P. 1
Terbelenggu Wujudul Hilal-Metode Lama Yang Mematikan Tajdid Hisab

Terbelenggu Wujudul Hilal-Metode Lama Yang Mematikan Tajdid Hisab

|Views: 986|Likes:
Published by Iwan Husdiantama

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Iwan Husdiantama on Sep 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/24/2014

pdf

text

original

Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab

Suara Pembaca 27/8/2011 | 28 Ramadhan 1432 H | Hits: 15.306 Oleh: Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Pedoman Hisab Muhammadiyah (tdjamaluddin.wordpress.com)

dakwatuna.com - Perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha sering terjadi di Indonesia. Penyebab utama BUKAN perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi pada perbedaan kriterianya. Kalau mau lebih spesifik merujuk akar masalah, sumber masalah utama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal. Bila posisi bulan sudah positif di atas ufuk, tetapi ketinggiannya masih sekitar batas kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat, batas kemungkinan untuk diamati) atau lebih rendah lagi, dapat dipastikan terjadi perbedaan. Perbedaan terakhir kita alami pada Idul Fitri 1327 H/2006 M dan 1428 H/2007 H serta Idul Adha 1431/2010. Idul Fitri 1432/2011 juga hampir dipastikan terjadi perbedaan. Kalau kriteria Muhammadiyah tidak diubah, dapat dipastikan awal Ramadhan 1433/2012, 1434/2013, dan 1435/2014 juga akan beda. Masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara, ―mari kita saling menghormati‖. Adakah

solusi permanennya? Ada, Muhammadiyah bersama ormas-ormas Islam harus bersepakati untuk mengubah kriterianya. Mengapa perbedaan itu pasti terjadi ketika bulan pada posisi yang sangat rendah, tetapi sudah positif di atas ufuk? Kita ambil kasus penentuan Idul Fitri 1432/2011. Pada saat Maghrib 29 Ramadhan 1432/29 Agustus 2011 tinggi bulan di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajat atau kurang, tetapi sudah positif. Perlu diketahui, kemampuan hisab sudah dimiliki semua ormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis, sehingga data hisab seperti itu sudah diketahui umum. Dengan perangkat astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisa menghisabnya. Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan (―hilal‖) sudah wujud di atas ufuk saat Maghrib 29 Agustus 2011. Tetapi Ormas lain yang mengamalkan hisab juga, yaitu Persis (Persatuan Islam), mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011 karena mendasarkan pada kriteria imkan rukyat (kemungkinan untuk rukyat) yang pada saat Maghrib 29 Agustus 2011 bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati. NU yang mendasarkan pada rukyat masih menunggu hasil rukyat. Tetapi, dalam beberapa kejadian sebelumnya seperti 1427/2006 dan 1428/2007, laporan kesaksian hilal pada saat bulan sangat rendah sering kali ditolak karena tidak mungkin ada rukyat dan seringkali pengamat ternyata keliru menunjukkan arah hilal. Jadi, selama Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria wujudul hilalnya, kita selalu dihantui adanya perbedaan hari raya dan awal Ramadhan. Seperti apa sesungguhnya hisab wujudul hilal itu? Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itu sebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama ketika dibandingkan dengan metode rukyat. Tentu saja mereka anggota fanatik Muhammadiyah, tetapi

sesungguhnya tidak paham ilmu hisab. Oktober 2003 saya diundang Muhammadiyah sebagai narasumber pada Munas Tarjih ke-26 di Padang. Saya diminta memaparkan ―Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla‘ Wilayatul Hukmi‖. Saya katakan wujudul hilal hanya ada dalam teori, tidak mungkin bisa teramati. Pada kesempatan lain saya sering mengatakan teori/kriteria wujudul hilal tidak punya landasan kuat dari segi syar‘i dan astronomisnya. Dari segi syar‘i, tafsir yang merujuk pada QS Yasin 39-40 terkesan dipaksakan. Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.

Kita ketahui, metode penentuan kalender yang paling kuno adalah hisab urfi (yang kini digunakan oleh beberapa kelompok kecil di Sumatera Barat dan Jawa Timur, yang hasilnya beda dengan metode hisab atau rukyat). Lalu berkembang hisab imkan rukyat, tetapi masih menggunakan hisab taqribi (pendekatan) yang akurasinya maish rendah. Muhammadiyah pun sempat menggunakannya pada awal sejarahnya. Kemudian untuk menghindari kerumitan imkan rukyat, digunakan hisab ijtimak qablal ghurub (konjungsi sebelum matahari terbenam) dan hisab wujudul hilal (hilal wujud di atas ufuk yang ditandai bulan terbenam lebih lambat daripada matahari). Kini kriteria wujudul hilal mulai ditinggalkan, kecuali oleh beberapa kelompok atau negara yang masih kekurangan ahli hisabnya, seperti oleh Arab Saudi untuk kalender Ummul Quro-nya. Kini para pembuat kalender cenderung menggunakan kriteria imkan rukyat karena bisa dibandingkan dengan hasil rukyat. Perhitungan imkan rukyat sudah sangat mudah dilakukan, terbantu dengan perkembangan perangkat lunak astronomi. Informasi imkanrur rukyat atau visibilitas hilal juga sangat mudah diakses secara online di internet. Muhammadiyah yang tampaknya terlalu ketat menjauhi rukyat terjebak pada kejumudan (kebekuan pemikiran) dalam ilmu falak atau astronomi terkait penentuan sistem kalendernya. Mereka cukup puas dengan wujudul hilal, kriteria lama yang secara astronomi dapat dianggap usang. Mereka mematikan tajdid (pembaharuan) yang sebenarnya menjadi nama lembaga think tank mereka, Majelis Tarjih dan Tajdid. Sayang sekali. Sementara ormas Islam lain terus berubah. NU yang pada awalnya cenderung melarang rukyat dengan alat, termasuk kacamata, kini sudah melengkapi diri dengan perangkat lunak astronomi dan teleskop canggih. Mungkin jumlah ahli hisab di NU jauh lebih banyak daripada di Muhammadiyah, walau mereka pengamat rukyat. Sementara Persis (Persatuan Islam), ormas ―kecil‖ yang sangat aktif dengan Dewan Hisab Rukyat-nya berani beberapa kali mengubah kriteria hisabnya. Padahal, Persis kadang mengidentikkan sebagai ―saudara kembar‖

Muhammadiyah karena memang mengandalkan hisab, tanpa menunggu hasil rukyat. Persis beberapa kali mengubah kriterianya, dari ijtimak qablal ghrub, imkan rukyat 2 derajat, wujudul hilal di seluruh wilayah Indonesia, sampai imkan rukyat astronomis yang diterapkan. Lalu mau ke mana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Semoga!

Naskah Terkait Sebelumnya:

Hisab dan Rukyat Setara: Astronomi Menguak Isyarat Lengkap dalam Al-Qur‘an tentang Penentuan Awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah

   

Muhammadiyah Jatim: Awal Puasa 1 Agustus Pemerintah Akan Samakan Kriteria Hisab dan Rukyat Tim Pengamatan Hilal Lakukan Rapat Persiapan Akhir Kemkominfo: Pengamatan Hilal 1 Syawal 1431 H Dilakukan pada 12 Lokasi

Pembaca Naskah Ini, Juga Membaca:
o o o o o o

Jilbabku Bukan Belenggu Pemukim Yahudi Bakar Masjid di Nablus Ketika Halaqah Tak Lagi Dirindui Soal 1 Syawal, Pemerintah Tunggu Hasil Sidang Itsbat Hari Senin Empat Kejahatan Orang Tua Terhadap Anak Kemkominfo: Pengamatan Hilal 1 Syawal 1431 H Dilakukan pada 12 Lokasi

Akses http://www.dakwatuna.com/wap dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.

Showing 1-20 of 56 comments
Urutan tampil

Subscribe by email

Subscribe by RSS

Bagus IndoAfrica 5 jam yang lalu

Kalau bisa...umat Islam di seluruh dunia bersatu membuat fasilitas teropong bersama di beberapa tempat di Selandia Baru dan Papua (di Belahan Timur)...sehingga bisa punya data2 real time yg sama...dan juga perlu ada diskusi2 lebih lanjut sehingga bisa mendapatkan standard2 untuk metode2 Rukyah dan Hisab yg sama antar Negara yg berpenduduk Islamnya banyak.

zan 2 hari yang lalu

hadist nabi mengatakan genapkan 30 hr klo tdk bisa melihat hilal krn terhalang awan/mendung dan kalopun ada yg berani disumpah telah melihat hilal apakah mereka orang yg kompeten dg keilmuanx dlm bidang ini. negara kita beda geografisnya dengan negara yg lain yg mungkin tdk ada halangan untk melihat hilal sehingga tgl 30 agustus lebaranx dan itu sah. sebagai umat islam kita jg bekewajiban mengutamakan persatuan ummat dan taat pd ulil amri. Manakah yg lebih penting persatuan ummat atau golongan? apa kata musuh2 islam di luar sana? umat islam dalam hal ini saja sulit bersatu...bisa saja musuh islam di luar sana ketawa2 dll. maaf klo ada salah. minal aidin wal faizin..

 

1 person liked this.

Abufatih 2 hari yang lalu

ya sudah lah.. toh sudah terjadi.. dan damai-damai saja.. pak hidayat nurwahid lebaran hari selasa, pak tifatul hari rabu, tidak ada perdebatan kan antara 2 tokoh ini.. mari kita tutup soal hisab dan rukyat ini..

 

1 person liked this.

Udhy Baidhowy 2 hari yang lalu

Sebenarnya jika kita benar-benar mengumpulkan semua hadits nabi tentang hilal ini maka metode hisab dan rukyat bisa disatukan. Awal bulan bisa dikatakan sudah masuk ketika dimungkinkan untuk dirukyat, dan banyak hadits tentang merukyat ini. Sehingga dalam perhitungan hisab ini patokan derajatnya adalah derajat yang memungkinkan bisa dirukyat. Kalau wujudul hilal, misalnya di bawah 2 derajat, ini berarti tidak memenuhi syarat untuk dirukyat, dan kita belum bisa mengatakan ini sudah bulan baru.

Di komentar ada yang bilang di Arab, Amerika, lebarannya tanggal 30 Agustus, sementara yang 31 Agustus hanya segelintir orang. Ini komentar yang ga ngerti

ilmunya. Posisi bulan di Amerika derajatnya sudah tinggi dan sangat mungkin untuk dilihat. Kalaupun seandaianya tidak terlihat, sebenarnya mereka sudah masuk awal bulan karena secara ilmu hisab sudah bisa diyakinkan bahwa itu sudah masuk. Tapi, kalo posisinya di Indonesia bahkan lebih ke timur lagi, sangat tidak mungkin untuk melihat hilal karena secara ilmu hisab posisi hilal masih di bawah 2 derajat.

Jadi, mari kita buang egoisme kelompok. Mengumumkan idul fitri di awal Ramadhan menurut saya merupakan salah satu egoisme dan arogansi.
 

1 person liked this.

Fahmi_qeis 2 hari yang lalu

saya kira kalo bulan udah wujud brati yang sudah tanggal 1 Rosul jg ga mengatakan ujudnya harus lebih dari 2 ",....... prof. janganlah jelek" i muhamaddiyah,...orang kaku tao yg lain,.... saya kira untuk urusan ibadah kita harus rujukanya di sesuaikan dengan tuntunan AL-QURAN dan Hadist sahid dari Nabi Muhammad,... jangan untuk kepintingan umat ibadah terus bisa di ubah- ubah,...... brati besok besok sholat bisa dong diborong dalam satu waktu,...

5 people liked this.

pipit 6 jam yang lalu in reply to Fahmi_qeis
 

itu kritik ilmu, bkn kritik kebencian. sportif dalam memperdalam ilmu agama.

Udhy Baidhowy 2 hari yang lalu in reply to Fahmi_qeis

Tapi di zaman nabi itu pengertian wujud adalah yang bisa terlihat, maka penetapan di atas 2 derajat itu karena di atas 2 derajat itulah yang memungkinkan hilal bisa dilihat.

2 people liked this.

Dulkayun 4 jam yang lalu in reply to Udhy Baidhowy

siapa bilang 2" bisa dilihat.... gak masuk akal bro!

helmy 3 jam yang lalu in reply to Dulkayun

Zaman gini koq cuman pake itung-itungan, orang pake itungan dan peralatan, baru siip dan masuk akal bro !!!

Candra_bp 3 hari yang lalu

Sayang sekali profesor mengatakan "Masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara, ―mari kita saling menghormati‖..." . Bukankah saling menghormati merupakan dasar kita bertoleransi diantara keanekaragaman. Jika prof menghendaki penyeragaman dan menolak keanekaragaman, silahkan Prof.

memperjuangkan untuk mengganti Pancasila terlebih dahulu sebagai dasar negara kita.

2 people liked this.

pipit 6 jam yang lalu in reply to Candra_bp

itu sekedar kritik ilmu, bkn kritik kebencian. sportif dalam berfikir & bersikap, agar kita menjadi lebih paham dan berilmu.

Agoes_boedi_s 3 hari yang lalu

di dunia yg sama dengan Indon 1 Syawalnya ( sesuai dg pendapat Thomas ) hanya 5 Negara saja sedang yang lain 1 syawal pada tanggal 30 Agustus 2011 , hal in secara ilmu statistik yang berlebaran tgl 31 Agustus 2011 tertolak.

 

1 person liked this.

Uak Sena 3 hari yang lalu

Hmm.. jika demikian... dianggap sebagai sebuah kejumudan dalam bidang astronomi.... bagaimana dengan penentuan dan penetapan jadwal waktu sholat yang di 100% masjid di Indonesia memajang jadwal itu yang nota bene didasarkan pada metode hisab. Berarti bayangan saya bapak Dr. Thomas Djamaluddin (maaf tidak pake prof. karena ini bukan dunia kampus) kalo sholat itu kira-kira waktu dhurnya tidak berdasarkan jadwal itu, tetapi berdasarkan penglihatan terhadap posisi matahari, demikian pula jika imsak, bapak keluar rumah trus memeperhatikan apakah bulu2 badan bapak telah kelihatan atau tidak.

 

3 people liked this.

Madumadjaz 4 hari yang lalu

kita hrs letakkan duduk permasalahannya dg benar, trs buka pemikiran kita u menganalisis pendapat yg berbeda dg kita secr cermat. yg pasti persatuan umat adalah sesuatu yg kita idam2kn, termasuk berhari raya bersama dlm hari yg sama. yg saya th Rasul mengambil kesimpulan untuk dilengkapi 30 hr shoum rmdn krn terhalang u. melihat hilal krn trhalang awan/mendung. dan ini jelas tdk disebut shoum d hari

raya. wallahu a'lam
 

2 people liked this.

Hasan AbuZain 5 hari yang lalu

ru'yah atau hisab hanyalah sarana, bukan tujuan.. muak aku tiap awal romadhon/syawal pasti berdebat masalah itu,, masing2 punya kelemahan dan kekuatannya,, jangan menjadikan sarana mjdkan tujuan,, camkan itu..

 

2 people liked this.

Aziz-peramu 6 hari yang lalu

berbeda boleh yg tidak boleh saling ribut mengatakan yg paling benar, kebenaran hanya yg milik ilahi

 

2 people liked this.

Taufiqul H 6 hari yang lalu

Tidak ada monopoli kebenaran selagi itu buah pemikiran manusia jadi seorang profesor harus lebih arif dan bijaksana dalam memberikan kritik tidak perlu berkomentar kalau masih ada kata mungkin apalagi kemungkinan ..ini media publik prof seorang prof harus menghindari kata mungkin dan kemungkinan kalau mau bicara kritik terhadap sesuatu...jadinya malah suudzon aja...tolong belajar lagi apa itu fikih dan syariat...

 

2 people liked this.

Chinmi_dbz 6 hari yang lalu

kenapa harus ribut? perbedaan itu sudah merupakan hal yang wajar, yang utama adlah bagaimana caranya memberikan pelajaran kepada masyarakat untuk bisa menerima perbedaan tersebut dengan legowo.....

selama masing-masing memiliki acuan yang benar arahnya kepada tata cara yang pernah diajarkan oleh Nabi maka hal itu tidak bisa dikatakan salah, jd jangan pernah merasa bahwa AKU yang paling benar........
 

4 people liked this.

Ansoriusman 6 hari yang lalu

sebenarnya hak ,Muhammadiyah ut mernggunakan metode wujudul hilal, akan tetapi pengumuman nya itu lho,,,jangan jauh2 hari sudah di umumkan , jadi umat resah,,,SEAKAN AKAN PASTI BERBNEDA DG PEMERINTAH,,,usul Prof, Jamal ok banget, bisa di jadikan solusi agar menentukan idul fitri dan adha beda melulu,,, MALU KITA DG UMAT LAIN.

9 people liked this.

Mb Kholis 4 jam yang lalu in reply to Ansoriusman

Apa

gunanya

di

"hisab"

kalo

ngumumkannya

mendadak....

Hisab memang oke.....lebih bisnis friendly  ABELTIO 6 hari yang lalu buktinya prof hanya 4 negara yang 1syawal jatuh pada 31 agustus,selandia baru,afrika selatan, oman dan indonesia,sisanya lebaran tanngal 30 agustus.kok jadi memojokkan MUHAMADIYAH. 6 people liked this.  Brefits78 6 hari yang lalu

kalo di middle east, malaysia..gimama profesor .. hahahahaha..professor koq gitu penilaiannya... 3 people liked this.  Radar Furuno 1 minggu yang lalu

seharusnya sih menganggap perbedaan itu rahmah sama menganggap shalat taraweh 11 dan 23, perhitungan muhamadiyah klu memang sudah baku mengapa harus di upgrade segala, klu sudah bicara keyakinan institusi mana yang bisa melarang...toh sudah biasa perbedaan itu sekarang aja pemerintah kayanya repot bener sama repotnya dengan kasus korupsi yang g jelas kemana arahnya... 1 person liked this.  mari akmal 1 minggu yang lalu kita cermati tulisan prof di atas dgn hati jernih ...

sy bukanlah dr ormas2 islam tertentu ... trus terang bingung juga klo ada perbedaan penetapan spt ini ...

pada mulanya sy mengira klo lebaran ditetapkan sm pemerintah biasanya mreka ada agenda2 tertentu yg bs jadi syariat pun akan ditabrak sm mreka. Pernah jg sy lebaran brbeda dgn pemerintah gara2 suudzan ini ... :)

Akhirnya sy berhuznudzan bhw mreka2 yg duduk di sidang istbat bukanlah org yg buta syariat kmd http://www.indonesiaoptimis.co... kemudian http://kangaswad.wordpress.com... terakhir membaca artikel di atas jadi smakin mantap klo lebarannya ikut depag & mui ... wallahu'alam 5 people liked this.  Abu Muhammad 1 minggu yang lalu membaca stelah ... membaca

orang2 awam hanya disuguhkan alasan klasik " hargailah perbedaan" tetapi tidak pernah menyentuh inti dari persatun umat ini,.... lebih ke ingin tampil beda dari pada menjaga keutuhan umat ini dengan mengikuti umara 6 people liked this.  kalau Edwund 1 minggu yang lalu memang ada pendapat yang landasann

ya lebih kuat, sebaiknya tidak egois atau gengsi mempertahankan pendapat sendiri 4 people liked this.  andikaalrasyid 1 minggu yang lalu

HISAB WUJUDUL HILAL atau RUKYATUL HILAL setiap orang bebas memilih menurut keyakinan,ilmunya jg. Perbedaan,perdebatan sah saja, tp jgn sampai memojokan atau perpecahan, umat muslim harus bersatu. Mereka yg memojokan BELUM TENTU AMAL IBADAHNYA LEBIH BAIK DAN DITERIMA ALLAH SWT 2 people liked this.  Cindy Laura 1 minggu yang lalu

maaf pak professor, professor emang orang yang pinter yang pandai menguraikan kata-kata, tapi mohon jangan menyudutkan golongan tertentu, hal ini yang justru yang bisa menimbulkan fitnah. Sepengetahuan saya yang saya peroleh dari ustadaz, ustadz saya menerangkan (dalam menerangkan tentunya berdasar Al Qur'an dan Hadits yang shahih) dalam beribadah itu tidak menurut utak-atik akal pikiran manusia akan tetapi "MENGIKUT"

seperti yang dicontohkan Rasululloh Muhammad SAW. Jangan saling mengolok-olok golongan lain karena belum tentu yang mengolok-olok itu lebih baik dari yang diolok-olok. Kalau jadi penceramah modalnya cuman menjelek-jelekkan golongan lain pasti akan ditinggalkan pengikutnya. sekali lagi maaf pak saya memang orang bodoh yang tidak berpendidikan tapi alhamdulillah Alloh masih menganugerahkan akal sehat pada saya. 6 people liked this.  razaq 1 minggu yang lalu

Pertanyaannya, untuk apa ada sidang isbat jika tetap bersikukuh pada "pendapat golongan" sementara yang lain sependapat dan diputuskan secara bersama.. sekarang Muhammadiyah, besok siapa ??? Lalu di mana ukhuwah islamiyah ??? Saya mewakili komunitas muslim yang awam hanya ingin mengingatkan khususnya untuk diri saya sendiri agar jangan pernah merasa paling benar, apalagi menyangkut ummat.. karena makhluk pertama yang merasa paling benar adalah iblis.. "Perbedaan sah dalam musyawarah, namun ketika tercapai mufakat, semua harus tunduk!!! Semua harus taat !!! Demi Ukhuwah, demi Ummat.. WaLLOOHU a'lam.. 3 people liked this.  Djoko Sampoerna Ipoeng 1 minggu yang lalu

Bagaimanapun kita hrs hormati, bnr atau salah kita serahkan padaNYA............... 1 person liked this.  Randy 1 minggu yang lalu

Hari Raya di Malaysia, Pakistan, India, Jazirah Arab, Inggris, Amerika....dan Muhammadiah di Indonesia adalah hari SELASA....masak professor punya perhitungan yg lain dari pada kumunitas Muslim sedunia...?? 2 people liked this.  Udhy Baidhowy 2 hari yang lalu in reply to Randy

Ini yang komentar ga ngerti ilmunya.. Sebaiknya dipelajari dulu baru berkomentar.  Arfi_ie08 1 minggu yang lalu

jangan terlalu fanatik dalam mendalami sesuatu, buka pikiran kita, buka wawasan kita agar lebih terbuka. Coba untul menerima masukan dan kritikan dari orang yang lebih berilmu dari

kita. Insyaallah umat isalam tidak akan jadi umat yang terbelakang dan bisa kembali jaya lagi. Jadilah bangsa dan umat yang lebih dewasa dan mau menerima pendapat orang lain yang bertentangan dari golongan kita 3 people liked this.  justru Ben_thinker 1 minggu yang lalu kalau kita mau pake pembaharuan pak professor,

anda tau kan dalam hadist nabi menyebutkan hanya "melihat" hilal. dan muhammadiyah telah jauh jauh hari mengartikan melihat tidak hanya secara zahir tapi juga secara ilmiah

kita tau kan faktanya hilal sudah ada di atas ufuk 1koma sekian derajat dan itu sudah bisa terdeteksi secara ilmiah jauh jauh hari, lantas jika kita mau konsisten memakai metode astronomi paling canggih, mengapa kita harus memaksakan hilal harus terlihat oleh mata dengan batasan sekian derajat pak prof????? 3 people liked this.  Udhy Baidhowy 2 hari yang lalu in reply to Ben_thinker

Lebih tepat jika melihat itu memenuhi kriteria yang bisa dilihat. Menggunakan alat2 astronomi itu justru melihat secara ilmiah, dan secara ilmiah di bawah 2 derajat itu tidak bisa dilihat.  Kacau_bgd_sii 1 minggu yang lalu

artikel yang mngkn bagus, tp pemilihan kata yang terlalu profokatif..  Rafiq 1 minggu yang lalu

uraiannya benar.. tapi kesimpulannya lucu.. seakan-akan menunjuk metode penentuan hisab oleh Muhammadiyah tidak mementingkan umat. ingat puasa di 1 syawal hukumnya haram.. jadi apakah mau agar yang penting sama tapi sebenarnya haram..??? 2 people liked this.  Udhy Baidhowy 2 hari yang lalu in reply to Rafiq

Ini juga ga ngerti tentang makna haramnya puasa di 1 Syawal. Kalau yang meyakini hari ini 1 syawal, ya baginya haram puasa. Tetapi bagi yang meyakini 1 Syawal besok, maka wajib baginya berpuasa hari ini.  Awan_07sr 1 minggu yang lalu

maksud untuk menyatukan umat tp dengan memojokan sesuatu hal yang telah menjadi study mendalam bagi muhammadiyah. kritik tak baik prof.... Salahuddin Ja'far Al-Mansor liked this  Wahyudi 1 minggu yang lalu

jaman Rasul doeloe, beliau hidup di daerah gurun yang jarang sekali ada awan, alias langit yg selalu cerah. Metode jadoel ini tdk akan susah utk diterapkan. Dan jika memang bisa, metode ini msh hrs diterapkan di daerah2 spt itu. Namun tdk semua daerah memiliki meteorologi & geofisika spt itu, banyak daerah dibumi ini yg selalu tertutup awan hampir sepanjang thn. Itulah yg membuat metode lama tak dipakai, krn selalu terhalang awan yg tebal. Maka hrs menggunakan teknologi, dan teknologi dibuat utk umat manusia bkan utk menjadi kafir, tp menjadi lbh akurat dan lebih memudahkan. Ikuti pemimpin negaramu, dia adalah kalifah, jd dialah yg akan menangung umat negaranya jika salah, jgn mementingkan individu & golongan. Utamakan kesatuan umat dan negara.  Suryanto Oesman 1 minggu yang lalu Islam merupakan Agama Rohmatan lil 'Alamiin,... Dengan majunya dan telah berkembangnya Teknologi dan Kecanggihan Alat-alat Teknologi. Ummat Islam harus ikut berperan agar menjadi kaum Cerdas dan Maju, sehingga tidak ter kotak2...  Suryanto Oesman 1 minggu yang lalu

Islam merupakan Agama Rohmatan Lil 'Alamiin,.... sebagai ummat yang ber akal, segala Teknologi dan kecanggihan Teknologi harus juga dipahami Ummat Islam Agar dapat Unggul dan Cerdas.....  Jajang 1 minggu yang lalu

Yang merasa bingung itu adalah mereka yang tidak mempunyai pendirian alian para MUQOLLID yang beribadah cukup kata si EMBAH saja... Ibadah bukan atas dasar

PEMERINTAH tapi atas dasar ILMU .. Sebenarnya yang membuat bingung itu para komentator kaya Prof. Thomas yang bicara dimana saja... Salahuddin Ja'far Al-Mansor and 2 more liked this  H.A. 1 minggu yang lalu

Ah pak Prof, jangan latah memaksa suatu jam' iyah untuk mengubah keyakinannya. Biarkan saja berbeda sepanjang ada argumen yang jelas. Salahuddin Ja'far Al-Mansor and 1 more liked this  Anthomassardi 1 minggu yang lalu

1. Kalau umat Islam sedunia sepakat dengan Makkah Mean Time, sebetulnya jauh lebih benar. 2. Kalau umat Islam sedunia memahami hakekat hari-hari besar Islam adalah SYIAR RAHMATAN LIL ALAMIN, Maka, awal Ramadhan, wukuf Arafah, salat Id, dan sebaginya itu, pastinya akan memudahkan bagi terbentuknya SATU KHILAFAH ISLAMIAH. 3. Argumentasi dalam artikel di atas adalah salah satu referensi untuk menyatukan SYIAR itu. 1 person liked this.  Purnomosetiawan 1 minggu yang lalu

Tulisannya kok gitu sih, seakaan memojokkan Muhammadiyah....Bikin resah aja. Salahuddin Ja'far Al-Mansor and 13 more liked this  Riyuni_mark 1 minggu yang lalu

Muhammadiyah memiliki alasan-alasan yang saya anggap paling masuk akal Prof. Bukan untuk membuat umat muslim bingung tp justru membantu umat muslim untuk mengetahui jatuhnya hari raya lebih awal. Hisab menurut saya tdk mnggunakan kriteria lama. Hanifuddin Malik and 18 more liked this  Adamdzulfiqar 1 minggu yang lalu

Loh... menteri agama barusan mengatakan: menggunakan peralatan untuk melihat hilal adalah bid'ah... gmn itu pak professor yg paling bener?! Arief Islamy and 5 more liked this

Oding_saja 1 minggu yang lalu in reply to Adamdzulfiqar

Bid'ah yg dibolehkan. Naik haji dulu naik onta, sekarang naik naik pesawat terbang. Ditanah haramnya jamaah naik bus...  Chandra Kurniawan 1 minggu yang lalu in reply to Adamdzulfiqar

Kapan bilangnya? Bukannya tahun2 sebelumnya pake alat utk melihat hilal? seperti di boscha  Musmulyadi11 1 minggu yang lalu

seharusnya semua tunduk pada keputusan yang ditetapkan oleh Pemerintah Aji Dahlan and 13 more liked this  sindo 6 hari yang lalu in reply to Musmulyadi11

siapa bilang pemerintah pasti benar sehingga harus diikuti? bagaimana kalau ia mau masuk jurang? jadi umat ya kudu cerdas lah!  Abualief 1 minggu yang lalu in reply to Musmulyadi11

keputusan yang bagaimana pak Mus? 4 people liked this.  Jamalludin94 1 minggu yang lalu in reply to Abualief

abualif_kura2 dlm perahu lo...?  Ah Budiswan 1 minggu yang lalu itu khan pendapat Prof Thomas Djamaludin.....imkan juga pernah diikuti

Muhammadiyah. Pilihan wujudul hilal itu juga melalui serangkaian studi yang mendalam. Imkan 2 derajat juga nmerupakan pendekatan. Semoga Prof...juga memahami pilihan Muhammadiyah.... Hanifuddin Malik and 29 more liked this  andikaalrasyid 1 minggu yang lalu in reply to Budiswan

HISAB WUJUDUL HILAL atau RUKYATUL HILAL setiap orang bebas memilih menurut keyakinan,ilmunya jg. Perbedaan,perdebatan sah saja, tp jgn

sampai

memojokan

atau

perpecahan,

umat

muslim

harus

bersatu.

Mereka

yg

memojokan BELUM TENTU AMAL IBADAHNYA LEBIH BAIK DAN DITERIMA ALLAH SWT  Mochammad, on 27 Agustus 2011 at 18:36 said: Saya kira Muhammadiyah ormas yang terbuka buat pembaruan demi kebenaran. Di sini peran pakar astronomi diperlukan untuk memberi pengertian kepada ormas ini. Atau, Muhammadiyah yang proaktif mengundang para pakar astronomi yang bidang terkait untuk berdiskusi tetang metode mana yang tepat untuk menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri. Salam, Mochammad http://mochammad4s.wordpress.com http://piguranyapakuban.deviantart.com Balas

tatah, on 29 Agustus 2011 at 10:12 said: atau penulis sendiri yg memaksakan, bukan untuk pencerahan spt yg dmaksud, tp malah memperkeruh keadaan, bagaimana penetaban hari raya id 2010.. apa dbenarkan kita baru hari raya sedang jmaah haji sehari sebelumnya sdh melakukan wukuf… tlg bpk.djamaluddin jgn sok2an jd org mntang2 d anggap ahli lalu lupa daratan… Balas

o

Amama Ali, on 29 Agustus 2011 at 10:58 said: ^^ Hijriyah patokanya bulan bro, bukan ―even‖

o

faisal, on 29 Agustus 2011 at 14:34 said: Saudaraku..‖jganlah kebencianmu menyebabkan engkau berbuat tidak adil‖(firman Allah)..‖Serahkanlah suatu urusan kepada ahlinya‖

(sabda nabi)..prof Djamaluddin dan staf2nya adalah org ahli, saya pikir tidak ada tendensi seperti yg saudara maksud.baik jg setelah membaca artikel beliau kita semua lebih banyak lagi belajar agar tidak terjebak dalam Kejumuddan itu.

o

Kholid, on 30 Agustus 2011 at 03:51 said: setuju,,,,kuman diseberang laut tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak,,,

o

Ridwan, on 30 Agustus 2011 at 08:08 said: Statement terakhir yang tak pantas di ungkapkan oleh Bapak Djamaluddin. Sadarlah dengan peryataan itu, jgn sampai menjadi boomerang buat bapak.

o

Salamfm Batam, on 30 Agustus 2011 at 13:13 said: Kopas status Ust Abduh Zulfidar Akaha: ―skrg mngkn hanya indonesia negara yg umat islamnya bebas menentukan awal puasa n lebarannya. di mesir n saudi yg lbh buanyak ulamanya (ulama beneran), mereka smua manut pd pemerintahnya dlm hal ini. bahkan qaradhawi yg pro hisab pun, mensyaratkan tdk boleh menyelisihi pmrnth. hukmul hakim yarfa‘ul khilaf*

o

Salamfm Batam, on 30 Agustus 2011 at 13:16 said:

demikian pula, jika tidak ada standar pegangan (dalam hal ini pemerintah) maka kepada siapa lagi umat berpegang?? sebab udah pasti masing2 akan datang dgn pendapat yang lebih ia cenderungi, hingga akan terus-menerus melahirkan perbedaan. ―Perbedaan itu buruk‖, kata Ibnu Abbas. makanya jauh hari Nabi memberi arahan: ―Berpuasalah bersama manusia (myoritas/pemerintah) dan berlebaranlah bersama manusia pula‖. Maksud perkataan Ibnu Abbas ini bukan pada hal-hal yang memang telah sunnatullah dijadikan oleh Allah sebagai sebuah perbedaan… akan tetapi perbedaan dalam hal ijtihad yang masih bisa dikompromikan dan dicarikan jalan keluar yang lebih baik tanpa harus berbeda apalagi berpecahbelah… Afwan,, perkataan ―perbedaan itu buruk, adalah perkataan Abdullah bin Mas‘ud. Ini riwayatnya,, dan mengapa beliau mengeluarkan statement tersebut, dan dalam hal apa ia dikeluarkan: Imam Abu Dawud menyebutkan sebuah atsar dimana ‗Utsman radhiyallahu ‗anhu shalat di Mina 4 rakaat dengan ijtihad beliau, maka Abdullah bin Mas‘ud berkata: ―Aku shalat bersama Nabi shallallahu ‗alaihi wa sallam (di Mina) 2 rakaat, dan bersama Abu Bakar 2 rakaat, dan bersama Umar 2 rakaat ‖ yaitu dengan mengqashar shalat 4 rakaat. Akan tetapi ketika beliau shalat di belakang ‗Utsman beliau shalat 4 rakaat , maka beliau ditanya, kenapa melakukan demikian? Maka beliau menjawab: Perbedaan itu jelek ‖ (Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunannya 1/602 no: 1960)

o

deen, on 30 Agustus 2011 at 22:26 said: komentar antum kurang bernash… hanya berangkat dari prasangka dan fanatisme buta sepertinya …

o

akhmadsudrajat@gmail.com, on 31 Agustus 2011 at 13:49 said:

Dalam menentukan hari Iedul Fitri 1432 Hi, saya pikir Muhammadiyah sudah kompak dengan sebagian besar negara-negara Islam di belahan muka bumi ini, misalnya Arab Saudi (Masjidil Haram), Palestina (Masjil Aqsha), Malaysia, dll) Sementara keputusan Menag kita yang didukung oleh beberapa ormas malah nyeleneh.

o

melanie ajmala, on 31 Agustus 2011 at 23:48 said: saya kira beliau menyajikan pandangannya secara ilmiah, anda saja yg meresponnya dg emosional, jdnnya kurang bisa menyerap dan memahami tulisan beliau. Dilihat dari bahasa anda, juga tampak kalau anda bukan orang yg memiliki dasar keilmuan

o

ISLAM SUNNI, on 1 September 2011 at 10:47 said: BODOH!!! coba lihat alquran, Rasullullah bilang lihatlah bulan!!

o

Bailong, on 5 September 2011 at 09:38 said: Waduh, ada org Muhammadiyah tersinggung neh. Penolakan sama spt saat heliosentris diperkenalkan dari mainstream geosentris

o

SJAIFUL BARI, on 5 September 2011 at 13:22 said: ilmu hisab bulan itu sebenarnya bukan ilmu matematika tapi dasarnya ya dari Ru‘ya ( melihat ) kemudian dirumuskan menjadi ilmu hisab, krn nabi

memerintahkan berpuasa dg melihat bulan dan berhari raya dg melihat bulan ya kita berusaha untuk sami‘na wa atho‘na

o

djiesaka, on 5 September 2011 at 15:30 said: BETUL SEKALI Penulis melakukan PROVOKASI dg menyerang Muhammadiyah, kl mau provokasi lakukan di sekitar lo dan keluarga lo saja ! Kl semua orang bikin Tulisan seperti ini dan saling menyerang satu sama lain apa jadinya?? Memangnya lo doang yg bisa bikin Artikel ga jelas seperti ini??!!

Apria, on 29 Agustus 2011 at 22:45 said: Ini Profesor maunya apasih ….sebelum komentar…baca dulu alasan muhammadiyah yang jelas…..komentar prof terkesan tidak mencerahkan …tapi menyudutkan… kita tidak akan menemukan titik temu dengan cara pikir sempit seperti ini. Prof kan tinggal baca alasan muhammadiyah di http://www.muhammadiyah.or.id Balas

o

Siregar, on 4 September 2011 at 11:54 said: Saya kira Muhammadyah dalam hal ini sdh berkelakuan seperti Jahudi. Inilah yangt sudah dilakukan bapa_bapa kami, yang lain itu pasti salah. Dan Jahudi itupun menutup akal dan hatinya rapat-rapat. Tidak mau menerima pembaharuan yang telah dilontarkan ahlinya.Masya Allah.

udin, on 29 Agustus 2011 at 23:48 said: sebenarnya bulan-nya ad brapa to????kok di malaysia sdh bisa menetapkan 1 syawal tgl 30 agustus 2011 artinya bulan telah terlihat di malaysia…..sementara di indonesia kok belum ya….

apa perbedaan teknologi yg digunakan d indonesia dan di malaysia ya??? Balas

o

dudi, on 30 Agustus 2011 at 18:54 said: Itulah yang aneh, jangan-jangan justru kita terbelenggu oleh kepentingan asing agar umat islam di Indonesia selalu terpecah, ga masuk akal perbedaan antara Indonesia dan Malayasia padahal kita satu rumpun yang perbedaan waktunya hanya hitungan menit jangan jadi manusia bego ah!

Iswandi Anas, on 30 Agustus 2011 at 03:37 said: Mendengarkan alasan-alasan wakil Muhammadiyah semalam di televisi, saya berpendapat bahwa sukar bagi Muhammadiyah mau berubah damn mau menerima saran dan terkesan mengoirbankan kebenaran demi ―gengsi‖ Ini sangat merugikan Muhammadiyah itu sendiri. Argumentasinya menetapkan Lebaran jauh hari sebelum lebaran agar mudah menyediakan lapangan unyuk sholat, sangatlah tidak bisa diterima ―akal‖ sehat, terkesan menyepelekan persoalan. Dampaknya sangatlah besar termasuk terhadap kesatuan ummat Islam, yang disebabkan hanya oleh ―gengsi‖. Semoga Muhammadiyah mau berubah. Amin Iswandi Anas Balas

o

nume, on 30 Agustus 2011 at 19:52 said: ..justru itu untuk kepentingan umat..karna umat islam itu sdh sangat banyak dengan berbagai macam aktifitasnya..kalau caranya mepet seperti sidang isbat..itu membuat kacau segala aktifitas..dijaman muhammad itu bisa dilakukan karna umatnya tak sebanyak sekarang dan berada dalam satu lingkungan..apa juga tiap mau buka puasa juga harus mengamati matahari..?

o

Ali Mahfud, on 1 September 2011 at 09:56 said: Muhammadiyah hanya menjaga amanah dan melindungi ummat dari orangorang yang berusaha menyesatkan umat, Kalau Pak Thomas tidak mau mengakui WUJUDUL HILAL, sama saja tidak mengakui kebesaran ALLAH SWT. Telah terbukti nyata, pada tanggal 30-08-2011 jam 17.40 WIB, bulan sudah terlihat jelas dan cukup besar, saat itu ALLAH telah menunjukkan kuasanya bahwa pada malam TAKBIRAN (Versi Depag) adalah tanggal 2 Syawal. Kalau ALLAH SWT telah menunjukkan sepertinya itu, masihkan kita ragu dengan Wujudul Hilal ?

o

Toni Jamaludin, on 1 September 2011 at 17:58 said: kesatuan Umat islam untuk ormas2 di Indonesia apa kesatuan Umat Islam dunia???

o

Thomas Hilaluddin, on 3 September 2011 at 12:14 said:

Ada 3 lasan yg kurang masuk akal, sedikit kebohonagan dan cenderung dipaksakan pd saat sidang itsbat:

1. Pemerintah mencari argumen penolakan terhadap 2 posisi yang sudah melihat Hilal (4 org di Cakung dan 1 orang di jember). sejak kpn hadist mensyaratkan yang merukyah harus seorang professor astronom?. cukup melihat dan dan bersumpah.

2. Pemerintah & beberapa ormas lupa sholat Ied itu sunah (yg wajib menyatukan umat Islam seluruh dunia bukan umat Islam diIndonesia). hanya 5 negara yang merayakan sholat id hari Rabu; baca detiknews. Arab Saudi/makkah (yg menjadi kiblat kita) & bbrp negara asia hari selasa. padahal sebelumnya Sdg Itsbat mengatakan kerjasama ahli rukyah 3 negara Brunai, Singapore & Indonesia tidak lihat hilal kecenderungan lebrn hari Rabu paktanya Negara tsb hari Selasa (kebohongan kah?)

3. Professor ini boleh jadi mengerti tentang astronomi tapi saya pikir orang ini ngk paham pemahaman Qur‘an dan sunnah dan cenderung mengedepankan Ilmiah to.

o

Sjafruddin, on 4 September 2011 at 08:28 said: Nyatanya, keputusan Muhammadiyah sama dg sebagian negara muslim di dunia, Malaysia, Singapuran dan Filipina yg dekat dg Indonesia 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Selasa. Jadi siapa yg aneh….?

o

Siregar, on 4 September 2011 at 12:29 said: Dari satu hadist yg diriwayatkan dari Jabir dari Nabi saw: Apabila malam akhir Ramadhan tiba, maka menangislah seluruh langit, bumi dan para malaikat karena musibah yang menimpa ummat Muhammad saw. Rasulullah ditanya, ―musibah apakah itu ya Rasulullah‖? Beliau menjawab:‖perginya bulan Ramadhan‖. ―Karena di dalam bulan Ramdahan itu semua doa dikabulkan, semua syahadat diterima, semua kebaikan dilipatgandakan

pahalanya, sementara siksapun dihentikan‖. Banayak lagi hadist2 yang senada dengan ini, serta ungkapan para Ulama: ‖ Seandainya tdk memberatkan ummat, hendaknya 11 bulan yang lain itu juga dijadikan Ramdhan‖. Laaaah, sekarang ummat Muhammad kok mencari-cari alasan ya, utk memilih puasa 29 hari ketimbang 30 hari? Kok malah buru-buru mau mendapatkan musibah, Boro-boro mau 11 bulan lainnya menjadi Ramadhan, untuk puasa 1 hari lagi aja cari-cari alasajn. Wooy, ketuk aqalmu, dan tanya imanmu dalam hati. Masya Allah.

o

dhea, on 4 September 2011 at 13:22 said: reply saya terhadap yangdiatas, lalu kalo tanggal 30 itu bener 1 syawal, gimana?

o

tdjamaluddin, on 4 September 2011 at 14:49 said: Ibadah didasarkan pada keyakinan. Keyakinan harus didasarkan pada ilmu. Silakan pilih mana yang diyakini berdasarkan ilmu yang dimiliki.

o

Siregar, on 4 September 2011 at 16:51 said: To: Hilaludin dan Sjafruddin: ketinggalan berita banget sih …Kan Raja Arab Saudi aja sudah kasih ganti rugi ke rakyatnya, gara-gara salah nentuin hari raya…..gak usah ngotot laaah….Yang lebaran hari Rabu termasuk AS, Australia, dan banyak negara-negara Eropa.. Sedangkan to: dhea…..yaaa sudah jelas, tanggal 30 itu salah lah…..orang bukti dan argumen gak mendukung………..jangan ngotot mau menang….mau benar….

o

andhika, on 5 September 2011 at 17:22 said: Saya bukan pakar dalam masalah ini, tp bila dasar dari penggunaan metode hisab dan rukhyat sama kuatnya, maka saya yg awam ini lebih memilih metode hisab.

Apalagi saya pernah membaca salah satu tulisan dr seorang Profesor dr Indonesia yg berdomisili di Den Haag di detik.com bhw menurut beliau rukhyat itu bukan ritual dan sebenarnya ketentuan utk menggunakan rukhyat tdk melarang metode hisab, maka bagi saya Idul Fitri yg serentak dan terencana adalah kondisi yg paling baik utk kita semua menurut saya yg awam ini. Walahualam.

o

andhika, on 5 September 2011 at 18:03 said: Bung Siregar;

Sepertinya anda yg terbelenggu egoisme pendapat anda karena Berita ttg Raja Saudi ganti rugi kpd rakyatnya itu ternyata adalah berita hoax yg disebarkan orang Indonesia. Silakan liat link ini

http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/01/hoax_saudi-arabia-1-syawaladalah-rabu-31-agustus-2011/ dan http://www.detiknews.com/read/2011/09/02/161525/1714705/10/ada-kabarsalah-penetapan-1-syawal-warga-saudi-tenang-saja

bennythegreat, on 30 Agustus 2011 at 05:49 said:

ini adalah pandangan saya: http://bennythegreat.wordpress.com/2011/08/29/1-syawal-1432h-jatuh-pada-harirabu-31-agustus-2011-ini-dia-latar-belakangnya/ mohon dikoreksi kalau ada kesalahan.. Balas

exerberryy, on 30 Agustus 2011 at 17:02 said: baca juga artikel

http://www.detiknews.com/read/2011/08/30/041448/1713399/10/prof-sofjan-jangansakralkan-rukyah?9922032 untuk menambah wawasan Balas

exerberryy, on 30 Agustus 2011 at 17:06 said: atau baca juga artikel ini

http://www.pahdizul.com/2011/07/prof-dr-sofjan-siregar-sidang-isbat.html Balas

o

lookmanharunoke, on 1 September 2011 at 14:23 said: artikel terbaru untuk pembelajaran…..

http://arrahmah.com/read/2011/08/30/15001-nu-hari-ini-1-syawal-yang-puasasegera-berbuka.html

Pemerhati awam, on 31 Agustus 2011 at 15:46 said: Prof yang terhormat,

Saya ada pertanyaan yg masih mengganjal…. Dalam sidang Isbat 29 Agt 2011, dari 30 saksi dikatakan ada 4 saksi yang telah melihat Hilal. Sebagaimana kita ketahui bersama, saksi2 tsb sebelumya telah disumpah dan dianggap menguasai ilmu tentang perhilalan. Bukankah dgn adanya saksi yg melihat hilal (walaupun minoritas jumlahnya) sudah cukup dipakai dasar utk meyakini 1 Syawal.

Yg buat saya yg awam, saya tidak bisa menerima keputusan penentuan 1 Syawal pada akhirnya diputuskan hari rabu berdasarkan hasil rapat pemerintah dgn para ormas. Dgn alasan kurang lebih, berdasarkan ilmu sains, hilal tidak dapat dilihat secara kasat mata. Apakah kesaksian penglihatan hilal tsb dieliminir berdasarkan pendapat para ormas dan juga pendapat astronomi (berarti menggunakan pendekatan Hilal donk) yg berpendapat hilal ‗Tidak Mungkin‘ terlihat karena berbagai alasan dsb dsb. Jika pada akhirnya penentuan 1 syawal, ditentukan berdasarkan hasil rapat tsb – buat apa diperlukan saksi2 yg disebar diseluruh Indonesia, toh pada akhirnya kesaksian tsb tersebut akhirnya tdk digunakan sebagai dasar keputusan penentuan 1 syawal. Kemudian mohon jawabannya, sebagaimana diketahui bahwa hilal yg disepakati adalah >2 derajat. Apakah besaran derajat tsb akan berbeda bagi orang yg melihat dari tempat yg rendah (seperti dipantai) dengan yg melihat dari tempat tinggi seperti di gunung. Mohon pencerahannya, trims Balas

o

tdjamaluddin, on 2 September 2011 at 22:35 said:

Kesaksian di Cakung dan Jepara sesungguhnya tidak murni berdasarkan rukyat, tetapi terpengaruh oleh hasil hisab (perhitungan) mereka yang berdasarkan hisab taqribi (aproksimasi) yang tidak akurat lagi. Hisab mereka menghasilkan ketinggian sekitar 3,5 derajat (kesaksian di Cakung) dan sekitar 2,5 derajat (kesaksian di Jepara). Padahal sesungguhnya berdasarkan astronomi modern, tinggi bulan kurang dari 2 derajat. Pada ketinggian sangat rendah tersebut, cahaya hilal yang redup tidak mungkin mengalahkan cahaya senja di ufuk barat. Itulah sebabnya kesaksian tersebut ditolak, karena sangat meragukan. Lagi pula itu bertentangan dengan saksi lain di lokasi yang berdekatan.

o

imc_cho, on 3 September 2011 at 01:26 said: @prof TDjamaludin..

saya mau bertanya kepada bapak. apakah metode imkanur ru‘yat tdk menggunakan metode hisab?? terus darimana kita bisa bahwa bulan telah mencapai posisi 4 derajat seperti yg bapak inginkan.. mohon diluruskan..

o

orang ganteng, on 3 September 2011 at 04:39 said: Assalamua‘alaikum wr wb @pak tb djamaludin Boleh tau pak kesaksian itu bukan didasarkan pada rukyat akan tetapi hisab, atau jangan2 bapak asal menuduh seperti tuduhan bapak di fb mengatakan malaysia mengikuti saudi, yang kemudian dibantah oleh salah satu ahli hisab juga dari malaysia dan menegaskan kalau malaysia memakai kriteria mabims. Kalau bapak mau jujur sebaiknya pak djamaludin melakukan verivikasi kepada yang bersangkutan melihat hilal bukan dengan mudahnya membantah

apalagi mendukung, setahu saya 3 orang saksi dari fpi tidak ada hubungannya dengan pesantren nu yang anda bilang memakai hisab model lama. Atau jangan-jangan pak djamaludin sendiri yang terkungkung kriteria visibilitas hilal sehingga menafikkan beberapa data tanpa melakukan verivikasi terlebih dahulu. Bukannya bapak sendiri yang bilang Indonesia harus mengumpulkan data sendiri untuk menentukan kriteria imkan rukyat sehingga sesuai dengan wilayah Indonesia. Selama ini kita menggunakan data mabims dan mohammad odeh yang dikumpulkan berdasarkan pada data pengamatan hilal yang dapat terlihat, akan tetapi data ini bukan harga mati. Wassalamua‘alaikum wr wb

o

andy, on 3 September 2011 at 10:37 said: METODE HISAB SKALA PLANET VS METODE RUKYAT SKALA LOKALISASI, MENANG MANA??

kebayang gak sih, kalo seandainya Indonesia puluhan atau seratus tahun kemudian luas wilayahnya cuma sepulau jawa atau sepulau nusakambangan aja, tentu akan semakin sempit wilayah pemantauan hilalnya. Jadi orang-orang yang ngotot dengan metode hilal terlokalisasi akan semakin sempit peluang memantau hilal. Masalahnya sekarang ini adalah : terjadi kepincangan antara Metode Hisab seperti yang dilakukan Muhammadiyah dengan Metode Rukyat yang dilakukan pemerintah RI. Hisab yang dilakukan Muhammadiyah yang menggunakan ijtima bulan bumi matahari adalah dalam skala planet (kalo saya istilahkan), sedangkan Metode Rukyat yang dilakukan pemerintah RI sekarang ini dan yang lain-lainnya masih terlokalisasi di wilayah Indonesia saja. Jadi seperti yang saya kemukakan di atas, andaikata wilayah Indonesia besok puluhan tahun atau ratusan tahun yang akan datang cuma seluas pulau jawa atau nusakambangan, orang-orang yang ngotot dengan metode rukyat terlokalisasi ini akan semakin sempit persentase peluangnya melihat hilal. Justru inilah yang saya katakan sebagai KEPINCANGAN. Metode Hisab yang dilakukan Muhammadiyah berskala Planet sedangkan Metode Rukyatnya

skala

lokalisasi.

Betul

Kan???

Btw, kalo saya seh pengennya Indonesia besok puluhan atau ratusan tahun kemudian wilayahnya sampai ke indochina bahkan ke jepang (mimpi kali ya). Tapi gak apa-apa kan bermimpi seperti itu? toh para sahabat dulu juga bermimpi bisa merebut mesir sampai konstantinopel dan impiannya terwujud puluhan/ratusan tahun kemudian.

Maka dari itu saya usul supaya Metode Rukyat juga ditingkatkan, tidak hanya dari segi peningkatan peralatan untuk rukyatnya saja tapi juga dari segi wilayah pemantauan hilalnya juga diperluas, tidak hanya di wilayah RI tapi juga di luar wilayah RI yang satu dimensi waktu dengan wilayah RI. Disini saya usul ke pemerintah RI supaya pada waktu penentuan hilal, tidak hanya memantau hilal di wilayah Indonesia saja tapi juga mengirim duta-dutanya yang telah disumpah dan diberi mandat untuk memantau hilal di luar wilayah RI yang mempunyai prosentase melihat hilalnya lebih besar dan masih satu dimensi waktu dengan Indonesia.

Jadi kalo pemerintah bisa melalukan itu, metode rukyatnya bisa disandingkan dengan metode hisab skala planet. he3x

Ibnu Rusyd, on 1 September 2011 at 22:21 said: Setuju dengan pendapat bahwa ―kunci utamanya‖ adalah problem utamanya adalah di KRITERIA. Metode silahkan beda, dalil silahkan beda, tapi KRITERIA sebaiknya sama. Selama KRITERIA sama, hasil akhir Insya Allah akan sama. Sekiranya dapat dipertimbangkan plus minus masing-masing metode: 1. Hisab (wujudul hilal) Kelebihan: - Mudah membuat Kalender Qomariah untuk beberapa tahun kedepan Kekurangan: - Bersifat dugaan, tidak dapat dibuktikan secara pasti bahwa bulan baru benar-benar

sudah - Tingkat kepercayaan: Sedang 2. Hisab (imkaanur ru‘yah) Kelebihah: Mudah membuat Kalender Qomariah rukyat untuk bil beberapa fi‘li tahun

masuk

kedepan

- Bersifat dugaan yang bersifat mendekati ―pasti‖. Kepastiannya dapat dilakukan dengan melakukan mata/teropong

- Tingkat kepercayaan: Tinggi Kekurangan: - Menentukan batas-batas atau kriteria visibilitas hilal, perlu melibatkan banyak ahli, dan perlu ditetapkan oleh semua komponen (ulama, umaro, scientist) 3. Hisab (imkaanur ru‘yah) + Ru‘yah fisik/bil fi‘li (mata/teropong) Kelebihan: - Bersifat ―pasti‖, karena hitungan di verifikasi dengan penglihatan fisik (mata/teropong) - Tingkat kepercayaan: Sangat Tinggi Kekurangan: - Sukar membuat Kalender Qomariah untuk beberapa tahun kedepan, karena tiap akhir bulan harus meru‘yat mata/teropong

- Menentukan batas-batas atau kriteria visibilitas hilal, perlu melibatkan banyak ahli, dan perlu ditetapkan oleh semua komponen (ulama, umaro, scientist) Source: http://de.tk/0jOUa Balas

nova, on 3 September 2011 at 22:45 said:

titelnya aja PROFESORR..!!! tp ilmunya cetek.. ga‘ bs bedain antara pengamatan dengan hitungan.. !!! mestinya lu thomas belajar lagi kosakata bahasa dengan bener.. !!! jangan2.. lulus SD aja nyogok..!! Balas

o

Siregar, on 4 September 2011 at 16:55 said: Eh..Nova….kamu udah gak bertitel…pake suudzon lagi….lebih buruk deh kamu daripada yang kamu maki-maki…..

o

Anandi, on 4 September 2011 at 22:20 said: Akhlak Nova buruk sekali ya….suka maki2 orang lain,yang ahli saja dimakimaki..apalagi yg awam ..hiihhh..menjijikkan

o

sarifah, on 6 September 2011 at 13:18 said: nova-nova… buat pendapat kok kaya gitu.. jangan-jangan kamu santri monas atau sejenisnya. Sudah pinter duluan sebelum belajar..

 jendelakatatiti, on 27 Agustus 2011 at 19:58 said: O begitu to dasar berpikir Muhammadiyah dalam penentuan hari raya. Makanya kok mereka sering beda, saya sampai berpikir mereka yang penting beda.

Terima kasih kritik terhadap Muhammadiyah ini sangat bermanfaat. menambah pengetahuan. Salam http://Jendelakatatiti.wordpress.com. Balas

Kholid, on 30 Agustus 2011 at 03:54 said: Muhammadiyah itu sudah ada sejak Indonesia belum lahir. Sejak Indonesia belum merdeka. Dan sejak Muhammadiyah berdiri itu sudah bisa menentukan sendiri kapan puasa dan hari raya. Dan juga sekaligus mengajarkan dan juga menyebarkannya ke seluruh ummat muslim. Lha sekarang kok Muhammadiyah malah disuruh ikut ke pemerintah…??!!! Sungguh aneh, idul fitri dan awal puasa bisa berbeda. Tapi kalo maulud nabi, isra‘ mi‘raj, tahun baru hijriah, dan peringatan lainnya yang berdasarkan bulan qomariah, tidak pernah berbeda…!!! Dan Muhammadiyah sudah menetapkan jauh2 hari sebelumnya…!!! Nyatanya semuanya sama tanggal peringatannya…!!! Kalo sudah begini, apalagi yang masih diragukan…!!!??? apa pemerintah (atau golongan tertentu yang sebagian besar duduk di

pemerintahan/MUI) yang malu untuk mengikuti Muhammadiyah?? TANYA KENAPA?? Balas

o

zahid ahmad, on 30 Agustus 2011 at 17:03 said: ngikutin Al qur‘an dan Hadis lah, bukan NU, Muhammadiyah, atau Persis. klo cm masalah khilafiyah saja diributin terus_ kapan Islam akan bangkit ?

o

nume, on 30 Agustus 2011 at 19:56 said: ..benar mas..memang itu orang2 kolot yg tidak berpikir untuk

umatnya..dengan metode hisab kan semua bisa direncanakan dan diatur..bukan

metode dadakan yg tidak lagi layak diterapkan untuk umat yg sudah sekian banyak dan tersebar dimana mana. Umat itu kan beraktifitas yang betuh perencanaan.

o

ghani, on 30 Agustus 2011 at 21:07 said: dan hanya 4 negara saja yang sholat ied untuk besok (31/08) yaitu : Selandia Afrika Indonesia Oman baru selatan

dan Menurut penyelidikan Ibnu Hajar, dari 9 kali Ramadan yang dialami Nabi saw, hanya dua kali saja beliau puasa Ramadan 30 hari. Selebihnya, yakni tujuh kali, beliau puasa Ramadan 29 hari.

o

Syarif, on 30 Agustus 2011 at 22:33 said: Dari 9 kali Rasulullah berpuasa Ramadhan, 1 kali berjumlah 30 hari. Artinya, mayoritas hitungan hari dalam 1 bulan kalender islam ialah 29 hari. Aneh banget Kira-kira ga sih, beberapa siapa tahun yang ini kita puasa mau 30 hari..? terbuka?

Menurut saya, bumi dan bulan sebagai bagian dari universal, baik rotasi maupun revolusinya, tidak akan mengalami perubahan hanya dalam 1400 tahun.

o

deen, on 30 Agustus 2011 at 22:37 said: Bukan ikut pemerintah. Tapi ikut perkembangan ilmu astronomi. Baca yang betul !!!

o

Ali Mahfud, on 1 September 2011 at 09:59 said: SETUJU……!!! Pemerintah pasti malu, apalagi pakar yg profesor seperti T. DJAMALUDIN, jelas-jelas akan malu. Emang siapa sih dia ?

o

hamba allah, on 2 September 2011 at 07:03 said: kalian semua ternyata setan iblis semua.

kalian beragama tetapi perkataan anda semua seperti setan iblis yang tidak tau sopan santun saja.

katanya beragama tetapi omongan kalian, ucapan kalian masih saja seperti iblis, setan yang terkutuk. JANGAN SALAHKAN ORANG LAIN…. OMONGAN ORANG LAIN HANYA SEBAGAI MASUKAN SAJA… SALAHKAN DIRI ANDA DULU… APA BENAR DIRI ANDA SUDAH BENAR SEBELUM MENYALAHKAN ORANG LAIN. TAK SEMUA NU, MUHAMMADIYAH, MUI, DLL THU SALAH…. TUHAN KITA SATU…. KITAB KITA SATU……….. HAY UMAT !!!!!!!!!!!!!!!!!!! KITA SEMUA THU DIGODA SETAN IBLIS SUPAYA KITA TERJEBAK DALAM PERPECAHAN UMAT …..

JIKA TERUS MENERUS TERJADI PERPECAHAN UMAT ITU SUDAH TANDA SEBAGIAN DARI KIAMAT…. INGAT BRO…. KITA BERMUNAJAT SAJA PADA ALLAH SWT. AKU TIDAK PERCAYA ALIRAN QW APA ITU… AKU PERCAYA ALLAH SWT TUHANKU…. AKU PERCAYA NABI MUHAMMAD SAW ITU NABI QW… AL QUR‘AN KITABKU MEKKAH KIBLATKU MUSLIM MUSLIMAT SAHABATKU…

 andi, on 27 Agustus 2011 at 21:22 said: ―Dari segi syar‘i, tafsir yang merujuk pada QS Yasin 39-40 terkesan dipaksakan. Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.‖ ada penjelasan lebih detilnya kenapa disebut ‗dipaksakan‘ dan ‗usang‘ pak? supaya lebih objektif Balas

tdjamaluddin, on 28 Agustus 2011 at 16:54 said: Tentang usang secara astronomis sudah dijelaskan di tulisan tersebut. Terkait ―dipaksakan‖ silakan baca blog saya

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/07/28/hisab-dan-rukyat-setara-astronomimenguak-isyarat-lengkap-dalam-al-quran-tentang-penentuan-awal-ramadhan-syawaldan-dzulhijjah/ Balas

o

iqra, on 29 Agustus 2011 at 14:04 said: ass. Prof Jamal. Terkait dengan masalah hisab ini.,sesuai tulisan bapak, saya melihat masalahnya semata-mata ada pada belum adanya teknologi yang mampu melihat hilal pada elevasi antara ~1-4 deg. Memang pada ketinggian tersebut akan sulit klo tidak ingin dikatakan mustahil untuk melihat hilal karena adanya albedo. Menurut saya sepanjang perhitungan hisab dan wujud hilal meskipun secara teori sudah diatas ufuk, maka semestinya sudah dapat diterima sebagai bulan baru. Seandainya cara perhitungan hisab tersebut salah tentnya hal ini yg menjadi persoalan. Menurut saya sepanjang teori hisabnya dapat dipertanggungjawabkan maka tidak menjadi masalah. Insya Allah hanya butuh waktu untuk menemukan teknologi yang mampu melihat hilal pada ketinggian rendah tersebut. Hal ini tentu menjadi PR kita sesama ummat muslim untuk mewujudkannya. Ingatlah ketika perdebatan tentang pusat tata surya dimulai dan pada akhirnya dengan teknologi hal itu bisa dibuktikan. teknologi yang mampu melihat hilal pada ketinggian rendah tersebut. Oleh karena itu tidak bijak rasanya untuk menyalahkan metode masing2, hanya karena ketidakmampuan kita untuk membuktikan bahwa teori yang digunakan itu salah. Sama dengan NU yg kemudian beradaptasi dari tidak menggunakan teropong kemudian menggunakan teropong, kita pun semestinya berusaha untuk membuktikan berapa sih limitasi elevasi yang mampu dilihat dengan teknologi. Mungkin teknologi kita yg digunakan sekarang yang sudah usang, jika kita menganggap cara berhisab kita sudah benar. Mudah2an akan semakin banyak umat islam yang terdorong untuk memperkuat teknologi yg dapat dimanfaatkan untuk kemajuan Islam. Semoga Allah meridhoi.

o

hamba-Nya, on 30 Agustus 2011 at 03:42 said: Assalamu‘alaikum, Sekedar himbauan untuk saudara2ku seiman, marilah kita saling menghargai perbedaan. Bukankah manusia berbeda kadarnya? coba kita bayangkan, saudara2 muda kita (baru belajar dan menerima dien Islam) yang blm banyak mengerti, mungkin mereka masih membaca Qur‘an dengan terbata2 apalagi utk mengerti tentang hisab dan hilal, apa tdk malu kita pd mereka, yg seharusnya kt dpt memberi contoh yg baik agar yg msh rentan dpt menambah tebal imannya, alih-alih kt msh ribut yg dpt membuat mereka bingung. Utk bapak Thomas, maaf jika sy menghimbau, tdk brmksud menggurui, krn saya tidak berpendidikan tinggi. Apakah tdk sbaiknya Bpk memaparkan ilmu sbagai amal ibadah Bapak tanpa menyebut pihak lain yg tdk atau belum mengetahui banyak soal ilmu perbintangan? Begitupun pihak yg tdk sesuai dgn Bpk Thomas, membaca dan mempelajari sesuatu ilmu tdk dilarang bukan? akhirnya pilihan dikembalikan pd masing2 individu sesuai kadarnya. Semua berproses. Bisa saja hari ini msh berbeda tetapi jika Allah berkehendak besok bs sama. Jadi untuk apa diperdebatkan terlalu jauh yg dpt menimbulkan kerusakan? Marilah umat muslim Indonesia kita bersatu dalam perbedaan kadar pemikiran dan ilham masing2. Sdh takdir negara kita adalah negara dengan umat muslim yg terbesar di dunia yg patut kita syukuri. Bersatu bukan berarti harus sama. Selamat lebaran utk saudara2ku yg berlebaran hari ini (30/8/2011). Mohon maaf lahir dan Bathin. Tabik

o

Titik, on 1 September 2011 at 02:06 said:

Astaghfirullah. Istighfar Saudaraku..‖jganlah kebencianmu menyebabkan engkau berbuat tidak adil‖(firman Allah)

Muhammadiyah sudah berbuat banyak dan mempunyai banyak ahli yang tidak kalah dari bapak Djamaluddin ini. Jagalah lisanMu, jangan membuat perpecahan dan kebencian di kalangan Umat Islam.

Janganlah pengetahuan yang anda miliki membuat anda sombong dan merasa lebih pintar dari orang-orang Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

o

Ali Mahfud, on 1 September 2011 at 10:22 said: Kalo kita tidak bisa melihat Bulan (hilal) pada posisi 0-2 derajat, jangan salahkan Bulannya dong…. artinya Alat yang dipakai untuk melihat Hilal itu yang harus diperbaharui, semua akan terbukti kalau sudah tanggal 2, seperti pada malam takbiran (versi depag) kemarin… itukan sudah tanggal 2 yang artinya sebagian umat islam kebaran pada tanggal 2 syawal. Ini bukti yang tidak bisa dibantah lagi…

o

Kibus Borbor, on 1 September 2011 at 10:51 said: kesan saya pak Prof terlihat tidak akurat, karena kalender di blog nya ada pengakuan 1 Syawaal 1432 H jatuh 30 Agustus 2011. Tolongkoreksi dulu kalendernya. Kalo di zaman nabi riwayat hadis lewat orang seperti Prof, pasti dianggap lemah, karena orangnya ‗tidak akurat‘

SELAMAT IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR BATIN

Myeta Maniez, on 30 Agustus 2011 at 01:23 said: mesir…malaysia juga sama dengan NU…..saya juga harus banyak belajar…bapak sendiri juga yang gharus banyak belajar….he…he…

Balas

o

Adib, on 31 Agustus 2011 at 15:24 said: http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=37929 mungkin bisa dibaca

andy, on 30 Agustus 2011 at 18:25 said: Metode rukyat juga harus ditingkatkan. bukan cuma dalam masalah alat pengamatannya saja, tapi juga wilayah pemantauannya diperluas agar kemungkinan melihat hilal lebih besar. Saya usul ke pemerintah agar pada waktu-waktu pelaksanaan rukyat tidak hanya mengirim pengamat di wilayah RI saja, tapi juga mengirim duta-duta pengamat rukyat yang telah disumpah dan diberi mandat, untuk mengamati hilal di luar wilayah RI yang masih satu dimensi waktu dengan Indonesia. Terutama ke tempat-tempat yang berpeluang besar untuk memantau hilal di luar wilayah RI yang masih satu dimensi waktu dengan RI. Masak malaysia singapura sudah lebaran kita malah belum, padahal masih satu planet. He3x.. aneh kan?? Semoga bisa jadi masukan. Balas

Ali Mahfud, on 1 September 2011 at 10:05 said: Profesor itu bukan ahli Tafsir dan bukan nabi…….

Saya berdo‘a, semoga MUHAMMADIYAH tetap istiqomah dengan WUJUDUL HILAL, kenyataannya ALLAH SWT. telah menunjukkan bahwa tanggal 31-08-2011 adalah tanggal 2 Syawal 1432 H. Sudah jelas bahwa WUJUDUL HILAL itu tidak USANG menurut ALLAH SWT.

Balas

o

Bailong, on 5 September 2011 at 09:45 said: Beginilah reaksi org yg lebih mencintai ormas daripada Islam itu sendiri. Hujjah gak ada, eh malah bilang ―Allah SWT telah menunjukkan bahwa tanggal 31-08-2011 adalah tanggal 2 Syawal 1432 H?‖. Anda lebih parah lagi, seolah-olah kata Muhammadiyah adalah kata Allah. Moga2 Allah melapangkan hati anda.

 Uzal Syahruna, on 27 Agustus 2011 at 21:32 said: Kita tunggu aja tanggapan dari ormas Muhammadiyah, mudah-mudahan bisa menjelaskan kreteria wujudul hilalnya secara gamblang dan tidak dibuat-buat atau di ada-adakan ya Prof …. Balas

Asep Hilman Yahya, on 28 Agustus 2011 at 16:57 said: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-365-detail-apa-permasalahan-ruyat.html Balas

 satiri, on 27 Agustus 2011 at 22:24 said: Muhammadiyah sudah ujub terhadap dirinya, merasa paling hebat, tapi tdk memikirkan persatuan umat. Ilmu astronomi sudah bekembang sangat pesat, tapi mereka sudah merasa

cukup. Mestinya muhammdiyah mengirimkan anggotannya kuliah di astronomi ITB biar bisa lebih melek… Balas

fadil fauzani, on 29 Agustus 2011 at 06:18 said: menurut saya ga usah sampai memojokan ormas tertentu.. Balas

o

AKHMAD SUDRAJAT, on 30 Agustus 2011 at 13:21 said: Faktanya hari ini (30 Agustus 2011) Muhamammadiiyah ternyata tidak lebaran sendirian, saudara-saudara kita yang berada di Arab Saudi dan Mesir pun merayakan Iedul Fitri 1432 H di hari yang sama Padahal secara geografis, mereka berada di Wilayah yang lebih jauh dari terbitnya matahari dibandingkan dengan Indonesia..

Jadi, kenapa Indonesia yang nota bene lebih dulu dilalui lintasan matahari harus berlebaran belakangan? Demikian, komentar saya yang awam dan maaf jika saya keliru.

rionaldo, on 29 Agustus 2011 at 09:31 said: saling menasehati dalam kebaikan, bukan malah menjelekkan apalagi menghina dan merasa benar! ok..syukron Balas

jordan, on 29 Agustus 2011 at 12:18 said: jangan suudzon masbro, saya yakin muhammdiyah jg punya ahli yang kalibernya melebihi ahli di ITB, tidak hanya ilmunya tapi juga Ibadahnya, insyaallah, CMIMW Balas

abu albany, on 29 Agustus 2011 at 15:14 said: muhammadiyah katanya pemegang sunnah Rasulullah SAW, faktanya dari dulu Rasulullah selalu menggunakan rukyatul hilal untuk menentukan kapan puasa, kapan berbuka. harusnya hadis dari dari Rasulullah ttg rukyat di pake dong. Balas

o

aulias, on 30 Agustus 2011 at 23:20 said: yuk ikut sunnah Rasul, untuk lihat langit waktu mau berbuka, jangan percaya adzan di TV, krn Rasul tdk pakai ilmu hisab untuk menentukan waktu shalat.

o

seaboy, on 3 September 2011 at 22:42 said: klo ngomong jangan cuma bs ngaco..!!! blajar dulu bener2 arti hisab… bego..

kasusbecus, on 30 Agustus 2011 at 18:11 said:

YG HARUS MELEK TUH KAMU…. Balas

nume, on 30 Agustus 2011 at 20:02 said: ..justru itu untuk kepentingan umat..agar umat bisa membuat rencana..bukan kebingungan nunggu pengumuman..umat islam itu sudah banyak dan tersebar dimana mana dengan segala macem aktifitasnya..kalau caranya dadakan kaya

gitu..bagaimana? Dijaman muhammad itu bisa dilakukan karna umatnya ga sebanyak sekarang dan masih dalam satu lingkungan.. Balas

arief surakhman orang awam, on 30 Agustus 2011 at 21:11 said: Ternyata, Hanya Empat Negara yang Lebaran di Hari Rabu!

Dalam laman Moonsighting.Com disebutkan bahwa hanya ada empat negara yang merayakan Lebaran pada hari Rabu, 31 Agustus 2011. Keempat negara itu adalah Indonesia, Selandia Baru, Oman, dan Afrika Selatan. Kesemuanya mengandalkan pada pengamatan hilal di level lokal.-(RMOL) Balas

Ali Mahfud, on 1 September 2011 at 10:08 said: ILMU tanpa IMAN akan menyesatkan…..

Kalo saudara melihat ketinggian bulan pada tanggal 30-08-2011 jam 17.40 WIB, apakah Saudara juga akan menyalahkan ALLAH SWT, mestinya kalau tanggal 1

Syawal, bulannya jangan sebesar dan setinggi itu YA ALLAH…. GITU…. kalo komen diatur DONG…. Balas

Toni Jamaludin, on 1 September 2011 at 17:56 said: Tolong anda yang Melek ya 1 SYAWAL 1432 H

Ternyata, Hanya Empat Negara yang Lebaran di Hari Rabu! Balas

o

Siregar, on 4 September 2011 at 14:47 said: Sekarang baru tahu ya, bahwa yang merayakan Ied pada hari Rabu, termasuk Negara negara Eropa, Amerika dan Australi. Dan mereka-mereka itu dari negara yang maju teknologinya Oooooom. Sapa yang harus melek. Membangunkan orang bangun memang repoooot.

bang toyib, on 2 September 2011 at 03:36 said: http://politik.kompasiana.com/2011/09/01/penggunaan-ilmu-pengetahuan-dalamibadah-tidak-menduakan-allah-dengan-ilmu/ tunggu azab Allah prof.. Balas

djiesaka, on 5 September 2011 at 15:21 said:

persatuan umat? untuk apa? apa biar masuk neraka bareng2? Balas

 priasmara, on 27 Agustus 2011 at 22:27 said: Saya simpatisan Muhammadiyah, semoga kritik ini mendapat tanggapan ahli hisab Muhammadiyah Balas

tdjamaluddin, on 28 Agustus 2011 at 16:54 said: Semoga. Ini juga demi kemajuan Muhammadiyah sendiri. Balas

o

Robin, on 30 Agustus 2011 at 03:11 said: jd kasian liat ilmuwan yg diperalat umaro. hhe..

o

deen, on 31 Agustus 2011 at 12:27 said: Jadi kasian liat para ulama yang diperalat oleh ego komunitasnya …..

o

Kibus Borbor, on 1 September 2011 at 10:58 said:

kasian banget liat prof jamaludin… semoga beliau tetap diberi kekuatan dan kesehatan…diterangkan hati dan pikirannya…

o

Sjafruddin, on 4 September 2011 at 09:12 said: Nanya Pak Prof,…lazimnya kalau mengukur itu khan dari nol, jadi walaupun posisi bulan 2 derajat tidak mungkin dilihat, tapi udah masuk dalam hitungan khan…dengan kata lain udah masuk bulan baru. Apakah yang 0-2 derajat itu dicatut…???.

 muhsyahid, on 27 Agustus 2011 at 23:07 said: semoga tulisan ini membawa berkah bukan permusuhan…agar tdak terkukung pd satu pendekatan. mengapa tak mencoba sedang mencoba tak mengapa Balas  Santi, on 27 Agustus 2011 at 23:33 said: Saya masih belum mengerti Pak. Jadi walaupun berdasarkan perhitungan, bulan sudah di atas ufuk namun tidak teramati, belum bisa dikatakan bulan baru? Lalu bagaimana misalnya ketika dilakukan pengamatan di Indonesia tidak terlihat hilal, tetapi di negara lain yg lebih barat dan berbeda beberapa jam dari indonesia, ternyata dapat mengamati hilal karena pd saat matahai terbenam di sana posisi bulan sudah lebih tinggi? Apakah di indonesia tetap berpuasa ataukah ikut berlebaran mengikuti negara yg lebih barat itu? Mohon pencerahan dan terima kasih Balas

Yus, on 28 Agustus 2011 at 23:23 said: Di setiap negara menganut satu kesatuan wilayah hukum, bulan yang dapat diamati pada negara lain tidak bisa dijadikan dasar awal bulan di ndonesia. Balas

o

Gembul, on 29 Agustus 2011 at 11:21 said: kalau membaca tulisan Agus Mustopa jangankan ‗Hari Raya, shalat saja harus ada jadwal internasional

o

Kholid, on 30 Agustus 2011 at 03:56 said: ngawur….mohon dipelajari lagi mengenai masalah ini (saran)

o

Iwan, on 1 September 2011 at 00:16 said: Maksudnya tiap negara punya penanggalan hijriah sendiri-sendiri ?

khozinalfani, on 29 Agustus 2011 at 08:53 said: Jawabannta ada di tulisan Prof.Thomas yg ini:

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/06/11/idul-adha-1417-h-mengapa-berbedahari-antara-indonesia-dan-arab-saudi/ Balas

 masjidannuur, on 28 Agustus 2011 at 03:16 said: layak di diskusikan….alangkah baiknya duduk bersama antara Prof. T. Djamaluddin dan Ahli Falak Muhammadiyah….tentu dengan melepas ego masing2…… Balas

sufehmi, on 29 Agustus 2011 at 09:26 said: Kan sudah? Sejak Oktober 2003. Coba baca lagi deh artikelnya. Balas

 Riser, on 28 Agustus 2011 at 04:14 said: harusnya Muhammadiyah, NU, Persis dll bisa mengalah satu sama lain…Kalau tidak ada yang mau mengalah lebih baik tidak diikutsertakan saja dalan sidang itsbat..malah bikin repot dan publikasinya membuat bingung publik awam….

Kalau Muhammadiya mau naik sekian derajat utk kriteria, NU turun dikit walaupun tidk terlihat tapi menurut ―empiris‖ sudah terliaht, Persis juga disetarakan kriterianya…DIJAMIN tidak akan berbeda… Balas

tdjamaluddin, on 28 Agustus 2011 at 17:01 said: Sebenarnya sudah ada jalan menuju kesepakatan itu. Ramadhan 1428/2007 Wapres Pak Jusuf Kalla mempertemukan Pak Din dan Pak Hasyim yang mencapai

kesepakatan untuk menyamakan persepsi. Tindak lanjutnya pertemuan di PB NU pada 2 Oktober 2007 dan di PP Muhammadiyah 6 Desember 2007. Ada penyataan akhir yang bagus sekali. Pak Syamsul Anwar (Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid) menutup dengan kata-kata, ―Kita harus mengalah demi ummat‖. Sementara wakil daru Lajnah Falakiyah NU Pak Slamet Hambali menyatakan, ―Kita harus berubah, dan NU sudah banyak berubah‖. Sayang pertemuan lanjutan terhenti untuk merumuskan kriteria yang disepakati.

Persis sudah lebih maju lagi. saat ini sudah menerapkan kriteria imkan rukyat. Balas

o

Wibisono Sastrodiwiryo, on 29 Agustus 2011 at 13:35 said: Sayang pertemuan lanjutan terhenti untuk merumuskan kriteria yang disepakati pertemuan selanjutnya untuk merumuskan kriteria bersama terhenti padahal secara prinsip sudah ada kesepakatan, ini tipikal masalah organisasi dengan birokrasi yang rumit, jadi masalahnya sudah bukan substansi lagi, tapi masalah lain… publik harus bisa memberi tekanan supaya mereka lebih termotiviasi menyelesaikan pekerjaan besar ini

o

arief, on 31 Agustus 2011 at 01:20 said: ooo… begitu, berarti pemerintahan setelah pak JK gak wapres lagi yang gak ada kemauan untuk menuntaskan masalah ini… coba kalo pak JK presiden nya… pasti dah selesai kali ya…

o

amin, on 31 Agustus 2011 at 05:32 said:

sama saja tidak jadi prof….

o

Ali Mahfud, on 1 September 2011 at 10:30 said: WIJUDUL HILAL telah banyak membuktikan dan bukti terakhir pada tanggal 30-08-2011, posisi bulan sudah jelas…… Jangan salahkan bulannya(hilalnya) kalau manusia tidak bisa melihat bulan (hilal).

Yang perlu dicerahkan itu adalah tafsir melihat bulan (hilal), apa memang harus melihat dengan mata dengan alat-alat tertentu buatan manusia ? seperti halnya kalau kita memaknai IQRO‘ (membaca) kita kan tidak harus membaca tulisan…. ???

o

Kibus Borbor, on 1 September 2011 at 11:04 said: saya sarankan prof cukup memberikan fakta2 ilmu falak saja, jgn dicampuri dgn memberi komentar NU berubah dan Muhammadiyah kuno…biarkan itu wilayah masyarakat yg menilai. Nanti terjebak ‗politisasi‘ para pemimpin organisasi

o

Siregar, on 4 September 2011 at 14:50 said: Muhammadyah deserse ya, Masya Allah

 aisyahputri, on 28 Agustus 2011 at 05:32 said: penyatuan ummat yg mana maksud Bapak? saya pikir selama ini perbedaan itu sudah menjadi hal yang lumrah dan g ada yg mempermasalahkannya kecuali Bapak sendiri mungkin –

*bapak boleh merasa bapak adalah pakar, tapi Muhammadiyah juga memiliki pakar yang saya yakin ga kalah sama Bapak Tulisan Bapak ini yang saya kira malah ‗memecah belah‘ ummat karena tidak menghormati hasil ijtihad. Biarlah Umat Islam memilih (ijtihad) menurut keyakinannya masimg2. Ini dperbolehkan dalam Islam. Jika ijtihad kita keliru, kita tetap dapat satu pahala, jika ijtihad kita benar dapat dua pahala. Balas

Haris Ontowiryo, on 28 Agustus 2011 at 16:42 said: Berbeda memang boleh tapi kalo yang seharusnya tidak terjadi perbedaan terus dibeda-bedakan ya itu namanya nyari-nyari. Saya setuju dengan tulisan ini karena memang metoda Muhammadiyah sudah seharusnya ditinjau kembali. Mbak aisyahputri ini cuma melihat dari segi emosional saja dengan mengatakan ―bapak boleh merasa bapak adalah pakar, tapi Muhammadiyah juga memiliki pakar yang saya yakin ga galah sama Bapak‖. Kayaknya mbak aisyahputri ini ga tau permasalahannya, ga tau apa kriteria Muhammadiyah yang dikritik bahkan ga tau ilmu falak sama sekali, dia cuma merasa tersinggung karena Muhammadiyah dikritik, cuma itu aja. Jadi modalnya mbak aisyahputri ini cuma ―rasa tersinggung‖ saja yang tidak ada dasarnya sama sekali. Kalo menurut saya betapapun hebatnya pakar-pakar di Muhammadiyah tapi dengan metoda yang mereka pegang saya jadi bertanya dari mana kepakaran itu mereka dapat? Jangan-jangan cuma merasa doang. Jadi sekali lagi tanpa mengurangi rasa hormat memang seharusnya Muhammadiyah perlu (untuk tidak mengatakan harus) meninjau kembali kriterianya itu. Balas

o

aisyahputri, on 29 Agustus 2011 at 16:01 said:

@Pak Haris Ontowiryo : maaf ya pak..sebelum ngomong saya juga berfikir dulu kok, meski saya awam di ―astronomi‖ tapi saya melek ilmu pengetahuan dan punya dasar sehingga tentu saja saya tahu metode yang digunakan oleh Muhammadiyah. Ga harus jadi profesor untuk mengerti ilmu falak pak karena saat ini informasi sudah dapat kita peroleh dgn sangat mudah.

*seorang ilmuwan sejati akan menghargai pemikiran ilmuwan lainnya

o

rendah hati, on 30 Agustus 2011 at 21:45 said: emang mbak asyahputri ini jumud…..dan keras kepala…..sussah deh….

o

deen, on 30 Agustus 2011 at 22:46 said: Biasa mengkritisi, tiba-tiba dikritisi …. yaaa pastinya kaget dan gak trima lah. Apalagi disebut usang dan jumud !!!

o

Ali Mahfud, on 1 September 2011 at 10:33 said: Kalau Saudara mengatakan ―metoda Muhammadiyah sudah seharusnya ditinjau kembali‖ sama halnya saudara mengatakan ―Posisi Bulan pada tanggal 30-08-2011 sekitar jam 17.40 s/d 18.15 WIB perlu ditinjau kembali ? hebat benar Saudara ini…… !!! Buktinya sudah jelas, dalam penentuan 1 Syawal 1432 H kemarin, WUJUDUL HILAL adalah yang benar…..

Yudi K. Tanuwijaya, on 28 Agustus 2011 at 22:14 said: Dalil tentang perbedaan adalah rahmat itu maudhu, perbedaan fiqih masalah sudut pandang masing2 pihak, yang mungkin benar mungkin salah, tapi perbedaan tersebut

jangan dipelihara karena tidak baik bagi umat atau mungkin karena ada pihak2 tertentu yang ingin memelihara perbedaan untuk keuntungan pihaknya, ijtihad dan tajdid terus berkemang seiring tingkat pemahaman dan keilmuan yang juga berkembang semua harus diarahkan kepada kemaslahatan umat dan kesatuan baik dalam ibadah maupun muamalah. Balas

o

achmad djiddan safwan, on 29 Agustus 2011 at 14:57 said: Dengan ilmu orang non-muslim dapat menentukan kapan akan terjadi Gerhana, jamnya, harinya, bulannya…..dan tidak meleset. Mungkin kesalahannya…..banyak orang yang tidak memperoleh TAQWIL dari Alloh terus mencoba menafsirkan ayat-ayat mustasyabihat. USUL : Kumpulakan para Ulama yang ditengarai memperoleh taqwiil-alloh untuk mempu menafsirkan ayat-ayat mustasyabihat. Keluarkan tafsir agar tidak berbeda. Wajibkan membaca terjemahan ayat-ayat muhkamat yang bisa langsung dimengerti oleh semua lapisan dari SD sd DR/Prof.

Hentikan anjuran membaca al quran / ngaji untuk memperoleh pahala Hentikan berhablumminanlloh + minannas dengan tujuan peroleh PAHALA. Jangan ada lagi iming-iming sholat di Masjidil Harom pahalanya 100.000 kali, di Madinah pahalanya 50.000 kali. Tidak aneh bila WNI bertitel haji jumlahnya lbh dari 5 juta yang hidup tetapi tidak membawa barokah bagi Bangsa & Negara. Disetiap kantor Departemen telah difasilitasi Masjid dan jadual ceramah, tetapi tidak ada manfaatnya. Bahkan infaq dari para jamaah jumat sampai tersimpan diatas 30 juta setiap masjid……dibiarkan. Tidak tergerak menyegerakan amanat infaq dari jamaah jumat. Sekedar beramar ma‘ruf dan mengajak berlomba kebajikan. Salam djiddan 085890170326. / 021.70051510.

Riser, on 29 Agustus 2011 at 04:11 said: ini sebuah perspektif mbak..bukan untuk memecah belah…

justru dengan tulisan ini kita semua bisa mengkoreksi diri, bagian mana yang perlu dipahami untuk disepakati…bukan soal matematika pahala..tapi kejadian yang berulang2 untuk alasan yang sama dan penyebabnya pun sama Balas

o

manis suharjo, on 29 Agustus 2011 at 05:24 said: Bapak terlalu membesarkan dan memaksakan pikiran bapak sendiri…jangan merasa pintar dan menyalahkan pihak lain bapak…

o

aisyahputri, on 29 Agustus 2011 at 06:07 said: okelah sebuah perspektif, tapi saya melihat tulisan prof. jamaludin menurut saya kurang objektif dan tkesan ingin memaksakan warga muhammadiyah untuk mengikuti ―pemikiran‖ beliau *sebagai wakil pemerintah tentunya* yang menurut beliau paling benar, akurat dan terupdate. Saya dari kecil sudah sering mengalami ―perbedaan hari raya‖ bahkan dlm keluarga saya sendiri maupun lingkungan sekitar tempat tinggal dan ga pernah ada masalah karena kita saling menghormati keyakinan masing-masing.Masih banyak PR buat pemerintah yang lebih penting untuk dilakukan dibanding membuat permasalahan baru dengan memaksakan umat muslim untuk mengikuti keputusan terkait hari raya misalnya.

Saya pernah mendengarkan ceramah dari seorang anggota badan hisab muhammadiyah mengenai metode hisab yang digunakan, dan saya *meskipun awam di bid. astronomi* sangat meyakini bahwa metode yang digunakan sudah sangat tepat karena logis dan juga sesuai dengan apa yang ada di dlm Al-Qur‘an dan Al-Hadits. Dalam sebuah HR Bukhari Muslim diceritakan

bahwa Rasulullah SAW puasa 29 hari dari 9 kali Ramadhan, puasa 30 hari 1 kali karena tidak melihat bulan – Tentu saja ada perbedaan waktu antara Indonesia dan Arab Saudi,namun hanya sekitar 4 jam (lbh cepat Indonesia) , dan jika saya amati, selama ini keputusan pemerintah hampir selalu 30 hari. Pada intinya sih, saya pikir seharusnya pemerintah tidak perlu memaksakan kehendaknya seperti misalnya terkait penentuan hari raya ini, karena setiap pihak pasti juga telah memiliki dasar dan keyakinan masing-masing *Sesama umat muslim itu bersaudara tho…mau Muhammadiyah, NU, persis atau apapun, jadi marilah saling menghormati hasil ijtihad masing-masing.

o

arif, on 30 Agustus 2011 at 00:11 said: manusia diciptakan bersuku,berbangsa, untuk saling mengenal.. untuk bersilaturahmi… selalu ada hikmah dibalik perbedaan… tetapi selama kelemahan dan kekurangan yang dikemukakan… mustahil kesepahaman didapat… mohon semua memahami dan mengikhlaskan… tidak ada manusia yg boleh mengharuskan melainkan yg seharusnya terdapat dalam kalam Illahi.

o

Zul Idham Nababan, on 30 Agustus 2011 at 14:04 said: Sesama muslim jgnlah kita saling menyalahkan…si A yg benar atau si B yg benar, yg penting yakin apa yg telah menjadi keputusan masing2 pimpinan ormas islam yg kita ikuti, seandainya keputusan pimpinan islam atau pemerintah yg keliru menentukan 1 Ramadhan atau 1 syawal, yang menanggung dosa kan pimpinan yg mengeluarkan keputusan….gitu aja kok repot….Allah Maha Tahu…

o

Ali Mahfud, on 1 September 2011 at 10:40 said:

Saya sangat sepakat dengan sdri. Aisyah Putri. dan perlu diingat ―PROFESOR ITU BUKAN ALLAH DAN NABI‖ kalo tulisan dan ejekan Prof. Thomas Djamaluddin terhadap WUJUDUL HILAL sudah dijawabh oleh ALLAH SWT, apa kita masih meragukan kebenaran WUJUDUL HILAL…. jangan salahkan Bulan/Hilal (ALLAH yang kuasa terhadap itu).

tatah, on 29 Agustus 2011 at 10:24 said: saya setuju dgn mbak aisyahputri,, bpk djamaluddin kesannya menggiring muhammadiyah untuk mengikuti apa yg jd keyakinan beliau.. tanpa ada rasa merendahkan tentunya saya blh mengatakan SDM muhammadiyah tentu jauh lebih hebat dr bpk. djamalludin. mereka jg ahli2 falak.. Balas

faisal, on 29 Agustus 2011 at 14:45 said: Tulisan ini memang bertendensi memecah belah bagi mereka yang tidak mau membuka dan belajar lebih banyak pada para ahli,mudah2an kritik terbuka beliau ini bisa menjadi wasilah/jalan bagi kita semua untuk belajar. Balas

cristus, on 29 Agustus 2011 at 14:47 said: @aisyahputri:pret haleluya anda penuh emosi….

bukan kasih komen ilmiyah malah ngaco…tolol loe…haleluya Balas

Izhari Ishak Aksa, on 29 Agustus 2011 at 17:27 said: bener itu yang mbak sampaikan seorang ilmuwan sejati harus bisa menghargai pendapat orang lain. Nah, sekarang ini lah pendapat orang lain yang mau disampaikan kepada Muhammadiyah. Lalu kenapa mbak menanggapi nya dengan emosional. Seorang ilmuwan juga bisa salah, bisa jadi itu ilmuwannya Muhammadiya, bisa jadi juga yang buat blog ini. Tapi tidak ada salahnya kan untuk mencoba mempelajari apa yang orang lain sampaikan? Bahkan menurut saya itu suatu keharusan. Perbedaan itu wajar memang, malah disebut rahmat. Tapi, kalau perbedaan itu terjadi ditempat yang sama, dalam kondisi yang sama, di negara yang sama. Nah, pasti ada sesuatu yang berbeda sehingga membuat hasil yang berbeda kan? Lalu perbedaannya dimana? Perbedaan itu lah di bagian perhitungannya. Coba kita samakan cara kita berhitung, pasti hasilnya juga akan sama. Nah, sekarang cara berhitung siapa yang paling benar dan paling pas? Tinggal dipelajari aja. Sekian terima kasih Balas

duta, on 30 Agustus 2011 at 01:41 said: Dari kacamata orang bodoh dan awam seperti saya, yang bukan simpatisan salah satu ormas Islam manapun…jujur kalau perbedaan ini sangat mengganggu hati kecil saya…di ucapan kita bisa bilang indahnya perbedaan..tapi dalam hati ini sedih kenapa harus ada perbedaan perayaan hari Raya ini karena kita tidak bisa merayakannya bersama2 Balas

Sanra, on 30 Agustus 2011 at 09:56 said:

―maaf ya pak..sebelum ngomong saya juga berfikir dulu kok, meski saya awam di ―astronomi‖ tapi saya melek ilmu pengetahuan dan punya dasar sehingga tentu saja saya tahu metode yang digunakan oleh Muhammadiyah. Ga harus jadi profesor untuk mengerti ilmu falak pak karena saat ini informasi sudah dapat kita peroleh dgn sangat mudah‖ Terkesan sombong banget malahan.. hanya emosional Balas

o

herda, on 30 Agustus 2011 at 15:56 said: maaf ya .. sepertinya anda menyudutkan aisyahputri, coba di analisa lagi.. yang emosional itu siapa dan yang terkesan sombong itu siapa.. sebaiknya seorang ilmuwan yang baik (menurut kacamata orang awam seperti saya).. dia bijak dalam mengemukakan teorinya dan tidak menyudutkan pihak manapun.. terimakasih

o

musyaffir, on 30 Agustus 2011 at 22:33 said: iya si aisyahputri emang yang sombong….songong lagi…..belajar nak aisyah….jgn jadi org bodo…..

muflih, on 30 Agustus 2011 at 10:10 said: ibadah bukan brdasarkan ego,akal,taklid pada tokoh atau organisasi saudara. kata nabi klw kita dalam perselisihan hendaklah kita kembalikan kepada Alloh dan rasulnya.Allah subhana wata‘ala memerintahkan kita ta‘at kepada Allah, rasul dan ulil amrinya, terlebih dalam hal syiar agama yg mana kaum kafir mengamati langsung perpecahan ini. dan pemerintah kita sudah maksimal dlm memutuskan untuk ummat

ini yn trbaik, masalah akurasi dan tidaknya itu adalah tanggung jawab dunia akhirat mereka, kalau kita mengaku sbagaipengikut nabi, petunjuknya adalah penentuan pengamatan hilal langsung dan patuhilah rambu2 darinya yg mana kita diperintahkan dalam hal jihad, shalat,puasa, idul fitri idul adha harus mengikuti imam(uli amri).. Balas

o

aulias, on 30 Agustus 2011 at 15:11 said: jadi kalau pakai hisab bukan pengikut nabi yang baik? ketahuilah bahwa masing2 memiliki dasar yang kuat untuk berpegang pada caranya masing2 untuk menentukan bulan baru.

Salamfm Batam, on 30 Agustus 2011 at 13:11 said: Sayang sekali @aisyah putri berstatemen seperti ini ―saya pikir selama ini perbedaan itu sudah menjadi hal yang lumrah dan g ada yg mempermasalahkannya kecuali Bapak sendiri mungkin‖, bangsa Indonesia ini luas umat Islam ini terbesar di dunia. Dan masalah perbedaan menentukan awal bulan ini merupakan masalah yang serius…. Balas

nume, on 30 Agustus 2011 at 20:26 said: ..benar sekali mbak..pak profesor ini tidak layak untuk dipercayai..ini adalah contoh orang2 yg mengobarkan permusuhan..jika memang pak profesor ini tidak sependapat dengan muhammadiyah..tak perlu kali menghasut orang2 awam disini..cukup itu konsumsi bapak dengan orang muhammadiyah..dan sebagai orang awam saya setuju

dengan cara muhammadiyah..karna bisa diprediksikan jauh2 hari..karna umat islam itu sudah sangat banyak dan tersebar dimana mana dengan berbagai macam aktifitas.. Balas

Wahyu Purwo, on 30 Agustus 2011 at 20:36 said: Ingatlah bahwa kebenaran menurut manusia tdk ada yg 100% sbgmana jg kebenaran menurut pakar baik pakar astronomi maupun juga pakar Muhammadiyah (kalo punya). Jika demikian kembalikan saja ke petunjuk AlQuran dan Rasulnya. Sdh pasti kebenarannya. Balas

Anto, on 1 September 2011 at 12:37 said: Satu kesalahan yang fatal,

dengan sedikit pemahaman merasa diri sudah tahu banyak dan menyamakan diri dengan mereka yang sudah menggeluti bidangnya selama sekian tahun, diakui secara akademis dan hari-harinya memang di situ aktifitasnya. Belum lagi dilihat dari ilmu syar‘i, bagaimana menyikapi perbedaan, bagaimana bersikap/adab terhadap ulil amri. Wajar kalau P Jamaluddin ‗malas‘ menanggapi yang seperti ini. Balas

 Saipul, on 28 Agustus 2011 at 06:37 said: Kritikan yg bagus utk bisa saling mengoreksi, tapi menyalahkan secara total pihak lain adalah juga hal yg bija apalgi itu dikeluarkan dari org yg ―berilmu‖. Bukannya org berilmu saling menghargai ke-ilmuwan orang lain. Karena kebenaran hakiki itu hanya milik Allah SWT.

Perbedaan itu hal yg wajar karena semua org punya latar belakang keilmuwan yg berbeda2. Ilmu yg satu tidak lenih penting dari ilmu yg lain. Sepanjang itu bukan bersepakat utk kebathilan. Perbedaan lebaran tdk usah dibesar2kan karena bisa jadi masalah besar itu datang krn org berilmu selalu bertengkat pendapat dan selalu mengatasnamakan ―rakyat or ummat jadi bingung‖. Pertanyaannya ―ummat yg mana…???‖ To semua kelompok punya garis masing2. Ide menyatukan ide bagus, tapi kalo mau menyatukan dengan memakasakan pendapat yg dianggap paling benar ke kelompok lain hanyalah mengundang masalah baru. Baik imuwan astronomi, ilmu falak, hisab dan rukyat or apalah namanya… kalau ilmunya mau berkah, ikhlaslah mengajarkan…Hidayah kebenaran BUKAN dari tangan dan mulut MANUSIA, itu datangnya dari Allah swt. Jazakallah kaheran katsiran and mahalo nui loa…:) Balas

tdjamaluddin, on 28 Agustus 2011 at 17:08 said: Banyaknya pertanyaan, ―kapan kepastian lebaran?‖ menunjukkan kebingungan di masyarakat. Dua versi hari raya pasti membingungkan masyarakat. Mungkin sebagian saudara-saudara kita di Muhammadiyah dengan nyamannya melaksanakan shalat ied dan makan minum pada saat saudara-saudara lainnya masih berpuasa. Mungkin pula ada yang provokatif menyatakan haramnya puasa pada hari itu. Kondisi itu sungguh tidak nyaman bagi sebagian besar masyarakat. Hari raya bukan sekadar ibadah individu, tetapi terkait juga dengan aspek sosial yang berdampak luas. Balas

o

Debby, on 29 Agustus 2011 at 00:47 said:

Memang ada pak warga Muhammadiyah yang menyatakan haram puasa karena mereka sudah lebaran ? Berapa orang sih yang begitu saya kebetulan juga warga Muhammadiyah ? Siapa yang mempermasalahkan masalah perbedaan ini, bukannya bapak sendiri ? Selama ini kalau saya lebaran duluan, saya tidak pernah makan dan minum didepan orang yang masih puasa apalagi sampai menyatakan ―haram berpuasa‖ Tulisan bapak sangat menghina Muhammadiyah sekali, sebenarnya bapak orang islam bukan sih ? Bapakkan seorang professor seharusnya lebih beretika dari pada kami-2 ini yang hanya sekumpulan orang bodoh

o

harman, on 29 Agustus 2011 at 21:47 said: ―Mungkin sebagian saudara-saudara kita di Muhammadiyah dengan nyamannya melaksanakan shalat ied dan makan minum pada saat saudarasaudara lainnya masih berpuasa.‖ ―Mungkin pula ada yang provokatif menyatakan … ‖ Profesor tapi kalimatnya semua diawali dengan MUNGKIN ditambah dengan kalimat2 yg provokatif.

Insya Allah, mas orang2 MD tidak seperti yang anda bayangkan, saya jadi berpikir, sementara anda menggambarkan kejumudan Muhammadiyah, yg terjadi malah anda yang sedang mundur dengan memaksakan pendapat anda ke pihak lain. Ingat prof, perbedaan ini sudah terjadi berabad-abad dan alhamdulillah, tidak ada masalah. Saya malah berharap, para penceramah dan ulama serta profesor seperti anda mengkampanyekan sisi toleransi bukan pemaksaan kehendak. Agak heran, untuk Natalan, dorongan untuk toleransi

dikumandangkan dengan kencang, tapi untuk toleransi sesama ummat malah saling paksa.

o

mey, on 30 Agustus 2011 at 07:19 said: maaf sebelumnya. tanpa maksud apapun saya hanya ingin menyampaikan pendapat. saya sendiri yn mengalami tekanan dimana teman saya yn notabene muhammadiyah (walaupun tidak semua) merasa percaya diri dengan keyakinan mereka bahwa hari ini lebaran dan haram hukumnya berpuasa. sebenarnya saya tidak mempermasalahkan rasa percaya diri tersebut, hanya sedikit merasa pedih jika mendengar beberapa statement yn menganggap penganut NU itu salah, kemudian NU dan muhammadiyah saling memojokkan. saya tidak tahu harus merasa geli apa sedih melihat masing2 kubu saling berdebat dibalik kekukuhan mreka akan pkiran sendiri2 seperti ini. tapi jujur untuk orang2 seumuran saya yn haus ilmu dalam mencari jatidiri, keadaan ini cukup membuat sesak.

o

Fikri, on 30 Agustus 2011 at 11:13 said: saya dukung pak tdjamaludin maju terus memberi wawasannya… jangan gubris orang-orang yang hatinya keras dan ga mau terbuka dengan kemajuan iptek… saya kira apa yang disampaikan pak tdjamaludin cukup fair tanpa memihak kemana pun. umumnya orang indonesia awam yang jadi was-was dan ragu bahkan membatalkan puasanya apa maksudnya muhammadiyah telah menetapkan tanggal lebaran dari jauh-jauh hari?…padahal ormas-ormas lain juga punya hasil perhitungan hisab yang bahkan lebih tepat (seperti NU dan jami‘at khaer tapi di umumkan melalui sidang isbat sebagai bahan pertimbangan) lalu ga

sedikit

dari

warga

muhammadiyah

yang

menggiring umat

dengan

pertanyaan(kalo dimekkah lebaran kenapa disini engga?,belum lagi ditambah orang awam yang mau enaknya aja lantaran lebih cepat lebaran) tolong dong…kenapa muhammadiyah ga mau terbuka sama masukan dari segi ilmiah?kenapa ingin selalu tampil beda?(dan terkesan cari popularitas terkait dengan pengumuman dari jauh-jauh hari dikhalayak ramai,padahal harusnya intern saja) menurut saya itu bukan hal yang bijak.

o

nume, on 30 Agustus 2011 at 20:30 said: ..saya rasa ini profesor abal abal..dari kata2nya saja sangat tidak mencerminkan seorang ilmuwan..dan hanya mengobarkan permusuhan..

o

Kibus Borbor, on 1 September 2011 at 11:12 said: kalo saya presiden, saya akan istirahatkan dulu prof jamaludin, karena dia berkomentar melebihi kapasitasnya sebagai ahli, cenderung mengomentari perangai ‗jelek‘ organisasi muhammadiyah, awas jangan terjebak prof..

Riser, on 29 Agustus 2011 at 04:12 said: ini sebuah perspektif..bukan untuk memecah belah…

justru dengan tulisan ini kita semua bisa mengkoreksi diri, bagian mana yang perlu dipahami untuk disepakati…bukan soal matematika pahala..tapi kejadian yang berulang2 untuk alasan yang sama dan penyebabnya pun sama Balas

o

wong awam, on 29 Agustus 2011 at 13:45 said: menaanggapi sebuah ilmu dengan emosi,apakah ini tidak lebih jumud lagi? ayolah kawan kader Muhammadiyah…terbukalah…jangan tanggapi ulasan keilmuan dengn emosi.maaf prof..ternyata banyak teman warga

Muhammadiyah yang nampaknya sudah kadung terdoktrinasi dan wegah ngaji dan mengkaji.sehingga bukanya terbuka untuk di kajoi tapi malah tersinggung nihhh

 Jayusman Djusar, on 28 Agustus 2011 at 08:10 said: Bagi kalangan akar rumput Muhammadiyah kondisinya lebih parah lagi dalam mengagung2kan hisab. Bahkan ada kata2 yang keluar bahwa pemerintah telah menghabiskan uang negara untuk pelaksanaan rukyatul hilal, na‘udzubillah. Sekali lagi kalo ane mau berkomentar ttg wujudul hilal Muhammadiyah,‖ persoalan metodologis telah beralih menjadi persoalan teologis {Susiknan Azhari}.‖ Ayo kita diskusikan lagi QS Yasin/36 ayat 39. Balas  Ki Ageng AF. Wibisono, on 28 Agustus 2011 at 08:14 said: Assalamu‘alaikum wr wb

Saya termasuk yang menikmati masukan dan koreksi yang diberikan oleh Pak Thomas. Djamaluddin mengenai kriteria wujudul hilal. Kesan saya selama ini, baik via ber-sms-an atau dalam diskusi-diskusi, Pak Thomas Djamaluddin memang penganut rukyat murni. Beliau berpadangan kriteria wujudul hilal itu tidak syar‘i. yang syar‘i hanya rukyah. Suatau pandangan yang relevan untuk diskusikan. Belakangan beliau sedikit bergeser pada imkan alru‘yah tapi tetap dalam rumah rukyah. Beliau mensyaratkan tinggi hilal pada kriteria imkan al-ru‘yah yang ditawarkan itu harus teruji pada ketinggian hilal pasti bisa dilihat melalui observasi. Yakni ketinggian antara 5 hingga tujuh derajat. Dengan kriteria imkan al-ru‘yah dan posisi hilal antara 5 hingga 7 derajat, hilal bisa dilihat atau tidak bisa dilihat, tanggal dan bulan baru dianggap telah tiba. Imkan al-ru‘yah seperti ini, sesungguhnya juga tidak syar‘i KALAU acuannya harfiah praktek melihat hilal zaman Nabi saw sebagai satu-satunya yang

syar‘i, meskipun tidak saya temukan teks yang mendukung. Yang saya temukan, di samping praktek melihat hilal yang sudah ada waktu itu, Nabi saw memberikan peluang adanya cara lain untuk menentukan awal bulan dalam pernyataan beliau; faqduruu lah.

Pak Thomas membawa pemahaman kriteria wujudul hilal dalam rumah rukyah. Beliau selalu mempertanyakan, hilal dalam kriteria wujudul hilal, terutama dalam ketinggian yang masih rendah, pasti tidak bisa dilihat. Padahal dalam kriteria wujudul hilal, hilal bisa dilihat atau tidak bisa dilihat bukan persyaratan. Jadi tidak akan pernah ketemu. Plus minus, koreksi beliau tetap relevan untuk dijadikan diskusi dalam perjalanan menuju yag diridhai oleh Allah. Yang unik, meski pak Thomas memberikan koreksi relatif tajam kepada krieria wujudul hilal sebagai wujud keseriusan beliau menuju jalan yang diridhai oleh Allah, shubuh tadi sehabis shalat shubuh di masjid UIN Jakarta, ada seorang dosen menemui saya untuk menyatakan bahwa dirinya semakin yakin dengan krteria wujudul hilal.

Pertanyaan kemudian, masuk kategoari apa perbedaan dalam menentukan 1 Ramadhan, 1 Syawal dan 1 Dzul Hijjah? Perbedaan lebaran adalah wilayah khilafiah karena merupakan produk pemahaman terhadap suatu nash. Umat Islam dibenarkan memilih sesuai dengan kemantapan dan keyakinannya. Beda lebaran tidak identik dengan merusak ukhuwah. Dengan mengacu pada QS. 49: 10, Al-Alusi dalam kitab Rauhu al-Ma‘ânỉ fỉ Tafsỉr al-Qur‘ânỉ wa al-Sab‘i al-Masânỉ, berpandangan bahwa fondasi ukhuwah adalah keimanan. Dengan keimanan itu, setiap individu muslim diikat dalam suatu persaudaraan permanen yang menempatkan satu sama lain hidup dalam satu ikatan. Ikatan seiman dan keimanan kepada Allah, kapada para malaikat, kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah, kepada Rasul-Rasul Allah, kepada hari akhir (QS. 4: 136) dan keimanan kepada qadar Allah (HR. Muslim dari Abu Hurairah dan Umar ibn a-Khaththab). Mengabaikan unsur-unsur keimanan tersebut menempatkan seseorang pada kesesatan (QS. 4: 136) dan tercerabut dari fondasi ukhuwah. Substansi ukhuwah dengan demikian, bukan terletak pada keseragaman akan tetapi pada terpeliharanya fondasi ukhuwah dan adanya semangat saling menghargai, saling mendukung, saling memperkokoh (yasyuddu ba‘dhuhû ba‘dhan) dan saling mengasihi serta saling peduli (fỉ talâthufihim wa tarâhumihim). Substansi lain adalah, adanya upaya secara terus menerus melakukan ishlah, perbaikan, kedamaian dan keharmonisan betatapapun dalam perbedaan pandangan dan pemikiran. Yang ideal memang memiliki fondasi dan substansi ukhuwah, sekaligus ada keseragaman pandangan. Tapi manakala keseragaman belum bisa digapai, fondasi dan substansi ukhuwah relevan untuk dikedepankan. Bagi mereka yag memilih berlebaran 30 Agustus 2011, dituntut

tetap menghargai, menghormati dan melindungi mereka yang memilih berlebaran 31 Agustus 2011. Begitu pula, mereka yang memilih berlebaran 31 Agustus 2011, dituntut tetap menghargai, menghormati dan melindungi mereka yang memilih berlebaran 31 Agustus 2011. Apapun pilihan yang diambil, semangat saling menghargai, saling mendukung, saling memperkokoh dan saling mengasihi serta saling peduli, selalu dikedepankan. Wallahi A‘lam bi al-Shawaab Balas

tdjamaluddin, on 28 Agustus 2011 at 17:49 said: Secara astronomi, kita tidak mungkin memilah-milah hisab dan rukyat. Keduanya terintegrasi. Terkait dalil syar‘i, wujudul hilal jelas terkesan dipaksakan (lihat http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/07/28/hisab-dan-rukyat-setara-astronomimenguak-isyarat-lengkap-dalam-al-quran-tentang-penentuan-awal-ramadhan-syawaldan-dzulhijjah/). Sayangnya, teman-teman Muhammadiyah seolah sudah

mengidentikkan hisab dengan hisab wujudul hilal. Mengapa tidak mengikuti trend astronomi yang kini sudah mengarah pada hisab imkan rukyat untuk mendekatkan dengan praktek rukyat yang bagi sebagain kalangan harus dilakukan, walau hisab diperbolehkan. Masalah hari raya, keseragaman menjadi cermin yang kasat mata untuk dilihat. Apakah nyaman sekelompok orang sudah makan-makan, sedangkan kelompok lainnya masih berpuasa? Apalagi kemudian ada ungkapan haramnya puasa pada hari itu. Bagaimana pun ummat agama lain melihat berbedanya hari raya ummat Isalm digambarkan sebagai perpecahan. Dengan perbedaan itu, kita tidak pernah mempunyai sistem kelender hijriyah yang mapan yang berlaku dalam skala nasional dan global. Muhammadiyah tampaknya cukup puas kerdilnya sistem kalender hijriyah yang terkotak-kotak dalam kalender-kelender ormas. ―Saling menghormati‖ adalah obat sementara untuk menyembuhkan keresahan. Sedangkan penyakit kronisnya dibiarkan tak tersentuh. Keresahan itu akan muncul berulang. Tiga tahun berturut-turut 1433 – 1435/2012-2014 kita juga dihantui potensi

perbedaan awal Ramadhan kalau Muhammadiyah tidak mengubah kriteria wujudul hilalnya. Mungkin ada rasa ―kepuasan‖ kalau Muhammadiyah berbeda, dengan nuansa ―unggul‖ dengan metode hisabnya (yang sesungguhnya menggunakan kriteria usang dalam pandangan astronomi modern). Satu hal lagi, betapa berat tanggung jawab ahli hisab Muhammadiyah ketika memutuskan Idul Fitri sementara ummat Islam yang lain masih berpuasa. Ijtihad memang tidak ada yang berdosa, kalau niatnya ikhlas didasarkan pada kebenaran dalil dan ilmunya. Tetapi, benarkah niat itu yang ada di dalam hati, bukan niat ego organisasi? Benarkah ilmunya sudah memadai untuk menkaji kebenaran itu, karena bisa jadi itu sekadar ilmu warisan yang diikuti secara taqlid? Pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh para pemikir di Muhammadiyah dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Tetapi dengan keenganan untuk mengkaji wujudul hilal yang dikritik kalangan ahli falak-astronomi, mungkin niat ikhlas berdasar kebenaran tercemar dengan niat mempertahankan keputusan organisasi, karena menutup diri dengan menganggap keyakinannyalah yang paling benar. Ibaratnya seorang muadzin mengumandangkan adzan maghrib berdasarkan jadwal lama di masijd. Jamaah di masijd itu yakin dengan ijtihad waktu shalat berdasarkan jadwal lama itu, tanpa mau mengoreksi dengan kondisi matahari terbenam. Padahal sudah ada jadwal shalat baru yang lebih akurat. Ego kelompok mempertahankan jadwal shalat lama itu, tanpa peduli dengan dampak adzan yang berkumandang sebelum matahari terbenam. Masyarakat di sekitar masjid yang resah dengan adzannya diabaikannya, hanya diimbau ―marilah kita saling menghormati‖. Balas

o

manis suharjo, on 29 Agustus 2011 at 05:31 said: Kayaknya bapak senang memaksakan pikiran sesat ya pak….menganggap kerdil orang atau pihak lain saya kira bukan pemikiran seorang ilmuwan besar atau jangan2 bapak antek-antek pihak yang mau mendeskriditkan pihan lain bapak????…..Janganlah arogan dan merasa benar bapak ―DIATAS LANGIT

MASIH ADA LANGIT‖ dan ilmu yang paling luas hanyalah milik ALLAH SWT…

o

Gembul, on 29 Agustus 2011 at 11:40 said: Dengan ada kata2 bpk ―Tetapi, benarkah niat itu yang ada di dalam hati, bukan niat ego organisasi?‖ tsb, saya yg tadinya agak simpatik jadi agak anti pati dikit, yg tadinya saya rasa objektif jadi agak subjektif pemikiran bpk ini. Coba tampil yg elegan pak tdk emosional, itu salah satu ciri pemikir (ulil albab). lagian kalau min 4 derajat saya rasa puasa akan selalu 30 hari, padahal jaman Nabi 30 hari itu hanya alternatif, silakan bpk pelajari kata alternatif baik menurut bhs Inggris maupun bhs Indonesia…

o

Muhammad, on 29 Agustus 2011 at 11:49 said: Dulu kyai Ahmad Dahlan juga merubah arah kibalt dengan ilmu pengetahuan. Kenapa sekarang generasi Muhammadiyah tidak mau instropeksi dengan berkembanganya ilmu pengethuan?

o

aulias, on 30 Agustus 2011 at 00:06 said: masalah niat janganlah bapak pertanyakan, hanya org yang bersangkutan dan Allah swt yang paling tahu tetang apa isi hati org. saya yakin niat bapak juga baik, karena memang akan lebih baik bila hari raya dapat dirayakan secara serempak. tapi kalau bapak dan muhammadiyah sama2 BERTAHAN di posisi masing2, niscaya cita-cita kita bersama untuk merayakan hari raya secara serempak akan sulit untuk diwujudkan.

kalau saya boleh menambahkan, mari kita hindari kata-kata menuduh org lain dengan sebutan kuno anti pembaruan, saya yakin niat muhammadiyah juga ingin melakukan pembaruan dgn tidak menggunakan metode rukyat. kiranya Allah memberikan ampunanNya untuk kita. amin.!

o

de, on 30 Agustus 2011 at 03:16 said: kalau Bpk. prof. yg merasa terakurat terus mengungkit-ungkit keseragaman, paksa umat lain masuk islam. bicara soal ego, bagaimana dengan ego bpk proff sendiri. Apakah Proff. nyaman melakukan hal semacam ini..? Apa org lain nyaman …?

Mungkin proff, sudak terlalu tua, lelah dan letih karena sudah tidak bisa berbuat byk sedangkan ini sudah menjelang akhir zaman. IKHLASKAN saja proff… anda tak akan merubah apapun dengan cara begini.

o

Abu Yasmin Budi Faidin, on 30 Agustus 2011 at 15:04 said: Semoga Umat muhamadiyyah meu berubah, dan bisa lebih bijak untuk merumuskan gagasan agar kriteria penetapan awal bulan bisa bersatu dan itu tidak akan tercapai apabila hanya mengedepankan ego organisasi, tetapi dengan hati nurani dan niat yang suci insya Alloh kebersamaan dalam berhari raya bisa terpenuhi, dari seorang hamba yang mengidam-idamkan

kebersamaan dan ukhuwah islamiyah

o

arief, on 31 Agustus 2011 at 02:07 said: ―Dengan perbedaan itu, kita tidak pernah mempunyai sistem kelender hijriyah yang mapan yang berlaku dalam skala nasional dan global. Muhammadiyah

tampaknya cukup puas kerdilnya sistem kalender hijriyah yang terkotak-kotak dalam kalender-kelender ormas‖ …kalo kita bicara sistem kalender hijrayah global, mestinya yang betul adalah caranya hisab muhammadiyah, bukan nya cara pemerintah dll, buktinya 1 syawal 1432 H di Indonesia versi muhammadiyah yang jatuh pada selasa (30/8/2011) sama dengan malaysia, singapura, arab saudi, mesir, bahrain, qatar, uni emirat arab, dll. kan aneh kalo ada dua negara berdekatan seperti indonesia – malaysia pada hari yang sama memiliki tanggal berbeda… mohon pencerahannya pak prof…

o

Iskhaq Iskandar, on 1 September 2011 at 02:57 said: saling menghormati memang adalah kata yg dapat meredam perbedaan. tetapi bukan kunci untuk menyelesaikan masalah.

saya tidak memiliki background astronomi. saya hanya sekedar ingin berbeagi cerita ttg penentuan shalat ied negeri tempat saya tinngal (USA). awalnya, banyak organisasi islam di sini menggunakan metode global or local moon sighting, yg belakangan diplesetkan menjadi ―moon fighting‖. ketika kita mememsan tempat/hall untuk shalat ied, kita selalu memesan dua hari, karena kita blm bisa memastikan kapan ied akan tiba. suatu saat, pengurus satu hall bertanya, mengapa kita tidak bisa memastikan kapan bulan baru akan datang? bagi mereka ini suatu yang aneh, termasuk bagi saya pribadi. They have already landed on the moon, but we are still fighting to calculate a new moon. berdasarkan kesepakatan para ulama di sini, maka sekarang penentuan ramadahan dan syawal mayoritas mennugakan metode hisab. sehingga untuk 2-3 tahun ke depanpun, kita telah dapat menentukan kapan ramadhan, syawal, hajj dll. merujuk pada tulisan bapak, saya jadi bertanya-tanya. siapa gerangan kah yang menonjolkan ego? sebegitu sulitkan menentukan bulan baru sementara kalender NASA (lembaga antariksa terbaik di dunia) selalu membuat perhitungan bulan baru berdasarkan kalkulasi tanpa melihat metode rukyat

atau metode hisab. kenapa pula kita harus menentukan 1-7 derajat untuk hilal? mengapa kita mempersulit diri sendiri dan menjadikan kita nampak bodoh di mata umat lain? benarkan metode yg NU, Persis, dan pemeritnah indonesia gunakan saat ini telah teruji? secara pribadi, saya lebih meyakini perhitungan yg dikeluarkan oleh NASA. lembaga ini bagi saya tidak terkontaminasi oleh ego pribadi, kelompok maupun pengaruh politik. jika kalender NASA menunjukkan bahwa bulan baru adalah 30 august dan bahkan mayoritas muslim di dunia menyatakan 1 syawal adalah 30 august, bagaimana mungkin anda menyatakan 1 syawal 31 august????? PERTANYAAN BESAR BAGI SAYA!!!!!!!!!!!!!

lapsippipm, on 28 Agustus 2011 at 19:08 said: Sangat bijak nampaknya, dan peran Muhammadiyah selama ini tidak terbukti memecah ummat bahlan amal usaha Muhammadiyah tidak hanya menolong orang Muhammadiyah. Mhn Muhammadiyah juga tetap mau mengoreksi ilmu-nya. salam Balas

o

wong awam, on 29 Agustus 2011 at 14:03 said: kebanyakan sudah kadung merasa paling tepat dalam methodologi jadi mana mau membuka diri Mas?

gw, on 29 Agustus 2011 at 17:42 said: Like this..

Balas

Anto, on 1 September 2011 at 12:55 said: Benar, ‗otoritas tunggal‘ itulah kuncinya. dan itu termasuk dalam ranah aqidah. Kenapa masih saja berputar2 sementara ulil amri sudah menetapkan dan berusaha sebaik mungkin. Balas

Moh. Sofyan Abdullah, on 1 September 2011 at 20:53 said: Senang membaca pandangan anda Ki Ageng AF. Wibisono & Prof Djamaludin. Saya Warga Muhammadiyah yang sampai saat ini masih meyakini Hisab Wujudul Hilal sebagai landasan yang tepat dengan berbagai latar belakang dan tujuannya. Tetapi tetap saya meminta kepada pemimpin dan cendikiawan Muhammadiyah tidak berdiam diri dan merasa puas dengan metode yang ada saat ini. Cobalah jawab dengan bijak dan santun seperti Ki Ageng AF Wibisono semua kritikan dari Prof Djamaludin. Kalau Wujudul Hilal dianggap usang coba dijawab dengan baik dan uraikan kelemahan atau kelebihan dari metode yang baru yang dianggap lebih baik oleh Prof Djamaludin. Tetapi Prof Djamaludin juga harus bersabar dan melihat ini tidak bisa dengan ukuran waktu tertentu atau membandingkan dengan yang lain sudah ―mau‖ melakukan perubahan tetapi Muhammadiyah tidak mau berubah. Tetapi jika semua ini Prof niatkan agar Muhammadiyah juga menjadi lebih baik,silahkan kritik Muhammadiyah tanpa harus kehabisan kesabaran. Insya Allah niatannya saja sudah mendapat Pahala… Trims untuk Ki Ageng AF Wibisono atas pandangannya….

Balas

 Mashuri, on 28 Agustus 2011 at 08:37 said: sebagai simpatisan Muhammadiyah, saya memohon para ahli Muhammadiyah menanggapi tulisan ini untuk kemaslahatan ummat. Balas  SHELLAYART PREDICTION, on 28 Agustus 2011 at 08:37 said: Ass,wr.Wb. Sedikit pertanyaan,

apakah di zaman Nabi prnh terjadi perbedaan penentuan 1 syawal ? Tlng dijawab mas krn msh ada pertanyaan lanjutan. Balas

tdjamaluddin, on 28 Agustus 2011 at 17:50 said: Tidak ada, karena ada otoritas tunggal, yaitu Nabi. Saat ini terjadi perbedaan karena adanya beberapa otoritas. Balas

o

Arif, on 29 Agustus 2011 at 08:19 said: Imam Muslim meriwayatkan:

Diriwayatkan dari Kuraib bahwa Ummul fadhl binti harits pernah mengutusnya ke syam. Kata kuraib, ―akupun datang ke syam lalu aku

sampaikan pesan ummul fadhl dan tibalah awal ramadhan ketika aku berada di syam, maka aku melihat bulan DI MALAM JUM‘AT, lalu aku datang ke madinah di akhir bulan, kemudian aku ditanya oleh Abdulloh bin Abbas, lalu dia membicarakan tentang hilal kemudian dia bertanya , ―Kapan kamu melihat hilal, aku Dia mu‘awiyah menjawab, bertanya, ―Kammi ‖ juga melihatnya Kau pada malam melihatnya ?‖ jum‘at.‖ ?‖ berpuasa‖

aku jawab, ‖ Ya, dan orang orang juga melihatnya, lalu mereka berpuasa, Kata ibnu abbas, ‖ Tapi kami melihat hilal pada malam sabtu, maka kami selalu berpuasa sehingga kami sempurnakan 30 hari, kecuali kalau kami melihat puasanya hilal.‖ ?‖ Lalu kami bertanya, ―Mengapa kamu tidak mengikuti ru‘yat mu‘awiyah dan Dia Menjawab, ―TIDAK, Demikianlah Rasululloh Mengajarkan pada kami‖. Dari hadits atsar diatas pernah terjadi perbedaan ru‘yat dikalangan Para sahabat.

o

Enah Alkatiri, on 29 Agustus 2011 at 23:29 said: perbedaan yang ada dasarnya itu masalah matlak tunggal, bila satu tempat lihat hilal seluruh dunia ikut. Atau matlaknya ikut daerah masing-masing. Tapi untuk seri muhammadiyah ini, bukan masalah matlak, tapi masalah metode hisab, yang tidak pernah dicontohkan oleh nabi dan para sahabat meskipun di kalangan sahabat pun ada yang bisa hisab (tapi gak terpakai) meskipun gak secanggih sekarang.

 Daisy, on 28 Agustus 2011 at 09:16 said:

―….. Adakah solusi permanennya? Ada, Muhammadiyah bersama ormas-ormas Islam harus bersepakati penyatuan Mengapa koq HANYA Muhammadiyah yang diharapkan untuk mengubah kriterianya……‖ Ummat……‖ berubah ???? ―……Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi

- Mengapa pula cuma masalah awal ramadhan, 1 syawal, atau 10 dzulhijjah yang diributkan ―orang-orang pintar‖ sehingga masyarakat (katanya) dibikin bingung. Padahal kalo mau konsisten mestinya jadwal shalat yang hasil hisab hakiki itu nggak usah dipakai aja. Dan orang-orang mestinya menunggu ―pengumuman pemerintah‖ setiap kali mau melaksanakan shalat yang 5 kali sehari itu…..kan nggak ada dalilnya, kalo waktu shalat itu berdasarkan jadwal….. Balas

tdjamaluddin, on 28 Agustus 2011 at 17:57 said: Mengapa hanya Muhammadiyah yang diharapkan berubah? Karena hanya Muhammadiyah yang enggan berubah. Ormas-ormas lain sudah mau berubah. NU yang semula tidak mempercayai hisab imkan rukyat kini mereka menerapkannya untuk memandu rukyat, termasuk untuk menolak kesaksian rukyat. Persis yang samasama Muhammadiyah mendasarkan pada hisab sudah meninggalkan hisab wujudul hilal, beralih ke hisab imkan rukyat. Tanggapan kedua tidak relevan, karena tampak kental nuansa dikhotomi ―hisabrukyat‖. Padahal secara astronomi, hisab dan rukyat setara. Balas

o

Muhammad Sayuti, on 29 Agustus 2011 at 08:02 said: Prof. selain bulan Ramadhan dan Zhulhijah kok tidak dirukyat? Mengapa? Pake apa dalam menentukan bulan Safar, Muharram dan 10 bulan lainnya?

o

Enah Alkatiri, on 29 Agustus 2011 at 23:33 said: @muhammad sayuti

mohon cek qur‘an anda dahulu di surat Al-baqoroh ayat 183 dst, bulan romadhon ini ada perintah untuk melihat.(melihat loh ya, bukan menghitung) Maka berpuasalah…

o

naneyan, on 30 Agustus 2011 at 10:26 said: Untuk menentukan awal bulan hijriyah semua memang menggunakan ilmu hisab dan nantinya digunakan untuk membantu kita dalam pelaksanaan ru‘yah. dan ru‘yah tanpa ilmu hisab juga dipertanyakan keakuratannya. dan untuk bulan selain 3 bulan tersebut tidak serta merta/ terekspose dimedia massa, namun para ahli falak ataupun ahli astronomi tentu ingin membuktikan kebenaran dan keakuratan hitungan ilmu hisabnya dengan melaksanakan ru‘yah, namun tidak mengundang media masa sehingga anda (m sayuti) tidak mengetahuinya. lha dari sinilah para pakar falak, Astronomi selalu ingin membuktikan secara ilmiyah kebenaran ilmu yang telah dia dapat untuk mendapatkan ilmu yang baru dari Allah sehingga ilmu falak (hisab-red) selalu berkembang mulai dari urfi, taqribi sampai yang tahqiqi semua itu tidak muncul serta merta, tapi itu merupakan menyempurnaan karena memang dilihat ada kekurangan yang ditunjukkan Allah. Jadi kagak benar kalo orang mengkritik itu menunjukkan bahwa orang tersebut itu paling hebat itu adalah persepsi yang sangat salah dan tidak beretika dalam kaidah ilmu pengetahuan. perlu diketahui bahwa bumi ini bulat, sehingga permukaannya melengkung namun mata manusia melihatnya sebagai garis lurus karena memang keterbatasan manusia sehingga dalam melihat hilal tentunya ada koreksi dan batas kemampuan manusia untuk melihat sesuatu di balik bumi tersebut lha faktor koresksi itulah yang saat ini dikenal sebagai ―IMKANUR RU‘YAH‖

Wallahu A‘lam bishowaf

o

Endang wahyu, on 3 September 2011 at 16:26 said: Bung Djamal, kalau beberapa ormas pindah dari rukyat murni ke imkan rukyat itu berarti secara implisit mereka sudah pusing tujuh keliling dengan metoda rukyat dan diam2 mulai mengakui tepatnya pilihan hisab. Hanya saja krn malu ngikut hisab wujudul hilal lalu dibuatlah kriteria baru yg ―banci‖: Rukyat bukan, Hisab pun bukan.

La imkan rukyat yg 2 derajad itu dasarnya apa? Anda juga tahu itu tidak berdasar, tapi anda pasti tidak akan mempermasalahkan seperti

mempersalahkan metoda yg dipakai muhammadiyah seandainya nanti hilal 2.3 derajad terus ada yg ngaku bisa merukyat dan oleh krnnya diterima dalam sidang isbat krn sdh ―sesuai‖ kriteria, padahal anda tahu persis 2.3 pun masih mustahil teramati.

Jadi ini justru meyakinkan saya bahwa cara hisab wujudul hilal lah yg paling masuk akal dan applicable unt memecahkan semua permasalahan kalender islam. Unt Muhammadiyah jangan berkecil hati. Prediksi saya suatu saat nanti semua akan realistis pakai wujudul hill.

listyo bintoro, on 30 Agustus 2011 at 15:55 said: membaca tulisan pak tj jamaluddin,kami yang awam merasa ada harapan mengenai perbedaan penetapan 1syawal,tapi harapan ini sirna melihat tertutupnya hati saudara2 kami Muhammadiyah yg justru tidak mau menerima masukan ini dengan pemikiran jernih.Mereka terkesan emosi.Nu,Persis udah mau berubah hanya Muhammadiyah yg kaku.Dari umat Islam yang ada di Indonesia itu yang paling banyak umat yg tdk terikat oleh organisasi Islam manapun,tolong ini diperhatikan,dimana mereka binggung oleh perbedaan 1syawal.Utk itu organisasi2 Islam

NU,Muhammadiyah,presis dll,juga pemerintah duduk satu meja cari solusi/titik temu

tentang penetapan 1 syawal. InsyaAllah bisa.Apa yg disampaikan oleh Prof itu terobosan positif yg patut ditindak lanjuti.Semoga Allah selalu bersama Prof dlm mempersatukan umat Isam di Indonesia ini Balas

 Asep Hilman Yahya, on 28 Agustus 2011 at 09:31 said: Barangkali bisa dijadikan pembanding : http://amin-albarqy.blogspot.com/2007/07/rasulullah-saw-mengajarkan-ilmu-hisab.html Balas

Aminuddin Karwita, on 28 Agustus 2011 at 18:50 said: Berbicara mengenai ru‘yat sebagai suatu dalil yang bisa digunakan untuk penetapan waktu-waktu ibadah boleh dikatakan semua orang muslim memahaminya dalam tataran konsep.Walaupun dalam tataran praktis penggunaan hisab bukanlah hal yang baru, apalagi untuk penetapan waktu-waktu shalat. Hampir bisa dikatakan bahwa kita tidak bisa lepas dari yang namanya hisab. Hal ini bisa dibuktikan dari hampir selalu adanya jadwal waktu-waktu shalat di masjid-masjid maupun mushalla-mushalla yang kita jumpai. Demikian pula halnya dengan keberadaan kalender hijriyah yang secara praktis merupakan produk hisab, masih bisa diterima di seluruh lapisan muslim. Sedikit berbeda ketika berhubungan dengan penetapan awal dan akhir Ramadhan dan awal Dzulhijjah, perbedaan mengemuka di kalangan ummat dengan kepentingannya dan argumentasinya sendiri-sendiri. Secara garis besar terdapat tiga faham yang berbeda dalam penetapan penanggalan Islam: 1.Hanya menggunakan ru‘yat khususnya untuk bulan-bulan ‗ibadah. 2. Menggunakan ru‘yah, dan hisab digunakan untuk validasi kebenaran kesaksian ru‘yat

3. Hisab dapat digunakan secara mandiri untuk penetapan penanggalan dan waktuwaktu ‗ibadah lainnya. Kelompok-kelompok yang ada tersebut tidak ada yang menolak mengenai sahnya penetapan penanggalan dengan ru‘yat, hanya saja bagi yang bermadzhab hisab, hisab memiliki lebih banyak aspek mashlahatnya karena lebih memberikan kepastian mengenai posisi hilal yang menjadi dasar penetapan penanggalan Islam. Sementara bagi penganut ru‘yat, ru‘yat hilal merupakan aspek ta‘abbudi yang harus diikuti untuk mengawali dan mengakhiri bulan-bulan ‗ibadah. Namun bila dinyatakan bahwa hisablah sebenarnya yang dianjurkan Islam untuk penetapan waktu-waktu ‗ibadah mungkin banyak orang yang mempertanyakannya termasuk mungkin bagi mereka yang menggunakan hisab. Hisab sesuai Sunnatullah Ilmu hisab falak adalah ilmu yang diajarkan Allah kepada hamba-Nya secara langsung, sekaligus sebagai bukti al-Qur‘an kalam Allah bukan buatan Muhammad seorang yang ummi sebagaimana yang dituduhkan sebagian orang-orang kafir, sekaligus sebagai bukti kebenaran berita al-Qur‘an yang merupakan mu‘jizat sepanjang zaman. Dalil-dalil ini di antaranya: 1:ًٍ‫)5-ان سحًٍ ػ هى ان قسءاٌ خ هق اإلَ ساٌ ػ هًّ ان ب ٍاٌ ان شًس ٔان قًس ب ح س باٌ )ان سح‬ (Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al Qur‘an. Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. ‫شًس ض ٍاء ٔان قًس َ ٕزا ٔق دزِ ي ُاشل ن خ ؼ هًٕا ػدد ان س ُ ٍٍ ٔان ح ساب يا خ هق ْٕ ان ري خ ؼم ال‬ (5:‫هللا ذن ك ئال ب ان حق ٌ ف صم اٌَ اث ن قٕو ٌ ؼ هًٌٕ)ٌ َٕ س‬ Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui

Pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa ilmu hisab bukan sebagai ilmu Islam justru bertentangan dengan banyak dalil dari al-Qur‘an, dan jelas suatu pendustaan terhadap firman Allah. Pandangan sebagian ulama terdahulu yang menentang hisab terutama muncul dari kalangan mereka yang kurang memahami Ilmu ini dan mengabaikan firman-firman Allah dalam al-Qur‘an mengenai hisab dan ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian diikuti fara muqallidin dari kalangan ulama khalaf yang mengikuti pendahulunya dengan menisbahkannya sebagai sunnah. Inilah yeng menjadi akar timbulnya pertentangan di kalangan ummat karena mereka telah meninggalkan Al-Qur‘an dan Sunnah Rasul. Sikap penolakan terhadap ilmu hisab khususnya untuk penetapan bulan-bulan ‗ibadah terutama dilatarbelakangi oleh: Ketidak-fahaman sebagian ulama (bukan ahli hisab) tentang hakikat ilmu hisab dan menganggapnya sebagai ilmu meramal yang tidak bisa mencapai derajat yakin. Adanya anggapan bahwa ilmu hisab sebagai bagian dari ilmu peramalan nasib dengan bintang yang ditentang Islam, sehingga haram menggunakannya.

Ketidak-fahaman para penentang hisab yang menganggap hisab sama-sekali lepas dari ru‘yat dan menyalahi sabda-sabda Rasulullah tentang penetapan penanggalan Islam terutama bulan-bulan ‗ibadah. Alasan-alasan di atas dengan jelas ditentang oleh Allah seperti dalam dalil-dalil tersebut di atas, yang menyatakan bahwa sifat ‗bi-husbaan‘ merupakan sunnatullah yang sama sekali berbeda dengan ilmu meramal nasib oleh para ahli nujum (astrologi), bahkan mendalami astronomi sangat dianjurkan oleh Allah Ta‘ala. Penolakan terhadap ketetapan Allah ini jelas-jelas merupakan kekufuran terhadap ayat-ayat Allah yang tidak mungkin dilakukan oleh generasi awal ummat ini, dengan demikian terbantahlah anggapan bahwa telah adanya ijma‘ dari generasi awal ummat bahwa mereka menolak hisab. Yang benar adalah mereka belum menguasai ilmu hisab falak sehingga mereka tidak sepenuhnya menggunakannya, sebagaimana yang akan kita bahas berikut ini.

Anggapan bahwa ilmu hisab sebagai bagian dari ilmu peramalan nasib dengan bintang yang ditentang Islam, sehingga haram menggunakannya sama sekali tidak bisa dipertanggung-jawabkan dan bertentangan dengan firman Allah bahwa itu merupakan ketetapan-Nya yang haq (sunatullah) dan sama sekali tidak sama dengan ilmu ramalan bintang. Pendapat ini muncul dari kebodohan orang tentang ilmu ini dan enggan untuk mentafakuri ayat-ayat Allah tentang alam semesta, sebagaimana tersebut dalam firman Allah ٍ ٌ‫ئٌ ف ً خ هق ان سًٕاث ٔاألزض ٔاخ خ الف ان ه ٍم ٔان ُٓاز ٌَ اث ألٔن ً األن باب)190(ان ر‬ ‫ق ٍايا ٔق ؼٕدا ٔػ هى‬ ‫خ ُٕب ٓى ٌٔ خ ف كسٌٔ ف ً خ هق ان سًٕاث ٔاألزض زب ُا يا ٌ رك سٌٔ هللا‬ (191 :ٌ‫خ ه قج ْرا ب اط ال س بحاَ ك ف ق ُا ػراب ان ُاز )أل ػًسا‬ ―Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ―Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.‖ Anggapan bahwa hisab sama-sekali lepas dari ru‘yat dan menyalahi sabda-sabda Rasulullah tentang penetapan penanggalan Islam jelas suatu pendapat yang sangat keliru, karena ilmu hisab falak ini lahir dari serangkaian penelitian data-data ru‘yat yang dilakukan selama periode yang panjang bahkan dari generasi ke generasi, serta melalui tahap ujicoba dan analisis yang cermat sehingga ditemukan formulasi hisab, yang akurat dan teruji dengan baik. Al-Qur‘an menekankan Hisab untuk Penentuan Penanggalan Landasan penanggalan kalender Islam (kalender hijriyyah) ditetapkan langsung oleh Allah dalam al-Qur‘an dalam beberapa ayat yang terpisah-pisah. ‫ٌ ٕو خ هق ان سًٕاث ٔاألزض ي ُٓا‬ ‫اث ُا ػ شس شٓسا ف ً ك خاب هللا‬ ‫ئٌ ػدة ان شٕٓز ػ ُد هللا‬

‫ق ٍى ف ال ح ظ هًٕا ف ٍٍٓ أَ ف س كى ٔق اح هٕا ان ً شسك ٍٍ ك اف ت ك ًا أزب ؼت حسو ذن ك ان دٌ ٍ ال‬ (63:‫ٌ قاح هَٕ كى ك اف ت ٔاػ هًٕا أٌ هللا يغ ان ً خ ق ٍٍ )ان خٕب ت‬

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. Berdarakan ayat di atas, Allah Ta‘ala mengajarkan kepada kita bagaimana kalender Islam seharusnya dibangun yang berbeda dengan kalender luni-solar yang sebelumnya digunakan oleh Arab pra Islam. Kalender Arab pra-Islam adalah kalender qamariyah yang disesuaikan dengan periode pergantian musim tahunan, sehingga setelah periode tertentu, satu tahun ada penambahan satu bulan untuk menyesuaikan dengan musim tahunan. Bulan tersebut dikenal dengan bulan Nasi. Dan oleh Islam kebiasaan tersebut dibatalkan. Selanjutnya Allah berfirman: ٍٕ‫اط ٕا ػدة يا حسو هللا فٍحهٕا يا ئًَا انُسًء شٌادة فً انكفس ٌ م بّ انرٌٍ كفسٔا ٌحهَّٕ ػايا ٌٔحسيَّٕ ػايا ن‬ ‫)73أػًانٓى ٔهللا ال ٌٓدي انقٕو انكافسٌٍ)انخٕبت: حسو هللا شٌٍ نٓى سٕء‬ Sesungguhnya an-nasi‘ (mengundur-undurkan bulan haram) itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah

mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. Allah juga menegaskan bahwa wujud hilal-lah yang menjadi batas-batas berawal dan berakhirnya suatu bulan, yaitu hilal yang dapat disaksikan di akhir setiap bulan. Dan oleh karena pergantian hari kalender Islam adalah maghrib maka hilal tersebut adalah hilal yang muncul bersamaan dengan terbenamnya Matahari. Allah berfirman: (981:‫ٌ سأن َٕ ك ػٍ األْ هت ق م ًْ يٕاق ٍج ن ه ُاس ٔان حح )ان ب قسة‬ Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: ―Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji

Allah menjelaskan suatu fenomena sekaligus mengajarkan bahwa Matahari dan bulan beredar mengikuti perhitungan. 1:ًٍ‫)5-ان سحًٍ ػ هى ان قسءاٌ خ هق اإلَ ساٌ ػ هًّ ان ب ٍاٌ ان شًس ٔان قًس ب ح س باٌ )ان سح‬ (Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al-Qur‘an, Yang telah menciptakan manusia, Yang mengajarinya ilmu pengetahuan. Matahari dan bulan beredar mengikuti perhitungan. Bahkan Allah menjelaskan bahwa sebagai akibat dari peredaran tersebut, fase-fase bulan terbentuk dan membentuk siklus bulanan. Allah berfirman: :‫)93ٔانقًس قدزَاِ يُاشل حخى ػاد كانؼسخٌٕ انقدٌى)ٌس‬ Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Fase dari hilal pertama ke hilal berikutnya dari satu siklus itulah yang dinamakan satu bulan. Allah Ta‘ala menjelaskan bahwa terbentuknya fase-fase tadi merupakan suatu ketetapan Allah yang semuanya bisa diukur, bisa dihitung dan dengannyalah Allah mengajarkan ilmu bagaimana menghitung tahun dan menghisabnya kepada kita. ‫ْٕ ان ري خ ؼم ان شًس ض ٍاء ٔان قًس َ ٕزا ٔق دزِ ي ُاشل ن خ ؼ هًٕا ػدد ان س ُ ٍٍ ٔان ح ساب يا خ هق‬ ‫ذن ك ئال ب ان حق ٌ ف صم اٌَ اث ن قٕو ٌ ؼ هًٌٕ ئٌ ف ً اخ خ الف ان ه ٍم‬ 5:‫)6-هللا ف ً ان سًٕاث ٔاألزض ٌَ اث ن قٕو ٌ خ قٌٕ)ٌ َٕ س‬ Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa. Allah menjelaskan dengan itu bukti-bukti kebenaran firmanNya, bahwa al-Qur‘an adalah kalamullah mustahil dibuat oleh Muhammad saw seorang yang ummi ‫ٔان ُٓاز ٔيا خ هق هللا‬

melainkan semata-mata wahyu Allah yang diterimanya dan disampaikannya kepada ummatnya apa adanya. Bukti-bukti ini memang pada masa-masa awal Islam belum bisa dipahami sepenuhnya oleh kaum muslimin karena kebanyakan dari mereka adalah kaum yang ummi, namun al-Qur‘an adalah mu‘jizat sepanjang zaman yang akan membatalkan setiap tuduhan siapapun yang mengatakan al-Qur‘an buatan Muhammad. Dan bukti-bukti ini telah terbukti bagi kita sekarang. Lalu apakah kita masih akan ragu dengan kebenaran alQur‘an? Inilah mungkin rahasia yang terungkap dari turunnya ayat al-Qur‘an surat Ali Imran 190-191. ٍ ٌ‫ئٌ ف ً خ هق ان سًٕاث ٔاألزض ٔاخ خ الف ان ه ٍم ٔان ُٓاز ٌَ اث ألٔن ً األن باب)190(ان ر‬ ‫ق ٍايا ٔق ؼٕدا ٔػ هى خ ُٕب ٓى ٌٔ خ ف كسٌٔ ف ً خ هق ان سًٕاث ٔاألزض زب ُا يا‬ ‫)191:ٌازوع لأ( خ ه قج ْرا ب اط ال س بحاَ ك ف ق ُا ػراب ان ُاز‬ ―Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ―Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.‖ Dalam suatu riwayat dijelaskan setelah turun ayat ini Rasulullah terus menerus menangis sepanjang malam bahkan ketika Rasulullah melaksanakan shalat malam, hingga ketika waktu shubuh datang dan Rasulullah belum hadir Bilal mengunjunginya dan menanyakannya apa gerangan yang membuat seorang Rasul yang ma‘shum menangis. Rasulullah menjawab turunnya ayat inilah yang membuatnya menangis. Lantas beliau mengatakan celakalah orang yang membacanya tapi tidak mau mentafakurinya. Rasulullah Mengajarkan Prinsip-prinsip Dasar Hisab Penggunaan hisab ini sebagai dalil penentuan penanggalan qamariyah maupun waktuwaktu ibadah lainnya ditetapkan dan dijamin oleh Allah, namun kaum muslimin saat itu bukanlah orang-orang yang bisa menghisab bulan. Pengetahuan ilmu hisab belum ‫ٌ رك سٌٔ هللا‬

berkembang saat itu dikalangan kaum muslimin. Perhitungan yang dikenal dan dikuasai umumnya sebatas perhitungan-perhitungan sederhana yang biasa digunakan dalam transaksi jual-beli, takar-menakar, dan sebagainya. Untuk menentukan waktu harian mereka biasa melihat posisi Matahari; dan untuk menentukan penanggalan, mereka melihat posisi dan fase bulan. Praktek ru‘yat ini merupakan praktek yang sudah terbiasa dikalangan bangsa Arab pra Islam, tidak ada yang asing dalam hal bagaimana meru‘yat hilal, dan memahami perubahan fase-fase bulan. Mereka bisa secara langsung memprediksi tanggal berapa hanya dari melihat posisi dan fase bulan yang muncul. Rasulullah menyampaikan sesuatu yang baru dalam menetapkan penanggalan dalam Islam sesuai ketentuan Allah. Beliau mengoreksi sistem penanggalan era pra-Islam yang mengenal adanya bulan ke-13 pada tahun-tahun tertentu dan menetapkan hanya ada 12 bulan dalam satu tahun sebagaimana telah dijelaskan di muka. Beliau juga menjelaskan dan memperkenalkan hisab secara sederhana dan bertahap tanpa secara langsung meninggalkan ru‘yat. Apa yang dijelaskan Rasulullah adalah membimbing kaum muslimin bagaimana memahami hisab secara sederhana dengan menekankan pada kaidah-kaidah dasar yang harus dipenuhi, yang bisa dijadikan rujukan baik bagi kalangan awam maupun para ulama Islam berikutnya. Berikut ini di antara dalil-dalil yang menceritakan panduan-panduan yang diajarkan Rasulullah untuk menghisab bulan. ‫ٔحدث ًُ شْ ٍس ب ٍ حسب حدث ُا ئ سًاػ ٍم ػٍ أٌ ٕب ػٍ َ اف غ ػٍ ب ٍ ػًس ز ضً هللا ػ ًُٓا ق ال‬ ‫ػ ه ٍّ ٔ س هى ث ى ئَ ًا ان شٓس ح سغ ٔػ شسٌٔ ف ال ح صٕيٕا‬ ‫ص هى هللا‬ ‫ح خى ق ال ز سٕل هللا‬ ( ‫ح سِٔ ٔال ح فطسٔا ح خى ح سِٔ ف اٌ غى ػ ه ٍ كى ف اق دزٔا ن ّ ) ي س هى‬ ٍ‫م حدث ُا س هًت ْٕٔ ب ٍ ػ ه قًت ػ‬ ‫ػ ه ٍّ ٔ س هى ث ى‬ ‫ص هى هللا‬ ‫ٔحدث ًُ حً ٍد ب ٍ ي س ؼدة ان باْ هً حدث ُا ب شس ب ٍ ان ً ف‬ ‫ب ٍ ػًس ز ضً هللا‬ ‫َ اف غ ػٍ ػ بد هللا‬

‫ػ ًُٓا ق ال ق ال ز سٕل هللا‬

ٕ‫يٕا ٔئذا زأٌ خًِٕ ف أف طسٔا ف اٌ غى ػ ه ٍ كى ان شٓس ح سغ ٔػ شسٌٔ ف اذا زأٌ خى ان ٓ الل ف ص‬ ( ‫ف اق دزٔا ن ّ ) ي س هى‬ Dari Nafi‘ dari Ibn ‗Umar ra, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: ―Sesungguhnya satu bulan itu 29 (hari), maka janganlah kamu berpuasa sehingga

kamu melihatnya dan janganlah kamu berbuka sehingga melihatnya, maka jika terhalang atasmu maka perkirakanlah ia. (Muslim) ‫ػٍ َ اف غ ػٍ ب ٍ ػًس‬ ‫سب ب ٍدٌ ّ ف قال‬ ‫حدث ُا أب ٕ ب كس ب ٍ أب ً ش ٍ بت حدث ُا أب ٕ أ سايت حدث ُا ػ ب ٍد هللا‬ ‫ص هى هللا ػ ه ٍّ ٔ س هى ذك س زي‬ ‫ز ضً هللا ػ ًُٓا ث ى أٌ ز سٕل هللا‬

‫اٌ ف‬

‫د ئب ٓايّ ف ً ان ثان ثت ف صٕيٕا ن سؤٌ خّ ٔأف طسٔا ن سؤٌ خّ ف اٌ ان شٓس ْكرا ْٔكرا ْٔكرا ث ى ػق‬ ٍٍ ‫أغًً ػ ه ٍ كى ف اق دزٔا ن ّ ث الث‬ ‫ث ى ب ٓرا اإل س ُاد ٔق ال ف اٌ غى ػ ه ٍ كى‬ ‫ٔحدث ُا ب ٍ َ ً ٍس حدث ُا أب ً حدث ُا ػ ب ٍد هللا‬

( ‫ف اق دزٔا ث الث ٍٍ َ حٕ حدٌ ث أب ً أ سايت ) ي س هى‬ ‫ب ٓرا اإل س ُاد ٔق ال ث ى ٔحدث ُا ػ ب ٍد هللا ب ٍ س ؼ ٍد حدث ُا ٌ ح ٍى ب ٍ س ؼ ٍد ػٍ ػ ب ٍد هللا‬ ‫اٌ ف قال ان شٓس ح سغ ٔػ شسٌٔ ان شٓس ْكرا ْٔكرا‬ ( ‫ْٔكرا ٔق ال ف اق دزٔا ن ّ ٔن ى ٌ قم ث الث ٍٍ ) ي س هى‬ Dari Nafi‘ dari Ibn ‗Umar ra, ia berkata, kemudian Rasulullah saw menyebut Ramadhan memberi isyarat dengan kedua tangannya kemudian bersabda: ―Satu bulan itu begini, begini dan begini kemudian nabi melipat jempolnya pada yang ketiga, maka berpuasalah kamu karena melihatnya dan berbukalah kamu karena melihatnya, maka jika terhalang atasmu maka perkirakanlah 30. Di riwayat lain dari Ubaidillah dengan isnad ini kemudian Rasulullah saw menyebut Ramadhan kemudian beliau bersabda: ―Satu bulan itu 29, satu bulan itu begini, begini dan begini dan berkata maka perkirakanlah baginya, dan beliau tidak menyebut 30. (Muslim) ‫ص هى هللا ٔذ‬ ‫ب ٍ ػًس أٌ ز سٕل هللا‬ ‫ب ٍ دٌ ُاز ػٍ ػ بد هللا‬ ‫دث ًُ ػٍ يان ك ػٍ ػ بد هللا‬ ‫ص هى هللا ػ ه ٍّ ٔ س هى زي‬ ‫ذك س ز سٕل هللا‬

‫ػ ه ٍّ ٔ س هى ق ال ث ى ان شٓس ح س ؼت ٔػ شسٌٔ ف ال ح صٕيٕا ح خى ح سٔا ان ٓ الل ٔال ح فطسٔا‬ ( ‫ح خى ح سِٔ ف اٌ غى ػ ه ٍ كى ف اق دزٔا ن ّ ) يان ك‬ Dari Ibn Dinar dari Abdullah bin ‗Umar ra, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda: ―Kemudian satu bulan itu 29 (hari), maka janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat hilal dan janganlah kamu berbuka sehingga melihatnya, maka jika terhalang atasmu maka perkirakanlah ia. (Malik) Hadits-hadits tersebut mengajarkan bagaimana prinsip-prinsip hisab dibangun, sekaligus Rasulullah menjelaskan mengenai apa yang difirmankan Allah dalam alQur‘an:

Dasar lamanya satu bulan adalah 29 hari. Dalam banyak hadits yang shahih Rasulullah mengatakan bahwa satu bulan adalah 29 hari (malam). Pengenalan ilmu hisab pertama dari Rasulullah. Bahwa satu bulan cukup menghitung 29 hari dari saat pertama terlihatnya hilal tanpa harus mengamati perubahan fase bulan dari hari-ke hari. Hilal baru tidak mungkin muncul di hari-hari kurang dari itu. Dan ini merupakan batas minimal satu bulan yang diajarkan Rasulullah, selanjutnya: Yakinkan wujudnya hilal pada akhir hari ke-29 (saat ghurub), jika hilal diyakini ada maka tetapkanlah lama bulan 29 hari.

Jika wujud hilal pada saat itu dipastikan tidak ada maka tetapkanlah hitungan bulan 30 hari. Kaidah ini merupakan kaidah hisab praktis yang dapat dengan mudah diterima oleh kaum muslimin, karena sesuai dengan realita. Jika pada akhir tanggal 29 hilal dipastikan tidak wujud, maka dapat dipastikan bahwa keesokan harinya sudah jauh di atas ufuk, walaupun mendung menghalangi pandangan. Dengan demikian tidak diperlukan lagi adanya ru‘yat, cukup hisablah bulan 30. Dan tentunya kesimpulan ini didukung oleh bukti-bukti ru‘yat yang cukup panjang. Meyakinkan wujudnya hilal dengan hisab bukanlah hal yang sulit, namun dalam kondisi awal-awal Islam kaum muslimin boleh dikata belum menguasai ilmu hisab, kemampuan ilmu hisab hanya terbatas penjumlahan dan pengurangan sederhana yang sering dipakai dalam transaksi jual beli atau takar menakar. Bahkan alat ukur waktu seperti yang ada sekarang belum pernah diberitakan ada semua dibaca dari tandatanda alamiah alam, sehingga diperlukan suatu kaidah transisi, yang diajarkan Rasulullah yang kemudian diceritakan dan atau disampaikan para sahabat apa adanya atau sesuai pemahaman mereka. Jika pada akhir hari ke-29 (saat ghurub) hilal tidak terlihat (tidak wujud) karena terhalang, maka yakinkanlah akan wujudnya hilal, dan tetapkan hitungan 30 hari saat wujud hilal tidak bisa dibuktikan (tidak ada berita kesaksian hilal).

Pernyataan ini menolak anggapan bahwa penghalang menjadi illat hukum ikmal jumlah hari menjadi 30, karena illat hukumnya sendiri adalah wujud hilal (diyakini wujudnya hilal). Dan ini sesuai kaidah ushul: ‫ِ ٔخٕدا ٔ ػدياان ح كى ٌ دٔز يغ ػ هج‬ ―Hukum berjalan sesuai ‗illatnya ada dan tiada.‖ Wujud hilal itulah yeng menjadi illat hukum ditetapkannya tanggal baru, bukan mendung sebagaimana difahami sebagian orang. Kaidah ikmal menjadi tiga puluh hari saat mana hilal diyakini belum wujud pada akhir tanggal 29 adalah sejalan dengan kaidah ushul ini, karena bila pada tanggal 29 hilal tidak wujud naka dapat dipastikan bahwa hilal wujud pada tanggal 30 walaupun pandangan kita terhalang untuk melihatnya. Argumentasi bahwa wujud hilal sebagai illat hukum ditetapkan awal bulan sesuai dengan firman Allah Ta‘ala: (981:‫ٌ سأن َٕ ك ػٍ األْ هت ق م ًْ يٕاق ٍج ن ه ُاس ٔان حح )ان ب قسة‬ Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: ―Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji Dan ini secara praktis diakui oleh kaum muslimin bahwa terhalangnya pandangan dari segolongan besar muslim akan melihat hilal gugur manakala ada kesaksian walaupun sebagian kecil tentang adanya hilal. Dengan demikian sesungguhnya yang menjadi ijma‘ di kalangan shahabat adalah wujud hilal sebagai dalil ditetapkannya awal bulan, dan bukan melihatnya itu sendiri. Dan ini sesuai dengan firman Allah di atas. Dari uraian ini maka akan jelaslah makna firman Allah Ta‘ala: ًّ‫ف ًٍ شٓد ي ُ كى ان شٓس ف ه ٍ ص‬ ―Maka barang siapa di antara kami menjadi syahid (datangnya) bulan maka hendaklah ia berpuasa.‖ Makna syahid berdasarkan banyak dalil lebih mengarah kepada pengetahuan dan keyakinan dan bukan kepada kesaksian dengan mata. Dan keyakinan datangnya bulan bisa diketahui dengan melihat langsung, dengan kesaksian orang lain atau dengan

hisab sebagaimana yang difirmankan Allah dalam al-Qur‘an. Coba perhatikan bagaimana Rasulullah menuntun para sahabatnya yang ummi untuk bisa menghisab dengan mengajarkan bahwasanya satu bulan 29 hari tanpa harus mengamati perubahan fase bulan dari hari ke hari, kemudian apa yang kemudian difahami para sahabat tentang menghisab atau menetapkan hitungan 30 saat sama sekali hilal tidak bisa disaksikan mata pada akhir tanggal 29. Dan dengan penggunaan hisab prediksi wujudnya hilal lebih bisa dipastikan daripada dengan ru‘yat dan inilah yang disinyalir dalam al-Qur‘an: ‫ْٕ ان ري خ ؼم ان شًس ض ٍاء ٔان قًس َ ٕزا ٔق دزِ ي ُاشل ن خ ؼ هًٕا ػدد ان س ُ ٍٍ ٔان ح ساب يا خ هق‬ ًٌٕ‫هللا ذن ك ئال ب ان حق ٌ ف صم اٌَ اث ن قٕو ٌ ؼ ه‬ Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. Berdasarkan ayat ini Allah memberitakan bahwa Dia telah menetapkan fase-fase bulan dan memungkinkan untuk menghisabnya. Sehingga fase-fase hilal tersebut sebenarnya bisa dihitung untuk menetapkan apakah hilal sudah ada atau belum. Ayat inipun memberi indikasi bahwa ilmu hisab tidaklah lahir dengan sendirinya tetapi melalui proses yakni proses ru‘yat dan pencatatan data-data ru‘yat yang Selanjutnya dianalisis, diuji dan diformulasikan sehingga dihasilkan formulasi hisab seperti yang ada sekarang. Namun kaum muslimin saat itu adalah kaum tidak menguasai ilmu hisab, sehingga untuk meyakinkan hadirnya hilal dimintailah kesaksian orang-orang dari daerah-daerah sekitar tentang tampaknya hilal pertama tadi. Di satu daerah bisa jadi berkabut, mendung atau karena halangan-halangan lainnya sehingga hilal tidak bisa disaksikan, namun di daerah-daerah lainnya yang berdekatan bisa jadi hilal bisa dilihat. Dan kesaksian inilah yang diakui. Ini menggambarkan bahwa begitu ada halangan melihat hilal tidak serta merta satu bulan dihitung menjadi 30, tapi menunggu kepastian ada tidaknya hilal dari hasil penglihatan orang-orang lainnya. Hal inilah bisa jadi rahasia mengapa Allah menekankan hisab, karena kemampuan

melihat seseorang bisa terhalang oleh berbagai hal seperti lokasi, mendung, debu dan sebagainya. Berkaitan ini saya nukilkan beberapa riwayat yang menggambarkan fenomena ini: Dari Ibnu Umar Radiyallahu ‗anhu, ia berkata : ―Manusia mencari-cari hilal, maka aku kabarkan kepada Nabi bahwa aku melihatnya, maka Rasulullah Shalallahu ‗alaihi wassalam pun menyuruh manusia berpuasa.‖ (HR Abu Daud (2342), Ad Darimi (2/4), Ibnu Hibban (871), Al Hakim (1/423), Al Baihaqi (4/212), dari dua jalan, yakni dari jalan Ibnu Wahb dari Yahhya bin Abdullah bin Salim dari Abu Bakar bin Nafi‘ dari bapaknya dari Ibnu Umar, sanadnya hasan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam At Talkhisul Habir (2/187)[i]. Dikisahkan ketika seorang Arab Badui melapor kepada Nabi bahwa ia menyaksikan hilal, maka Nabi menerimanya padahal ia berasal dari daerah lain dan Nabi juga tidak minta penjelasan apakah mathla‘-nya berbeda atau tidak. (Majmu‘ Fatawa, 25/103) Hal ini mirip dengan pengamalan ibadah haji jaman dahulu di mana seorang jamaah haji masih terus berpegang dengan berita para jamaah haji yang datang dari luar tentang adanya ru‘yah hilal. Juga seandainya kita buat sebuah batas, maka antara seorang yang berada pada akhir batas suatu daerah dengan orang lain yang berada di akhir batas yang lain, keduanya akan memiliki hukum yang berbeda. Yang satu wajib berpuasa dan yang satu lagi tidak. Padahal tidak ada jarak antara keduanya kecuali seukuran anak panah. Dan yang seperti ini bukan termasuk dari agama Islam. (Majmu‘ Fatawa, 25/103-105)[ii] 1993 ٍ‫بٍ ػهً حدثُا انحسٍٍ حدثُا يحًد بٍ بكاز بٍ انسٌاٌ حدثُا انٕنٍد ٌؼًُ ابٍ أبً ثٕز ذ ٔ حدثُا انحس‬ ٍ‫ػكسيت ػٍ ابٍ ػباس قال خاء أػسابً ئنى انُبً صهى انهٓى ػهٍّ ٌؼًُ اندؼفً ػٍ شا دة انًؼُى ػٍ سًا ػ‬ ‫ال أحشٓد أٌ ّ ئال هللا قال َؼى قٔسهى فقال ئًَ زأٌج انٓالل قال انحسٍ فً حدٌثّ ٌؼًُ زي اٌ فقال أحشٓد أٌ ال ئن‬ ‫)يحًدا زسٕل هللا قال َؼى قال ٌا بالل أذٌ فً انُاس فهٍصٕيٕا غدا *)أبٕ دأد‬ Fenomena di atas menjelaskan bahwa kepastian hilal yang dilakukan melaui ru‘yat perlu dikonfirmasi dengan kesaksian-kesaksian yang lainnya untuk mendapatkan informasi yang meyakinkan tentang wujudnya hilal. Sehingga untuk kasus ini berlaku kaidah bahwa yang melihat secara langsung setelah diketahui kejujurannya

didahulukan dari yang tidak bisa melihat, bahkan informasi yang tertunda tetap diterima walau hari sudah berjalan. Dengan demikian jelaslah sebenarnya hisablah yang ditekankan dalam Islam dan diajarkan Rasulullah. Rasulullah telah mengajarkan prinsip-prinsip dasar hisab kepada kaum muslimin saat itu sebagai bahan rujukan bagi generasi sesudahnya, sekaligus memandu bagaimana ilmu hisab itu bisa terwujud dengan digalakkannya ru‘yat hilal, yang dari data-data yang ada yang dikumpulkan selama waktu yang panjang, para ulama yang terpanggil dengan seruan Allah bisa mempelajarinya, merumuskannya, lantas mengujinya dan menuangkannya menjadi suatu ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu hisab (falak). Ayat-ayat al-Qur‘an ini tidak hanya memandu orang beriman, bahkan juga telah memberi inspirasi dan mendorong orang-orang kafir mempelajari ilmu pengetahuan tentang jagat raya dan mengungkap rahasia-rahasia kebesaran Allah lainnya di alam semesta ini sehingga mereka bisa mencapai pengetahuan dan teknologi seperti yang terjadi sekarang ini. Dan inilah salah satu hujjah atas orang-orang kafir yang membantah kebenaran alQur‘an sebagai kalamullah. Namun adakah mereka masih meragukannya, setelah bukti-demi bukti kebenaran al-Qur‘an dibukakan dihadapan mereka? Lalu bagaimana mungkin ada segolongan yang mengatakan beriman dan mau tunduk kepada al-Qur‘an dan as-Sunnah justru mengatakan ilmu ini sebagai bagian dari ajaran paganisme? Kalau memang demikian keimanan kepada siapakah yang dianut ketika ungkapan penolakan ini dilontarkan. Ingatlah saudara-saudaraku dan segeralah kalian bertaubat kepada Allah agar kalian diampuni-Nya. ‫ى بصسِ غشأة فًٍ ٌٓدٌّ يٍ أفسأٌج يٍ اح ر ئنّٓ ْٕاِ ٔأضهّ هللا ػهى ػهى ٔخخى ػهى سًؼّ ٔقهبّ ٔخؼم ػه‬ :‫)32بؼد هللا أفال حركسٌٔ)انداثٍت‬ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas

penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Balas

o

muflih, on 30 Agustus 2011 at 11:18 said: jangan lupa dalam memahami apalagi menafsirkan alquran harus dengan ilmu dan petunjuk dr rasulullah serta para sahabat para tabi‘in tabiut tabi‘in akhi, karena sahabat atau assaabikuunalawwalunlah yg lebih paham dan menyaksikan langsung wahyu diturunkan kpd nabi, makanya ada sunnah(hadist nabi) yg mejelaskan kitabullah. nabi shallallahu‘alaiwassallam jg memerintahkan ke kita sdelalu menggigit sunnahnya sedangkan perkataan beliau yang keluar bukanlah hawa nafsunya yang berbicara, melainkan sama jg datangnya dari Allah ‗Azzawajalla, beda dg kita yg jauh sekali jarak hidupnya dan tingkat keimanannya dg mereka, apakah kita menafsirkan dg akal kita yg sangat terbatas apalagi mendahului mereka seperti imam2 empat yg mana tidak satupunpun generasi-generasi terbaik dan para jumhur ulama sebelum kita ini yg mengadakan sesuatu yg baru seperti model hisab ini, padahal di jaman nabipun hisab itu sudah ada, pertanyaannya kenapa nabi lantas tidak memakainya/? bukankah akan sangat membantu.. justru nabi memerintahkan dengan melihat langsung hil;al dan apabila tdk

memumngkinkan hilal tidak nampak maka lebaran digenapkanlah jadi 30 hari, karena disitulah hikmah dr penegasan melihat langsung hilal yg sesuai dengan sunnahnya. nabi shallallahu ‗alaihi wassallam bersabda; ―puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa.dan berbuka kalian ialah pada hari kalian (semua) berbuka. dan hari penyembelihan kalian(idul adha), ialah hari ketika kalian menyembvelih‖. dalam menjelaskan hadist ini At tirmidzi berkata: ‖ sebagian ahli ilmu menfsirkan hadist ini; berpuasa & berbuka bersama jama‘ah (kaum muslimin pada umumnya)‖. lihat sunan Tirmidzi bertsama Tuhfah(3/383)

surya, on 28 Agustus 2011 at 09:32 said: Tulisan ini terkesan emosional dan subjektif. Karena penulis adalah profesor, mestinya setiap klaim metode Muhammadiyah lemah atau metode NU kuat, disertai dgn evidence sehingga terungkap kebenaran hakiki, bukan kesan subjektif. Karena ditulis pakar astronomi, alangkah asiknya jika ada penjelasan ilmiah mengapa metode NU bagus, akurat dan modern, dan mengapa metode Muhammadiyah tidak akurat dan kadaluarsa? Setelah membaca alasan alasan ilmiahnya masyarakat bisa menentukan mana yg lebih akurat, sesuai tuntunan agama, dan perlu diikuti. Jadi pilihan masyarakat bukan karena ikut ikutan pakar tapi karena memang benar. Balas

tdjamaluddin, on 28 Agustus 2011 at 18:03 said: Bagi yang faham ilmu hisab-astronomi, mereka tahu bahwa hisab wujudul hilal sudah kaladuwarsa alias usang. Trend astronomi sekarang mengarah pada hisab imkan rukyat yang kini dipakai NU dan Persis. Ingin tahu lebih banyak? Silakan baca tulisan-tulisan saya di blog saya ini. Jika berminat, saya mengajak untuk belajar ilmu hisab juga untuk memperkuat Muhammadiyah. Ilmu hisab itu mudah. Balas

o

manis suharjo, on 29 Agustus 2011 at 05:36 said: Kesombongan hanya milik pemilik Jagat Raya ini bapak…jangan

menempatkan seakan-akan anda yang paling pintar bapak……kalo memang bapak mau berniat memperbaiki keadaan jangan malah menjelekan MUHAMMADIYAH dan mengagungkan PERSIS dan NU….semua ada pijakan dan dasarnya bapak sebagai ahli astronomi kok malah memberikan pencerahan yang dangkal dan murahan…Allah SWT maha segalanya

kalaupun Allah SWT berkehendak pada ukuran berapa derajatpun posisi bulan akan terlihat bila Allah SWT berkehendak….

o

naneyan, on 30 Agustus 2011 at 10:35 said: @Manis Suharjo :

Anda benar, yang mempunyai ilmu hanya Allah dan Allah akan menempatkan ilmuNya pada orang-orang yang tepat dan benar. Sebagai seorang Ilmuwan sudah sepantasnya beliau Prof. Djamaludin memberikan kritik terhadap ilmuilmu yang telah kedaluarsa, karena memang ada kesalahan-kesalahan serta kelemahan yang muncul. dan para ilmuwan itu memang tugasnya adalah selalu bereksperimen dan membuktikan secara empirik dengan kenyataan yang ada. dalam hal ini ilmu adalah (HISAB) sedangan pembuktiannya yaitu dengan (RU‘YAH) melihat langsung. Tidak mungkin seorang Profesors dari LAPAN tugasnya hanya menghitung dan meru‘yah pada bulan Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah saja.

o

aziz, on 30 Agustus 2011 at 18:40 said: Imkanu rukyat bisa dinafikan dengan real ruyat (istilah saya) gak , ato mabni? toh ketika ada 2 ato 3 orang yang melihat hilal dan di sumpah tetep aja di tolak karena gak sesuai dg imkanu rukyat, padahal zaman nabi ada satu orang saja yg disumpah melihat hilal sudah dipercaya dan diambil kesaksiannya.

o

deen, on 30 Agustus 2011 at 23:03 said: Boleh gak sih sombong sama orang yang sombong ! Kayaknya boleh, deh !

o

imc_cho, on 31 Agustus 2011 at 03:28 said: @Prof T. Djamaluddin : gini pak, sedikit pertanyaan dari kami orang awan tentang astronomi…. td pada saat berbuka puasa (tgl 30 agustus 2011)ada beberapa kawan kami di daerah saya (jayapura) sudah melihat bulan / hilal..

pertanyaan saya . apakah tadi hari selasa sudah masuk 1 syawal atau hari rabu baru masuk 1 syawal… Mohon Penjelasannya pak prof.. terima kasih

o

iis, on 31 Agustus 2011 at 17:48 said: ngerti gax son, masalahnya bukan jadul atau gax, methode itulah yg dianggap paling tepat (bagi Muhammadiyah), apalagi rukyat itu kan super jadul, tapi bagi sbagian kel. tertentu itu yg paling pas. begitu masalahnya son, jangan terbawa bhs bpk professsssor TeHHomas.

o

EDI HS, on 1 September 2011 at 12:34 said: Agak lucu juga tim pemantau rukyat ini. Seharusnya tim-tim pemantau ini ditujukan untuk melihat hilal, dengan hasil laporanTERLIHAT atau TIDAK TERLIHAT. Menjadi aneh, bila Badan Hisab dan Rukyat sebelum dilakukan pemantauan Rukyat, sudah punya kesimpulan. Dimana KESIMPULAN itu adalah HILAL HARUS TIDAK TERLIHAT. Sehingga ketika Tim dari Jepara dan Cakung melaporkan MELIHAT HILAL, LANGSUNG DITOLAK. Lalu kalau kesimpulan itu sudah ada di kantong BADAN HISAB RUKYAT sebelumnya,

jadi untuk apa dilakukan Pemantauan lagi. Itu buang-buang biaya, juga kasihan kepada yang sudah bersusah payah melakukan rukyat, tapi hasilnya tidak diakui walau sudah disumpah. Betul-betul ini KEANEHAN YANG LUAR BIASA.

Farar, on 31 Agustus 2011 at 07:02 said: Harusnya sebagai seorang yg bergelar Prof bisa duduk dalam posisi di tengah tidak provokatif dan membela satu pihak. Silahkan di informasikan ke masyarakat. kapan waktu saat bulan sudah 2 derajat dan kapan pada saat matahari tengggelam dan muncul tanpa melihat derajat. Sehingga masyarakat dipersilahkan memilih. Jadi tehnologi yg bapak punya untuk dua posisi ini bukan memaksakan yang 2 derajat saja. Jangan jual prof anda untuk mencari popularitas satu golongan. Cari nama dan cari aman dengan membela pemerintah, silahkan. Allah yg akan membalasNya. Balas

 zonedine, on 28 Agustus 2011 at 09:48 said: aku ikut yang cocok sajahhh dweeeh….. Balas  Abi Gilang, on 28 Agustus 2011 at 10:52 said: Wawasan yang mencerahkan…terima kasih! Salam kenal. Balas

cristus, on 29 Agustus 2011 at 14:52 said:

anjing…lu Abi gilang…Tolol…haleluya… Balas

 Nuruddin Hidayat, on 28 Agustus 2011 at 12:12 said: Riset yg baik Balas  Toto Parminto, on 28 Agustus 2011 at 13:10 said: Penyatuan kalender akan berdampak besar utk syiar dan dakwah. Berubah uldemi kemakmuran Islam, insya Allah mendapat ridho Allah. Amiin. Balas

Asep Hilman Yahya, on 28 Agustus 2011 at 17:07 said: PERMASALAHAN MENYATUKAN SISTEM PENANGGALAN ISLAM

(Tanggapan Profesor terhadap tulisan Profesor juga….) Tentu merupakan suatu keprihatinan bahwa umat Islam sampai saat ini belum dapat menyatukan sistem penanggalannya sehingga selebrasi momenmomen keagamaan penting seperti puasa Ramadan, Idul fitri atau Idul adha belum selalu dapat disatukan. Memang harus diakui pula bahwa penyatuan tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena aspek-aspek syariah dan astronomis harus dikaji secara seksama. Persoalan sulitnya penyatuan tersebut bukan selalu dan tidak terutama karena perselisihan pendapat fikih antara pengguna hisab dan pendukung rukyat. Akan tetapi terutama adalah karena masalah bagaimana memformulasikan suatu sistem kalender yang dapat mencakup baik urusan agama (ibadah) maupun urusan sivil dan administratif (maksudnya urusan muamalat) serta bagaimana agar kalender

itu juga dapat menyapa seluruh umat Islam di berbagai penjuru bola bumi ini secara sama. Jangan sampai kalender itu memaksa satu kelompok orang di kawasan tertentu tertunda memasuki bulan baru padahal hilalnya sudah terpampang di ufuk mereka. Sebaliknya juga jangan sampai kalender itu memaksa mereka masuk bulan baru sementara belum terjadi kelahiran bulan. Dalam pada itu penulis membaca sebuah tulisan berjudul ―Kalender Hijriyah Bisa Memberi Kepastian Setara dengan Kalender Masehi.‖ Tulisan ini dibuat oleh seorang pakar senior dalam astronomi dan dikenal luas dalam masyarakat bidang ini serta sudah banyak malang melintang dalam masalah hisab-rukyat. Dalam tulisan tersebut penulisnya mengajak untuk bermimpi membuat suatu kalender hijriah yang mapan. Sayang sekali tulisan tersebut terlalu singkat sehingga tidak dapat memuat gagasan yang mendalam dan terkaji secara seksama. Namun barangkali hal itu mungkin karena tulisan itu tidak ingin membebani pembaca dengan pikiran yang berat-berat. Sebetulnya dari kepakaran beliau sangat diharapkan suatu rancangan kalender pemersatu yang handal.

Dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa ada tiga syarat bagi terwujudnya suatu sistem 1) 2) 3) ada ada kalender otoritas ada batasan wilayah (penguasa) kriteria keberlakukan yang tunggal mapan, yang yang (nasional atau yaitu: menetapkannya, disepakati, global).

Pada tahap sekarang, demikian tulisan tersebut, sudah dipenuhi dua syarat, yaitu sudah ada otoritas yang menetapkannya, dalam hal ini pemerintah melalui Menteri Agama, dan satu lagi adanya batas wilayah keberlakuannya, yaitu wilayah hukum Indonesia. Tulisan tersebut menyerukan lebih lanjut agar jangan jauh-jauh mencitacitakan pembuatan kalender hijriah global. Mulailah dari yang sudah ada di depan mata kita, yaitu kalender hijriah nasional. Artinya menurut beliau satukan dulu kalender hijriah pada tingkat nasional, kemudian baru melakukan penyatuan internasional. Menurut tulisan tersebut lebih lanjut lagi, kalau kita berhasil menjadikan kalender hijriah mapan di Indonesia dengan 3 prasyarat terpenuhi, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, kita bisa menjadikannya sebagai prototipe sistem kalender Hijriyah global yang mapan. Insya-Allah, kita dapat menyepakati kriteria yang bersifat global yang ditetapkan oleh suatu otoritas kolektif negaranegara Islam. Batas wilayahnya bukanlah batas wilayah tetap (seperti Garis Tanggal Internasional), tetapi

batas wilayah yang dinamis sesuai dengan kemungkinan terlihatnya hilal. Itu mudah ditetapkan berdasarkan kriteria yang disepakati. Demikian inti pokok tulisan tersebut. Bila boleh menanggapi, menurut penulis, otoritas penguasa saja untuk menetapkannya tidak cukup apabila tidak ada suatu rancangan kalender yang autoritatif berdasarkan argumen syar‘i dan ilmiah yang kuat yang dibuat oleh pakar serta yang dapat menjawab akar permasalahan. Kalau tidak, yang akan terjadi hanyalah semacam pemaksaan yang sulit diterima oleh yang merasa bahwa ketetapan itu tidak dapat dipertanggungjawabkan secara syar‘i dan keilmuan namun dipaksakan. Selama ini yang sering dihandalkan dalam upaya penyatuan adalah otoritas ulil amri yang didukung dengan kaidah fikih hukmul-hakim yarfa‘ulkhilaf‖ (ketetapan penguasa mengakhiri pertikaian pendapat). Bagaimana ketetapan ulil amri dapat mengakhiri pertikaian pendapat apabila ketetapan itu sendiri tidak autoritatif, malah sebaliknya bisa jadi menimbulkan permasalahan ?

Soal kesepakatan mengenai kriteria semata juga belum cukup, karena perumusan kalender Islam tidak hanya sekedar soal kriteria awal bulan. Masalah kriteria hanya sebagian saja dari keseluruhan masalah penyatuan penanggalan. Persoalan lain yang harus dipecahkan meliputi (1) masalah konsep hari dari mana dan kapan dimulai (garis batas tanggal), (2) masalah penerimaan hisab karena tidak mungkin membuat kalender berdasarkan rukyat fikliah, (3) masalah transfer imakanu rukyat. Selain itu kalender hijriah itu harus merupakan sebuah kalender global dalam sifatnya, bukan kalender lokal. Hal itu karena adanya problem puasa hari Arafah. Oleh karena adanya problem puasa hari Arafah ini, maka rumusan kalender Islam harus dapat membuat suatu penanggalan yang dapat menjatuhkan hari Arafah pada hari yang sama di seluruh dunia. Kalau tidak, maka akan timbul masalah kapan orang melaksanakan puasa Arafah karena hari Arafah di Mekah jatuh berbeda dengan di tempat lain. Misalnya di Mekah sudah hari Arafah

sementara di Indonesia baru tanggal 8 Zulhijah. Kalender seperti ini tidak memenuhi syarat kalender Islam lantaran kalender tersebut tidak dapat menepatkan waktu ibadah umat Islam pada momen sesungguhnya. Akan banyak orang yang menolak kalender tersebut, karena di Indonesia banyak yang berkeyakinan bahwa puasa Arafah itu adalah puasa pada hari jamaah haji wukuf di padang Arafah di Mekah dan memang ini yang benar. Inilah artinya bahwa kita harus membuat kalender global, bukan lokal. Soal dari mana mulai pemberlakuannya apakah diberlakukan dulu dalam wilayah Indonesia kemudian kita mengajak masyarakat dunia Islam untuk menerimanya, itu

silahkan saja. Untuk itu kalender tersebut harus teruji validitasnya secara syar‘I dan astronomis agar dapat diberlakukan di seluruh dunia dan dapat diterima oleh masyarakat Islam global.

Apabila dibuat kalender lokal yang bertujuan menyatukan penanggalan di Indonesia saja lebih dulu dan kalender itu tidak bersifat global, maka pertama pada bulan Zulhijah tahun tertentu akan timbul kekacauan pelaksanaan ibadah puasa Arafah, dan kedua akan membuat kita bekerja dua kali, di mana kita menyatukan penanggalan secara lokal lebih dulu, kemudian setelah bersatu, kalender diubah untuk dibuat yang baru yang sifatnya global. Secara psikologis mengubah kalender yang sudah diterima dengan mapan itu tidak mudah. Kita mengharapkan para astronom Muslim Indonesia menggagas suatu sistem kalender hijriah global. Sejauh ini penulis belum pernah mendengar adanya upaya demikian dari para pakar astronomi kita. Pemikiran yang sering terdengar baru soal kriteria awal bulan. Penyatuan kriteria saja belum akan memecahkan masalah penyatuan penanggalan Islam, karena masalahnya jauh lebih kompleks dari sekedar kriteria awal bulan. Bahkan termasuk para pakar astronomi dan ilmu falak Muhammadiyah, sebuah organisasi yang dikenal berpegang kuat kepada hisab, belum banyak yang tertarik untuk mengikuti perkembangan upaya pembuatan kalender global hijriah. Kalender Muhammadiyah yang berlaku pun juga masih kalender lokal. Namun telah ada kemajuan karena telah berani meninggalkan rukyat dan memegangi hisab secara konsisten. Hisab yang digunakan bukan hisab tertentu, melainkan yang penting bagaimana dengan hisab itu dibuat sebuah kaidah dan rumusan kalender yang dapat menyatukan penanggalan Islam dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia.

Di dunia Islam sekarang Tim Kerja ISESCO (yang lahir dari rekomendasi Temu Pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam tahun 2008) telah membuat empat rancangan kalender global hijriah. Rancangan-rancangan kalender tersebut sekarang dalam proses uji validitas untuk waktu selama hampir satu abad ke muka hingga akhir tahun 2100 guna menemukan satu yang paling baik dan reliabel di antaranya. Hasil uji validitas telah mencapai 93 tahun. Hendaknya para pakar astronomi Muslim Indonesia yang mempunyai perhatian terhadap masalah penyatuan penanggalan Islam mengikuti perkembangan ini dan

bila perlu ikut mengujinya sehingga apabila masih mempunyai kelemahan, maka buat rancangan kelima, keenam dan seterusnya yang lebih akurat dan lebih teruji. Penulis agak sulit memahami pernyataan dalam tulisan yang disebut di atas bahwa

batas wilayah kalender Islam global yang harus dibuat bukanlah batas wilayah tetap (seperti Garis Tanggal Internasional), tetapi batas wilayah yang dinamis sesuai dengan kemungkinan terlihatnya hilal. Apa yang dimaksud dengan statemen ini? Barangkali maksudnya bahwa kalender Islam global yang hendak dibuat itu menerapkan sistem garis batas tanggal bergerak yang diusulkan oleh Mohammad Ilyas (astronom Malaysia) dan Syaraf al-Qudah (pakar syariah Yordania). Meskipun kedua pakar ini sama-sama mengusulkan garis batas tanggal bergerak, namun konsepnya sedikit berbeda. Garis batas tanggal versi Ilyas, yang disebutnya International Lunar Date Line (ILDL), merupakan batas memulai tanggal baru hijriah yang mengikuti garis lengkung kurve imkanu rukyat yang menjorok ke timur. Kawasan yang berada dalam lengkungan garis kurve rukyat tersebut adalah kawasan yang bisa merukyat sehingga keesokan harinya memulai bulan kamariah baru. Kawasan di luar garis lengkung kurve merupakan kawasan yang tidak dapat melihat hilal, sehingga ia harus menggenapkan bulan berjalan tiga puluh hari dan memulai bulan kamariah baru pada hari lusa.

Apabila garis batas tanggal versi Ilyas adalah melengkung, maka garis batas tanggal versi Syaraf al-Qudah tegak lurus yang ditarik dari utara ke selatan pada ujung paling timur dari garis lengkung kurve rukyat bulan bersangkutan. Hanya saja apabila garis ini membelah-dua negara yang dilewatinya, maka garis itu ditarik ke batas timur negara bersangkutan. Semua negara yang terletak di sebelah barat garis tersebut memasuki awal bulan kamariah baru keesokan harinya dan negara-negara di sebelah timurnya lusa. Pada dasarnya kedua versi

garis batas tanggal ini sama, hanya bedanya dalam versi Ilyas garis itu melengkung dengan lengkungan menjorok ke arah timur sesuai dengan garis kurve imakanu rukyat, sementara versi Syaraf al-Qudah tegak lurus dari utara ke selatan dengan catatan menyesuaikan dengan garis batas timur negara yang dilewatinya. Kedua garis batas tanggal ini akan timbul di tempat berbeda-beda dari bulan kamariah ke bulan kamariah lain sesuai dengan perbedaan timbulnya garis kurve imkanu rukyat setiap bulan. Itulah mengapa ia disebut garis tanggal bergerak karena kemunculannya yang berpindah-pindah dari satu ke lain tempat. Pergerakan itu adalah dari timur ke barat muka bumi. Apabila ujung kurve itu pada suatu bulan kamariah timbul jauh di timur, misalnya di Indonesia, maka bulan berikutnya ia akan timbul lebih ke barat, misalnya, di Afrika, kemudian bulan berikutnya lagi di benua Amerika atau Samudra Pasifik.

Kedua versi garis batas tanggal ini tidak dapat dipedomani guna menyatukan kalender Islam karena konsep garis batas tanggal bergerak ini sendiri bermasalah. Apabila garis batas tanggal tersebut hanya dijadikan sebagai batas memulai bulan baru dan tidak dijadikan batas di mana dan kapan hari dimulai (hari tetap dimulai di Garis Tanggal Internasional [GTI] yang ada sekarang), maka kalender tersebut tidak akan menyatukan karena garis itu hanya akan membelah kawasan dunia antara kawasan yang bisa merukyat dan kawasan yang tidak bisa merukyat sehingga kedua kawasan itu akan memulai bulan kamariah pada hari yang berbeda. Apabila garis bergerak tersebut dijadikan juga batas memulai hari, maka akan lebih kacau lagi karena akan timbul dualisme hari di dunia, yaitu hari konvensional yang dimulai dari GTI dan hari ―Islami‖ yang dimulai dari garis tanggal bergerak yang berubah setiap bulan. Selain itu juga akan berakibat bahwa durasi hari dari bulan kamariah pada kawasan yang terletak antara dua garis tanggal bulan kamariah berurutan adalah 30 hari sementara di luarnya 29 hari sehingga tidak sama memasuki bulan kamariah baru. Atau kalau diharuskan bulan baru serentak dimulai di seluruh dunia, maka hari terakhir bulan kamariah pada kawasan yang terletak di atara dua garis tanggal bulan kamariah berurutan harus diperpanjang menjadi empat puluh delapan jam. Artinya hari yang sama harus diulang lagi. Ini tentu tidak masuk akal.

Selain itu garis batas tanggal bergerak ini akan lebih banyak lagi menimbulkan problem pelaksanaan puasa Arafah. Hal itu karena bilamana garis batas tanggal tersebut pada bulan Zulhijah muncul di sebelah barat Mekah, maka itu akan menimbulkan masalah puasa Arafah bagi kawasan di sebelah barat garis tersebut dan apabila timbul di sebelah timur Mekah akan timbul problem puasa Arafah bagi kawasan di sebelah timur garis itu. Penggunaan garis batas tanggal bergerak tidak akan membantu apa-apa terhadap upaya penyatuan kalender Islam. Justeru malah membuat lebih banyak problem daripada memecahkan masalah. Atas dasar itu tidak ada jalan lain kecuali menerima GTI yang ada sekarang yang terletak di tengahtengah Samudera Pasifik tanpa banyak membelah pemukiman padat penduduk. Sebagai penutup ingin ditegaskan bahwa:

1) kalender Islam harus dibuat bersifat global, tidak lokal, untuk mengatasi masalah pelaksanaan puasa Arafah;

2) kalender Islam terpaksa harus meninggalkan rukyat karena rukyat tidak dapat menyatukan dan membuat kalender dan harus menggunakan hisab, namun hisab yang digunakan bukan aliran tertentu, melainkan adalah bagaimana hisab digunakan

sebagai sarana membuat sebuah rumusan dan kaidah kalender hijriah global yang akurat; 3) tidak mungkin menggunakan sistem garis batas tanggal bergerak karena penggunaan garis semacam itu lebih banyak menimbulkan problem daripada memecahkan masalah;

4) kalender Islam tidak boleh mamaksa satu kelompok orang Muslim di kawasan tertentu dari muka bumi memasuki bulan baru sebelum kelahiran Bulan; 5) kalender Islam juga tidak boleh menyebabkan sekelompok umat Islam di kawasan tertentu tertunda masuk bulan baru padahal di ufuk mereka hilal bulan kamariah baru telah terlihat. (dari makalah Prof. Syamsul Anwar) Balas

o

tdjamaluddin, on 28 Agustus 2011 at 18:05 said: Tanggapan sudah saya tuliskan di blog saya, silakan simak:

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/25/menuju-kalender-hijriyahtunggal/

o

M fuad, on 30 Agustus 2011 at 13:03 said: Menarik prof. Cuman ente lupa baca sejarah GTI, sejarah pergantian hari versi lunar dst.

Prof, apakah ente yakin hari ini adalah selasa 30 Agustus 2011? kenyataannya, hari ini adalah selasa 30 Agustus 2011 + 3/4 hari. tahun depan tahun kabisat, jadi ada tambahan 1 hari prof. Ingat, dalam kalender lunar ada ―kesepakatan‖ (baca: ada pendekatan yang disepakati) Maaf prof (dua-duanya)

 ash, on 28 Agustus 2011 at 13:18 said: tapi bukan muhamadiyah yg harus dipersalahkan, krn semua hari lebaran kmrn semuanya tepat hasilnya….coba kita lihat dimalaysia waktunya sesuai gn muhammadiyah…kalo pemerintah selalu terlambat 1 hari……krn berpatokan kpd yg kurang benar…..jadi tulisan ini isinya hanya mengada-ada saja…… Balas

cristus, on 29 Agustus 2011 at 15:29 said: ckckckckc Ash: gw kasian ma loe kok malaysia, malaysia tu blajar agama di indonesia bung!!!! loenya ja yang tolol baca yang teliti tulisan baru bisa komen….haleluya?!!! Balas

teguh w, on 29 Agustus 2011 at 20:56 said: astaghfirullahalazim.. sabar mbak… kan permasalahannya hanya penyamaan penentuan penanggalan Islam dg hisab dan rukyat, kok malah melenceng dan mengait-ngaitkan dg keyakinan?? wah2 itu itu nggak betul mbak.. buktinya tahun ini antara brunei, malaysia, singapura, dan indonesia sama kok jatuhnya tgl 31. sah-sah aja wong udah bisa dibuktikan dengan kenampakan hilal. jangan ditanggapi dengan emosi tapi marilah kita pahami…! Balas

o

tepar w, on 30 Agustus 2011 at 06:40 said: ente juga musti istighfar.. jgn ikut ngarang ente… malaysia singapura lebaran tgl noh 30 pakde!! liat:

http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/08/30/135049/Saudi-danMalaysia-Berlebaran-Hari-Ini

o

AXL, on 30 Agustus 2011 at 21:59 said: waduh, jangan berdusta gitu dong. malaysia dan singapura lebarannya tanggal 30 agustus. istigfar lagi deh…

 semriwing, on 28 Agustus 2011 at 13:24 said: Sebagai warga Muhammadiyah, saya berterima kasih atas perhatian Anda, Prof. Insya Allah, Muhammadiyah tetap menyatu dengan komponen umat Islam secara keseluruhan. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik dan hidyah kepada kita sekalian. Amin. Balas  brandingthinking, on 28 Agustus 2011 at 14:20 said: dulu pernah dapat pelajaran pengamatan matahari, bintang serta observasi benda benda angkasa…..tdk ada yg konstatn….changeable sekali….apalagi sekedar visibility. Mungkin enggan keluarkan dana buat observasi….??? karena yg sosial dan muamalaha nya ckp banyak….??? namun rukyat : juga disarankan bahkan dengan perintah, knapa Muhamadiyah msh dg ‖ lagu lama ‖ sdg alat alat/ instrumentasi ckp support…??? Balas 

Mantt, on 28 Agustus 2011 at 14:24 said: insya Allah bermanfaat tulisannya… Sungguh mengagumkan ternyat astronomi itu… Allahu Akbar. Balas  Ibn Surhim, on 28 Agustus 2011 at 14:35 said: Duhai pemimpin umat, sungguh engkau akan ditanya Allah SWT: ―Knp anda begitu pelit memberi Umat ini satu hari saja untuk bisa BERSATU?‖ tanyalah pd umat ini, adakah mereka yg ingin Idul Fitri BERBEDA? tapi knp ―pemimpin‖ umat ini bebal? Balas

lapsippipm, on 28 Agustus 2011 at 18:57 said: Belajar islam yang baik dulu bapak, karena Islam itu satu tetapi diyakini oleh hati, fikiran, dan kepala yang beragam. Ke depan akan slalu ada perbedaan, bapak pasti stress kalau mikir perbedaan sebab di otak bapak semua ingin seragaam dan sama. Sudah jelas, musyawarah, berbeda pendapat, adalah rahmat dan sama sekali bukan bencana Balas

o

gigantoRra, on 30 Agustus 2011 at 08:26 said: Ooo… Tidak bissa boss.. Perbedaan urusan Hari Raya itu jgn ditutupi dgn apologi ―perbedaan itu rahmat‖ ini murni masalah arogansi alias kepala batu… Mohon Maaf Lahir Batins

muflih, on 30 Agustus 2011 at 12:10 said: gk boleh menyalahkan ulil amri tanpa dasar akhgi, sungguh hanya Allah tabaarokawata‘ala yg berhak menghakimi beliau dalam masalah ini.. apalagi mereka sudah niat ikhlas berijtihad insya Allah.. seandainya ummatnya menghendaki persatuan,mengapa mencela pemimpin ummat yg mana mereka megusahakan persatuan sedangkan ummatnya sendiri yg ingin berpecah tida mau bersatu. bukanhkah pemerintah sudah memfasiliytasi segalanya dengan adanya sidang isbat itu/? sesungguhnya muslim itu adalah cerminan sesama muslim. ‗atiiullaha wa‘atiurrosuul wa uulililamri mingkum Balas

 Ikbal, on 28 Agustus 2011 at 14:35 said: Alhamdulillah… Semoga Tulisan ini bermanfaat bagi semua ^_^ Balas  Abu Aqil di Langsa, on 28 Agustus 2011 at 14:42 said: assalamu‘alaikum.. saya setuju dengan paparan bapak. dan saya berharap Muhammadiyah berani merevisi dalam masalah ini. Atau mungkin karena saking pobianya dengan rukyat sehingga muhammadiyah bersikukuh dengan metode wujudul hilal? Balas

Asep Hilman Yahya, on 28 Agustus 2011 at 17:46 said:

PERMASALAHAN RUKYAT Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah,

disidangkan pada hari Jumat 22 Juli 2011 / 20 Syakban 1432 H, dimuat dalam Suara Muhammadiyah, No. 16 / Th. Ke-96, 16-31 Agustus 2011. Tanya: Saya mahasiswa Semarang, yang dahulu pernah wawancara dengan bapak. Saya mau tanya, apa kelemahan rukyat menurut Muhammadiyah? [Pertanyaan disampaikan lewat pesan pendek (sms). Penanya adalah mahasiswa S2 Ilmu Falak IAIN Walisanga, Semarang. Tidak ada nama). Jawab: Hal yang perlu difahami adalah bahwa di zaman Nabi saw metode penentuan awal bulan kamariah, khususnya bulan-bulan ibadah, adalah rukyat. Nabi saw sendiri memerintahkan melakukan rukyat untuk memulai Ramadan dan Syawal, sebagaimana dapat kita baca dalam hadis beliau,

"Berpuasalah kamu ketika melihat hilal dan beridulfitrilah ketika melihat hilal pula; jika Bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka genapkanlah bilangan bulan Syakban tiga puluh hari [HR al-Bukhari, dan lafal di atas adalah lafalnya, dan juga diriwayatkan Dalam hadis lain beliau diriwayatkan Muslim].‖ mengatakan,

―Janganlah kamu berpuasa sebelum melihat hilal dan janganlah kamu beridulfitri sebelum melihat hilal; jika Bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka estimasikanlah [HR al-Bukhari dan Muslim].‖

Hadis pertama jelas memerintahkan berpuasa atau beridul fitri ketika hilal bulan bersangkutan terlihat; hadis kedua melarang berpuasa atau beridul fitri sebelum dapat merukyat hilal bulan bersangkutan. Oleh karena itu para fukaha berpendapat bahwa penentuan awal bulan kamariah, khususnya bulan-bulan ibadah, dilakukan berdasarkan metode rukyat.

Namun dalam perjalanan sejarah peradaban Islam, muncul gagasan untuk menggunakan hisab sebagai metode penentuan awal bulan kamariah, termasuk bulanbulan ibadah. Tercatat bahwa ulama pertama yang menyatakan sah menggunakan hisab adalah Mutharrif Ibn ‘Abdillah Ibn asy-Syikhkhir (w. 95/714), seorang ulama

Tabiin Besar. Kemudian Imam asy-Syafi‗i (w. 204/820), dan Ibn Suraij (w. 306/918), seorang ulama Syafiiah abad ke-3 H. Memang mula-mula penggunaan hisab dibatasi saat bulan tertutup awan saja. Namun kemudian pemakaian hisab itu meluas hingga mencakup penentuan awal bulan dalam semua keadaan tanpa mempertimbangkan keadaan cuaca. Di zaman modern penggunaan hisab semakin meluas dan didukung oleh ulama-ulama besar seperti Muhammad Rasyid Rida, Mustafa al-Maraghi, Syeikh Ahmad Muhammad Syakir, Muastafa Ahmad az-Zarqa, Yusuf al-Qaradawi, Syeikh Syaraf al-Qudhah, dan banyak yang lain. Dalam ―Temu Pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam‖ tahun 2008 di Maroko, diputuskan bahwa, ―Para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan kamariah di kalangan kaum Muslimin tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penggunaan hisab untuk menetapkan awal bulan kamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu salat …‖ Apabila dilihat secara fakta alam, maka penggunaan rukyat di zaman Nabi saw itu tidak bermasalah karena umat Islam di zaman itu hanya berada di Jazirah Arab saja. Islam belum tersebar ke luar kawasan itu. Apabila hilal terukyat di Madinah atau di Mekah, maka tidak ada masalah bagi daerah lain, karena belum ada umat Islam di luar rantau Arabia itu. Begitu pula sebaliknya apabila di Mekah atau Madinah hilal tidak dapat dilihat, maka tidak ada dampaknya bagi kawasan lain di timur atau di barat. Namun setelah Islam meluas ke berbagai kawasan di sebelah barat dan timur serta utara (pada abad pertama Hijriah Islam sudah sampai di Spanyol dan di kepulauan Nusantara), maka rukyat mulai menimbulkan masalah.

Permasalahannya adalah bahwa rukyat itu terbatas liputannya di atas muka bumi. Rukyat pada saat visibilitas pertama tidak mengkaver seluruh muka bumi. Artinya pada hari pertama terjadfinya rukyat tidak semua bagian muka bumi dapat merukyat. Rukyat hanya bisa terjadi pada bagian muka bumi tertentu saja, sehingga timbul masalah dengan bagian lain muka bumi. Hilal mungkin terlihat di Mekah, tetapi tidak terlihat di kawasan timur seperti Indonesia. Atau hilal mungkin terlihat di Maroko, namun tidak terlihat di Mekah. Apabila ini terjadi dengan bulan Zulhijah, maka timbul persoalan kapan melaksanakan puasa Arafah bagi daerah yang berbeda rukyatnya dengan Mekah. Perlu dicatat bahwa Bulan bergerak (secara semu) dari timur muka bumi (dari Garis Tanggal Internasional) ke arah barat dengan semakin meninggi. Oleh karena itu semakin ke barat posisi suatu tempat, semakin besar peluang orang di tempat itu untuk berhasil merukyat. Jadi orang di benua Amerika

punya peluang amat besar untuk dapat merukyat. Sebaliknya semakin ke timur posisi suatu tempat, semakin kecil peluang orang di tempat itu untuk dapat merukyat. Orang Indonesia peluang rukyatnya kecil dibandingkan orang Afrika yang lebih di barat. Apalagi orang Selandia Baru, Korea atau Jepang akan lebih banyak tidak dapat merukyat pada saat visibilitas pertama hilal di muka bumi.

Problem pertama yang muncul sehubungan dengan masalah keterbatasan rukyat ini adalah apa yang dicatat dalam hadis Kuraib yang amat terkenal itu : ― Dari Kuraib (diriwayatkan) bahwa Ummul-Fadhl Binti al-Haris mengutusnya menemui Mu‗awiyah di Syam. Kuraib menjelaskan: Saya pun tiba di Syam dan menunaikan keperluan Ummul-Fadhl. Ketika saya berada di Syam, bulan Ramadan pun masuk dan saya melihat hilal pada malam Jumat. Kemudian pada akhir bulan Ramadan, saya tiba kembali di Madinah. Lalu Ibn ‘Abbas menanyai saya tentang hilal. Katanya: Kapan kalian melihat hilal? Saya menjawab: Kami melihatnya malam Jumat. Ia bertanya lagi: Apakah engkau sendiri melihatnya? Saya menjawab: Ya, dan banyak orang juga melihatnya. Mereka berpuasa keesokan harinya dan juga Mu‗awiyah berpuasa (keesokan harinya). Lalu ia menimpali: Akan tetapi kami melihatnya malam Sabtu. Oleh karena itu kami akan terus berpuasa hingga genap tiga puluh hari atau hingga kami melihat hilal (Syawal). Lalu saya balik bertanya: Apa tidak cukup bagimu rukyat Mu‗awiyah dan puasanya? Ia menjawab: Tidak! Demikianlah Rasulullah saw memerintahkan kepada kita [HR Muslim].‖

Rukyat Ramadan yang dilaporkan Kuraib dalam hadis ini, menururt suatu penelitian, adalah rukyat Ramadan tahun 35 H, bertepatan dengan hari Kamis sore (malam Jumat), 03 Maret 656 M. Permasalahn rukyat dalam hadis ini adalah bahwa di Damaskus rukyat berhasil dilakukan pada malam Jumat, sementara di Madinah malam Sabtu 04 Maret 656 M. Timbul pertanyaan dapatkah rukyat Damaskus diberlakukan ke Madinah? Ibn Abbas dalam hadis tersebut mejelaskan tidak dapat. Jadi awal Ramadan tahun itu berbeda antara Damaskus dan Madinah, meskipun kedua kota itu masih dalam satu negara Khulafa Rasyidin. [Catatan: Tidak terlihatnya hilal Ramadan 35 H di Madinah pada sore Kamis / malam Jumat 03 Maret 656 M itu bukan karena hilal masih rendah. Hilal sudah amat tinggi (sekitar 14º). Tidak terlihatnya hilal tersebut mungkin karena langit Madinah berawan.

Masalah ini kemudian dalam sejarah Islam berkembang menjadi apa yang dikenal dengan ―masalah matlak‖. Matlak adalah batas berlakunya rukyat yang terjadi di suatu tempat. Pertanyaannya adalah apakah rukyat yang terjadi di suatu tempat dapat

diberlakukan kepada tempat lain yang tidak dapat merukyat? Kalau dapat, sejauhmana? Mengenai ini terdapat dua pendapat dalam fikih.

Pertama, pendapat yang menolak doktrin matlak. Bagi mereka tidak ada matlak. Rukyat yang terjadi di suatu tempat berlaku untuk seluruh penduduk di muka bumi. Pendapat ini dipegangi oleh para fukaha Hanafi dan beberapa ulama Syafiiah. Imam Nawawi (w.676/1277), seorang ulama Syafiiah, menyatakan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa rukyat di suatu tempat di muka bumi berlaku untuk seluruh muka bumi (VII: 197). Kebanyakan ulama lain memegangi doktrin matlak, yaitu bahwa rukyat dibatasi berlaku pada tempat tertentu, tidak dapat diberlakukan ke seluruh dunia. Namun mereka tidak sepakat tentang batasan itu. Ada yang mengatakan rukyat di suatu tempat hanya berlaku dalam batas salat belum bisa diqasar (± 90 km). Ada yang berpendapat rukyat dapat berlaku dalam satu negeri, dan ada pula dalam beberapa negeri berdekatan. Ibn Taimiah (w. 728/1327) menolak semua pendapat ini dan mengatakan bahwa ―rukyat tidak ada kaitannya dengan qasar salat dan negeri atau negeri-negeri tidak ada batas yang jelas.‖ Memang di zaman dahulu tidak ada batas geografi wilayah suatu negara seperti halnya sekarang ini.

Kini pada abad ke-21, umat Islam sudah berada di seantero keliling bola bumi yang bulat ini. Bahkan di pulau-pulau terpencil di Samudera Pasifik pun sudah ada umat Islam, seperti di kepulauan Tongga dan Samoa. Rukyat yang terjadi pada hari pertama visilitas hilal tidak dapat mengkaver seluruh umat Islam di dunia. Justeru rukyat akan memaksa umat Islam di dunia berbeda memulai bulan baru karena rukyat hanya bisa dilakuan di sebagian muka bumi saja.

Dengan demikian sangatlah jelas problem yang ditimbulkan oleh rukyat. Kalau ini mau disebut kelemahan silahkan sebut demikian. Secara ringkas keseluruhan problem rukyat itu adalah:

1) rukyat tidak bisa membuat sistem penanggalan yang akurat karena penanggalan harus dibuat jauh hari ke depan, sementara dengan rukyat tanggal (awal bulan baru) baru bisa diketahui sehari sebelumnya;

2) rukyat tidak dapat menyatukan sistem penanggalan (kalender) hijriah sedunia secara terpadu dengan konsep satu hari satu tanggal di seluruh dunia karena rukyat akan selalu membelah muka bumi antara yang bisa merukyat dan yang tidak bisa merukyat; 3) rukyat tidak dapat dilakukan secara normal pada kawasan lintang tinggi di atas 60º LU dan LS;

4) rukyat menimbulkan problem puasa Arafah karena tidak dapat menyatukan hari Arafah di Mekah dan kawasan lain pada bulan Zulhijah tertentu.

Oleh karena itu tidak berlebihan apabila Temu Pakar II di Maroko menyatakan bahwa penyatuan kalender Islam se dunia tidak mungkin dilakukan kecuali dengan berdasarkan hisab. Memang, sebagaimana dikemukakan oleh Nidhal Guessoum, adalah suatu ironi yang memilukakan bahwa setelah hampir 1,5 milenium perkembangan peradaban Islam, umat Islam belum mampunyai suatu sistem penanggalan terpadu yang akurat, pada hal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik. Menurut Prof. Dr. Idris Ibn Sari, Ketua Asosiasi Astronomi Maroko, sebab umat Islam tidak mampu membuat kalender terpadu adalah karena mereka terlalu kuat berpegang kepada rukyat.

Kini dalam rangka mewujudkan kalender Islam tunggal (terpadu) yang dapat menyatukan selebrasi umat Islam sedunia, sedang dilakukan perumusan kalender Islam yang dibuat dan diuji selama kurang lebih satu abad ke muka hingga akhir tahun 2100. Ada empat rancangan yang diuji dan telah sering diberitakan. Perkembangan paling mutakhir tentang uji validitas ini adalah bahwa uji tersebut telah mencapai 93 tiga tahun, dan akan segera diadakan Temu Pakar III untuk membahas hasil uji validitas tersebut. Balas

o

tdjamaluddin, on 28 Agustus 2011 at 18:11 said: Mahasiswa yang bertanya adalah mahasiswa S2 Ilmu Falak bimbingan saya di IAIN Walisongo Semarang. Pertanyaan dalam kerangka survai pendapat ormas-ormas terkait penyatuan kalender Islam.

Terkait substansi kelender Islam terpadu, baca tanggapan saya di http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/25/menuju-kalender-hijriyahtunggal/

o

Arif, on 29 Agustus 2011 at 08:51 said: Berbeda itu adalah wajar karena memang ada riwayatnya, misal nya tentang hilal di syam dan madinah, seperti hadis yang saya kutip diatas, masalah shalat asar utusan Nabi di bani Quraizah, asalkan tidak menyelisihi SUNNAH dan Tho‘at serta ittiba‘ kepada Rosul semuanya oke 2 saja yang salah adalah mengadakan hal baru yang diatasnamakan dan dinisbahkan kepada Nabi SAW, Seperti kata INI yang terlontar dari mulut seseorang Yang shubhat ‖ Rasululloh adalah orang yang sangat menghargai Ilmu Pengetahuan, Seandainya Rasululloh masih hidup maka Beliau SAW akan menggunakan / menyetujui Hisab yang kami lakukan ―. ini adalah pernyataan yang terlalu berani dan mengada ada yang menisbatkan hawa nafsu seseorang terhadap pribadi seorang rasul yang hanya bertindak berdasarkan Wallohu A‘lam Wahyu . Bukan logika

o

Junarto, on 29 Agustus 2011 at 09:55 said: Terima kasih atas penjelasan yang lebih rasional ini.

o

ipman, on 29 Agustus 2011 at 11:12 said: info yang bagus pak asep.

berarti muhammadiyah menggunakan perhitungan (hisab) yang hasilnya akurat dan bisa digunakan untuk semua wilayah di muka bumi. yang saya bingung pak profesor jamal, sepertinya beliau mempermasalahkan metode perhitungan (hisab).

bukankah hasilnya jelas, bulan sudah positif derajatnya meskipun belum 2 derajat.

artinya

hari

selasa

30

agustus

merupakan

bulan

syawal.

apakah menurut profesor jamal tanggal 30 agustus belum bulan syawal karena bulan belum terlihat?

o

Yasz, on 5 September 2011 at 02:48 said: Prof Djamaluddin… untuk ide anda tersebut saya pikir sudah ketinggalan jaman… karena sudah ada ―Temu Pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam‖ tahun 2008 di Maroko, dan ssudah menghasilkan keputusan. Sifatnya sudah GLOBAL… ida anda itu baru bersifat LOKAL…

emran isma'il, on 28 Agustus 2011 at 18:42 said: saya setuju dengan komentar bapak, demi mencari kebenaran.. Balas

 Fikrizuhara Muzakkin, on 28 Agustus 2011 at 16:59 said: Assalamu alaikum.. Sebelum menyepakaiti kriteria Hisab Hilal, satu lagi yang harus disepakati bersama terlebih dahulu. Yaitu definisi HILAL itu sendiri. Yang saya pahami dan yakini, hilal adalah cahaya yang nampak pada sebagian piringan bulan yang teramati di tempat kita berada karena adanya pancaran cahaya matahari. Dan hal ini memerlukan syarat2 tertentu, di antaranya ketinggian bulan sekian derajat. MABIMS mensyaratkan minimal 2 derajat, itupun elongasi (jarak) bulan – matahari minimal 3 derajat. Menurut kriteria Wujudul Hilal, ketinggian berapapun asalkan bulan sudah di atas ufuk, dianggap HILAL sudah wujud. Karena itu dalam menghitung ketinggian mar‘i-pun faktor semidiameter bulan harus ditambahkan terhadap ketinggian hakiki. Dengan demikan yang dihitung dalam hal ini adalah bagian piringan bulan

sebelah atasnya, dan jika dikaitkan dengan pemahaman saya di atas jelas berbeda, karena tidak mungkin HILAL wujud pada ketinggian 0,5 derajat misalnya. Jika seperti ini yang dimaksud dengan Wujudul Hilal, HILAL sudah wujud meskipun pada ketinggian 0,5 derajat. Lagi2 pemahaman saya yang dho‘if, jika benar demikian maka saya menganggap yang wujud itu bukan HILAL, melainkan QAMAR (wujud bulan mati, berlum bercahaya). Jadi bukan Wujudul HILAL, tetapi Wujudul QAMAR. Masih perlu adanya redefinisi HILAL… Wallahu A‘lam… Balas  arman, on 28 Agustus 2011 at 17:23 said: Perhitungan dengan Imkanur Rukyat, sangat mustahil utk mendapatkan kalender Hijriah Global…karena dalam satu wilayah bisa saja berbeda. Bagaimana Pak..mohon tanggapan Balas  lapsippipm, on 28 Agustus 2011 at 19:06 said: Sebagai orang awam soal ilmu Falaq, sekilas melihat tulisan bapak ini terlalu kuat merepresentasikan kubu pemerintah yang (lucunya) selalu mengakhirkan 1 Syawal dan anti pati terhadap yang mau 1 syawal duluan. Aromanya seperti tulisan Jubir yang sedang menyerang Pak Dien karena memang selama ini Pak Dien sangat kritis ke Pemerintah lalu sekarang digelontorkan isu bahwa Muhammadiyah menjadi ‗pemecah belah ummat‖. Ini sungguh tidak bijak, Muhammadiyah atau organisasi apa pun pasti berubah tinggal menunggu waktu dan perubahan Muhammadiyah memang akan terjadi, tetapi tidak selalu karena peran Bapak dengan subjectifitas yang beku. Semoga pemerintah ini bukan orde baru, yang selalu mau seragam dan sama. Ini dunia sudah berubah masak nanti muncul ‗corong pemerintah yang sok ilmiah‘ sedang memerangi ummat islam yang berdakwah melalui Muhammadiyah; bapak harus bijak ya meskipun itu kebenaran harus dismapaikan dengan bijak dan bajik. salam hormat

Balas  firdaus muhiddin, on 28 Agustus 2011 at 20:17 said: saya kira tidak seperti itu pak thomas… hisab penentuan awal bulan memang acuannya atau patokannya adalah wujudul hilal berapapun ketinggiannya diatas ufuk. tidak bisa kita memaksakan kriteria imkanurrukyat (visibilitas hilal) pada ketinggian hilal tertentu walaupun dalam prakteknya memang hilal hanya bisa terlihat pada ketinggian tertentu itu. perbedaan sering terjadi dan niscaya terjadi jika wujudul hilal di suatu negara di bawah kriteria imkanurrukyat dan rukyat dibatasi oleh wilayatul hukmi negara tersebut. sekiranya rukyat itu tidak dibatasi oleh wilayatul hukmi suatu negara adalah sebuah keniscayaan pula bahwa pasti di seluruh dunia ada tempat atau daerah yang bisa melihat bulan sehingga jadilah kesatuan antara hisab dan rukyat. dan bahwa hasil hisab itu juga adalah sebuah kebenaran karena berlandaskan wahyu (QS Yasin 39-40) dan metode ilmiah (ilmu falak). dan itu sudah diverifikasi dari fakta yang ada. jika hari ini hisab menentukan wujudul hilal pada ketinggian di bawah visibilitas hilal maka besoknya pasti ketinggian hilal sudah bertambah 12 derajat. apakah kita akan kekeh mengatakan hilal (awal bulan / bulan tanggal 1) pada ketinggian di atas 12 derajat???? (tidak mungkin dan tidak rasionil). bagaimana pak thomas menjelaskan hal ini????? wallahu a‘lam Balas

gunungloli, on 29 Agustus 2011 at 23:54 said: saya setuju dengan anda.. Balas

itx, on 30 Agustus 2011 at 23:38 said:

sejak jaman dulu hilal itu dengan cara dilihat. padahal syarat terlihat adalah 2 derajat (bahkan ada yg bilang 6 derajat). jikalau dipakai standarnya jadi nol derajat (wujudul hilal) berarti standarnya berubah donk.

seharusnya standar khn tak pernah berubah sejak pertama ditetapkan jaman dulu. seperti halnya adzan maghrib yang selalu setelah matahari tenggelam sempurna, bukan ketika matahari menyentuh cakrawala. Balas

 Mohamad Iqbal Santoso, on 28 Agustus 2011 at 21:05 said: Saya setuju dengan Hisab, tapi tanpa menghapus atau menghilangkan Rukyat, sebagaimana keputusan tarjih muhamadiyah di Padang yang menegaskan bahwa penetapan awal bulan hijriyah bisa dilakukan dengan hisab dan rukyah. Hisab punya dasar hukum yang kuat dan sangat memudahkan, Tetapi Rukyat juga merupakan sunnah fi‘liyyah Rasulullah serta para sahabat, Sehingga Rukyat bukan perbuatan Bid‘ah. Dalam penentuan awal bulan hijriyyah apa YANG DIHISAB? Bulan atau hilal? Hisab apa yang digunakan? Apakah hisab ―wujudul hilal‖ satu-satunya hisab yang paling benar & akurat? Hisab dan Rukyat itu berkembang, tidak mungkin ada Hisab tanpa Rukyat, begitu pula Rukyat yang baik memerlukan panduan hisab. Ahli hisab sering membuktikan akurasi hisabnya dengan Rukyat. Selanjutnya berdasar hasil rukyat akurasi hasil hisab sering diperbaiki/dikoreksi, sehingga dalam kitab-kitab Falak dan Hisab, selalu ada ―ta‘dil‖ (koreksi). Begitu pula pada beberapa program hisab yang menggunakan komputer ada up date/up grade. Muhamadiyah dan Persatuan Islam (persis) semula menggunakan Hisab Ijtima qobla ghurub, yang menetapkan awal bulan dimulai jika jitima terjadi sebelum maghrib. prinsip ini menggunakan kaidah ―ijtima‘in-nayyiroini itsbatun baina syahrain‖ Ternyata pada beberapa kondisi ditemukan saat maghrib (setelah ijtima) bulan terbenam mendahului matahari. Kemudian Persis berubah menggunakan prinsip wujudul hilal (tepatnya wujudul-qomar), yaitu tidak hanya menghisab ijtima saja tapi ditambah dengan ketinggian (irtifa) hilal setelah

matahari

terbenam.

Kelemahan wujudul hilal adalah tidak didukung argumentasi ilmiah dan dalil yang kuat. Kriterianya terlalu sederhana, belum mencerminkan kriteria BULAN sebagai HILAL, yaitu hanya memperhitungkan ijtima dan ketinggian (irtifa) saja, padahal agar bulan menjadi hilal harus pula menghitung variabel lainnya seperti elongasi, umur bulan, iluminasi dll. Jadi wujudul hilal hanya menghitung kapan BULAN berada di atas ufuk setelah maghrib. Wujudul hilal tidak menghitung kapan bulan menjadi HILAL. Sehingga kriteria tersebut kurang tepat menggunakan istilah wujudul hilal tapi lebih tepat istilahnya wujudul qomar. Walaupun kriteria wujudul-hilal sangat jelas dan sederhana, tetapi tidak didukung argumen ilmiah dan Syara yang qathi, tak ada dalil yang menyatakah bahwa awal bulan ditetapkan jika matahari terbenam mendahului bulan, Quran Surat Yasin ayat 40 yang digunakan kelompok wujudul hilal sebenarnya menegaskan bahwa matahari dan bulan masing-masing memiliki peredaran yang berbeda (kullun fi falakin yasbahun) tidak ada kaitan dengan awal bulan (hilal). QS Yasin 40 merupakan rangkaian dari ayat 38 yang menjelaskan peredaran matahari, ayat 39 menjelaskan peredaran bulan dan ayat 40 menerangkan bahwa bulan dan matahari tidak saling mendahului karena keduanya memeliliki garis edar masing-masing yang berbeda. Hisab imkanur-rukyat didukung oleh dalil yang kuat serta berdasarkan argumentasi ilmiah yang teruji. Prinsipnya mengacu pada pengalaman zaman Rasulullah walaupun bulan berada positif diatas ufuk, tetapi kalau ―gumma‖ bulan dalam posisi tersebut oleh Rasulullah dianggap bukan hilal sehingga ibadah shaum dilaksanakan 30 hari (Muslim 1808). Hisab ImkanurRukyat merupakan upaya menghisab kapan bulan muncul sebagai HILAL atau kapan bulan manyerupai ‗urjunil qadim seperti yang digambarkan dalam QS Yasin 39 Awalnya imkanRukyat yang digunakan Persis menggunakan kriteria kesepakatan MABIMS, tetapi mulai tahun 2009 kriteria MABIMS sudah tidak lagi digunakan Persis, karena ternyata kesepakatan MABIMS tsb banyak bertentangan dengan hasil pengamatan empirik di lapangan. Saat ini Persis cenderung menggunakan kriteria Prof. Dr. T Djamaluddin (astronom yang sudah puluhan tahun bergelut dalam Hisab Rukyat di Indonesia) Balas 

hilman saukani, on 28 Agustus 2011 at 21:13 said: berdasarkan astronomi hilal < 2* itu ada atau tidak ada ? Balas  hilman saukani, on 28 Agustus 2011 at 21:22 said: kalau kriteria visibilitas hilalnya sudah disepakati, lalu pada saat rukyat ternyata tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Kaidah mana yang mau dipakai ? Balas  hilman saukani, on 28 Agustus 2011 at 21:27 said: Tidak semuanya yang tidak terlihat itu tidak ada kan ? Ayo siapa berani bilang Allah itu tidak ada karena tidak terlihat ? Balas

muflih, on 30 Agustus 2011 at 14:23 said: KALAU KITA MENINGGALKAN SUNNAH RASULULLUAH SHALLALLAHU ‗ALAIHI WASALLAM AKHIRNYA BINGUNG SENDIRI KAN/? PADAHAL SUDAHJELAS DITERANGKAN OLEH NABI KITA APABILA HILAL

TERHALANG MAKA GENAPKANLAH BILANGAN 30 HARI. DARIPADA HANYA DISIBUKKAN SENDIRI!! DG MEMPERTAHANKAN ALLAH DAN METODE RASULNYA BUATAN SUDAH

MANUSIA

PADAHAL

MENYODORKAN METODENYA YG SEDERHANA YAITU RUQYAH HILAL.. KENAPA HARUS BERTAHAN DG PENDAPAT HAWANAFSU EGO SENDIRI DG MEMBUANG SUNNAH YG DI SEDIAKAN UTK AGAMA ISLAM YG SUDAH SEMPURNA AJARANNYA..

Balas

o

Iflah Handoko, on 30 Agustus 2011 at 20:01 said: - Bukankah hadis yang diriwayatkan Ibnu Umar juga bisa dipakai (itu lho yang (ini hadis…….khan) - ―Faman Syahida minkumus syahro‖ : syahida itu artinya menyaksikan, bersaksi. Dasar kesaksian khan bisa penglihatan mata kepala, bisa juga ilmu pengetahuan. - Ala kulli halin…….prof ini memang cerdas : ―melempar wacana kontroversi di penghujung bulan di saat orang diuji kesabarannya setelah sebulan berpuasa‖. Sebagai ―syetan‖, wacana ini telah mampu memperlihatkan hasilnya (bisa kita lihat di koment-koment itu). Bagi saya, syetan sekalipun, eksistensinya perlu kita syukuri. ada juga faqduru patut lah-nya). dihargai…donk)

- Melihat hilal dengan mata kepala versus melihat hilal dengan akal pikiran.

- dari 9 kali Rosul shaum ramadlan, hanya 2 kali saja yang 30 hari (ini juga

o

Daisy, on 30 Agustus 2011 at 20:06 said: - Bukankah hadis yang diriwayatkan Ibnu Umar juga bisa dipakai (itu lho yang (ini hadis…….khan) - ―Faman Syahida minkumus syahro‖ : syahida itu artinya menyaksikan, bersaksi. Dasar kesaksian khan bisa penglihatan mata kepala, bisa juga ilmu pengetahuan. - Dalam masalah agama seperti ini orang nggak bisa seenaknya ada juga faqduru patut lah-nya). dihargai…donk)

- Melihat hilal dengan mata kepala versus melihat hilal dengan akal pikiran.

- dari 9 kali Rosul shaum ramadlan, hanya 2 kali saja yang 30 hari (ini juga

merekomendasikan satu kelompok merubah prinsipnya untuk mengikuti kelompok lain atau orang kebanyakan. Coba dech logikanya dibalik….. - Ala kulli halin…….prof ini memang cerdas : ―melempar wacana kontroversi di penghujung bulan di saat orang diuji kesabarannya setelah sebulan berpuasa‖. Sebagai ―syetan‖, wacana ini telah mampu memperlihatkan hasilnya (bisa kita lihat di koment-koment itu) baik positif maupun negatif. Bagi saya, syetan sekalipun, eksistensinya perlu kita syukuri.

o

imc_cho, on 31 Agustus 2011 at 03:46 said: @saudara MUFLIH : oke sekarang kita pake metode Ruqyah Hilal.. tp kita harus tau jelas neh metode lokal apa global…

contoh kasus di daerah kita indonesia belom lihat hilal, sedangkan sudara kita di malaysia dan arab saudi sudah melihat hilal… apakah kita harus memperpanjang 1 hari lagi untuk dapat melihat hilal pada esok harinya ataukah kita mengikuti saudara kita yg di arab saudi ataupun malaysia>>??? terus satu lagi, kamarin pada saat tim hisab dan rukyat memantau hilal, ternyata di darah cakung dan jepara sdh melihat hilal, tp kenapa oleh pemerintah/MUI di batalkan.. sedangkan pada zaman rasullulah dulu ketika ada 1 orang saja sahabat yg melihat hilal maka rusullullah mengatakan bahwa sudah masuk bulan baru… mungkin saudara bisa bantu jelaskan kepada saya yg orang awam ini..

 Rahmi Fauziah, on 28 Agustus 2011 at 21:38 said: perbedaan idulfitri, tidak hanya menyangkut sekelompok orang sudah makan sedangkan yang lain masih saum, tetapi juga menyangkut ibadah lain yang sangat terkait dg 1 syawal, yaitu zakat fitrah..

Balas  Mohamad Iqbal Santoso, on 28 Agustus 2011 at 21:45 said: Zaman Rasul walaupun bulan berada diatas ufuk tapi kalau ―ghumma‖ maka bulan tidak ditetapkan sebagai hilal dan nabi shaum 30 hari (Hadits Muslim nomor 1808). Muhamadiyah menganggap zaman sekarang tak ada ―ghumma‖. Untuk jadi HILAL harus pula dihisab umur bulan, jarak sudut, iluminasi bulan, dll. Hisab Muhamadiyah hanya menghisab ketinggian saja, jadi belum lengkap. Bulan yang saat maghrib tingginya kurang dari 4 derajat belum menjadi hilal baru calon hilal Balas  Khoirul Huda, on 28 Agustus 2011 at 22:13 said: Alhamdulillah….., ada pencerahan baru di persimpangan ini…. Balas  Yus, on 28 Agustus 2011 at 23:47 said: Dampak sosial perbedaan Hari Raya ini sangat besar…..bisakah kita sepakat agar yang menetapkan awal syawal cukup pemerintah saja?….Bagi kami di Maluku yang hidup berdampingan dengan komunitas agama lain sangat terganggu dengan perbedaan ini…..bahkan menjadi bahan olok-olok oleh umat lain…….. Balas  Hisab oleh Muhammadiyah « Lipur Sugiyanta, on 28 Agustus 2011 at 23:54 said: [...] http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-

hilal-metode-lama-yang... [...]

Balas  masdo, on 29 Agustus 2011 at 02:58 said: menyangkut soal kreteria, sy mau tanya kreteria apa yg digunakan Muhammadiyah dalam menentukan bulan Ramadhan, syawal, dan Dzulhijjah, selama zaman orde baru, mengingat perbedaan tsb tampak lebih sering pasca reformasi. Apakah pada saat itu Muhammadiyah pakai imkanu rukyat, tapi pasca reformasi lantas ganti pakai sistem murni wujudul hilal? Yg mengakibatkan sering tjd perbedaan dg kalangan imkanu rukyat? Mohon pencerahan sejarah tsb. Trims Balas

irfan ashari, on 30 Agustus 2011 at 05:49 said: di orde baru pemerintah ikut muhamadiyah,kemudian yang berbeda tidak boleh woroworo secara nasional karena bisa diciduk aparat…stlh reformasi sdh bebas informasi tersebar bahkan berskala nasional merebak…jadi, utk urusan ramadhan dan syawal memang harus ada ketegasan pemerintah,blokir akses yang berbeda khusus utk ramadhan..gitu aja koq repot…sisa,beranikah ?!?! Balas

Nur Jalil, on 30 Agustus 2011 at 09:15 said: Hampir pasti karena ketika itu Menag-nya Muhammadiyah = Mukti Ali Balas

 Ag' Wijaya, on 29 Agustus 2011 at 05:01 said:

Sy org yg sama skl awam soal hisab, rukyat & semacamnya.sy hny tergelitik sekelumit tulisan ―apakah nyaman sekelompok orang sudah makan-makan, sedangkan kelompok lainnya masih berpuasa? Apalagi kemudian ada ungkapan haramnya puasa pada hari itu‖.kalimat itu (& yg senada) bbrp kali muncul. maaf kl kesan sy kalimat itu ditujukan utk kaum muhammadiyah.seingat sy bbrp thn yg lalu, sekitar dekade 80-90an (persisnya thn brp sy ndak ingat), NU bbrp kali pernah mendahului lebaran. Balas

irfan ashari, on 30 Agustus 2011 at 05:53 said: betul itu…klo yang diatas atau yang paham sih tidak mungkin bicara begitu…tapi,akar rumput yang ela-elu selalu bilang bgt,haram puasa karena sdh ada yang lebaran,begitu juga yang puasa bilang haram berbuka karena belum waktu sdh lebaran,nah lho?.. Balas

irfan ashari, on 30 Agustus 2011 at 05:57 said: anehnya,yang ela-elu/ikut-ikutan dr akar rumput hanya cari enaknya saja,yang penting kalo sdh ada yang lebaran tidak puasa sholat id besoknya, dibilang pengikut muhammadiyah bukan,dibilang pengikut NU jg bukan…jadinya hanya mengikut hawa nafsu,mereka selalu puasa 29 hari tdk pernah 30 hari…inilah masalahnya… Balas

 manis suharjo, on 29 Agustus 2011 at 05:22 said:

Terlalu mendiskreditkan walau dikemas dalam bahasa intelek dan penuh argumen pribadi…..mohon bapak memberikan pencerahan yang lebih humanis dan tidak menyalahkan pihak lain seakan-akan kita paling benar…. Balas

Asad Al Affaq, on 30 Agustus 2011 at 08:55 said: yaaahh nggak usah terlalu subyektif. ini ranah ilmu dan pencerahan. tenang dan berbaik sangkalah Balas

 Fajar, on 29 Agustus 2011 at 05:49 said: Terima kasih Pak atas penjelasannya. Memberikan pencerahan atas permasalahan penetapan awal romadhon. Balas  si butut, on 29 Agustus 2011 at 06:16 said: saya lebaran,mengikuti Muhammadiyah,krn ktanya hilal akan tampak meskipun tak mencapai 2 derajat.Dan td di tv saya lihat pak kepala Lapan mengatakan bahwa hilal akan tampak namun tdk akan melebihi 2 derajat..Krn yg saya pahami,walopun tdk sampe 2derajat,kalo hilal nampak,berarti menandakan awal bulan syawal kan?Definisi 1 bln spt itu kan?Dimulai dr munculnya bulan hingga nanti bulan mati lg Balas

jordan, on 29 Agustus 2011 at 12:15 said: saya sependapat dengan panjenengan Balas

andre muslim, on 29 Agustus 2011 at 21:06 said: setuju….selamat hari raya idul fitri 1 syawal 1432 h Balas

o

toko miniatur, on 30 Agustus 2011 at 00:55 said: ane juga lebaran 30 agustus gan…. Selamat idul fitri 1 Syawal 1432 H

irfan ashari, on 30 Agustus 2011 at 06:04 said: wah..wah..terlalu emosional nich…nampak oleh apa ? oleh mata telanjang atau mata tekhnologi? mata telanjang atau yang bersarung sekalipun kecil kemungkinan hilal dilihat…kalo mata tekhnologi sdh jelas nampak dan sdh bulan baru…masalahnya adalah perintah rukyah itu apakah bisa di qiyaskan ke mata tekhnologi? wallahu a‘lam… untuk sementara saya tetap sepakat dengan metode muhamadiyah,namun idul fitri ikut pemerintah yang punya otoritas hukum…karena saya warga negara indonesia bukan warga negara muhamadiyah meski saya lahir dari komunitas muhamadiyah Balas

o

sibutut, on 1 September 2011 at 04:57 said: Itulah yang menjadi perbedaannya. Ada perbedaan penafsiran di sini. Saya ingin berdiskusi dengan anda (Irfan Ashari). Tolong baca gambaran yang saya tulis ini: Di Yaman ada masjid lama, yang dibangun oleh seorang sahabat Nabi. Di masjid itu ada jam matahari untuk menunjukkan waktu sholat dzuhur. Misalnya nih (sekali lagi, ini misalnya), kita sudah punya jam seperti jam jaman sekarang. Terus saya nanya ke sahabat nabi tersebut..jam berapa saat sholat dzuhur? Pasti beliau akan jawab, ―LIHAT jam matahari itu. Klo bayangan matahari ada di tengah, berarti sudah waktunya sholat dzuhur. Tp bgmn kalo mendung?Kalau mendung, ingat kemarin, jam berapa kemarin sholat dhuhur, supaya aman, tambahkan 10menit (krn klo sudah nambah 10 menit, dijamin udah masuk waktu dzuhur kan?)‖. Nah, disini yang saya tangkap, Saat sholat dzuhur itu dilaksanakan adalah saat matahari ada tepat ada di atas kita. Sehingga akan meninggalkan bayangan di tengah (betul demikian?). Nah,beberapa tahun kemudian, perhitungan matematika dan astronomi berkembang. Lalu dengan perhitungan itu saya bisa mengetahui dengan pasti, setiap hari kapan matahari akan berada tepat di atas kita, baik itu dalam keadaan mendung atau tidak. Di sini, kalo saya gak lagi pake jam matahari, apakah saya berarti mengingkari perintah sahabat nabi tersebut, karena saya tidak pernah MELIHAT jam matahari lagi??

Pemerhati awam, on 31 Agustus 2011 at 15:11 said: Prof, saya ada pertanyaan yg masih mengganjal…. Dalam sidang Isbat 29 Agt 2011, dari 30 saksi dikatakan ada 4 saksi yang telah melihat Hilal. Sebagaimana kita ketahui bersama, saksi2 tsb sebelumya telah disumpah dan dianggap menguasai ilmu tentang perhilalan. Bukankah dgn adanya saksi yg melihat hilal (walaupun minoritas jumlahnya) sudah cukup dipakai dasar utk meyakini 1 Syawal.

Yg buat saya yg awam, saya tidak bisa menerima keputusan penentuan 1 Syawal pada akhirnya diputuskan hari rabu berdasarkan hasil rapat pemerintah dgn para ormas. Dgn alasan kurang lebih, berdasarkan ilmu sains, hilal tidak dapat dilihat.

Tolong jelaskan kepada kami, apakah kesaksian penglihatan hilal tsb dieliminir dgn asumsi para ahli sains yg berpendapat hilal ‗Tidak Mungkin‘ terlihat karena berbagai alasan dsb dsb. Jika pada akhirnya penentuan 1 syawal, ditentukan berdasarkan hasil rapat tsb – buat apa diperlukan saksi2 yg disebar diseluruh Indonesia, toh pada akhirnya kesaksian tsb tersebut tdk digunakan sebagai dasar keputusan penentuan 1 syawal. Mohon pencerahannya Balas

 fadil fauzani, on 29 Agustus 2011 at 06:24 said: Klo misalkan gerhana dan solat 5 waktu bukanya pake hisab…?? Balas  manis suharjo, on 29 Agustus 2011 at 06:38 said: Astaghfirullah…semoga Allah SWT memberikan jalan yang lurus kepada pak

Profesor…Jangan mengkerdilan, menjelekan, mengusangkan ataupun sebagainya yang membuat anda merasa paling pintar..paling mutakhir..atau paling bagus…Semua ada pijakan dan dasarnya…Kesombongan hanya milik Sang Pemilik Jagat bukan milik pak profesor..pak profesor jangan terjebak pada ego dan keyakinan bapak sebagai seorang penganut paham tertentu..letakkan ilmu sebagai jalan kebenaran bukan sebagai pesananan ataupun jalan meraih jabatan didunia..AMIN.. Balas

teguh w, on 29 Agustus 2011 at 21:01 said: emosi kok nggak habis-habis… sabar sabar…

Balas

o

Asad Al Affaq, on 30 Agustus 2011 at 08:57 said: Bagi warga muhammditah sabar dan jangan merasa selalu benar, dan bagi yg bukan m juhammdiyah jangan merasa muhammdiyah sudap pasti slah. ini ranah ilmu dan belajar dan berusaha lebih baik

Abu Yasmin BF, on 30 Agustus 2011 at 14:38 said: Belajarlah lebih dewasa dalam menyampaikan pernyataan, cobalah pakai nurani, jangan pakai hawa nafsu, insya Alloh dengan kelapangdadaan dan komitmen bersama kita bisa persatukan hari raya, tinggal kita bikin kesepakatan bersama tentang kriteria dalam menetapkan awal bulan, saya lihat pak Profesor sdh memberikan alternatif dan jalan pemecahan dari kebuntuan yang berujung bedanya umat indonesia dalam berhari raya Balas

 Salim Alfathon, on 29 Agustus 2011 at 07:26 said: satu lagi nambah ilmune, semoga bermanfaat….barokallah fii umrik Balas  Agus Setiawan (Amra), on 29 Agustus 2011 at 07:39 said: Asslkm Wr.Wb.

Terus terang sy orang yg awam mengenai penentuan Ramadhan dan Idul Fitri, akan tetapi ingin saya sampaikn 2 hal dlm tulisan ini. 1) sebenarnya seluruh ormas Islam bisa dan pasti bisa menyeragamkan penentuan hal2 tersebut di atas andaikata tidak menonjolkan Egonya masing2. sbgmana disebutkan dlm tulisan2/komen di atas bahwa kalender Islam itu tidak kurang dari 29 dan tidak lebih dari 30 hari..oleh karena itu andaikata ormas2 Islam tidak egois dgn ke ilmuannya maka bs sj di seragamkan asalkn tidak kurang dan tidk lebih dari hari dalam kelnder trsbut. 2.) Tidak adanya ketegasan pemerintah sbgai UMARA (Pemimpin) untuk memutuskan hal tersebut, seolah-olah tidak ada gunanya Sidang Isbat yg diikuti oleh ormas2 Islam di Indonesia kalo akhirnya tetap sj ormas2 Islam trsebut menjalankan keyakinan dan ke Ilmuan masing2, dan pemerintah membiarkan hal tersbut terjadi berulang2 seolah2 tidak ada jalan keluar. Yang di khawatirkan Justru Umat Islam ini mendapat cemoohan dari penganut agama lain, dan saya yakin hal ini pasti terjadi (penganut agama lain mentertawakan agama Islam).. Mudah2an Allah S.W.T memberikan petunjuk dan membukakan hati para pemimpin baik dari kalangan ormas Islam maupun dari pemerintah, shingga tdk mmbuat umat (makmum) dalm ke ragu2an dan justru bisa membawa kemaslahatan buat umat Islam seluruhnya. Balas  Argres, on 29 Agustus 2011 at 07:54 said: Wooow kt itu terbesit dlm benak saya manakala membaca kritikan anda yg sangat porno tentang hisab muhammadiyah wuah anda profesor berani mempertaruhkan keakademikan anda untuk menyatakan bahwa hisab wujudul hilal adalah usang, wuah hebat benar anda! Pak Profesor, saya hanyalah orang awam tentang ini namun setelah membaca tulisan tanggapan prof. SyamsulAnwar yg sangat taktis akademis dan sy jg baca tanggapan anda spt dlm link anda. Tdk menampilkan urgensi dr tanggapan prof. Syamsul…

Terima Kasih Mas Asep atas tulisan dan panduan anda dalam memahami profesor yg satu ini. Apa yg anda keluarkan tdk ada tanggapan yg dramatis dr sang Profesor. Justru dari situ nampak keterkedilan sang Prof. dalam menyikapi perbedaan ini…

Pak Prof justru andalah yg hrs merenungkan diri. Balas

gunungloli, on 30 Agustus 2011 at 00:02 said: kalo mikir jangan pake OK…… Balas orang dulu pake otak jangan asal baru bunyi dong…. berpendapat… emosi… ….

o

gunungloli, on 30 Agustus 2011 at 00:02 said: kalo mikir jangan pake OK…… orang awam dulu pake otak jangan baru asal bunyi dong…. emosi… ….

berpendapat…

 den eko, on 29 Agustus 2011 at 08:43 said: prof, solusi yang bapak berikan insya alloh bisa menjadi rujukan kawan2 dan saya sendiri yang masih belum terlalu mendalami ilmu falak. terima kasih. sedikit tambahan, ada beberapa negara yang memang menggunakan rukyat murni seperti saudi, dan beberapa negara timteng. adapula yang menggunakan hisab murni seperti ormas MD dan negara Libya. tetapi memadukan hisab dan rukyat tentu akan lebih bijaksana, disamping itu telah menempuh thoriqotul jami‘, menjalankan matan ayat dan hadits tanpa ada yang dinafikan. Balas 

ustadzcip, on 29 Agustus 2011 at 09:09 said: Tolong dijawab Prof. menggunakan hisab wujudul hilal. Bila posisi bulan sudah positif di atas ufuk, boleh tidak arang menetapkan sudah pergantian bulan Hijriyah? berdosakah mereka? Balas  intansari, on 29 Agustus 2011 at 09:26 said: Saya cuma punya pertanyaan, mengapa muhammadiyah yang harus berubah? Menurut saya harus dicari ilmunya dl krn peredaran matahari, bulan dan bumi kan sudah fix. Bahkan memperkirakan kapan gerhana saja sdh bisa padahal masih dimasa depan. Mosok menghitung ganti bulan tidak bisa. Mengamati hilal tentusaja perlu tapi tolong tidak dilupakan bahwa Allah mengkaruniakan akal untuk digunakan. Jadi temukan standar ilmunya, dan semua ormas islam dpersilahkan siap berubah tidak hanya muhammadiyah Salam Intan Balas  shofi, on 29 Agustus 2011 at 10:23 said: Saya tidak mengerti ilmu falak,tapi yg saya tahu adalah ini merupakan domein nya pemerintah.Wilayah Indonesia itu sangat luas,jadi untuk penentuan kapan idul adha, idul fitri dapat mengakomodir seluruh wilayah indonesia.apabila disalah satu wilayah sudah dapat ditentukan saat itu idul fitri/idul adha maka seyogya nya itu membawa seluruh wilayah indonesia untuk mengikutinya.Tulisan ini sangat bagus,tapi disampaikan di forum masyarakat awam (seperti saya), menurut saya ini tidak bagus karena mestinya ada forum tersendiri yang dilakukan pemerintah dengan mengundang para pakar,krn kalo disampaikan ke masyarakat awam maka masyarakat akan smakin bingung.Biarkanlah hal ini berjalan sebagaimana keyakinan masing-masing.Kalo mau dibahas gak perlu dgn kami (orang

awam).Gak perlu lah menyampaikan ilmu yang tidak dapat kami pahami.kami yakin Bapak bisa memaklumi… Balas  Rudi B Rosidi, on 29 Agustus 2011 at 10:25 said: Kalau astronot yang cenderung tiap saat lihat bulan, bagaimana menentukan kalendernya Pa? Pake Hisab saja atau mesti ru‘yat dulu? Balas  Juragan Warung, on 29 Agustus 2011 at 10:41 said: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H

Mohon Maaf Lahir & Batin Balas  Awik1212, on 29 Agustus 2011 at 10:41 said: Alhamdulillah atas tulisan yang bermanfaat, namun dengan kata2 terakhir ―ormas modern tapi memakai kalender usang‖ saya melihat ada tendensi yang kurang baik dari si penulis. Kebetulan saya dekat dengan kalangan profesor. Ciri khas Prof adalah merasa paling benar. Mudah2an tulisan ini memang benar adanya untuk pengetahuan bersama bukan untuk memojokkan pihak tertentu. Wallahualam bishowab. Balas  Agung Trisetyarso, on 29 Agustus 2011 at 11:09 said: Tulisan Pak Professor sangat jitu! Balas

 ipanase, on 29 Agustus 2011 at 11:21 said: saya manut pemerintah, Balas  Muhammad Qorib, on 29 Agustus 2011 at 11:24 said: Meskipun penulis di blog ini seorang guru besar di bidangnya, namun ada beberapa hal yang dapat saya tangkap:

1. Mental akademik yang masih cukup rendah. Ini terkait dengan sikap beliau yang tidak mau menerima perbedaan.

2. Kecakapan akademik yang dimiliki tidak diimbangi oleh kematangan emosional. Sehingga tulisan yang diberikan bukan memberikan pencerahan, namun lebih bersifat provokatif. Balas  tony, on 29 Agustus 2011 at 11:28 said: Guru besar yang berjiwa kerdil…Mhn maaf lahir dan batin Prof. Belajarlah ilmu tasawuf agar Prof lebih dapat menghargai orang lain… Balas  Luq-man, on 29 Agustus 2011 at 11:42 said: Tulisan Anda anda tidak ini ojektif sangat dalam tendensius melihat sekali terhadap perhitungan muhammadiyah. yang dipakai

persoalan

muhammadiyah…Mengapa hanya muhammadiyah yg anda persoalkan..? terlihat sekali anda apatis terhadap metode hisab muhammadiyah. Balas

 Muhammad Sayuti, on 29 Agustus 2011 at 11:43 said: Model hisab Muhammadiyah akurat untuk menghitung mundur sekitar 1400 tahun ke Zaman Nabi Muhammad (masih hidup), yaitu saat terjadi Hari Raya yang bertepatan dengan hari Jum‘at. Perhitungan hisab Muhammadiyah bisa mengidentifikasi hari raya apa dan tahun ke berapa hijriyah peristiwa itu terjadi. Peristiwa ini kemudian menghasilkan hadits tentang pilihan untuk shalat salah satu saja antara shalat Ied dan shalat Jum‘at. Apakah metode yang Prof Djamaluddin tawarkan memiliki kelebihan yang sama?

Terimakasih. Balas  Gembul, on 29 Agustus 2011 at 11:55 said: anologinya gini menurut saya. Shalat dzuhur dimulai ketika tergelincir matahari. Tergelincirnya berapa derajat? kalau saya gak pake derajat-derajatan ketika tergelincir pokoknya sudah masuk waktu dzuhur, yg mau pake 2 drajat monggo bahkan yg mau pake 45 drajat pun monggo toh sama2 masih masuk waktu dzuhur, yg mau memaksakan 4 drajat karena lebih afdhol krn 2 drajat khawatir belum masuk waktu dzuhur itupun monggo. ummat Islam secara keseluruhan dan Allah lah yg akan menilai. trm kasih Balas  jordan, on 29 Agustus 2011 at 12:09 said: apakah ketika menetapkan munculnya bulan baru itu secara hisab bulan sudah ada tapi belum terlihat dengan mata telanjang, atau memang melihat bulan itu harus secara kasat mata sehingga baru bisa dianggap sah? berarti selama ini beberapa ibadah kita harus rukyat dulu dong, seperti mau sholat harus nunggu ketetapan pemerintah, di rukyat dulu, baru ditentukan masuknya waktu sholat, nggak bisa pake jadual berdasarkan jadual sholat abadi secra hisab, , sy kira pernyataan ilmiah memang harus jujur apa adanya, tetapi ketika ia dilontarkan untuk merendahkan satu pemikiran ilmiah lain nya, apa masih layak ia menjadi panutan prof?

Balas  cah_gotimun, on 29 Agustus 2011 at 12:11 said: ini pada ngributin apa tho…?

wah akhir puasa mengajarkan kita untuk ribut dech kayaknya,,…,, Balas  Muhammad, on 29 Agustus 2011 at 12:38 said: Inilah sebenarnya sosok pribadi muslim yang diharapkan ..untunglah prof perintah pertama dalam kalam Allah adalah ―BACALAH‖ bukan dengarkanlah atau ikutilah. Wahai orang NU, Muhammadiyah, Persis dan semua orang yang mengaku Islam bacalah (belajarlah dengan sungguh2 agar kamu bisa mendapat ilmu yang mencerahkan). Maju terus prof semua ormas Islam memang harus terus didorong untuk berubah. Karena sekarang Muhammadiyah, NU, Persis dan bahkan FPI sudah menjadi ―seperti‖ agama. Kalau dikritik langung marah (padahal nabi Muhammad s.a.w.meskipun diludahi tetap tabah dan malah mendo‘akan yang meludahi/menyakiti). So mereka yang suka marah dan gampang tersinggung meniru siapa ya? Balas  DjamaluddinHaters, on 29 Agustus 2011 at 12:40 said: PENULIS NYA PENGURUS NU KAH???????????????????

MEMOJOKKAN SATU GOLONGAN?? mudah2an pembaca dapat menilai sendiri bagaimana karakter orang ini. masih kah bisa dipercaya tulisan nya, yg menganggap pendapat nya paling benar. tanpa mau belajar mencari tau kenapa dan bagaimana dasar keyakinan menentukan hilal. sungguh egois. orang modern yg ortodok Balas 

insani, on 29 Agustus 2011 at 12:58 said: Artikel yang sangat bermanfaat Pak.. Semoga dengan Artikel ini Ummat mendapatkan pemahaman yg lebih jernih.. Nice Share Prof.. Balas  yaminora, on 29 Agustus 2011 at 13:01 said: orang sudah sampe di bulan kita masih ribut bagaimana cara kita melihat bulan, kasian…..deh… Balas  kang_ulid, on 29 Agustus 2011 at 13:12 said: alangkah indahnya perbedaan! NAmun, jauh lebih indah PERSATUAN… hehehehe… Seru sekali diskusinya, terus terang saya orang yg sangat awam sekali tentang penentuan hari idul fitri, menjadi bingung. Semuanya dengan pendapatnya masing-masing, dengan sumbernya masing-masing pula. Hmmm… hal ini mengindikasikan bahwa ‗sebenarnya‘ orang Semua Namun, Islam itu hal mengapa kita sangat sangat selalu sangat kalah pandai, oleh pintar ‗yang dan ahli. islam. lainnya‘???

tercakup

dalam

menurut saya, karena mentang-mentang kita diberi kebebasan untuk berpendapat, kita terlalu asyik bercumbu dengan dunia perbedaan, sehingga kita lupa NIKMATNYA PERSATUAN. Balas  Abu Salman, on 29 Agustus 2011 at 13:17 said: Saya sepakat dengan artikel ini. Saya tumbuh di keluarga yang sangat Muhammadiyah. Namun sangat menyayangkan ―kekeraskepala-an‖ Muhammadiyah untuk terus menggunakan metode hisab yang jelas tidak

syar‘i (Apakah Allah melalui Rasulullah dahulu memerintahkan untuk menggenapkan Ramadhan menjadi 30 ketika tertutup awan, namun tidak mengetahui bahwa ilmu hisab itu ada, dan berkembang terus sampai akhir zaman? Tentu TIDAK. Islam sudah sempurna ketika Ayat terakhir diturunkan). Dalilnya sudah jelas, bahwa untuk kriteria penentuan awal dan akhir Ramadhan tidak hanya Terjadi, namun juga harus Terlihat. Kalau hanya terjadi, tentu bisa dihitung menggunakan ilmu hisab. Saya bersyukur, pemerintah Indonesia masih mengamalkan Rukyat, yang memang syar‘i. Semoga Muhammadiyah dapat kembali meninjau metode yang telah digunakan selama ini. Seperti yang telah Pak T. Djamaluddin sampaikan, kebingungan di masyarakat itu sudah menjadi indikator yang sangat jelas. Mana mungkin perselisihan seperti ini adalah rahmat? (dan itu jelas mengacu pada sebuah hadist yang tidak ada asal usulnya. Jelas tidak bisa dijadikan hujjah) Semoga kita semua bisa bersatu dalam Sunnah Rasulullah.. Terima kasih Pak T. Djamaluddin, atas penjelasan yang gamblang ini. Semoga Allah membalas dengan kebaikan. Balas

Pemerhati awam, on 31 Agustus 2011 at 15:33 said: Menanggapi metode See kenapa itu alasan saja, punya biar dasar Muhamadiyah lebih objektif pemikirannya…. metode hisab:

Ini bukan masalah metode hisab tdk syari ato sebaliknya rukyat yg syari… Kedua

http://www.muhammadiyah.or.id/muhfile/download/kalender_islam_falak/Apa%20P ermasalahan%20Rukyat.pdf Balas

 Muhammad Rachmat, on 29 Agustus 2011 at 13:21 said: Klo menyatukan Ied sj repot, bgm mungkin ormas2 itu bisa menyatukan ummat dalam skala yg lebih luas?!. Saatnya mengalah untuk ummat. Ikuti pengumuman pemerintah. Kita harus memahami bhw ada wilayah publik yg seharusnya pemerintah yang punya otoritas! Wallahu a‘lam Balas  juraganindoor, on 29 Agustus 2011 at 13:21 said: pertanyaan utk Prof:

1. karena imkan rukyat merupakan trend vs wujudul hilal adalah kriteria usang; bagaimana sebaran (persentase) penggunaan kedua metode tersebut di dunia utk penanggalan? persepsi saya: bila hanya menggunakan trend biasanya akan berubah! masa ibadah pake trend? trend dunia atau trend lokal?

2. Zaman Nabi SAW, romadhon 29 hari lebih banyak dibanding 30 hari (9 banding 1), bagaimana perbandingan lama romadhon di negara kita dalam 10 dan 20 tahun terakhir? persepsi saya: rasanya di kita lebih banyak yg 30 hari. dan kalo itu benar, secara astronomi, mungkinkah ada pergeseran rasio tersebut? hanya saran dari orang awam utk Prof:

1. dunia maya dunia ragam orang, meskipun ada istilah ―blog aing nu aing kumaha aing‖ tapi lebih bijak kalau kita menulis untuk semua orang (ini saya baca di blog juga, lupa alamatnya) 2. mudah2an tidak lupa diri karena sudah profesor terutama dengam tendensi menyebut metode lain sudah usang

3. dijawab terima kasih, tidak dijawab terima kasih, yang penting selamat idul fitri mohon maaf lahir dan bathin Balas  ustadzcip, on 29 Agustus 2011 at 13:32 said:

SELAMAT JALAN RAMADHAN Assamu‘alaikum wr. wb. Pada hari ini SAYA melihat Ramadhan berkemas, tepatnya besok Selasa 30 Agustus 2011 akan meninggalkan kita Mukinin dan Mukminan. SAYA bertanya … akan kemana engkau ya Ramadhan? Dengan lembut mereka menjawab…Aku akan pergi jauh selama 11 bulan. ….. Tolong sampaikan kepada MUKMININ MUKMINAN terimakasih-ku, karena mereka telah menyambut-ku dengan ikhlas BERPUASA dan menahan semua nafsu, MENGHIASI malamku dengan SHALAT TARWIH, TADARUS, DAN I‘TIKAF, serta MEMPERBANYAK SEDEKAH…. dan …… Sampaikan kepada mereka kalau merindukan-ku… INSYA ALLAH aku akan datang lagi tahun yang akan datang, tapi….jika mereka sudah berpulang ke hadirat Allah……mereka akan aku tunggu di SURGA lewat pintu AR-RAYYAN. …..SELAMAT TINGGALl saudaraku MUKMININ MUKMINAN. Sebenarnya .. kalian masih ada kesempatan beberapa hari ini untuk bertemu denganku.. manfaatkan ! manfaatkan! sekali lagi manfaatkan!. Kataku… Insya Allah akan aku manfaatkan sisa hari itu …. dan aku sampaikan terimakasih-ku kepada Engkau Ya Ramadhan, SAYA tunggu kehadiran-mu tahun depan….karena aku sangat rindu kepada-mu. Kepada semua sahabat handai-tolan… saya sampaikan SELAMAT IDUL FITRI 1432 H. dengan iringan doa ―taqabbalallahu minna wa minkum‖ mohon maaf lahir dan batin. Salam dari Tjipto Subadi dan Keluarga

Dosen UMS, Sekretaris ISPI Jawa Tengah Balas

jordan, on 29 Agustus 2011 at 13:59 said: Taqobbal ya karim Balas

yal, on 29 Agustus 2011 at 13:38 said: Kalau saya ikut cara yang dipraktekkan nabi Muhammad saw saja, lihat dulu ada bulan baru nggak (melihatnya pakai mata telanjang atau teleskop), kalau tidak bisa karena ada gangguan awan barulah dihitung-hitung lewat komputer. Balas  lekdjie, on 29 Agustus 2011 at 13:38 said: Mengapa muhammadiyah(dan ormas2 lain tentunya) tidak mau berhari raya dg pemerintah?bukankah itu lebih bermaslahat daripada memaksakan pemikirannya?mungkin bisa saja bicara saling menghormati,tetapi bukankah jika ada yg mengalah itu lebih baik lagi?hanya pemikiran dari orang awam yg merindukan bersatunya umat tanpa dipecahbelah atas nama ‗organisasi‘.

http://muslim.or.id/ramadhan/berhari-raya-dengan-siapa.html Balas  Sa'duddin, on 29 Agustus 2011 at 13:39 said: Banyak sekali orang yang tidak ahli tp bnyk berkomentar ttg sesuatu yang bukan pada ahlinya/bidangnya, akibatnya akan memperkeruh suasana dan hanya lebih mementingkan ego golongan semata, mg2 masukan Prof. Djamaludin yang memang pakar dibidang astronomi bisa memberikan masukan yang berarti dan lebih diintensifkan komunikasi antar organisasi sehingga persatuan ummat tetap terjaga. Kritik yang membangun semoga dapat mencerahkan. Balas  Alim, on 29 Agustus 2011 at 13:41 said:

Kriteraia 2 derajat juga tidak kalah dipaksakannya. saya yakin 100% kesimpulan 2 derajat adalah hasil observasi. tentu observasi tidaklah benar mutlak.

Okelah pak Djamal pakai imkanurrukyat, tapi mengapa mesti 2 derajat? Untuk yang ingin menilai Hisab Muhammadiyah, sebaiknya baca dulu pedoman dan argumen yang digunakan Muhammadiyah, bukan dari tulisan blog ini semata. Tendensi ―memojokkan‖ sangat terasa di blog ini, maupun cara bicara pak Djamal di metro tv (yg tidak menghadirkan ulama dari Muhammadiyah). Kalau memang istilah yg bapak gunakan tidak memiliki makna pejoratif secara ilmu alam, tapi secara sosiologis ada efeknya pak, mohon tidak menutup mata. Buktinya di blog ini saja sampai ada yg komen berucap ―Muhammadiyah sudah ujub terhadap dirinya, merasa paling hebat, tapi tdk memikirkan persatuan Mohon para ilmuwan juga membina kerukunan umat. salam Balas  sinestea, on 29 Agustus 2011 at 13:41 said: Terima kasih atas penjelasannya. Saya jadi tahu bahwa perbedaan yg ada pada dasarnya terletak pada ―kesepakatan‖ kriteria. Namun, sy pikir masalah kesepakatan adalah ranahnya orang politik sehingga memang susah mengharapkan hal itu diterapkan pada ranah ilmu pengetahuan. Sejarah Galileo adalah salah satu contohnya. \ umat.‖…

Sukar bagi saya membayangkan perasaan seorang ayah yang mencoba menjelaskan kejadian ini kepada anaknya sbb: ‖ secara ilmu falak memang hari ini kita sudah memasuki bulan baru, tetapi demi persatuan bangsa maka tanggal 1 kita sepakati besok‖.

Oleh sebab itu, saya tetap menghormati mereka yang memegang prinsip dalam ber(beda) pendapat. Soal perbedaan, saya pikir di dunia sosial dan politik memang sudah biasa kok. Yang penting bagaimana kita semua saling menghormatinya dengan berbekal pandangan bahwa perbedaan itu adalah berkah dan sangat manusiawi.

Kepada kepada seluruh saudaraku, saya mengucapkan Selamat Iedul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Saya juga berdoa semoga hari Iedul Fitri yang akan kita rayakan. dapat berlangsung pada hari yang sama. Amiin ya Rabb. Balas  DjamaluddinHaters, on 29 Agustus 2011 at 13:47 said: CEKIDOT———hisab/ Balas  Pak Bambang Nunggang Byson, on 29 Agustus 2011 at 13:58 said: apik jooosssssssssss Balas  herman, on 29 Agustus 2011 at 14:09 said: Hari ini masih puasa. Mari menahan diri dari menuliskan kata-kata yang dapat menyinggung orang. Beda-beda lebarannya, santun-santun bicaranya. Balas  iqra, on 29 Agustus 2011 at 14:17 said: ass. Prof Jamal. Terkait dengan masalah hisab ini.,sesuai tulisan bapak, saya melihat masalahnya semata-mata ada pada belum adanya teknologi yang mampu melihat hilal pada elevasi antara ~1-4 deg. Memang pada ketinggian tersebut akan sulit klo tidak ingin dikatakan mustahil untuk melihat hilal karena adanya albedo. Menurut saya sepanjang apik apik http://immugm.web.id/2010/08/16/mengapa-muhammadiyah-memakai-

perhitungan hisab dan wujud hilal meskipun secara teori sudah diatas ufuk, maka semestinya sudah dapat diterima sebagai bulan baru. Seandainya cara perhitungan hisab tersebut salah tentnya hal ini yg menjadi persoalan. Menurut saya sepanjang teori hisabnya dapat dipertanggungjawabkan maka tidak menjadi masalah. Insya Allah hanya butuh waktu untuk menemukan teknologi yang mampu melihat hilal pada ketinggian rendah tersebut. Hal ini tentu menjadi PR kita sesama ummat muslim untuk mewujudkannya. Ingatlah ketika perdebatan tentang pusat tata surya dimulai dan pada akhirnya dengan teknologi hal itu bisa dibuktikan. Oleh karena itu tidak bijak rasanya untuk menyalahkan metode masing2, hanya karena ketidakmampuan kita untuk membuktikan bahwa teori yang digunakan itu salah. Sama dengan NU yg kemudian beradaptasi dari tidak menggunakan teropong kemudian menggunakan teropong, kita pun semestinya berusaha untuk membuktikan berapa sih limitasi elevasi yang mampu dilihat dengan teknologi. Mungkin teknologi kita yg digunakan sekarang yang sudah usang, jika kita menganggap cara berhisab kita sudah benar. Mudah2an akan semakin banyak umat islam yang terdorong untuk memperkuat teknologi yg dapat dimanfaatkan untuk kemajuan Islam. Semoga Allah meridhoi. Balas  Nova Indra, on 29 Agustus 2011 at 14:17 said: Heran juga nih liat profesor yang satu ini… ga ada kerjaan lain ya? atau anda malah sengaja merusak kedamaian ummat Islam di negeri ini? Balas  Mr. Zen, on 29 Agustus 2011 at 14:19 said: Diskusi yang sangat baik, mudahan dibarengi dengan bilhikmah. saya setuju bahwa kalender islam seharusnya bersekala nasional seperti apa yang disampaikan pak prof. cuma ada sedikit yang mesti saya tanyakan kepada pak prof. sebenarnya diseluruh dunia hari itu apa sama? terus perbedaan jam apa berpengaruh pada bilangan hari sebab kalo berpengaruh bilangan hari bisa jadi di negara lain 31 hari di indonesia 30 hari.

Selain itu sy tertarik dengan penyampaian pak prof bahwa belajar hisab itu mudah supaya

saya bisa tambah ilmu apa bisa pak Prof kirimkan saya ebook atau tutorial atau apalah yang bisa saya pelajarai tentang rukyat dan hisab. terima kasih lanjutkan diskusinya Balas  muh banu toro, on 29 Agustus 2011 at 14:27 said: alhamdulillah … kita saling membuka apa yang ada dalam diri ini.. sungguh ya Allah ternyata meskipun berulang-ulang saya berpuasa …..masih kuat hawa nafsu tidak menyukai orang lain, ujub pada pengetahuan yang saya miliki… memandang salah itu berada pada orang lain sangat mudah bagi saya menghujat orang lain ….sehingga saya menjadi lupa akan MISI RAMADHAN yang Engkau Tugaskan Ampunilah saya ya Allah Balas  Hidayat, on 29 Agustus 2011 at 14:30 said: Terima kasih Prof.. ini pencerahan bagi saya yang awam… semoga kesombongankesombongan para elit, siapapun itu bisa terbuka fikirannya dan lebih mementingkan umat Islam secara keseluruhan bukan fanatisme golongan/aliran yang sempit… Konon katanya cuman Indonesia yang berbeda-beda… Sudahlah Siapapun penetap dengan methode apapun mereka adalah orang yang harus siap mempertanggung jawabkan hasil penafsirannya di depan Allah… Bagi saya seorang makmum… kami serahkan ke ahlinya saja karena saya awam…. Silahkan anda-anda para ahli merumuskan… asal untuk kemaslahatan semua umat pasti saya mendukungnya… Lahaulawalakuwata Illabillah… Balas  achmad diddan safwan, on 29 Agustus 2011 at 14:31 said: QURAN MEMBOLEHKAN PERBEDAAN TETAPI HRS ADA SOLUSI. Hikmah perbedaan berkepanjangan membawa petaka dan perpecahan Sampai sekarang ada ummat Islam yang tidak percaya manusia bisa kebulan dan keliling angkasa. Menembus atmosfir dengan sulthon / kekuatan / roket yang menemukan non-muslim. Padahal mengambil

ilmunya

dari

Bagdad

/

Mesir.

Bagi kaum yang tidak memiliki PEMIKIR silahkan gunakan rukyat (tanda-tanda alam). Bagi yang telah memilki bahkan dilengkapi peralatan canggih ya seharusnya gunakan AQAL/OTAK. Masih inget di Tajug Agung Cirebon bila akan azan sholat jua‘at, petugas Tajug melihat bayangan besi (bancet). Kini cukup melihat Jadual Waktu Sholat yang dibuat untuk 1 tahun bahkan bisa lebih. Aqal menciptakan teknologi untuk kemudahan manusia. Menunjjuk Adam menjadi khalifah tanpa aqa tidak mungkin, makanya ditiup RUH-Alloh yang membawa pula aqal / rasa peduli / siap berkorban dll yang positif. Isalam pernah jaya menguasai dunia dari selat Giblatar sampai ke Cina didukung ilmu pengetahuan. Setelah kita hanya menegadahkan tangan dan non-muslim mengembangkannya setalh belajar di Timur tengah…..mereka menguasai dunia. Janji Alloh : Aku tingkatkan beberapa derajat bagi orang yang beriman diantaramu dan berilmu pengetahuan.

Bahkan Ulama tempo doeloe saudagar kaya-raya seperti Muhammad saat sebelum jadi Rusul, penuh ikhlas, jihad mengembangkan islam. Sekarang lahir dari kelompok menengah bawah……..tanpa ihlas, bahkan jual ayat. Semoga kita bisa merubahnya untuk diwariskan kepada generasi penerus. Allohu Akbar. Balas  daeng, on 29 Agustus 2011 at 14:32 said: bagaimana prof kalo manusia sudah tinggal di planet lain bukan bumi mungkin pada tahun 5000??? apa harus ke bumi dulu me rukyat ??? Balas

afadl, on 1 September 2011 at 07:11 said: kalau di planet lain, masih pakai hilal juga? emang ada daeng? Balas

Moh. Sofyan Abdullah, on 1 September 2011 at 22:00 said: Wah ini pemikiran bagus…. harus ada alat ukur yang jelas… Balas

 jordan, on 29 Agustus 2011 at 14:41 said: bacaan lain yang menarik:

http://sururudin.wordpress.com/2009/03/21/problematika-hisab-rukyah-di-indonesia/ Balas  cristus, on 29 Agustus 2011 at 14:43 said: Gw orang bodo dalam bidang agama…penulis dgn bhs bijak menerangkan secara rinci baik b`sifat ilmiyah maupun kauniyah, namun justru gw sedih dengan para komentator justru ngawur bukan malah kasih pndaat yg ilmiyah juga malah emosi ga karuan….buat penulis aku suka haleluya….. Balas  fiktif, on 29 Agustus 2011 at 14:55 said: terimakasih prof, tulisannya membuka wawasan. Balas  Septian Adhi n, on 29 Agustus 2011 at 15:07 said: gaya loe Wat yang komen ga jelas penuh emosi menandakan kapasitas kedangkalan pola pikir…..last

Semoga ada titik temu di antara 2 pndapat yg berbda dan tdk malah menimbulkan perpecahan bahkan permusuhan. Balas  Tydy Syahferi, on 29 Agustus 2011 at 15:08 said: hmmm…jadi ingat cara strategi yahudi memecah belah Islam…. akhirnya umat Islam jd saling menjatuhkan, saling hujat… siapa pun itu… ANDA berhasil…. Balas  muqoffa, on 29 Agustus 2011 at 15:27 said: tulisannya bagus n sangat cerdas….. Balas  Muqoffa Semangat Semangat Mahyuddin III, on 29 Agustus 2011 at 15:44 said: apik banget ulasane jadi kayak kuliah s2 diskusinya menukik Balas  yunan hilmy, on 29 Agustus 2011 at 15:50 said: assalamu‘alaikum. selama ini saya cukup respek dgn profesor fdjamaluddin melalui tulisan-tulisannya utamanya yang dimuat di sarat kabar.

tapi setelah membaca tulisan prof yang satu ini saya malah menjadi kurang respek karena jauh justru atau dari terkesan pak sikap arogan, prof seorang ada ilmuwan dan yang nafsu sedang profesor. keilmuannya. frustasi?

kebencian sendiri

jadilah

profesor

pemerintah

yang

arif

dan

bijak

wassalamu‘alaikum Balas  poedoet, on 29 Agustus 2011 at 16:02 said: Semoga dengan adanya tulisan ini tidak membuat ormas baru yang menyakini suatu temuan baru… Balas  achedy, on 29 Agustus 2011 at 16:03 said: Saya 3 tahun ini mempelajari Hisab Rukyat, Dan kesimpulan saya sama dengan kesimpulan Prof Jamaluddin. Mudah2an ini bisa dijadikan Muhammadiyah untuk secara jernih menelaah kembali metodenya. Balas  Robby Karman, on 29 Agustus 2011 at 16:25 said: silahkan dibaca dan ditelaah http://amin-albarqy.blogspot.com/2007/07/rasulullah-saw-mengajarkan-ilmu-hisab.html Balas  Rahmatulloh Mardani Naisin, on 29 Agustus 2011 at 16:45 said: kalo disaudi seorang ahli falak mengeluarkan pendapat ―Imkan Ru‘yatul Hilal‖ hasilnya bulan tidak mungkin terlihat pada tgl. 29/8/2011….ditegur oleh kiyai saudi dia bilang: semua kalo Allah kehendaki mungkin…karena sang ahli falak tdk bilang ―Bi Idznillah/InsyaAllah‖ hasil imkan ru‘yatul hilal bulan tdk terlihat….

Balas  Eka Nafrilyan Ramadhan, on 29 Agustus 2011 at 16:53 said: Assalamualaikum Prof, Sebelum nya saya minta maaf karena memang saya masih awam dalam masalah ini, yang ingin saya tanyakan - Apakah umat islam bisa menentukan tanggalan untuk satu tahun kedepan (qomariyah), bila setiap tanggal 1 syawal harus melihat bulan terlebih dahulu? - Untuk menentukan tanggal 1 bulan berikutnya, apakah harus selalu melihat bulan ? terimakasih atas perhatian dan tanggapannya. Kurang lebih mohon maaf, Wassalamualaikum Wr. Wb. Balas  Ahmad Taslim, on 29 Agustus 2011 at 17:01 said: Bismillahirrahmaanirrahim, Hati2 semua saudaraku yang membaca tulisan ini ‖ Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab‖ . menurut saya penulis seperti inilah yang memecah belah ummat ini dengan kalimat atau kata yang provokatif dibungkus ilmiah, (Perhatikan beberapa kalimat yang memojokkan yang satu dan memprovokasi yang lain) Bayangkan jika saya juga membuat tulisan dengan judul misal ―NU Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab‖ atau ―Persis Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab‖

Kata2 NU,Muhammadiyah, Persis, tentu sangat sensitif bagi sebagian orang, maka jangan heran jika pada sebahagian komentar tulisan ini (coba anda perhatikan) isinya adalah saling membantah atau membela metode dakwah (organisasi) masing2. Mohon 1. 2. Tulisan Disini Mau Koreksi anda cari cukup dukungan Bapak tendensius ya pak ? THOMAS tidak (dengan djamaluddin bersifat tulisan netral ilmiah)

3. Sudah dapat berapa duit dana dari luar negeri untuk semua kegiatan bapak? 4. Semangat bapak bukan semangat mencari kebenaran, tapi semangat memecah belah ummat, bersama dengan kesombongan bapak.

5. Beberapa Tulisan bapak yang kurang santun dan bijak (malah terdengar provokatif) - Masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara, ―mari kita saling menghormati‖. Adakah solusi permanennya? Ada, Muhammadiyah bersama ormas-ormas Islam harus bersepakati untuk mengubah kriterianya. (ooo, jadi Muhammadiyah harus ngalah ya pak, ikut pemerintah?)

- Jadi, selama Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria wujudul hilalnya, kita selalu dihantui adanya perbedaan hari raya dan awal Ramadhan. (ooo, jadi muhammadiyah itu biang keroknya ya pak?) - Banyaknya pertanyaan, ―kapan kepastian lebaran?‖ menunjukkan kebingungan di masyarakat (masyarakat tidak bingung cuma bertanya kapan lebaran, bapak saja yg bingung dan membuat-buat kebingungan itu). Dua versi hari raya pasti membingungkan masyarakat (tidak pasti, hanyal Allah yang pasti dan Maha memastikan). Mungkin sebagian saudarasaudara kita di Muhammadiyah dengan nyamannya melaksanakan shalat ied dan makan minum pada saat saudara-saudara lainnya masih berpuasa (Provokatif). Mungkin pula ada yang provokatif menyatakan haramnya puasa pada hari itu (Provokatif). Kondisi itu sungguh tidak nyaman bagi sebagian besar masyarakat (Provokatif). Hari raya bukan sekadar ibadah individu, tetapi terkait juga dengan aspek sosial yang berdampak luas.(masyarakat sudah dewasa dan bisa berfikir luas, hanya bapak saja yg mungkin sombong dan menganggap orang2 gak punya otak secerdas bapak). AKhir Kesimpulan Saya

Menurut saya bapak telah tertabiri oleh ilmu bapak sendiri, atau kemungkinan bapak telah disusupi oleh fihak2 yg tidak menginginkan ummat ini rukun, atau malah bapak menggunakan Agama untuk kepentingan duniawi semata. Segeralah Bapak bertaubat dan

memohon

ampun

kepada

Allah.

Mohon PetunjukNya ke jalan yg lurus, Ingatlah Azab Allah sangat Pedih Balas

Sjafruddin, on 4 September 2011 at 11:26 said: Cuma setan yang mempunyai sifat sombong…..bisa dalam jelmaan manusia. Padahal Allah berfirman ―Aku lebih mengetahui….‖, maka malaikat pun tunduk, kecuali setan dengan sikap sombongnya. Balas

 andi aladin, on 29 Agustus 2011 at 17:03 said: hisab dpake utk membantu prediksi posisi bulan. Rukyat dgunakn utk memastikn bulan. Saat kt merukyat tp bulan mungkn sdh ada atau dpastikn sdh ada menurt hisb tp tdk dpt drukyat krn terlindung awan mk menurut syar‘i kt harus cvkupkn bil buln 30 hari dan bukanx mengikuti hisab. Balas  omak, on 29 Agustus 2011 at 17:15 said: mau Selasa ke, Rebo ke, sama aja, emang gue pikirin, yang penting make baju ma kolor baru……gua juga ga tau gua orang Muhamadiyah apa Nu, yang penting gua ngikut bareng orang-orang sekampung gua aja…..he..he..he… Balas  m.nur, on 29 Agustus 2011 at 17:39 said:

tulisan yg bagus..jika masing2 ormas islam memiliki kriteria sendiri2 yg berbeda satu sama lain dlm menentukan masalah ini, maka akan semakin membuat rakyat awam semakin bingung dan terpecah belah. Menaati keputusan ulil amri (pemerintah) dlm masalah ini adalah salah satu solusi pemersatu umat. Jika mereka (pemerintah) benar smg mendapatkan pahalanya, dan jika salah maka kita sbg rakyat tidak menanggung dosanya dan smg Allah mengampuni mereka Balas  arie, on 29 Agustus 2011 at 17:41 said: harusnya bapak mempublikasikan tulisan ini jauh-jauh hari, bukan sekarang ketika masyarakat sudah bingung kapan 1 syawal, apalagi dikalender nasional sudah ditetapkan tgl 30 sebagai hari raya! Balas  andis, on 29 Agustus 2011 at 18:19 said: tulisan yang nggak penting…:) Balas  Ilham, on 29 Agustus 2011 at 18:27 said: wah iya nih. Bapak saya juga pengikut Muhammadiyah. nampaknya dia beranggapan waktu di Arab sama dengan waktu di Indonesia. tapi emang selisih waktunya berapa ya? atau apakah sekedar mengamalkan wujudul hilal seperti yang disebutin diatas? saya masih kurang ngerti dan nggak mau salah bicara. tapi dengan segala hormat saya masih pengen tahu bagaimana yang sebenarnya yang diyakini pengikut Muhammadiyah. terimakasih. Balas 

sugiyanto, on 29 Agustus 2011 at 18:33 said: Saya salah satu Warga Muhammadiyah berterimakasih atas masukan nya….., saya berharap kedepannya Bapak akan lebih bijak lagi dalam memaparkan masalah……. Minal aidzin walfaidzin….. Balas  manis mutaqien, on 29 Agustus 2011 at 18:59 said: Prof Djamaluddin, yg saya inin tanyakan apakah anda seorang yg beragama? Terimakasih Balas  Herwyn, on 29 Agustus 2011 at 20:56 said: Assalamu‘alaikum wr.wb.

Wah Idul Fitri ada yang berbeda hari lagi, apa mau samapai hari kiamat begini terus ? Sebenarnya definisi penanggalan Hijriah itu apa sih ? Setahu saya itu kalender yang dimulai pada jaman Nabi Muhammad Hijrah, tentu saja dimulainya di daerah Arab sana, tepatnya barangkali di Madinah. Tapi kenapa banyak yang melakukan mulai perhitungan di masingmasing daerah, misalnya di Jawa melihat hilal di pulau Jawa (seperti mulai kalender Jawa saja !).

Kalau mau disebut kalender Hijriah, saya pikir mestinya dimulainya dari Medinah sana. Begitu terlihat hilal di Medinah, maka dimulai hari pertama bulan baru Hijriah, sehingga seluruh duniapun menjadi tanggal 1 bulan baru Hijriah teserah waktu di lokasinya pagi siang atau malam. Bahkan seandainya kalau ada penduduk di bulan atau planet lain, itupun harus mengikuti tanggal 1 (namanya juga tahun Hijriah). Kalau sudah sepakat definisi kalender Hijriah seperti itu, kirim saja ahli rukyat ke Medinah sana. Jaman sekarang dunia sudah menjadi satu, informasi dari Arab Saudi sana bisa langsung sampai ke seluruh dunia.

Kalau jaman dulu sih, tentu saja rukyat di masing-masing lokasi dibutuhkan, karena info dari

Arab sana perlu waktu berbulan-bulan untuk menyebar ke seluruh dunia, keburu ganti hari bahkan bulan. Karena dimulainya bakda magrib, terserah tanggal masehinya berapa saja. Jaman sekarang dunia ini satu, kalender Masehi juga cuma satu, kalender Hijriah juga cuma satu, kalender Jawa juga satu. Kenapa umat Islam berbeda menentukan kalender Hijriah ? Mungkin karena Kalender Hijriah diperkosa dengan sistem lokal, seperti memulai kalender Jawa saja. Hanya Allah yang Maha Tahu.

Wassalamu‘alaikum wr wb. Balas

irfan ashari, on 30 Agustus 2011 at 06:13 said: ha..ha..ha..betul,betul,betul…kalo konsisten seharusnya madinah jadi patokan kalender hijriyah…skrg sudah global village,tinggal klik sdh bisa dpt info..islam adalah kaffatan linnas…. Balas

 Argres, on 29 Agustus 2011 at 20:56 said: Hooooih dimana tanggapan anda koq tdk muncul2 juga!!

Orang goblok akan terlihat sangat goblok manakala dia menggoblokkan orang lain. Astagfirullah! Rendah sekali anda

Kalau perlu merukyat rukyat dulu tradisi hindu pitung dinoan, 40 hari,100hari dst sebab hisabnya akan sangat berat di pengadilan akhir Balas

ibnu hibban...., on 30 Agustus 2011 at 00:31 said: anda ini memang cukup dengan tingkat kegoblokan kita berbakat saya nyaris jadi profokator… saja… sama…

kebetulan beliau tidak tertarik berkomunikasi dengan anda, mendingan anda berkomunikasi — kebetulan he,,he,… Balas

rendah hati, on 30 Agustus 2011 at 15:04 said: anda ini bahlul bin idiot…….muhammadiyah bahlul Balas

Yudha, on 30 Agustus 2011 at 16:16 said: Astagfirullah…jangan emosi Balas

 Iman, on 29 Agustus 2011 at 21:07 said: Assamu‘alaikum wr. wb.

Marilah semua organisasi islam untuk membuat kalender hijriyah yang sudah disepakati bersama dan sebarkan kepada seluruh umat muslim di indonesia supaya tidak menjadi perbedaan yang dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak senang dengan islam…..! Silahkan berasumsi, tetapi hati-hati media ini dapat menjadi baik dan menjadi buruk bila ada yang saling mencela antara umat islam. Lebih baik berkirim melalui email saja untuk hal-hal yang dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan, karena saya pun merasa risi dengan beberapa kalimat yang ada. Bukankah bulan Ramadhan adalah bulan yang suci, dimana kita harus digidik untuk dapat mengendalikan diri dari amarah yang dapat merusak pada diri kita dibulan berikutnya? Wassalamu‘alaikum wr. wb. Balas  hpijogja, on 29 Agustus 2011 at 21:15 said: Bukankah Muhammadiyah akan lebih tepat untuk ukuran negara sebasr Indonesia… kalau berdasarkan pengamantan mata.. akan tidak valid karena cuaca yang tidak sama.. karena ketinggian yang tidak sama.. dan yang paling penting karena persepsi penulis yang pro NU seandainya ia adalah MUHA tulisan di atas akan lain… betul tidak ? Balas  shoechardhiyehc, on 29 Agustus 2011 at 21:16 said: 1 Teori dibangun proyek dikenal Observation Yordania dianggap berdasar sywal jatuh Visibilitas oleh pengamatan sebagai Project pada valid. sekitar 700 Teori (ICOP) lebih data ini pada Hilal para hilal Islamic berpusat observasi hilal 30 agustus terbaru astronom global 2011. telah dalam yang Crescent di yang

menyatakan

bahwa dirukyat Matahari 7°) hasil mengindikasikan wilayah (Indonesia) dirukyat atas ketinggian bantu dan visibilitas visibilitas Indonesia ijtimak walaupu Dengan ISTIKMAL jatuh sejenisnya. yang dikenal

hilal jika sebagai jarak minimal ―Limit

hanya sudut 6,4° Danjon‖. Kurva teori bahwa sekitar

mungkin Bulan Visibilitas Hilal

bisa dan (sebelumnya sebagai tersebut untuk Katulistiwa

perhitungan

hilal menggunakan 6°. di mata Di atas penglihatan Melihat atas hilal mustahil sore dapat

baru telanjang minimal bawah 4°

mungkin pada itu diperlukan seperti ketinggian

dapat di

hingga alat teleskop menurut peta teori wilayah hari pertama terbenam teleskop.

lokasi

Indonesia sesuai

di

dengan seluruh

maka menyaksikan setelah menggunakan hilal

pada

Matahari

demikian sehingga pada: Rabu, awal 31

maka bulan Agustus

diberlakukan akan 2011.

Tolong pencerahannya. Balas  Aguza, on 29 Agustus 2011 at 21:17 said: Pada intinya tulisan ini prookatif dan dapat memecah belah umat…. tak hanya ditulisan ini saya kira tapi jga dari pencapat beliau tadi pada sidang penentuan 1 syawal dengan ormasormas hari ini. seorang Prof. seharusnya berpikir ilmiah apa pengaruh dari kata – katanya tersebut… apa mungkin si Profesor ini sangat embenci Muhamadiyah hingga berani bertindak provokatff seperti ini ???? Balas

 sugeng triono., on 29 Agustus 2011 at 21:19 said: Yang penting kita saling menghargai perbebedaan berkeyakinan Biar Allah yang menentukan mana yg salag dan mana yg benar. Balas  Phoenix, on 29 Agustus 2011 at 21:20 said: saya walaupun awam terhadap ilmu astronomi, tetap menganggap astonomi bisa diandalkan untuk mempersatukan umat mengenai komentar diatas yang bilang ―tahun 80an NU juga pernah beda2 kok‖ itu sudah dijelaskan oleh Prof Djamaluddin kalo NU sudah mengubah metodenya… mungkin saya tidak memihak yang Muhammadiyah tidak relevan atau NU…tapi pikir tendensi terlalu untuk naif…

mempertahankan

pendapat

saya

saya takut justru egosentris dasar manusia, narsistik timbul…berbeda itu lebih keren… ―menghormati perbedaan‖ sebenernya merupakan suatu tameng yang tidak boleh dipakai saat sesuatu bisa diputuskan dengan suatu kriteria yang tetap. Prof Djamaluddin mengatakan bakal dibuat suatu kalender hijriyah tetap…disini kan terlihat bahwa ―perbedaan‖ itu sebenernya bisa disatukan…bukan dengan mengedepankan ego narsistik dengan menggunakan tameng menghormati perbedaan… Prof Djamaluddin tidak memojokkan Muhammadiyah saya rasa, tapi mengkritisi cara nya saja…dan cara itu bisa disamakan persepsinya… Semoga kita dilindungi dari sikap merasa benar sendiri, dan terbuka terhadap kritik ilmiah.. mungkin banyak yang mengatakan bahwa prof Djamaluddin ―ngomong gini karena sok pinter, diatas langit masih ada langit‖ itu komentar yang ga relevan…karena keilmuan yang sudah diputuskan pemerintah pasti didasarkan pada pembuktian ilmiah, tahapan pertanggungjawaban ilmiah, dan lain2 sehingga valid…jadi seandainya Prof Djamaluddin nganggep dirinya ―benar‖, berarti seluruh orang yang terlibat dalam proses penyusunan ―kebenaran‖ itu juga akan berkata demikian…

My point is…Prof Djamaluddin ga bener sendirian, yang lain juga ngomong gitu… kritik klise ―diatas langit masih ada langit ―bisa juga disampaikan kepada ahli falaq muhammadiyah…bukan berarti kritik itu tidak berlaku dipakai apabila suatu pihak ―menghormati relevan juga ditempatkan…. Balas pihak lain‖ jadi saat suatu oknum ―kita berbeda, tapi kita menghormati pihak lain‖, kritik klise tersebut

jordan, on 29 Agustus 2011 at 22:24 said: mungkin kita perlu putar ulang pernyataan propesor ini di sidang isbat yang begitu sarkastik ( menurut saya ) tentang opini nya pada metode hisab muhammadiyah sementara jawaban dari pihak muhammadiyah begitu santun dan mencerminkan akhlaqul karimah ( menurut saya lagi yang bukan propesor ) Balas

Aminuddin Karwita, on 29 Agustus 2011 at 23:38 said: Bila pihak-pihak yang berbeda masing-masing mempertahankan prinsipnya, dan resiko dari perbedaan itu SUDAH BISA DIPREDIKSI untuk beberapa tahun ke depan :

- Mengapa hari ini repot-repot mempermasalahkan harus ada pihak yang mau merubah prinsipnya untuk keseragaman ?

- Mengapa tidak memikirkan sosialisasi resiko yang akan terjadi beberapa tahun ke depan itu kepada masyarakat, agar mereka tidak kaget lagi ??

- Bukankah perbedaan seperti tahun ini pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, dan belum Mengapa pernah terjadi keretakan ada ukhuwwah karenanya sbb ? :

harus

kelucuan-kelucuan

> BHR menugaskan tidak kurang dari 100 orang perukyat, padahal BHR sudah tahu

bahwa mereka tidak akan bisa melaksanakan tugasnya ―berhasil merukyat hilal‖ karena posisi hilal memang invisible berdasarkan hisab, kalaupun ada yang berhasil pasti ditolak.

> Dua hari tanggal merah libur Iedul Fitri di kalender (yang katanya SKB 3 menteri itu) ternyata tanggal 30 Ramadlan 1432 dan 1 Syawwal 1432, bukannya tanggal 1-2 syawal 1432.

> Mengumumkan hasil hisab jauh-jauh hari kepada masyarakat dianggap ―meresahkan‖. Padahal itulah bedanya hisab dari rukyat. (memberi kesaksian dengan kemampuan akal-pikiran versus memberi kesaksian dengan kemampuan mata-kepala — ―faman syahida minkumus syahro‖) Balas

 andre muslim, on 29 Agustus 2011 at 21:22 said: tadi di televisi saya juga menyaksikan bagaimana perdebatan penentuan 1 syawal terjadi…..sebagian besar tidak melihat hilal…karena secara hisab juga ketinggian hilal dibawah 2 derajat….tapi ternyata ada yang melihat hilal yaitu dicakung jakarta dan jepara…dicakung ada 3 ustad yang sudah disumpah oleh pimpinan NU setempat menyatakan melihat hilal dengan ketinggian 3,5 derajat sd 4 derajat…tapi oleh ketua MUI berdasarkan acuan beberapa hadis katanya itu diabaikan…..saya juga merekam data kalau yang di cakung rata rata berusia muda dibawah 30 tahun sedangkan yang 30 orang dri 30 tempat berbeda usianya rata rata 50 tahunan..bila secara logika yang usia muda pasti penglihatannya lebih baik dari yang tua…saya juga bingung kenapa yang melihat hilal tadi diabaikan…..daripada pusing yahhh..saya dan keluarga tetap ber idul fitri besok…karena banyak hal yang membingungkan disini…prinsip saya bulan sdh nampak meski ada yang bilang dibawah 2 derajat dan juga ada yang sudah melihat meski diabaikan….ALLAH maha besar…semoga yang salah mendapatkan ampunan dari ALLAh SWT…aminnn… Balas  Indahnya penentuan awal lebaran (1 syawal) kecuali ini orang (prof. Thomas j)ckck | kaskusus, on 29 Agustus 2011 at 21:34 said:

[...] http://tdjamaluddin.wordpress.com/20…-tajdid-hisab/ [...] Balas  fatwa2009, on 29 Agustus 2011 at 21:37 said: Assalamu‘alaikum Pak Tomas, kenapa kok sangat provokatif dan arogan. Padahal sebagai pakar mestinya bapak bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat bukan memprovokasi. Lebih dari itu, saya bisa menghargai pendapat bapak tentang astronomi karena itu kepakaran bapak. Akan tetapi dalam ilmu Syari‘ah, bapak bukan pakar. Oleh karena itu,bapak tidak berkompeten dalam masalah itu. Argumen Muhammadiyah menggunakan hisab wujudul hilal semakin diperkuat hasil penelitian disertasi di UIN Jakarta ttg hadis-hadis ttg penetapan awal Ramaadan . Setelah dilakukan takhrij, ternyata hadis ―faqdurulah‖ (hadis Ibn Umar) sebagai landasan hisab Muhammadiyah lebih kuat (rajih) dari pada hadis-hadis tentang istikmal (hadis Abu Hurairah) yang dijadikan rujukan ormas lain. Ini hasil kajian ilmiah dalam ulumul Hadis yang bukan kepakaran bapak.Apakah bapak akan menolak hasil penelitian tersebut dengan dasar Astronomi ? Kalau ini yang terjadi, tidak nyambung pak ? Oleh karena itu, akan lebih arif apabila bapak membatasi diri dalam kepakaran bapak di bidang astronomi. Semoga, tanggapan saya ini dapat dipertimbangkan. Mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang Wassalam, Sopa Balas berkenan.

tdjamaluddin, on 2 September 2011 at 23:52 said: Pak Sopa, saya sudah berdiskusi dengan teman-teman Muhammadiyah lebih dari 10 tahun. Tahun 2003 pun saya diundang ke Munas Tarjih di Padang khusus untuk mengkritik wujudul hilal. Saat ini saya hanya mengungkapkan secara lebih lugas agar publik tahu bahwa perbedaan Idul Fitri yang terjadi berulang-ulang disebabkan karena

Muhammadiyah masih menggunakan kriteria usang. Masalah kriteria adalah domainnya astronomi, bukan fikih. Masalah fikih saya singgung juga karena dalil QS 36:40 terlalu dipaksakan. Bukan masaah hisabnya, karena bagi saya hisab dan rukyat setara. Saya berbicara pada kompetensi saya di bidang astronomi, yaitu soal kriteria wujudul hilal, bukan soal dalil hisab yang sudah saya yakini benarnya. Silakan baca lebih seksama tulisan saya. Saya khawatir Muhammadiyah kebanyakan ahli ―fikih hisab‖ untuk memperkuat posisinya, tetapi kekurangan ahli hisab karena sudah puas dengan hisab wujudul hilal yang sudah usang. Maaf, atas kelugasan saya yang bersifat provokatif bagi Muhammadiyah yang saya maksudkan agar Muhammadiyah terbangun dari kejumudan hisabnya. Saya mengenal hanya 3 ahli hisab Muhammadiyah (Pak Oman, Pak Susiknan, dan Pak Sriyatin), tetapi saya mengenal lebih banyak ahli fikih hisabnya yang siap berdebat soal dalil hisab. Balas

o

Prov Kamaluddin, on 3 September 2011 at 10:13 said: Prov (=Provokator, bukan Prof), menurut saya kalau sudah kutip kutip ayat alquran itu ya masalah agama. Mana ada ilmu astronomi pakai dalil alquran. Begitu kok masih ngeles saja. Kalau anda ngomong hisab saja atau posisi kritis hilal saja, atau probabilitas visibilitas hilal, mungkin itu benar soal astronomi, tapi kalau sdh dikaitkan dengan soal ―kelayakan‖ atau ―pilihan cara‖ ber ibadah, itu ya sudah masuk wilayah agama. Sama dengan kalau kita cuma bicara soal ―laser‖ itu ya otoritasnya ahli fisika/laser, Tapi kalau sudah dikaitkan dengan aplikasinya misalnya boleh tidak laser untuk sunat karena jaman nabi belum ada laser, ini jelas sudah masuk wilayah agama. Dan mestinya anda juga begitu.

Lebih dari itu, sebenarnya menurut saya anda SANGAT tidak layak untuk ikut mengkritisi muhammadiyah bukan karena modal agama anda yg minim, tapi lebih karena kepicikan dan sempitnya pikiran anda. Saya jadi makin bisa membaca ―internal map‖ dalam diri anda. Sepertinya anda punya masa lalu yg kuper, MERASA rendah diri dan MERASA

dilecehkan oleh komunitas tertentu (kelompok muhammadiyah?) sehingga terus hati anda dirasuki dendam, iri, dan dengki yg tiada habis-habisnya yg mengakibatkan tindakan anda sekarang jadi ngawur, subyektif dan tidak rasional. Saran untuk anda: Sadar Prov!! Jadikan puasa kemarin sebagai tempat belajar anda untuk menjadi Prof yg sebenarnya!!!

 Arfiyah Citra Eka Dewi, on 29 Agustus 2011 at 21:37 said: terimakasih banyak atas penjelasannya Balas  New Moon « Jalan dan Pikiranku, on 29 Agustus 2011 at 21:54 said: [...] Catatan: 1. H.R. Bukhari no. 1900. 2. Sumber: Blog Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN dan anggota badan hisab rukyat, Kementerian Agama RI. [...] Balas  qibthova, on 29 Agustus 2011 at 21:59 said: apakah sistem falak yang digunakan Muhammadiyah bersifat global ? jika kita ingin bersama, maka begitu mudah bagi jiwa untuk bisa bergembira ria, dan jika dengan keyakinan dan tawadlu‘, mengakui kebenaran dari mana datangnya, mengapa sulit untuk merobah diri ? Balas  rege, on 29 Agustus 2011 at 22:11 said: Ini orang cuma gelarnya saja yang profesor, tapi isi kepalanya kosong! ga malu apa sama negara-negara tetangga, Malaysia saja yang udah lebih canggih dari indonesia, menetapkan 1 Syawalnya tanggal 30,

ini sama saja menghina ilmuwan2 astronomi dan astrofisikawan Islam zaman dulu, maklumlah.. Thomas ini kan orang pemerintah, berarti imamnya adalah pemerintah, pemerintah dijadiin patokan, ngurusin si Udin aja ga becus, apalagi ngurusin umat? huft… dia sendiri orang LAPAN, mana pernah dia makan uang halal 100%, pasti ada duit2 KKNnya, wkwk… sok-sokan menyalahkan ormas lain lagi, Balas

mustofa, on 30 Agustus 2011 at 00:41 said: mas REGE,, kok jadi bahas KKN? ada bukti??

memangnya mas REGE makan uang halal 100%? tolong dijawab, agar tidak jadi komentar sampah… terimakasih Balas

 wyd, on 29 Agustus 2011 at 22:15 said: sayangnya waktu sidang isbath yg ditayangkan tv ,bapak menggunakan kata2 yang mengeruhkan suasana. buat saya yg tidak menjadi anggota ormas manapun, hal tersebut menurunkan rasa simpati pada pemikiran bapak yg boleh jadi benar. Balas  sarung tenun, on 29 Agustus 2011 at 22:17 said: penulis dalam merendahkan kebetulan saya sudah rancu dengan kebenaran dan bukan memandang sudah menjelekkan NU dan bukan negatif tidak pihak lagi pihak tertentu. objektif. lain. Muhammadiyah.

benaknya

walau sebenarnya ada kebenaran di dalam tulisan ini, tetapi sisi negatif memandang rendah

pihak

lain

adalah

negetifitas,

semacam

teror

kepada

pihak

lain.

hal semacam ini yang mesti dibersihkan di tengah kegelisahan. salam. Balas  jordan, on 29 Agustus 2011 at 22:22 said: ternyata berdasarkan hasil rukyat dan hisab di malaysia lebarannya selasa prof, saya baca di internet di arab saudi juga selasa prof, trus di berita kompas dotcom ada orang jepang yang menulis lebaran di jepang juga besok selasa prof, kan jepang dan indonesia selisihnya cuman 2 jam, sementara malaysia malah nggak ada selisih nya, mungkin ilmu propesor bisa menjelaskan knapa ipin upin bisa lebaran bareng ama metode kuno model muhammadiyah, juga orang jepang en arab saudi Balas  syahrul, on 29 Agustus 2011 at 22:27 said: Prof, Saya Syahrul, mahasiswa UNAIR..saya sudah membaca artikel anda…saya UMI (tidak mengerti) tentang hisab, tapi saya tertarik untuk belajar..agar tidak hanya ikut2an tapi paham…Tolong di bagi ilmunya ya prof… mohon penjelasan tentang ayat ―berpuasalah ketika melihat hilal‖ apakah yang dimaksud disini jika hilal itu sudah muncul walaupun tidak teramati oleh mata (karena faktor cuaca, dll) kita sudah bisa mulai puasa atau lebaran Prof? di artikel dikatakan ada kriteria imkanur rukyat (menghitung kemungkinan hilal teramati) ada kriteria Wujudul Hilal (hilal wujud di ufuk.. tapi saya tidak paham apakah wujud itu maksudnya tampak?).. Profesor menganjurkan menggunakan imkanur rukyat, yang saya masih bingung bagaimana jika menurut hisab Pada hari itu Hilal kemungkinan sudah muncul, tapi menurut hisab pula Pada hari itu Hilal kemungkinan belum bisa teramati dan baru bisa di amati besok… apakah 1 syawal dimulai pada hari itu atau besoknya prof ?? mohon penjelasannya…terima kasih sebelumnya…

Balas  suk2011, on 29 Agustus 2011 at 22:27 said: Assalamualaikum… Saya artikel ini orang sangat menarik yang terlepas awam pro dan . kontra.

artikel dan semua komentar di blog ini menambah wawasan ,membuat pikiran saya terus berpikir Pak Thomas ada ga dan gambar hilal tiap bertanya. derjatnya?

terima kasih Balas  juraganindoor, on 29 Agustus 2011 at 22:28 said: Pertanyaan tambahan untuk Prof (pertanyaan senada di komen posting lain, tapi tidak ada jawaban dari Prof)

- dengan teknologi yang tersedia saat ini, hilal kurang 2 derajat tidak mungkin teramati, meskipun sudah positif diatas ufuk! zaman Nabi SAW, hilal teramati jauh lebih tinggi karena hanya dengan mata telanjang. Artinya, kemajuan teknologi memungkinkan kita mengamati hilal pada posisi lebih rendah. APAKAH TIDAK MUNGKIN, KE DEPAN, TEKNOLOGI YANG ADA MEMUNGKINKAN KITA MENGAMATI HILAL POSITIF DIATAS UFUK (KURANG 2 DERAJAT)? bila hal itu mungkin, sama saja dengan membatasi visibilitas hilal saat ini pada kelemahan teknologi yang sudah dicapai manusia! lho kok bisa??? jadi, dimana letak maaf bila salah memaknai, mohon pencerahan secara ilmiah!! Balas  AXL, on 29 Agustus 2011 at 22:32 said: kepakaran???

Dari semua peserta sidang itsbat 2011 semuanya menyampaikan pendapat berdasarkan pemahaman terhadap hadits dan Alqur‘an. Dan gak da yang berani menyalahkan pemahaman kelompok lain terhadap hadits dan Al Quran kecuali si profesor yang ngomong ayat di surah Yassin aja gak becus. Jadi justru dia ini yang provokator dan mau membesar2kan perbedaan di kalangan masyarakat Balas  adi, on 29 Agustus 2011 at 22:33 said: Prof 1. seberapa maaf kuat hujjah 2 mau derajat untuk tanya; hilal?

2. sudahkah ilmu pengetahuan modern menjelaskan posisi standar derajat hilal? 3. apakah relevansi astronomi saat ini setara dengan maqosid syar‘i? terima kasih atas jawabannya Balas  awam, on 29 Agustus 2011 at 22:40 said: yang jadi masalah knapa jauh hari sebelumnya tidak di ingatkan ke pemerintah kalau hilal yang terjadi pada tanggal 29 agustus hanya kurang dari 2 derajat padahal sdh dpt di prediksi sebelum tanggal 29 agustus. dan itu dikatakan belum cukup,Prof juga sdh mengetahui tapi tdk di ingatkan ke pemerintah,sehingga yang terjadi bingung,ibu2 yang sdh masak hidangn untuk idul fitri terpaksa harus di panaskan kembali…hahaha Balas  fenny_qoe, on 29 Agustus 2011 at 22:40 said: Penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Soal penetapan Idul Fitri besok

http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-392-detail-penjelasan-majelis-tarjih-dan-tajdid-ppmuhammadiyah-soal-penetapan-idul-fitri-besok.html Balas  » Pemerintah Menetapkan 1 Syawal 1432H Jatuh Pada 31 Agustus 2011

JasaSite.com, on 29 Agustus 2011 at 22:46 said: [...] http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-

hilal-metode-lama-yang... [...] Balas  fenny_qoe, on 29 Agustus 2011 at 22:59 said: dan sekali lagi mohon dibaca lebih dahulu,,

jangan menjadikan isalm terpecah belah hanya mengedepankan EGO suatu kaum http://www.tribunnews.com/2011/08/29/penentuan-lebaran-harus-berkiblat-pada-arab-saudi Balas  octaviayuni, on 29 Agustus 2011 at 23:01 said: Terima kasih bapak prof atas tulisan anda . Saya jadi terpacu untuk mendalami ilmu tsb . Tetapi, saya kurang setuju dengan tulisan anda yang terkesan memojokkan muhammadiyah . saya yakin semua ormas punya pedoman masing-masing . Maaf sebelumnya prof. Saya tau anda mungkin mengganggap diri anda adalah ahli dalam bidang ini . Tatapi apakah pantas anda seolah menyalahkan muhammadiyah yang menjadi sumber masalah utama perbedaan hari raya ini ? Karena setau saya hari ini pun ada sekelompok masyarakat (saya lupa namanya) yang sudah melaksanakan shalat id . Bagaimana itu prof ?

Terima kasih . Balas 

muki, on 29 Agustus 2011 at 23:04 said: tepatnya bukan muhammadiyah tapi mukamadiyah… Balas

Ahmad Zuhdi, on 29 Agustus 2011 at 23:52 said: Sebenarnya pokok persoalannya bukan disitu, tapi verifikasi hasil PERKIRAAN hisab (dengan berbagai formula dan pendekatan) dengan KEJADIAN AKTUAL (sebenarnya). Metode hisab apapun memuat galat (error) yg dpt diketahui setelah melihat yg sebenarnya. Rasulullah shollalohu ‗alaihi wa sallam sudah sangat tepat, menetapkan melakukan ru‘yat pada tanggal 29 Sya‘ban atau 29 Ramadhan ―Berpuasalah kamu ketika melihat bulan (hilal) dan berlebaranlah kamu karena melihat bulan,dan jika tidak dapat melihat maka genapkanlah hitunganmu menjadi 30″. Jadi solusi hisab harus diposisikan sebagai putusan tentatif (sementara),yang harus diuji dengan melakukan obeservasi langsung. Mustinya dengan teknologi inderaja dan astronomi serta pengolahan citra dan video, akan lebih memudahkan kita,untuk mengumpulkan data, mengolah data,menganalisis dan menyimpulkannya. Data yang dikaji adalah video capture saat-saat terakhir terbenamnya matahari (sunset). Dan pengamatan dilakukan di beberapa titik pemantauan di seluruh negeri, agar peluang untuk menemukan hilal dapat dimaksimalkan. Kita dapat memanfaatkan jaringan dan infrastruktur teknologi informasi dan media, shg masyarakat dengan mudah dapat mengaksesnya secara obyektif dan transparan. Saya heran saja, 1300 tahun lebih pemerintah dan masyarakat Islam dapat mempraktekan sabda Rasulullah tsb dan bersepakat, meskipun dengan cara sangat sederhana dan bersahaja (metode hisab klasik dan dibuktikan dengan pandangan mata telanjang). Sekarang, dengan teknologi (teleskop, kamera, inderaja, IT, dsb) yang sangat Ingat, ilmu memudahkan, dan teknologi itu kok untuk menjadi memudahkan ruwet ???

(menyederhanakan)

pekerjaan/masalah yang rumit, bukan sebaliknya. Ingat juga bahwa dengan

keterbukaan informasi dan pengetahuan, maka masyarakat menjadi semakin kritis dan menuntut transparansi dan rasionalitas. Terakhir, saya menangkap sepertinya ada pandangan yang melecehkan terhadap upaya tulus sebagian ummat Islam yang ingin mengamalkan sunnah Nabi, dengan ru‘yatu hilal. Sepertinya mereka dianggap masyarakat yg terbelakang (krn tdk percaya dan mengikuti perkembangan metode hisab). Wallahu a‘lam. Balas

Ahmad, on 30 Agustus 2011 at 19:52 said: tulisan pelecehan anda ini akan tercatat lauhul mahfuz…mau ditarik ? atau gak ditarik ? Balas

 nunu, on 29 Agustus 2011 at 23:05 said: saya warga nahdiyin, tapi saya tidak setuju dengan tulisan anda yang provokatif ini, benarbenar tidak mencerminkan kualitas seorang profesor.. maaf. lebih baik tidak usah menulis daripada tulisan seperti ini di posting, saya yakin anda sedang berbahagia karena respond yang luar biasa tulisan anda. dan saya juga yakin, anda bukan negarawan yang baik, ataupun bukan seorang nahdiyin yang baik Balas  priyantono, on 29 Agustus 2011 at 23:07 said:

Sy orang yg awam mengenai ilmu agama, terlebih lagi ilmu falaq ini. Dan sy bukanlah pengikut NU maupun Muhammadiyah. Oleh karena itu sy hanya mau mengomentari masalah etika komunikasi dalam berdiskusi atau menyampaikan pendapat. Begini, pernyataan dan komentar prof thomas yg menganggap org lain kerdil, dangkal n keras kepala menrut sy malahan mencerminkan pribadi prof sendiri . Menurut sy etika dalam berdiskusi hrslah saling menghargai n tidak merasa paling pintar/tahu sendiri. Setahu sy cendikiawan muhammadiyah sudah terkenal sejak dahulu ttg intelegensia n modernitasnya. Kalau sy secara pribadi akan sgt berhati2 dalam melontarkan statement bhw org lain adalah kerdil, dangkal dan keras kepala dalam pemikiran, terlebih kepada organisasi se‖canggih‖ muhammadiyah. Kalau memang pendapat prof yg benar gak ada masalah, tetapi kalau ternyata di kemudian hari atau di akhirat nanti ternyata salah, bagaimana pertanggung jawabannya??? Sementara prof telah mendiskreditkan kelompok tertentu yg berisi jutaan orang.

Menurut sy, kata2 yg prof lontarkan sangat tidak bijak, marilah kt belajar menghargai pendapat org lain dan lebih santun dalam menyampaikan pendapat, itu saja..sy pikir prof lebih tahu akan hal itu, terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamualaikim Wr. Wb. Balas

kay, on 30 Agustus 2011 at 01:28 said: yang jelas tanggung jawab pemerintah .. kan prof thomas hanya mengusulkan .. jadi dosa yg nanggung pemerintah lah .. tenang aja prof .. sampeyan aman dari dosa kok .. Balas

o

Prov Kamaluddin, on 3 September 2011 at 11:31 said: Iya nggak dosa tapi pikirannya dangkal, kerdil, arogan, tidak beretika, keras kepala dan hobi memaksakan kehendak.

 jordan, on 29 Agustus 2011 at 23:10 said: http://ramadhan.kompas.com/read/2011/08/29/21220098/Lebaran.di.Malaysia.pada.Hari.Sela sa.30.Agustus Balas  Herwyn Juwono, on 29 Agustus 2011 at 23:10 said: Assalamu‘alaikum wr.wb.

Wah Idul Fitri ada yang berbeda hari lagi, apa mau samapai hari kiamat begini terus ? Sebenarnya definisi penanggalan Hijriah itu apa sih ? Setahu saya itu kalender yang dimulai pada jaman Nabi Muhammad Hijrah, tentu saja dimulainya di daerah Arab sana, tepatnya barangkali di Madinah. Tapi kenapa banyak yang melakukan mulai perhitungan di masingmasing daerah, misalnya di Jawa melihat hilal di pulau Jawa (seperti mulai kalender Jawa saja !).

Kalau mau disebut kalender Hijriah, saya pikir mestinya dimulainya dari Medinah sana. Begitu terlihat hilal di Medinah, maka dimulai hari pertama bulan baru Hijriah, sehingga seluruh duniapun menjadi tanggal 1 bulan baru Hijriah teserah waktu di lokasinya pagi siang atau malam. Bahkan seandainya kalau ada penduduk di bulan atau planet lain, itupun harus mengikuti tanggal 1 (namanya juga tahun Hijriah). Kalau sudah sepakat definisi kalender Hijriah seperti itu, kirim saja ahli rukyat ke Medinah sana. Jaman sekarang dunia sudah menjadi satu, informasi dari Arab Saudi sana bisa langsung sampai ke seluruh dunia.

Kalau jaman dulu sih, tentu saja rukyat di masing-masing lokasi dibutuhkan, karena info dari Arab sana perlu waktu berbulan-bulan untuk menyebar ke seluruh dunia, keburu ganti hari bahkan bulan. Karena dimulainya bakda magrib, terserah tanggal masehinya berapa saja.

Jaman sekarang dunia ini satu, kalender Masehi juga cuma satu, kalender Hijriah juga cuma satu, kalender Jawa juga satu. Kenapa umat Isalam berbeda menentukan kalender Hijriah. Mungkin Kalender Hijriah diperkosa dengan sistem lokal, seperti memulai kalender Jawa. Hanya Allah yang Maha Tahu. Wassalamu‘alaikum. Balas  yusron, on 29 Agustus 2011 at 23:16 said: ingin memberi argumen dan wawasan : (copy dari blog anggota Muhammadiyah) ―mengapa Muhammadiyah menggunakan metode hisab (wujudul hilal)‖ Salah satu saat Muhammadiyah ‗naik‘ di media massa adalah ketika menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Pasalnya, Muhammadiyah yang memakai metode hisab terkenal selalu mendahului pemerintah yang memakai metode rukyat dalam menentukan masuknya bulan Qamariah. Hal ini menyebabkan ada kemungkinan 1 Ramadhan dan 1 Syawal versi Muhammadiyah berbeda dengan pemerintah. Dan hal ini pula yang menyebabkan Muhammadiyah banyak menerima kritik, mulai dari tidak patuh pada pemerintah, tidak menjaga ukhuwah Islamiyah, hingga tidak mengikuti Rasullullah Saw yang jelas memakai rukyat al-hilal. Bahkan dari dalam kalangan Muhammadiyah sendiri ada yang belum bisa menerima penggunaan metode hisab ini. Umumnya, mereka yang tidak dapat menerima hisab karena berpegang pada salah satu hadits yaitu ―Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan bebukalah (idul fitri) karena melihat hilal pula. Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka genapkanlah bilangan bulan Sya‘ban tigapuluh hari‖ (HR Al Bukhari dan Muslim). Hadits tersebut (dan juga contoh Rasulullah Saw) sangat jelas memerintahkan penggunaan rukyat, hal itulah yang mendasari adanya pandangan bahwa metode hisab adalah suatu bid‘ah yang tidak punya referensi pada Rasulullah Saw. Lalu, mengapa Muhammadiyah bersikukuh memakai metode hisab? Berikut adalah alasan-alasan yang diringkaskan dari makalah Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. yang disampaikan dalam pengajian Ramadhan 1431.H PP Muhammadiyah di Kampus Terpadu UMY.

Hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab wujud al hilal, yaitu metode menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa bulan Qamariah baru dimulai apabila telah terpenuhi tiga parameter: telah terjadi konjungsi atau ijtimak, ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam bulan berada di atas ufuk. Sedangkan argumen mengapa Muhammadiyah memilih metode hisab, bukan rukyat, adalah sebagai berikut. Pertama, semangat Al Qur‘an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat ―Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan‖ (QS 55:5). Ayat ini bukan sekedar

menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Kedua, jika spirit Qur‘an adalah hisab mengapa Rasulullah Saw menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa AzZarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah berilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim,―Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadangkadang tiga puluh hari‖. Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qaradawi menyebut bahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab. Ketiga, dengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr.Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.

Keempat, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat. Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajad dan di bawah lintang selatan 60 derajad adalah kawasan tidak normal, di mana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang pada musim panas melabihi 24jam dan malam pada musim dingin melebihi 24 jam. Kelima, jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya. Memang, ulama zaman tengah menyatakan bahwa apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis, di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat jelas pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan. Keenam, rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi di Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau. Argumen-argumen di atas menunjukkan bahwa rukyat tidak dapat memberikan suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif. Dan karena itu tidak dapat menata waktu pelaksanaan ibadah umat Islam secara selaras diseluruh dunia. Itulah mengapa dalam upaya melakukan pengorganisasian system waktu Islam di dunia internasional sekarang muncul seruan agar kita menggunakan hisab dan tidak lagi menggunakan rukyat. Temu pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam (Ijtima‘ al Khubara‘ as Sani li Dirasat Wad at Taqwimal Islami) tahun 2008 di Maroko dalam kesimpulan dan rekomendasi (at Taqrir al

Khittami wa at Tausyiyah) menyebutkan: ―Masalah penggunaan hisab: para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan Qamariahdi kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu (Disalin sesuai dengan aslinya oleh PD IPM Kabupaten Magelang shalat‖. dari:

http://immugm.web.id ). Balas

Bambang Suryanggono, on 30 Agustus 2011 at 07:26 said: Rasulullah SAW bersabda: ―Berpuasalah kamu karena melihat hilal (bulan) dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal) 30 hari.― Berdasarkan hadits tersebut Nahdhatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam berhaluan ahlussunnah wal jamaah (ASWAJA) yang berketetapan mencontoh sunah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi‘i, dan Hambali) dalam hal penentuan awal bulan Hijriyah wajib menggunakan rukyatul hilal bil fi‘li, yaitu dengan melihat bulan secara langsung. Hukum melakukan rukyatul hilal adalah fardlu kifayah dalam pengertian harus ada umat Islam yang melakukannya; jika tidak maka umat Islam seluruhnya berdosa.

Bila tertutup awan atau menurut Hisab hilal masih di bawah ufuk, warga nahdliyyin tetap merukyat untuk kemudian mengambil keputusan dengan menggenapkan (istikmal) bulan berjalan menjadi 30 hari. Hisab bagi NU hanya sebagai alat bantu, bukan sebagai penentu masuknya awal bulan qamariyah. Sementara hisab juga tetap digunakan, namun hanya sebagai alat bantu dan bukan penentu awal bulan Hijriyah. Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut: (1)-Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang daripada 2° dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang daripada 3°. Atau (2)Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas

ijtimak/konjungsi

berlaku.

Ketentuan ini berdasarkan Taqwim Standard Empat Negara Asean, yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS)

Sementara itu organisasi Islam Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis) juga mengakui Rukyat sebagai awal penentu awal bulan Hijriyah. Namun, Muhammadiyah mulai tahun 1969 tidak lagi melakukan Rukyat dan memilih menggunakan Hisab. Muhammadiyah berpendapat rukyatul hilal atau melihat hilal secara langsung adalah pekerjaan yang sangat sulit sementara Islam adalah agama yang tidak berpandangan sempit, maka hisab dapat digunakan sebagai penentu awal bulan Hijriyah. Hisab yang dikemukakan oleh Muhammadiyah bukan untuk menentukan atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak, sebagaimana dilakukan NU, akan tetapi dijadikan dasar penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus jadi bukti bahwa bulan baru sudah masuk atau belum. Pasca 2002 Persatuan Islam (Persis) mengikuti langkah Muhammadiyah menggunakan Kriteria Wujudul Hilal.

Sebagian muslim di Indonesia lewat organisasi-organisasi tertentu yang mengambil jalan pintas merujuk kepada negara Arab Saudi atau terlihatnya hilal di negara lain dalam penentuan awal bulan Hijriyah termasuk penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Cara ini dinamakan Rukyat Global. Balas

 Ahmad Zuhdi, on 29 Agustus 2011 at 23:23 said: Sebenarnya pokok persoalannya bukan disitu, tapi verifikasi hasil PERKIRAAN hisab (dengan berbagai formula dan pendekatan) dengan KEJADIAN AKTUAL (sebenarnya). Metode hisab apapun memuat galat (error) yg dpt diketahui setelah melihat yg sebenarnya. Rasulullah shollalohu ‗alaihi wa sallam sudah sangat tepat, menetapkan melakukan ru‘yat pada tanggal 29 Sya‘ban atau 29 Ramadhan ―Berpuasalah kamu ketika melihat bulan (hilal) dan berlebaranlah kamu karena melihat bulan,dan jika tidak dapat melihat maka genapkanlah hitunganmu menjadi 30″.

Jadi solusi hisab harus diposisikan sebagai putusan tentatif (sementara),yang harus diuji dengan melakukan obeservasi langsung. Mustinya dengan teknologi inderaja dan astronomi

serta pengolahan citra dan video, akan lebih memudahkan kita,untuk mengumpulkan data, mengolah data,menganalisis dan menyimpulkannya. Data yang dikaji adalah video capture saat-saat terakhir terbenamnya matahari (sunset). Dan pengamatan dilakukan di beberapa titik pemantauan di seluruh negeri, agar peluang untuk menemukan hilal dapat dimaksimalkan. Kita dapat memanfaatkan jaringan dan infrastruktur teknologi informasi dan media, shg masyarakat dengan mudah dapat mengaksesnya secara obyektif dan transparan. Saya heran saja, 1300 tahun lebih pemerintah dan masyarakat Islam dapat mempraktekan sabda Rasulullah tsb dan bersepakat, meskipun dengan cara sangat sederhana dan bersahaja (metode hisab klasik dan dibuktikan dengan pandangan mata telanjang). Sekarang, dengan teknologi (teleskop, kamera, inderaja, IT, dsb) yang sangat memudahkan, kok menjadi ruwet ??? Ingat, ilmu dan teknologi itu untuk memudahkan (menyederhanakan) pekerjaan/masalah yang rumit, bukan sebaliknya. Ingat juga bahwa dengan keterbukaan informasi dan pengetahuan, maka masyarakat menjadi semakin kritis dan menuntut transparansi dan rasionalitas. Terakhir, saya menangkap sepertinya ada pandangan yang melecehkan terhadap upaya tulus sebagian ummat Islam yang ingin mengamalkan sunnah Nabi, dengan ru‘yatu hilal. Sepertinya mereka dianggap masyarakat yg terbelakang (krn tdk percaya dan mengikuti perkembangan metode hisab). Wallahu a‘lam. Balas

alimin, on 30 Agustus 2011 at 23:33 said: …………..Berpuasalah kamu ketika melihat bulan (hilal) dan berlebaranlah kamu karena melihat bulan,dan jika tidak dapat melihat maka genapkanlah hitunganmu menjadi 30 tapi boleh ngak tambah lagi puasanya sampai hari kamis.?soalnya sy mulai puasanya setelah 2 harinya bulan puasa…biar cukup sih…30 hari…

Balas

 Disalahkan: Takdir Sejarah Muhammadiyah « LaPSI, Lembaga Pengembangan Sumberdaya Insani, on 29 Agustus 2011 at 23:33 said: [...] Purwanto Sejak kemarin saya diminta seorang sahabat untuk membaca tulisan Prof Thomas Jamaluddin (http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-

terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang...) tentang pandangan beliau atas hisab Muhammadiyah. Karena saya di kampung agak jauh dari akses [...] Balas  agung, on 29 Agustus 2011 at 23:33 said: wah, prof Thomas Djamaluddin yang pinter ini sekarang namanya naik hitnya… pasti besok dipromosikan jadi menteri agama dech… atau paling tidak jadi dirjend urusan penentuan ramadhan dan syawwal.. selamat ya prof…. Balas

syekhieran, on 30 Agustus 2011 at 01:50 said: Disarankan kepada Prof kalau mau sholat jangan lupa ngintip dulu mataharinya, karena jadwal sholat yg ada dibuat berbasis hisab. Balas

 Harry Hartoyo, on 29 Agustus 2011 at 23:36 said: Ass. Ayo, kita buat workshop yang dihadiri oleh para pakar agama maupun keilmuan, sejarah islam maupun astronomi. Hasilnya: bagaimana membuat satu hari raya, satu kalender Hijriah.

Selamat datang untuk upaya pembaharuan, kesimpulan akhir serahkan kepada masingmasing, yakin yang mana? Kalau ada yang lebih baik untuk persatuan ukhuwah islamiyah, mengapa egois dan harus terpecah belah. Wass Balas  abu zalfa, on 29 Agustus 2011 at 23:40 said: yah semoga kelak umat Islam mengadopt semua ilmu yg berasal dari Islam yang murni…karena setau saya ilmu kedokteran pun yg dicuri dari Avicena dikembangkan dengan istilah dan metode2 barat..tidak tertutup kemungkinan astronomi baik metode, rumus dsb masih berbau2 barat…kembali lagi deh ke asal…jam ya bukan GMT, kalender bukan syamsiyah, riba menjadi bagi hasil, dll…dijamin meski ada beda ga separah ini…yang pasti nyaman deh..dan ga bakal ada lagi cerita bahwa nenek moyang manusia dari kera…aduhh…semoga Balas  Rudi B Rosidi, on 29 Agustus 2011 at 23:55 said: Link berikut bisa menjadi pembanding ilmiah

http://www.tutiempo.net/en/moon/phases_8_2011_S.htm Balas

Bambang Suryanggono, on 30 Agustus 2011 at 07:08 said: Terima Kasih atas penjelasan Prof T.Djamaludin, jadi semakin jelas keyakinan akan jatuhnya 1 syawal. Perpaduan antara Teknologi dan Ilmu Hadis yang luar biasa indah…

Masalah penyampaian, kritik ketika diadakan untuk membangun, saya kira tidak ada salahnya… Bagi yang berbeda mestinya mengeluarkan dalil-dalil yang lebih baik, namun ketika argumennya non-sence ya mustinya legowo. Balas

 adrian, on 29 Agustus 2011 at 23:59 said: yang menarik adalah…jika memang bapak Profesor benar….coba bapak dan teman2 lainnya lihat…winget sebelah kanan (fase bulan saat ini) sendiri menyatakan bahwa BESOOKKKKK ADALAH 1 SYAWAL hi..hi..hi.luce deh…mending di apus pak plug-innya mantabbbbb Balas

satria, on 30 Agustus 2011 at 21:44 said: ironis ya Balas

ade, on 2 September 2011 at 22:33 said: Maju terus pak prof, tolong real time moon phase widget nya dimodifikasi sekalian, agar sesuai dengan apa yang sampeyan sampaikan. Lain kali mesti berhati-hati pak prof, zaman sekarang ini semua orang punya akses ilmu dan informasi lho, jadi jangan ada salah sedikit pun. Mantap pak prof silakan lanjutkan, berkat bapak, banyak semua orang jadi ingin melek astronomi. Menurut saya, tidak apa2 rakyat dibuat bingung, mereka tetap eksis kok, tetap bayar pajak, tetap lebaran berkumpul bersama keluarga, bahagia, mereka itu tangguh,

bingungnya gak lama2, masih banyak urusan yang lebih penting bagi mereka. jangan2 hanya kita kita ini yang bingung. Respek juga dengan Muhammadiyah yang kelihatannya tidak sedangkal seperti yg anda tulis prof, mereka berbicara tentang memperjuangkan kalendar islam internasional, yg saya pikir sangat mulia. semoga Allah memberi pahala atas usaha kalian, pak prof maupun orang2 muhamadiyah. Thanks prof, bagaimanapun anda telah jadi pintu masuk ke dunia pendalaman ilmu. Balas

 Pusing Kepala, on 30 Agustus 2011 at 00:08 said: assalamualaikum.. ―Tidak satupun orang mau dikatakan rumahnya buruk dibandingkan dengan rumah orang lain, walaupun memang rumah orang lain itu lebih bagus dan mewah dari rumahnya, dan ini manusiawi -apakah -apakah -apakah cat-nya kayunya lantainya itu itu itu sekali‖ kusam? lapuk? ubin?

marilah dibantu supaya rumahnya menjadi indah… walaupun tidak akan sama. wassalamualaikum.. Balas  rasyidali180, on 30 Agustus 2011 at 00:22 said: maaf prof…widget (di bagian kana atas liat deh) anda sendiri menunjukan bahwa hari ini sudah 1 syawal tuh…..omelin yang bikin software gih wkwkwkwkwkwk Balas

 Irwan, on 30 Agustus 2011 at 00:36 said: saya ga akan ambil pusing dengan dengan perbedaan Muhammadiyah dan NU tentang penetapan ! syawal. yang jadi pertanyaan saya Bapak ini dengan yakin mengatakan 1 Syawal 1432H tanggal 31 Agustus 2011 tapi di windgatnya sendiri 1 syawal 1432H tanggal 30 Agustus 2011??? Balas

Kibus Borbor, on 1 September 2011 at 11:23 said: setingkat profesor selalu saja ada lelucon tentang kebiasaan lupa… Balas

 jurikjampang, on 30 Agustus 2011 at 00:36 said: bila arab saudi berbeda idul fitri dg indonesia, wajar karena posisi hilal berbeda! Tapi bagaimana dg malaysia? Apakah karena kriteria malaysia berbeda dg kriteria indonesia (lapan? Prof?)?

Ah, saya mau ikutan muhammadiyah saja meskipun bukan warganya! Karena, tidak ada penjelasan dari Prof atas banyak pertanyaan di komentar hari ini (kecuali justru penjelasan profokatif Maaf, lho, pak Prof! Balas  arif, on 30 Agustus 2011 at 00:57 said: di sidang itsbat)!

apa yang sampeyan cari prof….. perbedaan itu hal yg lumrah… memaksakan pemikiran itu yang gak lumrah… saya menghormati pendapat anda tetapi tidak respek terhadap gaya bahasa anda… marilah jalani idhul fitri dg keyakinan hati atas para pemimpin (ulil amri) diantara kita… selamat idhul fitri 1432 h bagai yg merayakan tgl 30 maupun 31 agustus… tetap jaga ukuwah.. mg Allah meridhoi. amin Balas  toko miniatur, on 30 Agustus 2011 at 01:00 said: Perbedaan merupakan anugrah…. jgn dibesarkan shg memecah umat. Yg benar adalah apa yg engkau yakini. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Balas  Petit, on 30 Agustus 2011 at 01:04 said: Terima kasih Prof atas tulisan yang mencerahkan. Saya sudah sering membaca analisa ilmiah mengapa muncul perbedaan pendapat dalam menentukan awal bulan dalam kalender hijriah, namun tulisan Prof adalah tulisan terbaik yang pernah saya baca. Saya langsung lahap beberapa tulisan sekaligus, dari perbedaan penentuan tanggal Arab Saudi dengan Indonesia sampai dengan usulan kalender islam global . Tulisan Prof sangat mudah dibaca dan tidak terlalu teknis, saya pikir kontribusi inilah yang sangat diperlukan bagi masyarakat kita. Perbedaan itu ada (dan saya tetap yakin bahwa perbedaan itu rahmat), namun diperlukan keberanian untuk menjelaskan duduk perkaranya, sehingga kita bisa menimbang dan membandingkan argumentasi kedua pihak tersebut. Saya setuju dengan Prof, jelas sekali bahwa hisab dan rukyat tidak bisa dipisah, keduanya saling melengkapi dan memperkuat. Wujudul hilal hanyalah ada di atas kertas, namun mata manusia dengan teknologi secanggih apapun tidak akan mampu memastikannya. Jika para ahli astronomi telah sepakat bahwa 2 atau 4° adalah batas minimum penampakan hilal yang bisa dicerna, maka saya setuju saja. Dalam hal ini Pemerintah telah menggunakan kriteria

tersebut, sehingga saya semakin yakin bahwa tanggal 1 Syawal adalah hari Rabu, 31 Desember. Tentunya yang berpuasa hari Selasa tidak bisa kita salahkan, karena mereka menggunakan kriteria yang berbeda. Adalah tugas para ahli astronomi dan alim ulama untuk meluruskan kriteria mana yang lebih baik. Kebenaran mutlak hanya ada pada Allah, kita manusia hanya berusaha mendekatinya. Lucunya, walau saya ikut pemerintah, saya malah minoritas karena orang tua, adik-kakak, keluarga besar dan mertua sudah memutuskan untuk berlebaran pada hari Selasa. Tidak mengapa, justru saya punya alasan untuk datang, silaturahmi dan mohon maaf lahir batin dua kali hehehe. Balas

imc_cho, on 2 September 2011 at 00:57 said: tp Ternyata padi hari selasa tanggal 31 agustus 2011di daerah jayapura telah terlihat hilal, apakah kita harus sholat pada keesokan harinya dan tetap menajalnkan ibadah puasa kita??? menurut mohon di jawab.. Balas pak profesor gmna??

 ugie, on 30 Agustus 2011 at 01:14 said: untuk 2011, malaysia, dan saudi arabia dikabarkan 1 syawal pada tanggal 30 agustus.. Bagaimana menurut anda? Sedangkan indonesia pada 31 agustus. Balas

 boymin, on 30 Agustus 2011 at 01:46 said: saya benar-benar telah muak dengan perbedaan tanggal lebaran, bila tidak ada kesepakatan kriteria dari semua ormas di Indonesia tentang derajad hilal terhadap ufuk. Saya yang akan angkat kaki dari negara ini sebelum bom waktu ini pecah, bila Allag mengizinkan saya akan pergi dari negara tanpa persatuan ini. Muak saya muak sekali membaca keEGOISAN Muhammadiyah dan Ketidak pedulian Pemerintah. Muak saya dengan tetinggi NU dan Muhammadiyah dalam keengganannya duduk bersama dengan kepala dingin dan keEGOISAN Muhammadiyah yang tidak pernah menjalankan setiap keputusan mufakat rapat. MUUUAAAAK…. pikir sapa senang kalau terus terkotak kotak? Sopo? Dengkulmu Balas  gurusatap, on 30 Agustus 2011 at 01:47 said: he.he.. makan saya suka ketupat dengan dulu wordpress. gratis yuukk… sih.

hadduuhh….gretongan choy.. Balas  D Suwarsono, on 30 Agustus 2011 at 02:04 said: Tergelitik juga kalau mendengar kalimat ‗perbedaan itu indah dan merupakan rahmat‘ Menurut saya ya perbedaan itu akan menjadi indah dan merupakan rahmat dari Allah, ketika perbedaan itu adalah merupakan buah dari hasil berfikir positif dalam mencari kebenaran. Bukan perbedaan yang terjadi karena hanya sekedar ikut aliran A atau aliran B tanpa berfikir sedikitpun. Kenapa ribut soal hilal, hisab, rukyat dan lain sebagainya kok hanya muncul pada saat menjelang akhir ramadhan? Kenapa tidak setiap waktu dimunculkan atau didiskusikan secara publik, seperti sidang isbat tadi malam? Kalo perlu dibuatkan pansusnya di DPR he he he. Intinya kenapa umat muslim secara keseluruhan tidak diajak untuk lebih mau tau tentang

hal ini. Sehingga akhirnya umat secara pribadi (privat) dapat membuat keputusan sendiri kapan dia harus berlebaran, tidak dibuat bingung seperti sekarang ini.

Seperti yang termaktub dalam UUD negara kita tugas pemerintah adalah memberikan jaminan dan fasilitas warga negaranya untuk melakukan ibadah sesuai agama dan keyakinannya. Tidak tersirat ataupun tersurat bahwa pemerintah Balas  rendah hati, on 30 Agustus 2011 at 02:04 said: bacalah dengan otak bukan hati…..tulisan ini menggugah…..nampak sebagian besar pengikut ormas yang dikritik lgs defensif…persis yang digambarkan oleh prof t djamaluddin. ITULAH YANG DISEBUT JUMUD (BEKU PIKIRAN) sampe kapan juga sulit maju dan berkembang. Balas  Mi Ing, on 30 Agustus 2011 at 02:06 said: Wong Kok do RIBUT atau CEREWET. Gek malaysia, Brunei, Singapura aja Lebarannya Tanggal 30 Agust 2011. Masak Indonesia tgl 31 ????? Piye hare???? Masak dalam satu garis lurus bisa berbeda??? Kalau beda dengan Arab sih gak papa,,,, tp ini dengan tetangga sendiri masak beda…. BODHO……. FPI yang ormas besar masak gak diajak sidang istbath, Pada takut sma FPI apa ya??? Dalam blog ini aja udah kelihatan bulannya…… Dihapus aja gambar bulannya kalo gak dipakek…. Balas

musyaffir, on 30 Agustus 2011 at 22:26 said: ente iku sing gebleg….. Balas

 Dian Korprianing Nugraha, on 30 Agustus 2011 at 02:12 said: Mohon izin… saya warga Muhammadiyah sekaligus Anggota Pemuda Muhammadiyah mau lebaran duluan hari Selasa 30 Agustus 2011…. Fastabiqul Khairat.. Balas  Anak kambing allah korengan, on 30 Agustus 2011 at 02:16 said: ancuuurr!!!! ga ada rukun‖ nya nih umat muslim… Balas  D Suwarsono, on 30 Agustus 2011 at 02:28 said: Tergelitik juga kalau mendengar kalimat ‗perbedaan itu indah dan merupakan rahmat‘ Menurut saya ya perbedaan itu akan menjadi indah dan merupakan rahmat dari Allah, ketika perbedaan itu adalah merupakan buah dari hasil berfikir positif dalam mencari kebenaran. Bukan perbedaan yang terjadi karena hanya sekedar ikut aliran A atau aliran B tanpa berfikir sedikitpun. Kenapa ribut soal hilal, hisab, rukyat dan lain sebagainya kok hanya muncul pada saat menjelang akhir ramadhan? Kenapa tidak setiap waktu dimunculkan atau didiskusikan secara publik, seperti sidang isbat tadi malam? Kalau perlu dibuatkan pansusnya di DPR he he he. Intinya kenapa umat muslim secara keseluruhan tidak diajak untuk lebih mau tau tentang hal ini. Sehingga akhirnya umat secara pribadi (privat) dapat membuat keputusan sendiri kapan dia harus berlebaran, tidak dibuat bingung seperti sekarang ini. Seperti yang termaktub dalam UUD negara kita tugas pemerintah adalah memberikan jaminan dan fasilitas warga negaranya untuk melakukan ibadah sesuai agama dan keyakinannya. Tidak tersirat ataupun tersurat di dalamnya bahwa pemerintah berhak untuk memutuskan bagaimana seseorang harus beribadah. Tetapi memberikan fasilitas agar seorang warga negara menjadi ahli ibadah yg benar adalah kewajiban negara. Bagaimana caranya? Ya jadikanlah warga negara ini (dalam hal ini umat muslim khususnya) menjadi orang yang

berfikir

aktif

dan

positif,

bukan

menjadi

keputusan

pemerintah.

Beragama adalah hak manusia yang bersifat haqiqi, tidak ada hak siapapun untuk mempengaruhinya. Balas  opikipo, on 30 Agustus 2011 at 02:35 said: Ya Allah, disini ramai sekali. senang melihatnya, semoga semua ini adalah sebuah pengantar yang manis untuk hubungan ummat yg lebih harmonis. Bagi yg hari ini merayakan idul fitri harus lebih berhati-hati dan waspada sebab iblis telah bebas dari kerangkengnya dan siap menggodamu melalui segala celah dan dengan berbagai upaya. Dan bagi yang hari ini masih menjalankan ibadah puasa, saya ucapkan selamat menikmati ibadah puasa yang nikmat. *mari dukung fatwa ―MESJID WAJIB MEMILIKI PERPUSTAKAAN.‖ Balas  M. Arief B. Ariefmas, on 30 Agustus 2011 at 02:57 said: Tumben wordpress rame masalah kayak gini. Biasanya gak ada yang nanggapi. Mau nanya prof, jika tertutup mendung, berarti dianggap tidak keliatan (biarpun secara hisab sudah lebih dari 3 drajat, upamanya)? Trima kasih. Balas  Robin, on 30 Agustus 2011 at 02:58 said: hhe.. kesepakatan sesat itu yg 2°!

klo astronomi itu ilmu pasti & tdk terbantahkan.

Balas  Robin, on 30 Agustus 2011 at 03:09 said: hhe.. kasian jg liat umat yg kek gini! Balas  muhammad, on 30 Agustus 2011 at 03:15 said: sebenarnya saat terjadi rukyat dngan ketinggian 1 drjat 48 menit di atas afuk itu berapa lama lagi baru berada di ketinggian 2 drajat di atas ufuk? Balas  Tiffatul. S, on 30 Agustus 2011 at 03:26 said: Katanya Muhammadiyah kolompok pembaharu, ternyata masih memakai cara kuno & tidak melek Teknologi (ngotot lagi)..Wkwkkwkwkkw… Sangat Miris… Balas

ucok, on 31 Agustus 2011 at 16:58 said: Oh ya,, yang kuno siapa?? Nanti lo kalo mau sholat, gak usah pake jadwal sholat ya, teropong dulu tuh matahari ma bulan, karena kalo pake jadwal sholat, itu pake hisab lho, caranya muhammadiyah,, ngerti gag goblok jugag sih…. Balas kan,,??!! ya??

 arsyad, on 30 Agustus 2011 at 03:49 said: A B A B A B A dan A : ―kwkwkwkwkwkwk….‖ Balas : : : : ―Kamu : ―Selasa : ―Muhammadiyah : ―Jadi kok atau Natal ‖ atau atau Lebaran?‖ Lebaran‖ Rabu?‖ ―Selasa‖ bukan?‖ ―Bukan‖ selasa?‖ nepotisme!‖

B : ―iya, klo ikut pemerintah, penentuan hari rayanya itu berdasarkan hasil korupsi, kolusi

numpang mampir, on 31 Agustus 2011 at 15:44 said: wow :matabelo boking tiket di neraka ya gan? Balas

 Kholid, on 30 Agustus 2011 at 04:12 said: metode rukyat yang tertuang dalam hadits Rasulullah SAW H.R. Bukhari-Muslim tentang menggenapkan bulan menjadi 30 hari memang pernah dilakukan. Rasulullah SAW puasa 29 hari dari 9 kali Ramadhan, puasa 30 hari 1 kali karena tidak melihat bulan. Di jaman Rasulullah SAW tentunya ilmu astronomi belum sehebat sekarang, sehingga metode hisab yang digunakan pun masih manual, seperti tertuang dalam hadits tersebut.

Tapi disayangkan, seringkali memulai puasa Ramadhan dan mengakhirinya tidak sesuai dengan suara minoritas Muslim yang benar telah melihat al hilal, atau mendengar kabar hilal di negara lain. Keputusan pemerintah berbeda dengan suara minoritas Muslim selama ini, karena keputusan pemerintah masih diartikan sebagai keputusan mutlak benar dan harus ditaati oleh rakyat Indonesia. Padahal sejak dimulainya berpuasa Ramadhan, sejak tahun ke-2 Hijriyah, selama di Madinah, Rasulullah lebih sering berpuasa 29 hari, dan hanya sekali saja berpuasa genap 30 hari, karena gagal melihat al hilal. Sedangkan, di Kerajaan Saudi, berpuasa 29 hari bukanlah hal aneh. Mereka biasa berpuasa seperti itu, dan lebih jarang berpuasa 30 hari. Artinya, usaha melihat al hilal juga lebih banyak suksesnya, daripada gagalnya. Tapi di Indonesia lain lagi. Mayoritas puasa di negeri kita 30 hari, jarang sekali 29 hari. Padahal panjang wilayah Indonesia jauh lebih panjang daripada Kerajaan Saudi. Ini menjadi pertanyaan yang penuh misteri. Satu kelemahan fundamental penentuan ru’yatul hilal di Indonesia adalah pihak yang berhak melihat hilal itu hanyalah orang-orang tertentu yang ditunjuk oleh negara, dengan SK, fasilitas, serta honor tertentu(golongan tertentu). Adapun kaum Muslimin yang melihat secara mandiri alias swasta tidak akan diterima hasil penglihatannya, meskipun dia Muslim yang adil dan benar-benar telah melihat al hilal. Kalau merujuk ke sistem kaum Muslimin di masa Rasulullah, setiap Muslim yang benarbenar telah melihat al hilal, bisa diterima kesaksiannya. Dan proses melihat al hilal itu tidak harus dimonopoli oleh pemerintah. Semua Muslim boleh melihat dengan caranya masingmasing dan di tempat masing-masing. Penetapan 1 Syawal dalam proses pengamatan al hilal sejatinya tidak menjadi monopoli badan tertentu. Ia bebas milik umat Islam dan melibatkan siapapun yang mampu dan sempat melakukannya. Jangan sampai, ketika ada seseorang yang telah melihat al hilal, hanya karena dia tidak tergabung dalam panitia ru’yatul hilal, pengamatannya ditolak.

semoga menjadi pencerahan bagi profesor Jamaluddin (karena menurut saya pikirannya masih keruh) JANGAN MALU UNTUK MENERIMA KEBENARAN, APALAGI BERUSAHA MENUTUP-NUTUPINYA Balas  joko, on 30 Agustus 2011 at 05:15 said: namanya aja thomas christiani banget Balas

musyaffir, on 30 Agustus 2011 at 22:28 said: gak ada hubungan bung!!!!……pake otak dong (yg dikepala jgn yg di dengkul) Balas

gw, on 31 Agustus 2011 at 06:49 said: mas namanya antonius joko kan? Balas

ucok, on 31 Agustus 2011 at 16:53 said: se7 Balas

 Dillah thohir, on 30 Agustus 2011 at 05:35 said: Saya semakain faham setelah membaca artikel ini. perbedaan MU-NU‘ tapi mohon ulama‘ MU-NU untuk mengkaji, sehingga hari raya sama, memaqng beda itu rohmat, tapi kalo masalah bisa dikompromi mengapa tidak !, saya mohn tahun depan tidak ada perbedaan lagi ttg hari raya, tinggaalkan EGO. ayo bersatu, jangan sampai meniru ―cerai‖ itu halal kenapa tidak Balas  Jebod, on 30 Agustus 2011 at 05:41 said: Assalamu‘alaikum..wr.wb. Thanx Tampak-a bnyk yg prof kbakaran jenggot dg atas tulisan prof d atas, pncrahan-a. hahaha…

Ga usah dtanggepin prof, krn tampak skli comen2-a hanya luapan emosi. Jd abaikan saja n maafkan mrk yg menggunakan kata2 yg kurang sopan.

Lanjutkan perjuanganmu prof. Oh ya sy minta tanggpan saja trkait berita dbwh ni :

http://m.detik.com/read/2011/08/30/041448/1713399/10/prof-sofjan-jangan-sakralkan-rukyah Balas  ade, on 30 Agustus 2011 at 05:43 said: wallahu alam Balas  Vat astavat, on 30 Agustus 2011 at 05:46 said:

bahasa nya di perbaiki sedikt dong pak prof…?biar gak memecah umat dong… ni terlalau kasar menurutku… Balas  Irfan Nasrul Hak, on 30 Agustus 2011 at 06:16 said: alhamdulillah, diskusi ini bisa dijadikan buku. sungguh luas khazanah ilmu islam. tapi tolong edit kata-kat yang saling menghina. Balas  Nugraha, on 30 Agustus 2011 at 06:38 said: Seharusnya seperti ibadah haji di Saudi, begitu ditentukan harinya oleh raja, maka semua jamaah mengikutinya, walaupun pasti ada yang berbeda pendapat tentang itu. Jadi demi persatuan umat seharusnya kita taati satu keputusan dari pemerintah. Jika Rosulullah masih ada, apakah beliau akan mentolerir perbedaan ini???? Balas  Ustad, on 30 Agustus 2011 at 06:58 said: Jauh-jauh hari udah ngumumin lebaran, giliran keputusannya ga sama dg maunya, eh marahmarah. Jd ky anak kecil, lucu.

Klo mau bilang egois atau sombong, itu yg ngumumin duluan yg egois & sombong plus sok pinter. Emang di ormas-ormas lain apa ga ada yg ngerti hisab, ga ngerti wujud hilal ? Ngerti broo.. Org-org yg ahli hijab bnyak, softwarenya aja ada. Kita semua bisa ngitung. Balas

PERBEDAAN ADALAH SESUATU YANG BIASA, on 30 Agustus 2011 at 18:48 said: Biasa gak uwes Balas

 abdulqohar, on 30 Agustus 2011 at 07:09 said: Ilmu Anda hanya pas buat indonesia ya? Koq satu dunia 1 Syawal sama, indonesia aja yg beda. Jangan2 muhammadiyah udah buka cabang di Malaysia, Eropa, dan Timur Tengah.. Balas  Bambang Suryanggono, on 30 Agustus 2011 at 07:10 said: Salut Untuk Pak Menteri Agama, Prof T.Djamaludin dan ulama-ulama yang hadir Pemerintah Indonesia sangat akomodatif, dan sama sekali tak mengingkari perhitungan HISAB (metode ilmiah dengan ilmu astronomi modern) seperti yang dipegang secara ‗harga mati‘ oleh ormas Muhammadiyah. Kalau Pemerintah mau menang sendiri, karena 30 Agustus itu sudah ditetapkan sebelumnya di kalender nasional sebagai 1 Syawal, bisa saja dengan otoritas kekuasaannya (seperti yang dilakukan pemerintah Arab Saudi saat ini meskipun para astronomnya juga berpendapat, HILAL tak mungkin terlihat di Mekkah dan seluruh Arab Saudi pada 29 Agustus itu), menetapkan tanggal 1 syawal 1432H jatuh hari Selasa, 30 Agustus 2011. Tapi karena justru mengakomodasi semua pandangan di negeri ini, dan mayoritas mereka (yang pendapatnya juga berdasarkan al-Qur‘an dan hadits, bukan hanya Muhammadiyah aja) yang umumnya berpandangan bahwa HILAL tak terlihat pada akhir puasa hari ke 29 itu, makanya kemudian menginginkan puasa digenapkan selama 30 hari. Tanggal 1 syawal sendiri memang jatuh 30 Agustus 2011, karena kalender Islam yang menganut sistem lunar (qomariah) yang mana maksimal jumlah harinya adalah 29 hari setiap

bulannya, tapi karena sepakat para akhli falak dan astronomi se dunia bahwa tadi malam (29 Agustus malam) HILAL belum tampak di Indonesia, termasuk di Arab Saudi. Nabi saw berpesan melalui haditsnya, bahwa kalau puasa sudah 29 hari, tapi belum tampak bulan sabit baru di langit (HILAL) akibat tertutup awan misalnya, beliau memerintahkan ummatnya melengkapkan puasa selama 30 hari. Berdasarkan itulah, Ulama Islam di Indonesia menetapkan bahwa puasa digenapkan 30 hari karena saksi mata tak ada yang mengaku melihat bulan sabit. Kalau ada, ternyata HOAX. Banyak umat kecewa dengan sikap Muhammadiyah yang mau lain sendiri dan bahkan Pimpinannya mengaku kecewa dengan sidang isbhat, yang justru sangat demokratis. Bahkan PERSIS saja pun membulatkan puasanya 30 hari. Sekiranya saat ini baginda Nabi Muhammad saw masih hidup di Madinah atau Mekkah sana, pasti di hari akhir ke 29 berpuasa Ramadhan kemarin itu, beliau pun meminta sahabatnya untuk menyaksikan bulan baru yang diperkirakan akan terlihat dan muncul untuk menghentikan puasa atau berbuka. Dan, karena berdasarkan perhitungan ilmu falak modern (astronomi) ternyata tak mungkin terlihat, maka karena itu juga hukum sunatullah, pastilah tak banyak bedanya dengan pengamatan secara riel (rukyat). Insya Allag, nabi juga akan mengenapkan puasanya 30 hari. Karena beliau pernah juga bersabda, ketika beliau menanyakan soal pertanian (sahabatnya sedang melakukan perserbukan bunga kurma pada waktu itu), yang menurut beliau saat itu bahwa kalau soal ilmu dunia, sahabatnya yang memang punya keahlian di bidang pertanian itu, pasti lebih paham di bidangnya itu dibanding diri beliau meskipun dirinya adalah nabiullah. Ilmu astronomi modern adalah ilmu dunia, seperti halnya ilmu pertanian pada waktu zaman nabi masih hidup saat itu. Wallahu‘alam! Balas

AXL, on 30 Agustus 2011 at 22:42 said: apanya yang HOAX? lha wong yang melihat juga Ustadz dan bersaksi di depan Rois NU DKI. sayangnya wakil pemerintah tak mau mengambil sumpah mereka, bahkan ngacir sebelum pengambilan sumpah

http://ramadhan.republika.co.id/berita/ramadhan/kabar-ramadhan/11/08/30/lqqfgp-nuhari-ini-1-syawal-yang-puasa-segera-berbuka

Balas

MG Amanullah, on 4 September 2011 at 08:45 said: yg anda sampaikan itu kalau negara nya negara islam bung. negara ada legitimasi utk memaksakan hal ritual ke individu spt arab saudi. coba pelajari lg tata negara…….. Balas

 alfian, on 30 Agustus 2011 at 07:10 said: mohon yaa………….??? 2. berapa derajat kah hilal itu bisa dilihat dengan mata telanjang (tanpa terhalang oleh mendung)……………??? mohon jawaban valid para ahli astronom dan juga ahli sejarah. makasih banged sebelumnya……….. Balas  keajaibanmemberi, on 30 Agustus 2011 at 07:32 said: Situasi diskusi memang terkadang menuntut bahasa yang seperti itu. Ndak perlu dirisaukan dan dibesar-besarkan sebagai bentuk egois atau provokatif. Menunjuk itu sebagai bahasa ego dan provokatif dengan bahasa yang setara menunjukkan derajat bahasa yang sama. Ini soal komunikasi diskusi. Hanya saja, umat jangan terjebak hanya karena kehalusan bahasa atau kerasnya suatu istilah. pencerahan,

1. di jaman nabi muhammad saw sudah ada teropong untuk lihat hilal paa belum

Sikap terhadap perbedaan (Idul Fitri) memang bisa berbeda-beda, tapi jika perbedaan itu didasarkan pada pegangan terhadap landasan ilmu, insya-alloh, tidak berbahaya. Saya pernah berbeda hari Idul Fitri dengan seluruh anggota keluarga, tidak menjadi masalah, tetapi coba

terus dibicarakan dan didiskusikan secara internal keluarga dengan baik, tanpa sikap emosional. Alhamdulillah, akhirnya, bapak saya sebagai kepala keluarga bisa luluh melepaskan kebiasaan berbeda hari raya ini karena dari sekian kali diskusi yang berkesinambungan itu mungkin -akhirnya- beliau sampai pada kesimpulan bahwa ―pandangan‖ yang saya lontarkan lebih argumentatif. Riwayat tentang ―Perbedaan sebagai rahmat‖ sudah masyhur kelemahannya. Tidak perlu ―dipaksakan‖ menjadi dalil bagi setiap perbedaan. Sikap terhadap perbedaan bergantung pada kondisi keyakinan dan keteguhan agama masing-masing. Akhir kata, jadikanlah tulisan Pak Thomas Jamaluddin ini sebagai bahan perimbangan dan kejelasan dalam memperkukuh landasan kita dalam beribadah yang waktunya berdasar pada hitungan astronomi. Insya-alloh, dengan sikap bijak, tulisan ini bisa menjadi pencerah. Tinggalkan saja subjektivitas, jika ada kata-kata yang mengarah ke sana. Ambil ilmunya. Insya-alloh, sangat bermanfaat. Balas  Yayan, on 30 Agustus 2011 at 07:53 said: Nah loh, singapur, malaysia & arab saudi lebaran hari ini, indonesia yg lebih cepat 4 jam dr arab Apakah pakar2 di kok negara2 tersebut salah? malah Ataukah pakar kita yg besok? error?

Sombong tiada guna Balas  debuterbang, on 30 Agustus 2011 at 08:08 said: tulisan ini bagus kok, mencerahkan. jadi satu masukan. ga ada kata2 merendahkan di dalamnya, hanya mengajak muhammadiyah berfikir ulang. jadikan satu wacana saja. kawan2 muhammadiyah juga tidak usah mencak2, ini wacana, dan ilmiah.

setuju, terima. tak setuju dan punya pandangan lebih kuat, ya monggo. Balas  gigantoRra, on 30 Agustus 2011 at 08:18 said: Drpd ulama2 kita sibuk ―baku panas‖ mending kedepanx kt patokan sj sm Idul Fitri & Idul Adha Saudi Arabia .. Beda 4 jam sy kira gak masalah.. Yg penting seragam lah.. Klo ada yg bilang perbedaan itu Rahmat .. Untuk urusan Hari Raya its Bullshit ! 1 Syawal itu cm 1 hari .. Bukan 2 hari atau 1 1/2 hari.. Balas  gigantoRra, on 30 Agustus 2011 at 08:19 said: Mending patokan sm Lebaran di Arab Saudi deh.. Gitu aja kok repots ! Balas  Sagit Sj, on 30 Agustus 2011 at 08:34 said: ok Balas  Nur Jalil, on 30 Agustus 2011 at 08:39 said: Bagaimana Prof. Thomas menjelaskan idul fitri 30 Agustus 2011 di Mekkah, Malaysia dlsb, apa mereka juga memakai metode usang? Balas

sunankalijagasakti1, on 30 Agustus 2011 at 16:43 said: woi anda diindonesia, mana bisa disamakan, lawong gerhana dibenua lain dikita aja tak tampak, saya melihat banyak yang jahil yang tak menegrti masalah koment diblog ini, sebagian fanatik buta, sebagian taklid buta, sebagian marah buta, itulah muhammadiayah, semenjak kemunculannya hanya meringankan syariat dan bikin pecah belah keluarga dan masyarakat, boh te saboh Balas

o

Syarif, on 30 Agustus 2011 at 23:58 said: Kejayaan persatuan islam bukan hanya di inginkan hanya ada di Indonesia Bung.. Tapi di seluruh permukaan bumi.

Arab, Malaysia dan Jepang aja tanggal 30 kok..

o

Nur Jalil, on 31 Agustus 2011 at 13:50 said: Woi, ini berdasarkan riwayat zaman Rasulullah dimana ada seorang Badui yng datang kepada Rasulullah mengabarkan bahwa ia telah melihat bulan dan berdasarkan itu Rasulullah memerintahkan sahabatnya berbuka. Rasulullah tidak ertanya Anda dari negeri mana. Sekarang yg kurang referensi itu saya atau And??

o

Nur Jalil, on 31 Agustus 2011 at 14:15 said: Kaender itu mesti internasional Bung,justru lucu kalau kalendernya lokal, testnya ya dikonversi ke kalender Miladiah /Masehi

o

madimijan, on 1 September 2011 at 11:58 said: knapa awal puasa sama..knapa kalendernya sama..mestinya bulan yang laen jg beda…knapa 1muharam tdak liat hilal..knapa idul adha bisa sama…toh yang dipakai perhitungan jg..bukan meliat hilal

 wafi, on 30 Agustus 2011 at 08:49 said: ma`af anda seorang ahli bhkan prof. tp gya bahasa anda seperti seorang profokator ….ma―aaf sebelumnya Balas  Rahadian, on 30 Agustus 2011 at 08:57 said: Prof seharusnya memahami arti sebuah rahmat.Tak aneh zaman sahabat perbedaan selalu ada.Jangan menjustice bahwa Muhammadiyah terkesan terkungkung dan tertinggal oleh ormas lain.Adakalanya sebuah ormas memiliki paham idealisme dan ke-kitaban.Memang kalau terus dibiarkan, perbedaan akan selalu ada.Merujuk pada hadits Nabi saja tidak cukup.Butuh ilmu jarh wa ta‘dil demi melengkapi keabsahan suatu hadits.Kalau misalnya masih ada budaya ―ormas di atas segalanya‖, sebaiknya sudahi saja dengan cara yang bijak.Tetap rujukan pada Alquran dan Sunnah Shohihah.Intinya, lebih luas lagi pemahaman kita tentang Islam dan Teknology._a religion without science is blind, and science without religion is lame_ Balas  » Akhirnya, Lebaran Tiba, on 30 Agustus 2011 at 09:01 said: [...] konstruktif dari Prof Thomas Djamaluddin pakar astronomi untuk menstandarkan dan memperbarui kriteria-kriteria hisab yang digunakan di metodo… nampaknya disambut angin lalu saja. Padahal ini hal penting yang sering diseplekan [...]

Balas  Seno Pradono, on 30 Agustus 2011 at 09:06 said: Perbedaan adalah rahmat dan kita tidak harus memaksakan diri untuk menyatukan metode perhitungan hilal … Dan saya menegur dengan baik-baik Pak Thomas Djamaludin atas pengungkapan pendapatnya yang kurang santun pada sidang itsbat tadi malam yang secara langsung ―menyerang‖ Muhammadiyah … Insya Allah semua perbedaan ini akan sirna manakala Khilafah kedua ‗ala minhaj nubuwwah terbentuk lagi, sesuai dengan skenario Akhir Zaman yang direncanakan oleh Allah … ―Allah membuat makar, mereka membuat makar, dan makar siapakah yang lebih baik daripada makarnya Allah ?‖ (Al-Qur‘an) … Wallahu‘alam bishshowab … Balas  absoluterevo, on 30 Agustus 2011 at 09:06 said: ko di widget di pinggir to 1 shwaal tg 30ya? Balas  awam, on 30 Agustus 2011 at 09:07 said: pokok permasalahan bukan pada muhamadiyah,mereka tdk bisa juga di salahkan buktinya,hilal juga sdh muncul meskipun msh krng dari 2 derajat,mereka konsisten.ttp pemerintah tdk konsisten buktinya seluruh masyarakat indonesia mengacu pada kalender hijriah 30-31 idil fitri,ini yg jadi pkok prmasalahan,pemerintah menerbitkan kalender ttp,di ralat lagi,jadi tdk ada yang bisa di salahkan seluruh ormas smuanya benar,tapi mslhnya jauh hari sebelumnya permasalahan ini tdk di antisipasi sehingga menimbulkan kebingungan pada orang awam…………. Balas 

awam, on 30 Agustus 2011 at 09:15 said: anehnya arab saudi dan negara2 uni emirat arab idul fitri jatuh pada 30 agustus 2011,muhamadiyah konsisten yang lain silahkan tanya sendiri………………….. Balas  agung, on 30 Agustus 2011 at 09:18 said: Tapi perlu diingat ,ratyatkan masih banyak yg ga tau jadi kenyataanya memang membingungkan umat, kan rasul juga memerintahkan agar kita menuruti pemerintah,please. Taklid pada suatu paham juga kan dilarang ..? ga usah gengsi bro. Balas  ▲hmad®, on 30 Agustus 2011 at 09:25 said: owalah dalah,orang diajak maju dalam ilmu kok gak mau..padahal ilmu tiap tahun berubah,.dikaji dari saar i saja kuat yg dipakai nu dan persis. muhamadiyah gak malu sama persis..yg lbh maju.coba dilihat dari sudut pandang ilmu jangan ormas..jawabanya tehnik ilmu yg dipakai muhamadiyah memang ketinggalan akui saja.

SALUT DAN SUPORT UNTUK PROF T JAMALUDIN DEMI KEMAJUAN ..yg ngomong panas paling juga gak tahu astronomi dan kajian sarr i,.sudah tahu ilmu awam kok bantah.akui saja dan jujur . Balas

Keremende, on 30 Agustus 2011 at 23:48 said: Bukannya gk mau di ajak maju mas,cm mslhnya apa iya kita di ajak maju?wong semua negara tgl 30 agustus lebaran kok kita mlh mundur.Mbok ya yg lain jg introspeksi,tmasuk Mr Thomas ini

Balas

 ▲hmad®, on 30 Agustus 2011 at 09:30 said: Kenapa ikutin arab saudi.,sudah jelas ulamanya sekarang alim2 orang indonesia.kalau bangga as ya jgn disini.

AS=AS (ARAB SAUDI = AS(AMERIKA SERIKAT) DUA NEGARA YG BEDA TAPI KOMPAK..? Balas  Syahiduz Zaman, on 30 Agustus 2011 at 09:32 said: secara kultur, masyarakat Indonesia memang susah menerima kritik dan saran. Tugas akademisi sudah dijalankan dgn tepat dan benar oleh Prof. Jamaluddin. Lanjutkan prof! Balas  tjondro, on 30 Agustus 2011 at 09:33 said: saya pengen banget merasakan kebersamaan bukan perbedaan…….persis, nu bisa bareng kenapa muhammadyah tidak mau bareng…..tolong dong kasih alasan yg gampang ga usah mbulet2 kayak benang… Balas

Asep Hilman Yahya, on 30 Agustus 2011 at 16:40 said: Coba aja logikanya dibalik Mas…..mengapa orang Indonesia kebanyakan nggak mau diajak bareng oleh Muhammadiyah untuk lebaran bareng dengan kaum muslim sedunia…….

Tapi nggak masalah kayanya bagi Muhammadiyah, karena nampaknya sejak awal berdiri di tahun 1912 suratan taqdir Muhammadiyah memang kebagian disalahkan melulu oleh orang kebanyakan……bahkan oleh NKRI yang pernah dibidaninya…. Balas

o

deen, on 4 September 2011 at 14:38 said: Masalahnya, kan katanya YANG BANYAK, BELUM TENTU BENAR ! Saya melihat, penetapan 1 Syawal 1432 yang dilakukan oleh para ulama kita, lebih keren ketimbang – maaf – para raja (Saudi, Malaysia, brunei misalnya). Mereka sering mengabaikan hitung-hitungan astronomi, dan lebih memercayai hasil rukyat para perukyat. Di Saudi, misalnya, teleskop mereka yang di Jeddah itu aja tidak bisa melihat hilal (karena hilal masih sangat rendah), tapi ndilalah…. katanya ada beberapa orang yang bisa melihatnya. Karena Saudi pake rukyat hakiki (mungkin mengabaikan hisab), ya diketuk palu Selasa. Dan beberapa negara Teluk pun mengikutinya. Beda banget dengan ulama kita! Disamping kita gunakan hisab dan rukyat, juga minta pandangan para ahli di bidang astronomi. Hasilnya, silakan disimpulkan sendiri ….

 ÅHM = asli honda mahal a.k.a. OPER PRESSS, on 30 Agustus 2011 at 10:01 said: dh qta ikut di mekkah aja klo di sana puasa 29hari qta ikut 29hari klo 30hari qta ikut puasa 30haru #pendapat orang awam nih Balas  rahmatullahrizieq, on 30 Agustus 2011 at 10:08 said: …

Pemerintah bohong mengatakan ada kesepakatan dengan Malaysia, Singapura lebaran 1 syawal tanggal 31 Agustus, ternyata Mereka (malaysia dan singapura) ditambah lagi beberapa negara arab seperti Saudi Arabia, Mesir, Qatar dan UEA menetapkan 1 syawal tanggal 30 Agustus, bagaimana logikanya pak prof, karena saudi arabia itu terlambat 5 jam dari indonesia, atau penetapan 1 syawal nggak perlu pakai logika, hanya nafsu saja Balas

Cutadz, on 30 Agustus 2011 at 14:50 said: itukan emang udah jadi kebiasaan.. Balas

Kibus Borbor, on 1 September 2011 at 11:32 said: saya pengen dengar prof jamal minta maaf….. Balas

 geje, on 30 Agustus 2011 at 10:12 said: bapak profesor aneh, tulisan banyak salah ketik lagi, entah apa niat bapak di balik tulisan seperti ini..memalukan! Balas  Belajar Islam, on 30 Agustus 2011 at 10:14 said: Paparan yang menarik, disini fungsi pemerintah untuk menyatukan yang berbeda. Semoga ke depan pemerintah bisa lebih menekankan adanya persatuan

Balas  auliayasmin, on 30 Agustus 2011 at 10:22 said: emmm…..tulisan ini bagus untuk dipelajari….tentunya dengan kepala dingin dan cermat mempelajari sebab musababnya,,,,,,,banyak hal yang terkait disini dan banyak juga yang mempunyai dasar masing-masing dalam penentuan hari raya. mohon untuk para bapak dan ibu disini…ingatlah seseorang yang beragama islam adalah saudara kita. mari kita hargai pendapat mari salam Mustafit. Balas  nolkasta, on 30 Agustus 2011 at 10:29 said: Ilmu mukasyafah (Haqiqat dan Ma‘rifat) sudah tak digubris lagikah atau etah di kemanakan ketika Ilmu Mu‘amalah (Syari‘at dan Thoriqoh) dijadikan hujah / alasan paling telak? Padahal kedua ilmu atau keempat ilmu tersebut tidak dapat dipisahkan dalam kajian dan pengamalannya, termasuk untuk mengurus ketepatan (ukuran dan satuan) masa (mongso) demi penetapan pergantian hari (sedino-sewengi), bulan (komariyah), dan tahun hijriyah. Jika subyek atau obyek yang dibuktikan pasti sama dari segi hakekatnya, mengapa masih ada perbedaan cara pandang, peralatan, proses, dan hasil penyaksian terhadap peristiwa alam? Peristiwa kasat mata saja sering berbeda hasil pandangan, bagaimana dengan kesaksian adanya keenam hal yang patut diimani (Rukun Iman) oleh semua muslim di dunia? Subhanalloh, tentu saja pihak yang kurang mampu menjangkau ilmu mu‘amalah dan ilmu mukasyafah bakal cukup mendapat hiburan berupa wejangan: ‗perbedaan adalah rahmat‘, selama segala sesuatu masih sulit dibuktikan (baca: disaksikan) hingga menggunakan ilmu dan amalan berdasar ilmu mukasyafah. Mungkin hanya ulama warotsatul anbya‘i (mewarisi keutuhan ilmu Sang Nabi) yang tak mudah memproduksi fatwa perbedaan (atau berbeda fatwa). Agak untunglah jika ‗kita orang yang dihibur‘ ini masih bisa mengingat sebuah pangkal bijak: ‗kulit tanpa isi = kosong-bolong, isi tanpa bungkus = batal‘ (hadist). kita mau satu menerima sama kritik walaupun lain. tajam. ukhuwah…

Balas  Budi, on 30 Agustus 2011 at 10:29 said: Terimakasih pak T atas pencerahannya yang sangat menarik. Tapi lebih menarik lagi bagi saya melihat tanggapan-tanggapan yg defensif dan agresif sekali ingin menembak si pembawa berita (shoot the messenger) tanpa menghiraukan isi beritanya. Mereka kelihatannya tidak mampu mengambil nilai positif dari sebuah perspektif dan menganggap memberikan pendapat sesuai dengan keahlian hanyalah sebuah kesombongan. Menyedihkan kalau mereka mewakili cara berfikir ormas tersebut, tapi mudah-mudahan tidak. Balas  Jendral Fafa Dulijusega, on 30 Agustus 2011 at 10:32 said: tapi yg mnntukan tgl 30 agustus 2011 Balas  lapsippipm, on 30 Agustus 2011 at 10:37 said: Info untuk Profesor : berikut daftar Negara yang menetapkan 1 Syawal 1432H pada 30 Agustus 2011 Mekah,Madinah (Arab Saudi), Malaysia, Thailand, Jepang, New York, California, Hawaii, London, Belanda, Mesir, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Australia, Yordania, Rusia, Turki, Irlandia, Hong Kong. Balas sbg hariraya saudi pusat arabia, Islam sekarang

Idv, on 30 Agustus 2011 at 12:58 said:

yang berbeda siapa sekarang, yang usang siapa sekarang,, yg membuat idul fitri beda ―Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI‖ sok bener tp keblinger Balas

Cutadz, on 30 Agustus 2011 at 14:47 said: Udah jelas yang usang itu pemikiran prof, itu sendiri… Hahahaha Balas  Mengapa (selalu) Ada Beda Hari Raya? | thoriqul-ulum.com, on 30 Agustus 2011 at 10:39 said: [...] Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab Posted on 27 Agustus 2011 by tdjamaluddin 20 Votes [...] Balas  ahmad muhajir, on 30 Agustus 2011 at 10:40 said: Perkembangan ilmu Astronomi yang semakin canggih, membuat ilmu hisab menjadi semakin akurat,,, perbadaan sekarang ini bukan perbedaan metode hisab melainkan kriteria yang ditetapkan dalam menentukan tanggal syamsyiah. Kriteria penentuan tanggal tersebut menggunakan ―imkanur rukyat‖ dan ―wujudul hilal‘. terlepas dari perbedaan kriteria tersebut dengan ilmu hisab kita sudah bisa memastikan penentuan tanggal pada tahun-tahun berikutnya tanpa harus menggunakan metode rukyat. Timbul sebuah pertanyaan apakah metode rukyat harus ditinggalkan karena sudah ada metode hisab yang telah akurat (untuk menentukan posisi hilal)? Balas  rizqi, on 30 Agustus 2011 at 10:51 said:

membingungkan !!!!!!!!!!!……..itulah indonesia,,,,kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah……kita sebagai umat yang awam hanya dijadikan bola yg bisa ditendang sana tendang sini… lempar sana sini apa tdk lbh baik kalo di indonesia itu hanya ada satu forum ajayaitu umat islam indonesia….bayangkan di ponorogo ada 2 masjid ( yang kalau ditarik garis lurus tdk ada 50 m ) yang masing-2 di klaim oleh milik warga aliran tertentu dalam satulingkungan tepatnya di kelurahan kertosari sehingga umat terpecah belah….sungguh memprihatinkan masing masing mengedepankan egonya….. Balas  Orang Miskin, on 30 Agustus 2011 at 10:57 said: Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari: hari Fithr dan hari Adha. (HR Muttafaq ‗alaihi) Balas  Orang Miskin, on 30 Agustus 2011 at 11:07 said: Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari: hari Fithri dan hari Adha. (Hadist Riwayat Muttafaq ‗alaihi).

Jika di hari kiamat nanti diputuskan tgl 30 masih ramadhan, masih bisa dibayar lain waktu, tapi jika ternyata 1 syawal dan puasanya haram, gimana bayarnya dan siapa yg nanggung dosanya ??? lebaran tgl 30, shalat ied tgl 31, beres kan ??? Balas

deen, on 4 September 2011 at 14:46 said:

Saya bingung, Muhammdiyah yang biasanya ―Social Oriented‖ (ingat Surat Al-Mau‘n itu dasar pendiriannya!)…. kok tiba-tiba menjadi ―Ritual Oriented‖ jika bicara tentang 1 Syawal …. Balas

 Luqman, on 30 Agustus 2011 at 11:08 said: kayaknya metode yg berkembang bukan hal yg harusnya diperdebatkan, tp didiskusikan lebih lanjut antar tokoh/ahli yg selisih paham..

Menurut sy Muhammadiyah hanya perlu mengikuti lebaran yg ditetapkan Pemerintah, masalah masih puasa atau belum, tergantung keyakinan masing2 pada metode yg dipilih. ada yg bisa kasi dalilnya mengenai keharusan mengikuti pemerintah dalam hal hari raya ?? Balas

uut, on 30 Agustus 2011 at 13:45 said: ngaco !!!, itu bid‘h namanya masa shalat ‗Idul fitri tgl 2 dilaksanakan oleh warga muhammadiyah ?! Lagian nanti suatu saat kalau ulil amri condong kpd pemahaman Muhammadiyah, apk yg tdk sepaham dg Muhammadiyah harus shalat ‗Id padahal mrk masih berpuasa?? yg benar mah Pemerintah jangan ikut campur, kalau mau ikut campur berantas saja perbedaan, contohlah Islam Iran, disana hanya ada satu pemahaman, mesjid2 yg tdk sepaham diberantas. Beres kan… Balas

o

Luqman, on 30 Agustus 2011 at 16:46 said: @uut maaf, bukannya biasanya Muhammadiyah sdh berbuka duluan ? jadi tidak masalah khan jika shalat iednya ikut sama pemerintah ?

apakah

hal

tsb

bid‘ah

?

bukannya adalah kewajiban bagi kita untuk patuh sama pemerintah ? dalam hal penentuan lebaran (shalat ied) adalah hak dan tanggungjawab pemerintah… bukankah shalat ied itu dianjurkan agar gema takbir dikumandangkan di negeri ini secara bersama2.. bukan sendiri2…

Jadi, tdk ada perbedaan yg mesti diberantas.. yg ada hanyalah turun ke jalan bertakbir bersama, dan shalat ied bersama2 pula.. Dalam hal ini tentu saja sy tidak condong ke Muhammadiyah ataupun NU, dalil keduanya cukup masuk akal, tetapi krn sy kurang ilmu, sy tdk cukup berkompeten untuk menyatakan siapa yg paling benar.. hanya saja, menurut sy tanggungjawab mesti kita serahkan pada pemegang tanggungjawab, dalam hal ini pemerintah… sedangkan penentuan apakah sdh masuk 1 syawal atau tdk kembali kpd keyakinan pribadi masing atas metode mana yg dianggap yg paling benar. perlu diingat, puasa adalah urusan manusia dgn tuhannya

sedang Lebaran / shalat ied adalah SYIAR ISLAM.. wanita berhalangan pun disuruh ke lapangan untuk meramaikan… makanya sy katakan sebelumnya, Muhammadiyah seharusnya tdk membuat lebaran sendiri.. tapi ikut pemerintah.. karna ini adalah SYIAR ISLAM sedangkan jika keyakinan Muhammadiyah, 1 syawal tgl 30/08/11 maka mereka yg berkeyakinan sama tdk berpuasa pada hari itu adalah sesuatu yg tdk perlu diperdebatkan…

 Orang Miskin, on 30 Agustus 2011 at 11:08 said: . Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari: hari Fithri dan hari Adha. (Hadist Riwayat Muttafaq ‗alaihi).

Nah lo, kalo ternyata di hari kiamat nanti diputuskan bahwa 30 agustus 2011 adalah Hari Raya Fitri, siapa yg mau menanggung dosa ratusan juta muslim Indonesia yg berpuasa pada Hari itu ??? Balas

aziz, on 30 Agustus 2011 at 15:57 said: Tidak ada yag berdosa mas, kalau yang mereka lakukan itu ijtihad dan syar‘i, tapi sekali lagi dengan hisab itu tidak syar‘i, melainkan ada orang yang berani disumpah melihat hilal…. Balas

wira, on 30 Agustus 2011 at 16:39 said: Kalau ternyata di akhirat nanti diputuskan 31 agustus 2011 adl 1 syawal, siapa pula yg nanggung? #tidak ada manfaat berdebat kusir, sebaiknya dipahami saja argumen masing2. Balas

 mamad, on 30 Agustus 2011 at 11:10 said: sekarang bnyak negara sudah lebaranan.so ya sudahlah. yang nanggung dosa adalah ulil amri kan, juga yang meyakinkan dan memaksakan pendapatnya ke ulil amri tersebut. okelah Balas  Ted, on 30 Agustus 2011 at 11:16 said:

to bapak djamaluddin,perbedaan itu biasa.jdi kita harus slg menghormati…………Saya tahu bapak ahli dalam hal ini.tapi hal tersebut (1 Syawal) sangat berhubungan dgn masalah kemantapan hati.wajar donk kalo beda,….. Balas  suratman abu, on 30 Agustus 2011 at 11:16 said: janganlah tendensius ke satu ormas saja dalam hal ini ke (M)… lihat aja negara2 lainnya. mereka pun pastinya ahli dan alatnya lebih canggih dari indonesia. dan sebagai muslim n mu‘min mestinya punya sandaran syar‘i dong tentang penetapan 1 ramadhan n 1 syawal ini. ada hadits Rasulullah Saw yg menyatakan walaupun hanya 1 org saja yg berani disumpah sudah melihat hilal,maka itu sah.(Hr. Abu Dawud). Balas

uut, on 30 Agustus 2011 at 13:33 said: benar mas, kalau tdk salah tahun-tahun sebelumnya justru cakung yg dijadikan patokan, eh pas gikliran ada org lihat hilal di Cakung dan Jepara malah ditolak, alasanya ini dan itu …kakkakkkakkkkakkak… lucu kan ??? Balas

aziz, on 30 Agustus 2011 at 15:53 said: Penulis diatas memojokan ormas M karena ormas itulah yg bertentangan dengan cara atau hasil penelitaian mereka. Makanya gak perlu itu hisab, satukan pendapat sesuai dg hadits nabi mengikuti ru‘yah, untuk penetapan romadhon dan Syawal, Ibadah haji. Balas

 agus, on 30 Agustus 2011 at 11:19 said: Ass. Pak thomas sy gak mihak salah satu ormas, hari raya skrang ktnya tgl 31/8/2011, tp yg aneh, arab saudi udah lebaran tgl 30/8, khan arab saudi mulai puasa sama dng indonesia tgl 1/8/2011, hrsnya indonesia puasa tgl 2/8/2011, gimana ini, trus terang saya sempat puasa tp tak batalin? Balas  Febri Ardian Pangestu, on 30 Agustus 2011 at 11:21 said: Menurut saya, kriteria muhammadiyah itu lebih tepatnya wujudul qamar (moon) bukan wujudul hilal (crescent). Karena yang namanya hilal itu adalah cahaya tipis berbentuk bulan sabit yang pertama kali muncul setelah bulan baru akibat pantulan cahaya matahari yang diterima manusia saat ba‘da maghrib. Artinya, wujud-nya hilal itu ya yang visible. Secara perhitungan bisa saja dikatakan telah mengalami konjungsi. Tetapi dalam derajat tertentu, tidak visible. Nah, dalil syar‘i menunjuk pergantian bulan (syahru, month) itu wujudul qamar (moon) atau wujudul hilal (crescent)? Balas  Anon, on 30 Agustus 2011 at 11:22 said: @awam Agar bisa merukyat bulan, jarak bulan dan matahari minimal 6,4 derajat dan beda antara tinggi bulan dan matahari dari ufuk minimal 4 derajat. Sampai saat ini di dunia tidak ada teleskop yang mampu melihat hilal dengan ketinggian di bawah 4 derajat.

http://www.tutiempo.net/en/moon/phases_8_2011_S.htm Balas  Irwan Winardi, on 30 Agustus 2011 at 11:34 said:

komennya pake metode TBC mereka (ini seandainya jika yang pake HIsab adalah golongan non Wahabi)— ―Hilal bisa dibawah 2 derajat itu TAHAYUL yang percaya TAHAYUL itu Musryik.‖ ―Hisab tak pernah dicontohkan nabi, Itu perbuatan BID‘AH semua BID‘AH itu sesat dan semua yang sesat masuk neraka‖ ―Secanggih-canggihnya hitungan matematis tak ada yang 100% akurat, Merupakan KHUROFAT bagi yang percaya bahwa hasil hitungan akurat 100%, Coba berapa konstanta Phi yang paling akurat‖ Balas

zgt, on 30 Agustus 2011 at 14:13 said: hakkkakkakk…. masih aja memaksakan pikiran ne….. (wong jowo omong mekso.. wagu..) Balas

Herwyn Juwono, on 30 Agustus 2011 at 14:32 said: Tambahan lagi, melihat hilal di Indonesia itu bisa jadi bid‘ah, gak ada contohnya dari nabi. Lihatlah hilal di Medinah ! Balas

o

rendah hati, on 30 Agustus 2011 at 21:33 said: @zgt &herwyn: anda goblog….

Hanya Manusia Biasa, on 31 Agustus 2011 at 17:09 said: @irwan: koq bilang2 orang goblok,, anda lebih goblok lagi, di jaman Rasulullah gak ada Kuno Itu jadwal Internet,, sekali sholat, pake berarti cara apa??? hisab itu bid‘ah…. anda… kan,,

kalo emang bid‘ah, teropong dulu tuh matahari ma bulan, baru sholat, jangan pake jadwal ini koq bilang2 bid‘ah tapi gak konsisten….. Balas sholat,,

zgt, on 2 September 2011 at 05:02 said: @rendah biasanya hati, omongan yg tingkat ga kebalik (biasanya :p tu…. lo)

mencerminkan

pendidikannya….

kayaknya dengan kata2 anda tu dah tercermin mana yg lbh g*bl*g Balas

 rezky batari, on 30 Agustus 2011 at 11:36 said: Berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ―(Waktu) puasa itu adalah ketika kalian berpuasa dan (waktu) Idul Fitri adalah ketika kalian beridul Fitri dan (waktu) Idul Adha adalah ketika kalian Beridul Adha.‖ Hadits ini tidak menyinggung sama sekali tentang ru‘yah atau hisab. Tapi ia menegaskan bahwa puasa dan Idul Fitri serta Idul Adha adalah ibadah jama‘iyah (yang dilakukan secara bersama) umat Islam, sebagaimana yang dijelaskan maknanya oleh para ulama Hadist dan

para fuqaha.(Shahih Imam Tirmidzi, Silsilah ash-Shahihah, Syaikh al-Albani, I/440 dan alMausu‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, II/ 9374-9375) Lengkapnya silahkan baca Menyatukan Idul Fitri Secara Syar‘i Dalam Semangat Ukhuwah dan http://wahdah.or.id/ Wallohu‘alam. Balas  Heri, on 30 Agustus 2011 at 11:44 said: Bismillah… Wasshalaatu wassalaamu `alaa Rasuulillaah, wa ba`d: Standar penetapan awal Ramadhan dan Syawal itu adalah ―Rukyatul Hilal (Melihat hilal)‖ sesuai sabda Nabi Saw..Shuumuu lirukyatihi wa afthiruu lirukyatihi… bukan ―Wujud Hilal‖, tidak ada dalilnya bahwa wujud hilal adalal standar menentukan awal Ramadhan/Syawwal. Karena idul fitri adalah perkara ibadah, maka ia seharusnya didasarkan pada dalil yg jelas… Ketika rukyat tidak bisa dilakukan sekalipun, Nabi Saw telah memberikan metode lain menghadapi problem ini, yaitu metode Ikmaal. Sebab lanjutan hadits abi Saw diatas berbunyi kurang lebih: ―fa in gumma `alaikum fa akkmiluu Sya‘baana tsalaatsiina yaumman…‖ (kalau kalian tak dapat merukyat karena mendung, maka genapkanlah bilangan Sya‘ban menjadi tigapuluh hari). Nabi tidak lantas menyuruh menggunakan hisab, ataumemerintahkan untuk bertanya kepada ahli hisab. Persatuan Ummat:

Betul bahwa umat Muhammad Saw kala itu adalah umat Ummi, sebagaimana sabada baliau: ―Kami adalah bangsa yang Ummi, tidak membaca dan berhitung hisab‖. Tapi tentu tidak semua mereka demikian. Perhatikanlah perkataan imam Ibnu Hajar di bawah ini dalam kitabnya Fathul Baari: ―Orang-orang Arab disebut sebagai bangsa ummy (ketika itu) karena tulis-menulis adalah hal yang sulit bagi mereka. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman: ―Dialah yang mengutus kepada bangsa yang ummy itu seorang Rasul dari kalangan mereka.‖ Hal ini tidak berarti di antara mereka tidak ada sama sekali orang yang bisa menulis dan berhitung. Hanya saja tulismenulis bagi mereka tergolong sedikit dan langka. Yang dimaksudkan dengan hisâb dalam hadits di atas ialah perhitungan bintang dan peredarannya. Mereka tidak memiliki pengetahuan tentang hal ini kecuali sedikit saja. Maka Nabi menetapkan hukum puasa dan ibadah lainnya dengan rukyat hilal guna mengatasi kerumitan perhitungan bintang bagi mereka. Penetapan hukum (dengan hilal) ini tetap berlaku dalam masalah puasa walau setelah itu ada orang yang mengerti masalah hisab. Bahkan konteks hadits mengisyaratkan penolakan penggunaan metode hisab sama sekali. Hal ini dijelaskan dengan sabda beliau: ―Jika terjadi mendung, maka genapkanlah bilangan (bulan Sya`ban) tiga puluh hari‖, beliau tidak menyabdakan, ―Tanyakanlah kepada

ahli hisab?‖ Ayat-ayat yang menegaskan bahwa matahari dan bulan telah ditetapkan bagi keduanya manzilahmanzilah untuk mengetahui perhitungan tahun dan hisab (waktu), telah dikhususkan oleh hadits di atas. Nabi pasti tahu akan ayat-ayat tentang matahari dan bulan tersebut, tetapi dalam menentukan awal puasa dan lebaran Nabi Saw menyuruh kita menggunakan rukyat.. dan siapakah yang paling memahami makna ayat Al-Quran selain Nabi Saw?! Selain itu Allah Swt berfirman dengan tegas: ―Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: ―Bulan sabit itu adalah ‗mawaaqiit‘ (tanda-tanda waktu) bagi manusia dan (bagi ibadat) haji‖ (Al-Baqarah: 189). Menjelaskan hal ini Imam Ath-Thabari berkata: ―Ia adalah mawaaqiit bagi manusia, menjadikannya untuk (ketentuan awal) puasa kaum muslimin dan awal Idul Fitri mereka, untuk manasik dan haji mereka, masa iddah istri-istri mereka, tenggat waktu hutang mereka…‖ Menurut saya tidak penting ketepatan akurat atau tidaknya hasil hisab dalam menentukan awal Ramadhan/Syawal ini… Yang terpenting adalah persatuan umat…. Persatuan itu hukumnya wajib, sementara hari raya itu Sunnat, tentu tidak layak mendahulukan Sunnat dan mengabaikan yang wajib… Jikapun seandainya hasil rukyat salah/tidak akurat, tidak akan ada yang

berdosa… karena prosedur penetapan telah dijalankan sesuai perintah Nabi Saw. Bahkan salah pun akan mendapat pahala satu, karena hal ini termasuk perkara ijtihadiyah…. Nabi Saw pernah bersabda kepada Aisyah: ―Kalaulah kaummu tidak hadiitsu `ahdin bil islaam (baru masuk Islam), niscaya aku akan mengubah bangunan ka‘bah sesuai dengan pondasi yang dibangun oleh Ibrahim….‖ Tetapi Nabi tidak melakukannya demi supaya tidak terjadi perpecahan..dan mempertahankan persatuan umat. Padahal pondasi ka‘bah yang sekarang tidak seratus persen benar/tidak sesuai dengan yang sebenarnya, yang dibangun oleh nabi Ibrahim As dahulu…Para shahabatpun tidak melakukan apa yang tidak dilakukan oleh Nabi Saw. Sebaliknya jika hasil hisab Salah, tentu lain masalah. Selain hasil yanKarena tidak hanya salah hasil tapi juga menyalahi perintah Nabi Saw… Dan kalaupun benar, tetap saja menyalahi perintah Nabi Saw, karena beliau memerintahkan menggunakan metode rukyat…. Menggunakan hisab dalam hal ini bukanlah ijtihad, karena kaidah fikih mengatakan: ―Tidak ada ijtihad pada hal-hal yang ada nasnya…‖ Hadits Kuraib juga sering menjadi alasan untuk tetap berbeda dan mengajak orang untuk tetap berbeda. Berikut bunyi haditsnya: ―Aku pernah pergi ke negeri Syâm dan hilal Ramadhan terbit ketika aku berada di sana. Aku

melihat hilal pada malam Jumat. Kemudian aku datang di Madinah pada akhir bulan (Ramadhan). Lalu Ibnu `Abbâs bertanya kepadaku: ―Kapan kalian melihat hilal?‖ Aku menjawab: ―Kami melihatnya pada malam Jumat.‖ ―Engkau yang melihatnya sendiri?‖ Tanya Ibnu `Abbâs. ―Ya, dan dilihat juga oleh orang-orang, mereka berpuasa dan Mu`awiyah pun berpuasa‖, jawabku. Lalu Ibnu `Abbâs berkata: ―Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami akan berpuasa hingga menyempurnakan (bilangan Ramadhan) tiga puluh hari atau (29 hari jika) kami melihat hilal.‖ Lalu aku berkata: ―Tidakkah cukup bagi Anda rukyat Mu`awiyah.‖ Ibnu `Abbâs menjawab: ―Tidak, beginilah yang diperintahkan kepada kami oleh Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam.‖ [HR. Muslim]. Memang sebagaian ulama berpendapat bahwa rukyat setiap negeri menjadi dasar penetapan awal bulan bagi negeri itu sendiri berdasarkan hadits di atas. Akan tetapi mayoritas ulama menjawab hadits ini, bahwa hadits ini khusus bagi orang yang berpuasa mengikuti rukyat negerinya, kemudian ia mendapatkan informasi di tengah-tengah bulan puasa bahwa di negeri lain orang-orang melihat hilal lebih dahulu satu hari. Dalam keadaan seperti ini ia harus meneruskan puasanya bersama penduduk negerinya hingga menyempurnakan (bilangan Ramadhan) tiga puluh hari atau (29 hari jika) penduduk negerinya melihat hilal (tanggal satu pada sore

hari ke-29 itu). Tidak ada di dalam hadits itu anjuran untuk tetap berbeda dalam satu negeri. Yang ideal menurut saya adalah ―Rukyat Global‖, dimana ketika ada salah satu negeri Islam yang berhasil merukyat hilal, maka negeri-negeri Islam yang lain harus mengikut. Terutama masalah (penyatuan awal puasa) ini menjadi mudah di zaman ini (dengan majunya media informasi dan komunikasi). Akan tetapi kalaupun hal ini belum bisa terwujud, karena dibutuhkan perhatian yang serius dari seluruh negeri-negeri Islam, minimal kita jangan berbeda dalam satu negeri. ―Tak elok kelihatannya dan tak nyaman rasanya.‖ Selain itu penting juga untuk melihat siapa yang memiliki wewenang menentukan itsbat awal Ramadhan/Syawal… Wewenang adalah milik pemimpin, sesuai perintah Al-Quran dan Sunnah yang mewajibkan untuk menaati pemimpin…. Siapa saja para sahabat Nabi boleh merukyat … tetapi tetap saja yang menentukan akhirnya adalah Nabi Saw… Begitu juga di Negara kita, siapa saja boleh merukyat dan meng-hisab, tetapi tetap saja pemerintah yang berwenang untuk menentukan….bukan pribadi atau golongan tertentu…. apalagi umat Islam wajib mengikuti pemimpin selama dalam hal kebaikan dan kemaslahatan umat, bukan dalam hal maksiat… Maka wewenang adalah milik Pemerintah,,,, dan tidak wajib, bahkan termasuk ketidaktaatan kepada perintah Allah jika tidak menaati pemerintah selama mereka memerintahkan kepada kemaslahatan dan kebaikan…. Mengikuti keputusan Muhammadiyah dalam hal ini adalah

mengikuti keputusan Ormas yang tidak berwenang memberi keputusan untuk ummat dalam hal ini, karena Muhammadiyah bukanlah Ulil Amri (Pemimpin)… Saya menyampaikan hal ini bukan berarti anti Muhammadiyah atau Hisab… Saya justru simpatisan Muhammadiyah. Saya hanya tidak ingin ―ngototnya‖ para petinggi

Muhammadiyah menjaga gengsi mereka menjadikan Organisasi ini dijauhi dan tidak disukai oleh sebagaian warga non Muhammadiyah…serta mempertajam perbedaan terutama antara warga NU dan Muhammadiyah… Saya tidak ingin kebahagiaan beridul fitri harus terganggu gara-gara perbedaan ini. Muhammadiyah berarti nisbat ke-Pengikut-an kepada Muhammad Saw, maka seharusnya Muhammadiyah harus mengikuti Nabi Muhammad dalam hal ini…. dan Nabi Muhammad Saw tidak menggunakan Hisab tapi Rukyat….. ―In uriidu illal ishlaaha mastatha‘tu, wamaa taufiiqi illaa billaahi ‗alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.‖ Balas

Asep Hilman Yahya, on 30 Agustus 2011 at 17:15 said: Koq tidak disinggung-singgung hadis-hadis yang dari Ibnu Umar ya….. yang ada ―faqduru lah‖ atau hadis-hadis yang menjelaskan bahwa dari 9 kali Ramadan yang dialami Nabi saw, hanya dua kali saja beliau puasa Ramadan 30 hari. Selebihnya, yakni tujuh kali, beliau puasa Ramadan 29 hari….. Di samping ada hadis lain yang dibaca Muhammadiyah, ternyata satu hadis yang sama pun bisa difahami berbeda……

Balas

Diyon Aja, on 30 Agustus 2011 at 17:39 said: Sayangnya rukyat yg sudah bisa melihat hilal ditolak dgn alasan hisab…, apakh tidak ironi. Maaf klo salah krn saya masih awam Balas

 Kampung Foto, on 30 Agustus 2011 at 11:53 said: sipp Balas  Cokro Adi, on 30 Agustus 2011 at 11:55 said: Alhamdulillah bertambah pengetahuan lagi, sukron http://www.pandawarepo.com Balas  Wahfiudin, on 30 Agustus 2011 at 11:59 said: Pak Thomas, mohon tanggapi ya pemahaman saya ini, dimana kelirunya: 1. Qamar (Ar) Moon (En): Benda langit yg menjadi satelit bumi, bentuknya selamanya BULAT seperti BOLA (tidak pernah berbentuk sabit, setengah lingkaran, atau bundar

ceper/cakram). Ia tidak memancarkan cahaya, melainkan hanya memantulkan cahaya matahari. Orang Indonesia menyebutnya Bulan. 2. Syahr (Ar) Month (En): Periode waktu synodic Qamar/Moon mengelilingi bumi hingga ke titik semula. Orang Indonesia menyebutnya Bulan juga (mis: bulan Mawlid). 3. Hilal (Ar) Crescent (En): Cahaya matahari yang dipantulkan Qamar ke arah bumi dan nampak terlihat berbentuk Sabit. Orang Indonesia menyebutnya Bulan juga (ditambah ‗sabit‘). 4. Badr (Ar) Full Moon (En): Cahaya matahari yang dipantulkan Qamar ke arah bumi dan nampak terlihat berbentuk Cakram. Orang Indonesia menyebutnya Bulan juga (ditambah ‗purnama‘). Nah, empat hal yang dalam Bahasa Arab dan Inggeris disebut dengan istilah berbeda itu, dalam Bahasa Indonesia semuanya disebut dengan istilah yang sama: Bulan (dengan tambahan sabit atau purnama).

Ini yg membuat banyak awam (termasuk muballigh yg awam astronomi) sering saling berdebat dengan istilah yg rancu. Kasus Muhammadiyah:

Kalau posisi Qamar/Moon sangat rendah, ya gak bakalan ada Hilal/Crescent (cahaya matahari yg dipantulkan qamar ke arah bumi dlm bentuk sabit). Jadi sebenarnya yg sudah ada di atas ufuk adalah Qamar/Moon, bukan Hialal/Crescent. Jadi bukan ―wujudul Hilal‖ melainkan ―wujudul Qamar‖. Hemat saya penggunaan istilah ―wujudul Hilal‖ (padahal ―wujudul Qamar‖) adalah penyesatan opini umat, agar tetap terkesan berpegang pada hadits, padahal jelas obyeknya sudah bukan Hilal lagi. Juga problem utama mengapa hari raya berbeda tidak terletak pada penggunaan METODE (Hisab maupun Rukyah) karena kedua metode sudah sangat akurat dan saling mendukung. Problem ada pada APA yang mau dihisab dan yang mau dirukyat, QAMAR atau HILAL! Repotnya, Muhammadiyah menyamakan Qamar dengan Hilal. Padahal Qamar selamanya berbentuk bulat dan tak kan dapat dilihat mata manusia karena tak memancarkan cahaya.

Beda dengan Hilal atau Badr, karena memang cahaya matahari yg dipantulkan Qamar maka dapat dilihat dengan mata. Saran a. saya, pertajam dalam pengertian komunikasi Qamar dan dan pengertian sosialisasi: Hilal.

b. jelaskan perbedaan Qamar dan Hilal. Supaya umat tidak lagi terbingungkan dengan istilah ―wujudul Qamar‖ yang disebut sebagai ―wujudul Hilal‖. Muhammadiyah pun harus jujur mengatakan, yg mereka jadikan patokan adalah ―wujudul Qamar‖, bukan ―wujudul Hilal‖! Terima kasih Balas

irfan ashari, on 31 Agustus 2011 at 10:16 said: alhamdulillah…tambah wawasan ttg wujud al hilal dan wujud al qomar…bagaimana MUHAMMADIYAH ? smoga menjadi pertimbangan hisab bagi muhammadiyah Balas

 abi fatihah, on 30 Agustus 2011 at 11:59 said: aslm sebaiknya di carikam solusi atas perbedaan 1 syawal pada tahun2 yang akan datang..berpikirlah untuk slalu mencari penyelesaiaan pada suatu permasalahan apalagi ini adalh permasalah ummat yang akan melahirkan sikap emosional dan fanatisme pd kelompok2 tertentu. sangat tak baik jika pada hari yang baik ini hati kita di selimuti prasangka buruk..apalagi sampai emosional dan akan melahirkan perpecahan…dari kasus ini tampak resistensi pada pemerintah dan fanatisme pada kelompok masing2… prof sebaiknya

lebih banyak sosialisasi dr pada hanya menangapi pernyataan sampai menimbulkan persepsi prof dianggap provokator…wassalam Balas  Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan

Tajdid Hisab | siwah.com, on 30 Agustus 2011 at 12:04 said: [...] Source : Prof T. Djamaluddin Blog [...] Balas  Dedy, on 30 Agustus 2011 at 12:19 said: Wah Prof tulisan anda sangat menyudutkan salah satu ormas, sama seperti perkataan dalam sidang isbat anda semalam dengan menyudutkan ormas tertentu. Maaf prof yang pintar ilmu falaq bukan hanya anda. ormas yang anda sudutkan juga mempunyai orang2 ahli falaq. Walau pun di dunia maya ini orang bebas mengepresikan bukan berarti anda boleh menyudutkan, anda seorang akedemis tp tidak mencerminkan itu. Saya bukan seorang warga ormas yang anda sudutkan. Balas  Umat islam, on 30 Agustus 2011 at 12:21 said: Dalam ilmu Aqoid ada 2 dalil yang itu dalil Aqli dan naqli. Menurut sepengetahuan kami metode hisab itu ―dalil‘aqli digunakan sebagai obor ditangan untuk penunjuk jalan … dan rukhyat itu dalil naqli digunakan sebagai otak dan mata dalam menentukan arah dan tujuan‖ Balas  adit, on 30 Agustus 2011 at 12:22 said: Sampai tahun depan pun nggak akan beres masalah penentuan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah.

Atau mungkin muslim Indonesia akan ―dipaksa‖ berpuasa 30 hari penuh setiap tahunnya gara-gara Professor yang terhormat. Selamat kpd muslim Indonesia, kita tidak akan pernah seragam, jangankan dengan muslim di negara lain, di negara sendiripun tidak bisa bersamasama. Balas

rendah hati, on 30 Agustus 2011 at 21:37 said: gebleg ente….jumud… Balas

 Ridhwan, on 30 Agustus 2011 at 12:38 said: Mungkin ini bisa jadi bahan Pertimbangan sementara terkait Metode Rukyat & Hisab yg menjadi Pembicaraan …. http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-365-detail-apa-permasalahan-ruyat.html Balas  Agus Iman, on 30 Agustus 2011 at 12:46 said: Thanks Sukses buat anda!!! Balas Prof atas ilmu nya….

Wawan Setiawan, on 31 Agustus 2011 at 06:56 said:

memang seorang Profesor Boleh sombong dengan ilmu yang di milikinya…dan terima kasih prof…atas penyesatan ini…. Balas

 daryati, on 30 Agustus 2011 at 12:59 said: saya jadi bingung, ya allah tunjukan kami jalan yang benar, maaf saya mengatakan jalan yang benar bukan jalan yang lurus, karena kalau ikut jalan yang lurus kita tidak akan sampai rumah, jalan berkelok-kelok semua.

saya membaca buku-buku tentang astronomi kalau bulan sideris lamanya 27,5hari dan bulan sinodis 29,5 hari (dari bulan baru ke bulan baru lagi), saya jadi pusing, saya mau dong ikut di kursus bagaimana cara menentukan hilal Balas  cr7, on 30 Agustus 2011 at 13:00 said: lucu jaman modern kok malah maen tropong2an, Balas  cr7, on 30 Agustus 2011 at 13:05 said: Nabi saw dalam beberapa hadisnya menyatakan bahwa umur bulan itu 29 hari atau terkadang 30 hari. Jadi orang yang berpuasa 29 hari dan berlebaran besok adalah sah karena sudah berpuasa selama satu bulan. Secara astronomis, pada hari ini, Senin 29 Agustus 2011, Bulan di langit telah berkonjungsi (ijtimak), yaitu telah mengitari bumi satu putaran penuh, pada pukul 10:05 tadi pagi. Dengan demikian bulan Ramadan telah berusia satu bulan. Dalam hadis-hadis Nabi saw, antara lain bersumber dari Abu Hurairah dan Aisyah, dinyatakan bahwa Nabi saw lebih banyak puasa Ramadan 29 hari daripada puasa 30 hari. Menurut penyelidikan Ibnu Hajar, dari 9 kali Ramadan yang dialami Nabi saw, hanya dua kali saja beliau puasa Ramadan 30 hari. Selebihnya, yakni tujuh kali, beliau puasa Ramadan 29 hari.

Mengenai dasar penetapan Idulfitri jatuh Selasa 30 Agustus 2011 adalah hisab hakiki wujudul hilal dengan kriteria (1) Bulan di langit untuk bulan Ramadan telah genap memutari Bumi satu putaran pada jam 10:05 Senin hari ini, (2) genapnya satu putaran itu tercapai sebelum Matahari hari ini terbenam, dan (3) saat Matahari hari ini nanti sore terbenam, Bulan positif di atas ufuk. Jadi dengan demikian, kriteria memasuki bulan baru telah terpenuhi. Kriteria ini tidak berdasarkan konsep penampakan. Kriteria ini adalah kriteria memasuki bulan baru tanpa dikaitkan dengan terlihatnya hilal, melainkan berdasarkan hisab terhadap posisi geometris benda langit tertentu. Kriteria ini menetapkan masuknya bulan baru dengan terpenuhinya parameter astronomis tertentu, yaitu tiga parameter yang disebutkan tadi. Mengapa menggunakan hisab, alasannya adalah: Hisab lebih memberikan kepastian dan bisa menghitung tanggal jauh hari ke depan, Hisab mempunyai peluang dapat menyatukan penanggalan, yang tidak mungkin dilakukan dengan rukyat. Dalam Konferensi Pakar II yang diselenggarakan oleh ISESCO tahun 2008 telah ditegaskan bahwa mustahil menyatukan sistem penanggalan umat Islam kecuali dengan menggunakan hisab. Di pihak lain, rukyat mempunyai beberapa problem: Tidak dapat memastikan tanggal ke depan karena tanggal baru bisa diketahui melalui rukyat pada h-1 (sehari sebelum bulan baru),

Rukyat tidak dapat menyatukan tanggal termasuk menyatukan hari puasa Arafah, dan justeru sebaliknya rukyat mengharuskan tanggal di muka bumi ini berbeda karena garis kurve rukyat di atas muka bumi akan selalu membelah muka bumi antara yang dapat merukyat dan yang tidak dapat merukyat,

Faktor yang mempengaruhi rukyat terlalu banyak, yaitu (1) faktor geometris (posisi Bulan, Matahari dan Bumi), (2) faktor atmosferik, yaitu keadaan cuaca dan atmosfir, (3) faktor fisiologis, yaitu kemampuan mata manusia untuk menangkap pantulan sinar dari permukaan bulan, (4) faktor psikologis, yaitu keinginan kuat untuk dapat melihat hilal sering mendorong terjadinya halusinasi sehingga sering terjadi klaim bahwa hilal telah terlihat padahal menurut kriteria ilmiah, bahkan dengan teropong canggih, hilal masih mustahil terlihat. Balas 

tirno bungko, on 30 Agustus 2011 at 13:07 said: kami umat yang awan cukup setia pada pemegang otoritas spiritual atau pun pemerintah yang bijak .jika berbeda biasa jika sama juga lauar biasa. yang kami harap bukan beda ataupun sama .tapi apa yang kami laksanakan yaitu bisa menjadi tujuan yang muttaqin dan berlandaskan perintah rosul rosul terdahulu,akhirnya kami bersukur kalau peristiwa ini menjadi perhatian para cerdik pandai dan pemerintah… Balas  yusron, on 30 Agustus 2011 at 13:09 said: Yang ngerti ilmunya aja dimaki maki, mungkin sebentar lagi keluar kata kata kafir hehehehe…..maju terus Prof….kemarin kemarin kan kaum ini merasa paling banyak Doktornya , sebagai orang yg netral mungkin saran aja Prof memperbaiki gaya bahasa ….pisssss komunikasi, tapi yaa saya paham ilmuwan itu seperti …Jjadi KAUM SANG PENCERAH ini memang kudu DICERAHKAN…..mungkin mataharinya sudah mo redup kalee Balas  yayan, on 30 Agustus 2011 at 13:19 said: tadi kami mengadakan shalat ‗Id di depan perguruan Muhammadiyah Cikampek dihadiri sekitar 1000 orang. Yang memukau, kami dibantu pengamanannya oleh Banser-NU, demi Allah tanyakan saja kpd pak Emay (ketua GP ansor merangkap ketua KPU kab. Karawang), bahkan 2 th yg lalu yg memimpin takbirannya salah seorang tokoh muda NU. Artinya di akar rumput kalau gak dipanas-panasin sama tokoh2 di atas seperti orang2 yg berebut mik semalam pd waktu sidang Isbath yg bahasanya semuanya menyadur dari pak Thomas-seperti direkayasa saja?, niscaya di akar rumput sangat kondusif ukhuwah Islamiyah terasa, kami pun sbg warga Muhammadiyah tdk ada yg berani makan dan minum secara bebas. Itulah persaudaraan yg sesungguhnya, dg sesama saudara meskipun berbeda khilafiyah tetap akrab. Bisakah bapak2 yg diatas yg antusias memegang mik serta pak Thomas Jamaludin meniru kami, di sini di Cikampek???

Balas

Abdullah, on 1 September 2011 at 17:14 said: kita syukuri pemimpin dan penguasa bukan Wahabi sehingga masih kondusif spt diatas, harus berhati2 ketika Wahabi seperti di Saudi memegang pimpinan, keras dan kejam membunuhi para ulama yg berbeda haluan, baca referensi buku sejarah berdarah sekte wahabi Balas

 indonesia, on 30 Agustus 2011 at 13:23 said: http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=37929 bukan provokasi atau apa, cuman ingin bertanya, rakyat islam indonesia sekarang dilanda keragu – raguan dalam hari 1 syawal. Dari lampiran link yang saya lampirkan di atas, bahwa hanya 4 negara saja yang 1 syawal hari rabu, yaitu oman, indonesia, selandia baru dan afrika selatan. Yang kita ketahui kenapa ada perbedaan yang begitu besar? sampai 1 hari? padahal jarak kita antar negara lain tak beda hanya 1 jam/2jam contoh malaysia/singapura, dan dari saudi pun kita berbeda 4 jam? bagaimana itu bisa terjadi? mohon masukannya mas thomas makasih. saya bukan muhammadiah tapi kami pun ragu, dan saya yakin banyak non muhammadiah yang ragu juga, makasih Balas  D. BAYU R., on 30 Agustus 2011 at 13:25 said: yang jelas di sini kita saudara…. apapun organisasi nya, ISLAM agamanya MUHAMMAD Rosulnya ALLAH tuhanya… kita semua harus saling banyak belajar dan belajar… mari kita saling hormat menghormati antar sesama MUSLIM, tidak perlu saling salah dan

menyalahkan, apa yang kita percayai dan yg kita yakini itu lah yg kita jadikan pedoman. mohon maap lahir dan bathin wahai saudara muslim ku…….. Balas  mr_yonn, on 30 Agustus 2011 at 13:31 said: Tapi, kenyataannya pada malam sebelum sidang Isbath sudah ada 2 daerah yang menyatakan melihat bulan yaitu Daerah Jakarta Cakung dan Jepara tetapi kenapa tidak dipakai untuk disumpah sebagai dasar penetapan 1 Syawal 1432 H dan kenyataannya Negara Tetangga kita Singapura dan Malaysia,serta Mesir ,UEA dan Arab SAudi menetapkan 1 syawal 1432 H jatuh pada hari Selasa 30 Agustus 2011. Balas  Ridhwan, on 30 Agustus 2011 at 13:37 said: Prof ini satu lg perlu utk di pahami http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-392-detail-penjelasan-majelis-tarjih-dan-tajdid-ppmuhammadiyah-soal-penetapan-idul-fitri-besok.html Balas  Ridhwan, on 30 Agustus 2011 at 13:45 said: Sangat boleh jadi, Idul Fitri di Indonesia tahun ini berbeda lagi. Padahal di kebanyakan negara muslim lainnya tidak terjadi. Entahlah, kenapa begitu sulit menyatukan dua pendapat mayoritas itu disini. Padahal keduanya sama-sama bisa menghisab dan sama-sama bisa merukyat… Sulitnya menyatukan dua pendapat ini, seakan-akan menjadi cermin atas ego partisan yang masih begitu kuat di antara golongan-golongan umat Islam. Padahal, mestinya solusinya tidaklah sulit untuk dipecahkan. Masalah sebenarnya bukanlah ‘tidak bisa‘, melainkan ‘tidak

mau‘ saja. Dengan kata lain, jika kedua pihak yang berbeda itu ‘mau‘ semua ini akan selesai dengan ending yang sangat melegakan umat yang sudah lama terombang-ambing dalam kebingungan yang tidak perlu ini. Masalah utamanya tidak lebih dari sekedar ‘kesepakatan definisi‘ tentang datangnya ‘bulan baru‘ alias penampakan hilal. Dalam hal ini adalah bulan Syawal. Bahwa, dalam kalender Hijriyah yang berpatokan pada putaran Bulan terhadap Bumi, satu bulan disandarkan pada lamanya Bulan mengitari Bumi satu putaran. Dari titik A ke titik A lagi, dari horison ke horison lagi, yang lamanya 29,5 hari. Periode satu putaran Bulan terhadap Bumi itu terlihat oleh manusia dari permukaan Bumi sebagai munculnya Bulan dalam bentuk Bulan sabit yang sangat tipis, kemudian semakin menebal, dan mencapai Bulan Purnama, lantas menjadi berbentuk sabit lagi sampai tenggelam. Maka, datangnya bulan baru (dalam hal ini Syawal) selalu ditandai oleh munculnya bulan sabit alias hilal di ufuk barat, yang tampak pada saat matahari tenggelam di hari terakhir Ramadan. Perbedaan muncul dikarenakan adanya prinsip yang berbeda. Kelompok pertama berpendapat, bahwa jika hilal sudah berada di atas horison alias diatas nol derajat garis datar Bumi, itu sudah menunjukkan datangnya bulan baru. Berapa pun ketinggian hilal, pokoknya sudah diatas nol derajat, itu artinya bulan Ramadan sudah habis, dan tidak boleh berpuasa lagi. Esok hari adalah 1 Syawal. Kelompok kedua berpendapat, bahwa untuk bisa disebut sebagai bulan baru hilal itu harus ‘terlihat‘. Karena ada hadits Nabi yang menyebutkan bahwa, barangsiapa melihat hilal maka hentikanlah puasa Ramadan. Dan jika hilal belum terlihat, maka genapkanlah puasanya menjadi 30 hari. Masalahnya memang, satu bulan Hijriyah itu berumur 29,5 hari. Sehingga kadang, kita berpuasa 29 hari, dan di waktu lain kita berpuasa 30 hari karena menggenapkan sampai terbenamnya matahari. Kita akan berpuasa 29 hari, jika 0,5 harinya itu sudah muncul di awal Ramadan. Dan kita berpuasa 30 hari, jika 0,5 harinya hadir di akhir Ramadan. Untuk tahun ini, sebenarnya 0,5 hari itu sudah muncul di awal Ramadan. Sehingga, di akhir Ramadan ini hilal sudah berada di atas horison meskipun tidak sampai 2 derajat. Bagi

kelompok pertama, ini dianggap sudah cukup sebagai bukti bahwa bulan Syawal sudah datang. Karena itu, puasanya hanya 29 hari. Dan tanggal 30 sudah shalat Idul Fitri. Namun, bagi kelompok kedua, belum cukup hitungan di atas kertas itu, karena bisa saja salah. Karena itu harus dibuktikan dengan ‘melihat‘ munculnya hilal di ufuk Barat. Jika tidak terlihat, keputusannya adalah menggenapkan puasa menjadi menjadi 30 hari. Tetapi jika terlihat, mereka akan mencukupkan puasanya hanya 29 hari. Dan kita shalat Id bersama. Oh, betapa indahnya… Sayangnya, kemungkinan besar, hilal tidak akan terlihat karena bulan sabit itu demikian tipisnya. Ia akan menampakan diri di atas horison tidak sampai 2 derajat. Dari pengalaman para ahli astronomi, bulan sabit baru akan tampak oleh mata atau bahkan oleh peralatan jika berada di ketinggian minimal 4 derajat. Karena itu, di sejumlah negara dibuat kesepakatan, bahwa yang disebut bulan baru itu adalah jika hilal sudah setinggi minimal 4 derajat di atas horison. Nah, selama kedua belah pihak bersikukuh dengan pendapat masing-masing tentang datangnya bulan baru, maka ‘masalah yang tidak perlu‘ ini akan terus ada. Di Mesir, perbedaan ini dengan sangat mudah diatasi oleh pemerintah. Yakni, dengan menyerahkan kepada ahlinya. Masing-masing golongan yang berbeda tidak boleh melakukan perhitungan dan rukyat sendiri-sendiri, melainkan diserahkan kepada lembaga astronomi milik negara. Para ahli Astronomi itulah yang menghitung, dan kemudian merukyat di lapangan dengan menggunakan peralatan yang mereka miliki. Hasilnya diserahkan kepada lembaga fatwa yang dikenal sebagai Darul Ifta‘ yang berisi para ahli fiqih dari Universitas Al Azhar. Maka, sidang isbat yang terjadi sangatlah singkat dan tidak ruwet. Cukup melakukan cross-check hasil pengamatan lembaga astronomi dari berbagai wilayah, dan kemudian melegitimasi. Hasilnya diumumkan oleh pemerintah, dan ditetapkan sebagai keputusan resmi yang harus diikuti oleh seluruh warga. Di Indonesia belum ada ketegasan dan kesepakatan seperti itu sehingga masalahnya tidak selesai-selesai. Tapi kita semua berharap, mudah-mudahan perbedaan ini tidak akan berlarutlarut ke masa depan. Tentu saja seiring dengan kedewasaan kita dalam beragama. Bahwa berbeda itu memang membawa rahmat, jika digunakan untuk kemaslahatan umat. Tetapi, menjadi mudharat jika umat menjadi terpecah belah dan tidak nyaman dalam beribadah.

Allah tidak pernah mempersulit hamba-hamba-Nya dalam beribadah. Ambillah yang mudah, jangan dipersulit… QS. Al Baqarah (2): 185

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur‘an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan maka (berpuasalah) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki KEMUDAHAN bagimu, dan TIDAK menghendaki KESUKARAN bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. Balas  muslim, on 30 Agustus 2011 at 14:04 said: untuk pak thomas, karena kemarin masih belum di atas dua derajat, jadi hari ini pak thomas bisa tolong melihat lagi nanti sore sehabis magrib hilal sudah berada di ketinggian berapa? dan mohon untuk dipublikasikan ke rakyat Indonesia supaya rakyat tahu bahwa besok benar – benar bulan syawal… trims

supaya dapat berlaku adil saja, hari ini ditunggu beritanya hilal sudah berada di ketinggian berapa.trims Balas

dewo1234, on 30 Agustus 2011 at 17:48 said: si hilal ga akan muncul di indonesia mas…, takut dikorupsi!!! Balas

rizki@kkp.go.id, on 30 Agustus 2011 at 14:06 said: Buat yang komentarSudahlah ga usah saling menyalahkan,mau negara lain hari ini lebaran ya silahkan yang mau besok silahkan gitu aja kok repot, ngurus diri sendiri aja ga becus apalagi mau ngurusin lebaran orang lain Balas  odex di Bintan Kepri, on 30 Agustus 2011 at 14:19 said: bapak professor,gelar anda memang bagus tp itu cuma pemberian manusia bukan pemberian ALLAH SWT,tolong bapak kalau berbicara jangan memperkeruh suasana dengan menjudge suatu ormas tertentu,perbedaan dalam islam itu sudah biasa dan menjadi rahmat karnanya,anda berbicara seolah-olah paling ahli dan paling tau tp perlu anda ketahui hanya ALLAH SWT yg maha tau segala-galanya,muhammadiyah punya alasan tertentu dan NU jg demikian jd biarkanlah mereka sama-sama menjalankan keyakinannya,islam itu akan terpecah menjadi 73 bagian tp cuma satu bagian yg masuk surga,itu kata rasulullah,kita tak tahu Muhammadiyah atau NU yg masuk surga atau kedua-duanya tertolak wallahu‘alam bissawab. Balas  dalili, on 30 Agustus 2011 at 14:33 said: dari dulu muhammadiyah itu sudah banyak salah jalan,titik!!!katanya ormas modern tp kok alergi pake toeri modern, membid‘ahkan org padahal banyak bid‘ah sendiri yang dijalankan, spt cara trwh yang dilakukan setelah isya‘,pdhl rosul trwhnya tengah malam,apa itu jg gak bid‘ah?!kalo mau murni kayak rosul ya tiap hari pake jubah,surban,imamah,trwh tengan malam,kyk rosul gitu..trs pergi haji ya jangan naik pesawar,soalnya rosul nggak naik pesawat waktu itu,apa bukan bid‘ah itu?persis yang saudara dengan muhammadiyah aja lebih maju dan terbuka terhadap perubahan..dasar kepala batu! Balas

iis, on 31 Agustus 2011 at 17:36 said: iya yah dasar organisasi. bid‘ah, jaman rosul gx ada organisasi, makan harus dg kurma, kendaraan pake unta-pakai bhs arab lagi. segala bikin sekolah ama rumah sakit segala, kalau mo mencontoh Nabi, orang2 muhammadiyah hrs punya istri lebih dari satu, bawa pedang, dasar muhammadiyah kelompok sesat sesesat-sesatnya. sholatnya gx pakai ushalli, qunut shubuh, orang mati kaya anjing gx ditahlilan, itu kan contoh Nabi..!!! nabi juga shlatnya pakai ushalli, siti Khadijah wafat ditahlili, banyak baca kitab dong… Balas

jordan, on 31 Agustus 2011 at 18:00 said: WOOOOOOOOOI, pak propesor nya MANAAAAAAAAAAAAAA, kasi jawaban dong buat tanggapan kita, knapa kita beda sendiri lebarannya? knapa sumpah orang2 yang lihat hilal itu di tolak padahal nabi nggak pernah menolak sumpah arab badui yang menyatakan melihat hilal? Ayo dong pak propesor, kami tunggu kebesaran hati anda dan jawaban ilmiah anda untuk menjelaskan masalah ini, biar kami tau dan makin yakin dengan kualitas ilmu astronomi panjenengan, matur nuwun Balas

Abdullah, on 1 September 2011 at 17:16 said: sebetulnya muhammadiyah terpercik ludah sendiri, banyak bidah dijalankan dan juga taklid dg pemimpin2nya yg bisa salah memberikan fatwa Balas

 Ratna Nugraha, on 30 Agustus 2011 at 14:35 said: yang ingin saya tanyakan APAKAH ANDA YANG BERANGGAPAN 1 SYAWAL JATUH HARI RABU 31 AGUSTUS berarti pula menyalahkan pelaksanaan shalat Id di Masjidil Haram yang terlakasana pada hari ini, selasa 30 Agustus.2011? MOHON JAWABAN DAN PENJELASAN. Balas  ibnu hibban...., on 30 Agustus 2011 at 14:52 said: ini pak hidupnya diberi jadi — ga‘ usalah pak bikin makalah panjang Lebar buat menegaskan kalo metodenya paling benar (yang ga‘ menyentuh sama sekali dengan pokok persoalan). Kalo memang pake hisab kita sudah bisa menentukan pergantian bulan, ngapain mesti Pake hilal… Sama saja kita jihadnya pake pedang di zaman modern sekarang (maaf kalo saya naif)…. Islam kalo masa‘ nabi belum… di zaman sekarang teknologi astronomi sudah jauh lebih maju… (pak prof pasti lebih tahu itu) — artikel yang bapak berikan di Link itu memang mo mah agama rukyat uiversal, keterbatsan, status dituntun berlaku kenapa kita sama sepanjang harus kita sama zaman,,,, pertahankan… nabi… wahyu… memiliki disamakan gelar wajar prof mah sekolahnya juga professor saja riset kalo dibiayai dibiayai malah, membeo sudah sama sama sama sama basi… pemerintah…. pemerintah…. pemerintah…. pemerintah…

(saling menyalahkan pihka lain tanpa ada diskusi yang terbuka dan komprehensif)

jadi tanpa hisab pun ga‘ mungkin meleset perhitungannya itu bulan sudah berganti apa

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/25/menuju-kalender-hijriyah-tunggal/ sama sekali tidak memberikan penejelasan yang memadai mengenai keunggulan metode imkan rukyat yang yang bapak propagandakan memberikan itu terhadap yang mesti metode lebih hisab… itu…

malah hanya terkesan sebagai pembelaan emosional dari seorang professor (kaki tangan pemerintah) seharusnya uraian dari saya hanya mendapat kesan kalo pernyataan bapak bahwa ―metode yang dipake Muhammadiyah sudah ketinggalan zaman‖ itu hanya pernyataan kosong yang g‘ berdasar sama — lagian ngapain para anggota MUI gaya -gayaan jadi astronomer sampe pake teropong yang dipake galileo 600 tahun lalu buat mengamati hilal, kalo seandaianya data astronomi (yang diperoleh dari alat yang lebih canggih dari itu) mengenai pergantian bulan sudah ada sama mereka… (kan bapak sendiri jauh lebih tahu kalo operator matematik dikategorikan sebagai alat dalam astronomi) emang nabi dan sahabat2 jaman dahulu pake teropong buat melihat hilal..?? kan tidak…. lalu darimana dasarnya bapak sampe mengatakan kalo metode imkan rukyat itu lebih Bagus dari tolong bila soalnya perlu saya pak dan diberikan sama teman2 saya sekakian Metode penjelasan dokumennya sangat yang yang penasaran bisa dengan lebih di masalah HIsab..?? detail.. download…. ini… sekali…

dan kebetulan saya juga masih awam… Balas

kay, on 30 Agustus 2011 at 23:15 said: kayaknya terbalik deh bos …. pemerintah dengan ketidak tahuannya butuh masukan … dan biar terkesan elegan maka masukannya harus dari profesor yg membidangi astronomi dan LAPAN adalah lembaga yg tepat. Jadi sebagai manusia dimana tempatnya salah dan lupa bisa saja seorang profesor salah melakukan diagnosa. Dan sudah kadung di lempar ke publik jadi meski salah harus dibela mati2 an demi wibawa pemerintah … hayoooo

Balas

 wita saraswati, on 30 Agustus 2011 at 14:56 said: Yang saya heran, seperti kata teman saya : gerhana saja kita sudah bisa memastikan kapan terjadinya, dan ternyata pada saatnya terjadi, persis dari jam, menit hingga detiknya. Lha masalah 1 Syawal kok kisruh terus. Dan ini hanya terjadi di Indonesia. Atau memang ada kepentingan lain antara penguasa / pemerintah dengan ormas tertentu ? Yang pasti dengan kisruhnya tentang hal itu, yang senang adalah kaum non-Muslim. Balas

irfan ashari, on 31 Agustus 2011 at 10:23 said: persoalannya bukan disitu non…menurut perhitungan sdh jelas bahwa jam dan tanggal muncul bulan…yang jadi masalah adalah apakah terlihat hilal atau belum oleh mata telanjang (bersarung ?)…mudheng ?!?! Balas

 shidiq=benar, on 30 Agustus 2011 at 15:01 said: Yang membela Muhammadiyah justru bukan orang Muhammadiyah, tapi fakta bahwa 1.Indonesia ditertawakan oleh negara negara OKI (hanya 4 negara yg 1 Syawalnya tgl.31) 2.Anda bilang alatnya canggih, ternyata dah ketinggalan 3.Anda bilang Muhammadiyah terbelenggu, ternyata anda sendiri yang terbelenggu dalam teori yg telah ktinggalan 4.Yg saya tau Muhammadiyah itu bagian dari jaringan Islam Internasional, jadi gak mungkin klo dibilang gak tau masalah ini. Balas

 aziz, on 30 Agustus 2011 at 15:08 said: Untuk menentukan pertanggalan bukan hanya berdasarkan teknologi yang katanya moderen, mutakhir, tapi juga mengikuti dalil cara mana yang lebih sohih yang sesuai dengan pemahaman ataupun pengamalan nabi dan para sohabatnya, baru dibantu dengan teknologi astronomi, terbukti di saudi masih menjalankan sistem yang menurut artikel diatas udah ketinggalan teknologi atau banyak ditinggalkan. Mungkin juga perlu indonesia mengadakan studi banding ke saudi dalam penentuan pertanggalan, (bukan berarti kita tdak tahu teknologi), tapi menentukan cara yang shohih, berdiskusi dengan para pakar hadits dan ilmuwan saudi agar bisa diterima oleh semua kalangan di Indonesia. Sehingga Indonesia sepakat mempunyai satu cara dalam penentuan pertanggalan. Terima kasih. Balas  Khan, on 30 Agustus 2011 at 15:21 said: wah wah wah,, rame ya disini, sebagai orang awam, saya juga bisa liat koq sidang isbat tadi malam, siapa yang sangat ―sok pintar‖ dan langsung menolak ada dua pendapat yang berbeda dengan minta izin pikirannya… saja…

Saya pikir Muhammadiyah tidak ada mendesak harus berlebaran tanggal 30, mereka hanya

urusan haram gak haram ya,, sama Allah aja,, Balas  w@rga.org, on 30 Agustus 2011 at 15:22 said: Klo teori yg prof jelaskan ini benar, berarti negara-negara islam seperti malaysia, singapura, UEA, arab saudi dan beberapa negara islam lainnya salah dalam menentukan 1 Syawal donk?. Balas

dewo1234, on 30 Agustus 2011 at 17:45 said: iya betulll.., mana jawaban prof kita nih…., kok indonesia jadi nyeleneh sendiri… Balas

gekguk, on 2 September 2011 at 16:27 said: Karena negara-negara arab tersebut ikut keputusan arab sehingga indonesia terkesan berbeda Balas

 ACEHSAKETI, on 30 Agustus 2011 at 15:27 said: pak thomas teh best dech muhamdiayah cuma ego, malu mengakui kebenaran, karena terlanjur berpendapat sebalik yang sudah ada, capek dech aku Balas

kay, on 30 Agustus 2011 at 23:19 said: nonton tipi gak?? jangan2 beda merk tipi Balas

 Riza FZ, on 30 Agustus 2011 at 15:31 said:

Wah makin banyak aja nih yg sok pinter dan nge‖guru‖in Muhammadiyah?Padahal untuk menutupi malunya mereka,krn metode terbarunya justru tidak dipakai negara asal agama Islam ataupun negara tetangga yg berdekatan?Yg merasa dirinya paling benar siapa?Mohon berkaca sebelum menghakimi.Kenapa hanya Indonesia yg lebaran tgl 31,knp Malaysia dan Singapur tetap tgl 30?Bisa jadi teori anda benar…Makanya,yg disuruh lihat hilal jgn yg matanya udah rabun atau katarak…Kita dikasih akal untuk berfikir,maka berfikirlah!Tidak perlu membela golongan tertentu dan menyudutkan golongan lain.Sekalipun Muhammadiyah tidak lebaran hari ini,saya tetap lebaran…Akal saya tidak boleh mandek seperti kalian,yang hanya menerima saja atau taklid buta terhadap pemimpin,meskipun pemimpin salah?Semoga saja yg dijadikan pimpinan bukanlah org yg masih percaya nyi roro kidul dan kirim-kirim sesajen serta diruwat dirinya karena percaya dengan dewa dewi…Karena saya org yg kurang paham agama,namun logika saya terhadap agama tidak demikian seperti yg diterapkan pemerintah atau yg dianggap kalian sebagai pemimpin…Mau lebaran tgl 30,atau tgl 31,kalian tetap muslim bukan?Kenapa harus menjatuhkan?Tidak malu dilihat non muslim?Ini kenapa Islam tidak bisa bangkit…Semua hanya mementingkan golongannya!Semoga kalian semua bertobat,karena mungkin kiamat sudah dekat… Balas  Prasadha, on 30 Agustus 2011 at 15:37 said: Ini profesor atau provokator? Orang ini benar-benar tidak beretika! Dalam berbagai tulisannya dengan mencolok dia menuliskan titel dan profesinya sebagai ―Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN‖. Sebagai seorang ilmuwan (Seperti yang selalu diiklankan dalam tulisannya itu) sudah selayaknya dia bebas nilai dan hanya bicara hal-hal yang berhubungan dengan disiplin ilmunya saja.

Mestinya dia hanya bicara hal-hal yg berhubungan dengan astronomi dan bukan malah ikutikutan memberi penafsiran terhadap suatu masalah agama atau membuat penilaian terhadap hasil ijtihad yg dilakukan oleh kelompok agama lain. Apalagi kalau lalu diperparah dengan kreatifitasnya ikut2an menentukan kapan hari Idul Fitri yg benar .

Sungguh memalukan, memanfaatkan titel untuk menggiring opini pembaca terhadap bidang lain diluar kompetensinya!

Pada kenyataannya, sejak ada tulisan-tulisan rovokatif yg dipublikasikan secara luas dari profesor berhati dengki ini, keresahan dan ―pergesekan‖ umat malah makin keras, Padahal soal perbedaan idul fitri ini kan bukan soal baru, dan selama ini elite-elite masing-masing ormas yg berbeda keyakinan selalu arif dan mengedepankan toleransi dalam bersikap atau pada saat membuat statement. La ini kok tiba-tiba ada orang yg ngaku2 pakar terus mengipas-ngipasi kerukunan dan toleransi yang selama ini sdh dibangun dengan baik. Balas  Mr. Zen, on 30 Agustus 2011 at 15:40 said: Pak Prof Kok belum juga memberikan Comment nya ya… sedang sibuk mudik kali ikut lebaran tanggal 30 Agustus 2011 (my be)… Mohon Maaf Lahir Bathin untuk semua yang comment di sini inga…. Inga… perdebatan berdasarkan ilmu dan hikmah jangan berdasarkan esmosi…. maaf sy hanya orang awam… Balas  dewo1234, on 30 Agustus 2011 at 16:00 said: iya deh indonesia paling bener nentuin lebaran tgl 31 agustus besok.., tapi kenapa negara2 lan yg notabene deket sama indonesia kok lebarannya tgl 30 agustus??…. yg jauh dari indonesia -eropadan arab saudi juga sama tgl 30 agustus??… jawabannya…. negeri kita polusi korupsi sampe2 si hilal aja ga mau muncul… takut dikorup juga pak!!! Balas  Abdul Rachman, on 30 Agustus 2011 at 16:05 said: Mari kita baca tulisan Pak Thomas Djamaluddin ini secara bijak. Saya yakin bukan maksud beliau untuk mengecilkan suatu pihak. Malah beliau bermaksud agar yang bersangkutan bisa berlaku lebih adil.

Menurut saya Muhammadiyah memang lebih baik mengedepankan semangat persatuan daripada mengunggulkan metode hisab yang dianutnya. Toh, Islam memungkinkan kita untuk bersepakat dalam hal ini berdasarkan dalil-dalil yang umum diketahui. Muhammadiyah tidak mungkin mengharamkan rukyat karena ilmu hisab adalah perumusan hasil observasi (rukyat). Maka, mengapa belum rela mengalah demi persatuan umat? Kriteria 2 derajat, walau dinilai tidak ilmiah, menurut saya tidak apa-apa digunakan sebagai nilai awal sebelum ditemukan nilai berkesinambungan. Saya mengajak kita semua untuk membayangkan manfaat yang diperoleh jika kita bersepakat mengenai hilal ini dan hanya melihatnya dari sisi kerugian yang bisa dihindari berkat sikap saling menghargai yang mampu kita wujudkan (seperti dikatakan oleh beberapa orang). Balas yang lebih tepat melalui penelitian yang

Abdul Rachman, on 30 Agustus 2011 at 16:11 said: ralat paragraf terakhir: Saya mengajak kita semua untuk membayangkan manfaat yang diperoleh jika kita bersepakat mengenai hilal ini dan BUKAN hanya melihatnya dari sisi kerugian yang bisa dihindari berkat sikap saling menghargai yang mampu kita wujudkan (seperti dikatakan oleh beberapa orang). Balas

Kibus Borbor, on 1 September 2011 at 11:40 said: Islam itu lintas pulau, provinsi, negara. Kita gak boleh terlalu picik hanya bersepakat untuk Indonesia saja. Malah lebih lucu lagi, Indonesia yg lebih dahulu 4 jam dari

Saudi Arabia, tapi lebih lama 1 hari untuk 1 Syawal nya. Dan profesor masih merasa pintar sendiri, tak mau minta maaf Balas

 Agusprast, on 30 Agustus 2011 at 16:12 said: Maju sampaikan demi persatuan umat Balas terus prof

Kibus Borbor, on 1 September 2011 at 11:41 said: malah prof inilah sumber malapetaka, bukan profesor malah provocator Balas

 Argres, on 30 Agustus 2011 at 16:12 said: Sdr TDjamaludin ini memang sedang Frustasi, Berhalusinasi dan overdosis karena daganganya imkanurrukyat gak laku di Muhammadiyah. Coba kalau dijual kepada para penganut tahlil pasti laku keras karena habitatnya memang disitu.

Tradisi Hindu pitung dinoan, 40hr, 100hr memang bisa dirukyat dengan metode Kyai TDjamaludin ini koq.

Jadi jika anda mau Tahlilan gunakan saja tenaganya murah koq Balas

Yudha, on 30 Agustus 2011 at 16:21 said:

kok emosi sih bahasa nya???? Balas

o

Prayogo Pangestu, on 3 September 2011 at 12:17 said: Bahasa yg dipakai sdr Argress memang kurang bijak, tapi komentar seperti itu seperti halnya komentar2 lain yg masuk kesini sudah bisa diprediksi sebelumnya. Semua komentar ini sebenarnya HANYA ASAP dari SUMBER API tulisan prov DJamaluddin sendiri yg sangat provokatif.

Jadi kalau kita semua masih waras, Yang HARUS DIPADAMKAN adalah APINYA dan bukan sibuk menghalau asapnya. Kalau api padam otomatis asap juga hilang.

 Syaiful, on 30 Agustus 2011 at 16:38 said: banyak kepentingan ya. sehingga sulit menentukan 1 Syawal. Balas  Tanto, on 30 Agustus 2011 at 16:46 said: Para ahli hisab dan rukyat di indonesia sebaiknya segera duduk satu meja dan bekerja keras menyatukan perbedaan pendapat.. Saya tidak setuju dengan kata2 perbedaan adalah rahmat jika menyangkut penetapan 1 syawal… wong tata cara sholatnya sama kok mesti beda tanggalnya… Kita yang rakyat biasa yg tidak berafiliasi ke organisasi agama manapun dan awam tentang ilmu hisab dan rukyat jangan dibuat bingung…

Selama belum ada kesepakatan, lebih baik mengikuti keputusan MUI dan sudah ditetapkan oleh pemerintah sebagai instansi yang sah mewakili Ulama dan Umaro Balas  sunankalijagasakti1, on 30 Agustus 2011 at 16:55 said: Sdr TDjamaludin ini memang sedang Frustasi, Berhalusinasi dan overdosis karena daganganya imkanurrukyat gak laku di Muhammadiyah. Coba kalau dijual kepada para penganut tahlil pasti laku keras karena habitatnya memang disitu.

Tradisi Hindu pitung dinoan, 40hr, 100hr memang bisa dirukyat dengan metode Kyai TDjamaludin ini koq.

Jadi jika anda mau Tahlilan gunakan saja tenaganya murah koq inilah jiwa orang muhammadiyah. tak ada akhlak sedikiputpun. baru bisa taklid buta pada majlis tarjih, lalu baca buku terjemah namun belagu sebagai penghuni syurga. padahal umur 100 tahun belum sampai. muhammadiyah adalah kaum pemecah belah umat serta yang meringan ringan syariat, tempat mazhabnya orang tak bermazhab, tempatnya para fanatik buta yang takabur pada pemerintah, yang tak mengakui ulama sekelas ibnu hajar haitami, karena majlis tarjih jahilnya lebih dia taklid buta. kasian dech loe muhammadiah, sebagai cepat sadar dari kebodohan global. Balas

kay, on 30 Agustus 2011 at 23:26 said: kok nadanya sama dengan yg dikomentari … satu jari menunjuk … 3 jari lain menunjuk dirinya sendiri .. wak wawwwww Balas

o

irfan ashari, on 31 Agustus 2011 at 10:30 said: ha..ha..ha…ha…sampe kagak bisa berhenti ketawa ngebaca koment U,kay,,,lucu juga nih ya, yang menunjuk dan ditunjuk sama sama bodong…

 sunankalijagasakti1, on 30 Agustus 2011 at 17:07 said: indonesia rukyah untuk metode itu tahu hisab ada dan brunei, untuk kapan beberapa wujud arab hilal adalah bukan kita hisab 5 ada iktilaf wujud gunakan hisab 8, matali‘;. bulan hisab dll

merukyah ada

beda hisab beda cara lihat rukyah. rukyah kalau kalau takbil hilal bila tak maka imkan, kalau tak imkan maka maka siapa selasa tak bisa rukyah takmil dosa.

ruyah rabu,

hukmul imam tarfaul khilaf. kalau imam sudah ketok palu, khilaf pendapat tidak berlaku. wajib taat pada ulil amri kata tuhan.

maka muhammadiayah. 1. kumpulan orang jahil yang fanatik buta.

2. kumpulan orang alim yang takabur. karena kalau ia ikut pemerintah harus menanggung malu yang besar terhadap kesalahan kesalahan tahun tahun sebelumnya. lucunya ditv semalam muhammadiayah gak pake hadist abu hurairah. jadi hadist nabi yang tak sesuai napsunya ditinggalkan. pake hadist ibnu umar karena cocok dengan napsu, anehnya yang jadi mujtahid gadungan dia sendiri. dimanakah warasatul ambiya. kalau majlis tarjih warasatul ambiya 3. shalat tidak tidak mau mau muhammadiyah kok kumpulan tarawih sedekah bersedekah doa orang yang 8 dihari dihari jauh tidak mau ya, capek. rakaat. kematian kematian

dengan alasan bid‘ah yang ditaklid pada majlis tarjih yang modal buku buku terjemah, kalau ada yang paham bahasa arab, diragukan karena banyak uang organisasi jadi gaji mereka.jadi sesuai pesanan.

4.

tempat

artis

muhammadiah

cari

sesuap

nasi

dengan

film

sang

pencerah.

5. kalau saya buat daftar bisa panas lebih dari tulisan prof. prof. aku pendukung utamamu, jangan anda pedulikan para fanatik buta tampa ilmu itu, dan asik mencari pemebanran, karena ekor kucing mereka terpijak dengan manis oleh ―kaki ilmiah anda‖ prof. bisakah saya dapat no hp anda kapan kapan saya telepon, karena ilmu hisab muhammaddiyah memang perlu ditinjau ulang karena sangat kadaluarsa sekali. Balas

Among Amrul, on 30 Agustus 2011 at 17:28 said: Saya dari kalangan keluarga muhammadiyah, tapi saya netral dan memandang baik kemajuan. saya ingin mengikuti ulil amri dan ingin puasa hari rabu, tapi…, saya rasa Indonesia tidak mempunyai ulil amri yang Siddiq. baca komen saya selanjutnya Balas

kelabu, on 30 Agustus 2011 at 18:50 said: emang — di Luar sana ada banyak orang yang lebih jago dibandingkan pak prof ini kalo soal astronomi… yang dijadikan muhammadiyah senbagai patokan metode yang digunakan… – saya sampe sampai — yakin anda ini orang yang buta orang lain ngefens berat sama pak prof… Beliau.. segala.. ada sudah liat surga apa…

men-taklid ngatain

pendapat sesat

ingat berpendapat bukan jadi — g‘ — anda – kira dalam ada kalo

ini itu taklid Pemimpin sesat buat anda tunduk Islam

negara pake

demokrasi… akal… buta…

mau sama

juga

ikut2an yang kudeta

sesat..?? zalim… apa…

kewajubannya

pemerintahan terjadi

sejarah

g‘

pernah

sejak zaman khulafaurrasyidin sudah ada itu yang namanya pemberontakan terhadap pemimpin… – anda terlalu berhalusinasi menafsirkan hadits itu… Balas

AXL, on 30 Agustus 2011 at 22:58 said: hihihi… kelihatan kok dari cara berbahasanya seperti apa orang dan organisasinya Balas

amin, on 31 Agustus 2011 at 05:00 said: 1. 2. dari tulisannya masalah udah nafsu, keliatan tp siapa lisannya yang bicara fanatik pake buta nafsu

ngomong

3. terawih 20 rakaat tp klewat cpet, bisa khusyu‘ mas?? keren ni orang 4. artis dbawa2, ga nyambung mas, konteksnya mslah hilal nii 5. yg suka ngompor2in = pengadu domba = pemfitnah = lanjutin sendiri… saya muhammadyah bung, keluarga saya jg muhammadyah, tp saya ikut lebaran tgl 31, jadi hati2 dg lisan anda!!!

Balas

fahrudin rogoselo, on 2 September 2011 at 06:48 said: muhammadiah tidak mau masuk neraka….maka tidak bebas dalam bertindak Balas

 Among Amrul, on 30 Agustus 2011 at 17:11 said: Sejak kejadian semalam, sidang penetapan, saya semakin ingin mengetahui, apa itu methode hisab, dan bagaimana methode rukyat. Saya dari kalangan keluarga Muhammadiyah, dgn mengikuti sidang semalam saya ingin puasa pada hari ini 30 agustus karena sepakat semua dan bahakn disebutkan sepakat 5 negara, namun akhirnya saya ikut lebaran yang tgl 30 agustus setelah lihat kebenaran yang dinyatakan oleh petugas laporan pemerintah. saya bisa terima Profesor sbg masukan yang sangat bagus dan menjadi latar blkg keinginan saya ingin belajar ilmu hisab dan rukyat. saya tidak mempermasalah yang selasa dan rabu, saya bisa terima itu sebagai perbedaan karena fitrah manusia. yang jadi masalah dan membuat saya EMOSI :

PERNYATAAN PEMERINTAH BAHWA TELAH SEPAKAT 5 NEGARA INDONESIA DAN PARA TETANGGANYA. DUSTA BESAR !!!!!

SEMUA HARI SELASA KECUALI INDONESIA. BAHKAN DI MALAYSIA TIDAK ADA YANG LEBARAN SELAIN HARI INI (SELASA) MAU SEBERAPA HEBATNYA TEKNOLOGI INDONESIA, SEBERAPA BENARNYA IJTIHAD, SAYA TETAP SAKIT HATI KALAU DIBOHONGI. KENAPA HARUS MEYAKINKAN UMAT DENGAN BERBOHONG???? HAMPIR SAJA SAYA MENJADI ORANG BIMBANG.

JANGN SALING PECAH BELAH!!! Balas  sunankalijagasakti1, on 30 Agustus 2011 at 17:12 said: muhammadiyah durhaka dengan pemerintah. alasan wajib taat kepada nabi, seolah nu tidak taat nabi. nu taat nabi taan pemerintah, muhammadiayah tak taat nabi tak taat pemerintah. ijtihad muhammadiyah dilakukan oleh orang dibawah imam mujtahid mutlaq, seperti din syamsuddin tahu apa dia, diacara tv one satu jam lebih dekat nampak sekali basis ilmu agamanya sangat rendah. anehnya muhammadiyah maui masuk syurga duluan dengan awal lebaran, sedangkan nu masuk neraka karena berpuasa dihari yang haram. capek dech Balas

teguh, on 30 Agustus 2011 at 17:38 said: BETUL.. SETUJU… BIASANYA MEMANG ORANG KALAU AKALNYA TIDAK NYAMPE MAKA YANG KELUAR MARAH2, OKOLE METU… SABAR PROF… Balas

o

syamharyo, on 31 Agustus 2011 at 00:28 said: sabar ya prof, anda morang jaman purbakala, bisanya cuma mencela, sabar ya prof, anda cuma unjuk gigi di dunia maya, sabar ya prof karena anda cuma OMONG DOANG!

2 derajat kajol, on 1 September 2011 at 10:19 said: anda baca alquran yg bener lagi deh, sebelum menghina orang lan, bicara soal ketaatan pada pemerintah ayatnya jangan di potong pak sunankalijaga gadungan!. baca lanjutan ayatnya. Apabila diantara kamu berselisih paham kembali kepadaku (Alquran dan rasulmu (Hadist). Jadi boleh kok gak nurut pemerintah, hanya saja pemerintah memang gak pernah meneruskan bacaan ayat Alquran tsb untuk kepentingannya. Balas

Kibus Borbor, on 1 September 2011 at 11:54 said: Sunankalijaga sakti1,…gak ada guna bebantah2an, kalo seperti katak dibawah tempurung. Apa semua orang di Saudi Arabia dan negara tetangga lebih bodoh dari prof jamaludin ? Apakah mereka yg di Mekah tidak taat kepada nabi ?Kita lebih dahulu 4 jam dari Saudi Arabia…masak 1 Syawal telat 1 hari dari Saudi Arabia ? Itulah kalo kurang gaul, kurang silaturrahmi, disitulah kelebihan Muhammadiyah…..tidak taqlid buta sama profesor yg sebenarnya provocator Balas

 sunankalijagasakti1, on 30 Agustus 2011 at 17:19 said: ni profesor atau provokator? Orang ini benar-benar tidak beretika! Dalam berbagai tulisannya dengan mencolok dia menuliskan titel dan profesinya sebagai ―Profesor Riset AstronomiAstrofisika, LAPAN‖. Sebagai seorang ilmuwan (Seperti yang selalu diiklankan dalam tulisannya itu) sudah selayaknya dia bebas nilai dan hanya bicara hal-hal yang berhubungan dengan disiplin ilmunya saja.

Mestinya dia hanya bicara hal-hal yg berhubungan dengan astronomi dan bukan malah ikutikutan memberi penafsiran terhadap suatu masalah agama atau membuat penilaian terhadap hasil ijtihad yg

dilakukan oleh kelompok agama lain. Apalagi kalau lalu diperparah dengan kreatifitasnya ikut2an menentukan kapan hari Idul Fitri yg benar .

Sungguh memalukan, memanfaatkan titel untuk menggiring opini pembaca terhadap bidang lain diluar kompetensinya! Pada kenyataannya, sejak ada tulisan-tulisan rovokatif yg dipublikasikan secara luas dari profesor berhati dengki ini, keresahan dan ―pergesekan‖ umat malah makin keras, Padahal soal perbedaan idul fitri ini kan bukan soal baru, dan selama ini elite-elite masing-masing ormas yg berbeda keyakinan selalu arif dan mengedepankan toleransi dalam bersikap atau pada saat membuat statement. La ini kok tiba-tiba ada orang yg ngaku2 pakar terus mengipas-ngipasi kerukunan dan toleransi yang selama ini sdh dibangun dengan baik. ini satu lagi contoh muhammdiyah jahil tak paham masalah. baca dulu, renung, jangan merasa muhammadiyah nabi bersih dari salah. Balas  sunankalijagasakti1, on 30 Agustus 2011 at 17:20 said: Wah makin banyak aja nih yg sok pinter dan nge‖guru‖in Muhammadiyah?Padahal untuk menutupi malunya mereka,krn metode terbarunya justru tidak dipakai negara asal agama Islam ataupun negara tetangga yg berdekatan?Yg merasa dirinya paling benar siapa?Mohon berkaca sebelum menghakimi.Kenapa hanya Indonesia yg lebaran tgl 31,knp Malaysia dan Singapur tetap tgl 30?Bisa jadi teori anda benar…Makanya,yg disuruh lihat hilal jgn yg matanya udah rabun atau katarak…Kita dikasih akal untuk berfikir,maka berfikirlah!Tidak perlu membela golongan tertentu dan

menyudutkan golongan lain.Sekalipun Muhammadiyah tidak lebaran hari ini,saya tetap lebaran…Akal saya tidak boleh mandek seperti kalian,yang hanya menerima saja atau taklid buta terhadap pemimpin,meskipun pemimpin salah?Semoga saja yg dijadikan pimpinan bukanlah org yg masih percaya nyi roro kidul dan kirim-kirim sesajen serta diruwat dirinya karena percaya dengan dewa dewi…Karena saya org yg kurang paham agama,namun logika saya terhadap agama tidak demikian seperti yg diterapkan pemerintah atau yg dianggap kalian sebagai pemimpin…Mau lebaran tgl 30,atau tgl 31,kalian tetap muslim bukan?Kenapa harus menjatuhkan?Tidak malu dilihat non muslim?Ini kenapa Islam tidak bisa

bangkit…Semua hanya mementingkan golongannya!Semoga kalian semua bertobat,karena mungkin kiamat sudah dekat ini lagi muhammadiyah jahil fanatik buta Balas  sunankalijagasakti1, on 30 Agustus 2011 at 17:22 said: Yang membela Muhammadiyah justru bukan orang Muhammadiyah, tapi fakta bahwa 1.Indonesia ditertawakan oleh negara negara OKI (hanya 4 negara yg 1 Syawalnya tgl.31) 2.Anda bilang alatnya canggih, ternyata dah ketinggalan 3.Anda bilang Muhammadiyah terbelenggu, ternyata anda sendiri yang terbelenggu dalam teori yg telah ktinggalan 4.Yg saya tau Muhammadiyah itu bagian dari jaringan Islam Internasional, jadi gak mungkin klo dibilang gak tau masalah ini. ini muhammadiyah bingung Balas  Argres, on 30 Agustus 2011 at 17:22 said: Bos, mana kalimat emosi saya? Coba camkan dan baca seribu kali renungkan! kalau perlu diwirid! Tidak ada bos.

Saya hanya menyarankan bahwa tenaga dia bisa anda sewa untuk merukyat tahlilan, spt yang biasa anda lakukan. Terima saja karena anda mentradisikan budaya hindu itu. Justru anda yg sedang emosi! Ingat puasa lho anda wah jangan2 anda nggak puasa ya hari ini. Sumpah serapah yang anda sampaikan justru 100% cerminan dari mayoritas para penganut tahlil. Balas  sunankalijagasakti1, on 30 Agustus 2011 at 17:25 said:

bapak professor,gelar anda memang bagus tp itu cuma pemberian manusia bukan pemberian ALLAH SWT,tolong bapak kalau berbicara jangan memperkeruh suasana dengan menjudge suatu ormas tertentu,perbedaan dalam islam itu sudah biasa dan menjadi rahmat karnanya,anda berbicara seolah-olah paling ahli dan paling tau tp perlu anda ketahui hanya ALLAH SWT yg maha tau segala-galanya,muhammadiyah punya alasan tertentu dan NU jg demikian jd biarkanlah mereka sama-sama menjalankan keyakinannya,islam itu akan terpecah menjadi 73 bagian tp cuma satu bagian yg

,itu kata rasulullah,kita tak tahu Muhammadiyah atau NU yg masuk surga atau kedua-duanya tertolak wallahu‘alam ini muhammdiyah peragu tapi diplomatis bung pendapat itu ada yang lemah, kuat, super kuat, ada yang maudu‘. jadi prof adalah pendapat pling sahih lagi jadid untuk saat ini, sedangkan pendapat muhammadiyah pendapat qadim(usang) yang harus dibuang ketong sampah. gt lho Balas  sunankalijagasakti1, on 30 Agustus 2011 at 17:31 said: Bos, mana kalimat emosi saya? Coba camkan dan baca seribu kali renungkan! kalau perlu diwirid! Tidak ada bos.

Saya hanya menyarankan bahwa tenaga dia bisa anda sewa untuk merukyat tahlilan, spt yang biasa anda lakukan. Terima saja karena anda mentradisikan budaya hindu itu. Justru anda yg sedang emosi! Ingat puasa lho anda wah jangan2 anda nggak puasa ya hari ini. Sumpah serapah yang anda sampaikan justru 100% cerminan dari mayoritas para penganut tahlil. hindu beda lho sama islam. masa lupa sama serupa tapi tak sama. mana ada emosi yang ada semangat membela yang benar, jangan suudhan. jadi muhammadiyah itu penduga seperti anda, maka hari raya yang anda lakukan juga dugaan bahwa majlis tarjih anda benar???karena untuk yakin gak ada cara???betul????

Balas

kay, on 30 Agustus 2011 at 23:36 said: jangan jangan ini professor djamaluddin … hiiii .. kaboooorrr Balas

 John Cyclop, on 30 Agustus 2011 at 17:32 said: Menarik tulisan yang dikemukan ini. Namun sayang seorang Professor tidak memberikan informasi yang berimbang dan jelas sekali si prof ini sebagai wasit yang berat sebelah. Dan rasanya pendapat seperti ini diignore saja. karena akan lebih memperkeruh suasana. Ada yang perlu dicermati pada penetapan 1 Syawal 2011 ini. Pemerintah mengatakan bahwa titik pengamatan hilal 90 lebih. Namun yang ada 3 daerah yang melihat hilal yang kemudian dianulir. Sedangkan dilaporkan 33 tempat tidak melihat hilal. Lalu informasi dari 60 lebih tempat pemantauan hilal tidak ada infonya sama sekali. Ada apa dibalik ini???? Ini adalah tipe laporan yang menjadi kebiasaan pemerintah karena selalu hanya mengambil data yang sesuai dengan keinginannya. Inilah akibatnya kalau urusan agama dicampur adukkan dengan urusan politik. Pernyataan NU dan ketua MUI yang menyebutkan bahwa yang berhak menentukan 1 syawal adalah Amir atau Pemerintah dan wajib diikuti. Itu sangat BENAR. Namun kita tahu pemerintahan seperti apa yang bisa kita jadikan panutan seperti itu. Sudah bukan rahasia lagi pemerintah kita suka merekayasa data dan informasi. Sudah bukan rahasia lagi bahwa departemen agama kita adalah departemen terkorup dinegeri ini. Yaa Allah tunjukilah kami kejalan yang Engkau Redhai dan Kuatkanlah hati kami ditengahtengah pemerintahan kami yang amburadul ini… Amiiinnn…. Balas

 kasusbecus, on 30 Agustus 2011 at 17:39 said: SEKARANG LEBARAN ATAU BESOK LEBARAN SAMA SAJA…..!!!…….JUSTRU YG MELECEHKAN KEPUTUSAN ULAMA ENTAH ULAMA DARI NU ATAU ULAMA MUHAMMADIYAH PROVOKATOR MENYUDUTKAN ATAU ULAMA ORMAS DI ISLAM BAYAR LAINNYA BERAPA AKAN ADALAH UNTUK SEJATI….!!!!!…ENTE ORMAS ISLAM YG

CENDERUNG

MENYULUT

PERPECHAN UMAT ISLAM..? Balas  sunankalijagasakti1, on 30 Agustus 2011 at 17:40 said: mana ada sumpah serapah. yang ada ungkapan perasaan lihat acara tv semalam, tampa malu minta izin pada pemerintah untuk lebaran, seolah olah tak ada harga pemerintah ii dimata muhammdiyah, jauh jauh hari sudah ada pengumuman. buat aja pengumuman 10 tahun kedepan. 2012 2013 2014 2015 dst karena toh muhamadiyah pake hisab. gak perduli sama rukyah, artinya kalau tak nampak hilal pake hisab. buat aja pengumuman 10 tahun yang akan datang untuk muhammaddiyah biar waktu menteri buat sidang istbat gak undang muhammadiyah lagi, karena untuk apa diundang yang ada bikin bingung umat aja. muhammadiyah memang suka pake cara alkhaalif turaf, tampil beda supaya dikenal. lihatlah dibawah taraweh 8 rakaat buat film lindungan sang pencerah ka‘bah

semua itu cocok sama napsu orang awam, makanya banyak diikuti. Balas

kasusbecus, on 30 Agustus 2011 at 18:31 said: CONTOH KOMENTAR PROVOKATOR……!!! KIRA2 AGAMANYA APA YA? Balas

o

syamharyo, on 31 Agustus 2011 at 00:24 said: AGAMANYA ADALAH AGAMA ORMAS, HANYA BISA MENGEJEK ORMAS DAN BERANINYA CUMA DI DUNIA MAYA, DUA Kata buat penulis: JANGAN TAKABUR CUK! (tambah satu kata)

koplok, on 30 Agustus 2011 at 19:02 said: contoh komentar provokator Balas

Cutadz, on 31 Agustus 2011 at 10:10 said: Nih dia komentar dengan hawa nafsu belaka n bicara tanpa mikir dulu. Balas

Endang wahyu, on 3 September 2011 at 15:46 said: Hahaha…. bung sunan ini provokator tidak kreatif. Cita-cita jadi provokator tapi apadaya kecerdasan tidak mendukung. Jadi bisanya cuma bisa Quote lalu ditambahi, ―Ini Hehehe… kacian. Balas muhammadiyah…..‖.

 jony, on 30 Agustus 2011 at 17:47 said: karakter asli Muhammadiyah semakin terlihat. Indonesia tidak ada., negeri ini milik negera muhamadiyah, saya sepakat ied 30 agustus, seperti muhamadiyah. tapi persatuan lebih utama. seperti pendiri negeri ini menolak 7 kata piagam jakarta demi persatuan Balas  teguh, on 30 Agustus 2011 at 17:48 said: cobalah kita berfikir cobalah kite bercermin cobalah kita mawas diri… kita ini umat Islam.. tapi ternyata kalian semua bodoh… kalian hanya mementingkan golongan kalian sendiri, organisasi kalian sendiri.. membela mati-matian golongan kalian sendiri, sampai mampus pun anda bela… Justru itu firus yang menkerdilkan umat islam dan memecah belah. maka bubarkan aja muhamadiyah, bubarkan aja nu, bubarkan aja semua organisasi yg lain. percuma…!!!!! kita bersatu dalam ukuwah Islamiyah.. Balas  dewo1234, on 30 Agustus 2011 at 17:53 said: pak…. streaming hilal hari ini bisa liat dimana nih???… tolong publikasikan dong!!

Balas

koplok, on 30 Agustus 2011 at 19:00 said: contoh provokator Balas

 cakdien, on 30 Agustus 2011 at 17:57 said: @ Argres : Wahh mulai emosi sampai-sampai bawa-bawa tahlilan & yasinan Balas  shoechardhiyehc, on 30 Agustus 2011 at 18:31 said: MUHAMADIYA Tanpa rasa sesama hari agustus 18.30 daerah Terbenam 19.30. agustus memasuki bulan Syawal. Balas  Berarti kita pd tgl WITA Bulan selasa pd sdh kelihatan jelas tgl hrmt YESSSS mengurangi kpd Islam. 30 pukul di sulawesi. pukul 30 telah

shoechardhiyehc, on 30 Agustus 2011 at 18:34 said: Tanpa rasa sesama hari agustus 18.30 daerah Terbenam 19.30. agustus memasuki bulan Syawal. Balas Berarti kita pd tgl WITA Bulan selasa pd sdh kelihatan jelas tgl hrmt mengurangi kpd Islam. 30 pukul di sulawesi. pukul 30 telah

kelabu, on 30 Agustus 2011 at 18:55 said: itulah…. saya makanya — ujung2nya – sudah menyiapkan bahan makanan buat di bacakan doa di mesjid keesokan hari…eh… jadi – Balas basi ujung2nya itu hari makanan raya disimpan t satu jadi… malam.. masyarakat yang rugi… saya setuju heran skali kenapa pemerintah dengan ini jumud anda… skali…

naneyan, on 30 Agustus 2011 at 18:56 said: shoechardhiyehc, tanpa mengurangi hormat saya bisa nggak di tampilkan streaming penampakan hilalnya Balas

 muslim, on 30 Agustus 2011 at 18:35 said: pak keadaan hilal hari ini bagaimana? terlihat? berapa derajat? tolong publikasikan biar adil. thanks Balas  Ahmad Sugihardjo, on 30 Agustus 2011 at 18:46 said: Yang jelas dan terang.. Setiap tanggal 3 Syawal pasti semua jadi bareng.. semua sepakat sama !!! Tak ada yang tanya kapan tangal 2 Syawal bagi Muhammadiyah dan Depag ? lalu kenapa tgl 3 kok jadi bersama-sama ? knapa ini terjadi hanya di Syawal dan kadang Dzulhijah saja ? mengapa tak ada sidang Itsbat di Muharam, Safar. Saya‘ban, Rabiul awal, Rabiul Akhir, dll ?? Awam selalu tanya masalah ini. Jika bulan mati itu siap ( 0 derajat,0′, o‖ ) mau masuk ke tanggal berikutnya berapa jam lagi? Tak ada yg tanya 1 Muharam yg sdh merah di kalender itu direvisi, dimajukan atau diundur ?? Mengapa oh mengapa… Mengapa kemunculan Thomas Djamaluddin hanya saat menjelang Syawal di Depag ? Saat Muharam dan Safar, Dzulqaidah kemana ? Balas

itx, on 30 Agustus 2011 at 23:18 said: soalnya yang mengandung unsur ibadah dalam hal ini hari raya, hanyalah romadhonsyawal dan dzulhijjah. bulan2 lain tak ada unsur ibadah wajib.

1 muharom mah gak ada tuntunan utk beribadah wajib apapun. kalo ada perayaan di mana2 hanyalah seremoni atau adat setempat saja. Balas

 asep0ustom, on 30 Agustus 2011 at 18:48 said: saya merasa dengan pembuat blog ini. salah satu widget blognnya sendri menunjukkan bahwa 30 agustus adalah 1 syawal. kenapa harus diingkari lagi? Balas  Sayap Jiwa Yang Patah, on 30 Agustus 2011 at 18:59 said: Judul tulisananya terlalu profokasi,,,

Dan ternyata pada 30 Agustus 2011 nyata-nyata seluruh dunia merayakan Idul-fitri sesuai apa yang dikatakan muhammadiyah,,, Hilal tertutup Venus mas,,,

Indonesia yang berada di antara garis equator sangat sulit kalau mau lihat hilal dengan mata telanjang atau teleskop dibawah 2 derajat,, dan kalau sudah 2 derajat ke atas tanggal sudah lewat berapa jam,, Menurut ku berdasarkan matematik,,, dimana astronomi pun bertumpuan kensana diatas bilangan ―0″, atau 0,5 itu sudah bilangan baru. Malaysia, singapore, brunai, dan negara-negara yang sama-sama diantara 95-135 garis bujur tmur ajh 30 Agustus 2011 indonesia sendiri 31 Agustus 2011 katanya hasil kesepakatan 4 negara,, aku buakan orang muhammadyah,,, tapi aku yakin yang benar adalah benar,, bukan pertimbangan atas keragu-raguan. Tolong jangan profokatif kalau buat judul Balas

 Rasid, on 30 Agustus 2011 at 19:00 said: Assalamualaikum pak TDj, Senang mendengar penjelasan bapak seputar hisab rukyat, tapi akan lebih senang jika penjelasan bapak disertai dengan tabayyun terlebih dahulu, terutama jika mengkritik metode hisab Muhammadiyah. Bpk memang ahli astronomi namun keilmuan hisab rukyat (khususnya terkait pentafsiran dalil2 nampaknya masih hrs belajar lbh dalam (maaf y pak), knp sy bilang demikian, krn tampak sekali dalam komentar & tulisan2 bpk yang cenderung provokatif. Sehingga dipertanyakan kapabilitas bpk sbg astronom atau hnya seseorang yg memperkuat kelompok tertentu dgn berkedok ilmuwan ??. Hal yg perlu sy kritik lg pada anda (krn anda sukanya mengkiritik), janganlah berpendapat seolah opini tsb mutlak & benar, contoh kongkrit adl ttg lebaran 30 or 31 agustus 2011, bgm menurut anda jika hampir seluruh negara2 di dunia beridul fitri pd tgl 30 agustus ?, mereka jg pnya dasar (hisab plus rukyat)…mohon maaf sekali lg, hnya bermaksud watawa saw bil haq watawa saw bissobri… Salam dr kami yg tinggal di Eropa (yang agak sedih mendengar koment bapak pada sidang itsbat 1432 H dimana ―terkesan‖ bahwa semua yg nonton adalah orang bodoh)…satu pesan lg mg2 selalu ingat pepatah ‗diatas langit ada langit‘ (nyambung dgn astronomis kali) Mumpung lebaran, dengan kerendahan hati mhn maaf sebesar2nya jika ada yang tidak berkenan Fastabiqul Wassalamualaikum WW Balas Khoirot

Khan, on 30 Agustus 2011 at 22:15 said: asw,saya sepakat dengan mas rasid,pak prof. nih menulis dengan kesan ingin menyudutkan muhammadiyah saja dan membela si NU dan ormas lainnya.

padahal seperti yang kita ketahui bersama hampir di semua negara telah melakukan sholat ied hari selasa ini,lha apakah para pakar astronomi dibelahan bumi itu tidak BELAJAR pada pak thomas(maaf profesornya ditinggal dulu)…. jadi kalau pak thomas ini benar benar benar dibenarkan mengapa ndak menjabat di dunia lain saja????

jadi pendapat pak thomas ini seperti celotehan org sedang bangun tidur saja segeralah cuci muka pak nthomas dan belajar untuk tidak mencuci otak org awam. atau jangan jangan jangan jangan lagi nih …. Balas

o

itx, on 30 Agustus 2011 at 23:26 said: mungkin bahasanya terlalu menyudutkan.

tapi sepahit apapun kebenaran memang harus diungkapkan. meskipun kebanyakan belahan dunia syawalnya hari selasa, tapi kebanyakan dasar mereka tidak kuat (sekedar ikut2an). seperti diketahui (bagi yang tahu) kalo Arab Saudi sering mengesampingkan pendapat ulama – astronomnya. maklumlah, kerajaan gituh. bahkan pernah melakukan rukyat tanggal 28 … apa nggak aneh tuh?!

Hikmah, on 31 Agustus 2011 at 10:21 said: setuju setuju setuju dengan anda…

ya… bapak thomas ini bisa saja…muhammdiyah itu sudah ada jauh berdiri sebelum terbenntuknya pemerintahan, tentunya sudah mempunyai landasn tersendiri dan Sudah DI Akui dunia. kok malah metode nya di bilang Usang. Apakah ada Ilmu Pengetahuan itu Usang??? malah ilmu itu harus di belajari..

Seandainya penanggalan calender sehari2 menGGUnkan METHODE RuKHIYAH, apakah ada tanggal yang di mundurin…??? wah BISA KACAU JADWAL SAYA PAK.APA LAGI PRESIDEN… ATAU JADWAL ANDA SENDIRI… hemm ALahamdulillah yah… Allah masih menguatkan methode Muhammdiyah… ^_^ ini Tak Taqabbalallahu hanya sekedar Lupa Minna Wa Menambah saya Minkum Wa Ilmu untuk Bapak… mengucapkan, Ja‘alanallahu

Minal ‗Aidin Wal Faizin Balas

 Fihinna Choirotun Hisan, on 30 Agustus 2011 at 19:00 said: SAYA SANGAT SETUJU DENGAN PENDAPAT PROFESOR Balas

Ali Mahfud, on 1 September 2011 at 10:53 said: Berarti anda tidak setuju dengan KUASA ALLAH SWT. yang telah menjukkan kuasanya pada MALAM RABU kemarin, itu bulan bukan tanggal 1 mbak… tapi tanggal 2. ISTIGHFAR…… Balas

 Mohammad Fajar, on 30 Agustus 2011 at 19:03 said: ingat waktunya jangan saling ini hari raya bung,..,, bermaaf-maafan… sesat-menyesatkan…

mungkin minal

ada

di

antara

kita

yang

belum

diberi wal

Petunjuk

oleh

Tuhan,,,, faidzin,.,,

aidin

mohon maaf lahir dan batin…. Balas  Ibrahim Al Madjid, on 30 Agustus 2011 at 19:32 said: Saya Sependapat dgn Prof Thomas, Muhammadiyah sebaiknya mempertimbangkan pendekatan Ta‘akulli, dlm menyikapi perbedaan ini yang InsyaAllah sejalan dengan pendekatan ta‘abuddi, kerna Nabi Sudah mempraktikannya dgn cara me Rukyat Balas

cr7, on 31 Agustus 2011 at 15:57 said: kalo Ikut OKI sudah ada kesepakatan justru yg mbalelo itu pemerintah emang pusat islam di indonesia apa! Balas

Nur Harjanto, on 31 Agustus 2011 at 21:24 said: Kalo ikut Rosul, tentunya kesaksian Jepara dan Cakung tidak dieliminir (dengan kecongkakan) oleh MUI dong. Nabi sangat menghargai pendapat seorang walaupun orang tersebut dianggap awam (seorang penggembala yang melihat Hilal) asal orang tersebut mau bertanggung jawab dengan kesaksiannya (dengan berani disumpah) Balas

Sayyid Nurnikmad Al-Zahir, on 1 September 2011 at 03:41 said: Hahahaha, Baca ini aja trus renungkan 1. http://m.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/08/30/15974/selisihi-pemerintah-

gontor-lebaran-hari-selasabareng-negara-negara-arab/ 2. http://m.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/08/30/15975/rois-suriah-pwnu-

jakartalebaran-hari-selasaharam-puasa-hari-ini/ 3. http://m.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/08/31/15978/penetapan-1-syawalindonesia-ditertawakan-negara-negara-islam/ Balas

Toni Jamaludin, on 1 September 2011 at 17:54 said: Iya mas saya setuju tapi 1 SYAWAL 1432 H

Ternyata, Hanya Empat Negara yang Lebaran di Hari Rabu! Saya gak mau taqlid Buta dengan penguasa Balas

 Among Amrul, on 30 Agustus 2011 at 19:52 said: saya ulangi lagi karena tidak di publikasikan…

Sejak kejadian semalam, sidang penetapan, saya semakin ingin mengetahui, apa itu methode hisab, dan bagaimana methode rukyat. Saya dari kalangan keluarga Muhammadiyah, dgn mengikuti sidang semalam saya ingin puasa pada hari ini 30 agustus karena sepakat semua dan bahakn disebutkan sepakat 5 negara, namun akhirnya saya ikut lebaran yang tgl 30 agustus setelah lihat kebenaran yang dinyatakan oleh petugas laporan pemerintah.

saya bisa terima Profesor sbg masukan yang sangat bagus dan menjadi latar blkg keinginan saya ingin belajar ilmu hisab dan rukyat. saya tidak mempermasalah yang selasa dan rabu, saya bisa terima itu sebagai perbedaan karena fitrah manusia. yang jadi masalah dan membuat saya EMOSI :

PERNYATAAN PEMERINTAH BAHWA TELAH SEPAKAT 5 NEGARA INDONESIA DAN PARA TETANGGANYA. DUSTA BESAR !!!!!

SEMUA HARI SELASA KECUALI INDONESIA. BAHKAN DI MALAYSIA TIDAK ADA YANG LEBARAN SELAIN HARI INI (SELASA) MAU SEBERAPA HEBATNYA TEKNOLOGI INDONESIA, SEBERAPA BENARNYA IJTIHAD, SAYA TETAP SAKIT HATI KALAU DIBOHONGI. KENAPA HARUS MEYAKINKAN UMAT DENGAN BERBOHONG???? HAMPIR SAJA SAYA MENJADI ORANG BIMBANG. JANGN SALING PECAH BELAH!!! Balas

Khan, on 30 Agustus 2011 at 21:56 said: Maklumlah, Rakyat indonesia hanya patuh kepada pemerintah ketika mau lebaran aja… N pemerintah,, masalah ibadah aja udah ada unsur2 politik,, iya dong,, iya kan,, ahahahahaha… Pak Prof,, Cocok…???!! Balas

 sekaralit, on 30 Agustus 2011 at 19:53 said:

Assalamualaikum . . . Sejak kejadian semalam, sidang penetapan, saya semakin ingin mengetahui, apa itu methode hisab, dan bagaimana methode rukyat. Saya dari kalangan keluarga Muhammadiyah, dgn mengikuti sidang semalam saya ingin puasa pada hari ini 30 agustus karena sepakat semua dan bahakn disebutkan sepakat 5 negara, namun akhirnya saya ikut lebaran yang tgl 30 agustus setelah lihat kebenaran yang dinyatakan oleh petugas laporan pemerintah. saya bisa terima Profesor sbg masukan yang sangat bagus dan menjadi latar blkg keinginan saya ingin belajar ilmu hisab dan rukyat. saya tidak mempermasalah yang selasa dan rabu, saya bisa terima itu sebagai perbedaan karena fitrah manusia. yang jadi masalah dan membuat saya EMOSI :

PERNYATAAN PEMERINTAH BAHWA TELAH SEPAKAT 5 NEGARA INDONESIA DAN PARA TETANGGANYA. DUSTA BESAR !!!!!

SEMUA HARI SELASA KECUALI INDONESIA. BAHKAN DI MALAYSIA TIDAK ADA YANG LEBARAN SELAIN HARI INI (SELASA) MAU SEBERAPA HEBATNYA TEKNOLOGI INDONESIA, SEBERAPA BENARNYA IJTIHAD, SAYA TETAP SAKIT HATI KALAU DIBOHONGI. KENAPA HARUS MEYAKINKAN UMAT DENGAN BERBOHONG???? HAMPIR SAJA SAYA MENJADI ORANG BIMBANG. JANGN SALING PECAH BELAH!!! Balas

Cutadz, on 31 Agustus 2011 at 09:53 said: Bohong kayaknya udah hal yang biasa dalam pemerintah, jadi gak perlu kaget lah.. Balas

 Argres, on 30 Agustus 2011 at 20:05 said: Sdr Sks, Saya bukan penduga justru andalah sbg Penganut tahlil yg penduga, baca kalimat saya ―Sumpah serapah anda‖. Copy paste lalu menduga.penganut tahlil-penganut tahlil. Banyak sekali ucapan2 najis dari tulisan anda yg justru mengarah pada kaum anda. Baca lagi dan mengacalah.

Tayangan di tv? Sadarkah anda bahwa itu bagian dari nilai kesopanan kami. Boleh anda rendahkan, boleh anda hina. Alhamdulillah.

Saya yakin kedengkian ada di hati anda, Jiwa iblis merasuki relung pemikiran anda. Anda sakit jiwa dan hampir gila.

Saya nggak perlu menanggapi anda karena anda sakit jiwa dan hampir gila Balas

mamad, on 30 Agustus 2011 at 22:39 said: http://politik.kompasiana.com/2011/08/30/benar-tidaknya-1-syawal-akan-terbuktisaat-bulan-purnama-membuktikan-kebohongankebenaran-dengan-cara-kampungan/ Balas

amin, on 31 Agustus 2011 at 05:21 said: jangan smpe terpancing emosinya mas, sama2 jahil donk ntar… Balas

 aam, on 30 Agustus 2011 at 20:13 said:

Assalamualaikum. Kalo kita liaht diskusi ini, semua berpegang pada keyakinannya tnt yg disampaikan profesor Djamaluddin yg pada akhirnya kita melupakan esensi dr Idhul Fitri itu sendiri. Yg setuju prosesor benar silahkan saja, memang Muhammadiyah harus mau untuk lebih memodernkan ilmu pengetahuannya. Dan saya yakin Muhammadiyah telah melakukan dan terus melakukannya.

Yg mendukung Muhammadiyah juga benar dengan keyakinannya karena mereka yakin Muhammadiyah pasti mempunyai alasan yg dianggap tepat, dan yakin bahwa Muhammadiyah terus berusaha memperbaiki keilmuannya.

Kita semua adlh orang yg tidak berkecimpung di Muhammadiyah, alangkah tidak pantasnya kita mengomentari sesuatu yg kita tidak tahu alasannya. Namun yg patut disayangkan adalah komentar pak Profesor didalam judul tulisan ini dan di alinea terakhir, yg mungkin tanpa disadari (semoga) telah menvonis Muhammadiyah salah. Sebaiknya dengan gelar yg dimiliki oleh bapak, bapak lebih berhati2 dalam menulis sebuah kalimat, dikarenakan kami dan teman2 masih bodoh dan terkadang menerima kalimat orang pintar apa adanya. Seharusnya bapak yg memang memiliki pengetahuan, datangi Muhammadiyah, katakan bapak ingin mengajak diskusi tentang ilmu yg bapak miliki. Jangan menunggu undangan, lalu ketika tidak ditanggapi menulis semau bapak. Lalu bapak juga bisa mendengar alasan mereka kenapa mereka tetap dengan keputusan mereka. Lakukanlah pak, jangan gengsi, trus berusaha temui. Kami umat akan dukung bapak selama memang niat bapak untuk kebajikan umat bukan untuk menunjukkan bahwa bapak lebih benar dan ilmu orang Muhammadiyah dibawah bapak. Dan saya yakin semua warga Muhammadiyah juga akan mendukung bapak jika itu memang untuk kebajikan umat. Untuk semua penulis komentar tulisan ini, ayo kita hentikan polemik ini, kita datangi masjid, sholat, bertakbir dan bersedekah unt kebajikan umat, sambil kita tunggu seperti apa langkah selanjutnya dari bapak profesor kita ini. Balas  Ali el Rasyid, on 30 Agustus 2011 at 20:25 said: Prof Thomas salah apa sih? Beliau kahn cuma ngomong blak blak kan ??? Balas

 judith, on 30 Agustus 2011 at 20:53 said: http://ramadhan.republika.co.id/berita/ramadhan/kabar-ramadhan/11/08/30/lqqfgp-nu-hariini-1-syawal-yang-puasa-segera-berbuka Balas  Pak De, on 30 Agustus 2011 at 20:55 said: Buat semua khususnya Pak Prosesor ―SELAMAT IDUL FITRI 2 SYAWAL 1432 H ‖ ―SELAMAT ―SELAMAT ―SELAMAT IDUL IDUL IDUL FITRI FITRI FITRI 2 2 2 SYAWAL SYAWAL SYAWAL 1432 1432 1432 H H H ‖ ‖ ‖

―SELAMAT IDUL FITRI 2 SYAWAL 1432 H ― Balas  Ridwan, on 30 Agustus 2011 at 21:43 said: As far as I know, Indonesia is the only country that has a method of Rukyatul Hilal where the hilal must be appeared at least two degrees. Why? Balas  Avandari Fauziah S, on 30 Agustus 2011 at 21:54 said: pak Prof ilmu anda memang tinggi tapi anda melupakan ilmu yang sangat sederhana yaitu ilmu padi ―semakin berisi semakin merunduk‖ Balas  Halim Karim, on 30 Agustus 2011 at 21:59 said:

Untuk sebagai 10/3 coba 3,33333333

semua ibarat =

saudaraku untuk 3,33333333==>tak

yang menyatukan

Muslim….. kriteria…. terhingga….. dibalik

*

3

=9,9999999

seharusnya

10

bila tidak ada kata sepakat berapa desimal di belakang koma untuk pembulatannya, maka pasti oleh Secara Tawadlu‘ karena umum tidak itu…mari ummat akhlaq kita Islam itu diketemukan kuatkan sama, Islam yang kita, penting Nabi angka dengan penyatuan nilai 10. visi. ibadahnya….. SAW.

adalah

Junjungan

Muhammad

wallohu a‘lam……. Balas  wongndeso, on 30 Agustus 2011 at 22:19 said: Onde onde qua qua qua….biar nda panas, diminum dulu aquanya…seger dingin…lebaran sekarang ato besok…sama saja…kebenaran cmn milik Allah…manusia cmn bisa berikhtiar… Sabar dolor…diunjuk disik kopi‘ne…disumet rokok‘e…oke Minal Mohon maaf lahir bathin…. Balas  anugrah, on 30 Agustus 2011 at 22:25 said: pak prof,,kenapa negara lain di dunia lebaran hari ini,,sedangkan kita besok,,ada penjelasan ilmiahnya kah?? Balas  aidzin wal faidzin…

mamad, on 30 Agustus 2011 at 22:29 said: Benar Tidaknya 1 Syawal Akan Terbukti Saat Bulan Purnama (Membuktikan Kebohongan/Kebenaran Dengan Cara Kampungan) SEBELUM membaca tulisan saya, mari simak pernyataan ini: –Kriteria hisab yang saat ini digunakan oleh Muhammadiyah seharusnya diperbaiki, kriteria tersebut terlalu sederhana— – Lalu mau kemana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Tetapi juga sama pentingnya adalah demi kemajuan Muhammadiyah sendiri, jangan sampai muncul kesan di komunitas astronomi ―Organisasi Islam modern, tetapi kriteria kelendernya usang‖. Semoga Muhammadiyah mau berubah!— ***** ITULAH beberapa potongan kalimat yang diungkapkan Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, yang juga Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI dalam blognya, maupun pernyataan kepada beberapa media massa nasional menjelang akhir Ramadhan 2011. Untuk melihat pemikiran ahli astronomi itu, silahkan dibuka link di atas. Saya tidak perlu mengulanginya. Pada saat sidang itsbat yang dipimpin Menteri Agama, Senin (29/8) malam, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin sempat diingatkan oleh salahsatu pengurus Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Dr. H. A. Fatah Wibisono, MA, agar menjaga lisannya. Fatah mengingatkan karena dianggap kurang santun berbicara di forum terhormat itu. Bagi Muhammadiyah yang telah lahir sebelum Thomas ada, tentu bukan hal baru dalam menentukan penetapan 1 Syawal setiap akhir Ramadhan. Maka dari itu, tidak seperti Pemerintah yang hanya mampu memprediksi 1 Syawal sehari sebelum waktunya, Muhammadiyah sudah melakukan itu jauh hari. Peringatan Fatah, di mata saya sangat serius dampaknya untuk ukuran sekarang. Bagaimana tidak, tiba-tiba Petinggi Muhammadiyah itu merasa harus mengingatkan seorang Profesor yang bekerja di Kementrian Agama. Padahal, dengan logika sehat, tak perlu Thomas

melakukan obral pernyataan seperti itu saat seluruh media menyorot wajah dan mulutnya. Sangat tidak pantas. Ada kesan, arogansi yang tidak perlu menurut saya. Apalagi, ada indikasi kebohongan informasi dari pak Menteri yang menyatakan bahwa Malaysia dan Singapura serta negara-negara Arab juga melakukan Idul Fitri pada Rabu 31 Agustus 2011. Gara-gara informasi itu, nyaris semua peserta sidang itsbat maupun masyarakat yang menonton TV, terbius dan nyaris percaya begitu saja. Belakangan, dari informasi beberapa kolega di beberapa negara yang disebut di atas, ternyata didapat informasi bahwa mereka melakukan Idul Fitri pada Selasa 30 Agustus 2011. Bahkan hingga saat ini, informasi yang saya terima, ada sekitar 50 negara yang melakukan Sholat Idul Fitri pada Selasa tanggal 30 Agustus 2011 pagi ini. Sebagian beritanya juga dimuat di berbagai situs berita terpercaya. Jika ingin baca beritanya, buka saja link berikut: http://www.detiknews.com/read/2011/08/30/010128/1713387/10/mesir-qatar-emirat-arabberidul-fitri-30-agustus?9922032 atau http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=1099262d08ad760566784006371 a19d1&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c Sebelum diteruskan, penting saya sampaikan terlebih dahulu sedikit deskripsi. Saya pernah hidup di kampung di pedalaman Klaten, Jawa Tengah, hampir 20 tahun, sebelum mengembara ke Surabaya 8 tahun dan di Jakarta lebih dari 10 tahun dan beberapa negara saat masih aktif menjadi wartawan. Saat di pedesaan jauh dari teknologi, orangtua saya sudah mengajarkan bagaimana mengenali karakter alam. Misalnya, karakter lintang (baca: bintang), dan mbulan (bulan) serta srengenge (matahari). Hingga saat ini, saya masih memelihara sifat Ndeso saya, dengan tujuan sekedar agar memori saya saat kecil tidak hilang begitu saja. Jangan tanya soal khazanah budaya Jawa di otak saya. Masih tersimpan rapi. Karena saking Ndeso-nya, maka saya masih fasih betul berbahasa Jawa. Bahkan, oleh keluarga saya, sudah biasa menyebut dan mengucapkan Wulan Sawal, untuk mengganti istilah Bulan Syawal. Atau Wulan Rejeb, padahal yang dimaksud Bulan Rojab. Atau Wulan Ruwah, padahal nama yang benar adalah Bulan Sya‘ban.

Belakangan saya dapat ilmunya, penanggalan Jawa, memang mengadopsi penanggalan Islam. Maka dari itu, apa yang saya dapat dulu dari orangtua saya di Kampung, dengan mudah saya sesuaikan saat saya temukan kenyataan bahwa banyak istilah Kejawen yang di dalam Bahasa Arab ternyata mirip-mirip, namun istilahnya banyak berubah. Bulan Muharram, di dalam benak orang Jawa menjadi Wulan Suro. Entah bagaimana itu terjadi. Yang jelas, untuk ngelmu ngalam cara ndeso, saya sedikit banyak sudah mengetahui. Ketika semalam melihat keterangan Profesor dari LAPAN serta keterangan beberapa petinggi Ormas Islam, serta keterangan Menteri Agama RI, saya jadi ingat satu hal. Bahwa, mereka bisa saja berdebat dengan bersitegang dan berbagai sandiwara di depan kamera wartawan. Saya hanya menunggu satu hal. Apa yang akan diputuskan Menteri Agama malam itu. Tidak penting soal lebarannya, namun saya ingin mendengar kalimat 1 Syawal jatuh pada tanggal berapa di bulan Agustus 2011. Syukurlah, setelah diumumkan oleh Pak Menteri bahwa 1 Syawal jatuh pada Rabu 31 Agustus 2011, maka kemudian muncul ide gila saya. ―Saya ingin menguji, apakah keputusan malam itu terbukti benar atau terbukti salah‖ Untuk melakukan uji tersebut tidak susah. Kita tidak perlu belajar ke LAPAN. Tidak perlu menjadi Professor. Tidak perlu menjadi Deputi di LAPAN. Tidak perlu belajar ke Amerika. Bagaimana caranya? Gampang. Namun kita butuh 15 hari lagi. Saya menggunakan pembuktian terbalik. Tampaknya, pengaruh Prof. Dr. Thomas benar-benar terlihat pada hasil keputusan sidang itsbat malam itu. Penjelasan sang profesor , benar-benar mampu membius seluruh peserta sidang itsbat, hingga Pemerintah pun akhirnya menetapkan 1 Syawal jatuh pada Rabu tanggal 31 Agustus 2011. Penjelasan meyakinkan Sang Profesor patut dipuji. Meskipun Pak Menteri Agama menetapkan 1 Syawal konon berdasarkan beberapa pertimbangan, termasuk kesaksian para ahli Rukyat, namun jika kita jeli, maka sesungguhnya apa yang diungkapkan Pak Menteri itu tampaknya adalah banyak dipengaruhi pemikiran ‗genius‘ Pak Profesor. Saking berpengaruhnya yang bersangkutan, maka Thomas pun tak segan mengkritik Muhammadiyah. Pokoknya malam itu, Sang Profesor benar-benar berada di atas angin. Terbukti, tanpa ada keraguan, dengan sangat lantang, sang Profesor LAPAN itu memberi pendapat keras kepada Muhammadiyah. Jika sebelumnya organisasi bentukan KH Ahmad

Dahlan tersebut dikenal sebagai Organisasi Islam Pembaharu dan modern, maka di mata Thomas, tiba-tiba jadi sebaliknya. Muhammadiyah disebut usang, kuno dan malah ketinggalan dari NU dan Ormas Islam lainnya. Namun harus diingat, seskipun selintas terkesan cukup meyakinkan dan mampu melambungkan nama Profesor LAPAN ini, coba tunggulah hingga 15 hari ke depan. Kehebatan Sang Profesor akan teruji 15 hari lagi!. Di saat itulah, akan terbukti keterangan berbusa-busa Sang Profesor akan menjadi barang murahan, atau akan menjadi emas mulia. Kenapa? Begini. Kita hanya menunggu 15 hari lagi ketika Allah SWT tunjukkan kepada Umat bahwa pada hari itu, akan muncul apa yang disebut Bulan Purnama. Sesuai perhitungan sederhana saya, sebut saja perhitungan kampungan saya, maka 15 hari dari tanggal 1 Syawal, dipastikan akan terjadi Bulan Purnama. Dengan munculnya Bulan Purnama, secara langsung dan tanpa rekayasa, akan membuktikan secara nyata mana pihak yang benar- dan mana pihak yang salah. Tuhan tidak pernah bohong soal satu ini. Anda juga mengalami. Saya juga mengalami. Sejak saya kecil hingga menginjak usia 40 tahun, setiap Bulan Purnama, pasti bulan akan muncul sangat mempesona. Selain sempurna wujudnya, bulan akan hadir sangat spesial karena berada tepat di atas kepala kita. Sekali lagi, saat itu, bulan tepat di atas kepala kita, dan wujud bulan akan sangat sempurna. Mengapa Bulan Purnama menjadi acuan kebenaran penetapan 1 Syawal? Sederhana. Dengan cara kampungan saya, maka penetapan 1 Syawal kemarin, akan terbukti benar atau tidaknya, cukup dengan melihat secara langsung Bulan Purnama. Kondisi bulan saat Bulan Purnama, sangat berbeda dengan kondisi bulan saat tanggal di awal Bulan Syawal. Jika pada awal Syawal, fisik bulan mungkin hanya terlihat tipis dan meragukan meski dilihat dengan alat teropong sekalipun, sebaliknya pada tanggal 15 Syawal, fisik bulan akan terlihat sangat jelas, dan mencapai ‗titik kulminasi‘ dari fase perubahan fisiknya. Pada Bulan Purnama, manusia tidak perlu memakai teropong untuk membuktikan benar tidaknya terjadi Bulan Purnama. Kita cukup keluar rumah, tengok ke atas. Jika bulan terlihat bulat sempurna di atas kepala kita, itu sudah pasti tanggal 15 setiap bulan. Tidak perlu rukyat, tidak perlu

Hisab, tidak pelu sidang itsbat. Pada tanggal 15 bulan Jawa/Islam, tak akan terjadi perbedaan pendapat antara para Petinggi Ormas Islam soal kebenaran Bulan Purnama. Pada malam itu, tak ada satupun Profesor Astronomi yang bisa membantah fenomena alam berupa Bulan Purnama. Semua harus bilang bahwa malam itu adalah tanggal 15 Syawal. Mulai saat ini, cobalah hitung. Jika ikut versi Muhammadiyah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada Selasa tanggal 30 Agustus 2011. Jika ikut versi Pemerintah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada Rabu tanggal 31 Agustus 2011. Logika kampungan saya mengatakan, jika dihitung sesuai dengan masing-masing versi, maka akan terjadi begini: Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011M, maka Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 13 September 2011. Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011M, maka Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 14 September 2011. Saya menjamin, pada dua malam di hari itu, masyarakat akan bisa membuktikan dengan alamiah dan akurat melalui mata kepala sendiri, versi siapa yang paling akurat dalam penentuan 1 Syawal 1432H. Jika bulan terlihat Sempurna (Bulan Purnama) pada 13 September, sudah pasti Muhammadiyah telah melakukan perhitungan dengan benar. Akan tetapi sebaliknya jika Bulan Purnama terjadi pada tanggal 14 September malam, maka sudah pasti pemerintah telah melakukan perhitungan dengan benar, dan Muhammadiyah perlu introspeksi diri dan mengubah sistem perhitungan penentuan awal dan akhir Ramadhan. Pada malam itu, akan menjadi malam penentuan yang menegangkan dan menjadi Hakim Alam terbaik untuk membuktikan kepada manusia, siapa yang terbukti melakukan kesalahan dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan sehingga menyebabkan perbedaan 1 Syawal.

Apabila Bulan Purnama berlangsung pada 13 September 2011, berarti sidang itsbat malam itu, yang dihadiri seluruh Petinggi Ormas dan Menteri Agama serta tamu kedutaan Negara Islam dan banyak tokoh Islam waktu itu, akan menjadi sidang sampah belaka. Jangan kaget apabila masyarakat kemudian menjustifikasi sidang malam itu sebagai bentuk baru kebohongan pemerintah terhadap masyarakat Islam seluruh Indonesia. Masyarakat mungkin bisa dikelabuhi di saat awal, namun untuk urusan satu ini, masyarakat bisa membuktikan perilaku aparat kita lurus atau tidak, hanya membutuhkan waktu 15 hari dari tanggal penetapan mereka. Ingat, pada Bulan Purnama, tidak ada satupun manusia yang mampu mengubah posisi Bulan serta bentuknya yang sangat sempurna, kecuali Allah SWT, Pangeran Sing Moho Kuwoso— bahasa Jawanya. Jadi, tidak mungkin pada malam itu, ada jumpa pers yang menyatakan, bahwa Bulan Purnama yang terjadi adalah kesalahan Tuhan. Tidak mungkin itu. Itulah hebatnya Bulan Purnama. Oleh karenanya, untuk membuktikan analisa saya, mari bersama-sama menunggu hadirnya Bulan Purnama. Tuhan akan memberi bukti langsung kepada kita, bukti fisik, betapa manusia sangat lemah dan tidak ada gunanya sombong. Bahwa manusia, tidak perlu saling menyindir dan saling menyalahkan. Bahwa manusia harus berkawan dengan alam untuk bisa memanfaatkan dia dalam mengatur tata kehidupan di dunia yang fana. Penasaran? Tunggu Bulan Purnama nanti. #(Mustofa B. Nahrawardaya)# sumber: http://politik.kompasiana.com/2011/08/30/benar-tidaknya-1-syawal-akan-terbukti-

saat-bulan-purnama-membuktikan-kebohongankebenaran-dengan-cara-kampungan/ hayo kita buktikan dan kawal sama sama… Balas  dzumairi, on 30 Agustus 2011 at 22:32 said: Konon, Muhammadiyah sudah meninggalkan teori Hisab ―imkanurrukyat‖ sejak tahun 1933 (sebelum Indonesia merdeka). Tapi bagi Prof, Imkanurrukyat (dalam berbagai derajat yg belum/sudah disepakati) dan pemerintah (2 derjat) dianggap paling benar. MUNGKIN bagi

Muhammadiyah ―imkanurrukyat‖lah yang TELAH USANG. Saya khawatir saja, jangan2 suatu saat ketika Muhammadiyah sudah tidak lagi menggunakan Teori Wujudul Hilal karena telah menggunakan teori yang dianggap lebih baik, eh Prof dan pemerintah malah menggunakan Wujudul Hilal…. siapa tau…..! Teori-kan bisa saja berubah… Balas  ucok, on 30 Agustus 2011 at 22:33 said: pak thomas ni ngetrend kalilah sejak semalam.ya walau cuma satu malam sih pak karena thomas pakar layak diuji di kembali luar keprofesoran sana lebih anda,mengapa ahli lagi demikian? drpd anda.

astronomi

saya bukan dr ormas muhammadiyah tp saya tidak pernah pelajari bahwa sikap seorang Rosulullah menyudutkan satu pihak,jika anda pengikut muhammad seyogyanya bersikap bijaksana. jika anda tidak mau lebaran ya udah gak masalah, salahin aja malaysia dan negara yg lainnya kenapa harus muhammadiyah yg disalahin.hati hati anda bisa menimbulkan perpecahan dan permusuhan yg besar di indonesia ini. laporan anda saja tidak anda tunjukkan semuanya.coba posting hasil laporan dari 90 titik itu. kalau mau memecah islam jgn disini om thomas,jgn sampai anda disebut pengacau islam!!! Parahnya lagi ada pulalah warga NU yg sholat ied hari selasa.hahaha

macam mana tuh?ga taat lagi mereka sama gusdur rupanya tobatlahTOM Balas  mamad, on 30 Agustus 2011 at 22:34 said: Benar Tidaknya 1 Syawal Akan Terbukti Saat Bulan Purnama (Membuktikan Kebohongan/Kebenaran Dengan Cara Kampungan)

SEBELUM membaca tulisan saya, mari simak pernyataan ini: –Kriteria hisab yang saat ini digunakan oleh Muhammadiyah seharusnya diperbaiki, kriteria tersebut terlalu sederhana— – Lalu mau kemana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Tetapi juga sama pentingnya adalah demi kemajuan Muhammadiyah sendiri, jangan sampai muncul kesan di komunitas astronomi ―Organisasi Islam modern, tetapi kriteria kelendernya usang‖. Semoga Muhammadiyah mau berubah!— ***** ITULAH beberapa potongan kalimat yang diungkapkan Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, yang juga Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI dalam blognya, maupun pernyataan kepada beberapa media massa nasional menjelang akhir Ramadhan 2011. Untuk melihat pemikiran ahli astronomi itu, silahkan dibuka link di atas. Saya tidak perlu mengulanginya. Pada saat sidang itsbat yang dipimpin Menteri Agama, Senin (29/8) malam, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin sempat diingatkan oleh salahsatu pengurus Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Dr. H. A. Fatah Wibisono, MA, agar menjaga lisannya. Fatah mengingatkan karena dianggap kurang santun berbicara di forum terhormat itu. Bagi Muhammadiyah yang telah lahir sebelum Thomas ada, tentu bukan hal baru dalam menentukan penetapan 1 Syawal setiap akhir Ramadhan. Maka dari itu, tidak seperti Pemerintah yang hanya mampu memprediksi 1 Syawal sehari sebelum waktunya, Muhammadiyah sudah melakukan itu jauh hari. Peringatan Fatah, di mata saya sangat serius dampaknya untuk ukuran sekarang. Bagaimana tidak, tiba-tiba Petinggi Muhammadiyah itu merasa harus mengingatkan seorang Profesor yang bekerja di Kementrian Agama. Padahal, dengan logika sehat, tak perlu Thomas melakukan obral pernyataan seperti itu saat seluruh media menyorot wajah dan mulutnya. Sangat tidak pantas. Ada kesan, arogansi yang tidak perlu menurut saya. Apalagi, ada indikasi kebohongan informasi dari pak Menteri yang menyatakan bahwa Malaysia dan Singapura serta negara-negara Arab juga melakukan Idul Fitri pada Rabu 31

Agustus 2011. Gara-gara informasi itu, nyaris semua peserta sidang itsbat maupun masyarakat yang menonton TV, terbius dan nyaris percaya begitu saja. Belakangan, dari informasi beberapa kolega di beberapa negara yang disebut di atas, ternyata didapat informasi bahwa mereka melakukan Idul Fitri pada Selasa 30 Agustus 2011. Bahkan hingga saat ini, informasi yang saya terima, ada sekitar 50 negara yang melakukan Sholat Idul Fitri pada Selasa tanggal 30 Agustus 2011 pagi ini. Sebagian beritanya juga dimuat di berbagai situs berita terpercaya. Jika ingin baca beritanya, buka saja link berikut: http://www.detiknews.com/read/2011/08/30/010128/1713387/10/mesir-qatar-emirat-arabberidul-fitri-30-agustus?9922032 atau http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=1099262d08ad760566784006371 a19d1&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c Sebelum diteruskan, penting saya sampaikan terlebih dahulu sedikit deskripsi. Saya pernah hidup di kampung di pedalaman Klaten, Jawa Tengah, hampir 20 tahun, sebelum mengembara ke Surabaya 8 tahun dan di Jakarta lebih dari 10 tahun dan beberapa negara saat masih aktif menjadi wartawan. Saat di pedesaan jauh dari teknologi, orangtua saya sudah mengajarkan bagaimana mengenali karakter alam. Misalnya, karakter lintang (baca: bintang), dan mbulan (bulan) serta srengenge (matahari). Hingga saat ini, saya masih memelihara sifat Ndeso saya, dengan tujuan sekedar agar memori saya saat kecil tidak hilang begitu saja. Jangan tanya soal khazanah budaya Jawa di otak saya. Masih tersimpan rapi. Karena saking Ndeso-nya, maka saya masih fasih betul berbahasa Jawa. Bahkan, oleh keluarga saya, sudah biasa menyebut dan mengucapkan Wulan Sawal, untuk mengganti istilah Bulan Syawal. Atau Wulan Rejeb, padahal yang dimaksud Bulan Rojab. Atau Wulan Ruwah, padahal nama yang benar adalah Bulan Sya‘ban. Belakangan saya dapat ilmunya, penanggalan Jawa, memang mengadopsi penanggalan Islam. Maka dari itu, apa yang saya dapat dulu dari orangtua saya di Kampung, dengan mudah saya sesuaikan saat saya temukan kenyataan bahwa banyak istilah Kejawen yang di dalam Bahasa Arab ternyata mirip-mirip, namun istilahnya banyak berubah. Bulan Muharram, di dalam benak orang Jawa menjadi Wulan Suro. Entah bagaimana itu terjadi. Yang jelas, untuk ngelmu ngalam cara ndeso, saya sedikit banyak sudah mengetahui.

Ketika semalam melihat keterangan Profesor dari LAPAN serta keterangan beberapa petinggi Ormas Islam, serta keterangan Menteri Agama RI, saya jadi ingat satu hal. Bahwa, mereka bisa saja berdebat dengan bersitegang dan berbagai sandiwara di depan kamera wartawan. Saya hanya menunggu satu hal. Apa yang akan diputuskan Menteri Agama malam itu. Tidak penting soal lebarannya, namun saya ingin mendengar kalimat 1 Syawal jatuh pada tanggal berapa di bulan Agustus 2011. Syukurlah, setelah diumumkan oleh Pak Menteri bahwa 1 Syawal jatuh pada Rabu 31 Agustus 2011, maka kemudian muncul ide gila saya. ―Saya ingin menguji, apakah keputusan malam itu terbukti benar atau terbukti salah‖ Untuk melakukan uji tersebut tidak susah. Kita tidak perlu belajar ke LAPAN. Tidak perlu menjadi Professor. Tidak perlu menjadi Deputi di LAPAN. Tidak perlu belajar ke Amerika. Bagaimana caranya? Gampang. Namun kita butuh 15 hari lagi. Saya menggunakan pembuktian terbalik. Tampaknya, pengaruh Prof. Dr. Thomas benar-benar terlihat pada hasil keputusan sidang itsbat malam itu. Penjelasan sang profesor , benar-benar mampu membius seluruh peserta sidang itsbat, hingga Pemerintah pun akhirnya menetapkan 1 Syawal jatuh pada Rabu tanggal 31 Agustus 2011. Penjelasan meyakinkan Sang Profesor patut dipuji. Meskipun Pak Menteri Agama menetapkan 1 Syawal konon berdasarkan beberapa pertimbangan, termasuk kesaksian para ahli Rukyat, namun jika kita jeli, maka sesungguhnya apa yang diungkapkan Pak Menteri itu tampaknya adalah banyak dipengaruhi pemikiran ‗genius‘ Pak Profesor. Saking berpengaruhnya yang bersangkutan, maka Thomas pun tak segan mengkritik Muhammadiyah. Pokoknya malam itu, Sang Profesor benar-benar berada di atas angin. Terbukti, tanpa ada keraguan, dengan sangat lantang, sang Profesor LAPAN itu memberi pendapat keras kepada Muhammadiyah. Jika sebelumnya organisasi bentukan KH Ahmad Dahlan tersebut dikenal sebagai Organisasi Islam Pembaharu dan modern, maka di mata Thomas, tiba-tiba jadi sebaliknya. Muhammadiyah disebut usang, kuno dan malah ketinggalan dari NU dan Ormas Islam lainnya. Namun harus diingat, seskipun selintas terkesan cukup meyakinkan dan mampu melambungkan nama Profesor LAPAN ini, coba tunggulah hingga 15 hari ke depan.

Kehebatan Sang Profesor akan teruji 15 hari lagi!. Di saat itulah, akan terbukti keterangan berbusa-busa Sang Profesor akan menjadi barang murahan, atau akan menjadi emas mulia. Kenapa? Begini. Kita hanya menunggu 15 hari lagi ketika Allah SWT tunjukkan kepada Umat bahwa pada hari itu, akan muncul apa yang disebut Bulan Purnama. Sesuai perhitungan sederhana saya, sebut saja perhitungan kampungan saya, maka 15 hari dari tanggal 1 Syawal, dipastikan akan terjadi Bulan Purnama. Dengan munculnya Bulan Purnama, secara langsung dan tanpa rekayasa, akan membuktikan secara nyata mana pihak yang benar- dan mana pihak yang salah. Tuhan tidak pernah bohong soal satu ini. Anda juga mengalami. Saya juga mengalami. Sejak saya kecil hingga menginjak usia 40 tahun, setiap Bulan Purnama, pasti bulan akan muncul sangat mempesona. Selain sempurna wujudnya, bulan akan hadir sangat spesial karena berada tepat di atas kepala kita. Sekali lagi, saat itu, bulan tepat di atas kepala kita, dan wujud bulan akan sangat sempurna. Mengapa Bulan Purnama menjadi acuan kebenaran penetapan 1 Syawal? Sederhana. Dengan cara kampungan saya, maka penetapan 1 Syawal kemarin, akan terbukti benar atau tidaknya, cukup dengan melihat secara langsung Bulan Purnama. Kondisi bulan saat Bulan Purnama, sangat berbeda dengan kondisi bulan saat tanggal di awal Bulan Syawal. Jika pada awal Syawal, fisik bulan mungkin hanya terlihat tipis dan meragukan meski dilihat dengan alat teropong sekalipun, sebaliknya pada tanggal 15 Syawal, fisik bulan akan terlihat sangat jelas, dan mencapai ‗titik kulminasi‘ dari fase perubahan fisiknya. Pada Bulan Purnama, manusia tidak perlu memakai teropong untuk membuktikan benar tidaknya terjadi Bulan Purnama. Kita cukup keluar rumah, tengok ke atas. Jika bulan terlihat bulat sempurna di atas kepala kita, itu sudah pasti tanggal 15 setiap bulan. Tidak perlu rukyat, tidak perlu Hisab, tidak pelu sidang itsbat. Pada tanggal 15 bulan Jawa/Islam, tak akan terjadi perbedaan pendapat antara para Petinggi Ormas Islam soal kebenaran Bulan Purnama. Pada malam itu, tak ada satupun Profesor Astronomi yang bisa membantah fenomena alam berupa Bulan Purnama. Semua harus bilang bahwa malam itu adalah tanggal 15 Syawal. Mulai saat ini, cobalah hitung.

Jika ikut versi Muhammadiyah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada Selasa tanggal 30 Agustus 2011. Jika ikut versi Pemerintah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada Rabu tanggal 31 Agustus 2011. Logika kampungan saya mengatakan, jika dihitung sesuai dengan masing-masing versi, maka akan terjadi begini: Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011M, maka Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 13 September 2011. Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011M, maka Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 14 September 2011. Saya menjamin, pada dua malam di hari itu, masyarakat akan bisa membuktikan dengan alamiah dan akurat melalui mata kepala sendiri, versi siapa yang paling akurat dalam penentuan 1 Syawal 1432H. Jika bulan terlihat Sempurna (Bulan Purnama) pada 13 September, sudah pasti Muhammadiyah telah melakukan perhitungan dengan benar. Akan tetapi sebaliknya jika Bulan Purnama terjadi pada tanggal 14 September malam, maka sudah pasti pemerintah telah melakukan perhitungan dengan benar, dan Muhammadiyah perlu introspeksi diri dan mengubah sistem perhitungan penentuan awal dan akhir Ramadhan. Pada malam itu, akan menjadi malam penentuan yang menegangkan dan menjadi Hakim Alam terbaik untuk membuktikan kepada manusia, siapa yang terbukti melakukan kesalahan dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan sehingga menyebabkan perbedaan 1 Syawal. Apabila Bulan Purnama berlangsung pada 13 September 2011, berarti sidang itsbat malam itu, yang dihadiri seluruh Petinggi Ormas dan Menteri Agama serta tamu kedutaan Negara Islam dan banyak tokoh Islam waktu itu, akan menjadi sidang sampah belaka. Jangan kaget apabila masyarakat kemudian menjustifikasi sidang malam itu sebagai bentuk baru kebohongan pemerintah terhadap masyarakat Islam seluruh Indonesia. Masyarakat mungkin bisa dikelabuhi di saat awal, namun untuk urusan satu ini, masyarakat bisa membuktikan perilaku aparat kita lurus atau tidak, hanya membutuhkan waktu 15 hari dari tanggal penetapan mereka.

Ingat, pada Bulan Purnama, tidak ada satupun manusia yang mampu mengubah posisi Bulan serta bentuknya yang sangat sempurna, kecuali Allah SWT, Pangeran Sing Moho Kuwoso— bahasa Jawanya. Jadi, tidak mungkin pada malam itu, ada jumpa pers yang menyatakan, bahwa Bulan Purnama yang terjadi adalah kesalahan Tuhan. Tidak mungkin itu. Itulah hebatnya Bulan Purnama. Oleh karenanya, untuk membuktikan analisa saya, mari bersama-sama menunggu hadirnya Bulan Purnama. Tuhan akan memberi bukti langsung kepada kita, bukti fisik, betapa manusia sangat lemah dan tidak ada gunanya sombong. Bahwa manusia, tidak perlu saling menyindir dan saling menyalahkan. Bahwa manusia harus berkawan dengan alam untuk bisa memanfaatkan dia dalam mengatur tata kehidupan di dunia yang fana. Penasaran? Tunggu Bulan Purnama nanti. #(Mustofa B. Nahrawardaya)# sumber: http://politik.kompasiana.com/2011/08/30/benar-tidaknya-1-syawal-akan-terbukti-

saat-bulan-purnama-membuktikan-kebohongankebenaran-dengan-cara-kampungan/ mari kita kawal dan buktikan sama sama… Balas  Tarman, on 30 Agustus 2011 at 22:36 said: Kerjaan Dajjal emang nipu ummat, Arab udah lebaran kita malah belum. Balas  mamad, on 30 Agustus 2011 at 22:43 said: Mulai saat ini, cobalah hitung. Jika ikut versi Muhammadiyah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada Selasa tanggal 30 Agustus 2011. Jika ikut versi Pemerintah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada Rabu tanggal 31 Agustus 2011.

Logika kampungan saya mengatakan, jika dihitung sesuai dengan masing-masing versi, maka akan terjadi begini: Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011M, maka Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 13 September 2011. Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011M, maka Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 14 September 2011. Saya menjamin, pada dua malam di hari itu, masyarakat akan bisa membuktikan dengan alamiah dan akurat melalui mata kepala sendiri, versi siapa yang paling akurat dalam penentuan 1 Syawal 1432H. Jika bulan terlihat Sempurna (Bulan Purnama) pada 13 September, sudah pasti Muhammadiyah telah melakukan perhitungan dengan benar. Akan tetapi sebaliknya jika Bulan Purnama terjadi pada tanggal 14 September malam, maka sudah pasti pemerintah telah melakukan perhitungan dengan benar, dan Muhammadiyah perlu introspeksi diri dan mengubah sistem perhitungan penentuan awal dan akhir Ramadhan. Pada malam itu, akan menjadi malam penentuan yang menegangkan dan menjadi Hakim Alam terbaik untuk membuktikan kepada manusia, siapa yang terbukti melakukan kesalahan dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan sehingga menyebabkan perbedaan 1 Syawal. Apabila Bulan Purnama berlangsung pada 13 September 2011, berarti sidang itsbat malam itu, yang dihadiri seluruh Petinggi Ormas dan Menteri Agama serta tamu kedutaan Negara Islam dan banyak tokoh Islam waktu itu, akan menjadi sidang sampah belaka. Jangan kaget apabila masyarakat kemudian menjustifikasi sidang malam itu sebagai bentuk baru kebohongan pemerintah terhadap masyarakat Islam seluruh Indonesia. Masyarakat mungkin bisa dikelabuhi di saat awal, namun untuk urusan satu ini, masyarakat bisa membuktikan perilaku aparat kita lurus atau tidak, hanya membutuhkan waktu 15 hari dari tanggal penetapan mereka. selengkapnya baca….

http://politik.kompasiana.com/2011/08/30/benar-tidaknya-1-syawal-akan-terbukti-saat-bulanpurnama-membuktikan-kebohongankebenaran-dengan-cara-kampungan/ Balas

 ABI SYIFA, on 30 Agustus 2011 at 23:00 said: Trims Jazakallah solusi tentunya ditunggu hal nya ini bukan tuk atas duduk cari dukung pencerahannya bersama mendukung selanjutnya berbagai Prof. Prof. kembali. pihak. Prof.

makalah

jazakumullah khairon katsiro Balas  musyaffir, on 30 Agustus 2011 at 23:01 said: nilai kesopanan kami?……ugh….ditemapat ane org muhammadiyah sombang semua sok pinter padahal gak ada sekuku ane pengetahuannya….udah sering ane ajak debat…otaknya tumpul……sopan?…..ente bilang gila ke org itu sopan?…..belajarlah jadi manusia bung…!!!! Balas  alimin, on 30 Agustus 2011 at 23:01 said: perputaran bulan memangnya berapa lama sampai di indonesia…?masa Mekkah dah sholat IED, klo indonesia tunggu 1 hari lagi…,jelas haram hukumnya puasa hari selasa ini, klo pemerintah sudah mengatakan begitu berarti siapa saja yang mengikutinya berarti dosa baginya….klo dihitung2 sih yg masih puasa hari ini juatann orang yaa…. Balas  Bang Napi, on 30 Agustus 2011 at 23:16 said: Perbedaan itu keindahan

Balas  teguh, on 30 Agustus 2011 at 23:29 said: puanasss….. nerakanya bocor kali ya???? Balas  teguh, on 30 Agustus 2011 at 23:35 said: direwangi mati2an, ngotot-ngototan, sumpah serapah segala… ckckckck… yg seneng yg nonton, pd tepuk tangan rame2… sadar… Balas  eep heryanto, on 30 Agustus 2011 at 23:48 said: Pak Professor, hari-hari ke depan, kami tunggu penjelasan Pak profesor di televisi. Tolong berikan keterangan sejelas-jelasnya, antara lain mengapa di asia tenggara hanya Indonesia yang lebarannya hari Rabu, dan mengapa Timur Tengah lebarannya Selasa. Pak Profesor, penjelasan ini sangat kami tunggu, karena pak Profesor ahli astronomi, jadi tidak cuma sebatas Indonesia saja yang dibahas. Kalo tidak ada penjelasan komprehensif dari pak Profesor, Lebaran tahun depan jangan coba-coba nongol di televisi lagi deh Pak. Gak kebayang saya siksaan neraka untuk pak Profesor yang sudah sebegitu yakinnya membuat umat berpuasa di tanggal 1 Syawal. Masya Allah… Balas  Oni Asharri Rasyad, on 31 Agustus 2011 at 00:00 said: wakaka… Pak Prof sudah ngacir ngga berani komen setelah mendapatkan fakta mayoritas muslim di Dunia menggunakan metode Usang

eh,

diluar

ini

semua,

ane

mau

nanya

ama

pak

Prof.

Kalau mengandalkan metode pak Prof, maka secara yuridis, bila Bumi mengalami masamasa seperti pasca letusan Tambora dan Krakatau, dimana bumi berselimut kabut selama 2 tahunan tanpa cahaya matahari, maka artinya selama 2 tahun, kita mendapati tahun hijriah 360 hari, karena setiap bulannya harus digenapkan 30 hari Balas  syamharyo, on 31 Agustus 2011 at 00:18 said: cuma bisa ketawa liat blog seorang profesor yang cuma bisa menyalahkan lewat dunia maya, dengan berbicara ilmunya yang dibilang tinggi, sadar pak, hidup anda meenyedihkan satu agama digolong2kan, anda ini berkuasa layaknya tuhan, sudah pantaskah anda? buat perubahan jangan cuma asal bacot di dunia maya, inilah kenapa orang2 seperti anda susah maju, saya bukanpro muhammadiyah atau ormas apapun, saya hanya hamba allah swt, yang masih banyak salah, ingatlah saudaraku anda itu orang berilmu, sadarlah tulisan anda dengan bahasa seperti itu hanya memeprkeruh, toh juga ini cuma masalah tanggal, biarkan setiap orang berteguh dengan keyakinan, jangan salahkan suatu Ormas agama apapun, camkan itu cuk!!! Balas  SHELLAYART PREDICTIONS, on 31 Agustus 2011 at 00:35 said: Maaf prof br bs ol.

Td sore tepatx tgl 30 agustus sy melihat bulan sabit di sebelah selatan tempat tenggelamx matahari dgn mata telanjang.

Berkisar 20 menit setelah matahari terbenam bulan sdh nyata2 kelihatan, bahkan mata rabunpun sdh jelas kelihatan. Yg lbh aneh lg sekitar menghampiri 1 jam terbenamx matahari br bulan terbenam jg, jelas selisih wkt yg cukup lama. Nah sy mau bertanya apakah bulan yg sy lihat adalah bulan pertama kali muncul di bulan syawal ? Mhn penjelasan dan jngn lari dr kenyataan. Balas

 cumananya, on 31 Agustus 2011 at 00:54 said: cuma nanya itu kenapa plugin yang terpasang di kanan blog menunjukan tanggal 2 shawwal Balas  abieomar, on 31 Agustus 2011 at 01:01 said: Tapi kok plug in penanggalan real time nya blog ini sudah 2 syawal yah ??? lihat tuh disebelah kanan, heheheheheheh……. Blog sama yang punya gak kompak nih…… Balas  SHELLAYART PREDICTIONS, on 31 Agustus 2011 at 01:13 said: Pertanyaan siapakah yg benar antara Muhamadiyah dan pemeritah. Krn salah satux hrs ada yg salah krn tdk mungkn kedua2nya benar. Perlu di Ingat dalam bulan syawal hanya satu kali adanya 1 Syawal. Hitungannya gini prof, 1,2,3 dst bukan 1,1,2,3 dst. Tlng dijawab klau tdk mau disebut prof baru belajar atau prof dadakan. Balas  Asep Hilman Yahya, on 31 Agustus 2011 at 01:16 said: Refleksi buat melatih logika dalam memahami hadis tentang ru‘yat :

Karena hilal ―tidak terlihat‖ pada tanggal 29 maka ditempuh ―istikmal‖ (menggenapkan sampai tanggal 30). Ketika istikmal sudah ditempuh sementara hilal ―masih belum terlihat‖ apakah pada hari berikutnya Anda akan mengawali/mengakhiri puasa ?

Jawabannya

Anda

pasti

akan

tetap

mengawali/mengakhiri

puasa.

Pertanyaan berikutnya ketika Anda tetap mengawali/mengakhiri puasa dengan kondisi seperti itu (hilal masih belum terlihat), apakah alasan Anda mengawali/mengakhiri puasa masih tetap karena ―melihat hilal (ru‘yatul hilal)‖ atau karena ―wujudul hilal (meyakini eksistensi hilal yang sudah menggulirkan tanggal 1 berdasarkan hisab)‖. Balas  Asep Hilman Yahya, on 31 Agustus 2011 at 01:27 said: Patut dengan pengertian juga ―melihat dipertimbangkan dengan mata : kepala‖.

Dalam bahasa Arab, lafadl ―ra‘a_-yara_-ra‘yu-ru‘yat….dst.‖ apakah memang didominasi Bagaimana dengan pengertian dari istilah ―ahlu ra‘yi‖ ? Balas  netral, on 31 Agustus 2011 at 01:55 said: Katanya ormas yg paling modern. Tidak kolotan. Tapi yg komen disini kebanyakan kolotan. Emosi duluan yg keluar. Malah warga Nahdliyin yang notabene diklaim kolotan lebih bisa menunjukkan kedewasaannya. Contohnya waktu pemutaran film sang pencerah. Adegan film tersebut terus terang banyak yg ―menyinggung‖ warga Nahdliyin. Toh mereka dapat menahan diri. Balas  dee fauzy, on 31 Agustus 2011 at 02:05 said: sesama Islam koq sperti itu??? bingung.,.., Balas 

salam, on 31 Agustus 2011 at 02:47 said: Ketawa baca comment diatas, kasihan udah cape puasa sebulan Ramadhan, pupus sudah tiada artinya dengan segala sumpah serapahnya. Ya Rabbi, berilah petunjuk kepada saudara2ku pad jalan yang lurus. Balas  azy lakuank, on 31 Agustus 2011 at 02:54 said: Pak Thomas, bapak kan Guru Besar, ngk seharusnya buat tulisan ygg menyudutkan suatu ormas tertentu. Anda bukannya memberi pencerahan malah membuat orang2 awam menyalahkan ormas tsb atas perbedaan yg ada. Komentar anda terlalu tendensius terhadap ormas tersebut. Anda pintar tapi tidak cerdas. Balas  ning, on 31 Agustus 2011 at 03:41 said: artikel yang potensial untuk memecah belah. maaf pak prof, saya melihat kecerdasan membuat bapak mengabaikan ilmu yang diturunkan rasul. ―Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak‖ ―Organisasi Islam modern, tetapi kriteria kelendernya usang‖…….

maaf prof, saya baru kelilingi blog bapak, ada gadged fase bulan saat ini tertulis hijri 2 syawal,…apakah gadged bapak membenarkan penetapan 1 syawal muhammadiyah dan semua negara muslim lainnya (selain indonesia)? Balas  Juragan Sipil, on 31 Agustus 2011 at 04:41 said: Sadarkah kita kalau kaum kafir sedang terkekeh-kekeh menertawakan ―kesibukan‖ kita ini? Malu ah… gimana mau jadi rahmatan lil alamin.

Balas  Among Amrul, on 31 Agustus 2011 at 05:25 said: Bapk Prof, sebaiknya semua komentar di hapus. saya tidak mendukung yg selasa atau yang rabu, saya khawatir komentar2 di sini membuat individu masing2 pembaca semakin fanatik kepada ormasnya masing-masing. Saya adalah orang muhammadiyah yang paling NU dan saya juga Orang NU yang paling muhammadiyyah. Balas

amin, on 31 Agustus 2011 at 07:07 said: setuju fanatik sempit merupakan cerminan umat yg blm berpendidikan… Balas pak…

 ahmad, on 31 Agustus 2011 at 05:32 said: ّ‫..انسالو ػهٍكى ٔزحًت هللا ٔبسكاح‬ Semoga apa yg kt perdebatkan ini bisa menjadi pencerah buat kita…

Bpk Prof,kl melihat dr tulisan anda, anda seolah2 memojokkan organisasi tertentu,seharusx bpk lebih bijak…apalg dr bbrp komentar yg adan sy melihat bpk hanya merekomendasikan tulisan2 bapak Prof. Yg katax ahli dlm ilmu perbintangan..entah krn bpk adalah orng pemerintahan,sehingga terlalu menyudutkan orgnisasi yg tdk mengikuti pemerintah. Coba kt membaca tulisan dr Prof. Sofjan di den haag, yg jg ahli dibidangx dan sy anggap netral (tdk masuk dlm ormas dan jajaran pemerintahan) yg justru menganggap bahwa apa yg terjadi di Indonesia itu sngat disayangkan,bukan krn muhammadiyah melaksanakan lebaran lbh dulu,ttp beliau lebih menitikberatkan kpd sistem rukyat yg msh sring dipakai dlm menetapkan waktu,sy jg mmbaca blog (lupa penulisx siapa tp insya allah akan sy posting ke

blog ini) mngatakan bahwa,hasil muktamar ke 3 ahli fiqih internasional sdh jelas,bahwa ketika ketika bulan belum nampak,ttp dibelahan dunia yg lain udah terlihat maka itu sdh ditetapkan sebagai awal bulan. Kmarin dlm rapat isbat, Indonesia,Brunai,Malaysia spkt 1 syawal jatuh pada 31 Agustus,tp nyatanya Malaysia,Brunai malah mlaksanakan Idul Fitri pd tgl 30 agustus (kemarin). Bukankah itu pertanda kl pemerintah kt ini kurang tegas dlm penentuan..? Dr berbagai Negara yg ada didunia, Indonesia salahsatu dr 5 negara yg melaksanakan Idul Fitri pd tgl 31 Agustus… Bapak Prof dan teman2 seiman…ketakutan saya, tulisan ini justru memperkeruh suasana,krn sbnrx tdk ada permaslahan yg terjadi dlm perbedaan penetapan 1 syawal, justru yg menjadi masalah adalah ketika tulisan dr Prof Djamaluddin ini diterbitkan,komentar yg ada malah saling menjatuhkan dan saling memojokkan,bkn saling memberi masukan…yg mana sharsnya bapak menjadi penengah dlm masalah ini (kbtulan bpk salah satu di kemenag),justru bapak menjd biangx kerusuhan….semoga tanggapan saya ini mebuka cakrawala berfikir kita. Salah dan benarx mslh tersebut biar ALLAH yg memutuskan…wallahu ‗alam. Salam Balas  Rofi' Hidayat, on 31 Agustus 2011 at 05:39 said: Yang lucu itu pemerintah Indonesia, lha wong berdasarkan Hisab yakin dibawah 2 derajat. Trus gunanya rukyat buat apa? Toh kesaksian melihat rukyat juga ditolak, meskipun udah sumpah atas nama Allah. Yang arogan saya kira dalam hal ini malah pemerintah dan anda sendiri prof. Dapat disimpulkan donk pemerintah mengamini bahwa 2 derajat ini mutlak dan tidak perlu rukyat? Tapi karena mayoritas dari NU, sehingga rukyat ini tetap dilakukan (sebagai formalitas saja). Pembodohan umat ini -_Apalagi ternyata petugas dari pengadilan agama malah yang ga mau nyumpah -_http://ramadhan.republika.co.id/berita/ramadhan/kabar-ramadhan/11/08/30/lqqfgp-nu-hariini-1-syawal-yang-puasa-segera-berbuka Semoga di masa yang akan datang pemerintah tidak mengedepankan ego dari mayoritas kelompok dan semoga Allah membuka hati dan pikiran para pemimpin kita ini. Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin Balas

 A Hasna, on 31 Agustus 2011 at 05:44 said: Oom T. Djamaludin, anda terlalu sombong dan kurang santun dengan ilmu astronominya, terus terang anda tidak layak menjadi seorang ahli di Kementrian Agama dan tulisan ini bisa diartikan mewakili Pemerintah. males ah diskusi dng orang sombong. Balas  rabbani, on 31 Agustus 2011 at 05:46 said: Sepertinya Misi Prof untuk memecah belah umat dengan tulisan ini SUKSES besar…Jika Prof ga ingin nambah dosa mendingan tulisan jenengan di CLOSE mawon then merelease PERMINTAAN MAAF di media *kan sekarang dah kayak artis*…Matur Nuwun Balas  orang bego, on 31 Agustus 2011 at 06:18 said: itu kalender disamping kok tanggal 31 agustus ini udah 2 syawal yah hari ini.. xixixi.. jadi lebaran nya kemaren dong pak kaya muhammadiah.. :q Balas  Wahfiudin Sakam, on 31 Agustus 2011 at 06:23 said: Sy sejak kecil (1974-an) dibesarkan dalam organisasi Muhammadiyah, mengikuti kajiankajian yg diselenggarakan oleh organisasi Muhammadiyah. Memang terasa sejak akhir dekade 1980-an terjadi kemacetan tajdid (pembaharuan). Yang terasa adalah fanatisme organisasi yg menguat tapi lemah dalam kaderisasi keulamaan muda. Akhir dekade 1990-an lebih kuat gaungnya di politik dengan tokohnya Amin Rais, dan dekade 2000-an dengan tokohnya Din Syamsuddin yang piawai sekali memainkan tarian politiknya. Sempat muncul AMM yg saya harap dapat mengimbangi JIL, tapi kemudian AMM gak kedengaran lagi

suaranya. Buya Syafii Maarif juga sangat menonjol dalam ijtihad-ijtihad high politik dan kulturalnya, tapi di bawah beliau belum nampak lagi kader pakar yang kuat. Apa yang ditulis Thomas Djamaluddin ini bagus. Gaya bahasanya provokatif? Ah, itu biasa dalam kancah ilmiah dan organisasi pergerakan. Kita memang memerlukan provokasi yg seperti ini untuk tetap menjaga kekritisan internal. Tanpa sikap kritis, kita akan terjebak dengan kebesaran yg jumud (beku). Balas

Juanda, on 3 September 2011 at 05:39 said: Setuju pak. Saya udah baca tulisan Prof Thomas, ga provokatif2 amat kok gaya bahasanya. Balas

 Farar, on 31 Agustus 2011 at 06:56 said: Saya mesti bertanya ke pada mereka2 yang pintar karena memang saya orang yang bodoh kenapa mesti mengambil ketinggian bulan 2 derajat, tidak lebih. Bukannya batas adalah ufuk. Tehnologi sekarang harus memberikan 2 keterangan tersebut masing2 bahwa yang matahari sudah tenggelam dan bulan sudah muncul kapan dan yang sudah ketinggian 2 derajat atau lebih kapan. Bapak Djamaludin sebagai seorang pakar harus dapat di posisi tengah bukan menggiring dan memojokkan dengaah titel anda yg Prof. Biarlah umat yang memilih karena titik pentingnya ada disini. Jadi tehnologi tidak hanya untuk membuktikan ketinggian 2 derajat tapi juga memberikan informasi pada masyarakat saat matahari dan bulan pada perbatasan ufuk. Biar seimbang. Balas  rabbani, on 31 Agustus 2011 at 07:09 said:

oia…tambahan Prof..kemaren sore tanggal 30 agustus bulan syawal sudah kelihatan sangat jelas dengan mata telanjang, menurut teman ketinggiannya sudah 7′ lebih, sehingga tidak mungkin itu baru tanggal 1 syawal..

Alhamdulillah saya sudah lebaran kemarin Balas  Yazid, on 31 Agustus 2011 at 07:40 said: Thomas? Who are you…..? Balas  nuwfi, on 31 Agustus 2011 at 07:48 said: metode hisab muhammadiyah sudah sangat sangat bahkan amat sangat tepat, Allah selalu memperlihatkan kebenarannya melalui banyaknya orang yang bersaksi melihat hilal (yg menurut Depag (baca: NU) ) gak bisa di rukyah.

masalahnya adalah: Depag (baca NU) enggan mengakui bahkan membatalkan kesaksian tersebut!! dan sepertinya ini udah berlangsung beberapa kali dsaat terjadi perbedaan hisab dan rukyah.

andai depag (baca:NU) mau mengakui kesaksian orang yang bersaksi melihat hilal (seperti hadis nabi) maka insyaallah tak akan terjadi perbedaan dalam penetapan 1 syawal. jadi sebaiknya bukan metodenya muhammadiyah yg harus d ubah, tapi Depag (baca NU) yang harus lebih berlapang dada menerima kebenaran yang diperlihatkan Allah. ______wallahu a‘lamu____ Balas  rio, on 31 Agustus 2011 at 07:51 said: awalnya sy tertarik ama tulisan pak thomas. tp setelah sy buka blognya ada yg aneh. disitu ada petunjuk klo hari ini (31/08) udah masuk tgl 2 syawal. jd bingung. yg eror dimananya?

pak thomasnya apa blog nya yah? dr blognya berarti pak thomas nyaranin sy puasa di tgl 1 syawal dan sholat ied di tgl 2 dong? bingung………. Balas  MG Amanullah, on 31 Agustus 2011 at 08:14 said: minta tolong dijelaskan mengapa arab saudi, malaysia berlebaran tgl 30 agt (selasa)? apa mereka jg salah dlm menentukan hari raya? (jangan2 justru indonesia sendiri yg merasa benar?) Balas  Bahar Religia (@bahar_religia), on 31 Agustus 2011 at 08:17 said: pemerintah ini menetapkan 1 syawal tanggal 31 karena dikaitkan dengan KEPENTINGAN POLITIK bukan bukan kepentingan agama… SUNGGUH LAKNAT PEMERINTAH DAN MENTERI-MENTERINYA…. atau bajunya kemaren belum jadi, sehingga di undur 1 hari.. dan yang pastinya JADWAL sholat id yang di buat pemerintah itu hari rabu 31 agustus 2011 sehingga mau tidak mau pemerintah harus menetapkan 1 syawal itu tanggal 31 agustus bukan 30 agustus… ya itulah apabila kepentingan politik di dahulukan daripada kepentingan agama.. ya sebentar lagi bencana melanda indonesia lagi mungkin… wallahu a‘lamu bi ashshawab. Balas  amr1y@yahoo.com, on 31 Agustus 2011 at 08:43 said: saya sangat sepakat dengan ide pak profesor untuk duduk bersama melihat benang merah yang bisa diambil namun persoalanya justru pada ungkapanya yang tidak menunjukkan kebijakan pak profesor. Balas

 kang iman, on 31 Agustus 2011 at 08:56 said: menyedihkan sesama muslim masih saling bertentangan

Muhammadiyah, NU, Persis, dll….hanya ada di indonesia bapak2, ibu2, mungkin ada sebagian, tapi hanya sedikit dibanding populasi muslim dunia. kalau muhammadiyah saja yang benar, atau NU atau ―organisasi‖ tertentu, bagaimana muslim yang lain di seluruh dunia yang bukan anggota organisasi??? apakah mereka semua salah??? Kapan 1 syawal??? tiap2 orang punya keyakinan masing2, pantaskah memaksakan kehendak sendiri/kelompok kepada orang lain? Muhammadiyah, NU. Persis, dll hanyalah sebuah organisasi di indonesia, bukan kewajiban umat muslim untuk ikut salah satu organisasi tersebut, apalagi mengikuti ―ajaran‖ organisasi. Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin, semoga puasa kita semua diridhoi oleh Allah SWT. Amiin..Ya Rabbal Alamiin. Balas  Anti Ta'ashub, on 31 Agustus 2011 at 09:26 said: Orang yang ilmunya sedikit lebih mudah untuk jumud dan ta‘ashub. Orang yang luas daya ilmunya lebih sulit untuk jumud dan fanatik untuk apa kita berta‘ashub dengan organisasi masing-masing? Bukankah islam sudah mempunyai petunjuk yang paling benar? sungguh perilaku fanatik kita telah menjauhkan kita dari Qur‘an dan Sunnah. Dan lebih mementingkan kyai kita masing-masing ketimbang Rasulullah Salallahu ‗Alaihi wa Sallam. saatnya menyatukan hati di atas Qur‘an dan Sunnah, mari saudaraku tidak peduli kalian dari Muhammadiyah, NU, IM, Salafy, dll, sadarlah kalian Islam, dan janganlah antum semua berpecah belah.. Allaahul Musta‘an.

Balas  guest, on 31 Agustus 2011 at 09:35 said: Pak Thomas, anda sebagai ilmuwan terlalu arogan. jangan karena anda berada di pihak pemerintah dengan kasar dan tidak santunnya anda menyerang salah satu ormas di Negara ini, kami bukan orang Muhammadiyah, kami hanya mengkritik ketidak santunan anda, dan sama sekali kami tidak respek pada anda sebagai ilmuwan hati-hatilah pak jangan anda berada di salah satu pihak karena jabatan atau pamrih. Balas  SHELLAYART PREDICTIONS, on 31 Agustus 2011 at 09:56 said: Berhentilah sok pandai krn memang anda br belajar. Anda hanyalah orng bodoh yg sok pintar. Anda akan menerima pahala yg setimpal dgn penyataan2 anda diatas. Satu pesanku buat anda ―menyembah Allah cukup dirasakan dan tdk mesti dilihat‖. Jk anda hanya percaya pd yg nyata sama saja anda tdk percaya sama Allah. Sy curiga anda adalah antek2 yahudi yg sengaja ingin mengacau kesatuan umat Islam. Ya Allah, berikanlan balasan yg setimpal atas orang orang yang mendustakanmu. Amin… Balas  joko, on 31 Agustus 2011 at 10:40 said: Penetapan 1 Syawal Indonesia Ditertawakan Negara-negara Islam http://ygennet.web.id/2011/penetapan-1-syawal-indonesia-ditertawakan-negara-negara-islam/ Balas  SHELLAYART PREDICTIONS, on 31 Agustus 2011 at 11:03 said:

Jelaslah

sdh

anda

msh

perlu

banyak

belajar

dlm

segala

hal.

Awalx sy sngt gembira krn bs belajar sama seorang prof yg jelas pengetahuanx lbh tinggi dr sy, tp kenyataanx sy kecewa krn pengetahuan anda jg msh sederat dgn sy. Bahkan besar kemungkinan anda msh perlu belajar sama sy. Sy tahu kenapa komen sy di moderasi krn anda takut kelihatan belangx. Ok, minal aidzin wal faidzin mhn maaf lahir dan batin. Balas  daryati, on 31 Agustus 2011 at 11:27 said: Assalamualaikum pak profesor T Djamal, maaf saya ini orang awam astronomi, tetapi alhamdulillah Allah memberikan sepasang mata yang sehat sehingga kemarin selasa sore bulan terlihat tersenyum dengan jelas dg posisi yang sudah tinggi, bukankah kemarin selasa sdh 1 syawal? kalau menunggu dapat dilihat dengan mata telanjang, bpk profesor tak usah repot-repot meneropong, masyarakat Indonesia suruh saja lihat sendiri dengan mata telanjang bulat. Mohon maaf lahir batin ya pak prof Balas  cherret, on 31 Agustus 2011 at 11:32 said: di blognya prof aj widget jam sebelah kanan ( silahkan dilihat ) klo tgl 31 agustus 2011 = 2 syawal 1432. gmn hayo… mana yg bener???? Balas  Eddy, on 31 Agustus 2011 at 11:32 said: Semua sdh tahu, ijtimak terjadi pada Senin pukul 10 pagi. Baik Muhammadiyah maupun NU sudah bisa menghitung itu.

Dengan kata lain sebetulnya perubahan bulan Ramadhan ke Syawal adalah terjadi pada saat ijtimak tersebut.

Tetapi kita tahu bahwa secara syariah, perhitungan untuk melakukan ibadah shaum adalah dengan batasan waktu Shubuh hingga Maghrib,sehingga pada saat pukul 10 pagi tidak

mungkin kita membatalkan puasa karena akan melanggar syarat puasa itu sendiri. Selanjutnya sore hari ada khilafiah antara yang melihat hilal dan yang tidak melihat, ada yang mensyaratkan hilal harus 2 derajat dan ada yang boleh kurang dari 2 derajat. Pertanyaan, di hari Selasa apakah masih bulan Ramadhan? Padahal Senin pukul 10 pagi sudah terjadi ijtimak. Saya ingin bertanya, pak professor adalah orang yang tahu, orang yang berilmu, mohon dijawab pertanyaan saya tadi ―Di hari Senin pukul 10 pagi sudah terjadi ijtimak, kemudian di hari Selasa apakah masih termasuk hari yang merupakan bagian dari bulan Ramadhan?‖ Berikutnya pak professor menghujat Muhammadiyah dengan berbagai kalimat-kalimat pak professor sendiri. Pertanyaan saya adalah ―Pak profesor ini anggota organisasi apa? Pak professor mendapat gaji dan keuntungan duniawi dari organisasi apa?‖ Ingat pak professor, semua nanti akan diminta pertanggungjawaban diakhirat. Pak professor sudah tahu bahwa hari Selasa sudah bukan bagian dari bulan Ramadhan, tetapi ucapan pak professor mengatakan lain demi sesuatu keuntungan duniawi yang saya tidak tahu. Katakanlah Katakanlah Katakanlah yang yang yang benar haq (yang benar) setelah itu setelah meskipun anda tidak itu itu naik anda pahit. pangkat. dipecat.

meskipun

haq,

meskipun

Atau lebih baik diam, dan itulah selemah-lemahnya orang yang berilmu (mempunyai ilmu tetapi tidak mengamalkan)

Ingat anda adalah orang yang pakar, orang yang lebih tahu dari yang lain. Tetapi please jangan jual kepakaran anda dengan harga yang sangat murah. Balas  Ibn Rusyd, on 31 Agustus 2011 at 11:57 said: Dari beberapa bahan bacaan, tampaknya ada 3 metode penentuan masuknya 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan 1 Dzulhijjah. 1. Hisab (wujudul hilal)

Kelebihan: - Mudah membuat Kalender Qomariah untuk beberapa tahun kedepan Kekurangan: - Hanya bersifat dugaan, tidak dapat dibuktikan secara pasti bahwa bulan baru benar-benar sudah - Tingkat kepercayaan: Sedang 2. Hisab (imkaanur ru‘yah) Kelebihah: Mudah membuat Kalender Qomariah untuk beberapa tahun kedepan - Bersifat dugaan yang bersifat mendekati ―pasti‖. Kepastiannya dapat dilakukan dengan melakukan - Tingkat kepercayaan: Tinggi Kekurangan: - Menentukan batas-batas atau kriteria visibilitas hilal, perlu melibatkan banyak ahli, dan perlu ditetapkan oleh semua komponen (ulama, umaro, scientist) 3. Hisab (imkaanur ru‘yah) Ru‘yah fisik (mata/teropong) Kelebihan: - Bersifat ―pasti‖, karena hitungan di verifikasi dengan penglihatan fisik (mata/teropong) - Tingkat kepercayaan: Sangat Tinggi Kekurangan: - Sukar membuat Kalender Qomariah untuk beberapa tahun kedepan, karena tiap akhir bulan harus meru‘yat mata/teropong rukyat mata/teropong masuk

- Menentukan batas-batas atau kriteria visibilitas hilal, perlu melibatkan banyak ahli, dan perlu ditetapkan oleh semua komponen (ulama, umaro, scientist) Dari pilihan-pilihan diatas, saya pribadi cenderung memilih opsi 2. Karena, bersifat praktis, dan dapat menentukan Kalender Qomariah beberapa tahun kedepan. Adapun kekurangan opsi 2 ini dapat ditutupi dengan peran aktif Pemerintah sebagai mediator untuk membuat ―kriteria bersama‖ imkaanur ru‘yah.

http://arabquran.blogspot.com/2011/08/perpecahan-umat-islam-indonesia.html Balas  susi, on 31 Agustus 2011 at 12:04 said: terlepas dr smua perbedaan…

dlm menyikapinya sebaiknya menggunakan kata2 yg santun… dilandasi semangat saling enghargai dan menghormati…. Balas  deen, on 31 Agustus 2011 at 12:20 said: Ya, kalau selasa memang sudah tinggi oom, bisa di atas 7 derajat … Yang ditawarkan pak Prof kesepakatan mengenai kriteria ketinggian hilal yang mungkin bisa dilihat (imkanurrukyat)… 2 derajat yang disepakati para ulama se-asteng sudah sangat moderat. ^^^ Ditertawakan negara lain? Tidak juga. Justru penetapan 1 Syawal di Saudi itu yang kontroversial dan dipertanyakan keabsahannya oleh komunitas astronom di sana. Karena teropongnya aja di Jeddah gak berhasil melihat hilal (karena masih di bawah 1 derajat). Tapi institusi berwenang di sana lebih memercayai laporan satu-dua orang yang katanya melihat hilal. Hebat skali perukyat Saudi bisa melihat hilal yang masih di bawah 1 derajat. Diputuskanlah Selasa Idul Fitri, diikutilah oleh negara-negara Teluk lainnya …. Apa yang dilakukan para ulama kita yang menggabungkan perkembangan ilmu astronomi modern dengan rukyat itu sudah lebih maju dari ulama negara lain … Balas  susi, on 31 Agustus 2011 at 13:06 said: untuk yg Bpk baik Professor dg tanpa cara mengurangi yg rasa baik hormat… pula…

seandainya niat baik Bpk diiringi dg kata2 yg santun mungkin hasilnya akan berbeda… niat

pd masa Gus Dur kita terbiasa dg perbedaan … tapi Gus Dur tdk menghujat dan mendeskreditkan…. Balas  azy lakuank, on 31 Agustus 2011 at 13:16 said: Hajar aja, berantem aja sesama muslim. Agama lain nertawain kita!!! Balas  widiasih, on 31 Agustus 2011 at 13:40 said: Menurut pendapat saya bukan Muhammadiyah tapi sampeyan sendirilah yang jumud. Buktinya seluruh dunia termasuk Saudi Arabia sudah menetapkan Iedul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 cuma Indonesia sendiri yang beda, aneh kan ?, tambah lagi sudah ditetapkan oleh pemerintah tapi rakyatnya nggak mau nurut semua karena nggak yakin pada niat baik pemerintahnya (dhi Depag). Mestinya kalau Depag niatnya mencari kebenaran tentunya mencari solusi untuk meyakini kapan sebenarnya 1 Syawal tersebut, pakailah semua metode baik hisab, rukyat maupun metode2 lain sesuai perkembangan ilmu pengetahuan misalnya astronomi, dll. Jangan mengsakralkan rukyat karena Nabi sendiri tidak mengharuskan hanya memberi contoh (lihat pendapat Prof. Sofyan di Detik). Yang perlu diingat adalah tujuannya yaitu memastikan hari esok (1 syawal) bukan sekarang jadi nggak perlu harus pakai minimum 2 derajat yang penting diperoleh kepastian bahwa besok memang 1 syawal atau bukan. Saya justru setuju dengan Muhammadiyah kalau hilal sudah berputar penuh sekarang berarti besok sudah 1 syawal karena bulan kan berputar bukan mandeg. Selain itu kalau pakai rukyat saat memantaunya juga jangan dibatasi waktunya beri kelonggaran sampai diperoleh keyakinan kalau perlu dipantau sampai malam. Kesimpulannya memang tujuan Depag bukan untuk mencari kebenaran tapi untuk membenarkan pendapat golongannya sendiri tentu saja umat yang waras dan intelek nggak respek. Balas 

Hapid Ismail, on 31 Agustus 2011 at 14:00 said: gambar fase bulan pada tanggal 30 agustus 2011 yang ada di sudut kanan bawah tulisan saudara profesor……terlihat hilal sh tampak…..huuuuuuuuh……………????? Balas  hendry, on 31 Agustus 2011 at 14:09 said: Banyak sekali org awam yg mgkn bc blog ini tp cma bc judul,atau bc sdkt lalu mghujat,lalu buat ksmpulan.astaghfirullah,mau dbwa kmana Islam ini jk pemelukny egois,msg2 sok dg dalil msg2,blm lg serangan yg ingin mghancurkn Islam dr luar dan kalian lupa yg lebih urgent drpd itu semua yakni ukhwah islamiah yg jelas2 nyata dlm alquran ali imran 103.jd u siapa kalian smua ego dg pndpat msg2?buat apa kalian ribut dan saling mghujat,cuma krn selentingan yg jg gak jelas dari profesor ini,krn msh byk yg blm tjawab olehny pdhl cuma ptanyaan2 dasar.toh kalaupn mm bnr bkn cma skelompok atau segolongan saja yg hrus mgalah krn ini mjd PR kta bsama.jgn mngira diri/kelompok msg2 bnr.kbnran mutlak hy milik ‫ هللا‬btaubatlah smua dan slg bermaafan.buang rasa ego,bc bnr2 dan niatkn krn ‫ هللا‬sy pribadi mlihat tdk ada jwbn pihak yg slh smua pny dalil dan ijtihad yg baik,tp ada stu yg dlupakan,jk kamu smua btikai ats persoalan,kembalilah pd alquran dan hadist.dan alquran mnganjurkan supaya kita jgn bercerai berai(ali imran103).mari cari lg solusi kdepan agar jgn trulang kembali. Balas  mentariputraharapan, on 31 Agustus 2011 at 15:35 said: Hanya 4 negara yang merayakan Idul Fitri tanggal 31 Agustus 2011, termasuk Indonesia. Negara-negara lain merayakannya pada tanggal 30 Agustus 2011. Biaralah masyarakat yg menilai apakah LAPAN dan Pemerintah benar-benar jujur melaksanakan tugasnya, atau ada kepentingan politik. Karena faktanya, surat edaran dari pemerintah sudah beredar jauh hari sebelumnya dan menetapkan Idul fitri pada tanggal 31 Agustus tanpa perlu menunggu sidang itsbat.

Balas  cidub, on 31 Agustus 2011 at 15:43 said: si Thomas ini jika dibandingin Muhammadiyah, apaan sih ? Balas  cr7, on 31 Agustus 2011 at 16:30 said: Benar Tidaknya 1 Syawal Akan Terbukti Saat Bulan Purnama (Membuktikan Kebohongan/Kebenaran Dengan Cara Kampungan) http://politik.kompasiana.com/2011/08/30/benar-tidaknya-1-syawal-akan-terbukti-saat-bulanpurnama-membuktikan-kebohongankebenaran-dengan-cara-kampungan/ Balas  Imaduddin Faiz, on 31 Agustus 2011 at 16:47 said: Assalamu‘alaikum Bang Djamal……..

Kami orang2 daerah/pelosok g sampe bekelahi tuh hanya karena perbedaan Iedul Fitri..Kami warga Muhammadiyah-Nu justru bergandeng tangan mengangkat kemelaratan warga bawah(yang seharusnya jd tugas pemerintah).Ketika diantara kami ada perbedaan2,kami saling menghormati!

Ketika kemarin di sidang Isbat Anda dkelilingi Tokoh2 Agama, seharusnya anda g pantas mendskrditkan Berikut 1. Sidang isbat yang seharusnya cepat Organisasi ingin diadakan,jangan saya molor kaya tertentu! kritisi: kemarin.

2. Zaman Nabi ketika mo liat ―bulan‖ sampe berlari2 kepantai/tempat yang lbih tinggi mencari tempat yang dimungkinkan bisa melihat bulan(pencarian tempat itu adalah cara/alat supaya bisa melihat bulan)..Sekarang ketika zaman sudah modern, masa iya sih ga bisa menentukan kapan awal bulan, terjadi?

3. Penglihatan mata sangat terbatas bang, sedotan yang dimasukan ke air akan terlihat

bengkok menurut pandangan mata!Apalagi nh..bulan yang jaraknya begitu jauh harus bisa dilihat mata telanjang?kecuali ya kalo lebih dari 2 derajat. 4.Ada Hadis nabi yang berhubungan dengan ru‘yat,menerangkan diakhir hadisnya(bahwa zaman beliau masih buta IPTEK,dan beliau megakuinya),makanya kenapa beliau hanya mengandalkan melihat bulan dengan mata telanjang(Andai zaman Rosul sudah ada sebangsa Lapan/Bosca,pasti beliau akan melihatnya melalui teropong/komputer)dan cepat2 akan mengumumkan bulan baru karena bulan sudah berada diatas ufuk(ga harus nunggu 2 derajat). 5. Dari segi dalil justru Hisab yang lebih kuat, karena berkali2 dikemukakan dalam AlQuran,sementara dalil ru‘yat (bil ‗aini) mungkin sedikit/mungkin g ada?Saya setuju ketika anda mata berkata teranjang jangan ada dikotomi mata antara yang Hisab&Ru‘yat..Artinya berkaca mata….. Ru‘yatlah(lihatlah/perhatikanlah) bulan dengan mata lewat IPTEK yang ada!jangan sama z…….apalagi

6. Belum menemukan Keterangan/hadits/ayat yang menerangkan bahwa batas penentuan terjadinya bulan baru itu mesti 2 derajat.Hanya kesepakatan ulama?emang boleh?kan ulama g dalam ilmu palaknya! TERLEPAS DARI KOMENT INI…….saya cuma ga senang cara anda mengkritik sebuah organisasi yang sudah menelorkan banyak sekali ilmuwan2/cerdik pandai di indonesia ini dengan ribuan sekolah yang sudah didirikannya!KRITIKLAH DENGAN BIJAK Balas  masmicko, on 31 Agustus 2011 at 17:35 said: sebelumnya terima kasih kepada pak Thomas atas tulisan yg sangat menarik ini, banyak memberikan inspirasi utk serius mengkaji penntuan kalender Islam. Jujur, sy baru kali ini buka blog ini meski sudah baca tulisan tth hisab versi Muhammadiyah yg dah usang itu. Sy buka blog ini karena ada temen posting ke milis bahwa di blog ini, dlm penghitungan kalender hijriyah real time nya (di halaman muka, bagian bawah kanan), tertulis 31 agustus 2011 = 2 Syawal 1432. apakah ada kesalahan kah? mohon maaf apabila merepotkan. Micko Balas 

Achmad Yani, on 31 Agustus 2011 at 18:44 said: Alhamdulillah Muhammadiyah tidak terjebak oleh para penjahat yang mengacaukan umat Islam. yang idul fitri hari ini (31 Agustus 2011) juga Alhamdulillah ternyata bulan sudah tinggi dan tersenyum lebar. hanya Allah SWT yang tahu semuanya. maka Bertobatlah para pengacau umat Islam di Indonesia, jangan malu meminta maaf, instropeksi diri untuk menuju kebaikan. Mohon Maaf Lahir dan Batin Semoga Allah Memberikan Ampunan kepada Kita Semua Amiin…. Balas  boymin, on 31 Agustus 2011 at 18:47 said: aduh saya marah sekali, walaupun saya bukan orang berpendidikan, tapi please coment saya jangan di hapus dong, saya rasa yang berhak bersuara bukan hanya orang2 brpendidikan Balas  Nur Harjanto, on 31 Agustus 2011 at 19:09 said: Hari ini (31 Agustus 2011 yang diklaim sebagai 1 Syawal oleh Profesor & Pemerintah) bulan terlihat cukup besar dan cukup lama (sejak jalan ke Musholla sampai pulang dari sholat Maghrib masih nampak) untuk tanggal-tanggal muda tahun Qomariyah. Gimana pak, salah hitung kali…….he….he…..he….. Balas  widiasih, on 31 Agustus 2011 at 19:28 said: Sekarang saya jadi tahu kenapa tiap tahun dalam penentuan Idul Fitri maupun Idul Adha pemerintah RI sering mundur 1 hari ternyata biangnya adalah teori Prof jamaluddin yang nggak logis ini, akibatnya Indonesia jadi aneh sendiri diantara negara2 Islam lain dimana semua negara sudah Iedul Fitri kita mundur sehari, di Arab saudi sudah wukuf kita mundur Iedul Adha 1 hari. Teori pembulatan/penggenapan jadi 30 hari ini menurut pendapat saya

sudah tidak logis dijaman digital ini coba bayangkan dibulatkan kok jadi mundur 1 hari kalau cuma satu dua jam itu masih logis. Jadi selama teori ini selalu dipakai maka nggak akan ada kesatuan penetapan hari raya karena Muhammadiyah yang berniat menunjukkan/memberikan pedoman yang benar tentunya nggak akan mau menyesatkan umatnya. Akhirnya fakta membuktikan bahwa Muhammadiyahlah yang benar terbukti selasa sore tanggal 30 agustus 2011 bulan sudah tersenyum cerah bukti bahwa Allah SWT telah menunjukkan siapa yang benar. saya hanya pengamat saja tapi saya sepakat dengan pendapat Muhammadiyah. Balas  jordan, on 31 Agustus 2011 at 19:35 said: Wah, mana pak propesor nya, kok nggak kasi komen, apa sibuk merukyah ya malam ini, ayo dong pak propesor, kami semua penasaran nih, knapa kita ditertawakan dunia karena seluruh dunia cuman 4 negara yang lebaran hari ini, sementara negara yang bertetangga dan segaris dengan kita aja merayakan idul fitri kemarin, gmn penjelasan anda pak propesor? trus knapa kesaksian kaum mukmin yang jelas2 memenuhi kriteria untuk melakukan hilal ditolak, sementara nabi saja tdk menolak kesaksian seorang arab badui yang mengatakan bahwa ia telah melihat bulan? kalau anda seorang akademisi sejati, seorang guru besar yang memiliki kemampuan akademik mumpuni, JAWAB PERTANYAAN diatas, jangan colong playu kayak gini, nggak mutu blas, apa masih layak anda dikatakan seeorang ilmuwan? mohon maaf lahir dan batin prop Balas

Cahbagus, on 1 September 2011 at 00:54 said: Pertanyaan spt ini :

knapa kita ditertawakan dunia karena seluruh dunia cuman 4 negara yang lebaran hari ini, sementara negara yang bertetangga dan segaris dengan kita aja merayakan idul fitri kemarin, gmn penjelasan anda pak propesor?

Ini

sudah

terjwab

bila

kita

membaca

tulisan

Prof

di

sini

:

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/06/11/idul-adha-1417-h-mengapa-berbedahari-antara-indonesia-dan-arab-saudi/ Balas

 Wahfiudin Sakam, on 31 Agustus 2011 at 19:48 said: Justeru cara negara2 Arab menentukan lebarannya yg aneh dan sulit dipertanggungjawabkan secara syar‘i maupun secara ‗ilmi. Coba lihat di situs resmi Makkah/Saudi Arabia:

http://www.makkahcalendar.org/en/when-is-shawwal-Aid-El-Fitr-1432-2011islamiccalendar-dates.php Saya kutipkan point2 pentingnya, lengkapnya lihat sendiri di URL tsb. Terjemahan yg dalam kurung adalah penekanan dari sy. 1. It is important to note that the hegirian month does not begin at conjunction, i.e. when the New Moon is born. The crescent has actually to be sighted in the evening sky. Sangat penting diperhatikan bahwa bulan hijriyah tidak dimulai saat terjadinya konjungsi, yaitu saat lahirnya bulan baru (padahal ini yang dijadikan pegangan Muhammadiyah). Hilal harus betul terlihat di langit senja. 2. According to our calendar, this sighting can either be at Makkah itself, or at any point to the west of Makkah, before the Morning Prayer in Makkah (concept of intermediate or limiting horizon). Berdasarkan kalendar kami, rukyah dapat dilakukan di Makkah, atau di mana saja wilayah di sebelah Barat Makkah (jadi tidak menganut mathla‘ lokal), sebelum waktu shalat Subuh di Makkah. 3. On the evening of 29th August the new moon will be invisible in Makkah itself so we have to examine visibility to the west of Makkah.

Pada 29 Agustus petang, bulan baru tidak akan dapat dilihat di Makkah, maka kami harus memeriksa keterlihatannya di sebelah Barat Makkah. (Jadi, Senin sore pun ―berdasarkan hisab‖ mereka bulan baru tidak akan terlihat di Makkah! Lalu mengapa mrk lebaran hari Selasa? Bukankah juga ulama2 Wahhabi, misal Syekh Bin Baaz dan Utsaymin, melarang penggunaan hisab utk urusan ibadah?) 4. The visibility curve for 29th August shows – to the west of Makkah – a large part of South America covered with either a blue zone (naked eye visibility under good observational conditions) or a green zone (easy naked eye visibility) covering the south of Chile and of Argentina. The blue zone is so vast that good observational conditions will certainly be achieved some part. The reader can verify this by a simple look at the visibility curve here. The new moon is invisible in Makkah to the naked eye but it is visible before fajr in Makkah at coordinates 30° South, 70° West, the horizon that we have used. Kurva visibility untuk tanggal 29 Agustus menunjukkan (kurva itu kan produk hisab yg terlarang dipakai untuk penentuan awal Syawal!) – di wilayah sebelah Barat Makkah – sebagian besar Amerika Selatan tertutup oleh zona biru dan zona hijau yang menunjukkan hilal dapat dilihat dengan dilihat dengan mata telanjang, terutama di selatan Chili dan Argentina —— Hilal memang tak mungkin dapat dilihat di Makkah dengan mata telanjang, tapi dapat dilihat di wilayah-wilayah sebelah Barat Makkah sebelum fajar/subuh. (Lagi2, tidak menganut mathla‘ lokal dong ya). 5. This concept is all the more valid since the Islamic day starts at fajr and not at sunset (maghrib). Konsep ini sepenuhnya sah karena hari, menurut Islam, bermula sejak saat fajar/subuh dan bukan saat maghrib. (Dorrrr…. Ini paling mengejutkan, betulkah pergantian hari menurut Islam terjadi saat fajar/subuh, bukan saat maghrib ????!!!!). 6. So, according to our calendar, in Makkah Ramadan will end on 29th August 2011 and the 1st of Shawwal can be celebrated on 30th August 2011. Maka, menurut kalendar kami, di Makkah Ramadhan akan berakhir pada 29 Agustus 2011 dan 1 Syawal dapat dirayakan pada 30 Agustus 2011.(Jadi,

a. Penetapan lebaran bukan berdasarkan rukyat hilal dong ya, padahal itu yg dibangga2-kan

Saudi

selama

ini

karena

mereka

melarang

penggunaan

hisab.

b. Ternyata yg mereka jadikan dasar adalah kurva visibilitas yg merupakan produk hisab. c. Juga mrk pertimbangkan hisab kemungkinan rukyat hilal di Chili dan Argentina, bukan rukyat hilal di Makkah (mathla` setempat)). 7. Strictly speaking, the Makkah Calendar is applicable to Makkah Only. However, we are certain that our calendar is valid for many countries. Our visibility curves represent the condtions at local sunset at each point. The visibility curve for Shawwal shows that – on 29th August 2011 – the New Moon will be visibile with the naked eye in a large part of South America, specially south of the equator. Thus in all the countries situated in this part of the earth, the 1st of Shawwal will be on 30th August 2011 at the same time as in Makkah. Tegasnya, kalendar Makkah HANYA dapat digunakan di Makkah saja. Namun kami juga yakin kalendar kami sah juga digunakan di negara2 lain. Kurva visibilitas kami menunjukkan bahwa hilal dapat dilihat dengan mata telanjang di sebagian besar wilayah Amerika Selatan, khusunya di bagian Selatan khatulistiwa. Maka negara-negara di bagian bumi ini, di sebelah Barat Makkah, permulaan Syawal jatuh pada 30 Agustus 2011, sama dengan di Makkah. (Itu sih wajar, kalau memang benar hilal dapat dilihat di Makkah, wajarlah negara2 lain di sebelah Barat Makkah dapat mengikuti lebarannya Makkah. Tapi haruskan Indonesia yang jauh di sebelah Timur Makkah ikut-ikutan lebarannya Makkah?

Kenapa banyak orang di Indonesia sangat fanatik dengan waktu Makkah, padahal mereka saja bilang: kalendar kami hanya dapat digunakan di Makkah dan negara2 sebelah Barat dari Makkah. Apalagi mrk pun merujuk rukyat hilal di Amerika Selatan, bukan di Makkah sendiri. Kesimpulan: Siapa yang masih mau ikut kalendar Syawal Makkah kalau ternyata begini? Balas  Santoso K, on 31 Agustus 2011 at 20:00 said: saya menghargai perbedaan pendapat, tapi saya rasa statement ‗professor‘ yang terkesan menghina tersebut kok kurang bijak, apalagi di depan media, kita musti ingat bahwa media

itu dapat menjadi media informasi dapat menjadi media provokasi. Hati hati prof, ‗mulutmu harimaumu‘. Mohon kedepannya anda mikir tata bahasa dulu sebelum dikeluarkan dari mulut.. kalau terjadi chaos, anda bisa ditarik tarik, ntar.. Balas  x, on 31 Agustus 2011 at 20:24 said: orang indonesia itu ternyata pada aneh ya Balas  x, on 31 Agustus 2011 at 20:29 said: yth.para SEBAIKNYA JANGAN MALU SEDIKIT SAMA UMAT LAIN Balas  Hapid Ismail, on 31 Agustus 2011 at 20:58 said: jujur awalnya sy penasaran ingin baca tulisan prof., ………. eeeeeh ternyata hanya tulisan seorang awam saja.?????? Balas  anang, on 31 Agustus 2011 at 21:02 said: Seharusnya kita tak boleh berpendapat atau menilai dengan emosi. Ilmu pengetahuan itu hanya bisa diterima dengan pikiran dan hati yang jernih. Perdebatan dalam ilmu pengetahuan juga hal yang wajar, mengatakan bahwa pendapat A salah dan B benar juga hal yang wajar. ulama ANDA atau tokoh-tokoh SEMUA RIBUT SALIN agama negeri ini; SAJA MELULU

BERMAAFAN

Kenapa tidak, tentu saja dilandasi dengan evidence yang dapat dipertanggung jawabkan. Bukan Perkara NU atau Muhammadiyah, atau yang lainnya. Mengenai laporan hilal di seluruh penjuru dunia juga bisa di cari lewat internet. untuk bisa mengmenghujat tulisan diatas memang tak butuh waktu lama. Untuk belajar dah menjadi paham tak banyak orang yang mau. Hmmmm yang mau belajar di jurusan astronomi……? bisa dihitung dengan jari. Selamat merenung. Balas  Herwyn Juwono, on 31 Agustus 2011 at 21:18 said: Waduh ramai banget, tapi apa akan ada pemecahannya ya ? Saya ini awam ilmu falak, awam urusan golongan, jadi mumet kalau ikut mikirin perbedaan di atas. Saya masih bertanya pada hal yang mendasar sekali, yaitu definisi kalender Hijriah itu sendiri apa Atau lebih khususnya sebenarnya kapan mulai berganti bulan ya untuk kalender Hijriah ? ?

Ma‘af, selain kalender Hijriah, saya pernah dengar ada kalender Jawa dan kalender China yang perhitungan menggunakan fenomena penampakkan bulan ( apa namanya hilal juga ? ). Apa gak sebaiknya melihat hilal untuk kalender Hijriah itu dari kota Madinah ? Kalau di pulau Jawa lihatnya, apa ada bedanya dengan perhitungan awal bulan kalender Jawa ? Jaman sekarang informasi dapat dengan cepat menyebar ke seluruh dunia dalam hitungan detik, tidak seperti jaman dulu perlu waktu yang lama. Bagaimana Mars. dengan (ma‘af orang yang tinggal di daerah dekat kutub ?

Atau jika jaman sudah lebih maju lagi akan ada orang yang bermukim di bulan, atau di planet kebablasan mikirnya ya ?)

Mungkin semua pihak harus bersedia membuka pemikiran sesuai perkembangan jaman. Awal bulan adalah fenomena alam, bukan keputusan pihak tertentu. Balas 

orang bego, on 31 Agustus 2011 at 21:31 said: gimana nih pak professor…? kok kalender situs bapak disamping, hari ini udah 2 syawal? bukannya pak professor bilang sekarang 31 agustus nih 1 syawal? Balas  jordan, on 31 Agustus 2011 at 21:51 said: sekedar melaporkan, malam ini surabaya bulannya nggak lagi hilal, sudah kayak clurit, kayak sabit, jelas dan GUEDHEEEEEEEE, kok nggak kayak tanggal satu ya?????? Balas

harry bonek, on 31 Agustus 2011 at 22:51 said: Alhamdulillah, keputusan saya berlebaran tgl 30 kmrn, tidak salah,,,setidaknya menurut saya, melihat bulan malam ini (surabaya 31/8/2011) yg sudah jelas ―senyumannya‖ makin mentaplah hati ini. agaknya waktu sidang itsbat kemaren , pakde profesor itu dan pemerintah sedang ‖ telat bulan‖ , makanya agak strees dan uring uringan , hingga ada yang melihat , tetap saja didtolak…………. Balas

Iwan, on 1 September 2011 at 00:27 said: Ha ha ha…. Lihat aja Widget ―Fase Bulan‖ di sebelah kanan atas tanggal berapa syawal tuh ? Ha ha ha… bukti kemajuan Ilmu Astronomi… Mestinya kalau konsisten setiap bulan harus rukyat dan MUI setiap bulan juga harus sidang isbat untk menentukan awal bulan, dan kalender Hijriah harus dibuat setiap bulan… BUKANKAH BEGITU PROPESOR ?

Menurut hitung-hitungan ilmu astronomi nggak mungkin, tapi kalau Allah

berkehendak ―mungkin‖ terus mau apa? Kenapa menolak saksi, Rasulullah SAW dulu nggak pernah menolak saksi !!! Allah dan Rasulnya nggak pernah buat ribet soal rukyat, nggak pakai syarat2 derajat yg macam2…. Balas

akar rumput, on 1 September 2011 at 00:31 said: melaporkan, tgl 31 agustus sekitar pukul 19.30 WIB posisi bulan sabit kok besar sekali… seperti bulan di tanggal 3 atau 4. jd bingung aku… Balas

 Hamba Allah, on 31 Agustus 2011 at 21:53 said: Saya lihat posisi hilal malam ini di langit dari rumah saya, lalu saya lihat gambar posisi fase bulan (realtime) di sisi kanan blog Anda ini, Profesor, maaf, apa keputusan Kemenag kemarin sudah keliru? Dalam hati saya sekarang kok tak bisa pungkiri, yang berlebaran hari Selasa sepertinya lebih menepati kebenaran. Ya Allah, ampunilah hamba-hamba-Mu yang telah berbuat salah dan khilaf, tak mendengar suara-suara minoritas yang sudah bersaksi atas kebenaran tanda-tanda-Mu, hingga banyak orang harus terjerumus dalam langkah amaliah yang tidak tepat. Balas  joe, on 31 Agustus 2011 at 22:01 said: Sama….Bojonegoro juga…posisi bulan sdh melambung dilangit sebelum isya tadi……

negara yang penuh lelucon….. Balas  prof laba laba, on 31 Agustus 2011 at 22:07 said: Akhirnya fakta bicara,bkn bgtu mas jordan?niatnya si udh gak benar,pgn memecahbelah Islam.prof abal abal si dipercaya.bru prof dunia aja udah songong lu.. Balas

jordan, on 2 September 2011 at 23:17 said: tulisan ilmiah harusnya dibarengi dengan klarifikasi ilmiah, kalo dia seorang propesor dengan segala keilmiahannya maka saya seorang dokter yang juga menjunjung tinggi nilai2 ilmiah, namun sekali lagi, tiap kita pasti pernah khilaf, tinggal kita mau nggak menyadari dan mohon ampun karena telah menyakiti dengan tulisan dan lisan kita, meskipun itu benar, SANTUN, itu jg bagian dari ilmiah kan Balas

 joe, on 31 Agustus 2011 at 22:54 said: oh ya widget blognya itu kok tanggal 2 sawal ya??? Balas  rIAN, on 31 Agustus 2011 at 22:59 said: ini cieh blog NGAWUR DAN YG BUAT JGA BUKAN ORANG MUSLIM PASTI.KQ MW MERUSAK UMAT ISLAM.HARGAI PENDAPAT ORMAS2 ISLAM,INI SOAL KEYAKINAN.‖

Balas  meme, on 31 Agustus 2011 at 23:00 said: ada pertanyaan dari saya prof,tolong di jawab. yang pertama, kalau penetapan tanggal 1 syawal mundur tanggal 31 agustus, berarti penetapan tanggal-tanggal hari besar islam akan mundur semua,tidak seperti pada penanggalan yang sekarang beredar,tapi kenapa penetapan tanggal-tanggal hari besar islam tidak berubah, artinya tetap mengikuti penanggalan yang sekarang? Balas  khalim, on 31 Agustus 2011 at 23:36 said: kalo menurut saya simpan dalam hati aja deh prof jangan diomongin ke media .ato langsung aja ngomong ke pengurus / pimpinan muhammadiyahnya . efeknya akhirnya begini ni …yang nggak ngerti agama ikut ngomong .. yang nggak ngerti ilmu falak ngomong , yang nggak ngerti astronomi ngomong ..la yang parah gak ikut puasa yo ngomong 1 syawal… semuanya ikut ngomong walaupun mereka nggak punya kapasitas . udah prof ..gak usah dijawab ..saya cinta muhammadiyah , saya cinta NU , tapi saya lebih cinta jika kita bersatu dalam kecintaan ,u Balas  Bukan Prof, on 1 September 2011 at 00:39 said: Prof Abal2, pantas ilmu astronomi kita gak maju2 Balas  Kamu_salah, on 1 September 2011 at 00:52 said:

Bisakah anda melakukan pemaparan tanpa menyebut siapa yg benar siapa yg salah, karena kan jelek banged kesannya kalo ternyata yg bpk katakan salah malah terbukti benar, seperti kasus ini, kalo saya yg berada di posisi Anda, maka hal ini sangat2 memalukan dan mungkin akan melepaskan segala status saya (prof, pakar dll) Balas  rain, on 1 September 2011 at 01:12 said: Assalamualaikum, Di sini saya ga berani mengomentari,menghujat, suudzon, apalagi ulama NU dan Muhammadiyah yang sudah pasti tinggi ilmunya sedangkan ilmu saya masih seujung kuku yang pastinya akan berdosa nantinya kalau saya mendebat tidak berdasarkan ilmu, tapi yg ingin saya luruskan dari beberapa komentar adalah:

Kata siapa NU dan Muhammadiyah lebarannya tidak bersamaan tgl 30 kemarin? Kenapa pemerintah menganulir hasil pengamatan di cakung dan jepara?, padahal mereka adalah perwakilan yg telah disumpah, sedangkan justru wakil pemmerintah meninggalkan tempat tanpa mau menyumpah mrk

Saya jadi ragu dengan metoda pembaharuan rekan prof thomas, karena jika metodanya benar dan ingin membuat kalender tunggal, knp malah kita sendiri yg berbeda dengan belahan dunia lain?

Rekan-rekan bisa check http://www.voa-islam.com dimana kebenarannya bisa dicheck langsung di pondok pesantren gontor atau ROIS Suriah NU jakarta Balas  acehsaketi, on 1 September 2011 at 01:23 said: buat semua. rukyah itu berasal dari kata raaa, ia bisa memiliki beberapa makna, tapi dari segi mutaadi dua buah maful maka jelaslah raaa disini bermakna melihat dengan mata kepala, bukan raaa bermakna a‘lama seperti pada hadist maa raa minkum mungkaran, raa disini bermakan a‘lama, yaitu barang siapa mengetahui kemungkaran.

buat yang gunakan negera lain sebagai dalil, sangat jelas anda ini semua tak paham ilmu fiqih. tahbukah apakah itu ikhtilaf matali‘??? jarak dua marhalah 16 farsah saja sudah iktilaf maali. kalau disatu daerah yang jarak matali‘nya lewat dua marhalah bila disatu kawasan telah terlihat sedangkan kawasan lain belum terlihat maka kawasan lain tidak wajib mengikuti. ini saja bisa terjadi pada dua propinsi seperti jawa dan aceh. artinya bila dijawa terlihat dan diaceh belum terlihat, silahkan orang jawa hari raya duluan, aceh belakangan. ini berlaku bila aceh dan dan jakarta beda negara. tapi bila satu wilayah negara dan imam yang sudah ketuk palu maka aceh wajib berhari raya. dalam kitab tuhfatul muhtaj karangan ibnu hajar alhaitamy iza astbata almukhalif alhilala maa ikhtilafil mata‘lik lazimana alamal bimuqtasa istbatihi. apabila telah mengitsbat oleh hakim yang berbeda mazhab sedangkan berbeda tempat terbit m aka wajib kita beramal dengan yang istbat. nah brunai, arab, singapure, malaiysia. adalah berbeda matalik dengan kita serta berbeda wilayah negera. maka kalau mereka istbat dan kita belum tampak ya tidak wajib ikut. nah diindonesia hilal tak tampak sepakat karena posisi 2 dua derajat tidak mungkin rukyah sekalipun bulan sudah masuk tanggal satu. kalau ada yang mengaku nampak hilal sedangkan posisi bulan dua derajat maka menurut pendapat kuat dalam tuhfatul muhtaj karangan ibnu hajar haitami ulama besar kairo maka kesaksiannya ditolak. sedangkan menurut imam ramly dalam nihayah boleh diambil persaksiannya. nah kalau kita terima pendapat imam ramly silahkan orang yang percaya dengan dengan wilayah yang mengklaim sudah nampak hilal. silahkan dia berhari raya seperti muhmamdiyah misalnya. tapi yang jadi masalah perbedaan pendapat berlaku bila imam belum ketuk palu. kalau sudah ketuk palu maka perbedaan pendapat tidak berlaku lagi. dalam kitab tuhfah dan semua kitab fiqih mengakui hukmul imam tarfaul khilaf. ketuk palu imam mengakhiri perbedaan

maka wajiblah kita ikut pemerintah dan maksiat tidak ikut mereka. karena firman Allah taatlah kamu kepada Allah dan rasul dan ulil amry dari kamu. ada yang berdebat, ulil amry kita tidak siddiq dan fasiq tidak wajib diikuti. saya jawab : seluruh ulama indonesia pada masa sukarno diundang kejakarta untuk memberi gelar ulil amry kepada sukarno. semua ulama tidak ada yang mau, lalu bangkit abuya muda waly dari aceh yang mengatakan SUKARNO ADALAH ULIL AMRY ADDHATURAH BISYAUKAH. PEMIMPIN TERTINGGI PADA POSISI DARURAT SEBELUM ADA TERBENTUKNYA NEGERA ISLAM. JADI YANG TIDAK MENGAKUI SBY SEBAGAI ULIL AMRY UNTUK INDONESIA, DIPERSILAHKAN CARI NEGARA LAIN. JANGAN SEPERTI ORANG MUNAFIK. GILIRAN MAKAN GAJI WALAU ADA PAJAK HARAM, SAYA IKUT PEMERINTAH, GILIRAN DISURUH HARI RAYA HARI RABU, OGAH. EHHHHHHHH MALAAMMMMMMMMMMMMMM Balas

reyca, on 1 September 2011 at 01:52 said: Pak acehsakti yth,

Membaca komen bapak yang sangat detil jadi tibul bbrapa pertanyaan: 1. Bapak sebut bila kurang dari 2 derajat tidak mungkin terlihat.tau kurang dari 2 derajat di senin kemaren dari mana? Hisab? Apakah hitungannya pasti benar sehingga pasti 10000% bila ada yg lapor lihat hilal = bohong. Meskipun yg lihat itu ustadz dgn pengalaman lihat hilal sudab taunan? 2. Jarak 2 marhalah 16 farsah itu brapa km? Apakah aceh malaysia atau singapur batam jaraknya lebih dari itu? Atau indonesia ini dihitungnya harus dari jakarta?

3. Ulama waktu itu sepakat memberikan gelar ulil amri kepada sukarno. Apakah selanjutnya gelar tersebut otomatis akan dipegang oleh presiden indonesia? Meskipun nanti misal di masa datang indonesia dipimpin oleh muallaf atau bahkan non muslim? Mohon bapak berkenan menjelaskan kepada kami yang awam ini. Terima kasih. Balas

boscha, on 1 September 2011 at 06:35 said: bos… masalah gituan aja pemerintah ikut nentu nentuin… kenapa kalo masalah sholat wajiib 5 waktu kok pemerintah ndak nentuin, barang siapa yang tidak sholat wajib 5 waktu akan di hukum pemerintah… Balas

Kibus Borbor, on 1 September 2011 at 10:44 said: gak usah marah lah….., kenyataan masyarakat luas sdh melihat tidak ada kejujuran pada sebagian besar pemimpin. Lunturnya kepercayaan pada penegakan hukum, lainnya kata dengan perbuatan tentang korupsi,dan terakhir ulama membuat dirinya kehilangn martabat. Lalu terkait ibadah, mk terpaksalah ambil rumus : ijtihad …..ditengah2 ketidak mampuam pemimpin tampil untuk dipercaya Balas

Robby Kadar Sholihat, on 1 September 2011 at 10:45 said: komentar cerdas dari orang yang cerdas! Balas

jordan, on 1 September 2011 at 11:19 said: lha sudah tau kalo bulan meskipun sudah baru tapi dibawah 2 derajat nggak akan bisa dilihat, ngapain juga pake acara rukyat, toh semua keukeh kalo nggak bakal keliatan tuh hilal, nah giliran ada yang disumpah melihat bulan trus ditolak, alasannya nggak mungkin liat bulan, piye iki tho? dan sekali lg kita bukannya nggak mau ikut pemerintah, kita patuh kok lha buktinya saya jg bayar pajak tiap tahun, buat kasi makan tuh pegawai, cuman saya nggak percaya dengan pereintah yang sudah BERDUSTA di sidang isbat yang menyatakan negara tetangga lebarannya hari rabu eh ternyata negara tersebut lebaran selasa, pemimpin pendusta seperti ini yang mau kita ikuti???? apa kata dunia akhirat?????? Balas

o

Sudarman, on 1 September 2011 at 20:34 said: setuju Mas Jordan,

Tgl 31 Agustus bakda maghrib (18.20 waktu Jawa Timur), bulan sudah mencapai 10 derajad yang berarti sdh tanggal 2.

Dan lucunya, menetapkan 1 Syawal kok berdasarkan suara terbanyak,

o

ypramudya, on 2 September 2011 at 05:13 said: saya coba menjawab:

keputusan 2 derajat itu berdasarkan pada pengamatan2 sebelumnya. bahwa hilal belum pernah teramati jika ketinggiannya kurang dari 2 derajat (ada waktu kurang dari 16 menit sebelum hilal tenggelam).

nah dalam metode riset, suatu teori atau kesimpulan dari penelitian seblumnya bisa terbantahkan atau diperbarui dengan perhtungan/eksperimen

menggunakan metode/kaidah yang lebih bagus. disinilah diperlukan berkalikali rukyat. lebih banyak data akan lebih akurat. kalau dalam sains hal itu hal yang lumrah. ===== mengenai laporan yang ditolak, sudah ada penjelasan sebelumnya dari beberapa orang tentang alasan 2 daerah tersebut ditolak. ===== kalau urusan pemerintah berdusta, saya ga tau karena ga nonton sidangnya.

o

Romadhon Fahrullah, on 2 September 2011 at 11:02 said: setuju

Iwan, on 1 September 2011 at 12:58 said: Ini lagi malah bikin ruwet, maksudnya tiap negara punya penanggalan Hijriah sendiri2 dan nggak sama, gitu ta? Saya nggak mau ikut Pemerintah Yang Pendusta, ini masalah keyakinan/agama bukan masalah politik !!! Mekah juga beda negara, kalau mau sholat jadiin aja Jakarta sebagai kiblat… ISLAM DI SELURUH DUNIA ITU SATU… Rasulullah SAW itu ada di Arab/negara lain, terus apa ucapan beliau nggak berlaku di Indonesia ? Banyak Hukum2 di Al Quran dan Hadist didasarkan pd kejadian di arab, terus apa nggak berlaku di Indonesia ?

KACAU NEH !!! Balas

Kasmui, on 2 September 2011 at 08:41 said: pengikut SBY ya…, wakakakakakakak Balas

 sunnah, on 1 September 2011 at 01:24 said: hehehe cuma mencari pengunjung banyak supaya mendapat dolar banyak.. pinter sekali membuat kata kata. saya salut sekali ke anda Balas  reyca, on 1 September 2011 at 01:32 said: Manusia itu tempatnya salah..saya yakin kalau orang pendidikan setinggi anda sampai dapat gelar profesor, pasti masi bsa bangkit dari kesalahan yang sangat fatal ini. Iya kalau saya ini yg cuman lulusan sd mungkin bsa ampe gak berani hidup lagi karena malu. Mohon maaf lahir dan batin. Balas  sunnah, on 1 September 2011 at 01:37 said: pinter sekali orang yang nulis artikel ini. mencari pengunjung untuk mendapatkan dolar… Balas  alolo, on 1 September 2011 at 01:50 said:

http://rayannusantaragalvalum.wordpress.com/ Balas  alolo, on 1 September 2011 at 01:51 said: metode hilal galvalum Balas  alolo, on 1 September 2011 at 02:01 said: metode hilal galvalum

http://rayannusantaragalvalum.wordpress.com/ Balas  arief, on 1 September 2011 at 02:08 said: maaf prof… kok widget ―fase bulan saat ini‖ yang anda pasang di blog ini tak sesuai dengan penanggalan hijriyah versi anda dan pemerintah… justru sama dengan versi muhammadiyah… pada selasa 30 agustus, yang menurut anda masih 30 ramadan kok malah fase bulan di blog anda tertulis 1 syawal… piye iki prof…. Balas  Sayyid Nurnikmad, on 1 September 2011 at 02:46 said: Wakakakak yg sebelah kanan atas malah nunjukin tanggal 3, berarti si orang sok pinter ini kemakan omongannya sendiri. Cara pikir ente yg destruktif malah menunjukkan betapa bodohnya ente prof Balas

 Sayyid Nurnikmad, on 1 September 2011 at 02:52 said: Woy yg ngaku profesor, silahkan baca ini => http://m.voa-

islam.com/news/indonesiana/2011/08/31/15978/penetapan-1-syawal-indonesia-ditertawakannegara-negara-islam/ Maha suci Allah yg membuka pikiran saya dg segera Balas  sri murdjanto, on 1 September 2011 at 02:53 said: Assalamu ‗alaikum, prof mau tanya apa benar prof ada drajat-drajatan dalam melihat hilal, kalau kurang 2 drajat umpamanya tidak terlihat ? menurut tulisan anda itu baru kemungkinan ―…Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan (―hilal‖) sudah wujud di atas ufuk saat maghrib 29 Agustus 2011. Tetapi Ormas lain yang mengamalkan hisab juga, yaitu Persis (Persatuan Islam), mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011 karena mendasarkan pada kriteria imkan rukyat (kemungkinan untuk rukyat) yang pada saat maghrib 29 Agustus 2011 bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati. NU yang mendasarkan pada rukyat masih menunggu hasil rukyat. Tetapi, dalam beberapa kejadian sebelumnya seperti 1427/2006 dan 1428/2007, laporan kesaksian hilal pada saat bulan sangat rendah sering kali ditolak karena tidak mungkin ada rukyat dan seringkali pengamat ternyata keliru menunjukkan arah hilal…‖yang menjadi syahid yang di dalam tanda kurung ―…kemungkinan untuk rukyat…‖ kalau kemungkinan dalam bahasa bisa ―iya‖ bisa ―tidak‖, tidak mutlak tidak terlihat, sehingga kok menolak kesaksian yang melihat hilal dengan kreteria tersebut ―…pada kriteria imkan rukyat (kemungkinan untuk rukyat) yang pada saat maghrib 29 Agustus 2011 bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati…‖ sedang dalil hadist jelas yaitu : ―Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya. Jika ada mendung pada kalian, maka sempurnakanlah jumlah (Sya‘ban 30 hari, pen)‖.Muttafaqun alaihi [HR. Al-Bukhoriy (1810), dan Muslim (1081)] ‖ yang menjadi syahid ―…karena melihat hilal….‖ dan keseringan ditolaknya kesaksian apa itu menjadi kaidah ilmiah menetapkan sesuatu dalam ilmu ini

seperti tulisan ―… laporan kesaksian hilal pada saat bulan sangat rendah sering kali ditolak karena tidak mungkin ada rukyat dan seringkali pengamat ternyata keliru menunjukkan arah hilal…‖ sehingga menolak kesaksian pada sidang istbat kemarin, bukankah dalam bahasa ―…keseringan…‖ didalam katanya pernah diterima kesaksian. mengapa kok dijadikan kaidah prof ? gitu aja prof, jazakumullok khoir. Balas  sri murdjanto, on 1 September 2011 at 03:00 said: maaf yang benar jazakumulloh khoir, maaf ini untuk rujuk saya, saya tidak sengaja, terima kasih, jazakumulloh khoir Balas  Sayyid Nurnikmad Al-Zahir, on 1 September 2011 at 03:14 said: Hahahaha, banyak bacot lah. Baca ini aja trus renungkan 1. http://m.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/08/30/15974/selisihi-pemerintah-gontor-

lebaran-hari-selasabareng-negara-negara-arab/ 2. http://m.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/08/30/15975/rois-suriah-pwnu-

jakartalebaran-hari-selasaharam-puasa-hari-ini/ 3. http://m.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/08/31/15978/penetapan-1-syawal-

indonesia-ditertawakan-negara-negara-islam/ Balas  Sayyid Nurnikmad Al-Zahir, on 1 September 2011 at 03:17 said: Jiahaha komen gue dihapus, profesor apaan ente yg anti kritik ? Ngeritik ormas laen seenaknya giliran dikritk malah ngacir

Balas  terson, on 1 September 2011 at 03:46 said: sampe tgl 30 agustus 2011, aku blm lihat komen pak prof.. jng2 dia lg sibuk lebaran lebaran tgl 30 agust.. hihi,,

knp lebaran indo beda ma malaysia n sngapore yg jelas2 1 waktu,, knp pak prof? apa negara mreka beda hadist? beda cara?,, yg jelas beda profesor nya.. hihi Balas

tdjamaluddin, on 2 September 2011 at 23:36 said: Tidak mungkin saya tanggapi satu per satu. Sebagian saya tanggapi secara umum via media massa. Silakan baca Kompas Jumat, 2 September. Balas

 sibutut, on 1 September 2011 at 04:49 said: Prof thomas kayaknya bukan gakakan nanggapi, tp karena terlalu banyak komennya jadi bingung. Mungkin sekarang pak Thomas sedang menyusun buku buat nanggapi komen2 ini. Saya harap demikian, karena saya jg butuh tanggapan dari pak Thomas. Bagaimana kita menyatukan perbedaan persepsi atas penafsiran ayat?? Krn pokok permasalahannya sebenarnya penafsiran ayat yang menyuruh kita untuk MELIHAT bulan. Yg satu menafsirkan bulan hrs bs DILIHAT. Yg ke2 menafsirkan bulan hanya TANDA awal bulan, subtansinya adlh solat id mesti dilakukan di awal bulan… artinya, pendapat yang ke2 menafsirkan bahwa nabi Muhammad menyuruh melihat hilal sbg penentu awal syawal,itu krn dg melihat hilal maka kita akan tahu awal bulan syawal. Sebab itu adalah TANDAnya.Kta gak bs melihat posisi bulan,bumi,matahari.Tp kta bs melihat

TANDANYA.Bgmn

jika

mendung,shg

tanda

tak

tampak?Allah

memberi

kemudahan,genapkan sj 30hr.Tp skg,dg ilmu hisab dah berkembang,jaman dulu mgkn gak bs dibuktikan presisi perhitungan (hisab)nya..Tp skg presisi awal bulan dah bs diketaui.Presisi kedudukan bulan,bumi,matahari bs dihitung dg tepat.Akankah hasil perhitungan itu tdk sesuai dg aslinya?Saya meyakini tdk. Jika tidak tepat, bukankah dengan teknologi satelit bisa dibuktikan? Lagi pula, pada lebaran ini hasil hisab tidak ada perbedaan. Hisab dari Muhammadiyah mengatakan bulan tdk akan mencapai 2 derajat, demikian pula hasil hisab yang lain. Jadi gak perlu ada keraguan.. Balas  Among Amrul, on 1 September 2011 at 06:01 said: Assalamualaikum . . .

ini saya lihat di kalender blog pak prof kok 1 syawwal jatuh pada hari selasa tanggal 30 agustus? coba teman2 lihat di sebelah kanan, layar halaman ini di scroll ke atas ada gambar bulanya, lihat sudah tgl brp hari ni. terima kasih . . . Balas

eep heryanto, on 1 September 2011 at 06:53 said: @amongamrul, amda benar. profesor mungkin lupa, bahwa program/software yg ditempelnya itu berdasarkan ilmu hisab. hmmm…. Balas

Ali Mahfud, on 1 September 2011 at 10:44 said: HAHAHAHA…………………… bener BRO…..!!! kok bisa ya ? Balas

jordan, on 1 September 2011 at 11:20 said: pak propesornya lg mudik pak, dari kmarin nggak ngasi jawaban ilmiah Balas

o

JIRDAN, on 1 September 2011 at 14:48 said: ADA KOK, YG PUNYA BLOG INI, CUMA DIA LAGI KEBINGUNGAN MENANGGUNG AKIBAT OCEHANNYA, BUKTINYA BANYAK

KOMEN YG KEHAPUS, KALO EMANG BENER GAK USAH HAPUS KOMEN LAH, KAN ADA PENGIKUT BUTA ANDA YG KOMEN POSITIF. ANDA AJA BRANI KOMEN NEGATIF DAN MENYINGGUNG PRASAAN 1 ORGANISASI, KOK NDAK MAMPU MENERIMA YG SERUPA, JANGAN MAU ENAKNYA ENDILI DONG PROF*. HAL TSB SEMAKIN MEMPERMANTAP POSISI ANDA SEBAGAI PROF ―BAYARAN‖, SLAMAT YAH

o

MIFTAH, on 1 September 2011 at 16:53 said: Sekarang tanggal berapa ya Proff?? Pasti Proff bingung jawabnya ckckckck. Lahir batin ya proff.

Ahmad Nugraha, on 1 September 2011 at 13:38 said: pak among, barangkali hitungannya start dari maghrib, jadi benar bahwa pada 30 Agustus 2011 di waktu maghrib itu mulai 1 Syawwal

Balas

Rizal, on 2 September 2011 at 11:24 said: iya yah, saya juga baru perhatikan juga, hari ini (Jum‘at) sudah tanggal 4 syawal, berarti 1 syawal jatuh pada Selasa..apa widgetnya yang usang atau?

Menanti jawaban dari Pak. Prof Balas

o

Anto Satriyo Nugroho, on 4 September 2011 at 05:32 said: Mengenai widget sudah dijawab Prof.T.Djamaluddin koq. Saya kutip dari tulisan beliau di FB ―Ketika kita membaca tanggal qamariyah, tanyakan wilayahnya dan kriterianya. Tanggal di situs moonsighting adalah tanggal untuk wilayah Amerika Utara (ISNA) yang merujuk ke Arab Saudi. Demikian juga widget di bog saya itu bukan tanggal di Indonesia, tetapi berdasarkan kalender Ummul Quro di Arab Saudi. Info yang lebih penting adalah fraksi iluminasinya untuk menggambarkan perkembangan fase bulan. Friday at 10:45pm ‖ Banyak yang bertanya sambil berolok-olok. Mungkinkah ini cerminan karakter kebanyakan bangsa kita ?

 fadly, on 1 September 2011 at 06:20 said: kita harus menilai secara ilmiah, selain itu dalam memberikan opini kita harus objektif menilai apa yg kita nilai,,, jangan sampai kita menilai secara subjektif… ―perbedaan tdk akan mgkin sama, tetapi perbedaan itu bisa d jadikn kebersamaan‖..

Balas  Oos Depok, on 1 September 2011 at 06:33 said: Dear Pak Prof dan Saudara2ku seiman Islam. Kisah Rasulullah dalam menyelesaikan perbedaan2 di antara para sahabat dan para ahli Islam atau sering juga di sebut Ikhtilaf yaitu:

1. Bertakwa, berusaha mencari kebenaran dan menjauhi hawa nafsu ketika berselisih. 2. Mengembalikan permasalahan yang menjadi perselisihan kepada Alloh dan Rasul-Nya. 3. Menerima dengan pasrah keputusan Alloh dan Rasul-Nya setelah rujuk kepadanya. 4. Apabila Nabi Shallallâhu ‗alaihi wa ‗alâ âlihi wa sallam menetapkan bahwa kedua belah fihak yang berselisih benar baik di dalam pemahaman maupun perbuatannya, mereka (para sahabat) merasa senang dengan keputusan tersebut dan tidak ada salah satu fihak yang merasa dengki terhadap fihak lainnya walaupun terjadi perselisihan. Seperti kisah dua orang sahabat yang melaksanakan sholat namun mereka kehilangan arah tidak tahu mana arah kiblat, lantas mereka berdua sholat dengan ijtihâd-nya. Kemudian, pada akhirnya mereka tahu bahwa mereka telah sholat tidak menghadap kiblat yang semestinya. Salah satu dari mereka mencukupkan diri dengan sholat tersebut sedangkan yang satunya mengulangi lagi sholatnya. Tatkala mereka berdua bertanya kepada Rasulullah Shallallâhu ‗alaihi wa ‗alâ âlihi wa sallam, beliau menjawab kepada orang pertama tadi : ‫― ةٌسلا ثبصأ‬kamu telah benar (menetapi) sunnah‖ dan mengatakan kepada orang kedua : ‫ل‬ ‫― ٌيثزو زجألا‬kamu mendapatkan pahala dua kali‖. (Diriwayatkan oleh Abû Dâwud dengan sanad yang hasan). Tidak ada pada mereka yang berselisih ini pertikaian maupun permusuhan.

5. Menetapi etika di dalam berdiskusi, berkata dengan lemah lembut ketika berdialog dan memperdengarkan (argumentasi) setiap fihak yang berselisih kepada lainnya serta membahas permasalahan secara menyeluruh dari semua aspek. Manfaat dari hal ini adalah menampakkan kebenaran dari fihak yang berselisih dengan tetap meninggalkan debat kusir. Ya ALLAH, Ya RAHMAN, Ya RAHIM.

Tunjukilah kami jalan yang lurus dan jauhkan kami dari condong ke sesatan. Jagalah ilmu2 kami untuk selalu ingat bahwa semua ini hanya untuk-MU dan Ridlo-MU ya ALLAH SWT.

Buka http://moonsighting.com/archive.html klik RMD pada masing2 tahun Hijriyah,amati dari 1423H s/d 1433H.

ini:

HANYA PADA 1427H/2006 – 1428/2009 sajalah bisa melihat hilal dengan 2,3,4 Jadi mau di undur teruskah 1 Syawalnya sedangkan dari Ilmu Hadits Rasulullah: Bulan yang berjumlah 29 hari adalah hari raya Ramadan dan bulan Zulhijah Hadis riwayat Ummu Salamah ra.:

Bahwa Rasulullah saw. pernah bersumpah tidak akan menemui sebagian istri-istrinya selama sebulan. Dan setelah 29 hari berlalu, beliau datang menemui mereka. Kemudian beliau ditanya: Wahai Nabi! Baginda bersumpah tidak akan menemui kami selama satu bulan. Mendengar itu, beliau bersabda: Sesungguhnya bulan itu berjumlah 29 hari. (Shahih Muslim No.1816) Arti pernyataan Nabi saw. bahwa dua bulan yang terdapat hari raya, jumlah harinya tidak berkurang. Hadis riwayat Abu Bakrah ra.:

Dari Nabi saw., beliau bersabda: Dua bulan yang terdapat hari raya, harinya tidak berkurang; hari raya Ramadan dan bulan Zulhijah. (Shahih Muslim No.1822) Demi Kebangkitan Islam, Bukan Kebangkitan Islam Indonesia Saya tidak dukung NU,Muhammadiyah,Persis dan lain2, SAYA Dukung Al Quran sebagai pembukti antara yang benar dan yang salah. Balas  boscha, on 1 September 2011 at 06:48 said: yth Prof tomas jangan suka menyalah nyalahkan yang lain…. seperti di tulisan n judulmu itu lho ―‖ Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab ―‖ kok seperti kamu itu pinter nya nomer 1 di dunia… jangan suka mengagungkan kepandaian, jabatan, dan gelarmu itu lho.. Balas

 prof laba laba, on 1 September 2011 at 06:51 said: Buat acehsaketi.sbnrny jwbn anda sudah kontroversi u anda sendiri.kalau byk yg py pola pikir seperti anda tdk akan pernah ada ukhwah islamiah khususnya indonesia,apalagi dunia.sy ok aja mslh ikt ulil amriny.tapi ingt satu hal islam bkn indonesia saja.tgu sy blm mrujuk ksana,mau komentar anda dulu.kalo jawa lht dia blh berlebaran.atau bs kta balik ya.aceh udh lht dia blh lebaran dluan.smentara jawa belum lht dia g bs lebaran wlupn aceh yg wktny lbh lambat bbrp puluh menit.dan artiny aceh tgl 1syawal jawa msh 30ramadhan,msh untung ada hadist jk blm mlihat genapkan 30hr cb kalo gak ada dan bln g tlht djawa bs2 g jd lbrn.ok lebaran mgkn cm selisih shari,skrg mslh awal ramadhan.jika jawa g bs lht hilal atau bulan brarti gak mulai2 tu puasany.ok krn dgenapkan 30hr syaban.artiny sdh tjd selisih 2hari ktika 1syawal nanti.lantas pghitungan bln berikutny?ketika sampe kebulan zulhijjah ketika 9zulhijjah atau wukuf arafah,ente belum wukuf tu krn ente msh 7zulhijjah,krn ente penganut phm lokal.kacau penanggalan ente gak maju2 islam kalau ente yg pimpin,waktu aja gak akurat.jgn kaku pemikiran.ilmu ente hy pemikiran manusia.ulama bs salah.tp ente lupa anjuran yg lebih utama dlm alquran.jgn kamu bercerai berai.ali imran 103. Balas  imran yusuf, on 1 September 2011 at 06:53 said: Subhanallah…….sy melihat bulan malam tadi (31 Agustus 2011) pukul 20.00 wita didaerah Sulawesi Selatan, sdh jelas bahwa hari itu sesungguhx sdh 3 Syawal, Ya Rabb ampuni pemimpin kami yg telah mengkhianati kami n juga Prof.Thomas bersama bersama Elit Organisasi Islam terbesar di Negeri ini yang telah menyesatkan umatnya Balas  Robby Kadar Sholihat, on 1 September 2011 at 07:36 said: maaf tulisannya terlalu provokatif dan tendensius. seolah-olah hanya Muhammdiyah yang jadi sasaran tembak. Padahal penetapan satu syawal 1432 H, terjadi juga perbedaan di

kalangan NU. Kalau boleh saya berpendapat, penetapan 1 syawal tahun ini lebih karena suara terbanyak mengatakan tidak melihat hilal (padahal beberapa pengamat di beberapa pondok pesantren meihatnya), sehingga kembali ke hadits menggenapkan bulan menjadi 3 hari. Maaf Balas  Robby Kadar Sholihat, on 1 September 2011 at 08:27 said: 30 hari maksudnya maaf Balas  widiasih, on 1 September 2011 at 08:57 said: Masalahnya ulil amri/imamnya (depag dan NU) tidak jujur, masak beberapa petugas sudah melihat hilal dibeberapa tempat tapi ditolak alasannya tidak disumpah lah (padahal sudah disumpah) dibawah ufuk lah dan lain-lain alasan, nah masak imam yang nggak jujur harus diikuti Allah kan memberikan akal kepada kita untuk menilai mana yang benar mana yang menyesatkan. Tampaknya semangat Depag sejak semula memang tidak mau sama/harus beda dengan Muhammadiyah entah kenapa tanyakan saja kepada mereka ? Mestinya untuk kepentingan umat kepentingan pribadi dan golongan disingkirkan, bersihkan hati tegakkan kebenaran karena semua perilaku kita dicatat dan harus dipertanggungjawabkan kepada Allah di akherat nanti. Tapi ya begitulah, sudah tahu sendiri kan birokrat kita banyak korupnya dana haji saja dikorup akhirnya hilalpun di korupsi. Balas  widiasih, on 1 September 2011 at 09:41 said: Tambahan : 1. Sistem/teori yg dipakai Depag harus ditinjau kembali karena tidak efektif terbukti beberapa kali tidak sesuai dengan fakta empiris. Peredaran bulan itu kan gejala alam, ternyata teori

yang dipakai setelah dicek dengan realitas dilapangan (kemunculan bulan) kok tidak cocok buktinya tanggal 30 agustus bulan sudah muncul berarti sudah1 syawal. Kesimpulannya teori depag tidak akurat. Bukti lainnya beda/nyleneh sendiri dengan mayoritas negara2 Islam lain. 2. Aturan 2% itu dari mana, Nabi saja nggak pakai derajat2 an, Nabi tuh simpel saja, bisa lihat sedikit oke, yang lihat cuma 1 oke, kok manusia memperumit masalah. Kan kita mau meprediksi ―besok‖ bukan ―sekarang‖ jadi sekarang bulan nggak perlu harus kelihatan 2 derajat logikanya kalau sekarang bulan sudah muter full berarti besok sudah ganti hari, gitu aja kok repot. Menurut saya Muhammadiyah itu lurus dan simpel seperti Nabi makanya namanya Muhammadiyah. Saya hanya pengamat/simpatisan Muhammadiyah tapi sering mengikuti keputusan Muhammadiyah karena saya melihat prinsip mereka itu logis, lurus dan mencari kebenaran. Balas  Kibus Borbor, on 1 September 2011 at 10:34 said: yang penting biar satu kata dan perbuatan, bagusnya perbaiki dulu kalender Hijriah yg ada di blog Prof, karena pertanggal 1 sept 2011 M disitu 3 syawal 1432 H, artinya blog Prof lebaran 30 Agustus 2011.

SELAMAT IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR BATIN Balas  semut gk sk manis, on 1 September 2011 at 10:45 said: Yalai..Yg uda mw puasa 29 hr jg dah bgus bnget..,Palagi mw puasa yg 30hr tmbh bgus lg dch… Yg trpenting masing2 prcya dng apa yg diyakini..dan puasanya gk cm puas-puasin rasa tp mengerti hikmah puasa yg dijalani.

Yang brengsek yaitu orang yg gk pernah puasa,gk pernah trawehan trus ikut2n ribut soal sholat id dan lebaran..Hasyem lah, kalu aku ci dr jman dlu 30 trus genapi jumlah juz dlm

qur‘an, kalo bln romadhon dikalender 29 ya tinggl bsok tmbh satu lg.Gk usah ikut2 ulama,ulama pinter jg manusia gk lbh tahu dan ngerti dibanding Tuhan Balas  ISLAM SUNNI, on 1 September 2011 at 10:52 said: SAYA SANGAT SETUJU DENGAN TULISAN PROF JAMALUDIN. MANTAP PAK!!! SAYA JADI INGAT FILM SANG PENCERAH KARYA HANUNG BRAMANTYO DI SITU KH AHMAD DAHLAN MELAKUKAN PEMBAHARUAN DALAM

MENENTUKAN ARAH KIBLAT DAN APA YANG DILAKUKANNYA BENAR AKAN TETAPI ORANG2 TIDAK SETUJU DENGAN KH AHMAD DAHLAN BAHKAN MENGATAKAN BAHWA DIA KAFIR. SKRG MUHAMMADIYAH SOMBONG, DIAJAK MELAKUKAN PEMBAHARUAN TAPI MASIH SONGONG DENGAN METODENYA. GAK MALU SAMA KH AHMAD DAHLAN??!! Balas  Ali Mahfud, on 1 September 2011 at 11:02 said: Ketetapan resmi 1 Syawal 1432H Indonesia, ditertawakan negara2 Islam http://m.voaislam.com/news/indonesiana/2011/08/31/15978/penetapan-1-syawal-indonesia-ditertawakannegara-negara-islam/ Balas  Hamba Allah, on 1 September 2011 at 11:38 said: Saya lihat posisi hilal malam kemarin di langit dari rumah saya, lalu saya lihat gambar posisi fase bulan (realtime) di sisi kanan blog Anda, maaf Profesor, apa keputusan Kemenag kemarin sudah keliru? Dalam hati saya sekarang kok tak bisa pungkiri, yang berlebaran hari Selasa sepertinya lebih menepati kebenaran.

Ya Allah, ampunilah hamba-hamba-Mu yang telah berbuat salah dan khilaf, tak mendengar

suara-suara minoritas yang sudah bersaksi atas kebenaran tanda-tanda-Mu, hingga banyak orang harus terjerumus dalam langkah amaliah yang tidak tepat. Balas  SUAI, on 1 September 2011 at 11:40 said: coba lihat gambar bulan sebelah kanan FASE BULAN SAAT INI..SILAHKAN MENILAI??? Balas  Abi, on 1 September 2011 at 11:51 said: Saya menghargai ―pendapat‖ Prof. Thomas J., tapi sebagai ilmuwan yang sudah prof. tidak mesti selalu benar tho … Lihat kalender diblok bapak, kok tidak diubah tanggal hijriyahnya, dalam blok tersebut tertera dengan JELAS tanggal 1 September 2011 adalah tanggal 3 Syawal 1432?????????? Sebaiknya, kalau punya KEMAUAN BAIK dan TULUS untuk menyatukan KALENDER HIJRIYAH, Om Profesor cukup untuk mengajak semua Ormas Islam dan Pemerintah untuk mencari jalan KELUAR, bukan jalan BUNTU dengan memberi statement yang berat sebelah. Saya mau tanya Prof. Teori yang TERBARU tentang pergantian bulan hijriyah menurut para ahli astronomi itu yang bagaimana sih? Terima kasih, semoga Profesor tidak emosional dalam memberi jawaban/tanggapan, dan tidak mengedepankan Wassalam Balas  Sayyed EP, on 1 September 2011 at 12:11 said: bagus ulasannya.. Muhamadiyah mesti mengakui madzhab2 yang ada di Indonesia Khususnya Madahab Syafii .. hehhehe(maksa).. seperti tulisan yang iseng pernah saya tulis: http://bikailarobbi.wordpress.com/2011/08/21/alquran-mainan-menjawab-salafi/ sikap riya‘.

salam kenal.. Balas  Kahfi, on 1 September 2011 at 13:18 said: Halo Pak Thomas.

Saya tertarik dgn Fenomena Hilal sehingga membuat saya makin penasaran dgn Ilmu Astronomi yg bapak Pelajari. Dari beberapa Penelitian yg saya baca, katanya tiap tahun (bahkan tiap saat) Bulan beredar semakin menjauhi Bumi. Jadi kelak keturunan kita suatu saat tidak akan bisa melihat bulan dgn mata telanjang. Dgn demikian kelak jumlah hari dalam 1 bulan kemungkinan akan lebih dari 30 hari. Bahkan mungkin 1 bulan bisa 40 hari. Pertanyaan saya :

- Jika benar suatu saat jumlah 1 bulan bisa lebih dari 30 hari (Karena semakin jauhnya rotasi bulan), maka apakah ilmu Rukyat ini bisa dipakai utk penentuanBulan Qomariyah. Kalo pakai ilmu rukyat (Melihat penampaka Bulan), maka Umat Islam bisa Puasa lebih dari 30 Hari - Fenomenal Hilal 1 Syawal kemarin, mengapa ahli di Malaysia bisa melihat Bulan sedangkan beberapa Ahli di Indonesia bahkan SUmatra yg jelas 1 daerah dgn Malaysia tidak bisa melihatnya. Adakah kemungkinan Hilal yg dilihat di Cakung dan Jepara itulah yg dilihat oleh ahli dari Malaysia ? Terima Kasih Balas  hamba Allah, on 1 September 2011 at 13:30 said: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-393-detail-beberapa-negara-yang-menetapkansyawal-30-agustus-sudah-diprediksi-sebelumnya.html jangan sampai Indonesia masuk di dalamnya Balas

arya kemuning, on 1 September 2011 at 13:33 said: dan tetap jaga perdamaian Balas

 SHELLAYART PREDICTIONS, on 1 September 2011 at 13:39 said: Sedikit antara berhitung otak Otak yg menghasilkan buah masukan hisab vs vs pikiran, indera mata untuk mg bs vs dijadikan acuan, rukyah melihat mata. melihat.

Tp kadang mata sering menipu kita, bayangkan rel kerta api dr kejauhan kelihatanx tdk beruas dan orng yg tdk pernah melihat rel dr dekat akan mengatakan tdk beruas, bahkan berani bertaruh walau nyawa taruhanx. Tp setelah dibuktikan bahwa rel memang beruas maka Mata Mata orang adlh pancaran tanpa td otak. otak berada Tanpa jd pd otak mata tdk puncak tdk tahu krisis apa yg sama kepercayaan. dipandangx. sekali.

berguna

Klau otak tanpa mata bagaimana pendapat prof ? Jika hrs memilih diantaranya yg mana kira2 prof Orang gila pilih punya ? mata tp Matakah tdk berguna. ? Tdk Atau mengenal apa otak di ?

sekelilingx.

Inilah sedikit tentang berpikir atau berhitung dgn melihat. Balas  Yasrid, on 1 September 2011 at 13:40 said: Untuk semuanya, silakan coba baca juga tulisan ini: http://luar-

negeri.kompasiana.com/2011/09/01/saudi-arabia-1-syawal-adalah-rabu-31-agustus-2011/

Dilaporkan bahwa media Al-Jazeera dan Al-Arabiya memberitakan pemerintah Saudi salah menetapkan 1 Syawwal. Balas  Pencari Kebenaran, on 1 September 2011 at 13:49 said: kasihan banget pak thomas yth. diperalat oleh pihak yang menjaga citra-nya demi keuntungan sesaat. meminta untuk tidak memaksa dengan paksaan Balas  sibutut, on 1 September 2011 at 14:10 said: Gk usah melebar kmn mana.Yg jd perbedaan di sini adlh cara menafsirkan ayat.Ayat yg mngatakan bahwa kita musti MELIHAT HILAL itu dimaknai berbeda. Pihak pertama menafsirkan kita hrs bnr2 MELIHAT,sdg pihak ke2 mengatakan tdk hrs melihat,krn hilal adlh tanda masuknya bulan baru.Yg pnting adlh bulan barunya itu,bkn hilalnya.Saya sependapat dg pndapat ke2,krn subtansi dr ayat itu adlh kita melakukan puasa pd bln romadhan,dan sholat id pd tgl 1 syawal. Balas  lou, on 1 September 2011 at 14:29 said: Sy ingin berdiskusi dg smuanya. Misalnya nih (ini misalnya loh),di Yaman ada masjid yg dibangun oleh sahabat nabi.Di masjid itu ada jam matahari.Jam spt jaman skg jg ada.Kmudian sy brtanya ke sahabat nabi tsb,jam brp saat kita sholat dzuhur?Pasti beliau akan menjawab:‘lihat saja jam matahari itu,jika bayangannya ada di tengah,berarti sdh wktunya dzuhur.Bgmn jika mendung?Ingat saja kmrn,kmrn dzuhur jam brp,lalu tambahkan 10menit (krn dg ditambah 10menit pasti dah msk wktu dzuhur kan?)‘.Nah,knp saat sholat dzuhur hrs melihat jam matahari itu?Krn utk mngetahui kpn matahari tepat diatas kan?Nah,bbrp waktu kemudian,ilmu astronomi berkembang.Akhirnya sy bs menghitung secara tepat setiap hr pd jam brp matahari tepat di atas kta. Krn sy sdh tahu kpn matahari tepat di atas,dan bs

dibuktikan,apakah dg saya TIDAK MELIHAT jam matahari berarti tlh mengingkari perintah dr sahabat nabi tsb? Balas  pengembara, on 1 September 2011 at 15:30 said: weleh weleh pak profesor,. widget fase bulan nya di ganti tuh pak, biar sesuai dengan ilmu bapak dan keputusan pemerintah. hahahaha Balas  yansemende08, on 1 September 2011 at 16:09 said: uushinii wa iyyakum bittaqwallah. faqad faaz. kalau mau berpegang pada kitabullah dan sunnah rasul maka ru‘yahlah yang bisa mencegah perselesihan. apabila ketentuan hisap tidak dipandang sedang merupakan yang suatu lain yang lain diperbolehkan adalah syar‘i ikhtilaf

1. dalam http://www.moonsighting.com 43 negara mengikuti keputusan arab saudi. yaitu tanggal satu bila bisa ru‘yah tanpa ada batasan umur bulan, altitute dan elongatio. 11 murni hisab dengan syarat umur bulan >8jam, altitute>2 derajat dan elongatio >3 termasuk indonesia, malaysia brunei. 17 ru‘yah. 5 ikut negara lain (yang berdekatan?) 1yaitu nigeria tidak menentukan metode. kenyataannya indonesia beda dengan malaysia dan singapura (30/08/2011) why? lalu kalau ada muslim timor timur sekarang ikut siapa indonesia 2. atau masalah australia? mathl;a‘ australia masih murni ru‘yah ikhtilaf

3. masalah derajat altitude dikatakan gampang meru‘yah adalah antara 5-7 lalu ssetiap negara menerapkan yang berapa derajat, karena ada beda topogari, musim dan cuaca 4. masalah ada orang makan sedangkan orang lain berpuasa. ga masalah karena ada orang non muslim yang tentunya tidak wajib puasa .dan tentunya di setiap rumah ada orang yang tidak puasa spt anak2, orang tua dan wanita yang berhalangan, orang sakit. kenapa beda lebaraan jadi susah karena liat orang makan?

5. semua pihak mungkin salah tetapi sulit untuk bilang ada yang benar karena semua meninggalkan ru‘yah murni, apalagi yang melakukan hisab, seandainya hisap itu tidak

didukung

dalil

qath‘i

6.untuk yang mengadakan hisab justru telah lebih maju selangkah di depan karena berhasil melakukan tajdid, di sini masalahnya bukan rumus atau cara hisabnya yang salah tapi di luar yang disepakati untuk imkanur ru‘yah. hanya perlu ditinjau apakah dalilnya qath‘i 7. memang haram berpuasa pada hari i‘ dan tasyriq, hanya saja harinya kapan? kalau masing masing meyakini sesuai dalilnya, maka silakan saja berbeda. justru pemerintah harus memahamkan bahwa perbedaan itu ada dasarnya

8. kalau ummat lain, mereka melihat muslim pecah tidak senang apalagi muslim yang bersatu. kenapa harus risau? justru terpecahan itu hanya dalam hal mendalami dalil. sedangkan mereka bersatu karena memang harus disatukan, sebab apabila mereka terpecah, maka ancurlah agama mereka karena dallil mereka lemah. kita lihat balasan saudara cristus bagaimana bahasanya? sedangkan kita selalu diingatkan untuk billati hiya ahsan, mauidzah hasanah, dan mawaddah warrohmah. kenapa ummat islam demikian? karena syetan selalu menghasud muslim untuk berbuat maksyiat, sedangkan orang kafir sudah jadi teman syetan, tidak perlu dihasud, digoda, tapi dielus elus 9. astronomi (modern) akan baik bila untuk li ‗illati kalimatillah. yang menyatukan ummat itu bukan ilmu apapun tapi adalah iman. iman dan akhlaq yang menyatukan hati ummat seperti yang juga menyatukan ‗aus dan khasraj. bersama sama lebaran tidak menjamin persatuan ummat kalau iman dan akhlak tidak ada

10. yang kita tuju adalah ukhuwah Islamiyah ( satu bumi), bukan ukhuwah wathoniyah (satu negeri) 11. kalau sholat ikut peredaran matahari bukan ikut peredaran bulan (kalau ga keliru, lhooo?) 12. ru‘yah hilal tidak bisa disamakan dengan waktu adzan, karena waktunya sempit. misal adzan subuh masih bisa jam 5 pagi dan adzan maghrib masih bisa jam 18.30 asal belum masuk waktu lain atau ketentuan lain. tetapi yang disunnahkan adalah di awal waktu. 13. bukankah puasa salahsatu tujuan untuk melatih sabar dan la‘allakum tattaqun? kenapa mesti dirusak dengan berbantah-bantahan dan berbuat ghuluw. marilah kita semakion memakai alquran dan sunnah nabi sebagai landasan hidup. Insya Allah mendapat rohmat dan akam terasalah manisnya ukhuwah di negeri yang insya Allah baldatun thoibun wa rabbun ghafuur. yaitu buminya muslimiin yang satu. 14. setelah ini kitapun akan hijrah ke alam barzakh, dan hanya ‗amal yang bisa memantu. Wallahi muwaffiq wa aqwami thoriq

Balas  andy, on 1 September 2011 at 16:14 said: Just FYI:http://kom.ps/NDTT , silahkan dibaca. Pemerintah Arab Saudi menyatakan bahwa 1 syawal yg benar tgl 31 Agustus 2011 dan utk kesalahannya itu pemerintah Arab Saudi sdh memebayar kafarat sekitar 1 Milyar Real. Sekadar utk renungan kita… Balas

imc_cho, on 4 September 2011 at 01:08 said: tuh dah neh linknya http://politik.kompasiana.com/2011/09/01/ada-postingan-1-syawal-di-kompasianamenyesatkan/ Balas hoax gan, karena dibantah hanya berupa opini.. kug..

 ichsan, on 1 September 2011 at 16:17 said: Assalamu Alaikum…

Bapak Thomas Djamaluddin beserta beberapa komentator Kok kesannya SINIS sekali dengan MUHAMMADIYAH…statement pada paragraf terakhir artikel ini jelas2 menunjukkan rasa benci pada MUHAMMADIYAH.

Trus kenapa Muhammadiyah saja yang di bawa2, toh Hizbut Tahrir sebagai organisasi yang besar juga menetapkan 1 Syawal jatuh pada 30 Agustus 2011.

Kenapa tidak dibahas juga soal Lebarannya Jamah Natsir dan Naksabandia yang jelas2 sangat jauh dari perhitungan Hisab dan Rukyat ???

Meski Islam saya bisa dibilang cuma di KTP, saya sangat kecewa dengan para pemimpin dan

kaum intelektual Islam yang hanya bisa memPROVOKASI dan MEMECAH BELAH ummat Islam Balas  Abdullah, on 1 September 2011 at 17:10 said: jelas ini keliatan siapa yg satu saat memberrontak, termasuk thd apa2 yg diperintahkan Rasulallah SAW. Jangan sampai negara kita jadi seperti negara Wahabi yg keras dan memberangus kelompok lainnya tidak menghormati perbedaan dan lbh membela amerika/israell ketika mereka jadi pemimpin. Btw saya lg mencari buku Sejarah berdarah sekte wahabi, ada yg punya softcopy/ebooknya untuk dibeli? syukron Balas  pemerhati, on 1 September 2011 at 17:17 said: assalamualaikum pak,

sekarang faktanya umat islam indonesia (31 agustus) yang berbeda penetapan 1 syawwal-nya dengan penetapan 1 syawwal komunitas ummat muslim dunia (30 agustus). Mohon komentar anda. Terima kasih. Balas  Toni Jamaludin, on 1 September 2011 at 17:20 said: Tahun depan hari Raya bakal beda lagi ya prof…semoga semakin banyak proyeknya ya…kalau bisa 10 tahun beda Balas  Toni Jamaludin, on 1 September 2011 at 17:24 said:

NU: Selasa,

Hari

Ini 30

1

Syawal, Agustus

yang 2011

Puasa

Segera 15:26

Berbuka WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – KH Maulana Kamal Yusuf, salah satu ulama besar di Jakarta yang juga menjabat Rois Suriah Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta, mengatakan, hari ini, Selasa (30/8), sudah masuk 1 Syawal 1432 H. Bagi umat muslim yang masih melaksanakan ibadah puasa dianjurkan untuk segera berbuka puasa. Kiai Kamal mengaku telah mengambil sumpah 3 orang saksi yang melihat hilal pada Senin (29/8) kemarin di Pondok Pesantren Al Husainiah, Kampung Baru, Cakung, Jakarta Timur. ―Ketiga saksi yang bersumpah melihat hilal tepat saat waktu Maghrib. Posisinya miring ke selatan dalam keadaan vertikal. Dengan durasi hilal 5 menit,‖ kata Kiai Kamal kepada Republika, di Jakarta, Selasa (30/8). Kiai Kamal menjelaskan, rukyat di Cakung dilakukan dengan tiga metode rukyat. Masing– masing, 4,35 derajat, 3 derajat, dan 2 derajat. Ketiga saksi dengan metode masing-masing mengaku melihat hilal. Namun, petugas dari Pengadilan Agama Jakarta Timur yang berada di lokasi saat itu, enggan mengambil sumpah ketiga saksi yang telah melihat hilal. Bahkan, petugas tersebut meninggalkan tempat rukyat sebelum pengambilan sumpah. Karena tidak ada yang mengambil sumpah, Kiai Kamal lalu diminta untuk mengambil sumpah ketiga saksi tersebut. Didamping Ketua Front Pembela Islam, Habib Rizieq Shihab, dan Pimpinan Pondok Pesantrean Al Itqon, KH Mahfud Assirun. ―Ketiga saksi bersumpah, Demi Allah, melihat hilal tepat saat waktu Maghrib. Posisi hilal miring keselatan dalam keadaan vertikal. Dengan durasi hilal 5 menit,‖ kata Kiai Kamal. Hasil rukyat di Cakung sempat dilaporkan oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama, Ahmad Jauhari, di depan Sidang Isbat. Namun, kata Kiai Kamal, pemerintah menganggap hilal tidak mungkin dirukyat, karena posisinya di bawah ufuk. ―Tapi kita yang merukyat, melihatnya di atas ufuk,‖ ungkap Kamal. Menurut Kamal, telah terjadi perbedaan pendapat antara pemerintah dengan saksi yang melihat hilal. ―Pemerintah berijtihad, kita juga berijtihad. Tapi, ijtihad pemerintah tidak bisa membatalkan ijtihad kita,‖ kata Kamal menegaskan.

Karena itu, tim rukyat di Cakung, mengambil keputusan bahwa hari ini, Selasa (30/8), sudah masuk 1 Syawal 1432 Hijriah. ―Bagi yang saat ini masih berpuasa dianjurkan untuk segera berbuka. Karena haram hukumnya berpuasa pada 1 Syawal,‖ kata Kamal. Kegiatan rukyat di Cakung, tepatnya di Pondok Pesantren Al Husainiah, Pimpinan KH Muhammad Syafi‘I, sudah berlangsung selama 50 tahun. Rukyat di Cakung tidak hanya dilakukan setahun sekali menjelang Lebaran saja, tapi dilakukan setiap bulan untuk mencocokan dengan perhitungan hisab. KH Muhammad Syafii sendiri mampu melakukan hisab rukyat dengan 11 cara. Pada rukyat Senin (29/8) kemarin, kesebelas cara itu digunakan. ―Sembilan cara hisab menyatakan hilal di atas ufuk, hanya 2 cara hisab yang di bawah ufuk,‖ kata Kiai Kamal. Balas  opik, on 1 September 2011 at 17:29 said: mari menyimak yg berikut http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10341351 Balas  Toni Jamaludin, on 1 September 2011 at 17:29 said: Rupanya Bhineka Tunggal Ika langsung dipraktekkan saat Lebaran : Tgl 29 versi Jamah Nahsabandiyah-Sumbar, Tgl 30 versi Muhammadiyah dan 24 negara lainnya, Tgl 31 versi Pemerintah dan Tgl 1 versi Aboge-Jateng Balas  Toni Jamaludin, on 1 September 2011 at 17:32 said: View Home Rabu, 31 Aug 2011 Full | Version Indonesiana

Penetapan 1 Syawal Indonesia Ditertawakan Negara-negara Islam VOA-ISLAM.COM – Keputusan sidang itsbat Pemerintah RI yang menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari Rabu 31 Agustus 2011, ditertawakan dunia karena nyeleneh dan menyelisihi keputusan negara-negara Arab yang berlebaran hari Selasa 30 Agustus 2011. Hal itu diungkapkan oleh H. Djoko Susilo, Dutabesar RI untuk Switzerland dan Liechtenstein. Tanpa bermaksud mempersoalkan hasil sidang itsbat penetepan 1 Syawal 1432 H yang dilakukan Kemenag RI, Djoko mengatakan dirinya kesulitan menjawab pertanyaan dari para koleganya, dutabesar negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI). ―Sekarang kita ditertawaakan dunia. Saya susah sekali menjawab pertanyaan teman-teman sejawat dubes negara-negara OKI. Kita kok nyeleneh sendiri (melaksanakan Idul Fitri pada hari Rabu, ed.),‖ ujar Djoko kepada RMOL, Selasa, (30/8/2011). Berbeda dengan Indonesia, hampir semua negara di kawasan Eropa dan Timur Tengah menggelar shalat Idul Fitri pada hari Selasa. Umumnya mereka menggunakan metode hisab atau perhitungan yang diperkuat dengan metode rukyat atau pengamatan kemunculan hilal. Penggabungan kedua metode ini membuat perhitungan mengenai awal bulan Syawal menjadi lebih akurat. Untuk memuaskan si penanya, Djoko mengatakan bahwa penentuan tanggal 1 Syawal itu untuk Indonesia. Adapun masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri diminta taat dan patuh pada keputusan Islamic Center setempat. Djoko khawatir banyak pihak di Indonesia yang terjebak pada pendekatan kuno di masa lalu. Sementara di Eropa, masyarakat umumnya percaya pada kemampuan teknologi. Toh, bukankah manusia sudah sampai ke bulan? Mantan anggota DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN) itu mengingatkan bahwa Islam terkait erat dengan iman, ilmu dan amal. Islam adalah agama yang mengagungkan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari keyakinan akan ketauhidan Tuhan Yang Maha Kuasa. ―Jadi kalau sekarang sudah ada teknologi tinggi mestinya soal mengintip hilal ya pakai teknologi,‖ ujarnya lagi.

Di masa depan, Djoko berharap agar pemerintah melalui Kementerian Agama bersikap netral dalam penentuan 1 Syawal ini. Posisi pemerintah idealnya, menurut dia, adalah sebagai fasilitator yang tak perlu ikut campur tangan, apalagi memberikan stempel berupa keputusan. ―Sebaiknya hal seperti ini biar diurus MUI dan ormas Islam saja tanpa dicampuri birokrat. Ndak bagus kesannya,‖ pungkas Djoko. Sebagaimana diberitakan voa-islam.com sebelumnya, terjadi perbedaan pendapat dalam penetapan 1 Syawal 1432 Hijriyah di tanah air, setelah Pemerintah dalam sidang itsbatnya menganulir hasil rukyat dan memutuskan Idul Fitri 1 Syawal jatuh pada hari Rabu (31/8/2011). Tim rukyat Kementerian Agama (Kemenag) di Pantai Kartini Jepara dan Cakung Jakrta Timur, dalam kesakaian di bawah sumpah, menyatakan sudah melihat hilal pada Senin sore (29/8/2011), yang berarti Selasa sudah masuk 1 Syawal. Hasil pantauan Tim Rukyat itu sesuai dengan pantauan Tim Rukyat di negara-negara Arab. Arab Saudi memastikan Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1432 Hijriah jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011, karena pada Senin, (29/8/2011), hilal sudah terlihat. Setelah Arab Saudi mengumumkan jatuhnya 1 Syawal 1432 Hijriah, negara-negara yang lain pun mengikutinya, di antaranya: Mesir, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam juga berlebaran Selasa. Sebagian umat Islam di tanah air belebaran Selasa karena mengikuti hasil rukyat –baik rukyat lokal maupun global– dan hisab. Kaum Muslimin yang berlebaran hari Selasa ini berbarengan dengan Arab Saudi dan dunia Arab lainnya. Beberapa kalangan yang berlebaran Selasa antara lain: Muhammadiyah, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jama‘ah Anshorut Tauhid (JAT), Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Jum‘iyat An-Najat, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Pesantren Gontor, dan sebagian warga Nahdlatul Ulama (NU) yang mengakui rukyat. Sementara kalangan yang berlebaran Rabu 31 Agustus 2011 mengikuti keputusan pemerintah, antara lain Nahdlatul Ulama, PERSIS, Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan lain sebagainya. [ahana/rmo]

Balas  Toni Jamaludin, on 1 September 2011 at 17:35 said: 1 Ternyata, Selasa, Hanya 30 SYAWAL Empat Agustus Negara yang 2011 1432 Lebaran , di Hari H Rabu! WIB

06:39:00

Laporan: Teguh Santosa http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=37929 RMOL. Penampakan hilal adalah hal yang sangat vital dalam menentukan awal tiap-tiap bulan dalam kalender Hijriah. Wabil khusus untuk menentukan tanggal 1 Syawal. Menurut sejumlah lembaga internasional yang memantau penampakan bulan pada Senin, 29 Agustus 2011 dengan menggunakan berbagai perangkat teknologi yang reliable dan precise, keberadaan bulan sudah terlihat di ufuk timur pada Senin sore dan petang. Islamic Crescents‘ Observation Project, misalnya, telah mengeluarkan peta dunia yang memperlihatkan kedudukan hilal pada Senin malam. Menurut organisasi ini, di beberapa tempat yang sudah dapat menyaksikan hilal, tanggal 1 Syawal jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011.

Begitu juga dengan Moonsighting.Com yang seperti ICO Project berusaha membantu umat Muslim di dunia mendekati urusan intip-mengintip hilal dengan penerapan teknologi canggih. Dalam laman Moonsighting.Com disebutkan bahwa hanya ada empat negara yang merayakan Lebaran pada hari Rabu, 31 Agustus 2011. Keempat negara itu adalah Indonesia, Selandia Baru, Oman, dan Afrika Selatan. Kesemuanya mengandalkan pada pengamatan hilal di level lokal. Sementara itu, negara-negara lain yang memiliki umat Islam dalam jumlah signifikan merayakan Lebaran di hari Selasa. Kebanyakan dari kelompok negara-negara ini mengikuti keputusan Saudi Arabia yang menggunakan teknologi canggih dalam memantau penampakan hilal disamping menggunakan metode perhitungan atau hisab.

Selain itu ada tiga negara yang menetapkan 1 Syawal dengan menggunakan hisab sebagai metode utama. Ketiganya adalah Amerika Serikat, Libya dan Malaysia. [guh]

Balas  mukhlason, on 1 September 2011 at 17:37 said: di fa surah al man baqarah ayat 184 dan ayat seterusnya juga fal disebutkan :

syahida

minkumusy-syahra

yashumhu

barang siapa dari kalian menyaksikan bulan ini, maka berpuasalah. istilah ―dari kalian‖, kembali kepada ayat 183 yakni orang2 yang beriman yang diwajibkan puasa, asas keterwakilan, alias fardhu kifayah untuk menyaksikan. Istilah menyaksikan sendiri harus diperdetil, apakah boleh menggunakan alat, atau tidak ? Kalau versi saya dan Bapak saya, orang2 yang beriman tersebut tidak dibatasi oleh kewilayahan negara tertentu, melainkan kepada seluruh umat Muhammad SAW di negara manapun, sesuai dengan batasan hari yang sudah ditetapkan. Ini hanya mencoba mengulik sedikit yang sepertinya tidak pernah dibahas bahwa penentuan waktu puasa (dan juga akhir puasa, kalau memang bisa dikaitkan), bahwa pedoman panduannya benar2 disebutkan langsung di dua ayat setelah 183 tsb. Ayat2 lain yang terkait dengan hisab, ada banyak di quran. Juga tentang hilal, yang disebutkan sebagai penentu waktu bagi manusia dan juga haji. Penampakan Bulan di Syawal :

Maka, mari kita amati penampakan bulan yang ada di bulan Syawal ini, apakah pantasnya tgl 1 syawal di tgl 30 agt atau 31 agt.

Menurut orang2 yg memang sudah paham bulan, dalam dua hari terakhir bulan terlihat memang sudah besar. Mungkin bisa dibandingkan di tanggal 8 syawal di mana ukurannya adalah setengah (50%), apakah ini terjadi pada tgl 5 sept sore atau sehari setelahnya ? Selain itu, bulan purnama yang terlihat cerah, itu terjadi kapan ? son@mukhlason fb alumni teknik penerbangan itb : mukhlason

Balas  hamba-Nya, on 1 September 2011 at 19:04 said: QS. Al-Isra‘:53; Dan, katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ―Hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya, setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka‖ Rasulullah bersabda: ―Orang muslim adalah yang menjaga orang-orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya‖ Balas

Toni Jamaludin, on 1 September 2011 at 19:35 said: mari kita cermati Prof. Thomas dengan statemennya secara tulisan : tdjamaluddin, on 28 Agustus 2011 at 17:08 said: Banyaknya pertanyaan, ―kapan kepastian lebaran?‖ menunjukkan kebingungan di masyarakat. Dua versi hari raya pasti membingungkan masyarakat. Mungkin sebagian saudara-saudara kita di Muhammadiyah dengan nyamannya melaksanakan shalat ied dan makan minum pada saat saudara-saudara lainnya masih berpuasa. Mungkin pula ada yang provokatif menyatakan haramnya puasa pada hari itu. Kondisi itu sungguh tidak nyaman bagi sebagian besar masyarakat. Hari raya bukan sekadar ibadah individu, tetapi terkait juga dengan aspek sosial yang berdampak luas. Apakah sesuai dengan Rasulullah bersabda: ―Orang muslim adalah yang menjaga orang-orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya‖??? Balas

pengembara, on 1 September 2011 at 22:14 said: setuju gan, saya lihat di TV gimana pak prof berkomentar saat sidang itsbat baca surrah yassin nya aja masih dibantu sama yg duduk di sebelahnya trus tulisannya ini juga sangat tendensius memojokkan ormas tertentu. Balas

 Sudah ke-20 Kalinya Arab Saudi Salah di dalam Menentukan 1 Syawal « Jundu Muhammad, on 1 September 2011 at 19:44 said: [...] http://www.qasweb.org/crescents/item.php?id=491

http://rukyatulhilal.org/visibilitas/indonesia/1432/syawwal/index.html http://sabq.org/sabq/user/news.do?section=5&id=29468 http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilalmetode-lama-yang... [...] Balas  susi, on 1 September 2011 at 20:05 said: @ hamba-Nya sy sepakat

smoga bpk prof. tdk berkeberatan utk mengamalkan QS Al-Isra‘… krn sesungguhnya org yg paling terpuji adl org yg berakhlakul karimah… santun dlm perbuatan dan perkataan. utk teman2 yg lain…. tolong sikapi dg wajar…. jgn terpancing emosi… sesama muslim bersaudara… Balas  Sudarman, on 1 September 2011 at 20:28 said: Gak usah berdebat, telah terbukti kok Muhammadiyah yang benar, lihat Hilal tgl 30 agustus 2011 sudah tinggi banget.

Yang namanya Negara RI belum lahir Muhammadiyah sudah menetapkan sendiri, kok sekarang ribut! Balas  profesor paling pinter, on 1 September 2011 at 21:12 said: tidak kah anda malu PROFESOR thomas jamaludin, anda yg percaya tgl 31 agustus adalah 1 syawal, tp di blog anda sendiri tgl 30 agustus sbg 1 syawal..LOL

anda sebagai ilmuwan yg cerdas, berbicara lah secara cerdas pula, jgan menyudutkan keyakinan suatu umat, memperkeruh suasana aja.. Balas  Rick, on 1 September 2011 at 21:30 said: hadeeehh ente boleh ilmuwan tapi ente mungkin harus lebih belajar agama ama etika boss….lo liat kan 2 ormas gede seperti NU dan Muhammadiyah aja ngak saling nyerang satu sama lain tapi saling melindungi satu sama lain…karena perbedaan itu adalah lumrah adanya tapi bagaimana kita menyikapinya…itulah yang di ajarkan Baginda nabi SAW….

betapa indahnya dunia klu kita bisa saling menghormati perbedaan satu sama lain Balas  faidy, on 1 September 2011 at 22:08 said: HOT NEWS : Pernyataan terbaru dari Saudi Arabia: 1 Syawal Adalah Rabu 31 Agustus 2011 pemerintah Saudi sendiri konon telah membayar kafarat untuk masalah ini kurang lebih sebesar 1 milyar real. Kemungkinan yg diliat di arab bukan hilal melainkan saturnus

http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/09/01/saudi-arabia-1-syawal-adalah-rabu-31agustus-2011/ http://www.youm7.com/News.asp?NewsID=483981 http://www.alarabiya.net/articles/2011/08/31/164873.html http://arabnews.com/saudiarabia/article494126.ece berita:

Balas  bang toyib, on 2 September 2011 at 04:08 said: Coba sy mau tanya, ada yg bisa membantah ini ?

1. QS Al Hujuraat : 49 ًٌٕ‫ئًَا انًإيٌُٕ ئخٕة فأصهحٕا بٍٍ أخٌٕكى ٔاحقٕا هللا نؼهكى حسح‬ 49.10. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. 2. HR Muslim No. 1080 ‫فاقدزٔا نّئًَا انشٓس حسغ ٔػشسٌٔ فال حصٕيٕا حخى حسِٔ ٔال حفطسٔا حخى حسِٔ فاٌ غى ػهٍكى‬ Sesungguhnya sebulan itu 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa sampai kalian melihatnya (hilal), dan janganlah kalian berhari raya sampai kalian melihatnya, jika kalian terhalang maka takarkan/perkirakan/hitungkanlah dia. => Arab Saudi = saudara kita.. kalau mereka sdh menetapkan Ramadhan, Syawal dsb, sebaiknya kita ikuti mereka.. (jangan ikutin ahli astronomi yg ilmunya cetek, gak ada setetes dari ilmu Allah yg selautan) 3. ―imkan rukyat 2 derajat‖

=> 0 = bukan bilangan atau sesuatu yg tidak ada. kalo angka 2 = bilangan.. jadi kalo ada yg melihat hilal 0,5 derajat pun itu artinya ―sudah melihat hilal = hilalnya ada‖ ===> ga perlu gelar propesor buat mengerti soal ini <== Balas  agus, on 2 September 2011 at 05:17 said: Ass.wr.wb. iya, sudahlah jng saling caci maki, sesama muslim, yg mulai dan yg membalas sama2 dosanya, trus gimana ilmunya puasa, kok udah ditinggalkan. Kl mihak nabi muhamad sih gak apa2, biarpun sampai meninggal sekalipun, kl mihak ormas, amit2

Rundingkan lah bersama2 biar sama2 enaknya, kl bisa diuji, uji aj kebenaran ilmunya masing2, yg dr nu atau muhamaddiyah, biar tahu, selain itu pemerintah gak usah campur tangan biar gak kelihatan memihak salah satu ormas.

yg perlu anda tahu pendiri2 nu dan muhammadiyah, itu jg orang2 hebat dijamannya dan pahlawan2 wassalam Balas  Toni Jamaludin, on 2 September 2011 at 06:13 said: Penetapan Lebaran Pemerintah Tidak Sah dan Melecehkan Syariat Islam? http://m.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/08/31/15980/penetapan-lebaran-pemerintahtidak-sah-dan-melecehkan-syariat-islam/ JAKARTA (voa-islam.com) – Keputusan Pemerintah menetapkan 1 Syawal jatuh pada Rabu 31 Agustus 2011, dinilai tidak sah dan batal demi hukum karena menganulir Tim Rukyat yang telah melihat hilal Senin 29 Agustus. Pemerintah dikecam telah melecehkan syariat Islam dan melakukan kebohongan publik terhadap hasil Tim Rukyat Cakung dan Jepara. kita, bisa2 sama2 satu keturunan dr nabi muhammad,

Hal itu diungkapkan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), menanggapi keputusan pemerintah yang menetapkan 1 Syawal dengan menganulir hasil penglihatan hilal oleh Tim Rukyat Cakung Jakarta Timur. ―Keputusan sidang itsbat Kementerian Agama RI tanggal 29 Agustus 2011 batal demi Hukum,‖ jelas Ustadz Irfan Suryohadi Awwas, Ketua Lajnah Tanfidziyah MMI dalam pesan singkatnya kepada voa-islam.com, Selasa (30/8/2011). ….Keputusan sidang itsbat Kementerian Agama RI tanggal 29 Agustus 2011 batal demi Hukum… Menurut Irfan, keputusan sidang itsbat pemerintah itu tidak sah karena menolak kesaksian Tim Ru‘yat di Cakung, Jakarta Timur yang memberikan keterangan di bawah sumpah bahwa pada hari Senin 29 Agustus 2011, mereka sudah melihat hilal. Tim rukyat yang dimaksud Irfan adalah para ustadz dari Front Pembela Islam (FPI), Tim Masjid Ramadhan dan Majelis Mujahidin Jakarta Timur. Bila Senin sudah terlihat hilal, maka seharusnya Selasa sudah masuk Syawal dan umat Islam harus berlebaran pada hari itu. Dengan mengumumkan 1 Syawal jatuh pada 31 Agustus, padahal hilal sudah terlihat hari Senin 29 Agustus, lanjut Irfan, maka berarti sidang itsbat Kementerian Agama telah melakukan kebohongan publik. ―Mereka telah melakukan kebohongan publik dengan tidak mengundang saksi-saksi yang melihat hilal,‖ kecam Irfan. Ditinjau dari pandangan Islam, jelas Irfan, sikap Kemenag dalam sidang itsbat itu benarbenar melecehkan ajaran Rasulullah SAW yang mewajibkan mengikuti persaksian seorang saksi dalam menentukan 1 Syawal dan awal Ramadhan. …Mereka telah melakukan kebohongan publik dengan tidak mengundang saksi-saksi yang melihat hilal… ―Mereka melecehkan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan walaupun hanya satu orang saja yang berani disumpah sudah melihat hilal, maka itu sah,‖ jelasnya.

Sabda Nabi Muhammad yang dimaksud Irfan adalah hadits dari Abdullah bin Umar RA yang diriwayatkan Abu Dawud dalam kitab ―Shaum‖ bab ―Persaksian Satu Orang Dalam Menentukan Hilal Ramadhan‖ sebagai berikut: ―Ketika orang-orang sibuk melihat-lihat kemunculan hilal, kukabarkan kepada Rasulullah shallallahu ‗alaihi wasallam bahwa aku telah melihat hilal. Beliau pun berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.‖ Seperti diberitakan voa-islam.com sebelumnya, dalam sidang itsbat 29 Agustus Pemerintah yang menetapkan 1 Syawal jatuh pada 31 Agustus dengan menganulir hasil penglihatan hilal yang dilakukan Tim Rukyat Cakung Jaktim dan Jepara Jateng. Tim Rukyat di Cakung, Jakarta Timur telah melihat hilal antara jam 17.57 sampai 18.02 WIB dengan tinggi hilal hakiki 04‘03‘26,06″, dilihat oleh tiga orang saksi: H Maulana Latif SPdI, Nabil Ss dan Rian Apriano. Ketiga saksi tersebut diambil sumpahnya oleh KH Maulana Kamal Yusuf (Rois Syuriah PWNU DKI Jakarta), didampingi Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab, dan Pimpinan Pondok Pesantrean Al-Itqon, KH Mahfud Assirun. Pengambilan sumpah dilakukan di Pondok Pesantren Al-Husainiah, Kampung Baru, Cakung, Jakarta Timur. Tim Rukyat di Cakung itu melakukan dengan tiga metode rukyat. Masing-masing, 4,35 derajat, 3 derajat, dan 2 derajat. Ketiga saksi dengan metode masing-masing mengaku melihat hilal. Hasil rukyat di Cakung itu sempat dilaporkan oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag, Ahmad Jauhari, di depan Sidang Itsbat. Namun pemerintah menganulir persaksian itu, karena menganggap hilal tidak mungkin dirukyat karena posisinya di bawah ufuk. Karena berpedoman pada hasil rukyat, maka KH Maulana Kamal Yusuf yang dikenal sebagai salah satu ulama besar Jakarta ini menyerukan kepada umat Islam yang masih berpuasa hari Selasa 30 Agustus 2011, agar segera berbuka puasa. Karena puasa pada 1 Syawal hukumnya haram. ―Bagi yang saat ini masih berpuasa dianjurkan untuk segera berbuka. Karena haram hukumnya berpuasa pada 1 Syawal,‖ tegasnya. Persaksian lain yang juga dianulir sidang itsbat adalah Tim Rukyat di Pantai Kartini, Kabupaten Jepara Jawa Tengah, yang memberikan kesaksian di bahwa sumpah bahwa

mereka telah melihat hilal berada di sebelah kiri matahari pada pukul 17.39 selama 5 detik. Anggota tim yang melihat hilal adalah Saiful Mujab, yang merupakan tim rukyat dari akademisi dan juga dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus. Persaksian tim yang terdiri dari Kemenag Kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati, perwakilan dari Nahdlatul Ulama (NU), dan Badan Hisab dan Rukyat dari Jepara, Kudus, dan Pati, sejumlah tokoh Islam, MUI Jepara, dan Muspida Jepara itu juga sudah disampaikan ke Pemerintah Pusat melalui Pemerintah Provinsi Jateng. Namun persaksian di bawah sumpah itu tidak menghalangi pendirian Pemerintah untuk bersikukuh menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari Rabu 31 Agustus 2011. Balas  yoena, on 2 September 2011 at 06:22 said: MAJU TERUS.. PANTANG MUNDUR PROF.. Balas  Rony Mukhlishon, on 2 September 2011 at 06:23 said: Ini bukan persoalan Muhammadiyah yang saklek mengacu hisab dan rukyatnya… tapi jika sudah ada hilal … tapi tetaplah tidak hilal boleh ditolak ) ( inilah mengapa ada Kyai NU yang berlebaran hari Selasa… karena patokannya bukan Muhammadiyah… . KH Maulana Kamal Yusuf, salah satu ulama besar di Jakarta yang juga menjabat Rois Suriah Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta, mengatakan, hari ini, Selasa (30/8), sudah masuk 1 Syawal 1432 H. Bagi umat muslim yang masih melaksanakan ibadah puasa dianjurkan . http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/kabar-ramadhan/11/08/30/lqqfgp-nu-hari-ini-1syawal-yang-puasa-segera-berbuka untuk segera berbuka puasa.

Balas  fahrudin rogoselo, on 2 September 2011 at 06:24 said: ilmuwan berdalih pencerahan namun berkeses memperkeruh keadaan…ilmuwan semestina santun…ilmuwan mestinya tak menganggap dirinya paling benar…dan menganggap orang lain usang….waduh…hebat sekali dia…Jangan gitu-gitu amat To Mas….Saling menghargai lah…. Balas  mrabuzaidwartono, on 2 September 2011 at 06:30 said: Prof…….Mohon baca ini juga ya Prof…… http://www.facebook.com/notes/persyarikatan-muhammadiyah/otoritas-dan-kaidahmatematis-refleksi-atas-perayaan-idulfitri-1432-h-tanggapan-/10150272022161695 Balas  Kasmui, on 2 September 2011 at 08:39 said: Prof, kalimat dan forum yang anda pilih dalam sidang itsbat kemarinin kurang etis, semestinya anda memilih kalimat yg santun dan tidak tendensius. Menurut saya, anda menjadi pemicu ketidakrukunan dalam masalah itjihad yg juga dianut di banyak negara. Tidak perlu tunjuk hidung gitu… Terbukti kan akhirnya mayoritas dunia berhari raya selasa, termasuk malaysia, singapura dan negara timteng. Istighfar prof, masih ada langit di atas langit … Balas  Toni Jamaludin, on 2 September 2011 at 09:25 said:

Otoritas dan Kaidah Matematis: Refleksi Atas Perayaan Idulfitri 1432 H (Tanggapan Atas Kritik by Persyarikatan Muhammadiyah Thomas on Friday, 02 September Djamaluddin) 2011 at 08:47

(Oleh: Prof. Dr. H Syamsul Anwar, MA. Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) Alhamdulillah hari raya Idulfitri 1432 H telah dapat dirayakan dengan khidmat. Walaupun ada perbedaan tentang hari jatuhnya Idulfitri itu, di mana pada satu sisi ada yang menjatuhkannya pada hari Selasa 30 Agustus 2011 dan di sisi lain ada yang menjatuhkannya pada hari Rabu 31 Agustus 2011, namun masing-masing pihak telah dapat menjalankannya dengan damai dan rukun, tanpa terjadi pertikaian antara pihak-pihak yang merayakannya pada hari berbeda itu. Bahkan masyarakat umum yang tidak begitu memahami sumber masalah perbedaan itu dapat memilih hari yang mereka inginkan untuk beridulfitri. Akan tetapi meskipun Idulfitri telah berjalan dengan damai dan rukun, tetap saja tersisa permasalahan yang timbul dari perbedaan itu. Tidak dipungkiri bahwa perbedaan jatuhnya hari raya itu adalah suatu ketidaknyamanan karena ada ketidakbersamaan kaum Muslimin dalam merayakannya. Di satu sisi ada yang saling kunjung ke rumah tetangga dan makanmakan, sementara yang lain masih berpuasa. Namun juga harus diakui bahwa penyatuan jatuhnya hari Idulfitri itu tidak gampang, tidak semudah sepasang remaja bikin janji ke pantai bersama, ―Mas Minggu besok rekreasi bareng ya di pantai, soalnya habis ujian semester pikiranku buntet banget, perlu refreshing.‖ ―Ya, setuju, aku juga sama. Dah, besok kuampiri ya!‖ Selesailah masalah. Kesepakatan untuk ―rekreasi Minggu besok‖ tidak memerlukan pertimbangan ilmiah yang mendalam karena itu hanya soal selera dan bisa diputuskan dengan prinsip ―setuju-setuju saja‖. Namun tentu tidak demikian halnya dengan penentuan jatuhnya hari raya semisal Idulfitri atau Iduladha. Masalah ini bukan soal selera. Masalah ini memerlukan suatu kajian panjang dan mendalam baik dari segi ilmu syariah maupun dari segi ilmu astronomi. Keputusan itu tidak dapat diambil berdasarkan prinsip ―setuju-setuju saja‖. Ini semua tentu menjadi tantangan para ilmuwan terkait baik dari bidang syariah maupun astronomi. Diskusi mengenai masalah ini cukup ramai. Dan dalam diskusi yang ramai itu ada pakar yang langsung menyalahkan Muhammadiyah karena terlalu jumud berpegang kepada hisab wujudul hilal (walaupun Muhammadiyah juga dapat mengatakan hal yang sama bahwa pihak lain terlalu kaku berpegang kepada rukyat atau hisab imkanur rukyat 2 derajat yang tidak ilmiah itu). Dikatakan, ―sumber masalah utama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh

menggunakan hisab wujudul hilal.‖ Dikatakan lagi, ―Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itu sebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama ketika dibandingkan dengan metode rukyat. Tentu saja mereka [adalah] anggota fanatik Muhammadiyah, tetapi sesungguhnya tidak faham ilmu hisab, seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal.‖ ―Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.‖ Tampaknya nada statemen ilmuwan tersebut sangat memihak dan sedikit emosional juga terasa ada semacam (dengan bahasa diperhalus) ―kebanggaan‖ tersembunyi atas status sebagai astronom senior. Seolah-olah apa yang berjalan sekarang ini, itulah yang betul dan karena itu tidak dikritik. Justeru yang mengkritik dan menolak, dalam hal ini Muhammadiyah, adalah pihak yang harus dipersalahkan sebagai biang keladi permasalahan. Dalam sejumlah tulisan pakar bersangkutan, penulis belum menemukan kritik-kritiknya terhadap penetapan awal bulan kamariah yang berlaku sekarang, kecuali kritik terhadap kriteria yang dipakai sebagian ormas seperti Muhammadiyah. Juga disayangkan pakar bersangkutan belum pernah menyarankan satu rancangan kalender pemersatu yang pasti padahal di tangannya terdapat perangkat ilmu untuk itu. Apakah orang Muhammadiyah sangat fanatik terhadap hisab wujudul hilal? Hal itu mungkin saja demikian, tetapi jelas tidak semuanya. Tentu banyak ahli-ahli falak Muhammadiyah yang juga mengerti hisab yang lain dan dapat membandingkannya dan kemudian dari hasil perbandingan itu menjatuhkan pilihan pada hisab wujudul hilal. Penulis sendiri adalah warga Muhammadiyah (dengan bidang studi syariah, bukan astronomi) yang tentu secara emosional akan sangat bersimpati dengan kebijakan penetapan awal bulan Muhammadiyah. Tetapi di sini penulis tidak ingin membela hisab wujudul hilal. Hisab wujudul hilal hanyalah salah satu metode hisab penentuan awal bulan di antara sekian metode hisab yang ada. Walaupun demikian tentu boleh memberi pendapat. Cuma memang pasti akan dirasakan sebagai sebuah pendapat apologis karena diberikan oleh orang yang secara emosional adalah bagian daripadanya. Namun demikian silahkan pembaca untuk melihatnya secara obyektif saja. Kalau soal usangnya, munurut penulis, hisab wujudul hilal tidak usang-usang banget. Hisab ini merupakan perkembangan dari hisab-hisab sebelumnya yang dirasa tidak dapat memberikan kepuasan. Di Arab Saudi, hisab wujudul hilal dipakai oleh Pusat King Abdul Aziz untuk Pengembangan Sains dan Teknologi, yang bertanggungjawab atas penyusunan kalender resmi pemerintah Arab Saudi Kalender Ummul Qura yang berkembang luas di

berbagai bagian dunia termasuk digunakan oleh Windows Vesta, baru pada tahun 1424 H (baru sejak 7 tahun lalu) karena kasus bulan Rajab 1424 H (Agustus 2003). Sampai saat itu kaidah kalender yang digunakan adalah moonset after sunset (artinya bahwa apabila pada sore hari ke-29 bulan berjalan, bulan terbenan sesudah terbenamnya matahari, maka malam itu dan keesokan harinya adalah bulan baru). Namun ternyata kaidah kalender tersebut mengalami problem dengan ―hilal‖ Rajab 1424 H pada sore Rabu 27 Agustus 2003 M. Pada sore itu matahari terbenam di Mekah (Kakbah) pukul 18:45 Waktu Saudi dan bulan terbenam 8 menit kemudian, yakni pukul 18:53 Waktu Saudi. Jadi kriteria bulan baru telah terpenuhi, yaitu bulan tenggelam sesudah tenggelamnya matahari, sehingga mestinya malam Kamis 28 Agustus 2003 M dan keesokan harinya (Kamis 28 Agustus 2003 M) adalah tanggal 1 Syakban 1424 H. Tetapi ternyata saat matahari terbenam sore Rabu 27 Agustus 2003 itu belum terjadi ijtimak (konjungsi) karena ijtimak terjadi hampir dua jam kemudian, yakni pukul 18:26 Waktu Saudi. Karena kasus ini, para penanggung jawab kalender Ummul Qura memperbaiki kaidah kalendernya dengan menambahkan satu parameter baru, yakni saat matahari terbenam harus sudah terjadi ijtimak. Sejak saat itu kemudian kalender Ummul Qura memakai wujudul hilal. Jadi ini adalah perkembangan dari metode sebelumnya yang dirasa tidak memuaskan. Di dalam Muhammadiyah hisab wujudul hilal sudah digunakan sejak abad yang lalu. Sejak penulis mulai masuk menjadi pengurus Muhammadiyah tahun 1985 di PMW DIY dan sejak tahun 1990 di Pimpinan Pusat, hisab ini sudah dipakai dan terus berlaku hingga sekarang. Ada perubahan, namun hanya perubahan cara menghitung, bukan perubahan kriteria (kaidah memulai bulan baru). Harap dibedakan antara kaidah memasuki bulan baru dan metode perhitungan. Kaidah memasuki bulan baru dalam hisab wujudul hilal adalah tiga parameter yang kita semua sudah tahu, yaitu (1) telah terjadi ijtimak, (2) ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, (3) saat matahari terbenam hilal di atas ufuk. Kriteria ini adalah suatu kriteria yang sifatnya non penampakan, karena itu tidak memerlukan observasi untuk mengujinya seperti halnya peristiwa ijtimak dan terbenamnya matahari tidak diobservasi. Kalau diragukan akurasi kriteria ini, jangan-jangan bulan sebetulnya di bawah ufuk, namun diklaim di atas ufuk karena kurang akurasinya perhitungan, maka ini bukan soal kriteria itu sendiri, melainkan ini adalah soal akurasi metode menghitung posisi bulan. Metode menghitung ini bisa terus menerus diperbaiki. Dalam praktik wujudul hilal di Muhammadiyah metode menghitung ini mengalami perkembangan dalam hal daftar ephemeris yang menjadi sumber data benda langit pada waktu tertentu yang digunakan. Di

Zaman Kiyai Wardan, sebagaimana disebutkannya dalam bukunya Hisab Urfi dan Hakiki, digunakan daftar yang diambilnya sebagian dari kitab al-Mathla‘ as-Sa‘id fi Hisabat alKawakib ‗ala ar-Rashd al-Jadid dan dari Zij Aala‘uddin Ibn Syathir, kemudian pada zaman Sa‘duddin Dajmbek digunakan digunakan nautical almanac, lalu terakhir digunakan Ephemeris Hisab Rukyat.Bahkan rumus hitungannya pun terbuka untuk dikoreksi tanpa mengubah kaidah memasuki bulan baru itu sendiri. Kalau metode hitung ini juga mau diuji secara empiris pun bisa dilakukan tanpa mengubah kriterianya. Ketika hilal dihitung dengan metode ini ternyata tingginya adalah 6 derajat seperti jelang Ramadan lalu, maka silahkan diuji melalui observasi apa memang betul tingginya 6 derajat. Kalau betul, berarti hitungan itu akurat atau mendekati akurat. Kalau tidak, berarti metode menghitungnya harus diperbaiki tanpa mengubah kaidah bulan baru itu sendiri. Jadi alasan bahwa hisab wujudul hilal lemah karena tidak dapat diuji secara empiris adalah tidak relevan. Apa yang dikemukakan di atas adalah suatu pendapat, tidak bermaksud memberikan apologi terhadap keunggulan wujudul hilal. Silahkan pembaca menilainya. Penulis juga ingin mengajak pembaca untuk melihat suatu yang menurut penulis adalah hal positif dalam kebijakan penetapan awal bulan Muhammadiyah itu. Tetapi ini mungkin sekali lagi terasa sebagai sebuah apologi karena dikemukakan oleh orang yang merupakan bagian dari sistem bersangkutan. Tetapi tujuan penulis di sini tidak hendak berapologi. Hanya ingin mengemukakan pendapat. Ini tentu sah-sah saja, dan sekali lagi silahkan pembaca melihatnya secara obyektif saja. Hal positif dimaksud adalah bahwa dalam kebijakan penetapan awal bulan Muhammadiyah itu terkandung suatu nilai edukasi bagi masyarakat luas bahwa suatu sistem penanggalan yang baik adalah suatu sistem kalender yang dapat memberikan penjadwalan waktu yang akurat dan pasti jauh ke depan sehingga bisa dipedomani jauh-jauh hari sebelumnya. Sistem yang tidak dapat memberikan penjadwalan waktu (hari/tanggal) yang pasti jauh ke depan adalah suatu sistem yang buruk dan bertentangan sifat sebagai sebuah kalender yang terstruktur secara seksama, bahkan bertentangan dengan maksud dari kalender itu sendiri. Sistem kalender bertujuan untuk memudahkan masyarakat penggunanya merencanakan kegiatannya disesuaikan dengan sistem penjadwalan waktu yang dimilikinya. Untuk itu sistem waktu tersebut harus akurat dan pasti agar rencana kegiatannya tidak menjadi berantakan akibat sistem waktu yang tidak pasti. Suatu sistem penanggalan yang akurat dan bagus harus dapat menjadwalkan waktu secara pasti ke depan dan harus dapat dilacak secara pasti pula jadwal waktunya di masa lalu. Untuk itu penetapan jadwal waktu itu harus lahir dari kaidah matematis kalender itu sendiri tanpa campur tangan otoritas luar mana

pun selain dari kaidah kalender tersebut. Apabila setiap penetapan momen penting ditentukan oleh suatu otoritas lain di luar kaidah matematis kalender itu sendiri, maka kita akan menghadapi penjadwalan waktu yang tidak pasti karena jawal waktu tersebut akan sangat tergantung kepada ketetapan yang akan dikeluarkan pada detik-detik akhir menjelang saat dimulainya momen bersangkutan. Sebaliknya juga kita tidak dapat melacak jadwal waktu penanggalan tersebut di masa lalu karena tidak lahir dari kaidah matematisnya yang ajek. Kita harus mencari arsip surat keputusan otoritas yang menetapkannya hari apa ia menjatuhkan 1 Syawal tahun tertentu di masa lampau. Ini adalah sistem yang buruk. Saudarasaudara kita umat Kristiani dalam menentukan kapan melakukan selebrasi hari Natal telah dapat mengetahui hari jatuhnya jauh hari sebelumnya berdasarkan kaidah kalender Masehi yang mereka gunakan, bukan karena keputusan otoritas penguasa yang melakukan isbat menjelang saat dimulainya momen itu. Jadi apabila Muhammadiyah dikatakan terlalu kuat berpegang kepada hisab, hal itu adalah karena alasan ini. Dari segi keserhanaan prosedur, biaya murah, dan kemampuan memberikan kepastian jadwal tanggal di masa depan, pendekatan Muhammadiyah jauh lebih maju. Dalam sistem kalendernya, penentuan tanggal merupakan hasil dari logika kalender sendiri tanpa campur tangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan memang ia tidak mempunyai kewenangan itu. Pimpinan Pusat hanya mengumumkan hasil dari sistem kalender itu sendiri dan karena itu dapat dilakukannya jauh hari sebelumnya dan itu sangat memudahkan bagi masyarakat untuk menyusun dan menyesuaikan kegiatan hidupnya. Memang, kalender Muhammadiyah itu belum bersifat global dan ini tentu menjadi tantangan para ahli ilmu falak dan astronom Muhammadiyah untuk melakukan kajian guna menyempurnakan sistemnya hingga dapat menjadi suatu kalender pemersatu yang baik. Kebijakan penggunaan hisab dengan memastikan penjadwalan waktu jauh hari sebelumnya sekaligus merupakan suatu kritik yang tidak diucapkan, melainkan disampaikan melalui praktik, terhadap kebijakan penjadwalan waktu dalam kalender yang, maaf kalau ini subyektif, amat buruk yang berlaku sekarang. Bayangkan menjelang detik-detik terakhir, awal bulan baru belum dapat ditentukan karena otoritas ―berwenang‖ belum menetapkannya. Betapa tidak buruk, orang Muslim di Indonesia bagian timur sudah pukul 10:00 malam WIT masih belum mendapat kepastian apakah masih akan salat tarawih atau akan melakukan takbiran untuk menyambut datangnya lebaran. Kalau ternyata besoknya belum lebaran berarti mereka akan melaksanakan salat tarawih setelah jam 10:00 malam itu yang mereka mungkin

sudah ngantuk dan lelah karena seharian berpuasa dan bekerja berat. Seandainya ada suatu sistem kalender yang pasti yang bisa menetapkan penjadwalan waktu jauh hari sebelumnya berdasarkan kaidah kalender itu sendiri, maka para tokoh alim ulama, para pakar ilmuwan dan para pejabat yang berkumpul di sidang isbat itu tentunya akan bisa berada di mesjid untuk salat tarawih bila menurut kalender lebarannya lusa, atau takbiran guna menyambut lebaran besok harinya. Penulis setahun lalu pernah mendapat keluhan dari mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri di mana umat Islam minoritas. Keluhannya adalah mendapat kesulitan untuk menyewa tempat salat id karena tempat tersebut harus dibooking jauh hari sebelum id, sementara ketentuan lebarannya belum pasti kapan karena masih menunggu hasil rukyat. Serta banyak lagi keluhan lain semisal pekerja Muslim di negara minoritas Islam sulit mendapatkan cuti Idulfitri karena tidak bisa memberi kepastian jatuhnya id jauh hari sebelumnya. Semua ini terjadi karena tiadanya suatu sistem kalender yang memastikan tanggal berdasarkan kaidah kalender itu sendiri. Yang ada adalah menanti keputusan otoritas kekuasaan yang akan memutuskannya pada detik-detik terakhir menjelang hari H. Selain itu penyelenggaraan sidang isbat untuk menentukan kepastian tanggal itu juga tentu memakan biaya besar, apalagi ditambah dengan biaya tim pengintai hilal di puluhan titik pengamatan. Apabila sistem kalender menggunakan metode yang lebih sederhana tetapi pasti tentu biaya itu tidak perlu dikeluarkan. Apa itu bukan sebuah pemborosan yang sebetulnya bisa digunakan untuk keperluan lain yang lebih mendesak. Akan tetapi hal ini memang tidak dapat dielakkan dalam suatu sistem penetapan awal bulan yang berbasis rukyat karena rukyat harus divalidasi oleh otoritas berwenang. Para astronom yang terlibat dengan persoalan ini nampaknya tidak memberi perhatian serius terhadap masalah ini. Tidak pernah terdengar kritik-kritik mereka, seakan sistem yang ada ini adalah hal yang wajar saja. Untuk sebagian mungkin dapat dimaklumi karena mereka adalah bagian dari sistem itu sendiri. Bahkan bukan hanya sekedar bagian, melainkan juga adalah pendukung bersemangat yang tidak kurang ―fanatiknya dibandingkan dengan kefanatikan pendukung wujudul hilal dalam Muhammadiyah.‖ Para pendukung sistem sekarang ini juga terbelenggu oleh metode mereka sendiri sehingga tidak dapat memanfaatkan perangkat keilmuan yang ada di tangan mereka untuk suatu pembaruan yang berorientasi kepada suatu sistem penanggalan yang dapat menjadwalkan waktu secara pasti di masa depan dan juga dapat melacak tanggal di masa lalu secara akurat melalui kaidah sistem itu sendiri.

Syarat untuk pembaruan ini memang berat. Kita harus rido meninggalkan rukyat yang sesungguhnya hanyalah warisan masa lalu yang telah usang dan tidak lagi mampu memenuhi hajat sistem penanggalan umat Islam kontemporer. Bahkan, menurut Ketua Asosiasi Astronomi Maroko, ―sebab umat Islam belum dapat memiliki suatu sistem penanggalan global terpadu adalah karena mereka masih terlalu kuat berpegang kepada rukyat.‖ Jadi sudah saatnya kita beranjak dari rukyat jika kita ingin mencapai suatu sistem penanggalan yang baik. Ini bukan pendapat subyektif personal, melainkan hasil dari sebuah konferensi internasional yang juga dihadiri oleh para pakar yang sebagian mereka memiliki reputasi dunia. Pada butir kedua dari kesimpulan Temu Pakar II tahun 2008 ditegaskan bahwa para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan kamariah di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan kamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu salat. Para ahli fikih pun banyak yang berpendapat demikian. Bahkan Syeikh Syaraf al-Qudhah, setelah melakukan kajian terhadap ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis terkait masalah hisab-rukyat menegaskan al-ashlu fi itsbat asy-syahri an yakuna bil-hisab (pada asasnya penetapan awal bulan itu adalah dengan hisab). Di sini bukan tempatnya untuk menjelaskan argumen beliau untuk pandangannya tersebut. Hisab imkanu rukyat, yang sering diklaim sebagai alternatif terbaik, bukannya tanpa masalah. Kreteria imkanu rukyat sendiri ada sebanyak pakar yang mengusulkannya. Akan tetapi ini mungkin bisa diatasi dengan dengan para pakar itu sendiri bersepakat. Tetapi bukan sekedar sepakat, melainkan berdasarkan hasil riset yang komprehensif. Akan tetapi terlepas dari soal kriteria itu, hisab imkanu rukyat yang ada sekarang masih belum dapat menyatukan penanggalan umat Islam. Sebagai contoh adalah Kalender Hijriah Universal (al-Taqwim alHijri al-‗Alami) yang dibuat oleh Muhammad Audah (Odeh). Kalender ini didasarkan kepada kriteria imkanu rukyat Audah sendiri sebagai hasil analisis statistik terhadap 737 hasil rukyat akurat dan teruji. Namun problemnya kalender ini masih harus membelah dunia menjadi dua zona tanggal yang pada masing-masingnya berlaku tanggal berbeda pada tahun tertentu. Akibatnya kalender ini tidak dapat menyatukan jatuhnya hari Arafah antara Mekah dan kawasan dunia lainnya. Audah adalah pendukung rukyat bersemangat. Baginya tidak mungkin memulai awal bulan baru di dunia Islam tanpa terjadinya imkanu rukyat di salah satu tempat di kawasan dunia Islam yang terbentang dari Maroko hingga Indonesia. Namun kalendernya sendiri dalam sejumlah kasus menjadikan dunia Islam masuk bulan baru pada hal imkanu rukyat deengan teropong hanya terjadi pada kawasan sangat kecil di barat

Portugal atau di bagian barat Inggris. Dari 20 tahun jadwal tanggal dalam Kalender Hijriah Universal Audah ini (sejak 1431 H s/d 1450 H) terdapat 9 kali (45 %) terjadinya perbedaan jatuhnya hari Arafah sehingga menimbulkan masalah kapan melaksanakan puasa Arafah. Pendapat bahwa hari Arafah hanya penamaan hari 9 Zulhijjah, sama dengan hari Nahar (10 Zulhijjah) dan hari Tasyrik (11-13 Zulhijjan), dan hari Arafah di Arafah adalah hari wukuf, tetapi tidak harus sama untuk seluruh dunia sehingga puasa Arafah boleh beda harinya dengan hari wukuf di Arafah, pendapat tersebut bukanlah suatu penjelasan ilmiah. Pendapat ini hanya penjelasan sementara yang sifatnya lebih politis, bukan syar‘I, yang hanya dapat dipegangi sementara waktu saat kalender umat Islam masih kucar kacir. Pendapat ini hanya untuk menenangkan masyarakat yang tanggal 9 Zulhijahnya jatuh berbeda dengan hari Arafah di Mekah. Apabila dikatakan bahwa mereka yang berpuasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijah di tempatnya sementara di Mekah sudah Iduladha (10 Zulhijah) tidak sah puasanya, maka akan timbul kebingungan di tengah masyarakat yang tidak tahu apa-apa tentang problem penanggalan Islam. Akan tetapi secara ilmiah dan berdasarkan sistem penanggalan yang valid, hari Arafah harus jatuh sama di seluruh dunia, dan kalender yang menjatuhkannya berbeda adalah kalender yang tidak valid. Itulah mengapa dikatakan bahwa penyatuan penanggalan Islam harus bersifat global. Siapa pun yang membuat suatu rancangan kalender Islam, maka kaidah kalender itu harus bersifat global dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia, sehingga penanggalan tersebut benar-benar menjadi suatu sistem penandaan hari yang akurat di dalam aliran waktu di masa lalu, kini dan akan datang. Kalau dikatakan bahwa perbedaan jatuhnya hari Arafah (9 Zulhijah) itu adalah suatu konsekuensi yang tidak terelakkan, maka ini dapat dikatakan sebagai suatu konsekuensi yang buruk. Konsekuensi buruk ini tentu timbul dari anteseden yang buruk pula, yaitu rukyat atau hisab imkanu rukyat yang selalu membelah bumi dan kurve yang membelah bumi itu dijadikan batas tanggal. Akan halnya imkanu rukyat 2 derajat sebagaimana diamalkan di Kemenag adalah kaidah kalender yang sama sekali tidak ada dasar syar‘inya apalagi dasar astronomis. Semua astronom tentu sangat mengetahui hal ini. Para meter tunggal saja, yaitu ketinggian, adalah parameter yang buruk. Para astronom sudah hampir sepakat bahwa parameter imkanu rukyat yang baik haruslah sekurangnya ganda, misalnya ketinggian plus elongasi, atau ketinggian plus lebar permukaan bulan yang tersinari matahari yang menghadapi ke bumi, dan lain sebagainya. Parameter tunggal, seperti ketinggian saja, elongasi saja, umur bulan saja atau

mukus hilal saja, sama sekali tidak akan dapat meramalkan visibilitas hilal secara lebih sahih. Apalagi kalau parameter tunggal itu cuma dengan ukuran ketinggian 2 derajat. Ini dalam kasus tertentu hanya akan membuat kita hidup dalam ilusi atau bahkan bisa juga dalam kepalsuan atau kebohongan. Apabila ketinggian bulan berada antara 2 s/d 5 derajat, maka ini berpotensi untuk terjadinya apa yang dikatakan di atas. Seperti kasus Ramadan tahun lalu, ketinggian hilal hanya sekitar 2,5 derajat. Namun diputuskan hilal telah dapat terlihat karena ada saksi-saksi yang mengklaim dapat merukyat dan karenanya keesokan harinya dinyatakan bulan baru (seperti Ramadan 1431 H). Pada hal tidak ada seorang astronom pun dapat membuktikannya terlihat. Data ketinggian hilal Ramadan 1431 H itu jauh di bawah kriteria imkanu rukyat Audah, bahkan juga kriteria Istanbul 78. Salah seorang teman dosen pengajar ilmu falak mengatakan bahwa selama 7 tahun pengalamannya mengikuti rukyat belum pernah terjadi bahwa hilal dengan ketinggian di bawah 5 derajat dapat terukyat. Apa ini tidak berarti bahwa kita hidup dalam ilusi atau di bawah bayang-bayang kepalsuan. Kenapa kita tidak realistis saja? Kenapa kita tidak mengambil sistem yang lebih sederhana, tidak berbiaya tinggi, tetapi dapat memberikan kepastian jadwal tanggal jauh ke depan sehingga memudahkan kehidupan kita? Wallahu a‘lam bis-sawab. Allahummagfir li khata‘i. Innaka antal-gafurur-rahim. Balas

Oos Depok, on 3 September 2011 at 12:16 said: Buka http://moonsighting.com/archive.html klik RMD (Ramadhan) amati dari 1423H s/d 1433H. HANYA PADA 1427H/2006 – 1428/2009 sajalah bisa melihat hilal dengan 2,3,4,5 Jadi mau di undur teruskah 1 Syawalnya sedangkan dari Ilmu Hadits Rasulullah: Bulan yang berjumlah 29 hari adalah hari raya Ramadan dan bulan Zulhijah Hadis riwayat Ummu Salamah ra.: ini:

Bahwa Rasulullah saw. pernah bersumpah tidak akan menemui sebagian istri-istrinya selama sebulan. Dan setelah 29 hari berlalu, beliau datang menemui mereka. Kemudian beliau ditanya: Wahai Nabi! Baginda bersumpah tidak akan menemui kami

selama satu bulan. Mendengar itu, beliau bersabda: Sesungguhnya bulan itu berjumlah 29 hari. (Shahih Muslim No.1816)

Arti pernyataan Nabi saw. bahwa dua bulan yang terdapat hari raya, jumlah harinya tidak Hadis riwayat Abu Bakrah berkurang. ra.:

Dari Nabi saw., beliau bersabda: Dua bulan yang terdapat hari raya, harinya tidak berkurang; hari raya Ramadan dan bulan Zulhijah. (Shahih Muslim No.1822) Demi Kebangkitan Islam, Bukan Kebangkitan Islam Indonesia Saya tidak dukung NU,Muhammadiyah,Persis dan lain2, SAYA Dukung Al Quran dan Hadits sebagai pembukti antara yang benar dan yang salah.

http://www.berilmu.com Balas

 SHELLAYART PREDICTIONS, on 2 September 2011 at 09:31 said: Ass pak prof. Kenapa coment2 sy tdk ditampilkan? Apa krn coment sy terlalu memojokkan anda? Sportiflah prof, jngn hanya coment yg mendukung anda yg ditampilkan. Sy yakin pak prof sendiri tdk menyangka klau artikel bpk diatas bakal menimbulkan reaksi besar di masyarakat luas. Anggaplah ini suatu pelajaran berharga dlm hidup anda. Ketahuilah prof, hanya orang2 bodoh yg mau mengulangi kesalahan untk yg kedua kalinya, yg jelas2 akan merugikan dirinya sendiri.

Berbekal pendidikan yg cukup serta ilmu pengetahuan yg diperoleh dr bangku sekolah belumlah cukup krn msh banyak ilmu yg perlu kita gali dimasyarakat luas yg tdk bs kita peroleh Terima Slm hormat dr jauh. Balas  qm4n, on 2 September 2011 at 10:21 said: melalu kasih bangku sekolah. prof.

Assalamu

alaikum

warrahmatullahi

wa

barakatuh..,

maaf saudara sudariku yang berdebat di sini, ane cuma mau tanya tuh yang sebelah kanan (Fase Bulan Saat ini: Kiri arah Barat, Kanan arah Timur) koq menunjukkan tanggal hari ini adalah tanggal 4 Syawal 1432H???? itu didapat dari hasil ―ruyat‖ atau ―hisab‖ yaa?? koq cocok sama hasil ―hisab‖ Muhamadiyah yg di kritik oleh T. Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN,Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI yang merasa sangat pintar dan lebih pintar dari orang lain???????????????????????? Balas  eny ros, on 2 September 2011 at 10:31 said: Untuk lebih jelasnya mengapa lebaran tgl 30 agust, tanyakan alasanya pada ahli hisabnya Muhammadiyah, PITI, Pesantren Gontor, Para ahli UNhas, Beberapa Pembesar NU di Jatim. Dan alasan lebaran 31 Agust tanyakan pada pemerintah, NU. Smoga ini mejadi pelajaran yang berharga. Balas  Romadhon Fahrullah, on 2 September 2011 at 10:58 said: jgm menurut saling keyakinan menyalah masing2 kn aja

kalau NU menyalah kn Muhammaddiyah otomatis Muhammaddiyah jg akn menylah kn NU klau sdah sling slah psti gak akn slesai2 mslah ini trima ksih Balas  catatan sang penilai, on 2 September 2011 at 14:24 said: Terima kasih kepada Prof. T. Djamaluddin, yg sudah memberikan penjelasan secara ilmiah, saya berharap kepada semua yg comment diatas untuk menyerahkan kepada ahlinya,

―samakah orang2 yg berilmu dgn orang2 yg tidak berilmu‖, sudah saatnya para ahli astronomi dan badan antariksa dinegara ini serta ormas2 islam untuk bersatu mencari titik temu, jgn merasa kita lebih unggul dr yg lain, disinilah perlu sikap ketawaduan dan kebersamaan agar umat ini bersatu. Mengenai comment kita harus menginduk ke arab saudi tidak sepenuhmya benar, memang Islam muncul disana tp bukan berarti disana lebih baik dari daerah lainnya, kalau anda sudah pernah ke arab saudi tentu anda akan melihat islam seperti apa disana. Sebelumnya saya mohon maaf menurut pengalaman, saya hanya melihat Islam yg sesungguhnya di masjidil haram dan masjid nabawi. Selebihnya sama saja dgn daerah2 lain. Selanjutnya sudahlah kita lupakan semua perbedaan, sudah saatnya kita bersatu karena perbedaan menjadi rahmat, biarkan perbedaan ini menjadi pembelajaran bagi umat agar lebih mendalami ilmu agama terutama ilmu fiqih dan falaq, karena kebodohan umat selama ini semakin jauh dari ilmu-ilmu agama. Semoga kedepannya hidup kita dapat menunjukkan sikap sebagai seorang yang beragama termasuk cara memberi comment kita di blog manapun. Terima kasih. Balas  wafa, on 2 September 2011 at 15:19 said: Marilah saling menghormati sambil kita cari upaya untuk duduk bersama mencapai kesepakatan sehingga dalam tahun2 mendatang ummat Islam bisa berpuasa dan berhari raya pada hari yang sama sedunia. Balas  fajar, on 2 September 2011 at 15:32 said: http://fajarnindyo.blog.com/2011/09/02/kewajiban-mentaati-pemerintah-dalam-penentuaniedul-fitri-dan-iedul-adha/

Balas  Mahasiswa Bicara, on 2 September 2011 at 15:36 said: Ah, sampah ini postingan. Ga mencerahkan, menambah besar masalah aja. Cuma memprovokasi. Apa ini benar blog Pak Djamaluddin? Kalo benar, justeru Bapak lah salah satu biang masalah itu dengan provokasi ini. Saya sarankan Bapak (kalo benar ini postingannya) belajar tentang sosiologi politik khususnya bagian persatuan (unity). Semoga bermanfaat. Terima kasih. Balas  wong edan, on 2 September 2011 at 16:31 said: Indonesia memang negara yang aneh lebaran di kota yang sama bisa ada 3 hari yang berbeda liat aja masing-masing ormas keukeuh merasa dirinya paling benar, mereka semua tidak sadar telah membimbangkan umat….kesimpulannya semua tidak ada yang benar!!! semua hanya mementingkan ego sempit dan punya kepentingan!!! kalian semua hanya mengungkap dalil-dalil yang membuat kalian semua merasa paling benar…prekkk!!! Jangan mimpi membangkitkan lagi umat islam dalam sistem khalifah padahal menentukan 1 syawal dalam kota yang sama saja berbeda..kasihaaan…memangnya nabi Muhammad SAW pernah menentukan tanggal yang berbeda dalam tempat yang sama?! jadi yang kalian semua jadikan rujukan siapa??? Apakah kalian semua tau berapa kerugian yang dialami oleh umat baik dari aspek keuangan maupun psikis sewaktu perbedaan 1 syawal kemarin??? Catering merugi puluhan juta bahkan milyar, karyawan harus kehilangan banyak uang karena harus mengganti tiketnya karena berubah hari keberangkatan, belum biaya-biaya lain yang terbuang percuma padahal sudah diniatkan untuk menyemarkkan hari besar umat Islam. Secara psikis saat ini banyak keluarga mulai merasa tidak nyaman karena dalam 1 rumah berbeda-beda dalam mengakhiri waktu ramadhan….huffff….stop semua kegilaan ini!!! Hey kalian yang merasa sok hebat dengan dalil, apakah kalian tidak menyadari bahwa nabi mengajarkan 1 Islam dan setau saya bukan NU, Muhammadiyah, Persis, PUI, Al Wasliyah, Al Khairat,

Naqsabandiyah, FPI, Syiah, Sunni dst..dst…bubarin aja tuh semua ormas ga jelas dan super egois!!! Pemerintah juga tidak perlu bikin sidang itsbat kalo semua ormas itu masih ada, hanya buang-buang uang toh hasilnya juga suka-suka ormasnya…jadi sekali lagi kalian semua Baca QS:23/52-53 Balas  wong edans, on 2 September 2011 at 16:33 said: Indonesia memang negara yang aneh lebaran di kota yang sama bisa ada 3 hari yang berbeda liat aja masing-masing ormas keukeuh merasa dirinya paling benar, mereka semua tidak sadar telah membimbangkan umat….kesimpulannya semua tidak ada yang benar!!! semua hanya mementingkan ego sempit dan punya kepentingan!!! kalian semua hanya mengungkap dalil-dalil yang membuat kalian semua merasa paling benar…prekkk!!! Jangan mimpi membangkitkan lagi umat islam dalam sistem khalifah padahal menentukan 1 syawal dalam kota yang sama saja berbeda..kasihaaan…memangnya nabi Muhammad SAW pernah menentukan tanggal yang berbeda dalam tempat yang sama?! jadi yang kalian semua jadikan rujukan siapa??? Apakah kalian semua tau berapa kerugian yang dialami oleh umat baik dari aspek keuangan maupun psikis sewaktu perbedaan 1 syawal kemarin??? Catering merugi puluhan juta bahkan milyar, karyawan harus kehilangan banyak uang karena harus mengganti tiketnya karena berubah hari keberangkatan, belum biaya-biaya lain yang terbuang percuma padahal sudah diniatkan untuk menyemarkkan hari besar umat Islam. Secara psikis saat ini banyak keluarga mulai merasa tidak nyaman karena dalam 1 rumah berbeda-beda dalam mengakhiri waktu ramadhan….huffff….stop semua kegilaan ini!!! Hey kalian yang merasa sok hebat dengan dalil, apakah kalian tidak menyadari bahwa nabi mengajarkan 1 Islam dan setau saya bukan NU, Muhammadiyah, Persis, PUI, Al Wasliyah, Al Khairat, Naqsabandiyah, FPI, Syiah, Sunni dst..dst…bubarin aja tuh semua ormas ga jelas dan super egois!!! Pemerintah juga tidak perlu bikin sidang itsbat kalo semua ormas itu masih ada, hanya buang-buang uang toh hasilnya juga suka-suka ormasnya…jadi sekali lagi kalian semua Baca QS:23/52-53 Balas prekkk!!! sekian…. prekkk!!! sekian….

 Moch Samsul, on 2 September 2011 at 16:48 said: Pak TJamaluddin, saya usul ormas Islam di Indonesia memakai makkah Mean Time jadi kalo Lebaran menunggu kota Mekkah berlebaran dahulu baru kemudian kota-kota lain didunia, sehingga tidak ada lagi Lebaran dobel……setuju?????? Balas  tdjamaluddin, on 2 September 2011 at 19:43 said: Sebagian besar negara beridul fitr1 30 Agustus karena mengikut Saudi yang kontroversial secara astronomis. Sebagian besar negara yang beridul fitri 31 Agustus karena mengikut rukyat setempat. http://www.moonsighting.com/1432shw.html Balas

jordan, on 2 September 2011 at 23:46 said: apa itu termasuk malaysia dengan tim rukyat nya yang jelas2 melihat hilal pak? kalau memang kita nggak perlu mengikuti arab saudi, apa menolak sumpah orang yang melihat hilal, tidak hanya satu tapi beberapa, disumpah atas nama Allah oleh seorang Ulama, dimana tanggung jawabnya dunia akhirat pak juga merupakan bagian dari prosesi rukyat, sementara nabi saja tdk menolak kesaksian seorang arab badui terkait hilal dan membatalkan puasanya, trus kalo memang kontroversial, apakah berarti rata2 kemampuan para ahli falak dunia dibawah arab saudi sehingga begitu banyak negara didunia mengekor arab saudi? trus jangan lupa ganti widget nya pak, sesuai rukyat bapak, selamat idul fitri, mohon maaf bila ada salah kata dan tulisan Balas

imc_cho, on 3 September 2011 at 01:04 said: yg terhormat pak prof TDjamaludin…

kalau pendapat bapak tentang rukyat setempat, berarti menurut kami yg di papua sini, waktu sholat kami tdk boleh mengikuti waktu jawa, karena ada perbedaan waktu.. tp kami kok dipaksa mengikuti waktu jawa yg notabane nya beda 2 jam sama kami.. sedangkan jawa sama malaysia yg dalam satu wilayah waktu sholat ied nya beada.. apalagi kami di papua yg beda waktunya 2 jam lebih.. oh iya satu lagi pak prof, menurut pandangan kawan2 kami yg awan masalah astronomi, mereka melihat hilal di daerah abepura, jayapura papua dengan dengan mata telanjang pada tggl 30 agustus 2011 sore hari sebelum masuk magrib.. menurut bapak gmna?? apakah tgl 30 sdh masuk 1 syawal apa belom,,.??

mohon penjelasan kepada kami yang awan.. terima kasih.. Balas

Argres, on 4 September 2011 at 22:06 said: Wooow, koq kamu mau cari pembenaran. Faktanya yang tidak mengikuti provokasimu Artinya Nampaknya apa kamu dan dari ? kaum kaum kamu kan juga mas dalam banyak. thom.. kebohongan

Bohong-bohongan kamu terbelenggu

Nggak papa tho, kamu dan kaum kamu¥ 30hr,30hr,30hr Balas

 Dodo, on 2 September 2011 at 21:32 said: Laporan Prof. Sofjan: Polisi Eddi Santosa – detikNews dari Seharusnya Den Proses Menteri Haag Agama

Den Haag – Sungguh sangat kuat alasan bagi polisi untuk memproses Menteri Agama secara hukum, karena ini bukan delik aduan, tapi murni pidana yang merugikan dan menyesatkan umat. Hal itu disampaikan pakar syariah Prof. Dr. Sofjan Siregar, MA dari De Nederlandse Raad voor Ifta (Dewan Fatwa Negeri Belanda, red) kepada detikcom Den Haag, Jumat (2/9/2011), menanggapi pemberitaan Menteri Agama telah berbohong dalam penentuan Idul Fitri. Menurut Sofjan, jika berita di media benar bahwa Menteri Agama RI Surya Darma Ali mengatakan Malaysia berhari raya pada Rabu, 31 Agustus 2011, padahal faktanya Malaysia berhari raya pada Selasa, 30 Agustus 2011, maka polisi yang profesional akan memprosesnya secara hukum. ―Sebab ini bukan delik aduan, tapi murni pidana yang merugikan dan menyesatkan umat,‖ ujar Sofjan. Bila premis ini benar, imbuh Sofjan, maka tidak ada konklusi selain menyatakan bahwa hasil sidang lajnah isbat hilal yang berbunyi 1 Syawal hari Rabu 31 Agustus cacat hukum, karena didasarkan pada konsideran dan informasi campur bohong. Doktor syariah ini mengaku prihatin memperhatikan perkembangan baru di kalangan pejabat tinggi negara yang mudah berbohong dalam hal kebijakan negara, terutama yang terkait dengan Menteri Agama. ―Di masa Suharto berbohong itu tidak begitu familiar di kalangan pejabat. Mereka berusaha correct dan sangat hati-hati. Namun sekarang berbohong di kalangan banyak pejabat menjadi trend dan gaya,‖ kritik Sofjan. Lanjut Sofjan, para pejabat itu sering asal ngomong saja, berbicara kepada rakyat seperti kepada pembantu rumah tangganya sendiri, seolah tidak ada konsekuensi dan kewajiban untuk berbicara benar. ―Makanya, jika kebohongan itu tidak diproses secara hukum, dikhawatirkan bohong dan kebohongan akan menjadi ciri khas yang menandai pejabat di era reformasi ini. Itu sangat merugikan (es/es) dan menjadi contoh buruk,‖ pungkas Sofjan.

Balas

tdjamaluddin, on 3 September 2011 at 08:25 said: Saya ingin meluruskan berita yang tampaknya disalahtafsirkan. Dalam sidang itsbat Menteri Agama dan Direktur URais dan Binsyar hanya menyebut kesepakatan kelnedr MABIMS. Dalam kesepakatan MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) telah ada kesepakatan penggunaan kriteria imkan rukyat MABIMS. Pada Kalender bersama MABIMS ada kesepakatan tanggal 1 Syawal 1432 di keempat negara tersebut jatuh pada 31 Agustus . Namun dalam implementasinya bisa berbeda. Brunei menggunakan bukti rukyat. Indonesia menekankan pada kriteria ketinggian minimal 2 derajat. Malaysia menggunakan minimal satu kriteria yang terpenuhi, untuk Syawal 1432 kriteria yang terpenuhi adalah umur bulan minimal 8 jam. Sama sekai tidak ada kebohongan yang diungkapkan Menteri Agama, kecuali ada pernyataan di luar sidang itsbat yang tidak saya ikuti. Balas

o

Argres, on 5 September 2011 at 05:51 said: Nah,..mmmmh mulai kebakaran bulu kuduk ya..

Baca lagi-baca lagi kalimatmu sendiri renungkan.. Berarti sebenarnya tidak ada kesepakatan didalam kesepakatan yaa, yang ada keyakinan di dalam keyakinan masing2. Kenapa kamu yakin bahwa mereka yang bohong…. Lantas kamu menuding..kecuali..kenapa hrs menuding suatu kebohongan didlm kebohongan… Coba lihat saja tahun depan, kamu malah semakin ditinggalkan… Kasihan sebenarnya kamu

purwanto, on 2 September 2011 at 21:33 said: sudah jelas kan, kalau saya lihat tanggapan beberapa pembaca dari atas sampai bawah, semua mengandung perpecahan, masalah hisab dan rukyat, dan disisi lain tulisan profesor.. ????…. gini ini kalau saya lihat yang bertepuk sorak justru orang non muslim…… senang melihat orang sesama muslim bertengkar berbantah – bantahan tentang keyakinan….. padahal kalau kita sadar bahwa nabi sejak memberikan tuntunan sudah mengatakan bahwa masalah hisab dan rukyat itu berbeda dan dibenarkan mengapa kita harus mempermasalahkan ?, cobalah kita sadar untuk mengesampingkan apakah saya ini NU, Muhammadiyah, PERSIS dll, cobalah kita sadari pula sejak jaman dulu masalah keyakinan antara NU dan Muhammadiyah dan ormas lainnya masih saja di jadikan permasalahan masalah qunut, tahlil, tarawih dan sekarang yang marak hisab dan rukyat, dan yang terakhir mungkin nanti saling berbunuh – bunuh sesama muslim, dan yang senang siapa ???…umat non muslim….. sedangkan umat muslim bercerai berai,…. bersyukurlah umat non muslim …… karena sekarang umat islam sudah pinter semua dan tidak ada tokoh yang bisa memeberiakan pencerahan dan bersifat netral dan mengayomi ….. Balas

jordan, on 2 September 2011 at 23:51 said: apakah ada yang saling bunuh setelah membaca dan mengomentari postingan ini, apakah ukhuwah kita tercerai berai setelah baca postingan ini, jangan buruk sangka lah, kaum muslim insyaallah jauh lebih dewasa saat ini, disini kita saling berbagi, kita saling diskusi, berdebat mencari kebenaran atao paling tidak yang mendekati kebenaran, baik itu secra syar‘i ati sains, nggak usah tambah dipanasi dengan ketakutan2 yang belum tentu terjadi, yang penting semua ikhlas dan tidak sampai saling bunuh. berdebat itu biasa, toh kita2 yang debat di sini semuanya berlebaran to, mau 30 ato 31, kita hanya saling mengingatkan, insyaallah niatnya baik, insyaallah Balas

.., on 2 September 2011 at 21:45 said: Di indonesia udah kebanyakan orang pinter, makanya bisa nentuin semuanya sendiri-sendiri, sekalian aja buat agama masing-masing klo nggak mo nurut pemerintah setempat. Balas  mARIA, on 2 September 2011 at 22:27 said: siapa yg bilang kalo yg lebaran tgl 31/8/2011 cuma 4 Negara ada 28 Negara, beberapa diantaranya, ada yg berhari raya 2 seperti di Indonesia, liat link nya,

http://www.moonsighting.com/1432shw.html hampir rata2 hilal tidak nampak pada tgl 29, hanya di Cile, itupun ada 1 ada yg melihat, 1 lagi tidak melihat, hanya Saudi Arabia yg Melihat Hilal Balas  Fani, on 2 September 2011 at 23:40 said: Saya adalah pengikut Prof. makanya saya lebaran tgl 30 Agst karena saya liat kalender hijriah di blog prof…hehe.. Balas

Jankulovski, on 3 September 2011 at 11:48 said: udah diapus widgetnya malu kaleee Balas

 Toni Jamaludin, on 3 September 2011 at 00:16 said:

Indonesia: Not Seen: AR Sugeng Riyadi (MCW member) from Surakarta, Java reported: On Monday, August 29, 2011, New Crescent of Shawwal 1432 AH was NOT SEEN, from any location in Indonesia. There are two reports from Jepara and Cakung that Hilal of Syawwal was SEEN, but the report was rejected. Religious Affairs Ministry of Indonesia decided that 1 Shawwal 1432 AH will be on Wednesday, August 31, 2011. Balas  ambardhierafiq, on 3 September 2011 at 00:55 said: tulisan profesor malah makin membuat saya mantap dengan pilihan saya untuk tetap mengikuti metode hisab… Balas  ACEHSAKETI, on 3 September 2011 at 01:11 said: rukyah itu berasal dari kata raaa, ia bisa memiliki beberapa makna, tapi dari segi mutaadi dua buah maful maka jelaslah raaa disini bermakna melihat dengan mata kepala, bukan raaa bermakna a‘lama seperti pada hadist maa raa minkum mungkaran, raa disini bermakan a‘lama, yaitu barang siapa mengetahui kemungkaran. buat yang gunakan negera lain sebagai dalil, sangat jelas anda ini semua tak paham ilmu fiqih. tahbukah apakah itu ikhtilaf matali‘??? jarak dua marhalah 16 farsah saja sudah iktilaf maali. kalau disatu daerah yang jarak matali‘nya lewat dua marhalah bila disatu kawasan telah terlihat sedangkan kawasan lain belum terlihat maka kawasan lain tidak wajib mengikuti. ini saja bisa terjadi pada dua propinsi seperti jawa dan aceh. artinya bila dijawa terlihat dan diaceh belum terlihat, silahkan orang jawa hari raya duluan, aceh belakangan.

ini berlaku bila aceh dan dan jakarta beda negara. tapi bila satu wilayah negara dan imam yang sudah ketuk palu maka aceh wajib berhari raya. dalam kitab tuhfatul muhtaj karangan ibnu hajar alhaitamy iza astbata almukhalif alhilala maa ikhtilafil mata‘lik lazimana alamal bimuqtasa istbatihi. apabila telah mengitsbat oleh hakim yang berbeda mazhab sedangkan berbeda tempat terbit m aka wajib kita beramal dengan yang istbat. nah brunai, arab, singapure, malaiysia. adalah berbeda matalik dengan kita serta berbeda wilayah negera. maka kalau mereka istbat dan kita belum tampak ya tidak wajib ikut. nah diindonesia hilal tak tampak sepakat karena posisi 2 dua derajat tidak mungkin rukyah sekalipun bulan sudah masuk tanggal satu. kalau ada yang mengaku nampak hilal sedangkan posisi bulan dua derajat maka menurut pendapat kuat dalam tuhfatul muhtaj karangan ibnu hajar haitami ulama besar kairo maka kesaksiannya ditolak. sedangkan menurut imam ramly dalam nihayah boleh diambil persaksiannya. nah kalau kita terima pendapat imam ramly silahkan orang yang percaya dengan dengan wilayah yang mengklaim sudah nampak hilal. silahkan dia berhari raya seperti muhmamdiyah misalnya. tapi yang jadi masalah perbedaan pendapat berlaku bila imam belum ketuk palu. kalau sudah ketuk palu maka perbedaan pendapat tidak berlaku lagi. dalam kitab tuhfah dan semua kitab fiqih mengakui hukmul imam tarfaul khilaf. ketuk palu imam mengakhiri perbedaan maka wajiblah kita ikut pemerintah dan maksiat tidak ikut mereka. karena firman Allah taatlah kamu kepada Allah dan rasul dan ulil amry dari kamu. ada yang berdebat, ulil amry kita tidak siddiq dan fasiq tidak wajib diikuti. saya jawab : seluruh ulama indonesia pada masa sukarno diundang kejakarta untuk memberi gelar ulil amry kepada sukarno. semua ulama tidak ada yang mau, lalu bangkit abuya muda waly dari aceh yang mengatakan SUKARNO ADALAH ULIL AMRY ADDHATURAH BISYAUKAH. PEMIMPIN TERTINGGI PADA POSISI DARURAT SEBELUM ADA TERBENTUKNYA NEGERA ISLAM.

Balas  ACEHSAKETI, on 3 September 2011 at 01:17 said: Pak Sopa, saya sudah berdiskusi dengan teman-teman Muhammadiyah lebih dari 10 tahun. Tahun 2003 pun saya diundang ke Munas Tarjih di Padang khusus untuk mengkritik wujudul hilal. Saat ini saya hanya mengungkapkan secara lebih lugas agar publik tahu bahwa perbedaan Idul Fitri yang terjadi berulang-ulang disebabkan karena Muhammadiyah masih menggunakan kriteria usang. Masalah kriteria adalah domainnya astronomi, bukan fikih. Masalah fikih saya singgung juga karena dalil QS 36:40 terlalu dipaksakan. Bukan masaah hisabnya, karena bagi saya hisab dan rukyat setara. Saya

berbicara pada kompetensi saya di bidang astronomi, yaitu soal kriteria wujudul hilal, bukan soal dalil hisab yang sudah saya yakini benarnya. Silakan baca lebih seksama tulisan saya. Saya khawatir Muhammadiyah kebanyakan ahli ―fikih hisab‖ untuk memperkuat posisinya, tetapi kekurangan ahli hisab karena sudah puas dengan hisab wujudul hilal yang sudah usang. Maaf, atas kelugasan saya yang bersifat provokatif bagi Muhammadiyah yang saya maksudkan agar Muhammadiyah terbangun dari kejumudan hisabnya. Saya mengenal hanya 3 ahli hisab Muhammadiyah (Pak Oman, Pak Susiknan, dan Pak Sriyatin), tetapi saya mengenal lebih banyak ahli fikih hisabnya yang siap berdebat soal dalil hisab. siiip pa engkau adalah manusia terkeren yang pernah saya kenal.

teman teman saya rasa kita harus jujur menilai diri, kita harus setuju kritik prof, bukan untuk menyudutkan, tapi memperluas kemungkinan kesalahan yang sangt mungkin terjadi pada yang bukan nabi.artinya prof dengan perenungan panjang ingin mempersatukan umat, namun ia temukan akar masalah pada sifat jumud metode hisap md. mak dia kritisi agar md bisa merapat barisan agar menyatu hingga kita tak saling ribut. lihat gara gara md. prof diejek habis habisan, coba md gak beda, pasti prof aman aman aja.tapi saya yakin prof, tak marah diserang balik, karena dia tahu kualitas para pengkritiknya, manusia emosional, bin kejepit ekor, bin gak terima bin dll. salam tuk md semua Balas  ACEHSAKETI, on 3 September 2011 at 01:25 said:

Saya khawatir Muhammadiyah kebanyakan ahli ―fikih hisab‖ untuk memperkuat posisinya, tetapi kekurangan ahli hisab karena sudah puas dengan hisab wujudul hilal yang sudah usang. Balas  ACEHSAKETI, on 3 September 2011 at 01:27 said: Saya khawatir Muhammadiyah kebanyakan ahli ―fikih hisab‖ untuk memperkuat posisinya, tetapi kekurangan ahli hisab karena sudah puas dengan hisab wujudul hilal yang sudah usang. saya yakini ini adalah proposisi yang benar. hingga bila dilanjutkan maka md harus merubah metodenya, membaharukan metode adalah sikap md semnejak dulunya. jangan setengah setengah kalau mandi teman Balas  MG Amanullah, on 3 September 2011 at 04:21 said: faktanya, 50 negara melaksanakan 1 syawal tgl 30, lawan 20 negara tgl 31 agt. di 50 negara itu banyak pula ahli astronomi yg lebih canggih. (pa lg kl cuma dibanding ahli indonesia). Itu sebuah fakta intenasional tak terbantahkan. mestinya ahli astrnomi indonesia tanya ke negera yg mayoritas menetapkan 1 syawal tgl 30, mengapa, ada apa? (ya paling dekat tanya malaysia dulu lah, kenapa dia menetapkan tgl 30). bukan malah ―menghajar‖ habis2an salah satu ormas di indonesia yg beda. (salah alamat) Balas  Muchamad Andi Sofiyan, on 3 September 2011 at 06:51 said: Informasi dari http://www.al-habib.info/ yang widget nya Anda pasang di sebelah kanan menunjukkan bahwa 1 Syawal 1432 jatuh pada Hari Selasa 30 Agustus 2011. Pendapat Anda Pak Thomas? Balas

tdjamaluddin, on 3 September 2011 at 08:05 said: Ketika kita baca tanggal qomariyah harus selalu mempertanyakan: tanggal itu untuk wilayah mana dan kriteria apa yang digunakan. Pada Wdget yang saya pasang sudah saya tambah pejelasan bahwa pembuat widget menggunakan kalender Ummul Quro Arab Saudi dengan kriteria mirip wujudul hilal. Jadi tidak beraku di Indonesia. Widget itu saya pasang untuk memberi informasi perkembangan manzilah/fase bulan. Tanggal qamariyah hanya digunakan sebagai perkiraan. Balas

o

taufiq, on 3 September 2011 at 09:37 said: Masalah penentuan awal bulan Syawal adalah masalah umat Islam secara global, bukan masalah di Indonesia saja. Solusi lokal juga hanya menyelesaikan masalah untuk sementara. Kontroversi hasil sidang itsbat justru semakin menunjukkan kelemahan penggunaan rukyat. Di Australia

(khususnya Sydney, Melbourne dan Perth) ada forum Ahlussunnah wal Jama‘ah yang memutuskan untuk melaksanakan shalat Id tanggal 30 Agustus karena mendengar hilal sudah terlihat di Malaysia dan Indonesia, keputusan ini justru melanggar seruan Imam Australia yang menyatakan 1 Syawal jatuh pada tanggal 31 Agustus karena hilal belum terlihat di seluruh Australia pada tanggal 29 Agustus.

o

mamas, on 3 September 2011 at 10:35 said: mending gak usah dipasang pak widgetnya daripada bikin bingung..walopun alasan beda wilayah..sekarang bapak bisa tidak bikin widget untuk wilayah

jawa saja..kita kan hidupnya gak di arab..widget itu tidak berlaku di indonesia ngapain dipasang

o

Iwan, on 4 September 2011 at 11:50 said: Kalau sudah ngerti hidup di Indonesia, ngapain pasang kalender yg nggak berlaku di Indonesia PRPESOR ?

 Robby Karman, on 3 September 2011 at 07:24 said: yang saya aneh, kenapa yang lebaran selasa diributkan, yang lebaran senin dan kamis gak pernah dibahas? Balas

tdjamaluddin, on 3 September 2011 at 08:00 said: Yang lebaran Senin dan Kamis itu kelompok kecil, hanya beberapa puluh orang dan tidak berdampak nasional. Yang berlebaran Selasa adalah ormas besar yang dampaknya sangat terasa di masyarakat. Maklumat yang dilakukan sejak sebelum Ramadhan sudah membangun opini masyarakat yang menimbulkan kebingungan ketika itu berbeda dengan keputusan Pemerintah. Balas

o

Prayogo, on 3 September 2011 at 15:31 said: Hahahaha……Boss… Anda itu memang besar kepala alias GR. Seolah anda pemegang kebenaran sejati sehingga merasa HARUS BERTINDAK

meluruskan pendapat orang lain yg menurut anda salah. Seolah anda adalah pemegang mandat dari Tuhan untuk meluruskan keyakinan setiap orang yg hidup di bumi indonesia. Seolah anda pemegang otoritas keamanan dan ketertiban sehingga merasa perlu menertibkan keyakinan orang lain yg menurut anda meresahkan.

Padahal anda tahu tidak? Bahwa KERESAHAN itu justru muncul setelah anda membuat tulisan dan komentar2 provokatif seperti ini.

Saya yakin meskipun sudah banyak yg mengkritik, anda akan tetap ngotot serasa paling benar krn hati anda memang sudah tertutup kebencian dan kedengkian yang membara.

o

hamba-Nya, on 3 September 2011 at 18:35 said: Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu‘alaikum Sebelum sy memberikan masukan, saya haturkan beribu maaf Prof. sepertinya tdk akan selesai jika kt ssama saudara tdk mengembalikan pd pedoman yg mndasar sesuai pesan Rasullulah sblm beliau wafat, agar kita umatnya tdk tersesat. Sebagai rujukan maukah kita membaca QS 4:59 Setelah itu kita bersabar (merujuk pd, Al-Qalam: 48) dan bersyukur (merujuk dlm banyak ayat) trlebih dahulu. Dengan bersyukur kita dpt ambil segi positifnya, mis:

1. bersyukur tuk takdir Allah yg memilih negri kita sebagai negara terbesar jumlah org muslim… Alhamdulillah (dgn >200jt bukankah sangat sulit menyamakan persepsi setiap org?) 2. bersyukur karena kita telah mendapat hidayah dan ditakdirkan sebagai org muslim (kasihan org2 yg tdk mengerti bhw islam adalah kebenaran sejati?)

3. dll (sangat banyak jika ni‘mat Allah ditulis di sini bs patah jari ini

)

Sebagai panutan, mungkin kita bs mencontoh akhlak Rasulullah, pada apakah yg membuat beliau marah? sementara beliau adalah org yg jarang marah? ia marah hanya jika : ‗Aisyah r. a. berkata:

―Aku tdk pernah melihat Rasullulah saw. membalas suatu aniaya yg ditimpakan org kepdnya selama org itu tdk menghina kehormatan Allah swt. Tapi bila sedikit sj kehormatan Allah dihina org, maka beliau adalh org yg plg marah karenanya. Dan seandainya dimintakan kpdnya utk memilih diantara 2 prkara, pstilah beliau memilih yg plg mudah, slama prkara itu tdk mnyangkut maksiat‖ Apakah sdr2 kita dlm beribadah karena Allah walau beda hari telah bermaksiat? bukankah tujuannya sama yi beribadah pada Allah swt? Maafkan sy yg sdh lancang berpendapat, sy hanya manusia bs saja salah. Niat sy agar kita bersaudara tdk saling mencela karena beda prinsip, selama prinsip itu bkn masalah brmaksiat. Sy yakin Prof dan saudara2 sy yg lain lebih mengerti dr sy. akhirnya, kebenaran hanya dari Allah semata, jk trdapat kekhilafan berasal dr sy. ―Sesungguhnya manusia itu dlm kerugian. Kecuali org2 yg beriman, mengerjakan amal shaleh, dan nasihat menasihati spy menetapi kesabaran‖ (Al-‘Ashr:2-3) wassalam

o

Argres, on 5 September 2011 at 05:12 said:

Sing Masyarakat?

bingung Masyarakat

itu

siaaapaaaaaa? siaapaaaaa?

Kayak jaman jahilliyah saja kamu

 Widiatmoko, on 3 September 2011 at 11:38 said: Perintah puasa untuk orang yang beriman,yang menyaksikan hilal,sebagai penentu bulan baru mestinya juga orang beriman,hilal hanya sekali dalam sebulan,hari sepakat sama,tapi saat menyaksikan/melihat hilal ,kenapa hanya di wilayah indonesa,apakah penglihatan orang iman di aljazair maroko,atau mesir,bukan kesaksian orang beriman,pernahkan penyaksian atas hilal di tempaqt selain indonesa di konpirmasi,Emang yang beriman hanya orang yang da di indonesa,Mukmin satu dalam persaudaraan bak satu tubuh,hari sepakat satu,hilal cuma sekali dalan sebulan ,tanggal mestinya satu. Balas  Jankulovski, on 3 September 2011 at 11:42 said: Gara gara prof setitik rusak Opor sebelanga…. Balas  SHELLAYART PREDICTIONS, on 3 September 2011 at 11:44 said: Mhn dijawab prof,

berapakah selisih waktu antara terbenamx matahari dgn terbenamx hilal (awal bulan Syawal) ? Dr jawaban prof akan membuktikan tgl berapa kita memasuki Bulan Syawal. Balas  Pakuboemi, on 3 September 2011 at 12:10 said:

kalo saya berpendapat : ―Gerhana bulan atau matahari saja bisa tepat diprediksi sangat tepat detiknya malah, kenapa kok metode muhammadiyah diragukan keakuratannya‖ Balas  sunarma, on 3 September 2011 at 12:17 said: yth Pak Prof! Saya awam mengenai astronomi, tapi karena ―keributan‖ idul fitri tahun ini, Saya jadi lebih tertarik untuk mengetahuinya. Terlepas dari dalil syar‘i, dan setelah saya baca beberapa tulisan lain Bapak di blog ini, saya ingin Bapak memberi pencerahan dari sisi perhitungan astronomi: ―Apakah ada masa bulan mati (tidak meneruskan cahaya matahari) bila dilihat dari posisi bumi? Kalo ada, berapa lama? (saya temukan kriteria Lapan >8 jam, apakah sebelum itu adalah bulan mati?)‖ Pertama: Saya membayangkan, bila suatu saat ada teknologi yang memungkinkan kita bisa melihat hilal lebih hebat dari kriteria yang digunakan saat ini

(http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/08/02/analisis-visibilitas-hilal-untuk-usulankriteria-tunggal-di-indonesia/), mungkin kita harus merevisi kriteria tsb, karena jelas berdasarkan data kompilasi menggunakan teknologi yang sudah ada. Kedua: MUNGKINKAH bila hitungan astronomi bisa menentukan kapan bulan bisa tampak dari Indonesia (hilal), kita tidak menggunakan data rukyat sebelumnya dan teori2 visibilitas? komentar ―Iskhaq Iskandar, on 1 September 2011 at 02:57″ mengatakan NASA bisa menghitung itu, bagaimana dengan astronomi di Indonesia? Mungkinkah hitungan itu menjadi standar BHR ke depan karena (menurut Saya yang awam, Pak!) dengan standar itu kita mengakui bahwa manusia masih belum mampu, bahkan dengan teknologi yang ada, melihat (rukyat) kekuasaan Yang Maha Kuasa tapi kita meyakini bahwa kekuasaan itu ada dan akan kita lihat nanti. Sekali lagi, Pak! Saya hanya ingin mendapat pencerahan dari dalil aqli bukan dalil naqli. Balas

 Oos Depok, on 3 September 2011 at 12:39 said: Kalau memang Niat Pak Prof TDjamaluddin karena ALLAH SWT semata.

Tolong bantu persatuan umat islam ini, ikuti konferensi Dunia untuk bersama2 duduk menentukan ISLAM ke arah yang lebih Persatuan seluruh dunia baik itu untuk Iedul Fitri / Adha atau 1 Muharram.

dan Bapak Dengan Seluruh Ahli2 ilmu Falak bisa mengadakan pertemuan2 Rutin untuk membahas ini, Bawalah adab Ikhtilaf yg spt di ajarkan Rasulllah SAW, saya sudah tulis di comment adab Ikhtilafnya.

dan Pak Prof bisa mengatakan bahwa Pengayaan Khasanah Ilmu ini tidak mendukung Ormas manapun di Dunia.

Saya Yakin adab Ikhtilaf adalah jalan keluarnya semua, scroll saja keatas untuk adab Ikhtilafnya. Balas  Mengalah Demi Ummat « ******************** Dokumentasi T. Djamaluddin

******************** ======================================================== _____

Berbagi ilmu untuk pencerahan dan inspirasi _____, on 3 September 2011 at 16:21 said: [...] Tulisan terbanyak dibaca 2 hari terakhir Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid HisabHisab dan Rukyat Setara: Astronomi Menguak Isyarat Lengkap dalam Al-Quran tentang Penentuan Awal [...] Balas  Husniannur, on 3 September 2011 at 19:42 said: Buya sebuah Aljazair metode ternyata Hamka (tau majelis: dulu hisab, yg kan siapa ―Dulu begitu namun mereka beliau) dalam saya kuat ternyata sebuah dan kesempatan di

ulama‘2 memperjuangkan

saya

salah, bukan

perjuangkan

rukyahnya tetapi kemauan memperjuangkan hadits nabi (ttg hilal). Hampir saya malu dgn mengatakan mereka org yg kolot.‖ dengan berjiwa besar dan tutur kata yg lembut. ―saya sedih, mengatakan memperlihatkan tersesat pembaharuan‖ beliau dan generasi muda Muhammadiyah sempat membuka diri, namun ada salah satu anggota majelis Tarjih dan Tajdid, seseorang yg berpengaruh dari Jogjakarta yg menyatakan apa yg dilakukan sbg bid‘ah… ttg Malaysia Brunei dan Singapura, tak ada satupun dari mereka pd saat kemarin menentukan 1 syawal dgn kedua metode tsb, ttp mengikuti Arab Saudi. hadits Rasul ttg hilal kan sdh jelas, ada yg bilang Islam jgn berpikiran sempit. maka dari itu tak ada kewajiban utk kita mengikuti Saudi. metode hisab tak salah sebenarnya, namun sebagai pendekatan saja. menurut saya professor hanya ingin kita mempersatukan kriteria tersebut. 1. hisab muhammadiyah memang menyatakan perhitungan bulan sdh di atas ufuk namun blm hilal, spt yg sdh disepakati. 2. lapan sendiri menyatakan kriteria 2derajat msh terlalu rendah di Indonesia dan ada usulan dr lapan menjadi 5derajat. (begitu ya pak Professor?) dan jika ketika ―itu dalam tak sdh tajdid mau temanteman tarjih!‖ sendiri karena saya itu kami menerima

3. Cakung, kenapa perwakilan dari PA tdk menyumpah setelah mereka yg mnyatakan hilal? karena mereka menyatakan waktu saat melihat hilal terjadi 17.40 sedangkan matahri tnggelm 17.53 sehingga tdk dpt diterima. Balas  septika prismasari (@tikaprisma), on 3 September 2011 at 19:43 said: yang saya HERAN kan adalah ini :

1. Pemerintah (menag) mengatakan, melihat bulan baru HARUS melalui rukyat, bukan

HISAB 2. beberapa orang di dua tempat bersaksi sudah melihat hilal, dan sudah disumpah oleh ulama (karena kabarnya depag ga mau ambil sumpah)

3. kesaksian orang2 tersebut ditolak, karena menurut SAINS hilal tidak mungkin terlihat. bukankah ada hadist yg mengatakan jika di antara kita sudah melihat hilal, maka keesokan harinya kita wajib berhari raya.

Lantas kenapa kesaksian itu ditolak atas dasar SAINS yang tentunya pake ilmu hisab. seakan pemerintah dari awal sudah memutuskan bahwa lebaran tanggal 31 . lalu buat apa sidang isbatnya =.=

bukankah itu juga MENGESAMPINGKAN dan membuat batasan atas kekuasaan Allah SWT? atau apakah SAINS sudah menjadi tuhan? tidak ada yang tidak mungkin bukan? mungkin sekarang kita mengamati bulan yang sudah tampak di langit saja. jika purnama tanggal 13, ya berarti 1 syawal tanggal 13. kalo purnama tggl 14 ya 1 syawal tanggal 31. Wallahu‘alam . Islam itu rahmatan lil ‗alamin Balas

tdjamaluddin, on 3 September 2011 at 23:13 said: Bukan Menteri Agama yang mengharuskan adanya rukyat, tetapi ada kelompok masyarakat yang menghendaki adanya rukyat sebagai pelengkap hisab. Itu kenyataan di masyarakat.

Mengapa kesaksian di Cakung dan Jepara ditolak? Karena sangat meragukan. Tidak mungkin hilal rencah yang sangat tipis bisa mengalahkan cahaya syafak/senja yang cukup kuat di horizon. Saksi lain di dekat lokasi tidak melihat hilal. Sumpah hanya menunjukkan saksi tidak berbohong, tetapi belum menjadi bukti bahwa yang dilihatnya benar hilal, apalagi mereka melihatnya tanpa teleskop.

Jangan kita disesatkan dengan informasi yang keliru soal purnama. Purnama tidak bisa digunakan untuk mengoreksi awal bulan. Orang yang pernah belajar astronomi secara benar tidak mungkin berpendapat sepeti itu.

Balas

itx, on 4 September 2011 at 15:03 said: logika menolak kesaksian yg melihat hilal mungkin begini: ada orang yang yakin sekali melihat saya di pasar tadi pagi, bahkan mau disumpah segala. kenyataanya saya tadi pagi tidak kemana2 alias di rumah saja. trus yg bener saya tadi pagi di mana? Balas

 septika prismasari (@tikaprisma), on 3 September 2011 at 19:47 said: maaf koreksi. kalo purnama tanggal 13 ya 1 syawal tanggal 30 :B Balas

tdjamaluddin, on 3 September 2011 at 23:05 said: Jangan gunakan purnama untuk mengoreksi awal bulan. Itu tidak dikenal dalam hisab rukyat dan secara astronomis juga tidak benar. Purnama itu terjadi pada hari ke 29,53/2 = 14,76 setelah ijtimak. Tanpa melakukan pengamatan pun purnama sudah bisa dihitung. Balas

o

septika prismasari (@tikaprisma), on 4 September 2011 at 07:33 said:

thanks prof

 indoelektra, on 3 September 2011 at 19:53 said: Bapak Thomas Djamaluddin, mungkin anda benar, tetapi besar kemungkinan anda juga salah. Yang saya yakin adalah pendapat anda tidak 100 % pasti benar. Dengan ―ilmu astronomi‖ sederhana, karena tidak puas dengan berbagai penjelasan, pada hari rabu misalkan saat mahrib bulan pada ketinggian yang sudut elevasinya kurang dari 12 derajat maka hari Rabu adalah 1 syawal, itu yang saya pegang,

Mohon anda berijtihad terus termasuk juga mengkritisi pendapat anda sendiri. Hanya kami melihat ada subyektivitas dalam kalimat2 anda. Saya yakin jika anda obyektif maka anda ada potensi potensi untuk menjadi ahli astronomi dunia. Namun demikian saya ―like/salute‖ bapak mendalami masalah ini.

Banyak dokter yang surat keterangan sakitnya bisa dibeli, saya berharap bapak bisa menjaga professionalisme bapak. Balas

tdjamaluddin, on 3 September 2011 at 23:01 said: Silakan belajar astronomi tingkat lanjut, jangan hanya yang sederhana yang sifatnya aproksimasi yang biasa digunakan dalam hisab lama yang bersifat taqribi. Muhammadiyah pun sudah menggunakan hisab hakiki, masak harus mundur lagi pakai hisab taqribi. Balas

o

Muhammad Koesmawan, on 4 September 2011 at 07:15 said: Ass.Wr.Wb..

terima kasih Prof.Thomas, saya senang sekali Bapak memberikan balasan kepada semua yang ―protes‖ atas pendapat bapak dan bapak layani semampu bapak, dengan jelas, tegas dan lugas. Alhamdulillah semoga ini menjadi amal Bapak. Kalau boleh saya menyarankan dan Bapak ada kesempatan, buatlah buku Bapak yang berlatar belakang ASTRONOMI yang mudah dibaca awam, yang difokuskan kepada: PENENTUAN TGL 1 RAMADHAN, 1 SYAWAL DAN 10 DZULHIJJAH. TERUS TERANG saja, saya baru sedikit melek tentang apa itu ‖ WUJUDUL HILAL‖ dan ‖ IMKAN RUKYAT‖ SETELAH membaca TULISAN BAPAK. Hanya satu saja, agar tulisan Bapak jangan bersifat PROFOKASI menyalahakan Muhammadiyah, akan tetapi tulisan Bapak agar lebih memprovokasi supaya: SEMUA PEMBACA TERMASUK KOESMAWAN, mau belajar Astronomi dan ILMU FALAK. Semoga, kelakk dimasa depan: KEAHLIAN MENETAPKAN 1 Syawal bukan lagi milik Astronom dan Ulama Ahli Hisab atau Ahli Rukyat. Tetapi menjadi MILIK ORANG AWAM juga. Amin. SALUT DAN HORMAT UNTUK PROF. THOMAS DJAMALUDDIN.

 Dea bianglala, on 3 September 2011 at 21:26 said: Kenapa Muhammadiyah lebaran duluan?

http://bianglala79.blogspot.com/2011/08/kenapa-muhammadiyah-lebaran-duluan.html Yang pernah saya dengar, hisab wujudul hilal yang dianut oleh Muhammadiyah tetap bisa dipertanggung jawabkan secara sains. Sebab biarpun pada tgl 29 August hilal tidak bisa di Rukyat tetapi menurut keterangan beberapa pendapat para ahli hisab telah disebutkan 3 kriteria yang bisa menjadi dasar bahwa tgl 29 Agustus 2011 petang hari telah terhitung sebagai Kriteria tsbut antara tanggal lain kesepakat para ahli 1 hisab Syawal. yang mengatakan bahwa

1. Telah terjadi Ijtimak pada 29 Agustus 2011 sekitar pukul 10.00 pagi WIB 2. Usia hilal setelah Itjimak hingga pukul 16.00 telah berusia lebih dari 8 jam 3.dan matahari tenggelam lebih dulu dari hilal jika seluruh ormas islam mengambil ketiga kriteria diatas tanpa mengabaikan ijtimak qablal ghurub maka pastinya tidak ada perbedaan dalam penentuan awal bulan dalam kalender hijriyah. Apalagi jika semua ahli hisab bersepakat bahwa pada posisi kurang dari 2 derajat hilal tidak dapat di rukyat. disebutkan diatas bahwa pada masa nabi, puasa selama 30 hari jarang sekali terjadi karena memang pada dasarnya panjang siklus sinodik adalah 29.5 hari. Karena awal hari pada kalender hijriyah di mulai pada petang hari sekitar pukul 17.00 maka secara logika Ijtimak akan terjadi sekitar pukul 810 pagi.

bisakah hal seperti saya sebutkan diatas diambil perhatiannya? mohon salam… Balas penerangan lebih lanjut dari prof

tdjamaluddin, on 3 September 2011 at 22:57 said: Ya wujudul hilal bisa digunakan ketika ahli hisab belum faham tentang formulasi rukyatul hilal dalam hitungan hisabnya. Sekarang sudah berubah, ahi hisab dapat memperhitungkan rukyat di dalam hisabnya melalui kriteria imkan rukyat. Terkait hisab pada zaman Nabi silakan baca bog saya

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/06/01/analisis-astronomi-ramadan-padazaman-rasulullah/ . Tetapi harus diingat bahwa hisab tersebut tidak cukup, karena kondisi cuaca saat itu tidak ada informasi, padahal ada hadits terkait kondisi mendung yang harus diistikmalkan (saat itu belum ada ilmu hisab).. Balas

 andi setiawan, on 3 September 2011 at 21:32 said: sebenarnya apa yang kita alami sekarang ini karena kita tidak menjadikan kota mekkah sebagai permulaan waktu dibumi yang sekarang diperjuangkan arab saudi supaya kota mekkah di jadikan meridian time , selama ini kita perpatokan dengan waktu yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial inggris yang menetapkan greenwich sebagai meredian time sehingga pergantian hari terjadi di sekitar lautan pasifik sampai diselat berings yang menjadikan wilayah alaska amerika serikat yang bertetangga dengan wilayah siberia dirusia berselisih waktu satu hari dengan waktu yang hampir bersamaan.nah dengan perpatokan dengan cara ini yang umat islam lupa bahwa ini ditetapkan oleh orang kafir maka kita diindonesia yang berdekatan dengan samudra pasifik memulai hari yang lebih awal dari arab saudi,jadi apa yang selama ini kita jadikan acuan hari dan tanggal adalah salah dalam ajaran islam,seharusnya yang kita jadikan acuan adalah kota mekkah bukan hanya sebagai meredian time tapi juga tempat pergantian hari karena di sanalah kibtat kita dan ajaran islam dimulai dari sana,jadi bila itu dilakukan maka kita diindonesia waktunya bukanlah lebih cepat 4 jam dari arab saudi tetapi lebih lambat 20 jam.lagipula apakah baik dan mendapat berkah apabila kita beribadah mendahului orang orang di mekkah.dan menurut penelitian kota mekkah yang harusnya dijadikan titik nol derajat karena kota mekkah satu satunya tempat yang tidak di pengaruhi oleh gaya magnet bumi dan khatulistiwa,sehingga titik derajatnya adalah nol .maka itu adalah tanda tanda yang diberikan allah bagi orang orang yang mau berfikir ,bukan saja menjadikan mekkah sebagai kiblat arah tapi juga kiblat waktu .semoga ini bisa membantu.wassalam Balas

tdjamaluddin, on 3 September 2011 at 22:45 said: Anggapan tersebut tanpa dasar ilmiah. Silakan baca blog saya

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/08/17/perlukah-menggantikan-gmt-denganmecca-mean-time/ . Tidak benar juga anggapan kota Mekkah tidak dipengaruhi gaya magnet bumi. Mari kita berargumentasi dengan dasar ilmu.

Balas

o

imc_cho, on 4 September 2011 at 00:46 said: pak prof yg terhormat

saya ingin bertanya.. menurut bapak dan menurut ilmu pengetahuan pergantian pada hari saat sebenarnya tengah terjadi malam pada saat apa? 24.00)

(pukul

- pada saat magrib (pukul 6 sore kurang lebih) mohon dijawab.. terima kasih

o

andi setiawan, on 5 September 2011 at 14:00 said: saya ingin mengomentari tulisan anda diatas,bahwa perubahan pergantian hari dan tanggal masehi telah dimanipulasi.awalnya pergantian hari dalam penanggalan masehi terjadi pada jam 12.00 UT ,pada siang hari, yang letaknya berada di meridian nol geodetik yang berlokasi di greenwich.karena tuntutan jaman yang semakin maju dan modern,dan juga merepotkan dan tidak efesien,bisa kita bayangkan bila pergantian hari terjadi pada siang hari bolong.akan menyulitkan apalagi menyangkut masalah administrasi.yang kemudian transisi hari dimanipulasi menjadi jam 00.00 waktu setempat,itu yang menyebabkan garis batas penanggalan internasional terletak dibujur 180 derajat,yang berselisih 12 jam dengan UT,yang secara kebetulan garis bujurnya membelah lautan pasifik yang diisi oleh pulau pulau kecil oceania yang penduduknya jarang dan masih terbelakang,jadi pendapat anda yang mengatakan bahwa pergantian hari haruslah berada di titik 180 derajat tidaklah berdasar secara ilmu karena itu adalah hasil manipulasi.dan soal penetapan garis bujur 0,maka titik dimanapun dimuka bumi bisa dijadikan meridian nol asalkan populer dan disepakati bareng bareng.dan soal kota mekkah di

pengaruhi gaya magnet bumi,saya ingin melihat argumen anda sehingga menolaknya.

 Omar Salim, on 3 September 2011 at 21:50 said: Saudaraku kaum muslimin, sepatutnya kita tidak memecah belah ukhuwah. Perkara yg sudah jelas dalam perkara ibadah tidak perlu ditambahi dan dikurangi. Telah dijelaskan oleh Rasulullah bahwa cara menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal adalah menggunakan ru‘yatul hilal. Adapun kewenangan dalam menentukannya adalah kewenangan pemerintah negeri ini dlm memutuskan perkara dan melayani ibadah kaum muslimin. Telah banyak pula fatwa khibarul Ulama mengenai perkara berpuasa dan berhari raya bersama pemerintah. Sepatutnya mari kita kembali mempelajari islam sesuai Al Qur‘an dan Sunnah dgn pemahaman para shahabat. Tinggalkan debat kusir tanpa ilmu. Barokallohu fiikum Balas  enalsi, on 4 September 2011 at 00:32 said: pertama ato kedua samakan kriteria Balas  fajar, on 4 September 2011 at 00:50 said: Prof..tulisan prof ini sudah mendapat respon dari seorang prof. juga..sayangnya tidak disampaikan langsung melalui blog ini..bagaimana pendapat prof Thomas dengan tulisan di link ini : http://www.dakwatuna.com/2011/09/14341/otoritas-dan-kaidah-matematis-refleksiatas-perayaan-idul-fitri-1432-h-tanggapan-atas-kritik-thomas-djamaluddin/ Balas istikharo saja 3 hari sebelum 1 syawal (hitungan hisab)

 Anto, on 4 September 2011 at 08:01 said: Setelah browsing situs2 ilmiah di internet, ternyata berita bahwa dunia ;mentertawakan‘ keputusan pemerintah Indonesia terkait 1 Syawwal 1432 sungguh tidak relevan. Tetap konsisten prof…! Balas  masfakhru, on 4 September 2011 at 08:05 said: DAN BERSAMA2 KITA AKHIRI DGN MEMBACA ASTAGHFIRULLAAHAL ‗ADZIIM… Setuju dengan salah 1 pendapat di atas, negeri ini sulit untuk maju hanya karena selalu saling menyalahkan dan meributkan permasalahan. Bersama2 kita lebih prioritaskan untuk memikirkan Indonesia ke depan. InsyaAllaah negeri ini akan menjadi lebih cepat untuk perbaikan & kemajuannya. Amin Balas  nafiah, on 4 September 2011 at 11:28 said: Mimpiku, Hari Setahuku, Tuhan Masing2 Apa dengan Malunya Karena Tahun Andai baru kalender atau mungkin bulan menciptakan satu bumi, satu bulan, pada perilaku rumah dengan tak Natal Hijri berbeda ditentukan terhadap kami, kalender sekalipun hari Imam di seluruh masing2 kami yg yang orang Hijri dan satu matahari jalurnya, Indonesia, Malaysia ku, kujumpai dunia lokasi, yg tak sama, di ada belahan lagi dunia double (minimal Idul di fitri Indonesia)

berjalan berbeda sebelah

saudara aku

alangkah karena yang Ya berilah agar menyatukan apalagi sbg

sulitnya

kubuat masing2

agenda

acara menuruti

dg

saudaraku, Imamnya salahnya, Berilmu, umatMu,

tak Tuhanku pencerahan kami hari untuk khalifah raya

mutlak Yg

benar Maha pada

tak saja kami mengemban di

malu tak

lagi, mampu, amanahmu, bumi,

Sungguh Tuhan, aku malu dg semua ini Balas  Mohamad Fachrurozi Ibnu Rosyid, on 4 September 2011 at 11:46 said: Muhammadaiyah sekarang kebetulan beras saudi dan ini dijadikan senjata untuk menyerang Pak Jamaludin dan pemerintah yang menetapkan tgl 31 Agustus 2011 padahal Muhammadiyah sendiri sering berbeda dengan Saudi Arabiya. Lihat saja pada tahun-tahun yang telah lewat. Bukti menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak konsisten. Menjadikan Saudi sebagai pembenaran ketika kebetulan sama dan pada saat lain ketika berbeda dengan saudi, dan Saudi tidak di anggap asama sekali ketika ketetapan Muhammadiyah berbeda dengan keputusan Saudi. Itu satu sisi, Pada satu sisi yang lain

kenapa Muhammadiyah bangga karena secara kebetulan bersamaan dengan SAudi ? Padahal jelas metode penetapannya berbeda. Kalau saudi menggunakan tu‘yatul hilal adapun Muhammadiyah menggunakan hisab terlebih lagi hisabnya wujudul hilal.

Adapun yang ketika bahwa sannya SAudi memang memiliki otoritas menentukan masuknya awal bulan karena mereka adalah penguyasa / ulil amri la kalau muhammadiyah itu apa ? Bukankah semata-semata organisasi ? Ini semua menunjukkan bahwa Muhammadiyah memang ngeyel dan mau menang sendiri tidak ada itikad baik untuk bersama. Tidak lain karena Muhammadiyah sangat fanatik dan menganggap hisabnya terbaik di dunia. Padalah dalam satu sisi Allah menentapkan dan memerintah kepada kita untuk melihat bulan dalam mengawali awal-awal bulan. Balas

MG Amanullah, on 4 September 2011 at 14:11 said: tenang2 mas jng esmosi.tuduhan2 mas thd muhamadiya bs dipake jg utk alat menuduh pemerintah. jd sm sj. saudi negara islam. negara berhak mengatur hingga kehidupan ritual agama. Indonesia bukan negara islam. negara tak berhak mencampuri wilayah keyakinan individu. negara cukup penyedia info dan pilihan saja, bukan memaksakan idenya utk urusan ritual agama (yg di dalamnya tmsk penentuan 1 syawal). Balas

o

deen, on 4 September 2011 at 20:51 said: Keliru, mas! Ketika masalah ikhtilaf fiqh antar kelompok sudah masuk ranah publik, yang kalau dibiarkan menimbulkan kegaduhan dan kekacauan, disitulah peran negara sebagai penengah/hakim. Keputusan hakim yang disepakati bersama, mengikat secara mutlak kelompok-kelompok yang bertikai itu. Contoh penetapan wukuf oleh pemerintah Saudi. Semua harus ikut

! Mau yang hisab, rukyat, atau imkanur-rukyat, semua harus ikut! Berani gak, Muhammadiyah wukuf di hari berbeda dengan hari yang ditetapkan pemerintah Saudi, meski secara hisab misalnya, penetapan pemerintah Saudi keliru? Coba saja kalau brani !

o

Mohamad Fachrurozi Ibnu Rosyid, on 5 September 2011 at 10:02 said: Wah maaf mas kalau ungkapan saya terkesan emosi. Sama sekali tidak emosi buat apa emosi, tiga hal itu semua saya sampaikan sebagai bahan renungan kita semua, sebagai orang yang hidup di jaman seperti ini tak perlu mensyaratkan kritik buat kita harus halus.

Setuju kita mensyaratkan bagi diri kita kalau mau mengkritik harus halus. Namun saya sudah berusaha untuk menyusun kalimat namun dapatnya seperti itu, Terkait Siapa bilang terkesan emosi dengan negara kita dan saya negara bukan negara Islam mohon maaf. Islam. ?

Tanyakan ke OKI atau kmunitas kaum muslimin dunia Apakah negara Indonesia ini negara Islam apa bukan ?

Presiden kita Islam, Wakilnya dan mentri-mentrinya mayoritas islam, demikian juga anggota DPR dan instansi-instansi yang lainnya adalah mereka kaum muslimn, mereka melakukan sholat idul fitri dan ini kontek yang sedang kita syar‘i dalam bahas. menentukannya, Bahkan dalam hal ini (‗Idul Fitri) mereka (Pemerintah dan lembaga yang ditunjuk) menggunakan kaidah-kaidah alhamdulillah dengan hisab untuk perkiraannya dan dengan ru‘yatul hilal sebagai pembuktiannya.

Demikian juga negara kita alhamdulillah mengurusi haji kaum muslimn, mensyaratkan kepentingan-kepentingan kaum muslimn seperti POM bensi harus ada Mushollanya demikian juga kepentingan umum lainnya di sana diberi fasilitas-fasilitas MAsjd dan mUsholla bukankah ini menunjukkan pemerintah kita pemerintah muslim ?

Coba sekali-kali anda berkunjung ke Australi, china atau negeri-negeri kafir dapatkan anda menemukan fasilitas-fasilitas publik seperti di INdonesia ? Kemudian terkait dengan Hak beragama tiap individu, semestinya difahami seperti berkut :

Pemerintaha / Negara Indonesia menjamin penduduknya beragama dengan agamanya masing-masing. Ini harus difahami bahwa a. setiap individu boleh beragama sesuai dengan yang diyakininya entah itu Islam, Kristen dll.

b. Setiap individu boleh melakukan keyakinan agamnya selagi tidak menganggu / merusak hak agama individu orang lain.

c. Setiap individu bebas melakukan agamanya selama tidak merusak tatanan agama tertentu yang dibangun diatas prinsip-prinsip agama tersebut. Dalam point c inilah yang hendak saya bahas. Sebagai contoh : Islam adalah agama yang mengakui Muhammada shollallahu ‗alaihi wasallam adalah Nabi terakhir, maka pemerintah yang berkewajiban melindungi keyakinan dan agama rakyatnya, pemerintah tidak boleh diam tatkala ada manusia atau komunita s yang mengaku beragama Islam akan tetapi mengatakan pemimpinnya adalah Nabi setelah Nabi Muhammada shallallahu ‗alaihi wasalalm. Maka sudah selayaknya pemerintah turut campur dalam urusan hal semacam ini, harus bertindak menangkap orang yang melakukan penistaan terhadap keyakinan orang lain yang telah baku. Demikian juga untuk urusan amalan jamaah (amalan bersama-sama) seperti idul fitri dan idul adha, haji, sudah benar jika pemerintah menyerahkan itu semua kepada komuntas kaum muslimin dan lembaga-lembaga kaum mulsimin yang ada seperti MUI, DEPAG yang memang kaum muslimin sebenarnya sudah tersirat sepakat untuk menyerahkan urusan kaum muslimin yang menyangkut urusan orang banyak kepada mereka. Contoh :

Pernikahan Halal

—-> haramnya

menyerahkan suatu

urusannya produk

kepada —>

KUA MUI

Surat-surat dan jadwal penerbangan haji —> depag dan yang terkait. Saya kira sebagai bangsa yang beradab dan cerdas kita sepakat bahwa itu semua adalah urusan jamaah kaum muslimin dan kita serahkan perkara tersebut kepada pemerintah yang mengatur urusan orang banyak.

Adapun hak-hak individu yang tidak ada kaitannya dengan kaum muslimn kita sepakat kembalikan kepada keyakinan kita masing-masing. Contoh anda dalam keadaan safar misalnya mau sholat dua rakaat atau empat rakaat pada saat dzuhur, ini urusan anda sendiri murni tidak ada kaitannya dengan orang lain silahkan amalkan. Jadi mohon ini di bedakan jika memang kita ingin menjadi manusia yang bermartabat. Betapa rusaknya agama ini jika semuanya diserahkan kepada Individu. Kemudian kembali kepada Idul Fitri dan idul Adha, Hak siapakah keputusan masalah ni ? Sebelum kita bersepakat kita menjawab pertanyaan yang berikut ini ? Kepentingan siapakah ini ? Individu muslim apa jamaah kaum muslimn ? Tentunya jwabnya adalah kepentingan jamaah kaum muslimin di Indonesia ini, dan sebagai bangsa yang bermartabat hendaknya kita mengembalikan kepada urusan ini kepada pemimpin yang telah diserahi oleh kaum muslimin untuk mengatur urusan-urusan kaum muslimin dalam hal ini adalah pemerintah. Dan seperti itulah yang diamalkan oleh negara-negara yang lainnya.

Kita tidak menyebut saudi saja, lihatlah Brune dan Malaysia misalnya, apakah keputusan Idul Fitri dan Idul Adha ditentukan oleh pribadi-pribadi dan kelompok ? Silahkan ditanyakan sendiri. Kemudian, semua itu tidak menutup kemungkinan diberikan kebebasan individu untuk melakukan amalan pribadinya. Sebagai contoh adalah sebagai berikut : Misalnya ada individu yang telah melihat hilal namun pemerintah menolah kesaksiannya. Maka individu tersebut diberi kebebasan tidak berpuasa pada 30 Romadhon akan tetapi tetap beridul ber idul fitri bersama jamaah kaum muslimin, karena yang memutuskan idul fitri hanya satu yaitu pemerintah.

Yang seperti inilah yang diajarkan dan sebagai perbincangan kalangan ulama terdahulu. Walaupun yang paling baik (menurut penulis) adalah berpuasa dan berhari raya bersama pemerintah dan seluruh kaum muslimin. Dengan hati yang jernih dan pikiran yang cerdas mestinya kita mementingkan kepentingan umum. Perlu saya gambarkan keadaan berikut : Kita sepakat warga Muhammadiyah adalah banyak, mereka telah tersebar di lingkungan masyarakat, mereka sudah berbaur dengan dengan seluruh kaum muslimn di Indonesia ini. Keputusan Idul fitri Muhammadiyah yang berbeda dengan pemerintah senantiasa menjadikan sebagian warga dan simpatisan Muhammadiyah beramal dengan keraguan. Conohnya sebagi berikut :

Seorang

Perempuan

Muhammday

menikah

dengan

Laki-laki

Non

Muhammadiyah, yang mana keluarga tersebut berada di lingkungan NOn MUhammadiyah yang berhari raya bersama pemerintah maka, Ibu Perempuan Muhammadiyah tersebut tidak bisa berhari raya dengan nyaman karena disatu sisi Muhammadiyah sudah berhari raya (termasuk dia sebagai simpatisan) akan tetapi Suami dan lingkungan masih berpuasa. Maka mau sholat id sama siapa dia sedangkan lingkungan tidak ada yang berhari raya ? Jangan anda hanya membayangkan diri anda yang hidup di lingkungan Muhammadiyah yang bisa berhari raya selalu mengikuti keputusan Muhammadiyah Dan yang seprti ini nyata. Maka keberanian Muhammdiyah menentang keputusan idul Fitri Pemerintah yang telah nyata didukung oleh semua ormas islam yang ada pada hakikatnya bukan tindakan hikmah dan sayang terhadap pengikutnya yang mereka sangat mungkin ada bahkan banyak yang tinggal di komuntas-komuntas non Muhammadiyah yang berlebaran bersama pemerintah. Mudah-mudahan bermanfaat. ?

Saudara kalian yang lahir dari lingkungan Muhammadiyah : Abu Salma Muhammad Fachrurozi

Septika Prismasari, on 4 September 2011 at 15:15 said: waduh kalo baca kata2 ini berasa kalo muhammadiyah heboh sekali. padahal di dalam muhammadiyah sendiri adem ayem, ga meributkan masalah ini. (kebetulan ayah saya salah satu pengurus pusat di bidang LSBO) . jadi mungkin jangan terlalu lebay gitu deh bung kata2nya . calm down:B Balas

Icha, on 4 September 2011 at 18:19 said: Mohon maaf mas, sebagai orang awam, saya mohon kiranya Mas bisa menjelaskan lebih detail kapan saja saudi dan muhammadiyah bersaman ataupun berbeda. Balas

o

Mohamad Fachrurozi Ibnu Rosyid, on 5 September 2011 at 09:02 said: Maaf saya tidak punya data anda terkait lebarannya Muhammadiyah terhadap saudi anda dapat minta profesor djamaludin atau Muhammadiyah itu sendiri. Yang pasti saya dahulu pada th 1999 sd th 2004 sebagai pengikut jamaah muslimin hizbullah (cilengsi) yang mana kelompok ini selalu berlebaran bersama saudi arabiya karena mereka beranggapan hilal di suatu negeri (terkhusus saudi) wajib di ikuti oleh seluruh kaum muslimn dunia. Dengan prinsip seperti itu jamaah muslimin hizbullah selalu bersama saudi dalam berhari raya baik idul fitri maupun idul adha. Dan waktu itu berkali kali saya bersama keluarga selalu mendahului keluarga besar saya baik dari pihak istri maupun pihak keluarga saya yang keluarga besar saya dan keluarga besar istri adalah Muhammadiyah. Ini bukti bahwa Muhammadiyah tidak menjadikan Saudi sebagai standart dalam menentukan hari raya. Standart Muhammadiyah hanya satu Hisab Muhammdiyah dan mereka tidak perduli apabila berbeda dengan umat islam y ang lain. NAmun aneh bin ajaib kalau tahun ini mereka berdalil saudi dan timur tengah dan sebagian besar kaum muslimin berhari raya bersama mereka digunakan untuk pembenaran. hisab mereka

o

Mohamad Fachrurozi Ibnu Rosyid, on 5 September 2011 at 14:15 said: Lihat data berikut ini : http://rukyatulhilal.org/artikel/23-tahun-isbat-indonesia.html

 andi setiawan, on 4 September 2011 at 12:58 said: kepada prof djamaluddin saya hanya ingin mengatakan apakah standar waktu internasional yang kita pakal sekarang adalah yang diinginkan dan diridhoi oleh allah dan rasulullah,sedangkan dari nabi adam sampai rasulullah saw tidak pernah memerintahkan kita untuk memakai standar waktu itu,apakah rasulullah tahu greenwich dan selat berings itu dimana. Balas

yal, on 5 September 2011 at 13:02 said: Menurut saya standar sekarang pasti diridhoi oleh Allah karena dasarnya juga dari gejala alam, yaitu rotasi bumi dan revolusi bumi mengelilingi matahari. Balas

o

andi setiawan, on 5 September 2011 at 16:26 said: di ridhoi dari mana,apakah kita lupa dengan firman allah swt,‘dan janganlah kamu mendahului allah dan rasulnya‘ kota mekkah,masjidil haram,dan kabah itu adalah baitnya;simbol keberadaan dan kebesarannya,dan para rasulnya beribadah didalamya,jadi apakah bila kita beribadah mendahului orang orang di mekkah,tidak mendahului allah dan rasulnya,maka kalau kita terus terusan mengambil acuan yang salah terutama soal menetapkan meredian nol,maka

segala ibadah yang kita lakukan akan menyimpang,tidak diberkahi,dan yang paling parah adalah tidak mendapatkan ganjaran pahala.pantas saja bangsa ini terus terusan di beri azab, tidak pernah lepas dari masalah,kacau balau.itu karena ibadah ibadah yang kita lakukan tidak pernah benar,boro boro menjadikan akhlak dan mental kita jadi lebih baik;yang ada justru menjadi semakin buruk.kita shalat,puasa,haji ;tapi korupsi jalan terus,kekerasan dimana mana,saling menghina,saling menyudutkan,saling menyalahkan,saling membunuh karakter,apakah itu adalah gambaran bahwasanya ibadah kita sudah baik,tidak ,tidak sama sekali.selama kita tetap mendahului allah dan rasulnya maka kita takkan mendapatkan apa apa.maka dari itu marilah kita jadikan mekkah sebagai acuan waktu,sebagai titik nol derajat,tempat permulaan waktu dibumi,bukan di greenwich yang ditetapkan oleh musuh musuh allah yg bila kita mengikutinya itu adalah tanda ketidakberdayaan kita terhadap mereka yang akan merasuk kedalam segala aspek kehidupan kita.selama acuan waktu ini yang kita pakai melakukan rukyat apalagi hisab atau apapun namanya,kita akan selalu salah karena acuan waktu yang kita pakai sudah salah,yang menganggap waktu kita lebih cepat dari arab saudi;padahal waktu kita haruslah lebih lambat dari arab saudi,dan yang menganggap dirinya berlebaran hari selasa tanggal 30 sebetulnya mereka berlebaran pada hari senin tanggal 29,dan yang berlebaran hari rabu tanggal 31 sebetulnya itu adalah hari selasa tanggal 30,walaupun itu betul karena melihat hilal tapi tidak awal ramadhannya yang mendahului mekkah dan ibadah ibadah lainnya yang memakai perhitungan hari dan tanggal.shalat ashar kita untuk hari rabu itu adalah shalat ashar hari selasa,ibadah shalat jumat yang kita lakukan bukanlah dihari jumat tapi hari kamis,orang yang berpuasa senin kamis puasanya pada hari ahad dan rabu . wassalam

 Mamat, on 4 September 2011 at 13:33 said: http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/08/31/15978/penetapan-1-syawalindonesia-ditertawakan-negaranegara-islam/ Balas

 ‫ ,محمد سه الن ر ش يدى‬on 4 September 2011 at 18:53 said: Ramai juga ya…kalau sudah ada 4 lokasi yang melihat apa mungkin kriteria minimal visibilitas hilalnya yang justru harus dikaji ulang ya… ENTAHLAH… Balas

Anto, on 5 September 2011 at 07:41 said: Mohon dicermati informasinya, ditolaknya kesaksian bukan sekedar masalah visibilitas, tapi karena lihat hilalnya ketika matahari belum terbenam. Balas

 deen, on 4 September 2011 at 21:03 said: HAYO a. b. MAU Ijtihad Ijtihad PILIH BENAR, SALAH MANA pahalanya pahalanya ? 2 1

c. Mempersatukan Umat, insya Allah pahalanya BANYAK ! Kalau saya pilih yang pahalanya BANYAK. Meski akibat pilihan alternatif tersebut, saya harus ―berpuasa di hari yang diharamkan‖, atau ―puasa Ramadhan saya kurang 1 hari‖ !!! Balas  yal, on 4 September 2011 at 21:54 said:

Saya pakai logika sederhana saja kenapa Arab Saudi lebaran terlebih dahulu, entah benar atau tidak. Karena bulan muncul dari sebelah barat, maka wajar saja kalau Arab Saudi lebaran lebih dahulu, karena Arab Saudi ada di sebelah barat, termasuk Malaysia. Balas  Anandi, on 4 September 2011 at 22:24 said: ADA SATU PERSOALAN YANG MENGGANJAL, KENAPA MUHAMMADIYAH IKUT2TAN SIDANG ISBAT, KAN SDH JELAS MEREKA SUDAH JAUH2 HARI MENETAPKAN 1 SYAWAL. MESTINYA GAK USAH DATANG,UNTUK APA? SIDANG ISBAT HANYA UNTUK ORMAS ISLAM YG BELUM MENENTUKAN 1 SYAWAL DAN MEREKA BEREMBUK SESUAI METODE MASING2 APAKAH MENGGUNAKAN RUKYAT, HISAB ATAU GABUNGAN KEDUANYA. ADAPUN BAGI MUHAMMADIYAH KENAPA HARUS RIBUT-RIBUT,APALAGI MENDEBAT PESERTA LAIN? PADAHAL PESERTA LAIN SEDANG BEREMBUK MENETUKAN TANGGAL YG BELUM MEREKA TENTUKAN….KARENA MUHAMMADIYAH IKUT CAMPUR MAKA MASYARAKAT JADI KACAU. KARENA ITU SAYA SARANKAN MUHAMMADIYAH JGN EGOIS, SUDAH MENTANG-MENTANG PAMER

PENETAPAN TANGGAL JAUH2 HARI EEEHHH PAS SIDANG ISBAT MASIH JUGA MENCAMPURI ORMAS LAIN YG SEDANG BERUSAHA MEMUTUSKAN.BETAPA EGOISNYA? INI MAH BUKAN TOLERANSI BERAGAMA TETAPI EGOISME BERAGAMA. SAYA USUL, SEBAIKNYA PEMERINTAH HANYA MENGUNDANG ORMAS YANG JELAS-JELAS BELUM MENENTUKAN KAPAN 1 SYAWAL. ADAPUN ORMAS YG SUDAH MENENTUKAN SEBAIKNYA TIDAK PERLU DIUNDANG KARENA SUDAH TIDAK LAGI RELAVAN. JIKA DIUNDANG MALAH BIKIN KISRUH KRN MEREKA SDH MEMASTIKAN TANGGALNYA DAN AKAN NGOTOT MEMPERTAHANKANNYA.BERBEDA DENGAN ORMAS LAIN YG SAAT SIDANG ISBAT MASIH MENUNGGU PERKEMBANGAN PEMANTAUAN HILAL, JADI BELUM PUNYA AGENDA TERSENDIRI, ALIAS MASIH KOSONG.KARENA ITU TIDAK HERAN JIKA PERTEMUAN ANTARA ORMAS YG SDH PUNYA KETETAPAN DENGAN YG BELUM PUNYA, JIKA DIMUSYAWARAHKAN, MAKA AKAN KISRUH. ATAUPUN JIKA DIUNDANG MAKA STATUSNYA HANYA SEBAGAI PENINJAU SAJA SEKEDAR UNTUK MENDENGARKAN PROSES SIDANG

ISBAT ORMAS2 LAIN YG SAAT ITU MASIH BERUSAHA MENENTUKAN TANGGAL. DENGAN DEMIKIAN SIDANG ISBAT AKAN BERJALAN EFEKTIF. DAN PEMERINTAH SEBAIKNYA HANYA SEBAGAI FASILITATOR SAJA, BUKAN PENENTU. JIKAPUN HARUS PEMERINTAH MENGUMUMKAN 1 SYAWAL MAKA MASING-MASING ORMAS YANG PENDAPATNYA BERBEDA DIBACAKAN SEMUANYA TANPA MEMIHAK KE SALAH SATU ORMAS. MISALNYA BAGI ORMAS ―A‖ MAKA 1 SYAWAL JATUH PADA TGL…MASEHI, ORMAS ―B‖ TANGGAL…DST. ATAU BISA JUGA PEMERINTAH MEMBUAT KEPUTUSAN TUNGGAL ASALKAN SEBELUMNYA TELAH DISEPAKATI BAHWA KEPUTUSAN PEERINTAH AKAN DIDASARKAN PADA SUARA MAYORITAS ORMAS

ISLAM.DAN JIKA PADA AKHIRNYA ADA YG BERBEDA MAKA HARUS LEGOWO DGN KEPUTUSAN PEMERINTAH, DALAM ARTI MENGIKUTI SUARA

MAYORITAS. ATAU JIKA NGOTOT TIDAK MAU MENGIKUTI MAKA SEBAIKNYA TIDAK ERLU HADIR DALAM SIDANG ISBAT KRN PASTI INGIN HANYA MENDEBAT ORMAS2 LAIN YG BELUM MENENTUKAN. Balas

itx, on 5 September 2011 at 16:52 said: capsnya dimatiin dulu om. bikin males baca. beragumen ya musti beradab. Balas

suud, on 5 September 2011 at 17:14 said: haaaaaaaa…berkomentar kok malah menghujat….ora mudeng aku…. Balas

Nur Harjanto, on 5 September 2011 at 21:38 said: Setuju banget, kedepan, Muhammadiyah ato ormas lain yang udah menetapkan tanggal untuk hari besar (Idul Fitri – Adha) ndak usah diundang ke sidang Isbat dan saya usulkan ke Muhammadiyah, ndak usah hadir kalo diundang di sidang Isbat. (Pak Din kayaknya juga setuju, buktinya dia menyarankan sidang Isbat ditiadakan) Untuk masyarakat dianjurkan untuk bersikap toleran terhadap semua keputusan ormas-ormas (bahkan individu-individu) yang mempunyai pendapat berbeda-beda. Pemerintah hanya memfasilitasi, misal jika diperkirakan ada perbedaan mencapai 3 hari, Intinya maka TIDAK liburnya PERLU adanya disediakan PENYATUAN 3 (Apalagi hari juga.

PEMAKSAAN

PENYATUAN) tanggal. Semua diserahkan kemasing-masing ormas atau Individu. Pemerintah hanya mendorong dan mengembangkan sikap toleransi. Balas

 Oos Depok, on 5 September 2011 at 00:30 said: http://www.makkahcalendar.org/en/photoGallery.php Balas  Prabu Minakjinggo, on 5 September 2011 at 09:11 said: Ingat Firman Allah dalam Alquran : ―Athiiullaha wa athiiurrasul wa ulil amri minkum‖ : ―Patuhlah kamu pada Allah dan patuhlah kamu pada Rosul dan Penguasa/pemerintahmu‖. Jelas disini bahwa tidak ada perintah untuk patuh pada golongan, kalau kita mengaku melaksanakan/mengamalkan Alquran ya sudah barang tentu harus patuh pada keputusan pemerintah, mohon di ingat bahwa kalau kita berani menentang ayat Alquran bukan tidak mungkin kita akan selalu menentang pendapat2 orang lain seperti yang terjadi saat ini dan tahun2 sebelumnya dalam penentuan Hari Raya Idul Fitri yang dilakukan oleh orang2 muhammadiyah Balas

Idris, on 5 September 2011 at 11:45 said: @prabu: pertama-tama tolong dibaca2 dulu tentang definisi dan kriteria ―ulil amri‖ menurut kaidah islam lalu anda simpulkan sendiri apakah pemerintah indonesia sudah pantas disebut sbg ―ulil amri‖ sesuai ayat Al Qur‘an tsb.. yg kedua seandainya pun pemerintah dianggap sebagai ―ulil amri‖ tapi bila kita tahu itu melanggar hukum Allah kita tidak boleh mengikutinya karena sesuai hadist Rasulullah : ―Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.‖.. contoh: haram hukumnya berpuasa pada 1 syawal, jadi kesimpulannya… Balas

o

Anto, on 6 September 2011 at 13:56 said: @ Idris:

Ngaji dulu mas yang sungguh2 kepada para ulama yang kompeten, jangan asal berfatwa dan main vonis.

Baru tahu satu dua ayat dan hadits sudah berani menyimpulkan suatu masalah.

Gemblung Jaya, on 5 September 2011 at 21:51 said: Pemerintah RI saat ini ndak bisa disebut Ulil Amri Minkum, udah Lebay, gak adil, ngandalin pencitraan. Klo mau jadi Ulil Amri yang wajib diikuti, beresin dulu tuh kasus Gayus (sampai akarnya, jangan hanya Gayus aja), Century, si Udin dll. Tak ada baiknya pada pemerintah saat ini, Pertumbuhan ekonomi hanya permainan statistik, inflasi dan fundamental ekonomi, hanya karena bohong belaka. Sory nglantur

Balas

 Kuntul, on 5 September 2011 at 10:40 said: Lebaran Idul Fitri 2011 selesai. Ayo kembali bekerjaa. Komentar bubarrrr…Kapan2 kita debat lagi di momen lainnya Balas  Tommy E. Lee, on 5 September 2011 at 14:56 said: http://www.makkahcalendar.org/en/Aid-El-Fitr-1432-2011-date-timetable-countrylist30August2011.php Balas  djiesaka, on 5 September 2011 at 15:26 said: Penulis melakukan PROVOKASI dg menyerang Muhammadiyah,

kl mau provokasi lakukan di sekitar lo dan keluarga lo saja ! Kl semua orang bikin Tulisan seperti ini dan saling menyerang satu sama lain apa jadinya?? Memangnya lo doang yg bisa bikin Artikel ga jelas seperti ini??!! Balas  rian, on 5 September 2011 at 15:44 said: @aat logika ente bener kalo bumi datar kaya kertas..jiakakakakakak Balas 

Mohamad Fachrurozi Ibnu Rosyid, on 5 September 2011 at 15:52 said: Maaf Prof numpang yang ini semoga bermanfaat http://abasalma.wordpress.com/2011/09/05/polemik-muhammadiyah-pemerintah-lebarandua-hari/ Balas  FANTHONIHERNAWANANDY (@Vanthonyheras), on 5 September 2011 at 16:46 said: ilmu bulaan sangat tidak masuk akal… oleh karena itu kalender umul quro dinyatakan USANG… SETUJU… kalo Agama Selamat Islaam harus mengikuti kemajuan zaman.. Romadhon th 2012 besok khamandiyah 30 hari di almanak yang diterbitkannya.. yg laiinnya 29 hari.. gak usah ribut ..yang ikut khamandiyah harus puasa 30 hari,hehe,, he Balas  dalili, on 5 September 2011 at 19:53 said: dari dulu muhammadiyah itu sudah banyak salah jalan,titik!!!katanya ormas modern tp kok alergi pake toeri modern, membid‘ahkan org padahal banyak bid‘ah sendiri yang dijalankan, spt cara trwh yang dilakukan setelah isya‘,pdhl rosul trwhnya tengah malam,apa itu jg gak bid‘ah?!kalo mau murni kayak rosul ya tiap hari pake jubah,surban,imamah,trwh tengan malam,kyk rosul gitu..trs pergi haji ya jangan naik pesawar,soalnya rosul nggak naik pesawat waktu itu,apa bukan bid‘ah itu?persis yang saudara dengan muhammadiyah aja lebih maju dan terbuka terhadap perubahan..dasar kepala batu! Balas  Muhammadiyah Mematikan Tajdid Hisab « Catatan Belajar, on 5 September 2011 at 21:50 said: [...] : Blog Dokumentasi T. Djamaluddin Like this:LikeBe the first to like this [...] Balas

 ACEHSAKETI, on 6 September 2011 at 01:23 said: Penulis melakukan PROVOKASI dg menyerang Muhammadiyah,

kl mau provokasi lakukan di sekitar lo dan keluarga lo saja ! Kl semua orang bikin Tulisan seperti ini dan saling menyerang satu sama lain apa jadinya?? Memangnya lo doang yg bisa bikin Artikel ga jelas seperti ini??!! bung komentar gini dihutang cocok, bicaralah sekelas beliau, bantah argumentasi dan lemahkan pendapatnya dengan argumentasi anda, jangan tahunya hakimin orang padahal alif ba tsapun tahu, eh malam syedara lon Balas  ACEHSAKETI, on 6 September 2011 at 01:27 said: perbedaan pendapat memang tidak dapat dihindari, namun ada pendapat yang kuat dan ada pendapat yang lemah. sekelas imam syafi‘i saja bisa ada pendapat jadid karena bertambah ilmunya dimesir setelah dahulunya lama diirak, lha muhammadiyah baru umur satu abad aja tapi seolah olah alim allamah. saya lebih cenderung menilai muhammadiyah kalau harus balik pendapat ya harus naggung malu, dan malu gak akan mau ditanggung oleh oleh orang orang yang merasa tinggi, air muka mau dibawa kemana. itu secara organisasi saya setuju untuk selamatkan air muka. namun secara pribadi kader muhammadiyah, mari sama sama, tampa diketahui oleh para pengurus, kita puasa 30 hari tampa sepengetahuan majlis tarjih karena mreka bukan ulil amri kita dan mereka banyak merugikan akhirat kita dengan pendapat pendapat usang mereka. gimana setuju????? Balas 

ACEHSAKETI, on 6 September 2011 at 01:42 said: @prabu: pertama-tama tolong dibaca2 dulu tentang definisi dan kriteria ―ulil amri‖ menurut kaidah islam lalu anda simpulkan sendiri apakah pemerintah indonesia sudah pantas disebut sbg ―ulil amri‖ sesuai ayat Al Qur‘an tsb.. yg kedua seandainya pun pemerintah dianggap sebagai ―ulil amri‖ tapi bila kita tahu itu melanggar hukum Allah kita tidak boleh mengikutinya karena sesuai hadist Rasulullah : ―Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.‖.. contoh: haram hukumnya berpuasa pada 1 syawal, jadi kesimpulannya… maksud hadist bahwa taat kepada makhluk selama tidak maksiat kepada Allah bila itu maksiat yang sepakat para ulama. namun lebaran hari rabu adalah pendapat kuat sekali dalam mazhab syafi‘i. yang rabu pendapat lemah dalam mazhab syaf‘i. nah kalau pemerintah sudah ketuk palu, tak mengenal kuat dan lemah lagi, kalau yang ditarjih hari selasa maka wajib hari raya berdasar rukyah jepara dan cikung, tapi pemerintah ketuknya hari rabu. dan masalah pemerintah adalah ulil amri addarurah bisyaukah ada dalam kitab bughyatul musytarsyidin. sayangnya muhammadiyah adalah mazhabnya orang tak bermazhab, dan memahami ayat dan hadist tidak lewat mujtahid, tapi lewat majlis tarjih. dan yang dimajlis tarjihpun banyak yang dibawah prof. jamaluddin. kasian muhammadiyah nasibmu. tapi ya sudahlah syurga punya Allah mau dimasukkan dia itu hak dia. namun hak saya, saya pelajari agama berdasar mazhab syafi;i dan lainnya, lalu mengingatkan yang mau percaya. tak percaya juga tak apa. toh syurga bukan punya saya. tapi jangan menyesal kalau ternyata ibnu hajar dan imam syaf‘i ikutan saya benar. dan yang tak puasa hari rabu. disiratal mustaqim karena tak cukup satu hari puasa setiap tahunnya harus mendekam dineraka. walau kalau saya salah juga gitu. jadi nahu mantiq usul m,ustalahul tafsir bayan fiqih hadist mari mengaji. saraf.

maani badi; tauhid fiqih tasawuf astronomi baru bicara masalah hilal. ini mah cukma ikut blog orang, ikut ustaz, baca buku terjemah udah merasa inilah yang benar in ilah yang salah. saya saja yang yakin benar masih yakin juga ada kemungkinan tidak benar, karena hanya tuhan yang tahu yang paling benar. jadi mari eh malam pake autan gitu lho. Balas  roni maskuroni, on 6 September 2011 at 10:11 said: sebagai penengah saja antara umat islam yang berselisih. lebaran hari selasa atau rabo itu sama saja. bagi yang lebaran hari selasa kalaupun 1 syawal yang betul hari rabo kita punya hutang puasa 1 hari dan dapat membayar puasa kita dihari2 yang lain dan jika yang betul 1 syawal hari selasa kita harus bersukur kita tidak mengerjakan yang diharamkan oleh ALLah. semoga ini dapat menjadi penengah bagi kita. Balas  cahaya, on 6 September 2011 at 11:32 said: Kok sibuk banget…kenyataannya diseluruh dunia…hanya Indonesia yg lebaran tgl 31 Agustus…aneh sendiri…. Balas 

Tie Tie, on 6 September 2011 at 11:39 said: Berita minggu lalu yg masih perlu dibaca. Jelas sudah siapa yg cuma pandai berteori dan siapa yg sesuai fakta. Tampaknya memang sudah ada niat untuk beda dengan Muhammadiyah biar masyarakat men-jelek2 kan Muhamamadiyah. NU: Hari Ini 1 Syawal, yang Puasa Segera Berbuka

Selasa, 30 Agustus 2011 15:26 WIB REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – KH Maulana Kamal Yusuf, salah satu ulama besar di Jakarta yang juga menjabat Rois Suriah Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta, mengatakan, hari ini, Selasa (30/8), sudah masuk 1 Syawal 1432 H. Bagi umat muslim yang masih melaksanakan ibadah puasa dianjurkan untuk segera berbuka puasa. Kiai Kamal mengaku telah mengambil sumpah 3 orang saksi yang melihat hilal pada Senin (29/8) kemarin di Pondok Pesantren Al Husainiah, Kampung Baru, Cakung, Jakarta Timur. ―Ketiga saksi yang bersumpah melihat hilal tepat saat waktu Maghrib. Posisinya miring ke selatan dalam keadaan vertikal. Dengan durasi hilal 5 menit,‖ kata Kiai Kamal kepada Republika, di Jakarta, Selasa (30/8). Kiai Kamal menjelaskan, rukyat di Cakung dilakukan dengan tiga metode rukyat. Masing– masing, 4,35 derajat, 3 derajat, dan 2 derajat. Ketiga saksi dengan metode masing-masing mengaku melihat hilal. Namun, petugas dari Pengadilan Agama Jakarta Timur yang berada di lokasi saat itu, enggan mengambil sumpah ketiga saksi yang telah melihat hilal. Bahkan, petugas tersebut meninggalkan tempat rukyat sebelum pengambilan sumpah. Karena tidak ada yang mengambil sumpah, Kiai Kamal lalu diminta untuk mengambil sumpah ketiga saksi tersebut. Didamping Ketua Front Pembela Islam, Habib Rizieq Shihab, dan Pimpinan Pondok Pesantrean Al Itqon, KH Mahfud Assirun. ―Ketiga saksi bersumpah, Demi Allah, melihat hilal tepat saat waktu Maghrib. Posisi hilal miring keselatan dalam keadaan vertikal. Dengan durasi hilal 5 menit,‖ kata Kiai Kamal.

Hasil rukyat di Cakung sempat dilaporkan oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama, Ahmad Jauhari, di depan Sidang Isbat. Namun, kata Kiai Kamal, pemerintah menganggap hilal tidak mungkin dirukyat, karena posisinya di bawah ufuk. ―Tapi kita yang merukyat, melihatnya di atas ufuk,‖ ungkap Kamal. Menurut Kamal, telah terjadi perbedaan pendapat antara pemerintah dengan saksi yang melihat hilal. ―Pemerintah berijtihad, kita juga berijtihad. Tapi, ijtihad pemerintah tidak bisa membatalkan ijtihad kita,‖ kata Kamal menegaskan. Karena itu, tim rukyat di Cakung, mengambil keputusan bahwa hari ini, Selasa (30/8), sudah masuk 1 Syawal 1432 Hijriah. ―Bagi yang saat ini masih berpuasa dianjurkan untuk segera berbuka. Karena haram hukumnya berpuasa pada 1 Syawal,‖ kata Kamal. Kegiatan rukyat di Cakung, tepatnya di Pondok Pesantren Al Husainiah, Pimpinan KH Muhammad Syafi‘I, sudah berlangsung selama 50 tahun. Rukyat di Cakung tidak hanya dilakukan setahun sekali menjelang Lebaran saja, tapi dilakukan setiap bulan untuk mencocokan dengan perhitungan hisab. KH Muhammad Syafii sendiri mampu melakukan hisab rukyat dengan 11 cara. Pada rukyat Senin (29/8) kemarin, kesebelas cara itu digunakan. ―Sembilan cara hisab menyatakan hilal di atas ufuk, hanya 2 cara hisab yang di bawah ufuk,‖ kata Kiai Kamal. Share Tweet 152100 elma , Sabtu, 3 September 2011, 19:57 naa…! tu khan..jadi siapa yang bertanggung jawab atas dosa dan keharaman yang dilakukan umat, yang masih berpuasa di hari selasa..hanya karena patuh dengan aturan pemerintah, yang Balas rudi minsstreet, Sabtu, 3 September 2011, 11:22 awal Balas RUDI HENDRIK, Jumat, 2 September 2011, 09:18 dri peperangan … akhirnya menyesatkan reads

inilah bukti kesombongan penguasa yang zhalim dan kesombongan dari perpecahan Balas fadli, Jumat, 2 September 2011, 08:22 Nah lo, suryadarma ali nanggung dosa org se-indonesia yang puasa hari selasa tuh Balas  Tie Tie, on 6 September 2011 at 11:49 said: Tampaknya tokoh2 Depag dan ormas2 tertentu itu memang sudah ada niat harus beda dengan Muhammadiyah biar masyarakat menjelek-jelekan Muhammadiyah dan mengatakan : memecah belah umat-lah, nggak mau musyawarah-lah, kaku-lah, jumud-lah, kuno/usang-lah dll. Masya Allah, tokoh2 Islam yang menerima amanah dari rakyat dan habis puasa lagi kok perilakunya sejahat itu. Balas  sarifah, on 6 September 2011 at 13:38 said: Assalamu‘alaikum wr wb Saya kira masalah perbedaan ada akibatnya. Salah satu dari penentuan awal Syawal di negara kita pasti hanya satu yang benar.

BUlan hanya satu, Bumi satu, Matahari satu , Allah esa. Jadi hanya satu yang benar dalam penetapan kemaren. Siapa ? walahualam. Kalau hanya berkeyakinan PERHITUNGAN SAYA PALING BENAR , itu sama saja dengan rebut bolu isi madu. Hanya menangmenangan tanpa dasar. Keyakinan awal syawal ada perhitungannya secara ilmiah. Jaman sekarang sudah maju. Teropong sudah modern. Dari rotasi bulan, bumi dan matahari, kan bisa dihitung beberapa hari sebelum penetapan. Jalannya rotasi tetap. Lha dari situ bisa dihitung nanti kira-kira pukul dan hari berapa hilal akan terlihat.

Sama seperti dua benda diberangkatkan dengan waktu bersamaan tetapi dengan kecepatan berbeda, kan bisa dihitung kapan benda itu akan bersama lagi. Marilah kita bersatu dengan hitungan yang pasti, kompak , sama dan seragam. Bukan hanya masalah keyakinan saja, tapi juga keilmuan yang ilmiah. Ingat , umat lain bersorak ketika kita umat islam saling kolot mempertahankan keyakinan masing-masing , yang notabenenya bisa dikompromi dengan saling memperbaiki diri. Saling membuka diri untuk kemajuan agama islam. Jangan hanya bisa menghiba dengan kata-kata , TOLONG HARGAI PERBEDAAN INI, atau TOLONG HARGAI KEYAKINAN KAMI, atau memaksanakan diri bahwa PERBEDAAN ITU RAHMAT.. dll Semoga kejadian penetapan awal hari raya islam tidak terulang lagi ditahun-tahun mendatang. Amin Wassalamu‘alaikum wr wb Balas  ardiyansyahh, on 6 September 2011 at 14:15 said: yg penting bisa lebaran .. skalian promote .. web ane gan ,, hhe

jgn lupa mampir ya Balas

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->