Disusun oleh

:
Henk smith, Sulistyowati, Lutiyono, Hari Kristopo, Silvia Andini,
Mita Septiani, Dian Novita Wijaya, Noviani Gunawan












FAKULTAS SAINS dan MATEMATIKA
UNIVERISTAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2011
2

TATA TERTIB DAN PENILAIAN
PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I
SEMESTER I 2010-2011

Tata Tertib :
1. Mematuhi tata tertib umum Laboratorium Kimia FSM.
2. Datang tepat waktu, keterlambatan lebih dari 15 menit, nilai 0.
3. Pada saat praktikum praktikan wajib membawa 1 set peralatan standard (pillius,
spatula, tabung reaksi dll), korek api gas serbet.
4. Selama praktikum, praktikan wajib memakai jas praktikum dan sepatu
tertutup.
5. Tugas awal dikumpulkan pada hari jumat di Lab. Kimia AS 3B sebelum jam
12.00 WIB.
6. Tugas awal tanpa nama, NIM dan kelompok, nilai dikurangi 10%.
7. Keterlambatan pengumpulan tugas awal pada hari yang telah ditentukan, nilai
dikurangi 50%, lebih dari 1 hari tidak diterima.
8. Bagi yang tidak mengumpulkan tugas awal, tidak diperbolehkan mengikuti acara
praktikum yang bersangkutan.
9. Laporan sementara dibuat rangkap dua, pada lembar laporan sementara yang
telah ditentukan.
10. Laporan sementara ditulis rapi dan bersih selama waktu praktikum dan harus
ditandatangani oleh praktikan, asisten dan laboran.
11. Laporan resmi praktikum (ditulis tangan) dikumpulkan 1 minggu setelah acara
praktikum selesai (sebelum acara praktikum berikutnya dimulai)
12. Toleransi keterlambatan pengumpulan laporan resmi 15 menit.
13. Format laporan resmi adalah sebagai berikut :
 Judul
 Tujuan (5)
 Pendahuluan (10)
 Bahan dan Metoda (5)
 Hasil (5)
 Jawab pertanyaan (35)
 Pembahasan (20)
 Kesimpulan (10)
 Daftar Pustaka (5)
 Lampiran (5)
12. Sistematika laporan yang tidak lengkap sesuai dengan format, nilai dikurangi
20%.
13. Laporan dan tugas awal yang sama, akan dikurangi 50% untuk masing-masing
praktikan.
14. Laporan resmi praktikum wajib dikumpulkan bersama laporan sementara dan
tugas awal. Laporan yang tidak lengkap nilai dikurangi 10%
15. Penilaian : Total nilai 25%
 Tugas awal 5%
 Laporan resmi 10%
 Tes awal 7,5% (4x tes)
 Keaktifan 2,5%


3

ACARA DAN JADWAL PRAKTIKUM
KIMIA FISIKA I
SEMESTER I 2011-2012

1. Penghitungan Ralat …………………………………………………………….. 4
2. Pengaruh Katalis untuk Orde Reaksi dan Energi Aktivasi …………………….. 20
3. Pengaruh Suhu Terhadap Kesetimbangan; Kalorimetri tak langsung………….. 26
4. Penentuan Massa Molar Polymer ……………………………………………… 30
5. Termodinmika Karet …………………………………………………………... 35
6. Titrasi Potensiometri Campuran Asam ………………………………………… 39
7. Pelapisan Tembaga (Elektroplating) …………………………………………… 46
8. Penurunan Titik Beku ………………………………………………………….. 49
9. Perubahan-Perubahan Energi pada Reaksi Kimia……………………………… 55
10. Penentuan Massa Jenis Suatu Zat……………………………………………… 58

Tanggal
Acara Praktikum / Kelompok
I II III IV V
28-09-10 1 1 1 1 1
05-10-10 2 2 2 2 2
12-10-10 3 3 3 3 3
19-10-10 4 5 6 7 8
26-10-10 5 6 7 8 9
02-10-10 6 7 8 9 10
09-11-10 7 8 9 10 4
16-11-10 8 9 10 4 5
23-11-10 9 10 4 5 6
30-11-10 10 4 5 6 7

KIMFIS IA :
KELOMPOK I : KELOMPOK II : KELOMPOK III :
652009012 652009011 652009002
652009021 652009005 652009007


KELOMPOK IV : KELOMPOK V :
652009602 652009019
652009603 652009014


KIMFIS IB :
KELOMPOK I : KELOMPOK II : KELOMPOK III :
652009018 652009017 652009015
652009009 652009003 572007005


KELOMPOK IV : KELOMPOK V:
652009008 652009016
652010601 652009004

4

1. PERHITUNGAN RALAT


1. PENDAHULUAN
Maksud suatu pengukuran di dalam ilmu fisika ialah pada umumnya untuk
menambah pengetahuan kita tentang besarnya suatu besaran fisika. Karena pelbagai
sebab tidak mungkin kita mengetahui besaran itu secara eksa; diantaranya kami
sebutkan :
1. Pada banyak pembacaan, kita harus melakukan suatu pengiraan, yaitu jikalau
penunjukan alat pengukur tidak tepat pada suatu garis skala. Hal itu menyebabkan
ketidakpastian yang disebut ralat pembacaan.
2. Mengukur itu berarti menghubungi atau mempengaruhi yang diukur, dan hal itu
pun dapat menyebabkan ketidakpastian. Misalnya seringkali ada yang harus
disesuaikan sebelum pengamatan, dan penyesuaian itu tidak mungkin kita lakukan
dengan sempurna. Maka kita mengatakan ada ralat penyesuaian.
3. Tidak semua sebab yang mempunyai pengaruh terhadap hasil pengukuran selalu
kita ketahui atau dapat kita perhitungkan. Karena itu hasil pengukuran satu
besaran dengan dua cara yang berbeda dapat berbeda juga. Dalam hal itu terdapat
ralat sistematis.

Karena hasil pengukuran selalu mengandung ketidakpastian maka hasil itu
harus kita laporkan sebagai suatu bilangan, lengkap dengan batas toleransi
(kelonggaran). Batas itu member kesan ketelitian hasil tersebut.
Ketiga jenis ralat yang kami sebutkan perlu dipahami dengan baik. Karena
itu kami mulai dengan memberikan contoh tiap – tiap jenis ralat tersebut. Lalu kami
akan membicarakan beberapa perjanjian mengenai cara mengirakan ralat serta cara
melaporkan hasil pengukuran yang berlaku untuk praktikum fisika dasar.

2. CONTOH JENIS – JENIS RALAT
2.1. Ralat Pembacaan
Guna menentukan panjangnya suatu batang. Batang itu kita impitkan dengan
bilah ukur yang skalanya dibagi dalam cm (lihat Gambar 0-1)







Gambar 0-1

Kita melihat bahwa panjang batang ada di antara 10 dan 11 cm. kita
mengirakan 10,2 cm. Melaporakn hasil pengukuran sebagai 10,22 cm tidak masuk
akal karena angka pertama di belakang koma sudah tidak pasti. Pengamat dalam
pemikirannya membuat anak pembagian dan berdasarkan itu diperolehnya
pengiraan tersebut. Anak pembagian dalam persepuluh masih cukup dapat dibuat,
tetapi dalam perseratusan sudah tentu tidak terbuat.
Nilai yang dibaca boleh jadi sebenarnya adalah 10,25 bahkan 10,3. Karean itu
kita melaporkan panjang itu lengkap dengan batas toleransinya. Batas itu kita ambil
9 11 12 13 14 15 10
5

selonggar mungkin, kalau dalam contoh ini kita mengandaikan bahwa
penyimpangan yang mungkin itu tidak akan melewati 0,1 cm (kepada kedua nelah),
maka kita melaporkan :
L = (10,2 ± 0,1) 10
-2
m
Dengan itu kita mengungkapkan bahwa menurut hemat kita nilai sebenarnya
sudah pasti diantara 10,1 dan 10,3.
Sekali lagi kita mengukur panjang batang tersebut, sekarang memakai bilah
ukur dengan pembagian skala dalam mm. (Gambar 0-2)






Gambar 0-2

Panjangnya diantara 102 dan 103 mm, kita mengirakan 102,3, sekarang ralat
maksimal bukan 1/10 selang skala lagi, karena sebenarnya tidak mungkin melihat
persepuluhan mm. Jadi ralat yang kita kirakan harus kita sesuaikan dengan selang
yang lebih kecil , kita mengambil 1/5 atau 0,2 mm. Sehingga :
L = (102,3 ± 0,2) 10
-2
m
Mungkinkah kita menggunakan bilah ukur dengan pembagian skala yang
lebih halus lagi. Akhirnya kita hanya masih dapat melihat apakah pembacaan lebih
dekat garis yang satu atau yang lain. Ralat pembacaan dalam hal itu ½ bagian skala,
sebab daerah ± ½ bagian sekitar garis tertentu dihitung sama dengan garis itu;
pembacaan dilakukan dalam bagian skala bulat.

2.2. Ralat Penyesuaian
Dalam contoh kedua ini, pengamat harus membaca tingginya sebbuah kolom
air raksa dengan menggunakan skala yang ditempatkan pada jarak tertentu (Gambar
0-3)












Gambar 0-3


Karena kolom dan skala tidak sama jauhnya dari mata pengamat. Maka
terdapat gejala beda lihat (paralaks). Perlu melihat tepat mendatar untuk
memperoleh pembacaan yang tepat (tanpa memperhayikan ralat pembacaan). Kalau
9 10 11 12 13 14 15
77
76
75
a
b
6

orang mengamati dari posisi a, akan memperoleh pembacaan skala yang terlalu
rendah, sedangkan dalam pembacaan b, diperoleh pembacaan yang terlalu tinggi.
Bilamana diadakan beberapa pengamatan, sambil melihat mendattar sebaik
mungkin maka hasil – hasil pengamatan itu pada umumnya berbeda. Dalam hal ini
tidak antara 3 kemungkinan (10,1; 10,2; dan 10,3)harus kita pilih seperti dalam
conto pertama, melainkan kemungkinannya lebih banyak. Maka untuk menentukan
selang yang terkecil yang didalamnya pastilah letak kedudukan yang nyata terlalu
rendah sedikit, dan yang lain dari kedudukan yang sedikit terlalu tinggi.
Selisih hasil kedua pengamatan dibagi 2 itu kita laporkan sebagai ralat. Nilai
rata – ratanya kita nyatakan sebagai tinggi yang dicari. Disini pun dapat timbul
kesulitan, andaikan kita temukan seperti Gambar 0-4
Untuk nilai tertinggi h
2
= (76,3 ± 0,1) 10
-2
m
Untuk nilai terendah h
1
= (76,0 ± 0,1) 10
-2
m
Separuh selang terkecil yang di dalamnya pasti terletak hasil pengamatan
bukanlah ½ .(76,3 – 76,0) = 0,15 melainkan ½ . (76,4 – 75,9) = 0,25 . 10
-2
m,
karena ralat pengiraan.
Maka kita peroleh :
h = (76,15 ± 0,25 ) 10
-2
m
Ini bertentangan dengan pertimbangan pada contoh 1, yaitu bahwa kita tidak
akan melaporkan hasil pengamatan dengan decimal lebih banyak daripada yang
ditentukan oleh ralat penaksiran (± 0,1). Kalau kita terus berpegangan pada
pertimbangan itu, maka kita harus membulatkan hasil itu. Dan mengenai
pembulatan ituperlu dibuat perjanjian, bahwa harus dikerjakan sedemikian rupa
sehingga batas selang baru letaknya di luar batas lama; maksudnya agar kepastian
tidak berkurang.
Akan tetapi kita tidak akan bertindak sejauh itu, dan kita mengadakan
pengecualian untuk kombinasi dua angka 10, 15, 20, 25, kombinasi itu boleh
dipakai bila menurut kesan kita pembulatan terlalu akan memperbesar ralat.

2.3. Ralat Sistematis
Jikalau kita mau mengukur sekaligus tegangan dan arus lewat suatu resistor,
maka ada dua cara untuk menempatkan meter tegangan dan meter arus (gambar 0-
4a & 4b)





Gambar 0-4a Gambar 0-4b

Kedua cara mengandung ralat sistematis. Dalam rangkaian menurut gambar
0-4a, meter arus tidak mengukur arus melalui resistor R saja, melainkan arus
melalui resistor R dan voltmeter bersama. Maka pembacaan meter arus terlalu
besar, terdapat ralat yang selalu positif dan tidak dapat sekedar ditulis sebagai ± a.
Dalam rangkaian 4a, pembacaan voltmeter tidak mempunyai ralat siostematis,
tetapi dalam rangkaian 4b, voltmeterlah yang yang mengukur tegangan lewat
resistor dan amperemeter besama, sehingga pembacaan terlalu besar.
Besarnya ralat itu tergantung hambatan masing – masing meter dan mudah
dihitung, asalkan hambatan meter itu diketahui. Misalnya dalam 4a, voltmeter
menunjukan V
v
= (5,4 ± 0,2)V dan hambatan R
v
= 20 KO. maka arus melalui
A
R
v
A
R
v
7

voltmeter adalah I
v
= V/R
v
= (0,270 ± 0, 01) mA.lalu kita dapat mengadakan
kkoreksi untuk memperoleh nilai arus melaui R yang tepat. Andaikan pembacaan
meter arus adalah I
A
= (9,7 ± 0,1)mA, maka arus yang sebenarnya melalui resistor
R letaknya pasti diantara
I
R max
= (9,7 +0,1) – (0,27 – 0,01) = 9,54 mA
I
R min
= (9,7 – 0,1) – (0,27+ 0,01) = 9,32 mA
Jadi I
R
= (9,43 ± 0,11) mA, dan menurut perjanjian – perjanjian kita hasil
harus dibulatkan menjadi
I
R
= (9,45 ± 0,15) mA
Demikian pula dapat kita mengadakan koreksi dalam hal 4b, hitunglah sendiri
nilai V
R
yang paling tepat kalau hambatan meter ialah R
A
= 100O, pembacaan
meter V
V
= (6,3 ± 0,2)V, serta I
A
= (9,4 ± 0,1) mA.
(Jawab : V
R
= (5,35 ± 0,25) V)
Dalam percobaan ini kita melihat bahwa hasil pembacaan berlainan bila kita
mengubah penempatan meter, karena ada ralat sistematis. Itullah merupakan suatu
sifat penting ralat sistematis. Kita dapat mennemukannya denagn mengubah cara
mengukur. Kalau hasil cara yang berlainan ada bedanya itu merupakan petunjuk
bahwa terdapat ralat sistematis.
Juga dengan memakai meter lain pembacaan akan berbeda. Khususnya kalau
kita memakai meter tegangan denagn hambatan lebih besar dan meter arus dengan
hambatan kecil. Mak ralat sistematis dapat dibuat lebih kecil, sehingga dapat
diabaikan. Coba ulangi perhitungan di atas dengan R
v
= 200 KO san R
A
= 10O.

3. RALAT KEBETULAN & RALAT SISTEMATIS
Dengan contoh yang diberikan di atas, telah kami perlihatkan bahwa
umumnya terdapat perbedaan antara nilai hasil pengukuran dan nilai sejati suatu
besaran. Asal mulanya perbedaan itu dapat kita bedakan 2 macam: terdapatnya ralat
kebetulan dan terdapatnya ralat sistematis.
3.1. Ralat Kebetulan dapat didefinisikan sebagi penyimpangan dari nilai sejati yang
boleh positif maupun negative, sedangkan besarannya dapat berbeda – beda waktu
mengukur berulang kali (Contoh 1 & 2).
3.2. Ralat Sistematis didefinisikan sebagai penyimpangan yang dalam keadaan –
keadaan serupa selalu mempunyai tanda yang sama dan sering juga besarnya sama
(Contoh 3).
Ralat kebetula sering kali dapat dibatasi dengan berkali – kali mengulangi
pengamatan itu dan menghitung nilai rata- rata. Cara kerja itu dalam praktikum fisika
dasar kurang praktis, karena itu kita bekerja dengan pap yang disebut ralat yang
mungkin.
Ralat sistematis besarnya dalam beberapa hal mudah ditentukan dan dalam
hal iu sewajarnya kita menghitung koreksi untuk memperbaiki hasil pengukuran
(Contoh 3). Tetapi seringkali perlu mengadakan analisa teoritis atau perluasan
penelitian yang cukup mendalam, misalnya mengulangi pengukuran denagn cara yang
berbeda. Karena itu dalam praktikum fisika dasar biasanya dianggap cukup kalau
sumber – sumber ralat sistematis dipahami, tanpa menghitung besarnya (kecuali dalam
hal yang mudah). Dan yang dimaksud dengan perhitungan ralat ialah biasanya
perhitungan ralat kebetulan.

4. RALAT YANG MUNGKIN
Ralat yang mungkin atau singkatnya ralat yang mungkin dapat dirumuskan
sebagai separuh selang terkecil yang di dalamnya terletak nilai yang dicari. Perlu kita
8

menyadari batas kepastian itu: asal kita tidak terlalu optimis menilai rala itu. Kita dapat
member definisi lain, yakni ralat terbesar yang dianggap dapat terjadi dalam keadaan
yang berlaku.
Tetapi yang paling ditekankan adalah kepastiannya, bukan kemungkinannya.
Karena itu ralat yang mungkin selalu dibulatkan keatas.
Suatu cedera ralat yang mungkin adalah bahwa kita selalu menentukan ralat
yang lebih besar daripada yang masuk akal. Dengan demikian, kita tidak menggali
seluruh keterangan yang terdapat dalam pengamatan. Tetapi keuntungannya besar.
Salah satu yang terpenting (yang bersangkutan dengan cara menyatakan ralat yang
mungkin hanya dengan satu angka atau paling banyak dua angka) ialah penghematan
perhitungan seperti kita akan melihat berikut ini.

5. MELAPORKAN HASIL YANG MUNGKIN
5.1. Satuan dan Desimal
Hasil akhir kita laporkan sebagai suatu bilangan plus atau minus ralat yang
mungkin, dengan satuannya menurut S.I.
Kelipatan decimal satuan itu dituliskan denagn pangkat sepuluh (atau dengan
awalan), sedemikianrupa sehingga pangkat itu takterpandang tandanya merupakan
kelipatanm 3.
Jadi : (10,2 ± 0,1) cm menjadi (102 ± 1) 10
-3
m.
Ralat yang mungkin dinyatakan dengan satu angka saja (terlepas dari angka-
angka nol dimuka angka itu), dengan pengecualian : antara 10 sampai 25 dua angka.
Jumlah angka dala hasil akhir dibatasi oleh ralat yang mungkin, maka sampai
denagn angka yang mengandung ketidakpastian : 34,256 ± 0.1 tidak diperkenankan!
semestinya 34,3 ± 0,2.
Bilamana angka terakhir itu angka nol, maka nol itu juga dituliskan : bukan
10 ± 0,1 melainkan 10,0 ± 0,1.

5.2. Ralat Nisbi
Kadang- kadang ralat yang mungkin dilaporkan sebagai ralat nisbi atau ralat
relative, yaitu ralat yang mungkin dibagi bilangan yang mengandung ralat itu,
dalam rumus : k= ∆a/a. Ralat relative itu sering dinaytakan dalam %
Akan tetapi kita tidak boleh menuliskan a ± k%, karena a memiliki dimensi
sedangkan k tidak!
Notasi yang boleh digunakn : a (1 ± k%)
Bilamana hasil pengamatan misalnya a= 10,0 . 10
-3
m dan ralat ∆a = 0,1.10
-3
m, maka kita dapat menyatakan ralat nisbi (yang mungkin) besarnya 1%

6. KELANJUTAN RALAT DALAM PENGOLAHAN HASIL PENGUKURAN
MENJADI HASIL AKHIR
Seringkali hasil pengukuran harus diolah lebih lanjut untuk memperoleh hasil
akhir yang dituju denagn pengukuran itu. Dalam hal itu ralat pengukuran mempunyai
kelanjutannya dalam hasil akhir itu, dan perhitungan hasil itu harus meliputi
perhitungan ralat di dalamnya.

6.1. Contoh : isi sebuah balok
Untuk mengetahui isi sepotong logam yang siku – siku kita telah mengukur
sisinya.
a ± ∆a = (200 ± 1) 10
-3
m
b ± ∆b = (100 ± 1) 10
-3
m
9

c ± ∆c = (300 ± 1) 10
-3
m
Isinya kita hitung dengan cara :
V = a . b . c = 200 . 100 . 300 .10
-9
= 6 . 10
-3
m
3

Sekarang ditanyakan : berapakah besar ralat yang mungkin?
Kita boleh menghitung nilai maksimum dan minimum V, lalu melaporkan
separuh selisihnya sebagai ralat. Perhitungan cara itu agak memboroskan waktu,
karena perlu dibuat denagn teliti. Akan tetapi ralat ∆V tidak perlu dihitung sangat
teliti, maka kita dekati dengan:
∆V = bc∆a + ac∆b + ab∆c. (Selidikilah!), sehingga :
∆V = (3.10
4
. 1 + 6.10
4
. 1 + 2.10
4
. 1) 10
-9
= 11.10
-5
m
3

Hasil itu menurut perjanjian dibulatkan menjadi 0,15 . 10
-3
m
3
, jadi V = (6,00 ±
0,15) 10
-3
m
3.
Perhitungan itu masih jadi lebih sederhana kalau kita beralih
menggunakan ralat nisbi.

6.2. Kaidah Menghitung Ralat
Selanjutnya kami akan menurunkan bebrapa kaidah untuk menghitung ralat
dalam hasil akhir, yaitu untuk jumlah dan selisih dua besaran, untuk hasil kali dan
hasil bagi, serta untuk suatu pangkat n. karena banyak perhitungan merupakan
gabungan hal – hal tersebut, seringkali ralat yang mungkin dapat dituliskan dengan
mudah kalau kaiadah ini dipakai.


6.2.1. Ralat dalam Jumlah
Andaikan suatu beasaran F merupakan jumlah 2 besaran a dan b, yang masing –
masing mengandung ralatnya, F = a+b
Maka ralat dalam F adalah jumlah ralat dalam a dan b : ∆F = ∆a + ∆b
Bukti :
F
max
= a + ∆a + b + ∆b
F
min
= a - ∆a + b - ∆b
∆F = (F
max
- F
min
) / 2 = ∆a + ∆b

6.2.2. Ralat dalam Selisih
Kalau F = a – b, maka F = ∆a + ∆b
Bukti :
F
max
= a + ∆a - b + ∆b
F
min
= a - ∆a - b - ∆b
∆F = (F
max
- F
min
) / 2 = ∆a + ∆b

6.2.3. Ralat dalam Hasil Kali
Kalau F = a . b, maka ∆F/F = ∆a/a + ∆b/b
Bukti :
F
max
= (a + ∆a) (b + ∆b) = a . b + a . ∆b + b . ∆a + ∆a . ∆b
F
min
= (a - ∆a) (b - ∆b) = a . b - a . ∆b - b . ∆a - ∆a . ∆b
∆F = (F
max
- F
min
) / 2 = a . ∆b + b . ∆a
Jikalau kita beralih kepada ralat nisbi dengan membagi dengan a . b = F, maka
hasilnya ∆F/F = ∆b/b + ∆a/a
Atau : F = a(1 ± o%) x b(1 ± |%) = ab (1 ± (o+|)%)

6.2.4. Ralat dalam Hasil Bagi
Kalau F = a/b, maka ∆F/F = ∆a/a + ∆b/b
10

Bukti :

,

(

)

Jikalau kita mengabaikan (∆b)
2
terhadap b
2
daan beralih lagi kepada ralat nisbi,
maka sekali lagi kita peroleh :
∆F/F = ∆a/a + ∆b/b
Atau :


6.2.5. Ralat dalam Pangkat n
Kalau F = a
n
, maka ∆F/F = n(∆a/a)
Bukti :
F
max
= (a + ∆a)
n
= a
n
+ n . a
n-1
. ∆a + …….
F
min
= (a - ∆a)
n
= a
n
- n . a
n-1
. ∆a + …….

7. MENGHITUNG RALAT DENGAN DIFERENSIAL TOTAL
Menghitung ralat dapat kita anggap sebagai mencari perubahan dalam
besaran F . (a, b, c, …..) sebagai akibat perubahan kecil dalam perubahan – perubahan
a, b, c, …. Jikalau F merupakan fungsi dua peubah a dan b, yang dapat
dideferensialkan, maka bagi perubahan kecil dalam a dan b berlaku deret Taylor :

∆F (a,b) = F (a + ∆a, b + ∆b) – F (a,b) =

(

) + pangkat ∆a dan ∆b yang lebih tinggi ………. (0-1)

Arti ∂F/∂a ialah hasil bagi diferensial parsial dari F ke a, sambil semua
peubah lain (b dan lain – lain kalau ada) tetap. Sebagi contoh deret (0 – 1) kita
membicarakan suatu fungsi satu peubah saja. Diminta menentukan ralat dalam luas
lingkaran F (r) = tr
2
, sebagai akibat ralat dalam jari – jarinya.

∆F (r) = ∆(tr
2
) =

(∆r)
2

= 2tr∆r + t(∆r)
2
……………………………………………………… (0-2)

Turunan yang lebih tinggi jadi nol semua (selidikilah !)
Arti rumus (0-2) dapat dilihat dalam grafik ini !













11
















Gambar 0-5

dF/dr = tg ¢ = AB/AC, maka AB = tg ¢, AC = 2tr∆r dan RD = ∆F (r) - 2tr∆r
= t(∆r)
2

Kita membatasi penguraian kita untuk ralat yang kecil, jadi pangkat dua ke atas
boleh kita abaikan. Dalam contoh ini, (∆r)
2
<< ∆r, dengan kata lain suku t(∆r)
2
= DB
hanya merupakan koreksi kecil terhadap 2tr∆r = AB.
Asal ∆r cukup kecil, maka dengan pendekatan kita dapat menyamakan
∆F (r) = tg ¢ . ∆r = 2tr∆r,
Misalnya ∆r/r = 1/10 , maka :

Kesalahan yang timbul karena pendekatan tersebut dalam hal ini sebesar 5% dan itu
cukup kecil untuk perhitungan ralat.

Kesimpulan
Sebagai kesimpulan dapat kita merumuskan dalil :
Jikalau F = F (a, b, c, ….. ) dan terdapat ralat kecil dalam a, b, c, …. , maka untuk
ralat dalam F berlaku :
|

| |

| |

| (0-3)
Dengan syarat praktis supaya pendekatan berlaku :

Kami telah menambahkan garis mutlak dalam rumus (0-3), alasannya karena
kita ingin menentukan ralat maksimum yang mungkin terjadi, sebagai akibat
penyimpangan – penyimpangan dalam a, b, c, …
Maka kombinasi ralat maksimal terjadi kalau semua suku dalam (0-3) sama
tandanya, dengan kata lain ralat dalam tiap – tiap peubah menyebabkan F
menyimpang dalam arah yang sama.
Memang dalam hal tertentu biasanya tidak semua tanda ralat sama, sehingga
ada yang saling melawan pengaruhnya dan ralat tidak sebesar ralat yang mungkin
yang kita hitung. Tetapi karena tanda ralat tidak diketahui, kita harus
memperhitungkan kemungkinan bahwa semua ralat saling menambah.

C
D
B
A
¢
tr
2
r r + ∆r r
12

8. MENENTUKAN RALAT SECARA GRAFIS
Sebelum mebicarakan cara menentukan ralat secara grafis, perlu kita
mengetahui cara menggambar grafik dulu.
8.1. Metode Angka Tidak Berdimensi
Dalam suatu grafik secara matematis hanya angka saja dapat diwakili. Ini
berarti bahwa pada sumbu – sumbu harus dijelaskan bagaimana hubungan antara
titik – titik dalam grafik dan besaran yang diukur secara percobaan.
Semua besaran yang diukur dapat dianggap sebagai hasil kali dari angka dan
satuan. Atau kalau besaran yang diukur akan dibagikan oleh satuannya hasil yang
dicapai adalah angka. Besaran / satuan dapat digunakan untuk menjelasakan arti
sumbu grafik. Kalau begitu, angka yang dihitung dapat mewakili hasil pengukuran
dalam grafik.
Misalnya :
Hasil pengukuran Besaran / satuan Angka
m = 10,3 g → m/g = 10,3
m/g 10,3
m/10
-3
kg 10,3
I = 340 mA → I/mA - 340
I/mA 340
I/A 0,340

Sebaiknya metode ini juga digunakan untuk merekam hasil pengukuran dalam
suatu tabel. Besaran / satuan dapat dituliskan di atas kolom yang bersangkutan. Ini
berarti bahwa apa yang akan tertulis di dalam tabel menjadi sesederhana mungkin
dan mudah terintepretasi. Disamping itu adalah hubungan langsung antara isi tabel
dan grafik yang dibuat berdasarkan data itu.

8.2. Menggambar Grafik
Kalau kita akan membuat grafik berdasarkan hasil pengukuran, sebaiknay
hasil itu disusun dalam tabel dulu. Sebagai contoh, kita mengambil suatu percobaan
elastisitas (tabel 0-1). Di dalam kolom pertama tercatat gaya yang menarik kepada
seutas kawat, dan dalam kolom kedua perpanjangan yang diukur akibat gaya itu.
Karena ralat untuk semua titik pengukuran sama, maka dicatat sekali di bagian atas
tabel.
Tabel 0-1
F l
± 1N ± 0,05 . 10
-3
m
5 0,25
10 0,40
15 0,60
20 0,75
25 1,10
30 1,45

13




Grafik 0-1



Untuk menggambar grafik, ikutilah pedoman berikut :
(1) Sediakan kertas berkotak
(2) Pilihlah nilai skala dan gambarlah salib sumbu
(3) Catatlah besaran, satuan, seta beberapa angka pada sumbu
Biasanya peubah bebas digambar sepanjang sumbu horizontal, sedangkan yang
tak bebas digamabr vertical.
Nilai skala dan angka harus dipilih supaya grafik mudah dibaca, dan agar
ketelitian menggambar grafik tidak menambah ralat. Nilai skala yang baik
misalnya 1N ~ 1, 2, atau 5 kotak. Jangan 1N~ 2 kotak serta 0,1 . 10
-3
m ~ 1 kotak.
Nilai skala dalam cm atau mmtidak perlu dicatat, sudah jelas dari gamabr. Tetapi
penjelasan perihal grafik itu harus dituliskan di bawahnya.
(4) Gambarlah titik – titik dengan jelas
Setepat- tepatnya titik dikelilingi persegi panjang ralat (lihat contoh). Arti persegi
panjang ralat ialah bahwa nilaii betul mungkin terletak di mana – mana di dalam
daerah itu. Kalau persegi panjang ralat tidak dapat digambar \, maka titik
diterangkan denagn lingkaran, segitiga, tanda plus, dsb, yang tiada hubungannya
langsung dengan besarnay ralat.
(5) Gambarlah garis yang “kencang”, yang sebaik mungkin melalui titik – titik yang
diukur, mengingat teori maupun ralat.

Menurut hokum Hooke, grafik perpanjangan sebagai fungsi beban harus
merupakan garis lurus. Keempat titik pertama cocok dengan hokum tsb. Akan tetapi
kedua yang terakhir terlalu menyimpang. Maka kita dapat mearik kesimpulan, bahwa
hokum hooke tidak berlaku bagi gaya lebih besar daripada 20 N. disini jelas
pentingnya penguraian ralat. Kalau tidak dipastikan dulu berapa besar ralat yang
mungkin,maka kita tidak akan dapat memutuskan apakah penyimpangan itu berarti
hokum alam idak berlaku., ataukah hanya disebabkan karena pengukuran kurang
teliti. Perhatikan juga bahwa dalam contoh ini garis harus melalui pokok sumbu.

0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
1.6
0 5 10 15 20 25 30 35
x 10
-3
m
F/N
14



8.3 Menyisipkan dan menambahkan (interpolasi dan ekstrapolasi)
Waktu menggambar garis grafik, kita menyisipkan titilk – titik yang tidak
diukur diantar ayang diukur. Lalu kita membaca perpanjangan berapakah yang
terjadi sebagai akibat sembarng gaya., tanpa perlu mengukurnya. Juga tidak perlu
mengukurnya. Juga tidak perlu menghitung atau mengetahui hubungan antara
perubah – perubah dalam bentuk analitis.
Demikian pula garis grafik dapat diteruskan sampai diluar daerah di mana
tela diadakan pengukuran, dengan kata lain menambahi panjangnya grafik. Dalam
hal itu ketelitian berkurang, antara lain karena tidak pasti bentuk mana akan diikuti
graffik diluar daerah yang diukur, misalnya dalam contoh kami berlakunya hokum
Hooke terbatas, sehingga grafik tidak boleh ditambahkan lurus saja.

8.4 Meluruskan (melinierkan) grafik
Seringkali kita menginginkan supaya grafik merupakan garis lurus, antara
lain karena itu sangat sangat mempermudah penyisipan dan penambahan. Karena
itu sedapat – dapatnya fungsi dilinearkan sebelum grafiknya dibuat. Di bawah ini
kami memberikan beberapa fungsi y(x) yang dapat dilinearkan denagn mudah.
(1)

Kita dapat menulis z = 1/y = (q/p)x + r/p, lalu z merupakan fungsi linear dari x.
Maka grafik 1/y terhadap x, ialah garis lurus.

(2)

Fungsi ini ditulis sebagai ln y = x + ln A. jelaslah, bahwa grafik ln y terhadap x
merupakan garis lurus. Dalam hal ini dapat dimanfatkan kertas grafik yang
sudah mempunyai skala logaritmis pada satu sisi.

(3) y = A ..
n
+ B
dijadikan ln(y-B) = n lnx + lnA. Maka graik ln(y-B) terhadap lnx adalah lurus,
dan kita dapat memanfaatkan kertas logaritmis dua sisi.


8.5 Penggunaan grafik untuk menentukan ralat
8.5.1 Kemiringan rata – rata
Sebuah seri pengukuran dapat digunakan untuk menentukan nilai dari
tetapan fisis tertentu. Hal ini dapat dilakukan secara analitis tetapi seringkali metode
grafis lebih berguna., terutama untuk grafik fungsi linear atau fungsi – fungsi lain
yang dapat ditentukan.
a. Melalui grafik dapat dilihat langsung apakah semua hasil pengukuran dapat
diterima atau apakah ada titik ukur yang menyimpang terlalu jauh dari grafik
dan dapat diabaikan.
b. Garis lurus dapat digambarkan denagn memperhatikan luas bagian persegi
panjang ralat diatas garis kira – kira sama dengan luasnya dibawah. Dari grafik
ini kemiringan rata – rata dapat ditentukan langsung.
c. Nilai tetapan fisis dapat dihitung melalui emiringan rata – rata
Contoh : menurut termodinamika ada hubungan antara nilai tetapan
kesetimbangan K dari suatu reaksi dan suhu T
ln K =

+ p …………………………………. (0-4)
15

dengan ∆H
0
= entalpi reaksi
p = tetapan untuk jangkauan suhu terbatas

Berarti bahwa bahwa hubungan antara K dan T dapat dinyatakan sebagai
fungsi linier dari ln K terhadap 1/T dan grafiknya berupa garis lurus. Lihat grafik 0-
2, dari kemiringan dapat dihitung nilai ∆H
0
, yang mempunyai arti fisis.















Kemiringan rata – rata yang ditentukan dari grafik ini


= -1,17 . 10
3
K

Catatan : gunakan panjang garis lurus seluruhnya untuk penentuan kemiringan
sehingga memperkecil ralat pembacaan. Makin panjang garis lurus yang digunakan
untuk menentukan kemirinagn, makin kecil ralat pembacaan.

8.5.2 Ralat dalam Kemiringan
Untuk menentukan ralat dalam kemiringan dapat digambarkan garis lurus
yang paling curam dan garis lurus yang paling landai yang masih melewati persegi
panjang ralat. Dari kedua garis lurus tersebut dapat dihitung nilai rata – rata dan
ralat.















Grafik 0-3 Ralat dalam Kemiringan
diabaikan
(3,00 ; -0,86)
(4,06 ; -2,10)
Grafik 0-2 Kemiringan Grafik
1000 K/T
-2
(4,05;-1,94)
3,5 4,0 3,0
(4,05;-2,20)
(3,00;-0,97)
-1
(3,00;-0,79)
ln K
-1
-2
ln K
3,0 3,5 4,0
1000 K/T
16

Grafik 0-3 diperoleh dengan menggunakan data dari Grafik 0-2. Hasil yang
ditemukan dari grafik ini (periksa sendiri)
Paling curam : -1,34 .10
3
K
Paling landai : -0,924 . 10
3
K
Maka kemiringan = -1,13 ± 0,210 .10
3
K

9. LATIHAN TENTANG PERHITUNGAN RALAT
Secara umum untuk latihan masing – masing :
- Rangkum hasil pengukuran serta perhitungan dalam satu tabel
- Gunakan metode “angka tidak berdimensi” (lihat 8.1) sehingga dalam tabel dan
grafik hanya angka saja akan muncul.
1. a. Ukurlah panjang, lebar, dan tinggi dari balok yang akan diberikan dengan
menggunakan sebuah penggaris !
Ulangi semua pengukuran 3 kali dan hitunglah nilai rata – rata serta periksalah
ralat dalam semua pengukuran dari balok tsb.
b. Hitunglah volume dari balok dan ralat dalam nilai volume
(i) Gunakan metode dari 6.1 (ralat mutlak dihitung)
(ii) Gunakan metode dari 6.2.3 (ralat nisbi dihitung)
(iii) Bandingkan kedua metode ini, metode mana yang lebih mudah digunakan?
2. a. Ulangi latihan 1 dengan menggunakan sebuah jangka sorong (dengan skala
nonius) sebagai pengganti penggaris.
Gunakan metode perhitungan yang paling cocok untuk menghitung ralat mutlak
dan ralat nisbi !
b. Bandingkan angka penting dan besarnya ralat pada kedua cara pengukuran ini!
3. Periksa cara penggunaan dan pembacaan volume dari suatu buret bervolume 50ml.
Perkirakanlah :
(i) Ralat pembacaan
(ii) Ralat penyesuaian (paralaks) untuk buret ini.
4. Menurut perusahaan ketelitian volume total dari suatu buret bervolume 50 ml
adalah sampai 0,25%
a. Hitunglah besar
(i) Ralat sistematis yang maksimal dalam volume yang keluar dari buret
kalau pembacaan skala yng dihasilkan adalah : awal = 2,41 ml; akhir =
14,88 ml
(ii) Ralat kebetulan yang maksimal dalam volume yang keluar dari buret
kalau pembacaan skala yng dihasilkan adalah : awal = 2,41 ml; akhir =
14,88 ml
b. Cara mana yang dapat digunakan untuk mengurangi:
(i) Ralat sistematis
(ii) Ralat kebetulan pada penggunaan buret
5. Dalam sebuah laporan ditemukan hasil pengukuran dan penghitungan berikut :
 Suhu laboratorium : 26,30 ± 0,2
 Arus listrik : (3 ± 0,2) A
 Perbedaan potensial : 100 ± 5 . 10
3
V
 Kalor yang dilepaskan : 3346 ± 128 J
 Kalor jenis : (0,88 ± 0,038) J.K
-1
.g
-1

= 0,9 (1 ± 0,04) J.K
-1
.g
-1

Perbaiki cara penulisan data tersebut !
6. a. Tentukan massa dari balok A dengan menggunakan neraca pegas!
17

b. Perkirakan ralat dalam dalam massa yang diukur!
c. Hitunglah kerapatan dari balok ini dengan menggunakan hasil dari Latihan 1!
d. Hitunglah ralat mutlak dan ralat nisbi dalam nilai kerapatan!
e. Pengukuran manakah (volume atau massa) yang menyumbangkan paling
banyak terhadap ralat dalam kerapatan?
f. Ulangi c, d, dan e denga menggunakan hasil dari Latihan 2!
g. Pengukuran manakah ang perlu diperbaiki lebih dahulu (massa atau volume)
agar nilai kerapatan dapat ditentukan denagn lebih teliti?
7. Ulangi Latihan 6 dengan menggunakan neraca beban atas (top loading balance)!
8. Arus listrik sebesar (2,7 ± 0,2)A mengalir lewat hambatan sebesar (57 ± 1) O
selama 4 menit ± 5 detik.
a. Hitunglah kalor yang dilepaskan dan ralat dalam nilai ini dengan
menggunakan metode diferensial total (7.2 persamaan 0-7)!
b. Periksa apakah syarat praktis untuk pendekatan ini dipenuhi!
c. Pengukuran manakah yang harus diperbaiki lebih dulu agar ralat menjadi
lebih kecil?
d. Jika ralat dalam pengukuran yang menyumbang paling banyak terhadap
besarnya ralat total menjadi 10 kali lebih kecil, berapa beasr ralat total dalam
perhitungan kalor yang dilepaskan?
9. a. Gunakan metode diferensial total untuk menghitung kerapatan di balok A
dengan menggunakan data dari Latihan 6
b. bandingkan besarnya ralat yang dihitung sekarang dengan besarnya ralat yang
dihitung pada Latihan 6. Beri komentar!
c. bandingkan cara perhitungan dan hasil yang tercapai sekarang dengan metode
dan hasil Latihan 6. Metode manakah yang lebih mudah digunakan? Beri
alasan!
10. a. periksa apakah tabel 0-1, sesuai dengan metode “angka tidak berdimensi”
(8.1), kalau tidak : perbaikilah (juga dalam pedoman)!
b. periksa apakah grafik 0-1 sesuai dengan:
(i) data yang diberikan dalam tabel 0-1
(ii) metode “angka tidak berdimensi”
(iii) kaidah – kaidah (1) – (4)
kalau tidak, perbaiki grafiknya!
11. Jelaskan arti fisis dari titik (4,06 ; -2,10) dalam grafik 0-2 (8.5.1)!
Berapakah nilai dari K dan T yang diwakili oleh titik ini?
12. Periksa apakah catatan pada akhir 8.5.1 masuk akal?
Untuk itu, bandingkan ketelitian perhitungan kemiringan dari grafik 0-2 (8.5.1)
jika bagian ln K antara 1,6 dan -2,0 saja akan digunakan dengan hal yang dihitung
dalam 8.5.1
13. a. Kemiringan rata – rata yang ditemukan dalam 8.5.1 berbeda dengan nilai
yang ditemukan dalam 8.5.2. Mengapa demikian?
b. Hitunglah nilai ∆H⁰ (persamaan 0-4) dan ralat dalam nilai ini!
c. Hitunglah nilai q (persamaan 0-4) dan ralat dala nilai ini!
14. Sebuah pegas diregangkan oleh beban yang bervariasi. Panjang pegas diukur
sebagai fungsi besarnya beban. Hasil yang tercapai berikut :
Beban /g 0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 30,0
Panjang /cm 31,5 31,9 33,1 33,7 35,9 36,8 37,5
Diketahui:
* ketelitian pengukuran panjang sampai ± 0,2 cm
* ralat massa beban ± 0,3 g untuk semua beban dar 5,0 g
18

a. buatlah tabel dengan nilai dari regangan pegas ∆L sebagai fungsi massa beban
m serta ralat dalam nilai- nilai ini!
b. Gambarlah sebauh grafik dari ∆L sebagai fungsi m termasuk besarnya ralat
untuk semua titik ukur!
c. menurut teori berlaku ∆L = k . m, dengan k adalah tetapan pegas …. (1)
tentukan secara grafis :
(i) Nilai dan satuan dari k
(ii) Ralat dalam nilai k berdasar nilai kemiringan maksimal da minimal yang
mungkin berdasarkan letak titik ukur dan ralat dalam letak titik ukur ini
d. Periksa apakah kesalahan sistematis akan muncul kalau rumus (1) akan
digunakan untuk menghitung kelakuan dari pegas ini! Kalau ini terjadi coba
turunkan persamaan lain untuk ∆l, sebagai fungsi fungsi m sehingga ralat
sistematis ini tidak akan muncul.
e. Jelaskan arti fisis dari suku – suku dalam persamaan yang diturunkan pada d!
f. Kemudian sebuah jeruk dipasang pada pegas ini. Panjang pegas yang diukur
37,3 cm. Tentukan massa dari jeruk dan besarnya ralat dalam massa ini dengan
menggunakan :
(i) Grafik
(ii) Persamaan yang diturunkan
g. Bandingkan kedua cara penentuan massa jeruk. Beri komentar yang manakah
lebih mudah digunakan!
15. Hitunglah luas dan ralat luas untuk micrometer skrup!
16. Hitunglah ralat massa untuk neraca Mettler!



























19

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA 1

Nama/ NIM :
Kelompok :
Tanggal Praktikum :
Judul :
Alat dan bahan :


1. Pengukuran p, l, dan t ……… dengan penggaris Ketelitian = ……. cm
I II III
p (cm)
l (cm)
t (cm)

2. Pengukuran p, l, dan t ……… dengan penggaris Ketelitian = ……. cm
I II III
p (cm)
l (cm)
t (cm)

3. Pengukuran volume air dari buret Ketelitian = ……. ml
I II III
atas (ml)
tengah (ml)
bawah (ml)

4. Pengukuran massa …………. dengan neraca pegas Ketelitian = ……. N
I II III
F (N)

5. Pengukuran massa …… dengan neraca beban atas Ketelitian = ……. gr
I II III
Massa (gr)

6. Pengukuran massa ……… dengan neraca mettler Ketelitian = ……. gr
I II III
Massa (gr)

7. Pengukuran l dan t …… dengan micrometer skrup Ketelitian = ……. cm
I II III
p (cm)
l (cm
t (cm)


Laboran Asisten Praktikan


20

2. PENGARUH KATALIS UNTUK ORDE
REAKSI DAN ENERGI AKTIVASI

1. LATAR BELAKANG
Reaksi 2H
+
(aq) + H
2
O
2
(aq) + 2 I
-
2 H
2
O (l) + I
2
(aq) dikatalisir oleh ion- ion
logam transisi.
Kita akan meneliti:
a. Bagaimana pengaruh katalis terhadap orde reaksi
b. Berapa besar energy aktivasi untuk energy aktivasi yang tidak terkatalisir dan
yang terkatalisir.
Metoda pengukuran yang dipakai adalah pengukuran laju awal reaksi untuk seri-
seri larutan dengan konsentrasi awal dari zat pereaksi dan kalatis yang
divariasikan secara teratur.
1. Cara kerja untuk menentukan Orde Reaksi
Zat- zat pereaksi akan dicampurkan dan selang waktu (t) diukur, dimana jumlah
mol H
2
O
2
tersebut sangat sangat kecil dan tetap (a). semua system yang akan dipilih
dan diteliti mempunyai komposisi pereaksi yang konsentrasinya dapat dianggap tetap
selama selang waktu t. dalam hal ini laju awal berbanding terbalik dengan t:
Laju Reaksi =

dengan a = tetapan .....................................................................(1)
Secara umum berlaku: Laju Reaksi = k[H]
t
[H
2
O
2
]
m
[I
-
]
n
......................................................(2)
l,m, n = tetap, dianggap reaski berlangsung cukup sederhana.
Dengan memvariasikan konsentrasi H
2
O
2
sambil konsentrasi lain dijaga tetap,
nilai m dapat ditentukan:
(1) dalam (2) ¬

= p [H
2
O
2
]
m
.............................................................................................(3)
dengan p = tetapan dan [H
2
O
2
] = konsentrasi awal H
2
O
2
,
atau log t = - m log [H
2
O
2
] – log p ........................................................................................(4)
dengan cara yang sama orde reaksi I
-
dan H
+

dapat ditentukan.
2. Cara seperti no 1 dan dapat dipakai untuk menentukan energy aktivasi:
Nilai akan diukur untuk beberapa suhu yang berbeda dengan semua konsentrasi
awal tetap. Dalam hal ini berlaku:

tetap ...............................................................................................................(5)
Atau

.............................................................................................(6)
Dengan Ea = energy aktivasi ; R = Tetapan ideal ; T = suhu absolute dan p” = tetapan.
Nilai a dari sejumlah mol H
2
O
2
yang kecil dapat ditentukan sebagai berikut:
Untuk semua campuran reaksi akan ditambahkan sejumlah Na
2
S
2
O
3
yang sama dan
sedikit larutan kanji. Na
2
S
2
O
3
bereaksi dengan I
2
dan terbentuk:
2 S
2
O
3
2-
(aq) + I
2
(aq) S
4
O
6
2-
(aq) + 2 I
-
(aq)
Karena itu secara otomatis, pada awal reaksi [I
-
] terus tetap. Tetapisegera setelah
tiosulfat habis I
2
tidak dihilangkan lagi dan dengan kanji biru akan muncul. Selang
waktu (t) antara pencampuran dan saat warna biru muncul sama dengan waktu yang
diperlukan untuk reaksi dari sejumlah H
2
O
2
tertentu.



21

2. CARA KERJA
Untuk percobaan larutan- larutan berikut diperlukan dengan konsentrasi kira- kira
seperti yang tertulis. Konsentrasi tidak perlu diketahui secara persis, tapi jumlah
larutan yang dibuat harus cukup untuk semua percobaan A- E. dari yang diturunkan
diatas dapat disimpulkan bahwa hanya perbandingan konsentrasi pereaksi atau katalis
yang penting dalam suatu percobaan seri. Ini berarti bahwa semua volume untuk A –
E harusdiukur seteliti mungkin.
Sebagai katalis kita akan memakai (NH
4
)
2
MoO
4
(aq).
Larutan yang diperlukan:
1. Larutan I: - 40 ml kanji 1% (harus dididihkan kira- kira 3 menit)
- 20 ml KI 0,1M
- 10 ml H
2
SO
4
1M
- 10 ml Na
2
S
2
O
3
0,1M
- 420 ml akuades
2. 400 ml H
2
O
2
0,5M
3. 100 ml (NH
4
)
6
Mo
7
O
24
.4H
2
O 5.10
-5
M

Catatan:
Larutan 1 dan 2 tidak terlalu stabil dan harus disimpan sedingin mungkin, pemanasan
(untuk percobaan D dan E) harus dilakukan harus pada saat larutan akan dipakai.

A. Penentuan Orde Reaksi terhadap H
2
O
2
bagi reaksi yang tidak terkatalisir
Pipetlah 2 ml larutan I dalam sebuah Erlenmeyer 100 ml. tambahkan dalam
Erlenmeyer yang kedua 3 ml H
2
O
2
0,5 M dan 22 ml akuades. Tuang larutan ini ke
dalam larutan I. pengukran waktu dimulai saat setengah dari larutan dimasukkan.
Campurkan dengan baik secara kuantitatif dengan cara menuang bolak- balik
(minimal 3x).
Catatlah suhu awal serta waktu saat warna biru muncul.
Ulangi percobaan ini dengan 25 ml larutan I dan 25 ml larutan yang
mengandung masing- masing 6, 12 dan 18 ml H
2
O
2
0,5M.
Aturlah sehingga seluruh seri pengukuran akan dilakukan pada suhu yang
sama. Sebuah nampan berisi air pada suhu laboratorium dapat digunakan sebagai
thermostat.

B. Penentuan Orde Reaksi Terhadap (NH
4
)
2
MoO
4

Pilihlah berdasarkan percobaan Abcampuran reaksi yang akan berwarna biru
sesudah kira- kira 4 menit. Lakukan percobaan B pada suhu yang sama dengan
percobaan A.
Masukkan ke dalam sebuah Erlenmeyer 12 ml (NH
4
)
2
MoO
4
dan isilah
dengan akuades sampai 25 ml. kemudian tambahkan 25 ml ml H
2
O
2
dengan
konsemtrasi yang cocok dan juga 25 ml larutan I. larutan harus berwarna biru
setelah 20- 30 detik. Kalau ini tidak tercapai larutan (NH
4
)
2
MoO
4
harus dibuat
lebih atau kurang pekat, tergantung kebutuhan.
Laksanakan sebuah seri percobaan masing- masing 2, 4, 8, dan12 ml larutan
(NH
4
)
2
MoO
4
serta volume total tetap 75 ml.

C. Penentuan Orde Reaksi Terhadap H
2
O
2
Bagi Reaksi Yang Terkatalisir
Pilihlah berdasarkan hasil percobaan B, campuran reaksi yang akan
berwarna biru sesudah ±1 menit. Teliti mulai dari susunan ini, pengaruh terhadap
laju reaksi kalau jumlah H
2
O
2
divariasikan sbb:
22


Volume H
2
O
2
(ml) 2 4 8
Volume akuades (ml) 23 21 17


D. Penentuan Energi Aktivasi Dari Reaksi Yang Tidak Terkatalisir
Pilihlah berdasarkan percobaan Abcampuran reaksi yang akan berwarna biru
sesudah kira- kira 4 menit. Laksanakan sebuah seri percobaan dengan variasi suhu
sbb: 0
o
C, 30
o
C dan 50
o
C (suhu boleh tidak tepat asal dicatat yang sebenarnya).
Gunakan thermostat yang sesuai. Ukurlah suhu beberapa kali antara saat
pencampuran dan pada saat warna biru muncul. Ambil suhu rata- rata sebagai
suhu reaksi. Gunakan data percobaan A sebagai data untuk perlakuan suhu 30
o
C.

E. Penentuan Energi Aktivasi Dari Reaksi Yang Terkatalisir
Pilihlah dari percobaan B, campuran reaksi yang akan berwarna biru sesudah
±1 menit. Tentukan juga laju reaksi dalam larutan ini pada variasi suhu berikut : 0

o
C, 30
o
C, dan 50
o
C (suhu boleh tidak tepat asal dicatat yang sebenarnya).
Gunakan data percobaan B sebagai data untuk perlakuan suhu 30
o
C.

3. TUGAS AWAL
1. Mengapa pada awal reaksi [I
-
] tidak berubah?
2. Dianggap bahwa [H
2
O
2
] dan [H
+
] tetap:
a. Apakah anggapan ini berlaku untuk campuran pertama dari percobaan A?
b. Hitunglah masing- masing konsentrasi sesuai pencampuran!
c. Hitunglah masing- masing konsentrasi pada saat warna biru muncul!
3. Bagaimana cara memastikan bahwa untuk semua pengukuran nilai a selalu sama?
4. Syarat mana yang dalam turunan rumus- rumusnya tidak berlaku lagi kalau suhu
untuk seri pengukuran dari percobaan A tidak tetap?
5. Jelaskan dengan kalimat anda sendiri, mengapa laju reaksi berkurang kalau t yang
diukur bertambah?
6. Dilabel botol H
2
O
2
tertulis : massa jenis = 1,11 kg/L, kadar 35% w/v.
a. Hitunglah cara pembuatan larutan 2 dari larutan yang tersedia!
b. Peralatan apa saja yang akan digunakan?
c. (NH
4
)
2
MoO
4
tersedia sebagai zat padat, bagaimana larutan 3 dapat dibuat?
d. Peralatan apa saja yang digunakan?
7. Sehubungan dengan praktikum ini:
a. Apakah diperlukan tindakan tertentu sehubungan dengan keselamatan
praktikum?
b. Apakah limbah boleh dibuang begitu saja?
8. Buat diagram alir dari percobaan ini!

4. PENYELESAIAN LAPORAN
Catatan :
Kalau beberapa seri hasil pengukuran harus di gambarkan dalam satu grafik, pilihlah
lambing atau warna yang berbeda untuk masing- masing seri sehingga titik – titik dari
suatu seri dapat dibedakan dengan mudah dari titik- titik seri lain. Gunakan kertas
grafik untuk mendapatkan skala yang tepat. Atau gunakan hasil print out computer.

9. Turunkanlah persamaan (6) dari persamaan (5)!
23

10. Buktikan bahwa sebagai ukuran untuk konsentrasi dari suatu pereaksi P, volume
dari larutan P yang dimasukkan ke dalam campuran reaksi boleh digunakan jika
volume campuran air tetap!
11. Buatlah grafik log t sebagai fungsi dari log [H
2
O
2
] dan tetntukan secara grafis
orde reaksi terhadap[H
2
O
2
] (persamaan). Lakukan hal ini untuk reaksi yang tidak
terkatalisir (percobaan A) dan reaksi yang terkatalisir (percobaan C). gambarkan
keduanya dalam sebuah grafik!
12. Dengan cara yang sama tentukan secara grafis orde reaksi terhadap
[(NH
4
)
2
MoO
4
]!
13. A. Gambarkan dalam sebuah grafik, laju reaksi (l/t) sebagai fungsi dari :
a. jumlah ml larutan H
2
O
2
(percobaan A)
b. jumlah ml larutan (NH
4
)
2
MoO
4
(percobaan B)
c. jumlah ml larutan H
2
O
2
(percobaan C)
B. Apakah hasilnya sesuai dengan apa yang diharapkan? Beri penjelasan!
14. a. Tentukan ecara grafis energy aktivasi dari reaksi yang tidak terkatalisir
(percobaan D) dan dari reaksi yang terkatalisisr (percobaan E). gambarkan
keduanya dalam satu grafik!
b. Perkirakan ralat dalam semua titik ukur yang digambarkan dalam grafik. beri
penjelasan! Kemudian tentukan secara grafis ralat dalam nilai energy aktivasi
masing- masing!
c. Apakah hasilnya sesuai dengan yang diharapkan? Beri penjelasan!





























24

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I

Nama/ NIM :
Kelompok :
Tanggal Praktikum :
Judul :
Alat dan bahan :




A. Penentuan Orde Reaksi terhadap H
2
O
2
bagi reaksi yang tidak terkatalisir
Perlakuan
Hasil
T awal
(
o
C)
T akhir
(
o
C)
T (dT)
25 ml lar I + 3 ml H
2
O
2
0,5M + 22ml H
2
O
25 ml lar I + 6 ml H
2
O
2
0,5M + 22ml H
2
O
25 ml lar I + 12 ml H
2
O
2
0,5M + 22ml H
2
O
25 ml lar I + 18 ml H
2
O
2
0,5M + 22ml H
2
O


B. Penentuan Orde Reaksi Terhadap (NH
4
)
2
MoO
4

Perlakuan
Hasil
T awal
(
o
C)
T akhir
(
o
C)
T (dT)
25 ml lar I + ml H
2
O
2
0,5M + ml H
2
O + 2 ml (NH
4
)
6
Mo
7
O
24
+ 23 ml H
2
O

25 ml lar I + ml H
2
O
2
0,5M + ml H
2
O + 4 ml (NH
4
)
6
Mo
7
O
24
+ 21 ml H
2
O

25 ml lar I + ml H
2
O
2
0,5M + ml H
2
O + 8ml (NH
4
)
6
Mo
7
O
24
+ 17 ml H
2
O

25 ml lar I + ml H
2
O
2
0,5M + ml H
2
O + 12 ml (NH
4
)
6
Mo
7
O
24
+ 13 ml H
2
O



C. Penentuan Orde Reaksi Terhadap H
2
O
2
Bagi Reaksi Yang Terkatalisir
Perlakuan
Hasil
T awal
(
o
C)
T akhir
(
o
C)
T (dT)
25 ml lar I + 2 ml H
2
O
2
0,5M + 23 ml H
2
O + ml (NH
4
)
6
Mo
7
O
24
+ ml H
2
O

25 ml lar I + 4 ml H
2
O
2
0,5M + 21 ml H
2
O + ml (NH
4
)
6
Mo
7
O
24
+ ml H
2
O

25 ml lar I + 8 ml H
2
O
2
0,5M + 17 ml H
2
O + ml (NH
4
)
6
Mo
7
O
24
+ ml H
2
O

25 ml lar I +12 ml H
2
O
2
0,5M + 13 ml H
2
O + ml (NH
4
)
6
Mo
7
O
24
+ ml H
2
O



D. Penentuan Energi Aktivasi Dari Reaksi Yang Tidak Terkatalisir
Perlakuan
Hasil
T awal
(
o
C)
T akhir
(
o
C)
T (dT)
25 ml lar I + ml H
2
O
2
0,5M + ml H
2
O

25 ml lar I + ml H
2
O
2
0,5M + ml H
2
O

25 ml lar I + ml H
2
O
2
0,5M + ml H
2
O

25 ml lar I + ml H
2
O
2
0,5M + ml H
2
O



25

E. Penentuan Energi Aktivasi Dari Reaksi Yang Terkatalisir
Perlakuan
Hasil
T awal
(
o
C)
T akhir
(
o
C)
T (dT)
25 ml lar I + ml H
2
O
2
0,5M + ml H
2
O + ml (NH
4
)
6
Mo
7
O
24
+ ml H
2
O

25 ml lar I + ml H
2
O
2
0,5M + ml H
2
O + ml (NH
4
)
6
Mo
7
O
24
+ ml H
2
O

25 ml lar I + ml H
2
O
2
0,5M + ml H
2
O + ml (NH
4
)
6
Mo
7
O
24
+ ml H
2
O

25 ml lar I + ml H
2
O
2
0,5M + ml H
2
O + ml (NH
4
)
6
Mo
7
O
24
+ ml H
2
O





Laboran Asisten Praktikan




















26

3. PENGARUH SUHU TERHADAP
KESETIMBANGAN; KALORIMETRI TAK
LANGSUNG

1. LATAR BELAKANG
Kita akan menentukan kelarutan PbCl
2
dalam air pada beberapa suhu yang
berbeda. Dari sini dapat dihitung nilai tetapan kesetimbangan K sebagai fungsi suhu
untuk kesetimbangan :
PbCl
2
↔ Pb
2+
(aq)
+2Cl
-
K = [Pb
2+
] [Cl
-
]
2
………… (1)
Menurut termodinamika berlaku :
∆G⁰ = R T lnK ……………………………………………………… (2)
Dan dari ini dapat ditentukan :

Jadi dari grafik log K sebagai fungsi 1/T dapat ditentukan nilai baku untuk
entalpi pelarutan dan entropi pelarutan PbCl
2
. Ini berarti nilai untuk enalpi dan
entropi reaksi dapat dientukan tanpa melakukan percobaan kolorimetrik sama sekali.
Kelarutan PbCl
2
akan ditentukan dengan mengambil volume tertentu dari
kelarutan PbCl
2
yang jenuh dan melekatkannya melalui suatu penukar kation dalam
bentuk asam. Kemudian jumlah asam yang dibebaskan oleh Pb
2+
akan diukur secara
volumetric.

2. CARA KERJA
A. Persiapan Larutan Jenuh PbCl
2
pada Suhu – Suhu yang Berbeda
(satu larutan untuk semua kelompok)

Buatlah larutan – larutan PbCl
2
yang jenuh pada suhu kira – kira 0
o
C, 30
o
C
(sedikit di atas suhu laboraatorium), 45
o
C, dan 60
o
C menurut cara berikut:
Suhu (oC) 0 30 45 60
Massa PbCl
2
(g/100ml) 2 2,5 3 4

Larutkan PbCl
2
(sesuai tabel) dalam gelas piala 250 ml. tempatkan larutan ini
dalam thermostat masing – masing dan biarkan sampai kesetimbangan kelarutan
tercapai (minimal 1 jam). Pada awalnya aduklah beberapa kali sehingga
kesetimbangan termal akan cepat tercapai.
Ukurlah suhu masing – masing larutan tiap 15 menit selama praktikum, untuk
memperkirakan besarnya fluktuasi dalam nilai ini.

B. Persiapan Penukar Ion (setiap kelompok)
Timbanglah kira – kira 6 g Amberlite IR-120 dalam bentuk asam, dekantasi
penukar ion beberapa kalidalam air, sampai tidak bereaksi asam lagi denagn indicator
jingga metil. Masukkan ke dalam tabung penukar ion, 10 ml air dan kemudian
tempatkan di dalamnya sebuah sumbat kapas kecil. Usahakan aliran air satu tetes per
detik. Tuanglah di atasnya suspense penukar ion dan tutupi kolom penukar ion
denagn sebuah sumbat kapas kecil.
27

Periksa sekali lagi air yang keluar dari kolom sampai tidak bereaksi asam lagi
terhadap indicator jingga metil (jangan lupa untuk memeriksa sebelumnya pH air
yang dipakai cukup tinggi untuk bereaksi basa dengan jingga metil).
Kapasitas kolom ini cukup untuk melaksanakan satu penentuan konsentrasi
PbCl
2
untuk setiap suhu.

Perhatikan bahwa :
1. Selama semua percobaan kolom penukar ion harus selalu tercelup seluruhnya
di dalam air.
2. Volume air di atas kolom sesedikit mungkin sebelum larutan PbCl
2

dimasukkan, sehingga waktu yang diperlukan untuk melewatkan larutan ini
melalui penukar ion secara kuantitatif menjadi sependek mungkin.
3. Kecepatan elusi cairan lewat kolom tidak lebih dari satu tetes per detik.
4. Kristal PbCl
2
tidak akan terbentuk di dalam penukar ion (karena sulit untuk
melarutkannya kembali).

C. Penentuan Konsentrasi PbCl
2
(per kelompok)
Ukurlah suhu dari larutan jenuh PbCl
2
dan pipetlah dari larutan ini (tanpa
kristal) ke dalam gelas piala kecil. Perhatikan bahwa bila larutan panas kristalisasi
belum mulai terbentuk di dalam pipet. Untuk itu pipet boleh dipanaskan di dalam
thermostat, tetapi pastikan pipet tetap kering di dalam karena tidak mungkin untuk
membilas sebelumnya dengan larutan yang panas.
Tambahkan cukup air untuk larutan yang panas sehingga Kristal tepat tidak
akan terbentuk pada pendinginan, tetapi usahakan volumenya tinggal sekecil
mungkin. Pindahkan seluruh larutan ke dalam kolom dan alirkan larutan ini ke dalam
kolom. Kemudian bilaslah bebrapa kali dengan sedikit air sampai cairan yang keluar
tidak bereaksi asam lagi dengan jingga metil (kira – kira membutuhkan 50 ml air jika
dibilas dengan teliti).
Titrasilah semua larutan yang keluar dari penukar ion dengan NaOH 0,1M
dengan menggunakan indicator metil red (mengapa tidak sebagian dari larutan yang
keluar dipipetkan untuk menentukan konsentrasi?)
Lakukan penentuan ini untuk semua suhu. Diskusikanlah kelompok yang satu
dengan yang lain, siapa yang akan memulai dengan suhu tertentu untuk memastikan
pada akhir praktikum kelompok bersama akanmemperoleh data yang lengkap.
Catat volume NaOH yang diperlukan pada masing – masing suhu di papan
tulis. Data ini diperlukan dalam penyelesaian laporan (pertanyaan 9).

D. Regenerasi Penukar Ion (dilakukan laboran)
Masukkan semua penukar ion yang dipakai oleh seluruh kelompok ke dalam
satu tabung dan dilas dengan HNO
3
2M sampai larutan yang keluar bereaksi negative
terhadap Pb
2+


3. TUGAS AWAL
1. Mengapa penukar ion di dalam tabung tidak boleh menjadi kering?
2. Mengapa sebaiknya baru mulai perpindahan larutan PbCl
2
ke atas penukar ion
pada saat sedikit air saja masih tersisa di atas kolom?
3. Sesudah dipipet ke dalam gelas piala, air harus ditambahkan untuk larutan panas
sehingga Kristal tidak akan terbentuk. Apakah ini tidak akan menyebabkan hasil
yang salah, karena hal ini akan menyebabkan konsentrasi PbCl
2
menjadi
berubah?
28

4. a. berapa besar nilai log K bila kelarutan PbCl
2
= p ml/L?
b. hasil percobaan yang ditemukan seorang mahasiswa :
untuk titrasi larutan yang diperoleh dari 10 ml larutan PbCl
2
jenuh yang
dilewatkan pada penukar ion, diperlukan 9,48ml NaOH 0,0935 M. hitunglah
berdasar hasil ini (perhatikan angka penting) : kelarutan PbCl
2
(1) dan log K
pada suhu yang berlaku (2)
5. mengapa tidak dapat dipakai penukar anion dlam bentuk basa untuk menentukan
konsentrasi PbCl
2
?
6. Sehubungan denagn keselamatan praktikum :
a. Apakah diperlukan tindakan tertentu?
b. Apakah limbah boleh dibuang begitu saja dalam wastafel?
7. Buatlah diagram alir untuk percobaan ini!

4. PENYELESAIAN LAPORAN
8. Turunkan persamaan (3) dari persamaan (2)!

9. a. hitunglah untuk masing – masing suhu, berdasar hasil dari seluruh
kelompok :
(i) nilai rata – rata volume NaOH yang digunakan da ralat dalam nilai
ini!
(ii) Nilai rata – rata kelaruta PbCl
2
dan ralat dalam nilai ini!
(iii) Dari hasil di atas, hitung nilai log K dan ralat dalam nilai ini!
b. Tentukan juga fluktuasi dalam T dan 1/T!
c. Kumpulkan dalam sebuah tabel nulai untuk kelarutan untuk kelarutan PbCl
2
,
log K, dan ralat dalam nilai log K serta nilai untuk T, 1/T, dan fluktuasi dalam
1/T!

10. a. Gambarkan sebuah grafik dari log K sebagai fungsi 1/T (gunakan skala
yang cocok). Untuk semua titik tunjukan juga persegi panjang ralat!
b. tentukan dari grafik ini :
(i) nilai rata – rata dari ∆H⁰ dan ∆S⁰!
(ii) ralat dalam nilai – nilai ini!

11. Apakah yang dapat disimpulkan tentang reaksi (1) dari nilai ∆H⁰, ∆S⁰, dan ∆G⁰
yang ditemukan? (misalnya tentang kalor reaksi, kemungkinan terjadinya reaksi,
dst)

12. Carilah nilai untuk ∆H⁰ dan ∆S⁰ dalam literature (sebutkan sumbernya)!
Bandingkan nilai yang ditemukan dalam percobaan ini dengan nilai literature!
Beri komentar!

13. Apakah mungkin kita menemukan nilai ∆H⁰ untuk reaksi (1) secara kolorimetri!
Kalau mungkin, gambarlah garis besar percobaan ini! Kalau tidak, beri alasan!

14. Bandingkan hasil yang anda temukan (volume NaOH pada masing – masing
suhu) dengan hasil yang ditemukan oleh kelompok bersama! Beri komentar
tentang :
a. Hasil yang anda peroleh!
b. Ketelitian percobaan ini!
Acuan: Atkins, 9.4; Jeffery, 7.1-2,8
29

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I


Nama/ NIM :
Kelompok :
Tanggal Praktikum :
Judul :
Alat dan bahan :


A. Persiapan Larutan Jenuh PbCl
2
pada Suhu Berbeda
Suhu (
o
C) 0 30 40 50 60 100
Massa PbCl
2
(gr/50 ml akuades) 1,00 1,25 1,50 1,75 2,00 10,00
Kelompok

B. Persiapan Penukar Ion
Massa ion exchanger yang digunakan = ………… gr

C. Penentuan Konsentrasi PbCl
2

Volume PbCl
2
yang dititrasi = ………… ml
Indikator MR yang digunakan = ………… tetes

Suhu (
o
C) 0 30 40 50 60 100
Volume NaOH yang
ditambahkan


D. Pengukuran Suhu PbCl
2

Waktu (menit) Suhu (⁰C)
0
15
30
45
60

E. Standarisasi NaOH
Volume (ml) I II III
awal
akhir
ditambahkan



Laboran Asisten Praktikan





30

4. PENENTUAN MASSA MOLAR POLIMER

1. PENDAHULUAN
Hasil- hasil pengukuran viskositas suatu larutan koloid dapat digunakan untuk
menentukan berat molekul massa terdispersi pada koloid tersebut. Dalam percobaan
ini larutan koloid terdiri dari suatu polimer yang dilarutkan dalam air.
Viskositas dari larutan polimer dapat dihubungkan dengan berat molekul dari
polimer itu. Hubungan tersebut dapat digambarkan dengan persamaan berikut ini:
(

)

(1)
M = berat molekul primer
K = tetapan yang bergantung pada jenis polimer, pelarut dan suhu.
q = viskositas larutan polimer
q
0
= viskositas pelarut (dalam percobaan ini air)
c = jumlah gram polimer dalam 100 ml larutan.
a = suatu tetapan yang bergantung pada jenis polimer
Misalnya a≈ 2 jika molekul berbentuk batang (DNA, miosin, kolagen) dan a ≈
0,5- 0,8 untuk molekul berbentuk random coil dan a ≈ 0 untuk misalnya hemoglobin
yang berbentuk bulat.

gambar 1.

Besaran (

) dikenal sebagai viskositas spesifik atau h
sp
. Jadi persamaan (1)
dapat dituliskan sebagai berikut:

(2)
Persamaan (2) hanya berlaku untuk larutan yang sangat encer (kurang dari 1%).
Kurva yang menggambarkan hubungan

terhadap c pada nilai- nilai konsentrasi ©
mendekati nol mempunyai nilai yang besarnya tertentu, yang dikenal sebagai
viskositas intrinsic. Secara matematis, viskositas intrinsic dapat ditulis sebagai:
[]

Dimana [q] = viskositas intrinsic. Hal ini digambarkan dengan grafik dibawah
ini:






31



Gambar 2

Untuk mendapatkan viskositas intrinsic secara lebih tepat biasanya dibuat dua
buah grafik. Satu grafik dari

terhadap c seperti ditunjukkan di atas dan grafik
dari 1/c ln (q/q
o
) terhadap c. potongan (intersep) pada sumbu vertical harusnya tetap
sama.
Secara sistematis:

(

)

(

)
Jika konsentrasi c  0 maka:

(

)

[]

(

)

Nilai [q] yang didapatkan dari metoda ini dapat dipakai untuk menentukan berat
molekul polimer dengan menggunakan persamaan berikut:
[q] = KM
a

Tujuan:
1. Penggunaan alat viscometer
2. Untuk menentukan sifat koloid daari pengukuran- pengukuran viskositas


Gambar 3. Viskometer Ostwald


32

2. PERALATAN DAN METODE
2.1. Peralatan
- Viscometer Ostwald
- Penangas air
- Statif dan klem
- Stopwatch
- Labu ukur 50
- Pipet ukur atau ppet volume 5 ml
- PVA
- Aseton
- Akuades
- KOH 10%
2.2. Metode
a. Siapkan larutan PVA (Polyvinyl alcohol) o,9% dengan cara : timbang 0,45 g
PVa dalam beaker gelas kemudian dilarutkan dalam 40 ml akuades panas.
Setelah PVA larut, larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml dan
digenapkan dengan akuades sampai batas tera.
b. Bersihkan bagian dalam viscometer Ostwald dengan menggunakan larutan
sabun atau 10% KOH dalam etanol kemudian dibersihkan dengan akuades.
c. Bersihkan bagian dalam viscometer dengan menggunakan aseton dan
keringkan viscometer tersebut menggunakan pompa vakum (atau tempatkan
viscometer tersebut pada oven bersuhu 50
o
C)
d. Pasanglah viscometer dalam penangas air
o
C seperti ditunjukkan
pada gambar diatas.
e. Pipet 3ml aseton ke dalam viscometer yang kering dan bersih.
f. Ukur waktu yang diperlukan larutan untuk melewati jarak antara 2 tanda yang
terdapat pada viscometer (waktu alir). Caranya adalah dengan jalan menghisap
larutan melalui pipas plastik sampai cairan berada di atas tanda pada bagian
atas viskometer. Kemudian biarkan cairan itu mengalir turun, catat waktu yang
dibutuhkan untuk melalui jarak antara kedua tanda tersebut. Lakukan langkah
ini triplo (perbedaan ketiga waktu yang diperoleh tidak boleh melebihi 0,5
detik) dan catat hasilnya dalam laporan sementara.
g. Ulangi langkah c- f dengan mengganti aseton dengan akuades
h. Ulangi langkah c- f dengan mengganti aseton dengan larutan PVA 0,9%.
i. Pipet 3ml akuades ke dalam viscometer dan kocok dengan larutan polimer.
Kemudian 3 ml larutan dikeluarkan dari viscometer dengan menggunakan
pipet. Ukurlah waktu aliran anta ra 2 tanda untuk larutan itu seperti dilakukan
dalam langkah f. Prosedur pengenceran ini siulangi sekali lagi dan waktu
aliran diukur.
j. Bersihkan bagian dalam viscometer dengan menggunakan aseton dan
keringkan viscometer tersebut menggunakan pompa vakum (atau tempatkan
viscometer tersebut pada oven bersuhu 50
o
C).
k. Ulangi langkah h- j dengan menggunakan larutan PVA 0,9% dan suhu
penangas air 35 ± 0,1
o
C.
l. Ulangi langkah h- j dengan menggunakan larutan PVA 0,9% dan suhu
penangas air 45 ± 0,1
o
C.
Catatan:
a. Jangan biarkan peralatan gelas yang dibasahi larutan PVA sampai menjadi
kering. Karena bila larutan tersebut kering, akan sangat sulit untuk
33

dibersihkan. Selalu bilas langsung dengan banyak air (terutama untuk pipet
dan viskometer). Bila anda akan mengeringkan peralatandengan menggunakan
aseton pastikan bahwa polimer sudag hilang sebelum membilas dengan aseton.
b. Busa atau gelembung udara tidak boleh terbentuk pada pembuatan PVA atau
pada saat pencampuran larutan polimer dengan air didalam viscometer.
c. Kalibrasi viscometer sebaiknya dilakukan pada saat larutan PVA dibuat.
Proses pelarutan PVA termasuk proses yang lambat.

3. TUGAS AWAL
1. Arti fisis manakah yang dapat diberikan kepada:
a. Viskomsitas spesifik q
sp

b. Viskositas intrinsic [q]
2. Mengapa penting untuk menggunakan thermostat pada percobaan ini?
3. Coba jelaskan mengapa sulit untuk memebersihkan lagi permukaan gelas berlapis
PVA yang sudah kering?
4. Massa molar PVA akan ditentukan dengan mengukur viskositas larutan polimer
tersebut,sebaliknya dalam perhitungan bukan nilai viskositas q tetapi nilai waktu t
yang dipakai. Jelaskan mengapa hal ini diperbolehkan?
5. Kesalahan apa yang terdapat dalam gambar 13.3.2?
6. a. Apakah diperlukan tindakan tertentu sehubungan dengan keslamatan
praktikum?
b. apakah limbah boleh dibuang dalam wastafel?
7. Buat diagram alir percobaan ini!

4. PENYELESAIAN LAPORAN
5. Hitung rata- rata waktu aliran masing- masing larutan dan hitung nilai Standar
Deviasi-nya
6. Dengan data hasil kalibrasi menggunakan akuades dan aseton, hitunglah nilai
konstanta dan C dalam persamaan dibawah ini:
q/µ = B t- C/t
Densitas dan viskositas spesifik pada suhu 25
o
C dari aseton dan air dibutuhkan
untuk perhitungan ini
7. Hitunglah nilasi viskositas dalam milipoise dari larutan PVA dengan
menggunakan persamaan pada nomor 2 diatas!
8. Hitunglah nilai viskositas spesifik q
sp
untuk masing- masing PVA pada masing-
masing suhu!
9. a. buatlah kurva q
sp
/c sebagai fungsi c dan kurva 1/c ln (q/q
0
) sebagai fungsi c
untuk masing- masing suhu.
b. Hitunglah viskositas intrinsik [q] untuk masing- masing suhu!
c. Perkirakan ralat dalam nilai [q] untuk masing- masing suhu!
10. Untuk larutan PVA dalam air, tetapan dalam persamaan (3) pada suhu 30
o
C
adalah k = 15,5x10
-5
; a= 0,76.
a. Hitunglah massa molar rata- rata polimer itu!
b. Perkirakat ralat dalammassa molar!
11. a. Bagaimana struktur kimia PVA?
b. Tentukan jumlah satuan (monomer) rata- rata yang terdapat pada molekul ini!
12. Hitunglah panjang kira-kira dari molekul itu. Diketahui : sudut ikatan = 109
o
C ;
jarak ikatan C-C = 154 pm.

Acuan: Bird, percobaan 13.3; Atkins, Bab 23.3
34

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I

Nama/ NIM :
Kelompok :
Tanggal Praktikum :
Judul :
Alat dan bahan :

Suhu penangas : 25 ± 0,1
o
C
Larutan
I
(± 0,1 detik)
II
(± 0,1 detik)
III
(± 0,1 detik)
Aseton
Akuades
PVA 0,9%
PVA 0,45%
PVA 0,225%

Suhu penangas : 35 ± 0,1
o
C
Larutan
I
(± 0,1 detik)
II
(± 0,1 detik)
III
(± 0,1 detik)
PVA 0,9%
PVA 0,45%
PVA 0,225%

Suhu penangas : 45 ± 0,1
o
C
Larutan
I
(± 0,1 detik)
II
(± 0,1 detik)
III
(± 0,1 detik)
PVA 0,9%
PVA 0,45%
PVA 0,225%




Laboran Asisten Praktikan













35

5. TERMODINAMIKA KARET


1. PENDAHULUAN

Karet adalah polimer alam. Karet yang tervulkanisasi mempunyai sifat elastic
yang baik. Karet gelang dapat diregangkan oleh gaya tertentu, tetapi akan mencapai
panjang awal kembali kalau gaya tidak bekerja lagi. Ini disebabkab adanya ikatan silang
yang berada di antara polimer-polimer. Kalau tidak ada gaya yang dikerjakan, bentuk dari
molekul polimer menjadi lebih teratur atau entropi dari karet berkurang. Karena itu, sifat
elastisitas dari karet tergantung dari suhu dan dapat dianalisa secara termodinamis.

Gb. 1. Alat ukur regangan karet

Menurut hokum pertama untuk proses diferensial :
δU = δQ + δW
= TdS.PdV + Fdl
Dimana :
F = gaya regang
l = panjang karet gelang

Pada proses regangan dalam praktek, volume boleh dianggap tetap (mengapa?),
ini berarti dV = 0. Karena itu untuk regangan pada suhu tetap berlaku :
F = *


+

*


+

……………………………………………………………….(1)
Suku-suku pada ruas kanan sukar diukur langsung, tetapi dengan menggunakan
hubungan Maxwell untuk regangan karet menjadi :
*


+

*


+

………………………………………………………………(2)
(1) dapat ditulis sebagai :
F = *


+

*


+

……………………………………………………………….(3)
F dan *


+

dapat diukur, dari ini *


+

*


+

dapat dihitung.

Kalau suhu naik, keadaan dakil zat akan cenderung lebih acak. Karena itu dapat
diduga bahwa F yang diperlukan untuk perpanjangan tertentu akan menjadi lebih besar
pula.Dengan menggunakan statistik, nilai entropi dapat dihitung sebagai fungsi regangan
36

untuk karet gelang yang dibuat dari zat polimer yang terdiri dari kumparam acak. Dari ini
dapat diturunkan bahwa untuk regangan terbatas Hukum Hooke berlaku dan betul bahwa:
F = kΔl, dengan k = pT (p=tetapan)…………………………………………………….(4)
Atau
F = kl + c ………………………………………………………………………………(5a)
= pTl + c ……………………………………………………………………………..(5b)

Menurut model ini, F berbanding lurus dengan T untuk regangan tertentu. Dengan
pengukuran F pada beberapa variasi suhu, dapat ditentukan sejauh mana model kumparan
acak dapat digunakan untuk karet yang tervulkanisasi.

2. PERALATAN DAN METODA

Peralatan yang akan digunakan digambarkan secara skematis seperti pada gambar
di atas (Gb.1). Panjang (=l) dari sebuah karet gelang dapat diatur dengan menggeser
batang kaca. Dengan memasukkan air ke dalam kaleng, keadaan setimbang dapat
tercapai, dari massa (air+kaleng) nilai F dapat dihitung. Suhu karet dapat diatur dengan
suhu air yang masuk ke dalam pipa thermostat berdinding rangkap yang mengelilingi
karet.
Karet gelang yang akan digunakan harus diperlakukan secara termis sebelumnya :
karet gelang (panjang l
o
) diregangkan sampai bertambah panjang 1,5 kali Δl maksimal (
sehingga panjangnya menjadi l
o
+ 1,5 Δl
maks.
). Harus dipanaskan selama 5 menit dalam air
bersuhu 90
o
C (sehingga perubahan bentuk tak elastic sudah terjadi).

A. Pengukuran F sebagai fungsi panjang (l) dan suhu (T) dari karet
Mulailah dengan mengukur F sebagai fungsi l pada suhu laboratorium. Periksa
dulu regangan maksimal yang dapat digunakan pada peralatan dan tentukan berapa
volume air harus dimasukkan ke dalam kaleng untuk mencapai regangan maksimum ini.
Volume air ini kemudian dibagi lima untuk untuk mengukur l sebagai fungsi F (ada 6 kali
pengukuran dengan volume air yang berbeda). Setiap kali mengukur, tunggu sampai
kesetimbangan tercapai. Catat l, F dan T (=T
1
). Buatlah empat seri pengukuran, satu dari
regangan maksimal ke regangan minimal, yang kedua sebaliknya. Dua seri ini kemudian
diulangi dengan urutan dibalik. Buat pula empat seri pengukuran seperti diatas untuk T
2

dengan jalan mengalirkan air panas ke dalam thermostat dan ditunggu sampai
kesetimbangan termal tercapai.
Catatan : Usahakan volume air yang digunakan untuk setiap seri pengukuran selalu sama
sehingga memudahkan perhitungan.

B. Kalibrasi Peralatan
Kalibrasikan peralatan yang digunakan :
a. Perkirakan seberapa teliti semua pengukuran dapat dilakukan.
b. (Kalau ada waktu) periksa apakah F dapat dihitung langsung dari massa
(kaleng+air) atau apakah koreksi tertentu dapat dibuat.
c. ……………………………….(ide anda sendiri)

3. TUGAS AWAL

1. Turunkanlah hubungan (2)!
2. a. Ramalkan bentuk grafik untuk gaya regang (F) sebagai fungsi panjang (l)!
37

b. Dalam praktek tidak mungkin mengukur l kalau F=0. (periksa sendiri pada waktu
percobaan dilakukan). Dengan menggunakan grafik :
b.1. Jelaskan mengapa pengukuran dengan F=0 tidak perlu dimasukkan dalam seri
pengukuran
b.2. Perlihatkan cara penentuan :
b.2.1. Nilai l, bila F=0
b.2.2. nilai k persamaan (4) dan (5)
3. Buatlah diagram alir dari percobaan ini!

4. PENYELESAIAN LAPORAN

4. a. Hitunglah untuk masing-masing T
1
dan T
2
pada setiap volume air yang digunakan :
a.1. Nilai rata-rata l
a.2. Ralat dalam l
a.3. Gaya regang F
a.4. Raqlat dalam F
b. Gambarkan sebuah grafik dari F sebagai fungsi l pada masing-masing T
1
dan T
2

(termasuk persegi panjang ralat)!
5. Dari grafik-grafik ini hitunglah (kalau perlu gunakan bagian grafik yang linier saja):
a. Nilai dari k (persamaan 5a), pada T
1
dan T
2

b. Nilai dari F sebagai fungsi panjang l pada T
1
(=F
1
) dan T
2
(=F
2
), persamaan (5a)
c. Nilai dari *


+

*

+ sebagai fungsi panjang l
6. Hitung nilai dari *


+

dan *


+

pada suhu T
1
!
7. a. Perkirakan ralat dalam nilai k dan c persamaan (5a) yang ditentukan dari grafik.
Beri penjelasan !
b. Gunakan ralat ini untuk memperkirakan ralat dari perhitungan pertanyaan 6 pada
Δl =

Δl yang maksimal!
8. Dalam perhitungan dianggap bahwa nilai dari *


+

dan *


+

tidak tergantung dari
T. Rencanakan percobaan untuk meneliti apakah anggapan ini berlaku !
9. a. Periksa apakah k = aT berlaku !
b. Berdasarkan hasil percobaan : bolehkah model kumparan acak digunakan untuk
karet ? Beri penjelasan !
10. Kerjakan persamaan (1) pada Δl =

Δl maksimal !


Acuan :
Atkins Bab 5
J.P. Byrne. 1994. Rubber Elasticity. J. Chem. Ed. 71. Pg. 531-533









38

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I


Nama/ NIM :
Kelompok :
Tanggal Praktikum :
Judul :
Alat dan bahan :





Hasil Percobaan :
A. Pengukuran F sebagai fungsi panjang (l) dan suhu (T) dari karet
Massa kaleng =
Suhu ruang =

A
1
. Pengukuran pada T
1
=……
o
C
Minimal - maksimal
V. air (ml)
L
1
(cm)
L
2
(cm)
Maksimal - minimal
V. air (ml)
L
1
(cm)
L
2
(cm)

A
2
. Pengukuran pada T
2
=……
o
C
Minimal - maksimal
V. air (ml)
L
1
(cm)
L
2
(cm)
Maksimal - minimal
V. air (ml)
L
1
(cm)
L
2
(cm)



Laboran Asisten Praktikan





39

6. TITRASI POTENSIOMETRI CAMPURAN
ASAM


1. TUJUAN PERCOBAAN

Pada percobaan ini, akan ditentukan komposisi kuantitatif suatu larutan yang
merupakan campuran dari asam kuat bervalensi satu dengan asam lemah bervalensi 3,
menggunakan metoda titrasi potensiometri.
Percobaan ini ditujukan untuk memperkenalkan tentang analisis volumetrik kuantitatif
serta metoda titrasi volumetri.
(A) Larutan natrium hidroksida (NaOH) bebas karbonat dipersiapkan dan
distandarisasi dengan asam oksalat, larutan NaOH ini selanjutnya akan digunakan
untuk titrasi potensiometri dari campuran asam.
(B) 4 atau 3 kali dari masing-masing 1 ml larutan asam akan digunakan untuk titrasi
potensiometri. Masing-masing titrasi harus dilanjutkan untuk mendapatkan 2 titik
ekuivalensi.

2. PENDAHULUAN

Asam kuat seperti asam Hidroklorida (HCl) dapat terdisosiasi sempurna dalam air.
Akan tetapi asam lemah, seperti asam asetat hanya terdisosiasi sebagian. Besarnya
disosiasi dapat dihitung dari nilai ekuilibrium konstan dan banyaknya asam lemahdan
basa kuat yang ditambahkan dalam larutan.
Keasaman relatif dari asam dan basa biasanya dinyatakan dalam pKa = - log
10
Ka,
dimana Ka merupakan nilai disosiasi konstan untuk reaksi tersebut.
HA → H
+
+ A
-

Jika a
A
-
, [A
-
] dan γ
A
menyatakan masing-masing aktivitas, konsentrasi molar dan
koefisien aktivitas dari basa konjugasi A
-
, maka :

(

)

[

][

]
[]

(

)

pKa = - log Ka
pKa = -[(log aH
+
) + log (aA
-
) – log (aHA)]
pH = -log (aH
+
)
pKa = pH + log (aHA) – log (aA
-
)
pKa = pH -

pKa = pH – log ,
[

]
[]

[

]
[]
-, jika
[

]
[]
~ 1, maka :
pH = pKa + log (
[

]
[]
)
Persamaan ini sama dengan persamaan Henderson- Hasselbacich. Persamaan ini sangat
berguna pada daerah buffer dari titrasi sebuah asam lemah. pKa merupakan – log Ka pada
kekuatan ionik dari larutan. Tepatlah jika nilai dari Ka yang diperoleh akan
sedikitmenyimpang dari nilai yang terdapat pada literatur standard, karena pada literatur
menunjukkan nilai termodinamik pada kekuatan ionik = 0.
40


Gambar 1
Kurva karakteristik dari sebuah titrasi potensiometri untuk menentukan titik ekuivalen
dan nilai pKa dari asam bervalensi 1.
Catatan : pKa merupakan nilai pH dimana aktivitas asam Ha dan basa konjugasinya A
-

adalah sama.

Untuk asam bervalensi 3, berturut-turut nilai disosiasi konstan, didefinisikan
sebagai berikut :
H
3
A = H
2
A
-
+ H
+
K
1
= [H
2
A
-
][H
+
] / [H
3
A]
H
2
A
-
= HA
2-
+ H
+
K
1
= [HA
2-
][H
+
] / [H
2
A
-
]
HA
2-
= A
3-
+ H
+
K
1
= [A
3-
][H
+
] / [HA
2-
]

Nilai normalitas dari sebuah larutan asam merupakan jumlah ekuivalen per liter
(mol per liter) dari proton yang dapat mengalami disosiasi. Normalitas suatu larutan basa
adalah sama dengan jumlah ekuivalen dari asam yang dinetralkannya. Normalitas asam
bervalensi 3 adalah 3 kali molaritas asam bervalensi 1. Pada titrasi larutan asam dan basa,
nilai-nilai ini sering dipakai untuk menyatakan dalam miliekuivalen.

3. ALAT DAN BAHAN
Dalam percobaan ini banyak bahan kimia akan digunakan, dimana beberapa
diantaranya harus digunakan dan ditangani dengan hati-hati untuk mencegah hal-hal yang
tidak diinginkan, baik bagi tubuh kita maupun bagi lingkungan sekitar. Tidak ada dari
bahan-bahan ini yang dapat ditelan, juga harus dicegah kontak antara bahan kimia
tersebut dengan kulit kita atau mata kita. Bahan-bahan kimia yang digunakan antara lain :
1. Natrium Hidroksida (NaOH)
NaOH sangat keras dan harus ditangani dengan hati-hati. Usahakan jangan sampai
mengenai tangan atau pakaian. Jika NaOH mengenai kulit, segera cuci dengan air
sebanyak-banyaknya.
41

2. Asam Hidroklorida
Cegah kontak langsung antara asam dengan kulit atau pakaian. HCl terlarut
digunakan dalam percobaan ini, dimana HCl ini sedikit lebih beracun daripada
HCl konsentrat (murni). Jika mengenai tangan atau pakaian, segera cuci sebanyak-
banyaknya dengan air bersih.
3. Asam Oksalat
Asam oksalat merupakan standar primer. Gunakan dengan tindakan pencegahan
yang biasa. Biasanya terdapat dalam bentuk hidrat (H
2
C
2
O
4
. 5H
2
O, Mr = 126
g/mol)
4. Phenolphthalein
Bahan kimia ini merupakan sebuah senyawa organik yang beracun dalam jumlah
yang banyak. Gunakan dengan tindakan pencegahan yang biasa, seperti : jangan
ditelan serta jauhkan dari kulit dan mata.
5. Asam Phosphate (H
3
PO
4
)
Larutan konsentratnya dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan membran lendir.
Tidak beracun dan biasanya digunakan sebagai pemberi rasa dalam makanan dan
aplikasi komersial lainnya.

4. CARA KERJA

1. Penyiapan larutan NaOH 0,05 M
Buatlah 500 ml larutan NaOH 0,05 M dari NaOH padat yang disediakan.

2. Standarisasi larutan NaOH 0,05 M
Sebanyak 0,1 g asam oksalat pentahidrat ditimbang dengan ketelitian ±10
-4
,
kemudian dimasukkan dalam erlenmeyer dan tambahkan 10 ml akuades. 2 tetes
indikator penolphthalein ditambahkan ke dalam erlenmeyer tersebut dan dititrasi
dengan larutan NaOH yang akan distandarisasi, sampai warna merah muda.
Catatan :
- Setiap kali mengisi buret dengan larutan, bilas tiga kali dengan 2 ml larutan
tersebut dan buang larutan yang digunakan untuk membilas. Pada saat
membilas, miringkan posisi buret agar semua bagian dalam buret dapat
terbilas oleh larutan. Setelah selesai membilas, masukkan larutan NaOH yang
akan digunakan untuk titrasi. Hilangkan gelembung udara yang ada pada
bagian bawah kran pengatur dengan cara membuka kran beberapa saat sampai
tidak ada gelembung lagi.
- Titrasi dilakukan dengan cepat, akan tetapi jika titik akhir titrasi sudah dekat
harus dilakukan pengamatan dengan teliti. Usahakan untuk
mendapatkanwarna merah muda yang sama pada tiap titik akhir titrasi tiap
ulangan. Warna ideal titik akhir titrasi adalah merah muda pucat.










42

3. Titrasi campuran asam (HCl dan H
3
PO
4
)

Dengan menggunakan pipet volume, pipetkan sebanyak 1 ml larutan campuran
asam yang telah disediakan ke dalam beaker glass dan tambahkan 19 ml akuades.
Masukkan sebuah magnetik stir ke dalam beaker tersebut.
Lakukan kalibrasi pH meter yang akan digunakan untuk mengukur pH larutan
selama titrasi dengan menggunakan larutan buffer pH 7.
Cuci elektrode pH meter dengan akuades dalam beaker kosong. Pasang elektrode
dan buret, pastikan ujung elektrode tidak menyentuh magnetik stir jika diputar.
Permukaan beaker dialasi dengan kertas untuk mencegah pemanasan larutan oleh
magnetik stirer.
Ukur pH larutan tiap penambahan 0,5 ml larutan titran, lanjutkan titrasi sampai
diperoleh titik ekuivalen 1 dan titik ekuivalen 2. (Titik ekuivalen dapat dilihat dari
perubahan nilai pH yang tajam). Setelah diperoleh titik ekuivalen 2, lanjutkan
titrasi sampai diperoleh 5 data lagi. Lakukan pengulangan titrasi sebanyak tiga
kali.
Catatan :
Setelah titrasi pertama selesai, elektrode pH dipindahkan dan dicuci dengan
akuades. Biarkan elektrode tercelup dalam akuades selama ± 15 menit sebelum
titrasi kedua dilakukan.

5. PENYELESAIAN LAPORAN
1. Analisalah grafik hubungan pH larutan dengan volume penambahan NaOH
standar menggunakan program grafikal seperti microsoft excel atau program
grafikal yang lain, untuk masing-masing titrasi !
2. Untuk masing-masing titrasi, tentukan kedua titik ekuivalennya dan beri tanda
garis vertikal yang melalui titik tersebut sampai memotong sumbu x, untuk
43

mendapatkan volume NaOH yang ditambahkan untuk mencapai titik ekuivalen
masing-masing titrasi. Bagian dari kurva titrasi diantara kedua titik ekuivalen
harus mengikuti persamaan Henderson-Hasselbalch.
3. Hitung nilai pKa
2
dari H
3
PO
4
dan ujilah kebenaran dari persamaan Henderson-
Hasselbalch dengan menghitung menggunakan titik-titik lain pada bagian kurva
titrasi.
a. Apakah nilai pKa
2
dari hasil percobaan sama dengan nilai pada literatur ?
b. Walaupun dari titrasi ini tidak dapat dihasilkan nilai pKa
1
dan pKa
3
, akan
tetapi nilai pKa ini dapat ditentukan dengan menggunakan data hasil
percobaan. Data manakah itu ?
c. Karena titrasi tidak dilanjutkan untuk mendapatkan nilai pKa
3
, tentukan nilai
pKa
3
berdasarkan bentuk kurva pada titik dimana titrasi berakhir, jika nilai
pKa
3
didekati dengan ekstrapolasi.
4. Dari volume sampel dan selisih antara titik ekuivalen pertama dan kedua, hitung
molaritas HCl dan H
3
PO
4
dalam sampel. Berikan juga nilai ketidak pastian (ralat)
dalam perhitungan molaritas tersebut. Apakah masing-masing titrasi
menghasilkan nilai molaritas yang sama ?
































44

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I


Nama/ NIM :
Kelompok :
Tanggal Praktikum :
Judul :
Alat dan bahan :




1. Penyiapan larutan NaOH 0,05 M

2. Standarisasi larutan NaOH 0,05 M
Vol. NaOH 0,05 M (ml) I II III
Awal
Akhir
Yang ditambahkan

3. Titrasi campuran asam (HCl dan H
3
PO
4
)
Vol. NaOH
(ml)
pH
Vol. NaOH
(ml)
pH
I II III I II III
0,5
1,0
1,5
2,0
2,5
3,0
3,5



















45

Vol. NaOH
(ml)
pH
Vol. NaOH
(ml)
pH
I II III I II III









































Laboran Asisten Praktikan




46

7. PELAPISAN TEMBAGA
(ELEKTROPLATING)

1. PENDAHULUAN
Sistem elektroplating merupakan suatu rangkaian yang terdiri dari bak terdiri
larutan elektrolit, filter beserta pompa, sumber arus listrik searah, anoda, dan katoda.
Anoda dan katoda terendam dalam larutan elektrolit yang masing-masing berhubungan
dengan sumber arus listrik. Anoda berhubungan dengan kutub positif sumber listrik dan
katoda (sebagai benda kerja) berhubungan dengan kutub negatif sumber listrik.
Proses elektroplating merupakan proses pelapisan logam dengan bantuan arus
listrik yang berlangsung secara reaksi reduksi oksidasi dari logam pelapis (sebagai anoda
korban teroksidasi) ke benda kerja (sebagai katoda yang dilapisi). Pada katoda terjadi
proses penangkapan elektron sedangkan pada anoda terjadi reaksi pelepasan elektron,
sehingga proses pengendapan berlangsung di katoda yang berdampak pada penambahan
ketebalan dan berat benda kerja. Proses pelapisan dari logam pelapis ke logam yang
dilapisi berlangsung secara reaksi reduksi oksidasi (redoks), yaitu :
M
n+
+ ne
-
→ M
o

dan untuk mengimbangi reaksi tersebut pada anoda berlangsung pelepasan
elektron dengan reaksi :
M
1
→ M
1
n+
+ ne
-

Pelapisan dengan metode elektroplating mengikuti hukum Faraday, yaitu jumlah
logam yang terdekomposisi karena elektrolisis berbanding langsung dengan jumlah arus
yang melewati larutan dan sebanding dengan berat ekuivalen kimia logam pelapis.
Dengan demikian berat dan ketebalan rata-rata dari suatu lapisan elektroplating dari suatu
logam dapat dihitung dengan menggunakan parameter arus, waktu pelapisan, luas
permukaan logam yang dilapisi dan berat ekuivalen kimia logam pelapis. Berat lapisan
secara teoritis (Bt) dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan :

dan ketebalan lapisan secara teoritis (Kt) dapat diperoleh menggunakan
persamaan :

di mana:
I adalah arus (Ampere)
t adalah waktu pelapisan (sekon)
Wa adalah berat ekuivalen kimia logam pelapis (gram)
F adalah konstanta Faraday (coulombs)
r adalah densitas logam pelapis (g/cm
3
)
A adalah luas permukaan logam yang dilapisi (cm
2
)

Efisiensi arus dapat diketahui melalui perbandingan berat lapisan hasil eksperimen
(Be) dengan berat lapisan hasil analisis perhitungan (Bt), yaitu :

Efisiensi arus yang semakin tinggi mendekati satu menunjukkan bahwa proses
pelapisan logam terjadi secara sempurna.

47

2. CARA KERJA
Larutan yang dibutuhkan dalam percobaan ini adalah:
1. Larutan elektrolit, larutan dibuat dari 20 gram CuSO
4
.5H
2
O ditambah dengan 2,5
ml H
2
SO
4
pekat membuat 100 ml larutan.
2. Larutan hasil campuran NaCl dan asam cuka, mencampurkan 3 gram NaCl dan 5
ml asam cuka. Larutan ini digunakan untuk mencuci uang logam yang akan
digunakan untuk pelapisan.

Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Siapkan tembaga dan uang logam, uang logam terlebih dahulu dicuci dengan
larutan yang telah dibuat, setelah itu bilas dan keringkan (uang logam yang telah
digunakan tidak boleh diedarkan kembali).
2. Tuangkan larutan elektrolit yang telah dibuat ke dalam gelas beker sebanyak 100
ml (larutan ini dapat disimpan untuk digunakan kembali)
3. Hubungkan kawat penghubung dengan klip penjepit buaya ke ujung sumber
tegangan. Kencangkan satu klip penjepit pada uang logam pada katoda dan satu
klip lainnya tembaga pada anoda.
4. Timbang massa uang logam sebelum dan sesudah percobaan dilakukan.
5. Dorong bagian kawat yang bebas dari tiap-tiap kawat menembus kertas karton
persegi dan menempatkan kawat tersebut di atas beker sehingga elektroda uang
logam tercelup ke dalam larutan elektrolit (kedua elektroda jangan disentuh)
Percobaan ini dilakukan dengan melakukan beberapa variasi waktu dan arus. Arus
yang digunakan adalah 0,1 – 0,3 Ampere, untuk tiap-tiap variasi arus dilakukan selama 5,
10, dan 15 menit. Catat perubahan massa uang logam dan Cu setelah proses
elektroplating.

3. LAPORAN RESMI
1. Dari percobaan yang telah anda lakukan, hitung:
a. Massa teoritis dan massa hasil percobaan
b. Ketebalan secara teoritis
c. Efisiensi arus yang anda gunakan
2. Masalah yang sering timbul dalam elektroplating adalah munculnya gelembung
pada larutan elektrolit.
a. Apakah penyebab munculnya gelembung tersebut?
b. Bagaimana cara mengatasi apabila hal itu terjadi?
3. Hitunglah ralat dalam arus!
4. Sebutkan aplikasi lain dari pelapisan logam secara listrik! Minimal 3 macam serta
jelaskan analisa anda tentang:
a. Perbedaan dan persamaannya dengan pelapisan tembaga
b. Dari hasil soal a, apakah ada metode yang perlu diperbaiki dalam percobaan
yang anda lakukan? Jelaskan alasannya!









48

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I


Nama/ NIM :
Kelompok :
Tanggal Praktikum :
Judul :
Alat dan bahan :







Laboran Asisten Praktikan

















49

8. PENURUNAN TITIK BEKU
1. LATAR BELAKANG
Kalau asam benzoat C
6
H
5
COOH (HBnz) larut dalam naphthalene, ada
kemungkinan bahwa dimmer akan terbentuk melalui kesetimbangan :
2 HBnz (naphthalene) · (HBnz)
2
(naphthalene)..………………………(1)
Pada percobaan ini akan diteliti dalam bentuk manakah asam benzoat akan larut dalam
naphthalene. Dalam bentuk monomer, dimmer atau menurut kesetimbangan (1).
Untuk ini akan dibuat larutan asam benzoat dalam naphthalene dengan molalitas
m, berdasarkan massa asam benzoat yang ditimbang. Kemudian molalitas efektif m
e
,
dengan K=K/molalitas untuk naphthalenen.
Dari ini dapat dihitung :
[HBnz] =2m
c
– m …………………………………………………(2a)
[(HBnz)
2
] = m – m
c …
………………………………………………..(2b)

2. CARA KERJA

Peralatan yang digunakan adalah satu set peralatan „Beckmann” (lihat gambar)


Bagian khas dari peralatan ini adalah termometer Beckmann : termometer air
raksa dengan skala sampai 1/100
o
K. Ini berarti, suhu dapat diperkirakan sampai
2/1000
o
K. Skala dari termometer Beckmann adalah skala relatif, pada awal volume air
raksa dalam reservoir termometer dapat diatur sehingga titik lebur naphthalene yang
murni berada pada garis skala. Kemudian nilai AT dapat diukur dengan membandingkan
pembacaan skala pada titik beku dari naphthalene yang murni dan pada titik beku dari
larutan asam benzoat dalam naphthalene.
Karena titik lebur naphthalene kira-kira 80
o
C, maka sebaiknya tabung yang berisi
naphthalene cair dimasukkan ke dalam wadah yang berisi air bersuhu kira-kira 75
o
C,
sehingga proses pendinginan akan berlangsung secara perlahan.
50

Ada kemungkinan bahwa pada proses pendinginan akan terbentuk cairan
terlampau dingin. Kalau perlu, sedikit kristal naphthalene dapat dimasukkan dengan
batang pengaduk, ke dalam cairan terlampau dingin sehingga kristalisasi akan mulai
(“penaburan” dari cairan terlampau dingin). Kristal yang dimasukkan sedikit saja karena
massa naphthalene seharusnya tetap selama percobaan.

A. Penyetelan Termometer Beckmann
(perhatian : hati-hati menggunakan Termometer Beckmann karena mudah
pecah dan hargangan sangat mahal !!!)

Jumlah air raksa dalam reservoir termometer beckmann harus di setting, sehingga
pada pengukuran naphthalene yang murni akan membeku pada saat pembacaan berada
pada skala termometer. Cara setting termometer dapat anda baca pada lampiran A.
Findlay, J. A. Kitchener, 1954. Practical Physical Chemistry, 8
th
ed., Longman, hal.107-
109 (lampiran 2).
Untuk percobaan ini termometer beckmann sudah diset dengan baik. Pada awal
percobaan B anda akan tahu apakah setting termometer sudah baik atau belum. Jika
belum laporkan kepada asisten.
Perhatian : jumlah air raksa tidak boleh berubah selama seluruh percobaan
berlangsung, oleh karena itu harus dijaga agar air raksa yang berada pada reservoir tidak
terhubung dengan air raksa yang berada dibagian bawah termometer. (Posisi termometer
tidak boleh terbalik pada saat memindahkan atau membersihkan termometer).

B. Penentuan kurva pendinginan naphthalene

B.1. Kalibrasi Termometer
Masukkan kira-kira 25 g naphthalene ke dalam tabung peralatan beckmann.
Panaskan tabung berisi naphthalene dalam waterbath sampai semua naphthalene melebur,
tutup tabung dengan sumbat kapas untuk menghindari penguapan. Catat suhu saat
naphthalene mulai melebur dengan termometer biasa (ketelitian ± 0,1
o
C).
Setelah semua naphthalene melebur, masukkan termometer beckmann ke dalam
tabung berisi naphthalene cair, lanjutkan pemanasan sampai semua naphthalene yang
membeku pada kaca termometer mencair.
Matikan api untuk menurunkan suhu waterbath, tunggu sampai naphthalene mulai
membeku. Catat suhu beku naphthalene dengan termometer biasa dan termometer
beckmann.

B.2. Penentuan kurva pendinginan naphthalene
Panaskan lagi tabung berisi naphthalene sampai semua naphthalene melebur
dengan termometer beckmann tetap berada di dalam tabung tsb. Pasang batang pengaduk,
lanjutkan pemanasan sampai semua naphthalene yang membeku pada batang pengaduk
mencair.
Rangkai peralatan beckmann sesuai gambar. Pastikan bahwa :
- Tabung bagian dalam tidak menyentuh tabung bagian luar sehingga pendinginan
akan terjadi secara perlahan-lahan (“hollow plug of expanded polystyrene”)
- Reservoir air raksa termometer beckmann seluruhnya tercelup ke di dalam
naphthalene dan tidak menyentuh dinding tabung reaksi (lihat gambar)
- Naphthalene dapat diaduk dengan mudah.

51

Pindahkan tabung berisi naphthalene yang sudah mencair seluruhnya, ke dalam
waterbath bersuhu ± 75
o
C. Aduk naphthalene secara teratur kira-kira 2 detik sekali.
Ukur suhu sebagai fungsi waktu. Jika suhu turun lebih dari 0,5
o
C di bawah titik
beku yang diharapkan dan kristal-kristal belum terbentuk, cairan dapat ditaburi dengan
kristal naphthalene. Sesudah titik beku yang stabil tercapai, teruskan pengukuran selama
5 menit sehingga nilai titik beku dapat diekstrapolasikan secara teliti dari kurva
pendinginan. Lakukan percobaan ini secara duplo.

C. Penentuan kurva pendinginan larutan asam benzoat
Timbanglah sejumlah asam benzoat sesuai dengan yang dihitung pada tugas awal
(jika belum dihitung, lihat bagian tugas awal kemudian lakukan penghitungan).
Masukkan secara kuantitatif ke dalam tabung berisi naphthalene yang sudah terlebur lagi.
(timbang botol timbang sekali lagi sesudah asam benzoat dimasukkan dan hitung massa
asam benzoat yang ditambahkan dari selisih massa awal dikurangi akhir). Pastikan semua
asam benzoat larut. Kemudian tentukan kurva pendinginan dari larutan dengan cara yang
sama dengan percobaan bagian B.2.
Tambahkan lagi sejumlah asam benzoat dengan massa yang sama dengan
percobaan sebelumnya, sehingga diperoleh massa asam benzoat yang ditambahkan
sebesar dua kali massa asam benzoat percobaan sebelumnya. Ulangi penentuan kurva
pendinginan larutan seperti percobaan sebelumnya.

Catatan :
Cara untuk membersihkan naphthalene :
Lebur naphthalene dan tuang semuanya ke dalam tempat limbah organik. Cuci tabung
dengan menambahkan spiritus hangat ke dalam tabung. Perhatian : jangan menambahkan
spiritus pada saat api masih menyala, karena mudah terbakar!!!
Naphthalene yang menempel pada termometer beckmann dan batang pengaduk dapat
dibersihkan dengan menggosoknya menggunakan kertas.
Lakukan prosedur pembersihan sisa naphthalene dengan hati-hati, karena peralatan
mudah pecah.

3. TUGAS AWAL

1. Lihat kurva pendinginan berikut :

a. Jelaskan perbedaan antara kurva (a) dan (c) !
52

b. Mengapa bagian kedua kurva (a) adalah garis horisontal sedangkan bagian
kedua dari kurva (d) adalah garis miring ?
c. Ekstrapolasi manakah yang betul dalam kurva (d) ? jelaskan !
2. Untuk mencapai penurunan titik beku sebesar kira-kira 0,7
o
C :
a. Hitunglah massa asam benzoat yang harus dilarutkan dalam 25 ml naphthalene
? (anggaplah asam benzoat akan terlarut dalam bentuk senyawa tunggal)
b. Neraca manakah yang akan digunakan untuk menimbang :
- Naphthalene
- Asam benzoat
c. Ketelitian mana yang diperlukan untuk penentuan massa ?
3. Jelaskan mengapa dalam pelarut naphthalene :
a. Ada kemungkinan bahwa dimmer asam benzoat akan terbentuk.
b. Kemungkinan kecil bahwa asam benzoat akan terionisasi.
4. Turunkan rumus (2a) dan (2b) !
5. Sehubungan dengan keselamatan praktikum :
a. Apakah diperlukan tindakan tertentu ?
b. Apakah limbah boleh dibuang begitu saja ? jika tidak, mengapa ?
6. Buat diagram alir untuk percobaan ini !

4. PENYELESAIAN LAPORAN

7. Dari kurva pendinginan yang diukur :
a. Tentukan penurunan titik beku (AT) untuk semua larutan yang diteliti !
b. Perkirakan ralat dalam nilai AT !
8. Berdasarkan massa HBnz yang ditimbang :
a. Hitunglah nilai m !
b. Perkirakan ralat dalam nilai m !
9. Hitunglah :
a. [HBnz] dan [(HBnz)
2
] !
b. Ralat dalam nilai ini !
c. Periksa hasil dan simpulkan, dalam bentuk manakah asam benzoat larut dalam
naphthalene ?
d. Jika kesetimbangan (1) terjadi, hitunglah :
- Nilai tetapan kesetimbangan (K
m
), gunakan molalitas sebagai satuan
konsentrasi !
- Ralat dalam nilai ini !

Acuan :

- Shoemaker, hal 195-205
- T. Bird, percobaan 6.3
- Petrucci, 11.9, 12.1








53

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I


Nama/ NIM :
Kelompok :
Tanggal Praktikum :
Judul :
Alat dan bahan :




B. Penentuan kurva pendinginan naphthalene (duplo)

B.1. Kalibrasi

- Suhu lebur naphthalene dengan termometer biasa =
- Suhu beku naphthalene dengan termometer biasa =
- Suhu beku naphthalene dengan termometer beckmann =
- Massa naphthalene =

B.2. Penentuan kurva pendinginan naphthalene

Waktu (dt) T
1
(
o
K) T
2
(
o
K) Waktu (dt) T
1
(
o
K) T
2
(
o
K)
0
10
20
30
40
50
60
90
120
150
180
210
240
270
300
330
360
390







54

D. Penentuan kurva pendinginan larutan asam benzoat

Massa asam benzoat (T
1
) =
Massa asam benzoat (T
2
) =

Waktu (dt) T
1
(
o
K) T
2
(
o
K) Waktu (dt) T
1
(
o
K) T
2
(
o
K)
0
10
20
30
40
50
60
90
120
150
180
210
240
270
300
330
360
390














Laboran Asisten Praktikan









55

9. PERUBAHAN-PERUBAHAN ENERGI
PADA REAKSI KIMIA

1. PENDAHULUAN
Suatu reaksi kimia dapat berlangsung lewat jalur-jalur yang berbeda. Untuk
semua jalur dapat diukur jumlah energi yang masuk atau ke luar sistem kimia pada
waktu reaksi kimia berlangsung. Maksud dari percobaan ini adalah untuk
membandingkan besarnya perubahan energi masing-masing.
Reaksi yang akan diteliti adalah
Pb(NO
3
)
2
(aq. 0,25 M) + Zn (s) ÷ Pb (s) + Zn(NO
3
)
2
(aq. 0,25 M)
Reaksi ini akan dilaksanakan lewat dua jalan:
Jalur A:
Sejumlah serbuk Zn akan dimasukkan ke dalam larutan timbal (II) nitrat di
dalam sebuah kalorimeter. Perubahan suhu akan diukur. Dari ini akan dapat dihitung
jumlah energi termis yang akan dilepaskan kalau 1 mol Pb akan terbentuk: AU
a
.
Jalur B:
Reaksi yang sama akan berlangsung dalam sel elektrokimia
Zn (s) / Zn(NO
3
)
2
(aq. 0,25 M) // Pb(NO
3
)
2
(aq. 0,25 M) / Pb (s)
Potensial sel E akan diukur. Dari ini akan dihitung jumlah energi elektrik maksimal
yang akan dihasilkan kalau 1 mol Pb akan terbentuk:
AU
b
= Q . E dengan Q = muatan ion dari Pb
2+


2. PERALATAN DAN METODE
Buatlah 250 ml larutan Pb(NO
3
)
2
yang berkonsentrasi 0,25 M ; 25 ml ZnSO
4

0,25 M ; 25 ml FeSO
4
0,25 M ; 25 ml FeCl
3
0,25 M.
Panaskan 100 ml KNO
3
0,1 M sampai kira-kira 90
o
C dan larutkan 4 g agar-agar
di dalamnya. Tuanglah ke dalam sebuah cawan penguap gelas, pastikan bahwa tebal
lapisan gel menjadi paling sedikit 2,5 cm.

A. Penentuan Energi Termis
A.1. Pelaksanaan Reaksi
Pipetlah 100 ml larutan timbal (II) nitrat yang sudah didinginkan ke dalam
kalorimeter. Timbanglah serbuk Zn yang sedikit berlebihan. Ukurlah suhu
larutan di dalam kalorimeter selama 5 menit, kemudian masukkan serbuk Zn
dan ukurlah perubahan suhu sebagai fungsi waktu. Aduk secara teratur, tetapi
tidak terlalu cepat. Mengapa? Lanjutkan pengukuran suhu sesudah reaksi
selesai selama 5 menit. Laksanakan pengukuran ini secara duplo.

A.2. Kapasitas Kalor Kalorimeter
Tentukan kapasitas kalor dari kalorimeter dan isinya dengan mengukur
jumlah energi yang diperlukan untuk mencapai kenaikan suhu yang sama.
Perhatikan: ukurlah pada percobaan ini juga nilai suhu selama 5
menit sebelum dan sesudah pemanasan listrik dilakukan.
Gunakan pemanas listrik dan atur besarnya arus listrik sehingga kecepatan
pemanasan menjadi kira-kira sama dengan kecepatan pemanasan pada waktu
reaksi A1 berjalan.
Ukurlah:
a. Arus listrik
56

b. Beda potensial (dijaga tetap)
c. Waktu pemanasan
d. Nilai suhu sebagai fungsi waktu
Laksanakan pengukuran ini secara duplo.

A.3. Perbaikan Metode Pengukuran (jika perlu)
Untuk memperbaiki hasil ukur, percobaan A1 dan A2 dapat diulangi
dengan perubahan cara kerja tertentu.
Laporkan perubahan mana yang dicoba dan hasil yang ditemukan.

B. Penentuan Energi Listrik
B.1. Pengukuran Potensial Sel
Buatlah 3 lubang kecil dalam gel agar-agar. Lubang ini tidak boleh sampai
dasar cawan sehingga tidak ada kebocoran. Masukkan ke dalam lubang masing-
masing Pb(NO
3
)
2
(aq 0,25 M), ZnSO
4
(aq 0,25 M) serta campuran dari Fe
2+
(aq
0,25 M) dan Fe
3+
(aq 0,25 M).
Ukurlah dengan pita kecil dari Pb (s) dan Zn (s) yang diamplas dengan baik,
potensial sel dari sel
Zn (s) / ZnSO
4
(aq 0,25 M) // Pb(NO
3
)
2
(aq 0,25 M) / Pb (s)
Gunakan voltmeter dengan hambatan dalam yang sangat besar.
Kontrol hasil pengukuran dengan mengukur potensial setengah sel masing-
masing terhadap setengah sel Pt (s) / Fe
2+
(aq 0,25 M)

B.2. Nilai Muatan Molar
Nilai muatan molar Q tidak akan ditentukan secara percobaan. Nilai dari
literatur boleh digunakan.

3. PENYELESAIAN LAPORAN
1. a. Hitunglah nilai kapasitas kalor sistem reaksi dari hasil percobaan A2 dan
A3!
b. Perkirakanlah ralat dalam nilai kapasitas kalor!
2. a. Hitunglah nilai ∆U
a
dari hasil percobaan A1 atau A3!
i. Buatlah grafik dari suhu sebagai fungsi waktu untuk menentukan
secara grafis perubahan suhu yang terkoreksi!
ii. Hitunglah nilai dari ∆U
a
!
b. Perkirakan ralat dalam nilai ∆U
a
!
3. a. Bandingkan hasil percobaan B1 dengan nilai literatur. Gunakan juga
pengukuran yang dibuat sebagai control. Beri komentar!
b. Hitunglah nilai ∆U
b
!
c. Perkirakan ralat dalam nilai ∆U
b
!
4. a. Periksa apakah didasarkan hokum kekekalan energy, harus berlaku ∆U
a
=
∆U
b
?
b. Nama-nama apakah yang diberikan kepada ∆U
a
dan ∆U
b
dalam
termodinamika?
c. Hitunglah nilai baku untuk ∆U
a
dan ∆U
b
dengan menggunakan tabel-tabel
termodinamika!
d. Bandingkan hasil yang dihitung dengan hasil yang ditemukan dari
percobaan. Beri komentar!

Acuan: Bird, percobaan 6.1
57

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I


Nama/ NIM :
Kelompok :
Tanggal Praktikum :
Judul :
Alat dan bahan :







Laboran Asisten Praktikan






























58

10. MASSA JENIS ZAT


1. PENDAHULUAN
Suatu sifat yang besarnya tergantung pada jumlah bahan yang sedang diselidiki
disebut sifat ekstensif. Massa dan volume adalah contoh-contoh sifat ekstensif karena
besarnya tergantung pada jumlah bahan. Sebaliknya suatu sifat yang besarnya tidak
tergantung pada jumlah bahan yang sedang diselidiki disebut sifat intensif. Sifat-sifat
intensif umumnya digunakan oleh para ilmuwan untuk melakukan pekerjaan ilmiah
karena besarnya tidak tergantung pada jumlah bahan yang sedang diselidiki. Contoh dari
sifat intensif adalah densitas atau rapatan atau massa jenis suatu zat (Petrucci, jilid 1).
Massa jenis adalah kerapatan suatu zat yang diturunkan dari besaran massa dan
volume. Massa jenis adalah massa benda per satuan volume dan diberi lambang rho (µ).
Secara matematis dirumuskan :

Dimana : µ = massa jenis zat (g/cm
3
atau kg/m
3
), m = massa zat (g atau kg) dan V =
volume benda (cm
3
atau m
3
). Nilai massa jenis suatu zat adalah tetap, tidak tergantung
pada massa maupun volume zat, tetapi tergantung pada jenis zatnya, oleh karenanya zat
yang sejenis selalu mempunyai masssa jenis yang sama. Jenis zat dapat diketahui dari
massa jenisnya.
Massa jenis relatif adalah nilai perbandingan massa jenis suatu zat terhadap massa
jenis air. Massa jenis relatif tidak mempunyai satuan dan dapat digunakan untuk
mengetahui massa jenis suatu zat. Dasar penggunaan massa jenis relative adalah sebagai
berikut:
Massa jenis merupakan besaran turunan dari massa dan volume yang dalam praktiknya
pengukuran volume biasanya kurang teliti dibandingkan dengan pengukuran massa. Oleh
karenanya, untuk lebih teliti dalam menentukan massa jenis dapat dilakukan dengan
mengukur massanya saja dengan massa jenis air. Karena massa jenis air merupakan
bilangan yang mudah diingat, yaitu 1 g/cm3 atau 1.000 kg/m3, dengan demikian untuk
mengetahui massa jenis relatif suatu zat selalu akan menggunakan perbandingan massa
jenis zat dengan bilangan 1 g/cm3 atau 1.000 kg/m3. Ingat bahwa:




Sehingga : Massa Jenis Bahan = Massa Jenis Relatif x Massa Jenis Air
Penerapan prinsip massa jenis zat banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-
hari, antara lain : penentuan jenis logam yang cocok untuk pembuatan pesawat terbang,
pembuatan kapal, galangan kapal, pengukuran konsentrasi zat, dll.

2. ALAT-ALAT DAN BAHAN
- Neraca Analitis dengan ketelitian 10
-4
g
- Balok logam besi, aluminium, tembaga dan kuningan
- Bandul timbangan berbagai ukuran
- Densitometer
- Botol timbang
- Pipet ukur 10 ml
- Pillius ball
59

- Aseton, metanol, etanol teknis dan pro analysis grade
- Akuades
3. PROSEDUR PERCOBAAN
I. Pengaruh jenis zat terhadap massa jenis
Zat Padat
Balok logam ditimbang secara seksama untuk mengetahui massanya. Isilah
densitometer dengan air sampai tanda batas. Masukkan balok logam ke dalam
densitometer yang telah berisi air dengan hati-hati sedemikian rupa sehingga tidak ada
bagian air yang tertumpah. Kurangi volume air dalam densitometer dengan menggunakan
pipet ukur sampai mencapai garis batas. Catat volume air yang diambil dari dalam
densitometer, pengukuran diulangi secara triplo. Lakukan prosedur diatas untuk seluruh
balok logam yang tersedia.
Zat Cair
Ambil sebanyak 5 ml larutan dan masukkan ke dalam botol timbang yang telah
diketahui massanya. Botol timbang beserta isinya ditimbang secara seksama, catat massa
larutan yang diisikan ke dalam botol timbang, pengukuran diulangi secara triplo. Lakukan
prosedur diatas untuk seluruh larutan yang tersedia.
II. Pengaruh massa terhadap massa jenis
Bandul timbangan ditimbang secara seksama untuk mengetahui massanya. Isilah
densitometer dengan air sampai tanda batas. Masukkan bandul timbangan ke dalam
densitometer yang telah berisi air dengan hati-hati sedemikian rupa sehingga tidak ada
bagian air yang tertumpah. Kurangi volume air dalam densitometer dengan menggunakan
pipet ukur sampai mencapai garis batas. Catat volume air yang diambil dari dalam
densitometer, pengukuran diulangi secara triplo. Lakukan prosedur diatas untuk seluruh
bandul timbangan dengan massa berbeda yang tersedia.

III. Pengaruh suhu terhadap massa jenis
Ambil 100 ml akuades dan masukkan ke dalam gelas piala. Atur suhu akuades
dengan menempatkan gelas piala ke dalam ‘ice bath’ sampai suhunya mencapai 10
o
C.
Ambil 5 ml akuades bersuhu 10
o
C tersebut dan timbang seksama dengan menggunakan
botol timbang. Lakukan pengukuran secara triplo. Lakukan juga pengukuran untuk
akuades dengan suhu 20
o
C, 30
o
C, 40
o
C dan 50
o
C.

IV. Penentuan konsentrasi etanol berdasarkan massa jenis
Pembuatan kurva baku
Buat larutan etanol dengan konsentrasi 10, 20, 30, 40 dan 50 %v/v dari etanol
absolut yang dianggap 100%. Masing-masing larutan diukur massa jenisnya seperti
prosedur I untuk zat cair. Buat kurva baku massa jenis terhadap konsentrasi etanol,
tentukan persamaan regresi linier dan korelasi kurva baku yang dibuat.
Penentuan konsentrasi etanol larutan sampel
60

Larutan sampel yang tersedia diukur massa jenisnya seperti prosedur I untuk zat
cair, jika diperlukan larutan sampel dapat diencerkan terlebih dahulu. Hitung konsentrasi
larutan sampel menggunakan persamaan regresi linier kurva baku yang telah dibuat.
Bandingkan hasil perhitungan dengan hasil pengukuran larutan sampel menggunakan
densitometer alkohol.

4. PENYELESAIAN LAPORAN :
1. a. Bandingkan hasil pengukuran massa jenis berbagai zat yang diuji dengan nilai
yang ada pada literatur ! beri komentar !
b. Ralat apa yang muncul pada pengukuran ini?
2. Berdasarkan percobaan II, apakah massa mempengaruhi nilai massa jenis zat?
Jelaskan !
3. a. Apakah hasil percobaan III sudah sesuai dengan yang diharapkan?
b. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi massa jenis zat?
4. a. Apakah kurva baku yang dibuat berdasarkan percobaan IV memenuhi
persamaan regresi linier?
b. Bagaimana hubungan antara konsentrasi etanol dengan massa jenisnya?
c. Apakah larutan sampel yang disediakan perlu diencerkan terlebih dahulu?
Mengapa?
d. Apakah kadar larutan sampel yang ditentukan berdasarkan kurva baku yang
dibuat mempunyai nilai yang sama dengan hasil pengukuran menggunakan
densitometer alkohol? (Uji T dengan tingkat kebermanaan 95%)
e. Apakah minuman beralkohol dapat ditentukan kadarnya berdasarkan kurva
baku yang dibuat? Jelaskan!

























61

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I


Nama/ NIM :
Kelompok :
Tanggal Praktikum :
Judul :
Alat dan bahan :




Hasil :

I. Pengaruh jenis zat terhadap massa jenis

Zat Padat

Balok Logam
Massa
(g)
Volume
(cm
3
)

(cm
3
)
µ
(g/cm
3
)
I II III
Besi
Aluminium
Tembaga
Kuningan

Zat Cair
Zat Cair
Volume
(cm
3
)
Massa
(g)
(g)
µ
(g/cm
3
)
I II III
Akuades
Aseton p.a.
Aseton teknis
Metanol p.a.
Metanol teknis
Etanol p.a.
Etanol teknis
II. Pengaruh massa terhadap massa jenis

Massa Bandul
(g)
Volume
(cm
3
)

(cm
3
)
µ
(g/cm
3
)
I II III





62

III. Pengaruh suhu terhadap massa jenis

Suhu
(
o
C)
Volume
(cm
3
)
Massa
(g)
(g)
µ
(g/cm
3
)
I II III
10
20
30
40
50
IV. Penentuan konsentrasi etanol berdasarkan massa jenis

Konsentrasi
(% v/v)
Volume
(cm
3
)
Massa
(g)
(g)
µ
(g/cm
3
)
I II III
10
20
30
40
50
Faktor pengenceran larutan sampel :
Volume larutan sampel : ml
I II III IV V Purata
m (g)
µ (g/ml)
[ ] (%v/v)
[densitometer] (%v/v)
Keterangan :
m : massa larutan sampel
µ : massa jenis larutan sampel berdasarkan perhitungan m/v
[ ] : konsentrasi larutan sampel berdasarkan kurva baku
[densitometer] : konsentrasi larutan sampel diukur dengan densitometer alkohol


Laboran Asisten Praktikan


TATA TERTIB DAN PENILAIAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I SEMESTER I 2010-2011
Tata Tertib : 1. Mematuhi tata tertib umum Laboratorium Kimia FSM. 2. Datang tepat waktu, keterlambatan lebih dari 15 menit, nilai 0. 3. Pada saat praktikum praktikan wajib membawa 1 set peralatan standard (pillius, spatula, tabung reaksi dll), korek api gas serbet. 4. Selama praktikum, praktikan wajib memakai jas praktikum dan sepatu tertutup. 5. Tugas awal dikumpulkan pada hari jumat di Lab. Kimia AS 3B sebelum jam 12.00 WIB. 6. Tugas awal tanpa nama, NIM dan kelompok, nilai dikurangi 10%. 7. Keterlambatan pengumpulan tugas awal pada hari yang telah ditentukan, nilai dikurangi 50%, lebih dari 1 hari tidak diterima. 8. Bagi yang tidak mengumpulkan tugas awal, tidak diperbolehkan mengikuti acara praktikum yang bersangkutan. 9. Laporan sementara dibuat rangkap dua, pada lembar laporan sementara yang telah ditentukan. 10. Laporan sementara ditulis rapi dan bersih selama waktu praktikum dan harus ditandatangani oleh praktikan, asisten dan laboran. 11. Laporan resmi praktikum (ditulis tangan) dikumpulkan 1 minggu setelah acara praktikum selesai (sebelum acara praktikum berikutnya dimulai) 12. Toleransi keterlambatan pengumpulan laporan resmi 15 menit. 13. Format laporan resmi adalah sebagai berikut :  Judul  Tujuan (5)  Pendahuluan (10)  Bahan dan Metoda (5)  Hasil (5)  Jawab pertanyaan (35)  Pembahasan (20)  Kesimpulan (10)  Daftar Pustaka (5)  Lampiran (5) 12. Sistematika laporan yang tidak lengkap sesuai dengan format, nilai dikurangi 20%. 13. Laporan dan tugas awal yang sama, akan dikurangi 50% untuk masing-masing praktikan. 14. Laporan resmi praktikum wajib dikumpulkan bersama laporan sementara dan tugas awal. Laporan yang tidak lengkap nilai dikurangi 10% 15. Penilaian : Total nilai 25%  Tugas awal 5%  Laporan resmi 10%  Tes awal 7,5% (4x tes)  Keaktifan 2,5%

2

ACARA DAN JADWAL PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I SEMESTER I 2011-2012
1. Penghitungan Ralat …………………………………………………………….. 4 2. Pengaruh Katalis untuk Orde Reaksi dan Energi Aktivasi …………………….. 20 3. Pengaruh Suhu Terhadap Kesetimbangan; Kalorimetri tak langsung………….. 26 4. Penentuan Massa Molar Polymer ……………………………………………… 30 5. Termodinmika Karet …………………………………………………………... 35 6. Titrasi Potensiometri Campuran Asam ………………………………………… 39 7. Pelapisan Tembaga (Elektroplating) …………………………………………… 46 8. Penurunan Titik Beku ………………………………………………………….. 49 9. Perubahan-Perubahan Energi pada Reaksi Kimia……………………………… 55 10. Penentuan Massa Jenis Suatu Zat……………………………………………… 58 Tanggal 28-09-10 05-10-10 12-10-10 19-10-10 26-10-10 02-10-10 09-11-10 16-11-10 23-11-10 30-11-10 KIMFIS IA KELOMPOK I 652009012 652009021 Acara Praktikum / Kelompok I II III 1 1 1 2 2 2 3 3 3 4 5 6 5 6 7 6 7 8 7 8 9 8 9 10 9 10 4 10 4 5 : :

IV 1 2 3 7 8 9 10 4 5 6

V 1 2 3 8 9 10 4 5 6 7

KELOMPOK II 652009011 652009005

:

KELOMPOK III 652009002 652009007

:

KELOMPOK IV : 652009602 652009603

KELOMPOK V 652009019 652009014

:

KIMFIS IB KELOMPOK I 652009018 652009009

: :

KELOMPOK II 652009017 652009003

:

KELOMPOK III 652009015 572007005

:

KELOMPOK IV : 652009008 652010601

KELOMPOK V: 652009016 652009004

3

Nilai yang dibaca boleh jadi sebenarnya adalah 10. Ketiga jenis ralat yang kami sebutkan perlu dipahami dengan baik. Maka kita mengatakan ada ralat penyesuaian. PENDAHULUAN Maksud suatu pengukuran di dalam ilmu fisika ialah pada umumnya untuk menambah pengetahuan kita tentang besarnya suatu besaran fisika. Dalam hal itu terdapat ralat sistematis. PERHITUNGAN RALAT 1. Hal itu menyebabkan ketidakpastian yang disebut ralat pembacaan. dan hal itu pun dapat menyebabkan ketidakpastian. 3. Karean itu kita melaporkan panjang itu lengkap dengan batas toleransinya.1. Karena pelbagai sebab tidak mungkin kita mengetahui besaran itu secara eksa. Batang itu kita impitkan dengan bilah ukur yang skalanya dibagi dalam cm (lihat Gambar 0-1) 9 10 11 12 Gambar 0-1 13 14 15 Kita melihat bahwa panjang batang ada di antara 10 dan 11 cm. Tidak semua sebab yang mempunyai pengaruh terhadap hasil pengukuran selalu kita ketahui atau dapat kita perhitungkan. Karena hasil pengukuran selalu mengandung ketidakpastian maka hasil itu harus kita laporkan sebagai suatu bilangan. Mengukur itu berarti menghubungi atau mempengaruhi yang diukur. Pada banyak pembacaan. dan penyesuaian itu tidak mungkin kita lakukan dengan sempurna. Batas itu kita ambil 4 . lengkap dengan batas toleransi (kelonggaran). Batas itu member kesan ketelitian hasil tersebut. Lalu kami akan membicarakan beberapa perjanjian mengenai cara mengirakan ralat serta cara melaporkan hasil pengukuran yang berlaku untuk praktikum fisika dasar. Pengamat dalam pemikirannya membuat anak pembagian dan berdasarkan itu diperolehnya pengiraan tersebut. Misalnya seringkali ada yang harus disesuaikan sebelum pengamatan. Karena itu kami mulai dengan memberikan contoh tiap – tiap jenis ralat tersebut. Karena itu hasil pengukuran satu besaran dengan dua cara yang berbeda dapat berbeda juga. kita mengirakan 10. tetapi dalam perseratusan sudah tentu tidak terbuat.1. kita harus melakukan suatu pengiraan.25 bahkan 10. 2. yaitu jikalau penunjukan alat pengukur tidak tepat pada suatu garis skala. Anak pembagian dalam persepuluh masih cukup dapat dibuat.22 cm tidak masuk akal karena angka pertama di belakang koma sudah tidak pasti. Melaporakn hasil pengukuran sebagai 10.3. 2. diantaranya kami sebutkan : 1. Ralat Pembacaan Guna menentukan panjangnya suatu batang. CONTOH JENIS – JENIS RALAT 2.2 cm.

2  0.2) 10-2 m Mungkinkah kita menggunakan bilah ukur dengan pembagian skala yang lebih halus lagi.1 dan 10. Sehingga : L = (102. Ralat pembacaan dalam hal itu ½ bagian skala.3  0. (Gambar 0-2) 9 10 11 12 13 14 15 Gambar 0-2 Panjangnya diantara 102 dan 103 mm.2 mm. Sekali lagi kita mengukur panjang batang tersebut. 2. kita mengambil 1/5 atau 0.2. Maka terdapat gejala beda lihat (paralaks). Perlu melihat tepat mendatar untuk memperoleh pembacaan yang tepat (tanpa memperhayikan ralat pembacaan).1 cm (kepada kedua nelah). Ralat Penyesuaian Dalam contoh kedua ini. sekarang memakai bilah ukur dengan pembagian skala dalam mm. pengamat harus membaca tingginya sebbuah kolom air raksa dengan menggunakan skala yang ditempatkan pada jarak tertentu (Gambar 0-3) 77 a 76 b 75 Gambar 0-3 Karena kolom dan skala tidak sama jauhnya dari mata pengamat.1) 10-2 m Dengan itu kita mengungkapkan bahwa menurut hemat kita nilai sebenarnya sudah pasti diantara 10. pembacaan dilakukan dalam bagian skala bulat.3. kalau dalam contoh ini kita mengandaikan bahwa penyimpangan yang mungkin itu tidak akan melewati 0. Jadi ralat yang kita kirakan harus kita sesuaikan dengan selang yang lebih kecil .selonggar mungkin. Kalau 5 . Akhirnya kita hanya masih dapat melihat apakah pembacaan lebih dekat garis yang satu atau yang lain. sebab daerah  ½ bagian sekitar garis tertentu dihitung sama dengan garis itu.3. karena sebenarnya tidak mungkin melihat persepuluhan mm. kita mengirakan 102. maka kita melaporkan : L = (10. sekarang ralat maksimal bukan 1/10 selang skala lagi.

maka kita harus membulatkan hasil itu. melainkan arus melalui resistor R dan voltmeter bersama. voltmeter menunjukan Vv = (5. Kalau kita terus berpegangan pada pertimbangan itu.1. tetapi dalam rangkaian 4b. maka arus melalui 6 . Akan tetapi kita tidak akan bertindak sejauh itu. yaitu bahwa kita tidak akan melaporkan hasil pengamatan dengan decimal lebih banyak daripada yang ditentukan oleh ralat penaksiran ( 0.15 melainkan ½ . 10.1) 10-2 m Separuh selang terkecil yang di dalamnya pasti terletak hasil pengamatan bukanlah ½ . dan 10.3 – 76. andaikan kita temukan seperti Gambar 0-4 Untuk nilai tertinggi h2 = (76. 20.25 ) 10-2 m Ini bertentangan dengan pertimbangan pada contoh 1.2)V dan hambatan Rv = 20 K. kombinasi itu boleh dipakai bila menurut kesan kita pembulatan terlalu akan memperbesar ralat.4 – 75. 15. maka ada dua cara untuk menempatkan meter tegangan dan meter arus (gambar 04a & 4b) v v A R A R Gambar 0-4a Gambar 0-4b Kedua cara mengandung ralat sistematis. Maka kita peroleh : h = (76.3. melainkan kemungkinannya lebih banyak.15  0. meter arus tidak mengukur arus melalui resistor R saja. Bilamana diadakan beberapa pengamatan. Selisih hasil kedua pengamatan dibagi 2 itu kita laporkan sebagai ralat. (76. bahwa harus dikerjakan sedemikian rupa sehingga batas selang baru letaknya di luar batas lama. voltmeterlah yang yang mengukur tegangan lewat resistor dan amperemeter besama.0  0. 2. sambil melihat mendattar sebaik mungkin maka hasil – hasil pengamatan itu pada umumnya berbeda. Maka untuk menentukan selang yang terkecil yang didalamnya pastilah letak kedudukan yang nyata terlalu rendah sedikit. asalkan hambatan meter itu diketahui. Ralat Sistematis Jikalau kita mau mengukur sekaligus tegangan dan arus lewat suatu resistor. Dalam rangkaian menurut gambar 0-4a. Maka pembacaan meter arus terlalu besar. sedangkan dalam pembacaan b.1) 10-2 m Untuk nilai terendah h1 = (76.2. karena ralat pengiraan. dan kita mengadakan pengecualian untuk kombinasi dua angka 10.25 .orang mengamati dari posisi a. Nilai rata – ratanya kita nyatakan sebagai tinggi yang dicari. pembacaan voltmeter tidak mempunyai ralat siostematis. Besarnya ralat itu tergantung hambatan masing – masing meter dan mudah dihitung. terdapat ralat yang selalu positif dan tidak dapat sekedar ditulis sebagai  a. dan yang lain dari kedudukan yang sedikit terlalu tinggi. maksudnya agar kepastian tidak berkurang.0) = 0. 10-2 m.1).(76. Dan mengenai pembulatan ituperlu dibuat perjanjian. 25. Disini pun dapat timbul kesulitan.3)harus kita pilih seperti dalam conto pertama.3  0.4  0.9) = 0. Misalnya dalam 4a. sehingga pembacaan terlalu besar. diperoleh pembacaan yang terlalu tinggi. Dalam rangkaian 4a. akan memperoleh pembacaan skala yang terlalu rendah. Dalam hal ini tidak antara 3 kemungkinan (10.

27 – 0.01) = 9. 3.voltmeter adalah Iv = V/Rv = (0.1) – (0. Kita dapat mennemukannya denagn mengubah cara mengukur. Itullah merupakan suatu sifat penting ralat sistematis. 3. Mak ralat sistematis dapat dibuat lebih kecil. Kalau hasil cara yang berlainan ada bedanya itu merupakan petunjuk bahwa terdapat ralat sistematis. Karena itu dalam praktikum fisika dasar biasanya dianggap cukup kalau sumber – sumber ralat sistematis dipahami.54 mA IR min = (9. Ralat Kebetulan dapat didefinisikan sebagi penyimpangan dari nilai sejati yang boleh positif maupun negative.45  0.1. Tetapi seringkali perlu mengadakan analisa teoritis atau perluasan penelitian yang cukup mendalam.25) V) Dalam percobaan ini kita melihat bahwa hasil pembacaan berlainan bila kita mengubah penempatan meter. maka arus yang sebenarnya melalui resistor R letaknya pasti diantara IR max = (9. tanpa menghitung besarnya (kecuali dalam hal yang mudah). 01) mA. pembacaan meter VV = (6. Ralat sistematis besarnya dalam beberapa hal mudah ditentukan dan dalam hal iu sewajarnya kita menghitung koreksi untuk memperbaiki hasil pengukuran (Contoh 3).7 – 0.15) mA Demikian pula dapat kita mengadakan koreksi dalam hal 4b.1) – (0. Andaikan pembacaan meter arus adalah IA = (9.01) = 9. Cara kerja itu dalam praktikum fisika dasar kurang praktis. serta IA = (9.35  0.lalu kita dapat mengadakan kkoreksi untuk memperoleh nilai arus melaui R yang tepat. telah kami perlihatkan bahwa umumnya terdapat perbedaan antara nilai hasil pengukuran dan nilai sejati suatu besaran.1) mA.11) mA.2)V.43  0. Asal mulanya perbedaan itu dapat kita bedakan 2 macam: terdapatnya ralat kebetulan dan terdapatnya ralat sistematis. karena ada ralat sistematis.4  0. RALAT KEBETULAN & RALAT SISTEMATIS Dengan contoh yang diberikan di atas.rata.1)mA. karena itu kita bekerja dengan pap yang disebut ralat yang mungkin.27+ 0. Dan yang dimaksud dengan perhitungan ralat ialah biasanya perhitungan ralat kebetulan. Ralat kebetula sering kali dapat dibatasi dengan berkali – kali mengulangi pengamatan itu dan menghitung nilai rata. (Jawab : VR = (5. 4. RALAT YANG MUNGKIN Ralat yang mungkin atau singkatnya ralat yang mungkin dapat dirumuskan sebagai separuh selang terkecil yang di dalamnya terletak nilai yang dicari.2.3  0. dan menurut perjanjian – perjanjian kita hasil harus dibulatkan menjadi IR = (9.7 +0. sehingga dapat diabaikan. misalnya mengulangi pengukuran denagn cara yang berbeda. Juga dengan memakai meter lain pembacaan akan berbeda. 3. hitunglah sendiri nilai VR yang paling tepat kalau hambatan meter ialah RA = 100. sedangkan besarannya dapat berbeda – beda waktu mengukur berulang kali (Contoh 1 & 2).270  0. Perlu kita 7 . Khususnya kalau kita memakai meter tegangan denagn hambatan lebih besar dan meter arus dengan hambatan kecil. Coba ulangi perhitungan di atas dengan Rv = 200 K san RA = 10. Ralat Sistematis didefinisikan sebagai penyimpangan yang dalam keadaan – keadaan serupa selalu mempunyai tanda yang sama dan sering juga besarnya sama (Contoh 3).7  0.32 mA Jadi IR = (9.

Ralat yang mungkin dinyatakan dengan satu angka saja (terlepas dari angkaangka nol dimuka angka itu). a  ∆a = (200  1) 10-3m b  ∆b = (100  1) 10-3m 8 . 6. yaitu ralat yang mungkin dibagi bilangan yang mengandung ralat itu. Tetapi keuntungannya besar. dalam rumus : k= ∆a/a. Kelipatan decimal satuan itu dituliskan denagn pangkat sepuluh (atau dengan awalan). Bilamana angka terakhir itu angka nol. dengan pengecualian : antara 10 sampai 25 dua angka. maka sampai denagn angka yang mengandung ketidakpastian : 34.1 tidak diperkenankan! semestinya 34. maka nol itu juga dituliskan : bukan 10  0. Ralat relative itu sering dinaytakan dalam % Akan tetapi kita tidak boleh menuliskan a  k%.I.10-3 m.menyadari batas kepastian itu: asal kita tidak terlalu optimis menilai rala itu. bukan kemungkinannya.1. sedemikianrupa sehingga pangkat itu takterpandang tandanya merupakan kelipatanm 3. Karena itu ralat yang mungkin selalu dibulatkan keatas.2. 5. Tetapi yang paling ditekankan adalah kepastiannya. kita tidak menggali seluruh keterangan yang terdapat dalam pengamatan. Contoh : isi sebuah balok Untuk mengetahui isi sepotong logam yang siku – siku kita telah mengukur sisinya. karena a memiliki dimensi sedangkan k tidak! Notasi yang boleh digunakn : a (1  k%) Bilamana hasil pengamatan misalnya a= 10.1.0 .1 melainkan 10.1.1. 10-3m dan ralat ∆a = 0.256  0. Kita dapat member definisi lain. maka kita dapat menyatakan ralat nisbi (yang mungkin) besarnya 1% 6.1) cm menjadi (102  1) 10-3 m. Jadi : (10. dan perhitungan hasil itu harus meliputi perhitungan ralat di dalamnya.3  0. Ralat Nisbi Kadang. Dengan demikian. Salah satu yang terpenting (yang bersangkutan dengan cara menyatakan ralat yang mungkin hanya dengan satu angka atau paling banyak dua angka) ialah penghematan perhitungan seperti kita akan melihat berikut ini. KELANJUTAN RALAT DALAM PENGOLAHAN HASIL PENGUKURAN MENJADI HASIL AKHIR Seringkali hasil pengukuran harus diolah lebih lanjut untuk memperoleh hasil akhir yang dituju denagn pengukuran itu.2. 5. dengan satuannya menurut S.0  0. Jumlah angka dala hasil akhir dibatasi oleh ralat yang mungkin.2  0. Satuan dan Desimal Hasil akhir kita laporkan sebagai suatu bilangan plus atau minus ralat yang mungkin. Dalam hal itu ralat pengukuran mempunyai kelanjutannya dalam hasil akhir itu. MELAPORKAN HASIL YANG MUNGKIN 5. yakni ralat terbesar yang dianggap dapat terjadi dalam keadaan yang berlaku.kadang ralat yang mungkin dilaporkan sebagai ralat nisbi atau ralat relative. Suatu cedera ralat yang mungkin adalah bahwa kita selalu menentukan ralat yang lebih besar daripada yang masuk akal.

F min ) / 2 = ∆a + ∆b 6.2. ∆b + b .∆b ∆F = (F max . seringkali ralat yang mungkin dapat dituliskan dengan mudah kalau kaiadah ini dipakai. sehingga : ∆V = (3.104 . untuk hasil kali dan hasil bagi.2. 6. c = 200 . b = F. 1 + 6. lalu melaporkan separuh selisihnya sebagai ralat. yaitu untuk jumlah dan selisih dua besaran. 6.10-9 = 6 . karena perlu dibuat denagn teliti. yang masing – masing mengandung ralatnya.∆b ∆F = (F max .b . Ralat dalam Jumlah Andaikan suatu beasaran F merupakan jumlah 2 besaran a dan b. ∆a . ∆b F min = (a . Perhitungan cara itu agak memboroskan waktu. Akan tetapi ralat ∆V tidak perlu dihitung sangat teliti. maka ∆F/F = ∆a/a + ∆b/b 9 . Ralat dalam Hasil Kali Kalau F = a . Ralat dalam Selisih Kalau F = a – b.2.4. ∆a Jikalau kita beralih kepada ralat nisbi dengan membagi dengan a . 1 + 2.c  ∆c = (300  1) 10-3m Isinya kita hitung dengan cara : V = a . (Selidikilah!).1.b . b + a . F = a+b Maka ralat dalam F adalah jumlah ralat dalam a dan b : ∆F = ∆a + ∆b Bukti : F max = a + ∆a + b + ∆b F min = a . maka kita dekati dengan: ∆V = bc∆a + ac∆b + ab∆c. 300 . serta untuk suatu pangkat n.F min ) / 2 = a . jadi V = (6. 100 .∆a) (b . Kaidah Menghitung Ralat Selanjutnya kami akan menurunkan bebrapa kaidah untuk menghitung ralat dalam hasil akhir.2. 10-3 m3. Ralat dalam Hasil Bagi Kalau F = a/b.F min ) / 2 = ∆a + ∆b 6.00  0.∆a . ∆a + ∆a . b.104 .2. ∆b ∆F = (F max .b + ∆b F min = a .15) 10-3 m3.2.∆b) = a . ∆b + b .15 .3. Perhitungan itu masih jadi lebih sederhana kalau kita beralih menggunakan ralat nisbi. 1) 10-9 = 11. karena banyak perhitungan merupakan gabungan hal – hal tersebut.104 . maka ∆F/F = ∆a/a + ∆b/b Bukti : F max = (a + ∆a) (b + ∆b) = a . b . maka hasilnya ∆F/F = ∆b/b + ∆a/a Atau : F = a(1  %) x b(1  %) = ab (1  (+)%) 6.∆a + b .10-5 m3 Hasil itu menurut perjanjian dibulatkan menjadi 0. maka F = ∆a + ∆b Bukti : F max = a + ∆a . 10-3 m3 Sekarang ditanyakan : berapakah besar ralat yang mungkin? Kita boleh menghitung nilai maksimum dan minimum V. ∆b .∆a . b .a .

(0-1) Arti ∂F/∂a ialah hasil bagi diferensial parsial dari F ke a. Fmin = (a . an-1 . Diminta menentukan ralat dalam luas lingkaran F (r) = r2.Bukti : .b) = F (a + ∆a.∆a)n = an . Ralat dalam Pangkat n Kalau F = an. ∆F (r) = ∆(r2) = (∆r)2 = 2r∆r + (∆r)2 ……………………………………………………… (0-2) Turunan yang lebih tinggi jadi nol semua (selidikilah !) Arti rumus (0-2) dapat dilihat dalam grafik ini ! 10 . ∆a + …….2. Jikalau F merupakan fungsi dua peubah a dan b. …. sebagai akibat ralat dalam jari – jarinya. (a.n . maka bagi perubahan kecil dalam a dan b berlaku deret Taylor : ∆F (a. …. ∆a + ……. b.5. an-1 . c. b + ∆b) – F (a. 7. c. yang dapat dideferensialkan.) sebagai akibat perubahan kecil dalam perubahan – perubahan a.. maka sekali lagi kita peroleh : ∆F/F = ∆a/a + ∆b/b Atau : 6. MENGHITUNG RALAT DENGAN DIFERENSIAL TOTAL Menghitung ralat dapat kita anggap sebagai mencari perubahan dalam besaran F . ( ) Jikalau kita mengabaikan (∆b)2 terhadap b2 daan beralih lagi kepada ralat nisbi. Sebagi contoh deret (0 – 1) kita membicarakan suatu fungsi satu peubah saja. maka ∆F/F = n(∆a/a) Bukti : Fmax = (a + ∆a)n = an + n .b) = ( ) + pangkat ∆a dan ∆b yang lebih tinggi ………. sambil semua peubah lain (b dan lain – lain kalau ada) tetap. b.

Kesimpulan Sebagai kesimpulan dapat kita merumuskan dalil : Jikalau F = F (a. …. …. ∆r = 2r∆r. Memang dalam hal tertentu biasanya tidak semua tanda ralat sama. maka untuk ralat dalam F berlaku : | | | | | | (0-3) Dengan syarat praktis supaya pendekatan berlaku : Kami telah menambahkan garis mutlak dalam rumus (0-3). Asal ∆r cukup kecil. Misalnya ∆r/r = 1/10 . Tetapi karena tanda ralat tidak diketahui. sehingga ada yang saling melawan pengaruhnya dan ralat tidak sebesar ralat yang mungkin yang kita hitung. (∆r)2 << ∆r. ) dan terdapat ralat kecil dalam a. maka : Kesalahan yang timbul karena pendekatan tersebut dalam hal ini sebesar 5% dan itu cukup kecil untuk perhitungan ralat. b. . maka AB = tg . Dalam contoh ini. alasannya karena kita ingin menentukan ralat maksimum yang mungkin terjadi. b. c. maka dengan pendekatan kita dapat menyamakan ∆F (r) = tg  .2r∆r = (∆r)2 Kita membatasi penguraian kita untuk ralat yang kecil.. c. kita harus memperhitungkan kemungkinan bahwa semua ralat saling menambah.r2 D B  C A r Gambar 0-5 r + ∆r r dF/dr = tg  = AB/AC. dengan kata lain ralat dalam tiap – tiap peubah menyebabkan F menyimpang dalam arah yang sama. AC = 2r∆r dan RD = ∆F (r) . … Maka kombinasi ralat maksimal terjadi kalau semua suku dalam (0-3) sama tandanya. jadi pangkat dua ke atas boleh kita abaikan. sebagai akibat penyimpangan – penyimpangan dalam a. 11 . dengan kata lain suku (∆r)2 = DB hanya merupakan koreksi kecil terhadap 2r∆r = AB. b. c.

25 10 0.8.75 25 1.05 . 10-3 m 5 0. kita mengambil suatu percobaan elastisitas (tabel 0-1). Metode Angka Tidak Berdimensi Dalam suatu grafik secara matematis hanya angka saja dapat diwakili.3 m = 10. angka yang dihitung dapat mewakili hasil pengukuran dalam grafik.2.3 I/mA 340 I = 340 mA → I/mA . 8. Atau kalau besaran yang diukur akan dibagikan oleh satuannya hasil yang dicapai adalah angka. sebaiknay hasil itu disusun dalam tabel dulu. Besaran / satuan dapat digunakan untuk menjelasakan arti sumbu grafik. Misalnya : Hasil pengukuran Besaran / satuan Angka m/g 10. Sebagai contoh. Besaran / satuan dapat dituliskan di atas kolom yang bersangkutan.340 Sebaiknya metode ini juga digunakan untuk merekam hasil pengukuran dalam suatu tabel. 8.10 30 1.60 20 0. maka dicatat sekali di bagian atas tabel.1. Ini berarti bahwa apa yang akan tertulis di dalam tabel menjadi sesederhana mungkin dan mudah terintepretasi. dan dalam kolom kedua perpanjangan yang diukur akibat gaya itu. Di dalam kolom pertama tercatat gaya yang menarik kepada seutas kawat. Ini berarti bahwa pada sumbu – sumbu harus dijelaskan bagaimana hubungan antara titik – titik dalam grafik dan besaran yang diukur secara percobaan. Kalau begitu. MENENTUKAN RALAT SECARA GRAFIS Sebelum mebicarakan cara menentukan ralat secara grafis. Semua besaran yang diukur dapat dianggap sebagai hasil kali dari angka dan satuan.340 I/A 0.3 m/10-3 kg 10.45 12 . perlu kita mengetahui cara menggambar grafik dulu. Menggambar Grafik Kalau kita akan membuat grafik berdasarkan hasil pengukuran. Disamping itu adalah hubungan langsung antara isi tabel dan grafik yang dibuat berdasarkan data itu.3 g → m/g = 10. Tabel 0-1 F l  1N  0.40 15 0. Karena ralat untuk semua titik pengukuran sama.

tepatnya titik dikelilingi persegi panjang ralat (lihat contoh). 2.1.8 0.4 0. Kalau persegi panjang ralat tidak dapat digambar \. dsb.1 . disini jelas pentingnya penguraian ralat.. Akan tetapi kedua yang terakhir terlalu menyimpang. (5) Gambarlah garis yang “kencang”. Menurut hokum Hooke. 10-3m  1 kotak. sudah jelas dari gamabr. bahwa hokum hooke tidak berlaku bagi gaya lebih besar daripada 20 N. Maka kita dapat mearik kesimpulan. dan agar ketelitian menggambar grafik tidak menambah ralat. yang sebaik mungkin melalui titik – titik yang diukur. Perhatikan juga bahwa dalam contoh ini garis harus melalui pokok sumbu. satuan. seta beberapa angka pada sumbu Biasanya peubah bebas digambar sepanjang sumbu horizontal. 13 . ikutilah pedoman berikut : (1) Sediakan kertas berkotak (2) Pilihlah nilai skala dan gambarlah salib sumbu (3) Catatlah besaran. atau 5 kotak. mengingat teori maupun ralat. Nilai skala dalam cm atau mmtidak perlu dicatat.2 0 0 5 10 15 20 25 30 35 F/N Grafik 0-1 Untuk menggambar grafik. Nilai skala yang baik misalnya 1N  1.6 x 10-3m 1.2 1 0. Kalau tidak dipastikan dulu berapa besar ralat yang mungkin. Arti persegi panjang ralat ialah bahwa nilaii betul mungkin terletak di mana – mana di dalam daerah itu. Nilai skala dan angka harus dipilih supaya grafik mudah dibaca.6 0.4 1. Jangan 1N 2 kotak serta 0. grafik perpanjangan sebagai fungsi beban harus merupakan garis lurus. ataukah hanya disebabkan karena pengukuran kurang teliti. yang tiada hubungannya langsung dengan besarnay ralat. Keempat titik pertama cocok dengan hokum tsb.maka kita tidak akan dapat memutuskan apakah penyimpangan itu berarti hokum alam idak berlaku. segitiga. sedangkan yang tak bebas digamabr vertical. maka titik diterangkan denagn lingkaran. (4) Gambarlah titik – titik dengan jelas Setepat. tanda plus. Tetapi penjelasan perihal grafik itu harus dituliskan di bawahnya.

(2) Fungsi ini ditulis sebagai ln y = x + ln A. dan kita dapat memanfaatkan kertas logaritmis dua sisi. bahwa grafik ln y terhadap x merupakan garis lurus. Maka grafik 1/y terhadap x. misalnya dalam contoh kami berlakunya hokum Hooke terbatas. Hal ini dapat dilakukan secara analitis tetapi seringkali metode grafis lebih berguna. (1) Kita dapat menulis z = 1/y = (q/p)x + r/p. Lalu kita membaca perpanjangan berapakah yang terjadi sebagai akibat sembarng gaya.8. Dalam hal ini dapat dimanfatkan kertas grafik yang sudah mempunyai skala logaritmis pada satu sisi.4 Meluruskan (melinierkan) grafik Seringkali kita menginginkan supaya grafik merupakan garis lurus. Garis lurus dapat digambarkan denagn memperhatikan luas bagian persegi panjang ralat diatas garis kira – kira sama dengan luasnya dibawah. Karena itu sedapat – dapatnya fungsi dilinearkan sebelum grafiknya dibuat. terutama untuk grafik fungsi linear atau fungsi – fungsi lain yang dapat ditentukan. b. a. sehingga grafik tidak boleh ditambahkan lurus saja.1 Kemiringan rata – rata Sebuah seri pengukuran dapat digunakan untuk menentukan nilai dari tetapan fisis tertentu. antara lain karena tidak pasti bentuk mana akan diikuti graffik diluar daerah yang diukur.3 Menyisipkan dan menambahkan (interpolasi dan ekstrapolasi) Waktu menggambar garis grafik... lalu z merupakan fungsi linear dari x. Melalui grafik dapat dilihat langsung apakah semua hasil pengukuran dapat diterima atau apakah ada titik ukur yang menyimpang terlalu jauh dari grafik dan dapat diabaikan. Di bawah ini kami memberikan beberapa fungsi y(x) yang dapat dilinearkan denagn mudah. antara lain karena itu sangat sangat mempermudah penyisipan dan penambahan. Juga tidak perlu menghitung atau mengetahui hubungan antara perubah – perubah dalam bentuk analitis.5. Dalam hal itu ketelitian berkurang. 8. (3) y = A . c. tanpa perlu mengukurnya. Nilai tetapan fisis dapat dihitung melalui emiringan rata – rata Contoh : menurut termodinamika ada hubungan antara nilai tetapan kesetimbangan K dari suatu reaksi dan suhu T ln K = + p ………………………………….. 8.5 Penggunaan grafik untuk menentukan ralat 8.n+ B dijadikan ln(y-B) = n lnx + lnA. Juga tidak perlu mengukurnya. ialah garis lurus. jelaslah. Dari grafik ini kemiringan rata – rata dapat ditentukan langsung. (0-4) 14 . kita menyisipkan titilk – titik yang tidak diukur diantar ayang diukur. Maka graik ln(y-B) terhadap lnx adalah lurus. dengan kata lain menambahi panjangnya grafik. Demikian pula garis grafik dapat diteruskan sampai diluar daerah di mana tela diadakan pengukuran.

2 Ralat dalam Kemiringan Untuk menentukan ralat dalam kemiringan dapat digambarkan garis lurus yang paling curam dan garis lurus yang paling landai yang masih melewati persegi panjang ralat. (3.0 Grafik 0-2 Kemiringan Grafik Kemiringan rata – rata yang ditentukan dari grafik ini ⁄ = -1. makin kecil ralat pembacaan.00.5.5 1000 K/T 4. -2. Makin panjang garis lurus yang digunakan untuk menentukan kemirinagn. Lihat grafik 02. 8.79) (3.00 .10) -2 3. Dari kedua garis lurus tersebut dapat dihitung nilai rata – rata dan ralat.05. 103 K Catatan : gunakan panjang garis lurus seluruhnya untuk penentuan kemiringan sehingga memperkecil ralat pembacaan.-2.0 Grafik 0-3 Ralat dalam Kemiringan 15 .-0.86) -1 ln K (4.-1.17 .94) (4. diabaikan (3.0 3. -0.20) 3.00.dengan ∆H0 = entalpi reaksi p = tetapan untuk jangkauan suhu terbatas Berarti bahwa bahwa hubungan antara K dan T dapat dinyatakan sebagai fungsi linier dari ln K terhadap 1/T dan grafiknya berupa garis lurus.0 1000 K/T 3.06 . yang mempunyai arti fisis.97) -1 ln K -2 (4.05.5 4.-0. dari kemiringan dapat dihitung nilai ∆H0.

a. 4.2) A  Perbedaan potensial : 100  5 .04) J.1 (ralat mutlak dihitung) (ii) Gunakan metode dari 6. Hitunglah volume dari balok dan ralat dalam nilai volume (i) Gunakan metode dari 6.25% a.K-1. Bandingkan angka penting dan besarnya ralat pada kedua cara pengukuran ini! 3.K-1.9 (1  0.038) J. LATIHAN TENTANG PERHITUNGAN RALAT Secara umum untuk latihan masing – masing :  Rangkum hasil pengukuran serta perhitungan dalam satu tabel  Gunakan metode “angka tidak berdimensi” (lihat 8.210 .88 ml (ii) Ralat kebetulan yang maksimal dalam volume yang keluar dari buret kalau pembacaan skala yng dihasilkan adalah : awal = 2. Cara mana yang dapat digunakan untuk mengurangi: (i) Ralat sistematis (ii) Ralat kebetulan pada penggunaan buret 5. Menurut perusahaan ketelitian volume total dari suatu buret bervolume 50 ml adalah sampai 0.924 . Perkirakanlah : (i) Ralat pembacaan (ii) Ralat penyesuaian (paralaks) untuk buret ini. Hasil yang ditemukan dari grafik ini (periksa sendiri) Paling curam : -1. b.41 ml.88 ml b. lebar. Gunakan metode perhitungan yang paling cocok untuk menghitung ralat mutlak dan ralat nisbi ! b.103 K 9.2. 1.g-1 Perbaiki cara penulisan data tersebut ! 6.103 K Paling landai : -0.34 . Hitunglah besar (i) Ralat sistematis yang maksimal dalam volume yang keluar dari buret kalau pembacaan skala yng dihasilkan adalah : awal = 2. metode mana yang lebih mudah digunakan? 2. 103 V  Kalor yang dilepaskan : 3346  128 J  Kalor jenis : (0. Tentukan massa dari balok A dengan menggunakan neraca pegas! 16 .1) sehingga dalam tabel dan grafik hanya angka saja akan muncul. 103 K Maka kemiringan = -1. Dalam sebuah laporan ditemukan hasil pengukuran dan penghitungan berikut :  Suhu laboratorium : 26. a.g-1 = 0.3 (ralat nisbi dihitung) (iii) Bandingkan kedua metode ini.88  0. a. akhir = 14.41 ml. Ulangi latihan 1 dengan menggunakan sebuah jangka sorong (dengan skala nonius) sebagai pengganti penggaris. Periksa cara penggunaan dan pembacaan volume dari suatu buret bervolume 50ml. dan tinggi dari balok yang akan diberikan dengan menggunakan sebuah penggaris ! Ulangi semua pengukuran 3 kali dan hitunglah nilai rata – rata serta periksalah ralat dalam semua pengukuran dari balok tsb. Ukurlah panjang. akhir = 14.Grafik 0-3 diperoleh dengan menggunakan data dari Grafik 0-2.30  0.2  Arus listrik : (3  0.13  0.

0 5.5.1 masuk akal? Untuk itu. Perkirakan ralat dalam dalam massa yang diukur! Hitunglah kerapatan dari balok ini dengan menggunakan hasil dari Latihan 1! Hitunglah ralat mutlak dan ralat nisbi dalam nilai kerapatan! Pengukuran manakah (volume atau massa) yang menyumbangkan paling banyak terhadap ralat dalam kerapatan? f.5 31. Pengukuran manakah yang harus diperbaiki lebih dulu agar ralat menjadi lebih kecil? d.5. sesuai dengan metode “angka tidak berdimensi” (8. perbaiki grafiknya! Jelaskan arti fisis dari titik (4. 7. 9. Jika ralat dalam pengukuran yang menyumbang paling banyak terhadap besarnya ralat total menjadi 10 kali lebih kecil. Hitunglah nilai ∆H⁰ (persamaan 0-4) dan ralat dalam nilai ini! c.2 cm * ralat massa beban  0. periksa apakah tabel 0-1. Panjang pegas diukur sebagai fungsi besarnya beban. Hitunglah nilai q (persamaan 0-4) dan ralat dala nilai ini! Sebuah pegas diregangkan oleh beban yang bervariasi.0 25. 12.1)! Berapakah nilai dari K dan T yang diwakili oleh titik ini? Periksa apakah catatan pada akhir 8. d. a.1) jika bagian ln K antara 1.0 g 17 . kalau tidak : perbaikilah (juga dalam pedoman)! b.2 persamaan 0-7)! b.06 . Pengukuran manakah ang perlu diperbaiki lebih dahulu (massa atau volume) agar nilai kerapatan dapat ditentukan denagn lebih teliti? Ulangi Latihan 6 dengan menggunakan neraca beban atas (top loading balance)! Arus listrik sebesar (2.1). Hasil yang tercapai berikut : Beban /g 0.2. Gunakan metode diferensial total untuk menghitung kerapatan di balok A dengan menggunakan data dari Latihan 6 b.10) dalam grafik 0-2 (8.0 saja akan digunakan dengan hal yang dihitung dalam 8. bandingkan ketelitian perhitungan kemiringan dari grafik 0-2 (8.7  0. Ulangi c. bandingkan cara perhitungan dan hasil yang tercapai sekarang dengan metode dan hasil Latihan 6. 10.3 g untuk semua beban dar 5. Hitunglah kalor yang dilepaskan dan ralat dalam nilai ini dengan menggunakan metode diferensial total (7. Beri komentar! c.6 dan -2.9 33. bandingkan besarnya ralat yang dihitung sekarang dengan besarnya ralat yang dihitung pada Latihan 6. berapa beasr ralat total dalam perhitungan kalor yang dilepaskan? a.5. 11. -2.2)A mengalir lewat hambatan sebesar (57  1)  selama 4 menit  5 detik.7 35. 8.1 berbeda dengan nilai yang ditemukan dalam 8.0 Panjang /cm 31.9 36. dan e denga menggunakan hasil dari Latihan 2! g. Mengapa demikian? b. d.1 33.5.0 20.b. Periksa apakah syarat praktis untuk pendekatan ini dipenuhi! c. Metode manakah yang lebih mudah digunakan? Beri alasan! a.0 15.0 30. Kemiringan rata – rata yang ditemukan dalam 8.5.5. 13.0 10.1 a. 14. e.8 37. c. periksa apakah grafik 0-1 sesuai dengan: (i) data yang diberikan dalam tabel 0-1 (ii) metode “angka tidak berdimensi” (iii) kaidah – kaidah (1) – (4) kalau tidak.5 Diketahui: * ketelitian pengukuran panjang sampai  0.

menurut teori berlaku ∆L = k . Periksa apakah kesalahan sistematis akan muncul kalau rumus (1) akan digunakan untuk menghitung kelakuan dari pegas ini! Kalau ini terjadi coba turunkan persamaan lain untuk ∆l. e. Jelaskan arti fisis dari suku – suku dalam persamaan yang diturunkan pada d! f.3 cm. (1) tentukan secara grafis : (i) Nilai dan satuan dari k (ii) Ralat dalam nilai k berdasar nilai kemiringan maksimal da minimal yang mungkin berdasarkan letak titik ukur dan ralat dalam letak titik ukur ini d. Beri komentar yang manakah lebih mudah digunakan! 15. buatlah tabel dengan nilai dari regangan pegas ∆L sebagai fungsi massa beban m serta ralat dalam nilai. m. Hitunglah ralat massa untuk neraca Mettler! 18 . Bandingkan kedua cara penentuan massa jeruk.a. sebagai fungsi fungsi m sehingga ralat sistematis ini tidak akan muncul. Kemudian sebuah jeruk dipasang pada pegas ini. Hitunglah luas dan ralat luas untuk micrometer skrup! 16. Tentukan massa dari jeruk dan besarnya ralat dalam massa ini dengan menggunakan : (i) Grafik (ii) Persamaan yang diturunkan g.nilai ini! b. dengan k adalah tetapan pegas …. Gambarlah sebauh grafik dari ∆L sebagai fungsi m termasuk besarnya ralat untuk semua titik ukur! c. Panjang pegas yang diukur 37.

dan t ……… dengan penggaris I p (cm) l (cm) t (cm) Pengukuran p.LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA 1 Nama/ NIM Kelompok Tanggal Praktikum Judul Alat dan bahan 1. l. N I II III F (N) Pengukuran massa …… dengan neraca beban atas Ketelitian = ……. cm III Pengukuran p. gr II III Ketelitian = ……. 7. ml III 4. Laboran Asisten Praktikan 19 . cm II III 3. l. 6. Ketelitian = ……. Pengukuran massa …………. dan t ……… dengan penggaris I p (cm) l (cm) t (cm) Pengukuran volume air dari buret I atas (ml) tengah (ml) bawah (ml) II 2. gr I II III Massa (gr) Pengukuran massa ……… dengan neraca mettler I Massa (gr) Pengukuran l dan t …… dengan micrometer skrup I p (cm) l (cm t (cm) Ketelitian = ……. cm II III 5. II Ketelitian = ……. : : : : : Ketelitian = ……. dengan neraca pegas Ketelitian = …….

........................ 2............................ Berapa besar energy aktivasi untuk energy aktivasi yang tidak terkatalisir dan yang terkatalisir.(6) Dengan Ea = energy aktivasi .............. Metoda pengukuran yang dipakai adalah pengukuran laju awal reaksi untuk seriseri larutan dengan konsentrasi awal dari zat pereaksi dan kalatis yang divariasikan secara teratur............... Tetapisegera setelah tiosulfat habis I2 tidak dihilangkan lagi dan dengan kanji biru akan muncul............(2) l.........................................(4) dengan cara yang sama orde reaksi I..dan H+ dapat ditentukan... Dengan memvariasikan konsentrasi H2O2 sambil konsentrasi lain dijaga tetap..... Dalam hal ini berlaku: tetap .... PENGARUH KATALIS UNTUK ORDE REAKSI DAN ENERGI AKTIVASI 1....(5) Atau .... Kita akan meneliti: a...........m.............. dimana jumlah mol H2O2 tersebut sangat sangat kecil dan tetap (a).. Cara kerja untuk menentukan Orde Reaksi Zat....... pada awal reaksi [I-] terus tetap......ion logam transisi..........(3) dengan p = tetapan dan [H2O2] = konsentrasi awal H2O2...... T = suhu absolute dan p” = tetapan. Selang waktu (t) antara pencampuran dan saat warna biru muncul sama dengan waktu yang diperlukan untuk reaksi dari sejumlah H2O2 tertentu................ atau log t = . Na2S2O3 bereaksi dengan I2 dan terbentuk: 2 S2O32-(aq) + I2 (aq) S4O62........................................zat pereaksi akan dicampurkan dan selang waktu (t) diukur.......... Bagaimana pengaruh katalis terhadap orde reaksi b........ R = Tetapan ideal ......... semua system yang akan dipilih dan diteliti mempunyai komposisi pereaksi yang konsentrasinya dapat dianggap tetap selama selang waktu t...... Nilai a dari sejumlah mol H2O2 yang kecil dapat ditentukan sebagai berikut: Untuk semua campuran reaksi akan ditambahkan sejumlah Na2S2O3 yang sama dan sedikit larutan kanji.....m log [H2O2] – log p ...........2...... dalam hal ini laju awal berbanding terbalik dengan t: Laju Reaksi = dengan a = tetapan ... 20 . dianggap reaski berlangsung cukup sederhana.....................................(1) Secara umum berlaku: Laju Reaksi = k[H]t[H2O2]m[I-]n .......... Cara seperti no 1 dan dapat dipakai untuk menentukan energy aktivasi: Nilai akan diukur untuk beberapa suhu yang berbeda dengan semua konsentrasi awal tetap......................................................................................... nilai m dapat ditentukan: (1) dalam (2)  = p [H2O2]m ..(aq) + 2 I.......2 H2O (l) + I2 (aq) dikatalisir oleh ion.......... 1........... n = tetap......(aq) Karena itu secara otomatis.............................. LATAR BELAKANG Reaksi 2H+ (aq) + H2O2 (aq) + 2 I............

1M . 12 dan 18 ml H2O2 0. Laksanakan sebuah seri percobaan masing. Sebagai katalis kita akan memakai (NH4)2MoO4 (aq).2. 4. campuran reaksi yang akan berwarna biru sesudah ±1 menit. dari yang diturunkan diatas dapat disimpulkan bahwa hanya perbandingan konsentrasi pereaksi atau katalis yang penting dalam suatu percobaan seri.20 ml KI 0. Ulangi percobaan ini dengan 25 ml larutan I dan 25 ml larutan yang mengandung masing. 100 ml (NH4)6Mo7O24. Penentuan Orde Reaksi terhadap H2O2 bagi reaksi yang tidak terkatalisir Pipetlah 2 ml larutan I dalam sebuah Erlenmeyer 100 ml. Lakukan percobaan B pada suhu yang sama dengan percobaan A. Kalau ini tidak tercapai larutan (NH4)2MoO4 harus dibuat lebih atau kurang pekat.5 M dan 22 ml akuades.10-5M Catatan: Larutan 1 dan 2 tidak terlalu stabil dan harus disimpan sedingin mungkin. CARA KERJA Untuk percobaan larutan. pengaruh terhadap laju reaksi kalau jumlah H2O2 divariasikan sbb: 21 . A. larutan harus berwarna biru setelah 20. kemudian tambahkan 25 ml ml H2O2 dengan konsemtrasi yang cocok dan juga 25 ml larutan I. Penentuan Orde Reaksi Terhadap (NH4)2MoO4 Pilihlah berdasarkan percobaan Abcampuran reaksi yang akan berwarna biru sesudah kira.1M . Larutan yang diperlukan: 1.larutan berikut diperlukan dengan konsentrasi kira. pemanasan (untuk percobaan D dan E) harus dilakukan harus pada saat larutan akan dipakai.10 ml H2SO4 1M . tergantung kebutuhan. 400 ml H2O2 0. dan12 ml larutan (NH4)2MoO4 serta volume total tetap 75 ml.kira 3 menit) . B. 8.5M. tambahkan dalam Erlenmeyer yang kedua 3 ml H2O2 0. Teliti mulai dari susunan ini. Masukkan ke dalam sebuah Erlenmeyer 12 ml (NH4)2MoO4 dan isilah dengan akuades sampai 25 ml.kira seperti yang tertulis.4H2O 5.5M 3.masing 6. Campurkan dengan baik secara kuantitatif dengan cara menuang bolak.30 detik. Aturlah sehingga seluruh seri pengukuran akan dilakukan pada suhu yang sama.balik (minimal 3x).10 ml Na2S2O3 0.420 ml akuades 2.kira 4 menit. pengukran waktu dimulai saat setengah dari larutan dimasukkan. Catatlah suhu awal serta waktu saat warna biru muncul. Konsentrasi tidak perlu diketahui secara persis.masing 2. Sebuah nampan berisi air pada suhu laboratorium dapat digunakan sebagai thermostat. Larutan I: . Tuang larutan ini ke dalam larutan I. tapi jumlah larutan yang dibuat harus cukup untuk semua percobaan A.40 ml kanji 1% (harus dididihkan kira. Penentuan Orde Reaksi Terhadap H2O2 Bagi Reaksi Yang Terkatalisir Pilihlah berdasarkan hasil percobaan B. Ini berarti bahwa semua volume untuk A – E harusdiukur seteliti mungkin.E. C.

Volume H2O2 (ml) Volume akuades (ml)

2 23

4 21

8 17

D. Penentuan Energi Aktivasi Dari Reaksi Yang Tidak Terkatalisir Pilihlah berdasarkan percobaan Abcampuran reaksi yang akan berwarna biru sesudah kira- kira 4 menit. Laksanakan sebuah seri percobaan dengan variasi suhu sbb: 0 oC, 30 oC dan 50oC (suhu boleh tidak tepat asal dicatat yang sebenarnya). Gunakan thermostat yang sesuai. Ukurlah suhu beberapa kali antara saat pencampuran dan pada saat warna biru muncul. Ambil suhu rata- rata sebagai suhu reaksi. Gunakan data percobaan A sebagai data untuk perlakuan suhu 30oC. E. Penentuan Energi Aktivasi Dari Reaksi Yang Terkatalisir Pilihlah dari percobaan B, campuran reaksi yang akan berwarna biru sesudah ±1 menit. Tentukan juga laju reaksi dalam larutan ini pada variasi suhu berikut : 0 o C, 30 oC, dan 50oC (suhu boleh tidak tepat asal dicatat yang sebenarnya). Gunakan data percobaan B sebagai data untuk perlakuan suhu 30oC. 3. TUGAS AWAL 1. Mengapa pada awal reaksi [I-] tidak berubah? 2. Dianggap bahwa [H2O2] dan [H+] tetap: a. Apakah anggapan ini berlaku untuk campuran pertama dari percobaan A? b. Hitunglah masing- masing konsentrasi sesuai pencampuran! c. Hitunglah masing- masing konsentrasi pada saat warna biru muncul! 3. Bagaimana cara memastikan bahwa untuk semua pengukuran nilai a selalu sama? 4. Syarat mana yang dalam turunan rumus- rumusnya tidak berlaku lagi kalau suhu untuk seri pengukuran dari percobaan A tidak tetap? 5. Jelaskan dengan kalimat anda sendiri, mengapa laju reaksi berkurang kalau t yang diukur bertambah? 6. Dilabel botol H2O2 tertulis : massa jenis = 1,11 kg/L, kadar 35% w/v. a. Hitunglah cara pembuatan larutan 2 dari larutan yang tersedia! b. Peralatan apa saja yang akan digunakan? c. (NH4)2MoO4 tersedia sebagai zat padat, bagaimana larutan 3 dapat dibuat? d. Peralatan apa saja yang digunakan? 7. Sehubungan dengan praktikum ini: a. Apakah diperlukan tindakan tertentu sehubungan dengan keselamatan praktikum? b. Apakah limbah boleh dibuang begitu saja? 8. Buat diagram alir dari percobaan ini! 4. PENYELESAIAN LAPORAN Catatan : Kalau beberapa seri hasil pengukuran harus di gambarkan dalam satu grafik, pilihlah lambing atau warna yang berbeda untuk masing- masing seri sehingga titik – titik dari suatu seri dapat dibedakan dengan mudah dari titik- titik seri lain. Gunakan kertas grafik untuk mendapatkan skala yang tepat. Atau gunakan hasil print out computer. 9. Turunkanlah persamaan (6) dari persamaan (5)!

22

10. Buktikan bahwa sebagai ukuran untuk konsentrasi dari suatu pereaksi P, volume dari larutan P yang dimasukkan ke dalam campuran reaksi boleh digunakan jika volume campuran air tetap! 11. Buatlah grafik log t sebagai fungsi dari log [H2O2] dan tetntukan secara grafis orde reaksi terhadap[H2O2] (persamaan). Lakukan hal ini untuk reaksi yang tidak terkatalisir (percobaan A) dan reaksi yang terkatalisir (percobaan C). gambarkan keduanya dalam sebuah grafik! 12. Dengan cara yang sama tentukan secara grafis orde reaksi terhadap [(NH4)2MoO4]! 13. A. Gambarkan dalam sebuah grafik, laju reaksi (l/t) sebagai fungsi dari : a. jumlah ml larutan H2O2 (percobaan A) b. jumlah ml larutan (NH4)2MoO4 (percobaan B) c. jumlah ml larutan H2O2 (percobaan C) B. Apakah hasilnya sesuai dengan apa yang diharapkan? Beri penjelasan! 14. a. Tentukan ecara grafis energy aktivasi dari reaksi yang tidak terkatalisir (percobaan D) dan dari reaksi yang terkatalisisr (percobaan E). gambarkan keduanya dalam satu grafik! b. Perkirakan ralat dalam semua titik ukur yang digambarkan dalam grafik. beri penjelasan! Kemudian tentukan secara grafis ralat dalam nilai energy aktivasi masing- masing! c. Apakah hasilnya sesuai dengan yang diharapkan? Beri penjelasan!

23

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I Nama/ NIM Kelompok Tanggal Praktikum Judul Alat dan bahan : : : : :

A. Penentuan Orde Reaksi terhadap H2O2 bagi reaksi yang tidak terkatalisir Perlakuan 25 ml lar I + 3 ml H2O2 0,5M + 22ml H2O 25 ml lar I + 6 ml H2O2 0,5M + 22ml H2O 25 ml lar I + 12 ml H2O2 0,5M + 22ml H2O 25 ml lar I + 18 ml H2O2 0,5M + 22ml H2O
T awal (oC) Hasil T akhir (oC) T (dT)

B. Penentuan Orde Reaksi Terhadap (NH4)2MoO4 Perlakuan
25 ml lar I + 25 ml lar I + 25 ml lar I + 25 ml lar I + ml H2O2 0,5M + ml H2O + 2 ml (NH4)6Mo7O24 + 23 ml H2O ml H2O2 0,5M + ml H2O + 4 ml (NH4)6Mo7O24 + 21 ml H2O ml H2O2 0,5M + ml H2O + 8ml (NH4)6Mo7O24 + 17 ml H2O ml H2O2 0,5M + ml H2O + 12 ml (NH4)6Mo7O24 + 13 ml H2O T awal (oC) Hasil T akhir (oC) T (dT)

C. Penentuan Orde Reaksi Terhadap H2O2 Bagi Reaksi Yang Terkatalisir Perlakuan
25 ml lar I + 2 ml H2O2 0,5M + 23 ml H2O + 25 ml lar I + 4 ml H2O2 0,5M + 21 ml H2O + 25 ml lar I + 8 ml H2O2 0,5M + 17 ml H2O + 25 ml lar I +12 ml H2O2 0,5M + 13 ml H2O + ml (NH4)6Mo7O24 + ml (NH4)6Mo7O24 + ml (NH4)6Mo7O24 + ml (NH4)6Mo7O24 + ml H2O ml H2O ml H2O ml H2O T awal (oC) Hasil T akhir (oC) T (dT)

D. Penentuan Energi Aktivasi Dari Reaksi Yang Tidak Terkatalisir Perlakuan
25 ml lar I + 25 ml lar I + 25 ml lar I + 25 ml lar I + ml H2O2 0,5M + ml H2O ml H2O2 0,5M + ml H2O ml H2O2 0,5M + ml H2O ml H2O2 0,5M + ml H2O T awal (oC) Hasil T akhir (oC) T (dT)

24

5M + ml H2O2 0.5M + ml H2O + ml H2O + ml H2O + ml H2O + ml (NH4)6Mo7O24 + ml H2O ml (NH4)6Mo7O24 + ml H2O ml (NH4)6Mo7O24 + ml H2O ml (NH4)6Mo7O24 + ml H2O T awal (oC) Hasil T akhir (oC) T (dT) Laboran Asisten Praktikan 25 .5M + ml H2O2 0.E.5M + ml H2O2 0. Penentuan Energi Aktivasi Dari Reaksi Yang Terkatalisir Perlakuan 25 ml lar I + 25 ml lar I + 25 ml lar I + 25 ml lar I + ml H2O2 0.

45oC. B. KALORIMETRI TAK LANGSUNG 1. Tuanglah di atasnya suspense penukar ion dan tutupi kolom penukar ion denagn sebuah sumbat kapas kecil. dekantasi penukar ion beberapa kalidalam air. Kemudian jumlah asam yang dibebaskan oleh Pb2+ akan diukur secara volumetric. Persiapan Penukar Ion (setiap kelompok) Timbanglah kira – kira 6 g Amberlite IR-120 dalam bentuk asam. Ini berarti nilai untuk enalpi dan entropi reaksi dapat dientukan tanpa melakukan percobaan kolorimetrik sama sekali. 2. Persiapan Larutan Jenuh PbCl2 pada Suhu – Suhu yang Berbeda (satu larutan untuk semua kelompok) Buatlah larutan – larutan PbCl2 yang jenuh pada suhu kira – kira 0oC. 30oC (sedikit di atas suhu laboraatorium). PENGARUH SUHU TERHADAP KESETIMBANGAN.5 3 4 Larutkan PbCl2 (sesuai tabel) dalam gelas piala 250 ml. LATAR BELAKANG Kita akan menentukan kelarutan PbCl2 dalam air pada beberapa suhu yang berbeda.3. untuk memperkirakan besarnya fluktuasi dalam nilai ini. dan 60oC menurut cara berikut: Suhu (oC) 0 30 45 60 Massa PbCl2 (g/100ml) 2 2. Pada awalnya aduklah beberapa kali sehingga kesetimbangan termal akan cepat tercapai. sampai tidak bereaksi asam lagi denagn indicator jingga metil. 10 ml air dan kemudian tempatkan di dalamnya sebuah sumbat kapas kecil. Usahakan aliran air satu tetes per detik. tempatkan larutan ini dalam thermostat masing – masing dan biarkan sampai kesetimbangan kelarutan tercapai (minimal 1 jam). Masukkan ke dalam tabung penukar ion. CARA KERJA A. 26 . Dari sini dapat dihitung nilai tetapan kesetimbangan K sebagai fungsi suhu untuk kesetimbangan : PbCl2 ↔ Pb2+(aq) +2ClK = [Pb2+] [Cl-]2 ………… (1) Menurut termodinamika berlaku : ∆G⁰ = R T lnK ……………………………………………………… (2) Dan dari ini dapat ditentukan : Jadi dari grafik log K sebagai fungsi 1/T dapat ditentukan nilai baku untuk entalpi pelarutan dan entropi pelarutan PbCl2. Kelarutan PbCl2 akan ditentukan dengan mengambil volume tertentu dari kelarutan PbCl2 yang jenuh dan melekatkannya melalui suatu penukar kation dalam bentuk asam. Ukurlah suhu masing – masing larutan tiap 15 menit selama praktikum.

Catat volume NaOH yang diperlukan pada masing – masing suhu di papan tulis.Periksa sekali lagi air yang keluar dari kolom sampai tidak bereaksi asam lagi terhadap indicator jingga metil (jangan lupa untuk memeriksa sebelumnya pH air yang dipakai cukup tinggi untuk bereaksi basa dengan jingga metil). Perhatikan bahwa : 1. karena hal ini akan menyebabkan konsentrasi PbCl2 menjadi berubah? 27 . D. Perhatikan bahwa bila larutan panas kristalisasi belum mulai terbentuk di dalam pipet. tetapi pastikan pipet tetap kering di dalam karena tidak mungkin untuk membilas sebelumnya dengan larutan yang panas. 2. siapa yang akan memulai dengan suhu tertentu untuk memastikan pada akhir praktikum kelompok bersama akanmemperoleh data yang lengkap. Volume air di atas kolom sesedikit mungkin sebelum larutan PbCl2 dimasukkan. Kecepatan elusi cairan lewat kolom tidak lebih dari satu tetes per detik. air harus ditambahkan untuk larutan panas sehingga Kristal tidak akan terbentuk. tetapi usahakan volumenya tinggal sekecil mungkin. Diskusikanlah kelompok yang satu dengan yang lain. 4. Regenerasi Penukar Ion (dilakukan laboran) Masukkan semua penukar ion yang dipakai oleh seluruh kelompok ke dalam satu tabung dan dilas dengan HNO3 2M sampai larutan yang keluar bereaksi negative terhadap Pb2+ 3.1M dengan menggunakan indicator metil red (mengapa tidak sebagian dari larutan yang keluar dipipetkan untuk menentukan konsentrasi?) Lakukan penentuan ini untuk semua suhu. Titrasilah semua larutan yang keluar dari penukar ion dengan NaOH 0. Selama semua percobaan kolom penukar ion harus selalu tercelup seluruhnya di dalam air. Sesudah dipipet ke dalam gelas piala. Tambahkan cukup air untuk larutan yang panas sehingga Kristal tepat tidak akan terbentuk pada pendinginan. Kristal PbCl2 tidak akan terbentuk di dalam penukar ion (karena sulit untuk melarutkannya kembali). C. Mengapa penukar ion di dalam tabung tidak boleh menjadi kering? 2. Mengapa sebaiknya baru mulai perpindahan larutan PbCl2 ke atas penukar ion pada saat sedikit air saja masih tersisa di atas kolom? 3. Pindahkan seluruh larutan ke dalam kolom dan alirkan larutan ini ke dalam kolom. 3. Untuk itu pipet boleh dipanaskan di dalam thermostat. Penentuan Konsentrasi PbCl2 (per kelompok) Ukurlah suhu dari larutan jenuh PbCl2 dan pipetlah dari larutan ini (tanpa kristal) ke dalam gelas piala kecil. Apakah ini tidak akan menyebabkan hasil yang salah. TUGAS AWAL 1. sehingga waktu yang diperlukan untuk melewatkan larutan ini melalui penukar ion secara kuantitatif menjadi sependek mungkin. Kapasitas kolom ini cukup untuk melaksanakan satu penentuan konsentrasi PbCl2 untuk setiap suhu. Kemudian bilaslah bebrapa kali dengan sedikit air sampai cairan yang keluar tidak bereaksi asam lagi dengan jingga metil (kira – kira membutuhkan 50 ml air jika dibilas dengan teliti). Data ini diperlukan dalam penyelesaian laporan (pertanyaan 9).

Apakah diperlukan tindakan tertentu? b. 1/T. beri alasan! 14. Bandingkan hasil yang anda temukan (volume NaOH pada masing – masing suhu) dengan hasil yang ditemukan oleh kelompok bersama! Beri komentar tentang : a. hitunglah berdasar hasil ini (perhatikan angka penting) : kelarutan PbCl 2 (1) dan log K pada suhu yang berlaku (2) mengapa tidak dapat dipakai penukar anion dlam bentuk basa untuk menentukan konsentrasi PbCl2? Sehubungan denagn keselamatan praktikum : a. gambarlah garis besar percobaan ini! Kalau tidak. a. PENYELESAIAN LAPORAN 8. Kumpulkan dalam sebuah tabel nulai untuk kelarutan untuk kelarutan PbCl2. 7. berapa besar nilai log K bila kelarutan PbCl2 = p ml/L? b. 7.8 28 . 5.0935 M. Apakah yang dapat disimpulkan tentang reaksi (1) dari nilai ∆H⁰. 9. diperlukan 9. kemungkinan terjadinya reaksi. log K.1-2. dan ∆G⁰ yang ditemukan? (misalnya tentang kalor reaksi.48ml NaOH 0. Apakah mungkin kita menemukan nilai ∆H⁰ untuk reaksi (1) secara kolorimetri! Kalau mungkin. Carilah nilai untuk ∆H⁰ dan ∆S⁰ dalam literature (sebutkan sumbernya)! Bandingkan nilai yang ditemukan dalam percobaan ini dengan nilai literature! Beri komentar! 13. Turunkan persamaan (3) dari persamaan (2)! 9. a. a. Tentukan juga fluktuasi dalam T dan 1/T! c.4. tentukan dari grafik ini : (i) nilai rata – rata dari ∆H⁰ dan ∆S⁰! (ii) ralat dalam nilai – nilai ini! 11. hitunglah untuk masing – masing suhu. Apakah limbah boleh dibuang begitu saja dalam wastafel? Buatlah diagram alir untuk percobaan ini! 4. hasil percobaan yang ditemukan seorang mahasiswa : untuk titrasi larutan yang diperoleh dari 10 ml larutan PbCl2 jenuh yang dilewatkan pada penukar ion. berdasar hasil dari seluruh kelompok : (i) nilai rata – rata volume NaOH yang digunakan da ralat dalam nilai ini! (ii) Nilai rata – rata kelaruta PbCl2 dan ralat dalam nilai ini! (iii) Dari hasil di atas. Untuk semua titik tunjukan juga persegi panjang ralat! b. ∆S⁰.4. dan fluktuasi dalam 1/T! 10. Gambarkan sebuah grafik dari log K sebagai fungsi 1/T (gunakan skala yang cocok). hitung nilai log K dan ralat dalam nilai ini! b. Jeffery. dan ralat dalam nilai log K serta nilai untuk T. dst) 12. Hasil yang anda peroleh! b. Ketelitian percobaan ini! Acuan: Atkins. 6.

50 Kelompok B.00 50 60 100 D.LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I Nama/ NIM Kelompok Tanggal Praktikum Judul Alat dan bahan : : : : : A. Penentuan Konsentrasi PbCl2 Volume PbCl2 yang dititrasi Indikator MR yang digunakan Suhu (oC) Volume NaOH ditambahkan = ………… ml = ………… tetes 0 yang 30 40 50 1. Persiapan Penukar Ion Massa ion exchanger yang digunakan = ………… gr C. Standarisasi NaOH Volume (ml) awal akhir ditambahkan I II III Laboran Asisten Praktikan 29 . Persiapan Larutan Jenuh PbCl2 pada Suhu Berbeda Suhu (oC) 0 30 40 Massa PbCl2 (gr/50 ml akuades) 1.75 60 2.00 1. Pengukuran Suhu PbCl2 Waktu (menit) Suhu (⁰C) 0 15 30 45 60 E.00 100 10.25 1.

Kurva yang menggambarkan hubungan terhadap c pada nilai. gambar 1.  = viskositas larutan polimer 0 = viskositas pelarut (dalam percobaan ini air) c = jumlah gram polimer dalam 100 ml larutan. Dalam percobaan ini larutan koloid terdiri dari suatu polimer yang dilarutkan dalam air.4. Besaran ( ) dikenal sebagai viskositas spesifik atau hsp. Hubungan tersebut dapat digambarkan dengan persamaan berikut ini: ( ) (1)  berat molekul primer  tetapan yang bergantung pada jenis polimer. viskositas intrinsic dapat ditulis sebagai: [ ] Dimana [] = viskositas intrinsic.0. miosin. a = suatu tetapan yang bergantung pada jenis polimer Misalnya a≈ 2 jika molekul berbentuk batang (DNA.nilai konsentrasi © mendekati nol mempunyai nilai yang besarnya tertentu. Jadi persamaan (1) dapat dituliskan sebagai berikut: (2) Persamaan (2) hanya berlaku untuk larutan yang sangat encer (kurang dari 1%). PENDAHULUAN Hasil.5. Secara matematis. Hal ini digambarkan dengan grafik dibawah ini: 30 . pelarut dan suhu. kolagen) dan a ≈ 0.8 untuk molekul berbentuk random coil dan a ≈ 0 untuk misalnya hemoglobin yang berbentuk bulat.hasil pengukuran viskositas suatu larutan koloid dapat digunakan untuk menentukan berat molekul massa terdispersi pada koloid tersebut. Viskositas dari larutan polimer dapat dihubungkan dengan berat molekul dari polimer itu. yang dikenal sebagai viskositas intrinsic. PENENTUAN MASSA MOLAR POLIMER 1.

Viskometer Ostwald 31 . Penggunaan alat viscometer 2.Gambar 2 Untuk mendapatkan viskositas intrinsic secara lebih tepat biasanya dibuat dua buah grafik. Satu grafik dari terhadap c seperti ditunjukkan di atas dan grafik dari 1/c ln () terhadap c.pengukuran viskositas Gambar 3. potongan (intersep) pada sumbu vertical harusnya tetap sama. Untuk menentukan sifat koloid daari pengukuran. Secara sistematis: ( ) ( ) [ ] ( ) ( ) Jika konsentrasi c  0 maka: Nilai [] yang didapatkan dari metoda ini dapat dipakai untuk menentukan berat molekul polimer dengan menggunakan persamaan berikut: [] = KMa Tujuan: 1.

j dengan menggunakan larutan PVA 0. Jangan biarkan peralatan gelas yang dibasahi larutan PVA sampai menjadi kering.j dengan menggunakan larutan PVA 0. Ulangi langkah c. Karena bila larutan tersebut kering.1oC.1oC.5 detik) dan catat hasilnya dalam laporan sementara. Pipet 3ml aseton ke dalam viscometer yang kering dan bersih. c. e. Metode a.f dengan mengganti aseton dengan larutan PVA 0. j.2. k. Lakukan langkah ini triplo (perbedaan ketiga waktu yang diperoleh tidak boleh melebihi 0. b. Ulangi langkah c. akan sangat sulit untuk 32 . Ulangi langkah h. Ukurlah waktu aliran anta ra 2 tanda untuk larutan itu seperti dilakukan dalam langkah f. Kemudian 3 ml larutan dikeluarkan dari viscometer dengan menggunakan pipet. Prosedur pengenceran ini siulangi sekali lagi dan waktu aliran diukur. i. g. Caranya adalah dengan jalan menghisap larutan melalui pipas plastik sampai cairan berada di atas tanda pada bagian atas viskometer. Peralatan  Viscometer Ostwald  Penangas air  Statif dan klem  Stopwatch  Labu ukur 50  Pipet ukur atau ppet volume 5 ml  PVA  Aseton  Akuades  KOH 10% 2. PERALATAN DAN METODE 2. Bersihkan bagian dalam viscometer dengan menggunakan aseton dan keringkan viscometer tersebut menggunakan pompa vakum (atau tempatkan viscometer tersebut pada oven bersuhu 50oC) o d.45 g PVa dalam beaker gelas kemudian dilarutkan dalam 40 ml akuades panas.9% dan suhu penangas air 35 ± 0. Ukur waktu yang diperlukan larutan untuk melewati jarak antara 2 tanda yang terdapat pada viscometer (waktu alir). larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml dan digenapkan dengan akuades sampai batas tera. f.f dengan mengganti aseton dengan akuades h. Siapkan larutan PVA (Polyvinyl alcohol) o. l. Catatan: a. catat waktu yang dibutuhkan untuk melalui jarak antara kedua tanda tersebut.9% dengan cara : timbang 0.9% dan suhu penangas air 45 ± 0. Bersihkan bagian dalam viscometer Ostwald dengan menggunakan larutan sabun atau 10% KOH dalam etanol kemudian dibersihkan dengan akuades. Ulangi langkah h. Kemudian biarkan cairan itu mengalir turun. Setelah PVA larut.2. Pipet 3ml akuades ke dalam viscometer dan kocok dengan larutan polimer.9%.1. Pasanglah viscometer dalam penangas air C seperti ditunjukkan pada gambar diatas. Bersihkan bagian dalam viscometer dengan menggunakan aseton dan keringkan viscometer tersebut menggunakan pompa vakum (atau tempatkan viscometer tersebut pada oven bersuhu 50oC).

2? 6. Hitunglah massa molar rata. b. hitunglah nilai konstanta dan C dalam persamaan dibawah ini: / = B t. Bila anda akan mengeringkan peralatandengan menggunakan aseton pastikan bahwa polimer sudag hilang sebelum membilas dengan aseton.dibersihkan.masing suhu. percobaan 13. Viskositas intrinsic [] 2.5x10-5 . Proses pelarutan PVA termasuk proses yang lambat.sebaliknya dalam perhitungan bukan nilai viskositas  tetapi nilai waktu t yang dipakai. Viskomsitas spesifik sp b. Bagaimana struktur kimia PVA? b. Arti fisis manakah yang dapat diberikan kepada: a.C/t Densitas dan viskositas spesifik pada suhu 25oC dari aseton dan air dibutuhkan untuk perhitungan ini 7. Selalu bilas langsung dengan banyak air (terutama untuk pipet dan viskometer). b. Hitunglah viskositas intrinsik [] untuk masing. Coba jelaskan mengapa sulit untuk memebersihkan lagi permukaan gelas berlapis PVA yang sudah kering? 4. Jelaskan mengapa hal ini diperbolehkan? 5.3. Mengapa penting untuk menggunakan thermostat pada percobaan ini? 3.masing suhu! 10. Kalibrasi viscometer sebaiknya dilakukan pada saat larutan PVA dibuat. apakah limbah boleh dibuang dalam wastafel? 7. Atkins. c. buatlah kurva sp/c sebagai fungsi c dan kurva 1/c ln (/0) sebagai fungsi c untuk masing. a. Untuk larutan PVA dalam air. Diketahui : sudut ikatan = 109oC . Bab 23. a. Dengan data hasil kalibrasi menggunakan akuades dan aseton. TUGAS AWAL 1. Acuan: Bird.rata polimer itu! b. jarak ikatan C-C = 154 pm. Apakah diperlukan tindakan tertentu sehubungan dengan keslamatan praktikum? b. Kesalahan apa yang terdapat dalam gambar 13. Buat diagram alir percobaan ini! 4. Hitunglah nilai viskositas spesifik sp untuk masing. Tentukan jumlah satuan (monomer) rata. Perkirakat ralat dalammassa molar! 11. a. Hitunglah nilasi viskositas dalam milipoise dari larutan PVA dengan menggunakan persamaan pada nomor 2 diatas! 8.3. PENYELESAIAN LAPORAN 5.3 33 . Hitunglah panjang kira-kira dari molekul itu. a= 0. 3. a. Massa molar PVA akan ditentukan dengan mengukur viskositas larutan polimer tersebut.masing larutan dan hitung nilai Standar Deviasi-nya 6. Busa atau gelembung udara tidak boleh terbentuk pada pembuatan PVA atau pada saat pencampuran larutan polimer dengan air didalam viscometer.masing PVA pada masingmasing suhu! 9.rata waktu aliran masing.rata yang terdapat pada molekul ini! 12. tetapan dalam persamaan (3) pada suhu 30oC adalah k = 15. Perkirakan ralat dalam nilai [] untuk masing.masing suhu! c. Hitung rata.76.

1 detik) III (± 0.45% PVA 0.45% PVA 0.1oC Larutan PVA 0.1 detik) I (± 0.225% Suhu penangas : 45 ± 0.9% PVA 0.9% PVA 0.1 detik) : : : : : Laboran Asisten Praktikan 34 .1 detik) II (± 0.1oC Larutan PVA 0.45% PVA 0.1 detik) I (± 0.1 detik) III (± 0.1 detik) III (± 0.1oC Larutan Aseton Akuades PVA 0.1 detik) II (± 0.9% PVA 0.LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I Nama/ NIM Kelompok Tanggal Praktikum Judul Alat dan bahan Suhu penangas : 25 ± 0.225% Suhu penangas : 35 ± 0.225% I (± 0.1 detik) II (± 0.

bentuk dari molekul polimer menjadi lebih teratur atau entropi dari karet berkurang. tetapi dengan menggunakan hubungan Maxwell untuk regangan karet menjadi : * + * + ………………………………………………………………(2) (1) dapat ditulis sebagai : F =* + * + ……………………………………………………………….Dengan menggunakan statistik. volume boleh dianggap tetap (mengapa?). nilai entropi dapat dihitung sebagai fungsi regangan 35 . Kalau suhu naik.PdV + Fdl Dimana : F = gaya regang l = panjang karet gelang Pada proses regangan dalam praktek. TERMODINAMIKA KARET 1.(1) Suku-suku pada ruas kanan sukar diukur langsung. Karena itu. Kalau tidak ada gaya yang dikerjakan.5. tetapi akan mencapai panjang awal kembali kalau gaya tidak bekerja lagi. Karena itu untuk regangan pada suhu tetap berlaku : F =* + * + ………………………………………………………………. sifat elastisitas dari karet tergantung dari suhu dan dapat dianalisa secara termodinamis. dari ini * + * + dapat dihitung. keadaan dakil zat akan cenderung lebih acak. Karena itu dapat diduga bahwa F yang diperlukan untuk perpanjangan tertentu akan menjadi lebih besar pula. 1. Ini disebabkab adanya ikatan silang yang berada di antara polimer-polimer. Karet gelang dapat diregangkan oleh gaya tertentu. Alat ukur regangan karet Menurut hokum pertama untuk proses diferensial : δU = δQ + δW = TdS. ini berarti dV = 0. Karet yang tervulkanisasi mempunyai sifat elastic yang baik.(3) F dan * + dapat diukur. Gb. PENDAHULUAN Karet adalah polimer alam.

dapat ditentukan sejauh mana model kumparan acak dapat digunakan untuk karet yang tervulkanisasi. F berbanding lurus dengan T untuk regangan tertentu. Dengan pengukuran F pada beberapa variasi suhu. F dan T (=T1). Panjang (=l) dari sebuah karet gelang dapat diatur dengan menggeser batang kaca. TUGAS AWAL 1. 2. Volume air ini kemudian dibagi lima untuk untuk mengukur l sebagai fungsi F (ada 6 kali pengukuran dengan volume air yang berbeda). Dua seri ini kemudian diulangi dengan urutan dibalik. Perkirakan seberapa teliti semua pengukuran dapat dilakukan. Dari ini dapat diturunkan bahwa untuk regangan terbatas Hukum Hooke berlaku dan betul bahwa: F = kΔl. Karet gelang yang akan digunakan harus diperlakukan secara termis sebelumnya : karet gelang (panjang lo) diregangkan sampai bertambah panjang 1.(4) Atau F = kl + c ………………………………………………………………………………(5a) = pTl + c ……………………………………………………………………………. B. ………………………………. 2. tunggu sampai kesetimbangan tercapai.5 Δlmaks. satu dari regangan maksimal ke regangan minimal. Setiap kali mengukur.(ide anda sendiri) 3.(5b) Menurut model ini. keadaan setimbang dapat tercapai. Kalibrasi Peralatan Kalibrasikan peralatan yang digunakan : a.). Ramalkan bentuk grafik untuk gaya regang (F) sebagai fungsi panjang (l)! 36 . Buat pula empat seri pengukuran seperti diatas untuk T2 dengan jalan mengalirkan air panas ke dalam thermostat dan ditunggu sampai kesetimbangan termal tercapai.1). A. dengan k = pT (p=tetapan)……………………………………………………..5 kali Δl maksimal ( sehingga panjangnya menjadi lo + 1. Turunkanlah hubungan (2)! a. c. PERALATAN DAN METODA Peralatan yang akan digunakan digambarkan secara skematis seperti pada gambar di atas (Gb. Pengukuran F sebagai fungsi panjang (l) dan suhu (T) dari karet Mulailah dengan mengukur F sebagai fungsi l pada suhu laboratorium. (Kalau ada waktu) periksa apakah F dapat dihitung langsung dari massa (kaleng+air) atau apakah koreksi tertentu dapat dibuat. Buatlah empat seri pengukuran. Catatan : Usahakan volume air yang digunakan untuk setiap seri pengukuran selalu sama sehingga memudahkan perhitungan. Dengan memasukkan air ke dalam kaleng.untuk karet gelang yang dibuat dari zat polimer yang terdiri dari kumparam acak. b. Suhu karet dapat diatur dengan suhu air yang masuk ke dalam pipa thermostat berdinding rangkap yang mengelilingi karet. Harus dipanaskan selama 5 menit dalam air bersuhu 90oC (sehingga perubahan bentuk tak elastic sudah terjadi). Periksa dulu regangan maksimal yang dapat digunakan pada peralatan dan tentukan berapa volume air harus dimasukkan ke dalam kaleng untuk mencapai regangan maksimum ini. yang kedua sebaliknya. Catat l. dari massa (air+kaleng) nilai F dapat dihitung.

Rencanakan percobaan untuk meneliti apakah anggapan ini berlaku ! a. 531-533 37 . Jelaskan mengapa pengukuran dengan F=0 tidak perlu dimasukkan dalam seri pengukuran b. T. bila F=0 b. pada T1 dan T2 b.4. Perlihatkan cara penentuan : b. Raqlat dalam F b. PENYELESAIAN LAPORAN 4. Gambarkan sebuah grafik dari F sebagai fungsi l pada masing-masing T1 dan T2 (termasuk persegi panjang ralat)! Dari grafik-grafik ini hitunglah (kalau perlu gunakan bagian grafik yang linier saja): a.1. 71. Pg. nilai k persamaan (4) dan (5) Buatlah diagram alir dari percobaan ini! 4. Nilai l. Berdasarkan hasil percobaan : bolehkah model kumparan acak digunakan untuk karet ? Beri penjelasan ! 10.2. (periksa sendiri pada waktu percobaan dilakukan). Ed. Hitunglah untuk masing-masing T1 dan T2 pada setiap volume air yang digunakan : a. 9. Periksa apakah k = aT berlaku ! b. Gunakan ralat ini untuk memperkirakan ralat dari perhitungan pertanyaan 6 pada Δl = Δl yang maksimal! Dalam perhitungan dianggap bahwa nilai dari * + dan * + tidak tergantung dari 8. Nilai dari k (persamaan 5a). b. Gaya regang F a. a.3. J.3.2. 7.2. Byrne. a.1. Kerjakan persamaan (1) pada Δl = Δl maksimal ! Acuan : Atkins Bab 5 J. Nilai dari * + * + sebagai fungsi panjang l Hitung nilai dari * + dan * + pada suhu T1 ! 5. Ralat dalam l a. Nilai dari F sebagai fungsi panjang l pada T1 (=F1) dan T2 (=F2). Chem. Rubber Elasticity. Beri penjelasan ! b.P. persamaan (5a) c. 6. Perkirakan ralat dalam nilai k dan c persamaan (5a) yang ditentukan dari grafik. Dalam praktek tidak mungkin mengukur l kalau F=0.2. 1994.2.1. Nilai rata-rata l a. Dengan menggunakan grafik : b.

minimal V.LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I Nama/ NIM Kelompok Tanggal Praktikum Judul Alat dan bahan : : : : : Hasil Percobaan : A. air (ml) L1 (cm) L2 (cm) Maksimal .minimal V. Pengukuran pada T2=……oC Minimal . Pengukuran pada T1=……oC Minimal . air (ml) L1 (cm) L2 (cm) Laboran Asisten Praktikan 38 . Pengukuran F sebagai fungsi panjang (l) dan suhu (T) dari karet Massa kaleng = Suhu ruang = A1.maksimal V.maksimal V. air (ml) L1 (cm) L2 (cm) Maksimal . air (ml) L1 (cm) L2 (cm) A2.

[ [ [ ] ] ] ] [ [ ] -. (A) Larutan natrium hidroksida (NaOH) bebas karbonat dipersiapkan dan distandarisasi dengan asam oksalat.log10 Ka. TITRASI POTENSIOMETRI CAMPURAN ASAM 1. maka : ( ) [ [ ][ ] ] ( ) pKa = . 2. akan ditentukan komposisi kuantitatif suatu larutan yang merupakan campuran dari asam kuat bervalensi satu dengan asam lemah bervalensi 3. PENDAHULUAN Asam kuat seperti asam Hidroklorida (HCl) dapat terdisosiasi sempurna dalam air. karena pada literatur menunjukkan nilai termodinamik pada kekuatan ionik = 0. menggunakan metoda titrasi potensiometri.log Ka pKa = -[(log aH+) + log (aA-) – log (aHA)] pH = -log (aH+) pKa = pH + log (aHA) – log (aA-) pKa = pH pKa = pH – log . (B) 4 atau 3 kali dari masing-masing 1 ml larutan asam akan digunakan untuk titrasi potensiometri. Keasaman relatif dari asam dan basa biasanya dinyatakan dalam pKa = . Akan tetapi asam lemah. 39 . Percobaan ini ditujukan untuk memperkenalkan tentang analisis volumetrik kuantitatif serta metoda titrasi volumetri. pKa merupakan – log Ka pada kekuatan ionik dari larutan. HA → H+ + AJika a A-.6. TUJUAN PERCOBAAN Pada percobaan ini. Persamaan ini sangat berguna pada daerah buffer dari titrasi sebuah asam lemah. maka : pH = pKa + log ([ ) Persamaan ini sama dengan persamaan Henderson. jika [ ] [ ] ]  1. dimana Ka merupakan nilai disosiasi konstan untuk reaksi tersebut. konsentrasi molar dan koefisien aktivitas dari basa konjugasi A-.Hasselbacich. larutan NaOH ini selanjutnya akan digunakan untuk titrasi potensiometri dari campuran asam. Tepatlah jika nilai dari Ka yang diperoleh akan sedikitmenyimpang dari nilai yang terdapat pada literatur standard. seperti asam asetat hanya terdisosiasi sebagian. [A-] dan γA menyatakan masing-masing aktivitas. Besarnya disosiasi dapat dihitung dari nilai ekuilibrium konstan dan banyaknya asam lemahdan basa kuat yang ditambahkan dalam larutan. Masing-masing titrasi harus dilanjutkan untuk mendapatkan 2 titik ekuivalensi.

dimana beberapa diantaranya harus digunakan dan ditangani dengan hati-hati untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Jika NaOH mengenai kulit. Natrium Hidroksida (NaOH) NaOH sangat keras dan harus ditangani dengan hati-hati. juga harus dicegah kontak antara bahan kimia tersebut dengan kulit kita atau mata kita. Bahan-bahan kimia yang digunakan antara lain : 1. Catatan : pKa merupakan nilai pH dimana aktivitas asam Ha dan basa konjugasinya Aadalah sama. Untuk asam bervalensi 3. segera cuci dengan air sebanyak-banyaknya. berturut-turut nilai disosiasi konstan.+ H+ K1 = [H2A-][H+] / [H3A] 2+ H2A = HA + H K1 = [HA2-][H+] / [H2A-] HA2. 40 . 3. didefinisikan sebagai berikut : H3A = H2A. baik bagi tubuh kita maupun bagi lingkungan sekitar.Gambar 1 Kurva karakteristik dari sebuah titrasi potensiometri untuk menentukan titik ekuivalen dan nilai pKa dari asam bervalensi 1. ALAT DAN BAHAN Dalam percobaan ini banyak bahan kimia akan digunakan.= A3. nilai-nilai ini sering dipakai untuk menyatakan dalam miliekuivalen.+ H+ K1 = [A3-][H+] / [HA2-] Nilai normalitas dari sebuah larutan asam merupakan jumlah ekuivalen per liter (mol per liter) dari proton yang dapat mengalami disosiasi. Pada titrasi larutan asam dan basa. Normalitas asam bervalensi 3 adalah 3 kali molaritas asam bervalensi 1. Normalitas suatu larutan basa adalah sama dengan jumlah ekuivalen dari asam yang dinetralkannya. Tidak ada dari bahan-bahan ini yang dapat ditelan. Usahakan jangan sampai mengenai tangan atau pakaian.

Tidak beracun dan biasanya digunakan sebagai pemberi rasa dalam makanan dan aplikasi komersial lainnya. masukkan larutan NaOH yang akan digunakan untuk titrasi. akan tetapi jika titik akhir titrasi sudah dekat harus dilakukan pengamatan dengan teliti. Gunakan dengan tindakan pencegahan yang biasa. 2. 4. sampai warna merah muda.05 M Sebanyak 0. Penyiapan larutan NaOH 0. dimana HCl ini sedikit lebih beracun daripada HCl konsentrat (murni). CARA KERJA 1. Mr = 126 g/mol) 4. kemudian dimasukkan dalam erlenmeyer dan tambahkan 10 ml akuades. Hilangkan gelembung udara yang ada pada bagian bawah kran pengatur dengan cara membuka kran beberapa saat sampai tidak ada gelembung lagi. Warna ideal titik akhir titrasi adalah merah muda pucat. miringkan posisi buret agar semua bagian dalam buret dapat terbilas oleh larutan. Gunakan dengan tindakan pencegahan yang biasa. 3. bilas tiga kali dengan 2 ml larutan tersebut dan buang larutan yang digunakan untuk membilas. Setelah selesai membilas. Biasanya terdapat dalam bentuk hidrat (H2C2O4 .05 M Buatlah 500 ml larutan NaOH 0. Jika mengenai tangan atau pakaian. Asam Hidroklorida Cegah kontak langsung antara asam dengan kulit atau pakaian.2. Pada saat membilas. segera cuci sebanyakbanyaknya dengan air bersih. Standarisasi larutan NaOH 0. seperti : jangan ditelan serta jauhkan dari kulit dan mata. Phenolphthalein Bahan kimia ini merupakan sebuah senyawa organik yang beracun dalam jumlah yang banyak. 41 . Asam Oksalat Asam oksalat merupakan standar primer. HCl terlarut digunakan dalam percobaan ini. Usahakan untuk mendapatkanwarna merah muda yang sama pada tiap titik akhir titrasi tiap ulangan.1 g asam oksalat pentahidrat ditimbang dengan ketelitian ±10-4. 2 tetes indikator penolphthalein ditambahkan ke dalam erlenmeyer tersebut dan dititrasi dengan larutan NaOH yang akan distandarisasi. 5. Asam Phosphate (H3PO4) Larutan konsentratnya dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan membran lendir.  Titrasi dilakukan dengan cepat.05 M dari NaOH padat yang disediakan. Catatan :  Setiap kali mengisi buret dengan larutan. 5H2O.

5 ml larutan titran. pipetkan sebanyak 1 ml larutan campuran asam yang telah disediakan ke dalam beaker glass dan tambahkan 19 ml akuades. untuk 42 . tentukan kedua titik ekuivalennya dan beri tanda garis vertikal yang melalui titik tersebut sampai memotong sumbu x.3. 5. Analisalah grafik hubungan pH larutan dengan volume penambahan NaOH standar menggunakan program grafikal seperti microsoft excel atau program grafikal yang lain. Setelah diperoleh titik ekuivalen 2. Titrasi campuran asam (HCl dan H3PO4) Dengan menggunakan pipet volume. (Titik ekuivalen dapat dilihat dari perubahan nilai pH yang tajam). Untuk masing-masing titrasi. Ukur pH larutan tiap penambahan 0. Permukaan beaker dialasi dengan kertas untuk mencegah pemanasan larutan oleh magnetik stirer. elektrode pH dipindahkan dan dicuci dengan akuades. Pasang elektrode dan buret. Biarkan elektrode tercelup dalam akuades selama ± 15 menit sebelum titrasi kedua dilakukan. PENYELESAIAN LAPORAN 1. lanjutkan titrasi sampai diperoleh titik ekuivalen 1 dan titik ekuivalen 2. pastikan ujung elektrode tidak menyentuh magnetik stir jika diputar. Masukkan sebuah magnetik stir ke dalam beaker tersebut. Lakukan kalibrasi pH meter yang akan digunakan untuk mengukur pH larutan selama titrasi dengan menggunakan larutan buffer pH 7. Lakukan pengulangan titrasi sebanyak tiga kali. untuk masing-masing titrasi ! 2. lanjutkan titrasi sampai diperoleh 5 data lagi. Catatan : Setelah titrasi pertama selesai. Cuci elektrode pH meter dengan akuades dalam beaker kosong.

Karena titrasi tidak dilanjutkan untuk mendapatkan nilai pKa3. Berikan juga nilai ketidak pastian (ralat) dalam perhitungan molaritas tersebut. jika nilai pKa3 didekati dengan ekstrapolasi.mendapatkan volume NaOH yang ditambahkan untuk mencapai titik ekuivalen masing-masing titrasi. akan tetapi nilai pKa ini dapat ditentukan dengan menggunakan data hasil percobaan. a. Apakah nilai pKa2 dari hasil percobaan sama dengan nilai pada literatur ? b. Hitung nilai pKa2 dari H3PO4 dan ujilah kebenaran dari persamaan HendersonHasselbalch dengan menghitung menggunakan titik-titik lain pada bagian kurva titrasi. Bagian dari kurva titrasi diantara kedua titik ekuivalen harus mengikuti persamaan Henderson-Hasselbalch. Walaupun dari titrasi ini tidak dapat dihasilkan nilai pKa1 dan pKa3. Dari volume sampel dan selisih antara titik ekuivalen pertama dan kedua. Data manakah itu ? c. hitung molaritas HCl dan H3PO4 dalam sampel. 3. Apakah masing-masing titrasi menghasilkan nilai molaritas yang sama ? 43 . tentukan nilai pKa3 berdasarkan bentuk kurva pada titik dimana titrasi berakhir. 4.

5 3.05 M Vol.0 1. Penyiapan larutan NaOH 0. Standarisasi larutan NaOH 0.5 II III Vol.5 2. NaOH (ml) I II III 0.0 2. NaOH 0.LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I Nama/ NIM Kelompok Tanggal Praktikum Judul Alat dan bahan : : : : : 1. Titrasi campuran asam (HCl dan H3PO4) pH Vol.5 1.05 M 2.0 3. NaOH (ml) I pH II III 44 .05 M (ml) I Awal Akhir Yang ditambahkan 3.

NaOH (ml) I pH II III Vol.Vol. NaOH (ml) I pH II III Laboran Asisten Praktikan 45 .

Berat lapisan secara teoritis (Bt) dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan : dan ketebalan lapisan secara teoritis (Kt) dapat diperoleh menggunakan persamaan : di mana: I adalah arus (Ampere) t adalah waktu pelapisan (sekon) Wa adalah berat ekuivalen kimia logam pelapis (gram) F adalah konstanta Faraday (coulombs) r adalah densitas logam pelapis (g/cm3) A adalah luas permukaan logam yang dilapisi (cm2) Efisiensi arus dapat diketahui melalui perbandingan berat lapisan hasil eksperimen (Be) dengan berat lapisan hasil analisis perhitungan (Bt). anoda. PENDAHULUAN Sistem elektroplating merupakan suatu rangkaian yang terdiri dari bak terdiri larutan elektrolit. Proses elektroplating merupakan proses pelapisan logam dengan bantuan arus listrik yang berlangsung secara reaksi reduksi oksidasi dari logam pelapis (sebagai anoda korban teroksidasi) ke benda kerja (sebagai katoda yang dilapisi). dan katoda. PELAPISAN TEMBAGA (ELEKTROPLATING) 1. Anoda dan katoda terendam dalam larutan elektrolit yang masing-masing berhubungan dengan sumber arus listrik.→ Mo dan untuk mengimbangi reaksi tersebut pada anoda berlangsung pelepasan elektron dengan reaksi : M1 → M1n+ + nePelapisan dengan metode elektroplating mengikuti hukum Faraday. sehingga proses pengendapan berlangsung di katoda yang berdampak pada penambahan ketebalan dan berat benda kerja. Dengan demikian berat dan ketebalan rata-rata dari suatu lapisan elektroplating dari suatu logam dapat dihitung dengan menggunakan parameter arus. luas permukaan logam yang dilapisi dan berat ekuivalen kimia logam pelapis. waktu pelapisan. 46 . filter beserta pompa. yaitu : Mn+ + ne. Proses pelapisan dari logam pelapis ke logam yang dilapisi berlangsung secara reaksi reduksi oksidasi (redoks). yaitu jumlah logam yang terdekomposisi karena elektrolisis berbanding langsung dengan jumlah arus yang melewati larutan dan sebanding dengan berat ekuivalen kimia logam pelapis. Pada katoda terjadi proses penangkapan elektron sedangkan pada anoda terjadi reaksi pelepasan elektron. Anoda berhubungan dengan kutub positif sumber listrik dan katoda (sebagai benda kerja) berhubungan dengan kutub negatif sumber listrik. yaitu : Efisiensi arus yang semakin tinggi mendekati satu menunjukkan bahwa proses pelapisan logam terjadi secara sempurna.7. sumber arus listrik searah.

Dari hasil soal a. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut: Siapkan tembaga dan uang logam. Apakah penyebab munculnya gelembung tersebut? b. Hitunglah ralat dalam arus! 4. Sebutkan aplikasi lain dari pelapisan logam secara listrik! Minimal 3 macam serta jelaskan analisa anda tentang: a. Larutan hasil campuran NaCl dan asam cuka. Catat perubahan massa uang logam dan Cu setelah proses elektroplating. Dorong bagian kawat yang bebas dari tiap-tiap kawat menembus kertas karton persegi dan menempatkan kawat tersebut di atas beker sehingga elektroda uang logam tercelup ke dalam larutan elektrolit (kedua elektroda jangan disentuh) Percobaan ini dilakukan dengan melakukan beberapa variasi waktu dan arus. Timbang massa uang logam sebelum dan sesudah percobaan dilakukan. Masalah yang sering timbul dalam elektroplating adalah munculnya gelembung pada larutan elektrolit. 10. dan 15 menit. 1. Larutan ini digunakan untuk mencuci uang logam yang akan digunakan untuk pelapisan. 2. Bagaimana cara mengatasi apabila hal itu terjadi? 3. Hubungkan kawat penghubung dengan klip penjepit buaya ke ujung sumber tegangan. a. LAPORAN RESMI 1.2. uang logam terlebih dahulu dicuci dengan larutan yang telah dibuat. untuk tiap-tiap variasi arus dilakukan selama 5. Massa teoritis dan massa hasil percobaan b. 5. Perbedaan dan persamaannya dengan pelapisan tembaga b. CARA KERJA Larutan yang dibutuhkan dalam percobaan ini adalah: 1. larutan dibuat dari 20 gram CuSO4.5H2O ditambah dengan 2. setelah itu bilas dan keringkan (uang logam yang telah digunakan tidak boleh diedarkan kembali). 3. Ketebalan secara teoritis c. Efisiensi arus yang anda gunakan 2. Dari percobaan yang telah anda lakukan.1 – 0. Kencangkan satu klip penjepit pada uang logam pada katoda dan satu klip lainnya tembaga pada anoda.5 ml H2SO4 pekat membuat 100 ml larutan. Tuangkan larutan elektrolit yang telah dibuat ke dalam gelas beker sebanyak 100 ml (larutan ini dapat disimpan untuk digunakan kembali) 3. 2.3 Ampere. Larutan elektrolit. mencampurkan 3 gram NaCl dan 5 ml asam cuka. Arus yang digunakan adalah 0. hitung: a. 4. apakah ada metode yang perlu diperbaiki dalam percobaan yang anda lakukan? Jelaskan alasannya! 47 .

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I Nama/ NIM Kelompok Tanggal Praktikum Judul Alat dan bahan : : : : : Laboran Asisten Praktikan 48 .

Karena titik lebur naphthalene kira-kira 80oC. pada awal volume air raksa dalam reservoir termometer dapat diatur sehingga titik lebur naphthalene yang murni berada pada garis skala. sehingga proses pendinginan akan berlangsung secara perlahan. Ini berarti. 49 . LATAR BELAKANG Kalau asam benzoat C6H5COOH (HBnz) larut dalam naphthalene. berdasarkan massa asam benzoat yang ditimbang..(2b) 2.. Skala dari termometer Beckmann adalah skala relatif. ada kemungkinan bahwa dimmer akan terbentuk melalui kesetimbangan : 2 HBnz (naphthalene)  (HBnz)2 (naphthalene).8. Dari ini dapat dihitung : [HBnz] =2mc – m …………………………………………………(2a) [(HBnz)2] = m – mc …………………………………………………. Kemudian molalitas efektif m e. dengan K=K/molalitas untuk naphthalenen.………………………(1) Pada percobaan ini akan diteliti dalam bentuk manakah asam benzoat akan larut dalam naphthalene. Untuk ini akan dibuat larutan asam benzoat dalam naphthalene dengan molalitas m. Kemudian nilai T dapat diukur dengan membandingkan pembacaan skala pada titik beku dari naphthalene yang murni dan pada titik beku dari larutan asam benzoat dalam naphthalene. CARA KERJA Peralatan yang digunakan adalah satu set peralatan „Beckmann” (lihat gambar) Bagian khas dari peralatan ini adalah termometer Beckmann : termometer air raksa dengan skala sampai 1/100oK. dimmer atau menurut kesetimbangan (1). suhu dapat diperkirakan sampai 2/1000oK. maka sebaiknya tabung yang berisi naphthalene cair dimasukkan ke dalam wadah yang berisi air bersuhu kira-kira 75oC. PENURUNAN TITIK BEKU 1. Dalam bentuk monomer.

ke dalam cairan terlampau dingin sehingga kristalisasi akan mulai (“penaburan” dari cairan terlampau dingin). J. Penentuan kurva pendinginan naphthalene Kalibrasi Termometer Masukkan kira-kira 25 g naphthalene ke dalam tabung peralatan beckmann. 8th ed. sedikit kristal naphthalene dapat dimasukkan dengan batang pengaduk. B. Catat suhu saat naphthalene mulai melebur dengan termometer biasa (ketelitian ± 0. Kitchener. Rangkai peralatan beckmann sesuai gambar. lanjutkan pemanasan sampai semua naphthalene yang membeku pada kaca termometer mencair. Pastikan bahwa :  Tabung bagian dalam tidak menyentuh tabung bagian luar sehingga pendinginan akan terjadi secara perlahan-lahan (“hollow plug of expanded polystyrene”)  Reservoir air raksa termometer beckmann seluruhnya tercelup ke di dalam naphthalene dan tidak menyentuh dinding tabung reaksi (lihat gambar)  Naphthalene dapat diaduk dengan mudah. Setelah semua naphthalene melebur. Panaskan tabung berisi naphthalene dalam waterbath sampai semua naphthalene melebur. Matikan api untuk menurunkan suhu waterbath. Catat suhu beku naphthalene dengan termometer biasa dan termometer beckmann. B. Pasang batang pengaduk. Penentuan kurva pendinginan naphthalene Panaskan lagi tabung berisi naphthalene sampai semua naphthalene melebur dengan termometer beckmann tetap berada di dalam tabung tsb. masukkan termometer beckmann ke dalam tabung berisi naphthalene cair.1oC). Pada awal percobaan B anda akan tahu apakah setting termometer sudah baik atau belum. oleh karena itu harus dijaga agar air raksa yang berada pada reservoir tidak terhubung dengan air raksa yang berada dibagian bawah termometer. (Posisi termometer tidak boleh terbalik pada saat memindahkan atau membersihkan termometer).2.. A. 50 . Perhatian : jumlah air raksa tidak boleh berubah selama seluruh percobaan berlangsung.107109 (lampiran 2). Penyetelan Termometer Beckmann (perhatian : hati-hati menggunakan Termometer Beckmann karena mudah pecah dan hargangan sangat mahal !!!) Jumlah air raksa dalam reservoir termometer beckmann harus di setting. Practical Physical Chemistry. tunggu sampai naphthalene mulai membeku. Longman. A. Findlay. hal.Ada kemungkinan bahwa pada proses pendinginan akan terbentuk cairan terlampau dingin.1. tutup tabung dengan sumbat kapas untuk menghindari penguapan. Kristal yang dimasukkan sedikit saja karena massa naphthalene seharusnya tetap selama percobaan. sehingga pada pengukuran naphthalene yang murni akan membeku pada saat pembacaan berada pada skala termometer. B. Jika belum laporkan kepada asisten. 1954. Untuk percobaan ini termometer beckmann sudah diset dengan baik. Cara setting termometer dapat anda baca pada lampiran A. Kalau perlu. lanjutkan pemanasan sampai semua naphthalene yang membeku pada batang pengaduk mencair.

Lakukan prosedur pembersihan sisa naphthalene dengan hati-hati. cairan dapat ditaburi dengan kristal naphthalene. 3. Sesudah titik beku yang stabil tercapai. Catatan : Cara untuk membersihkan naphthalene : Lebur naphthalene dan tuang semuanya ke dalam tempat limbah organik. Tambahkan lagi sejumlah asam benzoat dengan massa yang sama dengan percobaan sebelumnya. Jelaskan perbedaan antara kurva (a) dan (c) ! 51 . TUGAS AWAL 1.5oC di bawah titik beku yang diharapkan dan kristal-kristal belum terbentuk. Masukkan secara kuantitatif ke dalam tabung berisi naphthalene yang sudah terlebur lagi. Cuci tabung dengan menambahkan spiritus hangat ke dalam tabung. Aduk naphthalene secara teratur kira-kira 2 detik sekali. Jika suhu turun lebih dari 0. (timbang botol timbang sekali lagi sesudah asam benzoat dimasukkan dan hitung massa asam benzoat yang ditambahkan dari selisih massa awal dikurangi akhir).2. Kemudian tentukan kurva pendinginan dari larutan dengan cara yang sama dengan percobaan bagian B. Lakukan percobaan ini secara duplo. Perhatian : jangan menambahkan spiritus pada saat api masih menyala. ke dalam waterbath bersuhu ± 75oC.Pindahkan tabung berisi naphthalene yang sudah mencair seluruhnya. karena peralatan mudah pecah. teruskan pengukuran selama 5 menit sehingga nilai titik beku dapat diekstrapolasikan secara teliti dari kurva pendinginan. karena mudah terbakar!!! Naphthalene yang menempel pada termometer beckmann dan batang pengaduk dapat dibersihkan dengan menggosoknya menggunakan kertas. Ukur suhu sebagai fungsi waktu. lihat bagian tugas awal kemudian lakukan penghitungan). sehingga diperoleh massa asam benzoat yang ditambahkan sebesar dua kali massa asam benzoat percobaan sebelumnya. Penentuan kurva pendinginan larutan asam benzoat Timbanglah sejumlah asam benzoat sesuai dengan yang dihitung pada tugas awal (jika belum dihitung. Ulangi penentuan kurva pendinginan larutan seperti percobaan sebelumnya. Lihat kurva pendinginan berikut : a. C. Pastikan semua asam benzoat larut.

Apakah diperlukan tindakan tertentu ? b. Dari kurva pendinginan yang diukur : a.3 Petrucci. Tentukan penurunan titik beku (T) untuk semua larutan yang diteliti ! b. Perkirakan ralat dalam nilai m ! Hitunglah : a. Turunkan rumus (2a) dan (2b) ! Sehubungan dengan keselamatan praktikum : a. b. Ada kemungkinan bahwa dimmer asam benzoat akan terbentuk. 3. hitunglah : . Jika kesetimbangan (1) terjadi. Perkirakan ralat dalam nilai T ! Berdasarkan massa HBnz yang ditimbang : a. Acuan : Shoemaker.Nilai tetapan kesetimbangan (Km). 4. [HBnz] dan [(HBnz)2] ! b. Periksa hasil dan simpulkan. percobaan 6. hal 195-205 T. 9. Ekstrapolasi manakah yang betul dalam kurva (d) ? jelaskan ! Untuk mencapai penurunan titik beku sebesar kira-kira 0. Bird. dalam bentuk manakah asam benzoat larut dalam naphthalene ? d.9. 2. PENYELESAIAN LAPORAN 7.Naphthalene .Asam benzoat c. Hitunglah nilai m ! b. 5.b. Mengapa bagian kedua kurva (a) adalah garis horisontal sedangkan bagian kedua dari kurva (d) adalah garis miring ? c. Hitunglah massa asam benzoat yang harus dilarutkan dalam 25 ml naphthalene ? (anggaplah asam benzoat akan terlarut dalam bentuk senyawa tunggal) b. gunakan molalitas sebagai satuan konsentrasi ! . 6.7 oC : a. Ketelitian mana yang diperlukan untuk penentuan massa ? Jelaskan mengapa dalam pelarut naphthalene : a. 11. Apakah limbah boleh dibuang begitu saja ? jika tidak. Kemungkinan kecil bahwa asam benzoat akan terionisasi. Ralat dalam nilai ini ! c.Ralat dalam nilai ini ! 8.1 52 . 12. Neraca manakah yang akan digunakan untuk menimbang : . mengapa ? Buat diagram alir untuk percobaan ini ! 4.

1. Penentuan kurva pendinginan naphthalene Waktu (dt) T1 (oK) 0 10 20 30 40 50 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 390 T2(oK) Waktu (dt) T1 (oK) T2(oK) 53 . Penentuan kurva pendinginan naphthalene (duplo) B.2. Kalibrasi     Suhu lebur naphthalene dengan termometer biasa Suhu beku naphthalene dengan termometer biasa Suhu beku naphthalene dengan termometer beckmann Massa naphthalene = = = = B.LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I Nama/ NIM Kelompok Tanggal Praktikum Judul Alat dan bahan : : : : : B.

Penentuan kurva pendinginan larutan asam benzoat Massa asam benzoat (T1) Massa asam benzoat (T2) Waktu (dt) T1 (oK) 0 10 20 30 40 50 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 390 = = T2(oK) Waktu (dt) T1 (oK) T2(oK) Laboran Asisten Praktikan 54 .D.

Ukurlah: a.25 M) Reaksi ini akan dilaksanakan lewat dua jalan: Jalur A: Sejumlah serbuk Zn akan dimasukkan ke dalam larutan timbal (II) nitrat di dalam sebuah kalorimeter.9. Timbanglah serbuk Zn yang sedikit berlebihan. Maksud dari percobaan ini adalah untuk membandingkan besarnya perubahan energi masing-masing. PERUBAHAN-PERUBAHAN ENERGI PADA REAKSI KIMIA 1. tetapi tidak terlalu cepat. Laksanakan pengukuran ini secara duplo.25 M .25 M) / Pb (s) Potensial sel E akan diukur.2.25 M. Penentuan Energi Termis A. Perubahan suhu akan diukur. Dari ini akan dapat dihitung jumlah energi termis yang akan dilepaskan kalau 1 mol Pb akan terbentuk: Ua. pastikan bahwa tebal lapisan gel menjadi paling sedikit 2.25 M .1 M sampai kira-kira 90oC dan larutkan 4 g agar-agar di dalamnya. 25 ml ZnSO4 0. Mengapa? Lanjutkan pengukuran suhu sesudah reaksi selesai selama 5 menit.25 M) + Zn (s)  Pb (s) + Zn(NO3)2 (aq. 25 ml FeCl3 0. 0. Untuk semua jalur dapat diukur jumlah energi yang masuk atau ke luar sistem kimia pada waktu reaksi kimia berlangsung. A. 25 ml FeSO4 0. 0. kemudian masukkan serbuk Zn dan ukurlah perubahan suhu sebagai fungsi waktu. PERALATAN DAN METODE Buatlah 250 ml larutan Pb(NO3)2 yang berkonsentrasi 0. Reaksi yang akan diteliti adalah Pb(NO3)2 (aq. PENDAHULUAN Suatu reaksi kimia dapat berlangsung lewat jalur-jalur yang berbeda. Aduk secara teratur. Panaskan 100 ml KNO3 0. Dari ini akan dihitung jumlah energi elektrik maksimal yang akan dihasilkan kalau 1 mol Pb akan terbentuk: Ub = Q . Perhatikan: ukurlah pada percobaan ini juga nilai suhu selama 5 menit sebelum dan sesudah pemanasan listrik dilakukan. Pelaksanaan Reaksi Pipetlah 100 ml larutan timbal (II) nitrat yang sudah didinginkan ke dalam kalorimeter. 0.1. 0. Kapasitas Kalor Kalorimeter Tentukan kapasitas kalor dari kalorimeter dan isinya dengan mengukur jumlah energi yang diperlukan untuk mencapai kenaikan suhu yang sama. Tuanglah ke dalam sebuah cawan penguap gelas.25 M) // Pb(NO3)2 (aq. E dengan Q = muatan ion dari Pb2+ 2. A. Gunakan pemanas listrik dan atur besarnya arus listrik sehingga kecepatan pemanasan menjadi kira-kira sama dengan kecepatan pemanasan pada waktu reaksi A1 berjalan. Arus listrik 55 . Ukurlah suhu larutan di dalam kalorimeter selama 5 menit.5 cm. Jalur B: Reaksi yang sama akan berlangsung dalam sel elektrokimia Zn (s) / Zn(NO3)2 (aq.25 M .

PENYELESAIAN LAPORAN 1. potensial sel dari sel Zn (s) / ZnSO4 (aq 0.1 56 . Beda potensial (dijaga tetap) c. a. Penentuan Energi Listrik B. Beri komentar! b. 3. Masukkan ke dalam lubang masingmasing Pb(NO3)2 (aq 0. Perkirakan ralat dalam nilai ∆Ua! 3. a.25 M) B.3. Kontrol hasil pengukuran dengan mengukur potensial setengah sel masingmasing terhadap setengah sel Pt (s) / Fe2+ (aq 0.25 M) dan Fe3+ (aq 0.25 M) serta campuran dari Fe2+ (aq 0. Perkirakanlah ralat dalam nilai kapasitas kalor! 2. Pengukuran Potensial Sel Buatlah 3 lubang kecil dalam gel agar-agar. Hitunglah nilai baku untuk ∆Ua dan ∆Ub dengan menggunakan tabel-tabel termodinamika! d. Waktu pemanasan d.1. Ukurlah dengan pita kecil dari Pb (s) dan Zn (s) yang diamplas dengan baik.2. Periksa apakah didasarkan hokum kekekalan energy. Perkirakan ralat dalam nilai ∆Ub! 4. Hitunglah nilai ∆Ua dari hasil percobaan A1 atau A3! i. Beri komentar! Acuan: Bird. Perbaikan Metode Pengukuran (jika perlu) Untuk memperbaiki hasil ukur. Buatlah grafik dari suhu sebagai fungsi waktu untuk menentukan secara grafis perubahan suhu yang terkoreksi! ii. A. Laporkan perubahan mana yang dicoba dan hasil yang ditemukan. Hitunglah nilai kapasitas kalor sistem reaksi dari hasil percobaan A2 dan A3! b. Bandingkan hasil percobaan B1 dengan nilai literatur. B. harus berlaku ∆Ua = ∆Ub? b.25 M) // Pb(NO3)2 (aq 0. Gunakan juga pengukuran yang dibuat sebagai control. ZnSO4 (aq 0. percobaan 6. percobaan A1 dan A2 dapat diulangi dengan perubahan cara kerja tertentu. Nilai Muatan Molar Nilai muatan molar Q tidak akan ditentukan secara percobaan.b. Nilai dari literatur boleh digunakan. a. Hitunglah nilai ∆Ub! c. Lubang ini tidak boleh sampai dasar cawan sehingga tidak ada kebocoran. Nilai suhu sebagai fungsi waktu Laksanakan pengukuran ini secara duplo.25 M). a.25 M) / Pb (s) Gunakan voltmeter dengan hambatan dalam yang sangat besar. Nama-nama apakah yang diberikan kepada ∆Ua dan ∆Ub dalam termodinamika? c. Hitunglah nilai dari ∆Ua! b.25 M). Bandingkan hasil yang dihitung dengan hasil yang ditemukan dari percobaan.

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I Nama/ NIM Kelompok Tanggal Praktikum Judul Alat dan bahan : : : : : Laboran Asisten Praktikan 57 .

Nilai massa jenis suatu zat adalah tetap.000 kg/m3. tembaga dan kuningan Bandul timbangan berbagai ukuran Densitometer Botol timbang Pipet ukur 10 ml Pillius ball 58 . Secara matematis dirumuskan : Dimana :  = massa jenis zat (g/cm3 atau kg/m3). tidak tergantung pada massa maupun volume zat. untuk lebih teliti dalam menentukan massa jenis dapat dilakukan dengan mengukur massanya saja dengan massa jenis air. dengan demikian untuk mengetahui massa jenis relatif suatu zat selalu akan menggunakan perbandingan massa jenis zat dengan bilangan 1 g/cm3 atau 1. Contoh dari sifat intensif adalah densitas atau rapatan atau massa jenis suatu zat (Petrucci. pembuatan kapal. oleh karenanya zat yang sejenis selalu mempunyai masssa jenis yang sama. aluminium. Karena massa jenis air merupakan bilangan yang mudah diingat. Jenis zat dapat diketahui dari massa jenisnya. MASSA JENIS ZAT 1. m = massa zat (g atau kg) dan V = volume benda (cm3 atau m3). antara lain : penentuan jenis logam yang cocok untuk pembuatan pesawat terbang. Ingat bahwa: Sehingga : Massa Jenis Bahan = Massa Jenis Relatif x Massa Jenis Air Penerapan prinsip massa jenis zat banyak kita jumpai dalam kehidupan seharihari. Oleh karenanya. PENDAHULUAN Suatu sifat yang besarnya tergantung pada jumlah bahan yang sedang diselidiki disebut sifat ekstensif. Massa jenis adalah kerapatan suatu zat yang diturunkan dari besaran massa dan volume. dll.10. galangan kapal. Dasar penggunaan massa jenis relative adalah sebagai berikut: Massa jenis merupakan besaran turunan dari massa dan volume yang dalam praktiknya pengukuran volume biasanya kurang teliti dibandingkan dengan pengukuran massa. ALAT-ALAT DAN BAHAN        Neraca Analitis dengan ketelitian 10-4g Balok logam besi. pengukuran konsentrasi zat. Massa jenis relatif adalah nilai perbandingan massa jenis suatu zat terhadap massa jenis air.000 kg/m3. Massa jenis relatif tidak mempunyai satuan dan dapat digunakan untuk mengetahui massa jenis suatu zat. Sebaliknya suatu sifat yang besarnya tidak tergantung pada jumlah bahan yang sedang diselidiki disebut sifat intensif. yaitu 1 g/cm3 atau 1. Sifat-sifat intensif umumnya digunakan oleh para ilmuwan untuk melakukan pekerjaan ilmiah karena besarnya tidak tergantung pada jumlah bahan yang sedang diselidiki. Massa dan volume adalah contoh-contoh sifat ekstensif karena besarnya tergantung pada jumlah bahan. 2. jilid 1). tetapi tergantung pada jenis zatnya. Massa jenis adalah massa benda per satuan volume dan diberi lambang rho ().

IV. pengukuran diulangi secara triplo. tentukan persamaan regresi linier dan korelasi kurva baku yang dibuat. Atur suhu akuades dengan menempatkan gelas piala ke dalam ‘ice bath’ sampai suhunya mencapai 10oC. Penentuan konsentrasi etanol larutan sampel 59 . Lakukan pengukuran secara triplo. 40 dan 50 %v/v dari etanol absolut yang dianggap 100%. pengukuran diulangi secara triplo. Pengaruh jenis zat terhadap massa jenis Zat Padat Balok logam ditimbang secara seksama untuk mengetahui massanya. 30oC. Masing-masing larutan diukur massa jenisnya seperti prosedur I untuk zat cair. 20. Buat kurva baku massa jenis terhadap konsentrasi etanol. 40oC dan 50oC. pengukuran diulangi secara triplo. Isilah densitometer dengan air sampai tanda batas. III. Penentuan konsentrasi etanol berdasarkan massa jenis Pembuatan kurva baku Buat larutan etanol dengan konsentrasi 10. PROSEDUR PERCOBAAN I.  Aseton. Lakukan prosedur diatas untuk seluruh balok logam yang tersedia. Lakukan prosedur diatas untuk seluruh larutan yang tersedia. Isilah densitometer dengan air sampai tanda batas. Ambil 5 ml akuades bersuhu 10oC tersebut dan timbang seksama dengan menggunakan botol timbang. II. Masukkan bandul timbangan ke dalam densitometer yang telah berisi air dengan hati-hati sedemikian rupa sehingga tidak ada bagian air yang tertumpah. Lakukan juga pengukuran untuk akuades dengan suhu 20oC. Kurangi volume air dalam densitometer dengan menggunakan pipet ukur sampai mencapai garis batas. Kurangi volume air dalam densitometer dengan menggunakan pipet ukur sampai mencapai garis batas. catat massa larutan yang diisikan ke dalam botol timbang. 30. Catat volume air yang diambil dari dalam densitometer. Botol timbang beserta isinya ditimbang secara seksama. Zat Cair Ambil sebanyak 5 ml larutan dan masukkan ke dalam botol timbang yang telah diketahui massanya. metanol. Catat volume air yang diambil dari dalam densitometer. Pengaruh massa terhadap massa jenis Bandul timbangan ditimbang secara seksama untuk mengetahui massanya. etanol teknis dan pro analysis grade Akuades 3. Masukkan balok logam ke dalam densitometer yang telah berisi air dengan hati-hati sedemikian rupa sehingga tidak ada bagian air yang tertumpah. Pengaruh suhu terhadap massa jenis Ambil 100 ml akuades dan masukkan ke dalam gelas piala. Lakukan prosedur diatas untuk seluruh bandul timbangan dengan massa berbeda yang tersedia.

Apakah minuman beralkohol dapat ditentukan kadarnya berdasarkan kurva baku yang dibuat? Jelaskan! 60 . a. Apakah hasil percobaan III sudah sesuai dengan yang diharapkan? b. Bandingkan hasil perhitungan dengan hasil pengukuran larutan sampel menggunakan densitometer alkohol. a. a. Hitung konsentrasi larutan sampel menggunakan persamaan regresi linier kurva baku yang telah dibuat. Bandingkan hasil pengukuran massa jenis berbagai zat yang diuji dengan nilai yang ada pada literatur ! beri komentar ! b. jika diperlukan larutan sampel dapat diencerkan terlebih dahulu. apakah massa mempengaruhi nilai massa jenis zat? Jelaskan ! 3. Apakah larutan sampel yang disediakan perlu diencerkan terlebih dahulu? Mengapa? d. Berdasarkan percobaan II. Apakah kadar larutan sampel yang ditentukan berdasarkan kurva baku yang dibuat mempunyai nilai yang sama dengan hasil pengukuran menggunakan densitometer alkohol? (Uji T dengan tingkat kebermanaan 95%) e. 4. Ralat apa yang muncul pada pengukuran ini? 2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi massa jenis zat? 4. Apakah kurva baku yang dibuat berdasarkan percobaan IV memenuhi persamaan regresi linier? b. Bagaimana hubungan antara konsentrasi etanol dengan massa jenisnya? c. PENYELESAIAN LAPORAN : 1.Larutan sampel yang tersedia diukur massa jenisnya seperti prosedur I untuk zat cair.

Etanol teknis III (cm ) 3 Massa Volume (g) (cm3) I II (g) III  (g/cm3) II.a.LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I Nama/ NIM Kelompok Tanggal Praktikum Judul Alat dan bahan : : : : : Hasil : I.a.a. Metanol teknis Etanol p. Pengaruh massa terhadap massa jenis Volume Massa Bandul (cm3) (g) I II  (g/cm3) III (cm ) 3 61 . Pengaruh jenis zat terhadap massa jenis Zat Padat Massa (g) Volume (cm3) I II  (g/cm3) Balok Logam Besi Aluminium Tembaga Kuningan Zat Cair Zat Cair Akuades Aseton p. Aseton teknis Metanol p.

Penentuan konsentrasi etanol berdasarkan massa jenis Konsentrasi (% v/v) Massa Volume (g) (cm3) I II  (g/cm3) Massa Volume (g) (cm3) I II  (g/cm3) (g) III (g) III 10 20 30 40 50 Faktor pengenceran larutan sampel : Volume larutan sampel : ml I II III IV V Purata m (g)  (g/ml) [ ] (%v/v) [densitometer] (%v/v) Keterangan : m : massa larutan sampel  : massa jenis larutan sampel berdasarkan perhitungan m/v [ ] : konsentrasi larutan sampel berdasarkan kurva baku [densitometer] : konsentrasi larutan sampel diukur dengan densitometer alkohol Laboran Asisten Praktikan 62 . Pengaruh suhu terhadap massa jenis Suhu (oC) 10 20 30 40 50 IV.III.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful