KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 441/KPTS/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG MENTERI PEKERJAAN

UMUM,

Menimbang

:

a.

bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah di bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah, urusan penyelenggaraan bangunan gedung telah diserahkan kepada Daerah baik Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II; bahwa perkembangan penyelenggaraan bangunan gedung dewasa ini semakin kompleks sehingga perlu adanya pengaturan mengenai ketentuan teknis yang menyangkut peruntukan dan intensitas bangunan, arsitektur dan lingkungan, serta keandalan bangunan yang menjadi persyaratan pokok suatu bangunan gedung; bahwa sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987, kepada Menteri Pekerjaan Umum diberi wewenang untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah; bahwa sehubungan dengan pertimbangan pertimbangan tersebut diatas perlu mengatur persyaratan teknis bangunan gedung, dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah; Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun; Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Parumahan dan Permukiman; Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang; Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1987 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pekerjaan Umum kepada Daerah; Keputusan Presiden Rl Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen; Keputusan Presiden Rl Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Keputusan Rl Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen Sebagaimana Telah Tiga Puluh Kali Diubah Terakhir Dengan Keputusan Rl Nomor 23 Tahun 1994 Keputusan Presiden Rl Nomor 122/M Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan;

b.

c.

d.

Mengingat

:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

9.

Keputusan Menteri PU Nomor 211/KPTS/1994 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum.
MEMUTUSKAN :

Menetapkan

:

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG. BAB I KETENTUAN UMUM

TENTANG

Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada, diatas, atau di dalam tanah dan atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tampat manusia melakukan kegiatannya. 2. Penyelenggaraan bangunan gedung adalah proses kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan gedung 3. Daerah adalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. 4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kotamadya Daerah T'ngkat II. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 (1) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung dimaksudkan untuk mewujudkan bangunan gedung yang berkualitas sesuai dengan fungsinya. (2) Pengaturan persyaratan teknis bangunan gedung bertujuan terselenggaranya fungsi bangunan gedung yang aman, sehat, nyaman, efisien, seimbang, serasi dan selaras dengan lingkungannya

BAB II PENGATURAN PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG

Bagian Pertama Persyaratan Teknis Pasal 3 (1) Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan mengenai : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. I. m. (2) Peruntukan dan Intensitas Bangunan. Arsitektur dan lingkungan. Struktur Bangunan Gedung. Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran. Sarana Jalan Masuk dan Keluar. Transportasi dalam Gedung. Pencahayaan Darurat, Tanda Arah Keluar, dan Sistem Peringatan Bahaya. Instalasi Listrik Penangkal Petir, dan Komunikasi dalam Gedung Instalasi Gas. Sanitasi dalam gedung. Ventilasi dan Pengkondisian Udara Pencahayaan. Kebisingan dan Getaran.

Rincian persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tercantum pada lampiran Keputusan Menten ini yang merupakan satu kesatuan pengaturan dalam keputusan ini Setiap orang atau badan termasuk instansi Pemerintah dalam penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung wajib memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) Pasal ini. Pasal 4

(3)

Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Kedua Pengaturan Pelaksanaan di Daerah Pasal 5 (1) Untuk pedoman pelaksanaan penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah perlu dibuat Peraturan Daerah yang didasarkan pada ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Menteri ini. Dalam hal Daerah belum mempunyai Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini maka terhadap penyelenggaraan bangunan gedung di Daerah

(2)

diberlakukan ketentuan-ketentuan Persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. (3) Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang persyaratan teknis bangunan gedung sebelum Keputusan Menteri ini diterbitkan harus menyesuaikannya dengan ketentuan-ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3. Pasal 6 Dalam melaksanakan pembinaan pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah melakukan peningkatan kemampuan aparat Pemerintah maupun masyarakat dalam memenuhi ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 untuk terwujudnya tertib pembangunan bangunan gedung. Dalam melaksanakan pengendalian pembangunan bangunan gedung, Pemerintah Daerah wajib menggunakan persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 sebagai landasan dalam mengeluarkan persetujuan atau perizinan yang diperlukan. Terhadap aparat Pemerintah Daerah yang bertugas dalam pengendalian pembangunan bangunan gedung yang melakukan pelanggaran ketentuan dalam Pasal 3 dikenakan sanksi administrasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 7 (1) Penyelenggaraan bangunan gedung yang melanggar ketentuan-ketentuan Pasal 3 dan Pasal 4 Keputusan Menteri ini dikenakan sanksi administrasi yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 5. Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dikenakan sesuai dengan tingkat pelanggaran dapat berupa: a. Peringatan tertulis b. Pembatasan kegiatan c. Penghentian sementara kegiatan sampai dilakukannya pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung. d. Pencabutan izin yang telah dikeluarkan untok menyelenggarakan pembangunan bangunan gedung. (3) Selain sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), di dalam Peraturan Daerah dapat diatur mengenai pengenaan denda dan tindakan Pembongkaran atas terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung.

(1)

(2)

(3)

(2)

BAB III PEMB1NAAN DAN PENGAWASAN TEKNIS

Pasal 8 (1) Pembinaan dan Pengawasan Teknis untuk pelaksanaan ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 58/PRT/1991 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Teknis dan Pengawasan Teknis Bidang Pekerjaan Umum kepada Dinas Pekerjaan Umum. Pelaksanaan pembinaan teknis dan pengawasan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini didasarkan pada Rencana dan program yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Cipta Karya.
BAB IV KETENTUAN PERALIHAN

(2)

Pasal 9 Dengan berlakunya Keputusan Menteri inl, maka semua ketentuan persyaratan teknis bangunan gedung yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Keputusan Menteri ini masih tetap berlaku, sampai digantikan dengan yang baru.
BAB V KETENTUAN PENUTUP

Pasal 10 (1) (2) Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang bersangkutan untuk diketahui dan dilaksanakan.
DITETAPKAN Dl PADA TANGGAL : JAKARTA : 10 NOPEMBER 1998

MENTERI PEKERJAAN UMUM

RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 441/KPTS/1998 TANGGAL 10 NOPEMBER 1998

DAFTAR ISI
BAGIAN I KETENTUAN UMUM I. 1 I.2 PENGERTIAN 1. Umum 2. Teknis MAKSUD DAN TUJUAN 1. Maksud 2. Tujuan

BAGIAN II PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II.1 PERUNTUKAN, FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. Peruntukan Lokasi 2. Fungsi Bangunan 3. Klasifikasi Bangunan INTENSITAS BANGUNAN 1. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan 2. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB 3. Perhitungan KDB dan KLB GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1. Garis Sempadan (muka) Bangunan 2. Garis Sempadan Samping dan Belakang Bangunan 3. Pemisah di Sepanjang Halaman Depan, Samping, dan Belakang Bangunan

II.2

II.3

BAGIAN III ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III.1 ARSITEK BANGUNAN 1. Tata Letak Bangunan 2. Bentuk Bangunan 3. Tata Ruang Dalam 4. Kelengkapan Bangunan RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. Fungsi dan Persyaratan Ruang Tebuka Hijau Pekarangan 2. Ruang Sempadan Bangunan 3. Tapak Basement 4. Hijau Pada Bangunan 5. Tata Tanaman SIRKULASI, PERTANDAAN, DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1. Sirkulasi dan Fasilitas Parkir 2. Pertandaan (Signage) 3. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan

III.2

III.3

Sistem Pemadam Kebakaran 2. Persyaratan Bahan PEMBEBANAN STRUKTUR ATAS 1. Kontruksi Kayu 4.III. Kontruksi Dengan Bahan dan Teknologi Khusus 5.1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. Pengendalian Asap Kebakaran 4. Proteksi Bukaan SISTEM PROTEKSI AKTIF 1. Pondasi Langsung 2.4 PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN 1. Prosedur dan Metoda IV. Keselamatan Struktur 2. Persyaratan Struktur 2.5 IV.2 . Pondasi Bawah KEANDALAN STRUKTUR 1. Tipe Konstruksi Tahan Api 3. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan 5. Ketentuan Pengelolaan Dampak Ligkungan 3. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi STRUKTUR BAWAH 1.6 BAGIAN V PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. Dampak Penting 2.4 IV.2 IV. Kriteria Demolisi 2. Pengelolaan Daerah Bencana BAGIAN IV STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Kompartemensasi dan Pemisahan 5. Sistem Diteksi & Alarm Kebakaran 3. Tipe Konstruksi Yang Diwajibkan 4.3 IV. Ketahanan Api dan Stabilitas 2. Ketentuan UPL dan UKL 4.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. Kontruksi Baja 3. Keruntuhan Struktur DEMOLISI STUKTUR 1. Kontruksi Bangunan 2. Pusat Pengendali Kebakaran V.

Tangga dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 3. Lebar Tangga 10. Tangga. Dimensi/ukuran Pintu Keluar 7. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 12. Kebutuhan Jalan Keluar 3. Jumlah Orang Yang Ditampung KONTRUKSI JALAN KELUAR 1. Instalasi pada Pintu Keluar dan Jalan Lintasan 8. Pegangan Rambat pada Tangga 18. Lintasan Melalui Tangga/ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 10. Pengoperasian Gerendel Pintu 21. Persyaratan Keamanan 2. Injakan dan Tanjakan Tangga 14. Penerapan 2. Pintu Ayun 20.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. Bordes 15. Fungsi 2. Pemisahan Tanjakan dan Turunan Tangga 5.4 .2 VI. Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Masuk dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran 22. Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Tehadap Kebakaran 8. Jarak antara Pintu-pintu Keluar Alternatif 6. Tangga Luar Bangunan 9. Keluar Melalui Pintu-pintu Keluar 11. Jarak Jalur Menuju Pintu Keluar 5. Balustrade 17. Pesyaratan Kinerja KETENTUAN JALAN KELUAR 1. Ambang Pintu 16. Lobby Bebas Asap 7. Ruang Peralatan dan Ruang Motor Lift 14. Ramp atau Eskalator Yang Tidak Disyaratkan 13. Perlindungan pada Ruang di Bawah Tangga dan Ramp 9.BAGIAN VI SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. Atap sebagai Ruang Terbuka 13. Ramp dan Balkon Akses Yang Terbuka 6. Rambu pada Pintu AKSES BAGI PENYANDANG CACAT VI.3 VI. Tangga dan Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran 4. Pintu Keluar Horisontal 12. Pintu 19. Ramp Pejalan Kaki 11.

PENANGKAL PETIR. Sumber Daya Listrik 5. Pemeriksaan.3 . Perencanaan Komunikasi dalam Gedung 2. Beban Listrik 4. Saf Lif 7. Perencanaan Penangkal Petir 2. Pemerikasaan dan Pengujian 7. TANDA ARAH KELUAR. Instalansi Telepon 3. Sangkar Lif 6. Lif Kebakaran 3.2 VIII. Instalasi Listrik 9. Pemeriksaan dan Pengujian 4. Pengujian dan Pemeliharaan TANGGA BERJALAN DAN LANTAI BERJALAN VII. Instalansi Tata Suara IX.2 BAGIAN VIII PENCAHAYAAN DARURAT. Pemeliharaan INSTALASI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG 1.1 LIF 1. Peringatan Terhadap Pengguna Lif pada Saat Terjadi Kebakaran 4. DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Lif untuk Rumah Sakit 5. Instalansi Penangkal Petir 3. Mesin Lif dan Ruang Mesin Lif 8. Kapasitas Lif 2.3 1SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT TANDA ARAH KELUAR SISTEM PERINGATAN BAHAYA BAGIAN IX INSTALANSI LISTRIK. Perencanaan Instalansi Listrik 2.1 INSTALANSI LISTRIK 1. Pemeliharaan INSTALANSI PENANGKAL PETIR 1.2 IX. Jaringan Distribusi Listrik 3. Transformator Distribusi 6.1 VIII.BAGIAN VII TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII.

Sistem Penyediaan Air Bersih 3.BAGIAN X INSTALANSI GAS X. 1 SISTEM PLAMBING 1. Ventilasi Alami 3. Kebutuhan Pengkondisian Udara 2. Jenis Gas 2.1 XIII.1 VENTILASI 1. Perencanaan Sistem Plumbing 2. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan XII. Pompa Air Bersih PERSAMPAHAN 1.1 INSTALANSI GAS PEMBAKARAN 1. Penempatan pada Bangunan 2. Tangki Penyediaan Air Bersih 6.2 BAGIAN XI SANITASI DALAM GEDUNG XI. Kebutuhan Ventilasi 2. Pewadahan 3. Alat Plambing 5. Jenis Gas 2.2 BAGIAN XIII PENCAHAYAAN XIII. BAGIAN XII VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. Sampah Berbahaya XI. Pemeriksaan dan Pengujian INSTALANSI GAS MEDIK 1. Jaringan Distribusi Gas Kota 3. Sistem Pembuangan Air Kotor 4.3 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN PENCAHAYAAN BUATAN PENCAHAYAAN ALAMI . Ventilasi Buatan PENGKONDISIAN UDARA 1. Pemeriksaan dan Pengujian X.2 XIII. Konservaasi Energi 3. Jaringan Distribusi Gas Medik 3.

4 PENGENDALIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN BAGIAN XIV KEBISINGAN DAN GETARAN XIV.2 KEBISINGAN GETARAN BAGIAN XV PENUTUP LAMPIRAN .XIII.1 XIV.

. di atas. termasuk setiap ruang yang berbatasan/ berdekatan tetapi tidak terpisahkan oleh pembatas. mengadakan pertemuan. seluruh atau sebagian ruangnya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai atau atap. bersosial-budaya. atau Gubernur untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Dinas Bangunan adalah salah satu Dinas Teknis di Daerah yang diantaranya mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pengaturan. olah raga. atau di daiam tanah dan/atau perairan secara tetap yang berfungsi sebagai tempat manusia untuk melakukan kegiatan bertempat tinggal. ii. dan melaksanakan kegiatan yang bersifat publik lainnya. kakus dan peralatan-peralatan pembuangan lainnya. rekreasi. perbelanjaan. Bangunan gedung adalah bangunan yang didirikan dan atau diletakkan dalam suatu lingkungan sebagian atau seluruhnya pada. c.I. dsb. seperti keagamaan. Atrium adalah suatu ruang dalam suatu bangunan yang menghubungkan 2 atau lebih tingka/lantai. Bangunan umum adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat manusia berkumpul. d. KETENTUAN UMUM 1. Bangunan turutan adalah bangunan sebagai tambahan atau pengembangan dari bangunan yang sudah ada. dan pengendalian pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung yang berada di Daerah yang bersangkutan. Umum Dalam pedoman teknis ini yang dimaksud dengan: a. kamar mandi. Pengawas/Penilik Bangunan adalah pejabat atau tenaga teknis profesional yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah atau ketentuan yang berlaku untuk bertugas mengawasi/menilik bangunan gedung. tidak termasuk lorong tangga. Air kotor adalah semua air yang bercampur dengan kotoran-kotoran dapur. e. termasuk struktur atap kaca. dan kegiatan lainnya. b. lorong ramp. 2. b. Kepala Daerah adalah Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. atau ruang dalam shaft. PENGERTIAN 1. pembinaan. di mana: i. pendidikan. iii. Teknis a. c. d. berusaha. Daerah adalah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

iii. Baku tingkat Kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dituang kelingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap: i. e. j. Getaran kejut adalah getaran yang berlangsung secara tiba-tiba dan sesaat. atau iv. c. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa alam dan kegiatan manusia. f. Garis sempadan pagar adalah garis bagian luar dari pagar persil atau pagar pekarangan. Dinding Luar Non-struktural adalah suatu dinding luar yang tidak memikul beban dan bukan merupakan dinding panel. Garis sempadan loteng adaiah garis yang terhitung dan tepi jalan berbatasan yang tidak diperkenankan didirikan tingkat bangunan. i. ii. l. d. Baku Tingkat Getaran mekanik dan getaran kejut adalah batas maksimal tingkat getaran mekanik yang diperbolehkan dan usaha atau kegiatan pada media padat sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan serta keutuhan bangunan. k. jaringan tegangan tinggi listrik. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan peralatan kegiatan manusia. Dinding Pembatas adalah dinding yang menjadi pembatas antara bangunan. Daerah Hijau Bangunan.f. Batas tepi sungai/pantai. Antar massa bangunan lainnya. jaringan pipa gas dan sebagainya. g. . g. Bangunan Induk adalah bangunan yang mempunyai fungsi dominan dalam suatu persil. Demolisi adalah kegiatan merobohkan atau membongkar bangunan secara total. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Batas lahan yang dikuasai. h. yang selanjutnya disebut DHB adalah ruang terbuka pada bangunan yang dimanfaatkan untuk penghijauan. Dinding Luar adalah suatu dinding bangunan terluar yang bukan merupakan dinding pembatas. b. a. h. Rencana saluran.

r. s. Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Jaringan saluran umum kota adalah jaringan sarana dan prasarana saluran umum perkotaan. Melakukan pekerjaan tanah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan yang dimaksud pada butir 2. w. memperluas. Mendirikan Bangunan i. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah pedoman rencana teknik. memperbaiki. q. ii. Jaringan persil adalah jaringan sanitasi dan jaringan drainasi dalam persil. . program tata bangunan dan lingkungan. serta pedoman pengendalian pelaksanaan yang umumnya meliputi suatu lingkungan/kawasan (urban design and development guidelines). u.w. p. untuk tempat kegiatan manusia. y.m. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. x. Koefisien Tapak Basement (KTB) adalah angka prosentasi perbandingan luas tapak basement dengan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. v.i. selain kamar untuk MCK dan dapur. Jarak antara bangunan adalah jarak terkecil antara bangunan yang diukur antara permukaan-permukaan denah bangunan. n. t. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan terhadap luas persil/ kaveling/ blok peruntukan. Mendirikan. seperti jaringan sanitasi dan jaringan drainasi. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. o. Pekarangan adalah bagian yang kosong dari suatu persil/ kaveling/blok peruntukan bangunan. Lubang Atrium adalah ruang dari suatu atrium yang dikelilingi oleh batas pinggir bukaan lantai atau oleh batas pinggir lantai dan dinding luar. mengubah atau membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu bangunan. Kamar adalah ruangan yang tertutup seluruhnya atau sebagian.

Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang akan dinyatakan dalam satuan Desibel disingkat dB. ee. adalah tingkat ketahanan api yang dipersyaratakan pada bagian atau komponen bangunan sesuai ketentuan butir V. Rumah adalah bangunan yang terdiri atas ruangan atau gabungan ruangan yang borhubungan satu sama lain. atau sejenisnya. dan insulasi. Maksud Persyaratan Teknis Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai acuan persyaratan teknis yang diperlukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung di Indonesia. serta pemeriksaan kelaikan fungsi/keandalan bangunan gedung. Sambungan jaringan adalah penghubung antara sesuatu jaringan persil dengan jaringan saluran umum kota. Tujuan. dd. Adapun tujuan dari pengaturan per-bagian adalah: a. I. menjamin bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. ii. . termasuk dalam rangka proses perijinan pelaksanaan dan pemanfaatan bangunan. dengan kriteria-kriteria berurut yaitu aspek ketahanan struktural. 2. ruang ganti. yaitu meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. serta keandalan bangunan. arsitektur dan lingkungan. Peruntukan dan Intensitas: i.2 dalam ukuran waktu satuan menit. integritas. Tinghat Ketahanan Api (TKA).1. Tujuan Pedoman Teknis ini bertujuan untuk dapat terwujudnya bangunan gedung sesuai fungsi yang ditetapkan dan yang memenuhi persyaratan teknis. bb. peralatan.z. aa. Ruang persiapan adalah ruang yang berhubungan dengan. dan berbatasan ke suatu panggung pada bangunan klas 9b yang dipergunakan untuk barang-barang dekorasi panggung. Contoh: TKA 90/-/60 berarti hanya terdapat persyaratan TKA untuk ketahanan struktural 90 menit dan insulasi 60 menit. menjamin bangunan gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di Daerah yang bersangkutan. cc. yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Tinggi bangunan adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah.

menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan. b. menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. ketentuan wujud bangunan. iii. d. Ketahanan terhadap Kebakaran: i. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran. c. menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. dan lingkungan. menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur. (3) dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. ii. Strukfur Bangunan: i. ii. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi kebakaran. e. sehingga: (1) cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman. menjamin keselamatan pengguna. (2) cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat . ii. Arsitektur dan Lingkungan: i.iii. masyarakat. serasi dan selaras dengan lingkungannya. aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya. menjamin kepentingan manusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang layak. sehingga seimbang. dan budaya daerah. Sarana Jalan Masuk dan Keluar: i. menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan. ii. iii. iv.

kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan. . Transportasl dalam Gedung: i. ii. ii. Tanda arah Keluar. menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.iii. menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat. i. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan secara baik. h. Penangkal Petir dan Komunikasi: i. menjamin tersedianya aksesibiltas bagi penyandang cacat khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman. g. apabila terjadi keadaan darurat. menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. Sanitasi dalam Bangunan: i. f. khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial. Instalasi Gas: i. ii. menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir. menjamin terwujudnya kebersihan. iii. dan nyaman di dalam bangunan gedung. Pencahayean Darurat. menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat. menjamin terpenuhinya pemakaian gas yang aman dan cukup. menjamin terpasangnya instalasi gas secara aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. menjamin tersedianya alat transportasi yang layak. iii. dan Sistem Peringatan Bahaya: i. iii menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik. ii. aman. Instalasi Listrik. j.

Kebisingan dan Getaran: i. menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan. .k Ventilasi dan Pengkondisian Udara: i. Pencahayaan: i. menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik. l. menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup. menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perlu melakukan upaya pengendalian pencemaran dan atau mencegah perusakan lingkungan. menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik. ii. m. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii. baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya. ii.

Keterangan atau ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir d meliputi keterangan tentang peruntukan lokasi dan intensitas bangunan. kaidah perencanaan kota dan penataan bangunan ii. ii. maka Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan gedung dengan pertimbangan: i. d. maka perlu c. ketinggian bangunan. Dalam hal rencana-rencana tata ruang dan tata bangunan sebagaimana dimaksud pada butir b belum ada. iii. g. dengan tetap mengadakan peninjauan seperlunya terhadap rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada di Daerah. Peruntukan Lokasi a. Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR). seperti kepadatan bangunan. e. Kepala Daerah dapat memberikan pertimbangan atas ketentuan yang diperlukan. Persetujuan membangun tersebut berstfat sementara sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan tata ruang yang lebih makro. Ketentuan tata ruang dan tata bangunan ditetapkan melalui: i. sedangkan peruntukan penunjangnya sebagaimana ditetapkan di dalam ketentuan tata bangunan yang ada di Daerah setempat atau berdasarkan pertimbangan teknis Dinas Bangunan. Setiap pihak yang memerlukan keterangan atau ketentuan tata ruang dan tata bangunan dapat memperolehnya secara terbuka melalui Dinas Bangunan. Peraturan bangunan setempat dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). f. dan garis sempadan bangunan. merupakan peruntukan utama. . ataupun peraturan bangunan setempat dan RTBL. peraturan bangunan setempat dan RTBL berdasarkan rencana tata ruang yang lebih makro. RRTR. Bagi Daerah yang belum memiliki RTRW. Kepala Daerah segera menyusun dan menetapkan RRTR. b. Bangunan gedung harus diselenggarakan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam ketentuan tata ruang dan tata bangunan dari lokasi yang bersangkutan. iii. Apabila persetujuan yang telah diberikan terdapat ketidak sesuaian dengan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan kemudian. Peruntukan lokasi sebagaimana dimaksud dalam butir a. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN 1. PERUNTUKAN DAN INTENSITAS BANGUNAN II.II.I. PERUNTUKAN.

diadakan penyesuaian dengan resiko ditanggung oleh pemohon/pemilik bangunan. tidak untuk fungsi hunian atau tempat tinggal. Bagi Daerah yang belum memilih RTRW Daerah. Kepala Daerah dapat memberikan persetujuan membangun bangunan pada daerah tersebut untuk jangka waktu sementara. iv. tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas kendaraan. ii. . tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. h. maka bangunan tersebut harus disesuaikan dengan rencana tata ruang yang ditetapkan. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah tanah. orang. iii. iii. tidak mengganggu fungsi sarana dan prasarana yang berada dibawah dan atau diatas tanah. ii. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. Pembangunan bangunan gedung diatas jalan umum. j. penghawaan dan pencahayaan bangunan telah memenuhi persyaratan kesehatan sesuai fungsi bangunan. Pembangunan bangunan gedung dibawah tanah yang melintasi sarana dan prasarana jaringan kota perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. tidak mengganggu keseimbangan lingkungan. tidak menimbulkan perubahan atau arus air yang dapat merusak lingkungan. Apabila di kemudian hari terdapat penetapan RTRW Daerah yang bersangkutan. i. v. maupun barang. memiliki sarana khusus untuk kepentingan keamanan dan keselamatan bagi pengguna bangunan. atau sarana lain perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. tetap memperhatikan keserasian bangunan terhadap lingkungannya. iv. Pembangunan bangunan gedung dibawah atau diatas air perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai berikut: i. v. saluran. iii. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. dan fungsi indung kawasan. iv. ii.

Penetapan fungsi dan klasifikasi bangunan yang bersifat sementara harus dengan mempertimbangkan tingkat permanensi. Fungsi Bangunan a. maupun dari segi keserasian bangunan terhadap lingkungannya. dan sanitasi yang memadai. kesehatan. . kenyamanan. Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan fungsi utama bangunan. baik ditinjau dari segi intensitas banguanan arsitektur dan lingkungan. 2. iv. ii. letak bangunan minimal 10 (sepuluh) meter diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. dan sejenisnya. letak bangunan tidak boleh melebihi atau melampaui garis sudut 45° (empat puluh lima derajat) diukur dari as (proyeksi) jalur tegangan tinggi terluar. Bangunan perkantoran: perkantoran pemerintah. keamanan. telah mempertimbangkan faktor keamaan. iv. setelah mendapat pertimbangan teknis dari para ahli terkait. perkantoran niaga. Bangunan dengan fungsi usaha meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk: i. v. kesehatan dan aksesibilitas bagi pengguna bangunan. d. v. dan fungsi khusus. keamanan. tidak menimbulkan pencemaran. tidak bertentangan dengan rencana tata ruang dan tata bangunan Daerah. kenyamanan. keselamatan. iii. fungsi sosial dan budaya. b. Rumah tinggal tunggal Rumah tinggal deret Rumah tinggal susun Rumah tinggal vila Rumah tinggal asrama f. k. iii. fungsi usaha. Fungsi bangunan dapat dikelompokkan dalam fungsi hunian. c. Pembangunan bangunan gedung pada daerah hantaran udara (transmisi tegangan tinggi perlu mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dengan pertimbangan sebagai perikut: i. e. Bangunan dengan fungsi hunian meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama hunian yang merupakan: i. ii. pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran. Fungsi dan klasifikasi bangunan merupakan acuan untuk persyaratan teknis bangunan gedung.iv.

dan sejenisnya. g. bioskop. iv. a. pelaksanaan. gereja. 3. & C. sekolah dasar. pertokoan. industri besar/berat. motel. vi. Bangunan Penyimpanan: gudang. sekolah lanjutan. dan sejenisnya. Klasifikasi Bangunan Klasifikasi bangunan atau bagian dari bangunan ditentukan berdasarkan fungsi yang dimaksudkan di dalam perencanaan. j. gedung kesenian. Bangunan pelayanan kesehatan: puskesmas. Dalam suatu persil. selain terdiri dari ruang-ruang dengan fungsi utama. Bangunan dengan fungsi khusus meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi. keveling. pusat perbelanjaan. hostel. atau blok peruntukan dimungkinkan adanya fungsi campuran (mixed use). rumah sakit klas A.ii. Klas 1 : Bangunan Hunian Biasa Adalah satu atau lebih bangunan yang merupakan: . sosial dan budaya. dan sejenisnya. Bangunan peribadatan: mesjid. pura. B. penginapan. vii Bangunan Pariwisata: tempat rekreasi. dan sejenisnya. ii. bangunan reaktor. dan sejenisnya. Bangunan Industri : industri kecil. industri sedang. kelenteng. halte bus. gedung tempat parkir. i. Bangunan pendidikan: sekolah taman kanak-kanak. terminal udara. atau tingkat resiko bahaya tinggi : seperti bangunan kemiliteran. atau perubahan yang diperlukan pada bangunan. dan sejenisnya h. Setiap bangunan gedung. dan vihara. dan sejenisnya. sepanjang sesuai dengan peruntukan lokasinya dan standar perencanaan lingkungan yang berlaku. v. pelabuhan laut. mal. iii. sekolah tinggi/universitas. iv. terminal bus. Bangunan Perhotelan/Penginapan: hotel. iii. Bangunan perdagangan: pasar. meliputi bangunan gedung dengan fungsi utama untuk : i. sesuai dengan persyatatan pokok yang diatur dalam Pedoman Teknis ini. Bangunan dengan fungsi umum. Bangunan kebudayaan : museum. serta dilengkapi pula dengan instalasi dan kelengkapan bangunan yang dapat menjamin terselenggaranya fungsi bangunan. rumah bersalin. poliklinik. Bangunan Terminal: stasiun kereta. juga dilengkapi dengan ruang fungsi penunjang.

atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu hotel atau motel. Klas 5: Bangunan kantor Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk tujuan-tujuan usaha profesional. Klas 1b : rumah asrama/kost. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu bangunan perawatan kesehatan yang menampung karyawan-karyawannya. ruang pamer. ii iii. restoran. termasuk i. Klas 6: Bangunan Perdagangan Adalah bangunan toko atau bangunan lain yang dipergunakan untuk tempat penjualan barang-barang secara eceran atau pelayanan kebutuhan langsung kepada masyarakat. tempat cuci umum.i. Klas 4 : Bangunan Hunian Campuran Adalah tempat tinggal yang berada didalam suatu bangunan klas 5. termasuk: i. tempat potong rambut /salon. villa. atau usaha komersial. atau panti untuk orang berumur. 6. atau bagian untuk tempat tinggal dari suatu sekolah. diluar bangunan klas 6. iv. toko atau kios sebagai bagian dari suatu hotel atau motel. Klas 1a : bangunan hunian tunggal yang berupa: (1) satu rumah tunggal. yang umum digunakan sebagai tempat tinggal lama atau sementara oleh sejumlah orang yang tidak berhubungan. atau (2) satu atau lebih bangunan hunian gandeng. atau bengkel. 8 atau 9 dan merupakan tempat tinggal yang ada dalam bangunan tersebut e. c. rumah asrama. rumah tamu. 7. Klas 3: Bangunan hunian diluar bangunan klas 1 atau 2. ruang makan malam. atau 9. pasar. unit town house . 7. cacat. atau iii. pengurusan administrasi. termasuk rumah deret. atau sejenisnya dengan luas total lantai kurang dari 300 m2 dan tidak ditinggali lebih dari 12 orang secara tetap. Klas 2: Bangunan hunian yang terdiri atas 2 atau lebih unit hunian yang masing-masing merupakan tempat tinggal terpisah. rumah tamu. bar. 8. f. kafe. atau iv. ruang makan. b. d. dan tidak terletak diatas atau dibawah bangunan hunian lain atau bangunan klas lain selain tempat garasi pribadi. hostel. v. atau anak-anak. atau ii. ruang penjualan. rumah taman. . losmen.. atau ii. yang masing-masing bangunannya dipisahkan dengan suatu dinding tahan api.

tonggak. Klas 9b: bangunan pertemuan. dianggap memiliki klasifikasi yang sama dengan bangunan utamanya. tetapi tidak temmasuk setiap bagian dari bangunan yang merupakan klas lain. atau pembersihan barang-barang produksi dalam rangka perdagangan atau penjualan. Klas 10b: struktur yang berupa pagar. pengepakan. perubahan. finishing. Klasifikasi jamak Bangunan dengan klasifikasi jamak adalah bila beberapa bagian dari bangunan harus diklasifikasikan secara terpisah.g. carport. antena. Klas 10 : Adalah bangunan atau struktur yang bukan hunian: i. yaitu: i. i. j. tempat parkir umum. Klas 9a: bangunan perawatan kesehatan. Bangunan-bangunan yang tidak diklasifikasikan khusus Bangunan atau bagian dari bangunan yang tidak termasuk dalam klasifikasi bangunan 1 s/d 10 tersebut. temmasuk bengkel kerja. Klas 10a: bangunan bukan hunian yang merupakan garasi pribadi. ii. bangunan peribadatan. k. atau sejenisnya. m. atau tempat pamer barang-barang produksi untuk dijual atau cuci gudang. dan: . kolam renang. hall. laboratorium atau sejenisnya di sekolah dasar atau sekolah lanjutan. Bangunan yang penggunaannya insidentil Bagian bangunan yang penggunaannya insidentil dan sepanjang mengakibatkan gangguan pada bagian bangunan lainnya. termasuk bagian-bagian dari bangunan tersebut yang berupa laboratorium. Klas 8 : Bangunan Laboratorium/lndustri/Pabrik Adalah bangunan gedung laboratorium dan bangunan yang dipergunakan untuk tempat pemrosesan suatu produksi. atau sejenisnya. Klas 7: Bangunan Penyimpanan/Gudang Adalah bangunan gedung yang dipergunakan penyimpanan. termasuk: i. ii. dinding penyangga atau dinding yang berdiri bebas. Klas 9: Bangunan Umum Adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat umum. perakitan. atau ii. gudang. perbaikan. bangunan budaya atau sejenis. h. dalam Pedoman Teknis dimaksudkan dengan klasifikasi yang mendekati sesuai dengan peruntukannya l.

e. dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang dibedakan dalam tingkatan KLB tinggi. dan rendah. dengan pertimbangan kepentingan umum dan dengan persetujuan Kepala Daerah dapat diberikan kelonggaran atau pembatasan terhadap ketentuan kepadatan. meliputi ketentuan tentang Jumlah Lantai Bangunan (JLB). 9b. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a.2 INTENSITAS BANGUNAN 1. bila bagian bangunan yang memiliki fungsi berbeda tidak melebihi 10% dari luas lantai dari suatu tingkat bangunan. Persyaratan kinerja dari ketentuan kepadatan dan ketinggian bangunan ditentukan oleh: i. pelestarian dan lain lain. ketinggian bangunan dan ketentuan tata bangunan lainnya dengan tetap memperhatikan keserasian dan kelestarian lingkungan. ruang boiler atau sejenisnya diklasifikasikan sama dengan bagian bangunan dimana ruang tersebut terletak II. ruang mesin. . dan b' laboratorium. iii. 10a dan 10b adalah klasifikasi yang terpisah. iii. rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan. klasifikasinya disamakan dengan klasifikasi bangunan utamanya. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan a. yang dibedakan dalam tingkatan KDB padat. meliputi ketentuan tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB). dan renggang. Ruang-ruang pengolah. Kepadatan bangunan sebagaimana dimaksud dalam butir a. kemampuannya dalam menjamin kesehatan dan kenyamanan pengguna serta masyarakat pada umumnya. Bangunan gedung yang didirikan harus memenuhi persyaratan kepadatan dan ketinggian bangunan gedung berdasarkan rencana tata ruang wilayah Daerah yang bersangkutan. f.i. 9a. 1b. sedang. d. dalam mencerminkan keserasian bangunan dengan b. Untuk suatu kawasan atau lingkungan tertentu. ruang mesin lift. kemampuannya dalam menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan optimalnya intensitas pembangunan. seperti kawasan wisata. kemampuannya lingkungan. Ketinggian bangunan sebagaimana dimaksud pada butir c tidak diperkenankan mengganggu lalu-lintas udara. Klas-klas 1a. dan peraturan bangunan setempat. ii. c. sedang. ii.

Perhitungan KDB dan KLB Perhitungan KDB maupun KLB ditentukan dengan pertimbangan sebagai berikut: . penggabungan atau pemecahan perpetakan dimungkinkan dengan ketentuan KDB dan KLB tidak dilampaui. apabila perpetakan tidak ditetapkan. dimungkinkan adanya pemberian dan penerimaan besaran KDB/KLB diantara perpetakan yang berdekatan. daya dukung lahan/ lingkungan. c. maka KDB dan KLB diperhitungkan berdasarkan luas tanah di belakang garis sempadan jalan (GSJ) yang dimiliki.2. Penetapan KDB dan Jumlah Lantai/KLB a. kebijaksanasn intensitas pembangunan. rencana tata bangunan dan lingkungan. setiap bangunan yang didirikan harus sesuai dengan rencana perpetakan yang telah diatur di dalam rencana tata ruang. 3. v. dan dengan memperhitungkan keadaan lapangan. Apabila KDB dan JLB/KLB belum ditetapkan dalam rencana tata ruang. f. iv. kebijaksanaan intensitas pembangunan. serta keseimbangan dan keserasian lingkungan. Ketentuan besarnya KDB dan JLB/KLB dapat diperbanui sejalan dengan pertimbangan perkembangan kota. d. maka Kepala Daerah dapat menetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. b. keserasian dan keamanan lingkungan serta memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan. Dimungkinkan adanya kompensasi berupa penambahan besarnya KDB JLB/KLB bagi perpetakan tanah yang memberikan sebagian luas tanahnya untuk kepentingan umum. ii. untuk memudahkan lalu lintas. dan setelah mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait.2. ditetapkan dengan mempertimbangkan perkembangan kota. peraturan bangunan setempat. Kepala Daerah dapat menetapkan rencana perpetakan dalam suatu kawasan/lingkungan dengan persyaratan: i. Dengan pertimbangan kepentingan umum dan ketertiban pembangunan. maka lebar dan panjang persil tersebut diukur dari titik pertemuan garis perpanjangan pada sudut tersebut dan luas persil diperhitungkan berdasarkan lebar dan panjangnya.1 butir b dan c. dengan tetap menjaga keseimbangan daya dukung lahan dan keserasian lingkungan. Penetapan besamya KDB. keseimbangan dan persyaratan teknis serta mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. iii. e. daya dukung lahan/lingkungan. JLB/KLB untuk pembangunan bangunan gedung diatas fasilitas umum adalah setelah mempertimbangkan keserasian. untuk persil-persil sudut bilamana sudut persil tersebut dilengkungkan atau disikukan. Penetapan besarnya kepadatan dan ketinggian bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam II.

Dalam perhitungan ketinggian bangunan. g. d. keselamatan. ramp dan tangga terbuka dihitung 50 %. selama tidak melebihi 10 % dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan. Garis Sempadan Bangunan ditetapkan dalam rencana tata ruang. Garis Sempadan (muka) Bangunan a. Dalam perhitungan KDB dan KLB. k. i. e. perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar.3 GARIS SEMPADAN BANGUNAN 1.a. b.20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai. dan total keseluruhan luas lantai bangunan dalam kawasan tersebut tehadap total keseluruhan luas kawasan.20 m di atas lantai ruangan tersebut dihiitung penuh 100 %. perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan. Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah (basement) ditetapkan Kepala Daerah dengan pertimbangan keamanan. rencana tata bangunan dan lingkungan.20 m diatas lantai ruangan dihitung 50 %. h. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 m. luas tapak yang diperhitungkan adalah yang dibelakang GSJ. Mezanine yang luasnya melebihi 50 % dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. selebihnya diperhitungkan 50 % terhadap KLB. selama tidak melebihi l0% dari luas lantai dasar yang diperkenankan. dan pendapat teknis para ahli terkait. l. teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1. Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock). f. I. c. j. luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1. luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB. asal tidak melebihi 50 % dari KLB yang ditetapkan. maka ketinggian bangunan tersebut dianggap sebagai dua lantai. luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1. . serta peraturan bangunan setempat.50 m maka luas mendatar kelebihannya tersebut dianggap sebagai luas lantai denah. kesehatan. overstek atap yang melebihi lebar 1.

dan keserasian dengan lingkungan serta ketinggian bangunan. yang diatur di dalam rencana tata ruang. Apabila Garis Sempadan Bangunan sebagaimana dimaksud pada butir a. dan peraturan bangunan setempat. kepentingan umum. g. b. yang ditetapkan pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. garis sempadan muka bangunan. sepanjang penempatan bangunan tidak mengganggu jalan dan penataan bangunan sekitarnya.b. f. juga menetapkan garis sempadan samping kiri dan kanan. danau. garis sempadan podium. Garis sempadan samping dan belakang bangunan a. Sepanjang tidak ada jarak bebas samping maupun belakang bangunan yang ditetapkan. e. c. h. serta belakang bangunan terhadap batas persil. sungai. maka Kepala Daerah dapat menetapkan GSB yang bersifat sementara untuk lokasi tersebut pada setiap permohonan perijinan mendirikan bangunan. maka bagian muka bangunan harus ditempatkan pada garis tersebut. i Ketentuan besarnya GSB dapat diperbarui dengan pertimbangan perkembangan kota. garis sempadan loteng. maka Kepala Daerah menetapkan besarnya garis sempadan tersebut dengan setelah mempertimbangkan keamanan kesehatan dan kenyamanan. Penetapan Garis Sempadan Bangunan didasarkan pada pertimbangan keamanan. kesehatan. untuk tiap-tiap klas bangunan dapat ditetapkan garis-garis sempadannya masing-masing. maupun pertimbangan lain dengan mendengarkan pendapat teknis para ahli terkait. begitu pula garis-garis sempadan untuk pantai. kenyamanan. kesehatan dan kenyamanan. Dalam hal garis sempadan pagar dan garis sempadan muka bangunan berimpit (GSB sama dengan nol). jaringan umum dan lapangan umum. Garis Sempadan Bangunan yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam butir a. Dalam mendirikan atau memperbarui seluruhnya atau sebagian dari suatu bangunan. keserasian dengan lingkungan. garis sempadan menara. . tidak boleh dilanggar. Kepala Daerah dengan pertimbangan keselamatan. rencana tata bangunan dan lingkungan. 2. d. tersebut belum ditetapkan. Pada suatu kawasan/lingkungan yang diperkenankan adanya beberapa klas bangunan dan di dalam kawasan peruntukan campuran. Daerah menentukan garis-garis sempadan pagar. Daerah berwenang untuk memberikan pembebasan dari ketentuan dalam butir g.

Untuk bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahanbahan/benda-benda yang mudah terbakar dan atau bahan berbahaya. ii. dan pada setiap penambahan lantai/tingkat bangunan. maka jarak antara dinding tersebut minimal satu kali jarak bebas yang ditetapkan. jarak bebas di atasnya ditambah 0. Pada daerah intensitas bangunan rendah/renggang. d. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan. iii. untuk perbaikan atau perombakan bangunan yang semula menggunakan bangunan dinding batas bersama dengan bangunan di sebelahnya. ii. maka garis sempadan samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. disyaratkan untuk membuat dinding batas tersendiri disamping dinding batas terdahulu. Pada dinding batas pekarangan tidak boleh dibuat bukaan dalam bentuk apapun.5 m. g Jarak bebas antara dua bangunan dalam suatu tapak diatur sebagai berikut: i.c. dan sedangkan untuk bangunan gudang serta industri dapat diatur tersendiri. sedangkan jarak bebas belakang ditentukan minimal setengah dari besarnya garis sempadan muka bangunan. . f. pada bangunan rumah tinggal rapat tidak terdapat jarak bebas samping. jarak bebas samping dan jarak bebas belakang ditetapkan minimum 4 m pada lantai dasar. dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup dan yang lain merupakan bidang terbuka dan atau berlubang. struktur dan pondasi bangunan terluar harus berjarak sekurang-kurangnya 10 cm kearah dalam dari batas pekarangan. iv. e. diluar yang diatur dalam butir a. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. maka jarak bebas samping dan belakang bangunan harus memenuhi persyaratan: i. Pada daerah intensitas bangunan padat/rapat. kecuali untuk bangunan rumah tinggal. sisi bangunan yang didirikan harus mempunyai jarak bebas yang tidak dibangun pada kedua sisi samping kiri dan kanan serta bagian belakang yang berbatasan dengan pekarangan. maka jarak antara dinding atau bidang tersebut minimal dua kali jarak bebas yang ditetapkan.50 m dari jarak bebas lantai di bawahnya sampai mencapai jarak bebas terjauh 12. maka Kepala Daerah dapat menetapkan syarat-syarat lebih lanjut mengenai jarakjarak yang harus dipatuhi. ii. bidang dinding terluar tidak boleh melampaui batas pekarangan.

iii. dan belakang bangunan a. dan apabila pagar tersebut merupakan dinding bangunan rumah tinggal bertingkat tembok maksimal 7 m dari permukaan tanah pekarangan. e. dan untuk bangunan bukan rumah tinggal termasuk untuk bangunan industri maksimal 2 m di atas permukaan tanah pekarangan.50 m di atas permukaan tanah. maka jarak dinding terluar minimal setengah kali jarak bebas yang ditetapkan. f. Dalam hal pemisah berbentuk pagar. Pagar sebagaimana dimaksud pada butir e harus tembus pandang. g h Untuk bangunan-bangunan tertentu. atau ditetapkan lebih rendah setelah mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan lingkungan. kenyamanan. 3. Untuk sepanjang jalan atau kawasan tertentu. d. Dalam hal yang khusus Kepala Daerah dapat memberikan pembebasan dari ketentuan-ketentuan dalam butir a dan b. b. j. Kepala Daerah menetapkan ketinggian maksimum pemisah halaman muka. kecuali jika jalur-jalur jaringan umum kota direncanakan sebagai jalur jalan belakang untuk umum . Kepala Daerah berwenang untuk menetapkan syarat-syarat lebih lanjut yang berkaitan dengan desain dan spesifikasi teknis pemisah di sepanjang halaman depan. . Pada pemagaran ini tidak boleh diadakan pintu-pintu masuk. serta keserasian lingkungan. maka tinggi pagar pada GSJ dan antara GSJ dengan GSB pada bangunan rumah tinggal maksimal 1. c. Halaman muka dari suatu bangunan harus dipisahkan dari jalan menurut cara yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. Kepala Daerah dapat menerapkan desain standar pemisah halaman yang dimaksudkan dalam butir a. Antara halaman belakang dan jalur-jalur jaringan umum kota harus diadakan pemagaran. Tinggi pagar batas pekarangan sepanjang pekarangan samping dan belakang untuk bangunan renggang maksimal 3 m di atas permukaan tanah pekarangan. k. dengan bagian bawahnya dapat tidak tembus pandang maksimal setinggi 1 m diatas permukaan tanah pekarangan. Kepala Daerah dapat menetapkan lain terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir e dan f. Pemisah disepanjang halaman depan. dengan setelah mempertimbangkan hal teknis terkait. i. Penggunaan kawat berduri sebagai pemisah disepanjang jalan-jalan umum tidak diperkenankan. samping. dan belakang bangunan. samping. dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan. dengan memperhatikan keamanan.

l. dengan pertimbangan kepentingan kenyamanan kemudahan hubungan (aksesibilitas). . samping maupun belakang bangunan pada ruas-ruas jalan atau kawasan tertentu. Kepala Daerah dapat menetapkan tanpa adanya pagar pemisah halaman depan. dan penataan bangunan dan lingkungan yang diharapkan. keserasian lingkungan.

(2) dapat diberikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. (2) larangan membuat batas fisik atau pagar pekarangan. Tapak Bangunan i.III.1. dengan ketentuan tidak melebihi KLB. keindahan dan keserasian lingkungan. ii. Ketentuan Umum i. persyaratan lebih lanjut dari ketentuanketentuan ini dapat ditetapkan pelaksanaaannya oleh Kepala Daerah dengan membentuk suatu panitia khusus yang bertugas memberi nasehat teknis mengenai ketentuan tata bangunan dan lingkungan. Bilamana dianggap perlu.1.1 b. (3) ketentuan penataan bangunan yang harus diikuti dengan memperhatikan keamanan. harus memenuhi persyaratan teknis yang berlaku dan keserasian lingkungan. Penambahan lantai atau tingkat suatu bangunan gedung diperkenankan apabila masih memenuhi batas ketinggian yang ditetapkan dalam rencana tata ruang kota. iii. Tinggi rendah (peil) pekarangan harus dibuat dengan tetap menjaga keserasian lingkungan serta tidak merugikan pihak lain. keselamatan. . b. Penambahan lantai/tingkat harus memenuhi persyaratan keamanan struktur. Pada daerah / lingkungan tertentu dapat ditetapkan: (1) ketentuan khusus tentang pemagaran suatu pekarangan kosong atau sedang dibangun. atau yang mampu sebagai pedoman arsitektur atau teladan bagi lingkungannya. 2. keindahan dan keserasian lingkungan.iv. pemasangan nama proyek dan sejenisnya dengan memperhatikan keamanan. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur lingkungan yang ada di sekitarnya. iii. ARSITEKTUR BANGUNAN 1. keselamatan. Tata Letak Bangunan a. (4) Kekecualian kelonggaran terhadap ketentuan butir III. iv. lalu lintas dan ketertiban umum. Pada jalan-jalan tertentu. ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN III. ii. Bentuk Bangunan a. perlu ditetapkan penampang-penampang (profil) bangunan untuk memperoleh pemandangan jalan yang memenuhi syarat keindahan dan keserasian. iv. Ketentuan Umum i. Pada lokasi-lokasi tertentu Kepala Daerah dapat menetapkan secara khusus arahan rencana tata bangunan dan lingkungan. Penempatan bangunan gedung tidak boleh mengganggu fungsi prasarana kota.

b.2. Ketentuan pada butir II. Ketentuan Umum i.1.2. Aksesibilitas bangunan harus mempertimbangkan kemudahan bagi semua orang. Ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir II 1. tampak. Untuk bangunan dengan lantai banyak.i tidak berlaku apabila sesuai fungsi bangunan diperlukan sistem pencahayaan dan penghawaan buatan. iv.1. Setiap bangunan gedung yang didirikan berdampingan dengan bangunan yang dilestarikan. iv. iv. dan atau rencana tata bangunan lingkungan yang ditetapkan untuk daerah/lokasi tersebut. profil. Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan dengan fungsi ruang dan arsitektur bangunannya.b. Bangunan yang didirikan sampai pada batas samping persil tampak bangunannya harus bersambungan secara serasi dengan tampak bangunan atau dinding yang telah ada di sebelahnya. ii. tinggi ruang diukur dari permukaan atas lantai sampai permukaan bawah dari lantai di atasnya atau sampai permukaan bawah kaso-kaso. v. Suatu bangunan gedung tertentu berdasarkan letak ketinggian dan penggunaannya. harus dilengkapi dengan perlengkapan yang berfungsi sebagai pengaman terhadap lalu lintas udara dan atau lalu lintas laut. iii. Bentuk. Syarat-syarat lebih lanjut mengenai tinggi/tingkat dan sesuatunya ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan rencana tata ruang.1. detail. Bentuk bangunan gedung harus dirancang sedemikian rupa sehingga setiap nuang dalam dimungkinkan menggunakan pencayahayaan dan penghawaan alami. Bentuk bangunan gedung sesuai kondisi daerahnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kestabilan struktur dan ketahanannya terhadap gempa.ii harus tetap mengacu pada prinsipprinsip konservasi energi. 3. harus serasi dengan bangunan yang dilestarikan tersebut. Perancangan Bangunan i. . vi. Dalam hal tidak ada langit-langit. Bentuk bangunan gedung harus dirancang dengan mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan yang nyaman dan serasi terhadap lingkungannya. termasuk para penyandang cacat dan usia lanjut. Tinggi ruang adalah jarak terpendek dalam ruang diukur dari permukaan bawah langit-langit ke permukaan lantai. iii. material maupun warna bangunan harus dirancang memenuhi syarat keindahan dan keserasian lingkungan yang telah ada dan atau yang direncanakan kemudian dengan tidak menyimpang dari persyaratan fungsinya. Tata Ruang Dalam a. b. v. kulit atau selubung bangunan harus memenuhi persyaratan konservasi energi. ii. vii. iii. vi. Ruangan dalam bangunan harus mempunyai tinggi yang cukup untuk fungsi yang diharapkan.ii.

tidak boleh menyebabkan berubahnya fungsi/penggunaan utama. gedung pertunjukan. penambahan. ruang ganti pakaian karyawan. vi. iv. perluasan. keamanan dan keselamatan bangunan dan lingkungan. gedung olah raga. ruang makan.v. ruang istirahat. Ruang rongga atap dilarang dipergunakan sebagai dapur atau kegiatan lain yang potensial menimbulkan kecelakaan/ kebakaran . Tata ruang dalam untuk bangunan tempat ibadah. Perubahan fungsi dan penggunaan ruang suatu bangunan atau bagian bangunan dapat diijinkan apabila masih memenuhi ketentuan penggunaan jenis bangunan dan dapat menjamin keamanan dan keselamatan bangunan serta penghuninya. viii. sepanjang tidak menyimpang dari penggunaan utama bangunan. ii. serta gedung sejenis lainnya diatur secara khusus. Ruang-rongga atap untuk rumah tinggal harus mempunyai penghawaan dan pencahayaan alami yang memadai. . Bangunan toko sekurang-kurang memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan toko. ix. Suatu bangunan gudang. Ruang rongga atap hanya dapat diijinkan apabila penggunaannya tidak menyimpang dari fungsi utama bangunan serta memperhatikan segi kesehatan. Bangunan kantor sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan kerja. Bangunan atau bagian bangunan yang mengalami perubahan perbaikan. kecuali untuk penggunaan ruang lobby. iii. perkantoran. atau ruang pertemuan dalam bangunan komersial (antara lain hotel. Perancangan Ruang Dalam i. maka ketinggian bangunan dianggap sebagai dua lantai. x. kegiatan umum dan pelayanan. vii. sekurang-kurangnya harus dilengkapi dengan kamar mandi dan kakus serta nuang kebutuhan karyawawan v. bangunan monumental. Mezanin yang luasnya melebihi 50% dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh. b. gedung sekolah. gedung serbaguna. vi. vii Ruang penunjang dapat ditambahkan dengan tujuan memenuhi kebutuhan kegiatan bangunan. gedung pertemuan. serta ruang pelayanan kesehatan yang memadai.Jenis dan jumlah kebutuhan fasilitas penunjang yang harus disediakan pada setiap jenis penggunann bangunan ditetapkan oleh Kepala Daerah. viii. ix. kegiatan keluarga bersama dan kegiatan pelayanan. apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh berikutnya lebih dari 5 meter. ruang umum dan ruang pelayanan. karakter arsitektur bangunan dan bagian-bagian bangunan serta tidak boleh mengurangi atau mengganggu fungsi sarana jalan keluar/masuk. dan pertokoan). Suatu bangunan pabrik sehurang-kurangnya harus dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan kakus. Penempatan fasilitas kamar mandi dan kakus untuk pria dan wanita harus terpisah. Bangunan tempat tinggal sekurang-kurangnya memiliki ruang-ruang fungsi utama yang mewadahi kegiatan pribadi. xi. Perhitungan ketinggian bangunan.

ketinggian dan penggunaannya harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan bangunan. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan. xiii Setiap bukaan pada ruang atap.xii. Sarana dan Prasarana Bangunan Gedung i. Kelengkapan Bangunan a. tidak berlaku jika letak lantai-lantai itu lebih tinggi dari 60 cm di atas tanah yang ada di sekelilingnya. tidak dianggap sebagai penambahan tingkat bangunan. – xix. Lantai tanah atau tanah dibawah lantai panggung harus ditempatkan sekurang-kurangnya 15 cm diatas tanah pekarangan serta dibuat kemiringan supaya air dapat mengalir. kecuali menggunakan alat bantu mekanis. Tinggi lantai dasar suatu bangunan diperkenankan mencapai maksimal 1. Tinggi Lantai Denah: (1) Permukaan atas dari lantai denah (dasar) harus: (a) Sekurang-kurangnya 15 cm diatas titik tertinggi dari pekarangan yang sudah dipersiapkan. xx. Tinggi ruang dalam bangunan tidak boleh kurang dari ketentuan minimum yang ditetapkan. xvi. xvii. Ketentuan Umum i. dengan memperhatikan keserasian lingkungan. maka tinggi maksimal lantai dasar ditetapkan tersendiri. 4. xiv Pada ruang yang penggunaannya menghasilkan asap dan atau gas harus disediakan lobang hawa dan atau cerobong hawa secukupnya. ii Prasarana-prasarana pendukung bangunan harus direncanakan secara terintegrasi dengan sistem prasarana lingkungan sekitarnya iii.20 m di atas tinggi rata-rata tanah pekarangan atau tinggi rata-rata jalan. ii. Sarana dan prasarana pendukung harus menjamin bahwa pemanfaatan bangunan tersebut tidak mengganggu bangunan gedung lain dan lingkungan sekitarnya. b. xv. (2) Dalam hal-hal yang luar biasa. . ketentuan dalam butir (1) tersebut. Cerobong asap dan atau gas harus dirancang memenuhi persyaratan pencegahan kebakaran. kesehatan dan keselamatan pengguna bangunan gedung. tidak boleh mengubah sifat dan karakter arsitektur bangunannya. Setiap penggunaan ruang rongga atap yang luasnya tidak lebih dari 50% dari luas lantai di bawahnya. Syarat-syarat teknis lebih lanjut terhadap ketentuan tersebut di atas mengikuti standar teknis yang berlaku. termasuk pengaman/ rambu-rambu terhadap lalu-lintas udara dan atau laut. kenyamanan. Bangunan tertentu berdasarkan letak. (b) Sekurang-kurangnya 25 cm diatas titik tertinggi dari sumbu jalan yang berbatasan. xviii Apabila tinggi tanah pekarangan berada di bawah titik ketinggian (peil) bebas banjir atau terdapat kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang besar pada tanah asli suatu perpetakan. atau untuk tanah-tanah yang miring.

e dapat dipertimbangkan dan disesuaikan untuk bangunan perumahan dan bangunan sosial dengan memperhatikan keserasian dan arsitektur lingkungan. v. pohon-pohon menahun. KDH.2. d. unsur-unsur estetik. g. Ruang Terbuka Hijau adalah ruang yang diperuntukkan sebagai daerah penanaman di kota/wilayah/halaman yang berfungsi untuk kepentingan ekologis. sirkulasi. Syarat-syarat Ruang Terbuka Hijau Pekarangan ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk ketetapan GSB. i. Pintu masuk dan keluar area bangunan gedung harus direncanakan secara terintegrasi serta tidak mengganggu tata sirkulasi lingkungannya. Sebagai ruang transisi. tanah dan permukaan tanah. h. terhadap suatu kawasan/daerah dapat diterapkan b.1.iv.2 RUANG TERBUKA HIJAU PEKARANGAN 1. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir III. peresapan air. sungai. f. j. Ruang Terbuka Hijau yang berhubungan langsung dengan bangunan gedung dan terletak pada persil yang sama disebut Ruang Terbuka Hijau Pekarangan (RTHP). termasuk para penyandang cacat dan warga usia lanjut. Setiap perencanaan bangunan baru harus memperhatikan potensi unsur-unsur alami yang ada dalam tapak seperti danau. gunung dan sebagainya. Dalam hal terdapat makro lansekap yang dominan seperti laut. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. maka dapat dibuat ketetapan yang bersifat sementara untuk lokasi/lingkungan yang terkait dengan setiap pemmohonan bangunan.e ini belum ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan. Parkir dan ketetapan lainnya. sehingga dapat menjamin fungsi bangunan juga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua orang. . RTHP menupakan bagian integral dari penataan bangunan gedung dan sub-sistem dari penataan lansekap kota. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang dan tata bangunan tidak boleh dilanggar dalam mendirikan atau rnemperbaharui seluruhnya atau sebagian dari bangunan.1. baik sebagai ruang kegiatan dan maupun sebagai ruang amenity. KDB. Fungsi dan Persyaratan Ruang Terbuka Hijau Pekarangan a. ekonomi maupun estetika. III. sungai besar. c. Apabila Ruang Terbuka Hijau Pekarangan sebagaimana dimaksud pada butir 111. e.2. KLB. sosial. Bangunan gedung harus direncanakan dan dirancang sebaik-baiknya.

KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan. tidak di dalam wadah / container yang kedap air. 1. lantai basement pertama (B-1) tidak dibenarkan keluar dari tapak bangunan (di atas tanah) dan atap . Keserasian tersebut antara lain mencakup: pagar dan gerbang.pengaturan khusus untok orientasi tata letak bangunan mempertimbangkan potensi arsitektural lansekap yang ada. pengendalian bentuk estetika bangunan secara keseluruhan/ kesatuan lingkungan. tiang bendera. Pemanfaatan Ruang Sempadan Depan Bangunan harus mengindahkan keserasian lansekap pada ruas jalan yang terkait sesuai dengan ketentuan rencana tata ruang dan tata bangunan yang ada. Kebutuhan basement dan besaran koefisien tapak basement (KTB) ditetapkan berdasarkan rencana peruntukan lahan. b. yang Sebagai perlindungan atas sumber-sumber daya alam yang ada. Ruang terbuka hijau pekarangan sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan / penanaman di atas tanah. bangunan penunjang seperti pos jaga. pagar. serta tergantung pada kondisi lahan. Untuk keperluan penyediaan RTHP yang memadai. bak sampah dan papan nama bangunan. ketentuan teknis dan kebijaksanaan Daerah setempat. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah. vegetasi besar / pohon. dapat ditetapkan persyaratan khusus bagi permohonan ijin mendirikan bangunan dengan mempertimbangkan hal-hal pencagaran sumber daya alam. dimana terdapat beberapa klas bangunan dan kawasan campuran. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat/padat. jalur kendaraan dan jalur hijau median jalan berikut utilitas jalan lainnya seperti tiang listrik. e. c. dan aspek aksesibilitas. d. Tapak Basement a. Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTHP sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah. seperti dari bahaya banjir. tiang telepon di kedua sisi jalan / ruas jalan yang dimaksud. Koefisien Dasar Hijau (KDH) ditetapkan sesuai dengan peruntukan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. Ruang Sempadan Bangunan a. 2. keselamatan pemakai dan kepentingan umum. Bila diperlukan dapat ditetapkan karakteristik lansekap jalan atau ruas jalan dengan mempertimbangkan keserasian tampak depan bangunan ruang sempadan depan bangunan. b. Ketinggian maksimum/minimum lantai dasar bangunan dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan bangunan. k. 3. jalur pejalan kaki.

basement kedua (B-2) yang di luar tapak bangun harus berkedalaman sekurangnya 2 (dua) meter dari permukaan tanah tempat penanaman. kestabilan tanah / wadah sehingga memenuhi syarat-syarat keselamatan pemakai.b Kepala Daerah dapat membentuk tim penasehat untuk mengkaji rencana pemanfaatan jeni-jenis tanaman yang layak tanam di Ruang terbuka Hijau Pekarangan berikut standar perlakuannya yang memenuhi syarat keselamatan pemakai. b. 5. mudah terbakar serta bagian-bagian lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Untuk pelaksanaan kepentingan tersebut pada butir III. DHB merupakan bagian dari kewajiban pemohon bangunan untuk menyediakan RTHP. c. batang dan cabangnya rapuh. III. atau mengganggu lingkungan di sekitarnya. Untuk memenuhi fungsi ekologis khususnya di perkotaan. Tata Tanaman a. iv. Penempatan tanaman harus memperhitungkan pengaruh angin. d. Prasarana parkir untuk suatu rumah atau bangunan tidak diperkenankan mengganggu kelancaran lalu lintas. Pemilihan dan penggunaan tanaman harus memperhitungkan karakter tanaman sampai pertumbuhannya optimal yang berkaitan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan. iii. Jumlah kebutuhan parkir menurut jenis bangunan ditetapkan sesuai dengan standar teknis yang berlaku. b. air. 4. Luas DHB diperhitungkan sebagai luas RTHP namun tidak lebih dari 25% luas RTHP.2. ii. tanaman dengan struktur daun yang rapat besar seperti pohon menahun harus lebih diutamakan. . Sirkulasi dan Fasilitas Parkir a.5.a dan III. Hijau Pada Bangunan a.5. Potensi bahaya terdapat pada jenis-jenis tertentu yang sistem perakarannya destruktif. Setiap bangunan bukan rumah hunian diwajibkan menyediakan area parkir kendaraan sesuai dengan jumlah area parkir yang proporsional dengan jumlah luas lantai bangunan.3 PERTANDAAN. Daerah Hijau Bangunan (DHB) dapat berupa taman-atap (roof-garden) maupun penanaman pada sisi-sisi bangunan seperti pada balkon dan cara-cara perletakan tanaman lainnya pada dinding bangunan.2. Ketentuan Umum i. Penyediaan parkir di pekarangan tidak boleh mengurangi daerah penghijauan yang telah ditetapkan. DAN PENCAHAYAAN RUANG LUAR BANGUNAN 1.

e. ii. Jalur utama pedestrian harus telah mempertimbangkan sistem pedestrian secara keseluruhan. iv. Sirkulasi harus memberikan pencapaian yang mudah dan jelas. Penataan ruang jalan dapat sekaligus mencakup ruang-ruang antar bangunan yang tidak hanya terbatas dalam Damija. aman. Penataan jalan tidak dapat terpisahkan dari penataan pedestrian. Penataan parkir harus berorientasi kepada kepentingan pejalan kaki. nyaman. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus saling mendukung. dan aksesibilitas dengan lingkungan sekitarnya. memudahkan aksesibilitas. ii. dan memberikan pemandangan yang menarik. rambu-rambu. dan kendaraan pelayanan lainnya. Jalan i. Sirkulasi pertu diberi perlengkapan seperti tanda penunjuk jalan. iv. ii. iii. Sistem sirkulasi yang direncanakan harus telah memperhatikan kepentingan bagi aksesibilitas pejalan kaki. dan termasuk untuk penataan elemen lingkungan. dll. iii.b. distribusi dan perletakan fasilitas parkir diupayakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya. Sirkulasi i. d. dan keJelasan kontinyuitas pedestrian. Penataan parkir tidak terpisahkan dengan penataan lainnya seperti untuk jalan. baik yang bersifat pelayanan publik maupun pribadi. Pemilihan bahan pelapis jalan dapat mendukung pembentukan identitas lingkungan yang dikehendaki. papan informasi sirkulasi. Luas. Elemen pedestrian (street fumiture) harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki. c. iii. pedestrian dan penghijauan. . elemen pengarah sirkulasi (dapat berupa elemen perkerasan maupun tanaman). Sirkulasi harus memungkinkan adanya ruang gerak vertikal (clearance) dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh kendaraan pemadam kebakaran. aksesibilitas terhadap subsistem pedestrian dalam lingkungan. Penataan pedestrian harus mampu merangsang terciptanya ruang yang layak digunakan/manusiawi. penghijauan. Pedestrian i. dan ruang terbuka umum. Jalur pedestrian harus berhasil menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu lintas kendaraan. guna mendukung sistim sirkulasi yang jelas dan efisien serta memperhatikan unsur estetika. serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. penghijauan. iii. serta disesuaikan dengan daya tampung lahan. Parkir i. ii. antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan.

Kepala Daerah dapat mengatur pembatasa-pembatasan ukuran. pagar. motif. c. bahan. Untuk penataan bangunan dan lingkungan yang baik untuk lingkungan/ kawasan tertentu. b. mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan. b. atau ruang publik. dan telah memperhatikan aspek operasi dan pemeliharaan. iii. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. tidak perlu dilengkapi dengan AMDAL. Kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan adalah bila rencana kegiatan tersebut akan: i. yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan penundang-undangan yang bertaku. Pencahayaan yang dihasilkan harus memenuhi keserasian dengan pencahayaan dari dalam bangunan dan pencahayaan dari jalan umum Pencahayaan yang dihasilkan dengan telah menghindari penerangan ruang luar yang berlebihan. III. fungsi dan arsitektur bangunan estetika amenity. 3. dan komponen promosi. menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. visual yang tidak menarik. c. atau habitat alaminya mengalami kerusakan. Penempatan signage termasuk papan iklan/ reklame. harus membantu orientasi tetapi tidak mengganggu karakter lingkungan yang ingin diciptakan/ dipertahankan. Dampak Penting a. baik yang penempatannya pada bangunan keveling. Pencahayaan ruang luar bangunan harus disediakan dengan memperhatikan karakter lingkungan. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang mengganggu dan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan harus dilengkapi dengan AMDAL sesuai ketentuan yang berlaku. Setiap kegiatan dalam bangunan dan atau lingkungannya yang menimbulkan dampak tidak penting terhadap lingkungan. silau. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan a. . b. atau secara teknologi sudah dapat dikelola dampak pentingnya.4 PENGELOLAAN DAMPAK LAINGKUNGAN 1. dan lokasi dari signage. ii.2. berdasarkan pertimbangan ilmiah. tetapi diharuskan melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) sesuai ketentuan yang berlaku. Pertandaan (Signage) a.

mengakibatkan/ menimbulkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. Ketentuan Pengelolaan Dampak Lingkungan Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang wajib AMDAL.1. menyimpan atau memproduksi bahan radioaktif. dan atau pemerintah. suaka margasatwa. Ketentuan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Jenis-jenis kegiatan pada pembangunan bangunan gedung dan atau lingkungannya yang harus melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) adaiah sesuai ketentuan yang berlaku. cagar alam. d. sinar yang dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dan dengan memnperhatikan tata letak serta orientasi bangunan terhadap matahari. Persyaratan Teknis Pengelolaan Dampak Lingkungan a. (3) Bagian dinding yang terlemah dari bangunan tersebut diarahkan ke daerah yang paling aman. merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi. Pada bangunan yang menggunakan kaca pantul pada tampak bangunan. vii. Bangunan yang menurut fungsinya menggunakan. jalan kereta api dan bangunan lain di sekitarnya sesuai rekomendasi dinas teknis terkait. harus dapat menjamin keamanan keselamatan serta kesehatan penghuni dan lingkungannya.c merupakan kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. adalah sesuai Ketentuan pengelolaan Dampak Lingkungan yang berlaku. iii. (2) Bangunan yang didirikan harus terletak pada jarak tertentu dari batas-batas pekarangan atau bangunan lainnya dalam pekarangan sesuai rekomendasi dinas terkait. . vi. 4. ii. dapat diberikan ijin apabila: (1) Lokasi bangunan terletak di luar lingkungan perumahan atau berjarak tertentu dari jalan umum. Kegiatan yang dimaksud pada butir III. menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung. 2. taman nasional. mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. racun. mudah terbakar atau bahan lain yang berbahaya. v.iv. 3. Persyaratan Bangunan i. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menunut peraturan perundang-undangan. Untuk mendirikan bangunan yang menurut fungsinya menggunakan menyimpan atau memproduksi bahan peledak dan bahan-bahan lain yang sifatnya mudah meledak.3.

maka setiap tapak bangunan gedung harus dilengkapi dengan bidang resapan yang ukurannya disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. ii. sekelilingnya harus dilengkapi dengan kolam peredam getaran.iv. . v. iv. Pembuangan limbah cair dan padat i. Apabila bangunan yang menurut fungsinya akan membangkitkan LHR >= 60 SMP per 1000 ft2 luas lantai. Persyaratan Pelaksanaan Konstruksi i. atau sampai sumur penduduk pulih seperti semula. Bangunan yang menurut fungsinya memerlukan pasokan air bersih dengan debit > 5 l/dt atau > 500 m3/hari dan akan mengambil sumber air tanah dangkal dan atau air tanah dalam (deep well) harus mendapat ijin dari dinas terkait yang bertanggung jawab serta menggunakan hanya untuk keperluan darurat atau alternatif dari sumber utama PDAM. vi. Sarana pongumpulan dan pongolahan air limbah harus dipelihara secara berkala untuk menjamin kualitas effluen yang memenuhi standar baku mutu limbah cair. Setiap kegiatan pengeringan (dewatering) yang menimbulkan kekeringan sumur penduduk harus memperhitungkan pemberian kompensasi berupa penyediaan air bersih kepada masyarakat selama pelaksanaan kegiatan. Guna pemulihan cadangan air tanah dan mengurangi debit air larian. Setiap bangunan yang menghasilkan limbah cair dan padat atau buangan lainnya yang dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah. Penggunaan hammer pile untuk pemancangan pondasi hanya diijinkan bila tidak ada bangunan rumah sakit di sekitarnya. ii. Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi yang dapat menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas umum harus dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas yang dioperasikan dan dikendalikan oleh tim pengatur lalu lintas. atau tidak ada bangunan rumah yang rawan keretakan. v. iii. iii. c. Sampah yang dikumpulkan di sarana pengumpulan sampah padat harus selalu dikosongkan setiap hari untuk menjamin agar lalat tidak berkembang biak dan mengganggu kesehatan lingkungan bangunan gedung. Penggunaan peralatan konstruksi yang diperkirakan menimbulkan keretakan bangunan. maka rencana teknis sistem jalan akses keluar masuk bangunan gedung harus mendapat ijin dari dinas teknis yang berwenang. harus dilengkapi dengan sarana pengumpulan dan pengolahan limbah sebelum dibuang ke tempat pembuangan yang diijinkan dan atau ditetapkan oleh instansi yang berwenang. b. Setiap kegiatan konstruksi yang menimbulkan genangan baru sekitar tapak bangunan harus dilengkapi dengan saluran pengering genangan sementara yang nantinya dapat dibuat permanen dan menjadi bagian sistem drainase yang ada.

3.a. d. Suatu daerah dapat ditetapkan sebagai daerah bencana. bagi bangunanan yang rusak atau membangun bangunan sementara untuk kebutuhan darurat dalam batas waktu penggunaan tertentu dan dapat dibebaskan dari izin. e. Pada daerah bencana sebagaimana dimaksud pada butir III.5. keselamatan dan kesehatan lingkungan. Lingkungan bangunan yang mengalami kebakaran dapat ditetapkan sebagai daerah tertutup dalam jangka waktu tertentu. Daerah sebagaimana dimaksud pada butir III. keselamatan dan kesehatan dapat diperkenankan mengadakan perbaikan darurat. Bangunan-bangunan pada lingkungan bangunan yang mengalami bencana. c. dengan memperhatikan keamanan. Pengelolaan Daerah Bencana a.a dapat ditetapkan larangan membangun atau menetapkan tata cara dan persyaratan khusus di dalam membangun.5. b.5. . daerah Banjir dan yang sejenisnya. atau dilarang membangun bangunan. dengan memperhatikan keamanan.3. dibatasi. dapat ditetapkan sebagai daerah peremajaan kota.

b. serta sesuai standar teknis (SNI) yang terkait. Bahan yang dibuat atau dicampurkan di lapangan. keruntuhan yang terjadi menimbulkan kondisi struktur yang masih dapat mengamankan penghuni. . 2. termasuk beban tetap.2 PEMBEBANAN 1 Analisa struktur harus dilakukan untuk memeriksa tanggap struktur terhadap beban . sehingga pada kondisi pembebanan maksimum. harta benda dan masih dapat diperbaiki. beban sementara (angin. STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG IV. Bahan bangunan prefabrikasi harus dirancang sehingga memiliki sistem hubungan yang baik dan mampu mengembangkan kekuatan bahan-bahan yang dihubungkan. c. termasuk kombinasi pembebanan yang kritis (antara lain: meliputi beban gempa yang mungkin terjadi sesuai zona gempanya). termasuk keselamatan terhadap lingkungan dan pengguna bangunan. Struktur bangunan harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa.IV. Struktur bangunan harus direncanakan mampu memikul semua beban dan / atau pengaruh luar yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan struktur.beban yang mungkin bekerja selama umur layan struktur. Struktur bangunan yang direncanakan secara umum harus memenuhi persyaratan keamanan (safety) dan kelayakan (serviceability). intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku. Bahan struktur yang digunakan harus sudah memenuhi semua persyaratan keamanan. IV. Persyaratan Bahan a. dan beban-beban lainnya yang secara logis dapat terjadi pada struktur. b. d. harus diproses sesuai dengan standar tata cara yang baku untuk keperluan yang dimaksud. serta mampu bertahan terhadap gaya angkat pada saat pemasangan/pelaksanaan. c. 1 PERSYARATAN STRUKTUR DAN BAHAN 1. seperti : 2. Penentuan mengenai jenis. Persyaratan Struktur a. Dalam hal bilamana bahan struktur bangunan belum mempunyai SNI maka bahan struktur bangunan tersebut harus memenuhi ketentuan teknis yang sepadan dari negara/ produsen yang bersangkutan. gempa) dan beban khusus.

Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. Konstruksi Kayu Perencanaan konstruksi kayu harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. e. IV. STRUKTUR ATAS 1. SNI-2834 Tata Cara Pengadukan dan Pengecoran Beton. g. b. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung SNI 1727. SNI-3430. SNI-1728 Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. seperti: a. Tata Cara Pembuatan atau Perakitan Konstruksi Baja. 3. SNI-3976. d.3 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung SNI 1726. SNI-1729 Tata cara / pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja. Konstruksi beton Perencanaan konstruksi beton harus memenuhi standar-standar teknis yang berlaku. d. c. Tata Cara Pemeliharaan Konstruksi Baja Selama Pelaksanaan Konstruksi. SNI-3449. b. Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung. c. seperti: a. f. . Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang untuk Bangunan Rumah dan Gedung. SNI -1734. Konstruksi Baja Perencanaan konstruksi baja harus memenuhi standar-standar yang berlaku seperti: a. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung SNI 2847.a. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan dengan Agregat Ringan. b. Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. 2.

Tata Cara Pembuatan dan Perakitan Konstruksi Kayu Tata Cara Pengecatan Kayu untuk Rumah dan Gedung. tata cara. Tata cara/ pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi kayu. Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. Tata Cara Penanggulangan Rayap pada Bangunan Rumah dan Gedung dengan Temmitisida. Tata Cara Dasar Koordinasi Modular untuk Perancangan Bangunan Rumah dan Gedung. standar teknis lainnya yang terkait dalam perencanean suatu bangunan yang harus dipenuhi. Tata Cara Perencanaan Bangunan dan Lingkungan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. h. i. Tata Cara Perancangan Bangunan Sederhana Tahan Angin. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Kedokteran Nuklir di Rumah Sakit. f. d. antara lain: a. SNI-1736. Tata Cara Pencegahan Rayap pada Pembuatan Bangunan Rumah dan Gedung.b. d. c. Perencanaan konstruksi dengan bahan dan teknologi khusus harus dilaksanakan oleh ahli struktur yang terkait dalam bidang bahan dan teknologi khusus tersebut. SNI-2407. b. SNI-1745. Perencanaan konstruksi dengan memperhatikan standar-standar teknis padanan untuk spesifikasi teknis. g. SNI-1735. Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung. SNI-2395. b. SNI-2397. SNI-2394. SNI-2405 . 5. SNI-2404. Pedoman Spesifik Untuk Tiap Jenis Konstruksi Selain pedoman yang spesifik untuk masing-masing jenis konstruksi. e. SNI-1963. Konstruksi dengan Bahan dan Teknologi Khusus a. c. 4. dan metoda uji bahan dan teknologi khusus tersebut.

Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1 % dari jumlah titik pondasi yang akan dilaksanakan dengan penentuan titik secara random. kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim. c. Pondasi Dalam a. Pondasi Langsung a. e. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan. b. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencana ahli yang memiiki sertifikasi sesuai. Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas. d. 2. Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi. kecuali ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh Dinas Bangunan. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek. b. .4 STRUKTUR BAWAH 1. d. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain. berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan korelasi tipikal parameter tanah yang lain.IV. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencana ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. c.

Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan sesuai rekomendasi hasil pemeriksaan keandaian bangunan gedung. beban yang didukungnya. IV. Pemeriksaan keandalan bangunan gedung dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan. Keruntuhan sruktur adalah diakibatkan oleh ketidak andalan suatu sistem atau komponen stnuktur untuk memikul beban sendiri. Ketidak andalan struktur akibat beban perilaku alam dan atau manusia dapat diakibatkan oleh adanya kebakaran. sehingga bangunan gedung selalu memenuhi persyaratan keselamatan struktur. Keselamatan Struktur a. dan kerusakan struktur sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki karena alasan teknis dan atau . gempa. 2. Ketidak andalan struktur akibat beban sendiri dan atau beban yang didukungnya disebabkan oleh karena umur bangunan yang secara teknis telah melebihi umur yang direncanakan. Struktur bangunan sudah tidak andal. Keruntuhan Struktur a. harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman/ Petunjuk Teknis Tata Cara Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung. d. Keselamatan struktur tergantung pada keandalan struktur tersebut terhadap gaya-gaya yang dipikulnya. b. c. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai. dan atau beban yang diakibatkan oleh perilaku alam.IV.5 KEANDALAN STRUKTUR 1. d. maupun bencana lainnya.6 DEMOLISI STRUKTUR 1. beban akibat perilaku manusia maupun beban yang diakibatkan oleh perilaku alam. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/ petunjuk teknis yang berlaku. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan. c. beban akibat perilaku manusia. Kriteria Demolisi Demolisi struktur dilakukan apabila: a. b. atau karena dilampauinya beban yang harus dipikulnya sesuai rencana sebagai akibat berubahnya fungsi bangunan atau kesalahan dalam pemanfaatannya.

metoda dan rencana demolisi struktur harus memenuhi persyaratan teknis untuk pencegahan korban manusia dan untuk mencegah kerusakan serta dampak lingkungan. Adanya perubahan peruntukan lokasi/fungsi bangunan. Penyusunan prosedur. dan secara teknis struktur bangunan tidak dapat dimanfaatkan lagi.ekonomis. . b. b. masyarakat dan lingkungan. Prosedur dan Metoda a. 2. Prosedur. serta dapat membahayakan pengguna bangunan. metoda dan rencana demolisi struktur dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

v. cukup waktu untuk evakuasi penghuni secara aman. cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api. yang menghubungkan kompartemen api. yang sesuai dengan: i. jumlah. beban api. PENGAMANAN TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN V. vii sistem proteksi aktif yang dipasang pada bangunan. c. Bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana/ prasarana pengamanan dan pencegahan penyebaran api. vi. mobilitas dan karakteristik penghuni lainnya. ii. waktu evakuasi ii. Bahan dan komponen bangunan harus tahan-penyebaran api.V. ix intervensi pasukan pemadam kebakaran. viii. Bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran. iii. Ketahanan Api dan Stabilitas. sampai dengan tingkat tertentu. sehingga: i. fungsi atau penggunaan bangunan. . ketinggian bangunan. dan x. Ruang perawatan pasien dari bangunan klas 9a harus dilindungi dari penyebaran api dan asap untuk memberi waktu cukup untuk evakuasi yang tertib dalam keadaan darurat. serta gas-gas beracun yang mungkin timbul. b. a. e. dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya. iv. sistem proteksi aktif yang dipasang dalam bangunan. antara bangunan. fungsi atau penggunaan bangunan.ukuran setiap kompartemen api. elemen bangunan lainnya. iv. tingkat bahaya api. kedekatan dengan bangunan lain. Bangunan gedung harus mempunyai bagian atau elemen bangunan yang pada tingkat tertentu akan mempertahankan stabilitas struktural selama kebakaran. iii. d. yang sesuai dengan: i. intensitas kebakaran. membatasi berkembangnya asap dan panas. terutama pada bangunan klas 2. ii. dan ii. iii.1 SISTEM PROTEKSI PASIF 1. 3 atau bagian dan bangunan klas 4: i.

fungsi bangunan. Setiap elemen bangunan yang disediakan untuk menahan penyebaran api. c. h. Akses ke dan sekeliling bangunan harus disediakan bagi kendaraan dan personil pemadam kebakaran. g. . beban api. v. Tipe A: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuknya adalah tahan api dan mampu menahan secara struktural terhadap kebakaran pada bangunan minimal 2 (dua) jam. dan lubang untuk instalasi harus dilindungi sedemikian.f. Dikaitkan dengan ketahanannya terhadap api. dan vi. yaitu pada bukaan. sambungan konstruksi. Tipe B: Konstruksi yang unsur-unsur struktur pembentuk kompartemen penahanan api mampu mencegah penjalaran kebakaran ke ruang-ruang bersebelahan di dalam bangunan dan unsur dinding luarnya mampu menahan penjalaran kebakaran dari luar bangunan selama sekurang kurangnya 1 (satu) jam. atau potensial dapat meledak. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api. b. intensitas kebakaran. sehingga diperoleh tingkat kinerja yang memadai dari elemen tersebut. sesuai dengan: i. Bangunan gedung harus mempunyai elemen bangunan yang pada tingkat tertentu menghindarkan penyebaran api dari peralatan utilitas yang mempunyai pengaruh bahaya api yang tinggi. ii. 2. Tipe C: Konstruksi yang terbentuk dari unsur-unsur struktur yang dapat terbakar dan tidak dimaksudkan untuk mampu bertahan terhadap api. sehingga peralatan darurat yang tersedia dalam bangunan tetap beroperasi pada jangka waktu yang diperlukan pada waktu terjadi kebakaran. sistem proteksi aktif. iv. j. Tipe Konstruksi Tahan Api. ukuran kompartemen. keruntuhan tersebut dapat dihindari. iii. terdapat 3 (tiga) tipe konstruksi yaitu: a. i. untuk memudahkan tindakan pasukan pemadam kebakaran secara memadai. tingkat bahaya api. Pada konstruksi ini terdapat dinding pemisah pembentuk kompartemen untok mencegah penjaiaran panas ke ruang-ruang yang bersebelahan di dalam bangunan dan dinding luar untuk mencegah penjalaran api ke dan dari bangunan didekatnya. Dinding luar beton yang dapat runtuh dalam bentuk panel yang utuh (misalnya beton pracetak) harus dirancang sehingga pada kejadian kebakaran dalam bangunan.

ii. agar dapat: i. perambatan api dan asap.000 m2 Klas 6.000 m3 33.9 A A B C 5.1. bagian ini tidak berlaku untuk bangunan klas 1 atau 10. 2.3. iii. menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran. Tipe konstruksi yang diwajibkan Minimum tipe konstruksi tahan api dari suatu bangunan harus sesuai dengan ketentuan pada tabel berikut: Tabel V. i.500 m2 3.000 m2 3.4 Ukuran maksimum dari kompartemen kebakaran Klasifikasi Bangunan Maksimum luasan lantai Klas 5 atau 9b Maksimum 48. melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan.500 m3 18. mengendalikan kebaran api agar tidak menjelar ke bangunan lain yang berdekatan.6.000 m2 b Pemberlakuan.7.1. dan . Tabel V.8 atau 9a luasan lantai (kecuali daerah perawatan pasien Maksimum 30.7.000 m3 volume Maksimum 5.3.000 m2 5.3 Tipe Konstruksi yang diwajibkan KETINGGIAN (dalam jumlah lantai) KLAS BANGUNAN 4 atau lebih 3 2 1 4.8 A B C C Kompartemenisasi dan Pemisahan Ukuran Kompartemen Ukuran kompartemenisasi dan konstruksi pemisah harus dapat membatasi kobaran api yang potensial.000 m3 volume Tipe Konstruksi bangunan Tipe A Tipe B Tipe C 8.500 m2 2.000 m3 21.500 m3 12. a.

.e. tempat parkir tak beratap atau suatu panggung terbuka.ii.4 bila: i.1. Batasan umum luas lantai. dan apabila: (1) ketinggian langit-langit kompartemen tidak lebih dari 12 meter. dilengkapi dengan sistem pembuangan asap atau ventilasi asap dan panas sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku. dan dikelilingi jalan masuk kendaraan sesuai dengan butir 4. Bangunan-bangunan besar yang diisolasi.000 m2 dan volumenya tidak melebihi 108. kecuali seperti yang diijinkan pada butir d. Ruang terbuka yang diperlukan harus: (1) Seluruhnya berada di dalam kapling yang sama kecuali jalan. atau peralatan Lift. Ukuran kompartemen pada bangunan dapat melebihi ketentuan dari yang tersebut dalam Tabel v.e.000 m2 atau 108.e.000 m3 dengan sistem sprinkler. atau unit utilitas sejenis dan berada di puncak bangunan. e. 8 atau 9 harus tidak melebihi luasan lantai maksimum atau volume maksimum seperti ditunjukkan dalam Tabel V. atau ii. Bagian bangunan. 9 yang dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler serta terdapat jalur kendaraan sekeliling bangunan yang memenuhi ketentuan butir 4. Bagian dari bangunan yang hanya terdiri dari peralatan pendingin udara. ketentuan pada butir c.4 dan butir f. Ukuran dari setiap kompartemen kebakaran atau atrium bangunan klas 5. i.1. atau: ii. c. atau tempat umum yang berdampingan dengan kapling tersebut. sungai.d. ii. namun berjarak tidak lebih dari 6 meter dengannya. iv. atau (2) ketinggian langit-langit lebih dari 12 meter. Untuk bangunan yang memiliki lubang atrium. maka seluruhnya dianggap sebagai satu bangunan dan secara bersama harus memenuhi ketentuan butir i. yang memenuhi persyaratan sebagaimana tersebut pada butir 4. tanki air. d dan e tidak berlaku untuk tempat parkir umum yang dilengkapi dengan sistem sprinkler. Kebutuhan ruang terbuka dan jalan masuk kendaraan. 7. Bangunan dengan luasan melebihi 18. dilengkapi dengan sistem pembuang asap sesuai ketentuan yang berlaku.i yang lebamya tidak kurang dari 18 meter. maka bagian dari ruang atrium yang dibatasi oleh sisi tepi di sekeliling bukaan pada lantai dasar sampai dengan langit-langit dari lantai tidak diperhitungkan sebagai volume atrium.000 m3 dengan ketentuan: (1) bangunan klas 7 atau 8 kurang dari 2 lantai dan terdapat ruang terbuka disekeliling bangunan tersebut. tidak diperhitungkan sebagai luas lantai atau volume dari kompartemen atau atrium iii. 6. (2) bila jarak antara bangunan satu dengan lainnya kurang dari 6 meter. i. d.ii. harus merupakan suatu kompartemen terhadap penjalaran api. asap dan gas beracun. ventilasi. iii. Bila terdapat lebih dari satu bangunan pada satu kapling.ii. (2) bangunan klas 5 s. Bangunan dengan luas tidak melebihi 18. ruang dalam bangunan yang karena fungsinya mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya kebakaran. dan (1) setiap bangunan harus memenuhi ketentuan butir i atau ii di atas.

bila salah satu tangga atau lift tersebut diwajibkan berada dalam suatu shaft tahan api. g. Pemisahan Pemisahan vertikal pada bukaan di dinding luar. kecuali untuk gardu jaga dan bangunan penunjang ( seperti gardu listrik dan ruang pompa). pemisahan oleh dinding tahan api. . maka bukaan harus dilindungi dengan penutup tahan minimal sama dengan ketahanan api dinding atau lantai. koridor umum yang panjangnya lebih dari 40 meter harus dibagi menjadi bagian yang tidak lebih dari 40 meter dengan dinding yang tahan asap. Tangga dan Lift pada satu shaft. 5. Apabila harus diadakan bukaan pada dinding sebagaimana dimaksud pada butir b. (4) memiliki kapasitas beban dan tinggi bebas yang memudahkan operasi mobil pemadam kebakaran. mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. Pada bangunan klas 2 dan 3. ii.e. Proteksi Bukaan a. atau akan menambah risiko merambatnya api ke bangunan yang berdekatan dengan kapling tersebut. dan lubang utilitas harus diberi penyetop api untuk mencegah merambatnya api serta menjamin pemisahan dan kompartemenisasi bangunan. Tangga dan lift tidak boleh berada pada satu shaft yang sama. dan shaft instalasi listrik harus sepenuhnya tertutup dengan dinding dari bawah sampai atas.(2) termasuk jalan masuk kendaraan sesuai ketentuan butir 4. dan tertutup pada setiap lantai.d.ii (3) tidak untuk penyimpanan dan pemrosesan material. Jalan masuk kendaraan harus: (1) sebagai jalan masuk bagi kendaraan darurat dan lintasan dari jalan umum. b. (5) bila terdapat jalan umum yang memenuhi (1) s. Seluruh bukaan harus dilindungi. h. dan . yang tidak melanggar batas lebar dari ruang terbuka. tidak menghalangi penanggulangan kebakaran pada bagian manapun dari tepian kapling. Koridor umum pada bangunan klas 2 dan 3. (4) di atas maka jalan tersebut dapat beriaku sebagai jalan lewatnya kendaraan atau bagian dari padanya. (2) lebar bebas minimum 6 meter dan tidak ada bagian yang lebih jauh dari 18 meter terhadap bangunan. f. dan (4) tidak ada bangunan diatasnya. c. serta di atas jalan tersebut tidak boleh dibangun apapun kecuali hanya untuk kendaraan dan pejalan kaki (3) dilengkapi jalan untuk pejalan kaki yang memadai. dan pemisahan pada shaft lift mengikuti syarat teknis sesuai ketentuan yang berlaku. Bukaan vertikal pada bangunan yang dipergunakan untuk shaft pipa. shaft ventilasi.

berjarak dari suatu obyek sumber api tidak kurang dari: (1) 1 m pada bangunan dengan 1 (satu) lantai. bila bukaan tersebut wajib dilindungi sesuai dengan butir ii.d. bila luas lubang/sambungan tersebut tidak lebih luas dari yang diperlukan. dan bila digunakan sprinkler pembasah-dinding maka sprinkler tersebut harus ditempatkan di bagian luar bangunan. jarak antara bukaan pada dinding luar pada kompartemen kebakaran harus tidak kurang dari yang tercantum pada Tabel V. bangunan-bangunan klas 1 atau klas 10.d. iii. bila bukaan di dinding luar tersebut terhadap suatu sumber api terletak kurang dari: (1) 3 m dari batas belakang persil bangunan. Proteksi Bukaan Pada Dinding Luar. dan sebagainya harus memenuhi persyaratan dan dapat dibuktikan melalui pengujian oleh lembaga uji yang diakui dan terakreditasi. bila luas penampang masing-masing tak melebihi 45. 135° Lebih dari 134° s. kecuali bila bukaan-bukaan tersebut pada bangunan klas 9b dan diberlakukan seperti bangunan panggung terbuka. lubang tirai. Pemisahan Bukaan Pada Kompartemen Kebakaran. dan jarak antara lubang ventilasi tak kurang dari 2 m pada dinding yang sama. g.5 JARAK ANTARA BUKAAN PADA KOMPARTEMEN KEBAKARAN YANG BERBEDA e. dan sambungan antara panel di dinding luar dari beton pracetak.5 m pada bangunan dengan lebih dari 1 (satu) lantai. Ketentuan proteksi pada bukaan ini tidak berlaku untuk: i.000 mm2.5. 90° Lebih darii 90° s. maka harus dilindungi sesuai dengan ketentuan butir h. atau (2) 1. Bukaan pada dinding luar yang perlu memiliki TKA harus: i. atau (2) 6 m dari sempadan jalan yang membatasi persil. dan tidak berada pada atau dekat dengan lantai dasar bangunan.d kurang dari 180° 180° atau lebih Jarak Minimal Antara Bukaan 6m 5m 4m 3m 2m nol . yang bukan dari klas 10. dan iii. lubang ventilasi yang tidak mudah terbakar (non combustible ventilators). f. maka tidak boleh menempati lebih dari 1/3 luas dinding luar dari lantai dimana bukaan tersebut berada. Sarana dan atau peralatan proteksi seperti penyetop api. Tabel V. Kecuali bila dilindungi sesuai ketentuan tersebut pada butir 9. atau (3) 6 m dari bangunan lain pada persil yang sama. Sudut Terhadap Dinding 0° (dinding-dinding saling berhadapan) Lebih dari 0° s. damper.d.d. dan ii.1. ii sambungan pengendali. 45° Lebih dari 45° s.1. dan sejenisnya di dinding luar dari konstruksi pasangan.

7. satu pompa digerakkan oleh: (a) motor-bakar. Metoda Proteksi Yang Diperbolehkan. jendela. 6. ii. atau memasang pintu kebakaran dengan TKA -/60/30 (dapat menutup sendiri secara otomatis). atau (b) motor listrik yang dicatu dari generator darurat. Sistem Pemadam Kebakaran a. Sistem hidran harus dipasang pada bangunan: (1) yang memiliki luas lantai total lebih dari 500 m2. dan penutup kebakaran harus memenuhi ketentuan butir i di atas dan standar teknis yang berlaku. dan (2) hidran dalam bangunan harus melayani hanya di lantai hidran tersebut ditempatkan. Hidran kebakaran. dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar. atau konstruksi dengan TKA tidak kurang dari-/60/-. 8 atau 9 yang berlantai tidak lebih dari 2 (dua). dilayani oleh hidran tunggal yang ditempatkan pada lantai dimana ada jalur keluar.(menutup otomatis atau secara tetap dipasang pada posisi tertutup).2 SISTEM PROTEKSI AKTIF 1.h. atau . kecuali pada satuan peruntukan bangunan. (3) bila dilengkapi dengan pompa kebakaran harus terdiri dari: (a) 2 (dua) pompa. di mana: (a) bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian klas 4. i. SNI 1745. (b) 2 (dua) pompa yang digerakkan oleh motor listrik yang dihubungkan dengan sumber tenaga yang terpisah satu sama lain. (1) harus dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. yang sekurang-kurangnya satu pompa digerakkan oleh motor bakar atau motor listrik yang dicatu dari daya generator darurat. Bila diperlukan proteksi. jendela dan bukaan lainnya harus dilindungi sebagai berikut: (1) Jalan masuk/pintu : sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. atau jendela kebakaran dengan TKA -/60/. V. Sistem hidran kebakaran. (2) Jendela: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. atau (b) bangunan klas 5. (4) bila pompa kebakaran dihubungkan dengan jaringan pasokan air dan dipasang pada bangunan dengan ketinggian efektif kurang dari 25 m. ii. dan (2) terdapat regu pemadam kebakaran. atau memasang penutup api otomatis dengan TKA -/60/(3) Bukaan-bukaan lain: sprinkler pembasah dinding dalam atau luar sesuai keperluan. i. Pintu. maka jalan masuk. asalkan hidran dapat menjangkau seluruh satuan peruntukan bangunan.

dan (b) pada bangunan klas 5. mempunyai jalur keluar langsung ke jalan atau ruang terbuka. 6. bila sistem pasokan air mengambil air dari sumber statis. serta harus dirancang untuk memenuhi tekanan dan laju aliran yang disyaratkan untuk operasi petugas pemadam kebakaran. Hose Reel i. dan jika dalam jarak 6 m dari bangunan. dilayani oleh Hose Reei tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari satu unit hunian tersebut dengan syarat Hose Reel melayani seluruh unit hunian. maka bangunan rumah pompa tersebut harus jelas terlihat. maka dinding rumah pompa dan bagian dinding luar yang berjarak 2 m dari samping rumah pompa dan 3 m di atas rumah pompa. kecuali pada satu unit hunian. ii. Sistem Hose Reel harus disediakan: (1) untuk melayani seluruh bangunan. satu unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. atau (b) jika bangunan tidak dilindungi seluruhnya dengan sistem sprinkler sesuai ketentuan yang berlaku. (a) pada bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian Klas 4 dilayani oleh Hose Reel tunggal yang ditempatkan pada jalur keluar dari unit hunian tersebut. dan dengan konstruksi yang mempunysi TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan bagi suatu dinding tahan api untuk klasifikasi bangunannya. pemasangan pompa kebakarannya dalam bangunan harus pada tempat yang: (a) mempunyai jelur keluar ke jalan atau ruang terbuka. Sistem Hose Reel. 8 atau 9 yang tidak lebih dari 2 (dua) lantai. atau: (2) bila hidran dalam tidak dipasang. 7. dipertimbangkan sebagai kompartemen kebakaran. untuk melayani setiap kompartemen kebakaran dengan luas lantai lebih dari 500 m2 dan untuk maksud butir ini. dimana satu atau lebih hidran dalam dipasang. tempat pompa harus terpisah dari bangunan. b. (2) melayani hanya lantai dimana alat ini ditempatkan. maka harus disediakan sambungan yang cocok dan jalan masuk kendaraan pemadam kebakaran untuk memudahkan petugas pemadam kebakaran memompa air dari sumber tersebut dan harus disediakan sambungan yang berdekatan dengan lokasi tersebut untuk meningkatkan tekanan air dalam sistem gedung.(5) (6) (7) (c) motor listrik yang dihubungkan pada sumber tenaga yang terpisah satu sama lain melalui fasilitas pemindah daya otomatis. . harus: (1) dipasang sesuai dengan standar yang berlaku. atau dinding antara bangunan dan rumah pompa yang berjarak 2 m dari sisi rurnah pompa dan 3 m di atas rumah pompa harus mempunyai TKA tidak kurang dari yang dipersyaratkan untuk dinding tahan api sesuai klas bangunannya. untuk pompa yang ditempatkan di luar bangunan. tahan cuaca.

2. (c) jaringan pipa memenuhi syarat pembagian pasokan air.000 m3. Bila dihubungkan dengan meteran air. sehingga hose tidak perlu melintasi pintu keluar masuk yang dilengkapi dengan pintu kebakaran atau pintu asap. Teater. (d) tiap katup yang mengatur aliran air dari sumber air utama ke Hose Reel harus dijaga pada posisi terbuka oleh pengunci dari logam.2. (b) diameter pipa dari meteran air atau instalasi PAM berdiameter tidak kurang dari 25 mm. Sistem sprinkler harus dipasang pada bangunan sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel V. (b) volume ruangan lebih dari 21. Lebih dari 2 (dua) lantai. atau (c) di dalam bangunan berdekatan dengan hidran dalam (selain hidran yang dipasang di pintu keluar yang diisolasi tahan api).d harus dipasang pada sambungan ke saluran utama. Bangunan Rumah Sakit. Pada bangunan yang tinggi efektifnya lebih dari 25 m Dalam kompartemenisasi dengan salah satu ketentuan berikut: (a) luas lantai lebih dari 3.(3) (4) (5) (6) Memiliki slang kebakaran yang harus diletakkan sedemikian rupa untuk menghindari partisi atau penghalang di dalam mencapai setiap bagian lantai dari tingkat yang bersangkutan Hose reel yang dipasang mengikuti butir (3) diatas ditempatkan: (a) di luar bangunan. Tidak termasuk lapangan parkir terbuka. atau (b) di dalam bangunan sekitar 4 m dari pintu keluar. sebuah katup yang memenuhi butir 5. Bila dipasok oleh sumber air utama dengan diameter nominal lebih besar dari 25 mm dan yang dihubungkan dengan sumber air untuk hidran. atau (d) kombinasi (a). Ruang Pertunjukan. Termasuk lapangan parkir terbuka dalam bangunan campuran. maka: (a) dipelihara kebutuhan kecepatan aliran dari hose reel.500 m2. dan (c).1 Persyaratan Pemakaian Sprinkler Jenis bangunan Kapan Sprinkler diperlukan: Semua klas bangunan: 1. Luas panggung dan belakang panggung lebih dari 200 m Tiap bangunan beratrium Untuk memperoleh ukuran kompartemen . c. Ruang Pertemuan Umum. yang merupakan bangunan terpisah Bangunan pertokoan (kbs 6). Sistem Sprinkler i. Konstruksi Atrium. (b).

·) (b) Volume lebih dari 12. Ruang parkir. Sistem sprinkler harus disambung atau dihubungkan ke dan dapat mengaktifkan: (a) setiap peringatan darurat dan sistem komunikasi intema yang disyaratkan. (5) Sambungan dengan peralatan alarm lainnya. . ii. luar bangunan yang diisyaratkan menggunakan sprinkler. selain nuang parkir terbuka Bila menampung lebih dari 40 kendaraan. dan klasifikas bangunan sesuai standar teknis yang berlaku. Pada kompartemen. dengan salah satu dari Bangunan dengan risiko bahaya kebakaran 2(dua) persyaratan : 2 (dua) persyaratan berikut: (a) Luas lantai melebihi 2. amat tinggi.000 m2.000 m2 den volume Bangunan berukuran begar den terpisah. (2) Bangunan bersprinkler.000 m3. atau: (b) dalam hal sebagian bangunan: (i) sebagian bangunan dipasang sprinkler dan diberi kompartemen kebakaran pada bagian yang tanpa sprinkler. pasokan air untuk sistem sprinkler harus memperhatikan tinggi efektif bangunan.000 m3. Katup kontrol sprinkler harus ditempatkan dalam suatu ruang yang aman atau ruang tertutup yang berhubungan langsung ke jalan atau ruang terbuka.9 dengan luas maksimum 18. atau (b) sistem pengeras suara atau peralatan lainnya yang dapat didengar bila peringatan darurat dan sistem komunikas intemal tidak disyaratkan. jika: (a) sprinkler terpasang diselunuh bangunan.yang lebih besar: (a) bangunan klas 5 .000 m3. (4) Pasokan air. 108.000 m2 dan volume 108. Sistem sprinkler harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (1) Standar perancangan dan pemasangan sprinkler otomatis sesuai standar teknis yang berlaku. *) Jenis bangunan dengan resiko bahaya kebakaran tinggi sesuai standar teknis yang berlaku. (b) semua bangunan dengan luas lantai lebih besar dari 18. Tanpa mengurangi ketentuan dalam standar teknis yang berlaku mengenai sprinkler. SNI-3989. dan (ii) setiap bukaan pada konstruksi pemisah antara bagian ter-sprinkler dan bagian tak ter-sprinker diproteksi sesuai ketentuan proteksi pada bukaan (3) Katup kontrol sprinkler. Tanpa mengurangi ketentuan atau standar yang berlaku bangunan atau bagian bangunan dianggap bersprinkler.

kecuali di dalam unit hunian bangunan klas 2 atau klas 3 atau sebagian bangunan klas 4. yang memungkinkan dilakukannya pemadaman awal efektip terhadap kebakaran oleh penghuni bangunan. Sistem deteksi kebakaran dan sistem alarm otomatis harus dihubungkan dan mengaktifkan: (1) sistem peringatan keadaan darurat dan sistem komunikasi internal sebagaimana dipersyaratkan oleh ketentuan Bab VIII. dengan ii. Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran a. Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis harus dipasang di: i. bangunan klas 1b. dan iv. 7) Sistem sprinkler di ruang parkir. Perancangan dan pemasangan sistem deteksi dan alarm kebakaran harus memenuhi standar teknis yang berlaku. Untuk sistem sprinkler yang dipasang di teater. atau (2) bila sistem peringatan darurat dan sistem komunikasi intemal tidak dipersyaratkan. tidak berhubungan dengan sistem sprinkler di bagian bangunan lainnya. dan (2) PAR dari jenis bukan klas A harus ditempatkan pada lokasi yang dapat menjangkau lokasi yang mengandung jenis bahaya yang harus diatasi. Sistem sprinkler yang dipasang pada ruang parkir pada bangunan multi-klas. harus dirancang sehingga sistem sprinkler yang melindungi bagian bukan nuang parkir dapat diisolasi dengan tanpa mengganggu aliran air. PAR yang jenisnya sesuai kebutuhan harus dipasang diseluruh bangunan. bangunan klas 2 dengan persyaratan khusus. b. alarm pengindera asap ataupun peralatan untuk peringatan . Pemadam Api Ringan (PAR) i. atau (2) akomodasi bagi lanjut usia. ii. 2. maka pada tiap katup yang berfungsi mengendalikan sprinkler didaerah panggung harus dipasang peralatan anti gangguan yang dihubungkan ke panel pemantau. bangunan klas 3 yang menampung lebih dari 20 penghuni yang digunakan sebagai: (1) bagian hunian dari bangunan sekolah. PAR memenuhi butir i. anak-anak atau orang cacat. ataupun mempengaruhi efektivitas operasi sprinkler yang melindungi ruang parkir. bangunan klas 9a. SNI-3985. harus: (a) berdiri sendiri. iii.(6) Peralatan anti gangguan (Anti Tamper). i. ruang pertemuan umum atau semacamnya. ii. (b) bila berhubungan dengan sistem sprinkler yang melindungi bagian bangunan bukan ruang parkir. maka dapat dihubungkan dengan sistem pengeras suara. Spesifikasi Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran. SNI-3987 kecuali PAR jenis air yang tidak perlu dipasang di dalam bangunan atau bagian bangunan yang dilayani oleh Hose Reel. d. jika: (1) Disediakan dengan mengikuti standar teknis yang berlaku.

Rute evakuasi merupakan jarak lintasan menerus perjalanan evakoasi/ penyelamatan dari suatu tempat (seperti pintu/ jalan keluar. dan bila terdapat partikel jenis lainnya harus menggunakan detektor tipe ionisasi. (2) tingkat penglihatan memungkinkan diketahui rute evakuasinya. i.50 meter jaraknya dari pintu kebakaran. ditempatkan kurang dari 1. Persyaratan umum i. Ketentuan pengendalian asap ini tidak berlaku untuk: i. dan ii. setiap ruangan yang tidak digunakan oleh penghuni untuk waktu yang cukup lama. dan (2) ketentuan yang berlaku tentang Spesifikasi Alat Pendeteksi dan Alarm Kebakaran otomatis pada Bangunan Gedung. ruang parkir terbuka atau panggung terbuka. : Batas Ambang. . dan Pemeriksaan Alat Deteksi dan Alarm Kebakaran Otomatis. sampai ke jalan atau ruang terbuka bebas. Pada saat terjadi kebakaran. yaitu: (1) ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan Ventilasi Mekanik dan Pengkondisian Udara dalam Bangunan Gedung. b. sehingga (1) temperatur ruang tidak membahayakan manusia. dan iii. Pengendalian Asap Kebakaran a. ruang tanaman atau sejenisnya. Perioda tenggang waktu harus memperhitungkan keadaan bangunan dan mobilitas manusia. i. ii.5 % smoke obscuration/m. Sistem sampling harus memenuhi Ketentuan yang berlaku tentang Tata Cara Perencanaan. untuk selama tenggang waktu sampai dengan seluruh penghuni dapat terevakuasi dari bangunan. termasuk didalam satuan numah hunian bangunan klas 2 atau 3 atau sebagian klas 4. ii.c. Penetapan batas ambang alarm bagi sistem detektor harus mengikuti ketentuan yang berlaku. jika dipasang di dalam saluran udara (ducts) atau udara yang terkontaminasi partikel debu dengan ukuran kurang dari 1 µm. ruang kompartemen sanitasi. setiap rute evakuasi harus dijaga dengan ketinggian asap sekurang-kurangnya 2. bangunan klas 1 atau 10. Penempatan Alat Pendeteksi Asap. dan iv. lainnya yang dapat didengar dan yang ditempatkan disetiap lantai sesuai ketentuan yang berlaku. atau menggunakan sistem point sampling yang mempunyai derajat kepekaan maksimum 0. (3) tingkat racun asap yang timbul tidak membahayakan manusia. iii. dipasang dengan permukaan menghadap ke bawah dan di luar saluran unit pengkondisian udara. ii. Pemasangan. dipilih tipe foto-elektrik. seperti gudang dengan luas lantai 30 m2.10 m di atas level lantai. ditempatkan pada lokasi berkumpulnya asap panas dengan mempertimbangkan geometri langit-langit dan efeknya pada lintasan perpindahan asap. ramp dan jalur sirkulasi yang terisolasi dari kebakaran serta koridor umum) pada setiap bagian bangunan. iii. d. 3.

2. dan persyaratan lain dari pedoman teknis ini. dimana: b. dan (2) kegiatan lain yang berkaitan dengan unsur keselamatan atau keamanan bagi penghuni bangunan. ii.3 pada lampiran persyaratan teknis ini maka harus memenuhi ketentuan i. iii. sifat dan jumlah bahan yang disimpan. iii. telepon. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. harus: (a) beroparasi seperti sistem pengendali asap. v. atau ketentuan pada butir b. Konstruksi. Ketentuan lebih teknis dalam pengendalian asap kebakaran untuk setiap klas bangunan mengikuti petunjuk dan standar teknis yang berlaku.iv. atau ketentuan pada butir b. atau (b) diatur sehingga pada kondisi kebakaran. ii sifat penggunaan bangunan. bersama-sama dengan kelengkapan pengendalian asap lainnya yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V.. setiap hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 harus diberlakukan sebagai kompartemen terpisah. (2) pada bangunan yang termasuk dalam butir vi. d. dan tidak membentuk bagian sistem pengendali asap harus memenuhi ketentuan standar yang berlaku. ditaruh atau dipakai di dalam bangunan. Pusat Pengendali Kebakaran a. peralatan dan sarana lainnya yang diperlukan dalam penanganan kondisi kebakaran. dilengkapi sarana alat pengendali. Persyaratan untuk bahaya khusus Upaya tambahan dalam pengendalian bahaya asap mungkin dipersyaratkan bilamana berkaitan dengan: i. vi. Untuk keperluan ketentuan ini. Berkaitan dengan butir c berikut tentang Persyaratan Untuk Bahaya Khusus. setiap bagian yang menyebabkan penyebaran asap yang serius antar kompartemen. selain: (1) kegiatan pengendalian kebakaran. . c.2. Pada sistem pengkondisian udara terpusat yang memutar udara untuk lebih dari satu ruangan kompartemen kebakaran: (1) pada bangunan yang termasuk dalam butir v. tata letak bangunan. panel kontrol.2. meubel. sistem tidak mengganggu beroperasinya peralatan pengendalian asap yang dipasang untuk memenuhi ketentuan pada Tabel V.. bila suatu bangunan tidak termasuk dalam Tabel V. sebuah ruang untuk pengendalian dan pengarahan selama berlangsungnya operasi penanggulangan kebakaran atau penanganan kondisi darurat lainnya. Ruang Pusat Pengendaii Kebakaran pada bangunan gedung yang tinggi efektifnya lebih dari 50 meter harus merupakan ruang terpisah. dan tidak mensirkulasikan asap diantara kompartemen kebakaran. harus: (a) beroperasi seperti sistem pengendali asap sesuai ketentuan. 4.3. Kegunaan dan sarana yang ada di Pusat Pengendali Kebakaran adalah: i. tidak digunakan bagi keperluan lain.3. Untuk sistem pengatur udara lainnya.

dan (5) rencana taktis penanggulangan kebakaran. saluran. (3) sebuah papan tulis dan sebush papan tempel (pin-up board) berukuran cukup. saluran udara dan sejenisnya. ventilasi dan lubang perawatan lainnya. lantai atau langit-langit yang memisahkan ruang pengendali dengan ruang dalam bangunan dibatasi hanya untuk pintu. i. kipas pengendali asap. ii. dan (4) sebuah meja berukuran cukup untuk menggelar gambar dan rencana taktis yang disebutkan dalam (5).1. iii. dan (2) arah langsung dari tempat umum atau melalui jalan terusan yang dilindungi terhadap api. pintu. sistem pengamatan. yang khusus untuk melayani fungsi ruang pengendali tersebut. jika dikehendaki terpisah total dari sistem lainnya. Ruang pengendali kebakaran harus dilengkapi dengan sekurang-kurangnya: (1). dinding atau sejenisnya mempunyai kekokohan yang cukup terhadap keruntuhan akibat kebakaran dan dengan nilai TKA tidak kurang dari 120/120/120. Pintu yang menuju ruang pengendali harus membuka ke arah dalam ruang tersebut. Ruang pengendali haruslah dapat dimasuki dari (2) dua arah (1) arah pintu masuk di depan bangunan. dan peralatan pengamanan kebakaran lainnya yang dipasang di dalam bangunan. Sebagai tambahan. pembungkus atau sejenisnya harus memenuhi persyaratan terhadap kebakaran. Proteksi pada bukaan. sakelar kontrol dan indikator visual yang diperlukan untuk semua pompa kebakaran. peralatan utilitas. d. i.5 Pintu Keluar. genset darurat. langit-langit dan dinding dalam. dan sistem manajemen. bahan lapis penutup. bukaan pada dinding. dapat dikunci dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga orang yang menggunakan rute evakuasi dari dalam bangunan tidak menghalangi atau menutupi jalan masuk ke ruang pengendali tersebut. ii. yang tidak diperlukan untuk berfungsinya nuang pengendali. (2) telepon sambungan langsung. untuk jendela. Setiap bukaan pada ruang pengendali kebakaran. pipa.50 m. c. Ruang pengendali harus: (1) mempunyai luas lantai tidak kurang dari 10 m2. . iv. dan sejenisnya harus mengikuti syarat teknis proteksi bukaan pada Bab V. seperti pada lantai. tidak boleh lewat ruang tersebut. iii. dan salah satu panjangnya dari sisi bagian dalam tidak kurang dari 2. ventilasi.i. di ruang pengendali dapat disediakan: (1) Panel pengendali utama. ii. dan (2) sistem keamanan bangunan. Panel indikator kebakaran. konstruksi penutupnya dari beton. Ukuran dan sarana. sakelar pengendali jarak jauh untuk gas atau catu daya listrik. e. panel indikator lif. yang menuju ke tempat umum dan mempunyai nilai TKA tidak kurang dari -/120/30.

dan (1) dipasang sesuai ketentuan yang berlaku seperti untuk tangga kebakaran yang dilindungi. atau ii. Ventilasi dan pemasok daya. (4) mempunyai kipas. dan tingkat iluminasi diatas meja kerja tak kurang dari 400 Lux. Pencahayaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku harus dipasang dalam ruang pusat pengendali. tetapi tidak berada di dalam ruang pengendali dan diproteksi oleh dinding yang mempunyai TKA tidak lebih kecil dari 120/120/120. (3) jika dipasang peralatan tambahan. (5) mempunyai catu daya listrik ke ruang pengendali atau peralatan penting bagi beroperasinya ruang pengendali. motor dan pipa-pipa saluran udara yang membentuk bagian dari sistem. pompa pengendali sprinkler. i. f.50 m2 dan ruang untuk tiap rute evakuasi penyelamatan dari ruang pengendali ke ruang lainnya harus disediakan sebagai tambahan persyaratan (2) dan (3) diatas. ventilasi alami dari jendela atau pintu pada dinding luar bangunan yang membuka langsung ke ruang pengendali. g. tetapi boleh dipasang di ruangan-ruangan yang dapat di capai dari ruang pengendali tersebut. pemipaan dan sambungan-sambungan pipa tidak boleh dipasang dalam ruang pengendali. (2) beroperasi otomatis melalui aktivitas sistem alarm atau sistem sprinkler yang dipasang pada bangunan. . (3) mengalirkan udara segar ke ruangan tidak kurang dari 30 kali pertukaran udara perjamnya pada waktu sistem beroperasi dengan dan salah satu pintu ruangan terbuka. Beberapa peralatan seperti Motor bakar. luas lantai bersih tidak kurang dari 8 m dan luas ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1.(2) jika hanya menampung peralatan minimum. luas lantai bersih daerah tambahan adalah 2 m2 untuk setiap penambahan alat. ruang bebas di depan panel indikator tidak kurang dari 1. Ruang pengendali harus diberi ventilasi dengan cara: i. h.50 m2. Tingkat suara (ambient) dalam ruang pengendali kebakaran yang diukur pada saat semua peralatan penanggulangan kebakaran beroperasi ketika kondisi darurat berlangsung tidak melebihi 65 dbA bila ditentukan berdasarkan ketentuan tingkat kebisingan didalam bangunan. Sistem udara bertekanan yang hanya melayani ruang pengendali.

Kuat dan kokoh menahan pengaruh orang yang menabrak. dan tekanan orang pada penghalang tersebut. Agar manusia dapat bergerak dengan aman ke dan di dalam bangunan maka bangunan harus mempunyai antara lain: i. Setiap tangga dan ramp memiliki: (1) Permukaan lantai tidak licin pada ramp. ii. 2. atau karena perbedaan tinggi lantai dalam bangunan. SARANA JALAN MASUK DAN KELUAR VI. d. Akses ke dan di dalam bangunan harus tersedia yang memungkinkan pergerakan manusia secara aman.VI. Butir c tersebut di atas tidak berlaku bila penghalang tersebut digunakan untuk panggung. (2) Pegangan rambat (handrails) yang memadai untuk membantu kestabilan pemakai tangga/ramp (3) Lantai bordes yang memadai uniuk menghindari keletihan (4) Pintu di lantai bordes sedemikian hingga pintu tersebut tidak menjadi rintangan. kecuali tangga/ramp di luar bangunan. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir mobil) dan klas 8. nyaman dan memadai. . aman. b. Fungsi a. Melengkapi bangunan dengan akses yang layak. ii. c. e.1 FUNGSI DAN PERSYARATAN KINERJA 1. mampu menjaga lintasan anak-anak. 3. (5) Tangga yang memadai untuk menampung volume dan frekwensi penggunaan. Setiap pintu dibuat agar penghuni mudah mencapai akses keluar dan menghindari risiko terjebak di dalam bangunan. Persyaratan kinerja: a. dan memadai bagi semua orang. harus dibuatkan penghalang yang: i. Pada area dimana orang bisa jatuh dari ketinggian 1m atau lebih dari lantai/atap/melalui bukaan pada dinding luar bangunan. Fungsi tersebut pada butir b di atas tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. c. tempat bongkar muat barang dan sejenisnya. atau 4. Kemiringan permukaan lantai harus aman bagi pejalan kaki. nyaman. b. injakan dan akhiran injakan tangga. iii. tinggi disesuaikan dengan risiko orang tanpa disengaja jatuh dari lantai /atap. Melengkapi bangunan dengan sarana evakuasi yang memungkinkan penghuni punya waktu untuk menyelamatkan diri dengan aman tanpa meraskan keadaan darurat. ii. iv. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dan area lain untuk tujuan darurat. menerus sepanjang area yang berbahaya. iii. Butir c tersebut tidak berlaku juga untuk: i.

Intervensi pasukan pemadam kebakaran Agar penghuni dapat keluar dengan aman dari bangunan. dimensi jelur lintasan menuju ke pintu keluar harus sesuai dengan . balkon. c. d. VI. mobilitas dan karakter penghuni. b. Tangga. Fungsi bangunan iv. Tangga. Ramp kendaraan dan lantai yang dapat dilewati kendaraan harus mempunyai pembatas pinggir atau penghalang lainnya untuk melindungi pejalan kaki dan struktur bangunannya. Sistem kebakaran yang dipasang dalam bangunan iii. g. Kebutuhan Jalan Keluar a. h. lantai. Fungsi bangunan iv. dan atap yang dapat dicapai oleh manusia harus mempunyai dinding pembatas. i. 3 dan 4. Jumlah. Persyaratan Keamanan a. ii. 2 . ramp. Bangunan klas 9: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada: i. bila jalan keluar dari lapis lantai di dalam bangunan dimaksud naik lebih dari 1. dan ii. 8: Minimal harus tersedia 2 jalan ke!uar pada setiap lapis lantainya apabila tinggi efektif bangunannya lebih dari 25 m c. iii. Tinggi bangunan Jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran dan sesuai dengan: i. setiap lapis lantai termasuk area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. setiap lapis lantai bila bangunan dengan jumlah lantai lebih dari 6. i. Basement: Minimal harus tersedia 2 jalan keluar pada lapis lantai manapun. lokasi dan dimensi pintu keluar yang tersedia pada bangunan disediakan agar penghuni dapat menyelamatkan diri dengan aman. Jarak tempuh ii. luas lapis lantainya tak lebih dari 50 m2.5 m. jarak tempuh dari titik manapun pada lantai dimaksud ke suatu jalan keluar tunggal tak lebih dari 20 m. b Bangunan klas 2 s. Semua bangunan : Setiap bangunan harus mempunyai sedikitnya 1 jalan keluar dari setiap lantainya.d. Jumlah. balustrade atau penghalang lainya yang untuk melindungi pengguna bangunan terhadap risiko jatuh . Jumlah.f.atau yang ketinggian efektifnya lebih dari 25 m. sesuai dengan: i.2 KETENTUAN JALAN KELUAR 1. mobilitas dan karakter lain dan penghuni ii. Fungsi bangunan Butir h tersebut di atas tidak berlaku di dalam unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. Jumlah lantai yang dihubungkan dengan pintu tersebut ii. kecuali: i. ramp dan lorong (gang) harus aman bagi lalu lintas pengguna bangunan.

9 : Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap bahaya kebakaran kecuali: i. f. setiap lapis lantai atau mesanin yang dapat menampung lebih dari 50 orang sesuai fungsinya. pada bangunan klas 9a: tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan pada suatu tempat. setiap penghuni pada lapis lantai atau bagian lapis lantai bangunan harus dapat mencapai ke: i. Jarak jalur menuju pintu keluar a. iv. 1 jalan keluar. 3. Pintu masuk dari setiap hunian tunggal harus berjarak tidak lebih dari: (1) 6 m dari jalan keluar atau dari tempat dengan jalur yang berbeda arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. bila 2 atau lebih jalan keluar diwajibkan. selain area perawatan pasien. atau dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. Area perawatan pasien: Pada bangunan klas 9a sedikitnya harus ada 1 jalan keluar dari setiap bagian pada lapis lantai yang telah disekat menjadi kompartemen tahan api. dan termasuk 1 lapis lantai tambahan bila digunakan sebagai tempat menyimpan kendaraan bermotor atau tempat pelengkap lainnya. Bagian bangunan klas 4: Pintu masuk harus tidak lebih dari 6 m dari pintu keluar.d. atau ii. merupakan bagian dari tribun penonton terbuka. Panggung terbuka: Pada panggung terbuka dan menampung lebih dari 1 deret tempat duduk.iii. Jalan keluar yang diisolasi terhadap kebakaran a. Bangunan kelas 5 s. setiap lapis lantai pada bangunan sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dengan ketinggian 2 lantai atau lebih. b. kecuali jalan tersebut menghubungkan tidak lebih dari: i. iii. Akses ke jalan keluar: Tanpa harus melalui hunian tunggal lainnya. atau (2) 20 m dari pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan jalan keluar ke jalan atau ke ruang terbuka. Bangunan klas 2 dan 3 i. setiap lapis lantai pada bangunan klas 9b yang digunakan sebagai pusat asuhan balita. ii. . harus kurang dari 20 m dari pintu keluar atau tempat jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. tidak menghubungkan lebih dari 2 lapis lantai secara berurutan. e. 2 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 3. 4. v. Setiap tempat dalam ruangan yang bukan pada unit hunian tunggal. ii. Bangunan klas 2 dan 3: Setiap jalan keluar harus diisolasi terhadap kebakaran. atau ii. bila bangunan tersebut mempunyai sistem sprinkler yang menyeluruh. sedikitnya 2 jalan keluar. setiap deret harus mempunyai minimal 2 tangga atau ramp. b. 3 lapis lantai berurutan dalam suatu bangunan klas 2. g. masing-masing merupakan bagian jelur lintasan ke minimal 2 buah jalan keluar.

60 m. tinggi bebas seluruhnya harus tidak kurang dari 2 m. jika jarak maksimum ke salah satu pintu keluar tersebut tidak melebihi 40 m. e. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. lebar bebas. b. atau tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar tersedia. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 100 orang tetapi tidak lebih dari 200 orang. bila : i. d. untuk bangunan lainnya. f. ii. berjarak tidak kurang dari 9 m. atau 6. atau ii. Setiap tempat pada lantai harus berjarak tidak lebih 12 m dari tempat dengan jalur dua arah menuju ke 2 pintu keluar yang dipersyaratkan tersedia. d. atau iii. bila disyaratkan untuk pintu keluar pada tempat perawatan pasien.8 m pada lorong. Bangunan klas 5 s. Jarak Antara Pintu-pintu Keluar Alternatif. tersebar merata di sekeliling lantai dimaksud sehingga akses ke minimal dua pintu keluar tidak terhalang dari semua tempat termasuk area lif di lobby. 1 m. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan c. memiliki TKA tidak kurang dari 60/60/60 dan konstruksi setiap pintunya terlindung serta dapat menutup sendiri dengan ketebalan tidak kurang dari 35 mm. Pada bangunan klas 5 atau 6. f. dan ii. b. jika lapis lantai atau mesanin menampung tidak lebih dari 100 orang. Pintu yang disyaratkan sebagai alternatif jalan keluar harus: a. ramp. 1. e. . Panggung Terbuka: Jarak jalur lintasan menuju ke pintu keluar pada bangunan klas 9b yang dipakai sebagai panggung terbuka harus tidak lebih dari 60 m. berjarak tidak lebih dari: i.d. Dimensi/ukuran Pintu Keluar. i. 45 m pada bangunan klas 2 atau klas 3. konstruksi ruang tersebut bebas asap. 5.c. jarsk ke pintu keluar tunggal pada lapis lantai yang merupakan akses ke jalan atau ke ruang terbuka dapat diperpanjang sampai 30 m. Jarak maksimum dari satu tempat ke salah satu dari pintu keluar tersebut tidak lebih dari 30 m. atau ruang sirkulasi lainnya. lobby. Setiap tempat harus berjarak tidak lebih 20 m dari pintu keluar. jalur lintasan dari ruang tersebut ke pintu keluar melalui lorong/koridor. dan: i. jarak ke salah satu pintu keluar dimungkinkan 60 m. c. 9: Terkena aturan butir d. atau ii. dan ii. Bangunan klas 9a: Area perawatan pasien pada bangunan klas 9a. kecuali pintu keluar harus tidak kurang dari: i. Gedung Pertemuan: Pada bangunan klas 9b selain gedung sekolah atau pusat asuhan balita. terletak sedemikian hingga alternatif jalur lintasan tidak bertemu hingga berjarak kurang dari 6 m. 1 m ditambah 250 mm untuk setiap kelebihan 25 orang. lebar bebas. 45 m pada bangunan klas 9a. Pintu keluar yang disyaratkan atau jalur sirkulasi ke jalan keluar: a.

tersedia menuju ke jalan atau ruang terbuka. g. lobby umum. Pintu dalam ruangan harus tidak membuka langsung ke arah tangga. (4) mempunyai lintasan bebas rintangan dari tempat keluar ke jalan atau ruang terbuka yang tidak lebih dan 6 m. jika lapis lantai atau mesanin menampung lebih dari 200 orang. Setiap tangga atau ramp tahan api harus menyediakan pintu keluar tersendiri dari tiap lapis lantai yang dilayani dan keluar secara langsung atau melawati lorong yang diisolasi terhadap kebakaran yang ada di lantai tersebut: i. ke jalan atau ruang terbuka. Bila lintasan keluar bangunan mengharuskan melewati 6 m dari dinding luar bangunan dimaksud. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 60 orang jika jalan keluar mencakup perubahan ketinggian lantai oleh tangga atau ramp dengan tinggi tanjakan 1:12. (2) lebar koridor lebih dari 2.2 m: 1200 mm. (2) terbuka untuk sedikitnya 1/3 dari keliling area tersebut.2. lebar bebas. diukur tegak lurus ke jalur lintasan. lebar bebas.8 m . kecuali untuk pintu keluar harus diperlebar sampai 17 m ditambah dengan angka kelebihan tersebut dibagi 600. koridor atau ramp yang digunakan untuk jalur sirkulasi pasien di tempat tidur pada area atau bangsal perawatan. 1. lorong. c. ke area tertutup yang: (1) berbatasan dengan jalan atau ruang terbuka. (3) mernpunyai ketinggian bebas rintangan di semua bagian termasuk bukaan pada keliling area yang tidak kurang dari 3 m. e. ruang transisi atau yang sejenisnya. b. iii. d atau e. lebar dari setiap pintu keluar yang memenuhi ketentuan butir b. atau ii. kecuali kalau pintu tersebut dari: i. atau ii. atau ramp yang disyaratkan diisolasi terhadap kebakaran. ii.2 m: 1070 mm. 750 mm. jika membuka ke arah koridor dengan (1) lebar koridor antara 1. . Jalur Lintasan Melalui Jalan Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran. ii. 7. iii. unit hunian tunggal yang menempati seluruh lapis lantai. parkir kendaraan atau sejenisnya. bagian dinding tersebut harus mempunyai: c. minus 250 mm.8 m pada lorong. koridor. kecuali pintu keluar harus ditambah menjadi: i. bila pintu tersebut untuk kompartemen sanitasi atau kamar mandi.d. tidak lebih dari 20 m. iii. a. ketempat: (1) ruang atau lantai yang digunakan hanya untuk pejalan kaki. f. (3) pintu keluar horisontal: 1250 mm. dan tertutup tidak lebih dari 1/3 kelilingnya. lebar pintu keluar: i. lebar pintu keluar tidak boleh berkurang pada jalur lintasan ke jalan atau ruang terbuka. pada kasus lain. 2 m ditambah 500 mm untuk setiap kelebihan 75 orang. hall atau yang sejenisnya. pada area perawatan pasien. pada panggung penonton yang menampung lebih dari 2000 orang. (2) lintasan tanpa rintangan. komponen sanitasi. ii.

bila konstruksi tangga tersebut (termasuk jembatan penghubung) secara keseluruhan dari bahan yang tidak mudah terbakar. c. 20 m dari pintu keluaar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. jarak antara sembarang tempat pada lantai ke tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran harus tidak melebihi 80 m. Lintasan Melalui Tangga/Ramp Yang Tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran a. 30 m pada konstruksi bangunan tipe C. Tangga Luar Bangunan Tangga luar bangunan dapat berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan menggantikan pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran. 3 atau 4. bukan dari komponen sanitasi atau sejenisnya. 30 m dan salah satu dari dua pintu atau lorong keluar bila arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. bukaan terlindung di bagian dalam dilindungi sesuai ketentuan Proteksi Bukaan pada Bab V. yang tidak diisolasi terhadap kebakaran.1. bangunan klas 9a : Ramp harus tersedia untuk setiap perubahan ketinggian kurang dari 600 mm pada lorong yang diisolasi terhadap kebakaran. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke Jalan atau ruang terbuka. tangga/ramp yan tidak diisolasi terhadap kebakaran harus keluar pada tempat yang tidak lebih dari i. e. Pada bangunan klas 2. atau dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran menuju ke jalan atau ruang terbuka. pada bangunan dengan ketinggian efektif tidak lebih dari 25 m. 8. d. pintu keluar bertekanan udara sesuai standar yang berlaku. jarak antara pintu keluar dari ruang atau unit hunian tunggal dan tempat keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka melalui tangga atau ramp yang tidak diisolasii terhadap kebakaran harus tidak melampaui: i.5. atau ii. d. yang berfungsi sebagai pintu keluar yang disyaratkan harus mempunyai jalan lintasan menerus. e. 60 m pada konstruksi bangunan lainnya. tangga/ramp yang tidak diisolasi torhadap kebakaran harus keluar ke tempat yang tidak lebih dari: i. 15 m dari pintu keluar yang menyediakan jalan keluar menuju ke jalan atau ruang terbuka. . membuka ke pintu keluar yang diisolasi terhadap kebakaran pada lantai dimaksud i lobby bebas asap sesuai dengan Bab V. Tangga/ramp. Pada bangunan klas 5 s d. ii.d.2. dan memenuhi ketentuan teknis yang berlaku. TKA sedikitnya 60/60/60. 8 ata u 9b. Pada bangunan klas 5 s. Pada bangunan klas 2. 9. atau 9. dengan injakan dan tanjakan dari setiap lantai yang dilayani menuju ke lantai dimana pintu keluar ke jalan atau ruang terbuka disediakan b. atau ii.3 harus tersedia ii.i. 3 atau 9a. Jika Jebih dari dua akses pintu.

tangga atau ramp yang disyaratkan harus tidak keluar ke arah area di depan panggung tersebut. Pada bangunan klas 2 atau 3. jalur lintasan menuju ke jalan harus i. bebas asap. . ii. ii. terhadap kebakaran dalam bangunan.4. dan bila perlu dibuat penghalang untuk mencegah kendaraan menghalangi jalan keluar atau akses menuju ke pintu keluar tersebut. ii. pada bangunan klas 9b yang digunakan untuk pusat asuhan balita bagunan SD atau SLTP. 2. pintu keluar horisontal dapat dianggap sebagai pintu keluar yang disyaratkan. bila jalur lintasan dari kompartemen kebakaran menuju ke satu atau lebih pintu keluar horisontal langsung menuju ke kompartemen kebakaran lainnya.ii. antara unit hunian tunggal. berupa ramp atau lereng dengan kemiringan kurang dari 1:8. Pada bangunan klas 9a. e. atau mana yang lebih lebar.14 bila disyaratkan oleh ketentuan Bab. Vl. atau tidak setinggi 1. tangga memenuhi ketentuan dari pedoman ini. 10. lintasan ke arah jalan harus mempunyai lebar bebas tidak kurang dan 1 m. dan c. 11 Pintu Keluar Horisontal. 40 m dari salah satu dari dua pintu atau lorong keluar: arah tangga/ramp yang tidak diisolasi terhadap kebakaran berlawanan atau hampir berlawanan arah. bila dua atau lebih pintu keluar disyaratkan dan disediakan sebagai sarana tangga/ramp yang tidak diisolasi. kecuali bila pintu keluar dari bangunan klas 9a. panggung terbuka yang menampung lebih dari 500 orang. Pada bangunan klas 9b. d. Pintu keluar harus tidak terhalang. b. maka masing-masing pintu keluar tersebut harus : i menyediakan jalan keluar terpisah menuju ke jalan atau ruang terbuka. Pada bangunan klas 9b dengan auditorium yang menampung lebih dan 500 orang. Jika pintu keluar menuju ke ruang terbuka yang terletak pada ketinggian berbeda dengan jalan umum yang menghubungkannya. Pintu keluar horisontal bukan merupakan pintu keluar yang disyaratkan apabila: i. f. Keluar Melalui Pintu-Pintu Keluar a. c. d. a. dan mempunyai sedikitnya satu pintu keluar yang disyaratkan yang bukan pintu keluar horisontal Kasus selain butir b di atas.2.5 m2 tiap pasien pada bangunan klas 9a. b. atau lebar minimum dari pintu keluar yang disyaratkan. tidak lebih dari 2/3 lebar pintu keluar yang disyaratkan harus terletak di area pintu masuk utama. pintu keluar horisontal harus tidak lebih dari separuh pintu keluar yang disyaratkan pada lantai yang dipisahkan oleh dinding tahan api Pintu keluar horisontal harus mempunyai area bebas disetiap sisi dinding tahan api untuk menampung jumlah orang dari seluruh bagian lantai dengan tidak kurang dari: i. Jika pintu keluar yang disyaratkan menuju ke ruang terbuka.

ii. 6. dan bila 2 atau lebih tempat jalan keluar tersedia dalam ruangan tersebut. di luar bangunan. iv. . Jumlah Orang Yang Ditampung Jumlah orang yang ditampung dalam satu lantai. 7.ii. Ramp Atau Eksalator Yang Tidak Disyaratkan Eskalator dan tangga/ramp pejalan kaki yang ditetapkan tidak diisolasi terhadap kebakaran a. dapat menghubungkan sejumlah lantai bangunan bila tangga.2 sesuai jenis penghunian. 0. dan satu dari lapis lantai tersebut terletak pada ketinggian yang terdapat jalan keluar langsung ke arah jalan atau ruang terbuka. Bila ruang peralatan atau ruang. motor lif mempunyai luasan i. kecuali bila dijinkan sesuai butir b atau c di atas. 8 atau 9. kompartemen sanitasi atau penggunaan tambahan. tangga. 12. ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan. tangga pengait (ladder) dapat dipakai sebagai pengganti tangga (stairway) dari setiap tempat jalan keluar dari ruangan. 2 lantai dengan ketentuan lantai bangunan tersebut harus berurutan. Tangga pengait diijinkan menurut (a) di atas. bila: i.2. ii. menghitung total jumlah orang tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap lapis menurut Tabel Vl. lobby dan yang sejenis. tangga atau ramp disyaratkan memenuhi ketentuan butir 12 ini c. atau ii. pada panggung terbuka atau stadion olah raga tertutup. lebih dari 100 m2 dan tidak lebih dari 200 m2. hall. koridor. tidak termasuk area yang dirancang untuk: i. dan luas lantai dengan: a. ii pada area parkir kendaraan atau atrium. b. Tangga. d.c. kecuali satu dari jalan keluar tersebut. eskalator. atau 13. ramp atau eskalator tersebut i. kecuali diijinkan sesuai butir b di atas. merupakan bagian dari jalan keluar yang tersedia pada tangga yang diisolasi terhadap kebakaran yang terdapat dalam saf.5 m2 tiap orang pada klas bangunan lainnya. harus tidak menghubungkan secara langsung atau tidak langsung ke lebih dari 2 lapis lantai pada bangunan klas 5. tata letak lantai tersebut. pada bangunan klas 5 atau 6 yang dilengkapi dengan fasilitas sprinkler menyeluruh. harus memenuhi standar teknis terkait bila untuk ruang peralatan dan untuk ruang motor lift. dan ii. tidak harus menghubungkan lebih dari i. 1. Ruang Peralatan Dan Ruang Motor Lift a. ramp. lift. 14. dapat keluar pada lantai dan dipertimbangkan sebagai bagian dari jalur lintasan. 3 lantai. dan eskalator. tangga pengait dapat dipakai sebagai pengganti tangga seluruhnya. harus tidak digunakan di area perawatan pasien pada bangunan klas 9a b. iii. tidak lebih dari 100 m2. iii. bila tiap lantai tersebut dilengkapi dengan sprinkler menyeluruh sesuai ketentuan Bab V. service duct dan yang sejenis.

. motel.b. laboratorium.ventilasi. 3. elktrikal. tempat cuci Perpustakaan : . Penerapan Kecuali ketentuan butir 13 den 16.ruang untuk fabrikasi dan proses selain di atas Garasi-garasi umum Ruang senam/gymnasium Hotel.5 5 4 5 50 30 3 15 10 1 10 2 30 Jenis Penggunaan Kantor (pengetikan dan fotokopi) Ruang Perawatan Pasien Ruang industri : . ganti di teater Terminal Bengkel / workshop : staf pemeliharaan Proses manufaktur m2/orang 10 10 30 50 2 1 2 1 10 4 bengkel 3 5 5 0. gereja. telepon Kolam renang Teater dan Hall R. persyaratan ini tidak berlaku untuk unit hunian tunggal pada bangunan klas 2 atau 3 atau bagian klas 4. tunggu r. b.boiler/sumber tenaga Ruang baca Restoran Sekolah : r. penjualan: Level langsung dari luar Level lainnya r.mall. guest-house Stadion indoor area Kios Dapur. r. atau dengan konstruksi: 2. pamer : r.r penyimpanan m2/orang 4 1 2 15 25 10 1 0. atau cara lain yang sesuai untuk menilai kapasitasnya. mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan.2 LUASAN PER-ORANG SESUAI PENGGUNAANNYA (BEBAN PENGHUNIAN) Jenis Penggunaan Galeri seni. manufaktur. dari material tidak mudah terbakar. kelas umum gedung serba guna ruang staf ruang praktek: SD SLTP Pertokoan. kerja.3 KONSTRUKSI JALAN KELUAR 1. arcade Panggung penonton: darah panggung Kursi penonton R.3 1 30 1. baca. c. museum Bar. Tangga Dan Ramp Yang tidak Diisolasi Terhadap Kebakaran Untuk bangunan dengan ketinggian lebih dari 2 lantai. ruang makan Ruang pengurus Pemondokan/losmen Ruang komputer Ruang sidang pengadilan: r. café. . hostel. tangga dan ramp yang tidak disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi sesuai ketentuan butir 2 diatas. peragaan. sidang Ruang dansa Asrama Pusat Penitipan Balita Pabrik: . workshop . ruang pamer. dll . penyimpanan r.r. listrik. Tangga Dan Ramp Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Tangga atau ramp yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api harus dengan konstruksi: a. prosesing . bila terjadi kenusakan setempat tidak merusak struktur yang dapat melemahkan ketahanan saf terhadap api.r. r.5 1 4 2 30 pabrik VI. Tabel VI. r.

luas total area bebas minimal seluas ramp atau balkon ii. d. mempunyai TKA minimal 60/60/-. . Ramp dan Balkon Akses yang Terbuka Bila ramp dan balkon akses yang terbuka merupakan bagian dari jalan keluar yang disyaratkan. pada area terbuka dengan ketinggian 1 m tidak tertutup. setiap sambungan konstruksi antara bagian atas dinding balok lantai. disyaratkan untuk diisolasi terhadap kebakaran. Bukaan pada saluran atau duct yang membawa hasil pembakaran yang panas harus tidak diletakkan di bagian manapun dari jalan keluar yang 5. mempunyai bukaan ventilasi ke udara luar dimana: i. di setiap bukaan dari area hunian. mempunyai pintu bebas asap sesuai standar teknis yang berlaku. mempunyai luas minimal 6 m2. b. dan: a. setiap konstruksi yang memisahkan tanjakan dan turunan tangga harus tidak mudah terbakar dan mempunyai TKA minimal 60/60/60. b. 6. lorong atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. Instalasi Pada Jalan Keluar Dan Jalur Lintasan a.7 harus: a. tidak harus disediakan dari tangga. 7. tersebar merata sepanjang sisi terbuka ramp atau balkon b. b. Lobby Bebas Asap Lobby bebas asap yang disyaratkan sesuai Bab VI.a. atau terdapat alat sensor asap diletakkan dekat dengan sisi bukaan. terbentang antar balok lantai. atau ke bagian bawah langit-langit yang tahan penjalaran api sampai 60 menit. beton bertulang atau beton prestressed. atap atau langit-langit harus ditutup dengan bahan yang bebas asap. ii. dan ii. kecuali dengan grill atau sejenisnya dengan ruang bebas udara minimal 75% dari area tersebut. harus tidak ada hubungan langsung antara i. bila pintu keluar disyaratkan harus diberi tekanan udara. diberi tekanan udara sebagai bagian dari pintu keluar. kecuali ke peralatan pemadam atau deteksi kebakaran sesuai yang diijinkan dalam pedoman ini. di mana: i. terpisah dari area hunian dengan dinding kedap asap. baja dengan tebal minimal 6 mm kayu: i. yang direkatkan dengan perekat khusus seperti resorcinol formaldehyde atau resorcinol phenol formaldehyde 4. c. maka harus: a. Jalan masuk ke saf servis dan lainnya. tanjakan tangga dari lantai di bawah lantai dasar ke arah jalan atau ruang terbuka. turunan tangga dari lantai di atas lantai dasar. Pemisahan tanjakan dan turunan tangga Bila tangga dipakai sebagai jalan keluar. c. iii. b. dengan ketebalan minimal 44 mm setelah finishing ii.2. dengan berat jenis rata-rata tidak kurang dari 800 kg/m3 pada kelembaban 12% iii.

dan sejenisnya. seperti pegangan rambat (handrail). disyaratkan. panel atau peralatan distribusi telekomunikasi sentral. lebar bebas halangan. gang. b. vertikal di atas garis sepanjang nosing injakan tangga atau lantai bordes. motor listrik atau peralatan motor lain dalam bangunan. Tangga dan ramp tidak tahan api: Ruang di bawah tangga atau ramp tidak tahan api yang disyaratkan (termasuk tangga luar) harusnya tidak tertutup. d. dinding dan langit-langit sekelilingnya mempunyai TKA minimal 60/60/60 ii. atau koridor. b. 8. lobby. lebar dan tinggi langit-langit sesuai persyaratan untuk tangga yang diisolasi terhadap kabakaran. bila konstruksi yang menutup ramp. Lorong Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran a. maka bagian tangga atau ramp tersebut harus tidak tertutup. kecuali dipisahkan oleh balustrade atau pegangan rambat menerus antara lantai bordes dan lebar masing-masing bagian kurang dari 2 m. atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. kecuali untuk list langit-langit.c. setiap pintu masuk ke ruang tertutup tersebut dilengkapi dengan pintu tahan api dengan TKA -/60130 yang dapat menutup secara otomatis Lebar Tangga a. kecuali: i. gang. disyaratkan sesuai ketentuan Bab VI. meter listrik.4 iii. kecuali terlindung oleh konstruksi yang tidak mudah terbakar atau tahan api dengan pintu atau bukaan yang terlindung dari penjalaran asap. lobby atau sejenisnya yang menuju ke jalan keluar tersebut. sampai ketinggian tidak kurang dari 2 m. Konstruksi lorong yang diisolasi terhadap kebakaran harus dari material yang tidak mudah terbakar. 10. ii. Ramp yang berfungsi sebagai jalan keluar yang disyaratkan harus mempunyai tinggi tanjakan tidak kurang dari: i. bila peralatan dimaksud terdiri atas: i. Tangga dan ramp tahan api: Bila ruang di bawah tangga atau ramp tahan api yang disyaratkan berada di dalam saf tahan api. b. Ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dapat menggantikan tangga. 9. Lebar tangga yang disyaratkan harus: i. Lebar tangga melebihi 2m dianggap mempunysi lebar hanya 2 m. 1:12 pada area perawatan pasien di bangunan klas 9a ii. bagian dari balustrade. ii. Ramp Pejalan Kaki a. koridor. 1:8 untuk kasus lainnya c. panel atau saluran distribusi. 11. bebas halangan. Perlindungan Pada Ruang Di Bawah Tangga Dan Ramp a. Gas atau bahan bakar lainnya harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. Peralatan harus tidak dipasang di jalan keluar yang disyaratkan. dan iii. di mana: . Permakaan lantai ramp harus dengan bahan yang tidak licin.

6 m dan panjangnya minimal 2. injakan harus kuat bila tinggi tangga lebih dari 10 m atau menghubungkan lebih dari 3 lantai. lantai.7 m. untuk mengurangi jumlah tanjakan dan setiap bordes harus: i. panjangnya tidak kurang dari 550 mm diukur dari tepi dalam bordes. penutup atap yang tidak mudah terbakar ii. Bordes tangga dengan maksimum kemiringan 1: 50 dapat digunakan. 13. ii. Ambang Pintu Ambang pintu tidak mengenai anak tangga atau ramp minimal selebar daun pintu kecuali: a. ruang perawatan pasien bangunan klas 9a. tangga. f. atap tersebut harus a. b. balkon dan sejenisnya. pintu terbuka ke arah jalan atau ruang terbuka. bukaan antara injakan maksimum 125 mm. 14. tidak lebih dari 18 atau kurang dari 2 tanjakan. ii. Bangunan klas 9a: i. c. 12. e. injakan.ii. ramp. i. Iorong keluar dari tangga atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran. Meskipun dengan ketentuan butir a. TKA tidak kurang dari yang disyaratkan untuk saf tangga atau ramp. dan jumlah sesuai standar teknis. ambang pintu tidak lebih dan 25 mm di atas ketinggian lantai dimana pintu membuka. bila dinding lorong tersebut merupakan perluasan dari: i. ii. Sudut arah naik dan turun tangga harus 180°. tangga atau balkon luar ii. b. Injakan Dan Tanjakan Tangga Tangga harus mempunyai: a. balkon atau yang sejenis dimana pintu membuka. 15. ujung injakan dekat nosing diberi finishing yang tidak licin. bila: . koridor. Atap Sebagai Ruang Terbuka Jika pintu keluar menuju ke atap bangunan. lebar minimal bordes 1. langit-langit dengan ketahanan terhadap penjalaran api tidak kurang dari 60 menit dan dalam kompartemen kebakaran. tepi bordes diberi finishing yang tidak licin. b. tidak terdapat pencahayaan atau bukaan atap iainnya sepanjang 3 m dari jalur lintasan yang dipakai untuk keluar mencapai jalan atau ruang terbuka. kasus lainnya i. pada kasus lain TKA tidak kurang dari 60/60/60. ambang pintu tidak lebih dari 190 mm di atas permukaan tanah. d. injakan dan tanjakan konstan. Bordes a. b. Luas bordes harus cukup untuk gerakan usungan yang berukuran panjang 2 m dan lebar 60 cm. mempunyai TKA tidak kurang dari 120/120/120. tanjakan.b. konstruksi atas dari lorong yang diisolasi terhadap kebakaran tidak perlu punya TKA. 16. Balustrade a Balustrade menerus harus tersedia sekeliling atap yang terbuka untuk umum.

tidak dibatasi dengan dinding. dan ramp di luar ketentuan butir b harus mengikuti ketentuan butir f dan g. Pegangan Rambat Pada Tangga a. tempat bongkar muat barang atau tempat lain bagi staf untuk pemeliharaan. f. yang tersedia akses untuk umum dan jalur masuk ke bangunan. c.i. balkon. atau 700 mm bila tonjolan keluar dari bagian atas balustrade diproyeksikan mendatar tidak kurang dari 1 m. Bukaan pada balustrade memenuhi ketentuan butir b. Balustrade. b. tidak kurang dari 1 m di atas lantai akses masuk. . atap. 7. bangunan klas 9b untuk sekolah dasar. tangga. d. lorong. 17. Jarak antara lebar bukaan tidak lebih dari 300 mm ii. c. Balustrade sesuai ketentuan butir e. i. bukan pintu gulung. bila dibuat sesuai i. dan harus: i. Balustrade pada: i. tinggi jeruji tidak lebih dan 150 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai bordes. bangunan klas 7 (kecuali tempat parkir) serta klas 8. ii. Pegangan rambat memenuhi ketentuan butir a tersebut bila: i. lantai. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. balkon dan sejenisnya. i. sedikitnya dipasang sepanjang satu sisi ramp/tangga ii dipasang pada dua sisi bila lebar tangga/ramp 2 m atau lebih iii.i. Pada bangunan klas 9a harus tersedia sedikitnya sepanjang satu sisi dari setiap lorong atau koridor yang digunakan oleh pasien. dipasang permanen dengan tinggi minimal 865 mm dengan jeruji pendukung permanen setinggi minimal 700 mm. dibuat menerus 18. tangga/ramp yang diisolasi terhadap kebakaran atau area lain untuk keadaan darurat. 8 dengan luas lantai tidak lebih dari 200 m2. harus mengikuti ketentuan butir f dan g. tinggi lebih dari 1 m di atas lantai atau dibawah muka tanah. Pintu Sebagai pintu keluar yang disyaratkan: a. koridor. Balustrade atau penghalang lain di depan tempat duduk permanen pada balkon atau mesanin auditorium bangunan klas 9b harus sesuai ketentuan f. iii. tinggi di atas lantai tidak kurang dari 1m. dan ii. ii.ii. mesanin dan sejenisnya. e. g.ii.iii dan g. Balustrade sepanjang sisi atau dekat permukaan horisontal seperti: i. balkon atau sejenisnya dan jarak antar jeruji tidak lebih dari 460 mm. Bila menggunakan jeruji. Pegangan rambat harus tersedia untuk membantu orang agar aman menggunakan tangga atau ramp. permanen sedikitnya 50 mm dari dinding ii. minimal 865 mm di atas nosing injakan tangga atau lantai ramp ii. kecuali sekeliling panggung. Tinggi balustrade: i. kecuali tangga/ramp luar bangunan. bukan pintu berputar b. kecuali dipasang pada bangunan atau bagian bangunan klas 6.b.

ii.1. melayani lantai atau ruang yang menampung lebih dari 100 orang. lebih dari 100 mm pada lebar pintu keluar yang disyaratkan. pintu dapat dibuka secara manual. Pintu Ayun a. melayani komponen sanitasi atau sejenisnya. dengan tenaga tidak lebih dan 110 N. bangunan klas 9a b. 6. melayani kompartemen saniter. melayani hunian yang perlu pengamanan khusus dan dapat segera dibuka: i. pada bangunan klas 9b. 21. c. kecuali: i membuka secara langsung ke arah jalan atau ruang terbuka ii. sehingga orang dalam bangunan segera dapat menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. merupakan satu-satunya pintu keluar dari bangunan dan dipasang alat pegangan pada posisi membuka. merupakan satu-satunya pintu keluar yang disyaratkan dalam bangunan bukan pintu sorong. kecuali bila: a. bangunan dengan tinggi efektif lebih 25 m. 19. d. dengan mengoperasikan alat pengontrol untuk mengaktifkan alat untuk membuka pintu. Pengoperasian Gerendel Pintu Pintu yang disyaratkan sebagai lintasan. atau bagian klas 4. d. 20. lorong atau ramp. membuka langsung ke arah jalan atau ruang terbuka harus dapat membuka secara otomatis bila terjadi kegagalan pada daya listrik. hanya melayani: i. b. alarm kebakaran dan lainnya. melayani bangunan atau bagian bangunan dengan luas tidak lebih dari 200 m2. unit hunian tunggal pada bangunan klas 2. ruangan yang tidak aksesibel sepanjang waktu bila pintu terkunci. bila terjadi kerusakan atau tidak berfungsinya tenaga listrik ii. kecuali: i.2 m dari lantai. b. 7. dengan mendorong alat yang dipasang pada ketinggian antara 0. Masuk Dari Pintu Keluar Yang Diisolasi Terhadap Kebakaran Pintu harus tidak terkunci dari dalam tangga/ramp/lorong yang diisolasi terhadap kebakaran untuk melindungi orang yang masuk kembali ke lantai atau ruang yang dilayani pada a. unit hunian tunggal dengan luas area tidak lebih dari 200 m2 pada bangunan klas 5. bagian atau jalan keluar harus siap dibuka tanpa kunci dari sisi dalam dengan satu tangan. 3.c. iii. Ayunan harus searah akses keluar. kecuali semua pintu secara otomatis terkunci dengan alat yang mengaktifkan alarm kebakaran. Bila terbuka sempurna. khususnya oleh pemilik. Tidak mengganggu lebih dari 500 mm pada lebar yang disyaratkan dari tangga. atau 8. ii. ii. termasuk bordes. harus dapat dibuka secara manual. ii. c. panti asuhan balita atau bangunan keagamaan. dengan tenaga tidak lebih dari 110 N. dengan tangan. kecuali bangunan sekolah. dan .9 . bila pintu dioperasikan dengan tenaga listrik: i.

tersedia sistem komunikasi internal. . b.i. sistem audibel/visual alarm yang droperasikan dari dalam ruangan khusus dekat pintu. 22. Rambu. 2. Rambu Pada Pintu a. untuk memberi tanda pada orang bahwa pintu tertentu harus tidak dihalangi. sedikitnya setiap 4 tingkat terdapat pintu tidak terkunci dan terdapat rambu permanen bahwa dapat dilalui. warna kontras dan menyatakan bahwa pintu jangan dihalangi.4 AKSES BAGI PENYANDANG CACAT 1. termasuk penyandang cacat. VI. Ketentuan-ketentuan teknis lebih lanjut mengenai akses bagi penyandang cacat pada butir a di atas mengikuti Pedoman Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. dipasang ditempat yang mudah dilihat atau dekat dengan pintu-pintu tahan api dan asap. Rambu tersebut harus dibuat dengan huruf kapital minimal tinggi huruf 20 mm. Untuk bangunan yang digunakan untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan akses dan sirkulasi bagi semua orang. dan juga rambu permanen tentang cara mengoperasikannya. ii.

Jumlah dan kapasitas lif harus mampu melakukan pelayanan yang optimal untak sirkulasi vertikal pada bangunan. dipasang ditempat yang mudah terbaca: i. kecuali ii. Untuk mengubah fungsi lif penumpang atau lif barang menjadi lif kebakaran. d. tanpa terganggu oleh sakelar panggil lainnya. dekat setiap tombol panggil untuk lif penumpang atau kelompok dari lif ada bangunan. b. Kecepatan dan ukuran sangkar lif kebakaran disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku. harus tertulis pada sangkar dan dinyatakan dalam jumlah orang yang dapat diangkut. 2. Pintu saf lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan peraturan yang berlaku di Indonesia. Kapasitas Lif a. Lif kebakaran dapat berupa lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur. sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petuugas Kebakaran. d. 1 LIF 1. Kapasitas angkut lif barang yang diizinkan. harus disesuaikan dengan standar teknis yang berlaku.VII. dan menggunakan kabel tahan api. harus dengan cara menekan sakelar kebakaran (Fire Switch) terlebih dahulu. Lif kebakaran harus dapat berhenti di setiap lantai. f. Waktu tunggu lif. g. Kapasitas angkut lif penumpang yang diizinkan. TRANSPORTASI DALAM GEDUNG VII. c. harus menjadi kapasitas angkut dari lif dimaksud. lif kecil seperti dumb waiter atau sejenisnya yang digunakan untuk mengangkut hanya barang-barang. Persyaratan teknis dari lif yang digunakan sebagai lif kebakaran harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. b. Sumber daya listrik untuk lif kebakaran harus direncanakan dari sumber yang berbeda. harus tertulis dalam sangkar dan dinyatakan dalam Kg. c. Lift Kebakaran a. Peringatan Terhadap Pengguna Lif Pada Saat Terjadi Kebakaran Tanda peringatan harus: a. e. e. 3. . Kapasitas angkut yang dinyatakan dalam izin.

1 Tanda Peringatan Lif Penumpang b. 4. kayu. Dalam saf lif dilarang memasang pipa atau peralatan lain yang tidak merupakan bagian dari instalasi lif. telepon. 1. harus: i.DILARANG MENGGUNAKAN LIF BILA TERJADI KEBAKARAN 10 mm 8 mm ATAU Dilarang menggunakan Lif bila terjadi Kebakaran Gambar VII. Mempunyai kapasitas beban tidak kurang dari 600 Kg. b. dengan penampilan khusus sehingga dapat terbaca pada keadaan gelap atau sewaktu terjadi kebakaran. dan terdiri dari i. berupa bel listrik. misalnya bangunan Kelas 9a. b. Lif yang melayani ruang rawat pasien dihubungkan juga ke sistem tenaga listrik cadangan. plastic atau sejenisnya dan dipasang tetap didinding. yang ruang rawat pasiennya tidak berada di lantai Lif pasien yang dibutuhkan pada butir a. sesuai dengan detail dan dimensi minimum seperti pada gambar Vll. ditatah atau huruf timbul pada logam. atau ii huruf yang diukir atau ditatah langsung dipermukaan bahan dinding iii. . Untuk saf lif yang menerus dan tidak memiliki pintu keluar pada setiap lantainya. berukuran cukup untuk meletakkan fasilitas kereta dorong ( wheel strecther) secara horisontal ii. Saf Lif a. dan iii. Satu atau beberapa lif harus di pasang sebagai lif pasien untuk melayani setiap lantai dalam bangunan yang tidak menggunakan ramp. bila diperlukan. Lif Untuk Rumah Sakit a. 6. huruf yang diukir. 5. setiap 3 lantai harus memiliki bukaan untuk digunakan dalam kondisi darurat. Sangkar Lif Sangkar pada setiap lif harus dilengkapi dengan peralatan tanda bahaya yang dapat dioperasikan dari dalam sangkar. atau alat-alat lainnya yang dipasang dalam gedung ditempat yang mudah didengar oleh pengelola bangunan gedung yang bersangkutan.

iv. Instalasi lif yang telah selesai dipasang atau yang telah mengalami perubahan teknis. c. Minimum satu jalan keluar harus dibuat pada setiap nuang mesin lif. pondasi untuk mesin. Instalasi Listrik a. Semua bagian logam dari lif pada keadaan bekerja normal tidak boleh bertegangan. ii. Beban diperhitungkan pada saat bandul mekanis governor) bekerja. Jika mesin lif dan tali diempatkan di lantai bawah. peralatan lain dan lantai diatasnya. Ruang mesin harus mempunyai sirkulasi udara. untuk mempertahankan suhu udara dan panas dari peralatan mesin. panel kontrol. Pondasi harus menyangga berat mesin. dengan beban sangkar lif. . Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada semua arah gaya d. Bangunan ruang mesin lif harus kuat dan kedap air serta berventilasi cukup. b.2 TANGGA DAN LANTAI BERJALAN Persyaratan Teknis tangga dan lantai berjalan harus mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. 9. tromol. Semua hantaran listrik harus dipasang dalam pipa atau saluran kabel (duct) kecuali hantaran lemas (fleksibel) yang khusus. lantai dan penyangga di Ruang mesin harus di rencanakan dengan memenuhi: i.7. motor generator. 8. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali baban berat pada arah sejajar. Balok penahan tali dan pondasi harus dihitung dua kali beban berat pada arah tegak. Mesin Lif Dan Ruang Mesin Lif a. Dua kali jumlah beban komponen yang bergerak vertikal dari tromol (dihitung dari dua sisi). ii. tromol tali. Instalasi listrik untuk lif harus dilengkapi dengan pengaman harus lebih atau sakelar otomatis. atau dihubungkan ke tali yang disangga oleh balok. termasuk lantai ruang mesin. iii. Pemeriksaan. b. Vll. Beban balok dan penyangga harus sudah termasuk beban mesin lif. Prosedur pemeriksaan. Balok. atau disamping ruang luncur di lantai bawah. c. b. iii. governor dan peralatan lain. pengujian dan pemeliharaan instalasi lif sesuai dengan SNI 03-1718-1989 dan SNI 03-2190-1991. sebelum dioperasikan harus diperiksa dan diuji terlebih dahulu oleh instansi yang berwenang. Pengujian Dan Pemeliharaan a. dan penyangga harus direncanakan sesuai beban dibawah ini: i.

setiap lorong. c jalan lintas. setiap ruang dengan luas lantai lebih dari 120 m2 yang digunakan pasien d. hall. mudah dibaca. TANDA ARAH KELUAR. atau iii. bangunan kelas 9a. koridor. ke koridor. Setiap tanda “KELUAR” dibutuhkan. harus : a. dan harus dipasang diatas atau di dekat setiap: a. dipasang sehingga jika tenaga listrik normal terganggu.1 SISTEM PENCAHAYAAN DARURAT 1. bekerja secara otomatis b. Lampu darurat yang digunakan harus sesuai dengan standar yang berlaku. atau iv. atau ii ke ruang yang mempunyai lampu darurat. bangunan kelas 2 atau 3. yaitu pada: i. ke ruang terbuka. Setiap lampu darurat. jalan keluar di balkon yang menuju Keluar.2 TANDA ARAH KELUAR 1. jika menggunakan sistem terpusat. PENCAHAYAAN DARURAT. tangga yang tertutup. Tanda KELUAR harus jelas kelihatan untuk orang yang menuju keluar. Pintu yang digunakan untuk jalan keluar dari setiap lantai keluar i. dan pada setiap jalan lintas yang mempunyai panjang lebih dari 6 meter diberikan sistem lampu darurat. lorong. 3. b c. Sistem lampu darurat dipasang pada: a b. VIII. ruang yang mempunyai luas lebih dari 300 m2. e. ke jalan raya. catu daya cadangan dan kontrol otomatisnya harus dilindungi daari kerusakan karena api dengan konstsruksi penutup yang mempunyai TKA tidak kurang dari -/60/60. c. 2. lorong atau ramp yang digunakan untuk Keluar iii. ii. mempunyai tigkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. Jelas. pencahayaan darurat digunakan pada tanda KELUAR.VIII. mempunyai huruf dan simbol dengan ukuran yang cukup diterangi dengan pencahayaan cukup sehingga jelas terbaca setiap waktu oleh orang yang masuk dan berada di dalam bangunan. atau ramp yang digunakan untuk ii tangga luar. harus: a. atau sejenisnya yang digunakan pasien. ruangan yang mempunyai luas lebih dari 100 m2 tetapi kurang 300 m2 yang terbuka: i. . DAN SISTEM PERINGATAN BAHAYA VIII. 2.

akomodasi untuk orang tua. atau sejenisnya yang menunjukkan arah keluar yang disyaratkan. di daerah bangsal perawatan. kecuali bila sistemnya a. VIII. atau sejenisnya. untuk sekolah. maka tanda Keluar dengan arah panah harus dipasang pada posisi yang tepat di koridor. b. c. sistem alarm diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan dan trauma. dan: Jalan keluar horisontal. atau orang cacat. . Bangunan Kelas 9a yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua: a. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 25 m Bangunan Kelas 2 yang mempunyai ketinggian lantai lebih dari dua lapis dan a. lobi. atau b. 3. bagian rumah dari sekolahan. lorong. langsung memberikan peringatan pada petugas. Bangunan kelas 2 sebagai rumah perawatan orang tua.1 3.3 SISTEM PERINGATAN BAHAYA Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal mengacu pada standar yang berlaku dan harus dipasang pada: 1. sesuai dengan tipe dan kondisi penghuni. 2. 5.b. hall. Pintu dari tangga tertutup. sistem alarm dapat diatur volume dan isi pesannya untuk meminimalkan kepanikan sesuai dengan tipe dan kondisi pasien Bangunan Kelas 9b a. d. 4. untuk gedung pertunjukan. Jika tanda “KELUAR" tidak segera diketahui oleh penghuni atau pengunjung bangunan. atau ramp pada setiap tingkat yang menuju Jalan raya atau ruang terbuka. yang mempunyai luas lantai lebih dari 1000 m2 atau ketinggian lantai lebih dari dua. anak-anak. sistemnya harus diatur memberikan peringatan pada petugas b. mempunyai ketinggian lantai tidak lebih dari tiga b. hall umum. dan: Pintu yang digunakan sebagai atau merupakan bagian dari jalan KELUAR" pada setiap lantai yang harus dilengkapi dengan lampu darurat sesuai VIII.

lif kebakaran. mengganggu dan merugikan bagi manusia. tidak boleh dibebani melebihi batas kemampuannya e. ukuran dan kemampuan. . Sistem tegangan menengah dalam gedung adalah 20 kV atau kurang. PENANGKAL PETIR DAN KOMUNIKASI DALAM GEDUNG IX. Tipe dari kabel harus disesuaikan dengan sistem yang dilayani. Kecuali untuk hal-hal yang dianggap khusus atau yang tidak disebutkan. tombol. tidak membahayakan. b. jaringan distribusi. Untuk hal-hal yang belum dicakup atau tidak disebut dalam PUIL. Semua peralatan listrik diantaranya penghantar. lingkungan. papan hubung bagi dan isinya . d. dan beban penting lainnya harus terpisah dari instalasi beban lainnya. alat ukur. transformator dan peralatan lainnya.1 INSTALASI LISTRIK 1. c. dapat menggunakan ketentuan/ standar dari negara lain atau badan international. Jaringan yang melayani beban penting. INSTALASI LISTRIK. dan dilindungi terhadap kebakaran atau terdiri dari penghantar tahan api. c. sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan yang berlaku.IX. dan lain-lain harus ditempatkan dengan baik sehingga memudahkan pengoperasiannya oleh petugas. Jaringan Distribusi Listrik a. peralatan pengendali asap. maka segala sesuatu yang bersangkutan dengan instalasi dan perlengkapan listrik harus sesuai dengan buku Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Jaringan distribusi listrik terdiri dari kabel dengan inti tunggal atau banyak dan busduct dari berbagai tipe. sistem deteksi dan alarm kebakaran. b. dipelihara. seperti pompa kebakaran. Dalam menentukan tipe peralatan yang dipakai untuk instalasi listrik harus kuat harus diperhatikan bahaya kebakaran yang mungkin dapat terjadi dan kerusakan yang mungkin terjadi akibat kebakaran. Sistem instalasi listrik dan penempatannya harus mudah diamati. dengan frekuensi 50 Hertz. papan hubung bagi dan beban listrik. Perencanaan Instalasi Listrik Instalasi listrik harus memenuhi ketantuan: a. Sistem instalasi listrik terdiri dari sumber daya. sistem komunikasi darurat. Peralatan pada papan hubung bagi seperti sakelar. Sistem tegangan rendah dalam gedung adalah 220/380 volt. dengan frekuensi 50 Hertz. bagian bangunan dan instalasi lainnya. 2.

c. dengan ijin instansi yang bersangkutan. 5. 4. Transformator distribusi yang berada dalam gedung harus ditempatkan dalam ruangan khusus yang tahan api dan terdiri dari dinding. Instalasi dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan dan diamankan terhadap dampak seperti interferensi golombang elektromanetik dan lain-lain. secara otomatis. f. Beban dan peralatan listrik yang dipasang harus mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut konservasi energi dan lain-lain. e. c. b. d.3. yang penempatannya harus aman dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan serta harus mengikuti standar dan atau nomalisasi dari peraturan yang berlaku. di antaranya Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Sistem instalasi listrik pada bangunan gedung tinggi dan bangunan umum harus memiliki sumber daya listrik darurat yang mampu melayani kelangsungan pelayanan seluruh atau sebagian beban pada gedung apabila tajadi gangguan sumber utama. Bila ruang transformator dekat dengan ruang yang rawan kebakaran maka diharuskan mempergunakan transformator tipe kering. atap dan lantai yang kokoh. . Pemeriksaan Dan Pengujian Instalasi listrik yang dipasang. sebelum dipergunakan. harus memiliki pembangkit tenaga cadangan yang dayanya dapat memenuhi kelangsungan pelayanan dari seluruh atau sebagian dari bangunan atau ruang khusus tersebut. sumber daya utama dapat menggunakan sistem pembangkit tenaga sendiri. Sumber daya utama gedung harus menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara. g. Sumber Daya Listrik a. b. harus terlebih dahulu diperiksa dan diuji mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. Transformator Distribusi a. dengan pintu yang hanya dapat dimasuki oleh petugas. Apabila ketentuan sebagaimana dimaksudkan pada butir 1 di atas tidak momungkinkan. dengan ruangan yang cukup untuk perawatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik dan SNI-0225 yang berlaku. Sumber daya listrik darurat yang digunakan harus mampu melayani semua beban penting yang disebut dalam butir 3. Beban Listrik Beban maksimum suatu instalasi listrik arus kuat harus dihitung dengan memperhatikan besarnya beban terpasang. Bangunan dan ruang khusus yang pelayanan daya listrik tidak boleh putus. faktor kebersamaan (coincident factor) atau faktor ketidak bersamaan (diversity factor). 6. Ruangan trafo harus diberi ventilasi yang cukup.

tidak membahayakan.3 INSTANSI KOMUNIKASI DALAM GEDUNG. Pada ruang panel hubung bagi. 3.2 INSTALASI PENANGKAL PETIR 1. Perencanaan Penangkal Petir a. Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan. serta diberi ventilasi cukup. c. Setiap bangunan atau yang berdasarkan letak. perbaikan dan pelayanan. instalasi penangkal petir harus diperiksa dan dipelihara secara berkala. harus memperhatikan arsitektur bangunan. harus diadakan pemeriksaan dari bagian-bagiannya dan harus segera dilaksanakan perbaikan terhadap bangunan. IX. b.7. tanpa mengurangi nilai perlindungan yang efektif terhadap sambaran petir. Instalasi penangkal petir harus disesuaikan dengan adanya perluasan atau penambahan bangunan. Pembangkit tenaga listrik darurat secara periodik harus dihidupkan untuk menjamin agar pembangkit tersebut dapat dioperasikan bila diperlukan. 1. serta direncanakan . normalisasi teknik dan peraturan lain yang berlaku. bentuk dan penggunaannya diperhitungkan mempunyai risiko terkena sambaran petir. mengganggu dan merugikan lingkungan. bagian atau peralatan dan perlengkapan bangunan yang mengalami kerusakan. b. Pemeliharaan instalasi listrik harus dilaksanakan dan diperiksa setiap lima tahun serta dilaporkan secara tertulis kepada instansi yang berwenang c. 2. Ha-hal yang belum diatur didalam peraturan tersebut diatas baik yang menyangkut perhitungan maupun peralatan dan instalasinya. b. Pemasangan penangkal petir harus diperhitungkan berdasarkan standar. harus terdapat ruang yang cukup untuk memudahkan pemeriksaan. dipelihara. Pemeriksaan dan Pemeliharaan a. Perencanaan Komunikasi dalam Gedung a. harus diberi instalasi penangkal petir. termasuk manusia yang ada di dalamnya. b. sifat geografis. Apabila terjadi sambaran pada instalasi penangkal petir. Sistem instalasi komunikasi telepon dan tata gedung dan penempatannya harus mudah diamati. Instalasi Penangkal Petir a. antara lain SNI-3990 tentang Tata Cara Instalasi Penangkal Petir Untuk Bangunan dan SNI-3991 tentang Tata Cara Instalasi Penyalur Petir. terhadap bahaya sambaran petir. Suatu instalasi penangkal petir harus dapat melindungi semua bagian dari bangunan. bagian bangunan dan instalasi lain. Pemeliharaan a. dan instalasi lainnya. IX. harus mengacu pada rekomendasi dari badan International seperti IEC.

Ruang yang bersih. Ruang PABX dan TRO sistem telepon harus memenuhi persyaratan: i. ii.10 m atau sesuai ketentuan yang berlaku. 3. b. terang. tidak ada genangan air. sirkulasi udaranya cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. maka langkah penanggulangan dan pengamanan harus dilakukan. Tidak boleh digunakan cat dinding yang mudah mengelupas. c. minimal berjarak 0. aman dan mudah dikerjakan. Peralatan dan instalasi sistem komunikasi harus tidak memberi dampak. Ukuran lubang orang (manhole) yang melayani saluran masuk ke dalam gedung untuk instalasi telepon minimal berukuran 1. c. kedap debu. Saluran masuk sistem telepon harus memenuhi Persyaratan: i. mempunyai dinding dan lantai tahan asam. sehingga apabila sistem tata suara umum rusak. normalisasi teknik dan peraturan yang berlaku. Tempat pemberhentian ujung kabel harus terang. 2.80m. d. Tersedia ruangan untuk petugas sentral dan operator telepon. dan harus diamankan terhadap gangguan seperti interferensi gelombang elektro magnetik. Penempatan kabel telepon yang sejajar dengan kabel listrik. atau terdiri dari kabel tahan api. Dekat dengan kabel catu dari kantor telepon dan dekat dengan jalan besar. Ruang batere sistem telepon harus bersih. dan dilaksanakan berdasarkan standar. sirkulasi udara cukup dan tidak boleh kena sinar matahari langsung. ii. serta memenuhi persyaratan untuk tempat peralatan. Sistem peralatan komunikasi darurat sebagaimana dimaksud pada butir a diatas harus menggunakan sistem khusus. Instalasi Telpon a. Kabel instalasi komunikasi darurat harus terpisah dari instalasi lainnya dan dilindungi terhadap bahaya kebakaran. maka sistem telepon darurat tetap dapat bekerja. iii. Setiap bangunan dengan ketinggian 4 lantai atau 14 m keatas. Secara berkala dilakukan pengukuran/ pengujian terhadap EMC (Electro Magnetic Campatibility). terang. iii. b. Apabila hasil pengukuran terhadap EMC melampaui ambang batas yang ditentukan.50 m x 0.b. c. Instalasi Tata Suara a. . harus dipasang sistem tata suara yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi apabila terjadi kebakaran. dan lain-lain.

Pada instalasi gas untuk pembakaran. X. vi. b. Gas elpiji. Ukuran pipa gas harus mencukupi dan dipasang untuk melayani pasokan gas dalam rangka memenuhi kebutuhan maksimum tanpa terlalu banyak kerugian tekanan antara meter-gas dan peralatan-peralatan pengguna gas.1 INSTALASI GAS PEMBAKARAN 1. c. Jenis Gas Jenis gas pembakaran yang dimaksud meliputi: a. serta merupakan bagian pertimbangan keandalan bangunan. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku. Rancangan sistem distribusi gas pembakaran. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan.X. 2. Faktor diversifikasi (diversity factor). Berat jenis dari gas. Instalasi pemipaan untuk rumah dan gedung (mulai dari meter-gas)mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. harus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas yang secara otomatis mematikan aliran gas. Kerugian tekanan yang diperbolehkan dari meter-gas ke peralatan ii. b. iii. pemilihan bahan dan konstruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. INSTALASI GAS X. yang terdiri dari kandungan methane (CH4) dan ethane (C2He ). Konsumsi gas maksimum yang perlu disediakan. Jaringan Distribusi Gas Kota a. Gas elpiji (LPG = Liquefied Petroleum Gasses). Jenis Gas Jenis gas medik yang dimaksud. Gas oxigen b. Udara tekan . Gas Kota Gas kota yang dipakai umumnya berupa gas alam (natural gas). adalah : a. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. Ketentuan teknis dari gas ini mengikuti standar yang dikeluarkan oleh pemasok gas tersebut. iv. terdiri dari propane (C3H8) dan Butane (C4H10). serta mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : i. 3.2 INSTALASI GAS MEDIK 1. Panjang pipa dan jumlah sambungan. Gas nitrous Oxida (N2O) c. v.

Instalasi pemipaan untuk bangunan gedung mengikuti peraturan yang berlaku dari instansi yang berwenang. pipa Nitrous Oxida dan pipa udara tekan.d. Pada instalasi pipa gas medik harus dilengkapi dengan biofilter. Vakum 2. atau ketentuan lainnya sepanjang tidak bertentangan. d. seperti untuk ruang bedah orthopedi. Kebutuhan gas medik garus disesuaikan dengan kebutuhan untuk asien rawat inap dan kebutuhan lain. e. pemilihan bahan dan kontruksinya disesuaikan dengan penggunaannya. 3. Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi gas beserta kelengkapannya harus diperiksa dan diuji sebelum digunakan dan diperiksa secara berkala oleh instansi yang berwenang . khususnya untuk instalasi pipa oksigen. Rancangan sistem distribusi gas medik. peralatan rawat gigi dan sebagainya. c. Pada instalasi gas medik harus dilengkap peralatan khusus untuk mengetahui kebocoran gas dan dilengkapi dengan sistem isyarat tanda kebocoran gas. Jaringan Distribusi Gas Medik a. b.

b. Sumber air bersih pada bangunan harus diperoleh dari sumber air PAM (Perusahaan Air Minum). Kebutuhan air bersih untuk perumahan berkisar antara 60-250 liter/orang/hari. f. dimana pipa pembawa air panas dari sumber air panas ke alat plambing cukup panjang. maksimum 60° C. tidak mengganggu lingkungan. e. Sistem Penyediaan Air Bersih a. g. Setiap pembangunan baru dan atau perluasan bangunan harus diperlengkapi dengan sistem plambing. 2. alat plambing dapat bekerja dengan baik. SANITASI DALAM GEDUNG XI. SISTEM PLAMBING 1. kecuali untuk penggunaan khusus. Apabila kapasitas dan atau tekanan sumber yang digunakan tidak memenuhi kapasitas dan tekanan minimal pada titik pengaturan keluar. dan apabila sumber air bukan dari PAM. Perencanaan Sistem Plambing a. serta diperhitungkan berdasarkan standar. Kualitas air bersih yang dialirkan ke alat plambing dan perlengkapan plambing harus memenuhi standar kualitas air minum yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang.XI. Pipa pembawa air panas yang cukup panjang tersebut harus dilapisi dengan bahan isolasi. sistem air kotor dan alat plambing yang memadai. d. . maka harus dilengkapi dengan pipa sirkulasi. petunjuk teknik. meliputi sistem air bersih. b. Sistem plambing harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa sehingga mudah dalam operasional dan pemeliharaannya. dan Pedoman Plambing Indonesia yang berlaku. Sistem distribusi air harus direncanakan sehingga dengan kapasitas dan tekanan air yang minimal. c. Temperatur air panas yang keluar dari alat plambing harus diatur. sedangkan untuk kelas bangunan lainnya disesuaikan dengan standar kebutuhan air bersih yang berlaku di Indonesia. Bangunan yang dilengkapi dengan sistem penyediaan air panas.1. maka harus dipasang sistem tanki persediaan air dan pompa yang direncanakan dan ditempatkan sehingga dapat memberikan kapasitas dan tekanan yang optimal. sebelum digunakan harus mendapat persetujuan dari instansi yang berwenang.

Apabila cara gravitasi ini tidak dapat dilaksanakan. . tanah liat. Diameter pipa sambungan pelanggan dari jaringan pipa distribusi kota harus disesuaikan dengan kelas bangunan.h. baja maupun bahan lainnya yang tidak mudah rusak. Semua air kotor harus diolah sebelum dibuang ke saluran air kotor umum kota atau disalurkan ke bangunan pengolahan air kotor komunal bila tersedia. 3. baik dari bahan PVC. sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia. beton. Pemeliharaan sistem air kotor dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya penyumbatan. Pemilihan bahan dan pemasangan saluran harus disesuaikan dengan penggunaannya dan sifat cairan yang akan dialirkan. Penentuan diameter saluran dibuat seekonomis mungkin sesuai dengan kapasitas dan bahan buangan yang akan dialirkan. h. Semua sistem pelayanan air bersih harus direncanakan. serta yang mengandung radioaktif. i. kakus maupun kegiatan lainnya. besi lapis galvanis atau Tembaga. besi tuang. g. j. baik tempat mandi cuci. Air kotor yang mengandung bahan buangan berbahaya dan beracun. e. Bahan pipa yang digunakan dapat berupa PVC. karat dan kebocoran. b. Sistem Pembuangan Air Kotor a. Sistem pengaliran air kotor direncanakan dengan menggunakan saluran tertutup dan kemiringan tertentu. harus ditangani secara khusus. Pada dasarnya air kotor berasal dari aktivitas manusia. tembaga. Saluran air kotor dapat benupa pipa atau saluran lainnya. mampu menahan tekanan sekurang-kurangnya 2 kali tekanan kerja. dipasang dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tidak mudah rusak dan tidak terkontaminasi dari bahan yang dapat memperburuk kualitas air bersih. PE. tidak mengandung bahan beracun dan pemasangannya harus sesuai dengan petunjuk teknis bahan pipa yang bersangkutan. c. tahan terhadap karat dan panas. Sistem air kotor didalam bangunan harus dilengkapi dengan pipa ven untuk menetralisir tekanan udara didalam saluran tersebut. sesuai dengan petunjuk teknis dari bahan pipa yang bersangkutan dan ketentuan-ketentuan lain yang berlaku di Indonesia. f. d. PE (poli-etilena). i. sehingga dapat mengalirkan air kotor secara gravitasi. maka dapat menggunakan sistem perpompaan.

Konstnuksi dan bahan tanki penyediaan air bersih harus cukup kuat dan tidak mudah rusak. pipa penguras dan pipa ven. Tangki penyediaan air bersih harus diiengkapi dengan sistem perpipaan dan perlengkapannya yang terdiri dari pipa masuk dan pipa keluar. serta dilengkapi dengan 1ubang pemeriksa. e. Peralatan plambing yang mengalirkan air bersih ke tempat-tempat yang dapat menimbulkan pencemaran. minuman bahan steril atau bahan sejenis lainnya. baja. e. babas dari kerusakan dan tidak mempunyai bagian kotor yang tersembunyi. kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan. Apabila tangki penyediaan air bersih menggunakan bahan lapisan untuk mencegah kebocoran dan karat. fiberglass dan kayu. harus dilengkapi dengan celah udara yang cukup untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi. tahan lama untuk digunakan. Pemeliharaan semua alat plambing. d. Fungsi tangki penyediaan air bersih adalah untuk menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan penghuni. Alat Plambing a. c. bahan tersebut tidak boleh memperburuk kualitas air bersih. harus dilengkapi dengan alat pencegah kontaminasi. perlengkapan bangunan. tidak mengganggu struktur bangunan dan memberikan kemudahan pengoperasian dan pemeliharaan. harus dilengkapi dengan alat perangkap minyak dan lemak. Bahan alat plambing harus mempunyai permukaan yang halus dan rapat air. Pipa pembuangan dari alat plambing yang digunakan untuk menyimpan atau mengolah makanan. d.4. g. . seperti katup penahan aliran balik dan katup pencegah atau pemutus vakum. harus dilakukan secara berkala untuk menjamin kebersihan dan bekerjanya alat tersebut dengan baik. 5. f. Jumlah dan jenis alat plambing serta perlengkapannya harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. b. Tangki penyediaan air bersih harus direncanakan dan dipasang untuk penyediakan air dengan kuantitas dan tekanan yang cukup. b. pipa peluap. Semua alat plambing harus direncanakan dan dipasang sehingga memenuhi aspek kebersihan. penanggulangan kebakaran dan pengaturan tekanan air. Bahan tangki dapat berupa beton. Pada pipa penyaluran air kotor dari alat plambing yang mungkin menerima buangan mengandung minyak atau lemak. Tangki Penyediaan Air Bersih a. c.

Bila belum tersedia jaringan umum kota ataupun sebab-sebab lain yang dapat diterima. Air hujan harus dialirkan ke sumur resapan dan atau dialirkan ke jaringan air hujan umum kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Fungsi pompa air bersih adalah memberikan kapasitas dan tekanan cukup pada sistem penyediaan air bersih atau menyalurkan air ke penyediaan air bersih. d. Persyaratan Saluran a. c. Fungsi pompa air kotor adalah menyalurkan air ke saluran air kotor umum Kota atau ke bangunan pengolahan air lainnya. sehingga dapat mengalirkan seluruh air hujan dengan baik agar bebas dari genangan air. Pompa a. e. dan pada saluran yang lurus. lubang pemeriksa harus dibuat dengan jarak tiap 25-100 m. c. b Saluran air hujan dapat merupakan saluran terbuka dan atau saluran tertutup. b. dan bila tidak dapat dilakukan dengan cara gravitasi. XI. 1. Setiap bangunan dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem saluran air hujan. Pompa harus dipasang pada lokasi yang mudah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. Kelengkapan pada Bangunan a. pipa isap dan pipa keluaran pompa. SALURAN AIR HUJAN. . maka dapat menggunakan sistem perpompaan. Pompa harus dilengkapi dengan alat pengukur tekanan dan katup pencegah aliran balik pada pipa keluaran dan ujung pipa isap pompa. yang tanki kotor kotor b. disesuaikan dengan diameter saluran tersebut dan standar yang berlaku.2 Pemilihan jenis pompa dan motor pompa disesuaikan dengan karakteristik pompa yang dibutuhkan dan mempunyai effsiensi yang maksimal. maka pada tiap perubahan arah aliran harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa. Pemasangan pompa harus dilengkapi peralatan peredam getaran yang dipasang pada dudukan pompa. c. maka harus dilakukan cara-cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang 2. Apabila saluran dibuat tertutup. Kemiringan saluran harus dibuat.6.

3. Bentuk pewadahan sampah harus disesuaikan untuk kemudahan pengangkutan sampah oleh Dinas Kebersihan Kota. peti kemas fiberglass. Khusus untuk bahan seng. Pewadahan a. fiberglass. beton. masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Sampah Berbahaya Untuk sampah padat yang dikatagorikan sebagai jenis buangan berbahaya dan beracun (sampah B3). besi dan baja. XI. b. Penempatan pada Bangunan Setiap bangunan baru dan atau perluasan bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas pewadahan dan atau penampungan sampah sementara yang memadai. 3.3 PERSAMPAHAN 1. tidak mudah rusak. Tempat pewadahan sampah harus terbuat dari bahan kedap air. atau Pengelola Pengangkutan Sampah. Kapasitas pewadahan sampah atau tempat penampungan sementara harus dihitung berdasarkan jenis bangunan dan jumlah penghuninya. seng. Bahan tersebut dapat berupa kantong plastik. besi dan baja harus dilapisi dengan lapisan tahan karat. 2. penempatan dan pembuangannya harus ditangani secara khusus sesuai dengan peraturan yang berlaku. peti kemas baja.d. Pemeliharaan Pemeliharaan sistem air hujan harus dilakukan secara berkala untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. tanah liat. mempunyai tutup dan mudah diangkut. dan pasangan bata atau beton. . Bahan saluran dapat berupa PVC. sehingga tidak mengganggu kesehatan dan kenyamanan bagi penghuni. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. c. pasangan.

6 m diatas lantai. Ventilasi Dari Ruangan Yang Bersebelahan Ventilasi alami pada suatu ruangan dapat berasal dari jendela. 8 atau 9.XII. b. . VENTILASI DAN PENGKONDISIAN UDARA XII. ii. (3) Luas ventilasi yang diatur pada butir (1 ) dan (2) dapat direduksi secukupnya jika tersedia ventilasi alami langsung dari sumber lainnya. Ventilasi alami harus terdiri dari bukaan permanen. dan yang sejenis. Penerapan ventilasi alami. Ventilasi mekanis yang memenuhi ketentuan yang berlaku. dan hunian tunggal pada bangunan klas 3. Kebutahan Ventilasi Setiap bangunan harus mempunyai: a. pintu atau sarana bukaan lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 10% dari luas lantai ruangan yang di ventilasi. dengan jumlah bukaan berukuran tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang dibutuhkan untuk di ventilasi.2 di bawah ini atau b. dengan jarak tidak lebih dari 3. dan: i. (2) ruangan bersebelahan yang mempunyai jendela. pintu atau sarana lainnya yang mempunyai luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai ruangan yang diventilasi. atau daerah yang terbuka ke atas. bukaan. pelataran parkir. 7. (2) jendela. Bangunan klas 2. pintu atau sarana lain yang dapat dibuka i. 6. (3) ruangan bersebelahan dengan jendela. Ventilasi alami sesuai dengan butir XII. (1) jendela.1 VENTILASI 1. (2) teras terbuka. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 10% luas lantai kedua ruangan tersebut. Bangunan kelas 5. jendela. bukaan. 2. (1) ruang yang di ventilasi bukan kompartemen sanitasi. pintu atau sarana lainnya dengan luas ventilasi tidak kurang dari 5% dari luas lantai lantai kedua ruangan tersebut. Ventilasi Alami a. (3) ruangan bersebelahan yang dimaksud dalam butir b di bawah ini. ii ke arah. bukaan pintu ventilasi. bukaan. bukaan. atau sarana lainnya dari ruangan yang bersebelahan (termasuk teras tertutup) jika kedua ruangan tersebut berada dalam satuan hunian yang sama atau mempunyai teras tertutup yang menjadi satu.1. (1) halaman berdinding dengan ukuran yang sesuai.

6. d. ii ruang makan umum atau restoran. atau iii. setiap peralatan masak yang mempunyai: (1) total daya masukan listrik maksimum lebih dari 8 kW. koridor atau ruang lainnya. sistem ventilasi alami permanen yang memadai. Dalam hunian tunggal pada bangunan kelas 2 atau 3 atau bagian bangunan kelas 4. atau ii. 7. harus mempunyai konstruksi lantai yang sesuai. f. ii. jika berada dibawah lantai dasar. pada bangunan Kelas 5. sekolah TK atau panggung terbuka). Ruang kakus atau peturasan tidak boleh terbuka langsung ke arah: i. 8 atau 9 (yang bukan merupakan pusat penitipan anak. (1) jalan masuk harus melalui ruang antara. sistem ventilasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. kecuali pelataran parkir terbuka harus mempunyai: i. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan mekanis. sekolah TK atau panggung terbuka). ruang kerja yang umumnya digunakan oleh lebih dari satu orang. asrama pada bangunan Kelas 3. . dapur atau pantry. iv. iii. g. Gedung Parkir Setiap lantai gedung parkir. ruang yang digunakan sebagai tempat berkumpul (yang tidak berbentuk pusat penitipan anak. harus mempunyai penutup yang kedap air diatas muka tanah/halaman dibawah lantai dasar. Batasan untuk posisi kakus dan peturasan.1 m2 dan pada setiap pintu jalan masuk harus dipasang alat penutup pintu otomatis. Ruang antara Jika ruang kakus atau peturasan yang dilarang menurut butir c di atas terbuka langsung terhadap ruang lainnya: i. v. dan pintu ke ruangan tersebut harus terhalang dari penglihatan. e. jika: i. (1) jalan masuk harus melalui suatu dinding terkurung. Ventilasi ruangan dibawah lantai dasar Lantai paling bawah suatu bangunan: i. (2) ruangan yang ada kakus atau peturasan tersebut harus tersedia ventilasi pembuangan udara mekanis. Pembuangan udara dari dapur Pada dapur komersial harus tersedia tudung pembuangan gas dapur yang memenuhi ketentuan yang berlaku. harus mempunyai jarak melintang yang cukup untuk ventilasi antara bagian bawah permukaan lantai dasar dengan permukaan tanah/ halaman. ii.c. atau (2) total daya masukan gas lebih dari 29 MJ/jam. koridor atau ruang lainnya dengan luas tidak kurang dari 1.

c.8 MJ/jam untuk daya gas.5 kW untuk daya listrik. PENGKONDISIAN UDARA 1. pabrik. pemilihan peralatan. e. dan setiap ruang lainnya bila diperlukan dapat mempunyai sistem pengkondisian udara yang memenuhi ketentuan yang berlaku. sistem tersebut harus bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni. 3.2 2. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi buatan untuk membuang udara kotor dari dalam. termasuk dengan memperhitungkan pemakaian energi per tahunnya. Ventilasi buatan a. d. Konservasi Energi a. lebih dari: (1) 0. total daya masukan maksimum per m2 luas lantai ruangan yang mempunyai lebih dari satu alat masak. dan standar teknis lain yang berlaku. gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih pada lantai lainnya. 3. f. dan minimal 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0. Sistem Ventilasi buatan harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai. . kantor. b. Bilamana digunakan ventilasi buatan. Pengkondisian udara harus memperhatikan upaya konservasi energi minimal seperti dinyatakan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Penempatan fan harus memungkinkan pelepasan udara secara maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar. Kebutuhan Pengkondisian Udara Setiap bangunan seperti untuk hunian. serta biaya awal dan biaya umur pemakaian energi. c. Karakteristik beban bangunan harus dianalisa sehingga memungkinkan sistem dan peralatan dengan ukuran yang tepat serta dipilih untuk memperoleh efisiensi yang baik pada beban penuh atau beban paruh. Rancangan sistem pengkondisian udara harus dikembangkan sehingga penggunaan energi yang optimal dapat diperoleh. atau sebaliknya. Prosedur Perhitungan beban pendinginan harus mengikuti prosedur sesuai yang ditunjukkan dalam SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. b.ii. toko. Besamya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruang dalam bangunan harus sesuai standar yang berlaku. XII. rumah sakit. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (basement) yang terdiri dari lebih satu lantai.60 meter diatas lantai. atau (2) 1. Perhitungan Perkiraan Beban Pendinginan a.

b. dibuat dan dipasang sesuai ketentuan yang berlaku. Dasar perancangan i. (1) Penetapan sistem dan peralatan pengkondisian udara (Sistem Fan. Kondisi Dalam Bangunan Kondisi dalam bangunan yang memerlukan pengkondisian udara harus dirancang sesuai penggunaannya. sistem kontrol. (3) Sistem pengkondisian udara pada bangunan klas 8a untuk ruang operasi. isolasi pemipaan. sistem pompa dan pemipaan. Penetapan sistem dan peralatan. . sistem distribusi udara. ii. tidak dibenarkan mempergunakan sistem sirkulasi udara yang dapat menyebabkan penularan penyakit ke bagian lain bangunan. (2) Semua saluran udara harus direncanakan. ruang steril dan ruang perawatan bagi pasien yang berpenyakit menular. Kondisi Luar Bangunan Kondisi rancangan udara luar bangunan mengacu pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. isolasi sistem distribusi udara) mengacu pada SK SNI yang berlaku. . iii. atau standar internasional lain yang diakui oleh instansi yang berwenang.

ruangan. 1. daerah luar bangunan. Energi Yang Dikonsumsi Energi yang dikonsumsi untuk pencahayaan buatan mempunyai pengaruh besar pada peningkatan beban listrik dan beban pendinginan bangunan. Tingkat Iluminasi Tingkat iluminasi disarankan seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung XIII. i. pencahayaan didalam bangunan yang digunakan dari jam 22. c. meliputi: a. Sistem pencahayaan buatan harus dipilih secara fleksibel. k. pencahayaan darurat yang secara otomatis mati. klub malam. pencahayaan untuk pembuatan film. Kamar. kegiatan diluar bangunan. .1 KEBUTUHAN PENCAHAYAAN 1. pencahayaan untuk pameran seni. iii. fasilitas luar untuk olahraga. PENCAHAYAAN XIII. ruang kelas yang direncanakan untuk kebutuhan khusus.XIII. jalan. daerah dan peralatan yang tidak termasuk bagian ini. seperti proses produksi dan penyimpanan. presentasi audio visual dan bagian-bagian lain dan fasilitas pertunjukan seperti panggung di hotel. fasilitas pencahayaan untuk display di muka atau jendela toko. c. g. museum dan monumen.2 2. 1. tempat bongkar muat barang. taman dan daerah bagian luar lainnya.00 malam sampai jam 06. gallery. daerah yang mempunyai risiko keamanan tinggi dan diperlukan tambahan pencahayaan untuk keamanan manusia. ruangan didalam bangunan b. seperti: i. pintu masuk ii. reflektor khusus untuk medis dan perawatan gigi. PENCAHAYAAN BUATAN. pintu ketuar. b. pencahayaan untuk rambu-rambu. penyiaran televisi. n. ruangan dan daerah yang dicakup oleh bagian ini meliputi: a. dan diskotek dimana pencahayaan merupakan bagian penting untuk menghasilkan knalitas tampilan. pencahayaan di unit pengeboran. dsb. d. f. Kamar. pencahayaan khusus laboratorium. termasuk daerah di udara terbuka dimana pencahayaan dibutuhkan dan disambungkan dengan listrik bangunan. j. 2. e. efektif dan sesuai dengan kebutuhan ruangan.00 pagi. selama operasi normal. m. sehingga diperoleh konsumsi energi yang masih dapat dipertanggung jawabkan. pencahayaan luar untuk monumen publik.

Pemanfaatan pencahayaan alami Pemanfaatan pencahayaan alami yang optimal pada bangunan karena merupakan cara yang sangat penting untuk mengurangi beban energi bangunan. Penentuan besanya iluminasi Penentuan besarnya iluminasi mengikuti ketentuan teknis SNI-2396 tentang Penerangan Alami Siang hari untuk Rumah dan Gedung. XIII. 4. maupun dari pantulan kaca dan sebagainya. Kebanyakan reflektor yang efisien untuk lampu fluorecent adalah dari jenis mirror reflector atau prismatic. Kaca mengurangi kemampuan tahan panas dari dinding. Pengendalian silau pada bangunan. . a. dan reflaktor yang efisien.3. 5. Daya Maksimum Yang Diijinkan Beban pencahayaan total untuk ruang dalam bangunan disarankan tidak melebihi nilai maksimum seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. kemampuan tahan panas dari kaca ditingkatkan dengan penggunaan tirai matahari dan atau kaca ganda. mempunysi karakteristik distribusi pencahayaan sesuai kebutuhan dan tidak menghasilkan ketidak nyamanan karena silau atau pantulan. Daya terpasang dapat diminimalkan dengan penggunaan lampu. Daerah efisasi dari lampu yang ada ditunjukkan pada SK SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. Konsumsi Energi Konsumsi energi pencahayaan buatan dapat diminimalkan dengan mengurangi daya terpasang dan waktu pemakaian. b. balas. 3. b. Reflektor untuk lampu High Intensity Discharge (HID) menggunakan reflektor aluminium anodized berkualitas tinggi. 7. Perencanaan Sistem Pencahayaan Perencanaan sistem pencahayaan adalah dengan monggunakan sumber pencahayaan yang tepat. baik dari sumber sinar matahari langsung. 2. jenis reflektor yang efisien. Jika perlu. 6. Perencanaan pencahayaan alami Pertimbangan perencanaan pencahayaan alami pada bangunan: a. Untuk fasilitas banyak bangunan. Penggunaan Lampu Penggunaan lampu sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan upaya konservasi energi pada bangunan gedung. Penggunaan sakelar otomatis atau sistem pengendali lainnya agar tingkat pencahayaan buatan dalam bangunan dapat diatur. Daya pencahayaan buatan di luar bangunan.3 PENCAHAYAAN ALAMI 1. Daya pencahayaan buatan untuk bagian luar bangunan sebaiknya tidak melebihi nilai seperti ditunjukkan pada SNI tentang Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi pada Bangunan Gedung. c. obyek luar. kebutuhan daya pencahayaan luar bangunan terutama adalah untuk pencahayaan buatan diantara bangunan tersebut. langit yang cerah.

b.XIII. e. Kamar tamu hotel harus mempunyai sakelar utama didekat pintu yang mematikan semua lampu dan stop kontak. f. kecuali yang diperlukan untak pencahayaan darurat atau pencahayaan lampu “KELUAR”. hotel dan rumah sakit. Semua sistem pencahayaan. Pengendali yang memerlukan operator yang terlatih. d. Pengendali pencahayaan harus dilengkapi sebagai berikut: a. Semua ruangan yang tertutup dengan dinding bata atau partisi yang sampai ke plafond harus dilengkapi dengan satu pengendali pencahayaan manual untuk setiap kamar. Pengendali untuk keamanan bahaya dan keselamatan. dan harus secara manual atau otomatis dimatikan (misalnya dengan pembatas waktu atau photocell). gudang dan koridor yang dibawah pengendalian terpusat). Semua pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dicapai/dibaca untuk orang yang berada atau menggunakan ruang tersebut. otomatis atau yang terprogram. Apabila dimungkinkan adanya pencahayaan alami. Pengendali otomatis. Minimal satu sakelar harus dipasang untuk setiap group yang melayani luasan 30 m atau kurang. c. b. harus dilengkapi dengan pengendali manual. Pencahayaan bagian luar tidak diperuntukkan beroperasi 24 jam terus menerus. pengendali manual lokal atau pengendali otomatis seperti sakelar yang dilengkapi dengan photoelectric atau dimmer otomatis sebaiknya digunakan di ruangan yang diterangi dengan pencahayaan alami. Pengendali haruss digunakan sehingga bekerja pada baris pencahayaan yang paralel dengan dinding luar bangunan. Pengendali yang diprogram. Sakelar pengendali dengan beban yang sama yang tedetak di lebih satu lokasi harus dinilai sebagai penambahan jumlah pengendali untuk memenuhi kebutuhan butir 1 di atas. 2. d. pasar swalayan. kecuali untuk hal-hal lain jika diperlukan. e. Letak pengendali harus mudah dicapai. kecuali: a. Pengendali dipusatkan di lokasi yang berjarak jauh (seperti ruangan lobi dari kantor. 1.4 PENGENDALIAAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN. . c. pertokoan. Minimal satu sakelar dengan tanda khusus untuk melayani 1100 Watt yang disambungkan ke beban listrik.

XIV. KEBISINGAN DAN GETARAN
XIV. 1. KEBISINGAN 1. Baku Tingkat Kebisingan a. Salah satu dampak dari usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat kebisingan yang dihasilkan. b. Baku tingkat kebisingan untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti ketentuan dalam standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat kebisingan lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut berlaku baku tingkat kebisingan sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2

XIV.2

GETARAN 1. Baku Tingkat Getaran a. Sala satu dampak dan usaha atau kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan manusia, makhluk lain dan lingkungan adalah akibat tingkat getaran yang dihasilkan. b. Baku tingkat getaran untuk kenyamanan dan kesehatan harus mengikuti standar teknis yang berlaku. Dampak Lingkungan Bagi usaha atau kegiatan yang mensyaratkan baku tingkat getaran lebih ketat dari ketentuan, maka untuk usaha atau kegiatan tersebut, berlaku baku tingkat getaran sebagaimana disyaratkan oleh analisis mengenai dampak lingkungan atau ditetapkan oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.

2.

XV. KETENTUAN PENUTUP

XV.1

Persyaratan Teknis Bangunan Gedung seperti telah diuraikan pada Bab-bab sebelumnya merupakan persyaratan pokok yang ditunjang oleh standar teknis (SNI), pedoman atau petunjuk teknis yang berlaku dan lebih rinci berkaitan dengan spesifikasi, tata cara, dan metode uji bangunan, komponen, elemen, serta berbagai aspek teknis dari bangunan gedung. Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau yang bersifat alternatif serta penyesuaian penyesuaian yang diperlukan terhadap Persyaratan Teknis Bangunan Gedung diharapkan untuk dikembangkan oleh masing-masing Daerah disesuaikan dengan kondisi, permasalahan, kebutuhan, dan kesiapan kelembagaan di setiap Daerah.

XV.2

MENTERI PEKERJAAN UMUM ttd. RACHMADI BAMBANG SUMADHIJO

LAMPIRAN
TABEL V.2.3 PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1. KETENTUAN UMUM
PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN Untuk: 1. Tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap jalan penghubung atau ramp yang melayani: a. Setiap lantai di atas tinggi efektif 25m, atau b. lebih dari 2 lantai di bawah tanah, atau c. atrium, atau d. bangunan klas 9a yang > 2 lantai, dan 2. jalan penghubung atau ramp yang diisolasi terhadap kebakaran dengan panjang > 60 m ke jalan umum atau ruang terbuka, harus dilengkapi dengan: 1. Sistem presurisasi otomatis, atau 2. Ramp atau balkon akses yang terbuka sesuai ketentuan butir Vl.3. BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF >25 M Klas. 2, 3, den 4. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 2. Bila panjang koridor umum > 40 m, harus dibagi dengan interval < 40 m, dengan konstruksi sesuai ketentuan V.1.3, kecuali bahan pelapis dan bahan yang tidak mudah terbakar Klas5,6, 7,8,dan 9b (selain ruang/tempat parkir) Klas 9a 1. Harus dilengkapi dengan sistem pengendali asap terzona sesuai ketentuan yang berlaku. 1. Harus dilengkapi dengan sistem alarm dan deteksi asap otomatis, dan 2. Sistem pengendali asap tezona sesuai ketentuan yang berlaku

KLAS/BAGIAN BANGUNAN Jalan keluar yang Diisolasi terhadap kebakaran

BANGUNAN DENGAN TINGGI EFEKTIF < 25 M Klas 2, 3, den 4 1. Harus dilengkapi dengan alarm dan detekai asap otomatis, dan 2. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran den bangunan kelas 2 atau 3 juga melayani satu atau lebih lantai dengan Kas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8, atau 9b, maka: a. tangga yang diisolasi terhadap kebakaran, termasuk setiap Jalan penghubung atau ramp harus dilengkapi dengan sistem presurisasi udara otomati, atau b. Klas 5, 6, 7 (bukan tempat parkir terbuka), 8 dan 9b harus

atau 4. fungsi khusus bangunan c. atau b. tipe dan jumlah material khusus yang disimpan. Sistem sprinkler 1. 8. keragaman klasifikasi bangunan atau kompartemen Klas 5. atau digunakan dalam bangunan d. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. 3. Klas 5 atau 9b (sekolah) dengan ketinggian > 3 lantai. maka: a. atau ii. Basement dengan > 3 lapis di bawah tanah atau terdapat klas 6 atau 9b dengan jumlah penghuni/pengguna yang banyak. 8. Apabila tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran dari bangunan klas 4 juga melayani satu atau lebih lantai dengan klas 5. harus dipasang: 1. bila bangunan mempunyai lebih dari satu komprtemen kebakaran. Bila < 2 lapis di bawah tanah: i. atau 2. bila basement mempunyai lebih daari satu kompartemen kebakaran. Sistem pengendali asap terzona. 6. Sistem pengendali asap terzona. diatas harus dipasang. dipajang. 7. Klas 6. 7. Sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendali asap terzona dapat berhenti (shut-down) otomatis pada saat aktivitas detekotr asap bekerja. sistem sprinkler 3. karakter khusus bangunan b. Sistem pengendali asap terzona. Sistem detektor dan alarm asap. atau 3. kecuali bila alarm dan detektor tersebut hanya perlu dipasang pada tiap pintu menuju tangga yang diisolasi terhadap kebakaran untuk sistem peringatan. 6. Sistem sprinkler. termasuk jlan penghubung dan rampnya. atau b. atau 9b (selain sekolah) dengan ketinggian > 2 lantai.dilengkapi dengan i. persyaratan khusus dapat digunakan dengan pertimbangan: a. atau 9b. Pada bangunan: 1. Klas 6. Klas 5 atau 9b (sekolah) dan b. atau iii. atau 2. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. atau b. harus dipasang: a. atau ii. 8. Sistem presurisasi udara otomatis. 7 (bukan tempat parkir terbuka).b. atau 3. 2. Sistem alarm dan deteksi asap otomatis. dan 2. Bila > 2 lapis dibawah tanah harus dilengkapi sistem sprinkler. Dengan ketinggian > 2 lantai dan terdiri atas: a.a. Sistem sesuai butir 2. sistem alarm dan deteksi asap otomatis. Basement dengan luas > 200 m2 harus dilengkapi dengan: a. Sistem sprinkler 1. atau 2. 8. dan 9b (selain ruang/tempat parkir Klas 9a BASEMENT (selain ruang/tempat parkir) . Bila bangunan >2 lantai. 7. atau 9b (selain sekolah) maka pada setiap tangga yang diwajibkan diisolasi terhadap kebakaran.

500 m2 dan bangunan 2 lantaai atau kurang. Bangunan Pertemuan . bangunan 1 lantai. bila: a. dan b. dan 2. atau b.000 m2. yang dilengkapi dengan sisitem ventilasi mekanis sesuai ketentuan: 1.000 m2. sistem peringatan kondisi darurat. Setiap kompartemen kebakaran. atau lubang-lubang Klas 6. atau 2. harus dilengkapi dengan: a. 1.Ruang/tempat parkir Atrium kebakaran Ruang/tempat parkir. sistem deteksi alarm kebakaran. Bila bangunan 1 lantai. Bangunan klab malam. sistem pembuangan asap otomatis. dan toko (selain pada ketentuan 3 ) yang tidak membuka ke arah selasar terlindung. harus dilengkapi dengan: a. dan sejenis. luas bangunan < 2. Bangunan satu lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka. dipasang sistem sprinkler 3. termasuk ruang parkir dibawah tanah. atau ii. diskotek. dipasang sistem alarm dan detektor asap otomatis. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran > 3. Jenis kipas yang harus tahan suhu tinggi. harus dilengkapi dengan: a. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. Selasar terlindung. sistem pembuangan asap otomaatis. atau c. Kompartemen Kebakaran > 2.000m2. terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko Klas 9b. dan sistem pengendalian asap sesuai standar teknis yang berlaku 2. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1. tidak terdapat selasar terlindung melayani > 1 toko PERSYARATAN PENGENDALIAN ASAP KEBAKARAN 1.kecuali yang ditetapkan pada butir 2. dipasang lubang-lubang ventilasi asap dan panas yang diaktifkan oleh pendeteksian asap. KETENTUAN KHUSUS KLAS/BAGIAN BANGUNAN Klas 6. Bangunan pertokoan di dalam kompartemen kebakaran tidak harus mengikuti ketentuan 1.500 m2. dan: i.000 m2. Kompartemen kebakaran > 2. sistem pengolah udara mekanis yang bukan merupakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shut-down) otomaatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. atau b. bila bangunan 1 lantai. sistem pembuangan asap otomatis. bangunan 1 lantai dengan pintu masuk utama membuka ke jalan umum atau ruang terbuka 1. dan b. bangunan 2 lantai atau kurang. toko dengan luas > 1. sistem inter komunikasi darurat.000m2 yang membuka ke arah selasar terlindung. dan b. dipasang sistem sprinkler 2. luas lantai < 2. bila: a. Bila luas lantai untuk kompartemen kebakaran < 3. Kabel pengendali dan daya listrik tidak harus yang tahan api Bangunan yang memiliki atrium harus dengan kelengkapan sistem sprinkler.

dan c. Bangunan pertemuan lainnya (diluar butir 3 dan 4 diatas): a. sistem sprinkler. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. atau ii. atau sistem sprinkler. Mesjid dan tempat lainnya yang khusus hanya untuk kegiatan peribadatan. 5. Bukan pada bangunan sekolah. Bangunan theater atau tempaat pertemuan/hall umum: a. Bila luas bangunan > 3. atau iii. diatas. idem 1. pada bangunan sekolah.000 ii. bila bangunaan 1 lantai 4. atau hall komunitas yang mempunyai ruang panggung dan belakang panggung. atau iii. Setiap kompartemen kebakaran dengan luas > 2. dipasang sistem sprinkler dan i.500m2 i. . sistem pembuang asap otomatis. atau ii. bila bangunan 1 lantai. Bangunan yang dikecualikan dari ketentuan butir a diatas adalah: i.000 m2 dan tinggi bangunan 2 lantai atau kurang. Gereja. termasuk theater kuliah dan komplek auditorium: a. atau ii. gereja. harus dilengkapi dengan a. sistem pembuang asap otomatis. Bila luas bangunan 2.ventilasi asap dan panas otomatis pada bangunan 1 lantai. Bangunan pameran. atau sistem sprinkler 2. sistem pembuang asap otomatis. dan b. dengan luas > 200 m2. gereja. sistem pembuang asap otomatis. ruang senam. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis.000-3.a. kompleks olahraga (termasuk hall olah raga.000 m2 harus dilengkapi dengan ketentuan seperti butir 4. kolam renang dan sejenis) selain dari gedung olahraga(indoor) dengan jumlah tempat duduk > 1. atau ii. bila bangunan 1 lantai. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. dan b. bila luas lantai kompartemen kebakaran < 5.500 m2. dengan luas > 300m2 atau b. sistem pengelola udara mekanis yang bukan meru-pakan bagian dari sistem pengendalian asap dapat berhenti (shutdown) otomatis pada saat aktivitas detektor asap bekerja. bilang bangunan 1 lantai 3. digunakan sistem alarm dan detektor asap otomatis. Bangunan theater atau hall umum selain butir 3. atau harus dilengkapi dengan: i.b diatas b. lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis. Lubang-lubang ventilasi asap dan panas otomatis.000 m2 i. selain pada bangunan sekolah dengan luas lantai kompartemen kebakaran > 2.

PU Biro Hukum. Dep. Dep. Jacob Ruzuar. MSc Kelompok Kerja Ir. PU Dit. MSc. IAI Ir. Antonius Budiono. Bintek. Ernawi. PU Widyaiswara Dep. Gembong Priyono. Binlak Wilayah Timur. PU Puslitbangkim. Sutikni Utoro Wibisono Setio Wibowo. Balitbang. Dipl. Hari Sidharta. HR. CES Ir. Sri Hartinah.Arch. Sidjabat Ir. Adjar Prajudi. Bintek. B. Dep. H. Dep. Sunaryo Sumadji. Aim Abdurachim Idris. MCM. PU Dit. PU Kepala Balitbang Dep.. DJCK. PU Dit. IAI Ir. DJCK. Eng. P. Sefiawan Kanani Ir. Diding Muchidin Ir. Harlansyah Soerarso. Tulus Rachmat S Ir. FRAIA Ir. Hari Sasongko Suwarmo S. Dep. MSc Ir. PU Puslitbangkim. DJCK. MSc Ir. Setjen Dep. Binlak Wilayah Barat. MSc Ir. MPA Ir. Eko Widiatmo Ir. PU Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Pemerintah DKI Jakarta Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia (IAFBI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) .BD. Wiedodo Ir. Prawoto Menteri Pekerjaan Umum Direktur Jenderal Cipta Karya. Imam S. Suprapto. Eko Djuli Sasongko Ir. M. PU Kepala Puslitbangkim. PU Dit. Dep. DJCK Bagian Hukum. Binlak Wilayah Tengah . DJCK. PU Dit. Balitbang. PU Sekretaris Ditjen Cipta Karya. Pelaksana Ir. J. DJCK. Renyansih Ny. DJCK. Balitbang. PU Puslitbangkim. MCM Ir G.. DJCK. Sukartono Ir. Dep. Achid Winarno Ir. Setjen Dep. Ir. L. Rachmadi BS. MCM. Hendro Moeljono Ir. MSc Ir. Dipl. SE Ir. MSc Ir. DJCK Dit. Dep. Balitbang. Rusdi Marzuki Ir. PU Sekretaris Jenderal Dep. Sardjono Hadi Sugondo Ir. DJCK Dit. Dep. Roestanto Wahidi D. Dep.Sc. PU Staf Ahli Menteri PU V Bidang Pengembangan Jasa Konstruksi Direktur Bina Teknis . Achmad Lanti.E. PU Dit. PU Kepala Biro Hukum. SH Ir. MM. Erry Saptaria Achyar. Bitnek.TIM PENYUSUN PEDOMAN TEKNIS PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG Pembina Ir. Dep. IAI. Bintek. Dep. H. Bitnek. Dipl. G. J. MSc Ir. Bambang Guritno. Pengarah Drs. Dep. Ridwan Munzir Ir.

id . Hadi Prabowo. Sugeng Triyadi S. Bintang Agus Nugroho. Jakarta Universitas Trisakti. Ernawi.March. IALI Ir. Penyelaras Akhir Ir. MEng DR. Bambang Budiono Ir. MT Ir. MT Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Ikatan Ahli Sistem Mekanis Indonesia (IASMI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Hipunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Ikatan Ahli Lansekap Indonesia (IALI) Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI) Himpunan Ahli Teknik Tanah Indoensia (HATTI) Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Universitas Trisakti. J. MM Ir. Chaidir AM. Jl. Zaenal Walidin DR. Bambang Tata Samiadji. Hendro Moeljono Ir. A.MAUD DR.go. Eka Sediadi Rasyad Ir. Ariono Suprayogi Ir. Soedibyono Ir. Ir.Prasetiyo. Jakarta 12110 Indonesia Telepon: (021) 7268203 Faks: (021) 7235223 E-med: bintekctaba@pu. MSA. Sofyan Nurbambang DR.U. Jakarta Disamping itu juga melibatkan peran aktif berbagai nara sumber di bidang tata bangunan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. IAI Ir.M. Drajat Hoedayanto. Eko Djuli Sasongko Studio Taba '98 Direktorat Bina Teknik Direktorat Jenderal Cipta Karya. Departemen P. Ir. MSc Ir.Ir. MSCE Ir. Imam S. Ir. Tulus Widiarso. MCM. Raden Patah l/1 Lantai 7 Wing 1 Kebayoran Baru. Ing. Jakarta Universitas Trisakti. Daniel Mangindaan Ir. Ir. Binsar Hariandja DR. G.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful