatan bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. f. 1b. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. ruang mesin. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya.

Perhitungan KDB dan KLB Perhitungan KDB maupun KLB ditentukan dengan pertimbangan sebagai berikut: . daya dukung lahan/lingkungan. b. rencana tata bangunan dan lingkungan. kebijaksanasn intensitas pembangunan. maka KDB dan KLB diperhitungkan berdasarkan luas tanah di belakang garis sempadan jalan (GSJ) yang dimiliki. dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. Penetapan besarnya kepadatan dan ketinggian bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam II. Apabila KDB dan JLB/KLB belum ditetapkan dalam rencana tata ruang. dengan tetap menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan keserasian lingkungan. Kepala Daerah dapat menetapkan rencana perpetakan dalam suatu kawasan/lingkungan dengan persyaratan: i. JLB/KLB untuk pembangunan bangunan gedung diatas fasilitas umum adalah setelah mempertimbangkan keserasian. f. ii. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB a. 3. maka Kepala Daerah dapat menetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. iv. ditetapkan dengan mempertimbangkan perkembangan kota. maka lebar dan panjang persil tersebut diukur dari titik pertemuan garis perpanjangan pada sudut tersebut dan luas persil diperhitungkan berdasarkan lebar dan panjangnya. daya dukung lahan/ lingkungan. penggabungan atau pemecahan perpetakan dimungkinkan dengan ketentuan KDB dan KLB tidak dilampaui. dimungkinkan adanya pemberian dan penerimaan besaran KDB/KLB diantara perpetakan yang berdekatan. keserasian dan keamanan lingkungan serta memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan. c. dan dengan memperhitungkan keadaan lapangan. d. e. apabila perpetakan tidak ditetapkan. Dengan pertimbangan kepentingan umum dan ketertiban pembangunan.2. Dimungkinkan adanya kompensasi berupa penambahan besarnya KDB JLB/KLB bagi perpetakan tanah yang memberikan sebagian luas tanahnya untuk kepentingan umum. v. kebijaksanaan intensitas pembangunan.2. untuk memudahkan lalu lintas. setiap bangunan yang didirikan harus sesuai dengan rencana perpetakan yang telah diatur di dalam rencana tata ruang. Penetapan besamya KDB. Ketentuan besarnya KDB dan JLB/KLB dapat diperbanui sejalan dengan pertimbangan perkembangan kota. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. iii. keseimbangan dan persyaratan teknis serta mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. peraturan bangunan setempat. untuk persil-persil sudut bilamana sudut persil tersebut dilengkungkan atau disikukan.1 butir b dan c.

selama tidak melebihi l0% dari luas lantai dasar yang diperkenankan.a.20 m diatas lantai ruangan dihitung 50 %. keselamatan. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 m. ramp dan tangga terbuka dihitung 50 %. selebihnya diperhitungkan 50 % terhadap KLB. . I. perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan.50 m maka luas mendatar kelebihannya tersebut dianggap sebagai luas lantai denah. selama tidak melebihi 10 % dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan. perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar. luas tapak yang diperhitungkan adalah yang dibelakang GSJ. h. dan pendapat teknis para ahli terkait. b.20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai. asal tidak melebihi 50 % dari KLB yang ditetapkan. Dalam perhitungan ketinggian bangunan. Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah (basement) ditetapkan Kepala Daerah dengan pertimbangan keamanan. Dalam perhitungan KDB dan KLB. rencana tata bangunan dan lingkungan. dan total keseluruhan luas lantai bangunan dalam kawasan tersebut tehadap total keseluruhan luas kawasan. kesehatan. g. Mezanine yang luasnya melebihi 50 % dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1. f. luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1.3 GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock). Garis Sempadan Bangunan ditetapkan dalam rencana tata ruang. luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB. serta peraturan bangunan setempat.20 m di atas lantai ruangan tersebut dihiitung penuh 100 %. luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1. Garis Sempadan (muka) Bangunan a. k. maka ketinggian bangunan tersebut dianggap sebagai dua lantai. j. d. c. l. e. overstek atap yang melebihi lebar 1. i.

g. e. Penetapan Garis Sempadan Bangunan didasarkan pada pertimbangan keamanan. maka bagian muka bangunan harus ditempatkan pada garis tersebut. i Ketentuan besarnya GSB dapat diperbarui dengan pertimbangan perkembangan kota. Dalam hal garis sempadan pagar dan garis sempadan muka bangunan berimpit (GSB sama dengan nol). h. f. keserasian dengan lingkungan. juga menetapkan garis sempadan samping kiri dan kanan. Pada suatu kawasan/lingkungan yang diperkenankan adanya beberapa klas bangunan dan di dalam kawasan peruntukan campuran. Dalam mendirikan atau memperbarui seluruhnya atau sebagian dari suatu bangunan. dan peraturan bangunan setempat.b. tersebut belum ditetapkan. Daerah menentukan garis-garis sempadan pagar. Garis sempadan samping dan belakang bangunan a. kesehatan. d. untuk tiap-tiap klas bangunan dapat ditetapkan garis-garis sempadannya masing-masing. kesehatan dan kenyamanan. garis sempadan menara. kepentingan umum. Apabila Garis Sempadan Bangunan sebagaimana dimaksud pada butir a. c. . Daerah berwenang untuk memberikan pembebasan dari ketentuan dalam butir g. garis sempadan loteng. b. Garis Sempadan Bangunan yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam butir a. danau. Kepala Daerah dengan pertimbangan keselamatan. begitu pula garis-garis sempadan untuk pantai. garis sempadan muka bangunan. sepanjang penempatan bangunan tidak mengganggu jalan dan penataan bangunan sekitarnya. rencana tata bangunan dan lingkungan. kenyamanan. maka Kepala Daerah dapat menetapkan GSB yang bersifat sementara untuk lokasi tersebut pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. Sepanjang tidak ada jarak bebas samping maupun belakang bangunan yang ditetapkan. garis sempadan podium. serta belakang bangunan terhadap batas persil. maupun pertimbangan lain dengan mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. tidak boleh dilanggar. maka Kepala Daerah menetapkan besarnya garis sempadan tersebut dengan setelah mempertimbangkan keamanan kesehatan dan kenyamanan. yang diatur di dalam rencana tata ruang. yang ditetapkan pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. 2. sungai. jaringan umum dan lapangan umum. dan keserasian dengan lingkungan serta ketinggian bangunan.

jarak bebas di atasnya ditambah 0. maka garis sempadan samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. e. maka Kepala Daerah dapat menetapkan syarat-syarat lebih lanjut mengenai jarakjarak yang harus dipatuhi. g Jarak bebas antara dua bangunan dalam suatu tapak diatur sebagai berikut: i. dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan atau berlubang.50 m dari jarak bebas lantai di bawahnya sampai mencapai jarak bebas terjauh 12. Pada daerah intensitas bangunan rendah/renggang. disyaratkan untuk membuat dinding batas tersendiri disamping dinding batas terdahulu. ii. sisi bangunan yang didirikan harus mempunyai jarak bebas yang tidak dibangun pada kedua sisi samping kiri dan kanan serta bagian belakang yang berbatasan dengan pekarangan. iv. . Pada daerah intensitas bangunan padat/rapat. iii.5 m. pada bangunan rumah tinggal rapat tidak terdapat jarak bebas samping. maka jarak bebas samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. Pada dinding batas pekarangan tidak boleh dibuat bukaan dalam bentuk apapun. maka jarak antara dinding atau bidang tersebut minimal dua kali jarak bebas yang ditetapkan. ii.c. dan sedangkan untuk bangunan gudang serta industri dapat diatur tersendiri. bidang dinding terluar tidak boleh melampaui batas pekarangan. dan pada setiap penambahan lantai/tingkat bangunan. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. jarak bebas samping dan jarak bebas belakang ditetapkan minimum 4 m pada lantai dasar. f. d. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. sedangkan jarak bebas belakang ditentukan minimal setengah dari besarnya garis sempadan muka bangunan. diluar yang diatur dalam butir a. ii. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan. Untuk bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahanbahan/benda-benda yang mudah terbakar dan atau bahan berbahaya. untuk perbaikan atau perombakan bangunan yang semula menggunakan bangunan dinding batas bersama dengan bangunan di sebelahnya. maka jarak antara dinding tersebut minimal satu kali jarak bebas yang ditetapkan. struktur dan pondasi bangunan terluar harus berjarak sekurang-kurangnya 10 cm kearah dalam dari batas pekarangan.

dengan bagian bawahnya dapat tidak tembus pandang maksimal setinggi 1 m diatas permukaan tanah pekarangan. Kepala Daerah dapat menerapkan desain standar pemisah halaman yang dimaksudkan dalam butir a. c. 3. Tinggi pagar batas pekarangan sepanjang pekarangan samping dan belakang untuk bangunan renggang maksimal 3 m di atas permukaan tanah pekarangan.iii. e. dengan setelah mempertimbangkan hal teknis terkait. g h Untuk bangunan-bangunan tertentu. Pagar sebagaimana dimaksud pada butir e harus tembus pandang. j. dengan memperhatikan keamanan. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum .50 m di atas permukaan tanah. samping. f. dan belakang bangunan a. samping. b. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. serta keserasian lingkungan. i. Dalam hal pemisah berbentuk pagar. k. kenyamanan. d. Pemisah disepanjang halaman depan. Penggunaan kawat berduri sebagai pemisah disepanjang jalan-jalan umum tidak diperkenankan. Untuk sepanjang jalan atau kawasan tertentu. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan. . dan apabila pagar tersebut merupakan dinding bangunan rumah tinggal bertingkat tembok maksimal 7 m dari permukaan tanah pekarangan. Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. Halaman muka dari suatu bangunan harus dipisahkan dari jalan menurut cara yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. dan belakang bangunan. Dalam hal yang khusus Kepala Daerah dapat memberikan pembebasan dari ketentuan-ketentuan dalam butir a dan b. dan untuk bangunan bukan rumah tinggal termasuk untuk bangunan industri maksimal 2 m di atas permukaan tanah pekarangan. atau ditetapkan lebih rendah setelah mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan lingkungan. maka tinggi pagar pada GSJ dan antara GSJ dengan GSB pada bangunan rumah tinggal maksimal 1. Kepala Daerah menetapkan ketinggian maksimum pemisah halaman muka. Kepala Daerah dapat menetapkan lain terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir e dan f. maka jarak dinding terluar minimal setengah kali jarak bebas yang ditetapkan. Kepala Daerah berwenang untuk menetapkan syarat-syarat lebih lanjut yang berkaitan dengan desain dan spesifikasi teknis pemisah di sepanjang halaman depan.

Kepala Daerah dapat menetapkan tanpa adanya pagar pemisah halaman depan. dengan pertimbangan kepentingan kenyamanan kemudahan hubungan (aksesibilitas).l. keserasian lingkungan. . samping maupun belakang bangunan pada ruas-ruas jalan atau kawasan tertentu. dan penataan bangunan dan lingkungan yang diharapkan.

Penambahan lantai atau tingkat suatu bangunan gedung diperkenankan apabila masih memenuhi batas ketinggian yang ditetapkan dalam rencana tata ruang kota. b.1. (3) ketentuan penataan bangunan yang harus diikuti dengan memperhatikan keamanan. iv. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. iv. perlu ditetapkan penampang-penampang (profil) bangunan untuk memperoleh pemandangan jalan yang memenuhi syarat keindahan dan keserasian. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya. (4) Kekecualian kelonggaran terhadap ketentuan butir III. Tinggi rendah (peil) pekarangan harus dibuat dengan tetap menjaga keserasian lingkungan serta tidak merugikan pihak lain. . keselamatan. Pada lokasi-lokasi tertentu Kepala Daerah dapat menetapkan secara khusus arahan rencana tata bangunan dan lingkungan. keindahan dan keserasian lingkungan. iii. keselamatan. pemasangan nama proyek dan sejenisnya dengan memperhatikan keamanan. 2. Ketentuan Umum i. ARSITEKTUR BANGUNAN 1. Pada daerah / lingkungan tertentu dapat ditetapkan: (1) ketentuan khusus tentang pemagaran suatu pekarangan kosong atau sedang dibangun. Tata Letak Bangunan a. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau teladan bagi lingkungannya.iv. Bentuk Bangunan a. iii. Ketentuan Umum i.1 b. Bilamana dianggap perlu. harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku dan keserasian lingkungan. lalu lintas dan ketertiban umum.1. ii. Pada jalan-jalan tertentu. keindahan dan keserasian lingkungan.(2) dapat diberikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. ii. Penempatan bangunan gedung tidak boleh mengganggu fungsi prasarana kota. Tapak Bangunan i. dengan ketentuan tidak melebihi KLB.III. persyaratan lebih lanjut dari ketentuanketentuan ini dapat ditetapkan pelaksanaaannya oleh Kepala Daerah dengan membentuk suatu panitia khusus yang bertugas memberi nasehat teknis mengenai ketentuan tata bangunan dan lingkungan. Penambahan lantai/tingkat harus memenuhi persyaratan keamanan struktur. (2) larangan membuat batas fisik atau pagar pekarangan.

Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan dengan fungsi ruang dan arsitektur bangunannya.1. termasuk para penyandang cacat dan usia lanjut. Tata Ruang Dalam a. v. iii. .i tidak berlaku apabila sesuai fungsi bangunan diperlukan sistem pencahayaan dan penghawaan buatan. Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa. Ketentuan Umum i.b. iv. iv. Suatu bangunan gedung tertentu berdasarkan letak ketinggian dan penggunaannya.ii.1. detail. tampak. tinggi ruang diukur dari permukaan atas lantai sampai permukaan bawah dari lantai di atasnya atau sampai permukaan bawah kaso-kaso. Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan rencana tata ruang. Ketentuan pada butir II. Bentuk bangunan gedung harus dirancang sedemikian rupa sehingga setiap nuang dalam dimungkinkan menggunakan pencayahayaan dan penghawaan alami. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya. iii. v. material maupun warna bangunan harus dirancang memenuhi syarat keindahan dan keserasian lingkungan yang telah ada dan atau yang direncanakan kemudian dengan tidak menyimpang dari persyaratan fungsinya. Perancangan Bangunan i. Untuk bangunan dengan lantai banyak. Ruangan dalam bangunan harus mempunyai tinggi yang cukup untuk fungsi yang diharapkan. ii. ii. Bangunan yang didirikan sampai pada batas samping persil tampak bangunannya harus bersambungan secara serasi dengan tampak bangunan atau dinding yang telah ada di sebelahnya. 3. kulit atau selubung bangunan harus memenuhi persyaratan konservasi energi. Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut. vii. Ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir II 1. Aksesibilitas bangunan harus mempertimbangkan kemudahan bagi semua orang. b.2.ii harus tetap mengacu pada prinsipprinsip konservasi energi. Dalam hal tidak ada langit-langit. iv. Tinggi ruang adalah jarak terpendek dalam ruang diukur dari permukaan bawah langit-langit ke permukaan lantai.b. harus dilengkapi dengan perlengkapan yang berfungsi sebagai pengaman terhadap lalu lintas udara dan atau lalu lintas laut. dan atau rencana tata bangunan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut. profil. Bentuk. vi. vi. iii.2.1.

vi. ruang istirahat. Bangunan atau bagian bangunan yang mengalami perubahan perbaikan. b. Suatu bangunan pabrik sehurang-kurangnya harus dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan kakus. bangunan monumental. ix. xi. Ruang rongga atap hanya dapat diijinkan apabila penggunaannya tidak menyimpang dari fungsi utama bangunan serta memperhatikan segi kesehatan. Bangunan toko sekurang-kurang memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan toko.Jenis dan jumlah kebutuhan fasilitas penunjang yang harus disediakan pada setiap jenis penggunann bangunan ditetapkan oleh Kepala Daerah. viii. ruang ganti pakaian karyawan. keamanan dan keselamatan bangunan dan lingkungan. kegiatan keluarga bersama dan kegiatan pelayanan. ix. Perhitungan ketinggian bangunan. viii. kecuali untuk penggunaan ruang lobby. tidak boleh menyebabkan berubahnya fungsi/penggunaan utama. maka ketinggian bangunan dianggap sebagai dua lantai. kegiatan umum dan pelayanan. perkantoran. perluasan. karakter arsitektur bangunan dan bagian-bagian bangunan serta tidak boleh mengurangi atau mengganggu fungsi sarana jalan keluar/masuk. sepanjang tidak menyimpang dari penggunaan utama bangunan. Suatu bangunan gudang. x. Bangunan tempat tinggal sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan pribadi. vii. ruang umum dan ruang pelayanan. gedung sekolah. iv. penambahan. dan pertokoan). . vi. Penempatan fasilitas kamar mandi dan kakus untuk pria dan wanita harus terpisah. gedung pertemuan.v. ruang makan. ii. gedung olah raga. Tata ruang dalam untuk bangunan tempat ibadah. atau ruang pertemuan dalam bangunan komersial (antara lain hotel. Ruang-rongga atap untuk rumah tinggal harus mempunyai penghawaan dan pencahayaan alami yang memadai. serta gedung sejenis lainnya diatur secara khusus. Perubahan fungsi dan penggunaan ruang suatu bangunan atau bagian bangunan dapat diijinkan apabila masih memenuhi ketentuan penggunaan jenis bangunan dan dapat menjamin keamanan dan keselamatan bangunan serta penghuninya. gedung serbaguna. Perancangan Ruang Dalam i. vii Ruang penunjang dapat ditambahkan dengan tujuan memenuhi kebutuhan kegiatan bangunan. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 meter. iii. Ruang rongga atap dilarang dipergunakan sebagai dapur atau kegiatan lain yang potensial menimbulkan kecelakaan/ kebakaran . serta ruang pelayanan kesehatan yang memadai. gedung pertunjukan. Bangunan kantor sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan kerja. Mezanin yang luasnya melebihi 50% dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. sekurang-kurangnya harus dilengkapi dengan kamar mandi dan kakus serta nuang kebutuhan karyawawan v.

Cerobong asap dan atau gas harus dirancang memenuhi persyaratan pencegahan kebakaran. Ketentuan Umum i. Tinggi lantai dasar suatu bangunan diperkenankan mencapai maksimal 1. tidak boleh mengubah sifat dan karakter arsitektur bangunannya. dengan memperhatikan keserasian lingkungan. Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya. kenyamanan. xvii. Tinggi Lantai Denah: (1) Permukaan atas dari lantai denah (dasar) harus: (a) Sekurang-kurangnya 15 cm diatas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan. tidak dianggap sebagai penambahan tingkat bangunan. maka tinggi maksimal lantai dasar ditetapkan tersendiri. ketinggian dan penggunaannya harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan bangunan. Sarana dan Prasarana Bangunan Gedung i. tidak berlaku jika letak lantai-lantai itu lebih tinggi dari 60 cm di atas tanah yang ada di sekelilingnya. atau untuk tanah-tanah yang miring. b. xiv Pada ruang yang penggunaannya menghasilkan asap dan atau gas harus disediakan lobang hawa dan atau cerobong hawa secukupnya. Syarat-syarat teknis lebih lanjut terhadap ketentuan tersebut di atas mengikuti standar teknis yang berlaku. ketentuan dalam butir (1) tersebut. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung. Lantai tanah atau tanah dibawah lantai panggung harus ditempatkan sekurang-kurangnya 15 cm diatas tanah pekarangan serta dibuat kemiringan supaya air dapat mengalir. xviii Apabila tinggi tanah pekarangan berada di bawah titik ketinggian (peil) bebas banjir atau terdapat kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang besar pada tanah asli suatu perpetakan. (b) Sekurang-kurangnya 25 cm diatas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan. Bangunan tertentu berdasarkan letak. Setiap penggunaan ruang rongga atap yang luasnya tidak lebih dari 50% dari luas lantai di bawahnya.20 m di atas tinggi rata-rata tanah pekarangan atau tinggi rata-rata jalan. ii. (2) Dalam hal-hal yang luar biasa. xx. termasuk pengaman/ rambu-rambu terhadap lalu-lintas udara dan atau laut. 4. xiii Setiap bukaan pada ruang atap.xii. kecuali menggunakan alat bantu mekanis. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan. ii Prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitarnya iii. Tinggi ruang dalam bangunan tidak boleh kurang dari ketentuan minimum yang ditetapkan. xv. xvi. Kelengkapan Bangunan a. – xix. .

e ini belum ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan. i. sungai.2. Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. c. termasuk para penyandang cacat dan warga usia lanjut. . terhadap suatu kawasan/daerah dapat diterapkan b.1. d. sosial. pohon-pohon menahun. Setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. KDH. Sebagai ruang transisi.2. h. maka dapat dibuat ketetapan yang bersifat sementara untuk lokasi/lingkungan yang terkait dengan setiap pemmohonan bangunan. sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang. III. Ruang Terbuka Hijau adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. unsur-unsur estetik. peresapan air. KLB. Pintu masuk dan keluar area bangunan gedung harus direncanakan secara terintegrasi serta tidak mengganggu tata sirkulasi lingkungannya. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut. KDB. sirkulasi. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. v. Parkir dan ketetapan lainnya. RTHP menupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. sungai besar. ekonomi maupun estetika. j. e. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity.iv. Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaik-baiknya. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan tidak boleh dilanggar dalam mendirikan atau rnemperbaharui seluruhnya atau sebagian dari bangunan. f.1. g. Fungsi dan Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan a. tanah dan permukaan tanah. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP).2 RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. gunung dan sebagainya.e dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. Apabila Ruang Terbuka Hijau Pekarangan sebagaimana dimaksud pada butir 111. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir III.

vegetasi besar / pohon. bangunan penunjang seperti pos jaga. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan. Ruang Sempadan Bangunan a. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. Keserasian tersebut antara lain mencakup: pagar dan gerbang.pengaturan khusus untok orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. b. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. c. pengendalian bentuk estetika bangunan secara keseluruhan/ kesatuan lingkungan. 1. keselamatan pemakai dan kepentingan umum. e. dan aspek aksesibilitas. bak sampah dan papan nama bangunan. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. b. d. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. 2. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan ruang sempadan depan bangunan. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan / penanaman di atas tanah. pagar. dapat ditetapkan persyaratan khusus bagi permohonan ijin mendirikan bangunan dengan mempertimbangkan hal-hal pencagaran sumber daya alam. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. seperti dari bahaya banjir. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. tidak di dalam wadah / container yang kedap air. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap . ketentuan teknis dan kebijaksanaan Daerah setempat. jalur pejalan kaki. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat/padat. 3. tiang telepon di kedua sisi jalan / ruas jalan yang dimaksud. tiang bendera. yang Sebagai perlindungan atas sumber-sumber daya alam yang ada. Tapak Basement a. serta tergantung pada kondisi lahan. k.

ii. Setiap bangunan bukan rumah hunian diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan.5. c. iii. batang dan cabangnya rapuh. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. III. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif.2. d. 4. air. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir a. Penyediaan parkir di pekarangan tidak boleh mengurangi daerah penghijauan yang telah ditetapkan. Ketentuan Umum i.3 PERTANDAAN. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut pada butir III. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan.b Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jeni-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan. b. kestabilan tanah / wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP. Jumlah kebutuhan parkir menurut jenis bangunan ditetapkan sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan.5.a dan III. Prasarana parkir untuk suatu rumah atau bangunan tidak diperkenankan mengganggu kelancaran lalu lintas. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. . 5.2. iv. atau mengganggu lingkungan di sekitarnya.basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangun harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. Hijau Pada Bangunan a. Tata Tanaman a. b.

penghijauan. iii. Sirkulasi i. Luas. dan kendaraan pelayanan lainnya. . rambu-rambu. iii. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. Parkir i. iv. ii. iv. Jalan i. serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. penghijauan. elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman). Sirkulasi pertu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. Pedestrian i. guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. nyaman. d. dan memberikan pemandangan yang menarik. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan. dan keJelasan kontinyuitas pedestrian. memudahkan aksesibilitas. c. dll. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. Elemen pedestrian (street fumiture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki.b. aman. pedestrian dan penghijauan. e. ii. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. dan ruang terbuka umum. iii. papan informasi sirkulasi. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. iii. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. ii. ii. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan.

menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. ii. Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. fungsi dan arsitektur bangunan estetika amenity. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan a. pagar. dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. Dampak Penting a. tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. silau. dan komponen promosi. iii. Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan memperhatikan karakter lingkungan. b. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu.2. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. Pertandaan (Signage) a. motif. Kepala Daerah dapat mengatur pembatasa-pembatasan ukuran. b. menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan. berdasarkan pertimbangan ilmiah. bahan. b. atau ruang publik. dan lokasi dari signage. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang mengganggu dan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan harus dilengkapi dengan AMDAL sesuai ketentuan yang berlaku. harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan. Kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut akan: i. 3. yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan penundang-undangan yang bertaku. mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan. visual yang tidak menarik. . c. tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai ketentuan yang berlaku. III. baik yang penempatannya pada bangunan keveling. Penempatan signage termasuk papan iklan/ reklame.4 PENGELOLAAN DAMPAK LAINGKUNGAN 1. atau habitat alaminya mengalami kerusakan. atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya. c.

mudah terbakar atau bahan lain yang berbahaya. iii. . mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung. vi. Bangunan yang menurut fungsinya menggunakan. taman nasional. (2) Bangunan yang didirikan harus terletak pada jarak tertentu dari batas-batas pekarangan atau bangunan lainnya dalam pekarangan sesuai rekomendasi dinas terkait. merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi. 4.3. Kegiatan yang dimaksud pada butir III. racun. mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan. 3. (3) Bagian dinding yang terlemah dari bangunan tersebut diarahkan ke daerah yang paling aman. d. Persyaratan Bangunan i.iv. jalan kereta api dan bangunan lain di sekitarnya sesuai rekomendasi dinas teknis terkait. vii. v. ii. adalah sesuai Ketentuan pengelolaan Dampak Lingkungan yang berlaku. 2. Untuk mendirikan bangunan yang menurut fungsinya menggunakan menyimpan atau memproduksi bahan peledak dan bahan-bahan lain yang sifatnya mudah meledak. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menunut peraturan perundang-undangan. harus dapat menjamin keamanan keselamatan serta kesehatan penghuni dan lingkungannya. dapat diberikan ijin apabila: (1) Lokasi bangunan terletak di luar lingkungan perumahan atau berjarak tertentu dari jalan umum. Ketentuan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang harus melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adaiah sesuai ketentuan yang berlaku. sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memnperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari.c merupakan kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang wajib AMDAL. menyimpan atau memproduksi bahan radioaktif. suaka margasatwa.1. cagar alam. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. dan atau pemerintah.

. Sampah yang dikumpulkan di sarana pengumpulan sampah padat harus selalu dikosongkan setiap hari untuk menjamin agar lalat tidak berkembang biak dan mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lalu lintas. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah sakit di sekitarnya. Guna pemulihan cadangan air tanah dan mengurangi debit air larian. sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan. c. Sarana pongumpulan dan pongolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran pengering genangan sementara yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada. vi. harus dilengkapi dengan sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Pembuangan limbah cair dan padat i. iii. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan membangkitkan LHR >= 60 SMP per 1000 ft2 luas lantai. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah. maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang. v. ii. iv. v. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. iii. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan. b.iv. ii. atau tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan. maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan bidang resapan yang ukurannya disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 l/dt atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapat ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula.

a. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. keselamatan dan kesehatan lingkungan. d.5. dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota. .3. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir III. keselamatan dan kesehatan dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat. atau dilarang membangun bangunan. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana. bagi bangunanan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. c.5. Pengelolaan Daerah Bencana a. b. dengan memperhatikan keamanan. dengan memperhatikan keamanan.5.a dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun. daerah Banjir dan yang sejenisnya. e. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir III. dibatasi.3.

Struktur bangunan harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa. Persyaratan Struktur a. beban sementara (angin.IV. harta benda dan masih dapat diperbaiki. d. intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Struktur bangunan yang direncanakan secara umum harus memenuhi persyaratan keamanan (safety) dan kelayakan (serviceability).2 PEMBEBANAN 1 Analisa struktur harus dilakukan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban . 2. seperti : 2. dan beban-beban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. termasuk beban tetap. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. c. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain: meliputi beban gempa yang mungkin terjadi sesuai zona gempanya). keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni.beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. . gempa) dan beban khusus. Persyaratan Bahan a. b. termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. c. 1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. Struktur bangunan harus direncanakan mampu memikul semua beban dan / atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur. Penentuan mengenai jenis. Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. IV. sehingga pada kondisi pembebanan maksimum. b.

b. 2. b. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung SNI 1727. SNI -1734. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. d. STRUKTUR ATAS 1. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. SNI-3430. c. seperti: a. f. 3. d.a. Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. SNI-3976. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 2847. . Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. b. e.3 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung SNI 1726. g. SNI-2834 Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. SNI-1728 Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. SNI-1729 Tata cara / pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. IV. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. seperti: a. SNI-3449. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti: a. Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. c. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung.

i. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancangan Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-2407. 5. SNI-1745. f. Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. SNI-2395. h. SNI-2405 .b. e. d. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanean suatu bangunan yang harus dipenuhi. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. Tata Cara Perancangan Bangunan Sederhana Tahan Angin. SNI-1735. d. SNI-1963. SNI-2397. antara lain: a. SNI-2394. b. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. SNI-1736. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. SNI-2404. g. 4. b. Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut. c. Tata Cara Pencegahan Rayap pada Pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung. Tata cara/ pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. c. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Temmitisida. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. tata cara.

Pondasi Dalam a. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random.IV. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. 2. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan korelasi tipikal parameter tanah yang lain. Pondasi Langsung a. c. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. c. d. d. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan. kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi.4 STRUKTUR BAWAH 1. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. b. e. . b. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan.

Keselamatan Struktur a. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. Keruntuhan Struktur a. d. c. Keselamatan struktur tergantung pada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya. Struktur bangunan sudah tidak andal. dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau . Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan dalam pemanfaatannya. d. beban akibat perilaku manusia maupun beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. Ketidak andalan struktur akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. c. dan atau beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. Keruntuhan sruktur adalah diakibatkan oleh ketidak andalan suatu sistem atau komponen stnuktur untuk memikul beban sendiri. beban yang didukungnya.IV. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila: a. b.6 DEMOLISI STRUKTUR 1. gempa. IV. 2. beban akibat perilaku manusia. Ketidak andalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. maupun bencana lainnya. b. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandaian bangunan gedung.5 KEANDALAN STRUKTUR 1.

dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi. b. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. Prosedur dan Metoda a. metoda dan rencana demolisi struktur dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. masyarakat dan lingkungan. b.ekonomis. . Prosedur. 2. Penyusunan prosedur. Adanya perubahan peruntukan lokasi/fungsi bangunan.

iii. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. fungsi atau penggunaan bangunan. c. v. Ketahanan Api dan Stabilitas. . elemen bangunan lainnya. jumlah. iv. beban api. d. a. iii. yang sesuai dengan: i. yang menghubungkan kompartemen api.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. dan x. dan ii. ketinggian bangunan.V. vi. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran. membatasi berkembangnya asap dan panas. ix intervensi pasukan pemadam kebakaran. kedekatan dengan bangunan lain.ukuran setiap kompartemen api. fungsi atau penggunaan bangunan. vii sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. b. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api. iv. intensitas kebakaran. dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. cukup waktu untuk evakuasi penghuni secara aman. ii. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. yang sesuai dengan: i. waktu evakuasi ii. e. iii. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana/ prasarana pengamanan dan pencegahan penyebaran api. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. tingkat bahaya api. sehingga: i. ii. viii. antara bangunan. terutama pada bangunan klas 2. sampai dengan tingkat tertentu. 3 atau bagian dan bangunan klas 4: i.

intensitas kebakaran. Tipe B: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. keruntuhan tersebut dapat dihindari. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untok mencegah penjaiaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. ukuran kompartemen. sistem proteksi aktif. yaitu pada bukaan. h. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. iv. 2. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. fungsi bangunan. beban api. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian. ii. b.f. Tipe A: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. dan vi. v. j. sesuai dengan: i. . iii. i. c. tingkat bahaya api. sambungan konstruksi. Tipe Konstruksi Tahan Api. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. atau potensial dapat meledak. g.

dan . Tipe konstruksi yang diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: Tabel V.000 m2 Klas 6.500 m3 12. ii.000 m3 21.000 m2 3.1.000 m3 volume Tipe Konstruksi bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 8.1.3.7. iii. Tabel V.500 m2 2.3 Tipe Konstruksi yang diwajibkan KETINGGIAN (dalam jumlah lantai) KLAS BANGUNAN 4 atau lebih 3 2 1 4. 2.3.000 m3 33. i.4 Ukuran maksimum dari kompartemen kebakaran Klasifikasi Bangunan Maksimum luasan lantai Klas 5 atau 9b Maksimum 48.8 A B C C Kompartemenisasi dan Pemisahan Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial.000 m3 volume Maksimum 5. perambatan api dan asap.7. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan. mengendalikan kebaran api agar tidak menjelar ke bangunan lain yang berdekatan.500 m2 3.000 m2 b Pemberlakuan.000 m2 5. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran.6. agar dapat: i.9 A A B C 5. a. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10.8 atau 9a luasan lantai (kecuali daerah perawatan pasien Maksimum 30.500 m3 18.

dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir 4. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. ventilasi.000 m3 dengan sistem sprinkler. Bagian bangunan. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. 7. i. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir 4. ketentuan pada butir c. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran.000 m2 atau 108. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir i. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan. c.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut. kecuali seperti yang diijinkan pada butir d. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. tanki air. Bangunan dengan luasan melebihi 18. maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium. Batasan umum luas lantai. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir i atau ii di atas.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108. iv. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter. .4 dan butir f.e. atau peralatan Lift. d dan e tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka. d.4 bila: i. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir 4. iii. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel V. 6.e. atau ii. asap dan gas beracun.ii. Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara.e. sungai.1. (2) bangunan klas 5 s. i. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel v. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter.ii. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18.d. ii. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling. atau: ii.1. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. e.ii. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter.i yang lebamya tidak kurang dari 18 meter. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku.

Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum. yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas. dan (4) tidak ada bangunan diatasnya. dan .(2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir 4. atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi (1) s. Proteksi Bukaan a. dan tertutup pada setiap lantai. (4) di atas maka jalan tersebut dapat beriaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. 5. h. g. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. Pada bangunan klas 2 dan 3. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai.e. . kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. shaft ventilasi. b. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku.d. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. Tangga dan Lift pada satu shaft. pemisahan oleh dinding tahan api. ii. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir b.ii (3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. f. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai. bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. c. Seluruh bukaan harus dilindungi. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa.

1. damper. Pemisahan Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak. maka tidak boleh menempati lebih dari 1/3 luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir ii. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i.d. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i. lubang tirai. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. dan ii.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai. g. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel V. Sudut Terhadap Dinding 0° (dinding-dinding saling berhadapan) Lebih dari 0° s.d. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45.d. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api.5. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi. yang bukan dari klas 10. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators). 45° Lebih dari 45° s.1. ii sambungan pengendali. 135° Lebih dari 134° s.5 JARAK ANTARA BUKAAN PADA KOMPARTEMEN KEBAKARAN YANG BERBEDA e. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil. iii.000 mm2. atau (2) 1. Tabel V. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir h. bila luas lubang/sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan. f.d kurang dari 180° 180° atau lebih Jarak Minimal Antara Bukaan 6m 5m 4m 3m 2m nol . bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 m pada dinding yang sama. dan iii. berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai.d. Kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. 90° Lebih darii 90° s.

SNI 1745. Sistem hidran kebakaran. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor-bakar. kecuali pada satuan peruntukan bangunan. i. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. i. Hidran kebakaran. Pintu.2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. dan (2) terdapat regu pemadam kebakaran. Sistem Pemadam Kebakaran a. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. ii. jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis). atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-. atau (b) bangunan klas 5. (b) 2 (dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. jendela. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua). 6. (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. di mana: (a) bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian klas 4. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. dan (2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan: (1) yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku. atau .h. maka jalan masuk. (3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari: (a) 2 (dua) pompa. atau (b) motor listrik yang dicatu dari generator darurat. atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan. Bila diperlukan proteksi. ii. V. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 25 m. 7. (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan peruntukan bangunan.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup).

b. dan (b) pada bangunan klas 5. tahan cuaca. (a) pada bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian Klas 4 dilayani oleh Hose Reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut. satu unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk memudahkan petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang: (a) mempunyai jelur keluar ke jalan atau ruang terbuka. Hose Reel i. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. 6. harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. 7. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. Sistem Hose Reel harus disediakan: (1) untuk melayani seluruh bangunan. ii. atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rurnah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai klas bangunannya. serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. Sistem Hose Reel. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. dan dengan konstruksi yang mempunysi TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. dan jika dalam jarak 6 m dari bangunan. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. (2) melayani hanya lantai dimana alat ini ditempatkan. . dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. dilayani oleh Hose Reei tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat Hose Reel melayani seluruh unit hunian.(5) (6) (7) (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. kecuali pada satu unit hunian. bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. dimana satu atau lebih hidran dalam dipasang.

Bangunan Rumah Sakit. Lebih dari 2 (dua) lantai. maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel.000 m3. (b). sebuah katup yang memenuhi butir 5. 2. Sistem Sprinkler i. (b) volume ruangan lebih dari 21.2.500 m2. atau (d) kombinasi (a). Pada bangunan yang tinggi efektifnya lebih dari 25 m Dalam kompartemenisasi dengan salah satu ketentuan berikut: (a) luas lantai lebih dari 3. (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api). c.(3) (4) (5) (6) Memiliki slang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian rupa untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan Hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) diatas ditempatkan: (a) di luar bangunan. Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel V. Ruang Pertemuan Umum. atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar.d harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. Tidak termasuk lapangan parkir terbuka. sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap.1 Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua klas bangunan: 1. Ruang Pertunjukan. Luas panggung dan belakang panggung lebih dari 200 m Tiap bangunan beratrium Untuk memperoleh ukuran kompartemen . Konstruksi Atrium. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke Hose Reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam. dan (c). Termasuk lapangan parkir terbuka dalam bangunan campuran. (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air. Bila dihubungkan dengan meteran air. Teater. yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (kbs 6).

000 m3. jika: (a) sprinkler terpasang diselunuh bangunan. . (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. dan (ii) setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinker diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan (3) Katup kontrol sprinkler. selain nuang parkir terbuka Bila menampung lebih dari 40 kendaraan. luar bangunan yang diisyaratkan menggunakan sprinkler. 108. atau (b) sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikas intemal tidak disyaratkan. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan: (i) sebagian bangunan dipasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler. (4) Pasokan air.000 m2. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku. dan klasifikas bangunan sesuai standar teknis yang berlaku. (b) semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18. Ruang parkir. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan.000 m3.000 m2 den volume Bangunan berukuran begar den terpisah. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler. ·) (b) Volume lebih dari 12. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku.9 dengan luas maksimum 18. SNI-3989.000 m2 dan volume 108.yang lebih besar: (a) bangunan klas 5 . Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan: (a) setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi intema yang disyaratkan. Pada kompartemen. amat tinggi. (2) Bangunan bersprinkler. ii. dengan salah satu dari Bangunan dengan risiko bahaya kebakaran 2(dua) persyaratan : 2 (dua) persyaratan berikut: (a) Luas lantai melebihi 2. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler.000 m3.

Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran a. i. 7) Sistem sprinkler di ruang parkir. 2. atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi intemal tidak dipersyaratkan. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan .(6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper). ii. kecuali di dalam unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. SNI-3985. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan nuang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. bangunan klas 1b. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu dipasang di dalam bangunan atau bagian bangunan yang dilayani oleh Hose Reel. harus: (a) berdiri sendiri. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: i. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan Bab VIII. dengan ii. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. dan iv. iii. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektip terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. anak-anak atau orang cacat. Spesifikasi Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. dan (2) PAR dari jenis bukan klas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. ruang pertemuan umum atau semacamnya. jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku. ii. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler didaerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. bangunan klas 2 dengan persyaratan khusus. Pemadam Api Ringan (PAR) i. Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-klas. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya. bangunan klas 9a. bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yang digunakan sebagai: (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang diseluruh bangunan. d. PAR memenuhi butir i. b.

dan iv. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2.5 % smoke obscuration/m. ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap. dan iii. . dan (2) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung. termasuk didalam satuan numah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. Rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakoasi/ penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/ jalan keluar. (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. i. iii. untuk selama tenggang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia. ramp dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. Pemasangan. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. d. ruang tanaman atau sejenisnya. b. dipilih tipe foto-elektrik. ii. Penempatan Alat Pendeteksi Asap. ii. ruang kompartemen sanitasi. ditempatkan kurang dari 1. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0. Perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. ii. yaitu: (1) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan Pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung. Pada saat terjadi kebakaran. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. : Batas Ambang. lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan disetiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku. 3. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka. i. Pengendalian Asap Kebakaran a.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. Sistem sampling harus memenuhi Ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan. iii. Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yang berlaku. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µm.10 m di atas level lantai.c. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2. dan ii. Persyaratan umum i. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi. bangunan klas 1 atau 10.

ii sifat penggunaan bangunan. telepon. dan tidak mensirkulasikan asap diantara kompartemen kebakaran. 4.. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen. tidak digunakan bagi keperluan lain.3.. harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan. . sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengendalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran.2. iii. Ruang Pusat Pengendaii Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah. d. Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap klas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku. Persyaratan untuk bahaya khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: i. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel V. harus: (a) beroparasi seperti sistem pengendali asap. sebuah ruang untuk pengendalian dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penanganan kondisi darurat lainnya. ii. (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi. Konstruksi. sifat dan jumlah bahan yang disimpan.3 pada lampiran persyaratan teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i. atau ketentuan pada butir b. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran: (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v. meubel. Untuk sistem pengatur udara lainnya.iv.2. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memenuhi ketentuan standar yang berlaku. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini.3. Untuk keperluan ketentuan ini. vi. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran.2. tata letak bangunan. v. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bagi penghuni bangunan. atau ketentuan pada butir b. iii. Pusat Pengendali Kebakaran a. c. panel kontrol. dimana: b. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. dilengkapi sarana alat pengendali.

dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yang dilindungi terhadap api. saluran. pintu. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya nuang pengendali. konstruksi penutupnya dari beton. c. sistem pengamatan. . (2) telepon sambungan langsung. sakelar kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. kipas pengendali asap. d. panel indikator lif. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama.50 m. langit-langit dan dinding dalam. iii. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5). lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. pipa. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. ii. genset darurat. bukaan pada dinding. i. Sebagai tambahan. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. e. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1).1. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. ventilasi. saluran udara dan sejenisnya. ii. dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. Proteksi pada bukaan. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangunan. bahan lapis penutup. peralatan utilitas. seperti pada lantai. dan (2) sistem keamanan bangunan. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2.i. Ukuran dan sarana. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari (2) dua arah (1) arah pintu masuk di depan bangunan. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi dari dalam bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut. iii. dan sistem manajemen. sakelar pengendali jarak jauh untuk gas atau catu daya listrik. pembungkus atau sejenisnya harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. i. dinding atau sejenisnya mempunyai kekokohan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. (3) sebuah papan tulis dan sebush papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaan pada Bab V. Panel indikator kebakaran. untuk jendela.5 Pintu Keluar. tidak boleh lewat ruang tersebut. iv. ii.

Ventilasi dan pemasok daya. . tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat di capai dari ruang pengendali tersebut. g. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. (5) mempunyai catu daya listrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara perjamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. dan tingkat iluminasi diatas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) diatas. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketika kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dbA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan didalam bangunan. Sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali.50 m2. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. f. dan (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. atau ii.(2) jika hanya menampung peralatan minimum. pompa pengendali sprinkler. h. Beberapa peralatan seperti Motor bakar. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. (4) mempunyai kipas. (3) jika dipasang peralatan tambahan. i. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m dan luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1.

(2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ramp (3) Lantai bordes yang memadai uniuk menghindari keletihan (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. b.VI. e. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. b. dan memadai bagi semua orang. iii. Butir c tersebut di atas tidak berlaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai /atap. Fungsi tersebut pada butir b di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. 2. ii. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. iii. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. kecuali tangga/ramp di luar bangunan. ii. injakan dan akhiran injakan tangga. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. iv. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa meraskan keadaan darurat. atau 4. Fungsi a. Persyaratan kinerja: a.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. d. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. Butir c tersebut tidak berlaku juga untuk: i. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. c. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. c. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan maka bangunan harus mempunyai antara lain: i. Akses ke dan di dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman. ii. 3. nyaman. mampu menjaga lintasan anak-anak. aman. menerus sepanjang area yang berbahaya. . tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. nyaman dan memadai. harus dibuatkan penghalang yang: i. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1m atau lebih dari lantai/atap/melalui bukaan pada dinding luar bangunan.

Jumlah. Intervensi pasukan pemadam kebakaran Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. Jumlah. balustrade atau penghalang lainya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh . Jumlah. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1. mobilitas dan karakter penghuni. ramp. 3 dan 4. Kebutuhan Jalan Keluar a. Jarak tempuh ii. jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 1. Tangga. sesuai dengan: i. g. dimensi jelur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan . ii. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. 8: Minimal harus tersedia 2 jalan ke!uar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebih dari 25 m c. Basement: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. iii. VI. mobilitas dan karakter lain dan penghuni ii. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya. 2 .f. Persyaratan Keamanan a. c. Bangunan klas 9: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada: i. Fungsi bangunan Butir h tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. kecuali: i. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2.5 m. Tinggi bangunan Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan: i. Fungsi bangunan iv. Fungsi bangunan iv. lantai. balkon. i. b. Tangga. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan.d. h. setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. d. b Bangunan klas 2 s. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. dan ii. i.atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m.

. Panggung terbuka: Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. iv. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: i. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. Jarak jalur menuju pintu keluar a. f. pada bangunan klas 9a: tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat. atau ii. Pintu masuk dari setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari: (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. ii. b. bila bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. 1 jalan keluar. b. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. e. 4. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran a.iii. 3. atau ii. Bangunan klas 2 dan 3 i. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia.d. harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. sedikitnya 2 jalan keluar. selain area perawatan pasien. v. ii. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke: i. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan. Bagian bangunan klas 4: Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. masing-masing merupakan bagian jelur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. Area perawatan pasien: Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. 9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. Bangunan kelas 5 s. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. Bangunan klas 2 dan 3: Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. iii. g.

tersebar merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. tinggi bebas seluruhnya harus tidak kurang dari 2 m. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia. berjarak tidak lebih dari: i. d. Bangunan klas 9a: Area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. lebar bebas. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih 20 m dari pintu keluar.c. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus: a. e. dan ii. atau ruang sirkulasi lainnya. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. Bangunan klas 5 s. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. 60 m. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. dan ii. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. 9: Terkena aturan butir d. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. atau ii. 1. bila : i. 5. Gedung Pertemuan: Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. d. atau ii. berjarak tidak kurang dari 9 m. atau 6. f. b. Dimensi/ukuran Pintu Keluar. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. c. i. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. lobby. dan: i. f. memiliki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya terlindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. Pada bangunan klas 5 atau 6. 1 m. Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar: a. 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. jarsk ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m.8 m pada lorong. konstruksi ruang tersebut bebas asap. ramp. e. lebar bebas. untuk bangunan lainnya. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. Jarak maksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. 45 m pada bangunan klas 9a. . koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan c. ii. atau iii. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. Panggung Terbuka: Jarak jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbuka harus tidak lebih dari 60 m. 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. b.d.

ii. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. komponen sanitasi. kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600.8 m pada lorong. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. ii. 750 mm. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. g. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. ii. hall atau yang sejenisnya. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. (2) lebar koridor lebih dari 2. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. tidak lebih dari 20 m. ruang transisi atau yang sejenisnya. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. pada area perawatan pasien. jika membuka ke arah koridor dengan (1) lebar koridor antara 1. iii.8 m . koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. lobby umum. iii. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. 7. b. f. (2) lintasan tanpa rintangan. koridor. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. a. minus 250 mm. ke area tertutup yang: (1) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. parkir kendaraan atau sejenisnya. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir b. ke jalan atau ruang terbuka. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi: i. (2) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut. lebar bebas. lorong. c. ketempat: (1) ruang atau lantai yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. iii. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. (3) pintu keluar horisontal: 1250 mm. atau ii. bagian dinding tersebut harus mempunyai: c.2. pada kasus lain. diukur tegak lurus ke jalur lintasan. d atau e.2 m: 1070 mm. . Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung atau melawati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut: i. e. (3) mernpunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. 1. kecuali kalau pintu tersebut dari: i. lebar pintu keluar: i.d. (4) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dan 6 m. atau ii.2 m: 1200 mm. tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka. lebar bebas.

15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. jarak antara pintu keluar dari ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasii terhadap kebakaran harus tidak melampaui: i. tangga/ramp yan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang berlaku. dengan injakan dan tanjakan dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan b. Pada bangunan klas 5 s. Jika Jebih dari dua akses pintu. 3 atau 9a. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran. atau 9. 20 m dari pintu keluaar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka. d. dan memenuhi ketentuan teknis yang berlaku. bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. atau ii. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus mempunyai jalan lintasan menerus.2.5. 8 ata u 9b. bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. Pada bangunan klas 5 s d. d. 9. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke Jalan atau ruang terbuka. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. 3 atau 4. TKA sedikitnya 60/60/60. ii. Tangga/ramp. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. 8.i. c.3 harus tersedia ii.1. e. atau ii. e. Lintasan Melalui Tangga/Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. membuka ke pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud i lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. . bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. Pada bangunan klas 2. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. 30 m dan salah satu dari dua pintu atau lorong keluar bila arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah.d. Pada bangunan klas 2. tangga/ramp yang tidak diisolasi torhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari: i.

Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dan 500 orang. ii. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan. ii. atau mana yang lebih lebar. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang. Jika pintu keluar yang disyaratkan menuju ke ruang terbuka.4. Pada bangunan klas 9b. e. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terletak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya. dan c. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. terhadap kebakaran dalam bangunan. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita bagunan SD atau SLTP. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila: i.ii. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal Kasus selain butir b di atas. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ramp yang tidak diisolasi. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. b. dan bila perlu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut.14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab. Pintu keluar harus tidak terhalang. Pada bangunan klas 9a. atau tidak setinggi 1. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dan 1 m. bebas asap. Vl. 10. antara unit hunian tunggal. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantai yang dipisahkan oleh dinding tahan api Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai dengan tidak kurang dari: i. . tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. d. f. 11 Pintu Keluar Horisontal. tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. ii. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. d. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. Pada bangunan klas 2 atau 3. b.2. c. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar: arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. 2. a. jalur lintasan menuju ke jalan harus i.

2 sesuai jenis penghunian. pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. ramp. Bila ruang peralatan atau ruang. motor lif mempunyai luasan i. b. ramp atau eskalator tersebut i. iv. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. 14. lift. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan.2. . di luar bangunan. dan luas lantai dengan: a. iii. koridor. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. eskalator. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. service duct dan yang sejenis. 0. tangga. tata letak lantai tersebut.ii. pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. bila: i. dan ii. dan satu dari lapis lantai tersebut terletak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. ii. 3 lantai. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. iii. ii pada area parkir kendaraan atau atrium. 6. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini c. Ruang Peralatan Dan Ruang Motor Lift a. tidak harus menghubungkan lebih dari i. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. 8 atau 9. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. 1. d. dan eskalator. harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a b. hall. atau ii. kecuali bila dijinkan sesuai butir b atau c di atas. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. 12. Ramp Atau Eksalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran a. ii. Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. atau 13. 7.c. Tangga. lobby dan yang sejenis. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga. tidak lebih dari 100 m2. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. 2 lantai dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan.

kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD SLTP Pertokoan. sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: . tunggu r. prosesing . persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4.2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan Galeri seni. motel. dll .r. listrik.ventilasi. elktrikal. pamer : r. penjualan: Level langsung dari luar Level lainnya r. atau cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya.3 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Jenis Penggunaan Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : . arcade Panggung penonton: darah panggung Kursi penonton R.b. dari material tidak mudah terbakar. . Tabel VI.boiler/sumber tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r. manufaktur.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel. b. r. guest-house Stadion indoor area Kios Dapur. .mall. bila terjadi kenusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api.5 1 4 2 30 pabrik VI. Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. 3. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. penyimpanan r. museum Bar. kerja.r penyimpanan m2/orang 4 1 2 15 25 10 1 0. baca. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r. hostel. atau dengan konstruksi: 2. ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : staf pemeliharaan Proses manufaktur m2/orang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 bengkel 3 5 5 0.r. r. peragaan. gereja. café. laboratorium. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas. Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan. tempat cuci Perpustakaan : . telepon Kolam renang Teater dan Hall R. c. workshop . ruang pamer. r.3 1 30 1.

Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam pedoman ini. atau ke bagian bawah langit-langit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. di setiap bukaan dari area hunian. tidak harus disediakan dari tangga. Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. 7.a. c. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. maka harus: a. dan ii. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang 5. baja dengan tebal minimal 6 mm kayu: i. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. b. luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. terbentang antar balok lantai. mempunyai TKA minimal 60/60/-. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap.7 harus: a. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii. di mana: i. mempunyai luas minimal 6 m2. dan: a. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon b. b. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. b. iii. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. beton bertulang atau beton prestressed. d. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. 6. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. . yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4.2. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. harus tidak ada hubungan langsung antara i. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. b. c. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a. ii.

ii. 1:8 untuk kasus lainnya c. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. 11. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. dan sejenisnya. d. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. seperti pegangan rambat (handrail). Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. ii. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan.4 iii. 9. Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin. Ramp Pejalan Kaki a. atau koridor. di mana: . lobby. bagian dari balustrade. meter listrik. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. kecuali untuk list langit-langit. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup. 10. kecuali: i. disyaratkan. panel atau saluran distribusi. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. 8. koridor. b. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis Lebar Tangga a. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. gang. bila peralatan dimaksud terdiri atas: i. bebas halangan. disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. gang. b. motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. lebar bebas halangan. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. b. lebar dan tinggi langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. bila konstruksi yang menutup ramp. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m.c. dan iii.

tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. d. Bordes a. dan jumlah sesuai standar teknis. 16. kasus lainnya i. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. b. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii.7 m. ramp.ii. koridor. e. tanjakan. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. ambang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. b. f. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. bila: . Ambang Pintu Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. lebar minimal bordes 1. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran.6 m dan panjangnya minimal 2. ii. injakan. i. balkon dan sejenisnya. Meskipun dengan ketentuan butir a. tangga atau balkon luar ii. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. b. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. injakan dan tanjakan konstan. Bangunan klas 9a: i. ruang perawatan pasien bangunan klas 9a. ii. tangga. 15. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. 14. Balustrade a Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai.b. 12. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. atap tersebut harus a. ii. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. 13. lantai. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a. pintu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. c. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. b. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin.

7. koridor. lorong. ii.iii dan g. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. bukan pintu berputar b. Balustrade sesuai ketentuan butir e. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. Tinggi balustrade: i. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. ii. i. tangga. i. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8. g. dan harus: i. bangunan klas 9b untuk sekolah dasar.i. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i. atap. tidak dibatasi dengan dinding. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m. balkon.i. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. e. Bila menggunakan jeruji. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. c. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien.b. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. iii. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. bukan pintu gulung. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. dan ii. c. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. b. d.ii. tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. kecuali sekeliling panggung. dibuat menerus 18. bila dibuat sesuai i. balkon dan sejenisnya. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. . Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. 17. f. Balustrade pada: i. mesanin dan sejenisnya. Balustrade. Pegangan Rambat Pada Tangga a. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp. kecuali tangga/ramp luar bangunan. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii.ii. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. lantai.

membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik. harus dapat dibuka secara manual. khususnya oleh pemilik.1. 20. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. atau 8. kecuali: i. melayani kompartemen saniter. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. Bila terbuka sempurna. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. alarm kebakaran dan lainnya. iii. d. kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. kecuali: i membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii.c. lorong atau ramp. bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i. 6. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. 21. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. hanya melayani: i. c. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan bukan pintu sorong. ii. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. b. 19. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. c.2 m dari lantai. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu. ii. ii. Ayunan harus searah akses keluar. kecuali bila: a. 7. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. kecuali bangunan sekolah. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. dengan tangan. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan. dan . unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan. ii. termasuk bordes. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. b.9 . d. Pintu Ayun a. atau bagian klas 4. pintu dapat dibuka secara manual. pada bangunan klas 9b. 3. bangunan klas 9a b. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N.

i. 22. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. termasuk penyandang cacat. tersedia sistem komunikasi internal. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. Rambu Pada Pintu a. untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. ii. Rambu. b. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. 2. . VI.

Kapasitas Lif a. kecuali ii. b. 1 LIF 1. e. Sumber daya listrik untuk lif kebakaran harus direncanakan dari sumber yang berbeda. Untuk mengubah fungsi lif penumpang atau lif barang menjadi lif kebakaran. d. f. 2. g. Kecepatan dan ukuran sangkar lif kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. 3. Lif kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. dan menggunakan kabel tahan api. Kapasitas angkut lif barang yang diizinkan. dipasang ditempat yang mudah terbaca: i. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (Fire Switch) terlebih dahulu. c. Kapasitas angkut lif penumpang yang diizinkan. c. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. Jumlah dan kapasitas lif harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untak sirkulasi vertikal pada bangunan. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. Peringatan Terhadap Pengguna Lif Pada Saat Terjadi Kebakaran Tanda peringatan harus: a. b. e. Lif kebakaran dapat berupa lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur. dekat setiap tombol panggil untuk lif penumpang atau kelompok dari lif ada bangunan. Waktu tunggu lif. harus menjadi kapasitas angkut dari lif dimaksud. d.VII. Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin. lif kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. Persyaratan teknis dari lif yang digunakan sebagai lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Pintu saf lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan peraturan yang berlaku di Indonesia. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petuugas Kebakaran. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. . harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. Lift Kebakaran a.

misalnya bangunan Kelas 9a. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai Lif pasien yang dibutuhkan pada butir a. 1. kayu. berukuran cukup untuk meletakkan fasilitas kereta dorong ( wheel strecther) secara horisontal ii. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar Vll. telepon.DILARANG MENGGUNAKAN LIF BILA TERJADI KEBAKARAN 10 mm 8 mm ATAU Dilarang menggunakan Lif bila terjadi Kebakaran Gambar VII. Mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 Kg. Lif yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. 4. . Untuk saf lif yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. 6. berupa bel listrik. Saf Lif a. harus: i. Sangkar Lif Sangkar pada setiap lif harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar. dan terdiri dari i. setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. huruf yang diukir. bila diperlukan. Satu atau beberapa lif harus di pasang sebagai lif pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan ramp. atau ii huruf yang diukir atau ditatah langsung dipermukaan bahan dinding iii. b. ditatah atau huruf timbul pada logam. dan iii. 5. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung ditempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan. Dalam saf lif dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lif. b. 1 Tanda Peringatan Lif Penumpang b. Lif Untuk Rumah Sakit a. plastic atau sejenisnya dan dipasang tetap didinding.

Prosedur pemeriksaan. Instalasi Listrik a. c.7. panel kontrol. tromol tali. ii. . untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. pondasi untuk mesin. dengan beban sangkar lif. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada semua arah gaya d. Pemeriksaan. motor generator. 8. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban dibawah ini: i. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. Bangunan ruang mesin lif harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. atau disamping ruang luncur di lantai bawah. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. ii. Jika mesin lif dan tali diempatkan di lantai bawah. Balok. tromol. c. b. termasuk lantai ruang mesin. governor dan peralatan lain. b. Instalasi listrik untuk lif harus dilengkapi dengan pengaman harus lebih atau sakelar otomatis. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). iii. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali baban berat pada arah sejajar. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap nuang mesin lif. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. Semua bagian logam dari lif pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. iv. Pengujian Dan Pemeliharaan a. Instalasi lif yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. b. Pondasi harus menyangga berat mesin. 9. Beban diperhitungkan pada saat bandul mekanis governor) bekerja. pengujian dan pemeliharaan instalasi lif sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 03-2190-1991.2 TANGGA DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan Teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. lantai dan penyangga di Ruang mesin harus di rencanakan dengan memenuhi: i. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang. peralatan lain dan lantai diatasnya. iii. Mesin Lif Dan Ruang Mesin Lif a. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lif. Vll.

pencahayaan darurat digunakan pada tanda KELUAR. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 tetapi kurang 300 m2 yang terbuka: i. harus: a. hall. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. harus : a. TANDA ARAH KELUAR. lorong atau ramp yang digunakan untuk Keluar iii. atau iv. 3. bangunan kelas 9a. atau ramp yang digunakan untuk ii tangga luar. koridor. DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi daari kerusakan karena api dengan konstsruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. tangga yang tertutup.1 SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT 1. atau sejenisnya yang digunakan pasien. ii. Jelas. dan harus dipasang diatas atau di dekat setiap: a. ruang yang mempunyai luas lebih dari 300 m2. yaitu pada: i. ke koridor. Tanda KELUAR harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. bekerja secara otomatis b. ke jalan raya. 2. PENCAHAYAAN DARURAT. 2. dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu. ke ruang terbuka. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. Sistem lampu darurat dipasang pada: a b. jika menggunakan sistem terpusat.VIII. atau ii ke ruang yang mempunyai lampu darurat.2 TANDA ARAH KELUAR 1. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai keluar i. mudah dibaca. Setiap lampu darurat. c jalan lintas. mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan. . b c. e. bangunan kelas 2 atau 3. jalan keluar di balkon yang menuju Keluar. Setiap tanda “KELUAR” dibutuhkan. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien d. VIII. mempunyai tigkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. lorong. c. atau iii. setiap lorong.

dan: Jalan keluar horisontal. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petugas b. untuk gedung pertunjukan. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. maka tanda Keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. anak-anak. dan: Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan KELUAR" pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai VIII. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju Jalan raya atau ruang terbuka. hall umum. kecuali bila sistemnya a. hall. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan sesuai dengan tipe dan kondisi pasien Bangunan Kelas 9b a. di daerah bangsal perawatan. akomodasi untuk orang tua. langsung memberikan peringatan pada petugas. Bangunan Kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua: a. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m Bangunan Kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari dua lapis dan a. sistem alarm diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. 4. b. atau orang cacat. VIII.1 3. lobi. atau b. bagian rumah dari sekolahan. atau sejenisnya. d. lorong. . 3. Jika tanda “KELUAR" tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. 5. untuk sekolah. c. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari tiga b. 2. Pintu dari tangga tertutup. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua.b.

maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. bagian bangunan dan instalasi lainnya. 2. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik harus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran. sistem komunikasi darurat. tombol. Jaringan Distribusi Listrik a. Semua peralatan listrik diantaranya penghantar. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. alat ukur. Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketantuan: a. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. Jaringan yang melayani beban penting. dengan frekuensi 50 Hertz. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. papan hubung bagi dan beban listrik. PENANGKAL PETIR DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. lif kebakaran. Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang.1 INSTALASI LISTRIK 1. dipelihara. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api. tidak membahayakan. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya e. ukuran dan kemampuan. seperti pompa kebakaran. transformator dan peralatan lainnya. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. c. dengan frekuensi 50 Hertz. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. dapat menggunakan ketentuan/ standar dari negara lain atau badan international. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. b. papan hubung bagi dan isinya . b.IX. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. peralatan pengendali asap. jaringan distribusi. c. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak dan busduct dari berbagai tipe. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. . sistem deteksi dan alarm kebakaran. lingkungan. INSTALASI LISTRIK. mengganggu dan merugikan bagi manusia. d.

Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3. yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau nomalisasi dari peraturan yang berlaku. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding. d. . faktor kebersamaan (coincident factor) atau faktor ketidak bersamaan (diversity factor). c. g. f. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak momungkinkan. dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang.3. Transformator Distribusi a. b. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi golombang elektromanetik dan lain-lain. atap dan lantai yang kokoh. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. Sumber Daya Listrik a. 5. secara otomatis. c. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listrik tidak boleh putus. 4. di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. dengan ijin instansi yang bersangkutan. Pemeriksaan Dan Pengujian Instalasi listrik yang dipasang. sebelum dipergunakan. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila tajadi gangguan sumber utama. dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri. 6. b. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. e.

bagian bangunan dan instalasi lain. b. mengganggu dan merugikan lingkungan. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. b. 2. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang c. bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai risiko terkena sambaran petir. harus memperhatikan arsitektur bangunan. Instalasi Penangkal Petir a. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. c. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. b.3 INSTANSI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG. Ha-hal yang belum diatur didalam peraturan tersebut diatas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. Pemeliharaan a.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. termasuk manusia yang ada di dalamnya. 1. Perencanaan Penangkal Petir a. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. serta direncanakan . Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan. b. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harus mudah diamati. harus diberi instalasi penangkal petir. terhadap bahaya sambaran petir. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. IX. harus mengacu pada rekomendasi dari badan International seperti IEC. dan instalasi lainnya.7. sifat geografis. tidak membahayakan. serta diberi ventilasi cukup. Pada ruang panel hubung bagi. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. IX. 3. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung a. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. dipelihara. perbaikan dan pelayanan.

harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran.b. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. Instalasi Tata Suara a. c.50 m x 0. Instalasi Telpon a. iii. aman dan mudah dikerjakan. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. b. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. ii. minimal berjarak 0. 2. terang. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. . Secara berkala dilakukan pengukuran/ pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). terang. 3.80m. Ruang batere sistem telepon harus bersih. Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a diatas harus menggunakan sistem khusus. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan. tidak ada genangan air. Ruang yang bersih. iii. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: i. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. dan lain-lain. b. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. atau terdiri dari kabel tahan api. Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. ii. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m keatas. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. kedap debu. c.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi Persyaratan: i. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. d. c. dan dilaksanakan berdasarkan standar. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan.

Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter-gas ke peralatan ii. Panjang pipa dan jumlah sambungan. Jaringan Distribusi Gas Kota a. adalah : a. terdiri dari propane (C3H8) dan Butane (C4H10).1 INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. Pada instalasi gas untuk pembakaran. Gas elpiji. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. X. b. Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter-gas dan peralatan-peralatan pengguna gas. serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. Faktor diversifikasi (diversity factor). Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter-gas)mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut.2 INSTALASI GAS MEDIK 1. Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. Gas nitrous Oxida (N2O) c. INSTALASI GAS X. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. Udara tekan . Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas). c. iv. Jenis Gas Jenis gas medik yang dimaksud. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2He ). Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi: a. iii. vi. Gas elpiji (LPG = Liquefied Petroleum Gasses). harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang secara otomatis mematikan aliran gas. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. b. Rancangan sistem distribusi gas pembakaran. Berat jenis dari gas. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan.X. v. Gas oxigen b. 2. 3.

e. Vakum 2. 3. Jaringan Distribusi Gas Medik a. Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. khususnya untuk instalasi pipa oksigen.d. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang . pipa Nitrous Oxida dan pipa udara tekan. b. Pada instalasi gas medik harus dilengkap peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyarat tanda kebocoran gas. Pada instalasi pipa gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. c. d. seperti untuk ruang bedah orthopedi. peralatan rawat gigi dan sebagainya. Kebutuhan gas medik garus disesuaikan dengan kebutuhan untuk asien rawat inap dan kebutuhan lain. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. pemilihan bahan dan kontruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. Rancangan sistem distribusi gas medik.

c. maksimum 60° C. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. 2. alat plambing dapat bekerja dengan baik. tidak mengganggu lingkungan. petunjuk teknik. SANITASI DALAM GEDUNG XI. Apabila kapasitas dan atau tekanan sumber yang digunakan tidak memenuhi kapasitas dan tekanan minimal pada titik pengaturan keluar. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. Kualitas air bersih yang dialirkan ke alat plambing dan perlengkapan plambing harus memenuhi standar kualitas air minum yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang. Pipa pembawa air panas yang cukup panjang tersebut harus dilapisi dengan bahan isolasi.1. dan apabila sumber air bukan dari PAM. b. f. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. maka harus dipasang sistem tanki persediaan air dan pompa yang direncanakan dan ditempatkan sehingga dapat memberikan kapasitas dan tekanan yang optimal. SISTEM PLAMBING 1.XI. . Sistem Penyediaan Air Bersih a. kecuali untuk penggunaan khusus. g. d. sedangkan untuk kelas bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. Sistem distribusi air harus direncanakan sehingga dengan kapasitas dan tekanan air yang minimal. meliputi sistem air bersih. serta diperhitungkan berdasarkan standar. b. sebelum digunakan harus mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang. Kebutuhan air bersih untuk perumahan berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. maka harus dilengkapi dengan pipa sirkulasi. Sumber air bersih pada bangunan harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). e. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. Perencanaan Sistem Plambing a. dimana pipa pembawa air panas dari sumber air panas ke alat plambing cukup panjang. Bangunan yang dilengkapi dengan sistem penyediaan air panas. Temperatur air panas yang keluar dari alat plambing harus diatur.

Sistem air kotor didalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa ven untuk menetralisir tekanan udara didalam saluran tersebut. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang akan dialirkan. d. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. . f. tahan terhadap karat dan panas. baja maupun bahan lainnya yang tidak mudah rusak. PE. Pemeliharaan sistem air kotor dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya penyumbatan. Semua sistem pelayanan air bersih harus direncanakan. b. Air kotor yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. baik tempat mandi cuci. c. tanah liat. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunaannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. kakus maupun kegiatan lainnya. Saluran air kotor dapat benupa pipa atau saluran lainnya. Sistem pengaliran air kotor direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. sesuai dengan petunjuk teknis dari bahan pipa yang bersangkutan dan ketentuan-ketentuan lain yang berlaku di Indonesia. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan. besi tuang. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi.h. baik dari bahan PVC. besi lapis galvanis atau Tembaga. g. harus ditangani secara khusus. karat dan kebocoran. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. h. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja. tidak mengandung bahan beracun dan pemasangannya harus sesuai dengan petunjuk teknis bahan pipa yang bersangkutan. dipasang dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tidak mudah rusak dan tidak terkontaminasi dari bahan yang dapat memperburuk kualitas air bersih. serta yang mengandung radioaktif. Pada dasarnya air kotor berasal dari aktivitas manusia. j. Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilaksanakan. tembaga. PE (poli-etilena). e. i. beton. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. i. Sistem Pembuangan Air Kotor a. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. 3.

minuman bahan steril atau bahan sejenis lainnya. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. harus dilakukan secara berkala untuk menjamin kebersihan dan bekerjanya alat tersebut dengan baik. serta dilengkapi dengan 1ubang pemeriksa. Tangki penyediaan air bersih harus diiengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar. Bahan alat plambing harus mempunyai permukaan yang halus dan rapat air. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. 5. c. perlengkapan bangunan. Apabila tangki penyediaan air bersih menggunakan bahan lapisan untuk mencegah kebocoran dan karat. seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. . harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. d. e. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. Tangki penyediaan air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediakan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. d. pipa penguras dan pipa ven. Konstnuksi dan bahan tanki penyediaan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. Bahan tangki dapat berupa beton. c. b. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. babas dari kerusakan dan tidak mempunyai bagian kotor yang tersembunyi. pipa peluap. Alat Plambing a. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempat-tempat yang dapat menimbulkan pencemaran. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. Pada pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak. fiberglass dan kayu. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak dan lemak. g. Tangki Penyediaan Air Bersih a. f. b. e. Pemeliharaan semua alat plambing. Fungsi tangki penyediaan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. baja.4. bahan tersebut tidak boleh memperburuk kualitas air bersih. tahan lama untuk digunakan.

maka harus dilakukan cara-cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang 2. maka dapat menggunakan sistem perpompaan. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. Kemiringan saluran harus dibuat.2 Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effsiensi yang maksimal. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. SALURAN AIR HUJAN. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. c. b. d. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebab-sebab lain yang dapat diterima. c. Fungsi pompa air kotor adalah menyalurkan air ke saluran air kotor umum Kota atau ke bangunan pengolahan air lainnya. Pompa a.6. Persyaratan Saluran a. yang tanki kotor kotor b. Fungsi pompa air bersih adalah memberikan kapasitas dan tekanan cukup pada sistem penyediaan air bersih atau menyalurkan air ke penyediaan air bersih. dan pada saluran yang lurus. 1. c. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa. b Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup. Kelengkapan pada Bangunan a. lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. pipa isap dan pipa keluaran pompa. Apabila saluran dibuat tertutup. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku. e. XI. .

peti kemas fiberglass. Khusus untuk bahan seng. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Sampah Berbahaya Untuk sampah padat yang dikatagorikan sebagai jenis buangan berbahaya dan beracun (sampah B3). Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. Bahan saluran dapat berupa PVC. seng. tanah liat. peti kemas baja. c. tidak mudah rusak. Bentuk pewadahan sampah harus disesuaikan untuk kemudahan pengangkutan sampah oleh Dinas Kebersihan Kota. penempatan dan pembuangannya harus ditangani secara khusus sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sementara harus dihitung berdasarkan jenis bangunan dan jumlah penghuninya. Penempatan pada Bangunan Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas pewadahan dan atau penampungan sampah sementara yang memadai. 3. 3. b. dan pasangan bata atau beton. beton. Tempat pewadahan sampah harus terbuat dari bahan kedap air. . besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. besi dan baja. Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni. XI. 2. atau Pengelola Pengangkutan Sampah. fiberglass.3 PERSAMPAHAN 1. pasangan. mempunyai tutup dan mudah diangkut.d. Pewadahan a. sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

pelataran parkir. ii ke arah. b. Bangunan klas 2.1. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. bukaan. Ventilasi alami sesuai dengan butir XII. (2) teras terbuka. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang diventilasi. dengan jarak tidak lebih dari 3. pintu atau sarana bukaan lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10% dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. . ii. (3) ruangan bersebelahan dengan jendela.1 VENTILASI 1. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3. (3) Luas ventilasi yang diatur pada butir (1 ) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya. (2) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai. (1) jendela. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. atau daerah yang terbuka ke atas. Penerapan ventilasi alami. bukaan. Ventilasi Alami a. VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. bukaan. bukaan pintu ventilasi.XII. jendela. (1) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sanitasi. bukaan. 2. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 10% luas lantai kedua ruangan tersebut. dan: i. 8 atau 9.6 m diatas lantai. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi. Kebutahan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai: a. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai lantai kedua ruangan tersebut. (2) jendela. 7. 6.2 di bawah ini atau b. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka i. dan yang sejenis. Bangunan kelas 5.

jika berada dibawah lantai dasar. sekolah TK atau panggung terbuka). harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/halaman dibawah lantai dasar. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. sekolah TK atau panggung terbuka). atau (2) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam. koridor atau ruang lainnya. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah: i. f. sistem ventilasi alami permanen yang memadai. ii. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan. (1) jalan masuk harus melalui ruang antara. e. 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. ii ruang makan umum atau restoran. . Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4. g. ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. iii.c. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: i. v. setiap peralatan masak yang mempunyai: (1) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman. ii. atau ii. atau iii. 7. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yang dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya: i. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang berlaku. asrama pada bangunan Kelas 3. d. dapur atau pantry. pada bangunan Kelas 5. jika: i. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan: i. (1) jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. iv.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. 6. sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai.

dan standar teknis lain yang berlaku. rumah sakit. PENGKONDISIAN UDARA 1. atau (2) 1. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam.60 meter diatas lantai. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi. c. Konservasi Energi a. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. Bilamana digunakan ventilasi buatan. b. pabrik. total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak. Besamya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku. f. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. pemilihan peralatan. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya.8 MJ/jam untuk daya gas.5 kW untuk daya listrik. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. XII. lebih dari: (1) 0. dan minimal 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. c. kantor. 3.2 2. atau sebaliknya. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar.ii. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang berlaku. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. d. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai. toko. e. . Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan a. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. 3. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. Ventilasi buatan a. b.

sistem kontrol. . (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem Fan. ii. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Penetapan sistem dan peralatan. Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya. iii. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku. (2) Semua saluran udara harus direncanakan.b. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. isolasi pemipaan. . Dasar perancangan i. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan. sistem pompa dan pemipaan. sistem distribusi udara.

. i.XIII. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. pencahayaan luar untuk monumen publik. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi: a. 1. pencahayaan untuk rambu-rambu. seperti proses produksi dan penyimpanan. museum dan monumen.00 pagi. e. g. m. pencahayaan di unit pengeboran. Kamar. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. penyiaran televisi. 2. k. meliputi: a. klub malam. seperti: i. 1. ruangan. dsb. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan buatan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan beban pendinginan bangunan. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. pintu masuk ii. ruangan didalam bangunan b. pintu ketuar. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dan fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. pencahayaan khusus laboratorium. c. b. PENCAHAYAAN BUATAN. PENCAHAYAAN XIII.2 2. j. taman dan daerah bagian luar lainnya. gallery. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus. kegiatan diluar bangunan. selama operasi normal. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan knalitas tampilan. pencahayaan untuk pembuatan film. jalan. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. f. efektif dan sesuai dengan kebutuhan ruangan. d. c. tempat bongkar muat barang.00 malam sampai jam 06. Kamar. n.1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. pencahayaan untuk pameran seni. iii. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. pencahayaan darurat yang secara otomatis mati. daerah luar bangunan. Tingkat Iluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung XIII. fasilitas luar untuk olahraga.

3. jenis reflektor yang efisien. Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Pengendalian silau pada bangunan. 2. 6. baik dari sumber sinar matahari langsung. . Untuk fasilitas banyak bangunan. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Penentuan besanya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI-2396 tentang Penerangan Alami Siang hari untuk Rumah dan Gedung. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. balas. b. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan: a. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan monggunakan sumber pencahayaan yang tepat. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung.3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya. a. mempunysi karakteristik distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidak nyamanan karena silau atau pantulan. c. 4. 5. obyek luar. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. 3. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan. Pemanfaatan pencahayaan alami Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. b. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor aluminium anodized berkualitas tinggi. Jika perlu. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan atau kaca ganda. langit yang cerah. 7. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. dan reflaktor yang efisien. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut. XIII.

Letak pengendali harus mudah dicapai. pertokoan. Pengendali otomatis. Semua sistem pencahayaan. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut: a. kecuali: a. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik. kecuali yang diperlukan untak pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu “KELUAR”. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. pasar swalayan. e. c. Pengendali yang memerlukan operator yang terlatih. kecuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. d. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafond harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. c. . d. b. gudang dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). otomatis atau yang terprogram. Pengendali yang diprogram.XIII. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang tedetak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendali untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus menerus. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell). Pengendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. Pengendali haruss digunakan sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami. Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap group yang melayani luasan 30 m atau kurang. 1.4 PENGENDALIAAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN. hotel dan rumah sakit. f. Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut. harus dilengkapi dengan pengendali manual. 2. e. Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama didekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. Pengendali dipusatkan di lokasi yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. b.

XIV. KEBISINGAN DAN GETARAN
XIV. 1. KEBISINGAN 1. Baku Tingkat Kebisingan a. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. b. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut berlaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2

XIV.2

GETARAN 1. Baku Tingkat Getaran a. Sala satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. b. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut, berlaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2.

XV. KETENTUAN PENUTUP

XV.1

Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Bab-bab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI), pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi, tata cara, dan metode uji bangunan, komponen, elemen, serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatif serta penyesuaian penyesuaian yang diperlukan terhadap Persyaratan Teknis Bangunan Gedung diharapkan untuk dikembangkan oleh masing-masing Daerah disesuaikan dengan kondisi, permasalahan, kebutuhan, dan kesiapan kelembagaan di setiap Daerah.

XV.2

MENTERI PEKERJAAN UMUM ttd. RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN
TABEL V.2.3 PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. KETENTUAN UMUM
PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk: 1. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. Setiap lantai di atas tinggi efektif 25m, atau b. lebih dari 2 lantai di bawah tanah, atau c. atrium, atau d. bangunan klas 9a yang > 2 lantai, dan 2. jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka, harus dilengkapi dengan: 1. Sistem presurisasi otomatis, atau 2. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir Vl.3. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF >25 M Klas. 2, 3, den 4. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 2. Bila panjang koridor umum > 40 m, harus dibagi dengan interval < 40 m, dengan konstruksi sesuai ketentuan V.1.3, kecuali bahan pelapis dan bahan yang tidak mudah terbakar Klas5,6, 7,8,dan 9b (selain ruang/tempat parkir) Klas 9a 1. Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis, dan 2. Sistem pengendali asap tezona sesuai ketentuan yang berlaku

KLAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang Diisolasi terhadap kebakaran

BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Klas 2, 3, den 4 1. Harus dilengkapi dengan alarm dan detekai asap otomatis, dan 2. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran den bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan Kas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8, atau 9b, maka: a. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap Jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomati, atau b. Klas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8 dan 9b harus

Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat klas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/pengguna yang banyak. Sistem sprinkler. Pada bangunan: 1. atau ii. Klas 6. atau 2. atau 3. Sistem detektor dan alarm asap. sistem sprinkler 3. bila basement mempunyai lebih daari satu kompartemen kebakaran. termasuk jlan penghubung dan rampnya. Sistem sprinkler 1. Basement dengan luas > 200 m2 harus dilengkapi dengan: a. karakter khusus bangunan b. atau b.dilengkapi dengan i. Klas 6. 7. 8. Sistem pengendali asap terzona. bila bangunan mempunyai lebih dari satu komprtemen kebakaran. Sistem sesuai butir 2. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a. dipajang. Bila > 2 lapis dibawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. atau 3. 2. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan.b. Sistem sprinkler 1. atau digunakan dalam bangunan d. diatas harus dipasang. atau iii. atau b. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen Klas 5. 7. atau 2. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan klas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan klas 5. dan 9b (selain ruang/tempat parkir Klas 9a BASEMENT (selain ruang/tempat parkir) . 6. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Sistem pengendali asap terzona. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau 9b. atau 9b (selain sekolah) maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai. 8. Sistem pengendali asap terzona. dan 2. Klas 5 atau 9b (sekolah) dan b. 8. atau 4. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau 2. 7 (bukan tempat parkir terbuka). harus dipasang: a. atau ii. 6. fungsi khusus bangunan c. 3. Klas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > 3 lantai. 7. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan: a.a. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau b. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. 8. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detekotr asap bekerja. Sistem presurisasi udara otomatis. harus dipasang: 1. Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. Bila bangunan >2 lantai. maka: a.

dan toko (selain pada ketentuan 3 ) yang tidak membuka ke arah selasar terlindung. dan b. Bangunan satu lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. sistem pembuangan asap otomaatis. Bangunan klab malam. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. bangunan 1 lantai. dipasang sistem sprinkler 3. Bangunan Pertemuan . Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3. sistem deteksi alarm kebakaran. bila: a. sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomaatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. harus dilengkapi dengan: a. atau 2. bangunan 2 lantai atau kurang. dan: i. Selasar terlindung. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. dan b. dipasang sistem sprinkler 2. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3. Kompartemen kebakaran > 2. dan sejenis. yang dilengkapi dengan sisitem ventilasi mekanis sesuai ketentuan: 1. termasuk ruang parkir dibawah tanah. sistem pembuangan asap otomatis.000m2 yang membuka ke arah selasar terlindung. KETENTUAN KHUSUS KLAS/BAGIAN BANGUNAN Klas 6. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka 1. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. harus dilengkapi dengan: a.kecuali yang ditetapkan pada butir 2.000 m2.000 m2. Bila bangunan 1 lantai. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. harus dilengkapi dengan: a. atau ii. Kompartemen Kebakaran > 2. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. toko dengan luas > 1. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. atau c.Ruang/tempat parkir Atrium kebakaran Ruang/tempat parkir.000m2.500 m2. diskotek. bila bangunan 1 lantai. dan 2. atau lubang-lubang Klas 6. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi.000 m2. sistem pembuangan asap otomatis. bila: a. luas bangunan < 2. sistem peringatan kondisi darurat. dan b. atau b. luas lantai < 2. tidak terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. sistem inter komunikasi darurat. Setiap kompartemen kebakaran. terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko Klas 9b. 1. atau b.500 m2 dan bangunan 2 lantaai atau kurang.

harus dilengkapi dengan a. termasuk theater kuliah dan komplek auditorium: a. dan c. sistem sprinkler. dengan luas > 300m2 atau b. atau harus dilengkapi dengan: i. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. dan b. Bila luas bangunan 2. Bila luas bangunan > 3. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. pada bangunan sekolah. atau iii. Bukan pada bangunan sekolah. atau ii. atau sistem sprinkler. sistem pembuang asap otomatis. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis. diatas. bilang bangunan 1 lantai 3. Bangunan pertemuan lainnya (diluar butir 3 dan 4 diatas): a. idem 1. selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2. ruang senam. Bangunan theater atau tempaat pertemuan/hall umum: a. sistem pengelola udara mekanis yang bukan meru-pakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shutdown) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. bila bangunan 1 lantai. sistem pembuang asap otomatis.000-3.500 m2. atau iii. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2. sistem pembuang asap otomatis. . 5.000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. bila bangunan 1 lantai. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Gereja.ventilasi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. Mesjid dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. sistem pembuang asap otomatis. dipasang sistem sprinkler dan i. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a diatas adalah: i. atau sistem sprinkler 2. dan b. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. atau ii. Bangunan pameran. lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. gereja.a.000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seperti butir 4. kolam renang dan sejenis) selain dari gedung olahraga(indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1. kompleks olahraga (termasuk hall olah raga. atau ii.500m2 i.b diatas b. gereja. dengan luas > 200 m2. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung.000 m2 i. bila bangunaan 1 lantai 4.000 ii. bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5. atau ii.

DJCK. Dep. Bintek.TIM PENYUSUN PEDOMAN TEKNIS PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG Pembina Ir. MSc Kelompok Kerja Ir. SH Ir. Harlansyah Soerarso. M. Bitnek. Dep. PU Puslitbangkim. Achmad Lanti. Dep. DJCK Dit. PU Biro Hukum. PU Kepala Biro Hukum. DJCK. PU Dit. Jacob Ruzuar. Hari Sidharta. Tulus Rachmat S Ir. PU Puslitbangkim. P. Dep. PU Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) . Bambang Guritno. PU Dit. Bintek. Dep. PU Kepala Puslitbangkim. Dep. MSc Ir. Binlak Wilayah Tengah . Achid Winarno Ir. Rusdi Marzuki Ir. MPA Ir. Hari Sasongko Suwarmo S. Sidjabat Ir. J. MSc Ir. Sefiawan Kanani Ir. CES Ir. Erry Saptaria Achyar. MCM Ir G. Imam S. Roestanto Wahidi D. Dep. Dep. DJCK Bagian Hukum. Adjar Prajudi. MSc. Rachmadi BS. H. PU Sekretaris Ditjen Cipta Karya. Balitbang. Pelaksana Ir. FRAIA Ir. Sardjono Hadi Sugondo Ir. Sukartono Ir. PU Puslitbangkim. G. Wiedodo Ir. Dep. DJCK. Binlak Wilayah Barat. Sutikni Utoro Wibisono Setio Wibowo. MSc Ir. Ernawi. PU Dit. Dipl. Prawoto Menteri Pekerjaan Umum Direktur Jenderal Cipta Karya. Dipl. Balitbang. Eko Djuli Sasongko Ir. PU Dit. Dep. Setjen Dep. Antonius Budiono. Pengarah Drs. Dipl. DJCK. DJCK Dit. DJCK. L. Balitbang. Sunaryo Sumadji. DJCK. B. Bitnek. Dep.Arch. Hendro Moeljono Ir. Renyansih Ny. Binlak Wilayah Timur. Eng. J. PU Staf Ahli Menteri PU V Bidang Pengembangan Jasa Konstruksi Direktur Bina Teknis . DJCK. H. HR. IAI Ir. Diding Muchidin Ir. Aim Abdurachim Idris. MCM. PU Dit. IAI. Dep. Ir. Suprapto. IAI Ir. Balitbang. PU Kepala Balitbang Dep. PU Sekretaris Jenderal Dep.BD. SE Ir. Gembong Priyono.E. Eko Widiatmo Ir. MSc Ir. MM.. Ridwan Munzir Ir. Dep. Bintek. Sri Hartinah. MSc Ir. MCM. MSc Ir..Sc. PU Dit. Setjen Dep. PU Widyaiswara Dep.

Imam S. Departemen P. Ernawi.M. Drajat Hoedayanto. Jakarta 12110 Indonesia Telepon: (021) 7268203 Faks: (021) 7235223 E-med: bintekctaba@pu. MSc Ir. Soedibyono Ir. Hendro Moeljono Ir. Penyelaras Akhir Ir. Ir. MT Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Ikatan Ahli Lansekap Indonesia (IALI) Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Teknik Tanah Indoensia (HATTI) Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Universitas Trisakti. J. Jakarta Universitas Trisakti. Binsar Hariandja DR.Prasetiyo. MSCE Ir. G. IAI Ir.March. Ariono Suprayogi Ir. Bintang Agus Nugroho. Eka Sediadi Rasyad Ir.MAUD DR. Ing. A. Zaenal Walidin DR. MM Ir. Sugeng Triyadi S. Ir. Jakarta Universitas Trisakti. IALI Ir. Jl. Chaidir AM. Bambang Tata Samiadji. MT Ir.U. MCM. Eko Djuli Sasongko Studio Taba '98 Direktorat Bina Teknik Direktorat Jenderal Cipta Karya. MSA.go. Bambang Budiono Ir. Ir. Ir. Daniel Mangindaan Ir. Raden Patah l/1 Lantai 7 Wing 1 Kebayoran Baru. Jakarta Disamping itu juga melibatkan peran aktif berbagai nara sumber di bidang tata bangunan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Hadi Prabowo. MEng DR. Tulus Widiarso. Sofyan Nurbambang DR.id .Ir.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->